You are on page 1of 18

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN

PNEUMOTHORAX

Disusun Oleh :

Dewi Astuti
(1002.14021.0 )
Dewi Rusdiani
(1002.14021.0 )
Dian Widiastutik
(1002.14021.0 )
Diana Tulaili
(1002.14021.0 )
Puput Eka Retnani
(1002.14021.0 )
Rika Heridayana
(1002.14021.0 )
Zaenudin Ahmad
(1002.14021.0 )
Thaariq syahrir damanggassi(1002.14021.072)

PRODI S1 ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIDYAGAMA HUSADA
MALANG
2011

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul Asuhan Keperawatan Pneumothorax ini dengan lancar. Penulisan
makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh
dosen matakuliah Medical Surgical Nursing (Respiratory System),Ns.Nurma
Afiani,S.Kep.
Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang
penulis peroleh dari buku panduan yang berkaitan dengan Asuan Keperawatan
Gangguan Sistem Pernapasan, serta infomasi dari media massa yang berhubungan
dengan Pneumothorax, tak lupa penyusun ucapkan terima kasih kepada pengajar
matakuliah MSN (Respiratory System) atas bimbingan dan arahan dalam
penulisan makalah ini. Juga kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah
mendukung sehingga dapat diselesaikannya makalah ini.

Malang, April 2011

Penulis

Daftar isi
Kata
pengantar
.............................................................................................................................
Daftar
isi
...................................................................................................................

Bab I
pendahuluan
1.1 latar Belakang...........................................................................................................
1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................................
1.3 Tujuan.......................................................................................................................

Bab II
Pembahasan
2.1 Definisi pancasila sebagai falsafah...........................................................................
2.2 Jenisjenis falsafah dan manfaatnya.........................................................................
2.3 Langkahlangkah dasar dalam falsafah....................................................................
2.4 Pandangan pancasila dalam falsafah.........................................................................

Bab III
Penutup
3.1 Kesimpulan.............................................................................................................
3.2 Saran.......................................................................................................................
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang

1.2 RUMUSAN MASALAH


1.
2.
3.
4.

Apa yang dimaksud dengan pneumothorax?


Apa etiologi dan patologi terjadinya pneumothorax?
Bagaimana patofisiologi dari pneumothorax?
Bagaimana asuhan keperawatan yang akan diberikan pada klien
pneumothorax?

1.3 TUJUAN PERMASALAHAN


Tujuan dari makalah ini antara lain:
1.
2.
3.
4.

Untuk mengetahui definisi pneumothorax.


Untuk mengetahui etiologi dan patologi pneumothorax terjadi.
Mengetahui patofisiologi pneumothorax.
Mengetahui asuhan keperawatan oneumothorax.

Bab II
Pembahasan
2.1 Pengertian
Pneumothoraks merupakan keadaan terdapatnya udara di dalam rongga pleura
.(askep gangguan pernapasan,2010)
Pneumotorax adalah terdapatnya udara dalam rongga pleura, sehingga paru-paru
dapat terjadi kolaps.

Pneumothoraks terbagi menjadi beberapa jenis:


a. Pneumothoraks terbuka
Pneumothoraks yang terjadi akibat adanya hubungan antara rongga pleura dan
bronkus dengan lingkungan luar.
b. Pneumothoraks tertutup
Rongga pleura tertutup tidak berhubungan dengan lingkungan luar.Udara yang
dulunya ada di rongga pleura(tekanan positif) karena di rearbsobsi dan tidak ad
hubungan dengan dunia luar maka tekanan udara menjadi negative.Tapi paru belum
berkembang penuh.Sehingga masih da rongga pleura yang tampak meskipun
kelihatannya normal.
c. Pneumothoraks ventil
Udara melalui bronkus terus ke percbangnnya dan menuju kea rah pleura yang
terbuka.Pada saat inspirasi,udara masuk ke rongga pleura
Pada waktu ekspirasi,udara yang masuk ke dalama rongga pleura tidak mau keluar
melalui lubang yang terbuka sebelumnya,bahkan udara ekspirasi yang semestinya
yang di hembuskan keluar dapat masuk kedalam rongga pleura.
2.2 Etiologi dan patogenesis pneumothorax
2.2.1 Etiologi
Saat
inspirasi,tekanan
intrapleura
lebih
negative
daripada
tekanan
intrabronkhial,sehingga paru lebih brekembang mengikuti dinding thoraks dan udara
di luar tekanannya nol(0) akan masuk ke bronkus hingga ke alveoli.
Saat ekspirasi dinding dada menekan rongga dada,sehingga tekanan intrapleura lebih
tinggi daripada tekanan alveolus,sehingga udara di tekan keluar dari bronkus.
Apabila dibagian perifer dari bronkus atau alveolus ada bagian yang lemah,bronkus
atau alveolus itu akan pecah atau robek.
2.2.2 Patogenesis
Pneumothoraks terjadi karena adanya kebocoran di bagian paru yang berisi udara
melalui robekan atau pecahnya pleura.Robekan ini berhubungan dengan
bronkus.Pelebaran alveoli kemudian membentuk suatu bullae yang disebut
granulamatous fibrosis.Granulamatous fibrosis adalah salah satu penyebab yang
sering terjadi pneumothoraks,karena bullae tersebut berhubungan dengan adanya
obstruksi empiema.
2.3Patofisiologi

