You are on page 1of 37

LAPORAN KASUS

Ca Mammae

Dokter Pembimbing :
Dr. Budi Suanto Sp.B

Disusun Oleh :
Rimenda Dwirana Barus
(11.2013.310)

BAGIAN ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
RUMAH SAKIT IMANUEL, BANDAR LAMPUNG
KEPANITERAAN KLINIK
LAPORAN KASUS ILMU BEDAH

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
SMF ILMU BEDAH
RUMAH SAKIT IMANUEL, BANDAR LAMPUNG
Nama Mahasiswa

: Rimenda Dwirana Barus

NIM
: 11 2013 310
Dokter pembimbing : dr. Budi Suanto Sp.B

Tanda Tangan
....................

I. IDENTITAS PASIEN
Nama
: Ny.M
Umur
: 50 tahun
Pendidikan
: D3
Pekerjaan
: guru SD
No CM
: 177485
Tanggal dikasuskan : 22 Juli 2015

Jenis kelamin
: Perempuan
Status perkawinan
: Kawin
Agama
: Islam
Alamat: Dusun 1 Margo Agung, Jati Agung, Lampung Selatan
Tanggal masuk RS
: 22 Juli 2015

II. ANAMNESIS
Autoanamnesis, tanggal 23 Juli 2015
Keluhan utama
Pasien datang ke poliklinik bedah Rumah Sakit Imanuel dengan keluhan kontrol keluhan
setelah operasi pengangkatan tumor payudara.
Riwayat Penyakit Sekarang
Sejak 4 bulan SMRS pasien mengatakan terdapat benjolan pada payudara kanan.
Benjolan teraba keras dan tidak nyeri. Pasien tidak ingat apakah benjolan tersebut mudah atau
sulit digerakkan. Pasien tidak ingat apakah permukaan benjolan licin atau tidak. Tidak terdapat
keluhan lain. Pasien tidak melihat adanya perubahan bentuk maupun ukuran payudara baik kiri
maupun kanan. Puting susu tidak mendesak masuk ke dalam. Tidak ada cairan yang keluar dari
payudara kiri maupun kanan. Pasien tidak merasa nyeri pada payudara kiri dan kanan. Tidak ada
penurunan berat badan sebelum maupun setelah pasien menemukan benjolan tersebut. Pada
tanggal 23 Mei 2015 pasien melakukan pemeriksaan penunjang berupa mamografi yang
menunjukkan hasil tanda keganasan pada payudara kanan.
Pada tanggal 29 Mei 2015 pasien menjalani operasi pengangkatan dan biopsi tumor
payudara kanan. Pasien mengatakan hasil pemeriksaan tumor menunjukkan adanya kanker
payudara kanan. Pasien kemudian memeriksakan diri dan diberi saran untuk melakukan
pengangkatan seluruh payudara kanan.
1

Riwayat Reproduksi
a. Riwayat haid: Pasien pertama kali haid usia 12 tahun. Haid teratur setiap bulan, tidak ada nyeri
perut yang mengganggu aktivitas saat periode haid.
b. Riwayat KB : Pasien menggunakan KB pertama kali saat berusia 25 tahun. Pasien pernah
menggunakan KB suntik 3 bulan selama 3 tahun, KB pil selama 3 tahun, KB susuk selama 4
tahun, dan KB spiral selama 5 tahun (hingga sekarang).
c. Riwayat melahirkan: pasien memiliki 3 orang anak, masing-masing berusia 25 tahun, 21
tahun, dan 16 tahun. Ketiga anak pasien lahir dengan persalinan normal, dan diberi ASI
sampai masing-masing rata-rata berusia 1,5 tahun.
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat asma (-), Riwayat alergi (-), Riwayat TB (-), Riwayat HT (-), Riwayat DM (-),
Riwayat maag (-), Riwayat hepatitis (-)
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga yang memiliki riwayat sakit tumor maupun kanker sebelumnya.
Riwayat asma (-), Riwayat alergi (-), Riwayat TB (-), Riwayat HT (-), Riwayat DM (-), Riwayat
maag (-), Riwayat hepatitis (-)
Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien memiliki riwayat sosial ekonomi menengah, dimana pekerjaan pasien dan suami
pasien sebagai guru Sekolah Dasar.

III. PEMERIKSAAN
1. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran
: Compos mentis
Tanda vital
:
Tekanan darah : 130/90 mmHg
Nadi
: 76x/menit, reguler, kuat angkat, isi dan tegangan cukup
Nafas
: 18x/menit, spontan.
2

fremitus Sela iga tidak melebar. gallop (-) : Datar. tidak terdapat lesi kulit. rhonki (-/-) Cor Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen Inspeksi Palpasi simetris. nyeri tekan (-) massa (-) Pulmo Anterior Posterior Simetris kanan dan kiri. : Pupil isokor dengan diameter 3mm/3mm. Pulmo dextra et sinistra : Auskultasi Pulmo dextra et sinistra : Suara nafas vesikuler. tipe pernapasan thoracoabdominal. pergerakan dada simetris saat statis Palpasi dan dinamis. nyeri tekan (-) Pulmo dextra et sinistra : Sonor (-/-).6ºC (Axilla) : tidak dilakukan pemeriksaan : tidak dilakukan pemeriksaan : Normocephali. wheezing (-/-)./-. wheezing Suara nafas vesikuler. darah (-). nyeri tekan tragus (-) : Bibir sianosis (-). epistaksis (-) : Abses (-). Hidung Telinga Mulut Leher Thorax Inspeksi : Bentuk thorax normal. : Sela iga tidak melebar. fremitus Palpasi taktil kanan dan kiri normal taktil kanan dan kiri normal simetris. murmur (-). tidak terdapat benjolan ataupun lesi. rhonki (-/-) : Ictus cordis tidak terlihat : Ictus cordis teraba di ICS IV linea midclavicula sinistra : tidak dilakukan pemeriksaan : BJ I-II regular murni.Suhu Berat badan Tinggi badan Kepala Mata : 36. edema palpebra -/-. retraksi sela iga ICS (-) Pada payudara kanan terdapat luka bekas jahitan operasi. nyeri tekan (-) Pulmo dextra et sinistra : sonor Perkusi sepanjang linea scapularis. faring hiperemis. nyeri tekan epigastrium (-) 3 . tonsil T1/T1. distribusi rambut merata warna hitam. Retraksi suprasternal (-). konjungtiva pucat -/-. rambut tidak mudah dicabut. barrel chest (-). luka bekas operasi (-) : nyeri tekan kuadran kanan atas. lesi patologis Sela iga tidak melebar. : Trakea lurus di tengah. Kulit tidak ada Inspeksi dada tertinggal. JVP 5-2 cmH2O. tidak ada Vertebra : Normal. refleks cahaya +/+ : deviasi (-). tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening maupun tiroid. sklera ikterik . benjolan (-). atrofi papil lidah (-).

normoperistaltik : Tidak dilakukan pemeriksaan : Tidak dilakukan pemeriksaan : Sianosis Edema Akral hangat Superior -/-/+/+ Inferior -/-/+/+ Status Lokalis Inspeksi Mamae Dextra Mamae Sinistra Benjolan (-) retraksi puting Benjolan (-) retraksi puting (-) nipple discharge (-) nipple discharge (-) lesi (-) Terdapat lesi berupa luka jahitan ± 3 cm pada daerah Palpasi superolateral Massa (-) Cairan (-) Massa (-) cairan (-) 2.000 50-70 Limposit 20 % 25-40 Monosit 5% 2-8 4 . Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Laboratorium tanggal 21 Juli 2015 Hematologi Lengkap Hemoglobin 13.5 150-350 5000-10.Hati Lien Ginjal Perkusi Auskultasi Genital Colok Dubur Ekstremitas : Tidak teraba : Tidak teraba : Tidak teraba : Timpani : BU (+).0 g/dl L: 12-17 Hematokrit Eritrosit Trombosit Leukosit Segmen 37.330 /uL 73 % P: 11-15 37-54 3.55 juta/uL 281 ribu/uL 7.5-5.6 % 4.

P: < 32 SGPT 17 u/L L: 9-36 .00” 9-15 menit Kimia Darah Diabetes GDS 103 mg/dl 70-200 SGOT 18 u/L L: <38 .Densitas jaringan fibroglandular normal. P: 1.5 cm di kuadran superomedial. Tak tampak mikrokalsifikasi tampak lesi opaq. mikrokalsifikasi maupun stellate formation. berdiameter sekitar 0. Tak tampak mikrokalsfikasi maupun stellate formation. tak tampak halo sign. Tak tampak lesi opaq.85 mg/dl L: < 1. Mamae Sinistra .Tak tampak retraksi papilla mamae .8 fl 8-12 Gambaran: Eritrosit normal Trombosit normal Hemostasis : Waktu Perdarahan Waktu Pembekuan 01. tepi regular. Kesan : Massa cenderung maligna di kuadran inferolateral mamae dextra 5 .6 pg 27-32 MCV 82.Eosin 2% 2-4 MCHC 34.7 cm di kuadran inferolateral - dengan stellate formation.Cutis dan subcutis tak menebal .1 Pemeriksaan Mammography tanggal 23 Mei 2015 Mamae Dextra - Cutis dan subcutis tak menebal Tak tampak retraksi papilla mamae Tampak lesi opaq.6 fl 77-94 MPV 10.6 g/dL 31-36 MCH 28. P: 9-43 Fungsi hati Ginjal – Hipertensi Urea 21 mg/dl 10-50 BUN 10 mg/dl 6-20 Creatinin0.30” (IVY) menit Duke 1-3 Ivy 1-5 10. tepi ireguler berukuran sekitar 2 cm x 1.3 .

