You are on page 1of 157

BAB I

ANAMNESA
Anamnesa adalah hasil wawancara yang diperoleh oleh dokter dari penderita; baik secara
langsung yang disebut auto anamnese ataupun dari orang-orang terdekat pada penderita seperti
suami/isteri/ibu/anak dll, yang jelas mengetahui keadaan tentang riwayat penyakit penderita,
yang disebut pula allo anamnese.
Anamneses itu suatu hal yang penting bagi seorang dokter untuk melaksanakannya dengan
sebaik-baiknya dan selengkapnya agar memudahkan dokter untuk menegakkan diagnose
sementaranya, merupakan titik tolak pemeriksaan Diagnostik Fisik selanjutnya.
Anamnese itu dapat kita bagi atas beberapa golongan, menurut urutannya mana yang lebih
dahulu perlu kita tanyakan pada penderita; yang umumnya meliputi:
1. Anamnese Peribadi
2. Anamnese Keluhan utama
3. Anamnese Penyakit sekarang
4. Anamnese Penyakit terdahulu
5. Anamnese Organ /System
6. Anamnese Riwayat Peribadi
7. Anamnese Famili
8. Anamnese Sosial/ Ekonomi
9. Anamnese Gizi
Baiklah disini kita mencoba untuk menjelaskan satu persatu anamneses yang akan kita lakukan
pada penderita menurut urutan yang lazim dilakukan oleh dokter pada prakteknya sehari-hari.
Dalam melaksanakan / melakukan anamneses terhadap penderita, sebaiknya dokter bersikap
tenang dan ramah, sehingga terbentuk hubungan pasien dokter yang serasi. Dan bila perlu dokter
mengulangi kembali keluhan-keluhannya tadi yang membuat penderita perlu mencari dokter
untuk pertolongan / pengobatan terhadap penyakitnya. Berdasarkan urutan anamneses yang biasa
yang lazim dilakukan oleh dokter pada prakteknya sehari-hari adalah sebagai berikut:
1. Anamnese Peribadi
Sebenarnya mengenai anamneses peribadi pada praktek sehari-hari sebagian besar dilakukan
oleh pembantu dokter/ juru rawat, tapi jika dokter tidak mempunyai pembantu, tentu hal tersebut
akan dilakukan oleh dokternya sendiri. Anamnese peribadi meliputi data-data yang tersebut
dibawah ini :

- Nama

- Agama

- Umur

- Bangsa/ suku

- Kelamin

- Kawin/ tidak kawin

- Alamat

- Pekerjaan

Data –data diatas penting bagi para dokter yang merupakan identitas penderita pada suatu saat
dokter harus segera dapat berhubungan dengan penderita, ataupun ada hubungan antara data-data
tersebut dengan penyakit yang diderita oleh orang sakit pada saat dahulu atau sekarang. Setelah
anamneses peribadi, dokter meneruskan anamnesenya, mengenai keluhan utama
2. Anamnese Keluhan Utama
Anamneses mengenai keluhan utama adalah hal penting bagi dokter merupakan keterangan dari
penderita yang menyatakan apa sebenarnya keluhan-keluhan / gangguan-gangguan yang
membuat penderita hingga perlu berusaha mencari sokter dengan segera untuk mendapatkan
pengobatan, dalam hal tersebut dokter perlu memperjelas menanyakan kembali keluhan
penderita tersebut mengenai telah berapa lama dideritanya, dimana tempatnya, bagaimana
perkembangannya ataupun menanyakan lagi apakah masih ada keluhan-keluhan /gangguangangguan yang dianggap penderita masih merupakan keluhan yang penting sehubungan dengan
penyakit yang dideritanya sekarang. Keluhan utama adalah merupakan keluhan yang terpenting
dari penderita mengenai penyakitnya. Misalnya keluhan utama seorang penderita berupa:
-

sesak nafas

-

kaki bengkak

-

jantung berdebar-debar

Dari keluhan penderita tersebut sebenarnya dokter sudah dapat berpikir penyakit atau organ apa
kira-kira yang terlibat pada penyakit penderita. Dalam hal ini tentunya dokter berpendapat,
bahwa penderita mengalami penyakit system Kardiovaskuler, selanjut dokter harus lebih banyak
menanyakan keluhan-keluhan/ gangguan-gangguan yang ada hubungannya dengan system
Kardiovaskuler.
Jadi dari keluhan utama penderita, dokter telah dapat berfikir menentukan kira-kira organ mana
yang terlibat pada penyakitnya.
Dibawah ini kami buatkan contoh-contoh dari keluhan utama yang dapat mengarah ke organorgan yang terlibat.
Misalnya :

Organ terlibat

Keluhan utama

Paru-paru

-

Batuk-batuk

-

Sesak nafas

-

Batuk berdarah

-

Demam-demam

-

Nyeri dada

-

Debar-debar

-

Sesak nafas

-

Kaki bengkak

-

Lekas capek

-

Nyeri dada

-

Bibir biru

-

Berkali-kali b.a.k malam

-

Mual

-

Muntah-muntah

-

Muntah darah

-

Menceret-menceret

-

Berak darah

-

Sakit di hulu hati dll

-

Sakit perut kanan atas

-

Buang air kecil seperti teh dan pekat

-

Mata kuning

-

Buang air besar spt dempul dll.

Kardiovaskuler

Saluran pencernaan

Hati & saluran empedu

Dan juga dokter harus menanyakan keluhan lain yang dapat merupakan keluhan tambahan dari penyakit yang dideritanya. Juga sebaiknya dokter jangan lupa pula menanyakan apakah ada hal-hal/ faktor-faktor yang dapat mengakibatkan memperberat atau pun yang memperingan keluhan penyakit yang dideritanya sekarang. . beratnya keluhan.Ginjal dan saluran kencing Sendi-sendi/ tulang Endokrin - Muka sembab - Sakit pinggang - Kencing berdarah - Gangguan kencing - Ada perasaan sakit dari persendian - Bengkak dan merah - Gusi mudah berdarah - Pendarahan lama baru berhenti - Ada perdarahan (hematoma) - Muka tambah pucat - Pembengkakan kelenjar-kelenjar - Gangguan sexual - Kuat makan badan kurus - Terlalu kuat minum - Banyak kencing - Tergantung pertumbuhan badan di bawah kulit Kemudian dokter meneruskan anamnesanya mengenai anamnesa penyakit sekarang. apakah keluhan semakin lama. tempat keluhan tersebut. ia mengalami kesulitan tidur/ nafsu makan berkurang dan lekas capek. umpamanya sejak penderita mengidap penyakit sekarang. Anamnese Penyakit Sekarang Dalam hal ini dokter harus menelaah keluhan penderita dengan secermat-cermatnya. semakin bertambah berat dan seterusnya. umpamanya mengenai berapa lama keluhan itu sudah dideritanya. 3.

pilek-pilek. epistaksis. Typus abdominalis. 5. dsb. keluar nanah dari liang telinga. secret. atau biasa. nyeri tekan daerah mastoid. yang mungkin sekali mempunyai hubungan yang penting artinya bagi dokter tentang penyakit yang dialami penderita pada saat sekarang. gusi mudah berdarah. Malaria. Telinga : Sekret. perasaan nyeri. Anamnese Organ/ Sistem Anamnese tentang organ-organ/ sistem perlu bagi para dokter menanyakan apakah ada keluhankeluhan tsb bersangkutan dengan organ yang akan ditanyakan ataupun yang tersebut dibawah ini. Kepala : Trauma. seperti berpasir. Hidung dan sinus : Sekret. Kemudian dokter meneruskan anamnesenya mengenai penyakit terdahulu. diplopia. yang belum didapatkan dalam anamnese keluhan utama ataupun penyakit terdahulu. penyakit kuning dengan chirrosis hepatic. 4. Mata : Penglihatan jelas/ kabur. pendengaran terganggu. pusing. Hepatitis. tinnitus.Misalnya bila penderita memakan makanan yang pedas-pedas keluhan sakit perutnya bertambah ataupun bila penderita lapar perutnya rasanya menjadi panas. Jika dapat keluhan-keluhan kelainan pada organ/ sistem tersebut. Mulut : Gigi abses karier. dokter menuliskan tanda positif dan jika tidak dijumpai keluhan/ kelainan-kelainan tuliskan tanda negatif. nyeri kepala. Misalnya apakah penderita pernah menderita penyakit seperti: Tonsillitis. hoyong dan perasaan sakit pada daerah sinus. skotoma. Dan sebaliknya bila penderita meminum susu keluhan sakit perutnya menjadi berkurang. penciuman berkurang. sakit seperti disayat-sayat. Umpamanya: Nyeri-nyeri dan bengkak-bengkak pada sendi dengan penyakit jantung reumatik. Ataupun dapat juga penderita mengatakan keluhan sesak napasnya dapat berkurang jika penderita mengabil sikap duduk sewaktu bernapas. Anamnese Penyakit Terdahulu Disini dokter menanyakan penderita tentang penyakit-penyakit yang telah dideritanya sejak kanak-kanak sampai dewasa (saat sebelum dianya menderita penyakit yang sekarang). bibir pecah-pecah atau luka-luka. . bersin-bersin. Dysentri. baik keluhan mengenai penyakit penderita sekarang. berkaca mata. pengecapan rasa biasa/ berkurang. Nyeri-nyeri dan bengkak-bengkak pada sendi dll. lidah pecah-pecah. stomatitis.

inkontinensia urine. ataksia. banyak keringat. pembesaran kelenjar lympha. tremor. dahak. parestesi. kebas-kebas. sulit menelan. udeme di kaki. sesak napas waktu bekerja. sakit daerah epigastrium. sulit tidur. Kejiwaan : Gelisah. berak darah. suara hilang. kecewa. gerakan spontan. poliuri. batuk berdarah. Lambung / usus : Muntah. kejang-kejang. debardebar jantung. pyori. warna faeces. buang air kecil ada batu.Tenggorokan : Sakit menelan. sesak napas waktu istirahat. tremor. Saraf/ Otot : Lumpuh. Ginjal /alat kelamin : Kolik. mual. Paru-paru : Batuk-batuk. hematuri. luka-luka pada alat kelamin. Endokrin : Poliuri. polidipsi. cepat lupa. oligouri. Hati : ikterus. tonsillitis. buang air besar seperti dempul. Jantung : Nyeri di dada. gatal-gatal. mual-mual. gangguan ingatan. cepat marah. anastesi. di kulit. muka sembab. poliphagi. serak suara. cyanose. mudah sedih. keringat banyak pada malam hari. obstipasi. Leher : pembesaran kelenjar gondok. hemoroid. disatria. sulit bernapas. muntah darah. perut kembung. gerakan terganggu. pertumbuhan rambut terganggu. orthopneu. disurine. sesak nafas. serangan asma. menceret. impotent. anuri. . tandatanda radang.

8. atau harus makan obat-obat penenang baru dapat tidur dll. teratur atau tidak. makanan tertentu. pekerjaan. Sifilis (lues). Selesai anamnese mengenai riwayat peribadi penderita. 6. dokter menanyakan mengenai kebiasaan hidup penderita. apakah ada yang mati sewaktu lahir. Setelah anamnese family dokter menjejaki pula mengenai kehidupan dan social ekonomi keluarga penderita. tanyakan penyebab kematiannya. Begitu juga jangan lupa menanyakan mulai menstruasinya. ataupun obat. Perlu sekali ditanyakan juga mengenai keadaan rumah tangga penderita. Dysentri (berak-berak darah + lendir) dll. Apakah sering terjadi wabah penyakit di daerah tersebut? Yang mana hal tersebut mungkin ada hubungan pula dengan penyakit yang diderita oleh penderita. kapan berhentinya. dokter menanyakan penyakit-penyakit yang pernah di derita oleh keluarga dekat penderita terutama mengenai penyakit-penyakit yang merupakan penyakit keturunan (family) seperti diabetes mellitus (penyakit gula). peminum alkohol. asma bronchial (bengek). bagaimana sewaktu melahirkan. Juga dokter jangan lupa menanyakan penyakit-penyakit yang penularannya secara kontak langsung. mengenai kerukunan. yaitu apakah penderita perokok. Kemudian berapa anaknya. mati dalam kandungan atau mati setelah lahir dan apakah pernah keguguran (abortus). Kemudian sebagai anamnese terakhir dokter jangan lupa pula menanyakan tentang keadaan gizi penderita sehari-hari. hepatitis (penyakit kuning). Begitu juga apakah penderita allergi (peka) terhadap perobahan udara. sering terlambat tidur. 7. Seperti Tuberkulosa paru-paru (tbc). Anamnese Famili Mengenai family penderita. Dan bila penderitanya wanita jangan lupa tanyakan mengenai jamu-jamu apakah ia peminum jamu. Anamnese Sosial & Ekonomi Dalam hal ini dokter menanyakan mengenai kehidupan keluarga penderita terutama mengenai perumahan. Bagaimana keluarga penderita sehat-sehat semua? Atau bila ada yang meninggal.Seterusnya dokter melanjutkan pula anamnesanya mengenai riwayat peribadi penderita. penyakitpenyakit gangguan mental (penyakit jiwa) dll. dan keadaan anak-anak merepotkan atau tidak yaitu semua persoalan-persoalan yang mungkin dapat mengganggu ketenangan jiwa penderita. Anamnese Riwayat Peribadi Mengenai riwayat hidup peribadi penderita. penjudi. dokter meneruskan anamnesenya mengenai keadaan family penderita. penghasilan. . lingkungan dan daerah tempat tinggal keluarga penderita. Lepra (Hansen).

Pemeriksaan mulut dan tenggorokan f.9. Pemeriksaan mata d. dengan data-data yang diperolehnya dari hasil anamnesenya berdasarkan organ-organ ataupun sistem terlibat pada pemeriksaannya. Pemeriksaan telinga e. Pemeriksaan muka c. Pemeriksaan thorax a. Anamnese Gizi Dalam hal ini dokter penting menanyakan pada penderita tentang bahan makanan dan porsi serta frekwensinnya yang dimakan penderita sehari-hari. berlebihan ataupun berkurang dan apakah ada hubungannya dengan penyakit yang diderita oleh penderita. Dan akhirnya dari anamnese tersebut dokter sudah dapat membuat diagnose banding. Misalnya penyakit kronis menyebabkan berkurangnya berat badan ataupun berat badan berlebihan dapat disebabkan penyakit system endokrin. BAB II PEMERIKSAAN FIZIK Secara inspeksi ditentukan keadaan yang terlihat dari tubuh os antara lain :  Anemia  Ikterus  Cyanosis  Oedema Setelah pemeriksaan status present tersebut diatas barulah kita melakukan pemeriksaanpemeriksaan tubuh selanjutnya dengan urutan sebagai berikut : 1. atau diagnose sementara mengenai penyakit penderita. Pemeriksaan leher 2. Pemeriksaan kepala dan leher a. Pemeriksaan tengkorak b. Sekaligus juga dokter menentukan berat badan penderita apakah normal. Pemeriksaan sistem pernapasan .

Inspeksi Metode pemeriksaan dengan menggunakan indra penglihatan dimana kita melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada penderita. ultrasonografi dan lain-lain. yang menunjukan adanya sakit yang berat. Pemeriksaan abdomen 4. Pemeriksaan ini dilakukan secara sistemik berdasarkan urutan pemeriksaan dimulai dari kelainan yang tampak besar sampai yang sekecil-kecilnya. Guna mencari kelainan yang belum didapati pada pemeriksaan rutin tersebut. Pada inspeksi umum juga mempelajari gerakan-gerakan penderita seperti cara berjalan. Pemeriksaan inspeksi dibagi atas :  Inspeksi umum  Inspeksi lokal (setempat) Pada inspeksi umum kita melihat perubahan-perubahan umum yang terjadi sehingga kita dapat memperoleh kesan tentang keadaan penyakit penderita. cara berbicara serta sikap (posisi) duduk penderita. Pemeriksaan tulang belakang Methode pemeriksaan  Inspeksi  Palpasi  Perkusi  Auskultasi 1. Inspeksi lokal sangat penting dilakukan pada tiap-tiap organ tubuh. gerakan-gerakan tangan. Untuk ini kita harus gigih mencari kelainan yang mungkin ada tapi belum ditemui.b. Sejak jaman hipokrates metode ini mempunyai arti yang besar sehingga perobahan pada muka penderita dinamakan menurut namanya yaitu fascies hipocratica. Kesan umum ini penting sebagai alat penolong pemeriksaan selanjutnya. gerakan-gerakan kepala. Kadang-kadang penderita terlihat seolah-olah sakit berat tapi pada pemeriksaan rutin didapati sedikit kelainan ataupun tidak dijumpai. Pemeriksaan anggota gerak 5. . dapat dilakukan pemeriksaan tambahan berupa pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan system cardiovascular 3. rontgen. elektrokardiografi. Pemeriksaan kelamin dan daerah sekitarnya 6.

Selalu diingat bahwa kita harus melihat (memeriksa) dengan seksama dan tidak dipengaruhi oleh keterangan penderita. termasuk bagian-bagian yang tertutup oleh pakaian dan atau pembalut. c. Inspeksi setempat ini juga dapat meluas pada organ-organ dalam dari tubuh dengan adanya perkembangan dari alat-alat diagnostic seperti endoscopy (bronchoscopy. dan lain-lain). colonoscopy. 2. kepala bayi dan lain-lain. ketika ditanya luka karena tertusuk duri. Dengan palpasi kita dapat menentukan bagian tubuh yang memegang /merasakan organ-organ dengan tangan. Dapat diberikan missal pada penderita yang kakinya tertutup pembalut. dan pada pemeriksaan selanjutnya ternyata pasien tersebut menderita diabetes mellitus. Konsistensi a. jeruk. gastroscopy. tinju. Bentuk Dalam penentuan bentuk secara palpasi harus diperhatikan bentuknya secara umum yang dapat diraba serta batasan dari organ tersebut. Besar Penentuan besar organ secara palpasi harus dilakukan seteliti mungkin dan harus dengan satuan ukuran. Kita dapat membedakan konsistensi sebagai berikut :  Lembek  Kenyal (elastic) . Palpasi dilakukan pada banyak tempat dimulai dari penentuan nadi sampai dengan pemeriksaan organ-organ tertentu lainnya. Bentuk c. b. telur ayam. setelah dibuka dan dilihat ternyata sudah mengalami gangrene. Palpasi Disamping inspeksi. Besar b. ataupun membandingkan nay dengan benda-benda seperti: kelereng. Konsistensi Pemeriksaan ini sangat besar manfaatnya untuk menentukan sifat dari organ tubuh. Harus diingat juga bahwa organ-organ yang berada jauh didalam. rectoscopy. Hal ini berlaku pada pemeriksaan semua organ. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara dan pada umumnya kita dapat menentukan : a. palpasi juga sudah sejak lama menjadi salah satu metode pemeriksaan yang penting.

 Bentuk. Bila didapati massa tumor maka secara palpasi ditetapkan :  Lokasi dan hubungannya dengan struktur tubuh yang lain. 2) Data yang diperoleh dengan palpasi dapat menetapkan :  Nyeri :  Superficial (permukaan)  Dalam  Refered (nyeri hantaran)  Tonus dari otot-otot :  Meningkatnya tekanan  Rigiditas  Spasme  Adanya massa tumor : Dari kelenjar lymph atau dari organ-organ dalam yang tidak dapat terlihat pada inspeksi tapi dapat diraba.  Konsistensi/ fluktuasi . pinggirnya dan permukaannya. Agak padat  Padat  Keras seperti tulang  Berfluktuasi Fluktuasi kita dapati pada organ-organ yang berisi cairan perlunakan cairan (abses). Dinding perut yang lemas memberikan kemungkinan untuk dapat merasakan organ-organ didalam rongga perut dan menentukan sifat-sifat organ tersebut. Palpasi sangat berguna pada pemeriksaan abdomen. Palpasi untuk menentukan ini dilakukan dua jari telunjuk dimana tekanan pada jari yang satu akan terasa pada jari yang sebelahnya. simetris atau tidaknya. besar. Teknik-teknik khusus pemeriksaan abdomen akan dibahas pada pemeriksaan dari abdomen. Disamping pemeriksaan abdomen dengan palpasi dapat ditentukan kelainan bagian lain untuk : 1) Konfirmasi serta meluaskan pemeriksaan yang telah didapati pada inspeksi.

Faktor yang belakangan ini merupakan penyebab perubahan bunyi yang terdengar pada perkusi. cair dan gas. Sumber bunyi menghasilkan getaran yang diteruskan oleh udara dan dapat sampai ke telinga. biasanya jari tengah sebagai plexor yang mengetok pada pleximeter. Nyeri.  Elastisitas dan tegangan benda Pada nada yang besar timbul nada yang tinggi Pada tubuh manusia faktor-faktor di atas selalu memegang peranan penting sifat dari suara yang terdengar dari perkusi tergantung dari rongga udara yang terdapat di organ dan dipengaruhi oleh keadaan jaringan sekitarnya (tebalnya lapisan yang terdapat diantaranya. panas  Gerakan dan perlekatannya. merah. Cara melakukan perkusi adalah :  1 jari sebagai pleximeter yaitu jari yang diletakan pada daerah yang akan diperkusi  Jari lainnya.  Pulsasi 3. Teknik perkusi Sejak lama telah dikenal orang cara-cara untuk melakukan perkusi ini. Semua bunyi berasal dari getaran-getaran yang dihantarkan pada benda-benda padat. Perkusi Yang dimaksud dengan perkusi adalah metode dimana dilakukan pengetukan dengan jari pada bagian tubuh dan menentukan suara yang dihasilkan serta tekanan yang dijumpai. Dasar akustik Pada perkusi sebagaimana juga auskultasi dipergunakan dasar-dasar akustik. . sifat elastisitasnya dan penghantarannya). Getaran-getaran yang dapat didengar telinga adalah pada frekuensi 15-20000 Hz (cycle perdetik) Frekuensi yang lebih rendah atau lebih tinggi dari batas-batas diatas tidak dapat didengar telinga. Frekuensi getaran tergantung dari beberapa faktor antara lain :  Besarnya benda Umumnya makin kecil benda makin besar frekuensi getaran dan makin tinggi nadanya.

 Diketuk pada phalang kedua pada jari pleximeter  Jari plexor dijaga tetap tegak lurus terhadap jari pleximeter. Jari flexor tetap dalam posisi tegak lurus pada waktu menyentuh fleksimeter Cara perkusi yang salah A. (lihat gambar) Cara perkusi yang benar 1. . dan ketukan dengan menggoyangkan pergelangan tangan. Benar – letak pleximeter yang benar Cara perkusi yang salah A. Salah – jari plexor tidak tegak lurus terhadap pleximeter B. Benar Bila organ yang akan diperkusi terletak di permukaan perkusi dilakukan lemah saja. Gerakan pada pergelangan tangan 2. Salah – pleximeter tidak rapat pada daerah yang diperkusi B. tetapi bila terletak lebih dalam atau menggetarkan massa atau organ yang besar maka perkusi dilakukan lebih keras.

Batas antara dua organ yang tidak mengandung udara pada perkusi sukar menentukannya. Perkusi tympani Bunyi ini adalah suara yang hiper dari resonance (sonor) yang dijumpai diatas visceral yang mengandung gas tanpa ruangan-ruangan kecil seperti pada lambung dan usus. 2. Suatu suara perkusi beda yang lebih ekstrem yaitu redam (flatness) yang dijumpai pada perkusi paha. Batas antara organ-organ dengan nada perkusi sonor (seperti paru-paru terhadap organ-organ dengan nada perkusi beda dapat dipisahkan secara teliti). Perkusi sonor (Resonance) Secara umum disebut sonor (resonance) bila suara timbul pada perkusi organ yang mengandung udara. Pada keadaan patologis bunyi ini dijumpai pada pneumothoraks dimana kantong udara berisi udara. Hal ini dijumpai pada perkusi diatas organ dalam yang padat seperti hati dan jantung dimana frekuensi vibrasi yang timbul sukar didengar telinga. Sonor yang sesungguhnya hanya ditemukan pada perkusi diatas jaringan paru-paru dimana terdapat udara dijutaan kantong udara. Bila suara perkusi sonor masih ada dan resonansinya memendek disebut sonor memendek. Perkusi beda Suara perkusi beda (dullness) ialah suara yang tidak terdengar nada. Tujuan dari perkusi 1. . didapati bila rongga mengandung lebih banyak udara dari pada biasanya seperti pada emphysema. umpama perkusi diatas paru yang berkurang volume udaranya.Pada perkusi yang lebih kuat dapat dilakukan dengan dua jari sebagi plexor tanpa pleximeter. 3. Menentukan batas antara organ-organ yang mengandung udara dengan yang tidak mengandung udara. Batas antara organ dengan nada perkusi sonor terhadap organ dengan nada perkusi tympani lebih sukar ditentukan. Pemeriksaan perkusi harus sering dilakukan agar mendapatkan hasil yang memuaskan. Suara yang dapat didengar pada saat perkusi: 1. Kadang-kadang bisa saja digunakan pleximeter dan plexor buatan tetapi jarang digunakan karena hasil yang didengar akan berbeda sedikit dengan pemeriksaan dengan menggunakan jari. Resonansi yang berlebihan disebut hipersonor. Keadaan patologis yang menunjukan keadaan seperti ini adalah efusi pleura Diantara jenis-jenis suara perkusi diatas ada tingkatan-tingkatan suara perkusi antara sonor dan beda.

pembuluh darah dan peristaltic usus. Menentukan kelainan organ-organ dengan perubahan nada perkusi. 4. Pada masa itu telah dapat ditetapkan berbagai perbedaan suara yang dapat didengarkan pada organ-organ seperti paru-paru. jantung. . Sejak lama hipocrates telah dapat mendengar suara paru-paru dengan cara menempelkan telinga pada dinding dada serta menetapkan prubahan-perubahan suara yang terjadi. Dengan makin berkembangnya ilmu kedokteran sejalan ditemukannya alat-alat yang dipergunakan untuk auskultasi yang langsung diperkenalkan Laenee pada tahun 1816 dengan menggunakan stethoscope.2. alat ini biasa digunakan pada bagian obstetric untuk mendengarkan denyut jantung janin. Auskultasi Metode pemeriksaan ini adalah untuk menentukan kelainan yang dapat diketahui dengan mendengarkan suara yang dihasilkan dari getaran organ yang diperiksa baik secara langsung dengan telinga maupun secara tidak langsung dengan menggunakan stethoscope. Banyak alat-alat yang dibuat makin baik dimulai dari stethoscope biasa sampai yang elektronik. Manural stethoscope Yaitu suatu alat untuk mendengarkan suara dengan satu telinga. 2. Stethoscope Saat ini hampir setiap petugas kedokteran menggunakan alat ini yang mutunya semakin baik sesuai dengan perkembangan teknologi kedokteran. Hal ini penting misalkan pada efusi pleura dimana jelas terdapat perubahan dari jaringan paru yang belum terselubung dengan rongga pleura yang berisi cairan. Ada 2 jenis stethoscope yang dikenal : 1. Binaural stethoscope Alat ini yang lazim digunakan yaitu suatu alat yang terdiri dari corong atau corong yang ditutupi oleh membrane plastic (diphragma) dihubungkan dengan pipa karet ke alat yang telah dipasang pada kedua belah telinga. Pada dasarnya stethoscope adalah alat yang menghantarkan bunyi dari organ yang diperiksa ke telinga pemeriksa.

Beberapa sifat dari stethoscope yang harus diperhatikan pada pemilihan jenis yang baik adalah :  Alat yang mempunyai sifat penghantar yang baik dari suara-suara yang terdapat pada organ yang diperkusi.  Tidak mengubah suara-suara yang terdengar dan tidak menambah bunyi lainnya. maka diusahakan agar penderita ditenangkan terlebih dahulu. Bulu-bulu pada dinding dada akan menghasilkan suara yang dapat disangkakan sebagai suara tambahan demikian juga pakaian dan pada penderita yang menggigil. Pada pemeriksaan organ-organ tertentu misalkan jantung kadang-kadang kita harus mengganti corongnya dengan menggunakan membrane atau sebaliknya. Hal-hal lain yang harus diperhatikan antara lain adalah ketenangan pada waktu melakukan auskultasi. Paru-paru a. Vesicular Suara pernapasan ini terdengar halus dan berasal dari udara yang melalui jutaan alveoli ii. sebab suara-suara lain yang masuk dapat mengganggu hasil pemeriksaan. Suara-suara yang perlu diketahui secara auskultasi adalah : 1. Tujuan auskultasi : Secara umum auskultasi bertujuan untuk menetapkan perubahan-perubahan suara yang timbul dari organ yang diperiksa dan ini dipelajari secara sistematik berdasarkan organorgan yang diperiksa. Yang terpenting adalah membiasakan baik-baik suara yang normal dan tambahan sebagaimana pemeriksaan dua tempat yang identik. Suara pernapasan : i. Bronchial (laryngeal) .

berasal dari getaran (vibrasi) dari pita suara dan struktur sekitarnya. 2. Pada anak-anak suara pernafasan sedikit lebih kasar daripada dewasa dan jenis suara ini juga dapat timbul akibat exercise. Pada daerah interscapula dan apex kanan. mempunyai masa berhenti antara inspirasi dan ekspirasi dan sedikit pemanjangan ekspirasi. Jantung : Auskultasi dari suara jantung harus dipelajari secara “bed side” terhadap pasien. Tempat-tempat suara ini perlu diingat agar jangan salah menafsirkan sebagai suatu suara yang berasal dari proses konsolidasi. Disebut bronchial dan bukan laryngeal karena gelombang suara yang melalui bronchus sedikit kurang intensitasnya. dimana trakea dan bronchial dekat ke permukaan. Suara inspirasi selalu lebih panjang daripada ekspirasi. . Pada keadaan patologi suara pernafasan bronchial disebabkan supressi suara vesicular dan lebih baiknya hantaran dari element laryngeal. malah kadang-kadang yang terakhir tidak terdengar.Suara pernapasan jenis ini lebih kasar dan kuat. Berbagai alat baik phonocardiogram dan alat-alat pembantu lainnya tidak dapat menggantikan kedudukan auskultasi ini untuk mendapatkan pengalaman daripadanya. Keadaan patologis ini akan dibicarakan tersendiri dalam bab sistem saluran pernafasan. Ronki kering yang disebabkan selain oleh secret di lumen bronchus juga oleh terjadinya spasme dari bronchus. Hanya yang perlu dikenal : - Ronki basah (coarse rales) yang ditimbulkan oleh adanya cairan di saluran pernafasan. Dibutuhkan pengalaman serta pengetahuan dasar yang cukup untuk mengetahui keadaankeadaan normal dan abnormal dari suara jantung. Suara tambahan : Ronkhi : Suara tambahan ini selalu abnormal baik ronkhi basah maupun rhonki kering. Pada keadaan normal suara pernafasannya hampir semua daerah dada adalah vesicular dan kadang-kadang terlalu lemah sehingga sukar sekali terdengar kecuali dengan inspirasi dalam. suara vesicular yang terdengar agak kasar.

Pemeriksaan ini meliputi keadaan hemodinamik. Bunyi IV : Jarang didengar dan terutama pada anak-anak. Didalam menentukan status presens ini termasuklah didalamnya : - Menetapkan keadaan umum - Menetapkan tingkat kesadaran - Menetapkan keadaan gizi - Menetapkan keadaan penyakit . Sifatnya kadang-kadang lebih keras bila didengar di basis jantung. respiratori. dilakukan dahulu pemeriksaan untuk menentukan keadaan penderita secara umum. neurologi. lebih pendek dan nada lebih rendah dari bunyi II di apex. Status Presens : Secara sistematis pada semua penderita sebelum dilakukan pemeriksaan khusus pada organorgan. Bunyi III : Secara physiologis tidak jarang dapat didengar pada daerah apex dengan nada rendah. Bunyi I ini ditimbulkan oleh penutupan dari katub mitral dan tricuspidal. IV.Secara umum yang perlu didengar pada auskultasi jantung adalah : Pada normal : Bunyi I : Bersifat kuat. Secara terperinci hal ini dibicarakan di bab sistem cardiovascular. Terbaik di dengar denyut posisi miring ke kiri. Keadaan yang diperoleh pada waktu penderita diperiksa disebut status presens. Yang dapat terjadi baik pada fase sistolis maupun diastolis. Bunyi II : Bunyi ini timbul oleh penutupan dari katub-katub aorta dan pulmonal. Suara Tambahan : Desah-desah : Berbagai penyakit yang mempengaruhi sistem sirkulasi dapat menimbulkan suara tambahan berupa desah.

Meskipun tidak ada hubungan erat antara bentuk tubuh dengan keperibadian dan penyakit. Banyak sekali kelainan yang dapat mempengaruhi kelainan pada kelainan gizi. karena pertumbuhan tulang. batu empedu. Berdasar pemeriksaan tanda-tanda vital. Orang-orang bentuk endomorph lebih mudah mendapat beberapa jenis penyakit tertentu seperti diabetes mellitus. 2. Dalam perbandingan. penyakit-penyakit oleh gangguan metabolism dan lain-lain. Jenis ektomorf ialah bentuk tubuh yang “kurus ramping”. Jenis mesomorph ialah bentuk tubuh yang “tampan tegap”. Selain dari itu. 3. secara objektif dapatlah penetapan keadaan umum ini lebih jelas lagi. jenis ini mempunyai permukaan tubuh yang lebih luas oleh karena ectoderm embrional berkembang lebih pesat daripada mesoderm dan endoderm. kita secara inspeksi dapat juga menetapkan keadaan umum ini dengan melihat wajah serta sikap (posisi) penderita. . otot. Disamping itu gangguan keadaan gizi dapat juga menjadi kegemukan yang sering oleh penyakit-penyakit metabolism juga. atheroma. sedang ataupun jelek. Misalnya seorang menjadi kurus sekali bukan karena kekurangan makanan tetapi oleh penyakit-penyakit berat seperti tumor-tumor ganas. Hal ini disebabkan oleh besar dan lanjutnya pertumbuhan organ-organ intestinalis yang berasal dari lapisan endoderm embrional. Menetapkan keadaan umum Keadaan umum dapat ditetapkan sejak mulai kita melakukan anamnesa.- Menetapkan bentuk badan dan habitus - Menetapkan tanda-tanda vital 1. Menetapkan keadaan gizi Pada setiap penderita hendaklah selalu dilakukan pengukuran Berat Badan (BB) dan Tinggi Badan (TB). 2. Jenis endomorph ialah bentuk tubuh yang “gemuk dan lunak”. Pada jenis ini perut merupakan bagian tubuh yang menonjol. dan osteoarthritis. yaitu : 1. korelasi yang tidak begitu erat memang ada. tuberkulosa baik paru-paru ataupun organ lain. dan jaringan ikat yang semuanya berasal dari mesoderm terjadi secara teratur dan harmonis. Dari kontak pertama ini dan dari pembicaraan yang didengar kita dapat menetapkan apakah penderita ini keadaan umumnya baik. Bentuk-bentuk badan : Kita bedakan 3 jenis bentuk tubuh.

Orang yang tampak tinggi atau pendek belum dapat dianggap abnormal. Orang yang pendek belum dapat dikatakan kerdil apabila tidak disertai tandatanda pertumbuhan abnormal yang khas. . senang berkelakuan dan suka makan & minum. tulang-tulang bawah. yaitu lengkung supraorbitalis. Pada penyakit pertumbuhan raksasa (gigantismus) tulang-tulang tersebut tumbuh secara berlebihan. Lawan jenis endomorph adalah jenis ektomorf yang berwatak pesimis. Pertumbuhan badan dapat dihambat oleh berbagai penyakit seperti tuberculosis. tidak terlalu ramah akan tetapi tidak mengasingkan diri. Tinggi badan yang patologis selalu disertai pertumbuhan abnormal dibagian-bagian tertentu. tinggi dan berat badan dengan penyakit endokrin ada hubungan yang erat. Jenis kerdil lainnya menunjukkan perbandingan yang wajar dan sempurna antara badan dan anggota gerak.Umumnya sifat mereka suka bicara dan tertawa. penyakit katup jantung rheuma. mudah tersinggung dan cepat mengasingkan diri. gangguan-gangguan pertumbuhan tersebut mengakibatkan tanda-tanda cretinismus atau achondroplasia. Orang yang berkemauan keras cara jalan serba gagah. akan tetapi semuanya lebih kecil. dahi yang menonjol atau tulang hidung yang datar atau pesek. Bahwa bentuk badan yang pendek ini juga patologis tampak dari tanda-tanda lain yaitu muka yang menunjukkan mental terbelakang. Pendek yang patologis atau kerdil akan disertai oleh tanda-tanda pertumbuhan abnormal misalnya jarak dari tangan ke tangan (span) yang dibentangkan lebih pendek daripada jarak antara vertex-tumit. diabetes mellitus dan penyakit ginjal. Banyak diantara mereka yang menderita ulkus peptikum. Ciri-ciri seperti diatas adalah khas untuk penyakit cretinismus. rambut yang kasar serta kulit dahi dan bibir yang tebal. Tinggi badan : Pada masa pertumbuhan. badan bertambah dengan cepat. Tinggi badan pasien dianggap abnormal bila tinggi badan orang tua dan adik-adiknya jauh lebih besar atau jauh lebih kecil daripada tinggi badan pasien sendiri. tulang pipih. Keadaan demikian disebabkan oleh karena hormone pertumbuhan dibuat secara berlebihan. sering termenung. tulang hidung dan tulangtulang kaki dan tangan. Bila terserang penyakit jiwa kebanyakan mereka menunjukkan sindroma depresif. Gaya jalan : Gaya jalan dapat mencerminkan keadaan jiwa dan badan seseorang. barulah kita menganggap pertambahan tinggi badan itu patologis. colitis ulcerosa dan thyrotoxicosis. bentuk badan ditentukan oleh aktifitas hormone-hormon. sedangkan cara jalan orang yang kemauannya lemah adalah serba lesu dan lemah. Orang-orang yang berbentuk mesomorf sikapnya tenang. Penyakit jiwa sering dijumpai pada orang-orang ektomorf adalah skizofrenia. Ciri-ciri pertumbuhan semacam ini didapati pada penyakit tulang yang dinamakan achondroplasia. Seorang pria yang jalannya lenggak-lenggok menunjukkan bahwa ia juga mempunyai cirri kewanitaan dalam berbagai segi kehidupan lainnya. oleh karena itu antara bentuk.

