1

BAB I
PENDAHULUAN

Pada zaman dahulu wanita tidak ada harganya sama sekali, mereka hanya
menjadi pemuas nafsu laki-laki saja dan tidak di perbolehkan keluar rumah untuk
melakukan hal-hal yang lain kecuali hanya mengurus anak dan keluarga, akan
tetapi setelah masuknya agama Islam derajat wanita mulai terangkat. Meskipun
derajat derajat wanita sudah terangkat masih ada perbedaan-perbedaan antara
wanita dan laki-laki. Sebagaimana di dalam Al-Qur’an telah dijelaskan bahwa ada
berapa ayat yang menentukan adanya perbedaan antara laki-laki dan wanita.
Firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah 2:282
.'· ¸-· - .´ · .· ,... · · ·· .

“ kalau tidak ada dua orang saksi laki-laki, maka penggantinya satu
orang laki-laki dan dua orang perempuan” (Q.S. Al-Baqarah, 2:282 )
Setelah kita membaca ayat diatas, maka jelaslah pada dasarnya antara laki-
laki dan wanita terdapat perbedaan yang tidak dapat kita pungkiri, tidak hanya
dalam masalah saksi saja akan tetapi masih banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang
menjelaskan perbedaan antara laki-laki dan wanita. Misalnya masalah waris, wali,
hakim, dan lain-lain.
Tapi pada zaman sekarang wanita bisa melakukan apa saja yang menjadi
keinginannya, salah satu dari mereka ada yang menjadi pemimpin pada
perusahaan bahkan sampai menjadi presiden. Makalah ini akan sedikit membahas
tentang seorang wanita dalam pandangan Islam.





2
BAB II
PEMBAHASAN

A.Wanita pada Masa Sebelum Islam

Sebagaimana kita maklumi bahwa Islam lahir di kota
Mekkah.Karenanya sangat penting bagi kita mengetahui keadaan sosiologis dan
kebudayaan, swrta faktor-faktor lainnya. Seperti geografi, sejarah, politik dan
ekonomi. Mereka yang pada gilirannya mempengaruhi kehidupan masyarakatnya
termasuk dalam memposisikan kaum perempuan dalam dinamika kehidupan.
Mekkah adalah kota penting yang berada disekeliling gurun pasir Arab yang
sangat luas yang disebut dengan ‘Ar-Rab al-Khali’ (tempat yang sunyi). Mekkah
terletak disebelah barat gurun ini, dekat pantai barat. Ar-Rab al-Khali’ ini nyaris
tidak pernah didatangi orang dan sangat suci
1
.
Kondisi sekitar Mekkah adalah padang pasir dan hanya beberapa bagian
yang memiliki tanah subur, sehinnga hal ini menyebabkan orang cenderung
memilih untuk berternak sebagai mata pencaharian, sedangkan bertani hanya bagi
mereka yang memiliki tanah subur, dengan adanya kehidupan yang tergantung
pada kondisi alam ini maka laki-laki menjalankan public, seperti mencari nafkah
dan mempertahankan keutuhan dan kehormatan keluarga. Sedangkan wanita
menjalankan peran domestic, seperti mengasuh anak dan mengatur urusan rumah
tangga. Jadi pembagian peran menurut masyarakat Arab sudah jelas. Laki-laki
yang mencari nafkah dan melindungi keluarga, sementara kaum wanita berperan
dalam urusan reproduksi, seperti memelihara anak dan menyiapkan makanan
untuk seluruh keluarga. Sehingga secara tidak langsung kaum laki-laki memiliki
banyak waktu untuk berprestasi dan prestise dalam masyarakat.
Pada zaman dahulu mengikuti perang bagi kaum laki-laki merupakan
kesempatan untuk memperoleh taraf kehidupan lebih baik sekalipun penuh resiko

