You are on page 1of 13

askep gerontik "masalah psikososiasl menarik diri

"
1.1. Latar Belakang
Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik,
psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Keadaan itu cenderung
berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus
pada lansia. Masalah kesehatan jiwa lansia termasuk juga dalam masalah kesehatan yang dibahas
pada pasien-pasien Geriatri dan Psikogeriatri yang merupakan bagian dari Gerontologi, yaitu
ilmu yang mempelajari segala aspek dan masalah lansia, meliputi aspek fisiologis, psikologis,
sosial, kultural, ekonomi dan lain-lain. Menurut Setiawan (1973), timbulnya perhatian pada
orang-orang usia lanjut dikarenakan adanya sifat-sifat atau faktor-faktor khusus yang
mempengaruhi kehidupan pada usia lanjut.
Lansia merupakan salah satu fase kehidupan yang dialami oleh individu yang berumur panjang.
Lansia tidak hanya meliputi aspek biologis, tetapi juga psikologis dan sosial. Menurut
Laksamana (1983:77), perubahan yang terjadi pada lansia dapat disebut sebagai perubahan
`senesens` dan perubahan ’senilitas’. Perubahan `senesens’ adalah perubahan-perubahan normal
dan fisiologik akibat usia lanjut. Perubalian ’senilitas’ adalah perubahan¬-perubahan patologik
permanent dan disertai dengan makin memburuknya kondisi badan pada usia lanjut. Sementara
itu, perubahan yang dihadapi lansia pada amumnya adalah pada bidang klinik, kesehatan jiwa
dan problema bidang sosio ekonomi. Oleh karma itu lansia adalah kelompok dengan resiko
tinggi terhadap problema fisik dan mental.
Proses menua pada manusia merupakan fenomena yang tidak dapat dihindarkan. Seinakin baik
pelayanan kesehatan sebuah bangsa makin tinggi pula harapan hidup masyarakatnya dan padan
gilirannya makin tinggi pula jumlah penduduknya yang berusia lanjut. Demikian pula di
Indonesia.
Dalam pendekatan pelayanan kesehatan pada kelompok lansia sangat perlu ditekankan
pendekatan yang dapat mencakup sehat fisik, psikologis, spiritual dan sosial. Hal tersebut karena
pendekatan dari satu aspek saja tidak akan menunjang pelayanan kesehatan pada lansia yang
membutuhkan suatu pelayanan yang komprehensif.
Usia lansia bukan hanya dihadapkan pada permasalahan kesehatan jasmaniah saja, tapi juga
permasalahan gangguan mental dalam menghadapi usia senja. Lansia sebagai tahap akhir dari

Perubahan terhadap gambaran diri. Adapun beberapa masalah psikososial yang dihadapi para lansia  yang sangat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka adalah sebagai berikut: Aspek Sosial Lansia :  Sikap. Pensiun Identitas sering dikaitkan dengan peranan dalam pekerjaan Sadar akan kematian Kehilangan hubungan dengan teman-teman & family Penyakit kronis & ketidakmampuan. label/stigma. BAB II ISI 2. Mahasiswa mampu menyebutkan masalah yang timbul sebagai konsekuensi perubahan psikososial Mahasiswa dapat mengidentifikasi & menyusun rencana intervensi sebagai implementasi keperawatan terhadap masalah yang timbul.1.siklus kehidupan manusia. Tujuan    Mahasiswa dapat menjelaskan perubahan-perubahan psikososial yang menyertai proses penuaan. konsep diri Kesepian (loneliness) Faktor-faktor tersebut hendaklah disikapi secara bijak sehingga para lansia dapat menikmati hari tua mereka dengan bahagia. perubahan social Ketergantungan :   Penurunan fungsi. penyakit fisik Gangguan konsep diri Gangguan alam perasaan : Depresi 1.        Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa lansia. Definisi .2. nilai. keyakinan terhadap lansia. sering diwarnai dengan kondisi hidup yang tidak sesuai dengan harapan. Banyak faktor yang menyebabkan seorang mengalami gangguan mental seperti menarik diri.

