You are on page 1of 15

7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini, akan dijelaskan mengenai teori – teori yang


relevan dengan penelitian serta study literature yang telah
dilakukan sebagai pedoman pelaksanaan penelitian

2.1 Pengukuran Kerja (Work Measurement)


Work measurement adalah proses menentukan waktu
yang diperlukan seorang operator dengan kualifikasi tertentu
untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan performansi
yang telah didefinisikan (www.1mu.ac.uk/lis/ mgtserv/ tools/
workmeas.htm, Tools, Tips & Technique, 2004)
Pengukuran waktu kerja (work measurement) ini akan
berhubungan dengan usaha – usaha untuk menetapkan waktu
baku yang dibutuhkan guna menyelesaikan suatu pekerjaan.
Waktu baku adalah waktu yang dibutuhkan oleh seorang
pekerja yang memiliki kemampuan rata – rata untuk
menyelesaikan suatu pekerjaan. Waktu baku ini sangat
diperlukan terutama sekali untuk :
o Man power planning ( perencanaan kebutuhan tenaga
kerja )
o Estimasi biaya – biaya untuk upah karyawan/pekerja
o Penjadwalan produksi dan penganggaran
o Perencanaan sistem pemberian bonus dan insentif
bagi karyawan berprestasi
o Indikasi keluaran (output) yang mampu dihasilkan
oleh seorang pekerja
Secara umum teknik pengukuran waktu kerja dapat
dibedakan menjadi 2 (Wignjosoebroto, 2000) yaitu :
1. Pengukuran waktu kerja dengan metode
pengukuran langsung
2. Pengukuran waktu kerja dengan metode tidak
langsung
8

2.2 Stop Watch Time Study


Pengukuran waktu kerja dengan jam henti diperkenalkan
pertama kali oleh Frederick W. Taylor sekitar abad 19. Metode
ini terutama sekali baik diaplikasikan untuk pekerjaan yang
berlangsung singkat dan berulang – ulang (repetitive). Secara
sistematis langkah – langkah untuk pelaksanaan pengukuran
waktu kerja dengan jam henti dapat dilihat pada gambar.

Langkah Persiapan
- Pilih & definisikan pekerjaan yang akan diukur &
akan ditetapkan waktu standarnya
- Informasikan maksud & tujuan pengukuran kerja
pada supervisor / pekerja
- Pilih operator dan catat semua data yang berkaitan
dengan sistem operasi kerja yang akan diukur
waktunya

Elemental Breakdown
Bagi siklus kegiatan yang berlangsung ke
dalam elemen - elemen kegiatan sesuai
dengan aturan yang ada

Pengamatan dan Pengukuran


- Laksanakan pengamatan & pengukuran waktu
sejumlah N' pengamatan untuk setiap siklus/
elemen kegiatan
- Tetapkan performance rating dari kegiatan yang N' = N + n
ditunjukkan operator

Cek Keseragaman dan Kecukupan Data


- Keseragaman data
Common Sense (subjektif)
Batas Kontrol
Buang data ekstrim
- Kecukupan data

Tidak

N' <= N

Ya

Waktu normal = waktu observasi rata2 x performance rating

Waktu standar = waktu normal x (100%/(100%-%allowance))


Output Standar = 1 / waktu standar

Gambar 2.1 Langkah – langkah Stopwatch Time Study


(Wignjosoebroto, 2000)

Untuk memperoleh hasil yang baik dan dapat dipercaya,


banyak faktor yang harus diperhatikan seperti yang berkaitan
9

dengan kondisi kerja, kerjasama yang ditunjukkan operator


untuk mau bekerja secara wajar pada saat diukur, cara
pengukuran, jumlah siklus kerja yang diukur dan lain- lain.
Pada aktivitas pengukuran kerja, operasi yang akan
diukur dibagi menjadi elemen – elemen yang lebih kecil
berdasarkan aturan tertentu. Aturan tersebut adalah:
1. Elemen – elemen kerja dibuat sedetail dan sependek
mungkin akan tetapi masih mudah untuk diukur
waktunya dengan teliti
2. Handling time seperti loading dan unloading time
harus dipisahkan dari machining time
3. Elemen – elemen kerja yang konstan harus dipisahkan
dengan elemen kerja yang variabel.
Pengukuran waktu kerja untuk masing – masing elemen kerja
yang telah ditentukan biasanya dilakukan berulang – ulang
untuk mendapatkan data yang valid. Untuk menetapkan
jumlah pengamatan dapat dilakukan dengan menggunakan
persamaan berikut :
2
N’ =  k / S N  x 2  ( x) 2  (1)
 