Sikap badan yang kaku sehingga leher dan seluruh badan harus diputar apabila hendak melihat ke samping dijumpai pada penderita penyakit ankylospondylosis. Kepala yang selalu miring ke satu sisi dapat menandakan adanya kontraktur pada otot atau tulang leher (torticollis). jalan membungkuk sambil lengannya memeluk perut tampak pada orang yang sakit perut dan absess hepatis. Dengan meletakan jari kedua. cara jalan seorang penderita arteriosklerosis cerebra ada kalanya khas pula yaitu dengan langkah yang pendek-pendek sambil setengah menyeret kakinya yang berusaha untuk maju ke depan. oleh karena sakit perut atau gatal-gatal pada kulit yang mengganggu. Penilaian dari nadi Cara meraba nadi (pols). tetapi hasilnya mengecewakan. Cara jalan seperti orang mabuk nampak pada orang penderita penyakit cerebellum dan tabes dorsalis. lengannya setengah dilipat pada sendi siku dan melekat pada badannya. Bila sikap ini disertai letak bahu yang lebih tinggi pada sisi ke arah mana kepala dimiringkan. Bagian perifer dari nadi ini kita tekan sedikit dengan jari manis dan 2 jari lainnya dapat merasakan pulsasi nadi. Sikap badan : Sikap penderita yang tidak tenang dapat disebabkan oleh karena perasaannya tidak tenang. Penderita yang pincang oleh karena poliomyelitis cara jalannya berbeda dengan pincang akibat patah tulang seorang penderita polyneuritis berjalan seperti seekor ayam yaitu mengangkat tinggi-tinggi kakinya waktu melangkah supaya ujung kakinya tidak menyentuh tanah. Menetapkan tanda-tanda vital : 1. Orang yang sakit keras tidak dapat duduk tegak karena badannya lemah. keempat dari tangan kanan diatas arteri radialis dextra. Penilaian yang diambil adalah : - Frekuensi - Rythme (irama) - Tegangan - Gelombang - Volume . ketiga. maka gejala ini menunjukkan adanya gangguan pada cerebellum. sedangkan seorang hemiparesis akibat infarctio cerebri menyeret setengah badannya ke depan. dan ibu jari memegang dari bawah maka dapat dinilai nadi penderita. tungkainya agak dilipat pada sendi lutut dan langkahnya sangat lambat dan kaku.Lebih erat lagi adalah hubungan antara cara jalan dan penyakit : penderita penyakit Parkinson mempunyai cara jalan yang khas yaitu tubuhnya agak membungkuk.

sedang makan dan faktor emosi menambah denyut nadi. Gangguan hantaran impuls jantung (secara singkat dinamakan gangguan hantaran jantung). demam enteritis dan typhoid. Denyutan semacam ini dinamakan denyutan ekstra-sistolis. nadi semacam ini dinamakan pulsus trigeminus. . infeksi streptococcus. Nadi yang sama sekali tidak teratur dikenal sebagai pulsus irregularis totalis dan nadi ini merupakan gejala dari fibrilasi atrium. Nadi semacam ini dinamakan pulsus bigeminus. Denyut nadi sifatnya teratur pada orang yang sehat. Nadi yang cepat dinamakan tachycardia atau pulsus frequens dan nadi yang lambat dikenal sebagai bradychardia atau purarus. Hal ini adalah normal dan mudah dijumpai pada anak. penyakit kuning. diphtheria dan berbagai jenis penyakit jantung. seperti supratricular tachycardia paroximalis (atrium fibrilasi dan atrium flutter) dan ventricular tachycardia. Untuk ini perlu digunakan alat penentu waktu (jam tangan. Kalau tiap-tiap tiga denyut jantung diceraikan oleh masa antara denyut nadi yang lama. dan denyut nadi itu sifatnya seolah-olah merangkak. akan tetapi nadi yang tidak teratur belum tentu berarti abnormal. dan khas terdapat pada stenosis aortae. Rythme (irama) : Setelah frekuensi nadi diketahui maka kita menentukan irama nadi. Masa antara denyutan nadi (interval) yang memanjang dapat ditemukan juga jika terdapat satu denyut tambahan yang timbul lebih dini daripada denyutan-denyutan lain yang menyusulnya. demikian juga pada keadaan berdiri.Frekuensi denyut nadi : Frekuensi denyut nadi ditentukan dengan menghitung jumlah denyut dalam satu menit. bagian yang menurun dan puncaknya. Dengan palpasi dapat kita menafsirkan gelombang tersebut. Nadi semacam ini dinamakan pulsus anakrot. Frekuensi nadi yang dianggap normal adalah lebih dari 60 dan kurang dari 100. terasa keadaan dimana tiap-tiap dua denyut jantung dipisahkan sesamanya oleh waktu yang lama karena satu antara tiap-tiap dua denyut menghilang. Nadi yang lambat terdapat pada penyakit myxoedema. Arrhythmia sinus adalah gangguan irama nadi. Pulsus frequens dijumpai pada demam tinggi. Gelombang nadi yang lemah mempunyai puncak yang tumpul dan rendah. stopwatch) Frekuensi nadi pada dewasa normal adalah 60-90 kali permenit. Pada anak-anak denyut ini sedikit lebih cepat. Jenis nadi tak teratur lainnya adalah abnormal. dimana frekuensi nadi menjadi cepat pada waktu inspirasi dan melambat pada ekspirasi. Tiap denyut dapat dilukiskan sebagai satu gelombang yang terdiri dari bagian yang meningkat. thyrotoxicosis.

Nadi yang besar dijumpai pada waktu orang mengeluarkan tenaga atau jika demam tinggi yang akut. Dengan memompa pompa karet tekanan dinaikkan sampai 250 ataupun 300 mmHg dari arteri radialis di pergelangan tangan di palpasi (cara palpasi). Usahakan agar pakaian tidak terlalu ketat dan menghalangi tempat pengukuran cuff (manset) dari tensimeter dibalutkan pada lengan atas yang sedikit abduksi. Alat : Untuk melakukan pengukuran tekanan darah dapat digunakan sphygmomanometer (tensimeter) yang sekarang banyak jenisnya dimulai dari sphygmomanometer air raksa sampai ke tensimeter elektronik. Cuff (karet pembalut yang dapat diisi tekanan). Isi nadi juga mercerminkan perbedaan antara tekanan sistolis dan diastolis yang dikenal sebagai tekanan nadi. yaitu denyutan yang melompat tinggi dan menurun secara cepat sekali adalah khas untuk insufisiensi aorta. Pada tiap denyut nadi sejumlah darah melalui bagian tertentu daripada arteri. jumlah darah yang melalui arteri tersebut adalah kecil. ii. Tekanan pada cuff (manset) dinaikkan lagi dengan ceoat s/d 250 atau 300 mmHg dan dengan .Sebaliknya denyutan yang terasa seolah-olah meloncat tinggi. Cara : Penderita yang akan diperiksa dapat didudukkan dengan tenang ataupun berbaring. Banyaknya jumlah darah ini dicerminkan oleh tingginya puncak gelombang nadi. kita katakana bahwa nadi itu besar (pulsus magnus). Pulsus alterans menandakan adanya kerusakan pada otot jantung. 2. Yang biasa digunakan adalah sphygmomanometer air raksa yang terdiri dari sebuah manometer dengan kalibrasi dari 0 s/d 300 mmHg. Pulsus alterans adalah nadi yang mempunyai denyut nadi yang kuat dan lemah berganti-ganti. yaitu denyut nadi yang semakin lemah selama inspirasi bahkan menghilang sama sekali pada bagian akhir inspirasi untuk timbul kembali pada ekspirasi. dan stenosis aortae. Palpasi yang pertama diraba di pergelangan tangan ini dicatat sebagai tekanan darah sistolis. Pengukuran tekanan darah : i. Nadi semacam ini dinamakan pulsus celer. Cara ini selalu dilakukan terlebih dahulu dan lalu untuk lebih jelas kita lakukan cara auskultasi. Jika suatu denyutan terasa mendorong dari yang mengerjakan palpasi. Nadi semacam ini menunjukan adanya pericarditis efusi pericardium. Ada lagi jenis nadi yang dinamakan pulsus paradoxus. pompa karet dan pipa karet. Pada pulsus celer didapati denyut yang curam datang dan hilangnya denyutan pada pulsus celer adalah cepat sekali. infarctio cordis. Sebaliknya pada gelombang nadi yang kecil (pulsus parvus). Pulsus parvus menyertai perdarahan.

Tekanan pada cuff perlahan-lahan diturunkan sampai terdengar suara pertama (awal phase I). Menghilangnya suara ini dapat terjadi secara mendadak. tekanan pada suatu saat ini pada sphygmomanometer dicatat sebagai tekanan sistolis. Pengukuran tekanan diastolis ini diukur oleh beberapa klinis pada saat berubah dari fase III menuju fase IV. tekanan yang diperoleh seperti 160/90/80 mmHg. misalnya di kamar praktek. Mencatat tekanan diastolis pada saat perubahan dari fase ke IV dan ke V. 160 = tekanan darah sistolis 90 = tekanan darah diastolis pada awal fase ke IV 80 = tekanan darah diastolis pada awal fase ke V Pada penderita dimana suara tidak menghilang dapat ditentukan pada saat suara pada fase ke IV berubah intensitasnya. Suatu hal yang penting adalah mencatat dan menilai pengukuran darah dengan sebaik-baiknya. Selalu diingat bahwa tekanan darah ini selalu berubah dengan keadaan. termasuk di Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK USU/ RS Dr. Penulis lain. Tetapi hal ini belum tentu sama dengan tekanan darahnya pada waktu mengalami perubahan emosi. Kadang-kadang dilakukan juga pencatatan kedua.stethoscope diletakkan pada sekitar arteri brachialis pada daerah antecubiti dibawah cuff. sedang . Kita kenal suara korotkov ada 4 phase (lihat diagram). didengarkan suara korotkov. Pengukuran pada suatu saat menunjukan tekanan darah arterial pada saat itu saja. Akhirnya suara berubah lagi menjadi menghembus dengan intensitas lebih lama (fase IV). bertahap ataupun tidak menghilang sama sekali pada individu-individu tertentu. Bila tekanan diturunkan lagi suara makin lemah sampai menghilang sama sekali (fase V). Pirngadi Medan. yaitu dimana secara akhirnya menghilang sama sekali. Pada waktu tekanan diturunkan lagi perlahan-lahan suara akan berubah dari suara mengentak kuat kepada suara menghembus/ mendesis. Dengan menurunkan lagi tekanan suara akan berubah lagi menjadi tajam yang tidak sekuat fase I (fase III).

suatu tekanan yang cukup tinggi untuk dapat memecahkan pembuluh darah yang lemah. tetapi bila orang ini sedang mengejar bis misalnya. d.berlari-lari. Auscultary Gap : Pada beberapa kasus. Maka hendaknya penderita sebelum diukur tekanan darahnya. Cuff terlalu kecil : Bila cuff terlalu kecil akan tercatat kesalahan pengukuran yang terlalu tinggi. suara menghembus pada fase kedua tidak terdengar. Kesalahan-kesalahan teknis yang mungkin terjadi pada waktu pengukuran tekanan darah adalah : a.8 detik. tekanan darahnya dapat mencapai 280/100 atau lebih. b. dan ini membutuhkan waktu serta kesabaran. Penurunan tekanan cuff yang terlalu cepat : Selalu diingat bahwa cardiac cycle atau gelombang nadi pada denyut nadi rata-rata adalah 0. Penderita kurang tenang : Pada umumnya penderita agak sungkan bila berkunjung ke dokter. Untuk mendapatkan pengukuran tekanan darah yang baik penderita hendaknya dibuat setenang mungkin. Para dokter perlulah menilai segala kemungkinan ini untuk dapat mencegah terjadinya kardiovaskuler accidents. . lebih-lebih bila kunjungan itu baru yang pertama sekali. bekerja berat. Jadi bila tekanan didalam cuff diturunkan secara cepat beberapa denyut akan hilang secara auskultasi sehingga pengukuran akan mengalami kesalahan. Sayangnya tidak semua orang dapat diukur tekanan darahnya secara terus menerus tanpa mengganggu kegiatannya sehari-hari. diterangkan lebih dahulu dan pada setiap kunjungan penilaian ini dilakukan lagi. c. Selanjutnya tekanan darah 160/80 pada penderita arteriosklerosis dapat dianggap tidak apa-apa bila diukur di klinik. tidur nyenyak. Hal ini sering terjadi pada orang-orang gemuk. Hilangnya suara ini dapat terjadi oleh karena cuffnya tidak dipompa cukup tinggi sehingga kalau diturunkan tekanannya akan dicatat sebagai tekanan darah systolis. Tekanan darah yang hanya meninggi bila seseorang sedang terganggu emosinya dan merendah pada waktu tidur (manusia mempunyai suara tidur sepertiga dari usianya) hanya berpengaruh sedikit bukan terhadap jantungnya dibanding dengan seseorang yang mempunyai tekanan yang tetap tinggi siang dan malam.

Pernafasan Tanda vital lain yang penting adalah pernafasan. Penentuan keadaan ini penting sehubungan dengan beratnya penyakit. Banyak faktor yang mempengaruhi frekuensi pernafasan ini secara physiologis. Pada pasien dengan uremia kita dapatkan pernafasan yang diperlambat yang sama sekali tidak teratur dengan frekuensi 8x permenit. Disamping itu polynoe ini dapat juga timbul oleh pengaruh psikis. Dalam-dangkalnya pernafasan Pernafasan dapat dangkal atau dalam. Frekuensi pernafasan Cara yang termudah untuk menentukan frekuensi pernafasan adalah dengan meletakkan tangan di atas dinding dada dan menentukan frekuensi berkembangnya toraks dalam 1 menit. Bila kita dapatkan pernafasan mendadak dalam dan juga cepat. uremia dan keracunan lainnya. Perubahan-perubahan frekuensi pernafasan : Polynoe Polynoe disebut juga pernafasan yang cepat yang dapat terjadi pada beberapa keadaan patologis seperti penyakit-penyakit infeksi. Kita temukan juga terutama pada koma diabetikum. Pernafasan yang diperlambat kadang-kadang teratur. gangguan sistem sirkulasi dan respirasi. Sign (gejala) ini dapat member petunjuk yang paling tepat dan penting bagi penentuan penyakit ini. Perlambatan yang penting kebanyakan menunjukkan suatu kelainan yang berat dan dapat timbul pada proses-proses cerebral. Frekuensi pernafasan pada orang dewasa adalah antara 16-24x per menit. Demikian juga bila sedang bekerja fisik yang berat. Salah satu yang terpenting adalah olahraga/ latihan jasmani dimana didapati percepatan parnafasan. Pada keadaan sehari-hari polynoe ini disebut dyspnoe (sesak nafas). kadang-kadang tidak teratur. intoksikasi dengan salicyl. maka kita berhadapan dengan beberapa type pernafasan yang timbul pada keracunan asam. . Pernafasan diperlambat (Oligopnoe) Setiap kali selalu kita dapatkan perlambatan pernafasan.dsb) Kita sebut type pernafasan ini “Pernafasan Kausmall”. kadang-kadang sebenarnya juga pada bentuk-bentuk lain dari keracunan asam (gangguan ginjal. Pernafasan cepat dan dangkal yang mendadak kita dapatkan amat sering pada radang paru-paru yang akut. Gejala ini sangat lebih jarang kita dapatkan daripada polipnoe. Dalam menentukan keadaan pernafasan ini diperhatikan frekuensi pernafasan serta type pernafasan.

Pada tingkat yang berat dari kegagalan jantung.Pernafasan tidak teratur Keadaan tidak beraturan ygn terpenting yang dapat kita jumpai dalam klinik adalah pernafasan Cheyne-Stokes. mungkin dapat disebabkan keracunan ataupun oleh sirkulasi yang tidak sempurna. Ini terutama sering terlihat pada penyakitpenyakit yang berat dari jantung dan ginjal. Bilamana kita perhatikan pasien dengan sungguh-sungguh. Kadang-kadang pada sejumlah orang dimana kita dapatkan dyspnoe d’effort yang berat dan meski begitu tidak terdapat kelainan yang penting pada jantung. Tekanan pada trakea dan bronki yang besar dapat menyebabkan pernafasan yang dipersukar dengan perasaan sesak nafas. pada istirahat terdapat juga dyspnoe. Keadaan tidak beraturan yang penting dari pernafasan dapat timbul pada proses-proses cerebral. Kebanyakan dalam hal ini frekuensi pernafasan hanya naik sedikit. Disini secara periodic pernafasan menghilang dan kita temukan pernafasan mendadak secara tidak teratur. Kita sebut ini dengan type pernafasan dari Biot. Kita dapatkan disini period pernafasan dalam. bila dikerjakan oleh orang yang sehat dengan tanpa keluhan. Keadaan ini terutama dipelajari oleh LEWIS dan olehnya disebutnya sebagai “EFFORT SYNDROM”. Keadaan ini jangan dicampur adukkan dengan penyalahan/ penyakit organis dari jantung. Dalam hal jarang terjadi ialah disini terdapat pernafasan yang tidak teratur. . Pada anamnesa telah dibicarakan bahwa juga pada orang sehat juga dapat dijumpai. Lebih lanjut dyspnoe pada istirahat ditemui pada kelainan paru-paru dan jalan pernafasan. ternyata mereka itu pada periode pernafasan dalam sangat sesak nafasnya dan sukar mengambil nafas. yang tiba-tiba diselangi oleh pernafasan berhenti yang lebih panjang. DYSPNOE Seperti yang telah disebut diatas. yang bergantian dengan periode-periode dari pernafasan dangkal yang hampir menghilang. sementara itu sesudah waktu yang singkat pernafasan menjadi perlahan/ tenang dan kadang-kadang berhenti sama sekali (apnoe). Suatu “dyspnoe d’effort” yang tidak menyenangkan selalu patologis. Periode-periode ini berubah perlahan bergantian satu dengan lain. dalam hal ini dapat sangat bervariasi. Stenosis dari jalan pernafasan yang berat kebanyakan juga dikenal oleh suara yang dari jauh terdengar pada waktu inspirasi kita sebut ini sebagai stridor inspirator. seperti ternyata pada pemeriksaan dan keadaan selanjutnya. dapatlah dyspnoe dijumpai pada keadaan fisiologis sesudah bekerja berat. terutama pada meningitis. Yang paling jelas pernafasan CheyneStokes itu kebanyakan dalam istirahat (waktu tidur) sedangkan bentuk-bentuk ringan dapat menghilang bila perhatian pasien sungguh-sungguh. Pernafasan Cheyne-Stokes adalah gejala yang berat dan mempunyai prognosis yang jelek yang harus digambarkan sebagai suatu kerusakan dari pusat pernafasan. Dalam banyak hal dyspnoe d’effort yang patologis menunjukkan akan adanya kegagalan jantung. bila ini kita jumpai sesudah bekerja yang ringan.

berkurangnya elastisitas (kekenyalan) dari paruparu dan sebagainya. ditandai oleh karena disertai sensasi subyektif yang tak menemu. Mengukur suhu Alat : Untuk pemantauan suhu digunakan thermometer air raksa dan lazim digunakan disini adalah dengan satuan celcius (0C). Juga pada yang kronis. Keadaan ini kita sebut ortopnoe. Beberapa dari mereka merasa yang enteng sudah bila bagian atas badannya sedikit diangkat. apalagi bila terjadi kompresi pada kedua belah paru sehingga terjadilah dyspnoe yang berat. Disamping itu tak jarang dapat diketahui perubahan yang obyektif dari pernafasan. Dyspnoe seperti yang telah dikatakan. Cara pengukuran Pengukuran suhu dapat dilakukan pada beberapa tempat tubuh seperti : - Axilla - Mulut . disini dapat juga kita dengar suatu stridor akan tetapi pada waktu ekspirasi (ekspiratoir stridor). Faktor-faktor lain yang mendesak pernafasan hingga menimbulkan dyspnoe seperti diafragma meninggi. seperti pneumonia. Suatu contoh yang baik disini ialah asma bronchial. sehari semalam terus menerus tetap dalam sikap duduk tegak. Lebih lanjut ini dapat timbul pada kompresi pada paru-paru misalnya pada pleuritis eksudativa. Disini kita lihat turut bekerja otot-otot pernafasan auxiliair dan terutama pada leher (Mm. mereka dalam keadaan kaku dengan mengangkat bagian atas dari tubuhnya. Sebelum melakukan penentuan suhu tubuh hendaknya temperature sebelumnya adalah dibawah suhu tubuh dengan cara membiarkan thermometer tersebut ditempat biasa ataupun diusahakan menurunkannya dengan pendinginan. Untuk tugas di ruangan cukuplah kita menggunakan thermometer biasa. Pada tingkat yang berat dari dyspnoe kebanyakan pasien-pasien tidak mungkin lagi meletakan badannya horizontal. Disamping itu pada hidung terutama pada pernafasan yang cepat dan teratur sering kita dapatkan gejala dari pernafasan cuping hidung. Kita kenal berbagai jenis thermometer sekarang ini dimulai dari thermometer biasa sampai dengan thermometer elektronik yang dapat dibaca secara digital. Disini lubang hidung melebar pada waktu inspirasi.Dapat juga timbul dyspnoe oleh penyempitan dari sejumlah banyak bronki kecil-kecil. Scaleni). 3. Pada bentuk-bentuk yang berat dari gangguan ini pasien dalam keadaan kaku (compulsary). Dyspnoe dapat juga timbul pada kelainan paru-paru yang luas. gejala ini dapat kita jumpai. gangguan mekanis dari pernafasan. misalnya tuberculosis paru-paru yang luas. sedangkan menyempit selama ekspirasi.

Perubahan suhu Pada penentuan suhu tubuh akan dilihat berbagai perubahan suhu seperti : - Subfebril : terdapat kenaikan suhu dari normal sampai lebih kurang 38⁰C. Beberapa yang mempengaruhi suhu normal seperti : 1. Terdapat perbedaan suhu sehubungan dengan waktu.- Rectum - Vagina Pengukuran yang paling baik adalah pada rectum atau vagina dimana thermometer benar-benar berada di dalam tubuh sehingga benar-benar dapat memindahkan suhu tubuh ke thermometer. 4. Suhu normal Umumnya temperature normal pada rectal adalah antara 36. Perubahan suhu ini selalu dicatat pada daftar/ kurve demam dan diukur setiap hari pada penderita yang dirawat dan bila perlu beberapa kali sehari pada penderita demam.5-37⁰C. Pengukuran di axilla juga dapat dipercaya hanya memerlukan kecermatan dan membutuhkan waktu yang lebih panjang (lebih kurang 10 menit) sedangkan pengukuran di rectum dan vagina dapat dilakukan dengan waktu yang sedikit lebih singkat. 3. . demikian juga pada pengukuran di tempat lainnya namun sering terdapat variasi normal dari suhu rata-rata. Febris intermitten Demam type ini kita temui suhu yang tinggi diselangi dengan menggigil (rasa dingin). Naiknya suhu dapat terjadi pada berbagai keadaan penyakit terutama sekali oleh karena infeksi baik bacterial maupun parasit lain-lain. dimana biasanya suhu lebih tinggi juga pada masa ovulasi. Sesudah makan suhu akan meningkat sedikit. Type demam Dikenal beberapa type (jenis) dari demam : 1. Kenaikan suhu secara fisiologis seperti sehabis olahraga (gerak badan) dan lain-lain. Perubahan suhu sehubungan dengan menstruasi. - Hiperpireksi : terdapat peningkatan suhu yang sangat tinggi lebih dari 41⁰C. suhu pada waktu pagi lebih rendah daripada suhu siang hari (circadian). 2. - Febris (demam) : suhu meningkat lebih dari 38⁰C.

3. Demam ini terjadi pada penyakit yang sangat berat. . Tetapi kenaikan dengan penurunan tidak lebih dari 1⁰C. Febris hektica Tipe demam ini menunjukkan temperature yang sangat tidak teratur dan kadang-kadang berlangsung lama. Demam ini biasanya terdapat pada penderita tuberculosis paru. Febris continue Pada demam type ini temperature meninggi dan tidak menunjukkan penurunan atau penaikkan yang nyata (kurang dari 1⁰C) pada kurve temperature. Febris remitens Demam seperti ini suhu meninggi dan diselangi dengan sedikit menggigil (rasa dingin) dengan sedikit. Febris remitens ini tidak khas untuk sesuatu jenis penyakit tetapi bisa didapati pada berbagai penyakit infeksi. Jenis demam ini dapat juga untuk penyakit-penyakit misalnya demam typhoid disamping dapat juga untuk penyakit-penyakit berat lainnya. 5. kebalikan dari yang biasa. 4. 2. Temperature/ suhu inversus Tipe perubahan suhu ini berupa demam yang pada pagi hari lebih tinggi dari sore hari.Keadaan seperti ini ditemui pada penderita malaria atau sepsis.

Mata 5. lidah tebal. bibir dan mulut 1. Muka 2. Begitu pula diperlihatkan apakah muka itu simetri atau asimetri yang disebabkan kelumpuhan N VIII yang disebut Fascialis Parase. Juga harus diperhatikan bentuk muka yang lain. bulat. Bentuk kepala 3. Keadaan rambut 4. Hidung 6. Muka Memperhatikan muka penderita penting sekali bagi seorang dokter untuk melihat pancaran atau eksperi wajah penderita yang dapat menggambarkan keadaan penderita apakah dalam : - Emosi - Cemas - Gembira - Kesakitan - Depresi - Sedih - Dan lain-lain Dan sekaligus pula wajah seseorang dapat memperlihatkan wataknya. - Moon face (muka bulat seperti bulan penuh) - Mongolisme (mata sipit.BAB III PEMERIKSAAN KEPALA Metode pemeriksaan yang penting adalah inspeksi. palpasi dan perkusi yang meliputi pemeriksaan terhadap : 1. yang mungkin berupa : - Muka myxodem (muka bengkak. dan seperti orang mau tidur). bibir tebal) . hidung pesek dan lebar. Telinga.

Bentuk kepala Kepala dapat berbentuk : - Normal - Abnormal Abnormal dapat berupa : - Hydrosefalus (sangat membesar) - Microsefalus (sangat mengecil) - Empat segi (pada rakhitis) Yang perlu menjadi perhatian dokter apakah pada kepala terdapat adanya : - Tumor - V.- Muka singa (leomine fasies) - Pada dahi dan pipi serta dagu subcutan menebal. merata atau tidak. harus kita perhatikan apakah : - Hitam - Coklat - Putih - Pirang - Dan lain-lain 4.V mekar - Tanda-tanda radang - Tanda-tanda trauma - Nyeri tekan 3. Rambut Kita perhatikan pertumbuhannya apakah lebat atau jarang. 2. . Bagian yang tidak ditumbuhi rambut disebut alopesia. hidung lebar dan pesek. Mata Perhatikan letak bola mata apakah menonjol keluar yang disebut exophtalmus atau tertarik ke dalam yang disebut endophtalmus. Begitu pula mengenai warnanya.

- Strabismus konvergen (melihat ke arah medial) arah hidung. PUPIL Pada pemeriksaan pupil yang pertama kita perhatikan : - Bentuknya : .tak sama (anisokor) - Besarnya : . - Pendarahan karena trauma. Tekanan bola mata menurun pada koma diabetikum. - Tumor-tumor jinak dan ganas. - Xanthelasme (bercak-bercak kuning pada kulit kelopak mata yang disebabkan peninggian kadar lemak dalam darah) - Blefaritis (radang kelopak mata) - Oedema (kelopak mata yang membengkak) selalu disebabkan penyakit ginjal. Tekanan bola mata menurun pada koma diabetikum.normal .sama (isokor) .membesar (midriasis) .Kemudian perhatikan gerakan bola mata apakah terbatas pada satu arah yang disebut dengan strabismus atau mata juling karena kelumpuhan otot-otot mata tertentu hingga ada : - Strabismus divergen (melihat ke lateral) arah telinga. - Tekanan bola mata harus juga diperiksa.amat mengecil (pin point) .mengecil (miosis) . Tekanan bola mata meninggi pada glaucoma. - Nystagmus (gerakan bola mata yang terus menerus dengan arah bolak-balik karena gangguan ekstra pyramidal) - Deviation conjugae (keadaan bola mata terjatuh karena gangguan ekstra pyramidal) KELOPAK MATA - Apakah ada ptosis yaitu kelopak mata jatuh karena kerusakan N.III. - Tumor bola mata harus juga diperiksa.

Secara fisiologis ditemukan pada usia tua. yaitu garis putih keabuan yang melingkari kornea. CORNEA Pertama-tama kita lihat apakah ada arcus senilis.Reflex pada pupil - Direk (cahaya langsung pada mata tersebut) - Indirek (cahaya tidak langsung pada mata tersebut hanya pada mata lainnya) CONJUNGTIVA Pada pemeriksaan conjungtiva perlu kita perhatikan apakah ada tanda-tanda yang berupa : - Anemia : bila conjungtiva berwarna pucat karena kurang darah - Radang : bila conjungtiva terlihat hiperemis dan adanya tanda-tanda infeksi - Bitot spot : bercak keabu-abuan selalu berbentuk segi tiga didapat pada kedua sisi kornea disebabkan kekurangan vitamin A. terdiri dari jaringan ikat. - Pinguecula : bercak-bercak putih kekuning-kuningan pada kedua sisi kornea. tapi juga dapat pada usia muda umpamanya pada penderita diabetes mellitus. Xerophtalmia : kornea menjadi kering dan lunak pada kekurangan vitamin A yang lebih berat Xeratomalasia : kornea hancur LENSA Lihat apakah lensa berwarna keruh yang disebut katarak dijumpai pada usia lanjut. FUNDUS Diperiksa dengan alat ophtalmoskop dan disebut Funduskopi yang dilihat pada fundus apakah ada : - Vena-vena melebar pada papil - Udem pada papil - Pendarahan pada papil . Ulkus : yaitu adanya perselubungan seperti awan dengan adanya tanda-tanda radang. Pada sklera palpebra lihat ada atau tidaknya ikterus yaitu sklera yang berwarna kuning. - Phlycten : penonjolan kecil-kecil warna abu-abu kekuning-kuningan pada conjungtiva dan kornea.

VISUS
Pada pemeriksaan dokter sehari-hari perlu diadakan pemeriksaan secara umum terhadap daya
penglihatan penderita dengan memakai kartu snellen dan penderita berada 6 meter dari jarak
kartu snellen dan disuruh membaca huruf-huruf yang terdapat pada kartu tersebut, dengan
bergantian mata kanan dan kiri yang ditutup.
Dari pemeriksaan ini dokter mengetahui apakah penderita :
-

Emetrop

: yaitu mata normal, bayangan benda tepat jatuh pada retina.

-

Hypermetrop / mata jauh : yaitu bayangan benda jatuh di belakang retina.

-

Myop / mata dekat

: yaitu bayangan benda jatuh di depan retina.

Gangguan lain pada penglihatan dapat berupa :
-

Presbyop : yaitu penglihatan terganggu karena kurangnya daya akomodasi, sehingga
bayangan benda jatuh di belakang retina.

-

Buta warna : yaitu bila penderita tidak dapat membedakan warna yang ada pada spectrum
dan ini diperiksa dengan cara yang menyuruh penderita melihat lembaran test yang dibuat
untuk itu. Kemudian dokter meneruskan pemeriksaannya terhadap lapangan penglihatan
penderita apakah ada gangguan atau tidak.

PHARYNX
-

Lihat tanda-tanda radang

-

Periksa reflex

Bau pernafasan :
Aseton

: pada koma diabetikum ketoasidosis

Amoniak : pada koma urenikum
Bau busuk pada abses paru
Anyir

: pada koma hepatikum

Atau tanyakan langsung penderita bagaimana pendengarannya biasa atau berkurang.

Perhatikan apakah ada pada :
Bibir :
-

Luka-luka (rahgaden)

-

Warnanya :

-

Pucat (anemia)

Biru (cyanosa)

Herpes labialis : gelembung-gelembung kecil yang dapat mongering dalam beberapa hari
dan meninggalkan krusta didapat pada keadaan demam.

Selaput lendir :
-

Stomatitis

-

Aphtoe : luka-luka kecil pada selaput lendir pipi yang kemusian disertai infeksi dan
membentuk ulkus.

-

Leukoplakia : bercak-bercak putih keabuan yang terdapat pada selaput lendir pipi dan
lidah karena epitel mongering, menebal dan fissure.

Gigi :
-

Jumlahnya dan bentuknya

-

Caries (radang gigi)

-

Abses alveoli

Gusi :
-

Pendarahan

-

Pembengkakan

Lidah :
-

Besarnya

-

Gerakannya

-

Tremor (bergetar) sewaktu dikeluarkan

-

Permukaannya basah atau kering (dehidrasi)

-

Papil-papil tidak jelas (atrofi) menyebabkan permukaan licin, merupakan gejala
pernisiosa anemia.

-

Lihat juga apakah ada luka-luka

-

Ranula (tumor jinak) kista kelenjar ludah/ kelenjar mukosa yang tertutup, letaknya di
dasar mulut/ pangkal lidah

Caranya :
Penderita duduk dan dokter berada didepannya dengan mata yang sama tinggi. Mata kanan
penderita menatap mata kiri dokter dan mata lainnya masing-masing ditutup.

Kemudian dokter menggerakkan 2 jari tangan kanannya sebagai objek, yang mana jarak dari
mata dokter, mata penderita sama jauh. Kemudian penderita disuruh memberitahukan dokter bila
ia sudah melihat jari-jari tersebut.
Bila dokter telah melihat jari-jari tersebut sedang penderita belum, artinya penderita mengalami
gangguan medan penglihatan, dan bila ini ditemukan, sebaiknya penderita harus dikonsulkan ke
dokter spesialis mata. Bila lapangan penglihatan penderita terganggu separuh disebut
hemianopsia.
5. Hidung
Lihat bentuknya apakah :
-

Mancung

-

Pesek

-

Sadle nose

Bagaimana letak septum nasi, apakah ada deviasi. Kemudian perhatikan lubang hidung,
apakah ada penyumbatan karena polip, atau pendarahan (epistaksis) atau adanya ingus
dan bagaimana pula keadaan selaput lendir hidung apa ada hiperemis dan lain-lain.
Terakhir perlu dokter menanyakan tentang penciuman penderita apakah baik atau
terganggu
6. Telinga
Lihat bagaimana keadaan daun telinga penderita biasa atau abnormal. Apakah ada
benjolan atau benjolan pada daerah lobus yang merupakan tophus/ tophi, yang
disebabkan penimbunan Na-Nitrat yang dijumpai pada penderita gout atau pirai.
Kemudian perhatikan liang telinga, apakah ada keluar secret yang berupa nanah ataupun
serumen.
Apakah ada nyeri tekan pada Processus mastoideus yang merupakan tanda-tanda
mastoiditis. Terakhir lakukan test pendengaran yang dilakukan dengan suara berisik
dengan jarak 6 meter.

Systolic thrill yang synchronous dengan bruit dapat diraba pada beberapa penderita. Ujung-ujung jari kedua tangan diletakkan pada jaringan thyroid sedangkan trakea memisahkan tangan pemeriksa. Arteri carotis dapat berpulsasi yang disebabkan oleh : - Aorta insufisiensi - Anemi - Hipertiroidism - Aneurisma a. Leher penderita Turner sindrom dan Klipel sindrom mempunyai karakteristik lipatan-lipatan kulit seperti fan yang terentang ke lateral dari leher ke bahu. Pembesaran thyroid dapat disebabkan oleh Graves disease.carotis. a. keras. Bruit ini juga didapati pada penyakit jantung dengan cardiac murmur yang dirambatkan melalui a. v. Pada palpasi thyroid yang normal didapatkan satu massa yang licin.jugularis dsb. Kelainan ini disebut “webbed neck”. Auskultasi thyroid pada Graves Disease didapati systolic bruit. Pemeriksaan dilakukan dengan cara pemeriksa berdiri di belakang penderita. Kemudian penderita disuruh menelan dan thyroid menggelincir diantara jarijari tangan pemeriksa memberi kesan tentang besarnya. bergerak bila penderita menelan.carotis. dan keras lunaknya thyroid. Untuk memeriksa setiap lobus dan polenya dilakukan pemeriksaan sebagai berikut : pemeriksa menarik otot sternocleidomastoideus dan dengan tangan yang satu lagi mempalpasi lobus atau pole thyroid. Jika pole di bawah tidak dapat teraba mungkin pole ini terletak di bawah sternum dan dapat diperiksa dengan perkusi.BAB IV PEMERIKSAAN LEHER Pemeriksaan leher terdiri dari inspeksi. kelenjar limfe. palpasi dan auskultasi. tumor atau pembengkakan dan pembatasan pergerakan. oto sternocleidomastoideus.carotis . colloid goiter. Thyroid bruit dan thrill hampir pathognomonis Graves disease dan arang didapati pada colloid goiter dan penyakit thyroid lain. Pemeriksaan pertama adalah dengan inspeksi melihat kelainan berupa asimetri. batasnya. cyste thyroid dll. kelenjar thyroid. Palpasi struktur submandibularis dilakukan dengan meletakan satu jari di dalam mulut. Dengan meregangkan dan pembengkokan leher ke lateral otot sternocleidomastoideus menjadi tegang dan membuat batas yang jelas antara triangular anterior dan posterior. Dasar mulut dan kelenjar ludah submandibular dan kelenjar limfe dapat diraba dengan mudah. Pemeriksaan selanjutnya ialah palpasi untuk mengenal tulang rawan thyroid. pembesaran kelenjar limfe atau kelainan struktur yang lain menjadi lebih jelas. pulsasi-pulsasi. Dengan begini pembesaran thyroid. Batu pada saluran kelenjar ludah juga dapat diraba dengan cara ini.

Kalau didengar daerah sistolik harus dibedakan dengan desah aorta.carotis bisa didapati systolic bruit yang disebabkan oleh obstruksi karena arteriosklerosis. Tempat auskultasi ini adalah di atas dan di daerah clavicula setentang a.jugularis yang dapat disebabkan : - Obstruksi karena tumor di dalam rongga dada - Cardiac failure Pembesaran kelenjar limfe cervical dapat disebabkan oleh : - Hodgkin disease - Tuberkulous limfeadenitis atau scrofula - Lymphative leukemia - Pediculous capitis Pada Hodgkin pembesaran kelenjar pada mulanya terpisah-pisah dan keras dan selalunya bilateral membentuk horse collar yaitu suatu massa disekitar leher.innominate dan subclavian. Pembengkakan kelenjar ini sering unilateral.carotis dan bifurcation. Pembesaran di leher dapat juga disebabkan oleh : - Lymphoma - Tumor seperti :  Branchial cyst tumor  Tumor carotid body  Sarcoma . Pada inspeksi penting diperhatikan adanya pulsasi-pulsasi v. kemudian di atas a.- Kelainan-kelainan jantung seperti  Premature contraction  Auricular fibrillation Pada auskultasi a. Pembesaran kelenjar pada pediculous capitis dan infeksi scalp menyebabkan pembesaran kelenjar dibagian posterior. Pada lymphatic leukemia pembesaran kelenjar terpisah. Pada scrofula kelenjar limfa yang membesar itu melekat satu sama lain dan dapat berfluktuasi dan pecah.

Torticollis ini dapat disebabkan oleh : - Dislokasi vertebra cervicalis bagian atas - Kelainan congenital - Tuberculous cervical vertebrae dapat menyebabkan keadaan yang sama Poliomyelitis dapat menyebabkan atrofi otot trapezius pada satu sisi dan menyebabkan asimetri yang jelas pada permukaan belakang leher.Asimetri daripada leher dapat disebabkan oleh torticollis atau wryneck yang menyebabkan deviasi yang karakteristik dari kepala ke satu sisi. . Cervical rib kadang-kadang dapat diraba pada leher dan rigidity selalu dijumpai pada meningitis.

kelainan jaringan ikat. tengah dan bawah. Segmen posterior Lobus tengah terdiri dari : 1. perkusi. Tiap lobus paru terdiri pula atas beberapa segmen dan masing-masing segmen ini menerima percabangan bronkus tersendiri (bronchial tree). pemeriksaan fungsi paru. Paru kanan terbagi atas 3 lobus yaitu lobus atas. Segmen anterior basal 4. dan auskultasi. Segmen lateral basal 5. penyakit saraf. arteri pulmonalis. dan lain-lain sering dikeluhkan penderita. Segmen posterior basal . Anatomi paru Paru-paru terdiri dari paru kanan dan paru kiri yang masing-masing terdiri dari beberapa lobus. Tetapi sebaliknya tanda-tanda itu dapat sebaiknya diperhatikan lebih dahulu sebelum pemeriksaan thorax secara sistematis. Tetapi tak jarang pula tanda-tanda klinis seperti cyanosis dan clubbing jari-jari yang dikeluhkan penderita yang seharusnya jadi pengamatan dokter yang memeriksa. sedangkan paru kiri terdiri dari 2 lobus yaitu lobus atas dan bawah serta lingula. yang berupa kelainan infiltrate. Gejala-gejala pernafasan yang menunjukkan tempat penyakit seperti batuk. hemoptyisis. Segmen brnchopulmonal : Paru kanan : Lobus atas terdiri dari : 1. dan vena pulmonalis. Segmen apical 2. Untuk menegakkan diagnose maka gejala-gejala yang didapat pada pemeriksaan fisik ini dianalisa dengan hasil-hasil pemeriksaan lain misalnya pemeriksaan foto thorax. Segmen lateral 2. Tanda-tanda klinis seperti tidak hanya berasal dari penyakit paru tetapi dapat juga disebabkan oleh penyakit kardiovaskular. Segmen anterior 3. dan kelainan cairan atau yang serupa dengan itu. dan penyakit darah. Segmen apical 2. palpasi.BAB V PEMERIKSAAN SALURAN PERNAFASAN Pendahuluan Pemeriksaan thorax terdiri dari anamnesa. dyspnoe. Segmen medial basal 3. Segmen medial Lobus bawah terdiri dari : 1. Dengan pemeriksaan fisik ini kita hanya dapat menentukan kelainan susunan jaringan atau diagnosis structural. pemeriksaan fungsi pleura dan lain-lain. nyeri dada.

L. L. Apical segmen 2. L. Midsternalis : garis vertical yang ditarik pada pertengahan sternum dan pr. L.Axillaris anterior : garis yang ditarik vertical ke bawah melalui lipat ketiak depan 4. Anterior segmen Inferior division 1.Midsternalis yang melalui pertengahan clavicula vertical ke bawah 3. 2. Sternalis : garis yang melalui pinggir sternum kiri atau kanan 7. Apical segmen 2. L.Midaxillaris : garis vertical yang melalui tengah ketiak 6. Antero-basal segmen 3. Posterior segmen 3. L. Superior lingular 2. Lateral-basal segmen 4. Inferior lingular segmen Lobus bawah : 1. parasternalis : antara sternalis dan Inc . Medioclavicularis : garis sejajar dengan L.Paru kiri : Lobus atas terdiri dari : Superior division 1. Xiphoideus. Posterior-basal segmen Anatomi Topografi Ada beberapa garis-garis dan tulang-tulang yang dapat dipakai sebagai orientasi : Beberapa garis-garis : 1. L.Axillaris posterior : garis yang ditarik vertical ke bawah melalui lipat ketiak belakang 5.

Costae 6. Scapula yang berbentuk segi tiga 5. Setinggi batas atas dari aurikel jantung d. Kira-kira setinggi ruas dada ke tempat (thoracal 4) c. Arcus costae dan angulus costae 4. batas bawah setinggi costae 7. sesuai dengan ruas thoracal 8 atau 9.Beberapa tulang-tulang yang perlu untuk orientasi : 1. Anamnesa Sebelum dilakukan pemeriksaan fisik ditanyakan terlebih dahulu mengenai riwayat penyakit kepada penderita atau familinya yang disebut anamnesa guna mengarahkan pemeriksaan fisik yang akan dilakukan. Tempat costae kedua melekat pada sternum dan manubrium b. Tempat pertemuan kedua paru depan Papilla mammae pada seorang pria biasanya ada pada sela iga ke empat. Sternum dan angulus costae 2. Tulang punggung Angulus ludovici adalah : a. Setinggi bifurcation trakea e. Hilus berada pada perbatasan ruas thoracal ke 7 dan ke 8 atau setinggi tempat costae 3 melekat pada sternum. Batas atas scapula setinggi costae 2 dan 3. Pertanyaan-pertanyaan disusun secara sistematis sebagai berikut : . Clavicula 3.

sedangkan dyspnoe setelah exercise harus ada hubungannya dengan beratnya pekerjaan. Batuk yang produktif menunjukkan ada eksudat yang bebas di dalam saluran pernafasan seperti pada bronchitis kronis dan bronkiektasis dan caverna. Dalam melakukan anamnesa kita mengenal 6 gejala pernafasan yang utama. gejala-gejala ikutan dan waktu timbulnya dyspnoe merupakan informasi yang penting untuk diagnose. Bentuk dyspnoe. Batuk kering terjadi bila selaput lendir larynx. Dyspnoe ini merupakan perasaan tidak enak sehubungan dengan kebutuhan pernafasannya bertambah. Dyspnoe ini dapat disebabkan penyakit paru-paru. atau bronki mengalami pembendungan (congested) baik dengan eksudat ataupun tanpa eksudat oleh karena infeksi. dan makanan - Mengenai lingkungan dan pekerjaan. yaitu : - Dyspnoe - Batuk - Sputum - Hemopthysis - Nyeri dada - Wheezing Dyspnoe Dyspnoe adalah keluhan yang baru kita ketahui jika ditanyakan ataupun diberitahukan penderita kepada kita. penyakit jantung. trakea. atau asap rokok dsb. . Batuk Batuk dapat merupakan batuk kering (tidak dengan sputum) dan batuk produktif yaitu dengan sputum. Dyspnoe pada waktu istirahat jelas tidak normal. Selain daripada itu mengenai waktu batuk dapat terjadi dalam waktu yang pendek ataupun paroxysmal dan selanjutnya perlu diperhatikan juga karakter suara batuk. ekonomi.- Keluhan utama - Keluhan selanjutnya mengenai penyakit yang diderita - Keterangan alat-alat tubuh lain - Keterangan keadaan rohani - Keadaan penyakit yang pernah diderita si sakit - Mengenai keturunan - Keadaan social. lamanya dyspnoe. iritasi debu. anemi. Dyspnoe dapat terjadi pada waktu istirahat maupun waktu bekerja. dan juga gangguan psikis.

Dalam keadaan lain darah sedikit hanya merupakan garis pada sputum. . Sputum ini ditandai dengan bentuknya seperti gel berwarna kuning atau hijau akibat dari infeksi saluran pernafasan. Mucopus adalah satu jenis sputum yang paling sering. Bahan padat yang merupakan lendir yang kental yang didapati pada asthma. Pus yang menyerupai coklat yang berasal dari abses amuba hati yang dikeluarkan bila ada hubungannya dengan bronkus. Sputum harus dikumpulkan didalam sputum cup selama 24 jam dan dinilai mengenai jumlah. Karakter suara batuk harus diperhatikan. 2. berwarna abu-abu hitam disebabkan campuran dengan carbon dari udara. Pada tumor di dalam thorax seperti aneurysma dapat menekan trakea menyebabkan batuk yang sifatnya metallic keraw disebut “brassy cough”. Berdasarkan konsistensinya sputum dibagi dalam beberapa jenis : 1. abses paru. Sputum Sputum merupakan bahan informasi yang penting. Sputum dalam jumlah yang banyak didapati pada bronkiektasis. Jika tumor itu melibatkan recurrent laryngeal nerve menyebabkan batuk yang hilang sefat eksplosivenya dan menjadi panjang dan wheezing seperti lembu. konsistensi. Mucoid sputum : yaitu sputum yang bahannya seperti gel. Batuk seperti ini disebut “bovine cough”. Sputum yang cair yang sering disebabkan oedema pulmonum akut merupakan sputum yang encer berbuih berwarna merah muda. Sputum yang encer tidak berwarna dalam jumlah banyak didapati pada keadaan yang jarang yaitu alveolar cell carcinoma paru. 5. yang hanya terjadi pada abses paru empyema. Pada pneumonia campuran sedikit darah dengan sputum memberikan bentuk yang klasik yaitu “rusty”.Batuk yang pendek didapati pada infeksi seperti common cold dan pada pleuritis karena nyeri pada waktu bergerak. 6. 3. Pada oedema paru akut sputumnya merah jambu dan berbuih. 7. dan empyema yang pecah ke dalam bronkus. Pus. 4. Batuk panjang atau paroxysmal adalah karakteristik bronchitis dan whooping cough. Begitu pula sputum dari tumor paru yang terdiri dari campuran darah dan lendir merupakan agar merah kismis. dan warna sputum. Haemorrhagic sputum yang dapat berupa darah seluruhnya atau hanya diolesi oleh darah.

Dari anamnesa penderita tidak selalu mudah untuk menentukan apakah darah yang dibatukkan atau dimuntahkan. Perbedaan antara haemoptysis dan haematemesis sbb : Haemoptysis Haematemesis Didahului batuk Didahului mual dan muntah Darah berbuih bercampur air Umumnya tidak mengandung udara Sputum berwarna merah muda Warna berubah karena cairan lambung Menjadi merah tua atau coklat Ada riwayat penyakit paru Ada riwayat gangguan pencernaan Konfirmasi bronkoscopy Konfirmasi gastroscopy . Jika sudah jelas darah keluar dari mulut maka harus diperiksa mulut dan tenggorokan untuk melihat kelainan-kelainan lokal seperti epistaksis. pendarahan gusi atau pembendungan pharynx yang dapat menyebabkan pendarahan sedikit di dalam mulut. Jumlahnya dari berupa garis sampai beberapa liter dan dapat berupa darah murni atau campuran sputum atau cairan air ludah. tetapi juga pada orang setengah umur karsinoma bronkus sering jadi penyebab.Haemoptysis Membatukkan darah merupakan haemoptysis. mitral stenosis dan bronkiektasis. Penyebab yang sering menimbulkan haemoptoe adalah tuberculosis paru.

lebih besar kemungkinan disebabkan asthma daripada ischemi heart disease. Gejala-gejala umum terdiri atas : - Clubbing jari-jari - Hypertrophic pulmonary osteoarthropathy - Flapping tremor - Cyanosis - Stridor Clubbing jari-jari ditandai dengan hilangnya sudut antara kuku dan nail bed. Perasaan tercekik di dada jika berhubungan dengan wheezing. Nyeri dada : Nyeri dada dapat dibagi dalam dua bagian yaitu nyeri dada bagian tengah dan nyeri dada bagian lateral. trauma dada dan keganasan. Clubbing didapati pada : - Bronchialcarcinoma . kelainan mediastinal dan Ca bronkus yang melibatkan kelenjar para trakeal.Wheezing : Wheezing adalah suara pernafasan yang dapat didengar tanpa bantuan alat. Kebanyakan penderita asthma terbangun dari tidurnya karena serangan sesak nafas dan wheezing. Hypertrophic pulmonary osteorthopathy adalah gejala ikutan clubbing yang jarang berupa pembengkakan yang sakit daripada pergelangan tangan dan sendi kaki yang diikuti dengan pembentukan tulang baru subperiosteal pada tulang-tulang panjang. Udara yang mengandung asap rokok dan debu dapat mengakibatkan wheezing pada penderita asthma. Pemeriksaan umum : Tanda-tanda diagnostic dapat diperoleh dari gejala-gejala umum dan gejala-gejala spesifik dari pemeriksaan thorax. Tanda-tanda ini pertama kali dapat dilihat di jari telunjuk. bronchitis kronis dan emphysema. Wheezing biasanya lebih keras pada waktu ekspirasi daripada inspirasi dan menunjukkan penyempitan saluran nafas perifer seperti pada asthma. Nyeri dada yang lain disebabkan oleh pneumonia. Lebih-lebih jika didapati pada orang muda. Nyeri dada bagian tengah biasanya substernal dan karakteristiknya ialah bertambah berat pada waktu batuk seperti trakeitis. infarct paru. Nyeri dada yang dirasakan dibagian lateral dada sifatnya menusuk dan bertambah pada waktu bernafas seperti pleuritis sicca.

Inspeksi : Inspeksi adalah pemeriksaan pertama yang dapat dilakukan dengan hanya melihat penderita. misalnya thorax emfisematus. trakea atau bronki besar. Cyanosis central ini baru kelihatan jika kejenuhan 50%. cyanose. Stridor adalah suara yang bersifat musical yang kedengaran pada waktu inspirasi akibat dari penyempitan glottis. Sulphaemoglobinaemia dan methemoglobinaemia yang merupakan pigmen darah yang abnormal juga menyebabkan cyanosis sentral. dada. Jadi sedapat-dapatnya harus mendudukkan penderita walaupun harus dengan membantu mendudukkannya. Cyanosis central adalah tanda biru yang penting dan dapat dilihat pada lidah warna biru yang abnormal. Pemeriksaan thorax : Sebaiknya penderita diperiksa dalam keadaan duduk. oedema di muka dan di kaki dan ascites dapat terjadi karena tumor mediastinum. Sebaliknya kelainan paru dapat menyebabkan kelainan di luar paru. Hal ini akan lebih jelas jika penderita disuruh batuk dan sesudah itu bernafas dalam dengan mulut terbuka. perut dan kaki. pembendungan pembuluh darah di leher.- Bronkiektasis - Abses paru dan systic fibrosis - Fibrosing alveolitis dan pulmonary fibrosis yang lain - Empyema - Pulmonary tuberculosis yang lama - Mesothelioma dan tumor mediastinum - Congenital heart disease yang cyanose - Primary billiary cirrhosis Flapping tremor jelas kelihatan dengan memflexikan jari-jari tangan ke arah punggung tangan dan didapati pada penderita dengan retensi carbon dioxide akut. thorax paralitikus ataupun pectus excavatum. Dengan inspeksi kita dapat meramalkan kelainan-kelainan pada pemeriksaan-pemeriksaan selanjutnya. misalnya clubbing daripada jari. Kelainan paru-paru atau diluar paru-paru dapat menyebabkan kelainan respirasi. Hal ini lebih jelas pada polycythaemia daripada anemi. Selain daripada itu dengan berbaring maka suara perkusi yang sonor bisa menjadi beda. Penyempitan ini biasanya disebabkan oleh tumor didalam atau diluar nafas. Cyanosis perifer biasanya mengikuti cyanosis sentral. . Tetapi tanda ini juga didapati pada encephalopathy. Jika berbaring maka pemeriksaan tidak dapat sempurna dilakukan sebab paru-paru tidak dapat berkembang dengan sempurna dan bisa terjadi asimetris. Cyanosis dapat berupa perifer dan central.

tulang-tulang iga horizontal. Jadi bila seorang wanita bernafas abdominal atau seorang laki-laki bernafas secara thoracal maka waspadalah terhadap penyakit-penyakit di dalam alat pernafasan. Frekuensi pernafasan yang kurang pada 16 tiap menit disebut bradypneu. tulang-tulang iga lebih miring daripada biasa. rongga pleura. Pernafasan tidak teratur : . angulus costae lebih dari 90 derajat. abdominal dan lebih sering gerakan thoraco-abdominal daripada dinding thorax. Thorax tersebut ditemukan pada penderita emphysema sedangkan thorax paralitikus ditemukan pada penderita tuberculosis paru. Dyspnoe adalah pernafasan yang disertai dengan perasaan sesak dan si sakit sadar akan kekurangan udara (zat asam). Kelainan pergerakan thorax 4. Kelainan-kelainan lokal Kelainan bentuk thorax : Bentuk thorax dapat normal dan dapat pula tidak normal dapat diketahui dari pengalaman yang berupa thorax yang diameter lateral ke kiri dan kanan lebih besar daripada diameter anteroposterior dan pergerakan pernafasan iga-iga bagian bawah bergerak ke atas dan lateral. Jadi bila frekuensi pernafasan diluar batas tersebut. Kelainan simetri thorax : Kelainan simetri thorax dapat terjadi karena kelainan-kelainan dinding thorax. kelainan pleura misalnya efusi pleura dan pneumothorax.Kelainan-kelainan inspeksi thorax dapat berupa : 1. jaringan paru maupun kelainan pada bronkus. Sternum menonjol ke depan. sedangkan seorang pria bernafas secara abdominal. besar pada seluruh diameter dan diameter sagital besar. Thorax paralitik ialah kecil pada saluran diameter. Kelainan simetri thorax 3. pleura. waspadalah terhadap kelainan-kelainan alat pernafasan. Kelainan bentuk thorax 2. sedangkan pernafasan diatas nilai normal disebut achypneu. sela iga sempit. otak maupun jantung. Frekuensi (kecepatan) pernafasan berkisar antara 16-24 tiap menit. Kelainan pergerakan thorax : Pernafasan normal : pada pernafasan normal terjadi gerakan thorakal. Pada seorang wanita terjadi pernafasan thoracal atau thoraco-abdominal. Kelainan dinding thorax misalnya cacat karena mastectomy. Thorax empisema : adalah sebaliknya. dan angulus costae kurang dari 90 darejat.

mastectomy). Pernafasan Biot adalah pernafasan yang tidak teratur diikuti dengan periode apneu yang lama. subcutis. . fibrosis. Kyphosis arcuair biasanya didapati pada orangtua. Scoliosis ke kanan dan ke kiri karena kebiasaan duduk yang tidak benar dan karena trauma. Pernafasan Kausmall yaitu satu type pernafasan yang dalam dan cepat yang didapati pada penderita koma diabetikum. Pada inspirasi iga-iga tetap seperti biasa atau agak menggembung. tulang-tulang. Tetapi mulai dari sela iga 5 ke bawah tampak pencekungan pada tiap inspirasi. Sela iga melebar pada emphysema. Kelainan tulang punggung dapat juga karena schwarte. fibrosis atau emphysema paru. dan kelainan-kelainan dinding thorax (bekas luka bakar. dan menyempit sebagian dada schwarte. pembesaran kelenjar dsb. Kyphosis mencurigakan adanya spondylitis. Pectus carinatum ialah penonjolan sternum seperti dada ayam. Misalnya seorang dengan fibrosis dan emphysema yang dalam keadaan tidak bergerak simetris. Hal ini disebabkan oleh karena inertia diaphragm merintangi perkembangan thorax bagian distal. Kelainan local : Kelainan-kelainan local dapat berupa kelainan pada kulit. Sela iga menyempit seluruhnya pada thorax paralitik. Simetri thorax dalam pergerakan : Simetri thorax dalam keadaan statis belum menjamin simetri dalam pergerakan. Daerah supra clavicula dapat menjadi cekung karena schwarte dikutup pleura dan fibrosis dipuncak pasti supraclavicula bisa menggelembung pada emphysema. Bila pectus excavatum besar dapat mendorong jantung kanan ke kiri dan bila kelainan itu besar dapat menyebabkan pernafasan penderita terganggu karena mekanisme batuk terganggu. tetapi dalam pergerakan menjadi asimetri. otot. Pernafasan ini didapati pada kelainan otak atau pada keadaan coma. Pada tulang iga dan sternum dapat dijumpai kelainan congenital. Pada fase dyspnoe mula-mula pernafasan lambat dan dangkal kembali caknya kemudian beransur-ansur lambat dan dangkal kembali dan demikian seterusnya. Kelainan kulit misalnya cacat karena luka bakar menghalangi pergerakan thorax. Pembendungan darah vena dapat dijumpai pada tumor di dalam mediastinum. Kelainan-kelainan tulang punggung dapat berupa kyphosis angualair.Pernafasan Cheyne Stokes yaitu satu type pernafasan apneu dandyspneu. Kedua kelainan tersebut familier. kyphosis arcuaie dan scoliosis. misalnya pectus excavatum dan pectus carinatum.

Getaran tersebut dapat diraba lemah. radang dan tumor. Jadi bila udara bertambah maka penghantaran udara berkurang. dan sebagainya 3. Fremitus suara ini terjadi karena getaran dari pita suara yang merambat melalui bronkus sampai ke dinding dada. suhu badan. Fremitus suara Fremitus adalah pemeriksaan getaran suara yang dapat diraba pada dinding thorax bila si penderita mengucapkan kata-kata misalnya 77. sehingga fremitus akan mengeras.jugularis. Pencekungan sela iga satu sampai ke empat selalu menunjukkan kelainan jaringan paru. Keras atau lemahnya suara tergantung pada beberapa hal : . aliran pembuluh darah. otot-otot. subcutis. sifat benjolan. v. sedangkan bila benda padat yang bertambah maka penghantaran getaran akan bertambah baik. tulang.Rintangan ini bisa juga disebabkan oleh jaringan fibrosis. 2. Pada palpasi ini kedua tangan diletakkan simetris pada thorax kiri dan kanan dan getaran yang diraba itu dibandingkan kiri dan kanan. Dalam perambatan getaran ini melalui dua media yang daya hantarnya berbeda yaitu udara yang terdapat didalam paru dan jaringan padat yaitu jaringan paru dalam suatu keseimbangan dalam batas-batas waktu tertentu. basah kering kulit. Kelainan yang lebih dalam : - Menentukan iktus jantung dan thrill - Kelenjar getah bening - Keadaan mamma - Letak trakea - Kelenjar thyroid. Udara mempunyai daya penghantar yang kurang baik daripada benda padat. Palpasi : Palpasi adalah pemeriksaan dengan perabaan dengan tangan yang dapat menentukan : 1. Pergerakan yang asimetris dapat dilihat bila penderita duduk sedangkan si pemeriksa duduk di tengah berhadapan sehingga dengan posisi ini dapat diperiksa bagian depan dan belakang dari thorax. Kelainan dinding thorax : Kulit. Pergerakan thorax : Pergerakan thorax yang berkurang pada satu sisi menunjukkan keadaan patologis. Pemeriksaan pergerakan thorax ini dilakukan dengan palpasi dengan jari-jari pada sisi thorax sedangkan ibu jari diletakkan sejajar dekat garis tengah sehingga letakkan simetris. 4. normal atau mengeras.

Keadaan saluran-saluran (trakea-bronkus) yang menyalurkan getaran tersebut sampai ke jaringan paru. Pada radang kronik. karena dalam alveolus dan bronkiolus lenyap dan diganti dengan sel radang. Pada orang gemuk. 3. Dalam hal ini fermitus juga bermacam-macam. 4. 7. transudat. bisa normal lemah atau mengeras . haematothorax dan lain-lain. terjadi karena penyumbatan total sehingga udara perifer dari penyumbatan diresorbsi sehingga jaringan paru menjadi padat dan penghantaran bertambah baik. Tebalnya bantalan udara sebagai rintangan utama. 2. Fremitus suara melemah didapati pada : 1. Atelektase kompressi. Dalam hal ini udara terlebih dahulu lenyap didalam bagian-bagian yang menyerupai dinding lemah yaitu alveolus. 4. empyema. tetapi oleh karena penyumbatan itu maka getaran suara tidak mencapai dinding thorax dan fremitus melemah. Suatu cavitas atau kelainan yang serupa bila cavitas itu mempunyai hubungan terbuka yang luas dengan sebatang bronkus yang besar sehingga getaran suara dapat disalurkan sampai ke dinding thorax sehingga fremitus mengeras. cavern dan emphysema. sehingga penghantaran berkurang. 3. Adanya penumpahan udara di dalam rongga pleura dan membesarnya volume udara dalam jaringan paru menyebabkan penghantaran berkurang dan fremitus melemah. efusi pleura. Bila rongga pleura berisi cairan atau jaringan padat misalnya tumor. Fremitus yang mengeras didapati pada : 1. yaitu exudat. karena jaringan paru dikempiskan oleh sesuatu disekitarnya.1. Cairan dalam rongga pleura dapat berupa. Kerasnya getaran yang dibuat dilarynx 2. misalnya pada tuberculosis kelainan yang didapat bermacammacam. karena dinding thorax menebal sehingga penghantaran getaran berkurang. 2. Daya penghambat media yang lain. Penebalan pleura/schwarte memberi efek yang serupa. dan sebagainya. Obstruction atelectase. 3. Pneumonia lobaris. 6. Sebagian terdiri dari infiltrat sedangkan yang lain menunjukkan fibrosis. Suatu cavitas bila hubungannya dengan bronchus tertutup. 5. bronchiolus dan bronchus-bronchus kecil.

Sebagai dasar perkusi ini adalah bising pada perkusi paru yang normal yang mengadung udara dalam perbandingan tertentu dengan jaringan paru. Bising karena resonansi inilah yang disebut sonor. Batas inipun tidak tetap oleh kerana berubah bersama pernafasan. Pada inspirasi paru mengembang dan mengisi sinus diaphragmatika. Dengan perkusi ini dimaksudkan menimbulkan bising karena getaran udara dalam jaringan paru perifer dengan perkusi yang perlahan sedangkan untuk jaringan paru yang lebih dalam dilakukan perkusi yang lebih kuat. . kolaps paru. yang biasanya pada sela iga 6. Jadi dengan perkusi ini kita bisa menentukan batas paru hati maupun batas jantung. Dengan demikian perkusi ini dapat menentukan adanya kelainan-kelainan paru ataupun menentukan batas paru-paru sebagai organ yang mengandung udara dengan organ-organ lain yang padat dan tidak mengandung udara seperti batas jantung dan batas paru hati. Selanjutnya bila udara dalam paru hilang sama sekali maka tidak akan ada resonansi sehingga pada perkusi terdengar suara beda (pekak). Perkusi langsung biasanya dilakukan pada tulangtulang iga sedangkan perkusi dengan landasan dilakukan pada sela iga. fibrosis. Dalam keadaan penyakit. udara dalam paru bisa bertambah dan bisa pula berkurang dalam perbandingannya dengan jaringan paru. Ketokan dilakukan dengan jari tengah yang dibengkokkan pada sendi kedua dari ujung jari tegak lurus sedangkan sebagai landasan dipergunakan dari tangan kiri yang diletakkan rapat pada kulit. penebalan pleura (schwarte). Selanjutnya dengan perkusi agak lemah dilakukan ke bawah dari batas ini sampai perubahan suara perkusi dari redup menjadi beda dinamakan batas paru hati absolute. Kelainan paru yang menyebabkan suara beda ialah efusi pleura. Jadi dengan perkusi ini kita sebenarnya ingin mengetahui ada tidaknya resonansi ataupun derajat resonansinya. Batas paru hati dilakukan perkusi dengan ketokan pada garis medioclaviculer dari atas ke bawah. Perubahan suara perkusi dari sonor menjadi sonor memendek dinamakan batas paru hati relatif. dan tumor. Hal ini juga didapati pada perkusi organ-organ misalnya jantung dan hati. Dengan perkusi ini udara dalam jaringan paru turut bergetar atau beresonansi sehingga menimbulkan bising. Jika udara dalam paru bertambah maka resonansi akan bertambah pula sehingga bising yang terdengar disebut hiper resonan atau hipersonor yang didapati pada keadaan emphysema paru.Perkusi Perkusi adalah pemeriksaan dengan ketokan pada dinding dada baik langsung ataupun dengan landasan yang disebut plessimeter. peninggian diaphragma. Sebaliknya jika udara dalam paru berkurang maka resonansi akan berkurang pula sehingga bising yang terdengar disebut sonor memendek atau redup. Keadaan ini didapati pada kelainankelainan konsolidasi atau infiltrat misalnya pada pneumonia dan lain-lain.

Rongga tersebut sekarang berisi jaringan paru yang bila diperkusi menimbulkan suara sonor. . Sifat umum bising tersebut Bising pernafasan ini terdiri dari : 1. Lama inspirasi atau expirasi 2. Pada bising pernafasan harus diperhatikan : 1. 3. Udara dalam alveoli itu merupakan penghantar yang buruk. Bising bronchial adalah bising karena udara keluar masuk melalui bronchus dan dapat didengar sekiranya stetoskop dapat diletakkan langsung pada bronkus. Auskultasi : Dengan auskultasi dimaksud ialah pemerikasaan dengan mempergunakan alat stetoskop yang diletakkan pada dada penderita dan mendengarkan bising pernafasan dan bising tambahan. 2. Bising tracheal Bising bronchial Bising vesikuler Bising amforik Bising tracheal dapat didengar pada leher dan tidak dipergunakan secara klinik. Selain daripada itu bising bronchial ini untuk mencapai dinding dada harus melalui dua penghantar yaitu udara dalam alveoli dan dinding dada. 4. Sifat bising ini adalah pada expirasi bising itu lebih lama dan nadanya lebih tinggi daripada bising vesikuler yang normal. Bising bronchial ini dalam keadaan normal tidal dapat didengar oleh karena ditutupi bising vesikuler. Bising vesikuler ini adalah bising yang didapati pada orang sehat. Tingginya nada inspirasi atau expirasi 3. Bising vesikuler adalah bising karena arus udara keluar broncheolus dan alveolus dan dapat didengar dengan stetoskop pada dada dan merupakan bising lemah pada inspirasi dan lebih lemah lagi pada expirasi. Sebaliknya pada expirasi jaringan paru tidak mengisi sinus lagi sehingga suara perkusi menjadi beda. Bising pernafasan dan bising tambahan ini terjadi karena arus udara keluar masuk paru. Oleh karena itu batas paru hari berubah selama respirasi yang disebut peranjakan.

Bila jaringan paru itu oleh karena penyakit disebuk oleh sel misalnya pada infiltrat akut, maka
jaringan itu berubah menjadi penghantar yang lebih baik sehingga bising bronchial itu dapat
didengar, sedangkan bising vesikuler sendiri tidak akan terjadi.
Penyebab-penyebab bising bronchial yang sering ialah :
1. Kelainan-kelainan paru berupa konsolidasi atau infiltrat akut yang terdapat misalnya
pneumonia dsb
2. Kelainan berupa lapisan efusi pleura yang tipis
3. Kelainan yang berupa kolaps paru
Penyebab bising bronchial yang jarang ialah :
1. Pneumothoraks (kadang-kadang)
2. Rongga yang besar dekat permukaan atau dinding dada
Bising amforik yaitu bising yang terjadi ketika meniup botol yang terjadi ketika karena adanya
rongga yang besar yang letaknya perifer dan mempunyai hubungan terbuka yang luas dengan
bronchus.
Bising ini selalu didapati pada keadaan penyakit misalnya adanya kaverna.
Sebagai pegangan mengenai sifat bising pernafasan ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
Bising vesikuler didengar sebagai huruf “F”
Bising bronchial sebagai huruf “KH”
Bising tracheal sebagai huruf “KH” hanya nadanya lebih tinggi
Bising amforik sebagai huruf “WU” kadang-kadang nadanya lebih tinggi sekali dan nyaring
(metallic)
Bising tambahan :
Ada 4 macam suara tambahan yaitu :
1.
2.
3.
4.

Crepitatio
Ronchi basah
Ronchi kering
Gesekan pleura (pleura friction)

Crepitatio adalah bising yang terjadi karena terbukanya alveolus yang sebelumnya mengempis,
pada setiap inspirasi. Jadi bising ini hanya didengar pada waktu inspirasi. Jadi bising ini hanya
pada waktu inspirasi yaitu seperti rambut yang digesekkan diantara jari-jari tangan dekat telinga.

Ronchi basah terjadi karena terbukanya alveoli yang berisi cairan exudat atau gelembunggelembung udara melalui mucus dalam bronchi yang besarnya bermacam-macam.
Jadi bronchi basah ini merupakan suara yang terputus-putus yang terdengar pada waktu inspirasi
atau expirasi karena arus udara.
Ronchi basah ini dibagi 3 jenis menurut tempat kejadiannya, yaitu :
Ronchi basah halus (kecil)
Ronchi basah sedang
Ronchi basah besar

Ronchi basah yang sedang dan besar terjadi karena gelembung-gelembung udara melalui
bronchus sedang dan besar yang mengandung cairan mucus.
Suara ronchi ini juga seperti suara air mendidih yang sedang ataupun besar. Ronchi basah ini
dapat dijumpai pada :

Ronchi basah kecil pada : pneumonia, tuberculosis, kolaps paru, oedema paru, dan lain-lain.
Ronchi basah sedang : Bronchitis, fibrosis dan bronchiectasis
Ronchi basah besar : bronchiectasis

Ronchi kering adalah bising kontinu dan sifat musical dan terjadi karena udara melalui bronchus
yang basah dan menyempit oleh mucus yang liat. Bising ini biasanya terdengar pada waktu
expirasi dan sifatnya seperti siulan (sibilantes) bila penyempitan terjadi bronchus kecil dan
bisingnya menderu (sonores) bila penyempitan terjadi pada bronchus besar. Bising ini bisa
didapati :
-

Ronchi difus : pada bronchitis dan asthma
Ronchi kering local pada mucus pada bronchus local dan stenosis local karena neoplasma
atau benda asing maupun peradangan

Gesekan pleura terjadi ketika pleura mendapat radang sehingga permukaannya menjadi kasar.
Bising ini susah mengenalnya. Tetapi bila disamping itu juga ada pleuritic pain maka dengan
menunjukkan dengan satu jari tempat yang sakit dan melakukan auskultasi dengan hati-hati akan
dapat didengar bising gesekan pleura ini akan hampir sama dengan rhonchi basah terutama pada

waktu akhir inspirasi. Gesekan pleura ini dapat dibedakan dengan rhonchi basah karena rhonchi
basah selalu berubah bila batuk.
Bising-bising lain yang bisa didapati ialah :
Bising crepitatio pada emphysema subkutis yang terjadi karena subcutis mengandung udara
sehingga menimbulkan bising bila dipijat. Bising ini dapat didengar bila memijat dengan mulut
stetoskop. Dan bising ini dapat disamakan seoerti suara sepotong biskuit yang diremas dekat
telinga.
Bising derakan yaitu bising yang terjadi karena gerakan otot-otot atau sendi-sendi dari bagianbagian thorax. Bising ini mirip gesekan pleura.

Vocal resonance dan Whisper resonance :
Getaran suara selain dapat diraba, dapat juga didengar dengan stetoskop disebut vocal resonance
dan whisper resonance. Pemeriksaan vocal resonance yaitu dengan mengucapkan 77 lalu
didengar dengan stetoskop.
Vocal resonance itu bisa normal, melemah ataupun mengeras. Vocal resonance yang mengeras itu
disebut “bronchophoni”. Dan bronchophoni yang melengking disebut “aegophoni” yaitu seperti
suara kambing mengembek sehingga suara AAA kedengaran dengan stetoskop seperti EEE.
Bila si penderita tidak menyebut angka 77 tetapi angka 99 yang banyak suara SSS yang panjang
maka diperiksalah “whisper resonance”. Biasanya bisikan SSS tidak kedengaran dengan
stetoskop kecuali di dada kanan atas. Bila ia dapat didengar maka whisper resonance positif.

Keras dan lemahnya pernapasan :
Bising pernapasan yang melemah didapati pada :
-

Orang gemuk karena dinding toraks yang tebal
Pada emphysema dan schwarte karena alveoli tak dapat berkembang secara luas
Pada efusi pleura bahkan suara pernapasan tidak terdengar sama sekali juga karena
alveoli sudah terdesak dan tak dapat berkembang.

Bising pernapasan mengeras pada :
-

Pada anak-anak dan dewasa yang asthenis karena bronchus lebih kecil sehingga arus
udara lebih cepat.

- Pada permulaan pneumonia sebab bronchiolus menyempit dan disebut bising vesikuler keras. Inspeksi . BAB VI PEMERIKSAAN JANTUNG 1. Anamnesis/keluhan 2.

Auskulatasi Anamnesis/keluhan : Untuk mencurigai adanya kelainan jantung beberapa hal yang penting kita tanyakan : - Jantung berdebar-debar Sakit di daerah dada terutama bagian kiri Sesak nafas kalau berjalan (dyspnoe d’effort). Perkusi 5. kegemukan Inspeksi : Syarat : - Pasien harus buka baju sehingga daerah thorax jelas Posisi penderita terlentang Dokter mengamati dari jarak kaki kemudian dari daerah kanan penderita Cahaya cukup terang Apakah yang harus dilihat : - - Apakah thorax simetris/asimetris Apakah ada cardiac bulging (vaus sure cardiagne) Apakah ada thorax excavation. Ictus abnormal : lateral midclavicula/di dalam iga Apakah ictus melebar/tidak . Palpasi 4. perokok. ictus ialah daerah proyeksi jantung bagian paling lateral dan bawah merupakan suatu tendangan dari jantung bagian ventrikel kiri pada dinding thorax pada masa kontraksi Bagaimana letak ictus? Normal ICR V satu jari medial dari midclavicula kiri. sesak nafas yang tiba-tiba di tengah malam (paroxysmal nocturnal dyspnoe) Mudah capek Terasa denyut jantung makin kuat Perubahan posisi suara makin kuat misalnya miring ke kiri. penderita DM. duduk dan lain-lain Apakah sejak kecil sudah diberi tahu dokter ada kelainan jantung Apakah ada riwayat sakit jantung pada keluarga Apakah ada diantara keluarga darah tinggi.3. Kalau istirahat (dyspnoe d’repos” atau harus mengambil posisi duduk kalau sesak (ortopnoe) Batuk-batuk. thorax emphysema Apakah ictus ada/tidak. mati mendadak. lumpuh badan. thorax pyramid.

radialis. carotis.- Normal : ictus hanya merupakan pulsasi yang terlokalisir pada daerah tertentu Melebar : bila pulsasi ini melebar/menyebar.segera kita rasakan berupa tendanganpada jari-jari kita. jari-jari . Ictus + artinya normal b. dibuktikan dengan tidak adanya sinkronisasi dengan pulsasi arteri. Kesan yang diambil : a. Palpasi Tehnik : Untuk palpasi iktus dapat kita pakai jari ke 2 dan ke 3 phalanx II-III yang diletakkan pada daerah ictus. Vibrasi ini biasanya menunjukkan keadaan patologis terutama bila diastolic. bila berlawanan nilai ictus -. Sedangkan bila tendangan kita rasakan kita nilai ictus + yang arti klinisnya bisa normal atau patologis ictus apexbeat. Bila kedua tendangan dirasakan bersamaan ini maka berarti ictus +.dan wanita.: Normal : ictus + artinya ictus/pulsasi ada bila terjadi sinkronis systole yang dapat dibuktikan dengan perabaan pulsasi pada arteri radialis atau arteri carotis Patologis : bila ictus (-) artinya ictus berlawanan dengan adanya systole jantung. Bila ictus tidak jelas : tidak kelihatan ictus baik waktu systole maupun diastole. a. tidak terlokalisir lagi Ictus +/. Kelainan cardiologis yang mungkin dijumpai adalah kelainan pada katup-katup jantung baik karena reuma enes ataupun kelainan congenital. Ictus tidak ada artinya normal pada orang gemuk dan patologis pada kelainan paru dan dinding thoraks . cubiti dan lainlain. Getaran-getaran = vibrasi fremissement di luar daerah ictus - Vibrasi pada fase sistolik Vibrasi pada fase diastolik Vibrasi pada fase sistolik dan diastolic Ictus bisa tidak jelas lagi kelihatan bila vibrasi telah meluas sampai ke daerah ictus. a.radialis/a.dapat kita bandingkan tendangan tadi pada tangan kanan dengan bersamaan meraba pulsasi a. pulsasi yang kuat pada daerah suprasternalis. mungkin pada emphysema paru. Untuk membedakan ictus +/. a. orang gemuk. Hal ini terjadi pada percarditis. Ictus – artinya patologis seperti pada pericarditis c. Pada saat inspeksi daerah jantung perlu pula kita perhatikan daerah-daerah di luar jantung yang kadang-kadang dapat menggambarkan kelainan-kelainan patologis pada jantung misalnya.carotis dengan tangan kiri. Bila ictus ada.

Sebaiknya pada saat ini pasien disuruh tahan nafas untuk tidak mengaburkan getaran-getaran yang timbul akibat gerakan pernapasan. dll e. Kita letakkan tangan kanan kita pada daerah precordial. fungsi jantung bertambah. Ictus kuat angkat : orang kurus.kadang dapat juga teraba suatu gesekan pericard pada penderita pericarditis. Hal ini dapat dipastikan dengan sinkronisasi vibrasi dengan pulsasi arteri. Terjadinya getaran ini mungkin pada waktu systole dan diastole. mitral. Vibrasi yang berasal dari jantung dapat disebabkan kerusakan aktup-katup ataupun kelainan bawaan. tricuspidal. pembesaran. jarang sampai ke daerah thoraks belakang.daerah ICR II-III kiri Tricuspidal -----------------. anemia. thyrotoxicosis. Hal ini dapat disebabkan kelainan organis pada jantung Getaran=vibrasi=fremissement Tehnik : Untuk merasakan getaran ini dapat kita gunakan ujung metatarsal dan phalanx I dari jari-jari tangan kanan.daerah ICR IV kiri Aorta -----------------. Pada saat palpasi ini. Kita harus mencari lokalisasi-lokalisasi dari vibrasi pada setiap tempat di thoraks terutama yang dapat menggamabarkan (refleksi) dari kelainan organ terutama bagian-bagian katup aorta.d. Perkusi Tehnik perkusi dengan jari-jari tangan serupa dengan pemeriksaan paru-paru.daerah ICR II-III kanan Pulmonal -----------------. Umumnya tangan kiri (jari II) phalanax III dipakai sebagai plessimeter (diletakkan pada dada) sedangkan jari III dengan posisi bengkok dan gerakan pada pergelangan tangan merupakan percusser. . dicari di daerah mana ada getaran-getaran. pulmonal yang dapat dicari sebagai berikut : Mitral -----------------.daerah ICR IV parasternal kiri Vibrasi ini sering teraba di bagian depan thoraks. Ictus melebar : getaran tendangan pada daerah ictus meluas ke daerah sekitarnya. Untuk menentukan batas-batas jantung diperlukan ketokan/percussion yang lebih kuat dari pada perkusi pada paru-paru. ada kelainan patologis pada jantung.

Normal : Batas kiri sedikit medial l..Foto perkusi…. Batas jantung kanan . Batas kanan : Kita mulai perkusi dari daerah kanan sekitar l. midclavicularis kiri dan ini hampir bersamaan dengan terabanya ictus cordis. Batas-batas jantung terdiri dari : - Batas kanan linea parasternalis kanan Batas kiri satu jari ke dalam linea midclavicularis kiri Batas atas ICR II-III kiri Batas bawah tidak ada oleh karena langsung berbatasan dengan diafragma Tehnik penentuan batas-batas jantung : Kiri : Perkusi mulai dari lateral/sekitar l. Foto perkusi batas jantung………. midclavicularis kanan setinggi batas paru hati perlahan-lahan ke medial. Yang kita perhatikan adalah perubahan-perubahan suara perkusi dari (sonor paru-paru) sampai terjadi suara memendek/beda berakibat dari jantung yang sering diambil batas kiri adalah bila suara perkusi sudah jelas beda. midaxillaris kiri perlahan-lahan beranjak ke medial bagian depan thoraks.

Biasanya keadaan ini sukar ditentukan pada banyak faktor-faktor yang mengganggu penilaian seperti adanya udara dalam paru-paru antara jantung dan dinding thoraks.ditentukan oleh perubahan suara sonor beda.Dulu disebut systolic sound . Normal : ICR III (sela iga III kiri) Batas diatas adalah batas relatif. Sifat : . midsternalis Batas atas : Perkusi pada thoraks kiri mulai dibawah clavicula perlahan-lahan kebawah. Syarat : - Pendengaran dokter harus baik Tidak ada kerusakan pada selaput genderang telinga Tidak cerumen prop yang dapat menghambat aliran suara ke telinga bagian tengah Stetoskop yang baik tidak ada kebocoran maupun sumbatan-sumbatan Tali tidak terlalu pendek dan tidak terlalu panjang ± 50 cm Daerah-daerah auskultasi : Untuk mendapatkan suara-suara dari jantung memang memerlukan latihan yang cukup tekun.02-0. Auskultasi Sebelum dipakai harus dicek stetoskop dengan cara menghembus atau mengetok pada ujung stetoskop.Low pitched .First heart sound Terjadi pada saat : .Permulaan Systolic Ventricle (dinding ventrikel berkontraksi) . Untuk menentukan batas-batas absolut yaitu bagian jantung yang sebenarnya langsung menempel pada dinding thoraks ialah dengan melakukan perkusi yang lebih hati-hati dari daerah batas relatif kearah medial. Yang kita harapkan adalah suara-suara yang di timbulkan oleh jantung sendiri. Penentuan agak sukar oleh karena sternum ikut bergetar. Normal : pada pertengahan sternum. Bunyi jantung : .Akibat penutupan katup-katup Atrioventricular (mitral dan tricuspidal) dimana katup mitral lebih dulu dari tricuspidal 0. Adanya perubahan suara sonor beda. adanya peradangan-peradangan dalam paru-paru sehingga nilai-nilai ini tidak rutin kita cari.03 detik. l.

. Jelas direcord dengan fono kardiogram. lebih panjang . Sering dijumpai pada anak-anak dan dewasa sehat. Sifat : . Jarang terdengar pada auskultasi.Dull Longer dari pada BJ II Bunyi jantung II : Second Heart Sound Terjadinya : Segera setelah BJ I . Bunyi disini sering memancarkan suara-suara dari katup mitral. : Bunyi jantung IV : Atrial Sound - Low pitched sering pada anak-anak Terjadi karena kontraksi Atrium Dimanakah didengar bunyi jantung ini ? Bunyi jantung bisa kita dengar pada beberapa tempat yang merupakan refleksi penjelajahan suara-suara dari katup-katup jantung namun bukan merupakan proyeksi dari tempat anatomis didaerah dinding dada.High Pitched. Daerah mitral Dapat didengar bunyi jantung I-II dinyatakan dengan MI dan MII pada daerah Apex Cordia pada sela iga ke V dekat l. - Low Pitched insentitas lemah. M1 > M2 .Oleh karena penutupan katup-katup aorta dan pulmonal pada akhir sistolik. midclavicularis.Antara BJ II dengan BJ berikutnya didapati pause yang lebih panjang (diastolic) Bunyi jantung III : Suatu bunyi jantung pada fase diastolik segera setelah BJ II Terjadinya disebabkan : - Sifat - Gerakan dari dinding ventrikel Getaran dari Atrio Ventricular Valva akibat aliran darah dari Atrium ke Ventrikel selama masa diastolik. Normal MI lebih keras dari MII.

Pulsasi epigastrium yang sering menggambarkan pulsasi dari ventrikel kanan pada penderita CPC. Pulsasi dari ictus yang melebar bertambah nyata pada proses-proses kelainan katup mitral (MS.Daerah Pulmonal Dapat didengar BJ I-II berasal/pancaran suara-suara dari katup pulmonal (P1 & P2) pada daerah sela iga II kiri dekat sternum. . menunjukkan suatu proses intra thoracal (jantung) yang dalam perkembangan mendorong organ-organ thoraks sehinga bentuk menonjol. dalam dangkal. mungkin pergeseran jantung karena proses paru-paru bagian kanan (pneumothorax) ataupun proses dibawah diafragma seperti ascites. Ictus kuat angkat. Ortopnoe.MI). Pemeriksaan Jantung Patologis Inspeksi : - Gerakan pernapasan bertambah cepat. - - Palpasi : - Ictus melebar kekiri tanpa kebawah. Ictus melebar kekiri dan kebawah disebabkan pembesaran jantung kiri. Pembengkakan precordinal pada bagian kiri disebut Cardiac Bulging.A2) pada daerah sela iga II kanan dekat sternum Normal : A2 lebih keras dari A1. Posisi yang dipilih penderita misalnya secara fawler. melebar dapat menggambarkan kelainan-kelainan pada katup-katup. Normal : P2 > P1 Daerah Aorta Dapat memancarkan suara-suara dari katup Aorta (A1. membungkuk dll. Biasanya terdapat Congenital Heart Diasease dan adanya kelainan katup Rheumatic (MS). Juga adanya pembesaran jantung oleh karena kelainan organis maupun fungsional. A2 > A1 Daerah Tricuspidal Suara-suara didaerah ini memancarkan suara-suara dari katup Tricsupidal pada daerah Presternal kiri pada bagian bawah (± sela iga V-VI kiri).

Melemahnya fungsi Myocard (myocarditis.Penarikan jantung oleh proses intra thoracal dikanan . .Orang yang terlalu gemuk e.Pendorongan jantung kekiri (pneumothorax kanan) Auskultasi : Kelainan bunyi jantung a.Pembesaran jantung .Emphysema paru-paru .Penarikan jantung kekanan d. Batas jantung bagian kiri melebar kekiri berarti : . atrial flutter. Perkusi : Kemungkinan-kemungkinan : a. Bunyi jantung 1 : Mengeras s/d mengentak .Pendorongan jantung kekiri.Gangguan rytme jantung misalnya pada paroxysmal tachycardia. Getaran-getaran didaerah Pulmonal. Pulsasi Epigastrium pada penderita penyakit paru-paru kronis dapat mencurigai adanya pembesaran jantung kanan (CPC).Pendorongan jantung kekanan (pneumothorax kiri) . Batas jantung kanan bertambah kekanan : . Gesekan preicard juga menggambarkan suatu preicarditis. Batas jantung kanan makin kekiri : .Pembesaran jantung kiri.Kegagalan sirkulasi perifer . Tricuspidal juga menggambarkan kelainankelainan organis.Penarikan jantung kekiri. b. b.Pembesaran jantung kekanan . Batas jantung kiri makin ke medial berarti : . . lambat (bradicardia) ataupun aritmia yang tidak teratur. Batas jantung sukar ditentukan : . IMA) . Aorta.Pendorongan jantung kekanan .Konduksi Atrio Ventricular bertambah panjang .Emphysema paru-paru bagian kiri c. Kadang-kadang palpasi juga dapat member petunjuk adanya gangguan irama jantung yang kencang (tachycardia). BJ I melemah .Mitral stenosis .- Fibrasi-fibrasi didaerah mitral baik systolic dan diastolic juga sering menggambarkan kelainan-kelainan organis.

A2 melemah (berkurangnya aliran darah dalam Ao) . A2 mengentak .DC kanan . AV Block dab Bundle Branch Block. Atrial Fibrillasi.Pulmonary stenosis c.Hilangnya elastisitas Ao (lues.Emboli paru-paru .Penyakit jantung congenital b. Fotoo…………………… Patologis BJ II.Hypertension systemic .DC kiri . Emphysema paru-paru. BJ I berubah .Penyakit paru-paru (Lobar pneumonia). P2 mengentak (accentuated) Pertanda peninggian tekanan dalam sirkulasi Pulmonal . a. Fibrosis paru-paru. Hal ini dapat dijumpai pada MS. Pada umur tua A2 > P2. Pada umur pertengahan P2=A2.c. Bunyi jantung premature ini bisa lebih berat atau lebih lemah dari bunyi jantung normal. Heart Block.Ao stenosis .MS – MI . Reduplikasi BJ I Splitted = Doubling pada daerah apex terdengar sebagai trupp = trupp sulit dibedakan dengan irama gallop dan BJ III. Perubahan-perubahan BJ II sering kita jumpai pada Pulmonal dan Aorta.Gangguan rytme jantung misalnya prematurebeat. . P2 melemah . arteriosclerosis) d. d. Normal P2 > A2 pada orang muda.

Myocarditis . patologi pada orang tua.keadaan overload systolic dalam ventricle overloading atrium.HHD (hypertensive heart disease) .dapat merupakan BJ splitted . Makna : BJ II terbelah .Bila P2 splitted pada masa expirasi kuat ini adalah normal .P2 splitted dinilai patologis pada :  Pulmonary hypertension  Systemic hypertension  Bundle branch block BJ III : normal dijumpai pada anak-anak dan dewasa muda. BJ II splitting = reduplikasi (terbelah) ini lebih sering pada BJ II dari pada BJ I. pericarditis constrictive. A2 dan P2 mengentak Bila ada peninggian tekanan sirkulasi perifer dan sirkulasi paru-paru f..- Mitral stenosis DC kiri Kegagalan sirkulasi perifer Gangguan irama (AF. BJ IV : .IHD (ischemic heart disease) . prematurebeat) Systemic hypotension (anemia berat) Penyakit-penyakit katup Aorta e. Hubungan antara BJ I & II digambarkan sbb : . Fotoo……………………………………..Aurico ventricular block ringan . - Pericarditis contrictiva Fotoooooooo……………………….

Fungsional opening snap dijumpai pada MS relatif seperti terjadi pada MI. - Dapat didengar pada sela iga III dan IV kiri. kadang-kadang sela iga II kiri Sifatnya high pitched Fotooo………………………… Terdapat pada : MS dan Tricuspidal stenosis.______________________________________________ foto GALLOP RYTHME = Irama gallop = congklang kuda. Tricuspidal stenosis relatif pada ASD. Kadang-kadang terjadi systolic gallop okfibrasi Aorta yang melebar waktu ejeksi ventricle antara BJ I – BJ II. Irama diastolic gallop sering kita dengar pada : - Penyakit hipertensi Penyakit jantung koroner Myocarditis Payah jantung Irama sistolik gallop : - Suakr didengar Irama timbul antara BJ I & BJ II Paling baik didengar pada daerah apex Irama ini jarang dan tidak mempunyai arti klinis Opening Snap : Adalah suara tambahan berasal dari katup jantung atriaventricular. Prasystolic pada akhir diastolic c. di saat darah dari atrium mengalir ke ventrikel. VSD. PDA. . Opening snap terdengar setelah BJ II. Maka dekat jarak OS dengan BJ II makin besar stenosis dan sebaliknya. Terbaik didengar pada daerah ictus kadang pada sela iga II-IV sekat sternum bagian kiri atau kadang harus dicari pada suatu lokasi tertentu. a. Proto diastolic = Early diastolic = veatricular gallop = BJ III b.

BISING JANTUNG = DESAH JANTUNG (CARDIAC MURMUR)
Desah jantung juga berasal dari bunyi jantung tetapi karakternya berubah lebih lama. Desah ini
dapat terjadi pada fase systolic (antara BJ I & BJ II). Desah diastolic bila terjadi antara BJ II – BJ
I berikutnya.
Desah systolic ini dapat sifatnya fungsional seperti nada : anemia, Thyrotoxicosis, dan demam.
Desah diastolic dapat bersifat patologis pada kelainan-kelainan dari katup, (MI). Desah diastolic
dapat bersifar fungsional misalnya pada penyakit jantung anemia.
Desah diastolic yang organis bersifat patologis pada kelainan katup mitral (MS). Umumnya
terjadinya desah ini adalah disebabkan gangguan aliran darah melalui satu jalan yang ada
hambatan. Biasanya desah ini menggambarkan adanya gangguan pada katup jantung sebaliknya
pada keadaan penyakit jantung yang berat bisa tidak kedengaran lagi desah-desah ini. Cara
terjadinya desah :

Foto…………………………..

Gambar I menunjukkan skema terjadinya desah pada stenosis katup. Aliran darah AB. Pada saat
melalui daerah stenosis terjadi gangguan aliran darah dan ini menimbulkan desah diastolic.
Gambar II menunjukkan skema pada suatu insuffisiensi dimana terjadi regurgitasi aliran yang
bertentangan dengan aliran yang sebenarnya. Jadi terjadi aliran BA. Dan ini menimbulkan desah
sistolik.
Sifat-sifat bising (desah).
Bila kita mendengar suatu desah harus kita pertanyakan 5 hal :
1.
2.
3.
4.
5.
1)

Terjadinya pada cyclus apa
Daerah terjadinya desah
Kualitas
Intensitasnya
Perubahan yang terjadi sehubungan dengan pergerakan badan, respirasi, posisi dari penderita.
Cyclus terjadinya desah : a. sistol
b. diastol
2) Daerah terjadinya desah :
- Mitral
- Pulmonal
- Aorta

-

Tricuspidal
Seluruh costae

Perlu dicari Punctum maximum dan penyebarannya.
3) Kualitas :
- Low pitched
- High pitched
4) Intensitas dipengaruhi oleh :
- Kecepatan aliran darah
- Cardiac output
- Besarnya jantung
- Berat ringannya perubahan pada ktup-katup
- Faktor lain yang belum diketahui
- Tebalnya jaringan antara jantung dengan permukaan dada
Intensitas dapat dibagi dalam 6 tingkatan (AHA) terutama pada desah sistol.
Tingkat I :
I.
II.
III.
IV.
V.
VI.

Amat sukar didengar dengan stetoskop tapi dapat didengar jika dicari dengan teliti.
Sulit didengar dengan stetoskop tapi dapat didengar tanpa dicari dengan teliti.
Mudah didengar.
Desah sudah terdengar keras
Amat keras : stetoskop harus diletakkan pada dada
Amat keras : stetoskop tanpa diletakkan pada dada

Bising (desah) : Tk I – II mungkin fisiologis III- IV patologis
5) Perubahan-perubahan yang terjadi sehubungan pergerakan dan perubahan posisi.

KLASIFIKASI DESAH :
A) 1. Fisiologi
2. patologis

Desah fisiologis

B) 1. Intra cordis
2. Extracardiac (cardiopulmonary)

:
-

hampir selalu desah sistol
kadang-kadang juga ada desah diastol

Desah patologis :
-

bisa sistol atau diastol

Contoh-contoh desah fisiologis didapati pada :
a. Penyakit katup : ghylitic heart disease
b. Dilatasi bagian-bagian jantung (atrium, ventricle) atau pembuluh besar missal : HHD =
Hypertensive Heart Disease terjadi pembesaran ventrikel kiri menyebabkan mitral
insufisien relatif. Arteriosclerosis Aorta, dilatasi Aorta Hyperdinamic sirkulasi (anemia,
thyrotoxicosis, demam)
c. Penyakit-penyakit jantung congenital (ASD, VSD, PS, PI)
d. Ruptur struktur intra kardiak :
- Perforasi katup
- Trauma jantung
- MCI
- Ruptur septum-septum intra ventricular intra arterial
e. Adanya vegetasi yang terdiri dari fibrin, sel darah dan karena yang tersangkut pada daun
katup (bacterial endocarditis).
DESAH SISTOLIK :
1.
2.
3.
4.
5.

Terjadinya pada fase sistol yaitu segera atau pertengahan (early systole dan mid systole)
Biasanya desah ini lemah dan halus menghembus dan menutupi BJ I
Tidak terlalu terikat pada tempatnya, bisa di apex, di ICR II
Biasanya bersifat fisiologis, bisa patologis
Biasanya tidak ada kelainan-kelainan irama nadi

Fotooo………………………..

A. Pada apex : bisa fungsional
Bisa pula berasal dari MI (Mitral Insuffisiensi
Atau penjalaran dari desah berasal dari Aorta stenosis
B. Daerah pulmonal (sela iga III kiri)
Fisiologis
: sering didaerah ini terutama pada anak-anak, orang muda terutama bila
dada tipis (kurus)
Patologis
: * PS (Pulmonal Stenosis)
* PDA
* Penjalaran desah sistol dari Aorta

Mayor Pattern : 1. Circumscribe 3. lues  Aorta stenosis (AS)  Aneurysma  Penyebaran desah dari tempat lain D. Bradikardinal (low murmur)  Jalan keluar ventrikel normal serta volume darah normal namun pembuluh darah Aorta dan Pulmonum melebar. Thyrotoxicosis. Keadaan ini sering berasal dari efek pada inter ventrikuler septum (VSD) E.C. Pansystolic Holosystole type b. Daerah bawah sternum bisa berasal dari insuffisiensi tricuspidal : sebenarnya desah sistolik terdiri dari 2 bagian besar. a. Daerah sela III-IV kiri dekat sternum. Terjadi bila :  Jalan keluar ventrikel menyempit  Jalan keluar normal tetapi volume darah bertambah seperti pada AST. Late Systolic 2.  Volume darah menyebar tetapi katup Aorta Sclerosis  Tak diketahui penyebab (bising innocent) . hioertensi. Anemia. Decrescendo Fotoooo…………… Fotoooo Fotoo……………… Tipe Ejektion : 1. Late Systolic 2. Minor Pattern: 1. Daerah Aorta (sela iga II kanan) Sebagian besar adalah patologis Etiologi :  Dilatasi Aorta oleh karena Sclerosis.

Circumscrible systolic  Bisa tidak jelas terdengar.Bising yang terjadi pada saat pengeluaran darah dari ventrikel (masa ejeksi) tetapi tidak segera diambil setelah BJ I dan berakhir beberapa saat sebelum BJ II dan mencapai maksimal pada pertengahan fase sistolik..VSD .Mitral Insuffisiensi . Decrescendo systolic Mulai segera setelah BJ I berakhir pada pertengahan systolic Terdapat pada : . 2. segera mulai setelah BJ I dan berakhir pada BJ II. Late Systolic Fotooooooo……………………. Pansystolic (Holosystolic) Terjadi pada fase systolic dan seluruh fase ini.Tricuspidal Insuffisiensi .Ductus Arterius 3.PDA .  Kelainan jantung berat  Hypertrofi sub-aorticostenosis  Coarctatio aortae  LBBB (Left Bundle Branch Block)  Pericarditis  Desah amamaria 4. Etiologi : . Pengeluaran darah dari ventrikel ini dapat pula menyebabkan suatu nada (sound) disebut Ejection sound Ejection click seperti pada prolaps mitralis. berlangsung pendek  Biasa terjadi pasa midsystolic  Dijumpai pada pericarditis 5. Fotoooo………………….

Jantung Normal Desah Diastolic : 1. Daerah Aorta : a. Aorta Insuffisiensi Relatif yang terdapat pada keadaan : . Sifatnya kasar terkadang mengeletar (disertai adanya fremissement pada palpasi) 3. Lues. Kelainan katup aorta (Rheumatic.  Mungkin jelas bila pasien miring kekiri  Sering disertai Thrill diastolic  Kadang lokasi tidak di apex tetapi lebih medial lagi pada suatu tempat terlokalisir dan ini harus dicari dengan cermat. Pulmonalis  Aorta regurgitasi  Biasa disertai P2 mengeras/mengentak  Sering juga pada MS terdengar desah diastolic didaerah Pulmonal. Daerah Apex : a) Kelainan struktur katup mitral (MS) Biasanya desah ini keras. oleh karena Pulmonal Insuffisiensi relatif (Graham Steel) 3. Daerah Pulmonal :  Pulmonal Insuffisiensi  Dilatasi Pulkonary arteri  Peninggian tekanan pada a.- MS murni terdengar di apex VSD PVR (Pulmonal Vascular Resistance) yang tinggi. Desah diastolik selalu bersifat patologis 5. b) Aorta insuffisensi desah terdengar di ICR II kanan kadang-kadang terdengar desah presistolik di apex tanpa MS (Austin Flint) 2. Biasanya disertai oleh irama yang tidak teratur Dimana dapat didengar desah diastolik ? Fotooo……………… 1. Terjadi pada fase diastolik 2. Klasifikasi)  Sering dimulai segera setelah BJ II b. Lokalisasinya lebih terikat pada suatu tempat dimana intensitas desah diastoliknya paling tinggi 4.

Stenosis (Inkompetensi) B. Insuffisiensi (Regurgitasi) . Pre systolic : pada akhir diastolic = Desah crescendo  Desah ini dengan cepat diikuti BJ I c. Penjalaran desah diastolik dari daerah lain-lain. Early diastolic : segera setelah BJ II Sifatnya :  Kasar  Tak teratur  Kadang sukar dibedakan dari BJ II setelah (Splitted) b. Kelainan Kongenital biasa sudah dapat dikenal segera pada masa bayi atau kanak-kanak. Aequista (Rheumatic. arteriosclerosis)  Thyrotoxicosis  Hypertension  Anemia berat c. PENYAKIT-PENYAKIT KATUP MITRALIS A. Diagnose Fungsional Penyakit jantung organis 1. terutama mengenai katup-katup mitral. Penyakit jantung aequista. Atherosclerosis) 2. Dilatasi Aorta (Lues. Tricuspidal secara terpisah (single) maupun kombinasi. Holodiastolic : Pandiastolik Terjadi pada seluruh fase diastolik Fotoooo…………. 4. Lues. Aorta. 2. Pulmonal. Daerah Tricuspidalis :  Tricuspidalis Stenosis Secara umum desah diastolic dapat dibagi 3 : a. Kongenital 1. PENYAKIT-PENYAKIT KATUP JANTUNG Diagnosa penyakit jantung dibagi 2 : A. Diagnose Organis B.

MITRAL STENOSIS Anamnesis : Inspeksi - Batuk-batuk. sesak nafas Pernah batuk darah Mudah dapat serangan infeksi saluran nafas bagian atas (pilek-pilek) Tidak tahan olah raga Ada/tidak riwayat penyakit demam reumatik - Cardiac Bulging (Voussure cardiaque) Fibrasi pada daerah apex Pulsasi epigastrik bila sudah ada pembesaran jantung kanan Iktus normal : Palpasi : Perkulasi - Fibrasi pada daerah apex fase diastol Pulsasi epigastrik ok pembesaran jantung kanan - Tidak ada kelainan - Pada apex BJ I mengeras (mengentak) Pada pulmonal BJ II (P2) mengeras (mengentak) : Auskultasi :     Terdengar opening snap pada apex atau lebih ke Medial lagi dekat sternum Kadang-kadang ada gangguan irama jantung Desah diastolic yang sifatnya kasar pada daerah apex atau terlokalisir pada suatu temapt (presystolic atau middiastolic) Desah tidak menjalar MITRAL INSUFFISIENSI = MITRAL REGURGITASI Anamnesis : - Mudah capek .

AORTA STENOSIS Anamnesis : Keluhan-keluhan umum pada penyakit jantung Inspeksi : Iktus bergeser angkat. Kadang dapat didengar ejection click sound AORTA INSUFFISIENSI (AORTA REGURGITASI) . Perkulasi : Batas-batas jantung membesar ke kiri dan bawah Auskultasi : - Daerah aorta BJ II (A2) melemah sampai hilang Desah sistolik tipe ejection dengan PM di aorta menjalar ke medial (apex) ke suprasternal. infraclavikula dan punggung.Inspeksi Jantung berdebar-debar Kadang-kadang batuk-batuk : Iktus bergeser ke kiri kuat angkat melebar Palpasi : - Iktus bergeser ke kiri kuat angkat melebar Thrill = fibrasi sistlik prekordial Perkulasi : Batas-batas jantung kiri melebar (jantung membesar) Auskultasi : - Apex BJ I (MI) melemah dan bersatu dengan desah sistolik Desah holosistolik dengan punctum maksimal pada apex dan dapat menjalar ke axilla. bergeser ke kiri dan kebawah Thrill = fibrasi sistolik pada daerah aortam suprasternalis sampai daerah karotis. bergeser ke kiri dan bawah Palpasi : - Iktus kuat angkat.

sehingga iktus kordis tidak berubah - Perubahan jantung kanan dimana terjadi pembesaran pada jantung kanan sehingga dapat dilihat pulpasi di epigastrium yang kuat. batuk-batuk. mudah capek dan lain-lain) Yang lebih menonjol adalah ascites . bergeser ke kiri dan bawah Walter hammber pulse Perkulasi : Pembesaran jantung ke kiri dan bawah Auskulatasi : - BJ II (A2) mengeras Desah diastolik dengan punctum maksimum pada aorta atau sela iga III-IV kiri dan menjalar ke apex Sifat desahnya halus dan lembut Pemeriksaan fisik Ao-Insuf dilengkapi oleh tanda-tanda perifer. Antara lain : - Pulsus seller Denyut kapiller Bising durozier Pistol short sound Pulpasi pembuluh darah suprasternal. Sebagian juga kelainan-kelainan congenital pada katup-katup Tricuspidal dapat dijumpai.Inspeksi : - Palpasi Iktus kuat angkat. karotis TRICUSPIDAL INSUFFISIENSI Sebagai penyakit organis jarang dijumpai oleh karena Rheumatic namun sebagai efek sekunder terhadap penyakit-penyakit katup lain (Mitral) yang menyebabkan pembesaran jantung kanan mungkin sering sebagai penyerta. Inspeksi :- Perubahan-perubahan pada bagian kiri tidak jelas. bergeser ke kiri. bawah Tambahan dapat dilihat pulsasi kapiler pada kuku jari tangan : - Iktus kuat angkat. Tanda-tanda umum seperti pada penderita penyakit jantung organis (sesak nafas.

Sesak nafas. mudah capek - Palpasi Pembesaran vena-vena dileher Tanda-tanda pembesaran jantung kanan Cyanosis : . Kongenital : Atresia 2.Palpasi :- Perkulasi :- Auskulatasi :- Pulpasi vena-vena dileher tambah jelas Iktus normal Pulpasi di epigastrium Thrill sistolik pada daerah tricuspidal Pulpasi hepar (+) hepar membesar Pulpasi vena-vena dileher Batas-batas jantung kanan membesar ke kanan Kadang-kadang di jumpai Hydrothorax Ascites Hepar membesar Desah sistolik pada sela iga IV-V kanan atau daerah Desah pembuluh darah pada hepar Sering pula dapat didengar tanda-tanda kelainan pada daerah mitralis TRIKUSPIDAL STENOSIS 1.Organis oleh karena Rheuma sering bersamaan dengan kelainan mitral dan aorta . Aquisita : .Iktus normal kadang-kadang berubah bila disertai juag kelainan mitral - Perkusi Thrill diastolik terutama presistolik pada daerah Tricuspidal Pulpasi epigastrium Hepar membesar : .Batas jantung kanan membesar - Ascites Hepar membesar .Fungsional berasal dari thrombus atau vegetasi bacterial yang menutup katup trikuspidaslis Inspeksi : .

Defek pada fossa ovalis atau ostium secundum Defek sekitar V.l : 1.pulmonalis (flow murmur) Bila lobang (defek) besar dapat terdengar suatu bising middiastolik oleh karena darah yang mengalir tadi masuk ke ventrikel (flow murmur) : - Bila defek pada Ostium Primum : - Sering disertai dengan kelainan pada katup mitral atau tricuspidal Klinis/inspeksi : bila dilihat tanda-tanda kelainan katup mitral atau tricuspidal seperti telah dibicarakan diatas Sering keluhan penyakit paru-paru sampai terjadi respiratory Tachypnoe Sianosis . 3.Sianosis (-) bila Left to Right Shunt - Palpasi : .Auskultasi pada MS : Desah diastolik pada daerah tricuspidal yang sifatnya seperti desah diastolik PENYAKIT JANTUNG KONGENITAL ASD = ATRIAL SEPTAL DEFECT Defek ini bisa terdapat pada beberapa tempat a. 4.Batas-batas jantung kanan dapat membesar - Tanda-tanda proses infiltrat pada paru-paru oleh karena sering terjadi pneumonia - Desah sistolik type ejection pada sela iga II-III parasternal kiri disebabkan bertambahnya aliran darah yang mengalir dalam a. cava superior atau sinus Venosus Defek Atrio-ventricularis = Ostium Primum Inspeksi : . cava inferior Defek sekitar V.pulmonalis = Pulmonal Regurgitasi Relatif) - Perkulasi Auskultasi Sianosis (+) bila Right to Left Shunt Pulpasi kuat pada epigastrium akibat pembesaran ventrikel kanan Pulpasi yang kuat pada epigastrium/bawah sternum : . 2.Teraba fibrasi pulmonalis pada sela iga III kiri parasternal (akibat pelebaran a.

mudah capek. Defek letak tinggi pada pars membranasea Kebocoran ini menyebabkan aliran darah dari ventrikel kiri ke ventrikel kanan ( L to R Shunt) dan mungkin pada suatu saat dari ventrikel kanan ke ventrikel kiri ( R to L Shunt) Inspeksi / keluhan : - Bila defek kecil keluhan tidak ada Bila defek besar maka terjadi sesak nafas terutama waktu bekerja. Juga ada pembesaran jantung ke kanan : Desah Pansistolik V.S. Dada seperti burung (Pigeon chest) Sering terjadi keluhan adanya infeksi saluran pernafasan seperti pada ASD Palpasi - : Thrill sistolik pada sela iga III-IV parasternal Iktus melebar kuat angkat ok kerja jantung kiri lebih kuat Perkusi : Tanda-tanda pembesaran jantung ke kiri. ke kanan Auskultasi : - Desah sistolik : pansistolik pada sela iga III-IV kiri parasternal Kadang-kadang di apex terdengar desah diastolik o.Palpasi : Thrill sistol dibagian apex mungkin oleh karena ada MI Perkusi : - Auskultasi Mungkin tanda-tanda pembesaran jantung ke kiri oleh karena adanya kelainan mitral (MI). Defek pars muscularis sering hanya kecil saja 2.k aliran cepat melalui katup mitralis .D : VENTRICLE SEPTAL DEFECT Biasa defect terdapat pada 2 tempat : 1. jantung berdebar-debar.

suprasternal Auskultasi - : : Desah sistolik Gus seperti suara mesin (Machinery murmur) yang keras terdengar pada sela iga II-III kiri murmur Kadang-kadang dapat dilihat pula tanda-tanda posipher pada aorta sigusi PULMONAL STENOSIS Kelainan patologis pada katup pulmonal menurut penyelidikan halm toussing adalah jarang terjadi. batuk-batuk hampir menyerupai VSD Palpasi - Iktus kuat angkat dengan / tanpa pergeseran ke kiri Thrill sistolik pada daerah sela iga II kiri.Tanda pembesaran jantung kanan .D.k pembesaran jantung kanan - Precordial heaving Thrill systolic daerah sela iga III kiri (Pulmonal) : : .A : PATENT DUCTUS ASTERIUS Normal dalam umur 2 minggu devtus botalli sudah menutup pada 2/3 kasus.pulmonalis tetap berlangsung. Sampai 8 minggu masih ada kira-kira 12% belum tertutup sampai 1 tahun hanya 1% masih terbuka.P. Inspeksi Palpasi Perkusi : - Mudah capek kalau bekerja Sincope Chest pain (nyeri dada) Parasternal heaving (+) o. Inspeksi/keluhan : - Sering dijumpai pada anak-anak Bisa keluhan timbul bila sudah ada payah jantung kiri (DC kiri) Sesak nafas. Bila masih tetap terbuka maka hubungan antara aorta dan a.

ASD b. Sindroma Eisenmarger a. Muara aorta ke ventrikel kiri dan kanan b. DC kiri b. Pergunaan muara aorta ke kanan sehingga muara Ao ke ventrikel kiri dan ventrikel kanan b. Syndrome Lutenbacker a. Pulmonal stenosis d. Hipertrofi 2.Auskultasi : - Desah sistolik tipe ejection yang kasar dengan punctum maksimum pada sela iga II parasternal kiri P2 melemah Daerah ini dapat menjalar ke clavicula ujung lateral (acromba) Beberapa kombinasi dari kelainan-kelainan argenis jantung yang sifatnya congenital : 1. MS DIAGNOSA FUNGSIONAL Payah jantung = Dekompensasi Kordis = DC Dikenal beberapa bentuk klinis : a. Tetralogi fallot : a. DC kanan c. DC kiri + kanan = CHF = Congestive Heart Failure DC Kiri : Inspeksi/keluhan : Palpasi : Sesak nafas kalau bekerja s/d sesak dalam keadaan istirahat Posisi penderita dalam keadaan duduk sajapun masih sesak (orthopnoe) Sianosis Batuk-batuk Sputum berbuih dan kadang-kadang berdarah Os berkeringat dingin sampai baju basah (PND) (+) = Paroxysmal Nocturnal Dyspnoe (Asthma Cardiale) . Hipertrofi ventrikel kanan tanpa pulmonal stenosis 3. VSD c. VSD c.

mualmual. gembung-gembung.Perkusi Badan Os dingin dan berkeringat banyak Ictus jelas melebar kekiri. kadang berdarah Keluhan-keluhan dari saluran pernafasan yang biasa yang sudah lama Sianosis Oedema pretibial. oedema yang luas (anasarca) Ascites Mudah kenyang dan rasa sakit pada bagian atau perut kanan. Jugularis : Tanda-tanda pembesaran jantung tekanan (batas kanan) Pulpasi kuat pada Epigastrium/bagian bawah sternum Peninggian tekanan vena jugularis (TVJ meninggi) Hepar membesar (hepatomegali) Ascites Oedema Vibrasi / Thrill sesuai dengan penyebabnya missal MS Jugularis Reflux (+) . nafsu makan berkurang Pembendungan pada vena-vena dileher : V. kadang-kadang tidak jelas Tanda-tanda penyakit bisa berupa fibrasi dapat diraba bila penyebab organis ada Irama jantung cepat teratur atau tidak teratur : - Aukultasi Batas jantung kiri melebar ke kiri dan mungkin ke bawah Batas jantung kanan normal : - Bunyi jantung I dan II bisa sukar dibedakan Denyut jantung cepat Kadang-kadang didengar Gallop rythme Desah-desah sistolik pada daerah apex ataupun pada daerah-daerah tertentu sesuai dengan penyebabnya P2 mengeras kadang-kadang P2 splitted Ronchi basah paru-paru kiri dan kanan DC Kanan : Inspeksi/keluhan : Palpasi - Dapat terjadi sebagian lanjut dari DC kiri dimana semua penderita sesak-sesak tetapi bila sudah ikut pula terjadi DC kanan maka sesak berkurang atau menghilang Keluhan batuk-batuk. dorsum pedis.

3. ascites Asukultasi - : Bunyi jantung cepat. melemah. ronchi basah. irregular Desah-desah sesuai dengan penyebab organis Kelainan-kelainan pulmonal berupa penyakit paru-paru kronis (ronchi kering. 5. Oedema pretibial atau dorsum pedis Batuk-batuk pada malam hari Hepatomegali Pleural effusion Berkurangnya vital capacity 1/3 dari maksimum Tachycardia Hr 120 x/menit Mayor dan Minor criteria : bila BB akan berkurang 4. wheezing. 2. 4. 8. 2. 6. 9. 5.5 kg dalam 5 hari setelah diobati Diagnosa pasti : 2 kriteria mayor 1 kriteria mayor + kriteria 2 minor . 3. suara pernafasan melemah) PAYAH JANTUNG KIRI KANAN Kriteria Sokolow : Kriteria mayor : 1. 7.Perkusi - : Batas jantung kanan melebar ke kanan Mungkin dijumpai tanda-tanda hydrothorax di paru-paru Hepar membesar. Kriteria minor PND atau orthopnoe Sesak nafas – batuk Pembendungan vena-vena jugularis / vena-vena dileher Ronchi basah pada paru-paru bagian basal atau difuse Pembesaran jantung Akut oedema paru Gallop rhytme Peninggian tekanan vena centralis (CVP) 16 cm H2O Hydrothorax (pleural effusion) : 1. 6. 4.

mengedan. 3. 4. Keluhan nyeri dapat bermacam-macam : - Seperti tekanan Seperti ditimpa beban berat Rasa sesak Rasa terbakar Rasa masuk angin Rasa ditusuk-tusuk Dapat dipresipitasi oleh exercise. tangan kiri. udara dingin. dagu. gangguan pencernaan. Asimptomatik Angina pectoris Acute Koroner Insufisiensi Myocardiac infarct Gangguan irama jantung DC 1. 5. rokok. Angina pectoris Definisi : suatu sindroma klinik berupa nyeri dada mendadak pada waktu exercise yang lokasinya terletak pada substernal dan dapat menjalar ke apex leher. PJI = PJK HHD PJT = THD PJA : Penyakit jantung ischemic. Inspeksi : . bicara banyak. koronaria sehingga terjadi gangguan penyediaan darah pada miokard secara akut atau menahun. penyakit jantung koroner : Hypertensive Heart Disease : Penyakit jantung Thyroid. 3. Ada beberapa tingkatan : 1.PENYAKIT JANTUNG TANPA KELAINAN ORGANIS 1. emosi. Thyroid Heart Disease : Penyakit Jantung Anemia PENYAKIT JANTUNG KORONER Definisi : penyakit jantung koroner adalah kelainan kantung yang disebabkan oleh penyakit a. yang dapat hilang setelah istirahat atau makan obat nitrit. 2. 6. 4. 2. Asimptomatik : tak ada keluhan dan sering di abaikan 2.

Akut Koroner Insufisiensi = Unstable angina = Pre Infark. lamanya serangan. muntah Palpasi - : Kadang-kadang disertai tanda-tanda shock dengan nadi halus dan cepat Bunyi jantung lemah Mungkin dapat diketahui adanya penyakit-penyakit dasar Kadang-kadang demam Perkusi : analog dengan AP Auskultasi : - Bunyi jantung lemah dan seperti tak terdengar (sayup-sayup) Kadang-kadang bunyi jantung seperti bunyi jantung bayi = tic tac =(Embryocardial) Pericardial friction rub Kelainan lain sesuai penyakit dasar 4.- Penderita gelisah ketakutan Memegang daerah prekordinal Susah bernafas Berkeringat dingin Palpasi : Tak ada yang khas kecuali penderita ini ada mengidap penyakit-penyakit organis (Ao Stenosis) atau fungsional yang lain seperti hipertensi dsb. pucat. baik adanya organis ataupun fungsional. Perkusi : sesuai dengan penyakit dasar. Memegang/menekan daerah precordial Mual. Inspeksi - : - Penderita merasa sakit di dada (chest pain) yang mirip AP dengan lama serangan lebih dari 15-30 menit. Penderita berkeringat. Auskultasi : tak ada yang khas kecuali ada penyakit dasar 3. seringnya serangan. dan ditanggulangi oleh karena angka kematian yang sangat tinggi Inspeksi : . Myocard infarct Gawat jantung ini segera mungkin dicurigai. ketakutan. dikenali. Keadaan ini lebih parah dari keadaan Angina pectoris baik dari segi keluhan.

Akut Koroner Insufisiensi Akut. Gangguan irama jantung. ketakutan Sesak nafas Berkeringat banyak Mual. Aukultasi - : Bunyi jantung halus seperti jauh kedengaran = muffle heart sound : bunyi jantung I dan II sukar dibedakan. Kadang-kadang ada tanda-tanda DC kiri yang akut dengan pembesaran ke kiri maupun DC kanan.- Nyeri dada Pucat. Adanya DC/tidak adanya DC . Salah satu tarhet organ yang diperberat adalah jantung yang dapat berakibat : 1. kadang iktus tak teraba. DC – Kiri – Kanan (CHF) Semuanya telah dibicarakan diatas. Pembesaran jantung kekiri baik secara palpasi. Kriteria : 1. Hipertensi (TD diastolik) 100 mmHg 2. 2. DC sudah dibicarakan HHD = Penyakit Jantung Hipertensi.muntah kadang mencret Kolik abdomen Palpasi - : Denyut jantung sangat lemah. Badan dingin berkeringat Kadang-kadang demam (sub-febris) Nadi yang cepat. dibicarakan kemudian 6. Ro ataupub EKG 3. halus kadang lambat irregular Perkusi : Analog dengan Akut Koroner Insufiensi. perkusi. DC – Kiri Akut 3. Desah sistolik Gallop rythme Pericardial friction rub Kadang-kadang edema paru (ronchi basah) 5.

Sering dipakai adanya gabungan antara PJK dengan PJH terutama pada Atherosclerosis Heart Disease dimana kriteria PJH disertai dengan adanya AP.ki+ka Ada DC Ada gangguan irama jantung PENYAKIT JANTUNG ANEMI (PJA) Anemia dengan kausa apapun terutama dengan Hb cukup rendah dan berlangsung cukup lama akan memeperberat kerja jantung. Kriteria - : Hb rendah (5g%) Ada tanda-tanda DC atau tidak PENYAKIT JANTUNG PULMONIK = Cor Pulmonale Chronicum (CPC) Definisi : suatu pembesaran jantung kanan yang disebabkan proses penyakit primer pada paru. Inspeksi Palpasi : Sesak nafas Batuk-batuk. Kriteria : - Jelas tanda-tanda struma toksik Ada pembesaran jantung kekiri . MCI. berdahak Riwayat perokok berat Sianosis Asites Pembendungan vena-vena dileher Oedema Kadang-kadang kesadaran menurun : . PENYAKIT JANTUNG THYROID (PJT) Pada penderita-penderita PJT terutama thyrotoxicosis dapat memperberat kerja jantung dengan akibat-akibatnya.

Ronchi kering.P2 mengeras . kadang dijumpai aritmia .HR sepat.- Tekanan vena jugularis (TVJ) meninggi Gerakan pernafasan menurun Sela iga semakin menurun/melebar Pulsasi kuat di epigastrium Hepato-jugular reflux (+) Hepar membesar Asites / oedema Perkusi - : Batas paru hati menurun Batas jantung makin sukar ditentukan Pembesaran jantung kanan Hepar membesar Asites Auskultasi :  Kelainan jantung : . Gangguan irama jantung bisa berasal dari beberapa tempat : - SA node Sistem konduksi Sesuatu fokus ektopik pada atrium Sesuatu fokus ektopik pada ventrikel Secara diagnose fisik memang susah untuk mendiagnosa pasti jenis aritmia. kiri  kontraksi atrium ke nodus tawara (AV node  bundle His  bercabang ke 2 arah ventrikel kanan dan kiri ke berkas Purkinje  kontraksi ventrikel. basah.Emphysema paru dengan suara pernafasan melemah sampai menghilang . wheezing GANGGUAN RYHTME (IRAMA) JANTUNG Normal ryhtme jantung 60-100 x/menit Rangsangan untuk ryhtme normal berasal dari SA node (nodus Keith-Flack) yang terletak pada muara v.cava superior ke dalam atrium kanan ke dinding otot atrium kanan. Diagnosa pasti jenis aritmia harus dibuktikan dengan EKG. .Bunyi jantung mungkin melemah  Kelainan paru : .

demam.Secara diagnose fisik kita harus mampu mengenali adanya gangguan irama jantung. vagus. Ventrikel takikardi (paroksismal. olahraga) Palpasi - : Denyut jantung cepat dengan iktus lebih kuat Badan terasa panas/dingin berkeringat Pols cepat/halus Stimulasi n. fibrilasi) a. III. Sinus takikardi . Atrial takikardi (paroksismal. HR menurun Perkusi : Tergantung pada penyakit penyebab dan sampai sejauh mana keterlibatan jantung Auskultasi - : Denyut jantung cepat Adanya desah-desah. Sinus takikardi b. ketakutan. Flutter Fibrilasi) c.Biasanya HR > 100 x/menit Anamnesis / inspeksi : - Jantung berdebar/bertambah kencang Adanya penyakit-penyakit penyebab (anemia. Inspeksi / keluhan : . sistol/fungsional Bila HR cepat (130 x/menit) desah sulit ditentukan b. Atrial takikardi Serangan takikardi sering terjadi pada atrial berupa serangan mendadak cepat dan berhenti mendadak. struma toksik. I. II. IV. infeksi. Klasifikasi I. Tachycardia Bradicardia Gangguan pada konduksi Aritmia Tachycardia a.

muntah) Berdebar-debar Hoyong. hipertensi.- Tiba-tiba merasa debaran jantung cepat Sakit dan sesak di dada Badan lemah kadang pingsan Palpasi - : Debaran jantung cepat Nadi cepat dan lemah TD menurun Perkusi - : Tergantung pada penyakit dasar intra/extra cardial Kadang-kadang dijumpai pembesaran jantung Auskultasi : Denyut jantung cepat kadang tidak dapat dihitung. Untuk kepastian dibuat EKG pada saat serangan. thyrotoxicosis) Perkusi : tergantung pada penyebabnya . sclerotic heart disease. Klinis kita dapat mendengar (auskultasi) adanya perbedaan jumlah HR dengan nadi yang disebut PULSUS DEFISIT dan pada palpasi dapat juga dirasakan perbdeaan nadi yang lebih sedikit frekuensinya dibanding dengan HR. mengeluh sbb : - Gangguan traktus digestivus (mual. pening Gejala-gejala ini mungkin jelas frekuensinya makin tinggi (AF rapid) Sesak nafas Kadang-kadang shock Palpasi : tergantung pada penyakit dasar (mungkin penyakit-penyakit katup jantung. Atrial Fibrilasi (kacau serambi) Suatu jenis takikardi atrial yang sifatnya irregular. Jika saja penderita ini kita kenal pemakan obat kardiotonika (digitalis) mungkin ini menunjukkan tanda-tanda keracunan maka os.

Jika AF cepat biasanya desah-desah sebagai tanda-tanda dari penyakit dasar organis tidak dapat didengar jelas. Diagnosa pasti adalah dengan EKG.Auskultasi : Dapat didengar pada daerah ictus suatu denyut jantung yang kacau disebut kacau serambi yang menyebabkan VR (ventricle rate) cukup tinggi juga. Ventricular Tachycardi Adalah suatu takikardi ventrikel disebabkan oleh focus ektopik yang berkumpul dan asalnya dari ventrikel. Diagnose pasti jenis aritmia adalah EKG Atrial Flutter (kepak serambi) Secara klinis sama dengan fibrilasi tetapi iramanya regular. Etiologi : - Komplikasi MCI yang lama Keracunan digitalis yang lama Penyakit RHD Yang penyakit jantung (12%) Keluhan : - Chest pain Shock syndrome Sesak nafas Kesadaran menurun Palpasi : - Denyut jantung dan nadi meningkat (160-180 x/menit) Kalau ada DC bisa dijumpai tanda-tanda DC (liat tanda-tanda DC) Kulit dingin dan basah Perkusi : tergantung pada dasar penyebab Auskultasi : - Denyut jantung yang cepat BJ I-II sukar dibedakan Bila dasar penyakit adalah MCI didapati muffled heart sound .

Hal ini disebabkan oleh ektopik beat yang banyak dan tidak teratur datangnya sehingga respon dari ventrikel sudah tidak menentu lagi dan ventrikel seperti bergetar saja. Sinus Bradikardia Adalah suatu keadaan dimana irama jantung normal dari SA node tetapi dengan kecepatan 60 x/menit Etiologi : Fisiologis : pada waktu hamil. VR. atlit .- Mungkin terdapat desah-desah sesuai dengan penyakit dasar Ventricular Fibrilasi Keadaan ini lebih berat daripada ventricular tachycardia. Etiologi : komplikasi - MCI Sindroma Adam’s Stokes Intoksikasi digitalis Lanjutan ventricular tachycardia Perangsang listrik Katekolamin dosis tinggi Klinis : Inspeks/keluhan : - Kesadaran menurun s/d koma kadang-kadang kejang Shok sindrom Chest pain Palpasi : shock syndrome Perkusi : tergantung kepada penyakit dasar Auskultasi : BJ I-II sulit didengar dan dibedakan Biasanya penderita akan meninggi bila tak cepat ditanggulangi II. 130-300 x/menit.

First degree AV – Block (Prolonged conduction time) Terjadi perlambatan penghantaran rangsang SA node ke AV node. β blocker. prokainamide) Hipertensi Tekanan intracranial meninggi Typhus abdominalis Myxedema Klinis : - Keluhan umumnya tidak ada kalau HR 30 x/menit Kalau HR rendah (30 x/menit) timbul keluhan-keluhan : o Sakit di dada o Hoyong o Shok o Pusing-pusing o Sincope Palpasi : - Iktus lambat Tergantung pada penyakit dasar Perkusi : tergantung pada penyakit dasar Auskultasi : - HR lambat 60 x/menit Tergantung pada penyakit dasar Diagnosa pasti adalah EKG karena secara PD sukar membedakan dengan A-V block.21 detik) 2.Bundle of Hiss --. Secara klinis tidak ada tanda-tanda yang dapat ditunjukkan. III. Gangguan Sistem Konduksi Gangguan sistem konduksi dapat terjadi pada tempat-tempat : SA --. Hanya dapat dibuktikan dengan pemeriksaan EKG. Partial AV – Block . Gangguan berasal dari AV node ----.ventrikel a.Patologis : - Lesi pada otak Penyakit a. coronaria Ikterus Keracunan obat-obatan (digitalis.Purkinje Fiber 1. Dimana dijumpai PR interval memanjang (> 0.AV node --.

Dengan pendengaran yang terlatih dapat didengar suatu denyut yang berasal dari atrium yang berupa suara yang lemah diantara denyut ventrikel yang kuat. kadangkadang memberikan gejala Adam’s Stoke’s Syndrome. Klinis : penderita mengeluh lemah. Complete AV – Block Partial AV – Block Kerusakan biasanya pada Bundle of Hiss. kejang. Sehingga dapat terjadI : Block 2 : 1 = tiap 2 denyut atrium diikuti 1 denyut ventrikel Block 3 : 1 = tiap 3 denyut atrium diikuti 1 denyut ventrikel Block 4 : 1 = dst Secara klinis pada auskultasi dengan hati-hati kita dapat mendengar bunyi jantung normal. Bundle Branch Block . sehingga hantaran rangsang dari atrium tidak sampai ke ventrikel (terlambat). lambat. pening. Auskultasi : - Denyut jantung lambat Bunyi jantung I bisa terbelah Etiologi : Biasanya menggambarkan suatu keadaan kerusakan serius dari myocard seperti pada penyakit jantung koroner. dan penyakit-penyakit infeksi lain. diphtheria. tiba-tiba tak sadar atau sincope. pols lambat. Perkusi : tergantung pada penyakit dasar. Complete Heart Block Semua rangsang SA node terlambat untuk mencapai ventrikel sehingga ventrikel berkontraksi sendiri bebas dari pengaruh atrium.b. tibatiba bunyi jantung hilang kemudian timbul lagi. penyakit jantung sistemik. Bila hal ini terjadi secara regular maka disebut : Reguler Irregularity. Sehingga timbul keadaan dengan denyut ventrikel rendah sedangkan sebenarnya denyut atrium normal. lues. Palpasi : denyut jantung lemah.

Dan hanya dapat dipastikan dengan pemeriksaan EKG. diantara nadi yang teratur tiba-tiba ada nadi yang berbeda dari yang biasa Iktus = apex berat yang biasa tiba-tiba. Hal ini dapat kita bandingkan bila os kita suruh menahan nafas. maka perbedaan tadi tidak dijumpai. Secara klinis tidak ada artinya dan keluhan tidak ada. ventrikel dan AV node. dan jika pada Ventrikel disebut Ventrikel Premature Beat (VPB) atau sering pula disebut Ventrikel extrasistole (VES) Klinis : biasanya keluhan penderita berupa jantung berdebar / debaran jantung tidak teratur. Kita dapat merasakan denyut jantung pada saat inspirasi lebih tinggi bila dibandingkan pada saat ekspirasi. Perkusi : tergantung pada penyakit dasar Auskultasi : . Dapat berasal dari atrium. PREMATURE BEAT (EXTRA SISTOLE) Adalah denyut jantung yang disebabkan suatu fokus di luar fokus normal. timbul apex beat yang berbeda dari yang biasa. Premature beat dapat menyebabkan gangguan irama pada atrium yang disebut sebagai Atrial Premature Beat (APB). - Rasa tertekan di dada Rasa tidak enak di dada Kadang-kadang berupa chest pain seperti angina pectoris Palpasi : - Tergantung pada penyakit dasar Nadi tidak teratur. Sinus Aritmia (Sinus Aritmia Respiratoir) Keadaan ini adalah suatu gangguan irama jantung disebabkan pengaruh pernafasan dimana terjadi penambahan denyut jantung selama fase inspirasi dan pengurangan denyut jantung selama fase ekspirasi. Hal ini mungkin disebabkan peninggian pengaruh Vagus. Hal ini dapat didengar bila kita perhatikan benar-benar frekuensi denyut jantung pada saat kita suruh bernafas inspirasi dalam dan ekspirasi dalam. Biasanya secara klinis tidak ada yang khas.Kerusakan terjadi pada cabang-cabang dari Bundle of Hiss ke daerah ventrikel kanan dan kiri. IV. Aritmia Jantung 1.

Diantara denyut jantung yang regular. dengan compensatory pause yang lebih lama daripada sebelumnya. Diagnose pasti adalah dengan pemeriksaan EKG. tiba-tiba ada denyut jantung yang lain dari yang biasa. . Fotoooo…………………………….

Bibir : Pada pemeriksaan bibir ini harus diperhatikan keadaan daripada bibir tersebut.Jumlahnya.Ketebalannya : tampak sangat tebal pada penderita myxedema dan akromegali. antara lain : .Tanda-tanda : mudah berdarah bila ditekan dengan memakai kapas . .Warnanya : pada keadaan anemia bisa berwarna pucat. Gigi : Terutama harus diperiksa mengenai : .Warnanya : discoloration sehubungan dengan dental hygiene .Pus : dapat diketahui dengan menekan sisi daripada gusi tersebut akan keluar nanah .Dan lain-lain Gusi : Perlu diperhatikan : .Keadaannya : apakah ada caries / gigi yang busuk . . Pada pemeriksaan rongga mulut selanjutnya sebaiknya dipakai penerangan dengan senter/battery dan spatel lidah.Bibir menonjol terbalik : mukosa bibir berada disebelah luar ini khas pada penderita miopati.BAB – VII PEMERIKSAAN SALURAN PENCERNAAN A. Sedangkan pada sianosis berwarna pucat kebiruan. II. apakah lengkap atau berkurang . PEMERIKSAAN MULUT I. III.Bibir pecah-pecah dan retak-retak : terutama pada penderita-penderita avitaminosis atau demam. .

Dan abdomen ini terbagi atas 9 bagian yang dipisahkan oleh 2 garis vertical dan 2 garis horizontal. Abdomen mencakup bagian tubuh mulai dari arkus kosta sampai garis lipat paha.Kering/basah : kering/basahnya dapat menentukan keadaan hidrasi dari tubuh. Warnanya : bisa pucat pada keadaan anemia dan bisa berupa kebiru-biruan pada keracunan timah/Pb Lidah : Yang harus diketahui mengenai lidah : . Tifus abdominalis).Bagian tengah : Lumbal kanan Umbilikal Lumbal kiri . B. ujung lidah akan menyimpang ke sisi lesi pada waktu lidah dikeluarkan. tremens atau demensia paralitika. delirium.Bagian atas : Hipokondrium kanan Epigastrium Hipokondrium kiri . Lidah juga bisa mengalami tremor yang menunjukkan adanya kecemasan. oleh karena mempunyai kebiasaan bernafas melalui mulut. bila os disuruh mengeluarkan lidahnya. Dan juga bisa dijumpai adanya beslag berwarna putih atau kecoklatan yang sering dijumpai pada penyakit-penyakit infeksi (mis.Permukaan : bisa menjadi licin sekali oleh karena atrofi dari papil-papil lidah. C. . PEMERIKSAAN ESOFAGUS Yang penting dalam hal ini adalah anamnesis dari keluhan si penderita. XII unilateral. .IV. PEMERIKSAAN ABDOMEN Untuk memudahkan pemeriksaan abdomen ini terlebih dahulu penting doketahui garis besar anatomi organ-organ yang berada di dalam rongga abdomen ini. ini menunjukkan kerusakan pada N. Juga penting diketahui fungsi persyarafan lidah.Bagian bawah : Iliaka kanan Hipogastrium Iliaka kiri Berdasarkan pembagian abdomen seperti ini maka secara garis besarnya kita dapat memprojeksikan organ-organ pada permukaan abdomen yaitu : . Kalau lidah kering menunjukkan keadaan dehidrasi. Mis. ini bisa dijumpai pada penderita anemi pernisiosa atau anemia defisiensi besi dan lainnya. Missal adanya kesulitan menelan/disfagia atau keluhan makanan yang keluar lagi tanpa ada rasa muntah sama sekali yang disebut regurgitasi.Warnanya : bisa kotor seperti lumpur pada perokok berat. Dengan demikian abdomen terbagi atas : .

Inspeksi abdomen Yang perlu diperhatikan pada inspeksi ini adalah : 1. tumor ovarium. dan lain-lain. .Normal bentuk daripada perut adalah simetris.Dalam hal ini yang pertama-tama harus diperhatikan adalah keadaan kulit daripada abdomen. misalnya : o Wanita yang berulang kali melahirkan o Penderita asites yang telah sembuh .Pelebaran daripada vena abdomen terlihat benjolan berliku-liku menyatakan adanya penyumbatan pada vena porta atau vena cava inferior. Dan penderita berbaring terlentang dengan bantal pada kepala ketaknya tidak terllau tinggi.- Hati berada di daerah epigastrium dan hipokondrium kanan Lambung berada di daerah epigastrium Limpa berada di hipokondrium kiri Kandung empedu sering berada pada perbatasan hipokondrium dan epigastrium Kandung kencing yang penuh dan uterus wanita hamil berada didaerah hipogastrium (dapat diraba) Apendiks berada di daerah antara iliaka kanan. sedangkan perkusi dan auskultasi kurang banyak kegunaannya. Bentuk perut .Kulit menjadi keriput/mengerut. Keadaan dinding perut / permukaan perut . perut akan membesar juga secara simetrik missal asites (perut kodok) . Menunjukkan pernah ada distensi yang hebat dari dinding perut.Pada kehamilan. . 4. tumor dalam rongga perut. ginjal. Pada pemeriksaan abdomen. Sebaiknya pemeriksaan abdomen ini penderita harus berada dalam keadaan kandung kencing yang kosong. limpa. Bila terjadi penimbunan cairan di dalam rongga peritoneum. Bentuk perut Keadaan dinding perut / permukaan perut Gerakan dinding perut Denyutan pada dinding perut 1. lumbal kanan dan bagian bawah daerah umbilikal Perlu diingat bahwa sikap tubuh dan pernafasan mempunyai pengaruh yang besar terhadap letak dari pada organ-organ tersebut. 2. kandung empedu dan lain-lain terlihat pembesaran setempat daripada abdomen 2. yang terpenting adalah inspeksi dan palpasi. 3. Bentuk dari perut menjadi membesar tidak simetrik .Pada keadaan pembengkakan hati.

Daerah umbilikus yang berwarna biru atau agak kekuning-kuningan menunjukkan adanya proses perdarahan di daerah intraperitoneal. Untuk pemeriksaan bagian bawah dari abdomen sebaiknya kedua tungkai diluruskan. dan mengembang atau membesar pada inspirasi. Denyutan pada dinding perut .Denyutan pada daerah hipokondrium kanan umumnya berasal dari denyutan vena hati. . Sedangkan adanya benjolan-benjolan kecil disekitar umbilikus mungkinmerupakan tanda adanya proses metastase keganasan dari intraabdominal. Ini dapat dijumpai pada pylorus stenosis (darm steifung/maag steifung) 4.Dinding perut menjadi tegang dan tidak bergerak pada peritonitis. oleh karena asites) perut menjadi tegang. Ini bisa dijumpai pada insufisiensi trikuspidalis.Gerakan peristaltic kadang-kadang dapat terlihat pada orang tua dan kurus . terutama pada orangorang kurus dan penderita pembesaran ventrikel kanan.Kadang-kadang dapat terlihat pada orang tua dan kurus. . Gerakan dinding perut . 3.Pergerakan peristaltic dinding perut akan menyerupai gelembung pada permukaan air yang berjalan dari kiri ke kanan. Kalau ada ikterus. licin dan tipis dan berkilat.- Pada penyumbatan vena porta.Perut mengempis/mengecil pada waktu ekspirasi. Pergerakan setempat pada dinding perut biasanya disebabkan oleh peristaltic usus yang berada dibawahnya. dan pada wanita yang telah berulang kali melahirkan terdapat garis-garis bekas pembesaran perut yang disebut striae. Denyutan ini sinkron dengan denyut sistolik jantung. PALPASI ABDOMEN Pada pemeriksaan ini penderita harus berbaring terlentang dengan kepada sedikit ditinggikan (di atas bantal).Denyutan ini terutama dapat terlihat di daerah epigastrium. Bila penderita sudah bernafas dengan tenang dan dinding perut bergerak seirama dengan pernafasan maka pemeriksaan secara palpasi ini dapat dimulai. . mis. vena-vena melebar dan jalannya berliku-liku tampak disekitar pusat dan semua mengarah ke pusat disebut kaput medusa. kedua lengan berada disisinya dan kedua lututnya ditekukkan dan bernafas tenang dengan mulut terbuka. . Pada pembesaran perut (mis. warna perut menjadi kuning. . seperti kuburan. pankreatitis akut ini disebut Cullen sign dan Brey Turner sign bila dijumpai dilipatan paha.

sampai sisi radialis jari telunjuk menyentuh tepi hati yang membesar.s disuruh menarik nafas panjang dan dalam sehingga tepi hepar mudah teraba.Tepi atau pinggirnya . Dalam hal ini palpasi harus juga dilakukan pada daerah yang normal kemudian mengarah ke daerah yang tegang tersebut. ini merupakan otot tonik yang timbul secara reflektorik. d. b. e. diletakkan tangan-tangan dan jari-jari harus sama kuatnya menekan dinding perut. tetapi harus dengan telapak tangan dan juga sendi-sendi metakarpo falangeal. Dengan palpasi ini kita memperlihatkan : a. Tepi hati ini akan teraba pada puncak inspirasi. Yang penting diperhatikan kalau hati teraba adalah : .Derajat pembesaran . Ketegangan / rigidity Normal dinding perut tidak tegang. c. atau organ lainnya. c. Oleh karena itu o. yang terjadi oleh karena reaksi daripada dinding perut untuk melindungi daerah / organ yang berada dibawahnya. Adanya nyeri tekan pada daerah-daerah teretentu di abdomen dapat menunjukkan kelainankelainan tertentu baik pada peritoneum. Ketegangan dinding perut seperti ini disebut defence muscular dapat kita temui pada penderita peritonitis. Nyeri tekan / tenderness Palpasi untuk menentukan nyeri tekan haruslah dimulai dari daerah yang normal kemudian dilanjutkan dengan secara bertahap mendekati daerah yang nyeri tekan. Jangan menekan hanya dengan ujung jari saja. Pembesaran organ-organ Palpasi hati : Pada palpasi hati tangan diletakkan secara mendatar dengan ujung-ujung jari yang lembut berada dibawah tepi iga. Tekanan ini harus ringan saja. rileks dan disebut supel.Mula-mula dilakukan palpasi dengan menggunakan satu tangan.Permukaannya . Dinding perut dapat menjadi tegang. Sebaiknya palpasi dimulai dari bawah menuju keatas yaitu dari daerah lumbal kanan kearah arcus aorta sebelah kanan. Nyeri tekan / tenderness Ketegangan / rigid Pembesaran organ-organ Tumor dalam perut Cairan bebsa didalam rongga perut a. usus. b.

Dari sini diukur beberapa cm pembesaran hati yang dapat diraba tersebut. Pembesaran hati yang sangat hebat kadang-kadang dapat kita jumpai pada kelainan : - Neoplasma Abses hati Sirosis hati Dekompensatio kordis Penyakit-penyakit darah Sedangkan pembesaran hati yang ringan umumnya kita jumpai pada : - Hepatitis Penyumbatan saluran empedu Nyeri tekan Rasa nyeri tekan pada hati dapat kita buktikan dengan memperhatikan muka penderita apakah ia tampak kesakitan. Tepi hati Tepi hati sukar diraba pada pembesaran hati oleh karena perlemakan. Sedangkan pada pembesaran hati oleh karena neoplasma tepinya menjadi ireguler. tepinya biasanya tajam. Rasa nyeri dapat dijumpai keadaan : - Obstruksi saluran empedu . permukaan rata. selain menanyakan apakah timbul rasa sakit pada waktu hatinya diraba. konsistensi keras kenyal.- Nyeri tekan atau tidak Konsistensinya Umumnya pada hati yang normal tidak teraba pada palpasi. Derajat pembesaran hati Derajat pembesaran hati biasanya ditentukan dengan memakai ukuran beberapa sentimeter teraba hati dibawah arkus kosta atau BAC atau prosessus xiphoideus (BPX) yaitu dengan menarik garis lurus dari linea media clavicularis sampai ke tepi arkus kosta. Sedangkan pada neoplasma hati permukaannya berbenjol-benjol besar. Tepi hati regular pada pembesaran oleh karena dekompensasio. Permukaan hati Permukaan hati menjadi tidak rata dan berbenjol-benjol kecil pada sirosis hepatis.

dan permukaan limpa yang membesar tersebut. Penekanan dilakukan pada puncak inspirasi. Dengan cara ini kita dapat menentukan : tepi. Pada keadaan peradangan kandung empedu. Palpasi kandung empedu Palpasi dilakukan dibawah arkus kosta kanan antara prosesus xiphoideus dan pinggang kanan. Bila sangat membesar sampai umbilikus atau iliaka kanan. Dan dilakukan dengan jari-jari yang menekan ringan pada dinding perut. dengan tangan kanan pemeriksa menekan sambil menggerakkan tangan itu sedikit demi sedikit ke bawah tulang iga. dengan palpasi empedu ini dapat diraba adanya massa/nyeri tekan dan bila penderita disuruh menarik nafas dalam/panjang.- Sirosis hepatis. . Tangan kiri penderita diletakkan di pinggang kiri penderita. ini disebut tanda Murphy. Tangan kiri pemeriksa merupakan landasan bagi tekanan yang dilakukan oleh tangan kanan. Garis ini menghubungkan titik potong antara linea medioklavikularis dengan arkus kosta kiri dengan spina iliaka anterior superior kanan. Palpasi limpa Limpa dalam keadaan normal tidak teraba. Sebaiknya palpasi limpa dimulai dari daerah hipogastrium menuju hipokondrium kiri. abses hati Karsinoma hati Limpoma hodkin Leukemia Malaria Dan lain-lain Konsistensi hati Konsistensi hati menjadi lunak pada pembesaran hati oleh perlemakan. Pasien disuruh tarik nafas dalam. yaitu telapak tangan kanan diletakkan di daerah hipokondrium kiri penderita dengan jari-jari menuju ke samping atas. sehingga kandung empedu Dan pada saat tersebut penderita akan menahan nafas secara tiba-tiba. Bila dengan cara ini limpa tidak teraba. dekompensatio kordis konsistensinya keras. konsistensi. sebaiknya dilakukan palpasi secara bimanual. sedangkan pada neoplasma. Pada abses hati bisa teraba fluktuasi. Cara menentukan derjat pembesaran limpa : Dipakai apa yang disebut garis schuffner.

sebaiknya dipalpasi dengan ukuran haccket yaitu hacket 1 sampai dengan hacket VIII (H I – H VIII) Cara palpasi limpa juga dapat dilakukan memiringkan penderita ke kanan dan satu tangan pemeriksa menarik tangan kiri penderita kearah kanan kemudian palpasi dilakukan dengan tangan kanan penderita. Bila pemeriksaan limpa sampai umbilikus mis. Palpasi untuk mencari pembesaran limpa dilakukan sepanjang garis ini. palpasi dilakukan dari bawah ke atas. Letak tumor Umumnya letak tumor dan organ-organ di abdomen dapat diraba sesuai dengan letak daripada organ tersebut di rongga abdomen.Bentuk . Tumor dalam perut Yang penting dalam pemeriksaan palpasi tumor didalam perut ini harus diperhatikan : .Mobilitas Besar / ukuran Untuk menentukan besar / ukuran daripada tumor harus dilakukan dengan kedua tangan yaitu meraba dan menekan sehingga batas-batas tumor tersebut dapat ditentukan. Dalam hal ini juga dapat dilakukan dengan tangan kiri pemeriksa di pinggang kiri penderita dan penderita ditarik kearah kanan dan selanjutnya dilakukan palpasi. S4 dan bila pembesaran limpa sampai spina iliaka anterior superior disebut S8 (Gb. Palpasi kolon Biasanya kolon tidak bisa diraba kecuali bila berisi udara atau feces. misalnya tumor hati dapat kita raba di daerah hipokondrium .Garis ini dibagi dalam 8 bagian yang sama (S1-S8). Jika kolon descenden menjadi tegang (spastic colon) akan teraba sebagai suatu pipa karet di daerah fosa iliaka kiri yang menjulur ke daerah hipokondrium kiri. dengan demikian besar dengan ukuran tumor tersebut jelas dapat diketahui.Besarnya /ukuran .Letak . Dalam hal ini palpasi dapat teraba benjolan yang berbentuk sosis.Konsistensi . d. 4) Bila pembesaran limpa kearah bawah. Dibawah tumor berada dibawah pusat.

kanan. Sewaktu kepala diangkat. Cara pemeriksaan cairan bebas dalam rongga abdomen dengan palpasi dapat dilakukan dengan meletakkan tangan si penderita atau seorang asisten dengan pinggir lateral kanan pada linea alba. oleh karena tumor-tumor yang teraba tersebut merupakan sebagian saja dari tumor yang lokalisasinya dalam sekali. Bila dinding perut sudah kendor. dengan penegangan otot-otot tersebut tumor akan hilang. ovarium tidak akan bergerak bila penderita bernafas dalam. sehingga terangkatnya kepala menjadi agak tertahan akibatnya otot-otot dinding perut menjadi tegang. akan timbul kesukaran menentukan letak tumor tersebut apakah intraabdominal atau pada dinding perut. e. Demikian juga halnya bila terjadi infiltrasi oleh sel-sel tumor pada limpa dan hati. limpa. akan tergeser/bergerak ke bawah oleh dorongan diafragma pada puncak inspirasi. Sebaliknya bila tumor tersebut terdapat dalam rongga abdomen.Akan tetapi dalam hal ini tidaklah mudah untuk menentukan letak yang tepat dari suatu tumor di abdomen tersebut. Kemudian tangan pemeriksa diletakkan pada bagian samping yang gunanya untuk merasakan ada atau tidaknya getaran cairan bila dinding perut dan pada sisi lainnya .Dalam keadaan seperti ini. Dalam keadaan seperti ini adalah sulit untuk dapat menentukan tempat asal tumor. dahi dari penderita ditekan. lambung. Sebaliknya tumor-tumor: pancreas.Dengan palpasi ini harus ditentukan batas-batas benjolan-benjolan yang dijumpai sehingga letaknya menjadi jelas. uterus.maka konsistensinya menjadi keras. kecuali tumor tersebut berupa kista.limpa atau ginjal akan menyebabkan pembesaran hati pada organorgan tersebut akan berubah bentuknya hingga sukar sekali untuk ditandai dengan palpasi. Tumor lambung dapat diraba di daerah epigastrium. Bila tumor terdapat pada dinding perutmaka tumor akan tetap teraba waktu otot-otot perut ditegangkan. kandung empedu. Mobilitas Tumor-tumor yang berasal dari hati. Cara ini disebut dengan “Dipping” yaitu menekan dinding perut dengan cepat dan dalam dengan ujung-ujung jari. Konsistensi Biasanya konsistensi dari tumor adalah keras. Untuk ini biasanya dipakai tekhnik palpasi dengan mempergunakan ujung-ujung jari. Bentuk Bila dijumpai tumor pada hati. usus. Tumor dalam dinding perut pergerakannya terbatas. Cairan bebas dalam rongga perut Adanya cairan dalam rongga perut akan mempersulit palpasi dari organ-organ hati dan limpa. penderita disuruh mengangkat kepalanya.

Dalam hal ini perkusi pada daerah banyak mengandung cairan akan menghasilkan bunyi pekak.Bising pembuluh darah a. Sedangkan . Dan bunyi peristaltic menjadi keras dan lebih sering pada diare. c.diketok-ketok oleh jari pemeriksa. Sedangkan pekak hati tidak dapat menghilang.Ini terjadi keran berpindahnya cairan ke tempat lain yang lebih rendah. Daerah pekak hati (Liver demping) akan menghilang bila didapati udara bebas didalam rongga abdomen (misalnya perforasi lambung atau duodenum). 5)    Perkusi Abdomen Dengan perkusi abdomen dpat diketahui : Pembesaran organ Adanya udara bebas Cairan bebas dalam rongga abdomen a. Bunyi peristaltic usus bisa menjadi hilang bila terjadi kelumpuhan usus (mis Ileus paralitikus.Dengan perkusi daerah ini akan menunjukkan bunyi pekak yang dikenal dengan pekak sisis. Dengan perkusi kita dapat tentukan adanya cairan dalam rongga perut. Auskultasi Abdomen Dengan aukultasi dapat ditentukan: -Bunyi peristaltic . b.Dan bunyi perkusi yang berlebihan akan dijumpai bilamana usus mengandung udara yang sangat banyak.Dalam hal ini perut membuncit terutama pada kedua sisi. Bila penderita dalam keadaan berbaring telentang maka cairan akan terkumpul di tempat terndah yaitu di kedua sisi perut.kalau terjadi pembesaran limpa dan hati bunyi perkusi akan terdengar redup pada daerah tersebut. (Gb. Jika pekak ini disebabkan oleh cairan maka dengan memiringkan penderita ke sisi lain bunyi perkusi akan menjadi timpani.Bunyi gerakan cairan .Bunyi perkusi pekak yang bisa dihilangkan dengan merubah posisi penderita disebut “Shifting dullnes” yang menunjukan adanya cairan dan tingginya didalam rongga abdomen.Bila terdapat cairan bebas dalam rongga abdomen maka akan teraba adanya getaran cairan yang disebut dengan undulasi.dan dengan perkusi penderita dalam sikap duduk.batas atas dari cairan tersebut akan berbentuk konkaf .Untuk cairan asites yang sedikit dapat dilakukan knee chest. Pemeriksaan dengan shifting dullness ini tidak akan ditemukan bila cairan bebas dalam rongga perut terlau banyak (cross asites). Seperti diketahui sura yang terdengar pada perkusi abdomen adalah timpani .

Bila setelah 5 jam lambung masih penuh dengan cairan kemungkinan ini disebabkan adanya pylorus stenosis.bunyi peristaltic usus menjadi bernada tinggi pada penyumbatan usus. Pada orang sehat 5jam setelah menelan cairan lambung akan menjadi kosong.(mis Obstruksi ileus):metallic sound b. Gerakan cairan dapat didengar dengan auskultasi pada daerah hipogastrium kiri sambil menggerakkan kedua sisi penderita secara bergantian. .Aneurysma aorta ini tampak sebagai benjolan besar yang berdenyut dan terdengar sistolik.Pada aukultasi daerah hati kadang2 bisa didengar adanya bising pembuluh darah yang disebut sebagai arterial mur-mur atau hepatic bruit. Bising pembuluh darah terdengar apabila ada lumen arteri menyempit atau aorta abdominalis membesar setempat (aneurysma). Hal ini sangat patognomonik untuk karsinoma hati (hepatoma) kadang2 dapat terdengar bising gesekan (friction rub) pada perihepatitis. c.

femoralis seperti thrombosis arteri pada kaki .palpasi dan kadang2 auskultasi.claudicatio intermitens .  Perubahan dari buang air besar seperti mencret berisi darah .hemorrhoid abses.sistemik .  Melena dan hematochezia  Kelainan lokal/pembengkakan .umunnya indikasi pemeriksaan anorektal adalah seperti berikut.:  Adanya iritasi di region mucocutaneus seperti perasaan gatal /terbakar oleh kerana kelainan lokal.rectum dan alat kelamin.kelainan kulit yang umum dan kelainan intestinal  Sakit sewaktu buang air besar .  Tiap keluhan mengenai wazir.perlu juga diperhatikan .nyeri di daerah inguinal pruritus disekitar alat kelamin.  Tiap keluhan dan tanda yang dapat dihudungkan atau tidak adanya denyutan a.BAB VIII PEMERIKSAAN ANO-REKTAL Pendahuluan: Sesudah pemeriksaan abdomen kita kemudian memeriksa daerah inguinal. kelainan organ kelamin wanita dan kelainan peritoneal.arteritis primer solid edeme unilateral pada tungkai maupun ganggren pada jari kaki . Hal ini seringkali dilupakan sehingga kadang2 terdapat kegagalan dalam pemeriksaan fisis.tenesmus.buang air besar yang keras.Untuk melakukan tindakan ini si pemeriksa boleh memakai sarung tangan.paraplegi inferior dan incontinensia urin et alvi Dalam rangka pemeriksaan klinis umum pemeriksaan kelamin dan sekitarnya dilkukan dengan jalan inspeksi.anus.adanya fissure fistula.pembengkakan dengan rasa sakit dan memar.Sebelum pemeriksaan seperti hal tersebut diatas. kelainan daerah pelvis seperti cystitis dan prostatitis.karsinoma rekti .fistula ani.karsinoma kandung kencing . lendir dan lain2.  Penyakit regional .akut appendicitis . Pemeriksaan tidak sempurna bila tidak disertai pemeriksaan ano rectal dan alat kelamin terutama bagian luar.  Tiap keluhan mengenai daerah sekitar kelamin :hernia inguinalis .adanya massa .bisul sekitar anus.nyeri didaerah inguinal waktu bersetubuh.prostatitis /hipertrofi prostate .

Femoralis Normal a.sesudah pemeriksaan abdomen adalh pemeriksaan kelenjar lipat paha/daerah inguinal yang berhubungan erat dengan pemeriksaan anorektal Pemeriksaan lipatan paha/region inguinale 1. Inspeksi Disini perlu diperhatikan adanya pembengkakan dengan permukaan yang licin ataupun berbenjol-benjol.tuberkulose.penyakit alat kelamin dan lain2.aorta insufisiensi dan penyakit Basedow Pada aorta insufisiensi dapat didengar dengan stetoskop adanya bising Durozoir (sistolik) yang dengan penekanan yang perlahan-lahan bisisng bertambah keras pada penekananan yang kuat bising menghilang.Palpasi kelenjar getah bening Dapat ditetapkan pembesaran kelenjar limfe misalnya oleh kerana infeksi .femoralis dan bila ada nyeri tekan pada daerah v.hal ini dapat disebabkan oleh infeksi . Pada palpasi a/v femoralis terletak medial dari a.keganasan.Palpasi hernia Bila dipalpasi umumnya lembek.biasanya terdiri dari jaringan omentum dan jaringan lemak.tetapi bila terisi usus dapat ditetapkan dengan bantuan auskultasi (adanya peristaltic usus) Pada pria dapat dilakukan langsung palpasi untuk mengetahui keadaan kanalis inguinalis (gambar 1) Dengan jari teluntuk skrotum kita desak ke dalam arah canalis inguinalis yaitu arah lateral dan atas dari a/v epigastric. Pembengkakan yang lain adalah kelenjar limph lipat paha dengan benjolan tidak teratur yang dapat ditetapkan dengan palpasi. 2.femoralis menyangkakan adanya thrombophlebitis/thrombose dan jangan lupa membandingkan denyut a/v femoralis kiri dan kanan.tumor .abses.tapi bila celah melebar dapat dirasakan pelebarannya dan sangat lemah sehingga jari kit dapat masuk B. C.Normal ring ini tidak tertembs oleh jari. Palpasi A. Biasanya kita menjumpai suatu hernia yang dapat terjadi pada satu sisi atau kedua sisi dan bila penderita disuruh mengedan atau menutup daerah mulut benjolan bertambah besar. Palpasi/auskultasi a.femoralis berdenyut dan denyutan terdengar keras terutama pada hipertensi . .

PALPASI Palpasi pada pemeriksaan anorektal ini adalah palpasi biasa untuk menentukan bentuk. konsistensi.(gb 2 dan 3) Pada inspeksi ini perhatian ditujukan kepada:  adanya lubang anus (atresia ani pada bayi)  Hemoroid externa  Condylomata  Fissura Ani/fistel  Eczem/bekas garukan  Berbagai penggembungan pada perineum (abses) Tanda-tanda abnormal disekitar anus atau dalamnya hendaknya dicatat dan lokasinya disebut menurut arah jarum jam dengan jam 12 pada simfisis. . Rectal Toucher/ Examination Sebelum tindakan ini dilakukan pasien harus diberitahukan lebih dahulu dan waktu si pemeriksa hendak memasukkan jari telunjuknya pasien diminta bernafas dalam dengan mulut terbuka agar perineum menjadi lemas dan tonus anus tidak keras. Dalam melakukan tindakan ini tangan pemeriksa bersarung tangan dan memakai alat pelincir seperti vaselin. dan nyeri tekan pada setiap kelainan atau penggembungan setempat. Posisi pasien dapat dalam Sims position atau Lithotom position.besar. untuk ini perlu kita tentukan tonus dari sphincter apakah terasa sempit yang berhubungan dengan diare yang lama. Anal sphincter.Pemeriksaan Ano-Rectal INSPEKSI Inspeksi anorektal dapat dilakukan dgn pasien dalam keadaan berbaring telentang dengan kedua lutut difleksikan dan saling berjauhan (litotomi position) atau pasien berbaring pada sisi kiri atau kanan dengan kedua tungkai dalam keadaan fleksi maksimal disendi panggul dan lutut(Sims position). Tindakan ini dinamakan juga “rectal toucher /examination”. Tetapi di sini diperlukan pemeriksaan palpasi digital yang dilakukan dengan jari telunjuk yang dimasukkan ke dalam rectum. Sewaktu rectal toucher ini hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut : 1. glycerin. dll.

2. sifilis. Palpasi isi skrotum.BAB IX PEMERIKSAAN ALAT KELAMIN (GENITALIA) 1. Varikokel yang isinya tidak keluar pada posisi telentang menunjukan adanya obstruksi v. Inspeksi : 1. Palpasi penis dan urethra untuk mengetahui adanya benjolan di permukaan dorsum penis dan adanya indurasi pada urethra. dan Ca glans penis. testis retraktil dapat ditarik ke bawah sampai ke dasar scrotum. Testis retraktil adalah testis yang turun normal tetapi letaknya sering tinggi tersangkut di canalis inguinalis karena spasme muskularis kremaster atau letaknya tinggi di skrotum. 3. 2. balanitis. kondiloma akuminata. Inspeksi scrotum. Urutan palpasi isi scrotum adalah mulai dari testis. Meatus urethrae. chancroid. kalau-kalau ada retraksi preputium yang selalu terjadi pada stenosis meatus urethra. dan canalis inguinalis externus (medialis). funikulus spermatikus. . Palpasi kelenjar limfa inguinal. Palpasi testis yang tidak turun. Palpasi : 1. Testis kiri biasanya lebih rendah dari testis kanan. Pembesaran kelenjar inguinal dapat disebabkan oleh Ca penis. Bisa juga oleh sebab-sebab sistemik seperti limfoma dan leukemia. Testis kristorkismus yang sebesarnya.renalis kiri. balanitis. Inspeksi glans penis. 3. anus dan tungkai. tumor-tumor scrotum. Palpasi dilakukan dengan tangan yang hangat dan anak lebih baik berada di pangkuan ibunya. Palpasi dilakukan pada waktu berdiri dan telentang. Yang diperhatikan adalah peregangan bibir meatus yang terdapat pada kondiloma akuminata intra urethra. epididymis. Auskultasi : Auskultasi isi skrotum adalah untuk mendengarkan bunyi usus yang menunjukkan adanya suatu hernia. 4. Yang memegang peranan pada pemeriksaan fisik alat kelamin adalah inspeksi dan palpasi. Alat kelamin laki-laki.

3. Sedangkan relaksasi sphincter berhubungan dengan perineum yang longgar sewaktu persalinan. Dapat diraba besar. Anal kanal. Hemorrhoid interna dan externa yang biasanya ditandai dengan berak darah. v. 4. Sedangkan pula keadaan yang berat diduga kelainan neurologi. fissure. Penyakit-penyakit anus dan rectum : 1. fisur ataupun radang. 2. Sering digunakan untuk diagnose appendicitis ataupun abcess. Polip rectal yang bertangkai ataupun tidak. iv. bentuk. Hemorrhoid interna dapat ditentukan dengan terabanya seperti lipatan mukosa yang berjalan longitudinal. konsistensi. kekakuan dan fibrosis dari lingkaran anal disertai dengan penyempitan kanal sering dijumpai oleh karena pembentukan jaringan ikat yang disebabkan proses radang trauma.Pemakaian pencahar yang semberono. nyeri tekan. kelenjar prostat dan semiluna vesikales. Penggembungan dari rectum sebagai tanda dari infeksi peritoneal. bentuk. Massa yang disebabkan feces ataupun benda asing. Karsinoma dengan permukaan yang nodular dan cauliflower kadang-kadang sampai penyempitan yang partiel. Pruritus ani. uterus dan adneksa. ii. konsistensi. 2. infeksi jamur. nyeri tekan dan pergerakan dari uterus. Pemeriksaan lainnya adalah dengan memakai alat Anuscopi dan Rectosigmoidoscopy. internal hemorrhoid atau prolapsus mukosa. yang dapat disebabkan adanya parasit. Fissure in Ano . besar. 6. nervosiras dan penderitapenderita yang sensitif. rongga pelvis. Rectal wall dan lumen. Dengan bantuan pemeriksaan bimanual dapat ditentukan posisi. pada waktu ini dapat diraba keadaan-keadaan : i. Pengerasan /benjolan yang berhubungan dengan karsinoma dimana biasanya permukaannya berbenjol-benjol iii. 5. Dengan ini dapat juga ditentukan adanya peradangan pada adnexa. Terutama dipakai pada penderita yang masih gadis. hemorrhoid. 3.

Chancre. jantung dan sirosis hati. yaitu keadaan yang sebaliknya dari infantilisme. Penis yang besar dan disertai dengan pertumbuhan pubes yang seharusnya tidak terjadi pada umurnya. yaitu penis yang sangat kecil. 8. Selalu ada sekresi yang purulen di daerah corona. Keadaan yang berat yaitu bila terjadi paraphimosis dimana preputium tertarik melalui glans penis dan menjepit corona penis. Disamping adanya perubahan-perubahan bentuk. Massa yang hasil transiluminasinya positif didapati pada hidrokel dan spermatokel. 7. 6. Kondiloma akuminata. 9. Oedema penis. 10. Keadaan ini disebabkan oleh hiperadrenalisme. Misalnya terdapat pada sindroma Frohlich. 4. seperti center kecil. Keadaan ini disebabkan oleh hiperadrenalisme.4. Scabies. lesi primer sifilis. Sebab yang paling sering adalah gonorea. Mukosa dari glans penis membengkak dan kemerah-merahan. Infantilisme. bisa karena penyakit ginjal. Bisa congenital. 2. Hermafroditisme. Pemeriksaan lebih dikerjakan di kamar gelap. Polip dan lain-lain. 5. Balanitis. 3. Virilisme. adanya exudat yang purulen pada meatus. . radang dan sebagai komplikasi chancroid dan gonorea. penis juga dapat mengalami kelainankelainan lain : 1. yang ditandai juga dengan tidak adanya pubes. Phimosis yaitu preputium tidak bisa ditarik melewati glans penis. 2. Elephantiasis penis dan scrotum. 4. Pada pengamatan bentuk penis dapat dilihat keadaan-keadaan sbb : 1. Granuloma inguinale. Terdapat kedua jenis kelamin. Ureteritis yang selalu disebabkan gonorea. Chancroid. selalu disebabkan oleh hipopituitarisme. merupakan penyakit kelamin yang sering sesudah gonorea dan lues. yaitu radang dari glans penis. Chancroid merupakan ulkus di penis yang disebabkan oleh Ducrey bacillus. 3. Herpes. Pemeriksaan transiluminasi scrotum : Sumber cahaya harus yang terang.

Hipertrofi dari clitoris dengan tendensi untuk maskulinisasi. Inspeksi : 1. 6. dan lain-lain. kemudian periksa kelenjar prostat. 5. bisa berdiri ataupun posisi lutut-dada (knee chest). Oedema vulva dengan sebab yang sama dengan laki-laki. 12. Lipoma pada labia majora dan kista sebasea. 3. Hernia inguinalis merupakan suatu pembengkakan pada satu atau kedua labia majora dan kadang-kadang kantong peritoneal kistik dan hidrokel dalam kanalis Nuch. Melanoma 9. dan mobilitas. Tumor testis. Dan keadaan-keadaan lain seperti hidrokel. Varikokel adalah dilatasi dan pengisian dari vena-vena plexus pampiniformis. 15. Harus dijelaskan prosedur pemeriksaan kepada penderita. Oleskan pelumas pada anus dengan jari telunjuk yang bersarung karet. 13. Infantilisme dapat juga terjadi pada wanita. Dengan menekankan jari tangan secara hati-hati dapat melemaskan sfingter ani. Carcinoma penis. Palpasi pada pemeriksaan alat kelamin wanita adalah dengan periksa dalam (vaginal toucher). Elephantiasis dari labia dan clitoris. 4. hematokel. kesimetrisan. . Pada inspeksi biasa. juga dapat diinspeksi menggunakan speculum. PEMERIKSAAN PROSTAT Palpasi prostat dapat dilakukan pada posisi berbaring miring menghadap pemeriksa. 2. 14. nyeri tekan. Yang diperiksa adalah konsistensi. 7. Leukoplakia dan kondilomata yang mirip kutil. Oedema vulva ter. Periksalah seluruh sirkumferensia dinding rectum. 8. Testis yang tidak turun (undescended testicles). Herpes 10.11. PEMERIKSAAN ALAT KELAMIN WANITA Pemeriksaan alat kelamin wanita agak berbeda sedikit dari pemeriksaan alat kelamin laki-laki.

Sifilis 17. Lomfogranula venerum oleh virus. Air merupakan bahan pelican yang disukai oleh karena tidak mengganggu bila dibuat sediaan Papanicolou. 13. Erysipelas. lipa paha dan rectum.11. genitalia kelihatan merah dan bengkak disertai perasaan berdenyut dan terbakar di daerah tersebut. wanita hamil dan pemakai obat kontrasepsi oral. Jika penderita mengedan ke bawah cervix terlihat pada introitus disebut prolapsus atau prosidensia uterus. vaginitis monilia. vaginitis trikomonas. yang kalau penderita batuk air kemih bisa keluar. Kondiloma akuminata 18. Choriocarsinoma juga dapat mengenai vagina. Sebelum memakai speculum. mula-mula sebagai papula kecil yang akan menjadi ulkus yang dapat menyerang vulva. 16. 15. Sebelumnya dilakukan dulu vaginal toucher sampai tepat di belakang hymen dan tekan hati-hati ke bawah. speculum harus dibasahi dulu dengan air hangat. Pasien diatur sedemikian serupa sehingga inspeksi dapat dilakukan dengan cepat dan mudah. peradangan yang meluas dengan cepat disertai demam dan menggigil. Pedikulosis pubis dan scabies menyebabkan papula-papula kecil berwarna merah yang khas. Granuloma inguinale menyebabkan lesi papuler yang dapat mengalami ulserasi dan meluas ke lipat paha. Lesi-lesi pada mukosa vagina seperti endometriosis. Ca sekunder (metastase) sebagai perluasan dari Ca servix. dan likhen sklerosis et atropikans. Warna epitel vagina normal berubah-berubah sesuai dengan fase siklus haid. 12. Pruritus vulvae dapat terjadi pada vaginitis monilia. maka pemeriksaan vagina berikut cervix uteri boleh dilakukan dengan speculum. Pemeriksaan dengan speculum : Apabila dipandang perlu. kecuali pada perawan. atau detached urethra. Moniliasis sering ditemukan pada wanita yang menderita diabetes. Penonjolan dinding belakang vagina disebut rektokel dan kalau dinding depan yang menonjol disebut sistokel. Sarcoma primer terutama pada anak-anak disebut sarcoma batrioldes. Ca primer vagina. . Pada saat yang sama suruh penderita mengedan. 14. lekoplakia. Perhatikan sejauh mana urethra dan dinding belakang vagina menonjol dan apakah cervix dapat dilihat. vaginitis trikomonas. Prolapsus urethra disebut ureterokel. Karsinoma vulva.

bernanah. dimana umumnya penderita datang oleh karena orang . Bisa dijumpai kelainan lain seperti endometriosis. Akan tetapi pada kebanyakan pria tidak mempunyai kumis dan jenggot yang tebal rambut pubesnya terbatas hanya pada daerah pubis saja seperti halnya dengan pada wanita. yang merupakan kanker ginekologik yang sering ditemukan. dll. posisinya. Keluhan-keluhan tersebut bisa timbul oleh karena stenosis meatus externa urethra. dan iregularitasnya. PEMERIKSAAN ALAT KELAMIN INFEKSI KELAMIN Rambut pubes Rambut pubes pada pria tumbuh di daerah pubus dan bisa meluas sampai mendekati umbilikus. Sebaiknya pada anak-anak yang belum dewasa bisa juga didapati rambut pubes beserta alat kelamin yang sudah dewasa. Dapat diketahui tentang besarnya cervix. Penis Infeksi lubang urethra merupakan suatu keharusan pada tiap kasus dengan kelainan retensio urin. Polip cervix merupakan penonjolan yang berbentuk seperti lidah keluar dari ostium externum. dan adanya nyeri tekan. Palpasi : Pemeriksaan ini dilakukan dengan vaginal toucher yaitu dengan memasukkan jari telunjuk dan jari tengah pelan-pelan kedalam vagina. konsistensinya. eneuresis. dan Ca sel skuamosa cervix. Sekresi bergantung pada siklus haid. Pada Sindroma Froblich (lesi di hypothalamus atau hipofise) genitalia akan tetap kecil dan rambut pubes tidak tumbuh. varikokel. Lesi yang sering dijumpai pada cervix adalah erosion cervix. mobilitas. Adrenalis (sindroma adregenital). dll. lekoplakia. dan berwarna kuning. disamping adenokarsinoma cervix. Kelainan bawaan yang lain adalah hypospadia. dan dysuria. rektokel. besarnya. ulserasi. Juga untuk mengetahui tentang fornices dan rectum apakah ada metastase. Kemudian dengan tangan kiri abdomen ditekan ke bawah. Dengan pemeriksaan ini dapat diketahui tentang dinding vagina. konfigurasi ostium externum dan warna epitel biasanya berwarna pucat. peradangan yang mencolok disertai dengan secret yang kental.Perhatikan bentuk cervix. pergerakannya. Gejala ini lebih sering dijumpai pada anak-anak perempuan dibandingkan dengan anakank laki-laki dan hal ini menunjukkan kepada adanya tumor cortex gl. Cervicitis gonoroika. jenis sekresi pada ostium externum. Demikian juga dapat diketahui tentang letak dari uterus. Kelainan bawaan ini sering kali berhubungan dengan phimosis.

Dysuria yang umumnya dianggap keluhan dari urethritis dan cystitis. dilatasi dab bertambahnya vena-vena. Gonorrhoe adalah penyakit yang sering menyebabkan urethritis. Scrotum testis Pada infeksi dapat diketahui pembengkakan. Pemeriksaan skrotum dilakukan apabila ada keluhan nyeri di skrotum. sebagai kelanjutannya dapat berkembang abscess periurethral yang akhirnya menimbulkan fistel. Apabila tidak disertai kencing nanah pada umumnya disebabkan komplikasi cystitis. misalnya oleh tumor colon atau sigmoid ataupun di vena iliaka. Terutama pada penyakit demam dengan gejala exanthema akut. Tidak sering pula dijumpai penderita dengan keluhan bahwa kulit depannya bengkak oleh karena ereksi penis yang terlalu lama (priapismus) sehingga preputium tertarik. Skrotum yang mengandung varicocele kedudukannya lebih rendah dan relief. Skrotum membesar ipsilateral menandakan adanya sumbatan pada aliran vena. Pada kulit skrotum dapat juga ditemukan varises. Hal ini lebih jelas jika kta mengadakan palpasi. Nyeri dan pembengkakan beserta gejala kemerah-merahan pada kulit skrotum yang timbul secara akut adalah gejala dari urethritis posterior akibat infeksi gonococcus. pembengkakan pada skrotum atau adanya luka. Kelainan preputium umumnya adalah phimosis dan paraphimosis. perubahan warna kulit dan penebalan atau atropi kulit skrotum. bisa juga dijumpai pada ulserasi meatus externa urethrae. granuloma inguinale. dan lain-lain. carcinoma. Apabila skrotum longgar relief testis dapat dilihat. . pemeriksaan skrotum dan testis harus dilakukan dengan cermat. Demikian juga dengan epispadi. vena dapat dilihat seperti sejumlah cacing berada di skrotum. lymphogranuloma venereum. cebaceous cyst.tuanya khawatir mengenai bentuk penis dan preputiumnya yang tidak wajar. Orchitis adalah radang yang mengenai testis dapat disebabkan oieh infeksi dari gonorrhea ataupun infeksi lainnya dan bila dibiarkan dapat menyebabkan atropi dari testis. Radang dari glans penis (Balanitis) sering berhubungan dengan adanya iritasi local. Luka ini sering dijumpai pada orang-orang yang disunat dan dapat menyebabkan stenosis. Membengkaknya testis sering berhubung dengan penyakit parotitis epidemika. Varikokel yaitu plexus vena sekitar testis yang longgar umumnya mudah dikenal dengan inspeksi saja. Nyeri pada skrotum dapat juga diartikan adanya nyeri pada testis. Pada penis ini perlu juga diperhatikan adanya chancroid.

Adanya peradangan dapat dilihat dengan pertolongan penyinaran dengan lampu. meruncing. Apabila penderita tidak gemuk maka posisi ini dapat terlihat dengan mudah clitoris. dan low back pain untuk memeriksa meatus urethrae externa. Apabila terdapat penggembungan daerah dinding anterior terutama sewaktu mengedan kemungkinan adanya cystocele. pertumbuhan jaringan. Cervix. Sebaiknya posisi penderita sedemikian rupa sehingga inspeksi dapat dilakukan dengan cepat dan mudah. Kemungkinan lain dengan keluhan tersebut adalah prolaps urethra yang sering pada orang tua. leukoplakia. Palpasi . Lutut penderita satu dengan yang lain hendaknya ditempatkan berjauhan sejauh mungkin.Pola vena pada skrotum lebih jelas tampaknya apabila skrotum membengkak oleh karena adanya hydrocele dapat ditentukan lebih pasti dengan transiluminasasi. inflamasi. Clitoris dapat membesar secara tidak wajar pada sindroma hyperplasia glandula adrenalis. dan secara kasar seperti ibu jari dengan axis memanjang dan kebelakang. Inspeksi alat kelamin wanita : Dalam rangka pemeriksaan klinis umum inspeksi kelamin wanita dilakukan terhadap introitus dan labia saja. Apabila dipandang perlu dan si pemeriksa mempunyai speculum maka pemeriksaan vagina berikut cervix uteri boleh dilakukan jika penderita bukan seorang gadis. Juga dikenal pembesaran lainnya oleh karena tumor (lihat gambar). perubahan warna. meatus urethrae. lacerasi. Meatus urethra externa yang penting disini adanya keluhan disuria yang merupakan keluhan utama adanya urethritis yang dapat disebabkan oleh gonorrhea yang menimbulkan nanah pada meatus urethrae externa. Dengan membuka labia dapatlah dilakukan inspeksi dengan jelas dalam hal ini peril diperhatikan adanya pembengkakan. polip. Pembesaran skrotum dapat terjadi oleh karena hernia inguinalis yang turun ke dalam skrotum. normal bervariasi dan besarnya tergantung dari umur dan melahirkan. Apabila dinding posterior yang menggembung kemungkinan adanya rectocele. Pada tria disuria. dan labia. Pada inspeksi didapat kelainan seperti perdarahan. Dapat terjadi chancre atau condylomata sekitar labia yang merupakan manifestasi syphilis stadium dua. dan lain-lain. urethreocele pada orang tua yang telah banyak melahirkan yang dapat didiagnosa dengan pertolongan palpsi. perdarahan. Normal terlihat silindikal. vulva. polakisuria. Juga dengan jalan palpasi hydrocele dapat dipastikan dengan mudah. labia dan introitus. introitus. Cairan yang berada dari introitus dapat ditinjau warna dan viscositas kalau perlu pemeriksaan mikrobilologis dan sitologi. dan carcinoma.

Rasa sakit ini selalu berupa serangan yang dapat disertai rasa mual. Cervix. Dengan pemeriksaan ini dapat diketahui dinding vagina. ulcerasi. mobilitas apakah ada irregularitas/noduler. gangguan miksi. rectum. mual dan muntah serta rasa gatal dikulit. perubahan jumlah dan bentuk urine. untuk ini diperhatikan letak. skrotum/labia dan tungkai atas. Sakit kepala terutama didaerah tengkuk dapat pula dijumpai pada penderita dengan hipertensi. .Dalam hal ini diperlukan pemeriksaan dalam (vaginal toucher) dengan memasukkan telunjuk dan jari tengah pelan-pelan pada daerah vagina. menjalar keperut bagian bawah. pada sudut antara iga 12 dengan vertebra (sudut costovertebral). anoreksia. muntah dan banyak keringat. dan lain-lain. sela paha. adanya varicocele. nyeri tekan. rectocele. adanya konsistensi. Di antara serangan masih dirasakan berat di daerah pinggang. BAB X PEMERIKSAAN PENYAKIT GINJAL DAN SALURAN KEMIH SERTA PEMERIKSAAN PENDERITA HIPERTENSI 1. Gerakan tubuh akan memperberat rasa sakit. lesu.  Keluhan umum dapat berupa lemah. Fornix. Badan uterus. Kemudian dengan tangan kiri daerah abdomen ditekan ke bawah. Kolik ginjal ditandai dengan rasa nyeri yang selalu di mulai didaerah lumbal. apakah ada metastase dan lain-lain. besar. dehidrasi ataupun sembab baik dimuka ataupun juga dikaki dan diperut. rasa sakit. Keluhan utama pada umumnya akan terdiri dari keluhan umum. lekas merasa capek.  Rasa sakit didaerah pinggang dapat dikeluhkan pada keadaan perbendungan urine. Rasa sakit ini di daerah supra pubik atau urethra dapat terjadi peradangan kandung kemih ataupun urethra seperti pada pengeluaran pus darah ataupun batu. Gejala ini sering pula diikuti diare. besarnya pergerakan. ANAMNESIS A.

penyakit veneris. dll. Riwayat penyakit keluarga Perlu diketahui apakah dari anggota keluarga ada yang mengalami penyakit seperti yang diderita ini atau penyakit yang lain seperti tuberculosis. B. jumlah urin mencapai 2 liter atau lebih /24 jam. Keadaan ini disebut stranguria yang sering dijumpai pada sistitis maupun urethritis. berwarna putih seperti pus. gesek perikard Paru : edema paru. Telapak tangan kiri diletakkan dibawah pinggang dengan ujung jari pada pinggir arcus costae. sering mendesak untuk miksi ataupun nokturia. putih seperti susu. pyuria. Perubahan bentuk urin dapat berupa hematuria. batu saluran kemih. mata merah : tekanan vena jugularis : jantung : pembesaran. muka : anemi. urin yang berwarna merah. pirai. basis paru ataupun yang meluas. Riwayat penyakit dahulu Penting sekali untuk diketahui adanya riwayat hematuria. Kadangkadang rasa sakit ini timbul sewaktu. Kepala Mata Leher Thorax : edema kelopak mata. yang menetes-netes dan sering seperti rasa terbakar. dan glans penis. perineum.   Gangguan miksi dapat berupa perubahan frekuensi seperti polikisuria. maupun chyluria. 2. Pemeriksaan fisik Diadakan pemeriksaan fisik secara sistematis dan menyeluruh untuk menghindari luputnya tanda-tanda yang penting untuk diagnosa. ronki basah. tanda-tanda payah jantung kiri. pancaran urin dapat melemah sampai menetes-netes pada orang tua dengan hipertrofi prostat ataupun striktura uretra. C. Penderita diminta bernafas dalam dan dilakukan sedikit tekanan dengan kedua belah tangan pada akhir inspirasi ginjal yang dapat teraba akan memberikan rasa massa yang agak bulat dengan konsistensi padat diantara kedua tangan dengan bimanual dan teraba ‘ballotement’. Inkontinensia urin berarti miksi yang tidak dapat ditahan keluarnya atau seakan akan tidak disadari keluarnya. . Disuria berarti miksi yang nyeri. keluar batu. dll. Perubahan jumlah urin dapat berupa polisuria.Rasa sakit ini menjalar ke bawah abdomen. baik pada awal. kolik. Pemeriksa berdiri disebelah kanan penderita. selama ataupun pada akhir miksi. sering harus bangun dari tidur malam untuk miksi melebihi 3x. pernah mengalami katerisasi atau operasi. oliguria kurang dari 400ml/24 jam ataupun anuria kurang dari 200ml/24jam. Abdomen : palpasi ginjal : penderita berbaring terlentang dengan satu bantal.

Batas pinggir dikonfirmasi dengan perkusi. Fungsi seksual h. Pemakaian obat yang dapat menaikan tekanan simpatomimetik. Pembesaran ini harus dibedakan dari uterus ataupun kista ovarium. Lamanya hipertensi: Bilakah diketahui terkahir tekanan darah normal. Memeriksa ascites. c. darah seperti estrogen. Juga dinilai reflex berserta tanda-tanda neurologis lainnya seperti neuropati. steroid ataupun banyak makan garam.diabetes dan gout.dispneu ataupun claudicatio g.dll. Pemeriksaan rectal : dengan jari bersarung tangan melalui dubur Pemeriksaan prostat : edema retromalleolar dan pretibial dan atau dorsum pedis.Palpasi kandung kemih : secara bimanual diatas simfisi pubis teraba mass yang bulat/pyriformis kadang-kadang sampai ke umbilikus.tremor atau nyeri pinggang. Tanda apnoe sewaktu tidur (sleep apneu) seperti tidur gelisah .pagi –pagi nyeri kepala. kepatuhan berobat dan memakan obat. e. efek samping obat. b. d.serangan jantung ataupun mati mendadak pada usi relative muda ataupun penyakit keluarga seperti pheochromocytomo. ANAMNESIS Pada dasarnya adalah tanpa keluhan kecuali yang sudah melibatkan organ sasaran. bagaimana penjalanan klinik hipertensi selama ini. II. . Gejala-gejala dari penyakit primer pada hipertensi sekunder seperti otot lemah serangan takikardi .penyakit ginjal. Untuk itu anamnesis yang lengkap meliputi hal-hal berikut : a. f. Riwayat keluarga:hipertensi . Pengobatan hipertensi terdahulu : Jenis obat dan takaran.banyak berkeringat .mengantuk pada siang hari dan riwayat dengkur yang keras.nyeri dada .kelayujan ataupun buta temporer .ketajaman pandang berkurang . Gejala keterlibatan organ seperti pening . kejang-kejang otot. PEMERIKSAAN PENDERITA HIPERTENSI 1.

pemeriksaan fisik Pemeriksaan juga harus dilakukan secara sistematis dan menyeluruh.kelemahan otot.perubahan ini dibagi menurut Keith dan Waegner sbb: Keith –Waegener (KW1) :arteriola lebih menebal.reflex anggota gerak. Auskultasi : bruit dikiri dan kanan atas umbilikus Punggung :nyeri tekan /ketok di daerah sudut costovetebra Ekstremitas :edema pretibial/retromalleolar.dilipat paha a.kandung kemih. Pemeriksaan fundus (funduscopy ) ini adalah untuk melihat sejauh mana sudah pengaruh hipertensi kepada arteriola dengan melihat perubahan2 di pembuluh darah retina yang dapat dilihat melalui celah pupil mata dengan alat ophtalmoscop.paralisa. moon face Mata : pemeriksaan fundus Leher :tekanan vena jugularis . Ditempat lain arteriol dapat sedemikian kecil sehingga daoat menyerupai KAWAT PERAK ATAU PERUNGGU.ascites Palpasi ginjal .femoralis.lumen lebih sempit dan ada ‘crossing phenomenon’yaitu pada persilanagn arteriol dan venule terjadi penekan vena sehingga dapat seperti menghilang.suara tambahan Paru – krepitasi .) KWIV :sepeti KWIIItetapi lebih luas dan berat disertai demam dari optic disc KW I dan II dihubungkan dengan hipertensi jinak (BENIGNA HIPERTENSION) sedang pada KWII dan KWIV merupakan tanda hipertensi ganas (MALIGNA HYPERTENSION) .ronki basah basal Abdomen :striae Hepatomegali.dan denyut nadi a.struma Thorax : jantung – pembesaran. Nadi perifer : perlu diperiksa apakah denyut nadi perifer simetris yaitu dipergelangan tanagn .reflex cahaya menguat dan lumen menyempit KW2: arteriola lebih menebal .(silver wire dan copper wire) KW3: Seperti KWII dengan lumen lebih sempit dan ada cotton wool exudat setra pendrahan sepanjang sisi arteriol yang mnyerupai nyala api (flamed shaped hemorrhage.2.dorsum pedis. Kepala : sembab pada mata.

Tehnik pengukuran tekanan darah Sangat penting mengukur tekanan darah dengan tehnik yang baik karena pengukuran yang salah akan dapat memberi kesan keliru tentang penyakit dan dapat megakibatkan pengobata yang kurang tepat .panjang manset harus dapat mengelilingi lengan atas sekurang2nya 2/3nya dengan batas bawah 2 cm diatas fossa cubiti. . untuk orang dewasa yang besar badannya 15-16cm x 33cm . ukuran standar manset karet ini biasanya 12-13cm dengan panjang 23cm.5cm . tekanan diastolik tidak dapat teraba. Kemudian air raksa diturun 2-3cm /detik sampai teraba lagi nadi.sebelum secar auskultasi sebaiknya dengan palpasi lebih dulu.malah bila perlu oleh orang lain Penderita = posisi biasanya berbaring atau duduk tapi sering pula diukur waktu berdiri = lengan harus setinggi jantung = pada posisi duduk lengan harus ditopang supaya santai Alat = sphygmomanometer harus bersih sehingga permukaan air raksa dapat dibaca = air raksa dapat dibaca = letak manometer harus vertical = dipasang dengan batas bwh 2cm diatas lipatan siku = bagian berkaret disebelah medial Cara mengukur -auskultasi atau palpasi .tekanan darah biasanya diukur secara tidak langsung dengan sebuah sphygmomanometer yang dihubungkan dengan lengan atas dengan sebuah manset karet . Beberapa petunjuk tehnik : Pengukuran = pendengaran harus baik = mata setentang manometer = harus diulang beberapa kali. Bila manset terlalu kecil maka pengukuran dapat lebih tinggi dari sebenarnya. sedang bila terlalu besar menjadi lebih rendah.anak 1-4 tahun 5cm dan 4-8 tahun 9cm dengan panjang yang dapat melingkari lengan atas. ini adalah tekanan sistolik. -dipompa dengan cepat sampai denytu nadi tak teraba dan selanjutnya tingggi air raksa dinaikkan sampai 30cm diatasnya. Untuk bayi ukuran yang dipakai adalah 2.sedang untuk paha 18cm x36cm .

Pengukuran tekanan darah ditungkai dilakukan atas indikasi : -denyut nadi a.sedang pada anak biasanya pada korotkoff 4.-air raksa diturunkan sampai nol kemudian dinaikkan lagi seperti semula dan dilakukan auskultasi. Maka tekanan diastolik pada korotkoff 4.pada keadaaan tertentu pada orang dewasa korotkoff 5 sukar ditentukan seperti pada kehamian.radialis tak teraba atau lemah -denyut a.hipertiroid dll.ini tekanan sistolik selanjutnya intensitas suara beransur meningkat.usialanjut .pada penurunan didengar suara Korotkoff yang terdiri dari 5 fase: Korotkoff 1 : keras berupa ketokan. Caranya adalah dengan berbaring bila mungkin telungkup dan kaki ditekuk sedikit.tekanan sistolik diperoleh 10-40mmHg lebih tinggi dari yang di lengan. Korotkoff 2 :suara seperti mendesah atau mendesir Korotkoff 3: intensitas suara semakin menigkat Korotkoff 4 : Tiba-tiba suara melemah Korotkoff 5 : suara hilang Tekanan diastolik ditetapkan pada korotkoff 5 pada orang dewasa . Stetoskop diletakkan pada fossa poplitea. Pda aritmia jantung tekanan diastolik ditetapkan dri beberapa pengukuran dan diambil rata-rata dari korotkoff 4 dan 5 .radialis lebih cepat atau kuat dari arteri femoralis. BAB XI SISTEM SKELETAL (RANGKA) System skeletal adalah satu system yang bukan hanya sebai penyokong tubuh dan melindungi oragan2 vital tetapi juga untuk terlaksananya pergerakan yang lebih luas dari sendi2 sumbu rangka dan anggota gerak .

sedangkan perkusi maupun auskultasi hanya sedikit kegunaannya. Inspeksi ii.Lengkungan (curvature) di bagian leher cekung kea rah dorsal.pemeriksaan tulang belakang Cara pemeriksaan disini adalah sederhana tetapi mempunyai arti yang penting sebab seringkali kelainan tulng belakang ini menimbulkan gejala dibagian lain dari tubuh yang kadang-kadang hubungannya tidak terfikirkan.thoraks. di bagian thorak cekung kea rah frontal dan di bagian lumbal cekung kea rah dorsal.pelvis 3. Inspeksi Pemeriksaan inspeksi tulang belakang dapat dilakukan dari arah belakang dan samping penderita.perlu diperhatikan agar melakukan pemeriksaa tulang belakang yang lebih teliti .pemeriksaan tulang belakang 2. sedangkan dari arah samping akan terlihat: .nyeri pada tungkai bawah dan nyeri pada tulang belakang 2.Didalam klinis pemeriksaan terhadap system ini meliputi pemeriksaan : 1. antara lain untuk mengetahui adanya krepitasi sewaktu pergerakan sendi atau pun pada patah (fracture) tulang . Adanya deformitas pada leher . Palpasi iii. Adanya gangguan kencing 4.pemeriksaan anggota gerak Cara pemeriksaan yang memegang peranana untuk system skeletal in iadalah insperksi dan palpasi. Sewaktu pemeriksaan inspeksi. Bila tulang belakang sehat.Tampak penonjolan tulang vertebra servikalis keVII yang jelas di bagian belakang dan bawah leher. 1. Adanya kelemahan pada kedua tungkai Untuk pemeriksaan tulang belakang dilakukan dengan cara : i.bila ditemukan keluhan2 penderita seperti: 1. Adanya nyeri radikuler . Menguji gerakan (mobilitas) I.nyeri leher bila bergerak nyeri disela iga. . maka dari arah belakang terlihat susunan tulang tersebut akan membentuk garis lurus di bagian tubuh. perhatian ditujukan terhadap: - Kelainan-kelainan curvature tulang belakang Penyimpangan tulang belakang .

Deformitas tulang belakang servikalis antara lain: 1. Deformitas tulang belakang servikalis b. Pada keadaan ini penonjolan tersebut hampir tidak kelihatan karena masih kecil. Deformitas tulang belakang thorakalis antara lain: 1. Gibus angularis yaitu ditemukannya penonjolan yang tajam pada garis prosesus spinosus disebabkan nipisnya bagian anterior corpus vertebralis setempat.- Penonjolan2 sepanjang tulang belakang Kelainan2 lain pada daerah sekitar tulang belakang dan kulit yang menutupi tulang belakang Secara sederhana dengan inspeksi dapat terlihat adanya kelainan: a. yaitu keadaan dimana leher berputar dan miring kea rah satu sisi secara menetap.yaitu tergelincirnya salah satu ruas tulang belakang tersebut terhadap yang lainnya. parestesia ridiculer. Gibus arkuatus (bongkok / spondilitis ankilopoeitika/spondilitis deformans) yaitu suatu bentuk deformitas tulang belakang yang ditemukan pada usia lanjut dengan motilitas/pergerakan yanag terbatas. Lordasi servikalis yaitu pendataran cekungan servikalis yang bisa dijumpai pada keadaan hernia nucleus pulposus servikalis dengan keluhan pada leher yang menjalar ke lengan . leher berputar secara menetap dan diikuti hemiatrofi facialis. 3.Tortikalis ini ada 2 jenis yaitu: organic dan psikomatik Organik tortikalis.sternokleidomastoideus dan m.Bila keadaan ini terjadi lebih tinggi dengan melibatkan medulla oblongata maka akan terjadi kematian mendadak.Hal ini bisa disebabkan oleh trauma yang disebut whiplash lesion yang diikuti gangguan persarafan yaitu terjadinya tetraplegia. Psikomatik tortikalis (spasmodic tortikalis) yaitu spasme klonis m. Gibus yang kecil ini bisa ditemukan pada penderita dengan keluhan nyeri intercostals sewaktu batuk dan napas dalam serta rasa pegal dan kaku tulang belakang setempat. 2. Miskolasi .Keadaan ini ditemukan pada spondilitis tuberculosis thorakalis.trapezius oleh karena gangguan psikomatik dimana leher akan lurus kembali dan curvature menjadi normal bila kepala dibantu menegakkannya dengan tangan. Deformitas tulang belakang lumbalis A. . Tortikalis. Deformitas tulang belakang thorakalis c. pergerakan leher yang terbatas dan curvature servikalis abnormal. Penonjolan yang kecil ini haruslah dapat ditemukan dengan pengobatan selanjutnya diharapkan proses lanjutan dapat dihindarkan. nyeri seperti kena aliran listrik di lengan kalau di kepala ditengadahkan ataupun dianggukan (lhermitte sign) B. 2.

Kiposkoliosis thorakalis . Skoliosis tulang vertebra torakalis sering mempunyai arti kelainan organic. Kelainan ini bisa berupa: . 2. Whiplash lesion maupun pada HNP (hernia nuklie pulposis).Spina bifida sistika yang merupakan satu tumor tulang belakang yang terdiri daripada selaput medulla spinalis yang berisi cairan cerebrospinalis. Palpasi dan perkusi Pemeriksaan Palpasi tulang belakang Dapat dilakukan dengan menekan jari telunjuk pada prosesus spinosus di leher di atas dan menggesernya kearah bawah. sternokleidomastoideus. Lordosis lumbalis yang berlebihan. Untuk mengetahui tempat nyeri tekanan yang lebih . 3. Kelainan organic yang dapat mengakibatkan kelainan ini antara lain. trapezeus.Spina bifida okulta yang bisa ditemukan pada anak-anak yang lebih besar. skalenus. C. Pada pemeriksaan ini bisa ditemukan kelainan2 seperti : . distrofia muskulorum progressive. 5.3. teratoma sakrocigis. Dengan cara ini dapat ditentukan ketidakrataan pada garis yang dibentuk garis spinosus yaitu penonjolan2 dan lekukan yang hampir sama besar. spondilitis ankilopoetika. Lordosis lumbalis yang mendatar biasanya terjadi pada hernia nucleus pulposus . biasanya congenital meskipun bisa juga disebabkan poliomyelitis dengan kelumpuhan sejak kanak-kanak. Skoliosis ini umumnya disertai lordosis lumbalia yang mendatar.Adanya rasa nyeri setempat dengan spasme & kekejangan otot-otot paravertebralis seperti mm. Skoliosis lumbalis yaitu terjadinya pembengkokan susunan tulang belakang daerah lumbal berbentuk garis cekung (congkak) ke satu sisi sehingga tidak lagi lurus di garis tengah. koksitis. Deformitas tulang belakang lumbalis 1. . Spasme otot-otot ini bisa terjadi pada kompresi fraktur. Spina bifida pada anak-anak. 4. wanita hamil dan bentuk pelvis yang normal. salah satu tungkai lebih pendek. dan kelainan kulit lainnya. . bisa ditemukan pada penderita dengan tendon Achilles yang pendek. Kelainan yang lain bisa terlihat seperti kista dermoid. dan kadang-kadang disertai Torticolis Kepekaan perabaan akan lebih teliti bila mata dipejamkan sehingga otot yang spasme bila dikenali. 4. fraktur lamina.Adanya gibus yang runcing di mana akan teraba penojolan yang tidak bulat tetapi runcing dan cekungannya tidak securam yang normal. sebab skoliosis biasanya dijumpai pada tulang belakang bagian lumbal. II. penderita dengan bekas operasi thorakoplastik atau pneumektomi dan deformitas pada pelvis.

fraktur .Dan kalau penderita menunjuk dengan ragu-ragu dan menunjuk tidak pada satu tempat yang sama untuk beberapa kali menunjukkan dapatlah dikatakan bahawa kelainan organic tidak ada (jelas). Bila penderita benar mengalami kelainan orgamnik. jarak proc spinosus akan bertambah dekat dengan sudut yang terbentuk 30°. maka curvature servikalis akan hilang ( mendatar) bila ekstensi dan bila fleksi lordosis servikalis( curvature) akan bertambah. maka ia akan dapat menunjukkan dengan tepat lokasi rasa sakit tersebut seperti pada HNP.Kedua gerakan ini akan membentuk sudut ± 45° dengan garis horizontal yang melalui bahu. dapat dilakukan gerakan ekstensi (mengangguk) dan ektensi( menengadah). Bila terjadi rasa sakit ataupun gerakan yang terbatas ini menunjukan adanya proses patologis di daerah leher (cervicalis). sedangkan gerakan kepala yang berputar (rotation) terhadap sendi tulang belang cervicalis akan membentuk pula sudut lateroanteriorkiri dan kanan sekitar masing-masing ±60°. yang akan membentuk sudut ± 45° ke masing-masing arah.tepat bisa dilakukan “test menunjuk” yaitu meminta penderita untuk menunjukkan dengan jarinya tempat yang sakit. gangguan pada sendi sacroiliac. Pada keadaan maksimal maka akan terbentuk sudut antara tulang belakang lumbalis dengan garis vertical melalui sacrum sekitar 80° sedangkan pada aktu membungkuk ke belakang. . penderita disuruh membungkuk ke depan sehingga jarak antara processus spinosus akan bertambah jauh. Menguji mobilitas tulang belakang bagian servikal Untuk pemeriksaan di daerah ini. Dengan kedua cara ini. Pemeriksaan berikut adalah: gerakan kepala ke samping (lateral) ke kiri dan ke kanan terhadap garis horizontal. Pemeriksaan perkusi tulang belakang Cara ini dapat dilakukan dengan mengetukkan jari pada hujung prosesus spinosus yang pada keadaan normal tidak akan terjadi rasa sakit. Menguji gerakan (mobilitas) a. peradangan TBC. Foto b. Menguji mobilitas tulang belakang bagian thoraks dan lumbal Untuk pemeriksaan daerah ini.Sedangkan bila ada suatu proses patoligik setentang dengan prosesus yang diketok maka akan timbul rasa sakit seperti pada HNP. tumor dalam kanalis vertebralis dll. III.

Pembatasan gerakan ini pada akhirnya akan menimbulkan fiksasi seperti pada HNP. infeksi streptococcus dan alergi obat-obatan. uremia dll. Pada keadaan patologis. Inspeksi kulit anggota gerak Pada pemeriksaan kulit anggota gerak dapat ditimbulkan kelainan2 berupa: Ikterus (jaundice) pada kulit. endokarditis bakterialis akut/subakut. . (Gbr II). Ini bisa manifestasi penyakit sarcoidosis. tbc. Palpasi III. gangguan fungsi hati. Palmar erythema dan thear yang menunjukkan suatu penyakit hati kronis. Menguji pergerakan. leukemia. allergi obat. Pemeriksaan Anggota gerak Dalam pemeriksaan anggota gerak ini dapat dilakukan dengan cara: I. dapat terjadi kiposis dari bawah leher sampai sacrum penderita akan bungkuk dan ini dijumpai pada spondilitis ankilopeitika. osteoporosis dan spondilitis tbc. infeksi virus. b. maka akan terjadi pembatasan pergerakan dan menimbulkan rasa sakit sekitar tulang belakang. Bila penderita memiringkan badan kea rah lateral kiri dan kanan maka normal akan terbentuk sudut ±30°. Inspeksi bentuk anggota gerak ( bagian anggota-anggota gerak) a. 2. Inspeksi kulit anggota gerak. Purpura dan petekie yaitu berupa perdarahan2 kecil dibawah kulit yang menunjukkan gejala gangguan pembekuan darah. Inspeksi II. sensibilitas dan pemeriksaan reflex akan diuraikan dalam bab berikut: I. Pada keadaan terjadi fiksasi pada seluruh tulang vertebra. - - Inspeksi Pada inspeksi anggota gerak ini meliputi: a. fraktur /proses osteolytik. Cyanosis yaitu warna biru pada kulit/ujung-ujung jari yang menunjukkanadanya gangguan vaskuler atau penyakit kardio-pulmonal. jarak proc spinosus (sesamanya) akan bertambah dekat dengan sudut yang terbentuk ±30°.Foto Pada waktu membungkuk ke belakang. Erythema nodosum yaitu bercak merah yang agak tebal dan sedikit meninggi dari kulit serta agak nyeri. kekuatan dan koorinasi otot Untuk menguji koordinasi otot.

- Bercak merah-coklat. c. kuku tidak rata dan ada cekungan melintang berwarna putih (mati) biasanya disebabkan infeksi jamur setempat. b. luka pada kulit. Bentuk bahu Biasanya simetris kiri dan kanan. Inspeksi bentuk siku ini dilakukan dari belakang pada waktu siku fleksi dan waktu lurus. osteoarthritis sendi bahu dan periarthri otot leher dan bahu. Bentuk bahu akan mengalami perubahan bila terjadi kelainan patologis seperti : fraktur humerus bagian atas. Kulit yang mengkilat. Bentuk kuku yang cembung dan ujung jari bulat disebut clubbing fingers. Bentuk tangan . Kelainan lain yang harus diperhatikan yaitu . b. Bentuk bagian-bagian anggota gerak atas a. atrofi otot-otot deltoideus. M. bronkiektasis. atau putih seperti panu yang tidak ada rasa (anesthesia) adalah khas untuk penyakit lepra. dislokasi sendi bahu. pertumbuhan rambut ketiak dan lain-lain. biasanya diikuti cyanosis berhubungan dengan kelainan jantung bawaan. Bentuk siku Bentuk siku ini bisa mengalami perubahan yang biasanya disebabkan oleh trauma. persendian dan otot-ototnya. tipis dan rapuh (koilonikia) akibat anemia defisiensi besi.Chron dan colitis ulserativa) Kerusakan kuku lainnya. kelainan bawaan dan peradangan (osteoarthritis) dengan penimbunan cairan. dan tegang ditemukan pada penyakit scleroderma. 1. gangguan pencernaan yang kronis (steatorea. kuku yang cekung. Inspeksi bentuk anggota gerak Bentuk anggota gerak akan ditentukan oleh keadaan tulang. Pemeriksaan kuku pada anggota gerak mempunyai arti klinis yang penting. emfisema paru. dimana perubahan bentuk lebih sering berupa benjolan. atrofi.

nefrotik syndrome. . dec kordis. Atrofi otot-otot tungkai bawah Memperlihatkan bentuk tulang tibia jelas terlihat. arthritis psoriatika. akibat tersumbatnya aliran limfa oleh parasit penyebab. Oedema ini ditemukan pada penyakit. tungkai atas sisi yang sakit akan berada pada posisi adduksi dan sendi panggul sedikit terangkat disertai lordosis lumbalis yang berlebihan. Sedangkan pada proses infeksi rasa sakit akan menonjol disamping pembengkakan yang hiperemis dan panas. Bentuk panggul Perubahan bentuk pada daerah sendi panggul dapat diketahui dengan membaringkan penderita dalam posisi menelentang (supine) dan diperhatikan dari arah kaki. Oedema pada tungkai dapat berupa . dan malnutrition. sirosis hepatis. dan myopati. dislokasi dan atrofi otot tungkai. osteoarthritis. b. Pada radang sendi panggul. osteoarthritis.Perubahan bentuk tangan lebih sering dijumpai dan biasanya disebabkan oleh penyakit antara lain. Ini bisa ditemukan pada penyakit filariasis. 2. Solid oedema. pembengkakan yang lunak dan bila ditekan tidak segera menimbul. distrofi muskulorum progresif. deformitas lutut. Oedema ini pun bisa ditemukan pada penderita dengan hemiparesis dengan kelumpuhan tungkai. hipertrofik pulmonary osteoarthropathy yang diikuti clubbing fingers. Tungkai bawah dan kaki Perubahan bentuk pada daerah ini biasanya berupa pembengkakan yang simetris atau asimetris. rheumatoid arthritis. Pembengkakan lutut charcot tidak merasa sakit. Tinggi kedua lutut ini biasa tidak sama misalnya oleh fraktur leher sendi paha. c. pembengkakan yang tidak lunak dan kulit menebal yang biasanya terdapat pada satu sisi saja. Perubahan pada bentuk lutut ini bisa disebabkan oleh . Pitting oedema. Pada penyakit Rakitis tulang tibia kiri dan kanan bisa membentuk lengkungan O yang disebut genu valrum atau membentuk X yang disebut genu valgum. Atrofi otot-otot ini bisa terjadi pada penyakit polineurodegenerasi. Bentuk anggota gerak bawah a. radang selaput sendi. trauma. Bentuk lutut Pembengkakan pada lutut adalah kelainan yang selalu ditemukan pada pengamatan. gout arthritis. poliomyelitis. Kemudian penderita disuruh melipatkan kedua tungkai pada sendi paha (fleksi) dan diamati tinggi pada kedua lutut. charcot (akibat disorganisasi yang luas). radang sendi.

Memeriksa konsistensi otot-otot c. Clubfoot dan Talipes equinovarus. ataxia freidrich. spina bifida. adalah kelainan dengan pronatio dan eversion dari kaki pada umur dewasa.  Adduksi forefoot Memendeknya tendon Achilles sehingga terjadi kontraktur fleksi dari plantar  Inversion dari kaki  Torsio (terputarnya) tibia kearah dalam Kelainan-kelainan ini penting diperhatikan sebab selalu disertai pula kelainan pada bagian lain seperti dislokasi sendi panggul. Deformitas jari secara inspeksi bisa dilihat adanya gambaran clubbing (drum stick) yang disebut clubbing foot.Deformitas pergelangan kaki secara inspeksi dapat terlihat perubahan bentuk akibat oedema ataupun arthritis. II. Flatfoot (pronated foot/pes planus). Palpasi anggota gerak Tujuan dari pemeriksaan ini untuk memeriksa : a. Talipes Calcaneovalgus. Siringomielia. - Hallux vagus adalah keadaan dimana terjadi adduksi metatarsal I dan exostosis pada dorsum dan medial dari kepala metatarsal I (caput metatarsal I) sehingga terjadi deviasi ke lateral dari ibu jari kaki. spina bifida. Kadang-kadang pada kelainan metatarsus varus ini hanya metatarsal I saja yang mengalami adduksi dan ini disebut “Metatarsus Primus Varus”. yaitu suatu kelainan congenital yang klasik. dan peroneal muscular atrofi. Hal ini biasanya disebabkan oleh kronik bursitis pada metatarsal I tadi. sehingga bagian dorsal kaki mendekati bagian anterolateral tibia. Palpasi nadi Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada arteri radialis yaitu pada pergelangan tangan bagian volar. - - Pes calvus adalah bentuk lain dari kaki. Palpasi nadi b. Hal ini biasanya akibat penyakit syaraf seperti : poliomyelitis. Metatarsus varus adalah kelainan kaki dengan empat cirri khas yaitu . Tetapi bisa juga dilakukan pada bagian lain seperti : . yang faktor penyebabnya juga sama seperti clubbing fingers. Memeriksa kelenjar limfa ketiak dan paha a. tulang belakang. dimana kaki mengalami putaran eversion dan dorsofleksi yang berat. - Acromegali yaitu kaki yang besar dari ukuran normal yang disebabkan oleh kelainan hormone hipofise. dengan lengkung kaki yang berlebihan sehingga penderita berjalan dengan bertumpu pada ujung/ bagian depan kaki. Deformitas bentuk kaki dapat dilihat kemungkinan adanya. Pada bayi dan anak-anak keadaan ini adalah normal yang pada perkembangannya akan menjadi bentuk yang sempurna. Kelainan ini bisa menimbulkan keluhan-keluhan pada tungkai.

a.Subclavis. Bisa pula otot-otot mengalami hipertrofi. yaitu diraba didepan pergelangan kaki antara tulang metatarsal I dan II A. Pergerakan lengan dan tungkai dapat terganggu akibat :    Adanya nyeri yang membatasi pergerakan. kelumpuhan anggota gerak ataupun keterbatasan anggota gerak. yaitu diraba di fossa popliteal. Dalam palpasi ini ditentukan pembesarannya. Kepentingan daripada cara pemeriksaan ini adalah terhadap penderita-penderita yang datang dengan keluhan-keluhan adanya kelemahan. yaitu pada sisi ulnar tendon m. mobilitinya. kekuatan otot dan koordinasi. Biseps didaerah lipatan siku dengan lengannya diluruskan. b. A.- A.Poplitea. III. Adanya kelemahan otot primer Adanya gangguan system syaraf otot (neuromuskuler).Dorsalis pedis. Pada keadaan biasa nadi-nadi tersebut diatas akan mudah ditemukan/ dipalpasi. kecuali pada keadaan anggota gerak mengalami solid oedema ataupun penyakit pembuluh darah arteri yaitu Pols Less (Takayasu’s Arteritis).k. pseudohipertrofi atau mengalami spasme /kekejangan seperti pada torticollis. tetanus dan distonia muskulorum. A.Femoralis. Konsistensi otot-otot Tujuan pemeriksaan ini terutama untuk mengetahui adanya gangguan sistema neuromuskuler. Untuk menguji pergerakan dan kekuatan otot dapat dilakukan pemeriksaan pergerakan “pasif” maupun “aktif”. Brachialis. Kelenjar limfa Palpasi pada kelenjar ini untuk menentukan adanya pembesaran kelenjar setempat ataupun menyebar yang akan memberikan banyak interpretasi klinis seperti akibat peradangan ataupun pertumbuhan ganas dan penyakit darah. nyeri tekannya kelenjar tersebut. atrofi otot akibat parese. Tibialis posterior. A. yaitu diraba di daerah inguinal bawah ligamentum inguinale (proparti). yaitu diraba disekitar malleolus medialis. Pada pergerakan aktif si penderita menggerakkan anggota geraknya sesuai dengan kehendak si pemeriksa dan si pemeriksa meneliti apakah ada gangguan yang membatasi . Palpasi kelenjar ini dapat dilakukan pada lipat ketiak dan lipat paha kiri dan kanan. konsistensinya. Menguji pergerakan. Konsistensi ini bisa diintrepretasi dengan otot-otot yang “Lembek” o. yaitu diraba di fossa supraclavicularis dekat tepi atas clavicula. A.

Adanya atropi otot pada arthritis ataupun periarthritis akan menyebabkan penderita mengeluh akan kelemahan otot dengan pergerakan yang tidak sempurna. bahu dan lengan dapat dilakukan pemeriksaan sebagai berikut (gbr III) Fotoo……. Sedangkan gerakan pasif adalah pergerakan anggota gerak penderita yang dilakukan si pemeriksa. Menguji kekuatan otot-otot Extremitas Superior. a. b. dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : Gbr. a. Pada keadaan normal gerakan aktif dan pasif dapat dilakukan penderita dengan sempurna. coracoidea atau tuberositas humeri. Cara menguji gerakan-gerakan anggota gerak ini tertera pada gambar berikut. Untuk anggota gerak atas. Untuk menguji kekuatan otot-otot bahu dapat dilakukan beberapa cara : Untuk otot trapezius : Penderita diminta untuk mengangkat bahunya sedangkan pada bahu diberi tekanan untuk menahan gerakan tersebut. Keadaan lanjut dari keadaan ini akan menyebabkan bahu tidak dapat digerakan “frozen shoulder” sehingga penderita tidak dapat menyisir rambut.pergerakan tersebut. paha dan lutut. I. 2. . dibatasi oleh nyeri sekitar olekranon. IV Foto …… Pada periarthritis humeroscapularis gerakan pasif dan aktif disendi bahu. mengancingkan bajunya dan sebagainya. Untuk anggota gerak bawah.

Teknik pengujian adalah sebagai berikut : Menguji kekuatan m. kemudian siku digerakkan ke belakang.Biseps brachii.Brachioradialis dan m. lengan penderita dipronasikan sedikit sehingga ibu jari menunjuk ke atas dan lengan ditekuk pada sendi siku dan pemeriksa menahan gerakan tersebut dengan menarik pergelangan tangannya.Untuk otot Ramboideus mayor/ minor . Pada keadaan normal posisi pinggir medial scapula akan tetap sedangkan bila ada kelemahan maka pinggir medial ini akan mencuat. Penderita disuruh bercekak pinggang.Triseps brachii. m. m.Brachialis.brachialis. dan pemeriksa menahan gerakan ini dengan memberikan tahanan pada siku belakang. Penderita mengangkat lengannya ke samping dan pemeriksa menahan tenaga tersebut pada lengan bawahnya. m. penderita diminta menekuk lengannya pada sendi siku dan pemeriksa menahan pergerakan ini dengan menarik pergelangan tangan penderita. dapat dilakukan : Pemeriksaan Rofine sudah cukup. b. Menguji kekuatan otot-otot lengan bawah dan atas. Untuk otot Seratus anterior : Penderita menekankan kedua tangannya yang lengannya lurus ke dinding dan pemeriksa melihat dari belakang penderita. apabila dilakukan pengujian kekuatan otot-otot di bawah ini. Foto….biseps brachii dan m. Untuk otot Deltoideus . . Untuk otot biseps brachii dan otot brachialis. Untuk pemeriksaan otot Brachioradialis yaitu.

Otot flexor digitorum sublimes. diperiksa dengan menyuruh penderita mengepal dan memfleksikan tangan ke dorsal sambil si pemeriksa menahan gerakan ini dengan jalan menekan pada bagian dorsum tangan penderita. Otot flexor digitorum profundus. Otot ekstensor tangan. . c. Selanjutnya penderita disuruh menekukkan jari-jarinya pada persendian interphalanx pertama. serta ia disuruh menekukkan jarinya pada persendian interphalanx kedua. diuji kekuatannya dengan melakukan flexi lengan kemudian penderita diminta meluruskan kembali lengannya. penderita disuruh meluruskan jarinya dan disuruh menekan ujung jari penderita. Menguji kekuatan otot-otot tangan Otot fleksor tangan. diperiksa dengan menyuruh penderita mengepalkan tangannya dan melakukan fleksi pada pergelangan tangannya sedangkan si pemeriksa menarik tinju penderita agar lengan menjadi lurus dan penderita mempertahankannya sebagai sikap semula.Otot Triceps brachii. sementara si pemeriksa menahan gerakan tersebut dengan menekan bagian dorsal pergelangan tangan. diperiksa dengan meminta penderita supaya meluruskan jari-jarinya dan pemeriksaan menekan jari-jari tersebut.

. Gerakan ini ditahan pemeriksa dengan jalan menekan ibu jari tersebut ke dalam. merupakan tanda khas untuk kerusakan nervus Ulnaris. maka kita berhadapan dengan seorang penderita kelumpuhan oleh karena kerusakan plexus brachialis bagian atas.Otot interosei valares. Sikap tangan yang seolah-olah menjuntai dari pergelangan tangan (wrist drops) serta sikap jari-jari yang lunglai (finger drops) merupakan kelumpuhan dari pada nervus Radialis. Otot abductor ibu jari tangan. Otot interosei dorsalis.. otot-otot ini melakukan pergerakan dapat diperiksa dengan menjepitkan sehelai kertas diantara dua ujung jari penderita dan ia disuruh menahan kertas tersebut sewaktu si pemeriksa menariknya. Otot adduksi ibu jari tangan. Tangan dengan atropi otot eminensia tenar menunjukkan pula kerusakan nervus Medianus. sedangkan jari-jarinya dalam sikap menekuk ke dalam (Claw Hand) dan juga ditemukan “Horner Sindrom” pada sisi yang lumpuh maka keadaan ini melukiskan lesi plexus brachialis bagian bawah. disini penderita disuruh meluruskan jari-jarinya dan kemudian disuruh mengabduksi ibu jarinya. diperiksa dengan menyuruh penderita mengembangkan jarijarinya yang diluruskan dan si pemeriksa menahan gerakan tersebut. dan gerakan ini ditahan pemeriksa dengan menarik ibu jari tersebut keluar. Dan bila terdapat Claw Hand tanpa adanya Horner Sindrom. disini juga penderita meluruskan jari-jarinya dan kemudian disuruh mengadduksi ibu jarinya. Apabila otot-otot tangan lumpuh dan atropik. Apabila lengan penderita seolaholah menjuntai dibahunya dan jelas atropik. Foto. Pada kelumpuhan otot-otot lengan perlu diperhatikan sikap anggota gerak yang lumpuh untuk memudahkan menegakkan diagnose.

Pada orang yang sehat. Nyeri pada HNP adalah didaerah distribusi n. tindakan Laseque ini akan menimbulkan nyeri sebelum tercapai sudut 90⁰.ischiadicus. Tindakan Laseque ini adalah suatu tindakan provokasi untuk serabut-serabut saraf n. Kadang-kadang nyeri spontan tidak ditemukan. fraktur leher femur serta fibrosis otot sakrospinalis. Pada meningitis juga akan positif yaitu tindakan yang disebut tindakan Kernig. Foto… Tindakan Laseque ini pada satu tungkai akan mengakibatkan tungkai yang lainnya bergerak dan menekuk pada sendi panggul dan lutut disebut dengan tindakan Bruzinski II positif..ischiadicus pada arthritis dan fibrosis sakroiliatika akan terasa pada sendi sakroiliaka dan koksitis di daerah sendi panggul dengan penjalaran sampai ke lutut. periarthritis sendi panggul.3. dan positif jika menimbulkan rasa nyeri waktu lutut yang fleksi tadi diluruskan. Tindakan ini biasanya positif bila penderita mengalami meningitis (peradangan selaput otak). tungkai dapat diangkat sampai 90⁰ tanpa menimbulkan rasa nyeri yang berarti. yaitu dengan meregang saraf tersebut. Biasanya pada HNP tindakan ini telah menimbulkan rasa nyeri dengan sudut hanya sekitar 30⁰-60⁰. dan hernia nucleus pulposus (HNP).sakrospinalis. Pada HNP dan juga koksitia. fibrosis m. Disini penderita tidur telentang dan pemeriksa mengangkat tungkai penderita dalam posisi lurus. lipatan gluteus sampai ke tumit tungkai bawah belakang. Menguji kekuatan dan pergerakan tungkai bawah. Pergerakan sendi panggul dapat menimbulkan rasa nyeri bila ditemukan fraktur leher femur. . adalah tindakan yang dilakukan dengan menekukkan tungkai pasien pada sendi panggul dan lutut yang flexi. Pemeriksaan pergerakan pasif dengan mengangkat tungkai dalam sikap lurus tersebut tindakan Laseque. tetapi dapat terjadi bila tungkai digerakan pada sendi panggulnya. Rasa nyeri spontan akibat pergerakan ini biasanya pada tempat yang sama dan bisa menjalar ke paha.

iliakus.iliakus.gluteus medius dan m.Dalam melaksanakan pemeriksaan pergerakan secara pasif ini. maka tonus ototnya adalah lemah sampai menghilang. Sedangkan bila tahanan terasa jelas. Flexi tungkai pada sendi panggul terutama dikerjakan oleh m. Setelah tonus otot diperiksa. maka seterusnya dinilai tenaga otot dengan darejat : 0 = tidak dapat bergerak sama sekali. Menguji otot-otot yang melakukan gerakan sendi panggul.adduktor magnus dan adduksi oleh otot-otot abductor diantaranya. Pemeriksaan m. 4 = bila tahanan ada tetapi masih kurang. 2 = tidak dapat melakukan pergerakan dengan maximal. abductor magnus . penderita disuruh mengangkat pahanya dengan lutut tertekuk dan si pemeriksa menahan pergerakan itu dengan menekan lutut penderita. maka tonus ototnya adalah meninggi dan dikatakan dengan istilah “kaku”. 3 = dapat melakukan pergerakan dengan sempurna tetapi tidak ada tahanan terhadap pemeriksa. Adduksi pada sendi panggul dilaksanakan oleh m. 1 = pergerakan minimal. Bila kekakuan itu sampai pada tiap tahap pergerakan pasif yang dilakukan. maka disebut dengan keadaan “spastisitas”.psoas dan m. sedangkan extensi dilaksanakan oleh berbagai otot diantaranya m.psoas dan m.gluteus maximus. pemeriksaan akan selalu merasakan tahanan gerakan dari penderita. a. 5 = bila tahanan cukup dan pergerakan sempurna. Foto…  Pemeriksaan m. Sedangkan bila kekakuan kadang-kadang meninggi dan kadang-kadang mengurang secara berurutan disebut dengan “rigiditas” yang juga dikenal dengan fenomena “Cogwheel”.gluteus maximus.gluteus minimus. Pemeriksaan m. . Keadaan ini menggambarkan tonus otot anggota gerak tersebut. m. penderita diperiksa dalam posisi tengkurap dan disuruh mengangkat pahanya dengan lutut tertekuk sedikit sambil si pemeriksa menahan gerakan dengan menekan lipatan lutut. Bila tahanan ini tidak ada. Pada gerakan ekso dan endorotasi sendi panggul akan dilakukan oleh berbagai otot yang juga melaksanakan pergerakan sendi lutut. untuk ini penderita dalam keaadaaan terlentang.tungkainya lurus dan ditempatkan kesamping kemudian penderita diminta untuk menggerakkan tungkainya kearah garis tengah dan si pemeriksa menaha gerakan itu dengan menahan bagian medial lutut penderita.

lalu penderita disuruh meluruskan tungkainya serta pemeriksa menahan gerakan itu dengan menekan pergelangan kaki pasien .rektus femoris .m. b.semimebranosus.vastus lateralis . Fleksi dilakukan oleh m.  Otot-otot dorsofleksi .sedangkan ekstensi lutut dilaksanakan oleh m. Menguji otot-otot yang melaksanakan gerakan sendi lutut.m.medialis dan vastus intermedius.gracilis.penderita disuruh berbaring telentang dan tungkai ditekuk pada sendi lutut .bicep femoris .gastrcnemius . Pemeriksaan m. soleus.m. dan plantaris. sedangkan pemeriksa menahan gerakan itu dengan menarik pergelangan kaki penderita. menguji otot-otot yang melakukan gerakan sendi kaki.m.penderita dalam posisi telentang (supine) dengan tungkainya lurus dan penderita disuruh menahan pergerakan itu dengan menekan bagian paha atau lutu bagian lateral penderita. Otot-otot flexor : penderita disuruh berbaring terlentang dengan tungkai ditekuk separuh pada sendi lutut. Otot –otot ekstensor . .semitendinesus. Untuk dorsofleksi yang berkerja adalah otot tibialis anterior dan untuk plantar fleksi yang bekerja adalah otot gastrocnemius.popliteus . Pada pemeriksaan ini yang selalu dilakukan adalah pemeriksaan otot-otot untuk dorsoflexi dan plantar flexi. Kemudian oenderita disuruh menekukkan tungkainya lebih lanjut.gluteus minimus dan medius .m. Cara memeriksa otot-otot tersebut adalah sebagai berikut :   c.sartorius dan m. penderita dibaringkan telentang dengan tungkai yang lurus dan penderita disuruh melakukan dorsofleksi dan si pemeriksa menahan pergerakan itu dengan menahan pada dorsum kaki penderita.

Dismetria : pergerakan yang dilakukan berselang seling dan berulang-ulang meskipun dapat lancar dan tangkas. Suatu pergerakan yang baik dan sempurna dari anggota gerak haruslah merupakan gerakan banyak otot-otot yang terkoordinasi. dan retraksi flexion dan extensi. Ada dua yaitu : ataksia sensorik (cerebrellar) dan ataxia paretic. dan gerakan koordinasi ini akan diaatur oleh susunan saraf dan otak kecil (serebelum). Untuk mengetahui bagaimana pergerakan sendi umumnya. gerakan ke kiri dan kekanan. disdiadokinesis dan ataxia badan (trunkal ataxia). Ataksia : adalah pergerakan yang tidak lancer dan terputus-putus serta tidak teratur. SENDI CARA PERGERAKAN  Rahang  Tulang belakang. protrusi. Suatu hal yang harus diketahui dalam pemeriksaan ini adalah keadaan . Otot-otot plantar fleksi . leher dan thoraco lumbal membuka dan menutup mulut. ataxia. menguji otot-otot yang melakukan gerakan sendi kaki. dismetria. Gangguan koordinator dari gerakan anggota gerak adalah manifestasi dari kerusakan di bagian susunan saraf dan serebelum tersebut. lateral flexion (ki&ka) rotation (kiri dan kanan) . maka disini dikutip “System Pemeriksaan Pergerakan Sendi” (cara untuk mengetahui pergerakan sendi). 4. penderita dalam posisi terlentang dengan tungkai yang lurus kemudian penderita disuruh melakukan plantar fleksi dan pemeriksa menahan pergerakan itu dengan menekan pada telapak kaki penderita.

rotasi internal dan eksternal    Lutut fleksi Tumit dan kaki fleksi plantar dan dorsal. rotation internal dan external  Siku flexi  Pergelangan tangan fleksi dan ekstensi. inversion dan eversion  Jari kaki fleksi dan ekstensi (sendi metacarpophalanx) eversi. abduksi dan adduksi. abduction dan adduction. pronasi dan supinasi. inversi dan fleksi (sendi interphalang) . deviasi ulnar dan radial.  Jari (interfalang) fleksi dan ekstensi (untuk sendi metacarpal phalanx)  Paha fleksi dan ekstensi. Bahu flexi dan extensi.

2) Harus ada ketegangan optimal pada otot yang akan diperiksa. 3) Rangsangan regangan yang cukup. Ini untuk memeriksa angota gerak bawah. Untuk ini cara pengetokkan palu perlu diperhatikan yaitu menjatuhkan palu dengan gerakan fleksi sendi tangan. Pengalihan konsentrasi dapat dilakukan dengan berbicara dengan pasien sambil memeriksa atau minta pasien untuk menarik tangan kanan dengan tangan kiri sekuatnya melalui jari-jari tangan (Jenderassik). Penggunaan palu reflex merupakan suatu keharusan. Anggota gerak yang akan diperiksa harus terletak sepasif mungkin tanpa pasien perlu mengeluarkan tenaga untuk mempertahankan posisinya.BAB XII PEMERIKSAAN SISTEM SARAF Pemeriksaan-pemeriksaan reflex perlu dilakukan terutama pada penderita-penderita dengan gnagguan saraf otak maupun saraf perifer seperti pada penderita koma. Jari pemeriksa sebaiknya ditaruh diatas tendon otot dan palu diketokkan diatas jari tersebut. Palu diketokkan diatas tendon dengan kekuatan yang sama. stroke. Pembagian reflex : 1) Reflex tendon (reflex regang otot. periosteum. Hal tersebut dapat dicapai apabila posisi yang baik untuk menimbulkan reflex biceps. lengan bawah dan tangan berada diatas paha. dan brakioradialis adalah pasien dalam keadaan duduk. dalam) 2) Reflex permukaan Kedua reflex ini termasuk reflex fisiologis ( reflex segmental sederhana ) 3) Reflex patologis Cara perujutan reflex: 1) Rileksasi sempurna Pasien harus rilekas dengan posisi seenaknya. Untuk anggota gerak . triceps. neuropati diabetic. dll. Cara ini mempunyai kelebihan karena pemeriksaan dapat memastikan keadaan rileksasi atau ketegangan optimal dari otot serta merasakan kontraksi ototnya. Konsentrasi pasien terhadap anggota gerak yang diperiksa perlu dialihkan karena ini akan mempengaruhi hasil reflex. Reflex adalah jawaban motorik atas rangsangan sensorik. Untuk mencapai ini otot harus dalam kependekan minimal dan kepanjangan maksimal.

Ketok dengan perlahan-lahan bagian distal radius kira-kira 5 cm diatas pergelangan tangan sambil mengamati dan merasakan adanya kontraksi. tekan bila perlu untuk meyakinkan regang otot optimal. berarti tidak ada kontraksi otot. Reflex = ++ Pemeriksaan khusus : 1) Reflex tendon. berarti ada kontraksi otot tetapi tidak terjadi gerakan pada sendinya.2 Reflex brakioradialis (n. C 5-6) Dalam keadaan duduk : lengan bawah pronasi rileks diatas paha. Penilaian reflex : Penilaian reflex tergantung dari faktor : 1) Kecepatan kontraksi otot dan relaksasinya 2) Kekuatan kontraksi otot 3) Derajat pemendekan otot Nilai reflex : 1) Areflexi. muskulokutaneus. lengan bawah dan tangan diatas abdomen Taruh ibu jari pemeriksa diatas tendon biceps.1 Reflex biceps ( n. pasien dialihkan perhatiannya dengan meminta pasien supaya mengatupkan gigigeliginya sekuatnya. Reflex = C 2) Hiporefleksi. I. . radialis C 5-6) Posisi sama dengan reflex biseps kecuali tangan bawah harus berada diantara pronasi dan supinasi.atas. bila kontraksi dan gerakan sendi berlebih. I. sebelum mengetok. Dalam keadaan berbaring : lengan ditaruh diatas bantal. Reflex = ± 3) Relfeksi normal = + 4) Hiperrefleksi.

3. Bila perlu.8) Posisi hampir sama dengan reflex biceps. Reflex tumit : fleksi plantar dari kaki dan kontraksi otot gastroknemius. Reflex triceps : ekstensi dari siku dan tampak kontraksi otot triseps.1.5 Reflex tumit. radialis C 6. I. Reflex lutut : gerakan dari tungkai diserai kontraksi otot kuadriseps. Ketok tendon utmit dengan palu reflex. I. 2) Reflex permukaan 2. Ketokan dilakukan kira-kira 5 cm diatas siku. reflex kuadriceps femoris (n.I. Oleh karena tendok pendek kadangkadang suakr mengetok sejumlah tersebut sekaligus. Reflex kulit . tibialis L5.2.4 Dalam posisi duduk : kaki tergantung rileks ditepi tempat tidur Dalam posisi berbaring : tangan atau lengan bawah pemeriksa ditaruh dibawah lutut pasien. Dalam posisi berbaring : dilakukan fleksi panggul dan lutut sambil sedikit rotasi paha keluar. fleksi sendi lutut tersebut kira-kira 20 derajat. kaki dorsofleksi optimal untuk mendapatkan regangan otot cukup. Sedangkan tumit pasien harus tetap berada diatas tempat tidur.7. S 1-2) Dalam posisi duduk : sama dengan posisi reflex biceps. femoralis 1. reflex gastroknemius dan soleus (n. Sebaiknya pemeriksa melakukan dari arah samping belakang pasien untuk mengamati kontraksi.3 Reflex triceps (n.4 Reflex lutut. Respon reflex tendon yang normal : Reflex biceps : respon normal berupa fleksi dari siku dan tampak kontraksi otot biceps Reflex brakioradialis : fleksi dari siku dan tampak ekstensi lemah jari tangan. Palu reflex diketokkan diatas tendon lutut berganti-gantian kanan dan kiri. tangan pemeriksa dapat diganti bantal supaya kontraksi otot disamping terlihat dapat diraba pula.

L1) Untuk merangsang dipergunakan benda berujung tumpul seperti ujung anak kunci atau tangkai palu refleks yang runcing.1. Bila jari dikeluarkan anus akan tetap terbuka. Jawaban berupa kontraksi kremaster dan penarikan testes keatas.1.5 Reflex plantar ( L 5. Jawaban reflex berupa kontraksi otot perut. 2. 2. . 2.1 Reflex Babinski Dengan sebuah benda yang berujung tajan seperti kunci. Pemeriksaan ini khas untuk sfingter ani eksternus. Th 9-11 hipogastrium. Th 6-9 abdomen tengah.3 Reflex anus (S 3. Th 11.4.5) Dengan memakai sarung tangan. kedua lengan diletakkan disamping tubuh. Relaksasi yang baik sangat diperlukan untuk pasien berbaring terlentang. mata tertutup dan pasien harus bernafas panjang. Kontraksi cincin anus terasa bila kulit sekitar anus atau perineum digores dengan ujung jari jarum.1. S 1-5) Fleksi jari-jari akan timbul bila telapak kaki dirangsang seperti pada pemeriksaan refleks Babinski (lihat refleks patologis) 2. ujung jari dimasukkan kedalam cincin anus. tungkai diganjal bantal.2 Reflex kremaster (L 1-2) Pasien berbaring terlentang dengan paha sedikit abduksi. Reflex patologik Gerakan reflek yang tidak didapat pada keadaan normal III. 2. tonus sfingter internus terasa bila jari dimasukkan lebih dalam lagi. Reflex selaput lendir Reflex farinks lihat bab saraf otak 2. Kontraksi dapat dilihat tetapi lebih jelas diraba. Dalam keadaan kelumpuhan flasid sfingter ini.4 Reflex bulbo kavernosus ( S 3-4) Kulit penis atau glans penis dicubit untuk menimbulkan kontraksi otot bulbokavernosus.3. kulit keempat kuadran abdomen digores dari arah luar menuju arah umbilikus. telapak kaki digores dari arah tumit menyusur bagian lateral menuju pakai ibu jari.2.2.1. permukaan dalam paha digores seperti pada refleks pada refleks kulit perut.1 Reflex kulit perut ( epigastrium. Reflex kornea Lihat bab saraf otak 3. Dengan benda tersebut tadi.1.

Tanda babinski ini dapat ditimbulkan juga dengan reflek lain. III.2 Reflex Chaddock Tanda babinski akan timbul dengan menggoreskan bagian bawah dari maleolus Lateral kaki kearah depan III.Respon refleks : dilakukan positif bila terjadi dorsofleksi dari ibu jari dan biasa disertai dengan pemekaran dari jari-jari lainnya.6 Reflex Rossolimo Reflex patologik ini ditimbulkan dengan mengetok bagian basis telapak jari-jari kaki.9 Reflex leri Bila pada pergelangan tangan dilakukan hiperfleksi maksimal.11 Klonus . III. Positif bila timbul tanda Babinski. III.5 Reflex Schaffer Tanda Babinski dapat ditimbulkan dengan memijit tendom Achilles III. III.10 Reflex Mayor Respon pada refleks reli akan terjadi pada hiperfleksi basis jari tengan tangan penilaian sama seperti refleks reli.3 Reflex Oppenheim Dengan mengurut tulang tibia dengan ibu jari-jari telunjuk dan jari tengah. III.8 Reflex Haffman-Tromner Refleks patologik ini positif bila timbul gerarkan mencengkram pada pertik kuku jari telunjuk atau jari tengah jari tangan.7 Reflex Mendel reshterew Dengan mengetok bagian dorsal basis jari-jari kaki akan disaksikan getaran fleksi jari-jari kaki. III. Keadaan patologik bila fleksi keadaan lengan ini tidak terjadi (refleks negatif) III.4 Reflex Gordon Otot gastroknemius dicubit positif akan timbul tanda Babinski III. maka pada keadaan normal akan terjadi fleksi dari siku lengan. Sebagai respon positif akan tampak fleksi dari jari-jari kaki.

Bila refleks hiperaktif. Dalam keadaan tungkai refleks pemeriksa mendadak melakukan dorsofleksi kaki dan tetap mempertahankan posisi dorsofleksi ini untuk sementara waktu. Tanda kaku kuduk Cara pemeriksaan : pasien berbaring terlentang dan dilakukan pergerakan pasif berupa fleksi. refleks ini dapat terjadi berulang terus-menerus. Teoritis pada dijumpai pada semua otot. Tanda-tanda perangsangan selaput otak dan gejala ini bervariasi bergantung pada berat ringan prosesnya. ekstensi dan rotasi kepala. 2. sehingga timbul posisi yang disebut yang disebut sebagai opistotonus. Tanda Kernig . tetapi dalam praktek hanya penting untuk otot gastroknemiun dan soleus pada tumit. Tanda-tanda tersebut ialah : 1. tetanus dll. Tanda kaku kuduk Tanda Kernig Tanda Laseque (straight leg raising test) Tanda Bruzinksi-leher (Bruzinski I) Tanda Bruzinski-kontralateral-tungkai (Bruzinski II) 1. Klonus merupakan manifestasi refleks regang otot yang hiperaktif. TANDA-TANDA PERANGSANGAN SELAPUT OTAK Mekanisme perangsangan selaput otak disebabkan oleh pergeseran struktur-struktur interspinal oleh ketegangan saraf spinal yang hipersensitif dan meradang. Penilaian : tanda ini positif bila didapatkan kekakuan dan tahanan pada pergerakan fleksi kepala disertai rasa nyeri dan spasma otot. Bila pemeriksa mempertahankan suatu tegangan tertentu pada otot termaksud. 4. Kekakuan ini berbeda-beda mulai dari tahan sedikit pada fleksi sampai tahanan ke seluruh pergerakan kepala bila kekakuan otot ekstensor sangat hebat di retraksi leher dan kadang-kadang tulang vertebra. 3. Tanda kaku kuduk ialah khas untuk gejala meningitis. 5. 2. dagu tidak dapat disentuh ke dada dan juga didapatkan tahanan pada hiperekstensia dan rotasi kepala.

Cara pemeriksaan : pasien berbaring dan dilakukan fleksi pada sendi panggul kemudian
ekstensi pada sendi lutut sejauh mungkin tanpa rasa nyeri.
Penilaian : tanda ini positif bila ekstensi sendi lutut tidak mencapai sudut 135 derajat
disertai spasme otot paha, biasanya diikuti rasa nyeri.
3. Tanda Laseque
Ada yang menyebut sebagai “straight leg raising test” karena istilah ini menggambarkan
cara pemeriksaannya.
Cara pemeriksaan : pasien dalam rileks berbaring terlentang dan dilakukan fleksi pada
pinggul sewaktu tungkai dalam ekstensi.
Selama fleksi sendi pinggul di lakukan perlahan-lahan ditanyakan pada pasien apakah
ianya merasa nyeri tersebut terjadi.
Penilaian : tanda ini biasa sudah timbul rasa nyeri dilekuk iskiadikus atau adanya tahapan
pada dilakukan fleksi kurang dari 60% derajat. Perlu dilakukan penilaian sesisi atau
kedua sisi.
4. Tanda Brudzinski-leher (Brudzinski I)
Cara pemeriksaan : pasien berbaring telentang dan pemeriksa meletakkan tangan kirinya
di bawah kepala dan tangan kanan diatas dada pasien. Kemudian dilakukan fleksi kepala
dengan cepat kearah dada sejauh mungkin. Penilaian : tanda ini positif bila terjadi fleksi
involunter pada kedua tungkai yang tidak plegi.
5. Tanda Brudzinski –kontralateral-tungkai (Brudzinski II)
Cara pemeriksaan : pasien berbaring telentang dan dilakukan fleksi pasif pada sendi
panggul (seperti waktu percobaan kernig).
Penilaian : tanda ini positif bila pada pemeriksaan terjadi fleksi involunter pada sendi
panggul dan lutut kontralateral (lebih jelas terlihat bila sendi lutut sesisi dalam posisi
ekstensi).

PEMERIKSAAN SISTEM SENSIBILITAS.
Sensibilitas terdiri dari :
1. Sensibilitas Permukaan

: rasa raba, nyeri dan suhu.

2. Sensibilitas dalam

: rasa sikap, getar dan nyeri dalam (struktur otot,

ligament, fascia dan tulang)
3. Fungsi kortikal

: streognosis, pengenalan dua titik sensibilitas
pengenalan bentuk rabaan.

Syarat pemeriksaan :
1. Pada kasus yang tidak disangka ada kelainan sensibilitas, pemeriksaan dapat
dilakukan dengan singkat, tetapi pada kasus yang tersangka ada kelainan
sensibilitas pemeriksa perlu secara teliti dan menyeluruh.
2. Pada saat pemeriksaan selalu perlu dipertimbangkan riwayat, penyakit,
keluhan pasien dan gejala lain yang telah ditemukan.
3. Pemeriksaan dilakukan secara berganti-ganti, tetapi tidak teratur (random)
untuk mencegah konsentrasi pasien dan gejala lain yang telah di tunjukan
pada satu tempat saja.
4. Pada waktu tertentu selama pemeriksaan pasien diminta untuk menunjukkan
tempat yang sedang di periksa untuk mempertahankan perhatian pasien dan
sekaligus mencari topognosis.
Mencatat hasil pemeriksa khusus
Hasil pemeriksaan dicatat di atas peta sensibilitas.
Kelainan sensibilitas yang ditemukan perlu diberi tanda pada tubuh pasien, kemudian tanda ini
dipindahkan ke peta sensibilitas.
Tanda untuk kelainan sensibilitas rasa raba ialah garis terputus-putus. (-----------------)
Tanda untuk kelainan rasa nyeri ialah huruf V (VVVVV)
Tanda untuk kelainan rasa suhu ialah huruf X (XXXXX)
Digerakkan jari dilakukan dengan kecepatan sedang.

Alat pemeriksaan :
1. Kapas yang digulung memanjang, jarum, sebuah roder dan dua buah botol masingmasing berisi air dingin (kira-kira 10 darejat celcius) dan air panas (kira-kira 43 darejat
celcius).
2. Garpu penala
3. Sebuah caliper atau jangka

Pemeriksaan secara khusus
1. Pemeriksaan rasa raba
Dengan kapas yang digulung memanjang pemeriksaan dilakukan secara berganti-ganti
tidak teratur (random) mulai dari kepala turun ke bawah ke seluruh tubuh. Pasien diminta
menyebutkan “ya” bila ia merasakan rabaan pada kulit tadi bandingkan raba-raba pada
antara tubuh sebelah kanan dan kiri bila ternyata kelainan raba pada suatu tempat, batas
kelainan sensibilitas ini perlu ditentukan dengan memeriksa rasa raba mulai dari daerah
yang terganggu ke daerah normal.
Bila pasien menunjukkan beberapa bagian tubuh lebih peka, maka perlu diperhatikan
simetri dan kepekaan tadi dan membandingkan modalitas yang lain sebelum mengambil
kesimpulan.
Pemeriksaan rasa nyeri mula-mula pasien diberitahukan dan dicobakan membedakan dua
tusukan yang tajam dan tumpul dengan sebuah jarum pentul (sebelah berujung tajam dan
sebelah lainnya terdapat bulatan kecil). Pada pemeriksaan nanti pasien harus
menyebutkan apa yang dirasakan “tajam” atau “tumpul”.
Reaksi ini harus cepat, beberapa detik saja pemeriksaan dilakukan dari kepala terus turun
ke bawah secara random. Mata pasien sebaiknya ditutup.

Bila ditemukan kelainan rasa nyeri, pemeriksaan perlu diulang mulai dari dua arah, arah
yang terganggu ke arah yang normal.
Kelainan radikuler (berasal dari spinalis) pemeriksaan dilakukan dari dua arah, arah yang
terganggu ke arah yang normal dan sebaliknya. Pemeriksaan dengan tusukan yang
kontinu perlu dilakukan pada daerah yang terganggu.
1.3 pemeriksaan rasa suhu :
dengan mempergunakan dua botol berisi air dingin (10 derajat celcius) dan air panas (43
derajat celcius) kulit pasien dirangsang secara berganti-ganti dan pasien diminta
menyebut “panas” atau “dingin”. Pemeriksaan dilakukan mulai dari daerah kepala turun
ke bawah. Bila ditemukan kelainan rasa suhu, batas kelainan ditentukan dengan
pemeriksaan dari daerah yang terganggu menuju daerah yang normal dengan cara
merangsang kulit secara kontinu (botol diputar diatas kulit) kemudian merangsang kulit
secara interval.
2. Pemeriksaan sensibilitas dalam :

ibu jari kaki. Untuk bagian tubuh atas dapat dilakukan phalanx ahir ibu jari tangan. Sedangkan pengenalan bentuk dan ukuran tanpa dapat menyebutkan nama benda tersebut disebut dengan agnosis taktil. Penilaian rasa nyeri dalam ini untuk hipersensitif atau hiposensitif yang ekstrem 3. epikondilus humeri. kemudian dengan menutup mata pasien harus membedakan. tuberositas tulang tibia dan spina iliaka anterior untuk bagian tubuh bawah.1 pemeriksaan rasa sikap Pemeriksaan dilakukan dengan menggerakkan jari kaki dan tangan pasien secara pasif kearah vertical.1 streognosis (lihat juga fungsi luhur) : mengenal bentuk dan ukuran benda yang diraba tanpa dilihat pasien harus pernah mengenal benda tersebut dan sensibilitas permukaan dalam tidak terganggu. pemeriksaan fungsi kortikal untuk sensibilitas.2. 2. 2. dan testikel. tuberositas tulang radius dan ulna.2 pemeriksaan rasa getar Mula-mula pasien dicoba untuk membedakan ada atau tidak gerakan dari garpu penala yang diatur di atas sternum. bila ada getaran menyebut”getar” dan bila tidak merasa menyebut “tidak”. Bila pasien tidak mengenal tersebut sebagai astreognosis. 3. muskulus gastroknemius. Mula-mula pasien diberitahukan dan disuruh melihat gerakan tadi. mula-mulanya perlahan kemudian makin kuat.3 pemeriksaan rasa nyeri dalam pemeriksaan dilakukan dengan menekan jari pemeriksa ke struktur yang terletak dalam. Kemudian pemeriksaan dilanjutkan dengan menekankan garpu penala pada bagian dorsal phalang ahir. olekranon dan prosesus akromion. tulang maleolus. Untuk atas tubuh dapat dilakukan hiperfleksi dari sendi-sendi jari tangan. Untuk bagian bawah dapat ditekan tendo Achilles. . kemudian dengan menutup mata pasien diminta merasakan gerakan dan menyebutkan sikap gerakan tadi dengan “keatas” atau “kebawah” jari dipegang di permukaan lateralnya. Pemeriksaan fungsi perlu adanya sensibilitas permukaan dan dalam yang normal setidaktidaknya bila terganggu hanya dalam derajat yang ringan.

Dengan menutup mata pasien pasien menyebutkan “satu” bila dirasakan satu titik dan menyebutkan “dua” bila dirasakan dua titik. Semua kelainan tersebut terjadi pada gerakan volunteer. Yang antagonistic hingga menghasilkan gerakan yang tangkas dan tepat. selama ia menanggalkan pakaian. Pemeriksaan test koordinasi terdiri dari : 1. Perlu diperhatikan kecepatan.2 pengenalan dua titik atau tes jangka : alat yang dipakai ialah sebuah caliper kecil atau jangka dengan dua ujungnya tajam. 3. dan bagian anterior dari lutut bawah. 3-4 mm untuk bagian anterior lutut ke bawah.3 pengenalan bentuk rabaan : pemeriksa duduk di sebelah pasien dan menuliskan angka 1 sampai 9 dengan sebuah pensil diatas kulit dan pasien diminta merasakan dan menyebutkan angka sambil menutup mata. 3. 30-40 mm untuk kaki. 2. disdiadokinesis dan tremor kasar. Jarak normal yang masih dikenal sebagai dua titik ialah 8-15 mm untuk bagian palmar tangan. PEMERIKSAAN KOORDINASI Koordinasi untuk melakukan gerakan-gerakan kompleks terutama diperankan oleh serebelum. Daerah pemeriksaan adalah bagian palmar dan dorsal tangan serta kaki. 5. ujung dan bagian dorsal jari-jari tangan dan kaki. Pasien diminta merasakn tusukan sebagai satu atau dua titik.3. 20-30 mm untuk bagian dorsal tangan. ketangkasan dan ketepatan dari gerakan-gerakan tadi. Ketidakmampuan koordinasi otot ini akan terjelma dalam bentuk kelainan ataxisdismentri. Test hidung-jari telunjuk Test jari-hidung Test pronasi-supinasi Test tumit-lutut 1. . 3-5 mm untuk ujung jari. 4-6 mm untuk bagian dorsal jari. perlu diobservasi gerakan-gerakan yang dilakukan oleh selama anamnesis. mengambil benda dan gerakan lain. Dasar dari koordinasi ini ialah kerjasama otot-otot. Daerah pemeriksa adalah bagian palmar tangan. 4. jari-jari dan muka. observasi pada saat pasien melakukan gerakan-gerakan biasa. Observasi Sebelum melakukan test.

Test dilakukan untuk tangan kanan. Test hidung-jari telunjuk Dari sikap lengan ekstensi penuh pasien menunjuk hidungnya sendiri kemudian menunjuk jari telunjuknya pemeriksa secara berganti-ganti. 4. Tes dilakukan untuk tumit kanan dan kiri. Penilaian : koordinasi dinilai terutama berdasarkan ketangkasan dan ketepatan gerakan yang dilakukan oleh semua test. Pasien diminta untuk melakukan gerakan ini secara perlahan kemudian makin cepat dan sebaliknya.2. Test pronasi-supinasi Dalam sikap duduk pasien disuruh meletakkan tangan diatas bagian distal paha. Dapat pula gerakan ini dilakukan berlawanan arah dari bawah ke atas. kemudian tangan kiri tetapi sebaiknya juga dilakukan bersamaan kanan dan kiri. mulamula secara pronasi (telapak tangan ke bawah) kemudian supinasi (telapak tangan ke atas) dan gerakan-gerakan ini dilakukan secara berganti-ganti mula-mula perlahan makin lama makin cepat. Dengan posisi lengan ekstensi penuh dan abduksi lengan sedikit diatas horizontal pasien disuruh menunjuk hidung sendiri dengan gerakan lambat dan makin cepat. Test dilakukan untuk tumit kanan dan kiri. Dapat dilakukan dengan mudah pada posisi berbaring. Selama test berlangsung pemeriksa dapat merubah lengan pasien pada berbagai derajat. Gerakan dilakukan berulang-ulang mula-mula perlahan kemudian makin cepat. . 3. 5. Test jari hidung Test ini sama dengan test hidung jari telunjuk. Test tumit lutut Dalam sikap berbaring pasien disuruh meletakan tumit kaki diatas lutut kanannya kemudian menggerakkan tumit tersebut menyusuri tulang tibia kearah distal sampai dorsum kaki dan ibu jari kaki. Jari telunjuk pemeriksa berpindah-pindah posisi selama berlangsung.