You are on page 1of 2296

Tiraikasih Website http://kangzusi.

com/

Diceritakan oleh OPA
DJVU : Kiriman Langsung Lavilla untuk Tiraikasih Website
(AXD002)
Di upload di http://ecersildejavu.wordpress.com/ Jilid 1-9
Ebook by Dewi KZ
Jilid 10-30 dilanjutkan keroyokan oleh :
Gun gun, Sumahan, Raharga di Tiraikasih Website
http://kangzusi.com/ http://dewikz.byethost22.com/

http://cerita-silat.co.cc/

http://ebook-dewikz.com

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jilid 1
Bab 1
PADA SUATU malam yang sunyi, bulan sabit memancarkan
sinarnya yang lemah dari balik gumpalan awan, angin malam
meniup kencang sehingga daun pohon tertiup rontok.
Sebuah kuil tua yang terletak di sebuah tempat sunyi
keadaannya terang benderang dengan sinar api lilin merah,
empat orang tua yang warna pakaiannya berlainan, duduk
bersila berpencaran di empat sudut dalam pendopo kuil itu.
Wajah empat orang tua itu, nampaknya sangat serius,
mereka duduk dengan tenang bagaikan patung yang tidak
bergerak dan tidak bersuara.
Angin malam membawa hembusan bau harum kembang
cempaka, juga menggoyangkan api lilin yang berada di atas
meja sembahyang, sehingga sinarnya sebentar nampak terang
sebentar nampak suram.
Dalam keadaan demikian, dalam sekejap, tengah pendopo
itu sudah tambah seorang tua berpakaian baju panjang
berwarna hijau dengan jenggotnya yang putih panjang
menutupi dadanya.
Ia mengawasi keadaan dalam pendopo itu sejenak, lalu
mengangkat tangan untuk memberi hormat seraya berkata,
“Saudara-saudara berempat tentunya sudah lama menunggu
kedatanganku.”
Tetapi empat orang tua itu masih tetap dalam keadaan
semula agaknya tidak mendengar ucapan orang tua
berjenggot putih itu.
Melihat keadaan demikian orang tua berjenggot putih itu
lalu berkata kepada dirinya sendiri, “Persoalan yang lalu sudah
menjadi lalu apakah saudara-saudara selama tiga puluh tahun
ini masih tidak dapat melupakan kejadian itu? Oleh karena
kesalahanku yang tidak disengaja, telah membuat kita lima

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bersaudara saling bermusuhan, meskipun belum sampai saling
bunuh, tetapi sudah seperti orang asing. Selama tiga puluh
tahun ini, aku merasa tidak enak, hampir setiap hari
memikirkan nasib kita berlima, tetapi karena saudara-saudara
tidak ketentuan tempat tinggalnya sehingga tidak mudah
dicari, dan setelah aku mengetahui jejak saudara-saudara, lalu
aku meninggalkan surat dan minta saudara-saudara
berkumpul disini, tetapi sungguh tidak kuduga saudarasaudara ternyata masih belum mau memahami kesulitanku
selama ini.”
Sekian lama ia berkata seorang diri, tetapi empat orang tua
yang duduk bersila itu masih tetap dalam keadaan tidak
bergerak.
Selagi ia hendak melanjutkan kata-katanya, sekonyongkonyong terdengar tindakan kaki orang berjalan, sebentar
nampak duabelas pemuda yang masing-masing membawa
senjata, masuk ke dalam ruangan pendopo dan kemudian
berdiri berbaris di ambang pintu.
Orang tua berjenggot putih itu nampak terperanjat, ia
mengawasi duabelas pemuda itu, ternyata semuanya nampak
sangat gagah, sehingga di wajahnya terkilas suatu senyuman,
kemudian ia berkata sendiri, “Anak-anak ini nampaknya sangat
gagah, mungkin mereka adalah murid-murid empat saudaraku
ini.”
Tetapi empat orang tua duduk bersila itu tiada satupun
yang memberikan jawaban.
Keduabelas pemuda itu meski semuanya berpakaian
ringkas, tetapi masing-masing berlainan warnanya, setiap tiga
orang sewarna pakaiannya, dan warna itu terbagi dengan
warna biru muda, kuning telur, putih dan lila, tepat
keadaannya dengan warna-warna pakaian yang dipakai oleh
empat orang tua yang duduk bersila itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang berjenggot putih itu meski mengharap empat
saudaranya itu ada yang mau membuka mulut, supaya ia
dapat menjelaskan duduk persoalannya, tetapi empat orang
itu ternyata tidak mau membuka mulut dan membiarkan orang
tua berjenggot putih itu se-akan2 mengoceh sendiri.
Sudah tentu orang tua berjenggot putih itu agak marah,
lalu berkata dengan suara keras, “Saudara-saudara sekalian,
kalian tidak mau memaafkan kesalahanku setidak-tidaknya
harus menerangkan apa yang kalian inginkan, dengan cara
kalian seperti ini, sesungguhnya membuat aku sulit untuk
mengendalikan perasaan.”
Tetapi empat orang tua itu masih tetap tidak bergerak.
Timbullah rasa curiga dalam hatinya orang tua berjenggot
putih itu, dengan tindakan perlahan ia berjalan menghampiri
orang tua berpakaian warna biru muda yang duduk disudut
kiri.
Sekonyong-konyong terdengar suara “tahan!” dan tiga
pemuda berpakaian warna biru muda melompat keluar
menghadang di depan orang tua berjenggot putih seraya
berkata, “Kalau Locianpwe ingin berbicara, mohon beritahukan
kepada kami, karena suhu masih bersemedi tidaklah pantas
kalau diganggu.”
Orang tua berjenggot putih itu nampak tidak senang, tetapi
sebentar sudah pulih kembali dengan sikapnya yang tenang
dan ramah, katanya sambil tertawa, “Tahukah kalian siapa aku
ini?”
Tiga pemuda itu menjawab dengan berbareng, “Tidak
perduli siapa, semuanya tidak boleh mengganggu suhu yang
sedang bersemedi.”
“Benarkah Suhu kalian sedang bersemedi?”
Seorang dari tiga pemuda itu berpaling dan memandang
Suhunya sejenak baru menjawab, “Suhu kalau bersemedi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kadang-kadang sampai satu hari satu malam, tidak makan
tidak minum dan tidak bergerak, sekarang masih belum cukup
satu malam, tidak ada yang perlu diherankan, bukan?”
Orang tua berjenggot putih itu menatap wajah orang tua
berbaju biru muda itu sebentar, lalu membalikkan badannya
dengan tindakan lambat-lambat berjalan menuju ke lain sudut
menghampiri seorang tua lain yang mengenakan pakaian
warna kuning.
Sekali ini tiga orang pemuda berpakaian warna kuning telur
yang merintanginya.
Orang tua berjenggot putih itu menarik napas perlahan,
menggelengkan kepala kembali berjalan ke arah itu orang tua
yang mengenakan pakaian warna lila.
Disini kembali mendapat rintangan dari tiga pemuda yang
berpakaian warna lila.
Nyatalah sudah bahwa empat orang tua yang duduk bersila
di empat sudut itu, masing-masing membawa tiga orang
murid yang berpakaian sama warnanya dengan pakaiannya
sendiri. Orang tua berjenggot putih itu kemana saja hendak
berjalan selalu dirintangi oleh tiga pemuda.
Ia agaknya tidak suka meladeni pemuda itu, dengan
tindakan lambat-lambat ia balik ke tengah-tengah pendopo
dengan sinar mata tajam menyapu kemuka duabelas pemuda
itu kemudian bertanya, “Apakah kalian semuanya dapat
memastikan bahwa Suhu kalian sedang bersemedi, dan tidak
terjadi sesuatu di luar dugaan kalian?”
Pertanyaan
secara
mendadak
ini,
sesungguhnya
mengejutkan duabelas pemuda tersebut sehingga masingmasing, serentak mengawasi keempat Suhu mereka.
Tetapi empat orang tua itu masih tetap dengan keadaan
semula, sedikitpun tidak menunjukkan tanda-tanda aneh,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

maka lalu menjawab bersama, “Benar memang Suhu sedang
bersemedi……..”
Orang tua berjenggot putih itu berkata sambil
menganggukkan kepala, “Mudah-mudahan apa yang kalian
katakan itu tidak salah……..” dan ia sendiri lalu juga duduk
bersila dan pejamkan matanya.
Duabelas pemuda itu, masing-masing mundur dan duduk di
belakang Suhu masing-masing, suasana dalam ruangan itu
kembali menjadi sunyi.
Angin malam dari luar menghembuskan bau bunga
cempaka yang harum, dan membuat api lilin yang sebentar
menyala sebentar suram.
Dalam sekejap kemudian, terdengar suara yang halus
merdu samar-samar di dalam ruangan pendopo itu.
Suara itu aneh sekali, halus merdu sebentar nyata sebentar
lenyap agaknya berputaran merayu di samping telinga, tetapi
kalau didengar dengan seksama, lalu melenyap dan tidak
terdengar pula. Duabelas pemuda itu semuanya mendengar
suara tersebut, akan tetapi tiada satupun yang berani
membuka mulut, sebab mereka merasa sangsi apakah orang
lain juga mendengar suara itu, karena masing-masing
khawatir sedang melamun, sehingga kalau ditanyakan akan
membuat tertawaan orang, maka meskipun duabelas pemuda
itu semua mendengar, tetapi semua berlagak seperti tidak ada
kejadian apa-apa.
Suara aneh itu sekonyong-konyong berubah menjadi suara
berat, dan duabelas pemuda itu dengan berbareng timbul
semacam perasaan aneh, mereka seolah-olah didorong ke
dalam jurang yang dalam tidak berdaya dan tidak berani
bersuara hanya pejamkan mata masing-masing dalam
keadaan putus harapan……..
Tatkala duabelas pemuda itu sadar kembali, hari sudah
terang api lilin juga sudah padam. Orang tua berjenggot putih

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang duduk di tengah-tengah pendopo ternyata sudah berlalu.
Mereka saling memandang sebentar, masing-masing lalu
menatap wajah Suhunya. Empat orang tua yang duduk di
empat sudut masih tetap dalam keadaan tidak berobah.
Mungkin dikarenakan hendak menjaga nama baik
perguruan masing-masing, duabelas pemuda itu meski satu
sama lain tidak saling bermusuhan, tetapi di antara mereka
tidak satupun yang membuka suara lebih dahulu.
Terhadap perginya orang tua berjenggot putih secara
mendadak itu dalam hati mereka semua timbul perasaan
khawatir, sehingga sinar mata mereka ditujukan ke tempat
bekas duduk orang tua jenggot putih itu, agaknya ingin dari
tempat duduk itu, dapat menemukan tanda-tanda yang
mencurigakan……..
Benar-benar merupakan suatu gejala yang aneh, duabelas
pemuda itu walaupun merasakan gelagat tidak baik, tetapi
tidak satupun yang berani memanggil Suhunya hingga satu
sama lain saling berpandangan dengan hati cemas.
Kiranya duabelas pemuda itu sejak mengikuti Suhunya
masing-masing masuk ke ruangan pendopo kuil tua itu, empat
orang tua itu masing-masing lalu memilih tempat di empat
sudut untuk bersemedi. satu sama lain tidak saling bicara dan
setelah bersemedi masing-masing pejamkan mata belum
pernah dibukanya lagi.
Kejadian serupa itu memang jarang terdengar, duabelas
pemuda itu meski semuanya mengikuti Suhu masing-masing,
tetapi belum pernah mengalami kejadian serupa itu, maka
mereka tidak tahu bagaimana harus berbuat, mereka hanya
khawatirkan bahwa empat orang tua itu sedang mengadu
kekuatan ilmu masing-masing, mereka tidak satu yang berani
mengganggu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Satu hari kembali berlalu dengan cepat, empat orang tua
yang berlainan pakaian itu masih tetap duduk bersila di
tempat masing-masing, tak satupun pernah bergerak.
Duabelas pemuda itu sangat gelisah, mereka berjalan
mondar-mandir di ruangan pendopo itu, tapi tidak berani
mengganggu Suhunya.
Seorang pemuda berbaju putih tiba-tiba berkata dengan
suara perlahan, “Di dalam rimba persilatan belum pernah
terdengar ada orang mengadu ilmu secara duduk bersemedi
seperti ini. Sudah satu hari Suhu tidak makan dan tidak minum
entah apa gunanya duduk semedi demikian itu?”
Seorang pemuda yang usianya lebih tua menjawab, “Suhu
sering duduk bersemedi sambil pejamkan mata kadangkadang sampai beberapa hari berapa malam dan tidak makan
dan tidak minum, kalau baru satu hari satu malam saja, mana
bisa mengganggunya.”
Ucapan itu agak nyaring, ia memang sengaja supaya dapat
didengar oleh empat orang tua itu.
Tapi heran empat orang tua itu ternyata seperti tidak
mendengar hingga tidak menunjukkan reaksi apa-apa.
Dengan tidak terasa hari sudah berganti malam lagi,
keadaan dalam ruangan pendopo itu mulai gelap.
Duabelas pemuda itu menjaga di samping masing-masing
Suhunya, meliwati hati itu dengan tanpa makan dan minum
juga, untunglah kuil tua itu letaknya di suatu tempat yang
sunyi dan terpencil sekali, jarang orang datang, maka juga
tidak ada orang yang mengganggu mereka.
Malam mulai gelap rembulan mulai menampakkan diri,
duabelas pemuda itu perlahan-lahan, mulai merasakan gelagat
tidak beres hingga hati mereka masing-masing menjadi
gelisah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiba-tiba terdengar suara seorang pemuda berpakaian
warna biru muda berkata, “Jikalau kita terus menunggu secara
begini, entah harus menunggu sampai kapan? Menurut
pikiranku yang kerdil ini sebaiknya kita bangunkan Suhu
secara bersama……..
Seorang pemuda berpakaian warna lila lalu berkata,
“Ucapanmu itu benar, sekalipun kita mempunyai kesabaran
hati untuk menunggu terus tetapi kita khawatir akibatnya,
dengan kepandaian yang dipunyai oleh Suhu, walaupun
sedang bersemedi tetapi telinganya dan pendengarannya
masih tetap tajam sekali, sangat mustahil pembicaraan kita
yang demikian keras tidak dapat didengarnya?”
Duabelas orang itu mengeluarkan pendapat masing-masing
barulah bersepakat untuk membangunkan suhu mereka.
Selanjutnya mereka itu masing-masing menghampiri
Suhunya masing-masing, sambil berlutut di hadapan Suhu
masing-masing mereka memanggil, “Suhu……..”
Empat orang tua yang bersemedi itu masih tetap tidak
bergerak, seolah-olah tidak dapat mendengar suara panggilan
muridnya.
Duabelas pemuda itu nampak semakin gelisah, pandangan
mata mereka ditujukan kepada masing-masing Suhunya.
Namun empat orang tua itu sikapnya masih biasa tidak
menunjukkan tanda aneh hanya mata mereka yang
dipejamkan, itu memang suatu tanda bagi orang berilmu
tinggi yang sedang bersemedi, duabelas pemuda itu masingmasing mempunyai keyakinan yang kuat bahwa kepandaian
Suhu mereka sangat tinggi, tidak mungkin bisa terjadi hal-hal
di luar dugaan semasa bersemedi……..
Mereka semua telah menyaksikan Suhu mereka setelah
memasuki ruangan pendopo itu lalu duduk bersemedi, kecuali
itu orang tua berjenggot putih berpakaian hijau, sudah tidak
ada orang lagi yang masuk ke dalam kuil itu, andaikata orang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang berkepandaian tinggi sekali bisa terjadi apa-apa selagi
dalam keadaan semedi, itulah adalah suatu kejadian yang
sangat mustahil dan rasanya juga tidak mungkin. Satusatunya hal yang mencurigakan, ialah empat orang tua itu
sejak awal sampai akhir belum pernah membuka
matanya……..
Duabelas pemuda itu agaknya belum pernah mengalami
kejadian aneh serupa itu, hingga mereka semua merasa
bingung, dengan pikiran gelisah memandang masing-masing
Suhunya……..
Tiba-tiba terdengar suara seorang pemuda berpakaian
kuning telur berseru, “Supo”
Air matanya mengalir turun tanpa terkendali.
Yang lainnya telah dikejutkan oleh kejadian yang mendadak
itu, dengan hati berdebar-debar berpaling ke arahnya.
Seorang pemuda lain yang juga berpakaian kuning telur
menanya dengan suara perlahan, “Ciu Sute, apa kau sudah
gila?”
Pemuda She Ciu itu mengusap air mata di kedua pipinya
dan berkata, “Supo…….. telah menutup mata……..”
Dengan keluarnya ucapan itu, suasana menjadi tegang.
Pemuda baju kuning yang usianya agak tua itu lalu berkata
dengan suara gusar, “Suhu sedang duduk bersemedi,
bagaimana dengan tanpa sebab bisa meninggal dunia kau
mengigau.”
Namun demikian dalam hatinya juga agak tergoncang
kecurigaannya makin besar, mungkin karena mengingat nama
besar Suhunya di dalam rimba persilatan, hingga ia tidak
berani memeriksa dengan teliti, untuk membuktikan ucapan
suteenya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pemuda She Ciu itu lalu berkata dengan perasaan duka,
“Kematian supo, memang sebenar-benarnya, karena kedua
tangannya sudah kaku dan dingin.”
Pemuda yang usianya agak tua itu perlahan-lahan meraba
tangan suponya, tetapi selagi hendak menyentuh tangan
orang tua itu, sekonyong-konyong, ditarik kembali dan
berkata, “Kepandaiannya sungguh tinggi sekali, bagaimana
bisa mati mendadak……..?”
Pemuda itu yakin benar kepandaian Suhunya, meskipun ia
tahu bahwa ucapan sutenya tidak bohong, tetapi ia tidak
berani mengakuinya.
Pemuda She Ciu itu ketika melihat Suhengnya diam lalu
berkata lagi, “Aku lihat karena supo duduk tanpa bergerak
hatiku merasa curiga, diam aku ulur tangan meraba kedua
tangan supo, baru tahu kalau ia sudah meninggal sekian lama,
kedua tangannya itu sudah kaku dan dingin.
Sebelas pemuda lain lalu perdengarkan suara jeritan,
semua tangan diulurkan untuk meraba tangan Suhu masingmasing.
Empat orang tua itu, sikap duduknya semua serupa dalam
keadaan bersila dan merangkapkan kedua tangan ke depan
dadanya.
Sebelas pemuda itu sewaktu tangan mereka hendak
menyentuh tangan orang tua, dengan serentak berhenti dan
saling berpandangan, lalu perlahan-lahan menarik kembali
tangan mereka……..
Sebelas pemuda itu agaknya mempunyai perasaan serupa,
semua takut bahwa perkataan yang diucapkan oleh pemuda
she Ciu itu adalah benar, hingga kematian Suhu mereka
menjadi suatu kenyataan……..
Pada saat itu di luar kuil cuaca sangat gelap hingga
keadaan ruangan dalam pendopo itu semakin gelap.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kesunyian
dalam
kegelapan,
nampaknya
sangat
menyeramkan hanya suara napas saja yang terdengar dalam
suasana gelap itu.
Entah siapa, sekonyong-konyong terdengar suara jeritan
nyaring, “Supo!” lalu menangis dengan suar keras.
Dalam suasana gelap itu agaknya menambah keberanian
beberapa orang, dengan serentak mengulurkan lagi tangannya
untuk meraba tangan Suhu masing-masing.
Setelah kematian suhu masing-masing itu sudah menjadi
kenyataan, terdengarlah suara tangisan ramai, sebab apa
yang dikatakan oleh pemuda She Ciu itu ternyata tidak salah,
empat orang tua itu sudah mati dan mereka sudah kaku dan
dingin.
Di luar angin malam meniup, membawa harum yang
disiarkan oleh bunga cempaka, samar-samar terdengar pula
suara halus merdu di dalam suasana yang menyedihkan itu.
Suara itu meskipun sangat lemah dan sebentar terdengar
sebentar lenyap, tetapi setiap orang dapat mendengarnya.
Entah siapa dari antara duabelas pemuda itu yang berkata
secara sekonyong-konyong, “Dengar! Suara apakah itu?”
Seorang lain menyambung, “Benar kemarin aku juga sudah
mendengar suara itu.”
Karena dalam ruangan itu keadaan gelap gulita, hingga
cuma dengar suaranya, tetapi tidak kelihatan orangnya yang
berbicara.
Terdengar pula suara seorang lain yang berkata, “Suara itu
seperti suara seruling……..”
Suara tangisan lantas berhenti lalu terdengar suara orang
yang membantah, “Mana mungkin itu irama seruling, sudah
sepuluh tahun lebih aku meniup seruling, aku yakin dalam hal

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

itu sudah merupakan suatu ahli bagaimana kita tidak dapat
membedakan suara seruling atau bukan.”
Tiba-tiba, terdengar suara nyaring dan agak kasar, “Suara
itu meskipun halus dan merdu tetapi membikin orang yang
mendengarkannya ingin tidur.”
Perkataan orang itu, telah mengingatkan semua orang
pada kejadian semalam, yang setelah mendengarkan suara
aneh itu, lalu mempengaruhi perasaan mereka sehingga
dengan tanpa terasa telah tertidur semuanya sampaipun
berlalunya orang tua berjenggot putih baju hijau itu, tidak
seorang pun yang tahu.
Saat itu suara yang merdu halus itu mendadak berubah
menjadi suara tinggi, seolah-olah suara tambur dalam medan
pertempuran, hingga duabelas pemuda itu dengan serentak
seperti berada di dalam kurungan musuh……..
Untung suara itu dengan cepat lantas lenyap.
Entah siapa mendadak berdiri dan mengeluarkan suara
bentakan keras dan kemudian lari keluar.
Saat itu keadaan di luar nampak remang-remang, sehingga
samar-samar dapat dilihat bahwa orang yang lari keluar itu
ada mengenakan pakaian warna putih.
Terdengar suara seorang yang menegur dengan suara yang
keras:
“Ong sute kau hendak kemana? Lekas balik……..”
Tetapi orang yang lari keluar itu bahkan semakin cepat,
agaknya tidak menghiraukan panggilan suhengnya, sehingga
sebentar saja sudah menghilang di luar kuil.
Terdengar pula lain orang berbicara dengan suara agak
gusar, “Supo baru saja menutup mata, dia sudah tidak
mendengar kata suhengnya, biarlah aku kejar ia dan
membawanya pulang.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang meski berbicara dengan sutenya tetapi menarik
perhatian semua orang yang ada disitu.
Dalam keadaan demikian, semua pemuda itu sebetulnya
boleh mengadakan perundingan untuk menghadapi orang
yang hendak kabur itu, tetapi oleh karena sejak mereka
mengikuti empat orang tua masuk ke dalam kuil tua itu satu
sama lain tak pernah mengadakan pembicaraan, sehingga di
antara murid-murid itu seolah-olah terpisah satu sama lain,
mereka agaknya beranggapan siapa yang membuka mulut
lebih dahulu akan menodai nama baik Suhunya.
Dengan mendadak dalam ruangan itu timbul sinar terang,
orang tua berjenggot putih yang tadi malam telah berlalu kini
nampak muncul kembali di dalam ruangan itu.
Kedatangan orang tua yang tanpa bersuara itu, membuat
semua orang yang ada disitu tidak tahu sejak kapan ia masuk
ke dalam ruangan itu.
Sinar api lilin menyinari wajah dan jenggot orang tua itu,
sebelas pemuda itu dengan serentak berdiri dan mengurung
orang tua di-tengah2 mereka.
Dengan sinar mata yang tajam orang itu menatap muka
satu persatu sebelas pemuda yang mengurung dirinya, lantas
menanya dengan suara keren, “Masih ada seorang lagi
kemana ?”
Dua pemuda baju putih berkata berbareng dengan suara
gusar, “Kau siapa? Mengapa berani……..”
Orang tua berjenggot putih itu nampaknya hendak marah,
tetapi setelah berpikir sebentar ia nampak sabar kembali lalu
berkata, “Kalau aku tidak beritahukan pada kalian, kalian
tentunya juga tidak tahu aku ini siapa? Apakah kalian pernah
mendengar suhu kalian menyebutkan nama Yap It Peng?”
Sebelas pemuda itu semua terkejut, lalu menjawab dengan
berbarang, “Apa kau adalah toasupek?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan serentak sebelas pemuda itu berlutut di tanah.
Sepasang mata Yap It Peng berkaca-kaca, lalu berkata
sambil menghela napas, “Empat saudaraku ternyata masih
belum melupakanku……..”
Ia mengucapkan perasaan demikian entah merasa gembira
atau berduka hanya air matanya yang mengalir deras
membasahi kedua pipinya.
Dua pemuda berbaju putih berkata berbareng, “Suhu sering
menyebut nama supek. Tidak disangka hari ini kita bertemu
disini, sayang kedatangan supek sudah terlambat, karena
Suhu telah menutup mata……..”
Sekonyong-konyong mereka ingat bahwa orang itu tadi
malam juga berada di dalam ruangan itu maka tidak
melanjutkan kata-katanya.
Yap It Peng menarik napas dan berkata, “Jikalau aku tidak
mengatur lebih dahulu, empat saudaraku ini mungkin benarbenar sudah mengantarkan jiwa di tangan orang itu.”
Sebelas pemuda itu saling berpandangan dengan perasaan
heran, mereka bertanya dengan serentak, “Apa? Apakah
supo……..”
Yap It Peng berkata sambil menganggukkan kepala,
“Mereka semua tidak mati hanya pada saat ini masih belum
boleh sadar, musuh kita itu terlalu licin sekali, jika ia tahu
Suhu kalian belum mati, pasti akan balik kembali, musuh itu
kepandaiannya tinggi sekali, tangannya juga kejam dan ganas,
kita tidak berdaya terhadapnya, maka bagi kita cuma……..”
Saat itu tiba-tiba terdengar suara desiran angin, dari luar
kuil melompat masuk seorang pemuda tampan berpakaian
warna hitam, dibawah ketiak tangan kanannya mengempit
seorang muda berpakaian ringkas berwarna putih, tiba di
dalam ruangan lalu memberi hormat kepada orang tua

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berjenggot putih seraya berkata, “Teece sudah totok jalan
darahnya, dan menangkapnya hidup-hidup.”
Yap It Peng mengawasi pemuda berbaju putih sebentar,
lalu berkata, “Bagus, kau letakkan saja dia, jaga pintu kuil,
tidak peduli siapa saja asal hendak keluar dari sini, bunuh
saja!”
Pemuda baju hitam itu menyahut baik, lalu menghunus
pedang pusakanya dan berdiri menjaga di depan pintu.
Yap It Peng kembali mengawasi sebelas pemuda itu
kemudian berkata, “Diantara kalian, siapa yang berguru
dengan sudah membawa kepandaian silahkan maju di
depanku.”
Ia bertanya berulang-ulang, tetapi tidak seorang yang
menjawab.
Dari dalam sakunya ia mengeluarkan sejilid kitab kecil, lalu
berkata lagi sambil tertawa:
“Dalam soal ini sudah lama aku mengadakan penyelidikan,
apa yang kalian telah lakukan aku telah catat dalam kitab ini,
maka janganlah kalian berpikir hendak melarikan diri.”
Ia lalu membuka lembaran kitab kecil itu diperiksanya
dengan teliti.
Tiba-tiba seorang pemuda berpakaian warna lila berkata,
“Jangan dengar perkataan tidak keruan orang ini, sudah
terang dialah sendiri yang menurunkan tangan jahat
membinasakan Suhu kita, dan sekarang telah berlagak
demikian, tentang kematian Suhu, kita semua sudah
menyaksikan sendiri cobalah pikir orang yang sudah mati
mana bisa hidup kembali?”
Ucapan orang itu seketika menimbulkan rasa curiga semua
orang, sepuluh pemuda dengan serentak mufakat pendapat
demikian, sehingga dalam ruangan itu keadaan menjadi riuh.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan tanpa pedulikan reaksi orang banyak itu Yap It
Peng perintahkan pemuda baju hitam yang menjaga di depan
pintu, ia berkata, “Tangkap dulu orang yang coba membakar
emosi orang banyak itu!”
Pemuda baju hitam itu menyahut baik, segera menerjang
ke dalam rombongan sepuluh pemuda itu dengan tangan yang
menyerang pemuda berbaju lila yang membuka suara tadi.
Tindakan pemuda baju hitam itu seketika menimbulkan
amarah sepuluh pemuda lainnya dengan serentak mereka
melancarkan serangan bersama kepadanya.
Pemuda baju hitam itu mengeluarkan suara tertawa dingin,
tangan kanan yang tadi digunakan untuk menyerang, dengan
kecepatan bagaikan kilat telah menyambar pergelangan
tangan kiri pemuda berbaju lila itu, kemudian ditariknya
keluar.
Karena gerakannya cepat dan hebat itu, sehingga orangorang yang mencoba merintanginya menyingkir tidak satupun
yang berani menghalangi maksudnya.
Yap It Peng dengan sinar mata tajam mengawasi mereka
kemudian mengeluarkan suara bentakan keras, “Tahan.”
Semua pemuda itu berhenti bergerak dan berdiri di tempat
masing-masing.
Yap It Peng memandang pemuda berbaju lila yang telah
tertangkap itu, lalu berkata dengan suara perlahan, “Kiejie,
totok dulu jalan darahnya.”
Pemuda berbaju hitam itu lalu melakukan apa yang
diperintahkan oleh Suhunya.
Yap It Peng berkata pula sambil mengelus jenggotnya yang
putih, “Dalam waktu tidak lama lagi, di antara kalian ada
empat orang yang akan binasa di dalam ruangan……..” Ia lalu
berpaling mengawasi dua pemuda yang sudah tertawan itu
kemudian berkata pula dengan suara keras, “Kecuali mereka

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berdua, masih ada dua orang lagi. Lekas maju ke depan, aku
tidak akan menyusahkan kalian, tetapi jika kalian mencoba
main gila di hadapanku, jangan sesalkan kalau aku bertindak
kejam.”
Sepuluh pemuda itu saling berpandangan, mereka agaknya
tidak mengerti maksud ucapan orang tua itu.
Salah seorang di antaranya, sekonyong-konyong maju ke
depan lalu menghunus pedang panjangnya dan berkata
dengan suara keras sambil menunjuk orang tua itu, “Apakah
artinya ini? Kau sengaja dengan sikapmu yang aneh ini,
apakah maksudmu yang sebetulnya?”
Yap It Peng dengan tenang mengawasi pemuda itu
sebentar, lalu berkata, “Apakah kau mencurigaiku?”
Ketika pemuda itu hendak menjawab, dari belakang meja
patung sekonyong-konyong terdengar orang tertawa dan
berkata, “Yap It Peng, kau sendiri juga terjebak olehku,
sehingga tidak bisa hidup lagi dalam waktu duabelas jam.”
Yap It Peng berpaling. Segera dapat lihat seorang tua
berbadan tinggi kurus, mengenakan baju putih, dengan
tangan membawa tongkat bambu perlahan-lahan keluar dari
tempat persembunyiannya.
Mungkin tadi orang tua itu bersembunyi di belakang meja
sembahyang, dan kini telah muncul secara tiba-tiba.
Dengan wajah berobah Yap It Peng berkata, “Ang Thian
Gie…….. apakah ucapanmu masih boleh dipercaya?”
Orang tua kurus kering itu menjawab sambil tertawa,
“Sepatah ucapanku tidak boleh dipercaya?”
“Kalau begitu mengapa pula kau menjebakku?”
“Aku hanya sanggup membantumu supaya mereka
berempat itu tidak mati, tetapi toch tidak pernah menyanggupi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terhadap dirimu sendiri bahwa mereka tetap hidup, betul
tidak?”
Yap It Peng berpaling dan mengawasi pemuda berbaju
hitam itu sebentar, berkata pula dengan nada suara dingin,
“Apakah muridku ini, juga kemasukan racun?”
Ang Thian Gie yang nampak bergerak bibirnya agaknya
ingin tertawa tetapi ia tidak menunjukkan ketawanya, lalu
berkata, “Semua orang yang berada disini semuanya sudah
kemasukan racun.”
“Dan racun yang bersarang di dalam badanku kapankah
bekerjanya?”
Ang Thian Gie menengadahkan kepala melongok keluar
untuk melihat keadaan cuaca, keniudian berkata, “Masih
terlalu pagi, besok kira-kira jam satu tengah hari.”
“Kalau begitu aku masih dapat hidup lima jam lagi?”
“Tetapi jika kau suka merobah maksudmu, sedikitnya masih
dapat hidup tiga tahun lagi.”
Yap It Peng diam, nampaknya sedang berpikir keras.
Pemuda baju hitam itu mendadak mengeluarkan suara
bentakan keras, lalu menerjang sambil merentang pedangnya.
Ang Thian Gie memukulkan tongkatnya ke tanah, ia
membentak, “Diam, dengan kepandaianmu yang tidak berarti
ini, bukan tandinganku.”
Yap It Peng berkata sambil menghalangi majunya pemuda
itu, “Kie-jie jangan bertindak gegabah, lekas mundur.”
Ang Thian Gie mengawasi orang-orang yang berada di
dalam kuil itu, lalu berkata dengan suara dingin, “Orang-orang
yang berada disini, semua sudah terluka oleh jarum
beracunku, dalam waktu duabelas jam semua akan mati,
dalam dunia ini tidak semacam obatpun yang dapat menolong
jiwa kalian, satu-satunya kesempatan hidup bagi kalian,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

adalah makan obat pel buatanku sendiri, setiap tiga hari
makan satu butir, jika terlambat, racunnya akan bekerja
sehingga sukar ditolong lagi.”
Sebelas pemuda itu menjadi bingung oleh rangkaian
kejadian aneh itu, satu sama lain saling memandang, tidak
tahu apa yang harus diperbuat.
Seorang pemuda berbaju kuning telur yang berdiri di sudut
paling kiri tiba-tiba berkata, “Harap Locianpwee menghidupkan
dulu Suhu kita, nanti bicara soal yang lain lagi.”
Ang Thian Gie berkata sambil geleng2kan kepala, “Mereka
berempat sudah kuberi makan obat untuk dimakan, tiga hari
kemudian mereka bisa sadar lagi tanpa pertolongan orang.”
Ia berhenti sejenak, tiba-tiba berkata pula dengan suara
nyaring, “Apakah kalian ingin mati di dalam kuil ini ataukah
masih ingin hidup?”
Ia bertanya berulang-ulang, tetapi tidak seorangpun yang
menjawab. Kiranya orang-orang yang ada disitu, kecuali Yap
It Peng yang mengetahui siapa orang tua itu, yang lain tidak
tahu siapa orang tua kurus kering itu, maka perkataannya
tidak ada yang mau percaya.
Ang Thian Gie agaknya sudah merasa bahwa orang-orang
itu tidak percaya padanya, maka lalu berkata pula sambil
tertawa dingin, “Aku seumur hidupku belum pernah
membohong, jikalau kalian tidak percaya silakan memeriksa
lengan tangan kiri kalian nanti, kalian pasti tahu sendiri bahwa
ucapanku ini bukanlah semacam gertakan saja.”
Sepuluh pemuda itu menurut dan masing-masing
menggulung lengan bajunya, benar saja, di lengan masingmasing terdapat tanda titik hitam sebesar biji kacang, seketika
mereka terperanjat, karena masing-masing merasa heran
entah kapan mereka terkena jarum beracun itu, dan yang
mengherankan ialah tanpa menimbulkan rasa sakit sama
sekali.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ang Thian Gie dengan sikap tenang berkata pula, “Kalian
berada di dalam kuil yang sunyi ini sudah melalui waktu dua
hari dan satu malam mungkin dalam pengalaman hidup kalian
ini, telah merasa bahwa pengalaman yang kalian alami selama
tiga hari ini sangatlah aneh sebetulnya tokoh-tokoh kuat dari
golongan hitam dan putih selama dua hari dan satu malam ini,
sudah melakukan suatu pertarungan mengadu kecerdasan
otak dan kekuatan tenaga, yang jarang ada dalam sejarah
rimba persilatan, bahkan sudah tidak sedikit dari mereka yang
mundur dalam keadaan terluka……..”
Berbicara sampai disitu api lilin yang berada di tangan Yap
It Peng telah padam.
Dalam kegelapan itu entah siapa yang bertanya dengan
suara nyaring, “Maksud dari perkataan Locianpwee ini, kami
tidak mengerti, bolehkah kiranya Locianpwee memberitahukan
sebab-sebabnya kepada kamu?”
Suasana dalam ruangan itu untuk sesaat nampak sunyi,
tidak berapa lama baru terdengar pula suara yang keras
bertanya, “Mengenai pertempuran mengadu otak dan
mengadu tenaga dari tokoh2 golongan hitam dan putih
apakah hubungannya dengan Suhu kita yang mengadakan
pertemuan dalam kuil tua ini……..”
Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa besar, yang
memotong pembicaraan orang itu tadi lalu terdengar katakatanya, “Yap It Peng, kau dengan sembarangan telah
menggunakan kekuatan tenaga murnimu, ini berarti akan
membuat racun yang mengeram dalam badanmu bekerja lebih
cepat dari pada waktunya, lekaslah duduk dengan tenang dan
mengatur pernapasan, jikalau kau hendak berkeras kepala,
racun itu barang kali akan bekerja dengan segera.”
Saat itu keadaan tiba-tiba menjadi terang kembali, Ang
Thian Gie dengan api obor ditangannya, berjalan menuju
kemeja sembahyang, menyalakan sebuah lilin besar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Keadaan dalam ruangan kuil itu kini menjadi terang
benderang, sementara itu, orang tua berjenggot putih itu
nampak duduk bersila ditanah, dengan wajah seperti orang
menahan rasa sakit, matanya memandang kepada Ang Thian
Gie dan berkata sambil tertawa dingin, “Jika aku Yap It Peng
belum terluka terkena racun, tidak nanti akan kalah
ditanganmu.”
Ang Thian Gie tertawa terbahak-bahak dan berkata,
“Sahabat-sahabat dalam rimba persilatan, siapakah yang tidak
tahu bahwa aku Ang Thian Gie pandai menggunakan racun?”
-odwoBab 2
YAP IT PENG tidak berkata lagi, ia memejamkan kedua
matanya untuk mengatur pernapasannya.
Ternyata dua orang tua itu tadi selama keadaan gelap,
diam-diam sudah mengadu kekuatan tenaga dalam sampai
tiga jurus, oleh karena luka dalam Yap It Peng masih belum
sembuh, lagi pula badannya terkena jarum beracun, maka
tidak dapat menahan lagi, dan akhirnya kalah ditangan
lawannya.
Pemuda berbaju hitam itu, ketika menyaksikan keadaan
Suhunya, dalam hati merasa marah, dengan tanpa
menghiraukan jarum beracun di badannya sendiri, ia sudah
melompat dan menikam dengan pedangnya ke arah Ang Thian
Gie.
Ang Thian Gie mengangkat tongkat bambunya untuk
menangkis serangan tersebut, kemudian berkata sambil
tertawa dingin, “Untuk sementara Suhumu tidak akan mati,
hentikanlah gerakanmu, kalau kau berani berlaku kurangajar
lagi terhadapku, jangan sesalkan kalau aku nanti bertindak
kejam.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Yap It Peng sekonyong-konyong membuka matanya dan
membuka suaranya, “Kie-jie, kau tidak mampu melawan dia.
Lekas mundur.”
Pemuda baju hitam itu menghela napas panjang, ia
menarik kembali pedangnya dan mundur kesamping.
Dengan sinar mata tajam Ang Thian Gie mengawasi
keadaan disitu sebentar, kemudian berkata, “Aku bekerja
selamanya suka cepat dan tegas, sekarang apakah kalian suka
kutolong atau tidak terserah kepada kalian sendiri aku tidak
akan memaksa…….. cuma, aku harus menjelaskan lebih
dahulu, jarum beracun itu kecuali sifat-sifat racunnya yang
keras sekali, bentuknya jarumnya juga halus, setelah masuk
ke dalam badan orang, dalam waktu enam jam, kalau jarum
itu tidak dikeluarkan ia terus akan menyusup ke dalam melalui
mengalirnya darah dan terus masuk ke dalam jantung.
Meskipun racun di dalam badan kalian itu besok malam baru
bekerja, tetapi kalau kalian hendak melindungi jiwa kalian
sendiri tidak menunggu lagi sampai besok.”
Sehabis berkata demikian ia berjalan perlahan keluar kuil.
Yap It Peng tiba-tiba berseru, “Ang Thian Gie, balik! Marilah
kita berunding lagi.”
Ang Thian Gie bersenyum, ia balik dan berkata, “Sekarang
ini bukan waktunya untuk berlagak dan berlaku keras kepala,
saudara Yap harus lekas mengambil keputusan, jikalau aku
nanti benar-benar pergi dan tidak mau ambil perduli, bukan
saja kalian akan mati semua karena bekerjanya racun itu, juga
empat saudara angkatmu itu, karena tidak ada orang yang
melindungi tidak akan hidup lagi.”
Yap It Peng berkata, “Mereka berempat meskipun sudah
mengangkat saudara denganku, tetapi antara kita sudah tiga
puluh tahun lamanya tidak pernah bertemu dan berkumpul
maka aku juga tidak berani mengambil keputusan bagi mereka
untuk sekarang, hanya satu jalan ialah kau mengeluarkan dulu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jarum yang mengeram dalam badan duabelas anak muridnya
itu, lalu sadarkan empat saudara angkatku itu, kemudian
berunding dengan mereka, tidak peduli mereka akan terima
baik atau tidak, tetap aku akan menjamin, tidak akan
menyusahkannya.”
Ang Thian Gie nampak berpikir, matanya menyapu semua
orang yang berada di tempat itu kemudian berkata sambil
tertawa, “Jikalau aku tidak menerima baik permintaanmu
barangkali masih ada orang yang akan menganggapku hanya
main gila dan menggertak saja.”
Yap It Peng menengadahkan kepala melongok keadaan
cuaca di luar kuil, katanya pula, “Waktu sudah tidak pagi lagi
jikalau kau menerima baik permintaanku ini seharusnya segera
bertindak.”
Ang Thian Gie menganggukkan kepala, ia berjalan ke
depan meja sembahyang lalu berkata, “Siapa yang ingin
kuambil jarumnya lebih dulu?”
Pemuda berbaju hitam itu menghampirinya dengan langkah
lebar lalu berkata, “Aku akan mencoba dulu perkataanmu ini
benar atau bohong?”
Ang Thian Gie mengawasinya sebentar kemudian berkata
sambil tertawa, “Bagus, buka bajumu.”
Pemuda berbaju hitam itu sejenak nampak sangsi, ia
bertanya, “Bagian yang mana aku terkena racun?”
“Di atas lengan kirimu.”
Pemuda berbaju hitam itu membuka lengan bajunya dan
berkata, “Kalau kubuka lengan bajuku secara demikian
bolehkah kau mengambilnya?”
Ang Thian Gie tidak menjawab, dari dalam
mengeluarkan sepotong besi semberani yang
telapak kaki kuda, lalu meletakkan tongkat di
kemudian dengan tangan kiri memegang erat

sakunya ia
berbentuk
tangannya,
lengan kiri

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pemuda itu, dan besi seberani itu ditempelkan kebagian yang
terluka, lalu digerak-gerakkan maju-mundur, sebentar
kemudian lengan tangan yang putih pemuda itu telah berubah
menjadi merah.
Pemuda yang
menyaksikannya.

lain

pada

maju

mengerumun

untuk

Tiba-tiba terdengar suara batuk-batuk Ang Thian Gie, besi
di tangannya diangkat dan berkata, “Meskipun jarumnya
sudah keluar, tetapi racunnya sudah masuk ke dalam
darahmu. Jika kau tidak memakan obatku, besok malam
sebelum jam ini, racun itu akan bekerja dan matilah kau.”
Ketika semua orang menatapkan matanya ke arah besi itu,
benar saja di atas besi itu menempel sebuah jarum yang halus
sekali dengan warnanya yang kebiru-biruan.
Keadaan
itu
menyebabkan
semua
orang
yang
menyaksikannya terkejut dan ketakutan, dengan serentak
menggulung lengan baju masing-masing untuk melihat luka di
tangannya.
Pemuda berbaju hitam itu telah mengundurkan diri, Ang
Thian Gie mulai mengambil jarum dari lengan orang yang
kedua, dan begitulah seterusnya.
Dalam waktu tidak seberapa lama semua jarum beracun
janq ada dilengan keduabelas pemuda itu sudah dikeluarkan
semuanya. Ang Thian Gie memasukkan lagi besi itu ke dalam
sakunya lalu berkata kepada mereka, Meski jarum beracun
sudah kuambil dari dalam badan kalian, tetapi racunnya sudah
masuk ke dalam darah, tidak seorangpun bisa hidup sampai
duabelas jam lagi.”
Semua orang itu, karena sudah menyaksikan sendiri jarumjarum yang dikeluarkan dari badan mereka maka tidak lagi
yang merasa curiga terhadap keterangannya, satu sama lain
memandang dengan tanpa banyak bicara.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Yap It Peng menarik napas perlahan dan berkata, “Waktu
sudah tidak pagi lagi kau sadarkan dulu mereka, nanti kita
bicara lagi.”
Ang Thian Gie berkata sambil tersenyum, “Untuk
menyadarkan mereka, sangat mudah sekali, tetapi sebelum
aku menyadarkan mereka lebih dulu aku perlu memberi
makan racun yang keras kepada mereka, karena nama besar
dari lima orang jago daerah Tiong-goan pada tiga puluh tahun
yang lalu, sudah menggemparkan dunia rimba persilatan, dan
hari ini tiga puluh tahun kemudian kurasa kepandaian dan
kekuatan kalian, pastilah lebih tinggi dan lebih hebat, aku tahu
bahwa kekuatanku sendiri tidak mampu melawan kekuatan
kalian berlima, tetapi kalau mereka sudah termakan racunku,
maka aku tidak merasa perlu khawatir lagi.
Yap It Peng mengawasi pemuda-pemuda itu sejenak, lalu
diam.
Sudah tiga puluh tahun lamanya ia tidak pernah bertemu
muka dengan empat saudara angkatnya itu sehingga tidak
tahu sama sekali penghidupan mereka selama ini, untuk
sementara agak sulit untuk mengambil keputusan, ia menatap
wajah keempat saudara angkatnya seolah-olah ingin mencari
keterangan darinya.
Sebaliknya dengan sebelas pemuda itu, setiap orang
menantikan dengan sikap serius tetapi tidak menunjukkan
sesuatu reaksi yang mereka itu ada setuju atau tidak terhadap
usul Ang Thian Gie tadi.
Sementara itu Yap It Peng diam-diam telah berpikir, “Ang
Thian Gie adalah seorang ahli berbagai jenis racun sehingga di
kalangan Kang-ouw mendapat gelar orang tua beracun tangan
seribu, siapapun yang mendengar nama itu akan lari jauhjauh, empat saudara angkatku ini sudah makan obatnya, mati
atau hidupnya sudah ditangannya, maka sebaiknya aku
menerima baik usulnya, biar ia hidupkan dulu mereka, nanti
kita bicarakan lagi.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah itu ia pun berkata, “Biarlah aku yang memutuskan
untuk menerima baik usulmu, tetapi kau harus menyerahkan
lebih dulu obat pemunah racunnya kepadaku……..”
Ang Thian Gie bersenyum lalu berkata, “Aku selamanya
tidak pernah mengingkari janjiku sendiri, apa yang pernah
kusanggupi tidak nanti aku tidak tepati, saudara Yap kau
begitu tidak percaya kepadaku, sesungguhnya terlalu
memandang rendah kepribadianku.”
“Aku sudah terkena racunmu, dan empat saudara angkatku
itu juga sudah makan obatmu jikalau aku tidak percaya dan
memandang kedudukanmu di kalangan Kang-ouw, bagaimana
aku menerima baik usulmu tadi itu?”
“Tentang empat orang saudara angkatmu makan obatku
toch kau sudah menerima baik lebih dahulu apakah kau masih
perlu menyesalkan aku?”
“Tetapi saudara Ang, perbuatanmu memasukkan racun ke
dalam badanku mengapa tidak kau beritahukan lebih dahulu?”
“Saudara Yap toch sudah tahu bahwa aku sudah lama
terkenal sebagal ahli racun, menurut peraturan rimba
persilatan sebelum menggunakan racun, tidak perlu
memberitahukan lebih dahulu, apakah dalam hal ini kau juga
hendak menyalahkan aku?”
“Bukan maksudku hendak menuduh, tetapi dengan
kedudukan saudara Ang, di kalangan Kang-ouw, perbuatan
semacam ini seolah-olah kau hendak menggunakan keahlian
itu untuk menekan orang, dan sekarang kau bahkan merasa
bangga dengan keahlianmu ini, tetapi bagi aku orang
sep……..”
Ang Thian Gie yang mendengar ucapan itu mukanya
menjadi berubah, ia lalu berkata sambil tertawa terbahakbahak, “Menurut logikamu ini, maka nama julukan orang tua
beracun tangan seribu yang diberikan kepadaku itu
seharusnya dihapus? Hem! orang-orang di kalangan Kang-

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ouw, siapakah yang tidak tahu bahwa aku orang yang pandai
menggunakan racun?”
“Itu memang benar namamu terkenal karena keahlianmu
dalam berbagai racun, selama beberapa puluh tahun, kau
telah menjagoi rimba persilatan, sehingga mendapat julukan
itu, dan sahabat2 dari rimba persilatan yang mendengar
namamu harus lari jauh-jauh…….. Tetapi kau kecuali,
menggunakan racun, dalam hal ilmu kepandaian lainnya,
barangkali sangat terbatas kepandaianmu, jikalau tidak
demikian sudah tentu tidak perlu khawatir terhadap
kami……..”
Ang Thian Gie kibaskan tongkat bambunya dengan suara
gusar ia berkata, “Apakah saudara Yap menghina kepandaian
ilmu silatku? Mari kita coba2 beberapa jurus, aku ingin lihat
berapa tingginya kepandaianmu.”
Yap it Peng berkata sambil tertawa terbahak-bahak,
“Saudara Ang ingin bertanding dengan menggunakan
kepandaian ilmu silat, ini sebetulnya merupakan sesuatu
kejadian yang jarang tampak di kalangan Kang-ouw, cuma
sebelum kita bertindak, lebih dulu kau harus menyadarkan
dulu empat orang saudara angkatku itu kemudian kita boleh
mengadu kekuatan……..”
Ang Thian Gie memperdengarkan suara tertawanya yang
aneh, tiba-tiba membelalakkan matanya, sambil mengetukkan
tongkatnya di tanah ia berkata, “Kau ingin aku tidak
menggunakan racun, bukankah itu suatu impian gila, hari ini
perbuatanku terhadap kalian berlima sudah merupakan
kekecualian dalam kebiasaanku, jikalau kau dalam segala hal
ingin menggunakan peraturan terhadapku, maka aku tidak
mau perdulikan lagi……..”
Wajah Yap It Peng berubah, diam-diam ia berpikir, jikalau
orang tua itu pergi, bukan saja empat orang saudaranya tidak
dapat disadarkan untuk selama-lamanya, tetapi anak muridnya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

empat saudara itu yang juga sudah terkena racun akan
membawa akibat hebat bagi mereka.
Setelah agak sangsi sejenak tiba-tiba ia berkata dengan
suara nyaring, “Bagainiana aku berani berlaku tidak aturan
terhadapmu, hanya di dalam kalangan rimba persilatan kita
harus mengutamakan kepercayaan dan kekesatriaan, jikalau
saudara Ang tetap ingin menggunakan racun, maka jiwa ke
empat orang saudara angkatku ini berarti semua berada di
dalam tanganmu……..”
“Jikalau demikian ini berarti aku tidak mentaati peraturan
dunia Kang-ouw lagi, saudara ingin menguji kepandaian ilmu
silatku, dewasa ini barangkali waktunya kurang tepat, maaf
aku tidak sanggup melajani.”
Yap It Peng sengaja berbicara sekian lama dengannya,
maksudnya ialah hendak mengulur waktu untuk memberikan
kesempatan bagi murid empat saudaranya berpikir, tetapi
ketika menyaksikan semua anak murid itu masih diam saja ia
lalu mengambil keputusan sendiri dan berkata, “Baiklah,
berbuatlah menurut pikiranmu, tetapi ada suatu hal perlu aku
menerangkan lebih dahulu, ialah setelah kau nanti
menyadarkan empat saudaraku itu, usahakan supaya mereka
tersadar benar-benar agar di antara kita lima semua saudara
mempunyai waktu untuk berbicara secara sadar benar-benar.”
“Ini sudah tentu, kecuali itu masih ada perlu apa lagi?”
“Jikalau lima saudara sudah menerima baik permintaanmu,
apakah kau akan segera memberikan obat pemunah kepada
kita?”
Ang Thian Gie nampak berpikir sebentar, lalu berkata, “Aku
juga ,mempunyai sebuah syarat, jikalau saudara Yap sungguhsungguh jujur, lebih dulu kau harus memberitahukan
kepadaku hafalannya ilmu silat itu, supaya aku mendapat
kesempatan untuk membedakan hafalan itu tulen atau palsu,
baru aku akan memberikan obat pemunah padamu.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Baiklah kita tetapkan secara demikian.”
Ang Thian Gie meletakkan tongkatnya, ia mengeluarkan
dua buah botol kecil, sebuah berwarna hijau sebuah lagi
berwarna putih.
Ia mengangkat botol yang berwarna hijau dan berkata,
“Botol ini dalamnya berisi obat bubuk paling berbisa yang
pernah kugunakan, bagi orang biasa setelah makan racun ini
dalam waktu seratus langkah orang berjalan, lalu mati dan
mengeluarkan darah dari tujuh lobang anggota badan, tetapi
saudara Yap, dan empat orang saudara angkatmu itu
mempunyai ilmu kepandaian tinggi sekali, sudah tentu
keadaannya lain asal kau bisa menutup sendiri jalan darahmu,
supaya racun itu tidak sampai menyelinap dan merasuk ke
dalam badan tidak akan menjadi halangan. Dan obat pel
dalam botol putih ini, khasiatnya ialah khusus untuk
memusnahkan racun itu tadi, setelah saudara Yap
memberitahukan hafalan kepadaku, aku segera memberikan
obat pemunahnya.”
Yap It Peng terkejut mendengar keterangan itu, ia berkata,
“Sebelum empat orang saudaraku itu tersadar, kalau makan
obat racun ini sudah tentu tidak tahu bagaimana harus
menutup jalan darahnya sendiri, bukankah akan menjadi
celaka?”
Ang Thian Gie tertawa terbahak-bahak dan berkata,
“Tentang hal ini, harap saudara Yap jangan khawatir, siangsiang aku sudah bersedia, obat bubuk ini aku masukkan ke
dalam lapisan tipis, empat orang saudaramu itu setelah makan
obatku asal mau mendengar perkataanku, jangan asal marah
saja, dalam waktu setengah jam lapisan tipis itu tidak akan
hancur, sehingga racunnya tidak bisa bekerja, akan tetapi
jikalau bergerak sembarangan atau marah, ini berarti akan
mendesak lebih cepat bekerjanya racun itu, jadi kalau ada
apa-apa janganlah salahkan padaku.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kalau begitu, ternyata saudara Ang sudah lama
merencanakan untuk menghadapi kita lima bersaudara?”
“Harap saudara Yap pikir dahulu masak-masak, aku tidak
akan memaksa.”
“Biarlah aku yang mengaku kalah.”
Ang Thian Gie berjalan kesatu sudut di dalam ruangan kuil
tua itu, menghampiri ke depan orang tua yang mengenakan
pakaian berwarna lila, ia membuka botol warna putih,
mengeluarkan sebutir pel lalu membuka mulut orang tua itu
dan memasukkan pel itu ke dalam mulutnya, tangan kanannya
meraba-raba ke duabelas bagian jalan darah di sekujur badan
orang tua itu.
Ia bekerja cepat sekali, dalam waktu sebentaran saja,
empat orang tua yang duduk berpencaran di empat sudut itu
masing-masing sudah diberi pel dan ditutup jalan darahnya,
kemudian ia berjalan ke depan Yap It Peng, lalu duduk berhadap2an untuk mengatur pernapasannya.
Ia sudah mengeluarkan banyak tenaga kepada empat
orang tua itu hingga mukanya sudah menunjukkan tandatanda kelelahan.
Keadaan dalam ruangan kembali menjadi sepi sunyi,
meskipun disitu ada sembilan belas orang yang duduk tetapi
tidak terdengar suara apa-apa.
Kira beberapa waktu kemudian, empat orang yang duduk
diempat sudut itu, badannya nampak mendadak bergerak
kemudian membuka mulut dan menarik napas panjang.
Beberapa puluh pasang mata, semua ditujukan kepada
orang tua itu, tetapi orang itu setelah menarik napas, kembali
duduk ke dalam seperti biasa.
Ang Thian Gie kemudian bangkit dan berkata, “Sebentar
lagi obat yang kuberikan kepada mereka akan hilang
kekuatannya.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah itu kembali ia mengeluarkan empat rupa butir pel
dari botol warna hijau, lalu dimasukkan ke mulut empat orang
tua itu, setelah itu ia balik ke depan Yap It Peng dan berkata
padanya sambil tertawa, “Sebentar saudara Yap juga makan
sebutir.”
Yap It Peng berkata sambil tertawa, “Aku sudah terkena
racunmu, apakah masih perlu makan racun lagi?”
“Racun yang berada dalam badanmu, memerlukan waktu
beberapa jam lagi baru bekerja, kalau dibanding dengan racun
ini bedanya jauh sekali, jikalau empat orang saudaramu itu
nanti sadar, saudara Yap lalu memaksa aku memberikan obat
pemunah, maka aku nanti akan sulit untuk memberi
perlawanan, ini akan berakibat besar bagiku.”
Yap It Peng menyambut obat dari tangan Ang Thian Gie,
lalu berkata sambil tertawa, “Begini saudara Ang baru merasa
lega bukan?”
Ang Thian Gie berkata sambil tersenyum, “Jikalau saudara
Yap menyembunyikan obat itu ke dalam mulut dan tidak
ditelan, maka lapisannya akan menjadi lamer dengan cepat,
hal ini bagi saudara Yap sendiri ada jahatnya dan tidak ada
baiknya, aku terangkan lebih dahulu, kau mau percaya atau
tidak, itu bukan urusanku lagi.”
Yap It Peng menjawab sambil tersenyum, “Terima kasih
atas petunjukmu.”
Diam-diam ia menggunakan lidahnya untuk menjilat pel
yang berada dalam mulutnya, benar saja ada rasa manisnya,
hingga ia tahu bahwa ucapan orang tua itu tidaklah bohong.
Sementara itu Ang Thian Gie menatap mukanya dengan
tanpa berkesip, sehingga sulit baginya untuk mengeluarkan
pel itu dari mulutnya.
Selagi berada dalam kesulitan, dari antara anak murid
empat orang saudaranya itu mendadak terdengar suara

