You are on page 1of 24

BAB I

PENDAHULUAN

Fraktur adalah hilangnya atau putusnya kontinuitas jaringan keras tubuh.
Fraktur dinamai sesuai dengan regio tubuh yang mengalami diskontinuitas.
Fraktur yang terjadi pada tulang – tulang wajah yaitu tulang frontal, temporal,
orbitozigomaticus,

nasal,

maksila,

dan

mandibula,fraktur

maksilofasial

diklasifikasikan menjadi fraktur kompleks nasal, kompleks zigoma, dentoalveolar,
maksila, dan mandibula.1
Fraktur dentoalveolar didefinisikan sebagai fraktur yang meliputi avulsi,
subluksasi, atau fraktur gigi yang berkaitan dengan fraktur tulang alveolar. Fraktur
dentoalveolar dapat terjadi tanpa disertai dengan fraktur bagian tubuh lainnya,
biaasanya terjadi akibat kecelakaan ringan, seperti jatuh, benturan, berolahraga,
atau iatrogenik.2,3
Epidemiologi fraktur dentoalveolar serupa dengan epidemiologi fraktur
maksilofasial. Menurut penelitian yang pernah dilakukan, dari 100 orang yang
mengalami fraktur didapatkan 5 orang mengalami fraktur dentoalveolar.4
Penelitian lain menyebutkan dari 122 sampel pasien trauma terdapat 90 pasien
mengalami fraktur maksilofasial. 8,3% diantaranyan (5 orang) mengalami fraktur
dentoalveolar.5 Puncak insidensi terjadi pada anak usia 2 – 3 tahun, sebagai akibat
sekunder perkembangan koordinasi neuromuskular. Pada gigi tetap, puncak
insidensi terjadi pada anak usia 10 tahun saat dimulainya aktifitas atletik. Etiologi
yang paling sering dilaporkan adalah kecelakaan lalu lintas dan perkelahian.
Dalam laporan ini dilakukan pembahasan mengenai kasus fraktur
dentoalveolar dengan tujuan untuk mengetahui manifestasi klinis, penegakan,
diagnosis dan tatalaksana untuk kasus tersebut yang menyesuaikan kompetensi
dokter umum.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Fraktur Dentoalveolar
Definisi fraktur secara umum adalah pemecahan atau kerusakan suatu bagian
terutama tulang (Kamus Kedokteran Dorland edisi 29, 2002). Literatur lain
menyebutkan bahwa fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas
jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh trauma
(Mansjoer,

2000).

Berdasarkan

definisi-definisi

tersebut

maka

fraktur

dentoalveolar adalah kerusakan atau putusnya kontinuitas jaringan keras pada
stuktur gigi dan alveolusnya disebabkan trauma.
2.2 Klasifikasi Fraktur Dentoalveolar
Jenis fraktur dentoalveolar pada anak diklasifikasikan menjadi beberapa
kejadian. Klasifikasi ini membantu dokter gigi untuk memilih cara penanganan
yang tepat untuk setiap kejadiannya sehingga pasien mendapatkan prognosis yang
baik selama perawatan. Klasifikasi fraktur dentoalveolar juga dapat memberikan
informasi yang komprehensif dan universal untuk mengkomunikasikan mengenai
tujuan perawatan tersebut. Terdapat banyak klasifikasi yang mendeskripsikan
mengenai fraktur dentoalveolar. Klasifikasi yang banyak dijadikan pedoman
dalam penanganan fraktur dentoalveolar adalah klasifikasi menurut World Health
Organization (WHO).
Klasifikasi yang direkomendasikan dari World Health Organization (WHO)
diterapkan pada gigi sulung dan gigi tetap, yang meliputi jaringan keras gigi,
jaringan pendukung gigi dan jaringan lunak rongga mulut. Pada pembahasan ini
klasifikasi WHO yang diterangkan hanya pada trauma yang mengakibatkan
fraktur dentoalveolar, yaitu cedera pada jaringan keras gigi dan pulpa, jaringan
periodontal, dan tulang pendukung (Welbury, 2005) :

 Fraktur mahkota-akar tidak kompleks (uncomplicated crown-root fracture): fraktur email.  Fraktur akar: fraktur yang melibatkan dentin. dapat disubklasifikasikan lagi menjadi apikal.  Fraktur mahkota-akar kompleks (complicated crown-root fracture): fraktur email. dan sementum dengan pulpa yang terpapar. .  Fraktur email-dentin: hilangnya substansi gigi terbatas pada email dan dentin tanpa melibatkan pulpa gigi. Gambar 2.1. dan pulpa. dan sepertiga koronal (gingiva). sementum.1)  Enamel infraction: jenis fraktur tidak sempurna dan hanya berupa retakan tanpa hilangnya substansi gigi.  Fraktur email: hilangnya substansi gigi berupa email saja. dentin.  Fraktur mahkota kompleks (complicated crown fracture): fraktur email dan dentin dengan pulpa yang terpapar. dentin. sementum.1 Cedera pada Jaringan Keras Gigi dan Jaringan Pulpa (Fonseca. tengah. Cedera pada jaringan keras gigi dan pulpa (gambar 2. tetapi tidak melibatkan pulpa.

 Luksasi ekstrusif (partial avulsion): perpindahan gigi sebagian dari soket.  Luksasi lateral: perpindahan ke arah aksial disertai fraktur soket alveolar. Cedera pada jaringan periodontal (gambar 2. Gambar 2.3) 1) Pecah dinding soket alveolar mandibula atau maksila : hancur dan tertekannya . tetapi ada reaksi ketika diperkusi. Cedera pada tulang pendukung (gambar 2.2005) 2.2 Cedera pada Jaringan Periodontal (Fonseca.2)  Concussion: tidak ada perpindahan gigi.  Avulsi: gigi lepas dari soketnya. 3.  Subluksasi: kegoyangan abnormal tetapi tidak ada perpindahan gigi.  Luksasi intrusif: perpindahan ke arah tulang alveolar disertai fraktur soket alveolar. 2005).

4) Fraktur mandibula atau maksila : dapat atau tidak melibatkan soket alveolar. dan sudut arah gaya impaksi. Trauma langsung jika benturannya itu langsung mengenai gigi. 2005). bentuk objek yang terkena impaksi. (Welburry.3 Cedera pada Tulang Pendukung (Fonseca. gigi patah pada bagian mahkota atau mahkota-akar di gigi premolar dan molar. Trauma tidak langsung terjadi ketika ada benturan rahang bawah ke rahang atas. 3) Fraktur prosesus alveolar mandibula atau maksila : fraktur prosesus alveolar yang dapat melibatkan soket gigi. Olahraga . biasanya pada regio anterior. tergantung pada subpopulasi yang diteliti. dan juga pada kondilus dan simfisis rahang.soket alveolar.3 Etiologi dan Epidemiologi Penyebab trauma dibagi menjadi dua. ditemukan pada cedera intrusif dan lateral luksasi. 2) Fraktur dinding soket alveolar mandibula atau maksila : fraktur yang terbatas pada fasial atau lingual/palatal dinding soket. langsung dan tidak langsung. Gambar 2. resiliensi objek yang terkena impaksi. Penyebab umum trauma adalah terjatuh dengan perbandingan antara 26% dan 82% dari semua kasus cedera. 2. 2005). Faktor yang memengaruhi hasil trauma adalah kombinasi dari energi impaksi.