Mengenai rongga toraks sampai


rongga pleura, udara bisa
masuk (pneumothorax)

Karena tekanan negative


intrapleuraMaka udara luar
akan terhisap masuk
kerongga pleura (sucking
wound)

Terjadi robekan Pembuluh Darah


intercostal, pembuluh darah
jaringan paru-paru.
Terjadi perdarahan :
(perdarahan jaringan
intersititium, perarahan
intraalveolar diikuti kolaps
kapiler kecil-kecil dan
atelektasi)

Tahanan perifer pembuluh paru naik


(aliran darah turun)

Oper penumothorax
Close pneumotoraks
Tension pneumotoraks

Ringan
kurang 300 cc ---- di punksi
Sedang
300 - 800 cc ------ di pasang
drain
Berat
lebih 800 cc ------ torakotomi

Tek. Pleura meningkat terus

Mendesak paru-paru
(kompresi dan dekompresi),
pertukaran gas berkurang

Sesak

napas yang progresif


-

Sesak napas yang progresif


(sukar bernapas/bernapas berat)
Bising napas berkurang/hilang
Bunyi napas sonor/hipersonor
Foto toraks gambaran udara
lebih 1/4 dari rongga torak

Nyeri
bernapas / pernafsan asimetris /
adanya jejas atau trauma
Nyeri
bernapas
Pekak
dengan batas jelas/tak jelas.
Bising
napas tak terdenga
Nadi
cepat/lemah
Anemis
/ pucat
Poto
toraks 15 - 35 % tertutup
bayangan

WSD/Bullow Drainage

Terdapat luka pada WSD


Nyeri pada luka bila untuk
bergerak
Ketidak efektifan pola
pernapasan
Inefektif bersihan jalan napas

Kerusakan integritas kulit


Resiko terhadap infeksi
Perubahan kenyamanan :
Nyeri perawatan WSD harus
diperhatikan.
Gangguan
mobilitas fisik
Potensial
Kolaboratif
:
Atelektasis dan Pergeseran
mediatinum

2.4 Manifestasi Klinis dan Pemeriksaan Penunjang


2.4.1 Manifestasi Klinis :
a. Sesak napas yang progresif
b. Nyeri bernapas / pernafsan asimetris / adanya jejas atau trauma
c. Pekak dengan batas jelas/tak jelas.
d. Bising napas tak terdengar
e. Nadi cepat/lemah
f. Anemis / pucat
g. Poto toraks 15 - 35 % tertutup bayangan
h. Nyeri pada luka bila untuk bergerak
i. Ketidak efektifan pola pernapasan

j. Kerusakan integritas kulit


k. Inefektif bersihan jalan nafas
2.4.2 Pemeriksaan Penunjang :
a. Photo toraks (pengembangan paru-paru)
Pada foto dada PA, terlihat pinggir paru yang kollaps berupa garis pada
pneumothoraks parsialis yang lokalisasinya di anterior atau porterior batas
pinggir paru ini mungkin tidak terlihat.
Mediastinal ships dapat dilihat pada foto PA atau fluoroskopi pada saat
penderita inspirasi atau ekspirasi, terutama dapat terjadi pada tension
pneumothoraks

b. Diagnosis fisik :
> Bila pneumotoraks > 30% atau hematotorax sedang (300cc) drainase cavum
pleura dengan WSD, dianjurkan untuk melakukan drainase dengan continues
suction unit.
> Pada keadaan pneumotoraks yang residif lebih dari dua kali harus
dipertimbangkan thorakotomi
> Pada hematotoraks yang massif (terdapat perdarahan melalui drain lebih dari
800 cc segera thorakotomi.
c. Laboratorium (Darah Lengkap dan Astrup)