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pukulan nyaring, kemudian disusul oleh suara orang memaki,
“Kenapa kau memukul orang?”
Terdengar pula suara jawaban orang, “Apakah matamu
buta, di waktu kau menyelonjorkan kaki, kenapa matamu tidak
melihat sehingga menendang badanku?”
Ang Thian Gie dengan tanpa sadar berpaling ke arah suara
ribut2 itu, kesempatan baik itu digunakan oleh Yap It Peng,
cepat sekali ia muntahkan pel yang berada dalam mulutnya
lalu disimpan ke dalam sakunya, setelah itu ia baru dapat
melihat bahwa orang yang bertindak memukul orang tadi
adalah muridnya sendiri, Siang-koan Kie, kini ia baru tahu
bahwa murid itu memang sengaja menimbulkan kacau, untuk
mengalihkan perhatian Ang Thian Gie, sehingga dalam hatinya
dia memuji kecerdikannya murid itu……..
Saat itu tiba-tiba terdengar suara tarikan napas panjang
dari orang tua yang mengenakan pakaian warna lila, yang
kemudian membuka matanya.
Setelah berada dalam keadaan tidak ingat diri selama satu
hari satu malam, ketika tersadar ingatannya masih belum pulih
kembali, ia terkejut waktu membuka mata dan menyaksikan di
hadapannya duduk begitu banyak orang.
Yap It Peng kemudian berkata sambil tersenyum, “Apakah
jietee masih mengenal saudaramu ini? Dahulu oleh karena
suatu kesalahan kecil telah menyebabkan kita lima orang
bersaudara selama tiga puluh tahun seperti orang lain, untuk
ini aku terus merasa tidak tenang, juga pernah mencari jejak
kalian, tetapi pertama sebab tempat kediaman kalian tidak
menentu, sehingga tidak mudah diketemukan, dan kedua
kalian masing-masing sudah berhasil dalam usaha sendirisendiri, sehingga semua sudah berhasil mendapat kedudukan
baik, hanya saudaramu ini……..”
Saat itu terdengar pula suara tarikan napas panjang,
seorang tua dilain sudut berkata, “Kejadian pada tiga puluh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tahun yang lalu bagaikan impian, kalau diingat kita semua
masih merasa sedih, kita berempat sejak memutuskan
hubungan persaudaraan dengan toako, selama itu tidak satu
saat tidak memikirkan diri toako, waktu itu meskipun karena
sedikit salah faham, sehingga tali persaudaraan kita telah
putus, tetapi setahun kemudian, dalam hati kita timbullah rasa
penyesalan kita berempat lalu pergi ketempat dimana kita
dulu mengikat persaudaraan itu, kita saling berjanji, sebelum
kita bertemu muka dengan toako diantara kita berempat, juga
tidak akan saling berhubungan, siapa tahu jejak toako susah
dicari, sehingga kesalahan faham itu telah menciptakan suatu
kesedihan antara kita selama tiga puluh tahun. Kita masih
ingat tatkala kita berpisah dengan toako kita semua masih
merupakan anak-anak muda, tetapi sekarang rambut kita
sudah putih semua, sekalipun saudara kita yang kelima juga
sudah lanjut usianya.”
Dari lain sudut dua orang tua yang masing-masing
berpakaian kuning telur dan biru muda berkata, “Apakah
toako selama ini baik-baik saja?”
Keduanya lalu mengangkat tangan memberi hormat kepada
Yap It Peng.
Yap It Peng membalas hormat dan berkata dengan suara
rendah, “Selama tiga puluh tahun ini saudaramu ini selalu
merasa tidak tenang dan merasa malu terhadap saudara
sekalian, kalau mengingat keadaan sewaktu kita sama-sama
belajar ilmu silat dari orang tua itu, sikap orang tua itu
sengaja mengatur berbagai cara yang sangat misteri
maksudnya sedikit banyak menimbulkan kecurigaan. Sayang
waktu itu aku agak lalai sehingga tertipu olehnya dan
kemudian bersumpah tidak akan membocorkan rahasia ilmu
kepandaian yang kupelajari, hal ini telah mengakibatkan kita
lima saudara saling curiga dan akhirnya memutuskan
perhubungan……..”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ang Thian Gie mendadak berkata sambil tertawa dingin,
“Waktu sudah akan sampai kelapisan tipis untuk pembungkus
racun itu, sudah akan lumer.”
Wajah Yap It Peng nampak sedikit berubah, tetapi sebentar
kemudian sudah pulih seperti biasa, ia bersenyum hambar dan
berkata, “Tadi aku sudah berkata kepadamu setelah empat
orang saudaraku ini tersadar, harus memberikan waktu
kepada kita untuk berbicara.”
“Saudara Yap kau lebih baik menceritakan kepada empat
orang saudaramu apa yang telah kita janjikan, beritahukan
dulu kepadaku hafal ilmu silatnya, dan aku nanti akan
memberikan obat pemunah racunnya, setelah kalian makan
obat pemunah itu, kita boleh bicara tanpa khawatir lagi.”
Empat orang tua itu dengan serentak berpaling ke arah Ang
Thian Gie, orang tua berbaju lila yang sadar paling dahulu
berkata dengan nada suara dingin, “Aku kira siapa, ternyata
adalah orang tua beracun tangan seribu Ang Thian Gie yang
kenamaan itu……..”
Ang Thian Gie lalu berkata, “Bisa saja kau, hari ini aku
merasa beruntung dapat bertemu dengan lima jago daerah
Tiong-goan yang namanya menggemparkan dunia rimba
persilatan, aku merasa sangat gembira sekali…….. cuma,
julukan siaotee orang tua beracun tangan seribu juga tidak
sia-sia diberikan orang padaku, tuan-tuan sekalian yang ada
disini, semua sudah makan racunku yang akan mengakibatkan
kematian dalam waktu seratus langkah, kecuali obat
pemunahku, dalam dunia persilatan pada dewasa ini,
barangkali sudah tidak ada bandingnya yang bisa
memunahkan racun itu.”
Seorang tua berbaju putih berkata dengan suara gusar.
“Jangan berkata akan mati dalam seratus langkah,
sekalipun sepuluh langkah, apakah yang takutkan? Apakah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kau kira lima orang jago daerah Tiong-goan semua adalah
orang-orang yang takut mati?”
Sehabis berbicara demikian kemudian ia lantas bangun
berdiri.
Tiga orang tua yang masing-masing duduk dilain sudut,
juga marah semua, mereka berdiri sambil mengawasi Ang
Thian Gie, agaknya sudah ingin segera bertindak.
Ang Thian Gie khawatir bahwa empat orang itu benarbenar akan bertindak terhadap dirinya, sehingga diam-diam
sudah siap sedia sambil mengawasi Yap It Peng ia berkata
dengan suara rendah, “Jika mereka bertindak menyerangku
maka jangan sesalkan kalau aku tidak menepati janjiku.”
Yap It Peng dengan bergiliran mengawasi empat
saudaranya, lalu berkata, “Saudara-saudara silakan duduk
dulu untuk mengatur pernapasan, jikalau merasakan apa-apa
yang tidak beres, lekaslah tutup jalan darahmu.”
Empat orang tua itu semua mengawasi diri Ang Thian Gie
dan berkata, “Ang Thian Gie kau harus hati2, jikalau kita
merasakan adanya racun di dalam tubuh kita jangan harap
kau bisa keluar dari sini dalam keadaan hidup.”
Yap It Peng menarik napas panjang, perlahan-lahan
mengangkat tangan kanannya lalu mengulurkan satu jari
tangannya seraya berkata, “Ang Thian Gie, lihatlah jurus
pertama dari ilmu silat Hiang-mo-sip-sam-ciang dinamakan
pena melajang menggapai sukma……….”
Semua mata orang yang ada disitu, ditujukan kepada diri
Yap It Peng untuk menyaksikan sikapnya.
Ang Thian Gie perdengarkan suara batuk-batuk, sinar
matanya menyapu kesemua sudut dalam ruangan itu.
Yap It Peng mendengar suara batuk-batuk Ang Thian Gie,
segera mengerti apa maksudnya, maka lalu berkata, “Saudara
Ang silahkan kemari untuk mendengarkan hafalannya.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ang Thian Gie berpaling mengawasi empat orang tua itu
sejenak, lalu berjalan menghampiri Yap It Peng, kemudian
duduk disampingnya sambil memasang telinga.
Cepat sekali Yap It Peng sudah membacakan tiga jurus
hafalan ilmu silat itu. Ang Thian Gie yang mendengarkan terus
angguk-anggukkan kepalanya.
Ang Thian Gie sudah mempunyai kepandaian ilmu silat
yang cukup tinggi, setelah mendengarkan hafalan itu, segera
dapat merasakan bahwa ilmu silat ini sesungguhnya jauh
berbeda dengan ilmu silat lainnya.
Yap It Peng setelah mernbacakan tiga hafalan itu lalu
berkata, “Ilmu silat Hong-mo-ciang-hoat ini kita lima orang
bersaudara setiap orang cuma belajar beberapa jurus saja,
apa yang kuketahui dan kupelajari hanya cuma tiga jurus ini,
jikalau kau merasa bahwa hafalan ini bukanlah bikinanku
sendiri, harap kau suka menyerahkan obat pemunah biar
empat saudaraku itu makan dulu obat pemunah itu barulah
aku nanti akan meminta mereka mengajarkan hafalannya
kepadamu.”
Ang Thian Gie diam-diam berkata kepada diri sendiri
memang benar, Chungcu juga pernah berkata bahwa ilmu
silat ini adalah warisan dari seorang tua yang tidak tahu
namanya, sebab orang tua itu tidak bisa berdiam lebih lama di
kediaman lima orang jago itu, maka lima orang jago itu
dipanggil
kehadapannya,
lebih
dulu
ia
sendiri
mempertunjukkan dua jurus kepada lima diago itu, dan
kemudian menanyakan kepada mereka ingin mempelajarinya
atau tidak.
Waktu itu nama lima orang jago itu sudah menggemparkan
dunia Kang-ouw, kepandaian mereka itu semuanya sudah
termasuk kepandaian orang-orang kelas satu dalam rimba
persilatan, tetapi ketika menyaksikan dua jurus ilmu pukulan
yang dimainkan oleh orang tua tak bernama itu, lalu merasa
tertarik sehingga masing-masing menyatakan ingin belajar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang tua itu setelah mengetahui mereka ingin belajar, ia
sendiri lalu bersembunyi ke dalam sebuah kamar, agar lima
orang itu satu persatu untuk diberi pelajaran ilmu silat itu
secara terpisah.
Itu disebabkan karena ilmu silat terlalu aneh, siapa saja
tidak dapat mempelajari seluruhnya dalam waktu yang
pendek, justru ia sendiri karena masih ada urusan penting
tidak dapat berdiam lebih lama, maka diturunkan pelajaran itu
secara terpisah kepada lima saudara itu……..
Ang Thian Gie setelah lama berpikir baru berkata lagi,
“Saudara Yap kau sudah menepati janjimu, sudah tentu aku
percaya perkataanmu.”
Setelah itu dia lalu memberikan botol warna putih kepada
Yap It Peng.
Yap It Peng sebaliknya malah tidak menduga bahwa Ang
Thian Gie berlaku begitu royal maka ia lalu menyambuti botol
yang diberikan kepadanya itu.
Ia baru saja menyaksikan dengan mata kepala sendiri
bagaimana Ang Thian Gie memasukkan obat racun kepada
empat saudaranya sehingga mereka tersadar dari tidurnya,
maka ia tak sedikitpun merasa curiga terhadap obat yang
diberikannya kepadanya itu.
Ia mengambil empat butir pel dari dalam botol itu diberikan
kepada empat saudaranya seraya berkata. Saudara Ang ini di
dalam rimba persilatan adalah seorang yang mempunyai
kedudukan baik dalam soal obat pemunah ini, aku juga
menyaksikan kalian makan dalam pel ini. Sudah tentu tidak
ada yang mencurigakan, kuharap saudara-saudara lekas
makan supaya aku juga boleh merasa lega……..
Empat orang tua itu mengawasi Yap It Peng sambil
tersenyum lalu menelan obat yang diberikannya tadi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Yap It Peng menutup botol dan bertanya, “Saudara Ang,
apakah pel ini benar-benar dapat memunahkan racun dalam
diri mereka?”
Meskipun ia sendiri baru saja menyaksikan Ang Thian Gie
menggunakan obat ini untuk menyadarkan keempat orang
saudaranya, tetapi ia masih merasa agak sangsi, maka
mengajukan pertanyaan demikian.
Ang Thian Gie lalu berkata, “Kalau saudara Yap masih
merasa curiga terhadapku, itu apa boleh buat……..
Yap It Peng berkata, “Bukan aku merasa curiga, tetapi
sesungguhnya karena urusan ini sangat penting, aku belum
merasa lega sebelum mendapat kepastian.”
Tetapi ketika ia mengawasi wajah empat orang saudaranya
nampaknya mulai segar sehingga hatinya merasa lega.
Ang Thian Gie berkata dengan nada suara tinggi,
“Persoalan saudara Yap, yang ingin aku lakukan telah selesai
dan ilmu silat Hiang-mo-sip-sam-ciang, juga seharusnya kau
turunkan semuanya padaku.”
Yap It Peng berkata, “Saat ini obat mereka belum berjalan,
barangkali masih susah memberi pelajaran. Lima orang jago
daerah Tiong-goan, selamanya belum pernah mengingkari
janji. Aku sudah menerima baik permintaanmu, tidak nanti
kuingkari.”
Orang yang berbaju putih tiba-tiba membuka mata dan
bertanya, “Toako, obat apakah yang diberikan oleh orang tua
beracun itu tadi, agaknya sedikit tidak beres?”
Yap It Peng menjawab sambil tertawa, “Jietee jangan
khawatir, aku tadi sudah menyaksikan sendiri ia telah
menyadarkan saudara berempat dengan obat ini, mungkin
obat yang manjur rasanya agak pahit, sebab selama obat itu
sedang berjalan bisa menimbulkan rasa tidak enak”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang tua berbaju putih itu agaknya percaya benar kepada
Yap It Peng maka ia kemudian tersenyum dan kemudian
memejamkan matanya tidak berkata apa-apa lagi.
Tiga orang tua yang lainnya masing-masing membuka mata
mengawasi Yap It Peng sejenak kemudian memejamkan lagi
matanya.
Ang Thian Gie agaknya merasa tidak sabar berkata dengan
suara keras, “Yap It Peng ucapanmu masih berlaku atau
tidak?”
Orang tua yang berpakaian putih itu sekonyong-konyong
membuka matanya dan berkata dengan suara gusar, “Ang
Thian Gie, kau lancang mulut, apakah ingin mencari penyakit?
Hem! apakah Yap It Peng boleh kau panggil begitu saja? Lima
orang jago dari daerah Tiong-goan seumur hidupnya belum
pernah
membohong,
bagaimana
mau
menjual
kepercayaannya kepada dirimu?”
Ang Thian Gie berkata dengan suara dingin, “Aku tadi
sudah berjanji dengan saudaramu, dia akan menurunkan
pelajaran ilmu Hiang-mo-sip-sam-ciang kepadaku dan aku
akan memberikan pel penawar racun kepadanya untuk
menghilangkan racun dalam tubuh kalian berempat, sekarang
aku sudah berikannya kepadanya, tetapi saudara Yap hendak
mengulur waktu, tidak mau menurunkan pelajaran itu
kepadaku, apakah ini bukan berarti suatu penipuan terhadap
diriku?”
Orang tua berbaju putih itu tercengang, ia berpaling dan
berkata kepada Yap It Peng, “Toako apa ucapannya itu
benar?”
Yap It Peng menarik napas panjang dan berkata, “Untuk
,menolong jiwa saudara berempat, aku telah terima baik
permintaannya dengan memberikan pelajaran silat Hiang-mosip-sam-ciang untuk ditukar dengan pelnya penawar
racun……..”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kalau toako sudah menerima baik permintaannya, sudah
tentu kita tidak dapat mengingkari janji.
“Ada suatu rahasia yang kusimpan di dalam hati selama
beberapa puluh tahun, belum kuceritakan kepada kalian……..”
Orang tua berbaju lila menyela, “Persoalan yang sudah lalu,
sebaiknya jangan dibicarakan lagi.”
Yap It Peng berkata sambil tersenyum, “Aku merasa sangat
girang mendapat tahu bahwa kalian berempat telah mengerti
keadaanku, tentang urusan ini jika tidak kukatakan aku tetap
merasa tidak tenang walaupun aku harus melanggar
sumpahku sendiri. Tetapi rasanya adalah lebih baik kalau hal
itu kujelaskan……..”
Ia berhenti sejenak kemudian berkata, “Pada tiga puluh
tahun berselang ketika orang tua tak bernama yang sengaja
memisahkan
kita
berlima
dengan
maksud
hendak
mengajarkan ilmu silatnya yang luar biasa kepada kita, waktu
itu meski dalam hatiku merasa heran tetapi karena tertarik
oleh perasaan ingin tahu, kuterima baik permintaannya,
kupikir dengan nama besar yang dikenal pada kala itu, sudah
tentu tidak dapat dibandingkan dengan segala manusia
rendah dalam kalangan Kang-ouw, kiranya ia juga tidak berani
menipu kita, apalagi persoalan semacam ini dapat segera
diketahui ilmu silat itu benar-benar atau palsu, siapa tahu
yang telah mengusulkan suatu cara yang memberikan
pelajaran secara satu persatu dengan gerak tipunya yang
berlainan, menurut keterangan ilmu silat itu adalah suatu
kepandaian paling hebat dalam rimba persilatan dengan
tenaga seorang saja ilmu silat yang terdiri dari tigabe1as jurus
itu tidak mungkin dipelajari seluruhnya dalam waktu beberapa
tahun yang sangat singkat, maka barulah ia mencari kepada
kita dan ilmu silat itu diturunkan kepada kita lima orang secara
berlainan. Waktu itu aku tertarik oleh teorinya itu, dengan
tanpa berunding dengan kalian berempat lebih dulu aku sudah
menerima baik permintaannya. Lebih dulu aku yang dipanggil

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

masuk ke dalam kamar, setelah menurunkan pelajarannya
satu jurus, tiba-tiba saja ia berhenti dan menyuruhku
melakukan sumpah berat, berjanji selama hidupku tidak boleh
mengatakan kepada orang lain tentang dirinya yang memberi
pelajaran ilmu silat kepadaku. Sebab gerak tipu itu terlalu
ampuh, dan aku tertarik oleh keanehannya itu, maka itu aku
bersumpah tanpa pikir lagi, sehingga tanpa sengaja menanam
bibit percideraan diantara kita lima saudara sendiri.”
Keempat orang tua itu mendengarkan penuturan tersebut
dengan mata terbuka lebar, kemudian mereka berkata
serentak, “Ketika orang tua tanpa nama itu memberi pelajaran
kepada kita, keadaannya juga serupa seperti apa yang toako
ceritakan tadi, hanya……..”
Entah apa sebabnya empat orang itu menutup mulut
dengan serentak.
Jap It Peng rnenghela papas dan berkata, “Entah pelajaran
apa yang diturunkan kepada kalian berempat itu? Tetapi yang
diturunkan kepadaku hanya………”
Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari mulutnya orang tua
yang mengenakan baju kuning telur, kemudian muntahkan
darah di hidung.
Yap It Peng lalu bertanya kepada Ang Thian Gie sambil
mengerutkan keningnya, “Apakah obat penawar ini tidak
salah?”
“Obat penawar racunku ini adalah obat yang sangat
manjur……..” jawab Ang Thian Cie sambil menggelengkan
kepala.
Sementara itu terdengar pula beruntun-runtun suara jeritan
orang tua berbaju biru muda, lila dan putih, masing-masing
sudah menyemburkan darah dari mulutnya.
Wajah Ang Thian Cie berubah seketika, ia segara melompat
bangun.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang tua yang mengenakan baju putih mendekap
dadanya seraya berkata, “Toako kita semua telah tertipu oleh
Ang Thian Gie………”
Yap It Peng gusar sekali, sambil mengeluarkan bentakan
keras ia melompat melesat dan menyerang Ang Thin Gie.
Bersamaan pada saat Yap It Peng lompat menyerang Ang
Thian Gie, duabelas pemuda itu juga berdiri semuanya,
hendak merintangi berlalunya Ang Thian Gie.
Dengan tongkat bambunya Ang Thian Gie mengadakan
perlawanan, setelah berhasil mendesak mundur empat orang
pemuda itu, dengan cepat ia lari keluar.
Siang-koan Kie telah ,menyaksikan semua orang sudah
bertindak, ketika hendak berdiri tiba-tiba terdengar suara
gedebukan, duabelas pemuda itu hampir serentak roboh di
tanah.
Ia adalah seorang cerdik ketika menyaksikan keadaan
demikian, tidak berani lagi mengerahkan tenaganya, lalu
merebahkan diri di antara orang banyak.
Empat orang tua yang duduk di empat sudut, dengan
mendadak semua berdiri, sambil mendekap perut dengan
kedua tangannya dan mata terbuka lebar mereka lari keluar,
tetapi baru berjalan empat lima langkah, bersama roboh di
tanah, darah menyembur keluar dari mulut masing-masing.
Yap It Peng yang tidak berhasil menyerang Ang Thian Gie,
selagi hendak mengejar keluar, telah dikejutkan oleh kejadian
yang mengerikan itu sehingga ia berdiri tertegun bagaikan
patung.
-odwoBab 3

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

MENYAKSIKAN empat saudara angkatnya beserta duabelas
muridnya dan muridnya sendiri yang tersayang Siang-Koan
Kie, semua telah roboh dalam ruangan kuil tua itu, Yap It
Peng merasa ditusuk oleh pedang tajam. Walaupun ia sudah
lama berkelana di dunia Kang-ouw dan mempunyai keteguhan
hati bagaikan baja, tak terasa juga masih mengeluarkan air
mata.
Ia lalu berkata kepada dirinya sendiri, “Empat saudaraku
beristirahatlah dulu, sebelum racunku bekerja aku hendak
menggunakan sisa tenagaku untuk mengejar dan membunuh
Ang Thian Gie, aku nanti akan sodorkan bangkai Ang Thian
Gie di hadapan arwah kalian, setelah itu aku nanti akan bunuh
diri untuk menyusul kalian berempat.”
Sehabis berkata demikian ia lalu keluar.
Kekacauan telah berlalu, dalam ruangan itu kembali
menjadi sunyi.
Angin malam menutup sinar lilin dalam ruangan, menyinari
tujuh belas bangkai manusia yang berserakan di tanah.
Sementara itu Siang-Koan Kie diam-diam mengeluarkan
napas lega, dalam hatinya berpikir duabelas pemuda ini,
berbareng terkena jarum racun dengan aku, mengapa racun
dalam tubuhku tidak bekerja sedang mereka sudah rubuh
semua? Apa barangkali karena mereka gusar dan
mengerahkan tenaganya, sehingga racun itu bekerja lebih
cepat?”
Selagi pikirannya masih bekerja matanya tiba-tiba dapat
melihat seorang pemuda yang berbaju lila yang berada
beberapa kaki depannya, kaki dan tangannya bergerak-gerak,
dalam herannya diam-diam lalu berpikir: apakah mereka
semua seperti aku masih belum mati?
Ia lalu berdiam tidak bergerak untuk menyaksikan apa yang
akan terjadi selanjutnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tidak berapa lama pemuda yang menggerakkan kaki
tangannya itu mendadak bangun dan duduk, kedua tangannya
menepuk tiga kali.
Mendengar tepukan tangan itu tiga pemuda lain yang
berlainan warna pakaiannya, telah bangun dan duduk.
Siang-Koan Kie diam-diam berkata sambil menghela napas,
“Benar saja di antara anak murid empat susiok, ada yang
bertindak sebagai mata-mata……..”
Keempat pemuda itu masing-masing mengucapkan katakata rahasia yang hanya dimengerti oleh mereka, kemudian
pemuda yang berpakaian warna putih lalu bangkit dan berkata
dengan suara perlahan, “Apakah suheng bertiga semua
datang dari Heng-hoa-po?”
Tiga pemuda berpakaian warna lila, kuning dan biru, juga
bangkit dan menjawab, “Benar, apakah suheng orang she
Tan?”
Pemuda baju putih itu dengan sinar matanya yang tajam
menyapu bangkai orang-orang itu sejenak, kemudian
menjawab sambil tertawa, “Siaotee Tan It Cie, apa kau sutee
bertiga sudah berhasil mempelajari ilmu silat Hiang-mo-sipsam-ciang?”
Tiga pemuda itu menjawab dengan sikapnya yang
menghormat, “Kita telah berusaha segenap tenaga dan
menggunakan waktu tiga tahun, tetapi hanya dapat mencari
belajar tiga jurus saja……..”
Tan It Cie bersenyum lalu berkata, “Jurus pertama dari ilmu
silat Hiang-mo-sip-sam-ciang itu apakah bukan bernama pena
melajang menggapai sukma?”
Tiga pemuda itu nampak berpikir sejenak lalu menjawab,
“Benar.”
“Im dan Yang bersatu, bukankah itu nama jurus kedua?”

dan mengatakan bahwa ilmu silat Hiang-mo-sip-sam-ciang itu mungkin cuma mempunyai tiga jurus gerak tipu. tetapi Supoh belum pernah melatih jurus keempat.” “Kecuali tiga jurus itu. “Dan jurus ketiga bukankah bernama kuda terbang di angkasa?” Tiga orang itu menjawab sambil serentak. kalau bukan lantaran supoh setahun yang lalu diam-diam memanggil. Jangankan lima jago itu. biru dan kuning itu saling memandang sejenak. Kata-kata rahasia yang diberikan kepada kita. selalu dirahasiakan. tapi satu sama lain tidak saling mengenal. baru menjawab dengan serentak juga “betul”. “Lantaran tiga jurus gerak tipu suatu ilmu silat. tidak satupun yang salah. sering melihatnya. “Tindak tanduk supoh. apa sutee bertiga pernah melihat jurus keempat?” Tiga pemuda itu menjawab dengan serentak.. sedangkan kita sendiri. maka aku sendiri juga terpedaya oleh lima jago itu. “Kepandaian suheng tinggi sekali. juga tidak tahu siapa di antara muridnya yang menjadi utusan oleh supoh untuk mencuri belajar ilmu silat tersebut. sehingga tidak mau melatih jurus keempat…….com/ Tiga pemuda itu berpikir agak lama. kita berempat meski sama-sama diutus pura-pura menjadi muridnya lima orang jago daerah Tionggoan. untuk mempelajari ilmu silat Hiang-mo-sip-sam-ciang.Tiraikasih Website http://kangzusi. lalu berkata. tetapi tiga jurus yang suheng sebutkan di atas tadi. yang diturunkan kepada lima jago daerah Tiong-goan.” Tan It Cie tertawa terbahak-bahak dan berkata. sehingga empat tahun lamanya. ternyata telah . “Sudah tiga tahun lamanya kita mencoba mengintai. tiga jurus yang kau sebutkan itu.” Tiga pemuda baju lila. kita empat orang telah menghamburkan waktu sampai empat tahun. bahkan aku masih mengira bahwa perbuatanku yang mengintai itu telah diketahui.

dari tempat ribuan lie jauhnya. ternyata juga Pena melajang menggapai sukma. dan hafalan ini kita semua sudah sangat hafal sekali. “Kepandaian supoh bukan cuma itu saja. katanya pula. Tan It Cie bersenyum. “Tetapi Yap It Peng tadi telah berkata bahwa orang tua tak bernama itu dulu waktu memberi pelajaran kepada lima jago itu. diberikannya secara bergiliran di dalam kamar. dalam dunia Kang-ouw mungkin tidak ada seorangpun yang demikian rapi rencananya.com/ berguna dalam kuil tua ini. maka untuk dewasa ini. jurus pertama diucapkannya dengan suara nyaring.” berkata pemuda baju lila itu. ternyata tiga jurus gerak tipu itu adalah bersamaan. tetapi ia tidak berani membantah. bahkan dapat tahu bahwa ilmu silat tersebut cuma ada tiga jurus gerak tipu.” Pemuda berbaju lila itu menanya. sehingga perlu mengajukan pertanyaan demikian. tetapi kini ternyata bahwa jurus pertama yang dipelajari oleh lima jago itu. “Benarkah ucapan suheng ini?” Pemuda itu meskipun tidak percaya seluruh keterangan Tan It Cie tadi. serta apa yang kita berempat telah saksikan. Kalau ia memang .” Tan It Cie berkata sambil ketawa. kalau orang tua tak bernama itu tidak bermaksud sengaja hendak menyesatkan lima orang jago agar mereka saling cakar sendiri. “Tadi ketika Yap It Peng memberi pelajaran hafalan kepada Ang Thian Gie. Dengan demikian. ini telah terbukti dari ucapan tiga sutee tadi sendiri. “Benar! ucapan itu aku juga mendengar nyata. sudah tentu tidak bisa salah lagi!” berkata Tan It Cie. tentunya ia sendiri juga belum berhasil mempelajari seluruh ilmu silat Hiang-mo-sip-samciang yang terdiri dari tigabelas jurus itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. sebetulnya adalah serupa. beliau dapat melihat setiap gerak gerik kita. hingga ucapan supoh itu sedikitpun tidak salah.

tetapi aku menduga tentunya mengandung maksud tertentu. kita disuruh lekas pulang setelah lima orang jago Tiong-goan itu meninggal dunia. maka aku berani pastikan. dalam hatinya diam-diam lalu berpikir. “Dalam surat perintah supoh itu. kita diminta melakukan pekerjaan apa lagi?” Jawab Tan It Cie.” . kecuali ilmu silat Hiang-mo-sipsam-ciang itu saja?” Tan It Cie berpikir sejenak. sehingga perlu diberikan pelajaran secara terpisah. pasti akan menerbitkan kegemparan. “Dalam surat perintah suhu itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Tentang ini aku belum pernah mendengar keterangan dari supoh. barti berkata. tetapi kalau tigabelas bangkai manusia dibiarkan begitu saja. “Entah siapa orang yang mereka sebut sebagai supohnya itu?” Pada saat itu. terdengar pula suara pemuda berbaju biru berkata. apalagi yang mati adalah lima orang jago Tiong-goan yang namanya masjhur di dalam rimba persilatan. lalu kita bakar sampai tidak meninggalkan bekas……. “Keadaan sekitar kuil tua ini meskipun sepi sunyi.” Pemuda berbaju lila itu berkata. sebaiknya kita mencari rumput kering dan sebagainya. dapat mendengar dengan jelas pembicaraan empat orang pemuda itu.” Pemuda berbaju kuning itu tiba-tiba menyela. bahwa lima orang jago itu hanya mendapat pelajaran tiga jurus yang serupa itu saja. Tetapi apa yang mereka pelajari ternyata sama.com/ benar menganggap kekuatan lima orang jago itu tidak mampu mempelajari ilmu silat tersebut seluruhnya dalam waktu singkat. “Entah apa sebabnya supoh tidak memerintahkan aku untuk tidak mempelajari ilmu silat lainnya. mungkin ilmu silat Hiang-mo-sip-sam-ciang itu merupakan satu ilmu silat yang dapat menundukkan ilmu silat supoh sendiri!” Siang-koan Kie yang pura-pura rebah di tanah. ditumpuk dalam kuil ini. maka setiap orang yang dipelajarinya seharusnya berlainan..

semua mempunyai hubungan perguruan dengan empat pemuda itu. Diperiksanya satu persatu muka orang-orang yang sudah tidak bernyawa itu.com/ Tan It Cie berkata sambil meng-geleng2kan kepala.” . beliau menyuruh kita setelah menyaksikan kematian lima orang jago Tiong-goan itu. juga sudah tidak bernyawa lagi.” kata Tan It Cie yang kemudian memeriksa semua bangkai itu dengan sangat teliti. lekas tersiar luas di kalangan Kang-ouw. agaknya sudah lama mati. Siang-koan Kie menutup semua jalan darahnya. “Bocah ini adalah murid Yap It Peng. kecuali Siang-koan Kie. lalu berusaha memindahkan jenazah mereka kelain tempat yang ada orangnya. beliau adalah seorang luar biasa. Tindakan supoh ini sudah tentu ada maksudnya. sedangkan empat orang tua yang berlainan warna pakaiannya itu. Orang-orang yang sudah menjadi bangkai itu. “Bocah ini agaknya sudah mendapat warisan dari Yap It Peng…….” Kembali satu tamparan keras melajang di pipinya. baru pergi?” “Ucapan ini memang benar. supaya tubuhnya dingin. juga pernah menyebut soal ini. Dalam keadaan demikian. semuanya pucat kuning.. “Entah orangorang ini benar-benar sudah mati semuanya atau tidak? Apakah kita perlu melakukan pemeriksaan yang seksama lebih dulu.Tiraikasih Website http://kangzusi.” Pemuda berbaju kuning itu berkata sambil mengawasi bangkai-bangkai yang berserakan di lantai. “Dalam surat supoh itu. lalu terdengar suara seorang memakinya. supaya kejadian yang menggemparkan dunia Kang-ouw ini. Terdengar pula suara seorang lain. tiba-tiba pipinya dirasakan dua tamparan keras. kita tidak dapat menduga apa maksudnya. hanya.

Siang-koan Kie meski merasakan tamparan pipinya. Dalam pikirannya. keadaan dalam ruangan itu ternyata masih tidak berbeda dengan keadaan beberapa jam berselang. empat pemuda itu sudah pergi. pasti tidak mau melepaskannya begitu saja. Karena berpikir demikian. Suasana di dalam ruangan masih sunyi.. hanyalah ia sendiri. ia baru berani membuka mata. Dengan mata sayu ia mengawasi keadaan di sekitarnya sejenak. ia sendiri sudah terkena racun seperti juga para saudaranya dalam perguruan itu. “Dia sudah mampus. sekalipun mendapat warisan kepandaiannya Yap It Peng.com/ Seorang lagi berkata. Ia duduk dan menarik napas panjang. kecuali beberapa sosok bangkai.. satu-satunya yang masih hidup. dengan pengharapan dapat menemukan salah satu yang masih hidup seperti dirinya sendiri…….” Lalu terdengar suara gerakan kaki. terhadap soal kematiannya malah dianggap sepi. lalu mengadakan pemeriksaan sekali lagi kepada setiap bangkai……. . Pelahan-lahan ia bangkit. ia telah mendapat kenyataan bahwa setiap orang benar-benar sudah tidak bernyawa. lalu mengamat-amati bangkai setiap orang.Tiraikasih Website http://kangzusi.. Selesai melakukan pemeriksaan. tetapi juga tidak dapat hidup dua jam lagi. Ia mengerti apabila mereka mengetahui bahwa dirinya masih hidup. tidak berani membuka mata. apa gunanya? Mari kita lekas pergi……. tetapi ia masih menahan napas. walaupun pada saat itu ia masih belum binasa. tidak terdengar suara apa-apa lagi. Setelah mendapatkan kepastian bahwa empat pemuda itu sudah pergi.

“Jenazah2 ini sebaiknya kukubur dahulu. memancarkan sinarnya yang pertama. Entah sejak kapan. pasti melakukan latihan penuh semangat. suara seruling samar- . ia hanya dapat memandang arah ke timur sambil menarik napas panjang. Ia tidak tahu apa yang harus diperbuat saat itu. airmata mengalir deras tak terkendalikan lagi. setiap waktu menjelang pagi hari itu. setiap saat dapat merenggut jiwanya. orang-orang yang tadi masih bernyawa. Ia masih berdiri tegak. Meski ia beradat keras. ketika ia menengok keluar pintu. ia tahu fajar telah menyingsing. Cuaca mulai terang. Diwaktu biasanya. tampak puncak gunung berwarna hijau. selagi hendak mengangkat salah satu di antaranya dari jenazah bekas persaudaraan dalam perguruannya itu. memandangnya dengan mata sayu. tetapi berperasaan sedih menyaksikan kematian orang-orang yang pernah menjadi saudara atau para susiok dalam perguruan.com/ Tetapi selama beberapa jam itu. di tempat yang agak jauh. dalam ruangan kuil itu telah terjadi suatu perubahan besar. tubuhnya merasakan sedikit dingin. sebab meski yang dihadapinya itu adalah sinar matahari pagi yang gilang gemilang. kini sudah menjadi bangkai semua……. sehingga tangga yang sudah mesum itu nampak berubah warnanya menjadi keemas-emasan. Tetapi sinar matahari itu sedikitpun tidak menimbulkan perubahan perasaannya. perasaan duka memenuhi dadanya. pemuda yang penuh energi itu. juga tidak tahu ia bisa berbuat apa. tetapi pagi itu. Pikirnya. tetapi di belakang dirinya tangan maut melambai-lambai. Angin lembut meniup masuk.. menyinari tangga batu kuil.” Ia balik kembali. supaya tidak terlantar.Tiraikasih Website http://kangzusi. dari ufuk Timur tertampak sinar kuning emas. sinar matahari yang menembus dari balik awan di sebelah timur. dengan tiba-tiba.

Andaikata ia sendiri bisa mati di pinggir jalan. asal dapat menyiarkan peristiwa itu sudah cukup. sekonyong-konyong dia dapat suatu pikiran apabila semua jenazah orang-orang itu dikubur dan ia sendiri juga kemudian mati. maka kuburan semua orang itu mungkin akan menjadi rahasia terpendam untuk selamalamanya. dalam waktu satu dua jam pasti mati. juga lenyap seketika. daun-daun pohon yang kering pada . Diluar kuil terbentang luas tanah belukar. Bau harum bunga cempaka yang sangat pekat. ketika hendak lari keluar untuk mencari dari mama datangnya irama seruling itu.com/ samar terdengar dari tempat jauh. seolah-olah menghilang tertiup angin. Dalam hati Siang-Koan Kie sudah mempunyai perasaan bahwa dalam tubuhnya mengeram racun. tetapi iramanya terdengar tegas dan menyebabkan yang mendengarkan merasa tenang dalam menghadapi kematian. ia tiada berniat untuk mengubur semua jenazah orang itu. perLahan ia meninggalkan kuil tua itu. suara seruling itu tiba-tiba terputus. Timbul pula suatu pikiran aneh dalam otaknya. supaya mudah dilihat orang……. Siang-koan Kie tergugah semangatnya oleh irama seruling itu. agaknya tertiup dari tempat jauh.Tiraikasih Website http://kangzusi.. supaya oleh orang itu disiarkan kepada dunia kang ouw. kemudian disusul oleh bau harum bunga cempaka yang menusuk hidung. Karena berpikiran demikian. sehingga dia dapat menceritakan peristiwa yang terjadi di dalam kuil itu……. baik orang dari rakyat atau orang-orang Pemerintah. suaranya tidak besar. angin di musim kemarau meniup kencang. bukan saja mudah dilihat oleh orang yang lewat dijalan tetapi juga mungkin sebelum ia mati bisa berjumpa dengan yang hendak pesiar ke tempat itu. Maka sebaiknya dibiarkan di dalam ruangan. Suara seruling itu sangat aneh..

Godaan pada pikirannya sendiri itu. racun yang keras itu agaknya sudah menjalar kesekujur badannya……. Ia berjalan menuju ke depan. Tiba-tiba ia merasakan darahnya menggolak.com/ rontok. tanpa tujuan juga tanpa arah. di pagi buta seperti itu bagaimana ada orang datang? Maka ia berjalan sudah hampir tiga pal jauhnya masih belum menjumpai seorangpun juga. didengarnya irama seruling . dengan tanpa sadar rebahkan diri dan kemudian tidur pules. Dalam gunung dan tempat belukar itu. apa yang dipikir dalam hatinya ialah lekas menjumpai seorang hidup. Ia sudah tidak mempunyai hati dan pikiran untuk menikmati pemandangan alam itu. cuma beberapa tangkai pohon bunga seruni yang tumbuh di antara rumput hutan itu masih tetap memekarkan bunganya yang indah. Tiba-tiba ia merasakan goncangan jantung semakin keras sehingga dipikirnya racun dalam tubuhnya sudah mulai bekerja.Tiraikasih Website http://kangzusi. seolah-olah dibanduli oleh barang berat. Sepasang kakinya mendadak juga merasa lemas.. lalu mendengarkan dengan saksama. ia mengucak-ucak matanya. telah membuat runtuh semangatnya sendiri. karena ia tahu bahwa ia sendiri sudah tidak mempunyai kekuatan untuk menyiarkan kejadian tersebut. keinginan satu-satunya ialah supaya lekas-lekas berjumpa dengan seseorang supaya ia dapat menceritakan peristiwa di dalam kuil itu. Entah berapa lama berlalu telinganya sayup-sayup terdengar suara seruling. Mendadak ia rasakan kakinya sangat berat. perlahan-lahan ia duduk di pinggir jalan dan memejamkan matanya……..

Tiraikasih Website http://kangzusi. Perasaan ingin hidup telah timbul secara mendadak. Ia mulai memasang telinganya 1agi. Meskipun ia adalah seorang yang cerdik. Suara seruling itu makin lama kedengarannya makin nyaring. Ia mencari suara seruling itu. suara seruling itu datangnya dari tengah-tengah lamping gunung itu. Sebentar kemudian ia sudah tiba di bawah tebing gunung yang tinggi. Irama seruling yang menggembirakan. iramanya yang mengalun-alun didengarnya sangat menawan hati……. sehingga dalam hati diamdiam merasa heran. tetapi berhadapan dengan suatu kejadian ganjil ini juga tidak berdaya. . lalu bangkit dan menggerak-gerakkan kakinya sebentar. hanya tampak tebing gunung yang menjulang tinggi dan licin.com/ itu seperti mengandung perasaan gembira. kiranya dalam keadaan demikian dengan tanpa disadarinya ia sudah mengeluarkan ilmunya meringankan tubuh. membuatnya untuk sementara melupakan dirinya yang sudah kemasukan racun. sehingga membangunkan semangat siapa yang mendengarkannya. didengar pula irama seruling yang lembut dan merayu. dengan tanpa disadarinya tindakan kakinya dipercepat. tetapi ia memandang sekian lamanya. Siang-Koan Kie kerahkan pandangan matanya mengawasi ke tebing tinggi itu. Itu adalah sebuah puncak gunung yang tingginya seratus tombak lebih. tebingnya licin tajam. agaknya terpisah tidak jauh dengan dirinya. tidak terdapat sesuatu gua atau lobang yang kiranya dapat digunakan untuk kediaman orang. kemudian berjalan menuju ke arah seruling itu dengan langkah lebar. Sebentar kemudian ia bergerak bagaikan terbang.. keluar dari celah-celah tebing gunung itu.

dan setelah tiba di atas dan mendadak berhenti. tetapi keinginannya untuk mencari masih tetap kuat. Siang-Koan Kie telah tertarik seluruh perhatiannya oleh suara seruling yang aneh itu sehingga melupakan tujuannya yang hendak mencari suara itu tadi. bagaimana kini telah terpengaruh olehnya……. Ia mendongakkan kepala memandang keangkasa. benar-benar gila aku sebetulnya hendak mencari suara seruling itu. Irama setiap alat musik. sebentar tegang dan sebentar lembut……. ia berdiri dibawah tebing gunung untuk menikmati irama seruling itu.. suaranya masih mengalun di tengah udara. Irama itu sedikitpun tidak mengandung irama sedih. seolah-olah rayuan dari sepasang gase yang lama berpisah baru berjumpa lagi……. meskipun suara seruling itu sudah berhenti. .Tiraikasih Website http://kangzusi. maka ia lalu mengerahkan ilmunya meringankan tubuh. sudah berubah menjadi suara lembut halus dan merayu-rayu. Siang-Koan Kie dengan tanpa sadar mendongakkan kepala ke atas. akan tetapi bisa membawa banyak macam perobahan sebentar tinggi sebentar rendah. Siang-Koan Kie seperti baru tersadar dari mimpinya. kedengarannya tidak mempunyai noot tertentu. memang mengandung kekuatan yang dapat pengaruhi perasaan manusia. memanjat ke atas tebing gunung itu. Ia memang seorang yang mempunyai kemauan keras dan pikiran teguh. Tiba-tiba irama seruling itu berubah pula..com/ Entah berapa saat irama seruling itu dari suatu irama yang menggembirakan.. tetapi irama yang keluar dari seruling itu lain dari pada yang lain. lalu memaki dirinya sendiri sambil menepuk kepalanya. Ia merasa suara itu seolah-olah memanjat ke atas melalui tebing tinggi itu.

Ketika tiba di suatu tikungan. karena sudah tidak dapat bertahan lagi terpaksa ia merosot turun ke bawah. Irama seruling yang menghilang tadi tiba-tiba terdengar pula.Tiraikasih Website http://kangzusi. Ia sudah tertarik sekali seluruh perhatiannya oleh irama seruling yang ganjil itu sehingga ingin sekali menemui orang yang meniupnya. Ia lalu melompat bangun dan tatkala mendengarkan lagi dengan saksama. ternyata itu adalah dua buah puncak gunung yang tidak bersambungan. suara itu datang dari sebelah kirinya.com/ Ia pikir suara seruling itu datang dari atas tebinq. dengan tanpa dirasa ia perlahan-lahan berjalan ke arah sebelah kiri. Ia lalu memeriksa keadaannya.. tetapi kali ini iramanya berlainan. tinggi dan penuh semangat. meskipun ia mempunyai kepandaian sangat tinggi tetapi merambat di tempat licin semacam itu sulit mendapat kesempatan untuk berhenti. Tebing itu memang sangat licin.. saat itu ia lalu berdiri termangu sebab puncak gunung menjulang tinggi itu serupa dengan keadaan yang pertama dengan tebingnya yang tinggi licin dan suara seruling itu datangnya dari celah-celah tebing tinggi itu……. Sementara itu keringat sudah mulai membasahi sekujur badannya. mengapa sampai saat itu masih belum binasa……. maka ia harus menggunakan seluruh kepandaiannya agar supaya badannya tidak merosot kebawah. seolah-olah para pejuang yang hendak menuju ke medan laga. orang yang meniup pasti berdiam dalam lubang atau gua dipuncak gunung. Tiba-tiba ia teringat dirinya sendiri yang terkena racun. tetapi ia mencari sekian lama masih tidak menemukan apa-apa. Siang-Koan Kie mendengarkan itu tertarik pula perasaannya. kecuali adanya sebuah jalan yang menghubungkan antara kedua .

sekonyong-konyong ia teringat bahwa semalam di dalam kuil. sebab diantara dua puncak gunung itu terpisah satu jurang yang dalam. Siapa tahu sudah hampir setengah jam ia menunggu. Tetapi baru saja tiba di tengah-tengahnya suara seruling itu mendadak lenyap pula. Ia membuka matanya. Sampai ia sudah merasa lelah dan tidak sanggup naik lagi.Tiraikasih Website http://kangzusi. Kejadian semalam terbayang pula dalam otaknya. Ia mendengarkan sekian lama. Ia sudah dengar betul bahwa suara seruling itu tersiar di antara tebing puncak gunung itu yang tidak dapat dicari dari mana asalnya tetapi ia tetap hendak mencarinya. seruling itu tidak terdengar lagi suaranya. Ini memang merupakan suatu kejadian ajaib. ia juga pernah mendengar suara seruling yang sangat aneh . selain itu juga tidak ada lain jalan lagi yang dapat memindahkan suara dari satu ke puncak lainnya.com/ puncak gunung itu maka orang yang meniup seruling tadi dengan gerak badannya yang gesit dapat pindahkan diri dari satu puncak ke lain puncak. ternyata sudah hampir tengah hari hingga kekawatirannya akan mati timbul pula dalam hatinya……. baru merosot turun dan duduk bersila untuk mengatur pernapasannya. tidak mungkin dapat dilalui oleh tenaga manusia. Ia coba mengukur letak kedua puncak gunung itu semua itu tidaklah mungkin. kembali berusaha untuk memanjat ke atas.. ia melupakan dirinya sendiri yang sudah hampir mati. Suara seruling yang aneh itu benar-benar sudah menarik perhatiannya. menantikan suara seruling itu lagi. Sing-Koan Kie meski seorang cerdik juga tidak mampu memecahkan persoalan itu.

“Orang yang meniup seruling itu entah dapat meniup berapa macam irama. sebaliknya ia memanjat ke atas pohon besar yang tingginya kira-kira enam tombak lebih.” Tiba-tiba irama itu berubah menjadi tinggi. Ia sebetulnya ingin mencari suara itu. ia tidak akan mencari lagi ke arah tinggi puncak gunung itu. tetapi setelah dipikir masak2 ia lupa rencananya. irama seruling itu kembali mengalun ke udara. orang yang meniup agaknya juga dari tempat jauh telah berpindah ke tebing gunung sebelah kiri ini. ingin mencari tahu dari mana datangnya suara itu? Siapa tahu terjadinya perobahan diluar dugaan. yang setiap kali agaknya sangat berlainan. Ia berada di atas pohon dan mendengarkan dengan saksama. sehingga dalam hatinya diam-diam berpikir.Tiraikasih Website http://kangzusi. Tetapi irama seruling yang disiarkan kali ini berlainan pula dengan yang duluan. . kini ia duduk lagi sambil bersila dan memejamkan mata. andaikata orang yang meniup seruling itu benar-benar berada di puncak gunung itu tidak mungkin suara seruling itu bisa sampai ke dalam kuil. Selagi masih berpikir. kali ini ia sudah siap sedia memasang telinga. meski suaranya tidak besar tetapi kedengarannya sangat nyata. Pada saat itu. tetapi usahanya itu ternyata sia-sia saja. Suara seruling yang aneh dan sulit diduga dari mana asalnya itu telah membangkitkan sifat-sifat dan kemauan keras Siang-Koan Kie untuk mencari sampai dapat dimana suara itu. rama seruling itu agaknya ditiup dari tempat yang sangat jauh. tempat ini terpisah sejauh lima pal dengan kuil itu.com/ itu.

dalam hatinya diam-diam berpikir andaikata aku masih bisa hidup dua hari lagi. Penderitaan bathin ini. ternyata matahari sudah berada di tengah-tengah. menyebabkan ia kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri. Siang-Koan Kie yang menganggap dirinya sudah kemasukan racun. dan suara seruling itu setelah membentur dinding puncak gunung lalu memantulkan suara yang lebih nyaring. . Hanya. racun dalam tubuhku sudah waktunya harus bekerja. tetapi suara memantul yang balik keluar kedengarannya lebih nyaring. tetapi kini sudah tengah hari. aku pasti dapat menemukan asal suara seruling itu. Ia mendongakkan kepala.. Karen Ang Thian Gie adalah seorang ahli racun kenamaan.com/ Karena ia telah merasa bahwa suara seruling itu agaknya berasal dari lain tempat dan setelah tiba di tebing gunung itu mengeluarkan suara pantulannya. irama itu sangat lemah.Tiraikasih Website http://kangzusi. ia mulai putus harapan. maka ia selalu ingat ucapan Ang Thian Gie yang mengatakan bahwa racun itu akan bekerja sebelum matahari terbenam……. mungkinlah ada seseorang yang berdiri di tempat jauh dengan kekuatan tenaga dalamnya yang sangat sempurna meniup seruling. hendak menghamburkan tenaganya untuk mencari asal-usul suara seruling yang aneh itu. apakah dalam dunia ini ada kejadian serupa ini. Hal itu adalah semacam pikiran aneh yang ia sendiri belum yakin sedalam-dalamnya. Pikiran aneh timbul dalam otak. seorang yang akan meninggal dunia. sebetulnya memang tidak mungkin. Tetapi kecuali teori ini sudah tidak ada lain jalan untuk menjelaskan apa sebabnya suara seruling itu bisa keluar dari tebing gunung itu.

Perbuatan keji yang sekali gus menumpas lima orang jago daerah Tiong-goan bersama anak muridnya. apa yang dipikir segera dilakukan tanpa menghiraukan segala rintangan dan kesulitan. Tiba-tiba ia teringat peristiwa menyedihkan yang terjadi kemarin malam. tetapi kalau ia memikirkan jiwanya sendiri biar bagaimana tidak mampu menyelesaikan usahanya itu. empat susioknya mati seketika begitu pula murid-muridnya. bahwa irama seruling itu ditiup oleh orang yang berada di tempat jauh dengan menggunakan tenaga dalamnya yang sudah sempurna……. Tiba-tiba terdengar pula suara seruling aneh itu dan kali ini iramanya berubah pula agaknya mengandung rasa kasih . akhirnya tersia-sia semuanya sebab sebelum berhasil melakukan pekerjaan yang bermanfaat bagi sesamanya. jerih pajah Suhunya yang menurunkan kepandaian kepadanya sampai sembilan tahun.Tiraikasih Website http://kangzusi. lalu duduk di bawahnya sambil menyandarkan badannya. barangkali tidak mungkin dapat menemukan dimana orang tersebut berada. sampaipun siapa sebenarnya yang merencanakan pembunuhan itu juga tidak jelas…….. hatinya merasa sangat duka. hanya empat pemuda yang bertindak sebagai mata-mata musuh bisa berlalu dengan selamat. sekalipun andaikata saat itu ia sudah tahu benar.com/ Perasaan Sing-Koan Kie berada dalam keadaan berlawanan. Sedangkan suhunya sendiri dengan racun dibadannya coba mengejar Ang Thian Gie sehingga kini tak ketahuan kabar beritanya. Perlahan-lahan ia merayap turun dari atas pohon. sifat-sifat keras hati pembawaannya selamanya membuat ia menjadi seorang yang berkemauan keras. ia harus mati karena racun. mereka mati konyol.. ia mengenangkan semua pengalamannya. sehingga tidak ada satupun yang hidup untuk menuntut balas. tetapi waktunya hidup yang sudah tidak seberapa itu.

