LEMBAR PENGESAHAN

Laporan lengkap praktikum Fisiologi Hewan dengan judul “Urinalisis” disusun oleh : Nama : Ariandi NIM Kelas/Kelompok maka dinyatakan diterima. : 071404075 : A/V.

Telah diperiksa dan dikonsultasikan kepada Asisten dan Koordinator Asisten,

Makassar, Koordinator Asisten

Mei 2009

Asisten

ST. ZAINAB NIM: 051404083

SYAMSIA, S.P.d.

Mengetahui, Dosen Penanggung Jawab

Drs. ADNAN, M.S NIP : 131772272

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Pengeluaran urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Secara umum urin berwarna kuning. Urin encer warna kuning pucat (kuning jernih), urin kental berwarna kuning pekat, dan urin baru / segar berwarna kuning jernih. Urin yang didiamkan agak lama akan berwarna kuning keruh. Urin berbau khas jika dibiarkan agak lama berbau ammonia. pH urin berkisar antara 4,8 – 7,5, urin akan menjadi lebih asam jika mengkonsumsi banyak protein,dan urin akan menjadi lebih basa jika mengkonsumsi banyak sayuran. Berat jenis urin 1,002 – 1,035. Secara kimiawi kandungan zat dalan urin diantaranya adalah sampah nitrogen (ureum, kreatinin dan asam urat), asam hipurat zat sisa pencernaan sayuran dan buah, badan keton zat sisa metabolism lemak, ion-ion elektrolit (Na, Cl, K, Amonium, sulfat, Ca dan Mg), hormone, zat toksin (obat, vitamin dan zat kimia asing), zat abnormal (protein, glukosa, sel darah Kristal kapur dsb). Volume urin normal per hari adalah 900 – 1200 ml, volume tersebut dipengaruhi banyak faktor diantaranya suhu, zat-zat diuretika (teh, alcohol, dan kopi), jumlah air minum, hormon ADH, dan emosi. Dalam kegiatan ini kita akan menentukan beberapa sifat urine dan melakukan uji atas beberapa kemungkinan adanya abnormalitas di dalam urine. Mengumpulkan contoh urine baik dari lakilaki maupun perempuan di dalam tabung urine yang berbeda. membuang keluaran yang pertama, mengambil keluaran berikutnya untuk mengcegah kontaminasi dari organ genetalis eksternal. Untuk mempelajari urinalisis secara lebih lanjut, maka kami mengadakan praktikum ini. B. Tujuan Adapun tujuan dilaksanakannya praktikum ini yaitu: 1. Untuk menguji secara fisik urine yang berupa warna, bau dan pH 2. Untuk menguji kadar glukosa yang terdapat pada urine

3. Untuk menguji kadar protein yang terdapat pada urine A. Manfaat Adapun manfaat yang dapat diperoleh pada praktikum ini adalah: 1. Mahasiswa dapat menguji secara fisik urine yang berupa warna, bau dan pH 2. Mahasiswa dapat mengetahui kadar glukosa yang terdapat pada urine 3. Mahasiswa dapat mengetahui kadar protein yang terdapat pada urine

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Osmoregulasi merupakan proses homeostatis yang menjaga agar kadar cairan tubuh selalu dalam keadaan konstan (steady state). Seperti telah diketahui bahwa cairan tubuh sebagian terdapat di dalam sel dan sebahagian terdapat di luar sel.

Cairan tubuh yang terdapat di dalam sel disebut cairan intra sel sedangkan yang terdapat di luar sel disebut cairan ekstra sel. Osmoregulasi bukanlah istilah yang semata-mata hanya untuk menyatakan pengendalian neraca air dalam makhluk hidup. Dalam arti kata yang lebih luas juga termasuk pengendalian komposisi cairan tubuh dalam banyak hal merupakan cairan yang sangat rumit (Wulangi, 1993). Dalam rangka memenuhi kebutuhannya akan energi (ATP), semua hewan menyelenggarakan berbagai reaksi metabolisme. Akan tetapi, reaksi metabolisme tidak hanya menghasilkan ATP dan zat bermanfaat lainnya, tetapi juga menghasilkan zat sisa. Semua zat sisa tersebut harus dikeluarkan dari tubuh. Untuk itu, hewan harus memiliki alat/organ pengeluaran yang berfungsi untuk membuang berbagai zat sisa metabolisme (misalnya sisa metabolisme protein), sisa obat, sisa hormon, dan berbagai zat toksik/beracun. Sistem pengeluaran juga berperan penting dalam proses osmoregulasi (Isnaeni, 2006). Proses pengeluaran zat-zat sisa dari tubuh dibedakan atas ekskresi, defekasi dan sekresi. Ekskresi adalah pengeluaran zat-zat sisa metabolisme yang sudah tidak dipakai lagi oleh sel darah, dikeluarkan bersama urine, keringat dan pernapasan. Pengeluaran zat sisa dari dalam tubuh dapat melalui ginjal, kulit, paru-paru dan saluran pencernaan. Metabolisme senyawa protein akan menghasilkan asam amino yang diuraikan menjadi NH4OH dan NH3. senyawa ini bersifat racun dan harus dibuang (Tjiesoepomo, 1972).

