You are on page 1of 18

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penyusunan
makalah
ini
dengan
baik
yang
berjudul “ASKEP
Hiperbilirubin“ makalah ini disusun untuk memenuhi tugas dan diajukan untuk
memenuhi standar proses pembelajaran pada mata kuliah Sistem Imunitas
Meskipun telah berusaha segenap kemampuan, namun penulis menyadari
bahwa makalah ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat
mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak demi perbaikan di hari kemudian.
Akhir kata, penyusun berharap makalah semoga makalah ini dapat
bermanfaat dalam proses pembelajaran di Fakultas Ilmu Keperawatan.

Belopa, 7 Maret 2015

Penysun

5. Latar belakang Ikterus terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah. Bagaimana patofisiologi terjadinya penyakit hiperbilirubin. Rumusan Masalah 1. Pada sebagian neonatus. Untuk mengetahui deskripsi tentang pemeriksaan penunjang pada penyakit hiperbilirubin. Dikemukakan bahwa angka kejadian ikterus terdapat pada 60% bayi cukup bulan dan pada 80% bayi kurang bulan. ikterus yang berlangsung lebih dari 1 minggu serta bilirubin direk lebih dari 1 mg/dl juga merupakan keadaan yang menunjukkan kemungkinan adanya ikterus patologik. Apa saja pemeriksaan penunjang pada penyakit hiperbilirubin? 7. Dalam keadaan tersebut penatalaksanaan ikterus harus dilakukan sebaik-baiknya agar akibat buruk ikterus dapat dihindarkan. Bagaimana diagnosis dan penatalaksanaan pada penyakit hiperbilirubin? 8. B. Apakah yang menjadi penyebab terjadinya hiperbilirubin ? 3. 2. 3. Untuk mengetahui gambaran tentang patofisiologi terjadinya penyakit hiperbilirubin. Untuk mengetahui deskripsi tentang definisi hiperbilirubin. 4. Bagaimana komplikasi yang terjadi pada penyakit hiperbilirubini? 5. Bagaimana proses asuhan keperawatan pada penyakit hiperbilirubin? C. karenanya setiap bayi dengan ikterus harus mendapat perhatian terutama apabila ikterus ditemukan dalam 24 jam pertama kehidupan bayi atau kadar bilirubin meningkat lebih dari 5 mg/dl dalam 24 jam. 6. Bagaimana manifestasi klinis penyakit hiperbilirubin? 4.BAB I PENDAHULUAN A. infeksi berat. Untuk mengetahui deskripsi tentang penyebab terjadinya hiperbilirubin. Apakah yang dimaksud dengan hiperbilirubin ? 2. ikterus akan ditemukan dalam minggu pertama kehidupannya. Ikterus ini pada sebagian lagi mungkin bersifat patologik yang dapat menimbulkan gangguan yang menetap atau menyebabkan kematian. . ? 6. Untuk mengetahui gambaran tentang komplikasi yang terjadi pada penyakit hiperbilirubin. Proses hemolisis darah. Untuk mengetahui gambaran tentang manifestasi klinis penyakit hiperbilirubin. Ikterus merupakan salah satu penyakit yang berkaitan dengan sistem imun. Tujuan 1.

8 Untuk mengetahui gambaran tentang proses asuhan keperawatan pada bayi dengan penyakit hiperbilirubin. Untuk mengetahui gambaran tentang penatalaksanaan penyakit hiperbilirubin.3. .7. 8. 1.