Saat itu perasaannya sudah terpengaruh benar-benar oleh irama seruling itu. tiba-tiba teringat pula racun yang mengeram dalam dirinya. apalagi sekitar lima pal kuil itu tidak terdapat sebuah rumahpun. suara itu mengalun tegas datang dari arah tertentu. dimana-mana terdapat galagasi yang memenuhi ruangan dalam kuil. sebentar kemudian sudah tiba kembali di depan pintu kuil tua itu. bertindak masuk ke dalam dan menuju ke belakang. Kuil tua itu keadaannya memang sudah bobrok. tetapi kalau ia melihat sinar matahari. Ia menengadahkan kepala. . ia memeriksa keadaan sekitar tempat itu.com/ sayang seolah-olah timbul dari mulut ibu yang memanggil anaknya……. tetapi bentuknya masih meninggalkan bekasnya yang megah namun tiada seorang padripun yang mengurusnya. suara seruling itu tiba-tiba berhenti. dinding disana sini sudah banyak yang runtuh. Ketika ia tiba di sebuah menara tua yang berada di belakang kuil itu. Suara seruling kali ini agaknya sengaja memancing dirinya supaya tidak bimbang seperti tadi.. pikiran Siang-Koan Kie jernih kembali. Dengan tanpa sadar Siang-Koan Kie bangkit dan berjalan menuju ke arah suara seruling itu. Begitu suara seruling itu berhenti. Siang-Koan Kie mempercepat pindah kakinya. hingga seperti seorang yang sudah tidak bersukma. Saat itu ia sudah dikendalikan oleh irama seruling dengan tanpa ragu-ragu. Kuil tua itu meskipun keadaannya sudah banyak yang rusak.Tiraikasih Website http://kangzusi. seluruhnya sudah dikendalikan oleh suara itu. di bagian atas menara itu samarsamar dapat terlihat tulisan dua huruf penyimpan kitab.

Siang-Koan Kie perlahan-lahan bertindak ke dalam ruangan. kecuali debu-debu . kuat Ia mendaki sampai ke tingkat limabelas. ketika didorong oleh Siang Koan Kie lantas terbuka. untuk menunggu sampai debu itu habis.Tiraikasih Website http://kangzusi. Pintu itu entah sudah berapa tahun lamanya belum pernah bergerak. sekalipun ia tahun bahwa tangga itu adalah suatu jebakan. Dengan tanpa ragu-ragu Siang-Koan Kie mendaki tangga itu. Di depan matanya terbentang sebuah ruangan kitab yang luas. maka ia segera tahu bahwa guci itu adalah benda untuk menyimpan tulang-tulang manusia. Guci tanah untuk menyimpan tulang-tulang manusia itu entah sudah berapa tahun lamanya tidak dibersihkan. Ruangan dalam menara itu terdapat beberapa buah guci tanah jg berbaris sangat rapihnya namun di atasnya juga terdapat debu yang tebal.com/ Perlahan-lahan ia menghela napas dan mendorong pintu menara yang tertutup rapat itu. sedapat mungkin ia hendak mengejar waktu agar sebelum putus jiwanya ia dapat menemukan orang yang dicari. dari dalam menara menghembuskan banyak debu sehingga Siang Koan Kie harus mundur beberapa langkah. sehingga sedikit banyak sudah mendapat pengalaman. disitu terdapat banyak lemari kayu yang tertutup pintunya. Tangga itu rupanya terbuat dari kayu yang keadaannya ternyata masih belum ada yang lapuk. Ia dulu sering mengikuti suhunya berkelana di dunia Kangouw. matanya memeriksa keadaan di sekitarnya tetapi dalam ruangan itu kecuali guci tanah tersebut tidak terdapat barang apa-apa lagi. tetapi ia tidak memperdulikannya 1agi. Di sudut kiri dalam ruangan tersebut terdapat sebuah tangga.

Desiran angin malam tiba-tiba meniup dimukanya.Tiraikasih Website http://kangzusi. biarlah kitab2 ini mengawani bangkaiku.. Ia memilih suatu tempat di tengah-tengah. tetapi tiada satupun yang rusak. ia yang memang sudah menganggap dirinya sudah mati.com/ yang terdapat di atasnya. Ia membuka sebuah daun jendela. maka tidak antara lama lalu tertidur……. waktu sadar dalam keadaan gelap lalu mengira dirinya betul2 sudah mati. perlahan-lahan ia duduk dan bertanya-tanya kepada diri sendiri. “Mati demikian tenang.. lalu membersihkan debunya. Ia yang sudah pernah mencium bau harum serupa itu maka kali ini ketika dapat mencium lagi. kecuali lemari-lemari kitab. Perlahan-lahan ia berjalan mengitari ruangan itu sekali. otaknya tiba-tiba menjadi terang. pikirnya. Rasa sakit telah menyadarkan seluruh ingatannya.. baik sekali untuk mengubur diriku……. maka ia lalu berdiri dan berjalan menuju ke jendela. entah dari mana suara seruling tadi. untuk melihat cuaca. kemudian merebahkan dirinya. membawa bau harum dari bunga cempaka. tidak ada tanda apa-apa lagi. karena dianggapnya sudah waktunya harus mati. Ketika ia terbangun. ia mengulurkan jari tangannya untuk digigit sendiri. Diluar keadaan gelap. tempat ini begini tenteram. keadaan dalam kamar gelap gulita. angin malam yang membawa bau harum bunga cempaka. di langit nampak bertebaran sinar bintang. hari sudah malam. “Sekarang ini aku manusia ataukah setan……. semakin keras menutup hidungnya. kiranya ia masih hidup. . Ia lalu memejamkan matanya. hatinya lalu berpikir saatnya sudah hampir tiba.

pikirnya. apakah bau harum bunga ini dibawa oleh tiupan angin dari tempat jauh?” Dia lalu teringat pula setiap kali setelah hembusan harum bunga cempaka itu. matanya dapat melihat satu kepala manusia aneh yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua. Ia mulai memasang mata mengamati keadaan sekitarnya. kecuali itu empat pemuda yang bertindak sebagai mata-mata. Setelah ia menenangkan pikiran ia masih dapat ingat dengan jelas bahwa suara itu bukanlah timbul karena sedang melamun. untuk sesaat bulu romanya berdiri. mengapa ia sendiri tidak? Sekonyong-konyong ia mendengar orang menarik napas panjang yang datang dari atas kepala. juga akan timbul rasa takutnya. diam-diam ia merasa heran mengapa semua orang yang sudah terkena racun Ang Thian Gie. ia mencoba meraba ke belakang punggungnya. ia baru ingat bahwa pedangnya sudah tertinggal dalam kuil. seluruhnya sudah mati. ia lalu melompat melalui jendela menuju ke atas atap. Hatinya mendadak tergerak. Suara tarikan napas itu kedengarannya sangat berat. Ternyata menara itu mempunyai dua kamar yang serupa. Di bawah sinar bintang. sekalipun orang yang keberanian besar. “Dekat tempat ini kalau benar tumbuh bunga cempaka.com/ Kini ia sudah dapat kepastian bahwa dirinya masih hidup. maka kamar lainnya itu . Suara itu datangnya secara tiba-tiba dalam kuil yang keadaannya yang sangat sunyi dan seram itu. karena kamar kitab itu sangat luas. mengapa waktu aku tadi naik ke menara ini tidak pernah menciumnya. muncul di sebuah daun jendela.Tiraikasih Website http://kangzusi. tiba-tiba saja ia tertarik pula oleh perasaan herannya. lalu disusul oleh suara seruling yang sangat aneh. Ia telah dikejutkan oleh suara tarikan napas itu.

badannya.Tiraikasih Website http://kangzusi. kepala aneh yang terdapat di mulut jendela itu ternyata sudah lenyap. mengawasi keadaan di dalamnya. tiba-tiba saja mendapat penglihatan pemandangan yang sangat aneh itu. Ia memeriksa keadaan di situ dengan teliti. ia lalu menjerit dan memejamkan matanya. tidak dapat melihat barang-barang di dalamnya. maka yang . Orang itu agaknya duduk di pinggir jendela. maka setelah memandang dengan saksama. betapapun besar beraninya Siang-Koan Kie juga terkejut dan ketakutan. Ia memang sudah mempunyai kepandaian dapat membedakan benda2 dalam keadaan gelap. -odwoBab 4 SETELAH berpikir sejenak. Siang-Koan Kie segera mengerti. Pada waktu dan tempat seperti itu. pakaian bawah tertutup oleh dinding seluruhnya sehingga cuma kelihatan kepalanya yang putih seluruhnya. Perlahan-lahan ia berjalan ke ruangan itu. Jikalau orang tidak naik ke atas atap tidak akan dapat melihatnya. ternyata semua jendela terbuka. tetapi karena keadaan sangat gelap. bahwa orang itu mengenakan pakaian berwarna hitam. karena berada di dalam kamar yang gelap gulita. Ketika pikirannya tenang kembali dan ia mulai membuka matanya. Kepala aneh yang terdapat di mulut jendela ternyata berada di tengah-tengah kamar itu. segera dapat lihat dengan tegas benda yang ada dalam kamar.com/ dibangun di atas kamar kitab tadi. bau bunga cempaka yang harum itu tersiar keluar dari dalam ruangan tersebut.

sebaiknya aku jangan mengganggunya. ia lalu menyahut. jendela terbuka. tiba-tiba terdengar suara yang keluar dari mulut orang aneh itu.” Selagi hendak berlalu. “Locianpwee. mungkin ia bukan seorang baik. tetapi sekarang usiaku sudah lanjut.. dalam hatinya lalu berpikir.com/ tertampak hanya kepalanya saja yang seolah-olah diletakkan di atas meja. maka kekuatan tenaga dalam orang ini benar-benar sudah tidak ada taranya.” Terdengar pula ucapannya orang aneh itu. aku segera dapat tahu kau sedang memaki aku. seketika menjawab.” Siang-Koan Kie maju lagi dua langkah seraya menanya. tajam pandangan matanya sesungguhnya sangat luar biasa……. dalam hatinya berpikir. adat juga tidak keras lagi. kalau kau ingin melihatlihat silahkan masuk saja. “Bagaimana kau tahu?” “Aku melihat sikap diwajahamu. “Di tempat penjuru ruangan ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. kalau hal itu terjadi dimasa mudaku. andakah yang meniup seruling?” Orang aneh itu agaknya merasa girang mendapat pujian. “Meski aku tidak memaki padanya. “Hem dalam hati kau berani memaki aku?” Siang-Koan Kie terperanjat. juga tidak apa-apa. . siang-siang niscaya sudah kuhajar mampus kau……. Siang-Koan Kie setelah memandang sejenak.” Siang-Koan Kie lalu berpikir. tetapi memang agak jemu terhadapnya. Dalam hatimu memaki aku. dalam keadaan begini gelap ia dapat melihat sikap jiwa jago.. “Kalau benar seruling itu dia yang meniup. “Orang ini bukan saja aneh dandanannya tetapi juga memilih tempat yang begini menyeramkan sebagai tempat tinggalnya. “Benar-benar baguskah tiupanku itu?” Siang-Koan Kie diam-diam terkejut.

Tiraikasih Website http://kangzusi. “Suara dewa. “Tidak kusangka hari ini dapat berjumpa dengan seorang yang mengenal irama.” Orang aneh itu agaknya tidak percaya jawaban itu.. benar-benar suara dewa. lalu berkata. sesungguhnya tidak berani. lalu dengan bangga berkata pula. gampang kau berkata. dan bagaimana pula aku dapat menjumpai Locianpwee?” Orang aneh itu ketika mendengar ucapan Siang-Koan Kie nampaknya sangat gembira sekali sehingga ia bersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala seraya berkata. maka ia menanya pula dengan suara keras. rasanya bukan ingin mengkecapi diriku…….” . ini memang sesungguh-sungguhnya……. menyebabkan orang yang mendengarkan menjadi bersemangat. bagaimana aku membohongi Locianpwee? Cobalah Locianpwee pikir sendiri.com/ Orang aneh itu ketika menyaksikan Siang-Koaa Kie melongo memandangnya dan tidak menjawab. bagaimana aku dapat mencari kemari. “Benarkah ucapanmu itu? Atau kau sengaja membohongi aku?” “Semua ucapanku adalah sejujurnya. “Keteranganmu ini agaknya memang benar. tetapi irama yang keluar dari seruling. Orang aneh itu menatap wajah Siang-Koan Kie sejenak.” Orang aneh itu tertawa terbahak-bahak. dalam hatinya agaknya merasa kurang senang. kembali ia bertanya. “Woan pwee adalah seorang bodoh kalau dikatakan mengenal suara.. “Katakan suara itu bagus atau tidak?” Ditanya demikian Siang-Koan Kie segera menjawab. “Irama seruling Locianpwee sesungguhnya bagus sekali.. jikalau tidak karena tertarik oleh irama seruling yang sangat indah itu. cuma di atas seruling ini aku memang benar pernah menggunakan waktu untuk mempelajarinya…….

dan kedua. kau sudah datang sudah tentu harus duduk dulu. kaulah satu-satunya tamuku disini. suara seruling locianpwee sesungguhnya luar biasa. kali ini kita berjumpa juga boleh dikatakan jodoh. “Hem. Orang yang aneh itu menantikan setelah Siang-Koan Kie duduk baru bertanya lagi. maka waktu diundang masuk ia segera menerima baik undangan tersebut. orang itu kadang-kadang masih menunjukkan sikap kekanak-kanakan. ia lalu duduk di atasnya. silahkan masuk jika kita berbicara dalam keadaan semacam ini bukankah itu berarti aku tidak mengindahkan tetamu.. ia lalu tertawa pula dan berkata. “Oh ja. kau tentunya bisa memahami irama serulingku?” . tetapi kesatu karena merasa suka dengan irama serulingnya. lalu mengangguk-anggukkan kepala dan berkata.” Siang-Koan Kie mengawasi keadaan di sekitarnya.” Sementara itu Siang-Koan Kie sudah berada dihadapannya. sehingga Boanpwee mencarinya sampai kemari…….Tiraikasih Website http://kangzusi. “Benarkah kau karena ingin mencari suara seruling sehingga datang kemari?” “Benar. mari-mari. gerakanmu boleh juga.com/ Tiba-tiba ia teringat bahwa mereka berbicara terpisah oleh jendela.” Siang-Koan Kie sebetulnya tidak ingin mengobrol dengan orang aneh itu. “Duduklah. “Selama beberapa tahun ini.” Orang yang aneh itu mendengar kata Siang-Koan Kie nampaknya sangat bergirang lagi. mari kita mengobrol. Orang yang aneh itu mengangkat kepala mengamat-amati Siang-Koan Kie. Orang aneh itu berkata pula. ia berkata. “Kalau begitu. pantas kau berani menempuh bahaya. di samping meja kayu ada sebuah kursi.” Orang itu menggerakkan kepalanya menoleh ke samping seolah-olah memberi tanda kepada Siang-Koan Kie lalu berkata pula.

entah terbuat dari bahan apa. Siang-Koan Kie dengan matanya yang tajam dapat menyaksikan seruling tembaga yang diletakkan di atas kain itu. di bagian ujung terdapat sebuah gumpalan sepotong.. warnanya hitam cengat. dengan sikapnya yang hati2 diletakkan dihadapannya. lebih dulu ia mendoa. kemudian dengan sikapnya yang sangat menghormat sekali ia mengeluarkan serulingnya yang diletakkan di atas kain itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. seruling itu panjangnya hanya satu kaki lebih. . jangankan manusia sekalipun binatang. ia mengangkat seruling itu. ia berkata. “Malam-malam aku kedatangan tamu yang mengenal irama musik. baiklah kutiup lagi beberapa lagu untuk kau dengarkan. perasaan yang timbul kepada mereka berbeda-beda. “Orang tua ini sungguhpun aneh kelakuannya tetapi perkataannya masih masuk diakal. kemudian membuka matanya dan memandang seruling itu dengan sikap sangat menghormat. bentuknya sangat berlainan dengan seruling tembaga umumnya. lalu melajang turun di depan jendela..” Orang yang aneh itu tiba-tiba nampak sangat gembira. tetapi perasaan sedih dan gembira yang timbul karena pengaruh irama seruling itu. juga dapat mengenali bagus atau jeleknya suara…….” Orang tua itu lalu mengambil sepotong kain dari atas meja. Orang tua itu memejamkan matanya.com/ “Boanpwee meskipun tidak berani mengatakan faham.” “Itu memang. suka sekali Boanpwee dengar. merangkapkan kedua tangannya di atas dada. Boanpwee masih juga dapat merasakan……. kemudian badannya mendadak melesat ke atas dengan sikap yang tidak berobah. hanya saja setelah mendengarkan.” Dalam hati Siang-Koan Kie diam-diam berpikir. bagaimana?” “Kalau Locianpwee senang.

Tetapi sudah sekian lam ia meniup. . Setelah berada di pinggir jendela. tiada terdengar suara irama keluar dari seruling itu. Setelah menyaksikan lama.Tiraikasih Website http://kangzusi. Mula2 irama seruling itu kedengarannya halus lembut. sebentar2 terputus. entah semacam gerakan apa yang dilakukan oleh orang tua itu. tapi orang tua itu nampaknya memang sedang benar-benar meniup dengan sungguh-sungguh nampak mengeluarkan banyak tenaga. karena dengan tanpa menggerakkan kaki dan tangannya. dibagian ekor seruling itu seperti ada gelombang asap putih bagaikan kabut melajang ke udara……. Kini ia telah menyaksikan suatu pemandangan yang ajaib.. menghembus keluar semacam gelombang suara. sekonyongkonyong terdengar irama seruling sayup-sayup terbawa oleh tiupan angin……. mulailah orang tua itu meniup serulingnya.com/ Siang-Koan Kie terkejut dan keheranan. setelah gelombang itu menemukan rintangan lalu mengeluarkan suara seruling yang memantul balik……. Siang-Koan Kie baru tersadar ternyata orang tua itu benar-benar sudah menggunakan kekuatan tenaga dalamnya yang sudah sempurna. hanya dengan mengandalkan satu tangan kiri yang digunakan untuk menekan tanah. hal ini mengherankan SiangKoan Kie. Siang-Koan Kie berdiri menghampiri orang tua itu. sehingga orang tua itu nampaknya harus menggunakan banyak tenaga. ia pasang matanya sungguh-sungguh untuk menyaksikan caranya orang tua itu meniup seruling. Selagi hendak membuka mulut untuk menanya.. tetapi kemudian perlahan-lahan berubah nyaring. orangnya sudah melajang ketengah udara dengan sikap yang tidak berobah.

tetapi suara dari serulingnya masih tetap mengalun sampai beberapa saat lamanya baru berhenti. demikian orang tua itu berkata.. Karena berpikir demikian.” Orang tua itu setelah mendengar ucapan Siang-Koan Kie segera mengerti bahwa pemuda itu tidak puas. .. maka ia lalu berkata sambil tertawa dingin. “Mendengar keteranganmu ini agaknya kau mengerti tidak sedikit. Siang-Koan Kie adalah seorang yang beradat keras. ketika mendengar perkataan orang tua itu. lalu berkata sambil tertawa dingin. sebaiknya aku berusaha supaya lekas berlalu dari sini. dan bertanya dengan nada suara dingin. tetapi terhadap irama masih sedikit banyak mengerti juga. irama seruling itu masih terdengar sangat nyata. “Orang tua ini sifat-sifat dan sikapnya tidak mudah dilayani. Orang itu meskipun berhenti meniup. mengatakan kepadanya tidak mengerti. terhadap berbagai macam alat musik meski belum mempelajari semua tetapi tidak sedikit juga yang Boanpwee kenal baik…….com/ Orang tua itu agaknya dapat melihat perhatian Siang-Koan Kie terhadap dirinya sekonyong-konyong ia berhenti meniup. sudah tentu tidak mengerti keajaiban ini……. “Karena menyaksikan sikap Locianpwee meniup seruling yang agaknya menggunakan banyak tenaga tadi. dengan tanpa sadar Boanpwee sangat tertarik sehingga mencoba untuk memperhatikan. “Anak kau masih terlalu muda. “Meskipun usia Boanpwee masih terlalu muda. Sementara itu. sekarang aku bertanya padamu. dalam hati merasa tidak puas. maka ia kemudian menjawab. “Perlu apa kau melihat aku?” Melihat sikapnya orang tua itu yang kembali telah menunjukkan adat sifat-sifatnya yang aneh dalam hati SiangKoan Kie berpikir.Tiraikasih Website http://kangzusi.

terutama orang yang meniup seruling harus berpikiran tenang haru dapat mengeluarkan iramanya yang enak. Maka ia lalu berkata.. orang yang meniup atau menabung pada waktu itu.com/ kau lihat apakah tiupan serulingku ini sama dengan orang biasa?” “Kalau Locianpwee hendak dibandingkan dengan orang lain. sehingga nampaknya seperti menggunakan banyak tenaga. Siang-Koan Kie berkata. menurut pandangan Boanpwee tiupan seruling Locianpwee ini. “Dimana letak perbedaannya? Coba ceritakanlah……. seperti juga sedang melatih ilmu kekuatan tenaga dalam. memang tidak sama. tiba-tiba ia bersenyum dan berkata.” “Tetapi Locianpwee jauh berbeda dengan orang biasa. “Lekaslah kau katakana……. apa yang ditiup tidak menurut lagu yang tertentu bahkan…….” Melihat sikapnya itu.” . Siang-Koan Kie tahu apa bila ia tidak mengatakannya pasti akan menimbulkan kemarahan orang tua itu. tetapi ia tetap meniup atau membunyikannya menurut lagu yang ditentukan. Orang tua itu berulang-ulang menganggukkan kepalanya sikapnya nampak sangat girang sekali saat itu Siang-Koan Kie sudah menutup mulut maka ia lalu bertanya..” Orang tua itu buka matanya lebar-lebar. meskipun perasaannya senang atau sedih.. “Bahkan sewaktu Locianpwee sedang meniup mengerahkan seluruh perhatian dan kekuatan. “Alat-alat musik sebetulnya digunakan untuk mencari hiburan.” Sekonyong-konyong ia ingat bahwa orang tua dihadapannya itu adalah seorang tua beradat aneh kalau ia berkata sejujurnya malah kurang baik.” Setelah berpikir sejenak.Tiraikasih Website http://kangzusi. di wajahnya nampak sikap keheran-heranan.

orang tua itu cepat mengulur tangannya kemudian ditarik kembali.. ia tertawa ber-gelak2. tetapi bagiku. sayang meski kepandaianku tinggi sekali.Tiraikasih Website http://kangzusi. kemudian berkata pula.” “Boanpwee meski seorang bodoh. tetapi dari irama seruling itu sudah dapat menduga bahwa Locianpwee adalah seorang yang berkepandaian tinggi dalam rimba persilatan.” Orang tua itu dipuji oleh Siang-Koan Kie hatinya semakin girang. kemudian berkata. sudah tentu tidak sedikit jumlahnya. terus terang kukatakan kepadamu caraku meniup ini memang berlainan dengan orang biasa. “Selama beberapa puluh tahun ini. tetapi belum menemukan seseorang yang dapat mewarisi kepandaianku itu…….” Ia lalu berpaling dan mengawasi anak muda itu.” Diluar jendela mendadak berkelibat bayangan hitam. dalam telapakan tangannya ternyata ada seekor burung kelawar hitam. gerakan mendadak itu mengejutkan Siang-Koan Kie. orang yang mendengarkan irama serulingku ini. tetapi terhadap irama dan kepandaian ilmu silat ternyata mempunyai pengetahuan yang tidak sedikit……. hanyalah kau seorang saja. tetapi yang dapat mengikuti suara itu dan mencarinya sampai kemari. jumlahnya dapat dihitung dengan jari. kecuali itu juga mengandung wasiat semacam ilmu kekuatan tenaga dalam yang sangat tinggi. cara demikian dapat melukai orang tanpa kelihatan……. “Sungguh tidak diduga. saat itu orang tua itu berkata pula kepadanya sambil ketawa. “Kau lihat bagaimana keahlianku ini. usiamu yang masih begini muda. kalau orang biasa meniup seruling untuk menghibur diri atau melampiaskan perasaan.com/ Orang tua itu mendadak tertawa terbahak-bahak. orang yang mampu menandingi aku. maka kalau aku meniup seruling.” Ia lalu menentang tangannya.. . harus mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam. “Dalam rimba persilatan dewasa ini..

” Ia lalu balikkan badannya berjalan menuju keluar. tetapi kekuatan itu dirasakan menindih semakin . bagaimana itu bisa terjadi?” “Jang mengatakan hendak menurunkan kepandaiannya. Tiba-tiba ia merasakan suatu kekuatan hebat menyerang dirinya.” Siang-Koan Kie diam-diam berpikir. sesungguhnya bukan setiap orang mampu melakukan. “Dalam dunia pada dewasa ini entah ada berapa banyak orang yang ingin berguru padaku tetapi semuanya telah kutolak. tetapi menyesal sekali aku tidak dapat menganggap kau sebagai guru. “Kepandaiannya orang tua ini memang luar biasa. kau tidak mau menganggap aku sebagai guru. sayapnya bergerak-gerak agaknya ingin terbang. sebaliknya ingin mempelajari kepandaianku. aku belum pernah mempunyai pikiran itu.” Orang tua itu nampak berpikir. tetapi dalam rimba persilatan ada mengutamakan dan menjunjung tinggi peraturan perguruan.. ia dapat menangkap burung terbang. hanya dalam satu lambaian tangan. “Locianpwee suka menurunkan kepandaianmu kepadaku meski dengan bermaksud baik. lalu berkata pula kepada Siang-Koan Kie.com/ Burung kelelawar itu berdiam di dalam telapakan tangannya. lalu berkata dengan tegas. mulai besok. “Aku senang dengan keberanianmu dan kecerdikanmu.Tiraikasih Website http://kangzusi. Orang tua itu mengawasi gerakan kelelawar yang berada dalam telapakan tangannya. kemudian berkata sambil ketawa. aku yang sudah berguru dari orang lain bagaimana boleh berguru padanya lagi. kalau Locianpwee tidak suka menurunkan sudah saja……. aku hendak menurunkan kepandaianku kepadamu. Maka iapun. adalah Locianpwee sendiri. wajahnya nampak sangat gembira. tetapi tidak berdaya. dengan sendirinya ia mengerahkan kekuatannya untuk melawan.

bagaimana bisa keluar dengan sesukamu?…….. sepuluh tahun kemudian kau pasti akan menjadi seorang kuat nomor satu……. Kekuatan yang menyerang dirinya itu mendadak berhenti sendiri. sehingga tiada kesempatan untuk mendengarkan perkataan orang tua itu.. Meskipun dalam hatinya ingin membantah. kau bocah ini sudah masuk kemari. bagaimana kau dapat menyalahkan aku……. jika kau suka menjadi muridku dan mewarisi kepandaianku.. Dalam hati Siang-Koan Kie berpikir. Kiranya kekuatan tenaganya yang dikerahkan olehnya tadi. “Adalah kau sendiri yang menyuruhku kemari. tidak jelas baginya apa yang diucapkan tadi. . maka ketika kekuatan lain bagian terserang ia sudah tidak berdaya sama sekali. dahinya sudah mandi air peluh. Terdengar pula suaranya orang tua itu yang berkata.com/ hebat. “Sudah beberapa puluh tahun aku berdiam di tempat ini. tetapi selama beberapa puluh tahun ini sejak aku berdiam disini. tetapi sudah tidak mempunyai kekuatan untuk bicara. barangkali cuma dua atau tiga orang saja. “Kau sekarang harus tahu perkataanku itu tidak salah dalam dunia pada dewasa ini orang yang mampu melawan kepandaianku. belum pernah ada orang yang menginjak kemari.Tiraikasih Website http://kangzusi. maka kepandaianku dengan sendirinya pasti mendapat banyak kemajuan. apalagi sepasang kakinya agaknya juga sudah tidak mau dengan perintahnya lagi. Siang-Koan Kie dapat merasakan bahwa kekuatan tenaganya yang digunakan untuk melawan serangan tadi perlahan-lahan berkurang. di belakangnya terdengar suara orang tua itu yang berkata sambil ketawa dingin. ia mulai tidak mampu menahan. dipusatkan untuk melawan serangan kekuatan kepada dirinya. siang malam aku melatih ilmuku.

tetapi karena sipatnya yang keras dan rasa hormatnya kepada . kau dengar atau tidak……. Orang tua itu agaknya terpesona oleh kekerasan sikap Siang-Koan Kie itu. kemudian ia mengulur tangan dan menotok tiga bagian jalan darah dibadan Siang-Koan Kie. ya sudah asal kau mau menyanggupi melakukan beberapa hal bagiku. tetapi setelah ditepuk tiga jalan darahnya. lalu melompat bangun dengan tiba-tiba dari mulutnya menyemburkan banyak darah. Orang tua itu mulutnya memaki. “Sekalipun kepandaianmu sudah tidak ada tandingannya. ia berkata puladengan suara keras.. dengan mendadak ia menarik napas panjang dan berkata. ia mengeluarkan suara tarikan napas panjang. badannya jatuh rubuh ditanah. aku juga tidak sudi menganggap kau sebagai guru untuk mempelajari kepandaianmu.” Siang-Koan Kie berpaling dan berkata. “Baik kau tidak mau menganggapku sebagai guru.” Ia sangat tertarik akan kepandaian orang tua itu. “Apakah yang kau inginkan dariku. Siang-Koan Kie sebetulnya sudah hampir melajang nyawanya.” Kembali ia berdiri dan berjalan keluar.com/ Tetapi orang tua itu ketika menyaksikan Siang-Koan Kie berdiri saja tanpa menjawab perkataannya hatinya menjadi murka. sambil mengawasi orang tua itu ia berkata dengan suara gusar.?” Sementara itu tenaga perlawanan Siang-Koan Kie tiba-tiba lenyap. “Bocah yang tidak ada guna!” Tangan kirinya lalu menekan tanah dan badannya melajang ke udara menghampiri turun didekat Siang-Koan Kie. aku juga boleh menurunkan kepandaianku kepadamu. “Apa yang kukatakan tadi.Tiraikasih Website http://kangzusi.

“Persoalan ini sangat mudah sekali asal kau mau menyanggupi. “Orang macam apakah ke duapuluh delapan orang itu? Locianpwee harus memberi penjelasan lebih dahulu supaya aku dapat menimbangnya. tetapi dalam hatiku dapat membedakan yang baik dan yang jahat. adakah itu cara seorang yang hendak belajar ilmu dariku.” Siang-Koan Kie menanyakan. ia tidak mau menyerah terhadap orang tua itu. jika orang-orang yang kau pinta aku bunuh itu adalah orang jahat semuanya. Orang tua itu matanya mengawasi ke atas. kau melakukan pembunuhan atas diri duapuluh delapan orang untukku. dua. tetapi kalau hendak keluar. mulutnya menghitung: satu. masuk ke dalam tempatku ini mudah. apakah kau kira begitu gampang?” Siang-Koan Kie berhenti memandang orang tua itu sejenak lalu berkata sambil tertawa. sekalipun duaratus delapan puluh atau duaribu delapan ratus jiwa aku juga akan lakukan. setelah kau nanti berhasil mempelajari kepandaianku... “Kau bertanya begitu teliti. “Kepandaian Locianpwee tinggi . Hem. “Meski kepandaianku biasa saja. tiga.” Sehabis berkata ia hendak berpaling dan hendak berjalan lagi.com/ gurunya yang lama. tiba-tiba ia berpaling dan berkata kepada Siang-Koan Kie.” Siang-Koan Kie berkata dengan nada suara dingin. tetapi jika mereka orang-orang baik dan jujur sekalipun hanya satu saja aku juga tidak sudi membunuhnya……. jangan hanya duapuluh delapan orang. malah lebih mirip aku yang hendak belajar darimu. hitung-hitung sebagai pembalasan budimu terhadap aku. Orang tua itu berkata. empat……. Diam.” Orang tua itu mendadak menepuk tangannya di tanah sehingga menimbulkan suara gemuruh lalu berkata dengan suara gusar.Tiraikasih Website http://kangzusi.

ternyata orang tua itu sudah menghilang. dengan tanpa berasa timbullah perasaan kasihannya……. aku tahu kepandaianku tidak dapat melawan kepandaianmu. Siang-Koan Kie dengan tanpa berasa menghampirinya. tidak susah bagi Locianpwee membunuh mati aku.Tiraikasih Website http://kangzusi. Dalam keadaan sunyi itu tetesan air mata terdengar nyata jatuh di atas kotak itu.com/ sekali. “Locianpwee kalau ingin bunuh aku bunuhlah. tiba-tiba terdengar suara tarikan napas panjang yang keluar dari satu sudut dalam ruangan itu. mulutnya bergerak-gerak tetapi tiada terdengar sepatah katapun keluar dari mulutnya.. ia membuka matanya.” Ia lalu berdiri sambil melembungkan dada dan pejamkan mata. Siang-Koan Kie merasa heran. orang tua itu Nampak mendongakkan kepala mengawasi ke atas. tidak nanti aku akan melawan. aku bukan seorang yang takut mati…….. Selagi hendak memalingkan badan. hanya air matanya yang mengalir deras membasahi kotaknya. sepasang matanya tergenang air…….” Mendadak ia keluarkan perkataan keras. ia lihat di tangan orang tua itu memeluk sebuah kotak warna hitam berukuran kira-kira satu kaki persegi. Ia agaknya sudah lupa bahwa dalam ruangan itu masih ada Siang-Koan Kie. Suasana dalam menara itu mendadak sunyi. Siang-Koan Kie menengok. Siang-Koan Kie mendadak merasa bahwa nasib orang tua itu patut dikasihani.. lama tidak terdengar suara jawaban orang tua itu. . terang bahwa hati orang tua itu tengah dirundung kedukaan yang hebat. ia tetap dalam keadaan tanpa bergerak.

aku juga tidak dapat membantu apa-apa……. dalam hal ini aku tidak dapat menerima. apakah gunama aku beritahukan kepadamu…….” “Separoh berarti empat belas……. lalu berkata.” Setelah berpikir demikian ia berjalan lagi ke dekat jendela. kepandaiannya yang begitu hebat sekalipun minta bantuan. sekalipun ada. perintahkan saja asal aku mampu. kedengarannya sangat menggelikan. “Locianpwee perintahkan saja.. aku justru ingin memintamu melakukan satu hal... Dengan menahan rasa geli Siang-Koan Kie berkata pula dengan suara rendah.” Siang-Koan Kie membalikkan badannya dan menjawab. ia meletakkan peti dari tangannya. “Locianpwee sedang memikirkan apakah? Mengapa kau demikian berduka…….” “Seumur hidupku tidak suka meminta bantuan orang. selagi hendak lompat keluar tiba-tiba terdengar suara orang tua itu memanggil padanya.Tiraikasih Website http://kangzusi.” .. ialah untuk kemudian menyuruhku membunuh orang untukmu.” Siang-Koan Kie berpikir. “Kalau begitu kukurangi jumlahnya menjadi separuhnya saja. “Aku minta kau suka belajar ilmu silatku.” Orang tua itu menarik napas panjang dan berkata.?” Orang tua itu menoleh.com/ Siang-Koan Kie berdiri di sampingnya berkata dengan suara perlahan.” Jawaban itu. boanpwee nanti akan melakukannya sedapat mungkin. “Tunggu dulu. “Maksud Locianpwee hendak memberi pelajaran ilmu silat kepadaku. sukakah kau?” Siang-Koan Kie berpikir sebentar lalu menjawab. “Mengapa kau ingin tahu. pasti tidak akan menolak.” Orang tua itu nampak berpikir dan berkata. “Jikalau Locianpwee memerlukan aku. jangan katakan aku tidak berduka. “Ucapannya itu memang benar.

“Tidak.. tetapi ia hanya menarik napas perlahan tidak menjawab.” Lalu ia melompat keluar dari jendela. bagaimana?” “Membunuh seorang saja yang tidak berdosa. apalagi tujuh jiwa. semacam kekuatan yang hebat menindih badannya sehingga ia tidak bisa bergerak. “Kalau begitu kukurangi membunuh tiga orang saja.” Siang-Koan Kie mendadak mengangkat muka dan berkata. aku segera pelajari ilmu silat padamu……. “Kalau begitu kukurangi lagi separuhnya. dengan secara paksa menarik kembali badan Siang-Koan Kie dan kemudian dilempar ke lantai.” dari duapuluh delapan orang Siang-Koan Kie geleng-gelengkan kepala dan berkata. . sudah tidak seharusnya. Siang-Koan Kie sebetulnya ingin bangun lagi tapi orang tua itu tiba-tiba mengulurkan tangan kanannya dan menekan pundak kirinya. aku tidak suka membunuh empat belas orang yang tidak ada permusuhan dengan aku……. Orang tua itu mengulurkan tangan kanannya. Orang tua itu tangan kirinya tiba-tiba menekan ke tanah.com/ “Benar-benar. dengan kecepatan luar biasa menyambar lengan kiri Siang-Koan Kie.Tiraikasih Website http://kangzusi. kau tinggal Siang-Koan Kie melihat orang tua itu agaknya menantikan jawabannya dengan penuh pengharapan.. jadi tinggal tujuh orang.” lagi separuh.” Orang tua itu tidak menantikan Siang-Koan Kie melanjutkan kata-katanya sudah memotong. separuh memang empat belas. “Tidak. dengan sikap tidak berubah dia melajang dan turun dihadapan Siang-Koan Kie lalu berkata. “Asal kau menganggukkan kepala.

dengan demikian kau perlakukan aku? Bagaimana aku tidak membencimu……. orang ingin belajar kepandaian kepadaku aku malah tidak sudi menerimanya. tetapi ha ha ha…….” Orang tua itu habis tertawa lalu berkata pula. aku Siang-Koan Kie meski hanya seorang tingkatan muda dalam rimba persilatan namun juga tidak suka dihina orang. rasanya tidak mungkin bagiku untuk lari keluar dari sini. hendak memaksaku. Sekarang orang tua ini sudah begitu membenciku. “Bocah. “Seumur hidupku aku suka berbuat menurut kehendakku. dari pada terhina. itu tidak bias……. dalam hati diam lalu berpikir. sedikitpun kau tidak abaikan.” Orang tua itu membuka lebar matanya. apapun yang aku kata. kau tidak ingin mempelajari kepandaianku.com/ Orang tua itu berkata sambil mengawasi Siang-Koan Kie.” Setelah mengambil keputusan demikian ia lalu berpaling dan berkata kepada siorang tua. “Kepandaian orang tua ini terlalu tinggi sekali. kalau kau inginkan aku mengangkat guru kepadamu. apakah kau percaya bisa kabur dari sini? Kau sesungguhnya tidak tahu. terserah padamu apa yang kau hendak lakukan. lebih baik aku mati saja. ia memandang Siang-Koan Kie sekian lama lalu berkata. dalam dunia ini banyak orang yang ingin berguru padaku tetapi semuanya tidak kupandang sebelah mata. Sekarang begitu merendah aku minta kau.Tiraikasih Website http://kangzusi. tetapi kini Locianpwee dengan mengandalkan kepandaian yang tinggi. dengan rela hati aku ingin menurunkan seluruh kepandaianku kepadamu. sudah tentu harus kedua pihak sama suka.” Siang-Koan Kie yang sudah tidak berdaya.. tidak kusangka kau begitu sombong dan keras kepala. “Bocah kau salah hitung. ... Katakanlah. tidak ubahnya bagaikan satu hinaan. sekarang sudah berada di dalam tanganmu. pasti tidak mengandung maksud baik. “Perkara belajar kepandaian. kau ingin menentang aku dan ingin aku supaya membunuhmu agar kau dapat mati secara enak.

” Setelah itu tangan kanannya mendadak menepuk badan Siang-Koan Kie. siksaan ini akan membikin kau menderita hebat……. dalam gusarnya lalu berkata. Siang-Koan Kie merasakan tempat dimana yang ditepuk itu. jangan banyak bicara lagi lekaslah turun tangan……. kau akan membunuhku atau akan bagaimana terserah. tidak nanti aku akan menyesal……. “Kau jangan merasa bangga. “Bocah yang keras kepala. maka aku akan menggunakan cara yang paling kejam dalam dunia.” Siang-Koan Kie meski dalam hati merasa sedih. . tidak suka menyerah begitu saja.” Orang tua itu kembali memperdengarkan suara katawanya yang aneh. dan membentak dengan suara keras. apa kau kira Siang-Koan Kie seorang yang takut mati. “Bagus-bagus. bocah. semua jalan darah dan urat nadinya seperti terserang hebat. Siang-Koan Kie belum tentu takut siksaanmu. tetapi ia adalah seorang keras kepala.. jangan sesalkan aku berlaku kejam. jika kau terima baik permintaanku aku tidak akan tarik panjang persoalan yang sudah-sudah dan kuturunkan pelajaranku kepadamu. Orang tua itu mengeluarkan suara ketawanya yang aneh lalu berkata. ini adalah kau yang mencari penyakit sendiri.com/ sebaliknya aku harus akan dapatkan kau.. sekarang aku hendak beritahukan kepadamu. berkata. hawa amarahnya naik seketika maka lalu memotong pembicaraannya. untuk menotok urat2 nadinya supaya ia menderita seumur hidupnya……. “Jangan kata lagi. Siang-Koan Kie melihat sikap yang sangat sombong dari orang tua itu. aku justru suka dengan kesombonganmu sekarang aku berikan kesempatan terakhir...Tiraikasih Website http://kangzusi. aku tidak percaya kau adalah manusia yang terbikin dari besi atau baja. jikalau ada orang yang tidak mau mendengarkan perkataanku.

dari pada harus mengalami siksaan begitu hebat lebih baik aku cari jalan untuk mati saja……. Orang tua itu berkata pula sambil tertawa dingin. ia ingin bunuh diri dengan memukul kepalanya sendiri. tangan dan kakinya tidak bisa bergerak. lebih dulu akan membuat kau mengalami penderitaan tiga hari tiga malam. Orang tua itu menyaksikan dengan sikap dingin semua gerak gerik Siang-Koan Kie itu. “Orang tua ini sudah sepuluh tahun lebih berdiam di tempat ini. Tetapi tiba-tiba ia merasakan bahwa urat dan jalan darahnya seperti tertutup..Tiraikasih Website http://kangzusi. maka sekarang kesunyian kebencian selama itu telah dikeluarkan. setelah itu aku akan membikin rusak tangan dan kakimu. sekarang aku hendak membikin jalan darahmu dalam badanmu berbalik mengalir. selama itu tiada seorangpun yang mengawani aku. yang Siang-Koan Kie mengangkat muka mengawasi orang tua itu dalam hati ia berpikir. lalu berkata dengan nada suara dingin. “Siksaan yang kejam dalam dunia adalah membiarkan orang itu hidup tidak matipun tidak. rasa sakit sangat hebat membuat dia tidak mampu bergerak lagi. tetapi sekarang kau telah menggunakan tenaga sehingga darah dalam badanmu mengalir dengan cepat. sehingga membikin berdiri bulu roma. sepuluh tahun lebih aku berdiam di dalam menara ini meliwati hari hidupku yang sepi dan sunyi. diperhatikannya dengan seksama.com/ sehingga separuh badannya seketika menjadi kaku. “Lukamu sebetulnya dua tiga jam lagi baru mulai bekerja. supaya kau mengawani aku seumur hidup dalam menara ini. dengan demikian .” Ia diam-diam lalu keraskan tenaganya. sudah tentu ia dapat melakukan apa yang dikatakan.” Perkataannya itu diucapkan dengan nada menyeramkan.

Setiap kali tangan itu menyentuh badannya. selamanya aku tidak akan menyesal!” Jawabannya itu singkat tegas bahkan tanpa dipikirkan lagi.” . lekaslekas tenangkan pikirannya dan memikirkan bagaimana supaya dapat lekas mati. kecuali sedikit rasa sakit tidak menimbulkan reaksi lebih hebat. Orang tua itu dalam sejenak. ia hanya menelan napas panjang sambil pejamkan matanya. “Kau menyesal?” Dengan sekuat tenaga Siang-Koan Kie baru dapat menggelengkan kepalanya. mendadak mengangkat tangan kirinya kembali menotok bagian jalan darah di badan Siang-Koan Kie. dalam hatinya berpikir kita satu sama lain tidak bermusuhan kau perlakukan aku demikian rupa? Sifat-sifatnya yang keras kepala. Orang tua itu berkata dengan nada suara dingin.com/ maka itu berarti kau akan lebih cepat menderita siksaan. kau coba rasakan dulu bagaimana rasanya.Tiraikasih Website http://kangzusi. membuat ia tidak ingin mengeluarkan apa yang dipikir dalam hatinya. Perlahan-lahan ia mengawasi wajah orang tua itu. satu-satunya perasaan. bagian yang ditotok itu seolah-olah bukan kepunyaannya sendiri sehingga tidak dapat digerakkan menurut keinginannya sendiri……. kau tidak akan sanggup menderita siksaan ini. Sianq-Koan Kie segera merasakan tulang-tulangnya seolah-olah terlepas dari tempatnya. “Inilah kesempatanmu yang terakhir.. “Tidak.” Siang-Koan Kie yang merasakan gejala tidak baik. sebentar lagi kau akan menderita siksaan hebat. Terdengar suaranya orang tua itu yang menanya padanya. ia menjawab dengan suara tegas.

tanyalah saja. ia berkata. kepandaian yang semacam ini pasti tidak didapatkan dengan secara mudah.com/ Perkataannya terakhir itu kedengarannya lemah lembut dan penuh kasih sayang.” . yang aku masih belum jelas bolehkah Locianpwee memberitahukan kepadaku?” Orang tua itu merasa heran mendengar nada suara SiangKoan Kie yang tidak mengandung rasa dendam sakit hati kepadanya. dunia Kang-ouw banyak manusia palsu tetapi manusia susah diduga.Tiraikasih Website http://kangzusi. Mungkin karena perhatian Locianpwee dalam seruling itu sehingga membuat sifat-sifat Locianpwee jauh berbeda dengan orang biasa. setelah berpikir sejenak lalu berkata. tetapi ada suatu hal. tetapi apakah yang Boanpwee tidak harus mengerti ialah mengapa Locianpwee timbul pikiran membunuh orang. entah apakah sebabnya harus berdiam dalam menara ini. Siang-Koan Kie tertawa hambar.” Orang tua itu berpikir sejenak baru menjawab. meniup seruling untuk menghibur diri dan tidak muncul ke dunia Kang-ouw lagi?” “Hem.” “Manusia yang mempunyai kepandaian luar biasa dalam dunia ini kebanyakan suka memang mempunyai sifat-sifat menyendiri. sulit dimusnahkan.” “Kepandaian Locianpwee dalam dunia ini sudah tidak ada tandingannya. terutama seruling itu iramanya merupakan tersendiri. bahkan sudah ditetapkan duapuluh delapan jiwa. “Soal apa. kepandaian Locianpwee merupakan satu-satunya orang yang Boanpwee pernah ketemukan. “Sebab duapuluh delapan orang itu semua bermusuhan denganku. kalau tidak dapat membunuh mereka dendam dalam hatiku ini. dunia ini masih lebar. tetapi tidak begitu tenang dan tenteram seperti dalam menara ini. hal ini memang tidak mengherankan. “Perkara mati atau hidup sudah tidak kupikirkan lagi.

urat2nya seperti mau putus..” Orang tua itu berkata. ia menanya pula. -ooodwooo- .” Mendadak darah dalam dadanya terasa bergolak.. Siang-Koan Kie berkata. maka orang tua itu lantas membentak dengan suara keras. Orang tua itu tiba-tiba sikapnya berubah dengan penuh kasish sayang ia berkata dengan suara rendah. sehingga ia tidak bisa melanjutkan perkataannya. kau lebih dulu harus mempunyai persiapan yang sempurna dalam hatimu. dengan irama seruling kau memancing orang datang kemari.. “Anak jangan kau keras kepala. “Kiranya Locianpwee adalah orang yang bercacat pantas……. buang segala pikiran yang bukan-bukan.?” Suara Siang-Koan Kie makin keras bahkan yang terakhir diucapkan dengan sikap bengis.com/ Siang-Koan Kie mendadak membuka matanya. “Tetapi mengapa Locianpwee tidak mau bertindak sendiri untuk mencari musuh itu? sebaliknya bersembunyi di dalam menara ini. setiap kali mukamu akan terasa kau sanggup menahan dan menghadapinya dengan tenang……. “Tutup mulut!” Kemudian ia membuka bayu panjang yang menutupi bagian kakinya. “Boanpwee ingin siang-siang……. Siang-Koan Kie mengawasi dengan saksama kedua kaki orang tua itu ternyata sudah terpotong semuanya maka ia lalu berkata sambil menghela napas. lalu minta orang lain mati untukmu. “Lekas pejamkan matamu. tenangkan pikiranmu. menurut apa yang aku tahu. apakah Locianpwee sengaja hendak menguji kepandaianmu……. tiada seorang yang sanggup menahan penderitaan semacam ini. sedang sendirinya berada diluar garis sambil menonton.Tiraikasih Website http://kangzusi.

sakit diotaknya lebih hebat. kepalanya dirasakan seperti akan pecah. sehingga menimbulkan rasa muak dan beberapa kali ingin muntah. Orang tua itu dengan seksama mengawasi perobahan muka Siang-Koan Kie. saat itu ia sudah menyaksikan dahinya yang penuh peluh. dalam tubuhnya itu seperti ada gelombang yang menggolak. Saat itu ia baru tahu bahwa yang dikatakan oleh orang itu. agaknya tertahan oleh sesuatu barang yang kuat sehingga tak dapat menerobos keluar dan menimbulkan perasaan yang tidak enak dalam dirinya……. adalah sedemikian hebat seperti apa yang ia katakan……. lalu berkata sambil menganggukkan kepala. siksaan semacam ini benar-benar tidak enak. pejamkan matamu. lekas dengar nasihatku.” Dalam hati Siang-Koan Kie bertanya-tanya apakah reaksi luka dalam badanku ini. sehingga terkejutlah ia. Tetapi darah yang bergolak itu. “Lukamu barangkali akan mulai. bahwa benarlah penderitaan semacam itu bukan setiap orang yang sanggup menahan. sehingga ia mengetahui bahwa lukanya sedang mulai. hilangkan semua pikiran yang bukan-bukan dalam hatimu. lalu ia berkata. Ia mulai merasakan penderitaan siksaan dalam badannya.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Jilid 2 Bab 5 Sewaktu Siang-Koan Kie hendak membuka mulut lagi orang itu terus goyang-goyangkan kepala memberi tanda supaya ia jangan berbicara terus.. “Anak.. benar saja darah dalam badannya dirasakan bergolak. mungkin ada gunanya. . meski aku mempunyai kepandaian menotok jalan darahmu tetapi aku tidak berdaya mencegah lukamu yang hendak mulai bekerja itu.? Sebelum lenyap pikirannya itu.

” Dalam hati Siang-Koan Kie meskipun tergerak oleh perkataan orang tua itu. mukanya menunjukkan perasaan girang. ia lalu berkata sambil tertawa hambar. maka ia segera menurut dan benar saja perasaan sakit itu perlahan-lahan mulai berkurang. siksaan ini rupanya tidak sanggup aku tahan lebih lama. apakah sakarang merasa agak enak?” “Enak sedikit. tetapi luka itu untuk selanjutnya setiap hari tiga jam sekali pasti akan tambah. Siang-Koan Kie tahu bahwa ucapan orang itu tidaklah bohong. ia berkata. terima kasih…….” “Aku juga tidak menghendaki terima kasihmu. Orang tua itu melihat Siang-Koan Kie berbuat seperti apa yang dikatakan.com/ jikalau kau menuruti kehendak hatimu dan mencoba melawan dengan kekerasan jangan kata cuma kepandaianmu seperti sekarang ini. Karena kupikir bahwa kematian dapat melenyapkan segala penderitaan.. dan setiap kalinya lebih hebat dari yang sudah-sudah. ah sekarang aku menyaksikan penderitaanmu itu. namun demikian ia juga tidak dapat merobah perkataan orang tua itu tadi bahwa setiap empat jam ia harus menerima penderitaan semacam itu. “Locianpwee juga tidak perlu merasa .. tetapi ia tidak sudi membuka mulut untuk meminta maaf.Tiraikasih Website http://kangzusi. Meskipun aku dapat melakukan tetapi tidak dapat menyembuhkan luka itu. sebaliknya ingin berlagak sebagai orang gagah. karena kau tidak mau mendengar permintaanku.. rasanya lebih baik aku mati saja……. “Orang muda yang pernting adalah mau mendengarkan nasihat orang tua.” “Semua ini adalah kesalahan sendiri. sekalipun lebih tinggi kepandaianmu juga tidak mampu menahan……. hatinya merasa agak tenang. Dian2 ia berpikir jika luka itu benar seperti apa yang dikatakannya. benar-benar aku merasa menyesal……. sekarang meski kau merasa sedikit enak..

Locianpwee boleh menunggu lagi dengan sabar dalam waktu setengah atau setahun. kuharap Locianpwee jangan banyak pikiran. sudah memikirkan akibatnya yang tidak dapat dimengerti oleh Locianpwee…….. jangan kata menyuruhnya untuk membunuh duapuluh delapan orang itu. orang bodoh semacam Boanpwee ini. “Ae jika urusan ini begitu sederhana seperti yang kau katakan.” Ia berhenti sejenak. ketika aku menolak permintaanmu tadi.” Orang tua itu berkata sambil menghela napas. “Aku sudah begini tua. menurut apa yang Boanpwee tahu. dengan badan cacat Locianpwee semacam ini. dengan menggunakan irama serulingmu yang mengiurkan.” Orang tua itu tertawa dingin. lalu berkata. dalam dunia ini. ingin kudengan sejujurnya untuk menyatakan sedikit gembira kepada Locianpwee.com/ menyesal. lalu berkata pula. orang-orang dalam rimba persilatan kebanyakan tergilagila dan tertarik oleh suatu kepandaian ilmu silat yang luar biasa. susah pergi sendiri untuk mencari musuhmu. jumlahnya barangkali sedikit sekali. soal mati hidup sudah tidak kupikirkan lagi. apakah dalam soal serupa itu juga perlu mendengarkan nasihatmu?” Siang-Koan Kie mendadak membuka matanya. katanya dengan sungguh. sehingga Locianpwee perlu mewariskan ilmu kepandaianmu kepada orang supaya dapat menuntutkan balas untukmu. dalam hal ini sebetulnya tidaklah susah. aku juga tidak perlu berdiam dalam menara ini untuk menunggu . mereka juga tidak akan menolaki……. sekalipun lebih banyak lagi jumlahnya.. dibibirnya terbayang senyuman pahit. “Boanpwee merasa terima kasih terhadap pelajaranmu untuk menahan penderitaan ini. “Ucapan Boanpwee tadi setiap kata keluar dari hati yang jujur.Tiraikasih Website http://kangzusi. asal Locianpwee suka menurunkan pelajaran yang luar biasa ini. daya penarik semacam ini tidaklah susah untuk menarik perhatian orang-orang rimba persilatan.

sudah tentu pula tidak dapat dipahami oleh orang biasa. Siang-Koan Kie berkata sambil menghela napas..” Berkata sampai disini air matanya mengalir keluar. itu bukan merupakan soal . guru sudah tentu mengambil tempat sangat penting dalam menurunkan pelajarannya.. apakah sulitnya?” “Seseorang yang mempunyai beberapa macam kepandaian ilmu silat dan berbareng berguru beberapa guru. tetapi biar bagaimana terlebih dahulu aku sudah mempunyai guru. sedikitpun tiada bermaksud merebut murid orang lain. itu merupakan soal biasa.” “Satu orang berguru kepada beberapa orang guru. ini adalah peraturan mutlak bagi setiap orang yang belajar ilmu silat.Tiraikasih Website http://kangzusi. sebab terlehih dahulu harus minta ijin kepada gurunya yang pertama. bukanlah setiap orang dapat mempelajarinya. “Boanpwee bukan tidak suka mempelajari kepandaian ilmu silat Locianpwee. tetapi yang lebih penting adalah bakat dari orang yang diberi pelajaran. akan tetapi kau tidak suka mengangkatku sebagai guru dan mempelajari kepandaianku…….. semata-mata karena melihat bakatmu yang luar biasa. Kau ingin mengangkat guru atau tidak. bagaimana Boanpwee berani berlaku lancang?” “Aku hendak memberi pelajaran ilmu silat kepadamu.com/ sampai sepuluh tahun lebih lama……. dengan sendirinya harus minta ijin guru pertama. semua bukanlah kepandaian biasa. kau harus tahu bahwa kepandaian yang luar biasa. Kepandaian yang hendak ku wariskan ini. tidak sedikit jumlah orang yang kulihat. didalam rimba persilatan memang sudahlah lumrah. tetapi orang-orang yang pernah kulihat selama itu hanya kau seoranglah yang mempunyai bakat untuk mewarisi semua kepandaian. Selama sepuluh tahun lehih ini. setiap kali aku duduk dipinggir jendela. tidak dapat berguru lagi pada Locianpwee……. setelah diijinkan baru boleh mengangkat guru baru lagi.

tetapi kau telah minta aku menggunakan kepandaian tersebut untuk membunuh musuh-musuhmu.. matipun tidak. sekarang kau masih mempunyai waktu cukup banyak cobalah dulu dalam waktu tiga hari. aku tidak sayang menghamburkan kekuatan murni itu untuk menyembuhkan lukamu. sebaiknya kita hapuskan saja. urat-uratmu yang terluka itu akan mulai membeku.com/ penting. itu berarti kau hidup tidak. akan tetapi sebaliknya aku juga tidak dapat membunuh orang baik secara membabi-buta. kecuali tiap hari empat kali harus menerima penderitaan itu. maka meski aku membunuhnya juga tidak merasa berdosa. maka telah kupikir masak2 sebaiknya aku tidak mempelajari kepandaiananu……. maka sekalipun mengingat bakatmu yang susah dicari itu. segala kebiasaan orang didunia semacam ini. Jikalau musuh-musuhmu itu semua adalah orang-orang jahat atau buas.Tiraikasih Website http://kangzusi. benar atau bohong perkataan itu. jikalau kau masih tetap membandel itu terserah padamu sendiri biarlah kau . maka hal itu akan menyulitkan kedudukanku. tetapi sebaliknya jikalau orang-orang baik dan tidak berdosa.” “Meskipun Locianpwee tidak berkeras hati memintaku mengangkat guru kepadamu akan tetapi setidak-tidaknya mengandung maksud melepas budi yang ingin mendapat balas. tetapi juga tidak bisa berbuat apaapa lagi. jika kau tidak menerima baik permintaanku dalam soal belajar kepandaian itu maka selanjutnya kau akan lewatkan sisa hidupmu didalam menara ini. aku tidak suka. tabib yang bagaimanapun pandainya juga tidak mampu menyembuhkan penyakit serupa itu. pada saat itu sekalipun hatimu merasa menyesal. dalam waktu tiga hari kalau kau bisa berubah pikiran. kau masih akan menerima penghinaan dan ejekanku. kau menurunkan kepandaianmu yang tidak ada taranya.” “Tetapi sekarang aku sudah melukai urat-urat nadi dalam badanmu. Menurut apa yang kutahu. dalam waktu tiga bulan saja. karena aku tidak boleh mengingkari janjiku dan melupakan budiku terhadap kau.

selamanya aku tidak akan menyesal!” Orang tua itu mengawasi kepadanya sejenak. beberapa pot bunga cempaka menyiarkan baunya yang harum semerbak. rasanya juga tidak mungkin untuk mengurung padanya dalam menara ini. ternyata sudah sepuluh tahun lebih lamanya……. sekalipun sudah kehilangan dua buah kakinya. dan siapa pula orangnya yang tulang-tulangnya disimpan . entah apa sebabnya selama sekian tahun lamanya tidal mau berlalu dari sini……. dalam kuil tua ini jarang ada manusia yang datang.Tiraikasih Website http://kangzusi. akhirnya dengan tiada terasa ia telah tertidur pulas. Siang-Koan Kie berusaha keras untuk melupakan segaIagalanya supaya hatinya tenang kembali. “Orang yang berkepandaian tinggi seperti dia ini. “Ia berdiam dimenara seperti ini..” Suasana dalam kamar itu menjadi sunyi. tetapi bau harum dan indahnya warna bunga itu merupakan suatu kontras yang menyolok dan pemandangan yang menyeramkan keadaan tempat itu. sikapnya menunjukkan ketenangan pikiran dan kesunyian hatinya.” Dalam otaknya mendadak terlintas suatu pikiran. Siang-Koan Kie diam-diam menarik napas.. sinarnya menyinari kedalam ruangan melalui lubang jendela. matanya memandang keangkasa. sekonyongkonyong memejamkan matanya dan menggumam sendiri.com/ menghabiskan masa remajamu didalam menara ini untuk mengawani aku seumur hidup!” “Aku tidak perlu menggunakan waktu tiga hari untuk berpikir sekarang boleh memberi jawaban tegas padamu. Orang tua itu duduk dipinggir jendela sambil memeluk peti hitamnya. matahari sudah naik tinggi. “Satu bocah yang keras kepala. hatinya berpikir. Waktu ia tersadar lagi.

