You are on page 1of 23

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

DENGAN RESIKO BUNUH DIRI

MAKALAH

oleh:
Kelompok 7

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015

2

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN
DENGAN RESIKO BUNUH DIRI

MAKALAH
disusun guna melengkapi tugas mata kuliah Ilmu Keperawatan Klinik VIII
Dosen Pengampu: Ns. Emi Wuri Wuryaningsih, M. Kep., Sp. Kep.J.

oleh:
Kelompok 7
Amadea Yollanda
122310101009
Ananta Efrandau
122310101015
Ajeng Dwi Retnani
112310101020

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015

Pada kesempatan ini.Kep. sehingga makalah ini dapat selesai tepatwaktu. 4. Emi Wuri Wuryaningsih. yang selalu memberikan dorongan semangat dan dukungan. Ns. orang tua yang senantiasa member motivasi dan doa yang tiada henti dan tak pernah putus.Kep.Kep. sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul“Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Resiko Bunuh Diri” yang diajukan sebagai tugas pemicu mata kuliah Keperawatan Klinik VIII (Jiwa). 2. Dalam proses pembuatan makalah ini. M. penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun dari para pembaca untuk menyempurnakan makalah ini. Maret 2015 Penulis . M. Oleh karena itu. teman-teman angkatan 2012. Jember. Sp. Sp. penulis didukung oleh berbagai pihak sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. selaku penanggung jawab mata kuliah (PJMK) Keperawatan Klinik VIII (Jiwa). Ns.3 PRAKATA Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan kasih-Nya.J.J .Kep. penulis mengucapkan terimakasih kepada: 1. selaku dosen pembimbing 3. Erti Ikhtiarini Dewi.

... 2..1 Pengkajian.1 Latar Belakang..............4 Implementasi........4 DAFTAR ISI Halaman HALAMAN SAMPUL .................................. 2.................................. PENDAHULUAN................................................ 2...................................................................1 Pengertian........................................ 3 2......................................................... 2................................3..............................................................................2 Diagnosa Keperawatan................................................................................................................................................................ gangguan bipolar...............2 Penatalaksanaan Klien Dengan Perilaku Bunuh Diri..................................................2 Psikopatologi/ Psikodinamika........................ 2............................................................... PENDAHULUAN 1.....1 Kesimpulan.......................................................................... schizophrenia.3...................................... 2..3.............. Bunuh diri seringkali dilakukan akibat adanya rasa keputusasaan yang disebabkan oleh gangguan jiwa misalnya depresi........ 3 5 5 11 12 13 15 15 17 17 BAB III.............................................................................................................................2 Saran.................... ketergantungan alkohol/alkoholisme atau penyalahgunaan obat................3 Contoh Kasus................................3............................................................ ii PRAKATA ........................................... 1 1........................................................5 Evaluasi.......3 Intervensi Keperawatan................................. 2.............................. 19 BAB I.............................. 18 4.......................... .................................................... PENUTUP...... iii DAFTAR ISI ................. 1........... iv BAB 1............1 Latar Belakang Bunuh diri adalah sebuah tindakan sengaja yang menyebabkan kematian diri sendiri.................... TINJAUAN PUSTAKA ..............2 Tujuan........1 Etiologi Resiko Bunuh Diri....2.. 18 4................ 2...............2... 2.......................................... 18 DAFTAR PUSTAKA .........................................................3..................... i HALAMAN JUDUL ......................................................................................................................... 1 1 BAB II..........................................................................................................................................

karena laki-laki lebih sering menggunakan alat yang lebih efektif untuk bunuh diri.5 Di dunia lebih dari 1000 tindakan bunuh diri terjadi tiap hari. selain karena faktor kecelakaan. (Susanto. Selain itu wanita lebih sering memilih cara menyelamatkan dirinya sendiri atau diselamatkan orang lain. Berdasarkan fenomena tersebut. Rasio kejadian bunuh diri antara pria dan wanita adalah tiga berbanding satu.2.2.000 tindakan bunuh diri setiap tahun dan merupakan penyebab kematian kesebelas. menggantung diri.2 Mahasiswa mampu membuat asuhan keperawatan pada klien dengan resiko bunuh diri yang mengacu pada teori Stuart . Di Amerika Serikat dilaporkan 25. 1.2. Di Inggris ada lebih dari 3000 kematian bunuh diri tiap tahun. bunuh diri merupakan penyebab kematian kedua.2 Tujuan Adapun tujuan penulisan makalah ini ialah sebagai berikut: 1.2 kepribadian Tujuan khusus: 1. 2010) Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2003 mengungkapkan bahwa 1 juta orang bunuh diri dalam setiap tahunnya atau setiap 15-34 tahun. Pada laki-laki tiga kali lebih sering melakukan bunuh diri daripada wanita.1 Mahasiswa mampu menjelaskan mengenai konsep dasar mengenai resiko bunuh diri 1. atau lompat dari gedung yang tinggi. antara lain dengan pistol.2. Pada usia remaja.2. sedangkan wanita lebih sering menggunakan zat psikoaktif overdosis atau racun.1 Tujuan umum Mahasiswa keperawatan mampu memahami dengan baik dan menerapkan di lapangan mengenai asuhan keperawatan klien dengan gangguan 1.2. kelompok ingin membahas lebih lanjut mengenai peran perawat dalam menghadapi dan membantu klien dengan resiko bunuh diri. namun sekarang mereka lebih sering menggunakan pistol.

Pengertian Resiko bunuh diri adalah resiko untuk mencederai diri sendiri yang dapat mengancam kehidupan.1. perasaan marah/bermusuhan. Perilaku bunuh diri disebabkan karena stress yang tinggi dan berkepanjangan dimana individu gagal dalam melakukan mekanisme koping yang digunakan dalam mengatasi masalah. cara untuk mengakhiri keputusasaan (Stuart. TINJAUAN PUSTAKA 2. dapat terjadi karena kehilangan hubungan interpersonal/gagal melakukan hubungan yang berarti. Beberapa alasan individu mengakhiri kehidupan adalah kegagalan untuk beradaptasi. Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri karena merupakan perilaku untuk mengakhiri kehidupannya. perasaan terisolasi. .6 BAB 2. bunuh diri dapat merupakan hukuman pada diri sendiri.2006). sehingga tidak dapat menghadapi stress.

com Bunuh diri adalah segala perbuatan dengan tujuan untuk membinasakan dirinya sendiri dan yang dengan sengaja dilakukan oleh seseorang yang tahu akan akibatnya yang mungkin pada waktu yang singkat. terutama depresi. serta mengancam jiwa.7 Sumber: googleimage. pencederaan diri. Bunuh diri mungkin merupakan keputusan terkahir dari individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi (Keliat 1991 : 4). Pikiran bunuh diri biasanya muncul pada individu yang mengalami gangguan mood. Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan. sedangkan respon maladaptif merupakan respon yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah yang kurang dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya setempat. Rentang respon protektif diri mempunyai peningkatandiri sebagai respon paling adaptif. Menciderai diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan. (Nanda.Respon adaptif merupakan respon yang dapat diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan yang secara umum berlaku.dan bunuh diri merupakan respon maladaptif (Wiscarz dan Sundeen. 2012) Menurut Beck (1994) dalam Keliat (1991 hal 3) mengemukakan rentang harapanputus harapan merupakan rentang adaptif -maladaptif. 2008). Bunuh diri adalah . 1998). sementara perilaku destruktif diri. Bunuh diri mungkin merupakan keputusanterakhir dari individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi (Captain. Prilaku destruktif diri yaitu setiap aktivitas yang jika tidak di cegah dapatmengarah kepada kematian. Risiko bunuh diri dapat diartikan sebagai resiko individu untuk menyakitidiri sendiri. mencederai diri.

Sehingga dari beberapa pendapat diatas. Perilaku bunuh diri terbagi menjadi tiga kategori yaitu (Stuart. bunuh diri merupakan tindakan yang sengaja dilakukan seseorang individu untuk mengakhiri hidupnya dengan berbagai cara. Dan seseorang dengan gangguan psikologi tertentu atau sedang depresi dapat pula beresiko melakukan bunuh diri. dapat dari faktor eksternal seperti lingkungan dan faktor internal seperti gangguan psikologi dalam dirinya. . Orang yang ingin bunuh diri mungkin mengungkapkan secara verbal bahwa ia tidak akan berada di sekitar kita lebih lama lagi atau mengomunikasikan secara non verbal.8 tindakan yang dilakukan dengan sengaja untuk membunuh diri sendiri (Videbeck. Banyak faktor yang menyebabkan seseorang bunuh diri. 2008). 2006): 1) Ancaman bunuh diri yaitu peringatan verbal atau nonverbal bahwa seseorang tersebut mempertimbangkan untuk bunuh diri.

3) Bunuh diri yaitu mungkin terjadi setelah tanda peringatan terlewatkan atau diabaikan. dan berkurangnya dukungan sosial merupakan faktor penting yang berhubungan dengan bunuh diri. impulsif. 4) Biologis . dan depresi.1 Psikodinamika 2.1.kehilangan yang dini. Orang yang melakukan bunuh diri dan yang tidak bunuh diri akan terjadi jika tidak ditemukan tepat pada waktunya. Sementara itu. 3) Lingkungan psikososial Baru mengalami kehilangan. meliputi: 1) Bunuh diri anomik adalah suatu perilaku bunuh diri yang didasari oleh faktor lingkungan yang penuh tekanan (stressful) sehingga mendorong seseorang untuk bunuh diri. Faktor predisposisi Stuart (2006) menyebutkan bahwa faktor predisposisi yang menunjang perilaku resiko bunuh diri meliputi: 1) Diagnosis psikiatri Tiga gangguan jiwa yang membuat klien berisiko untuk bunuh diri yaitu gangguan alam perasaan. Yosep (2010) mengklasifikasikan terdapat tiga jenis bunuh diri. dan skizofrenia. perpisahan atau perceraian.9 2) Upaya bunuh diri yaitu semua tindakan terhadap diri sendiri yang dilakukan oleh individu yang dapat menyebabkan kematian jika tidak dicegah. penyalahgunaan obat. 2. 2) Bunuh diri altruistik adalah tindakan bunuh diri yang berkaitan dengan kehormatan seseorang ketika gagal dalam melaksanakan tugasnya. 3) Bunuh diri egoistik adalah tindakan bunuh diri yang diakibatkan faktor dalam diri seseorang seperti putus cinta atau putus harapan. yaitu factor predisposisi (factor risiko) dan factor presipitasi (factor pencetus). a. 2) Sifat kepribadian Tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan peningkatan resiko bunuh diri adalah rasa bermusuhan.1 Etiologi Resiko Bunuh Diri Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya resiko bunuh diri ada dua faktor.

Beberapa peneliti percaya bahwa ada gangguan pada level serotonin di otak. atau ancaman pengurungan. Oleh karena itu. Nabe. Selain itu. dimana dia mengaitkan antara bunuh diri dengan kehilangan seseorang atau objek yang diinginkan. juga membuat individu semakin rentan untukmelakukan perilaku bunuh diri. Walaupun demikian. dimana serotonin diasosiasikan dengan perilaku agresif dan kecemasan. dimana orang yang suicidal mempunyai keluarga yang juga menunjukkan kecenderungan yang sama. dipermalukan di depan umum. seperti masalah interpersonal. Penelitian lain mengatakan bahwa perilaku bunuh diri merupakan bawaan lahir. Faktor presipitasi Stuart (2006) menjelaskan bahwa pencetus dapat berupa kejadian yang memalukan. Secara psikologis. hingga saat ini belum ada faktor biologis yang ditemukan berhubungan secara langsung dengan perilaku bunuh diri 5) Psikologis Leenars (dalam Corr. perasaan marah dan harapan untuk menghukum juga ditujukan pada diri. Meskipun individu mengidentifikasi dirinya dengan objek kasih sayang. 2003) mengidentifikasi tiga bentuk penjelasan psikologis mengenai bunuh diri. Dia merasa marah terhadap objek kasih sayang ini dan berharap untuk menghukum atau bahkan membunuh orang yang hilang tersebut. individu yang beresiko melakukan bunuh diri mengidentifikasi dirinya dengan orang yang hilang tersebut. .10 Banyak penelitian telah dilakukan untuk menemukan penjelasan biologis yang tepat untuk perilaku bunuh diri. & Corr. perilaku destruktif diri terjadi 6) Sosiokultural Penjelasan yang terbaik datang dari sosiolog Durkheim yang memandang perilaku bunuh diri sebagai hasil dari hubungan individu dengan masyarakatnya. Penjelasan yang pertama didasarkan pada Freud yang menyatakan bahwa “suicide is murder turned around 180 degrees”. yang menekankan apakah individu terintegrasi dan teratur atau tidak dengan masyarakatnya b. mengetahui seseorang yang mencoba atau melakukan bunuh diri atau terpengaruh media untuk bunuh diri.kehilangan pekerjaan.

5) Sosial: Struktur social dan kehidupan bersosial dapat menolong atau bahkan mendorong klien melakukan perilaku bunuh diri. yaitu Local Adaptation Syndrome (LAS) yang merupakan respons lokal tubuh terhadap stresor (misal: kita menginjak paku maka secara refleks kaki akan diangkat) dan Genital Adaptation Symdrome (GAS) adalah reaksi menyeluruh terhadap stresor yang ada. 3) Fisiologis: Respons fisiologis terhadap stres dapat diidentifikasi menjadi dua. teman. .11 Faktor pencetus seseorang melakukan percobaan bunuh diri adalah perasaan terisolasi karena kehilangan hubungan interpersonal/gagal melakukan hubungan yang berarti. baik faktor social maupun budaya. Isolasi social dapat menyebabkan kesepian dan meningkatkan keinginan seseorang untuk melakukan bunuh diri. kegagalan beradaptasi sehingga tidak dapat menghadapi stres. seperti pikiran menjadi kacau. dan pikiran tidak wajar. pikiran berulang. Kemampuan mengatasi masalah/ sumber coping 1) Kemampuan personal: kemampuan yang diharapkan pada klien dengan resiko bunuh diri yaitu kemampuan untuk mengatasi masalahnya. menurunnya daya konsentrasi. sedih dan marah. 2) Afektif: Respon ungkapan hati klien yang sudah terlihat jelas dan nyata akibat adanya stressor dalam dirinya. Perilaku bunuh diri berhubungan dengan banyak faktor. perasaan marah/bermusuhan dan bunuh diri sebagai hukuman pada diri sendiri. kelompok. Respon terhadap stres 1) Kognitif: Klien yang mengalami stress dapat mengganggu proses kognitifnya. atau orang-orang disekitar klien dan dukungan terbaik yang diperlukan oleh klien adalah dukungan keluarga. serta cara utuk mengakhiri keputusasaan. seperti: cemas. 2) Dukungan sosial: adalah dukungan untuk individu yang di dapat dari keluarga. Aktif dalam kegiatan keagamaan juga dapat mencegah seseorang melakukan tindakan bunuh diri. 4) Perilaku: Klien dengan penyakit kronik atau penyakit yang mengancam kehidupan dapat melakukan perilaku bunuh diri dan sering kali orang ini secara sadar memilih untuk melakukan tindakan bunuh diri. Seseorang yang aktif dalam kegiatan masyarakat lebih mampu menoleransi stress dan menurunkan angka bunuh diri. d. c.

d. . Maladaptif Adaptif Peningkatan diri Berisiko destruktif Destruktif diri tidak langsung Pencederaan diri Bunuh diri Keterangan: a. Sering kali klien secara sadar memilih bunuh diri. Mekanisme coping Klien dengan penyakit kronis. dan regresi. e. Destruktif diri tidak langsung: seseorang telahmengambil sikap yang kurang tepat terhadap situasi yangmembutuhkan dirinya untuk mempertahankan diri. d. Beresiko destruktif: seseorang memiliki kecenderungan atau beresiko mengalami perilaku destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang seharusnya dapat mempertahankan diri.12 3) Asset material: ketersediaan materi antara lain yaitu akses pelayanan kesehatan. Menurut Stuart (2006) mengungkapkan bahwa mekanisme pertahanan ego yang berhubungan dengan perilaku destruktif diri tidak langsung adalah penyangkalan. Pencederaan Diri: seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau pencederaan diri akibat hilangnya harapan terhadapsituasi yang ada. Menurut Fitria (2012) mengemukakan rentang harapan-putus harapan merupakan rentang adaptif-maladaptif. e. Keyakinan positif: merupakan keyakinan spiritual dan gambaran positif seseorang sehingga dapat menjadi dasar dari harapan yang dapat mempertahankan koping adaptif walaupun dalam kondisi penuh stressor. dana atau finansial yang memadai. intelektualisasi. jaminan pelayanan kesehatan dan lain-lain. b. nyeri. asuransi. seperti seseorang merasa patah semangat bekerja ketika dirinya dianggap tidak loyal terhadap pimpinan padahal sudah melakukan pekerjaan secara optimal. c. Peningkatan diri: seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahan diri secara wajar terhadap situasional yang membutuhkan pertahan diri. rasionalisasi. Keyakinan yang harus dikuatkan pada klien resiko bunuh diri adalah keyakinan bahwa klien mampu mengatas masalahnya. atau penyakit yang mengancam kehidupan dapat melakukan perilaku destruktif-diri. Bunuh diri: seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai dengan nyawanya hilang.

Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang dapat diambil pada klien dengan resiko bunuh diri adalah: Resiko bunuh diri g. percobaan atau ancaman verbal untuk Menarik Diri melakukan tindakan yang mengakibatkan kematian perlukaan atau nyeri pada diri sendiri. Intervensi a) Bantu klien untuk mengenal masalah yang sedang dialami b) Bantu klien untuk menurunkan resiko perilaku destruktif (behavior management) c) Berikan lingkungan yang aman (safety) berdasarkan tingkatan resiko d) Bantu klien mengidentifikasi dan mendapatkan dukungan sosial e) Membantu klien mengembangkan mekanisme koping yang positif Malu. mer . Risiko Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Isolasi sosial Perilaku kekerasan Risiko membahayakan diri: Risiko Bunuh Diri f. Ancaman bunuh diri menunjukkan upaya terakhir untuk mendapatkan pertolongan Gangguan Konse adgar untuk mengatasi masalah.13 Res Perilaku bunuh diri menunjukkan terjadinya kegagalan mekanisme koping. Perilaku yang muncul meliputi isyarat. Resiko yang mungkin terjadi pada klien yang Harga Diri Renda mengalami krisis bunuh diri adalah mencederai diri dengan tujuan mengakhiri hidup.

Penatalaksanaan Medis Penatalaksanaan medis yang dapat dilakukan pada klien resiko bunuh diri salah satunya adalah dengan terapi farmakologi. temani klien terusmenerus sampai klien dapat dipindahkan ke tempat yang aman dan jauhkan klien dari semua benda yang berbahaya. 2.2 Penatalaksanaan Klien Dengan Perilaku Bunuh Diri Menurut Stuart dan Sundeen (1997. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan 1. proses sensori. Menurut (videbeck. Intervensi yang dapat dilakukan adalah tempatkan klien di tempat yang aman. perhataian. kewaspadaan. obatobat yang biasanya digunakan pada klien resiko bunuh diri adalah SSRI (selective serotonine reuptake inhibitor) (fluoksetin 20 mg/hari per oral). 2009:13) mengidentifikasi intervensi utama pada klien untuk perilaku bunuh diri yaitu : 1) Melindungi Merupakan intervensi yang paling penting untuk mencegah klien melukai dirinya. Obat-obat tersebut sering dipilih karena tidak berisiko letal akibat overdosis. venlafaksin (75225 mg/hari per oral). dalam Keliat. 2008). dan bupropion (200-300 mg/hari per oral). Tujuan dilakukannya intervensi pada klien dengan resiko bunuh diri adalah (Keliat. dan nafsu makan. Penatalaksanaan Keperawatan Setelah dilakukan pengkajian pada klien dengan resiko bunuh diri selanjutnya perawat dapat merumuskan diagnosa dan intervensi yang tepat bagi klien. trazodon (200-300 mg/hari per oral). 2) Meningkatkan harga diri . nefazodon (300-600 mg/hari per oral). bukan diisolasi dan perlu dilakukan pengawasan. Mekanisme kerja obat tersebut akan bereaksi dengan sistem neurotransmiter monoamin di otak khususnya norapenefrin dan serotonin.14 h.2. Kedua neurotransmiter ini dilepas di seluruh otak dan membantu mengatur keinginan. mood. 2009) 1) Klien tetap aman dan selamat 2) Klien mendapat perlindungan diri dari lingkungannya 3) Klien mampu mengungkapkan perasaannya 4) Klien mampu meningkatkan harga dirinya 5) Klien mampu menggunakan cara penyelesaian yang baik 2.

Kesuksesannya tidak diimbangi dengan keharmonisan keluarga yang . b) Berikan pujian bila klien dapat mengatakan perasaan yang positif. a. Contoh Kasus Tn. Bersama mencari faktor predisposisi dan presipitasi yang mempengaruhi prilaku klien. 4) Menggali perasaan Perawat membantu klien mengenal perasaananya. dengan cara: a) Memberi kesempatan klien mengungkapkan perasaannya.K berusia 30 tahun merupakan penulis terkenal yang memiliki banyak penggemar. dengan cara: a) Mendiskusikan dengan klien cara menyelesaikan masalahnya b) Mendiskusikan dengan klien efektifitas masing-masing cara penyelesaian masalah c) Mendiskusikan dengan klien cara menyelesaikan masalah yang lebih baik 2.15 Klien yang ingin bunuh diri mempunyai harga diri yang rendah. 2) Meningkatkan harga diri klien. Untuk koping yang destruktif perlu dimodifikasi atau dipelajari koping baru. Bantu klien mengekspresikan perasaan positif dan negatif. 5) Menggerakkan dukungan sosial Untuk itu perawat mempunyai peran menggerakkan sistem sosial klien. yaitu dengan meminta bantuan dari keluarga atau teman. Penatalaksanaan klien dengan resiko bunuh diri yaitu: 1) Mendiskusikan tentang cara mengatasi keinginan bunuh diri. atau lembaga pelayanan di masyarakat agar dapat mengontrol prilaku klien. c) Meyakinkan klien bahwa dirinya penting d) Membicarakan tentang keadaan yang sepatutnya disyukuri oleh klien e) Merencanakan aktifitas yang dapat klien lakukan 3) Meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah. 3) Menguatkan koping yang konstruktif/sehat Perawat perlu mengkaji koping yang sering dipakai klien.3. Berikan pujian pada hal yang positif. yaitu keluarga. teman terdekat. Berikan pujian penguatan untuk koping yang konstruktif.

Tn.K seringkali mengalami bahaya sampai orang yang melihatnya Tn. sampai pernah kejadian dia menabrakkan mobilnya untuk melindungi anak SMA tersebut dari bahaya. Setelah teman-temannya menyelidiki. ternyata anak SMA yang dimaksud Tn.K selalu berusaha melindunginya dengan mengorbankan dirinya sendiri yang bisa membahyakan.K tidak mempercayai ketika teman-temannya mengatakan bahwa anak SMA itu tidak nyata.K seperti bunuh diri karena sering membahayakan dirinya sendiri.K seringkali melukai dirinya demi menyelamatkan anak SMA tersebut.K memiliki riwayat masa lalu yang bisa dikatakan suram. kakak Tn.K menyerang Tn. Dan Tn. kakak. Sehingga dia dipaksa untuk dibawa di rumah sakit dan ternyata didiagnosis skizopfrenia. Sejak kejadian itu. Ketika dia duduk di sekolah dasar.K dipukul oleh ayahnya.6 Pengkajian Faktor predisposisi a) Diagnosis psikiatri Tn.16 diidamkan setiap keluarga.3. Dan karena teman khayalannya tersebut.K dalam kasus tersebut didiagnosis skizofrenia. ibunya menikah lagi dengan laki-laki kasar yang suka memukul.K hanyalah teman khayalan yang dia ciptakan sendiri.K mempunyai teman anak SMA yang mengaku fansnya yang ternyata memiliki kisah yang sama dengan dirinya yaitu sering dipukuli oleh ayahnya.K dengan menusuknya. b) Sifat kepribadian Sifat kepribadian pada Tn. 2. dan ibunya dipukul oleh ayah tirinya tersebut. kakaknya marah dan mengambil pisau. c) Lingkungan psikososial . Tn. sang ayah tertusuk pisau dan meninggal.K yang meningkatkan resiko bunuh diri adalah adanya teman khayalan sehingga Tn. Tn. dan setelah terjadi beberapa kali perdebatan. Sehingga Tn. Sampai pada akhirnya ketika Tn. akan tetapi ternyata hukuman yang dijatuhkan lama dan akhirnya sang kakak menghabiskan waktu 13 tahun dipenjara. Karena sang kakak ingin melindungi adiknya maka dia rela dipenjara. Hampir setiap hari dia. Karena kejadian itu.K memiliki dendam kepada adiknya yang pada akhirnya pada saat keluar penjara kakak Tn.

Tn. sehingga teman khayalan Tn. Respon terhadap stres a) Kognitif: Kognitif klien sejak mengalami gangguan ini terganggu.17 Tn.K dengan kakaknya sangat tidak baik. f) Sosiokultural: Hubungan dengan orang disekitarnya. b) Afektif: Tn.K selalu mencemaskan teman bayangannya.K mulai mengalami gangguan adalah ketika dia diserang dan dicoba dibunuh oleh kakaknya yang baru keluar penjara dimana kakaknya mengalami dendam terhadapnya. dan Tn.K. Dia juga merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada kakaknya sehingga dia juga tertekan.K dengan selalu melindungi teman khayalannya yang merupakan cerminana dirinya tersebut karena dia ingin teman khayalan tersebut tidak seperti dirinya sekarang. Akan tetapi.K memiliki hubungan yang baik dan Tn. Karena pada dunia Tn. teman khayalan yang dia lihat itu nyata dan perlu perlindungannya.K muncul sebagai cerminan dirinya. Tn.K akan selalu berusaha melindungi dengan cara yang membahayakan dirinya tanpa dia sadari tersebut. dan selain itu bayangan dari masa lalunya terus saja datang membayangi c) Fisiologis: Tn.K merupaka tokoh yang diidolakan karena karya bukunya. . e) Psikologis Perilaku yang ditujukan oleh Tn.K seringkali merasakan cemas akan serangan dari kakaknya.K yang sama memiliki gangguan seperti dirinya. hubungan Tn. yaitu kemampuan menulisnya sangat menurun dan cenderung hanya mengulang tulisan yang sudah pernah dia tulis sebelumnya. Dan hal tersebut salah satu yang melatarbelakangi apa yang dialaminya sekarang. dan adanya perasaan dendam dari kakaknya yang terus ingin menyerang Tn.K sering kali merasakan keringat dingin dan susah tidur ketika bayangan dari masa lalunya sudah mulai ada. Faktor prepitasi Faktor pencetus dari kasus diatas adalah adanya rasa bersalah terhadap kakaknya. d) Biologis Tidak ada keturunan dari Tn.K.

K.3. Bantu klien untuk menurunkan resiko perilaku destruktif yang diarahkan pada dengan cara: diri sendiri . b) Dukungan social: Padaawalnya.8 Intervensi Keperawatan Diagnosa NOC Resiko Bunuh Diri 1. 2.K sering berperilaku yang membahayakn seperti menabrakkan mobilnya sendiri dan menjatuhkan dirinya sendiri seperti orang yang sedang dipukuli e) Sosial: Hubungan sosial Tn. Pengendalian Terhadap Diri NIC Diri 1.k dengan sekitar baik.3. Tn. hanya saja orang sekeliling Tn.7 Diagnosa Keperawatan Resiko Bunuh Diri 2. Membantu klien untuk mengenali Bunuh masalah yang sedang dialami.K sering melihat Tn.k mengobrol sendiri seolah ada orang lain didepannya yang diajak mengobrol. 2. Selain itu.K merupakan penulis terkenal.K kuramg bisa mengendalikan dirinya apabila sudah menyangkut dengan teman bayangannya. sehingga memiliki penghasilan yang cukup untuk kehidupannya dan keluarganya d) Keyakinan positif: Tn.K agar cepat sembuh c) Asset material: Tn.K memiliki keyakinan penuh bahwa dirinya akan sembuh dengan keyakinan padaNya. akan tetapi ketika mengetahui Tn. sehingga menurut orang sekitar Tn.K sering melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya.K sedang sakit keluarga dan temannya memberikan dukungan penuh pada Tn. Manajemen perilaku a. selain itu dukungan dari keluarga dan orang sekitar juga menjadi penyemangat tersendiri baginya.18 d) Perilaku: Tn. keluarga dan temannya tidak mengetahui apa yang sedang dialami Tn. tidak mengalami gangguan Kemampuan mengatasi masalah/ sumber coping a) Kemampuan personal: Tn.K sehari-harinya berperilaku seperti orang normal lainnya dalam menjalani aktivitas hariannya.

tindakan yang bisa membahayakan dirinya b. dan dengan situai aman yang yaitu lingkungan . rendah 2) Kaji level Long-Term Risk: lifestyle. Berikan lingkungan yang aman (safety) 1) Tempatkan klien di ruang perawatan yang dipantau 2) Mengidentifikasi mengamankan mudah dan benda-benda yang dapat membahayakan klien 3) Berikan ruangan nyaman. sedang.19 1) Kaji tingkatan resiko yang dialami klien: tinggi. dukungan sosial. Bantu klien untuk meningkatkan harga diri 1) Tidak menghakimi bersikap empati 2) Mengidentifikasi dan aspek positif yang dimiliki 3) Berikan jadwal aktivitas harian yang terencana untuk klien dengan control impuls yang rendah 4) Lakukan terapi kelompok dan terapi kognitif serta perilaku bila diindikasikan 3. Surveillance: safety a.

3. Klien masih sering melihat teman bayangannya setiap waktu yang seolaholah selalu meminta bantuannya . Active Listening a. Berikan reinforcement positif kepada klien 2.9 Implementasi Melakukan apa yang sudah direncakan di intervensi kepada klien 2.3.10 Evaluasi S : Tuliskan apa yang masih dirasakan klien a. Bantu klien untuk mendapatkan dukungan sosial 1) Informasikan kepada keluarga dan saudara bahwa klien dukungan adekuat 2) Dorong membutuhkan sosial klien yang melakukan aktivitas sosial 3) Jadilah pendengar yang baik bagi klien dan bantu klien untuk mengatasi masalah 5. Afirmasi Positif 6.20 yang cukup cahaya dan jendela yang tidak terbuka lebar untuk menghindari kemungkinan klien lari dari ruang perawatan 4) Ketika memberikan obat oral. dampingi klien dan pastikan semua obat telah diminum 5) Monitor keadaan klien scara kontinyu 6) Batasi orang dalam ruangan klien 4.

Penatalaksanaan medis yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan terapi farmakologi sedangkan penatalaksanaan keperawatan yang dilakukan berfokus pada klien dan keluarga klien.1 Kesimpulan Bunuh diri adalah suatu upaya yang disadari dan bertujuan untuk mengakhiri kehidupan individu secara sadar berhasrat dan berupaya melaksanakan hasratnya untuk mati. klien masih sering mengobrolsendiri c. baik upaya pencegahan dari diri sendiri tetapi juga upaya pencegahan yang berasal dari lingkungan klien 3. 6 BAB 3. Prilaku bunuh diri meliputi isyarat-isyarat. A : Tanda gejala yang masih ada atau yang sudah hilang a.2 Saran . klien masih terlihat murung dan melakukan hal yang mengarah pada mencedari diri dengan alasan melindungi temannya b. resiko bunuh diri dapat dicegah melalui upaya pencegahan. Selain penatalaksanaan. klien masih menaganggap bahwa temannya itu nyata P : Lanjutkan intervensi no 2.21 O : Klien masih terlihat sering berbicara sendiri seolah ada lawan bicara didepannya. Penatalaksanaan dilakukan dari segi medis dan keperawatan. 5. atau luka yang menyakiti diri sendiri. percobaan dan ancaman verbal yang akan mengakibatkan kematian. 4. Terjadinya bunuh diri dapat diakibatkan oleh depresi maupun gangguan sensori seperti halusinasi. PENUTUP 3.

Fitria. Jakarta: EGC. maka kejadian bunuh diri dapat ditekan dan hidup masyarakat akan menjadi lebih baik pula DAFTAR PUSTAKA Captain.J. Keliat. Budi Anna. G. Jakarta: EGC. Buku Saku Keperawatan Jiwa. 2006. Keliat.Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. diharapkan para pembaca mengetahui bagaimana cara mengenali dan merawat orang-orang dengan resiko bunuh diri dengan baik. Prinsip Dasar Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi Pelaksanaan Tidakan Keperawatan (LP dan SP) revisi 2012. Philadelphia: NANDA International. Lynda Juall. 2006. Jakarta: EGC. Nita. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. B. Nursing Diagnoses: Definitions & Classification 2012-2014. Stuart. 2008. (2012). Jakarta: EGC. Jakarta: EGC. & Sundeen.W. Carpenito Moyet. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa Edisi 2. 2006. 2012. Psikologi untuk Keperawatan.A. 2009. S. NANDA.22 Dengan disusunnya makalah ini. . Alih bahasa oleh Yasmin Asih. Jakarta: Salemba Medika. Karena dengan adanya manajemen yang baik.

.2012. & Ahern N. .Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama. 2008. Sheila L..M. J. Buku Saku Diagnosis KeperawatanDiagnosa NANDA Intervensi NIC Kriteria Hasil NOC Edisi kesembilan. 2010. . I.23 Videbeck.R.Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Wilkinson. Jakarta: EGC Yosep. Jakarta: EGC.