1 mg/dl. kemudian . DEFINISI Hiperbilirubin adalah keadaan icterus yang terjadi pada bayi baru lahir. kulit. 1991:314) B. yang dimaksud dengan ikterus yang terjadi pada bayi baru lahir adalah meningginya kadar bilirubin di dalam jaringan ekstravaskuler sehingga terjadi perubahaan warna menjadi kuning pada kulit. METABOLISME BILIRUBIN 75%dari bilirubin yang ada pada BBL yang berasal dari penghancuran hemoglobin . mukosa dan alat tubuh lainnya. BBLR (kurang dari 2500 gram). juga dapat menimbulkan ikterus. Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubin dalam darah melebihi batas atas nilai normal bilirubin serum. trauma lahir. membrane mukosa dan cairan tubuh (Adi Smith. bilirubin akan masuk kedalam otak dan terjadilah kernikterus. Hiperbilirubin merupakan gejala fisiologis (terdapat pada 25 – 50% neonatus cukup bulan dan lebih tinggi pada neonatus kurang bulan). Smeltzer.BAB II PEMBAHASAN A. (Ngastiyah.didalam hepar bilirubin akan diikat oleh enzim glucuronil transverse menjadi bilirubin direk yang larut dalam air. 1988). 2002). 1998) Hiperbilirubin adalah kondisi dimana terjadi akumulasi bilirubin dalam darah yang mencapai kadar tertentu dan dapat menimbulkan efek patologis pada neonatus ditandai joudince pada sclera mata. 2000) Nilai normal: bilirubin indirek 0. Hiperbilirubin adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah yang kadar nilainya lebih dari normal (Suriadi. 2002) Hiperbilirubinemia adalah kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek pathologis. G.satu gram bilirubin yang hancur menghasilkan 35 mg bilirubin . 2001).1 – 0. hiperkarbia. yang memudahkan terjadinya hal tersebut ialah imaturitas. hipoglikemia.4 mg/dl.sitokrom . Bilirubin indirek larut dalam lemak dan bila sawar otak terbuka. Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana konsentrasi bilirubin dalam darah berlebihan sehingga menimbulkan joundice pada neonatus (Dorothy R.3 – 1. asfiksia/hipoksia. (IKA II. Hiperbilirubin adalah peningkatan kadar bilirubin serum (hiperbilirubinemia) yang disebabkan oleh kelainan bawaan. (Suzanne C.bayi cukup bulan akan menghancurkan eritrosit sebanyak satu gram/hari dalam bentuk bilirubin indirek yang terikat dengan albumin bebas (1 gram albumin akan mengikat 16 mg bilirubin). konjungtiva. bilirubin direk 0. infeksi.katalase dan tritofan pirolase . (Markum.dan 25%dari mioglobin . Marlon.

5% pada neonatus kurang bulan. gangguan fungsi hepar akibat asidosis. d) Gangguan dalam ekskresi akibat sumbatan dalam hepar atau di luar hepar. Pada BBL bilirubin direk dapat di ubah menjadi bilirubin indirek didalam usus karena disini terdapat beta-glukoronidase yang berperan penting terhadap perubahan tersebut. Adapun tanda-tandanya sebagai berikut: 1. 2. Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologis. Adapun tanda-tanda sebagai berikut : 1. Ikterus terjadi dalam 24 jam pertama. 5.diekskresi kesistem empedu. Kadar bilirubin indirek tidak melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan. b) Gangguan dalam uptake dan konjugasi hepar di sebabkan imaturitas hepar. c) Gangguan tranportasi bilirubin dalam darah terikat oleh albumin kemudian di angkut oleh hepar. Ikterus menghilang pada 10 hari pertama. Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah melekat pada otak (terjadi krenikterus). bilirubin indirek ini diserap kembali oleh usus selanjutnya masuk kembali ke hati (inilah siklus enterohepatik). Keadaan ikterus di pengaruhi oleh : a) Faktor produksi yang berlebihan melampaui pengeluaran nya terdapat pada hemolisis yang meningkat seperti pada ketidakcocokan golongan darah (Rh. 3.hipoksia. ABO antagonis. dan infeksi atau tidak terdapat enzim glukuronil transferase (G-6-PD). atau kerusakan hepar oleh penyebab lain. .defisiensi G-6-PD dan sebagai nya). Timbul pada hari kedua dan ketiga 2. selanjutnya masuk kedalam usus dan menjadi sterkobilin. KLASIFIKASI Terdapat 2 jenis ikterus yaitu yang fisiologis dan patologis. 3. C. Kadar bilirubin direk tidak melebihi 1 mg%. 6. sebagian di serap kembali dan keluar melalui urin sebagai urobilinogen. Pengangkatan bilirubin lebih dari 5 mg% per hari. Ikatan ini dapat di pengaruhi oleh obat seperti salisilat dan lain-lain. kurangnya substrat untuk konjugasi (mengubah) bilirubin. Kadar bilirubin melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan atau melebihi 12. 4. Akibat kelainan bawaan atau infeksi. Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5% per hari. Ikterus Patologi Ikterus patologis adalah ikterus yang mempunyai dasar patologis atau kadar bilirubin mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubinemia. Ikterus fisiologi Ikterus fisiologi adalah ikterus yang timbul pada hari kedua dan hari ketiga serta tidak mempunyai dasar patologi atau tidak mempunyai potensi menjadi karena ikterus.