Menurut Wulangi (1993), peranan osmoregulasi dan ekskresi adalah : 1. Mengeluarkan dan membuang hasil sampingan dari metabolisme. Pengeluaran dan pembuangan hasil sampingan untuk mencegah tidak seimbangnya ekuilibrum reaksi kimia. 2. Mencegah terganggunya aktivitas metabolik dalam tubuh dengan cara mensekresikan zat buangan. 3. Mengendalikan kandungan ion dalam cairan tubuh garam berkelakuan seperti elektrolit yang lain dan dalam cairan tubuh akan terurai menjadi ion.

4. Mengatur jumlah air yang terdapat dalam cairan tubuh dan cara pengaturannya salah satu masalah fisiologis yang dihadapi oleh makhluk hidup. Salah satu cara mengatasi masalah ini dengan melakukan adaptasi struktural dan fungsional.
5. Mengatur kadar ion H atau pH cairan tubuh, mekanisme ekskresi ion-ion yang

berpengaruh terhadap pH seperti ion dan HCO3. Menurut Anonim1 (2009), Interpretasi warna urin dapat menggambarkan kondisi kesehatan organ dalam seseorang. a. Keruh. Kekeruhan pada urin disebabkan adanya partikel padat pada urin seperti bakteri, sel epithel, lemak, atau Kristal-kristal mineral. b. Pink, merah muda dan merah. Warna urin seperti ini biasanya disebabkan oleh efek samping obat-obatan dan makanan tertentu seperti bluberi dan gula-gula, warna ini juga bisa digunakan sebagai tanda adanya perdarahan di system urinaria, seperti kanker ginjal, batu ginjal, infeksi ginjal, atau pembengkakkan kelenjar prostat. c. Coklat muda seperti warna air teh, warna ini merupakan indicator adanya kerusakan atau gangguan hati seperti hepatitis atau serosis. d. Kuning gelap, Warna ini disebabkan banyak mengkonsumsi vitamin B kompleks yang banyak terdapat dalam minuman berenergi. Cairan yang telah disaring (filtrat) masuk ke dalam rongga bowman dan mengalir ke dalam tubulus kontortus proksimal (tabung/saluran di bagian hulu yang berasal dari kapsula bowman); natrium, air, glukosa dan bahan lainnya yang ikut tersaring diserap kembali dan dikembalikan ke darah. Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh (http://wikipediaindonesia.com). Dalam mempertahankan homeostasis tubuh peranan urin sangat penting, karena sebagian pembuangan cairan oleh tubuh adalah melalui sekresi urin. Selain urin juga terdapat mekanisme berkeringat dan juga rasa haus yang kesemuanya bekerja sama dalam mempertahankan homeostasis ini (Anonim2, 2009).

Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obatobatan dari dalam tubuh.Anggapan umum menganggap urin sebagai zat yang “kotor”. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urin tersebut berasal dari ginjal atau saluran kencing yang terinfeksi, sehingga urinnyapun akan mengandung bakteri. Namun jika urin berasal dari ginjal dan saluran kencing yang sehat, secara medis urin sebenarnya cukup steril dan hampir tidak berbau ketika keluar dari tubuh. Hanya saja, beberapa saat setelah meninggalkan tubuh, bakteri akan mengkontaminasi urin dan mengubah zat-zat di dalam urin dan menghasilkan bau yang khas, terutama bau amonia yang dihasilkan dari urea (Anonim2, 2009). Air kemih (urin) yang encer hampir tidak berwarna, sedangkan urin yang pekat berwarna kuning tua. Zat warna pada makanan bisa menyebabkan urin berwarna merah, sedangkan obat-obatan bisa menyebabkan urin berwarna coklat, hitam, bru, hijau atau merah. Selain karena makanan atau obat-obatan, urin tidak berwarna kuning atau abnormal. Urin coklat mungkin mengandung hasil pemecahan hemoglobin atau protein otot. Urin yang mengandung zat warna akibat porfiria menjadi merah, sedangkan zat warna akibat melanoma menyebabkan urin menjadi hitam. Urin yang keruh menunjukkan adanya nanah akibat infeksi saluran kemih atau kristal garam dari asam urat maupun asam fosfat (Khidri, 2004).

BAB III METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat Hari/ tanggal : Rabu, 12 Mei 2009 Waktu Tempat : Pukul 15.00 s.d 16.20 WITA : Laboratorium Biologi FMIPA UNM lantai III Barat Makassar. B. Alat dan Bahan

1. kegiatan I (uji fisik urine) a. alat : 1) tabung reaksi,
2) indicator universal / kertas lakmus

a. bahan: urine 1. kegiatan II (uji glukosa) a. alat : 1) tabung reaksi 2) pipet tetes 3) gelas piala 4) kasa 5) kaki tiga 6) spiritus a. bahan : 1) urine
2) larutan benedict

3) korek api 1. kegiatan III (uji protein) a. alat : 1) tabung reaksi
2) indicator universal / kertas lakmus

3) pipet tetes a. bahan : 1) urine 2) asam asetat 10% 3) asam sulfosalisilat 20% C. Prosedur Kerja
1. Kegiatan I: (uji fisik urine)

a. Melakukan pengamatan terhadap urine berupa melihat warnanya b. Mencium bau urine
c. Menghitung kadar pH dengan menggunakan indicator universal 1. Kegiatan II : (uji glukosa) a. Menyiapkan tabung reaksi bersih, memasukkan 8 tetes dan menambahkan 3 tetes

larutan benedict. Meletakkan tabung reaksi tersebut di dalam air mendidih selama 5 menit b. Memindahkan dari pemanas dan membaca hasilnya sesuai dengan daftar. Membandingkan warna yang dihasilkan dengan warna yang normal. Warna Biru Biru kehijauan Kuning kehijauan Coklat kehijauan Jingga-kuning Merah bata (dengan endapan) Hasil Negative Ada gula +1 +2 +3 +4

