You are on page 1of 28

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI..............................................................................................................................1
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................2
BAB II DEFINISI......................................................................................................................3
BAB III EPIDEMIOLOGI.........................................................................................................4
BAB IV ETIOLOGI...................................................................................................................6
BAB V PATOFISIOLOGI........................................................................................................12
BAB VII MANIFESTASI KLINIS..........................................................................................13
BAB VIII DIAGNOSIS...........................................................................................................16
BAB IX TERAPI.....................................................................................................................22
BAB XI PROGNOSIS.............................................................................................................25
BAB XII PENCEGAHAN.......................................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................27

Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS

1

BAB I PENDAHULUAN
Bronkiektasis adalah suatu proses kronik, dimana terjadi suatu dilatasi atau pelebaran
abnormal dan permanen dari satu atau lebih bronkus atau saluran napas.[1][2][3] Saluran napas
yang dimaksud adalah dari trakea hingga alveoli. Bronkiektasis pada umumnya terjadi karena
proses infeksi, namun demikian faktor selain infeksi pun dapat berkontribusi dalam proses
pembentukan dan perkembangan kondisi ini.[1] Sesungguhnya bronkiektasis telah dijelaskan
pertama kalinya oleh Laennec pada tahun 1819, kemudian rinci oleh Sir William Osler pada
akhir 1800, dan ditetapkan lebih lanjut oleh Reid pada 1950-an, bronkiektasis telah
mengalami perubahan yang signifikan dalam hal yang prevalensi, etiologi, presentasi, dan
pengobatan.[4] Namun demikian bronkiektasis ini sendiri merupakan penyakit paru yang
jarang dikenali oleh masyarakat. Bronkiektasis dapat dikategorikan sebagai penyakit paru
obstruktif kronik dimanifestasikan oleh meradangnya saluran napas, yang membuat saluran
napas menjadi rentan sehingga terjadi obstruksi aliran udara dan menimbulkan sesak napas,
adanya gangguan sekresi mukus dan kadang-kadang hingga adanya hemoptisis.[4][5] Beberapa
kasus yang berat dapat menyebabkan gangguan progresif saluran napas hingga menimbulkan
gagal napas. Bronkiektasis paling sering muncul sebagai proses fokal dimana hanya
melibatkan lobus, segmen, atau subsegment dari sebelah paru, dan proses difus lebih jarang
terjadi dimana melibatkan kedua paru. Bronkiektasis difus merupakan kasus yang paling
sering terjadi dalam hubungan dengan penyakit sistemik, seperti cystic fibrosis (CF),
penyakit sinopulmonary, atau keduanya.

[1][3]

Diagnosis biasanya didasarkan pada riwayat

klinis dengan adanya gejala pernapasan kronis, seperti batuk setiap hari yang kronis dan
produksi dahak kental, selain itu adanya temuan dari hasil pencitraan (misalnya CT scan
karena pemeriksaan ini yang paling mudah dan sering digunakan) seperti adanya penebalan
dinding bronkus dan dilatasi lumen.[7][8] Dalam penatalaksanaan bronkiektasi, antibiotik dan
fisioterapi toraks adalah modalitas andalan. Selain itu, terapi yangdapat dilakukan adalah
tergantung dari kondisi yang mendasari, seperti hypogammaglobulinemia atau kekurangan
alpha1-antitrypsin, adalah penting untuk perawatan keseluruhan. Bedah merupakan tambahan
penting untuk terapi pada beberapa pasien yang memiliki komplikasi dan penyakit yang
sudah sangat parah.[7][9][11]

Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS

2

dimana broncos berarti saluran napas dan ectasia berarti dilatasi. [1] Sehingga secara morfologi dapat disimpulkan definisi bronkiektasis adalah saluran napas yang berdilatasi.[2] Berkurangnya kemampuan tersebut membuat hasil sekresi tersebut menjadi media pertumbuhan mikroba dan berkumpulnya partikel lain sehingga memicu penambahan sekresi mukus. Bronkiektasis merupakan penyakit yang jarang ditemukan di masyakarat dan seringnya disebabkan oleh proses infeksi sekunder.BAB II DEFINISI Bronkiektasis berasal dari bahasa Yunani dari kata “broncos” dan “ectasia”. berupa dilatasi saluran napas yang irreversible / permanen dan adanya fibrosis di paru sehingga mengurangi kemampuan saluran napas untuk membersihkan hasil sekresi (mukus).[3] Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 3 . Pada anak-anak apabila terdapat batuk berdahak yang kronik dan tidak responsif terhadap terapi antibiotik mungkin dapat diindikasikan adanya bronkiektasis.[1] [2] [3] Bronkiektasis adalah tahapan terakhir dari berbagai proses patologik yang menyebabkan kerusakan dari dinding bronkial dan jaringan penyokong sekitarnya. Bronkiektasis adalah suatu proses kronik di paru.