Pada lamilasi tampak MT putih padat batas tidak tegas. Sejak 4 bulan SMRS terdapat benjolan pada payudara kanan pasien yang teraba keras. kenyal padat. Sel-sel tumor menginvasi jaringan sekitarnya.5x2 cm. polygonal berkelompok.7 %) Pulmo : tidak tampak infiltrate / cranialisasi / konsolidasi Sinus dan diafragma : normal Kesan : Gambaran kardiomegali ringan Pulmo tampak masih dalam batas normal Resume Seorang wanita berusia 50 tahun datang ke poliklinik bedah Rumah Sakit Imanuel dengan keluhan ingin pemeriksaan payudara sesudah operasi pengangkatan dan biopsi tumor payudara. Mikroskopik Sediaan massa tumor terdiri dari sel-sel bentuk bulat.Massa cenderung benign di superomedial mamae dextra Tak tampak kelainan di mamae sinistra Pemeriksaan Patologi Anatomi tanggal 29 Mei 2015 Lokasi Mammae Cara perolehan Biopsi Keterangan Klinik Tumor Mamae Makroskopik Diterima 1 potong jaringan 3x2. dengan hasil adanya invasive ductal carcinoma mammae grade III 6 . khromatin kasar. Kesimpulan Invasive ductal carcinoma mammae grade III Pemeriksaan radiologi tanggal 22 Juli 2015 Cor : tampak sedikit membesar (CTR ± 52. Pasien kemudian dilakukan operasi pengangkatan dan biopsi tumor tanggal 29 Mei 2015. Pasien melakukan pemeriksaan mamografi pada tanggal 23 Mei 2015 dengan hasil adanya massa cenderung maligna pada mamae dextra dan massa cenderung benign pada mamae sinistra. mitosis ditemukan. kuning kecoklatan. Inti polimorfi. oval.

RR = 20x permenit. HR 74 x/menit. Thorax : Tampak luka bekas operasi tertutup elastic verban di seluruh lapang dada Cor : tidak ada kelainan Pulmo : tidak ada kelainan Abdomen : tidak ada kelainan Ekstremitas : akral hangat. RR = 20x permenit.Diagnosa kerja Ca ductal invasive mamae dextra post eksisional biopsi. Penatalaksanaan Modified Radical Mastektomi Mamae Dextra Ceftazidime 1 gr IV Follow Up Tanggal 22 Juli 2015 Follow up S : tidak ada keluhan O : KU = tampak sakit ringan Kesadaran = Compos mentis TD = 120/70 mmHg. Suhu = 36.4 ºC. Thorax : Tampak luka bekas operasi pada lateral payudara kanan Cor : tidak ada kelainan Pulmo : tidak ada kelainan Abdomen : tidak ada kelainan Ekstremitas : akral hangat. Suhu = 36. HR 74 x/menit. udem (-) A : ca ductal invasive mammae dextra post eksisional biopsy. pro modified radikal mastektomi P : Ceftazidime 1 gr IV 23 Juli 2015 S : nyeri disekitar luka operasi O : KU = tampak sakit ringan Kesadaran = Compos mentis TD = 120/70 mmHg. udem (-) A : post modified radikal mastektomi mamae dextra hari ke-1 7 .4 ºC.

Suhu = 36. Thorax : Tampak luka bekas operasi tertutup elastic verban di seluruh lapang dada Cor : tidak ada kelainan Pulmo : tidak ada kelainan Abdomen : tidak ada kelainan Ekstremitas : akral hangat. udem (-) A : post modified radikal mastektomi mamae dextra hari ke-1 P : Ceftazidime 2 x 1 gr IV Ranitidine 2 x 1 ampule IV Carbazocrome 3 x 1 ampule IV Pasien boleh pulang.4 ºC.P : Ceftazidime 2 x 1 gr IV Ranitidine 2 x 1 ampule IV Carbazocrome 3 x 1 ampule IV 24 Juli 2015 S : nyeri disekitar luka operasi O : KU = tampak sakit ringan Kesadaran = Compos mentis TD = 120/70 mmHg. RR = 20x permenit. HR 78 x/menit. Suhu = 36. RR = 20x permenit. HR 74 x/menit.6 ºC. Thorax : Tampak luka bekas operasi tertutup elastic verban di seluruh lapang dada Cor : tidak ada kelainan Pulmo : tidak ada kelainan Abdomen : tidak ada kelainan Ekstremitas : akral hangat. udem (-) A : post modified radikal mastektomi mamae dextra hari ke-2 P : Ceftazidime 2 x 1 gr IV Ranitidine 2 x 1 ampule IV Carbazocrome 3 x 1 ampule IV 25 Juli 2015 S : nyeri disekitar luka operasi masih bisa ditoleransi O : KU = tampak sakit ringan Kesadaran = Compos mentis TD = 120/70 mmHg. kontrol rawat jalan 8 .

kanker payudara menduduki tempat kedua (11.1 Data di Indonesia. radiasi. perjalanan penyakit yang tidak dapat diperkirakan serta usaha pencegahan yang sulit dilakukan serta adalah masalah yang sampai saat ini belum teratasi.4 Payudara yang asimetri sering dijumpai diantara wanita normal dan penderita tidak begitu menyadarinya atau mungkin menerimanya sebagai variasi normal. destruktif. Setengah wanita mempunyai 9 .TINJAUAN PUSTAKA CARCINOMA MAMAE Latar Belakang Carcinoma mammae atau kanker payudara adalah tumor ganas yang berasal dari kelenjar payudara. kemajuan dalam deteksi dini yang dilengkapi dengan kemajuan terapi. Di Indonesia diperkirakan terdapat 20.3.4 Etiologi yang belum diketahui dengan pasti. baik teknik operasi. terapi hormonal serta khemoterapi. Pada 15% kasus jaringan payudara meluas ke bawah garis tepi iga dan 2% melewati pinggir anterior otot latissimus dorsi. Selain itu.2. yang didasarkan pada ketepatan penentuan stadium dan pengenalan sifat-sifat biologis kanker. Pada tahun 2009.5%) setelah kanker leher rahim. diperkirakan 192. 69% kematian terjadi di negara berkembang. Payudara meluas ke atas melalui suatu ekor aksila berbentuk piramid. serta dapat bermetastase. Namun demikian usaha-usaha untuk mendeteksi dini dapat dilakukan dengan baik dengan mengikutsertakan masyarakat melalui penyuluhan. Payudara terletak di atas lapisan fascia otot pektoralis mayor pada dua pertiga superomedial dan otot seratus anterior pada sepertiga lateral bawah.1 Berdasarkan laporan dari WHO.280 kasus baru carcinoma mammae insitu. Kanker payudara merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia.000 kasus baru kanker payudara pertahun dan lebih dari 50% kasus berada dalam stadium lanjut. Bagian medial payudara mencapai pinggir sternum dan di lateral sejajar garis aksilaris anterior.000 wanita meninggal karena kanker payudara dan dari angka itu.370 kasus baru dari invasive carcinoma mammae didiagnosis di Amerika Serikat dan 62. Anatomi Payudara Payudara dewasa normalnya terletak di hemithoraks kanan dan kiri dengan dasarnya terletak dari kira-kira iga kedua sampai iga keenam. semakin membawa harapan baru untuk penderita kanker payudara ini. tahun 2004 diperkirakan 519. Termasuk saluran kelenjar air susu dan jaringan penunjangnya yang tumbuh infiltratif.

pembuluh darah.perbedaan volume 10% antara payudara kiri dan kanan dan seperempatnya dengan perbedaan 20%. jaringan lemak.6 A Ductus B Lobulus C Sinus lactiferous D Puting susu (nipple) E Jaringan lemak F Otot pectoralis mayor G Tulang Iga Pembesaran: A sel normal B membrane basal C lumen (saluran tengah) 10 . dan masing-masing sinus menerima suatu duktus lobulus dengan diameter 2 mm atau kurang. Payudara kiri selalu lebih besar dibanding yang sebelah kanan. Satu lobulus mempunyai diameter 2–3 mm dan dapat terlihat dengan mata telanjang. Payudara dibungkus oleh fascia pektoralis superfisialis yang bagian anterior dan posteriornya dihubungkan oleh ligamentum Cooper sebagai penyangga. Masing-masing lobulus mengandung 10 sampai 100 alveoli (acini) yang merupakan unit dasar sekretori.4 Payudara terdiri dari berbagai struktur yaitu parenkim epitelial. Masing – masing lobus dialiri oleh sistem duktus dari sinus laktiferous (bila distensi mempunyai diameter 5 – 8 mm) terbuka pada nipel.2. saraf.4. dan saluran getah bening serta otot dan fascia. Parenkim epitelial dibentuk oleh kurang lebih 15-20 lobus. Di dalam lobus terdapat 40 atau lebih lobulus.

