You are on page 1of 11

1

BAB 1
PENDAHULUAN
Demam Tifoid merupakan penyakit endemis di Indonesia yang disebabkan
oleh infeksi sistemik Salmonella typhi. Penyakit ini ditularkan melalui makanan
atau minuman yang terkontaminasi oleh orang yang terinfeksi. Penyakit ini
ditandai oleh panas yang berkepanjangan, dengan bakteremia tanpa keterlibatan
struktur endothelial atau endokardial dan invasi bakteri sekaligus multiplikasi ke
dalam sel fagosit mononuclear dari hati, limpa, kelenjar limfe usus dan payer’s
patch.
Beberapa sistem surveilans untuk kasus demam tifoid di Negara
berkembang sangat terbatas, terutama di tingkat komunitas, sehingga prevalens
penyakit yang sesungguhnya sulit diperoleh. Data surveilans yang tersedia
menunjukkan bahwa pada tahun 2000, estimasi penyakit adalah sebanyak
21.650.974 kasus, kematian terjadi pada 216.510 kasus tifoid dan 5.412.744 pada
penyakit paratifoid. Berdasarkan laporan Ditjen Pelayanan Medis Depkes RI, pada
tahun 2008, demam tifoid menempati urutan kedua dari 10 penyakit terbanyak
pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia dengan jumlah kasus 81.116 dengan
proporsi 3,15%. Umur penderita yang terkena di Indonsia dilaporkan antara 3-19
tahun mencapai 91%.
Apabila demam tifoid tersebut tidak dideteksi dan diobati secara cepat dan
tepat dapat menyebabkan komplikasi, seperti perdarahan usus, infeksi selaput
usus, renjatan bronkopnemonia (peradangan paru), dan kelainan pada otak. Maka
dari itu untuk mencegah terjadinya demam tifoid dan menurunkan angka kejadian,
harus memperhatikan sanitasi lingkungan, pola makan yang sehat dan kebersihan
pribadi.

1

2

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
A.

Definisi Demam Tifoid
Demam tifoid adalah salah satu penyakit infeksi sistemik akut yang

disebabkan oleh bakteri gram negative Salmonella typhi. Penyakit ini ditularkan
melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi. Demam tifoid
dipengaruhi oleh beberapa factor, antara lain laju pertumbuhan penduduk yang
tinggi, peningkatan urbanisasi, rendahnya kualitas pelayanan kesehatan di
beberapa daerah, buruknya sanitasi lingkungan dan kebersihan diri.
Demam tifoid atau thypoid fever adalah suatu sindrom sistemik yang
disebabkan Salmonella typhii. Demam tifoid merupakan jenis terbanyak dari
salmonelosis. Beberapa terminologi yang erat kaitannya adalah demam paratifoid
dan demam enterik. Demam paratifoid secara patologik maupun klinis adalah
sama dengan demam tifoid namun biasanya lebih ringan, penyakit ini disebabkan
oleh species Salmonella enteriditis sedangkan demam enteric dipakai pada demam
tifoid maupun demam paratifoid. Terdarpat 3 serotipe Salmonella enteriditis yaitu
serotipe paratyphi A, paratyphi B ( Salmonella Schotsmuelleri) dan paratyphi C (
Salmonella Hirschfeldii)
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa demam tifoid
adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh salmonella typhii
dapat menular melalui oral, fecal, makanan dan minuman yang terkontaminasi.
B.

Etiologi Demam Tifoid
Penyebab dari demam thypoid yaitu :
96 % disebabkan oleh Salmonella Typhi, basil gram negative, mempunyai

flagella, tidak berkapsul, tidak membentuk spora, fakultatif anaerob. Mempunyai
antigen:
a.Antigen O (somatic terdiri dari oligosakarida)
2

3

b.Antigen H (flagellar antigen) yang terdiri dari protein.
c.Antigen K (envelope antigen) yang terdiri dari polisakarida.
Mempunyai makromolekular lipopolisakarida kompleks yang membentuk
lapis luar dari dinding sel dan dinamakan endotoksin. Salmonella typhi juga dapat
memperoleh plasmid factor-R yang berkaitan dengan resistensi terhadap multiple
antibiotik.
Kuman salmonella typhi tahan terhadap berbagai bahan kimia, tahan
beberapa hari-minggu pada suhu kamar, bahan limbah, bahan makanan kering,
bahan farmasi, dan tinja. Salmonella mati pada suhu 54,40C dalam 1 jam atau
600C dalam 15 menit. Salmonella mempunyai antigen O (somatik) adalah
komponen dinding sel dari lipopolisakarida yang stabil pada panas, dan antigen H
(flagellum) adalah protein yang labil terhadap panas. Masa inkubasi biasanya 7-14
hari atau 3-30 hari, bergantung pada besarnya invasi dari Salmonella typhi.
C.