1
Asghor Ali Engineer, Asal-usul dan perkembangan Islam : Analisis, Pertumbuhan sosial
ekonomi alih bahasa imam Baehaqi (yogyakarta:Pustaka Pelajar,1999), hlm. 17-19
3
dan jika peperangan itu menang, maka hasil rampasan (ghanimah) itu hanya
boleh dikelolah oleh kaum laki-laki.
Jika kita ingin mengetahui dengan jelas kedudukan wanita pada sekarang
didalam agama Islam. Kita perlu pula menyusuri kedudukan wanita pada zaman
sebelum Islam lahir, yang menurut para ilmuan Islam lazim disebut dengan zaman
jahiliyah. Kata jahiliyah sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu jahlun kebodohan.
Sedangkan kamus Mu’jam al-Wasit memaknai jahiliyah dengan dua arti. Pertama,
kondisi kebodohan dan kesesatan bangsa Arab sebelum kedatangan Islam. Kedua,
masa kekosongan di antara dua rasul
2
. Pengertian yang pertama menggambarkan
bahwa semua kebodohan dan kedhaliman sebelum Islam adalah jahiliyah,
sedangkan makna yang kedua lebih menekankan pada masa transisi antara dua
rasul. Di mana pada saat itu masyarakat terlepas dari ajaran nabi Isa as. dan pada
saat itu juga mereka belum tersentuh oleh ajaran Islam yang dibawa oleh nabi
Muhammad SAW. Ahmad Mukhayyarat menggambarkannya sebagai berikut :
¸· ` ·=' ·` , ,` ·.' ·' · ` ¸· ·` ,·- · ·'' ,· .¯
·` ,. ···· ··· ·,· · .,-. ·. ·,· ·· · ·,- · · ··. .-
.·- ¸· · .,· ¸.· ·` ,·`
Pernyataan Mukhayyarat di atas sejalan dengan pendapat umum yang
diungkapkan oleh para teolog yang menyatakan bahwa pada masa itu wanita tidak
mendapatkan hak apa-apa dan diperlakukan tidak lebih dari sebuah barang
dagangan. Mereka tidak hanya diperbudak tapi juga diwariskan sebagaimana harta
benda. Bahkan sudah menjadi kebiasaan di kalangan bangsa Arab jahiliyyah
apabila seorang lelaki meninggal dunia, putranya yang lebih tua atau anggota
keluarga lainnya mempunyai hak untuk memilih janda atau janda-jandanya,

2
Lihat dalam Syafiq Hasyim, Hal-Hal Yang Tak Terpikirkan : Tentang isu-isu
keperempuanan dalam Islam, (Bandung : Mizan, 2000), hlm. 27
4
mengawini mereka jika mereka suka, tanpa memberi mas kawin, atau
mengawinkannya dengan orang lain, atau melarang mereka kawin sama sekali
3
.
Selain itu sebagimana yang dijelaskan oleh al-Qur’an
4
mereka juga
mempunyai kebiasaan menguburkan bayi wanita mereka hidup-hidup.
Pembunuhan bayi hidup-hidup ini tidak hanya terjadi pada masyarakat Arab saja
melainkan juga terjadi pada kalangan masyrakat pedalaman dan di daerah padang
pasir di jazirah Arab. Perlakuan yang sangat biadab ini, tampaknya dipicu oleh
beberapa alasan
5
. Pertama, merupakan cara lain untuk mengotrol keseimbnagan
jumlah penduduk dalam masyarakat kesukuan. Yang berdampak pada sumberdaya
alam (untuk mencegah kemerosotan standar hidup mereka)
Kedua, sebagai ide pengorbanan yang diserukan oleh kepercayaan agama.
Sebagaiman kasus penyembelihan putra nabi Ibrahim, yang mana pada masa itu
keliru di dalam memahaminya. Mereka menganggap setiap keluarga harus
menyembelih salah seorang putranya, sebagaimana telah dijelaskan dalam al-
Qur’an
6
.
Ketiga, karena khawatir nantinya akan kawin dengan orang asing yang
kedudukannya lebih rendah disamping itu juga khawatir suatu saat anggota
sukunya kalah dalam peperangan sehingga berakibat pada anggota wanita yang
akan dijadikan sebagai gundik-gundik para musuh.
Keempat, pembunuhan bayi wanita secara sosiologis merupakan akibat kompleks
supremasi laki-laki.
Relasi gender yang tidak seimbang pada masa jahiliyyah telah
menempatkan laki-laki pada posisi sebagai penguasa yang karena kekuasaan
tersebut ia dapat mengarahkan kaum wanita serta kebebasan melakukan poligami
terhadap wanita-wanita yang tingkat sosialnya di bawah mereka, sedangkan

3
Asgar Ali Engineer, Hak-Hak Perempuan Dalam Islam (yogyakarta : LSPPA bekerja
sama dengan yayasn prakarsa, 1994), hlm. 27-28.