5 11 . Vena-vena kecil yang bermuara pada v. mammaria interna 2. mammaria interna yang memperdarahi tepi medial glandula mammae 2. vertebralis kemudian bermuara pada v. v. Cabang-cabang perforantes a. thorako-akromialis b. Cabang cabang perforantes v.4.5 a. b. Rami pektoralis a. Pada tindakan radikal mastektomi perdarahan yang terjadi akibat putusnya arteri ini sulit dikontrol sehingga daerah ini dinamakan “the bloody angle”.interkostalis Vena interkostalis bermuara pada v. thorako-dorsalis c. thorako lateralis 3. thorakodorsalis. thorakalis lateralis (a.Vaskularisasi Payudara2. v.4. thorakoakromialis yang memperdarahi glandula mammae bagian dalam (deep surface) 3. A. Persarafan Payudara2. Arteri Payudara mendapat perdarahan dari: 1. Cabang-cabang v. Vena Pada daerah payudara terdapat tiga grup vena yaitu: 1. azygos (melalui vena-vena ini metastase dapat langsung terjadi di paru). aksilaris a. mammaria eksterna) yang memperdarahi bagian lateral payudara Pembuluh darah lain yang juga penting artinya meskipun tidak memperdarahi glandula mammae adalah a. v.

Kelenjar getah bening aksila Terdapat beberapa grup kelenjar getah bening aksila: 1. Kelenjar getah bening subklavikula 7.6 a.4. terletak di dalam jaringan lemak di pusat ketiak. Pada mastektomi dengan diseksi aksila n. Kuadran lateral atas payudara dipersarafi terutama oleh nervus interkostobrakialis ( C8 dan T1 ). Kelenjar getah bening v. Kelompok inferior setinggi interkostal IV-VI 2. 4. Beberapa di antaranya terletak sangat superfisial di bawah kulit dan fascia kira-kira pada pertengahan lipat ketiak sehingga relatif paling mudah diraba. kutaneus brakius madialis yang mengurus sensibilitas daerah aksila dan bagian medial lengan atas sedapat mungkin dipertahankan agar tidak terjadi mati rasa di daerah tersebut. Aksilaris 6. Kelenjar getah bening interpektoral (Rotter’s nodes) 5. Kelompok superior setinggi interkostal II-III ii. Sistem Limfatik Payudara2. Pembuluh getah bening aksila 2. Pembuluh getah bening mamaria intena 3. Kelenjar getah bening sentral (central nodes) Kelenjar getah bening ini merupakan kelenjar aksila yang terbesar dan terbanyak jumlahnya. Kelenjar getah bening mammaria eksterna Grup ini dibagi dalam dua kelompok: i. interkostobrakialis dan n. interkostalis sedangkan jaringan glandula mammae sendiri dipersarafi oleh sistem simpatis. Pembuluh getah bening di daerah tepi medial kuadran medial bawah payudara b. Bagian medial payudara dipersarafi oleh cabang anterior nervus interkostal torasik. Kelenjar getah bening prepektoral 12 . Kelenjar getah bening skapula 3. Persarafan sensoris di bagian superior dan lateral berasal dari nervus supraklavikular (C3 dan C4) dari cabang lateral nervus interkostal torasik (3–4 ).Kulit payudara dipersarafi oleh cabang pleksus servikalis dan n. Pembuluh getah bening 1.

Metastasis melalui sistem limfe Metastasis melalui sistem limfe pertama kali akan mengenai KGB regional terutama KGB aksila. Metastasis ke kelenjar getah bening mammaria interna terjadi lebih sering dari yang diduga. Penyebaran langsung yaitu melalui kelenjar subklavikula tanpa melalui sentinel nodes. b. KGB sentral (central nodes) merupakan KGB aksila yang paling sering (90%) terkena metastasis sedangkan KGB mammaria eksterna adalah yang paling jarang terkena. c. Kelenjar getah bening mammaria interna Metastasis Kanker Payudara1. Penyebaran tidak langsung melalui sentinel nodes yang terletak di sekitar grand central limfatik terminus yang menyebabkan stasis aliran limfe sehingga terjadi aliran balik menuju ke KGB supraklavikula. diduga melalui deep lymphatic fascial plexus di bawah payudara kontralateral melalui kolateral limfatik. e.interkostalis yang selanjutnya bermuara ke dalam v. Metastasis ke hepar selain melalui sistem vena dapat juga terjadi melalui sistem limfe. Jalur ini menjelaskan mengapa bisa terjadi metastasis ke kelenjar aksila kontralateral tanpa metastasis ke payudara kontralateral. Metastasis melalui sistem vena Melalui sistem vena kanker payudara dapat bermetastasis ke paru-paru. Kanker payudara juga dapat bermetastasis ke KGB aksila kontralateral tapi jalannya masih belum jelas. d. mammaria interna merupakan jalan utama metastasis kanker payudara ke paru-paru melalui sistem vena sedangkan metastasis ke vertebra terjadi melalui vena-vena kecil yang bermuara ke v. Dian biasanyaterjadi setelah terjadi metastasis ke aksila. Keadaan ini dapat terjadi bila tumor primer terletak di tepi medial bagian bawah payudara 13 .8. Metastasis ke KGB supraklavikula dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. V. vertebra. dan organ-organ lain. vertebralis.3 Metastasis kanker payudara dapat terjadi melalui dua jalan: a. Biasanya terjadi pada karsinoma mamma di sentral dan kwadran medial.

namun berbagai penelitian dan pengumpulan bukti-bukti epidemiologi telah dilakukan untuk mencari tahu faktorfaktor yang meningkatkan risiko terkena kanker payudara.dan terjadi metastasis ke kelenjar preperikardial. Mutasi gen ini berhubungan dengan insiden kanker payudara pada pria. Virus juga diduga sebagai penyebab namun belum dapat dibuktikan pada manusia.Usia Kanker payudara jarang dijumpai pada usia di bawah 30 tahun tapi insidennya meningkat tajam hingga usia sekitar 50 tahun (30. Setelah usia 50 tahun frekuensinya tetap 14 .6. Gen yang paling berpengaruh disebut dengan BRCA-1 (pada lokus 17q21). penyebab pasti kanker payudara belum diketahui secara pasti. Di Amerika Serikat.35%). Kanker ini jarang sekali ditemukan pada wanita usia dibawah 20 tahun.5 Etiologi Kanker Payudara Kanker payudara merupakan hasil dari mutasi pada salah satu atau beberapa gen. Etiologi kanker payudara masih belum diketahui dengan pasti hingga sekarang namun yang paling diyakini sebagai penyebab adalah paparan terhadap mutagen. kanker payudara merupakan 28% kanker pada wanita kulit putih. Kurva insidens usia bergerak naik terus sejak usia 30 tahun. Insidens kanker payudara pada lelaki hanya 1% dari kejadian pada perempuan. Selanjutnya terjadi stasis aliran limfe yang berakibat adanya aliran balik limfe ke hepar.8 Faktor Resiko Kanker Payudara Saat ini. Angka tertinggi terdapat pada usia 45-66 tahun. Dua di antaranya terletak pada kromosom 17. yang lainnya adalah gen p53 (pada lokus 17p13). Gen ketiga adalah BRCA2 yang terletak pada kromosom 13. Gen keempat yang juga terlibat adalah gen reseptor androgen pada kromosom Y. Epidemiologi Kanker payudara pada wanita menduduki tempat nomor dua setelah karsinoma serviks uterus. dan 25% pada wanita kulit hitam. Mutagen ini bisa berupa mutagen endogen yaitu radikal bebas seperti lipid peroksidase dan malondyaldehida (MDA) juga mutagen eksogen yaitu radiasi. Berbagai faktor itu antara lain : a.

Misalnya di Israel. Angka kejadian kanker payudara pada laki-laki hanya 1 %. Menarche sebelum usia 12 tahun mempunyai risiko kanker payudara 20% lebih besar dari menarche setelah usia 15 tahun.meningkat tapi perlahan. Wanita yang tidak pernah melahirkan (nullipara) atau yang pertama kali melahirkan anak pada usia lebih 15 . Angka kejadian kanker payudara di Amerika Utara sekitar lima kali lebih tinggi daripada di Jepang. b. sedangkan 2 hingga 3 kejadian ditemukan pada wanita berusia 55 tahun keatas.6 Hal ini mungkin disebabkan karena eksposure hormon estrogen dan progesterone yang berkepanjangan yang mempengaruhi pertumbuhan sel-sel payudara.Reproduksi Status reproduksi juga mempengaruhi risiko terkena kanker payudara. keturunan Jews mempunyai risiko empat kali lebih tinggi daripada non-Jews dan di Italia terdapat perbedaan angka kejadian sekitar dua kali lipat antara daerah utara dan selatan.2 d.3.4 Sekitar 1 hingga 8 kejadian kanker payudara yang invasif ditemukan pada wanita yang lebih muda dari usia 45 tahun. Wanita asian-hispanic memiliki risiko kejadian kanker payudara yang lebih rendah daripada wanita afican-american. Perbedaan insiden berdasarkan usia ini diinterpretasikan sebagai efek dari hormon ovarium pada perkembangan penyakit. e.2. 2.Jenis kelamin Kanker payudara 100 kali lebih sering terjadi pada perempuan daripada laki-laki. Alasan utamanya adalah karena pada wanita. Risiko kanker payudara berkurang sekitar setengahnya jika menopause terjadi sebelum usia 45 tahun dibandingkan jika menopause terjadi setelah usia 55 tahun.3. Menstruasi Menarche pada usia dini dan menopause yang terlambat dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Bahkan di dalam satu negara insiden kanker payudara berbeda-beda. Geografi Insiden kanker payudara sangat bervariasi di antara negara-negara diseluruh dunia. sel-sel pada payudara lebih sering terekspose oleh hormon-hormon estrogen dan progesteron yang mempengaruhi peertumuhan sel-sel pada payudara.2. Variasi geografis ini lebih disebabkan oleh faktor lingkungan daripada genetik karena penduduk yang bermigrasi dari negara berisiko rendah ke negara berisiko tinggi mengalami peningkatan frekuensi kanker payudara.7 c.

