You are on page 1of 3

PRAKTIKUM FISIKA KELAS XII IPA

Hari/Tanggal: Jumat / 21 Agustus 2015
Kelas

XII IPA 1

Nama Kelompok

C

Anggota

Calvin Alverian (03)
Jeremias Ivan (10)
Leonarto Cendana (15)
Zanetta Auriel (22)

PERCOBAAN : RESONANSI BUNYI
Tujuan:
menentukan cepat rambat bunyi di udara ( v )
Teori : (lihat gambar berikut)
Dengan bantuan slang plastik/karet, reservoir R dan tabung kolom udara (disebut
tabung resonan) dihubungkan satu sama lain sehingga membentuk bejana
berhubungan.
Susunan tersebut kemudian diisi air hingga penuh.Garputala/speaker yang
frekwensinya telah diketahui dijepit dan digetarkan secara terus-menerus di atas tabung
kolom udara.
Selama garpu tala bergetar, reservoir R diturunkan
perlahan-lahan, sehingga air dalam tabung kolom udara ikut turun dan gelombang
bunyi merambat dalam tabung kolom udara. Gelombang yang merambat ini
dipantulkan
permukaan air sehingga antara gelombang yang datang dan yang dipantulkan terjadi
interferensi. Ketika panjang tabung kolom udara (2n +1 ) 1/4λ dengan n = bilangan
cacah, maka terjadi interferensiyang konstruktif, interferensi yang saling memperkuat
(Ingat interferensi pada ujung terikat dan pipa organa tertutup !).
Dikatakan pada saat itu antara garpu tala dan udara dalam tabung kolom udara terjadi
resonansi (udara ikut bergetar karena ada garpu tala yang bergetar). Jika A, B, C dan
seterusnya merupakan tempat terjadinya resonansi pertama, kedua, ketiga dan
seterusnya, maka : Jarak AB = BC = 1/2λ dan AC = λ , sehingga panjang
gelombangnya (λ ) dapat diukur. Karena pada saat terjadi resonansi, frekwensi yang
bergetar sama, maka frekwensi udara yang bergetar sama dengan frekwensi garpu tala.
Dengan demikian cepat rambat bunyi di udara dapat dihitung dengan rumus:

v =f . λ

A. Pengertian Gelombang
Gelombang adalah getaran yang merambat. Bentuk ideal dari suatu gelombang akan mengikuti gerak sinusoide.
Selain radiasi elektromagnetik, dan mungkin radiasi gravitasional, yang bisa berjalan lewat vakum, gelombang juga
terdapat pada medium (yang karena perubahan bentuk dapat menghasilkan gaya memulihkan yang lentur) di mana
mereka dapat berjalan dan dapat memindahkan energi dari satu tempat kepada lain tanpa mengakibatkan partikel
medium berpindah secara permanen; yaitu tidak ada perpindahan secara masal. Malahan, setiap titik khusus
berosilasi di sekitar satu posisi tertentu (Wikipedia,2010).
Gelombang dapat dipantulkan (refleksi), dibiaskan (refraksi), difokuskan, dipolarisasi dan sebagainya. Penelitian

