PEMBEBASAN KEMISKINAN?

(sebuah perspektif biblis)

Martin Suhartono, S.J.

0. Apa/Siapakah yang dibebaskan? Tema yang disodorkan oleh pihak penyelenggara kepada saya ialah "Pembebasan Kemiskinan" (ditinjau dari Kitab Suci). Saya jadi bertanya-tanya dalam hati, "Lho, apa maksudnya ini? Apa atau siapa yang dibebaskan? Dibebaskan dari apa atau dari siapa? Lalu apa atau siapa yang membebaskan?" Mari kita amati masing-masing kemungkinan itu. Kalau mendengar ungkapan "Pembebasan Kemiskinan", orang spontan akan berpikir bahwa kemiskinanlah yang dibebaskan, sama seperti ungkapan "Pembebasan para sandera" berarti para sanderalah yang dibebaskan. Kita bisa bertanya, "Lho, kemiskinan itu mau dibebaskan dari apa? Apakah dia tadinya tidak bebas, ditahan, dipasung, atau dibelenggu?" Saya kira, semua akan setuju dengan saya, kalau saya katakan bahwa kemiskinan itu sendiri sama sekali tidak sedang dibelenggu oleh apa atau siapa pun juga, kecuali .... kalau ada Suster yang bernama Paupertas (Latin, "kemiskinan"), seperti ada juga yang bernama Felicitas ("kebahagiaan"). Nah, lalu apa yang dimaksudkan oleh Penyelenggara? Sebetulnya, bisa saja sih saya menelpon mereka dan bertanya. Tapi saya lebih suka menebak-nebak, meski bukan paranormal. Saya melihat kemungkinan adanya dua arti "Pembebasan kemiskinan". Yang pertama, "Pembebasan dari kemiskinan". Yang kedua, "Pembebasan oleh kemiskinan". Kalau mau dicari-cari lagi, bisa juga ada arti ketiga, yaitu "Pembebasan untuk kemiskinan". Para Susterku Sayang (tapi tidak malang lho ya!) tentu lebih bisa mencari-cari arti lain, tapi mari kita batasi diri pada ketiga arti ini saja.

I. Pembebasan DARI Kemiskinan Saya punya dugaan kuat, sebenarnya arti inilah yang dimaksudkan oleh Penyelenggara bila mereka mengusulkan tema "Pembebasan kemiskinan". Artinya, bukanlah

Martin/Kemiskinan/hal. 2 kemiskinan itu sendiri yang mau dibebaskan (karena toh tidak sedang terbelenggu) tapi justru orang-orang yang sedang mengalami kemiskinan, orang-orang yang sedang berada dalam keadaan miskin, atau gampangnya, "orang-orang miskin". Tapi, siapakah yang disebut "orang-orang miskin" itu? Orang bisa berdebat tentang apa yang dimaksud dengan "orang-orang miskin". Kita kaum biarawan/wati pun biasa mengaku diri "miskin" (karena kita berkaul kemiskinan), tapi saya kira tak seorang awam pun akan percaya bila melihat gaya hidup kita. Dalam perekonomian, istilah "miskin" biasa dikaitkan dengan "gaji/pendapatan" tertentu. Tapi pada umumnya kita sulit menentukan orang harus punya gaji berapa sebelum bisa disebut "miskin". Menurut data dari BPS, jumlah orang miskin di Indonesia selalu menurun: di tahun 1987 ada 30 juta penduduk, di tahun 1990 tinggal 27,2 juta dan di tahun 1993 cuma ada 25,5 juta! Di tahun ini ya pasti jauh lebih sedikit! Menghadapi data seperti ini kita perlu bertanya, "Lho, apa ukurannya supaya seseorang bisa disebut miskin?" Ternyata patokannya adalah pendapatan seseorang. Dalam statistik di atas, yang jadi patokan (atau istilah kerennya, "garis batas kemiskinan", poverty line) adalah upah Rp. 900,-/per hari. Ada yang mungkin nakal bertanya, "Lha, kalok garis itu dinaekken sedikit? Misalnya, Rp. 1000,- per hari?" Bila garis batas itu dinaikkan Rp. 100,- saja menjadi Rp. 1000,-, maka akan ada 77 juta orang miskin se Indonesia! Seandainya dinaikkan lagi menjadi Rp. 2000,- per hari maka akan ada 153,69 juta orang miskin di negara kita ini! Itu berarti 82% penduduk Indonesia! Itu tadi data dari Biro Pusat Statistik tentang apa yang disebut "miskin". Bagaimana dengan pandangan KS? Kita punya hanya satu kata "miskin", padahal dalam bahasa Ibrani dikenal tujuh kata untuk menunjuk pada orang miskin: 'ani (Ul 24:12; bdk. Kel 3:7 "kesengsaraan"); 'anaw (jamak: 'anawim; Mz 10:17; bdk. Mz 22:27: "lembut, rendah hati"); 'ebyon (Ul 24:14); dal (1 Sam 2:8); rash (Ams 14:20; bdk. kt. kerjanya, 1 Raj 21:15 "merampas"); misken (Pengkh 4:13), hasar-lehem ("tak punya roti", 2 Sam 3:29). Yang paling sering digunakan adalah dua kata pertama, 'ani dan 'anaw. Masing-masing kata ini punya nuansanya sendiri-sendiri, namun pada umumnya menunjuk pada orang-orang yang hidup sengsara, berkebutuhan pokok (papan, pangan, sandang), dan mengalami ketidakadilan (penindasan). Selain itu ada juga sebutan untuk kelompok masyarakat tertentu yang termasuk jenis "orang-orang yang menderita" ini, yaitu 'almanah (janda) dan yatom (anak yatim). Rajaraja dan dewa-dewi di Timur Tengah kuno punya perhatian khusus pada janda dan yatim.

