You are on page 1of 17

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kata autis berasal dari bahasa Yunani "auto" berarti sendiri yang ditujukan pada
seseorang yang menunjukkan gejala "hidup dalam dunianya sendiri". Pada umumnya
penyandang autisma mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan
mereka. Jika ada reaksi biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau malahan tidak
ada reaksi sama sekali. Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial
(pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak lain dan sebagainya).
Pemakaian istilah autis kepada penyandang diperkenalkan pertama kali oleh Leo
Kanner, seorang psikiater dari Harvard (Kanner, Austistic Disturbance of Affective
Contact) pada tahun 1943 berdasarkan pengamatan terhadap 11 penyandang yang
menunjukkan gejala kesulitan berhubungan dengan orang lain, mengisolasi diri, perilaku
yang tidak biasa .
Autis dapat terjadi pada semua kelompok masyarakat kaya miskin, di desa dikota,
berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok etnis dan budaya di dunia.
Sekalipun demikian anak-anak di negara maju pada umumnya memiliki kesempatan
terdiagnosis lebih awal sehingga memungkinkan tatalaksana yang lebih dini dengan hasil
yang lebih baik.
Jumlah anak yang terkena autis makin bertambah. Di Kanada dan Jepang
pertambahan ini mencapai 40% sejak 1980. Di California sendiri pada tahun 2002
disimpulkan terdapat 9 kasus autis per-harinya. Dengan adanya metode diagnosis yang kian
berkembang hampir dipastikan jumlah anak yang ditemukan terkena Autisme akan semakin
besar. Jumlah tersebut di atas sangat mengkhawatirkan mengingat sampai saat ini penyebab
autisme masih misterius dan menjadi bahan perdebatan diantara para ahli dan dokter di
dunia. Di Amerika Serikat disebutkan autis terjadi pada 60.000 - 15.000 anak dibawah 15
tahun. Kepustakaan lain menyebutkan prevalens autisme 10-20 kasus dalam 10.000 orang,
bahkan ada yang mengatakan 1 diantara 1000 anak. Di Inggris pada awal tahun 2002
1

bahkan dilaporkan angka kejadian autisma meningkat sangat pesat, dicurigai 1 diantara 10
anak menderita autis. Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6 - 4 : 1, namun
anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat. Di Indonesia
yang berpenduduk 200 juta, hingga saat ini belum diketahui berapa persisnya jumlah
penyandang namun diperkirakan jumlah anak austime dapat mencapai 150 - 200 ribu
orang.
Berdasarkan hal diatas, maka kami sebagai penulis tertarik untuk lebih memahami
konsep anak dengan autisme, dimana konsep ini saling terkait satu sama lain. Semoga
Askep ini dapat membantu para orang tua, masyarakat umum dan khusnya kami
(mahasiswa keperawatan) dalam memahami anak dengan autisme, sehingga kami harapkan
kedua anak dengan kondisi ini dapat diperlakukan dengan baik.
B. Tujuan
a. Tujuan umum
Agar mahasiswa dapat mengetahui Asuhan Keperawatan pada anak dengan autism.
b. Tujuan Khusus
a) Mahasiswa memahami pengertian Autisme.
b) Mahasiswa memahami etiologi dan manifestasi klinik autisme
c) Mahasiswa memahami cara mengetahui autis pada anak.
d) Mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan anak dengan autisme

BAB II
LANDASAN TEORITIS

1. Defenisi
Autisme adalah ketidakmampuan perkembangan yang biasanya terlihat sebelum
usia dua setengah

tahun dan ditandai dengan gangguan pada

wicara dan bahasa,

mobilitas, persepsi, dan hubungan interpersonal.(Speer, Kathleen Morgan. 2007)