eksperimental tentang gelombang cahaya tentang hukum pemantulan (refleksi) yaitu :Sinar yang direfleksikan dan
yang direfraksikan terletak pada satu bidang yang dibentuk oleh sinar datang dan normal bidang batas dititik datang
(Gie,2009).
Selama Gelombang dengan medan elektromagnetik yang dinyatakan pada fase medan E yaitu E=X Eo (ejk1-ejk2)= X 2j Eo sin kz terlihat tidak bergerak , ini disebut dengan gelombang berdiri (Liang,1995).
B. Jenis-Jenis Gelombang
Bila gelombang berjalan sepanjang tali ,katakan dari kiri kekanan partikel tali bergerak naik turun dalam arah lintang
pada gerak gelombang itu sendiri. Gelombang seperti ini disebut gelombang lintang atau gelombang transversal. Ada
tipe gelombang lain yang dikenal sebagai gelombang bujur atau gelombang longitudinal. Dalam sebuah gelombang
longitudinal getaran partikel media adalah sama arahnya dengan arah gelombang. Gelombang longitudinal adalah
siap dibentuk pada proses yang ditarik atau diletakan secara bergantian menekan dan mengembang pada suatu
ujungnya (Giancoli,1997).
Menurut (Riyn,2008) tentang jenis-jenis gelombang seperti berikut :
1. Gelombang transversal
Gelombang transversal adalah gelombang yang arah rambatannya tegak lurus dengan arah rambatannya. Satu
gelombang terdiri atas satu lembah dan satu bukit, misalnya seperti riak gelombang air, benang yang digetarkan,
dsb.
2. Gelombang longitudinal
Gelombang longitudinal adalah gelombang yang merambat dalam arah yang berimpitan dengan arah getaran
pada tiap bagian yang ada. Gelombang yang terjadi berupa rapatan dan renggangan. Contoh gelombang
longitudinal seperti slingki / pegas yang ditarik ke samping lalu dilepas.
Menurut (Yolanda,2009) berdasarkan amplitudo dan fasenya :
1. Gelombang berjalan adalah gelombang yang amplitudo dan fasenya sama di setiap titik yang dilalui gelombng.
2. Gelombng diam (stasioner) adalah gelombang yang amplitudo dan fasenya berubah (tidak sama) di setiap titik
yang dilalui gelombang.
C. Aplikasi Gelombang Bunyi pada Perikanan
Aplikasi fish finder “Hydro Acoustic” dan GPS dalam teknolgi pencarian ikanb Saat ini, hydro-acoustic memiliki
peran yang sangat besar dalam sektor kelautan dan perikanan, salah satunya adalah dalam pendugaan sumberdaya
ikan (fish stock assessment). Teknologi hydro-acoustic dengan perangkat echosounder dapat memberikan informasi
yang detail mengenai kelimpahan ikan, kepadatan ikan sebaran ikan, posisi kedalaman renang, ukuran dan panjang
ikan, orientasi dan kecepatan renang ikan serta variasi migrasi diurnal-noktural ikan (Herawati,2009).
Penggunaan -Gelombang Bunyi (Acoustic) Pada Alat Tangkap Payang Terhadap Hasil Tangkap ]kan di Perairan
Pantai Popoh K abupaten Tulungagung dibandingkan pelakuan yaitu pengoperasian alat tangkap payang
menggunakan bantu gelombang suara dan tanpa alat pembantu gelombang suara. Pada alat bantu gelombang suara
memberikan hasil yang lebih baik dari pada menggunakan alat tangkap tanpa bantu gelombang suara (Efani,1996).
Metode akustik merupakan proses-proses pendeteksian target di laut dengan mempertimbangkan proses-proses
perambatan suara. Aplikasi metode ini dibagi menjadi 2, yaitu sistem akustik pasif dan sistem akustik aktif. Salah
satu aplikasi dari sistem aplikasi aktif yaitu Sonar yang digunakan untuk penentuan batimetri. Sonar (Sound
Navigation And Ranging) berupa sinyal akustik yang diemisikan dan refleksi yang diterima dari objek dalam air
(seperti ikan atau kapal selam) atau dari dasar laut (DJPB,2010).
D. Bunyi
Bunyi atau suara adalah kompresi mekanikal atau gelombang longitudinal yang merambat melalui medium. Medium
atau zat perantara ini dapat berupa zat cair, padat, gas. Jadi, gelombang bunyi dapat merambat misalnya di dalam air,
batu bara, atau udara (Wikipedia,2010).
Bunyi adalah suatu bentuk gelombang longitudinal yang merambat secara perapatan dan perenggangan terbentuk
oleh partikel zat perantara serta ditimbulkan oleh sumber bunyi yang mengalami getaran (Godam64,2007).
Bunyi adalah bahan terpenting dalam musik. Bunyi berasal dari Sumber bunyi, yang digetarkan oleh tenaga atau
energi. Kemudian getaran tersebut oleh pengantar diantarkan atau dipancarkan keluar. Dan bila getaran ini sampai di
telinga kita, barulah kita dapat mendengarkannya (Mswahyudi,2009).
Alat-alat yang diperlukan:
1. Tabung resonansi
2. Speaker

3. Sumber getar
4. Air
Pelaksanaan:
1) Isi tabung kolom udara dan reservoir R hingga penuh
2) Hidupkan sumber getar pilih untuk frekunesi tertentu,
3) Cari tempat terjadinya resonansi pertama, kedua, dst. Dengan jalan menurunkan air dalam reservoir R. (Saat terjadi
resonansi, ditandai suara yang agak nyaring !). Catat skala tempat terjadinya resonansi-resonansi tersebut
4) Ulangi pelaksanaan 2 & 3 untuk frekuensi yang yang lain.
5) Tabelkan datanya dalam tabel data pengamatan.
Data Pengamatan
No

Frekuensi (Hz)

Resonansi 1

Resonansi 2

1
2
3
4
5
6
7

500
600
1000
800
400
700
850

16,5
13,5
5
10,5
21
13
9

50,5
42
21,5
32
64
37
28,5

λ

v

(cm)
68
57
33
43
86
48
39

(m/s)
340
342
330
344
344
336
331,5

Δv
1,8
3,8
-8,2
5,8
5,8
-2,2
-6,7

v =338,2m/ s Δ v=0,1

Kesalahan relatif =

0,1
× 100
338,2

= 0,03%
Pembahasan
Pada hari Jumat , 21 Agustus 2015, kami melakukan praktikum yang bertujuan untuk menentukan cepat rambat
bunyi udara. Untuk melakukan praktikum ini, kami menggunakan beberapa alat yaitu tabung kolom udara atau yang
disebut tabung resonan dihubungkan satu sama lain sehingga membentuk bejana berhubungan yang terbuat dari selang
plastik. Susunan tersebut lalu diisi air sampai penuh. Garputala/speaker yang frekuensinya telah diketahui dijepit dan
digetarkan secara terus-menerus di atas tabung kolom udara.
Lalu pada percobaan pertama, kami mencoba dengan menggunakan frekuensi 500Hz. Setelah itu, resevoir R kami
turunkan perlahan-lahan sampai menemukan suara/ bunyi keras. Bunyi ini terjadi karena adanya resonansi udara (getaran
udara) yang keluar menjadi bunyi keras. Setelah mendapat bunyi keras yg pertama lalu diukur berapa tinggi airnya yang
berkurang lalu dicatat. Lalu resevoir R diturunkan lagi sampai mendapatkan sara keras yang kedua kali. Lalu dicatat lagi
berapa jarak air dari permukaan 0. Setelah mendapatkan 2 data, lalu kita bisa mengetahui panjang gelombang tersebut.
Caranya adalah dengan menselisihkan 2 data yang tadi telah peroleh, lalu dikalikan dengan 2 maka akan didapatkan
panjang 1 gelombang. Hal itu dapat dilakukan karena jarak antara bunyi keras pertama dan bunyi keras kedua adalah 1/2
λ. Lalu setelah mendapatkan panjang gelombang, maka dikalikan dengan frekuensi yang dipakai untuk mendapatkan
kecepatan udara di tempat(dari rumus v=f.λ).
Berdasarkan data yang ada, kami memperoleh cepat rambat bunyi di udara yang tertinggi adalah 344 m/s yaitu
pada percobaan 4 dan 5. Sedangkan cepat rambat bunyi di udara yang terkecil adalah 330 m/s yaitu pada percobaan ke-2.
Dan dari data-data yang kita telah diperoleh, cepat rambat bunyi di udara tersebut adalah sebesar 338,2 m/s.
Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dan perhitungan dari percobaan kami, didapatkan bahwa besar rata-rata cepat rambat
bunyi di udara (v) adalah sebesar 369,64 m/s dengan kesalahan relatif sebesar 0,03%.
Adapun kesalahan tersebut dapat terjadi disebabkan oleh berbagai faktor kesalahan manusia seperti salah
membaca data, ataupun kesalahan teknis seperti data yg diambil kurang tepat pada titik resonansi meski mendekati titik
resonansi, ataupun kesalahan mesin seperti frekuensi yg diberikan tdk sama persis dengan yg ditunjukkan.