rasa bersalah terhadap diri sendiri.L. Teori ini .1998) Seseorang dengan perilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain.serta keberhasilan yang pernah dicapai individu dalam hidupnya (Hidayat.dihormati oleh orang lain. Faktor Predisposisi Faktor predisposisi terjadinya perilaku menarik diri adalah kegagalan perkembangan yang dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri.1998:352) 2.Harga diri dapat diperoleh melalui penghargaan diri sendiri maupun dari orang lain. yang dimanivestasikan dengan sikap memisahkan diri.J. pikiran dan prestasi atau kegagalan. merasa gagal mencapai keinginan. tidak percaya orang lain. hilang kepercayaan diri. Dari segi kehidupan sosial cultural.3. Etiologi Penyebab dari menarik diri adalah harga diri rendah yaitu perasaan negatif terhadap diri sendiri. Berbagai teori telah diajukan untuk menjelaskan gangguan alam perasaan yang parah.dicintai. gangguan hubungan sosial. tidak mampu merumuskan keinginan dan merasa tertekan.Menarik diri adalah penilaian yang salah tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri pencapaian ideal diri cita-cita harapan langsung menghasilkan perasaan berharga . ragu takut salah. sebagai dampak adanya kerusakan interaksi sosial : menarik diri akan menjadi suatu masalah besar dalam fenomen kehidupan. yaitu terganggunya komunikasi yang merupakan suatu elemen penting dalam mengadakan hubungan dengan orang lain atau lingkungan disekitarnya. Isolasi adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak ( Carpenito. 1998 ) Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam(Towsend. interaksi sosial adalah merupakan hal yang utama dalam kehidupan bermasyarakat. 1998).Perkembangan harga diri juga ditentukan oleh perasaan diterima. dan juga dapat mencederai diri (Carpenito.2. menghindar dari orang lain. tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain (DepKes. percaya diri kurang. putus asa terhadap hubungan dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan. 2. merendahkan martabat. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain. yang ditandai dengan adanya perasaan malu terhadap diri sendiri.2006).

ekspresi. 2. merupakan masalah kognitif yang didominasi oleh evaluasi negatif seseorang terhadap diri seseorang. Tidak melakukan kegiatan sehari-hari. klien lebih sering menunduk. Menolak hubungan dengan orang lain – klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap. 1995). Teori kehilangan objek.5.      menunjukkan rentang faktor-faktor penyebab yang mungkin bekerja sendiri atau dalam kombinasi. Faktor Presipitasi Sedangkan faktor presipitasi dari faktor sosio-cultural karena menurunnya stabilitas keluarga dan berpisah karena meninggal dan faktor psikologis seperti berpisah dengan orang yang terdekat atau kegagalan orang lain untuk bergantung. Berdiam diri di kamar/tempat berpisah – klien kurang mobilitasnya. Tidak ada kontak mata. Menghindar dari orang lain (menyendiri) klien tampak memisahkan diri dari orang lain. dan masa depan seseorang. merasa tidak berarti dalam keluarga sehingga menyebabkan klien berespons menghindar dengan menarik diri dari lingkungan (Stuart and sundeen. merasa tidak berarti dalam keluarga sehingga menyebabkan klien berespons menghindar dengan menarik diri dari lingkungan (Stuart and sundeen. 2.6. .4. dunia seseorang.         2. Faktor Presifitasi Sedangkan faktor presipitasi dari faktor sosio-cultural karena menurunnya stabilitas keluarga dan berpisah karena meninggal dan faktor psikologis seperti berpisah dengan orang yang terdekat atau kegagalan orang lain untuk bergantung. Faktor genetik. merujuk kepada perpisahan traumatik individu dengan benda atau yang sangat berarti. Teori agresi menyerang kedalam menunjukkan bahwa depresi terjadi karena perasaan marah yang ditujukan kepada diri sendiri. artinya perawatan diri dan kegiatan rumah tangga seharihari tidak dilakukan. Rentang Respon Menyendiri (solitude) merupakan respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah dilakukan di lingkungan sosialnya dan suatu cara mengevaluasi diri untuk menentukan langkah selanjutnya. afek tumpul. Komunikasi kurang atau tidak ada. Tanda dan gejala Apatis. 1995). dianggap mempengaruhi tranmisi gangguan efektif melalui riwayat keluarga atau keturunan. menguraikan bagaimana konsep diri yang negatif dan harga diri rendah mempengaruhi sistem keyakinan dan penilaian seseorang terhadap sesuatu Model kognitif menyatakan bahwa defresi. Teori organisasi kepribadian.

Kecurigaan dan ketidakpercayaan diperlihatkan dengan tanda-tanda cembru. berlebihan. Menarik diri merupakan suatu keadaan dimana seseoramg menemukan kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain. Tinggal di tempat tidur dalam waktu yang lama. Immobilisasi. dan berhati-hati.8. Bekerjasama (mutualisme) adalah suatu kondisi dalam hubungan interpersonal dimana individu tersebut mampu untuk saling memberi dan menerima. Tergantung (dependen) terjadi bila seseorang gagal mengambangkan rasa percaya diri atau kemampuannya untuk berfungsi secara sukses. Individu tersebut tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam. Perasaan induvidu ditandai dengan humor yang kurang.7. Curiga terjadi bila seseorang gagal mengembangkan rasa percaya dengan orang lain. Mondar-mandir (sikap mematung. antara lain sebagai berikut: 1. Karakteristik Perilaku Gangguan pola makan : tidak nafsu makan atau makan berlebihan. . Masih besarnya jumlah Lajut Usia yang berada dibawah garis kemiskinan. Kegiatan menurun. Berat badan menurun atau meningkat secara drastis. Manipulasi merupakan gangguan hubungan sosial yang terdapat pada individu yang menganggap orang lain sebagai objek. dan individu merasa bangga dengan sikapnya yang dingin dan tanpa emosi. Permasalahan Umum a. melakukan gerakan berulang). Tidur Tidak memperdulikan lingkungan. perasaan dalam hubungan sosial. iri hati. Banyak tidur siang. 2. 2.                    Otonomi merupakan kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide-ide pikiran. Permasalahan Berbagai permasalahan sosial yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan Lanjut Usia. Keinginan seksual menurun. Kemunduran secara fisik. Saling tergantung (interdependen) adalah suatu kondisi saling tergantung antara individu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal. Kurang bergairah.

Hal ini akan memperburuk integrasi sosial para lanjut usia dengan masyrakatlingkungannya. Hal ini berpengaruh negatif pada kondisi sosial psikologis mereka yang merasa sudah tidak diperlukan lagi oleh masyarakat lingkungan sekitarnya. akibat produktivitas dan kegiatan Lanjut Usia menurun. Belum membudaya dam melembaganya kegiatan pembinaan kesejateraan lanjut usia. terlantar dan cacat. sehingga seseorang anak mempunyai kewajiban untuk mengurus orang tuanya. Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah kepada tatanan masyarakat individualistik. sehingga anggota keluarga yang berusia lanjut kurang diperhatikan. sehingga Lanjut Usia kurang dihargai dan dihormati serta mereka tersisih dari kehidupan masyarakat dan bisa menjadi terlantar. b. Di samping itu terjadi pergeseran nilai budaya tradisional. yang memiliki ciri kehidupan yang lebih bertumpu kepada individu dan menjalankan kehidupan berdasarkan perhitungan untung rugi. berbagai pihak agar mereka tetap mandiri serta mempunyai penghasilan cukup. Masih rendahnya kuantitas dan kualitas tenaga profesional pelayanan lanjut usia dan masih terbatasnnya sarana pelayanan dan fasilitas khusus bagi lanjut usia dengan berbagai bidang pelayanan pembinaan kesejahteraan lanjut usia. mental maupun sosial. Di pihak lain. keluarga yang secara fisik lebih mengarah pada bentuk kelurga kecil. d. 2. menyebabkan mereka tidak dapat mengisi lowongan kerja yang ada. e. dapat terjadi sebagian generasi muda beranggapan bahwa para lanjut usia tidak perlu lagi aktif dalam urusan hidup sehari-hari. d. Berkurangnya integrasi sosial Lanjut Usia. sehingga diperlukan bantuan dari e. berhubung terjadi perkembangan pola kehidupan c. lugas dan efisien. dihargai dan dan dihormati. yang secara tidak langsung merugikan kesejahteraan lanjut usia. Rendahnya produktivitas kerja lanjut usia dibandingkan dengan tenaga kerja muda dan tingkat pendidikan serta ketrampilan yang rendah. berbagai permasalahan khusus yang a. dimana orang tua dihormati serta dihargai. sehingga dapat terjadi kesenjangan . Mundurnya keadaan fisik yang menyebabkan penuaan peran sosialnya dan dapat menjadikan mereka lebih tergantung kepada pihak lain. dimana norma yang dianut bahwa orang tua merupakan bagian dari kehidupan keluarga yang tidak dapat dipisahkan dan didasarkan kepada suatu ikatan kekerabatan yang kuat. dan terpaksa menganggur. Lahirnya kelompok masyarakat industri.b. c. berkaitan dengan kesejahteraan lanjut usia adalah sebagai berikut: Berlangsungnya proses menjadi tua. Permasalahan Khusus Menurut Departemen Sosial Republik Indonesia (1998). Makin melemahnya nilai kekerabatan. Banyaknya lanjut usia yang miskin. yang berakibat timbulnya masalah baik fisik.

polusi dan urbanisasiyang dapat mengganggu kesehatan fisik lanjut usia. BAB IV ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN MASALAH PSIKOSOSIAL ”MENARIK DIRI” 4. Terkosentrasinya dan penyebaran pembangunan yang belum merata menimbulkan ketimpangan antara penduduk lanjut usia di kota dan di desa. sulit untuk mempertahankan dan melestarikan budaya bangsa ini secara terus-menerus dari generasi ke generasi selanjutnya. Pengkajian .antara-generasi tua dan muda. Dengan demikian.1. f. Adanya dampak negatif dari proses pembangunan seperti dampak lingkungan.

persepsi negatip tentang tubuh. perasaan malu karena sesuatu yang terjadi ( korban perkosaan . umur . dependen. kecelakaan dicerai suami . Keluhan Utama Keluhan biasanya berupa menyediri (menghindar dari orang lain) komunikasi kurang atau tidak ada .  Aspek Psikososial o Genogram yang menggambarkan tiga generasi o Konsep diri 1) Citra tubuh : Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah atau tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi atau yang akan terjadi. tekanan dari kelompok sebaya. berdiam diri dikamar .kegagalan /frustasi berulang. mengungkapkan keputus asaan. Orang-orang terdekat Status perkawinan. tangggal pengkajian. nilai-nilai yang berhubungan dengan kesehatan dan keperawatan. . Faktor predisposisi Kehilangan. Menolak penjelasan perubahan tubuh . Aspek fisik / biologis Hasil pengukuran tada vital (TD. Pernapasan . Terjadi trauma yang tiba tiba misalnya harus dioperasi . Nadi.putus sekolah . jenis kelamin . tingkah laku mengusahakan kesehatan (sistem rujukan penyakit). BB) dan keluhafisik yang dialami oleh klien. faktor-faktor kultural yang dihubungkan dengan penyakit secara umum dan respons terhadap rasa sakit. mengungkapkan ketakutan. Identitas Klien Meliputi nama klien . agama. kebiasaan pasien di dalam tugas-tugas keluarga dan fungsi-fungsinya. tangggal MRS .  informan. No Rumah klien dan alamat klien. kepercayaan mengenai perawatan  dan pengobatan.harapan orang tua yang tidak realistis . Kultural Latar belakang etnis.dituduh KKN. TB.  pengaruh orang terdekat. dipenjara tiba – tiba) perlakuan orang lain yang tidak menghargai klien/ perasaan negatif  terhadap diri sendiri yang berlangsung lama. perubahan struktur sosial. suhu. perpisahan . proses interaksi dalam keluarga.PHK. tidak melakukan kegiatan  sehari – hari .menolak interaksi dengan orang lain. Preokupasi dengan bagia tubuh yang hilang . status perkawinan.

o Klien mempunyai gangguan hambatan dalam melakukan hubunga sosialdengan orang lain terdekat dalam kehidupan. 4) Ideal diri Mengungkapkan keputus asaan karena penyakitnya : mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi. proses menua . gangguan hubungan sosial . PHK. klien suka menyendiri dan kurang mampu berhubungan denga orang lain . 1) Klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makan 2) Klien mampu BAB dan BAK. 5) Harga diri Perasaan malu terhadap diri sendiri .  Kebutuhan persiapan pulang. Psikomotor. rasa bersalah terhadap diri sendiri . kelempok yang diikuti dalam masyarakat. membersikan dan 3) 4) 5)  merapikan pakaian. putus sekolah. Pada observasi mandi dan cara berpakaian klien terlihat rapi Klien dapat melakukan istirahat dan tidur . sukar menetapkan keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan 3) Peran Berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit . dan kurang percaya diri. Adanya perasaan keputusasaan dan kurang berharga dalam hidup. TAK . Mekanisme Koping Klien apabila mendapat masalah takut atau tidak mau menceritakan nya pada orang orang lain ( lebih sering menggunakan koping menarik diri)  Aspek Medik 1) Terapi yang diterima klien bisa berupa therapy farmakologi ECT. dapat beraktivitas didalam dan diluar rumah Klien dapat menjalankan program pengobatan dengan benar. mencederai diri.therapy okopasional. merendahkan martabat . o kenyakinan klien terhadap tuhan dan kegiatan untuk ibadah ( spritual) o Status Mental Kontak mata klien kurang tidak dapat mepertahankan kontak mata kurang dapat memulai pembicaraan . 2) Diagnosa Keperawatan Diagnosa Keperawatan adalah identifikasi atau penilaian pola respons baik aktual maupun potensial (Stuart and Sundeen. menggunakan dan membersihkan WC.2) Identitas diri Ketidakpastian memandang diri . dan rehabilitas. 1995) .

2. pelayanan dan konseling. pengaruh kultural.Isolasi sosial : menarik diri . 4) Ketidakpatuhan berhubungan dengan sistem penghargaan pasien. . . ketidakseimbangan tingkah laku adaptif dan kemampuan memecahkan masalah. . kehilangan memori. 2) Koping individu tidak efektif berhubungan dengan ketidakseimbangan sistem saraf. Intervensi keperawatan 1. b.Intoleransi aktifitas. menerima apa yang dikatakannya.3. Diagnosa Keperawatan 1) Harga diri rendah berhubungan dengan merasakan/mengantisipasi kegagalan pada peristiwaperistiwa kehidupan.Kekerasan resiko tinggi. keyakinan kesehatan. kurang komunikasi verbal.Koping individu yang efektif sampai dengan ketergantungan pada orang lain .Rasionalnya: membantu pasien orang terdekat untuk memulai menerima perubahan dan mengurangi ansietas mengenai perubahan fungsi gaya hidup.Resiko perubahan sensori persepsi . Intervensi Diagnosa 2: . Intervensi Diagnosa 1: a.Masalah keperawatan yang sering muncul yang dapat disimpulkan dari pengkajian adalah sebagai berikut : . c. 3) Ansietas berhubungan dengan krisis situasional maturasional.Rasionalnya: memungkinkan pasien untuk berhubungan dengan grup yang diminati dengan cara yang membantu dan perlengkapan pendukung. meningkatkan orientasi realita. Dorong pengungkapan perasaan. Berikan informasi dan penyerahan ke sumber-sumber komunitas. 4. .Gangguan konsep diri: harga diri rendah .nilai spiritual. 4. 2.Rasionalnya: memberi kesempatan untuk mengidentifikasi kesalahan konsep dan mulai melihat pilihan-pilihan. Bantu pasien dengan menjelaskan hal-hal yang diharapkan dan hal-hal tersebut mungkin di perlukan untuk dilepaskan atau dirubah.Gangguan komunikasi verbal. .

. Kepercayaan akan meningkatkan persepsi pasien tentang situasi dan partisipasi dalam regimen keperawatan. Rasionalnya: memberikan wawasan mengenai pemikiran/faktor-faktor yang berhubungan dengan situasi individu. Rasionalnya: jika individu memiliki kemampuan koping yang berhasil dilakukan dimasa lampau. c. spiritual dan kesehatan. mungkin dapat digunakan sekarang untuk mengatasi tegangan dan memelihara rasa kontrol individu.Rasionalnya: respon individu dapat bervariasi tergantung pada pola kultural yang dipelajari. 3. . Tentukan kepercayaan kultural. Intervensi diagnosa 3: a. 4. Intervensi diagnosa 4: a. Kaji tingkat realita bahaya bagi pasien dan tingkat ansietas.4. 4. misalnya penggunaan teknik relaksasi keinginan untuk mengekspresikan perasaan. Kaji munculnya kemampuan koping positif. Persepsi yang menyimpang dari situasi mungkin dapat memperbesar perasaan. Evaluasi 1) Pasien mampu mengidentifikasi adanya kekuatan dan pandangan diri sebagai orang yang mampu mengatasi masalahnya.Rasionalnya: menyediakan petunjuk untuk membantu pasien dalam mengembangkan kemampuan koping dan memperbaiki ekuilibrium. Dorong pasien untuk berbicara mengenai apa yang terjadi saat ini dan apa yang telah terjadi untuk mengantisipasi perasaan tidak tertolong dan ansietas.a. Rasionalnya: adanya keluarga/orang terdekat yang memperhatikan/peduli dapat membantu pasien dalam proses penyembuhan.Rasionalnya: perasaan adalah nyata dan membantu pasien untuk terbuka sehingga dapat mendiskusikan dan menghadapinya. Perbaiki kesalahan konsep yang mungkin dimiliki pasien Rasionalnya: membantu mengidentifikasi dan membenarkan persepsi realita dan memungkinkan dimulainya usaha pemecahan masalah. Pahami rasa takut/ansietas . Kaji sistem pendukung yang tersedia bagi pasien. b. b. b. .

Mengingat kondisi psikososial lansia yang tidak berbeda di antara lokasi pemukiman. Saran 1. masyarakat maupun pemerintah.Harga diri dapat diperoleh melalui penghargaan diri sendiri maupun dari orang lain.dicintai. 3.serta keberhasilan yang pernah dicapai individu dalam hidupnya. 2. Kesimpulan Menarik diri adalah penilaian yang salah tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri pencapaian ideal diri /cita-cita /harapan langsung menghasilkan perasaan berharga . baik dari keluarga. Mengembangkan perspektif yang lebih jelas mengenai hidup lansia. Untuk meningkatkan aktifitas fisik dan perilaku kesehatan.Perkembangan harga diri juga ditentukan oleh perasaan diterima.2) Pasien mampu menunjukkan kewaspadaan dari koping pribadi/kemampuan memecahkan maslah. dan perumahan serta memberikan gizi yang baik dan obatobatan untuk mencegah terjadinya penyakit yang bisa mempercepat proses penuaa. BAB V PENUTUP A. maka lansia dapat tinggal di mana saja asalkan tetap mendapatkan perhatian atau dukungan. 4. 4) Pasien dapat menunjukkan pengetahuan yang akurat akan penyakit dan pemahaman regimen pengobatan.dihormati oleh orang lain. 3) Pasien mampu melakukan relaksasi dan melaporkan berkurangnya ansietas ke tingkat yang dapat diatasi. transportasi. . Menghindari sikap menarik diri sebagai lansia. B. kesehatan. Dapat dibentuk wadah tempat lansia bersosialisasi bersama peer groupnya. hendaknya difasilitasi dengan memberi kesejahteraan berupa dukungan moril dan sprituil kepada kelompok lansia berupa perbaikan ekonomi.

1919. 2005. Rencana Asuhan Keperawatan. Panduan Gerontologi: Tinjauan dari Berbagai Aspek. E. Daftar Pustaka Setiabudhi.5. Gramedia Pustaka Utama. 6. Doenges. Jakarta: EGC. Tony dan Hardywinoto. Marilyon. . Jakarta. dkk. Mengembangkan hubungan yang bermakna. Menggantikan kepuasan-kepuasan yang hilang.