Anak dengan overjet berlebih juga dapat memiliki faktor resiko lebih tinggi terjadi trauma dibandingkan dengan anak dengan overjet normal (Holan and McTigue. (Shun-Te Huang. 2005).1 menunjukkan probabilitas fraktur gigi incisif sentral maksila dengan perbedaan overjet. et al. Insidensi pada anak dengan kondisi tersebut dua kali dibandingkan anak dengan kondisi oklusi normal. Gigi yang terkena trauma biasanya hanya satu. 2003). Overjet Laki-laki Perempuan Semua Anak < 1 mm 1:25 1:55 1:34 1-5 mm 1:13 1:27 1:18 6-9 mm 1:7 1:11 1:8 10 + mm 1:4 1:10 1:6 Prevalensi trauma gigi anak berkisar dari 10-30% di beberapa negara di dunia. Tabel 2. Maloklusi dapat menjadi faktor pendukung terjadinya trauma dentoalveolar. Kasus trauma dentoalveolar pada anak dapat disebabkan kecelakaan lalu lintas.1 Probabilitas Kejadian Fraktur Gigi Incisif Sentral Maksila dengan Perbedaan Jarak Overjet (Finn.. namun ada beberapa laporan makalah ilmiah yang memperkirakan 2%-5% (Sutadi. Data epidemiologi mengenai fraktur gigi anak di Indonesia belum ditemukan secara pasti. serangan hewan.. 2005).27%) mengalami fraktur pada . Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya trauma adalah protrusi gigi anterior pada maloklusi kelas I tipe 2 atau kelas II divisi 1. et al. 2008). kecuali pada kasus kecelakaan dan olahraga.merupakan penyebab kedua yang mengakibatkan cedera (Berman. 2003).348 anak usia 1-12 tahun di Klinik Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia selama periode 1 Januari 1995-31 Desember 1995 menunjukkan bahwa 98 anak (7. Penelitian yang dilakukan Sasteria pada 1. perkelahian dan kekerasan dalam rumah tangga. Tabel 2. (Cameron and Widmer. 2007).

2005).gigi anterior atas (Sasteria. Kejadian terbanyak trauma dentoalveolar terjadi pada usia 2-4 tahun ketika koordinasi motorik anak sedang berkembang. 2007). Gambar 2. Kasus trauma yang terjadi pada anak sebagian besar terjadi di daerah anterior terutama incisif sentral (Welbury. subluksasi.al. 2005).4 menunjukkan persentasi kejadian fraktur menurut klasifikasi cedera pada jaringan pendukung gigi. (Welbury. Kejadian yang paling sering terjadi pada anak-anak adalah concussion. 2005). 31-40% anak laki-laki dan 16-30% anak perempuan mengalami trauma. Gigi yang mengalami trauma pada usia ini biasanya gigi permanen. Insidensi trauma dentoalveolar pada anak menurut usia adalah sebagai berikut: pada usia 5 tahun. Trauma sering terjadi di rumah ketika anak sudah mulai mencoba banyak hal baru dan bergerak aktif. berlari.. Insidensi injuri pada laki-laki dua kali lebih banyak baik pada usia anak maupun dewasa (Welbury. sedangkan pada usia 7-10 tahun anak biasanya mengalami trauma di sekolah ketika mereka sedang bermain. Pada usia 12 tahun 12-33% anak laki-laki dan 4-19 % anak perempuan mengalami trauma gigi. dan atau berolahraga. . 1997). 2003). seperti trauma pada bagian dagu yang mengakibatkan tekanan berlebih pada bagian maksila (Finn. et. sedangkan pada bagian posterior biasanya terjadi karena trauma tidak langsung. 2005). Literatur lain menyebutkan rasio insidensi injuri pada anak hampir sama antara laki-laki dan perempuan (Berman. sedangkan pada gigi permanen adalah fraktur mahkota tidak kompleks (uncomplicated crown fracture) (Welburry. dan luksasi. bersepeda.

2001).4 Persentasi Kejadian Fraktur (Koch and Poulsen.Gambar 2. .

dan 6. 4. sehingga kondisi overjet pasien dapat dikoreksi dan kejadian fraktur dentoalveolar dapat dihindari. Penyuluhan kepada para orang tua Tindakan pencegahan tersebut dilakukan sesuai dengan kondisi. 2. . Hal tersebut memberikan gambaran kepada dokter gigi untuk menghimbau pasien dengan keadaan overjet tinggi ini untuk melakukan perawatan orthodonti. 2. Pembahasan sebelumnya sudah dijelaskan bahwa pasien dengan overjet tinggi akan memiliki kecenderungan lebih rentan terjadi fraktur gigi daripada pasien dengan overjet normal. seperti pada pasien kelas II divisi 1 dengan overjet tinggi. Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah kejadian fraktur dentoalveolar. 5.Fraktur dentoalveolar pada anak dapat menyebabkan kerusakan gigi permanen yang berada di atas atau bawahnya. Sabuk pengaman.4 Pencegahan Fraktur Dentoalveolar Hal terbaik yang dilakukan pada fraktur dentoalveolar adalah melakukan tindakan pencegahan. Pemakaian mouth protector. Andreasen dan Ravn menemukan bahwa usia anak pada waktu terjadinya trauma merupakan faktor yang paling memengaruhi perkembangan kerusakan gigi permanen. Perawatan orthodonti. di antaranya adalah sebagai berikut (Cameron and Widmer. 2006). 3. Mereka menemukan bahwa 60% anak di bawah usia 4 tahun dengan trauma pada gigi incisif menunjukkan anomali klinis pada radiografi gigi permanen pengganti (Dummet. Perawatan orthodonti dilakukan pada pasien yang memiliki kecenderungan mengalami fraktur gigi. terutama dalam perawatan gigi anak. 2008): 1. Hal ini dapat langsung terjadi dari luka atau infeksi residual yang disebabkan oleh trauma pada gigi anak. Pencegahan adalah orientasi utama seorang dokter gigi. Pengawasan terhadap binatang peliharaan. Pemakaian helm saat bersepeda.

Gambar 2. Hal ini dapat mengurangi resiko cedera saat terjadi kecelakaan lalu lintas.Penyebab fraktur dentoalveolar berikutnya selain overjet adalah terjadinya kecelakaan. Dokter gigi dapat menghimbau kepada masyarakat untuk menggunakan sabuk pengaman saat berkendara dan memakai helm saat bersepeda.5 menunjukkan stock mouth protector. Ada beberapa jenis mouth protector yang dapat digunakan sebagai langkah pencegahan terhadap fraktur dentoalveolar. Cedera saat berolahraga dapat dicegah dengan mouth protector. baseball. Stock mouth protectors Jenis mouth protector ini merupakan tindakan pencegahan yang paling mudah dan murah. bukan hanya saat berkendara tetapi juga saat berolahraga. hoki.5 Stock Mouth Protector (Fonseca. Contoh olahraga yang biasanya membutuhkan alat ini adalah olahraga dinamis. Mouthguard ini dibuat dari lateks atau material silikon dan hanya menjaga secara minimal karena cukup longgar saat digunakan sehingga harus dalam kondisi rahang yang tertutup. 2005): 1. Gambar 2. berikut adalah tipe dari mouth protector (Fonseca. dan lain sebagainya. 2005) . seperti sepakbola. selain itu mouthguard ini mengiritasi gingiva dan vestibula di bagian bukal. Jenis ini kurang nyaman saat digunakan karena menyulitkan pengguna untuk berbicara dan bernafas. softball. Jenis ini kurang direkomendasikan.

6 menunjukkan pelindung mulut jenis thermoplastik. yaitu shell-liner mouthguard dan thermoplastic guard. . Efektif mencegah cedera karena concussion dan trauma yang menyebabkan jejas pada kondilus mandibula. jika sering digigit material yang mendasarinya akan berkurang dan mengilangkan ikatan dengan gigi.7 menunjukkan pelindung mulut jenis bimaksila.2. 2005) 3. Lapisannya dapat mengeras jika terkena cairan mulut. Gambar 2. Kekurangan dari pelindung ini adalah distorsi dan pengerasan ketika kontak dengan cairan mulut. Gambar 2.6 Thermoplastic Mouthguard (Fonseca. 1) Shell-liner mouthguard Shell-liner mouthguard terdiri dari karet lateks atau plastik yang menutup gigi maksila. Kekurangannya adalah pemakaiannya terbatas. Bimaxillary mouthguard Penggunaan pelindung mulut ini terfiksasi di mandibula dan cukup nyaman untuk bernafas secara maksimal. tahan lama. Gambar 2. Pelindung ini tidak direkomendasikan untuk atlet yang menggunakan braket ortho. Gigi anterior mandibula juga terproteksi dari trauma yang cukup frontal. dan dapat dilembutkan kembali serta diadaptasikan jika retensinya mulai berkurang. 2) Thermoplastic mouthguard Jenis pelindung ini paling banyak digunakan karena keunggulannya yang murah. Jenis ini cukup halus dan permukaannya lembut beradaptasi dengan gigi. Mouth formed protectors Mouth formed protector paling sering digunakan dan terdiri dari dua jenis.

Gambar 2. Gambar 2. bau. Gambar 2.7 Bimaxillary Mouthguard 4. Custom-made mouth protectors Jenis pelindung mulut ini adalah yang terbaik jika dibandingkan dengan jenis lainnya dilihat dari retensi. proteksi. dan kebersihannya. . Keunggulan tersebut tidak sepenuhnya menjadi bukti bahwa alat pelindung ini paling baik mencegah dampak buruk dari trauma. Pelindung ini difabrikasi menggunakan alginat menyesuaikan dengan maksila pasien tersebut.8 Custom-made Mouth Protector (Vito. kenyamanan saat berbicara. 2012) Tindakan yang sudah disebutkan di atas akan berjalan optimal ketika para orang tua sudah teredukasi dengan baik tentang pencegahan trauma gigi pada anak-anak.8 menunjukkan pelindung mulut jenis custom-made. rasa. Langkah darurat yang bisa dilakukan ketika terjadi trauma gigi pada anak juga akan mengurangi keparahan trauma yang mengenai intraoral.

Pingsan setelah kecelakaan (+) Mual (-) Muntah (-). nyeri gusi (-). tetapi tidak dipasang jalur makanan melalui hidung. Keluhan Utama : Rahang patah (rujukan dari RS Soewondo Kendal) Riwayat Penyakit Sekarang ± 4 hari SMRS pasien mengalami kecelakaan motor. CM : C537563 3.00 di Poli Gigi dan Mulut RSUP Dr.BAB III LAPORAN KASUS 3. pasien melakukan foto gigi. Pasien tidak dapat mengatupkan gigi maupun membuka mulutnya secara maksimal. gusi berdarah (-). Selain itu. S Umur : 30 tahun Jenis kelamin : Laki-laki Status perkawinan : Belum Menikah Alamat : Kendal Pekerjaan : Wiraswasta MRS : 1 Juni 2015 No. Pasien kemudian dibawa ke IGD RS Soewondo. Nyeri gigi belakang rahang atas bawah (+) hilang timbul. mekanisme kecelakaan tidak diketahui. dilakukan penjaitan di bagian mulut dan dirawat inap selama 4 hari. pasien diberikan infus dan obat-obatan lewat infus. Pasien tidak menggunakan helm. selama ini hanya minum saja. Kariadi Semarang.1 Identitas Pasien Nama : Tn. Pasien tidak dapat makan makanan padat. Riwayat Penyakit Dahulu  Riwayat penyakit jantung disangkal  Riwayat diabetes melitus disangkal .2 Anamnesis Autoanamnesis pada 1 Juni 2015 pukul 09. Selama rawat inap.

3.3 Pemeriksaan Fisik Dilakukan pada 1 Juni 2015 pukul 09.30 di Poli Gigi dan Mulut RSUP Dr. Status Generalis o Keadaan umum Kesadaran : compos mentis Keadaan gizi : cukup o Tanda-tanda vital TD : 110/70 mmHg Nadi : 78x/ menit RR : 20x/ menit Suhu : 36.5oC VAS :3 o Gambaran Umum lainnya : Tinggi Badan : 164 cm . a. tinggal bersama kedua orang tuanya. Riwayat hipertensi disangkal  Riwayat operasi sebelumnya disangkal  Riwayat alergi obat disangkal  Riwayat asthma disangkal  Riwayat trauma daerah wajah sebelumnya disangkal  Riwayat sakit gigi disangkal Riwayat Penyakit Keluarga  Riwayat hipertensi disangkal  Riwayat diabetes melitus disangkal  Tidak ada anggota keluarga yang menderita keluhan seperti ini Riwayat Sosial Ekonomi Pasien bekerja sebagai wiraswasta. Kariadi Semarang. Belum menikah. Pembiayaan mandiri.

hiperemis (-/-) Ginggiva atas : edema (-/-). hiperemis (-/-) Mukosa pharynx : edema (-/-). discharge (-) Telinga : discharge (-) o Leher Inspeksi : pembesaran nnll (-). hiperemis (-/-) Karang gigi : (-) Pocket : (-) Oklusi : maloklusi. hiperemis (-/-) Mukosa palatum : edema (-/-).Berat Badan : 50 kg Edema : - Pucat : - Clubbing finger : - Jaundice : - Pemeriksaan Ekstraoral o Wajah Inspeksi : asimetri Palpasi : nyeri tekan (+) Mata : perdarahan subconjungtiva (+/-) memar (+/-) Hidung : deviasi (-). dextra (-) Palpasi : nyeri (-) Pemeriksaan Intraoral Mukosa pipi : edema (-/-). hiperemis (-/-) Mukosa dasar mulut/ lidah : edema (-/-). hiperemis (-/-) Ginggiva bawah : edema (-/-). open bite (+) Palatum : Tidak ada kelainan Supernumerary teeth : Tidak ada Diastema : Tidak ada Gigi anomali : Tidak ada .

32. mahkota tampak lebih panjang Gigi 3. avulsi Gigi 2.1  gigi tampak masuk ke dalam.2  missing tooth b.1  gigi tampak masuk ke dalam.2  gigi tampak masuk ke dalam.Keterangan Gigi 11. 41. mahkota tampak lebih panjang Gigi 4. mahkota tampak lebih panjang Gigi 2.1  gigi tampak masuk ke dalam. Status Lokalis Pemeriksaan Ekstraoral Inspeksi : wajah asimetris. mahkota tampak lebih panjang Gigi 1.2  gigi tampak masuk ke dalam. 12. tampak jahitan di daerah mulut Palpasi : tidak ada pembesaran kelenjar betah bening (-). 31..1  gigi tampak masuk ke dalam.2  gigi tampak masuk ke dalam. 33. 21.3  gigi tampak masuk ke dalam. mahkota tampak lebih panjang Gigi 2. 42.3  gigi tampak masuk ke dalam. mahkota tampak lebih panjang Gigi 4. 43  intrusi. bengkak (-) Pemeriksaan Intraoral Gigi 1. mahkota tampak lebih panjang Gigi 3. 31. mahkota tampak lebih panjang Gigi 4. mahkota tampak lebih panjang .2  gigi tampak menghilang Gigi 3.

.

12.c. 21. intrusi Gigi 2.2 Inspeksi : sulit dinilai Palpasi : sulit dinilai Sondasi : sulit dinilai Perkusi : sulit dinilai . 31. 42. 33. 41. 43 Inspeksi : tidak sejajar dengan lengkung gigi Palpasi : (-) Sondasi : (-) Perkusi : (-) Vitalitas : (-) Mobilitas : (+). 31. 32. Status Dental Gigi 11.

