You are on page 1of 116

KEGIATAN 2010 - 2011

Direktorat Jenderal Sumber Daya Air


Kementerian Pekerjaan Umum

Kata Pengantar
Direktur Jenderal Sumber Daya Air
foreword from director general of water resources

Terwujudnya kemanfaatan sumber


daya air yang berkelanjutan, untuk
sebesar-besarnya kesejahteraan
masyarakat Indonesia

Establishing sustainable water


resources utilizations for the welfare of
entire Indonesian society

Visi dalam pengelolaan sumber daya air di


Indonesia sampai tahun 2025 adalah Terwujudnya
kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan,
untuk sebesar-besarnya kesejahteraan
masyarakat Indonesia. Visi tersebut dilaksanakan
melalui misi: menjaga kelestarian sumber daya
air; meningkatkan pendayagunaan sumber daya air
dan mengendalikan daya rusak air; yang didukung
oleh peran serta masyarakat dan dunia usaha
dalam pengelolaan sumber daya air keterbukaan
serta ketersediaan data dan informasi dalam
pengelolaan sumber daya air.

The vision of water resources management in


Indonesia until 2025 is Establishing sustainable
water resources utilizations for the welfare of entire
Indonesian society. This stated vision is carried out
within: conserving water resources sustainability,
improving the utilization of water resources and
controlling water destructive force. The vision
also supported by public and business community
involvement in management of water resources,
as well as data and information availability in
management of water resources.

Dalam upaya melaksanakan pengelolaan


sumber daya air terpadu sejak tahun 2010
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen
SDA) telah melakukan restrukturisasi organisasi
berdasarkan Peraturan Menteri No. 28/2010.
Salah satu hal yang telah dilaksanakan adalah
membentuk Direktorat Bina Operasi dan
Pemeliharaan, Direktorat Sungai dan Pantai,
Direktorat Irigasi dan Rawa serta Direktorat
Bina Penatagunaan Sumber Daya Air. Kami
berharap bahwa segala upaya pembaharuan dalam
pengelolaan sumber daya air, baik teknik maupun
non teknik, memberikan manfaat untuk masyarakat.

Since 2010, DGWR has been restructuring its


organization based on the Minister Act No. 28/2010
to implement the integrated water resources
management. One of the things that have been
applied is the establishment of Directorate of
Operation and Maintenance, Directorate of River
and Coastal, Directorate of Irrigation and Lowland
also Directorate of Water Resources Utilization
Management. Hopefully, all improvements in the
management of water resources, both technical and
non technical, provide advantage to society.

Buku Kegiatan Sumber Daya Air 2010-2011 ini


merupakan upaya penyebarluasan informasi
tentang kebijakan, program dan kegiatan seputar
pengelolaan sumber daya air, sekaligus sarana
komunikasi dengan seluruh pemilik kepentingan
di bidang sumber daya air. Dengan diterbitkannya
buku ini, kami ingin mengajak serta masyarakat
dan dunia usaha untuk bersama-sama peduli
dan berpartisipasi dalam menjaga kelestarian
sumber daya air, meningkatkan pendayagunaan
sumber daya air dan mengendalikan daya rusak
air, sehingga kita dapat mencapai kehidupan yang
lebih baik dan sejahtera.

Jakarta, December 2011

03

Direktur Jenderal Sumber Daya Air


Director General of Water Resources
Mochammad Amron

The Book of Performance of The Directorate


General of Water Resources 2010-2011 is one of
the effort to disseminate the information about
water resources management on the subject of
policies, programs and activities, it is also function
as a communication tool among water resources
stakeholder. With the publication of this book, DGWR
would like to encourage the public and business
in water resources sector to put more attention
on and participate in maintaining water resources
sustainability, improving the utilization of water
resources and controlling water destructive force,
and together we are able to achieve a better and
prosperous life.

Daftar Isi

Daftar Isi
Table of Contents

Kata Pengantar
Direktur Jenderal Sumber Daya Air
Foreword from
Director General of Water Resources

02

Pengelolaan
Sumber Daya Air Terpadu
Integrated Water
Resources Management

24

Daftar Isi
Table of Contents

04

Pola & Rencana Pengelolaan


Sumber Daya Air
Strategic Water Resources
Management Plan & Water
Resources Management Plan

26

Produk Hukum dan


Perundang-undangan
Rules & Legislation Products

28

Wadah Koordinasi Bidang


Sumber Daya Air
Water Resources
Coordination Board

31

Gerakan Nasional-Kemitraan
Penyelamatan Air
The National Movement of The
Partnership of Water Preservation

35

Pengendalian dan Pemanfaatan


Sumber Daya Air
Water Resources
Utilization and Control

37

Pengelolaan Hidrologi dan


Kualitas Air
Management of Hydrology
and Water Quality

39

Operasi dan Pemeliharaan


Operation and Maintenance of
Water Resources

41

Direktorat Jenderal
Sumber Daya Air

Directorate General of Water Resources


Visi, Misi dan Strategi Pengelolaan
Vision, Mission and Water Resources
Strategic Management

08

Struktur Organisasi
Organizational Chart

10

Balai Besar Wilayah Sungai


& Balai Wilayah Sungai
River Basin Organizations

12

Pengelolaan Sumber
Daya Air Terpadu
Integrated Water
Resources Management

Potensi Air Indonesia


dan Pemanfaatannya
Water Potential and
Water Utilizations in Indonesia

18

Isu Strategis dan Permasalahan


Sumber Daya Air
Strategic Issues and Problems
of Water Resources

20

Sistem Informasi
Water Resources
Information System
Reformasi Birokrasi
Bureaucracy Reform

43
45

Capaian Kegiatan
Bidang Sumber Daya
Air Tahun 2010-2011
Achievements Water Resources
Management year 2010-2011
Renstra Sumber Daya Air
2010-2014 dan Capaian Kegiatan
Bidang Sumber Daya Air 2010-2011
Strategic Planning in Water
Resources Sector Year 2010-2014
and Achievement of Water Resources
Sector Performance Year 2010-2011

50

Proyek Strategis Bidang


Sumber Daya Air
Strategic Projects of Water
Resources Sector

56

Aceh Aceh

57

Sumatera Utara North Sumatera

60

Sumatera Barat West Sumatera

61

Riau Riau

63

Jambi Jambi

65

Kepulauan Riau Riau Islands

67

Bengkulu Bengkulu

69

Sumatera Selatan South Sumatera

71

Bangka Belitung Bangka Belitung

72

Lampung Lampung

74

DKI Jakarta Jakarta

75

Banten Banten

76

Jawa Barat West Java

78

DI Yogyakarta Yogyakarta

81

Jawa Tengah Central Java

82

Kegiatan 2010-2011

Jawa Timur East Java

84

Kalimantan Barat
West Kalimantan

87

Kalimantan Tengah
Central Kalimantan

89

Kalimantan Selatan
South Kalimantan

90

Kalimantan Timur
East Kalimantan

92

Sulawesi Utara
North Sulawesi

93

Gorontalo Gorontalo

94

Sulawesi Tengah
Central Sulawesi

95

Sulawesi Barat
West Sulawesi

97

Sulawesi Selatan
South Sulawesi

98

Sulawesi Tenggara
South East Sulawesi

100

Bali Bali

101

Nusa Tenggara Barat


West Nusa Tenggara

104

Nusa Tenggara Timur


East Nusa Tenggara

105

Maluku Utara North Maluku

108

Maluku Maluku

111

Papua Barat West Papua

112

Papua Papua

113

05

1
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air
Directorate General of Water Resources

Direktorat Jenderal Sumber Daya Air

Visi, Misi dan Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air


Vision, mission and Water Resources Strategic Management
Kementerian Pekerjaan Umum melalui Ditjen SDA
berwenang melaksanakan pengelolaan sumber
daya air pada wilayah sungai lintas provinsi, lintas
negara dan strategis nasional dengan visi :

Terwujudnya kemanfaatan sumber


daya air yang berkelanjutan.
Dan untuk mewujudkan visi tersebut telah
ditetapkan tiga misi utama, yakni :
1. Menjaga kelestarian sumber daya air.
2. Meningkatkan pendayagunaan sumber daya air.
3. Mengendalikan daya rusak air.
(lihat bagan)

Ministry of Public Works through DGWR has the


authority to implement water resources management
in provincial transboundary river basin territories,
state transboundary river basin territories and
national strategic river basin territories with vision :

Establishing sustainable water


resources utilizations.
And to accomplish mentioned vision, three main
missions has been set, namely:
1. Maintaining the sustainability of water resources.
2. Increasing the utilization of water resources.
3. Controlling the destructive force of water.
(see chart below)

Visi dan misi tersebut dijalankan secara


menyeluruh dan terpadu dengan dukungan peran
masyarakat serta data dan sistem informasi
sumber daya air melalui sebuah strategi
pengelolaan sumber daya air.

The vision and mission are carried out integrally


and comprehensively with support from public
involvement as well as data and information system
of water resources through water resources
strategic management.

Pengelolaan Sumber Daya Air Menyeluruh & Terpadu


Integrated Water Resources Management

Konservasi
SumberDaya Air
Water Resources
Conservation

Data dan Sistem


Informasi Sumber
Daya Air
Water Resources
Data and
Information System

Proses Pengelolaan
Sumber Daya Air
The Process of Water
Resources Management

Merencanakan, Melaksanakan, Memantau,


Mengevaluasi
Planning, Implementing,
Monitoring, Evaluating

Peran
Masyarakat
Public
Involvement
Pendayagunaan
Sumber
Daya Air
Water Resources
Utilization

Pengendalian
Daya Rusak Air
Controlling
The Destructive
Force of Water

Kegiatan 2010-2011

Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air


Water Resources Strategic Management
Misi pengelolaan sumber daya air
Water Resources Management Missions

Kelestarian sumber daya air terjaga


Maintaining the sustainability of water resources
Pendayagunaan sumber daya air meningkat
Increasing the utilization of water resources

Stakeholder & Keuangan


Stakeholder & Financial

Daya rusak air terkendali


Controlling the destructive force of water

Pelayanan yang efektif


Effective Service

Perlindungan dari daya rusak air


Protection from water
destructive force
Ketersediaan regulasi
Regulation availability

Ketersediaan bantuan teknis


Technical support availability

Ketersediaan air baku


Raw water availability

Ketersediaan rekomendasi teknis


Technical recommendation availability

Pemberdayaan masyarakat &


stakeholder (fasilitator IWRM)

Proses Internal
Internal Process

Community & stakeholder


empowerment (IWRM facilitator)

Belajar & Berkembang


Learning & Growing

Ketersediaan info sumber daya air


Water resources information availability

Peran serta stakeholder &


masyarakat meningkat
Community & stakeholder
involvement increased
Koordinasi & kerjasama
stakeholder meningkat
Coordination & cooperation
among stakeholder intensified

Kesiapan SDM/Personel
kompeten dalam pengelolaan
sumber daya air terpadu
Employee readiness in
integrated water resources
management

Peningkatan kerja lembaga


Improvement of institution
performance

Akuntabilitas Lembaga
Institution Accountability

Ketersediaan program
& anggaran
Program & budget availability
Akuntabel secara finansial
Financial way accountability

Peningkatan efektivitas
pembangunan
The effectiveness of
development increased

NSPK Efektif
Effective NSPK

Infrastruktur tersedia
Infrastructure availability

Kepatuhan meningkat
Employee compliance increased

Fungsi terjaga
Maintained infrastructure function

Kualitas kerja meningkat


Employee quality of work increased

Pelayanan terpelihara
Maintained service

Organisasi berbasis kinerja


Performance-based organization

Optimalisasi pemanfaatan
Teknologi Informatika
Optimizing the utilization of
information technology

09

Direktorat Jenderal Sumber Daya Air

Struktur Organisasi

Direktorat Jenderal Sumber Daya Air

Organizational Chart

Directorate General of Water Resources

Direktorat
Bina Program

Direktorat Bina Penatagunaan


Sumber Daya Air

Directorate of Program
Management

Directorate of Water Resource


Utilization Management

SubBag TU

SubBag TU

Office Administration

Office Administration

Sub Direktorat
Kebijakan dan Strategi

Sub Direktorat
Hidrologi dan Kualitas Air

Subdit. of Policy
and Strategy

Subdit. of Hidrology
and Water Quality

Sub Direktorat Program


dan Anggaran

Sub Direktorat Perencanaan


Wilayah Sungai

Subdit. of Program
and Budgeting

Subdit. of River Basin Planning

Sub Direktorat Kerjasama


Luar Negeri

Sub Direktorat Pengaturan

Subdit. of Foreign Cooperation

Subdit. of Regulation

Sub Direktorat Data dan


Informasi Sumber Daya Air

Sub Direktorat Kelembagaan

Subdit. of Water Resources


Data and Information

Subdit. of Water
Resources Institution

Sub Direktorat
Evaluasi Kinerja

Sub Direktorat
Pengendalian Pemanfaatan

Subdit. of Performance
Evaluation

Subdit. of Utilization Control

Kelompok Jabatan Fungsional


Water Resources
Functional Officers

Kegiatan 2010-2011

Sekretariat Direktorat Jenderal


Secretary of Directorate General
of Water Resources

Bagian Kepegawaian
dan Ortala

Bagian Keuangan
dan Umum

Bagian Hukum
dan Per-UU-an

Bagian Pengelolaan
BMN

Human Resources &


Organization Division

Finance & General


Affair Division

Legal
Division

Asset Management
Division

Direktorat Sungai
dan Pantai

Direktorat Irigasi
dan Rawa

Direktorat Bina Operasi


dan Pemeliharaan

Directorate of River
and Coastal

Directorate of Irrigation
and Lowland

Directorate of Operation
& Maintenance

SubBag TU

SubBag TU

SubBag TU

Office Administration

Office Administration

Office Administration

Sub Direktorat
Perencanaan Teknis

Sub Direktorat
Perencanaan Teknis

Sub Direktorat
Perencanaan OP

Subdit. of Technical Planning

Subdit. of Technical Planning

Subdit. of O&M Planning

Sub Direktorat Wilayah I

Sub Direktorat Wilayah I

Sub Direktorat OP Sungai


dan Pantai

Subdit. of Region (

Subdit. of Region I

Subdit. of River
and Coastal O&M

Sub Direktorat Wilayah II

Sub Direktorat Wilayah II

Sub Direktorat
OP Bendungan

Subdit. of Region II

Subdit. of Region II

Sub Direktorat Wilayah III

Sub Direktorat Wilayah III

Sub Direktorat OP Irigasi


dan Rawa

Subdit. of Region III

Subdit. of Region III

Subdit. of Irrigation
and Lowland O&M

Sub Direktorat Prasarana


Konservasi dan Sedimen

Sub Direktorat Air Baku dan


Air Tanah

Sub Direktorat
Penanggulangan Bencana

Subdit. of Conservation
& Sediment Infrastructure

Subdit. of Raw Water


& Ground Water

Subdit. of
Disaster Management

Subdit. of Dams O&M

11

Direktorat Jenderal Sumber Daya Air

Balai Besar & Balai Wilayah Sungai


RIVER BASIN ORGANIZATIONS

Secara konsep, sumber daya air


haruslah dikelola secara komprehensif
berdasarkan wilayah sungai, tidak
berdasarkan wilayah administratif.

Conceptually, water resources have to


be managed comprehensively based
on river basin territory, and not by
administrative boundaries

Untuk mewujudkan konsep tersebut serta untuk


melaksanakan pengelolaan sumber daya air
yang menyeluruh dan berkelanjutan, dibentuk
Balai Besar dan Balai Wilayah Sungai (BBWS &
BWS) yang bertugas melaksanakan pengelolaan
sumber daya air yang meliputi perencanaan,
pelaksanaan konstruksi, serta operasi dan
pemeliharaan dalam rangka konservasi sumber
daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan
pengendalian daya rusak air.

To accomplish this concept and also to implement


holistic and sustainable water resources
management River Basin Organizations (RBOs) are
formed to carry out water resources management;
which include planning, construction, operation
and maintenance in scope of water resources
conservation, water resources utilization, and control
of water destructive force.

Pembentukan BBWS & BWS


merupakan konsekuensi logis dari
adanya kewenangan dan tanggung
jawab pengelolaan sumber daya air
sebagaimana diatur dalam UU
No. 7/2004 tentang Sumber Daya Air
pasal 14, 15, dan 16

The establishment of RBOs is a logical


consequence of water resources
authority and responsibility as ruled
in Law No.7/2004 regarding Water
Resources in article 14, 15, and 16.
The provisioning of river basin territories in Indonesia
refers to Presidential Decree No. 12/2012 Regarding
Stipulation of River Basin Territory, which divides
Indonesias river basin territories into 131; consisting
of 5 state transboundary river basin territories,
29 provincial transboundary river basin territories,
29 national strategic river basin territories,
53 district/municipal transboundary river basin
territories and 15 river basin territories within one
district/municipal.

Penentuan wilayah sungai di Indonesia mengacu


pada Keputusan Presiden No. 12/2012 tentang
Penetapan Wilayah Sungai, yang membagi wilayah
sungai di Indonesia menjadi 131 wilayah sungai,
terdiri dari 5 buah wilayah sungai Lintas Negara,
29 buah wilayah sungai Lintas Provinsi, 29 buah
Up to the present, there are 33 RBOs in various
wilayah sungai Strategis Nasional, 53 buah wilayah
provinces (DGWR recently established 2 RBOs in the
sungai Lintas Kabupaten/Kota dalam Provinsi dan
early 2011, those are North Maluku RBO and West
15 buah wilayah sungai dalam Kabupaten/Kota.
Papua RBO).
Sampai saat ini telah dibentuk 12 BBWS dan 21
BWS yang tersebar di berbagai provinsi (Ditjen
SDA baru saja membentuk 2 BWS pada awal tahun
2011, yakni BWS Maluku Utara dan BWS Papua
Barat).

Kegiatan 2010-2011

131
wilayah sungai
di Indonesia
Indonesias river
basin territories

wilayah sungai Lintas Negara


state transboundary river basin territories

sungai Lintas Provinsi


29 wilayah
provincial transboundary river basin territories
sungai Strategis Nasional
29 wilayah
national strategic river basin territories
sungai Lintas Kabupaten/Kota
53 wilayah
dalam Provinsi
district/municipal transboundary river
basin territories

15

wilayah sungai dalam Kabupaten/Kota


river basin territories within one
district/municipal

Sebaran Lokasi BBWS & BWS Beserta Wilayah Kerja Masing-Masing


RBOs Working Territories
No.

BBWS & BWS


RBOs

Lokasi / Provinsi
Location / Province

Wilayah Kerja (Wilayah Sungai)


River Basin Territories

1.

BWS Sumatera I

Aceh

WS Meureudu-Baro,
WS Jambo-Aye,
WS Woyla-Seunagan,
WS Tripa-Bateu, WS Alas-Singkil

2.

BWS Sumatera II

Sumatera Utara

WS Belawan-Ular Padang WS
Toba-Asahan, WS Batang Angkola-Batang Gadis, WS Batang
Natal-Batang Batahan

3.

BWS Sumatera III

Riau

WS Rokan, WS Siak, WS Kampar,


WS Indragiri, WS Reteh

13

Direktorat Jenderal Sumber Daya Air

No.

BBWS & BWS


RBOs

Lokasi
Location

Wilayah Kerja (Wilayah Sungai)


River Basin Territories

4.

BWS Sumatera IV

Kepulauan Riau

WS P. Batam-P. Bintan

5.

BWS Sumatera V

Sumatera Barat

WS Anai-Kuranji-ArauMangau-Antokan

6.

BWS Sumatera VI

Jambi

WS Batanghari

7.

BWS Sumatera VII

Bengkulu

WS Air Majunto-Sebelat

8.

BBWS Sumatera VIII

Sumatera Selatan
Bangka Belitung

WS Nasal-Padang Guci,
WS Musi-Sugihan-BanyuasinLemau, WS Mesuji-Tulang
Bawang

9.

BBWS Mesuji-Sekampung

Lampung

WS Mesuji-Tulang Bawang dan


WS Way Seputih-Way Sekampung

10.

BBWS Ciliwung-Cisadane

DKI Jakarta

WS Ciliwung-Cisadane dan WS
Kep. Seribu

11.

BBWS Cidanau-CiujungCidurian

Banten

WS Cidanau-Ciujung-Cidurian

12.

BBWS CimanukCisanggarung

Jawa Barat, Cirebon

WS Cimanuk-Cisanggarung

13.

BBWS Citanduy

Jawa Barat, Banjar

WS Citanduy

14.

BBWS Citarum

Jawa Barat, Bandung

WS Citarum

15.

BBWS Serayu-Opak

DI Yogyakarta

WS Serayu-Bogowonto dan WS
Progo-Opak-Serang

16.

BBWS Bengawan Solo

Jawa Tengah, Surakarta

WS Bengawan Solo

17.

BBWS Pemali-Juana

Jawa Tengah , Semarang

WS Pemali-Comal
dan WS Jratunseluna

18.

BBWS Brantas

Jawa Timur

WS Brantas

19.

BWS Kalimantan I

Kalimantan Barat

WS Kapuas, WS Pawan,
WS JelaiKendawangan

20.

BWS Kalimantan II

Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan

WS Seruyan, WS Kahayan,
WS Barito-Kapuas

21.

BWS Kalimantan III

Kalimantan Timur

WS Sesayap, WS Mahakam

22.

BWS Bali-Penida

Bali

WS Bali-Penida

Kegiatan 2010-2011

No.

BBWS & BWS


RBOs

Lokasi
Location

Wilayah Kerja (Wilayah Sungai)


River Basin Territories

23.

BWS Nusa Tenggara I

NTB

WS Pulau Lombok

24.

BWS Nusa Tenggara II

NTT

WS Aesesa, WS Benanain,
WS Neo-Mina

25.

BBWS PompenganJeneberang

Sulawesi Selatan,
Sulawesi Tenggara,
Sulawesi Barat,
Sulawesi Utara,

WS Pompengan-Larona,
WS Sadang, WS WalanaeCenranae, WS Jeneberang dan
WS Lasolo-Sampara

26.

BWS Sulawesi I

Sulawesi Utara

WS Sangihe-Talaud,
WS Tondano-Likupang,
WS Dumoga-Sangkub

27.

BWS Sulawesi II

Gorontalo

WS Limboto-Bulango-Bone,
WS Paguyaman, WS Randangan

28.

BWS Sulawesi III

Sulawesi Tengah

WS Palu-Lariang, WS ParigiPaso, WS Laa-Tambalako,


WS Kaluku-Karama

29.

BWS Sulawesi IV

Sulawesi Tenggara

WS Lasolo-Sampara, WS TowariLasusua, WS Paleang-Roraya,


WS Muna, WS Pulau Buton

30.

BWS Maluku

Maluku
Maluku Utara

WS P. Buru, WS P. AmbonSeram, WS Kep. Kei-Aru,


WS Kep. Yamdena-Wetar

31.

BWS Maluku Utara

Maluku Utara

WS Halmahera Utara, WS
Halmahera Selatan, WS Kep.
Sula-Obi

32.

BWS Papua

Papua

WS Omba, WS Wapoga-Mimika,
WS Mamberamo-Tami-Apauvar,
WS Einlanden-Digul-Bikuma

33.

BWS Papua Barat

BWS Papua Barat

WS Kepundan-Sebyar, WS Omba

*Berdasarkan pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum

*Based on the Minister of Public Works Regulation

No. 11A/PRT/M/2006 tentang Kriteria dan Penetapan

No. 11A/PRT/M/2006 Regarding Criteria and Stipulation of River

Wilayah Sungai.

Basin Territory

15

2
Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu
Integrated Water Resources Management

Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu

Potensi Air di Indonesia


WATER POTENTIALS IN INDONESIA

Potensi Air dan Ketersediaan Air per Kapita


Water Potentials and Availability per Capita
Total Potensi (milyar m3/tahun)
Total Potential (billion m3/year)

Sumatera
738
18,4

Kalimantan

Per Kapita (1.000 m3/kapita/tahun)


Per Capita (1,000 m3/capital/year)

1.008
98,8

Sulawesi
247
18,3

Jawa
187
1,6

Maluku
& Papua
Bali &
Nusa Tenggara

981
251,5

60
5,5

Indonesia in Total:

3.221 milyar m3/tahun

Indonesia memiliki cadangan air sebesar 3.221


milyar m/tahun, atau negara dengan cadangan air
terbesar ke-5 di dunia.
Dari potensi cadangan air sebesar 3.221 milyar m/
tahun tersebut, sebanyak 691,3 milyar m/tahunnya
dapat dimanfaatkan. Sebanyak 175,1 milyar m/tahun
sudah dimanfaatkan untuk memenuhi keperluan
domestik, perkotaan, industri, dan juga irigasi.
80,5% atau 141 milyar m/tahunnya digunakan
untuk kebutuhan air irigasi, 6,4 milyar m/tahun
untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan air
perkotaan, serta 27,7 milyar m/tahun dimanfaatkan
untuk kebutuhan industri.

16,8 m3/kapita/tahun

Indonesia has water potentials of 3,221 billion m/year,


rank as the fifth country in the world.
From the 3,221 billion m/year water reserve
potential, 691.3 billion m/year can be utilized. About
175.1 billion m/year have been used to supply
domestic needs, municipal, industry, and irrigation.
80.5% or 141 billion m/year used for irrigation
demands, 6.4 billion m/year to supply household
demands and municipal water demands, and 27.7
billion m/year for industrial uses.

Kegiatan 2010-2011

Total potensi air terbesar terdapat di Pulau


Kalimantan sebesar 1.008 milyar m/tahun
dengan jumlah ketersediaan air per kapita
sebanyak 98.800 m/kapita/tahun. Sedangkan
potensi air terendah terdapat di pulau Nusa
Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur sebesar
60 milyar m/tahun, ketersedian air per kapita di
pulau ini hanya sebesar 5.500 m/kapita/tahun.
Data selengkapnya disajikan pada gambar.

The largest water potential is in Kalimantan Island in


number of 1,008 billion m/year with per capita water
availability of 98,800 m/capita/year. Whilst, The lowest
water potential is in West Nusa Tenggara and East Nusa
Tenggara Island with only 60 billion m/year.
Per capita water availability in these islands is only of
5,500 m/capita/year.

Kondisi Pemanfaatan Air


Potrait of Water Utilization

air baku tersedia

th

potensi potential

3.221.000

raw water availability

in the

world

POSISI CADANGAN
AIR INDONESIA

kapasitas mantap
reliable capacity

Indonesia's Water
Potential Rank

sudah dimanfaatkan
utilized

175.100

irigasi
irrigation

141.100

belum dimanfaatkan
unutilized

25%

rumah tangga, perkotaan


domestic, municipality

80,5%

angka dalam hitungan 106 m3/tahun


numeral in 106 m3/year

6.400

691.300

3,7%

516.200

74,7%

industri
industry

27.700

15,8%

source: Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap 2010

19

Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu

Isu Strategis dan Permasalahan Sumber Daya Air


Strategic issues and Problems of Water Resources
Pengelolaan sumber daya air merupakan
tantangan sekaligus persoalan yang krusial bagi
keberlanjutan bangsa.
Di satu sisi, air adalah kebutuhan pokok.
Air mendukung banyak sekali aktivitas produktif;
pertanian, pembangkit listrik, industri, perikanan,
pariwisata, transportasi, dan masih banyak lagi. Di sisi
lain, air juga seringkali mendatangkan kerusakan yang
besar, membawa bencana, dan menggenangi wilayah
yang luas. Ketidakcukupan air juga dapat membawa
bencana kematian yang luas dan kemerosotan
ekonomi. Ketidaksiapan dalam mengantisipasi daya
rusak air akan menghadapkan kita pada situasi krisis
baik yang terjadi saat ini maupun di waktu mendatang.

Isu dan permasalahan seputar


konservasi yang memerlukan
penanganan, diantaranya:
Meluasnya lahan kritis (13,1 jt Ha pada th 1992,
kini sudah mencapai lebih dari 18,5 jt Ha).
Meningkatnya sebaran DAS kritis (22 DAS pada
th 1984, menjadi 39 DAS pada th 1992, menjadi
62 DAS pada th 2005).
Tingginya laju sedimentasi pada wadukwaduk
besar (40-50% volume dead storage).
Terjadinya degradasi dasar sungai akibat galian
Golongan C tak berizin.
Menurunnya daya dukung beberapa daerah
tangkapan air berakibat pada turunnya
keandalan debit sungai sebagai sumber air
sebagian besar (90%) lahan irigasi.

Water resources management is a challenge and the


crucial issues for the sustainability of the nation.
On the one hand, water is a basic requirement. Water
supports a lot of productive activity; agriculture, power
plant, industrial, fisheries, tourism, transportation, and
much more. When water inundated extensive territory,
it becomes disaster which sometimes lead to the loss
of lives and economic downturn. Unpreparedness in
anticipating water resources destructive force will
confronts us in a crisis situation both happened today or
in the future.

Issues and problems related to


conservation that require serious
handling are as follows:
The increasing amount of critical land (13.1 million
Hectare in 1992, has reached more than 18.5
million Hectare).
The increasing spread of the critical watersheds (22
watersheds on year 1984, being 39 watersheds on
year 1992, becoming 62 watersheds on year 2005).
The high level rate of sedimentation in large dams
(40-50% dead storage volume).
The degradation of the river base because of the
unlicensed Fort C.
The lack of support some water catchment areas
effected in the reliability of the result in the river
as a source of water discharge most (90%) of land
for irrigation.

Juta Ha/tahun Million Ha/year

Laju Deforestasi
Deforestation Rate
4,00
3,50
3,00
2,50
2,00
1,50
1,00
0,50
0,00
1990-1996
Seluruh Indonesia
Throughout Indonesia

1996-2000
Di dalam kawasan hutan
Within the forest

2000-2003
Di luar kawasan hutan (APL)
Outside the forest

2003-2006

Kegiatan 2010-2011

Tekanan penduduk terhadap badan-badan


sungai menyebabkan kapasitas alur sungai
semakin berkurang dan menyempit;
Buangan limbah (limbah industri, rumah
tangga ke badan sungai), mengakibatkan
beban lingkungan dan pencemaran semakin
terlampaui;
Penurunan kualitas air di sungai, menyebabkan
semakin terbatasnya air dan sumber air bagi
penyediaan air baku;
Penyusutan luas daerah resapan air akibat
pengembangan permukiman, perindustrian,
serta pemekaran wilayah administrasi.

Isu dan permasalahan dalam


pendayagunaan sumber daya air,
diantaranya:
Proporsi rumah tangga dengan akses terhadap
air minum layak (perkotaan dan perdesaan)
secara nasional tahun 2009 adalah 47,71% dari
68,87% yang menjadi target MDGs 2015;
Pada beberapa kota besar, 73% kebutuhan air
untuk rumah tangga diperoleh dari air tanah;

The rapid settlement along the river side which


reduced the river body.
The disposal of waste (industrial waste, household
waste into the river), resulting in environmental
pollution load and increasingly is exceeded.
The decrease in water quality in rivers, which
reduce sources for raw water supply.
The decreasing of water retention area as the cause
of settlements development, industrial areas, as
well as the enlargement of the administration area.

Issues and problems related to water


resources utilization, including:
The proportion of households with access to proper
drinking water (urban and rural) nationally in 2009
was 47.71% from 68.87% of the target MDGs 2015.
In some cities, 73% of the water for household
needs is obtained from ground water.
Most of the water supplies to irrigate 7.2 million
Hectare are particularly vulnerable to the seasonal
river flow factor. Up to now 800,000 Hectare
irrigation area is supplied by reservoirs.

Proporsi Rumah Tangga dengan Akses Terhadap Air Minum Layak (Perkotaan dan Perdesaan)
The Proportion of Household with Proper Drinking Water Access (Urban and Rural)
80

49.8

50.2

54.1

54.6

55.6

56.8

57.3

58.2

59.5

46.0

53.0

52.7

54.9

53.8

51.7

51.5

50.6

70

Target MDGs

45.7

43.0

43.9

42.7

41.5

41.0

40.3

40.4
31.3

35.2

35.6

35.9

30.7

30.8

20

31.6

30

34.5

40

42.9

50

37.7

38.0

41.3

42.7

42.0

42.2

37.5

48.7

48.3

47.7

48.8

47.6

47.8

48.3

46.5

47.7

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

37.7

10

1993

Persentase
Percentage

60

68.9%
75.3%
65.8&

Perkotaan + Perdesaan Urban + Rural


Perkotaan Urban
Perdesaan Rural

21

Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu

Sebagian besar pasokan air untuk 7,2 juta Ha


daerah irigasi sangat rentan terhadap faktor
aliran sungai musiman. Sampai saat ini hanya
800.000 Ha daerah irigasi yang pasokan airnya
terjamin oleh waduk;
Alih fungsi lahan seluas 35.000 Ha/tahun;
Kompetisi penggunaan lahan antara padi dengan
komoditi bernilai ekonomi lebih tinggi seperti
kelapa sawit dan karet;
Tingkat pemanfaatan jaringan reklamasi rawa
yang sudah terbangun masih rendah, dari 1,8
juta Ha hanya 0,8 juta Ha (44%) yang berfungsi;
Kenaikan elevasi muka air laut akibat
pemanasan global yang menyebabkan:
Berubahnya peruntukan lahan pasang surut;
Dampak pada produktivitas 450.000 Ha lahan
tambak eksisting dan 1,45 juta Ha areal
reklamasi pasang surut.

The change of the land use of 35,000


hectare/year.
Land use competition between rice with higher
economic value commodities crops such as palm
oil and rubber.
The low level utilization of lowland reclamation
area, from 1.8 million Hectare just 0.8 million
Hectare (44%) that are functioning.
The sea water level rise as the cause of global
warming such as:
The land use change of tidal lands.
Impact on the productivity of land, existing
450,000 Hectare of embankment and 1.45 million
Hectare reclaimed tidal area.

While the issues and problems in water


destructive force control is as follows:

1. The reduced productivity of paddy field due to


flooding (approx. 374.000 Ha/year or the equivalent
of 919.000 tons of rice/year) and as a result of
drought (about 350,000 ha/year or equivalent as
700,000 tons of rice/year).
2. The increase number of natural disasters
1. Berkurangnya produktivitas sawah akibat banjir
in various areas that resulted in decreasing
(sekitar 374.000 Ha/tahun atau setara dengan
performance of the infrastructure
919.000 ton padi/tahun) dan akibat kekeringan
of water resources.
(sekitar 350.000 Ha/tahun atau setara 700,000
3. From the 5.590 major river, more than 10% are
ton padi/tahun);
often subjected to flooding.
2. Banyaknya bencana alam di berbagai wilayah
4. The coastal problems in Indonesia are generally
yang berakibat menurunnya kinerja prasarana
in the form of erosion/abrasion which led to the
sumber daya air;
withdrawal of the shoreline.
3. Dari 5.590 sungai induk, lebih dari 10%
5. The closing of outfall which resulted in flooding
diantaranya sering mengalami banjir;
and disturbance in traffic navigation.
4. Permasalahan pantai di Indonesia secara
6. Coastal abrasion at border line that led to the
umum berupa erosi/abrasi yang menyebabkan
shifting of other countries border line.
mundurnya garis pantai;
7. The sea water level rises due to global warming:
5. Penutupan muara sungai yang berakibat banjir
Will have direct impact on socio-economic life of
dan gangguan lalu lintas navigasi;
16 million people in 10.666 coastal region village.
6. Abrasi pantai pada daerah perbatasan
The more productive lands in the coastal areas
menyebabkan bergesernya garis perbatasan
will be flooded and the flood of rob would
dengan negara lain;
often occur.
7. Kenaikan elevasi muka air laut akibat
The coastal abrasion and erosion
pemanasan global :
further expanded.
Akan berdampak langsung pada kehidupan
Coastline Retreat.
sosial ekonomi 16 juta orang di 10.666 desa di
daerah pesisir;
Semakin banyak lahan produktif di daerah
pantai akan kebanjiran dan banjir rob akan
sering terjadi;
Erosi dan abrasi pantai makin meluas;
Mundurnya garis pantai.

Sedangkan isu dan permasalahan


dalam pengendalian daya rusak air
adalah sebagai berikut:

Kegiatan 2010-2011

Jumlah Terjadinya Banjir di Indonesia


Number of Floods Occurred in Indonesia
962

1000

Jumlah Terjadinya Banjir Number of Floods Occurred

900
800

672

700

607

600
500

430

409

399
400

297
300
200

150

186

191

2002/2003

2003/2004

100
0

2001/2002

2004/2005

2005/2006

2006/2007

2007/2008

2008/2009

2009/2010

2010/2011

Tahun Year

Ditjen SDA telah melakukan upaya penanganan,


baik secara fisik maupun non fisik, untuk
meminimalisir dampak krisis sumber daya
air yang telah maupun akan terjadi.
Upaya-upaya yang dilakukan
diantaranya ditujukan untuk
mendukung ketahanan
pangan dan ketahanan
energi nasional,
pengentasan kemiskinan
dengan memperluas
akses terhadap air bersih,
penyediaan air baku untuk
mendukung program
MDGs 2015, membangun
pengamanan pantai untuk
mencegah bergesernya garis
batas negara Indonesia akibat abrasi,
dan sebagainya.

DGWR has made both physical and non-physical


efforts to minimize the impact of water resources
crisis which have been occur or will occur
in the future
The efforts undertaken were aimed
at supporting food security and
national energy security, poverty
reduction with expanded access
to clean water, raw water supply
to support MDGs 2015, coastal
protection development to
prevent the shifting of Indonesia
boundary line due to abrasion.

23

Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu

Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu


Integrated Water Resources Management
Pengelolaan sumber daya air terpadu
dilaksanakan sesuai dengan UU No. 7/2004
tentang Sumber Daya Air, yang menjelaskan
bahwa sumber daya air harus dikelola secara
menyeluruh, terpadu dan berwawasan lingkungan
hidup dengan tujuan kemanfaatan sumber daya air
secara berkelanjutan.

Integrated water resources management is


implemented in accordance with Law No. 7/2004
on Water Resources, which clarifies that water
resources should be managed with a comprehensive
approach and environmental concerns toward the
achievement of sustainable water resources benefit
for the utmost peoples welfare.

Menyeluruh merupakan upaya merencanakan,


melaksanakan, memantau dan mengevaluasi
penyelenggaraan konservasi sumber daya air,
pendayagunaan sumber daya air dan pengendalian
daya rusak air. Upaya-upaya tersebut dilakukan
secara terpadu antar pemilik kepentingan, antar
sektor, dan antar wilayah dengan memperhatikan
ekosistem dan daya dukung lingkungan.

A comprehensive approach is an attempt to plan,


to implement, to monitor and to evaluate the
conservation of water resources, water resources
utilization and control of water destructive
force. These attempts applied integrally among
stakeholders, in various sectors and various regions
by considering the ecological balance and carrying
capacity of environment

Pelaksanaan pengelolaan sumber daya air terpadu The implementation of integrated water resources
management based on three pillars, namely:
didasari oleh tiga pilar, yaitu:
1. Payung Kebijakan, indikator:
1. Tersedianya kebijakan, pola, dan rencana
pengelolaan sumber daya air;
2. Tersedianyan perundang-undangan yang
mendukung pengelolaan sumber daya air
wilayah sungai;
3. Terterapkannya sistem cost recovery untuk
pengelolaan sumber daya air wilayah sungai;
2. Perangkat Kelembagaan, indikator:
4. Tersedianya dasar hukum pendirian
institusi pengelolaan sumber daya air
wilayah sungai yang kuat dan tidak
tumpang tindih;
5. Tersedianyan job description yang jelas;
6. Aktifnya wadah
koordinasi
stakeholder
7. Dilaksanakannya
kegiatan capacity
building;

1. Policy Tools, the Indicators are:


1. The availability of water resources related
policies, strategic water resources
management plan and water resources
management plan;
2. The availability of regulation that support water
resources management in river basin territory;
3. The implementation of cost recovery system
for water resources management in river
basin territory;
2. Institutional Tools, the indicators are:
4. The availability of firm and suitable regulation
legal basis for the establishment of water
resources management in river basin territory.
5. The availability of
definite job description;
6. The availability of
coordination board .
7. The implementation of
capacity building activities;

Kegiatan 2010-2011

3. Perangkat manajemen, indikator:


8. Dipahaminya ketersediaan dan kebutuhan
sumber daya air;
9. Diterapkannya rencana pengelolaan
sumber daya air;
10. Diterapkannya pengelolaan kebutuhan;
11. Terlaksananya Kampanye Peduli Air;
12. Tersedianya prosedur mengatasi
konflik air;
13. Tersedianya prosedur pengalokasian air;
14. Tersedianya instrumen manajemen/
prosedur/instruksi kerja lainnya
yang baku;
15. Diterapkannya instrumen ekonomi untuk
efesiensi (misalnya sistem tarif progresif);
16. Tersedianya sistem informasi pengelolaan
sumber daya air terpadu.

3. Management Tools, the indicators are:


8. The understanding of the supply and
demand of water resources;
9. The implementation of water resources
management plan;
10. The implementation of water demand
management;
11. The Implementation of Water
Awareness Campaign;
12. The availability of water conflict
resolution procedures;
13. The availability of water allocation
procedures;
14. The availability of management instruments
/procedures / work instructions other raw
materials;
15. The implementation of economic
instruments for efficiency (eg progressive
tariff system);
16. The availability of information systems in
integrated water resources management.

Lingkup Pengelolaan Sumber Daya Air Menurut Undang-undang


No. 7/2004
Water Resources Management Scope According to Law No. 7/2004
Regarding Water Resources
Upaya Efforts
Merencanakan Planning

Melaksanakan Executing

Memantau Monitoring

Mengevaluasi Evaluating

Penyelenggaraan Activities
Konservasi Sumber Daya Air
Conservation

Pendayagunaan sumber daya air


Utilization

Perlindungan dan pelestarian

Penatagunaan Administration
Penyediaan Supply
Penggunaan Usage
Pengembangan Development
Pengusahaan Operation

sumber air
Water sources protection
and preservation
Pengawetan air
Water preservation
Pengelolaan Kualitas air dan
pengendalian pencernaan air
Water quality management & water
pollution control
Tujuan:
Menjaga kelangsungan keberadaan
daya dukung, daya tampung, dan fungsi
sumber daya air
Maintaining sustainable water resources
supportability, capacity, and functionality.

Tujuan:
Memanfaatkan sumber daya air secara
berkelanjutan dengan mengutamakan
pemenuhan kebutuhan pokok
kehidupan masyarakat secara adil
Sustainable water resources utilization
by prioritizing equal water provision for
public primary needs.

Pengendalian daya rusak air:


Control of Water Destructive Potential
Pencegahan Prevention
Penanggulangan Handling
Pemulihan Recovery

Tujuan:
Mencegah, menanggulangi, dan
memulihkan kerusakan kualitas
lingkungan hidup akibat daya rusak air
Preventing, handling and recovering
environmental damages caused by water
destructive force.

25

Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu

Pola dan rencana Pengelolaan Sumber Daya Air


Strategic Water Resources Management Plan & Water resources management plan
Menetapkan pola dan rencana pengelolaan sumber
daya air pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah
sungai lintas negara dan wilayah sungai strategis
nasional merupakan wewenang dan tanggung
jawab Pemerintah, dalam hal ini Kementerian
Pekerjaan Umum melalui Ditjen SDA, sebagaimana
diamanatkan dalam UU No. 7/2004 tentang Sumber
Daya Air Pasal 14. Ketentuan mengenai penyusunan
pola dan rencana pengelolaan sumber daya air
diatur lebih lanjut dengan PP No. 42/2008 tentang
Pengelolaan Sumber Daya Air.

Ministry of Public Works through DGWR has the authority


and responsibility to establish strategic water resources
management plan and water resources management
plan in provincial transboundary river basin territories,
state transboundary river basin territories and national
strategic river basin territories, as mandated in Law
No. 7/2004 regarding Water Resources article 14. The
preparation of strategic water resources management
plan and water resources management plan is specified
furthermore in Government Regulation No. 42/2008
regarding Water Resources Management.

Pola pengelolaan sumber daya air adalah kerangka


dasar dalam merencanakan, melaksanakan, memantau
dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber daya
air, pendayagunaan sumber daya air dan pengendalian
daya rusak air. Sampai dengan Desember 2012, 12 Pola
PSDA telah ditetapkan oleh Menteri PU.

Strategic Water Resources Management Plan is a basic


framework to plan, to implement, to monitor and to
evaluate water resources conservation,
water resources utilization and control of water
destructive force. Until December 2012, 12 Strategic
Water Resources Management Plans have been
established by the Minister of Public Works.

Rencana pengelolaan sumber daya air adalah hasil


perencanaan secara menyeluruh dan terpadu yang
diperlukan untuk menyelenggarakan pengelolaan
sumber daya air. Sampai dengan Desember 2011, 11
Rencana PSDA dalam proses penetapan oleh Menteri PU.

Water Resources Management Plan is the result of a


comprehensive and integrated planning, which is necessary
to be taken in order to implement water resources
management.. In December 2011, 11 Water Resources
Management Plans are in the process of establishment by
the Minister of Public Works.

Tahapan Penyusunan Rancangan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air


Preparation Phases of Strategic Water Resources Management Plan
Mempelajari Kebijakan yang Berlaku Dalam Pengelolaan SDA
Observing policies applied in water resources management
Identifikasi Kondisi Linkungan & Permasalahan
Identify environmental conditions and problems
Tahap I Persiapan Phase I Preparation

Inventarisasi Data
Data Inventory

PKM 1 Public Consultation Meeting 1

Penyempurnaan Rumusan Masalah & Kemungkinan Pengembangan Pot. SDA


Improvement of Problem Formulation & Possible Development of Water Resources Potential
Tahap II Penyusunan Phase II Development

Analisis Analysis

Skenario Scenario

Rancangan Pola Pengelolaan SDA (Strategi & Kebijakan Operasional)


Design of Strategic Water Resources Management Plan (Strategy & Operational Policy)
Tahap III Penetapan Phase III Establishment

PKM 2 Public Consultation Meeting 2

Penyempurnaan Rancangan Pola Strategic Water Resources Management Plan Design Improvement
Penetapan Pola Pengelolaan SDA WS
Establishment of Strategic Water Resources Management Plan in a specific River Basin Territories

Kegiatan 2010-2011

Draft Tahapan Penyusunan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air


Draft of Preparation Phases of Water Resources Management Plan

Tahap I
Inventarisasi
Sumber Daya Air
Phase I Water
Resources Inventory

Dokumen POLA Pengelolaan SDA


Strategic Water Resources Management Plan Documents
Mempelajari Kebijakan yang Berlaku Dalam Pengelolaan SDA
Observing policies applied in water resources management

Pemilihan Strategi
Strategy selection
Dipilih oleh Wadah Koordinasi SDA WS
Selected by Water Resources Coordination Board in related River Basin Territories
Strategi Terpilih Selected Strategy
Pengumpulan Data dan Informasi SDA
Water Resources Data & Information Collection
Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) 1 Public Consultation Meeting 1
Analisa Data Data Analysis
Tahap II
Penyusunan
Phase II
Development

Rancangan Awal Rencana Pengelolaan SDA


Preliminary Draft of Water Resources Management Plan
Substansi Muatan Dilengkapi:
1. Desain Dasar
Desain dasar upaya nonfisik
Desain dasar upaya fisik
2. Prakiraan Kelayakan, berupa: pra kelayakan ekonomi, sosial,
teknis & lingkungan
Completed Content Substance:
1. Basic Design
Basic design of non-physical attempt
Basic design of physical attempt
2. Feasibility Estimates, such as: economic, social, technical and
environmental pre-feasibility estimates

Keberatan Masyarakat Public Objection


Peninjauan Kembali & Penjelasan/Klarifikasi
Re-evaluation & Explanation/Clarification
Tahap III
Penetapan
Phase III
Establishment

Proses Penetapan Establishment Process


Rencana Pengelolaan SDA Water Resources Management Plan

27

Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu

Produk Hukum dan Perundang-undangan


Rules and Legisltation Products

Landasan Kebijakan Nasional Bidang Sumber


Daya Air:

The Cornerstone of the National Policy


of Water Resources:

UUD 1945
UU No. 7/2004 tentang Sumber Daya Air
UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah
UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang
UU No. 24/2007 tentang Penanggulangan
Bencana
UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup
PP No. 35/1991 tentang Sungai
PP No. 16/2006 tentang Pengembangan Sistem
Penyediaan Air Minum
PP No. 20/2008 tentang Irigasi
PP. No. 42/2008 tentang Pengelolaan Sumber
Daya Air
PP. No 43/2008 tentang Air Tanah
PP. No. 37/2010 tentang Bendungan
Perpres No. 12/2008 tentang Dewan Nasional
Sumber Daya Air
Permen PU No. 04/2008 tentang Pembentukan
Wadah Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air
tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota
& Wilayah Sungai

The Constitution of 1945


Law No. 7/2004 regarding Water Resources
Law No. 32/2004 regarding Local Governance
Law No. 26/2007 regarding Spatial Planning
Law No. 24/2007 regarding Disaster Relief
Law No. 32/2009 regarding Protection and
Environmental Management
Government Act No. 38/2011 regarding River
Government Act No. 16/2006 regarding
Development Of Drinking Water Supply System
Government Act No. 20/2006 regarding Irrigation
Government Act No. 42/2008 regarding Water
Resources Management
Government Act No. 43/2008 regarding
Groundwater
Government Act No. 37/2010 regarding Dam
Presidential Act No. 12/2008 regarding National
Water Resources Council
The Establishment of Water Resources
Management Coordination Board in Provincial,
District and River Basin Territory level

Kegiatan 2010-2011

Family Tree Peraturan Perundang-Undangan Sumber Daya Air


Family Tree of Rules and Legislation regarding Water Resources
Undang-Undang Nomor 7/2004 tentang Sumber Daya Air
Law No. 7/2004 regarding Water Resources

PP No.42/2008 tentang Pengelolaan SDA


Government Act No. 42/2008
regarding Water Resources Management
PP No.16/2005 tentang Pengembangan Sistem
Penyediaan Air Minum
Government Act No. 16/2005 regarding
Development of Drinking Water Supply System
PP 38/2011 tentang Sungai
Government Act No. 38/2011 regarding River
PP No.37/2010 tentang Bendungan
Government Act No. 37/2010 regarding Dam
PP No.43/2008 tentang Air Tanah
Government Act No. 43/2008
regarding Ground Water
PP No.20/2006 tentang Irigasi
Government Act No. 20/2006
regarding Irrigation

RPP tentang Rawa


Government Act Draft regarding Lowland
RPP tentang Pengusahaan SDA
Government Act Draft regarding
Concessions of Water Resources
RPP tentang Hak Guna Air
Government Act Draft regarding
The Right Use of Water
RPP tentang Pengendalian Pencemaran Air dan
Pengelolaan Kualitas Air
Government Act Draft regarding Control of Water
Pollution and Water Quality Management
RPP tentang Danau
Govenment Act Draft regarding Lake

KEPRES No.6/2009 Tentang Dewan


Sumber Daya Air Nasional
Presidential
Decree No.6/2009 regarding
National Water Resources Council
PERPRES No.12/2008 Tentang
Dewan Sumber Daya Air
Presidential Act No.12/2008 regarding
National Water Resources Council
RAKEPRES Tentang Penetapan
Wilayah Sungai dan Cekungan
Air Tanah
Presidential Decree Draft regarding
The Determination of River Basin and
Ground Water Basin

PERMEN PU No. 04/PRT/M/2008


Tentang Pedoman Pembentukan Wadah
Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air
Pada Tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota dan
Wilayah Sungai
Ministerial of Public Works Act No.04/
PRT/M/2008 regarding Guidelines To The
Establishment of Coordinating Water
Resources Management Council In The Level of
Province, District and River Basin

29

Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu

Penyidik Pegawai Negeri Sipil Sumber Daya Air


Public Servant Investigator in Water Resources Sector
Pengelolaan sumber daya air berbasis wilayah
sungai tanpa dipengaruhi batas-batas wilayah
administratif, isu dan permasalahan bidang
sumber daya air yang makin kompleks, serta
ketidakpahaman aparat penegak hukum (Polisi
dan Jaksa) mengenai substansi teknis dalam
pengelolaan sumber daya air, melatarbelakangi
pembentukan Penyidik Pegawai Negeri Sipil
bidang Sumber Daya Air (PPNS SDA) sebagaimana
diamanatkan dalam Pasal 93 Undang-Undang No.
7/2004 tentang Sumber Daya Air. Pembentukan
PPNS SDA pada setiap wilayah sungai ditargetkan
rampung pada tahun 2013.
Seorang PPNS SDA memiliki wewenang untuk
melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan
atau keterangan tentang adanya tindak pidana
sumber daya air; melakukan pemeriksaan terhadap
orang atau badan usaha yang diduga melakukan
tindak pidana sumber daya air; memanggil orang
untuk didengar dan diperiksa sebagai saksi atau
tersangka dalam perkara tindak pidana sumber
daya air; melakukan pemeriksaan prasarana
sumber daya air dan menghentikan peralatan yang
diduga digunakan untuk melakukan tindak pidana;
menyegel dan/atau menyita alat kegiatan yang
digunakan untuk melakukan tindak pidana sebagai
alat bukti; meminta bantuan ahli dalam rangka
pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana sumber
daya air; membuat dan menandatangani berita acara
dan mengirimkannya kepada penyidik Kepolisian
Negara Republik Indonesia; dan/atau menghentikan
penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti atau
peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana.
50 orang calon PPNS SDA telah melakukan
pelatihan pada tahun 2011, yang dibagi menjadi
dua gelombang. Gelombang pertama sebanyak 28
orang dilaksanakan pada tanggal 22 September-25
November 2011, sedangkan gelombang kedua
sebanyak 22 orang diselenggarakan pada tanggal
21 Oktober-19 Desember 2011.

Water resources management based on river basin


is not affected by the boundaries of administrative
area, issue and problems in the field of water
resources increasingly complex recently, as well as
misunderstanding law officer, such as policeman,
and attorney regarding substantial technique in water
resources management becomes background the
formation of public servant investigator in the field
of water resources as mandated by article 93 law no.
7/2004 regarding water resources. The formation
of Public servant investigator in every river basin is
targeted to be completed in 2013.
Public Servant investigator has an authority to
conduct examination of correctness of the reports
or information about the existence of the crime of
water resources; investigations against the person
or business entity who is allegedly committing the
crime of water resources; call the people to be heard
and examined as a witness or a suspect in a criminal
case of water resources; perform inspection of water
resources infrastructure and stopping equipment that
allegedly used to commit a criminal acts; sealing and/
or seized tools used to perform the activity a criminal
acts as a means of proof; enlisted the help of experts
in the framework of the implementation of the tasks
of investigation, the crime of water resources; create
and sign a news event and send it to the investigating
State police of the Republic of Indonesia; and/or
terminate investigation if there is sufficient evidence
of such events does not constitute or criminal acts.
50 candidates of public servant investigator has
conducted training in 2011, that is divided into two
batch. The first batch of 28 people executed on
September 22 november 25, 2011, while the second
batch as many as 22 people was held on October
21-December 19, 2011.

Working area of public servant investigator in


accordance with river basin area in the framework
of water resources management are becoming the
authority and responsibility of Governments, that is
Wilayah kerja PPNS SDA sesuai dengan keberadaan namely in the Law 7/2004 article 1, point 10.
wilayah sungai dalam rangka pengelolaan sumber
daya air yang menjadi kewenangan dan tanggung
jawab Pemerintah, seperti tercantum pada
UU No.7/2004 Pasal 1, butir 10.

Kegiatan 2010-2011

Wadah Koordinasi Bidang sumber daya air


water Resources Coordination Board

Pembentukan Wadah Koordinasi didasari oleh


intensitas kebutuhan pengelolaan sumber daya
air sebagaimana dimaksud dalam Permen 04/
PRT/M/2008 tentang Pedoman Pembentukan
Wadah Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya
Air pada Tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota, dan
Wilayah Sungai, Pasal 6 ayat (1), Pasal 7 ayat (1),
Pasal 8 ayat (1) dan Pasal 9 ayat (1) meliputi:

The establishment of Coordination Committee is


the demand intensity of water resources as stated
in the government regulation 04/PRT/M/2008 about
The Guidelines of The Coordination Board of Water
Resources in Provincial Level, District/City, River
Region, Article 6 paragraph (1), Article 7 paragraph
(1), Article 8 paragraph (1) and Article 9 paragraph (1),
covers as follows:

1.

Tingginya potensi konflik penggunaan sumber daya air pada wilayah sungai;
The high potential conflict of use of water resources in river basin.

2.

Tidak seimbangnya antara ketersediaan air dan kebutuhan air.


The imbalance between water availability and water needs.

3.

Pesatnya laju pertumbuhan pembangunan pada wilayah sungai.


The rapid of population growth in river basin.

Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai


River Basin Territory Water Council
River Basin Territory Water Council has the function
Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air
Wilayah Sungai (TKPSDA WS) memiliki tugas sesuai as follows:
dengan wilayah kerja masing-masing, yakni:
1. River Basin Territory Water Council Cross
Province and National Strategic to assist
1. TKPSDA WS Lintas Provinsi dan WS Strategis
the Minister in charge of coordinating the
Nasional bertugas membantu Menteri dalam
management of water resources.
koordinasi pengelolaan sumber daya air
2. TKPSDA WS Lintas Kabupaten/ Kota bertugas
membantu Gubernur dalam koordinasi
pengelolaan sumber daya air

2. River Basin Territory Water Council Cross County/


City assists the Governor in coordinating the
management of water resources

3. TKPSDA WS Kabupaten/ Kota bertugas


membantu Bupati/ Walikota dalam koordinasi
pengelolaan sumber daya air

3. River Basin Territory Water Council Regency/


City assigned to assist the Regent/mayor in
coordination of water resources management

31

Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu

Dalam wilayah kerjanya TKPSDA WS


berfungsi sebagai:

In their working area, River Basin Territory Water


Council is function as follows:

1. Wadah konsultasi dengan pihak terkait yang


diperlukan guna keterpaduan pengelolaan
sumber daya air pada wilayah sungai serta
tercapainya kesepahaman antarsektor,
antarwilayah, dan antarpemilik kepentingan;

1. The consultation related to stakeholders is


necessary to integrate the water resources
management in river areas and the achievement
of understanding between sectors, regions, and
owner interest.

2. Wadah pengintegrasi dan penyelerasan


kepentingan antar sektor, antar wilayah
serta antar pemilik kepentingan dalam
pengelelolaan sumber daya air pada
wilayah sungai.

2. Integration and harmonization of interests


between sectors, between regions and
among owners of interests in water resources
management in the river area.

3. Kegiatan pemantauan dan evaluasi


pelaksanaan program dan rencana
kegiatan pengelolaan sumber daya air pada
wilayah sungai.
Sampai dengan Mei 2012, TKPSDA WS sudah
terbentuk di 33 wilayah sungai

3. Monitoring and evaluation of programs and plans


for water resources management activities in the
river area.

Until the May 2012, River Basin Territory Water


Council have been established in 33 river
basin territories.

Kegiatan 2010-2011

Skema Pembentukan Wadah Koordinasi


Coordination Board Forming Scheme

Bagan Pelaksanaan Pemilihan untuk Unsur Organisasi Non-Pemerintah (ORNOP)


Chart of The Election for NGO Elements
Penjaringan
unsur-unsur ORNOP
Selection for NGO member

Pengumuman melalui media


Announcement went through
the media

Bantuan sosialisasi
melalui Dinas
Socialization through Dinas assist

Daftar Defenitif ORNOP


per unsur
NGOs Definitive list per
element

Rapat penjelasan umum


oleh tim
General expose meeting
by the team

Daftar ORNOP
NGOs list

Pengelompokkan
ORNOP menurut unsur
Grouping NGOs according to element

Pengumuman daftar
ORNOP per unsur
melalui cetak
Announcement NGO per
element through the media

Masa sanggah unsur


Refutation period
of element

Proses pemilihan calon anggota


dari tiap unsur
Election process per element

Usulan nama
wakil unsur
NGOs list

Wawasan tentang kondisi SDA


Water Resources knowledge
Konsepsi PSDA
IWRM conception
Pentingnya Koordinasi PSDA
The importance of Water Resources Coordination
Pengaturan Jatah Kursi
Arrangement of the seats

Ketetapan Menteri
PU/Gubernur/Walikota
Ministry of Public Works/Governor/
Regent/Mayors Provision

Media
Penyampaian nama wakil unsur
kepada tim
Deliver NGOs list to the team

Pengusulan nama wakil


unsur kepada
Menteri PU/Gubernur
Propose NGOs representative name
through Ministry of Public Works/
Governor/Regent/Mayor

33

Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu

Dewan Sumber Daya Air


Water Resources Council
Berdasarkan Perpres No. 12/2008 tentang
Dewan SDA, Dewan SDA meliputi Dewan SDA
Nasional, Dewan Sumber Daya Air Provinsi atau
dengan nama lain, dan Dewan Sumber Daya Air
Kabupaten/Kota atau dengan nama lain. Ditjen
SDA sendiri melakukan pembinaan kepada
pembentukan Dewan Sumber Daya Air Provinsi.
Dewan sumber daya air provinsi sebagaimana
dimaksud dalam pasal (9) Peraturan Presiden RI
Nomor 12/2008 tentang Dewan Sumber Daya Air
mempunyai tugas membantu gubernur dalam
koordinasi pengelolaan sumber daya air melalui :

Based on Presidential Regulation No. 12/2008 regarding


Council of Water Resources, Water Resources Board
include the National Water Resources Council, the
Provincial Water Resources Council or by another
name, and the Water Resources Council of Regency/
Municipality or by another name. Directorate General
of Water Resources is to guide the establishment of the
Provincial Water Resources Council.
The Provincial Water Resources Board as referred to
in Article (9) Presidential Regulation No. 12/2008 on
Water Resources Board has the tasks to assist the
Governor in coordinating the management of water
resources through:

1. Penyusunan dan perumusan kebijakan serta


strategi pengelolaan sumber daya air provinsi
berdasarkan kebijakan nasional sumber
daya air dengan memperhatikan kepentingan
provinsi sekitarnya.

1. Preparation and formulation of policy and


strategy of the provincial water resources
management based on the national policy of
water resources by taking into account the
interests of the surrounding provinces.

2. Penyusunan program pengelolaan sumber


daya air provinsi.

2. Programming provincial water resources


management.

3. Penyusunan dan perumusan kebijakan


pengelolaan sistem informasi hidrologi,
hidrometeorologi, dan hidrogeologi pada
tingkat provinsi dengan memperhatikan
kebijkan pengelolaan sistem informasi
hidrologi, hidrometeorologi, dan hidrogeologi
pada tingkat nasional.

3. Preparation and formulation of policy


management information system hydrology,
hydrometeorology and hydrogeology policy at
the provincial level with respect to management
of information systems development policy
hydrology, hydrometeorology and hydrogeology at
national level.

4. Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan tindak


lanjut penetapan wilayah sungai dan cekunagn
air tanah serta pengusulan perubahan
penetapan wilayah sungai dan cekungan air
tanah.

4. Monitoring and follow up evaluation of the


implementation of zoning river basin and
groundwater as well as proposing zoning changes
to river and groundwater basins.
5. Other tasks given by the Governor.

5. Tugas lainnya yang diberikan oleh Gubernur.


Sampai dengan Mei 2012, sudah terbentuk Dewan
Sumber Daya Air di 25 provinsi.

Until May 2012, Water Resources Council have been


established in 25 provinces.

Kegiatan 2010-2011

Gerakan Nasional-Kemitraan Penyelamatan Air


The National Movement of The Partnership of Water Preservation

Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air


(GN-KPA) dicanangkan oleh Presiden RI sejak 28
April 2009. GN-KPA pada hakekatnya merupakan
suatu konsepsi, sebagai hasil gagasan dari
berbagai pihak atas keprihatinan serta kepedulian
terhadap terjadinya degradasi lingkungan
terkait sumber daya lahan dan air yang kian hari
dirasakan semakin nyata akibatnya.

The National Movement of The Partnership of Water


Preservation (GN-KPA) formed by the President
of Republic of Indonesia since April 28, 2007,
in fact it is a conception, as a result of the idea
of various parties of concern as well as concern
for the environmental degradation of related to the
land and water resources is increasingly perceived
in the present day.

Tujuan GN-KPA adalah untuk mengembalikan


keseimbangan siklus hidrologi pada Daerah
Aliran Sungai (DAS), sehingga keandalan sumbersumber airnya baik kuantitas maupun kualitasnya
dapat terkendali, melalui pemberdayaan
pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat serta
penegakkan hukum.

Purpose of GN-KPA is to restore the balance


of the hydrological cycle on watersheds, and thus
the reliability of the sources of water quantity and
quality can be controlled, through empowerment
of the government, the business community, and
society as well as the upholding of the law.

Adapun sasaran GN-KPA adalah untuk


merespon Dekade Air Untuk Kehidupan
2005-2015 dan tercapainya tujuan pembangunan
yang mencakup ketahanan pangan, peningkatan
ekonomi dalam pengentasan kemiskinan dan
perlindungan ekosistem.

As for the targets of GN-KPA are to respond to the


water for life in 2005 2015 and the achievement
of development goals that include food security,
economic improvement in poverty reduction and the
protections of ecosystems.

35

Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu

Sejak dicanangkan, GN-KPA telah


diimplementasikan di masing-masing provinsi,
BBWS/BWS bertindak selaku fasilitator
bekerjasama dengan pemda setempat selaku
koordinator dinas/sektor terkait, didukung oleh
segenap pemangku kepentingan khususnya LSM,
Perguruan Tinggi dan multi stakeholders.
Mulai tahun 2005 hingga Agustus 2010, tercatat
20 BBWS/BWS yang telah melaksanakan GN-KPA
hingga tindak nyata (telah melaksanakan program
fisik teknis maupun vegetatif dan non fisik),
12 provinsi baru melaksanakan tahap sosialisasi
dan 4 BWS/SNVT belum melaksanakan kegiatan
sama sekali.

Ever since established, GN-KPA has implemented


in each region of province, where river basin
organization acts as facilitator in collaboration
with local government as coordinator of the sector
concerned, supported by all stakeholders especially
NGO and university as well as multiple stakeholders.
The progress of the implementation of GN-KPA
since 2005 up to now recorded 20 of the river basin
organization has been carrying out real acts (carried
out physical and civil technique, and non-physical),
12 provinces implemented stage of socialization,
and 4 river basin organization is yet carried out any
activities at all (source : august 2010)

Enam Komponen Kegiatan GN-KPA Antar Kementerian; Pemda; NGO


Six Component Activities of GN-KPA Inter-Department; Local Government;
Non-Governmental Organization
Kemendagri; KLH; Kemenkeu; Bappenas; BPPT; Akademisi; Balitbang; Kemendiknas
Ministry of Home Affairs; Ministry of Environment; National Development Planning Board; The Government
Agency on Assessment and Application of Technology; The Government Agency of Research and Development;
Ministry of National Education
Tata Ruang, Kemenhut, Kementan, Kemen. PU, Kemen.
ESDM, Pemda, Dunia Usaha, LSM/Professional,
Kemenkes
Spatial Planning, Ministry of Forestry, Ministry of
Agriculture, Ministry of Public Works, Ministry of Energy
and Mineral Resources, Local Government, Business
Community, NGO/Professional, Ministry of Health

Tata Ruang, Kementan, Kemen. PU,


Kemen. ESDM, Kemenkes, Kemen.
Kelautan & Perikanan, Kemenhub, Kemen
Perindustrian, Cipta Karta, Pemda, Dunia
Usaha/PDAM/PJT, LSM/Professional
Spatial Planning, Ministry of Agriculture,
Ministry of Public Works, Ministry of Energy
and Mineral Resources, Ministry of Aquatic
Resources and Fisheries, Ministry of
Transportation, Ministry of Industry, Human
Settlement, Local Government, Business
Community/PDAM/PJT, NGO/Professional

Tengah Middle Stream

Hilir Downstream

Tata Ruang, Kemenhut, Kementan,


Kemen. PU, Kemen. ESDM, Pemda, Dunia
Usaha, LSM/Professional
Spatial Planning, Ministry of Forestry, Ministry
of Agriculture, Ministry of Public Works,
Ministry of Energy and Mineral Resources,
Local Government, Business Community, NGO/
Professional
Terjaminnya ketersediaan air pada
musim kemarau
The availability of water during dry season

Hulu Upstream

Konservasi SDA; Pendayagunaan SDA; Pengendalian daya rusak air; Proses Pengelolaan SDA (Perencanaan, O&P); Sistem Informasi SDA;
Pemberdayaan dan Pengawasan (Peran serta masyarakat)
Conservation of Water Resources; Utilization of Water Resources; Control of Water Destructive Force; Water Resources; Management Process; Water Resources
Information System; Empowerment and Supervision (Community Participation)
Tindak nyata 6 komponen kegiatan GN-KPA
Implementation of Six Component Activities of GN-KPA

Kegiatan 2010-2011

Pengendalian dan Pemanfaatan Sumber Daya Air


Control and Utilization of Water Resources
Pelaksanaan konstruksi pada sumber air dan
penggunaan sumber daya air untuk tujuan tertentu
yang dilakukan oleh pihak selain Pemerintah
perlu melalui prosedural administrasi perizinan
yang kewenangan pemberian izinnya ada pada
Menteri Pekerjaan Umum, sebagaimana dimaksud
dalam Peraturan Pemerintah No. 42/2008 tentang
Pengelolaan Sumber Daya Air.
Ruang lingkup perizinan meliputi Wilayah Sungai
Kewenangan Pusat.

Construction works on water sources and water


resources utilization for specific purpose which done
by parties other than the Government are required
to go through the procedural stages of permit
administration before the construction or
the utilization start. Accordance to Government
Act No. 42/2008 Regarding Water Resources
Management, the authority to stipulate this permit
held by Ministry of Public Works. Permit of work
scope area covering river basin territories under the
authority of Central Government.

Penggunaan sumber air untuk tujuan tertentu


sebagaimana dimaksud, meliputi:
Kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian
rakyat yang dilakukan dengan cara mengubah
kondisi alami sumber air.
Kebutuhan pokok sehari-hari yang dilaksanakan
oleh kelompok orang dan badan sosial.
Keperluan irigasi pertanian rakyat di luar sistem
irigasi yang sudah ada; dan/atau
Kegiatan usaha yang menggunakan sumber
daya air.

Water resources utilization for specific purpose as


intended, include:
Daily activities and community farming which done
by changing the natural conditions of
water sources.
Daily activities that are carried out by groups of
people and social agencies.
Irrigation for community farming outside
the existing irrigation scheme.
Business activities that utilize water resources.

Sedangkan konstruksi yang dimaksud pada


sumber air adalah konstruksi yang berada pada
sumber air termasuk pada sempadan sumber air.

While construction works on water sources refer


to construction on water sources including on the
watershed boundary.

Ada beberapa pihak yang dapat mengajukan


permohonan perizinan pelaksanaan konstruksi
maupun perizinan penggunaan sumber daya air,
yaitu perseorangan, badan usaha, dan kerja sama
antar badan usaha.

Several parties may submit application for permit of


construction and water resources utilization.
These parties are individual, business entities and
inter-business entities cooperation.

Bila permohonan disetujui, akan diterbitkan izin


dalam bentuk Surat Keputusan Menteri. Tapi
bilamana pernohonan ditolak, akan diterbitkan
Surat Pemberitahuan oleh Direktur Jenderal
Sumber Daya Air disertai dengan alasan
penolakan kepada pemohon.
Sampai dengan Mei 2012, 166 Surat Izin telah
diterbitkan dan 64 Surat Izin tengah diproses oleh
Ditjen SDA.

If the application is approved, permit will be issued in


the form of Decree of The Minister. However,
if the application is declined a Notification from the
Director General of Water Resources will be released,
which includes the reason of refusal to the applicant.
Until May 2012, 166 Permits have been issued and 64
Permits are being process by the Directorate General
of Water Resources.

37

Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu

Prosedur Perizinan Pelaksanaan Konstruksi Pada Sumber


Air dan Penggunaan Sumber Daya Air
The Licensing Procedure of Implementation of The Construction on
Water Sources and The Use of Water Resources

PERSYARATAN PERMOHONAN
APPLICATION REQUIREMENTS
Identitas pemohon
Applicant identity
Lokasi, jenis peruntukan, tujuan
Location, type, designation, purpose
Jumlah, cara, dan jangka waktu pengambilan
air
Amount, stages and the length of time taking
water
Gambar, spesifikasi teknis bangunan
Images, technical specifications
of infrastructures
Dokumen amdal/UKL-UPL/SPPL
Document of analysis on environmental impact
Izin yang sudah dimiliki, bukti pembayaran
pajak air permukaan (untuk perpanjangan)
The license already owned, invoice of payment of
tax on water surface (for extended)

PERMOHONAN THE APPLICATION


Ditujukan kepada Menteri Pekerjaan Umum
c/q Dirjen, Sumber Daya Air
Addressed to the Minister of Public Works c.q
the Director General of Water Resources
Data Pemohon, lokasi, tujuan, jumlah air,
konstruksi yang di bangun, jangka waktu, dll
sesuai format baku
Data of the applicant, location, purpose, amount
of water, built construction, length of time,
according to standard format

14 hari kerja
14 working days

REKOMENDASI TEKNIS
TECHNICAL RECOMMENDATIONS
EVALUASI AWAL PRELIMINARY EVALUATION

Permohonan bersama BB/BWS terkait


melakukan ekspose, pembahasan, dan
penilaian kelayakan
The applicant, together with River Basin
Organization do the expose, discussion and
assessment of eligibility
BB/BWS menyampaikan rekomendasi teknis
kepada Dirjen. Sumber Daya Air
River Basin Organization propose technical
recommendations to the Director General of
Water Resources

Pemeriksaan data dan kelengkapan


permohonan oleh tim evaluasi
Examination of application data and
completeness by a team evaluation
Permohonan yang tidak lengkap
dikembalikan, yang lengkap diproses lebih
lanjut
Incomplete application is returned, which
complete further processing

14 hari kerja
14 working days
VERIFIKASI VERFICATION

IZIN LICENSE

Tim evaluasi melakukan verifikasi atas


permohonan dan rekomendasi teknis
BB/BWS
Evaluation team verify the request and technical
recommendations of River Basin Organization

Dirjen, Sumber Daya Air a/n Menteri Pekerjaan


Umum menerbitkan izin
Director General of Water Resources on behalf of
the Minister of Public Works publishing license

Kegiatan 2010-2011

Pengelolaan Hidrologi dan Kualitas Air


The Management of hydrology and water Quality
Ditjen SDA dengan salah satu tugas pokok
melaksanakan penyiapan norma, standar,
prosedur, kriteria serta pembinaan pelaksanaan
pengelolaan hidrologi wilayah sungai dan kualitas
air pada sumber air kepada perangkat kerja di
daerah, telah memeroleh sertifikasi ISO 9001 :
2008 dalam pengelolaan hidrologi dan kualitas air
di tingkat subdirektorat dan beberapa BBWS/BWS.
Dengan sertifikasi ini, DItjen SDA berkomitmen
untuk membangun pelayanan yang memiliki
kinerja dan mutu yang unggul di lingkungan
internal yang memberikan manfaat yang nyata dan
besar bagi masyarakat/pengguna jasa Ditjen SDA.
Mengacu pada komitmen tersebut, maka pada
tanggal 28 Oktober 2011, DItjen SDA telah
melewati tahapan audit eksternal dan berhasil
memperpanjang masa sertifikasi ISO 9001:2008
sampai dengan periode tahun 2012.
Ditjen SDA juga telah berhasil melakukan kegiatan
pendampingan kepada pengelola hidrologi di
tingkat daerah, sehingga dari tahun 20102011
terdapat beberapa balai yang berhasil meraih
sertifikat ISO 9001 : 2008 dalam pengelolaan
hidrologi dan kualitas air, diantaranya BBWS
Cidanau-Ciujung-Cidurian dan BWS Sulawesi
I pada tahun 2010, BBWS Brantas, BBWS
Pompengan Jeneberang, BWS Sulawesi II, dan
Balai ISDA Dinas PU Provinsi Nusa Tenggara
Barat di tahun 2011.

DGWR with one of the main tasks of preparing


norms, standards, procedures, criteria and guidance
implementing the management of river basin
hydrology and water quality in water sources to a
working device in the area, has attained ISO 9001:
2008 in hydrology and water quality management at
the level Subdit and some RBOs.
With this certification, DGWR is committed to building
a service that has superior performance and quality
in the internal environment that provides tangible
and significant benefits for the community/service
users DGWR.
Referring to the commitment, then in October 28,
2011, the DGWR has passed the stage of external
audits and managed to extend the certification
of ISO 9001: 2008 to 2012 period.
DGWR has also been successfully conducting
hydrological assistance to managers at the local
level,so that from the years 2010-2011 there were
several RBOs who earned the certificate ISO 9001:
2008 in hydrology and water quality management,
including RBO Cidanau-Ciujung-Cidurian and RBO
Sulawesi I in 2010, RBO Brantas, RBO Pompengan
Jeneberang, RBO Sulawesi II, and the Central Public
Works Department ISDA West Nusa Tenggara
Province in 2011.

Siklus Hidrologi
Hydrological Cycle

39

Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu

Proses/Tahapan Pengelolaan Hidrologi dan Kualitas Air


Stages of Hydrology and Water Quality Management

Kebutuhan Internal dan Eksternal


untuk Pengelolaan SDA
Internal and External Needs for
Water Resources Management

INPUT
INPUT

PROSES
PROCESS

OUTPUT
OUTPUT

1. Pembiayaan Financing
2. Sumber daya manusia Human resources
3. Sistem mutu Quality Assurance

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pencatatan data Data recording


Pengukuran Measurement
Pengolahan data Data processing
Penyimpanan data Data storage
Pemeliharaan Maintenance
Inspeksi pos Post inspection

Masukan/umpan balik
untuk perbaikan
Feedback for improvement

1. Database/SIM HKA Database/Management


Information System of Hydrology and Water Quality
2. Publikasi Publication

Pelayanan Data/Diseminasi Data dan Informasi HKA untuk


Menunjang Pengelolaan SDA
Data Services/Data and information dissemination of hydrology
and water quality in supporting water resources management

Prinsip Pengelolaan Hidrologi dan


Kualitas Air:
Beriterasi Terus Sesuai Siklus Melalui
Perbaikan Berkelanjutan

The Principle of Hydrology and Water


Quality Management:
Iteration to the cycle through
continuously improvement.

Kegiatan 2010-2011

Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air


Operation and maintenance of Water Resources

Operasi dan pemeliharaan (OP) merupakan


tahapan terakhir dalam penyediaan prasarana
sumber daya air. Siklus penyediaan prasarana
sumber daya air, dikenal dengan SIDLACOM,
dimulai dengan kegiatan perencanaan
(survey,investigation, design-SID) berdasarkan
Pola dan Rencana Pengelolaan sumber daya air;
pembebasan lahan (Land Acquisition); konstruksi
(Construction); dan dilanjutkan dengan operasi &
pemeliharaan (OM) secara berkesinambungan.

Operation and maintenance (OP) is the latest stage


in the provision of water resources infrastructure.
Provision of water resources infrastructures cycle,
known as SIDLACOM, starting with planning activities
(survey, investigation, design-SID) based on Strategic
Water Resources Management Plan & Water
Resources Management Plan; Land Acquisition,
Construction, and continued with the Operation &
Maintenance (OM) on an ongoing basis.

Tahapan Penyediaan Sumber Daya Air


The Stages of Water Resources Provision

Pola &
Rencana
SDA
Strategic
WRM Plan &
WRM Plan

SID

LA

COM

Survey,
Investigation,
Design

Land
Acquisition

Construction,
Operation &
Maintenance

Pemerintah dari waktu ke waktu membangun


prasarana sumber daya air dalam skala besar
dan menengah guna mendukung pertumbuhan
perekonomian dan kehidupan bangsa. Bendunganbendungan besar, jaringan irigasi, rawa dan air
baku, prasarana pengendalian banjir dan lain-lain
tersebar diseluruh nusantara memberikan manfaat
bagi masyarakat luas.
Agar dapat berfungsi optimal dan sesuai dengan
rencana, infrastruktur terbangun tersebut perlu
pengoperasian (pengaturan, pengalokasian dan
penyediaan air) serta pemeliharaan yang memadai,
baik secara rutin maupun berkala, berupa kegiatan
operasi dan pemeliharaan.

Pemanfaatan
Utilization

Government from time to time builds water resources


infrastructure in large and medium scale to support
economic growth and life of the nation. Large dams,
irrigation, lowland and raw water scheme, flood
control infrastructures and others are dispersed
throughout the archipelago provide benefits
to society at large.
In order to function optimally and in accordance
with the plan, the built infrastructures need
operation (setting, allocation and provision of water)
and adequate maintenance, either regularly or
periodically, in the form of operation and
maintenance activities.

41

Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu

Sayangnya kegiatan OP kurang mendapat


perhatian, antara lain akibat terlalu terfokus pada
penyediaan infrastruktur, keterbatasan dana dan
minimnya sumber daya manusia. Padahal kegiatan
OP merupakan salah satu mata rantai penting
dalam pengelolaan sumber daya air terpadu, yang
bersentuhan langsung dengan masyarakat/publik
selaku penerima manfaat pengelolaan
sumber daya air.

Unfortunately, the OM activities received less


attention, partly in consequence of the exceeding
concentration on the provision of infrastructures,
limited funds and lack of human resources.
Though, OM activity is one of the important chain
links in the integrated water resources management,
which have direct contact with the community/public
as beneficiaries of water resources management.

Tanpa OP yang memadai dan terencana dengan


baik, dampak negatif yang akan timbul antara lain:

Without adequate and well-planned OM activities,


some negative impacts might occur such as:

Kerusakan prasarana sumber daya air sebelum


tercapai umur rencana;

Damages to water resources infrastructures before


it reached the project lifespan.

Terganggunya keberadaan dan fungsi sumber


air/lingkungan;

Disruption in the existence and function of water


sources/environment.

Beban biaya rehabilitasi/peningkatan semakin


berat dari waktu ke waktu;

The significant increase of rehabilitation cost.

Menurunnya kinerja pelayanan kepada


masyarakat;
Kegagalan tujuan pembangunan.

Declining in public service performance.


The failure of development objectives.

Kegiatan 2010-2011

Sistem Informasi
Water Resources Information System
Pengelolaan sumber daya air yang baik
memerlukan dukungan data dan informasi yang
memadai. Pentingnya data dan informasi untuk
mendukung tercapainya visi dan misi pengelolaan
sumber daya air sejak dari penentuan kebijakan,
perencanaan sampai dengan pelaksanaan
konstruksi tercermin dari diamanatkannya sistem
informasi pada bab tersendiri di dalam UndangUndang No. 7 tahun 2004 tentang Sumber
Daya Air.
Program percepatan Reformasi Birokasi di
lingkungan Ditjen SDA menekankan tersedianya
data dan informasi yang mudah diakses oleh
masyarakat, sebagaimana diamanatkan dalam
Undang-Undang No. 14 tahun 2008 tentang
Keterbukaan Informasi Publik.

Water Resources Management needs the support


of adequate data and information. The importance
of data and information to support the achievement
of its vision and mission of water resources
management from the determination of policy,
planning and execution of construction as reflected
information system in the Law 7/2004 regarding water
resources, that also emphasizes the management of
information system of hydrology.
During this time, the management of data and
information didnt have much attention proportionally,
so that in general the necessary data and information
stored in the form of a less structured so that its
often hard to look for when necessary.

43

Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu

Idealnya pengelolaan sistem informasi ini


dilakukan oleh berbagai institusi pengelola sumber
daya air dan oleh karenanya diperlukan standar
format data secara nasional untuk berbagai
data teknis agar komunikasi data antar instansi
pengolahan data dapat lebih mudah dilaksanakan.
Data dan Informasi sumber daya air tidak hanya
terbatas pada data teknis, sehingga melibatkan
cukup banyak pengelola data yang terkait,
misalnya badan pusat statistik, badan meteorologiklimatologi dan geofisika, dan sebagainya. Maka
dari itu, pengelolaan sistem informasi sumber daya
air ini dilaksanakan dalam bentuk jejaring antar
institusi pengelola data dan informasi.
Untuk mengelola data dan informasi yang menjadi
tanggung jawab Ditjen SDA, telah dikembangkan
aplikasi Pengolah Data Sumber Daya Air dan
Pengelolaan Aset Irigasi. Hasil kompilasi data dan
informasi dari daerah melalui aplikasi tersebut
dapat diakses melalui situs web http://sda.pu.go.id/.
Dalam kaitan pengembangan dan publikasi data
dan informasi, Ditjen SDA telah mempersiapkan
website balai wilayah sungai, pedoman
pengelolaan sistem informasi sumber daya air,
meja informasi dan touch screen kiosk informasi
sumber daya air.

Acceleration program of bureaucracy reform in


directorate general of water resources emphasize
the availability of data and information relating to
the responsibility of the Directorate General of water
resources that are accessible to the public. It is
closely to the mandate of the government act 14/2008
regarding the openness of public information. In
the line with the development of infrastructure,
water resources management information system
had been started by improving data management
infrastructure, as well as to prepare human
resources assigned to conduct the operations.
This information system management are mandated
by the various water resources management
institutions, and thus required the existence of
a standard data format for various nationwide
technical data, so that data communication can
be implemented more easily between relevant
agencies the data manager. Data and information
of water resources is not only limited to technical
data, it is also involve a fair amount of related data
management, such as Statistics Indonesia Indonesian
agency for meteorology, climatology and Geophysics-,
and so on. Therefore, the management of water
resources information system is implemented in the
form of networking between institutions, managers of
data and information.
To manage the data and information that are the
responsibility of the Directorate General of water
resources, there has develop Data Processing
application of water resources (PDSDA) and the
management of Irrigation Assets (PAI). Results of the
compilation of data and information from the region
through the application is accessible via the web site
http://sda.pu.go.id/.
Regarding the development and publication of data and
information, the Directorate General of water resources
has been preparing the river basin organization
website, guidelines for the management of the river
information system of water resources, meeting point,
and the water resources information kiosk.

Kegiatan 2010-2011

Reformasi Birokrasi
bureaucracy reform
Ditjen SDA, berdasarkan Perpres No. 47/2009
Tentang Pembentukan dan Organisasi
Kementerian Negara serta Perpres No.
24/2010 Tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi
Kementerian Negara serta Susunan Organisasi,
Tugas, dan Fungsi Eselon 1 Kementerian Negara,
merupakan lembaga pemerintah yang mempunyai
tanggung jawab dan tugas untuk merumuskan
serta melaksanakan kebijakan dan standarisasi
teknis di bidang sumber daya air sesuai peraturan
perundang-undangan.
Untuk menjalankan mandat, tugas, dan fungsi
tersebut, Ditjen SDA saat ini membawahi 33
UPT/Balai Besar dan Balai Wilayah Sungai,
dengan didukung oleh sejumlah 8639 orang
pegawai dan pejabat.
Landasan budaya kerja Kementerian Pekerjaan
Umum adalah Bekerja Keras, Bergerak Cepat
dan Bertindak Tepat. Seiring dengan hal tersebut
Ditjen SDA telah melaksanakan Organization Culture
Assessment (sebuah aktivitas untuk mendapatkan
gambaran budaya organisasi yang berkembang
saat ini, maupun budaya organisasi yang
diharapkan guna merealisasikan tujuan organisasi)
untuk mengidentifikasi budaya organisasi, hasil
tergambarkan sebagai berikut:

Based on Presidential Regulation No. 47/2009


Regarding the Establishment and Organization
of State Ministry and Presidential Regulation
No. 24/2010 regarding the Status, Tasks, and Functions
of State Ministry as well as Organizational Structures,
Tasks and Functions of Echelon 1 of State Ministry,
DGWR is the government agency with the task and
responsibility in formulating and implementing policies
and technical standards in water resources sector
according to the rules and legislation.
To carry out the mandate, tasks and functions,
the DGWR currently oversees 33 technical units/
River Basin Organizations; supported with 8,639 of
employees and officials.
The working culture of the Ministry of Public Works is
Working Hard, Moving Fast and Acting Right. Along
with it, DGWR has implemented Organization Culture
Assessment (an activity to overview organizational
cultures developing today, as well as the organizational
culture that will be able to realize the goals of the
organization) to identify the organizational culture,
the results is illustrated as follows:

Perbandingan
antara current
and future

Flexibility and Discretion

The Clan

The Adhocracy
50
50

40
40

30
30

20
20

10

Internal
Focus and
Integration

External
Focus and
Differentiation

10
10
20
30
40
50

Comparison
between current
and future

10
20
30

Kondisi Sekarang
Current

40
50

The Hierarchy

The Market

Kondisi yang
Diinginkan
Future

Stability and Control


45

Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu

Budaya organisasi saat ini (Hierarchy-Clan)


sedikit banyak harus mulai diubah untuk
memenuhi tuntutan pencapaian tujuan organisasi
(Organization Plan). Perubahan itu meliputi
pemerkuatan budaya Market dan memulai
penanaman budaya Adhocracy, seiring dengan
dikuranginya intensitas budaya Hierarchy-Clan.
Perubahan ini harus direncanakan, dikondisikan,
dan dilakukan dengan tahapan-tahapan yang baik
serta hati-hati untuk tetap menjaga hubungan
yang stabil dan dinamis. Kompetensi yang relevan
dengan budaya organisasi adalah sebagai berikut:
Thinking
In-depth problem solving &
analysis (H)

H: Hierarchy

The current organizational culture (Hierarchy-Clan)


needs to start to be changed in order to meet the
demands of achieving the goals of organization
(Organization Plan). Changes include strengthening
the Market culture and starting the Adhocracy
culture, along with decreasing the intensity of the
Hierarchy-Clan. This change needs to be carefully
planned, conditioned, and performed to keep the
relation stable and dynamic. Relevant competences
with the culture of the organization are as follows:

Working
Planning & organizing (H)
Policies, processes, and
procedures (H)
Continous improvement (M)
Delivering result (M)
Stakeholder service (M)
Quality focus (M)

Relating
Team work & collaborating (H)
Motivating others (H)

M: Market

Untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan


maupun tuntutan-tuntutan di atas, reformasi
birokrasi yang memang telah menjadi prioritas
dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang
diangkat dan dilaksanakan di lingkungan
Direktorat Jenderal SDA.
Langkah langkah dijalankan oleh Direktorat
Jenderal SDA dalam penerapan reformasi
birokrasi meliputi:
1. Program Manajemen Perubahan
Di tahun 2011 sedang dilaksanakan:
Penyusunan strategi dan rencana aksi
manajemen perubahan;
Penyusunan strategi komunikasi;
Menyusun bahan sosialisasi dan
internalisasi manajemen perubahan;
2. Program Penataan Peraturan
Perundang-undangan
Di tahun 2011 dilaksanakan:
Identifikasi kebutuhan peraturan
perundang-undangan baru di bidang
sumber daya air;
Identifikasi peraturan perundang-undangan
yang perlu disinkronisasi/harmonisasi;

To answer and resolve the above mentioned problems


and demands, the bureaucracy reform has become
a priority of the Long-Term Development Plan and is
also being carried out within the DGWR.
The measures undertaken by the DGWR in
implementing the bureaucracy reform include:
1. Change Management Program
Being implemented in 2011 are:
Development of strategies and action plans of
change management;
Development of communication strategies;
Developing materials for dissemination and
internalization of change management;
2. Structuring Rules and Regulations Program
Being implemented in 2011 are:
Identification of new rules and regulations
required in water resources sector;
Identify rules and regulations that need to be
synchronized / harmonized;

Kegiatan 2010-2011

3. Program Penataan dan Penguatan Organisasi


Pada tahun 2010 telah selesai dilaksanakan
restrukturisasi/penataan tugas dan fungsi
Ditjen SDA;

3. Organizational Structuring and


Strengthening Program
Restructuring of tasks and function of the
DGWR have been completed in 2010;

4. Program Penataan Tatalaksana


Di tahun 2011 dilaksanakan penyusunan
SOP (Standard Operating Procedures)
sebanyak 513 SOP dari total kebutuhan 800
SOP di lingkungan Ditjen SDA;

4. Procedural Structuring Program


In 2011, the development of SOP (Standard
Operating Procedures) was carried out, as
many as 513 out of the total needs of 800 SOP
in the DGWR;

5. Program Penataan Sistem Manajemen


SDM Aparatur
Pada tahun 2011 dilaksanakan analisis
dan evaluasi jabatan, penyusunan standar
kompetensi jabatan, asesmen individu,
pengembangan sistem penilaian kinerja
individu serta pengembangan sistem
informasi kepegawaian;

5. Human Resources Management System


Structuring Program (The Program of
Structuring Human Resources Management
System)
In 2011, the analysis and job evaluation,
standard setting for job competence,
individual assessment, development of
individual performance appraisal system and
development of personnel information system
was carried out;

6. Program Penguatan Pengawasan

7. Program Penguatan Akuntabilitas Kinerja


Di tahun 2011 dikembangkan sistem
manajemen kinerja organisasi Ditjen SDA;
8. Program Peningkatan Kualitas
Pelayanan Publik
Di tahun 2010 telah disusun SPM (Standar
Pelayanan Minimal) untuk irigasi dan air
baku dan telah ditetapkan dalam Peraturan
Menteri Pekerjaan Umum
untuk dilaksanakan oleh Pemerintah
Kabupaten/Kota;
Sementara di 2011 standar pelayanan bidang
sumber daya air yang lain sedang disusun
untuk mulai diterapkan di tahun-tahun
berikutnya.

6. Supervision Strengthening Program


7. Performance Accountability Strengthening
Program
In 2011, the performance management system
of organization (DGWR) was developed;
Public Service Quality Improvement Program
8. In 2010 Standard Minimal Service for irrigation
and raw water has been prepared and
regulated in the Minister of Public Works
Regulation to be implemented by government
at district/municipality level;
Meanwhile in 2011 other service standards in
water resources sector are being compiled to
be implemented in the years to come.
Monitoring and Evaluation Program

9. Program Monitoring dan Evaluasi


9.

47

3
Capaian KEGIATAN Bidang
SUmber Daya Air TA 2010-2011
Achievement of Water Resources Sector
Performance Year 2010-2011

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

Renstra SDA 2010-2014 & Capaian Pembangunan


Bidang sda 2010-2011
Strategic Planning IN 2010-2014 and Development Performance in
Water Resources Infrastructure 2010-2011

Pelaksanaan Irigasi, Rawa, Tambak, Air Baku dan Air Tanah


Implementation of Irrigation, Lowland, Aquaculture, Raw Water and
Ground Water Management
Sarana/Prasarana Penyediaan Air Baku yang
Dibangun/ Ditingkatkan
Development/Improvement of Raw Water Supply
Infrastructures

43,23 m3/dtk

12,3 m3/dtk

6,43 m3/dtk

3,76 m3/dtk

8,6 m3/dtk

4,74 m3/dtk

Jaringan Irigasi yang Dibangun/Ditingkatkan


Development/Improvement of Irrigation Schemes

Legenda Legend

Sarana/Prasarana Penyediaan Air Baku yang


Direhabilitasi
Rehabilitation of Raw Water Supply Infrastructures

Jaringan Irigasi yang Direhabilitasi


Rehabilitation of Irrigation Schemes

500.000 Ha

1.340.944 Ha

115.000 Ha

393.044 Ha

66.249 Ha

284.137,26 Ha

Renstra 2010-2014

Capaian 2010

Capaian 2011

Kegiatan 2010-2011

Jaringan Irigasi Air Tanah yang


Dibangun/Ditingkatkan
Development/Improvement of Ground Water
Irrigation Schemes

Jaringan Irigasi Air Tanah yang Direhabilitasi


Rehabilitation of Ground Water Irrigation Schemes

3.000 Ha

37.501 Ha

1.673 Ha

8.787 Ha

3.027 Ha

10.790 Ha

Jaringan Reklamasi Rawa yang


Dibangun/Ditingkatkan
Development/Improvement of Lowland
Reclamation Schemes

Jaringan Irigasi Air Tanah yang Direhabilitasi


Rehabilitation of Lowland Reclamation Schemes

548.500 Ha

450.000 Ha

8.100 Ha

85.000 Ha

70.509,53 Ha

120.810 Ha

Jaringan Tata Air Tambak yang


Dibangun/Ditingkatkan
Development/Improvement Aquaculture Schemes

Legenda Legend

Jaringan Tata Air Tambak yang Direhabilitasi


Rehabilitation of Aquaculture Schemes

25.000 Ha

176.000 Ha

1.021 Ha

2.800 Ha

10.706 Ha

7.297 Ha

Renstra 2010-2014

Capaian 2010

Capaian 2011

51

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

Pelaksanaan Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air


Operation and Maintenance of Water Resources
Sarana/Prasarana Penyediaan Air Baku yang
Dioperasikan dan Dipelihara
Operation and Maintenance of Raw Water Infrastructures

44,75 m3/dtk

11.120.058 Ha

2,90 m3/dtk

1.817.685 Ha

13,17 m3/dtk

2.143.589 Ha

Jaringan Irigasi Air Tanah yang Dioperasikan


dan Dipelihara
Operation and Maintenance of Ground Water
Irrigation Schemes

Jaringan Reklamasi Rawa yang Dioperasikan


dan Dipelihara
Operation and Maintenance of Lowland
Reclamation Schemes

43.840 Ha

5,644.277 Ha

8.763 Ha

126.251,49 Ha

2.733 Ha

1.040.005 Ha

Jaringan Tata Air Tambak yang Dioperasikan


dan Dipelihara
Operation and Maintenance of Aquaculture Schemes

Legenda Legend

Jaringan Irigasi yang Dioperasikan


dan Dipelihara
Operation and Mainterance of Irrigation Schemes

Waduk/Embung/Situ/Bangunan Penampungan
Air Lainnya yang Dioperasikan dan Dipelihara
Operation and Maintenance of Dam, Water Retention,
Situ, and Other Water Reservoir Infrastructures

98.737 Ha

1.199 buah

0 Ha

75 buah

64.993 Ha

298 buah

Renstra 2010-2014

Capaian 2010

Capaian 2011

Kegiatan 2010-2011

Sarana/Prasarana Pengendalian Banjir


yang Dioperasikan dan Dipelihara
Operation and Maintenance of
Flood Control Infrastructures

Sarana/Prasarana Pengendali Lahar/Sedimen


yang Dioperasikan dan Dipelihara
Operation and Maintenance of
Sediment Control Infrastructures

6.603 Km

316 buah

129,40 Km

11 buah

648 Km

5 buah

Sarana/Prasarana Pengamanan Pantai yang


Dioperasikan dan Dipelihara
Operation and Maintenance of Coastal
Protection Infrastructures
50 Km
10 Km
25 Km

Pelaksanaan Sungai, Danau, Waduk, Pengendalian Lahar dan Pengamanan Pantai


Implementation of River, Lake, Dam, Sediment, Control and
Coastal Protection Management
Waduk yang Dibangun
Dam Development

Legenda Legend

Embung/Situ/Bangunan Penampung Air Lainnya


yang Dibangun
Development of Water Retention/Situ/Other Water
Reservoir Infrastructures

52 buah

200 buah

17 buah

32 buah

9 buah

105 buah

Renstra 2010-2014

Capaian 2010

Capaian 2011

53

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

Waduk yang Direhabilitasi


Dam Rehabilitation

Embung/Situ/Bangunan Penampung Air Lainnya


yang Direhabilitasi
Rehabilitation of Water Retention/Situ/Other Water
Reservoir Infrastructures

140 buah

300 buah

12 buah

21 buah

7 buah

41 buah

Kawasan Sumber Air yang


Dilindungi/Dikonservasi
Conservation of Water Sources Area

Sarana/Prasarana Pengendalian Banjir


yang Dibangun
Development of Flood Control Infrastructures

63 kawasan

1.000 Km

7 kawasan

524,41 Km

9 kawasan

463,06 Km

Sarana/Prasarana Pengendalian Banjir yang


Direhabilitasi
Rehabilitation of Flood Control Infrastructures

Legenda Legend

Sarana/Prasarana Pengendalian Lahar/Sedimen


yang Dibangun
Development of Sediment Control Infrastructures

750 Km

28 buah

15,28 Km

13 buah

143,62 Km

43 buah

Renstra 2010-2014

Capaian 2010

Capaian 2011

Kegiatan 2010-2011

Sarana/Prasarana Pengendalian Lahar /Sedimen


yang Direhabilitasi
Rehabilitation of Sediment Control Infrastructures

Sarana/Prasarana Pengaman Pantai


yang Dibangun
Development of Coastal Protection Infrastructures

85 buah

180 Km

5 buah

33 Km

18 buah

51,08 Km

Sarana/Prasarana Pengaman Pantai


yang Direhabilitasi
Rehabilitation of Coastal Protection Infrastructures

50 Km
3 Km
2,45 Km

Legenda Legend

Renstra 2010-2014

Capaian 2010

Capaian 2011

55

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

Proyek Strategis Bidang Sumber Daya Air


Strategic Projects of Water Resources Sector

ACEH

PEMBANGUNAN DAERAH IRIGASI LHOK GUCI


LHOK GUCI IRRIGATION AREA DEVELOPMENT
Daerah Irigasi Lhok Guci memiliki total area seluas

Lhok Guci irrigation area has a total area of

18.542 Ha

18,542 Ha

Terletak di Kecamatan Pante Ceureumen, Kaway


XVI, Bubon, Samatiga, Johan Pahlawan, Kabupaten
Aceh Barat, Provinsi Aceh.

It is located in District Pante Ceureumen, Kaway XVI,


Bubon, Samatiga, Johan Pahlawan, West Aceh,
Aceh Province.

Daerah Irigasi Lhok Guci dibangun untuk


menunjang program pemerintah dalam
mendukung ketahanan pangan. Sasaran
pembangunan daerah irigasi ini adalah untuk
penyediaan prasarana dan sarana irigasi
yang memadai dalam rangka meningkatkan
intensitas tanam dan membuka lahan baru
untuk penambahan areal sebagai pengganti
areal yang telah berubah fungsi sehingga dapat
mensejahterakan kehidupan petani khususnya dan
masyarakat umumnya.

Lhok Guci Irrigation area is developed to support


the government programs in the field of food selfsufficiency. The development of Lhok Guci Irrigation
Area aimed to provide an adequate irrigation
infrastructure in order to increase cropping
intensity and to replace the area which have shifted
in function. The objective of this project is to increase
the wellfare of the farmer and society in general.

Di Lhok Guci dibangun


untuk meningkatkan
intensitas tanam dan
membuka lahan baru
sebagai pengganti
areal sawah yang telah
berubah fungsi

57

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

ACEH

PEMBANGUNAN BENDUNGAN RAJUI


RAJUI DAM DEVELOPMENT

Manfaat Bendungan Rajui:


Meningkatkan penyediaan air baku
Meningkatkan produksi pertanian
Mendukung program ketahanan pangan
Mengembangkan perikanan darat
Menciptakan lapangan kerja di kawasan Padang Tiji,
Kabupaten Pidie
Pembangunan Bendungan Rajui di Kecamatan Padang Tiji,
Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh direncanakan untuk mengairi
areal sawah seluas 1.000 Ha dengan sumber air berasal dari
Krueng Rajui dan disuplesikan ke Alue Tanjung. Krueng Rajui
mempunyai debit air maksimum sebesar 2,726 m/detik,
sedangkan Alue Tanjung sebesar 0,160 m/detik.
Bendungan Rajui bermanfaat untuk meningkatkan
penyediaan air baku, meningkatkan produksi pertanian,
mendukung program ketahanan pangan, mengembangkan
perikanan darat dan menciptakan lapangan kerja di kawasan
Padang Tiji, Kabupaten Pidie. Bendungan yang berbentuk
urugan homogen dengan tinggi bendungan 41,20 meter dan
luas genangan waduk mencapai 33,60 Ha ini direncanakan
dibangun selama 3 tiga tahun mulai dari tahun 2010.
Di tahun 2010, pekerjaan yang dilakukan meliputi persiapan,
perbaikan dan perkerasan jalan akses serta pemasangan
listrik Saluran Udara Tegangan Menengah. Sedangkan
di tahun 2011, pekerjaan yang dilakukan mencakup
pembangunan terowongan pengelak dan bangunan sadap,
pembangunan bangunan pelimpah dan pembangunan
bendungan utama.

The Rajui Dam development in Padang Tiji


district, Pidie, Aceh Province is aimed to
irrigate the rice field area of 1,000 Ha with
the water resource comes from Krueng
Rajui and supplied to Alue Tanjung.
Krueng Rajui has a maximum water
discharge of 2.726 m3/second while the
Alue Tanjung of 0.160 m3/second.
The Advantage of Rajui Dam is to
improve the raw water supply, to
increase agricultural production,
food self-sufficiency programs to
support aquatic development and to
generate job opportunities in the area
of Padang Tiji, Pidie. The homogeneous
embankment dam with the height of
41.20 meters and inundation of 33.60 Ha,
is planned to be developed within 3 years
starting from 2010.
In 2010, the work consists of preparation,
repairmen of access road and pavement
and installation of electrical Medium
Voltage Air Line. While in 2011, the work
including the diversion tunnel and tapping
construction, spillway and major dam
construction.

ACEH

PEMBANGUNAN EMBUNG LAMBADEUK


LAMBADEUK WATER RETENTION DEVELOPMENT

Luas Daerah Aliran Sungai (DAS)


Lambadeuk Watershed

Luas Genangan
Vast pool of

2,72 Km2

8 Ha

Embung yang terletak di Desa Lambadeuk,


Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar,
Provinsi Aceh ini merupakan embung tipe urugan
tanah dengan inti kedap air tegak.
Dibangun sebagai penampung air baku saat
musim hujan dan digunakan sebagai pemenuhan
kebutuhan air bersih untuk masyarakat di
beberapa desa di Kecamatan Peukan Bada.
Sumber air utama Lambadeuk berasal dari alur
Lambadeuk yang mempunyai luas Daerah Aliran
Sungai (DAS) 2,72 Km2 dan luas genangan 8 Ha.
Tampungan air baku dari Embung Lambadeuk ini
kemudian diolah dan disalurkan untuk melayani
kebutuhan air bersih yang terjamin sepanjang
tahun ke Desa Lamguron, Lambadeuk, Lambaro
dan Lampageu di Kemukiman Lampauge,
Kecamatan Peukan Bada yang sulit mendapat air
bersih karena terletak di pinggir pantai.

Lambadeuk Water Retention which is located in the


Lambadeuk Village, District Peukan Bada, Aceh Besar
Regency, Aceh Province is an earth embankment
water retention with water-resistant core. Built as a
raw water reservoir during rainy season which will
serve clean water demand for several villages in
the district of Peukan Bada. Lambadeuk main water
source comes from Lambadeuk Watershed of 2.72
km2 and the vast pool of 8 Ha.
Lambadeuk raw water pond is processed and
distributed to serve water supply demand throughout
the year to Lamguron Village, Lambadeuk, Lambaro
and Lampageu, District Peukan Bada which has
difficulty in
getting clean
water because its
location is nearby
the beach.

Dibangun sebagai penampung air baku


saat musim hujan dan digunakan sebagai pemenuhan
kebutuhan air bersih untuk masyarakat
di beberapa desa di Kecamatan Peukan Bada
59

SUMATERA UTARA

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

REVITALISASI DAERAH IRIGASI SEI ULAR

SEI ULAR IRRIGATION AREA REVITALIZATION

Revitalisasi bertujuan untuk menjamin ketersediaan air dan


tata irigasi bagi lahan pertanian
Daerah Irigasi Sei Ular berlokasi di Kabupaten
Deli Serdang dan Serdang Begadai, Sumatera
Utara dengan luas 18.500 Ha dan mempunyai
8 buah Free Intake. Pada awal pembangunannya
seluruh Free Intake dan jaringan irigasi telah
berfungsi dengan baik, namun akibat penurunan
dasar sungai (degradasi) menyebabkan air tidak
dapat masuk saluran secara optimal sehingga
diperlukan revitalisasi.

The Sei Ular Irrigation scheme is located in Deli


Serdang Regency and Serdang Begadai Regency,
North Sumatera with an area of 18,500 Ha and it
has 8 pieces free intake. At the beginning of the
construction, free intakes and irrigation schemes
have functioned properly, however due to the
degradation of river stream, the water cannot run
through the irrigation lining optimally, thus the
revitalization is needed.

Revitalisasi Daerah Irigasi Sei Ular bertujuan


untuk menjamin ketersediaan air dan tata irigasi
bagi lahan pertanian dengan cara mengembalikan
fungsi jaringan irigasi secara optimal dengan
membangun sebuah bendung permanen dan
saluran-saluran penghubung untuk menggantikan
fungsi dari delapan Free Intake tersebut.

The Revitalization of Sei Ular Irrigation Area is


aimed to ensure the availability of water supply
and irrigation scheme for agricultural land in
which to restore irrigation function optimally by
building a permanent weir and connecting channel
to replace the function of the eight-Free Intake.

Dengan dilaksanakannya revitalisasi ini


diharapkan dapat mengembalikan fungsi jaringan
irigasi, mengoptimalkan hasil panen padi dengan
cara peningkatan intensitas tanam, menghindari
terjadinya alih fungsi lahan, dan membuka
lapangan kerja serta mencegah urbanisasi.
Di samping itu, kegiatan revitalisasi ini dapat
menciptakan peluang ekstensifikasi bagi lahan
seluas 6.780 Ha di Kabupaten Deli Serdang untuk
mengairi potensi sawah seluas 25.280 Ha.

This revitalization is expected to restore the function


of irrigation scheme, optimizing rice yields
by increasing cropping intensity, avoiding
the occurrence of land use, and opening
employment and preventing urbanization.
In addition, this revitalization activity able to
generates extensification opportunities for an area
of 6,780 Ha in Deli Serdang District to irrigate
25,280 Ha potential paddy fields.

SUMATERA BARAT

PEMBANGUNAN DAERAH IRIGASI ANAI TAHAP II


ANAI IRRIGATION AREA DEVELOPMENT PHASE II
Pembangunan Daerah Irigasi
Anai Tahap II seluas 6.840 Ha
terletak di Kabupaten Padang
Pariaman, Kota Pariaman.
Sumber air Irigasi Anai
berasal dari Sungai Batang
Anai, melalui Bendung
Batang Anai.
Pembangunan ini bermanfaat
untuk meningkatkan
intensitas tanam sampai
dengan 100200% dan
menambah produksi padi
dari 3 ton/Ha menjadi
5-6 ton/Ha. Lingkup
pekerjaannya meliputi
konstruksi 17.894 meter
saluran induk, 61.128 meter
saluran sekunder, 64.460
meter saluran pembuang, 52
unit bangunan sadap, 84 unit
bangunan pelengkap, serta
1.460 Ha cetak sawah.

Anai Irrigation development


Phase II is carried our for
an area 6,840 Ha in Padang
Pariaman Regency, Pariaman
City. Irrigation water source
comes from Batang Anai River,
through the Batang Anai Weir.
The development is beneficial
to increase cropping intensity
up to 100-200% and to
increase rice production of
3 tons / ha to 5-6 tons /ha.
The scope of work includes
construction of 17,894 meter
primary channel, 61,128-meter
secondary channel, 64,460
meter, 52 channel tapping
unit, 84 suplementary building
unit, as well as the 1,460 Ha
paddy fields.

Pembangunan DI Anai II
bermanfaat untuk:
Meningkatkan intensitas
tanam sampai dengan
100-200%
Menambah produksi padi
menjadi 5-6 ton/Ha

Anai Tahap II
6.840 Ha

Anai Tahap I
6.764 Ha

61

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

SUMATERA BARAT

PEMBANGUNAN SARANA DAN PRASARANA PENGAMANAN


PANTAI PADANG
DEVELOPMENT OF PADANG BEACH COASTAL PROTECTION INFRASTRUCTURE

Pembangunan pengaman Pantai Padang bertujuan untuk menanggulangi


abrasi dan mengamankan kawasan permukiman di sekitarnya
Terjadinya abrasi Pantai Padang dengan pengikisan
2,2 meter setiap tahunnya diakibatkan oleh
perubahan fenomena alam dan laju pertumbuhan
kota. Mundurnya garis pantai ini telah merusak areal
permukiman, sarana umum, sarana pendidikan dan
menghancurkan pemukiman penduduk seluas 40
Ha. Oleh karena itu, pembangunan pengamanan
pantai ini dilakukan sebagai penanggulangan abrasi
di sepanjang Pantai Padang untuk mengamankan
sarana dan prasarana umum serta kawasan
pemukiman di sekitarnya.
Sampai dengan tahun 2011, pembangunan sarana
dan prasarana pengamanan pantai, dengan total
panjang 18 km, yang telah dilakukan diantaranya,
konstruksi Seawall Pasangan Batu sepanjang
2,35 kilometer, 23 unit Krib Batu Besar, 350 meter
Seawall Bronjong, 1.100 meter Seawall Beton
Hexapode, 9.200 meter Seawall & Groin Cobble
Stone, serta 26 unit Groin Cobble Stone.

The occurrence of coastal abrasion in Padang Beach


with 2.2 meter erosion rate is caused by natural
phenomena change and rapid urban growth. This
coastline withdrawal has damaged residential area,
public facilities, educational facilities, and 40 Ha
settlement areas. Therefore Padang Beach Coastal
Protection Development carried out to protect
nearby infrastructures, facilities and settlements.
Up until 2011, Coastal Protection Infrastructures, with
total length of 18 km, which have been developed
consist of Pet Stone Seawall construction along
2.35 kilometers, 23 units Big Stone Crib, 350 meters
Seawall Bagwark, 1,100 meters Hexapode Concrete
Seawall, 9,200 meters Seawall & Cobble Stone groin,
as well as 26 units of Cobble Stone Groins.

Perubahan iklim merupakan salah satu penyebab terjadinya abrasi pantai

RIAU

PENANGANAN BANJIR SUNGAI SIAK


SIAK RIVER FLOOD CONTROL
Penanganan banjir di
Kota Pekanbaru, Provinsi
Riau khususnya Sungai
Siak dilakukan dengan
membangun stasiun-stasiun
pompa banjir. Pembangunan
tersebut terdiri dari Stasiun
Pompa Sektor I di Sago,
Stasiun Pompa Sektor I di
Senapelan, Stasiun Pompa
Sektor II di Tanjung Batu dan
Stasiun Pompa Sektor IV di
Meranti Pandak.
Stasiun Pompa Sektor I di
Sago dan Stasiun Pompa
Sektor I di Senapelan
memiliki tipe pompa Auger,
dengan bangunan pelengkap
Pintu Air Baja. Kapasitas
pompa mencapai 2 Auger x
1,5 m3/detik. Stasiun pompa
ini menangani areal seluas
150 Ha atau 330 Kepala
Keluarga (KK) di Kecamatan
Senapelan.
Seperti Stasiun Pompa Sektor
I di Sago dan Senapelan,
Stasiun Pompa Sektor II di
Tanjung Batu memiliki tipe
pompa, bangunan pelengkap
dan kapasitas yang sama.
Namun, luas areal yang
ditangani mencakup 120 Ha
atau 385 KK di Kecamatan
Lima Puluh.

Flood control in Pekanbaru City, Riau


Province especially Siak river Is done
with build a flood pump station pump
in Sector 1 (Sago), Sector I Senapelan,
Sector II (Tanjung Baru) , Sector IV
(Meranti Pandak).

Luas Stasiun Pompa


Sektor I mencakup
Pump Station in Sector I
served 330 Head

Sector 1 Pump Station in Sago and


Senapelan have an auger pump
type with steel door complimentary
buildings. The capacity of auger pumps
is 1.5 m3/second. This pump station
served 150 Ha area or 330 Head of
family in Senapelan District.
Luas Stasium Pompa
Sektor IV mencakup
Just like pump station in Sago
Pump Station in Sector IV
and Senapelan, pump station
served 456 Head
Sector II in Tanjung Batu have
a simillar type and capacity as
Sector 1, but Sector 2 served 120
Ha area or 385 Head of family in
Lima Puluh District.

330 KK

456 KK

Whereas Sector IV Pump Station in


Meranti Pandak has 3 auger pump
with 2 m/second capacity and
a similar complimentary buildings
with the other two. This pump station
served 350 Ha area or 456 Head of
family in Rumbai Pesisir District.

Luas Stasiun Pompa


Sektor II mencakup
Pump Station in Sector II
served 385 Head

385 KK

Sedangkan, Stasiun Pompa


Sektor IV di Meranti Pandak
berkapasitas 3 Auger x 2
m3/detik dan mempunyai
tipe pompa dan bangunan
pelengkap yang sama dengan
ketiga stasiun pompa lainnya.
Luas areal penanganannya
mencapai 350 Ha atau 456 KK
di Kecamatan Rumbai Pesisir.

63

RIAU

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

PEMBANGUNAN PENGAMANAN PANTAI RUPAT


RUPAT COASTAL PROTECTION DEVELOPMENT

Pantai Rupat merupakan pantai terluar Provinsi


Riau yang berada di Kabupaten Bengkalis. Pada
saat terjadi pasang surut air laut, bibir pantai
selalu tergerus air. Oleh karenanya, Pengamanan
Pantai Rupat dibangun untuk menyelamatkan
pemukiman penduduk pesisir pantai dan
menyelamatkan mercusuar yang merupakan
petunjuk bagi lalu lintas kapal di Selat Malaka.
Di samping itu, pengamanan pantai ini bertujuan
untuk mempertahankan Zona Ekonomi Eksklusif
pulau terluar Indonesia.
Pantai Rupat adalah pantai berpasir putih yang
berpotensi sebagai objek wisata dan telah masuk
dalam agenda pengembangan kawasan wisata
Kabupaten Bengkalis.

Pembangunan Pantai Rupat


bertujuan untuk:
Menyelamatkan pemukiman
penduduk pesisir pantai

Menyelamatkan mercusuar yang


merupakan petunjuk bagi lalu lintas
kapal di Selat Malaka
Mempertahankan Zona Ekonomi
Eksklusif pulau terluar Indonesia

Rupat Beach is outer coast in the Riau Province


that located in Bengkalis Regency. At the time of
tide, the beach is always eroded by water. Therefore
coastal protection is built to save coastal settlement
and rescue beacon which is an indication for
vessel traffic in the Straits of Malacca. In addition,
the coast protection is intended to maintain the
Exclusive Economic Zone of the outer islands of
Indonesia.
Rupat Beach is white sandy beach that have
potential as a tourist attraction and has been on the
agenda of Bengkalis Regency tourism resorts.

JAMBI

PEMBANGUNAN JARINGAN IRIGASI SEI SIULAK DERAS


SEI SIULAK DERAS IRRIGATION SCHEME DEVELOPMENT

DI Sei Siulak Deras terletak di Kabupaten


Kerinci, Provinsi Jambi dan merupakan
penggabungan dari sepuluh DI sederhana
seluas 2.258 Ha dengan areal sawah
tadah hujan seluas 3.543 Ha yang
dikembangkan sehingga menjadi irigasi
teknis dengan luas total 5.819 Ha.
Irigasi Sei Siulak Deras mencakup lima
kecamatan yaitu Kecamatan Gunung
Kerinci, Air Hangat, Sei Penuh, Hamparan
Rawang dan Kecamatan Sei Tutung.
Pekerjaan yang dilaksanakan
pada tahun 2009-2011 diantaranya
rehabilitasi saluran primer kiri
sepanjang 14.982 meter, saluran
sekunder 32.742 meter dan 200 nos
Related Structure. Di samping itu,
dilakukan pembangunan baru yakni
4.650 meter saluran primer kanan,
5.700 meter saluran sekunder, serta
56 nos Related Structure.
Pembangunan Daerah Irigasi Sei Siulak
Deras bermanfaat untuk meningkatkan
luas fungsional jaringan dan intensitas
tanam menjadi tiga kali dalam
setahun. Selain itu, pembangunan ini
juga diharapkan dapat mengurangi
penebangan liar oleh petani dalam rangka
pembukaan sawah atau ladang baru dan
dapat menunjang perkembangan sosial
ekonomi serta pengembangan wilayah.

Regional Irrigation (DI) Running


Siulak Sei located in Kerinci, Jambi
Province and is an integration of ten
simple DI with an area of 2,258 Ha
of rainfed rice acreage area of 3,543
Ha to be developed so that technical
irrigation with a total area of 5,819
Ha. Irrigation Sei Siulak Running
covers five districts of Mount Kerinci
District, Warm Water, Sei Full,
Overlay District Rawang and Sei
Tutung.

Pembangunan DI
Sei Siulak Deras
bermanfaat untuk
meningkatkan luas
fungsional jaringan
dan intensitas tanam
menjadi tiga kali
dalam setahun

The work carried out in 20092011 include the rehabilitation of


primary channels left along the
14,982 meters, 32,742 meters of
secondary channels and 200 nos
Related Structure. In addition, new
development made the right primary
channel 4,650 meters, 5,700 meters
of secondary channels, and 56 nos
Related Structure.
Regional Irrigation Development
Sei Siulak Running beneficial to
increase the breadth of functional
networks and cropping intensity
to three times a year. In addition,
construction is also expected to
reduce illegal logging by farmers
for opening new rice fields and
can support economic and social
development of developing regions.

65

JAMBI

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

REHABILITASI JARINGAN RAWA DAERAH RAWA SIMPANG PUDING


REHABILITATION OF SIMPANG PUDING LOWLAND SCHEME

Daerah Rawa Simpang Puding terletak di


Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung
Timur, Jambi. Daerah rawa seluas 4.000 Ha ini
mempunyai potensi pertanian sebesar 3.150
Ha dan permukiman sebesar 850 Ha. Daerah
Rawa Simpang Puding merupakan daerah rawa
yang dalam konsep pengembangan rawa telah
berada pada stage III, dimana jaringan telah
dilengkapi dengan prasarana pengendalian
air yang terdiri atas saluran, pintu air, tanggul
banjir dan prasarana perdesaan. Namun,
daerah rawa ini rentan terhadap pertumbuhan
vegetasi air dan sedimentasi.

The Simpang Puding Lowland area is located in


District Berbak, Jabung Eastern Cape Regency,
Jambi. This lowland area of 4,000 Ha has potential
agricultural area of 3,150 Ha and 850 hectares of
settlement area. Simpang Puding Lowland area
has been on phase III lowland development, where
the scheme has been equipped with water control
infrastructure consisting of channels, floodgates,
flood embankments and rural infrastructure.
However, this lowland area susceptible to the growth
of water vegetation and sedimentation.

Oleh karenanya, kegiatan rehabilitasi dilakukan


untuk memelihara fungsi layanan saluran
terhadap pengaturan tata air. Kegiatan Jaringan
Rawa Daerah Rawa Simpang Puding mencakup
rehabilitasi saluran primer sepanjang 11.000
meter, saluran sekunder sepanjang 8.230 meter,
pintu air sebanyak 8 buah dan pembuatan saluran
kolektor atau tanggul sepanjang 8.000 meter.

Therefore, the rehabilitation activities undertake the


service function to lining regulation. This activities of
Simpang Puding Lowland includes the rehabilitation
of primary lining along the 11,000 meters, secondary
lining of 8,230 meters, 8 units sluice gates and build
the collector lining or levees along 8,000 meters.

Kegiatan rehabilitasi ini bermanfaat untuk


mendukung produktivitas lahan dan budidaya
pertanian yang dikembangkan oleh masyarakat
serta dapat meningkatkan pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat.

This benefit of this rehabilitation is to support the


productivity of land and agricultural cultivation and
also to developed the community and to increase
the income and welfare.

KEPULAUAN RIAU

PEMBANGUNAN PENGAMANAN PANTAI PULAU LAUT


PULAU LAUT COASTAL PROTECTION DEVELOPMENT

Lokasi pembangunan terletak di


Kecamatan Pulau Laut, Kabupaten
Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.
Bangunan ini mempunyai Tembok Laut
sepanjang 1.300 meter di Desa Air
Payang pada tahun 2010 dan Tembok
Laut sepanjang 1.300 meter di Desa
Kador pada tahun 2011.
Pembangunan Pengamanan Pulau
Laut dilatarbelakangi oleh terjadinya
abrasi jalan dan pemukiman penduduk
di wilayah penyangga pulau terluar
perbatasan NKRI. Bangunan tersebut
berfungsi untuk melindungi pesisir
pantai dari abrasi.

2010

The Development site is located


in Sea Island District, Natuna
Regency, Riau Island Province.
This sea wall construction has
the length of 1,300 meters
in Payang Air Village in 2010
and another sea wall with the
length of 1,300 in Kador Village
in 2011.
The development of Pulau
Laut Coastal Protection is
encouraged by the occurrence
of abrasion of roads and human
settlements in the border
buffer zone outer islands
Homeland. The construction is
aimed to protect the coastline
from abrasion.

Pengamanan Pantai
Pulau Laut bertujuan
untuk melindungi
kawasan pesisir pantai
di wilayah penyangga
pulau terluar kawasan
NKRI dari abrasi

2011

Desa Air Payang

Desa Kador

1.300 m

1.300 m
67

KEPULAUAN RIAU

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

PENINGKATAN TAMPUNGAN AIR BAKU EMBUNG SEI PULAI


SEI PULAI WATER RETENTION ROUNDING UP

Embung Sei Pulau merupakan sumber air terbesar


dan terdekat dengan penduduk ibukota Provinsi
Kepulauan Riau, Kota Tanjung Pinang di Pulau
Bintan dengan kapasitas 188 liter/detik.

Sei Pulai Water Retention is the largest water source


and the closest to the peoples provincial capital of
Riau Island, Tanjung Pinang in Bintan Island with the
capacity of 188 liters/second.

Luas tampungan eksisting Embung Sei Pulai


adalah sebesar 39,49 Ha dengan volume
tampungan 1,46 juta m3. Dengan daerah tangkapan
air dan volume tampungan yang kecil, tinggi muka
air (elevasi) Embung Sei Pulai sangat terpengaruh
oleh curah hujan. Untuk itulah, Peningkatan
Tampungan Air Baku Sei Pulai dilakukan yang
meliputi pengerukan hulu waduk seluas 10 Ha,
peninggian tanggul waduk serta perkuatan dinding
waduk dengan pasangan batu dan geomembran
sepanjang 380 meter dengan tinggi 2,5 meter.

The Area of existing water retention of Sei Pulai


is 38.49 Ha with a volume of 1.46 million m3 with a
small catchment and volume area, the water level in
Sei Pulai water retention was strongly influenced by
rainfall. For this reason, raw water rounding up in Sei
Pulai is consisted of dredging of the upstream area of
reservoir of 10 Ha, elevated of reservoir embankment
and dam enhancement with mansory walls and
geomembran along the 380 meters with the height of
2.5 meters.

Kapasitas
Tampungan Air Baku
Raw Water Retention
Capacity

188 liter/
detik

Luas Tampungan
Water Retention Area

38,49 Ha

Peningkatan tampungan air baku Embung Sei Pulai


merupakan salah satu upaya memenuhi target MDGS

Volume Tampungan
Water Retention Volume

1,46
million m2

BENGKULU

REHABILITASI PRASARANA JARINGAN RAWA AIR HITAM


REHABILITATION OF AIR HITAM LOWLAND SCHEME INFRASTRUCTURE
Daerah Rawa Air Hitam adalah salah satu Daerah
Irigasi di Provinsi Bengkulu yang memiliki luas
potensial 2.200 Ha. Daerah rawa ini terletak di
Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu
Tengah, Provinsi Bengkulu. Pelaksanaan
rehabilitasi atau perbaikan saluran dan bangunan
air yang dilaksanakan bertujuan agar Jaringan
Rawa Air Hitam dapat berfungsi secara optimal
dan bermutu sesuai dengan perencanaan.
Rehabilitasi yang dilaksanakan berupa
normalisasi drainase primer sepanjang 4.700
meter, normalisasi drainase sekunder sepanjang
1.592 meter, normalisasi drainase tersier
sepanjang 8.000 meter, pekerjaan jalan inspeksi
sepanjang 7.500 meter dan pekerjaan delapan
buah gorong-gorong.

The Rawa Hitam Lowland area is one of the irrigation


areas in Bengkulu Province with the potential area
of 2.200 ha. The lowland area is located in Pondok
Kelapa District, Central Bengkulu Regency, Bengkulu
Province. The implementation of lining rehabilitation
and water construction is done to preserve the
Air Hitam lowland scheme to be able to function
optimally and accordance with the planning.
The rehabilitation implementation consist of
normalization of primary lining with the length of
4,700 meters, normalization of secondary lining with
the length of 1,592 meters, normalization of tertiary
lining with the length of 8,000 meter, inspection work
with the length of 7,500 meter and 8 culvert works.

Drainase Primer
Primary Lining

Drainase Sekunder
Secondary Lining

Drainase Tersier
Tertiary Lining

Pekerjaan Inspeksi
Inspection Work

4.700 m

1.592 m

8.000 m

7.500 m

69

BENGKULU

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

REHABILITASI DAN PENINGKATAN BENDUNG AIR BAKU AIR NELAS


AIR NELAS RAW WATER WEIR REHABILITATION AND ROUNDING UP

Bendung yang terletak di Kecamatan Sukaraja,


Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu ini
berfungsi sebagai bangunan pengambilan
yang memanfaatkan air Sungai Air Nelas untuk
memenuhi kebutuhan rumah tangga Kota
Bengkulu.
Namun seiring berjalannya waktu, terdapat
gejala kerusakan bendung salah satunya pada
pintu pengambilan (intake). Untuk mengatasi
penurunan fungsi dimana debit pasokan air yang
diperlukan tidak dapat terpenuhi maka dilakukan
pekerjaan Rehabilitasi dan Peningkatan Bendung
Air Baku Air Nelas.
Waktu pengerjaan Rehabilitasi dan Peningkatan
Bendung Air Baku Air Nelas memakan waktu 240
hari. Progres fisik per 25 September 2011 sudah
mencapai 100%.

Bendung Air Baku Air Nelas


berfungsi sebagai bangunan
pengambilan yang memanfaatkan
air Sungai Air Nelas untuk
memenuhi kebutuhan rumah
tangga Kota Bengkulu

The weir is located in Sukaraja District, Seluma


Regency, Bengkulu Province function as intake
construction which used the water from the Air Nelas
River to meet the household need of Bengkulu City.
Along the way, the weir is showing a damage
symptom and one of it is the intake structure. To
prevent degradation function of the construction, this
is the reason why the Rehabilitation and Rounding Up
of Air Nelas Raw Water Weir is needed.
The rehabilitation and rounding up works take about
240 days. The physical progress in 25 September 2011
has reached 100%.

SUMATERA SELATAN

PEMBANGUNAN DI LAKITAN II
DEVELOPMENT OF LAKITAN IRRIGATION AREA II
Pembangunan Daerah Irigasi
Air Lakitan II berlokasi di
Kecamatan Bengkalis Ulu
Terawas dan Kecamatan
Megang Sakti, Kabupaten
Musi Rawas, Provinsi
Sumatera Selatan. Air untuk
mengairi Daerah Irigasi Air
Lakitan II bersumber dari
Sungai Air Lakitan. Pada
tahap pembangunan tahun
2010-2012, luas area yang
dibangun mencakup 4.924
Ha.
Beberapa pembangunan
yang saat ini sedang
dilakukan diantaranya
pekerjaan bangunan utama
yang meliputi pembangunan
2 intake dan 1 settling
basin, pekerjaan jaringan
utama meliputi saluran
primer sepanjang 2,6
kilometer, 15 buah struktur
dan perlindungan sungai
sepanjang 200 meter, serta
pekerjaan saluran sekunder
sepanjang 18 kilometer dan
62 bangunan.
DI Air Lakitan II berguna
untuk meningkatkan
produksi beras, menambah
pendapatan penduduk lokal,
meningkatkan standar
hidup petani, meningkatkan
kesempatan kerja di area DI
dan memberikan kontribusi
dalam pembangunan sosial
ekonomi di pedesaan.

The Development of Air Lakitan


Irrigation Area II is located in
Ulu Bengkalis Terawas and
the Megang Sakti District,
Musi Rawas Regency, South
Sumatra Province. Irrigated
from Air Lakitan River. During
2010-2012 the develop area
reach 4,924 ha.
Some development is currently
being done including major
building work that involves the
construction of two intakes
and a settling basin. The work
covers major networks along
2.6 kilometers of primary
lines, 15 structural protection
along the 200 meters river, as
well as the work of secondary
channels along the 18
kilometers and 62 buildings.
Air Lakitan Irrigation Area
II is useful to increase rice
production, and local farmers
income, to improve farmers
living standards, to increase
employment opportunities
in the irrigation area and to
contribute the socio-economic
development in rural areas.

Pembangunan DI Lakitan II
berfungsi untuk:
Meningkatkan produksi beras
Menambah pendapatan
penduduk lokal
Meningkatkan standar
hidup petani
Meningkatkan kesempatan
kerja di area DI
Memberikan kontribusi dalam
pembangunan sosial ekonomi
di pedesaan

Propinsi Sumatera Selatan


merupakan salah satu
lumbung beras Indonesia

71

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

PEMBANGUNAN DAERAH RAWA DUNGUN RAYA (LANJUTAN) PAKET I


DEVELOPMENT OF DUNGUN RAYA LOWLAND AREA (CONTINUED) PACKAGE I

Pembangunan Daerah Rawa Dungun


Raya (Lanjutan) Paket I terletak di
Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi
Bangka Belitung. Tujuan pembangunan
ini adalah untuk meningkatkan
produksi beras dan mempertahankan
ketahanan pangan serta melestarikan
swasembada pangan di Provinsi
Kepulauan Bangka Belitung dengan
upaya pembangunan atau peningkatan
jaringan irigasi daerah rawa dari areal
potensial menjadi areal fungsional.
Daerah Rawa Dungun Raya mempunyai
saluran primer sepanjang 4.500 meter
dan saluran sekunder sepanjang
3.160 meter, juga 1 buah bangunan,
3 buah pintu pengatur dan 3 buah
pintu klep. Pembangunan daerah
rawa ini diantaranya bermanfaat
untuk memperluas areal pertanian,
memperluas kesempatan kerja dan
kepemilikan tanah, meningkatkan
kesejahteraan masyarakat setempat,
serta menciptakan pusat produksi di
wilayah tersebut.

The Dungun Raya Lowland development


(continued) package 1 is located in South
Bangka Regency, Bangka Belitung
Province. The purpose of this project is to
increase rice production and maintain
food security and to preserve the food
self-sufficiency in Bangka Belitung
province by developing or improving
potential in to functional low land
irrigation area.
The Dungun Raya Lowland has 4,500
meters channels long consist of primary
and secondary with the total length
of 3,160 meters, 1 dam, 3 regulating
gates and 3 regulating valve gates.
The development is useful in order to
expand the agricultural area, to enlarge
the employment opportunities and land
ownership, to improve the welfare of
local communities, as well as creating a
production center in the region.

Pengembangan daerah rawa bertujuan untuk:


Meningkatkan
produksi beras

Mempertahankan
ketahanan pangan

Melestarikan
swasembada pangan

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

REHABILITASI DAN PENINGKATAN DAERAH RAWA BATU BETUMPANG


(LANJUTAN) PAKET II
REHABILITATION AND ROUNDING UP OF BATU BETUMPANG LOWLAND AREA
(CONTINUED) PACKAGE II

Rehabilitasi dan peningkatan


daerah rawa bertujuan untuk:
Mengatur debit air agar
dapat mengaliri persawahan
Menanggulangi banjir di
lahan persawahan

Berlokasi di Kabupaten Bangka Selatan,


Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,
rehabilitasi dan peningkatan daerah
rawa ini dilakukan untuk mengatur debit
air agar dapat mengaliri persawahan
dan menanggulangi banjir di lahan
persawahan yang disebabkan oleh
pendangkalan pada saluran pembuang.
Pekerjaan yang dilaksanakan di
tahun 2011 diantaranya meliputi
rehabilitasi dan peningkatan saluran
primer sepanjang 8.221 meter dengan
kedalaman 1,60 meter, saluran
sekunder sepanjang 3.200 meter dengan
kedalaman 2,04 meter, 4 unit bangunan
pintu dan 6 buah pintu pengatur.

Located in South Bangka Regency, Bangka


Belitung Province, rehabilitation and
enhancement of this lowland area are
being done in order to regulate water
discharge flow through paddy fields and
to encounter flooding in paddy fields that
is caused by siltation in the channel.
This rehabilitation work is conducted in
2011 which consist of the rehabilitation
and improvement of the primary channel
with the length of 8,221 meters and depth
of 1.60 meters, secondary channels with
the length of 3,200 meters with a depth
of 2.04 meters, 4 door units and 6 units of
regulating gate.

73

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

PEMBANGUNAN REVETMENT PANTAI BANDING


DEVELOPMENT OF BANDING COASTAL REVETMENT
Pembangunan Revetment
Pantai Banding terletak di
Lampung Selatan, Provinsi
Lampung. Terbuat dari
konstruksi dus beton dan batu
kali, revetment ini mempunyai
panjang 215 meter dan
lebar 25 meter. Kegiatan
pembangunan dimulai di
tahun 2011 dan bertujuan
untuk melindungi jalan dan
pemukiman di sekitar wilayah
Pantai Banding.

The Development of Banding


Coastal Revetment located in
South Lampung, Lampung.
The revetment which was
made of concrete box and river
rock has 215 meters of length
and 25 meters in width. The
construction started in 2011
and was aimed to protect road
and settlements area around
Banding Coast.

LAMPUNG

DKI JAKARTA

KANAL BANJIR TIMUR


THE EAST FLOOD CANAL

Kanal Banjir Timur (KBT)


memiliki panjang kanal 23,5
kilometer dan kedalaman
kanal 3-7 meter melalui 13
Kelurahan. Direncanakan
mampu mengalirkan debit
banjir dengan periode ulang
100 tahunan dan dilengkapi
dengan 3 buah weir, 7 inlet dan
4 outlet. Pembangunan KBT ini
juga diperuntukkan sebagai
kawasan konservasi air untuk
dijadikan proyek percontohan
green infrastructure dan
menciptakan nuansa
waterfront city di masa depan.

The East Flood Canal passes through 13 Village with length of 23.5
kilometers and depth of 3-7 meters. The canal is planned to discharge flood
stream with return period of 100 years. The East Flood Canal consisted of
three weirs, seven inlets and four outlets. Its development as pilot project
for green infrastructure served as water conservation area to create a
waterfront city nuances in the future.
The East Flood Canal with catchment area of 207 km2, protecting East
Jakarta and North Jakarta area
of 256 km2 of flooding due to overflowing rivers (Cipinang River, Sunter River,
Buaran River, Kramat Jati River, and Cakung River), and also reducing 13
inundation area (11 village in East Jakarta and 2 village in North Jakarta)
The East Flood Canal development is expected to control flooding in Eastern
and Northern part of Jakarta. The canal is also used as ground water
conservation, port facilities, tourism facilities and marinas, green line (green
belt), and as a driving force for North-Eastern region growth.

KBT berfungsi untuk


melayani sistem drainase
pada wilayah seluas 207 km2
(catchment area), melindungi
wilayah Jakarta Timur
dan Jakarta Utara seluas
256 km2 dari banjir akibat
luapan Sungai Cipinang,
Sungai Sunter, Sungai
Buaran, Sungai Jati Kramat,
dan Sungai Cakung, serta
mengurangi 13 kawasan
genangan (11 Kelurahan
di Jakarta Timur dan 2
Kelurahan di Jakarta Utara)
Pembangunan KBT
diharapkan dapat
mengendalikan banjir di
wilayah Jakarta Timur dan
Jakarta Utara. KBT juga
bermanfaat sebagai sarana
konservasi air (pengimbuh
air tanah), sarana pelabuhan,
sarana pariwisata dan
marina, jalur hijau (green
belt), dan sebagai motor
penggerak pertumbuhan
wilayah Timur-Utara.

Pembangunan KBT merupakan salah satu upaya pencegahan


yang dilakukan untuk menangani banjir yang rutin terjadi
di Jakarta, melalui:
Melayani sistem drainase pada wilayah seluas 207 km2
Melindungi wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Utara seluas
256 km2 dari banjir
Mengurangi 13 kawasan genangan
Kawasan Konservasi Air
75

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

BANTEN

BENDUNGAN GINTUNG
THE GINTUNG DAM
Bendungan Gintung awalnya merupakan
sebuah situ yang berfungsi untuk pariwisata
air, pengendalian banjir dan konservasi sumber
daya air di sekitar DKI Jakarta dengan Sungai
Pesanggrahan sebagai sungai induknya. Pasca
keruntuhan tanggul dan bangunan pelimpah,
dilakukan studi secara komprehensif untuk
mengembalikan dan meningkatkan fungsi Situ
Gintung yang menghasilkan konsep desain
rehabilitasi dan rekonstruksi Bendungan Gintung.
Bendungan Gintung, dengan volume tampungan
+ 720.000 m, terletak di Kelurahan Cirendeu,
Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang
Selatan, Banten. Bendungan yang pengisian
awalnya dilakukan pada tahun 2011 ini berfungsi
sebagai pencegah banjir di daerah hilir, penyedia
air baku daerah Ciputat Timur dan Tangerang
Selatan, sebagai tempat pariwisata, perikanan
darat, dan konservasi air tanah.

The Gintung Dam was originally a situ which function


as water tourism resort, flood control and water
resources conservation around Jakarta with the
main river of Pesanggrahan. A comprehensive
study is conducted after the collapse of its levee
and overflow to restore and improve function Situ
Gintung generating design concepts Gintung Dam
rehabilitation and reconstruction.
Gintung Dam, with a volume of 720,000 m, located
in the Cirendeu Village, East Ciputat District, South
Tangerang City, Banten. Its first filling was done in
2011, function as flood control in downstream areas,
it has a lot of function such as provides raw water in
eastern and southern part of Tangerang, a tourism
resort, aquaculture, soil and water conservation.

Bendungan Gintung berfungsi


sebagai:
Pencegah banjir di daerah hilir
Penyedia air baku daerah Ciputat
Timur dan Tangerang Selatan
Tempat pariwisata, perikanan
darat, dan konservasi air tanah

BANTEN

REHABILITASI DAERAH IRIGASI DAN PENINGKATAN BENDUNG CILIMAN


REHABILITATION AND ROUNDING UP OF CILIMAN IRRIGATION AREA

Daerah Irigasi Ciliman terdiri dari satu Saluran


Induk sepanjang 30.919 kilometer dan tujuh
Saluran Sekunder sepanjang 30.367 kilometer.
DI Ciliman memiliki daerah pelayanan seluas
5.315 Ha. Rehabilitasi pada daerah irigasi yang
terletak di Kabupaten Lebak, Pandeglang,
Provinsi Banten ini penting dilakukan karena
jaringan irigasi hanya mampu mengairi 1.000 Ha
dari total luasan area yang seharusnya terlayani.
Pekerjaan Rehabilitasi DI Ciliman meliputi
rehabilitasi dan peningkatan saluran irigasi dan
jalan inspeksi, serta rehabilitasi bangunanbangunan irigasi. Di samping itu, juga dilakukan
peningkatan Bendung Ciliman yang meliputi
penggantian pintu pengambilan, pintu pembilas,
pembuatan bangunan kantong lumpur dan
pembuatan bangunan penguras.

Ciliman Irrigation Area consists of a single main


channel of Ciliman with the length of 30,919
kilometers and seven secondary channels with
the length of 30,367 kilometers. DI Ciliman service
area covers the area of 5,315 Ha. The rehabilitation
of this irrigation area is important because the
irrigation network is only able to irrigate a total area
of 1000 Ha of the total served area.
The Ciliman Rehabilitation Works includes
rehabilitation and improvement of irrigation
and road inspections, and rehabilitation of
irrigation structures. In addition, also carried out
improvement of Ciliman weir which includes the
replacement of intake gates, flush gate, sand pocket
and flushing gate.

Induk
1 Saluran
Primary Channel

Saluran Sekunder
7 Secondary
Channel

30.919 km

30.367 km
77

JAWA BARAT

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

BENDUNGAN JATIGEDE
JATIGEDE DAM
Produksi PLTA
Power Plant Production

690 GWH/tahun

Air Irigasi
Irrigation Water

90.000 Ha

Air Baku Kabupaten Cirebon


Raw Water Supply in Cirebon

3.500 liter/detik

Terletak di Kecamatan Jatigede, Kabupaten


Sumedang, Jawa Barat dan membendung Sungai
Cimanuk, Bendungan Jatigede memiliki Daerah
Tangkapan Air seluas 1.462 km2.
Bendungan Jatigede bermanfaat sebagai
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan
produksi rata-rata 690 GWH/tahun, penyediaan air
irigasi seluas 90.000 Ha, penyediaan air baku di
Kabupaten Cirebon, Indramayu, Balongan dengan
kapasitas 3.500 liter/detik, pengendalian banjir
14.000 Ha, dan pariwisata, serta peningkatan
kesejahteraan masyarakat sekitar. Bendungan
Jatigede ini direncanakan selesai pada tahun 2013.

Located in Jatigede District, Sumedang Regency,


West Java, it is blocking Cimanuk River. Jatigede Dam
has the water shed area of 1,462 km.
The Jatigede Dam is used as power plant with the
average production of 600 GWH/year, water resources
for irrigation is 90,000 Ha, the raw water supply in
Cirebon, Indramayu, Balongan Regency with the
capacity of 3,500 litre/second, flood protection of
14,000 Ha, and tourism, with the development of the
local people welfare. The Jatigede Dam is planned to
be finished in 2013.

JAWA BARAT

REHABILITASI PRASARANA PENGENDALI BANJIR SUNGAI CITARUM


REHABILITATION OF CITARUM RIVER FLOOD CONTROL INFRASTRUCTURE

Dengan panjang 297 kilometer, Citarum


merupakan sungai terpanjang dan
terbesar di Provinsi Jawa Barat. Dalam
20 tahun terakhir, kondisi lingkungan
dan kualitas air di sepanjang aliran
Sungai Citarum mengalami penurunan
yang cukup signifikan dan menyebabkan
timbulnya salah satu dampak negatif
yaitu banjir.
Sebagai salah satu upaya untuk
menangani permasalahan banjir
di Sungai Citarum dan anakanak sungainya, Ditjen SDA akan
melaksanakan penanggulangan
banjir secara menyeluruh. Pekerjaan
ini bertujuan untuk meningkatkan
kapasitas dan memperlancar aliran
Sungai Citarum, serta mengurangi
luas genangan yang diharapkan dapat
mencapai 20.000 Ha.

With 297 kilometres length, Citarum is


the longest and largest river in West
Java Province. In the last 20 years,
environmental conditions and water
quality along Citarum River decreased
significantly and caused negative impact
such as flood.
As one effort to address flooding problems
in the Citarum River and its tributaries,
the Directorate General of Water
Resources will implement comprehensive
flood prevention. This work aims to
increase capacity and facilitate the flow
of Citarum River, as well as reducing
the pool area which is expected to reach
20,000 ha.

79

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

JAWA BARAT

Rencana Program dan Kegiatan Pengelolaan


Banjir Terpadu yang diprioritaskan
pelaksanaannya pada tahun 2010-2015 meliputi:

The programs and activities Plan of Integrated Flood


Management prioritized implementation in 2010-2015,
covers:

Konservasi dan rehabilitasi hutan dan


lahan DAS;
Pengawasan, penertiban dan penegakan hukum;
Penanganan darurat di daerah rawan banjir;
Pembuatan area-area evakuasi dan sosialisasi
kepada masyarakat di daerah rawan banjir;
Relokasi perumahan daerah rawan banjir;
Perbaikan sistem drainase Bandung Selatan;
Penanganan banjir Citarum bagian hulu;
Pembangunan waduk-waduk kecil dan polder
di Cekungan Bandung;
Penanganan banjir Citarum bagian hilir;
Revitalisasi perumahan dan permukiman.

Conservation and rehabilitation of forest and


watershed lands;
Surveillance, policing and law enforcement;
Handling of emergency in flood-prone areas;
Making evacuation areas and the community
socialization in flood prone areas;
Housing relocation in flood prone areas;
Southern bandung drainage system
improvements;
Upstream citarum flood mitigation;
Development of small reservoirs and polders in
the Bandung Basin;
Downstream Citarum flood management;
Settelement revitalization.

Ruas pekerjaan yang dilaksanakan mulai tahun


2011 dan berlanjut ke tahun 2012 serta 2013 ini
meliputi: Rehabilitasi Prasarana Pengendali
Banjir Citarum Hulu dari Sapan hingga Nanjung di
Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat
sepanjang 45 kilometer; Rehabilitasi Prasarana
Pengendali Banjir Citarum Hilir Bendungan
Jatiluhur hingga Curug di Kabupaten Purwakarta
dan Kabupaten Karawang sepanjang 9,5 kilometer;
serta Rehabilitasi Prasarana Pengendali Banjir
Citarum Hilir Walahar hingga Muara Gembong
di Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bekasi
dengan total panjang 125 kilometer.

The segment of the work carried out in the beginning


of 2011 and continued to 2012 - 2013, which covers
as follows: The rehabilitation of Flood Control
Infrastructure in upstream Citarum from Sapan to
peninsula in the District of Bandung Regency Bandung
and West along the 45 kilometer; The rehabilitation
of Flood Control Infrastructure upstream Citarum,
Jatiluhur Dam downstream to the waterfall in the
District Purwakarta and Khanewal district along
the 9.5 kilometer; and Flood Control Infrastructure
Rehabilitation of Downstream Citarum Walahar up
to Muara Gembong in Khanewal district and Bekasi
District with a total length of 125 kilometers.

DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

PENANGANAN LAHAR DINGIN LETUSAN GUNUNG MERAPI


MOUNT MERAPI COLD LAVA ERUPTION CONTROL

Gunung Merapi kembali meletus pada tanggal 26


Oktober 2010 dan 5 November 2010. Pada letusan
terakhir, Gunung Merapi menghasilkan endapan
material padat sejumlah 140 juta m di puncak
Gunung Merapi dan sekitarnya.
Bersamaan dengan turunnya hujan, material
endapan tersebut mengalir ke hilir dalam bentuk
lahar dingin ke 15 sungai yang berhulu di Gunung
Merapi. Sebagian besar sabo dam terisi material
sebesar 18,24 juta m3 atau 90% dari daya tampung
seluruh sabo dam.
Kerusakan-kerusakan pada bangunan-bangunan
sabo tidak bisa dihindari, pendangkalan sungai
mengakibatkan lahar dingin meluap ke kanan
dan kiri sungai, sehingga merusakkan daerah
permukiman dan persawahan. Beberapa jaringan
irigasi tertutup pasir sehingga mengganggu
pasokan air irigasi.
Dalam rangka mengurangi dampak kerugian
yang diakibatkan lahar dingin dilakukan
kegiatan tanggap darurat, yang diantaranya
berupa peningkatan kapasitas kantong lahar,
pemeliharaan kapasitas palung sungai,
pembersihan driphole, penggalian atau
pengerukan sedimen pada kedua bangunan
pengambilan dan saluran irigasi.
Sedangkan untuk penanganan darurat lanjutan,
khusus di Sungai Putih yang melewati ruas jalan
YogyakartaMagelang yang memiliki potensi
tertimbun lahar dingin setiap terjadi hujan, akan
dilakukan pelurusan sungai dan membuat jembatan
baru di pertemuan dengan jalan tersebut.

Mount Merapi
erupted again on 26
October 2010 and
5 November 2010.
The last eruption
produced 140
million m3 sediment
at the top of Mount
Merapi and its
surrounding areas.
Along with the rain, cold lava sediment flowing
downstream into 15 rivers that disgorge at Mount Merapi
and cause most of the sabo dam filled with 18.24 million
m3 sediment or 90% of sabo dam capacity
The sabo dam damages can not be avoided, siltation
of rivers resulted in cold lava overflows to the right
and left bank, thus damaging residential areas and
paddy fields. Some of the irrigation schemes covered
with sand that interrupted irrigation water supply.
In order to reduce the impact of losses which caused
by cold lava emergency response activities is carried
out, which include lava sand pockets by increasing
sediment sand pocket capacity, maintenance
riverbed capacity, cleaning driphole, excavation or
dredging of sediment in both buildings retrieval and
irrigation channels.
As for the advanced emergency response, especially
in the White River that passes through the streets of
Yogyakarta-Magelang that potentially buried by cold
lava during the rain, will be align to the river and it
will create a new bridge at the confluence of the road.

81

JAWA TENGAH

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

BENDUNGAN JATIBARANG
JATIBARANG DAM
Berlokasi di Kecamatan
Gunungpati dan Kecamatan
Mijen, Semarang, bendungan
tipe urugan batu berzona
dengan inti di tengah ini
direncanakan memiliki
tampungan total waduk
sebesar 20.400.000 m.

Menghasilkan tenaga listrik


Menghasilkan air baku
untuk air minum
Mengurangi debit banjir
Konservasi lingkungan
Objek pariwisata di
Kota Semarang

Bendungan Jatibarang
bermanfaat untuk
menghasilkan tenaga listrik
dengan kapasitas 1.500 KW,
menghasilkan air baku untuk
air minum sebesar 10,9 juta
m3 dengan debit 1.005 liter/
detik, mengurangi debit
banjir sebesar 270 m3/detik,
konservasi lingkungan dan
objek pariwisata di
Kota Semarang.

Located in the Gunungpati


District and Mijen District,
Semarang, the rock fill dam
is planned to have a total
retention up to 20.4 million m.
Jatibarang Dam is aimed to
produce electricity with the
capacity of 1,500 KW, provide
raw water supply for drinking
water with the capacity of
10.9 million m3 in
1,005 liter/second water
discharge. Jatigede Dam will
also functioning as a flood
control of 270 m3/second
water discharge, as well as
a conservation effort for
surrounding environment and
as a tourist attraction
in Semarang.

GAH

JARINGAN AIR BAKU TELAGA GEDE


TELAGA GEDE RAW WATER SCHEME
Mata Air Telaga Gede dengan potensi sebesar
1.200 liter/detik, terletak di Dukuh Sodong Desa
Sikasur Kecamatan Belik Kabupaten Pemalang.
Sedangkan jaringan pipa transmisi air baku
sepanjang 30 kilometer, sebagian besar
menyusuri jalan raya RandudongkalPemalang,
menyambung ke jaringan PDAM di Desa Bojong
Bata Kecamatan Pemalang.
Jaringan Air Baku Telaga Gede bertujuan untuk
meningkatkan kapasitas penyediaan air baku dari
140 liter/detik menjadi 400 liter/detik, mendukung
upaya penambahan layanan air bersih (sambungan
rumah), dan memperluas cakupan atau
wilayah layanan air bersih.

The Telaga Gede Raw Water Scheme with a potential


of 1,200 litres/second, located in Hamlet Sodong
Sikasur Village, Pemalang Belik District, the raw
water transmission pipeline along the 30 kilometers,
mostly along the highway Randudongkal-Pemalang,
connecting to the water network in the village of
Bojong Bata, Pemalang District.
Telaga Gede Raw Water Scheme is aimed to increase
the raw water supply capacity of 140 litres/second
up to 400 litres/second, to support the efforts to
increase water service (house connections), and
expanding coverage or water service area.

Pemenuhan kebutuhan
air bersih untuk
mensejahterakan rakyat

PEMBANGUNAN JARINGAN AIR BAKU KAWASAN BREGAS


DEVELOPMENT OF BREGAS RAW WATER SCHEME
Kabupaten Brebes

200 liter/detik

Kabupaten Tegal

200 liter/detik

Kota Tegal

250 liter/detik

Pembangunan Jaringan Air Baku Kawasan Bregas


(BanyumudalSerangYamansari) bermanfaat
sebagai prasarana jaringan air baku untuk
air minum di kawasan Bregas sepanjang 20
kilometer dengan kapasitas 250 liter/detik.

The development of Bregas Raw Water Scheme


(Banyumudal-Serang-Yamansari) is useful as raw
water infrastructure for drinking water in the region
along Bregas 20 kilometers with capacity of 250
litres/second.

Kegiatan pembangunan ini juga bertujuan sebagai


penambahan air baku untuk air minum sebesar 200
liter/detik di Kabupaten Brebes, 200 liter/detik di
minum Kabupaten Tegal dan 250 liter/detik di Kota
Tegal serta penambahan pasokan air baku untuk
air minum Kawasan Bregas secara bertahap.

The development activities are also intended as an


additional raw water for drinking water of 200 liters/
second in Brebes, 200 liters/second in Tegal Regency
and drink 250 liters/second in the City of Tegal and
the additional of raw water supply for drinking water
Bregas Area gradually.

Pembangunan Jaringan Air Baku Bregas ini


direncanakan dapat berfungsi pada akhir tahun 2011.

Bregas Raw Water Scheme Development is planned


to be functioned in the end of 2011.

83

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

JAWA TIMUR

REHAB JARINGAN IRIGASI DI SAMPEAN


REHABILITATION OF SAMPEAN IRRIGATION SCHEME

Meningkatkan
produksi beras

Meningkatkan
standar hidup petani

Meningkatkan
kesempatan kerja
di daerah

Terletak di Kecamatan dan


Kabupaten Situbondo Jawa
Timur, sumber air Jaringan Irigasi
Sampean berasal dari Sungai
Sampean dan banyak anak sungai
lainnya. Sasaran pembangunan
adalah untuk meningkatkan
produksi beras melalui
pengembangan sumber daya air,
meningkatkan standar hidup petani,
meningkatkan kesempatan kerja
di daerah, dan berkontribusi pada
pengembangan kondisi sosial
ekonomi pedesaan.

Sampean Irrigation Scheme is


located in Situbondo District,
East Java, the supletion of
irrigation comes from Sampean
River and other tributaries. The
target of development in this
irrigation scheme are to increase
rice production through water
resources development, to
improve living standards of local
farmer, to increase employment
opportunities around the area, and
to contribute the development
of social-economy rural condition.

Daerah Irigasi Sampean


mempunyai baku sawah sebesar
10.199 Ha dengan panjang saluran
primer 43.801,50 kilometer dan
saluran sekunder 65.783 kilometer.

Sampean Irrigation Area has a


raw paddy field area of 10,199 Ha
with the length of primary canal of
43,801.50 kilometers and secondary
canal of 65,783 kilometers.

Rehabilitasi Jaringan Irigasi


Sampean terdiri dari rehabilitasi
Bendungan Sampean, normalisasi
dan rehabilitasi Saluran Primer
dan Sekunder, serta rehabilitasi
struktur yang terkait. Manfaat
utama dari pelaksanaan rehabilitasi
ini adalah meningkatkan intensitas
tanam dari 189% sampai 227% dan
meningkatkan hasil tanaman unit
oleh aplikasi pupuk dan normalisasi
pasokan air.

The development of Sampean


Irrigation Scheme consists of
rehabilitation of Sampean weir,
normalization and rehabilitation
of primary and secondary canal,
also rehabilitation-related
structures. The main benefit of
this rehabilitation is to increase
the cropping intensity from 189%
to 227% and increase crop yields
by application of fertilizer units and
normalization of the water supply.

JAWA TIMUR

NORMALISASI KALI WIDAS


NORMALIZATION OF WIDAS RIVER
Kali Widas yang terletak di Kabupaten Nganjuk,
Jawa Timur ini mengalir dari lereng sebelah utara
Gunung Wilis dan bermuara dengan Kali Brantas
di sebelah utara Kota Kertosono.
Normalisasi Kali Widas bertujuan untuk
meningkatkan kapasitas sungai danmemfungsikan
retarding basin. Normalisasi Kali Widas juga
bermanfaat untuk mengendalikan banjir dan
mengamankan daerah genangan akibat banjir
seluas 9.237 Ha yang terdiri atas 5.824 Ha daerah
pertanian, 2.044 Ha daerah pekarangan, 870 Ha
daerah permukiman dan 499 Ha daerah lainnya.
Selain itu, pembangunan ini ditujukan
untuk memperbaiki kondisi lingkungan dan
menciptakan rasa aman pada masyarakat
terhadap genangan banjir.

Widas River is located in Nganjuk, East Java is flowing


from the northern slope of Mount Wilis and joined the
Brantas River in the northern City of Kertosono.
The normalization of Widas river aims to enhance the
capacity of river and retarding basin. Normalization
of Widas River is managed as flood control and
reducing inundation area of 9,237 Ha which consists
of 5,824 Ha of agricultural area, open space of
2,044 Ha, 870 Ha of residential area and 499 Ha of
other areas. In addition, the development is intended
to improve environmental conditions and to create
safety in the community against the flood.

Mengendalikan banjir dan mengamankan daerah genangan seluas


Flood control and reducing inundation area of

9.237 Ha

Daerah Pertanian

5.824 Ha

Daerah Pekarangan

2.044 Ha

Daerah Pemukiman

870 Ha

Area Lainnya

499 Ha

85

JAWA TIMUR

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

PEMBANGUNAN BENDUNGAN GONGGANG


GONGGANG DAM DEVELOPMENT

Suplai air baku

50 liter/jiwa/hari

Meningkatkan
intensitas tanam
menjadi

150%

Bendungan Gonggang terletak pada aliran Sungai


Gonggang yang merupakan anak sungai Kali
Madiun dengan Daerah Tangkapan Air (DTA)
seluas 12.657 km2 terletak di Dusun Ledok,
Desa Janggan, Kecamatan Poncol, Kabupaten
Magetan. Pembangunan Bendungan Gonggang
dimaksudkan untuk mengatasi kekurangan air
irigasi, terutama untuk kebutuhan air baku bagi
masyarakat di wilayah Magetan bagian selatan.
Sedangkan tujuan dan sasaran yang hendak
dicapai diantaranya tersedianya suplai air baku
bagi masyarakat di Kecamatan Poncol, Parang,
Lembeyan dan Ngariboyo sebesar 50 liter/jiwa/
hari dan meningkatkan intensitas tanam pada
lahan yang sudah ada yaitu lahan sawah dan
ladang dari 100% menjadi 150%.
Selain itu, untuk menambah suplai air irigasi
untuk lahan sawah yang ada di hilir bendungan
dengan sistem irigasi teknis pada musim kemarau
sehingga meningkatkan pendapatan petani dengan
area tanam padi dan palawija seluas 2.500 Ha
serta mendukung perkembangan pariwisata dan
budidaya perikanan darat di Kabupaten Magetan.

The Gonggang Dam is located on the Gonggang


River which is a tributary of Madiun River with
catchment area covering 12,657 km2 situated in the
Ledok Hamlet, Janggan Village, Poncol District,
Magetan Regency. Gonggang Dam is aimed to
overcome the shortage of irrigation water,
especially the raw water needs for people in
the southern Magetan.
While the goals and objectives to be achieved
include the availability of raw water supply for
communities in the Poncol District, Parang
District, Lembeyan District and Ngariboyo District
of 50 liters/person/day and the increased of
cropping intensity on existing land which are
paddy fields and fields from 100% to 150% .
In addition, Gonggang Dam also intended to increase
water irrigation supply for paddy fields in the
downstream part of the dam with technical irrigation
systems in the dry season, thereby it will increase
farmers income by planting rice and crop area
covering 2,500 Ha and supports the development of
tourism and aquaculture cultivation in Magetan.

KALIMANTAN BARAT

PENGAMANAN TEBING SUNGAI KAPUAS DAN SUNGAI LIKU

KAPUAS RIVER AND LIKU RIVER SLOPE PROTECTION

Pengamanan Tebing Sungai Kapuas berupa


konstruksi sheet pile beton dengan panjang
122 meter. Pengamanan Tebing ini terletak di
Kelurahan Mariana, Kecamatan Pontianak Kota,
Pontianak, Kalimantan Barat.
Sedangkan Pengamanan Tebing Sungai Liku
berupa konstruksi bronjong dengan panjang
110 meter. Pengamanan Tebing ini terletak di
Kelurahan Bunut, Kecamatan Sanggau Kapuas,
Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.
Kedua pengamanan tebing sungai ini berfungsi
sebagai program pengendali banjir dan
bermanfaat untuk melindungi fasilitas umum
seperti pusat perdagangan, jalan dan jembatan.

Kapuas River Slope Protection is constructed from


concrete pile with the length of 122 meters. This slope
protection is located in Mariana Village, Pontianak
Kota District, Pontianak City, West Kalimantan.
While the development of Liku River Slope Protection
is constructed from bronjong with the length of 110
meters which located in Bunut Village, Sanggau
Kapuas District, Sanggau Regency, West Kalimantan.
Both of these river slope protection works as flood
control programs and intended
to protect public facilities
Konstruksi
such as trade centers,
Bronjong
roads and bridges.
di sungai Liku
Bronjong Length
in Liku River

110 m

Konstruksi
Sheet Pile
di sungai Kapuas
Concrete Pile Length
in Kapuas River

122 m

87

KALIMANTAN BARAT

REHABILITASI JARINGAN RAWA SUNGAI KAKAP


SUNGAI KAKAP LOWLAND SCHEME REHABILITATION
Jaringan Rawa Sungai Kakap terletak di
Kecamatan Sungai Kakap (Kapuas Kecil II),
Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Jaringan
Rawa ini bermanfaat untuk meningkatkan
produktivitas pertanian dan perkebunan
masyarakat serta meningkatkan pendapatan dan
kesejahteraan petani. Rehabilitasi Jaringan Rawa
Sungai Kakap ini bertujuan untuk memulihkan
fungsi jaringan ke tingkat semula.

Sungai Kakap Lowland Scheme is located in the


Sungai Kakap District (Kapuas Kecil II), Kubu Raya
Regency, West Kalimantan. This scheme is useful
to improve the agricultural and farm productivity
that will lead in to increasing income and welfare
of the local farmer. Sungai Kakap Lowland Scheme
Rehabilitation is aimed to restore the function of its
scheme back to its original level.

PENGAMANAN PANTAI PENIBUNGAN


PENIBUNGAN COASTAL PROTECTION DEVELOPMENT
Pengamanan Pantai Penibungan memiliki
tipe blok beton yang terletak di Kecamatan
Penibungan, Kabupaten Pontianak, Kalimantan
Barat. Pengamanan pantai ini berfungsi sebagai
pendayagunaan abrasi pantai dan bermanfaat
untuk melindungi fasilitas umum seperti pusat
perdagangan, pemukiman penduduk, serta jalan
dan jembatan.

Penibungan Coastal Protection Development consisted


of concrete block which is located in Penibungan
District, Pontianak Regency, West Kalimantan. It serves
as a coastal erosion protection to protect the public
facilities such as commercial centers, residential areas,
as well as roads and bridges.

KALIMANTAN TENGAH

PEMBANGUNAN BENDUNG DAN JARINGAN IRIGASI KARAU I


KARAU I WEIR AND IRRIGATION SCHEME DEVELOPMENT

Pembangunan Bendung dan Jaringan Irigasi


Karau, yang dimulai pada tahun 2006 dan
selesai pada tahun 2010, dimaksudkan untuk
meningkatkan penyediaan air pada persawahan
yang ada di sepanjang aliran Sungai Karau seluas
3.794 Ha. Termasuk di dalamnya penambahan
penyediaan air untuk DI Natampin dan DI Talohen
dengan membuat bangunan suplesi sehingga
pada musim kemarau persawahan tersebut
dapat ditanami seluruhnya menjadi 2 kali setahun
dengan intensitas tanam 200%.

89

Di samping itu, pembangunan yang berlokasi di


Kabupaten Barito Timur, Provinsi Kalimantan
Tengah ini, juga berguna untuk penyediaan air
baku bagi penduduk di bagian hilir Bendung Karau,
pengendali banjir Sungai Karau, mempercepat
pemerataan pembangunan di daerah Kabupaten
Barito Timur, membuka lapangan kerja baru dan
menunjang rencana pembangunan wilayah.
Pelaksanaan pembangunan tahap I diantaranya
menghasilkan bendung dengan tipe tetap
konstruksi beton, 2 buah Intake, 3.240 kilometer
saluran induk kanan, 2.903 kilometer saluran
induk kiri dan bangunan pelengkap lainnya.

Karau I Weir and Irrigation Scheme Development,


which began in 2006 and completed in 2010, is
intended to improve water supply in the rice fields
that existed along the Karau River area of 3,794 Ha.
This includes the addition of water supply for
the Natampin Irrigation Area and Talohen
Irrigation Area with the construction of suppletion
infrastructure therefore in the dry season, the rice
field can be planted entirely in 2 times a year with
200% cropping intensity.
In addition, the construction which is located in East
Barito Regency, Central Kalimantan Province, is also
useful to raw water supply for the residents in the
downstream of Karau Weir, the Karau River flood
control, to accelerate the equitable development in
the area of East Barito District, to open new jobs and
to support the regional development plans.
The implementation of Phase I construction which
result in permanent concrete construction,
2 Intake, 3,240 kilometers in right main channel,
2,903 kilometers the main left channel and other
auxiliary buildings.

Meningkatkan
penyediaan air pada
persawahan yang ada di
sepanjang aliran Sungai
Karau seluas 3.794 Ha
Meningkatkan
intensitas tanam 200%
Penyediaan air baku
Pengendali banjir
Sungai Karau

KALIMANTAN SELATAN

DAERAH IRIGASI ALABIO


ALABIO IRRIGATION AREA
Polder Alabio merupakan
areal irigasi di Kabupaten
Hulu Sungai Utara meliputi
Kecamatan Sungai
Pandan, Babirik, dan
Danau Panggang, Provinsi
Kalimantan Selatan, yang
mengandalkan pemberian air
dengan sistem pompanisasi
dengan mengambil air dari
Sungai Negara.
Polder Alabio direncanakan
berfungsi untuk mengairi
daerah irigasi seluas 6.000
Ha. Selain itu, bermanfaat
untuk meningkatkan sistem
irigasi dari tadah hujan atau
sederhana menjadi teknis,
meningkatkan hasil produksi
padi dan meningkatkan
intensitas tanam menjadi
200%.

The Alabio Polder is an


existing irrigation area in
Hulu Sungai Utara Regency
covering Sungai Pandan,
Babirik, and Danau Panggang
District, South Kalimantan
Province, which rely on
pumping system
with the water intake from
Negara River.
The Alabio Polder is planned
to irrigate the area of 6,000
Ha. Its function to enhance
the rain fed irrigation
scheme or from simple to
technical irrigation scheme,
to enhance the paddy
production and to enhance
the crop intensity to 200%.

Mengairi irigasi seluas

6.000 Ha

Meningkatkan
intensitas tanam
menjadi

200 %

KALIMANTAN SELATAN

DAERAH IRIGASI AMANDIT


AMANDIT IRRIGATION AREA

Mengairi areal
persawahan
seluas

5.472 Ha

Daerah Irigasi Amandit merupakan salah satu


pengembangan areal irigasi di Provinsi Kalimantan
Selatan dalam upaya peningkatan produksi
pertanian dan jaminan ketahanan pangan khususnya
di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Sumber air DI
Amandit adalah Sungai Amandit yang dibendung di
Desa Malutu, Kecamatan Padang Batung.

Amandit Irrigation Area is one of the developed


irrigated area in South Kalimantan in order to
increase agricultural productivity and to guarantee
food security, especially in the Hulu Sungai Selatan
District. The water resource of Amandit Irrigation
Area comes from Amandit Weir in Walutu Village,
Padang Batung District.

Luas areal yang dapat dialiri mencapai 5.472 Ha,


terbagi dalam wilayah layanan sebelah kiri dan
kanan Sungai Amandit yang tersebar di Kecamatan
Padang Batung, Kandangan, Sungai Raya, Simpur,
dan Angkinang.

Amandit Irrigation Area is planned to irrigate 5,472


Hectares paddy field, its service area divided into the
left and the right of Amandit River which dispersed in
Batu Padang, Kandangan, Sungai Raya, Simpur and
Angkinang District.

Dengan selesainya pembangunan Bendung,


Saluran Primer dan sebagian Saluran Sekunder
sampai dengan tahun 2011 ini, air Irigasi Amandit
sudah dapat mengairi areal persawahan fungsional
seluas 2.096 Ha.

With the completion of the weir development, primary


channels and secondary channels within 2011,
the Amandit Irrigation able to irrigate 2,096 Ha of
functional paddy fields.

Tujuan pembangunan DI Amandit antara lain untuk


meningkatkan produksi padi melalui pengelolaan
sumber daya air, meningkatkan taraf kehidupan
masyarakat di sekitar proyek, meningkatkan standar
hidup petani dan meningkatkan kesempatan kerja di
sekitar area proyek.

The objective of Amandit Irrigation Area Development


is to increase rice production through water
resources management, to improve peoples lives
around the project, to improve peoples and farmers
living standard around the development area, also
to increase employment opportunities around the
development area.

91

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

KALIMANTAN TIMUR

FOOD ESTATE DELTA KAYAN


DELTA KAYAN FOOD ESTATE
Kawasan Delta Kayan, Kabupaten Bulungan,
Provinsi Kalimantan Timur mempunyai luas
potensial pengembangan areal rawa sekitar 31.900
Ha. Dengan muara Sungai Kayan yang relatif datar
(delta) dan memiliki hamparan luas, maka daerah
tersebut dapat diusahakan untuk budidaya padi
sawah dengan sistem pasang surut yang produktif
dimana penanaman dapat dilakukan 2-3 kali per
tahun.
Kawasan Transmigrasi Tanjung Buka merupakan
salah satu area di kawasan Delta Kayan yang
memiliki luas potensi rawa 10.600 Ha dan
direncanakan akan dikembangkan sebagai
kawasan Delta Kayan Food Estate.

Delta Kayan Area, Bulungan Regency, East


Kalimantan has lowland area with 31,900 Ha vast
potential development. Kayan River Estuary which is
relatively flat (delta) and extensive making it suitable
for rice cultivation in the productive tidal system
where planting can be done 2-3 times per year.
Food Estate is a development of a local food barn
so as the regional and national food providers,
which includes the development of food production
on enterprises scale started in the upstream to
downstream area. The Food Estate was developed
to promote the welfare of farmers through a
partnership approach.

Program ini bertujuan untuk


menjadikan Provinsi Kalimantan Timur
sebagai Lumbung Pangan Nasional
dengan target surplus 10 juta ton
beras pada tahun 2015

Food Estate adalah pembangunan lumbung


pangan daerah sekaligus penyedia pangan
regional dan nasional, yang mencakup
pembangunan kawasan produksi pangan skala
usaha mulai hulu sampai hilir. Food Estate
dibangun dengan mengedepankan kesejahteraan
petani melalui pendekatan kemitraan usaha.
Visi yang ingin dicapai dengan pembangunan Food
Estate di kawasan transmigrasi Tanjung Buka,
adalah menjadikan Delta Kayan Food Estate sebagai
pusat agroindustri pemasok utama pangan wilayah
Kalimantan. Sedangkan misinya, menyediakan
pangan baik bagi daerah maupun nasional,
meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan
serta menggerakan perekonomian daerah.

The vision to be achieved by development in this


transmigration area in Tanjung Buka is to make Delta
Kayan Food Estate as a major supplier of agro-food
central in Kalimantan region. While its mission is to
provide food for both local and national, to improve
the welfare of farmers and fishermen as well as
propelling the regional economy.
The program aims to make the East Kalimantan
Province as the National Food Barn with a target
surplus of 10 million tons of rice in 2015.

SULAWESI UTARA

PEMBANGUNAN JARINGAN IRIGASI SANGKUB


DEVELOPMENT OF SANGKUB IRRIGATION AREA

Pembangunan Jaringan Irigasi yang terletak di


Kecamatan Sangkub dan Bintauna, Kabupaten
Bolaang Mongondow Utara, Provinsi Sulawesi
Utara ini diharapkan mampu mengairi
sawah seluas 3.601 Ha dan kemudian
meningkatkan produksi pangan di
wilayah tersebut.
Pekerjaan yang masih dalam
tahap pelaksanaan sampai
tahun 2011 yaitu Pembangunan
Jaringan Irigasi Sangkub
Kanan dengan luas 1.804 Ha.
Jaringan irigasi ini memiliki
Saluran Primer, Sekunder
dan Tersier serta
Pengendalian Banjir.

The Development of Sangkub Irrigation Area is


located in Sangkub District and Bintauna District,
North Mongondow Bolaang Regency, North Sulawesi
is expected to irrigate an area of 3,601 Ha rice field
and to increase food production in the region.

Meningkatkan produksi padi sebesar


To increase rice production of

6-10 ton/Ha

Pengendalian banjir dimaksudkan


untuk melindungi lahan pertanian
dari luapan banjir yang selalu terjadi
setiap tahunnya. Dengan dibangunnya jaringan
irigasi teknis ini diharapkan dapat meningkatkan
produksi padi sebesar 6-10 ton/Ha.

The ongoing implementation work


on the year 2011 are: The Right
Sangkub Irrigation Scheme with
the area of 1,804 Ha. It has a
Primary, Secondary and Tertiary
channel also a flood control.
The flood control is intended to
protect agricultural lands from
overflow flooding that always
happens every year.
The construction of technical
irrigation scheme is expected
to increase rice production
of 6-10 tons/Ha.

93

GORONTALO

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

PEMBANGUNAN BENDUNG DAN JARINGAN IRIGASI PAGUYUMAN


THE DEVELOPMENT OF PAGUYAMAN WEIR AND IRRIGATION SCHEME
Sistem Irigasi Paguyaman direncanakan memiliki
derah irigasi seluas 6.880 Ha yang terdiri dari 4.176
Ha Jaringan Irigasi Kanan, 2.704 Ha Jaringan Irigasi
Kiri, dan 247 petak irigasi tersier. Sebagai upaya
untuk mengurangi rembesan dan kemudahan
perawatan, penampang saluran primer dan
sekundernya berbentuk trapezoidal dan akan
di-lining dengan pasangan beton setebal 10 cm.
Selain itu, struktur Bangunan Sadap dilengkapi
dengan pintu-pintu pengatur dan bangunan ukur.

The development of Paguyaman Weir and Irrigation


Scheme is planned to irrigate 6,880 Ha which consists
of the Right Irrigation Scheme of 4,176 Ha, the Left
Irrigation Scheme of 2,704 Ha, and 247 tertiary
irrigation plots. In the effort to reduce seepage and
the simple of maintenance, primary and secondary
channel cross section are in trapezoidal-shaped with
a pair of concrete 10 centimeters thick lining. The
structure of the sadap building is equipped with doors
and building regulatory measure.

Adapun pekerjaan dalam kurun tahun 2010-2013


yang saat ini sedang dalam tahap pelaksanaan
diantaranya: Paguyaman Kiri terdiri dari 6 Saluran
Sekunder, Saluran Pembuang dan Tersier; dan
Paguyaman Kanan terdiri dari Saluran Induk
Kanan, 6 Saluran Sekunder, Penyelesaian Bendung
Paguyaman, Saluran Pembuang
dan Tersier.

Construction works during the 2010-2013 which is


currently in the implementation phase include: Left
Paguyaman Irrigation Area consists of 6 secondary
lining, waste channel and tertiary lining and the
Right Paguyaman Irrigation Area which is consist of
the main of the right irrigation lining, 6 secondary
irrigation lining, Paguyaman Weir, as well as waste
and tertiary channel.

Manfaat yang dapat dirasakan dari Pembangunan


Bendung dan Jaringan Irigasi Paguyaman yaitu
peningkatan produksi panen dengan target sebesar
5 ton/Ha padi dan palawija atau jagung sebesar
5 ton/Ha.

The advantage of Paguyaman Weir and Irrigation


Scheme development is to increase rice production
with the target rate of 5 tons/Ha of paddy and maize
crops in the rate of 5 tons/Ha.

Peningkatan produksi panen dengan target:


Padi sebesar

5 ton/Ha

Palawija/jagung sebesar

5 ton/Ha

SULAWESI TENGAH

PENINGKATAN BENDUNG SAUSU


SAUSU WEIR ROUNDING UP
Peningkatan Bendung Sausu merupakan lanjutan
dari kegiatan Peningkatan Jaringan Irigasi Sausu
yang telah selesai dilaksanakan tahun 2009.
Pada bulan Oktober 2008, terjadi banjir yang
sangat besar pada DAS Sausu. Banjir tersebut
mengakibatkan kerusakan hampir 60% pada
lantai kolam olakan Bendung Sausu. Untuk
mengantisipasi kerusakan lebih lanjut, aliran
sungai pada saluran pengelak dipindahkan dengan
tujuan mengamankan bendung. Penanganan
menyeluruh pada Bendung Sausu kemudian
dilanjutkan dengan kegiatan Rehabilitasi Total
dan Pelaksanaan Konstruksi yang dimulai pada
Desember 2009 sampai dengan Desember 2011.
Bendung Sausu terletak 32 kilometer ke arah
tenggara Kota Parigi, Kabupaten Parigi Moutong
atau 125 kilometer ke arah timur Kota Palu,
Provinsi Sulawesi Tengah. Bendung Sausu
berfungsi untuk mengairi Daerah Irigasi Sausu
yang memiliki total luas potensial 9.161 Ha, dengan
tujuan meningkatkan areal sawah beririgasi teknis
sehingga dapat meningkatkan intensitas tanam
menjadi 300%, termasuk mengembangkan areal
menjadi 200%, serta meningkatkan pendapatan
petani pada DI Sausu.

Mengairi Daerah
Irigasi Sausu yang
memiliki total luas
potensial

9.161 Ha

Sausu Weir rounding up is an improvement project


from Sausu Irrigation Scheme Rounding Up which
was completed in 2009. In October 2008, there was a
major flood in Sausu Watershed. The flood resulted
in the damage of Sausu Weir kolam olakan base in
nearly 60%. To anticipate further damage, river flow
in the diversion channel is deflected to protect the
weir. After a comprehensive management of Sausu
Weir, complete rehabilitation works and construction
works of Sausu Weir started in December 2009 until
December 2011.
Sausu Weir is located 32 kilometers to the southeast
Parigi City, Parigi District Moutong or 125 kilometers
east of Palu, Central Sulawesi. Sausu weir serves to
irrigate Sausu Irrigation Area that has a total area
of 9,161 Ha of potential, with the aim to improve
paddy field area into technical irrigation area,
therefore the improvement will increase planting
intensity to 300%, including developing the area
to 200%, and to increase farmers income in Sausu
Irrigation Area.

dengan tujuan meningkatkan


areal sawah beririgasi teknis
dengan intensitas tanam
menjadi

300%

termasuk
mengembangkan
areal menjadi

200%

95

SULAWESI TENGAH

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

PENGENDALIAN EROSI SUNGAI SOMBE DAN SUNGAI LEWARA


THE EROSION CONTROL OF SOMBE RIVER AND LEWARA RIVER

Untuk mengatasi kritisnya kondisi DAS, dibutuhkan pengendalian erosi


DAS Sombe-Lewara merupakan salah satu DAS
kritis di Indonesia dengan tingkat erosi yang tinggi
akibat kondisi hidrologi di daerah hulu anak sungai
yang rusak.

The Sombe-Lewara Watershed is one of the critical


watersheds in Indonesia with high erosion rates
due to hydrological conditions in the damaging
upstream tributary.

Total erosi sub DAS Sombe dengan luas 9.637


Ha mencapai 21.078,2 ton/tahun. Sedangkan sub
DAS Lewara dengan luas 6.706 Ha mencapai
13.447,44 ton/tahun.

The total erosion of the sub Sombe Watershed


with an area of 9,637 Ha reached 21,078.2 tons/year.
While total erosion of the sub Lewara watershed with
an area of 6,706 Ha reached 13,447.44 tons/year.

Rencana penanganan DAS Sombe-Lewara


diantaranya:

The Watershed management plans of Sombe-Lewara


includes:

1. Bangunan Pengendali Sedimen (BPS), yang


bertujuan untuk dapat menampung sedimen
dan membentuk kemiringan dasar sungai;

1. Sediment Control Construction, which aims to


accommodate sediment and form the slope of the
riverbed;

2. Sand Pocket (Waduk Tampungan Sedimen),


yang bertujuan untuk menampung sedimentasi
serta menyediakan aktivitas penambangan
secara terkoordinasi;

2. Pocket Sand, which aims to accommodate


sedimentation as well as providing mining
activities in accordance manner;

3. Penetapan kawasan arboretum, yang


merupakan kawasan sumber mata air suatu
sungai;
4. Sistem Sabo, yang terdiri dari bangunanbangunan Check Dam (BPS sederhana) di anakanak sungai dalam jumlah tertentu;
5. Pembangunan tampungan air atau embung.

3. Determination of arboretum area, which is the


springs area of a river;
4. Sabo system, which consists of Check Dam
construction (simple BPS) in the river tributaries in
a certain amount;
5. Construction of water retention.

SULAWESI BARAT

PEMBANGUNAN DAERAH IRIGASI TOMMO


TOMMO IRRIGATION AREA DEVELOPMENT

Mendukung
Pola Tanam dengan
intensitas tanam

300%

Pembangunan DI Tommo terletak di Kabupaten


Mamuju, Sulawesi Barat. Daerah irigasi ini
meliputi 5 desa di Kecamatan Tommo, yaitu Desa
Tommo V, Desa Tommo III, Desa Tommo II, Desa
Tommo I dan Desa Tamemonga, serta Desa Kuo di
Kecamatan Pangale.

The development of Tommo Irrigation Area situated in


Mamuju Regency, West Sulawesi. Tommo Irrigation
Area covered 5 villages in Tommo District, namely
Tommo V Village, Tommo III Village, Tommo II Village,
Tommo I Village and Tamemonga Village, also Kuo
Village in Pangale District.

Lingkup kegiatan meliputi pembangunan


Bendung dan Jaringan Irigasi Teknis seluas
2.500 Ha. Bendung berkonstruksi beton cyclope
tersebut memiliki tinggi 4 meter, lebar 48 meter
dan dilengkapi Pintu Pengambilan Kiri, Pintu
Penguras, Bangunan Kantong Lumpur serta
Bangunan Pembilas. Jaringan Irigasi Tommo
memiliki Saluran Induk sepanjang 15.993
kilometer, Saluran Sekunder sepanjang 25.209
kilometer, Saluran Pembuang sepanjang 8.550
kilometer dan bangunan pelengkap lainnya.

Tommo Irrigation Area Development comprises of


weir construction and irrigation scheme construction
with an area of 2,500 Ha. This cyclope concrete
weir has 4 meters in height, 48 meters in width and
equipped with left intake gate, flushing gate, distilling
basin and sand flush structure. Tommo Irrigation
Scheme has 15,993 kilometers primary canal,
25,209 kilometers secondary canal, 8,550 kilometers
drainage canal and other auxiliary buildings.

The development of Tommo irrigation Area will


provide advantage for 1,200 families or 6,000 people,
who are mostly transmigrant or local citizens with
Manfaat langsung dari dibangunnya Daerah irigasi
Tommo akan dirasakan oleh 1.200 KK atau 6.000 jiwa subsistence as a farmer. Tommo Irrigation Scheme
yang sebagian besar merupakan warga transmigrasi development aims to support paddy-paddy/crop-crop
cropping pattern with 300% cropping intensity.
dan masyarakat lokal dengan mata pencaharian
sebagai petani. Jaringan Irigasi Tommo bertujuan
untuk mendukung Pola Tanam Padi-Padi/PalawijaPalawija dengan intensitas tanam 300%.

97

SULAWESI SELATAN

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

REHABILITASI DAERAH IRIGASI BAJO


REHABILITATION OF BAJO IRRIGATION AREA

Mengairi areal :
Tambak seluas

1.100 Ha
Persawahan seluas

5.829 Ha

Sulawesi Selatan
merupakan salah
satu lumbung padi
Indonesia. Provinsi
ini memberikan
kontribusi suplai
beras bagi 17
provinsi lainnya
Daerah Irigasi Bajo dengan luas areal 3.194 Ha terletak
di Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan.

Bajo irrigation area consists of 3,194 Ha is located in


Luwu Regency, South Sulawesi.

Pengambilan air untuk mengairi areal yang


ada sekarang ialah bendung yang terbuat dari
bronjong dan tiap tahunnya mengalami penurunan
fungsi. Maka, rehabilitasi Daerah Irigasi Bajo
penting untuk dilakukan. Rehabilitasi dibagi
menjadi 2 pekerjaan yaitu saluran induk dengan
panjang total 2,90 kilometer dan saluran sekunder
dengan panjang total 43.975 kilometer.

The weir which is made of bronjong has been degraded


in its function as water intake for irrigation therefore
the rehabilitation of Bajo Irrigation Area is very
important to be conducted. The rehabilitation work is
devided into 2 parts, which are dividing 2 main channel
with total length of 2.90 kilometers and secondary
channels with the total length of 43,975 kilometers.

Berdasarkan analisa keseimbangan air,


ketersedian air di Bendung Bajo cukup untuk
mengairi areal persawahan seluas 5.829 Ha dan
tambak seluas 1.100 Ha. Oleh karena itu, diusulkan
adanya pekerjaan tambahan pada bagian hilir
yaitu pengembangan areal persawahan seluas
2.634 Ha sehingga total luas areal yang dapat
dialiri mencakup 5.828 Ha.

Based on water balanced analysis, the availability


of water in Bajo weir is enough to irrigate rice
fields of 5,829 Ha and aquacalture with the area
of 1,100 Ha. Additional work is porposed in
downstream area covering rice fields of 2,634 Ha
with the total area of 5,828 Ha.

SULAWESI SELATAN

SABO DAM BAWAKARAENG


BAWAKARAENG SABO DAM

Pembangunan pengendali sedimen yang berlokasi


di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan ini dilakukan
karena terjadinya runtuhan dan longsoran dinding
kaldera Gunung Bawakaraeng. Longsoran ini
mengakibatkan terjadinya bencana aliran debris
yang dahsyat, dan dampak dari aliran debris
tersebut adalah terjadinya pendangkalan dan
perubahan morfologi di Sungai Jeneberang, serta
peningkatan sedimentasi di Waduk Bili-Bili.
Pembangunan prasarana pengendali sedimen
dibagi menjadi 3 bagian yaitu:
1. Di Hulu berupa prasarana pengendali sedimen
berupa 7 bangunan sabo dam.
2. Di Tengah berupa 8 bangunan
consolidation dam.
3. Di Hilir berupa sand pocket.
Sabo Dam Bawakaraeng berfungsi untuk
menstabilkan dasar sungai, mengurangi
gerakan sedimen sekunder dari endapan
sedimen, mengurangi erosi lateral erosion dan
endapan sedimen, mengendalikan erosi tebing
sungai selama waktu banjir, menampung dan
mengatur endapan aliran debris dari hulu serta
mengarahkan aliran sedimen atau arah aliran.

The development of sediment control which is located


in Gowa Regency, South Sulawesi is aimed because of
the collapse of caldera wall of Mount Bawakaraeng.
This resulted in the massive debris flow disasters,
and the impact is the occurrence of siltation and the
changes in the Jeneberang River morphology, as well
as increased in sedimentation of the Bili-Bili Dam.
The development of sediment control facilities are
divided into 3 parts:
1. In the upstream, there are 7 sabo dams.
2. In the middle there are 8 consolidation dam.
3. In the downstream there are sand pocket.
The Bawakaraeng Sabo Dam serves to stabilize the
river bed, to reduce the secondary movement of
sediment, to reduce lateral erosion and sediment
deposition, to control the river bank erosion during
flood time, to accommodate and to regulate the
flow of sediment and debris from the upstream
sediment or to direct the water flow direction.

99

SULAWESI TENGGARA

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

REHABILITASI JARINGAN IRIGASI WAWOTOBI


WAWOTOBI IRRIGATION SCHEME DEVELOPMENT
Daerah Irigasi Wawotobi terletak di Kota Unaaha,
Ibukota Kabupaten Konawe yang meliputi
tujuh kecamatan.

The Wawatobi Irrigation area is located in the City


Unaaha, the capital of Konawe Regency which covers
seven districts.

Sejak tahun 2010, pekerjaan rehabilitasi yang telah


dilakukan diantaranya adalah Saluran Sekunder
Unaaha dengan target areal 383 Ha, Saluran
Sekunder Mulya Sari dengan target areal 595 Ha,
Saluran Sekunder Unaasi dengan target areal
93 Ha, Saluran Sekunder Ranoea dengan target
areal 55 Ha, Saluran Sekunder Panomeda dengan
target areal 323 Ha, Saluran Sekunder Bungguosu
dengan target areal 427 Ha, Saluran Sekunder
Langgonaweha dengan target areal 112 Ha,
Saluran Sekunder Anggoro dengan target areal
85 Ha dan Saluran Sekunder Wawoone dengan
target 472 Ha.

Since 2010, some rehabilitation works has been


done such as Unaaha Secondary Lining with a target
area 383 Ha, Mulya Sari Secondary Lining target
area of 595 Ha, Unaasi Secondary Lining with target
area 93 Ha, Ranoea Secondary lining with target
area 55 Ha, Panomeda Secondary Lining area of
323 Ha, Bungguosu Secondary Lining area 427 Ha,
Langgonaweha Secondary Lining area of 112 Ha,
the Anggoro Secondary Lining area of 85 Ha and the
Wawoone Secondary lining area of 472 Ha.

Terdapat pekerjaan selain rehabilitasi jaringan,


yakni pembangunan Saluran Sekunder Panomeda,
Saluran Induk Anggoro, Saluran Sekunder
Teteona, dan Saluran Sekunder Langgonaweha.
Sementara itu, pekerjaan yang masih dalam
proses pembangunan yakni Tanggul Banjir
Lahumbuli, Tanggul Banjir Amesiu dan Tanggul
Banjir Langgonaweha dan Anggoro.

The other rehabilitation works namely construction


of the Secondary Panomeda Lining, Anggoro Parent
Lining, Teteona Secondary Lining, and Langgonaweha
Secondary Lining. Meanwhile, another work is still
in process such as Lahumbuli Flood Embankment,
Amesiu and Anggoro flood Embankment.

BALI

Mengairi DI Saba
dan Puluran seluas
1.794 Ha
Meningkatkan
intensitas tanam
menjadi
275 %
Mengatasi kekeringan

Penanggulangan banjir

PEMBANGUNAN BENDUNGAN TITAB


TITAB DAM DEVELOPMENT
Bendungan Titab terletak di wilayah administratif
Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Bendungan
ini direncanakan memiliki panjang 210 meter dan
tinggi 82,40 meter dengan volume tampungan total
12,8 juta m3.
Pembangunan Bendungan Titab dilakukan untuk
mengatasi kekeringan, penanggulangan banjir dan
mengairi Daerah Irigasi Saba dan Puluran seluas
1.794 Ha serta meningkatkan intensitas tanam dari
169% menjadi 275%.
Di samping itu, Bendungan Titab dibangun untuk
memenuhi kebutuhan air baku sebesar
350 liter/detik di 3 Kecamatan yaitu Seririt,
Banjar dan Busungbiu, Kabupaten Buleleng serta
menambah cadangan energi listrik sebesar
2 x 0,75 MW di wilayah Kecamatan Busungbiu.
Bendungan Titab dibangun sebagai bagian
dari proyek MP3EI (Master Plan Percepatan
Pembangunan Ekonomi Indonesia), dan telah
dilakukan ground breaking pada bulan Mei 2011.
Pembangunan Bendungan Titab diharapkan
selesai pada tahun 2014.

The Development of Titab Dam is located in Buleleng


Regency, Bali. This Dam is planned to have have 210
metres length, 82.40 metres height, and total storage
volume of 12.8 million m.
Titab Dam is useful for coping drought, flood
overcoming, and to irrigate Saba and Puluran
Irrigation Area of 1,794 Ha and also increasing
cropping intensity from 169% to 275%.
In addition, Titab Dam is constructed to fulfill raw
water needs of 350 liters per second in 3 districts
i.e. Seririt, Banjar, and Busungbiu (Buleleng Regency)
and also lifting electrical energy reserves of 2 x 0.75
MW in Busungbiu District.
The development of Titab Dam is one of the MP3EI
projects, and has been ground breaking on May 2011.
Titab Dam development is expected to be finished
in 2014.

101

BALI

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

PENGAMANAN PANTAI TANJUNG BENOA


TANJUNG BENOA COASTAL PROTECTION DEVELOPMENT
Kondisi Pantai Bali khususnya di Pantai Tanjung
Benoa, Nusa Dua, Bali mengalami abrasi akibat
hantaman gelombang laut yang cukup besar dan
banjir. Dampak yang dialami secara langsung
oleh masyarakat antara lain rusaknya sarana dan
prasarana umum, tempat ibadah, kawasan hotel,
dan kawasan wisata.

The Bali beach conditions, especially in Tanjung


Benoa, Nusa Dua, Bali is suffered from abrasion
due to waves and flood. The directly impacts are
experienced by the public, among others, damage to
public facilities and infrastructure, places of worship,
area hotels, and tourist areas.

Pantai Bali merupakan aset tujuan wisata dunia

Pengamanan Pantai Tanjung Benoa dibangun


untuk mencegah dan merehabilitasi kerusakan
pantai dengan menjaga kelesetarian pantai
berpasir. Pengamanan pantai ini juga bertujuan
untuk mengembalikan profil pantai dan
mereduksi energi gelombang.
Lingkup pekerjaan untuk pengamanan Pantai Tanjung
Benoa yang dilaksanakan pada tahun 2011 berupa
pembangunan groin sepanjang 60 meter, pengisian
pasir dan jalan setapak, serta pembangunan
revetment dengan panjang 31,33 meter.

Benoa Beach Coastal Protection Development is


built to protect and to rehabilitate the sustainability
of sandy beaches. This beach conservation is also
aims to restore the original profile and to reduce
the wave energy.
The scope of work to protect Tanjung Benoa Beach
conducted in 2011 in the form of development
of the 60 meters groins, sand filling and footpaths, as
well as the construction of revetment with a length
of 31.33 meters.

BALI

PEMBANGUNAN SISTEM PENGEMBANGAN AIR BAKU TELAGAWAJA


TELAGAWAJA RAW WATER SYSTEM DEVELOPMENT
Pembangunan Sistem Pengembangan Air Baku
Telagawaja berada di Kabupaten Karangasem,
Provinsi Bali. Sumber air untuk sistem penyediaan
air minum Telagawaja memanfaatkan empat buah
mata air, yaitu Mata Air Surya, Mata Air Bangol,
Mata Air Isah dan Mata Air Celuk, dengan rencana
total debit pengambilan sebesar 460 liter/detik.
Pembangunan sistem penyediaan air minum ini
dimaksudkan untuk memberikan pelayanan air
minum penduduk Kabupaten Karangasem dengan
cakupan yang lebih luas dan menyeluruh dengan
kualitas, kuantitas dan kontinuitas yang memadai
sampai dengan tahun proyeksi kebutuhan yakni
tahun 2020. Sistem penyediaan air minum
Telagawaja direncanakan melayani tujuh
kecamatan dengan jumlah penduduk yang dilayani
sebesar 457.962 jiwa.
Sampai dengan tahun 2010 jumlah total potensi
layanan mencapai 16.306 sambungan rumah.
Sedangkan di tahun 2011, lingkup konstruksi yang
dilakukan antara lain pekerjaan sipil meliputi
Reservoar Distribusi (RD) Budakeling dengan
kapasitas 1.800 m3, RD Abang dengan kapasitas
1.100 m3, Jembatan Pipa sebanyak 4 buah, dan
pekerjaan perpipaan.

Telagawaja Raw Water System Construction is


developed in Karangasem Regency, Bali. Telagawaja
drinking water supply system utilized four springs
as its water sources, namely Surya Spring, Bangol
Spring, Isah Spring and Celuk Spring, with
460 liter/second total discharge.
Development of Telagawaja drinking water supply
system is intended to provide drinking water supply
services for residents of Karangasem District
with wider and comprehensive coverage, also with
sufficient quality, quantity and continuity supply until
needs projection year in 2020. Telagawaja drinking
water supply system is planned to serve seven
districts with a population served of
457,962 inhabitants.
Until the 2010, the total number of potential service
reached 16,306 house connections. Several civil
works carried out in 2011 including Reservoir
Distribution with a capacity of 1,800 m3, Abang
reservoir distribution with a capacity of 1,100 m3,
4 pieces of Pipa Bridge and piping works.

Penyediaan air minum

457.962 jiwa

103

NUSA TENGGARA BARAT

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

PEMBANGUNAN BENDUNGAN PANDANDURI


DEVELOPMENT OF PANDANDURI DAM
Secara adiministratif, rencana Pembangunan
Bendungan Pandanduri terletak di Dusun
Pandanduri, Desa Suwangi, Kecamatan Sakra,
Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Kegiatan pembangunan ini dilatarbelakangi oleh
kondisi curah hujan di wilayah tersebut yang
sangat kecil yaitu rata-rata 900-1250 mm/tahun
dengan durasi 2-3 bulan serta tidak memiliki
sumber air yang layak sedangkan jumlah
penduduknya mencapai 1.065.379 jiwa.
Bendungan Pandanduri bermanfaat sebagai
penyedia air untuk lahan irigasi yang ada secara
kontinyu, yaitu melayani areal sawah dengan luas
total 5.168 Ha. Keberadaan bendungan ini juga
dapat memberikan suplesi kepada sistem Sungai
Gambir seluas 3.011 Ha (DI Ineratu, DI Pelapak,
DI Penendem, DI Tundak dan DI Pelambik) dan
mengurangi debit banjir di sungai bagian hilir
bendungan dari debit puncak 1.517,94 m/detik
menjadi 1.170 m/detik.
Di samping itu, Bendungan Pandanduri
bermanfaat untuk meningkatkan taraf hidup
masyarakat sekitar bendungan melalui
pengembangan perikanan air tawar dan
mendukung pengembangan sektor pariwisata
Kabupaten Lombok Timur serta terbukanya
lapangan kerja baru di bidang pariwisata bagi
masyarakat di sekitar bendungan.
Pembangunan Bendungan Pandanduri merupakan
salah satu proyek MP3EI (Master Plan Percepatan
Pembangunan Ekonomi Indonesia), dan telah
dilakukan ground breaking pada bulan Mei 2011.

Pandanduri Dam is located in Pandanduri Hamlet,


Suwangi Village, Sakra district, East Lombok
Regency, West Nusa Tenggara. The background of
this project is small rainfall intensity condition in
the area with the rate of 900-1,250 mm/year with the
duration of 2-3 months with not having a proper water
resources with the population of 1,065,379.
The Pandanduri Dam is usefull to provide irrigation
water continously to serve rice field with the total
area of 5,168 Ha. The dam can also provide supletion
of the gambir rier covering area of 3,011 Ha (Ineratu
Irrigation Area, Pelapak Irrigation Area, Penendem
Irrigation Area, Tunduk Irrigation Area and Pelambik
Irrigation Area) and to reduce flooding discharge in
downstream river area from the top of 1,517.94 m/
second to 1,170m3/second.
In addition, Pandanduri Dam is useful to improve
peoples lives around the dam through the
development of fresh water fisheries and support
the development of tourism sector in East Lombok
Regency, and the opening of new jobs in tourism for
communities around the dam.
The Development of Pandanduri Dam is one of the
MP3EI projects, and has been ground breaking on
May 2011.

Melayani
areal sawah
Total rice
field served

5.168 Ha

NUSA TENGGARA TIMUR

EMBUNG HAEKRIT
HAEKRIT WATER RETENTION
Embung Haekrit terletak di
Desa Manleten, Kecamatan
Tasifeto Timur, Kabupaten
Belu, Nusa Tenggara Timur,
yang dimaksudkan untuk
pengembangan sarana dan
prasarana sumber air guna
memenuhi kebutuhan air
bagi masyarakat setempat.

The Haekrit Water Retention is


located in the Manleten Village,
East Tasifeto District, Belu
Regency, East Nusa Tenggara,
which is intended for the
development of infrastructure
facilities and water resources
to meet water needs for the
local community.

Embung yang memiliki


daerah tangkapan air seluas
29,4 kilometer ini bertujuan
sebagai suplesi air baku
sebesar 30 liter/detik untuk
desa sekitarnya dan sebagian
Kota Atambua. Selain itu,
bermanfaat untuk mengairi
areal irigasi potensial seluas
300 Ha dengan intensitas
tanam sebesar 250% dan
sebagai konservasi sumber
daya air dan lahan.

The water retention has a


catchment area covering 29.4
kilometers is intended as
raw water supply of 30 liters/
second to the surrounding
villages and some Cities
of Atambua. In addition, it
is beneficial to irrigate an
area covering 300 Ha of
potential irrigation with a
cropping intensity of 250%
and the conservation of water
resources and land.

Daerah Tangkapan Air


Water Catchment Area

29,4 km

Potensial mengairi irigasi


Potential irrigation area

300 Ha

Suplesi air baku


Raw water suppletion

30 liter/detik

Intensitas tanam
Cropping intensity

250%

105

NUSA TENGGARA TIMUR

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

PEMBANGUNAN DAERAH IRIGASI MALAKA


MALAKA IRRIGATION AREA DEVELOPMENT

Peningkatan
intensitas tanam
sebesar
Daerah Irigasi Malaka secara administratif
terletak di 25 desa yang berada di Kecamatan
Malaka Tengah, Koba Lima, Weliman dan
Kecamatan Malaka Barat, dengan sumber air
utama adalah Sungai Benanain yang memiliki luas
Daerah Aliran Sungai 3.158 km2.
Daerah Irigasi Malaka ditujukan untuk
memanfaatkan sumber air yang tersedia, agar
secara optimal dapat digunakan untuk memenuhi
kebutuhan sistem jaringan irigasi teknis seluas
10.000 Ha.
Manfaat Daerah Irigasi Malaka ini antara lain
untuk meningkatkan produksi beras melalui
peningkatan intensitas tanam sebesar 240%,
meningkatkan taraf hidup masyarakat atau petani
setempat dan membuka peluang atau lapangan
pekerjaan. Selain itu daerah irigasi ini bermanfaat
sebagai suplesi air irigasi, pengendalian daya
rusak air dan konservasi sumber daya air.

240%

Administratively, Malaka Irrigation Area is located in


25 villages which situated in Central Malaka District,
Koba Lima District, Weliman District and West Malacca
District, with main source of water comes from
3,158 km Benanain River Watershed.
The purpose of Malaka Irrigation Area Development is
to utilize the available water sources, therefore it can
be use optimally to supply water needs of 10,000 Ha
technical irrigation scheme.
The benefits of Malaka Irrigation Area are to enhance
rice production by increasing cropping intensity
up to 240%, to improve the people living standard
or the local farmers and open up opportunities or
employment. Besides, this irrigation area also function
as irrigation water suppletion, control to destructive
force of water and conservation of water resources.

NUSA TENGGARA TIMUR

PEMBANGUNAN PENGAMANAN PANTAI MAUMERE


MAUMERE COASTAL PROTECTION DEVELOPMENT
Pengamanan Pantai Maumere terletak di Kelurahan
Beru, Kelurahan Wairotang, Kelurahan Wai Oti dan
Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok Timur,
Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Maumere Coastal Protection Development is located


in the Beru Village, Wairotang Village, Wai Oti Village
and Uneng City Village, East Alok District, Sikka
Regency, East Nusa Tenggara.

Pembangunan pengamanan pantai berupa


revetment dengan lebar tanggul 4,0 meter dan
elevasi tanggul +3,0 meter ini dimaksudkan untuk
melindungi zona pantai dari bahaya gelombang
tsunami dan gelombang pasang serta naiknya
muka air laut yang dapat merusak sarana dan
prasarana seperti; jalan raya, pemukiman, daerah
pertanian, daerah wisata.

The coastal protection development consist the


construction of revetment with a width of 4.0 meters
and the elevation of the dike embankment +3.0
meters is intended to protect the coastal zone
from the dangerous of tsunami and tidal waves and
the sea level rise that could damage the facilities
and infrastructure such as roads, settlements,
agricultural areas, tourism areas.

Pengamanan Pantai Maumere juga bermanfaat


untuk meningkatkan kenyamanan kehidupan
masyarakat pesisir yang berdomisili di zona
pesisir dan meningkatkan pendapatan masyarakat
nelayan serta membuka peluang wisata bahari.
Di samping itu, juga sebagai pengelolaan wilayah
pesisir secara terpadu terencana dan sebagai
konservasi daerah pesisir serta penataan wilayah
pantai sesuai peruntukannya secara jangka
panjang dan berkelanjutan.

Maumere Coastal Protection Development is


beneficial to increase the comfort area of coastal
communities who live in the coastal zone and to
increase the income of fishermen communities
and to increase the marine tourism opportunities.
In addition, as well as integrated coastal zone
management plan and conservation of coastal areas
as well as structuring the coastal areas in the long
term and sustainable.

Melindungi zona pantai


Meningkatkan kenyamanan kehidupan masyarakat pesisir
Meningkatkan pendapatan masyarakat nelayan
Membuka peluang wisata bahari

107

MALUKU UTARA

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

PEMBANGUNAN BREAKWATER PANTAI SOFIFI (TAHAP III)


SOFIFI COASTAL BREAKWATER DEVELOPMENT (PHASE II)
Berlokasi di Desa Galala, Kecamatan Oba
Utara, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara,
Pembangunan Konstruksi Breakwater Pantai Sofifi
dibangun untuk melindungi sarana dan prasarana
umum (pemukiman, sekolah, jalan, dll) daerah
sekitar terhadap gelombang laut yang mempunyai
daya rusak.
Terbuat dari bahan dasar konstruksi berupa
geobag, pembangunan ini juga bertujuan untuk
meredam besarnya daya rusak gelombang laut
yang menyebabkan terjadinya erosi pantai dan
kemunduran garis pantai. Lingkup pekerjaannya
yaitu pembuatan Konstruksi Breakwater sebanyak
3 buah dengan panjang masing-masing 200 meter.

Located in Galala Village, North Oba District,


Tidore Kepulauan City, North Maluku, Sofifi Coastal
Breakwater Development II built to protect the
public utilities (settlement, school, road, etc)
from the wave destructive power.
Made from geobag material, the development is
aimed to reduce the destructive power of the
sea wave which can caused coastal erosion and
coastline retreat. The scope of work consisted of the
construction of 3 breakwaters with the length of 200
meters each.

Melindungi sarana dan prasarana umum


Meredam besarnya daya rusak gelombang
laut yang menyebabkan terjadinya erosi pantai
dan mundurnya garis pantai

MALUKU UTARA

PEMBANGUNAN BREAKWATER PANTAI TERNATE


TERNATE COASTAL BREAKWATER DEVELOPMENT
Pembangunan yang terletak di Ternate, Provinsi
Maluku Utara ini bermanfaat sebagai perlindungan
pantai dari abrasi dan gelombang pasang. Area
bagian dalam juga dimanfaatkan sebagai budidaya
rumput laut dan penanaman mangrove.

The breakwaters construction which is located


in Ternate, North Maluku Province is managed
as coastal protection development from abrasion
and tidal wave. The inner area is also managed to
nurture the seaweed and mangrove cultivation.

Sampai dengan tahun 2011, telah terbangun


12 modul Breakwater Ternate dengan masingmasing panjang 100 meter, jarak antar modul
20-50 meter dan jarak dari garis pantai 50-100
meter. Breakwater Pantai Ternate ini dibangun
dari geobag.

Until 2011, 12 modul of Ternate Breakwaters has


been built with the length of 100 meters, the modul
distance 20-50 meters and the coastal line 50100 meters. The Ternate Coastal Breakwaters is
constructed from geobag.

109

MALUKU UTARA

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

PEMBANGUNAN DAERAH IRIGASI PATLEAN


PATLEAN IRRIGATION AREA DEVELOPMENT
Lokasi pekerjaan pembangunan terletak
di Desa Patlean, Kecamatan Maba,
Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi
Maluku Utara.
Secara teknis, sistem Irigasi DI Patlean
bermanfaat untuk menyuplai kebutuhan
air irigasi areal pertanian 1.003 Ha
dan meningkatkan indeks pertanaman
menjadi 200%. Dengan tersedianya air
irigasi yang cukup, diharapkan dapat
terjadi perubahan pola tanam padi
dari tadah air hujan menjadi pengairan
teknis. Selain itu, Pembangunan
Bendung dan Jaringan Irigasi DI Patlean
akan membuka kesempatan kerja bagi
masyarakat sekitar, membuka peluang
usaha bagi industri kecil dan menengah
serta dapat membuka daerah terpencil
dan terisolasi dengan dibangunnya
jalan-jalan inspeksi.
Pembangunan DI Patlean terdiri dari
3 tahap. Tahap ke-III dilaksanakan
pada tahun 2010 dengan membangun
Jaringan Irigasi dan fasilitas
pendukungnya serta Bangunan Sadap.
Daerah kerja Bendung dan bangunan
fasilitasnya membutuhkan lahan seluas
5 Ha, daerah genangan di hulu Bendung
seluas 15 Ha, sementara Jaringan
Irigasi DI Patlean seluas 103 Ha.

The development of Patlean


Irrigation Area is located
in Maba District, North
Halmahera Regency,
North Maluku.
Technically, the irrigation
system in Patlean Irrigation
Area aimed to supply the
agricultural area of 1,003 Ha
and to increase the agricultural
index to 200%. With sufficient
irrigation water, it is hope to
change the cropping pattern
of paddy from rain fed to
technical irrigation system.
Besides that, the development
of dam and irrigation scheme
Patlean Irrigation Area will
open the working opportunity
to the local society, to open
opportunity work to small scale
industry and middle scale and
it an also open secluded area
with the development
of inspection roads.

Meningkatkan indeks
pertanaman menjadi
Increase cropping
intensity up to

200%

Menyuplai kebutuhan
air irigasi
Irrigation water supply

1.003 Ha

The development of Patlean Irrigation Area consist of 3 steps,


the Phase III is conducted in 2010 with the construction of
irrigation scheme and to support the Sadap building The
working area of dam and its facilities require the area of 5 Ha,
the inundation area in upstream dam with the area of 15 Ha,
and the Patlean Irrigation Scheme of 103 Ha.

MALUKU

PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKRO HIDRO


DEVELOPMENT OF MICRO HYDRO POWER PLANT
Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga
Mikro Hidro (PLTMH) terletak di Desa Hukurila,
Kecamatan Lei Timur Selatan, Kota Ambon,
Maluku. Di desa ini mengalir aliran Sungai Way
Rupa dan mempunyai potensi energi listrik yang
bersumber dari energi terbarukan (terjunan aliran
sungai) cukup besar dan belum dimanfaatkan.
Berkaitan dengan hal tersebut, pembangunan
PLTHM ini akan memanfaatkan potensi terjunan air
sebagai pembangkit listrik tenaga air skala kecil.
Kegiatan Pembangunan PLTMH di Desa Hukurila
merupakan Pilot Project untuk Provinsi Maluku dan
dimaksudkan sebagai penyebarluasan Teknologi
PLTMH. Kegiatan ini juga bertujuan sebagai
penyediaan tenaga listrik yang ramah lingkungan
dengan biaya operasional dan pemeliharaan
yang rendah dalam usaha meningkatkan mutu
kehidupan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat
pedesaan. Selain itu, diharapkan sektor pariwisata
berkembang dengan tersedianya penerangan di
lingkup kawasan.

The Development of Micro Hydro Power Plant (MHP)


is located in the Hukurila Village, South East Lei
District, Ambon City, Maluku. In this village flows
Way Rupa River stream which has significant and
untapped potential electrical energy sourced from
renewable energy (waterfall of the river flow).
In this regard, the development of this PLTHM
waterfall will explore the potential
of small-scale hydropower.
Development of MHP Hukurila is a Pilot Project for
the Maluku Province that is aimed to disseminate
the PLTMHP technologies. This activity also aims as
the friendly electrical force with low operation and
maintenance cost in an effort to improve the quality
of life and economic growth in rural communities.
Besides, the tourism sector is expected to develop
with the availability of lighting in the region.

The Micro Hydro technology is small-scale power


generation technologies by utilizing the potential
water power, in the form of high waterfalls (H) and
discharge (Q), as the driving force of the turbine shaft,
Teknologi Mikro Hidro adalah teknologi pembangkit then the power generated by the rotation axis of the
daya berskala kecil dengan memanfaatkan potensi turbine is used to run pumps and generators by using
transmission in the form of a pulley and belt.
tenaga air, yang berupa tinggi terjun (H) dan debit
(Q), sebagai tenaga penggerak poros turbin,
The advantage of this technology is safer, because
selanjutnya daya yang dihasilkan oleh putaran
poros turbin digunakan untuk menjalankan pompa the pump is run with a waterfall power through a
turbine; low cost of operational and maintenance,
dan generator dengan menggunakan transmisi
because hydropower is a renewable natural energy
berupa pulley dan belt.
resource; high efficiency; its application is not only
quite easy but also
Keuntungan dari teknologi ini diantaranya
environmentally
aman, karena pompa dijalankan dengan tenaga
Tenaga air merupakan
friendly, which is
terjunan air melalui turbin; biaya operasional dan
sumber daya alam
not polluted.
pemeliharaannya rendah, karena memanfaatkan
tenaga air yang merupakan sumber daya alam
terbarukan yang dapat
yang terbarukan; efisiensinya tinggi; penerapannya
dimanfaatkan untuk
cukup mudah dan ramah lingkungan karena tidak
menimbulkan polusi udara dan suara.
tenaga listrik

111

PAPUA BARAT

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

PEMULIHAN BENCANA WASIOR


WASIOR DISASTER RESTORATION
Wasior adalah ibukota Kabupaten Teluk Wondama, Wasior is the capital city of the Gulf Wondama
District, West Papua, the expansion of Manokwari.
Provinsi Papua Barat, hasil pemekaran dari
Kabupaten Manokwari. Kota ini mempunyai jumlah This city has a population of 40,000 lives.
penduduk sebesar 40.000 jiwa.
In October 2010 there has been major flood disaster
that resulted in hundreds of casualties were injured,
Pada bulan Oktober 2010 telah terjadi bencana
missing, and even death. Thousands residents
banjir bandang yang mengakibatkan ratusan
forced to be evacuated because of houses and public
korban jiwa luka-luka, hilang, bahkan meninggal
infrastructure destruction that nearly 90% were
dunia. Ribuan penduduk pun terpaksa mengungsi
akibat hancurnya rumah-rumah dan infrastruktur damaged. Flood disaster is also changing 16 rivers
flow located in Wasior.
umum yang hampir 90 % mengalami kerusakan.
Bencana banjir bandang ini juga mengganggu 16
aliran sungai yang terletak di Wasior.

Normalisasi
Sungai Wondiboy

1,5 km

Normalisasi
Sungai Sandoway

1 km

Pada bulan Oktober hingga Desember 2010, telah


dilakukan penanganan tanggap darurat untuk
memperbaiki kerusakan tersebut, diantaranya
Normalisasi Sungai Wondiboy sepanjang 1,5
kilometer, Normalisasi Sungai Sandoway
sepanjang 1 kilometer, serta rehabilitasi jaringan
air baku berupa pembuatan jaringan sepanjang
2,7 kilometer dan pembuatan intake di tiga lokasi
hunian sementara.
Penyediaan air baku yang dilakukan di Hunian
Sementara Kabow berupa pembangunan 1 buah
Intake dengan kapasitas 5 liter/detik dan jaringan
pipa sepanjang 2.200 meter. Sedangkan di Hunian
Sementara Maimari dibangun 1 buah Intake
dengan kapasitas 15 liter/detik dan jaringan pipa
sepanjang 500 meter.

Pembuatan jaringan air baku di


3 Lokasi Hunian Sementara

2,7 km

In October to December 2010, emergency response


has been done to repair such damage, including
Wondiboy River normalization along 1.5 kilometer,
Sandoway River Normalization along a kilometer,
as well as rehabilitation of raw water networks
in the form of raw water network throughout the
2.7 kilometers and construction of intake in three
temporary residential location.
The provision of raw water in Kabow Temporary
Residential relocation is done by building an intake
with 5 liter/second capacity, and installed a 2,200
meters pipeline scheme. Meanwhile in Maimari
Temporary Residential relocation, an intake was
built with 15 liter/second capacity and installed a 500
pipeline.

PAPUA

PERKUATAN TEBING SUNGAI ULAR


ULAR RIVER SLOPE PROTECTION

Secara geografis, Sungai Ular merupakan


bagian dari wilayah Kabupaten Jayapura, yang
merupakan daerah transmigrasi pertama di
Provinsi Papua. Sungai Ular dengan alur berkelokkelok seringkali meluap pada musim hujan dan
menganggu daerah pemukiman transmigrasi yang
ada di sebelah kiri alur sungai. Luapan itu juga
mengganggu kelancaran transportasi darat yang
menghubungkan JayapuraKertosari dan daerah
pemukiman penduduk serta fasilitas umum
lainnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, maka pada tahun
2011 dilakukan Perkuatan Tebing Sungai Ular
berupa pemasangan bronjong sepanjang 420
meter pada sisi kanan dan 260 meter pada sisi kiri.
Kegiatan ini dimaksudkan untuk mempertahankan
atau memperkuat tebing sungai yang sangat
rawan terhadap longsor dan untuk memperlancar
aliran sungai.
Perkuatan Tebing Sungai Ular juga bertujuan
untuk melindungi pusat-pusat permukiman,
pertanian, dan pusat-pusat produksi terhadap
dampak bahaya banjir dengan periode 25 tahunan
pada daerah seluas 100 Ha. Selain itu, kegiatan
ini diharapkan mampu memelihara alur sungai,
drainase untuk penyaluran debit banjir, dan juga
pengamanan tebing dari gerusan aliran sungai
atau drainase.

Geographically, Ular River is part of Jayapura District,


which is the first transmigration area in Papua. Ular
River with meandering grooves often overflowed in the
rainy season and disturbe the existing transmigration
residential areas along the left riverside. The overflow
also disrupted overland transportation that connects
the Jayapura-Kertosari and residential areas and
other public facilities.
To overcome this problem, in 2011 the river slope
protection with bronjong has been installed along the
420 meters on the right side and 260 meters on the left
side. This activity is intended to maintain or strengthen
the river banks which are particularly vulnerable to
landslides and to expedite the flow of the river.
River Slope Protection in Ular River also aims to protect
the center of residential area, farming area, and the
center of production from the flood hazard impacts
with a period of 25 years in an area of 100 Ha.
In addition, this activity is expected to maintain the
flow of rivers, drainage for the distribution of flood
discharge, and also to secure the cliffs from scouring
or drainage.

Melindungi pusat-pusat
permukiman, pertanian, dan
pusat-pusat produksi seluas

100 Ha

113

PAPUA

Capaian Kegiatan Bidang Sumber Daya Air TA 2010-2011

PEMBANGUNAN PENGAMANAN PANTAI MOKMER


MOKMER COASTAL PROTECTION DEVELOPMENT

Pantai Mokmer secara


geografis merupakan bagian
dari Kabupaten Biak Numfor
dan berada di Selatan
Pulau Biak, Provinsi Papua.
Pantai ini telah mengalami
abrasi yang cukup parah
sehingga memberikan
dampak langsung pada
fasilitas umum berupa jalan penghubung, obyek wisata dan
pemukiman penduduk.
Sebagai penanganan terhadap abrasi tersebut,
Pembangunan Pengamanan Pantai Mokmer yang berupa
revetment dengan pemasangan batu kosong di bagian muka
bangunan, dilakukan dalam dua tahap. Tahap I dilaksanakan
pada tahun 2010 dengan melakukan pekerjaan revetment
sepanjang 200 meter. Sedangkan tahap II di tahun 2011
sepanjang 475 meter.
Pengamanan Pantai Mokmer ini dibangun untuk
mempertahankan dan mengamankan garis pesisir terhadap
abrasi pantai. Bangunan ini juga bertujuan untuk melindungi
permukiman penduduk, fasilitas umum dan obyek wisata
sejarah Perang Dunia II terhadap abrasi pantai.

The Mokmer Beach is geographically


a part of Biak Numfor Regency and
located in the South of Biak Island, Papua.
This beach has suffered severe abrasion
which directly impact public facilities
such as connecting road, tourism and
settlements.
Mokmer Coastal Protection built as a
shield against abrasion. Mokmer Coastal
Protection work which consist of rock
revetment development was carried out in
two stages. Phase I conducted in 2010 with
revetment work along the 200 meters,
while the phase II conducted in 2011 with
the total length of 475 meters revetment
work.
Mokmer Coastal Protection
Development is built to secure the
coastline against coastal abrasion.
This infrastructure is also intended
to protect residential areas, public
facilities and historical sights of World
War II against coastal abrasion.

PERNYATAAN
DISCLAIMER
Segala isi yang tercetak dalam buku ini adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan
pada Mei 2012
All printed contents within this booklet are actual and validated to May 2012