You are on page 1of 11

Koledokolitiasis dengan Komplikasi Kolangitis

Asnawati
102012202
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510
asnawati.2012FK202@civitas.ukrida.ac.id

PENDAHULUAN
Dalam skenario yang di dapat Seorang wanita berusia 50 tahun datang ke poliklinik
dengan keluhan nyeri hebat yang hilang timbul secara mendadak pada perut kanan atasnya
menjalar hingga punggung kanan sejak 6 jam lalu. Selain itu, sejak 5 hari yang lalu, pasien
juga mengeluh demam tinggi, tubuhnya berwarna kekuningan dan tinjanya berwarna pucat
seperti dempul.
Sebagian besar pasien dengan batu empedu tidak mempunyai keluhan. Risiko
penyandang batu empedu untuk mengalami gejala dan komplikasi realtif kecil. Walaupun
demikian, ketika batu empedu mulai menimbulkan serangan nyeri kolik yang spesifik maka
resiko untuk mengalami masalah dan penyulit akan terus meningkat. Batu empedu umumnya
ditemukan di dalam kandung empedu, tetapi batu tersebut dapat bermigrasi melalui duktus
sistikus ke dalam saluran empedu menjadi batu saluran empedu dan disebut sebagai batu
saluran empedu sekunder.1
Di negara Barat 10-15% dengan batu empedu juga disertai batu saluran empedu. Pada
beberapa keadaan, batu saluran empedu dapat terbentuk primer di dalam saluran empedu
intrahepatik atau ekstrahepatik tanpa melibatkan kandung empedu. Batu saluran empedu
primer lebih banyak ditemukan pada pasien di wilayah Asia dibandingkan dengan pasien di
negara Barat.
Perjalanan batu saluran empedu sekunder belum jelas benar, tetapi komplikasi akan
lebih sering dan berat dibandingkan batu kandung empedu asimtomatik. Dalam makalah ini
akan dibahas mengenai faktor-faktor yang bisa menyebabkan terjadinya batu empedu, serta
komplikasi yang dapat terjadi dan cara pencegahannya.

PEMBAHASAN
PBL Blok 17 Hepatobilier - Koledokolitiasis

Anamnesis
Anamnesis adalah wawancara antara dokter dan penderita atau keluarga penderita yang
mempunyai hubungan dekat dengan pasien atau warga yang menjadi saksi terhadap apa yang
berlaku, mengenai semua data tentang penyakit. Dalam anamnesis yang harus diketahui
adalah identitas pasien, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang dan dahulu, riwayat
kesehatan keluarga, riwayat peribadi dan riwayat ekonomi.
Anamnesis dapat dibagikan kepada 2 jenis yaitu :
a. Alloanamnesis : riwayat penyakit didapat dari orang tua atau sumber lain.
b. Autoanamnesis : riwayat penyakit yang langsung didapatkan dari pasien. Pasien sendiri
yang menemui dokter dan memberitahu sendiri riwayat penyakit dan keluhan yang
dialami.
Berdasarkan kasus, anamnesis dilakukan berdasarkan tahap kesadaran pasien. Hal ini
adalah

merupakan alloanamnesis. Anamnesis harus dilakukan secara teliti, teratur, dan

lengkap karena sebagian besar data yang diperlukan diperoleh dari anamnesis untuk
menegakkan diagnosis.
Didalam skenario didapat keluhan utamanya adalah nyeri hebat pada bagian kanan atas
(kolik), berlangsung lebih dari 30 menit dan kurang dari 12 jam yang menjalar hingga ke
punggung kanan, 5 hari yang lalu tubuhnya berwarna kekuningan dan tinjanya berwarna
pucat seperti dempul. Dari kasus yang ada dilihat juga faktor risiko yang bisa menyebabkan
koledokolitiasis yaitu 4 F (Female, Fat, Forty dan Fertile).
Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan tanda-tanda vital seperti suhu, tekanan darah, berat badan, tinggi badan,
Body Mass Index (BMI), frekuensi pernapasan, serta frekuensi nadi.
b. Inspeksi yaitu melihat keadaan fisik pasien apakah terdapat tanda-tanda abnormal
seperti :
Pasien kelihatan sakit yang amat sangat dengan memegang perut yang artinya
-

menandakan adanya nyeri kholik abdomen.


Kulit kelihatan kekuningan mengindikasikan adanya ikterus.
Frekuensi pernapasan 24 x/mnt menunjukkan sakit yang mungkin disertai oleh
peradangan.

c. Palpasi yaitu meraba dibagian abdomen :

PBL Blok 17 Hepatobilier - Koledokolitiasis

Adakah pasien mempunyai rasa nyeri tekan menyeluruh ataupun hanya di suatu

tempat saja.
Jika sakit dibagian kuadran kanan atas, indikasikan penyakit yang berhubungan

dengan hepatobilier.
Suhu badan yang

berkemungkinan peradangan dibagian yang sakit.


Untuk memastikan lakukanlah murphy sign, jika positif mengindikasikan pasien

terasa

panas,

menunjukkan

pasien

demam

yang

sakit dibagian empedu atau saluran empedu.


Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Hasil studi laboratorium normal pada pasien tanpa gejala dan pasien dengan kolik
bilier yang tidak disertai komplikasi. Pemeriksaan laboratorium umumnya tidak
diperlukan dalam keadaan terdapatnya batu empedu kecuali diduga terdapatnya
kolesistitis. Pasien dengan kolangitis dan pankreatitis memiliki nilai tes laboratorium
yang abnormal. Satu nilai laboratorium abnormal tidak memastikan diagnosis pada
koledokolitiasis, kolangitis, atau pankreatitis, melainkan, satu set hasil studi
laboratorium mengarah ke diagnosis yang benar.2
1. Peningkatan hitung sel darah putih menimbulkan kecurigaan terhadap adanya
peradangan atau infeksi, tetapi temuan tersebut tidak merupakan hasil yang
spesifik.
2. Peningkatan serum bilirubin menunjukkan terdapatnya gangguan pada duktus
koledokus; semakin tinggi kadar bilirubin, semakin mendukung prediksi. Batu
pada duktus koledokus hadir di sekitar 60% dari pasien dengan kadar bilirubin
serum lebih dari 3 mg / dL.
3. Peningkatan kadar lipase dan amilase serum mengarah kepada terdapatnya
pankreatitis akut sebagai komplikasi dari koledokolitiasis.
4. Enzim transaminase (serum glutamic-piruvat transaminase dan serum glutamic
transaminase-oksaloasetat) meningkat pada pasien yang terdapat koledokolitiasis
disertai komplikasi kolangitis, pankreatitis, atau keduanya.
5. Alkali fosfatase dan gamma-glutamil transpeptidase meningkat pada pasien
dengan koledokolitiasis obstruktif. Hasil kedua tes tersebut memiliki nilai
prediksi yang baik terhadap kehadirannya batu pada duktus koledokus.
b. USG (Ultrasonografi) merupakan uji terbaik dalam mendeteksi adanya batu empedu
dengan teknik radiologi yang menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk
PBL Blok 17 Hepatobilier - Koledokolitiasis

menghasilkan gambar organ dan struktur tubuh. Gelombang suara yang dipancarkan
dari sebuah alat yang disebut transducer dan dikirim melalui jaringan tubuh.
Gelombang suara yang dipantulkan oleh permukaan dan bagian interior organ internal
dan struktur tubuh sebagai "gema." Gema tersebut menggemakan kembali ke
transducer dan ditransmisikan secara elektrik ke tampilan monitor. Dari monitor, sosok
organ dan struktur dapat ditentukan serta konsistensi organ, misalnya, cair atau padat.
c. Endoscopic Retrograde Cholangio-Pancreatography (ERCP) merupakan sebuah
endoskopi yang tipis dan fleksibel digunakan untuk melihat bagian-bagian dari sistem
empedu pasien. Pasien dibius, dan tabung masuk melalui mulut, melewati perut dan ke
usus kecil. Alat tersebut kemudian menyuntikkan pewarna sementara ke dalam saluran
empedu. Pewarna tersebut memudahkan untuk melihat batu dalam saluran ketika foto
sinar-X diambil. Pada keadaan tertentu batu dapat dihilangkan selama prosedur ini.2
d. Magnetic Resonance Cholangio-Pancreatography (MRCP) merupakan teknik
pencitraan menggunakan gama magnet tanpa zat kontras, instrument, dan radiasi ion.
Pada MRCP, saluran empedu yang terlihat terang karena intensitas sinyal yang tinggi,
sedangkan batu saluran empedu akan terlihat dengan intensitas sinyal rendah yang
dikelilingi empedu yang intensitasnya tinggi. Maka, metode ini sangat cocok untuk
mendeteksi batu saluran empedu.
Working Diagnosis
Berdasarkan gejala-gejala yang terdapat pada pasien tersebut, maka dapat disimpulkan
working diagnosisnya adalah koledokolitiasis dikarenakan pembentukan batu pada duktus
koledokus.
Differential Diagnosis
a. Pankreatitis
Dapat dibedakan menjadi 2 jenis, antara lain :
-

Akut merupakan radang pancreatitis akut, terjadi perbaikan ke fungsi normal

pankreas.
Kronis merupakan radang pancreatitis akut berulang, terjadi gangguan fungsi
pancreas yang menetap, nyeri dan malabsorpsi.

Gejala Klinis yang dapat ditemukan pada penderita, antara lain :


-

Nyeri hebat di perut kanan atas (epigastrium). Nyeri menjalar ke tulang punggung
dan nyeri biasanya timbul tiba- tiba.
PBL Blok 17 Hepatobilier - Koledokolitiasis

Mual muntah.
Berkeringat, denyut nadi meningkat, pernapasan cepat dan dangkal.
Ikterus pada sclera, asites, demam.
Pembengkakan pada perut bagian atas karena terhentinya pergerakan isi lambung
dan usus.

b. Kolesistitis
Kolesistitis adalah peradangan pada kandung empedu. Jenis kolesistitis dibedakan
menjadi 2, antara lain :
-

Akut merupakan reaksi inflamasi akut dinding kandung empedu yang disertai

keluhan nyeri perut kanan atas, nyeri tekan dan demam.


Kronik yang berkait dengan litiasis dan timbulnya perlahan.
Biasanya gejala klinis yang dapat ditemukan pada penderita kolesistiasis yaitu

nyeri perut kanan atas yang menjalar sampai ke bahu kanan, mual dan muntah, yang
disertai demam ringan tinggi.
c. Kolangitis
Juga ditandai dengan Trias Charcot (Nyeri abdomen kanan atas, ikterus, demam).
Kolangitis berkembang bila ada obstruksi duktus biliaris dan infeksi. Ada atau tidak
adanya dilatasi biliaris dan atau massa dapat diketahui dengan pemeriksaan gelombang
ultra pada abdomen atau CT Scan.
Hidrasi intravena dan terapi antibiotik harus dimulai secara dini. Pemilihan untuk
paduan antibiotik meliputi aminoglikosida, penisilin, dan obat antiaerob. Banyak pasien
dengan kolangitis pada awalnya dapat ditangani dengan antibiotik saja. Kunci untuk
penanganan pasien dengan kolangitis adalah tercapainya dekompresi biliaris dan
mempermudah drainase. Ini dapat dilakukan secara pembedahan, endoskopik atau
perkutan.3
d. Kista Saluran Empedu
Kista saluran empedu terutama terjadi pada dukus koledokus. Kista ini adalah
dilatasi kistik dari saluran empedu baik intrahepatik maupun ekstrahepatik. Etiloginya
masih belum dapat dikenal pasti, duduga penyebabnya kongenital atau didapat. Gejala
klinis yang sering ditemukan pada penderita seperti ikterus, nyeri perut yang hilang
timbul, dan terdapatnya massa tumor pada perut kanan atas.
e. Abses Hepar
Abses hati adalah bentuk infeksi pada hati yang disebabkan karena infeksi
bakteri, parasit, jamur maupun nekrosis steril yang bersumber dari sistem
gastrointestinal yang ditandai dengan adanya proses supurasi dengan pembentukan pus
PBL Blok 17 Hepatobilier - Koledokolitiasis

di dalam parenkim hati. Dan sering timbul sebagai komplikasi dari peradangan akut
saluran empedu.
Abses hepar dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Abses hati amebik (AHA) : E. Histolitika (spesifik)
Gejala klinis : Nyeri khas, spontan pada perut kanan atas, jalan membungkuk
kedepan, kedua tangan diletakkan diatasnya, dan demam tinggi intermitten atau
remitten.
2. Abses hati piogenik (AHP ) : Enterobacteracea, Microaerophilic streptococcus,
Klebsiella pneumonia (non-spesifik)
Gejala klinis : Demam tinggi, spontan pada perut kanan atas, jalan membungkuk
kedepan, kedua tangan diletakkan diatasnya, dan bisa disertai syok.
AHA lebih sering terjadi di negara berkembang dari AHP. AHP banyak terjadi
akibat komplikasi dari sistem biliaris.
Etiologi
Batu empedu lebih banyak ditemukan pada wanita dan faktor resikonya adalah : usia
lanjut, kegemukan (obesitas), diet tinggi lemak dan faktor keturunan. Komponen utama dari
batu empedu adalah kolesterol, sebagian kecil lainnya terbentuk dari garam kalsium. Cairan
empedu mengandung sejumlah besar kolesterol yang biasanya tetap berbentuk cairan. Jika
cairan empedu menjadi jenuh karena kolesterol, maka kolesterol bisa menjadi tidak larut dan
membentuk endapan diluar empedu.4
Sebagian besar batu empedu terbentuk di dalam kandung empedu dan sebagian besar
batu di dalam saluran empedu berasal dari kandung empedu. Batu empedu bisa terbentuk di
dalam saluran empedu jika empedu mengalami aliran balik karena adanya penyempitan
saluran atau setelah dilakukan pengangkatan kandung empedu.4
Batu empedu di dalam saluran empedu bisa mengakibatkan infeksi hebat saluran
empedu (kolangitis), infeksi pankreas (pankreatitis) atau infeksi hati. Jika saluran empedu
tersumbat, maka bakteri akan tumbuh dan dengan segera menimbulkan infeksi di dalam
saluran. Bakteri bisa menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan infeksi di bagian tubuh
lainnya.
Epidemiologi
Di masyarakat Barat komposisi utama batu empedu adalah kolesterol, sedangkan
penelitian di Jakarta pada 51 pasien didapatkan batu pigmen pada 73% pasien dan batu
kolesterol pada 27% pasien.1,4 Koledokolitiasis atau kolangitis akut lebih rentan terjadi pada
PBL Blok 17 Hepatobilier - Koledokolitiasis

kelompok 4F : female (wanita), fertile (subur)-khususnya selama kehamilan, fat (gemuk), dan
forty (empat puluh tahun).4
Koledolitiasis dapat terjadi dengan atau tanpa faktor resiko. Namun, semakin banyak
faktor resiko, semakin besar pula kemungkinan untuk terjadinya koledokolitiasis. Faktor
resiko tersebut antara lain :
1. Genetik : lebih sering ditemukaan pada orang kulit putih dibandingkan kulit hitam,
lebih sering ditemukan di negara lain selain USA, Chili dan Swedia. Di negara Barat,
hampir semua batu berasal dari kandung empedu. Di Asia, insidensi pembentukan batu,
biasanya berpigmen di duktus primer dan intrahati jauh lebih tinggi.
2. Umur : rata-rata pada 40-50 tahun. Semakin berkurang pada usia muda dan semakin
bertambahnya usia semakin besar kemungkinan untuk mendapatkan batu empedu,
sehingga pada usia 90 tahun kemungkinannya adalah satu dari tiga orang.
3. Jenis Kelamin : lebih sering terjadi pada wanita daripada laki-laki dengan perbandingan
4 : 1. Di USA 10- 20 % laki-laki dewasa menderita batu empedu, sementara di Italia 20
% wanita dan 14 % laki-laki. Di Indonesia jumlah penderita wanita lebih banyak dari
pada laki-laki.
4. Faktor-faktor lain : obesitas, makanan, riwayat keluarga, aktifitas fisik, dan nutrisi
jangka vena yang lama.

Patofisiologi
Terdapat 2 jenis batu yang berada pada saluran empedu, yaitu :
-

Batu pigmen, yang terdiri dari garam kalsium dan salah satu dari ke empat anion ini,
yaitu : bilirubinat, karbonat, fosfat, dan asam lemak. Pigmen (bilirubin) pada kondisi
normal akan terkonjugasi dalam empedu, dengan bantuan enzim glukoronil transferase.
Kekurangan enzim ini akan mengakibatkan presipitasi/pengendapan dari bilirubin
tersebut.4

Batu kolesterol, yang bersifat tidak larut dalam air, kelarutan kolesterol sangat
tergantung dari asam empedu dan lesitin.4
Koledokolitiasis dibagi menjadi 2 tipe yaitu primer dan sekunder. Koledokolitiasis

primer adalah batu empedu yang terbentuk di dalam saluran empedu sedangkan

PBL Blok 17 Hepatobilier - Koledokolitiasis

koledokolitiasis sekunder merupakan batu kandung empedu yang bermigrasi masuk ke


duktus koledokus melalui duktus sistikus.
Patogenesis batu pigmen melibatkan infeksi saluran empedu, stasis empedu, malnutrisi,
dan faktor diet. Kelebihan aktivitas -glukoronidase bakteri dan manusia (endogen)
memegang peran kunci dalam patogenesis batu pigmen pada pasien di negara Timur.
Hidrolisis bilirubin oleh enzim tersebut akan membentuk bilirubin tak terkonjugasi yang akan
mengendap sebagai calsium bilirubinate. Enzim -glukoronidase berasal dari kuman E.coli
dan kuman lainnya di saluran empedu. Enzim ini dapat di hambat oleh glucarolactone yang
konsentrasinya meningkat pada pasien dengan diet rendah protein dan rendah lemak.
Gejala Klinis
Penderita batu kandung empedu baru memberi keluhan bila batu tersebut bermigrasi
menyumbat duktus sistikus atau duktus koledokus, sehingga gambaran klinisnya bervariasi
dari yang tanpa gejala (asimptomatik), ringan sampai berat karena adanya komplikasi.
1.

Dijumpai syndrome Trias Charcot yaitu nyeri di daerah hipokondrium kanan, yang
kadang-kadang disertai kolik bilier yang timbul menetap/konstan, ikterus disertai
dengan panas atau menggigil. Rasa nyeri kadang-kadang dijalarkan sampai di daerah
subkapula disertai nausea, vomitus dan dyspepsia, flatulen dan lain-lain. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan hipokondrium kanan, dapat teraba
pembesaran kandung empedu dan tanda Murphy positif.

2.

Kolik bilier merupakan keluhan utama pada sebagian besar pasien. Nyeri viseral ini
berasal dari spasmetonik akibat obstruksi transient duktus sistikus oleh batu. Ini
biasanya timbul malam hari atau dini hari, berlangsung lama antara 30 60 menit,
menetap, dan nyeri terutama timbul di daerah epigastrium.

3.

Diagnosis dan pengelolaan yang baik dan tepat dapat mencegah terjadinya komplikasi
yang berat. Komplikasi dari batu kandung empedu antara lain kolesistitis akut,
kolesistitis kronis, koledokolitiasis, pankreatitis, kolangitis, sirosis bilier sekunder,
ileus batu empedu, abses hepatik dan peritonitis karena perforasi kandung empedu.
Komplikasi tersebut akan mempersulit penanganannya dan dapat berakibat fatal.

4.

Batu kandung empedu dapat migrasi masuk ke duktus koledokus melalui duktus
sistikus (koledokolitiasis sekunder) atau batu empedu dapat juga terbentuk di dalam
saluran empedu (koledokolitiasis primer). Batu saluran empedu (BSE) kecil dapat
masuk ke duodenum spontan tanpa menimbulkan gejala atau menyebabkan obstruksi
temporer di ampula vateri sehingga timbul pankreatitis akut dan lalu masuk ke
PBL Blok 17 Hepatobilier - Koledokolitiasis

duodenum (gallstone pancreatitis). Gambaran klinis koledokolitiasis didominasi


penyulitnya seperti ikterus obstruktif, kolangitis dan pancreatitis.
5.

Ikterus obstruksi, pengaliran getah empedu ke dalam dudodenum akan menimbulkan


gejala yang khas, yaitu: getah empedu yang tidak lagi dibawa kedalam duodenum akan
diserap oleh darah dan penyerapan empedu ini membuat kulit dan membran mukosa
berwarna kuning. Keadaan ini sering disertai dengan gejala gatal-gatal pada kulit
(pruritus).

6.

Perubahan warna urine dan feses. Ekskresi pigmen empedu oleh ginjal akan
membuat urine berwarna sangat gelap. Feses yang tidak lagi diwarnai oleh pigmen
empedu atau tampak kelabu, dan biasanya pekat yang disebut Clay-colored .

7.

Defisiensi vitamin Obstruksi aliran empedu juga akan mengganggu absorbsi vitamin
A,D,E,K yang larut lemak. Karena itu pasien dapat memperlihatkan gejala defisiensi
vitamin-vitamin ini jika obstruksi bilier berlangsung lama. Defisiensi vitamin K dapat
mengganggu pembekuan darah yang normal.

Komplikasi
Batu empedu di dalam saluran empedu bisa mengakibatkan infeksi hebat saluran
empedu (kolangitis), infeksi pankreas (pankreatitis) atau infeksi hati. Jika saluran empedu
tersumbat, maka bakteri akan tumbuh dan dengan segera menimbulkan infeksi di dalam
saluran. Bakteri bisa menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan infeksi di bagian tubuh
lainnya.
a. Kolangitis akut : didasarkan apabila gejala trias charcot atau penta Reynlds dijumpai.
Trias Charcot adalah nyeri abdomen bagian kanan atas, ikterus dan demam. Jika adanya
kolangitis supuratif akut gejala trias Charcot disertai dengan penta Reynalds yaitu
hipotensi dan gangguan kesedaran.5
b. Pancreatitis bilier akut : impaksi di papilla vateri yang menyebabkan obstruksi di
duktus pankreatikus dan menyebabkan pancreatitis. Regurgitasi cairan empedu yang
naik ke atas secara retrograde menyebabkan sebagian cairan empedu masuk ke dalam
duktus pankreatikus yang menyebabkan peradangan.
c. Sirosis bilier sekunder yang terjadi akibat obstruksi dalam jangka masa yang lama pada
duktus koledokus, terjadi gangguan sekresi cairan empedu yang menyebabkan
kerusakan parenkim hati. Akibatnya fibrosis yang progresif dan serosis. Gejala lanjut
adalah tanda kegagalan hati seperti ensefalopati, hipertensi portal dan asites.
Penatalaksanaan
PBL Blok 17 Hepatobilier - Koledokolitiasis

Medika mentosa
>> Pengobatan suportif.
Asam ursodeoksikolat (pelarut batu empedu dan menurunkan absorbsi kolesterol).
Contoh Estazor Caps 8-10 mg/KgBB dalam 2-3 dosis terbagi.
Metotreksat untuk menurunkan reaksi inflamasi akibat autoimun.
Non-medika mentosa

Memperbaiki keadaan umum pasien dengan pemberian cairan dan elektrolit serta koreksi

gangguan elektrolit, nutrisi parenteral.


Memonitor tanda-tanda vital pasien.

Preventif
Penting dilakukan merubah kebiasaan makan. Makanan tinggi serat, tinggi kalsium, dan
rendah karbohidrat serta protein hewani dapat mengurangi pemasukan asam deoksikolat pada
empedu, asam empedu yang meningkatkan supersaturasi kolesterol empedu, dan
mempercepat waktu nukleasi. Lebih jauh, kalori rendah dapat mencegah obesitas yang
merupakan salah satu faktor resiko terbentuknya batu empedu.

Prognosis
Prognosis pasien tersebut adalah bonam, karena dengan penatalaksanaan yang baik dan
pola makan yang teratur, pasien dapat sembuh. Apabila ditambah dengan komplikasi
prognosa menjadi buruk karena melibatkan berbagai organ dan dapat menyebabkan
kematian.

KESIMPULAN
Batu saluran empedu sudah menjadi salah satu penyakit yang sering ditemukan dalam
duania medis. Berdasarkan kasus yang di dapat, serta gejala-gejala klinis yang timbul pada
pasien, dapat disimpulkan bahwa diagnosis pasien mengarah kepada koledokolitiasis, yaitu
batu empedu yang terdapat pada duktus koledokus, diserta komplikasi ikterus dan kolangitis.
Diagnosis kerja koledokolitiasis, dapat didukung oleh terdapatnya kulit yang ikterus pada
pasien, serta komplikasi kolangitis dapat dilihat dari meningkatnya suhu tubuh. Diagnosis
PBL Blok 17 Hepatobilier - Koledokolitiasis

10

tersebut tidak dapat dipastikan sampai melakukan pemeriksaan lebih lanjut, seperti
pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang yang lainnya. Penyakit kandung
empedu dapat dihidapi oleh semua orang terutamanya wanita diusia setengah abad dan
disertai dengan factor risiko. Merupakan gangguan yang paling sering terjadi pada sistem
biliaris. Lebih dari 90% klien dengan Cholecystitis (inflamasi kantung empedu) disebabkan
oleh sumbatan batu empedu yang terbentuk di saluran kantung empedu.

DAFTAR PUSTAKA
1. Lesmana LA. Buku ajar ilmu penyakit dalam : Penyakit batu empedu. Edisi ke 4.
Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FK UI ; 2006. h .479 - 81.
2. Dandan

IS.

Choledocolithiasis.

Diunduh

pada

tanggal

14

Juni

2014.

http://emedicine.medscape.com/article/172216-overview.
3. Schwartz, Seymor I. Intisari prinsip-prinsip ilmu bedah : Kolangitis. Edisi ke 6.
Jakarta : EGC ; 2000. h. 463.
4. Cahyono JBSB. Batu empedu. Yogyakarta : Kanisius ; 2009. h. 29 - 33.
5. Mansjoer A. Kapita selekta kedokteran : Kolelitiasis. 3rd ed, 1st vol. Jakarta : FK UI ;
2009. p. 510.

PBL Blok 17 Hepatobilier - Koledokolitiasis

11