2.4.3 Terapi :
a. Antibiotika.
b. Analgetika.
c. Expectorant.
2.4.4 Komplikasi
a. Tension Penumototrax
b. Penumotoraks Bilateral
c. Emfiema
2.5 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pneumothoraks tergantung dari jenis pneumothoraks, derajat
kolaps berat ringan gejala, penyakit dasar dan penyulit yang terjadi untuk
melaksanakan pengobatan tersebut dapat dilakukan tindakan medis atau tindakan
bedah.
1. Penatalaksanaan Medis
Tindakan observasi, yaitu dengan mengukur tekanan intra pleural menghisap
udara dan mengembangkan paru. Tindakan ini terutama di tujukan pada penderta
pneumothoraks tertutup atau terbuka sedangkan untuk pneumothoraks ventil tindakan
utama yang harus dilakukan dekompresi terhadap tekanan intra plura yang tinggi
tersebut yaitu dengan membuat hubungan dengan udara luar.
2. Tindakan dekompresi
Membuat hubungan rongga pleura dengan dunia luar dengan cara :
a. Menusukkan jarum melalui dinding dada terus masuk kerongga pleura dengan
demikian tekanan udara yang positif di rongga pleura akan berubah menjadi
negatif karena udara yang positif di rongga pleura akan berubah menjadi
negatif karena udara keluar melalui jarum tersebut.
b. Membuat hubungan dengan udara luar melalui kontra ventil :
1.Dapat memakai infus set
2.Jarum abbocath
3.Pipa Water Sealed Drainage (WSD)
Pipa khusus (thoraks kateter) steril, dimasukkan ke rongga pleura dengan
perantara troakar atau dengan bantuan klem penjepit (pean) pemasukan pipa
plastik (thoraks kateter) dapat juga dilakukan me;lalui celah yang telah dibuat

dengan bantuan insisi kulit dari sela iga ke 4 pada garis aksila tengah atau pada
garis aksila belakang. Selain itu dapat pula melalui sela iga ke 2 dari garis
klavikula tengah. Selanjutnya ujung selang plastik didada dan pipa kaca WSD
dihubungkan melalui pipa plastik di dada dan pipa kaca WSD di hubungkan
melalui pipa plastik lainnya posisi ujung pipa kaca yang berada

di botol

sebaiknya berada 2 cm dibawah permukkaan air supaya gelembung udara dapat


dengan mudah keluar melalui perbedaan tekanan tersebut.
Penghisapan dilakukan terus menerus apabila tekanan intra pleura tetap positif
penghisapan ini dilakukan dengan memberi tekanan negatif sebesar sebesar 10
20

cm H2O dengan tujuan agar paru cepat mengembang dan segera terjadi

perlekatan antara pleura viseralis dan pleura parietalis.


Pencabutan drain.
Apabila paru telah mengembang maksimal dan tekanan intra pleura sudah negatif
kembali, drain drain dapat dicabut, sebelum dicabut drain di tutup dengan cara
drain dicabut.
3. Penatalaksanaan Keperawatan
a.Pemeriksaan Fisik
B1 (Breathing)
Inspeksi
Peningkatan usaha dan frekuensi pernafasan, serta penggunaan otot bantu
pernapasan.Gerakan ekspansi dada yang asimetris,iga melebar,rongga dada
asimetris.Pengkajian batuk yang produktif dengan sputum purulen.Trakhea dan
jantung terdorong ke sisi yang sehat.
Palpasi
Taktil fremitus menurun pada sisi yang sakit.Di samping itu,pada palpasi juga di
temukan pergerakan dinding dada yang tertinggal pada dada yang sakit.Iga bias
saja normal atau melebar di sisi yang sakit.
Perkusi
Suara ketok pada sisi yang sakit,hipersonor sampai dengan timpani,dan tidak
bergetar.Batas jantung terdorong kea rah thoraks yang sehat apabila tekanan
Intrapleura tinggi.