Autisme adalah gangguan perkembangan yang umumnya menimpa anakanak.Gangguan ini membuat anak tidak mampu berinteraksi sosial dan seolah-olah hidup
dalam dunianya sendiri. (Aizid, Rizem. 2011)
autisme merupakan gangguan perkembangan pervasive dengan masalah awal tiga
area perkembangan utama yaitu perilaku, interaksi sosial dan komunikasi. Gangguan ini
dicirikan dengan gangguan yang nyata dalam interaksi sosial dan komunikasi, serta
aktivitas dan minat yang terbatas. Autisme adalah kelainan yang mempunyai dampak besar
terhadap kehidupan penderita, keluarga dan masyarakat sekitarnya. Kadang keadaan ini
membuat kebingungan dan sangat menyakitkan hati orang tua penderita. Menurut Isaac, A
(2005)
Definisi Autisme adalah kelainan neuropsikiatrik yang menyebabkan kurangnya
kemampuan berinteraksi sosial dan komunikasi, minat yang terbatas, perilaku tidak wajar
dan adanya gerakan stereotipik, dimana kelainan ini muncul sebelum anak berusia 3 tahun
(Teramihardja, J, 2007)
Autisme merupakan gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai
dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang koqnitif, bahasa, perilaku,
komunikasi, dan interaksi social.

2. Etiologi
Penyebab yang pasti dari autisme

belum diketahui, yang pasti hal ini bukan

disebabkan karena pola asuh yang salah.


Menurut penelitian para ahli menunjukkan bahwa autisme mempunyai penyebab
neurobiologist yang sangat kompleks. Gangguan neurobiologist ini dapat disebabkan oleh

interaksi factor genetic dan lingkungan seperti pengaruh negative selama masa
perkembangan otak.
Banyak faktor yang menyebabkan pengaruh negative selama masa perkembangan
otak, antara lain; penyakit infeksi yang mengenai susunan saraf pusat, trauma, keracunan
logam berat dan zat kimia lain baik selama masa dalam kandungan maupun setelah
dilahirkan, gangguan imunologis,gangguan absorpsi-protein tertentu akibat kelainan di
usus.
3. Klasifikasi
a) Jenis persepsi
Autisme persepsi meupakan autism yang timbul sebelum lahir dengan gejala
adanya rangsangan dari luar, baik kecil maupun kuat dapat menimbulkan kecemasan.
b) Jenis reaksi
Autisme reaktif yaitu dengan gejala penderita membuat gerakan-gerakan
tertentu berulang-ulang dan kadang disertai kejang dan dapat diamati pada usia 6-7
tahun, memiliki sifat rapuh, mudah terpengaruh oleh dunia luar.
c) Jenis autisme yang timbul kemudian
Jenis ini diketahui setelah anak agak besar dan akan mengalami kesulitan dalam
mengubah perilakunya karena sudah melekat atau ditambah adanya pengalaman yang
baru.

4. PATOFISIOLOGI
Sel saraf otak (neuron) terdiri atas badan sel dan serabut untuk mengalirkan impuls
listrik (akson) serta serabut untuk menerima impuls listrik (dendrit). Sel saraf terdapat di
lapisan luar otak yang berwarna kelabu (korteks). Akson dibungkus selaput bernama
mielin, terletak di bagian otak berwarna putih. Sel saraf berhubungan satu sama lain lewat
sinaps.

Sel saraf terbentuk saat usia kandungan tiga sampai tujuh bulan. Pada trimester
ketiga, pembentukan sel saraf berhenti dan dimulai pembentukan akson, dendrit, dan sinaps
yang berlanjut sampai anak berusia sekitar dua tahun.
Setelah anak lahir, terjadi proses pengaturan pertumbuhan otak berupa bertambah
dan berkurangnya struktur akson, dendrit, dan sinaps. Proses ini dipengaruhi secara genetik
melalui sejumlah zat kimia yang dikenal sebagai brain growth factors dan proses belajar
anak.
Makin banyak sinaps terbentuk, anak makin cerdas. Pembentukan akson, dendrit,
dan sinaps sangat tergantung pada stimulasi dari lingkungan. Bagian otak yang digunakan
dalam belajar menunjukkan pertambahan akson, dendrit, dan sinaps. Sedangkan bagian
otak yang tak digunakan menunjukkan kematian sel, berkurangnya akson, dendrit, dan
sinaps.
kelainan genetis, keracunan logam berat, dan nutrisi yang tidak adekuat dapat
menyebabkan terjadinya gangguan pada proses proses tersebut. Sehingga akan
menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel saraf.
Pada pemeriksaan darah bayi-bayi yang baru lahir, diketahui pertumbuhan abnormal
pada penderita autis dipicu oleh berlebihnya neurotropin dan neuropeptida otak (brainderived neurotrophic factor, neurotrophin-4, vasoactive intestinal peptide, calcitonin-related
gene peptide) yang merupakan zat kimia otak yang bertanggung jawab untuk mengatur
penambahan sel saraf, migrasi, diferensiasi, pertumbuhan, dan perkembangan jalinan sel
saraf. Brain growth factors ini penting bagi pertumbuhan otak.
Peningkatan neurokimia otak secara abnormal menyebabkan pertumbuhan
abnormal pada daerah tertentu. Pada gangguan autistik terjadi kondisi growth without
guidance, di mana bagian-bagian otak tumbuh dan mati secara tak beraturan.
Pertumbuhan abnormal bagian otak tertentu menekan pertumbuhan sel saraf lain.
Hampir semua peneliti melaporkan berkurangnya sel Purkinye (sel saraf tempat keluar hasil
pemrosesan indera dan impuls saraf) di otak kecil pada autisme. Berkurangnya sel Purkinye
diduga merangsang pertumbuhan akson, glia (jaringan penunjang pada sistem saraf pusat),
dan mielin sehingga terjadi pertumbuhan otak secara abnormal atau sebaliknya,
5

pertumbuhan akson secara abnormal mematikan sel Purkinye. Yang jelas, peningkatan
brain derived neurotrophic factor dan neurotrophin-4 menyebabkan kematian sel Purkinye.
Gangguan pada sel Purkinye dapat terjadi secara primer atau sekunder. Bila autisme
disebabkan faktor genetik, gangguan sel Purkinye merupakan gangguan primer yang terjadi
sejak awal masa kehamilan.
Degenerasi sekunder terjadi bila sel Purkinye sudah berkembang, kemudian terjadi
gangguan yang menyebabkan kerusakan sel Purkinye. Kerusakan terjadi jika dalam masa
kehamilan ibu minum alkohol berlebihan atau obat seperti thalidomide.
Penelitian dengan MRI menunjukkan, otak kecil anak normal mengalami aktivasi
selama melakukan gerakan motorik, belajar sensori-motor, atensi, proses mengingat, serta
kegiatan bahasa. Gangguan pada otak kecil menyebabkan reaksi atensi lebih lambat,
kesulitan memproses persepsi atau membedakan target, overselektivitas, dan kegagalan
mengeksplorasi lingkungan.
Pembesaran otak secara abnormal juga terjadi pada otak besar bagian depan yang
dikenal sebagai lobus frontalis. Kemper dan Bauman menemukan berkurangnya ukuran sel
neuron di hipokampus (bagian depan otak besar yang berperan dalam fungsi luhur dan
proses memori) dan amigdala (bagian samping depan otak besar yang berperan dalam
proses memori).
Penelitian pada monyet dengan merusak hipokampus dan amigdala mengakibatkan
bayi monyet berusia dua bulan menunjukkan perilaku pasif-agresif. Mereka tidak memulai
kontak sosial, tetapi tidak menolaknya. Namun, pada usia enam bulan perilaku berubah.
Mereka menolak pendekatan sosial monyet lain, menarik diri, mulai menunjukkan gerakan
stereotipik

dan

hiperaktivitas

mirip

penyandang

autisme.

Selain

itu,

mereka

memperlihatkan gangguan kognitif.


Faktor lingkungan yang menentukan perkembangan otak antara lain kecukupan
oksigen, protein, energi, serta zat gizi mikro seperti zat besi, seng, yodium, hormon tiroid,
asam lemak esensial, serta asam folat.

Adapun hal yang merusak atau mengganggu perkembangan otak antara lain
alkohol, keracunan timah hitam, aluminium serta metilmerkuri, infeksi yang diderita ibu
pada masa kehamilan, radiasi, serta ko kain.
5. Tanda dan gejala Autisme
Gejala autisme mulai tampak pada anak sebelum mencapai usia 3 tahun,dan secara
umum gejala paling jelas terlihat antara umur 2-5 tahun. Namun, pada beberapa kasus anak
autis, gejalanya justru terlihat pada usia sekolah. Berdasarkan sebuah penelitian, autisme
lebih banyak menimpa anak laki-laki dari pada anak perempuan
Adapun gejala-gejala autisme pada anak, menurut Dr. Suriviana, antara lain:
a. Gangguan pada bidang komunikasi verbal dan nonverbal,meliputi:
a) Terlambat bicara atau tidak dapat bicara
b) Mengeluarkan kata-kata yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain,yang sering
disebut sebagai bahasa planet.
c) Tidak mengerti dan tidak menggunakan kata-kata dalam konteks yang sesuai
d) Bicara tidak digunakan untuk komunikasi
e) Meniru atau membeo; beberapa anak sangat pandai menirukan nyanyian, nada,
maupun kata-katanya tanpa mengerti artinya.
f) Kadang berbicara monoton seperti robot
g) Mimik muka datar
h) Seperti anak tuli,tetapi bila mendengar suara yang disukainya akan bereaksi dengan
cepat.

b. Gangguan pada interaksi sosial, meliputi:


a) Menolak atau menghindar untuk bertatap muka
b) Mengalami kesulitan
c) Merasa tidak senang dan menolak bila dipeluk
d) Tidak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan orang lain
e) Menarik tangan orang yang terdekat dan mengharapkan orang tersebut melakukan
sesuatu untuknya,apabila ia sedang menginginkan sesuatu
f) Jika didekati untuk bermain,justru menjauh
g) Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain
h) Terkadang masih mendekati orang lain untuk makan atau duduk di pangkuan
sebentar,kemudian berdiri tanpa memperlihatkan mimik apapun.

i) Keengganan untuk berinterasi lebih nyata dengan anak sebaya dibandingkan


terhadap orang tuanya.
c. Gangguan pada bidang perilaku dan bermain
a) Seolah tidak mengerti cara bermain, bermainnya sangat monoton, dan melakukan
gerakan yang sama berulang-ulang sampai berjam-jam.
b) Bila sudah senang terhadap satu mainan, tidak mau mainan yang lain dan cara
bermainnya juga aneh.
c) Keterpakuan pada roda (dapat memegang roda mobil-mobilan secara terus-menerus
untuk waktu yang lama) atau sesuatu yang berputar.
d) Terdapat kelekatan dengan benda-benda tertentu, seperti sepotong tali, kartu, kertas,
serta gambar yang terus dipegang dan dibawa kemana-mana.
e) Sering memperhatikan jari-jarinya sendiri, kipas angin yang berputar, dan air yang
bergerak.
f) Perilaku ritualistik sering terjadi
g) Dapat terlihat sangat hiperaktif,misalnya tidak dapat diam, lari ke sana-sini,
melompat-lompat, berputar-putar, dan memukul benda berulang-ulang.
h) Bisa juga menjadi terlalu diam.
d. Gangguan pada bidang perasaan dan emosi, meliputi:
a) Tidak ada atau kurangnya rasa empati (misalnya, ketika melihat anak menangis, si
anak tidak merasa kasihan ia bahkan merasa terganggu, sehingga anak sedang
menangis akan didatangi dan dipukulinya).
b) Tertawa-tawa sendiri serta menangis atau marah-marah tanpa sebab yang nyata
c) Sering mengamuk tidak terkendali, terutama bila tidak mendapatkan apa yang
diinginkan, bahkan dapat menjadi agresif dan destruktif.
e. Gangguan dalam persepsi sensori, meliputi:
a) Mencium-cium, menggigit, atau menjilat mainan atau benda apa saja
b) Bila mendengar suara keras,langsung menutup mata.
c) Tidak menyukai rabaan atau pelukan; bila digendong, cenderung merosot untuk
melepaskan diri dari pelukan.
d) Merasa tidak nyaman bila memakai pakaian dengan bahan tertentu. (Aizid, Rizem.
2011)
6. Gambaran dan Perilaku Anak Autis
a. Gambaran unik anak autis

a) Selektif yang berlebihan terhadap rangsangan sehingga kemampuan menangkap


isyarat yang berasal dari lingkungan sangat terbatas.
b) Kurang motifasi, bukan hanya sering menarik diri dan asyik sendiri, tetapi juga
cenderung tidak termotivasi menjelajah lingkungan baru atau memperluas lingkup
perhatian mereka.
c) Memiliki respon stimulasi diri tinggi. Mereka menghabiskan sebagian besar
waktunya untuk merangsang diri sendiri, misalnya bertepuk tangan, mengepakngepakkan tangan, dan memandangi jari-jemari sehingga tidak produktif.
d) Memiliki respon terhadap imbalan. Mereka belajar paling efektif pada kondisi
imbalan langsung, yang jenisnya sangat individual. Namun, respon ini berbeda
untuk setiap anak autis.
2.

Perilaku Autistik
a. Perilaku berlebihan (excessive)
a) Perilaku self-abuse (melukai diri sendiri
Perilaku memukul, menggigit, dan mencakar diri diri sendiri.
b) Agresif
Perilaku menendang, memukul, menggigit, dan mencubit.
c) Tantrum
Perilaku menjerit, menangis, dan meloncat-loncat.
d) Masuk atau membuat berantakan
Masuk ke dalam lemari, memberantakkan buku-buku dan mainan, dan bermainmain di air.
e) Perilaku stimulasi-diri
Menatap jari-jemari, berayun, dan mengepak-ngepakkan tangan.
b. Perilaku Berkekurangan (deficit)
a) Kesiapan belajar
Kontak mata jika disuruh dan mengikuti perintah sederhana, seperti tutup pintu
dan duduk.
b) Keterampilan motorik kasar
Bermain bola dan mengayuh sepeda roda tiga.
9

c) Keterampilan motorik halus


Menyalin garis, mewarnai, dan menggunakan gunting.
d) Imitasi non verbal
Tepuk tangan, menunjuk bagian tubuh, dan mengikuti gerakan atau mimik mulut.
e) Imitasi verbal
Mengeluarkan suara secara spontan, meniru suku-suku kata, dan meniru penekanan
atau tinggi rendah dalam suatu kalimat
f) Pembicaraan sederhana yang berguna
Menjawab pertanyaan-pertanyaan paling tidak satu kata, meminta sesuatu dengan
satu kata atau lebih.
7. Penatalaksanaan
Autisme merupakan gangguan yang tidak bisa disembuhkan (not curable) namun
bisa diterapi (treatable), maksudnya kelainan yang terjadi pada otak tidak bisa diperbaiki
namun ada gejala-gejala yang dapat dikurangi semaksimal mungkin sehingga anak tersebut
nantinya dapat berbaur dengan anak-anak lain secara normal.
Beberapa terapi yang harus dijalankan antara lain :
a. Terapi Medikamentosa
Terapi ini dilakukan dilakukan dengan obat-obatan yang bertujuan memperbaiki
komunikasi, memperbaiki respon terhadap lingkungan,menghilangkan perilaku aneh
serta diulang-ulang.Obat-obat yang ada di Indonesia adalah dari jenis anti-depresan
selektive serotonin reuptake inhibitor (SSRI) dan benzodiazepin, seperti fluoxetine
prozac,sertralin,zoloft,dan risperidone rispedal.
b. Terapi Biomedis
Terapi ini bertujuan memperbaiki metabolisme tubuh melalui diet dan pemberian
suplemen. Terapi ini dilakukan berdasarkan banyaknya gangguan fungsi tubuh, seperti
gangguan pencernaan, alergi, daya tahan tubuh rentan, dan keracunan logam berat.
c. Terapi wicara
Umumnya, terapi ini menjadi keharusan bagi anak autis karena mereka mengalami
keterlambatan bicara dan kesulitan berbahasa. Psikoterapi menggunakan teknik bermain
kreatif verbal dan non verbal yang memungkinkan orang tua lebih mendekatkan diri

10

kepada anak autisme dan mengenal kondisi anak secara mendetail guna membantu
proses penyembuhan anak.
d. Psikoterapi
Terapi khusus bagi anak autisme yang dalam pelaksanaannya harus melibatkan peran
aktif dari orang tua. Psikoterapi menggunakan teknik bermain kreatif verbal dan non
verbal yang memungkinkan orang tua lebih mendekatkan diri kepada anak autisme dan
mengenal kondisi anak secara mendetail guna membantu proses penyembuhan anak.
e. Terapi okupasi
Terapi ini bertujuan membantu anak autisme yang mempunyai perkembangan motorik
kurang baik, antara lain gerak-geriknya kasar dan kurang luwes.Terapi okupasi akan
menguatkan, memperbaiki koordinasi, dan keterampilan otot halus anak.
f. Terapi Music
Terapi music untuk anak-anak autisme ialah penggunaan bunyi dan musik dalam
memunculkan hubungan antara penderita dengan individu lain, sekaligus terapi untuk
mendukung serta menguatkan secara fisik, mental, social dan emosional. Penggunaan
bunyi dan musik dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya bermain music
bersama dengan improvisasi bebas. Hal ini sangat cocok untuk anak-anak autisme yang
notabene sulit dalam berkomunikasi. Melalui musik, anak-anak autisme dapat
mengungkapkan perasaan mereka dengan segala cara, baik menggunakan anggota
tubuh, suara, maupun alat musik yang disediakan.
g. Peran orang tua
Banyak peran yang bisa dan harus dilakukan orang tua anak autis. Pertama, memastikan
diagnosa, sekaligus mengetahui ada- tidaknya gangguan lain pada anak untuk ikut
diobati.Carilah dokter yang dapat memahami penyakit anak dan jangan fanatik pada
satu dokter karena tidak selamanya seorang dokter benar secara mutlak. Hal yang juga
sangat membantu orang tua adalah bertemu dan berbicara dengan sesama orang tua
anak autis. Usahakan bergabung dalam parents support group.Selain untuk berbagi rasa,
juga untuk berbagi pengalaman, informasi, dan pengetahuan.Orang tua juga harus
bertindak sebagai manager saat terapi dilakukan, misalnya mempersiapkan kamar
khusus, mencari dan mewawancara terapis, mengatur jadwal, melakukan evaluasi

11

bersam tim, juga mampu memutuskan segala sesuatu yang berkaitan dengan
pendidikan, terapisan, dan pengobatan anak.

h. Spesifikasi diet bagi anak autis


a) Bahan makanan yang mengandung luten yang biasanya terdapat dalam gandum,
tepung terigu, atau maizena, oat, barley, dan lainlain. Produk olahan yang
mengandung gluten antara lain kecap, roti, cookies atau biskuit, mie, sereal, donat,
pie.
b) Bahan makanan yang mengandung kasein yang biasanya terdapat dalam susu
hewan. Produk olahan yang mengandung kasein antara lain keju, es krim, yougurt,
biskuit, margarin.
c) Bahan makanan yang mengandung penyedap rasa atau MSG. Selain itu,sebagian
besar anak autisme juga sensitif terhadap bumbu makanan tertentu seperti ketumbar,
merica, jahe, cengkeh.
d) Bahan pemanis dan pewarna buatan seperti permen, saos tomat, minuman kemasan.
e) Makanan yang diawetkan seperti makanan kalengan, sosis, makanan olahan atau
makanan yang dijual di supermarket.
f) Makanan siap saji
g) Minuman berkarbonasi atau sooftdrink
h) Buah-buahan tertentu seperti anggur, pir, lengkeng, pisang, apel, jeruk, tomat,
almond, cherry, strawberry, melon, mangga yang terlalu manis, ketimun.
i) Jenis air tertentu, seperti air ledeng, air sumur. Oleh karena itu tetap dianjurkan bagi
anak autisme untuk mengkonsumsi air mineral
j) Kurma, jagung, santan, minyyak kelapa atau kelapa sawit, abon sapi
k) Gelatin, mayones, mustard, cuka
l) Ebi, kornet, dendeng, ham, telur asin, ikan asin, daging kambing. Oleh karena itu,
ikan dan daging ayam masih menjadi prioritas makanan bagi anak autisme.
m) Kentang goreng, rempeyek
n) Semua jenis gula tanpa terkecuali selain jenis gula yang direkomendasikan dokter
atau terapis
o) Madu dengan campuran gula

12

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Kaji riwayat kehamilan ibu,nutrisi saat hamil dan terjadi ganguan pada saat hamil atau
tidak.
Kaji riwayat partum dan post partum
Uji perkembangan
a. Psikososial
a) Menarik diri dan tidak responsive terhadap orang tua
b) Memiliki sikap menolak perubahan secara ekstrem
c) Keterikatan yang tidak pada tempatnya dengan objek
d) Perilaku menstimulasi diri
e) Pola tidur tidak teratur
f) Permainan stereotip
g) Perilaku destruktif terhadap diri sendiri dan orang lain
h) Tantrum yang sering
i) Peka terhadap suara-suara yang lembut bukan pada suatu pembicaraan
j) Kemampuan bertutur kata menurun
k) Menolak mengonsumsi makanan yang tidak halus
b. Neurologis
a) Respons yang tidak sesuai terhadap stimulasi
b) Reflex mengisap buruk
c) Tidak mampu menangis ketika lapar
c. Gastrointestinal
a) Penurunan nafsu makan
b) penurunan berat badan
d. Gangguan tingkah laku
e. Gangguan komunikasi verbal dan nonverbal.contoh:sulit bicara atau bicara berulangulang
f. Gangguan pola bermain.contohnya:tidak suka bermain dengan teman sebaya
g. Gangguan sensori,seperti tidak sensitive terhadap rasa sakit/takut
h. Gangguan respon emosi.contoh:sering marah-marah dan tertawa tanpa alasan
i. Gangguan interaksi social
B. Diagnosa Keperawatan
a. Hambatan komunikasi berhubungan dengan kebingungan terhadap stimulasi
b. Resiko membahayakan diri sendiri atau orang lain yang berhubngan dengan rawat inap
di rumah sakit
c. Resiko perubahan peran orang tua berhubungan dengan gangguan

13

C. Intervensi Keperawatan
a. Hambatan komunikasi berhubungan dengan kebingungan terhadap stimulasi
Hasil yang diharapkan :
Anak mengkomunikasikan kebutuhannya dengan menggunakan kata-kata atau gerakan
tubuh yang sederhana,konkret; bayi dengan efektif dapat mengomunikasikan
kebutuhannya (keinginan akan makan, kenyamanan, dan sebagainya).
INTERVENSI
berkomunikasi dengan

RASIONAL
anak, Kalimat yang sederhana dan diulang-

bicaralah dengan kalimat singkat

yang ulang mungkin merupakan satu-satunya

Ketika

terdiri atas satu hingga tiga kata, dan ulangi cara berkomunikasi karena anak yang
perintah sesuai yg diperlukan.

autistic

mungkin

tidak

mampu

mengembangkan tahap operasional yang


konkret
Gunakan irama,music,dan gerakan tubuh Gerakan fisik dan suara membantu anak
untuk

membantu

perkembangan mengenali integritas tubuh serta batasan-

komunikasi sampai anak dapat memahami batasannya

sehingga

mendorongnya

bahasa.
terpisah dari objek dan orang lain.
Bantu anak mengenali hubungan antara Memahami konsep penyebab dan efek
sebab akibat dengan cara menyebutkan membantu
perasaannya

yang

khusus

anak

membangun

dan kemampuan untuk terpisah dari objek

mengidentifikasi penyebab stimulus bagi serta orang lain dan mendorongnya


mereka.
Ketika
anak,bedakan

mengekspresikan
berkomunikasi
kenyataan

kebutuhan

serta

perasaannya.
dengan Biasanya anak autistic tidak mampu
dengan membedakan

antara

realitas

dan

fantasi,dalam pernyataan yang singkat dan fantasi,dan gagal untuk mengenali nyeri
jelas.

atau sensasi lain serta peristiwa hidup

dengan cara yang bermakna.


Sentuh dan gendong bayi, tetapi semampu Menyentuh dan menggendong mungkin
yang dapat ditoleransi

tidak membuat bayi yang autistic merasa


nyaman

14

b. Resiko membahayakan diri sendiri atau orang lain yang berhubungan dengan rawat
inap di rumah sakit
Hasil yang diharapkan :
Anak memperlihatkan penurunan kecenderungan melakukan kekerasan atau perilaku
merusak diri sendiri,yang ditandai oleh frekuensi tantrum dan sikap agresi atau
destruksi berkurang,serta peningkatan kemampuan mengatasi frustasi.
Sediakan

INTERVENSI
lingkungan kondusif

RASIONAL
dan anak yang autistic dapat berkembang

sebanyak mungkin rutinitas sepanjang melalui lingkungan yang kondusif dan


periode perawatan di rumah sakit.

rutinitas,dan

biasanya

tidak

dapat

beradaptasi terhadap perubahan dalam


hidup mereka.
Lakukan intervensi keperawatan dalam sesi Sesi
yang
singkat

dan

sering

singkat dan sering.Dekati anak dengan memungkinkan anak mudah mengenal


sikap lembut dan bersahabat,dan jelaskan perawat

serta

lingkungan

apa yang akan anda lakukan dengan sakit.Mempertahankan


kalimat yang jelas,dan sederhana.

tenang,ramah,dan
prosedur

pada

rumah
sikap

mendemonstrasikan
orang

tua,dapat

membantu anak menerima intervensi.


Gunakan restrain fisik selama prosedur Restrain fisik dapat mencegah anak dari
ketika

membutuhkannya,

untuk tindakan mencederai diri sendiri.Biarkan

memastikan keamanan anak dan untuk anak terlibat dalam perilaku yang tidak
mengalahkan amarah dan frustasinya.

terlalu membahayakan.

Gunakan teknik modifikasi perilaku yang Pemberian imbalan dan hukuman dapat
tepat untuk menghargai perilaku positif dan membantu mengubah perilaku anak dan
menghukum perilaku yang negative.
Ketika
tanyakan

anak

berperilaku

apakah

ia

mencegah episode kekerasan.

destruktif, Setiap

peningkatan

perilaku

agresif

mencoba menujukkan perasaan stress meningkat,

15

menyampaikan sesuatu untuk dimakan atau kemungkinan muncul dari kebutuhan


diminum atau apakah ia perlu pergi ke untuk mengkomunikasikan sesuatu
kamar mandi

c. Resiko perubahan peran orang tua berhubungan dengan gangguan


Hasil yang diharapkan :
Orang tua mendemonstrasikan keterampilan peran menjadi orang tua yang tepat yang
ditandai oleh ungkapan kekhawatiran mereka tentang kondisi anak dan mencari nasihat
serta bantuan.
INTERVENSI
Anjurkan
orang
mengekspresikan

tua
perasaan

RASIONAL
untuk Membiarkan orang tua mengekspresikan
dan perasaan

kekhawatiran mereka.

dan

kekhawatiran

mereka

tentang kondisi kronis anak membantu


mereka beradaptasi terhadap frustasi

dengan baik.
Rujuk orang tua ke kelompok pendukung Kelompok pendukung memperbolehkan
autism setempat dan ke sekolah khusus jika orang tua menemui orang tua dari anak
diperlukan.

lain yang menderita autis untuk berbagi


informasi dan memberikan dukungan

emosional.
Anjurkan orang tua untuk mengikuti Kontak dengan kelompok swabantu

16

konseling

membantu

orang

tua

memperoleh

informasi tentang masalah terkini,dan


perkembangan
dengan autisme

17

yang

berhubungan