You are on page 1of 2

BAB I

PENDAHULUAN
Immunoassay untuk sifilis memegang peranan yang penting dalam
diagnosis laboratorium dari penyakit sifilis, hal ini disebabkan oleh perjalanan
penyakit yang lama dan sampai dewasa ini Treponema pallidum belum berhasil
untuk dibenihkan pada suatu media perbenihan sedangkan pemeriksaan secara
langsung (mikroskopis) hanya dapat dikerjakan pada bahan yang diambil dari lesi
luas yang seringkali hanya muncul dalam waktu yang relative singkat dan sering
memberi hasil yang negative semu.
Suatu infeksi dengan suatu kuman, umumnya akan membangkitkan
pembentukan antibody pada tubuh penderita. Demikian juga halnya pada infeksi
dengan Treponema pallidum pembentukan antibodi pada penderita sifilis baru
terjadi setelah penderita menderita penyakit tersebut dalam jangka waktu cukup
lama, yaitu dimulai pada akhir stadium pertama atau permulaan stadium kedua.
Hal ini terutama disebabkan oleh karena Trapenoma pallidum ini diliputi
oleh suatu selaput mukoid yang menyebabkan Trapenoma pallidum menjadi kebal
terhadap fagositosis. Baru setelah kuman ini agak lama berada dalam tubuh atau
telah menyebar ke kelenjar limfe regional (akhir stadium pertama), pembentukan
antibodi humoral yang nyata mulai terjadi.
Dari segi imunoassai ,suatu infeksi dengan Trapenoma pallidum yang
dikenal sebagai penyebab dari sifilis akan menimbulkan 2 jenis antibodi sebagai
berikut :
1. Antibodi nontreponemal atau reagin sebagai akibat dari sifilis atau
penyakit infeksi yang lain. Antibodi ini baru terbentuk setelah penyakit
menyebar ke kelenjar limfe regional dan menyebabkan kerusakan jaringan.
Antibodi ini memberikan reaksi silang dengan beberapa antigen dari
jaringan lain seperti misalnya dengan antigen lipoid dari ekstrak otot
jantung.
2. Antibodi treponemal yang bereaksi dengan Treponema pallidum dan
closelyrelatedstrains. Dalam golongan antibodi ini dapat dibedakan 2 jenis
antibodi, yaitu:

serum penderita yang mengandung antibodi bereaksi dengan suspensi antigen kardiolipin dan terbentuk flokulasi. yaitu antibodi terhadap antigen spesifik dari Treponema pallidum. Jika hasil tes non-treponemal positif (VDRL/RPR). yaitu antibodi terhadap antigen somatik yang dimiliki oleh semua Treponema. bila di dalam serum terdapat antibodi spesifik terhadap Trapenoma pallidum akan bereaksi dengan eritrosit “domba” yang telah dilapisi antigen Trapenoma pallidum sehingga terbentuk aglutinasi.  Antibody treponemal yang spesifik. maka harus dilakukan uji konfirmasi dengan tes nontreponemal (TPHA) untuk menghindari hasil positif palsu. dilanjutkan dengan pemeriksaan Treponema pallidum Haemaglutination Assay (TPHA) yang merupakan tes lanjutan diagnosa sifilis. Prinsip pemeriksaan TPHA. sangat sensitif dan mudah dilakukan yaitu Trapenoma pallidum Hemagglutination (TPHA). Pemeriksaan serologi untuk melacak antibodi Trapenoma pallidum penyebab sifilis digolongkan dalam 2 jenis yaitu pemeriksaan serologi yang menggunakan antigen non-treponemal (non-spesifik) seperti VDRL/RPR dan pemeriksaan serologi yang menggunakan antigen treponemal (spesifik). Prinsip pemeriksaan VDRL/RPR. Pemeriksaan sifilis dimulai dengan pemeriksaan screening Veneral Disease Research Laboratory (VDRL). . bila hasil VDRL positif. Group treponemal antibodi.