Meskipun demikian pengaruh diet pada insiden kanker payudara tampaknya terjadi pada usia muda seperti anak-anak dan remaja. daging dan alkohol dapat meningkatkan risiko sedangkan tingginya konsumsi serat. Usia terjadinya menarche sangat dipengaruhi oleh ukuran tubuh dengan demikian gizi pada masa anak-anak akan mempengaruhi pada usia berapa menarche terjadi. Wanita yang mempunyai banyak anak (multipara) diasosiasikan dengan berkurangnya risiko kanker payudara.6 f. Bukti-bukti yang ada menyebutkan bahwa tingginya konsumsi kalori. Risiko ini akan berubah jika penduduk dari negara berisiko rendah migrasi ke negara berisiko tinggi dan mengadaptasi pola makan di negara tersebut. Tinggi badan yang lebih yang juga ditentukan oleh keadaan nutrisi diteliti dapat sedikit meningkatkan risiko kanker payudara terutama setelah menopause. Lemak tubuh adalah situs konversi androstenedione menjadi oestradiol.2. mungkin inilah yang memediasi efek berat badan terhadap risiko kanker payudara pada wanita post-menopause. satu-satunya sumber endogenik estrogen setelah menopause. Diet Perbedaan insiden kanker payudara di berbagai belahan dunia menunjukkan bahwa diet mungkin memegang peranan penting dalam perkembangan kanker payudara.4.2. buah. sayur. vitamin dan phytoestrogens dapat menurunkan risiko. Menyusui lebih lama juga dianggap dapat menurunkan risiko kanker payudara. tentunya setelah memperhitungkan usia saat melahirkan anak pertama.6 16 . Wanita-wanita dari negara Barat mempunyai risiko terkena kanker payudara enam kali lebih tinggi dibandingkan wanita-wanita Asia dan negara berkembang lainnya.dari 31 tahun mempunyai risiko tiga hingga empat kali lebih besar dibandingkan perempuan yang melahirkan anak pertamanya sebelum berusia 18 tahun. Tidak ada data yang membuktikan bahwa perubahan pola makan dari diet tinggi lemak ke diet rendah lemak pada usia pertengahan dan tua dapat menurunkan risiko kanker payudara.2.4.6 g. tubuh yang kurus dapat meningkatkan risiko kanker payudara sebelum menopause sedangkan obesitas dapat meningkatkan risiko sesudah menopause. Diet di negara-negara Barat biasanya mengandung lemak dan gula yang tinggi sedangkan di Asia dan negara yang belum berkembang dietnya lebih banyak mengandung vitamin dan serat. Ukuran tubuh Ukuran tubuh yang mencerminkan status gizi dan pola makan dengan sendirinya dapat mempengaruhi risiko terkena kanker payudara. lemak.4. Pada usia dewasa.

namun bukti-bukti epidemiologisnya pada manusia masih merupakan konflik. ovarium dan uterus.2.2%) dengan riwayat kanker payudara pada anggota keluarga tingkat pertama (first-degree relatives). Sebuah studi populasi pada wanita postmenopause yang berasal dari negara berisiko tinggi menunjukkan level serum oestradiol rata-rata sekitar 20% lebih tinggi daripada wanita-wanita yang berasal dari negara berisiko rendah. sejak usia berapa mereka menderita kanker dan hubungan mereka terhadap individu tersebut. Kanker familial ini cenderung terjadi pada usia lebih muda dan bilateral. Studi case-control lain menunjukkan wanita dengan kanker payudara mempunyai level progesterone yang lebih tinggi dari kelompok kontrol pada analisis yang terbatas pada saat ovulasi. 33% di antaranya mengalami mutasi BRCA-1. Tingginya risiko ini dipengaruhi oleh jumlah anggota keluarga yang menderita kanker payudara. Riwayat keluarga Insiden orang-orang dalam satu keluarga besar terkena kanker payudara terjadi pada sekitar 18% kasus. dengan empat atau lebih anggota keluarga terkena kanker payudara. Peningkatan risiko sebagian besar disebabkan oleh pewarisan gen-gen yang mempredisposisi kanker payudara.6 i. Mungkin hal ini disebabkan oleh kesulitan dalam pengukurannya.4. 5% di antaranya benar-benar diwarisi secara familial berdasarkan analisis pedigree.h. Dengan demikian individu yang memiliki riwayat keluarga kanker payudara berisiko tinggi untuk terkena kanker payudara. Hormon Faktor menstruasi dan reproduksi yang telah dijelaskan sebelumnya menunjukkan peran hormon seks dalam perkembangan kanker payudara. Kanker payudara familial juga sering berhubungan dengan keganasan pada organ lain seperti colon. Hormon seks mempengaruhi proliferasi sel-sel dan jaringan payudara serta meningkatkan karsinogenesis payudara pada hewan percobaan. Meskipun demikian terdapat bukti-bukti yang meyakinkan 17 . Pada keluarga berisiko tinggi. Suatu studi populasi menemukan mutasi BRCA-1 pada 12 dari 193 wanita (6.2%) yang terkena kanker payudara sebelum usia 35 tahun dan pada 15 dari 208 wanita (7. Risiko kanker payudara meningkat kira-kira dua kali pada anak perempuan yang ibunya menderita kanker dan pada wanita yang saudara perempuannya menderita kanker. Prolactin adalah mitogen dalam jaringan payudara dan merupakan hormon yang penting untuk perkembangan tumor payudara pada hewan percobaan tapi perannya pada kanker payudara manusia belum jelas.

Terapi pengganti hormon meningkatkan risiko kanker payudara pada orang-orang yang baru atau sedang menggunakan (dalam jangka waktu lima tahun).6 j. Anamnesis Anamnesis dimulai dengan pencatatan identitas penderita secara lengkap dilanjutkan dengan keluhan utama. keras.4. Kontrasepsi oral juga dikatakan dapat meningkatkan risiko bila digunakan jangka panjang. Pada penelitian terbukti kontrasepsi oral hanya sedikit meningkatkan risiko kanker payudara yaitu sebesar 1. unilateral. venektasi. Risiko meningkat sekitar 2% untuk setiap satu tahun penggunaan. hormon seks eksogen seperti terapi pengganti hormon dan kontrasepsi oral juga dianggap berpengaruh terhadap risiko kanker payudara. retraksi puting susu. Cairan seperti susu menandakan galaktore.2. Cairan yang keluar secara spontan dari puting susu (nipple discharge) adalah tanda kedua yang paling umum dari kanker payudara. edema lengan dan tanda metastasis jauh misalnya nyeri tulang (vertebrae. ulserasi atau adanya peau d’orange.2 Diagnosis Kanker Payudara a.2. rasa nyeri.24% pada orang yang sedang menggunakan dan sebesar 1. Karakter nipple discharge dapat membantu menegakkan diagnosis. batuk. Keluhan utama penderita dapat berupa: adanya benjolan pada payudara. Benjolan kanker cenderung soliter. rasa penuh di ulu hati. ireguler. cairan purulen disebabkan oleh infeksi. dan sakit kepala hebat.6. adanya benjolan di ketiak. dan cairan multiwarna atau lengket menandakan ektasia duktus (comedomastitis).16% pada orang yang telah berhenti menggunakan 1-4 tahun sebelumnya.3. keluar cairan dari puting susu. adanya ekzema di sekitar areola. Selain hormon seks endogen. Cairan 18 . cepat membesar dan tidak nyeri. Radiasi Pada hewan percobaan terbukti adanya peranan sinar radiasi sebagai faktor penyebab kanker payudara. keluhan kulit berupa dimpling. peranan sinar ionisasi sebagai faktor penyebab pada manusia lebih jelas. padat.bahwa level prolaktin dipengaruhi oleh sejumlah even yang juga mempengaruhi risiko kanker payudara. Dari penelitian epidemiologi setelah ledakan bom atom atau penelitian pada orang setelah pajanan sinar rontgen. sesak. tidak dapat digerakkan (nonmobile).8 Benjolan payudara dapat dideteksi pada 90% pasien dengan kanker payudara dan merupakan tanda yang paling umum. femur).

