Siklus Belajar, Pembelajaran Kooperatif dan Media Pendidikandalam Pembelajaran Fisika

Fase-fase dalam siklus belajar, yaitu eksplorasi, pengenalan istilah, dan aplikasi konsep, membentuk susunan spiral karena fase sebelumnya diterapkan dalam fase sesudahnya. Pada fase eksplorasi siswa dapat belajar sendiri (me-lakukan beberapa kegiatan dan reaksi dalam situasi baru. Pada fase pengenalan istilah siswa mengenal istilah-istilah baru yang menjadi acuan bagi pola yang ditemukannya dalam eksplorasi. Pada siklus terakhir, aplikasi konsep, siswa menggunakan istilah atau pola pikirnya untuk memperkaya contoh-contoh. Siklus belajar adalah model pembelajaran yang fleksibel, terutama bagi seseorang yang kurang mendapat pengalaman langsung sehingga melalui siklus belajar siswa akan memperoleh pengalaman tersebut, misalnya dalam fase eksplorasi. Macam-Macam Siklus Belajar Terdapat tiga macam siklus, yaitu deskriptif, empirikal-abduktif, dan hipotetikaldeduktif. Perbedaan ketiga macam siklus belajar hanya terletak pada usaha siswa mendeskripsikan sifat-sifat atau generalisasi eksplisit dan menguji hipotesisalternatif. Pada siklus belajar deskriptif, siswa menemukan dan mendeskripsikan pola empirik dalam konteks yang khas. Pada siklus belajar empirikal-abduktif, siswa juga menemukan, seperti pada siklus pertama (eksplorasi), tetapi telah melangkah lebih jauh, yaitu dengan menciptakan sebab-sebab yang mungkin ada pada pola tersebut. Pada siklus belajar hipotetikal-deduktif, siswa mengemukakan pertanyaan-pertanyan sebab musabab yang dapat menimbulkan beberapa macam penjelasan. Penggunaan Siklus Belajar dalam Pembelajaran Fisika

Beberapa hal ini berkaitan erat dengan proses pembelajaran fisika adalah elemenelemen pokok dalam pembelajaran itu sendiri, misalnya bahan dan aktifitas yang menarik siswa, terbentuk pola pikir jika… dan… maka…, munculnya jawaban atau cara yang lebih efektif, munculnya uraian, prakiraan atau data baru, tersedianya kesempatan untuk memeriksa sejauh mana konsep baru dapat diterapkan dalam konteks lain, sifat khas pelajaran, sifat khas perilaku siswa dan sifat khas perilaku guru. Hal-hal tersebut dikenalkan untuk mencapai pembelajaran fisika yang efektif dengan tujuan agar tercapainya guru yang sukses. Dalam mendesain pembelajaran disarankan untuk meningkatkan pengetahuan konsep dan keterampilan pikir dengan memperhatikan elemen-lemen di atas. Demi tecapainya pembelajaran yang efektif perlu dimonitor pelaksanaannya melalui beberapa pertanyaan mengungkap sifat-sifat khas pelajaran dan perilaku siswa dan guru sebagai penginvestigasi kegiatan siswa oleh guru itu sendiri atau oleh orang lain, misalnya teman sejawat dan kepala sekolah. Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif adalah khas di antara model-model pembelajaran karena menggunakan suatu struktur tugas dan penghargaan yang berbeda untuk meningkatkan pembelajaran siswa. Struktur tugas memaksa siswa untuk bekerja sama dalam kelompok kecil. Sistem penghargaan mengakui usaha bersama, sama baiknya seperti usaha individual. Model pembelajaran kooperatif berkembang dari kebiasaan pendidikan yang menekankan pada pemikiran demokratis dan latihan atau praktek, pembelajaran aktif, lingkungan pembelajaran yang kooperatif dan menghormati adanya perbedaan budaya masyarakat yang bermacam-macam. Model pembelajaran kooperatif bertujuan agar terdapat efek (pengaruh) di luar pembelajaran akademik, khususnya peningkatan penerimaan antarkelompok serta keterampilan sosial dan keterampilan kelompok.