2. Kegiatan III : (uji protein)

a. Memasukkan urine di dalam tabung sentrifuge dan mengocok selama 5 menit
b. Meletakkan 8 tetes urine dan menguji pH nya dengan kertas lakmus. Bila

pHnya alkalin (basa), menambahkan asam asetat 10% 3 tetes sampai menjadi asam c. Menambahkan 3 tetes asam sulfosalisilat 20%, apabila sudah asam. Menetesi dengan hati-hati d. Bila ada protein, satu endapan keruh akan Nampak pada perbatasan kedua cairan e. Mencatat hasilnya

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Nama Anti Uwa Ashar Nelsi Nova Wana Emma Hamsa Fitri Tika Erlin Dian Janggem Yuli Tuti St.bida Mitra Warna k. gading k. gading k. gading Bening Bening k. gading k. gading k. gading k. gading k. gading k. gading k. gading Bening k. gading k. gading Bening k. gading Bau Pesing Pesing Pesing Pesing Pesing Pesing Pesing Pesing Pesing Pesing Pesing Pesing Pesing Pesing Pesing Pesing Pesing pH 6 6 7 6 6 6 6 7 7 6 6 6 6 6 6 6 6 glukosa +1 +2 Ada gula Ada gula Ada gula +2 Ada gula Ada gula +1 Negative Ada gula +1 +1 +1 Ada gula Negative +2 protein ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan

18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 No 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41

Anda Ira Hendri Devi Busra Andi Ayub Abul Vonni Nunu Rahmansyah Nardi Anthi Sandi Nama Rahmi Irmayanti Ino Ade Isni Enhy Fara Ummink Rezeki Agung

k. gading k. gading k.kehijauan Kuning Kuning k. berbuih k. berbuih k. gading k. gading k. gading k. gading Kuning k. gading k. gading Warna k. gading k. gading k. gading k. gading k. gading k. gading k. gading k. gading k. gading k. berbuih

Pesing Pesing Tdk bau Pesing Pesing Menyenga t Menyenga t Pesing Pesing Pesing Pesing Tdk bau Pesing Pesing Bau Pesing Pesing Pesing Pesing Pesing Pesing Pesing Pesing Pesing Pesing

6 7 5 6 6 6 6 6 5 6 6 6 5 6 Ph 6 6 6 6 6 6 7 6 6 6

+2 +3 +2 +1 Ada gula +1 +1 +1 +1 +2 +1 +1 +1 +1 glukosa +1 Ada gula +1 Ada gula +1 Ada gula Negative +1 Ada gula Ada gula

≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan Protein ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan ≠endapan

B. Analisis Data 1. Persentase Mahasiswa dengan kadar gula negatif = jumlah mahasiswa dengan kadar gula negativejumlah seluruh
mahasiswa x 100%

= 341 x100% = 7,32% 2. Persentase Mahasiswa dengan kadar gula positif (ada gula) = jumlah mahasiswa dengan kadar gula positifjumlah seluruh
mahasiswax 100% = 1341 x100% = 31,70%

3. Persentase Mahasiswa dengan kadar gula 1 + = jumlah mahasiswa dengan kadar gula 1+jumlah seluruh
mahasiswa = 1741 x100% = 41,46%

4. Persentase Mahasiswa dengan kadar gula 2 + = jumlah mahasiswa dengan kadar gula 2+ jumlah seluruh
mahasiswa x 100% = 641 x100% = 14,63 %

5. Persentase Mahasiswa dengan kadar gula 3 + = jumlah mahasiswa dengan kadar gula 3+jumlah seluruh
mahasiswa x100% = 141 x100% = 2,43 %

C.Pembahasan Struktur Ginjal Ginjal pada dasarnya dapat dibagi dua zone, yaitu : kortek (luar ) dan Medulla (dalam). Kortek meliputi daerah antara dasar malfigi pyramid yang juga disebut pyramid medulla hingga ke daerah kapsula ginjal. Daerah kortex antara pyramidpyramid tadi membentuk suatu kolum disebut Kolum Bertini Ginjal. Pada potongan ginjal yang masih segar, daerah kortek terlihat bercak-bercak merah yang kecil (Petichie) yang sebenarnya merupakan kumpulan veskuler khusus yang terpotong, kumpulan ini dinamakan renal corpuscle atau badan malphigi. Kortek ginjal terutama terdiri atas nefron pada bagian glomerulus, tubulus Konvulatus proximalis, tubulus konvulatus distalis. Sedangkan pada daerah medulla dijumpai sebagian besar nefron pada bagian loop of Henle’s dan tubulus kolectivus. Tiaptiap ginjal mempunyai 1-4 juta filtrasi yang fungsional dengan panjang antara 3040 mm yang disebut nefron (Anonim1, 2009). Unit fungsional dasar dari ginjal adalah nefron yang dapat berjumlah lebih dari satu juta buah dalam satu ginjal normal manusia dewasa. Nefron berfungsi

sebagai regulator air dan zat terlarut (terutama elektrolit) dalam tubuh dengan cara menyaring darah, kemudian mereabsorpsi cairan dan molekul yang masih diperlukan tubuh. Molekul dan sisa cairan lainnya akan dibuang. Reabsorpsi dan pembuangan dilakukan menggunakan mekanisme pertukaran lawan arus dan kotranspor. Hasil akhir yang kemudian diekskresikan disebut urin (Anonim1, 2009).