4
Al-Takwir (81) : 9
5
Alasan-Alasan yang disajikan diolah dari Nasaruddin Umar, Argumentasi kesetaraan
Gender…………, hlm 136-141
6
Al-An’am (6) :137
5
wanita hanya diperkenankan menjalankan praktek monogamy, itupun dengan laki-
laki yang dianggap sederajat.



B. Wanita Pada Masa Nabi
Dengan Islam nabi Muhammad SAW telah menggusur tradisi lama
masyarakat Arab yang dinilai tidak baik dan menggantinya dengan tradisi Islam
yang sangat menekankan egalitarianisme. Dalam kaitannya dengan kedudukan
wanita dalam Islam dapat di sebutkan beberapa pembaruan yang telah tercipta
pada zaman nabi Muhammad SAW
7
.
Pertama, beliau melakukan perombakan besar besaran terhadap cara pandng orang
Arab yang masih memandang wanita dengan cara pandang masa fir’aun. Pada
masa fir’aun wanita tidak berarti sama sekali,dan itupun terus bertahan sampai
dengan mendekati kerosulan beliau,maka di masa Islam wanita sangat di hormati.
Hal ini dapat kita lihat dalam perilaku rasulullah yang sangat membanggakan anak
perempuannya.
Kedua, ditingkat praktik, nabi memberi contoh bagaimana cara bersikap
terhadap wanita. Yang dapat kita lihat dari nabi adalah pergaulan yang baik
terhadap istri-istrinya. Tidak ada satu riwayat yang menginformasikan bahwa
rasulullah bersikap tidak adil dalam menghadapi istri-istrinya
8
. Rasulullah tidak
pernah bersikap keras terhadap istrinya. Karena bersikap baik terhadap istri
merupakan salah satu tanda bahwa orang itu adalah sebaik-sebaiknya manusia.
Ketiga, kedudukan wanita pada zaman nabi sangat di hormati. Mereka
terlibat dalam kegiatan-kegiatan Islam pada masa itu. Wanita mulai ikut datang ke
masjid, mendengarkan ceramah – ceramah nabi,dan ikut serta dalam
memperingati hari – hari besar Islam. Mereka tidak hanya pasif dan penurut,
melainkan aktif dan bicara dalam bidang keimanan dan masalah – masalah
lainnya. Praktek semacam ini membuat mereka berkemampuan sejajar dengan

7
Syafiq Hasyim,Hal-hal yang Tak Terpikirkan……,hlm,33 – 35.
8
lihat Fatima Merinissi,Menengok Kontroversi Peran Wanita Dalam Politik,alih bahasa
M.Masyhur Abadi,(Surabaya : Dunia Ilmu, 1997),hlm,150 – 165.
6
laki-laki yang kemudian memunculkan banyak periwayatan hadist dari kaum
wanita
9
.
Dengan demikian pada zaman nabi Muhammad SAW keterlibatan wanita
di public mencakup bidang agama, politik dan sosial budaya tidak dapat di
ragukan lagi.

C. Wanita pada Masa Pasca nabi
Kehadiran Islam mengakibatkan terjadinya perombakan secara radikal.
Hal itu tampak setelah wafatnya nabi Muhammad SAW. Yang mana terjadilah
suatu persengketaan tentang siapa yang akan menjadi pengganti nabi sebagai
pemimpin. Kemudian setelah nabi ada tiga masa yaitu masa sahabat, tabi’in, dan
pasca tabi’in. Pada masa nabi, wanita sangat di hormati dan mempunyai hak yang
sama seperti laki-laki akan tetapi pada masa pasca nabi,ada sebagian masyarakat
yang tidak begitu senang jika wanita ikut turun tangan dalam menangani suatu
masalah dan mengikuti kegiatan di luar rumah. Meskipun begitu, mereka (wanita)
tidak putus asa bahkan malah aktif dalam setiap ada kegiatan.
Kenapa mereka tidak begitu senang jika wanita ikut serta dalam masalah
yang mana menurut mereka itu merupakan tugas seorang laki-laki adalah,
dikarenakan mereka (kaum laki-laki ) takut kalau wanita akan , menjadi pemimpin
mereka. Persoalannya sekarang adalah wanita menjadi pemimpin?, terlepas dari
keberpihakan pada situasi politik yang berkembang akhir-akhir ini, bagaimana
menyikapi kenyataan empirik bahwa mereka memiliki kemampuan yang sama,
termasuk di dalamnya hak-hak politik mereka
10
.