riwayat operasi tumor payudara atau tumor ginekologik. dan bagi pasien agar lebih waspada dan rutin melakukan pemeriksaan payudara sendiri. serosanguinus. Posisi berbaring Penderita berbaring dan diusahakan agar payudara jatuh tersebar rata di atas lapangan dada. krusta dan adanya discharge. Tanda-tanda umum tentang nafsu makan dan penurunan berat badan juga perlu ditanyakan. kelainan puting susu seperti retraksi. Dengan pemeriksaan fisik yang baik dan teliti. dan sakit kepala hebat. riwayat pemakaian obat-obat hormonal. dimpling. Teknik pemeriksaan2. erosi. Posisi tegak (duduk) Lengan penderita jatuh bebas di samping tubuh. Faktor-faktor risiko ini perlu ditanyakan agar dokter dapat mempertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan mamografi pada penderita yang berisiko tinggi. sesak.2. Penderita diperiksa dengan badan bagian atas terbuka 1. pada usia berapa. ulserasi dan nodul satelit. menyusui atau tidak.serous. Pemeriksaan Fisik Pada status generalis. riwayat kanker payudara atau kanker lainnya dalam keluarga. pemeriksa berdiri di depan dalam posisi yang lebih kurang sama tinggi. Pada inspeksi dilihat simetri payudara kiri dan kanan. usia saat pertama kali melahirkan anak. edema.4. selain tanda vital perlu juga diperiksa performance status penderita. yaitu setelah lebih kurang satu minggu dari hari pertama menstruasi. Palpasi dilakukan dengan mempergunakan falang distal dan 19 . Keluhan pasien di organ lain yang berhubungan dengan metastasis perlu ditanyakan seperti batuk. nyeri tulang.6 Selain itu juga perlu ditanyakan mengenai pengaruh siklus menstruasi terhadap keluhan tumor. ketepatan pemeriksaan untuk kanker payudara secara klinis cukup tinggi. dan riwayat radiasi di daerah dada. kemerahan. Karena payudara dipengaruhi oleh faktor hormonal antara lain estrogen dan progesteron maka sebaiknya pemeriksaan payudara dilakukan saat pengaruh hormon ini seminimal mungkin. bila sudah menopause. menstruasi pertama pada usia berapa. perubahan kulit berupa peau d’orange. 2. jika perlu bahu atau punggung diganjal dengan bantal kecil terutama pada penderita yang payudaranya besar.3 b. rasa penuh di ulu hati. berdarah atau seperti air mungkin menandakan papiloma (80%) atau karsinoma intraduktal (20%).

tulang. medial atas. Terakhir diadakan pemeriksaan kalau ada cairan keluar dengan menekan daerah sekitar papil. ukuran tumor (diameter terbesar). III dan IV yang dikerjakan secara sistematis mulai dari kranial setinggi iga kedua sampai ke distal setinggi iga keenam. d. Aksila Sebaiknya dalam posisi duduk karena dalam posisi ini fossa aksila jatuh ke bawah sehingga mudah untuk diperiksa dan lebih banyak yang dapat dicapai. c. dan daerah sentral). Diraba kelompok KGB mammari eksterna di bagian anterior dan di bawah tepi m. konsistensi. organ lain yang ikut diperiksa adalah paru. dan KGB apikal di ujung atas fossa aksilaris. 45% kanker payudara dapat dilihat pada mammografi sebelum mereka dapat diraba. lateral bawah. bagian bawah dipalpasi dengan cermat dan teliti. juga dilakukan pemeriksaan daerah sentral subareolar dan papil.pektoralis dan dinding dada. KGB subskapularis di posterior aksila. Pemeriksaan dengan rabaan halus akan lebih teliti daripada dengan rabaan kuat karena rabaan halus akan dapat membedakan kepadatan massa payudara. Supra dan infraklavikula serta leher utama.pektoralis aksila. Palpasi juga dapat dilakukan dari tepi ke sentral (sentrifugal) berakhir di daerah papil. Adanya proses keganasan akan memberikan 20 . Pada pemeriksaan ini ditentukan lokasi tumor berdasarkan kuadran payudara (lateral atas. kulit. Selain payudara dan KGB. hepar. Pemeriksaan kelenjar getah bening regional 1. bentuk dan batas-batas tumor. konsistensi. apakah terfiksasi satu sama lain atau ke jaringan sekitarnya. Pemeriksaan Penunjang 1. Pada pemeriksaan aksila kanan tangan kanan penderita diletakkan atau dijatuhkan lemas di tangan/bahu kanan pemeriksa dan aksila diperiksa dengan tangan kiri pemeriksa. Pada perabaan ditentukan ukuran. jumlah. dan otak untuk mencari metastase jauh. medial bawah. permukaan. 2. jumlah tumor serta mobilitasnya terhadap jaringan sekitar payudara. Mammografi Mammografi merupakan suatu pemeriksaan dengan soft tissue technic yang dapat mendeteksi 85% kanker payudara. KGB sentral di bagian pusat aksila. m. Meskipun 15% kanker payudara tidak bisa divisualisasikan dengan mammografi.falang medial jari II.

Untuk biopsi kelainan yang tidak dapat diraba seperti temuan pada mammografi dapat dilakukan ultrasound atau stereotactic core biopsy yaitu pungsi dengan jarum besar yang akan menghasilkan suatu silinder jaringan yang cukup untuk pemeriksaan termasuk teknik biokimia. Mammografi dan USG payudara dilakukan pada tumor yang berukuran < 3cm. dan distorsi duktus mamaria.6 3.3% dengan false positive ± 5%.tanda–tanda primer dan sekunder. adanya bridge of tumor dan jaringan fibroglanduler tidak teratur. comet sign. mikrokalsifikasi. Sensitifitasnya dalam menilai aktifitas sel kanker payudara cukup tinggi. Pemeriksaan histopatologi jaringan (gold standard) Pemeriksaan histologi jaringan merupakan cara untuk menegakkan diagnosis pasti kanker payudara. 2. Ketepatannya mencapai 95. Tanda primer berupa fibrosis reaktif.2. Bahan pemeriksaan dapat diambil melalui biopsi eksisional (untuk ukuran tumor < 3cm) atau biopsi insisional (untuk tumor operabel dengan ukuran > 3cm sebelum operasi definitif dan untuk tumor yang inoperabel) yang kemudian diperiksa potong beku atau PA. Dengan menggunakan sinar infra merah pemeriksaan ini memanfaatkan perbedaan suhu di mana suhu kanker payudara lebih tinggi dibanding jaringan sekitarnya. Mammografi sangat baik digunakan untuk diagnosis dini dan skrining. Scintimamografi merupakan teknik pemeriksaan radionuklir menggunakan radioisotop Tc 99m. Pemeriksaan sitologi 21 . Pemeriksaan termografi ditemukan oleh Lawson tahun 1956. hanya saja untuk skrining harganya mahal sehingga dianjurkan penggunaan yang selektif yaitu untuk wanita-wanita dengan risiko tinggi.6 Ultrasonografi berguna terutama untuk membedakan lesi padat atau kistik juga untuk memandu FNAB dan core-needle biopsy.3. Sensitifitas mammografi sekitar 75% dan spesifisitasnya hampir 90%. deposit kalsium baik dalam pola mulberrry atau curvilinear. Pemeriksaan ini juga dapat mendeteksi lesi yang multipel dan adanya keterlibatan KGB regional. Tanda-tanda sekunder berupa bertambahnya vaskularisasi. Xerografi merupakan pemeriksaan yang menggunakan sistem pencitraan foto elektrik.

Pemeriksaan sitopatologi dilakukan dengan FNAB (fine needle aspiration biopsy).3 4.29 (CA 15-3) mungkin berguna untuk memantau respon terhadap terapi pada penyakit yang sudah lanjut.2. USG abdomen. Pemeriksaan yang direkomendasikan oleh PERABOI adalah foto thoraks dan USG abdomen sedangkan bone scanning dan/atau bone survey (bila sitologi dan/atau klinis sangat mencurigakan pada lesi > 5cm) dan CT scan dilakukan atas indikasi. Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan laboratorium rutin dan kimia darah dilakukan sesuai dengan perkiraan metastasis misalnya alkali fosfatase dan liver function tests untuk metastasis ke hepar atau kadar kalsium dan fosfor untuk metastase tulang. bone scanning dan/atau bone survey. dan CT scan dilakukan untuk mencari metastasis jauh. cathepsin-D. Metastasis dapat pula mengenai pleura yang akan menimbulkan efusi pleura. Pemeriksaan imunohistokimia seperti ER. Metastasis ke tulang vertebra akan terlihat pada foto rontgen sebagai gambaran osteolitik/destruksi yang dapat menyebabkan fraktur patologis.3.6 Klasifikasi Kanker Payudara a. Metastasis di parenkim paru pada foto rontgen memperlihatkan gambaran coin lesion yang multipel dengan ukuran yang bermacam-macam. Sensitivitasnya dalam mendiagnosis keganasan dilaporkan sebesar 90-95% bila tepat cara pengambilan dan diekspertise oleh ahlinya. PR.6 5. dan p53 bersifat situasional.2.2. Pemeriksaan metastase jauh Pemeriksaan lain seperti foto thoraks. Pemeriksaan penanda tumor (tumor marker) dan imunohistokimia Pemeriksaan kadar CEA dan CA 27. Sistem TNM 2 Tumor primer (T) Tx : Tumor primer tidak dapat dinilai T0 : Tidak terdapat tumor primer Tis : Karsinoma insitu  Tis (DCIS) : karsinoma in situ hanya ductal  Tis (LCIS) : karsinoma in situ hanya lobular 22 . c-erb-2 (HER-2 neu).3 6.