sementara dari 24 orang anak yang sembuh dari batuknya diantaranya terdapat 6 orang anak (25. dan bertambah jumlah penderita pada usia 74 tahun ke atas sekitar 272 orang dari 100. sekitar 25 orang per 100.[8] Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 4 .[8] Anak-anak terebut dipasang suatu alat detektor bernama chest multi-detector CT (MDCT) scans yang menunjukan bahwa dari 144 anak tersebut terdapat 106 anak yang mengalami bronkiektasis pada pemeriksaan menggunakan MDCT tersebut.BAB III EPIDEMIOLOGI Bronkiektasis merupakan penyakit yang jarang diketahui dan tidak umum dikenal dalam masyarakat. Berdasarkan data antibiotik yang diperoleh dari 129 anak didapatkan data sekitar 105 orang anak yang menderita batuk walaupun telah diberikan terapi antibiotik yang sesuai diantaranya terdapat 88 orang anak (83. Jumlah prevalensinya pun sulit untuk ditentukan karena gejala klinisnya yang bervariasi dan diagnosis yang jarang dibuat oleh para petugas medis.000. Hal ini mungkin disebabkan tidak adanya survei mengenai bronkiektasis. Suatu penelitian yang dilakukan di tahun 2005 memperkirakan setidaknya terdapat 110.[7] Total prevalensi bronkiektasis di negara United State baik itu anak-anak maupun dewasa berkisar sekitar 520 dari 1.0 %) yang menderita bronkiektasis.[8] Walaupun demikian terdapat penelitian yang membuktikan adanya penurunan tingkat kejadian bronkiektasis akibat peningkatan jumlah penggunaan antibiotik dan peningkatan kepedulian terhadap kesehatan anak-anak. Pada era itu bronkiektasis mulai muncul pada usia kanak-kanak.000 mengalami bronkiektasis.000. Dari datadata yang berhasil dikumpulkan menunjukan bahwa tingkat prevalensi tertinggi pasien yang terdiagnosis bronkiektasis bukan dikarenakan cystic fibrosis rata-rata berjenis kelamin perempuan. gejala yang tidak terlalu khas dari penyakit bronkiektasis dan penyakit yang ringan sehingga sering tidak terdiagnosis.000.[8] Tingkat kejadian bronkiektasis yang bukan disebabkan oleh cystic fibrosis sangat sulit untuk ditentukan.000 pasien dewasa di United State yang menderita bronkiektasis. [1] Di era preantibiotik tingkat kejadian bronkiektasis sama seperti atau lebih sering dibandingkan tuberkulosis dan muncul di 92% kasus bronkitis kronik. Penelitian lain yang dilakukan secara retrospektif terhadap 144 anak di Australia dengan batuk berdahak yang kronik menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami batuk berdahak dan tidak kunjung sembuh setelah empat minggu menjalani terapi antibiotik oral memiliki kemungkinan 20 kali lebih tinggi menderita bronkiektasis.8 %) menderita bronkiektasis.

Dalam era preantibiotik. di negara maju.[7] CF adalah penyebab tunggal terbesar dari infeksi paru-paru kronis dan bronkiektasis di negara-negara industri.[8] Saat ini tidak ada data yang sistematis tersedia pada kejadian atau prevalensi bronkiektasis.[7][8][9] Data terbaik yang tersedia menunjukkan bahwa prevalensi bronkiektasis mencerminkan kondisi sosial ekonomi penduduk yang diteliti. Sebuah teori umum adalah bahwa munculnya vaksin dan antibiotik dalam abad ke-20 mengakibatkan penurunan tingkat bronkiektasis di negara-negara maju. terutama di negara-negara dengan akses terbatas ke perawatan medis dan terapi antibiotik. Jumlah pasien bronkiektasis di Australia tahun 2010-2011 yang dirawat berdasarkan etiologi. dengan prevalensi secara signifikan lebih rendah di daerah dimana imunisasi dan antibiotik yang tersedia. onset terjadinya bronkiektasis telah pindah ke masa dewasa sekitar usia 60-80 tahun. Bronkiektasis tetap menjadi penyebab utama morbiditas di negara-negara berkembang.Gambar. gejala biasanya mulai pada dekade pertama kehidupan. [9] Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 5 . kecuali pada anak-anak dengan CF. dan hal ini terus berlaku di negaranegara berkembang. Sumber: AIHW National Hospital Morbidity Database. Saat ini.

Selain itu reaksi alergi seperti alergi bronkopulmonar aspergilosis (ABPA) yaitu reaksi hipersensitif terhadap Aspergilus spp. limfadenopati. imunologik dan anatomik yang mengenai saluran napas. [3] Penyebab tersering adalah cystic fibrosis. kelainan imun. yang mungkin disebabkan karena kasus ini memiliki perjalanan penyakit yang lambat sehingga pencetus penyakit ini sulit untuk diidentifikasi. nutrisi yang buruk dan HIV dapat meningkatkan resiko terjadinya bronkiektasis. seperti yang tercantum dalam tabel 1. Di negara berkembang kebanyakan kasus diffuse bronchiectasis terjadi karena tuberculosis.[3] Bronkiektasis difus sering terjadi pada pasien dengan kelainan genetik. dan lain sebagainya. Penyebab yang paling sering adalah cystic fibrosis.BAB IV ETIOLOGI Penyebab terjadinya bronkiektasis adalah adanya infeksi di bronkial dan inflamasi yang kronik di saluran nafas. tumor. yang umunya sering terjadi pada pasien asma. beberapa kasus muncul sebagai kasus idiopatik. imunodefisiensi.[3] Bronkiektasis fokal biasanya terjadi karena adanya penyakit pneumonia yang tidak diterapi dan adanya penyumbatan seperti contohnya benda asing.[1][2][3] Brokiektasis dapat terjadi pada beberapa area di paru yang disebut sebagai bronkiektasis difus.[4] Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 6 . infeksi berulang dan beberapa kasus dapat penyebabnya idiopatik. yang memiliki progresifitas terhadap kerusakan paru. jumlah kasus ini bertambah sehingga memudahkan dalam mengidentifikasi penyebab dari kelainan yang sebelumnya dianggap sebagai kasus idiopatik tersebut. namun juga dapat terjadi pada pasien cyctic fibrosis dapat berkontribusi dalam menyebakan bronkiektasis. adanya kelainan kongenital pada kemampuan mukosiliar dalam membersihkan saluran napas seperti pada sindrom primary cilliary dyskinesia (PCD) dan penyakit autoimun seperti rheumatoid arthritis dan sindrom Sjogren. Namun dengan berkembangnya tes genetik dan imunologik yang semakin canggih. ataupun dapat terjadi pada satu atau dua area di paru yang disebut sebagai bronkiektasis fokal.[2][3] Di negara berkembang.

