You are on page 1of 32

edisi I tahun 2015

Peran Tata Ruang dan Pertanahan dalam Pembangunan
Kawasan Perbatasan sebagai Prioritas RPJMN 2015 - 2019
Kebijakan Pembangunan Kawasan Perbatasan 2015 – 2019
Ir. R. Aryawan Soetiarso Poetro, MSi
Direktur Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal, Kementerian PPN/Bappenas

Materi Teknis Revisi Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Berdasarkan Perspektif
Pengurangan Risiko Bencana
Kajian Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan, Kementerian PPN/Bappenas

Internalisasi Nawacita: Membangun Kawasan Perbatasan dalam perspektif Tata Ruang dan
Pertanahan
Ir. Budi Situmorang, MURP

Direktur Tata Ruang Wilayah Nasional, Kementerian Agraria dan Tata Ruang

Entikong: gerbang terdepan perbatasan Indonesia
Melihat dari Dekat

42

buletin tata ruang & pertanahan

Pelindung
Deputi Bidang Pengembangan Regional dan
Otonomi Daerah
Penanggung Jawab
Direktur Tata Ruang dan Pertanahan
Pemimpin Redaksi
Santi Yulianti
Dewan Redaksi
Mia Amalia
Uke M. Hussein
Nana Apriyana
Rinella Tambunan
Editor
Gina Puspitasari
Rini Aditya Dewi
Redaksi
Hernydawati
Aswicaksana
Raffli Noor
Elmy Yasinta Ciptadi
Idham Khalik
Cindie Ranotra
Riani Nurjanah
Aulia Oktriana Lafiadji
Zaharatul Hasanah
Meddy Chandra
Gita Nurrahmi
Fadiah Adlina Ulfa
Reza Nur Irhamsyah
Edi Setiawan
Desain & Tata Letak
Dodi Rahadian
Indra Ade Saputra
Distribusi & Administrasi
Sylvia Krisnawati
Redha Sofiya
Pratiwi Khoiriyah
Alamat Redaksi
Direktorat Tata Ruang dan
Pertanahan, Kementerian PPN/
Bappenas
Jl. Taman Suropati No. 2
Gedung Madiun Lt. 3
Jakarta 10310
telp: 021 - 392 66 01
email: trp@bappenas.go.id
website: www.trp.or.id
portal: www.tataruangpertanahan.com
facebook: trp.bappenas
Redaksi menerima kiriman tulisan/artikel dari
luar, Isi berkaitan dengan penataan ruang dan
pertanahan dan belum pernah dipublikasikan.
Panjang naskah tidak dibatasi.
Sertakan identitas diri, Redaksi berhak
mengeditnya.
Silakan kirim ke alamat di atas

dari redaksi
Tidak terasa kita berjumpa kembali. Pada kesempatan pertama kami
Keluarga Besar Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan Bappenas
menyampaikan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah. Mohon Maaf Lahir
dan Batin.
Pada edisi ini, kami menyajikan tema Peran Tata Ruang dan Pertanahan
dalam Pembangunan Kawasan Perbatasan sebagai Prioritas RPJMN
2015-2019. Ada apa dengan kawasan perbatasan?. Tentu saja perhatian
terhadap kawasan perbatasan bukan tanpa alasan. Sebagaimana diketahui
bahwa salah satu agenda prioritas yang tercantum dalam Nawacita adalah
“Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah dan desa
dalam kerangka negara kesatuan”. Dalam konteks inilah kemudian kawasan
perbatasan dimaknai sebagai salah satu daerah pinggiran. Namun yang
lebih penting lagi adalah adanya keinginan pemerintahan saat ini menjadikan
kawasan perbatasan sebagai beranda depan atau bagian dari etalase
Indonesia.
Untuk mewujudkan agenda maupun keinginan pemerintah tersebut, banyak
pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Salah satunya adalah melakukan
pembenahan terhadap kondisi tata ruang dan pertanahan kawasan
perbatasan. Untuk meningkatkan pemahaman dan wawasan kita, Buletin
TRP kali ini mengetengahkan beragam materi mulai dari wawancara dengan
Direktur Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal Bappenas yang selama ini
mengawal pembangunan kawasan perbatasan, tulisan dari Direktur Tata
Ruang Wilayah Nasional Kementerian ATR/BPN yang banyak membahas
RPJMN, dan dilengkapi dengan melihat dari dekat salah satu kawasan
perbatasan yang sudah sangat dikenal yaitu Entikong. Selain itu, disajikan
pula Peraturan Presiden terkait RTR Kawasan Perbatasan di Provinsi NTT
sebagai contoh pengaturan tata ruang kawasan perbatasan. Tidak lupa juga
disertakan ringkasan buku terkait Pengembangan Kawasan Perbatasan.
Diharapkan sajian kali ini dapat menambah khasanah pengetahuan pembaca
terhadap pentingnya pembangunan kawasan perbatasan dan tentunya peran
tata ruang dan pertanahan dalam pembangunan kawasan perbatasan.
Akhir kata, kami selalu menantikan kritik dan saran dari para pembaca demi
peningkatan kualitas Buletin TRP.
Selamat membaca. Salam

edisi I tahun 2015

daftar isi
2

Peran Tata Ruang dan Pertanahan dalam Pembangunan Kawasan
Perbatasan sebagai Prioritas RPJMN 2015 - 2019
Kebijakan Pembangunan Kawasan Perbatasan 2015 – 2019
Ir. R. Aryawan Soetiarso Poetro, MSi
Direktur Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal, Kementerian PPN/Bappenas

7

Penyusunan Rencana Tata Ruang Berdasarkan Perspektif Pengurangan
Resiko Bencana: Materi Teknis Revisi Pedoman

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sebagai
Rencana Induk Pembangunan: Lesson Learned dari Pelaksanaan RPJMN
2010-2014

15

Ir. Budi Situmorang, MURP
Direktur Tata Ruang Wilayah Nasional, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional

19
Entikong: gerbang terdepan perbatasan Indonesia
Melihat dari Dekat

1

daftar isi

13

koordinasi trp

20

sosialisasi peraturan

22

dalam berita

27

ringkas buku

buletin tata ruang & pertanahan

1

wawancara

Kebijakan Pembangunan
Kawasan Perbatasan 2015 – 2019

Ir. R. Aryawan Soetiarso Poetro, MSi
Direktur Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal, Kementerian PPN/Bappenas

K

awasan Perbatasan sebagai pintu gerbang negara yang berbatasan langsung dengan negara tetangga memiliki peran dan posisi yang
sangat strategis. Faktanya, masih banyak pekerjaan yang harus dibenahi dan dilakukan untuk mewujudkan kawasan perbatasan sebagai
halaman depan negara yang berdaulat, berdaya saing, dan aman, sebagaimana tercantum dalam RPJMN 2015 – 2019. Untuk itu, redaksi
mewawancarai Direktur Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal – Bappenas, Ir. R. Aryawan Soetiarso Poetro, MSi, untuk mengupas lebih
dalam kebijakan pembangunan kawasan perbatasan 2015 – 2019. Berikut hasil wawancara redaksi.

Pembangunan kawasan perbatasan harus memenuhi prinsip
sustainability, prosperity, dan security. Bagaimana strategi
memenuhi prinsip tersebut?
Pertama, prosperity atau kesejahteraan masyarakat perbatasan.
Ini dilakukan dengan mengorientasikan agar seluruh upaya
pembangunan perbatasan ditujukan untuk meningkatkan kegiatan
ekonomi dan lapangan kerja masyarakat, memberikan pelayanan
sosial dasar masyarakat perbatasan, dan berkembangnya budaya
dan kekerabatan masyarakat kedua Negara di perbatasan.
Kedua, prinsip security atau pertahanan dan keamanan perbatasan,
dilaksanakan dengan meningkatkan intensitas dan kualitas patroli
pengamanan perbatasan di darat dan laut termasuk menambah
jumlah personil petugas pengamanan, meningkatkan kualitas pospos pengamanan perbatasan (pamtas), penegasan dan perapatan
tanda batas darat, sosialisasi tanda batas laut bagi nelayan
dan masyarakat penghuni pulau terluar. Prinsip terakhir adalah
sustainability (keberlanjutan lingkungan). Mengingat kawasan
perbatasan pada umumnya masih terjalin keseimbangan lingkungan
antara kehidupan masyarakat dengan lingkungan sekitarnya, maka
setiap rencana pembangunan infrastruktur, pelaksanaan investasi
ekonomi, dan pelayanan dasar baik di hulu maupun hilir harus
mempertimbangkan dan memperhitungkan tata kelola lingkungan
kawasan sekitar, baik kawasan hutan lindung, lingkungan budidaya,
dan lingkungan permukiman.

yang menunjukkan kedaulatan energi di perbatasan masih
rendah.
Dari aspek telekomunikasi dan informasi juga masih mengalami
krisis kedaulatan. Frekuensi termonitor di Entikong (kabupaten
Sanggau) untuk siaran radio dan televisi hanya ada 3 (tiga)
lembaga penyiaran Indonesia, sedangkan Malaysia ada 45
lembaga penyiaran. Minimnya akses transportasi ini juga
menjadi kendala dalam pelayanan dasar pendidikan dan
kesehatan, karena masyarakat harus berjalan kaki cukup jauh;
2. Belum efektifnya pengembangan Pusat Kegiatan Strategis
Nasional (PKSN) sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di
perbatasan. Ditargetkan 10 (sepuluh) PKSN yang akan
dipercepat perkembangannya yaitu: Paloh-Aruk (kab Sambas),
Entikong (kab Sanggau), Nanga Badau (kab Kapuas Hulu),
Atambua (kab Belu), Jayapura (Kota Jayapura) untuk wilayah
daratan; Sabang (kota Sabang), Ranai (kab Natuna), Tahuna
(kab Sangihe), dan Saumlaki (kab Maluku Tenggara Barat) untuk
wilayah kepulauan;
3. Masih terdapat segmen batas wilayah negara Indonesia dengan
negara tetangga yang belum disepakati (overlapping claim
areas), yaitu 10 outstanding border problem (OBP) di perbatasan
darat Kalimantan-Serawah dan Sabah, dan 3 (tiga) unresolved di
perbatasan darat NTT-RDTL;

ISU DAN PERMASALAHAN KAWASAN PERBATASAN

RPJMN 2015 – 2019 telah ditetapkan melalui Peraturan Presiden
No. 2 Tahun 2015. Terkait dengan kawasan perbatasan, apa isu
dan permasalahan di kawasan perbatasan yang ingin dijawab/
diselesaikan dalam RPJMN 2015 – 2019?
1. Keterisolasian kawasan perbatasan negara merupakan isu
utama perbatasan, karena keterbatasan infrastruktur dasar
wilayah, yaitu transportasi, energi (listrik dan BBM), komunikasi
dan informasi, menyebabkan lambannya pertumbuhan ekonomi,
dan minimnya pelayanan sosial dasar, khususnya pendidikan
dan kesehatan. Keterisolasian kawasan perbatasan negara,
terutama terhadap 737 desa di 187 kecamatan terdepan/terluar
merupakan masalah utama kawasan perbatasan sebagai akar
penyebab tidak sejahteranya masyarakat perbatasan.
Keterisolasian ini menyebabkan masyarakat perbatasan menjadi
bergantung kebutuhan pokoknya terhadap negara tetangga
terutama perbatasan RI-Malaysia. Tidak adanya akses jalan
menjadi kendala PLN untuk memasang instalasi energi di desadesa di perbatasan. Sebagai contoh, sumber energi perbatasan
Kalimantan juga masih dipasok dari negara tetangga Malaysia,

2

buletin tata ruang & pertanahan

Sumber: Dokumentasi Direktorat TRP, Bappenas

Sumber: Dokumentasi Direktorat TRP, Bappenas

4. Pengamanan dan pengelolaan batas wilayah laut, darat, dan
udara di kawasan perbatasan negara belum optimal, sehingga
masih banyak terdapat aktivitas ilegal di wilayah perbatasan
Indonesia. Terkait pengamanan ini, sarana dan prasarana
pengamanan kita masih minim fasilitas terutama pos pamtas,
sarana pengawasan patok batas dan pelintas batas ilegal, serta
sarana patroli pengawasan laut yang masih rendah kapasitas
kapalnya;
5. Pengelolaan perbatasan negara belum terintegrasi
antarprogram, antarK/L, sehingga pembangunan perbatasan
masih dominan dengan pendekatan parsial/sektoral atau
masih jalan sendiri-sendiri antarK/L. Belum optimalnya upaya
integrasi menjadi tantangan tersendiri bagi BNPP untuk
semakin memperkuat instrumen integrasi melalui Rencana
Induk Pengelolaan Perbatasan Negara tahun 2015-2019 dan
semakin mengefektifkan mekanisme koordinasi antarK/L untuk
mengintegrasikan program masing-masing K/L.

Apa penyebab keterisolasian kawasan perbatasan negara belum
dapat terselesaikan hingga tahun 2014 lalu?
Penyebab keterisolasian perbatasan, terutama keterisolasian
terhadap aspek transportasi di darat, adalah minimnya jalan
yang dibangun untuk membuka akses kampung, desa di
dalam kecamatan lokasi prioritas (LOKPRI). Disamping itu, tidak
terkoneksinya antara jalan strategis nasional, jalan provinsi, dan
jalan kabupaten menuju kecamatan Lokpri tersebut. Jalan yang
menuju kampung, desa pada umumnya merupakan jalan non
status, dan jalan ini tidak ada yang memiliki kewenangan untuk
membangunnya, karena Kementerian PU-Pera hanya memiliki
kewenangan membangun jalan strategis dan jalan nasional. Hal ini
perlu segera dicarikan solusi siapa yang berwenang membangun
jalan non status ini. Terlebih sekarang UU 23/2014 mengamanatkan
bahwa pemerintah wajib membangun infrastruktur di perbatasan
negara. Demikian halnya untuk transportasi di pulau-pulau
kecil, transportasi perintis disamping frekuensinya masih kurang
juga kapal perintis hanya melayani sampai kota kabupaten,
sedangkan yang melayani dari kota kabupaten ke pulau-pulau
kecil di sekitarnya tidak ada, Jikapun diusahakan dari Pemda
akan terkendala oleh minimnya anggaran untuk pengadaan kapal
tersebut.

Perihal konflik perbatasan negara, bagaimana kondisinya atau
peningkatan penyelesaian konflik tersebut hingga akhir 2014?
Konflik di perbatasan yang masih sering terjadi di perbatasan
negara adalah antara NTT dengan Republik Demokratik Timor
Leste (RDTL). Konflik ini terjadi berkaitan dengan hak atas tanah
antara masyarakat kedua negara. Akar penyebabnya adalah belum
jelasnya beberapa segmen batas negara dan ketidakpahaman batas
negara oleh masyarakat.
NAWACITA JOKOWI – JK DALAM PENGEMBANGAN KAWASAN
PERBATASAN

Terdapat 9 (sembilan) agenda prioritas Jokowi – JK atau yang
disebut Nawacita. Agenda ke berapa Nawacita yang mendorong
pembangunan perbatasan serta berupaya mengatasi permasalahan
di kawasan perbatasan?
Pembangunan kawasan perbatasan tertuang dalam Nawacita
ketiga, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan
memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara
kesatuan. Ini ditunjang juga dengan Nawacita keenam dan ketujuh,
yaitu meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar
internasional dan mewujudkan kemandirian ekonomi dengan
menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi dan domestik.

Dalam sebuah berita media cetak, Presiden Jokowi menyampaikan
bahwa akan menjadikan kawasan perbatasan sebagai bagian
dari etalase Indonesia. Bagaimana RPJMN 2015 – 2019
menerjemahkan hal tersebut ?
Percepatan pengembangan kawasan perbatasan menjadi
beranda depan negara ditempuh melalui strategi pembangunan
yang tertuang dalam RPJMN yaitu: (1) pengembangan pusat
pertumbuhan ekonomi kawasan perbatasan negara; (2)
pembangunan sumberdaya manusia (SDM) yang handal; (3)
pembangunan konektivitas simpul transportasi utama pusat
kegiatan strategis nasional dengan desa-desa di kecamatan lokasi
prioritas perbatasan dan kecamatan sekitarnya; (4) melakukan
transformasi kelembagaan lintas batas negara, yaitu Custom,
Immigration, Quarantine, Security (CIQS) sesuai dengan standar
internasional dalam suatu sistem pengelolaan yang terpadu; (5)
peningkatan kualitas dan kuantitas, serta standarisasi sarana-

buletin tata ruang & pertanahan

3

prasarana pertahanan dan
pengamanan perbatasan laut
dan darat, serta melibatkan
peran aktif masyarakat
dalam mengamankan batas
dan kedaulatan negara; (6)
penegasan batas wilayah
negara di darat dan laut melalui

Prioritas Pengembangan PKSN

kesejahteraan masyarakat
(prosperity approach), yang
difokuskan pada 10 (sepuluh) Pusat
Kegiatan Strategis Nasional (PKSN)
dan 187 Kecamatan Lokasi Prioritas
(Lokpri) di 41 Kabupaten/Kota dan
13 Provinsi .

Dalam sasaran pembangunan
kewilayahan dan antarwilayah,
pengembangan kawasan perbatasan
percepat penyelesaian status
dilakukan salahsatunya melalui
kewarganegaraan pelintas
pengembangan pusat ekonomi
batas; (8) peningkatan arus
perbatasan (Pusat Kegiatan Strategis
perdagangan ekspor-impor
Nasional/PKSN) di beberapa lokasi.
Sumber: Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal, Bappenas
di perbatasan, kerjasama
Dimana saja lokasi tersebut, dan apa
perdagangan, kerjasama sosial-budaya, dan kerjasama pertahanan
saja kriteria untuk penentuan lokasi tersebut?
pra-investigation, refixation,
maintanance (IRM); (7)

dan keamanan batas wilayah dengan negara tetangga; dan (9)
penerapan kebijakan desentralisasi asimetris untuk kawasan
perbatasan negara dalam memberikan pelayanan publik dan
distribusi keuangan negara.

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PERBATASAN DALAM RPJMN
2015-2019

Secara singkat apa tujuan/visi yang ingin dicapai dari
pengembangan kawasan perbatasan dalam RPJMN 2015 – 2019?
Sasaran yang ingin dicapai yang termuat dalam RPJMN 20152019 adalah: (1) berkembangnya 10 (sepuluh) PKSN sebagai
pusat pertumbuhan ekonomi, simpul utama transportasi wilayah,
pintu gerbang internasional/pos pemeriksaan lintas batas kawasan
perbatasan negara, dengan 16 PKSN lainnya sebagai tahap
persiapan pengembangan; (2) meningkatnya efektifitas diplomasi
maritim dan pertahanan, dan penyelesaian batas wilayah negara
dengan 10 (sepuluh) negara tetangga di kawasan perbatasan
laut dan darat, serta meredam rivalitas maritim dan sengketa
teritorial; (3) menghilangnya aktivitas illegal fishing, illegal
logging, human trafficking, dan kegiatan ilegal lainnya, termasuk
mengamankan sumberdaya maritim dan Zona Ekonomi Eksklusif
(ZEE); (4) meningkatnya keamanan dan kesejahteran masyarakat
perbatasan, termasuk di 92 pulau-pulau kecil terluar/terdepan;
dan (5) meningkatnya kerjasama dan pengelolaan perdagangan
perbatasan dengan negara tetangga, ditandai dengan meningkatnya
perdagangan ekspor-impor di perbatasan, dan menurunnya
kegiatan perdagangan ilegal di perbatasan.

Pengembangan Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) di
kawasan perbatasan untuk 2015-2019 terdapat di 10 (sepuluh)
lokasi dan 16 lokasi persiapan pengembangan yang ditetapkan
sesuai dengan kriteria PKSN dalam UU 26/2008 tentang Rencana
Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), yaitu (a) pusat perkotaan
yang berpotensi sebagai pos pemeriksaan lintas batas dengan
negara tetangga; (b) pusat perkotaan yang berfungsi sebagai
pintu gerbang internasional yang menghubungkan dengan negara
tetangga; (c) pusat perkotaan yang merupakan simpul utama
transportasi yang menghubungkan wilayah sekitarnya; dan/atau
(d) pusat perkotaan yang merupakan pusat pertumbuhan ekonomi
yang dapat mendorong perkembangan kawasan di sekitarnya.

Adakah skema percepatan pembangunan, terutama kawasan
perbatasan?
Skema percepatan pembangunan di kawasan perbatasan
dilaksanakan dengan memadukan pengembangan PKSN sebagai
pusat pertumbuhan dengan lokpri-lokpri sekitarnya sebagai
hinterland.

Di dalam strategi pembangunan, akankah diterapkan kebijakan
khusus dan penataan pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB)
di kawasan perbatasan? Kebijakan khusus seperti apa yang akan
diterapkan?
Tidak ada kebijakan khusus pada Daerah Otonom Baru (DOB)
karena kawasan perbatasan negara secara definitif yang tertuang

Apa arah kebijakan dan strategi
yang dilakukan untuk mempercepat
pengembangan kawasan
perbatasan, serta mengatasi
berbagai masalah yang ada?
Pengembangan kawasan
perbatasan negara yang selama
ini dianggap sebagai pinggiran
negara, diarahkan dalam RPJMN
2015-2019 menjadi halaman
depan negara yang berdaulat,
berdaya saing, dan aman.
Pendekatan pembangunan kawasan
perbatasan terdiri: (i) pendekatan
keamanan (security approach),
dan (ii) pendekatan peningkatan

4

buletin tata ruang & pertanahan

Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara mengunjungi Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara
Sumber: www.beritadaerah.co.id

Sumber: Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal, Bappenas

dalam UU 23/2014 adalah kecamatan-kecamatan terluar yang
berbatasan langsung dengan negara lain.

Kekhususan masalah yang terjadi di kawasan perbatasan adalah
status kewarganegaraan masyarakat perbatasan? Bagaimana
kondisi saat ini? Dan strategi apa yang dicanangkan untuk
menyelesaikan masalah tersebut?
Kondisi status kewarganegaraan masyarakat di kawasan
perbatasan banyak yang memiliki status kewarganegaraan ganda,
seperti yang terjadi di Miangas dan Nunukan. Dalam menangani
permasalahan tersebut, sesuai dengan strategi pembangunan yang
termuat dalam RPJMN Buku I akan dipercepat penyelesaian status
kewarganegaraan pelintas batas melalui identifikasi, pendataan,
serta verifikasi status kewarganegaraan masyarakat perbatasan.

Dalam mendukung kebijakan dan program – program, terutama
untuk pengembangan kawasan perbatasan, adakah anggaran yang
dialokasikan khusus untuk kawasan perbatasan? Seperti apa? Apa
skema pendanaan yang digunakan?
Tidak ada alokasi khusus dalam anggaran pembangunan
kawasan perbatasan. Penganggaran dilaksanakan oleh K/L terkait
dalam komponen kegiatannya yang dialokasikan di kawasan
perbatasan yang kemudian dimuat dalam Rencana Aksi BNPP.
BNPP sendiri akan melaksanakan filling the gap bila K/L tidak
dapat melaksanakan pembangunan tetapi dengan anggaran yang
terbatas.
KOORDINASI LINTAS SEKTOR

Pengembangan kawasan perbatasan bersifat lintas sektor, yaitu
pendidikan, kesehatan, energi, pertanian. Dari sisi perencanaan,
bagaimana mengintegrasikan sektor – sektor tersebut?
Dalam pembangunan kawasan perbatasan, tidak dapat dilakukan
oleh satu sektor sehingga perlu adanya koordinasi. Pembangunan

tersebut dikoordinasikan pelaksanaannya oleh Kemenko Polhukam
dan BNPP serta Bappenas sebagai koordinator perencanaan,
bagi Kementerian/lembaga pemerintah non kementerian (K/
LPNK) yang menjadi anggota BNPP sebagaimana tertuang dalam
Perpres No. 12 Tahun 2010 tentang Badan Nasional Pengelola
Perbatasan. Peran koordinasi lintas sektor dalam pembangunan
kawasan perbatasan terbagi dalam 10 (sepuluh) sasaran yang
memuat aspek kesejahteraan masyarakat dan aspek keamanan
di perbatasan. Sepuluh sasaran yang dikoordinasikan, yaitu:
(1) penyediaan lahan dan kebijakan tata ruang; (2) percepatan
penyediaan infrastruktur dasar; (3) peningkatan nilai tambah dan
daya saing produk serta penyediaan sarpras, termasuk invenstasi,
ekspor-impor; (4) penyediaan pelayanan pendidikan, kesehatan
dan perumahan; (5) perkuatan koordinasi kelembagaan BNPP; (6)
pengembangan Customs, Immigration, Quarantine, Security (CIQS)
Terpadu; (7) penyusunan regulasi dan perdagangan lintas batas
negara; (8) peningkatan peran serta dalam menjaga kedaulatan
megara, termasuk penegasan status warga negara; (9) peningkatan
koordinasi dan peningkatan sarpras hankam batas darat dan
batas laut negara; dan (10) penguatan infrastruktur diplomasi dan
perundingan.

Dalam hal implementasi, adakah instrumen yang disiapkan
untuk mengawal komitmen seluruh sektor membangun kawasan
perbatasan? Adakah instrumen peraturan perundangan?
Dalam mengawal komitmen K/LPNK dalam membangun kawasan
perbatasan, instrumen yang digunakan adalah Rencana Induk
Pengelolaan Kawasan Perbatasan yang ditetapkan oleh BNPP yang
wajib dijadikan pedoman oleh anggotanya. Selain itu, instrumen
perundangan yang digunakan adalah UU 23 Tahun 2014 pasal
361 tentang kawasan perbatasan yang menyatakan dengan
tegas bahwa pembangunan perbatasan adalah kewenangan dan
kewajiban pusat sehingga mengharuskan sektor berkomitmen
dalam membangun perbatasan.

buletin tata ruang & pertanahan

5

KAWASAN PERBATASAN NEGARA DALAM KONTEKS TATA
RUANG

Di Bidang Tata Ruang, terdapat Rencana Tata Ruang (RTR) Kawasan
Strategis Nasional (KSN) Perbatasan. Pada akhir 2014, telah
ditetapkan RTR KSN Perbatasan Negara di Provinsi Nusa Tenggara
Timur melalui Perpres No. 179 Tahun 2014. Bagaimana korelasi/
integrasinya antara RTR KSN Perbatasan dengan RPJMN 2015 –
2019 terkait kawasan perbatasan?
Dalam konteks tata ruang berdasarkan PP 26 Tahun 2008 Pasal
15, kawasan perbatasan negara adalah wilayah kabupaten/kota
yang secara geografis dan demografis berbatasan langsung dengan
negara tetangga dan/atau laut lepas. Kawasan perbatasan negara
meliputi kawasan perbatasan darat dan kawasan perbatasan laut
termasuk pulau-pulau kecil terluar.
Pembangunan kawasan perbatasan difokuskan pada Pusat
Kegiatan Strategis Nasional (PKSN). Pengembangan PKSN
dimaksudkan untuk menyediakan pelayanan yang dibutuhkan
untuk mengembangkan kegiatan masyarakat di kawasan
perbatasan, termasuk pelayanan kegiatan lintas batas antarnegara.
Pengembangan PKSN dilakukan dalam kerangka sistem pusat
perkotaan nasional sehingga
pusat perkotaan tersebut dapat
dilekati fungsi pelayanan, baik
sebagai PKN, PKW, maupun PKL.

di Kalimantan Barat. Disampaikan bahwa beliau memastikan
sendiri bahwa memang sudah lebih dari 25 tahun tidak dilakukan
pembangunan di kawasan tersebut dan dari segi pelayanan,
terutama fisik, kondisinya sangat jauh berbeda dengan kondisi
di seberangnya, Malaysia. Bagaimana pendapat Bapak terkait
hal tersebut? Bagaimana RPJMN 2015 – 2019 menjawab
permasalahan tersebut?
Terkait penilaian Presiden terhadap perbatasan RI-Malaysia
terutama di Entikong yang jauh berbeda dengan seberang memang
demikian kenyataannya. Jalan yang bagus hanya menuju ke
kota Entikong Sebatik. Selebihnya itu jalan menuju kampungkampung dan desa di kecamatan Entikong masih banyak yang
buruk kondisinya. Kebanyakan hanya jalan setapak, sedangkan
jalan di negara tetangga sudah dapat mengakses ke lingkungan
permukiman di samping penataan lingkungan permukiman juga
sudah baik. Minimnya akses jalan ini menyebabkan minimnya
pelayanan kesehatan, pendidikan, dan aktivitas ekonomi
masyarakat. Untuk itu, target RPJMN pada tahun 2019 jalan non
status pembuka akses ke kampung dan desa harus sudah terbuka,
karena akan memberikan efek kemudahan bagi seluruh pelayanan
dasar dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Bagaimana langkah strategis
penyerasian penggunaan kawasan
yang sama-sama penting secara
nasional, untuk konservasi
lingkungan dan untuk pertahanan
negara seperti di Entikong?

Pembangunan kawasan
perbatasan dalam RPJMN 2015
-2019 mengacu pada rencana
Langkah strategis penyerasian
tata ruang kawasan perbatasan
kawasan perbatasan untuk
yang berfungsi sebagai
konservasi dan pertahanan, telah
pedoman dalam: (1) penyusunan
didesain oleh BNPP, yaitu pada
rencana pembangunan di
wilayah-wilayah perbatasan yang
Kawasan Perbatasan Negara;
masih berupa hutan akan dibangun
(2) pemanfaatan ruang dan
“ jalan inspeksi perbatasan (JIP)”.
pengendalian pemanfaatan ruang Pos Perbatasan Negara Republik Indonesia - Malaysia di Kalimantan Barat,
Jalan ini dibangun oleh TNI,
Sumber: www.harianterbit.com
Kawasan Perbatasan Negara;
berupa jalan setapak selebar 1-2
(3) perwujudan keterpaduan,
meter untuk keperluan patroli jalan kaki atau pasukan berkuda.
keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan antarwilayah
Dengan demikian patroli yang intensif di kawasan hutan ini akan
kabupaten/kota, serta keserasian antarsektor di Kawasan
meminimalkan pencurian kayu pada wilayah-wilayah batas negara
Perbatasan Negara; (4) penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk
yang masih terisolir.
investasi di Kawasan Perbatasan Negara; (5) penataan ruang
wilayah provinsi dan kabupaten/kota di Kawasan Perbatasan
Apa harapan Bapak untuk pembangunan kawasan perbatasan ke
Negara; (6) pengelolaan Kawasan Perbatasan Negara; dan (7)
depan?
perwujudan keterpaduan rencana pengembangan Kawasan
Dari sisi kelembagaan, perlu penguatan BNPP yang rencananya
Perbatasan Negara dengan kawasan sekitarnya.
akan dilakukan revisi terhadap Perpres No. 12 Tahun 2010. Dalam
Konsekuensi pasal 361 UU 23 Tahun 2014?
Perpres tersebut perlu dikaji ulang kewenangan – kewenangan
instansi yang terlibat. Selain itu, diharapkan ada perubahan
Pada UU 23 Tahun 2014 pasal 361 ayat 2, 3 dan 7 menyebutkan
pemikiran yang lebih pada koordinasi dan fasilitasi karena
bahwa pembangunan kawasan perbatasan adalah kewenangan dan
pengelolaan kawasan perbatasan harus dikelola secara utuh.
kewajiban pusat, baik dari pembangunan infrastruktur, penyusunan
rencana detail tata ruang, maupun izin pemanfaatan ruangnya.
Kawasan perbatasan harus lebih baik dari kabupatennya. Untuk itu
Harapannya, pembangunan kawasan perbatasan dapat dilakukan
perlu peraturan desentralisasi afirmatif yang mendukung kawasan
dengan cepat. Dalam hal ini, peran pemerintah daerah membantu
perbatasan. Misalnya, standar biaya umum (SBU) harus disesuaikan
pembebasan, pengamanan, dan penyediaan lahannya. Sedangkan,
dengan kebutuhan di kawasan perbatasannya. Alasannya, contoh
RDTR kawasan perbatasan yang saat ini menjadi kewenangan
kasus pengiriman vaksin, untuk sampai ke kawasan perbatasan
pemerintah pusat, ini masih perlu disusun peraturan turunannya
dengan kondisi vaksi yang baik, vaksin seharusnya dikirim dengan
(Peraturan Pemerintah).
menggunakan pesawat untuk menyesuaikan waktu dan temperatur
yang dibutuhkan oleh vaksin. Tetapi dalam praktiknya di lapangan
CONTOH KASUS KAWASAN PERBATASAN NEGARA
hanya bisa menggunakan kendaraan darat karena SBU hanya
Baru – baru ini, Presiden RI – Joko Widodo, mengunjungi salah
mengenal transportasi darat, hasilnya, vaksin sudah rusak dan tidak
satu kawasan perbatasan Indonesia dan Malaysia, wilayah Entikong
bisa digunakan ketika tiba di lokasi.

6

buletin tata ruang & pertanahan

kajian

Penyusunan Rencana Tata Ruang Berdasarkan
Perspektif Pengurangan Resiko Bencana:
Materi Teknis Revisi Pedoman

S

ebagai negara rawan bencana, sangat penting bagi Indonesia memiliki kesiapsiagaan dalam mengantisipasi bencana. Salah satunya,
melalui upaya mitigasi bencana untuk mengurangi risiko bencana yang timbul. Undang – Undang No. 24 Tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana mengamanatkan agar setiap daerah memiliki perencanaan penanggulangan bencana. Untuk menjamin efektivitas
pelaksanaannya, sangatlah penting bagi setiap daerah untuk mengintegrasikan upaya pengurangan risiko bencana ke dalam dokumen
perencanaan daerah, seperti Rencana Pembangunan Jangka Panjang, Menengah, dan Rencana Tata Ruang.
Sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang, semua pemerintah daerah (provinsi,
kabupaten dan kota) wajib menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) yang selanjutnya dilegalisasikan menjadi Peraturan
Daerah (Perda). RTRW tersebut memiliki masa berlaku selama
20 tahun dan ditinjau kembali setiap 5 tahun. Dalam mendukung
upaya pengurangan risiko bencana, rencana tata ruang juga perlu
memasukkan kajian risiko bencana untuk mengidentifikasikan
kerawanan, tingkat ancaman, tingkat kerentanan, dan tingkat
kapasitas di suatu wilayah. Mengintegrasikan upaya pengurangan
risiko bencana ke dalam penataan ruang harus menjadi prioritas
Pemerintah dalam rangka memberikan perlindungan terhadap
kehidupan dan penghidupan masyarakat. Rencana tata ruang
berdasarkan perspektif mitigasi bencana, sangat berguna dalam
mereduksi keterpaparan jumlah penduduk, kerugian sosial,
ekonomi, dan sarana prasarana (fisik) dari ancaman bencana.
Tujuan dan Ruang Lingkup
Materi Teknis Revisi Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang
berdasarkan Perspektif Pengurangan Risiko Bencana disusun
sebagai bahan masukan terhadap penyempurnaan pedomanpedoman penyusunan rencana tata ruang (RTR) yang telah ada
saat ini untuk mengintegrasikan pendekatan pengurangan risiko
bencana ke dalam penataan ruang, khususnya: (a) Peraturan
Menteri Pekerjaan Umum No. 15 Tahun 2009 tentang Pedoman
Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi, dan (b)
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 15 Tahun 2012 tentang
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) Kawasan
Strategis Nasional (KSN).

Materi
Teknis

Integrasi
Dokumen/
Proses

Standar Penataan Ruang
di Kawasan Rawan
Bencana

Integrasi

Integrasi Spasial/Muatan
Spasial/
Muatan

Koordinasi
Kelembagaan

Melengkapi
Pedoman Penyusunan
RTRW Provinsi

Melengkapi
Pedoman Penyusunan
RTR KSN

Keterkaitan Materi Teknis dengan Pedoman Penyusunan RTRW Provinsi dan RTR
KSN, serta Standar Penataan Ruang di Kawasan Rawan Bencana
Sumber: Hasil Analisis

Dalam mengintegrasikan pengurangan risiko bencana ke dalam
rencana tata ruang, terdapat 3 (tiga) hal yang harus dilakukan, yaitu:
1) Integrasi dokumen/proses: mengatur bagaimana
mengintegrasikan kajian risiko bencana (KRB) dalam dokumen
Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) ke dalam dokumen
rencana tata ruang (RTR) dalam proses penyusunan rencana tata
ruang.
2) Integrasi spasial: mengatur bagaimana mengintegrasikan kajian
risiko bencana (KRB) ke dalam muatan rencana tata ruang. Hal ini
sudah diatur dalam Standar Penataan Ruang di Kawasan Rawan
Bencana.
3) Koordinasi kelembagaan.
Sehubungan dengan itu, Materi Teknis ini lebih difokuskan pada
integrasi proses/dokumen dan koordinasi kelembagaan, dengan
tambahan pembahasan mengenai integrasi spasial/muatan yang
menjadi irisan dengan Standar Penataan Ruang di Kawasan Rawan
Bencana (SPR KRB). Integrasi spasial/muatan telah dibahas secara
detil dalam Standar Penataan Ruang di Kawasan Rawan Bencana.
Metodologi
Kajian ini dihasilkan melalui serangkaian proses yang telah
menghasilkan keluaran (output):

1. Keterkaitan Kajian Risiko Bencana dengan KLHS dalam RTRW
Provinsi dan RTR Kawasan Strategis Nasional (KSN).
Output ini dicapai dengan melakukan kajian terhadap peraturan
perundang-undangan tentang Kajian Lingkungan Hidup Strategis
(KLHS), pengurangan risiko bencana, Pedoman Penyusunan RTRW
Provinsi, dan Pedoman Penyusunan RTR KSN dan dokumendokumen penunjang lainnya. Selain itu, juga dilakukan diskusi
dengan Kementerian Negara Lingkungan Hidup.

2. Mitigasi Bencana dalam Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil (RPWP3K).
Output ini dicapai dengan melakukan kajian terhadap peraturan
perundang-undangan tentang rencana pengelolaan wilayah pesisir
dan pulau-pulau kecil (RPWP3K), pengurangan risiko bencana,
dan dokumen-dokumen penunjang lainnya, serta diskusi dengan
Kementerian Kelautan dan Perikanan.

3. Integrasi Pengurangan Risiko Bencana ke dalam Penyusunan
RTRW Provinsi dan RTR Kawasan Strategis Nasional (KSN).
Output ini dicapai dengan melakukan desk study. Berdasarkan
hasil kajian tersebut, dan diskusi dengan Kementerian Pekerjaan
Umum dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, dilakukan
pengintegrasian pengurangan risiko bencana ke dalam penyusunan
RTRW Provinsi dan RTR KSN.

buletin tata ruang & pertanahan

7

Peta Risiko yang bersifat jangka menengah
(5 tahun) dijadikan masukan bagi perumusan
arahan pemanfaatan ruang (indikasi program
utama). Seperti dapat dilihat pada Gambar 2.
Salah satu isu yang muncul dalam upaya
pengintegrasian adalah adanya perbedaan
jangka waktu antara periode Rencana
Penanggulangan Bencana (RPB) dengan
waktu penyusunan atau peninjauan kembali
RTR, sebagaimana dapat dilihat pada Gambar
3. Idealnya, pada saat peninjauan kembali/
penyusunan RTR, RPB sudah tersedia.

1. Keterkaitan Kajian Risiko Bencana
dengan KLHS dalam RTRW Provinsi
dan RTR Kawasan Strategis Nasional
(KSN).
Terkait dengan kebencanaan, Permen LH
No. 09 Tahun 2011 tentang Pedoman Umum
KLHS tidak secara eksplisit menunjukkan
keterkaitannya dengan penyelenggaraan
penanggulangan bencana. Namun, secara
substansial 7 (tujuh) isu-isu pokok yang
dipertimbangkan dalam penapisan KLHS
sangat relevan dengan komponen-komponen
kebencanaan. Hal ini mengindikasikan
bahwa KLHS sejalan dengan perencanaan
Gambar 2 Pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana ke dalam Proses Penyusunan RTR
penanggulangan bencana. Keterkaitan
Sumber: Hasil Analisis
penapisan KLHS (7 isu pokok) dengan
perencanaan penanggulangan bencana
4. Pemetaan Kelembagaan Pengintegrasian Pengurangan Risiko
tersebut
dapat
dilihat
pada
Tabel 1.
Bencana ke dalam Rencana Tata Ruang.
Output ini dicapai melalui: (i) Hasil dari output 3; dan (ii)
pengumpulan data dan informasi dalam bentuk diskusi dan
wawancara dengan stakeholder yang relevan. Hasil diskusi dengan
berbagai stakeholder yang relevan, dikombinasikan dengan hasil
dari output 3, dilakukan pemetaan kelembagaan.

5. Penyusunan Materi Teknis Revisi Pedoman Penyusunan Rencana
Tata Ruang berdasarkan Perspektif Pengurangan Risiko Bencana.
Output ini dilakukan melalui: diskusi terarah (focus group
discussion/FGD) dan lokakarya. Hasil dari FGD ini menjadi masukan
dalam perumusan draf materi teknis. Lokakarya diselenggarakan
untuk mendiseminasikan draf materi teknis revisi pedoman
penyusunan RTR yang telah disusun dan membangun kesepakatan
rencana tindak lanjut dengan mengundang berbagai stakeholder
yang lebih luas.
Hasil Kajian dan Analisis
Pengintegrasian pengurangan risiko bencana ke dalam RTR dimulai
sejak tahap persiapan penyusunan RTR, yaitu dengan mengkaji
muatan kebencanaan yang ada di RTR. Tahap paling penting adalah
tahap pengolahan dan analisis data, pada tahap ini dilakukan
pengintegrasian kajian risiko bencana yang ada dalam dokumen
Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) ke dalam analisis
penyusunan RTR. Pengintegrasiannya adalah: (i) Peta Kerawanan
yang sifatnya jangka panjang, dijadikan dasar perumusan tujuan,
kebijakan, strategi, serta perumusan rencana struktur ruang dan
rencana pola ruang; dan (ii) Peta Kerentanan, Peta Kapasitas, dan
1

Untuk RTRW, tidak perlu melalui tahap penapisan, tetapi langsung
ke tahap pelaksanaan KLHS. Pada tahap pelaksanaan KLHS,
tahap pertama adalah mengkaji pengaruh Kebijakan, Rencana,
dan/atau Program terhadap kondisi lingkungan hidup di wilayah
perencanaan dimana salah satu tahapnya adalah identifikasi isu
pembangunan berkelanjutan. Aspek kebencanaan adalah salah
satu isu strategis dalam pembangunan berkelanjutan. Isu stategis
terkait kebencanaan tersebut antara lain dapat dilihat dari historical
data, misalnya di suatu kawasan terjadi banjir terus menerus setiap
tahun dan memiliki kecenderungan semakin parah dampaknya dan
semakin luas lingkupnya1. Maka banjir di daerah tersebut dapat
dikategorikan sebagai isu strategis, dan karenanya menjadi salah
satu hal yang dikaji dalam pelaksanaan KLHS.
Penyelenggaraan KLHS bertujuan memastikan bahwa prinsip
pembangunan berkelanjutan menjadi dasar dan terintegrasi dalam
pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau
program. Melalui KLHS, potensi dampak dan/atau risiko lingkungan
yang mungkin ditimbulkan oleh suatu kebijakan, rencana, dan/
atau program, sebelum pengambilan keputusan dilakukan, dapat
diantisipasi. Dengan demikian, melalui KLHS dapat diminimalkan
timbulnya dampak negatif suatu kebijakan, rencana, dan/atau
program. Hal ini tentunya sejalan dengan atau bahkan menguatkan
upaya mitigasi bencana. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
aspek kebencanaan sangat relevan dengan KLHS dalam penataan
ruang.

Diskusi dengan Rima Yulianti, Kasubdit KLHS, Kementerian Lingkungan Hidup, 23 April 2014

8

buletin tata ruang & pertanahan

Gambar 3, Waktu Pengintegrasian PRB ke dalam RTR,

2. Mitigasi Bencana dalam Rencana Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RPWP3K).
Dalam menyusun perencanaan pengelolaan wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil, Pemerintah dan pemerintah daerah wajib
memuat mitigasi bencana yang merupakan bagian dari Rencana
Penanggulangan Bencana (RPB). Muatan aspek kebencanaan
dalam setiap dokumen perencanaan pengelolaan wilayah pesisir
dan pulau-pulau kecil adalah sebagai berikut:
i. Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
(RSWP3K) wajib memuat isu, visi, misi, strategi, kebijakan, dan
program yang memasukkan mitigasi bencana.
ii. Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K)
wajib mempertimbangkan peta rawan bencana dan peta risiko
bencana yang disusun dan ditetapkan oleh instansi yang
berwenang (BNPB atau BPBD). RZWP3K provinsi dibuat dalam
peta dengan skala 1:250.000 atau lebih besar. Jangka waktu
berlakunya RZWP3K selama 20 (dua puluh) tahun dan dapat
ditinjau kembali setiap 5 (lima) tahun. RZWP3K ditetapkan
dengan Peraturan Daerah.
iii. Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
(RPWP3K) wajib memasukkan rencana mitigasi bencana.
Rencana mitigasi bencana tersebut menjadi bagian dari Rencana
Penanggulangan Bencana Daerah (RPB Daerah). Bila RPB Daerah
belum ditetapkan, satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang
membidangi kelautan dan perikanan menyusun rencana mitigasi
bencana untuk dimasukkan ke dalam RPWP3K. RPWP3K berlaku
selama 5 (lima) tahun dan dapat ditinjau kembali sekurangkurangnya sebanyak 1 (satu) kali. RPWP3K ditetapkan dengan
Peraturan Kepala Daerah.
iv. Rencana Aksi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil (RAPWP3K) wajib memasukkan kegiatan mitigasi bencana
yang ada dalam Rencana Aksi Daerah Pengurangan Risiko
Bencana (RAD PRB). Bila RAD PRB belum ditetapkan, SKPD yang
membidangi kelautan dan perikanan menyusun kegiatan mitigasi
bencana untuk dimasukkan ke dalam RAPWP3K. Kegiatan
mitigasi bencana meliputi kegiatan struktur/fisik dan/atau non
struktur/non fisik mitigasi bencana yang berdampak langsung
dalam pengurangan risiko. RAPWP3K provinsi atau kabupaten/
kota berlaku selama 1 (satu) sampai dengan 3 (tiga) tahun dan
ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah.

3.a. Integrasi Pengurangan Risiko Bencana ke dalam
Penyusunan RTRW Provinsi.
Untuk 8 (delapan) provinsi yang penyusunan RTRWnya sudah
mendapatkan persetujuan substansi dari Menteri Pekerjaan Umum,
maka sebaiknya segera dilakukan pengintegrasian kajian risiko

Sumber: Hasil Analisis

bencana dengan mengacu pada RPB Provinsi 2012-2016 sebelum
RTRW menjadi Perda. Apabila pengintegrasian dilakukan menunggu
sampai dilakukan peninjauan kembali akan terlalu lama. Mengingat
hampir semua provinsi tersebut masuk dalam kelas risiko tinggi,
maka sebaiknya pengintegrasian dilakukan segera.
Mengingat RPB Provinsi yang ada mempunyai jangka waktu
2012-2016, sementara sekarang sudah tahun 2014, maka hal ini
akan menjadi masalah. Alternatifnya adalah: (i) Pengintegrasian
segera dilakukan walau hanya untuk 2 tahun terakhir (2014-2016);
(ii) Pengintegrasian dilakukan setelah RPB yang baru disusun
(jangka waktu 2017-2022); atau (iii) SKPD segera menyusun
pengkajian risiko bencana yang baru berkoordinasi dengan BPBD
dengan jangka waktu yang disesuaikan dengan penyusunan atau
peninjauan kembali RTRW.
Untuk saat ini mungkin dapat dilakukan kombinasi dari (i) dan
(iii), dengan pertimbangan (a) Peta Kerawanan dan peta ancaman
bersifat jangka panjang, sehingga peta kerawanan dan peta
ancaman yang ada dapat digunakan untuk acuan perumusan
rencana struktur ruang dan rencana pola ruang, serta indikasi
arahan peraturan zonasi; (b) Sedangkan peta kerentanan, peta
kapasitas, dan peta risiko bersifat jangka menengah, sehingga
perlu diperbaharui oleh SKPD sesuai waktu berkoordinasi dengan
BPBD. Peta kerentanan, peta kapasitas, dan peta risiko yang
telah diperbaharui digunakan untuk acuan perumusan indikasi
program utama sebagai arahan pemanfaatan ruang untuk 5 tahun
berikutnya; (c) Sebelum waktu peninjauan kembali, sebaiknya RPB
yang baru sudah disusun dengan memperhatikan waktu peninjauan
kembali RTRW Provinsi tersebut.
Sehubungan dengan upaya pengurangan risiko bencana ini, maka
BKPRN perlu mempertimbangkan untuk memasukkan kajian risiko
bencana menjadi salah satu muatan yang harus ada dalam rencana
tata ruang, dan dikaji kualitasnya pada saat proses persetujuan
substansi, seperti Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS).
Integrasi pada saat peninjauan kembali RTRW Provinsi
Untuk 25 RTRW Provinsi yang sudah menjadi Perda,
pengintegrasian kajian risiko bencana dilakukan pada saat
peninjauan kembali RTRW tersebut. Untuk itu, diperlukan
penyesuaian periode antara RPB dengan waktu peninjauan
kembali RTRW Provinsi. Mengingat adanya keterbatasan kapasitas
BNPB/BPBD, maka penyesuaian penyusunan RPB ini dilakukan
dengan pemrioritasan berdasarkan kelas risikonya, semakin tinggi
kelas risiko provinsi yang bersangkutan, semakin diprioritaskan
penyusunannya. Apabila hal tersebut tidak dimungkinkan, maka
SKPD, berkoordinasi dengan BPBD, menyiapkan pengkajian
risiko bencana secara mandiri yang jangka waktunya disesuaikan

buletin tata ruang & pertanahan

9

dengan waktu peninjauan kembali RTRW Provinsi. Pengkajian risiko
bencana secara mandiri ini dilakukan dengan mengacu pada Perka
BNPB No. 02 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian
Risiko Bencana.
Pengintegrasian pengurangan risiko bencana memiliki
fungsi strategis dan berkaitan dengan peninjauan kembali
rencana tata ruang. BKPRN perlu membahas hal tersebut dan
mempertimbangkan apakah peninjauan kembali dapat dilakukan
segera untuk mengantisipasi kejadian bencana alam dan sebagai
upaya pengurangan risiko bencana, terutama di daerah-daerah
dengan kelas risiko tinggi. Hal ini sangat signifikan mengingat
bahwa hasil kajian BNPB menunjukkan 204 juta (80%) rakyat
Indonesia tinggal di kawasan rawan bencana.
Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dilakukan pemrioritasan
berdasarkan kelas risiko suatu daerah. Semakin tinggi kelas
risikonya semakin diprioritaskan pengintegrasian kajian risiko
bencana ke dalam rencana tata ruangnya untuk dapat segera
dilakukan. Saat ini, dalam Indeks Risiko Bencana Indonesia 2013,
kabupaten/kota dibedakan menjadi kelas risiko tinggi, sedang,
dan rendah, dimana 322 kabupaten/kota (65%) memiliki kelas
risiko tinggi, dan 174 kabupaten/kota (35%) memiliki kelas risiko
sedang, dan tidak ada yang memiliki kelas risiko rendah. Dengan
demikian perlu dilakukan perumusan ulang kelas risiko bencana
yang lebih rinci untuk kebutuhan perumusan prioritas tersebut di
atas. Penyusunan kajian risiko bencana (KRB) didasarkan pada tiga
hal utama, yakni: a) jumlah jiwa terpapar; b) kerugian (rupiah); dan
c) kerusakan lingkungan (ha). Ketiganya merupakan komponen
penyusun KRB yang kemudian diterjemahkan ke dalam kelas risiko
tinggi, risiko sedang, dan risiko rendah sesuai dengan dampak yang
terjadi.Berdasarkan ketiga komponen tersebut dapat dirumuskan
ulang kelas risikonya yang lebih rinci, untuk kebutuhan perumusan
prioritas.

3.b. Integrasi Pengurangan Risiko Bencana ke dalam
Penyusunan RTRW Provinsi dan RTR Kawasan Strategis
Nasional (KSN).
Sama seperti pengintegrasian kajian risiko bencana ke dalam RTRW
Provinsi, tantangan pengarusutamaan pengurangan risiko bencana
ke dalam RTR KSN adalah kesesuaian jangka waktu antara Rencana
Penanggulangan Bencana yang ada dengan waktu penyusunan atau
peninjauan kembali RTR KSN.
Integrasi pada saat proses penyusunan RTR Kawasan
Strategis Nasional (RTR KSN)
Untuk RTR KSN yang belum menjadi Perpres atau masih dalam
proses penyusunan, perlu segera dilakukan pengintegrasian kajian
risiko bencana. Sehubungan dengan itu perlu ada koordinasi antara
BKPRN dengan BNPB/BPBD dalam mengintegrasikan kajian risiko
bencana ke dalam penyusunan RTR KSN, dengan memperhatikan
jangka waktunya.
Untuk RTR KSN yang sudah dalam proses penyusunan: (a) Bila RPB
Provinsi/Kabupaten/Kota sudah ada dan jangka waktunya sesuai,
maka kajian risiko bencana dapat segera diintegrasikan ke dalam
penyusunan RTR KSN;dan (b) Bila RPB Provinsi/Kabupaten/Kota
belum ada atau jangka waktunya tidak sesuai, maka K/L dapat
melakukan pengkajian risiko bencana secara mandiri berkoordinasi
dengan BPBD untuk: (i) Segera diintegrasikan ke dalam proses
penyusunan RTR KSN; atau (ii) Diintegrasikan pada saat peninjauan
kembali RTR KSN tersebut, tergantung sudah seberapa jauh
tahap penyusunan RTR KSN tersebut, misal Raperpes.Pengkajian
dilakukan oleh K/L dengan mengacu pada Perka BNPB No. 02 tahun
2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana.
Untuk RTR KSN yang belum disusun, maka dalam penyusunannya
nanti langsung dilakukan pengintegrasian kajian risiko bencana
sesuai dengan kebutuhan masing-masing tipologi.

Apabila RTRW sedang dalam proses penyusunan, maka
Tabel 1
pengarusutamaan pengurangan risiko
Keterkaitan
Penapisan
KLHS
dengan
Perencanaan Penanggulangan Bencana
bencana dapat segera diintegrasikan.
Namun, bila RTRW sudah menjadi
Isu-isu Pokok Penapisan KLHS
Perencanaan Penanggulangan Bencana
(Permen LH 09/2011)
(PP 21/2008)
Perda, maka hal ini tidak mudah bagi
Pemerintah Daerah. Karena tidak

Perubahan Iklim berpotensi untuk menimbulkan
1. Perubahan iklim
bencana “Hydrometrology” yang meliputi: banjir,
mudah membuat Perda, terutama
kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, tanah
terkait dengan hal-hal yang bersifat
longsor, abrasi dan cuaca ekstrim.
non-teknis. Dalam Lokakarya Materi

Mempengaruhi tingkat kerentanan wilayah.
2. Kerusakan, kemerosotan, dan/atau
Teknis – Bappenas-SCDRR II yang

Hal tersebut juga dapat merupakan salah satu
kepunahan keanekaragaman hayati
dampak negatif kerusakan lingkungan yang
diselenggarakan pada tanggal 30
ditimbulkan oleh bencana
Juni 2014, ada usulan dari daerah,
Merupakan peningkatan ancaman bencana banjir,
3. Peningkatan intensitas dan cakupan •
bahwa untuk RTRW yang sudah
longsor, kekeringan, dan/atau kebakaran hutan dan
wilayah bencana banjir, longsor,
Perda, sebaiknya kajian risiko bencana
lahan yang merupakan komponen ancaman dalam
kekeringan, dan/atau kebakaran
dilakukan dengan memasukkannya
KRB.
hutan dan lahan
sebagai addendum. Apabila perubahan 4. Penurunan mutu dan kelimpahan

Mempengaruhi tingkat kerentanan wilayah
dibuat dalam bentuk addendum, maka
sumber daya alam
tidak perlu melibatkan DPRD lagi.

Mempengaruhi tingkat kerentanan wilayah terhadap
5. Peningkatan alih fungsi kawasan
Namun demikian perlu digarisbawahi
ancaman bencana banjir, tanah longsor, dan
hutan dan/atau lahan
kekeringan
bahwa upaya pengurangan risiko

Mempengaruhi tingkat kerentanan wilayah. Hal ini
6.
Peningkatan
jumlah
penduduk
bencana tidak hanya terbatas pada
juga mengindikasikan peningkatan indeks jiwa
miskin atau terancamnya
tahap analisis, yaitu dengan melakukan
terpapar dan kerugian harta benda dari bencana.
keberlanjutan penghidupan
kajian risiko bencana, tetapi hasil
sekelompok masyarakat
analisis tersebut harus diterjemahkan

Mempengaruhi tingkat kerentanan wilayah.
7. Peningkatan risiko terhadap
ke dalam kebijakan, strategi, rencana
kesehatan dan keselamatan manusia
struktur ruang dan rencana pola ruang,
Sumber: disadur dari “Kaji Ulang Pedoman Perencanaan Tata Ruang dalam rangka Pengurangan Risiko Bencana (PRB)
serta rencana pemanfaatan ruang
di Indonesia” dengan perubahan.
secara sinkron dengan alur yang jelas.

10

buletin tata ruang & pertanahan

Integrasi pada saat peninjauan kembali RTR Kawasan
Strategis Nasional (RTR KSN)
Untuk RTR KSN yang telah menjadi Perpres, maka pengintegrasian
kajian risiko bencana dilakukan pada saat peninjauan kembali.
Langkah-langkah sebagai berikut: (i) Periksa apakah RPB Provinsi/
Kabupaten/Kota sudah ada dan apakah jangka waktunya sesuai.
Bila sesuai, maka dapat langsung diintegrasikan; (ii) Bila RPB
Provinsi/Kabupaten/Kota belum ada, maka K/L melakukan
pengkajian risiko bencana secara mandiri berkoordinasi dengan
BPBD, dan dengan mengacu pada Perka BNPB No. 02 tahun 2012
tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana; (iii) Bila
jangka waktunya tidak sesuai, maka K/L melakukan pengkajian
risiko bencana secara mandiri berkoordinasi dengan BPBD, dengan
memperhatikan RPB Provinsi/Kabupaten/Kota yang sudah ada.
Dalam konteks pengarusutamaan pengurangan risiko bencana ke
dalam rencana tata ruang, dapat dilakukan langkah-langkah berikut
ini:
a. Membuat pemrioritasan. Kabupaten/kota/kawasan yang memiliki
kelas risiko tinggi diprioritaskan pembuatannya. Semakin tinggi
risikonya semakin diprioritaskan pembuatannya. Prioritas utama
adalah untuk membuat peta skala 1:25.000 untuk kota-kota
dengan kelas risiko tinggi, dan peta skala 1:10.000 untuk
kawasan-kawasan dalam kabupaten/kota yang memiliki kelas
risiko tinggi. Hal ini juga bukan merupakan hal yang mudah
karena berdasarkan IRBI 2013 terdapat 322 kabupaten/kota
(65%) dengan kelas risiko tinggi, sementara sisanya 174
kabupaten/kota (35%) memiliki kelas risiko sedang. Kabupaten/
kota dengan kelas risiko semakin tinggi, perlu semakin
diprioritaskan pembuatan peta dasarnya. Contohnya, Kabupaten
Cianjur yang memiliki kelas risiko tertinggi di Indonesia dengan
skor 250. Perlu ada kesepakatan antara BNPB dan BKPRN
mengenai kabupaten/kota dan kawasan-kawasan yang perlu
diprioritaskan pembuatan petanya.
b. Perlu adanya koordinasi antara BKPRN dan BNPB dalam
menetapkan kawasan-kawasan yang perlu diprioritaskan
pembuatan peta dasar skala 1:5.000, 1:2.000, 1:1.000 untuk
penyusunan rencana tata ruang kawasan rawan bencana.
c. BKPRN perlu membahas tantangan penyediaan peta kerawanan
dan peta bahaya yang harus disiapkan oleh K/L dan Daerah.
Karena tanpa peta-peta tersebut, peta risiko tidak dapat dibuat.
Dan sementara ini peta yang ada, misalnya dari Badan Geologi,
baru ada peta skala 1:250.000.
Untuk daerah yang belum memiliki peta dasar, maka dapat
menggunakan Citra Tegak Resolusi Tinggi2. Citra Tegak Resolusi
Tinggi ini memiliki kedetilan skala submeter. Peta Citra Tegak
Resolusi Tinggi tersebut masih memiliki banyak kesalahan,
sehingga perlu dikoreksi dulu, yaitu dengan koreksi: (i) Radiometrik,
koreksi dilakukan oleh LAPAN; dan (ii) Geometrik, koreksi dilakukan
oleh BIG.Peta yang telah dikoreksi dapat digunakan oleh daerah
sebagai peta dasar. Pemerintah Daerah dapat mengirim surat
ke BIG untuk meminta agar penyusunan peta untuk daerahnya
diprioritaskan.

4. Pemetaan Kelembagaan Pengintegrasian Pengurangan
Risiko Bencana ke dalam Rencana Tata Ruang.
Kerangka Regulasi
Saat ini peraturan perundang-undangan yang ada sudah banyak,
namun masih berjalan sendiri-sendiri. Untuk penyusunan rencana
tata ruang mengacu pada UU No. 26 Tahun 2007 tentang
2

Penataan Ruang dan peraturan turunannya, sedangkan untuk
penyelenggaraan penanggulangan bencana, termasuk penyusunan
Rencana Penanggulangan Bencana (RPB), mengacu pada UU No.
24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan peraturan
turunannya. Saat ini belum ada peraturan yang dapat digunakan
sebagai acuan dalam melakukan pengarusutamaan pengurangan
risiko bencana ke dalam penyusunan rencana tata ruang.
Peraturan yang menjadi acuan dalam penyusunan rencana tata
ruang, dalam hal ini RTRW Provinsi dan RTR KSN, adalah Permen
PU No. 15/PRT/M/2009 dan Permen PU No. 15/PRT/M/2012.
Namun peraturan tersebut belum secara jelas memberikan arahan
bagi penyusunan RTRW Provinsi dan RTR KSN yang berbasis
pengurangan risiko bencana (mitigasi bencana). Namun demikian,
perlu dikemukakan pula bahwa saat ini Ditjen Penataan Ruang
Kementerian Pekerjaan Umum sedang menyusun Standar Penataan
Ruang di Kawasan Rawan Bencana (sudah pada tahap legal
drafting).
Sehubungan dengan hal tersebut, langkah-langkah berikut ini dapat
dijadikan alternatif solusi:
1. Diperlukan satu pedoman yang dapat menjadi acuan bagi
pengarusutamaan pengurangan risiko bencana ke dalam
rencana tata ruang. Saat ini sudah terdapat upaya-upaya untuk
merumuskan pedoman tersebut, antara lain:
a. Upaya yang dilakukan oleh Kementerian Dalam Negeri bekerja
sama dengan Georisk Jerman dan Badan Geologi yang sedang
menyusun pedoman penerapan informasi kebencanaan geologi
untuk penyusunan rencana tata ruang;
b. Upaya yang dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum,
berkoordinasi dengan BNPB, yang telah menyusun Standar
Penataan Ruang di Kawasan Rawan Bencana (SPR-KRB) dan
saat ini telah mencapai proses legal drafting; dan
c. Upaya yang dilakukan oleh Bappenas dengan dukungan
SCDRR II yang tengah menyusun Materi Teknis Revisi Pedoman
Penyusunan Rencana Tata Ruang berdasarkan Perspektif
Pengurangan Risiko Bencana, khususnya untuk RTRW Provinsi
dan RTR Kawasan Strategis Nasional.
2. Apabila daerah akan melakukan pengarusutamaan
pengurangan risiko bencana ke dalam rencana tata ruang,
maka sebaiknya pada saat melakukan penyusunan atau
peninjauan kembali RTRW sudah tersedia pedoman yang
dapat digunakan sebagai acuan. Pedoman tersebut harus
jelas dan dapat diimplementasikan. Oleh karenanya, sebaiknya
dibuat satu pedoman saja mengenai upaya pengarusutamaan
pengurangan risiko bencana ke dalam rencana tata ruang yang
mengkombinasikan antara pedoman yang telah dibuat oleh
Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian PPN/Bappenas, dan
Kementerian Dalam Negeri. Selain itu, perlu dipertimbangkan
bahwa pedoman tersebut tidak hanya menjadi acuan dalam
penyusunan RTRW Provinsi dan RTR KSN, tetapi juga rencana
tata ruang lainnya (RTRW Kabupaten dan RTRW Kota, serta
rencana rinci lainnya).
Sehubungan dengan pengarusutamaan pengurangan risiko
bencana ke dalam rencana tata ruang ini, ada kekhawatiran
dari Daerah terkait banyaknya arahan-arahan yang dibuat oleh
Pemerintah Pusat sehingga membingungkan buat Daerah.
Diperlukan integrasi arahan tersebut, salah satunya antara
Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Dalam Negeri.
Sudah saatnya norma-norma yang ada di Kementerian Pekerjaan

BIG, dalam Diskusi Terarah Materi Teknis - SCDRR II, Bappenas, 10 Juni 2014.

buletin tata ruang & pertanahan

11

Umum dan Kementerian Dalam Negeri diintegrasikan dan
disinkronkan, sehingga tidak membingungkan buat daerah.
3. Agar dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah maupun K/L
dalam melakukan pengarusutamaan pengurangan risiko bencana
ke dalam rencana tata ruang, maka pedoman tersebut harus
memiliki kerangka regulasi yang cukup kuat. Alternatif yang dapat
dilakukan:
a. Membuat Surat Edaran Bersama 3 Menteri (Kemen PU,
Kemendagri, dan BNPB) tentang Pedoman Pengarusutamaan
Pengurangan Risiko Bencana ke dalam Rencana Tata Ruang.
SEB ini dibuat agar pedoman pengarusutamaan pengurangan
risiko bencana ke dalam RTR dapat segera disusun dan
menjadi acuan bagi pemerintah daerah maupun K/L. Dengan
demikian pengarusutamaan PRB dapat segera dilakukan. SEB
ini bersifat sementara.
b. Pada saat yang sama dimulai proses penyusunan Peraturan
Menteri PU tentang Pedoman Pengurangan Risiko Bencana
dalam Rencana Tata Ruang. Dengan demikian pedoman
tersebut nantinya memiliki dasar hukum yang lebih kuat.
4. Materi Teknis yang disusun ini dapat digunakan sebagai masukan
dalam penyusunan Pedoman Pengarusutamaan Pengurangan
Risiko Bencana ke dalam Rencana Tata Ruang tersebut di atas.
Diharapkan muatannya sudah sesuai dengan kebutuhan dan
dapat dipertanggungjawabkan untuk memberikan masukan
bagi penyusunan Pedoman Pengarusutamaan Pengurangan
Risiko Bencana ke dalam Rencana Tata Ruang. Selain itu, dalam
penyusunan Materi Teknis ini juga sudah memperhatikan Standar
Penataan Ruang di Kawasan Rawan Bencana (draf) yang sedang
disusun oleh Kementerian Pekerjaan Umum, sehingga muatannya
dapat saling melengkapi.
Keberadaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD)
Hingga bulan Februari 2014 telah terbentuk 436 BPBD yang terdiri
dari 33 BPBD Provinsi dan 403 BPBD Kabupaten/Kota (81% dari
497 kabupaten/kota).Berarti masih ada 94 kabupaten/kota yang
belum memiliki BPBD.Untuk kabupaten/kota yang belum memiliki
BPBD, tugas dan fungsi penanggulangan bencana dilaksanakan
oleh SKPD yang mempunyai fungsi yang bersesuaian dengan fungsi
penanggulangan bencana.

Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) sendiri yang berkualitas
dan sesuai dengan kebutuhan rencana tata ruang sehingga dapat
diintegrasikan.
Kapasitas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
Struktur BPBD yang ada saat ini dirasakan sudah cukup untuk
penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah, hanya
perlu dioptimalkan lagi dalam hal sumber daya manusia dan
anggarannya.Dirasakan sumber daya manusia yang ada saat
ini masih sangat kurang kapabilitasnya dalam penanggulangan
bencana, khususnya untuk aspek pencegahan dan mitigasi
bencana (perencanaan), karena saat ini fokusnya masih lebih pada
hal-hal yang operasional (kesiapsiagaan dan tanggap darurat)4.
Dalam pembentukan dan penguatan BPBD ini, sebaiknya
pemerintah daerah juga mempertimbangkan karakteristik fisik
daerahnya, misalnya provinsi kepulauan seperti NTT atau kota
kepulauan seperti Ternate. Sebagai wilayah kepulauan, maka
sarana dan prasarana evakuasi menjadi isu yang sangat penting
untuk diperhatikan.
Penguatan BKPRD terkait Kebencanaan
Sehubungan dengan belum masuknya pengarusutamaan
pengurangan risiko bencana ke dalam salah satu tugas BKPRD dan
tidak masuknya kelembagaan bencana, BPBD, sebagai anggota
BKPRD, maka tantangannya adalah bagaimana meningkatkan
kapasitas BKPRD terhadap kebencanaan, terutama dalam upaya
pengarusutamaan pengurangan risiko bencana ke dalam penataan
ruang. Ada beberapa alternatif yang dapat diambil: (i) Memasukkan
kelembagaan bencana, dalam hal ini BPBD, sebagai salah satu
anggota BKPRD; atau (ii) Memasukkan BPBD ke dalam Kelompok
Kerja Perencanaan Tata Ruang pada saat penyusunan rencana
tata ruang, dan ke dalam Kelompok Kerja Pemanfaatan dan
Pengendalian Pemanfaatan Ruang pada saat rencana tata ruang
sudah selesai disusun dan masuk pada tahap implementasi; atau
(iii) Memasukkan BPBD dalam Tim Teknis tentang penanggulangan
bencana.

trp.bappenas

Di kabupaten/kota yang belum memiliki BPBD, bentuk kelembagaan
kebencanaan dapat berbeda-beda, baik dari segi SKPD
penanggungjawab maupun eselonnya.Di suatu kabupaten/kota
kelembagaan kebencanaan ini dapat berada di bawah eselon 2, 3,
atau 4. Mengingat bahwa hasil kajian BNPB menunjukkan bahwa
204 juta (sekitar 80%) rakyat Indonesia tinggal di kawasan rawan
bencana3, maka sebaiknya semua kabupaten/kota memiliki BPBD.
Sehubungan dengan hal tersebut, prioritas utama adalah
menyegerakan pembentukan BPBD di 94 kabupaten/kota yang
belum memiliki BPBD saat ini. Setelah BPBD terbentuk, tantangan
berikutnya adalah masalah kapasitas BPBD. Bila dibandingkan
dengan BKPRD yang sudah terbentuk cukup lama, maka kapasitas
BPBD merupakan salah satu isu yang penting diperhatikan. Isu
kapasitas ini antara lain terkait dengan sumber daya manusia,
sarana dan prasarana, serta anggaran yang dimiliki oleh BPBD.
Kapasitas BPBD perlu diperkuat antara lain agar mampu menyusun
Lilik Kurniawan, Direktur Pengurangan Risiko Bencana, “Isu-isu Strategis Pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana ke dalam Rencana Tata Ruang”, Kedeputian
Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, BNPB, Keynote Speech dalam Diskusi Terarah Materi Teknis-SCDRR-II, Bappenas, 10 Juni 2014.
4
Diskusi Terarah Materi Teknis-SCDRR-II, Bappenas, 10 Juni 2014.
3

12

buletin tata ruang & pertanahan

Dalam rangka evaluasi pelaksanaan tugas Badan Koordinasi
Penataan Ruang Nasional (BKPRN) selama 5 tahun terakhir,
Kementerian PPN/Bappenas selaku Sekretariat BKPRN
menyelenggarakan rapat koordinasi tingkat Eselon II, untuk
mengonfirmasi laporan kegiatan BKPRN 2009 – 2014 sekaligus
menjaring masukan dan perbaikan dari seluruh perwakilan anggota
Kelompok Kerja (Pokja) BKPRN terkait.
Penyusunan laporan BKPRN tersebut sesuai dengan amanat
penyusunan laporan pada Keppres No. 4 Tahun 2009 tentang
Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN) Pasal 10,
yang menyebutkan “BKPRN melaporkan pelaksanaan tugasnya
kepada Presiden secara berkala setiap 6 (enam) bulan.”
Selanjutnya, Kementerian Perekonomian selaku Ketua BKPRN
akan melaporkan pelaksanaan tugas BKPRN secara tertulis
kepada Presiden, hal ini sesuai dengan Permenko No. Per-02/M.
EKON/10/2009 tentang Organisasi dan Tata Kerja BKPRN Pasal
6 “Ketua BKPRN melaporkan pelaksanaan tugas BKPRN secara
tertulis kepada Presiden secara berkala setiap 6 (enam) bulan.”
Laporan Kegiatan BKPRN Semester 2 Tahun 2014 mencakup
kegiatan BKPRN periode tahun 2009 – 2014 yang mengacu
kepada: (i) Pelaksanaan Agenda Kerja BKPRN sejak tahun 2009
hingga 2014; (ii) Laporan Semester kepada Presiden; dan
(iii) Penugasan lain sesuai dengan isu penataan ruang yang
berkembang.
Adapun beberapa hal yang dibahas dalam laporan tersebut
meliputi: (i) Struktur, Capaian, dan Tantangan; (ii) Fasilitasi

sumber: dokumen Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan

Penyelesaian Peraturan Perundangan Bidang Penataan Ruang; (iii)
Penguatan Kelembagaan Penataan Ruang Nasional dan Daerah;
(iv) Pendayagunaan Penataan Ruang Nasional dan Daerah; serta (v)
Penyelesaian sengketa dan konflik pemanfaatan ruang.

Kelembagaan BKPRN
Kehadiran Kementerian Agraria dan Tata Ruang di akhir tahun
2014 telah memberi warna baru bagi bidang tata ruang dan
memunculkan pemikiran untuk meninjau bentuk keberadaan BKPRN
sebagai badan koordinasi tata ruang selama ini. Pada prinsipnya,
keberadaan BKPRN seyogyanya tidak merupakan duplikasi terhadap
pelaksanaan tugas dan fungsi Kementerian ATR/BPN. Kita tunggu
hasil peninjauan tersebut [ay].

Pembahasan Pendayagunaan Tanah Wakaf
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan, Kementerian PPN Bappenas
menghadiri pertemuan terkait pendayagunaan tanah wakaf yang
diselenggarakan oleh Direktorat Permukiman dan Perumahan,
Kementerian PPN/Bappenas, bertempat di Ruang SG-5, Bappenas.
Rapat dihadiri oleh Perum Perumnas, Kementerian Pekerjaan
Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Agama, Badan Wakaf
Indonesia, dan Dompet Dhuafa. Tujuan pertemuan adalah untuk
menentukan lokasi pilot project pendayagunaan tanah wakaf dalam
pembangunan perumahan rakyat tahun 2015.
Pendayagunaan tanah wakaf untuk pembangunan perumahan
rakyat masuk dalam kegiatan Quick Wins dan akan dialokasikan
anggarannya dalam APBN-P 2015. Untuk itu, akan dipilih 5 (lima)
lokasi untuk pilot project kegiatan tersebut. Mengemuka pula dalam
pertemuan bahwa telah tersusun kriteria penetapan lokasi tanah
wakaf untuk perumahan sesuai ketentuan Perumahan Nasional
(Perumnas). Ketentuan lain yang perlu diperhatikan adalah (a) status
tanah clean and clear; (b) nadzir jelas, merupakan orang atau badan
hukum yang memegang amanat untuk memelihara dan mengurus
harta wakaf sesuai dengan wujud dan tujuan wakaf tersebut;
(c) target penerima manfaat jelas. Untuk luasan tanah diusulkan
luasnya kurang dari 5.000 m2 agar mudah terlaksana pada tahun
2015.

Pada kesempatan tersebut, forum menyepakati bahwa pada
tahun 2015 pelaksana pembangunan perumahan dari tanah
wakaf adalah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat (PU-PR). Kementerian PU-PR perlu segera merumuskan
tipologi disain rusunawa dengan memperhatikan faktor target
penerima manfaat. Di sisi lain, Perum Perumnas perlu memikirkan
skema pembiayaan yang dapat digunakan dan menyusun disain
pembangunan area komersial pada rusunawa yang akan dibangun
sebagai alternatif dalam implementasi skema wakaf produktif dan
mempertimbangkan peran investasi Perumnas.
Lebih lanjut, akan ditetapkan Kelompok Kerja (Pokja) lintas K/L
untuk menetapkan lokasi tanah wakaf dan pelaksanaan kegiatan
tersebut. Pilot project pendayagunaan tanah wakaf masih
kekurangan 2 (dua) lokasi sehingga perlu diidentifikasi dari data
yang dipunyai Direktur Pemberdayaan Wakaf, Kementerian Agama
sesuai kriteria yang telah disusun.
Ke depan, perlu dilakukan pengecekan status pemanfaatan
lahan di lokasi yang diusulkan berdasarkan Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) yang telah di Perda-kan dan penyusunan Standar
Operation Procedure (SOP) dan tahapan yang jelas pelaksanaan
kegiatan pilot project pendayagunaan tanah wakaf dalam
pembangunan perumahan rakyat [rn/sy].

buletin tata ruang & pertanahan

13

Koordinasi

Rapat Koordinasi Eselon II BKPRN:
Penyelesaian Laporan BKPRN 2009 – 2014

Rencana Pelaksanaan Stocktaking dalam Mendukung Kebijakan
One Map Policy
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan menghadiri pembahasan
rencana pelaksanaan Stocktaking dalam mendukung kebijakan
One Map Policy yang diselenggarakan oleh Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian.
Pertemuan ini merupakan pertemuan perdana yang bertujuan
membahas rencana pelaksanaan stocktaking (audit) terkait
peta pemanfaatan ruang. Sekaligus persiapan Rapat Koordinasi
Kementerian Bidang Ekonomi terkait dengan kebijakan One Map
Policy. Dengan adanya stocktaking ini, kedepan diharapkan akan
tersedia data dan peta tematik tunggal pemanfaatan ruang di
Indonesia dan rekomendasi penyelesaian masalahnya.
Pada tahun 2009, Ditjen Penataan Ruang - Kementerian PU
pernah melaksanakan stocktaking peta pemanfaatan ruang
(kehutanan, pertambangan, pertanian/perkebunan, transmigrasi,
dan status tanah) di Provinsi Kalimantan Tengah. Kemudian tahun
2010 dilaksanakan pada 7 provinsi yaitu Sumatera Utara, Riau,
Kepulauan Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan
Kalimantan Timur. Hasil stocktaking ini dapat digunakan sebagai
dasar awal dalam pelaksanaan one map policy dalam tata ruang.

Pada kesempatan tersebut, BIG menyampaikan bahwa pihaknya
sudah menyusun peta dasar secara resmi seluruh Indonesia
dengan skala 1:25.000 dan 1:50.000 (bervariasi per pulau), namun
ada yang perlu diperbaharui. Untuk mendukung hal tersebut,
LAPAN juga memiliki beberapa data yang dapat dimanfaatkan
untuk penyusunan peta skala 1:50.000, dapat diakses di bdpjncatalog.lapan.go.id. Bersamaan dengan itu, Kementerian Kelautan
dan Perikanan dengan anggaran bantuan dari Asian Development
Bank (ADB) sudah pernah memetakan garis pantai yang sesuai
antara darat dan laut untuk 15 provinsi (skala 1:250.000) dan 42
kabupaten/kota (skala 1:50.000).
Pihak Kementerian Pertanian juga menyampaikan bahwa mereka
memiliki peta sawah eksisting, dengan skala 1:5.000 di Pulau
Jawa dan skala 1:10.000 diluar Pulau Jawa. Keseluruhan lahan
sawah yang terpetakan adalah seluas 8,1 juta Ha. Sementara
itu, Kementerian Dalam Negeri ditugaskan untuk melaksanakan
fasilitasi one map policy di 5 propinsi pilot.
Secara prinsip, BIG menyediakan peta dasar skala 1:50.000, dan
K/L menyiapkan peta tematik berdasarkan peta dasar BIG [as/sy].

Implementasi Konsep Nawacita dalam Peninjauan Kembali
RTRWN
Dalam rangka menampung pemikiran dan ide-ide konstrukstif
dalam upaya mempertegas peran dan fungsi RTRWN sebagai
kebijakan spasial pembangunan kewilayahan dan sektoral yang
mengikat, Kementerian Agraria dan Tata Ruang, menyelenggarakan
FGD Implementasi Konsep Nawacita dalam Peninjauan Kembali
RTRWN. Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan turut berpartisipasi
dalam FGD yang dilaksanakan selama dua hari, pada 13 – 14
Januari 2015.
Dalam sambutannya, Menteri Agraria dan Tata Ruang, Ferry
Mursyidan Baldan, menyebutkan bahwa materi kemaritiman
dalam RTRWN perlu diperkaya untuk mendukung perwujudan
poros maritim, dan mewujudkan keterpaduan infrastruktur
sehingga mempermudah pergerakan barang dan jasa, sekaligus
mengurangi biaya logistik. Selain itu, perlu dilaksanakan
pemerataan pembangunan antarwilayah, terutama desa, kawasan
timur indonesia, dan kawasan perbatasan.

Urgensi Peninjauan Kembali RTRWN
Terdapat 4 (empat) nilai penting RTRWN untuk ditinjau kembali,
di antaranya: a) RTRWN berfungsi sebagai pedoman penyusunan
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Kedua Pasca
2025 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
periode 2015-2019, sehingga harus memperhatikan kondisi
objektif saat ini dan menjawab kesenjangan terhadap kondisi
yang diharapkan; b) RTRWN adalah pedoman pemanfaatan ruang
di wilayah nasional yang menjadi acuan pembangunan sektoral
sehingga dapat menghindari terjadinya konflik pemanfaatan ruang
antarsektor; c) RTRWN merupakan upaya untuk mewujudkan
keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan

14

buletin tata ruang & pertanahan

antarwilayah provinsi, yang sifatnya saling melengkapi
(komplementaritas) dan tidak bertentangan dengan Rencana Tata
Ruang Wilayah Provinsi/Kabupaten/Kota; serta d) RTRWN adalah
acuan dalam penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi,
sehingga ada kepastian peruntukan fungsi masing-masing kawasan
untuk investasi bagi dunia usaha dan investasi publik.

Empat Agenda Prioritas NAWACITA dalam RTRWN
Adapun empat agenda prioritas Nawacita dalam RTRWN antara
lain: 1) Kedaulatan Maritim dan Pembangunan Infrastruktur Jalan
Baru, Pelabuhan Baru, Bandara Baru, Kawasan Industri Baru; 2)
Pemerataan Pembangunan AntarWilayah terutama Desa, Kawasan
Timur Indonesia, dan Kawasan Perbatasan; 3) Kedaulatan Pangan
dan Energi; dan 4) Membangun Infrastruktur untuk Peningkatan
Produktivitas dan Daya Saing Indonesia.
Ke depan, pembangunan kawasan industri baru harus dapat
terintegrasi dengan pembangunan kawasan pemukiman dan
bisnisnya diprioritaskan untuk luar Jawa dan Bali, dimulai dari
wilayah pesisir di sepanjang Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI),
wilayah perbatasan, dan pulau-pulau kecil yang cocok. Selain itu,
penyusunan tata ruang wilayah di tingkat Kabupaten/Kota dan
Propinsi harus berbasis Daerah Aliran Sungai (DAS). Penyusunan
zonasi wilayah pesisir (ke arah darat: batas paling hulu/atas
kecamatan pesisir, dan ke arah laut 12 mil dari garis pantai) untuk
setiap Kabupaten/Kota pesisir perlu dilakukan, minimal 30 persen
total luas wilayah pesisir untuk kawasan lindung (preservation
and conservation zones) dan 70 persennya untuk kawasan
pembangunan [ma/rt/ri/oc/ay].

Artikel Utama

Internalisasi Nawacita:
Membangun Kawasan Perbatasan dalam perspektif
Tata Ruang dan Pertanahan
Ir. Budi Situmorang, MURP
Direktur Tata Ruang Wilayah Nasional, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional

Nawa Cita: Membangun Kawasan Perbatasan
Seperti kita ketahui bersama, pemerintahan baru Joko Widodo dan Jusuf Kalla menyertakan sembilan agenda prioritas untuk mewujudkan
visi misi pemerintahan 5 (lima) tahun ke depan. Sembilan agenda prioritas itu disebut sebagai Nawa Cita.
negara. Sebagai batas kedaulatan, batas yuridiksi dan territorial
Dalam konteks membangun Kawasan Perbatasan Negara,
negara berada di Kawasan Perbatasan Negara. Oleh karena itu, fungsi
agenda prioritas yang perlu dicermati adalah agenda ketiga.
pertahanan dan keamanan sangat melekat di Kawasan Perbatasan
Agenda ketiga tersebut adalah membangun Indonesia dari
Negara. Sebagai beranda depan negara, Kawasan Perbatasan
pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam
Negara dapat dimanfaatkan sebagai pintu gerbang aktivitas ekonomi
kerangka negara kesatuan. Salah satu daerah “pinggiran
perdagangan dengan negara tetangga, sehingga tidak hanya fungsi
negara” di dalam Nawa Cita adalah kawasan perbatasan negara.
pertahanan dan keamanan saja, tapi fungsi kesejahteraan atau
Kebijakan ini dimaksudkan untuk melindungi kepentingan
ekonomi juga sangat melekat di Kawasan Perbatasan Negara.
nasional Indonesia di kawasan perbatasan serta memperkuat
daya saing ekonomi Indonesia secara global.
Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
mempertimbangkan dengan tegas peran penting kawasan perbatasan
Lebih lanjut dalam Nawa Cita, salah satu program aksi
tersebut. Sebagai beranda depan negara, kawasan perbatasan
sebagai upaya dalam rangka perbaikan menuju berdikari
negara ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN).
ekonomi adalah membangun tata ruang dan lingkungan yang
berkelanjutan, salah satunya melalui pembangunan pusat
Dalam Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana
pertumbuhan ekonomi baru di kawasan perbatasan.
Tata Ruang Wilayah Nasional ditetapkan 10 (sepuluh) kawasan
perbatasan negara sebagai KSN dari sudut kepentingan pertahanan
RTR Kawasan Perbatasan: Perspektif Pengembangan
dan keamanan, dengan 26 Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN)
Kawasan Perbatasan
sebagai pusat utama perbatasan negara dan atau sebagai pintu
Kawasan perbatasan negara memiliki peran sangat penting
gerbang ke negara tetangga. Dalam prosesnya, kemudian diambil
dan strategis, karena merupakan batas kedaulatan negara dan
kebijakan untuk menyusun 9 (sembilan) rencana tata ruang (RTR)
merupakan wilayah yang mencerminkan beranda depan suatu

buletin tata ruang & pertanahan

15

Kawasan Perbatasan Negara. Kesembilan RTR tersebut, yaitu RTR
Kawasan Perbatasan Negara di Aceh dan Provinsi Sumatera Utara,
RTR Kawasan Perbatasan Negara di Provinsi Riau dan Provinsi
Kepulauan Riau, RTR Kawasan Perbatasan Negara di Kalimantan,
RTR Kawasan Perbatasan Negara di Provinsi Sulawesi UtaraProvinsi Gorontalo-Provinsi Sulawesi Tengah-Provinsi Kalimantan
Timur-Kalimantan Utara, RTR Kawasan Perbatasan Negara di
Provinsi Maluku Utara dan Provinsi Papua Barat, RTR Kawasan
Perbatasan Negara di Provinsi Papua, RTR Kawasan Perbatasan
Negara di Provinsi Maluku, RTR Kawasan Perbatasan Negara di
Provinsi Nusa Tenggara Timur, serta RTR Kawasan Perbatasan
Negara dengan Laut Lepas.
Terdapat 5 (lima) RTR Kawasan Perbatasan Negara yang telah
terbit, yaitu Perpres No. 179 Tahun 2014 tentang RTR Kawasan
Perbatasan di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Perpres No. 31
Tahun 2015 tentang RTR Kawasan Perbatasan di Kalimantan,
Perpres No. 32 Tahun 2015 tentang RTR Kawasan Perbatasan di
Provinsi Papua, Perpres No. 33 Tahun 2015 tentang RTR Kawasan
Perbatasan di Provinsi Maluku, dan Perpres No. 34 Tahun 2015
tentang RTR Kawasan Perbatasan di Provinsi Maluku Utara dan
Provinsi Papua Barat.
Sedangkan 3 (tiga) RTR Kawasan Perbatasan Negara, yaitu RTR
Kawasan Perbatasan Negara di Provinsi Sulawesi Utara-Provinsi
Gorontalo-Provinsi Sulawesi Tengah-Provinsi Kalimantan TimurKalimantan Utara, RTR Kawasan Perbatasan Negara di Aceh dan
Provinsi Sumatera Utara, dan RTR Kawasan Perbatasan Negara
di Provinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau masih dalam bentuk
Rancangan Perpres. Sementara RTR Kawasan Perbatasan Negara
dengan Laut Lepas masih dalam proses penyusunan materi teknis.
Muatan RTR Kawasan Perbatasan Negara sendiri terkait erat
dengan nilai strategis nasional yang dimilikinya, serta hal-hal
spesifik di luar kewenangan pemerintah provinsi/kabupaten/kota.
Oleh karena itu, RTR Kawasan Perbatasan menjadi dasar dalam
penyusunan program sektoral serta pelaksanaan pembangunan
oleh Kementerian/Lembaga di Kawasan Perbatasan Negara.
Di dalam RTR Kawasan Perbatasan Negara yang telah disusun,
tersurat pendekatan pengembangan Kawasan Perbatasan Negara
yang mengedepankan 4 (empat) aspek, yaitu: i) aspek peningkatan
pertahanan dan keamanan negara; ii) aspek pembangunan
ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat; iii) aspek lingkungan
hidup; serta iv) aspek sosial.
Dalam aspek pertahanan dan keamanan, RTR Kawasan Perbatasan
Negara tidak hanya terkait dengan peningkatan fasilitas
pertahanan dan keamanan saja tapi juga dengan penegakan
kedaulatan negara seperti penetapan dan penegasan garis batas
negara, termasuk pulau-pulau kecil terluar.
Dalam aspek ekonomi atau kesejahteraan, RTR Kawasan
Perbatasan Negara menetapkan sebaran kawasan peruntukan
yang dikelompokkan menjadi tiga, yaitu kawasan peruntukan untuk
kemandirian pangan masyarakat, kawasan peruntukan untuk
pertumbuhan ekonomi antarwilayah, dan kawasan peruntukan
untuk peningkatan ekonomi yang berdaya saing (ekspor/impor).
Aspek lingkungan hidup terkait dengan pemertahanan kawasan
lindung Kawasan Perbatasan Negara, seperti eksistensi garis
pantai yang memiliki titik-titik garis pangkal terluar, kawasan
lindung lintas negara, dan ekosistem penting yang berada di
Kawasan Perbatasan Negara.
Dalam aspek sosial, RTR Kawasan Perbatasan Negara terkait
dengan penyediaan prasarana dasar di Kawasan Perbatasan
Negara, termasuk prasarana untuk meningkatkan hubungan

16

buletin tata ruang & pertanahan

kekerabatan antarmasyarakat (adat) di Kawasan Perbatasan
Negara.
Pendekatan pengembangan Kawasan Perbatasan Negara di atas
pada dasarnya menunjukkan arah kebijakan pengembangan
Kawasan Perbatasan Negara untuk mempercepat pembangunan
kawasan perbatasan di berbagai bidang, baik keamanan, ekonomi
dan sosial yang terintegrasi dan berwawasan lingkungan.
Lebih lanjut, RTR Kawasan Perbatasan Negara juga menetapkan
pusat-pusat permukiman sebagai pusat pelayanan yang berhirarki.
Pusat pelayanan kawasan perbatasan negara terdiri atas pusat
pelayanan utama, pusat pelayanan penyangga, dan pusat
pelayanan pintu gerbang.
Pusat pelayanan utama merupakan pusat kegiatan utama dalam
peningkatan pelayanan pertahanan dan keamanan negara serta
pendorong pengembangan kawasan perbatasan negara yang
berupa PKSN.
Sementara pusat pelayanan penyangga adalah pusat kegiatan
penyangga pintu gerbang peningkatan pelayanan pertahanan dan
keamanan negara, keterkaitan antara pusat pelayanan utama
dan pusat pelayanan pintu gerbang, serta kemandirian pangan

Konsep Sistem Pusat Pelayanan Kawasan Perbatasan Negara

masyarakat di kawasan perbatasan negara. Sedangkan pusat
pelayanan pintu gerbang merupakan pusat kegiatan terdepan
dalam peningkatan pelayanan pertahanan dan keamanan
negara serta kegiatan lintas batas di kawasan perbatasan
negara. Kebijakan RTR Kawasan Perbatasan Negara ini berarti
bahwa menempatkan kawasan perbatasan sebagai pintu
gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara
tetangga.
Dari penjabaran di atas, dapat dikatakan bahwa kebijakan tata
ruang di kawasan perbatasan negara sejalan dengan Nawa Cita,
kawasan perbatasan negara diarahkan menjadi halaman depan
negara yang berdaulat, aman serta berdaya saing.
Salah satu manfaat perlunya disiapkan RTR Kawasan
Perbatasan Negara adalah dapat menjadi dasar penyusunan
program sektoral dan pelaksanaan pembangunan oleh
kementerian/lembaga. Disinilah letak tantangan dalam
implementasi RTR Kawasan Perbatasan Negara, yaitu upaya
sektor menjadikan RTR Kawasan Perbatasan Negara ini sebagai
acuan dalam penyusunan program dan pembangunan di
kawasan perbatasan negara.

Program Utama PKSN sebagai Pusat Pelayanan
Utama Kawasan Perbatasan
Berdasarkan RTR Kawasan Perbatasan Negara, terdapat
indikasi program utama untuk PKSN sebagai pusat pelayanan
utama kawasan perbatasan negara, antara lain: pengembangan
prasarana dan sarana pertahanan, promosi, investasi,
pemasaran, simpul transportasi, dan/atau kepabeanan,
imigrasi, karantina, dan keamanan; pengembangan industri
pengolahan dan industri jasa hasil pertanian tanaman
pangan, perkebunan, perikanan; pengembangan pariwisata;
pengembangan prasarana dan sarana air minum, jaringan air
limbah, drainase, dan pengelolaan sampah; pengembangan

prasarana dan sarana pelayanan tenaga listrik, telekomunikasi,
fasilitas sosial, dan fasilitas umum; serta pengembangan atau
pemantapan jaringan jalan arteri primer, kolektor primer, dan jaringan
jalan strategis nasional untuk meningkatkan aksesibilitas PKSN.
Tahun 2015, beberapa PKSN dan atau pusat pelayanan pintu gerbang
yang menjadi prioritas pengembangan antara lain PKSN Entikong,
PKSN Nangabadau, PKSN Paloh-Aruk, PKSN Nunukan, PKSN
Atambua, Motaain, Motamasin, dan Skow.
Terkait program pengembangan infrastruktur, terdapat beberapa
contoh yang menjadi prioritas untuk tahun 2015-2019, antara lain:
1. Pada kawasan perbatasan di Kalimantan: (i) pengembangan
jaringan jalan arteri primer Balai Karangan-Entikong-Batas
Negara: (ii) pengembangan jaringan jalan kolektor primer
Aruk-Teberau-Rasau-Sepulau-Nanga Badau dan Nanga BadauLanjak-Mataso-Tanjung Kerja-Putussibau; (iii) pengembangan
dan peningkatan jaringan jalan strategis nasional PKSN
Nunukan - Pelabuhan Tunon Taka-Bandar Udara Nunukan;
(iv) peningkatan pengelolaan sumber air dari daerah Aliran
Sungai (DAS) Sambas; (v) pengembangan Irigasi di Sanggau;
(vi) pembangunan Embung Sanggau dan Embung Bolang;
(vii) pengembangan Waduk Bilal; (viii) pengembangan sistem
pengamanan pantai di Pulau Sebatik; (ix) pengembangan SPAM
dan sistem drainase di Paloh-Aruk, Entikong, Nanga Badau,
Nunukan; (x) pengembangan prasarana dan sarana dasar
Kawasan PPLB Aruk; (xi) pengembangan Tempat Pemprosesan
Akhir (TPA) di Nangabadau dan Nunukan; (xii) peningkatan dan
pemantapan Bandar Udara Paloh; dan (xiii) pengembangan depo
minyak dan gas bumi Tanjung Api.
2. Pada kawasan perbatasan di Provinsi NTT: (i) peningkatan dan
pemantapan jaringan jalan arteri primer Kefamenanu-MaubesiNesam/Kiupukan-Halilulik-Atambua-Lahafeham-Motoain; (ii)
peningkatan dan pemantapan jaringan jalan strategis nasional

Kawasan Perbatasan di Kec. Lumbis Ogong, Kab. Nunukan, Prov. Kalimantan Utara. sumber: citizendaily.net

buletin tata ruang & pertanahan

17

Dukungan Pertanahan untuk
Perwujudan Kawasan Perbatasan
Negara
Terkait pertanahan, setidaknya terdapat 4
(empat) bentuk dukungan untuk perwujudan
kawasan perbatasan negara. Pertama,
pemberian sertifikat hak atas tanah di
kawasan perbatasan negara dan Pulau-Pulau
Kecil Terluar (PPKT). Upaya ini selain sebagai
pengakuan atas wilayah negara, juga sebagai
upaya modal ekonomi bagi masyarakat yang
tinggal di kawasan perbatasan negara dan
PPKT. Pemberian hak atas tanah tersebut
harus sesuai dengan peruntukan lahan
yang ditetapkan dalam RTR. Kedua, neraca
tanah sebagai dasar pengadaan tanah untuk
Gerbang perbatasan Skouw-Wutung antara Indonesia dengan Papua Nugini
pembangunan infrastruktur dan izin lokasi
sumber: www.kanalsatu.com
investasi. Ketiga, evaluasi hak atas tanah
sebagai penegasan tertib penataan ruang
Batuputih-Panite-Kalbano-Boking-Wanibesak-Besikamadi
kawasan
perbatasan
khususnya yang menyimpang dari RTRW.
Motamasin; (iii) pengembangan Embung Haekrit; (iv)
Keempat,
pemberian
hak
komunal bagi masyarakat adat yang
peningkatan dan pemantapan Daerah Irigasi (DI) Haliwen, DI
telah
bertempat
tinggal
selama
10 (sepuluh) tahun sebagai hak
Haekesak, DI Maubusa, DI Holeki, DI Halileki, DI Nobelu; (v)
pengakuan
negara.
pengembangan dan peningkatan SPAM jaringan perpipaan
di Atambua; (vi) pengembangan dan peningkatan sistem
Perlu digarisbawahi beberapa hal sebagai tindak lanjut, tidak hanya
jaringan drainase di Atambua; (vii) pengembangan TPA
bagi Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN saja, namun juga
di Kecamatan Kakuluk Mesak; (viii) pengembangan dan
bagi semua stakeholders terkait, antara lain:
peningkatan Pelabuhan Wini; (ix) pengembangan dan
1. percepatan penyelesaian RTR Kawasan Perbatasan Negara
peningkatan Bandar Udara Haliwen; (x) pengembangan
khususnya RTR Kawasan Perbatasan Negara di Provinsi
depo minyak dan gas bumi pada PKSN Atambua; dan
Sulawesi Utara-Provinsi Gorontalo-Provinsi Sulawesi Tengah(xi) pengembangan jaringan satelit untuk melayani pusat
Provinsi Kalimantan Timur-Kalimantan Utara, RTR Kawasan
pelayanan kawasan perbatasan negara.
Perbatasan Negara di Aceh dan Provinsi Sumatera Utara, dan
3. Pada kawasan perbatasan di Provinsi Papua: (i)
RTR Kawasan Perbatasan Negara di Provinsi Riau dan Provinsi
pengembangan jaringan jalan arteri primer (4 Jalur) yang
Kepulauan Riau;
menghubungkan Sentani-Abepura-Hamadi-Jayapura-Koya2. partisipasi masyarakat/dunia usaha sangat dibutuhkan
Skow untuk melayani Skow; (ii) pengembangan sumber
tetapi kegiatan harus sesuai dengan RTR dan manajemen
air permukaan pada Danau Sentani; (iii) pengembangan DI
pertanahan yang efektif dan berkelanjutan;
Koya; (iv) pengembangan sistem pengaman pantai di Distrik
3.
khusus pembangunan infrastruktur di kawasan perbatasan
Jayapura Utara dan Distrik Muaratami di Kota Jayapura; (v)
negara adalah hal utama dan pertama untuk mengejar
pengembangan intake dan jaringan pipa transmisi air baku di
ketertinggalan yang ada.
Kabupaten Keerom, Kota Jayapura, dan Kabupaten Jayapura;
(vi) pengembangan SPAM non perpipaan
di desa rawan air/pesisir/terpencil di distrik
yang belum terjangkau SPAM dan/atau
Pos Pengaman Perbatasan yang berada di
distrik Muara Tami di Kota Jayapura, distrik
Towe, distrik Senggi, distrik Waris, dan
distrik Arso Timur di Kabupaten Keerom;
(vii) pengembangan dan peningkatan
sistem jaringan air limbah terpusat di
Jayapura; (viii) penataan kawasan (kawasan
perdagangan, fasilitas CIQS, permukiman
petugas, fasilitas pertahanan dan
keamanan) di sekitar pos lintas batas skow
dan Waris; (ix) pengembangan Pelabuhan
Jayapura; (x) pemantapan Bandar Udara
Sentani; (xi) pengembangan PLTU PLTU
Jayapura-Skouw; dan (xii) pengembangan
Jayapura (Skyland)-Sentani.

18

buletin tata ruang & pertanahan

Gapura yang Membatasi Wilayah Indonesia dan Papua Nugini
sumber: www.kabarpapua.net

melihat dari dekat

Entikong

gerbang terdepan perbatasan Indonesia

S

ecara geografis, Indonesia berbatasan darat dengan negara Malaysia, Timor Leste, dan Papua Nugini sepanjang 3092,8 km. Titik
perbatasan tersebar di 3 (tiga) pulau, 4 (empat) Provinsi, dan 15 Kab/Kota dengan karakteristik yang berbeda. Buletin TRP kali ini
melihat lebih dekat salah satu kawasan perbatasan yang menjadi titik awal pembangunan perbatasan di era Presiden Joko Widodo,
yaitu kecamatan Entikong, kabupaten Sanggau, provinsi Kalimantan Barat.
Kecamatan Entikong merupakan kecamatan perbatasan yang
berlokasi di ujung utara kabupaten Sanggau yang berbatasan
langsung dengan Serawak – Malaysia. Kecamatan Entikong
memiliki luas 506, 89 km2, yang terdiri dari 5 desa dan 28 dusun,
dengan jumlah penduduk ±13.514 jiwa (tahun 2012). Sebagian
besar penduduk Entikong bermata pencaharian sebagai petani.
Di dalam Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), Entikong menjadi
salah satu Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) yang berada
di pintu perbatasan darat Indonesia, dengan sudut kepentingan
pertanahan dan keamanan, dan menjadi Pusat Kegiatan
Wilayah (PKW) Propinsi Kalimantan Barat. Pengembangan PKSN
dimaksudkan untuk menyediakan pelayanan yang dibutuhkan untuk
mengembangkan kegiatan masyarakat di kawasan perbatasan,
termasuk pelayanan kegiatan lintas batas antarnegara. Berdasarkan
rancangan Rencana Tata Rinci (RTR) Kawasan Perbatasan
Kalimantan, PKSN Entikong ini berfungsi sebagai: (i) pintu gerbang
utama; (ii) pusat pelayanan kepabeanan, imigrasi, karantina,
dan keamanan; (iii) pusat kegiatan hankam negara; (iv) pusat
perdagangan dan jasa; (v) pusat industri; dan (vi) pusat pelayanan
sistem angkutan umum penumpang.
Sementara, berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 3 Tahun
2012 tentang RTR Pulau Kalimantan, PKSN dan PKW Entikong akan
dikembangkan sebagai pusat industri pengolahan hasil perkebunan
(kelapa sawit dan karet), hasil hutan, dan hasil pertanian. Selain
itu, fungsinya ditingkatkan sebagai pusat kegiatan pertanahan
keamanan negara, pertumbuhan ekonomi, pintu gerbang
internasional dan simpul transportasi kawasan perbatasan.
Pada tahun 2013, Ditjen Cipta Karya – Kementerian PU telah
menyusun masterplan dan DED (Detail Engineering Design) di
kawasan PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Entikong. Tujuannya
adalah untuk menciptakan kawasan perbatasan (border area) yang
representatif dan tertata dengan baik, yang nantinya akan menjadi
panduan terukur dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan.
Sebagaimana dapat dilihat pada rencana struktur ruang lokasi
prioritas (lokpri) Entikong, berdasarkan evaluasi dan peninjauan
kembali Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perbatasan
Entikong Tahun 2012, pusat primer bertumpu pada PBLN Entikong
dan memiliki pusat sekunder dan tersier sebagai buffer zone.
Dibandingkan dengan kawasan perbatasan lainnya, Entikong sudah
memiliki Custom, Immigration, Quarantine, and Security (CIQS)
dengan kondisi yang cukup baik, dan termasuk dalam PLBN Tipe
A. PLBN Tipe A, yaitu gerbang lintas batas negara yang dilengkapi
dengan CIQ dan status keimigrasianya dinyatakan sebagai Tempat
Pemeriksaan Imigrasi (TPI), bagi para pelintas batas diwajibkan
menggunakan dokumen paspor atau pas lintas batas bagi
penduduk kecamatan perbatasan. PLBN ini bersifat internasional,

yang dilengkapi dengan sedikitnya 5 (lima) jenis pemeriksaan,
yaitu: (i) C (Custom), pemeriksaan bea dan cukai; (ii) I (Imigration),
pemeriksaan imigrasi; (iii) Q1 (Quarantine-1, pemeriksaan
Kesehatan Manusia; (iv) Q2 (Quarantine-2), pemeriksaan kesehatan
Hewan/tumbuhan; (v) Q3 (Quarantine-3), pemeriksaan kesehatan
ikan. Unsur S (Security), yang meliputi pemeriksaan keamanan
melalui jajaran TNI/POLRI merupakan unsur pelayanan pendukung
yang sangat penting dan sebagai back up atas unsur pelayanan
utama PLBN (CIQ).
Isu – isu yang mengemuka di kawasan PLBN Entikong, antara
lain: (i) masih terdapat beberapa wilayah yang belum dapat
dijangkau dengan transportasi darat (kawasan terisolir); (ii) rentan
terhadap infiltrasi karena keterbatasan sarana dan prasarana
yang dimiliki terutama dalam hal pengawasan dan pengamanan
wilayah; (iii) pembangunan dilakukan secara parsial dan temporal
sehingga pembangunan yang dilaksanakan selama ini kurang
sinergis dan terpadu; dan (iv) belum ada peraturan pelaksanaan
terkait pengelolaan kawasan perbatasan yang menyangkut Badan
Pengelola Perbatasan Negara sehingga hal ini mengakibatkan
kurangnya koordinasi antarinstansi – instansi terkait di tingkat
daerah maupun pusat.
Banyak masalah yang harus diatasi, untuk itu secara bertahap
pembangunan fasilitas di kecamatan Entikong terus ditingkatkan,
baik oleh pemerintah kabupaten Sanggau, pemerintah provinsi,
maupun pemerintah pusat. Beberapa kegiatan skala besar yang
sudah dilaksanakan, antara lain: (i) pembangunan perumahan
taman perbatasan indah Entikong; (ii) Rumah Susun Sederhana
Sewa (Rusunawa); (iii) Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB)
Entikong; (iv) Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Entikong; (v)
Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Entikong; (vi) Jalan batas
kabupaten Entikong – Suruh Tembawang; (vii) pasar tradisional
Entikong; (viii) Balai Latihan Kerja (BLK) Entikong; (ix) perkantoran
stasiun karantina ikan, tumbuhan dan kesehatan; dan (x)
pembangunan sarana dan prasarana bea dan cukai entikong
(perbatasan).
Sebagaimana janji Presiden Joko Widodo, “wilayah perbatasan
akan dijadikan etalase Indonesia”, maka pembangunan kawasan
perbatasan menjadi prioritas 5 (lima) tahun mendatang. Hal
ini dibuktikan dengan alokasi dana Rp 1 triliun lebih untuk
pembangunan perbatasan Entikong, salah satunya melalui
pembangunan dry port yang akan memudahkan kegiatan ekspor –
impor [gp].
sumber: diolah dari berbagai sumber

buletin tata ruang & pertanahan

19

Sosialisasi
Peraturan

Penataan Wilayah Pertahanan Nasional
(Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 2014)

W

ilayah Pertanahan terdiri atas: a) pangkalan militer atau kesatrian; b) daerah latihan militer; c) instalasi militer; d) daerah uji coba

peralatan dan persenjataan militer; e) daerah penyimpanan barang eksplosif dan berbahaya lainnya; f) daerah disposal amunisi dan
peralatan pertahanan berbahaya lainnya; g) obyek vital nasional yang bersifat strategis; dan/atau h) kepentingan pertahanan udara. Wilayah
pertahanan tersebut dapat ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) dari sudut kepentingan pertahanan dan keamanan.
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) KSN dari sudut
kepentingan pertanahan dan keamanan dilakukan oleh pemangku
kepentingan tingkat nasional dengan melibatkan peran serta
masyarakat. Dalam proses persiapan penyusunan, melibatkan
unsur TNI. Dalam merumuskan konsepsi rencana, paling sedikit
harus mengacu pada: i) Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
(RTRWN); ii) Rencana Wilayah Pertahanan (RWP); iii) kebijakan
umum pertahanan negara; iv) kebijakan penyelenggaraan
pertahanan negara; dan v) pedoman dan petunjuk pelaksanaan
bidang penataan ruang dan pertanahan. RTR tersebut harus
memuat tujuan, kebijakan, strategi, dan konsep pengembangan
KSN. RWP dan RRWP yang dihasilkan dari perencanaan wilayah
pertahanan, digunakan sebagai salah satu masukan dalam
menyusun RTRWN dan RTR KSN.

Rencana Wilayah Pertahanan (RWP)
RWP disusun dengan memperhatikan: i) kebijakan dan strategi
pertahanan negara; ii) sistem pertahanan negara; iii) ketersediaan
sumber daya dan sarana prasarana nasional; iv) kesejahteraan dan
kepentingan masyarakat; dan v) RTRW beserta rencana rincinya.
RWP memuat lokasi wilayah pertahanan yang digambarkan dalam
peta skala 1: 1.000.000. RWP (yang memuat lokasi wilayah
pertahanan poin (d) s/d (h)) ditetapkan dengan Keputusan Menteri,
berlaku selama 20 (dua puluh) tahun, dan ditinjau kembali 1 (satu)
kali dalam 5 (lima) tahun. Peninjauan kembali lebih dari 1 (satu)
kali dalam 5 tahun dapat dilakukan, jika terjadi: i) bencana berskala
nasional; ii) perubahan batas teritorial yang ditetapkan dengan
Undang – Undang; dan c) perubahan kebijakan nasional di bidang
pertahanan.

Rencana Rinci Wilayah Pertahanan (RRWP)
RRWP merupakan alat operasionalisasi RWP dan sebagai dasar
untuk mengembangkan sarana dan prasarana pertahanan,
terdiri atas: a) RRWP darat; b) RRWP laut; dan c) RRWP udara.
Rencana ini disusun oleh masing – masing Kepala Staf Angkatan
secara teringtegrasi dan terkoordinasi antarmatra darat, laut,
dan udara. RRWP ditetapkan dengan Keputusan Menteri setelah
memperhatikan saran dari Panglima TNI.
Pemanfaatan Wilayah Pertahanan dilakukan dengan tidak
mengganggu fungsi lingkungan hidup dan ekosistem alami, serta
memerhatikan peningkatan nilai tambah bagi Wilayah Pertahanan
yang bersangkutan. Pemanfaatan di luar fungsi pertahanan harus
mendapat ijin Menteri.
Untuk pembangunan atau pengembangan wilayah pertahanan,
dilaksanakan pengadaan tanah. Pemerintah dan/atau pemerintah
daerah wajib menyediakan lahan, dan penyediaan lahan dilakukan
atas usul Menteri. Jika diperlukan lahan untuk daerah latihan
militer, Pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib menyediakan

20

buletin tata ruang & pertanahan

Kawasan Indonesia Peace and Security Center (IPSC) Sentul
Sumber: www.beritadaerah.co.id

lahan bagi satuan TNI dari tingkat latihan perorangan sampai
dengan tingkat latihan gabungan TNI.
Daerah latihan militer pada skala nasional terdiri atas 3 (tiga)
daerah latihan gabungan TNI; pada skala provinsi, terdiri atas
1 (satu) daerah latihan gabungan TNI setingkat: a) batalyon TNI
Angkatan Darat; b) gugus tempur laut; dan/atau c) skuadron udara
atau batalyon Paskhas TNI Angkatan Udara; sedangkan pada skala
kabupaten, terdiri atas 1 (satu) daerah latihan TNI setingkat kompi.
Pemerintah dan/atau pemerintah daerah juga menyiapkan
wilayahnya untuk digunakan sebagai daerah latihan militer yang
bersifat sementara. Penyiapan wilayah dilakukan atas permintaan
pimpinan satuan TNI sesuai kewenangannya paling rendah
setingkat satuan komando kewilayahan setempat. Penyiapan
wilayah tersebut, meliputi: aspek geografi, demografi, serta
infrastruktur pendukung penyelenggaraan kepentingan pertahanan.
Sedangkan untuk penggunaan wilayah, harus memerhatikan hak
masyarakat, nilai sosial budaya masyarakat, dan keseimbangan
ekosistem, dengan berkoordinasi dengan instansi terkait [gp].

DEFINISI
Wilayah Pertahanan adalah wilayah yang ditetapkan untuk
mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah
NKRI dan keselamatan segenap bangsa dari ancaman
dan gangguan keutuhan bangsa dan negara.
• Rencana Wilayah Pertahanan (RWP) adalah hasil
perencanaan wilayah yang mengindikasikan lokasi
Wilayah Pertahanan untuk kepentingan pertahanan
negara.
• Rencana Rinci Wilayah Pertahanan (RRWP) adalah jabaran
dari perencanaan wilayah yang mengindikasikan lokasi
Wilayah Pertahanan, sesuai matra TNI Angkaran Darat,
TNI Angkatan Laut, dan TNI Angkatan Udara yang dibuat
secara rinci untuk kepentingan pertahanan negara.

Rencana Tata Ruang Kawasan Perbatasan Negara di Provinsi Nusa
Tenggara Timur (Peraturan Presiden No. 179 Tahun 2014)
Tujuan dan Kebijakan
Penataan ruang kawasan perbatasan negara di Provinsi Nusa
Tenggara Timur (NTT) bertujuan untuk mewujudkan: a) kawasan
berfungsi pertahanan dan keamanan negara yang menjamin
keutuhan, kedaulatan, dan ketertiban wilayah negara yang
berbatasan dengan Timor Leste dan Australia; b) kawasan berfungsi
lindung di kawasan perbatasan negara yang lestari; dan c) kawasan
budidaya ekonomi perbatasan yang mandiri dan berdaya saing.
Untuk mewujudkan kawasan berfungsi pertahanan dan keamanan
negara yang berbatasan dengan Timor Leste dan Australia, strategi
yang dilakukan adalah:
1. penegasan dan penetapan batas wilayah negara demi terjaga
dan terlindunginya kedaulatan negara dan keutuhan wilayah
negara;
2. pengembangan prasarana dan sarana pertahanan dan
keamanan negara yang mendukung kedaulatan dan keutuhan
batas wilayah negara; dan
3. pengembangan sistem pusat permukiman perbatasan negara
sebagai pusat pertahanan dan keamanan negara di kawasan
perbatasan negara.
Strategi penegasan dan penetapan batas wilayah negara, antara
lain: (i) menegaskan titik koordinat dari Barat; (ii) menetapkan
titik – titik koordinat di bagian Barat; (iii) menegaskan titik – titik
garis pangkal kepulauan di PPKT (Pulau – Pulau Kecil Terluar); (iv)
menegaskan titik – titik garis pangkal dari Timur; (v) menetapkan
batas laut Teritorial; (vi) menetapkan batas yuridiksi pada batas
Landas Kontinen Indonesia dan batas Zona Ekonomi Eksklusif
(ZEE); dan (vii) meningkatkan kerjasama dalam rangka gelar operasi
keamanan.
Pengembangan prasarana dan sarana pertahanan dan keamanan
negara yang mendukung kedaulatan dan keutuhan batas wilayah
negara, dilaksanakan melalui: (i) pengembangan pos pengamanan
perbatasan dengan jarak 20 km atau sesuai kondisi fisik dan
potensi kerawasan di sepanjang garis batas wilayah negara dan di
sepanjang pesisir dan PPKT; dan (ii) pengembangan infrastruktur
penanda di PPKT. Sedangkan, strategi pengembangan sistem pusat
permukiman perbatasan negara, meliputi: (i) pengembangan Pusat
Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) sebagai pusat pelayanan utama;
(ii) pengembangan kota kecamatan sebagai pusat pelayanan
penyangga; dan (iii) pengembangan pusat pelayanan pintu gerbang,
yang merupakan bagian dari rencana struktur ruang.

Rencana Struktur Ruang
Rencana struktur ruang kawasan perbatasan negara ditetapkan
dengan tujuan untuk meningkatkan pelayanan pusat kegiatan,
kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana, serta fungsi
Kawasan Perbatasan Negara sebagai beranda depan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Rencana struktur ruang
yang merupakan sistem pusat permukiman perbatasan negara,
terdiri atas: i) pusat pelayanan utama yang merupakan PKSN; ii)
pusat pelayanan penyangga yang merupakan kota kecamatan;
dan iii) pusat pelayanan pintu gerbang yang merupakan kawasan
perkotaan.
PKSN ditetapkan di PKSN Kalabahi di kabupaten Alor, PKSN
Atambua di kabupaten Belu, dan PKSN Kefamenanu di kabupaten

Gerbang Perbatasan Indonesia dengan Timorleste di Mota’ain
Sumber: www.nttprov.go.id

Timor Tengah Utara. Sedangkan pusat pelayanan penyangga
ditetapkan di Haekesak di kabupaten Belu dan Wemasa di
kabupaten Malaka. Sementara, pusat pelayanan pintu gerbang
ditetapkan di 8 (delapan) lokasi, yaitu: Maritaing, Motaain,
Turiskain, Motamasin, Wini, Napan, Haumeni Ana, dan Oepoli.

Rencana Pola Ruang
Rencana pola ruang Kawasan Perbatasan Negara di provinsi
NTT ditetapkan dengan tujuan mengoptimalkan pemanfaatan
ruang sesuai dengan peruntukannya sebagai Kawasan Lindung
dan Kawasan Budi Daya secara berkelanjutan, dengan prinsip
keberimbangan antara pertanahan dan keamanan negara,
kesejahteraan masyarakat, serta kelestarian lingkungan.
Kawasan lindung ditetapkan dengan tujuan, salah satunya untuk
mempertahankan PPKT, dengan kriteria, yaitu kawasan hutan
lindung di PPKT dan pulau kecil berpenghuni dengan faktor
kemiringan lereng, jenis tanah, atau intensitas hujan. Kawasan
yang merupakan kawasan hutan lindung di PPKT, meliputi: Pulau
Batek di kecamatan Amfoang Timur – kabupaten Kuang; Pulau
Dana di kecamatan Raijua – kabupaten Sabu Raijua; dan Pulau
Mangudu di kecamatan Karera – kabupaten Sumba Timur.
Zona Budidaya di provinsi NTT, terdiri atas zona budidaya dan zona
perairan. Zona perairan terbagi dua, yakni: i) zona perairan mulai
batas Laut Teritorial Indonesia hingga garis pantai atau hingga
perairan dengan jarak 24 mil laut dari garis pangkal kepulauan,
yang berfungsi pemertahanan wilayah kedaulatan negara dan
perlindungan titik – titik pangkal kepulauan dari abrasi (Zona A1);
dan ii) zona perairan mulai batas Laut Teritorial Indonesia hingga
batas Landas Kontinen Indonesia dan/atau Zona Ekonomi Eksklusif
Indonesia yang berfungsi pemanfaatan sumber daya alam sesuai
potensi lestari (Zona A2). Zona A1 ditetapkan di perairan Selat
Ombai, Laut Sawu, Laut Timor, dan Samudera Hindia. Sedangkan,
Zona A2 berada di perairan Selat Ombai, Laut Timor, dan
Samudera Hindia [gp].

DEFINISI
• Garis Batas Klaim Maksimum adalah garis batas maksimum

laut yang belum disepakati dengan Negara Timor Leste dan
Negara Australia atau yang berbatasan dengan laut lepas
(high seas) yang diklaim secara unilateral oleh Indonesia
dan telah digambarkan dalam peta NKRI.
• Pos Lintas Batas (PLB) adalah tempat pemeriksaan lintas
batas bagi pemegang pas lintas batas dan paspor.

buletin tata ruang & pertanahan

21

Kliping Berita

Januari - Juni 2015

D

i awal Januari 2015, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden No. 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) 2015 – 2019. RPJMN yang juga berisi visi, misi, dan agenda Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden
Muhammad Jusuf Kalla merupakan pedoman bagi pemerintah untuk melaksanakan pembangunan dalam lima tahun ke depan. Sesuai
dengan amanat Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025, sasaran pembangunan nasional dalam RPJMN
2015-2019 ditekankan pada peningkatan daya saing bangsa di berbagai bidang.

JANUARI
Pemanfaatan tata ruang Laguna Segara Anakan yang memisahkan
daratan Pulau Jawa dan Samudra Indonesia di kabupaten
Cilacap, Jawa Tengah, belum memiliki landasan aturan yang jelas.
Akibatnya, kerusakan ekosistem laguna bertambah parah tanpa
penanganan efektif. Padahal, kawasan ini telah dimasukkan dalam
kawasan strategis nasional. Kerusakan ekosistem diperparah
penyusutan luas hutan bakau dari 15.000 hektar pada 1980-an
menjadi 8.000 hektar. Kedalaman laguna kini 1-1,5 meter. Padahal,
sesuai Peraturan Pemerintah No.26/2008, pemerintah pusat telah
menetapkan Laguna Segara Anakan sebagai Kawasan Strategis
Nasional dalam jejaring Pancangsanak. Kawasan itu meliputi
Pangandaran-Kalipuncang-Segara Anakan-Nusakambangan.

(Kompas, 15 Januari 2015)
Pemerintah akan membentuk badan yang berfungsi sebagai bank
tanah. Badan itu akan membantu penyediaan tanah untuk proyek
infrastruktur, termasuk perumahan bagi masyarakat berpenghasilan
rendah. Menteri PPN/Kepala Bappenas, Andrinof Chaniago
mengatakan bank tanah berfungsi mengoreksi harga tanah yang
terus membumbung. Harga rumah yang mahal akibat harga
tanah yang sangat tinggi. Saat ini, kekurangan 13,5 juta rumah
merupakan masalah yang sangat serius. Padahal, setiap tahun
setidaknya ada satu juta rumah tangga baru yang membutuhkan
rumah dan sebagian besar kesulitan mendapatkan rumah karena
harganya yang sangat tinggi. (Kompas, 15 Januari 2015)
Berbagai sektor di pemerintahan pusat dan daerah memerlukan
Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Namun, perencanaan itu
belum didukung citra satelit beresolusi tinggi. Hanya 3,5 persen
wilayah yang punya citra satelit resolusi tinggi. Dari 1,9 juta km2
luas wilayah Indonesia, hanya 68.000 km2 yang punya citra
resolusi tinggi di bawah 60 cm. Dari 1,9 juta km2 setelah dikurangi
kawasan hutan, data yang jadi prioritas pencitraan resolusi tinggi
500.000 km2. Untuk mendapat citra resolusi tinggi bagi daerah
prioritas seluas 500.000 km2 butuh dana 5 juta euro atau 9 juta
dollar AS atau Rp 112,5 miliar. (Kompas, 30 Januari 2015).

FEBRUARI
Pemerintah berjanji mengurai satu per satu hambatan bidang
pertanahan dan perumahan. Satu contoh yang sedang dibahas
serius Kementerian Agraria dan Tata Ruang adalah rencana
penghapusan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB), serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan (BPHTB). Sebagai tahap awal, rencana ini berlaku bagi
rumah tinggal, rumah ibadah, dan rumah sakit. PBB dan BPHTB
tetap dipungut bagi properti komersial, seperti hotel, restoran dan
warung, serta properti dengan luas di atas 200 m. (Kompas.com)

22

buletin tata ruang & pertanahan

Pengakuan hak masyarakat adat atas wilayah kian terabaikan
setelah Rancangan Undang-Undang Pengakuan dan Perlindungan
Masyarakat Adat gagal masuk prioritas Program Legislasi Nasional
2015. Kondisi itu tak sejalan dengan Nawa Cita Presiden Joko
Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk melindungi hak-hak
masyarakat adat.Komitmen pemerintah untuk membentuk satuan
tugas nasional pengakuan dan perlindungan masyarakat hukum
adat belum terwujud. Padahal, satgas itu bertugas menyiapkan
kerangka pengakuan dan perlindungan hak-hak masyarakat adat.

(Kompas, 20 Februari 2015)
Pemerintah membuka lahan pertanian seluas 9 juta hektar untuk
menumbuhkan pusat ekonomi baru berbasis pertanian dan
perkebunan, terutama di kawasan perbatasan. Pemerintah akan
membagikan lahan tersebut kepada 4,5 juta petani marjinal.
Menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya,
kebutuhan 9 juta hektar lahan itu berasal dari area penggunaan lain
di bawah otoritas BPN (Badan Pertanahan Nasional) dan kawasan
hutan produksi yang dikonversi menjadi lahan pertanian. (Kompas,

28 Februari 2015)

MARET
Pulau Jawa saat ini dinilai sangat kritis jika dilihat dari buruknya
daya dukung lingkungan dan tingginya konflik agraria. Namun,
izin penambangan masih terus diberikan dengan mengonversi
daerah tangkapan air, hutan, dan kawasan pertanian. Laporan
penelitian Jaringan Advokasi Tambang hingga 2013, izin tambang
karst di pulau Jawa mencapai 76 izin, mencakup 23 kabupaten,
42 kecamatan, dan 52 desa dengan total konsesi tambang karst
34.944,90 hektar. Pulau Jawa tak hanya dibebani industri ekstraktif.
Jawa juga pulau terpadat
dengan 1.057 jiwa per
kilometer. Lebih dari 50
persen penduduk Indonesia
tinggal di pulau Jawa
sehingga setiap masuknya
industri ekstraktif di Jawa
berpotensi bersinggungan
dengan masyarakat.

(Kompas, 11 Maret 2015)
Dalam Rencana Kehutanan
Tingkat Nasional 20112030, target luas kawasan
hutan yang dialokasikan
untuk usaha hutan skala
sumber: kompas.com

kecil (oleh masyarakat) seluas 5,6 juta hektar. Itu target yang
sangat kecil jika dibandingkan dengan alokasi kawasan hutan
untuk usaha kehutanan skala besar yang mencapai 43,6 juta
hektar. Angka tersebut mau tak mau harus direvisi. Dalam RPJMN
2015-2019 terdapat angka jelas, target pemberian hak kelola
hutan kepada masyarakat seluas 2,54 juta hektar pada tahun
2015, lalu tahun 2016 seluas 5,08 juta hektar, tahun 2017 seluas
7,62 juta hektar, tahun 2018 seluas 10,16 juta hektar, dan tahun
2019 ditargetkan seluas 12,7 juta hektar. Bentuknya berupa hutan
kemasyarakatan, hutan desa, hutan tanaman rakyat, hutan rakyat,
hutan adat, dan hutan kemitraan. (Kompas, 16 Maret 2015)

APRIL
Sejumlah pemukim liar merambah hutan penyangga waduk di
Batam, Kepulauan Riau. Hal ini merupakan masalah yang tidak
kunjung selesai di Batam.Mereka membuat rumah, berternak,
serta berkebun di areal hutan penyangga Waduk Duriangkang.
Selain untuk hunian, sebagian perambah hanya mengambil kayu.
Dalam 3,5 bulan terakhir, sudah 10 kali Badan Pengusahaan (BP)
Batam sebagai pengelola waduk Batam dan hutan penyangganya
menemukan pembalakan liar. (Kompas, 15 April 2015)
Pembangunan jalan rel untuk kereta Bandar Udara SoekarnoHatta masih menunggu pembebasan lahan. Hingga akhir April ini,

Sanksi pidana dan perdata terhadap pelanggar Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW), seperti amanat UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang, dinilai belum memberikan efek jera. Karena itu,
diperlukan sanksi tambahan berupa pencabutan wewenang tata
ruang terhadap pemerintah daerah yang melanggar aturan sendiri.
Pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota diberi waktu hingga akhir
tahun ini untuk menyelesaikan peraturan daerah RTRW. Jika sampai
awal 2016 mereka tidak mempunyai peraturan daerah RTRW,
kewenangan memanfaatkan kawasan akan dicabut atau diambil
alih pemerintah pusat. (Kompas, 27 Mei 2015)

JUNI
Masalah perubahan agraria dan kemiskinan di pedesaan semakin
kompleks, tetapi studi mengenai itu sangat minim. Di Indonesia,
studi ini lebih minim lagi karena selama 30 tahun Orde Baru,
penggunaan analisis relasi kelas dalam melihat perubahan agraria
tidak dimungkinkan. Menurut Suraya Afif, pengajar Antropologi
Universitas Indonesia, baru setelah era Reformasi, kajian relasi
kelas digunakan. Namun, belum banyak yang menggunakannya
untuk mengaji persoalan agraria. Persoalan agraria sangat penting
karena lebih dari 50 persen penduduk tinggal di pedesaan dan
tiga perempatnya petani kecil. Bahkan, banyak yang tidak memiliki
tanah. (Kompas, 03 Juni 2015)
Laju deforestasi hutan Indonesia pada periode 2000-2009 sekitar
1,5 juta hektar per tahun (Forest Watch Indonesia). Tahun 2012,
pada acara khusus forum Konferensi Pembangunan Berkelanjutan
Rio+20 di Brasil, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,
memaklumatkan, laju deforestasi Indonesia tinggal 450.000
hektar per tahun. Angka itu masih terus jadi perdebatan karena
berdasarkan metode penelitian lainnya, angkanya masih di atas 1
juta hektar. Faktanya, hutan menjadi obyek korupsi, sarat konflik
antara masyarakat dan korporasi, warga dengan pemerintah,
serta ada banyak soal tenurial melibatkan masyarakat adat/lokal.
Bencana menjadi dampak terujung dari kekacauan tata kelola.
(Kompas, 04 Juni 2015)

sumber: tataruangpertanahan.com

masih dalam masa sanggah dari warga pemilik tanah yang terkena
pembebasan lahan. Setelah masa sanggah, barulah dilakukan
pembayaran atas tanah yang terkena proyek ini. Pembangunan rel
sepanjang 6 kilometer yang menyambungkan jalur lingkar dengan
bandara serta persinyalan ini diperkirakan memakan waktu sekitar
satu tahun. Adapun rute kereta bandara adalah Stasiun ManggaraiSudirman Baru-Tanah Abang-Duri-Batu Ceper-Bandara SoekarnoHatta. (Kompas, 15 April 2015)

MEI
Dalam Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 1986 Tahun
2000, dari 110 pulau yang ada di Kepulauan Seribu, 23 pulau di
antaranya milik pribadi. Bandingkan dengan 11 pulau ditinggali
penduduk sebanyak 21.000 orang. Berdasarkan data Polda
Metro Jaya, 66 pulau dimiliki perorangan yang tersebar di enam
kelurahan. Di kelurahan Pulau Panggang terdapat 7 pulau pribadi,
Pulau Kelapa 27 pulau, Pulau Harapan 23 pulau, Pulau Tidung 2
pulau, Pulau Untung Jawa 2 pulau, dan Pulau Pari 6 pulau.Potensi
penyalahgunaan narkoba, misalnya, bisa terjadi karena masingmasing pemilik pulau pribadi menutup akses ke pulau tersebut.
(Kompas, 28 Mei 2015)

sumber: suaratambang.com

Untuk membaca lebih lengkap seluruh berita-berita tersebut,
silakan mengunjungi Portal Tata Ruang dan Pertanahan (Portal TRP)
di www.tataruangpertanahan.com dan bergabung di milis Tata
Ruang dan Pertanahan http://groups.google.com/group/tataruang-dan-pertanahan.

buletin tata ruang & pertanahan

23

Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional

D

i awal masa pemerintahan Jokowi – JK, Presiden Joko Widodo melakukan perubahan terhadap beberapa nama kementerian/lembaga
di struktur Kabinet Kerja. Salah satunya,untuk Bidang Tata Ruang dan Pertanahan, dilakukan penggabungan antara Direktorat Jenderal
Penataan Ruang – Kementerian Pekerjaan Umum dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) menjadi Kementerian Agraria dan Tata Ruang
(ATR)/BPN, dan telah ditetapkan dengan Peraturan Presiden (Perpres) No. 17 Tahun 2015 tentang Kementerian Agraria dan Tata Ruang.

Ferry Mursyidan Baldan, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN
Sumber: www.mediasionline.com

Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Badan Pertanahan
Nasional (BPN) bertugas menyelenggarakan tugas pemerintahan
di bidang agraria/pertanahan dan tata ruang, yang fungsinya,
antara lain: i) perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan
di bidang tata ruang, infrastruktur keagrariaan, pengadaan tanah,
pengendalian dan pemanfaatan ruang dan penguasaan tanah;
dan ii) koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan dan pemberian
dukungan adminstrasi kepada seluruh organisasi di lingkungan
Kementerian Agraria dan Tata Ruang. Sejak 27 Oktober2014,
Presiden Jokowi melantik Ferry Mursyidan Baldan sebagai Menteri
Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN.
Mengingat kembali ke masa lampau, Kementerian Agraria telah
dibentuk pada tahun 1955 melalui Keputusan Presiden Nomor 55
Tahun 1955. Sebelum menjadi kementerian pada tahun 1955,
urusan agraria diselenggarakan oleh Departemen Dalam Negeri.
Saat itu, urusan agraria belum menjadi urusan strategis sehingga
cukup diselenggarakan oleh suatu lembaga di bawah kementerian.
Titik tolak reformasi hukum pertanahan nasional terjadi pada 24
September 1960. Pada saat itu, rancangan Undang-Undang Pokok
Agraria (UUPA) disetujui dan disahkan menjadi Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1960. Dengan berlakunya UUPA, untuk pertama
kalinya pengaturan tanah di Indonesia menggunakan produk
hukum nasional yang bersumber dari hukum adat. Dengan ini pula,
Agrarische Wet (undang-undang agraria dalam bahasa Belanda)
dinyatakan dicabut dan tidak berlaku. Tahun 1960 menjadi titik
berakhirnya dualisme hukum agraria di Indonesia.
Tahun 1988 terbit Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1988
tentang Badan Pertanahan Nasional yang menjadi tonggak
bersejarah bagi hukum agraria di Indonesia. Pada saat itu, sejalan
dengan meningkatnya pembangunan nasional yang menjadi tema

24

buletin tata ruang & pertanahan

sentral proyek ekonomi – politik Orde Baru, kebutuhan akan
tanah juga makin meningkat. Persoalan yang dihadapi Direktorat
Jenderal Agraria bertambah berat dan rumit. Untuk mengatasi hal
tersebut, status Direktorat Jenderal Agraria ditingkatkan menjadi
Lembaga Pemerintah Non Departemen dengan nama Badan
Pertanahan Nasional yang bertanggung jawab langsung kepada
Presiden.
Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 96 Tahun 1993,
tugas Kepala BPN kini dirangkap oleh Menteri Negara Agraria.
Kedua lembaga tersebut dipimpin oleh satu orang sebagai
Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional.
Dalam pelaksanaan tugasnya, Kantor Menteri Negara Agraria
berkonsentrasi merumuskan kebijakan yang bersifat koordinasi,
sedangkan Badan Pertanahan Nasional lebih berkonsentrasi pada
hal-hal yang bersifat operasional.
Penguatan lembaga agraria kembali diperkuat pada masa
kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Penggabungan struktur ini
diikuti dengan uraian tugas dan fungsi kelembagaan Kementerian
ATR yang sesuai dengan amanat Undang-Undang Pokok Agraria
Nomor 5 Tahun 1960.
Selama ini urusan penataan ruang tersebar di beberapa
kementerian. Mengacu pada jenis ruang yang dimanfaatkan
(darat, laut, udara) sebagaimana diamanatkan oleh UndangUndang Penataan Ruang (UUPR), penataan ruang laut dilakukan
oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, penataan ruang darat
dilaksanakan oleh forum lintas kementerian, Badan Koordinasi
Penataan Ruang Nasional (BKPRN), dengan peran terbesar dimiliki
oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Pada ruang darat sendiri, pembagian kewenangan juga dibagi
dua, antara kawasan hutan dan nonhutan, dimana kawasan hutan
menjadi domain Menteri Kehutanan, sebagaimana diatur dalam UU
No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.
Mengacu pada tingkatan administratif, pada tingkat nasional
pedoman penataan dan pemanfaatan ruang adalah ketentuan
yang ditetapkan oleh Menteri PUPR. Pada tingkat daerah,
penyusunan pedoman juga melibatkan Menteri Dalam Negeri [ra].

Gedung Badan Pertanahan Nasional, jl Sisingamangaraja No.2
Sumber: www.bpn.go.id

Rancangan Kebijakan Bidang Pertanahan
dalam Kerangka Regulasi

D

alam rangka penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 - 2019,
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan (TRP) bersama dengan Direktorat Analisa Peraturan Perundangundangan dan Direktorat Hukum dan HAM-Kementerian PPN/Bappenas menyelenggarakan diskusi
terhadap isu strategis Bidang Pertanahan pada Jumat, 10 Januari 2014. Pembahasan dalam diskusi tersebut
difokuskan pada Rencana Pembentukan Pengadilan Khusus Pertanahan.
Berdasarkan hasil background study RPJMN 2015-2019 Bidang
dilaksanakan. Bahkan pada beberapa kasus, setelah dilakukan
penyelesaian melalui mediator, kembali dimasukan ke pengadilan
formal.
Pembentukan Kamar Khusus (Special Chamber)
Mengingat peradilan formal yang ada saat ini belum dapat
menyelesaikan kasus pertanahan dengan asas murah, mudah,
dan cepat, maka diusulkan pembentukan pengadilan khusus
pertanahan. Namun pembentukan pengadilan khusus pertanahan
akan sulit dilaksanakan karena terkendala beberapa hal, yakni:
a) pembentukan pengadilan khusus memerlukan UU khusus yang
mengatur hukum acara peradilan;
b) kebutuhan SDM yang cukup banyak, khususnya hakim dengan
kualifikasi tertentu dan jenjang karir yang pasti; dan
c) kebutuhan anggaran yang cukup besar.
Berdasarkan pengalaman, beberapa pengadilan khusus yang ada
saat ini tidak terlalu efektif dalam menyelesaikan suatu kasus.
Dengan demikian, yang paling memungkinkan adalah membentuk
kamar khusus (special chambers) pertanahan pada pengadilan
umum. Untuk itu, jumlah SDM dan anggaran yang dibutuhkan tidak
terlalu besar.
Pada prosesnya, pembentukan kamar khusus pertanahan pada
pengadilan negeri masih memerlukan assessment termasuk
regulasi yang diperlukan. Selain itu, perlu dilakukan pendalaman
lebih lanjut terkait tipe kasus dan mekanisme penyelenggaraan
kasus. Kasus yang masuk dipastikan hanya tentang pertanahan
dan tidak bisa masuk ke pengadilan lain. Untuk itu, diperlukan
konsep-konsep yang disusun oleh pakar hukum, hakim, dan pakar
bidang pertanahan yang menjelaskan kebutuhan kamar khusus
pertanahan, termasuk di dalamnya substansi keputusan final dalam
kerangka waktu tertentu dan identifikasi tipe kasus pertanahan [ih/
ay].

tahukah anda

Pertanahan terdapat beberapa isu strategis, yaitu: 1) perubahan
sistem pendaftaran tanah stelsel negatif menjadi stelsel positif;
2) pembentukan pengadilan khusus pertanahan; 3) pembentukan
bank tanah; 4) redistribusi tanah dan reforma akses; dan 5)
peningkatan jumlah proporsi Sumber Daya Manusia (SDM) bidang
pertanahan khusus juru ukur.
Saat ini, kondisi peraturan perundang-undangan yang ada di
Indonesia sudah mencapai kondisi kelebihan regulasi atau
dikenal dengan hyper regulation, sehingga semakin menimbulkan
ketidakpastian hukum dan biaya tinggi. Untuk itu, kerangka
regulasi ke depan harus diubah agar asas hukum yang berlaku
menjadi mudah, murah, dan cepat. Sebagai contoh, penyelesaian
kasus pertanahan di Jepang lebih banyak pada pengadilan tingkat
pertama dan sedikit yang diangkat pada tingkat kasasi, sehingga
penyelesaian kasus lebih murah dan tidak berlarut-larut. Kondisi ini
berimplikasi pada kebutuhan SDM di bidang hukum (hakim, jaksa)
yang berkualitas dalam jumlah banyak pada pengadilan tingkat
pertama.
Di Indonesia, sistem hukum pertanahan yang berlaku saat ini
meliputi hukum formal (positif) dan hukum non formal (hukum
adat). Fakta di lapangan mencatat bahwa penanganan kasus
pertanahan dapat masuk ke beberapa lingkungan peradilan.
Keputusan yang dihasilkan pun dapat berbeda satu dengan lainnya
sehingga keputusan peradilan tersebut tidak dapat dilaksanakan,
bahkan dapat menimbulkan ketidakpastian hukum hak atas
tanah dan menjadi sumber konflik antarmasyarakat. Selain itu,
penyelesaian kasus pertanahan seringkali tidak dapat diselesaikan
pada pengadilan tingkat pertama melainkan harus diselesaikan
pada tingkat Mahkamah Agung (MA). Kondisi ini mendorong
timbulnya pemikiran perlunya pembentukan Pengadilan Khusus
yang menangani kasus-kasus pertanahan. Keputusan yang diambil
pada pengadilan khusus pertanahan tersebut harus bersifat final
dan mengikat sehingga penyelesaian kasus pertanahan diharapkan
lebih murah, mudah, dan cepat.
Secara umum penyelesaian kasus pertanahan dapat dilakukan
melalui beberapa pendekatan yaitu secara formal melalui
pengadilan (atau dikenal dengan litigasi) maupun informal melalui
pendekatan penyelesaian oleh masyarakat sendiri (atau yang
dikenal dengan pendekatan community based). Alternatif lain
penyelesaian kasus pertanahan adalah melalui mediator atau
dikenal dengan alternative dispute resolution (ADR) yang tidak
perlu dilaksanakan di pengadilan. Berbagai pendekatan tersebut
telah dilaksanakan namun masih memiliki kelemahan, misalnya
pendekatan community based dan mediator sering kali tidak ditaati
oleh pihak yang bersengketa sehingga keputusan tidak dapat

Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional bertujuan:
a) mendukung koordinasi antarpelaku pembangunan;
b) menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi
baik antarDaerah, antarruang, antarwaktu, antarfungsi
pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah;
c) menjamin keterkaitan dan konsistensi
antara perencanaan, penganggaran,
pelaksanaan, dan pengawasan;
d) mengoptimalkan partisipasi masyarakat;
e) menjamin tercapainya penggunaan
sumber daya secara efisien, efektif,
berkeadilan, dan berkelanjutan.
Sumber: Undang-Undang No. 25 Tahun 2004

buletin tata ruang & pertanahan

25

Anugerah Pangripta Nusantara 2015

S

alah satu langkah untuk meningkatkan mutu rencana pembangunan adalah dengan memberikan penghargaan Anugerah Pangripta
Nusantara Tahun 2015 kepada daerah yang telah berhasil menyusun dokumen rencana pembangunan secara baik. Pemberian APN
Tahun 2015 kepada Provinsi dan Kabupaten/Kota bertujuan untuk mendorong setiap daerah untuk menyiapkan dokumen rencana
pembangunan secara lebih baik, konsisten, komprehensif, terukur dan dapat dilaksanakan sekaligus menciptakan insentif bagi pemerintah
daerah untuk mewujudkan perencanaan pembangunan yang lebih baik.
Penghargaan Anugerah Pangripta Nusantara Tahun 2015 diberikan
pada saat Pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan
Nasional (Musrenbangnas), 29 April 2015, oleh Menteri
Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Drs.
Andrinof Achir Chaniago, MSi, dan dihadiri oleh Presiden dan Wakil
Presiden RI.
Proses penilaian dilakukan oleh Tim yang terdiri atas Tim Penilai
Utama (TPU), Tim Penilai Independen (TPI) dan Tim Penilai
Teknis (TPT). Semua Tim melaksanakan tugas berdasarkan
Surat Keputusan Menteri PPN/Bappenas Nomor Kep. 42/M.PPN/
HK/03/2015 tanggal 18 Maret 2015.
Mekanisme penilaian melalui 3 (tiga) tahapan, yakni: (i) penilaian
dokumen rencana yang terdiri atas 4 (empat) parameter
(keterkaitan, konsistensi, kelengkapan dan kedalaman dokumen,
serta keterukuran) dengan 16 (enam belas) indikator; (ii) verifikasi
proses penyusunan dokumen rencana pembangunan berdasarkan
5 (lima) parameter (proses perencanaan top-down, bottom-up,
teknokratik, politik, dan inovasi) dengan 10 (sepuluh) indikator yang
dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD); dan (iii) presentasi
dan wawancara terhadap para nominasi yang diwakili oleh Kepala
Bappeda.
Mekanisme penilaian bagi Provinsi dilakukan oleh Tim Penilai
Pusat dengan pemberian penilaian dari tahap I dan II yang berbobot
30 persen, menghasilkan 17 provinsi nominasi, sedangkan untuk
tahap III yang berbobot 40 persen, mendapatkan 6 provinsi terbaik.
Sedangkan pada mekanisme penilaian Kabupaten/Kota, penilaian
tahap I yang berbobot 40 persen dan tahap II dengan bobot 60
persen menghasilkan Kabupaten/Kota terbaik dari masing-masing
provinsi untuk mengikuti penilaian di tingkat pusat. Tetapi besaran
bobot ini tidak dihitung kembali pada saat penilaian tahap III dan

Menteri PPN/Kepala Bappenas menyerahkan piala Anugerah Pangripta Nusantara.
Sumber: Dokumentasi Dit. TRP

tahap IV. Sehingga pada tahap III dan IV dilakukan penilaian dari
awal (bobot 0%). Dikarenakan pada tahap III dan IV penilaian
dilakukan oleh Tim Penilai Pusat.
Dari hasil penilaian terhadap 33 provinsi dokumen RKPD Tahun
2015, keterkaitan dokumen RKPD Provinsi dan RKP dinyatakan
tercapai apabila setiap dokumen RKPD memiliki nilai 3 (tiga) atau
4 (empat) dalam skala penilaian pelaksanaan dari 0 (0% - 29%),1
(30% - 59%), 3 (60% - 79%),dan 4 (pelaksanaan lebih dari 80%).
Pemberian penghargaan Anugerah Pangripta Nusantara 2015
berbeda dengan Anugerah Pangripta Nusantara 2014 dalam
kategori pemenang/penghargaan. Tahun 2014 pemenang/
penghargaan diberikan berdasarkan kategori Utama dan Pratama,
baik untuk pemenang Provinsi/Kabupaten/Kota. Sedangkan di Tahun
2015, kategori disusun berdasarkan pada kategori: (i) Perencana
Terbaik I, II dan III untuk Provinsi/Kabupaten/Kota; (ii) Perencana
Harapan Terbaik I, II dan III untuk Provinsi/Kabupaten/Kota; serta (iii)
penghargaan khusus bagi Provinsi dengan peningkatanan kualitas
RKPD. Tahun 2015, ternyata jumlah pemenang provinsi/kabupaten
luar Jawa sudah relatif sama dengan pulau Jawa [sy].

Daftar Penerima Penghargaan Anugerah Pangripta Nusantara 2015
Kategori Provinsi
Kategori Kabupaten/Kota
Terbaik I
DI. Yogyakarta
Terbaik I
Kab. Aceh Barat
Terbaik II
Kalimantan Timur
Terbaik II
Kab. Sleman
Terbaik III
Jawa Barat
Terbaik III
Kab. Muara Enim
Harapan I
Jawa Timur
Harapan I
Kab. Lombok Utara
Harapan II
Aceh
Harapan II
Kab. Siak
Harapan III
Sulawesi Utara
Harapan III
Kab. Banyuwangi
Penghargaan khusus bagi provinsi dengan peningkatan kualitas
Kalimantan Selatan
Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)
26

buletin tata ruang & pertanahan

Ringkas Buku

ringkas buku:

Pengembangan Kawasan Perbatasan
Lutfi Muta’ali

P

erbatasan negara merupakan manifestasi utama kedaulatan wilayah suatu Negara yang memiliki peranan penting dalam penentuan
batas wilayah kedaulatan, pemanfaatan sumber daya alam, menjaga keamanan, dan keutuhan wilayah. Wilayah perbatasan memiliki
arti yang sangat vital dan strategis, baik dalam sudut pandang pertahanan keamanan, maupun dalam sudut pandang ekonomi, sosial, dan
budaya. Masing masing wilayah perbatasan tersebut memiliki karakter sosial budaya dan ekonomi yang relatif berbeda antara satu dengan
lainnya. Namun secara keseluruhan memperlihatkan adanya fenomena yang sama, yakni adanya interaksi langsung dan intensif antara
warga negara Indonesia dengan warga negara tetangga, berupa hubungan sosial kultural secara tradisional, maupun kegiatan-kegiatan
ekonomi moderen.
Kawasan perbatasan merupakan pintu masuk dan keluar arus
sumber daya (barang dan jasa, serta manusia) antar negara.
Sebagai pintu masuk dan keluar sumber daya antar negara maka
wilayah perbatasan bisa memperoleh dampak positif maupun
negatif dari arus keluar masuk sumber daya ekonomi tersebut.
Sebagai akibat dari kedudukannya sebagai pintu masuk dan
keluar arus sumber daya ekonomi antara negara, maka kawasan
perbatasan tergolong rawan baik secara ideologi, politik, ekonomi,
sosial budaya, maupun pertahanan dan keamanan. Nilai strategis
faktual kawasan perbatasan dapat dilihat dari beberapa aspek
diantaranya:
a. Aspek ideologi, kurangnya akses pemerintah pusat maupun
daerah ke kawasan perbatasan dapat menyebabkan masuknya
pemahaman ideologi lain seperti paham komunis dan liberal
kapitalis, yang mengancam kehidupan bermasyarakat berbangsa
dan bernegara dari rakyat Indonesia.
b. Aspek Politik, kawasan perbatasan tergolong rawan konflik
politis dengan negara lain, karena adanya persinggungan batas
teritorial dan yuridiksi terutama pada segmen batas yang belum
disepakati. Selain itu kehidupan sosial ekonomi di daerah
perbatasan umumnya dipengaruhi oleh kegiatan di negara
tetangga. Kondisi tersebut berpotensi untuk menimbulkan
kerawanan di bidang politik.
c. Aspek Ekonomi, kawasan perbatasan memiliki potensi sumber
daya alam di darat dan di laut yang sangat besar, serta memiliki
kedekatan geografis dengan pusat kegiatan ekonomi negara
tetangga. Kesenjangan sosial ekonomi masyarakat daerah
perbatasan dengan masyarakat negara tetangga mempengaruhi
watak dan pola hidup masyarakat dan berdampak negatif bagi
pengamanan daerah perbatasan dan rasa nasionalisme.
d. Aspek sosial budaya, kawasan perbatasan memiliki karakteristik
khas dengan adanya mobilitas lintas batas yang cukup tinggi,
baik karena faktor sosial budaya maupun ekonomi. Selain itu
akibat globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang begitu pesat dapat mempercepat masuk dan
berkembangnya budaya asing dalam kehidupan masyarakat

Istilah Perbatasan

Orientasi

Indonesia. Masyarakat daerah perbatasan cenderung lebih cepat
terpengaruh oleh budaya asing, dikarenakan intensitas hubungan
lebih besar dan kehidupan ekonominya sangat tergantung
dengan negara tetangga. Hal tersebut dapat mengakibatkan
dekulturisasi yang dapat merusak ketahanan nasional.
e. Aspek Pertahanan dan Keamanan, Daerah perbatasan
merupakan wilayah pembinaan yang luas dan pola penyebaran
penduduk yang tidak merata, sehingga menyebabkan rentang
kendali pemerintah, pengawasan dan pembinaan teritorial sulit
dilaksanakan dengan mantap dan efisien. Akibatnya kawasan
perbatasan sangat rawan terhadap hukum lintas batas negara
dan infiltrasi asing. Wilayah perbatasan merupakan benteng
utama dan terakhir dari eksistensi bangsa dari aspek wilayah
sesuai konsep wawasan nusantara.
Konsep Kawasan Perbatasan
Dalam kajian pengembangan perbatasan terdapat beberapa istilah
yang mengawali kata perbatasan, diantaranya adalah daerah,
wilayah, dan kawasan. Dalam pandangan ilmu wilayah (regional
science), daerah merujuk pada kewenangan administrasi, wilayah
berkaitan dengan kesatuan unit geografis, sedangkan kawasan
berhubungan erat dengan aspek fungsional (keterkaitan). Dalam
kajian perbatasan, ketepatan penggunaan kata depan perbatasan
tersebut berhubungan erat dengan tujuan, yaitu lebih tepat
penggunaan kata ‘wilayah’ pada aspek pengamanan wilayah
negara, pengelolaan batas, dan pertahanan keamanan. Sedangkan
kata ‘kawasan’ tepat digunakan dalam pengembangan fungsional
kawasan perbatasan, perekonomian perbatasan dan tata ruang
perbatasan.
Dalam bahasa inggris perbatasan diistilahkan dengan kata
boundary dan frontier, dalam geografi politik kedua pengertian
tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Boundaries adalah garis
garis yang mendemarkasikan batas-batas terluar dari wilayah suatu
negara. Namun frontiers mewujudkan zone-zone (jalur) dengan
lebar yang beraneka yang memisahkan dua wilayah yang berlainan
negaranya.

Faktor Pembeda
Kekuatan

Frontier

Ke Luar

Sentripetal

Boundaries

Ke Dalam

Sentripugal

Ruang Gerak
Integrasi dan
penetrasi pengaruh
Faktor Pemisah

Sumber: Kristof “the nature of frontier and boundaries” (1982)

buletin tata ruang & pertanahan

27

28

buletin tata ruang & pertanahan

konsep penataan ruang telah ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan
Strategis Nasional (PKSN) dari sudut pandang pertahanan dan
keamanan karena memiliki nilai strategis dalam menjaga integritas
wilayah negara. Menurut Undang Undang Penataan Ruang,
kawasan strategis nasional perbatasan negara memiliki batasan
berikut:
1. Kawasan Perbatasan Negara termasuk pulau kecil terluar
merupakan kawasan strategis nasional dari sudut kepentingan
pertahanan dan keamanan;
2. Kawasan Strategis Nasional adalah wilayah yang penataan
ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat
penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan
dan kemanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan atau
lingkungan, termasuk wilayah yang telah ditetapkan sebagai
warisan dunia;
3. Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional merupakan
rencana rinci dari RTRWN , yang diatur dengan Peraturan
Presiden;
Penetapan PKSN sebagai pusat kota kawasan perbatasan
berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 26 tentang RTWRN
menetapkan 26 PKSN berdasarkan kriteria:
1. Pusat perkotaan yang berpotensi sebagai pos pemeriksaan lintas
batas dengan negara tetangga;
2. Pusat perkotaan yang berfungsi sebagai pintu gerbang
internasional yang menghubungkan dengan negara tetangga;
3. Pusat perkotaan yang merupakan simpul utama transportasi yang
menghubungkan wilayah sekitarnya, dan/atau;
4. Pusat perkotaan yang merupakan pusat pertumbuhan ekonomi
yang dapat mendorong perkembangan kawasan di sekitarnya.
Pengembangan PKSN di perbatasan dimaksudkan untuk
menyediakan pelayanan yang dibutuhkam untuk mengembangkan
kegiatan masyarakat di kawasan perbatasan, termasuk kegiatan
pelayanan lintas bayas antarnegara. Kawasan perbatasan sebagai
Pusat Kegiatan Strategis Nasional perlu didukung oleh strategi
kebijakan dan berlaku untuk pengembangan PKSN sebagai pintu
gerbang dengan negara tetangga di perbatasan [gn].

tahukah anda

Pada konteks pembangunan wilayah, Bappenas menggunakan
istilah perbatasan dan mendefinisikan sebagai berikut:
“wilayah perbatasan adalah wilayah geografis yang berhadapan
dengan negara tetangga, dimana penduduk yang bermukim di
wilayah tersebut disatukan melalui hubungan sosio-ekonomi, dan
sosiobudaya dengan cakupan wilayah administratif tertentu setelah
ada kesepakatan negara yang berbatasan (Bappenas, 2005)”
Dalam kajian pengembangan wilayah, keunikan kawasan perbatasan
terletak pada aspek hubungan antardaerah dan atau antarnegara
yang memiliki sistem politik administrasi yang berbeda sehingga
terkandung beberapa prinsip hubungan transnasional seperti
prinsip kesetaraan (principle of the sovereign equality), prinsip
non-recognition (non – recognition principle). Asas pertahanan
dan keamanan atau prinsip membela diri (self defence principle),
asas kerjasama, asas keberlanjutan, asas desentralisasi, asas
dekonsentrasi, asas tugas pembantuan, asas keadilan, asas
kemanfaatan, asas kepastian hukum, asas penggunaan teknologi,
dan asas negara kepulauan.
Tipologi Kawasan Perbatasan
Tipologi pengembangan kawasan perbatasan adalah sebuah cara
untuk mengelompokan karakter dan ciri perbatasan pada beberapa
aspek yang memiliki kesamaan ciri maupun pendekatan sehingga
dapat digunakan untuk melakukan sistem pengelolaan kawasan
yang efisien sesuai dengan potensi dan permasalahan yang ada.
Terdapat beberapa sistem pembagian kawasan perbatasan sebagai
berikut:
a. Tipologi Geografis. Tipologi ini ditentukan berdasarkan unsur
kesamaan geografis khususnya karakteristik dan letak area
dipermukaan bumu, sehingga kawasan perbatasan dapat
dibedakan menjadi kawasan perbatasan darat, laut dan udara.
Berkaitan dengan wujud fisik batas wilayah perbatasan dapat
dibedakan dalam 2 pendekatan, yaitu natural border dan artificial
border.
b. Tipologi Hubungan Politis Antar Negara. Berdasarkan aspek
hubungan politis antar negara di kawasan perbatasan, terdapat
empat tipe perbatasan i) Alienated Borderland, yaitu suatu wilayah
perbatasan yang tidak terjadi aktifitas lintas batas dikarenakan
konflik, dominasi nasionalisme, dsb; ii) Coexistent Borderland,
yaitu wilayah perbatasan yang konflik lintas batasnya bisa
ditekan sampai ke tingkat yang bisa dikendalikan, iii) Independent
borderland, wilayah perbatasan yang kedua sisinya secara
simbolik dihubungkan oleh hubungan internasional yang relatif
stabil; iv) Intergrated Borderland, merupakan suatu wilayah
perbatasan yang kegiatan ekonominya merupakan sebuah
kesatuan, nasionalisme jauh menyurut pada kedua negara,
biasanya kedua negara tergabung dalam sebuah federasi;
c. Tipologi Objek Pengelolaan Kawasan, berdasarkan objek
pengelolaan kawasan perbatasan pada hakekatnya terdapat
tiga kegiatan utama yaitu aspek penetapan batas, pengamanan
perbatasan dan pengembangan kawasan. Tiga objek pengelolaan
ini berkaitan satu dengan yang lainnya dalam satu sistem
manajemen.
Penataan Ruang Kawasan Perbatasan
Pembangunan kawasan perbatasan menjadi bagian integral dan
memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan misi pembangunan
nasional, terutama untuk menjamin keutuhan dan kedaulatan
wiayah, pertahanan keamanan nasional, serta meningkatkan
kesejahteraan rakyat di wilayah perbatasan. Tata ruang merupakan
instrumen pembangunan yang berbasis ruang dan sangat penting
dalam mewujudkan misi tersebut. Kawasan perbatasan dalam

Perencanaan tata ruang menghasilkan:
1. Rencana umum tata ruang, terdiri dari:
• Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN)
ditetapkan melalui PP No. 26/2008.
• Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP)
ditetapkan melalui Peraturan Daerah.
• Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota
(RTRWK) ditetapkan melalui Peraturan Daerah.
2. Rencana rinci tata ruang, terdiri dari:
• RTR Pulau/Kepulauan dan RTR Kawasan Strategis
Nasional ditetapkan melalui Peraturan Presiden.
• Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Provinsi
ditetapkan melalui Peraturan Daerah.
• Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten/Kota dan
Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Kabupaten/
Kota ditetapkan melalui Peraturan Daerah.

Sumber: UU No.26/2007; PP No.15/2010.

Status Penetapan Rencana Rinci Tata Ruang
(RRTR)
Rencana Rinci Tata Ruang (RRTR) merupakan perangkat operasional
dari rencana umum tata ruang. Sebagaimana dijelaskan dalam
Undang–Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang,
Rencana Rinci Tata Ruang (RRTR) terdiri atas: (i) RTR pulau/
kepulauan dan RTR kawasan strategis nasional (KSN); (ii) RTR
kawasan strategis provinsi (KSP); dan (iii) rencana detail tata
ruang (RDTR) kab/kota dan RTR kawasan strategis kabupaten/
kota (KSK). RRTR disusun apabila rencana umum tata ruang belum
dapat dijadikan dasar dalam pelaksanaan pemanfaatan ruang dan
pengendalian pemanfaatan ruang; dan/atau mencakup wilayah
perencanaan yang luas dan skala petanya memerlukan perincian
sebelum dioperasionalkan.
RTR pulau/kepulauan dan RTR KSN ditetapkan dengan Peraturan
Presiden (Perpres). Sampai saat ini telah terselesaikan RTR KSN
14 Perpres, sisanya masih dalam proses penyelesaian. Sementara
RTR kawasan strategis provinsi (KSP) dan RDTR kab/kota dan RTR
kawasan strategi kabupaten/kota(KSK) ditetapkan melalui Peraturan
Daerah (Perda). Hingga Mei 2015, seluruh RTR pulau/kepulauan

dan 13dari 76RTR KSN telah ditetapkan. Untuk RDTR di tingkat
provinsi, hanya RDTR Provinsi DKI Jakarta yang telah ditetapkan
melalui Perda No. 1 Tahun 2014 dari total 73 pengajuan RDTR, dan
di tingkat kabupaten, RDTR Kecamatan Kota Sumenep (Perda No.
3 Tahun 2014) dan RDTR Perkotaan Waibakul (Perda No. 8 Tahun
2013) yang telah ditetapkan dari total 1145 pengajuan RDTR.

RTR Pulau/Kepulauan
No

Daftar RTR Pulau/Kepulauan

1

Perpres No. 77 Tahun 2014 tentang RTR Kepulauan Maluku

2

Perpres No. 57 Tahun 2014 tentang RTR Pulau Papua

3

Perpres No. 56 Tahun 2014 tentang RTR Kepulauan Nusa Tenggara

4

Perpres No. 28 Tahun 2012 tentang RTR Pulau Jawa-Bali

5

Perpres No. 13 Tahun 2012 tentang RTR Pulau Sumatera

6

Perpres No. 3Tahun 2012 tentang RTR Pulau Kalimantan

7

Perpres No. 88 Tahun 2011 tentang RTR Pulau Sulawesi

RTR Kawasan Strategis Nasional
No
A

Sudut Kepentingan
Rehabilitasi dan
pengembangan dengan
sudut kepentingan
ekonomi

1

Daftar RTR Kawasan Strategis Nasional
Perpres No. 87 Tahun 2011 tentang RTR KSN Batam Bintan Karimun

2

Perpres No. 54 Tahun 2008 tentang RTR KSN Perkotaan Jabodetabekpunjur (Jakarta,
Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, dan Cianjur)

3

Perpres No. 62 Tahun 2011 tentang RTR KSN Perkotaan Mebidangro (Medan, Binjai, Deli
Serdang, dan Karo)

4

Perpres No. 55 Tahun 2011 tentang RTR KSN Perkotaan Mamminasata (Makassar, Maros,
Sungguminasa, dan Talakar)

5

Perpres No.45 Tahun 2011 jo Perpres No. 51 tahun 2014 tentang RTR KSN Perkotaan
Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan)

Rehabilitasi dan
pengembangan dengan
sudut kepentingan
lingkungan hidup

1

Perpres No. 70 Tahun 2014 tentang RTR KSN Taman Nasional Gunung Merapi

2

Perpres No. 81 Tahun 2014 tentang RTR KSN Danau Toba dan Sekitarnya

C

Rehabilitasi dan
pengembangan dengan
sudut kepentingan sosial
budaya

1

Perpres No. 58 Tahun 2014 tentang RTR KSN Borobudur dan Sekitarnya

D

RTR KSN dengan sudut
kepentingan
pendayagunaan
sumberdaya alam dan
teknologi tinggi, serta
sudut kepentingan
pertahanan dan
keamanan

1
2

Perpres No. 179 Tahun 2014 tentang RTR KSN Perbatasan Negara di Pro vinsi Nusa
Tenggara Timur
Perpres No. 31 Tahun 2015 tentang RTR KSN Perbatasan Negara di Kalimantan

3

Perpres No. 32 Tahun 2015 tentang RTR KSN Perbatasan Negara di Provinsi Papua

4

Perpres No. 33 Tahun 2015 tentang RTR KSN Perbatasan Negara di Provinsi Maluku

5

Perpres No. 34 Tahun 2015 tentang RTR KSN Perb atasan Negara di Prov insi Maluku Utara
dan Provinsi Papua Barat

B

buletin tata ruang & pertanahan

29

“Perbatasan Negara
sebagai beranda depan
Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI)”

30

buletin tata ruang & pertanahan