You are on page 1of 6

BAB I

Moluskum Kontangiosum
1.1

Pendahuluan
Moluskum Kontangiosum (MK) merupakan neoplasma jinak yang

terdapat pada jaringan kulit dan mukosa yang disebabkan oleh virus Molluscum
Contangiosum (MCV). Molluscum Contangiosum Virus (MCV) termasuk dalam
kelompok Pox virus dari genus Molluscipox virus. Sampai saat ini MCV belum
dapat dikembangbiakkan pada kultur jaringan atau pada hewan percobaan
(Nugroho, 2009).
Moluskum kontangiosum dapat ditemukan di seluruh dunia dan bersifat
endemis, biasanya pada daerah tropis, komunitas padat penduduk, higiene yang
kurang baik dan penduduk miskin. Penyakit Moluskum Kontangiosum ini lebih
sering menyerang pada anak-anak. Pada dewasa sering terjadi karena kehidupan
seksualnya yang aktif, dan orang-orang yang mengalami gangguan imunitas.
Penularan moluskum kontangiosum biasanya dapat melalui kontak langsung yaitu
dengan autoinokulasi atau lesi aktif, dan cara tidak langsung yaitu dengan melalui
pemakaian bersama barang pribadi seperti handuk, pisau cukur, atau melalui
kontak seksual (Arista, 2010).
Penegakkan diagnosis pada moluskum kontangiosum bisa didapat melalui
pemeriksaan fisik dengan melihat gejala klinis yang muncul. Lesi yang
ditimbulkan oleh MCV biasanya berwarna putih, merah muda atau warna daging,
papul dengan peninggian (diameter 1-5 mm) atau dapat juga berupa nodul dengan
diameter sekitar 6-10 mm. Lesi pada moluskum kontangiosum dapat timbul
sebagai lesi multiple atau single. Meskipun pada umumnya penderita tidak
memunculkan gejala atau asimtomatis, ekzema yang muncul pada penderita bisa
menjadi terasa gatal atau nyeri. Jika pada penderita imunodefisiensi seperti pada
penderita HIV/AIDS, lesi akan lebih lama sembuh dan mudah menyebar ke
lokasi-lokasi lain pada tubuh. Dan akan mudah mengalami kekambuhan meskipun
sudah mendapat terapi yang baik.
1.2

Etiologi dan Gambaran Klinis Moluskum Kontangiosum

1

dan granuloma pyogeni. tetapi dapat juga muncul lebih dari itu yang bersatu membentuk plakat. Pemeriksaan penunjang pada moluskum kontangiosum dilakukan dengan pemeriksaan histopatologi dan didapatkan gambaran proliferasi dari sel-sel stratum spinosum yang membentuk lobule disertai central cellular dan viral debris. kondilomata akuminata. MCV III. virion yang hampir matang. Peran yang paling besar virulensinya dari keempat subtipe tersebut adalah subtipe I. badan. permukaannya halus dengan umbilikasi pada bagian tengahnya. berupa partikel berbentuk susunan seperti batu-bata. namun dapat juga timbul pada intraoral. Terdapat empat bentuk virion. Jika pada orang dewasa seringkali muncul pada daerah genital dan abdomen bagian bawah karena kejadian tersebut ditularkan melalui hubungan seksual. ekstremitas. (Arista. Empat subtipe utama pada Molluscum Contangiosum Virus (MCV) yaitu MCV I. intraokular. dan MCV IV. dan perioral. Jumlah lesi biasanya kurang dari 30 buah. 2009) Masa inkubasi antara 1 minggu sampai 6 bulan dengan rata-rata waktu 2 sampai 3 bulan. perianal.Molluscum Contangiosum Virus (MCV) adalah virus bentuk lonjong dengan ukuran sekitar 230 x 330 nm dan merupakan virus double stranded DNA. Lesi pada moluskum kontangiosum berkonsistensi kenyal. Untuk subtipe yang lain telah diidentifikasi dan ketiganya menimbulkan manifestasi klinis yang mirip dan tidak terlokalisir pada lokasi atau bagian tubuh tertentu. 2010) 2 . berukuran 150 x 350 nm. Lesi jarang tampak pada bagian telapak tangan maupun kaki. berbentuk lipsoidal. skrotum. Diameter lesi bisa sampai 1. Diagnosis banding dari moluskum kontangiosum adalah veruka vulgaris. Pada anak-anak distribusi manifestasi klinis dari moluskum kontangiosum biasanya tampak pada muka. dan virion yang belum lengkap. Keempat subtipe tersebut menimbulkan manifestasi klinis berupa lesi papul milier yang terbatas pada membran mukosa dan kulit. yaitu: virion yang matang. veruka plana. dan inguinal. (Nugroho. Ekstimatisasi atau dermatitis moluskum bisa tampak di sekitar kulit yang terdapat lesi.5 cm pada penderita imunodefisiensi. MCV II. berukuran 150 x 350 nm.

Gambar 1. Gambar 2. 1. Diagnosis moluskum kontangiosum pada pasien HIV berdasarkan gejala klinis yang tampak dan hanya sebagian kecil kasus yang dilakukan pemeriksaan dengan biopsi. Pada pasien HIV tahap lanjut. Gambaran klinis papul pada moluskum kontangiosum.3 Moluskum Kontangiosum dan Ulserasi Vulva Kronis sebagai Manifestasi Klinis Pertama pada Penderita HIV Angka kejadian moluskum kontangiosum pada penderita HIV meningkat dari 8% menjadi 33%. Moluskum kontangiosum pada pasien dengan imunokompromais. moluskum kontangiosum dapat muncul sebagai infeksi oprtunistik dan dapat menyebar 3 .

Mekanisme yang mungkin terjadi pada hiperplasi epidermis disebabkan oleh Mollscum Contangiosum Virus (MCV) termasuk peningkatan regulasi reseptor epidermal grwoth factor. penyebab yang pasti diketahui karena imunosupresi. Tetapi. yang mengarah pada pengurangan jumlah sitokin menyebabkan kerentanan terhadap infeksi moluskum kontangiosum. bahwa pasien dengan riwayat moluskum kontangiosum dan ulserasi pada vulva perlu dialkukan tes serologi untuk HIV dengan tujuan supaya deteksi dapat dilakukan secara dini. (2010) telah menguji 305 penderita HIV dan mendapatkan hasil 47% mengalami gejala moluskum kontangiosum. anomali vesikel. 1. Sebagai kesimpulan. Ulserasi vulva kronis pada penderita positif HIV masih langka dan patogenesis belum diketahui secara pasti. Penelitian ini selanjutnya didukung oleh Schwartz dan Myskowski. Pada pasien dengan sindrom hiper-IgE. perubahan respon pejamu.sebagai lesi yang lebih besar serta sering resisten terhadap terapi yang diberikan. gangguan regulasi pada siklus sel atau kmobinasi dari semuanya.4 Imunologi Interferon α dan tumor necrosis factor β mendominasi daerah lokal berdekatan dengan molluscum contangiosum bodies. dan infeksi langsung dari HIV itu sendiri. Dua pola respon imunologi utama terhadap infeksi virus moluskum kontagiosum adalah munculnya lesi tanpa sel-sel imun dan aktivitas imunologi yang kuat. Moluskum kontangiosum cenderung mempengaruhi pasien yang positif HIV tahap lanjut dan dengan CD4+ yang rendah. yang menemukan bahwa pasien HIV dengan CD4+ rendah memiliki gambaran lesi moluskum kontangiosum yang signifikan. Beberapa penelitian yang telah dilakukan untuk mencari keterkaitan antara kejadian moluskum kontangiosum pada pasien dengan imunodefisiensi.5 Deteksi Molluscum Contangiosum Virus (MCV) DNA pada Plasma 4 . 1. Banyaknya infiltrat oleh limfosit polimorfik didapatkan dari hasil biopsi sampel lesi moluskum kontagiosum. Ulserasi vulva paling banyak disebabkan oleh Herpes Simplex Virus. dan tidak dapat disingkirkan juga bahwa infeksi HSV banyak terdapat pada penderita positif HSV stadium lanjut. Mahe et al. defisiensi tirosin kinase 2.

dan interferon-a sistemik. 1. Hasil dari penelitian menemukan bahwa dari hasil evaluasi pasien dengan imunodefisiensi sel T parah akibat kekurangan protein sitokin 8 (DOCK8) ditemukan MCV DNA pada plasma pasien. rekurensi penyakit. berbeda dengan penderita yang mengalami imunokompromais. 1. Lesi tampak lebih besar. Pada pemeriksaan histopatologi akan tampak gambaran hipertropi dari epidermis dan hiperplasia. podophyllotoxin. MCV dapat mempengaruhi pada sebagian besar anggota tubuh. hingga 1 cm. imiquimod topikal.7 Penatalaksanaan Moluskum Kontangiosum Memperbaiki higiene perorangan atau keluarga adalah langkah awal secara umum.6 Diagnosis Moluskum Kontangiosum Bentuk lesi yang cukup khas pada moluskum kontangiosum berupa papul padat dengan umbilikasi sentral sudah cukup menggambarkan gejala klinis yang khas sehingga tidak sukar untuk menegakkan diagnosis. Pada lapisan basal bagian atasnya akan terlihat sel yang membesar berisi benda inklusi intrasitoplasmik besar (Handerson-Paterson bodies). Pada pasien dengan penurunan sel T. MCV diduga tidak menyebar dalam darah pada penderita sehat. tetapi pada pasien dengan imunokompromais MCV DNA muncul terdeteksi dalam darah dan menyebar secara viremia. serta kecenderungan pengobatan yang menimbulkan lesi pigmentasi atau jaringan 5 . Meskipun moluskum kontangiosum dapat sembuh sendiri. dan deteksi DNA virus dalam darah belum dilaporkan. Pemberian terapi pada pasien dilakukan dengan beberapa pertimbangan kebutuhan pasien. sidofovir topikal. Pewarnaan dengan cat Giemsa dari sampel dan pemeriksaan histopatologi dapat dilakukan jika diperlukan. tetapi perlu dilakukan tindakan tertentu supaya tidak terjadi transmisi terhadap orang lain atau inokulasi sendiri. Infeksi MCV diduga disebarkan oleh inokulasi virus ke kulit dari orang ke orang atau dengan autoinokulasi dari goresan. Pengobatan pada pasien dengan imunokompromais pun lebih menantang karena menggunakan pilihan seperti kuretase. Meskipun MCV disebabkan oleh inokulasi langsung virus tersebut ke dalam kulit orang yang sehat.Penderita moluskum kontangiosum yang awalnya sehat.

dan bedah beku dengan nitrogen cair.1 %. solusio fenol jenuh. Sebagian besar terapi pada moluskum kontangiosum bersifat traumatik terhadap lesi sel. tinktura yodium 1%. 6 . solusio asam trikloroasetat 25-50%.9 %. (Nugroho. asam retinoat 0. Kecuali pada penderita dengan gangguan imunitas maka moluskum kontangiosum akan susah sembuh. 2009) Jumlah clearance oleh paparan sistem kekebalan tubuh dapat secara efektif dicapai dengan kombinasi terapi ablasi fisik dan pengobatan topikal.parut. dan flourourasil. Pengobatan dengan bahan kimia dapat dilakukan dengan solusio kontaridin 0. bedah listrik menggunakan elektrodesikator. Terapi yang sering dilakukan pada pasien dengan moluskum kontangiosum yang sudah parah adalah dengan kuretase. bedah laser. Dengan pengobatan yang efektif prognosisnya akan baik. Penatalaksanaan ini bertujuan untuk menghilangkan lesi sel sehingga kulit dapat terkelupas.