Faktor-Faktor Pemicu Bronkiektasis Kategori Infeksi Contoh Bakteri Bordetella pertussis Haemophilus influenzae Klebsiella spp. sinusitis.Tabel 1. otitis media dan infertiliti pada pria 50% pasien dengan primary ciliary dyskinesia memiliki situs inversus Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 7 . Moraxella catarrhalis Mycoplasma pneumoniae Pseudomonas aeruginosa Staphylococcus aureus Fungal Aspergillus spp. Histoplasma capsulatum Mycobacterial Mycobacterium tuberculosis Nontuberculous mycobacteria Virus Adenovirus Herpes simplex virus Influenza Measles Respiratory syncytial virus Kelainan Kongenital Kekurangan α1Antitrypsin Jika sudah parah dapat menyebabkan bronkiektasis Kelainan siliar Dpat menyebabkan bronkiectasis.

lebih sering pada laki-laki dan pasien yang telah lama menderita RA Sjögren syndrome Peningkatan produksi mukus yang memicu terjadinya penyumbatan. sulit dalam membersihkan saluran napas dan infeksi kronik. Inflammatory bowel disease Komplikasi bronkopulmonari terjadi setelah onset inflammatory bowel disease sebesar 85% kasus dan sebelum onset sekitar 10 -15% kasus Bronkiektasis lebih sering terjadi pada pasien ulcerative colitis dan Crohn disease Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 8 . situs inversus) Cystic fibrosis Adanya sekresi mukus berlebih karena adanya kelainan pada transport Na+ dan ClSering terjadi komplikasi karena adanya kolonisasi P. aeruginosa atau S. aureus. penyakit sinus.Kartagener syndrome (trias : dextrocardia. SLE Bronkiectasis terjadi pada 20% pasien dengan mekanisme yang masih belum jelas. Imunodefisiensi Primer Penyakit granuloma kronik Kekurangan komplemen Hypogammaglobulinemia Sekunder HIV Imunosupresan Obstruksi jalan napas Kelainan jaringan penyokong dan sistemik Kanker Lesi endobronkial Kompresi ekstrinsik Massa tumor atau limfadenopati Benda asing Teraspirasi atu intrinsik (co: bronkolit) Impaksi mukoid Allergic bronchopulmonary aspergillosis Postoperatif Reseksi lobar RA Paling sering menyebabkan bronkiektasis.

Meskipun bukan penyebab utama dari bronkiektasis. P. Infeksi adalah penyebab yang paling umum dari bronkiektasis di negara berkembang sebelum meluasnya penggunaan antibiotik dan dimana antibiotik digunakan secara tidak konsisten. aeruginosa sering menyebabkan infeksi bronkial kronis pada pasien dengan non-CF bronkiektasis melalui mekanisme yang melibatkan pembentukan biofilm dan pelepasan faktor virulensi. The New England Journal of Medicine 346: 1383–1393.  Infeksi Bronkiektasis adalah hasil akhir dari infeksi yang tidak diobati dengan tepat atau tidak diobati sama sekali. Organisme yang ditemukan paling sering adalah spesies Haemophilus (47-55% pasien) dan spesies Pseudomonas (18-26% pasien). Mycobacterium avium complex (MAC) merupakan infeksi yang memiliki kecenderungan terjadi pada penderita human immunodeficiency virus (HIV) atau pada orang-orang yang imunokompeten. AF: Bronchiectasis. banyak dari organisme yang sama berkoloni di bronkus yang rusak tersebut dan dapat menyebabkan kekambuhan dan infeksi episodik.[3] Infeksi virus syncytial pernafasan pada masa kanakkanak dapat juga menyebabkan bronkiektasis. Hal ini menunjukkan bahwa spesies Pseudomonas dapat mendukung Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 9 . 2002.Kelainan struktural kongenital Relapsing polychondritis — Limfatik Yellow nail syndrome Trakeobronkial Williams-Campbell syndrome (kekurangan kartilago) Trakeobronkomegali (co: Mounier-Kuhn syndrome) Inhalasi toksin Vaskuler Pulmonary sequestration Amonia Secara langsung merusak struktur dan fungsi saluran Klorin Nitrogen dioksida Lain-lain Transplantasi Sekunder pada infeksi yang berulang pada pasien imunosupresan Dikutip dari : Barker. Setelah bronkiektasis terjadi.

stenosis bronkial akibat infeksi. asam lambung. membedakan kondisi ini dari penyebab lain dari bronkiektasis. Fitur lain dari ABPA termasuk eosinofilia.[4] Cystic fibrosis CF adalah gangguan multisistem yang mempengaruhi sistem transportasi klorida dalam jaringan eksokrin. dan bukti imunologi dari reaksi terhadap spesies Aspergillus. polip hidung atau sinusitis.Sebuah varian dari kondisi ini. terutama infeksi P aeruginosa.[4] Cacat bawaan anatomi Bronkiektasis dapat hasil dari berbagai cacat anatomi bawaan. peningkatan imunoglobulin E (IgE) tingkat. aspirasi makanan yang tidak terkunyah dengan benar atau sesuatu yang berasal dari perut. dan bronkiektasis dalam pengaturan silia immotile dari  saluran pernapasan.[2][3] Obstruksi bronkus Bronkiektasis postobstruktif fokal dapat terjadi karena beberapa hal seperti tumor endobronkial. Hal ini dapat menyebabkan kurangnya pembersihan mukosiliar. bronkiektasis. infeksi paru berulang dan akhirnya bronkiektasis. ABPA harus dicurigai pada pasien dengan batuk produktif yang juga memiliki riwayat gejala asma yang tidak berespon terhadap terapi konvensional. Bronkiektasis yang terkait dengan CF diyakini terjadi akibat penyumbatan lendir di  saluran napas proksimal dan infeksi paru kronis.500 di Amerika Serikat. CF dan variannya adalah penyebab paling umum dari bronkiektasis di Amerika Serikat dan negara-negara industri lainnya. broncholithiasis. Penyerapan bronkopulmonalis adalah kelainan kongenital diklasifikasikan sebagai intralobar atau Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 10 .proses perkembangan penyakit dan infeksi dari spesies ini dapat menyebabkan  perburukan pada fungsi paru-paru dan meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Pada orang dewasa. termasuk makanan. mencakup trias klinis situs inversus.  dan respon terhadap kortikosteroid terapeutik. Bronkiektasis yang dihasilkan berdinding tipis dan mempengaruhi paru daerah pusat/ tengah. dan  mikroorganisme. CT scan thoraks menunjukkan bronkiektasis napas pusat.[3][4] Alergi aspergillosis bronkopulmonalis Alergi bronchopulmonary aspergillosis (ABPA) adalah reaksi hipersensitivitas terhadap antigen Aspergillus dihirup yang ditandai dengan bronkospasme. aspirasi benda asing dan lain sebagainya. [4] Ciliary primer dyskinesia Ciliary dyskinesia primer adalah sekelompok kelainan bawaan yang memiliki manifestasi immotile atau diskinesia silia. aspirasi benda asing sering terjadi pada pasien dengan perubahan status mental. awalnya dijelaskan oleh Kartagener. CF adalah penyakit resesif autosomal yang mempengaruhi sekitar 1 dari 2.