Patofisiologi
Kuman masuk ke dalam mulut melalui makanan atau minuman yang
terinfeksi oleh Salmonella (biasanya >10.000 basil kuman). Sebagian kuman
dapat dimusnahkan oleh asam HCL lambung dan sebagian lagi masuk ke usus
halus. Jika respon imunitas humoral mukosa (IgA) usus kurang baik, maka basil
Salmonella akan menembus sel-sel epitel (sel M) dan selanjutnya menuju lamina
propia dan berkembang biak di jaringan limfoid plak peyeri di ileum distal dan
kelejar getah bening usus dan memperbanyak diri di dalam sel mononukleus,
kemudian sel menosit yang mengandung kuman melalui saluran limfe mesentrik
dan selanjutnya duktus limfatik kuman mencapai aliran darah dan terjadi
bakteremia primer.
Jaringan limfoid plak peyeri dan kelenjar getah bening mesenterika
mengalami hiperplasia. Basil tersebut masuk ke aliran darah (bakterimia) melalui
ductus thoracicus dan menyebar ke seluruh organ retikuloendotalial tubuh,
terutama hati, sumsum tulang, kandung empedu, limpa, paru, sususan saraf pusat
dan organ lain.
Hati membesar (hepatomegali) dengan infiltrasi limfosit, zat plasma, dan
sel

mononuclear.

Terdapat

juga

nekrosis

fokal

dan

pembesaran

4

limfa (splenomegali). Di organ ini, kuman S. Thypi berkembang biak dan masuk
sirkulasi darah, sehingga mengakibatkan bakterimia kedua yang disertai tanda dan
gejala infeksi sistemik (demam, malaise, mialgia, sakit kepala, sakit perut,
instabilitas vaskuler, dan gangguan mental koagulasi).
Pendarahan saluran cerna terjadi akibat erosi pembuluh darah di sekitar
plak peyeri yang sedang mengalami nekrosis dan hiperplasia. Proses patologis ini
dapat berlangsung hinga ke lapisan otot, serosa usus, dan mengakibatkan perforasi
usus. Endotoksin basil menempel di reseptor sel endotel kapiler dan dapat
mengakibatkan komplikasi, seperti gangguan neuropsikiatrik kardiovaskuler,
pernapasan, dan gangguan organ lainnya. Pada minggu pertama timbulnya
penyakit, terjadi hyperplasia (pembesaran sel-sel) plak peyeri. Disusul kemudian,
terjadi nekrosis pada minggu kedua dan ulserasi plak peyeri pada minggu ketiga.
Selanjutnya, dalam minggu ke empat akan terjadi proses penyembuhan ulkus
dengan meninggalkan sikatriks (jaringan parut).
Masa inkubasi demam tifoid berlangsung selama 7-14 hari (bervariasi
antara 3-30 hari) bergantung jumlah dan strain kuman yang tertelan. Selama masa
inkubasi penderita tetap dalam keadaan asimtomatis.
D.

Gejala dan Tanda Demam Tifoid
Gejala klinik demam tifoid pada anak biasanya memberikan gambaran
klinis yang ringan bahkan dapat tanpa gejala (asimtomatik). Secara garis besar,
tanda dan gejala yang ditimbulkan antara lain :
1. Demam lebih dari seminggu. Demam bersifat naik turun atau demam
mencapai suhu tertinggi pada sore hingga malam hari dan suhu turun
namun tidak mencapai normal pada pagi hingga siang hari.
2. Lidah kotor. Bagian tengah berwarna putih dengan pinggirnya merah.
3. Mual Berat sampai muntah. Bakteri Salmonella typhi berkembang biak di
hati dan limpa, Akibatnya terjadi pembengkakan dan akhirnya menekan
lambung sehingga terjadi rasa mual.
4. Diare atau Mencret. Sifat bakteri yang menyerang saluran cerna
menyebabkan gangguan penyerapan cairan yang akhirnya terjadi diare,

5

namun dalam beberapa kasus justru terjadi konstipasi (sulit buang air
besar).
5. Lemas, pusing, dan sakit perut. Demam yang tinggi menimbulkan rasa
lemas, pusing. Terjadinya pembengkakan hati dan limpa menimbulkan
rasa sakit di perut.
6. Gangguan kesadaran pada kasus berat.

