You are on page 1of 20

Tugas Review Jurnal

TEKNOLOGI PENGELASAN

Perbandingan Konsumsi Energi dan Pengaruh pada Lingkungan
FSW dan GMAW

Disusun Oleh :
Fahry Adhani
I0411018

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015

Comparis on of energy consumption and environmental impact of friction stir
welding and gas metal arc welding for aluminum
Abstract
Salah satu keuntungan dari friction stir welding (FSW) adalah berkurangnya konsumsi energi
yang digunakan dibandingkan dengan proses arc welding atau las busur. Keuntungan dalam
konsumsi energi ini telah dibuktikan melalui analisa percobaan. Namun, analisis pengukuran
energi secara kuantitas selama proses pengelasan dan bagaimana perbandingannya belum
dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan secara kuantitatif
konsumsi energi yang digunakan pada pengelasan penetrasi penuh pada benda kerja
aluminium 6061-T6 dengan mengunakan proses FSW dan gas metal arc welding (GMAW).
Ketebalan benda kerja untuk kedua proses pengelasan yang digunakan sebesar 5 mm untuk
FSW dan 7,1 mm untuk GMAW yang dipilih karena pada ketebalan tersebut kedua jenis las
memiliki gaya tarik maksimum yang mirip pada titik gabungan lasan ketik diuji tarik.
Didapatkan bahwa dengan penghematan yang lebih besar dan daya tarik yang lebih kuat
didapatkan pada FSW. Telah dilakukan pengukuran energi yang digunakan pada sebelum,
setelah, dan saat proses pengelasan. Kemudian, life cycle assessment (LCA) digunakan untuk
menentukan dan membandingkan dampak pengelasan menggunakan FSW dan GMAW pada
lingkungan. Didapatkan hasil bahwa pengelasan menggunakan FSW menghabiskan energi
42% lebih sedikit dibandingkan dengan GMAW dan menghabiskan material sekitar 10% lebih
sedikit pada gaya tarik maksimum yang sama. Hal ini menyebabkan efek rumah kaca yang
dihasilkan FSW sekitar 31% lebih kecil dibandingkan dengan GMAW. Konsumsi energi pada
sebelum, setelah, dan saat proses pengelasan berpengaruh pada penghematan energi secara
keseluruhan.

Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan secara kuantitatif konsumsi
energi dan dampak lingkungan pada penetrasi penuh pengelasan aluminium 6061-T6 dengan
menggunkan FSW dan GMAW. Energi yang dikonsumsi untuk proses sebelum dan setelah
pengelasan yang terlibat dalam proses penggabungan menggunakan lasan juga
diperhitungkan. Pendekatan penghitungan life cycle assessment (LCA) digunakan untuk
menentukan dan membandingkan dampak terhadap lingkungan dari FSW dan GMAW

Landasan Teori
Friction Stir Welding (FSW)
Diciptakan oleh Wayne Thomas di The Welding Institute (TWI) pada tahun 1991. FSW
adalah proses penggabungan logam di mana dua atau lebih komponen dideformasi plastis dan
digabungankan secara mekanis dengan menggunakan tekanan mekanik pada temperatur
tinggi. Gabungan ini diciptakan di bawah suhu pemadatan dari benda kerja, yang membuat
FSW merupakan proses pengelasan dalam keadaan padat. Gambar 1 menunjukkan skema dari
proses FSW untuk butt welding. Proses ini menggunakan pin dan shoulder berputar yang pada
prosesnya tidak memakan benda kerja. Pin FSW di tekankan kebawah kearah benda kerja.

Kawat elektroda pengisi terus diberikan melalui nozzle. benda kerja mengalami deformasi plastis di zona putar pin. alat ditarik ke atas. Gambar. . Awalnya. helium. Selama pengelasan. Setelah sampai ujung benda kerja. panas dihasilkan akibat gesekan antara alat dan benda kerja yang mengakibatkan deformasi plastik pada benda kerja induk. Daerah lasan / kawah lasan dilindungi dengan baik oleh gas pelindung inert seperti argon. kawat elektroda digunakan untuk meyetabilkan busur dan mencair dalam proses pegelasan sebagai bahan pengisi kawah lasan.Setelah pin benar-benar masuk ke dalam benda kerja dan shoulder menyentuh permukaan benda kerja. Dalam GMAW. penerapan FSW untuk bahan berbeda dan pada paduan dengan suhu lebur yang lebih tinggi (misalnya paduan besi) mulai meningkat. Pengelasan ini sebelumnya dikenal sebagai pengelasan metal inert gas (MIG). 2 menunjukkan skema dari proses GMAW. Material yang telah terdeformasi plastis tercampur dan kemudian menggabung setelah dilalui oleh pin FSW sebagai proses penggabungan logam diakui pada dunia industrial sebagai pengelasan yang memiliki keunggulan lebih baik pada segi kualitas hasil lasan dengan biaya yang lebih murah. Kemudian. panas dihasilkan oleh gesekan dan kemudian panas menghilag karena deformasi plastis. Gas logam arc welding (GMAW) Gas metal arc welding (GMAW) dikembangkan pada tahun 1950-an. alat ini bergeser/berjalan sepanjang garis pertemuan dua benda kerja yang digabungkan (butt welding). Namun. Pada pengelasan ini terjadi proses pelelehan dan pemadatan kembali benda kerja yang kemudian mengakibatkan penggabungan ketika telah selesai memadat kembali. panas yang dibutuhkan untuk melelehkan benda kerja diperoleh dari energi listrik. Sekarang ini kebanyakan penggunaan FSW adalah pada paduan aluminium dan magnesium. karbon dioksida atau berbagai campuran gas lainnya. GMAW secara luas digunakan dalam industri fabrikasi logam dan cocok untuk pengelasan logam besi dan logam bukan besi.