Martin/Kemiskinan/hal. 3 Bagi Israel, ada kelompok lain yang dianggap menderita juga, yaitu ger (orang asing, pengembara). Kaum miskin bukan hanya terdapat di kalangan bangsa Israel zaman PL saja, melainkan tersebar luas di wilayah Timur Tengah saat itu. Mereka tidak terpisah dari masyarakat seluruhnya, melainkan merupakan bagian utuh masyarakat itu. Dan orang sudah mengenal sikap/tindakan amal kasih yang wajib ditujukan kepada golongan rendahan itu. Jadi perhatian pada orang miskin (option for the poor) bukanlah khas masyarakat Israel (PL) saja melainkan juga umum terdapat pada bangsa-bangsa di sekelilingnya. Lalu apa yang membedakan Israel dari bangsa-bangsa lainnya? Yang baru dalam PL adalah teologi Exodus (Keluaran dari Mesir), suatu kelompok orang miskin Israel (pekerja paksa) dibawa keluar dari masyarakat yang menindasnya di Mesir dan Allah mereka menjanjikan suatu bentuk baru masyarakat. Bentuk masyarakat macam apakah yang dijanjikan Allah Israel itu? Masyarakat itu bisa disebut masyarakat egaliter, yaitu masyarakat yang masing-masing anggotanya setara dalam hak dan kewajiban, dalam kesempatan dan kemungkinan. Masyarakat yang dijanjikan adalah masyarakat tanpa penindasan golongan yang satu terhadap yang lain, singkatnya masyarakat tanpa orang miskin. Apakah ini bukan sekedar mimpi belaka? Tampaknya, bangsa Israel pernah mengalami bentuk masyarakat seperti dijanjikan Allah itu, yaitu ketika mereka berhasil keluar dari Mesir dengan dipimpin oleh Musa, mengembara di padang gurun, dan memasuki tanah Kanaan di bawah pimpinan Yoshua. Saat itu, para bekas budak di Mesir itu bergabung dengan para petani budak Kanaan memberontak terhadap penguasa Kanaan dan berhasil mengalahkan mereka serta membentuk satu konfederasi 12 suku (Konfederasi Yoshua). Berbeda dengan kota-kota Kanaan dengan sistem masyarakat yang didasarkan pada pembagian kasta sosial dan perbedaan kelas, konfederasi suku-suku Israel merupakan masyarakat egaliter yang didasarkan pada kesamaan posisi di hadapan Tuhan dan sesama. Sistem manakah yang menjamin masyarakat yang egaliter itu? Masyarakat egaliter itu diikat oleh satu perjanjian dengan YHWH, yang telah membebaskan mereka. Kesama-rataan itu tidak terjadi begitu saja, melainkan dijamin oleh hukum-hukum sebagaimana diatur dalam perjanjian Sinai. Pertama-tama masyarakat mereka didasarkan pada DASASILA (sepuluh perintah Allah), yang bukan hanya berisi kesalehan pribadi, tetapi terutama jaminan perlindungan atas hak-hak manusia (hak beribadah kepada Allah, hak hidup, berkeluarga, bebas dari perhambaan, nama baik, hak milik) (Kel 20:2-17). Menurut hukum Taurat, tanah adalah milik Allah, jadi bukan milik orang-perorangan. Jadi

Martin/Kemiskinan/hal. 4 tak ada hak milik pribadi atas sumber modal. Orang tak boleh mengambil bunga atas pinjaman. Orang dilarang mencari keuntungan dari orang miskin, misal dengan barang jaminan dll. Dalam perjalanan waktu bisa saja timbul kesenjangan karena perbedaan kemampuan individual, cuaca, dan juga peperangan antara bangsa. Maka diadakanlah Tahun Yobel, setiap limapuluh tahun sekali (tahun setelah 7 X 7 thn), saat itulah diadakan pembagian ulang atas tanah, para budak dibebaskan, hutang dihapus (Im 25). Jadi dapat dikatakan bahwa keseluruhan hukum perjanjian Sinai itu dimaksudkan agar tak ada lagi orang miskin di antara bangsa Israel: "Maka tidak akan ada orang miskin di antaramu, ...., asal saja engkau mendengarkan baik-baik suara Tuhan, Allahmu, dan melakukan dengan setia segenap perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini!" (Ul 15:4-5). Masyarakat egaliter itu berakhir ketika bangsa Israel, terpikat oleh cara hidup bangsabangsa di sekelilingnya, mulai mendirikan kerajaan sendiri dan mengangkat seorang raja atas mereka (lih. peringatan keras Samuel, 1 Sam 8:11-18). Dari penggalian arkeologi bisa diketahui bahwa rumah-rumah yang didirikan di Kanaan sekitar tahun 1000 punya ukuran dan perlengkapan yang sama. Tetapi penggalian reruntuhan rumah yang berasal dari masa 200 tahun kemudian menunjukkan adanya perbedaan nyata antara bagian kota yang kaya dan yang miskin. Jadi pada masa kerajaan terbentuklah struktur masyarakat yang tidak sama rata dalam bidang sosial dan ekonomi. Bisa dimengerti bila kemudian para nabi selalu mengeritik para raja Israel dan menyerukan agar orang kembali memperhatikan orang-orang miskin dengan menegakkan keadilan dan kebenaran (Am 5:24). Masyarakat egaliter sebagaimana dijanjikan Allah dan pernah mereka alami itu selalu mereka rindukan walaupun mereka senantiasa harus jatuh bangun dalam kegagalan akibat kesalahan sendiri dan bangsa lain. Kini kita melompati beberapa abad dan sampai pada abad ke-1 M, saat Yesus mulai berkarya di Palestina. Lukas meringkas program hidup dan karya Yesus dalam konteks Tahun Yobel, yaitu Tahun pembebasan: "Roh Tuhan ada di atasku karena aku telah diurapi. Untuk memberitakan Kabar Baik kepada orang miskinlah aku telah diutus." (Luk 4:18). Memberitakan kabar baik itu dilaksanakan Yesus dengan membebaskan orang dari belenggu, dari kegelapan, dan dari penindasan (Luk 4:19). Ia memilih 12 Rasul dan dengan tindakan ini seakan mau mengatakan bahwa Ia ingin membentuk masyarakat egaliter seperti pada zaman Yoshua dengan Konfederasi 12 suku. Sesudah Yesus wafat, bangkit, naik ke sorga dan mengutus Roh Kudus ke atas para rasul-Nya, cita-cita pembebasan kaum miskin itu tak pernah dilupakan oleh orang-orang

Martin/Kemiskinan/hal. 5 Kristen pertama. Cara hidup jemaat Kristen purba itu diatur sedemikian rupa, sehingga "tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka" (Kis 4:34; bdk. Kis 2:42-47; 4:3235). Apakah pada zaman ini janji Allah itu masih bisa terlaksana? Apakah kita para pengikut Kristus punya tugas menciptakan masyarakat egaliter, masyarakat tanpa orang miskin? Bukankah orang miskin akan selalu ada? Disebutkan dalam Ul 15:11 "orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu". Ungkapan yang sama diucapkan Yesus pula, yaitu ketika Yudas protes karena Maria dari Betania menggunakan banyak minyak wangi untuk mengurapi kaki Yesus: "orang-orang miskin akan selalu ada pada kamu" (Yoh 12:8). Dalam Kis 6:1-6 dikisahkan bahwa "timbul sungut-sungut" di antara orang-orang Yahudi-Yunani terhadap orang-orang Yahudi-Ibrani karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan. Apakah ini harus diartikan bahwa tetap ada orang miskin dalam jemaat Kristen pertama? Perlu kita perhatikan baik-baik ungkapan "tidak ada orang miskin (orang yang berkekurangan". Ungkapan ini selalu diikuti dengan "... di antara kalian" (Ul 15:4), "... di antara mereka" (Kis 4:34). Sedangkan tentang selalu adanya orang miskin, diikuti dengan " .... di negeri/tanah itu" (Ul 15:11). Jadi baik bangsa Israel maupun jemaat Kristen purba terpanggil untuk meniadakan orang-orang miskin di antara mereka sendiri. Dan untuk melaksanakan hal itu telah ditetapkan cara-cara, mekanisme tertentu, yang diatur oleh hukum Perjanjian Sinai dan yang tampaknya diikuti pula oleh jemaat Kristen purba. Maka meskipun pada umumnya, janda, yatim dan orang asing disamakan dengan orang miskin (Yes 10:2), namun dalam peraturan tentang orang-orang yang tak punya tanah (Ul 10:18; 14:29 dll) mereka tak digolongkan pada orang miskin. Jadi para janda, yatim dan orang asing tetap saja ada di antara bangsa Israel (seperti juga pada jemaat Kristen purba), tapi mereka tak tergolong lagi pada kelompok orang yang berkekurangan/miskin karena hukum-hukum yang menjamin hak mereka dilaksanakan dengan setia. Apakah dengan demikian bangsa Israel dan jemaat Kristen purba itu egois, hanya memikirkan kepentingan golongan sendiri? Keselamatan yang dialami oleh bangsa Israel tidaklah pernah dihayati demi bangsa Israel itu sendiri, melainkan dihayati dalam rangka keselamatan umat manusia. Kepada Ibrahim dijanjikan bahwa oleh dia semua bangsa di muka bumi akan mendapat berkat (Kej 12:3). Pengajaran yang keluar dari Sion dan firman Tuhan yang datang dari Yerusalem bukan hanya diperuntukkan bagi Israel, tapi bagi segala bangsa (Yes 2:3). Bangsa Israel akan

Martin/Kemiskinan/hal. 6 menjadi jalan bagi bangsa lain untuk menuju ke Allah (Zakh 8:20-23). Hal yang sama diharapkan bagi jemaat Kristen. Mereka diharapkan menjadi kota di atas gunung yang dapat dilihat oleh orang lain (Mat 5:14). Bila semua orang melihat bahwa dalam jemaat Kristen tak ada orang miskin lagi karena mereka hidup berdasarkan cara-cara kristiani sebagaimana dijalankan oleh jemaat Kristen pertama (Kis 2:42-47; 4:32-35), maka diharapkan kelompok-kelompok lain juga akan menjalankan hal yang sama. Dan bila semua orang menjalankan pola hidup itu, maka memang benar-benar tak akan ada lagi orang miskin baik di antara kita maupun di antara orang-orang lain pula. Dalam terang ini, kata-kata Yesus "orang miskin akan selalu ada pada kamu" harus dihubungkan dengan ucapan selanjutnya, "tapi Aku tak akan selalu ada pada kamu" (Yoh 12:8), dengan kata lain, dengan sengsara dan wafat-Nya (pengurapan minyak atas kaki Yesus itu dilakukan dalam rangka hari penguburan Yesus). Di situ dipertentangkan antara sudut pandang Yudas/para murid ("dunia ini") dan sudut pandang Sang Messias ("dunia baru"). Bila orang menuruti hukum-hukum "dunia ini" (yang penuh dengan ketak-sama-rataan), maka memang orang miskin akan selalu ada padanya. Tapi bila orang mengikuti hukumhukum "dunia baru" (masyarakat egaliter), maka orang tak perlu kuatir lagi tentang orang miskin; orang hanya perlu memperhatikan Dia yang menderita, wafat dan bangkit, dan otomatis (semoga lho ya!) orang akan tergerak untuk membebaskan orang-orang miskin dari kekurangan mereka. Paulus memakai prinsip yang sama ketika mengoreksi sikap salah jemaat Korintus dalam perjamuan Ekaristi. Bagaimana mungkin mereka tak mau berbagi makanan dengan saudara-saudara yang miskin padahal mereka selalu ikut dalam Perjamuan Ekaristi yang diadakan untuk memperingati Yesus yang wafat menyerahkan diri-Nya bagi mereka? (1 Kor 11:17-34). Bila mereka mau berbagi hal rohaniah dan abadi (Tubuh dan Darah Kristus), bukankah seharusnya mereka lebih rela lagi untuk berbagi hal jasmaniah dan fana? (kotbah St. Basilius). Masalahnya, apakah kita (dalam komunitas biara atau pun dalam jemaat-jemaat lokal kita) sudah berusaha membebaskan orang-orang miskin di antara kita sendiri dari kekurangan mereka, sehingga pola hidup kita ini menjadi "kota di atas bukit" bagi dunia sekeliling kita?

