You are on page 1of 9

JihanIstiqomah

09.13.000.238

Ileus obstruks
PENGERTIAN
Ileus obstruksi adalah blok saluran usus yang menghambat pasase cairan, flatus, dan
makanan, dapat secara mekanis atau fungsional (IinInayah, 2004 : 202).
Ileus obstruktif terjadi ketika terdapat rintangan terhadap aliran normal dari isi usus,
bisa juga karena hambatan terhadap rangsangan saraf untuk terjadinya peristaltik atau karena
adanya blockage (Barbara C. Long, 1996 : 242).
Pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa ileus obstruktif adalah penyumbatan yang
terjadi secara parsial atau komplit, mekanik atau fungsional, yang terjadi bisa diusus halus
ataupundiusus besar, dapat mengakibatkan terhambatnyapasase cairan, flatus, dan makanan.
ETIOLOGI
1.

Suatu infeksi atau bekuan darah di dalam perut

2.

Atherosclerosis yang menyebabkan berkurangnya aliran darah ke usus

3.

Cendera pada pembulu darah usus

4.

Kelenjar tiroid yg kurang aktif

5.

Obat obatan tertentu

6.

Kelainan di luar usus seperti gagal ginjal atau kadar elektrolit darah yang abnormal

(rendah kalium tinggi kalsium)

Mekanika sederhana . usus halus atas Kolik (kram) pada abdomen pertengahan sampai ke atas. 2. distensi. Mekanika sederhana . nyeri tekandifus minimal. bising usus dan bunyi ‘hush´ meningkat. usus halus bawah Kolik (kram) signifikan midabdomen.muntah .Pathway TANDA DAN GEJALA 1. sedikit atau tidak ada ± kemudian mempunyai ampas. peningkatan bising usus (bunyi gemerincing bernada tinggi terdengar pada interval singkat). muntah empedu awal. . nyeri tekan difus minimal. distensi berat.

nyeri tekan difus minimal 4. Gejalanya kramnyeri abdomen. distensi yang muncul terakhir. Nyeri abdomen bervariasi dan sering dirasakan sebagai perasaan tidak enak di perut bagian atas. yang jarang menjadi muntah fekal walaupun obstruksi berlangsung lama. Pada pemeriksaan radiologist. kolon Kram (abdomen tengah sampai bawah). Muntah akan timbul kemudian.3. maka muntah yang dihasilkan semakain fekulen. nyeri parah. . 5. peningkatan bising usus. obstruksi disertai proses strangulasi kira-kira sepertiga obstruksi dengan strangulasi tidak diperkirakan sebelum dilakukan operasi. Pemberian kontras akan menunjukkan adanya obstruksi mekanis dan letaknya. kemudian terjadi muntah (fekulen). Semakin distal sumbatan. Strangulasi Gejala berkembang dengan cepat. terus menerus dan terlokalisir. Hal yang perlu diperhatikan adalah adanya skar bekas operasi atau hernia. Obstruksi bagian tengah atau distal menyebabkan kejang di daerah periumbilikal atau nyeri yang sulit dijelaskan lokasinya. Kejang hilang timbul dengan adanya fase bebas keluhan. 2. distensi ringan dan diare. dengan posisi tegak dan telentang dan lateral dekubitus menunjukkan gambaran anaka tangga dari usus kecil yang mengalami dilatasi dengan airfluis level.obstruksi sederhana pada obstruksi usus halus proksimal akan timbul gejala muntah yang banyak. Obstruksi mekanik parsialDapat terjadi bersama granulomatosa usus pada penyakit Crohn. biasanya bising usus menurun dn nyeri tekan terlokalisir hebat. Gejalanya seperti obstruksi sederhana tetapi lebih nyata dan disertai dengan nyeri hebat. muntah persisten. Feses atau vomitus menjadi berwarna gelap atau berdarah atau mengandungdarah samar MANIFESTASI KLINIK 1. Obstipasi selalu terjadi terutama pada obstruksi komplit. Mekanika sederhana . Bila dijumpai tanda-tanda strangulasi maka diperlukan tindakan operasi segera untuk mencegah terjadinya nekrosis usus. distensisedang. waktunya bervariasi tergantung letak sumbatan.

umur. Nyeri yang dirasakan klien seperti disayat-sayat oleh benda tajam letaknya disekitar luka operasi. ada kemungkinan pada keluarga dengan ileus obstruktif dan post laparatomi mempunyai riwayat penyakit kanker dan dapat pula mempunyai riwayat cacingan pada keluarga. nyeri ini bisa ringan sampai berat tergantung beratnya penyakit dengan skala 0 sampai 10. Pasien ileus obstruktif sering ditemukan nyeri kram. jenis kelamin. tanggal pengkajian. Klien post laparatomi pun mengeluh nyeri pada luka operasi. pekerjaan. 2) Identitas penanggung jawab Mencakup nama. jenis kelamin. nomor registrasi. 5) Situasi Riwayat pekerjaan tempat bekerja dan lingkungan. alamat. pendidikan. hubungan dengan klien. Riwayat keperawatan 1) Keluhan utama Gangguan utama/terpenting yang dirasakan klien sehingga ia butuh pertolongan. sehingga klien biasanya hanya berbaring lemas. umur. 2) Riwayat kesehatan sekarang Riwayat penyakit sekarang yang ditemukan ketika dilakukan pengkajian yang dijabarkan dari keluhan utama dengan menggunakan teknik PQRST. b. rasa ini lebih konstan apalagi bila bergerak akan bertambah nyeri dan menyebar pada distensi. alamat. 3) Riwayat kesehatan dahulu Klien dengan ileus obstruktif mempunyai riwayat pernah dioperasi padabagian abdomen. 6) Riwayat geografi Kondisi lingkungan tempat tinggal . agama. yang mengakibatkan terjadinya adhesi. diagnosa medik. keluhan ini mengganggu aktivitas klien. nyeri tersebut akan bertambah apabila klien bergerak dan akan berkurang apabila klien diistirahatkan.Pengkajian a. Klien post laparatomi biasanya mempunyai riwayat penyakit pada system pencernaan. pendidikan. agama. tanggal masuk. pekerjaan. dengan skala nyeri lebih dari 5 (0-10). Identitas 1) Identitas klien Data yang terdapat berupa nama. 4) Riwayat kesehatan keluarga Riwayat dalam keluarga sedikit sekali kemungkinan mempunyai ileus obstruktif karena kelainan ini bukan merupakan kelainan genetik.

Pemeriksaan fisik 1) Keadaan umum: 2) Sistem pernafasan (breath) 3) Sistem kardiovaskuler (blood) 4) Sistem pencernaan(bawel) 5) Sistem persyarafan (brain) 6) Sistem musculoskeletal (bone) 7) Sistem perkemihan (bladder) 8) Sosial 9) Spiritual d.7) Riwayat social Ada perubahan peran. atau ultrasound membantu memastikan diagnosis. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang pada pasien obstruksi usus sebagai berikut : 1) Laboratorium : BUN. pekerjaan. adanya gangguan dalam nutrisi biasanya tidak mampu makan dan minum karena mual dan muntah. c. klorida dan kalium. 8) Pola kebiasaan sehari-hari Adanya kesulitan dalam melakukan aktivitas. berat jenis urin meningkat. terdapat penurunan sodium dan potassium. personal hygiene kurang terpenuhi. leukosit meningkat. hematokrit. 2) Enema barium membantu menentukan bila obstruksididalamkolon. atau aktivitas. 3) Pemeriksaan radiologis abdomen. MRI (magnetic resonance imaging). yang menunjukkan lokasi dari penyumbatan dan juga bisa menunjukkan adanya udara di sekitar usus di dalam perut yang merupakan tanda adanya perforasi. gangguan dalam tidur/istirahat. 4) Skan CT. 5) Proktosigmoidoskopi membantu menentukan penyebab obstruksi bila didalamkolonklien setelah laparotomi dibutuhkan pemeriksaan penunjang . klien akan merasa tergantung dan membutuhkan bantuan orang lain. foto rontgen bisa menunjukan lingkaran usus yang melebar. penurunan kadar serum natrium.kesembuhan penyakit. kesulitan BAB (konstipasi atau obstipasi).

muntah. Hb dan Htk. 2. observasi isi terhadap warna dan konsistensif. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan distensi abdomen dan ataukekakuan. demam dan ataudiforesis. demam dan atau diforesis.e.  Bila pembedahan tidak dilakukan. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi dan perubahan status kesehatan RENCANA KEPERAWATAN1. . 1. muntah. antibiotik dan vitamine. Nyeri berhubungan dengan distensi. kolaborasikan pemberian cairan per oral juga dengan mengklem selang usus selama 1 jam dan memberikanjumlah air yang telahdiukur atau memberikan cairan setelah selang usus diangkat 2.  Ukur lingkar abdomen setiap 4 jam  Pantau elektrolit. kemudian miring kiri untuk memudahkan pasasse ke dalam usus.  Siapkan untuk pembedahan sesuai indikasil.  Pantau selang nasointestinal dan alat penghisap rendah dan intermitten. - Tujuan: kebutuhan cairan terpenuhi - Kriteria hasil :  Tanda vital normal  Masukan dan haluaran seimbang - Intervensi :  Pantau tanda vital dan observasi tingkat kesadaran dan gejala syok  Pantau cairan parentral dengan elektrolit. Nyeri berhubungan dengan distensi.  Posisikan pasien pada miring kanan.  Ukur haluaran drainase setiap 8 jam. 3. MASALAH/DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual. jangan memplester selang ke hidung sampai selang pada posisi yang benar  Pantau selang terhadap masuknya cairan setiap jamh. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual. kekakuan. 1. 4. kekakuan .