ABO. ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO A. 6. Produksi yang berlebihan Hal ini melebihi kemampuannya bayi untuk mengeluarkannya. Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak terdapat bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah melekat ke sel otak. akibat asidosis. yaitu meningkatnya kecepatan pemecahan sel darah merah. defisiensi enzim G6PD. 29) D. 2009. 6. golongan darah lain. Pembentukan bilirubin yang berlebihan. hlm. Gangguan ini dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau di luar hepar. 7. Mempunyai hubungan dengan proses hemolitik. 9. Disebut juga ikterus hemolitik. Gangguan pengambilan (uptake) dan transportasi bilirubin dalam hati. Obstruksi dalam hepar biasanya akibat infeksi/kerusakan hepar oleh penyebab lain. 3. (Arief ZR. . Gangguan proses “uptake” dan konjugasi hepar. gangguan fungsi hepar. Penyebab ikterus pada bayi baru lahir dapat berdiri sendiri ataupun dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu : 1. dan sulfaforazole. Ikterus menetap sesudah 2 minggu pertama. Gangguan ini dapat disebabkan oleh immturitas hepar. Ikatan bilirubin dengan albumin dapat dipengaruhi oleh obat misalnya salisilat. 10. kurangnya substrat untuk konjugasi bilirubin. misal pada hemolisis yang meningkat pada inkompabilitas darah Rh. Hemolisis dapat pula timbul karena adanya perdarahan tertutup. Penyebab ikterus pada bayi baru lahir dapat berdiri sendiri ataupun dapat disebabkan oleh beberapa faktor: 8. 11.4. Gangguan transportasi. Gangguan konjugasi bilirubin. 2. piruvat kinase. Penyakit Hemolitik. perdarahan tertutup dan sepsis. 5. 5. Siphilis. Kelainan di luar hepar biasanya disebabkan oleh kelainan bawaan. Gangguan dalam ekskresi. Gangguan transportasi akibat penurunan kapasitas pengangkutan. Kadar bilirubin direk melebihi 1 mg%. 4. Bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian diangkat ke hepar. hipoksia dan infeksi atau tidak terdapatnya enzim glukoronil transferase (sindrom Criggler-Najjar) penyebab lain atau defisiensi protein Y dalam hepar yang berperan penting dalam “uptake” bilirubin ke sel hepar. Gangguan fungsi hati yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme atau toksin yang dapat langsung merusak sel hati dan sel darah merah seperti : infeksi toxoplasma. misalnya Hipoalbuminemia atau karena pengaruh obat-obatan tertentu.

benzyl-alkohol.Yunani) _ Komplikasi kehamilan (DM. MANIFESTASI KLINIS Bayi baru lahir(neonatus) tampak kuning apabila kadar bilirubin serumnya kira-kira 6mg/dl(Mansjoer at al. 2007). virus. 1994) Gambaran klinik ikterus patologis: a) Timbul pada umur <36 jam b) Cepat berkembang c) Bisa disertai anemia d) Menghilang lebih dari 2 minggu e) Ada faktor resiko . kloramfenikol. sulfisoxazol) _ _Rendahnya asupan ASI _ _Hipoglikemia _ _Hipoalbuminemia E.4 b) Bayi tampak sehat(normal) c) Kadar bilirubin total <12mg% d) Menghilang paling lambat 10-14 hari e) Tak ada faktor resiko f)Sebab: proses fisiologis(berlangsung dalam kondisi fisiologis)(Sarwono et al. protozoa) Faktor Neonatus _ Prematuritas _ Faktor genetic _ _Polisitemia _ _Obat (streptomisin. Perbedaan ini hanya dapat ditemukan pada ikterus yang berat(Nelson. _ ASI Faktor Perinatal _ Trauma lahir (sefalhematom.B. Native American. Gambaran klinis ikterus fisiologis: a) Tampak pada hari 3. ekimosis) _ Infeksi (bakteri. Faktor resiko terjadinya hiperbilirubin antara lain: Faktor Maternal _ Ras atau kelompok etnik tertentu (Asia. inkompatibilitas ABO dan Rh) _ _Penggunaan infus oksitosin dalam larutan hipotonik. Sedangkan ikterus obstruksi(bilirubin direk) memperlihatkan warna kuning-kehijauan atau kuning kotor. 2007). Ikterus sebagai akibat penimbunan bilirubin indirek pada kulit mempunyai kecenderungan menimbulkan warna kuning muda atau jingga.

Selain itu dapat juga terjadi Infeksi/sepsis. Sel-sel ini kemudian mengeluarkan besi dari heme sebagai cadangan untuk sintesis berikutnya dan memutuskan cincin heme untuk menghasilkan tertapirol bilirubin. obstruksi saluran ekskresi hati juga akan menyebabkan hiperbilirubinemia. yang disekresikan dalam bentuk yang tidak larut dalam air(bilirubin tak terkonjugasi. Saat masuk ke dalam usus . peritonitis. Sewaktu zat ini beredar dalam tubuh dan melewati lobulus hati . Pada semua keadaan ini. Karena ketidaklarutan ini. G. direk)(Sacher.f) Dasar: proses patologis (Sarwono et al. tempat zat ini diekskresikan sebagai senyawa larut air bersama urin(Sacher. PATOFISIOLOGI Bilirubin adalah produk penguraian heme. 1994) F. letargi. bilirubin yang larut tersebut masuk ke sistem empedu untuk diekskresikan. kejang tonus otot meninggi. gerakan tidak menentu (involuntary movements).2004). Urobilinogen dapat diubah menjadi sterkobilin dan diekskresikan sebagai feses. 2004). dan akhirnya opistotonus. pneumonia. Pada kern ikterus gejala klinik pada permulaan tidak jelas antara lain : bayi tidak mau menghisap. Sebagian besar(85-90%) terjadi dari penguraian hemoglobin dan sebagian kecil(10-15%) dari senyawa lain seperti mioglobin. leher kaku. tetapi sebagian dibawa oleh sirkulasi sistemik ke ginjal. mata berputar-putar. Sebagian urobilinogen direabsorsi dari usus melalui jalur enterohepatik. 2008).bilirubin diuraikan oleh bakteri kolon menjadi urobilinogen. Sel retikuloendotel menyerap kompleks haptoglobin dengan hemoglobin yang telah dibebaskan dari sel darah merah.hepatosit melepas bilirubin dari albumin dan menyebabkan larutnya air dengan mengikat bilirubin ke asam glukoronat(bilirubin terkonjugasi. Tanpa adanya kerusakan hati. Dalam bentuk glukoronida terkonjugasi. bilirubin tertimbun di dalam darah dan jika konsentrasinya mencapai nilai tertentu(sekitar 2- . indirek). Hiperbilirubinemia dapat disebabkan oleh pembentukan bilirubin yang melebihi kemampuan hati normal untuk ekskresikannya atau disebabkan oleh kegagalan hati(karena rusak) untuk mengekskresikan bilirubin yang dihasilkan dalam jumlah normal. Pada dewasa normal level serum bilirubin <1mg/dl. bilirubin dalam plasma terikat ke albumin untuk diangkut dalam medium air. Urobilinogen daur ulang ini umumnya diekskresikan ke dalam empedu untuk kembali dialirkan ke usus. Ikterus akan muncul pada dewasa bila serum bilirubin >2mg/dl dan pada bayi yang baru lahir akan muncul ikterus bila kadarnya >7mg/dl(Cloherty et al. dan darah porta membawanya kembali ke hati. KOMPLIKASI Komplikasi yang dapat ditimbulkan penyakit ini yaitu terjadi kern ikterus yaitu keruskan otak akibat perlangketan bilirubin indirek pada otak.

seperti abses hati atau hepatoma 3. PENATALAKSANAAN Berdasarkan pada penyebabnya. Apabila nilainya lebih dari 10mg/dl tidak fisiologis. Biopsy hati Digunakan untuk memastikan diagnosa terutama pada kasus yang sukar seperti untuk membedakan obstruksi ekstra hepatic dengan intra hepatic selain itu juga untuk memastikan keadaan seperti hepatitis. Kadar bilirubin yang lebih dari 14mg/dl tidak fisiologis. Fototherapi Fototherapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan Transfusi Pengganti untuk menurunkan Bilirubin. 5. I nfus Albumin dan Therapi Obat. hepatoma. Pemeriksaan bilirubin serum a. Menghilangkan Antibodi Maternal dan Eritrosit Tersensitisasi 3. Menurunkan Serum Bilirubin Metode therapi pada Hiperbilirubinemia meliputi : Fototerapi. Memaparkan neonatus pada . senyawa ini akan berdifusi ke dalam jaringan yang kemudian menjadi kuning. 4. Menghilangkan Anemia 2. bilirubin mencapai kurang lebih 6mg/dl antara 2-4 hari setelah lahir. Pada bayi premature. Transfusi Pengganti. Laparatomi Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini I. Peritoneoskopi Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini. Meningkatkan Badan Serum Albumin 4. 2. Pengobatan mempunyai tujuan : 1. Pemeriksaan radiology Diperlukan untuk melihat adanya metastasis di paru atau peningkatan diafragma kanan pada pembesaran hati.5mg/dl). serosis hati. H. Keadaan ini disebut ikterus atau jaundice(Murray et al.2.2009). b. maka manejemen bayi dengan Hiperbilirubinemia diarahkan untuk mencegah anemia dan membatasi efek dari Hipe rbilirubinemia. 6. Ultrasonografi Digunakan untuk membedakan antara kolestatis intra hepatic dengan ekstra hepatic. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Pada bayi cukup bulan. kadar bilirubin mencapai puncak 10-12 mg/dl antara 5-7 hari setelah lahir.