9
Leila Ahmed, Wanita dan Gender dalam Islam,alih bahasa M.S. Nasrullah,(Jakarta :
Penerbit Lentera, 2000 ),hlm.87.
10
Ahmad Rofiq, Fiqh Kontekstual, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004 ),hlm.86
7



D. Wanita Menurut Hukum Islam
Kebanyakan kyai, ulama serta fuqoha’ (Juris Islam) melarang wanita menjadi
seorang pemimpin berdasarkan firman Allah SWT:
. ` ¸ · ..` ·` . · . -`
laki-laki itu pemimpin bagi kaum wanita
11
.
Mereka memahami ayat tersebut secara tekstual, bahwa term pemimpin identik
dengan presiden, karenanya hanya laki-laki yang berhak menjadi pemimpin (presiden).
Pemahaman ini dikuatkan dengan sebuah hadits sahih:
· ' ` · ` .` · ` · ' ` . ` ·` . · - ` ` ¸
Tidak akan bahagia kaum yang menyerahkan urusannya (mengangkat penguasa,
presiden) seorang wanita.
Untuk menguji akurasi pendapat ulama ini diperlukan pengkajian lebih intens,
benarkah dalam Islam itu wanita diharamkan menjadi pemimpin. Pertama-tama, Mengenai
ayat 34 surat an-Nisa’ yang dijadikan pijakan utama pengharaman pemimpin wanita.
Secara historis, menurut imam Abul Hasan Ali Ibn Ahmad Al Wahidi (w. 648 H) sebab
turun ayat tersebut bermula dari kisah Sa’ad Ibn Rabi’, seorang pembesar golongan
Anshor. Diriwayatkan bahwa istrinya (Habibah bintu Zaid ibnu Abi Hurairah) telah berbuat
nusyuz (durhaka, menentang keinginan Sa’ad untuk ber-setubuh) lalu ia ditampar oleh
Sa’ad. Peristiwa keluarga ini berbuntut dengan pengaduan Habibah kepada Nabi saw. Nabi
saw kemudian memutuskan untuk mengqishas Sa’ad, tetapi begitu habibah beserta ayahnya
mengayunkan beberapa langkah untuk melaksanakan qishash, Nabi saw memanggil
keduanya lagi, seraya mengkhabarkan ayat yang baru turun melalui Jibril, dan karenanya
qishash pun dibatalkan
12
. Dari sini, dapat dipahami bahwa pemakaian ayat tersebut untuk
mengharamkan kepemimpinan wanita diluar urusan ‘ranjang’ jelas memiliki validitas

11
Q.S. An-Nisa (4:34)
12
Abul Hasan Ali Ibn Ahmad Al-wahidi, Asbabun Nuzul, tahqiq: Syayyid Ahmad Shaqr,
Muassasah ‘Ulumul Qur’an, Beirut, 1987, hlm. 182-183.

8
argumentasi yang sangat lemah. Ayat tersebut juga bukan berupa kalimat instruksi (Amr)
namun hanya Khobariyah (berita) sehingga akurasi hukum wajib atau haram memiliki
kadar yang kurang efektif.
Kedua, mengenai hadist shahih yang diriwayatkan Imam Bukhari, jika
ditelusuri sebab kemunculnya, menurut Ahmad Ibn Ali Ibn Hajar al-Asqolani (w.
852 H) dalam karnya-nya Fathul Bari, hadist tersebut bermula dari kisah Abdallah
Ibn Hudzafah, kurir Rasullah saw yang menyampaikan surat ajakan masuk Islam
kepada Kisro Anusyirwan, penguasa Persia yang beragama Majusi. Ajakan
tersebut ditanggapi sinis dengan merobek-robek surat yang dikirim Nabi saw. Dari
laporan tersebut Nabi saw memiliki firasat bahwa Imperium Persia kelak akan
terpecah belah sebagaimana Anusyirwan merobek-robek surat. Tidak berapa lama
firasat itu terjadi, hingga akhirnya kerajaan tersebut dipimpin putri Kisro yang
bernama Buran. Mendengar realitas negeri Persia yang dipimpin wanita, Nabi saw
mengomentari:
· ' ` · ` .` · ` · ' ` . ` ·` . · - ` ` ¸
··

