You are on page 1of 5

Tanaman Tahan sebagai pengendali hama

Rahmi Utami Hadiani


21309006
Program Magister Biomanajemen Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati
Institut Teknologi Bandung
Tugas Mata Kuliah : Ekologi kimia Serangga

Salah satu cara untuk menekan penggunaan pestisida kimiawi di alam adalah
dengan menggunakan tanaman tahan serangga. Menanam kultivar resisten
merupakan salah satu cara yang dinilai efektif, ekonomis dan aman bagi
lingkungan.
Konsep penggunaan tanaman tahan muncul dari pengetahuan bahwa beberapa
tanaman dan hewan memiliki sifat ketahanan terhadap serangan serangga, muncul
melalui karakteristik fisiologi, morfologi, dan atau karakteristik tingkah laku yang
diwariskan sebagai suatu bentuk pertahanan dari organism lain yang
menyerangnya. Pertahanan ini dapat terjadi secara alami, melalui proses seleksi
alam. Beberapa hasil persilangan menghasilkan progeny yang memiliki penampilan
fenotifik yang berbeda, dari yang mudah menerima serangan sampai yang memiliki
ketahanan terhadap serangan hama. Bentuk – bentuk ketahanan yang
dikembangkan, adalah ketahanan terhadap microorganism patogenik, nematode,
vertebrata, gulma dan arthropoda.

Sejarah tanaman tahan


Varietas gandum resisten “underhill” pertama kali diperkenalkan pada tahun 1792,
sebagai tanaman yang tahan terhadap lalat hessian, Mayetiola destructor, (J. N.
Havens)

Hubungan Serangga dan tanaman inang


Untuk mengetahui mekanisme dari tanaman tahan terhadap serangga, sebelumnya
kita perlu mengetahui hubungan dasar mengenai organism baik serangga maupun
tanaman .
Aspek serangga
Aspek serangga dari interaksi antara serangga dengan tanaman terdiri dari :
1. Menemukan habitat tanaman inang.
Serangga menemukan habitat tanaman inangnya melalui stimulus yang
terdapat di lingkungan yang terdiri dari cahaya, angin, gaya gravitasi, bahkan
terkadang temperature dan kelembaban merupakan salah satu penarik
penyebaran serangga ke habitatnya.
2. Menemukan tanaman inang
Setelah menemukan habitat tanaman inang, serangga akan menggunakan
stimulus untuk mendapatkan tanaman inang yang cocok. Beberapa factor
yang dapat menarik serangga untuk menemukan tanaman inangnya antara
lain, melalui warna, ukuran, dan bentuk. Salah satu cara serangga mengenali
inangnya, dengan cara mengenali kemochemical melalui antenna, tarsis, dan
alat mulut.
3. Penerimaan inang sebagai inang yang cocok.
Setelah menemukan inang, serangga mencicipi inang, misalnya pada ulat,
sebagai salah satu proses pengenalan inang oleh serangga. Beberapa factor
fisik yang mempengaruhi proses penerimaan inang, misalnya kondisi daun,
keras atau tidaknya permukaan daun, lapisan lilin pada permukaan daun,
pubescence ( kepadatan dan tipe bulu daun).
4. Sufficiency of the plant for requisities
Kecukupan tanaman sebagai inang, merupakan syarat terakhir dalam proses
makan serangga terhadap tanaman inang. Jika nutrient yang tersedia cukup
dan tidak terdapat zat toksik dalam tanaman, serangga akan menyelesaikan
proses makannya.
Aspek Tanaman
Sebagai penyedia stimulus fisikal dan chemical, tanaman memegang peranan
penting di dalam hubungan antara serangga dan tanaman inang.
Karakterisktik morfologi
Kandungan tanaman dapat memproduksi stimulus fisik juga penghalang aktivitas
serangga. Variasi pada ukuran daun, bentuk, warna, dan ada/tidaknya sekresi
glandular mungkin dapat membagi penerimaan serangga terhadap inangnya.
Pubescence dan jaringan yang kuat kadang – kadang menjadi factor pembatas
dalam proses mobilisasi dan pemangsaan oleh serangga.
Karakteristik Fisiologi
Karakteristik fisiologi yang mempengaruhi reaksi serangga,, biasanya berupa zat –
zat kimia yang dihasilklan pada proses metabolism tanaman.
Proses metabolism pada tanaman pada umumnya menghasilkan subtansi yang
dapat berfungsi sebagai katalis reaksi, membangun jaringan dan mensupply
energy. Tanaman membutuhkan ion anorganik dan penghasil enzim, hormone dan
karbohidrat, lipid, protein, dan komponen posfat untuk energy transfer.
Metabolit primer, mendukung proses pertumbuhan dan reproduksi dari tanaman.
Bagi serangga, beberapa metabolit primer ini dapat berfungsi sebagai feeding
stimulants, nutrient, juga zat toksik.
Secondary metabolit, bervariasi sekali di antara tanaman dan disebut sebagai zat
non esensial dalam metabolit primer. Akan tetapi secondary metabolit dapat pula
berfungsi sebagai stimulus bagi serangga.
Hubungan antara stimulus tanaman dan respon serangga merupakan komunikasi
kimiawi,zat kimia yang berperan disebut semiochemical yang terdiri dari :
- Feromon : yang mendukung komunikasi individu dalam spesies yang sama
- Allelochemical : yang mendukung komunikasi individu dalam spesies yang
berbeda.
a. Allomon : zat kimia utk pertahanan, memproduksi respon negatof
terhadap serangga dan mengurangi kesempatan untuk kontak serangga
dengan inang. Yang termasuk allomon diantaranya, repellent, oviposition
dan feeding detterent, dan zat toksik
b. Kairomon : memberi keuntungan terhadap serangga, mendukung proses
penemuan inang, oviposisi, dan feeding. Kairomon terdiri dari : atraktan,
arrestant, excitant dan stimulant.
Pemilihan Inang Tanaman
Proses pemilihan inang, biasanya melibatkan kedua primer dan sekunder
metabolit dari tanaman,. Aroma tanaman (host plant odor) atau rasa tanaman
didapat dari nutrient dan komponen asing yang diterima oleh complex sensor input.
Input ini diinterpretasikan oleh pusat nervous system serangga untuk
dikelompokkan apakah input tersebut berasal dari tanaman inang atau bukan.

MEKANISME RESISTENSI
Klasifikasi jenis resistensi genetic pada tanaman, adalah sebagai berikut :
Nonpreference
Nonpreference menunjukkan pada karakteristik tanaman yang dapat membuat
serangga menjauhi inangnya, antixenosis. Dengan karakteristik nonpreference yang
dimilikinya, perilaku serangga yang normal dapat dirusak dan dapat pula
mengurangi kesempatan serangga untuk menggunakan tanaman sebagai
makanannya, tempat oviposisi, dan juga sebagai shelter. Nonpreference dapat
diekspresikan pada sebuah kultivar baik melalui alelochemical juga melalui
karakteristik morfologi.
- Alelochemical nonpreference
Contohnya pada tanaman cucubita, yang menghasilkan cucurbutasin yang
dapat menjauhkan tanaman dari kumbang spesies Diabrotica.
- Morphological nonpreference
Mekanisme preference ini berasal dari struktur morfologi tanaman yang
menjadi penghambat datangnya serangga pada tanaman, misalnya
pubescence, karakteristik jaringan, dan juga adanya getah exudates.
Antibiosis
Mekanisme ini merupakan mekanise uatam yang sedang dikembangkan oleh para
pemulia tanaman dalam menghasilkan varietas tahan, mekanisme ini biasanya
merusak proses metabolism serangga dan seringnya melibatkan konsumi dari
metabolit tanaman. Senyawa allelochemical berasosiasi dengan antibiosis.
Beberapa contoh allelochemical yang memberikan keberhasilan diantaranya cyclic
hydromic acid pada jagung, gossypol dan komponen lain pada kapas, glikosida
steroid pada kentang, dan saponin pada alfalfa.
Gejala – gejala serangga yang terinfeksi oleh mekanisme antibiosis, di antaranya :
1. Kematian pada usia yang masih muda (sblm dewasa)
2. Pengurangan laju pertumbuhan
3. Meningkatnya kematian pada fase pupa
4. Dewasa berukuran kecil dengan fekunditas yang rendah.
5. Lama hidup stadia dewasa yang bekurang
6. Malformasi morfologi
7. Perilaku abnormal.

Toleransi.
Apparent resistance
Atau dikenal juga dengan resistensi ekologi atau pseudoresistensi. Karakteristk dari
resistensi ini bersifat sementara. Apparent resisten memiliki peran yang cukup
penting, dalam pengendalian hama, namun aplikasinya harus dilakukan secara hati
– hati, karena sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan.

Host evasion (penolakan inang)


Host evasion dipadukan dengan penanaman varietas yang early mature. Short
season varieties.
Induced Resistensi (penginduksi resistensi)
Factor – factor seperti pemupukan tanah dan perubahan pada kondisi kelembaban
tanah, dapat membuat tanaman lebih toleran terhadap serangan hama. Contohnya
nitrogen dan potassium, dapat mempengaruhi kehidupan serangga. Kandungan
nitrogen yang tinggi dalam tanah, dapat meningkatkan survival dari serangga
hama.
Phytoalexin digunakan untuk menginduksi resistensi tanaman. Phytoalexin adalah
suatu komponen yang diproduksi oleh tanaman, ketika tanaman tersebut terserang
hama atau penyakit.
Host escape

GENETIC NATURE OF RESISTANCE


Tipe epidemiologi dari resistensi
- Hubungan Gen ke Gen, pada banyak populasi hama, ada beberapa individu
yang memiliki gen virulen, yang dapat menjadikan suatu spesies serangga
menjadi resistensi dan lebih dapat menyerang tanaman.
Pada konsep Gen – ke Gen, suatu kultivar dapat menjadi kultivar tahan
dikarenakan, mereka mempunyai Allel resisten pada gen locus yang
correspondence pada alel avirulen .
Beberapa serangga memiliki variasi dalam gen ketahanan pada suatu
kultvar, hal ini disebut “biotipe”. Salah satu serangga yaitu hessian fly
memiliki 9 biotipe.

- Resistensi horizontal dan vertical


Resitensi vertical menunjuk pada suatu kultivar yang memiliki resistensi yang
terbatas hanya pada satu atau beberapa jenis genotif hama.
Resistensi horizontal kultivar yang memiliki resistensi terhadap banyak jenis
genotif hama (kisarannya luas). Agak sulit untuk dilakukan pemuliaan, akan
tetapi penggunaan resistensi horizontal merupakan salah satu cara efektif di
dalam pest management , dikarenakan sifatnya yang lebih stabil di
lingkungan.

Pembagian resistensi berdasarkan jenis pewarisannya.


- Resistensi oligogenik/major gene resistance
Dibuat dari sati atau hanya beberapa gen saja. Tipe ini biasanya digunakan
untuk memproduksi ketahanan vertical.
- Polygenic resistance
Diwariskan dengan banyak gen. minor gene resistensi. Resistensi diwariskan
melalui mechanism yang melibatkan banyak gen yang biasanya bersifat
sangat kompleks dan berasosiasi dengan perlakuan kuantitatif lainnya
seperti vigor tanaman dan lahan. Horizontal resistensi.
- Resistensi sitoplasmik
Terjadi karena mutasi yang terjadi di pada subtansi sel sitoplasma. Biasanya
resistensi tanaman ini lebih kepada pathogen, bukan terhadap serangga
hama.

Faktor yang mempengaruhi ekspresi ketahanan


Factor fisik
- Temperature
- Intensitas cahaya
- Kesuburan tanah
Faktor biologi
- Biotipe
- Resistensi tanaman

Langkah – langkah dalam membuat varietas resisten