 x 

Dimana :
k = harga indeks yang nilainya tergantung dari tingkat
kepercayaan ( convidence level )
Tingkat kepercayaan 98 %, k = 1
Tingkat kepercayaan 95 %, k = 2
Tingkat kepercayaan 99 %, k = 3
S = Derajat ketelitian (degree of accuracy)
x = Data hasil pengamatan
Selain kecukupan data dengan menggunakan persamaan
(1) yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa data yang
diperoleh selama pengamatan haruslah seragam sebelum data
tersebut dapat digunakan untuk menetapkan waktu standar.
Tes keseragaman data dapat dilakukan dengan cara visual
dan/atau mengaplikasikan peta kontrol (control chart). Cara
visual dilakukan dengan sederhana, mudah dan cepat, dapat
10

dilakukan dengan hanya melihat data yang terkumpul dan


mengidentifikasikan data yang terlalu “ekstrim”, data ini untuk
selanjutnya tidak dapat digunakan. Untuk penggunaan peta
kontrol ,aka terlebih dahulu kita menentukan batas atas (BKA)
dan batas bawah (BKB) dari data yang ada. Data yang nilainya
diluar area BKA dan BKB sebaiknya tidak digunakan dalam
perhitungan waktu standar.
Batas kontrol = X  3
  1 / N N  x 2  ( x) 2 (2)
Dimana :
x : Rata – rata dari data pengamatan
N : Jumlah pengamatan yang telah dilakukan
 : Standar deviasi
Selain menggunakan persamaan di atas, uji keseragaman data
ini dapat dilakukan dengan bantuan software SPSS.

2.3 Perhitungan Waktu Standar


Langkah – langkah yang sebaiknya dilakukan sebelum
menentukan waktu standar yaitu :
1. Menentukan performance rating operator
2. Menentukan waktu normal
3. Menentukan allowance
2.3.1 Performance Rating
Performance rating adalah teknik untuk
menyamakan waktu hasil observasi terhadap seorang
operator dalam menyelesaikan suatu pekerjaan dengan
waktu yang diperlukan oleh operator normal dalam
menyelesaikan pekerjaan tersebut (Niebel, 1976 dalam
Anggraini 2004).
Ada banyak metode yang digunakan untuk
menentukan performance rating, Berikut merupakan
beberapa sistem untuk memberikan rating yang
umumnya digunakan (Wignjosoebroto, 1995):
o Skill and Effort Rating
11

Sistem yang diperkenalkan oleh Bedaux ini


berdasarkan pengukuran kerja dan waktu baku yang
dinyatakan dengan angka “Bs”. Prosedur
pengukuran kerja meliputi penentuan rating
terhadap kecakapan (skill) dan usaha – usaha yang
ditunjukkan operator pada saat bekerja, disamping
juga mempertimbangkan kelonggaran (allowances)
waktu lainnya. Bedaux menetapkan angka 60 Bs
sebagai performance standard yang harus dicapai
oleh seorang operator dan pemberian intensif
dilakukan pada tempo kerja rata – rata sekitar 70
sampai 85 Bs per jam.
o Westing House System’s Rating
Selain kecakapan (skill) dan usaha (effort) yang
telah dinyatakan oleh Bedaux sebagai faktor yang
mempengaruhi performance manusia, maka
Westing House menambahkan lagi dengan kondisi
kerja (working condition) dan keajegan
(consistency) dari operator di dalam melakukan
kerja. Untuk ini, westing house telah membuat
suatu tabel performance rating yang berisikan nilai
– nilai angka yang berdasarkan tingkatan yang ada
untuk masing – masing faktor tersebut sesuai
dengan yang tertera pada tabel (2.1)

Tabel 2.1 Tabel Performance Rating Sistem Westinghouse


(Sumber : Wignjosoebroto, Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu)
Skill Effort
+0.15 A1 Superskill +0.16 A1 Superskill
+0.13 A2 +0.12 A2
+0.11 B1 Excellent +0.10 B1 Excellent
+0.08 B2 +0.08 B2
+0.06 C1 Good +0.05 C1 Good
+0.03 C2 +0.02 C2
0.00 D Average 0.00 D Average
-0.05 E1 Fair -0.04 E1 Fair
-0.10 E2 -0.08 E2
-0.16 F1 Poo -0.12 F1 Poor
12