E.

Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis demam tifoid pada anak seringkali tidak khas dan sangat

bervariasi yang sesuai dengan patogenesis demam tifoid. Spektrum klinis demam
tifoid tidak khas dan sangat lebar, dari asimtomatik atau yang ringan berupa panas
disertai diare yang mudah disembuhkan sampai dengan bentuk klinis yang berat
baik berupa gejala sistemik panas tinggi, gejala septik yang lain, ensefalopati atau
timbul komplikasi gastrointestinal berupa perforasi usus atau perdarahan. Hal ini
mempersulit penegakan diagnosis berdasarkan gambaran klinisnya saja.
Manifestasi klinik tergantung pada umur, yang dibedakan yaitu pada usia
sekolah sampai remaja, bayi sampai umur 5 tahun, dan pada neonatus
a. Anak usia sekolah dan remaja
Awalan penyakit samar. Mula-mula gejalanya demam,lesu, anoreksia,
mialgia, sakit kepala dan sakit perut berlangsung 2-3 hari. Bisa terjadi
diare namun juga dapat terjadi konstipasi. Mual dan muntah timbul
pada minggu 2-3 dan merupakan tanda adanya komplikasi.
b. Bayi dan anak sampai 5 tahun
Pada usia ini biasanya penyakit menunjukkan gejlaa ringan seperti
demam ringan dan lesu, sehingga diagnosa sulit ditetapkan pada awal
penyakit. Pada pemeriksaan biakan ditemukan S. Typhi. Gejala diare
lebis sering ditemukan sehingga diagnose awalnya mengarah ke
gastroenteritis.
c. Bayi baru lahir
Infeksi pada ibu hamil dapat mengakibatkan abortus atau kelahiran
premature. Gejala timbul pada hari ke-3 yaitu muntah, diare, dan

6

kembung. Suhu tubuh bervariasi, bia mencapai 40,50C, dan biasanya
disertai kejang. Gejala lainnya adalah hepatomegali, ikterus, anoreksia
dan penurunan berat badan.
Berikut gejala Klinis yang biasa ditemukan, yaitu :
a.

Demam
Pada kasus–kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu:
Minggu I
Dalam minggu pertama penyakit keluhan gejala serupa dengan penyakit
infeksi akut pada umumnya, yaitu demam yang bertahap, nyeri kepala, pusing,
nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak di
perut, batuk dan epistaksis. Pada pemeriksaan fisik hanya didapatkan suhu
badan meningkat.
Minggu II
Dalam minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas dengan demam
menerus tinggi, bradikardia relatif, lidah yang khas (kotor di tengah, tepi dan
ujung merah dan tremor), hepatomegali, splenomegali, meteroismus, gangguan
mental berupa somnolen, stupor, koma, delirium atau psikosis, roseolae jarang
ditemukan pada orang Indonesia.
Minggu III
Dalam minggu ketiga suhu badan berangsur – angsur turun dan normal
kembali pada akhir minggu ketiga.

b.

Gangguan pada saluran pencernaan
Pada mulut terdapat nafas bau tidak sedap, bibir kering dan pecah – pecah.

Lidah ditutupi selaput putih kotor dengan pinggir lidah kemerahan , kadang
ditemui tremor. Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan perut kembung. Hati
dan limfa membesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya didapatkan konstipasi
akan tetapi mungkin pula normal bahkan dapat terjadi diare.
c.

Gangguan keasadaran
Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa dalam yaitu

apatis sampai samnolen. Jarang stupor, koma atau gelisah. Disamping gejala–
gejala yang biasanya ditemukan tersebut, mungkin pula ditemukan gejala lain.

7

Pada punggung dan anggota gerak dapat ditemukan bintik – bintik kemerahan
karena emboli basil dalam kukghapiler kulit.
Transmisi terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi dari
penderita tifus akut dan para pembawa kuman/karier. Empat F (Finger, Files,
Fomites dan fluids).
F.