Proses Pembentukan Urine Menurut Anonim1 (2009), di dalam ginjal terjadi rangkaian proses filtrasi, reabsorbsi, dan augmentasi. 1. Penyaringan (filtrasi) a. Filtrasi terjadi pada kapiler glomerulus pada kapsul Bowman. Pada glomerulus terdapat sel-sel endotelium kapiler yang berpori (podosit) sehingga mempermudah proses penyaringan. Beberapa faktor yang mempermudah proses penyaringan adalah tekanan hidrolik dan permeabilitias yang tinggi pada glomerulus. Selain penyaringan, di glomelurus terjadi pula pengikatan kembali sel-sel darah, keping darah, dan sebagian besar protein plasma. Bahan-bahan kecil terlarut dalam plasma, seperti glukosa, asam amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat, garam lain, dan urea melewati saringan dan menjadi bagian dari endapan.
b. Hasil penyaringan di glomerulus berupa filtrat glomerulus (urin primer) yang

komposisinya serupa dengan darah tetapi tidak mengandung protein. Pada filtrat glomerulus masih dapat ditemukan asam amino, glukosa, natrium, kalium, dan garam-garam lainnya. 1. Penyerapan kembali (Reabsorbsi)
a. Volume urin manusia hanya 1% dari filtrat glomerulus. Oleh karena itu, 99%

filtrat glomerulus akan direabsorbsi secara aktif pada tubulus kontortus proksimal dan terjadi penambahan zat-zat sisa serta urea pada tubulus kontortus distal.

b. Substansi yang masih berguna seperti glukosa dan asam amino dikembalikan ke darah. Sisa sampah kelebihan garam, dan bahan lain pada filtrat dikeluarkan dalam urin. Tiap hari tabung ginjal mereabsorbsi lebih dari 178 liter air, 1200 g garam, dan 150 g glukosa. Sebagian besar dari zat-zat ini direabsorbsi beberapa kali.
c. Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin sekunder

yang komposisinya sangat berbeda dengan urin primer. Pada urin sekunder, zat-zat yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa metabolisme yang bersifat racun bertambah, misalnya ureum dari 0,03, dalam urin primer dapat mencapai 2% dalam urin sekunder. d. Meresapnya zat pada tubulus ini melalui dua cara. Gula dan asam mino meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air melalui peristiwa osmosis. Reabsorbsi air terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal. 1. Augmentasi Augmentasi adalah proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi di tubulus kontortus distal. Komposisi urin yang dikeluarkan lewat ureter adalah 96% air, 1,5% garam, 2,5% urea, dan sisa substansi lain, misalnya pigmen empedu yang berfungsi memberi warm dan bau pada urin. 1. Kegiatan I : Uji Fisik Pada praktikum ini dilakukan pengamatan pada urin dari setiap probandus yang ada. Perlakuan ini merujuk pada pengujian fisik dengan mengamati pH, bau dan warna dari setiap urine yang diujikan. Untuk penentuan pH dari setiap urine, pH yang ada berkisar antara 5 – 7. Berdasarkan hasil yang diperoleh pH 5 ada 2orang, pH 6 ada 33 orang dan pH 7 ada 5 orang. Untuk bau dari setiap urine, terdapat 3 macam diantaranya pesing, tidak berbau, dan menyengat. Untuk bau pesing ada 37 orang, tidak berbau ada 2 orang dan menyengat 2 orang. Sedangkan untuk warna dari setiap urine, juga terdapat 5 macam yaitu kuning gading, kuning, kuning berbuih, kuning kehijauan dan bening. Kuning gading adalah warna yang

paling dominan yaitu 30 orang, kuning berbuih ada 3 orang, bening 4 orang, kuning kehijauan 1 orang dan kuning 3 orang. Warna kuning gading mengindikasikan bahwa pigmen yang terkandung dalam urin adalah normal. Kuning berbuih kemungkinan disebabkan oleh naiknya pigmen melanin. Bening dan kuning berbusa menunjukkan bahwa konsentrasi urin tereduksi. Menurut Pearce (2002), ciri-ciri urine yang normal yaitu :
1. Jumlah rata-ratanya 1-2 liter per hari, tetapi berbeda-beda sesuai dengan

jumlah cairan yang dimasukkan 2. Warnanya bening orange pucat tanpa endapan, tetapi adakala jonjot lendir tipis nampak terapung di dalamnya 3. Baunya tajam 4. Reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan pH rata-rata 6 5. Berat jenis berkisar dari 1010 sampai 1025 Urine berwarna kemerahan menandakan adanya darah pada urine, yang bisa menjadi indikasi adanya gangguan batu ginjal, atau kanker pada ginjal dan kandung kemih. Namun bisa jadi urine berwarna merah jika mengkonsumsi pencahar atau makan buah bit secara berlebihan. Urine berwarna kecoklatan bisa menandakan adanya darah dalam urine. Tapi urine juga dapat berubah warna coklat jika ada otot yang rusak atau melakukan olahraga terlalu berlebihan. Bisa juga akibat terlalu banyak makan kacang. Urine berwarna kecoklatan juga mengindikasikan adanya porphyria penyakit kelainan pada darah. Urine berwarna kuning tua atau pekat kemungkinan akibat dehidrasi, tapi bisa juga merupakan tahap awal penyakit liver. Urine berwarna kuning terang bisa juga akibat mengkonsumsi vitamin dalam dosis tinggi, terutama riboflavin (vitamin B). Urine berwarna orange mengindikasikan penyakit hepatitis atau malaria. Pyridium, antibiotik yang biasa digunakan untuk infeksi kandung kemih dan saluran kencing juga dapat membuat urine Anda berwarna orange. Begitu juga bila Anda melakukan diet vegetarian. Selain warna, urin juga mengelurkan bau yang juga

