You are on page 1of 3

TUGAS KHUSUS 2

EFFECT OF SEAWATER LEVEL ON CORROSION


1

BEHAVIOR OF DIFFERENT ALLOYS


Seawater is one of the most corroded and most
abundant naturally occurring electrolyte. The corrosivity of
the seawater is reflected by the fact that most of the common
structural metals and alloys are attacked by this liquid or its
surrounding environments.
The seawater environments can be divided into five
zones namely: subsoil, continuously submerged, tidal, splash
zone above high tidal and atmospheric zone [1].
The corrosion behavior of metals and alloys differ from one
zone to another. In splash zone the stainless steels have
usually satisfactory performance while, the carbon and low
alloy steels do not. Anderson and Ross had found that the
austenitic grades performed much better than martensitic and
ferritic grades [2]. The Ni, Cu and P alloyed steels were found
to be much more resistant than carbon steel in splash zone [3].
Also, it was found that Mn, P and Al had measurable
influence on corrosion rates of low carbon steels under tidal
exposure. After 5 years exposure test it was found that the rate
of attack in splash zone was much higher than the atmosphere
and deep submerged zones [4].
Oxygen, biological activities, pollution, temperature, salinity
and velocity are the major factors which affected the
corrosion behavior of materials in the submerged zone. The
corrosion behavior of conventional stainless steels indicates
that pitting and crevice corrosion are the most usual mode of
attack in this zone [5]. The results of several studies indicate
that the alloys susceptible to corrosion will perforate within
first years of exposure, whereas the resistant alloys will
exhibit no pitting attack for the full exposure time of 8 to 18
months [6]. The depth of pitting at ambient air saturated

seawater after 16 months exposure was found to be 2.4 mm on


316L SS, while after 18 months exposure to deaerated
o

seawater at 105 C, the pit depth was only 0.12 mm [7]. The
corrosion rate and pitting potential of stainless steels in
seawater are the functions of Cr and Ni content, also the
presence of alloys elements such Co, Mo and N has
significant and beneficial influence on the pitting and crevice
corrosion resistance of stainless steels [8]. The decease in
corrosion rate of low alloy steels over the longer periods was
more gradual than that which was observed over the first year
of exposure [9]. To prevent pitting and crevice corrosion in
austenitic stainless steel, 8% of molybdenum content is
required whereas for ferritic stainless steels, the amount is
approximately 25% chromium with 3.3% molybdenum [10].
In this paper the effect of different seawater levels on the
corrosion behavior of some structural alloys has been studied.
Also, the influence of exposure time on corrosion rate is
evaluated.
Rangkuman:
Effect of Seawater Level on Corrosion Behavior of
Different Alloys merupakan percobaan terhadap spesimen
Baja karbon (G1010 dan 1020), Austenit stainless steel (AISI
304, 316L SS), paduan tembaga (90/10 Cu/Ni dan 70/30
Cu/Ni) dan paduan berbasis nikel (Incoloy 825 dan Inconel
625) yang diletakkan di tiga lokasi yaitu diatas permukaan air
laut, setengah terendam air laut dan sepenuhnya terendam air
laut. Percobaan ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh
tingkat air laut terhadap perilaku korosi paduan yang berbeda.
Percobaan ini menunjukkan bahwa laju korosi dari
baja karbon G1020l memiliki laju korosi tertinggi di semua
lokasi (tiga kedalaman berbeda: diatas permukaan air laut,
setengah terendam air laut dan sepenuhnya terendam air laut) .
Sedangkan laju korosi terendah dimiliki oleh paduan Inconel
625.

Dalam keadaan yang sepenuhnya tenggelam, terdapat


penurunan laju korosi dengan meningkatnya exposure time
untuk pengujian pada semua paduan tergantung
komposisinya. Alasan untuk fenomena pembeda dari
campuran satu kecampuran lainnya adalah komposisi kimia
untuk pemaparan campurannya. Untuk baja karbon posisi
diatas air akan mengurangi perpindahan massa oksigen
sehingga reaksi katodik terkurangi dan dapat menurunkan laju
korosi, sedangkan untuk 316L SS laju korosi di atas air lebih
tinggi daripada yang terendam air karena konsentrasi O2 yang
lebih tinggi berada diatas air dan cenderung bersifat katodik
sehingga meningkatkan tingkat propagasi pelubangan.
Peningkatan pitting density dan kedalaman lubang untuk
paduan 304SS adalah didalam air dibandingkan dengan
kondisi diatas air. Untuk paduan 625 di lokasi terendam akan
terjadi penebalan lapisan pasif sehingga laju korosinya
meningkat. Namun dari semua posisi di atas air atau terendam
air, posisi spesimen yang semi-terendam ini lah yang tertinggi
untuk semua pengujian material paduan. Daerah yang paling
berpengaruh ditemukan di zona garis air. Fenomena ini dapat
disebabkan oleh bentukan formasi perbedaan sel aerasi.
Bagian spesimen yang terkadang terendam terkadang tidak
mempunyai kelarutan oksigen yang lebih tinggi dibandingkan
spesimen yang terendam terus.
Jadi dapat disimpulkan dari beberapa posisi logam
dalam larutan air laut pada percobaan ini adalah korosi sangat
mudah terjadi (korosi terparah) untuk paduan logam yang
berada pada posisi sebagian tenggelam (sebagian didalam air sebagian diudara) dibandingkan dengan posisi lainnya.