Auskultasi
Suara napas menurun sampai hilang di sisi yang sakit.Pada posisi duduk,semakin
ke atas letak cairan maka semakin tipis,sehingga suara napas terdengar amforis.
B2 (Blood)
Perawat perlu memonoyor dampak pneumothoraks pada status kardiovaskular
yang meliputi keadaan hemodinamik seperti nadi,tekanan darah,dan pengikisan
kapiler (capillary refill time-CRT)
B3(Brain)
Pada inspeksi,tingkat kesadaran perlu dikJI.Selain itu diperlukan juga pemeriksaan
GCS.Apakah composmentis,somnolen,ataukah kokma.
B4(Bladder)
Pengukuran volume output urin berhubungan dengan intake airan.Oleh karena
itu,perawat perlu memonitor adanya oliguria.Oliguria merupakan tanda awal dari
syok.
B5(Bowel)
Akibat sesak nafas,klien biasanya mengalami mual,muntah,penurunan nafsu
makan,dan penurunan berat badan.
B6(Bone)
Pada trauma di rusuk dada,sering di dapatkan adanya kerusakan otot dan
jaringan lunak dada sehingga meningkatkan resiko infeksi.
b.Diagnosa Keperawatan :
1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekpansi paru yang tidak
maksimal karena akumulasi udara/cairan.
2. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret
dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.
3. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan
reflek spasme otot sekunder.
4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan dan
ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal.
5. Resiko Kolaboratif : Akteletasis dan Pergeseran Mediatinum.

6. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik terpasang


bullow drainage.
7. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme
sekunder terhadap trauma.
c.Intevensi Keperawatan :
1.Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekspansi paru yang
tidak maksimal karena trauma.
Tujuan : Pola pernapasan efektif
Kriteria hasil :
Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektif.
Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru.
Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab.
INTERVENSI
a.
Berikan posisi yang b.
nyaman, biasanya dnegan
peninggian kepala tempat
tidur. Balik ke sisi yang sakit.
Dorong klien untuk duduk
sebanyak mungkin.
b.
Obsservasi
fungsi
pernapasan, catat frekuensi
pernapasan, dispnea atau
perubahan tanda-tanda vital. c.
d.
c.

Jelaskan pada klien


bahwa
tindakan
tersebute.
dilakukan untuk menjamin f.
keamanan.

d.

Jelaskan pada klieng.


tentang
etiologi/faktorh.
pencetus adanya sesak atau i.
kolaps paru-paru.

e.

Pertahankan perilaku
tenang, bantu pasien untuk

RASIONAL
Meningkatkan inspirasi maksimal,
meningkatkan ekpsnsi paru dan
ventilasi pada sisi yang tidak sakit.
Distress pernapasan dan perubahan
pada tanda vital dapat terjadi sebgai
akibat stress fifiologi dan nyeri atau
dapat menunjukkan terjadinya syock
sehubungan dengan hipoksia.
Pengetahuan apa yang diharapkan
dapat
mengurangi
ansietas
dan
mengembangkan
kepatuhan
klien
terhadap rencana teraupetik
.
Pengetahuan apa yang diharapkan
dapat mengembangkan kepatuhan klien
terhadap rencana teraupetik.
Membantu klien mengalami efek
fisiologi
hipoksia,
yang
dapat
dimanifestasikan
sebagai
ketakutan/ansietas.
Mempertahankan tekanan negatif
intrapleural sesuai yang diberikan, yang

kontrol
diri
dengan
menggunakan
pernapasan
lebih lambat dan dalam.
f.
Perhatikan alat bullow
drainase berfungsi baik, cek
setiap 1 - 2 jam :
1)

Periksa pengontrol
penghisap untuk jumlah
hisapan yang benar.

2)

Periksa
batas
cairan
pada
botol
penghisap, pertahankan
pada
batas
yang
ditentukan.

3)

4)

meningkatkan
ekspansi
paru
optimum/drainase cairan.
1)
Air
penampung/botol bertindak sebagai
pelindung yang mencegah udara
atmosfir masuk ke area pleural.
2)
gele
mbung udara selama ekspirasi
menunjukkan lubang angin dari
penumotoraks/kerja
yang
diharapka. Gelembung biasanya
menurun seiring dnegan ekspansi
paru dimana area pleural menurun.
Tak adanya gelembung dapat
menunjukkan
ekpsnsi
paru
lengkap/normal atau slang buntu.

3)

Posis
i
tak
tepat,
terlipat
atau
pengumpulan bekuan/cairan pada
selang mengubah tekanan negative
yang diinginkan.

4)

Berg
una untuk mengevaluasi perbaikan
kondisi/terjasinya perdarahan yang
memerlukan upaya intervensi.

Observasi
gelembung udara botol
penampung

Posisikan sistem
drainage slang untuk
fungsi optimal, yakinkan
slang tidak terlipat, atau j.
menggantung di bawahk.
saluran masuknya ke l.
tempat drainage. Alirkanm.
akumulasi dranase belan.
perlu.
5)
Catat
karakter/jumlah drainage
o.
selang dada.
Kolaborasi dengan tim kesehatan lain unutk
engevaluasi perbaikan kondisi klien atas
g.
Kolaborasi dengan tim pengembangan parunya.
kesehatan lain :
Dengan dokter, radiologi dan
fisioterapi.
Pemberian antibiotika.
Pemberian analgetika.

Fisioterapi dada.
Konsul photo toraks.

2. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi


sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.
Tujuan : Jalan napas lancar/normal
Kriteria hasil :
Menunjukkan batuk yang efektif.
Tidak ada lagi penumpukan sekret di sal. pernapasan.
Klien nyaman.
INTERVENSI
a.
Jelaskan klien tentang
kegunaan batuk yang efektif
dan
mengapa
terdapat
penumpukan sekret di sal.
pernapasan.
b.
Ajarkan klien tentang
metode
yang
tepat
pengontrolan batuk.
c.

Napas
dalam
dan
perlahan saat duduk setegak
mungkin.
d.
Lakukan pernapasan
diafragma.
Tahan napas selama 3 5
detik kemudian secara
perlahan-lahan,
keluarkan
sebanyak mungkin melalui
mulut.
f.
Lakukan napas ke dua,
tahan dan batukkan dari dada
dengan melakukan 2 batuk
pendek dan kuat.
g.
Auskultasi
paru
sebelum dan sesudah klien
batuk.

RASIONAL
a.
Pengetahuan
yang
diharapkan
akan
membantu
mengembangkan kepatuhan klien
terhadap rencana teraupetik.
b.

Batuk yang tidak terkontrol


adalah melelahkan dan tidak efektif,
menyebabkan frustasi.
c.
Memungkinkan ekspansi
paru lebih luas.
d.
Pernapasan
diafragma
menurunkan
frek.
napas
dan
meningkatkan ventilasi alveolar.
e.
Meningkatkan
volume
udara dalam paru mempermudah
pengeluaran sekresi sekret.

e.

h.

Ajarkan klien tindakan


untuk menurunkan viskositas
sekresi : mempertahankan

f.

Pengkajian ini membantu


mengevaluasi keefektifan upaya
batuk klien.

g.

Sekresi kental sulit untuk


diencerkan dan dapat menyebabkan
sumbatan mukus, yang mengarah
pada atelektasis.
h.
Untuk
menghindari
pengentalan dari sekret atau mosa
pada saluran nafas bagian atas.

i.

Oral hygiene yang baik

hidrasi
yang
adekuat;
meningkatkan masukan cairan
1000 sampai 1500 cc/hari bila
tidak kontraindikasi.
i.
Dorong atau berikan
perawatan mulut yang baik
setelah batuk.

meningkatkan rasa kesejahteraan dan


mencegah bau mulut
j.

Expextorant
untuk
memudahkan mengeluarkan lendir
dan menevaluasi perbaikan kondisi
klien atas pengembangan parunya.

j.

Kolaborasi dengan tim


kesehatan lain :
Dengan dokter, radiologi dan
fisioterapi.
Pemberian expectoran.
Pemberian antibiotika.
Fisioterapi dada.
Konsul photo toraks.

3. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan


dan reflek spasme otot sekunder.
Tujuan : Nyeri berkurang/hilang.
Kriteria hasil :
Nyeri berkurang/ dapat diadaptasi.
Dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan/menurunkan nyeri.
Pasien tidak gelisah.
INTERVENSI
RASIONAL
Jelaskan dan bantu a. Pendekatan dengan menggunakan
klien dengan tindakan pereda
relaksasi dan nonfarmakologi lainnya
nyeri nonfarmakologi dan non
telah menunjukkan keefektifan dalam
invasif.
mengurangi nyeri.
b. Akan melancarkan peredaran darah,
b.
Ajarkan Relaksasi :
sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan
Tehnik-tehnik
untuk
akan terpenuhi, sehingga akan
menurunkan ketegangan otot
mengurangi nyerinya.
rangka,
yang
dapat
menurunkan intensitas nyeri c. Mengalihkan perhatian nyerinya ke
dan juga tingkatkan relaksasi
hal-hal yang menyenangkan.
masase.
d. Istirahat akan merelaksasi semua
c.
Ajarkan
metode
jaringan sehingga akan meningkatkan
distraksi selama nyeri akut.
kenyamanan.
d.
Berikan
kesempatan
waktu istirahat bila terasa nyeri
dan berikan posisi yang e. Pengetahuan yang akan dirasakan
nyaman; misal waktu tidur,
membantu mengurangi nyerinya. Dan
belakangnya dipasang bantal
dapat membantu mengembangkan
kecil.
kepatuhan klien terhadap rencana
a.

e.

Tingkatkan
teraupetik.
pengetahuan tentang: sebab- f. Analgetik memblok lintasan nyeri,
sebab
nyeri,
dan
sehingga nyeri akan berkurang.
menghubungkan berapa lama g. Pengkajian yang optimal akan
nyeri akan berlangsung.
memberikan perawat data yang
obyektif
untuk
mencegah
f.
Kolaborasi denmgan
kemungkinan
komplikasi
dan
dokter, pemberian analgetik.
melakukan intervensi yang tepat.
g.
Observasi
tingkat
nyeri, dan respon motorik
klien, 30 menit setelah
pemberian obat analgetik untuk
mengkaji efektivitasnya. Serta
setiap 1 - 2 jam setelah
tindakan perawatan selama 1 2 hari.

b. Bullow Drainage / WSD


Pada trauma toraks, WSD dapat berarti :
Diagnostik :
Menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil, sehingga dapat
ditentukan perlu operasi torakotomi atau tidak, sebelum penderita jatuh dalam
shoks.
Terapi :
Mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul di rongga pleura.
Mengembalikan tekanan rongga pleura sehingga "mechanis of breathing" dapat
kembali seperti yang seharusnya.
a. Preventive :
Mengeluarkan udaran atau darah yang masuk ke rongga pleura sehingga
"mechanis of breathing" tetap baik.

3.2 Saran
Warganegara Indonesia merupakan sekumpulan orang yang hidup dan
tinggal di negara Indonesia Oleh karena itu sebaiknya warga negara Indonesia harus
lebih meyakini atau mempercayai, menghormati, menghargai menjaga, memahami

dan melaksanakan segala hal yang telah dilakukan oleh para pahlawan khususnya
dalam pemahaman bahwa falsafah Pancasila adalah sebagai dasar falsafah negara
Indonesia. Sehingga kekacauan yang sekarang terjadi ini dapat diatasi dan lebih
memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia ini.

Pancasila
Sebagai Dasar Falsafah Negara Indonesia

Disusun oleh :

Dian Widiastuti (1002.14201.031)


Mardhia

(1002.14201.049)

Munira Hi Ali

(1002.14201.072)

M. Syaiful Islam (1002.14201.061)


M.Rasyidi

(1002.14201.052)

Zaenudin

ahmad

(1002.14201.069)

Prodi S-1 Keperawatan


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widyagama Husada Malang
2011

Malang
Daftar Pustaka
1. Koentjaraningrat. 1980. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta: PT.
Gramedia.
2. Nopirin. 1980. Beberapa Hal Mengenai Falsafah Pancasila, Cet. 9. Jakarta:
Pancoran Tujuh.
3. Notonagoro. 1980. Beberapa Hal Mengenai Falsafah Pancasila, Cet. 9.
Jakarta: Pantjoran Tujuh.
4. Salam, H. Burhanuddin, 1998. Filsafat Pancasilaisme. Jakarta: Rineka Cipta