. tanda vital Ex :Menjelaskan kepada pasien dan keluarga pasien mengenai diagnosis dan menerangkan bahwa keluhan rahang yang patah harus ditatalaksana lebih lanjut dengan cara operasi dan rujuk ke spesialis bedah mulut.4 Pemeriksaan Penunjang Panoramic X-Ray 3.6 Initial Plan Dx : S : O : Panoramic x-ray Rx : rujuk ke spesialis bedah mulut Mx : tanda nyeri.5 Diagnosis Kerja Fraktur Dentoalveolar maxilla dan mandibula 3.Vitalitas : sulit dinilai Mobilitas : sulit dinilai 3.

Nyeri gigi belakang rahang atas bawah (+) hilang timbul. hipertensi. Seorang laki-laki 30 tahun datang ke Poli Gigi Mulut RSDK dengan keluhan rahang bengkak atas rujukan RS Soewondo Kendal. tetapi tidak dipasang jalur makanan melalui hidung. dilakukan penjaitan di bagian mulut dan dirawat inap selama 4 hari. Pingsan setelah kecelakaan (+) Mual (-) Muntah (-). . Pada periksaan intraoral tampak mahkota lebih panjang dan luksasi derajat 3 pada gigi 11. Pasien tidak menggunakan helm. Riwayat penyakit jantung. Fraktur dentoalveolar diklasifikasikan menjadi tiga yaitu cedera pada tulang pendukung. selama ini hanya minum saja.BAB III PEMBAHASAN Fraktur dentoalveolar didefinisikan sebagai fraktur yang meliputi avulsi. ± 4 hari SMRS pasien mengalami kecelakaan motor. 12. Pada pemeriksaan ekstraoral didapatkan asimetri wajah. Selama rawat inap. berolahraga. cedera pada jaringan periodontal. Fraktur dentoalveolar dapat terjadi tanpa disertai dengan fraktur bagian tubuh lainnya. Pada gigi 22 tampak gigi menghilang (avulsi). dan alergi obat disangkal. seperti jatuh. tampak jahitan di daerah mulut. pasien melakukan foto gigi. Pasien tidak dapat makan makanan padat. atau fraktur gigi yang berkaitan dengan fraktur tulang alveolar. Pada palpasi tidak ada pembesaran kelenjar betah bening dan tidak bengkak. biaasanya terjadi akibat kecelakaan ringan. Pada pemeriksaan juga didapatkan oklusi gigi yang abnormal. nyeri gusi (-). 32. Selain itu. dan 42. Pasien kemudian dibawa ke IGD RS Soewondo. atau iatrogenik. pasien diberikan infus dan obat-obatan lewat infus. Riwayat keluarga menderita penyakit seperti ini disangkal. benturan. Pasien tidak dapat mengatupkan gigi maupun membuka mulutnya secara maksimal. 41. mekanisme kecelakaan tidak diketahui. 31. diabetes mellitus. subluksasi. gusi berdarah (-). 21. dan cedera pada jaringan keras gigi dan pulpa.

Edukasi yang diberikan kepada pasien dan keluarga adalah memberitahukan kepada pasien dan keluarga mengenai keadaan dan diagnosis pasien dan juga pentingnya dilakukan operasi untuk penatalaksanaan lanjut untuk menghindari komplikasi dan mengembalikan fungsi. dan pemeriksaan penunjang berupa panoramic x-ray yang telah dilakukan didapatkan diagnosis fraktur dentoalveolar rahang atas dan rahang bawah serta fraktur angulus mandibula. Fraktur alveolar bisa terjadi karena adanya trauma tidak langsung pada gigi atau tulang pendukung yang dihasilkan dari pukulan atau tekanan pada dagu. memberikan terapi antibiotik profilaksis. pergeseran beberapa gigi dalam satu segmen. pemeriksaan status lokalis. Tanda klinis lainnya adalah luka pada ginggiva dan hematom diatasnya. Penatalaksanaan yang harus dilakukan meliputi pembersihan jalan napas. Pada pemeriksaan status lokalis didapatkan tanda-tanda klinis fraktur alveolaris yaitu gigi goyang. Hal ini bisa terlihat dengan adanya pembengkakan dan hematom pada dagu serta luka pada bibir. serta adanya luka atau bengkak pada dagu. . ataupun hematom sublingual yang dapat menyumbat jalan napas. dan pemeriksaan penunjang. serta adanya nyeri tekan pada garis fraktur. maka didapatkan diagnosis fraktur dentoalveolar. Penatalaksanaan yang dilakukan adalah melakukan konsul ke bagian bedah mulut untuk kemudian dilakukan operasi. Penatalaksanaan yang seharusnya dilakukan pada saat mendapat pasien dengan trauma maksilofasial yang harus dilakukan pertama kali adalah penatalaksanaan trauma secara umum. dan kontrol rasa nyeri. baik dari serpihan gigi. laserasi pada ginggiva. Pada pasien ini didapatkan gelaja klinis yang sesuai dengan teori mengenani fraktur dentoalveolar. Pada pasien trauma maksilofasial yang tidak dapat makan secara normal perlu diperhatikan mengenai intake nutrisinya. Untuk menegakkan diagnosis fraktur dentoalveolar diperlukan anamnesis. darah. pemeriksaan fisik.Pada pemeriksaan status dental… Dari anamnesis. Hal lain yang harus dilakukan adalah menghentikan perdarahan. Pada anamnesis didapatkan adanya riwayat trauma pada bagian mulut.

Pada pasien ini kagawatdaruratan telah tertangani RS Kendal dan sekarang pasien dalam keadaan stabil oleh karena itu penatalaksanaan kegawat daruratan sudah tidak perlu dilakukan. Penatalaksanaan lanjut yang dilakukan adalah konsultasi kepada bagian bedah mulut mengenai operasi untuk memperbaiki fungsi dan mencegah komplikasi. .

.BAB IV KESIMPULAN Fraktur dentoalveolar didefinisikan sebagai fraktur yang meliputi avulsi. dan cedera pada jaringan keras gigi dan pulpa. sehingga pasien sekarang dalam keadaan stabil. subluksasi. gejala klinis. Penatalaksanaan yang akan dilakukan selanjutnya adalah konsultasi kepada bagian bedah mulut untuk operasi yang bertujuan menghindari komplikasi dan memperbaiki fungsi. dan gambaran radiologis yang sesuai dengan teori mengenai fraktur dentolaveolar sehingga didapatkan diagnosis fraktur dentolaveolar. Pada pasien ini didapatkan anamnesis. cedera pada jaringan periodontal. Penatalaksanaan kegawatdaruratan telah dilakukan. atau fraktur gigi yang berkaitan dengan fraktur tulang alveolar. Fraktur dentoalveolar diklasifikasikan menjadi tiga yaitu cedera pada tulang pendukung.

Fractures of The Middle Third of The Facial Skeleton. 1977 4. Intan. 2001. USU 9 2. P. 2014. Killey HC. Makassar : FKG Universitas Hassanudin. Brown A Fractures of The Facial Skeleton.DAFTAR PUSTAKA 1. 2014. 40 – 2. Jatinangor : FKG Universitas Padjajaran. Selvi. Nurul. Wright. . 72 – 9 3. Fraktur Dentoalveolar. Zakiah. Banks P. Namirah. Bristol : Johhn Wright and sons Ltd. Prevalensi Fraktur Maksilofasial pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintas di RSUD Andi Makasau Kota Pare – Pare tahun 2013. Third Edition. 5.