Lanjutan Tabel 2.1 Tabel Performance Rating dengan Sistem


Westinghouse
Condition Consistency
+0.06 A Ideal +0.04 A Ideal
+0.04 B Excellent +0.03 B Excellent
+0.02 C Good +0.01 C Good
0.00 D Average 0.00 D Average
-0.03 E Fair -0.02 E Fair
-0.07 F Poor -0.04 F Poor

o Synthetic Rating
Merupakan metode untuk mengevaluasi tempo
kerja operator berdasarkan nilai waktu yang telah
ditetapkan terlebih dahulu (predetermined time
value). Rasio untuk menghitung indeks
performance dapat dirumuskan sebagai berikut :
R=P/A
R = indeks performance atau rating faktor
P = predetermined time (menit)
A = rata – rata waktu dari elemen kerja yang diukur
o Performance Rating atau Speed Rating
Penetapan rating didasarkan pada satu faktor
tunggal yaitu operator speed, space atau tempo.
Nilai performance rating biasanya dinyatakan
dalam prosentase atau angka desimal dimana
performance kerja normal akan sama dengan 100
% atau 1.00.
Nilai performance rating selanjutnya digunakan
untuk menentukan waktu normal dari waktu
pengamatan.
2.3.2 Waktu Normal
Waktu normal untuk suatu operasi kerja adalah
semata – mata menunjukkan bahwa seorang operator
yang berkualitas baik akan bekerja menyelesaikan
pekerjaan pada kecepatan atau tempo kerja yang
normal. Dalam menentukan waktu normal, digunakan
persamaan sebagai berikut:
13

Wn = waktu pengamatan x performanc erating % (3)


100 %
2.3.3 Allowance
Pada kenyataannya operator tidak mampu untuk
bekerja secara terus menerus, ia akan memerlukan
waktu khusus untuk keperluan seperti personal needs,
istirahat dan alasan – alasan lain yang diluar kontrolnya.
Waktu khusus ini disebut sebagai waktu longgar atau
allowance. Allowance ini dapat diklasifikasikan menjadi
personal allowance, fatigue allowance, dan delay
allowance.
Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa tidak ada
operator yang mampu bekerja terus menerus, maka pada
saat menentukan waktu standar akan diperhitungkan
juga allowance yang diperlukan oleh operator. Dengan
demikian, waktu standar dapat ditentukan dengan
persamaan :
100%
Ws = waktu normal x (4)
100%  % allowance

2.4 Sistem Pemberian Insentif (Bonus) Kerja


Apabila waktu atau output standar telah berhasil
ditetapkan, maka manajemen akan memiliki kemudahan di
dalam membuat evaluasi mengenai performance kerja
operator (wignjosoebroto, 1995). Bagi pekerja yang mampu
bekerja melebihi standar yang telah ditetapkan harus diberi
penghargaan sesuai dengan prestasi yang ditunjukkan.
Tujuan utama dari pemberian insentif adalah untuk
meningkatkan dan menjaga motivasi pekerja dalam kaitannya
dengan upaya meningkatkan produktivitas kerjanya
(wignjosoebroto, 1995).
Dasar penetapan besarnya insentif yang dibayarkan
adalah efisiensi kerja operator yang diukur menurut output
yang dihasilkan dibandingkan dengan standar output yang
dihasilkan. Selain itu ada beberapa faktor tidak langsung yang
14

dapat digunakan sebagai dasari penetapan besarnya insentif,


seperti kehadiran (absensi), disiplin kerja, kreativitas dll.
2.4.1 Tata Cara Pembayaran Insentif
Beberapa cara perhitungan dan pembayaran insentif
menurut Wignjosoebroto, 1995 antara lain adalah :
A. Berdasarkan Hari Kerja
Pekerja dibayar menurut upah dasar yang tergantung
pada jumlah jam kerja dan besarnya ditentukan
berdasarkan evaluasi pekerjaan tidak peduli efisiensi
yang dicapai. Pekerja menerima upah yang besarnya
akan didasarkan pada jumlah jam kerja
B. Berdasarkan Output yang Dihasilkan
Pemberian insentif dengan cara ini akan memenuhi
konsep “operator bussiness of himself”. Pada
perencanaan pemberian insentif berdasarkan unit hasil
kerja didasarkan pada ide dasar pembayaran upah, yaitu
semua pembayaran upah operator secara langsung
terkait proporsional dengan unit output kerja yang
dihasilkan.
C. Berdasarkan Jam Kerja Standar yang Dicapai
Pemberian insentif dengan metodel ini sangat
berbeda dengan pemberian insentif berdasarkan ouput
yang dihasilkan. Perbedaan terletak pada adanya
jaminan kepada pekerja untuk tetap memperoleh upah
dasar pada suatu tingkat kepada pekerja untuk tetap
memperoleh upah dasar pada suatu tingkat output kerja
tertentu dan pemberian insentif untuk performance
yang bisa melampaui standar kerja tersebut.
D. Berdasarkan Prestasi Kerja Kelompok
Metode pemberian insentif yang telah disebutkan di
atas ditujukan untuk kerja individu. Program insentif
yang lebih menitikberatkan pada pemberian insentif per
individu akan memiliki kekurangan dalam bentuk
persaingan individu dan mengakibatkan semangat kerja
kelompok menjadi sulit tercapai.
15