Orang tua itu duduk sambil mengawasinya dengan mata tidak beralih. lalu melengoskan kepalanya memandang ke arah lain. Orang tua itu berkata sambil tertawa dingin.com/ dalam guci diruangan bawah itu? Apakah yang dimakan oleh orang tua ini selama sepuluh tahun lebih?” Semua pertanyaan itu telah mengganggu otaknya. “Sekarang ini lukamu baru saja mulai. Adatnya yang keras lebih suka dirinya menderita. ia semakin bingung memikirkan keadaan orang itu. maka dalam darahmu seperti ada binatang yang merayap.. dewasa ini. Hening sekian lama. penderitaan yang semacam itu. tetapi ia tahan sambil menggertakkan giginya. entah apa yang dipikirkan dalam otaknya? Siang-Koan Kie menengok ke arah orang tua itu. supaya kau pingsan. . Penderitaan kali ini dirasakan lebih hebat dari yang pertama. hanya ada satu jalan yang dapat menologmu……. sekalipun aku yang sudah mengalami banyak penderitaan hidup juga tidak sanggup menahan…….” Berkata sampai disitu mendadak diam. tetapi tidak suka menunjukkan rasa sakitnya kepada orang lain. maka dengan buru-buru ia menenangkan hatinya untuk menghadapi siksaan dirinya. jangan kata bagi kau yang begitu masih muda usiamu. ia baru berkata pu1a. sedikitpun tidak mengeluh. Sekonyong-konyong darahnya dirasakan menggolak. sikap diwajahnya sangat aneh. nanti kalau darah yang tertimbun itu mulai cair dan urat-urat yang kontak mulai kempes. ia tahu bahwa lukanya mulai kambuh. “Itu adalah waktu darahmu mulai cair nanti. segera menotok tiga jalan darahmu.Tiraikasih Website http://kangzusi..

tidak perlu Locianpwee ikut memikirkan. selagi merasa keenakan itu dia mengerahkan seluruh tenaganya menggelinding ketempat lain. Boanpwee terima dalam hati……. tetapi ia merasa bahwa waktunya tidak lama. Siang-Koan Kie meski sudah merasakan hebatnya penderitaan itu. pasti akan disusul oleh penderitaan yang lebih hebat. rasa enak untuk sementara ini. ia menggelinding kelain sudut. urat-uratnya yang tadinya melembung. penderitaan sakitnya mendadak berkurang hatinya merasa lega. sudah tentu nanti kita akan mengambil keputusan sendiri. maka selagi badannya merasa sedikit enak. nanti kalau kau sudah tidak sanggup tahan.Tiraikasih Website http://kangzusi. Sekonyong-konyong ia merasa bahwa darah yang tertimbun dalam beberapa tempat jalan darahnya perlahanperlahan mulai cair.” “Kalau benar-benar Boanpwee tidak sanggup menahan.” Siang-Koan Kie lalu memejamkan matanya.. sekalipun kau berurat kawat dan bertulang besi juga tidak sanggup bertahan.” “Dalam seumur hidupku belum pernah menemukan seorang tidak tahu diri seperti kau ini. telah menjadi kendur. jangan minta pertolongganku. asal ia sanggup menahan mungkin dapat dilewatkan. Tetapi ia tahu bahwa perkataan oranq tua tadi itu bukanlah merupakan suatu gertakan saja. ia berpaling dan menjawab: “Kebaikan Locianpwee. “Apa? penderitaan semacam itu bukanlah manusia yang sanggup tahan. andai sudath tidak sanggup. ia akan pikirkan lagi caranya bunuh diri tetapi ia tidak suka penderitaannya itu disaksikan oleh orang tua itu.” Orang tua itu tercengang dan berkata. .com/ Siang-Koan Kie dengan menahan rasa sakitnya. Anak.

“Apakah isinya kotak itu? Mengapa orang yang sifatnya yang aneh ganjil ini. Orang tua itu sekonyong-konyong melayang kesampingnya. Sebaliknya dengan Siang-Koan Kie dia nampaknya memperhatikan setiap gerak-gerik orang tua itu. air matanya mengucur ngalir keluar. ia hanya membuka kotaknya yang berwarna hitam. tangan kanannya bergerak beberapa kali menotok empat bagian jalan darah Siang-Koan Kie supaya ia pingsan. Orang tua itu berpaling dan mengawasinya sejenak. ketika menyaksikan orang tua itu membuka kotak dan mengucurkan air mata.com/ Orang tua itu agaknya sudah putus harapan terhadap Siang-Koan Kie sehingga ia tidak mengawasi segala tingkah lakunya. pikirnya. seolah-olah ada kutu merambat dalam darahnya. lalu disusul dengan perasaan ngeri dan kacau. bahkan semakin lama semakin hebat. dalam hatinya merasa heran. sedikitpun tidak nmengeluh.” Belum lenyap pikirannya luka didadanya merasa sakit. kiranya juga masih tidak tahan. baru menengok lagi kepada Siang-Koan Kie lalu berkata kepadanya dengan nada suara dingin.” Penderitaan Siang-Koan Kie saat itu sedang dipuncaknya. sehingga tidak dengar apa yang diucapkan oleh orang tua itu. “Aku kira kau benar-benar seorang berurat kawat bertulang besi. lalu mendongakkan kepala dan tertawa ter-bahak2. juga tidak sanggup bertahan. ... kemudian menutup kotaknya. badan Siang-Koan Kie sudah penuh peluh akhirnya ia mengeluarkan keluhan juga……. Tetapi penderitaan secara demikian sekalipun orang bagaimana keras kepalanya. setiap membukanya lalu menangis…….Tiraikasih Website http://kangzusi. Setelah merasa puas dia tertawa. Ia mencoba menahan sampai gertak gigi.

tidak terdengar pula suara keluhannya. sekalipun penjagaanmu keras sekali. lalu berkata padanya. Perlahan-lahan ia mengangkat tangannya menekap atas dadanya. jikalau aku tidak bisa mewariskan kepandaianku ini kepada orang yang berbakat baik sesunggulinya sayang sekali……. “Kita satu sama lain tidak bermusuhan. Tatkala ia membuka mata. tidak susah kau mendapatkannya.. sinar mata tajam mengawasi dirinya. hari sudah malam. ia berkata. agaknya masih merasa ngeri terhadap siksaan yang dideritanya tadi.com/ Benar saja Siang-Koan Kie lalu pingsan. “Usiaku sudah sangat lanjut.” Siang-Koan Kie menggelengkan kepala. Ia tidak tahu lagi apa yang dilakukan oleh orang tua itu kepada dirinya.” “Dalani dunia ini banyak sekali orang yang berbakat baik. sewaktu ia tersadar. dengan mata sayupnya memandang wajah orang itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Asal kau mau belajar ilmu silatku dan menolong membinasakan dua musuhku. tetapi juga tidak sanggup menjagaku terus-menerus. entah hari apa aku harus memenuhi panggilan Tuhan. aku akan menyembuhkan kamu. mengapa kau hanya menginginkan diriku saja?” “Tidak boleh tidak kuharus mewariskan kepandaianku kepadamu!” . sebahagian besar waktuku tidak diganggu oleh penderitaan yang semecam ini.” Orang tua itu berkata dengan suara rendah. “Satu hari satu malam. ia menjawab sambil berpaling ke arah lain. apakah gunanya kau menyiksa diriku sedemikian rupa? Diwajah dingin orang tua itu. melihat orang tua itu duduk disampingnya dengan tenang. tiba-tiba terkilas suatu senyuman.

semakin besar bahayanya bagi dunia. hanya. “Orang yang berbakat seperti kau ini.. biar bagaimanapun aneh aku tidak mau. “Apakah kepandaian Locianpwee itu. tetapi jikalau tidak mempunyai hati jujur putih bersih dan jiwa besar.” “Locianpwee ingin minta pertolongan apa dariku?” “Aku minta kau menerima baik permintaanku untuk mempelajari ilmu silatku. entah apa maksudnya? Apakah benar seperti apa yang dinyatakan. meski tidak mudah dicari tetapi juga bukan susah untuk dapatkan…….com/ “Menyuruhku untuk membunuh orang sehabis mempelajari ilmu silatmu. hatinya merasa tidak tega. diamdiam ia berkata kepada dirinya sendiri.” Siang-Koan Kie menyaksikan sikap orang tua itu yang nampaknya sangat sedih. maka semakin tinggi kepandaian orang itu. kecuali Boanpwee. bakat seorang untuk melatih pelajaran ilmu silat luar biasa. kau suka menganggapku sebagai guru atau tidak. benar-benar sudah tidak dapat dicari orang yang dapat mewariskan?” Orang itu kembali menarik napas. “Didalam dunia dimana ada satu guru yang minta orang mempelajari kepandaiannya demikian keras permintaan orang ini kepadaku. hari ini ada perkecualian aku minta kepadamu sekali saja. lalu berkata. aku juga pernah menyaksikan orang . asalkan kau menerima baik permintaanku untuk membunuh seorang saja. sudah cukup. kau harus tahu bahwa orang yang mempunyai bakat dan kepintaran luar biasa.Tiraikasih Website http://kangzusi. tidak menjadi soal. susah didapat dan apakah benar aku mempunyai bakat demikian?” Setelah itu ia berkata. kecuali bakat yang paling susah dicari ialah kejujuran hatinya dan kebesaran jiwanya. orang yang mempunyai bakat semacam kau serta mempunyai kejujuran dan keagungan jiwa sesungguhnya susah sekali didapatkan.” “Seumur hidupku belum pernah aku membuka mulut minta pertolongan orang.

” “Bolehkah kepadaku?” Locianpwee beritahukan nama orang itu “Tidak” “Jikalau Boanpwee terima baik permintaanmu.” Orang tua itu mengangkat tangannya menotok jalan darah dibadan Siang-Koan Kie dan berkata.. akan tetapi aku dapat beritahukan kepadamu bahwa orang itu bukanlah orang baik-baik. “Baiklah! tidak perduli kau mau menuntutkan balas untuk aku atau tidak. setelah itu nanti Locianpwee akan menurunkan pelajaran kepadaku dan memberitahukan nama orang itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. Orang tua itu tiba-tiba berkata. andaikata nanti hal itu menyulitkan Boanpwee.” “Boanpwee tidak suka tanpa sebab menerima budi orang. maka musuhnya pasti juga orang yang kenamaan. hal itu akan menyulitkan baginya.com/ semacam itu bahkan sudah pernah mengalami sendiri penderitaannya……. “Aku hendak . tidak nanti akan menginkari janji. aku juga akan menyembuhkan lukamu dan menurunkan kepandaianku. aku tidak suka menceritakannya kepada orang lain. maka ia tidak mau menerima baik permintaan orang tua itu. “Orang yang Locianpwee ingin aku membunuhnya itu apakah itu orang yang mencelakan diri Locianpwee itu?” Pengalamanku ini. kalau sekarang ia menerima baik bukan saja berarti menanggung kewajiban berat tetapi juga harus dipikirkan apabila musuh itu dari orang golongan baik.” Berkata sampai disitu sekonyong-konyong dia diam. bukankah lebih baik aku mati sekarang saja?” Karena ia melihat bahwa kepandaiannya orang tua itu luar biasa tingginya. air mata mengalir turun dari matanya.

ia lalu .Tiraikasih Website http://kangzusi. tetapi bahwa panas itu sebegitu dekat bagian yang terluka seperti terhalang mengalirnya. Orang tua itu menggunakan waktu tiga hari tiga malam. kemudian terdengar suara tarikan napas orang itu. ia cuma bisa mengawasi dengan sepasang matanya. kemudian hawa panas terasa mengalir masuk kedalam tubuhnya.com/ menurunkan pelajaranku kepadamu. setelah penderitaan itu berlalu ia membuka pula totokannya dan melanjutkan usahanya untuk mengobati padanya. hawa panas itu mengalir masuk tidak berhentihenti. orang tua itu lalu menotok dirinya sehingga pingsan. lagi pula badannya sedang terluka parah maka tidak bisa berbuat apa-apa. Ia cuma merasa dirinya seperti diurut dan di bolak-balikkan oleh orang tua itu hampir kira-kira setengah hari lamanya ia baru merasa satu tangan orang tua itu seperti ditempelkan diulu hatinya. membiarkan orang tua itu memperlakukan dirinya menurut sesuka hatinya. supaya daya perasaannya hilang dan melupakan sakitnya. baru menyembuhkan luka dalam badan Siang-Koan Kie. Tetapi aliran hawa panas itu kuat sekali kira-kira satu menit baru dapat melalui rintangan itu. Kekuatan tenaga dalam orang tua itu sudah sangat sempurna. Ia merasakan aliran panas yang mengalir dalam badannya itu telah melalui rintangan bagian yang terluka mendadak lenyap. hawa panas itu dirasakan mengalir masuk kembali dalam badannya. Setelah orang tua itu menarik napas dan menempelkan lagi telapak tangannya diulu-hatinya. hasrat ini tidak berobah lagi. Kalau lukanya mulai terasa lagi. Apa kau kira kau dapat menentangnya?” Karena Siang-Koan Kie sudah ditotok jalan darah yang membuat ia gagap sehingga mulutnya tidak dapat bicara.

setiap hari kau harus rmeninggalkan menara ini tiga jam lamanya.” Siang-Koan Kie mengawasi orang tua itu sejenak. ia merasa heran. satu-satunya permintaanku. Ia segera lari menuju kekuil tua itu. semangatnya terbangun. apakah tidak diganggu oleh binatang buas. terhadap kepergian Siang-Koan Kie agaknya tidak mau memperdulikannya. kau boleh mencari barang makanan untuk kau bawa pulang. tampak olehnya orang tua itu sedang duduk dipinggir jendela dengan tangan memegang seruling dan kotak hitam itu dipangkuannya. kemudian lompat keluar melalui jendela.com/ membuka totokannya dan berkata padanya. perlahanlahan berbangkit dan menggerak-gerakkan kaki tangannya. entah apa yang sedang dipikirkan dalam hatinya. dengan cepat lalu masuk kedalam ruangan. ia berpaling dan mengawasi dalam menara. ia memikirkan semua pengalamannya didalam menara selama beberapa hari ini benar-benar bagaikan impian……. tetapi kau harus dengar serulingku dulu baru boleh naik keatas menara ini……. hidungnya sudah mencium bau busuk yang amat tajam. Angin meniup ke arahnya. ia lalu mempercepat gerak kakinya. Siang-Koan Kie menarik napas pula. Masih beberapa tombak jauhnya terpisah dengan kuil itu. dalam waktu tiga jam ini. Aku sudah berkeputusan hendak menurunkan seluruh kepandaianku kepadamu... . Karena tindakannya yang tergesa-gesa. dengan tanpa sadar kakinya menginjak benda lunak yang hampir saja membuat ia jatuh terpeleset. Didalam ruangan diluar kuil itu terdapat banyak bangkai burung. Sekonyong-konyong ia teringat kepada jenasah para susiok dan suhenynya yang berada didalam kuil. kepalanya mendongak keatas mengawasi angkasa.Tiraikasih Website http://kangzusi.

dan benda lunak yang terinjak kakinya tadi ternyata adalah bangkai harimau tersebut. semua bangkai2 binatang buas itu tidak terdapat tanda luka sedikitpun juga. keadaan delapan bangkai itu serupa. Dibagian lain empat atau lima jenazah para saudaranya nampak berserakan ditanah dalam keadaan hancur. Karena hatinya merasa curiga.Tiraikasih Website http://kangzusi. sekali lagi ia memeriksa satu persatu dengan seksama. Ia adalah seorang cerdik. semua burung dan binatang buas itu pasti mati setelah makan bangkai manusia yang dalam tubuhnya beracun. Kecuali itu seekor harimau. . kecuali empat orang yang bertindak selaku matamata. tidak mungkin ditelan bulat2 oleh binatang buas itu. “Apakah karena kekuatan tenaga dalam empat susiok yang sudah sempurna sehingga berhasil mengeluarkan racun dari dalam tubuhnya dan kemudian berlalu dari sini……. segera tersadar bahwa ahli racun itu benar-benar hebat.com/ Tatkala ia menengok kebawah ia baru dapat melihat didepan pintu ada menggeletak seekor harimau matanya sudah tertutup. agaknya sudah lama mati. menyaksikan keadaan demikian. badannya masih dalam keadaan utuh tetapi telah kaku semuanya.. dalam ruangan pendopo itu masih terdapat banyak bangkai binatang serigala. bangkai itu meski ada yang sudah rusak. Ia memeriksa lagi dengan seksama. benar saja ia segera dapat kenyataan bahwa di antara bangkai2 itu sudah tidak terdapat satupun yang berjenggot putih sehingga dalam hatinya diamdiam berpikir. seharusnya masih tinggal duabelas buah. tetapi masih dapat dikenali. bangkai itu ternyata cuma tinggal delapan buah saja. sehingga dalam hatinya berpiikir. “Empat susiok dan duabelas suheng dan sutee. Ia menghitung jumlah jenazah sambil menutup hidung. empat yang lainnya. bau busuk tersiar dimana-mana.

Ditelinganya kembali mendengar suaranya orang tua. sementara itu semua bangkai2 burung yang menggeletak diluar kuil nampak beterbangan. sulit untuk lolos dari mulut ular itu. ia menyaksikan ini tidak ingin berlalu. tetapi juga mulutnya dapat menyemburkan kebut beracun yang dapat membikin badan orang terluka.” Sementara itu. bangkai burung yang jumlahnya ratusan ekor itu. tetapi ketika menyaksikan bentuknya ular raksasa itu. . Dalam hati Siang-Koan Kie lalu timbul perasaan siap siaga. kalau kau dapat dilihat olehnya. dengan cepat ia melompat melesat meninggalkan ruangan itu.com/ Sekonyong-konyong terdengar suara seruling. Siang-Koan Kie tidak dapat melihat lagi. sudah masuk kedalam perut semuanya. juga merasa ngeri. sebab suara angin itu sangat aneh. “Bocah lekaslah tinggalkan ruangan kuil…….” Suara itu kemudian disusul oleh suara menderunya angin yang meniup kencang. Sebentar kemudian. tiba-tiba hidungnya dapat mencium bau amis yang terbawa oleh angin. Siang-Koan Kie meski seorang yang mempunyai kepandaian cukup tinggi. kali ini sangat aneh dan tidak enak.. Ketika pikirannya merasa heran.Tiraikasih Website http://kangzusi. ular raksasa itu sudah menutup mulutnya dan kepalanya sudah melosok masuk kedalam kuil. matanya sudah dapat melihat seekor ular raksasa sedang menggoyangkan kepala dan mementang mulutnya yang lebar. telinganya mendengar suara orang tua itu. tetapi tertarik oleh perasaan heran. Ia melompat naik keatas atap kuil. tersedot masuk kedalam mulut ular raksasa itu. “Ular raksasa itu bukan saja seluruh badannya mengandung racun. Dalam waktu sekejapan mata saja. terus lari menuju kemenara.

“Barangkali tanggal sebelas bulan delapan. sebentar kemudian. ular raksasa mendadak tertampak. dibawah maupun diatas sekitar tempat ini.” . Bukan kepalang terkejut Siang-Koan Kie. duabelas dan tigabelas malam. orang itu menghentikan serulingnya. ada keramaian akan kita saksikan. nampaknya sangat girang. lalu menjawab dengan perkataan yang menyimpang dari pertanyaannya. lalu berpaling dan berkata kepada Siang-Koan Kie. begitu berada dihadapan orang tua itu. di antara mengalunnya suara seruling itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. tetapi heran. Setelah ular raksasa itu berlalu. sudah meninggalkan banyak bekas. supaya jangan sampai jejak kita diketahui oleh orang lain.com/ Orang itu nampak duduk dipinggir jendela begitu dapat lihat Siang-Koan Kie sudah balik. “Anak. Orang itu berpaling dan mengawasi Siang-Koan Kie sejenak. “Kau beberapa kali keluar masuk ditempat ini. ia mulai meniup serulingnya lagi. ular raksasa itu lari ter-gesa2 keluar dari kuil. sepatahpun tidak ada yang ditanyakan. lekas kau hapus semua bekas itu. mulai besok kita harus bersembunyi dalam menara ini tidak boleh keluar sembarangan. hari ini tanggal berapa?” Siang-Koan Kie berpikir sejenak lalu berkata.” “Keramaian apa?” Orang tua itu berpaling dan mengawasi Siang-Koan Kie sejenak. Dalam hati Siang-Koan Kie sebetulnya ada banyak hal yang ingin ditanyakan pada orang itu. lalu pergi cari lagi buah-buahan untuk hidangan. “Kiranya ular raksasa itu tadi dipanggil oleh suara seruling ini……..” “Tanggal sebelas. Dalam hatinya berpikir.

tetapi tindakannya dengan tanpa disadari sudah berlawanan dengan keinginannya. tetapi dengan cepat pikiran jernih itu sudah lenyap lagi. ketika ia memasang matanya. adakalanya sekalipun otak yang merasa jernih. tiba-tiba hidungnya dapat mencium bau wangi yang tertiup angin. . beberapa ekor di antaranya ada yang menunjukkan gigi.com/ Dengan perasaan heran Siang-Koan Kie mengawasi orang tua itu. agaknya ingin maju menerkam. tetapi dengan tanpa sadar ia sudah melakukan apa yang diperintah oleh orang tua itu. Binatang2 monyet itu. kemudian ia keluar dari menara. Diam-diarn hatinya merasa cemas. Siang-Koan Kie berhenti. mulut lembah itu segera penuh dikawal oleh monyet-monyet. ia lalu lari ke arah binatang itu. sedangkan satu manusiapun juga tidak dijumpai. Dalam hatinya sebetulnya ingin lehih siang meninggalkan tempat tersebut. Ia lari sejauh kira-kira lima pal. disuatu tempat yang tidak jauh darinya ada beberapa ekor binatang monyet besar. Ditempat belukar semacam itu. ketika melihat kedatangannya. Tempat dimana monyet-monyet itu berdiri merupakan satu mulut dari sebuah lembah yang lebarnya tidak lebih dari satu tombak. Ia menghapus dulu bekas2 kakinya disekitar tempat itu lalu berangkat untuk mencari makanan. kemana harus mencari makanan? Tiba-tiba terdengar suara bunyi binatang.Tiraikasih Website http://kangzusi. jangankan perkampungan. maka ketika monyet2 itu berpencar dan berbaris dihadapannya. mendadak berpencar dan berbaris menjadi satu baris untuk merintangi Siang-Koan Kie. ia mendapatkan kenyataan bahwa kawanan binatang monyet itu mengawasinya dengan sinar mata buas. Selagi hendak meninggalkan tempat tersebut. Sejak lukanya disembuhlcan oleh orang tua itu ia kadang2 merasa otaknya seperti kosong melompong. Meskipun dalam hatinya ingin dengar ucapan orang itu selanjutnya.

lainnya menjadi kalut. lalu memperdengarkan suara riuh dan maju menerkam. Dalam anggapannya. Sudah beberapa hari Siang-Koan Kie tidak pernah makan dan minum maka ketika menghadapi buah-buah yang segar.Tiraikasih Website http://kangzusi. siapa menduga orang tua itu hanya mengawasi saja buah2 apel itu kemudian berkata padanya dengan nada suara dingin. Dalam lembah itu ternyata penuh dengan tanaman buah apel. gerakan kawanan monyet itu lincah dan gesit sekali dibanding dengan orang Kang-ouw biasa mungkin lebih gesit. orang tua yang berdiam didalam menara selama sepuluh tahun barangkali belum pernah makan buah apel sesegar ini. yang masak-masak harum wangi.” . dari jauh sudah menusuk hidungnya. Siang-Koan Kie melesat tinggi.com/ Kawanan monyet itu ketika melihat bahwa ia tidak pergi.” Perlahan-lahan ia menggerakkan matanya memandang dengan seksama seluruh bagian tubuh Siang Koan Kie. aku akan mulai menurunkan pelajaran kepadamu……. Ia lalu memetik dua buah. tentunya ia akan merasa girang sekali. Siang-Koan Kie menggunakan kesempatan itu lari masuk kedalam rimba. sekarang terpaksa harus dimulai dari awal lebih dulu harus mempelajari cara2nya mengatur pernafasan dan bersemedi. “Sejak hari ini. dua ekor monyet dapat terluka. Setelah menghabiskan dua buah apel besar itu badannya nampak segar lagi karena dianggapnya ditempat itu tidak ada barang lain yang dapat dicari maka ia lalu memetik lagi sebanyak mungkin dibawa pulang kedalam menara. “Meskipun kau sudah pernah belajar ilmu silat tetapi sayang apa yang kau pelajari jauh berlainan dengan ilmu silat yang akan aku ajarkan padamu. menyambuti seranqan kewanan monyet itu. lalu ia berkata pula. dan dimakan dengan lahapnya.. sudah tentu menelan air liur.

tiba-tiba orang tua itu berkata pu1a. bersihkanlah pikiranmu..” -odwoBab 6 Meskipun dalam hati Siang-Koan Kie penuh rasa curiga. mendadak membuka matanya. lekas tutup semua jendela. dan bertanya. lekas kau atur pernafasanmu.” “Soal kekuatan tenaga dalam.” . dengarkan syarat2 awalan yang akan kupelajarkan padamu. Ketika hendak bertanya. Ia duduk bersila dan mulai mengatur pernapasannya. “Sudah tidak bisa belajar……. sesungguhnya tidak habisnya kita pelajari apalagi pelajaran yang akan kuturUnkan kepadamu. tujukan perhatianmu kedalam.com/ “Aku sudah belajar itu semua. “Apa artinya lima pusar?” Orang tua itu menjawab sambil tersenyurn. lima pusar menghadap keluar. tidak terdengar suara apalagi.Tiraikasih Website http://kangzusi.. Siang-Koan Kie yang menyaksikan kelakuan orang tua itu. tetapi dengan tanpa menyadari ia sudah menurut perintah orang tua itu. Sementara itu di telinganya mendengar suara orang tua itu yang berkata kepadanya. tetapi kecuali suara meniupnya angin dari gunung.. jika harus mengulangi lagi……. hati.” Siang-Koan Kie menurut apa yang dikatakan tetapi ketika mendengar perkataan terakhir. adalah salah satu rahasia besar dalam rimba persilatan. juga segera memasang telinga. “Lima pusar artinya…….” Mendadak ia tutup mulut dan membuka telinganya. “Pejamkan matamu.

membuat terpesona Siang-Koan Kie. ia terpaksa bangkit dan menutup semua daun jendela. Siang-Koan Kie mengawasi dengan seksama orang yang datang itu berperawakan tinggi sekali menggunakan serupa benda mas untuk mengikat rambutnya. orang itu berdiri diatas atap. meski SiangKoan Kie dapat menduga akan terjadinya hal-hal yang luar . dengan tiba-tiba kedatangan seorang tokoh kuat dari daerah barat. ditengah udara ia jungkir balik dengan kepala dibawah dan kaki diatas. melongok kebawa memandang keadaan sekitarnya. baru melongok keluar sedang dalam hatinya berpikir entah apa yang dilakukan oleh orang tua itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. Didalam tempat yang sunyi seperti itu.. kau tidak boleh mengeluarkan suara. dari jauh tampak suatu titik bayangan merah yang lari menuju kemari. Belum lenyap pikirannya kembali terdengar suaranya orang tua itu. Orang tua itu berkata pula sambil menujuk dalam sebelah kirinya. badannya mengenakan jubah padri warna merah. kau harus perhatikan kepandaian ilmu silatnya. benarbenar merupakan suatu hal yang sangat aneh. Ilmu meringankan tubuh yang jarang tertampak dalam dunia ini. Mendadak ia melayang melesat tinggi tiga tombak. tidak perduli melihat kejadian apa saja yang menakutkan atau mengejutkan. bagaikan peluru yang meluncur kebawah.” Siang-Koan Kie mengawasi orang tua itu sejenak. diatas batok kepalanya ada bekas cacat sebesar telur bebek. “Kau boleh menyembunyikan diri dibawah jendela itu untuk menyaksikan keramaian.?” Belum lagi menutup mulutnya. “Orang yang datang itu adalah seorang kuat dari golongan Bit-cong-pai di Tibet. apa bedanya dengan ilmu silat dari daerah Tiong-goan…….com/ Menyaksikan sikap orang tua yang sangat serius.

” “Meski mereka padri Tibet tetapi dalam pembicaraannya tadi mereka menggunakan bahasa Utgul.” . Tiba-tiba dari bawah menara terdergar satu suara tiupan aneh. kalau bukan menggunakan bahasa Utgul tentunya bahasa Tibet. Ia berpaling dan mengawasi siorang tua. entah dengan menggunakan bahasa apa. lalu terdengar pula suara orang bicara. Nampak hening cukup lama. nampaknya sedang pasang telinga memperhatikan pembicaraan kedua orang itu. mungkinkah dia memahami bahasa itu? Kedua orang itu setelah bercakap-cakap sebentar kembali terdengar suara tindakan kakinya yang berat agaknya sedang berjalan menuruni tangga. tapi ketika ia ingat sikap bangga sewaktu ia menanyakan tentang lima pusar.com/ biasa tetapi ia tidak dapat menduga sebab musababnya. Buat orang2 daerah Tiong-goan yang mengerti bahasa itu jumlahnya sedikit sekali. kemudian disusul oleh suara tindakan kaki yang berat. semua pertanyaan cuma disimpan dalam hatinya sendiri. terpaksa ia urungkan maskudnya. tepi orang tua itu mendengarkan dengan seksamna. Dalam hati Siang-Koan Kie meski ada banyak hal yang ingin ditanyakan kepada orang tua itu. hal itu mengherankannya karena dua orang yang bercakap-cakap itu. “Apakah kau mengerti apa yang dibicarakan oleh dua padri dari tibet itu tadi?” “Boan-pwee tidak paham bahasa Tibet. Namun demikian ia juga tidak berani menanyakan kepada orang tua itu. orang tua itu tiba-tiba menanya Siang-Roan Kie sambil ketawa.Tiraikasih Website http://kangzusi. segera datang seseorang lagi tetapi apa yang dibicarakan oleh dua orang itu ia tidak dapat mengerti samasekali.

sehingga mengusulkan supaya diadakan penyelidikan. Dua orang itu setelah saling tukar pikiran sekian lama lalu berlalu……. ia melesat balik dan berkata. juga tidak perlu ditakuti. “Seorang Padri menemukan bekas yang kau tinggalkan. kedua pihak mengelurkan turunannya yang tidak dapat dinilai. andaikata benar ada orang bersembunyi dalam menara ini. entah apa maksudnya mencari kekuil tua ini?” Orang tua itu mendadak membuka lebar matanya.” Setelah berkata sekian banyak.com/ “Benarkah Locian-pwee paham bahasa Utgul?” “Apakah aku perlu membohongi kau?” “Locianpwee mengerti petnbicaraan mereka. “Ini adalah suatu pertandingan ilmu silat yang menggemparkan dunia rimba persilatan. dengan sinar mata tajam menatap wajah Siang-Kuan Kie dan berkata. apakah yang mereka bicarakan?” “Apakah kau meninggalkan sesuatu bekas diatas menara?” Siang-Kuan Kie meng-angguk2kan kepala. ah! sayang .Tiraikasih Website http://kangzusi. Siang-Kuan Kie sangsi sejenak lalu menyambuti pel itu ditelannya demikian ia bertanya. ia membuka kotak warna hitam itu dan mengambil sebutir pel warna merah. Satunya lagi mengatakan bahwa bekas itu belum tentu orang yang meninggalkan. orang tua itu mendadak teringat hal yang penting sehingga sekonyong2 berhenti dan melesat kesatu sudut. setelah menutup kembali kotak itu. “Dua padre dari Tibet itu jauh2 datang kedaerah Tiong-goan. “Kau telan dulu pel ini.” Orang tua itu segera melakukan apa yang telah dipikir. ia berkata bahwa dalam menara pasti ada orang yang bersembunyi.. sebelum yang dijawab orang tua itu sudah mendahuluinya. belum pernah menceritakan alasannya.

yang terluka.” Orang tua itu membuka daun jendela disampingnya seraya berkata.” “Kalau bukan raja. ini bukankah merupakan .” Perkataan itu diucapkan dengan suara agak nyaring sehingga Siang-Koan Kie yang mendengarkan sampai berdiri termangu. banyak sudah pertandingan2 ilmu silat yang aku pernah saksikan.Tiraikasih Website http://kangzusi. mengundurkan diri dari dunia Kang-ouw dan menyerahkan seluruh daerah kekuasaannya kepada yang menang. sesungguhnya akan menimbulkan akibat yang tidak dapat diduga oleh semua orang. “Sebelum sepasang kakiku terpotong. hal serupa itu memang tidak mengherankan. Pihak yang lain mempertaruhkan hendak membunuh semua tokoh-tokoh kuat rimba persilatan daerah Tiong-goan.” “Apa? adakah kedua pihak yang bertanding itu raja pada dewasa ini?” “Bukan. dengan bertarungan yang tidak ternilai. benar-benar membuat Boanpwee tidak mengerti. ah! jikalau mereka benar-benar segan memenuhi janji mereka. sedikit sekali jumlahnya orang yang tahu……. kemudian musnahkan kepandaiannya sendiri.com/ sekali bahwa kejadian besar yang sangat menggemparkan ini. tetapi kali ini yang mengherankan adalah pertaruhan dari kedua pihak yang sangat luar biasa itu. aku pernah menjelajahi seluruh Negeri. “Dalam dunia Kang-ouw soal pertandingan ilmu silat memang sering terjadi tetapi paling2 yuga hanyalah seorang atau beberapa orang yang bersangkutan.. atau binasa.” “Entah apa yang digunakan untuk pertarungan bagi orang kedua belah pihak?” “Pihak yang satu mempertaruhkan dirinya sebagai budak untuk seumur hidupnya berikut semua orang2 dari daerah barat. lama baru bertanya. ia hendak menyerahkan daerah kekuasaannya kepada yang menang.

walaupun kehilangan dua kaki juga tidak menjadi halangan besar. soal ini dimulai lima tahun berselang. sekalipun ia berani mengucapkan demikian.Tiraikasih Website http://kangzusi. jarang sekali mau diperalat oleh orang lain. walaupun mengetahui rahasia mereka. di antara daerah-daerah barat.com/ suatu kejadian yang lucu. hal ini sudah Boanpwee saksikan dengan mata kepala sendiri. ia berkata. “Kepandaian ilmu silat Locianpwee sudah mencapai kesuatu taraf yang tidak ada taranya. bahkan sebaliknya merupakan seorang tua yang berjiwa kesatria. Boanpwee menyediakan tenaga membantu Locianpwee……. Siang-Koan Kie merasakan bahwa orang tua ini tidak begitu jahat sebagai apa yang dibayangkan. Dua orang dari suku Hwee dan Tibet banyak yang mempunyai kepandaian tinggi. orang tua itu menunjukkan sikapnya yang sangat sedih. setelah mereka datang tidak susah bagi kita untuk mengetahui……. kini masih ada waktu beberapa hari. tetapi aku juga sudah tidak bisa campur tangan. tidak mustahil ada yang timbul keinginan untuk membentangkan sayapnya kedaerah Tionggoan. apakah padri Tibet itu mau percaya?” “Apa yang aku dengar hanya itu saja.” . jikalau salah satu dari orang2 itu benar-benar bermaksud hendak mencelakakan nasib rakyat dan Negara. maka timbullah perasaan simpatih dalam kalbunya. aku juga tidak mengerti. untuk mengeluarkan tenaga bagi nasib sesama manusia yang tidak berdosa itu.” Perlahan-lahan matanya menatap Siang-Koan Kie kemudian berkata pula.. mereka telah mengadakan perjanjian pertaruhan itu didalam menara penyimpan kitab. aku waktu itu belum dapat melihat bagaimana mukanya orang2 yang mengadakan pertaruhan itu……….” Tatkala mengucapkan perkataan yang terakhir ini. dan mengingat kepentingan sesama manusia. maka bagaimana keadaan yang sebenarnya. “Tetapi orang-orang kuat yang benar-benar dari golongan Bit-cong.. ya.

tetapi Boanpwee rela sekali mengikuti jejak Locianpwee. maka untuk sesaat ia terdiam. tetapi sikapnya sebentar hangat sehentar dingin. “Lekas tutup daun jendela yang terbuka itu. Pikirnya.. dalam hati ia merasa tidak enak. lalu menyembunyikan dirinya dibawahnya. benar-benar sulit sekali diikuti. “Orang tua ini meski bukan orang jahat.” Karena sudah ada pengalaman yang pertama. “Tidak perduli kau melihat kejadian apa saja. Siang-Koan Kie tahu bahwa daya pendengaran orang tua itu tajam sekali sudah tentu tidak bisa salah dengar. sehingga tidak dapat membantu Locianpwee.” Orang tua itu mendongakkan kepala dan berpikir. tetapi dengan tiba-tiba telah berobah dingin. ada orang datang lagi. jikalau keadaan dan kekuatan kita mengijinkan. maka ia cepat2 menutup jendela. sudah tentu kita harus mengeluarkan tenaga untuk menolong nasib sesama manusia…….” Setelah berpikir agak lama tiba-tiba ia herkata lagi dengan nada suara dingin. sekalipun akan hancur lebur badanku juga tidak kupikirkan lagi. Tidak lama kemudian. “Kalau sudah tiba saatnya nanti kita bicarakan lagi.com/ Tiba-tiba ia ingat kepandaiannya sendiri yang masih belum berarti jika dibandingkan dengan orang2 kuat itu.” Ketika sedang berpikir tiba-tiba terdengar suara orang tua itu yang berkata dengan nada rendah. sebelum aku bertindak kau jangan sembarangan bergerak. bagaimana dapat membantu. benar saja terdapat dua bayangan orang muncul diatas atap rumah. . barulah berkata.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Boanpwee tahu kepandaian sendiri masih terlalu rendah. kemudian berkata pula.” Siang-Koan Kie baru saja menyaksikan sikap orang tua itu yang sangat ramah.

ia sudah dapat mengenali bahwa mereka itu bukanlah orang2 dari daerah perbatasan.com/ Dua orang itu berpakaian ringkas semuanya. dua orang yang berada diatas rumah itu mendadak memencarkan diri menuju kemenara dengan mengambil jalan masing2. Kedatangan kedua orang itu jauh berbeda dengan kedatangan dua padri dari Tibet itu tadi. tiba-tiba diatas atap sebelah kirinya mendadak tampak berkelebatnya bayangan orang. memang sifatnya lebih licik dari orang2 daerah luar perbatasan……. Jalan yang diambil oleh dua orang itu sudah berlainan dengan jalan yang ditempuh oleh padri Tibet tadi. Siang-Koan Kie sedang mencurahkan seluruh perhatiannya kepada dua orang itu. “Diatas atap rumah ini. kedatangan mereka agaknya memakai benda untuk menyembunyikan dirinya. ketika ia berpaling disana ternyata juga ada berdiri dua orang lagi. dari situ dapat melihat pemandangan keseluruhan sekitar kuil apalagi .” Belum lagi lenyap pikirannya. benar saja segera dapat lihat dua orang berpakaian ringkas dengan membawa senjata dipunggungnya berdiri diatas atap sebelah kanan. mereka berjalan secara sembunyi tidak berani terus terang menunjukkan dirinya. Ia terkejut dan cepat2 menyembunyikan dirinya dibawah jendela. Dalam hati Siang-Koan Kie lalu berpikir.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Orang2 dari daerah Tiong-goan. Satu di antaranya berkata sambil menunjuk kemenara. Begitu melihat. Ia merayap perlahan-lahan kejendela sebelah kiri. maka setelah berada diatas atap rumah baru kelihatan. ada sebuah renggon kecil yang menonjol baik untuk tempat menyembunyikan diri.. dibelakang punggung mereka masing2 membawa senjata.

Siang-Koan Kie tahu bahwa sudah ada orang diluar jendela maka ia menarik kepalanya dan ia cepat menyembunyikan badannya dibawah jendela. Ia diam-diam kemungkinan. dalatn hatinya berpikir.com/ tempatnya sangat tersembunyi.” Terdengar suara seorang lagi berkata. “Kalau begitu kita periksa dulu keadaan dalam menara. siap siaga untuk menghadapi segala Diluar jendela tiba-tiba terdengar suara orang berkata sambil tertawa besar. sesungguhnya sangat berbahaya.” Setelah itu ia menggerakkan tangannya. jikalau mereka hendak memeriksa dimana ada tempat lagi untuk menyembunyikan diri?” Tetapi ketika ia menoleh ke arah orang tua. “Saudara2 harus jaga diluar. barangkali Hati Siang-Koan Kie mulai cemas. memanggil kawan2nya supaya datang berkumpul. Genting atap diluar jendela tiba-tiba terdengar suara tindakan kaki sangat perlahan. “Celaka menara ini tidak seberapa. “Dalam hal ini bagaimana kita dapat bertindak sendiri.” Orang yang pertama bicara tadi berkata pula.” Siang-Koan Kie terperanjat.Tiraikasih Website http://kangzusi. tunggu setelah pemimpin kita datang biar beliau yang mengambil keputusan sendiri. kalau kita tidak berada diatas atap rumah tidak akan dapat melihatnya. aku hendak masuk untuk periksa keadaan dalam menara ini. pikirnya. “Jikalau mereka hendak mengadakan penyelidikan didalam menara ini. toch tidak ada halangan. ternyata sikapnya masih tenang-tenang saja seperti tidak terjadi apaapa.” .

com/ Siang-Koan Kie cepat2 berdiri bersembunyi dibelakang jendela. . meskipun tidak sakit tetapi tangannya tiba-tiba merasa kesemutan. Bukan kepalang terkejut Siang-Koan Kie tetapi ia segera tersadar. Tiba-tiba telinganya dapat mendengar suara terbukanya daun jendela. Siang-Koan Kie yang berlindung didalam baju itu. baru perlahanlahan menghampiri. cepat2 ia lari menghampiri dan sembunyi dibelakang dirinya. ia mengetahui bahwa orang tua itu mempunyai siasat untuk menghadapi musuhnya. Orang tua itu bentangkan kedua tangannya. seperti disentuh oleh sebuah benda. seluruh muka orang tua itu nampak kuning seperti mas. badannya tegap romannya galak. Tatkala ia menengok. segara tampak olehnya bahwa wajah orang tua itu sudah berobah dengan tiba-tiba. sedikitpun tidak merasakan sempit. kecuali bagian lobangnya. Orang itu agaknya dikejutkan oleh orang tua yang mukanya bagaikan patung. sekitar pinggir baju. ia dapat bergerak dengan leluasa. ia dapat melihat seorang lelaki kira-kira berumur empat puluhan. sejenak nampak terperanjat. baju panjangnya yang kerowongan tiba-tiba melembung untuk menutupi diri Siang-Koan Kie. ia sudah siap apabila ada orang mendorong pintu jendela. karena melihat orang tua itu memakai kedok. semua nampak rapat bagaikan dinding. jikalau orang tua itu tidak menggerakkan tangan kepadanya sesungguhnya sulit untuk mengenalnya. ia segera menyerang dengan kecepatan bagaikan kilat. Pada saat itu jalan darah Ciok-tie-hiat. duduk dekat tembok disatu sudut. Siang-Koan Kie mengintip dari celah2 lobang baju.Tiraikasih Website http://kangzusi.

tangannya tidak membawa pecut. sudah banyak aku melihat bentuknya patung2. “Saudara Thio. tidak mungkin dari tanah liat atau batu. hanya terdengar suara jawabannya saja. lihatlah.” Siang-Koan Kie yang mendengarkan pembicaraan itu belum juga terkejut sebab ia khawatir penyamaran orang tua itu nanti akan diketahui oleh orang itu. ia malah tidak dapat melihat tegas muka tiga orang itu. juga bukan dari tanah liat. Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara orang bicara. . apakah dia terdiri dari daging manusia yang telah membeku. “Kalau bukan dari kayu garu. kayu garu pasti ada bau harumnya……. Terdengar suara laki2 yang pertama datang tadi berkata. bukan terbuat dari kayu ukiran. “Patung ini mungkin terbuat dari kayu garu……. orang yang mempunyai kekuatan tenaga dalam demikian sempurna sebetulnya jarang terdapat. tetapi dibawah kaki ini tidak terdapat patung harimau.” Terdengar pula suara orang yang pertarna. sekalipun orang tua itu sudah sempurna kekuatan tenaga dalamnya. yang menjadi pengawalnya Tuhan Allah. agak mirip dengan patungnya satu dewa.” Sementara itu semua kawannya sudah berada disekitar orang tua karena jaraknya dekat sekali.com/ Kemudian.Tiraikasih Website http://kangzusi. ini patung apa? Budha tidak mirip dengan budha. kecuali kayu garu... tetapi untuk menghadapi empat orang yang menyerang secara tiba-tiba mungkin jupa berat. “Patung ini memang aneh bentuknya. yang semuanya maju menghampiri orang itu. tetapi belum pernah menyaksikan patung serupa ini.” Terdengar suara orang lain. coba kau raba lengannya. Tetapi secara tidak disengaja tangannya menyentuh badan orang tua itu. disusul oleh munculnya tiga orang kawannya. tangan itu dirasakan seperti menyentuh barang keras sehingga diam-diam ia terperanjat. “Tidak mirip.

ketahuilah olehmu. biar bagaimana toch sebuah patung……. aku baru saja memperhatikan keadaan diatas rumah dan ruangan kuil.” Terdengar suara orang itu tadi. bahkan bukan hanya seorang saja……. baik terbikin dari kayu maupun dari tanah liat atau daging manusia yang membeku. Terdengar pula suara orang itu. betul tidak?” Orang yang dipanggil Lo.. “Cuma orang yang berada didalam menara ini. “Saudara Go terkenal sebagai seorang cerdik. itu berkata.” Siang-Koan Kie sangat khawatir. biasanya kau sangat mengagumkan. kau lalu menganggap bahwa didalam menara ini pasti ada orangnya. juga berani mengadu penerangan dengan sinarnya rembulan dan matahari.” Seorang lain berkata. “Celaka jikalau mereka dapat menebak jejak kita karena biji buah apel itu benarbenar aku patut disesalkan. juga ada bekas2 peninggalan orang yang makan buah apel.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Setitik pelita. apakah kau kira kau sendiri yang cukup pintar.com/ Siang-Koan Kie merasa tertarik hatinya ia mengulurkan tangan meraba tangan si orang tua. “Saudara Lo pasti dapat melihat bahwa debu tanah dalam menara ini sudah dibersihkan. ini berarti .. pikirnya. diam-diam menyiapkan tenaganya. didalam menara ini bukan saja memang ada orangnya. sudah lama pergi. tetapi kali ini aku tidak dapat menyetujui pendapatmu. bagaimana pendapatmu tentang ini?” Siang-Koan Kie terkejut. Terdengar pula suara seorang berkata: “Kalian jangan rebut. Terdengar suara orang yang dipanggil saudara Go itu. benar saja tangan itu keras seperti batu. “Benar. semua ada tanda2 banyak bekas jejak kaki manusia.

Perasaan ingin tahu telah membangkitkan keberaniannya untuk mencoba mendorong dengan tenaga sekuatnya. Orang she-Lou itu terdengar pula suaranya. bekas kaki itu ada yang besar dan kecil. “Keterangan saudara Go ini benar-benar sudah membuka pikiranku. nampaknya mereka berdiam didalam menera ini dalam waktu yang cukup lama. baru mengulur tangannya untuk menyingkap baju orang tua tetapi ternyata tidak bergerak sama sekali. kita sudah didahului oleh orang lain. kau mendapat julukan sebagai seorang cerdik pandai benar-benar tidak sia2. ini suatu bukti bahwa orang yang datang bukan cuma satu. yang sudah datang lebih dulu memeriksa keadaan disini. besar kemungkinan bahwa musuh kita sudah mempunyai siasat lain. . masih ada lagi seorang dari golongan rimba hijau di daerah Tiong-goan yang bawa mereka kemari.” Siang-Koan Kie yang mendengar keterangan orang itu diam-diam juga memuji kecerdikan orang tersebut. sebaiknya kita lekas pulang memberitahukan kepada pemimpin kita supaya selekas mungkin mengadakan persiapan. maka bekas kakinya lebih besar. mungkin sudah ada berapa padri Tibet. Siang-Koan Kie menunggu sekian lama lagi.” Setelah itu suara empat orang itu perlahan-lahan kedengarannya sangat jauh dan akhirnya lenyap sama sekali. sudah ada orang lain yang datang lebih dulu. “Tidak disangka padri dari Tibet yang kelihatannya tolol dan bodoh. ternyata juga banyak akalnya. sayang karena menganggap dirirya sendiri terlalu pintar sehingga akhirnya menjadi tergelincir. jikalau dugaanku tidak keliru. padri Tibet itu berperawakan tinggi besar.com/ sebelum kita tiba.Tiraikasih Website http://kangzusi.” Seorang yang bicaranya agak kasar. saat itu tiba-tiba mengeluarkan suaranya. setelah menduga orang2 itu sudah pergi jauh. biji apel itu sudah tentu mereka yang meninggalkannya.

mengalirnya darah mulai . Dalam waktu sangat singkat saja keringat sudah membasahi sekujur badannya.” Siang-Koan Kie berpikir cukup lama lalu berkata. tindasan diatas dadanya mulai berkurang. Lima pusar itu menghadap keatas untuk menampung semua kekuatan tenaga murni ini adalah cara melatih kekuatan dalam yang tertinggi.Tiraikasih Website http://kangzusi. diatas dadanya seperti tertindih oleh barang berat. semakin hebat penderitaannya. menimbulkan semacam perasaan yang tidak enak.” Siang-Koan Kie menurut. mendadak ia merasakan kekuatan tenaga murni dalam tubuhnya perlahan-lahan mengalir kebahagiaan yang belum pernah dilalui.” Orang tua itu berkata. semakin tidak mau menyerah. kali ini mendadak seperti terhalang oleh semacam kekuatan hebat sehingga kecepatan mengalirnya darah dalam tubuhnya banyak berkurang. “Boanpwee adalah seorang dungu sehingga hanya mengerti satu dua bagian saja. dengan sekuat tenaga ia mencoba menahan semua penderitaan itu. dan pusar diatas kepala. Tetapi ia adalah seorang keras kepala. kalau kau sudah dapat memahami satu dua bahagian saja. itulah yang dinamakan lima pusar. ia berbuat seperti apa yang dikatakan oleh si orang tua itu. Ia merasa bahwa tenaga murni dalam tubuhnya yang biasa mengalir dengan leluasa. pusar dua telapak kaki.com/ Tetapi segera merasakan ada kekuatan tenaga yang membentur balik dirinya sehingga ia hampir terjatuh. semua isi perutnya seperti hendak terlepas dari tempatnya. Dalam pada saat itu tiba-tiba terdengar suara orang tua itu berkata. Entah berapa lama sudah berlalu. “Pusar dua telapak tangan. “Inilah salah satu rahasia terbesar dalam kepandaian ilmu silat. sudah cukup kau gunakan untuk seumur hidupmu sekarang duduklah bersila dan pejamkan matamu.

” “Itu bagus. matanya mengawasi dirinya setelah nampak ia telah sadar. “Hati manusia banyak yang palsu. orang tua itu tersenyum dan berkata. Locianpwee tidak perlu memikirkan diri Boanpwee.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ teratur. hari sudah hampir gelap. bersahabat dengan manusia adalah lebih baik bersahabat dengan binatang. hanya daging burung dan binatang terbang yang dapat digunakan untuk pengisi perut. dengan tanpa dirasa telah tertidur. dapat mendengar suara seruling itu sangat lemah. tidur dibawah langit terbuka dan makan buah-buahan sudahlah biasa. orang tua itu berhenti meniup. ada kenal baik dengan aku tetapi yang suka bersahabat dengan aku jumlahnya tidak banyak. kecuali buah-buahan. Ketika ia sadar dan membuka matanya.” Siang-Koan Kie tiba-tiba teringat bahwa orang tua itu pernah menggunakan serulingnya untuk memanggil ular raksasa. tetapi samarsamar seperti memanggil-manggil seorang. aku juga tidak perlu bersusah hati. barangkali tidak biasa dengan hidangan semacam ini.” Tiba-tiba ia mengambil serulingnya dan mulai meniup lagi. Dulu kalau . “Apakah Locian-pwee hendak memanggil ular raksasa itu lagi?” “Semua binatang buas atau burung terbang disekitar gunung ini. Tidak berapa lama. Siang-Koan Kie yang berada disampingnya. tetapi ia merasakan sangat letih. maka ia lalu berkata. “Didalam daerah pegunungan yang sunyi ini.” “Boan-pwee sering mengikuti Suhu melakukan perjalanan kedaerah pegunungan yang jarang didatangi oleh manusia. sudah lama kau makan nasi. dan berkata kepadanya sambil tertawa. Orang tua itu sedang duduk dipinggir jendela.