Model pembelajaran kooperatif bertumpu pada kerja kelompok kecil, berlawanan dengan pembelajaran klasikal (satu kelas penuh), dan terdiri 6 (enam) tahapan pokok: menentukan tujuan dan pengaturan, memberi informasi kepada siswa melalui presentasi atau teks, menyusun siswa dalam kelompok belajar, menentukan kelompok dan membantu kelompok belajar, menguji atau melakukan tes untuk mengetahui keberhasilan dari tugas-tugas kelompok, penghargaan baik terhadap prestasi individu maupun kelompok. Diperlukan lingkungan pembelajaran yang kooperatif dari pada kompetitif dalam hal tugas-tugas dan penghargaan. Dasar-dasar teoretis dan empiris mendukung penggunaan model pembelajaran kooperatif untuk tujuan pendidikan berikut: mendapatkan tingkah laku kooperatif, hasil kerja teoreitis dan memperbaiki hubungan-hubungan yang tidak harmonis. Penerapan Pembelajaran Kooperatif dalam Pembelajaran Fisika Perencanaan tugas berkaitan dengan pembelajaran kooperatif, yang me-nekankan pada pengorganisasian siswa untuk kelompok kerja kecil, dan menggunakan materi pembelajaran yang beragam untuk digunakan selama kelompok-kelompok kerja (kelompok belajar) berlangsung. Empat variasi dari pendekatan dasar dalam pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan adalah: Kelompok belajar siswa ( STAD ), JIGSAW, GI, dan Pendekatan Struktural. Tak peduli pendekatannya, pembelajaran kooperatif dicirikan dengan kerja siswa dalam kelompok kecil, dan berorientasi pada adanya penghargaan kelompok. Memimpin pembelajaran kooperatif mengubah peranan guru dari sebagai pusat pembicara atau pembicara utama menjadi choreographer dalam aktivitas kelompok kecil. Kelompok kerja kecil menimbulkan suatu tantangan pengelolaan bagi guru. Guru harus membantu siswa melakukan transisi di dalam kelompok

kecil mereka, mengatur kelompok kerja mereka, dan mengajarkan keterampilan penting, yakni keterampilan sosial dan keterampilan kelompok. Assesmen atau tugas-tugas evaluasi menggantikan pendekatan tradisional kompetitif dalam model pembelajaran lain dengan penghargaan individual dan kelompok. Cara-cara lain (seperti surat berita, presentasi kelompok) perlu ada sebagai penghargaan dan penyelesaian kooperatif siswa. Contoh Pembelajaran Kooperatif dalam Pembelajaran Fisika Pembelajaran kooperatif diberikan untuk dapat menjelaskan konsep-konsep fisika yang sulit dimengerti siswa dan juga sangat berguna menumbuhkan kemampuan kerjasama, berfikir kritis, kemampuan membantu teman dan sebagainya. Rencana pembelajaran kooperatif meliputi, rangkuman materi pembelajaran, tujuan pembelajaran yang diharapkan dari siswa, pendekatan yang digunakan, keterampilan siswa yang diperlukan, dan langkah-langkah pembelajaran Peran Media Pendidikan Komponen penting dalam sistem komunikasi, antara lain pengiriman pesan, pesan, saluran dan penerima. Pada komunikasi dalam proses belajar-mengajar, guru menjadi sumber dan komunikator, siswa menjadi komunikan dan menjadi tujuan pesan. Agar pesan dapat sampai ke tujuan dengan efektif dan efisien harus digunakan media. Dalam pendidikan, media tersebut dinamakan media pendidikan atau media instruksional. Dalam penggunaan media, pesan dapat dinyatakan dalam bentuk simbol piktoral, simbol grafis, dan simbol verbal. Dengan menggunakan media pendidikan, dapat ditanggulangi berbagai kelemahan dalam sistem komunikasi. Media pendidikan disebut juga media instruksional, yang memiliki nilai praktis dan berfungsi mengatasi perbedaan pengalaman pribadi murid, mengatasi batas-batas