berkonglomerasi. atau satelit nodul pada kulit.5 cm.  T1b : Tumor ≥ 0. atau secara klinis ada pembesaran KGB mamari interna ipsilateral tanpa adanya metastase ke KGB aksila.  N2a :Teraba KGB aksila yang terfiksasi atau berkonglomerasi atau melekat ke struktur lain.  T1c : Tumor ≥ 1 cm dan ≤ 2 cm.5 cm dan ≤ 1 cm. N2 : Teraba KGB aksila ipsilateral terfiksasi. T2 : Tumor > 2cm dan < 5cm.  T4a : Ekstensi ke dinding dada tidak termasuk otot pektoralis  T4b : Edema (termasuk peau d’orange) atau ulserasi kulit payudara.  T4c : Gabungan T4a dan T4b  T4d : Karsinoma inflamasi (mastitis karsinomatosa) Kelenjar getah bening regional/Nodul (N) Nx : KGB regional tidak bisa dinilai N0 : Tidak terdapat metastase KGB regional. N1 : Dijumpai metastase KGB aksila ipsilateral yang mobile. T3 : Tumor > 5cm T4 : Berapapun ukuran tumor dengan ekstensi langsung ke dinding dada atau kulit.Tis (Paget) : penyakit Paget dari puting susu tanpa tumor (Catatan: Paget  penyakit yang terkait dengan tumor diklasifikasikan menurut ukuran tumor T1 : Tumor ≤ 2cm  T1a : Tumor ≤ 0.  N2b : Secara klinis metastase hanya dijumpai pada KGB mamari interna ipsilateral dan tidak terdapat metastase pada KGB aksila. N3 : Metastase pada KGB infraklavikula ipsilateral dengan atau tanpa keterlibatan KGB aksila atau klinis terdapat metastase pada KGB mamaria interna ipsilateral dan secara klinis terbukti adanya metastase pada KGB aksila atau adanya metastase pada KGB supraklavikula ipsilateral dengan atau tanpa keterlibatan KGB aksila atau mamaria interna  N3a : Metastase pada KGB infraklavikula ipsilateral  N3b : Metastase pada KGB mamaria interna ipsilateral dan KGB aksila 23 .

2002) b. Pada stadium I tanpa keterlibatan 24 . N3c : Metastase pada KGB supraklavikula Metastase jauh (M) Mx : Metastase jauh belum dapat dinilai M0 : Tidak terapat metastase jauh. Histopatologi Kanker payudara mempunyai beberapa tipe histologi khusus yang turut mempengaruhi prognosis. M1 : Dijumpai metastase jauh Stadium klinis Stadium 0 Tis N0 M0 Stadium I T1 N0 M0 Stadium II A T0 N1 M0 T1 N1 M0 T2 N0 M0 Stadium II B T2 N1 M0 T3 N0 M0 Stadium III A T0 N2 T1 N2 M0 T2 N2 M0 T3 N1 M0 T3 N2 M0 Stadium III B T4 N0 T4 N1 M0 T4 N2 M0 M0 M0 Stadium III C Semua T N3 M0 Stadium IV Semua T Semua N M1 (American Joint Committee on Cancer. meskipun stadium klinis lebih berpengaruh.

Papillary (predominantly micropapillary pattern) 25 .In situ Paget’s disease . Non invasive carcinoma a.KGB regional 5-year survival rate sekitar 80% untuk karsinoma duktal invasif dan sekitar 9095% untuk karsinoma lobular.Mucinous . 2 Malignant (carcinoma) 1.NOS (no specified) otherwise . Lobular carcinoma in situ 2. Non invasive ductal carcinoma b. Special types - mucinous carcinoma - medullary carcinoma - invasive lobular carcinoma - adenoid cystic carcinoma - squamous cell carcinoma - spindel cell carcinoma - apocrine carcinoma - carcinoma with cartilaginous and or osseous metaplasia - tubular carcinoma - secretory carcinoma - others c. Invasive ductal carcinoma - papillobular carcinoma - solid-tubular carcinoma - schirrous carcinoma b. koloid dan comedocarcinoma. Invasive carcinoma a. Paget’s disease Tipe Histopatologi .

Secara histologi menunjukkan gambaran sel-sel anaplastik yang semuanya terletak di dalam lobuluslobulus. Comedocarcinoma (5%) Duktus yang diisi oleh tumor sel kecil dan debris sentral. Karsinoma duktal noninvasif (karsinoma duktal in situ atau karsinoma intraduktal) biasanya terjadi tanpa membentuk massa karena tidak ada komponen scirrhous.Inflammatory .Medullary with lymphoid stroma - Gradasi histologis (G) - Gx : grading tidak dapat dinilai - GI : low grade - G2 : intermediate grade - G3 : high grade Berikut penjelasan beberapa tipe histologis dari kanker payudara: 2. Secara mikroskopik tampak proliferasi anaplastik epitel duktus yang dapat memenuhi dan menyumbat duktus.Cribriform .Undifferentiated .Tubular disease and intraductal . NOS .Ductal .Intraductal . Karsinoma lobular (9%) Separuh kasus karsinoma lobular ditemukan in situ tanpa tanda-tanda invasi lokal sehingga sering dianggap premaligna dan disebut neoplasia lobular.6 Karsinoma duktal Karsinoma duktal invasif merupakan kelompok terbesar (78%) dari seluruh tumor ganas payudara. c. d.Paget’s disease and infiltrating .Invasive carcinomas .Secretory .Lobular .. b. tidak teratur dan tidak jelas membentuk kelenjar atau 26 .Medullary.Squamous cell . Karsinoma medular (4%) Gambaran histologi menunjukkan stroma yang sedikit dan penuh berisi kelompok sel yang belum berdifferensiasi.Adenoid cystic .NOS .Paget’s .

h. Sel-sel berbentuk bulat atau poligonal. Terdapat banyak sebukan limfosit yang menjolok pada stroma di dalam tumor. 1993). g.28%-50% di RS Dr. e. Harris. Sistem limfa dipenuhi oleh tumor memicu perubahan payudara dan kulit yang mirip infeksi. Karsinoma skirus (schirrous) Pada pemeriksaan mikroskopik tumor terdiri dari stroma yang padat dengan kelompok sel epitel yang terlepas atau membentuk kelenjar. Fibroadenoma mammae (FAM) ini secara klinis diketahui sebagai tumor di payudara dengan konsistensi padat kenyal. Penyakit Paget (1%) Merupakan karsinoma intraduktus pada saluran ekskresi utama yang menyebar ke kulit puting susu dan areola. sehingga terjadi kelainan menyerupai ekzema yaitu adanya krusta di daerah papil dan areola. hiperkromatik. tapi jika ada massa tumor termasuk karsinoma duktal invasif. i. Jika tidak ditemukan massa tumor di bawahnya penyakit ini termasuk karsinoma insitu. dapat digerakkan dari jaringan sekitarnya. (Mangunkusumo. Kelainan ini ditemukan pada wanita berusia lebih tua dari penderita kanker payudara umumnya dan bersifat unilateral. Tanda khas adalah adanya penyebukan epidermis oleh sel ganas yang disebut sel paget. f. Soetomo (Sukardja). Juga tampak selsel cincin stempel (signet ring cells).pertumbuhan kapiler. berbentuk bulat lonjong dan berbatas tegas. Diagnosis Banding Kanker Payudara a.Fibroadenoma Fibroadenoma adalah suatu tumor jinak dan merupakan golongan terbesar dari tumor payudara yaitu 45. 27 . 1992. Karsinoma mukoid/musinus (3%) Tumor ini tumbuh perlahan-lahan dan secara mikroskopik sel tumor yang menghasilkan musin tersusun membentuk asinus pada beberapa tempat. Karsinoma koloid (3%) Duktus dihambat oleh sel-sel karsinoma dan kista proksimal berkembang. Karsinoma inflamasi (1%) Karsinoma ini memiliki prognosis paling buruk.

permukaan granular. Kelainan ini dapat juga dijumpai tanpa massa tumor yang nyata hingga jaringan payudara teraba padat. e. tidak ada perubahan pada kulit. permukaan berbenjol. Tumor jenis ini umumnya tidak berbatas tegas kecuali kista soliter. Galactocele Galaktokel bukan kelainan neoplasma atau pertumbuhan baru melainkan suatu massa tumor kistik yang timbul akibat tersumbatnya duktus laktiferus pada ibu-ibu yang sedang atau baru selesai masa laktasi. Sebagai tumor jinak. Cystosarcoma philloides tidak bermetastase karena ini adalah kelainan jinak tapi sejumlah kecil (27%) ditemukan dalam bentuk ganas yang disebut malignant cystosarcoma philloides. batas tegas. 2 Penatalaksanaan Kanker Payudara 28 . bulat dan kisteus karena berisi air susu yang mengental. Tumor ini berbatas tegas. dan tidak disertai rasa nyeri. Pengobatannya adalah simple mastectomy untuk mencegah residif. tidak ada metastase regional dan jauh. ukuran bisa mencapai 20-30 cm. Penyakit fibrokistik Fibrocystic disease (FCD) biasanya multipel dan bilateral. pengobatannya cukup dengan eksisi tumornya. Hal ini terjadi karena FCD dipengaruhi oleh keseimbangan hormonal. b.Pertumbuhannya lambat. Pada orang muda atau belum berkeluarga dapat dipertimbangkan untuk mastekstomi subkutan. terasa lebih besar. dapat pula kistik. Jenis yang padat kadangkadang sukar dibedakan dengan kanker payudara dini. Mastitis Mastitis adalah suatu infeksi pada kelenjar payudara yang biasanya terdapat pada wanita yang sedang menyusui. Konsistensinya padat kenyal. FAM terdapat pada usia muda yaitu 15-30 tahun. dapat dijumpai bilateral atau multipel (15%). Konsistensinya dapat padat kenyal tapi ada bagian yang kisteus. c. Bentuknya bulat lonjong. penuh dan nyeri menjelang haid dan akan mengecil serta nyeri berkurang setelah haid selesai. Ditemukan tanda-tanda radang dan sering sudah menjadi abses. Kulit payudara tegang. d. Walaupun ukurannya besar tidak ada perlekatan ke dasar atau kulit. disertai rasa nyeri terutama menjelang haid. berkilat dan tampak venektasi. Ukurannya dapat berubah. Cystosarcoma philloides Gambaran klinis Cystosarcoma philloides dapat seperti FAM yang besar.

Modalitas terapi Untuk kanker payudara terdapat beberapa modalitas terapi yang bisa dipilih: 1. biasanya dilakukan pembedahan kuratif dengan mempertahankan payudara yang disebut dengan breast conserving surgery (BCS).pektoralis mayor. atau diangkat..7 Terdapat beberapa jenis operasi untuk terapi yaitu BCS (breast conserving surgery). Pembedahan ini merupakan standar baku sejak awal abad ke-20 hingga tahun 50-an namun sekarang sudah jarang dilakukan kecuali bila ada tumor payudara yang sangat besar dan melekat ke otot pektoralis.pektoralis minor dapat pula dipertahankan. Pembesaran KGB aksila dirawat dengan radioterapi. Bila dilakukan pengangkatan payudara pertimbangkan kemungkinan rekonstruksi mammae dengan implantasi prostesis atau cangkok flap muskulokutan. Penyinaran diperlukan untuk mencegah kambuhnya tumor di payudara dari jaringan tumor yang tertinggal atau dari sarang tumor lain (karsinoma multisentrik).a. simple mastectomy. Tapi diseksi aksila disini lebih sulit dikerjakan karena otot-otot 29 . dan radical mastectomy. dan semua kelenjar ketiak sekaligus. Bila hal ini tidak dapat dilakukan usahakan prostesis eksterna. BCS merupakan satu paket yang terdiri dari tiga tindakan yaitu pengangkatan tumor (lumpektomi luas atau tumorektomi atau segmentektomi atau kuadrantektomi) ditambah diseksi kelenjar aksila dan radioterapi pada sisa payudara tersebut. Pada mastektomi simpel dilakukan pengangkatan payudara saja tanpa mengangkat limfonodus atau otot. atau diretraksi untuk mendapatkan akses ke aksila. Setelah tahun 60-an mastektomi radikal mulai digantikan oleh mastektomi radikal yang telah dimodifikasi oleh Patey. Sekarang. Metode ini dipopulerkan oleh MacWhirter di Inggris.pektoralis mayor dipertahankan sehingga suplai persarafannya tidak terganggu dan efek kosmetik pada dinding dada yang terjadi bila dilakukan mastektomi radikal dapat dikurangi. Di antara beberapa jenis operasi tersebut metode yang paling tua adalah mastektomi radikal klasik dari Halsted. M. Pada mastektomi radikal dilakukan pengangkatan payudara dengan sebagian besar kulitnya. BCS secara kosmetik lebih baik dari mastektomi bahkan yang telah direkonstruksi sekalipun. Rekonstruksi ini dapat dilakukan sekaligus dengan bedah kuratif atau beberapa waktu setelah radioterapi atau kemoterapi adjuvan. Pada mastektomi radikal modifikasi ini m.pektoralis minor. m. m. Operasi 2. modified radical mastectomy.3.

Indikasi BCS:  T: 3 cm (stadium I atau II)  Pasien ingin mempertahankan payudaranya Syarat BCS:  Keinginan penderita setelah dilakukan informed consent  Penderita dapat melakukan kontrol rutin setelah pengobatan  Tumor terletak tidak sentral  Perbandingan ukuran tumor dan volume payudara cukup baik untuk kosmetik pasca BCS  Mammografi tidak memperlihatkan mikrokalsifikasi atau tanda keganasan lain yang difus  Tumor tidak multipel  Belum pernah terapi radiasi di dada  Tidak menderita SLE atau penyakit kolagen  Terdapat sarana radioterapi yang memadai (megavolt) 2. Radioterapi kuratif tunggal tidak begitu efektif tetapi radioterapi adjuvan cukup bermanfaat. Radioterapi adjuvant diberikan bila ditemukan keadaan sebagai berikut:  Setelah tindakan operasi terbatas (BCS)  Tepi sayatan dekat (T ≥ T2) atau tidak bebas tumor  Tumor sentral atau medial  KGB (+) dengan ekstensi ekstra kapsuler Acuan pemberian radioterapi: 30 . Radioterapi paliatif dapat dilakukan dengan hasil baik untuk waktu terbatas bila tumor sudah tidak operabel.pektoral tetap intact dan jaringan payudara masih ada sehingga pembukaan lapangan operasi aksila terhambat. adjuvan atau paliatif. Radiasi Radioterapi untuk kanker payudara dapat diberikan sebagai terapi primer.

Hormonal Dasar dari pemberian terapi hormonal adalah fakta bahwa 30-40% kanker payudara adalah hormon dependen. Kanker payudara dengan reseptor estrogen dan progesteron yang merespons positif terapi hormonal mencapai 77%. Terapi hormonal merupakan terapi utama stadium IV di samping kemoterapi karena kedua-duanya merupakan terapi sistemik. maka tidak dilakukan radiasi pada KGB aksila supraklavikula .pada keadaan tumor di medial/sentral diberikan tambahan radiasi pada mammaria interna  Dosis lokoregional profilaksis adalah 50 Gy.6. Kemoterapi Kemoterapi merupakan salah satu terapi sistemik yang dapat digunakan sebagai terapi adjuvan atau paliatif.pada yang potensial terjadi residif ditambahkan 10 Gy (misalnya tepi sayatan dekat tumor atau post BCS) . Kemoterapi juga dapat diberikan sebelum pembedahan pada kanker payudara yang besar namun masih operabel pada stadium lokal lanjut.3.7 4.pada keadaan T ≤ T2 bila cN = 0 dan pN. Obat kemoterapi diberikan dalam bentuk kombinasi seperti CAF (CEF). booster dilakukan sebagai berikut: . Terapi hormonal 31 . Berdasarkan penelitian kemoterapi yang disebut kemoterapi neo adjuvan ini dapat mengecilkan ukuran tumor sehingga memudahkan pembedahan.pada yang terdapat massa tumor atau residu post op (mikroskopik atau makroskopik) maka diberikan booster dengan dosis 20 Gy kecuali untuk aksila 15 Gy 3. 2. CMF dan AC. Kemoterapi paliatif dapat diberikan pada pasien yang telah menderita metastasis sistemik. Pada dasarnya diberikan radiasi lokoregional (payudara dan aksila beserta supraklavikula) kecuali: . Terapi ini semakin berkembang dengan ditemukannya reseptor estrogen dan progesteron. Kemoterapi adjuvan dapat diberikan pada pasien pascamastektomi yang pada pemeriksaan histopatologik ditemukan metastasis di sebuah atau beberapa kelenjar.