 Auskultasi bising usus.  Kaji dan anjurkan melakukan lathan rentang gerak aktif atau pasif setiap 4 jam. perhatikan peningkatan kekauan atau nyeri. - Tujuan : rasa nyeri teratasi atau terkontrol Kriteria hasil : pasien mengungkapkan penurunan ketidaknyamanan. jangan menyangga lutut.  Ubah posisi dengan sering dan berikan gosokan punggung dan perawatan kulit.  Kaji keefektifan dan pantau terhadap efek samping anlgesik. - Tujuan :   pola nafas menjadi efektif. 3. - Intervensi :  indentifikasi factor-faktor yang menyebabkan konstipasi  monitor tanda-tanda rupture bowel/peritonitis  jelaskan dan rasionalisasi tindakan pada pasien . observasi terhadap menelan. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan distensi abdomen dan kekakuan.  Berikan dan anjurkan tindakan alternatif penghilang nyeri. pernafasan yang dalam dan perlahan. hindari morfind. Konstipasi berhubungan dengan kelemahan fungsi abdomen - Tujuan : konstipasi teratasi - Kriteria hasil : pasien BAB dalam batas normal dlam bentuk feses lunak.  Pantau terapi oksigen atau spirometer insentif  Kaji dan ajarkan pasien untuk membalik dan batuk setiap 4 jam dan napas dalamsetiap jam  Auskultasi dada terhadap bunyi nafas setiap 4 jam 4. menyatakan nyeri pada tingkat dapat ditoleransi. - Intervensi :  Kaji status pernafasan.  Kaji lokasi.  Berikan periode istirahat terencana. - Intervensi :  Pertahankan tirah baring pada posisi yang nyaman. berat dan tipe nyeric. Kriteria hasil : pasien menunjukkan kemampuan melakukan latihan pernafasan. berikan enema perlahan bila dipesankan. menunjukkan relaks. ³pernafasan cepat´  Tinggikan kepala tempat tidur 40-60 derajat.

Ansietas berhubungan dengan krisis situasi dan perubahan status kesehatan - Tujuan : ansietas teratasi - Kriteria hasil : pasien mengungkapkan pemahaman tentang penyakit saat ini dan mendemonstrasikan keterampilan kooping positif dalam menghadapi ansietas.  Dorong dan sediakan waktu untuk mengungkapkan ansietas dan rasa takut.  Jelaskan prosedur dan tindakan dan beri penguatan penyakit.  Pertahankan lingkungan yang tenang dan tanpa stres.tindakan dan prognosis. berikan penenangan. konsultasikan dengan dokter tentang peningkatan dan penurunan bising ususe  kolaborasi jika ada tanda dan gejala konstipasi yang menetap  jelaskan pada keluarga pasien tentang manfaat diet terhadap eliminasi  kolaborasi dengan ahli gizi diet tinggi serat dan cairan 5.  Dorong dukungan keluarga dan orang terdekat penjelasan mengenai .  Intervensi : Kaji perilaku koping baru dan anjurkan penggunaan ketrampilan yang berhasil pada waktu lalu.

2001.D. Edisi 3 . Jakarta : Salemba Medica Subiston. 2004 .2003 . EGC . Buku Ajar Keperawatan . Harjono . Mutaqin .C. Wilkinson. 2000. Brunner and Suddart. Jakarta.Buku Ajar Bedah. Corwin . E . iin. Jakarta: EGC. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Medical Bedah . EGC. Ilmu Bedah . 2007. M.Buku Ajar Asuhan KeperawatanMedikal Bedah. . 2002 . M . Jakarta. 202. Jakarta : EGC.DAFTAR PUSTAKA Inayah. Rencana Asuhan Keperawata. Edisi 3.2001 .Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. Mailyn . Doengoes . EGC. Jakarta : Erlangga. Jakarta. Judith.