bisa digunakan untuk mendeteksi penyakit. Misalnya pada penderita diabetes dan kelaparan bau urinnya cenderung manis dan berbau buah, sementara untuk urin yang terinfeksi bakteri E. coli lebih memproduksi urin dengan bau yang sangat menyengat. Berbeda dengan urin pada tubuh sehat yang cukup steril dan hampir tidak berbau saat keluar dari tubuh. Hanya saja, beberapa saat setelah meninggalkan tubuh, bakteri akan mengkontaminasi urin dan mengubah zat dalam urin sehingga menghasilkan bau yang khas (Anonim1, 2009). 1. Kegiatan II : Uji Glukosa Pada praktikum ini dilakukan pengamatan pada urin dari setiap probandus yang ada. Perlakuan ini merujuk pada pengujian kimia yaitu uji glukosa dengan mengamati ada tidaknya kandungan gula dalam urine setelah penambahan beberapa tetes bennedict yang kemudian dipanaskan. Setelah dipanaskan dijumpai ada 5 macam warna yaitu biru, biru kehijauan, kuning kehijauan, coklat kehijauan dan jingga-kuning. Untuk biru ada 3 orang, untuk biru kehijauan 13 orang, kuning kehijauan 17 orang, coklat kehijauan 6 orang dan jingga-kuning 1 orang. Jika urine berwarna biru maka dapat diindikasikan bahwa kadar gula dalam urine negatif. Tidak adanya gula dalam urine kemungkinan disebabkan oleh proses filtrasi pada badan Malpighi yang berlangsung dengan baik. Dari hasil pengamatan, yang diperoleh hanya ada 3 yang demikian dengan persentase 7,32%. Jika urine berwarna biru kehijauan maka dapat diindikasikan bahwa ada gula dalam urine. Namun konsentrasi gula masih sangat rendah. Dari hasil pengamatan, terdapat 13 dengan persentase 31,70%. Jika urine berwarna kuning kehijauan maka dapat diindikasikan bahwa kadar gula dalam urine adalah 1+. Dari hasil pengamatan, terdapat 17 dengan persentase 41,46%. Jika urine berwarna coklat kehijauan maka dapat diindikasikan bahwa kadar gula dalam urine adalah 2+. Dari hasil pengamatan, terdapat 6 dengan persentase 14,63 %. Jika urine berwarna jingga kuning maka dapat diindikasikan bahwa kadar gula dalam urine adalah 3+. Dari hasil pengamatan, yang diperoleh hanyalah 1 dengan persentase 2,43 %.

Kadar gula dalam darah disebabkan karena kurangnya hormon insulin. Hormon insulin yang dihasilkan tidak cukup dan tidak dapat bekerja dengan semestinya. Hormon insulin dihasilkan oleh sekelompok sel beta di kelenjar pankreas dan sangat berperan dalam metabolisme glukosa dalam sel tubuh. Kadar glukosa yang tinggi dalam tubuh tidak bisa diserap semua dan tidak mengalami metabolisme dalam sel. Akibatnya, seseorang akan kekurangan energi, sehingga mudah lelah dan berat badan terus turun. Kadar glukosa yang berlebih tersebut dikeluarkan melalui ginjal dan dikeluarkan bersama urine. Gula memiliki sifat menarik air sehingga menyebabkan seseorang banyak mengeluarkan urine dan selalu merasa haus. Gangguan ini berujung pada sebuah penyakit yang sering kita sebut diabetes mellitus (Anonim2, 2009). 2. Kegiatan III : uji protein Pada praktikum ini dilakukan pengamatan pada urin dari setiap probandus yang ada. Perlakuan ini merujuk pada pengujian kimia yaitu uji protein dengan mengamati ada tidaknya kandungan protein dalam urine yang telah diuji kadar pHnya (apabila pH urin bersifat basa, maka meneteskan 3 tetes asam asetat 10%) kemudian meneteskan 3 tetes asam sulfosalisilat 20%, dan melihat perubahan yang terjadi, apakah ada endapan atau tidak. Berdasarkan hasil pengamatan yang kami peroleh, diperoleh data bahwa semua mahasiswa, urinnya tidak memiliki endapan. Hal ini membuktikan bahwa tidak terdapat protein dalam urin semua mahasiswa (probandus). Menurut wulangi (1993), filtrasi merupakan perpindahan cairan dari glomerulus menuju keruang kapsula bowman dengan membran filtrasi. Membran filtrasi itu sendiri sebetulnya terdiri atas 3 lapisan, yaitu sel endotelium glomerulus, membran basiler, dan epitel kapsula bowman. Filtrat glomerulus mempunyai kandungan zat yang hampir sama dengan cairan yang menembus kapiler menuju ke ruang antara sel. Dalam keadaan normal, filtrat glomerulus tidak mengandung sel darah merah, tetapi mengandung protein yang kadarnya kurang dari 0,03%.