Pilihan terapi berdasarkan stadium Pada stadium I.3.biasanya diberikan sebelum kemoterapi karena efek terapinya lebih lama dan efek sampingnya lebih sedikit. dilakukan bila tanpa pemeriksaan reseptor. Sedangkan untuk stadium III akhir dan IV sifat pengobatannya adalah paliatif yaitu terutama untuk mengurangi penderitaan pasien dan memperbaiki kualitas hidup. Yang tergolong antiestrogen adalah tamoxifen citrate. lokasinya didasarkan pada hasil pemeriksaan imaging. Semakin cepat dilakukan pembedahan semakin tinggi kurasinya. antibodi yang secara khusus dirancang untuk menyerang HER2 dan menghambat pertumbuhan tumor. Aromatase inhibitor seperti anastrozole dan letrozole menghambat konversi androgen menjadi estrogen. megestrol acetate dan androgen atau estrogen) dilakukan pada pasien pascamenopause.7 5. dan raloxifene tapi raloxifene lebih banyak digunakan untuk pengobatan osteoporosis. Kanker payudara stadium dini/operabel 32 . terapi lainnya hanya bersifat adjuvan. Terapi additif berupa pemberian obat-obatan (antiestrogen. Imunologik Sekitar 15-25% tumor payudara menunjukkan adanya protein pemicu pertumbuhan atau HER2 secara berlebihan dan untuk pasien seperti ini. 2.6. 2. Terapi definitif pada T0 tergantung pada pemeriksaan blok parafin. toremifene. aromatase inhibitor. 1-5 tahun menopause. trastuzumab. pada wanita premenopause dan wanita yang sudah 1-5 tahun menopause dengan ER (+) dan pada penyakit yang bersifat slow growing dan intermediate growing. 1. Pasien sebaiknya juga menjalani tes HER2 untuk menentukan kelayakan terapi dengan trastuzumab. Terapi ablatif berupa ovarektomi bilateral. Setelah itu dapat ditentukan apakah terapi hormonal akan diberikan secara additif atau ablatif. dan III awal (stadium operabel) sifat pengobatan adalah kuratif dengan pembedahan sebagai terapi primer. b. dan pascamenopause). bisa menjadi pilihan terapi. Kanker payudara stadium 0 Dilakukan BCS atau mastektomi simpel. Sebelum pemberian terapi hormonal dilakukan uji reseptor (estrogen receptor/ER positif atau progesteron receptor/PR positif) dan dipertimbangkan status hormonal penderita (premenopause. II.

Inoperable locally advanced - Radiasi kuratif + kemoterapi + terapi hormonal - Radiasi + operasi + kemoterapi + terapi hormonal -Kemoterapi neoadjuvan + operasi + kemoterapi + radiasi + hormonal terapi 4. dan usia premenopause atau postmenopause atau usia tua. Terapi adjuvan pada node negative (KGB histopatologi negatif) Status menopause Premenopause Postmenopause Usia tua Reseptor hormonal ER (+) / PR (+) ER (-) / PR (-) ER (+) / PR (+) ER (-) / PR (-) ER (+) / PR (+) ER (-) / PR (-) Risiko tinggi Ke + Tam / Ov Ke Tam + Kemo Ke Tam + Kemo Ke Tabel 2. Terapi adjuvan pada node positive (KGB histopatologi positif) Status menopause Premenopause Postmenopause Usia tua Reseptor hormonal ER (+) / PR (+) ER (-) / PR (-) ER (+) / PR (+) ER (-) dan / PR (-) ER (+) / PR (+) ER (-) dan PR (-) Risiko tinggi Ke + Tam / Ov Ke Ke + Tam Ke Tam + Kemo Ke 3. Kanker payudara lanjut metastase jauh 33 . reseptor estrogen atau reseptor progesteron. Kanker payudara lokal lanjut/ locally advanced a. Operable locally advanced Mastektomi simpel/MRM + radiasi kuratif + kemoterapi adjuvant + terapi hormonal b. Terapi adjuvan diberikan berdasarkan ada atau tidaknya metastase ke kelenjar getah bening aksila. Tabel 1.Dilakukan BCS (harus memenuhi syarat) atau mastektomi radikal modifikasi atau mastektomi radikal dengan atau tanpa terapi adjuvan.

Prognosis kanker payudara berdasarkan ukuran tumor Ukuran tumor (cm) <1 3-4 5-7. Terapi lokoregional seperti radiasi dan pembedahan hanya dilakukan bila perlu. Keterlibatan histologik KGB aksila Tabel 4. 2 Prognosis Kanker Payudara Prognosis kanker payudara dapat ditentukan berdasarkan beberapa faktor yaitu6: a. e. Stadium klinik Tabel 3. difus. Ukuran tumor Tabel 5. Prognosis kanker payudara berdasarkan stadium klinik Stadium Klinik 0 I II IIIA IIIB IV 5 tahun (%) > 90 80 60 50 35 10 10 tahun (%) 90 65 45 40 20 5 b.Terapi primer pada stadium IV adalah terapi sistemik yaitu terapi hormonal dan kemoterapi. Radiasi kadang diperlukan untuk paliasi pada daerah-daerah tulang weight bearing yang mengandung metastase atau pada tumor bed yang berdarah.5 10 tahun (%) 80 55 45 d. Histologi Kanker yang poor differentiated. metaplasia dan grade tinggi mempunyai prognosis yang lebih buruk dibandingkan kanker yang well differentiated. Prognosis kanker payudara berdasarkan keterlibatan histologik KGB aksila KGB aksila Tidak ada 1-3 KGB > 3 KGB 5 tahun (%) 80 65 30 10 tahun (%) 65 40 15 c. Reseptor hormon 34 . dan berbau yang mengganggu sekitarnya.

ireguler. padat. yang lainnya adalah gen p53 (pada lokus 17p13). Kesimpulan Carcinoma mammae atau kanker payudara adalah tumor ganas yang berasal dari kelenjar payudara. Oleh karena itu penting bagi wanita untuk mengetahui cara memeriksa payudara yang benar agar bila ada suatu kelainan dapat diketahui segera. SADARI sebaiknya mulai biasa dilakukan pada usia sekitar 20 tahun. Penegakkan diagnosis ca mamae dilakukan berdasarkan anamnesis. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan atau clinical breast examination Pemeriksaan oleh dokter secara lege artis sebaiknya dilakukan setiap 3 tahun untuk wanita berusia 20-40 tahun dan setiap tahun untuk wanita berusia lebih dari 40 tahun. SADARI dilakukan pada tanggal yang sama setiap bulan. Gen ketiga adalah BRCA-2 yang terletak pada kromosom 13. SADARI dilakukan 3 hari setelah haid berhenti atau 7 hingga 10 hari dari hari pertama menstruasi terakhir. Beberapa 35 . Mammografi Wanita berusia 35-39 tahun sebaiknya melakukan satu kali baseline mammography. Gen yang paling berpengaruh disebut dengan BRCA-1 (pada lokus 17q21). Terdapat cairan yang keluar secara spontan dari puting susu (nipple discharge).Pasien dengan kanker yang bersifat ER positif mempunyai waktu survival yang lebih lama dibandingkan pasien dengan kanker yang bersifat ER negatif. Screening dan Deteksi Awal Kanker Payudara Kanker payudara tergolong dalam keganasan yang dapat didiagnosis secara dini. cepat membesar dan tidak nyeri. Wanita berusia 40-49 tahn sebaiknya melakukan mammografi setiap 2 tahun dan wanita berusia lebih dari 50 tahun sebaiknya melakukan mammografi setiap tahun. Benjolan kanker payudara cenderung soliter. dan pemeriksaan penunjang. Untuk wanita yang sudah menopause. Periksa payudara sendiri (SADARI) atau breast-self examination Penelitian menunjukkan 85% dari kasus kanker payudara diketahui atau ditemukan lebih dulu oleh penderita. c. American Cancer Society (ACS) merekomendasikan usaha untuk melakukan diagnosis dini yaitu dengan2: a. pemeriksaan fisik. b. tidak dapat digerakkan (nonmobile). unilateral. serta dapat bermetastase. minimal sekali sebulan. keras. destruktif. Termasuk saluran kelenjar air susu dan jaringan penunjangnya yang tumbuh infiltratif.

Wim .int. serta mamografi. Buku Ajar Ilmu Bedah. Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. radiasi. De Jong.usu. 2nd Ed. 7. dengan pemeriksaan histopatologi sebagai alat diagnosis pasti dari ca mamae. Casciato. EGC. Oxford Textbook of Oncology.ac. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. 2. Soelarto Reksoprodjo dkk (editor). Binarupa Aksara. Lippincott Williams and Wilkins. EGC. Terapi yang dapat dianjurkan adalah mastektomi. Tjakra W. Hubungan antara Besar Tumor dan Tipe Histologi Kanker Payudara dengan Adanya Metastase pada Kelenjar Getah Bening Aksila. Breast cancer : Prevention and Control . Jakarta. Et al (editors). Souhami. dan imunologik. Albar. Oxford Press. Casciato and Berry B. Asrul. Page: 11. Deteksi awal ca mamae dapat dilakukan antara lain dengan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI).who. Berbagai stadium ca mamae juga dapat ditentukan untuk menentukan terapi serta prognosis penyakit. hormonal. and Dennis A. 2003. Available from: http://www. 4. kemoterapi. Protokol PERABOI 2003. 1995. 3. Edisi Pertama. Edisi Kedua. Philadelphia. Hlm: 387-402. Zafiral Azdi dkk (editor). Breast Cancer. PERABOI. Ramli. Available from : www.pemeriksaan penunjang dapat dianjurkan. Kanker Payudara. Hlm: 342-364. Manual on Clinical Oncology. pemeriksaan kesehatan. 2005 . Haskell. Page: 110-116 36 . Sjamsuhidajat dan Wim de Jong (editor). 5.id. DAFTAR PUSTAKA 1. 2000. Lowitz (editors). Dennis A. Charles M. Edisi Pertama . Robert L. 2004. World Health Organization. R. Hlm: 2-15. Manuaba. Jakarta. 6. Hlm : 387-402. 2004. Muchlis. Edisi Pertama. Buku Ajar Ilmu Bedah .2009. 8. Payudara.