ruang kelas, keterbatasan karena jarak, waktu dan mengatasi hal-hal yang terlalu komplek untuk diamati. Sebelum membuat suatu media pendidikan dalam pembelajaran di sekolah, guru hedaknya merancang pesan yang sangat erat kaitannya dengan media instruksional. Macam-Macam Media Pendidikan Media itu, antara lain meliputi media cetak, media pajang, media peraga, media eksperimen, OHP, OHP dan kombinasinya, slide, film strip, film, VCD, TV instruksional, internet, dan sebagainya. Menurut Wilbur Schramm media pembelajaran dibedakan menjadi dua macam, yaitu media besar dan media kecil. Media besar diartikan sebagai media yang kompleks dan mahal, seperti TV, Film, Komputer, dan sejenisnya. Sesuai dengan rekomendasi dalam GBPP maka modul ini akan menyajikan suatu media yang dibedakan atas media nonelektronik dan media elektronik. Media nonelektronik yang sering digunakan dalam pembelajaran Fisika, dapat meliputi: media cetak, media pajang, media peraga, media eksperimen. Selanjutnya untuk media elektronik dalam pembelajaran Fisika, dapat berupa: OHP, OHP dan kombinasinya, program slide instruksional, program film strip, film instruksional, VCD, TV instruksional dan internet. Sumber buku Kapita Selekta Pembelajaran Fisika Karya Zuhdan K. Prasetya, dkk

Manusia dalam hidupnya ditakdirkan Tuhan Yang Maha Kuasa untuk saling bekerja sama secara interaktif dalam memenuhui segala kebutuhan hidupnya. Dalam era globalisasi sekarang ini, setiap orang dituntut lebih mampu memberdayakan diri dan kooperatif dalam menjalani kehidupan. Sekolah sebagai salah satu tempat tumbuh dan berkembangnya anak sangat diharapkan mampu menyediakan situasi dan kondisi yang dibutuhkan anak secara optimal. Ada berbagai cara untuk mengembangkan kemampuan siswa untuk belajar dan bekerja secara kooperatif. Ada tiga cara untuk para siswa dapat saling berinteraksi saat belajar bersama yaitu: (1) melalui persaingan untuk menentukan siapa yang paling unggul, (2) bekerja secara individual dalam mencapai tujuan tanpa mempedulikan siswa lain, dan (3) bekerja sama dengan siswa-siswa yang masing-masing mempunyai kepentingan pribadi. Yang paling menonjol adalah biasanya dalam suatu persaingan sering muncul siswa yang satu berusaha keras mengungguli siswa lain melalui berbagai prestasi. Persaingan ini telah mulai terlihat sejak siswa masuk ke sekolah tertentu dan makin menonjol saat ia mengalami proses belajar mengajar di sekolah. Dalam pembelajaran kooperatif, keberhasilan dan kegagalan siswa lain tidak mempengaruhi hasil belajar mereka. Pada pembelajaran koperatif, interaksi ditandai dengan tujuan saling tergantung dengan individu yang lain. Tujuan bersama yang baik dan positif dapat diterima oleh semua anggota kelompok yang berada di dalamnya yang terikat dengan tujuan bersama yang telah ditentukan. Kelompok siswa yang duduk di muka meja yang sama mengerjakan pekerjaan mereka sendiri, namun bebas berbicara dengan sesama teman dalam kelompok saat mereka bekerja, tidak akan membentuk kelompok yang koperatif, sebab di sana tidak ada saling ketergantungan yang positif. Untuk situasi pembelajaran kooperatif, diperlukan penentuan tujuan bersama di mana kelompok itu memperoleh manfaat dari usaha itu. Bila dalam suatu kelompok siswa diberi tugas untuk membuat laporan, tetapi hanya satu siswa saja yang mengerjakan semuanya dan yang lain tidak mendukungnya, ini bukan suatu kelompok kooperatif. Kelompok kooperatif mempunyai rasa tanggung jawab pribadi. Ini berarti semua siswa perlu mengetahui materi yang sedang digarap dan memberikan kontribusi agar seluruh kelompok berhasil. Sehingga diperlukan suatu cara atau strategi yang dapat mengaktifkan setiap siswa namun saling ketergantungan dengan temantemanya dalam suatu kelompok. Salah satu strategi yang dapat digunakan untuk menentukan tujuan bersama dalam pembelajaran kooperatif ini adalah pembelajaran peta konsep. Dalam pembuatan peta konsep dengan dilakukan secara berkelompok dan setiap anggota kelompok mendapat satu bagian sub peta konsep.

Model Pembelajaran Kooperatif
Bagi guru atau pembaca yang tertarik untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif, silahkan membaca lebih lanjut. Saya mencoba mendeskripsikan apa itu pembelajaran kooperatif dan contoh aplikasinya dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan standar isi dalam KTSP. Semoga bermanfaat.

Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur penghargaan (Arends, 1997: 110-111). a. Struktur tugas mengacu pada cara pengaturan pembelajaran dan jenis kegiatan siswa dalam kelas b. Struktur tujuan, yaitu sejumlah kebutuhan yang ingin dicapai oleh siswa dan guru pada akhir pembelajaran atau saat siswa menyelesaikan pekerjaannya. Ada tiga macam struktur tujuan, yaitu: 1) struktur tujuan individualistik, yaitu tujuan yang dicapai oleh seorang siswa secara individual tidak memiliki konsekuensi terhadap pencapaian tujuan siswa lainnya, 2) struktur tujuan kompetitif, yaitu seorang siswa dapat mencapai tujuan sedangkan siswa lain tidak mencapai tujuan tersebut, dan 3) struktur tujuan kooperatif, yaitu siswa secara bersama-sama mencapai tujuan, setiap individu mempunyai andil dalam pencapaian tujuan. c. Struktur penghargaan kooperatif, yaitu penghargaan yang diberikan pada kelompok jika keberhasilan kelompok sebagai akibat keberhasilan bersama anggota kelompok. 1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Eggen dan Kauchak (1993: 319) mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai sekumpulan strategi mengajar yang digunakan guru agar siswa saling -membantu dalam mempelajari sesuatu. Oleh karena itu belajar kooperatif ini juga dinamakan “belajar teman sebaya.” Menurut Slavin (1997), pembelajaran kooperatif, merupakan metode pembelajaran dengan siswa bekerja dalam kelompok yang memiliki kemampuan heterogen. Pembelajaran kooperatif atau cooperative learning mengacu pada metode pengajaran, siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar (Nur dan Wikandari, 2000:25). Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidaktidaknya tiga tujuan penting pembelajaran, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial (Ibrahim, dkk, 2000:7). Pendapat setara menyebutkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat digunakan untuk mengajarkan materi yang agak kompleks, membantu mencapai tujuan pembelajaran yang berdimensi sosial, dan hubungan antara manusia. Belajar secara kooperatif dikembangkan berdasarkan teori belajar kognitif-konstruktivis dan teori belajar sosial (Kardi dan Nur, 2000:15). 2. Ciri-ciri Pembelajaran kooperatif Menurut Arends (1997: 111), pembelajaran yang menggunakan model kooperatif

memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menyelesaikan materi belajar, 2) kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah, 3) jika mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda-beda, 4) penghargaan lebih berorientasi pada kelompok dari pada individu. 3. Langkah-langkah Pembelajaran kooperatif Pembelajaran kooperatif dilaksanakan mengikuti tahapan-tahapan sebagai berikut (Ibrahim, M., dkk., 2000: 10) a. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan perlengkapan pembelajaran. b. Menyampaikan informasi. c. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar. d. Membantu siswa belajar dan bekerja dalam kelompok. e. Evaluasi atau memberikan umpan balik. f. Memberikan penghargaan. 4. Tujuan Pembelajaran Kooperatif Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidaktidaknya tiga tujuan pembelajaran yang disarikan dalam Ibrahim, dkk (2000:7-8) sebagai berikut: a. Meskipun pembelajaran kooperatif meliputi berbagai macam tujuan sosial, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit. Model struktur penghargaan kooperatif juga telah dapat meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. b. Penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, maupun ketidakmampuan. Pembelajaran kooperatif memberikan peluang kepada siswa yang berbeda latarbelakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain. c. Tujuan penting ketiga dari pembelajaran kooperatif adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi. Keterampilan ini penting karena banyak anak muda dan orang dewasa masih kurang dalam keterampilan sosial. 5. Keterampilan Kooperatif Pembelajaran kooperatif bukan hanya mempelajari materi saja, tetapi siswa atau peserta didik juga harus mempelajari keterampilan-keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif. Fungsi keterampilan kooperatif adalah untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas. Untuk membuat keterampilan kooperatif dapat bekerja, guru harus mengajarkan keterampilan-keterampilan kelompok dan sosial yang dibutuhkan. Keterampilan-keterampilan itu menurut Ibrahim, dkk. (2000:47-55), antara lain: a. Keterampilan-keterampilan Sosial Keterampilan sosial melibatkan perilaku yang menjadikan hubungan sosial berhasil dan memungkinkan seseorang bekerja secara efektif dengan orang lain. b. Keterampilan Berbagi Banyak siswa mengalami kesulitan berbagi waktu dan bahan. Komplikasi ini dapat

mendatangkan masalah pengelolaan yang serius selama pelajaran pembelajaran kooperatif. Siswa-siswa yang mendominasi sering dilakukan secara sadar dan tidak memahami akibat perilaku mereka terhadap siswa lain atau terhadap kelompok mereka. c. Keterampilan Berperan Serta Sementara ada sejumlah siswa mendominasi kegiatan kelompok, siswa lain tidak mau atau tidak dapat berperan serta. Terkadang siswa yang menghindari kerja kelompok karena malu. Siswa yang tersisih adalah jenis lain siswa yang mengalami kesulitan berperan serta dalam kegiatan kelompok. d. Keterampilan-keterampilan Komunikasi Kelompok pembelajaran kooperatif tidak dapat berfungsi secara efektif apabila kerja kelompok itu ditandai dengan miskomunikasi. Empat keterampilan komunikasi, mengulang dengan kalimat sendiri, memberikan perilaku, memberikan perasaan, dan mengecek kesan adalah penting dan seharusnya diajarkan kepada siswa untuk memudahkan komunikasi di dalam seting kelompok. e. Keterampilan-keterampilan Kelompok Kebanyakan orang telah mengalami bekerja dalam kelompok di mana anggota-anggota secara individu merupakan orang yang baik dan memiliki keterampilan sosial. Sebelum siswa dapat belajar secara efektif di dalam kelompok pembelajaran kooperatif, mereka harus belajar tentang memahami satu sama lain dan satu sama lain menghormati perbedaan mereka. 6. Pembangunan Tim Membantu membangun identitas tim dan kesetiakawanan anggota merupakan tugas penting bagi guru yang menggunakan kelompok-kelompok pembelajaran kooperatif. Tugas-tugas sederhana meliputi memastikan setiap orang saling mengetahui nama teman di dalam kelompoknya dan meminta para anggota menentukan nama tim.

ABSTRAK Palupi, Fitriana Tri. 2009. Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif Group Investigation (GI) dengan Pendekatan Sains-Lingkungan-Teknologi-Masyarakat (Salingtemas) untuk Meningkatkan Kemampuan Kerja Ilmiah dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X SMA Muhammadiyah 1 Malang. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Hj. Mimien H. Irawati, M.S., (II) Balqis, S.Pd, M.Si. Kata kunci: pembelajaran kooperatif, group investigation, pendekatan Sains-LingkunganTeknologi-Masyarakat, keterampilan kerja ilmiah, hasil belajar biologi.

Pembaharuan di bidang kurikulum dalam pembelajaran, menuntut guru untuk dapat mengubah sistem pembelajaran dari yang berorientasi pada guru (teacher centered) menjadi pembelajaran yang berorientasi pada siswa (student centered). Akan tetapi hasil observasi di kelas X SMA Muhammadiyah 1 Malang menunjukkan bahwa saat mengajar di kelas, guru masih tetap menggunakan cara lama, yaitu dominan menggunakan metode ceramah. Sumber belajar siswa hanya terbatas dari guru mengakibatkan ketrampilan kerja ilmiah siswa juga rendah karena siswa hanya terpaku pada materi dari guru. Hasil observasi yang telah dilakukan di kelas X SMA Muhammadiyah 1 Malang menunjukkan bahwa keterampilan kerja ilmiah diajarkan secara terintegrasi dengan kegiatan praktikum. Rendahnya keterampilan kerja ilmiah siswa dapat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Hasil observasi juga menunjukkan bahwa hasil belajar biologi siswa kelas X masih rendah. Berdasarkan permasalahan tersebut maka diterapkan Strategi Pembelajaran Kooperatif Group Investigation (GI) dengan Pendekatan Sains-Lingkungan-TeknologiMasyarakat (Salingtemas) untuk meningkatkan keterampilan kerja ilmiah dan hasil belajar Biologi siswa kelas X SMA Muhammadiyah 1 Malang. Penelitian ini tergolong Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. PTK ini dilaksanakan dalam dua siklus. Pada setiap siklus terdiri dari perencanaan penelitian, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X semester genap tahun ajaran 2008-2009 SMA Muhammadiyah 1 Malang yang berjumlah 10 orang. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai Juni 2009. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi kegiatan guru, catatan lapangan, lembar observasi keterampilan kerja ilmiah, laporan kerja ilmiah, jurnal kegiatan siswa, dan soal tes. Aspek keterampilan kerja ilmiah siswa dilihat dari hasil observasi keterampilan kerja ilmiah siswa, laporan kerja ilmiah siswa, dan jurnal kegiatan siswa, sedangkan hasil belajar diperoleh dari hasil tes akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase ketuntasan keterampilan kerja ilmiah siswa cenderung mengalami peningkatan antara siklus I (60%) dan siklus II (90%). Peningkatan juga terlihat pada rerata keterampilan kerja ilmiah siswa antara siklus I (65,93) dan siklus II (78,15). Persentase ketuntasan hasil belajar biologi siswa juga cenderung mengalami peningkatan antara siklus I (60%) dan siklus II (100%). Rerata hasil belajar biologi siswa juga mengalami peningkatan antara siklus I (65,63) dan siklus II (83,5). ii Berdasarkan hasil penelitian maka dapat dikatakan bahwa penerapan strategi pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI) dengan pendekatan Sains-LingkunganTeknologi-Masyarakat (Salingtemas) dapat meningkatkan keterampilan kerja ilmiah dan hasil belajar siswa kelas X SMA Muhammadiyah 1 Malang dalam pembelajaran Biologi. Saran dari penelitian ini adalah hendaknya peneliti memperhatikan alokasi waktu yang digunakan agar pelaksanaan pembelajaran berlangsung secara efisien dan penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi guru bidang studi ataupun peneliti yang lain untuk menerapkan model dan pendekatan tersebut.