Meski bentuk mereka buruk dan buas tetapi jujur. kalau mereka sedang marah cukup dengan membuka mulutnya menunjukkan giginya atau mementang kukunya.” Siang-Koan Kie heran.” “Si kuning itu bukankah seekor harimau besar?” Orang tua itu mengawasi Siang-Koan Kie sejenak selagi hendak menjawab. tidak banyak akal.” Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara geraman harimau. Ia bertanya. mereka itu dalam keadaan senang atau marah. lutung dan burung garuda untuk kuperlihatkan kepadamu. aku sering menggunakan seruling ini memanggil mereka datang kemari sebagai kawan mengobrol. jauh lebih baik kalau dibanding dengan itu manusiamanusia yang diluarnya kelihatan ramah dan sopan tetapi hatinya lebih kejam dari pada binatang. “Malam ini rembulan terang. seekor burung besar mendadak melayang turun dan hinggap diatap rumah didepan jendela. kalau bukan karena mereka sedang bertaruh aku boleh memanggil semua sahabat2ku yang terdiri dari harimau. berkali-kali kupanggil dengan seruling belum pernah lihat ia datang. begitu kita melihat sudah tahu.Tiraikasih Website http://kangzusi. . ia berkata.com/ aku yang tinggal seorang diri dalam menara ini merasa kesepian. “Apa? apakah Locianpwee dapat memanggil mereka?” “Benar. ular raksasa.” “Di antara manusia dengan hinatang. Burung itu besar sekali bentuknya sehingga diatap rumah tingginya dua kaki lebih. bahasanya sangat berlainan apakah Locian-pwee paham bahasa binatang?” Orang tua itu mendongakkan kepala melihat cuaca kemudian berkata. setengah tahun berselang entah apa sebab ia pergi dari sini. Orang tua itu nampak gembira. “Ah! Si kuning itu sudah kembali.

ia sebetulnya bukan penghuni didalam gunung ini. matanya bersinar tajam dengan sikapnya yang ramah sekali. “Burung ini begini cerdik.” Tetapi burung itu ternyata belum paham bahasa manusia. rasanya jauh lebih baik dari pada manusia. Siang-Koan Kie dikejutkan oleh bentuk badan harimau itu yang besar sekali itu.com/ Orang tua itu mendadak mengulurkan tangannya dan berkata sambil tertawa. nampaknya rasa persahabatan dari binatang dan burung. apakah ini bukan burung elang rajawali raksasa?” “Benar. Menyaksikan bentuknya yang besar dan gekar Siang-Koan Kie lalu bertanya. didalam dunia jarang ada. “Oh. si kuning ini juga sahabatku. paruhnya tajam bagaikan pedang. Bulunya ternyata sangat licin dan lemas. mereka bertempur diatas atap rumah. Sementara itu burung rajawali itu tiba-tiba membentangkan sayapnya. “Rayawali. burung elang sudah lama kita tidak ketemu. menonjolkan kepalanya kedepan dada orang tua itu.” Siang-Koan Kie tertarik oleh perasaan heran. tidak disangka tiga tahun kemudian ia masih datang menengok aku. ia mengusapusap badan burung besar itu. pada tiga tahun berselang kebetulan liwat disini dan bersahabat dengan aku. . dengan kecepatan bagaikan kilat menerkam harimau.” Burung besar itu menonjolkan kepalanya.Tiraikasih Website http://kangzusi. Pada saat itu dihadapannya kembali tampak seekor harimau besar yang lompat masuk dari jendela. Terdengar suaranya orang tua itu berkata.

com/ Pertempuran antara burung dan harimau ini tampaknya ramai sekali. . berdiri seorang wanita muda berbaju merah. Orang tua itu berulang kali berteriak-teriak memanggilnya tetapi tiada satupun yang mau mendengarkan perkataannya. baru tersadar.. setelah menyaksikan gerakan kadua binatang itu. maka cepat2 ia meniup serulingnya untuk menghentikan pertempuran tersebut. orang tua itu agaknya baru ingat bahwa burung dan harimau itu tidak mengerti perkataannya. “Belum tentu semua begitu. Orang tua itu berhenti meniup lalu mengulurkan kedua tangannya untuk meng-elus2 kedua binatang itu. Orang tua itu lalu berpaling dan berkata kepada Siang-Koan Kie. Benar saja..Tiraikasih Website http://kangzusi. ke-dua2nya berada dihadapan si orang tua. ia lalu memasang telinganya kemudian berkata kepada Siang-Koan Kie. sekalipun binatang yang sangat sempit juga tidak sempat membedakan yang baik dengan yang jahat……. pertempuran dahsyat itu lalu berhenti.” Pada saat itu burung rajawali itu mendadak menonjolkan kepalanya keluar jendela dan harimau itu juga menunjukkan sikap hendak menerkam. “Kau lihat kedua sahabatku bagaimana kalau dibanding dengan rnanusia?” Siang-Koan Kie nampak sangsi sejenak lalu menjawab. Burung rajawali itu lebih dulu terbang kembali kemudian disusul oleh harimau si kuning. Orang tua itu agaknya terpengaruh oleh perasaan yang sangat girang sehingga daya pendengarannya yang tajam telah hilang. Setelah kedua pihak masing2 terdapat luka. “Ada orang datang!” Baru saja ia mengeluarkan ucapannya mendadak tampak satu bayangan merah diatas atap rumah didepan jendela.

tahu-tahu sudah muncul diatas atap rumah. Mata burung rajawali dan harimau itu semua ditujukan kepada diri wanita muda itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. sehingga tertampak nyata paha kecilnya yang putih. sepuluh jari tangannya. mulutnya diam dalam seribu bahasa. dengan tanpa ragu-ragu lompat melesat ke arah daun jendela. semua mengenakan cincin mas. Orang tua itu. gaun pendeknya cuma sampai dibagian lutut. . dengan tindakan perlahan ia berjalan menuju kedalam menara. namun romannya cantik sekali. dengan sinar matanya yang tajam mengawasi diri perempuan muda itu agaknya sedang memikirkan sesuatu. Siang-Koan Kie kini baru dapat kenyataan bahwa wanita muda itu cantik sekali tetapi dandanannya agak aneh. Perempuan muda berbaju merah itu ketika berjalan ketepi atap rumah. agaknya sedang mengawasi segala gerak-geriknya. Dari dandanannya itu sudah dapat diketahui bahwa perempuan muda itu bukanlah orang dari daerah Tiong-goan. kecuali dua jari kepala. Kedatangannya itu tidak menimbulkan suara sedikitpun juga. sepasang kakinya mengenakan sepatu sok yang terbuat dari kulit binatang rusa.com/ Hebat sekali kepandaian meringankan tubuh wanita muda itu. sehingga tampak tegas kedua lengan tangannya yang putih. Perempuan cantik itu agaknya dikejutkan olen kedua binatang yang luar biasa besarnya itu. lengan bajunya cuma sampai dibahagian sikut. sedang dilehernya ada serenceng kalung mutiara yang mengeluarkan sinar gemerlapan. tetapi sejenak kemudian ia tenang kembali. rambutnya diikat dengan selendang sutera warna merah terurai kebelakang pundaknya. juga seperti menantikan perintah si orang tua.

ia sudah lompat tinggi dua tombak. “Apakah didalam menara ini cuma kalian berdua saja?” Ternyata perempuan muda ini bukan saja fasih berbahasa Han. ketenangannya itu sesungguhnya diluar dugaan Siang-Koan Kie. biji matanya berputaran mengawasi Siang-Koan Kie. Harimau agaknya penasaran. ia berdiri dengan membelakangi daun jendela. “Apakah kau tidak paham bahasa Han?” Perempuan muda itu mengawasi keadaan didalam ruangan itu sejenak baru menjawab. tiada sepatah kata keluar dari mulutnya. tetapi juga suaranya sangat tegas dan enak sekali kedengarannya. sebentar saja sudah menyerobot masuk dari lobang jendela.Tiraikasih Website http://kangzusi. tetapi akhirnya ia bertanya juga.com/ Siang-Koan Kie sangat kagum menyaksikan kelincahan perempuan itu. Siang-Koan Kie mendadak berdiri dan melompat maju merintang didepan perempuan itu sambil berseru. maka tatkala diserbu oleh kedua binatang itu.” Perempuan muda itu menggeser kesamping kakinya. ternyata menyimpang dari pertanyaan Siang-Koan Kie. -odwoBab 7 . parasnya juga tiada menunjukkan perobahan sikap apa-apa. “Diam. setelah berputaran ditengah udara ia melayang turun kelain jendela. dia berbalik dan menyerbu lagi. sehingga untuk sesaat ia tidak tahu bagaimana harus bertindak. Tetapi gerakan perempuan itu lebih gesit. sementara kedua binatang raksasa itu hendak menerjang! Perempuan muda itu agaknya sudah siap.

“Kau bocah perempuan ini adakah murid dari golongan Bit-tiyong?” Perempuan muda itu menjawab sambil tersenyum. tetapi karena kau datang dari daerah perbatasan. siapa yang berani melanggar aku secara berani begini. “Kakaku sendiri tidak bisa mengendalikan aku bagaimana dengan kau?” Ucapan itu kedengarannya terlalu kekanak-kanakan sehingga Siang-Koan Kie merasa geli dan berkata. “Kita memang tidak seharusnya mencampuri urusannya. “Golongan Bit-tiyong jarang menerisna murid perempuan. lalu berkata. “Kalian orang2 dari suku Han. tetapi karena kau sudah mengetahui rahasia kita……. segera dihukum mati……. tetapi kalau . biasanya sangat keras sekali dalam peraturan terhadap kaum pria dan wanita.” Perempuan muda itu melirik Siang-Koan Kie sejenak lalu berkata dengan nada suara dingin. tetapi mengapa kau nampaknya selalu ingin mencari kesempatan untuk berbicara dengan aku?” Pertanyaan itu meski sangat lucu tetapi perempuan itu sikapnya nampak serius. “Didalam kalangan kita suku Utgur. “Apakah benar aku memperhatikan kecantikannya?” Perempuan itu dengan bangga berkata pula.. meski aku datang dari daerah perbatasan.com/ Belum lagi Siang-Koan Kie membuka mulut.Tiraikasih Website http://kangzusi. tetapi bukan murid golongan Bit-tiyong. Siang-Koan Kie merasa sangat malu. orang tua itu sudah melayang kesampingnya dan menanya perempuan itu dengan nada suara dingin.” “Tidak perduli kau dari golongan Bit-tiyong atau bukan. pasti merupakan salah seorang yang turut ambil bagian dalam pertaruhan pertandingan ilmu silat ini? Kau sudah berani memasuki menara ini jangan pikir bisa keluar dengan selamat. Perempuan muda itu bersenyum.. ia mundur dua langkah dan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.

hatinya bercekat. mereka boleh bebas mengajak aku menari. “Benarkah kau berani membunuh aku?” “Mengapa tidak berani?” Tetapi orang tua itu ketika menyaksikan paras yang cantik. ia memerintahkan supaya perempuan itu tetap berdiri ditempatnya. hari ini karena keadaan terpaksa. “Asal kau tidak memberitahukan kepada orang lain tentang pertemuanmu dengan kita. “Sudah sepuluh tahun lebih aku tidak pernah membunuh orang. “Perempuan ini meski dandanannya agak aneh tetapi dari sikapnya.” Perempuan itu sedikitpun tidak menunjukkan rasa jeri. dalam hatinya lalu berpikir.com/ sedang kita merayakan hari suci Tuhan Allah kami dibawah sinar rembulan yang terang.. menunjukkan sifatnya yang masih kekanak-kanakan dan kejujuran. ia ternyata tidak percaya kalau aku bisa membunuhnya sehingga sedikitpun tidak bersedia……. Dengan alis berdiri perempuan itu berpaling dan bertanya kepada si orang tua. “Mengapa kau hendak membunuh aku. Setelah perempuan itu berjalan menuju kedaun jendela ia baru keluarkan suara bentakannya. sambil bersenyum manis ia berkata.” Orang tua itu tiba-tiba mengacungkan tangannya dan berkata dengan nada dingin.Tiraikasih Website http://kangzusi. Oleh karenanya hati orang tua itu merasa ragu2 tidak dapat mengambil keputusan. apa boleh buat aku akan membuka pantangan sekali saja. Sementara itu binatang harimau dan burung rajawali itu sudah menghalang dimulut jendela.” .” Orang tua itu berpikir sejenak baru menjawab. aku akan lepaskan kau dari sini.

.” Dimaki demikian. ia hanya merasa bahwa soal ini sulit untuk dibantahnya.. kita tidak akan membantu pihak yang manapun juga.” “Kalau aku ada orang yang bermusuhan dengan kalian bagaianana aku dapat mengijinkan kau dengan mudah berlalu dari sini. mukanya merah seperti kepiting direbus.” “Baiklah! begitulah kita tetapkan. Perempuan muda itu bersenyum dan berkata kepada si orang tua. tetapi kalian orang2 suku Han. dalam hatinya agaknya sedang memikirkan suatu persoalan yang amat sulit.Tiraikasih Website http://kangzusi. apa yang kita sudah janjikan tidak nanti akan ditarik kembali. tetapi jika diketahui oleh orang lain.” Siang-Koan Kie lalu berkata dengan suara gusar. hanya orang2 dari daerah perbatasan mungkin yang demikian. “Kita orang2 daerah Tiong-goan selalu mengutamakan soal janji. mengapa selalu ingin bicara dengan aku. kau tidak dapat menyalahkan diriku. biji matanya yang hitam jernih berputaran diwajah dua orang itu.. aku tidak akan membocorkan rahasia kalian dalam menara ini.Baiklah! begitulah kita tetapkan.” Paras perempuan itu menunjukkan sedikit perobahan dengan mata menetap wajah Siang-Koan Kie ‘berkata dengan nada dingin. “Kalian tidak mengijinkan aku memberitahukan kepada orang lain. Hem! tidak tahu malu. kiranya pasti ada orang yang bermusuhan dengan kakaku……. ia cuma bisa menarik napas dengan hati mendongkol. Lama ia baru menanya dengan nada suara dingin.” . tetapi jika hal ini kau katakan kepada orang lain sudah tentu lain lagi tindakanku. asal kau tidak membocorkan rahasia dalam menara ini. Siang-Koan Kie tercengang. ada paling licik sering2 mengingkari janji……. “Kau ini bagaimana.com/ Paras perempuan muda itu mendadak menunjukkan sikapnya yang heran..

Hanya sepintas lalu saja. . sehingga ia duduk saja sambil berdiam. sementara dalam hatinya berpikir.. ia lalu keluar melalui jendela.Dimaki oleh seorang perempuan.Tay-jie tahun ini juga sudah tujuh belas tahun. Orang tua itu berkata pula... juga tidak merupakan suatu hal yang memalukan. terpaksa mengakui sambil tersenyum. perempuan itu meski dari Tibet. . Kita sebagai laki2 bagaimanapun tidak boleh berpikiran seperti orang perempuan. mungkin tujuhbelas atau delapan belas tahun. Burung garuda dan harimau itu agaknya sudah tahu bahwa perempun baju merah mengadakan perdamaian dengan si orang tua maka tidak megejar lagi.Boan-pwee tidak mengawasi dengan cermat. Orang tua itu tertawa ter-bahak2 dan berkata.” Bicara sampai disitu. Orang tua itu lalu mengawasinya dan berkata dan tertawa. tiba-tiba ia menghela napas kemudian bertanya.Mengapa kau merasa tidak gembira?” .. . tetapi kepandaiannya tidak mirip dengan golongan Bit-tiyong…….” ..com/ Sehabis mengucap demikian. setelah lenyap dari pandangan matanya. Siang-Koan Kie yang merasa malu dimaki oleh perempuan tadi.” Siang-Koan Kie tidak dapat membantah. sebentar kemudian sudah diatas atap rumah lain seberang.Tidak apa-apa” jawabnya singkat. Orang tua itu mengawasi berlalunya perempuan tersebut. . lalu mengeluarkan suara tarikan napas perlahan..” “Siapa itu Tay-jie?” .Tiraikasih Website http://kangzusi.Kau taksir berapa usia perempuan tadi?” ...Kau tentunya merasa tidak enak habis dimaki oleh perempuan itu tadi.

sedapat mungkin akan aku gunakan untuk menurunkan semua kepandaianku kepadamu.Tiraikasih Website http://kangzusi.” .Mari kita mulai mempelajari ilmu silat! mungkin tiga hari kemudian kita akan gunakan. dalam waktu tiga hari cepat sekali. ah! bagaintana rupanya akupun tidak tahu. sambil bersenyum ia berkata. berapa banyak yang aku dapat pelajari? Orang tua itu dengan sikapnya yang sungguh2 berkata. maka dalam waktu tiga hari ini.. sulit bagi kita untuk menghindarkan dari pertempuran ini.. . . tiga hari kemudian. Orang tua itu agaknya dapat menduga pikiran Siang-Koan Kie. Sementara itu kau dapat meloloskan diri dari bencana itu atau tidak.. Andaikata kita harus terlibat dalam pertempuran itu. itu tergantung dengan nasibmu sendiri. Sekarang keadaannya sudah berlainan. benar-benar sulit untuk mengetahui apa yang dipikirkan. kalau pertandingan mereka itu dimulai mungkin mereka akan dapat menggunakan tempat ini.Aku sudah mengadakan perjanjian . tetapi itu memerlukan waktu panjang sekali. bagaimana akibatnya susah sekali kita duga. .Meski kaki Locianpwee sudah tercacat. tetapi kepandaiannya toch masih ada sebaiknya kita lekas pindah dari sini……..” Siang-Koan Kie tercengang. Lebih dulu aku hendak kokohkan dasarmu dulu kemudian baru kuturunkan pelajarannya..Sebetulnya aku ingin memulai dari dasarnya kekuatan tenaga dalam. dalam hatinya berpikir orang ini kata2nya tidak keruan. berkata dengan nada suara dingin..” . “Tay-jie adalah Tay-jie. jika kita diketahui oleh mereka.” Siang-Koan Kie tidak berkata apa-apa hanya otaknya yang bekerja. mungkin menara ini akan menjadi tempat istirahatku untuk selama-lamanya. sekalipun pandai mengajarnya.com/ Orang tua itu menghela napas lalu berkata.Wajah orang tua itu mendadak berobah.

“Locian-pwee telah menggunakan kekuatan . lalu berlutut ditanah seraya berkata. hari keempat pagi2 sekali. Orang tua itu mengawasi berlalunya binatang tersebut merasakan seperti kehilangan apa-apa. dalam waktu duapuluh tahun tidak bisa meninggalkan menara ini. “Apakah binatang2 ini harus disuruh pergi dulu?” Orang tua itu membalikkan badannya dan megawasi kedua binatang raksasa itu. “Mari kita mulai. kemudian lambai-lamaikan tangannya sambil menghela napas perlahan. baru pergi. badannya tiba-tiba seperti digoyang-goyang orang. pasti ada semacam kekuatan yang mengandung hawa panas masuk kedalam tubuhnya. “Apa rasa 1etihmu sekarang sudah mulai berkurangan?” Siang-Koan Kie melompat bangun. lalu menghentikan tangannya dan berkata sambil tersenyum.Tiraikasih Website http://kangzusi. Siang-Koan Kie menggunakan seluruh kecerdikannya untuk mendengarkan semua pelajaran yang diberikan oleh orang tua utu.” Siang-Koan Kie melongok keluar jendela mengawasi burung rajawali dan harimau sejenak lalu berkata. Burung rajawali itu menggerak-gerakkan sayapnya. Entah berapa lama telah berlalu. kemudian lalu berpaling dan berkata. untuk memperhatikan pelajaran2 yang kuturunkan padamu.com/ dengan orang. ketika ia membuka mata. SiangKoan Kie merasa sangat letih sekali hingga dengan tanpa dirasa telah tertidur. dimana tangan itu sampai. Lekas pejamkan matamu.” Tiga hari telah berlalu dengan cepat. lalu terbang keangkasa sedangkan harimau itu berjalan mundarmandir duakali. Orang tua itu ketika melihat Siang-Koan Kie sudah sadar. ia segera merasakan kedua tangan orang itu tengah mengurut-urut badannya. selama tiga hari tiga malam itu.

lalu dipulaskan dimukanya. “Sudah datang!” Siang-Koan Kie berdiri. maka aku dengan kekuatan tenaga dalamku membantu kau supaya lekas sadar……. tetapi juga akan membuat susah dirimu sendiri andaikata kita akan terlibat. jikalau perlu. dari mukanya saja orang merasa muak untuk bertanding dengannya. muncul serombongan orang.” “Kita tidak ada ketentuan hubungan antara guru dengan murid. dan ikat kepala diatas kepalanya. tidak perlu kau berlutut. segera tampak olehnya diatas atap rumah dibagian seberang. Orang tua itu sudah siap. . Siang-Koan Kie yang mengawasinya sejenak diam-diam mengutuk: orang semacam ini apakah juga berkepandaian tinggi. tiba-tiba berhenti.” Berkata sampai disitu. kemudian berkata pula dengan suara perlahan. ia akan pura2 berlaku sebagai patung. sebentar saja muka itu sudah berobah warnanya menjadi warna kuning mas. Siang-Koan Kie tahu bahwa ia akan menggunakan akal lamanya. delapan laki2 berpakaian ringkas dan membawa senjata tajam. sudah tiba didekat kuil tua itu. baru saja aku sudah mendengar suara orang2 kedua pihak yang akan bertanding. ia mengeluarkan sebungkus obat bubuk dari dalam badannya. ia memasang telinganya sejenak.. lari menuju kejendela sebelah kiri. kau sudah tidur tiga jam lamanya. Orang itu nampaknya seorang licik.Tiraikasih Website http://kangzusi. mengiring seorang laki2 pertengahan umur yang dibawah hidungnya memelihara kumis pendek berpakaian baju panjang.com/ tenaga murnimu untuk membantu menambah kekuatan Boanpwee……. jikalau kau tidur lagi bukan saja akan mensiasiakan kesempatan yang jarang dijumpai ini.. maka ia lalu tersenyum dan memasang matanya keluar jendela.

“Saudara Hiong adalah komandan pimpinan barisan pasukan perkampungan kami. namaku Siong Khun. juga segera turun dari atas genting rumah. “Apakah yang datang itu adalah In Chung Cu? Pemimpin golongan kita sudah lama menantikan kedatangannya didalam kuil tua. “Tuan bukan In Chung Cu. sehingga datang agak terlambat dan terpaksa minta Taysu menanti sebentar. tetapi aku adalah pemimpin bagian sekretariat dalam perkampungan tersebut. lalu maju menyambut kedatangan padri itu seraya berkata sambil mengangkat tangan memberi hormat. tentunya adalah sitangan sakti Hiong Kian Hui?” Orang yang ditanya itu menjawab.” Waktu orang itu bicara. “Chung Cu kami oleh karena ada urusan. disisi dan dibelakang dirinya agaknya sangat kawatir akan jiwa orang itu. hanya dalam alam pikirannya sebagai orang daerah Tiong-goan. Segera dapat melihat seorang padri dari Tibet yang tinggi besar.com/ Meskipun ia tidak tahu sebab musabab pertikaian itu. tetapi agak kurang jelas. Siang-Koan Kie lalu menoleh ke arah suara itu. Orang yang mukanya licik itu. sedikit banyak condong perhatiannya kepada orang2 yang mewakili rimba persilatan daerah Tiong-goan. Pada saat itu dari bawah menara bagian penyimpan kitab terdengar suara orang berkata dengan suara yang kasar. tetapi ia tidak pilih kasih terhadap pihak yang manapun juga. dengan diiringi oleh delapan pengiring. Padri tinggi besar itu menjawab sambil merangkapkan dua tangannya.Tiraikasih Website http://kangzusi. Chung Cu kami . berjalan menghampiri rombongan orang2 itu.” Orang itu berbicara dalam bahasa suku Han. maka ketika menyaksikan roman mukanya yang tidak sedap dan bukan seperti tingkah laku orang gagah diam-diam menjumpainya. delapan pengiringnya selalu berdiri melindunginya.

tetapi hal yang sebenarnya. tetapi wajahnya menunjukkan sikap muak. ilmu silatnya jauh berlainan dengan ilmu silat golongan Tiong-goan.Tiraikasih Website http://kangzusi. ada semacam peraturan istimewa jikalau pihak lawan bukan seorang pemimpin tidak mau menjumpai. kemudian duduk semuanya.” Padri tinggi besar itu tiba-tiba membalikkan badan dan menggerakkan tangannya. . “Didalam golongan kami. meskipun yang diutamakan pertandingan ilmu silat. ialah ingin menggunakan kesempatan ini hendak bertemu muka dan belajar kenal dengan pemimpin Taysu. Delapan pengiringnya itu ketika melihat Siong Khun mundur dua langkah. meski mulutnya tidak berkata apa-apa. lalu segera bergerak dengan serentak mengurung dirinya ditengah-tengah. tetapi kalau pasti ingin menemui juga harus sanggup meliwati rintangan dari dua belas pasukan pelindung hukum kami..” Sehabis berkata orang itu menunduk dengan sikapnya yang sangat terhormat. segera ada empat orang padri berjubah warna biru yang menghampiri. mungkin ia mengutuk orang2 dari daerah perbatasan yang dianggapnya tidak tahu adat. Siong Khun menggeleng-gelengkan kepala mundur dua langkah.” “Tetapi aku yang rendah tiada maksud untuk menemui pemimpin Taysu pada saat ini juga……. Sudah lama pengaruh dan nama besar golongan Taysu sangat terkenal di daerah barat. Sebaliknya sikapnya padri Tibet itu yang sangat sombong. kemudian duduk berbaris dihadapan orang banyak itu. meskipun demikian tetapi suksesnya sangat mengagumkan. ketika mendengar keterangan orang itu lalu berkata dengan suara dingin.com/ kali ini mengadakan perjandiian pertandingan ilmu silat dengan golongan Thay-su.

kita tentu tidak dapat menyaksikan.com/ Siang-Koan Kie yang bersembunyi dibelakang jendela. Sementara itu suara siulan tadi makin lama makin mendekat. Siong Khun kembali mengangkat tangan. Siang-Koan Kie memasang lagi matanya. delapan laki2 yang bertindak sebagai pengiring itu dengan serentak melompat bangun dan berdiri menjadi dua baris. sehingga susah dilihat mukanya orang yang berada diatas tandu. jikalau mereka tidak melakukan pertandingan dibawah menara ini. . telah melihat dan mendengar semua kelakuan dan pembicaraan dari kedua pihak. “Chung Cu kami akan datang. empat orang itu rupanya seperti pengawal karena masing2 membawa senjata tajam. tiba-tiba terdengar siulan nyaring.” Seorang padri bangkit perlahan dan berkata.” Delapan laki2 itu ketika mendengar ucapan padri itu mengandung hinaan terhadap Chung Cunya. dalam hatinya diam-diam berpikir. suara itu kedengarannya datang dari dalam kuil. suruh dia saja yang pergi menjumpai. lekas beritahukanlah kepada pemimpin kalian untuk datang menyambut. nanti setelah Chung Cu datang. semua merasa gusar dan memandang kepada Padri itu dengan sinar mata membara. bagaimana sudi sembarangan menyambut orang. “Pemimpin kami berkedudukan sangat tinggi. meraba-raba mukanya lalu berkata kepada padri yang duduk dihadapannya itu. Selagi berpikir. Dibelakang tandu diikuti oleh empat orang yang berpakaian berlainan warnanya. Didepan tandu tertutup oleh kain sutra berwarna biru. Siang-Koan Kie diam-diam berpikir: orang ini mungkin adalah In Chung Cu sendiri.Tiraikasih Website http://kangzusi. segera tampak olehnya sepuluh lebih laki2 tinggi besar mendatangi sambil menggotong sebuah tandu kecil yang tertutup oleh kain hijau.

ada lagi sebuah tandu yang dihiasi dengan kain sutra berwarna merah sebagai penutup tandu itu. tandu ini tertutup oleh kain sutra berwarna hijau. empat tandu kecil berbaris disuatu tempat dengan rapinya. delapan laki-laki yang memikul tandu itu. kini muncul lagi tandu yang keempat. yang diduduki oleh In Chung Cu. semua agaknya mahir sekali ilmu meringankan tubuh. di Daerah pegunungan semacam ini juga harus mempergunakan tandu. Orang-orang yang memikul tandu itu. sedikitpun tidak nampak susah. Empat laki-laki yang mengikuti tandu . Tidak lama setelah munculnya tandu dengan tutupnya sutra merah itu. sudah tiba diatas payon rumah seberang loteng penyimpan kitab. dan setelah tandu ini tidak kelihatan ada tandu lagi. pikirnya: orang ini benar-benar terlalu banyak tingkah. Payon rumah itu kira-kira satu tombak diatas tanah. Diluar dugaannya.com/ Tetapi belum lama lenyap pikiran itu. Beberapa puluh orang yang bertindak sebagai pengawal. Empat tandu itu satu sama lain terpisah delapan atau sembilan kaki.Tiraikasih Website http://kangzusi. dalam sekejap mata saja. bahkan tindakan mereka nampak gesit sekali. kedua tandu itu terpisah hanya jarak delapan atau sembilan kaki. dibelakangnya muncul lagi sebuah tandu kecil yang tertutup oleh sutra berwarna kuning! Siang-Koan Kie merasa bingung oleh pemandangan didepan matanya itu entah mana di antara tiga tandu itu. dengan tanpa raguragu melompat turun kebawah. Siang-Koan Kie diam-diam menarik napas. mereka berjalan ditanah pegunungan diatas genting rumah. semua langsung menuju ke menara tempat penyimpan kitab. dengan cepat berpencar. ia telah dapat melihat pula dibelakang tandu itu.

merah. ia berkata sambil merangkapkan dua tangannya. sebaliknya In Cungcu yang terlambat setengah jam. Cungcu kita meskipttn datang terlambat setengah jam. “Jikalau tidak mengingat bahwa kalian datang dari tempat jauh untuk menempati janji. Siang-koan Kie baru dapat melihat. silahkan padanya supaya datang kemari!” Padri Tibet yang berbadan tinggi besar itu dengan sikapnya yang angkuh.” . bahwa warna pakaian empat laki-laki itu sama dengan warna kain yang digunakan untuk menutup tandu. berpencaran menjaga di depan pintu tandu.” “Dari antara orang banyak itu nampak berjalan keluar seorang laki-laki berbadan tegap. seharusnya sudah dihukurn mati. Pada saat itu. sebagai orang dari daerah pinggiran yang tidak tahu adat. ia berkata. “Cungcu kita sudah berjanji dengan ketua partaimu untuk bertemu muka dibawah loteng penyimpan kitab ini. dengan pakaian mereka yang berlainan warnanya. Padri itu dengan tindakan lebar berjalan maju. kalian orang2 gagah rimba persilatan daerah Tiong-goan. dengan ucapanmu itu tadi. “Ketua partai kita sudah datang setengah jam dimuka dari waktu yang telah ditetapkan untuk mengadakan pertemuan itu. kuning dan biru muda. Terdengar suara memuji Budha yang keluar dari mulut Padri yang memakai jubah warna merah darah. kemudian berkata. tetapi lebih dahulu sudah mengirim utusan kepala pengurus datang tepat pada waktunya untuk memberitahukan kelambatannya itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. warna itu terbagi dari warna hijau.com/ kecil itu. laki-laki itu lalu berkata kepada Padri itu sambil member hormat. “Di antara tuan-tuan siapakah In Cungcu? Ketua partai kita sudah lama menantikan kedatangan tuan di dalam pendopo. tetapi nampaknya semua itu hanya omong kosong belaka!” Laki-laki berbadan tegap itu menggerutkan keningnya. sering mengandalkan bahwa mereka bisa pegang janji.

sedangkan mulutnya berkata sambil bersenyum. tangan kirinya diletakkan kedepan dada untuk membalas hormat. tetapi mendadak seperti teringat sesuatu ia lalu balik lagi dan bertanya. segera menimbulkan angin keras sehingga pasir dan batu pada beterbangan. sebentar akan diketahui. dari situ tiba-tiba meluncur keluar hembusan angin keras. Hiong Kian Hui memasang kuda-kuda. “Benar. bernaung dibawah perlindungan In Cungcu. “Orang-orang partai kita sekalipun selama itu selalu berdiam di daerah barat.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Padri Tibet itu berkata sambil tertawa dingin.” Dua kekuatan tenaga dalam itu setelah saling beradu.” Sehabis berkata ia memutar tubuhnya hendak berlalu. tetapi tidak akan kalah dengan kalian orang-orang daerah Tiong-goan. sedang tangan kanannya digunakan untuk menyambut serangan Padri itu. taysu terlalu memuji.” Dada Hage nampak dipelembungkan. bagaimana nama sebutan taysu?” “ Aku yang rendah bernama Hage. sudah lama aku dengar nama besarmu. “Mendengar ucapattmu tadi apakah kau adalah kepala pengurus In Cungcu yang bernama Hiong Kian Hui yang mempunyai gelar Tangan Sakti meraba awan?” Laki-laki itu menjawab sambil tertawa. . mereka saling berpandangan sejenak lalu mengangkat tangan memberi hormat satu sama lain. sedangkan Padri Tibet itu nampak mundur setengah langkah. dalam hati rnasing-masing merasa kaget. Hiong Kian Hui hanya mencari sesuap nasi. Setelah satu sama lain mengadu kekuatan tenaga dalam itu. menyerang HiongKian Hui. kini sudah akan dimulai pertandingan itu siapa yang kalah atau yang menang. kaki dan pundak Hiong Kian Hui nampak bergerak. “Ah.

telah menantikan kedatangannya ditanah lapang bawah loteng penyimpan kitab!” Suaranya itu tidak besar. siapa tahu ternyata adalah seorang yang masih begitu muda sehingga diam-diampun merasa heran. Pinceng masih perlu memberitahtrkan kepada ketua kami lebih dulu. Dalam hati Siang-koan Kie semula mengira bahwa Cungcu dari perkembangan yang disebut sebagai perkampungan nomor satu itu. bersama Mao-san It-cin dan dua sesepuh partai Ceng-shia-pay. kemudian disusul oleh kata-katanya kepada Padri Tibet itu. tentunya adalah seorang yang sudah lanjut usianya.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Perkataan In Cungcu itu. Padri Tibet itu dengan tanpa menghentikan kakinya menjawab dengan suara keras. dengan memakai pakaian panjang berwarna biru langit. katakan saja bahwa aku orang She In. untuk mendapatkan keputusannya. Laki-laki berpakaian warna biru langit itu tertawa pula. lalu membungkukkan badan untuk memberi hortnat. Dari dalam tandu kecil yang tertutup oleh kain warna hijau terdengar suara orang tertawa bergelak-gelak. Pinceng tidak berani gegabah menerima baik begitu saja. lalu nampak berjalan keluar seorang laki-laki berusia tigapuluhan.” Dari tandu kecil itu tersingkap kain tutup yang berwarna hijau. kemudian berkata kepada orang-orang dalam tiga tandu kecil .” Setelah itu ia membalikkan badan dan berlalu. tetapi setiap patah kata terdengar nyata seolah-olah air mengalir yang masuk kedalam telinga. Pinceng kini telah belajar kenal dengan kekuatanmu. “Tolong taysu beritahukan kepada pemimninnya. Semua orang yang berpencar disekitar tempat itu. “Nama gelar tangan sakti meraba awan benar-benar bukan hanya nama kosong belaka.com/ Hage berkata sambil tersenyum.

Dua orang tua yang membawa tongkat bambu itu. dan dua orang tua perawakan pendek kecil yang warna pakaiannya sama. kecuali kau In Cungcu. tetapi karena mengingat besar sekali sangkut pautnya dengan nasib orang rimba persilatan dalam pertandingan ini.” Kain tandu berwarna merah. Laki-laki berpakaian biru itu lalu berpaling dan berkata kepada orang tua tersebut. maka terpaksa siaotee minta bantuan kalian berdua. “Ong-heng dan Oey-heng.” .com/ yang lainnya itu. mereka terus berdiam tidak berkata apa-apa. “Saudara In.Tiraikasih Website http://kangzusi. Oey-heng. Ong-heng. “Dalam rimba persilatan dewasa ini orang yang bisa mengundang si Imam dari gunung maosan. “To-hen. silakan keluar. dua orang tua itu masing2 membawa tongkat bambu. dari dalam tandu keluar seorang tua berdandan pakaian imam dengan tangan membawa kebut. kali ini siaotee merasa tidak enak sekali harus minta bantuan kalian berdua. Kita berdua saudara tidak gampang2 memberikan janji.” Orang tua yang berdiri disebelah kiri berkata dengan suara dingin. kuning dan biru muda nampak tersingkap. Imam tua itu lalu berkata kepada laki-laki itu. sekeluarnya dari tandu. ditanah lapang bawah loteng penyimpan kitab ini.” Wajah laki-laki itu meski nampaknya penuh senyuman. apakah tempat inilah yang saudara hendak gunakan sebagai tempat pertaruan mengadu kekuatan?” Laki-laki itu menjawab sambil tersenyum! “Ya. dan kita dua tua bangka turun gunung untuk memberi tenaga. barangkali sudah tidak ada yang keduanya lagi. tetapi kalau sudah sanggup juga tidak ingin orang mengucapkan terima kasih. tetapi masih belum dapat menutupi perasaan masgul yang tampak nyata dalam wajahnya.

. semula siaotee sebetulnya ingin mengundang semua orang gagah dalam rimba persilatan berunding guna menghadapi musuh itu. oleh karena urusan ini men. sungguh tidak enak didengar. “Mengapa masih belum dating?” Imam tua itu mengurut jenggotnya yang panjang dan putih kemudian berkata. lalu berkata kepada dirinya sendiri. “To-heng.. kini ternyata bersedia turun gunung untuk memberi bantuan tenaga.” Pada saat itu tiba-tiha terdengar suara tambur dan gembreng dari jauh terdengar semakin dekat.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Orang tua itu nada suaranya ketus dan dingin. ia lalu mengirim orang menyampaikan surat mendesak siaotee supaya mengundang orang-orang kuat rimba persilatan daerah Tiong-goan supaya suka datang untuk menepati janji. Ong-heng dan Oey-heng. maka terpaksa siaotee hanya mengundang tuan-tuan saja……. hal ini benar-benar menambah kepercayaan siaotee……. kecuali kita bertiga apakah kau masih minta bantuan orang lain lagi?” “Perkataan yang siaotee ucapkan dengan tanpa sengaja pada beberapa tahun berselang tidak kusangka telah dianggap benar-benar oleh Padri Tibet. lagi pula dengan mengundang semua orang gagah.yangkut sangat luas dengan nasib rimba persilatan. juga belum tentu dapat memberi bantuan tenaga kepada kita. kemudian berkata pula. Dari sudut loteng penyimpan kitab nampak berjalan keluar sepuluh lebih kawanan Padri yang mengenakan jubah warna . tetapi kemudian terpikir lagi bahwa urusan ini tidak tepat diumumkan kepada dunia rimba persilatan. bukan cuma soal mati hidupnya siaotee seorang.” Ia berdiam sejenak. “Saudara In. Laki-laki berpakaian biru itu mendongakan kepala melihat cuaca. maka tidak boleh tidak siaotee harus berlaku hati-hati.

“In Kiu Liong karena ada urusan penting sehingga datang terlambat. juga meletakkan batu tempat dupa itu kemudian mundur dua langkah.com/ kuning. hal mana telah menyebabkan taysu lama menanti. dengan sinar mata yang tajam ia menatap In Kiu Liong sejenak. Padri tinggi kurus itu dilehernya tergantung serenceng biji2 tasbih. lalu berkata. Padri itu berjalan sambil merangkapkan kedua tangannya. Padri tinggi kurus yang berpakaian aneka warna tiba-tiba membuka sepasang matanya. begitu pula suara tambur dan gembreng. dibelakangnya diikuti oleh seorang laki-laki gagah berusia tigapuluh tahunan bersama seorang perempuan muda berparas cantik yang mengenakan pakaian warna merah serta sepuluh lebih kawanan padri yang mengenakan jubah berwarna merah.Tiraikasih Website http://kangzusi. berjalan mendatangi dengan tindakan Dibelakang kawaan Padri itu. mereka itu memikul sebuah tempat sembahyang dari batu yang masih nampak mengepul asap dupanya. aku sesungguhnya merasa tidak enak sekali. tiba-tiba memencarkan diri kedua samping. matanya seperti tertutup. Kedua pihak terpisah sejarak satu tombak lebih kawanan Padri itu mendadak berhenti. mereka berdiri sambil meluruskan kedua tangannya sedang empat Padri yang memikul tempat sembahyang tadi. Dibelakang batu tempat sembahyang itu kembali ada delapan padri berpakaian merah yang melindungi seorang Padri tinggi kurus dengan jubah yang beraneka warna. biru dan kuning. Laki-laki berbaju panjang berwarna biru itu berjalan menghampiri kemudian berkata sambil mengangkat tangan memberi hormat. tampak pula ernpat Padri berjubah warna merah. mereka perlahan. “Karena In .” Kawanan Padri yang membawa alat tabuhan itu.

bagaimana Pin-ceng berani menyalahkan?” Wajah In Kiu Liong sedikit beruhah. tetapi sudah mengirim orang untuk memberi kabar pada waktu yang tepat. maka semua anak murid perkumpulan kita akan mendengar perintah Cungcu. apakah In Cungcu masih ingat?” “Seorang laki-laki seharusnya bisa memegang bagaimana siaotee bisa melupakan perjanjian itu?” janji.com/ Cungcu ada urusan penting kelambatan tidaklah disengaja. kemudian ia berkata. “Dalam bungkusan ini. asal In Cungcu bisa mengambil golok mas itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. entah taysu diberitahukan oleh orangku itu atau tidak?” Padri Tibet itu hanya tersenyum. “Tiga tahun berselang Pin-ceng mengirim utusan datang berkunjung ketempat tuan untuk menyampaikan lagi soal janji dalam kuil tua pada sepuluh tahun berselang. lalu berkata. kemudian berpaling dan mengawasi kepada anak buahnya laki-laki yang berbadan tegap dan gagah itu baru berkata lagi. kecuali tanda kepercayaan yang berupa naga terbang bagi perkampunganku In-kee-chung.” “Dalam bungkusan ini. ia berkata. tidak berkata apa-apa lagi. dengan sendirinya dapat dianggap. sekalipun menyuruh mereka terjun kelautan apipun juga tidak berani menolak. entah barang2 yang harus disediakan sudah lengkap atau tidak?” Dad dalam sakunya In Kiu Liong mengeluarkan sebuah bungkusan kain sutra berwarna kuning. In Cungcu adalah salah seorang kuat dalam rimba persilatan daerah Tiong-goan. “Barang-baranq yang aku harus sediakan sudah lengkap. masih ada lagi golok mas turunan kita. kecuali barang-barang pusaka perkumpulan Bit-cong-kauw. “Walaupun kedatanganku agak terlambat. perkataan yang sudah dikeluarkan. “Itu bagus. apakah taysu juga sudah sedia?” Padri tinggi kurus itu dari dalam jubahnya yang gerombongan mengeluarkan sebuah bungkusan kain sutra berwarna kuning. .

siapa yang mendapatkan tanda kepercayaan perkampunganku.” Tiba-tiba terdengar suaranya Imam dari Mao San itu yang berkata sambil tertawa dingin.. Dua sesepuh partai Ceng-shia itu dan Imam dari gunung Mao San. serta tiga buah gambar rahasia. kalau tidak lekas bertindak. “In Kiu Liong dan tuan-tuan bertiga kalau hari ini terluka didalam kuil tua ini. kita terpaksa tidak dapat menunggu lagi!” Orang yang berkata itu bukan lain dari pada Ong-kiat. taysu boleh berbuat menurut rencana yang tertulis dalam gambar rahasia itu. siapa lagi yang bisa melawan. merupakan taktik dengan rencana untuk menundukkan orang-orang kuat daerah Tiong-goan. bukankah lebih baik menyerah saja?” Imam dari Mao San itu perlahan-lahan pejamkan matanya dan berkata. “Ucapan ini juga benar…….com/ masih ada lagi daftar nama2 orang kuat rimba persilatan daerah Tiong-goan. sudah tigapuluh tahun tidak pernah muncul dikalangan Kang-ouw. sebahagian besar akan tunduk dan tiga gambar peta rahasia ini. kita bersaudara masih ada urusan penting yang harus diurus. sebaiknya lekas bertanding supaya lekas beres. saudara tua dari dua sesepuh partai Ceng-shia. dari pada dibunuh secara menyedihkan. maka untuk menjagoi dunia rimba persilatan sangat mudah sekali. “In Cungcu telah berjanji hendak mengadu kepandaian.” Tiba-tiba terdengar orang berkata dengan suara dingin. didalam rimba persilatan dewasa ini. orang-orang .Tiraikasih Website http://kangzusi. asal taysu sanggup melukai orang-orang kita yang datang memenuhi janji ini. maka orang-orang baik dari golongan hitam maupun dari golongan putih dari tujuh profinsi dari daerah selatan sungai Tiong-Kang. sudah lama mengasingkan diri. “Bagus sekali! In Cungcu kau telah menjual kita!” In Kiu Lion tertawa terbahak-bahak kemudian berkata.

sudah lama tidak mengetahui diri mereka. “Kalian hendak maju berbareng. begitu kita bergerak. sinar matanya yang tajam dingin menyapu wajah Padri itu sejenak. kita nanti baru bertindak. dari dalam rombongan kawanan Padri maju menghampiri tiga orang padri yang berjubah warna merah. “In Cungcu masih merasa raguragu. lalu berkata. sebab ia sering mendengar cerita suhunya mengenai kejadian luar biasa tentang diri Cungcu itu. setelah berdiam sejenak ia lalu berkata. tidak akan berhenti sebelum ada yang mati. dengan mengandalkan sebuah tanda kepercayaan naga terbang.” Ong-kiat segera berjalan keluar dengan tindakan lebar. maka itu Siang-koan Kie sejak tadi tidak mengambil perhatian terhadap diri tiga orang tua itu. dia hanya memperhatikan In Kiu Liong seorang.Tiraikasih Website http://kangzusi. mungkin kita akan mengetahui siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam waktu singkat. atau satu-persatu?” Padri Tibet tinggi kurus itu menggapaikan tangannya. maka ia tidak ingin segera bergerak. biru dan kuning. “Urusan ini sangat penting. yang kini masih belum tiba. ia dapat menggerakkan orangorang golongan hitam dan golongan putih dari tujuh profinsi daerah selatan sungai Tiang Kang.com/ tingkatan muda dalam rimba persilatan. kemudian berkata. senang sekali pinceng melayani. tetapi mungkin juga beberapa hari dan beberapa malam belum diketahui hasilnya. . biarlah kita berdua yang tidak takut mati ini bertindak lebih dahulu. siaotee sudah minta bantuan seorang lain. setelah ia datang. In Kiu Liong agaknya merasa kurang mempunyai keyakinan dalam pertandingan itu. “Kalian berdua kalau memang ingin turun tangan.” Padri Tibet yang tinggi kurus itu lalu berkata samba tertawa dingin.” Ong-kiat yang kurus kering memandang saudaranya sejenak.

untuk menyambuti serangan tiga Padri itu. maka dalam waktu duabelas jam. hanya sebentar saja masing-masing sudah mundur lima kaki. ia segera mengerahkan kekuatannya.Tiraikasih Website http://kangzusi. tetapi kemudian maju lagi dan balas menyerang dengan serentak. badannya melesat tinggi. ia tahu bahwa itu adalah ilmu kekuatan tenaga dalam yang amat berbisa tetapi ia mengandalkan ilmu kepandaiannya yang sangat tinggi. semua tulangtulang dalam badanmu akan mulai kaku. dalam waktu tiga . mereka nampak tercengang. ketiganya melompat mundur sambil menarik kembali serangannya. Ong-kiat perdengarkan suara tertawa dingin. gerak badan tiga padri itu walaupun gesit. dengan mengeraskan sekujur badannya bagaikan besi. Tiga Padri itu agaknya tidak menyangka bahwa lawannya itu berani menyambuti serangan. jikalau kau tidak lekas mengatur untuk mengeluarkan hawa dingin yang sangat berbisa itu. wajahnya nampak dingin kaku. Gerakan tiga Padri itu juga sangat gesit. tetapi kekuatan yang keluar dari serangan nampaknya tidak mengandung kekuatan hebat. ia ingin mencoba sendiri kepandaian ilmu silat Bit-ciong yang telah menggemparkan daerah barat itu. Ong-kiat merasa bahwa serangan tiga padri itu mengandung hawa dingin. “Kau sudah terluka oleh ilmu serangan tangan Inhong-ciang dari golongan kami.com/ Ong-kiat berkata sambil tertawa dingin. Kepandaian ilmu silat golongan Bit-ciong lain dari pada ilmu silat golongan Tiong-goan. Padri Tibet tinggi kurus itu tiba-tiba berkata dengan suara dingin. kemudian maju mendesak dengan tindakan perlahan. sebelum kakinya menginjak tanah tongkatnya sudah melakukan serangan kepada tiga padri itu. “Apakah tiga orang tidak terlalu sedikit?” Orang tua itu lalu menggerakkan tongkat bambunya.

Ketika sinar mata Ong-kiat beradu dengan sinar mata Padri itu. kau akan merasa tersiksa oleh hawa dingin yang masuk kedalam tulangmu. tatkala matanya mengawasi padri tinggi kurus itu nampak berdiri dibelakang batu tempat dupa. lalu perlahanlahan duduk sambil merangkapkan kedua tangan diatas dadanya. jikalau kau tidak lekas duduk bersemedi untuk mengatur pernapasan dalam waktu dua jam. Asap dupa yang mengepul dari pendupaan semakin tebal. hatinya bergoncang keras. kembali hatinya tergoncang hebat badannya menggigil. -odwoBab 8 “Ong-kiat tergerak hatinya ketika mendengar ucapan itu.. tetapi kedengarannya masih agak kaku. wajah itu nampaknya bagaikan patung yang keram.Tiraikasih Website http://kangzusi. yang pada saat itu sedang mengawasi dirinya. sehingga menimbulkan perasaan tidak enak bagi orang yang mendengarnya. Ong-kiat dengan tanpa sadar mengawasi lagi Padri tinggi kurus itu. “Kau sudah terluka parah. Padri tinggi kurus itu tiba-tiba tersenyum.com/ bulan bisa itu akan menyerang jantungmu dan tamatlah riwayatmu……. Terdengar pula kata-katanya Padri tinggi itu. di antara mengepulnya asap dupa. hawa dingin seolah-olah menyusup kedalam hulu hatinya sehingga dengan tanpa sadar badannya lalu menggigil. warna2 jubah Padri tinggi kurus itu semua merupakan warna . tetapi ketika sinar matanya beradu.” Perkataan itu diucapkan dengan nada suara dingin dan menyeramkan.” Perkataannya itu meski diucapkan dalam bahasa Han.

tetapi Pinto tidak berani memastikan……. “Nampaknya memang mirip dengan ilmu memindahkan sukma dalam cerita itu. hanya sinar mata tajam dari Padri itu yang tetap kelihatan seperti telah menembus asap itu untuk mengawasi Ong-kiat. telah merasakan bahwa sikap Ong-kiat makin lama makin tidak beres. apakah Padri itu menggunakan ilmu memindahkan sukma yang terdapat dalam kalangan Budha?” Imam itu menjawab sambil menganggukkan kepala.” “Ilmu dari golongan Bit-ciong. ketika tertutup oleh asap yang mengepul itu samar-samar nampak sebentar merah sebentar hijau. Imam dari gunung Moo San itu segera berlompat keluar. badannya mundur beberapa langkah. Suara itu diucapkan dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam sehingga dalam telinga orang seperti mengaung. matanya seperti mata orang linglung tetapi mata itu terbuka lebar2 sedang wajahnya menunjukkan tanda-tandanya yang amat letih. tongkatnya ditantapkan ketanah. Sikap Ong-kiat tiba-tiba menunjukan kesadaran pikirannya. In Kiu Liong berkata kepada Imam dari gunung Mao San dengan suara perlahan. hanya ilmu golongan Jie-ka. meskipun siaotee mengerti. matanya yang terbuka lebar lalu dipejamkan. Tangan kirinya membimbing Ong-kiat. In Kiu Liong dan Mao San It-cien.com/ yang menyolok. semuanya seperti pemandangan dalam khayalan. Sang adik Oey Ciong segera melompat masuk kedalam kalangan. “To-heng sudah banyak pengalaman. sambil mengeluarkan pedang dari belakang punggungnya lalu mengeluarkan suara yang memuji nama Budha.. tangan kanannya digunakan untuk menotok jalan darah dibelakang punggung kakaknya. adalah yang paling ajaib dan susah diduga.Tiraikasih Website http://kangzusi. untuk menghadapi orang2 . tetapi sangat terbatas.

“Saudara In. tunggu dulu. lalu mulai bertanding secara benar. Padri tinggi kurus itu. ia terperanjat. agar diketahui siapa yang lebih unggul”. Dalam hatinya lalu . lebih baik menetapkan peraturan.” In Kiu Liong melompat mundur tiga langkah kemudian bertanya. Dua kekuatan tenaga dalam yang dibarengi dengan suara menderunya angin meluncur keluar dari kedua tangannya. Tiba-tiba terdengar suara Imam dari gunung Mao San yang berkata. apalagi perbuatan Padri Tibet yang agak aneh itu. berkata Imam itu sambil bersenyum. Ia lalu pusatkan seluruh kekuatannya dan melancarkan serangannya lagi. semua sudah siap bergerak.” Ia mengeluarkan perkataan itu sambil mendorong keluar kedua tangannya. tidak tahu kepandaian apa iang digunakan oleh Padri itu yang dapat memusnahkan serangannya sendiri yang demikian hebat. In Kiu Liong sebetulnya ingin menantikan kedatangan seorang lagi yang hendak membantu padanya.com/ semacam itu. persilatan. memperdengarkan suara tertawa dingin. barulah dimulai pertandingan secara resmi.Tiraikasih Website http://kangzusi.” tidak perlu mentaati peraturan dalam Ia lalu melompat keluar dan berkata pula dengan suara nyaring. ia lalu mengangkat kedua tangannya untuk menyambut serangan tenaga dalam In Kiu Liong. Tatkala dua kekuatan saling beradu In Kiu Liong mendadak merasakan bahwa serangannya sendiri telah dipunahkan oleh semacam kekuatan yang sangat lunak dan dingin sehingga lenyap seketika. “Aku In Kiu Liong angin belajar kenal dengan kepandaian taysu. tetapi dua sesepuh dari Ceng-shiapai dan Imam dari gununn Mao San. “Ada apa To-heng?” “Kalau hendak bertindak. membuat perasaannya tidak tenang.

aku terpaksa menurut. terserah kepada In Cungcu. nampak kejadian hari ini mungkin benar. “ Itulah yang paling baik. dengan bertanding secara demikian. Kepandaian yang mirip dengan ilmu gaib itu. “Ucapan To-heng ini memang benar.com/ berpikir: Memang sudah lama aku mendengar golongan lama itu mempunyai kepandaian yang ajaib. “Kalau taysu menghendaki demikian. kecuali Ong-kiat yang sudah terluka masih ada Oey Ciong. Sebab di antara kalangan Padri itu. barangkali tidak menguntungkan pihakku sendiri maka lebih baik kita lekas selesaikan soal ini. Pin-ceng juga beranggapan demikian. dalam hatinya mulai menghitung-hitung. sekalipun ia sendiri tidak dapat melawan. apabila waktunya diperpanjang lagi. dipihaknya sendiri hanya ada empat orang yang berkepandaian tinggi. . mari kita segera mulai supaya lekas mendapat kepastian siapa yang akan keluar sebagai pemenang dalam pertandingan ini. yang lainnya. maka ia lalu berkata. sebetulnya sulit dimengerti. tetapi dalam pertandingan itu sudah terhitung pihaknya yang menang.Tiraikasih Website http://kangzusi. Karena berpikir demikian. Ia pikir sebaiknya diadakan perjanjian untuk bertanding dalam tiga rombongan siapa yang dapat menangkan dua kali dialah yang menang. Maka ia lalu berkata.” Padri tinggi kurus itu berkata dengan nada suara dingin. seperti anak muridnya.” Dengan sinar mata yang tajam In Kiu Liong mnegawasi kawanan Padri. hanya ketuanya yang perawakannya tinggi kurus itu yang berkepandaian sangat aneh. kita mengadakan tiga kali pertandingan untuk menetapkan siapa yang kalah dan siapa yang menang. hanya pandangan mata saja sudah dapat menundukkan seorang berkepandaian sangat tinggi. menurut pikiranku yang pendek. Imam dari gunung Mao San dan ia sendiri. bagaimana kita harus bertanding.

Padri tinggi kurus itu baru berpaling dan berkata dengan suara dingin. “Lekas sedang banyak . dari dalam rombongan Padri segera berjalan keluar seorang Padri pendek kecil.” In Kiu Liong lalu berkata kepada Oey-ciong. Oey Ciong memperdengarkan suara ketawa kemudian berkata sambil lintangkan tongkatnya. ia berjalan menuju kelapangan dengan tindakan perlahan. selamanya tidak suka bicara. Mereka berbicara dengan menggunakan bahasa Uighur yang tidak dimengerti oleh In Kiu Liong dan lain-lain. kemudian mencabut kembali tongkatnya yang ditancapkan ditanah lalu berjalan menuju kelapangan dengan tindakan lebar. “Harap Oeyheng supaya mulai lebih dulu.com/ Di antara anak murid taysu boleh memilih dua orang yang berkepandaian tinggi. sepasang matanya yang sipit nampak meram melek seolah-olah sedang mengantuk.” dingin.” Oey Ciong perlahan-lahan melepaskan dirinya Ong-kiat. Setelah bicara cukup lama. keluarkan senjatamu. untuk bertanding. dalam pertandingan terakhir biarlah sioatee yang belajar kenal dengan kepandaian taysu apakah taysu dapat menyetujui cara demikian?” Padri itu tidak segera menjawab. Padri tinggi kurus itu tiba-tiba berkata sendiri dengan bahasa Uighur. aku seorang tua kalau menghadapi pertandingan.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Baiklah kami terima baik usulmu itu. ia berpaling mengawasi laki2 yang berbadan tinggi dan gagah itu untuk bicara sekian lama bahasanya sendiri. siaotee juga akan memilih dua orang di antara orang yang aku minta bantuannya. Padri itu yang bentuk badannya sama dengan Oey Ciong yang pendek kurus.

mulutnya mengucapkan kata2 yang tidak dimengerti oleh Oey Ciong. maka hanya dari sikap mereka untuk meraba-raba maksud dari perkataan-perkataannya. kemudian dirangkapkan didepan dadanya. tangan kirinya diletakkan diatas pergelangan tangan kanan. maka ia lalu menggerakkan tongkatnya menotok bagian perut lawannya. kemudian dari belakang punggugnya perlahan-lahan mengeluarkan sepasang gelang Mas. Sebetulnya ia sendiri tidak mengerti bahsa Uighur. Perbuatan itu sebetulnya merupakan suatu gerakan yang maksudnya minta lawannya turun tangan lebih dulu. ia pegang gelang itu dengan sepasang tangannya. Oey Ciong terperanjat. dengan sikap agak bingung ia mengawasi Oey Ciong sejenak. karena melihat lawannya bergerak demikian.com/ Padri pendek kurus itu agaknya tidak mengerti bahasa Han. Gelang Mas ditangan kanannya tiba-tiba terbang melesat untuk balas menyerang. sekalipun Padri itu mempersilakan kepadanya untuk membuka serangan lebih dulu ia juga tidak mengerti maksudnya. Karena satu sama lain tidak mengerti bahasanya. itulah menurut peraturan rimba persilatan daerah Tiong-goan. Oey Ciong segera melintangkan tongkatnya. dan tidak mengerti peraturan gohongan Bit-cong. . Oey Ciong menganggap berhadapan dengas orang yang tidak mengerti tata cara. dengan cepat ia menarik kembali tongkatnya dan melompat kesamping jauh lima kaki.Tiraikasih Website http://kangzusi. lalu mendorong kedepan. tidak ada gunanya berlaku merendah terhadapnya. ia juga meniru perbuatan semacam itu. Padri itu dengan menggunakan Gelang Masnya untuk menindih ujung tongkat tersebut. tetapi karena Padri itu tidak mengerti peraturan demikian. Ketika ujung tongkat Oey Ciong meluncur ke arah perutnya. lalu dipisahkan lagi.

Oey Ciong diam-diam memaki: Kurang ajar aku kira ia menggunakan ilmu gaib apa. Gelang Mas yang melesat terbang tiba-tiba tertarik kembali ditangannya. Padri pendek kurus itu agaknya dapat lihat Oey Ciong memandang rendah dirinya. sepasang gelangya terlepas dari tangannya menyambar kepala lawannya.com/ Padri Tibet itu menggerakkan tangan kanannya. ia melakukan semua itu dengan suatu gerakan yang luar biasa cepatnya. Ternyata Gelang Mas itu diperlengkapi dengan seutas rantai Mas yang halus sekali. badannya naik membung lagi keatas setinggi tujuh delapan kaki. tidak tahunya cuma permainan sulap belaka. badannya yang pendek kurus tiba-tiba melesat tinggi keatas. sehingga mengeluarkan suara hembusan angin sangat hebat. Serangan itu hebat sekali. . Karena ia telah menyaksikan luka yang diderita oleh Ongkiat. Tetapi Oey Ciong tidak menghentikan serangannya. Mata Padri yang semula nampak meram melek itu tiba-tiba terbuka lebar. dan sepasang gelangnya ikut naik mumbung untuk menghindarkan serangan Oey Ciong. tongkat lalu digunakan lagi untuk membabat pinggang lawannya. tongkatnya terus meluncur untuk menotok lawannya.Tiraikasih Website http://kangzusi. setelah mengetahui senjata lawannya terikat oleh rantai Mas hatinya merasa lega. maka selalu waspada. Ia segera memusatkan kekuatan tenaga dalamnya. dengan satu gerakan memutar tongkat digunakan untuk menyapu rantai yang menghubungkan antara gelang dengan tangan si Padri. sambil mengeluarkan suara bentakan keras. Oey Ciong menarik kembali serangannya. tidak berani bertindak sembarangan. melompat keatas.

sudah menimbulkan getaran hebat pada dirinya. Padri Tibet itu agaknya sudah tahu bahwa orang tua kurus kering itu mempunyai kekuatan tenaga dalam yang hebat. Padri Tibet itu ketika jatuh ditanah. . kemudian badannya luncur turun. tetapi karena sudah mahir kekuatan tenaga dalamnya. ia lompat melesat lagi menghampiri lawannya. ia sudah lompat menyambut sambil menyerang. Oey Ciong tidak menantikan datangnya Padri itu. tetapi ia merobah dengan cepatnya dan kali ini tongkatnya membabat pinggang lawannya. tetapi ia sendiri juga tidak berhasil kendalikan dirinya. sambil berputaran ia mengelakkan serangan tersebut. Serangan Oey Ciong dengan demikian mengenai tempat kosong.com/ Padri Tibet itu tiba-tiba mengerakkan tangan kanannya. Ditengah udara ia berputaran dan kemudian melesat sejauh empat lima tombak. kekuatan gerakan tangannya itu juga sangat hebat. maka ketika sepasang kakinya menginjak tanah. Gelang Masnya melesat keluar dan tepat mengalungi ujung tongkat Oey Ciong. tetapi karena ia menggunakan tenaga dalam. Padri Tibet yang sedang meluncur turun itu dikibaskan secara demikian tiba-tiba terlempar bagaikan layang2 yang putus talinya.Tiraikasih Website http://kangzusi. Meskipun ia bergerak demikian dengan badan masih terapung. baru melayang turun ketanah. Oey Ciong diam-diam mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya. tongkatnya dikibaskan keatas. Serangan itu nampaknya biasa tidak ada apa yang aneh. sehingga tongkatnya mengeluarkan suara menderu-deru. ternyata tidak mendapat luka apa-apa. maka ia tidak berani menyambut serangannya. sekalipun berhasil melemparkan lawannya. Tetapi Oey Ciong yang mengeluarkan serangan dengan badan terapung.

tetapi ia sendiri selalu waspada dan berjaga2 untuk menghadapi kepandaian orang2 golongan Bit-cong.com/ Padri Tibet itu masih belum sempat balas menyerang. sudah disusul oleh serangan selanjutnya. Oey Ciong dengan gerakannya yang cepat luar biasa. Padri tinggi kurus itu gelengkan kepalanya. kalau dilihat dari sikapnya. perlahan-lahan memejamkan sepasang matanya. kemudian disusul oleh suara jeritan ngeri. tiba-tiba maju dan berkata kepada Padri tinggi kurus dengan suara sangat perlahan. dalam waktu sekejap mata saja Padri Tibet itu sudah terkurung oleh bayangan tongkat yang dibarengi oleh menderunya suara angin. maka ia melanjutkan serangannya dengan cepat. Dalam hatinya masih belum berani percaya anggapan kawannya itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. . maka pertandingan ini mungkin pihak kita yang akan mendapat kemenangan. dan beruntung sudah meluncurkan dua kali serangan. Sepuluh jurus kemudian nampaknya sudah terlihat siapa yang lebih unggul dalam pertempuran itu. Imam dari gunung Mao San lalu berkata kepada In Kiu Liong dengan suara perlahan . Padri Tibet kurus kering itu didesak oleh serangan Oey Ciong. agaknya tidak menghiraukan nasib Padri yang sedang bertempur itu. Laki-laki tinggi besar itu. Padri tinggi kurus itu. Dua orang itu berbicara dengan menggunakan bahasa Uighur. tiba-tiba terdengar suara bentakan Oey Ciong. ia terpaksa lompat melesat kesamping untuk menghindarkan serangan tersebut. Selagi masih merasa curiga. “Saudara In. sehingga tidak sanggup melakukan serangan pembalasan. karena ia tidak berhasil merebut posisi lebih dulu. tetapi dari sikap dua orang itu. gerak kakinya nampak mulai kalut. sehingga tidak dimengerti oleh In Kiu Liong. dapat dilihat sedikit maksud pembicaraan mereka itu.” Dalam hati In Kin Liong juga merasa heran.

kemudian berkata dengan nada suare dingin. kita harus majukan siapa?” Laki-laki tinggi besar dan tegap itu segera menjawab dengan menggunakan bahasa Uighur juga. aku takut ia akan menggagalkan usaha kita.. kepandaiannya lebih dari cukup untuk menghadapi Imam itu. kemudian berkata. pasti akan mengalami suatu kekalahan total. ia juga menentang bermusuhan dengan orang-orang rimba persilatan daerah Tiong-goan.” . banyak yang mengerti ilmu pelajaran bathin golongan kita. jikalau ia ada. maka sudah kumasukan dalarn tahanan. bermusuhan dengan orang-orang rimba persilatan daerah Tiong-goan. maka dalam pertandangan ini. sekarang dalam pertandingan kedua ini siapa yang ingin bertanding dengan Pinto?” Padri tingi kurus tiba-tiba berpaling kepada laki-laki tinggi besar itu dan berkata dengan menggunakan bahasa Uighur. dalam rimba persilatan terdapat banyak sekali orang yang berkepandaian tinggi. jika hanya menggunakan kepandaian ilmu silat untuk menghadapi lawannya barangkali sulit untuk merebut kemenangan……. “Sayang Kum-tok susiok tidak ikut sama-sama kita. ia berkata bahwa daerah Tiong-goan sangat luas.” Wajah Padri tinggi kurus itu nampak berobah. sedangkan Padri Tibet kurus kering itu sudah menggeletak ditanah dalam keadaan remuk kepalanya. orang-orang kita sekarang ini. aku sendiri masih perlu menghadapi In Kiu Liong yang lebih lihai itu.com/ Ia segera dapat lihat Oey Ciong berdiri ditengah lapangan sambil melintangkan tongkat ditangannya. kepandaiannya pasti lebih hebat dari pada orang tua kurus kering itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Imam ini nampaknya mepunyai kekuatan tenaga dalam hebat sekali. “Kim-tok susiokmu gemar sekali dengan kepandaian ilmu silat daerah Tiong-goan. Imam dari gunung Mao San lantas lompat masuk kedalam kalangan sambil menenteng pedangnya. “Pertandingan pertama sudah selesai.

diletakkan kedalam dua tangannya. Laki2 berbadan tegap itu lalu berjalan keluar dengan tindakan lebar sambil berkata . begitu orang yang akan menghadapinya itu muncul didalam kalangan. kalau ingin merebut kemenangan.Tiraikasih Website http://kangzusi. apabila mengulur waktu semakin lama. aku sudah berkeputusan. ia lalu berkata. “Senjatamu ini apakah terdapat tanda tulisan?” . Imam dari gunung Mao San sudah siap sedia.” Ia lalu mengeluarkan sepasang benda Mas yanq gamerlapan. sebab kawan Padri Tibet itu berbicara menggunakan bahasa Uighur yang tidak dimengerti oleh In Kiu Liong dan kawan-kawannya sehingga dirasakan oleh mereka bahwa gerak-gerik kawanan Padri itu sangat aneh dan menakutkan. benda itu bentuknya sepanjang satu kaki lebih dan lebar kira-kira satu dim. maka asal kau sanggup bertahan seratus jurus jangan sampai dikalahkan sudah cukup. Karena mereka sudah dapat melihat gelagat pada saat itu. maka mereka semua sudah bertekad hendak mengakhiri pertandingan itu secepat mungkin. menggunakan ilmu bathin yang tertinggi dalam golongan kita untuk menghamburkan tenaga murni mereka sehingga menyapu bersih orang-orang rimba persilatar daerah Tiong-goan yang turut dalam pertandingan ini. maka pertandingan babak kedua ini sangat penting. “Untuk melayani sampai seratus jurus. aku yakin masih sanggup……. Tetapi Imam dari gunung Mao San itu setelah menyaksikan senjata laki-laki besar dan tegap itu nampaknya sangat terkejut..com/ “Bagaimana kalau aku sendiri menghadapi padanya?” “Dalam tiga pertandingan. akan diserang dengan segera. harus dapat menangkan dua kali. semakin tidak menguntungkan bagi pihaknya sendiri.

Tiraikasih Website http://kangzusi. bagaimana kau tahu?” Imam dari gunung Mao San itu terdengar kata-katanya yang ditujukan kepada dirinya sendiri.” Sedangkan diatas plat yang terbuat dari perak itu terdapat tulisan yang berbunyi.com/ Laki-laki itu tersenyum. sambil mengkibaskan pedang .” Imam dari gunung Mao San mengamat-amat dengan seksama. “.” Bunyi dari tulisan itu sudah cukup membuat berdiri bulu roma orang yang melihatnya. Wajah Imam dari gunung Mao San itu berubah seketika. tetapi ia tidak berhasil mengendalikan tergetarnya perasaan hatinya. kemudian berkata dengan menggunakan bahasa Han. Laki-laki besar dan tegap itu menjawab dengan nada suara dingin. maka pertanyaan yang diajukan itu belum mencakup arti sebenarnya yang hendak dikeluarkannya. “Benar. dengan nada suara dingin ia bertanya. “Boleh saja. “Tanda perintah memanggil sukma.Orang yang menggunakan sepasang senjata ini adalah aku sendiri. “Dimana orang yang menggunakan senjata ini?” Imam itu meski diluarnya nampak sangat tenang. “Apakah benar ia masih berada didalam dunia?” Setelah berdiam sejenak ia lalu berkata kepada 1aki2 ini. “Bolehkah aku melihat senjatamu itu?” Laki-laki besar tegap itu tiba-tiba mengangkat tangannya dan menunjukkan senjatanya itu seraya berkata. “Tanda perintah menangkap sukma.” Jawaban itu mengandung ejekan sangat tajam. sehingga Imam dari gunung Mao San itu yang mendengarkannya seketika menjadi murka. ternyata diatas senjata yang mirip dengan papan atau plat Mas itu terdapap tulisan yang berbunyi. silahkan kau lihat. tetapi dengan cepat ia sudah tenang lagi.

dengan satu gerak tipu sinar emas bertebaran dalam kabut. sepasang senjata Plat itu bukan digunakan untuk menyerang secara berbareng atau saling berganti mengarah dua bagian lawannya. pedang ditangannya itu menimbulkan bayangan ribuan pedang dihadapan lawannya. Kiranya ia tiba-tiba teringat kedudukannya sendiri yang sangat tinggi didalam rimba persilatan di daerah Tiong-goan. maka perbuatannya yang bergerak lebih dahulu terhadap lawannya sesungguhnya merupakan suatu perbuatan yang merendahkan kedudukannya sendiri. laki-laki besar dan tegap itu tiba-tiba melompat mundur sejauh lima kaki. jarang tampak didalam kalangan Kangouw.” Ia lalu menggerakkan pedangnya untuk menikam. Laki-laki besar dan tegap itu selagi hendak menggunakan senjata ditangannya untuk menutup dirinya. serangan Imam itu tiba-tiba ditarik kembali. sebaliknya saling menyusul dengan cara satu lebih dahulu dan yang satu belakangan. Sebentar terdengar suara beradunya senjata. Laki-laki besar dan tegap itu sebaliknya sudah menggunakan kesempatan tersebut untuk merebut posisi. “Benar ada kepandaian ilmu silat tersendiri iblis tua itu.com/ ditangannya ia berkata dengan sikap gusar. Plat Mas dan Perak digunakan untuk melancarkan serangan saling menyusul.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Sekalipun si iblis tua yang menggunakan senjata itu menunjukkan diri sendiri. aku juga tidak takut.” Ia lalu menggerakkan pedang panjang ditangannya. Serangan demikian. . Serangan secara demikian merupakan suatu cara tersendiri. maka ia membatalkan serangannya. Imam dari gunung Mao San segera mengeluarkan suara bentakan keras.

namun dia tidak mau berbuat demikian. ia berdiri sambil melintangkan pedangnya. . Wajah dan sikap Imam dari gunung Mao San nampaknya sangat serius. sekalipun sanggup menyambut serangan pedang lawannya yang hebat. Imam dari gunung Mao San mengejar dengan serangannya. kali ini ujung pedang digunakan untuk menikam dada lawannya.Tiraikasih Website http://kangzusi. laki-laki besar dan tegap itu segera dapat merasakan tidak sanggup menyambuti serangan lawannya. ketika senjata kedua pihak saling beradu. Gerak tipu serangan orang itu sangat aneh. Laki-laki besar dan tegap itu menggunakan senjata plat Masnya untuk menangkis pedang lawannya. tetapi orang-orang yang menyaksikan semua telah mengetahui bahwa itu adalah suatu pertandingan yang sangat hebat dan berbahaya.com/ Kiranya Imam dari gunung Mao San itu hebat sekali kekuatan tenaga dalamnya. seolah-olah serangan itu dilakukan oleh dua orang. selalu disusul oleh serangan yang lebih hebat. Imam dari gunung Mao San dengan cepat menyingkirkan dua senjata laki-laki kemudian melakukan serangan dengan suatu gerakan menikam lagi. tetapi diwaktu turun tangan menyerang lawannya. Ia sengaja mengulur waktu. Dua lawan itu meski baru bertanding beberapa jurus saja. meski dalam tangannya ada dua macam senjata. maka ia dengan cepat lompat mundur sambil menarik kembali serangannya. tetapi setiap kali sehabis melakukan serangan. meskipun nampaknya senjata kedua pihak tidak terlalu tegang. sedangkan senjata plat perak ditangan lainnya digunakan menyerang pundak lawannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi. senjata itu kini telah muncul lagi didalam kuil tua di daerah pegunungan yang sepi dan sunyi itu……. ia maju melalui batu dupa. semua telah berobah dari tempat yang semula.. Selagi kedua pihak sedang mengumpulkan kekuatan dan hendak bertanding lagi. Kawanan padri yang berdiri ditempat masing-masing. semua sudah merasakan telah menemukan tandingan kuat yang belum pernah ditemukan pada waktu sebelumnya. sehingga menimbulkan suatu irama musik dalam kalangan ilmu budha daerah Tibet. Tempat kawanan Padri itu. kemudian duduk bersila. lebar ia berdiri sejauh empat lima kaki. tiba-tiba bergerak dengan mengikuti suara irama tersebut. Perbuatan aneh kawanan Padri itu membuat In Kiu Liong merasa tidak sabar lagi. sungguh tidak disangka bahwa orang yang menggunakan senjata itu setelah menghilang beberapa puluh tahun lamanya. Padri tinggi kurus yang mengenakan pakaian yang beraneka warna itu tiba-tiba berbangkit. sikapnya juga nampak berubah sungguh-sungguh. yang menggunakan sepasang senjata aneh itu. masing-masing rangkapkan kedua tangan diatas dadanya sambil memejamkan matanya. pasti dipihaknya sendiri yang akan mengalami . tiba-tiba terdengar tiga kali suara bunyi tambur yang kemudian disusul oleh bunyi gembreng dan tetabuhan lainnya. ia merasa bahwa dengan cara demikian. kawanan para Padri itu lantas pada duduk.com/ Sedang laki-laki besar dan tegap itu sepasang matanya terbuka. setelah itu ia mengeluarkan suara bentakan keras dan suara tetabuhan itu berhenti dengan mendadak. dahulu sepasang senjata Plat itu pernah satu kali menggemparkan rimba persilatan daerah Tiong-goan. Kiranya kedua pihak setelah mengadu kekuatan. Imam dari gunung Mao San saat itu sudah tahu bahwa lakilaki besar dan tegap itu telah mewarisi kepandaian iblis tua.

” Padri tinggi kurus itu menjawab dengan menggunakan bahasa Han. maka ia segera berjalan keluar dan berkata kepada Padri tinggi kurus sambil mengangkat tangan memberi hormat.” Padri itu masih akan menolak. Cungcu itu diam-diam mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya lalu meluncurkan serangan dari jarak jauh. maka ketika melihat kawanan Padri bergerak sambil membunyikan suara tetabuhan. tetapi mulutnya masih berkata sambil tersenyum. Kiranya In Kiu Liong yang sudah mengetahui bahwa Ongkiat dijatuhkan oleh Padri itu dengan menggunakan kekuatan ajaib dari sepasang matanya. ia sangsi kawanan Padri itu akan menggunakan akal muslihat jahat.” “Siaote ingin supaya pertandingan siaote dengan taysu dimajukan waktunya agar di mulai dengan serentak. “Maaf Pinceng tidak mengerti maksud ucapan In Cungcu. orangnya juga menerjang maju menyusul dengan serangannya yang lebih hebat. “Sekalipun kita menang satu kali lagi. “Taysu ingin lekas mendapat kemenangan. Ketika serangan yang hebat itu meluncur keluar dari tangannya. tetapi In Kiu Liong sudah bertindak. siaote juga beranggapan bahwa lebih cepat mendapat keputusan adalah lebih baik. Itulah sebabnya maka ia mau tidak mau lalu mendesak padri itu supaya segera mengadakan pertandingan dengannya. maka hatinya merasa tidak tenang. bukankah kalian tidak akan merasa dirugikan?” Meski dalam hati In Kiu Liong memaki kelicinannya Padri Tibet itu.com/ kerugian. namun khawatir bahwa pertandingan ini masih akan terus berlangsung.” Dipihak kalian sudah menang satu kali apabila pertandingan kedua dan ketiga dilangsungkan serentak.Tiraikasih Website http://kangzusi. supaya yang menang dan pihak yang kalah semua merasa takluk benar-benar. . maka sebaiknya dilakukan secara serentak.

In Kiu Liong yang sejak semula sudah waspada. maka ia buru-buru pejamkan sepasang matanya untuk mengatur pernapasannya. hatinya kembali dirasakan tergoncang. hatinya merasa seperti tergoncang hebat. seolaholah ada benda yang meluncur keluar menyusup kedalam hulu hatinya sendiri.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Benarkah kekuatan Padri ini lebih tinggi dari kekuatanku sendiri?” Dengan tanpa sadar ia angkat kepalanya memandang Padri itu lagi. “Hebat sekali kekuatan tenaga In Cung cu. Ketika dua kekuatan itu saling beradu. In Kiu Liong tiba-tiba merasakan hatinya tergoncang. buru-buru berpaling. ia lalu memusatkan hawa dan kekuatan dalamnya untuk menenangkan pikirannya. Ketika ia mengawasinya Padri itu ternyata sedang membuka lebar sepasang matanya mengawasi dirinya. “In Cungcu kau bukan . Pada saat itu dari sinar mata Padri tinggi kurus itu. kakinya bergerak mundur satu langkah diam-diam lalu bertanya pada dirinya sendiri. Padri itu menyambut serangan tersebut dengan cara seperti semula.com/ Padri tinggi kurus itu sepasang tangannya yang dirangkapkan diatas dadanya tiba-tiba mendorong keluar untuk menyambut serangan In Kiu Liong yang hebat itu seraya berkata sambil ketawa. Tiba-tiba terdengar suara ketawanya Padri tinggt kurus itu yang kemudian berkata kepadanya. sehingga dalam hatinya diam-diam juga merasa kagum.” In Kiu Liong juga merasa bahwa kekuatan tenaga Padri itu juga sangat hebat. tatkala pandangan matanya beradu dengan sinar mata Padri itu. kemudian tangannya bergerak menyerang lagi.

entah kepandaian ilmu apa yang digunakan oleh Padri itu. belum sempat ia membuka matanya sepasang tangannya mendorong keluar. In Kiu Liong yang mendengarkan suara aneh itu. Kepandaian dan kekuatan Cungcu itu. ia segera dapat merasakan hebatnya serangan itu. jikalau kau tidak mau .com/ tandingan Pinceng. apakah benar golongan Bit-cong dapat menggunakan ilmu gaib yang mujizat? Selagi pikirannya bekerja memikirkan soal itu. Selagi hendak balas menyerang. tiba-tiba merasakan suatu kekuatan tenaga hebat menyerang dadanya. tetapi ternyata dapat ditolak oleh sambutan serangannya sendiri. tidak mengherankan daya refleknya melebihi dari orang lain. maka begitu memusatkan pikirannya. tiba-tiba mendengar suara kata-kata Padri tua itu yang sangat menusuk hatinya. didalam rimba persilatan daerah Tiong-goan merupakan suatu tokoh kuat yang jarang terdapat.Tiraikasih Website http://kangzusi. hatinya berdebar keras. sejak muncul didunia Kang-oiw selama lima belas tahun telah menundukkan semua orang kuat rimba persilatan dalam tujuh profinsi Daerah selatan sungai Tiongkang. sedang dalam hatinya terus memikirkan. “In Kiu Liong. lebih baik lekas mengaku kalah. badannya menggigil. ia buru-buru memusatkan kekuatan tenaga dalamnya untuk menghindarkan perasaan itu. Karena ia mempunyai kekuatan tenaga dalam sangat sempurna. supaya terhindar dari luka parah. perasaannya segera tenang kembali. itu sangat tidak berharga bagi dirimu. Serangan Padri itu meski hebat. kau sudah terluka oleh serangan ilmu tunggal dalam golonganku yang mengandung hawa dingin.” Setiap patah perkataan Padri itu seolah-olah mengandung ancaman yang dapat merenggut nyawa orang.

sekarang aku memberi nasehat yang terakhir kepadamu apabila kau tidak segera menyerah kalah. apabila berpandangan dengannya hatinya segera tergoncang hebat.” Ketika In Kiu Liong mendengar suara itu. Tetapi sebagai seorang yang mempunyai kepandaian sudah sempurna. Sambil mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya untuk melindungi dirinya. Ketika suara tertawa itu berhenti. perasaannya dibikin kalut oleh suara kata2 Padri itu yang seolah-olah hendak mencabut nyawanya. Suara tertawa aneh yang menyeramkan terdengar pula kedalam telinganya. lalu mengadakan pergulatan dengan cara pendek supaya ia tidak sempat mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. kekuatan tenaga dalam sekujur badannya segera dirasakan jauh berkurang. sehingga kekuatan tenaga serangannya juga berkurang. tetapi ia masih dapat menahan tidak sampai roboh.com/ mengaku kalah. Siapa tahu setelah ia pejamkan matanya. meskipun perasaannya dikalutkan oleh suara Padri Tibet itu. . Pinceng mengingat bahwa kepandaianmu ini tidak mudah kau dapatkan maka tidak tega melukai dirimu. Pinceng terpaksa akan menurunkan tangan kejam. suara itu dalam pendengarannya seolaholah suara dari dalam neraka. hatinya memikirkan caranya untuk menghadapi Padri itu. “In Kiu Liong.Tiraikasih Website http://kangzusi. ia berpikir: dalam keadaan seperti ini terpaksa menyerangnya dengan cara tidak terduga-duga. dalam waktu tiga jam hawa dingin itu akan menyerang jantungmu sehingga binasa. terdengar pula suara kata-katanya Padri Tibet itu yang sangat dingin. sebab ia sudah dapat merasakan bahwa sinar mata Padri Tibet itu sangat aneh.” In Kiu Liong terus memejamkan sepasang matanya. ia tidak berani membuka.

dengan sepasang mata mendelik. melesat melayang ke arahnya. ia lompat menerjang. tetapi dengan kedudukannya sebagai ketua golongan Bit-cong. namun demikian sepasang kakinya masih bisa bergerak lompat keatas. “In Kiu Liong. kau masih ada urusan apa yang masih belum selesai……. ia ingin mendesak balik In Kiu Liong sebelum kakinya menginjak tanah. sambil mendorong keluar sepasang tangannya. Suara yang amat dingin dari Padri Tibet itu terdengar pula didalam telinganya. sudah tentu tidak dapat menyingkir terus menerus dari serangan In Kiu Liong. mengeluarkan sepasang tangannya untuk memukul jatuh tiga senjata itu. segera maju serentak menahan In Kiu Liong. Dua Padri yang melindungi Padri tinggi kurus itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. memutuskan ucapan Padri tinggi kurus itu. Sebagai seorang yang menduduki orang kuat kelas satu dalam rimba persilatan. . Tiga buah senjata yang berupa kecer. Padri Tibet itu meskipun tidak suka bertempur dengan jarak dekat dengannya. In Kiu Liong dengan mengerahkan seluruh kekuatannya. kekuatannya sudah tentu tidak dapat dibandingkan dengan kekuatan orang-orang Kang-ouw biasa. Padri Tibet tinggi kurus itu agaknya tidak menduga perbuatan In Kiu Liong itu..” In Kiu Liong tiba-tiba memperdengarkan suara bentakan keras.com/ Karena berpikir demikian maka setelah mengerahkan semua kekuatannya ia berlaku sangat letih supaya mengalihkan perhatian lawannya. badannya melesat setinggi dua tombak. dengan gerakannya bagaikan burung elang menyambar burung dara dengan cepat menerjang Padri tinggi kurus itu. terpaksa ia juga mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya. kemudian melompat kebelakang batu pendupaan.

Kali ini ia mengendorkan serangannya dan berkata dengan nada suara dingin.Tiraikasih Website http://kangzusi. sambutlah seranganku ini. apabila taysu mempunyai keberanian. “Sudah lama siaote dengar kepandaian ilmu silat golongan Bit-cong yang sangat aneh. tetapi telapak tangan kedua orang itu tidak segera terpencar. bukan saja ia lakukan dengan cepat. badan kedua jago itu dengan serentak tergetar hebat. Serangan gencar itu. tetapi masih tidak sanggup merintangi lajunya badan In Kiu Liong yang sedang luncur turun itu.com/ Siapa tahu In Kiu Liong sudah bertekad hendak mengadu jiwa. tetapi setiap serangan yang juga mengandung kekuatan tenaga dalam yang hebat. . Kekuatan hebat sedang menyerang badan In Kiu Liong yang sedang luncur turun. In Kiu Liong tidak menunggu lawannya membuka mulut kembali ia lompat menyerang sambil keluarkan bentakan keras. ketika terdengar suara beradunya dua kekuatan yang sangat perlahan. ketika melihat serangan hebat itu segera menggunakan ilmu memberatkan badan ia meluncur turun kebawah. Ketika kaki In Kiu Liong menginjak tanah.” Ditantang demikian Padri tinggi kurus itu dengan tanpa sadar sudah mengeluarkan dua tangannya untuk menyambut serangan tersebut. sehingga Padri tinggi kurus itu terpaksa mundur sampai lima langkah. In Kiu Liong tiba-tiba mempercepat serangannya. mulutnya segera menyemburkan darah merah dengan cepat ia bergerak maju lagi menyerang dengan tangan dan kakinya. siapa tahu pandangan itu bukan seperti apa yang telah disaksikan dengan mata kepala sendiri.

ia bertempur dengan cara hati-hati dan menggunakan seluruh kekuatannya. maka pedang Imam itu lalu menyerang dengan hebatnya kepada lawannya.com/ Beradunya dua pasang telapak tangan itu seolah-olah kedua pihak sudah memusatkan seluruh kepandaiannya. maka ia selalu siap sedia. sedapat mungkin ia mencoba berusaha untuk mengulur waktu. Nyatalah sudah bahwa kawanan Padri dari Tibet itu tidak akan merebut kemenangan dengan mengandalkan kepandaian ilmu silat yang sebenar-benarnya. asal musuh tidak bertindak. Laki-laki besar dan tegap itu. maka cara yang paling baik untuk menghadapi mereka. mereka hendak menggunakan akal muslihat dan kepandaian ilmu gaib. Imam dari gunung Mao San dan laki-laki besar dan tegap itu. Dilain pihak. setelah dua kali mengadu kekuatan dengan Imam dari Mao San itu. Laki-laki besar dan tegap itu menyambut serangan lawannya dengan sepasang senjata plat. Karena berpikir demikian. maka setelah saling beradu. siapapun tidak mempunyai tenaga untuk membalas menyerang lagi. sudah dapat dilihat oleh Imam dari gunung Mao San. ialah tidak memberikan kesempatan bagi mereka untuk menggunakan ilmunya.Tiraikasih Website http://kangzusi. meskipun ia dapat . ia juga tidak bengerak. sudah tahu kalau menjumpai suatu musuh kuat. untuk menghadapi musuh sekuat itu sesungguhnya tidak mudah akan mempertahankan kedudukannya sampai seratus jurus. juga sedang berlangsung suatu pertandingan yang ganas dan hebat. Dengan kepandaian dan kedudukan Imam dari gunung Mao San itu. ternyata masih tidak berani memandang ringan senjata yang hanya merupakan sepasang plat itu. Semua apa yang telah terjadi dengan Kiu Liong dan Padri tinggi kurus itu. kedua pihak menarik napas panjang lalu pejamkan matanya seolah-olah belum mengatur baik pernapasannya.

sebab pertempuran dengan cara pendek itu. tetapi orangnya telah terpental mundur sampai tiga langkah. Tiba-tiba terdengar suara Padri tinggi kurus itu. “Orang yang mewariskan kepadamu sepasang plat ini. sekarang berada dimana. tetapi bertempur secara demikian sebetulnya merupakan suatu pertempuran yang paling berbahaya. setelah mengadu kekuatan. Dilihat sepintas lalu serangan kedua jago itu nampaknya tenang. yang menggunakan cara lama. suruhlah keluar untuk menghadapi aku. setelah itu. keduanya lalu saling menyerang lagi. tetapi karena sewaktu ia melayang turun terkena serangan lawannya yang mengguncangkan dadanya. sedikitpun tidak boleh berlaku nakal. pertempuran yang mengandal kekuatan sebenar-benarnya itu. kedua pihak beristirahat sambil memejamkan matanya. pedangnya terus menyerang dengan gencar. maka untuk sementara kekuatan itu menjadi berimbang. “In Kiu Liong. dan tidak menimbulkan gelombang apa-apa. laki-laki itu tidak berani menyambut lagi dengan senjatanya. dengan kepandaianmu yang tidak berarti ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. mungkin masih dapat mengimbangi kekuatanku. kecuali menggunakan kekuatan tenaga dalam untuk menjatuhkan lawannya sudah tidak ada lain cara lagi. Kali ini. sesungguhnya bukanlah tandinganku. meskipun kekuatan tenaga dalam In Kiu Liong lebih kuat daripada lawannya. sementara sepasang senjatanya melakukan serangan pembalasan dengan gerakan yang aneh. Imam dari gunung Mao San itu lalu berkata sambil tertawa dingin.com/ menahan serangan itu.” Selama mulutnya bicara. kau masih belum mau . ia melompat kesamping untuk menghindarkan serangan itu. Kita kembali lagi kepada In Kiu Liong dan Padri tinggi kurus itu.

ketika melihat Hiong Kian Hui menerjang ia segera menghunus pedangnya menyambut kedatangan orang she-Hiong itu. tetapi setelah pandangan matanya beradu dengan sinar mata Padri itu. Kawanan Padri dari Tibet itu segera menyambut serangan orang-orang itu. Hiong Kian Hui yang menyaksikan Cungcunya tidak berhasil menjatuhkan lawannya. sambil mengeluarkan bentakan keras. Pengikut In Kiu Liong. Padri itu menggunakan kesempatan terebut melancarkan serangannya. -odwo- . tiba-tiba menggerakkan kedua tangannya mendorong dengan seluruh kekuatannya. mereka ketika melihat Hiong Kian Hui sudah bertindak juga segera bergerak sambil menghunus senjata masing-masing. tetapi ia sudah mengeluarkan darah dari mulutnya. perasaannya segera terpengaruh dan kekuatannya banyak berkurang. seketika itu ia mundur tiga langkah dan jatuh duduk ditanah. ia menerjang dan menyerang. dalam hati merasa cemas. apakah kau benar-benar sudah tidak sayang jiwamu?” Dengan tanpa sadar In Kiu Liong mengangkat kepala.com/ menyerah kalah. kebanyakan terdiri dari orang2 kuat kenamaan dari daerah selatan. Serangan balasan itu mesikipun dapat menahan serangan Padri Tibet itu. Gads berpakaian merah itu yang sejak tadi sudah ingin terjun kedalam kalangan. sehingga terjadilah suatu pertempuran total.Tiraikasih Website http://kangzusi. In Kiu Liong setelah jatuh duduk ditanah.

In Kiu Liong setelah mengadu kekuatau tenaga dalam dengan paderi dari Tibet itu. wajahnya hitam. ditambah dengan gerak tangan luar biasa cepatnya orang berbaju hijau itu. orangnya sudah berada di samping diri In Kiu Liong. yang melompat keluar dari sebelah kiri belakang rumah. Orang berbaju hijau itu nampak menggerakkan pedang pendeknya. langsung menuju kemedan pertempuran. kemudian membalikkan badannya dan menikam dada In Kiu Lion. Sebelum sempat membuka mulut. kemudian disusul dengan kata-katanya. ketika dapat mencium bau harum aneh itu. pedang orang itu sudah menusuk dadanya. siaotee datang untuk memberi bantuan. Semua orang yang berada dimedan pertempuran. sudah tentu tidak bisa berbuat apa-apa. sehingga gerak senjata ditangan masing-masing seketika menjadi lambat. kemudian muncul sesosok bayangan manusia. Setiba di medan pertempuran.Tiraikasih Website http://kangzusi. “In-heng jangan bingung.com/ Jilid 3 Bab 9 TIBA-TIBA dirasakan desiran angin bercampur bau harum yang agak aneh. Gerak orang berbaju hijau itu dilakukan sangat gesit sekali. Terlebih dulu menabas kutung tubuh paderi Tibet yang berpakaian beraneka wama itu. tangannya memegang pedang pendek.” Sementara itu. masih dalam keadaan letih. kepalanya dirasakan pusing. hanya sepa-sang matanya yang bersinar bagaikan sinar listrik. orang itu memperdengarkan suara tertawanya yang panjang dan nyaring. tahu2 sudah melesat . setelah menikam In Kiu Liong. Orang yang baru tiba itu mengenakan pakaian berwama hijau. agak sulit untuk mengenali kelima panca indranya. kekuatan tenaganya berkurang.

Serangan orang itu temyata hebat sekali. Ketika orang berbaju hijau itu. orang berbaju hijau itu sudah bergerak lagi kini pedang pendeknya meluncur kearah dada siorang she Oey. “’Siapakah engkau?” Orang berbaju hijan itu mengangkat pedang pendeknya dengan tanpa menjawab.Tiraikasih Website http://kangzusi. . kemudian melesat tinggi dan langsung menghampiri si kurus Oey Cong. sudah siap dengan senjatanya. sehingga senjata ditangan laki-laki itu terpental jatuh ditanah. mulutnya menyemburkan darah segar. Oey Cong tercengang. Tiba-tiba kepalanya dirasakan pusing. Orang berbaju hijau itu memperdengarkan suara tertawa dingin. si imam dari gunung Mao-san itu tercengang. tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. tongkat bambu Oey Cong tertabas menjadi dua potong. ia sudah menghajar dengan tongkatnya sambil berseru. menikam dadanya. sehingga tidak berhasil mengerahkan kekuatan tenaganya. pedang pendek menikam kedada Oey Cong. setelah terdengar suara benturan dua senjata. dengan satu tangannya ia menepuk belakang punggung laki-laki setengah umur itu. Orang berbaju hijau itu setelah menamatkan riwayat si imam dari gunung Mao-san. berada di sampingnya. Oey Cong yang telah menyaksikaa orang berbaju hijau itu dengan beruntun telah membunuh sekian banyak jiwa manusia. pedang pendek orang itu sudah bergerak dengan kecepatan luar biasa.com/ kesamping si Iman dari gunung Mao-san yang sedang bertempur dengan laki-laki setengah umur yang tinggi besar itu. tetapi sebelum ia bisa berbuat apa-apa. maka tatkala orang itu menghampirinya. dan kemudian dadanya ditembusi oleh pedang si Imam.

kembali seorang paderi tetah roboh binasa. terdengar suara seruan tertahan. hingga batok kepala itu remuk dan mati seketika itu juga. dengan kakinya ia menendang batok kepala Ong Kiat. kemudian berkata dengan suara nyaring.com/ Kemudian ia melompat balik melayang kesamping Ong Kiat.” Semua orang yang ada disitu setelah mendengar perkataan itu pada tertegun. Suara gembreng dan tambur serta suara jeritan ngeri tercampur aduk. Dengan sinar matanya yang tajam. semua pada berlutut di hadapan jenazah pemimpinnya sambil membunyikan tetabuhan mereka. Semua orang yang ada disitu telah terpengaruh semangatnya oleh suara tertawa itu. orang berbaju hijau itu menyapu wajah semua orang sejenak. Rombongan paderi Tibet setelah mengetahui kematian pemimpinnya. ketika menyaksikan sang korban jatuh satu persatu. dalam hati setiap orang yang masih hidup hanya bisa menantikan giliran datangnya maut dengan tidak berdaya. masih bisa hidup tiga jam. Orang berbaju hijau itu tiba-tiba tertawa panjang. . nyawa kalian hanya tinggal setengah jam saja. sehingga tidak berani bergerak. Perobahan secara mendadak itu. diantara suara tertawa itu. “Kalian semua sudah terkena racun yaug sangat berbisa. sangat mengherankan semua orang yang masih hidup. kemudian menerjang kearah orang berbaju hijau itu. beberapa orang kuat dari pihak In Kiu Liong dan beberapa paderi Tibet telah robob binasa. jikalau bergerak atau bertempur lagi. Tiba-tiba terdengar bentakan keras yang keluar dari mulut Hiong Kian Hui. kalau duduk dengan tanpa bergerak.Tiraikasih Website http://kangzusi.

semua paderi dan tokoh2 rimba persilatan daerah selatan sudah roboh ditanah menjadi mayat. ia roboh lagi. In Kiu Liong yang terluka didadanya tiba-tiba bangkit duduk. bangkai manusia berserakan dimana-mana. Mata orang berbaju hijau itu menyapu bangkai2 yang bergelimpangan ditanah. dalam waktu sangat singkat. selesai dengan pekerjaannya itu. di situ lalu jatuh korban yang sudah tidak berdaya.com/ Dengan kecepatan bagaikan kilat orang berbaju hijau itu melompat dua langkah kekiri. menyambar tubuh Hiong Kian Hui. menghindarkan serangan Hiong Kian Hui. beberapa puluh tokoh kuat dari daerah selatan dan beberapa puluh paderi Tibet. ia mengambil bungkusan kain sutera putih yang telah dibawanya kemari. Rumput ditanah lapang menjadi merah tersiram darah. Selagi orang berbaju hijau itu sedang asyiknya menteror. mulutnya lalu menyemburkan darah hidup dan jatuh roboh ditanah. kemudian balas menyerang. kemudian disusul oleh suara jeritan orang she Hiong itu. dalam waktu sekejap saja. merupakan suatu pemandangan yang mengerikan. Di mana pedang itu bergerak. Ia agaknya sudah hilang perasaannya. Diatas tanah lapang yang luas itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. Perbuatan orang berbaju hijau itu sesungguhnya sangat ganas sekali. dan bungkusan kain sutra kuning yang dibawa oleh paderi Tibet. tiba-tiba menggerakkan pedang pendeknya dan menyerbu ke dalam rombongon orang2 itu. bagaikan orang linglung ia mengawasi perbuatan orang berbaju hijau yang . kemudian dilemparkan kedalam perapian dupa yang masih mengepul. semua telah terbunuh habis. hanya tinggal perempuan muda berbaju merah itu yang masih berdiri ditempatnya bagaikan patung hidup. Hembusan kekuatan tenaga dalam yang amat dahsyat.

Baru saja ia menghilang. Selesai menukar pakaian. setelah berpikir sejenak. kemudian dimasukkan kedalam mulutnya. tiba-tiba berhenti. kemudian lompat melesat keatas genteng dan lari laksana terbang. tiba-tiba ia menotok jalan darah perempuan muda itu. bangkai itu diangkatnya. Dengan serta merta tubuh perempuan itu roboh. lalu dipondongnya. tetapi dengan cepat diturunkan kembali.Tiraikasih Website http://kangzusi. dan pakaian sendiri dipakaikan ke badan bangkai tersebut. Sekonyong-konyong ia menyambar tubuh seseorang yang sudah menjadi bangkai.com/ sedang membunuh-bunuhi jiwa manasia bagaikan membabat ramput. Pakaian bangkai itu dipakainia. . tangan kanannya dengan cepat menyambar tubuh perempuan itu. kemudian diletakkan didekat perapian. tetapi baru berjalan beberapa langkah. orang berbaju hijau itu balik kembali. In Kiu Liong yang rebah di dekat perapian dupa sembahyang. Sewaktu orang berbaju hijau itu menghampirinya dengan pedang terhunus. ia masih tetap berdiri seperti tidak merasa bahwa jiwanya sedang terancam. tiba-tiba bangkit duduk lagi. Orang berbaju hijan itu dengan tangan kiri memegang pedang. dari dalam saku mengeluarkan sebuah botol kecil. Sesaat kemudian tibatiba ia berdiri. sehingga remuk. sepatah katapun tidak keluar dari mulutnya. Orang berbaju hijau itu mengangkat pedang pendeknya. dengan cepat ia membuka baju pakaian bangkai itu. ia merayap ke samping jenazah imam dari gunung Mao-san dan me-raba2 saku imam itu. lalu membuka pakaian sendiri. setelah itu ia memejamkan matanya. Botol kecil itu dibuka tutupannya. mengeluarkan beberapa butir pil. kepalanya dibenturkan di batu perapian pendupa. ia sendiri lalu berusaha kaburkan diri.

baru lompat melesat dan berdiri di samping.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Matanya menyapu ke tempat itu sejenak. Sikap mereka sangat menghormat sekali. hanya dibagian matanya yang terdapat dua lobang. Setiap orang di mukanya ditutup dengan kerudung kain hitam. gerakannya gesit sekali. orang2 itu. Karena kepala orang ini sudah remuk wa jahnya sudah susah dikenali. mereka berdiri tegak dengan tangan diluruskan ke bawah. nampaknya bukan orang dari golongan baik. Dengan nada suara amat dingin ia memberi perintahnya. Suara siulan itu menggema sekian lama. Sayang perbuatannya sangat ganas. tetapi juga tidak mengerti apa sebabnya. Sesaat kemudian. begitu melihat orang berbaju hijau segera lari menghampiri. dari atas genteng sebelah timur tiba-tiba muncul delapan sosok bayangan orang. Dengan kakinya ia menendang bangkai orang itu yang dikiranya adalah bangkai In Kiu Long. sehingga Siangkoan Kie yang sembunyi di atas loteng merasa sangat kagum kesempumaan kekuatan tenaga dalam orang itu. setelah merasa puas. Sikap orang berbaju hijau itu sebaliknya sangat sombong sekali. bahkan memandangnya sajapun tidak. Mereka semua membawa senjata. Ia masih memeriksa sejenak. bekas darah harus disapu bersih. tidak boleh meninggalkan bekas sedikitpun juga. kemudian dengan tindakan lambat2 berjalan menghampiri batu perapian. Walaupun ia sangat licin dan cerdik.” . bukan saja tidak mau membalas hormat. “Kuburlah semua bangkai ini. mereka berjalan mendatangi melalui genteng2 rumah. kemudian mendongakkan kepalanya dan bersiul nyaring. Ia menundukkan kepala untuk mengamat-amati bangkai itu. setelah memberi hormat dengan jalan menjura.

badannya melompat setinggi dua tombak lebih. dalam waktu sekejap mata saja sudah berada di tempat sejauh tiga tombak. hatinya merasa sangat terharu. “Harap Cungcu tidak usah khawatir. katanya.” Orang berbaju hujau itu menganggukkan kepalanya. tiada seorangpun yang berani melihat barangbarang dalam batu perapian itu. dengan kakinya ia menendang batu perapian itu. sehingga melayang sejauh satu tombak lehih dan jatuh menelungkup di tanah. setelah merasa sudah tidak terdapat tanda2 darah. Berkata ia kepada diri sendiri sambil menghela napas. baru selesai. dengan tindakan lebar ia berjalan menuju keperapian batu. Pekerjaan itu dilakukan cepat sekali. Yang terakhir menanam batu perapian saat itu hari sudah senja. betapapun tinggi kepandaian seseorang. Orang berbaju hijau itu dalam waktu sekejap mata saja sudah . kembali berpaling untuk member perintah kepada delapan orang itu. juga sudah memakan waktu kira-kira dua jam lebih. Ia agaknya masih belum merasa puas.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Bahaya dalam dunia Kang-ouw. benarbenar sukar sekali dijaganya.com/ Delapan orang jang semua berpakaian ringkas itu dengan serentak membongkokkan badan memberi hormat saraya menjawab. Siang-koan Kie yang bersembunyi di atas loteng setelah menyaksikan peristiwa yang sangat menyedihkan itu. tetapi karena banyak bekas tanda darah. baru berlalu. Sekali lagi delapan orang itu memeriksa tempat tersebut.” Dengan tanpa menunggu jawaban orang2 itu. “Batu perapian ini juga ditanam sekalian. juga sulit menjaga serangan secara menggelap. Benar saja. barang-barang dalam perapian jangan diganggu. tiba-tiba ia menggerakan kedua lengannya.

beberapa puluh ekor burung beterbangan di atas tempat sekitar luar kuil itu sehingga dalam hatinya merasa heran. Orang2 itu. dalam waktu sekejap mata saja semua sudah lenyap terkubur di dalam tanah.com/ membunuh jiwa enam tujuhpuluh orang. apakah yang locianpwee maksudkan itu adalah orang berbaju hijau tadi?” “Ya. benar-benar satupun tidak ada yang hidup. maka selanjutnya ia berkata lagi. delapan orang itu barang kali cuma tinggal tulang-tulangnya saja. masih tetap indah sebagaimana biasa. di masa hidupnya entah sudah berapa lama dan dengan susah payah mempelajari dan melatih ilmu silatnya.?” Tiba-tiba ia merasa bahwa pertanyaan itu tidak sopan terhadap satu orang tua.. “Benarkah itu……. “Sungguh ganas perbuatan orang itu.” . dalam waktu sekejap mata saja ia sudah membunuh enam tujuh puluh jiwa manusia. pemandangan di waktu senja. Tiba-tiba terdengar suaranya orang tua yang cacat kakinya itu. tetapi dunia rimba persilatan hari itu telah kehilangan enampuluh jiwa penghuninya.” Siang-koan Kei terkejut ia lalu bertanya.” Ia mendongakkan kepala. sinar matahari sore menyinari daun pohon dan genteng di atas loteng. sehingga delapan anak buahnya sendiri juga sudah habis dibunuh. “Aku akan pergi lihat. setelah berpikir sejenak ia lalu bertanya kepada orang tua itu. “Locianpwee. tetapi jeri payahnya selama beberapa puluh tahun itu.” Pada saat itu. dengan tanpa dirasa ia menghela napas panjang.Tiraikasih Website http://kangzusi. Demikiankah nasibnya orang2 kang-ouw? Memikirkan hal itu. bahkan di antaranya terdapat jago2 dan tokoh2 rimba persilatan kenamaan.” “Tidak usah pergi melihat. agaknya masih belum merasa puas.

com/ “Boan-pwee akan pergi sebentar. Meskipun ia sudah lama mengikuti guruuya berkelana di dunia Kang-ouw. Setelah itu. sehingga pada beterbangan dan saling menyerang sendiri. sehingga pada terbang pergi. sebentar saja daging bangkai manusia itu sudah dimakan habis. kawanan burung itu agaknya sudah merasa kenyang. tetapi kejadian semacam ini barulah pertama kali ini ia melihatnya. Siang-koan Kie berdiri . dalam waktu sekejap saja ia sudah tiba di luar kuil. yang tinggal hanya delapan buah tengkorak. agaknya masih belum cukup. Setelah tiba diluar. yang terluka dan jatuh dibawah segera diserbu dan dimakan dagingnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. maka larinya juga pesat sekali. dalam waktu sekejap mata saja ratusan ekor burung itu sudah ada tiga puluh ekor lebih yang mati.” berkata SiangKoan-Kie yang segera melompat keluar dari lobang jendela. tetapi hanya tinggal bulunya yang berserakan ditanah. Orang tua itu juga tidak merintangi. Rombongan burung itu setelah makan habis dagingnya delapan bangkai. Karena keinginannya begitu keras. sehingga diam-diam merasa heran dan terkejut. ia masih belum mau percaya dalam dunia ini benar-benar ada orang sedemikian kejam. lari keluar kuil. Siang-koan Kie ada orang jujur. ia hanya duduk di pinggir jendela sambil mengawasi langit yang saat itu nampak berwarna kuning. maka setelah mendengar perkataan orang tua itu. lalu mengerahkan ilmunya lari pesat. Ia segera menampak ratusan ekor burung besar yang sedang berebutan makan bangkainya beberapa orang. ia menarik napas panjang. akan segera pulang. ia tidak dapat menahan perasaannya yang ingin menyaksikan sendiri.

baru memberanikan diri untuk bertanya.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Habislah. Setelah kawanan burung itu terbang pergi. ”Kau siapa. lantas pergi. segera dapat lihat seorang bermuka hitam yang sulit dikenali letak panca indranya. Orang itu terus berdiri dengan tenang. kecuali sinar matanya yang dingin.” Sementara itu di belakang dirinya tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin yang sangat perlahan. ia berdiri sekian lama. kalau dibanding dengan kawanan burung itu tenyata ada lebih ganas dan buas……. tetapi setelah merasa kenyang. tetapi tiada kata-kata yang keluar dari mulutnya. apa perlunya mengawasi aku?” Orang berbaju hijau itu masih tidak menjawab. hanya untuk mengenyangkan perutnya. sehingga membuat takut orang yang melihatnya. Siang-koan Kie diam-diam sudah siap. “Burungburung itu meskipun sangat ganas dan saling membunuh. dengan pakaiannya yang serba hijau berdiri dengan tenang di tempat sejauh sembilan kaki lebih. menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu. ujung bibir orang itu masih tersunging senyum yang dingin. kepandaian orang ini sangat tinggi sekali. Ketika ia berpaling. ia berjalan lambat2. penuh dengan nafsu kebuasan. sementara itu hatinya berpikir. oleh karena mukanya hitam luar biasa hingga giginya nampak tambah putih.. matanya menatap muka Siang-koau Kie. matanya terus menatap muka Siang-koan Kie dengan tanpa berkedip. masih terlihat giginya yaug putih.com/ tertegun dibawah pohon cemara. Siang-koan Kie hanya merasakan bahwa sinar mata orang itu. ia menghela napas panjang dan berkata kepada diri sendiri. Orang yang sangat kejam itu. bagaimana aku dapat menandingi?” .

tetapi sangat luar biasa anehnya.. “Aku hendak pergi memenuhi janji sahabatku. telah mengambil begitu banyak jiwa manusia. maka ia lalu menjawab. dengan cepat menyambar pergelangan tangan kiri Siang-koan Kie. maka diam-diam lalu berpikir. orang ini terlalu ganas. dengan mengulurkan tangan kirinya. Kekuatan tenaga dalam badannya tiba-tiba telah lenyap. ia lalu menyerang orang itu dengan kepalan tangan kanannya. dalam waktu sekejap mata saja. Serangan itu dilakukan sangat cepat.Tiraikasih Website http://kangzusi. Dalam kegelisahannya. . Siang-koan Kie hanya merasakan kesemutan dibagian sikutnya. sedang tangan kanannya telah bergerak dengan cepat. hingga darahnya tidak bisa mengalir seperti biasa. Jalan darah separuh badannya juga tertutup. hingga pergelangan tangan kirinya sudah tersambar oleh orang itu. “Kau dengar pertanyaanku atau tidak?” Siang-koan Kie tiba-tiba nyendapat suatu pikiran. juga dengan Orang berbaju hijau itu memperdengarkan suara hidung. Dengan suara lebih nyaring ia menegur. mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya. kalau sekarang ia hendak membunuh aku tentunya sangat mudah saja……. “Kau siapa?” Siang-koan Kie saat itu setengah bagian badannya sudah kaku sehingga sudah tidak mempunyai kekuatan untuk memberi perlawanan. Gerakan tangannya itu tidak terlalu gesit. Siang-koan Kie coba mengelakkan ternyata tidak berhasil. Orang berbaju hijau itu bertanya dengan nada suara dingin.com/ Sebelum pikiran itu lenyap orang berbaju hijau itu sudah berada di hadapannya. Orang berbaju hijau itu agaknya sudah tidak sabar lagi. kemudian menggeser kakinya untuk menyingkir diri.

orang yang mempunyai gelar manusia beracun bertangan seribu itu?” Siang-koan Kie berpikir. se-konyong-konyong mendongakkan kepalanya dan memperdengarkan suara ketawa dingin. tak disangka orang itu setelah mendengar pertanyaannya.. “Kau hendak memenuhi janji siapa?” “Untuk menemui satu sahabat seorang she Ang……. Karena pergelangan tangan kiri Siang-koan Kie terpegang olehnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. kalau begitu aku boleh membohonginya. ia merasa dirinya seperti diangkat dan berjalan mengapung di tengah udara. tetapi ditarik secara paksa oleh orang itu. “Pelu apa kau menanyakan persoalanku?” Orang berbaju hijau itu berpikir sejenak. bagaimana kau bisa menebak jitu?” Ia mengira bahwa kebohongannya itu akan dapat mengelabuhi mata orang itu. hingga tidak dapat melepaskan diri. lalu membalikkan badannya dan lari.. “Apakah yang kau maksudkan adalah Ang Thian Gee. setelah itu baru berkata. sedang separo badannya sudah kaku sehingga tidak dapat lari. hanya tampak giginya yang putih menyeramkan.com/ kebetulan lewat di tempat ini.” Orang berbaju hijau itu terbuka mulutnya untuk tertawa tetapi tidak terdengar suaranya. “Sungguh licin.” Ia berhenti sejenak dan berkata pula. hingga dapat lihat kawanan burung yang berebut makan bangkai manusia…….” Seketika itu ia lalu berkata. baru berkata. “Nampaknya dia kenal dengan Ang Thian Gee. “Benar. . apakah kau kira perkataanmu itu dapat membohongi aku?” Setelah itu.

. tetapi pikirannya masih jernih.Tiraikasih Website http://kangzusi. kau harus memilih jalan kematiaumu. Ia berkata sambil tertawa dingin. Sejenak Siang-koan Kie ternganga..” Orang berbaju hijau itu agaknya dapat menebak isi hati Siang-koaa Kie. kalan . ia baru teringat maksud dalam perkataannya itu sehingga diam-diam bergidik.” Karena melihat Siang-koan Kie lama tidak menjawab. “Kau terjunlah dari tebing jurang ini! Meskipun kau akan mati dalam keadaan hancur tubuhmu. Orang berbaju hijau itu tiba-tiba menghentikan kakinya. jangan sesalkan aku yang nanti akan turun tangan sendiri untuk membunuhmu. kalau toch betul aku sudah tidak terhindar dari kematian. tetapi ia merasa separuh badannya kaku dan kesemutan. orang berbaju hijau itu agaknya tidak sabar ia berkata pula. jika meliwati batas waktu. sementara itu hatinya berpikir. ia melepaskan tangan Siang-koan Kie dan berkata. “Dalam waktu yang sangat singkat. sulit untuk bergerak. Dalam hatinya berpikir.com/ Walaupun badannya sudah terluka.” Bicaranya itu sangat tenang sedikitpun tidak mengandung hawa amarah. “Orang ini selagi hendak membunuh orang. masih tetap berlaku tenang. “Orang ini sangat ganas. lebih baik aku mengambil keputusan sendiri jangan sampai terhina olehnya……. Dia merasa seperti terbang. tetapi setidak-tidaknya lebih baik dari pada mati tersiksa di tanganku. kalau dibinasakan olehnya. benarbenar sangat kejam dan rmenakutkan……. lebih bercelaka lagi. kau sudah tidak bisa mengerahkan kekuatan tenaga dalammu lagi.” Siang-koan Kie diam-diann mengerahkan tenaga dalamnya. dalam waktu sekejap mata saja sudah berada di atas puncak sebuah gunung. “Urat-urat dan jalan darah separuh badanmu sudah terluka. ia sangat heran dan mengagumi kekuatan tenaga dalam orang itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kau terjun dari tebing jurang ini, sudah tidak ada harapan
hidup lagi, jangan harapkan jiwamu bisa tertolong.”
Perasaan gusar Siang-koan Kie seketika itu meluap, maka
ia lalu berkata, “Seorang laki-laki mengapa harus takut mati?”
Dengan tindakan lebar ia lalu berjalan ketepi jurang.
Ketika ia mendongakkan kepala, matahari masih
memancarkan sinarnya yang gilang gemilang, pemandangan
alam di sekitar guunng itu nampaknya sangat indah,hingga
perasaannya saat itu mulai sangsi.
Jiwanya yang sangat berharga, dalam waktu hanya
selangkah saja sudah akan tamat meninggalkan dunia yang
indah ini, ia seperti selama hidupnya itu belum pernah
menyaksikan keindahan alam seperti hari itu. Sepasang
matanya berputaran agaknya hendak menikmati sepuaspuasnya keindahan alam yang sudah akan ditinggalkannya itu.
Tiba-tiba ia merasakan satu tangan orang berbaju hijau itu
menyentuh belakang punggungnya kemudian disusul oleh
kata-katanya yang bernada sangat dingin, “Terjunlah!”
Siang-koan Kie merasakan satu dorongan kuat di belakang
dirinya, sehingga tanpa dapat menguasai dirinya ia sudah
melompat terjun ke bawah jurang.
Kekuatan yang mendorong dirinya itu sangat hebat sekali,
hingga tubuh Siang-koan Kie yang terdorong olehnya, terbang
melayang sejauh delapan atau sembilan kaki, baru meluncur
ke bawah.
Demikian pesat meluncurnya tubuh itu, bagaikan bintang
yang jatuh dari langit.
Orang berbaju hijau itu setelah mendorong Siang-koan Kie,
tiba-tiba mementang kedua lenggannya, kemudian lari menuju
ke jurusan semula.
Jatuhnya Siang-koan Kie meskipun laju sekali, tetapi
pikirannya masih jernih; beberapa kali ia ingin mengumpulkan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kekuatan tenaga dalamuya, supaya bisa menujukan badannya
ke lereng gunung, tetapi setiap kali ia mengerahkan napas,
separuh badannya dirasakan kejang.
Dalam keadaan tidak berdaya, ia hanya merasakan
turunnya semakian laju, sehingga diam-diam mengeluh,
“Habislah!”
Tiba-tiba sekujur badannya dirasakan dingin, napasnya
tersumbat, kiranya tuhuhnya sudah kecebur ke dalam air……..
Walaupun ia bisa berenang, tetapi karena terjatuh dari
tempat sangat tinggi, apalagi keadaan tubuhnya separuh
kejang, maka sesaat itu badannya sudah berada dalam air
sedalam kira-kira tiga tombak, air dingin yang masuk ke dalam
mulutnya, telah menyadarkan pikirannya. Cepat2 ia menutup
pernapasannya, dengan tangan satu yang masih bergerak, ia
berusaha berenang kepermukaan air.
Setelah dengan susah payah ia timbul ke permukaan air
dan tiba di pantai, tenaganya sudah habis, badannya merasa
letih kepalanya merasa pusing, sehingga ia merebahkan diri
untuk beristirahat, pelahan-lahan tertidur.
Entah berapa lama telah berlalu, waktu ia sadar ternyata
malam sudah larut, di atas langit bintang2 bertaburan
memancarkan sinarnya.
Ia me-nepuk2 kepalanya sendiri, lalu bangun dan duduk di
tanah, memperhatikan keadaan sekitarnya.
Meskipun keadaan gelap, tetapi dengan dibantu oleh
sinarnya bintang, samar-samar ia masih dapat melihat
keadaan disitu.
Tempat itu ada suatu lembah yang panjang dan sempit,
lebarnya tidak lebih dari pada tiga tombak, membujur ke timur
dan berliku-liku menurun ke bawah. Dasar lembah tanahnya
keras, kecuali tumbuh2an yang terdapat di sekitar danau,
hampir seluruhnya merupakan tanah tandas yang banyak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

batunya. Danau itu luasnya hanya kurang lebih tiga kaki,
panjangnya dua tombak lebih; andaikata tubuhnya tidak
didorong oleh orang berbaju hijau itu mungkin tidak begitu
kebetulan terjatuh ke dalam danau yaug dalam itu, tetapi
terjatuh ke atas tanah keras berbatu itu.
Memikirkan pengalamannya, ia bergidik, tetapi akhirnya
tertawa kecut sendiri.
Setelah lolos dari lubang jarum, semangatnya terbangun
lagi. Dengan susah payah ia berdiri dan berjalan menyusuri
jalan di lereng gunung, yang menurun ke bawah.
Karena separuh badannya terluka, jalannya sama dengan
orang biasa. Berjalan belum antara lama, badannya mulai
dirasakan hangat.
Meskipun badannya dirasakan hangat, tetapi urat2 dan
daging tubultnya dirasakan semakin kejang, hingga jalannya
semakin tidak leluasa.
Lamping gunung yang ada di kedua samping jalanan
lembah itu menjulang tinggi ke langit. Karena tempat itu
mungkin adalah daerah tandus, tidak terdapat tumbuh2an,
apabila ia tidal terluka, mungkin masih bisa merambat ke atas,
tetapi karena saat itu badannya terluka, bagaimana dapat naik
keatas.
Ia hanya mengharap, semoga jalan lembah itu tidak terlalu
panjang. Jika ia sudah ke luar dari lembah itu, mungkin bisa
menemukan atau setidak-tidaknya berusaha mencari jalan
yang menuju kekuil tua itu. Mungkin orang tua aneh itu dapat
menyembuhkan luka2nya.
Sambil berpikir ia melanjutkan perjalanannya, berjalan kirakira empat atau lima pal, ia telah tiba di suatu tempat yang
merupakan pangkal jalanan lembah tersebut.
Tetapi di situ ternyata terhalang oleh lereng_gunung pula
yang menjulang tinggi ke langit.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan hati pilu Siang-koan Kie berdiri di depan tebing
gunung itu, rasa kecewa, duka dan putus asa, telah
meruntuhkan semangatnya, sehingga kedua kakinya
mendadak lemas dan duduk lemas di tanah.
Ia dudul sambil memejamkan matanya, sementara itu
pikirannya terus bekerja; lembah ini apabila lembah mati,
sudah tentu akan tergenang oleh air gunung. Tetapi
kenyataannya ternyata tidak demikian. Mungkin di bagian lain
terdapat jalanan keluar.
Karena berpikir demikian, semangatnya terbangun lagi. Ia
segera berbangkit dan berjalan balik dari jurusan semula.
Panjang lembah itu kira-kira limabelas pal. Kalau Siangkoan Kie tidak terluka, sudah tentu dapat dilalui olehnya
dengan sangat mudah, tetapi karena separuh badannya
terluka dan kejang, perjalanan mundar mandir itu merupakan
suatu siksahan hebat baginya.
Sekalipun sangat letih, tetapi keinginan untuk hidup, telah
mendorong semangatnya untuk mempertahankan dirinya
menahan siksaan itu.
Ketika ia tiba di ujung lembah, ternyata hari sudah pagi.
Apa mau, di hadapannya kembali terhalang oleh lereng
gunung yang sangat tinggi, hingga diam-diam mengeluh,
“Habislah, nampaknya di sini benar-benar sudah tidak ada
jalan keluar lagi.”
Badannya dirasakan letih sekali, ia lalu duduk menyandar
batu gunung.
Pada saat itu semangatnya sudah runtuh sama sekali,
pengharapan yang semula dapat menahan kekuatannya, kini
perlahan-lahan mulai lenyap.
Perlahan-lahan ia memejamkan matanya dan menghela
napas panjang, ia coba berusaha menenangkan pikirannya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

akan tetapi perasaan letihnya semakin menjadi-jadi hingga ia
akhirnya tertidur.
Dalam tidurya yang nyenyak, entah berapa lama telah
berlalu, waktu ia tersadar, matahari sudah naik tinggi. Sinar
matahari yang menyinari batu2 kecil yang putih bagaikan
telur, menim bulkan cahaya yang menyilaukan mata.
Pemandangan itu tidak menarik perhatian Siang-koan Kie,
ia hanya duduk tertegun mengawasi lereng gunung yang
tinggi, sementara itu dalam hatinya berpikir, “Di dalam lembah
yang buntu ini, kecuali itu danau, seluruh lembah ini agaknya
penuh dengan batu2 bagaikan telur angsa ini, sehingga
sebatang pohonpun tidak ada, sekalipun aku tidak mati karena
lukaku juga akan mati kelaparan……..”
Manusia dalam keadaan terjepit, semakin besar usahanya
untuk mempertahankan jiwanya. Begitulah keadaan Siangkoan Kie, karena mengerti jiwanya akan terancam apabila ia
tidak berasaha mencari jalan, maka akhirnya dengan susah
payah ia bangkit dan melanjutkan perjalanannya untuk
mencari jalan keluar.
Ia berjalan sambil memperhatikan keadaan di sekitarnya,
tetapi apa yang disaksikannya, hanya batu2 putih bundar
bagaikan telur yang menabur seluruh tempat di dalam lembah
itu, tiada tampak setapakpun tanah yang ada ramputnya.
Dalam keadaan putus asa ia duduk lagi, ia merasa heran
mengapa lembah itu tiada terdapat tumbuhan hijau, ia
mengulur tangannya, mengambil sebuah batu yang
macamnya bagaikan telur angsa.
Batu itu sangat licin dan apa yang aneh ialah rasa dingin
yang luar biasa yang menyentuh tangannya.
Perlahan-lahan ia mencoba untuk menekan batu itu, ia
merasa bahwa batu yang terdapat dalam lembah itu berbeda
dengan batu lainnya, dilihatnya bukan saja seperti ada
mengandung air yangg didalamnya, tetapi juga agak berat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

timbangannya kalau dibanding dengan batu yang lain,
sehingga menarik perhatiannya, ia ingin mencoba untuk
menghancurkan batu itu.
Ia lalu menyambitkan batu itu ke atas lamping gunung.
Tatkala batu itu terbentur dengan batu karang, lalu
menimbulkan suara nyaring dan batu- batu halus pada
berhamburan.
Ketika ia pergi memeriksa, ternyata batu karang di lamping
gunung terdapat tanda gumpal sebagian, sedangkan batu
bundar yang disambitkan tetap utuh keadaannya!
Siang-koan Kie semakin heran, ia memungut sebuah dan
disambitkan lagi.
Kembali terdengar nyaring, batu kecil bundar itu terpental
balik dalam keadaan utuh.
Selagi dalam keadaan terheran-heran oleh keajaiban itu,
telinganya tiba-tiba mendengar suara irama seruling, bagaikan
ratapan seorang ibu yang memanggil anaknya dengan penuh
rasa kasih sayang.
Siang-koan Kie tiba-tiba bangkit, ia mendongakkan kepala
dan bersiul panjang.
Tetapi baru saja suara siulan itu ke luar dari mulutnya,
paha kirinya tiba-tiba dirasakan kejang,sehingga ia terjatuh di
tanah.
Karena separuh badannya terluka, ia sudah tidak bisa
mergerahkan kekuatan tenaga dalamnya, perbuatannya tadi
yang dilakukan secara tanpa sadar menyebabkan lukanya
semakin parah sehingga tidak dapat mempertahankan
tubuhnya sendiri. Jatuhnya agak berat, sehingga 1alu pingsan.
Setelah ia siuman kembali, badannya terasa dingin, seperti
tidur di atas salju.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan susah payah ia duduk, tangannya meraba-raba
bekas tempat ia tidur, batu-batu itu ternyata masih dingin.
Ketika ia mendongakkan kepala matahari sudah condong
ke barat. Ia menghitung-hitung waktunya sedikitnya dalam
waktu dua jam ia sudah pingsan, tetapi batu2 bekas di mana
dia rebah ternyata tidak ada rasa hangatpun juga.
Kembali ia menghela napas. Akhirnya ia hendak mengambil
keputusan nekad, karena dianggapnya sudah tidak bias keluar
dari situ, dari pada mati kelaparan ia harus menanggung
siksaan, lebih baik bunuh dir……..
Selagi hendak bertindak, tiba-tiba terdengar suara bunyi
burung, sehingga hatinya tergerak pula.
Tatkala ia mendongakkan kepala, seekor burung raksasa
telah terbang menghilang ke belakang sebuah batu karang di
tempat setinggi sepuluh tombak lebih di atas kepalanya,
sehingga dalam hatinya berpikir, “Lembah ini masih ada
burung yang datang tentunya terdapat barang berjiwa.
Oleh karenanya, maka timbulah pula keinginannya untuk
hidup lagi.”
Ia memejamkan mata untuk beristirahat sejenak, setelah
pikirannya tenang kembali, ia membuka mata dan
memandang keadaan sekitarnya, untuk mencari jalan
sekiranya dapat ditempuh untuk keluar dari situ.
Kali ini karena pikirannya sangat tenang, matanya
perlahan-lahan bergerak mengawasi setiap tempat di sekitar
lamping gunung, ia ingin mencari tempat yang dapat
digunakan untuk naik ke atas ke tempat batu karang yang
menonjol, di mana burung raksasa tadi menghilang.
Tetapi ia merasa kecewa lagi, karena lamping gunung di
bawah sepuluh tombak, seluruhnya licin, susah dicari suatu
tempat yaug dapat digunakan untuk memanjat.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kalau diwaktu biasa, ia masih dapat menggunakan ilmunya
cecak merambat di tembok, tetapi sekarang dalam keadaan
terluka seperti itu, jangankan menggunakan ilmu yang
mematikan kekuatan tenaga dalam itu, sekalipun berjalan
sebagai biasa juga sangat susah.
-odwoBab 10
DALAM keadaan demikian, terdengar pula suara irama
seruling, yang mengandung penuh rasa gembira, sungguh
aneh, irama seruling itu tiba-tiba membangkitkan perasaan
keinginannya untuk hidup lagi.
Semangat Siang-koanKie yang sudah runtuh,
terbangkit pula oleh pengaruh irama seruling itu.

telah

Ia berdiri dan berjalan ke lamping gunung, kemudian
duduk menyandar untuk mengatur pernapasannya.
Karana ia sudah tahu, apabila mengarahkau kekuatan
tenaga dalamnya, urat2nya yang terluka segera terasa kejang,
hingga menimbulkan penderitaan hebat. Kali ini ia tidak berani
mencoba lagi; perlahan-lahan ia mengatur penapasannya,
sedapat mungkin menghindarkan penderitaan yang hebat itu.
Betul saja penderitaan itu banyak berkurang, tidak sehebat
seperti yang sudah-sudah. ketika kekuatan tenaga dalamnya
mulai terpusat, uratnya yang terluka sekonyong-konyong
dirasakan kejang pula, terpaksa ia buru-buru menghentikan
usahanya untuk memusatkan kekuatan tenaga dalamnya.
Sewaktu kekuatan tenaga dalam itu buyar lagi rasa sakit
diuratnya segera berhenti.
Penemuan itu segera menimbulkan pengharapan untuk
hldup lagi, pikirnya, “Asal dengan cara demikian perlahan-

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lahan aku mengatur pernapasanku,
menyembuhkan sendiri lukaku.”

mungkin

dapat

Ia menghitung-hitung mungkin sanggup menahan lapar
tiga hari tiga malam, apabila selama waktu itu ia dapat
mengendurkan urat-uratnya yang terluka, masih ada sisa
tenaga yang dapat digunakan untuk memanjat ke batu karang
tempat menghilangnya burung raksasa tadi, mungkin dapat
menggunakan tenaga burung raksasa itu keluar dari tempat
ini.
Apa bila dalam waktu tiga hari tidak berhasil meringankan
luka-lukanya, di bawah keadaan haus dan lapar, tenaganya
perlahan-lahan pasti berkurang dan akhirnya pasti akan mati
kelaparan di dalam lembah itu.
Ia mulai duduk lagi, untuk bersemedi dan mengatur
pernapasannya.
Tak disangka setelah dua hari dua malam ia berusaba
menyembuhkan lukanya, bukan saja urat2nya tidak menjadi
kendur, bahkan semangkin berat. Ia merasakan urat-uratnya
telah terjadi perobahan, hingga terperanjat, ia berusaha
hendak berdiri, ia baru mengetahui bahwa paha kiri dan
lengan kirinya sudah tidak bisa bergerak lagi.
Berada di dalam tempat lembah mati dalam keadaan luka
berat tidak bisa bergerak, sekalipun bagi orang yang
mempunyai hati kuat dan perasaan teguh juga akan merasa
berada di dalam keadaan putus pengharapan.
Siang-koanKie mulai meraaa kehilangan kepercayaan
terhadap jiwanya sendiri, bayangan maut yang menakutkan,
karena merasa sudah putus harapan sudah bukan suatu
ancaman yang menakutkan lagi baginya.
Ia mendongakkan kepala mengawasi awan di langit sambil
berpikir, “Sekarang kecuali setinda demi setindak mendekati
ajalku, aku sudah tidak ada jalan lain lagi, sisa waktu yang
tingga tidak seberapa ini alangkah besar hatinya bagai

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seorang yang sudah akan meninggalkan jiwanya, maka aku
akan menggunakan sebaik-baiknya……..”
Selagi hendak rebah untuk menikmati pemandangan alam
dengan tenang, se-konyong-konyong mulutnya dirasakan
haus, hatinya lalu berpikir, “Sebelum mati aku tidak boleh
menderi kehausan, meskipun di lembah ini tiada barang
makanan untuk dimakan, tetapi masih ada air danau yang
dapat kugunakan untuk menghilangkan rasa haus.
Make, ia lalu berusaha menuju ke pinggir danau.
Meskipun jarak itu tidak jauh, tetapi dengan susah payah
baru ia mencapai tempat tersebut. Oleh karena paha kiri dan
lengan kirinya sudah tidak dapat digunakan, ia hanya dapat
menggunakan paha kanan dan lengan kanan untuk
merangkak di atasnya batu2 itu.
Pakaian di bawah tangan kanan dan kaki kanan sudah
terkoyak oleh batu2 bundar itu, tetapi ia agaknya tidak merasa
sakit, sebaliknya ia merasa gembira dengan pengalaman
barunya itu.
Bagi sesuatu orang yang sudah mengetahui dirinya akan
mati, dalam hatinya kadang2 timbul dua macam perobahan,
yang satu ialah perasaan kawatir dan takut, yang lain ialah
ketenangan yang luar biasa, segala penderitaan sudah tidak
dihiraukan lagi. Begitulah keadaan Siang-koan Kie pada waktu
itu, termasuk golongan orang yang tersebut belakangan.
Di sekitar danau itu tumbuh rumput hijau, itulah satu2nya
tempat di mana tumbuh rumput.
Ketika ia tiba di tepi danau, rasa dahaga sudah memuncak,
ia lalu ulur tanganya untuk menciduk air danau, setelah
minum beberapa teguk rasa dingin dalam tenggorokan
kembali membangkitkan semangatnya.
Bayangan mukanya yang berada di air danau,
menunjukkan mukanya yang tenang dan rambutnya yang tak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

teratur, ia sendiri juga merasa heran akan ketenangannya
pada waktu itu.
Se-konyong-konyong nampak berkelebatnya bayangan
hitam di permukaan air danau. Dengan perasaan terkejut ia
mendongakkan kepala, segera dapat lihat ke angkasa yang
biru terdapat gumpalan awan putih. Dalam hatinya segera
berpikir, “Mungkin karena lapar hingga kabur mataku, di
dalam lembah mati ini yang kedua sampingnya tertutup oleh
lamping gunung yang tinggi, sekalipun ada burung terbang,
juga tidak bisa terbayang di permukaan air danau.”
Walaupun dalam hati berpikir demikian tetapi ia masih
melongok ke air danau.
Di permukaan air danau itu tampak bayangan batu karang
yang menonjol lamping gunung, di antara celah-celah batu
ini, tampak bergeraknya sesosok bayangan.
Buru-buru ia berpaling, di suatu tempat terpisah kira-kira
tiga puluh tombak tingginya, benar saja akan terdapat batu
karang yang menonjol, yang sama bentuknya dengan apa
yang disaksikannya di dalam air, hanya tidak tampak
bayangan yang bergerak tadi.
Dengan hati sayu ia mengawasi tempat itu, tiba-tiba ia
merasa letih sekali, lalu rebah di atas rumput dan
memejamkan mata untuk beristirahat.
Ia merasa sedikit aneh di bawah badannya, ia segera
meraba dengan tangannya, ia merasakan empuk sekali,
ternyata tempat itu merupakan suatu tempat yang empuk, di
atas tanah itu ada timbul rumput halus, hingga seperti rebah
di atas kasur.
Karena selama berada di tempat itu, ia selalu tidur di atas
batu bundar yang dingin, dan kini mendadak tidur di atas
tanah rumput yang empuk sudah tentu menimbulkan
perasaan herannya, segera tertidur dengan cepatnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sewaktu ia sadar, dengan tanpa disadarinya perhatiannya
lebih dulu ditujukan kepada batu karang yang menonjol itu.
Matanya segera dapat melihat seekor binatang aneh yang
berbulu panjang berwarna mas. Binatang itu seperti orang
hutan, saat itu sedang menggunakan seutas rotan turun ke
dalam lembah, di belakang punggungnya juga menggendong
seikat rotan, sambil merayap turun mengendorkan rotan di
atas punggungnya, sebentar-sebentar berhenti mengawasi
Siang-koan Kie.
Walaupun ia belum pernah melihat binatang aneh itu,
tetapi juga dapat mengenalinya sebagai seekor orang hutan
yang masih hidup.
Binatang itu mukanya penakut, tetapi juga cerdik, mungkin
karena tertarik oleh perasaan herannya sekalipun merasa
takut, hingga berhenti melongok tetapi ia masih turun terus.
Siang-koan Kie dapat menduga bahwa binatang itu
meskipun masih kecil, tetapi pasti bertenaga besar……..
Selagi otaknya berkerja, binataug itu sudah berjalan
menghampirinya, ia mencoba berusaha bangkit, tiba-tiba
suatu pikiran timbul dalam otaknya, “Dalam lembah ini,
kecuali air minum, sudah tidak terdapat barang yang dapat
dimakan, sekalipun tidak menemukan bahaya, juga tidak akan
terhindar bahaya kelaparan, sebaiknya aku pura-pura tidak
tahu apa yang akan diperbuat oleh binatang itu?”
Maka ia lalu memejamkan matanya pura-pura tidur.
Ia merasakan tangan binatang yang berbulu dengan
perlahan menutup mukanya, tetapi segera ditarik kembali.
Siang-koan Kie membuka matanya, ia melihat binatang itu
berdiri sejarak lima kaki, dengan setengah berjongkok
mengawasi dirinya.
Tidak berapa
menghampiri lagi.

lama,

binatang

itu

perlahan-lahan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia melihat binatang itu mengulurkan tangannya yaug
panjang meraba Siang-koan Kie sambil menggoyangkan
kepalanya.
Siang-koan Kie meskipun sudah tidak menghiraukan
jiwanya sendiri, tetapi ketika tangan yang penuh bulu itu
meraba mukanya, dalam hatinya juga timbal perasaan jeri,
sehingga diam-diam memejamkan matanya.
Tangan binatang itu dari bagian muka perlahan-lahan
bergerak meraba sekujur badannya. Tiba-tiba ia merasakan
tangan binatang itu ditarik kembali, ketika Siang-koan Kie
membuka mata, binataug itu ternyata sudah lari balik ke arah
batu karang yang menonjol itu, dengan tangan memegang di
rotan, cepat sekali sudah memanjat ke atas dan sebentar
kemudian sudah menghilang di belakangnya batu karang itu.
Setelah binatang itu menghilang, dalam hati Siang-koan Kie
tiba-tiba merasa seperti kehilangan seorang sahabat, ia
mengharap munculnya kembali binatang itu, sehingga
pandangan matanya sebentar2 ditujukan kearah batu karang
yang menonjol itu.
Tidak lama kemudian binatang itu tiba-tiba muncul lagi dan
segera merayap turun ke bawah bahkan dengan beruntun
muncul sebanyak empat ekor, setiap punggung binatangbinatang itu semua membawa ikatan rotan.
Empat binatang itu merayap turun cepat sekali, dalam
waktu sekejap mata sudah berada di tanah. Kali ini tanpa
ragu2 lagi semuanya lari menghampiri Siang-koan Kie.
Siang-koan Kie tidak tahu apa maksud binatang2 itu, tetapi
karena ia sendiri dalam keadaan sudah tidak berdaya, maka ia
diam saja.
Empat binatang orang hutan itu berjalan mengintari dirinya
mulutnya mengeluarkan suara yang tidak dimengerti olehnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siang-koan Kie yang sudah tidak menghiraukan jiwanya,
sedikitpun tidak mempunyai rasa takut, sebaliknya yang
merasa senang dalam keadaan kesepian seperti itu mendapat
kawan demikian banyak.
Tiba tiba ia merasa kaki dan tangannya bergerak dan
badannya terangkat, meskipun ia ingin membuka matanya
tetapi ia takut mengejutkan empat binatang itu, maka ia
paksakan diri dan membiarkan dirinya diperlakukan apa saja
oleh binatang itu.
Kini ia telah merasa bahwa lengan tangan, kedua paha dan
badannya telah diikat oleh tali, dalam terkejutnya ia lalu
membuka mata, sehingga ia dapat lihat empat binatang itu
dengan menggunakan rotan yang mereka bawa untuk
mengikat dirinya. Ia coba mengerahkan kekuatannya hendak
memutuskan rotan, tetapi lukanya segera meraaa sakit,
sehingga tidak berdaya lagi.
Ia terpaksa menyerahkan nasibnya kepada binatang itu.
Empat binatang itu bekerja cepat sekali, sebentar saja
sekujur badan Siang-koan Kie sudah terikat seperti lepat
kemudian digotong dan dibawa lari ke lamping gunung itu.
Siang-koan Kie meski membuka matanya, tetapi empat
ekor binatang itu agaknya sudah tidak takut lagi, sambil
mengeluarkan suara cecuitan, mereka meletakkan Siang-koan
Kie, kemudian pada lompat seperti kegirangan.
Sejenak kemudian, satu di antaranya tiba-tiba bersiul dan
lompat setinggi empat lima kaki, menyambar rotan yang
menggantung di tebing gunung itu, binatang itu menggunakan
kaki dan tangannya bergerak dengan cepatnya, sebentar saja
sudah inemanjat keatas batu karang yang menonjol yang
terletak setinggi seratus tombak lebih di lamping gunung itu.
Seekor yang lainnya menelah perbuatan itu, tinggal dua
ekor lagi, yang menarik rotan itu kemudian diikat dengan
rotan yang mengikat tubuh dan kaki. Dua ekor binatang itu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bersiul panjang dan mendongak ke atas, dua ekor lainnya
yang berada di atas ketika mendengar suara itu, segera
menarik rotannya, hingga badan Siang-koan Kie tertarik ke
atas, sebentar saja sudah berada di tempat setinggi tiga
empat puluh tombak.
Tatkala ia melongok ke bawah ia telah menyaksikan dua
binatang yang di bawah masih mendongakkan kepalanya
mengawasi dirinya, hingga diam-diam ia merasa geli sendiri.
Ia merasakan dirinya ditarik ke atas semakin cepat, tibatiba matanya menjadi gelap, suara aneh terdengar dalam
telinganya, waktu ia memandann dengan seksama ternyata
dirinya sedang rebah tertelentang di sebuah gua.
Gua itu sangat luas, di tempat masuk kira-kira dua tombak
lalu membelok ke kanan, oleh karena mulut gua teraling oleh
batu karang, sehingga tidak mudah terlihat dari bawah.
Dua ekor binatang itu setelah menarik badannya Siangkoan Kie, agaknya merasa letih, mereka hendak beristirahat di
mulu gua, tetapi sikapnya nampak sangat gembira, sehingga
saban2 mulutnya cecuitan dan tertawa.
Tiba-tiba terdengar suara siulan, dua ekor binatang itu
ketika mendengar suara itu, agaknya baru teringat dua
kawannya yang masih berada di bawah lembah, mereka lalu
membuka rotan yang mengikat badan Siang-koan Kie,
kemudian diturunkan ke bawah.
Sebentar kemudian dua ekor binatang yang berada di
bawah juga sudah naik ke atas, empat ekor binatang saling
berjumpa, setelah loncat 2′ sebentar lalu menggotong tubuh
Siang-koan Kie lagi, berjalan masuk ke dalam gua.
Siang-koau Kie diam-diam memperhatikan keadaan dalam
gua itu, ia merasa gua itu kering keadaannya tetapi luas dan
dalam. Empat ekor binatang itu menggotong padanya meliwati
empat lima tikungan, baru berhenti.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Itu ada sebuah kamar batu yang cukup luas di bawahnya
terdapat rumput kering, rebah di atasnya, seperti rebah di
atas pembaringan. Empat ekor binatang itu setelah
meletakkan dirinya di tempat itu, segera berebut hendak lari
keluar, agaknya tidak mau ketinggalan, hingga membuat
Siang-koan Kie yang menyaksikannya merasa sangat heran.
Tidak antara lama empat ekor binatang itu mundur
kembali, tingkah lakunya sama waktu hendak keluar. Setiba di
dekat Siang-koan Kie, baru berhenti dengan serentak, kini
Siang-koan Kie baru dapat lihat bahwa setiap tangan empat
binatang itu ada membawa buah yang disodorkan kepadanya.
Siang-koan Kie yang sudah beberapa hari tidak makan,
ketika melihat buah segar yang besar dan menarik itu sudah
ingin makan saja, tetapi karena tangannya masih terikat oleh
rotan, ia tidak sanggup menyambuti.
Binatang itu meskipun cerdik, tetapi biar bagaimana
bukanlah mannsia, berkutet sekian lama seekor di antaranya
barulah mengetahui bahwa kedua tangan Siang-koan Kie
masih terikat, maka segera membuka rotan yang mengikat
tangannya.
Siang koan Kie gerak-gerakan kedua tangannya, ia
mengambil buah yang diletakan di tanah lalu dimakannya
dengan lahapnya.
Empat binatang yang menyaksikan demikian nampaknya
sangat girang, kemudian berjalan keluar lagi.
Siang-koan Kie yang dalam keadaan lapar setelah makan
habis empat buah-buahan itu, rasa laparnya lenyap seketika,
semangatnya juga terbangun lagi, setelah beristirahat
sebentar, ia dapat melepaskan sendiri ikatan rotan pada
badannya.
Ia mencoba untuk berdiri dan berjalan sebentar, meski
lukanya masih belum berkurang tetapi sudah bergerak, hanya
tidak dapat mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya sehingga

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepandaiannya hilang semua. Diam-diam ia mengeluh karena
dalam keadaan dan tempat seperti itu, orang yang sudah
hilang semua kepandaiannya, sekalipun tidak akan terluka
oleh binatang buas, juga tak bisa berlalu dari tempat itu……..
Pada saat itu seekor orang hutan besar berbulu warna mas
lari masuk.
Orang hutan itu setinggi manusia, bulu sekujur badannya
berwarna emas, 1engannya panjang, matanya bersinar, bulu
rambut di atas kepalanya panjang menurun sampai batas
pinggang, bentuk badannya kekar nampakanya sangat
menakutkan, empat orang hutan kecil yang mengikuti di
belakangnya hanya sebatas pinggangnya saja.
Siang-koan Kie berdiri tertegun, pikirnya dalam hati,
“Binatang ini besar gekali, tenaganya pasti besar juga, karena
lukaku belum sembuh, terpaksa kuserahkan kepada nasibku
sendiri.”
Orang hutan tinggi besar itu sekonyong-konyong mengulur
tangannya, mulutnya cecuitan, agaknya menanyakan apa-apa.
Siang-koan Kie tidak mengerti apa maksudnya, binatang itu
bergerak-gerak tangan dan kakinya tetapi juga tidak mengerti
apa yang dikatakan.
Binatang itu agaknya sangat sabar, berulang-ulang ia
menggerak-gerakan tangan dan kakinya untuk menanyakan
maksudnya.
Siang-koan Kie sangat sempit, pikirannya mulai tenang,
ketika binatang itu memulai lagi dengan pertanyaannya yang
menggunakan gerakan-gerakan tangan dan kakinya, ternyata
sudah dapat memahami sebahagian, maka ia segera
bersenyum, dan balik lagi untuk merebahkan diri di atas
rumput kering itu.
Binatang besar itu ketika melihat Siang-koan Kie
merebahkan diri, lalu memberi isyarat kepada empat ekor

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

binatang yang kecil, menyuruh mereka mundur, kemudian dia
sendiri juga mengundurkan diri.
Siang-koan Kie yang menyaksikan kejadian itu dalam hati
merasa heran, pikiraya, “Binatang ini agaknya mempunyai
pikiran bagaikan manasia, ia menyuruh aku beristirahat, maka
aku harus beristirahat sebaik-baiknya.”
Ia lalu memejamkan matanya, sebentar sudah tidur
nyenyak.
Waktu ia sadar hari sudah malam, keadaan dalam kamar
gelap gulita.
Ia merasa agak enakan, kecuali tidak dapat memusatkan
kekuatannya, segala-galanya normal seperti orang biasa.
Ia mulai memikirkan pengalaman yang aneh itu, kerena
kepandaiannya sudah hilang, untuk bisa keluar dari tempat
itu, kemungkinannya sedikit sekali, akan tetapi ia juga tidak
bisa berdiam terus di situ bersama orang hutan itu……..
Tiba-tiba hatinya berpikir, “Gua ini letaknya di atas tebing
gunung yang tinggi tidak terdapat tumbuhan dan pepohonan,
tetapi buah-buahan yang diberikan kepadaku oleh empat ekor
orang hutan tadi, terang masih segar, entah dari mana
mereka dapatkan? Apakah dalam gua ini masih terdapat
jalanan rahasia yang menuju keluar?”
Manusia kalau berada dalam keadaan putus harapan,
kadang-kadang dapat memikirkan banyak soal untuk
menghibur dirirya, sebagai dorongan bagi harapan hidupnya;
Siang-koan Kie berpikir demikian, timbullah pula harapannya
untuk hidup, dan harapan itu kini semakin tebal.
Hanya dalam waktu beberapa itu ia telah menjumpai
banyak kejadian hal-hal yang luar biasa, juga menyaksikan
orang-orang yang mempunyai kepandaian sangat tinggi yang
sudah tidak ada taranya, serta orang-orang jahat buas banyak
akal yang sangat berbahaya. Semua itu telah membuat dirinya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

harus waspada dan hati-hati terhadap sesama mannsia.
Meskipun ia merasa bahwa di tempat itu ada jalanan rahasia
yang menghubungkan dengan dunia luar akan tetapi ia tidak
berani berlaku ceroboh.
Sang waktu berlalu dengan cepatnya, Siang-koan Kie sudah
sepuluh hari lebih di kamar batu dalam gua itu.
Selama sepuluh hari itu, orang hutan besar itu jarang
muncul di dalam kamarnya, hanya empat ekor orang hutan
kecil itu, yang setiap hari datang membawakan banyak buahbuahan untuk ia makan.
Hari itu diwaktu senja, orang hutan besar itu tiba-tiba
muncul di hadapannya dengan membawa empat ekor orang
hutan kecil, ia memegang tangan kiri Siang-koan Kie,
digoyang-goyangkan tidak berhenti mulutnya mengeluarkan
suara cecuitan, sikapnya nampak sangat gelisah.
Siang-koan Kie meski sudah sekian lama pergaulan dengan
beberapa orang hutan itu, hingga terhadat sifat dan
kelakuannya sudah tidak merasa asing seperti semula ia
datang, tetapi kelakuannya dan kata-katanya pada saat itu,
masih belum dapat dimengerti seluruhnya, ia hanya merasa
bahwa sikap binatang itu sangat gelisah, jauh berbeda
sebagaimana biasanya, jikalau tidak menjumpai kejadiankejadian yang berbahaya tentunya kejadian2 penting yang
menggirangkan.
Kemudian ia merasa bahwa keadaan orang hutan besar itu
semakin cemas, hingga terpaksa ia bangkit.
Orang hutan besar itu ketika menampak dirinya berdiri, lalu
berhenti bersuara dan melepaskan tangannya kemudian
berjalan keluar.
Siang-koan Kie sejenak merasa sangsi, kemudian mengikuti
di belakang orang hutan itu, sementara empat orang hutan
yang kecil, yang agaknya sudah kenal betul dengan Siangkoan Kie, nampak berjalan di sampingnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Meskipun sudah lama ia menyimpan rencana hendak
menyelidiki jalan rahasia yang menghubungkan gua itu
dengan dunia luar, tetapi karena kepandaiannya sudah lenyap,
gerak jalannya sangat lambat, ia khawatir akan diketahui
maksudnya oleh binatang itu, karena bahasanya satu sama
lain tidak dimengerti apabila terjadi salah paham, pasti tidak
dapat menjelaskan. Maka ia terpaksa berlaku sabar sambil
mencoba untuk memulihkan kekuatannya, sekalipun
kepandaiannya sudah dipulihkan kembali, tetapi apa bila
berdiam lebih lama dengan kawanan binatang itu mungkin
lama-lama bisa saling mengerti, apabila keadaan sudah baik,
ia akan berusaha lagi, apakah di situ terdapat jalan keluar
atau tidak? Akan tetapi apa yang telah terjadi, sesungguhnya
di luar dugaannya, jalan belum berapa lama ia telah ditarik
keluar oleh orang hutan besar itu.
Karena kepandaiannya sudah lenyap, lagi pula separuh
badannya kaku, maka jalannya tidak leluasa. Ia berjalan di
belakang orang hutan besar itu, setelah melalui tujuh atau
delapan tikungan, tiba-tiba sudah berada di suatu tempat
yang luas.
Orang hutan itu tiba-tiba bersiul panjang dan lompat
melesat ke depan.
Karena cuaca gelap, tidak bisa melihat dengan nyata
keadaan di depan matanya, ia hanya samar dapat lihat bahwa
tempat itu banyak lebih luas daripada tempat ia berdiri.
Menampak caranya orang hutan besar itu melayang turun,
tempat yang agak luas itu tiba-tiba merupakan tempat yang
agak rendah, ia hanya dapat lihat berkelebatnya warna kuning
emas bulu orang hutan itu, dan kemudian menghilang di
tempat gelap.
Siang-koan Kie diam-diam berpikir, “Jika ditilik dari
keadaannya orang hutan tadi melompat ke depan, di depan
itu mungkin ada satu tempat yang sangat dalam, sekarang
kepandaianku sudah lenyap, sulit untuk memusatkan kekuatan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tenagaku, sehingga tidak dapat menggunakan kepandaianku
meringankan tubuh. Kalau aku paksakan diri, mungkin akan
patah tulang2ku.”
Oleh karenanya, maka ia maju ke depan dengan jalan
lambat2.
Benar saja, setelah berjalan kira-kira satu tombak, tanah di
depannya tiba-tiba mendatar turun dari atas ke bawah kirakira setombak dalamnya, karena ia khawatir akan patah
tulangnya, ia bersangsi, tidak berani lompat turun……..
Tetapi pada saat itu, empat orang hutan kecil itu
sekonyong-konyong sudah pada lompat turun dengan
enaknya.
Siang-koan Kie yang menyaksikan tindakan orang hutan
kecil itu, tiba-tiba timbul keberaniannya, pikirnya, “Masa aku
kalah terhadap orang hutan kecil saja?”
Seketika itu ia lalu lompat turun sambil kertak gigi.
Tetapi memang keadaau badannya tidak mengijinkan, ia
lalu jatuh bergulingan, hingga sekujur badannya dirasakan
semakin sakit. Lama ia duduk tanpa berdaya, baru bisa
merayap bangun lagi.
Tetapi orang hutan besar dan empat orang hutan kecil itu,
entah sudah ke mana larinya?
Dengan kedua tangan ia menunjang tanah ia bangkit,
tatkala tangannya menyentuh tanah ia merasakan bahwa
tanah itu sangat lembek, bukanlah batu seperti apa yang ada
di dalam lembah.
Semangatnya terbangun lagi, pikirnya, “Lembah ini
merupakan lembah batu tetapi di sini terdapat tanah lembek,
sudah tentu terdapat binatang berjiwa atau tumbuhan alam,
buah2 yang dibawa oleh empat orang hutan kecil itu, mungkin
didapatkan dari sini. Jalanan ini mungkin bisa menuju ke dunia
luar.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Karena hatinya merasa girang, ia telah melupakan rasa
sakit dibadannya. Dengan susah payah ia baru bisa berdiri,
setelah itu, ia menarik napas panjang, kemudian melanjutkan
perjalanannya.
Berjalan kira-kira sejauh empat lima tombak, tibalah di
tempat terbuka, bintang bertebaran di langit angin malam
meniup sepoi-sepoi tercampur bau harumnya bunga, ternyata
ia sudah keluar dari gua, dan di atas tanah rumputan.
Dengan penerangan bintang-bintang di langit samar-samar
tertampak sebuah rimba, tanah lapang yang tumbuh banyak
rumput itu ternyata sangat luas, sayang malam gelap, tidak
dapat melihat keadaan yang sebenamya di sekitar tempat
tersebut, hanya dapat diduga-duga dengan perasaannya
sendiri.
Dalam suasana yang amat sunyi tiba-tiba terdengar suara
bunyi orang hutan, empat orang hutan kecil lari mendatangi
se-olah2 rasa ketakutan, sehingga pada bersembunyi di
belakang Siang-koan Kie.
Siang-koan Kie masih belum mengetahui apa yang terjadi,
tiba-tiba terdengar suara siulan nyaring, empat orang hutan
kecil itu, tiba-tiba juga berbunyi cecuitan, agaknya menyahuti
suara siulan tadi.
Empat orang hutan
tangannya
memegang
mendorongnya berjalan.

kecil itu tiba-tiba mengulurkan
baju
Siang-koan
Kie
dan

Siang-koan Kie se-olah2 baru tersadar, ia menduga bahwa
orang hutan besar itu pasti sedang berkelahi, hingga empat
orang hutan kecil itu minta dirinya membantu.
Ia mendengar dengan seksama, benar saja samar-samar ia
dapat mengenali bahwa suara siulan itu memang keluar dari
mulut orang hutan besar itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suara itu semakin
memecahkan telinga.

lama

semakin

keras

tajam

dan

Empat orang hutan kecil isu juga perdengarkan suaranya
yang lebih nyaring, dua di antaranya memegang baju Siangkoan Kie, dan yang lain mendorong di belakangnya.
Dalam keadaan demikian, Siang-koan Kie dengan tanpa
debat menguasai dirinya sendiri berjalan maju terus, berjalan
kira kira sepuluh tombak lebih, tibalah di pinggir sebuah
rimba.
Tampak olehnya dua ekor orang hutan besar sedang
bertempur sengit, seekor adalah orang hutan berbulu emas
itu, yang lain adalah seekor orang hutan yang berbulu hitam,
satu sama lain sedang saling menyerang kadang-kadang juga
bergulatan.
Orang hutan berbulit mas itu, agaknya dapat melihat Siangkoan Kie, semangatnya tiba-tiba bangun sambil bersiul nyaring
orang hutan itu melompat tinggi ke atas, kemudian
berjumpalitan di tengah udara, lalu menggerakkan kedua
tangannya menyambar musuhnya.
Gerakan itu dilakukan sangat gesit dan ganas sekali, orang
hutan berbulu hitam itu bergerak mundur kemudian lompat
menerjang.
Dengan tanpa ampun lagi keduanya saling bentur dan
terguling di tanah.
Tetapi dua binatang buas yang ganas itu tidak berhenti
sampai di situ saja, satu sama lain menjambak bulu masingmasing dan bergulatan di tanah, agaknya tidak mau berhenti
sebelum ada salah satu yang mati.
Empat orang hutan kecil itu tiba-tiba melepaskan Siangkoan Kie dan menerjang serentak sehingga orang hutan hitam
dihujanni oleh kepalan tangan mereka.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang hutan hitam itu yang sedang bergulat mati-matian
dengan musuhuya, sudah tentu tidak dapat melayani
serangan orang hutan kecil itu.
Di luar dugaan, orang hutan hitam itu meskipun tidak
mendapat kesempatan menghadapi empat orang hutan kecil,
tetapi dengan mengandalkan kulit dan butunya yang tebal,
dengan secara tiba-tiba menggelinding ke belakang
menggempur empat orang hutau kecil itu. Empat orang hutan
kecil itu semuanya terguling ke belakang terjatuh sejauh lima
kaki.
Orang hutan besar yang berbulu mas ketika menyaksikan
empat orang hutan kecil diserang nampaknya sangat beringas,
selagi orang hutan hitam itu menyerang empat orang hutan
kecil, tiba-tiba digigitnya.
Siang-koan Kie yang berdiri dalam kegelapan menyaksikan
pertempuran dua ekor binatang itu, meskipun agak samarsamar tetapi juga dapat melihat gigi orang hutan yang berbulu
mas yang putih itu sedang menggigit lengan tangan orang
hutan berbulu hitam.
Gigitan itu mungkin menimbulkan rasa sakit hingga orang
hutan hitam itu memperdengarkan suaranya yang aneh,
kemudian bergulingan melepaskan gigitan lawannya,
kemudian melompat bangun dan lari kedalam rimba.
Orang hutan berbulu mas itu bangkit dengan tanpa
menghiraukan badannya sendiri yang sudah letih, buru-buru
lari menghampiri empat orang hutan kecil yang jatuh, lalu
dibimbingnya.
Siang-koan Kie mengetahui bahwa satu di antara empat
orang hutan kecil itu tidak sanggup berdiri, setelah
mengeluarkan suara cecuitan, lalu jatuh lagi. Ia segera maju
menghampiri untuk memeriksanya, ternyata kaki orang hutan
kecil itu patah tulangnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia lalu membimbing orang hutan kecil yang terluka itu,
diletakkannya di tanah, dengan kedua tangannya menguruturut kaki yang terluka kemudian ditariknya secara tiba-tiba,
orang hutan kecil itu menjerit, kemudian lalu berdiri.
Siang-koan Kie walaupun kepandaiannya sudah hilang,
tetapi pikirannya masih jernih, sehingga masih teringat
pelajaran untuk menyembuhkan tulang patah, maka dengan
cara yang sudah dipahaminya betul, tulang kaki orang hutan
kecil itu yang patah, dapat disembuhkannya dengan mudah.
Tetapi setelah ia menyembuhkan luka orang hutan kecil itu,
sewaktu ia hendak berdiri matanya tiba-tiba berkunangkunang sehingga jatuh pingsan.
Tatkala ia siuman kembali, apa yang dilihatnya telah
berubah semuanya.
Ia telah mendapatkan dirinya tidur di bawah sebuah pohon
yang besar, di bawah badannya ada tumpukan rumput kering
yang empuk, waktu daun pohon bergerak-gerak, ia dapat
melihat langit yang berwarna biru.
Harum bunga tertiup oleh angin menusuk hidungnya,
sehingga semangatnya merasa segar kembali.
Karena pikrannya sudah pulih
berusaha untuk duduk.

kembali, ia mencoba

Tetapi karena urat-urat separuh badannya sudah kejang, ia
tidak bisa bangun lagi. Bukan kepalang takut dan terkejut
Siang-koan Kie, karena dalam keadaan demikian, ia pasti akan
mati kelaparan di tempat itu.
Tiba•tiha ia telah teringat apa yang telah terjadi tadi
malam, maka ia lalu melengok dan melihat keadaan
sekitarnya.
Ternyata itu adalah sebuah rimba, di situ banyak tanaman
bunga beraneka wama, indahnya pemandangan alam di
tempat itu sesungguhnya sangat menawan hati.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiba-tiba matanya dapat melihat bekas tanda darah yang
merah, waktu ia mengawasi dengan seksama seketika itu ia
menjerit karena terkejut.
Bekas tanda darah itu terpisah dengan tempat ia tidur, kirakira empat lima tombak jauhnya. Di dekat tanda darah itu,
terdapat banyak bulu berwarna mas, beberapa potong lengan
tangan dan kaki berserakan di antara bulu mas itu.
Sepintas kilas saja, ia sudah dapat mengenal bahwa
potongan lengan dan tubuh itu adalah bangkai orang hutan
kecil, maka seketika itu pikirannya merasa terharu.
Dengan empat ekor orang hutan kecil itu, ia sudah bergaul
hampir setengah bulan lamanya meskipun hanya binatang
saja, akan tetapi ternyata sudah timbul saling mengerti.
Selagi dalam keadaan demikian, tiba-tiba terdengar suara
siulan panjang, sebentar kemudian seekor orang hutan
berbulu hitam, sudah berada di depan matanya.
Di lengan kiri orang hutan itu, masih tampak luka bekas
tanda gigitan, sehingga ia dapat segera mengenali bahwa
orang hutan hitam itu adalah orang hutan yang tadi malam
telah bertempur sengit dengan orang hutan berbulu mas itu.
Siaug-koan Kie juga tidak tahu orang hutan berbulu hitam itu
hendak berbuat apa terhadap dirinya, tetapi ia mengerti
bahwa pada saat itu ia sendiri sudah tidak mempunyai
kekuatan sedikitpun juga untuk memberi perlawanan.
Orang hutan hitam itu perlahan-lahan mengulur tangannya
yang besar, tampak tegas kuku jarinya yang tajam bagaikan
belati, tangan perlahan-lahan meraba muka Siang-koan Kie.
Pemuda itu tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya menghela
napas sambil mengeluh, kemudian memejamkan matanya.
Ia hanya dapat merasakan bahwa tangan orang hutan yang
penuh bulu itu, sejenak meraba mukanya, kemudian tubuhnya
dipondong dan dibawa lari……….