Di dalam darah Fotobilirubin berikatan dengan Albumin dan dikirim ke Hati. Transfusi Pengganti digunakan untuk : 1. 2. Penyakit Hemolisis pada bayi saat lahir perdarahan atau 24 jam pertama. Bayi dengan Hidrops saat lahir. Menghilangkan Serum Bilirubin 4. 2. Serum Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg / dl pada 48 jam pertama. Rh negatif whole blood. 8. setiap 4 . Fotobilirubin bergerak dari jaringan ke pembuluh darah melalui mekanisme difusi. Fototherapi menurunkan kadar Bilirubin dengan cara memfasilitasi eksresi Biliar Bilirubin tak terkonjugasi. 1984). Tranfusi Pengganti Transfusi Pengganti atau Imediat diindikasikan adanya faktor-faktor : 1. Penyakit Hemolisis berat pada bayi baru lahir. 7. Bayi pada resiko terjadi Kern Ikterus. 4. Neonatus yang sakit dengan berat badan kurang dari 1000 gram harus di Fototherapi dengan konsentrasi Bilirubun 5 mg / dl.8 jam kadar Bilirubin harus dicek. Mengatasi Anemia sel darah merah yang tidak Suseptible (rentan) terhadap sel darah merah terhadap Antibodi Maternal. Menghilangkan sel darah merah untuk yang Tersensitisasi (kepekaan) 3. Hasil Fotodegradasi terbentuk ketika sinar mengoksidasi Bilirubin dapat dikeluarkan melalui urine. Hal ini terjadi jika cahaya yang diabsorsi jaringan mengubah Bilirubin tak terkonjugasi menjadi dua isomer yang disebut Fotobilirubin.5 mg / dl pada minggu pertama.cahaya dengan intensitas yang tinggi ( a bound of fluorencent light bulbs or bulbs in the blue-light spectrum) akan menurunkan Bilirubin dalam kulit. Secara umum Fototherapi harus diberikan pada kadar Bilirubin Indirek 4 -5 mg / dl. Fotobilirubin kemudian bergerak ke Empedu dan diekskresi ke dalam Deodenum untuk dibuang bersama feses tanpa proses konjugasi oleh Hati (Avery dan Taeusch. tetapi tidak dapat mengubah penyebab Kekuningan dan Hemolisis dapat menyebabkan Anemia. Hemoglobin kurang dari 12 gr / dl. Beberapa ilmuan mengarahkan untuk memberikan Fototherapi Propilaksis pada 24 jam pertama pada Bayi Resiko Tinggi dan Berat Badan Lahir Rendah. Kadar Bilirubin Direk lebih besar 3. Hemoglobin harus diperiksa setiap hari sampai stabil. Tes Coombs Positif 5. 3. 6. Darah yang dipilih tidak mengandung antigen A dan antigen B yang pendek. Meningkatkan Albumin bebas Bilirubin dan meningkatkan keterikatan dengan Bilirubin Pada Rh Inkomptabiliti diperlukan transfusi darah golongan O segera (kurang dari 2 hari). . 9. Titer anti Rh lebih dari 1 : 16 pada ibu. Fototherapi mempunyai peranan dalam pencegahan peningkatan kadar Bilirubin.