menemukan bahwa FSW menyebabkan emisi rata-rata PM 2. emisi.Konsumsi dan Proses Emisi Energi Diyakini dalam komunitas pengelasan (penelitian dan industri) bahwa lebih sedikit energi yang dikonsumsi selama FSW dibandingkan dengan metode pengelasan lain Hal ini disebabkan lebih rendahnya suhu yang dicapai selama FSW dan sifat solid-state dari proses pengelasan. memperkirakan input panas untuk GMAW dan tungsten gas arc welding (GTAW) dan membandingkannya dengan input panas untuk FSW. konsumsi energi. Lakshminarayanan et al. Pfefferkorn et al. GTAW. hidung dan tenggorokan.5 kali input panas untuk FSW. partikulat dikategorikan sesuai dengan ukuran maksimalnya dalam µm. Balasubramanian menyatakan bahwa lebih dari 10.000. edema paru. Pada proses ini digunakan plat alumunium 6061 dengan ketebalan 6 mm yang digabungkan dengan posisi penggabungan sisi atau butt joint. dan penyakit Parkinson. Pengaruh lain dari rendahnya suhu pengelasan FSW adalah berakibat pada penggunaan sumber daya. Input panas untuk FSW diperhitungkan oleh Heurtier et al. bahaya kesehatan dan dampak lingkungan yang lebih rendah dibandingkan dengan proses pengelasan fusi (misalnya. Prasad dan Prasanna mempelajari kekerasan dan struktur mikro pada material hasil las pada FSW dan GMAW. yang merupakan hasil dari input panas FSW yang lebih rendah dari pada GMAW. Oleh karena itu. GMAW.5 partikulat . Pengukuran hanya dilakukan pada input panas ketika proses pengelasan berlangsung. Didapatkan bahwa Input panas untuk GMAW dan GTAW 2 dan 1. Lakshminarayanan et al.000 pekerja di seluruh dunia bekerja sebagai tukang las sebagai pekerjaan utamanya dan pekerja dengan jumlah yang lebih tinggi melakukan pengelasan sesekali sebagai bagian dari pekerjaan mereka. juga menemukan bahwa kekuatan tarik hasil pengelasan FSW 34% dan 15% lebih besar dari pada hasil pengelasan GMAW dan GTAW. SMAW. dll). Terungkap bahwa heat affected zone (HAZ) atau daerah terpengaruh panas pada hasil pengelasan FSW lebih sempit dari pada GMAW. sedangkan pada sebelum dan sesudah pengelasan tidak diperhitungkan. atau dengan kata lain tidak ada pencairan atau pelelehan pada titik lasan pada benda kerja. Pengaruh partikulat terhadap tubuh tukang las bergantung pada ukuran partikulat tersebut. Bahaya kesehatan akibat proses pengelasan terutama disebabkan oleh emisi partikulat di zona pernapasan tukang las. Gangguan kesehatan yang umum pada pekerja las penuh karena emisi las meliputi: iritasi mata.

6 kali lebih besar dari emisi FSW.8 pada pengelasan Al 5083 pada industri pengelasan. yang akan mengakibatkan penurunan secara signifikan kebutuhan terhadap penanganan dan filtrasi udara. Hasil ini menunjukkan bahwa emisi partikulat FSW dari aluminium lebih kecil dari GMAW. Konsumsi energi yang berkaitan dengan proses sebelum.022 mg/m3 untuk Al 5083-H111. setelah. Satu-satunya pengerjaan setelah proses pengelasan adalah menghilangkan lubang keluar yang terbentuk ketika tool FSW ditarik kembali. Disimpulkan bahwa FSW relatif lebih ramah lingkungan. Emisi karbon monoksida dan karbon dioksida dari GMAW adalah sekitar 3. Kurangnya penggunaan bahan pengisi mengakibatkan permukaan las yang halus yang tidak memerlukan proses grinding atau permesinan lain. Didapatkan bahwa.7 dan 1.6 mg/m3. Dawood et al. dan pada tebal bahan aluminium yang sama hasil pengelasan lebih unggul dibandingkan dengan GMAW. FSW pada paduan aluminium tidak memerlukan gas pelindung atau fluks. Pembersihan pada ujung benda kerja tidak diperlukan untuk melakukan lasan. FSW hampir tidak memerlukan pengerjaan setelah proses pengelasan karena suhu yang lebih rendah dan kurangnya bahan pengisi yang digunakan. dan tidak menggunakan bahan pengisi. Mikrostruktur produk yang baik sebagai hasil dari FSW dan lebih sedikit proses pendinginan pada hasil lasan menghasilkan sifat mekanik yang lebih baik dari las fusi. emisi rata-rata selama 8 jam kerja adalah 1 mg/m3 dengan maksimal 3.029 mg/m3 untuk Al 6061-T6 dan 0.015-0. menganalisis tingkat partikulat PM 5 untuk GMAW Al 6061 di daerah pernapasan tukang las dan menemukan rata-rata 12 mg/m3 untuk pengelasan dengan kawat las Al 4043 dan 14.dari 0.018-0. Tidak ada proses persiapan sebelum pengelasan FSW. Hingga ketebalan lasan 50 mm pada FSW tidak diperlukan pembuatan champer atau persiapan ujungujung benda kerja lasan. Semakin rendah suhu daerah lasan mengakibatkan tidak ada atau hanya sedikit terjadi distorsi termal pada struktur. dan pada proses pengelasan FSW dan GMAW secara kualitatif ditunjukkan pada gambar 3. mengukur sifat mekanik dan emisi gas dari FSW dan GMAW dari alumunium 1030 setebal 3 mm. Matczak dan Gromiec menganalisa emisi partikulat PM 0. Cole et al.1 mg/m3 untuk kawat las Al 5356. . Hal ini dapat mengurangi kebutuhan untuk perlakuan panas setalah pengelasan. oleh karena itu tidak ada atau hanya sedikit perlakuan setelah pengelasan yang diperlukan.

Ltd baru-baru ini mengumumkan teknologi robot yang baru dikembangkan untuk pengelasan secara terus-menerus pada baja dan aluminium berdasarkan proses FSW dan diterapkan pada produk andalannya. Pengembangan metalurgi pada paduan tool FSW telah mengakibatkan FSW dapat dilakukan pada paduan besi. Ditemukan bahwa biaya pengelasan GMAW didominasi oleh upah tenaga kerja dan investasi mesin dan dengan tingkat yang lebih rendah adalah biaya bahan pengisi. Mononen et al. Pengelasan logam dengan bahan berbeda seperti baja dan aluminium telah dianggap mustahil untuk tujuan komersial. berhasil melakukan proses las pada AISI 1018 baja ringan menggunakan FSW dengan menggunakan tool berbasis alloy-molibdenum dan tungsten. lisensi paten dan pada peralatan yang digunakan. FSW akan lebih ekonomis daripada GMAW ketika volume produksi tahunan cukup besar (pada ukuran puluhan km las per tahun). Teknologi ini mengurangi konsumsi listrik selama proses pengelasan sekitar 50% dibandingkan dengan GMAW. Pengelasan ini mengalami kegagalan pada logam induk selama uji tarik. dan menunjukkan hasil dan kekuatan tarik utama sebanding dengan logam dasar. Biaya FSW didominasi oleh investasi mesin. DeFalco memperkirakan bahwa biaya per satuan panjang untuk GMAW adalah sekitar 1. Lienert et al. FSW terutama digunakan untuk pengelasan paduan aluminium dan magnesium.Dalam industri. melakukan perbandingan biaya FSW dan GMAW pada pengelasan panel aluminium. Honda Motor Co. DeFalco dan Steel membahas keuntungan dalam penghematan produktivitas dan biaya industri pipa yang dapat berasal dari pengelasan pipa baja menggunakan FSW. kekuatan tinggi.6 kali dari . investasi mesin. lisensi paten. jumlah cacat pengelasan rendah dan meningkatkan keselamatan kesehatan kerja. Pilihan FSW dari pada GMAW dibenarkan oleh keuntungan FSW seperti distorsi rendah. Perbandingan biaya didasarkan pada waktu produksi. bahan habis pakai dan biaya perkakas.

Analisa LCA telah diterapkan pada proses manufaktur secara umum. Diakui bahwa biaya modal untuk FSW lebih tinggi. Metode ini memiliki keterbatasan ketika menganalisa tahap tertentu pada siklus hidup produk. Semua energi dan materi mengalir didasarkan pada unit fungsional ini. perlu dipertimbangkan. analisis persediaan siklus hidup. produk dan proses dinyatakan sebagai kerangka berfikir. yaitu rasio antara energi dan proses. Pengujian Energi Energy-related key performance indicators (KPI) adalah alat yang secara luas digunakan untuk menggambarkan konsumsi energi dari proses produksi manufaktur. Biasanya. Metodologi Life Cycle Assessment (LCA) LCA memberikan perspektif yang sistematis mengenai dampak lingkungan dari suatu produk selama siklus hidupnya. indikator umum adalah masukan energi dibagi dengan panjang las. seperti bahan untuk elektroda. Oleh karena itu. Indikator lain untuk menilai dan membandingkan proses manufaktur adalah efisiensi proses. Namun. Indikator ini menggambarkan hubungan antara energi minimum yang diperlukan untuk proses dan masukan energi total. indikator normal yang digunakan. Metode ini mengevaluasi dampak terhadap lingkungan selama siklus hidup dari suatu produk.proses FSW. Menurut metodologi ISO 14040. Alat ini dapat difokuskan pada konsumsi energi. analisis persediaan siklus hidup. Konsumsi energi dapat ditentukan baik dengan data yang telah tersedia secara umum atau dengan pengukuran kekuatan dan waktu. Untuk perbandingan proses pengelasan. Digunakan gambaran tentang metode penilaian lingkungan. Hasil inventarisasi siklus hidup yang digunakan untuk menentukan dampak lingkungan pada langkah ketiga dari studi LCA. hal ini dilakukan dalam empat langkah: Tujuan dan definisi ruang lingkup. analisa secara keseluruhan terhadap dampak pada lingkungan diperlukan. dampak pada lingkungan atau pada faktor keuangan. Metode yang paling umum digunakan adalah life cycle assessment (LCA) atau penilaian siklus hidup seperti yang dijelaskan dalam ISO 14040. Penggunaan sumber daya yang berbeda. hasil analisis persediaan dan dampak yang dibahas dalam rangka untuk menarik kesimpulan terhadap tujuan awal. Input energi per volume bahan yang ikut mencair juga digunakan. namun. Input dan output yang produk dan limbah arus. informasi yang rinci tentang suhu dan kekuatan dalam proses harus tersedia untuk menghitung energi minimum yang dibutuhkan. penilaian dampak siklus hidup dan interpretasi siklus hidup. yang perlu dikaitkan dengan arus dasar yang dihasilkan dari dan ke lingkungan. Langkah kedua. . biaya per satuan panjang lebih rendah karena kecepatan pengelasan cepat dan biaya persiapan rendah. termasuk penentuan input dan output dari lingkungan. FSW dan GMAW tidak hanya berbeda sehubungan dengan konsumsi energi. Namun. Definisi dasar di sini adalah unit fungsional untuk produk yang akan dianalisis. akan tetapi belum pada pengelasan FSW ataupun GMAW. Dengan menggambarkan tujuan dan ruang lingkup. Pada langkah akhir.

Selain itu. Namun. Oleh karena itu. Karena perbedaan kekuatan tarik setelah pengelasan pada FSW dan GMAW. Kriteria kedua untuk unit fungsional adalah untuk mencapai panjang las fungsional yang sama untuk kedua sistem produk. bahan awal untuk FSW lebih panjang dari panjang lasan GMAW dan lubang keluar dipotong setelah pengelasan (proses setelah pengelasan). proses terkait lainnya dikeluarkan dari batas sistem. Ruang lingkup LCA menjelaskan sistem produk yang akan dipelajari. Unit fungsional digunakan sebagai dasar untuk perbandingan antara dua sistem produk. Diagram alir proses untuk kedua sistem produk menunjukkan input dan output arus yang dimodelkan (Gambar 4 dan 5). Sebuah sistem produk adalah kumpulan dari unit proses yang diperlukan untuk membuat produk fungsional. Untuk penelitian ini didefinisikan sebagai gaya tarik maksimum yang ditahan oleh lasan. Proses GMAW memerlukan proses sebelum pengelasan dalam hal persiapan tepi. dan proses sebelum pengelasan yaitu milling bagian pinggir benda kerja dan proses GMAW adalah bagian dari sistem produk GMAW. karena ruang lingkup penelitian berfokus pada sistem produk pengelasan. Hasil akan membantu para peneliti dan insinyur manufaktur untuk memahami dampak lingkungan yang terkait dengan proses FSW.Tujuan dari penelitian LCA ini adalah untuk menganalisis dampak lingkungan dari FSW dan GMAW saat pengelasan samping pada aluminium 6061-T6. diperhatikannya produksi bahan aluminium dan dampaknya terhadap lingkungan. Oleh karena itu empat unit proses dianggap sebagai berikut: proses FSW dan proses setelah pengelasan yaitu pemotongan lubang keluar adalah bagian dari sistem produk FSW. batas-batas sistem dan unit fungsional. . Sistem produk yang akan dibandingkan dalam penelitian ini adalah benda kerja dari alumunium 6061-T6 yang dilas menggunakan FSW dan GMAW. ketebalan dari benda kerja dibuat berbeda. seperti tahapan lain dari siklus produksi dan proses peralatan terkait. Proses FSW meninggalkan lubang keluar di mana tool ditarik dari benda kerja. potensi FSW untuk membantu kami bergerak ke arah manufaktur yang lebih maju akan diuraikan dalam penelitian ini. Oleh karena itu.

Namun tidak ada nilai referensi untuk parameter proses yang digunakan yang tersedia. Konsumsi kawat elektroda dihitung dengan kecepatan pemakanan dan waktu proses.Penyusunan siklus hidup dan penilaian dampak siklus hidup dilakukan dengan perangkat lunak openLCA dan database ecoinvent V3. Rakitan yang dilas dalam penelitian ini akan dianggap sebanding berdasarkan pertimbangan desain ini. paduan dan rolling. Input ke manufaktur unit proses diukur atau dihitung. Perlu dicatat bahwa proses produksi aluminium mentah di ecoinvent tidak termasuk tempering. Emisi gas dari GMAW tergantung pada berbagai parameter proses. Gabungan lasan FSW dan GMAW masing-masing harus mampu menahan gaya tarik maksimum identik. Nilai-nilai yang diukur untuk percobaan termasuk listrik. 4 dan 5 diperoleh dari database ecoinvent V3. Data untuk persediaan siklus hidup berasal dari data primer dan sekunder. Efek dari produksi gas pelindung dianggap sesuai dengan nilai-nilai yang diberikan karena ecoinvent tidak menyediakan data untuk bahan ini. Dampak lingkungan untuk setiap sistem produk yang dihitung dengan menggunakan '' Alat untuk Pengurangan dan Penilaian Kimia dan Dampak Lingkungan Lainnya (Traci) '' versi 2. dalam toleransi 5%. oleh karena itu hal ini tidak disertakan secara kuantitatif. Penentuan ketebalan benda kerja Salah satu pertimbangan desain adalah gaya tarik maksimum yang dapat diterapkan selama penggunaan tanpa menyebabkan perakitan lasan mengalami kegagalan. . Data persediaan untuk proses up-stream seperti yang ditunjukkan pada Gambar. laju aliran gas pelindung dan waktu proses.1 dari US Environmental Protection Agency. Konsumsi listrik dan gas pelindung dihitung dengan cara ini. massa masukan.

Sebelum penelitian Fehrenbacher et al. Penetrasi penuh lasan FSW dilakukan pada sampel 6061-T6 dengan ketebalan 5 mm. Dalam kedua kasus. Karena pada proses pengelasan ini menghasilkan gabungan dengan kekuatan tarik yang berbeda.005 m × 0. menunjukkan bahwa dengan parameter pengelasan yang dipilih dalam penelitian ini FSW dari 6061-T6 menghasilkan gabungan lasan dengan kekuatan tarik rata-sata = 236 MPa (34 ksi): 76% dari kekuatan tarik logam dasar. Dalam penelitian ini.0254 m) × 236 × 106 Pa. Pada GMAW ini berarti melakukan pengelasan sepanjang 152 mm (Gambar 6b). Dalam rangka untuk menahan 30 kN gaya tarik maksimum GMAW gabungan lasan harus memiliki ketebalan sebesar 0. Oleh karena itu.4 mm.0254 m × 165 × 106 Pa).Kekuatan tarik pada material penerima 6061-T6 (yaitu. ketebalan bahan yang berbeda harus digunakan untuk menciptakan gabungan yang dapat menahan gaya tarik maksimum yang sama. 177 mm (7 in) FSW diproduksi pada benda kerja sepanjang 203 mm (8 in) yang kemudian setelah proses selesai benda kerja dipotong sebanyak 25. Panjang gabungan dilas akhir adalah 152 mm (6 in) Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 6. FSW meninggalkan lubang keluar di mana bekas ini kemudian dipotong dari benda kerja.0071 m = 30 kN / (0.4 mm dari kedua ujung (Gambar 7) . logam dasar) diukur sebesar 310 MPa (45 ksi). Sampel uji tarik yang digunakan untuk mengukur gaya tarik maksimum memiliki lebas sebesar 25. Untuk setiap tes. Panjang dan Lebar Benda Kerja Lebar benda kerja adalah 102 mm (4 in). '' tab '' atau kelebihan bahan sering dipotong setelah proses FSW. FSW dianggap proses patokan dalam penelitian ini. Hal ini umum untuk memiliki benda kerja dengan panjang berlebih pada kedua ujung las atau pada '' rub-on '' dan '' run-off '' tab untuk perakitan. Kekuatan tarik dari aluminium 6061-T6 GMAW lasan penggabungan pada keadaan dilas diharapkan menjadi 165 MPa (24 ksi) : 53% dari kekuatan tarik logam dasar. dua benda kerja yang dilas dengan gabungan butt-weld untuk membuat sebuah gabungan dengan lebar 204 mm (8 in) (Gambar 6). gaya tarik maksimum yang dapat ditahan hasil las FSW menjadi 30 kN = (0.

Sebuah alur berbentuk V dengan sudut alur 60o antara dua benda kerja diciptakan untuk GMAW (Gambar 8). Tiga pasang benda kerja (6 total) yang disiapkan untuk tiga proses las GMAW. Persiapan tepi untuk benda kerja GMAW dilakukan sesuai dengan American Welding Society (AWS) standar D1. Waktu pemrosesan ditentukan dari replay video. Proses Sebelum Pengelasan Tidak ada proses sebelum pengelasan yang diperlukan untuk benda kerja pada proses FSW.Metode Experimental Konsumsi energi untuk semua proses diukur dengan analisa kekuatan industri yang dirancang untuk penggunaan lapangan (Fluke 435-II). . Ini dilakukan dengan milling tepi setiap benda kerja pada 30o dari vertikal. Tabel 1 menunjukkan rincian peralatan dan parameter yang digunakan untuk proses sebelum pengelasan dan ketika proses pengelasan pada GMAW.2. Semua proses direkam pada video dengan tepat waktu. Kekuatan analisa selalu terhubung dengan atau diputus dari peralatan oleh operator listrik terlatih bersertifikat dalam penggunaannya.

1 mm. pada pin kerucut dengan tiga tingkat. .Proses pengelasan Tiga lasan dengan penetrasi penuh digunkan pada setiap proses FSWdan GMAW. Pada FSW hanya diperlukan satu kali jalan untuk membuat lasan setebal 5.0 mm dengan penetrasi penuh pada aluminium 6061-T6. Pengukuran ini memungkinkan perhitungan total volume gas pelindung dan massa bahan pengisi yang digunakan.0 mm menjadi 5. Diameter tool shoulder adalah 15 mm. melindungi tekanan gas dari pengukur tekanan. probe (pin) diameter mengecil dari 7. Parameter proses yang berbeda (misalnya. GMAW dilakukan secara manual pada mode busur las dan diperlukan dua kali jalan untuk penciptaan las penetrasi penuh pada aluminium 6061-T6 dengan ketebalan 7. laju aliran gas pelindung dari flow meter. Seperti disebutkan dalam bagian “Penentuan Ketebalan Benda Kerja”. Selain konsumsi energi dan waktu proses GMAW. Tool FSW yang digunakan dalam percobaan terbuat dari baja H13 dengan shoulder cekung dan dengan ulir. Tabel 1 menunjukkan rincian peralatan yang digunakan dan proses parameter pada GMAW.0 mm dan panjang 4.7 mm. FSW dilakukan sesuai dengan parameter yang mengakibatkan las terkuat (Tabel 2). dan tegangan dan kawat laju pemakanan dari mesin las juga dicatat. kecepatan spindle dan kecepatan pemakanan pada FSW) menghasilkan variasi konsumsi energi dan kualitas las dalam hal tegangan terik.

Tabel 2 menunjukkan rincian mesin yang digunakan dan parameter operasi untuk FSW.4 mm (1 in) Dan ketebalan yang sama dengan benda kerja asli. Gambar 5 menunjukkan skema dari bagian yang dipotong pada gabungan FSW.2. Diperlukan dua potongan pada setiap gabungan FSW.21A-03) digunakan untuk mengukur kekuatan tarik maksimum (beban puncak) untuk semua lasan.7 kN (20 klbs) dan sel kapasitas beban yang sama (MTS model. Penggunaan gergaji semiotomatis adalah untuk memotong bagian-bagian ini.4 mm strip dibuang dari perakitan setelah FSW untuk memotong pada ujung bagian benda kerja dari gabungan lasan (Gambar 7). Spesimen pengujian tarik dipotong dari bagian tengah mengacu pada AWS standar D1. Seperti dijelaskan dalam Bagian “Panjang dan Lebar Benda Kerja”. Tidak ada pendingin yang digunakan selama proses pemotongan. Lebar masing-masing uji tarik spesimen adalah 25. 5 mm untuk lasan FSW dan 7. 661.Proses Setelah Pengelasan Tidak ada proses setelah pengelasan yang diperlukan untuk hasil lasan GMAW. Uji Tarik Sebuah mesin uji tarik dengan kapasitas hidrolik servo 90.1 mm untuk lasan GMAW. Hasil Penghematan Material Bahan . 25. yaitu.

9 dan 10 menunjukkan gaya tarik maksimum masing-masing pada tiga spesimen FSW dan GMAW. Perlu dicatat bahwa bahan yang dipotong pada bagian ujung benda kerja FSW tetap sama untuk panjang lasan yang berbeda. Rata-rata kekuatan tarik maksimum untuk FSW dan GMAW adalah 30. Massa awal (proses sebelum pengelasan) dua buah benda kerja dari FSW dan GMAW diukur masing-masing adalah 530 g dan 588 g (Tabel 3). Hal ini terkait dengan sekitar 10% pengurangan konsumsi bahan untuk FSW dibandingkan dengan GMAW. Tabel 3 menunjukkan bahwa 130 g bahan dipotong dari ujung hasil lasan FSW bersama dan 18 g bahan untuk membuat champer pada lasan GMAW.6 kN (7 klbs). penghematan bahan akan lebih tinggi berbanding lurus dengan panjang las yang dilakukan pada FSW dari pada GMAW. Oleh karena itu. bukan lasan sepanjang 152 mm. Ini membuktikan dibandingkan dengan GMAW. dua dari tiga spesimen retak di daerah terkena panas dan satu spesimen retak di daerah las.9 kN (6. kurang dari tingkat toleransi 5% yang ditetapkan untuk perbandingan ini.017 g (26%) dibandingkan dengan GMAW.7 kN. ketebalan benda kerja yang digunakan FSW dengan kekuatan tarik yang sama ukurannya lebih kecil.8 klbs) dan 31. bahan yang dapat dihemat FSW akan menjadi sekitar 1. Pada kedua kelompok las (FSW dan GMAW). Oleh karena itu jika lasan sepanjang 1 mm pada aluminium 6061-T6 yang dibandingkan.Gambar. ukuran ini mewakili pengurangan/penghematan bahan dari 58 g. Meskipun ada panjang tambahan dari benda kerja FSW karena kemudian akan dipotong lagi pada bagian akhir. . Hal ini menunjukkan bahwa FSW mampu melakukan penghematan bahan sebesar 170 g lebih banyak dari pada GMAW untuk kriteria ukuran benda kerja dan desain yang dipilih dalam penelitian ini. Perbedaan antara rata-rata kekuatan tarik maksimum FSW dan GMAW sendi adalah 0.

.Konsumsi Energi Konsumsi energi untuk setiap proses pembuatan dihitung dari daya listrik yang diukur sebagai fungsi waktu (Tabel 4). Tingkat daya yang terkait dengan setiap proses yang digambarkan dalam gambar 11 dan 12 ini disajikan untuk satu kali proses pada masingmasing proses untuk benda kerja tambahan.

kecuali puncaknya pada awal proses. Hal itu ditandai dengan tingkat daya hampir konstan 5303 W. Fungsi standby mengkonsumsi energi pada tingkat daya standby yang diukur pada 350 W dan sudah termasuk dalam daya idle. Selama periode ini. dan 890 W setelah tool FSW diangkat dari benda kerja (daya idle akhir). 11 (b) menunjukkan tingkat daya yang terkait dengan proses setelah pengelasan (pemotongan) dari FSW. Setelah fase idle awal. Hal ini menyebabkan peningkatan konsumsi daya dari waktu ke waktu. Serupa dengan siklus FSW. energi yang dikonsumsi untuk rotasi spindle. Sejak GMAW dilakukan secara manual. 12 (a) milling juga didahului dan diikuti oleh fase idle. Gambar. Hal ini dapat diperhatikan dari Gambar. Perlu dicatat bahwa tingkat daya standby untuk peralatan FSW lebih tinggi dari peralatan GMAW. Rata-rata daya pada keadaan stndby untuk peralatan las adalah 110 W. Tingkat daya idle selama milling adalah 500 W sebelum alat milling kontak dengan benda kerja dan 564 W setelah alat penggilingan diangkat dari benda kerja. dan fungsi standby. proses pemotongan didahului dan diikuti oleh fase idle yang dihitung pada pergerakan gergaji dan pisau. alat dijalankan sepanjang alur lasan dan didapatkan daya FSW rata-rata 3760 W. Setelah kedalaman penekanan yang diinginkan tercapai. Kekuatan penekanan rata-rata dari waktu ke waktu adalah 1745 W.Seperti yang ditunjukkan pada gambar 11 (a). Daya standby untuk peralatan pemotong didapatkan ukuran sebesar 18 W. Sistem pengelasan produk GMAW memerlukan langkah proses sebelum pengelasanya itu pembuatan alur. tool kontak dengan benda kerja untuk melakukan penekanan ke benda kerja. energi yang dikonsumsi sebesar 460 W pada (daya idle awal) sebelum tool FSW kontak dengan benda kerja. Daya idle untuk memotong adalah 760 W dan aktual daya pemotongan adalah 1225 W. tidak ada fase idle. perputaraan tool dan fungsi standby. . Tingkat daya pemotongan adalah 545 W.

Hal ini disebabkan sifat solid-state dari FSW dan suhu yang lebih rendah yang terlibat selama proses tersebut. Oleh karena itu. 60% dari total energi (303 KWS) yang dikonsumsi selama dua kali pengelasan untuk GMAW. Pada kasus ini. Semua nilai-nilai mengacu pada perakitan las. Konsumsi energi rata-rata untuk sistem pengelasan produk masing-masing FSW dan GMAW adalah 175 KWS dan KWS 303.Oleh karena itu. yaitu sekitar 93 KWS. pada penelitian ini menganggap proses manufaktur hanya sebagai batas sistem. Gambar. 13 bahwa 53% dari total energi (175 KWS) yang dikonsumsi selama fase rotasi dan berjalannya tool untuk FSW. energi rotasi dan berjalannya tool FSW dan energi las GMAW mewakili energi yang digunakan dalam pengelasan gabungan pada benda kerja. Lamanya waktu proses GMAW 75% lebih lama dari pada FSW. Konsumsi energi untuk sistem produk ditentukan dari konsumsi setiap unit proses. Hal ini dapat diperhatikan dari Gambar. GMAW memerlukan dua kali pengerjaan dan hanya satu pengerjaan FSW yang diperlukan. Nilai daya idle pada nilai-nilai ini untuk menunjukkan daya idle yang digunakan pada FSW dan GMAW yang tidak terbatas pada fase idle sebelum dan sesudah pengelasan saja. yaitu untuk memotong. Hal ini menunjukkan bahwa energi yang dibutuhkan untuk pengelasan pada GMAW dapat hampir dua kali apa yang dibutuhkan pada FSW. Oleh karena itu. Perbedaan waktu proses sebanding dengan jumlah lintasan las dan juga fungsi dari parameter pengolahan yang digunakan. Namun. Untuk benda kerja tipis hanya satu pengerjaan GMAW yang diperlukan dan untuk lasan yang lebih tebal lagi jumlah pengerjaan GMAW meningkat secara signifikan. hasil konsumsi energi secara keseluruhan mungkin berbeda tergantung pada periode waktu yang dihabiskan dalam mode standby. Tabel 4 menunjukkan durasi proses. yaitu sekitar 179 KWS (Gambar 14). sedangkan FSW hingga ketebalan 50 mm dapat dilakukan dalam satu kali pengerjaan. 13 dan 14 menunjukkan distribusi konsumsi energi untuk penggabungan las dalam penelitian ini dengan FSW dan GMAW. Hal ini menyebabkan tingkat daya keseluruhan yang lebih rendah untuk FSW dari pada GMAW. namun juga termasuk energi yang dikonsumsi selama las untuk tujuan lain selain pengelasan. Kemudian. . milling alur dan GMAW mengandung dua kali pengerjaan yang diperlukan untuk masingmasing sampel. Oleh karena itu. rata-rata daya dan energi untuk sistem pengelasan produk pada FSW dan GMAW. untuk siklus produksi. FSW memiliki pengurangan konsumsi energi 42% dibandingkan dengan GMAW. bahwa akan ada suatu titik ketebalan las atas dimana FSW akan membutuhkan waktu proses yang lebih pendek dibandingkan dengan GMAW.

dampak lingkungan dari sistem produk FSW lebih rendah dari sistem produk GMAW.Hal ini juga dapat dilihat dari Gambar. Pemanasan global membahas dampak iklim dan dinyatakan dalam setara emisi karbon dioksida. masukan bahan untuk produk sistem GMAW terdiri dari 572 g aluminium primer dan 16 g limbah aluminium daur ulang. menyimpang dari nilai-nilai dalam tabel 3. Demikian pula. Indikator ini menggambarkan berbagai jenis dampak pada lingkungan alam. Dampak pada Lingkungan Komponen kunci dari persediaan siklus hidup untuk proses manufaktur disajikan pada Tabel 3. Ini berarti. eutrofikasi. proses dimodelkan dengan masukan aluminium dikurangi untuk penilaian dampak siklus hidup (pendekatan substitusi). Perbedaan kadar racun lingkungan dapat dijelaskan oleh tingkat daur ulang yang lebih tinggi dalam proses FSW sejak perlakuan pada scrap aluminium memiliki kadar racun lingkungan yang relatif lebih tinggi. Untuk produk sistem FSW. Hasil untuk penilaian dampak siklus hidup ditunjukkan pada tabel 5. ekotoksisitas. Penipisan ozon mengacu kerusakan lapisan ozon. Oleh karena itu. perbedaan dalam konsumsi energi antara kedua metode ini disebabkan oleh proses pengelasan dan proses pendukung. Dampak terhadap lingkungan dari kedua sistem produk dievaluasi sesuai dengan indikator : pengasaman. Pembentukan fotokimia ozon menggambarkan dampak oleh polutan yang mengoksidasi molekul organik. Hal ini dinilai dari segi pelepasan emisi chlorofluorocarbon dengan mengacu ke arah triklorofluorometana. Eutrofikasi membahas dampak konsentrasi nutrisi pada ekosistem air dan darat. penipisan ozon dan pembentukan fotokimia ozon. Pengasaman mengacu pada efek pengasaman bahan kimia di air dan tanah dalam hal regenerasi ion hydrogen. pemanasan global. Pendekatan pemodelan ini mengurangi dampak lingkungan dari produksi aluminium primer ketika menghitung efek pada lingkungan dari aluminium daur ulang. Di sisi lain. Ekotoksisitas menjelaskan dampak buruk pada spesies yang hidup dalam ekosistem bumi. Limbah dari 130 g didaur ulang dan mengurangi aluminium primer yang diperlukan sehingga menjadi 400 g. . 13 bahwa 16% dari total energi yang dikonsumsi (175 KWS) untuk sistem produk FSW diperlukan untuk proses setelah pengelasan (28 KWS). Pada semua kategori. Ekotoksisitas memiliki bahaya yang setara dengan racun dari dichlorophenoxyacetic. 40% dari total energi yang dikonsumsi (303 KWS) pada GMAW diperlukan untuk proses sebelum pengelasan (121 KWS). Terdapat scrap aluminium belum terpakai dapat dianggap sebagai pengganti 100% untuk aluminium primer. yang merupakan herbisida. masukan dari 530 g aluminium diperlukan. Pengurangan dampak lingkungan berkisar antara 23% (ekotoksisitas) ke 31% (semua indikator lain).

Kesimpulan Konsumsi energi diukur selama proses sebelum pengelasan. produksi aluminium primer menyebabkan 6.01 kg CO2. akan menghasilkan 8. Dalam sistem produk GMAW. yang . Kekuatan tarik pada gabungan lasan FSW semakin tinggi sehingga memungkinkan menggunakan benda kerja tipis (tebal 5 mm). Tabel 6 menunjukkan perbandingan potensi pemanasan global antara sistem produk FSW dan GMAW. Untuk sistem produk GMAW. pada saat pengelasan. yang merupakan 99. Untuk sistem produk FSW.5 kg dan daur ulang untuk 0.08 kg CO 2.3%.64 kg CO2 dan daur ulang yang menyebabkan 0. tingginya bahan aluminium yang terbuang sebagai hasil dari sistem produk FSW memberikan kontribusi yang signifikan terhadap berkurangnya dampak pada lingkungan. masukan aluminium untuk kawat elektroda memiliki bagian terbesar kedua dengan 2. Dampak lingkungan dari proses daur ulang dari bahan yang terbuang jauh lebih rendah dari pada dampak dari produksi aluminium primer.8 kg CO2 untuk FSW dan 9. yang berarti seluruh materi akan diberikan oleh aluminium primer.2% dari FSW dan 96. Jika dianggap tidak ada daur ulang.8% dari GMAW. Total emisi CO2 ekuivalen yaitu sebanyak 6. dan proses setelah pengelasan pada FSW dan GMAW pada aluminium 6061-T6. Oleh karena itu.76 kg CO2 untuk GMAW.Kontribusi setiap proses untuk dampak lingkungan secara keseluruhan dari sistem produk dianalisis secara lebih rinci untuk kategori dampak pemanasan global. Dimensi benda kerja yang dipilih sedemikian rupa sehingga gaya tarik maksimum untuk gabungan yang dibuat oleh dua proses akan sama (~31 kN). aluminium primer menyebabkan emisi CO 2 9. Bagian konsumsi listrik pada dampak lingkungan sekitar 1% untuk kedua sistem produk. Perbedaan dampak lingkungan dari produksi aluminium disebabkan oleh variasi masukan massa dan bahan yang terbuang. sistem produk FSW mengarah pada pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 31% dibandingkan dengan GMAW. Bagian terbesar dari dampak ke lingkungan yang disebabkan alumunium disebabkan oleh masukan aluminium untuk benda kerja.82 kg untuk sistem produk GMAW. Oleh karena itu.78 kg untuk FSW dan 9.

Sebuah GMAW penetrasi penuh pada aluminium dengan ketebalan 7. yaitu suhu proses tetap di bawah suhu solidus paduan. Jumlah proses GMAW akan meningkat dengan menungkatnya kedalaman / ketebalan las. Hal ini dikarenakan proses sebelum pengelasan (pemotongan alur) terkait dengan GMAW akan berbanding lurus dengan panjang dan ketebalan las. Disimpulkan bahwa konsumsi energi secara keseluruhan untuk proses sebelum. Ditemukan bahwa FSW mengakibatkan emisi rumah kaca di sekitar 31% lebih sedikit dibandingkan dengan GMAW. Hal ini diterima dengan baik dan selanjutnya diverifikasi pada penelitiaan ini bahwa energi yang dibutuhkan untuk penggabungan lasan pada FSW lebih sedikit dibandingkan dengan GMAW. Diprediksi bahwa semakin panjang dan tebal benda kerja dan lasan yang dilakukan akan mengakibatkan perbedaan total konsumsi energi dan dampak lingkungan dari FSW dibandingkan dengan GMAW akan semakin bertambah pula. proses sesudah. dan pada saat pengelasan oleh FSW adalah sekitar 40% lebih sedikit dari energi yang digunakan oleh GMAW.mengakibatkan pengurangan 10% dalam konsumsi bahan dibandingkan dengan GMAW (tebal 7. Hal ini disebabkan sifat solidstate dari proses FSW. . Metodologi penilaian siklus hidup (LCA) yang digunakan untuk menilai dampak lingkungan dari siklus penggabungan lasan pada kedua proses pengelasan. Penelitian ini juga mengamati bahwa proses sebelum dan sesudah pengelasan yang terjadi pada FSW mengkonsumsi lebih sedikit energi.1 mm diperlukan dua kali pengelasan. sedangkan pemotongan pada proses setelah pengelasan setiap akhir las FSW tetap konstan.1 mm). sedangkan FSW menghasilkan penetrasi penuh pada ketrbalan 5 mm hanya dalam satu kali proses. sedangkan FSW dapat mengelas aluminium hingga ketebalan 50 mm hanya dalam satu kali proses.