You are on page 1of 11

RELEVANSI PRINSIP KIMIA DAN

KESUBURAN TANAH
Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Kesuburan Tanah dan Nutrisi Tanaman II

Disusun oleh :
R. Iman Muhardiono (150110080222)
Bilqis Raznasti Q. (150110080227)
Dona Apryliana (150110080228)
Gilang Fauzi (150110080230)
Yohana K. Destyani (150110080243)

AGROTEKNOLOGI F

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2009
A. Pendahuluan
Setiap orang berkepentingan terhadap tanah. Tanah sebagai sumberdaya alam
yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk berbagai macam aktivitas guna
memenuhi kebutuhan hidupnya. Tanah sebagai sumberdaya yang digunakan untuk
keperluan pertanian dapat bersifat sebagai sumberdaya yang dapat pulih (reversible)
dan dapat pula sebagai sumberdaya yang dapat habis (Santoso, 1991).
Tanah berasal dari pelapukan batuan dengan bantuan tanaman dan organisme,
membentuk tubuh unik yang menyelaputi lapisan batuan. Proses pembentukan tanah
dikenal sebagai pedogenesis. Proses yang unik ini membentuk tanah sebagai tubuh
alam yang terdiri atas lapisan-lapisan atau disebut sebagai horizon. Setiap horizon
dapat menceritakan mengenai asal dan proses-proses fisika, kimia dan biologi yang
telah dilalui tubuh tanah tersebut.
Dalam usaha pertanian tanah mempunyai fungsi utama sebagai sumber
penggunaan unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, dan sebagai
tempat tumbuh dan berpegangnya akar serta tempat penyimpan air yang sangat
diperlukan untuk kelangsungan hidup tumbuhan.

B. Indikator Kesuburan Tanah


Kesuburan tanah bisa diukur berdasarkan beberapa indikator kesuburan tanah.
Beberapa indikator kesuburan tanah yang biasa digunakan oleh para ahli tanah antara
lain adalah : kapasitas absorbsi, tingkat kejenuhan basa, derajat kemasaman tanah,
kandungan liat dan kandungan bahan organik.

1. Kapasitas Absorbsi dihitung dengan milli equivalent, adalah kemampuan tanah


untuk mengikat/ menarik suatu kation oleh partikel-partikel kolloid tanah (partikel
kolloid itu terdiri dari liat dan organik), dan ini secara langsung mencerminkan
kemampuan tanah melakukan aktifitas pertukaran hara dalam bentuk kation.
Semakin tinggi nilai kapasitas absorbsi, maka tanah dikatakan kesuburannya
semakin baik, yang biasanya susunan kationnya didominasi oleh unsur K (Kalium),
Ca (Calsium) dan Mg (Magnesium), sehingga nilai pH tanah normal (berkisar 6,5).

2. Kejenuhan Basa, nilainya dalam bentuk persen, mencerminkan akumulasi susunan


kation. Peningkatan nilai persen kejenuhan basa mencerminkan semakin tingginya
kandungan basa-basa tanah pada posisi nilai pH tanah yang menyebabkan nilai
kesuburan kimiawi optimal secara menyeluruh. Nilai kesuburan kimiawi secara
sederhana dicermnkan oleh nilai pH, karena nilai pH akan mampu mempengaruhi
dan mencerminkan aktifitas kimiawi sekaligus aktifitas biologis dan kondisi fisik di
dalam tanah.

3. Kemasaman Tanah. Reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas


tanah yang dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya
konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+ didalam
tanah, semakin masam tanah tersebut. Di dalam tanah selain H+ dan ion-ion lain
ditemukan pula ion OH-, yang jumlahnya berbanding terbalik dengan banyaknya
H+. pada tanah-tanah masam jumlah ion H+ lebih tinggi daripada OH-, sedang pada
tanah alkalis kandungan OH- lebih banyak daripada H+. Bila kandungan H+ sama
dengan OH- , maka tanah bereaksi netral yaitu mempunyai pH = 7 (Anonim 1991).
Nilai pH berkisar dari 0-14 dengan pH 7 disebut netral sedangkan pH
kurang dari 7 disebut masam dan pH lebih dari 7 disebut alkalis. Walaupun
demikian pH tanah umumnya berkisar dari 3,0-9,0. Di Indonesia unumnya tanahnya
bereaksi masam dengan 4,0 – 5,5 sehingga tanah dengan pH 6,0 – 6,5 sering telah
dikatakan cukup netral meskipun sebenarnya masih agak masam. Di daerah rawa-
rawa sering ditemukan tanah-tanah sangat masam dengan pH kurang dari 3,0 yang
disebut tanah sangat masam karena banyak mengandung asam sulfat. Di daerah
yang sangat kering kadang-kadang pH tanah sangat tinggi (pH lebih dari 9,0) karena
banyak mengandung garam Na (Anonim 1991).

4. Kandungan liat, merupakan ukuran kandungan partikel kolloid tanah. Partikel


dengan ukuran ini (kolloid) akan mempunyai luas permukaan dan ruang pori tinggi
sehingga mempunyai kemampuan absorbsi juga tinggi serta diikuti kemampuan
saling tukar yang tinggi pula diantara partikel kolloid. Kemampuan absorbsi ini bisa
untuk air maupun zat hara, sehingga menjadi cermin peningkatan kesuburan tanah.
Namun jika kandungan liat pada komposisi dominan atau tinggi menjadi tidak ideal
untuk budidaya maupun pengolahan tanah. Kandungan liat yang tinggi
menyebabkan perkolasi, inlfiltrasi, permeabilitas, aerasi tanah menjadi lebih rendah
sehingga menyulitkan peredaran air dan udara.
5. Kandungan BO merupakan indikator paling penting dan menjadi kunci dinamika
kesuburan tanah. Bahan organik mempunyai peran yang multifungsi, yaitu mampu
merubah sifat fisik, sifat kimia dan sifat biologi tanah. Selain itu bahan organik juga
mampu berperan mengaktifkan persenyawaan yang ditimbulkan dari dinamikanya
sebagai ZPT (zat pengatur tumbuh), sumber Enzim (katalisator reaksi-reaksi
persenyawaan dalam metabolisme kehidupan) dan Biocide (obat pembasmi penyakit
dan hama dari bahan organik).
Bahan organik juga dapat merubah sifat kimia tanah, yaitu melalui
proses dekomposisi yang dilakukan oleh mikroba yang memang selalu menempel
pada bahan organik. Proses dekomposisi akan melepaskan zat-zat hara ke dalam
larutan di dalam tanah dan juga menjadikan bahan organik menjadi bentuk yang
lebih sederhana dan bersifat kolloid. Kondisi ini akan meningkatkan kemampuan
absorbsi tanah yang berkaitan juga dengan kapasitas tukar kation (KTK) tanah
karena meningkatnya luas permukaan partikel tanah. Hal ini menjadikan tanah
mempunyai kemampuan menyimpan unsur-unsur hara yang semakin baik,
mengurangi penguapan Nitrogen, maupun pencucian hara-hara kation lain. Pada
saatnya berarti pula meningkatkan kapasitas tanah untuk melepas hara kation bagi
kebutuhan tanaman, baik melalui proses pertukaran secara langsung maupun pasif
oleh proses difusi.

C. Peranan Bahan Organik Terhadap Kesuburan Kimia Tanah


Pengaruh bahan organik terhadap kesuburan kimia tanah antara lain terhadap
kapasitas pertukaran kation, kapasitas pertukaran anion, pH tanah, daya sangga tanah
dan terhadap keharaan tanah. Penambahan bahan organik akan meningkatkan muatan
negatif sehingga akan meningkatkan kapasitas pertukaran kation (KPK). Bahan
organik memberikan konstribusi yang nyata terhadap KPK tanah. Sekitar 20 – 70 %
kapasitas pertukaran tanah pada umumnya bersumber pada koloid humus (contoh:
Molisol), sehingga terdapat korelasi antara bahan organik dengan KPK tanah
(Stevenson, 1982). Kapasitas pertukaran kation (KPK) menunjukkan kemampuan
tanah untuk menahan kation-kation dan mempertukarkan kation-kation tersebut
termasuk kation hara tanaman. Kapasitas pertukaran kation penting untuk kesuburan
tanah.
Fraksi organik dalam tanah berpotensi dapat berperan untuk menurunkan
kandungan pestisida secara nonbiologis, yaitu dengan cara mengadsorbsi pestisida
dalam tanah. Mekanisme ikatan pestisida dengan bahan organik tanah dapat melalui:
pertukaran ion, protonisasi, ikatan hidrogen, gaya vander Waal’s dan ikatan
koordinasi dengan ion logam (pertukaran ligan). Tiga faktor yang menentukan
adsorbsi pestisida dengan bahan organik : (1) karakteristik fisika-kimia adsorbenya
(koloid humus), (2) sifat pestisidanya, dan (3) Sifat tanahnya, yang meliputi
kandungan bahan organik, kandungan dan jenis lempungnya, pH, kandungan kation
tertukarnya, lengas, dan temperatur tanahnya (Stevenson, 1982).
Peran bahan organik terhadap ketersediaan hara dalam tanah tidak terlepas
dengan proses mineralisasi yang merupakan tahap akhir dari proses perombakan
bahan organik. Dalam proses mineralisasi akan dilepas mineral-mineral hara tanaman
dengan lengkap (N, P, K, Ca, Mg dan S, serta hara mikro) dalam jumlah tidak tentu
dan relatif kecil. Hara N, P dan S merupakan hara yang relatif lebih banyak untuk
dilepas dan dapat digunakan tanaman.

1. Nitrogen
Nitrogen merupakan unsur hara makro esensial, menyusun sekitar 1,5 % bobot
tanaman dan berfungsi terutama dalam pembentukan protein (Hanafiah 2005).
Menurut Hardjowigeno (2003) Nitrogen dalam tanah berasal dari :
a.Bahan Organik Tanah : Bahan organik halus dan bahan organik kasar
b.Pengikatan oleh mikroorganisme dari N udara
c.Pupuk
d.Air Hujan
Sumber N berasal dari atmosfer sebagai sumber primer, dan lainnya berasal
dari aktifitas didalam tanah sebagai sumber sekunder. Fiksasi N secara simbiotik
khususnya terdapat pada tanaman jenis leguminoseae sebagai bakteri tertentu. Bahan
organik juga membebaskan N dan senyawa lainnya setelah mengalami proses
dekomposisi oleh aktifitas jasad renik tanah.
Hilangnya N dari tanah disebabkan karena digunakan oleh tanaman atau
mikroorganisme. Kandungan N total umumnya berkisar antara 2000 – 4000 kg/ha
pada lapisan 0 – 20 cm tetapi tersedia bagi tanaman hanya kurang 3 % dari jumlah
tersebut (Hardjowigeno 2003).
Manfaat dari Nitrogen adalah untuk memacu pertumbuhan tanaman pada fase
vegetatif, serta berperan dalam pembentukan klorofil, asam amino, lemak, enzim, dan
persenyawaan lain (RAM 2007). Nitrogen terdapat di dalam tanah dalam bentuk
organik dan anorganik. Bentuk-bentuk organik meliputi NH4, NO3, NO2, N2O dan
unsur N. Tanaman menyerap unsur ini terutama dalam bentuk NO3, namun bentuk
lain yang juga dapat menyerap adalah NH4, dan urea (CO(N2))2 dalam bentuk NO3.
Selanjutnya, dalam siklusnya, nitrogen organik di dalam tanah mengalami
mineralisasi sedangkan bahan mineral mengalami imobilisasi. Sebagian N terangkut,
sebagian kembali scbagai residu tanaman, hilang ke atmosfer dan kembali lagi, hilang
melalui pencucian dan bertambah lagi melalui pemupukan. Ada yang hilang atau
bertambah karena pengendapan.
Proses nitrogen
Bahan organik sumber nitrogen (protein) pertama-tama akan mengalami
peruraian menjadi asam-asam amino yang dikenal dengan proses aminisasi, yang
selanjutnya oleh sejumlah besar mikrobia heterotrofik mengurai menjadi amonium
yang dikenal sebagai proses amonifikasi. Amonifikasi ini dapat berlangsung hampir
pada setiap keadaan, sehingga amonium dapat merupakan bentuk nitrogen anorganik
(mineral) yang utama dalam tanah (Tisdel dan Nelson, 1974).
Nasib dari amonium ini antara lain dapat secara langsung diserap dan
digunakan tanaman untuk pertumbuhannya, atau oleh mikroorganisme untuk segera
dioksidasi menjadi nitrat yang disebut dengan proses nitrifikasi. Nitrifikasi adalah
proses bertahap yaitu proses nitritasi yang dilakukan oleh bakteri Nitrosomonas
dengan menghasilkan nitrit, yang segera diikuti oleh proses oksidasi berikutnya
menjadi nitrat yang dilakukan oleh bakteri Nitrobacter yang disebut dengan nitratasi.
Nitrat merupakan hasil proses mineralisasi yang banyak disukai atau diserap
oleh sebagian besar tanaman budidaya. Namun nitrat ini mudah tercuci melalui air
drainase dan menguap ke atmosfer dalam bentuk gas (pada drainase buruk dan aerasi
terbatas) (Killham, 1994).

2. C-Organik
Kandungan bahan organik dalam tanah merupakan salah satu faktor yang
berperan dalam menentukan keberhasilan suatu budidaya pertanian. Hal ini
dikarenakan bahan organik dapat meningkatkan kesuburan kimia, fisika maupun
biologi tanah. Penetapan kandungan bahan organik dilakukan berdasarkan jumlah C-
Organik (Anonim 1991).
Bahan organik tanah sangat menentukan interaksi antara komponen abiotik
dan biotik dalam ekosistem tanah. Musthofa (2007) dalam penelitiannya menyatakan
bahwa kandungan bahan organik dalam bentuk C-organik di tanah harus
dipertahankan tidak kurang dari 2 persen, Agar kandungan bahan organik dalam tanah
tidak menurun dengan waktu akibat proses dekomposisi mineralisasi maka sewaktu
pengolahan tanah penambahan bahan organik mutlak harus diberikan setiap tahun.
Kandungan bahan organik antara lain sangat erat berkaitan dengan KTK (Kapasitas
Tukar Kation) dan dapat meningkatkan KTK tanah. Tanpa pemberian bahan organik
dapat mengakibatkan degradasi kimia, fisik, dan biologi tanah yang dapat merusak
agregat tanah dan menyebabkan terjadinya pemadatan tanah (Anonim 1991).

3. P-Bray
Unsur Fosfor (P) dalam tanah berasal dari bahan organik, pupuk buatan dan
mineral-mineral di dalam tanah. Fosfor paling mudah diserap oleh tanaman pada pH
sekitar 6-7 (Hardjowigeno 2003).
Dalam siklus P terlihat bahwa kadar P-Larutan merupakan hasil keseimbangan
antara suplai dari pelapukan mineral-mineral P, pelarutan (solubilitas) P-terfiksasi dan
mineralisasi P-organik dan kehilangan P berupa immobilisasi oleh tanaman fiksasi
dan pelindian (Hanafiah 2005).
Menurut Leiwakabessy (1988) di dalam tanah terdapat dua jenis fosfor yaitu
fosfor organik dan fosfor anorganik. Bentuk fosfor organik biasanya terdapat banyak
di lapisan atas yang lebih kaya akan bahan organik. Kadar P organik dalam bahan
organik kurang lebih sama kadarnya dalam tanaman yaitu 0,2 – 0,5 %. Tanah-tanah
tua di Indonesia (podsolik dan litosol) umumnya berkadar alami P rendah dan berdaya
fiksasi tinggi, sehingga penanaman tanpa memperhatikan suplai P kemungkinan besar
akan gagal akibat defisiensi P (Hanafiah 2005). Menurut Foth (1994) jika kekurangan
fosfor, pembelahan sel pada tanaman terhambat dan pertumbuhannya kerdil.
Pengaruh bahan organik terhadap ketersediaan P dapat secara langsung melaui
proses mineralisasi atau secara tidak langsung dengan membantu pelepasan P yang
terfiksasi. Stevenson (1982) menjelaskan ketersediaan P di dalam tanah dapat
ditingkatkan dengan penambahan bahan organik melalui 5 aksi seperti tersebut di
bawah ini: (1) Melalui proses mineralisasi bahan organik terjadi pelepasan P mineral
(PO43-); (2) Melalui aksi dari asam organik atau senyawa pengkelat yang lain hasil
dekomposisi, terjadi pelepasan fosfat yang berikatan dengan Al dan Fe yang tidak
larut menjadi bentuk terlarut,
Al(Fe)(H2O)3(OH)2 H2PO4 + Khelat ===> PO42- (larut) + Kompleks AL-Fe- Khelat
(Stevenson, 1982).
(3). Bahan organik akan mengurangi jerapan fosfat karena asam humat dan asam
fulvat berfungsi melindungi sesquioksida dengan memblokir situs pertukaran; (4).
Penambahan bahan organik mampu mengaktifkan proses penguraian bahan organik
asli tanah; (5). Membentuk kompleks fosfo-humat dan fosfo-fulvat yang dapat
ditukar dan lebih tersedia bagi tanaman, sebab fosfat yang dijerap pada bahan organik
secara lemah.
Untuk tanah-tanah berkapur (agak alkalin) yang banyak mengandung Ca dan
Mg fosfat tinggi, karena dengan terbentuk asam karbonat akibat dari pelepasan CO2
dalam proses dekomposisi bahan organik, mengakibatkan kelarutan P menjadi lebih
meningkat, dengan reaksi sebagai berikut :
CO2+ H2O ====== > H2CO3
H2CO3 + Ca3(PO4)2 ====== > CaCO3 + H2PO4–
Asam-asam organik hasil proses dekomposisi bahan organik juga dapat berperan
sebagai bahan pelarut batuan fosfat, sehingga fosfat terlepas dan tersedia bagi
tanaman.
Hasil proses penguraian dan mineralisasi bahan organik, di samping akan
melepaskan fosfor anorganik (PO43-) juga akan melepaskan senyawa-senyawa P-
organik seperti fitine dan asam nucleic, dan diduga senyawa P-organik ini, tanaman
dapat memanfaatkannya. Proses mineralisasi bahan organik akan berlangsung jika
kandungan P bahan organik tinggi, yang sering dinyatakan dalam nisbah C/P. Jika
kandungan P bahan tinggi, atau nisbah C/P rendah kurang dari 200, akan terjadi
mineralisasi atau pelepasan P ke dalam tanah, namun jika nisbah C/P tinggi lebih dari
300 justru akan terjadi imobilisasi P atau kehilangan P (Stevenson, 1982).

4. Kalium (K)
Kalium merupakan unsur hara ketiga setelah Nitrogen dan Fosfor yang diserap
oleh tanaman dalam bentuk ion K+. Muatan positif dari Kalium akan membantu
menetralisir muatan listrik yang disebabkan oleh muatan negatif Nitrat, Fosfat, atau
unsur lainnya. Hakim et al. (1986), menyatakan bahwa ketersediaan Kalium
merupakan Kalium yang dapat dipertukarkan dan dapat diserap tanaman yang
tergantung penambahan dari luar, fiksasi oleh tanahnya sendiri dan adanya
penambahan dari kaliumnya sendiri.
Kalium tanah terbentuk dari pelapukan batuan dan mineral-mineral yang
mengandung kalium. Melalui proses dekomposisi bahan tanaman dan jasad renik
maka kalium akan larut dan kembali ke tanah. Selanjutnya sebagian besar kalium
tanah yang larut akan tercuci atau tererosi dan proses kehilangan ini akan dipercepat
lagi oleh serapan tanaman dan jasad renik. Beberapa tipe tanah mempunyai
kandungan kalium yang melimpah. Kalium dalam tanah ditemukan dalam mineral-
mineral yang terlapuk dan melepaskan ion-ion kalium. Ion-ion adsorpsi pada kation
tertukar dan cepat tersedia untuk diserap tanaman. Tanah-tanah organik mengandung
sedikit Kalium.

5. Kalsium (Ca)
Kalsium tergolong dalam unsur-unsur mineral essensial sekunder seperti
Magnesium dan Belerang. Ca2+ dalam larutan dapat habis karena diserap tanaman,
diambil jasad renik, terikat oleh kompleks adsorpsi tanah, mengendap kembali
sebagai endapan-endapan sekunder dan tercuci (Leiwakabessy 1988). Adapun
manfaat dari kalsium adalah mengaktifkan pembentukan bulu-bulu akar dan biji serta
menguatkan batang dan membantu keberhasilan penyerbukan, membantu pemecahan
sel, membantu aktivitas beberapa enzim (RAM 2007).

6. Natrium (Na)
Natrium merupakan unsur penyusun lithosfer keenam setelah Ca yaitu 2,75%
yang berperan penting dalam menentukan karakteristik tanah dan pertumbuhan
tanaman terutama di daerah kering dan agak kering yang berdekatan dengan pantai,
karena tingginya kadar Na di laut, suatu tanah disebut tanah alkali jika KTK atau
muatan negatif koloid-koloidnya dijenuhi oleh ≥ 15% Na, yang mencerminkan unsur
ini merupakan komponen dominan dari garam-garam larut yang ada. Pada tanah-tanah
ini, mineral sumber utamanya adalah halit (NaCl). Kelompok tanah alkalin ini disebut
tanah halomorfik, yang umumnya terbentuk di daerah pesisir pantai iklim kering dan
berdrainase buruk. Sebagaimana unsur mikro, Na juga bersifat toksik bagi tanaman
jika terdapat dalam tanah dalam jumlah yang sedikit berlebihan (Hanafiah, 2005).
7. Magnesium (Mg)
Magnesium merupakan unsur pembentuk klorofil. Seperti halnya dengan
beberapa hara lainnya, kekurangan magnesium mengakibatkan perubahan warna yang
khas pada daun. Kadang-kadang pengguguran daun sebelum waktunya merupakan
akibat dari kekurangan magnesium (Hanafiah 2005).

8. Belerang (S)
Bahan organik di samping berperan terhadap ketersediaan N dan P, juga
berperan terhadap ketersediaan S dalam tanah. Di daerah humida, S-protein,
merupakan cadangan S terbesar untuk keperluan tanaman. Mineralisasi bahan organik
akan menghasilkan sulfida yang berasal dari senyawa protein tanaman. Di dalam
tanaman, senyawa sestein dan metionin merupakan asam amino penting yang
mengandung sulfur penyusun protein (Mengel dan Kirkby, 1987).
Protein tanaman mudah sekali dirombak oleh jasad mikro. Belerang (S) hasil
mineralisasi bahan organik, bersama dengan N, sebagian S diubah menjadi mantap
selama pembentukan humus. Di dalam bentuk mantap ini, S akan dapat terlindung
dari pembebasan cepat (Brady, 1990). Seperti halnya pada N dan P, proses
mineralisasi atau imobilisasi S ditentukan oleh nisbah C/S bahan organiknya. Jika
nisbah C/S bahan tanaman rendah yaitu kurang dari 200, maka akan terjadi
mineralisasi atau pelepasan S ke dalam tanah, sedang jika nisbah C/S bahan tinggi
yaitu lebih dari 400, maka justru akan terjadi imobilisasi atau kehilangan S
(Stevenson, 1982).
Siklus Sulfur
- Oksidasi sulfur menjadi sulfat oleh Thiobacillus, Arthrobacter
dan Bacillus
2H2S + O2 → 2S + 2H2O
2S + 2H2O + 3O2 → 2SO42- + 4H+
S2O32- + H2O + 2O2 → 2SO42- + 2H+

- Reduksi Sulfat menjadi sulfida (S2-) oleh Desulphovibrio


desulphuricans
2SO42- + 4H2 → S2- + 4H2O
DAFTAR PUSTAKA

http://kebunaren.blogspot.com/2009/01/memahami-konsep-kesuburan-tanah.html

http://www.punden.org/index.php?
option=com_content&view=article&id=72:pelatihan-mengukur-kesuburan-tanah-
&catid=1:latest-news&Itemid=50

http://suntoro.staff.uns.ac.id/files/2009/04/pengukuhan-prof-suntoro.pdf