termasuk bronkiektasis. Sindrom Marfan adalah gangguan jaringan ikat.[3] Paparan gas beracun Paparan gas beracun mungkin sering menyebabkan kerusakan permanen pada saluran napas bronkus dan bronkiektasis kistik. [2][3][4] Alpha1-antitrypsin (AAT) defisiensi Patogenesis bronkiektasis dalam akibat rendahnya alpha1-antitrypsin masih belum jelas. Agen umum terlibat mencakup gas klorin dan amonia. Swyer-James sindrom (unilateral hiperlusen paru) adalah gangguan perkembangan yang mengarah ke bronchiolitis  unilateral. Sindrom Mounier-Kuhn (tracheobronchomegaly) adalah gangguan langka yang ditandai dengan pelebaran trakea dan bronkus segmental (bronkiektasis sentral). dan gangguan inflamasi idiopatik.[3] Penyakit autoimun Penyakit autoimun. Traksi bronkiektasis cenderung memiliki distribusi lobus atas dalam kasus fibrosis radiasi dan sarcoidosis. kelemahan jaringan ikat dinding bronkus  merupakan predisposisi terjadinya bronkiektasis. sedangkan lobus bawah didominasi terlibat dalam kasus penyakit paru interstitial / fibrosis paru idiopatik (ILD /  IPF).Bronkiektasis pada pasien dengan sindrom Sjögren menunjukan adanya peningkatan viskositas lendir.[3] Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 11 . Penyakit paru dapat terjadi sebelum terjadinya proses rheumatik.extralobar dan menghasilkan infeksi saluran pernapasan kronis yang lebih rendah dalam menyebabkan bronkiektasis. gangguan jaringan ikat. Rheumatoid arthritis dikaitkan dengan bronkiektasis dalam dilaporkan 3. Systematic lupus erythematosus dapat hadir dengan berbagai patologi paru.[3] Traksi dari proses lainnya Traksi bronkiektasis adalah distorsi dari saluran napas/ bronkus akibat dari adanya fibrosis parenkim paru sekitarnya. hiperinflasi dan bronkiektasis. yang dilaporkan pada 21% pasien dalam satu seri. namun diyakini bahwa kelainan AAT membuat pasien lebih rentan terhadap infeksi  saluran pernapasan dan kerusakan bronkus berikutnya. Sindrom Williams-Campbell (defisiensi kartilago kongenital) adalah tidak adanya tulang rawan dari segmen lobar generasi pertama sampai kedua sehingga menghasilkan bronkiektasis perifer yang luas.2-35% pasien dan patologi bronkiektasis dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi pada pasien.

[3] Kolonisasi mikroorganisme tersebut kemudian menyebabkan rusaknya epitelium pada kondisi kronik. varikosa atau distensi sistik dengan hancurnya struktur jaringan sekitar. [2] Hal ini akan memicu terjadinya gangguan dari fungsi mukosiliar dalam membersihkan mukus dari saluran napas menyebabkan mukus tertahan di saluran napas dan dapat menjadi tempat untuk infeksi saluran napas lainnya. [2] Kelainan ini diawali dengan adanya penyempitan di cabang bronkial yang dipicu oleh suatu infeksi. dimana mikroorganisme berkolonisasi di permukaan mukosa saluran napas membentu suatu lapisan yang disebut biofilm untuk melindungi diri dari sistem imun manusia dan menjadi media untuk pertumbuhan mikroorganisme tersebut atau mikroorganisme lain.BAB V PATOFISIOLOGI Bronkiektasis adalah dilatasi saluran napas yang abnormal dan permanen yang disebabkan adanya kerusakan pada otot dan jaringan ikat elastis. [2] Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 12 . dan pada pemeriksaan histologi akan tampak gambaran metaplasia dari epitelium sel skuamosa. [2] Jaringan parenkim sekitar terinfiltrasi oleh sel inflamatori. Rusaknya jaringan sekitar menyebabkan dilatasi dalam bentuk silindrikal. [2] Kemudian penebalan mukosa bronkial akan terjadi.

Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 13 .

Gambar. Patofisologi Bronkiektasis Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 14 .

sindrom Young atau pada pan bronkiolitis difus. [7] Perdarahan biasanya berasal dari arteri bronkial dilatasi. Hemoptisis terjadi pada 56-92% pasien dengan bronkiektasis. dengan total sputum harian kurang dari 10 mL didefinisikan sebagai bronkiektasis ringan. mengi. Gejala yang kurang spesifik meliputi dyspnea (72%). Hal ini sering menjadi faktor yang menyebabkan pasien untuk berkonsultasi dengan dokter. cachexia.[3] Pada pemeriksaan fisik. diskinesia siliar primer. Hemoptisis umumnya ringan dan berupa bintik-bintik darah di dahak pasien. Hemoptisis biasanya timbul pada bronkiektasis tipe kering (tidak ada produksi sputum berlebih). dan pada kasus yang sangat parah dapat ditemukan adanya clubbing finger. kelemahan (73%) . demam. 10-150 mL didefinisikan sebagai bronkiektasis moderat. tanda-tanda kegagalan napas atau cor polmunale. yang mengandung darah pada tekanan sistemik. ronki atau mengi. namun dapat juga ditemukan adanya crackles. namun gejala yang paling klasik adalah adanya batuk kronik dan adanya produksi dari dahak (mukus. Namun sekarang ini yang paling sering digunakan sebagai alat klasifikasi bronkiektasis adalah hasil radiografi.[3] Manifestasi klinis eksaserbasi bronkiektasis akut yang disebabkan oleh infeksi bakteri ditandai adanya perubahan karakteristik sputum berupa timbulnya peningkatan produksi Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 15 . nyeri dada pleuritik intermitten (19%-46%) apabila pleura visceral terkena infeksi. pada sekitar 70% pasien bronkiektasis.BAB VII MANIFESTASI KLINIS Manifestasi klinis bronkiektasis sangat bervariasi.mukopurulen atau purulen sputum) yang terjadi setiap hari dan berlangsung berbulan-bulan hingga bertahuntahun. dan penurunan berat badan hingga adanya hemoptisis yang terjadi akibat kerusakan jalan napas berhubungan dengan infeksi akut. Batuk adalah gejala yang sangat sering dikeluhkan dan mungkin adalah satu–satunya gejala yang dikeluhkan pasien yang terjadi selama bertahun–tahun. Bronkiektasis kering biasanya merupakan sekuele (gejala sisa) dari tuberkulosis yang sering ditemukan di lobus atas.[3] Zaman dahulu jumlah total sputum harian digunakan untuk kriteria tingkat keparahan bronkiektasis. Gejala lainnya yang dapat munul seperti sinusitis terutama pada pasien cystic fibrosis. dan lebih besar dari 150 mL didefinisikan sebagai bronkiektasis berat.defisiensi imun primer. terutama pemeriksaan auskultasi paru dapat ditemukan keadaan paru dalam keadaan normal. sekitar 98% pasien bronkiektasis memiliki gejala batuk produktif kronik.

peningkatan kekentalan sputum. Eksaserbasi yang sangat parah dapat ditandai dengan adanya takipneu.[3] Selain itu juga adanya peningkatan keparahan gejala-gejala penyerta lainnya seperti bertambah parahnya sesak. demam lebih dari 38oC. Eksaserbasi akut ini dapat terjadi dikarenakan adanya penambahan jumlah kolonisasi bakteri yang menginfeksi atau adanya bakteri baru sehingga memicu terjadinya gejala-gejala eksaserbasi tersebut.sputum. lebih purulen. batuk. penurunan berat badan dan sakit dada pleuritik. penurunan saturasi oksigen dan fungsi paru. ketidakstabilan hemodinamik dan gagal napas.anorexia.[6] Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 16 .hiperkapni.asthenia. demam. kadang-kadang sputum berbau busuk dan adanya hemoptisis.

Temuan khas dan spesifik adalah adanya anemia dan jumlah sel darah putih dengan peningkatan persentase neutrofil. termasuk spesies Pseudomonas dan Escherichia coli.[3] Bronkiektasis yang disebabkan oleh cystic fibrosis (CF). atau infeksi jamur kronis cenderung mempengaruhi lobus atas. Keterlibatan lobus kanan tengah saja menunjukkan disfungsi anatomi. Peningkatan eosinofil merupakan salah satu kriteria untuk ABPA. sebagai berikut:  Bronkiektasis akibat infeksi umumnya (nontuberkulosis mycobacteria) melibatkan lobus lebih rendah. melakukan pemeriksaan penunjang pencitraan seperti x-ray atau CT scan ( sebagai pemeriksaan penunjang yang paling dianjurkan/ standard kriteria diagnostik bronkiektasis).[4] Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 17 . infeksi Mycobacterium tuberculosis. dan lingula. Kehadiran eosinofil dan bercak keemasan mengandung hifa menunjukkan spesies Aspergillus. atau penyebab neoplastik dengan obstruksi mekanik  sekunder.[4] Pemeriksaan darah komplit juga dapat dilakukan pada pasien dengan bronkiektasis. sedangkan sebagian besar bentuk lain dari bronkiektasis melibatkan segmen bronkial distal. lalu dapat dilanjutkan dengan analisis sputum untuk memperkuat kecurigaan klinis.BAB VIII DIAGNOSIS Dalam mendiagnosis bronkiektasis hal yang diperlukan adalah memperhatikan gejala klinis seperti produksi sputum yang banyak setiap harinya disertai batuk yang kronik (lebih mendukung apabila pasien mempunyai penyakit paru yang kronis). Hasil dari pewarnaan gram stain dan kultur sputum dapat membantu dalam membuktikan mikroorganisme penyebab bronkiektasis.[9][10] Distribusi anatomi bronkiektasis juga dapat membantu proses pembuatan diagnosa berdasarkan kondisi atau penyebab bronkiektasis.[3] Analisis sputum dapat memperkuat diagnosis bronkiektasis dan menambahkan informasi yang signifikan tentang etiologi potensial.[3] Bronkiektasis akibat aspergillosis bronkopulmonalis alergi (ABPA) juga mempengaruhi lobus atas tetapi biasanya melibatkan bronkus pusat. lobus kanan tengah. meskipun hal  ini tidak universal di CF.

Keuntungan dari HRCT scanning termasuk tidak invasif. kistik dan varikos. memiliki gambaran dilatasi bronkial / tanda signet-ring (bronkoarterial rasio) terdiri dari bronkus dipotong melebar di bagian horisontal dengan arteri pulmonalis yang berdekatan dengan lumen bronkus biasanya 1-1.[3] Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 18 . jika diameter lebih besar 1. Namun. Selain itu juga perlu diperhatikan riwayat keluarga. bronkiektasis dapat dilihat pada pasien defisiensi antibodi tapi memiliki nilai IgG normal hingga rendah.[3] Bronkiektasis sistik memiliki gambaran ruang kistik besar dan adanya tampakan seperti sarang lebah (honeycomb).[4] Pemeriksaan tingkat kuantitatif serum alpha1-antitrypsin (AAT) dapat digunakan untuk menyingkirkan defisiensi AAT. tampak daerah  dilatasi dan daerah konstriksi. hal ini kontras dengan emfisema. perlu diketahui bahwa pada kesempatan langka. termasuk IgG.[4] CT scan terutama resolusi tinggi CT (HRCT) scanning dada. menghindari reaksi alergi dan informasi mengenai proses paru lainnya.Kadar imunoglobulin kuantitatif. pemeriksaan serum dan onset pada usia dini (< 45 tahun) dan tidak adanya faktor risiko seperti merokok.5 kali dari saluran yang terdekat maka dapat diartikan bahwa telah terjadi bronkiektasis. HRCT dapat memvisualisasikan 3 bentuk bronkiektasis dalam klasifikasi Reid yaitu gambaran bronkiektasis silinder. gambaran klinis emfisema yang dapt terjadi pada pasien defisiensi AAT. IgM dan IgA berguna dalam menyingkirkan hipogamaglobulinemia. CT scan memiliki sensitivitas 84-97% dan spesifisitas 82-99%. yang memiliki dinding tipis dan tidak disertai kelainan saluran napas proksimal. Kadar total serum IgE yang lebih besar dari 1000 IU / mL atau meningkat 2 kali lipat atau lebih dari semula merupakan kriteria diagnosis ABPA.[3] Berikut ini adalah aspek penting yang dapat kita lihat pada hasil pemeriksaan CT scan:  Bronkiektasis silinder memiliki jalur paralel trem trek. telah menggantikan bronchography sebagai modalitas mendefinisikan bronkiektasis.  tidak adanya gambaran tapering pada bronkial [3] Bronkiektasis varikos memiliki gambaran bronkus yang tidak teratur. terpapar polusi kerja.5 kali lebih besar dari saluran yang berdekatan.[3][4] Tes skrining untuk autoimun seperti faktor reumatoid dan antibodi antinuclear assay (ANA) juga dapat dipertimbangkan.

B Bronkiektasis Varikosa Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 19 . trakeobronkomegali. obstruksi bronkial dan empisema et causa rendahnya konsentrasi αantitripsin.CT scan juga dapat mengidentifikasi etiologi seperti kelainan kongenital. Bronkiektasis Silindris. situs inversus. [3] Gambar A.

atelektasis. bronkus tampak melebar pada bronkiektasis varikos. dan kista berkerumun pada bronkiektasis kistik. Selain itu. dan perubahan pleura. Gambarab spesifik yang dapat dilihat adalah adanya garis linear lusen dan corakan paralel memancar dari hilus (trem line) pada bronkiektasis silindris. sarang lebah.[8] Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 20 .Pemeriksaan radiografi foto thoraks posterior-anterior dan lateral akan tampak gambaran umum seperti peningkatan corak bronkovaskular. Bronkiektasis Sistik Tes fungsi paru (spirometri) berguna dalam penilaian fungsional pasien adakah penurunan fungsi paru pada pasien. yang bahkan mungkin ditemukan pada pasien tanpa riwayat merokok sebelumnya. Gabungan antara gejala klinis yang digali secara tepat dan hasil radiografi dada sudah cukup untuk mengkonfirmasikan diagnosis bronkiektasis. pasien dengan bronkiektasis memiliki rasio lebih tinggi dibandingkan pasien tanpa bronkiektasis dalam penurunan tahunan volume ekspirasi paksa dalam 1 detik (FEV1).[10] Gambar. Kelainan yang paling umum adalah cacat saluran napas obstruktif.

prosedur ini membawa risiko bronkokonstriksi akut. Dalam praktek saat ini. tetapi mungkin berguna dalam mengidentifikasi kelainan yang mendasari. bronkografi hanya digunkan dalam mengkonfirmasikan lokasi bronkiektasis fokus dan tidak termasuk penyakit di tempat lain.Gambar .[9] Gambar Bronkografi Bronkoskopi umumnya tidak membantu dalam mendiagnosis bronkiektasis. seperti tumor. Bronkografi dilakukan dengan cara menanamkan bahan kontras melalui kateter atau bronkoskop dan melakukan pencitraan radiografi polos. benda Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 21 . Ini harus dilakukan hanya dengan fasilitas dan oleh operator terampil dalam penggunaannya. Tingkat Keparahan Bronkiektasis Berdasarkan Hasil Spirometri Bronkografi merupakan suatu pemeriksaan untuk melihat keadaan bronkus.

asing. Bronkoskopi dengan lavage bronchoalveolar dapat digunakan untuk mendapatkan spesimen untuk pewarnaan dan kultur ketika etiologi infeksi primer atau infeksi sekunder dicurigai.[10] Gambar. atau lesi lainnya. Algoritma Diagnosis Bronkiektasis Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 22 .

mengurangi komplikasi. dan oksigen atau terapi bedah. asupan gizi yang memadai dengan suplemen. Antibiotik telah menjadi andalan pengobatan selama lebih dari 40 tahun. Pilihan antibiotik untuk rawat jalan yang ringan sampai sedang diantaranya: amoksisilin. [7][8] Antibiotik oral. parenteral. Antibiotik dan fisioterapi dada adalah modalitas utama. tergantung pada keadaan klinis. terapi kortikosteroid.[11] Pasien eksaserbasi parah bronkiektasis dapat diterapi dengan antibiotik intravena. manajemen kondisi yang mendasari. Pasien dengan bronkiektasis dari CF sering terinfeksi dengan spesies Pseudomonas berlendir tobramisin sering obat pilihan untuk eksaserbasi akut. rubeola. sefalosporin generasi kedua atau fluorokuinolon. seperti aminoglikosida (gentamisin. Untuk Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 23 . dan pertusis. mengontrol eksaserbasi. jika waktu dan situasi klinis memungkinkan. mencegah hilangnya fungsi paru. agen antibakteri spektrum luas umumnya lebih disukai. Secara umum. dan terapi oksigen disediakan untuk pasien yang hipoksemia dengan penyakit dan stadium akhir komplikasi berat. Dalam eksaserbasi akut. suplemen makanan. mengurangi morbiditas dan mortalitas dan membantu penderita untuk memperoleh kualitas hidup yang baik. termasuk aspek gizi dan psikologis. Modalitas lain yangdapat dilakukan termasuk bronkodilator. Selain itu. Berikut adalah angkah-langkah umum yang disarankan kepada penderita bronkiektasis seperti: berhenti merokok. sefalosporin generasi ketiga. trimethoprim-sulfamethoxazole. sangat penting untuk pengobatan secara keseluruhan.BAB IX TERAPI Tujuan utama dari terapi brokiektasis adalah untuk memperbaiki atau mengurangi gejala. tobramisin) dan penisilin sintetik antipseudomonal. antibiotik parenteral. dan aerosol yang digunakan. durasi terapi antibiotik untuk penyakit ringan moderat 7-10 hari. [9] Untuk pasien dengan gejala sedang sampai berat. atau fluorokuinolon. Namun. Pasien dengan cystic fibrosis (CF) harus dirawat di pusat pengobatan CF khusus yang menangani semua aspek dari penyakit. tetrasiklin. seperti kor pulmonal. azitromisin atau klaritromisin). jika perlu imunisasi untuk influenza dan pneumonia pneumokokus. [1] Pengenalan dini sangat penting dalam bronkiektasis dan kondisi terkait. yang mungkin termasuk penggunaan imunoglobulin intravena atau terapi intravena alpha1-antitrypsin (AAT). macrolide baru (misalnya. dapat diindikasikan. bronkodilator dan fisioterapi agresif. pengambilan sampel sekresi pernapasan selama eksaserbasi akut memungkinkan pengobatan dengan antibiotik berdasarkan identifikasi spesies tertentu. campak.

menurunan kepadatan sputum dan menurunkan tingkat mediator inflamasi Azitromisin telah dikenal memiliki sifat antiinflamasi dan penggunaan jangka panjang telah dipelajari pada pasien dengan CF maupun Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 24 . Perangkat yang tersedia untuk membantu dalam pengeluaran sputum termasuk perangkat bergetar. Namun. termasuk beta-agonis dan antikolinergik. Namun. streptomisin dan dilanjutkan sampai hasil kultur pasien negatif selama 1 tahun. Tidak ada studi yang signifikan telah meneliti penggunaan jangka panjang antibiotik inhalasi pada pasien dengan non-CF bronkiektasis Pembersihan saluran bronkial adalah yang terpenting dalam pengobatan bronkiektasi. rifampisin. Aerosol DNase rekombinan telah terbukti bermanfaat bagi pasien dengan CF. Selain itu juga gentamisin dan colistin juga telah digunakan . etambutol. [6] Hal ini terutama bermanfaat dalam mengobati pasien dengan infeksi kronis dari P aeruginosa. antibiotik yang paling banyak digunakan untuk nebulasi adalah tobramycin. Mukolitik seperti acetylcysteine. Enzim ini memecah DNA dirilis oleh neutrofil. leukotrien inhibitor dan agen anti-inflamasi nonsteroid mampu menurunkan volume sputum. kortikosteroid oral. untuk pasien dengan bronkiektasis CF atau non-CF penyebab bronkiektasis. memperbaiki bronkospasme pada saluran napas yang hiperreaktivitas dan meningkatkan pembersihan mukosiliar. dapat membantu beberapa pasien dengan bronkiektasis.[8] Bronkodilator. Kortikosteroid inhalasi. juga sering dicoba walaupun tidak memperbaiki kondisi pasien terlalu banyak. meningkatkan volume ekspirasi paksa dalam 1 detik (FEV1). American Thoracic Society merekomendasikan rejimen pengobatan 3 sampai 4-obat dengan klaritromisin. Saat ini. Alasan terapi anti-inflamasi untuk memodifikasi respon inflamasi yang disebabkan oleh mikroorganisme dan mengurangi jumlah kerusakan jaringan. dan spirometri insentif. perbaikan belum definitif ditunjukkan pada pasien dengan bronkiektasis dari penyebab lain. yang menumpuk di saluran udara sebagai respon terhadap infeksi bakteri kronis. Drainase postural dengan perkusi dan getaran digunakan untuk melonggarkan dan memobilisasi sekresi. Dalam beberapa tahun terakhir.pengobatan MAC dalam pengaturan bronkiektasis. penggunaan nebulasi antibiotik memperoleh lebih banyak perhatian karena mampu memberikan konsentrasi yang relatif tinggi obat lokal dengan relatif sedikit efek samping sistemiknya. [8] Nebulization yang memiliki konsentrasi solusi natrium klorida dapat membantu pasien dengan bronkiektasis CF. Durasi terapi sekitar 18-24 bulan. mempertahankan hidrasi umum yang memadai dapat meningkatkan viscidity sekresi. perangkat ventilasi perkusi intrapulmonic.

Pada pasien CF metaanalisis menunjukkan bahwa hal itu meningkatkan fungsi paru-paru. Pada pasien non-CF.non-CF bronkiektasis.[3][8][9] Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 25 . terutama pada pasien dengan koloni Pseudomonas. azitromisin telah terbukti menurunkan eksaserbasi dan meningkatkan spirometri dan mikrobiologis profil.

dan bukti hipoksemia atau hiperkapnia. status fungsional.[10] Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 26 . dan PPOK adalah 28%. Sebuah studi dari 400 pasien pada tahun 1940 mengungkapkan angka kematian lebih dari 30%. melaporkan tingkat kematian akibat bronkiektasis 13% setelah diagnosis. dan pasien paling sering meninggal dalam waktu 5 tahun setelah timbulnya gejala. empiema.Pada akhir 1990-an. mortalitas tinggi. Secara keseluruhan. abses paru. 20%. Sebuah studi di tahun 2007 pada pasien dengan non-CF bronkiektasis menemukan bahwa angka kematian yang lebih tinggi dikaitkan dengan usia lanjut. para peneliti di Finlandia melaporkan tidak ada kematian meningkat pada pasien dengan bronkiektasis dibandingkan pasien dengan asma atau penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). kunjungan dokter secara teratur dan indeks massa tubuh (apabila memiliki berat badan lebih tinggi dibandingkan awal. tetapi bervariasi dengan kondisi yang mendasari atau predisposisi. pasien dapat bertahan dan mampu memliki kondisi yang baik jika mereka mematuhi semua rejimen pengobatan dan praktek rutin strategi pengobatan pencegahan. Secara umum. hasil radiografi. memiliki prognosis lebih baik dan dapat menurunkan mortalitas). Komplikasi umum yang sering terjadi diantaranya pneumonia berulang yang membutuhkan rawat inap. vaksinasi) penyakit. mengingat kesulitan dalam mengidentifikasi prevalensi dan kurangnya studi definitif. kor pulmonal. angka kematian lebih sering berhubungan dengan gagal napas progresif dan kor pulmonal daripada infeksi yang tidak terkendali. Sebagai perbandingan.[9] Amiloidosis dan abses metastasis terjadi pada era preantibiotic tapi jarang ditemukan di era sekarang. Satu studi menemukan bahwa usia yang lebih tua dari 65 tahun dan tidak memperoleh terapi oksigen menjadi faktor risiko untuk hasil yang buruk pada pasien dengan bronkiektasis yang dirawat di unit perawatan intensif untuk kegagalan pernafasan. Bronkiektasis yang terkait dengan CF membawa prognosis yang lebih buruk. asma. Saat ini. setelah meluasnya penggunaan antibiotik . sebagian besar pasien meninggal dalam waktu 2 tahun dan lebih muda dari 40 tahun.[3][8] Tingkat kematian saat ini sulit untuk diperkirakan. perawatan pencegahan (yaitu. infeksi bronkial kronis dan pneumotoraks. prognosis untuk pasien dengan bronkiektasis yang baik. gagal napas progresif. dan 38%.. sebuah penelitian retrospektif pada tahun 1981. hemoptisis pun jarang terjadi. Tingkat kematian untuk bronkiektasis.BAB XI PROGNOSIS Di era preantibiotic.

tanpa memperbaiki keadaan saluran napas yang telah berubah kondisinya. menutup mulut ketika sedang batuk dan vaksinasi. banyak minum air putih ( untuk menjaga hidrasi tubuh sehingga sputum tidak semakin kental) dan menghindari berbagai macam produk tembakau (terkhusus rokok).BAB XII PENCEGAHAN Tindakan pencegahan untuk bronkiektasis termasuk sulit untuk dilakukan karena faktor resiko terjadinya bronkiektasis sendiri tidak dapat diketahui. dan bronkiektasis baru dapat diketahui apabila sudah dilakukan pemeriksaan diagnostik. [1] Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 27 . Akan tetapi apabila penyebabnya dapat diketahui dan dapat diperbaiki. Selain itu juga dapat diterapkan aktivitasaktivitas seperti olahraga aerobik yang teratur. Teknik-teknik perawatan tersebut seperti mencuci tangan dengan cara tepat.[1] Penatalaksanaan bronkiektasis hanya dapat memberikan efek berupa mengurangi tingkat keparahan dari gejala atau progresifitas penyakit yang diderita oleh pasien sehingga pasien merasa lebih nyaman dan dapat melakukan aktivitasnya sehari-hari tanpa gangguan dari fungsi pernapasan. Terdapat dua cara atau strategi yang dapat dilakukan dalam mencegah atau memperlambat progresifitas dari bronkiektasis yaitu upaya pembersihan sekresi saluran napas dan terapi yang tepat untuk infeksi paru-paru. [3] Teknik perawatan secara pribadi merupakan hal yang penting untuk diaplikasikan setiap harinya dalam pencegahan terjangkitnya suatu infeksi saluran napas atau infeksi berulang.[3][4] Bronkiektasis dapat diobati namun tidak dapat disembuhkan. pola makan yang seimbang. maka hal ini adalah salah satu tindakan yang baik dalam mencegah terjadinya bronkiektasis.

Dtsch Arztebl Int. Available from: http://www.Arch Bronconeumol.1:41-51. etiology and treatment of bronchiectasis. Respiratory tract. et al. Alexander S.pdf 7.com/professional/pulmonary_disorders/bronchiectasis_and _atelectasis/bronchiectasis. Elsevier. Suriano J.govt. Al Shimemeri A. Vol 41 no 11. Bronchiectasis : A Guide For Primary Care. Physiotherapy in Bronchiectasis.com/topics/pulmonology/bronchiectasis. MD. 2013 [cited 2014 Aug 4].adhb. Ratjen F.ca/diseases-maladies/a-z/bronchiectasisbronchiectasie/index_e. Pathogenesis. Starship’s Children Health Clinical Guideline. MD. 3.aihw. Available from: 2. Edward E.. 6. Australian. Canadian Lung Association. May 2009 vol 54 No 5. Bronkiektasis.108 (48):809(15) 5. Bronchiectasis. 2009.Diagnosis and Treatment. 34: 10111012. Eur Respir J. Available from : http://www.merckmanuals.nz/starshipclinicalguidelines/_Documents/Bronchiectasis%20%20Acute%20Respiratory%20Exacerbation. June 2014. Basak C. Respiratory care.gov. Rademacher J. 2008 . Ann Thorac Med [serial online] 2006 [cited 2014 Aug 3].clinicalkey. Vendrell M.lung. Available from: https://www.44(11) :629-40. 2012. 2011. Bronchiectasis-Acute Respiratory Exacerbation. Bronchiectasis. Welte T. AL-Shirawi N. Ilmu Penyakit Dalam |BRONKIEKTASIS 28 . Brian P.Bronchiectasis.au/bronchiectasis/ 9.html#253859 11.html 8. Available from : http://www. Available from : https://www. 4. 2012. Cystic Fibrosis : Pathogenesis and Future Treatment Strategies. Diagnosis and Treatment of Bronchiectasis. Bronchiectasis. Gracia M. AL-Jahdali HH.DAFTAR PUSTAKA 1. 2011. MD.php# 10.