Hipotonik. Obat ini efektif baik diberikan pada ibu hamil untuk beberapa hari sampai beberapa minggu sebelum melahirkan. refleks menyusui yang lemah. Tempat yang ditekan akan tampak pucat atau . malnutrisi intrauterine. Pengkajian 1. ikterus pada neonatus dapat dilihat segera setelah lahir atau setelah beberapa hari. Riwayat orang tua : Ketidakseimbangan golongan darah ibu dan anak seperti Rh. Secara klinis. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI HIPERBILIRUBIN Untuk memberikan keperawatan yang paripurna digunakan proses keperawatan yang meliputi Pengkajian. Amati ikterus pada siang hari dengan lampu sinar yang cukup. Penggunaan penobarbital pada post natal masih menjadi pertentangan karena efek sampingnya (letargi). Colistrisin dapat mengurangi Bilirubin dengan mengeluarkannya lewat urine sehingga menurunkan siklus Enterohepatika. Ikterus akan terlihat lebih jelas dengan sinar lampu dan bisa tidak terlihat dengan penerangan yang kurang. Obstruksi Pencernaan dan ASI. Pelaksanaan dan Evaluasi.dada. Hematoma.Therapi Obat Phenobarbital dapat menstimulasi hati untuk menghasilkan enzim yang meningkatkan konjugasi Bilirubin dan mengekresinya. Pemeriksaan Fisik : Kuning. Letargi. infeksi intranatal) b)Riwayat persalinan dengan tindakan/komplikasi c)Riwayat ikterus/terapi sinar/transfusi tukar pada bayi sebelumnya d)Riwayat inkompatibilitas darah e)Riwayat keluarga yang menderita anemia.lutut dan lain-lain. Iritabilitas. ABO. 2006). mudah dan sederhana adalah dengan penilaian menurut Kramer(1969). 2. 2. Polisitemia. Pallor Konvulsi. menangis melengking. Salah satu cara memeriksa derajat kuning pada neonatus secara klinis. Diagnosa Keperawatan. pembesaran hepar dan limpa(Etika et al. terutama pada neonatus yang berkulit gelap. A. Infeksi. Perencanaan. 2006). gawat janin. Caranya dengan jari telunjuk ditekankan pada tempat-tempat yang tulangnya menonjol seperti tulang hidung. ibu DM. Penilaian ikterus akan lebih sulit lagi apabila penderita sedang mendapatkan terapi sinar(Etika et al. a)Riwayat kehamilan dengan komplikasi(obat-obatan.

efek fototerapi. kemampuan mempelajari Hiperbilirubinemia (Cindy Smith Greenberg. 7. 8. 4. 2007). Pengetahuan Keluarga meliputi : Penyebab penyakit dan pengobatan.Kapita Selekta Kedokteran jilid 2. Risiko /gangguan integritas kulit berhubungan dengan ekskresi bilirubin. 2006). 2. serta peningkatan Insensible Water Loss (IWL) dan defikasi sekunder fototherapi. masalah Bonding.kuning. Penilaian kadar bilirubin pada masing-masing tempat tersebut disesuaikan dengan tabel yang telah diperkirakan kadar bilirubinnya(Mansjoer et al. 6.2007:504 Waktu timbulnya ikterus mempunyai arti penting pula dalam diagnosis dan penatalaksanaan penderita karena saat timbulnya ikterus mempunyai kaitan erat dengan kemungkinan penyebab ikterus tersebut(Etika et al. Risiko hipertermi berhubungan dengan efek fototerapi. 3. aritmia. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul : Risiko/ defisit volume cairan berhubungan dengan tidak adekuatnya intake cairan. perawatan lebih lanjut. Pengkajian Psikososial : Dampak sakit anak pada hubungan dengan orang tua. 4.edisi ш Media Aesculapius FK UI. 1. Derajat Ikterus pada Neonatus menurut Kramer Zona indirek Bagian tubuh yang kuning 1 Kepala dan leher 2 Pusat-leher 3 Pusat-paha 4 Lengan+Tungkai 5 Tangan+Kaki Rata-rata serum bilirubin 100 150 200 250 >250 Tabel 2.1 Derajat ikterus pada neonatus menurut Kramer Sumber:Arif Mansjoer. gangguan elektrolit. infeksi) berhubungan dengan tranfusi tukar. 3. 5. 1988) B. apakah orang tua merasa bersalah. PK : Kern Ikterus . Gangguan parenting ( perubahan peran orang tua ) berhubungan dengan perpisahan dan penghalangan untuk gabung. perpisahan dengan anak. apakah mengenal keluarga lain yang memiliki yang sama. Kecemasan meningkat berhubungan dengan therapi yang diberikan pada bayi. tingkat pendidikan. Risiko tinggi injury berhubungan dengan efek fototherapi Risiko tinggi komplikasi (trombosis.

Risiko/hipertermi berhubungan dengan efek fototerapi Tujuan : Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi hipertermi dengan kriteria suhu aksilla stabil antara 36. Pantau turgor kulit. Kaji reflek hisap bayi ( Rasional/R : mengetahui kemampuan hisap bayi ) b. 2. suhu meningkat HR meningkat adalah tanda-tanda dehidrasi ) e. tanda. frekuensi dan konsistensi faeces ( R : mengetahui kecukupan intake ) d. Intervensi dan rasionalisasi : a.Jumlah intake dan output seimbang .5-37 0 C. Risiko /Gangguan integritas kulit berhubungan dengan ekskresi bilirubin. Beri minum per oral/menyusui bila reflek hisap adekuat (R: menjamin keadekuatan intake ) c.C. Timbang BB setiap hari (R : mengetahui kecukupan cairan dan nutrisi).Turgor kulit baik. efek fototerapi Tujuan : Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi gangguan integritas kulit dengan kriteria : · tidak terjadi decubitus · Kulit bersih dan lembab Intervensi : a.6 jam (R : suhu terpantau secara rutin ) b.tanda vital ( suhu. INTERVENSI KEPERAWATAN 1. Catat jumlah intake dan output . tanda vital dalam batas normal . Observasi suhu tubuh ( aksilla ) setiap 4 . HR ) setiap 4 jam (R : turgor menurun. dan berikan kompres dingin serta ekstra minum ( R : mengurangi pajanan sinar sementara ) c. Kaji warna kulit tiap 8 jam . Kolaborasi dengan dokter bila suhu tetap tinggi ( R : Memberi terapi lebih dini atau mencari penyebab lain dari hipertermi ).Penurunan BB tidak lebih dari 10 % BBL Intervensi & Rasional : a. Risiko /defisit volume cairan b/d tidak adekuatnya intake cairan serta peningkatan IWL dan defikasi sekunder fototherapi Tujuan : Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi deficit volume cairan dengan kriteria : . 3. Matikan lampu sementara bila terjadi kenaikan suhu.

orang tua dapat mengekspresikan ketidak mengertian proses Bounding. Beri pendidikan kesehatan penyebab dari kuning. (R : mengetahui adanya perubahan warna kulit ) Ubah posisi setiap 2 jam (R : mencegah penekanan kulit pada daerah tertentu dalam waktu lama ). e. 5.5 mg% fototerafi dihentikan (R: untuk mencegah pemajanan sinar yang terlalu lama ) Gangguan parenting ( perubahan peran orangtua) berhubungan dengan perpisahan dan penghalangan untuk gabung. Intervensi : a. Masase daerah yang menonjol (R : melancarkan peredaran darah sehingga mencegah luka tekan di daerah tersebut ). Tujuan : Setelah diberikan penjelasan selama 2x15 menit diharapkan orang tua menyatakan mengerti tentang perawatan bayi hiperbilirubin dan kooperatif dalam perawatan. c. d. Tujuan : Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan orang tua dan bayi menunjukan tingkah laku “Attachment” . b. Jaga kebersihan kulit bayi dan berikan baby oil atau lotion pelembab ( R : mencegah lecet ) Kolaborasi untuk pemeriksaan kadar bilirubin. Intervensi : Bawa bayi ke ibu untuk disusui ( R : mempererat kontak sosial ibu dan bayi ) Buka tutup mata saat disusui (R: untuk stimulasi sosial dengan ibu ) Anjurkan orangtua untuk mengajak bicara anaknya (R: mempererat kontak dan stimulasi sosial ). a. c. Kaji pengetahuan keluarga tentang penyakit pasien ( R : mengetahui tingkat pemahaman keluarga tentang penyakit ) b. bila kadar bilirubin turun menjadi 7.b. 4. proses terapi dan perawatannya ( R : Meningkatkan pemahaman tentang keadaan penyakit ) c. Dorong orang tua mengekspresikan perasaannya (R: mengurangi beban psikis orangtua) Kecemasan meningkat berhubungan dengan therapi yang diberikan pada bayi. d. e. Libatkan orang tua dalam perawatan bila memungkinkan ( R: meningkatkan peran orangtua untuk merawat bayi ). Beri pendidikan kesehatan mengenai cara perawatan bayi dirumah (R : meningkatkan tanggung jawab dan peran orang tua dalam erawat bayi) .

a. Puasakan neonatus 4 jam sebelum tindakan (R: mencegah aspirasi ) Pertahankan suhu tubuh sebelum. adanya perdarahan.6. c. Ajak bicara dan beri sentuhan setiap memberikan perawatan ( R : memberi rasa aman pada bayi ). e. selama dan setelah prosedur ( R : mencegah hipotermi Catat jenis darah ibu dan Rhesus memastikan darah yang akan ditranfusikan adalah darah segar ( R : mencegah tertukarnya darah dan reaksi tranfusi yang berlebihan 0 Pantau tanda-tanda vital. kerusakan jaringan kornea ) Intervensi : Tempatkan neonatus pada jarak 40-45 cm dari sumber cahaya ( R : mencegah iritasi yang berlebihan). f. gangguan cairan dan elektrolit. b. buka penutup mata untuk mengkaji adanya konjungtivitis tiap 8 jam (R: pemantauan dini terhadap kerusakan daerah mata ) Buka penutup mata setiap akan disusukan. g. d. e. b. c. Risiko tinggi injury berhubungan dengan efek fototherapi Tujuan : Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi injury akibat fototerapi ( misal . Biarkan neonatus dalam keadaan telanjang. kecuali pada mata dan daerah genetal serta bokong ditutup dengan kain yang dapat memantulkan cahaya usahakan agar penutup mata tidak menutupi hidung dan bibir (R : mencegah paparan sinar pada daerah yang sensitif ) Matikan lampu. konjungtivitis. a. 7. d. kejang selama dan sesudah tranfusi (R : Meningkatkan kewaspadaan terhadap komplikasi dan dapat melakukan tindakan lebih dini ) Jamin ketersediaan alat-alat resusitatif . Risiko tinggi terhadap komplikasi berhubungan dengan tranfusi tukar Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 1x24 jam diharapkan tranfusi tukar dapat dilakukan tanpa komplikasi Intervensi : Catat kondisi umbilikal jika vena umbilikal yang digunakan (R : menjamin keadekuatan akses vaskuler ) Basahi umbilikal dengan NaCl selama 30 menit sebelum melakukan tindakan ( R : mencegah trauma pada vena umbilical ). ( R : memberi kesempatan pada bayi untuk kontak mata dengan ibu ).

epistotonus. Observasi tanda-tanda awal Kern Ikterus ( mata berputar. letargi . PK Kern Ikterus Tujuan : Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan tanda-tanda awal kern ikterus bisa dipantau Intervensi : a. Kolaborasi dengan dokter bila ada tanda-tanda kern ikterus.(R : dapat melakukan tindakan segera bila terjadi kegawatan ) 8. . dll) b.

Diagnosa keperawatan pada penderita hiperbilirubin. sclera dan organ lain. _ Resiko Intoleransi Aktifitas berhubungan dengan penurunan perfusi O2 ke jaringan. antara lain: _ Gangguan Integritas Kulit berhubungan dengan joundice yang ditandai dengan kulit wajah dan dada tampak kuning. Hiperbilirubin ini keadaan fisiologis (terdapat pada 25-50 % neonatus cukup bulan dan lebih tinggi pada neonates kurang bulan). Dalam melaksanakan tindakan keperawatn. Keadaan ini mempunyai potensi meningkatkan kern ikterus.BAB III PENUTUP A. perawat juga harus menerapkan universal precaution agar keselamatan penderita dan perawat dapat terjaga. Simpulan Hiperbilirubin adalah suatu kedaaan dimana kadar bilirubin serum total yang lebih dari 10 mg % pada minggu pertama yang ditendai dengan ikterus pada kulit. _ Resiko Gangguan Tumbuh Kembang. _ Resiko Gangguan Intake Nutrisi berhubungan dengan penurunan suplai nutrisi ke jaringan. yaitu keadaan kerusakan pada otak akibat perlengketan kadar bilirubin pada otak. . Hiperbilirubin ini berkaitan erat dengan riwayat kehamilan ibu dan prematuritas. asupan ASI pada bayi juga dapat mempengaruhi kadar bilirubin dalam darah. Selain itu.

id/ bitstream /123456789/37957/4/Chapter II. usu.com/pustaka/dasar/hati/hiperbilirubinemia3.klinikku. ac.pdf http://www.docstoc. .html.DAFTAR PUSTAKA Repository.com/myoffice/recommendations?docId=48037619&download=1 http://www.