Pemberian insentif berdasarkan kelompok, akan


didasarkan pada seluruh output yang dihasilkan oleh
kelompok. Output kelompok bisa diukur dengan
berbagai cara seperti berdasarkan output produksi yang
dihasilkan kelompok, safety record, product’s quality
record atau berbagai macam kriteria tolak ukur lain
yang ditetapkan oleh manajemen.
2.4.2 Kelebihan dan Kekurangan Metode Pemberian Insentif
Beberapa kelebihan dan kekurangan dari masing –
masing metode pemberian insentif adalah :

Tabel 2.2 Kelebihan dan Kekurangan Insentif


Jenis Insentif Kelebihan Kekurangan
Berdasarkan  Tidak ada pemaksaan  Kecepatan produksi
Hari Kerja mengikuti standar cenderung lambat.
 Sederhana, mudah  Jadwal produksi dan evaluasi
diaplikasikan dan bersifat sulit ditetapkan
langsung
Berdasakan  Memaksimalkan performance  Memerlukan persiapan yang
Output kerja individu. lebih lama.

Berdasarkan Jam  Memaksimalkan performance  Memerlukan persiapan yang


Keja kerja individu. lebih lama
Standar
Berdasarkan  Kerja kelompok akan terjaga.  Individu yang memiliki
Prestasi Kerja  Ketegangan akibat persaingan performance lebih, merasa
Kelompok individu bisa dihindari. tidak puas
 Untuk kelompok kurang dari
20 org
2.5 Sistem dan Model
2.5.1 Sistem
Pada buku karangan Simatupang (1995), Geoffrey
Gordon (1987) mendefinisikan sistem sebagai suatu
agregasi atau kumpulan obyek-obyek yang terangkai dalam
interaksi dan saling ketergantungan yang teratur.
Sedangkan Schmidt dan Taylor (1970) memberikan definisi
yang lebih luas lagi. Mereka menyatakan bahwa sistem
adalah suatu kumpulan komponen – komponen (entiti) yang
berinteraksi dan bereaksi antar atribut komponen atau
entitinya untuk mencapai suatu akhir yang logis.
16

Dengan demikian sistem dapat berupa kesatuan yang


terdiri atas jaringan kerja kausal dari bagian – bagian yang
saling bergantungan. Secara garis besar, sistem adalah
kumpulan obeyk – obyek yang saling berinteraksi dan
bekerja bersama – sama untuk mencapai tujuan tertentu
dalam lingkungan yang kompleks. Obyek – obyek yang
dimaksud di sini adalah bagian – bagian dari sistem, seperti
input proses, output, pengendalian umpan balik dan batasan
– batasan dimana setiap bagian ini mempunyai beberapa
nilai atau harga yang bersama – sama menggambarkan
keadaan sistem pada saat tertentu.
Beberapa klasifikasi sistem menurut Simatupang (1995)
1. Sistem alamiah dan Sistem Buatan
Sistem alamiah adalah sistem yang telah terbentuk
dengan sendirinya yang dapat ditemui di alam bebas.
Sedangkan sistem buatan adalah sistem yang
diciptakan dan dikendalikan dengan tujuan tertentu.
2. Sistem Terbuka dan Sistem Tertutup
Sistem terbuka adalah sistem yang mampu
berinteraksi dengan lingkungannya di mana
dimungkinkan adanya pertukaran materi, energi
maupun informasi dengan lingkungannya. Sedangkan
sistem tertutup tidak memiliki relasi atau interaksi
terhadap lingkungannya.
3. Sistem Statis dan Sistem Dinamis
Sistem statis adalah sistem yang tidak dipengaruhi
atau tidak bergantung pada perubahan waktu. Sistem
dinamis adalah sistem yang dipengaruhi oleh
perubahan waktu.
4. Sistem Adaptif dan Sistem Nonadaptif
Sistem adaptif memberikan reaksi terhadap
lingkungannya sedemikian rupa sehingga dapat
memperbaiki fungsi, prestasi atau kemungkinannya
bertahan hidup. Sedangkan sistem non adaptif tidak
memberikan reaksi terhadap lingkungannya.
17