Komentar nabi itu sangat argumentatif, karena kapabilitas Buran yang lemah
dibidang kepemimpinan. Objek pembicaraan Nabi bukanlah kepada seluruh wanita, akan
tetapi tertuju kepada Ratu Buran, putri Anusyirwan yang kredibelitas kepemimpinannya
sangat diragukan. Terlebih di tengah percaturan Timur saat itu yang rawan peperangan
antar suku. Dari aspek subtansi nash hadist tersebut juga bukan kalimat nahy (larangan),
tetapi hanya Khabariah (berita). Karena itu, hukum haram pun tidak memiliki signifikan
yang akurat. Tidak berlebihan jika Ibn Jarir Al-Thabari menandaskan, bahwa pemimpin
wanita bukanlah larangan dalam Islam. Pendapat ini kemudian dikuatkan oleh sebagian
ulama’ Malikiyah dalam memberikan legitimasi Ratu Syagaratud Dur di Mesir.
Di sisi lain, pada masa nabi Sulaiman, ada negeri yang diabadikan sebagai salah
satu nama surat dalam al-quran yang dikenal “baldatun thoiyyibatun wa rabbun ghafur”
(negeri yang adil, makmur, aman dan sentosa), yaitu negeri Saba’. Negeri ini dipimpin
oleh penguasa wanita, Ratu Bilqis.

13
Ahmad ibn Ali ibn Hajar Al- Asqalani, Fathul Bari bi-Syarhi Shahihi Bukharihi, juz
XIII, (Dar al Fikr, tt.), hlm. 55-56.

9
Pada periode awal perkembangan Islam, Ummul Mukminin Siti Aisyah pernah
menjadi seorang panglima perang (pemimpin pertempuran) dalam perang Jamal. Realitas
semacam ini semakin melunturkan larangan wanita untuk tampil sebagai pemimpin.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan-pembahasan yang telah di jelaskan di atas dapat kita
simpulkan bahwa tidaklah mustahil seorang wanita menjadi pemimpin pada
zaman sekarang, karena pada dasarnya agama Islam tidak membedakan
kedudukan seorang wanita dengan laki-laki, semuanya sama-sama memiliki hak.
Jadi tidak ada istilah wanita hanya sebagai domestiknya saja, sedangkan laki-laki
berperan sebagai public. Jika kita tetap beranggapan begitu maka wanita tidak
akan pernah berprestasi dalam masyarakat, wanita akan selalu dan selalu dalam
kekuasaan laki-laki. Meskipun pada hakikatnya wanita itu terbuat dari tulang
rusuk seorang laki-laki, tapi wanita juga mempunyai hak untuk semuanya. Di
samping itu, meskipun wanita berhak menjadi presiden atau tokoh politik mereka
harus sadar akan kodratnya.













10



DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen Agama

Abul Hasan Ali Ibn Ahmad Al-wahidi, Asbabun Nuzul, tahqiq: Syayyid Ahmad
Shaqr, Muassasah ‘Ulumul Qur’an, Beirut, 1987

Ahmad Rofiq, Fiqh Kontekstual, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004.

Ahmad ibn Ali ibn Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari bi-Syarhi Shahihi Bukharihi,
juz XIII, Dar al Fikr, tt.

Asghor Ali Engineer, Asal-usul dan perkembangan Islam : Analisis, Pertumbuhan
Sosial Ekonomi, alih bahasa imam Baehaqi, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar,1999.

Asgar Ali Engineer, Hak-Hak Perempuan Dalam Islam Yogyakarta : LSPPA
bekerja sama dengan yayasan prakarsa, 1994.

Alasan-Alasan yang disajikan diolah dari Nasaruddin Umar, Argumentasi
kesetaraan Gender…………

Fatima Merinissi, Menengok Kontroversi Peran Wanita Dalam Politik, alih
bahasa M.Masyhur Abadi, Surabaya : Dunia Ilmu, 1997

Leila Ahmed, Wanita dan Gender dalam Islam,alih bahasa M.S. Nasrullah,
Jakarta : Penerbit Lentera, 2000.

Syafiq Hasyim, Hal-Hal Yang Tak Terpikirkan : Tentang isu-isu keperempuanan
dalam Islam, Bandung : Mizan, 2000.

11


WANITA DALAM ISLAM


Makalah ini Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Sosiologi Hukum Islam
Dosen Pengampu : Kholid Zulfa






Disusun Oleh :
Lilin Efa Agustina
0235 1231



JURUSAN AL AHWAL AL SYAKHSIYYAH
FAKULTAS SYARI’AH
UIN SUNAN KALIJAGA
12
YOGYAKARTA
2004

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful