Perdarahan Post Partum et causa Atonia Uteri

Gideon Tomasoa 102011084
email : gideon_tomasoa@yahoo.com
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510 Telp. 021-56942061
Fax. 021-5631731

Pendahuluan
Jika kita berbicara tentang persalinan sudah pasti berhubungan dengan perdarahan, karena
semua persalinan baik pervaginam ataupun perabdominal (section cesarea ) selalu disertai
perdarahan. Pada persalinan pervaginam perdarahan dapat terjadi sebelum, selama ataupun
sesudah persalinan. Perdarahan bersama-sama infeksi dan preeklampsia merupakan tiga besar
penyebab utama langsung dari kematian maternal.
Suatu perdarahan dikatakan fisiologis apabila hilangnya darah tidak melebihi 500 cc pada
persalinan pervaginam dan tidak lebih dari 1000 cc pada sectio cesarea. Perlu diingat bahwa
perdarahan yang terlihat pada waktu persalinan sebenarnya hanyalah setengah dari
perdarahan yang sebenarnya.
Perdarahan Pasca Persalinan (PPP) adalah perdarahan yang masif yang berasal dari tempat
implantasi plasenta, robekan pada jalan lahir dan jaringan sekitarnya. PPP bila tidak
mendapat penanganan yang semestinya akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas ibu
serta proses penyembuhan kembali.

1

Riwayat penyakit pasien : apakah seorang ibu perah menderita penyakit yang lain yang menyertai dan bisa memperburuk keadaan atau mempersulit penyembuhan. nyeri haid. 7. Pemeriksaan Fisik 1. vagina. perdarahan antara haid. apakah pernah keguguran. keluarga pasien atau dalam keadaan tertentu dengan penolong pasien (aloanamnesis). rasa tidak enak atau rasa nyeri. pekerjaan. umur kehamilan. meliputi : nama pasien. Keluhan Utama : Apa yang dirasakan saat itu ditujukan untuk mengenali tanda atau gejala yang berkaitan dengan perdarahan post portum misalnya atonia uteri. Sistem lain : apakah Bak dan BAB lancar. pendidikan terakhir. usia. agama. Identitas. berapa banyak. Riwayat penyakit keluarga : penyakit pada anggota yang berhubungan dengan penyakit herediter 8. lokasi. beberapa kali. 6. 4. Adakah keluar cairan dari vagina. perineum. menarche umur berapa. keluhan sistem lain. Anamnesis diawali dengan memberikan salam kepada pasien dan menanyakan identitas pasien tersebut. Seperti penyakit diabetus mellitus dan jantung.Pembahasan Anamnesis Anamnesis adalah sebuah bentuk komunikasi atau wawancara seorang dokter dengan tujuan untuk memperoleh informasi mengenai keluhan dan penyakit pasien. berapa kali. adakah gatal pada vulva. serta keluhan didaerah abdomen seperti pembesaran. Riwayat menstruasi meliputi: kapan hari pertama haid terakhir. apakah haid teratur. nama suami atau keluarga terdekat. Riwayat kehamilan : berapa kali hamil. 3. 5. Dilanjutkan dengan menanyakan beberapa hal sebagai berikut : 1. 9. Riwayat antenatal care meliputi: dimana tempat pelayanan. adakah komplikasi pada kehamilan terdahulu. siklus haid. adanya sisa selaput plasenta dan biasanya ibu nampak perdarahan banyak > 500 cc. Anamnesis dapat dilakukan dokter dengan cara melakukan serangkaian wawancara dengan pasien (autoanamnesis). ada darah. alamat. Riwayat perkawinan : berapa kali menikah. perawatan serta pengobatannya yang didapat. 2. pernikahan sekarang sudah berapa lama. Pemeriksaan tanda-tanda vital 2 . berapa lama. operasi didaerah perut dan alat kandungan. kalau ada apa warnanya. retensio plasenta robekan jalan lahir.

dapat disertai tanda-tanda syok. Bila suhu dan nadi tidak normal. Suhu biasanya meningkat sampai 38 0 C dianggap normal. asuhan antenatal (ANC) dan persiapan penyelesaian persalinan. jumlah janin. Kalau tinggi fundusnya masih sama seperti saat melahirkan (di atas pusat) curigai atonia uteri. Setelah satu hari  suhu akan kembali normal (360 C – 370 C). supaya tidak kontraksi (gosokkan kedua tangan sebelum palpasi) Leopold I : menentukan tinggi fundus uteri sehingga usia kehamilan dapat diketahui. pada letak lintang ditentukan kepala Leopold III : menentukan bagian janin yang terletak sebelah bawah Leopold IV : menentukan berapa bagian dari kepala yang masuk pintu atas panggul  (PAP). tekanan darah rendah. bila kepala belum masuk PAP akan teraba balotement kepala. Tinggi fundus Segera setelah placenta lahir. palpasi dan auskultasi. ekstremitas dingin serta tampak darah keluar melalui vagina terus menerus 3. kondisi janin. terjadi penurunan akibat hipovolemia. tinggi fundus setingi pusat.Pasien berbaring terlentang dengan bahu dan kepala lebih tinggi (memakai bantal) . letak. presentasi. pernafasan juga menjadi tidak normal. menentukan bagian janin mana yang berada di fundus uteri. 4. Suhu badan. Pemeriksaan obstetri: 1. Tekanan darah biasanya stabil. Pemeriksaan fisik ibu hamil meliputi : inspeksi.2 3 .2 Deteksi dini suatu kondisi patologis dalam kehamilan dan mempersiapkan penatalaksanaannya.Suhu tangan pemeriksa disesuaikan dengan pasien. memperingan hipovolemia. denyut nadi cepat.Pemeriksa berada disebelah kanan pasien . 2. Nadi akan meningkat cepat karena nyeri. kemudian berangsur mengecil. uterus membesar bila ada atonia uteri.  Palpasi dengan cara Leopold Cara pemeriksaan : . Auskultasi : dengarkan denjut jantung janin (DJJ) pada daerah punggung janin dengan Laenec (DJJ dapat didengar pada kehamilan 18-20 minggu) atau Doppler (DJJ dapat   didengar pada 12 minggu). mengetahui usia kehamilan. bokong (tidak bulat dan lunak) Leopold II : menentukan batas samping uterus dan letak punggung janin pada letak memanjang.Kosongkan kandung kemih .  Pernafasan. bila kontraksi harus ditunggu dulu . Denyut nadi. Kalau perutnya teraba keras dan pasien sangat kesakitan berarti dicurigai ruptur uteri. kecil. Pemeriksaan ginekologi: 1. perdarahan mungkin karena luka jalan lahir. Pemeriksaan Fisik Pucat.  Tekanan darah. Kepala (bulat dank eras). Mungkin kontraksi usus lembek. biasanya terjadi hipovolemia yang semakin berat. Bila kontraksi uterus baik.Dinding perut harus lemas.

Periksa in spekulo: apakah ada luka jalan lahir atau tidak. Definisi lain menyebutkan Perdarahan Pasca Persalinan adalah perdarahan 500 cc atau lebih yang terjadi setelah plasenta lahir. CT. terduga kehamilan ektopik. Dilakukan dalam keadaan baik atau telah diperbaiki. Indikasi pemeriksaan USG pada kehamilan trimester II dan III : penentuan usia kehamilan. atau sesudah lahirnya plasenta. pemeriksaan USG dapat membantu untuk melihat adanya darah dan retensio sisa plasenta. penentuan usia kehamilan. terduga kehamilan kembar. resolusi biasa terjadi sebelum pemeriksaan laboratorium atau radiologis dapat dilakukan. 4 . terdapat nyeri pelvik. kemudian lihat sumber perdarahannya apakah dari dalam corpus uteri atau dari jalan lahir Pemeriksaan Penunjang 1. Perdarahan Postpartum Primer yaitu perdarahan pasca persalinan yang terjadi dalam 24 jam pertama kelahiran. terduga kelainan cairan amnion. Kadar   hemoglobin di bawah 10 g/dL berhubungan dengan hasil kehamilan yang buruk. Beberapa indikasi pemeriksaan USG pada kehamilan trimester I : penentuan adanya kehamilan intrauterine. evaluasi kesejahteraan janin. ketuban pecah dini atau preterm dll. Dengan diagnosis dan penanganan yang tepat. terduga kematian janin.  luka jalan lahir dan retensi sisa plasenta. Penyebab utama perdarahan postpartum primer adalah atonia uteri. PT dan aPTT). Menurut waktu terjadinya dibagi atas dua bagian : a. perdarahan pervaginam. penentuan adanya denyut jantung janin. Berdasarkan pengalaman. terduga kehamilan mola dll. Pemeriksaan golongan darah dan tes antibodi harus dilakukan sejak periode antenatal.3 Working Diagnosis Perdarahan pasca persalinan adalah perdarahan atau hilangnya darah 500 cc atau lebih yang terjadi setelah anak lahir. evaluasi pertumbuhan janin. Pemeriksaan ultrasonografi  Onset perdarahan post partum biasanya sangat cepat. Perdarahan dapat terjadi sebelum. penentuan kehamilan kembar. dapat diketahui kontraksi uterus. selama. Perlu dilakukan pemeriksaan faktor koagulasi seperti waktu perdarahan dan waktu pembekuan (BT. Pemeriksaan laboratorium  Pemeriksaan darah lengkap harus dilakukan sejak periode antenatal. 2.

setelah anak lahir.retensio plasenta. sisa plasenta. lembek dan tidak mampu menjalankan fungsi oklusi pembuluh darah. maka ibu dapat mengalami perdarahan sekitar 350-500 cc/menit dari bekas tempat melekatnya plasenta. robekan jalan lahir dan inversio uteri. Miometrium terdiri dari tiga lapisan dan lapisan tengah merupakan bagian yang terpenting dalam hal kontraksi untuk menghentikan perdarahan pasca persalinan. nadi serta pernapasan menjadi lebih cepat dan tekanan darah menurun. Diagnosis perdarahan pasca persalinan dipermudah apabila pada tiaptiap persalinan . atau sisa plasenta yang tertinggal. Tetapi bila perdarahan sedikit dalam waktu lama. Miometrum lapisan tengah tersusun sebagai anyaman dan ditembus oeh pembuluh darah. secara rutin diukur pengeluaran darah dalam kala III dan 1 jam sesudahnya. Pada perdarahan karena atonia.3. dengan adanya susunan otot seperti tersebut diatas. Setelah partus. Seorang wanita hamil yang sehat dapat kehilangan darah sebanyak 10% dari volume total tanpa mengalami gejala-gejala klinik. melebar. b.3. uterus berkontraksi dengan baik. uterus membesar dan lembek pada palpasi. 5 . Jikalau plasenta sudah lahir. Masing-masing serabut mempunyai dua buah lengkungan sehingga tiap-tiap dua buah serabut kira-kira berbentuk angka delapan.4 Perdarahan pasca persalinan ditandai juga dengan timbulnya perdarahan banyak dalam waktu pendek.4 Apabila terjadi perdarahan pasca persalinan dan plasenta belum lahir. Atonia Uteri Atonia uteri merupakan kegagalan miometrium untuk berkontraksi setelah persalinan sehingga uterus dalam keadaan relaksasi penuh. Perdarahan pada atonia uteri ini berasal dari pembuluh darah yang terbuka pada bekas menempelnya plasenta yang lepas sebagian atau lepas keseluruhan. Perdarahan Postpartum Sekunder yaitu perdarahan pascapersalinan yang terjadi setelah 24 jam pertama kelahiran. sedangkan pada perdarahan akibat perlukaan. perlu diusahakan untuk melahirkan plasenta dengan segera. Gejala klinik berupa perdarahan pervaginam yang terus-menerus setelah bayi lahir. Kehilangan banyak darah tersebut menimbulkan tandatanda syok yaitu penderita pucat. tekanan darah rendah. tanpa disadari penderita telah kehilangan banyak darah sebelum ia tampak pucat. Pada kehamilan cukup bulan aliran darah ke uterus sebanyak 500-800 cc/menit. Dalam hal uterus berkontraksi dengan baik perlu diperiksa lebih lanjut tentang adanya dan dimana letaknya perlukaan dalam jalan lahir. Terbanyak dalam 2 jam pertama. gejala-gejala baru tampak pada kehilangan darah sebanyak 20%. Akibat dari atonia uteri ini adalah terjadinya perdarahan. Jika uterus tidak berkontraksi dengan segera setelah kelahiran plasenta. penyusutan rahim yang tidak baik. denyut nadi cepat dan kecil. Perdarahan postpartum sekunder disebabkan oleh infeksi. perlu dibedakan antara perdarahan akibat atonia uteri atau perdarahan akibat perlukaan jalan lahir. ekstremitas dingin dll.

Ketidakmampuan miometrium untuk berkontraksi ini akan menyebabkan terjadinya pendarahan pasca persalinan. 6 . mual dan lain-lain. hal ini terjadi karena tromboplastin sudah tidak mampu lagi sebagai anti pembeku darah. tetapi masih terperangkap dalam uterus dan harus diperhitungkan dalam kalkulasi pemberian darah pengganti. dapat timbul manifestasi klinis berikut:  Perdarahan pervaginam Perdarahan yang terjadi pada kasus atonia uteri sangat banyak dan darah tidak merembes. yaitu memijat uterus dan mendorongnya ke bawah dalam usaha melahirkan plasenta. Pada perdarahan post partum karena atoni uteri. bergumpal dan pada palpasi didapatkan fundus uteri masih setinggi pusat atau lebih dengan kontraksi yang lembek. maka pada saat itu juga masih ada darah sebanyak 500-1000cc yang sudah keluar dari pembuluh darah. ekstremitas dingin. Perlu diperhatikan bahwa pada saat atonia uteri didiagnosis.  Fundus uteri naik Disebabkan adanya darah yang terperangkap dalam cavum uteri dan menggumpal.  Terdapat tanda-tanda syok Tekanan darah rendah.5 Diagnosis ditegakkan bila setelah bayi dan plasenta lahir ternyata perdarahan masih aktif dan banyak.pucat. denyut nadi cepat dan kecil. Yang sering terjadi adalah darah keluar disertai gumpalan. dimana sebenarnya plasenta belum terlepas dari dinding uterus.jika otot berkontraksi akan menjepit pembuluh darah. Manifestasi Klinis Gejala klinis perdarahan postpartum adalah seperti berikut: 1 Perdarahan yang tidak dapat dikontrol 2 Penurunan tekanan darah 3 Peningkatan denyut nadi 4 Pembengkakan dan nyeri pada jaringan daerah vagina dan sekitar perineum. gelisah. Selain karena sebab di atas atonia uteri juga dapat timbul karena salah penanganan kala III persalinan.  Konsistensi rahim lunak Gejala ini merupakan gejala terpenting/khas atonia dan yang membedakan atonia dengan penyebab perdarahan yang lainnya.

Plasenta sudah lepas. tapi bila sebagian plasenta sudah lepas akan terjadi perdarahan dan ini merupakan indikasi untuk segera mengeluarkannya. akan tetapi belum dilahirkan.Gambar 1. Bila plasenta belum lepas sama sekali tidak akan terjadi perdarahan. Robekan jalan lahir Pada umumnya robekan jalan lahir terjadi pada persalinan dengan trauma. Perdarahan dapat dalam bentuk hematoma dan robekan jalan lahir dengan perdarahan bersifat arterill atau pecahnya pembuluh darah vena. Atonia Uteri Differential Diagnosis a. Robekan jalan lahir selalu memberikan perdarahan dalam jumlah yang bervariasi banyaknya. Plasenta belum lepas dari dinding uterus disebabkan : 1. Setelah persalinan harus selalu dilakukan pemeriksaan vulva dan perineum. Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta (plasenta adhesiva) 2. Retensio Plasenta Retensio plasenta adalah keadaan dimana plasenta belum lahir setengah jam setelah janin lahir. vagina. dan robekan uterus (ruptura uteri). Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab villi korialis menembus desidua sampai miometrium (plasenta akreta) 7 . perdarahan dihentikan dengan melakukan ligase. Plasenta belum lepas dari dinding uterus 2. Perdarahan pasca persalinan dengan uterus yang berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh robekan serviks atau vagina. Pemeriksaan vagina dan serviks dengan spekulum juga perlu dilakukan setelah persalinan.3 b. Sumber perdarahan dapat berasal dari perineum. Hal tersebut disebabkan : 1. Robekan jalan lahir dapat terjadi bersamaan dengan atonia uteri. serviks. Untuk dapat menetapkan sumber perdarahan dapat dilakukan dengan pemeriksaan dalam dan pemeriksaan spekulum setelah sumber perdarahan diketahui dengan pasti. Perdarahan yang berasal dari jalan lahir selalu harus dievaluasi yaitu sumber dan jumlah perdarahan sehingga dapat diatasi.

disebabkan oleh tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III. seringkali timbul rasa nyeri yang keras dan bisa menyebabkan syok. untuk sebagian besar terletak di luar vagina. Plasenta sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar. Plasenta merekat erat pada dinding uterus oleh sebab villi korialis menembus sampai di bawah peritoneum (plasenta perkreta). Uterus dengan vagina semuanya terbalik. Fundus uteri menonjol ke dalam kavum uteri. yaitu menekan fundus uteri terlalu kuat dan menarik tali pusat pada plasenta yang belum terlepas dari insersinya. Menurut perkembangannya inversio uteri dibagi dalam beberapa tingkat : 1.3. Akan tetapi. tetapi belum keluar dari ruang tersebut 2. Penilaian Klinik untuk Menentukan Penyebab Perdarahan Post Partum Gejala dan Tanda Penyulit -Uterus tidak berkontraksi dan -Syok lembek. terjadi tiba-tiba dalam kala III atau segera setelah plasenta keluar. Korpus uteri yang terbalik sudah masuk ke dalam vagina 3. dapat secara mendadak atau terjadi perlahan.3 Tabel 1. apabila kelainan itu sejak awal tumbuh dengan cepat. Sebab inversio uteri yang tersering adalah kesalahan dalam memimpin kala III. sehingga fundus uteri sebelah dalam menonjol ke dalam kavum uteri. c. Inversio uteri Inversio uteri merupakan keadaan dimana fundus uteri masuk ke dalam kavum uteri. Gejala-gejala inversio uteri pada permulaan tidak selalu jelas. Diagnosis Kerja Atonia uteri -Bekuan darah pada serviks atau posisi -Perdarahan segera setelah anak telentang akan menghambat aliran darah lahir keluar -Darah segar mengalir segera -Pucat Robekan jalan lahir setelah bayi lahir -Lemah -Uterus berkontraksi dan keras -Menggigil -Plasenta lengkap -Plasenta belum lahir setelah 30 -Tali pusat putus akibat traksi berlebihan menit -Inversio uteri akibat tarikan -Perdarahan segera -Perdarahan lanjutan -Uterus berkontraksi dan keras 8 Retensio plasenta . sehingga terjadi lingkaran kontriksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi keluarnya plasenta (inkarserasio plasenta). Peristiwa ini jarang sekali ditemukan.

Pada - kondisi ini akan timbul resiko terjadinya hal yang sama pada persalinan yang sekarang.Nyeri sedikit atau berat Etiologi Atonia uteri menjadi penyebab lebih dari 90% perdarahan pasca persalinan yang terjadi dalam 24 jam setelah kelahiran bayi. Umur terlalu muda atau terlalu tua (kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun).Lumen vagina terisi massa . Dapat menyebabkan terjadinya inersia sekunder karena kelelahan pada otot-otot uterus.Uterus tidak teraba .Tampak tali pusat (jika plasenta Inversio Uteri belum lahir) . Riwayat perdarahan post partum atau retensio plasenta pada persalinan terdahulu.Persalinan yang terlalu cepat (partus precipitatus) Kontraksi uterus yang terlalu kuat dan terus menerus selama kala I dan kala II persalinan (kontraksi yang hiperernik). dapat menyebabkan terjadinya inersia uteri karena kelelahan pada otot-otot - uterus Uterus terlalu tegang dan besar misalnya pada (gemeli. Pada kondisi ini miometrium teregang dengan hebat sehingga kontraksinya setelah kelahiran - bayi menjadi tidak efisien. atau janin besar).Pucat dan limbung .. Stimulasi dengan oksitoksin atau prostaglandin. Hal ini dikarenakan pada usia dibawah 20 tahun fungsi reproduksi seorang wanita belum berkembang dengan sempurna. Wanita yang melahirkan anak pada usia dibawah 20 tahun atau lebih dari 35 tahun merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan pasca persalinan yang dapat mengakibatkan kematian maternal. maka otot-otot uterus akan kekurangan kemampuannya untuk - beretraksi setelah bayi lahir. sedangkan pada usia diatas 35 tahun fungsi reproduksi seorang wanita sudah mengalami penurunan dibandingkan fungsi reproduksi normal sehingga kemungkinan untuk terjadinya komplikasi pasca persalinan - terutama perdarahan akan lebih besar.Perdarahan segera (P3) . 9 . hidramnion. Faktor presdisposisi terjadinya atonia uteri adalah: .6 Perietas (keadaan seorang wanita sehubungan dengan kelahiran anak yang dapat hidup) sering terjadi atau dijumpai pada grande multipara (wanita yang telah melahirkan 5 orang anak atau lebih dan biasanya mengalami penyulit dalam kehamilan dan persalinan) dan - multipara (wanita yang telah melahirkan anak lebih dari satu kali) Partus lama.Syok neurologik .

Penyakit darah. Infeksi. Anemia dihubungkan dengan kelemahan yang dapat dianggap sebagai penyebab langsung atonia uteri.- Perut bekas seksio sesaria. . c) Malabsorbsi. sedangkan penyebab anemia dalam kehamilan adalah: a) Kurang gizi (malnutrisi). b) Kurang zat besi.Jalan lahir seperti robekan perineum. dan haid. Anemia. d) Kehilangan darah yang banyak pada persalinan yang lalu. Keadaan tersebut akan - mengganggu kontraksi rahim. robekan vagina. wanita yang mengalami anemia dalam persalinan dengan kadar hemoglobin 10g/dl akan dengan cepat terganggu kondisinya bila terjadi kehilangan darah meskipun hanya sedikit. kelainan pembekuan darah atau hipofibrinogenia dan sering dijumpai pada a. robekan serviks. Solusio plasenta b. Kematian janin yang lama dalam kandungan c. 10 . forniks dan rahim . hepatitis.Sisa ketuban dan selaput ketuban . Pre eklamasi dan eklamasi d. dan septik syok. miomektomi atau histerorafia.

sehingga sering pasien yang bersalin di luar kemudian terjadi perdarahan post partum terlambat sampai ke rumah sakit. kurangnya layanan operasi. kurangnya layanan transfusi. Pelepasan plasenta memutuskan pembuluh darah dalam stratum spongiosum sehingga sinus-sinus maternalis ditempat insersinya plasenta terbuka.Epidemiologi Angka kejadian perdarahan postpartum setelah persalinan pervaginam yaitu 5-8 %. Keadaan demikian menjadi faktor utama penyebab perdarahan pasca persalinan. laserasi perineum. kemudian pembuluh darah tersumbat oleh bekuan darah sehingga perdarahan akan terhenti. pembuluh darah yang terbuka tersebut akan menutup. Perdarahan postpartum adalah penyebab paling umum perdarahan yang berlebihan pada kehamilan. Patofisiologi Adanya makrosomia. hidramnion. Pada dasarnya perdarahan terjadi karena pembuluh darah didalam uterus masih terbuka. dan rupture uteri juga menyebabkan perdarahan karena terbukanya pembuluh darah. Trauma jalan lahir seperti epiotomi yang lebar. Penyakit pada darah ibu misalnya fibrinogemia atau hipofibrinogemia karena tidak adanya atau kurangnya fibrin untuk membantu proses pembekuan darah juga merupakan penyebab dari perdarahan postpartum.6 11 . Adanya gangguan retraksi dan kontraksi otot uterus. akan menghambat penutupan pembuluh darah dan menyebabkan perdarahan yang banyak. Sebagian besar persalinan terjadi tidak di rumah sakit. saat datang keadaan umum/hemodinamiknya sudah memburuk. akibatnya mortalitas tinggi. Pada waktu uterus berkontraksi. Perdarahan yang sulit dihentikan bisa mendorong pada keadaan shok hemoragik. gemelli dan lain-lain dapat menjadi faktor predisposisi untuk terjadi perdarahan yang diakibatkan terjadinya atonia uteri. Di Indonesia. dan hampir semua transfusi pada wanita hamil dilakukan untuk menggantikan darah yang hilang setelah persalinan. Di negara kurang berkembang merupakan penyebab utama dari kematian maternal hal ini disebabkan kurangnya tenaga kesehatan yang memadai.

Memberikan obat uterotonika (untuk kontraksi rahim) dalam waktu dua menit setelah kelahiran bayi. Obat uterotonika yang paling umum digunakan adalah oxytocin yang terbukti sangat efektif dalam mengurangi kasus perdarahan pasca persalinan dan persalinan lama. Namun. muntah. Satu kemungkinan manfaat bagi bayi pada penjepitan dini adalah potensi berkurangnya penularan penyakit dari darah pada kelahiran seperti HIV. Berkurangnya aliran darah mengakibatkan tingkat hematokrit dan hemoglobin yang lebih rendah pada bayi baru lahir. maka mendorong tali pusat secara hatihati ini membantu plasenta untuk keluar. komponennya adalah: a. Menjepit dan memotong tali pusat segera setelah melahirkan Pada manajemen aktif persalinan kala III. Dengan melakukannya hanya selama kontraksi rahim. sambil secara bersamaan memberikan tekanan ke atas pada rahim dengan mendorong perut sedikit di atas tulang pinggang. Tegangan pada tali pusat harus dihentikan 12 . carbetocin. Penjepitan segera dapat mengurangi jumlah darah plasenta yang dialirkan pada bayi yang baru lahir. dan tekanan darah tinggi. Melakukan penegangan tali pusat terkendali sambil secara bersamaan melakukan tekanan terhadap rahim melalui perut Penegangan tali pusat terkendali mencakup menarik tali pusat ke bawah dengan sangat hati-hati begitu rahim telah berkontraksi. mual. Prostaglandin juga efektif untuk mengendalikan perdarahan. Syntometrine (campuran ergometrine dan oxytocin) ternyata lebih efektif dari oxytocin saja. Diperkirakan penjepitan tali pusat secara dini dapat mencegah 20% sampai 50% darah janin mengalir dari plasenta ke bayi. dan dapat mempunyai pengaruh anemia zat besi pada pertumbuhan bayi. tetapi secara umum lebih mahal dan memiliki berbagai efek samping termasuk diarrhea. Penyuntikan obat uterotonika (oxytocin. c. syntometrine dikaitkan dengan lebih banyak efek samping seperti sakit kepala. muntah dan sakit perut. ergot derivate.Penatalaksanaan  Manajemen Aktif Kala III Manajemen aktif persalinan kala III terdiri atas intervensi yang direncanakan untuk mempercepat pelepasan plasenta dengan meningkatkan kontraksi rahim dan untuk mencegah perdarahan pasca persalinan dengan menghindari atonia uteri. untuk memungkinkan intervensi manajemen aktif lain. prostaglandin) segera setelah melahirkan bayi adalah salah satu intervensi paling penting yang digunakan untuk mencegah perdarahan pasca persalinan. b. tali pusat segera dijepit dan dipotong setelah persalinan.

memasang venous line dan memberikan oksigen. Alternatifnya berupa:  ligasi arteria uterina atau arteria ovarica  operasi ransel B Lynch  supra vaginal histerektomi  total abdominal histerektomi. Apabila terus teraba lembek dan tidak berkontraksi dengan baik perlu dilakukan massase yang lebih keras dan pemberian oxytocin. Periksa ukuran dan tonus uterus dengan meletakkan satu tangan di fundus uteri dan lakukan massase untuk mengeluarkan bekuan darah di uterus dan vagina.setelah 30 atau 40 detik bila plasenta tidak turun. iv atau sc. febris dan takikardia. kondom dalam kavum uteri disambung dengan kateter.6  Penanganan umum a Sikap Trendelenburg. mual muntah. Lakukan kompres bimanual apabila perdarahan masih berlanjut.  Tindakan memasang tampon kasa utero-vaginal tidak dianjurkan dan hanya bersifat temporer sebelum tindakan bedah ke rumah sakit rujukan.  Memberikan derivat prostaglandin F2α (carboprost tromethamine) yang kadang memberikan efek samping berupa diare. hipertensi.3. c Bila semua tindakan itu gagal maka dipersiapkan untuk dilakukan tindakan operatif laparotomi dengan pilihan bedah konservatif (mempertahankan uterus) atau melakukan histerektomi. difiksasi dengan karet gelang dan diisi cairan infus 200 ml yang akan mengurangi perdarahan dan menghindari tindakan operatif.  Pemberian misoprostol 800 – 1000 ug per-rektal  kompresi bimanual eksternal dan atau internal  kompresi aorta abdominalis  pemasangan “tampon kondom”. Pengosongan kandung kemih bisa mempermudah kontraksi uterus dan memudahkan tindakan selanjutnya. Pemberian 13 . b Sekaligus merangsang kontraksi uterus dengan cara :  masase fundus uteri dan merangsang puting susu  pemberian oksitosin dan turunan ergot secara im. letakkan satu tangan di belakang fundus uteri dan tangan yang satunya dimasukkan lewat jalan lahir dan ditekankan pada fornix anterior. tetapi tegangan dapat diusahakan lagi pada kontraksi rahim yang berikut.

Untuk pasien dengan anemia berat sebaiknya langsung dilakukan transfusi.uterotonica jenis lain dianjurkan apabila setelah pemberian oxytocin dan kompresi bimanual gagal menghentikan perdarahan. Pemasangan cateter intravena dengan lobang yang besar untuk persiapan apabila diperlukan transfusi. Persalinan Setelah bayi lahir. selama ataupun sesudah lahirnya plasenta biasa mengganggu kontraksi normal myometrium dan bahkan mempercepat kontraksi akan menyebabkan kehilangan darah yang berlebihan dan memicu terjadinya perdarahan postpartum. ibu-ibu yang mempunyai predisposisi atau riwayat perdarahan postpartum sangat dianjurkan untuk bersalin di  rumah sakit. Menangani anemia dalam kehamilan adalah penting. dan bila memungkinkan sediakan donor darah dan dititipkan di bank darah. Persiapan persalinan Di rumah sakit diperiksa keadaan fisik. lakukan massae uterus dengan arah gerakan circular atau maju mundur sampai uterus menjadi keras dan berkontraksi dengan baik. golongan darah. Tindakan pencegahan tidak saja dilakukan sewaktu bersalin tetapi sudah dimulai sejak ibu hamil dengan melakukan antenatal care yang baik. kadar Hb.6 14 . keadaan umum. Gambar 2. Sangat dianjurkan pada pasien dengan resiko perdarahan postpartum untuk menabung darahnya  sendiri dan digunakan saat persalinan. Kompresi bimanual Pencegahan  Perawatan masa kehamilan Mencegah atau sekurang-kurangnya bersiap siaga pada kasus-kasus yang disangka akan terjadi perdarahan adalah penting. pilihan berikutnya adalah ergotamine. Massae yang berlebihan atau terlalu keras terhadap uterus sebelum.

Pengantar kuliah obstetri.C. Buku Saku Obstetri & Ginekologi. Infeksi dalam keadaan anemia bisa berlangsung berat sampai sepsis. Bloom SL. Jakarta: EGC. Pernoll ML. H. Adriansz G. 5 Manuaba I. pucat. Wiknjosastro H. Edisi ke-9. Jakarta: Balai Penerbit Buku Kedokteran EGC.Komplikasi Komplikasi perdarahan post partum primer yang paling berat yaitu syok. Prognosis Prognosis dipengaruhi dari seberapa cepat tindakan yang dilakukan. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Wiknjosastro G. Saifuddin AB.34-5 15 . Edisi ke-4.h. 2009.G.522-9. 2007. Spong CY. menunjukkan pasien mengalami perdarahan post partum et causa atonia uteri. 2009. Hauth JC. dapat terjadi komplikasi lanjutan yaitu anemia dan infeksi dalam masa nifas. editors..h.159-81 6 Norwitz E. Leveno KJ. 2 Saifuddin AB. At a Glance Obstetri dan Ginekologi. Rouse DJ. Obstetri Williams. 2002. 3 Prawirohardjo S. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.759-97.G. Vol 1. konsistensi kenyal dan keluarnya darah dari vagina.B. 2007. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.A.h. Bila terjadi syok yang berat dan pasien selamat. Berdasarkan hasil tersebut. Penutup Kesimpulan Dalam skenario tersebut.173. Pada perdarahan yang disertai oleh pembekuan intravaskuler merata dapat terjadi kegagalan fungsi organ-organ seperti gagal ginjal mendadak. 4 Cunningham FG. 23rd ed. Jika semakin lama tindakannya maka prognosisnya menjadi buruk karena hasil survei kematian sangat tinggi. didapatkan fundus uteri setinggi pusat.B. Jakarta: EGC. Manuaba I. Ilmu Kebidanan. Schorge J. Sumapraja S. editors.h. Manuaba I. Daftar Pustaka 1 Benson RC. 2013.h. Ed 2. Waspodo G. pasien menunjukkan gejala klinis dalam keadaan kurang sadar. Jakarta : Erlangga Medical Series.