2.5.2 Model
Menurut Ackoff, et al (1962) pengertian model dapat
dipandang dari tiga jenis kata yaitu kata benda, kata sifat,
dan kata kerja. Sebagai kata benda berarti sebuah
representasi (gambaran, perwakilan), misalnya : miniatur
sepeda motor yang merupakan gambaran dari sepeda motor
yang sebenarnya. Dalam proses permodelan, model
dirancang sebagai penggambaran operasi dari suatu sistem
nyata secara ideal guna menjelaskan atau menunjukkan
hubungan – hubungan penting yang terkait.
Pada dasarnya literatur tentang model sepakat untuk
mendefinisikan kata “model” sebagai suatu representasi
atau formalisasi dalam bahasa tertentu (yang disepakati)
dari suatu sistem nyata. Dengan demikian permodelan
adalah proses pembangun atau membentu sebuah model
dari sistem nyata.
Tujuan dari permodelan sistem antara lain :
1. Memperkecil biaya dan tenaga yang harus
dikeluarkan
2. Mempersingkat waktu percobaan
3. Memperkecil resiko
4. Model dari suatu sistem dapat berguna dalam
menggambarkan, memahami dan memperbaiki
sistem tersebut
5. Dapat mengetahui performansi dan informasi
yang ditunjukkan oleh suatu sistem
Klasifikasi model menurut Forrester (1961) adalah
sebagai berikut :
 Model Fisik atau Abstrak
Model fisik adalah model yang paling mudah
dimengerti. Model ini biasanya berbentuk replika.
Model abstrak adalah sebuah model yang
lebih banyak menggunakan simbol daripada
bentuk fisik. Model abstrak dibagi menjadi 3
macam, yaitu mental bahasa/verbal dan
18

matematik. Model mental merupakan model yang


dimiliki oleh semua manusia yang ada di dalam
benaknya untuk mewakili proses atau kejadian
yang terjadi di sekitarnya. Model bahasa atau
verbal adalah model komunikasi yang dilakukan
oleh manusia. Model matematik sebenarnya
model khusus dari model verbal, perbedaan
terletak pada penggunaan bahasa yang lebih tepat
yang diwakili oleh simbol – simbol atau lambang.
 Model Statis atau Dinamis
Kedua jenis model merupakan jenis model yang
mewakili situasi yang berhubungan terhadap
waktu
 Model Linear atau Non Linear
Pada sistem linear, pengaruh luar pada sistem
adalah murni penjumlahan. Sedangkan pada
sistem non linear pengaruh luar pada sistem tidak
hanya penjumlahan saja.
 Model Stabil atau Tidak Stabil
Sistem stabil adalah sistem yang cenderung
akan kembali ke kondisi semula setelah
mengalami gangguan atau sengaja diganggu.
Sedangkan sistem tidak stabil adalah sebuah
sistem jika telah mengalami gangguan tidak akan
kembali ke kondisi semula
 Model Steady State atau Transient
Model dapat dibagi lagi berdasarkan perilaku
mereka, apakah steady atau transient. Pada
kondisi steady state sebuah model yang
mengalami perulangan terhadap waktu akan
memperlihatkan pola perilaku yang sama dari
waktu ke waktu. Sedangkan perilaku transient
adalah fenomena sesaat yang tidak dapat terulang
lagi.
19

2.6 Simulasi
Simulasi adalah salah satu sistem pendukung keputusan
yang menawarkan pada pengambilan keputusan suatu
kemampuan untuk menghadapi adanya perubahan. Simulasi
dapat didefinisikan sebagai teknik analisa yang mengimitasi
performance dari sistem yang sebenarnya dalam suatu
lingkungan yang dikontrol untuk mengestimasi performance
yang sesungguhnya dari sistem (Hitler, Frederick S.
Lieberman, Gerald J. 1990 dalam Anggraini,2004)
Secara definisi sistem adalah kumpulan obyek yang
saling berinteraksi dan bekerja sama untuk mencapai tujuan
logis dalam suatu lingkungan yang kompleks. Ada pula yang
mendefinisikan sistem adalah kumpulan dari elemen – elemen
yang saling berinteraksi dan ada sesuatu yang mengikatnya
menjadi satu kesatuan, terdapat tujuan bersama sebagai hasil
akhir dan terdapat dalam suatu lingkungan yang kompleks dan
sistem merupakan kondisi nyata yang dapat kita amati secara
langsung (Simatupang, 1994).
Simulasi dapat digunakan sebagai alat yang dapat
memberikan informasi dalam kaitannya dengan pengambilan
keputusan. Simulasi ini sangat membantu dalam proses
pengambilan keputusan karena dapat mempersingkat waktu
untuk pengambilan keputusan, baik dengan bantuan simulasi
secara manual maupun dengan menggunakan software
Pada umumnya, simulasi dapat dipandang sebagai
aktivitas yang memiliki tiga fase (Pidd 1992, dalam Anggraini
2004)
1. Permodelan
Fase ini terdiri dari beberapa langkah, yaitu :
o Formulasi Masalah dan Rencana Studi
Setiap studi dimulai dengan pernyataan yang jelas
akan tujuan studi.
o Pengumpulan Data dan Pendefinisian Model
Analisis simulasi mengumpulkan informasi
tentang prosedur urutan operasi dari kontrol
20

logika sistem. Aktivitas ini termasuk yang tidak


mudah dilakukan, karena informasi ini tidak
hanya tersedia di satu tempat atau satu orang,
tetapi seluruh elemen dari sistem tersebut.
o Permodelan Sistem
Adanya proses untuk mempresentasikan sistem
nyata menjadi sebuah model yang berperilaku,
bentuk fisik dan karakteristik lain yang mirip
sistem nyata, berupa model matematisnya,
sehingga lebih mudah untuk dipahami. Model
yang baik adalah model yang efisien dan dapat
diaplikasikan dalam perangkat lunak komputer.
o Validasi
Validasi merupakan suatu proses perbandingan
antara model simulasi dengan sistem yang
disimulasikan. Sebuah model dapat diterima
apabila model tersebut memenuhi uji validasi.
2. Komputasi
Terdiri dari beberapa langkah berikut :
o Membuat Program atau Model Komputer
Setelah sebuah model yang mewakili sistem yang
diperhatikan dan akan disimulasikan dibuat,
maka disusun program komputer yang dapat
mensimulasikan perilaku model sistem. Program
simulasi yang telah dibuat harus cukup fleksibel
sehingga dapat mengakomodasikan alternatif –
alternatif yang mungkin akan dipertimbangkan.
Salah satu masalah penting dalam penggunaaan
model simulasi adalah mengetahui apakah model
merupakan representasi yang akurat dalam
memodelkan sistem yang menjadi obyek studi.
o Verifikasi
Verifikasi adalah proses mentransformasikan
simulasi model dengan program komputer
apakah telah benar, dengan kata lain apakah
21

model simulasi berjalan sesuai dengan keinginan


pembuat model. Teknik – teknik yang digunakan
dalam melakukan verifikasi program komputer
adalah sebagai berikut (Law & Kelton, 1983) :
- Menulis dan “debug” program komputer
untuk tiap modul atau sub-program. Pertama,
lebih baik dibuat suatu model yang
sederhana dan kemudian secara bertahap
dibuat lebih kompleks sesuai kebutuhan
- Melakukan tracing sehingga dapat
menelusuri sistem yang disimulasikan secara
jelas
- Menjalankan model dengan melakukan
penyederhanaan asumsi pada karakteristik
model yang sudah diketahui
- Membuat suatu display grafis yang mampu
menampilkan output simulasi pada saat
simulasi sedang berjalan
o Running Percobaan
Tujuan running percobaan ini adalah untuk
mengetahui atau mencari kesalahan dalam
program model simulasi yang telah dibuat dan
juga untuk tujuan validasi. Hasil yang berupa
angka dan animasi harus diperiksa dengan cermat
untuk mendeteksi kesalahan dalam asumsi model
dan dapat diperbaiki
3. Eksperimentasi
Tahap setelah dilakukannya pemrograman adalah
eksperimen, yaitu tahap menjalankan simulasi sistem
dengan berbagai kebijakan dalam bentuk parameter
sistem yang dirancang sebelumnya.