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Struktur ginjal terdiri dari bagian luar disebut korteks, bagian dalam disebut

medulla dan bagian yang paling dalam disebut pelviks. Ginjal dibungkus oleh jaringan ikat longgar yang disebut nefron. Proses pembentukan urine meliputi penyaringan (filtrasi), penyerapan kembali (reabsorpsi) dan augmentasi. 2. Uji fisik urine dilakukan dengan pengamatan ph, bau dan warna.
3. Uji glukosa dilakukan untuk mengetahui kadar gula dalam urine. Persentase

urine negative 7,32%, persentase ada gula 31,70%, persentasi 1+ adalah 41,46%, persentase 2+ yaitu 14,63 % dan persentase 3+ adalah 2,43 %. 4. Uji protein dilakukan untuk mengetahui kadar protein dalam urine. Persentase urine yang diperoleh adalah 100% dalam urine mahasiswa tidak terdapat protein B. Saran Disarankan kepada pihak Asisten dan laboran untukdatang tepat waktu agar praktikum dilaksankan tepat waktu dan Praktikan untuk tetapmenjaga ketertiban dan kedisiplinan saat kegiatan praktikum berlangsung.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim1. 2009. Urinalisis. http://prestasiherfen.blogspot.com/2009/03/urinalisis.html. Diakses pada tanggal 4 Mei 2009. Anonim2. 2009. Urinalisis. http://iqbalali.com/2008/02/10/urinalisis-analisis-kemih/ Diakses pada tanggal 4 Mei 2009. Isnaeni, Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Khidri, Alwy. 2004. Buku Ajar Biomedik I. Makassar : Umitoha. Tjisoepomo, G. 1972. Biologi Jilid III. Makassar : Erlangga. Wulangi, Kartolo. 1993. Prinsip-Prinsip Fisiologi Hewan. Jakarta : Dekdikbud.

11 Mei 2009 http://prestasiherfen.blogspot.com/2009/03/urinalisis.html.

URINALISIS
Ginjal pada dasarnya dapat dibagi dua zone, yaitu : kortek (luar ) dan Medulla (dalam). Kortek meliputi daerah antara dasar malfigi pyramid yang juga disebut pyramid medulla hingga ke daerah kapsula ginjal. Daerah kortex antara pyramidpyramid tadi membentuk suatu kolum disebut Kolum Bertini Ginjal. Pada potongan ginjal yang masih segar, daerah kortek terlihat bercak-bercak merah yang kecil (Petichie) yang sebenarnya merupakan kumpulan veskuler khusus yang terpotong, kumpulan ini dinamakan renal corpuscle atau badan malphigi. Kortek ginjal terutama terdiri atas nefron pada bagian glomerulus, tubulus Konvulatus proximalis, tubulus konvulatus distalis. Sedangkan pada daerah medulla dijumpai sebagian besar nefron pada bagian loop of Henle’s dan tubulus kolectivus. Tiap-tiap ginjal mempunyai 1-4 juta filtrasi yang fungsional dengan panjang antara 30-40 mm yang disebut nefron. Unit fungsional dasar dari ginjal adalah nefron yang dapat berjumlah lebih dari satu juta buah dalam satu ginjal normal manusia dewasa. Nefron berfungsi sebagai regulator air dan zat terlarut (terutama elektrolit) dalam tubuh dengan cara menyaring darah, kemudian mereabsorpsi cairan dan molekul yang masih diperlukan tubuh. Molekul dan sisa cairan lainnya akan dibuang. Reabsorpsi dan pembuangan dilakukan menggunakan mekanisme pertukaran lawan arus dan kotranspor. Hasil akhir yang kemudian diekskresikan disebut urin. Sebuah nefron terdiri dari sebuah komponen penyaring yang disebut korpuskula (atau badan Malphigi) yang dilanjutkan oleh saluran-saluran (tubulus). Setiap korpuskula mengandung gulungan kapiler darah yang disebut glomerulus yang berada dalam kapsula Bowman. Setiap glomerulus mendapat aliran darah dari arteri aferen. Dinding kapiler dari glomerulus memiliki pori-pori untuk filtrasi atau penyaringan. Darah dapat disaring melalui dinding epitelium tipis yang berpori dari glomerulus dan kapsula Bowman karena adanya tekanan dari darah yang mendorong plasma darah. Filtrat yang dihasilkan akan masuk ke dalan tubulus ginjal. Darah yang telah tersaring akan meninggalkan ginjal lewat arteri eferen. Di antara darah dalam glomerulus dan ruangan berisi cairan dalam kapsula Bowman terdapat tiga lapisan: 1. Kapiler selapis sel endotelium pada glomerulus 2. Lapisan kaya protein sebagai membran dasar 3. Selapis sel epitel melapisi dinding kapsula bowman (podosit) Dengan bantuan tekanan, cairan dalan darah didorong keluar dari glomerulus, melewati ketiga lapisan tersebut dan masuk ke dalam ruangan dalam kapsula Bowman dalam bentuk filtrat glomerular. Filtrat plasma darah tidak mengandung sel darah ataupun molekul protein yang besar. Protein dalam bentuk molekul kecil dapat ditemukan dalam filtrat ini. Darah manusia melewati ginjal sebanyak 350 kali setiap hari dengan laju 1,2 liter per menit, menghasilkan 125 cc filtrat glomerular per menitnya. Laju penyaringan glomerular ini digunakan untuk tes diagnosa fungsi

ginjal. Tubulus ginjal merupakan lanjutan dari kapsula Bowman. Bagian yang mengalirkan filtrat glomerular dari kapsula Bowman disebut tubulus konvulasi proksimal. Bagian selanjutnya adalah lengkung Henle yang bermuara pada tubulus konvulasi distal. Lengkung Henle diberi nama berdasar penemunya yaitu Friedrich Gustav Jakob Henle di awal tahun 1860-an. Lengkung Henle menjaga gradien osmotik dalam pertukaran lawan arus yang digunakan untuk filtrasi. Sel yang melapisi tubulus memiliki banyak mitokondria yang menghasilkan ATP dan memungkinkan terjadinya transpor aktif untuk menyerap kembali glukosa, asam amino, dan berbagai ion mineral. Sebagian besar air (97.7%) dalam filtrat masuk ke dalam tubulus konvulasi dan tubulus kolektivus melalui osmosis. Cairan mengalir dari tubulus konvulasi distal ke dalam sistem pengumpul yang terdiri dari: ○ Tubulus penghubung ○ Tubulus kolektivus kortikal ○ Tubulus kolektivus medularis Tempat lengkung Henle bersinggungan dengan arteri aferen disebut aparatus juxtaglomerular, mengandung macula densa dan sel juxtaglomerular. Sel juxtaglomerular adalah tempat terjadinya sintesis dan sekresi renin. Cairan menjadi makin kental di sepanjang tubulus dan saluran untuk membentuk urin, yang kemudian dibawa ke kandung kemih melewati ureter. Proses Pembentukan Urine Menurut Anonimd (2008), di dalam ginjal terjadi rangkaian proses filtrasi, reabsorbsi, dan augmentasi. 1. Penyaringan (filtrasi) a. Filtrasi terjadi pada kapiler glomerulus pada kapsul Bowman. Pada glomerulus terdapat sel-sel endotelium kapiler yang berpori (podosit) sehingga mempermudah proses penyaringan. Beberapa faktor yang mempermudah proses penyaringan adalah tekanan hidrolik dan permeabilitias yang tinggi pada glomerulus. Selain penyaringan, di glomelurus terjadi pula pengikatan kembali sel-sel darah, keping darah, dan sebagian besar protein plasma. Bahan-bahan kecil terlarut dalam plasma, seperti glukosa, asam amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat, garam lain, dan urea melewati saringan dan menjadi bagian dari endapan. b. Hasil penyaringan di glomerulus berupa filtrat glomerulus (urin primer) yang komposisinya serupa dengan darah tetapi tidak mengandung protein. Pada filtrat glomerulus masih dapat ditemukan asam amino, glukosa, natrium, kalium, dan garam-garam lainnya. 1. Penyerapan kembali (Reabsorbsi) a. Volume urin manusia hanya 1% dari filtrat glomerulus. Oleh karena itu, 99% filtrat glomerulus akan direabsorbsi secara aktif pada tubulus kontortus proksimal dan terjadi penambahan zat-zat sisa serta urea pada tubulus kontortus distal.

b. Substansi yang masih berguna seperti glukosa dan asam amino dikembalikan ke darah. Sisa sampah kelebihan garam, dan bahan lain pada filtrat dikeluarkan dalam urin. Tiap hari tabung ginjal mereabsorbsi lebih dari 178 liter air, 1200 g garam, dan 150 g glukosa. Sebagian besar dari zat-zat ini direabsorbsi beberapa kali. c. Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin sekunder yang komposisinya sangat berbeda dengan urin primer. Pada urin sekunder, zat-zat yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa metabolisme yang bersifat racun bertambah, misalnya ureum dari 0,03`, dalam urin primer dapat mencapai 2% dalam urin sekunder. d. Meresapnya zat pada tubulus ini melalui dua cara. Gula dan asam mino meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air melalui peristiwa osmosis. Reabsorbsi air terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal. 1. Augmentasi Augmentasi adalah proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi di tubulus kontortus distal. Komposisi urin yang dikeluarkan lewat ureter adalah 96% air, 1,5% garam, 2,5% urea, dan sisa substansi lain, misalnya pigmen empedu yang berfungsi memberi warm dan bau pada urin. Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Pengeluaran urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Secara umum urin berwarna kuning. Urin encer warna kuning pucat (kuning jernih), urin kental berwarna kuning pekat, dan urin baru / segar berwarna kuning jernih. Urin yang didiamkan agak lama akan berwarna kuning keruh. Urin berbau khas jika dibiarkan agak lama berbau ammonia. Ph urin berkisar antara 4,8 – 7,5, urin akan menjadi lebih asam jika mengkonsumsi banyak protein,dan urin akan menjadi lebih basa jika mengkonsumsi banyak sayuran. Berat jenis urin 1,002 – 1,035. Secara kimiawi kandungan zat dalan urin diantaranya adalah sampah nitrogen (ureum, kreatinin dan asam urat), asam hipurat zat sisa pencernaan sayuran dan buah, badan keton zat sisa metabolism lemak, ion-ion elektrolit (Na, Cl, K, Amonium, sulfat, Ca dan Mg), hormone, zat toksin (obat, vitamin dan zat kimia asing), zat abnormal (protein, glukosa, sel darah Kristal kapur dsb). Volume urin normal per hari adalah 900 – 1200 ml, volume tersebut dipengaruhi banyak faktor diantaranya suhu, zat-zat diuretika (teh, alcohol, dan kopi), jumlah air minum, hormon ADH, dan emosi. Interpretasi warna urin dapat menggambarkan kondisi kesehatan organ dalam seseorang. a. Keruh.Kekeruhan pada urin disebabkan adanya partikel padat pada urin seperti bakteri, sel epithel, lemak, atau Kristal-kristal mineral. b. Pink, merah muda dan merah. Warna urin seperti ini biasanya disebabkan oleh efek samping obat-obatan dan makanan tertentu seperti bluberi dan gula-gula, warna ini juga bisa digunakan sebagai tanda adanya perdarahan di system