Diagnosis
1. Amanesa
Demam naik secara bertahap tiap hari, mencapai suhu tertinggi pada sore

menjelang malam dan suhu turun namun tidak mencapai normal pada pagi hingga
siang hari. Suhu bertahap naik hingga akhir minggu pertama demam, minggu
kedua demam terus menerus tinggi. Anak sering mengigau (delirium), malaise,
letargi, anoreksia, nyeri kepala, perut kembung, diare atau konstipasi, mual dan
muntah. Pada demam tifoid berat dapat dijumpai gangguan kesadaran
2. Pemeriksaan fisik
Gejala klinis bervariasi dari yang ringan sampai beratdengan komplikasi.
Kesaran menurun, delirium, sebagai anak terdapat typhoid tongue (lidah dengan
bercak putih) dan hiperemis (kemerahan) pada pinggir lidah, hepatomegali,
splenomegali. Kadang dijumpai ronki pada pemeriksaan paru.
3. Kultur Darah
Diagnosis definitive penyakit tifus dengan isolasi bakteri Salmonella typhi
dari specimen yang berasal dari darah penderita. Pengambilan specimen darah
sebaiknya dilakukan pada minggu pertama timbulnya penyakit, karena
kemungkinan untuk

positif mencapai 80-90%, khususnya pada pasien yang

belum mendapat terapi antibiotic. Pada mingguke-3 kemungkinan untuk positif
menjadi 20-25% and minggu ke-4 hanya 10-15%.
4. Laboraturium
Anemia, pada umumnya terjadi karena supresi sumsum tulang, defisiensi Fe
atau perdarahan usus. Leukopenia, namun jarang <3000/uL. Limfositosis relative.
Trombositopenia, terutama pada demam tifoid berat.
5. Tes Widal
Penentuan kadar aglutinasi antibodi terhadap antigen O dan H dalam darah

8

(antigen O muncul pada hari ke 6-8, dan antibodi H muncul pada hari ke 10-12.
Pemeriksaan Widal memberikan hasil negatif sampai 30% dari sampel biakan
positif penyakit tifus, sehingga hasil tes Widal negatif bukan berarti dapat
dipastikan tidak terjadi infeksi. Pemeriksaan tunggal penyakit tifus dengan tes
Widal kurang baik karena akan memberikan hasil positif bila terjadi :
 Infeksi berulang karena bakteri Salmonella lainnya
 Imunisasi penyakit tifus sebelumnya
 Infeksi lainnya seperti malaria dan lain- lain Pemeriksaan Kultur Gal
sensitivitasnya rendah, dan hasilnya memerlukan waktu berhari-hari,
sedangkan

pemeriksaan Widal tunggal memberikan hasil yang kurang

bermakna untuk mendeteksi penyakit tifus.
6. Pemeriksaan Anti Salmonella typhi IgM dengan reagen TubexRTF sebagai
solusi pemeriksaan yang sensitif, spesifik, praktis untuk mendeteksi
penyebab demam akibat infeksi

bakteri

Salmonella typhi. Pemeriksaan Anti

Salmonella typhi IgM dengan reagen TubexRTF dilakukan untuk mendeteksi
antibody terhadap antigen lipopolisakarida O9 yang sangat spesifik terhadap
bakteri Salmonella typhi.
Tes Ig M Anti Salmonella memiliki beberapa kelebihan:
 Deteksi infeksi akut lebih dini dan sensitive, karena antibodi IgM muncul
paling awal yaitu setelah 3-4 hari terjadinya demam (sensitivitas > 95%).
 Lebih spesifik mendeteksi bakteri Salmonella typhi dibandingkan dengan
pemeriksaan Widal, sehingga mampu membedakan secara tepat berbagai
infeksi dengan gejala klinis demam (spesifisitas > 93%).
 Memberikan gambaran diagnosis yang lebih pasti karena tidak hanya
sekedar hasil positif dan negatif saja, tetapi juga dapat menentukan tingkat
fase akut infeksi.
 Diagnosis lebih cepat, sehingga keputusan pengobatan dapat segera
diberikan.
 Hanya memerlukan pemeriksaan tunggal dengan akurasi yang lebih tinggi
dibandingkan Widal serta sudah diuji di beberapa daerah endemic penyakit
tifus.

9

G.

Penatalaksanaan
Pada pasien anak, kloramfenikol diberikan dengan dosis 50-100

mg/kgBB/hari PO/IV dibagi dalam 4 kali pemberian selama 10-14 hari. Regimen
lain yang dapat diberikan pada anak, yaitu: ampisilin (100-200 mg/kgBB/hari
terbagi dalam 4 kali pemberian IV), amoksisilin (100 mg/kgBB/hari terbagi dalam
3 kali pemberian PO), trimethoprim (10 mg/kg/hari) atau sulfametoksazol (50
mg/kg/hari) terbagi dalam 2 dosis, seftriakson 50 mg/kg/hari IM untuk 5 hari, dan
cefixime 20 mg/kg/hari dibagi 2 dosis selama 10 hari.
Pemberian steroid diindikasikan pada kasus toksik tifoid (disertai gangguan
kesadaran dengan atau tanpa kelainan neurologis dan hasil pemeriksaan CSF
dalam batas normal) atau pasien yang mengalami renjatan septik. Regimen yang
dapat diberikan adalah deksamethasone dengan dosis 3x5 mg. Sedangkan pada
pasien anak dapat digunakan deksametashone IV dengan dosis 3 mg/kg dalam 30
menit sebagai dosis awal yang dilanjutkan dengan 1 mg/kg tiap 6 jam hingga 48
jam. Pengobatan lainnya bersifat simtomatik/sampai kesadaran membaik.

H.

Pencegahan Demam Tifoid
Pada daerah endemis, menjaga sanitaitasi lingkungan dan kebersihan diri

adalah cara efektif dalam mengontrol demam tifoid. Untuk mengurangi penularan
melalui individu ke individu dan makanan yang terkontaminasi tindakan sanitasi
diri, cuci tangan dan memilih makanan yang bersih sangatlah penting. Salmonella
typhi akan mati jika dipanasi dalam suhu 57oC dalam beberapa menit.
Vaksin di rekomendasikan kepada wisatawan yang akan berkunjung di
daerah endemik demam tifoid, akan tetapi walaupun mendapat vaksin wisatawan
juga harus menjaga sanitasi personal dan memilih makanan yang bersih. Vaksin
tifoid oral diberikan pada usia >6tahun dengan interval jarak sehari (hari 1, 3 dan
5), ulang selama 3-5 tahun.

10

BAB 3
KESIMPULAN
A.

Kesimpulan
a. Tifoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman
salmonella thypi dan salmonella para thypi A, B, C. Sinonim dari penyakit ini
adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis. Tifoid adalah penyakit infeksi pada
usus halus, tifoid disebut juga paratyphoid fever, enteric fever, typhus dan para
typhus abdominalis. Penyakit ini ditularkan melalui makanan atau minuman yang
terkontaminasi oleh orang yang terinfeksi. Demam tifoid menjadi masalah
kesehatan, yang umumnya terjadi di negara yang sedang berkembang karena
akibat kemiskinan, kriminalitas dan kekurangan air bersih yang dapat diminum.
b. Gejala khas pada demam tifoid adalah demam > 1 minggu dengan sifat demam
yang naik turun atau demam mencapai suhu tertinggi pada sore hingga malam hari
dan suhu turun namun tidak pernah mecapai suhu normal pada pagi hingga siang
hari. Dijumpai thypoid tongue, gangguan gastrointestinal, hepatosplenomegali dan
dapat dijumpai rose spot.

11

DAFTAR PUSTAKA
1.

Alan R. Tumbelaka. Diagnosis dan Tata laksana Demam Tifoid. Cetakan

10

pertama. 2003. Jakarta ;Ikatan Dokter Anak Indonesia: 37-46
2.

Hardiono, D. Pusponegoro., dkk. Standar Kesehatan Medis Kesehatan
Anak. Edisi 1. 2004. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.

3.

Widodo Darmowandoyo. Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Infeksi
dan Penyakit Tropis. Edisi pertama. 2002: Jakarta. Bagian Ilmu Kesehatan
Anak FKUI: 367-375

4.

Sumarmo, S. Poorwo., dkk. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis, edisi
kedua. 2002: Jakarta. Bagian Ilmu Kesehatan Aanak FKUI.

5.

Sri, R. Hadinegoro,. Update Management of Infections Disease and
Gastrointestinal Disorders. Cetakan Pertama. 2012: Jakarta. Departemen
Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM.

6.

Widagdo. Masalah dan Tatalaksana Penyakit Infeksi Pada Anak. 2010,
Sagung Seto.