1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Diare merupakan penyebab kematian utama di dunia, terhitung 5-10
juta kematian/tahun. Sampai saat ini penyakit diare masih menjadi masalah
dunia terutama di Negara berkembang. Besarnya masalah tersebut terlihat dari
tingginya angka kesakitan dan kematian akibat diare. WHO memperkirakan 4
milyar kasus terjadi di dunia dan 2,2 juta diantaranya meninggal, sebagian
besar anak-anak dibawah umur 5 tahun. Meskipun diare membunuh sekitar 4
juta orang/tahun di Negara berkembang, ternyata diare juga masih merupakan
masalah utama di Negara maju. Di Amerika, setiap anak mengalami 7-15
episode diare dengan rata-rata usia 5 tahun, 9% anak yang dirawat di Rumah
Sakit dengan diare berusia kurang dari 5 tahun, dan 300-500 anak meninggal
setiap tahun. Di Negara berkembang rata-rata tiap anak dibawah usia 5 tahun
mengalami episode diare 3 kali pertahun (WHO, 2009).
Sanitasi merupakan salah satu tantangan yang paling utama bagi negara
berkembang karena menurut World Healt Organisation (WHO), penyakit
Diare membunuh satu anak di dunia ini setiap 15 detik, karna akses pada
sanitasi masih terlalu rendah . Hal ini menimbulkan masalah kesehatan
lingkungan yang besar, serta merugikan pertumbuhan ekonomi dan potensi
sumber daya manusia pada skala nasional (Azwar, 2009).

2

Di Indonesia terdapat empat dampak kesehatan oleh pengolahan air dan
sanitasi yang buruk, yakni Diare, Tifus, Polio dan Cacingan. Hal survei pada
tahun 2006 menunjukkan bahwa kejadian Diare pada semua usia di Indonesia
adalah 423 per 1000 penduduk dan terjadi 1 – 2 kali per tahun pada anak –
anak berusia dibawah 5 tahun (Elok Dyah Messwati, 2008).
Pada tahun 2008 dilaporkan terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB)
Diare di 15 provinsi dengan jumlah penderita sebanyak 8.443 orang, jumlah
kematian sebanyak 209 orang atau Case Fatality Rate (CFR) sebanyak 2,48%.
Hal tersebut utamanya disebabkan oleh rendahnya ketersediaan air bersih,
sanitasi yang buruk dan perilaku hidup tidak bersih (Profil Kesehatan
Indonesia, 2008).
Beberapa upaya yang telah dilakukan untuk menurunkan angka insiden
dan angka fatalitas kasus kejadiaan diare diantaranya adalah peningkatan
cakupan air bersih dan jamban keluarga, penyuluhan kesehatan, penemuan dan
pengobatan penderita, serta pemasyarakatan atau penggunaan oralit, baik
melalui unit pelayanan kesehatan maupun melalui kegiatan lintas sektoral
termasuk posyandu telah dilakukan oleh jajaran dinas kesehatan.
Dari data yang diperoleh di Puskesmas Sedati, diare termasuk dalam 10
besar penyakit yang sering terjadi di wilayah Puskesmas Sedati. Pada tahun
2014 diare menempati urutan ke- 9 dengan angka kejadian sebesar 3.373
kasus. Sedangkan pada tahun 2015 dari bulan Januari sampai Februari
kejadian diare sebesar 566 kasus.
Berdasarkan uraian di atas bahwa masalah sanitasi lingkungan
berpengaruh terhadap kejadian diare sehingga peneliti tertarik untuk

3

mengadakan penelitian di puskesmas Sedati untuk mengetahui hubungan
sanitasi lingkungan dengan kejadian diare.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka dapat
dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1) Apakah ada hubungan penyediaan air bersih dengan kejadian diare di
wilayah kerja puskesmas Sedati ?
2) Apakah ada hubungan pengelolaan sampah dengan kejadian diare di
wilayah kerja puskesmas Sedati ?
3) Apakah ada hubungan pemanfaatan jamban keluarga dengan kejadian
diare di wilayah kerja puskesmas Sedati ?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Menganalisis hubungan sanitasi lingkungan dengan kejadian
diare di wilayah kerja puskesmas Sedati.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi hubungan penyediaan air bersih dengan
kejadian diare di wilayah kerja puskesmas Sedati.
b. Mengidentifikasi hubungan pengelolaan sampah

dengan

kejadian diare di wilayah kerja puskesmas Sedati.
c. Mengidentifikasi hubungan pemanfaatan jamban dengan
kejadian diare di wilayah kerja puskesmas Sedati.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan
masyarakat mengenai kesehatan lingkungan dan penyakit yang
berhubungan dengan lingkungan.
2. Puskesmas
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi
puskesmas dalam hal upaya perbaikan kesehatan lingkungan.
3. Peneliti

4

Hasil

penelitian

ini

dapat

menambah

khasanah

pengetahuan khususnya mengenai kesehatan lingkungan.

ilmu

5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Perilaku
Perilaku adalah suatu aksi reaksi organisme terhadap lingkungannya.
Skinner (1938) dalam Notoatmodjo (2005) merumuskan bahwa perilaku
merupakan hasil hubungan antara stimulus (perangsang) dan respon. Oleh
karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme
tersebut merespon, maka teori ini disebut juga teori “S-O-R” atau StimulusOrganisme-Respon, dimana respon tersebut dibedakan menjadi 2 respon
yaitu, 1) Respondent respons/reflexive adalah respon yang ditimbulkan oleh
rangsangan-rangsangan (stimulus) tertentu. Stimulus ini disebut eliciting
stimulation karena menimbulkan respon-respon yang relatif tetap, misalnya
makanan yang lezat menimbulkan keinginan untuk makan, 2) Operant
respon/instrumental response adalah respon yang timbul dan berkembangnya
diikuti oleh perangsang tertentu. Perangsang ini disebut reinforcing
stimulation atau reinforcer, karena memperkuat respons. Misalnya seorang
petugas kesehatan melaksanakan tugasnya dengan baik (respon terhadap
uraian tugasnya) kemudian memperoleh penghargaan dari atasannya
(stimulus baru), maka petugas kesehatan tersebut akan lebih baik lagi dalam
melaksanakan tugasnya.
Benyamin Bloom (1908) dalam Notoatmodjo (2005), membagi
perilaku manusia ke dalam 3 (tiga) domain, ranah atau kawasan yakni : 1)

yakni pengetahuan (knowledge). penciuman. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo. b. Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan . Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia yaitu indera penglihatan. sikap (attitude). dan sebagainya. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang paling rendah. Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat yaitu: a. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. 2) afektif (affective). menguraikan. pendengaran. Dalam perkembangannya. teori ini dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan kesehatan. rasa dan raba.6 kognitif (cognitive). tindakan (practice). menyebutkan. Contoh : dapat menyebutkan ciri-ciri orang yang mengalami diare. mendefenisikan. 2005). 3) psikomotorik (psychomotor).

Aplikasi ini dapat diartikan atau penggunaan hukum-hukum. dan sebagainya. Analisis (analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen. meramalkan dan sebagaimana terhadap objek yang dipelajari. menyebutkan. c. prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. memisahkan. mengelompokkan. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi tersebut harus dapat menjelaskan. membedakan. rumus. Aplikasi (application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi riil (sebenarnya). metode. d. Sintesis (synthesis) Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk yang baru. . e. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja. contoh : menyimpulkan. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dan formulasi-formulasi yang ada.7 materi tersebut secara benar. seperti dapat menggambarkan. tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.

2005). Manifestasi sikap tidak dapat dilihat langsung tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Evaluasi (evaluation) Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Pengukuran juga dapat dilakukan . Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek.100%. Menurut Arikunto (2005) pengetahuan seseorang dapat diketahui dan diinterprestasikan dengan skala yang bersifat kualitatif. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial (Notoatmodjo. pengetahuan cukup jika hasil persentase 56-75% dan pengetahuan kurang jika hasil persentase <56%. yaitu: Pengetahuan baik: jika hasil presentase 76. Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (over behavior). hari atau bulan yang lalu (recall). juga diperlukan faktor dukungan (support) (Notoatmodjo. 2005). Di samping faktor fasilitas. Penilaianpenilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Tindakan. Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan.8 f. antara lain adalah fasilitas atau sarana dan prasarana. Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung yakni dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam.

khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan. tokoh agama dan para petugas terlebih lagi petugas kesehatan. sistem nilai yang dianut masyarakat. melainkan diperlukan perilaku contoh (acuan) dari para tokoh masyarakat. Faktor predisposisi (predisposing factor). Dokter atau Bidan Praktek Swasta. Pos Obat Desa. tingkat sosial ekonomi dan sebagainya. Poliklinik. 2003 mengatakan bahwa perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu. antara lain teori Green (1980) dalam Notoatmodjo. Posyandu. masyarakat kadang-kadang bukan hanya perlu pengetahuan dan sikap positif serta dukungan fasilitas saja. c.9 secara langsung. tingkat pendidikan. Di samping itu. Faktor pemungkin (enabling factor) faktor-faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat seperti. a. Fasilitas ini pada hakikatnya mendukung atau memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan. Faktor penguat (reinforcing factor) faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat. termasuk juga disini undang-undang. Polindes. Untuk berperilaku sehat. undang-undang juga diperlukan untuk memperkuat perilaku masyarakat tersebut . Puskesmas. Beberapa teori yang telah dicoba untuk mengungkapkan determinan perilaku dari analisis faktor-faktor yang memengaruhi perilaku. Rumah Sakit. yakni dengan mengobservasi tindakan atau tindakan responden. b. faktor ini mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan. tokoh agama dan para petugas kesehatan. tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan. peraturan-peraturan baik dari pusat maupun pemerintah daerah yang terkait dengan kesehatan.

10 B. 2000). Tinjauan Umum Tentang Sanitasi Lingkungan. mollusca dan vector-vektor lainnya. Pentingnya lingkungan yang sehat telah dibuktikan oleh WHO dengan penyelidikan di seluruh dunia dimana didapatkan bahwa angka kematian (mortalitas). angka perbandingan orang sakit (morbiditas) yang tinggi serta seringnya terjadi endemi di tempat-tempat dimana hygiene dan sanitasi lingkungan buruk. Sanitasi lingkungan adalah pengawasan lingkungan fisik. 1) Pengotoran penyediaan air rumah tangga 2) Infeksi karena langsung ataupun tidak dengan feces manusia 3) Infeksi yang disebabkan oleh anthropoda. Angka kematian bayi dan anak-anak yang tinggi disebabkan oleh : (Enjang. b) Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan . bahwa negara yang sedang berkembang terdapat banyak penyakit kronis endemik. 4) Pengotoran air susu dan makanan lainnya 5) Perumahan yang terlalu sempit 6) Penyakit hewan yang berhubungan dengan manusia. sering terjadi epidemic. Pengertian sanitasi menurut World Health Organization (WHO) adalah usaha mengendalikan dari semua faktor fisik manusia yang menimbulkan halhal yang telah mengikat bagi perkembangan fisik kesehatan dan daya tahan tubuh (Anwar Daud. dimana lingkungan yang berguna ditingkatkan dan diperbanyak sedangkan yang merugikan diperbaiki atau dihilangkan. a) Penyebab kematian bayi Menurut WHO. biologis sosial. dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia. 2002).

2001).11 Sanitasi lingkungan lebih menekankan pada pengawasan pengendalian atau kontrol pada faktor lingkungan manusia. sebagaimana ditemukan oleh WHO ada 7 (tujuh) kelompok ruang kesehatan lingkungan yaitu : 1) Problem air 2) Problem barang atau benda sisa atau bekas seperti air limbah kotoran manusia dan sampah. 7) Penggunaan pestisida yang tidak bijaksana dalam pengendalian faktor penyakit secara kimia beresiko timbulnya keracunan dan pencemaran lingkungan (Depkes RI. 5) Sistem pengelolahan sampah yang belum memenuhi syarat menjadikan sampah sarang faktor penyakit. 3) Sistem penyediaan air dengan perpipaan yang belum menjangkau seluruh penduduk sehingga masih diperlukan konteiner untuk penampungan penyediaan air. 2) Pembangunan bendungan akan beresiko berkembang biaknya faktor penyakit. . 4) Sistem drainase permukiman dan perkotaan yang tidak memenuhi syarat sehingga menjadi tempat perindukkan penyakit. 6) Perilaku sebagian masyarakat dalam pengelolaan lingkungan yang sehat. 2002) c) Hubungan Lingkungan Dengan Faktor Penyakit Beberapa masalah lingkungan yang berhubungan dengan faktor penyakit adalah : 1) Perubahan lingkungan fisik oleh kegiatan pertambangan. air dan tanah 6) Problem dengan kesehatan kerja (Anwar Daud. 3) Problem makanan dan minuman 4) Problem perumahan dan bangunan lainnya 5) Problem pencemaran udara. nyaman dan aman masih belum memadai. membangun perumahan dan industri yang mengakibatkan timbulnya tempat berkembang biaknya faktor penyakit.

jernih. b) Penyakit Yang Berhubungan Dengan Air . tidak berasa dan tidak berwarna 2) Tidak mengandung zat yang berbahaya bagi kesehatan seperti racun. a) Syarat air bersih Menurut peraturan Menteri Kesehatan RI No. tidak mengandung organisme patogen 4) Syarat radioaktif : bebas dari sinar alfa dan sinar beta 5) Syarat kuantitas yaitu pada daerah pedesaan untuk hidup secara sehat cukup dengan memperoleh 60 liter/hari/orang. Tinjauan Umum Tentang Air Bersih Air merupakan kebutuhan yang sangat esensial bagi manusia. serta tidak mengandung mineral dan zat organik yang jumlahnya tinggi dari ketentuan. Adapun beberapa syarat air bersih yang memenuhi syarat menurut PERMENKES No. 3) Syarat biologis. 907/MENKES/SK/VII/2002 adalah sebagai berikut : 1) Syarat fisik. (Slamet. sebab jika manusia kekurangan air maka akan menyebabkan kematian.12 C. bersih. 2002). 416 / MENKES / IX / 1990 adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Dan kebutuhan manusia akan air setiap hari minimal 1. tidak berbau. sedangkan daerah perkotaan 100-150 liter/hari/orang.5 . karena didalam tubuh manusia air berkisar 50-70% dari seluruh berat badan.2 liter untuk diminum.

Penyakit yang masuk dalam golongan ini adalah schistosimiasis (Bilhazia) cacing guines. trachoma (terserang pada mata). Jenis penyakit pada kelompok ini adalah bacterial ulcers (Bisul). misalnya penyakit malaria dan onchocersiasis.13 Secara garis besar penyakit yang sehubungan air dilihat dari cara penularannya dapat digolongkan atas 4 macam : 1) Water Borne Disease Jenis penyakit yang ditularkan atau disebabkan akibat kontaminasi oleh kotoran manusia air seni. 4) Insect Water Related Penyakit yang disebabkan oleh insecta (serangga) yang berkembangbiak atau memperoleh makanan disekitar air sehingga insidennya dapat dihubungkan dengan dekatnya sumber air cocok. typhoid. 3) Water Based Disease Penyakit akibat organisme patogen yang sebagian siklus hidupnya dalam air. yang kemudian airnya dikonsumsi oleh manusia yang tidak memiliki kekebalan terhadap penyakit tersebut antara lain : cholera. c) Sumber Dan Karakteristik Air Bersih 1) Sumber air bersih . Scabies (Kudis). 2) Water Washed Disease Jenis penyakit yag ditransmisikan dengan masukan air yang tercemar kotoran ke dalam tubuh secara langsung (Fecal Oral) akibat penyediaan air bersih untuk pencucian alat atau benda (tangan) yang digunakan kurang secara kuantitas maupun kualitas. Basillari Disentry. Weings Disease.

Tinjauan Umum Tentang Pengelolaan Sampah Menurut definisi WHO. Berdasarkan jenisnya. 2002). sampah dapat dibagi menjadi : . Banyak para ahli mengajukan batasan-batasan lain. Depok. sumur bor. 2) Karakteristik Sumber Air a) Perusahan air minum (PAM) dari segi kualitas relatif sudah memenuhi syarat (fisik. tidak dipakai. D. CO2 bebas tinggi.14 Beberapa air bersih yang dapat digunakan untuk kepentingan aktivitas dengan ketentuan harus yang memenuhi syarat yang sesuai dari segi konstruksi sarang pengolahan. Adanya hubungan langsung atau tidak langsung dengan aktivitas manusia 3. tak disenangi dan dibuang dalam arti pembuangan dengan cara yang diterima oleh umum (Ariyanto dan Dewi. yaitu : 1. (Depkes RI. kimia. sampah adalah sesuatu yang digunakan. tapi pada umumnya mengandung prinsip yang sama. kesadaran rendah. 1998). atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya (Budiman Chandra. mineral rendah. Benda atau bahan tersebut tidak dipakai lagi. dan bakterilogis) b) Air tanah : mutu air sangat dipengaruhi keadaan geologis setempat c) Air hujan : biasanya bersifat asam. Adanya suatu benda atau zat padat atau bahan 2.2007). dan artesis) c) Air hujan. pemeliharaan dan pengawasan kualitasnya. 4. tidak disenangi. urutan sumbernya air bersih kemudahan pengolahan dapat berasal dari : a) Perusahan air minum b) Air tanah (sumur pompa.

(Notoatmodjo. Berdasarkan dapat tidaknya terbakar 1) Sampah yang mudah terbakar misalnya kertas. besi dan c. buah . karet. lalat dan kecoa. 2) Sampah organik adalah sampah yang ada umunya dapat membusuk. Pada pengumpulan dan pengangkutan sampah dapat dilakukan perorangan. isinya kaleng. Rubbish ini ada yang mudah terbakar seperti kayu.buahan dan sebagainya. plastik. pecahan seng dan plastik.15 a. besi dan sebagainya. 1997). dedaunan. pemerintah dan swasta. Ada tiga hal pokok yang perlu diperhatikan dalam pengolahan sampah antara lain : (1) Harus ditutup sehingga tidak menjadi tempat bersarangnya serangga atau binatang lainnya seperti tikus. 2) Sampah yang tidak dapat terbakar. (2) Pengangkutan atau pengumpulan sampah (colection) atau sampah ditampung dalam tempat sampah sementara dikumpul kemudian diangkut dan dibuang. kertas dan ada yang tidak dapat terbakar seperti kaleng. . kain bekas dan sebagainya. 2) Rubbish adalah bahan sisa pengolahan yang sukar membusuk. b. misalnya sisa makanan. Berdasarkan zat kimia yang terkandung dimana sampah dibagi menjadi: 1) Sampah anorganik adalah sampah yang umumnya tidak dapat membusuk misalnya logam atau besi. kayu. Berdasarkan karakteristik sampah 1) Garbage adalah sisa pengolahan atau makanan yang sudah membusuk. sebagainya.

Adapun berikut ini macam jenis jamban adalah sebagai berikut : a. Bangunan jamban sebaiknya mempunyai lantai yang kuat. sedalam 2. 2. Tidak mengotori air tanah disekitarnya 4. 1997). Tinjauan Umum Tentang Jamban Keluarga Jamban keluarga adalah suatu yang dikenal dengan WC dimana digunakan untuk membuang kotoran manusia atau tinja dan urin bila mana pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat dapat menimbulkan berbagai penyakit saluran pencernaan seperti diare. dindingnya . Pembuangan kotoran yang baik hendaknya memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1. terlindung dari pandangan orang. Tidak menimbulkan bau Mudah dipergunakan dan dipelihara Sederhana desainnya Murah Dapat diterima oleh pemakaianya. Tidak mengotori tanah permukaan disekeliling jamban tersebut 2. 3. 7. 6. 9. 8.5 – 8 meter. Sebaiknya jamban tersebut tertutup.16 E. kolera. kecoa. serangga dan binatang lain. Agar persyaratan tersebut dapat dipenuhi maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. lainnya. Tidak mengotori air permukaan disekelilingnya 3. dan binatang 5. Tidak dapat terjangkau oleh serangga terutama lalat. Pit-privy (Cupluk) Jamban ini dibuat dengan jalan membuat lubang ke dalam tanah dengan diameter 80 – 120 cm. tempat berpijak yang kuat dan sebagainya. Bangunan jamban sedapat mungkin tersedia alat pembersihan seperti air atau kertas pembersihan (Notoatmodjo. bangunan jamban terlindungi dari panas dan hujan.

Sarana sanitasi tersebut antara lain ventilasi. Berarti sanitasi adalah suatu usaha pengendalian faktor lingkungan guna untuk mencegah timbulnya suatu penyakit dan penularan . kelembapan. suhu.2000). Sanitasi perumahan menitikberatkan pada pengawasan terhadap berbagai faktor lingkungan sedimikian rupa sehingga munculnya penyakit dapat dihindari.17 diperkuat dengan batu bara. baik sedang digunakan atau tidak. 1990). F. Fungsi air ini gunanya sebagai sumbat sehingga bau busuk tidak tercium diruangan jamban (Entjang indah. diisi di dalam tanah sebagai pembuangan. Water seated latrine Jamban ini bukanlah merupakan jamban tersendiri tapi hanya modifikasi klosetnya saja. Pembuangan tinja dengan jarak dari sumber air minimal lebih dari 10 meter. Aqua-privy (Cupluk berair) Terdiri atas bak yang kedap air. dimana orang menggunakan sebagai tempat berlindung yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia. sarana pembuangan sampah. Untuk jamban ini agar berfungsi dengan baik perlu pemasukan air setiap hari. sarana pembuangan kotoran manusia dan penyedian air bersih (Azwar. lama pemakaian 5 – 15 tahun. b. Tinjauan Umum Tentang Sanitasi Perumahan Sanitasi perumahan adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan dan pengawasan terhadap struktur fisik. Dapat ditembok agar tidak mudah ambruk. c. Pada jamban ini klosetnya klosetnya berbentuk leher angsa sehingga akan selalu terisi air.

terhindar dari kebisingan yang mengganggu. Memenuhi kebutuhan fisiologis antara lain pencahayan. disamping pencahayaan dan penghawaan yang cukup. Tinjauan Umum Tentang Diare 1. komunikasi yang sehat antara anggota keluarga dan penghuni rumah. Rumah merupakan tempat beristirahat. 3. Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul karena keadaan luar maupun dalam rumah antara lain persyaratan garis sempadan jalan. G. penghawaan dan ruang gerak yang cukup. tidak mudah terbakar. Dimana rumah dengan kondisi yang buruk akan memberi pengaruh yang buruk pula kepada penghuninya. Memenuhi kebutuhan psikologis antara lain privasi yang cukup. sehingga derajat kesehatan masyarakat dapat optimal (Depkes RI. 2002). dan tidak cenderung membuat penghuninya jatuh tergelincir. pengelolaan tinja dan limbah rumah tangga. Oleh karena mempunyai beberapa fungsi maka rumah haruslah memenuhi syarat kesehatan dan juga tidak bertentangan dengan peraturan yang ada karena rumah mempunyai hubungan yang erat dengan penghuninya. 4. Pengertian diare . berlindung dan menyimpan harta benda secara aman dan tenang. terlindungnya makanan dan minuman dari pencemaran. kepadatan penghuni yang tidak berlebihan.18 yang di sebabkan oleh faktor lingkungan tersebut. 2002) 1. cukup sinar matahari pagi. Secara umum kriteria rumah sehat adalah (Depkes RI. konstruksi yang tidak mudah roboh. bebas vektor penyakit dan tikus. Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar penghuni rumah dengan penyediaan air bersih. 2.

c) Infeksi parasit: Cacing (Ascaris. 2) Infeksi parenteral infeksi di luar alat pencernaan makanan seperti: otitis media akut (OMA). Pada bayi dan tersering( intoleransi laktosa). Giardia lamblia. Campylobacter.19 Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari empat kali pada bayi dan lebih dari tiga kali pada anak. Yersinia. bronkopneumonia. 2) Malabsorbsi lemak 3) Malabsorbsi protein 4) Faktor makan anak yang terpenting dan . Aeromonas dan sebagainya. Meliputi infeksi enteral sebagai berikut: a) Infeksi bakteri : vibrio. E. ensefalitis dan sebagainya. 2. Faktor infeksi 1) Infeksi enteral : infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab utama diare pada anak. b. Faktor malabsorbsi 1) Malabsorbsi karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa. konsistensi feses encer. monosakarida (intoleransi glukosa. Oxyuris. Jamur (Candida albicans). Strongyloides): protozoa (Entamoeba histolityca. fruktosa. Trichuris. Poliomyelitis) Adenovirus. Shigella. Salmonella. dan galaktosa). maltosa dan sukrosa). Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun. Etiologi Penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor : a. b) Infeksi virus : Enterovirus (virus ECHO. dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir darah atau lendir saja. Coli. Astrovirus dan lain-lain. Rotavirus. Coxsackie. tonsilitis/ tonsilofaringitis. Trichomonas hominis).

suhu tubuh biasanya meningkat. tepati dapat terjadi pada anak yang lebih besar). Gangguan sirkulasi. pengeluaran bertambah). alergi terhadap makanan. 3. Patofisiologi Sebagai akibat diare baik akut maupun kronik akan terjadi : a. mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung (pada bayi). 5) Faktor psikologis Rasa takut dan cemas (jarang. beracun. hipokalemia). gangguan keseimbangan asam basa (asidosis metabolik. Gangguan gizi akibat kelaparan (masukan kurang. Anus daerah sekitrnya timbul lecet karena sering defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin banyak asam laktat yang berasal dari laktosa yang tidak diabsorbsi oleh usus selama diare. Gejala muntah dapat timbul sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan karena lambung turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basah dan elektrolit. Kehilangan air dan elektrolit (terjadi dehidrasi) yang mengakibatkan b. nafsu makan berkurang atau tidak ada. Hipoglikemia d. Bila pasien telah banyak kehilangan cairan dan elektrolit. c. selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak . turgor kulit turun. gelisah. Manifestasi Klinis Awalnya pasien cengeng. gejala dehidrasi mulai nampak : yaitu berat badan turun. Darah 4.20 Makanan basi. Tinja cair. mungkin disertai lendir atau lendir dan darah. Warna tinja makin lama berubah kehijau-hijauan karena bercampur dengan empedu. kemudian timbul diare.

5. . dan berat. Terapi cairan intravena mungkin diberikan untuk anak kecil atau lansia (Suddart & Brunner 2001). isotonik. Untuk diare dengan dehidrasi sedang akibat sumber non-infeksius. cairan oral serta larutan elektrolit dapat diberikan untuk dehidrasi pasien. prednison) dapat mengurangi beratnya diare dan penyakit. Preparat antimikrobial diberikan bila preparat infeksius telah teridentifikasi atau bila diare sangat berat (Ngastiyah. Bila berdasarkan tonisitas plasma dibagi menjadi dehidrasi hipotonik. Penatalaksanaan Penatalaksanaan medis utama diarahkan pada pengendalian atau pengobatan penyakit dasar. obat-obatan tidak spesifik seperti difenoksilat (lomotil) dan loperamide (Imodium) juga diberikan untuk menurunkan motilitas. dan hipertonik. sedang. Untuk diare dengan dehidrasi ringan.21 kering. Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi menjadi dehidrasi ringan. 2005). Obat-obatan tertentu (misalnya.

yaitu tergantung dari peningkatan kualitas lingkungan dengan memperbaiki sanitasi lingkungan air bersih. Kerangka Konsep Penelitian Berdasarkan tinjauan kepustakaan bahwa kejadian diare dipengaruhi oleh sanitasi lingkungan yaitu yang terdiri dari penyediaan air bersih. Terciptanya sanitasi lingkungan yang baik akan menurunkan atau mengurangi kejadian diare pada masyarakat. . Hasil yang diharapkan dari sanitasi lingkungan yang baik. dan pemanfaatan jamban. dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia.22 BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN A. Kita ketahui bahwa sanitasi lingkungan merupakan pengawasan lingkungan fisik. Hal ini terkait dengan pemanfaatan sanitasi lingkungan. yang membawa dampak positif dalam kehidupan dan akan terhindar dari penyakit. pengelolahan sampah. penyediaan jamban keluarga. dimana lingkungan yang berguna ditingkatkan dan diperbanyak sedangkan yang merugikan diperbaiki atau dihilangkan. dan pengelolaan sampah. biologis sosial.

Pengelolaan Sampah Faktor Penguat : 1. Hipotesa Penelitian 1.23 Faktor Predisposisi : 1. Ada hubungan penyediaan air bersih dengan kejadian diare di wilayah 2.Pemanfaatan Jamban 3. Kondisi tempat tinggal KET : ------. Kerangka Konsep B. Sistem nilai 5. Tradisi/Kepercayaan 4.tidak diteliti _____ diteliti Gambar 1. Sikap 3. Pendidikan 6. kerja puskesmas Sedati Ada hubungan pengelolaan sampah dengan kejadian diare di wilayah 3. Pengetahuan 2. kerja puskesmas Sedati Ada hubungan pemanfaatan jamban dengan kejadian diare di wilayah kerja puskesmas Sedati BAB IV METODE PENELITIAN . Vektor lalat 2. Pekerjaan 7. Tingkat sosial KEJADIAN DIARE Faktor Pemungkin : Fasilitas 1.Penyediaan Air Bersih 2.

Sampel adalah bagian dari populasi yang akan diteliti.24 A. Hal ini tidak berarti bahwa semua subjek penelitian diamati pada waktu yang sama (Notoatmodjo. Dan besar sampel ditentukan berdasarkan rumus sebagai berikut : n= ____N___ 1+N(d2) . jadi sampel dalam penelitian ini diambil secara purposive sampling yaitu pengambilan sampel yang dilakukan untuk tujuan tertentu. C. Survey cross sectional ialah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara berbagai faktor resiko dengan efek. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien di wilayah Kecamatan Sedati yang memeriksakan dirinya di Puskesmas Sedati pada tanggal 2324 Maret tahun 2015 yaitu sebanyak 146 orang. tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan. Desain Penelitian Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional untuk menganalisis hubungan sanitasi lingkungan dengan angka kejadian diare. Populasi dan Sampel 1. B. atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach) artinya. 2. 2002). Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Sedati yang dilaksanakan pada bulan 23 Maret – 18 April 2015.

pemanfaatan jamban dan pengelolaan sampah. Variabel bebas (Independen) Varibel bebas dalam penelitian ini adalah penyediaan air bersih.34 Berdasarkan rumus di atas maka besar sampel penelitian ini yang digunakan adalah 60 orang pasien di Puskesmas Sedati. Variabel tergantung (Dependen) Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah angka kejadian diare. Adapun kriteria responden yang terdiri dari kriteria inklusi dan kriteria eksklusi yaitu : a) Kriteria Inklusi Adalah merupakan karakteristik umum dari subjek penelitian pada suatu populasi target dan populasi terjangkau yang diteliti. Variable Penelitian 1.46 = 59. 2) Dapat membaca dan menulis 3) Bersedia menjadi responden b) Kriteria eksklusi 1) Tidak bersedia menjadi responden 2) Tidak bisa membaca dan menulis D.12) = 146/2.25 Dimana : N = Besar populasi n = Besar sampel d = Tingkat kepercayaan/ketetapan yang digunakan (10%) Berdasarkan rumus diatas. Pada penelitian ini kriteria inklusi adalah : 1) Pasien Diare yang terkontrol di Puskesmas Sedati. maka besar sampel pada penelitian ini adalah : n = 146/ 1 + 146(0. 2. .

Kejadian diare RM Nominal Catatan medis 1. Pemanfaata n jamban Adanya 1. Pengelolaan sampah Ya Tidak Kuisioner Nominal 3. jamban dan 2. digunakan sehari-hari Ya Tidak Kuisioner Nominal 4. Sumur 3. operasional Kriteria Alat Ukur Skala 1. Ya di PKM 2.26 E. Penyediaan air bersih Air yang didapatkan dari PDAM 1. Teknik Pengumpulan Data Data primer dalam penelitian ini diperoleh dengan cara wawancara langsung dengan responden dengan menggunakan koesioner. Definisi Operasional Table IV. penampungan sampah di rumah Memiliki 1. Variabel Def. Definisi Operasional Penelitian No. Data sekunder . tempat 2. Tidak Sedati F. Lainlain Kuisioner Nominal 2. PDAM 2.1.

H. Chi-square adalah pengujian hipotesis mengenai perbandingan antara frekuensi observasi atau yang benar-benar terjadi atau aktual dengan frekuensi harapan. Analisa Data Analisis yang digunakan adalah Chi-square. Yang dimaksud dengan frekuensi harapan adalah frekuensi yang nilainya dapat di hitung secara teoritis (e). Jika tidak sesuai akan digunakan Fisher Exact Test. G. Pengolahan Data 1) Menyunting data (data editing) Memeriksa data sebelum proses pemasukan data agar dapat me-minimalisasi data yang salah dan meragukan 2) Mengkode data (data coding) Memberikan kode dan mengklasifikasikan data yang diperoleh 3) Memasukkan data (data entry) Memasukkan data ke program komputer yang akan digunakan dan diproses lebih lanjut.27 dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari instansi yang berhubungan dengan penelitian ini. Fisher Exact Test merupakan uji yang digunakan . 4) Membersihkan data (data cleaning) Mengecek ulang dan mengkoreksi kesalahan yang mungkin muncul saat pembuatan variabel atau entri data. sedangkan dengan frekuensi observasi adalah frekuensi yang nilainya di dapat dari hasil percobaan (o).

28 untuk melakukan analisis pada dua sampel independen yang jumlah sampelnya yang relatif kecil (biasanya kurang dari 20) dengan skala data nominal atau ordinal. . Kemudian data diklasifikasikan kedalam tabel kontingesi 2 x 2. Uji ini juga dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti uji Chi-Square jika nilai harapan dari sel pada tabel ada yang kurang dari 5.

Pulungan g. Tambak Cemandi k. Sebelah utara : wilayah kecamatan Waru. Batas Wilayah Kecamatan Sedati Wilayah kerja puskesmas Sedati meliputi sebagian wilayah Kecamatan Sedati dengan batas-batas sebagai berikut : a. Gisik Cemandi l. Pranti o. Sedati Gede b. Buncitan h. Sedati Agung c. Pabean Data umum desa / kelurahan: . Hasil penelitian 1. Segoro Tambak n. Banjar Kemuning m. b. Semampir p. Luas daerah dan keadaan daerah Luas wilayah : 79. Pepe f. Sebelah timur : Selat Madura c.29 BAB V HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA A. Kalang Anyar j. Kwangsan e.43 Km2 dan wilayah kerja Puskesmas Sedati meliputi 16 desa yaitu: a. Sebelah barat : wilayah Kecamatan Gedangan 2. Betro d. Sebelah selatan : wilayah kecamatan Buduran d. Cemandi i.

Jumlah penduduk seluruhnya ( Supas ) : 98.149jiwa b. SMP + MTS : 2122 murid c. TK : 30 buah b. SD/MI : 31 buah c. Data jumlah sarana pendidikan. Perempuan : 48. PONPES :72 murid Sumber:Data Puskesmas Sedati tahun 2013 Dari 60 responden dapat dideskripsikan karakteristiknya sebagai berikut: .30 1. SDN + MI : 8177 murid b. Data demografi a.217 jiwa c.923 jiwa 3. SMA :1721 murid d. Laki-laki : 49. PONPES : 3 buah 4. Identitas Nama Puskesmas : Sedati Kecamatan : Sedati Kabupaten : Sidoarjo Provinsi : Jawa Timur 2. SMP/MTS : 7 buah d. a. SMA : 7 buah e. Data jumlah murid yang ada a.

Sumber Air Bersih Tabel V.7 Total 60 100.3 Sumur 12 20 Lain-lain 7 11. 2. Bahkan 11.2: Pengelolaan Sampah Oleh Warga Pengolahan sampah Frekuensi Persentase Tidak 38 63.7% responden yang melakukan pengelolaan pada sampah. 2014 Berdasarkan Tabel V. Pengelolaan sampah Tabel V.0 Sumber: Hasil Survey.7 Total 60 100. Pemanfaatan Jamban .1: Sumber Air Bersih di Sedati Sidoarjo Sumber Air Bersih Frekuensi Persentase PDAM 41 68. Hanya 36. 3.31 1.3%) di Sedati Sidoarjo menggunakan sumber air bersih dari PDAM.7% respnden menggunakan sumber air bersih dari air sungai. Hanya 20% responden yang menggunakan sumber air bersih selain PDAM. 2014 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa mayoritas responden (68.0 Sumber: Hasil Survey.2 dapat diketahui bahwa mayoritas warga di Sedati Sidoarjo tidak melakukan pengelolaan sampah.3 Ya 22 36.

3% responden yang menggunakan jamban pada saat buang air besar.4 dapat diketahui bahwa mayoritas warga di Sedati Sidoarjo yaitu 71. Hanya 38.4: Kajadian diare di Sedati Sidoarjo Diare Frekuensi Persentase Tidak 43 71. Kejadian diare Tabel V. Hanya 28.3 Total 60 100.3% responden yang mengalami diare. . 4.3 Total 60 100.7 Ya 23 38.7 Ya 17 28.32 Tabel V.7% responden tidak mengalami diare.3 dapat diketahui bahwa mayoritas warga di Sedati Sidoarjo yaitu 61. 2014 Berdasarkan Tabel V.0 Sumber: Hasil Survey. 2014 Berdasarkan Tabel V.0 Sumber: Hasil Survey.3: Pemanfaatan Jamban Oleh Warga Pemanfaatan jamban Frekuensi Persentase Tidak 37 61.7% responden menggunakan jamban pada saat buang air besar.

kejadian diare di Puskesmas Sedati Sidoarjo : Ada hubungan antara penyediaan air bersih dengan kejadian diare di Puskesmas Sedati Sidoarjo Syarat penolakan dan penerimaan H0 H0 ditolak dan H1 diterima apabila P < 0.000 (< 0. Pengelolaan Sampah dan pemanfaatan jamban Terhadap Kejadian Diare di Puskesmas Sedati Sidoarjo 1. Hipotesis H0 : Tidak ada hubungan antara penyediaan air bersih dengan H1 b.6 710 100 28.5: Kejadian Diare Menurut penyediaan air bersih di Puskesmas Sedati Sidoarjo Sumber Air Bersih PDAM Sumur Kali Jumlah N 3 9 5 17 Kejadian Diare Ya Tidak Total % n % n % 7.3 38 92. Hubungan Penyediaan Air Bersih dengan Kejadian Diare Tabel V.05) berarti H 0 ditolak. Hubungan Penyediaan Air Bersih.7 60 100 p value 0.05) Kesimpulan Dari hasil analisis Tabel V. artinya . c.3 43 71.5 dengan metode Pearson chisquare diperoleh nilai P = 0.05 (α = 0.7 41 100 75 3 25 12 100 71.4 2 28. 2014 a.33 B.05 (α = 0.000 Sumber: Hasil Survey.05) H0 diterima dan H1 ditolak apabila P > 0.

Hubungan pemanfaatan jamban dengan Kejadian Diare Tabel V.7 Total n % 38 100 22 100 60 100 p value 0.6 8 36.000 Sumber: Hasil Survey.05) berarti H 0 ditolak.05) H0 diterima dan H1 ditolak apabila P > 0.9 35 92. artinya ada hubungan antara pengelolaan sampah dengan kejadian diare di Puskesmas Sedati Sidoarjo. c.6 dengan metode Pearson chisquare diperoleh nilai P = 0. diare di Puskesmas Sedati Sidoarjo Syarat penolakan dan penerimaan H0 H0 ditolak dan H1 diterima apabila P < 0. 3.4 28.3 43 71. 2014 a. Hubungan Pengelolaan Sampah dengan Kejadian Diare Tabel V. 2.7: Kejadian Diare Menurut pemanfaatan jamban di Puskesmas Sedati Sidoarjo Pemanfaatan Kejadian Diare p value .1 63.05 (α = 0.34 ada hubungan antara penyediaan air bersih dengan kejadian diare di Puskesmas Sedati Sidoarjo.6: Kejadian Diare Menurut Pengelolaan Sampah di Puskesmas Sedati Sidoarjo Pengelolaan sampah Tidak Ya Jumlah N 3 14 17 Kejadian Diare Ya Tidak % n % 7.000 (< 0.05) Kesimpulan Dari hasil analisis Tabel V.05 (α = 0. Hipotesis H0 : Tidak ada hubungan antara pengelolaan sampah dengan kejadian diare di Puskesmas Sedati Sidoarjo H1 : Ada hubungan antara pengelolaan sampah dengan kejadian b.

3 Tidak n % 27 73 16 69.05 (α = 0.6 43 71. artinya ada hubungan antara pemanfaatan jamban dengan kejadian diare di Puskesmas Sedati Sidoarjo.7 dengan metode Pearson chi-square diperoleh nilai P = 0. 2014 a.001 (< 0.001 Sumber: Hasil Survey.05) H0 diterima dan H1 ditolak apabila P > 0. .05) berarti H 0 ditolak. c.05) Kesimpulan Dari hasil analisis Tabel V.4 28. diare di Puskesmas Sedati Sidoarjo Syarat penolakan dan penerimaan H0 H0 ditolak dan H1 diterima apabila P < 0.35 jamban Tidak Ya Jumlah Ya N 10 7 17 % 27 30.05 (α = 0.7 Total n % 37 100 23 100 60 100 0. Hipotesis H0 : Tidak ada hubungan antara pemanfaatan jamban dengan kejadian diare di Puskesmas Sedati Sidoarjo H1 : Ada hubungan antara pemanfaatan jamban dengan kejadian b.

000 (< 0. Sumber air yang bersih baik kualitas maupun kuantitasnya akan dapat .7% responden menggunakan sumber air bersih dari air sungai. Sumber dan Penggunaan Air Bersih Hasil uji chi-square menunjukkan ada hubungan antara penyediaan air bersih dengan kejadian diare di Puskesmas Sedati Sidoarjo. Hal ini dapat memicu terjadinya diare. dkk (2008) yang menyatakan kejadian diare lebih tinggi terjadi pada kelompok yang tidak menggunakan/ tidak memanfaatkan sarana air bersih. hal ini terbukti dengan nilai p-value sebesar 0.36 BAB VI PEMBAHASAN 1. Demikian juga dengan penelitian Nilton. Pada penelitian ini masih ditemukan 11.05). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Edi (2002) di Puskesmas Sinokidul menyatakan bahwa ada hubungan secara signifikan menggunakan sarana air bersih dengan kejadian diare.

Pengelolaan Sampah Hasil uji chi-square menunjukkan ada hubungan ada hubungan antara pengelolaan sampah dengan kejadian diare di Puskesmas Sedati Sidoarjo. Hasil Armanji (2010) menyimpulkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara faktor pengelolaan sampah dengan kejadian diare. diusahakan mendekati persyaratan air sehat yaitu persyaratan fisik yang tidak berasa. bening atau tidak berwarna. Pengelolaan sampah yang tidak memenuhi syarat menyebabkan lebih banyak diare karena sampah yang tidak diolah atau dibuang sembarangan dapat menjadi tempat yang baik bagi perkembangbiakan serangga dan mikroorganisme. hal ini terbukti dengan nilai p-value sebesar 0. Serta bisa membuat sumur yang jauh dari sumber resapan jamban. Kualitas air minum hendaknya diusahakan memenuhi persyaratan kesehatan.37 mengurangi tertelannya kuman penyebab diare. serangga sebagai pembawa mikroorganisme patogen dapat menyebarkan berbagai macam penyakit. Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian Kumaladewi (2008 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pengelolaan sampah dengan kejadian diare.05).000 (< 0. 2. Dengan adanya sampah yang . Upaya-upaya yang bisa dilakukan adalah salah satunya dengan cara selalu menggunakan sumber air bersih dari PDAM.

Sedangkan untuk daerah pedesaan pada umumnya sampah dapat dikelola oleh masing-masing keluarga tanpa memerlukan TPS atau TPA. Adapun cara pengelolaan sampah yang dapat dilakukan adalah pengumpulan dan pengangkutan sampah. Selain itu perlu juga dilakukan pemusnahan dan pengelolaan sampah diantaranya ditanam. khususnya untuk sampah organik daun-daunan. Sampah rumah tangga pedesaan pada umumnya didaur ulang menjadi pupuk. Pada penelitian ini masih ditemukan 63. Mekanisme atau cara pengangkutannya untuk didaerah perkotaan adalah tanggung jawab pemerintah Setempat yang didukung oleh partisipasi masyarakat produksi sampah khususnya dalam hal pendanaan. Dibakar yaitu memusnakan sampah dengan jalan membakar didalam tungku pembakaran. dibakar dan dijadikan pupuk. Ditanam yaitu pemusnahan sampah dengan membuat lubang di tanah kemudian sampah dimasukkan dan ditimbun dengan tanah.38 tidak tertutup dapat mengundang lalat dan insekta lain sehingga kejadian diare lebih besar dibandingkan dengan sampah yang tertutup. . Dijadikan pupuk yaitu pengelolaan sampah menjadi pupuk (kompos). sisa makanan. Untuk itu perlu dibedakan tempah pembuangan sampah antara sampah basah dan sampah kering. dimana pengumpulan sampah adalah menjadi tanggung jawab dari masing-masing rumah tangga atau institusi yang menghasilkan sampah.3% responden tidak melakukan pengelolaan sampah. dan sampah yang lain yang membususk. Hal ini dapat memicu terjadinya diare.

dimana akan berkurangnya perkembiakkan vektor penyakit seperti lalat dan tikus sehingga insidens penyakit akan menurun.39 Apabila setiap rumah tangga dibiasakan untuk memisahkan sampah organik dan anorganik. Hal ini dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yang mengalami kejadian diare adalah responden yang tidak menggunakan atau memanfaatkan jamban keluarga. Data hasil penelitian memperlihatkan 38. salah satunya penyakit diare. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Simatupang (2003) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara penggunaan jamban dengan kejadian diare. kemudian sampah organik diolah menjadi pupuk tanaman dan sampah anorganik dibuang dan dapat dipungut oleh para pemulung maka masalah sampah akan berkurang dengan demikian akan memberikan dampah positif pada kesehatan masyarakat. Hal tersebut dapat disebabkan karena tempat atau fasilitas yang digunakan masyarakat untuk melakukan aktivitas MCK adalah tempat yang dalam keadaan kurang bersih. Pemanfaatan Jamban Hasil uji chi-square menunjukkan ada hubungan antara pemanfaatan jamban dengan kejadian diare di Puskesmas Sedati Sidoarjo.3% responden yang tidak memanfaatkan jamban keluarga. 3. Penggunaan jamban yang tidak benar dapat meningkatkan risiko terkena diare hingga 4 kali lebih besar. Jamban yang tidak sehat dan tidak bersih dapat menjadi sumber penyebaran .

sehingga bakteri dapat masuk ke dalam tubuh. . yang dibawa oleh hewan perantara seperti serangga atau melalui kontak langsung. Sarmanto telah melakukan penelitian terkait dengan pemanfaatan jamban dan kejadian diare. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini sesuai dengan sebuah penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh Sarmanto (2005).40 bakteri yang ada dalam tinja manusia. Hasil penelitian yang diperoleh berdasarkan kesimpulan dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada faktor resiko pemanfaatan jamban terhadap kejadian diare.

41 .

analisa data serta pembahasan yang ada. pengolahan data. Perlu mengadakan kerjasama lintas program sehingga pencegahan diare tidak hanya menjadi tugas unit promkes. . maka peneliti mengambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Kesimpulan Secara umum. 2. Perlu diadakannya penyuluhan kesehatan secara intensif dan berkesinambungan oleh petugas kesehatan kepada masyarakat sekitar tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare. B. Ada hubungan antara pengelolaan sampah dengan kejadian diare di Puskesmas Sedati Sidoarjo. Ada ada hubungan antara pemanfaatan jamban dengan kejadian diare di Puskesmas Sedati Sidoarjo. Ada hubungan antara penyediaan air bersih dengan kejadian diare di Puskesmas Sedati Sidoarjo. Saran Saran yang bisa diberikan dalam penelitian ini adalah: 1.42 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN A. 3. berdasarkan hasil penelitian. 3. 2. Perlu melengkapi media promosi kesehatan agar penyuluhan yang dilakukan tidak membosankan dan lebih dipaham.

Perlu mengadakan kerjasama lintas sektor dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat.43 4. Dengan demikian penyuluhan tidak hanya terbatas diselenggarakan di posyandu tetapi bisa juga dilakukan dalam kegiatan pengajian. . kegiatan PKK maupun pertemuan lainnya. ceramah agama.

Surabaya. Jakarta. Jakarta. Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan pedoman skripsi.(http://www. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Indang Entjanj. 2007.depkes. 2007. Perawatan anak sakit. Citra aditya. Keperawatan medical bedah.2004(online). Jilid Satu.php? maret 2015) Diakses Ngastyah. Salemba medica. Garya.info@dinkeskabkolonprago Diakses maret 2015) (online).44 DAFTAR PUSTAKA Arjatmo Tjokonegoro. Budiman Chandra. tesis dan instrument penelitian keperawatan. Ilmu Kesehatan Masyarakat. . A. Metodologi Penelitian Keperawatan dan Tekhnik Analisa Data. 2002ss. Aziz Alimul. Keman. 2002. Pengantar kesehatan lingkungan. Usaha Nasional.EGC. Jakarta. A. jakarta Slamet riyadi.id/index. (online). Dinas kesehatan P2M Diare kab kolonprago 2007 (http://www. 1990. EGC. volume delapan. Jakarta Cermin dunia kedokteran 2006. Hidayat. Azwar Azrul.kedokteran.html. Edisi ke Tiga. PT. Dunia. L. Pengantar kesehatan lingkungan dimensi dan Tinjauan Konseptual.2000. 1998. Mutiara Sumber Widya.go. Jakarta. Bandung. Brunner & sudarth.cermin. Nursalam. Edisi i.Soedjajadji. Pengantar Ilmu kesehatan lingkungan. EGC. Jakarta. Diakses maret 2015 (http://www.2005 /1997. Salemba Medical. 2003.

Saya memerlukan waktu sekitar 1-5 menit sebagaimana yang telah di jelaskan sebelumnya. Kecamatan Sedati. Kabupaten Sidoarjo “. .45 LAMPIRAN 1 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA PRAKTEK KERJA LAPANGAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT “ Hubungan Sanitasi Lingkungan dengan Angka Kejadian Diare Di Puskesmas Sedati” SURAT PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN ( Informed Concent ) Setelah mendapat penjelasan dengan baik tentang tujuan dan manfaat penelitian yang berjudul ““ Hubungan Sanitasi Lingkungan dengan Angka Kejadian Diare Di Puskesmas Sedati”. saya mengertibahwa saya diminta untuk mengisi kuisioner dan menjawab pertanyaan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan tingkat sosial budaya di desa kami. Saya memahami bahwa penelitian ini tidak membawa resiko.

46 Saya mengerti bahwa catatan mengenai data penelitian akan dirahasiakan. dan telah dijawab dengan memuaskan. Informasi mengenai identitas saya tidak akan di tulis pada penelitian dan akan tersimpan secara terpisah di tempat yang aman. Saya mengerti bahwa saya berhak menolak untuk berperan sebagai responden atau mengundurkan diri setiap saat tanpa adanya saksi atau kehilangan semua hak saya. Maret 2015 Responden (……………………………. Sidoarjo.) . Secara sukarela saya sadar dan bersedia berperan dalam penelitian ini dengan menandatangani surat persetujuan menjadi responden. Saya telah diberi kesempatan untuk bertanya mengenai penelitian ini atau mengenai keterlibatan saya dalam penelitian ini.

KABUPATEN SIDOARJO Tgl.47 LAMPIRAN 2 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA PRAKTEK KERJA LAPANGAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT “ Hubungan Sanitasi Lingkungan dengan Angka Kejadian Diare Di Puskesmas Sedati” . KECAMATAN SEDATI. Wawancara : KUISIONER PENELITIAN No Responden : Kabupaten : Sidoarjo Kecamatan : Sedati IDENTITAS Nama : Umur : Alamat : .

48 Pendidikan terakhir `1. POLRI / TNI 3. Apa saja yang menyebabkan diare Bakteri. B. 3. Tamat D3/S1 3. 5. dan makanan yang terkontaminasi Air yang terkontaminasi Alergi susu sapi Semua benar Bagaimana cara penyebaran diare A. Rajin sikat gigi D. Apakah yang dimaksud dengan penyakit diare ? Buang air besar 1-3 kali/hari Buang air besar lebih dari 3 kali dan tinja encer Berapa kalipun buang air besar asalkan tinjanya padat Buang air besar mencret Bagaimana cara pencegahan diare ? A. Kontaminasi air dan makanan D. : Tidak Sekolah 4. Pegawai swasta / Wirasasta Jenis Kelamin :L/P 4. Menutup mulut jika batuk B. Ibu Rumah Tangga 6. Tamat SMP Pekerjaan : 1. Buruh 5. Tidak tahu Menurut anda pemeriksaan utama apa yang diperlukan untuk penyakit A. Menjaga kebersihan makanana dan minuman A. D. C. Tamat SD 5. 2. diare? . B. Lain . PNS 2. C. Kontaminasi tanah C. Mandi minimla 2x sehari C. Kontaminasi udara B. 4. Tamat SMA 2.lain PENGETAHUAN DIARE 1. D.

C. C. 8. Ya B. Ya B. Tong sampah / di kumpulkan di suatu tempat kemudian di bakar / lubang sampah . Tidak 10. B. Tidak PENGELOLAAN SAMPAH 11. D. A. Dimanakah Ibu / Bapak dan keluarga membuang sampah? A. Jongkok Apakah Ibu /Bapak dan keluarga menggunakan jamban jika buang air besar? A. Darah Foto paru Tinja Tekanan darah Menurut anda apa bahaya diare jika tidak segera di tangani? Dehidrasi Sakit kepala terus menerus Gatal-gatal di seluruh tubuh Batuk yang berkepanjangan PEMANFAATAN JAMBAN 7. Apakah jarak jamban (WC) dengan sumber air minum Ibu/Bapak lebih dari 10 meter? A. 6. D. Apakah di rumah Ibu / Bapak tersedia jamban? A. Tidak 12.49 A. Ya B. Tidak Jenis jamban apa yang Ibu / Bapak pergunakan di rumah? A. Apakah Ibu/Bapak mempunyai tempat sampah di rumah? A. Ya B. Duduk B. B. 9.

Dimasak sampai mendidih C. Sungai / kali C. Ya B. Tidak 14. Tidak di masak B. Tidak C. B. AIR PAM B. Bagaimana cara Ibu menyimpan air minum setelah di olah ? A. Wadah terbuka . Ya B. Ya B. Darimanakah Ibu memperoleh air untuk keperluan memasak? A. Air kemasan galon 19. Tidak PENYEDIAAN AIR BERSIH 16. Sungai / kali / sembarang tempat Apakah rumah Ibu / Bapak dekat dengan tempat pembuangan sampah umum ? A. Ceret/teko plastik B.50 13. Sumur 17. Tidak 15. Apakah Ibu / Bapak memiliki pekarangan rumah? A. Kadang kadang 18. Termos 20. Bagaimana cara Ibu untuk mengolah air minum untuk sehari-hari? A. Ya B. Ceret/teko aluminium C. Apakah di rumah Ibu / Bapak memiliki saluran air limbah? A. Dimanakah Ibu menyimpan air sebelum digunakan untuk memasak? A. Apakah air tersebut di gunakan sendiri atau bersama sama dengan orang lain? A. Wadah tertutup B.