urinaria, seperti kanker ginjal, batu ginjal, infeksi ginjal, atau pembengkakkan kelenjar prostat. c. Coklat muda seperti warna air teh, warna ini merupakan indicator adanya kerusakan atau gangguan hati seperti hepatitis atau serosis. d. Kuning gelap, Warna ini disebabkan banyak mengkonsumsi vitamin B kompleks yang banyak terdapat dalam minuman berenergi.
http://iqbalali.com/2008/02/10/urinalisis-analisis-kemih/

URINALISIS
Sistem urinaria terdiri atas ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. `Sistem ini membantu mempertahankan homeostasis dengan menghasilkan urin yang merupakan hasil sisa metabolisme (soewolo, 2003). Dalam keadaan normal, manusia memiliki 2 ginjal. Setiap ginjal memiliki sebuah ureter, yang mengalirkan air kemih dari pelvis renalis (bagian ginjal yang merupakan pusat pengumpulan air kemih) ke dalam kandung kemih. Dari kandung kemih, air kemih mengalir melalui uretra, meninggalkan tubuh melalui penis (pria) dan vulva (wanita) (http://medicastore.com). Dalam http://medicastore.com ini juga di paparkan bahwa darah yang masuk ke dalam glomerulus memiliki tekanan yang tinggi. sebagian besar bagian darah yang berupa cairan disaring melalui lubang-lubang kecil pada dinding pembuluh darah di dalam glomerulus dan pada lapisan dalam kapsula bowman; sehingga yang tersisa hanya sel-sel darah dan molekul-molekul yang besar (misalnya saja berupa protein). Cairan yang telah disaring (filtrat) masuk ke dalam rongga bowman dan mengalir ke dalam tubulus kontortus proksimal (tabung/saluran di bagian hulu yang berasal dari kapsula bowman); natrium, air, glukosa dan bahan lainnya yang ikut tersaring diserap kembali dan dikembalikan ke darah. Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh (http://wikipediaindonesia.com). Dalam mempertahankan homeostasis tubuh peranan urin sangat penting, karena sebagian pembuangan cairan oleh tubuh adalah melalui sekresi urin. Selain urin juga terdapat mekanisme berkeringat dan juga rasa haus yang kesemuanya bekerja sama dalam mempertahankan homeostasis ini. Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obatobatan dari dalam tubuh.Anggapan umum menganggap urin sebagai zat yang “kotor”. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urin tersebut berasal dari ginjal atau saluran kencing yang terinfeksi, sehingga urinnyapun akan mengandung bakteri. Namun jika urin berasal dari ginjal dan saluran kencing yang sehat, secara medis urin sebenarnya cukup steril dan hampir tidak berbau ketika keluar dari tubuh. Hanya saja, beberapa saat setelah meninggalkan tubuh, bakteri akan mengkontaminasi urin dan mengubah

zat-zat di dalam urin dan menghasilkan bau yang khas, terutama bau amonia yang dihasilkan dari urea. Apa saja zat-zat yang terkandung di dalam urin? Di dalam http://wikipedia.com dijelaskan bahwa urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui urinalisis, yaitu suatu metode analisis zat-zat yang dimungkinkan terkandung di dalam urin. Dalam basoeki (2000) disebutkan bahwa pada proses urinalisis terdapat banyak cara metode yang dapat digunakan untuk mendeteksi zat-zat apa saja yang terkandung di dalam urin. Analisis urin dapat berupa analisis fisik, analisi kimiawi dan anlisis secara mikroskopik. Analisis urin secara fisik meliputi pengamatan warna urin, berat jenis cairan urin dan pH serta suhu urin itu sendiri. Sedangkan analisis kimiawi dapat meliputi analisis glukosa, analisis protein dan analisis pigmen empedu. Untuk analisis kandungan proteinm ada banyak sekali metode yang ditawarkan , mulai dari metode uji millon sampai kuprisulfa dan sodium basa. Yang terakhir adalah analisis secara mikroskopik, sampel urin secara langsung diamati dibawah mikroskop sehingga akan diketahui zat-zat apa saja yang terkandung di dalam urin tersebut, misalnya kalsium phospat, serat tanaman, bahkan bakteri (basoeki, 2000). Nah bagi Anda yang ingin mencoba melakukan urinalisis, berikut ada cara alatbahan apa saja yang dibutuhkan: Alat yang digunakan dalam praktikum kaliini adalah, sentrifugasi dan tabungnya, tabung reaksi, pipet panjang, penjepit tabung reaksi, urinometer, tabung urinalis, gelas benda, gelas penutup, mikroskop, lap flanel, kertas isap, lampu spiritus, korak api dan termometer. Bahan yang dibutuhkan dalam praktikum kali ini adalah, urine segar, larutan Bennedict, larutan NaOH 5%, larutan CuSO4 1 %, indikator universal, asam sulfosalisilat, reagen millon, kristal sodium nitroprusside, dan asam asetat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful