You are on page 1of 6

RINGKASAN

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
PERNERAPAN KAWASAN TANPA ROKOK (KTR)

DILINGKUNGAN PERSYARIKATAN
DAN AMAL USAHA MUHAMMADIYAH

Sebagai upaya untuk melindungi warga negara Indonesia, pemerintah telah
mengeluarkan Undang – Undang Kesehatan Nomor 36/2009 yang di dalamnya
mengatur tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) pada pasal 115. Sejalan dengan
hal tersebut, Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar di
Indonesia memiliki komitmen terhadap perlindungan dan kesehatan masyarakat.
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah mengeluarkan
Fatwa Nomor 6/SM/MTT/III/2010 tanggal 22 Rabiul Awal 1431 H / 08 Maret
2010 tentang hukum merokok yang menyatakan bahwa merokok dapat
merugikan kesehatan dan hukumnya haram. Selanjutnya Pimpinan Pusat
Muhammadiyah No 412/I.0/H/2011 telah mengeluarkan edaran tentang
penerapan kawasan tanpa rokok dilingkungan Muhammadiyah.
Landasan hukum tersebut di dukung oleh Pernyataan Kesepakatan Bersama
empat Majelis dilingkungan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yaitu Majelis
Pelayanan Kesehatan Umum (MPKU) No 031/PER/I.6/H/2010, Majelis
Pendidikan Dasar Menengah (DIKDASMEN) No. 117/PER/I.4/F/2010, Majelis
Perguruan Tinggi (DIKTI) No. 299/KEP/I.3/D/2010 dan Majelis Pelayanan
Kesehatan Sosial (MPS) No. 28/PER/I.7/H/2010 yang mengharuskan penerapan
Kawasan Tanpa Rokok didalam lingkungan Muhammadiyah.
Mempertimbangkan hal-hal tersebut diatas, Majelis Pelayanan Kesehatan
Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah memandang perlu membangun
kesepahaman diberbagai jajaran untuk melakukan perlindungan masyarakat
terhadap paparan asap rokok secara konkrit melalui penerapan dan
pengembangan Kawasan Tanpa Rokok (KTR)
B. Tujuan
1. Memberikan panduan tentang langkah-langkah pokok untuk pengembangan
dan pelaksanaan KTR
2. Sebagai dasar untuk mengembangkan lebih lanjut sesuai dengan kondisi dan
situasi masing-masing.

A. Latar Belakang

C. Landasan
1. Kesehatan merupakan hak asasi manusia yang sesuai dengan amanat
Undang-Undang Dasar 1945 (Republik Indonesia, 1945) serta UndangUndang No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
2. Pekerja dan karyawan mempunyai hak untuk bekerja di lingkungan kerja
yang sehat dan tidak membahayakan. UNDANG-UNDANG No 13 Tahun
2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN pasal 86

1

14. Perlindungan Anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup. 15. Tempat Kerja adalah tempat tertutup yang digunakan untuk bekerja dengan mendapatkan konpensasi normal (Upah / Gaji) termasuk tempat-tempat lain didalamnya yang digunakan/dilintasi oleh pekerja. KTR mencakup : .Tempat ibadah . Ruang Tertutup adalah tempat atau ruang yang ditutup oleh atap dan dibatasi oleh satu dinding atau lebih terlepas dari material yang digunakan dan struktur yang permanen atau sementara. Bab IX Pasal 46. alkohol. salah satunya harus bebas asap rokok. pasien dan pengunjung. Merokok adalah kegiatan untuk menyalakan produk tembakau terlepas baik asapnya di isap atau tidak. 4. Tempat Umum adalah semua tempat tertutup yang dapat diakses oleh masyarakat umum dan / atau tempat yang dimanfaatkan bersama-sama untuk kegiatan masyarakat. kegiatan produksi. kimia atau biologis dan perilaku. Pengembangan KTR adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan. tumbuh. 11. Pasal 29 butir 1(t). Penerapan KTR adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan memberlakukan suatu area terlarang untuk kegiatan penggunaan.Tempat proses belajar mengajar . martabat serta nilai-nilai agama. 9. dalam bentuk fisik. terlepas dari kepemilikan atau hak untuk menggunakan. penyimpanan atau gudang. dan zat adiktif lainnya (napza) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59. penyimpanan atau gudang. yang biasanya merupakan asap yang dihembuskan oleh perokok dari mulut/hidung perokok 12.Fasilitas pelayanan kesehatan . Udara Bebas Asap Rokok adalah udara yang 100% bebas dari asap rokok termasuk udara dimana asap rokok tidak bisa dilihat. Bab IX Pasal 45 Ayat 1). Undangundang No 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit Bab VIII. (Bab III Pasal 4. 23/2002 PERLINDUNGAN ANAK. perawatan. promosi dan sponsorsip rokok. memperluas area KTR dan / atau meningkatkan kualitas lingkungan area KTR. iklan. Kawasan Tanpa Rokok (KTR) adalah area yang dinyatakan dilarang untuk berbagai hal menyangkut rokok baik itu penggunaan. berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. 4.Tempat bermain anak-anak . Pengertian Kawasan Tanpa Rokok 1. Zat Adiktif adalah bahan yang penggunaannya dapat menimbulkan ketergantungan psikis. 13. dicium. 3. dilakukan melalui upaya pengawasan. Anak-anak mempunyai hak yang khusus untuk tumbuh dan berkembang di lingungan yang sehat. Memberlakukan seluruh lingkungan rumah sakit sebagai kawasan tanpa rokok D. 2 . pencegahan. 67) Perlindungan khusus bagi anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika. penjualan.Setiap pekerja atau buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja. moral dan kesusilaan dan perlakuan yang sesuai dengan harkat. Lingkungan yang sehat adalah lingkungan yang bebas dari resiko yang membahayakan kesehatan dan keselamatan hidup manusia. 10. promosi dan sponsorsip rokok. psikotropika. dan rehabilitasi oleh pemerintah dan masyarakat. iklan.Kantor dan Sekretariat Muhammadiyah dan Ortomnya 2. Rumah sakit memiliki kewajiban untuk menerapkan kawasan tanpa rokok sebagai upaya dalam melindungi karyawan. AROL (Asap Rokok Orang Lain) adalah asap yang keluar dari rokok yang menyala atau dari produk tembakau lain.Fasilitas pelayanan sosial . dirasakan ataupun diukur. 3. UNDANG– UNDANG NO. kegiatan produksi. 16. penjualan. dan terlibat dalam produksi dan distribusinya.

c. struktur organisasi kelompok kerja dan wewenangnya. ruang kelas.Penerapan Kawasan Tanpa Rokok di seluruh area lembaga layanan kesehatan yang meliputi ruang pelayanan. anggaran. media sosialisasi. kantin / swalayan. Persiapan Kegiatan. Implementasi non medis dilakukan antara lain : . Implementasi pelayanan non medis. waktu dan tempat. b. Kantor dan Sekretariat Muhammadiyah dan Ortom adalah pusat kegiatan Persyarikatan Muhammadiyah dan/atau organisasi otonomnya dari tingkat ranting hingga tingkat pusat. sarana dan prasarana. Analisis Situasi. poster. Bustanul Athfal. f. Informasi-informasi dimaksud dapat diperoleh melalui pengumpulan publik opinion maupun survey yang dilakukan oleh tim atau lembaga yang berkompeten. kegiatan. dan pengguna jasa layanan kesehatan.Menyediakan sarana dan prasarana untuk menunjang implementasi KTR. Tempat Proses Belajar Mengajar adalah fasilitas berlangsungnya proses belajar mengajar baik formal seperti PAUD. Klinik. Pelaksanaan a. Implementasi Pelayanan Kesehatan Pelaksanaan KTR mencakup implementasi pelayanan non medis. E. Implementasi di Pelayanan Sosial 1. tempat parkir. maupun tempat non formal seperti TPA atau TQA dan lain sebagainya. implementasi pelayanan medis. Lembaga Pendidikan. dan sejenisnya 18. Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. fasilitas pendukung yang diperlukan. Amal Usaha Muhammadiyah ’Aisyiyah seperti Lembaga Pelayanan Kesehatan. pengorganisasian dan mekanisme kerja. Tempat Ibadah adalah fasilitas untuk menjalankan ibadah dan kegiatan keagamaan seperti Masjid maupun Mushola dan forum pertemuan atau pengajian. Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah fasilitas untuk memberikan layanan kesehatan seperti Rumah Sakit. 2) Audio visual 3) Forum-forum pertemuan dan pengajian 4) Tatap muka 2. Penyusunan Rencana Komprehensif Penerapan KTR. dan unit yang lain . petunjuk teknis. Lembaga Sosial. Koperasi dan lain sebagainya. pimpinan. 21. Implementasi medis. tempat parkir. kesiapan dan pendapat dari pengurus. Implementasi fisik. Implementasi medis dilakukan oleh tenaga kesehatan dalam bentuk motivasi. diperlukan analisis situasi untuk mengetahui kondisi awal. misalnya penyediaan layanan edukasi dan konseling berhenti merokok 2. Langkah-Langkah Penerapan Untuk menerapkan Kawasan Tanpa Rokok diperlukan zona-zona yang strategis antara lain di Kantor-kantor Persyarikatan beserta Otomnya. Persiapan kegiatan yang dilakukan antara lain penyusunan Surat Keputusan pengangkatan kelompok kerja. Kelompok Kerja menyusun rencana secara detail yang antara lain meliputi program. pengobatan. Implementasi fisik dilakukan antara lain : . d. Konsolidasi Kelompok Kerja Konsolidasi organisasi dilakukan secara terencana dan intens baik rutin maupun insidentil. kantin / swalayan. 19. dan perawatan tentang bahaya rokok dan upaya berhenti merokok. Langkahlangkah penerapan Kawasan Tanpa Rokok di zona-zona tersebut meliputi : 1. Sebelum menyusun rencana kegiatan. tanda peringatan. edukasi. anjuran. Sosialisasi Penerapan KTR Sosialisasi penerapan KTR dilakukan dalam bentuk : 1) Media yang dicetak seperti leaflet. Persiapan Penerapan a. Penyiapan Infrastruktur Infrastruktur yang perlu disiapkan antara lain kebijakan resmi pimpinan. karyawan. dan Lingkungan Berbasis Masyarakat. dan ruangan lainnya di lingkungan pendidikan 3 . Rumah Bersalin. seruan. ruang perawatan. serta rencana monitoring dan evaluasi e. 20. dan implementasi pembangunan serta pengembangan jaringan 1. Fasilitas Amal Usaha Ekonomi adalah fasilitas yang terkait dengan kegiatan pemberdayaan ekonomi seperti BMT. penanggung jawab. b.Penerapan Kawasan Tanpa Rokok di seluruh area lembaga pendidikan yang meliputi ruang tenaga pengajar. permasalahan yang ada.17. sasaran. instrument– instrumen.

dan ruangan lainnya di lingkungan pendidikan . c. 2. Implementasi tempat bermain anak-anak 1. edukasi tentang bahaya rokok dan upaya berhenti merokok. Implementasi kegiatan fisik dilakukan dengan Penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di ruang publik seperti kantor kelurahan. misalnya poster. misalnya penyediaan layanan edukasi dan konseling berhenti merokok oleh unit terkait sebagai contoh guru bimbingan konseling Implementasi kegiatan non fisik. Implementasi fisik. 2. Implementasi fisik. ruang kelas. edukasi tentang bahaya rokok dan upaya berhenti merokok. d. Monitoring dan Evaluasi a. peringatan hari besar dan kegiatan lainnya. Implementasi non fisik dilakukan oleh tenaga terlatih dalam bentuk motivasi. stiker dan poster dilarang merokok.- 2. Implementasi oleh tenaga terlatih dalam bentuk motivasi dan edukasi tentang bahaya rokok. Implementasi oleh tenaga terlatih dalam bentuk motivasi dan edukasi tentang bahaya rokok e. misalnya penyediaan layanan edukasi dan konseling berhenti merokok oleh unit terkait sebagai contoh guru bimbingan konseling 2.Menyediakan sarana dan prasana untuk menunjang implementasi KTR seperti spanduk. Implementasi kegiatan non fisik. ruang tunggu. Implementasi non fisik dilakukan oleh tenaga terlatih dalam bentuk motivasi. dapur. Implementasi kegiatan non fisik. koridor. Implementasi di tempat proses belajar mengajar 1. - f. Implementasi tempat ibadah 1. Implementasi kegiatan non fisik. spanduk.Penerapan Kawasan Tanpa Rokok di seluruh area lembaga pendidikan yang meliputi ruang tenaga pengajar.Menyediakan media informasi untuk menunjang implementasi KTR. Bila memungkinkan. Implementasi fisik. Implementasi fisik dilakukan antara lain : .Penerapan Kawasan Tanpa Rokok di seluruh lingkungan kantor dan sekretariat Muhammadiyah yang meliputi ruang kerja karyawan. ruang rapat/pertemuan. Implementasi fisik. Implementasi non fisik dilakukan oleh tenaga terlatih dalam bentuk motivasi. g. Implementasi kegiatan non fisik. Implementasi fisik dilakukan antara lain: . Implementasi fisik dilakukan antara lain : . Implementasi non fisik dilakukan oleh tenaga terlatih dalam bentuk motivasi. edukasi tentang bahaya rokok dan upaya berhenti merokok. menjual rokok dan iklan perusahaan rokok 2. . stiker tentang informasi dan edukasi bahaya merokok. dan ruangan lainnya .Menyediakan sarana dan prasarana untuk menunjang implementasi KTR. taman bermain. Menyediakan sarana dan prasarana untuk menunjang implementasi KTR. kantin / swalayan. tempat parkir. Pengembangan hasil evaluasi dan pelaporan dibuat secara kuantitatif dan atau kualitatif 4 . kamar mandi.Melarang kegiatan-kegiatan yang disponsori oleh perusahaan rokok . b. Implementasi lingkungan kantor dan sekretariat Muhammadiyah dan Ortom 1. Monitoring Monitoring dilakukan oleh unit pembantu pimpinan persyarikatan (lembaga/majelis).Penerapan Kawasan Tanpa rokok (KTR) diseluruh area bermain baik di taman maupun lapangan bermain.Melarang kegiatan-kegiatan yang disponsori oleh perusahaan rokok Menyediakan sarana dan prasana untuk menunjang implementasi KTR seperti spanduk. menjual rokok dan iklan perusahaan rokok 2. Pemantauan evaluasi pelaporan dilakukan secara periodik. Implementasi di Lingkungan Berbasis Komunitas 1. Pemantauan evaluasi pelaporan. 3. forum warga. Implementasi fisik. edukasi tentang bahaya rokok dan upaya berhenti merokok. Implementasi kegiatan non fisik. kantin / swalayan. . Implementasi fisik dilakukan antara lain: .Penerapan Kawasan Tanpa rokok (KTR) diseluruh area tempat ibadah (mesjid atau mushola) termasuk lapangan parkir. untuk menjamin validasi data perlu didukung hasil penelitian dari Perguruan Tinggi c. stiker dan poster dilarang merokok. ruang kerja ortom.

dan pegawai kantor Muhammadiyah dan amal usaha Muhammadiyah. Intensitas penataan lingkungan bersih dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat g. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium b. Langkah-langkah Pengembangan KTR 1. Puskesmas. dan Amal Usaha Muhammadiyah-’Aisyiyah). c. Jaringan internal persyarikatan (Muhammadiyah.Training kelompok kerja 3) Supervisi dan monitoring. Memperluas Kawasan Tanpa Rokok 2. leaflet. LSM. Sanksi diberikan kepada : 1) Penanggung jawab KTR yang gagal mewujudkan KTR di wilayah kerjanya 2) Pengurus. f. Pengembangan layanan Model-model pengembangan layanan KTR dapat dilakukan dalam bentuk : 1) Klinik berhenti merokok dan konseling yang menyatu dengan pelayanan kesehatan lainnya 2) Klinik berhenti merokok dan konseling sebagai layanan tersendiri 3) Optimalisasi peran guru BK dan UKS/Puskespan Metode Layanan 1) Konseling individu 2) Konseling kelompok 3) Kontak telepon untuk mengingatkan jadwal konseling 4) Penyebaran informasi. antara lain Dinas Kesehatan Setempat. Perincian Langkah-langkah Teknis Ada tiga langkah yang perlu dilakukan yaitu : a. questioner. Mendirikan Layanan berhenti merokok atau bimbingan konseling 1) Konsolidasi analisa masalah 2) Menyelenggarakan Training .4. Penghargaan dan Sanksi 1. staf. Ortom lainnya. Pembangunan dan Pengembangan Jaringan. Langkah-langkah Pengawasan Untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok maka perlu dilakukan pengawasan dan evaluasi atas pelaksanaan kebijakan tersebut. social media dan audio visual 5. Meningkatkan jaringan baik internal persyarikatan maupun eksternal 4. Sanksi a. Untuk melakukan penagwasan bias dilakukan beberapa langkah berikut ini : a. : . . a. Penghargaan diberikan dalam bentuk : 1) Ucapan terima kasih 2) Insentif sesuai kondisi lokal 3) Piagam penghargaan 2. Penghargaan diberikan kepada : 1) Pelopor pembentukan KTR 2) Penanggungjawab KTR yang wilayah kerjanya benar-benar bebas dari rokok 3) Motivator yang telah berhasil menghentikan perilaku perokok 4) Pasien yang telah berhasil berhenti merokok 5) Orang yang melaporkan adanya kegiatan merokok di KTR dengan disertai bukti yang dapat dipertanggungjawabkan b. siswa dan mahasiswa lembaga pendidikan Muhammadiyah yang merokok di KTR b. Penghargaan.Training untuk staf (in-house training) tentang bahaya merokok . Supervisi dan monitoring dilakukan untuk memonitor dan mengevaluasi perkembangan efektifitas layanan berhenti merokok. dan aparat setempat. Menentukan rencana monitoring dan evaluasi Perencanaan monitoring dan evaluasi meliputi pengorganisasian seperti penentuan penanggung jawab dan pelaksana monitoring dan evaluasi dan 5 .Training motivator dan training untuk menjadi konselor bagi para pelaksana. Jaringan eksternal dengan pihak-pihak terkait. b. ’Aisyiyah. Tekniknya dapat dilakukan dengan cara wawancara. pimpinan. Meningkatkan kualitas sarana-prasarana layanan 3. a. Bentuk sanksi : 1) Teguran 2) Peringatan lisan 3) Peringatan tertulis 4) Sanksi sosial 5) Denda sesuai dengan kondisi dan kesepakatan lokal h.

Jakarta. Hasil dari monitoring menjadi masukkan dan bahan untuk melakukan evaluasi untuk perbaikan pelaksanaan kebijakan KTR. 2 atau 3 bulan. dilaksanakan secara berkala setiap 1.juga penentuan instrument dan indicator yang akan dilaksanakan dalam proses monitoring dan evaluasi. c. Melakukan monitoring secara berkala Monitoring secara berkala dilakukan untuk mengetahui perkembangan dan pengaruh dari kebijakan KTR di sebuah institusi. Monitoring dilaksanakan secara rutin sebagaiamana ditetapkan pada rencana monitoring dan ebaluasi misalnya setiap 1. Selain itu evalusai juga dilaksanakan sebagai sebuah mekanisme rutin setelah melakukan monitoring.2 atau 3 bulan sesuai dengan rencana monitoring yang telah ditetapkan. i. b. Serta untuk membiasakan perilaku hidup sehat dalam lingkungan persyarikatan dan amal usaha Muhammadiyah. Penutup Penerapan kawasan tapa rokok ini bukan untuk mendiskriminasikan perokok akan tetapi mengajarkan dan mendidik perokok untuk tidak sembarangan merokok. Melakukan Evaluasi Evaluasi dilakukan pada awal kebijakan KTR dilaksanakan untuk melakukan assessment kondisi awal sebelum pelaksanaan kebijakan KTR. November 2011 6 .