Martin/Kemiskinan/hal. 7 II. Pembebasan OLEH kemiskinan Anda sekalian mungkin bertanya-tanya: "Lho, kok kemiskinan bisa membebaskan?" Saya yakin, anda semua tentu setuju bahwa kemiskinan itu memang membebaskan, kalau tidak, mengapa anda sekalian mau mengikuti pola hidup St. Fransiskus dari Assisi yang memeluk kemiskinan bagaikan saudara perempuannya sendiri? Saya kira hal ini tak perlu saya komentari panjang-panjang, Paulus mengatakan bahwa Yesus sendiri meski Ia kaya bersedia menjadi miskin demi cinta-Nya kepada kita, agar kita menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (2 Kor 8:9). Bukankah Yesus sendiri sudah berkata: "Berbahagialah kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah" (Luk 6:20). Hal-hal seperti ini tentu pernah anda pelajari di novisiat. Hanya saja masalahnya, apakah kita (secara pribadi maupun secara komuniter) sungguh-sungguh mengalami bahwa kemiskinan itu sungguhsungguh telah membebaskan kita? Ataukah, alih-alih dibebaskan, kita dalam biara justru malahan terbelenggu oleh hal-hal yang seharusnya kita tinggalkan karena kaul kemiskinan kita?

III. Pembebasan DEMI kemiskinan Mungkin ada yang bertanya-tanya, "Lha kok lucu, mosok tho kita perlu dibebaskan dulu supaya bisa memeluk kemiskinan?" Justru di situlah masalahnya. Kalau kita jujur, kita akan mengakui betapa sulitnya memeluk dan menghayati kemiskinan. Ada saja hambatanhambatan dari dalam diri kita sendiri atau pun dari luar diri kita yang membuat kita raguragu, tak berani, enggan, hidup miskin. Ada yang akan protes, "Lha, semua orang ogah jadi miskin, lha kita kok malah mau jadi miskin?" Tapi selama kita masih menghargai kemiskinan sebagai suatu bentuk penghayatan yang dapat menjadi kesaksian cinta Allah kepada umat manusia, maka kita akan selalu perlu dibebaskan dari segala hambatan untuk hidup miskin. Pemuda kaya yang begitu bersemangat untuk hidup sempurna, ternyata pergi dari Yesus dengan sedih karena banyak hartanya (Mk 10:22). Kunci bagi kesulitan itu terletak pada katakata Yesus, "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tapi bukan begitu bagi Allah. Segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah" (Mk 10:27). Pada akhirnya, hidup miskin dengan Yesus yang miskin sebagaimana dihayati oleh Santo Fransiskus Assisi memang suatu rahmat Ilahi. Masalahnya, relakah kita dibebaskan dari segala macam hambatan untuk menerima rahmat khusus itu?

Martin/Kemiskinan/hal. 8 Akhirul kata, perkenankan saya menutup uraian ini dengan mengutip ujaran Yesus, "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya" (Luk 9:58; "burung" menunjuk pada Kaisar Romawi yang berlambang 'elang'; "serigala" menunjuk pada Herodes, Luk 13:32).

Kepustakaan: N. Lohfink, "The Laws of Deuteronomy: A Utopian Project for a World without any Poor", Scripture Bulletin (January, 1996), hlm. 2-19. J.M. Prior, "Asas-asas Biblis Untuk Keadilan dan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan: Jawaban Profetis Kita", dalam G. Tisera dan G. Kedang, Berjuang Bersama Allah Menuju Kemerdekaan (Ende: Nusa Indah, 1995), hlm. 74-104.

(Seminar "Pembebasan Kemiskinan", Keluarga Besar Fransiskan, Yogyakarta, 1 Oktober 1997)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful