You are on page 1of 119

STUDI PENGARUH LINGKUNGAN PENGENDAPAN TERHADAP

KUALITAS SULFUR, ABU DAN KALORI LAPISAN BATUBARA DAERAH
BINUNGAN KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU
KALIMANTAN TIMUR

SKRIPSI

Oleh
Galih Kurniawan
111990112

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
YOGYAKARTA
2005
Jl. SWK 104 (Lingkar Utara) Condong Catur, Telp. (0274) 566733, 585188, Fax (0274) 566800, Yogyakarta 55281

ii

HALAMAN PENGESAHAN

STUDI PENGARUH LINGKUNGAN PENGENDAPAN TERHADAP
KUALITAS SULFUR, ABU DAN KALORI LAPISAN BATUBARA DAERAH
BINUNGAN KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU
KALIMANTAN TIMUR

SKRIPSI
Diajukan sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata 1

Oleh :
Galih Kurniawan
111990112

Yogyakarta,

April 2005

Menyetujui,
Pembimbing I

Pembimbing II

iii

SARI
Daerah penelitian berada di konsesi PT. Berau Coal. Secara administratif terletak di daerah
Binungan Kecamatan Sambaliung Kabupaten Berau Kalimantan Timur. Secara geografis
termasuk dalam Cekungan Tarakan sub-Cekungan Berau, Formasi Latih.
Geomorfologi daerah penelitian sangat dipengaruhi oleh struktur geologi yang ada dan proses
erosi dan pelapukan yang intensif. Bentukan asal daerah penelitian dibagi menjadi tiga yaitu
bentukan asal Struktural terdenudasi dengan sub satuan geomorfik Punggungan Tererosi (S1)
satuan bentukan asal Denudasional, dengan sub satuan geomorfik adalah Lembah Hasil Erosi
(D1) dan Perbukitan Tererosi (D2), dan satuan bentukan asal Fluvial dengan sub satuan
geomorfik Dataran Limpah Banjir (F1).
Stratigrafi daerah penelitian dari tua kemuda adalah satuan batupasir Latih dengan umur
Miosen Awal - Miosen Tengah yang diendapkan pada lingkungan transitional lower delta
plain. Di atasnya secara selaras diendapkan satuan batupasir kuarsa Latih pada kala Miosen
Tengah di lingkungan transitional lower delta plain. Kemudian di atasnya secara selaras
diendapkan satuan batulempung Latih pada kala Miosen Tengah pada lingkungan transitional
lower delta plain. Di atas satuan batulempung Latih diendapkan secara tidak selaras endapan
alluvial yang merupakan hasil sedimentasi dari Sungai Binungan.
Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian adalah Sinklin Binungan yang
memiliki arah umum sumbu lipatan bagian selatan adalah N 157° E/ 22° dan N 14° E/ 27°,
arah umum sumbu lipatan N 176° E / 86° dan garis sumbu 8°, N 178° E. Jenis lipatan adalah
Upright Horizontal Fold (Fluety, 1964), arah umum sumbulipatan bagian utara adalah adalah
N 151° E/ 14°, kedudukan arah umum sayap lipatan baratdaya adalah N 350° E/ 73° dan N
170° E / 60° dan garis sumbu 6°, N 168° E. Jenis lipatan adalah Steeply inclined Horizontal
Fold (Fluety, 1964) Sesar naik Binungan terletak di bagian barat daerah penelitian. Sesar ini
merupakan sesar yang diperkirakan berdasarkan data-data lapangan berupa kedudukan lapisan
batuan yang relatif besar, adanya zona hancuran dan kenampakan topografi yang curam
dengan punggungan yang memanjang.
Sejarah geologi daerah penelitian dimulai pada kala Miosen Awal dengan diendapkannya
satuan batupasir Latih. Kemudian secara selaras diendapkan satuan batupasir kuarsa Latih
pada kala Miosen Awal-Miosen Tengah. Kemudian diendapkan secara selaras satuan
batulempung Latih pada kala Miosen Tengah. Setalah pengendapan batulempung Latih terjadi
proses tektonik dengan arah gaya relatifbarat-daya timurlaut. Proses tektonik ini
menyebabkan terlipatnya seluruh satuan batuan yang ada di daerah penelitian dan membentuk
sinklin Binungan dan sesar naik Binungan. Sesar naik Binungan mengakibatkan satuan
batupasir Latih terangkat. Proses pelapukan dan erosi terus berlangsung hingga sekarang yang
mengakibatkan semua satuan batuan yang ada tersingkap dan membentuk endapan alluvial
disekitar sungai Binungan.
Total sulfur daerah penelitian berkisar antara 0,21 – 2,84 (%adb). Total sulfur dipengaruhi
oleh kehadiran plant remain, kehadiran pirit, dan lingkungan pengendapan. Kandungan abu di
daerah penelitian berkisar antara 3,17 - 37,34 (%adb). Kandungan abu dipengaruhi oleh
kehadiran parting dalam lapisan batubara. Nilai kalori di daerah penelitian berkisar antara
3.284,00 - 6.123,98 Kcal/kg. Nilai kalori sedikit dipengaruhi oleh kehadiran resin yang akan
meningkatkan nilai kalori. Selain itu, kadungan abu dalam batubara juga berpengaruh
terhadap nilai kalori dalam batubara. Semakin tinggi kandungan abu, maka nilai kalori akan
semakin rendah.

penulis dapat menyelesaikan laporan skripski ini. Ibu. UGM. 3. sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana Strata satu ( S – 1 ) di Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”. Ir. Bapak Ir. 4. Gatot Budi Kuncahyo selaku manager G&D. Ir. MT dan Ir. dan Bapak Martadi selaku pembimbing selama di PT.iv KATA PENGANTAR Syukur alhamdullillah atas berkat dan rahmat Allah SWT. MT selaku Ketua Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”. Keluarga tercinta. Trisakti. Jeffrey Mulyono selaku Presiden Direktur PT. Unhas. Dadan Ramdan. 5. Berau Coal. memberikan masukan. Bapak. 7. Berau Coal. 2. Bapak Ir. Ahmad Subandrio. penulis banyak mendapat bantuan baik langsung maupun tidak langsung. Wawan. Basuki Rahmat selaku pembahas. Berau Coal. Bapak Ir. dan kritik yang bermanfaat serta membantu penulis dalam membuat laporan baik secara langsung maupun tidak langsung. Suprapto. Denok. Triyoso. Dalam penulisan laporan skripsi ini. Ir. dan Ana yang telah memberikan bantuan dan semangat sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Ediyanto MT dan Ir. Joko Soesilo. 6. yang telah memberikan kritik dan saran sehingga laporan ini dapat terselesaikan dengan baik. Yoga Suryanegara. Bapak Ir. . Teman – teman Geologi dari Unpad. MT selaku Pembimbing I dan Pembimbing II. Ir. serta seluruh karyawan dan staff PT. Semua angkatan ’99 Geologi UPN yang telah memberi kritik dan saran serta semangat dalam palaksanaan skripsi hingga selesai. dan STTNAS yang senantiasa membantu selama di lapangan. Untuk itu penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar – besarnya kepada : 1.

Amien. Semoga apa yang saya tulis ini kelak dapat bermanfaat bagi semua orang yang membacanya. oleh karena itu penulis sangat mengharapkan adanya saran serta kritik dari pembaca sebagai bekal penulis dimasa yang akan datang. Yogyakarta. penulis menyadari bahwa pembuatan laporan ini masih banyak kekurangan.v Akhir kata. 2005 Penulis .

..............2......................................................................................1. 4..2............................................1....................1 Parameter Kualitas Batubara ............... 3...................................................2.........2....................................................................... 4... 2...................................................2.............................................................................................................................2. 4.....................................................1 Ruang Lingkup ...........2.................................................. 2............. Halaman Pengesahan .............3 Satuan batulempung Latih ............................... 3.................................................3 Struktur Geologi ............ 4. BAB 2 2......2..............................................................3 Manfaat Penelitian ..........................3 Perbukitan Tererosi .......2 Stratigrafi ............................................................................................................................... 4.............................................................................................................................................................................................................................................................................................1 Geologi Ragional ... 1. 4........................................................ 4...................................................................4 Analisa Lingkungan Pengendapan ............................6 Hasil Penelitian .......... 3................................................... Daftar Isi ................2 Landasan Teori ..............................................................2..................... 3......1....................1 Punggungan Tererosi ..1 Geomorfologi .....................................................2 Lembah Hasil Erosi .................... Geologi Daerah Penelitian ........2... Sari ........................................... Metodologi ..................2............................................4 Lokasi Penelitian .................5 Pola Aliran dan Stadia Erosi ...........3 Karakteristik Fisik Lapisan Batubara ................... 4....................................................................1.....1.5 Rumusan Masalah ..................2................ Daftar Gambar ...............2.......1.................................................2 Satuan batupasir kuarsa Latih .......3 Pemilihan Jenis Data dan Pemrosesan Data ..............2....................................................... 2............. 4...............................................................................................2 Analisa Kimia Batubara ........... 1........................................... 4.............................................. Kata Pengantar .4 Dataran Aluvial ................................. 4.................2............................... BAB 1 1........2........4 Endapan Aluvial i ii iii iv vi viii ix x 1 1 1 2 2 3 3 7 7 7 7 9 11 11 13 13 14 14 16 18 18 18 19 22 24 24 25 25 26 26 27 30 30 32 35 37 ....... 4................... 4.......1 Fisiografi .................1 Kajian Pustaka ................... Daftar Tabel ........ 1............1 Satuan batupasir Latih ......................2....................................................1........... BAB 3 3.................. 1.......................................... Kajian Pustaka dan Landasan Teori .....................................2......................4 Bahan dan Alat ..........................................2 Geologi Daerah Penelitian .............................................................1 Latar Belakang ...................................1........................ BAB 4 4....................................2............. 4... Pendahuluan ...........2 Maksud dan Tujuan ..........................2 Stratigrafi ................................... 4... 1................................ 3................ Daftar Foto ....2 Perolehan Data .................................vi DAFTAR ISI Halaman Judul ............

.............................................................2 5......1 5......2 5.............1 5...................3..6...................4...... Data Survey Titik Bor Data Analisa Kimia Batubara 40 40 41 41 43 45 45 46 53 53 58 59 59 64 64 64 68 72 72 73 74 74 80 82 86 89 91 91 96 97 99 101 ..... Lapisan Batubara Grup H .......1 4..........................4 5 5............... Sejarah Geologi ...........................3.......4 5..................1 5....................6..................5.................. Kesimpulan ...4.... Karakteristik dan Kualitas Lapisan Batubara Grup L ..................................................2...........7 Struktur Geologi ....2 4.......2.... Lingkungan Pengendapan Lapisan Batubara Grup K1 ....................... BAB 6 Daftar Pustaka ................1 5.........1..5............................................. Sesar Naik Binungan ............................. Sinklin Binungan .................... Karakteristik dan Kualitas Lapisan Batubara J .....1 5.................................................................2 5.............2...3. Lapisan Batubara Grup K ...........2 5......2.............. BAB Lapisan Batubara Grup G ......2......2 5........................... Lingkungan Pengendapan Lapisan Batubara Grup K ..................................1 5.......................2 5.....1 5..................................... Lingkungan Pengendapan Lapisan Batubara J .............vii 4. Lingkungan Pengendapan Lapisan Batubara Grup L ............................................................................2 5......3 4.................................................................... Lingkungan Pengendapan Lapisan Batubara Grup H ....................... Karakteristik dan Kualitas Lapisan Batubara Grup K1 ......1.......................... Lampiran Analisa Petrografis Sayatan Batuan ......... Karakteristik dan Kualitas Lapisan Batubara Grup G ........... Lapisan Batubara Grup K1 ................ Lingkungan Pengendapan Lapisan Batubara Grup G . Karakteristik dan Kualitas Lapisan Batubara Grup K .3................................. Hubungan Lingkungan Pengendapan Terhadap Kualitas Lapisan Batubara ... Hasil Penelitian dan Pembahasan ........5 5.................................... Karakteristik dan Kualitas Lapisan Batubara Grup H .......6 5.................... Lapisan Batubara Grup L ................. Data Kedudukan Batuan Dalam Analisa Stereografis Analisa Stereografis Sinklin Binungan ......... Lapisan Batubara J ..........3 5...............................................2..

................................................................................................. 53.............5 5.14 5.......... Sekuen endapan transitional lower delta plain (Horne..... Berau Coal ............................ Diagram alir penelitian .. Peta iso ash seam G dan GL .....................................21 Peta lokasi PT.................4 4.................. 1995) ............................................... dan 65 .... Pola aliran sungai (Howard.... LL....19 5...................1 1..... 4 5 6 8 10 12 17 18 23 27 29 33 41 47 48 49 50 51 52 55 56 57 61 62 63 65 66 69 70 71 77 78 79 80 .... Peta iso kalori seam J ..... 1967) ......... Profil lokasi pengamatan 51........................6 5......9 5.................. Profil lokasi pengamatan 4....................2 Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar 4...................18 5.......... dan LLL .....................................1 Gambar 3... dan LLL ...................... Peta iso ash seam J ...3 4. 1978) ............ dan 44 .........................8 5.. 52........ 69............................. dan 70 . Profil lokasi pengamatan 41.............................. Peta iso sulfur seam K dan KL .......... 5......................................................... Peta iso sulfur seam L...........................3 2..................................................................................1 Gambar 4..... Profil lokasi pengamatan 2 ..... Berau Coal .........3 5.......... 6........... Peta iso kalori seam G dan GL ....viii DAFTAR GAMBAR Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar 1................................. Peta iso ash seam H dan HL ...........17 5.............................................................................................16 5............................. 43...15 5........................... 68.......................13 5..................... 42..........6 5......11 5................... Peta iso kalori seam L............ Peta konsesi PT................................2 5............................10 5..........1 2..5 4........... Peta iso ash seam K dan KL ................................... Peta distribusi titik bor daerah penelitian .............................1 5.......................7 5...................................... Profil lokasi pengamatan 67.............. Peta iso kalori seam K dan KL ......................................... Profil lokasi pengamatan 63........................................ Peta iso sulfur seam G dan GL ..12 5....... Struktur regional cekungan Tarakan Situmorang dan Burhan (1992) .......... Peta Lokasi daerah Penelitian ................ Fisiografi Cekungan Tarakan Menurut Situmorang (1986) .. Peta iso kalori seam H dan HL ....... dan 54 .................................................................... Peta pola aliran daerah penelitian ............ Model lingkungan pengendapan batubara dari daerah pantai sampai darat (Horne........... LL.2 Gambar 3.................... Peta geologi regional daerah penelitian (Situmorang dan Burhan..........2 1............ 64.............. Peta iso sulfur seam H dan HL .. 1978) ...................................... LL...............2 Gambar 4.............. dan LLL ............................ Skema korelasi lapisan batubara ........ dan 7 ... Peta iso sulfur seam J .................20 5.... Peta iso ash seam L..............4 5.....

........3 5...................... Karakteristik dan kualitas lapisan batubara J ..............11 5....... 21 39 41 43 45 47 53 58 59 64 67 68 72 73 76 81 .............ix DAFTAR TABEL Tabel 4........ Analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup K ...... Karakteristik dan kualitas lapisan batubara grup H ............3 5.....6 5................ Karakteristik dan kualitas lapisan batubara grup K .1 5..5 5.... Analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup K1 ................ Karakteristik dan kualitas lapisan batubara grup L ... Karakteristik dan kualitas lapisan batubara grup K1 .... Analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup L ..........9 5........2 5. Analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup G ........ 1995) . Skema seam daerah penelitian .... Klasifikasi Lipatan menurut Fluety........... Karakteristik dan kualitas lapisan batubara grup G ........12 5.7 5.............1 Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel 4........................... Kolom stratigrafi daerah penelitian (penulis............ Analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara J ........ 1964 ...... Analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup H ...4 5..........10 5......2 4...............................8 5....13 Kolom stratigrafi Sub Cekungan Berau (Situmorang dan Burhan....... 2004) .

....... 3 28 31 34 ..........................................x DAFTAR FOTO Foto Foto Foto Foto 1........................1 4.....1 4..................2 4........ Singkapan batupasir sedang dengan sisipan batulempung ... Singkapan batupasir halus dengan nodul batulempung .......... Sungai Binungan ...............3 Akses jalan di daerah penelitian ....................

1 BAB 1 PENDAHULUAN 1. dan geomagnet. Mengetahui karakteristik batubara daerah penelitian ditinjau dari segi kualitas. abu. Berdasarkan penjelasan di atas maka perlu dilakukan penelitian mengenai karakteristik lapisan batubara pada daerah penelitian. Kegiatan eksplorasi juga bertujuan untuk mengetahui karakteristik lapisan batubara yang ada disuatu daerah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: 1. . Kegiatan eksplorasi mutlak dilakukan untuk mencari daerah yang potensial mengandung batubara. 3.1 Latar Belakang Batubara merupakan salah satu sumber energi alternatif yang sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia. dan eksplorasi di bawah permukaan meliputi pemboran. 2. elektronik logging. pemetaan geologi dan struktur. dan nilai kalori) daerah penelitian.2 Maksud dan Tujuan Maksud dilakukannya penelitian ini adalah untuk memenuhi salah satu persyaratan akademik pada Jurusan Teknik Geologi. Dimana dengan diketahuinya karakteristik batubara di daerah tersebut maka nilai ekonomis batubara dapat ditentukan. geolistrik. Mengetahui pengaruh lingkungan pengendapan terhadap kualitas batubara (kandungan sulfur. 1. karena Indonesia salah satu negara yang memiliki sumber daya batubara cukup banyak yang tersebar di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Mengetahui kondisi geomorfologi dan geologi daerah penelitian. Karakteristik batubara dapat meliputi geometri lapisan batubara dan kualitas batubara. Kegiatan ini meliputi eksplorasi di atas permukaan berupa pemetaan topografi. Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Penelitian ini merupakan tugas akhir/skripsi untuk mendapatkan gelar Sarjana (S1) pada bidang geologi.

Secara keilmuan mengetahui pengaruh lingkungan pengendapan terhadap sebaran kualitas lapisan batubara (kandungan sulfur. dan apabila menggunakan kendaraan darat ditempuh selama kurang lebih 60 menit.050. Kecamatan Sambaliung. Daerah penelitian terletak kurang lebih 45 km sebelah barat daya ibu kota Kabupaten Berau. Balikpapan.988.200.3 Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah: 1.299. .2 1.522 m2. Berau Coal yang secara administratif terletak pada daerah Binungan. - Dari Bandar udara Sepinggang dilanjutkan menggunakan pesawat udara selama kurang lebih 1. Secara geografis terletak pada koordinat: UTM TITIK 1 2 3 4 5 GEOGRAFIS EASTING NORTHING (m) (m) 549.00 551.5 jam menuju Bandar Udara Kalimaru.00 TITIK LINTANG UTARA BUJUR TIMUR (Derajat) 1 2 3 4 5 (Menit) (Detik) 26 ' 27 ' 27 ' 27 ' 26 ' 39 " 20 " 53 " 33 " 44 " 117 º 117 º 117 º 117 º 117 º (Derajat) (Menit) 2º 2º 2º 2º 2º 3' 4' 2' 2' 3' (Detik) 55 " 31 " 47 " 47 " 45 " Luasan daerah penelitian ±2. Tanjung Redeb. Tanjung Redeb.386.00 226. Kabupaten Berau.00 226. Kalimantan Timur. Daerah penelitian dapat dicapai dengan sarana transportasi sebagai berukut: - Dari Yogyakarta menggunakan pesawat udara selama kurang lebih 2 jam menuju Bandar Udara Sepinggang. 2. - Dari kota Tanjung Redeb menuju daerah penelitian dapat ditempuh menggunakan speed boad selama kurang lebih 40 menit.4 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian terletak pada wilayah konsesi pertambangan PT.949.00 229.558.395. 1.671.00 551.00 549.00 550.655. dan nilai kalori) pada daerah penelitian.00 228.00 227. abu. Secara ekonomi dapat menentukan lapisan batubara yang layak untuk ditambang.200.

kolom stratigrafi. dan nilai kalori) lapisan batubara. Bagaimana pengaruh lingkungan pengendapan terhadap kualitas sulfur.5 Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Foto 1. 2. serta nilai kalori. Hubungan lingkungan pengendapan terhadap kualitas (kandungan sulfur.3 1. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk peta-peta. abu. abu. Kondisi geografi dan geologi daerah penelitian (dalam peta geomorfologi dan peta geologi).1 Akses jalan di daerah penelitian yang masih berupa jalan tanah. profil. . dan kalori batubara daerah penelitian ? 1. Bagaimana kondisi geografi dan geologi daerah penelitian ? 2. Pola sebaran kualitas batubara daerah penelitian yang meliputi kandungan sulfur. serta tabeltabel.6 Hasil Penelitian Hasil penelitian terdiri dari: 1. kandungan abu. 3.

1 Peta lokasi PT. Berau Coal .U T H C H IN A S E A 4 Tarakan Y S S IA O PT BARADINAMIKA M A L A P T BERAU COAL EAST PT KALTIM PRIMA COAL Samarinda WEST CENTRAL PT TANITO HARUM PT MULTI HARAPAN UTAMA Balikpapan PT KIDECO PT ADARO PT KENDILO Palangkaraya SOUTH PT ARUTMIN INDONESIA Legend : Banjarmasin : Coal Mine Area PT BAHARI CAKRAWALA SEBUKU : Capital Province : Town Kotabaru MAKASAR STRAIT KALIMANTAN Pontianak JAVA SEA Gambar 1.

B U L U N G A N Sambarata 260000N 260000N KP Eksploitasi KAB.2 Peta konsesi PT.000 200000N 510000E 525000E 540000E 555000E 570000E Gambar 1.Tabur m Sa ng ga ng Sungai Nukai Tanjung Redeb ai Seg i ela iK .P Tg Kasai Sungai Ulak Merancang Hilir Batubatu at ng era Gurimbang 245000N Guntung Sungai Berau Bangun Muara Kasai Sukan Lalawan Sodang Gurimbang Area ga Su n Su ng at Merancang Hulu n ga Su n ga iS ia Teluk Bayur Area bu k ra Sambaliung Rinding Bedungun Tanah Merah ng ua al m Sa n ku ba Tempurung ah LA Lunsuran Naga iS id uu ng Parapatan Area Su n ga Sungai Inaran ai Su Sung 230000N U Muara Lunsuran Naga T Su n Labanan 230000N SU ga iB in LA un ga W n ES I Rantau Panjang ut lum Block 1.5 510000E 525000E 540000E 555000E 570000E 585000E 600000E Keterangan : BERAU COAL Batas Konsesi DU 424 Batas Potensi Batubara Sungai & anak sungai KAB. Berau Coal 585000E 600000E 200000N D: Tanj_Sofwan /con_bc.B E R A U Lati Area ai ng Su i Lat Birang Area ai Sung Punan Area 245000N Bira ng Makasang Sungai Pura Tepian Buah M Sungai Punang Gn.srf .4 Suaran Tumbit Melayu Muara Pantai Tumbit Dayak Meraang Su n ga iT um bit Lokasi Daerah Penelitian Long Lanuk Binungan Area 215000N 215000N Kelai Area Nyapa Indah SKALA 1 : 417.

000 E .000 N 536.671.000 N Tumbit Melayu Tumbit dayak Binungan Blok 7 Scale 1 : 110.299.988.000 N TITIK 1 2 3 4 5 GEOGRAFIS EASTING NORTHING (m) (m) 549.00 551.00 549.000 N Binungan Blok 1 .386.000 E 541.00 1 2 3 4 5 LINTANG UTARA Parapatan BUJUR TIMUR (Menit) 117 º 117 º 117 º 117 º 117 º (Detik) 26 ' 27 ' 27 ' 27 ' 26 ' (Derajat) (Menit) (Detik) 39 " 2º 3' 20 " 2º 4' 53 " 2º 2' 33 " Rantau 2 ºPanjang 2' 44 " 2º 3' 55 " 31 " 47 " 47 " 45 " 231.6 UTM 236.00 226.200.655.000 E 546.050.000 N Pegat bukur 4 3 Inaran SUNGAI KELAI SU Binungan Blok 5&6 I GA N Meraang A AR IN Daerah Penelitian N 221.00 550.00 TITIK (Derajat) 228.3 Peta lokasi daerah penelitian 551.200.000 E Gambar 1.00 229.00 227.00 551.4 2 1 5 226.00 226.395.558.000 Long Lanuk 216.

. Data primer - Jurus dan kemiringan lapisan batuan diperoleh dari pengamatan di lapangan - Data profil singkapan - Karakteristik fisik batubara b. dan nilai kalori) - Peta geologi lembar Tanjung Redeb skala 1:250.2 Perolehan Data Sumber data yang digunakan dalam penelitian adalah : a. 2.000 Pemilihan Jenis Data dan Pemrosesan Data 1. dan data analisa kimia juga dipergunakan dalam analisa lingkungan pengendapan. Ruang lingkup wilayah.1 Ruang Lingkup Untuk membatasi pokok bahasan penelitian. dan komposisinya sehingga didapat sifat fisik batubara dan batuan pengapitnya. daerah yang diteliti adalah daerah wilayah konsesi penambangan PT. 2. Data skunder berupa log bor. abu.000 (Situmorang dan Burhan.000 dan 1:1. dengan memperhatikan aspek litologi. . 1995) - 2. e-log. Berau Coal. maka dibangun ruang lingkup penelitian. dan nilai kalori) lapisan batubara. yaitu: 1. Ruang lingkup analisis yaitu menganalisis pengaruh lingkungan pengendapan terhadap kualitas (kandungan sulfur. Data lingkungan pengendapan Data profil didapat dari pengamatan langsung singkapan.7 BAB 2 METODOLOGI 2. Data sekunder - Data peneliti terdahulu pada daerah penelitian - Data log bor - Data electric logging - Data analisa kimia (kandungan abu. struktur sedimen.3 Peta topografi daerah Binungan blok 1-4 skala 1:5. total sulfur.

jenis litologi pengapit. ketebalan dan kedalaman ) Data Geofisika (Gamma. e-log.1 Data Pemboran (Survey dan Log bor) Analisa batuan ( Sifat fisik. ketebalan dan kedalaman lapisan batubara. data kedalaman. lapisan pengapit. Density) Evaluasi bentuk kurva ( Kesamaan bentuk kurva. dan data kualitas. Data log bor diidentifikasi litologi. dan ketebalan. tahanan jenis dan densitas batuan ) EVALUASI DETAIL KORELASI Gambar 2.8 2. Untuk lebih jelasnya mengenai tahapan korelasi lapisan batubara dapat dilihat pada gambar 2. Sedangkan dari data e-log dilakukan analisa terhadap kesamaan bentuk kurva gamma ray dan density antara titik bor.1 Skema korelasi lapisan batubara Data analisa kualitas batubara Karakteristik kualitas yang hampir sama . Korelasi lapisan batubara Korelasi antara titik bor didasarkan atas data-data log bor. Dan untuk kualitas dilakukan identifikasi terhadap nilai kualitas batubara yang hampir sama antara titik bor.

yaitu: 1. Kamera 6. Komputer 7. Data survey titik bor 4. parting.9 3. iso ash. Data kualitas lapisan batubara Data karakteristik fisik batubara yang didapat dari data profil. Kompas geologi 5. 2. Data singkapan dan profil. Data-data lingkungan pengendapan. Software . amber/resin. Alat ukur 3.1N. 2. 3. Data analisa kualitas batubara. nilai kalori dan kandungan abu. gores. retakan. roof dan floor dikombinasikan dengan data analisa proximate untuk mendapatkan kualitas batubara. Palu geologi 4.4 Bahan dan alat Bahan yang dipergunakan. kilap. Peta topografi daerah penelitian skala 1:5000 dan 1 : 1000 6. cleat. kekerasan. yaitu: 1. Alat tulis 2. Untuk lapisan batubara tertentu dibuat peta iso sulfur. pecahan. HCl 0. kualitas lapisan batubara dianalisa untuk mengetahui hubungan ketiga faktor tersebut. Data log bor dan e-log 5. yaitu warna. Alat yang digunakan. berupa total sulfur. dan nilai kalori dengan menggunakan software Mincom.

Total Sulfur .Nilai Kalori Geologi Regional (Cekungan Tarakan. NILAI KALORI) LAPISAN BATUBARA Gambar 2.Litologi .10 Data Sekunder Data Primer Peta Geologi .Litologi .Karakteristik Fisik Batubara Data E-Log .Gamma Ray .Sebaran Satuan Batuan .Kandungan Abu .Struktur Geologi Geologi Daerah Penelitian Data Profil .Struktur Sedimen .Struktur Geologi Kualitas Batubara PENGARUH LINGKUNGAN PENGENDAPAN TERHADAP KUALITAS (TOTAL SULFUR.Stratigrafi .Struktur Sedimen .2 Diagram alir Penelitian .Fisiografi .Kedudukan Lapisan Batuan . KANDUNGAN ABU. Sub Cekungan Berau) .Karakteristik Fisik Batubara Data Log Bor .Density Lingkungan Pengendapan Data Analisa Kimia .

Batugamping Terumbu dan Endapan aluvial. menerangkan bahwa kandungan sulfur organik dalam batubara merupakan bagian dari analisis kandungan total sulfur yang dilakukan dalam analisis ultimat. . Formasi Sinjin. Formasi Birang. Dalam Ward (1984) dalam Coal Geology and Coal Technology. batupasir. Batuan Terobosan. Formasi Tabalar. Formasi Tabul. dan batugamping.11 BAB 3 KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 3. Daerah penelitian termasuk dalam Formasi Latih ( gambar 3. Meliputi Formasi Banggara. SO2 (dari sulfida) dan H2O (dari lempung) ditinggalkan setelah pembakaran. Formasi Latih. Formasi Domaring. Batubara dengan kandungan abu tinggi pada umumnya kurang sesuai dalam pemanfaatannya dari pada batubara dengan kandungan abu rendah. membagi daerah penelitian menjadi dua formasi yaitu Formasi Berau dengan ketebalan 1500 m yang terdiri atas konglomerat. menerangkan bahwa mineral sulfida (pirit) dalam batubara kemungkinanan hadir sebagai hasil reduksi bakteri dari air dalam gambut yang kaya sulfat selama awal pembentukan.1 Kajian Pustaka Situmorang dan Burhan (1995) melakukan pemetaan geologi yang menghasilkan peta geologi permukaan lembar Tanjung Redeb dengan skala 1 : 250.1). Formasi Sajau. batulumpur dan batubara. Menurut Rao & Glusloter (1973) dalam Ward (1984) dalam Coal Geology and Coal Technology. Batuan Gunungapi Jelai. dan Formasi Steril dengan ketebalan < 2500 m yang terdiri atas batupasir. Formasi Labanan. Kandungan abu di dalam batubara merupakan sisa kandungan inorganik yang tidak dapat terbakar ketika batubara tersebut di bakar. Ini hadir sebagian besar pada kandungan mineral di dalam batubara.000. setelah komponen-komponen seperti CO2 (dari karbonat). Formasi Sambakung. batulanau. Mobill Oil dalam penelitian tahun 1985.

Qa Qa Teluk Bayur Tmpd TANJUNG REDEB Tps Qa Tml S. TABUR Tmpl Sambaliung Tps S AU ER Qa B .12 Tomb Tml Tml Kalam Panjang Tmpl Tml Tml Tml G.000 Tmpl Daerah Penelitian Gambar 3. G SE AH Sangkuang Tml Tml Rantau Panjang Tml Tml Tomb Tomb Tml Teot Tml Tomb Tmpl Tml LS Qa BT Endapan Aluvial Tml Tps Tomb Tmpd Teot Skala 1 : 250.1 Peta geologi regional daerah peneliti (Situmorang dan Burhan. 1995) .

b. Karbonmonoksida (Co) dan Metan. Total moisture sangat dipengeruhi olah faktor keadaan.13 3. Kandungan abu tersebut dapat dihasilkan dari pengotoran bawaan dalam proses pembentukan batubara maupun pengotor yang berasal dari proses penambangan. antara lain : 1.2. Kandungan abu (ash) Merupakan sisa-sisa zat anorganik yang terbentuk dalam batubara setelah dibakar. c. sebaliknya zat terbang rendah akan mempersulit proses pembakaran. Free moisture (kandungan air bebas) Merupakan air yang diserap pada permukaan batubara akibat pengaruh dari luar. baik yang terkait secara kimiawi maupun akibat pengaruh kondisi luar. makin rendak klasnya. Dalam pembakaran batubara dengan zat terbang tinggi akan mempercepat pembakaran karbon padatnya. makin tinggi kandungan volatile matter. 4. Total moisture (kandungan air total) Adalah banyak air yang terkandung dalam batubara sesuai kondisi lapangan. Umumnya terdiri dari gas-gas yang mudah terbakar seperti Hidrogen. Zat terbang (volatile matter) Zat tebang merupakan zat aktif yang menghasilkan energi/panas apabila batubara tersebut dibakar.Kadar zat terbang merupakan salah satu parameter yang sangat penting dalam klasifikasi batubara.1 Parameter Kualitas Batubara Untuk menentukan klasifikasi dan spesifikasi batubara dibutuhkan beberapa parameter kualitas batubara. Inherent moisture (kandungan air bawaan) Merupakan kandungan air bawaan pada saat pembentukan batubara 2. ukuran butiran dan faktor penambangan. Kandungan karbon tertambat (fixed carbon) .2 Landasan Teori 3. Kandungan air Kandungan air ini dibedakan atas : a. Volatile matter sangat erat kaitannya dengan “rank” dari batubara. 3. sepetri iklim.

maupun senyawa anorganik. Adapun parameter yang digunakan adalah: 1. Dasar analisis batubara yang dilakukan adalah pada kondisi air dry based (adb). Kandungan abu 2. 6. Nilai Kalori 3. 3.2 Analisis Kimia Batubara Conto batubara yang akan dianalisis diambil dari hasil pemboran inti dengan system play-by-play. Gross caloric value merupakan nilai kalori yang biasa dipakai sebagai laporan analisis. Net caloric value merupakan nilai kalor yang benar-benar dimanfaatkan dalam proses pembakaran batubara. maka karbon tertambat akan secara otomatis akan naik.14 Merupakan karbon yang tertinggal setelah pendeterminasian zat terbang. baik yang terikat/terbentuk sebagai senyawa organik.2. Total sulfur 3. yaitu kondisi dimana batubara telah dikeringkan sehingga sesuai dengan kondisi laboratorium dimana masih ada inherent moisture. Total sulfur Yaitu kandungan sulfur yang terdapat dalam batubara.3 Karakteristik Fisik Lapisan Batubara Data karaktereristik fisik batubara diperoleh dari data profil yaitu pengamatan langsung di lapangan dan pembacaan ulang data log bor yang ada. Dimana interval conto disesuaikan dengan data analisa kimia yang telah ada. Nilai Kalori (caloric Value) Harga nilai kalori merupakan penjumlahan dari harga panas pembangaran unsurunsur pembentukan batubara. Dengan adanya pengeluaran zat terbang dan kandungan air. pirit. sehingga semakin tinggi kandungan karbonnya.2. Pada penelitian ini data analisis kimia yang digunakan adalah: 1. kelas batubara makin baik. 5. Warna .

Pirit . biasanya terdapat di sekitar batubara ( di atas maupun di bawah lapisan batubara). Kekerasan Secara umum batubara high rank tidak keras atau mudah pecah. batulempung. di dalam lapisan batubara. 6. 2. Pelapukan Batubara high rank tidak mudah mengalami pelapukan. 7. 8. 4. Plant remain Merupakan sisa tumbuhan/dedaunan yang tertinggal dan mengalami pembusukan. Sedangkan batubara low rank keras. Kilap Batubara high rank umumnya mengkilap sedangkan batubara low rank memiliki kilap kusam. 3. Warna batubara yang hitam mengkilap secara umum penyusunnya terdiri dari vitrain (kaya akan maseral vitrinite yang berasal dari kayu dan serat kayu) berupa bituminous – antrasit (high rank) dan clarain (kaya akan maseal vitrinite dan liptinite berasal dari spora. Gores Batubara bituminous memiliki gores hitam kecoklatan sedangkan batubara lignit memiliki gores berwarna coklat.15 Warna batubara bervariasi dari hitam mengkilap hingga coklat kusam. 5. Tebal pengotor ini bervariasi mulai dari beberapa millimeter sampai beberapa sentimeter. Secara umum warna dapat digunakan sebagai langkah awal dalam penentuan rank batubara. sedangkan batubara low rank mudah mengalami pelapukan. 9. batulanau. Pengotor atau parting Berupa batupasir. Pecahan Batubara antrasit pecahannya concoidal sedangkan bituminous dan lignit memiliki pecahan yang tidak teratur. serbuk sari dan getah) berupa lignite (low rank).

2. yang sesuai dengan daerah penelitian dimana pada daerah penelitian juga diendapkan batubara. tersebar meluas cenderung memanjang jurus pengendapan. karena model lingkungan pengendapan yang dikemukakan oleh Horne (1978) merupakan model yang membahas lingkungan pengandapan batubara. Kehadiran amber berkaitan erat dengan nilai kalori dikarenakan amber dapat menaikkan nilai kalori. 1978 dalam Kuncoro. kuning keemasan. aplikasi model pengendapan batubara dapat dibagi atas: 1. lower delta plain. bentuk lapisan melembar karena dipengaruhi tidal channel setelah pengendapan atau bersamaan dengan proses pengendapan dan kandungan sulfurnya tinggi. Amber/resin Amber berasal dari getah yang sifatnya tahan terhadap pembusukan dan merupakan material dalam batubara yang berwarna kuning. Horne (1978) membagi lingkungan pengendapan dari pantai sampai darat menjadi: barrier. back barrier. merah kekuningan. dimana kandungan pirit ini merupakan bagian dari analisis total sulfur dalam batubara. 3.16 Keterdapatan pirit dalam batubara dapat diamati secara langsung di lapangan. Berdasarkan karakteristik lingkungan pengendapan batubara (Horne. bentuk lapisan batubara ditandai splitting . Lingkungan lower delta plain: batubaranya tipis. dan juga membaginya lagi dalam beberapa sub lingkungan pengendapan. tetapi kemenerusan secara lateral sering terpotong channel. coklat.4 Analisa Lingkungan Pengendapan Analisan lingkungan pengendapan menggunakan pendekatan yang dikemukakan oleh Horne (1978).2). 10. Lingkungan transitional lower delta plain: batubaranya tebal dapat lebih dari 10 m. pola sebarannya umumnya sepanjang channel atau jurus pengendapan. pola sebarannya memanjang sejajar sistem penghalang atau sejajar jurus perlapisan. Di dalam model pengendapan. 3. 2002).2. dengan didukung data-data lapisan batuan yang berkembang di daerah tersebut. upper delta plain – fluvial (Gambar 3. transitional lower delta plain. bentuk lapisan ditandai oleh hadirnya splitting oleh endapan crevase splay dan kandungan sulfurnya agak tinggi. Lingkungan back barrier: batubaranya tipis.

tetapi kemenerusan secara lateral sering terpotong channel. sebarannya meluas cenderung memanjang sejajar jurus pengendapan. Gambar 3.2 Model lingkungan pengendapan batubara dari daerah pantai sampai darat (Horne. 4. 1978).17 akibat channel kontemporer dan washout oleh channel subsekuen dan kandungan sulfurnya agak rendah. . Lingkungan upper delta plain – fluvial: batubaranya tebal dapat mencapai lebih dari 10 m. bentuk batubara ditandai hadirnya splitting akibat channel kontemporer dan washout oleh channel subsekuen dan kandungan sulfurnya rendah.

1. secara fisiografi cekungan Tarakan berupa depresi berbentuk busur yang terbuka kearah timur ke arah selat Makasar/Laut Selawesi yang meluas ke utara menuju Sabah dan berhenti pada zona subduksi di Tinggian Samporna dan merupakan cekungan yang paling utara di Kalimatan Timur.18 BAB 4 GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 4.1 Geologi Regional 4. Gambar 4. dibagian barat dibatasi oleh lapisan sedimen Pra-Tersier Tinggian Kuching (Gambar 4.1).1 Fisiografi Menurut Situmorang 1986.1 Fisiografi Cekungan Tarakan Menurut Situmorang (1986) . sedangkan batas selatannya adalah Punggungan Suikerbrood dan Tinggian Mangkalihat yang memisahkan cekungan Tarakan dengan cekungan Kutai.

Formasi Tabalar ( Toet ) : Napal abu – abu. Formasi Bangara ( Kbs ) : Perselingan batulempung malih. batulempung hitam bersisipan serpih dan laminasi tuff. sisipan batugamping dan konglomerat alas dibagian bawah. satuan batuan merupakan endapan flysh. Umurnya Eosen – Oligosen . batugamping dolomite. Formasi Birang ( Tomb ). batugamping pasiran. rijang dan tuf dibagian atas . Amphistegina sp dan Borelis sp . Planulina sp. batuan gunung api dan batuan beku dengan kisaran umur dari PraTersier ( Kapur ) hingga Kuarter. bersisipan batubara.2 Stratigrafi Daerah penelitian terletak pada Cekungan Tarakan. menunjukan lapisan bersusun dan silang siur diterobos retas – retas batuan beku bersusun andesit. kalkarenit dan sisipan napal dibagian atas . Formasi Birang ( Tomb ) : Perselingan napal. . batupasir tufaan dan tuff. mengandung radiolaria. Discocylclina sp. dan batupasir dibagian bawah . Batugamping Terumbu ( Ql ) dan Endapan aluvial ( Qa ). Formasi Latih ( Tml ). Batuan Gunungapi Jelai ( Tomj ). Batuan Terobosan ( Tomi ) : Andesit. serpih. Reusela sp. Formasi Tabul ( Tmt ). berumur Eosen. Formasi Domaring ( Tmpd ).laut dangkal. diendapkan dalam lingkungan fluviatil . Formasi Sinjin ( Tps ). batupasir. Batuan Gunungapi Jelai ( Tomj ) : Breksi gunungapi. andesit terpropilitikan dan lava andesit piroksen. batulanau. napal. Globigerina sp. Sub Cekungan Berau. diendapkan dalam lingkungan laut. tebal satuan antara 100 dan 200 meter. Umurnya Oligosen – Miocen. Anak Cekungan Berau dari yang tua ke muda terdiri dari Formasi Banggara ( Kbs ). Formasi Sajau ( TQps ). batugamping dan tuff dibagian atas. Formasi Sambakung ( Tes ). Umurnya Kapur. Tebal satuan batuan lebih dari 1100 m . Nodosaria sp. Formasi Sembakung ( Tes ) : Batulempung. tebal satuan mencapai 1000 m. batulempung terkersikkan. Operculina sp. dan perselingan rijang.1. Batupasir kuarsa. Formasi Labanan ( Tmpl ). konglomerat. Menurut Situmorang dan Burhan (1995) Secara regional daerah Sub Cekungan Berau terdiri dari batuan sedimen. Formasi Tabalar ( Teot ). Tebal satuan batuan lebih dari 1000 m. batupasir kuarsa dan batugamping dibagian bawah . mengandung fosil nummulites sp. Batuan Terobosan ( Tomi ). terdiri dari andesit vitrovir.19 4.

Diendapkan dalam lingkungan fluviatil dan delta. Formasi Labanan ( Tmpl ) : Perselingan konglomerat aneka bahan. Formasi Sajau ( TQps ) : Perselingan batulempung. konglomerat. Lapisan batubara ( 0. Formasi Domaring ( Tmpd ) : Batugamping terumbu. batulanau. Tebal satuan lebih kurang 450 m.2 – 5. diendapkan dalam lingkungan rawa litoral. mengandung lignit. tuf terkersikan. . aglomerat. Uvigerina sp. kuarsa. Formasi Tabul ( Tmt ) : Terdiri dari batupasir.5 m ) berwarna hitam. Tebal satuan batuan lebih dari 500m. Spiroclypeus sp. Kisaran Umur Oligosen – Miosen. Globigerinoides immaturus. coklat. Globigerina tripartita.5 m ). mengandung moluska. Operculina sp. batulempung. berumur Miosen Akhir – Pliosen. feldsfar. Umurnya Miosen Akhir. batupasir. menunjukan struktur silang siur dan laminasi. koral dan breksi koral. mengandung fosil antara lain : Pra Orbulina glomerosa. Pra Orbulina transitoria. Tebalnya mencapai 1000 m.20 mengandung fosil antara lain : Lepidocylina ephicides. coklat. tebal satuan kurang lebih 1050 m. Cassidulina sp. dan batubara dibagian atas. Globoquadrina altispira. berwarna putih sampai kelabu. batulanau. berwarna hitam. coklat. Miogypsina sp. Satuan batuan merupakan endapan regresif delta. Batugamping Terumbu ( Ql ) : Trumbu. batulempung disisipi batugamping dan batubara. coklat. batugamping kapuran. Tebal satuan batuan lebih kurang 775 m. diendapkan dalam lingkungan laut dangkal.2 – 1 m ) berwarna hitam. Pra Orbulina transitioria. mengandung koral. Formasi Latih ( Tml ) : Batupasir kuarsa.2 – 1. batulempung konglomerat dan sisipan batubara . diendapkan dalam lingkungan fluviatil. berumur Miosen Awal – Miosen Tengah. Margionopora vertebralis. berongga. Umurnya Miosen Akhir – Pliosen. Globorotalia peripheronda. tebal satuan batuan kurang lebih 800 m. setempat terbreksikan. lava andesit piroksen. disisipi batubara. bersisipan serpih pasiran dan batugamping dibagian bawah. batulanau. lapili. mengandung Operculina sp. Lapisan batubara ( 0. napal dan sisipan batubara muda . dan mineral hitam. Lapisan batubara ( 0. Globigerinoides sacculifer. Globorotalia mayeri. kuarsit dan mika . batulempung tufaan dan kaolin. kristalin. batupasir. Formasi Sinjin ( Tps ) : Perselingan tuf. diendapkan dalam lingkungan delta. estuarin dan laut dangkal.

kerakal dan gambut berwarna kelabu sampai kehitaman. kerikil.1 Kolom stratigrafi Sub Cekungan Berau (Situmorang dan Burhan. pasir.21 Endapan Aluvial ( Qa ) : Lumpur. 1995) HOLOSEN PLISTOSEN KUARTER KALA ENDAPAN PERMUKAAN BATUAN SEDIMEN TENGAH MIOSEN GUNUNG API TEROBOSAN TQps AWAL Tps AKHIR Tmt Tmpl TENGAH Tmpd Tml Tomi AWAL Tomb OLIGOSEN Teot Tes PALEOSEN KAPUR BATUAN AKHIR EOSEN MESOZOIKUM BATUAN Ql Qa PLIOSEN TERSIER KENOZOIKUM MASA ZAMAN AKHIR AWAL Kbs Tomj . lanau. tebalnya lebih dari 40 m. Tabel 4.

sesar geser dan sesar naik yang mempunyai arah umum Barat Laut–Tenggara dan Barat Daya–Timur Laut. . Sesudah pembentukan Formasi Labanan ini terjadi lagi kegiatan tektonik yang ketiga sehingga terbentuk lipatan. tersesarkan dan mengalami metamorfosa derajat rendah dan diikuti oleh terobosan batuan beku Andesit berumur Oligosen awal. Tektonik kedua terjadi pada Akhir Eosen Awal atau sesudah terbentuknya Formasi Sembakung yang berumur Eosen yang mengakibatkan formasi ini terlipat. (1992) menyimpulkan bahwa di daerah ini termasuk ke dalam Tanjung Redeb.1. sesar dan diikuti Terobosan Andesit yang mengalami alterasi dan mineralisasi. gejala ini menyebabkan terjadinya perlipatan dan pensesaran serta peralihan regional derajat rendah pada Formasi Bangara yang berumur Kapur Akhir–Eocen Awal. Di daerah ini diduga paling sedikit terjadi tiga kali kejadian tektonik. selanjutnya pada Miosen Akhir sampai Awal Pliosen terbentuk Formasi Labanan. yang struktur utamanya berupa lipatan.22 4. Tektonik yang pertama terjadi pada Akhir Kapur atau lebih tua.3 Struktur Geologi Situmorang dan Burhan. Bersamaan dengan pengendapan Formasi Birang pada Miosen Awal juga diikuti oleh Formasi Latih di daerah Teluk Bayur dan sekitarnya. sesar normal.

2 Struktur regional cekungan Tarakan Situmorang dan Burhan (1992) .23 BERAU SUB BASIN Lokasi Penelitian Gambar 4.

dan satuan bentukan asal Fluvial dengan sub satuan geomorfik Dataran Aluvial (F1). dengan sub satuan geomorfik adalah Lembah Hasil Erosi (D1) dan Perbukitan Tererosi (D2). meliputi : 1. Morfo-dinamik : berupa tenaga eksogen yang berhubungan dengan tenaga angin. seperti kemiringan lereng. 2. .2. bentuk lembah. Berdasarkan aspek geomorfologi diatas. bukit. litologi penyusun yaitu batupasir. meliputi : a. c. daerah penelitian dapat dibagi menjadi menjadi tiga bentukan asal yaitu bentukan asal struktural terdenudasi dengan sub satuan geomorfik adalah Punggungan Tererosi (S1). merupakan aspek yang mempelajari relef secara umum. pegunungan.24 4. Morfogenesa : yaitu studi mengenai proses geomorfologi yakni proses yang mengakibatkan perubahan bentuklahan yang mencakup aspek : a. Morfografi : merupakan aspek-aspek yang bersifat pemerian suatu daerah antara lain : lembah.2 Geologi Daerah Penelitian 4. b. serta tingginya tingkat erosi yang ada. batulempung.1 Geomorfologi Kajian pembagian bentuklahan didaerah penelitian mengacu pada konsep yang dikemukakan oleh van Zuidam (1983) yang telah membuat klasifikasi bentuklahan berdasarkan aspek geomorfologi. dan volkanisme. dll. Morfo-struktur pasif : meliputi litologi dan berhubungan dengan pelapukan. gerak masa batuan. punggungan. atau pola pengaliran. Aspek morfologi. Perkembangan bentuklahan daerah Binungan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang cukup dominan antara lain struktur geologi. antiklin. ketinggian. tingkat erosi. dan sesar. Morfo-struktur aktif : berupa tenaga endogen dan struktur geologi seperti sinklin. batulanau. Morfometri : merupakan aspekaspek kuantitatif dari suatu daerah. Daerah penelitian didominasi oleh perbukitan dan sebagian kecil dataran dengan ketinggian berkisar antara 5 – 130 meter di atas permukaan laut. dan batubara yang memiliki tingkat resistensi yang berbeda-beda. b. satuan bentukan asal Denudasional. beda tinggi. air.

dengan dip berkisar antara 50-200 pada bagian timur dan N3300E-N060E dengan dip antara 350-800 pada bagian barat. Sub satuan geomorfik ini memiliki lereng yang curam sampai sangat curam dengan kemiringan berkisar antara 30-95%. Arah umum batuan yang ada sangat bervariasi berkisar antara N1400E-N3400E dengan dip yang cukup besar bekisar antara 200-740. Sedangkan erosi kurang berkembang dikarenakan beda tinggi yang kecil sehingga arus sungai yang ada kecil. Pelapukan dan erosi yang terjadi cukup intensif. Dibeberapa tempat pada satuan geomorfik ini ditemukan rawa-rawa yang merupakan muara sungai-sungai kecil yang ada di sekitarnya. Arah umum lapisan yaitu N1400E-N1800E.25 4. hal ini dapat dibuktikan dengan tebal lapisan soil akibat pelapukan fisik dan kimia antara dua sampai empat meter. Satuan geomorfik Lembah Hasil Erosi memiliki beda tinggi antara 5-20 meter dari permukaan air laut.2. dan memiliki lereng yang landai sampai miring dengan kemiringan lereng berkisar antara 4-10%.1.1 Punggungan Tererosi (S1) Satuan geomorfik Punggungan Tererosi terletak di bagian barat daerah penelitian dengan luasan kurang lebih 25% dari total luasan daerah penelitian. bentuk punggungan memanjang relatif tenggara-baratlaut mengikuti arah sumbu sinklin Binungan dikontrol oleh adanya sesar naik. Ciri litologi yang ada yaitu batupasir sedang sampai halus. Satuan geomorfik Punggungan Tererosi ini merupakan sayap bagian barat dari sinklin Binungan yang memiliki beda tinggi berkisar antara 25 – 130 meter dari permukaan air laut. 4. batulanau dan batubara.2 Lembah Hasil Erosi (D1) Satuan geomorfik Lembah Hasil Erosi terletak di bagian tengah daerah penelitian dengan luasan kurang lebih 15% dari total luasan daerah penelitian. dan batubara sebagai sisipan. Ciri litologi satuan geomorfik Punggungan Struktural ini didominasi oleh batupasir dengan ukuran butir halus sampai sangat kasar dengan batulempung.1. Serta erosi oleh sungai-sungai yang membentuk lembah yang dalam. batulempung. . Pelapukan yang terjadi cukup intensif ditandai dengan tebalnya lapisan soil yang ada.2.

1. Ciri litologi dari sataun geomorfik ini adalah berupa material lepas berukuran pasir sampai lempung.2.4 Dataran Aluvial (F1) Satuan geomorfik Dataran Aluvial terletak dibagian timur daerah penelitian.2.baratdaya yang tegak lurus dengan arah umum lapisan batuan. dan memiliki lereng curam menengah sampai sangat curam dengan kemiringan lereng berkisar antara 16-75%. sedangkan pada bagian selatan berkisar antara N1600E-N1850E dengan dip bekisar antara 140-560 Pelapukan dan erosi berlangsung cukup intensif yang tampak dari banyaknya sungai sungai yang memotong perbukitan dan tebalnya soil akibat pelapukan yang terjadi. Satuan geomorfik ini merupakan akumulasi dari materia-material lepas hasil erosi pada bagian hulu dan tubuh sungai dan terendapkan pada kelokankelokan sungai. Arah umum perbukitan pada satuan geomorfik ini yang terletak di bagian utara adalah utara-selatan dan timurlaut.3 Perbukitan Tererosi (D2) Satuan geomorfik Perbukitan Tererosi terbagi menjadi dua yaitu yang terletak dibagian utara dan dibagian selatan daerah penelitian. 4.26 4. ditepi Sungai Binungan dengan luasan sekitar 5%. Satuan geomorfik ini memiliki beda tinggi antara 5-14 meter dari permukaan laut. Luasan satuan geomorfik ini kurang lebih 55% dari total luasan daerah penelitian. Sedangkan pada bagian selatan memiliki arah umum perbukitan yaitu utara-selatan yang sejajar dengan arah umum lapisan batuan Ciri litologi yang ada pada satuan geomorfik ini didominasi oleh sedimen berbutir halus yaitu batupasir halus. Terdapat juga lapisan batubara dan batupasir kasar. Arah umum lapisan batuan pada bagian utara berkisar antara N780E-N1200E dengan dip bekisar antara 100-350. Sataun geomorfik Perbukitan Sinklin memiliki beda tinggi berkisar antara 10-80 meter dari permukaan air laut.1. lereng yang rata sampai landai dengan kemiringan berkisar antara 0-5%. batulempung dan batulanau. .

3 Pola aliran sungai (Howard. Sungai yang berkembang di daerah telitian di dominasi oleh tipe sungai obsekuen dimana aliran sungai mengalir berlawanan dengan arah kemiringan lapisan Berdasarkan genesanya maka pola aliran sungai pada daerah penelitian dapat diklasifikasikan menjadi sungai sub sekuen yaitu sungai yang mengalir searah dengan jurus perlapisan. dan sungai obsekuen yaitu sungai yang mengalir berlawanan dengan kemiringan lapisan.5 Pola Aliran dan Stadia Erosi Pengklasifikasian pola aliran di daerah penelitian didasarkan pada pola sungai secara umum dan arah aliran sungai yang telah dikelompokkan olah Howard (1967). dan sungai utama yaitu Sungai Binungan menunjukkan stadia dewasa yang ditunjukkan dengan bentuk sungai yang bermeander (foto 4. Daerah penelitian termasuk dalam stadia erosi muda hingga dewasa. 1967) Pola aliran sungai di daerah binungan secara umum adalah sub dendritik.1) .1.2. yang ditunjukkan oleh aliran anak sungai yang menyesuaikan dengan bentuk lembah yang ada. masih dipengaruhi oleh variasi litologi yang ada. Gambar 4.4). dimana cabang sungai mengalir berkelok-kelok yang membentuk seperti ranting pohon yang bermuara di Sungai Binungan ( gambar 4.27 4.

28

Foto 4.1 Sungai Binungan yang menunjukkan stadia dewasa

29

Gambar 4.4 Peta pola aliran daerah penelitian

30

4.2.2

Stratigrafi

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di lapangan, didapatkan batuan yang ada di
daerah penelitian meliputi batupasir, batulanau, batulempung, dan batubara.
Litologi yang terdapat di daerah penelitian termasuk dalam satuan litostratigraphi tak
resmi dari tua kemuda yaitu satuan batupasir Latih, satuan batupasir kuarsa Latih,
satuan batulempung Latih, dan endapan aluvial. Untuk penentuan umur sedapat
mungkin dilakukan dengan menggunakan analisa fosil foraminifera plankton. Namun
apabila tidak di temukannya fosil, maka penentuan umur mengacu pada peneliti
terdahulu. Sedangkan untuk penentuan lingkungan pengendapan didasarkan pada
aspek fisik, kimia, dan biologi dari singkapan yang ada ditambah dengan data
pemboran yang ada, dan membandingkan dengan sub lingkungan pengendapan dari
Horne (1978).

4.2.2.1 Satuan batupasir Latih
Penyebaran dan Ketebalan
Satuan batupasir Latih merupakan satuan batuan yang terendapkan paling awal,
penyebaran satuan ini berada di bagian barat daerah penelitian. Batas bagian barat
satuan ini berbatasan dengan batas daerah penelitian sedangkan bagian utara, timur
dan selatan daerah ini dibatasi dengan kontak struktur yaitu Sesar Naik Binungan.
Ketebalan satuan ini lebih besar dari 75 meter. Satuan ini menempati ± 10% dari total
luas keseluruhan daerah penelitian.

Litologi
Batupasir halus merupakan litologi yang dominan pada satuan ini dengan perselingan
batulanau dan batulempung. Batupasir memiliki warna abu-abu kecoklatan, struktur
sedimen massif, perlapisan, dan

coarsening up, ukuran butir pasir sedang-pasir

sangat halus, pemilahan baik, kemas tertutup, membundar, komposisi mineral kuarsa,
dibeberapa tempat terapat nodul oksida besi pada lapisan batupasir ( foto 4.2).Dari
hasil pengamatan petrografis, memiliki warna abu-abu kecoklatan, tekstur klastik,
ukuran butir 0,001-0,1 mm, kemas terbuka, bentuk butir menyudut tanggung-

31 membulat. perlapisan. kemas terbuka. komposisi mineral kuarsa (14%). mineral lempung (66%). lithic (12%). mineral opak (8%). tekstur klastik. 1954) Batulempung memiliki warna abu-abu kecoklatan.Miosen Tengah (Situmorang & Burhan 1995). bentuk butir menyudut tanggung-membulat. ukuran butir 0. .2 – 6 meter.1-1 meter. laminasi. dengan nama lithic wacke (klasifikasi Gilbert.01-0. struktur sedimen massif. lithic (28%).04 mm. memiliki warna abu-abu kecoklatan. Batulanau pada satuan ini merupakan perselingan dengan batupasir dan sisipan dengan ketebalan 0. dengan nama claystone (klasifikasi Gilbert.2 Singkapan batupasir halus dengan nodul oksida besi Umur Berdasarkan kesebandingan ciri litologi dengan peneliti terdahulu maka dapat diinterpretasikan bahwa satuan batupasir ini termasuk dalam Formasi Latih bagian bawah dengan umur Miosen Awal . mineral opak (16%). dengan struktur sedimen massif. Batulanau memiliki warna coklat muda. mineral lempung (39%). Batulempung pada satuan ini merupakan sisipan dengan ketebalan 0. perlapisan. 1954) Foto 4. komposisi mineral kuarsa (17%). Berdasarkan pengamatan petrografis.

4. batulanau.5). Satuan ini terletak pada bagian tengah daerah penelitian. Berdasarkan aspek diatas. maka satuan ini dapat dimasukkan dalam lingkungan pengendapan Transisional Lower Delta Plain (Horne 1978) ( gambar 4.32 Lingkungan Pengendapan Bagian bawah satuan ini dijumpai batulanau yang semakin ke atas berangsur berubah menjadi batupasir sedang. Ketebalan satuan batupasir kuarsa Latih dari hasil analisa adalah 445 meter. batulempung pasiran.2. Kehadiran nodul oksida besi tersebut menunjukkan bahwa pengendapan batuan tersebut pernah terhenti dan muncul kepermukaan sehingga bereaksi dengan udara luar membentuk nudul-nodul oksida besi. . Penyebaran memanjang relatif baratlaut-tenggara dengan kemiringan lapisan relatif kearah baratdaya. Pada beberapa tempat dijumpai batupasir dengan nodul oksida besi dan adanya perulangan pengendapan batupasir dan batulempung. Satuan ini menempati ± 45% dari total luas keseluruhan daerah penelitian. dan batubara. Litologi Satuan batupasir kuarsa Laith tersusun oleh perselingan batupasir dengan batulempung. Selain itu kehadiran struktur sediment coarsening up pada batupasir menunjukkan bahwa litologi ini terendapkan pada chanel-chanel delta. Semen yang dominant pada satuan ini adalah silica dan beberapa tempat terdapat semen oksida. Hal ini mengindikasikan arus pasang surut cukup berpengaruh pada pengendapan satuan ini.2 Satuan batupasir kuarsa Latih Penyebaran dan Ketebalan Satuan batupasir kuarsa Latih merupakan satuan yang terendapkan setelah satuan Batupasir Latih.2.

Dijumpai adanya sisipan batulempung. 1978).5 Sekuen endapan transitional lower delta plain (Horne. laminasi. perlapisan. Struktur sedimen yang terdapat pada batupasir adalah massif.33 Gambar 4. ukuran butir pasir halus sampai pasir sedang. . dan batubara. dan dibeberapa tempat terdapat struktur burrow. cross bedding. graded bedding. membulat baik-membulat. Batupasir pada umumnya berwarna coklat kemerahan tetapi di beberapa tempat dijumpai juga yang berwarna abu-abu. pemilahan sedang. terdiri dari fragmen kuarsa dengan semen silica. batulanau. Dua sample batupasir yang dilakukan analisa petrografi didapatkan hasil yang berbeda.

10-2. laminasi. tekstur klastik. ukuran butir 0. butiran terdiri dari kuarsa (76%) dan mineral opak (16%) dengan rongga antar butir terisi mineral lempung (8%).05-0. tekstur klastik.15 mm. pada umumnya berwarna abu-abu kecoklatan. semen silica. Batulanau berwarna coklat sampai abu-abu cerah dengan struktur sedimen yang berkembang adalah massif. perlapisan. Litologi ini biasanya hadir sebagai sisipan pada batupasir dengan ketebalan 0. biotit (2%). dengan nama lithic arenit (klasifikasi Gilbert. lithic (20%) dengan rongga antar butir terisi mineral lempung (18%). kemas terbuka. bentuk butir menyudut tanggung-membulat tanggung. 1954) Batulempung pada umumnya berwarna abu-abu sampai abu-abu gelap. struktur yang berkembang umumnya massif dan laminasi. didapatkan batupasir dengan coklat kehitaman.34 Pada analisa petrografi untuk sample dari lokasi pengamatan 39. dengan nama lithic wake (klasifikasi Gilbert. Pada analisa petrografi untuk sample dari lokasi pengamatan 17.5 meter. berlapis antara 0.10-4 meter. mineral opak (4%). . didapatkan batupasir dengan warna abu-abu kecoklatan. Struktur yang ada yaitu massif. butiran terdiri dari kuarsa (56%). Foto 4. ukuran butir pasir sangat halus. kemas terbuka. dan burrow. bentuk butir menyudut tanggung-membulat. perlapisan. Batulempung yang mengapit batubara biasanya mengandung karbonan dengan struktur massif dan menyerpih.25 mm. Batulempung pasiran. 1954).02-0. coarsening up dan burrow.3 Singkapan batupasir sedang dengan sisipan batulempung. ukuran butir 0.

Kontak batubara dengan batuan yang lain ada yang tegas dan berangsur. gores coklat sampai hitam.2 meter. mengkilap. Berdasarkan data-data di atas. perlapisan silangsiur dan laminasi. Ketebalan batubara bervariasi mulai dari 0. pecahan sub concoidal-concoidal. Lingkungan Pengendapan Bagian bawah satuan ini dijumpai batupasir dengan perselingan batulanau. Penyebaran satuan ini berada di tengah daerah penelitian yaitu sepanjang sumbu Sinklin Binungan menempati ± 40% dari total luasan daerah penelitian.35 Batubara. batulanau. Pada satuan ini dijumpai beberapa seam batubara dengan penyebaran yang luas. Umur Berdasarkan kesebandingan ciri litologi dengan peneliti terdahulu maka dapat diinterpretasikan bahwa satuan ini termasuk dalam Formasi Latih bagian tengah dengan umur Miosen Tengah (Situmorang & Burhan 1995). perlapisan.3 Satuan batulempung Latih Penyebaran dan Ketebalan Satuan batulempung Latih merupakan satuan yang terendapkan setelah satuan batupasir kuarsa Latih. umumnya berwarna hitam. .2. Pada bagian atas satuan ini terendapkan batupasir dengan sisipan batulempung dan batulanau.5). brittle. Terdapat struktur sediment berupa burrow. Ketebalan satuan ini ± 225 m .2. maka dapat diinterpretasikan bahwa lingkungan pengendapan satuan ini adalah Transisional Lower Delta Plain (Horne 1978) (gambar 4.20 sampai 3. Kemudian diikuti dengan pengendapan batupasir selang-seling dengan batulempung. 4. dijumpai cleat baik itu cleat terbuka dan tertutup. dan batubara. coarsening up.

Batulempung berwarna abu-abu cerah sampai abu-abu gelap dengan struktur sedimen massif. pada umumnya berwarna abu-abu. Kontak batubara dengan batuan yang lain tegas. Ketebalan batubara bervariasi mulai dari 0. dengan struktur sedimen perlapisan. Dibeberapa tempat terutama para roof dan floor batubara. mengkilap. karbon (22%). pecahan sub concoidal-concoidal. laminasi. dengan ukuran butir pasir sangat halus sampai pasir sedang. berwarna abu-abu kecoklatan. membundar baik. Batulanau. pemilahan baik. Struktur sedimen yang dominan berkembang yaitu perlapisan. Batubara. perlapisan silangsiur. perlapisan silangsiur. dengan ukuran butir 0. komposisi kuarsa. Lingkungan Pengendapan Bagian bawah satuan ini dijumpai batulempung dengan perselingan batupasir dan batubara.5 meter. perlapisan. Batupasir. laminasi silangsiur. berwarna hitam. batulempung banyak mengandung unsur karbonan. mineral opak (4%). perlapisan. didominasi oleh mineral berukuran lempung dengan butiran berupa kuarsa (8%). dan burrow. coarsening up. Kemudian diikuti dengan pengendapan batulempung sisipan batupasir dan batulanau. Berdasarkan pengamatan petrografi didapatkan warna coklat kehitaman. lithic (9%). brittle.01. dan burrow.6). Pada satuan ini dijumpai beberapa seam batubara . semen silika. dengan ketebalan antara 0.8 meter. dan burrow. dan sisipan batubara (gambar 4. Umur Berdasarkan kesebandingan cirri litologi dengan peneliti terdahulu maka dapat diinterpretasikan bahwa satuan batulempung ini termasuk dalam Formasi Latih bagian atas dengan umur Miosen Tengah (Situmorang & Burhan 1995).10 sampai 1.04 yang tertanam pada lempung (57%).36 Litologi Satuan batulempung Latih tersusun oleh perselingan batulempung dengan batupasir. Struktur sedimen yang ada yaitu massif.0. laminasi. laminasi.10 sampai 2. batulanau. gores coklat sampai hitam..

Pengendapan endapan alluvial ini masih berlangsung hingga saat ini sehingga umur dari endapan ini adalah Holosen.2. 4.37 dengan penyebaran yang luas. maka satuan ini dapat dimasukkan dalam lingkungan pengendapan Transisional Lower Delta Plain (Horne 1978). terdiri dari material lepas hasil sedimentasi dari Sungai Binungan berukuran lempung sampai krikil.4 Endapan Aluvial Terdapat di tepi Sungai Binungan. Berdasarkan aspek diatas. menempati ± 5% daerah telitian.2. .

6 Profil singkapan Lp 63. 64.Crevasse Splay Gambar 4. 65 skala 1 : 100 S w a m p Transisional Lower Delta Plain Crevasse Splay Crevasse Splay 38 .

serpih. laminas. terdiri dari batupasir kuarsa dengan sisipan batulempung. str. kusam . perlapisan. batulempungpasiran.sub-concoidal. str. batulanau. str. laminasi. str. laminasimengandung unsur karbonan. burrow. dan batubara. cleat.2 Kolom stratigrafi daerah penelitian PEMERIAN Endapan aluvial. str. dan batu bara.mengkilap. komposisi kuarsa. mengandung unsur karbonan dan plant remain. perlapisan. imengandung unsur karbonan. terdiri dari batulempung dengan perselingan batupasir. Batupasir. dan burrow. Batulempung . Satuan batupasir Latih. str. serta sisipan batulanau. pasir sangat halus . Batulanau. Batulanau. I L A T MIOSEN TENGAH Satuan batulempung Latih.sedimen masif. ketebalan 0.09 4. abu-abu kecoklatan.sedimen masif. perlapisan. perlapisan.str.hitam kecoklatan. abu-abu kecoklatan.hitam. melembar .sedimen masif. perlapisan. burrow.coklat kemerahan.hitam. > 75 meter Batupasir Latih MIOSEN AWAL Batubara.sedimen masif. abu-abu kecoklatan.pasir sedang.sedimen masif. str. ketebalan 0. graded bedding. Transitional Lower Delta Plain Batubara. sedimen masif. mengandung unsur karbonan. hitam .mengkilap. plant remain. pasir halus . abu-abu kecoklatan. str. perlapisan.sub-concoidal. Batulempung. laminasi. abu-abu kecoklatan.39 SIMBOL LITOLOGI TEBAL Endapan SATUAN aluvial FORMASI HOLOSEN KALA Tabel 4. perlapisan. gores coklat . gores coklat . perlapisan silang siur. cleat. graded bedding. hitam . abu-abu. tersusun oleh material lepas berukuran lempung sampai krikil yang berasal dari endapan Sungai Binungan LINGKUNGAN PENGENDAPAN Fluviatil > 225 meter Batupasir. kusam . abu-abu kecoklatan. Batulempung pasiran. melembar .pasir kasar. perlapisan. abu-abu. Batulanau.sedimen masif. 445 meter B a t u pa s i r k u ar s a L a t i h Satuan batupasir kuarsa Latih. str. laminasi bergelombang. burrow.09 3. terdiri dari batupasir dengan sisipan batulempung dan batulanau. abu-abu kehitaman. dan burrow. laminasi. abu-abu . laminasi.08 meter. perlapisan. laminasi. terdapat nodul batu lempung. perlapisan. H B at ul e m pu ng L at ih Batulepung.sedimen masif.hitam kecoklatan.sedimen masif.20 meter. Batupasir.sedimen masif. . laminasi. pasir sangat halus .pasir sedang.

Berdasarkan hasil analisa tersebut maka jenis lipatan adalah Upright Horizontal Fold. Dengan sumbu sinklin yang relatif melengkung.Tingginya tingkat pelapukan di daerah ini menjadi suatu kendala bagi ditemukannya singkapan-singkapan segar yang dapat dijadikan sebagai indikasi keberadaan suatu zona struktur.. N 178° E. Analisa lipatan pada bagian selatan berdasarkan data-data hasil pengukuran kedudukan bidang perlapisan pada sayap sinklin dengan metode stereografis didapatkan kedudukan arah umum sayap lipatan timurlaut adalah N 157° E/ 22°. arah umum sumbu lipatan adalah N 170° E / 60° dan garis sumbu 6°.40 4. arah umum sumbu lipatan adalah N 176° E / 86° dan garis sumbu 8°. 4.2.2.38°.3).1 Sinklin Binungan Terletak dibagian tengah daerah penelitian. dan kemiringan batuan yang sangat bervariasi. klasifikasi menurut Fluety. namun di bagian selatan pola jurus berangsur menjadi barat-timur (berada di luar daerah penelitian.3. kedudukan arah umum sayap lipatan baratdaya adalah N 350° E/ 73°. ini ditandai dengan pola jurus dari batuan yang bagian selatan relatif berarah utara-selatan. N 168° E. Struktur geologi di daerah Binungan cukup berkembang. Arah umum dari sumbu sinklin ini pada bagian selatan relatif utara-selatan dan berbelok relatif ke tenggara-baratlaut pada bagian utara dengan kemiringan sayap baratdaya berkisar antara 25°-76° dan kemiringan sayap timurlaut berkisar antara 7°. kedudukan arah umum sayap lipatan baratdaya adalah N 14° E/ 27°. Berdasarkan hasil analisa tersebut maka jenis lipatan adalah Steeply inclined Horizontal Fold. . Analisa lipatan pada bagian utara didapatkan kedudukan arah umum sayap lipatan timurlaut adalah N 151° E/ 14°. 1964 (tabel 4.3 Struktur Geologi Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian adalah struktur geologi yang berarah relatif Tenggara-Baratlaut yaitu Sinklin Binungan dan Sesar Naik Bingungan. 1964. klasifikasi menurut Fluety. maka analisa lipatan dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada bagian selatan dan bagian utara.

3. pada kala Miosen Awal-Miosen Tengah. Hal ini didasarkan pada beberapa data penunjang yaitu : 1. Di atas satuan batupasir Latih secara selaras diendapkan satuan batupasir kuarsa Latih dengan litologi penyusun batupasir dengan sisipan batulanau. batulempung.10° Subhorizontal Recumbent Fold Horizontal Fold 10° . pada kala Miosen Awal. Kedudukan dari bidang sesar yakni N 1730 E/420 2.2.41 Tabel 4. Kenampakan topografi berupa kontur yang rapat dan memanjang berupa punggungan yang diinterpretasikan sebagai puncak antiklin yang kemudian patah.30° Gentle Gently Inclined Fold Gently Plunging Fold 30° . Adanya kemiringan yang relatif besar dekat zona sesar antara 650-740. Satuan batupasir kuarsa Latih diendapkan pada lingkungan transisional lower delta plain. dimana kedudukan batuan sangat acak di dekat zona sesar. dan batupasir.4 Sejarah Geologi Sejarah geologi daerah penelitian berawal diendapkannya satuan batupasir Latih dengan litologi penyusun berupa batupasir dengan sisipan batulanau. dan batubara. 4.3 Klasifikasi Lipatan menurut Fluety.2 Sesar Naik Binungan Terletak disebelah barat daerah penelitian.89° Subvertical Upright fold Vertical Fold 90° vertical Upright fold Vertical Fold 4. 3. Satuan batupasir Latih diendapkan pada lingkungan transisional lower delta plain. 1964 Angle Term Dip of Hinge Surface Plunge of Hinge Line 0° Horizontal Recumbent Fold Horizontal Fold 1° . Pada sesar ini daerah bagian barat daya relatif naik terhadap bagian timurlaut. .2. Adanya zona hancuran.80° Steep Steeply Inclined Fold Steeply Plunging Fold 80° . 4. Tingginya tingkat pelapukan dan tebalnya soil yang terdapat di lapangan menyulitkan didapatkannya data-data kekar untuk dilakukan analisa struktur.60° Moderate Moderately Inclined Fold Moderately Plunging Fold 60° .

Proses tektonik ini menyebabkan seluruh sataun batuan yang ada mengalami perlipatan dan membentuk sinklin Binungan. Setelah diendapkannya satuan batulempung Latih pada daerah penelitian terjadi proses tektonik dengan tegasan relatif berarah timurlaut-baratdaya. Selama proses tektonik berlangsung hingga saat ini terjadi proses erosi dan pelapukan yang mengakibatkan satuan batuan yang ada di daerah penelitian tersingkap dan terbentuknya endapan alluvial yang ada di sekitar sungai Binungan. . Akibat proses tektonik yang terus berkerja. pada kala Miosen Tengah. Sesar naik Binungan menyebabkan satuan batupasir Latih terangkat kepermukaan. pada bagian barat daerah penelitian tersesarkan membentuk sesar naik Binungan. batulanau. Satuan batupasir lempung Latih diendapkan pada lingkungan transisional lower delta plain. dan batubara.42 Kemudian di atas satuan batupasir kuarsa Latih diendapkan secara selaras satuan batulempung Latih dengan litologi penyusun berupa batulempung sisipan batupasir.

F.1). Karena terbatasnya data yang ada maka penelitian ini hanya mengambil 6 seam dari 11 seam yang ada yaitu seam G. G. L. E1. J. dan M. diketahui bahwa daerah penelitian memiliki 11 seam utama dengan urutan dari tua ke muda yaitu seam D. H. K. H. E.1 Skema seam daerah Penelitian PARENT SEAM SECONDARY SPLITTING SEAM M MU ML LU L LL TERTIARY SPLITTING SEAM QUARTENARY SPLITTING SEAM LUU LUL LLU LLL K1U K1 K K1L K1LU K1LL KU KL J H G HU HL GU GUU GUL GL F FU FL E1 E1U E1L EUU EU EUL E EL ELU ELL D DU DL EULU EULL ELUU ELUL . dan L.43 BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berdasarkan data dari pengamatan langsung di lapangan serta data e-log dan log bor sebanyak 73 titik bor yang tersebar dominan pada bagian timur daerah penelitian dan memanjang ke utara-selatan (gambar 5. semua seam yang ada mengalami splitting (batubara dengan parting ≥ 15 cm dikategorikan mengalami splitting) kecuali seam J (tabel 5. K1. J. K1.1). Tabel 5. K.

44 Gambar 5.1 Peta distribusi titik bor daerah penelitian .

Tabel 5. dan sulfur sulfat.18 (%adb) pada titik bor DD-03-12. Pirit banyak terlihat berhamburan dan menempel pada batubara terutama pada cleat. .1. Dimana seam GU dan GL yang mengandung pirit memiliki total sulfur yang cukup tinggi yaitu 1.75 5. kandungan abu dan nilai kalori didapat dari data hasil analisa laboratorium.3.45 5.4).44 (%adb) dan 1.99 KANDUNGAN ABU (% adb) - 8. dan untuk kualitas yaitu total sulfur.08 16.967. menunjukkan pola sebaran sulfur seam GL yang semakin ke arah utara nilai dari sulfur semakin tinggi dengan nilai tertinggi 2.1 Karakteristik dan Kualitas Lapisan Batubara Grup G Berdasarkan pengamatan singkapan di lapangan (gambar 5.73 Kehadiran pirit pada lapisan batubara GU dan GL berpengaruh sangat signifikan terhadap nilai total sulfur yang ada.90 (%adb) sedangkan seam GUU dan GUL yang tidak mengandung pirit memliliki total sulfur yang lebih rendah yaitu 1.2.150.030. lp 43 dan 53) dan data-data log bor serta e-log didapatkan karakteristik fisik lapisan batubara grup G.90 1.44 1. sulfur sulfida (pirit).19 5.1 Lapisan Batubara Grup G 5.16 4.981. Karakteristik fisik dan kualitas dari lapisan batubara ini terdapat pada tabel 5. Sulfur dalam batubara dapat hadir sebagai sulfur organik.2 Karakteristik dan kualitas lapisan batubara grup G SEAM G PARAMETER GU GL GUU GUL Hitam Hitam Hitam Hitam Hitam Hitam Hitam kecoklatan Hitam Hitam Hitam Sedang Sedang Sedang Sedang Mengkilap Sub concoidal Sub Sub Sub concoidal – Sub concoidal melembar concoidal melembar BERAT JENIS Ringan Agak berat Ringan Berat Ringan KEKERASAN Agak keras Agak keras Agak keras Keras Agak keras JARAK CLEAT (cm) Tidak ada data Tidak ada data 3–8 Tidak ada data Tidak ada data Setampat Setempat Setampat Setampat Setampat Pirit Setempat Setempat pd cleat Merata - - Parting (cm) - - - - - WARNA GORES kecoklatan KILAP PECAHAN Resin PENGOTOR kecoklatan concoidal- TOTAL SULFUR (% adb) - 1.09 5. Berdasarkan peta iso sulfur lapisan batubara GL dan G yang dibuat (gambar 5.60 NILAI KALORI (Kcal/kg) - 5.99 (%adb).15 (%adb) dan 0.97 7.2 dan 5.15 0.

Berdasarkan peta iso kandungan abu (gambar 5. Pada peta kandungan abu dan nilai kalori tampak adanya hubungan antara nilai kalori dengan kandungan abu dalam batubara. Dimana nilai kalori akan rendah bila kandungan abu dalam batubara tinggi demikian pula sebaliknya. kilap dominant sedang menandakan bahwa grup G memiliki kualitas sedang. maka litologi tersebut diendapkan pada sub-lingkungan interdistributary bay.3).030.150. Dan dari karakteristik fisik tampak bahwa seam GU dan GUU memiliki kualitas yang tidak terlalu bagus.1. mengindikasikan bahwa lingkungan pengendapan batuan ini telah menuju ke daerah dengan kondisi arus pasang surut. nilai kalori seam GL semakin tinggi ke arah utara dengan nilai tertinggi sebesar 6. dilakukan analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup G (tabel 5. .46 Tingginya kandungan abu dari seam GU dan GUU yakni 8. Terdapatnya struktur sedimen burrow dan laminasi bergelombang pada litologi berbutir halus seperti pasir halus dan lanau di atas roof lapisan batubara GUU dan di bawah floor GUL.969 pada titik bor DD-03-22.75 (Kcal/kg) untuk seam GU dan 5.2 Lingkungan Pengendapan Lapisan Batubara Grup G Berdasarkan perolehan data di lapangan dan data log bor. Hal ini dikarenakan pada saat pembakaran dalam analisis batubara. panas yang dikeluarkan habis untuk membakar abu.97 dan 16. Ini tampak pada GU dan GUU yang memiliki nilai kalori yang lebih rendah dari GL dan GUL dimana keduanya memiliki resin yang setampat-setempat. Kandungan abu dalam batubara dapat dihasilkan dari pengotor bawaan (inherent impurities) maupun pengotor sebagai hasil penambangan.16 (%adb) membuat nilai kalori yang dimiliki kedua seam ini rendah yakni 5. gores hitam-hitam kecoklatan. Kehadiran resin yang setempat-setempat tidak terlalu berpengaruh terhadap nilai kalori yang ada.09 (Kcal/kg) untuk seam GUU.05 (%adb) pada titik bor DD-03-09. Inherent imputities merupakan pengotor dalam batubara yang berhubungan dengan tumbuhan asal pembentukan batubara.163. Berdasarkan ciri fisik yang dimiliki lapisan batubara grup G dengan warna hitam. Berdasarkan peta iso kalori yang dibuat (gambar 5. 5.6). Berdasarkan ciri tersebut.5) menunjukkan pola sebaran kandungan abu seam GL yang semakin ke selatan semakin tinggi dengan nilai tertinggi 8.

plant remain Roof: batulempung karbonan. disimpulkan bahwa lapisan batubara grup G termasuk dalam lingkungan pengendapan transitional lower delta plain.sangat halus-ps. abu-abu. sisipan ps. abu-abu. plant remain Batulempung karbonan. menyerpih.sedang-ps. abu-abu. maka dengan menggunakan pendekatan model lingkungan pengendapan dari Horne (1987). ps. abu-abu Batupasir kuarsa. plant remain Roof: batulempung karbonan.sangat halus Batupasir. menyerpih Batulanau. ps. abu-abu. Splitting dalam batubara grup G terjadi akibat adanya suplay sedimen yang telah melebihi akumulasi gambut. Roof: batulempung karbonan. sehingga menyebabkan adanya gangguan pada batubara tersebut yang dapat memisahkan batubara tersebut.47 Tingginya kandungan sulfur yang terdapat pada lapisan batubara grup G mengindikasikan bahwa lingkungan terbentuknya batubara ini mendapat pengaruh dari air payau maupun air laut. ps. abu-abu.3 Analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup G G GU GL GUU GUL CIRI-CIRI LITOLOGI Batupasir.halus-ps. menyerpih.sedang Batulanau.halus-lanau. Tabel 5. Selain itu tingginya sulfur juga dipengaruhi oleh kondisi roof dari batubara yang banyak mengandung sisa-sisa tumbuhan (plant remain). hitam. abu-abu. abu-abu. laminasi bergelombang Interdistributary bay Transitional lower delta plain SEAM . plant remain Batubara Floor: batulempung karbonan Batupasir kuarsa . menyerpih hitam Batulempung karbonan. Roof: batulempung karbonan.abu-abu. menyerpih Batubara Floor: batulempung karbonan. plant remain Batubara Floor: batulempung karbonan. menyerpih Batubara Floor: batulempung karbonan. halus STRUKTUR SEDIMEN SUB LINGKUNGAN LINGKU NGAN PENGEN DAPAN Crevasse splay Swamp Nodule Crevasse splay Crevasse splay Swamp Swamp Crevasse splay Burrow Interdistributary bay Swamp Swamp Burrow. menyerpih Batulempung Batulempung Roof: batulempung karbonan. menyerpih Batulempung.sedang Batupasir. menyerpih. menyerpih hitam Batubara Floor: batulempung karbonan. abu-abu Batulempung. Kondisi ini dipengaruhi langsung oleh proses trasgresi dan regresi. ps.halus-ps. abu-abu.halus Batulempung. Berdasarkan asosiasi dari sub-lingkungan di atas. ps. sangat halus-ps.

42. dan 44 Swamp Transisional Lower Delta Plain Swamp Swamp Crevasse Splay 48 Crevasse Splay .Crevasse Splay Swamp Crevasse Splay Gambar 5. 43.2 Profil lokasi pengamatan 41.

Swamp Gambar 5.3 Profil lokasi pengamatan 51. dan 54 Swamp Swamp Transisional Lower Delta Plain Crevasse Splay Interdistri butary bay Swamp 49 . 52. 53.

180 DD-03-09 1.50 DD-03-22 1.730 U : Iso Sulfur.990.916 DD-03-12 2.4 Peta iso sulfur seam G dan GL GALIH KURNIAWAN 111.256 UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” Sulfur (% adb) PETA ISO SULFUR SEAM GL DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4 KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR : Batas Topografi SKALA 1 : 12.500 Gambar 5.02 (% adb) JURUSAN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor 0.730 DD-03-04 1.730 DD-03-14 1.112 . interval 0.

990.500 GALIH KURNIAWAN 111.050 DD-03-04 8.51 DD-03-22 3.050 DD-03-14 8.550 Ash (% adb) JURUSAN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” PETA ISO ASH SEAM GL DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4 KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR : Batas Topografi Gambar 5.827 DD-03-09 8.224 DD-03-12 6.112 .050 U : Iso Ash.5 Peta iso ash seam G dan GL SKALA 1 : 12. interval 0.1 (% adb) BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor 5.

969 DD-03-12 5902.112 .6 Peta nilai kalori seam G dan GL GALIH KURNIAWAN 111.000 U : Iso Kalori.000 DD-03-04 5966. interval 10 (Kcal/Kg) JURUSAN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor 5950 Kalori (Kcal/Kg) UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” PETA ISO KALORI SEAM GL DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4 KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR : Batas Topografi SKALA 1 : 12.52 DD-03-22 6163.990.000 DD-03-14 5966.500 Gambar 5.521 DD-03-09 5966.

53 5.4.15 %adb) dari seam HU (0. seam H menunjukkan penyebaran sulfur yang seakin tinggi kearah tengah.15 KANDUNGAN ABU (% adb) 9. Karakteristik fisik dan kualitas dari lapisan batubara ini terdapat pada tabel 5. Seam HL memiliki total sulfur yang lebih tinggi (1. Dalam peta iso sulfur lapisan batubara H dan HL yang dibuat (gambar 5.84 (%adb). Dimana untuk seam H kandungan sulfur .93 Sulfur yang tinggi pada seam H yang mencapai 2. Hal ini mungkin dikarekanan seam HL mengandung sulfur organik yang berasal dari plant remain pada lapisan floor seam HL. Tabel 5.91 5.2 dan 5.84 0.2. sedangkan seam HL nilai total sulfur semakin tinggi ke utara.028.86 3. lp 42 dan 52) dan data-data log bor serta e-log didapatkan karakteristik fisik lapisan batubara grup H.72 %adb) walaupun tidak terdapat pirit dalam dalam batubara. Plant remain merupakan sisa-sisa tumbuhan yang tidak ikut membusuk dan merupakan sumber dari sulfur organik.23 6.796.83 7. dan untuk kualitas yaitu total sulfur. kandungan abu dan nilai kalori didapat dari data hasil analisa laboratorium.555.4 Karakteristik dan kualitas lapisan batubara grup H SEAM H PARAMETER WARNA GORES HU HL Hitam Hitam Hitam Hitam Hitam Hitam kecoklatan kecoklatan kecoklatan KILAP Mengkilap Mengkilap Sedang PECAHAN Sub concoidal Sub concoidal Sub concoidal BERAT JENIS Agak berat Ringan Ringan KEKERASAN Keras Agak keras Mudah pecah JARAK CLEAT (cm) Tidak ada data 2-7 4–8 - - Setampat Setempat Setempat pada - 3 - Resin PENGOTOR Pirit Parting (cm) cleat - TOTAL SULFUR (% adb) 2. dipengaruhi oleh adanya pirit pada batubara dan plant remain pada roof serta kehadiran parting dengan ketebalan 3 cm.3.7).1 Karakteristik dan Kualitas Lapisan Batubara Grup H Berdasarkan pengamatan singkapan di lapangan (gambar 5.72 1.2 Lapisan Batubara Grup H 5.05 NILAI KALORI (Kkal/kg) 5.

sedangkan untuk seam HL semakin tinggi ke arah utara dengan kandungan abu tertinggi mencapai 18. Nilai kalori seam H. 71 (%adb) pada bor DD-03-12 sedangkan seam HL 2. HU.8) menunjukkan pola sebaran kandungan abu lapisan batubara H yang semakin tinggi ke arah tengah dengan kandungan abu tertinggi mencapai 15. pada peta kandungan abu (gambar 5.86 (%adb) DD-0322. Penyebaran sulfur dan abu dari seam H dan HL menunjukkan pola yang sama yaitu untuk seam H memiliki penyebaran sulfur dan abu yang semakin tinggi ke arah tengah dengan nilai tertinggi pada bor DD-03-12 dan penyebaran abu yang semakin tinggi ke utara dengan nilai tertinggi pada bor DD-03-22. Sehingga dapat menaikkan kandungan abu dalam batubara.9). Pola penyebaran yang sama ini dapat terjadi karena kehadiran sulfur (sulfur organik dan pirit) dalam batubara merupakan unsur pengotor yang dalam proses pembakaran batubara tidak habis terbakar. Tingginya abu pada seam H dipengaruhi oleh adanya parting setebal 6 cm yang ikut dalam analisa sehingga mempengaruhi nilai kandungan abu seam H. untuk lapisan batubara HL ke arah selatan nilai kalori semakin tinggi.00 (%adb) pada bor DD-03-12. maka nilai kalori dari batubara akan tinggi. dan HL sangat dipengaruhi oleh kandungan abu yang terdapat dalam batubara.18 (%adb) pada bor DD-03-22. nilai kalori lapisan batubara H semakin tinggi ke arah utara dan selatan. .54 tertinggi mencapai 7. Dimana semakin tinggi kandungan abu yang ada maka nilai kalori dari batubara semakin rendah demikian juga apabila kandungan abu dalam batubara rendah. Berdasarkan peta iso kalori yang ada (gambar 5.

422 2.1 (% adb) BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor 0.500 Gambar 5.112 .080 DD-03-08 2.555 DD-03-14 0.7 Peta iso sulfur lapisan batubara H & HL GALIH KURNIAWAN 111.426 DD-03-12 7.990.180 DD-03-17 0.710 DD-03-09 1. interval 0. HL DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4 KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR SKALA 1 : 12.379 DD-03-04 0.307 U JURUSAN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL : Iso Sulfur.550 Sulfur (% adb) : Garis Splitting : Batas Topografi UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” PETA ISO SULFUR SEAM H.55 BD-03-40A DD-03-22 1.

860 DD-03-17 4.990. interval 0. HL DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4 KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR : Batas Topografi SKALA 1 : 12.8 Peta iso ash lapisan batubara H & HL GALIH KURNIAWAN 111.56 BD-03-40A DD-03-22 1.310 DD-03-08 11.550 Ash (% adb) : Garis Splitting UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” PETA ISO ASH SEAM H.500 Gambar 5.616 DD-03-04 5.830 18.227 DD-03-12 15.2 (% adb) JURUSAN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor 5.000 DD-03-09 4.770 DD-03-14 6.112 .949 U : Iso Ash.

306 DD-03-12 5199.000 DD-03-17 6148.616 DD-03-04 5773.990.000 DD-03-08 5405.154 DD-03-14 6.112 .000 DD-03-09 5926.57 BD-03-40A DD-03-22 6508.500 Gambar 5.074 U : Kalori.9 Peta iso kalori lapisan batubara H & HL GALIH KURNIAWAN 111. interval 20 Kcl/Kg JURUSAN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor 5876 Kalori (Kcl/Kg) : Garis Splitting UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” PETA ISO KALORI SEAM H. HL DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4 KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR : Batas Topografi SKALA 1 : 12.000 4997.

58 5. menyerpih Roof : batulempung. abu-abu. Hal ini sesuai dengan pendapat Mansfield & Spackman (1968) yang menyatakan bahwa batubara dibawah pengaruh air laut mempunyai kandunga sulfur lebih tinggi disbanding yang ada di air tawar. . dilakukan analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup H (tabel 5. abu-abu. laminasi bergelombang Interdistributary bay Batulempung. laminasi bergelombang Batulempung. abu-abu. Adanya batulempung karbonan yang memisahkan lapisan batubara HU dan HL mengindikasikan pernah terjadi suplai material klastik ke rawa yang mengakibatkan pembentukan batubara terhenti. menyerpih Batulempung karbonan. fragmen batubara Batubara Floor : Batulempung karbonan. maka litologi tersebut diendapkan pada sub-lingkungan interdistributary bay. menyerpih Batulempung karbonan. Tabel 5. abu-abu. ps. abu-abu. abu-abu Batupasir kuarsa. ps. plant remain Batubara Floor : batulempung.2 Lingkungan Pengendapan Lapisan Batubara Grup H Berdasarkan perolehan data di lapangan dan data log bor.ps. menyebabkan seam H memiliki kandungan sulfur yang tinggi.sedang H HL Burrow. menyerpih Batubara Floor : Batulempung karbonan. abu-abu.5). sisipan batulanau HU SUB LINGKUNGAN Swamp Burrow.halus. plant remain Interdistributary bay Swamp LINGKU NGAN PENGEN DAPAN Transitional lower delta plain SEAM STRUKTUR SEDIMEN Swamp Terdapatnya struktur sedimen burrow dan laminasi bergelombang padan litologi berbutir halus seperti pasir halus di atas roof lapisan batubara H dan di bawah floor HL. Diendapkannya seam H pada sub lingkungan interdistributary bay dengan adanya pengaruh dari air payau maupun air laut.5 Analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup H CIRI-CIRI LITOLOGI Batupasir kuarsa.sangat halus-ps. abu-abu. Berdasarkan ciri tersebut.2. hitam. abu-abu. sangat halus. abu-abu Batulempung karbonan. Secara umum lapisan batubara grup H diendapkan pada sub-lingkungan swamp. abu-abu Roof : Batulempung karbonan. mengindikasikan bahwa lingkungan pengendapan batuan ini telah menuju ke daerah dengan pengaruh pasang surut yang dominan. Roof : Batulempung karbonan. abu-abu.

30 (%adb) pada bor DD-03-17 dan tertinggi sebesar 1.944. Peta iso sulfur (gambar 5.14 Kandungan sulfur komposit pada seam J relatif rendah yaitu sebesar 0. disimpulkan bahwa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup H adalah transitional lower delta plain.10) menunjukkan pola sebaran total sulfur lapisan batubara J semakin tinggi ke selatan dengan nilai terendah 0. Kandungan abu juga memperlihatkan pola sebaran yang sama . Kehadiran parting dengan tebal 3 cm berpengaruh terhadap kandungan abu yang ada yakni 6.6. kandungan abu dan nilai kalori didapat dari data hasil analisa laboratorium. maka dengan menggunakan pendekatan model lingkungan pengendapan dari Horne (1987). lp 41 dan 51) dan data-data log bor serta e-log didapatkan karakteristik fisik lapisan batubara J.93 (%adb) pada bor DD-03-12.2 dan 5.27 (%adb). dan untuk kualitas yaitu total sulfur.3 Lapisan Batubara J 5. Tabel 5.59 Berdasarkan asosiasi dari sub-lingkungan di atas. 5.3.27 NILAI KALORI (Kkal/kg) 5. Karakteristik fisik dan kualitas dari lapisan batubara ini terdapat pada tabel 5.3.1 Karakteristik dan Kualitas Lapisan Batubara J Berdasarkan pengamatan singkapan di lapangan (gambar 5.6 Karakteristik dan kualitas lapisan batubara J SEAM J PARAMETER WARNA Hitam GORES Hitam kecoklatan KILAP Sedang Sub PECAHAN concoidal- melembar BERAT JENIS Agak berat KEKERASAN Keras 3-7 JARAK CLEAT (cm) PENGOTOR Resin - Pirit - Parting (cm) 3 TOTAL SULFUR (% adb) 0.97 (%adb).97 KANDUNGAN ABU (% adb) 6.

60

dengan pola sebaran total sulfur (gambar 5.11) yaitu semakin tinggi ke selatan dengan
nilai tertinggi sebesar 14,144 (%adb) pada titik bor DD-03-12.
Karakteristik fisik seam J dengan gores berwarna hitam kecoklatan, dengan pecahan
sub concoidal, berat jenis agak berat dan keras menandakan bahwa seam J memiliki
kualitas sedang. Hal ini didukung dengan hasil analisa nilai kalori dari seam J sebesar
5944,14 (%adb). Berdasarkan peta iso kalori (gambar 5.12) menunjukkan pola
sebaran nilai kalori yang semakin tinggi ke utara dengan nilai kalori terendah pada
titik bor DD-03-12 sebesar 5331,447 (Kcal/kg) dan tertinggi sebesar 6336,50 pada
titik bor BD-03-38.
Pola sebaran nilai kalori memiliki hubungan yang linear terhadap pola sebaran total
sulfur dan dan kandungan abu. Dimana apabila nilai total sulfur dan kandungan abu
tinggi, maka nilai kalori akan rendah, demikian pula sebaliknya. Hal ini
mengindikasikan bahwa kehadiran sulfur dan abu dalam batubara dapat mengurangi
kalori yang terbentuk pada saat batubara terbakar.

61

DD-03-22
0.97 BD-03-38

DD-03-18
1.24

BD-03-37
0.89
BD-03-36 1.00
0.63
BD-03-39

DD-03-15

0.64

0.70

DD-03-17
0.30
DD-03-12
1.93

DD-03-11
1.00

DD-03-09
1.66

U

: Iso Sulfur, interval 0.05 (% adb)

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL

BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor
0.55

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

Sulfur (% adb)

PETA ISO SULFUR SEAM J
: Garis Pinchout

DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4
KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR

: Batas Topografi

SKALA
1 : 12.500

Gambar 5.10 Peta iso sulfur lapisan batubara J

GALIH KURNIAWAN
111.990.112

62

DD-03-22
DD-03-18
5.249

3.858BD-03-38
BD-03-37
3.036
BD-03-36 2.572
3.090
BD-03-39

DD-03-15

2.910

2.086

DD-03-17
7.643
DD-03-12
14.144

DD-03-11
6.945

DD-03-09
5.223

U

: Iso Ash, interval 0.5 (% adb)

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL

BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor
5.550

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

Ash (% adb)

PETA ISO ASH SEAM J
: Garis Pinchout

DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4
KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR

: Batas Topografi

SKALA
1 : 12.500

Gambar 5.11 Peta iso ash lapisan batubara J

GALIH KURNIAWAN
111.990.112

12 Peta iso kalori lapisan batubara J GALIH KURNIAWAN 111.215 U : Iso Kalori.304 DD-03-17 5888.219 DD-03-12 5331.447 DD-03-11 5861.305 BD-03-36 6215.112 .926 BD-03-37 6336.63 DD-03-22 DD-03-18 BD-03-386172.259 6222. interval 20 (Kcal/Kg) JURUSAN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor 6050 UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” Kalori Kcal/Kg PETA ISO KALORI SEAM J : Garis Pinchout DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4 KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR : Batas Topografi SKALA 1 : 12.111 DD-03-09 5936.878 6307.990.001 BD-03-39 DD-03-15 6286.500 Gambar 5.500 6089.

8.64 5.3.7 Analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara J CIRI-CIRI LITOLOGI Batupasir kuarsa. ps. kandungan abu dan nilai kalori didapat dari data hasil analisa laboratorium.1 Karakteristik dan Kualitas Lapisan Batubara Grup K Berdasarkan pengamatan singkapan di lapangan (gambar 5.4 Lapisan Batubara Grup K 5. . abu-abu. Karakteristik fisik dan kualitas dari lapisan batubara ini terdapat pada tabel 5. maka litologi tersebut diendapkan pada sub-lingkungan crevasse splay. sisa tumbuhan Batubara Floor : batusepih karbonan.7). halus-ps. Berdasarkan ciri tersebut.2 Lingkungan Pengendapan Lapisan Batubara J Berdasarkan perolehan data di lapangan dan data log bor. Tabel 5.halus perselingan batulempung SUB LINGKUNGAN laminasi silang siur Crevasse splay Swamp Burrow Interdistributary bay LINGKU NGAN PENGEN DAPAN Transitional lower delta plain SEAM STRUKTUR SEDIMEN Adanya litologi berbutir halus pada lapisan batuan dibawah floor seam J dan adanya struktur burrow pada batulempung mengindikasikan litologi ini diendapkan pada daerah yang relatif tenang.4. dilakukan analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara J (tabel 5. Berdasarkan ciri tersebut. abu-abu. maka litologi tersebut diendapkan pada sub-lingkungan interdistributary bay. 5. maka dengan menggunakan pendekatan model lingkungan pengendapan dari Horne (1987). ps.kasar J Roof : batulempung. Berdasarkan asosiasi dari sub-lingkungan di atas. dan untuk kualitas yaitu total sulfur. abu-abu.14 lp 69 dan 70) dan data-data log bor serta e-log didapatkan karakteristik fisik lapisan batubara grup K. Litologi batupasir kuarsa dengan struktur laminasi silang siur di atas roof menandakan bahwa litologi ini terendapkan pada lingkungan yang terpengaruh oleh arus dengan arah yang berlainan. disimpulkan bahwa lapisan batubara J termasuk dalam lingkungan pengendapan transitional lower delta plain.sangat halus-ps. abu-abu Batupasir kuarsa. abu-abu Batulempung karbonan.13 lp 7 dan gambar 5.

6.Crevasse Splay Swamp Crevasse Splay Gambar 5. 7 S w a m p Transisional Lower Delta Plain Swamp Crevasse Splay 65 .13 Profil lp 4. 5.

Crevasse Splay S w a m p Gambar 5. 70 Crevasse Splay Swamp Transisional Lower Delta Plain S w a m p S w a m p 66 . 68.14 Profil 67. 69.

70 NILAI KALORI (Kkal/kg) 6. sedangkan lapisan batubara K menunjukkan pola sebaran cenderung seragam dengan nilai komposit sebesar 0.78 Pirit dan resin hadir pada semua lapisan batubara walaupun setempat-setempat. namun pada titik bor BD-03-32 yang berada ditengah didapatkan kandungan abu yang cukup tinggi yakni 9.08 5. Hal ini sesuai dengan nilai kalori dari batubara grup K yang lebih besar dari 6000 (Kkal/kg).67 Tabel 5. Sedangkan untuk kandungan abu (gambar 5.8 Karakteristik dan kualitas lapisan batubara grup K SEAM K PARAMETER KU KL WARNA Hitam Hitam Hitam GORES Hitam Hitam Hitam KILAP Sedang Mengkilap Mengkilap PECAHAN Sub concoidal Sub concoidal Sub concoidal BERAT JENIS Agak berat Ringan Ringan KEKERASAN Agak keras Mudah pecah Agak keras JARAK CLEAT (cm) Tidak ada data 4-8 3–8 Resin Setempat Setempat Setampat Pirit Setempat Setempat Setempat Parting (cm) 12 13 12 PENGOTOR TOTAL SULFUR (% adb) 0. gores hitam.448 (%adb) pada titik bor BD-03-53.17). berat jenis ringan-agak berat menunjukkan bahwa batubara grup K memiliki kualitas yang cukup baik.812 (%adb) pada titik bor DD03-18. Berdasarkan peta iso kalori yang dibuat (gambar 5. nilai kalori lapisan batubara K semakin tinggi ke arah selatan dengan nilai tertinggi sebesar 6197.23 0. kilap sedangmengkilap. sedangkan untuk seam K nilai kandungan abu semakin tinggi ke arah utara dengan nilai komposit tertinggi 6.25 KANDUNGAN ABU (% adb) 3.17 5.46 6. Karakteristik fisik batubara grup K berupa warna hitam. pecahan sub concoidal.040.014. Peta iso sulfur lapisan batubara K dan KL (gambar 5.69 6.16) menunjukkan pola sebaran kandungan abu lapisan batubara KL yang semakin tinggi ke utara dan selatan. menunjukkan pola sebaran sulfur lapisan batubara KL yang semakin tinggi ke selatan dan utara dengan nilai tertinggi sebesar 0.749 (Kkal/kg) pada bor DD-03-10 .21 0.123 (%adb).15).21 (%adb).031.

abu-abu. abu-abu. Ini menunjukkan lingkungan yang terpengaruhi oleh arus yang kuat. dilakukan analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup K (tabel 5. . Tabel 5. sangat halus.9 Analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup K K CIRI-CIRI LITOLOGI Batupasir kuarsa. disimpulkan bahwa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup K adalah transitional lower delta plain.sedang Batulempung. abu-abu Batupasir kuarsa. abu-abu. abu-abu Batubara Floor : batulempung karbonan.68 dan untuk lapisan batubara KL ke arah utara nilai kalori semakin tinggi dengan nilai tertinggi sebesar 6213.ps.4. 5. fragmen batubara Batubara Floor : batulempung karbonan. maka litologi tersebut diendapkan pada sub-lingkungan crevasse splay.halus-ps. ps. menyerpih Batupasir kuarsa. ps. Berdasarkan ciri tersebut. ps. abu-abu.2 Lingkungan Pengendapan Lapisan Batubara Grup K Berdasarkan perolehan data di lapangan dan data log bor. hitam.sedang Batulempung. Hadirnya beberapa parting pada lapisan batubara K. abu-abu. menyerpih Batulempung karbonan. KU.sedang KU KL Batupasir kuarsa.sedang SUB LINGKUNGAN LINGKU NGAN PENGEN DAPAN Crevasse splay Swamp Coarsening upward Crevasse splay Crevasse splay Swamp Transitional lower delta plain SEAM STRUKTUR SEDIMEN Swamp Crevasse splay Adanya struktur sedimen pengkasaran ke atas pada batupasir kuarsa di bawah lapisan batubara K menandakan semakin meningkatnya energi yang mentransport material sehingga material dengan ukuran butir lebih besar terdapat pada bagian atas. abu-abu Batulempung karbonan. ps sangat halus. menyerpih Batubara Floor : batulempung karbonan. abu-abu.ps.338 (Kkal/kg) pada bor DD-03-17. maka dengan menggunakan pendekatan model lingkungan pengendapan dari Horne (1987).9). Berdasarkan asosiasi dari sub-lingkungan di atas. dan KL menunjukkan lingkungan pembetukan batubara terganggu oleh suplay material klastik hasil limpahan banjir yang terjadi pada saat itu. abu-abu. abu-abu Roof : batulempung karbonan. abu-abu Roof : batulempung karbonan.halus-ps. abu-abu Roof : batulempung karbonan.

KL DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4 KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR : Batas Topografi SKALA 1 : 12.54 Sulfur (% adb) : Garis Splitting UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” PETA ISO SULFUR SEAM K.69 U : Iso Sulfur.112 .500 Gambar 5.15 Peta iso sulfur lapisan batubara grup K GALIH KURNIAWAN 111. interval 0.01 % (adb) JURUSAN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor 0.990.

16 Peta iso ash lapisan batubara grup K GALIH KURNIAWAN 111.112 . KL DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4 KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR : Batas Topografi SKALA 1 : 12.500 Gambar 5.550 UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” Ash (% adb) : Garis Splitting PETA ISO ASH SEAM K. interval 0.990.1 (% adb) JURUSAN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor 5.70 U : Iso Ash.

500 Gambar 5.112 .990. KL DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4 KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR : Batas Topografi SKALA 1 : 12. interval 20 (KKal/Kg) BD-03-14: Lokasi & Nomor Titik Bor 6550 Kalori (Kkal/Kg) : Garis Splitting JURUSAN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” PETA ISO KALORI SEAM K.17 Peta iso kalori lapisan batubara grup K GALIH KURNIAWAN 111.71 U : Iso Kalori.

10 Karakteristik lapisan batubara grup K1 SEAM K1 PARAMETER WARNA GORES KILAP PECAHAN K1U K1L K1LU K1LL Hitam Hitam Hitam Hitam Hitam Hitam Hitam Hitam Hitam Hitam kecoklatan kecoklatan kecoklatan kecoklatan kecoklatan Mengkilap sedang Sedang Sedang Sedang Sub concoidal Sub concoidal- Melembar Melembar Melembar Berat Berat melembar BERAT JENIS Agak berat Agak berat Agak berat KEKERASAN Agak keras Agak keras Keras Agak keras Agak keras JARAK CLEAT (cm) Tidak ada data Tidak ada data 4–8 Tidak ada data Tidak ada data Setempat Setempat - Setampat Setampat Pirit Setempat Setempat - Setempat Setempat Parting (cm) - 5 8 8 Resin PENGOTOR TOTAL SULFUR (% adb) 0..10.000.09 %adb). berat jenis beratagak berat. menunjukkan bahwa batubara grup K1 .380. gores hitam kecoklatan.51 37.42 0.00 - Pirit hadir pada semua lapisan batubara walaupun setempat-setempat kecuali pada lapisan batubara K1L.61 13.34 %adb) dipengaruhi oleh kehadiran parting pada masing-masing seam tersebut.75 4. kehadiran pirit yang hanya setempat-setempat tidak berpengaruh terhadap total sulfur yang ada. Hal ini tampak dari total sulfur dari masing-masing seam yang relatif kecil walaupun terdapat pirit dalam batubara Kandungan abu yang cukup tinggi pada seam K1U (13. K1L (30. Tabel 5. dan kekerasan keras-agak keras.41 0. Karakteristik fisik dan kualitas dari lapisan batubara ini terdapat pada tabel 5.5..1 Karakteristik dan Kualitas Lapisan Batubara Grup K1 Berdasarkan pengamatan singkapan di lapangan (gambar 5. kilap dominant sedang. pecahan dominant melembar.46 5.33 3. Berdasarkan karakteristik fisik batubara grup K1 yaitu warna hitam. dan untuk kualitas yaitu total sulfur.51 %adb).937.09 30. kandungan abu dan nilai kalori didapat dari data hasil analisa laboratorium.13 lp 6 dan gambar 5.5 Lapisan Batubara Grup K1 5. dan K1LU (37. Dimana parting ini ikut dalam analisa kimia.14 lp 68) dan data-data log bor serta e-log didapatkan karakteristik fisik lapisan batubara grup K1.38 - KANDUNGAN ABU (% adb) 4.27 0.34 - NILAI KALORI (Kkal/kg) 5.72 5.284.

abu-abu.ps. abu-abu. panas yang dikeluarkan habis untuk membakar abu. Kandungan abu yang sangat tinggi berpengaruh terhadap rendahnya nilai kalori yang ada. Kondisi ini mencerminkan sub lingkungan pengendapan crevasse splay. abu-abu. abu-abu. dilakukan analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup K1 (tabel 5.73 memiliki kualitas yang tidak bagus dengan nilai kalori antara 3284 (Kkal/kg) – 5988.sedang Batulempung karbonan. Adanya batupasir di bawah lapisan batubara K1. ps. menyerpih Roof : batulempung karbonan. abu-abu Batupasir. abu-abu Batupasir kuarsa.ps. menyerpih Batubara Floor : batulanau. ps. menyerpih Batubara Floor : batulempung karbonan. menyerpih Batubara Floor : batulempung karbonan. abu-abu. sangat halus. menyerpih Batulempung karbonan.halus-ps. abu-abu. abu-abu Roof : batulempung karbonan. abu-abu. 5. ini dikarenakan pada saat pembakaran dalam analisis batubara. K1L dan K1LL menandakan bahwa dasar dari pengendapan lapisan batubara grup K1 adalah sama yaitu batupasir dengan lingkungan pengendapan . menyerpih Batubara Floor : batulempung karbonan. abu-abu Roof : batulempung karbonan. abu-abu.ps. menyerpih Batubara Floor batulempung karbonan. abu-abu.2 Lingkungan Pengendapan Lapisan Batubara Grup K1 Berdasarkan perolehan data di lapangan dan data log bor.kasar SUB LINGKUNGAN Coarsening upward Crevasse splay LINGKU NGAN PENGEN DAPAN Swamp Crevasse splay Swamp Swamp Crevasse splay Transitional lower delta plain SEAM STRUKTUR SEDIMEN Swamp Swamp Crevasse splay Adanya batupasir di atas roof seam K1 dengan struktur sedimen coarsening upward mengindikasikan bahwa arus yang ada pada saat itu semakin kuat yang dapat mentransport material yang lebih besar pada bagian atas. abu-abu.5.11). abu-abu. abu-abu Batupasir. Tabel 5.halus.kasar K1 K1U K1L K1LU K1LL Batulempung karbonan. ps sangat halus.sedang Roof : batulempung karbonan.11 Analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup K1 CIRI-CIRI LITOLOGI Batupasir. abu-abu.92 (Kkal/kg). menyerpih Roof : batulempung karbonan. ps.

21).20) menunjukkan pola sebaran kandungan abu lapisan batubara L yang semakin tinggi ke selatan dengan nilai tertinggi 9. dan untuk kualitas yaitu total sulfur. Karakteristik fisik dan kualitas lapisan batubara ini terdapat pada tabel 5.1 Karakteristik dan Kualitas Lapisan Batubara Grup L Berdasarkan pengamatan singkapan di lapangan (gambar 5.6 Lapisan Batubara Grup L 5. sedangkan lapisan batubara grup K1 sendiri terendapkan pada sublingkungan swamp. disimpulkan bahwa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup K1 adalah transitional lower delta plain.17 (%adb). gambar 5. gores hitamhitam kecoklatan. Pada peta iso sulfur lapisan batubara L. pecahan sub concoidal-melembar.Berdasarkan peta iso kalori yang dibuat (gambar 5.641 (%adb) pada titik bor DD-03-10. dan kekerasan agak keras-mudah pecah.241 (%adb) pada titik bor DD-03-10. Pirit hadir pada semua lapisan batubara walaupun setempat-setempat kecuali pada lapisan batubara LU.13 lp 5. Hal ini juga tampak pada nilai kalori yang ada berkisar antara 5683. Kehadiran parting pada seam L menyebabkan kadungan abu pada batubara L cukup tinggi yaitu 8. Berdasarkan peta iso kandungan abu (gambar 5.40 (Kkal/kg)-6146. LL dan LLL yang dibuat (gambar 5.19). Berbasarkan karakteristik fisik dari batubara grup L yakni warna hitam. dan gambar 5. menunjukkan bahwa batubara grup L memiliki kualitas sedang. Berdasarkan asosiasi sub-lingkungan di atas.66 (Kkal/kg). nilai kalori seam L dan LL semakin tinggi ke utara.02 (%adb) pada titik bor BD-03-55 dan LL menunjukkan pola sebaran sulfur yang semakin tinggi ke selatan dengan nilai tertinggi 1. 5.14 lp 67. kilap sedang-mengkilap. berat jenis berat-agak berat. maka dengan menggunakan pendekatan model lingkungan pengendapan dari Horne (1987). . kandungan abu dan nilai kalori didapat dari data hasil analisa laboratorium.6.12.18) dan data-data log bor serta e-log didapatkan karakteristik fisik lapisan batubara grup L. lapisan batubara L menunjukkan pola sebaran sulfur yang semakin tinggi ke utara dengan nilai tertinggi 1.74 crevasse splay.173 (%adb) pada titik bor DD-03-01 dan untuk seam LL semakin tinggi ke arah tengah dengan nilai tertinggi 7. Kehadiran pirit ini sedikit berpengaruh terhadap total sulfur yang ada.

50 (Kkal/kg) pada bor DD-03-13.55 (Kkal/kg) pada bor BD-03-55 untuk seam L dan 7307. .75 Dengan nilai kalori tertinggi sebesar 5812.

040.36 NILAI KALORI (Kkal/kg) 5.29 6.21 2.49 5.92 1.25 4.37 5.146.974.17 6.89 1.40 6.610.12 Karakteristik lapisan batubara grup L SEAM L PARAMETER WARNA GORES KILAP PECAHAN LU LL LUU LUL Hitam Hitam Hitam Hitam Hitam Hitam Hitam Hitam Hitam Hitam kecoklatan kecoklatan Sedang Sedang Mengkilap Mengkilap Sub concoidal Sub concoidal- Sub concoidal Sub concoidal LLU LLL Hitam Hitam Hitam Hitam kecoklatan melembar Sedang Sedang Mengkilap Sub concoidal - Melembar Sub concoidal Melembar BERAT JENIS Agak berat Berat Agak berat Agak berat Agak berat Berat Agak berat KEKERASAN Keras Agak keras Mudah pecah Agak keras Keras Keras Mudah pecah JARAK CLEAT (cm) Tidak ada data 4-7 cm 4–8 Tidak ada data Tidak ada data Tidak ada data Tidak ada data PENGOTOR Resin Setempat - Setempat - Setampat Setampat Setampat Pirit Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Melimpah - Parting (cm) 4 cm - 5 cm - - - - TOTAL SULFUR (% adb) 0.87 2.683.98 .58 1.723.43 5.79 1.123.73 1.23 1.66 6.13 4.67 5.54 KANDUNGAN ABU (% adb) 8.76 Tabel 5.

pecahan sub-concoidal-melembar. gores hitam kecoklatan. mengkilap kusam.18 Profil lokasi pengamatan 2 Tr a n si s io n a l L o w e r D e l ta P la i n Crevasse Splay S w a m p Batubara.77 Gambar 5. keras. . hitam. jarak cleat 4-8 cm ( seam LU).berat.

511 DD-03-01 0.500 Gambar 5.570 DD-03-07 1.19 Peta iso sulfur seam L. LL dan LLL GALIH KURNIAWAN 111.020 DD-03-13 0.641 BD-03-59 1.464 BD-03-02 1.590 1.112 .02 % (adb) JURUSAN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor 0.990. LLL DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4 KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR : Batas Topografi SKALA 1 : 12.814 UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” Sulfur ( % adb) : Garis Splitting PETA ISO SULFUR SEAM L. LL.059 1.624 BD-03-64 BD-03-04 BD-03-03 1. interval 0.500 DD-03-10 1.510 U : Iso Sulfur.399 BD-03-65 1.78 BD-03-55 1.

79 BD-03-55 7.241 BD-03-59 3.359 BD-03-04 BD-03-64 BD-03-03 6.373 DD-03-07 2.600 DD-03-10 7.445 DD-03-13 2.648 BD-03-65 2.173 Gambar 5. LL dan LLL .348 BD-03-02 2.730 2.20 Peta iso ash seam L.864 2.357 DD-03-01 9.

500 DD-03-10 5670.279 DD-03-01 5600. interval 25 (KKal/Kg) JURUSAN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor 6550 Kalori (Kkal/Kg) : Garis Splitting UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” PETA ISO KALORI SEAM L.382 BD-03-59 6009. LLL DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4 KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR : Batas Topografi SKALA 1 : 12. LL.112 .243 5285.000 6160.80 BD-03-55 5812.448 U : Iso Kalori. LL dan LLL GALIH KURNIAWAN 111.990.655 DD-03-13 7307.500 Gambar 5.720 BD-03-65 6069.250 DD-03-07 BD-03-02 6104.474 BD-03-64 BD-03-04 BD-03-03 6017.21 Peta nilai kalori seam L.675 6210.

abu-abu Batupasir.6. abu-abu.sedang Roof : batulempung karbonan. menyerpih Batulempung. abu-abu. ps.sedang SUB LINGKUNGAN LINGKU NGAN PENGEN DAPAN Crevasse splay Swamp Crevasse splay Swamp Swamp Crevasse splay Crevasse splay Swamp Transitional lower delta plain SEAM STRUKTUR SEDIMEN Swamp Swamp Swamp Crevasse splay Adanya batupasir di bawah lapisan batubara L.sedang Batupasir. menyerpih Batulempung. abu-abu. abu-abu. abu-abu Roof : batulempung karbonan. plant remain Batubara Floor : batulempung karbonan. abu-abu. sangat halus. plant remain Roof : batulempung karbonan. abu-abu Batubara Floor : batulempung karbonan. plant remain Roof : batulempung karbonan. menyerpih Batulempung karbonan. abu-abu. dan LUU yang berupa batupasir.81 5.sedang Batulempung. abu-abu.ps. ps. abu-abu Batubara Floor : batulempung karbonan. plant remain Batubara Floor : batulempung karbonan. abu-abu. plant remain Roof : batulempung karbonan.13).halus-ps. ps. abu-abu. plant remain Batubara Floor : batulempung karbonan. ps. abu-abu. Tabel 5. LL dan LLL menandakan bahwa dasar dari pengendapan lapisan batubara grup L adalah sama yaitu batupasir dengan lingkungan pengendapan crevasse splay. abu-abu Batupasir.halus.ps. abu-abu.2 Lingkungan Pengendapan Lapisan Batubara Grup L Berdasarkan perolehan data di lapangan dan data log bor. abu-abu.13 Analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup L L LU LL LUU LUL LLU LLL CIRI-CIRI LITOLOGI Batupasir. menyerpih Batulempung. demikian juga dengan litologi di atas lapisan batubara L. LU. abu-abu. abu-abu. abu-abu Batulempung karbonan. . abu-abu. ps sangat halus. Sedangkan lapisan batubara grup L sendiri terendapkan pada sub-lingkungan swamp. plant remain Batubara Floor : batulempung karbonan.sedang Roof : batulempung karbonan. plant remain Batubara Floor : batulempung karbonan. dilakukan analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup L (tabel 5. plant remain Roof : batulempung karbonan. abu-abu. abu-abu.ps.halus-ps. abu-abu Batupasir. abu-abu.

Kondisi ini tampak pada lapisan batubara grup L dimana sebagian besar roof dan floor dari lapisan batubara grup L . Dimana pengendapan sedimen non batubara terjadi berulangkali. Selain itu. kehadiran plant remain pada litologi di atas lapisan batubara juga berpengaruh terhadap kehadiran sulfur organik dimana sulfur pada tumbuhan/daun tidak ikut membusuk dan tersisa pada saat pembentukan batubara. Karakteristik fisik lapisan batubara dapat digunakan sebagai identifikasi awal terhadap kualitas yang ada. 1978)). Banyaknya splitting yang terjadi pada seam L menunjukkan bahwa lingkungan pengendapan seam ini sangat mobile. seam GU memiliki total sulfur sebesar 1. Dimana pada beberapa lapisan batubara di daerah penelitian terdapat pirit yang mengisi cleat yang pada hasil analisa sulfur menunjukan kenaikan nilai total sulfur. disimpulkan bahwa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup L adalah transitional lower delta plain.82 Tingginya kandungan sulfur pada lapisan batubara grup L mengindikasikan bahwa lingkungan pengendapan dari batubara ini kemungkinan dipengaruhi oleh kondisi marin pada saat terjadi transgresi. 5.1977 (dalam Horne. baik itu total sulfur. kandungan abu dan nilai kalori sangat bervariasi.90 (%adb). Berdasarkan asosiasi sub-lingkungan di atas.44 (%adb) dan seam GL memiliki total sulfur sebesar 1.7 Hubungan Lingkungan Pengendapan Terhadap Kualitas Lapisan Batubara Berdasarkan penjabaran kualitas masing-masing lapisan batubara yang ada. berupa massa lembaran yang mengisi cleat berpengaruh terhadap total sulfur yang ada (Caruccio et al. maka dengan menggunakan pendekatan model lingkungan pengendapan dari Horne (1987). Total sulfur Kehadiran pirit dalam bentuk euhedral dengan massa berbutir kasar yang menggantikan material asli tanaman. Kondisi ini tampak pada seam GU dan GL dimana seam GU mengandung pirit pada cleat dan seam GL mengandung pirit yang tersebar merata.

Glaukoter & Hopkins (1970) berpendapat bahwa daerah dimana endapan crevase splay pada roof batubara berkembang.34 (%adb). Selain itu kandungan abu terdapat sebagian besar pada kandungan mineral didalam batubara. Hal ini dikarenakan sedimen klastik yang ada melindungi gambut dari air laut yang kaya akan unsur sulfat yang pada saat proses transgresi terjadi. Kehadiran sulfur berupa sulfur sulfide (pirit) pada batubara dapat meningkatkan kandungan abu. Hal ini tampak pada seam GU . Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mansfield & Spackman (1968) memperlihatkan bahwa batubara dibawah pengaruh air laut mempuyai kandungan sulfur lebih tinggi dibanding yang ada di air tawar. Hal dikarenakan pirit yang ada pada saat pembakaran batubara tidak habis terbakar namun masih menyisakan sisa berupa abu. setelah komponen-komponen seperti CO2 (dari karbonat). SO2 (dari sulfida) dan H2O (dari lempung) ditinggalkan (Ward. Lingkungan pengendapan juga berpengaruh terhadap total sulfur pada lapisan batubara. Selain itu. kandungan sulfurnya sangat sedikit dibandingkan dengan kandungan sulfur pada daerah yang jauh dari crevase splay.83 mengandung plant remain dan memiliki kandungan sulfur yang tinggi ( lebih besar dari 1 %adb). dan K1yang memiliki roof yang diendapkan pada sub lingkungan crevase splay memiliki nilai total sulfur yang rendah.09 – 37. grup K. Lingkungan pengendapan transisional lower delta plain merupakan daerah transisi antara lingkungan fluvial dan marin dimana terdapat pengaruh dari air payau dan air laut. Hal ini tampak pada lapisan batubara grup K1 yang terdapat parting dengan ketebalan 5 – 8 cm memiliki kandungan abu yang cukup tinggi yakni antara 13. Kedua hal ini sesuai dengan kondisi pada daerah penelitian dimana lapisan batubara grup G dan H yang diendapkan pada sub lingkungan swamp pada kondisi pasang surut dengan roof yang diendapkan pada sub lingkungan interdistributary bay memiliki nilai total sulfur yang tinggi. Kandungan abu Kehadiran parting pada lapisan batubara sangat berpengaruh terhadap nilai kandungan abu yang terdapat pada lapisan batubara tersebut. Sedangkan lapisan batubara J. 1984).

pada lampiran korelasi seam G. Dimana seam GU yang mengandung pirit pada cleat memiliki kandungan abu 8. H. Namun berdasarkan data yang diperoleh. Nilai kalori Kehadiran resin/amber pada batubara dapat meningkatkan nilai kalori. Berdasarkan penjabaran diatas tampak bahwa lingkungan pengendapan yang relatif dekat dengan daerah laut yang ditandai memiliki total sulfur yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kandungan abu yang ada pada lapisan batubara maka nilai kalori yang ada semakin rendah. Splitting yang ada disebabkan pada saat akumulasi gambut berlangsung yang diikuti dengan penurunan cekungan dan pengendapan sediment non batubara di atas akumulasi gambut. kemudian akumulasi gambut akan terbentuk lagi. sedangkan seam K1LU dengan kandungan abu yang lebih tinggi yakni 37. J tampak bahwa litologi yang berperan berupa batulempung pada bagian utara dan selatan. dengan sifat yang mudah terbakar dan tahan terhadap pembusukan. memiliki kandungan abu yang tinggi.84 dan GUL. maka pengendapan sediment non batubara terhenti. Resin merupakan matrial dalam batubara berwarna kuning keemasan-coklat. Litologi sedimen non batubara yang ada dapat berupa batupasir maupun batulempung.34 (%adb) memiliki nilai kalori yang lebih rendah yakni 3. Dimana seam K1 dengan kandungan abu sebesar 3. Ini dikarenakan panas yang dikeluarkan habis untuk membakar abu yang ada.00 (Kcal/kg).97 (%adb) sedangkan seam GUL yang tidak mengendung pirit memiliki kandungan abu 4.284. Pada saat penurunan cekungan berhenti.92 (Kcal/kg). seperti yang ada pada lapisan batubara grup K1.998. Pengaruh lingkungan pengendapan terhadap nilai kalori sangat terkait dengan kandungan abu. Kandungan abu pada batubara sangat berpengaruh terhadap nilai kalori yang ada.76 (%adb) memiliki nilai kalori sebesar 5. Sedangkan . • Pada splitting seam G. kehadiran resin yang hanya setempat-setempat pada batubara tidak terlalu berpengaruh terhadap nilai kalori yang ada.60 (%adb).

pada lampiran korelasi seam K. H. . K1. J. L tampak bahwa litologi yang berperan berupa batulempung.85 pada bagian tengah. pada lampiran korelasi seam K. splitting disebabkan oleh adanya batupasir (titk bor DD-0309). L tampak bahwa litologi yang berperan pada semua splitting berupa batulempung kecuali pada bagian selatan (titik dor BD-03-52R) yang berupa batulempung. litologi yang berperan adalah batulempung ( titik bor DD-03-09 dan DD-03-22). . K1. • Pada splitting seam K. Sedangkan ke utara seam K tidak mengalami splitting. • Pada splitting seam K1. • Pada splitting seam L. L tampak bahwa litologi yang berperan berupa batulempung pada bagian selatan dan tengah. • Pada splitting seam H. pada lampiran korelasi seam G. Banyaknya lapisan batubara yang terdapat pada daerah penelitian disebabkan adanya pengulangan siklus pengendapan yang sangat dipengaruhi oleh proses transgresi dan regresi. pada lampiran korelasi seam K. K1.

Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian berupa sinklin dan sesar naik. Sturktur sinklin yang ada menghasilkan lembah yang berada di tengah daerah penelitian. Analisa lipatan pada bagian selatan didapatkan kedudukan arah umum sayap lipatan timurlaut adalah N 157° E/ 22°. Bentukan asal daerah penelitian dibagi menjadi dua yaitu bentukan asal Struktural terdenudasi dengan sub satuan geomorfik Punggungan Tererosi (S1). Karena sinklin Binungan memiliki sumbu sinklin yang melengkung. Sedangkan struktur sesar naik membentuk punggungan pada bagian barat daerah penelitian. kedudukan arah umum sayap lipatan baratdaya adalah N 14° E/ 27°. arah umum sumbu lipatan adalah N 176° E / 86° dan garis sumbu 8°. maka analisa lipatan dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada bagian selatan dan utara. Batubara di daerah penelitian terdapat pada satuan batupasir kuarsa Latih dan satuan batulempung Latih. dan satuan bentukan asal Fluvial dengan sub satuan geomorfik Dataran Aluvial (F1). Kemudian di atasnya secara selaras diendapkan satuan batulempung Latih pada kala Miosen Tengah pada lingkungan transitional lower delta plain. dengan sub satuan geomorfik adalah Lembah Hasil Erosi (D1) dan Perbukitan Tererosi (D2).Miosen Tengah yang diendapkan pada lingkungan transitional lower delta plain. satuan bentukan asal Denudasional.86 BAB 6 KESIMPULAN Geomorfologi daerah penelitian sangat dipengaruhi oleh struktur geologi yang ada dan proses erosi dan pelapukan yang intensif. Di atasnya secara selaras diendapkan satuan batupasir kuarsa Latih pada kala Miosen Tengah di lingkungan transitional lower delta plain. Stratigrafi daerah penelitian dari tua kemuda adalah satuan batupasir Latih dengan umur Miosen Awal . Di atas satuan batulempung Latih diendapkan secara tidak selaras endapan alluvial yang merupakan hasil sedimentasi dari Sungai Binungan. N 178° E. klasifikasi menurut . Berdasarkan hasil analisa tersebut maka jenis lipatan adalah Upright Horizontal Fold.

Analisa lipatan pada bagian utara didapatkan kedudukan arah umum sayap lipatan timurlaut adalah N 151° E/ 14°.87 Fluety (1964). Sesar naik Binungan terletak di bagian barat daerah penelitian. Proses tektonik ini menyebabkan terlipatnya seluruh satuan batuan yang ada di daerah penelitian dan membentuk sinklin Binungan dan sesar naik Binungan. arah umum sumbu lipatan adalah N 170° E / 60° dan garis sumbu 6°. elog. Sesar naik Binungan mengakibatkan satuan batupasir Latih terangkat. H.84 (%adb). dan pengamatan singkapan diketahui bahwa daerah penelitian memiliki 11 lapisan batubara yaitu lapisan batubara grup D. E. N 168° E. kedudukan arah umum sayap lipatan baratdaya adalah N 350° E/ 73°. Tinggi rendahnya kandungan total sulfur berdasarkan pengamatan fisik batubara dipengaruhi oleh keberadaan plant remain yang merupakan sisa tumbuhan/daun yang terdapat pada . dan kenampakan topografi yang curam dengan punggungan yang memanjang. Sesar ini merupakan sesar yang diperkirakan berdasarkan data-data lapangan berupa kedudukan lapisan batuan yang relatif besar. Total sulfur daerah penelitian berkisar antara 0. E1. K1. M. adanya zona hancuran dengan kedudukan batuan yang acak.21 – 2. Setalah pengendapan batulempung Latih terjadi proses tektonik dengan arah gaya relatifbarat-daya timurlaut. J. Berdasarkan hasil analisa tersebut maka jenis lipatan adalah Steeply inclined Horizontal Fold. Kemudian diatas satuan batupasir Latih secara selaras diendapkan satuan batupasir kuarsa Latih pada kala Miosen Awal-Miosen Tengah. F. Kemudian di atas satuan batupasir kuarsa Latih diendapkan secara selaras satuan batulempung Latih pada kala Miosen Tengah. K. klasifikasi menurut Fluety (1964). Sejarah geologi daerah penelitian dimulai pada kala Miosen Awal dengan diendapkannya satuan batupasir Latih. G. L. Proses pelapukan dan erosi terus berlangsung hingga sekarang yang mengakibatkan semua satuan batuan yang ada tersingkap dan membentuk endapan alluvial disekitar sungai Binungan. Berdasarkan pemodelan geologi yang dilakukan dengan menggunakan data log bor.

yang saat pembusukan sulfur yang terkadung dalam tumbuhan tersebut tidak ikut membusuk.17 (%adb). Selain itu kehadiran sulfur sulfide (pirit) dapat menaikkan kandungan abu dalam batubara. lingkungan pengendapan dari batubara dan lapisan pengapitnya juga berpengaruh terhadap total sulfur yang ada. Kandungan abu ini dipengaruhi oleh adanya parting sebagai pengotor yang mempengaruhi pada saat proses pembentukan batubara.34 (%adb). Parting ini terjadi karena adanya material klastik yang terendapkan pada lingkungan swamp sehingga pengendapan batubara terganggu. Nilai kalori pada daerah penelitian tertinggi 6.284. Selain itu.88 batubara. Kandungan abu di daerah penelitian paling tinggi 37. dan terendah 3. Berdasarkan data yang diperoleh nilai kalori di daerah telitian sedikit dipengaruhi oleh keberadaan resin yang merupakan material pengotor dalam batubara yang sifatnya mudah terbakar sehingga dapat menaikkan nilai kalori. Kehadiran pirit skunder yang berbentuk euhedral dan melembar yang sering terdapat pada cleat juga mempengaruhi terhadap kandungan total sulfur. . sedangkan terendah 3.00 Kcal/kg.98 Kcal/kg.123. Semakin tinggi kandungan abu dalam batubara maka semakin rendah nilai kalori dari batubara tersebut. Nilai kalori juga dipengaruhi oleh kandungan abu dalam batubara.

Berau Coal. The American Assosiation of Petroleum Geologists Bulletin volume 62. Baganz. Log Bore & Electric Logging Report Deep Drilling and Shallow Drilling Binungan Area. B. F. B. Ferm. Berau Coal. 1995. IV-13 – IV-15. Geometri Lapisan Batubara.. Bandung. 2003. 2000. Kuncoro Prasongko. PT. Drill Hole Survey Data Base Binungan Area. 1973.P. Donal M. hal. Berau Coal. Berau Coal. Seminar dan Musyawarah Nasional I-2000 Ikatan Alumni Tambang. America. B. 1978. Yogyakarta. Aplikasi Model Pengendapan Batubara. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero). 1997. Structural Geology An Introduction to Geometrical Techniques Second Edition. BTM (Buletin Teknologi Mineral) no. . Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Horne. 18 – 21. UPN “Veteran” Yogyakarta.T. J.89 DAFTAR PUSTAKA Anonim. Caruccio. 2003. Burhan & Situmorang. PT. 2379 – 2411. 2003. Kuncoro Prasongko. hal. hal. number 12. -. Yogyakarta. Ringkasan Mengenai Teknologi Eksplorasi Batubara. Materi Pelatihan Kualitas Batubara. Geological Map Berau Area. PT. Quality Analysis Deep Drilling and Shallow Drilling Binungan Area. New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) & Japan Technical Co-Operation Center For Coal Resources Development (JATEC).. PT. Pusat Pelatihan dan Pendidikan Ragan.15.. 2003.C. Department of Geology Arizona State University. PT. Peta Geologi Lembar Tanjung Redeb Kalimantan Timur.. PT. Berau Coal. 2002. Binungan Annual Main Plan 2004.. Depositional Models in Coal Exploration and Mine Planning in Appalachian Region. 1999. Jurusan Teknik Pertambangan UPN “Veteran” Yogyakarta.

Blackwell Scientific Publication. . 1984.. R. Guide to Geomorphic Aerial Photography Interpretation and Mapping. Colin R. Coal Geology and Coal Technology. 1983. Melbourne.A. Enschede 325 p.Van. Zuidam.90 Ward.

yang tertanam dalam masa dasar lempung. ukuran butir 0.01-0. relief rendah. Kuarsa 2. berupa butiran batulanau. (9%). (22%). relief tinggi.010.4mm.1954) Mineral opak Mineral lempung Lithic .01-0.5mm.02mm. (57%). KOMPOSISI MINERAL: Kuarsa Karbon (8%). (4%). tersebar merata dalam sayatan. kuning kecoklatan. berukuran 0. tersebar merata dalam sayatan.4mm. dan lithic dengan ukuran butir 0. berukuran 0. dengan sedikit butiran berupa kuarsa.01-0. pada posisi nikol silang menjadi gelap. Min. pemadaman bergelombang. Lempung 4.04.5mm. hitam. hitam.91 No. opak 3. indeks bias n>nkb.05-0. warna coklat kehitaman. didominasi oleh mineral berukuran lempung. kedap cahaya. mineral opak.3 mm PEMERIAN PETROGRAFIS: Sayatan batulempung. Lithic 0 0. Nama : Claystone (Klasifikasi Gilbert. bentuk butir menyudut tanggung-membulat. Sample Lokasi Pengamatan Nama Batuan Satuan Batuan Perbesaran : 01 :5 : Batulempung karbonan : Batulempung Latih : 30x Ket. Nampak cerat-cerat karbon dengan ukuran 0. kedap cahaya.05-0. kecoklatan. Karbon 5. menyudut tanggung-membulat tanggung. tidak berwarna. menyudut tanggung-membulat tanggung. ukuran butir 0. Foto : 1. membulat.

tekstur klastik. relief rendah. membulat. berupa butiran batupasir-batulanau. (39%). ukuran butir 0.030. butiran terdiri dari kuarsa dan mineral opak. (16%).3 mm PEMERIAN PETROGRAFIS: Sayatan batupasir. KOMPOSISI MINERAL: Kuarsa Mineral opak Mineral lempung Lithic Nama (17%). berukuran 0.03mm. kedap cahaya.01-0. pemadaman bergelombang. pada posisi nikol silang menjadi gelap (28%). membulat tanggung.1mm. dengan rongga antar butir terisi oleh lempung dan lithic. Kuarsa 2. tidak berwarna.01-0. relief tinggi. kecoklatan.1954) . indeks bias n>nkb. ukuran butir 0. : Lithic Wacke (Klasifikasi Gilbert.02-0. Min. hitam. warna abu-abu kecoklatan. Lempung 0 0. Foto : 1. Sample Lokasi Pengamatan Nama Batuan Satuan Batuan Perbesaran : 02 : 79 : Batupasir halus : Batupasir Latih : 30x Ket. bentuk butir menyudut tanggung-membulat. kuning kecoklatan. kemas terbuka.1mm.92 No.1mm. menyudut tanggung-membulat tanggung. ukuran butir 0. opak 3.

pada posisi nikol silang menjadi gelap. (66%). kemas terbuka. tersebar merata dalam sayatan. relief rendah. membulat. hitam. Lempung 4. kecoklatan. (12%). butiran terdiri dari kuarsa dan mineral opak .bentuk butir menyudut tanggung-membulat. tersebar merata dalam sayatan.1954) . menyudut tanggung-membulat tanggung.02mm. warna abu-abu kecoklatan. Kuarsa 2. kedap cahaya.dengan rongga antar butir terisi oleh lempung dan lithic. Sample Lokasi Pengamatan Nama Batuan Satuan Batuan Perbesaran : 03 : 80 : Batulanau : Batupasir latih : 30x Ket. Lithic 0 0. tekstur klastik. kuning kecoklatan. relief tinggi. membulat tanggung.020.01-0. indeks bias n>nkb. (8%).93 No.010. Min. ukuran butir 0.4mm.01-0. : Claystone (Klasifikasi Gilbert. berukuran 0. ukuran butir 0. pemadaman bergelombang. ukuran butir 0. Foto : 1. berupa butiran batulanau. opak 3. KOMPOSISI MINERAL: Kuarsa Mineral opak Mineral lempung Lithic Nama (14%).4mm. tidak berwarna.04mm.3 mm PEMERIAN PETROGRAFIS: Sayatan batulanau.

Foto : 1.05-0. Nama : Lithic Arenit (Klasifikasi Gilbert. relief tinggi. pada posisi nikol silang menjadi gelap. ukuran butir 0. dengan rongga antar butir terisi oleh lempung. kemas terbuka. hitam. warna abu-abu kecoklatan. kecoklatan. Sample Lokasi Pengamatan Nama Batuan Satuan Batuan Perbesaran : 04 : 39 : Batupasir kuarsa : Batupasir kuarsa Latih : 30x Ket.94 No. kedap cahaya.3 mm PEMERIAN PETROGRAFIS: Sayatan batupasir. relief rendah. bentuk butir menyudut tanggung-membulat tanggung.05-0. Min. ukuran butir 0. berukuran 0.1954) Mineral opak . opak 3. membulat tanggung. KOMPOSISI MINERAL: Kuarsa Mineral lempung (76%). (16%).080. tidak berwarna. tekstur klastik. indeks bias n>nkb. Lempung 0 0.25mm. (8%).25mm. menyudut tanggung-membulat tanggung.1mm. Kuarsa 2. butiran terdiri dari kuarsa dan mineral opak.pemadaman bergelombang.

02-0. ukuran butir 0. relief tinggi. kuning kecoklatan-coklat kemerahan belahan satu arah (parallel). kedap cahaya. Lempung 4. (4%). ukuran butir 0. Lithic 0 0. tekstur klastik. indeks bias n>nkb. dengan rongga antar butir terisi oleh lempung dan lithic. indeks bias n>nkb. menyudut tanggung-membulat tanggung. Sample Lokasi Pengamatan Nama Batuan Satuan Batuan Perbesaran : 05 : 17 : Batupasir kuarsa : Batupasir kuarsa Latih : 30x Ket.05-0.3 mm PEMERIAN PETROGRAFIS: Sayatan batupasir.8mm. (2%).05 -0. Foto : 1. ukuran butir 0. butiran terdiri dari kuarsa dan mineral opak. berukuran 0.05-0. kuning kecoklatan.02-0. Biotit 5. berupa butiran batupasir-batulanau. Min. : Lithic Wacke (Klasifikasi Gilbert. opak 3. pada posisi nikol silang menjadi gelap. warna coklat-coklat kehitaman. kemas terbuka. membulat tanggung. kecoklatan. membulat. pemadaman bergelombang. (20%). KOMPOSISI MINERAL: Kuarsa Mineral opak Mineral lempung Biotit Lithic Nama (56%). (18%).15mm. ukuran 0. bentuk butir menyudut tanggung-membulat.15mm. Kuarsa 2. relief rendah. tidak berwarna.04mm.08mm. hitam.1954) .95 No.

96 DATA KEDUDUKAN BATUAN DALAM ANALISA STEREOGRAFIS BAGIAN SELATAN STRIKE BAGIAN UTARA DIP 14 15 174 177 164 163 158 155 175 175 210 201 187 148 151 154 160 160 STRIKE 25 30 30 38 36 23 18 23 27 21 14 11 27 19 17 26 23 20 Arah umum : N 14 E/27 dan N 157 E/22 DIP 334 2 171 155 163 141 135 152 157 153 145 146 74 70 15 8 18 10 14 16 10 15 12 20 Arah umum : N 350 E/73 dan N 151 E/14 .

1964) .97 Hinge surface PROYEKSI STEREOGRAFIS SINKLIN BINUNGAN BAGIAN SELATAN 3 1 Hinge line 2 1 2 3 Hinge line Hinge surface : 3O/N 086O E : 8O/N 178O E : 8O/N 337O E : 8O/N 178O E O : N 176O E/86 Upright horizontal fold (Fluety.

1964) .98 Hinge surface PROYEKSI STEREOGRAFIS SINKLIN BINUNGAN BAGIAN UTARA 1 3 Hinge line 2 1 2 3 Hinge line Hinge surface : 29O/N 075O E : 6O/N 168O E : 60O/N 268O E : 6O/N 168O E O : N 170O E/60 Steeply inclined horizontal fold (Fluety.

42 12.626.50 113.76 16.133.02 27.625.50 NORTHING 227.48 227.853.666.449.57 227.29 17.00 .80 69.00 550.44 19.026.26 227.50 550.697.486.574.00 550.237.49 38.24 27.43 228.90 13.50 8.812.458.890.34 228.728.126.528.506.02 227.00 550.40 26.541.44 36.631.00 550.70 27.00 550.00 550.50 550.40 227.62 226.050.465.00 550.65 120.15 25.60 20.795.00 70.00 83.4 DRILL HOLE NUMBER DD-03-01 DD-03-02 DD-03-03 DD-03-04 DD-03-05 DD-03-06 DD-03-07 DD-03-08 DD-03-09 DD-03-10 DD-03-11 DD-03-12 DD-03-13 DD-03-14 DD-03-15 DD-03-16 DD-03-17 DD-03-18 DD-03-22 BD-03-01 BD-03-02 BD-03-03 BD-03-04 BD-03-04A BD-03-05 BD-03-06 BD-03-07 BD-03-07A BD-03-08 BD-03-09 BD-03-10 BD-03-11 BD-03-12 BD-03-13 BD-03-14 BD-03-15 BD-03-16 BD-03-17 BD-03-18 BD-03-19 BD-03-20 EASTING 550.505.326.836.15 41.00 17.549.80 35.72 27.537.60 45.60 121.00 17.00 550.10 13.824.85 227.50 550.00 84.305.00 550.939.95 18.50 550.61 37.404.00 145.49 8.38 39.40 227.88 227.815.555.536.00 550.98 12.52 227.75 18.34 42.64 226.66 228.00 550.67 34.00 7.00 550.01 48.446.578.69 227.447.75 228.894.60 115.428.00 550.665.45 227.40 70.50 550.00 550.79 227.81 9.50 18.90 29.30 20.35 131.64 16.50 550.39 33.22 28.566.96 32.459.50 550.34 227.430.50 550.716.576.018.00 550.46 227.22 227.38 14.50 550.50 35.50 13.02 33.00 550.606.84 228.27 31.405.02 227.96 227.547.20 29.167.329.00 550.99 DATA SURVEY TITIK BOR DAERAH BINUNGAN BLOK 3 .732.485.50 550.50 550.07 227.50 550.48 42.88 227.394.82 228.699.509.50 549.781.40 96.00 27.00 78.576.881.45 ELEVASI TOTAL DEPTH 48.47 227.488.270.075.92 227.009.517.527.00 34.64 227.50 550.50 550.63 36.25 228.00 550.50 551.00 550.46 24.032.582.839.00 34.11 227.51 21.10 228.502.703.70 229.50 550.00 98.20 17.50 550.00 550.60 12.72 227.416.362.31 227.56 227.06 34.00 551.60 88.00 55.00 549.504.79 40.154.940.82 11.594.65 85.465.461.05 22.50 228.20 123.762.886.84 227.33 24.11 227.55 11.19 25.66 32.94 12.006.

00 51.64 227.00 44.514.269.46 10.047.202.356.378.489.639.433.50 16.00 550.34 12.467.99 227.48 228.21 15.409.00 550.32 9.23 228.19 17.539.00 550.40 46.50 550.61 12.907.245.471.00 550.52 228.77 11.86 228.468.52 228.15 3.28 17.00 227.36 12.30 17.87 9.50 550.200.00 550.445.07 228.00 51.87 32.00 228.29 6.274.459.50 16.50 550.240.79 15.035.89 15.11 227.34 29.40 14.55 228.50 550.83 229.00 39.506.20 227.409.955.454.50 19.00 550.50 550.971.209.270.50 24.73 26.487.10 14.034.30 24.50 550.50 550.00 100 .307.50 550.97 227.00 550.391.373.00 50.94 228.50 24.50 9.250.357.00 550.00 550.91 228.50 550.00 550.495.50 550.63 227.914.094.00 550.00 10.435.440.285.130.50 550.00 24.00 550.25 19.00 550.00 550.80 24.80 33.843.73 227.86 228.00 550.937.877.508.269.291.37 229.434.50 550.65 41.158.10 5.30 11.40 21.473.395.47 5.297.BD-03-21 BD-03-22 BD-03-23 BD-03-24 BD-03-25 BD-03-26 BD-03-27 BD-03-28 BD-03-29 BD-03-30 BD-03-31 BD-03-32 BD-03-33 BD-03-34 BD-03-34R BD-03-35 BD-03-36 BD-03-37 BD-03-38 BD-03-39 BD-03-40 BD-03-40A BD-03-41 BD-03-51 BD-03-52 BD-03-52R BD-03-53 BD-03-54 BD-03-55 BD-03-59 BD-03-64 BD-03-65 550.740.80 20.50 550.30 228.30 15.992.30 10.33 10.42 228.55 48.355.32 227.00 550.50 30.89 30.20 19.46 227.455.00 20.08 229.239.50 228.00 227.36 10.70 45.70 7.41 228.125.548.90 32.50 17.14 20.538.00 9.30 9.428.00 550.463.27 22.76 228.20 17.67 10.58 228.50 227.20 12.00 550.

5 16.45 31.65 14.49 30.34 7.24 1.7 15.98 0.24 0.65 24.27 2.26 1.05 28.18 0.25 0.63 0.9 15.25 26.95 16.3 2.23 0.65 3.2 0.64 32.77 2.25 0.28 0.22 0.62 3.6 0.58 5.7 0.81 2.4 16.97 1.04 1.9 15.25 30.26 0.57 0.77 39.75 17 18 18.16 3.4 6.95 13.52 6.45 24.15 0.25 26.95 3.1 32.25 0.25 0.2 32.8 30.5 0.25 0.27 0.77 39.45 24.5 16.36 31.4 15.5 1 Ash % adb 3.14 0.75 27 15.19 0.15 17.76 5.4 30.9 6.14 0.9 17.25 18.31 0.17 0.25 0.64 36.7 37.15 0.2 26.73 3.13 0.29 2.27 1.25 0.51 29.2 28.17 0.45 14.24 1.43 0.65 5.97 15.02 1.65 16.62 1.71 32.75 17 18 18.06 13.1 0.97 1.25 0.95 38.65 2.58 3.15 0.75 14.95 16.7 0.39 1.25 0.31 0.6 31.5 30.29 1.04 2.42 0.97 4.15 0.95 33.5 0.97 2.36 31.39 2.4 Drill Hole Seam Number BD-03-02 BD-03-02 BD-03-03 BD-03-03 BD-03-03 BD-03-03 BD-03-03 BD-03-04 BD-03-04 BD-03-04A BD-03-04A BD-03-04A BD-03-04A BD-03-04A BD-03-04A BD-03-04A BD-03-04A BD-03-04A BD-03-04A BD-03-05 BD-03-05 BD-03-05 BD-03-05 BD-03-05 BD-03-05 BD-03-05 BD-03-06 BD-03-06 BD-03-06 BD-03-06 BD-03-06 BD-03-06 BD-03-06 BD-03-07 BD-03-07 BD-03-07 BD-03-07 BD-03-07 BD-03-07 BD-03-07 BD-03-07 BD-03-07A BD-03-07A BD-03-07A BD-03-07A BD-03-07A BD-03-07A BD-03-08 BD-03-08 BD-03-08 BD-03-08 BD-03-08 LLU LLU LU LLU LLL LLL LLL LU LL KU KU KU KL KL KL KL KL KL KL KU KL KL KL KL KL KL K K K K K K K K K K K K K K K KU KL KL KL KL KL KU KU KL KL KL From To Thickness ( metres ) ( metres ) ( metres ) 2.4 0.5 13.36 0.14 0.2 1.85 31.8 2.07 8.02 0.12 32.97 2.15 0.45 31.17 0.15 0.12 32.11 0.22 0.18 0.18 3.1 32.02 39.38 32.09 0.75 9.8 37.15 0.7 32.2 32.5 0.12 0.4 15.5 1.51 29.25 1.17 0.49 2.22 6.25 16.07 3.25 16.13 0.3 0.2 26.25 0.17 0.59 0.28 0.53 9.22 0.25 0.95 38.59 1.39 1.1 30.71 32.26 0.5 0.01 1.26 0.14 0.05 0.95 16.15 0.43 3.25 0.61 1.2 38.65 17.25 0.7 5.01 3.37 0.16 0.4 37.7 32.14 0.94 2 3.26 0.9 5.25 0.42 2.25 0.2 38.2 13.9 24.25 0.3 0.15 17.Data Analisa Kimia Batubara Daerah Binungan Blok 3 .65 17.14 Calorific Value kcal/kg adb 6096 5965 5980 6089 6058 6212 6159 4840 5285 5988 6154 6386 5284 6033 5687 5420 5816 6079 5842 6397 5954 6108 5939 5688 5974 5872 5616 6488 6080 6029 5960 6097 6202 6151 5930 5976 6094 6064 6000 6042 6088 6180 5943 6063 6156 6160 6149 6024 6301 6173 5812 6105 101 .5 1.26 0.7 25.01 Total Sulphur % adb 1.25 1 0.2 24.46 2.25 15.1 2.97 3.82 3.41 2.41 0.22 0.7 25.41 3.49 2.24 2.4 1.25 0.25 0.25 0.75 14.75 27 27.25 0.38 32.4 3.02 39.45 28.9 37.49 29.65 39.16 0.08 1.01 0.

02 1.13 0.14 0.65 9.3 15.5 0.1 7.5 3.2 0.25 0.76 14.25 0.79 15.44 2.25 0.33 0.35 15.15 0.02 4.5 0.47 2.45 23.28 4.25 0.65 14.51 0.17 2.76 14.65 7.61 8.62 24.1 14.42 1.71 Ash % adb 2.17 3.45 22.62 21.85 0.25 0.85 10.15 8.14 Total Sulphur % adb 0.74 13.15 0.22 9.36 1.25 0.05 16.87 8.25 0.68 0.74 5.4 22.13 0.15 13.15 24.79 15.08 13.5 7.75 26.18 0.5 12.25 1.47 10.25 2.65 2.8 16.35 25.2 0.15 24.36 0.55 22.35 24.76 1.15 0.28 1.83 25.25 0.17 0.8 2.11 9 7.38 16.13 0.9 8.44 16.44 16.34 0.7 1.29 1.9 8.23 0.5 1.28 4.91 3.56 0.15 0.1 14.16 3.83 25.35 15.81 3.22 0.33 0.62 3.87 8.2 22.8 23.15 0.79 0.65 9.61 0.6 9.35 2.97 9.51 5.68 2.02 3.49 10.29 0.16 0.18 4.18 0.18 0.25 0.15 0.6 9.47 10.02 10.74 16.9 14.62 27.35 0.38 16.25 0.5 14.68 0.22 0.49 10.36 0.1 23.34 0.25 3.74 3.28 0.17 0.2 22.01 8.Drill Hole Seam Number BD-03-08 BD-03-09 BD-03-09 BD-03-09 BD-03-09 BD-03-09 BD-03-09 BD-03-10 BD-03-10 BD-03-10 BD-03-10 BD-03-10 BD-03-10 BD-03-11 BD-03-11 BD-03-11 BD-03-11 BD-03-11 BD-03-12 BD-03-12 BD-03-12 BD-03-12 BD-03-12 BD-03-12 BD-03-12 BD-03-12 BD-03-12 BD-03-13 BD-03-13 BD-03-13 BD-03-13 BD-03-13 BD-03-13 BD-03-13 BD-03-13 BD-03-16 BD-03-16 BD-03-16 BD-03-16 BD-03-16 BD-03-16 BD-03-16 BD-03-16 BD-03-16 BD-03-16 BD-03-16 BD-03-17 BD-03-17 BD-03-17 BD-03-17 BD-03-17 BD-03-17 BD-03-17 BD-03-18 BD-03-18 KL KU KU KL KL KL KL KU KU KL KL KL KL KU KL KL KL KL KU KU KU KU KL KL KL KL KL K K K K K K K K K K K K K K K K K K K K1U KU KL KL KL KL KL K K From To Thickness ( metres ) ( metres ) ( metres ) 16.42 2.79 2.46 6.85 0.64 1.15 8.29 0.5 26.65 13.15 0.27 23.15 0.3 2.05 2.97 9.12 0.75 8.25 0.45 1.4 12.35 20.75 7 7.19 0.25 0.36 0.68 0.01 0.65 24.79 0.5 0.36 2.7 7 7.28 0.25 0.8 23.99 11.14 0.08 13.99 11.25 0.5 0.16 0.83 27.15 0.27 0.25 0.4 4.17 0.75 12.78 2.2 0.33 1.81 1.17 0.3 15.17 0.53 2.25 0.95 0.48 2.21 0.62 24.73 0.22 9.29 0.15 0.5 1.03 26.15 0.14 Calorific Value kcal/kg adb 5880 6135 6492 6118 6160 6190 6391 6405 6283 5782 6193 6170 6092 6214 6141 6069 6190 6187 5972 5994 6003 5940 5757 5860 6084 6195 6176 4927 5619 5812 5791 6141 6137 5907 6115 6267 6169 6442 6041 4580 6017 6228 6061 6092 6208 5650 5779 6088 5914 6148 6177 6237 6224 6011 6152 102 .17 0.2 0.17 0.15 0.19 0.08 2 1.14 0.59 1.36 2.75 8.29 2.34 0.14 0.26 3.25 0.61 8.74 13.04 7.95 0.65 0.23 0.4 22.01 8.25 1.25 0.65 7.5 24.05 1.5 7.15 0.25 0.27 23.35 0.25 11.25 0.9 22.06 0.59 3.37 4.2 0.1 0.85 7.8 16.19 6.83 27.14 0.1 4.95 23.25 0.18 0.62 16.65 22.03 26.65 24.

4 10.27 0.3 10.55 0.03 10.55 0.4 22.29 7.18 0.14 0.15 0.5 7.2 0.56 10.56 3.84 8.25 0.98 1.23 0.75 0.13 0.15 5.13 5.17 0.4 6.98 9.5 0.14 0.55 21.17 0.53 2.15 22.14 2.27 1.3 5.98 0.27 0.3 24.39 0.23 6.95 6.02 6.69 2.25 0.23 0.41 5.34 2.4 6.7 1.49 0.25 0.36 0.24 0.5 0.54 0.8 14.33 3.24 0.98 9.64 2.41 6.25 0.41 2.43 0.8 6.3 0.25 1.22 9.86 3.08 0.95 6.8 3.69 1.06 10.14 0.9 11.15 0.74 7.8 7.05 Total Sulphur % adb 0.16 0.63 3.25 0.45 5.14 0.13 8.25 0.45 11.3 24.7 0.03 4.8 24.13 5.32 8.64 1.91 2.5 22.89 8.27 0.78 3.25 0.3 21.28 0.28 9.74 7.45 3.27 0.36 1.27 0.18 0.5 4.16 0.27 13.15 0.38 9.15 0.45 12 12.15 10.61 0.44 7.88 4.25 1.18 0.91 3.18 0.83 1.65 10.48 1.13 8.45 1.18 0.19 3.27 0.3 6.15 0.15 21.15 22.13 0.37 0.83 2.88 3.23 6.53 1.15 0.4 10.33 0.56 8.92 1.71 7.02 6.28 0.64 7.26 0.59 0.85 5.48 0.55 6.9 11.58 1.17 0.19 0.5 2.25 0.24 8.9 7.4 6.25 0.64 7.27 13.17 0.27 Ash % adb 4.22 0.15 0.42 0.13 0.89 1.75 23.61 3.25 0.05 0.05 5.72 4.65 10.12 0.07 3.28 0.41 6.26 13.38 9.14 0.62 4.94 6.16 0.15 7.26 13.84 8.25 1.8 3.76 10.44 7.3 0.27 1.64 1.94 1.88 4.06 10.25 0.05 7.89 8.14 0.14 0.7 1.27 0.16 1.59 3.7 12.25 0.56 10.05 7.56 1.13 0.15 5.55 0.29 7.6 3.71 7.32 8.24 1.33 0.25 0.41 5.34 1.61 1.27 0.62 1.18 0.75 23.26 1.41 Calorific Value kcal/kg adb 6038 5873 6077 6027 6199 6208 6215 6119 6179 6250 5968 5991 6159 6219 6131 6145 6154 6333 6313 6117 6187 6251 6321 6190 6267 6179 6420 5661 5896 6080 6197 6249 5829 6354 6133 6280 6125 5953 6099 5939 4541 5960 6310 6123 6164 6327 6179 6291 6143 6415 6141 6014 6188 6317 6102 103 .2 6.14 0.69 3.7 6.18 0.4 22.4 22.18 0.51 4.25 0.22 9.76 10.24 0.47 6.9 7.64 1.27 0.8 24.49 1.47 6.27 0.19 0.14 0.1 6.Drill Hole Seam Number BD-03-18 BD-03-18 BD-03-18 BD-03-18 BD-03-18 BD-03-18 BD-03-18 BD-03-19 BD-03-19 BD-03-19 BD-03-19 BD-03-19 BD-03-19 BD-03-19 BD-03-19 BD-03-19 BD-03-20 BD-03-20 BD-03-20 BD-03-20 BD-03-20 BD-03-20 BD-03-20 BD-03-20 BD-03-21 BD-03-21 BD-03-21 BD-03-21 BD-03-21 BD-03-21 BD-03-21 BD-03-21 BD-03-21 BD-03-22 BD-03-22 BD-03-22 BD-03-22 BD-03-22 BD-03-22 BD-03-22 BD-03-22 BD-03-22 BD-03-23 BD-03-23 BD-03-23 BD-03-23 BD-03-23 BD-03-24 BD-03-24 BD-03-24 BD-03-24 BD-03-24 BD-03-24 BD-03-24 BD-03-24 K K K K K K K K K K K K K K K K KU KU KU KL KL KL KL KL K K K K K K K K K KU KU KU KU KL KL KL KL KL KU KL KL KL KL KU KU KU KU KL KL KL KL From To Thickness ( metres ) ( metres ) ( metres ) 3.61 3.25 0.55 24.25 0.2 0.27 0.66 3.85 26.15 0.27 0.46 1.

6 15.23 0.8 30.25 0.15 16.37 1.15 0.04 0.2 1.23 0.2 0.25 0.75 6.25 1.55 30.35 7.17 0.15 16.48 8.65 17.4 24.42 1.22 15.16 16.17 0.6 1.35 15.9 28.41 1.35 2.48 9.12 0.54 7.04 3.28 1.33 0.25 0.15 15.25 0.3 0.22 2.76 1.6 13.74 10 3.19 0.39 2.25 0.3 29.11 0.26 0.14 0.88 15.49 0.22 6.2 0.9 18.16 16.25 0.95 9.15 16.9 8.73 1.9 18.16 0.34 1.26 0.73 0.36 0.4 3.4 1.25 1.64 4.2 0.22 7.15 0.44 3.28 0.25 0.9 15.18 0.65 17.6 14.12 0.5 13.65 17.72 0.31 0.3 0.88 14.Drill Hole Seam Number BD-03-24 BD-03-25 BD-03-25 BD-03-25 BD-03-25 BD-03-25 BD-03-25 BD-03-25 BD-03-25 BD-03-25 BD-03-27 BD-03-27 BD-03-27 BD-03-27 BD-03-27 BD-03-27 BD-03-27 BD-03-28 BD-03-28 BD-03-28 BD-03-28 BD-03-28 BD-03-28 BD-03-28 BD-03-28 BD-03-29 BD-03-29 BD-03-29 BD-03-29 BD-03-29 BD-03-30 BD-03-30 BD-03-30 BD-03-30 BD-03-30 BD-03-30 BD-03-31 BD-03-31 BD-03-31 BD-03-31 BD-03-31 BD-03-32 BD-03-32 BD-03-32 BD-03-32 BD-03-32 BD-03-32 BD-03-32 BD-03-33 BD-03-33 BD-03-33 BD-03-33 BD-03-33 BD-03-34R BD-03-34R KL K K K K K K K K K K K K K K K K K K K K K K K K K K K K K K K K K K K K K K K K K1U KU KL KL KL KL KL K K K K K K K From To Thickness ( metres ) ( metres ) ( metres ) 14.55 29.9 14.2 13.3 30.3 0.94 17.8 13.9 18.96 6.25 0.18 0.56 16.82 18.5 17.41 0.47 0.25 0.17 0.3 0.22 6.25 1.9 14.9 18.3 30.18 0.61 5.65 15.25 0.2 7.22 7.16 0.89 Ash % adb 1.15 0.8 1.3 1.35 13.4 17.3 12.15 0.26 0.14 0.22 17.43 2.77 2 6.5 0.37 0.16 0.5 17.96 7.74 2.25 0.27 0.47 0.25 0.14 0.6 4.16 1.62 5.05 2.35 5.8 16.15 0.25 0.2 0.56 0.6 1.15 16.05 18.55 13.14 0.19 0.39 16.15 1.26 0.48 9.55 0.24 5.37 1.48 8.96 6.17 0.23 0.9 16.9 7.36 0.8 1.05 13.4 16.09 1.55 29.12 0.13 8.64 2.15 16.96 7.3 0.88 1.18 0.83 2.88 15.25 0.3 18.16 0.16 14.04 Total Sulphur % adb 0.05 18.5 16.43 0.05 13.36 0.4 16.7 4 4.15 0.28 0.22 1.25 0.5 1.25 16.67 5.65 17.38 0.6 3.9 16.26 0.7 5.1 29.25 0.25 16.94 17.25 0.26 1.77 1.42 1.08 5.15 0.74 3.1 29.4 15.17 0.7 4 4.8 30.22 0.95 9.2 0.18 0.4 17.6 14.25 0.22 0.52 0.76 2.19 0.78 3.82 11.28 0.39 16.2 0.16 16.61 5.28 0.88 14.25 0.8 15.17 0.25 0.65 12.33 0.95 11 2.53 4.75 6.2 Calorific Value kcal/kg adb 6214 6145 6142 6346 5607 6004 6062 6174 6154 5999 6302 6467 5769 6160 6210 5965 6227 6290 6318 5543 6152 6208 6217 6324 6165 6088 6124 6034 6121 6042 6479 6254 6045 6198 6413 5647 5859 6097 6078 6193 6195 4543 6060 5940 6135 5047 5739 6116 6084 6084 6059 5953 6076 5196 6114 104 .24 1.8 2.28 0.55 29.14 0.55 16 16.84 1.9 7.18 2.

35 10.1 2.9 1.85 0.26 0.61 0.68 1.15 47.92 4.09 0.64 10.3 0.2 5.3 0.61 0.96 2.2 5.41 0.78 4.9 1.9 17.3 1.41 3 2.67 17.26 0.5 6.55 17.Drill Hole Seam Number BD-03-34R BD-03-35 BD-03-35 BD-03-35 BD-03-35 BD-03-35 BD-03-36 BD-03-36 BD-03-37 BD-03-37 BD-03-37 BD-03-37 BD-03-37 BD-03-38 BD-03-38 BD-03-38 BD-03-39 BD-03-39 BD-03-39 BD-03-40A BD-03-40A BD-03-40A BD-03-51 BD-03-51 BD-03-51 BD-03-51 BD-03-51 BD-03-51 BD-03-51 BD-03-51 BD-03-52R BD-03-52R BD-03-52R BD-03-52R BD-03-52R BD-03-52R BD-03-53 BD-03-53 BD-03-53 BD-03-53 BD-03-53 BD-03-53 BD-03-54 BD-03-55 BD-03-55 BD-03-55 BD-03-55 BD-03-55 BD-03-55 BD-03-55 BD-03-55 BD-03-59 BD-03-59 BD-03-59 BD-03-59 K K K K K K J J J J J J J J J J J J J H H H KU KU KU KU KL KL KL KL KU KU KU KU KL KL KU KU KU KL KL KL KL L L L L L L L L LUU LUL LUL LL From To Thickness ( metres ) ( metres ) ( metres ) 16.27 0.6 3.02 7.1 34.35 34.25 1.56 5.5 6.88 22.96 0.21 9.3 0.88 6.24 6.88 34.24 6.32 0.26 2.62 1.35 0.39 21.24 2.52 9.52 1.8 47.88 6.38 1.21 9.45 0.9 2.81 1.25 0.27 0.91 3.25 0.89 15.61 1.82 1.67 17.6 35.05 37.4 7.28 1.4 48.84 10.48 1.4 35.25 0.25 18.32 0.32 0.31 2.04 19.49 0.28 3.32 0.96 0.27 0.14 0.4 0.48 0.32 1.75 16.53 0.51 1.4 48.3 37.38 1.88 5.64 4.4 17.86 0.31 0.95 5.3 0.05 15.77 2.25 0.78 7.52 9.85 1.88 Calorific Value kcal/kg adb 6184 5943 5092 6000 6080 6014 6352 6078 6343 6449 6272 6308 6202 6388 6375 6175 6429 6407 5733 6376 6354 7102 6114 6118 6448 5873 5865 6016 5684 5502 6103 5991 6167 6020 6020 5889 6151 6113 6070 5653 6262 6083 4213 5843 5589 6266 4899 5990 6120 5469 6323 6033 6267 6060 6031 105 .6 10.6 17.2 8.25 47.4 11.35 19.5 3.32 0.57 0.25 18.94 19.4 17.14 0.2 34.38 0.78 3.34 Ash % adb 3.7 46.08 19.79 1.57 1.7 2.24 1.84 2.08 16.26 0.38 7.25 0.41 2.52 3.15 35.55 0.76 2.87 4.09 0.92 4.19 0.31 0.53 1.76 7.4 14.72 0.75 16.5 1.35 34.72 15.02 7.36 0.7 20 20.27 0.51 1.72 15.8 37.25 0.05 20 20.74 1 0.25 0.1 0.6 47.79 0.22 0.18 0.05 37.36 0.7 22 47.55 35.77 1.12 2.6 21.25 0.39 2.74 1.32 0.86 1.25 3.08 16.34 1.2 47.74 2.25 0.52 2.82 1.87 1.25 18.45 0.41 1.25 48.3 17.06 6.94 19.26 0.2 14.06 6.44 1.25 0.02 0.71 0.26 16.99 0.6 14.25 6.76 7.56 5.15 35.45 30 4.4 0.2 0.28 0.46 18.74 2.28 0.87 11.25 0.25 0.38 9.72 5 8.6 10.94 0.31 21.17 2.39 21.71 0.05 15.87 11.27 1.18 0.22 0.91 2 1.8 37.02 1.32 0.36 0.35 0.4 2.24 1.17 0.72 5.76 2.17 0.31 21.35 0.64 1.32 0.7 0.8 1.76 Total Sulphur % adb 0.31 2.36 0.16 0.7 1.25 0.32 0.08 19.65 11.54 0.2 0.28 0.6 35.

14 0.4 0.32 35.14 0.13 48.84 3.26 8.88 10.6 35.7 2.34 0.1 22.13 42.5 48.5 42.1 2.3 3.11 37.82 49.74 70.86 0.4 5.78 7.5 69.79 1.65 0.29 76 107.5 0.47 3.95 6.51 111.44 0.1 Total Sulphur % adb 0.3 69.72 1.61 1.41 9.3 0.45 114 48.27 0.21 0.34 3.69 3.65 3.01 1.6 9.6 35.27 0.65 73.1 44.82 4.47 7.89 1.4 0.95 0.45 5.3 48.21 0.93 9.34 0.35 0.39 0.6 10.82 49.62 1.3 2.09 2.3 0.14 1 0.3 111.8 111.7 23.65 0.06 3.85 112.71 Calorific Value kcal/kg adb 6003 5993 3284 5998 6176 6070 6059 6084 5544 5766 6140 5971 6019 6081 5919 6046 5882 5570 6054 6103 5423 5488 5720 5733 6018 3940 6150 6184 5509 5784 6204 6099 6032 6155 3720 4720 6001 5839 5766 5607 6280 6263 5650 6094 6038 6124 5997 3283 5557 5071 5298 5817 6183 5781 6172 106 .66 0.9 75.55 2.73 2.51 112.68 Ash % adb 4.19 0.4 0.96 73.45 0.3 69.25 0.54 0.09 6.85 109.3 0.47 49.74 3.34 14.5 69.24 0.85 3.54 7.9 23.2 42.65 3.79 1.98 68.41 73 76.35 69.6 3.63 1.14 0.92 5.8 3.37 0.54 0.75 47.41 70.98 37.58 1.1 74.47 49.2 80.01 57.28 0.34 0.48 46.1 46.18 0.27 0.4 1.18 2.35 0.6 43 43.35 44.15 4.35 23.63 0.3 48.47 34.51 0.1 74.24 0.7 36.68 0.5 0.88 37.38 1.3 48.86 6.82 0.24 0.75 47.15 0.15 0.36 3.09 9.44 4.58 1.3 0.22 0.25 0.4 75.69 0.5 110.99 3.18 2.75 23.6 10.1 0.25 1.48 46.85 49.96 50.55 74.56 0.11 81.26 1.55 75.49 0.2 0.21 0.13 3.32 12.9 46.96 24.75 43 43.86 1.7 78.74 70.85 0.7 0.08 2.6 69.87 0.54 0.31 3.22 0.09 4.4 2.25 0.05 36.6 0.8 0.57 0.96 74 74.35 0.67 0.64 36.76 2.1 44.6 0.5 44.49 1.64 36.85 49.55 0.84 2.88 2.38 0.42 0.45 0.4 1.6 8.95 10.41 9.35 81.5 42.15 111.82 12.84 1.71 0.84 5.35 8 8.61 32.4 42.27 0.88 12.22 7.29 107.12 3.94 12.5 109.6 2.54 6.Drill Hole Seam Number BD-03-59 BD-03-59 BD-03-59 BD-03-59 BD-03-59 BD-03-59 BD-03-59 BD-03-59 BD-03-64 BD-03-64 BD-03-64 BD-03-64 BD-03-64 BD-03-64 BD-03-64 BD-03-65 BD-03-65 BD-03-65 BD-03-65 BD-03-65 DD-03-01 DD-03-01 DD-03-01 DD-03-01 DD-03-02 DD-03-02 DD-03-02 DD-03-02 DD-03-02 DD-03-02 DD-03-02 DD-03-02 DD-03-02 DD-03-03 DD-03-03 DD-03-03 DD-03-03 DD-03-03 DD-03-03 DD-03-03 DD-03-03 DD-03-03 DD-03-03 DD-03-03 DD-03-04 DD-03-04 DD-03-04 DD-03-04 DD-03-04 DD-03-04 DD-03-04 DD-03-04 DD-03-04 DD-03-05 DD-03-05 LL LL K1LU KL KL KL KL KL LU LU LL LL LL LL LL LUU LUL LUL LLL LLL L L L L EUU EUU EUU EUU EUU EULL ELUU ELUL ELL FU FL FL E1U E1L EUU EUU EULL EULL ELU ELL H H H H H GUU GUL GUL F E1 E1 From To Thickness ( metres ) ( metres ) ( metres ) 11.58 1.5 80.38 0.05 2.5 44.15 3.23 17.03 1.58 1.7 1.33 2.2 46.08 6.05 109.57 0.2 0.1 36.35 0.65 0.85 3.9 9.28 0.9 36.81 1.9 114.

29 0.2 8.35 15.7 57.6 15.08 2.26 0.14 1.09 31.81 17.26 0.1 37.72 96.51 0.26 2.98 2.34 3.93 1.15 58.77 0.75 33.03 0.17 0.83 30.64 9.9 61.41 5.18 1.37 31.25 0.44 0.15 9.23 0.8 33.89 3.85 7.66 2.56 1.18 96.59 6.5 30.5 18.17 53.95 3.Drill Hole Seam Number DD-03-05 DD-03-05 DD-03-05 DD-03-05 DD-03-05 DD-03-05 DD-03-05 DD-03-05 DD-03-05 DD-03-05 DD-03-05 DD-03-05 DD-03-05 DD-03-05 DD-03-05 DD-03-05 DD-03-05 DD-03-05 DD-03-06 DD-03-06 DD-03-06 DD-03-06 DD-03-07 DD-03-07 DD-03-07 DD-03-07 DD-03-07 DD-03-07 DD-03-07 DD-03-07 DD-03-07 DD-03-07 DD-03-08 DD-03-08 DD-03-08 DD-03-08 DD-03-08 DD-03-08 DD-03-08 DD-03-08 DD-03-08 DD-03-08 DD-03-09 DD-03-09 DD-03-09 DD-03-09 DD-03-09 DD-03-09 DD-03-09 DD-03-09 DD-03-09 DD-03-09 DD-03-09 DD-03-09 DD-03-10 E1 EU EU EU EU EU ELU ELU ELL ELL DU DU DU DU DU DL DL DL F F F E1 LU LLU LLU LLL LLL KU KU KL KL KL KU KU KU KL KL KL KL H H H J J J J J J HU HU HU HU HL GL LU From To Thickness ( metres ) ( metres ) ( metres ) 4.49 1.32 0.14 0.57 64.54 8.02 18.79 57.31 3.29 1.95 37.67 39.52 0.3 2.5 16.77 1.77 4.16 30.65 7.02 55.08 3.5 55.63 0.62 0.76 19.27 1.73 2.61 1.63 57.1 39.24 0.95 63.86 8.16 0.55 1 0.06 2.2 0.44 8.3 1.71 1.04 95.29 0.66 Total Sulphur % adb 1.6 1.83 56.32 9.89 0.11 2.33 58.87 54.33 2 2.28 0.22 0.03 5.3 7.6 29.08 1.2 63.83 30.41 57.18 0.76 1.05 3.33 58.41 57.55 0.85 60.05 4.95 43.3 18.86 4.35 3.64 9.27 0.43 3.21 0.7 4.75 0.29 0.36 1.63 57.3 95.83 65.21 0.09 4.4 95.2 44.4 1.91 1.8 0.34 0.7 57.13 1.09 31.25 31.42 Ash % adb 3.76 0.23 0.3 37.53 0.9 1.95 9.14 2.9 7.55 31.35 3.51 3.4 55.6 55.12 3.9 53.53 2.3 82.83 31.62 31.2 56.28 0.3 16.12 0.96 2.2 15.49 0.62 5.85 0.88 10.08 2.47 0.62 0.86 0.78 5.87 54.7 0.95 16.18 29.52 1.35 9.9 2.6 39.7 16.37 1.17 0.48 2.66 12.45 0.41 0.55 1.3 15.48 1.48 43.7 2.79 57.09 17.02 1.28 0.16 30.65 16.2 0.38 0.52 0.83 15.59 0.38 Calorific Value kcal/kg adb 6091 6212 6133 6301 6264 5883 5473 6250 5047 6149 6205 6340 5791 3097 6069 6241 6449 5975 6211 5893 5559 5560 5427 6096 5376 6122 6055 6357 5559 5913 6129 5762 6053 6285 5547 5969 5925 5982 6043 4844 5703 5586 6150 6173 6055 6123 5723 5023 5414 6159 6103 5950 5926 5966 5955 107 .35 3.67 38.86 8.52 11.19 0.6 53.27 1 1 0.3 83.18 0.64 34 34.4 15.37 0.74 4.99 9.4 4.37 52.4 40.63 0.5 29.81 17.88 10.25 1.3 58.11 1.52 11.4 0.69 2.6 1.51 3.16 0.35 0.25 0.91 2.57 64.63 60.66 18.56 1.74 8.63 54.52 0.62 31.32 0.33 0.72 96.33 2.95 58.4 14.62 2.04 11.27 1.31 8.46 3.47 0.15 0.37 0.17 53.84 10.8 63.6 15.36 0.3 7.9 30.93 0.45 33.6 0.

52 39.92 0.9 0.82 3.6 21.43 64.15 28.27 0.22 0.6 0.2 50.53 4.48 1.47 56.02 0.11 3.14 28.15 54.16 1.38 1.34 10.78 2.57 6.71 0.54 0.12 94.29 28.41 Calorific Value kcal/kg adb 5655 5183 5832 3238 5898 3433 6170 5798 5685 6049 3822 6158 6198 6431 6101 6157 6121 6200 6237 6121 4372 6173 6288 6091 6142 6144 6291 6276 6047 4371 5342 6133 6320 5630 4600 5199 6121 6290 6205 4717 6154 4940 6248 5861 6322 8293 5887 3367 6149 6223 6237 6215 6104 6127 5991 108 .52 42.49 1.15 2.01 0.8 2.09 2.74 51.85 96.72 22.2 103.25 22.56 48.08 97.09 7.43 21.25 54.46 49 49.06 1.5 0.79 5.84 9.18 0.93 0.65 0.14 0.2 40.02 2.13 56.25 2.2 17.4 0.43 21.2 50.46 0.15 0.38 0.55 94.94 3.05 89 94.39 0.39 0.29 0.6 21.7 16.3 0.23 0.78 97.29 15.13 26.27 0.29 0.05 39.6 0.17 3.2 10.8 54.6 54.62 76.53 2.36 0.43 3.41 0.45 17.29 0.7 16.31 2.24 0.88 2.3 1.05 2.3 0.35 23.94 0.46 49 49.62 7.15 92.6 0.17 0.89 93.31 0.35 22.05 0.46 103.6 47.66 0.33 0.65 76.28 10.03 17.05 3.38 0.35 27.43 4.35 1.92 48.28 0.6 50.81 20.12 15.11 0.56 32.64 3.35 Ash % adb 5.24 0.28 0.05 39.28 51.03 25.66 0.62 76.23 13.22 0.97 0.38 1.82 3.27 0.12 1.17 0.36 0.54 0.12 1.26 17.35 37.35 103.73 17.31 5.22 2.8 0.29 0.19 0.15 0.14 0.73 38.23 0.23 3.1 2.29 0.35 0.05 2.Drill Hole Seam Number DD-03-10 DD-03-10 DD-03-10 DD-03-10 DD-03-10 DD-03-10 DD-03-10 DD-03-10 DD-03-10 DD-03-10 DD-03-10 DD-03-10 DD-03-10 DD-03-10 DD-03-10 DD-03-10 DD-03-10 DD-03-10 DD-03-10 DD-03-11 DD-03-11 DD-03-11 DD-03-11 DD-03-11 DD-03-11 DD-03-11 DD-03-11 DD-03-11 DD-03-11 DD-03-11 DD-03-11 DD-03-12 DD-03-12 DD-03-12 DD-03-12 DD-03-12 DD-03-12 DD-03-12 DD-03-12 DD-03-12 DD-03-12 DD-03-12 DD-03-13 DD-03-13 DD-03-13 DD-03-13 DD-03-13 DD-03-13 DD-03-13 DD-03-13 DD-03-13 DD-03-13 DD-03-14 DD-03-14 DD-03-14 LU LU LL LL LL LL LL LL K1U K1U K1L K K K K K K K K K1U K1L KU KU KL KL KL J J J J J J J J J H GU GU GU GU GL GL LU LU LL LL K1U K1U KU KL KL KL H H H From To Thickness ( metres ) ( metres ) ( metres ) 15.74 51.18 2.19 0.54 0.83 94.48 0.58 0.15 20.46 20.94 0.52 5.65 47.91 22.65 1.37 4.31 76.81 19.21 17.31 76.85 76.68 0.14 0.21 2.75 2.83 4.4 47.75 18.83 94.6 50.35 36.6 92.45 17.12 0.61 0.55 10.63 1.83 4.15 28.8 39.05 1.42 75.42 21.44 37.71 Total Sulphur % adb 1.43 2.56 1.42 94.85 96.17 0.49 17.18 0.19 3.67 3.31 0.65 1 1 0.92 48.45 0.8 17.14 1.1 94.9 2.25 0.46 0.22 1.5 37.8 15 3.08 102.78 97.44 52.6 18.49 17.8 27.15 0.23 4.65 1.26 17.01 5.63 0.87 2.03 0.35 0.62 0.18 0.54 0.07 2.47 56.21 0.89 93.31 0.27 0.98 78.9 39.21 17.15 18.98 88.24 0.91 92.12 94.75 20.19 21.5 11.89 2.

11 0.14 4.55 0.4 11.08 0.06 35.2 19.66 13.23 0.43 3.5 6.14 1.27 0.01 2.5 137 137.37 62.73 28.9 0.91 3.38 0.99 34.47 0.13 3.45 0.41 13.05 2.13 60.86 12.45 10.44 4.75 33.27 62.4 60.04 7.42 0.03 29.2 33.29 2.7 11.46 35.38 0.47 1.33 0.18 0.08 2.26 1.25 1.31 0.83 6.26 3.05 0.97 0.35 1.4 60.41 60.26 0.35 138.74 21.85 2.27 1.7 61.73 62.51 1.59 0.15 137.15 0.73 2.61 1.15 6.39 0.7 90.63 0.81 1.77 1.53 62.78 1.39 0.38 0.67 20.77 4.35 138.13 42.71 1.44 36.33 0.46 35.47 0.66 13.25 0.35 0.99 34.59 2.8 35.94 6.7 136.49 9.1 33.35 0.27 0.15 6.51 0.47 1.35 0.4 7.07 18.35 0.85 22.5 22.46 2.91 90.48 1.57 36.33 1.27 29 38.33 1.57 0.07 4.96 41.66 2.26 1.95 13.Drill Hole Seam Number DD-03-14 DD-03-14 DD-03-14 DD-03-15 DD-03-15 DD-03-15 DD-03-16 DD-03-16 DD-03-16 DD-03-16 DD-03-16 DD-03-16 DD-03-16 DD-03-17 DD-03-17 DD-03-17 DD-03-17 DD-03-17 DD-03-17 DD-03-17 DD-03-17 DD-03-17 DD-03-17 DD-03-17 DD-03-17 DD-03-17 DD-03-17 DD-03-18 DD-03-18 DD-03-18 DD-03-18 DD-03-18 DD-03-18 DD-03-18 DD-03-22 DD-03-22 DD-03-22 DD-03-22 DD-03-22 DD-03-22 DD-03-22 DD-03-22 DD-03-22 DD-03-22 DD-03-22 DD-03-22 DD-03-22 DD-03-22 DD-03-22 DD-03-22 DD-03-22 DD-03-22 H GU GU J J J K1 K1 K1 K K K K KU KU KU KU KL KL J J J HU HL HL HL HL K K K J J J J J J J HU HL GUU GUL GUL GUL GUL GUL GL GL GL FU FL FL FL From To Thickness ( metres ) ( metres ) ( metres ) 28.45 34.31 0.46 138.85 1.37 135.45 6.71 0.84 3.05 2.06 92.81 138.47 0.04 0.04 1.3 0.35 38.06 92.18 3.22 0.3 61.02 1.74 2.05 33.38 2.45 0.61 13.2 0.6 2.18 0.35 0.87 0.3 90.04 3.33 12.35 0.4 7.3 73.13 60.19 Calorific Value kcal/kg adb 4056 4947 4210 6146 6294 6076 6094 5717 6042 6030 5891 5926 6093 4452 4365 6188 6226 6214 6218 4449 6102 6265 6309 6385 6322 5849 4979 4338 6015 6098 6211 6397 5414 5496 6382 6359 5267 5875 4997 5478 6039 6323 6313 6062 6298 6253 6300 5802 6255 6273 6480 6329 109 .97 92.7 1.65 2.96 36.14 0.28 0.49 0.53 62.58 42.73 2.74 0.28 3.38 0.43 0.24 0.23 Ash % adb 29.32 0.63 74.06 18.63 74.21 1.09 3.58 42.33 0.39 0.65 38.24 0.49 8.28 0.57 36.95 73.38 0.26 1.64 0.51 0.91 21.45 33.49 35.5 28.95 19.49 35.25 0.87 20.32 0.45 1.46 2.67 5.61 2.41 0.62 2.5 6.51 1.24 0.04 7.46 138.09 0.27 1.79 1.4 61.4 12.09 2 7.96 30.54 2.16 1.5 0.26 0.73 62.67 20.67 75 6.81 19.91 1.3 41.6 12.33 92.1 2.62 2.18 3.2 41.65 0.74 14 21.7 35.57 3.33 18.28 0.45 0.7 6.04 7.06 35.28 0.2 0.95 39 73.81 0.97 92.77 Total Sulphur % adb 0.