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

-odwoBab 11
PADA saat itu, Siang-koan Kie sudah tidak bisa bergerak
sama sekali, hanya lehernya yang masih bisa digerakkan,
sekalipun ia ingin berontak tetapi juga sudah tidak bias lagi,
maka terpaksa membiarkan dirinya dibawa lari.
Ia merasa seperti dibawa lari ke dalam rimba yang lebat,
tiba tiba dirasakan sudah berhenti, telinganya segera
mendengar suara seorang wanita yang agak serak, “Apa yang
kau dukung?”
Di dalam hutan belukar seperti itu, mendadak mendengar
suara manusia, sudah tentu menimbulkan perasaan heran
Siang-koan Kie, sebelum dapat kesempatan untuk mengetahui
siapa orangnya yang berbicara tadi, tiba-tiba terdengar suara
cecuitan yang keluar dari mulut orang hutan itu, kemudian ia
merasakan tubuhnya dipondon oleh satu tangan dan tangan
yang lain digunakan untuk memanjat tiang pohon, kemudian
orang hutan itu meloncat ke atas, lalu turun lagi ke suatu
tempat yang terdapat banyak cabangnya.
Siang-koan Kie merasa di tempat gelap, agaknya sedang
memasuki sebuah rumah.
Orang hutan itu dengan sangat hati-hati meletakkan tubuh
Siang-koan Kie, kemudian membalikkan badannya dan duduk
di satu sudut.
Siang-koan Kie perlahan-lahan menggerakkan lehernya,
matanya mengawasi keadaan di sekitarnya, ternyata itu
merupakan sebuah kamar yang terbuat dari bambu dan rotan,
di sebuah tempat tidur yang terbuat dari rotan, nampak duduk
seorang perempuan setengah tua.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pakaian perempuan itu nampaknya sudah sangat tua
sekali, di beberapa bagian sudah koyak sehingga tampak kulit
tubuhnya.
Dari potongan raut mukanya, samar-samar masih dapat
menunjukkan bahwa perempuan itu di masa mudanya pasti
berparas cantik, tetapi sekarang, paras itu nampak pucat
kuning dan banyak keriputnya, ibarat kembang yang sudah
mulai layu, tetapi kulit badannya putih sekali.
Perempuan setengah tua itu setelah melihat Siang-koan
Kie, entah terkejut atau girang ia ternganga mengawasinya
beberapa saat, kemudian baru berkata sambil menghela
napas, “Apakah kau dipukul luka olehnya?”
Oleh karena dalam kamar itu hanya ia dan orang hutan itu,
maka yang dimaksudkan oleh perempuan itu tentunya orang
hutan berbulu hitam itu.
Ia lalu menjawab sambil menggeleng-gelengkan kepala,
“Aku telah dipukul jatuh dari atas gunung oleh seorang
musuh, untung aku terjatuh ke dalam danau sehingga tidak
terluka, tetapi urat2 dan bagian dalam tubuhku sudah terluka
parah, sedikitpun tidak ada hubungan dengan dia……..”
Pembicaraan dua orang itu, setengah dimengerti dan
setengah tidak oleh orang hutan berbulu hitam itu, ia berdiri
dan berbunyi cecuitan dua kali.
Perempuan
setengah
tua
itu
tersenyum,
juga
mengeluarkan suara seperti orang hutan itu kemudian orang
hutan itu tiba-tiba melompat turun.
Siang-koan Kie sangat heran menyaksikan kejadian itu,
maka lalu bertanya, “Apakah nona mengerti kata-katanya?”
Perempuan setengah tua itu mukanya nampak sedikit
merah, ia berkata sambil menghela napas, “Aku sudah tua, di
dalam rumah bambu di atas pohon ini, aku telah
menyembunyikan diriku sudah duapuluh tahun lamanya……..”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Apa? Di sini kau sudah berdiam duapuluh tahun lamanya?”
berkata Siang-koan Kie terkejut.
Perempuan itu menundukkan kepala, kemudian dengan
perlahan-lahan mengangkat lagi kepalanya dan berkata,
“Tempat ini jarang diinjak oleh manusia, dengan binatang
orang hutan itu aku sudah berkawan duapuluh tahun lamanya,
duapuluh tahun bagi usia remaja seorang gadis, alangkah
indah dan pentingnya……..”
Ia berhenti sejenak, kemudian berkata pula, Tetapi
sekarang, dalam hidupku ini, sudah sulit untuk meninggalkan
tempat terasing ini kalau kuceritakan, mungkin kau akan
merasa heran, di sini aku bukan saja sudah berkawan dengan
orang hutan itu selama duapuluh tahun, bahkan……….”
Siang-koan Kie adalah seorang cerdik, ia sudah dapat
mengerti bahwa perempuan itu tidak dapat melanjutkan katakatanya tentunya mempunyai suatu pengalaman pahit yang
malu untuk dikeluarkan, jiwa besarnya mendadak bergelora,
dengan melupakan dirinya yang terluka, ia masih berkata,
“Badanku sudah terluka, sekalipun tidak terluka lagi,
barangkali juga aku tidak bisa hidup lebih lama lagi, andaikata
nona memerlukan bantuanku……..”
Tiba-tiba teringat dirinya tidak bisa bergerak, bagaimana
dapat membantu orang, maka lalu berkata pula sambil
menghela napas, “Sayang aku sudah terluka parah, sehingga
tidak bisa bergerak.”
Perempuan itu tiba-tiba tersenyum, kemudian berkata,
“Aku masih ingat sewaktu aku masih kecil, ibu sering
memanggilku A Lian, di sini kecuali orang hutan hanya aku
seorang saja yang merupakan manusia, jangan dikata
badanmu terluka parah, tidak dapat menolong aku, sekalipun
kau bisa menolong, tetapi aku juga tidak mau meninggalkan
tempat ini……..”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia menghela napas panjang, lalu mengawasi atap rumah
yang terbuat dari rotan, air mata mengalir bercucuran, dengan
suara sangat sedih ia melanjutkan ceritanya, “Pada kira-kira
duapuluh tahun berselang, waktu itu kalau tidak salah aku
baru berusia delapanbelas tahun, pada suatu hari di waktu
tengah hari, dalam kampung di mana aku tinggal, tiba-tiba
kedatangan seekor binatang harimau yang sangat buas, yang
sudah melukai sepuluh lebih orang kampung sehingga
penduduk kampung itu semua ketakutan dan menutup rapat
pintu masing-masing, binatang piaraan sudah tentu tidak
dihiraukannya lagi, sehingga semua dimakan habis oleh
harimau itu. Selanjutnya, binatang itu sering muncul di dalam
kampung, melukai atau makan manusia dan binatang,
sehingga penduduk di situ tidak ada yang berani keluar,
ladang-ladang terbengkalai, hubungan dengan dunia luar seolah2 terputus, sedang simpanan ransum dalam rumah sudah
mulai habis. Sedang semua penduduk kampung berada dalam
keadaan gelisah dan putus asa, tiba-tiba muncul seekor orang
hutan hitam, lalu bertempur dengan harimau itu di kampung
kita……..”
Siang-koan Kie menyela, “Ya, tentunya orang hutan hitam
itu telah menyingkirkan satu bahaya besair bagi penduduk
kampungmu, dan orang penduduk dalam kampung itu, karena
rasa berterima kasih, lalu kau……..”
Tiba-tiba ia merasa bahwa ucapan selanjutnya kurang
pantas, maka buru-buru menutup mulut.
Perempuan itu tertawa menyeringai, lalu berkata, “Ayahku
mempunyai kedudukan baik di kampung itu, sekalipun
penduduk dalam kampung mempunyai pikiran demikian, juga
tidak berani mengusulkan. Tetapi waktu itu karena tertarik
oleh perasaan heran, aku tetah keluar, hendak menyaksikan
orang hutan yang berani menempur harimau itu. Tak
kusangka bahwa perasaan ingin tahu yang mendorong hatiku
itu, telah menciptakan suatu tragedi yang menyedihkan.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siang-kuan Kie menarik napas perlahan lalu berkata,
Pengalaman nyonya ini juga merupakan suatu pengalaman
yang sangat menyedihkan……..”
Tiba-tiba ia berkata lagi dengan suara agak keras, “Nyonya
sudah bertahan sampai duapuluh tahun lamanya, harap
nyonya suka sabar lagi beberapa hari, nanti setelah lukaku
sembuh, mungkin dapat membantu supaya nyonya bisa
berkumpul lagi dengan keluargamu.”
Perempuan itu menhgeleng-gelengkan kepalanya dan
berkata sambil tertawa, “Sekalipun kau dapat memikirkan
suatu akal supaya aku bisa keluar dari sini, tetapi aku juga
tidak suka meninggalkan tempat ini lagi, sudah duapuluh
tahun lamanya aku menjadi isteri orang hutan, bagaimana ada
muka untuk menemui ayah bundaku lagi?”
Siang-koan Kie menghela napas dan berdiam. Perempuan
itu berkata pula sambil tersenyum, “Kejadian yang sudah lalu
biarlah tinggal lalu, untuk apa kita memikirkan dan membuat
sedih masa yang sudah lalu? Biarlah semna itu tinggal menjadi
suatu dongeng yang akan tinggal bagi anak cucu kita.
Sekarang aku hendak masak sedikit untukmu.”
Setelah itu perempuan itu turun dari tempat tidurnya.
Dari pembicaraan perempuan itu Siang-koan Kie dapat
menduga bahwa nyonya itu tentunya dari keluarga terpelajar
baik, ia merasa sangat terharu atas pengalaman perempuan
itu, sehingga melupakan dirinya sendiri yang terluka parah.
Gaun perempuan itu sudah banyak yang koyak, ia
mengambil sepotong benda yang digunakan untuk menutup
badannya lalu berjalan keluar.
Dari dalam sebuah keranjang rotan, dia mengeluarkan
sepotong daging rusa yang sudah kering.
Siang-koan Kie meneguk air liur melihat daging rusa itu,
rasa lapar perutnya semakin menjadi-jadi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Perempuan itu bersenyum dan berkata, “Sudah tiga tahun
lamanya aku tidak makan nasi, setiap hari aku makan buahbuahan. Kebiasaan itu telah membuat aku malas, sehingga
daging rusa ini aku juga malas untuk memakannya. Hari ini
kebetulan kedatangan tetamu, maka aku ingin menyalakan api
lagi dan menyuguhkan daging ini untukmu……..”
Ia berdiam sejenak, lalu berkata pu1a, “Di dalam hutan
belukar sulit untuk mendapatkan barang hidangan yang enak,
harap kau suka memaafkan.”
“Nyonya tidak perlu capai hati, aku yang terjatuh dalam
jurang ini, sudah setengah bulan lamanya, biasa dengan
makan buah-buahan, sesungguhnya tidak berani mengganggu
merepotkan diri nyoaya.”
Perempuan itu tidak berkata apa-apa, ia berjalan ke pintu,
mengambil sebuah arit dan sebuah batu gunung serta
segumpal kapas, yang diletakkan di atas batu, kemudian arit
besi itu diketuk-ketukan di atas batu, timbullah letikan batu
api dan sebentar kemudian kapas itu terbakar.
Nyonys itu mengambil rumput kering sebagai bahan bakar,
lalu mengambilnya pula sebuah kuali besi diletakkan di atas
perapian.
Siang-koan Kie yang menyaksikstn itu diam-diam merasa
khawatir, apabila api itu membakar tiang pohon pasti akan
menimbulkan kebiakaran.
Perempuan itu agaknya dapat menduga apa yang dipikir
oleh Siang-koan Kie, lalu berkata, “Kau jangan khawatir di
sekitar rumah ini, semua ditunjang oleh batu besar, tidak akan
menimbulkan kebakaran.”
Siang-koan Kie menganggukkan kepala, sambil tersenyum
ia mencoba mengerahkan kekuatannya, di beberapa bagian
uratnya, dirasakan semakin sakit, sehingga ia tidak berani
mencoba lagi, dalam hatinya berpikir, “Habislah! Urat yang
terluka ini nampaknya semakin berat, mungkin sudah tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dapat disembuhkan lagi, kalau begini lebih baik aku lekas mati
saja!”
Perempuan itu melihat Siang-koan Kie berdiam, lalu
melanjutkan ceritanya, “Orang hutan hitam itu setelah
membinasakan binatang harimau yang mengganas, kejadian
itu telah tersiar luas, aku yang baru berusia delapan be1as
tahun, karena tertarik oleh perasaan heran, aku keluar untuk
melihat orang hutan itu, tak tersangka orang hutan itu setelah
melihat diriku, tiba-tiba timbul kebuasannya, ia menerobos di
antara orang banyak dan merampas diriku, dengan digendong
di atas badannya, aku dibawa lari.”
“Apakah penduduk dalam kampung itu tidak ada yang
berani mengejar?”
“Binatang itu tenaganya luar biasa, larinya bagaikan
terbang,
bagi
orang
biasa
bagaimana
dapat
mengejarnya……..”
Tiba-tiba ia tertawa menyeringai lalu berkata pula, “Ia
sudah menjadi suamiku duapuluh tahun lamanya, sekarang
sudah tidak harusnya demikian memaki dirinya.”
Siang-koan Kie dapat kenyatatau bahwa dalam senyumnya
perempuan setengah tua itu mengandung perasaan sedih
yang tidak dapat diutarakan dari mulutnya, maka ia berkata
untuk menghiburnya, “Nasib peruntungan seseorang,
siapapun tidak dapat menduganya, nyonya sudah bertahan
sampai duapuluh tahun lamanya, mudah-mudahan masih
bersabar lagi……..”
“Kalau aku mau mati, niscaya sudah lama aku mati, tetapi
aku masih hidup sampai hari ini, aku sudah melupakan segala
siksaan dan nistaan lahir dan batin, segala rasa malu sudah
kulupakan.”
Dengan perlahan ia menghela napas kemudian berkata
pula, “Enam tahun setelah ia membawaku kemari, aku
melahirkan seorang bayi, aku tidak takut akan kau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tertawakan, anak itu meskipun tidak mirip manusia atau orang
hutan, tetapi biar bagaimana adalah darah dagingku sendiri,
lantaran anak itu, aku telah bersusah payah mendidik ia
berbicara dan berpakaian, sedikit banyak aku masih
mengharap supaya ia meninggalkan bekas-bekasnya sebagai
manusia……..”
“Belum habis bicaranya, tiba-tiba terdengar suara aneh
yang tidak mirip dengan manusia, suara itu se-olah2 suara
seorang anak memanggil ibunya, tidak berapa lama, satu
makhluk setinggi empat kaki yang badannya tumbuh bulu
hitam pendek, bentuknya agak mirip dengan orang hutan
tetapi bukan orang hutan, bagian bawah batas pinggang
makhluk itu tertutup dengan rumput kering, tangan kanannya
membawa seekor kelinci, tangan kirinya membawa satu buah
berwarna merah. Ia berdiri menyandar di sisi badan
perempuan itu,
tetapi dua matanya yang besar dan bundar
terus mengawasi Siang-koan Kie, sikapnya menunjukkan rasa
herannya.
Perempuan itu perlahan-lahan mengangkat tanganya
mengelus-elus kepala makhluk aneh itu seraya berkata, “Lekas
memberi hormat kepada paman itu.”
Makhluk itu meletakkan barang-barang di kedua
tangannya, lalu membereskan rumput yang menutupi bagian
bawahnya kemudian menghampiri Siang-koan Kie, dan
menjatuhkan dirinya sambil mengeluarkan perkataan yang
agak susah, “Paman.”
Siang-koan Kie yang badannya sudah kejang, tidak bisa
bangun hanya mulutnya saja yang berkata, “Jangan, jangan!
Lekas bangun.”
Makhluk yang setengah manusia setengah orang hutan itu
berpaling mengawasi nyonya itu, tidak berani berdiri, setelah
nyonya itu mengangukkan kepala sambil berkata, “Paman
suruh kau bangun, bangunlah!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia baru berdiri lagi.
Siang-koan Kie diam-diam memuji, ia sungguh tidak
menduga bahwa makhluk aneh itu, begitu berbakti terhadap
ibunya.
Perempuan itu berkata pula, “Anak ini sejak masih kecil
sudah menjelajah di hutan dan dalam gunung ini, setiap hari
hanya makan buah-buahan, sehingga sekujur badannya
tumbuh bulu hitam, apalagi waktu ia di rumah sedikit sekali,
meskipun dengan susah payah aku mendidik bicara, tetapi
sayang, apa yang digunakan tidak banyak, sehingga mudah
terlupa, sampai saat ini, hanya dapat mengeluarkan beberapa
patah kata saja, satu-satunya kelakuan yang membesarkan
hatiku, ialah baktinya terhadap aku.”
Bulu hitam yang tumbuh di atas tubuh bocah ini, barangkali
disebabkan karena makan buah- buahan dan dedaunan,
apabila diganti makan nasi, bulu itu mungkin akan rontok
sendirinya.”
Bagi aku sudah tak mempunyai keinginan apa-apa, aku
hanya mengharap supaya lukamu lekas sembuh, dan kalau
kau nanti berlalu dari sini, bawalah dia, apabila bisa rontok
bulunya, itu adalah keberuntungannya, harap kau suka
memberi didikan kepadanya. Apabila ia tidak bisa hilang
bulunya, tolong kau antarkan dia ke rumah kakeknya, biar ia
tinggal di sana walaupun hanya menganggur saja.”
Siang-koan Kie diam-diam berpikir, “Lukaku sendiri
mungkin tidak dapat disembuhkan, dalam hidupku ini mungkin
sudah tidak bisa keluar dari tempat ini, lagi……..”
Tiba-tiba ia teringat kepada diri orang tua aneh yang
meniup seruling di kuil tua itu kalau ia mengetahui dirinya
terluka, mungkin dapat menolongnya.
Karena memikirkan orang tua, ia lalu berkata kepada
perempuan setengah tua itu, “Ada satu hal, aku ingin minta
pertolongan kepada saudara ini, untuk menyampaikan……..”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aku sebetulnya hendak memberikan nama kepadanya
dengan memakai she kakek luarnya, tapi kemudian berpikir, ia
bukan keturunan keluarga Ong, ayahku adalah seorang
terpelajar apabila mengetahui urusan ini, pasti merasa tidak
senang, setelah kupikir bolak-balik aku lalu menberi nama
padanya Wan Hauw, Wan berarti memakai nama ayahnya
yang merupakan satu binatang orang hutan, Hauw berarti
berbakti, untuk selanjutnya kau boleh panggil padanya Wan
Hauw saja.”
“Nama ini sesungguhnya sangat tepat.”
“Di masa muda, aku pernah belajar surat beberapa tahun,
maka aku mengenal sedikit mata surat, harap jangan kau
tertawakan.”
“Sekarang ini lukaku sangat parah, keluar sendiri dari
tempat ini, sudah tentu tidak mungkin lagi. Tetapi aku masih
mempunyai sedikit harapan, yang perlu minta bantuan
anakmu.”
“Jikalau kau memerlukan dia, kau perintahkan saja,
kecerdikan anak ini meski belum dapat dibandingkan dengan
manusia biasa, tetapi ia sangat jujur, asal urusan yang kau
perintahkan kau ceritakan saja dengan jelas, tidak nanti bisa
salah.”
“Tetapi entah ia mengerti bahasa manusia atau tidak?”
“Kau jangan cemas dulu, nanti setelah aku masak daging
ini dan setelah kau makan kenyang, kau boleh perintahkan
kepadanya.”
Siang-koan Kie tidak berkata apa-apa lagi, ia memikirkan
mencari kata-kata yang tepat untuk menulis surat kepada
orang tua yang meniup seruling itu.
Tidak berapa lama, daging rusa yang dimasak oleh nyonya
itu sudah masak, lalu disuguhkan kepadanya untuk
dimakannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siang-koan Kie juga tidak main-main lagi, ia makan daging
rusa itu dengan lahapnya.
Makhluk aneh itu terus berdiri dengan tenang di samping
ibunya.
Siang-koan Kie setelah makan daging rusa, badannya agak
segar, ia minta kepada perempuan setengah tua itu
potongan2 arang kayu, lalu merobek bajunya sendiri,
kemudian menulis surat yang bunyinya sebagai berikut,
“Boanwpee didorong kedalam jurang oleh orang berbaju hijau
yang sangat buas itu, kini separuh badan boanpwee sudah
kejang, tidak bisa bergerak. Jika locianpwee sekiranya ada
daya untuk menyembuhkan, harap menulis sepucuk surat dan
memberikan kepada pembawa surat ini.”
Perangainya yang keras, meskipun berada dalam kesulitan,
masih tidak mau minta pertolongan kepada orang tua itu
untuk turun tangan menyembuhkan lukanya, dalam suratnya
itu juga tidak mau menyebut orang tua itu sebagai suhu.
Sehabis menulis ia panggil Wan Hauw, dengan jari tangan
ia membuat peta gambar letaknya kuil tua itu dan bentuk
loteng yang ditinggali oleh orang tua aneh itu. Di samping itu,
ia juga menjelaskan dengan kata-kata yang kiranya dapat
dimengerti oleh Wan Hauw.
Wan Hauw walaupun sudah diajar berbicara oleh ibunya,
tetapi masih belum begitu paham kata-kata Siang-koan Kie
untung ibunya memberi penjelasan dengan bahasa orang
hutan, hingga dapat dipahami oleh Wan Hauw seluruhnya.
Selesai memberikan pesannya, Siang-koau Kie sudah mandi
keringat.
Perempuan setengah tua itu dengan penuh kasih bagaikan
seorang ibu terhadap anaknya, menyeka keringat di jidat
Siang-koan Kie, lalu berkata, “Siangkong jangan khawatir,
bocah ini meski bentuknya setengah manusia dan setengah
orang hutan, tetapi mempunyai kepandaian luar biasa, bukan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

saja bisa berlari-larian di atas bukit yang terjal, tenaganya
juga luar biasa besarnya, dibanding dengan ayahnya, masih
jauh lebih kuat. Tidak perduli bagaimana sulit dan bahaya
jalan gunung itu, mungkin tidak menyulitkannya.”
“Jikalau aku bisa sembuh dari lukaku, aku pasti akan
membawa ia keluar dari sini, dan kupandang ia sebagai
saudaraku sendiri, sedapat mungkin aku akan melindunginya.”
Di wajah perempuan yang sudah banyak keriputnya itu,
telah menunjukkan senyum girang, katanya, “Siangkong sudi
melindunginya, sekalipun aku terkubur di gunung yang sunyi
ini, aku juga merasa puas……..”
Entah karena terlalu girang, atau karena teringat masa
lampau yang menyedihkan itu, waktu berkata demikian, kedua
matanya sudah mengembang airmata. Kemudian ia berkata
pula, “Kesehatan siangkong mash belum pulih, tidak boleh
terlalu banyak menggunakan pikiran, sebaiknya beristirahat
dengan pikiran tenang.”
Sementara itu, Wan Hauw selalu medengarkan
pembicaraan mereka dengan mata terbuka lebar, mendadak ia
berkata, “Ibu, aku hendak pergi!”
Kata-katanya itu masih tercampur suara binatang orang
hutan, sehingga didengarnya sangat tidak enak, namun masih
dapat dimengerti.
Perempuan itu perlahan-lahan mengangkat tangannya dan
menepak pundak anaknya seraya berkata, “Anak, kau dapat
berjumpa dengan siangkong, itu adalah rejekimu, biar
bagaimana, kau harus berusaha menyampaikan surat itu. Nah,
lekas berangkat dan lekas pulang, supaya ibumu tidak selalu
memikirkan.”
Wan Hauw bangkit, setelah bersiul panjang ia lalu
melompat turun, sebentar sudah menghilang ke dalam rimba.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siang-koan Kie yang menyaksikan gerakan Wan Hauw,
ternyata lebih gesit dari padanya sendiri waktu masih belum
terluka, sehingga diam-diam merasa kagum.
Perempuan setengah tua itu mengambil kelinci dan buah
yang ditinggalkan oleh Wan Hauw katanya sambil tertawa,
“Kelinci ini aku nanti akan keringkan untuk kau makan
pelahan-lahan, hanya buah ini aku belum pernah melihatnya,
baunya harum, tetapi boleh dimakan atau tidak? Ah ! aku tadi
lupa menanyakannya.”
“Nyonya sudah repot setengah harian, juga sudah
waktunya untuk beristirahat, hanya kamar ini……..” berkata
Siang-koan Kie sambil bersenyum.
Perempuan itu agaknya sudah dapat menangkap pikiran
Siang-koan Kie, ia tertawa hambar, kemudian berkata, “Di
dalam hutan belukar seperti ini, bagaimana kita dapat
mengikuti peraturan yang tidak memperbolehkan laki-laki dan
perempuan dalam satu kamar, harap siangkong beristirahat
dengan tenang, jangan pikirkan soal itu!”
Siang-koan Kie diam-diam berpikir, “Itu memang benar,
dalam hutan belukar seperti ini, bagaimana kita dapat
mengindahkan peraturan itu.”
Ia memejamkan matanya untuk beristirahat.
Karena menggunakan tenaga terlalu banyak, Siang-koan
Kie sangat letih, sehingga tidak lama sudah tertidur.
Ketika ia sadar, hari sudah malam, ia lihat di satu sudut
dalam kamar itu, di atas sebuah batu, ada perapian untuk
menerangi kamar itu.
Orang hutan berbulu hitam itu, entah sejak kapan sudah
pulang, ia duduk menyandar di pinggir pembaringan,
nampaknya sudah tidur. Sedangkan perempuan setengah tua
itu, tidur di pembaringan sambil membuka mata, mengawasi
langit kamarnya, entah apa yang sedang dipikirkan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Di dalam hutan belakar yang belum pernah didiami oleh
manusia, di dalam sebuah rumah panggung, di situ telah
hidup seorang wanita yang hidup sebagai suami isteri dengan
orang hutan, ini berarti bahwa wanita ini telah mengubur
masa remajanya yang sangat berharga. Tidaklah heran kalau
dalam usianya yang baru kurang lebih empat puluh tahun,
tetapi sudah seperti seorang nenek2.
Siang-koan
Kie
memandang
sejenak,
buru-buru
memejamkan matanya lagi, pura2 tidur. Ia khawatir
perbuatannya itu diketahui oleh perempuan itu, sehingga
menimbulkan kedukaannya.
Entah berapa lama telah berlalu, selagi hendak tidur lagi,
tiba-tiba terdengar suara bunyi orang hutan. Siang-koan Kie
masih kenali suara itu, kedengarannya mirip dengan suara
orang hutan berbulu emas itu, sehingga terkejutlah ia.
Waktu ia membuka matanya, orang hutan hitam yang
duduk menyandar di pinggir pembaringan itu tiba-tiba
melompat bangun dan lari turun dari atas panggung.
Perempuan setengah tua itu juga bangun duduk. Ia
mengawasi berlalunya orang hutan itu sambil menghela napas
perlahan seraya berkata, “Apakah siangkong belum tidur?”
Siang-koan Kie pura2 masih tidur, ketika mendengar
pertanyaan perempuan itu, baru berpaling dan menanya
sambil tertawa, “Nyonya ada keperluan apa?”
Perempuan
itu
perlahan-lahan
turun
dari
atas
pembaringannya, ia berjalan menghampiri Siang-koan Kie,
kemudian berkata sambil menghela napas, “Suara orang hutan
itu tadi, apakah siangkong dengar?”
“Dengar!” jawab Siang-koan Kie singkat.
“Orang hutan bukan seperti manusia, mereka suka
berkelahi dengan sesamanya. Ah! Meski sudah berulang kali
aku memberi nasehat kepadanya, tetapi dia……..” berkata

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

perempuan itu dengan suara duka, tetapi ia agaknya merasa
kurang tepat dengan perkataannya itu, maka untuk sejenak ia
berdiam, kemudian berkata pula, “Kata-kataku terlalu cepat,
mungkin siangkong tidak dapat dengar dengan terang………”
“Bukankah nyonya maksudkan bahwa mereka sering
berkelahi dengan sesamanya?”
“Benar, dalam gunung depan tempat kita ini, berdiam
beberapa ekor orang hutan yang berbulu kuning emas, entah
apa sebabnya, sering berkelahi dengan suamiku ini.
Perkelahian itu kadang sampai menimbulkan luka2 di
badannya. Suamiku ini meski selalu dengar kata-kataku, tetapi
dalam soal ini, ia tidak mau mendengarkan nasehatku.”
“Nyonya, di dalam daerah pegunungan ini, entah ada
berapa banyak orang hutan?”
“Aku berdiam di sini sudah duapuluh tahun lamanya,
kecuali itu beberapa ekor orang hutan berbulu kuning emas,
belum pernah melihat orang hutan lainnya.”
Siang-koan Kie semakin heran, pikirnya, “Dalam hutan
belukar ini, kalau memang benar tidak terdapat banyak orang
hutan, sudah tentu tidak bisa timbul perkelahian karena
berebut makanan; dua ekor orang hutan itu kecuali warna
bulunya yang berlainan, agaknya masih merupakan binatang
sejenis, entah apa sebabnya sering berkelahi. Dalam soal ini
pasti ada sebab musababnya. Sayang lukaku berat sehingga
tidak bisa bergerak, kalau tidak, aku tentu akan berusaha
untuk mendamaikan mereka……..”
Perempuan itu melihat Siang-koan Kie berdiam saja,
agaknya sedang berpikir, lalu melanjutkan kata-katanya, “Aku
juga sudah beberapa kali menanyakan kepada suamiku,
mengapa berkelahi dengan sesamanya……..”
“Bagaimana jawabnya?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Setiap kali aku menanyakan soal itu, ia selalu gelagapan,
tidak segera menjawab, agaknya kesulitan besar yang tidak
bisa dijelaskan……… Walaupun antara manusia dengan orang
hutan berlainan jenisnya, tetapi biar bagaimana dia sudah
menjadi suamiku, kalau dia tidak suka menerangkan, aku juga
tidak memaksanya.”
Timbul perasaan curiga dalam hati Siang-koan Kie, tetapi ia
merasa tidak enak untuk menanyakan lebih lanjut, maka ia
hanya berkata, “Ucapan nyonya memang benar.”
Perempuan itu memejamkan matanya berpikir setjenak,
lalu berkata pula, “Menurut pikiranku, dalam soal ini pasti ada
sebabnya, tunggu nanti setelah Hauw jie pulang, akan
kusuruh dia menyelidiki diam-diam.”
Siang-koan Kie timbul pula perasaan herannya, maka ia lalu
bertanya, “Apa? Apakah Wan Hauw belum pernah membantu
ayahnya yang berkelahi dengan orang hutan berbulu emas
itu?”
“Tidak, ia mempunyai kekuatan tenaga luar biasa besarnya,
jika ia membantu ayahnya memukul orang hutan berbulu
emas itu, orang hutan berbulu emas itu pasti bukan
tandingannya.”
Siang-koan
sesungguhnya
suaminya tidak
itu
datang
keadaannya?”

Kie diam-diam berpikir, “Nyonya ini
mempunyai ketabahan luar biasa, jika
ada di rumah, dan orang hutan berbulu emas
mencari,
bukankah
sangat
berbahaya

Perempuan itu melihat Siang-koan Kie diam saja,
pikirannya sudah memikirkan kesedihannya, maka ia berkata
dengan lemah lembut, “Siangkong tidak usah terlalu sedih,
untuk saa memikirkan urusan yang sudah menjadi
kenyataan?”
“Nyonya jangan salah mengerti,
memikirkan tentang mati hidupnya……..”

aku

sudah

tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara geraman yang
keluar dari mulut orang hutan, di waktu malam yang sunyi,
suara itu kedengarannya semakin mengerikan sehingga
membuat bulu badan pada berdiri.
Perempuan itu menghela napas, lambat-lambat berjalan
menuju ke pintu kamar, kepalanya melongok keluar.
Dalam hati Siang-koan Kie berpikir, “Geramnya saja begitu
menakutkan kedengarannya, kiranya pertempuran kali ini pasti
lebih dahsyat, sayang lukaku terlalu berat, sehingga tidak
dapat memisahkannya.”
Suara geraman orang hutan itu, berlangsung terus tidak
berhentinya, bahkan semakin lama semakin nyaring, kira.kira
seperempat jam lamanya, suara itu baru sirap.
Setelah suara itu sirap, tidak berapa lama, orang hutan
berbulu hitam itu balik kembali dalam keadaan penuh luka di
badannya.
Perempuan itu mengambil seikat rumput kering untuk
membersihkan darah yang ada di badannya, sebentarsebentar berbicara dengan menggunakan bahasa orang hutan.
Siang-koan Kie sedikitpun tidak mengerti apa yang dikatakan,
ia hanya dapat lihat orang hutan itu menundukkan kepala dan
diam saja, kiranya sedang diomeli oleh istrirya.
Kamar itu kembali berada dalam kesunyian, orang hutan
hitam itu sehabis melakukan pertempuran hebat nampaknya
keliwat lelah, sehingga tidak lama kemudian sudah tidur
dengan nyenyaknya.
Malam itu dilewatkan dengan tenang, esok hari hampir
lohor, Wan Hauw sudah kembali. Dalam keadaan masih penuh
keringat di badannya, ia sudah berseru memanggil ibunya,
kemudian melompat dan menghampiri Siang-koan Kie dan
menyerahkan sepotong kain putih.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kiranya orang tua aneh yang meniup sunling itu, juga sama
dengan Siang-koan Kie, yang menggunakan robekan kain
untuk membalas suratnya.
Di atas sepotong kain itu, terdapat tulisan yang berbunyi,
“Aku terima suratmu yang dibawa oleh orang hutan setengah
mannsia, sehingga aku tahu kau masih hidup, asal kau masih
belum putus nyawa, aku masih sanggup menolong.”
Setelah membaca surat itu, Siang-koan Kie tersenyum,
katanya kepada diri sendiri, “Orang tua ini sungguh tinggi
hati.”
Ia lalu membaca terus surat itu.
“Sayang aku siorang tua tidak bisa meninggalkan lotengku
ini untuk pergi menolong, malam ini jam tiga pagi, kau boleh
mendengarkan suara serulingku, yang akan menunjukkan
cara-caranya kau melatih ilmu kekuatan untuk menyembuhkan
lukamu, tetapi kau bisa memahami atau tidak, itu tergantung
peruntunganmu sendiri.”
Hanya itu saja yang ditulis oleh orang tua itu, di bawah
surat tidak ada tanda tangannya. Siang-koan Kie setelah
membaca habis suratnya, lalu diletakkan di samping, sedang
dalam hatinya diam-diam berpikir, “Menyembuhkan luka
dengan cara mendengarkan suara irams seruliug, ini benarbenar merupakan suatu hal yang ajaib, pengetahuanku
terhadap irama musik sangat terbatas, apabila aku tidak dapat
memahami, bukan saja berarti menyia-nyiakan waktu dan
usahanya, bagiku juga tidak ada faedahnya.”
Sesaat lamanya pikirannya merasa tidak keruan, ia merasa
seperti sudah tidak ada harapan bisa sembuh dari
lukanya……..
Perempuan setengah tua itu melihat kelakuan Siang-koan
Kie yang sedang membaca surat itu, tiba-tiba bersenyum dan
tiba-tiba mengkerutkan keningnya, sehingga dalam hati
merasa heran, ia lalu bertanya, “Apa yang dikatakan dalam

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

surat itu? Mengapa Siangkong sebentar girang dan sebentar
sedih?”
“Dalam surat ini ditulis suruh aku mendengarkan suara
irama serulingnya, dan kemudian menyembuhkan lukaku
sendiri, karena terhadap irama musik, pengetahuanku sedikit
sekali, aku khawatir tidak dapat memahami.”
Perempuan itn berpikir sejenak, lalu berkata, “Di masa
mudaku, kecuali belajar menjahit, aku juga gemar meniup
seruling, dalam hal ini mungkin aku dapat membantu
Siangkong……..” Berkata sampai di situ, tiba-tiba berhenti, ia
menunjukkan senyum getir, kemudian berkata pula, “Tetapi
sudah duapuluh tahun lamanya aku tidak meniup seruling,
mungkin sudah lupa!”
Siang-koan Kie menyaksikan perempuan itu menunjukan
sikap duka, ia tahu bahwa soal itu telah mengingatkan kembali
kejadian di masa lampau yang sangat menyedihkan hatinya,
maka lalu berkata sambil tertawa, “Nasib seseorang kaya
miskin, hidup atau mati, ditentukan oleh Tuhan, aku dapat
memahami suara seruling itu untuk menyembuhkan lukaku
atau tidak, sudah tidak kupikirkan lagi.”
Wan Hauw yang selama itu terus berliri di samping dengan
tenangnya, untuk mendengarkan pembicaraan Siang-koan Kie
dengan ibunya, se-olah2 mendengarkan dengan penuh
perhatian.
Tiba-tiba ia meloncat keluar, setelah berada di luar, tibatiba balik lagi dan berkata kepada ibunya, “Ibu, aku akan
segera kembali!”
Kata-kata itu meski diucapkan dengan mengandung suara
binatang, tetapi dapat didengar dengan tegas.
Siang-koan Kie memuji sambil tersenyum, “Anak ini sangat
cerdik, tidak beda dengan manusia biasa, hanya dalam waktu
dua hari dua malam, sudah dapat mengatakan perkataan
manusia.”

. Siang-koan Kie diam-diam berpikir.” “Setiap ia pulang dalam keadaan demikian. Siang-koan Kie menampak orang hutan itu terdapat banyak luka di badannya. ia berkata. nyonya harus menasehatinya supaya ia beristirahat lebih banyak. entah dengan cara bagaimana ia mengobati lukanya. selambatlambatnya dua hari.” Perempuan itu kembali melihat ia termenung. ia menyalakan api untuk memasak daging. orang hutan hitam itu juga sudah sadar. sehingga hatinya merasa tidak tega. diam-diam berjalan keluar pintu. nanti apabila lukaku sudah sembuh aku pasti akan mencari tahu dengan menggunakan obat apa ia menyembuhkan luka di badannya. apabila keinginanku itu tercapai. apabila aku dapat menyembuhkan lukaku. lalu pergi lagi entah ke mana.” Sementara itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. di rumah hanya mengaso sebentar. “Buat sekarang ini aku hanya mempunyai satu keinginan saja. dan toch masih keluar sendirian. tentunya itu adalah semacam obat daun-daunan atau akar2 yang sangat berharga apabila aku bisa mendapatkan dan kubawa di badanku. tetapi di waktu kembali. “Kalau hal itu benar. sementara itu Siang-koan Kie juga memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya. sekalipun aku mati juga akan mati dengan tenteram. “Luka di badannya masih belum rapat.com/ Perempuan setengah tua itu menunjukan senyum gembira. dan secepat-cepatnya satu hari ia pasti akan kembali. tidak boleh banyak bergerak. aku pasti akan bawa saudara ini berlalu dari sini. di kemudian hari mungkin aku dapat gunakan untuk menolong orang yang terluka. ia mengawasi kedua orang sejenak lalu berjalan keluar. ia berkata.” “Nyonya jangan khawatir. luka-luka di badannya juga sudah sembuh seluruhnya.

ia berikan kepada Siang-koan Kie seraya berkata. enak. memang enak sekali rasanya. ia petah2kan dengan belakang tangannya.” Dengan tidak malu-malu lagi. ia menyambutnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. Perempuan setengah tua itu membawa masuk daging kelinci yang sudah dimasak. “Setelah lukanya sembuh. Wan Hauw sudah balik lagi dengan membawa banyak buah-buahan. Daging yang masih segar itu. terang setelah ia memetik buah itu dari pohonnya. Seumur hidupnya Siang-koan Kie belum pemah melihat buah serupa itu.” Perlakuan mereka itu mengharukan hati Siang-koan Kie. Wan Hauw terhadap ia. “Siangkong makan dulu sedikit daging kelinci. sehingga dalam waktu sekejap saja ia sudah makan separuhnya. tetapi tidak berani makan. lalu dicucinya dengan air sungai. kemudian baru makan buah-buahan. Wan Hauw yang menyaksikan sikap Siang-koan Kie ini. Buah-buah itu semuanya masih segar dan di atasnya masih basah dengan air. “Enak. lalu berkata. entah dengan cara bagaimana harus membalas budi mereka. nampaknya sangat bersimpatik. . setelah selesai makan daging kelinci segera menyodorkan sebuah buahan berwarna marah. supaya nanti malam dapat mendengarkan suara irama seruling dengan pikiran jernih. agaknya merasa heran. ia lalu makan daging kelinci yang disuguhkan. di antaranya terdapat dua biji buah berwarna merah. ia diam-diam berpikir.com/ Tidak antara lama. setelah itu beristirahatlah dengan tenang.” Ia agaknya khawatir bahwa kata-katanya tidak dimengerti oleh Siang-koan Kie maka sehabis berkata.

segera mengambil lagi sebuah. Perempuan setengah tua itu menyaksikan hubungan dua orang yang sangat erat itu. ia juga tidak menghiraukannya lagi. “Hauw-jie balik!” Sebentar Wan Hauw benar saja sudah lari balik dan melompat naik ke dalam rumah. “Kau hendak ke mana?” bertauya sang ibu. enak sekali dimakannya. Dengan lahapnya buah besar itu sudah dimakan habis. “Kalau aku tidak makan buah ini. “Hauw-jie. Perempuan setengah tua itu tiba-tiba mengeluarkan suara bentakan keras.com/ Siang-koan Kie lalu berpikir.” Tiba-tiba ia locat keluar. dan diberikannya. bukankah akan menimbulkan kecurigaan mereka. selanjutnya tentu tidak akan berkelahi dengan ayah lagi. mengapa sering berkelahi dengan ayahmu?” Wan Hauw tiba-tiba melototkan sepasang matanya dan berkata. ia menarik tangan Wan Hauw seraya berkata. bahwa aku terlalu banyak pikiran?” Maka seketika itu buah itu dimakannya. Siang-koan Kie juga tidak malu-malu lagi. dalam hati merasa girang. Perempuan setengah tua itu menghampiri. .Tiraikasih Website http://kangzusi. buah itu dimakannya lagi. Wan Hauw yang menyaksikan buah itu sudah dimakan habis. tahukah kau beberapa ekor orang hutan berbulu emas itu. Ia merasa buah sangat manis. sehingga mulutnya selalu tersungging senyuman. sekalipun buah itu mengandung racun. “Aku akan pergi pukul mampus beberapa orang hutan itu.

“Hauwjie berjanji lain kali tidak berani lagi. aku melarang kau membantu ayahmu memukul orang hutan berbulu mas itu. jika dididik pelajaran ilmu silat.” Kemarahan perempuan itu mulai reda. gendonglah ibumu. “Kekuatan dan kecerdikan bocah itu sesungguhnya tidak dapat dibandingkan dengan manusia biasa.” Pikiran dan badannya mulai penat. mari kita berjalan-jalan.Tiraikasih Website http://kangzusi. pikirnya. pengetahuanku dalam irama musik yang memang sangat terbatas. mungkin lebih susah dimengerti. hari depannya pasti sangat gemilang. Wan Hauw berlutut di hadapan ibunya dan berkata.” “Sudah berulang kali aku beritahukan kepadamu. kemudian meloncat turun dari rumah panggung. sekarang harus beristirahat dulu. meski di belakang punggungnya menggendong ibunya. maka lalu memejamkan matanya dan lalu tertidur. dalam terkejutnya lalu berpikir.” Dengan tanpa menunggu jawaban Siang-koan Kie. “Siangkong nanti malam masih akan mendengarkan suara irama seruling untuk menyembuhkan lukamu. Siang-koan Kie menyaksikan gerakan Wan Hauw yang amat gesit dan cekatan. dan kini tidak dengar dari semulanya. dalam hati merasa kagum. ia sudah berkata lagi kepada anaknya. lalu berpaling dan berkata kepada Siangkoan Kie. sudah lama aku tidak keluar dari rumah ini.” . tiba-tiba terdengar suara irama seruliug mengalun masuk ke telinganya.” Wan Hauw lalu berjongkok untuk menggendong ibunya. “Celaka. “Hauw-jie.com/ “Aku hendak pukul mampus supaya mereka tidak akan berkelahi lagi dengan ayah. apa kau tidak ingat?” berkata sang ibu gusar. ia membimbing bangun anaknya. Entah berapa lama telah berlalu.

duduk di pembaringan sambil meniup seruling itu. ia segera dapat lihat perempuan setengah tua itu tangannya memegang sebatang seruling. Perempuan itu ketika melihat Siang-koan Kie membuka mata. “Sudah dua puluh tahun aku tidak meniup suling. ia memesut airmata di kedua pipinya. maka aku mendengarkannya sambil memejamkan mata untuk menikmati suaranya. tiba-tiba merasa tidak beres.Tiraikasih Website http://kangzusi. nampak duduk di sampingnya mendengarkannya dengan penuh perhatian.” . sudah tidak ada lagi gayanya seperti apa yang ditiup oleh orang tua aneh itu. sehingga membangkitkan rasa sedih yang mendengarkannya. kedengarannya sangat mengharukan. Sedangkan anaknya Wan Hauw. -odwoBab 12 DENGAN penuh perhatian Siang-koan Kie mendengarkan suara irama seruling itu. baru berkata sambil tertawa. untuk menangkap makna irama seruling itu. karena mendengarkan irama seruling yang nyonya tiup itu sangat menarik. sebab suara seruling itu kedengarannya sangat lemah tiada bertenaga. Suara seruling itu seolah-olah suatu penumpahan isi hati yang merana. harap siangkong jangan mentertawakanya. ia berkata sambil tertawa.com/ Ia buru-buru memasang telinga. lalu berhenti meniup. “Siangkong sudah bangun?” Aku sudah lama tersadar.” Perempuan setengah tua itu geleng-gelengkan kepaalanya kedua pipinya nampak merah. sehingga rasanya seperti asing lagi. kedengarannya terputus-putus. Ketika ia membuka mata. kecuali iramanya yang sangat menyedihkan.

barangkali suara seruling itu sebentar lagi sudah dapat kita dengar……. samar-samar seperti suara panggilan sang ibu kepada anaknya. mungkin tidak bisa hidup beberapa lama lagi. karena itu aku teringat dengan kesukaanku yang lama ini. lalu menyuruh Wan Hauw berlalu.” Perempuan itu meletakan serulingnya lambat-lambat berjalan menuju ke pintu. Ia paham segala irama musik. “Rasanya sudah liwat jam dua malam. “Apabila aku tidak dapat memahami irama seruling itu untuk menyembuhkan lukaku.” Siang-koan Kie tiba-tiba merasa tegang. tidak kusangka telah mengganggu tidurmu. aku lalu tiup sekenanya saja. “Siangkong berkata hendak mendengar suara irama seruling untuk menyembuhkan luka..” Sesaat lamanya ia diam saja. terutama musik seruling. agaknya menyimpang dari irama seruling biasa. mulutnya berkata. maka tidak berani mengganggu. sebentar kemudian dapat didengar dengan tegas. benar saja samar-samar terdengar suara serulirg. Suara yang diperdengarkan itu.Tiraikasih Website http://kangzusi.” Di ambang pintu ia mendongakkan kepala untuk melihat cuaca kemudian berpaling dan berkata pula. Perempuan itu mengira ia sedang memikirkan tentang irama seruling. oleh karena itu. aku suruh Hauw-jie mencari bambu dan membuatkan seruling ini. mendengar irama yang kedengarannya bagaikan seorang ibu memanggil . Tidak berapa lama. irama seruling itu menbawa pengaruh lebih besar kepada dirinya dari pada Siang-koan Kie.com/ “Bagus sekali tiupan seruling nyonya. suara itu makin lama makin nyata. ia memandang ke angkasa. Perempuan itu tiba-tiba melompat bangun. dalam hati ia berpikir. air mata mengalir bercucuran.

suara itu begitu hening. pemuda itu agaknya sedang menikmati irama itu. Ia yang semula bersedia membantu Siang-koan Kie memberi keterangan tentang irama seruling yang Siang-koan Kie tidak mengerti. ternyata bisa bergerak lambat-lambat. tetapi kalau didengar dengan seksama lalu tidak dapat dipahami ke mana tujuannya. Suara seruling itu tiba-tiba berobah. sebaliknya dengan ia sendiri yang tidak dapat menangkap artinya. ternyata dapat menangkap inti sari irama itu. Ketika ia berpaling menengok ke arah Siang-koan Kie. tak disangka kesudahannya ternyata sebaliknya. ia sudah tahu bahwa luka Siang-koan Kie sangat berat. hampir sekujur badannya tidak bisa bergerak. teringatlah kepada ibu-bapak yang ditinggalkan sudah duapuluh tahun lamanya. agaknya seperti padri yang membaca doa. Perempuan itu tidak tahu. orang yang mendengarkan se-olah2 tersadar akan dosanya. Perempuan itu walaupun ia paham irama musik. . segera mengerti. tetapi ia tidak paham ilmu silat. tetapi ia juga tidak mengerti.com/ anaknya pulang. mengandung petunjuk cara-caranya mengatur pernapasan dan jalan darah. Selama berdiam di tempat itu. oleh karena Siang-koan Kie paham ilmu silat. bahwa dalam irama seruling itu. merupakan irama yang tersendiri. Walaupun perempuan itu paham irama musik. Irama yang menyimpang garis dari irama musik itu. Siang-koan Kie yang tidak paham benar irama musik. maka begitu mendengarkan. maka ia hanya dapat menangkap arti dan tujuannya. tetapi saat itu tertarik oleh suara irama seruling. kecuali bagian kepala dan leher serta satu tangannya yang masih bisa bergerak mengambil barang.Tiraikasih Website http://kangzusi. sehingga tidak mampu lagi menindas meluapnya rasa sedih dalam hatinya. tangan dan kakinya bergerak2 mengikuti irama itu.

“Semoga luka siangkong lekas sembuh.” “Ah! Walaupun siangkong tidak merasa jijik terhadap dirinya. tetapi anak semacam dia yang seperti manusia bukan . sudah lama irama seruling itu berhenti ia masih menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. sebentar tinggi sebentar rendah. Ia lalu berpaling dan berkata kepada perempuan setengah tua itn sambil tertawa. apakah dapat menyelami maksud irama seruling itu tadi?” Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepala dan menjawab sambil tertawa.” “Semula aku mengira irama seruling itu susah dimengerti. tetapi Siang-koan Kie agaknya mendengarkan begitu nikmat. aku pasti akan membawanya berlalu dari sini. “Nyonya paham irama musik. tetapi suaranya masih kumandang sekian lama di waktu malam yang sunyi itu. Kira-kira satu jam lamanya. aku lihat siangkong agaknya asyik sekali mendengarkan irama seruling itu. ia berkata sambil tertawa. tetapi ternyata begitu mudahnya. “Sedikitpun aku tidak mengerti. sudah tentu tidak mengerti. kira-kira seperempat jam baru berhenti. oleh karena nyonya tidak paham ilmu silat. apabila lukaku bisa sembuh. lagunya mengandang petunjuk semacam cara melatih ilmu silat.” “Nyonya jangan khawatir. agaknya tidak menurut lagu.” Di paras nyonya itu terlintas perasaan gembira. irama dalam suara seruling itu tadi. irama seruling itu tiba-tiba berhenti. tetapi aku tidak mengerti apa yang dikatakan?” Ya memang.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Irama seruling itu makin lama makin menyimpang jauh dari pada irama biasa.” “Irama seruling itu kedengarannya seperti orang berbicara. Siang-koan Kie yang menikmati irama itu. supaya anakku Hauw-jie itu juga bisa lekas berlalu dari sini.

mungkin bulunya akan rontok sendiri. bagaimana aku berani tidak menaruh kepercayaan? Dengan sumpah siangkong yang begini berat. harap nyonya jangan khawatir. di dalam mata orang biasa barangkali susah untuk diterima. setelah aku nanti membawanya berlulu dari sini. bagaimana aku sanggup menerimanya.” “Dalam hal ini nyonya tidak perlu khawatir. air matanya mengalir bercucuran. baru saja habis berkata. aku pasti akan memandang dan memperlakukannya sebagai saudara sendiri. “Harap nyonya lekas bangun. tetapi usahanya itu sia-sia saja.” Siang-koan Kie agaknya masih kurang puas dengan keterangannya itu. andaikata saat ini bentuk tubuhnya sudah seperti manusia. dengan cara nyonya ini bagaimana aku sanggup menerima?” Perempuan itu bangkit dan berkata pula. namun di bibirnya tersungging senyuman girang.” Siang-koan Kie menjadi gugup.” Perempuan itu tiba-tiba menjatuhkan diri dan berlutut di hadapan Siang-koan Kie.Tiraikasih Website http://kangzusi. juga tidak menjadi soal. dua kali ia ingin bergerak untuk membimbing bangun.com/ manusia. aku sudah menyiapkan suatu rencana bagi dirinya. apabila diberi makanan seperti manusia biasa. mungkin irama seruling itu akan terdengar lagi. “Aku yakin siangkong seorang baik. budimu ini tidak kulupakan untuk selama-lamanya. apabila aku tidak memenuhi janjiku ini biarlah diriku dikutuk oleh Tuhan. ”Harap siangkong beristirahat lagi. sekalipun bulunya tidak bisa rontok tetapi asal kita cukur bersih rambut halus di mukanya. dan sekujur badannya penuh dengan bulu hitam. setelah berhenti sejenak ia berkata pula. . “Aku merasa sangat bersyukur atas perlakuan nyonya terhadap diriku selama ini. maka buru-buru berkata. soal ini mungkin akan menyulitkan diri siangkong sendiri. tiba-tiba terdengar suara geraman orang hutan. ia berkata.

” Sing-koan Kie sejak berada di dalam rumah itu.” Maka ia segera berkata. sambil berkata. ucapannya begitu tajam. “Jangan bergerak.com/ Paras perempuan itu mendadak berobah. adakah ingin melihat anakmu?” “Sebagai seorang ibu memperhatikan anaknya?” bagaimana boleh tidak . “Entah dalam hal apa aku berlaku salah terhadap siangkong?” “Nyonya lari pergi tergesa-gesa.” Suara bentakan itu.” Ia segera lari keluar. tetapi kali ini mendadak sikapnya begitu keras. aku benar-benar tidak mengerti. karena ia khawatir nyonya itu nanti terjatuh dari rumah panggungnya. mengapa bertindak begitu gegabah. jikalau tidak diberi nasehat sebaik-baiknya.. “Hauw-jie……. perasaannya tentu tidak akan tenang. “Keadaan badannya yang begitu lemah. bagaimana kalau jatuh ke bawah rumah itu? Tetapi cinta kepada anaknya. ada urusan apa?” Dalam hati Siang-koan Kie berpikir. ia sudah menggunakan seluruh kekuatannya. maka suara itu beda tidak jauh dari orang biasa. “Nyonya adalah seorang yang mengerti surat. aneh tidak mirip dengan suara geraman orang hutan biasa. Perempuan itu sudah berada di ambang pintu.Tiraikasih Website http://kangzusi. kalau di dalam keadaan biasa. tetapi karena pada saat itu dalam keadaan terluka. suara bentakan itu sudah cukup membuat pingsan orang yang tidak mengerti ilmu silat. selama itu budi bahasanya sopan santun. katanya. sehingga perempuau itu yang mendengarkan nampaknya sangat heran. “Siangkong. ia lalu berhenti dan bertanya. Siang-koan Kie juga dapat mendengar suara geraman orang hutan itu. maka segera membentak.

.. ia terus lari hendak keluar. maka lalu berseru. pikirnya. kemudian disusul oleh suara patahnya bambu. perhatianmu terhadap dirinya. “Hauw-jie. Siang-koan Kie juga merasa heran. mungkin tidak begini hebat. mungkin di situ terjadi pertarungan hebat. sehingga rumah itu bergoyang-goyang. Hauw jie!” Tiba-tiba terdengar suara mengaungnya binatang.!” Tetapi hanya terlihat bayangan berkelebat. pasti akan lengah perhatiannya. lekas pegangkan tiang!” Tetapi nyonya itu sudah tidak dengar perkataannya. Siang-koan Kie berseru. anakmu itu apabila melihat kau. “Nyonya lekas balik……. “Nyonya. tidak lagi dapat menguasai getaran hatinya. sebaliknya akan mencelakakan dirinya.” Perempuan itu berpikir sejenak lalu berkata. sehingga merupakan suatu kesempatan baik bagi musuhnya. rumah panggung itu tergoncang hebat. Siang-koan Kie dengan perasaan cemas berkata. bukan berarti mencintainya.” Paras perempuan itu pucat pasi. entah makhluk apa yang sedang bertarung. nyonya juga tidak dapat membantu. agaknya akan rubuh. sebaliknya……. air mata mengalir turun membasahi kedua pipinya. “Apabila Wan Hauw yang bertarung dengan orang hutan yang berbulu emas itu. orangnya sudah lari keluar dari kamar. . ”Benar juga perkataan siangkong itu!” “Taruhlah anakmu itu menemukan bahaya.?” Suara geraman itu tiba-tiha seperti sudah berada di bawah panggung.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ “Inilah yang aku katakan tindakan gegabah nyonya itu. sekujur badannya gemetar.

tetapi pinggangnya tiba-tiba dirasakan kejang. Siang-koan Kie yang tergoncang dari getaran hebat itu. Usahanya kali ini meski tidak berhasil. kedua tangannya mengurut-urut badan ibunya. ia merasa kepalanya masih pusing. kepalanya membentur dinding rumah yang terbuat dari rotan. pikirnya. . penyakitnya dirasakan banyak berkurang. hingga jatuh lagi kepembaringan. Siang-koan Kie menggerak-gerakan kaki dan tangannya. “Orang tua itu benar-benar berkepandaian sangat tinggi sekali. maka waktu ia tersadar. tetapi tatkala ia tergoncang oleh getaran hebat sehingga dirinya terpelanting dan jatuh di tanah. keadaan pulih kembali seperti biasa. tidak berapa lama. Tatkala ia siuman kembali. tetapi ia merasakan sedikit perobahan pada dirinya hingga diam-diam berterima kasih kepada orang tua yang meniup seruling itu. terjatuh menggelinding di tanah. jalan pernapasannya dan darahnya sudah mulai teratur sehingga lukanya agaknya sudah ada perobahan. lenyaplah tenaganya. ia coba bangun hendak duduk.” Ia masih belum tahu.com/ Saat itu terdengar pula suara geraman Wan Hauw yang sangat hebat. sehingga diam-diam merasa girang. hanya menggunakan irama seruling sudah dapat menyembuhkan luka dalam. lalu disusul pula oleh suara mengaumnya binatang buas. setelah ia mendapat petunjuk caracaranya mengatur pernapasan yang diberikan oleh orang tua itu dengan pengaruh irama serulingnya. keadaan menjadi sunyi lagi. sehingga pingsan seketika. ini sesungguhnya adalah suatu keajaiban yang belum pernah terdengar. tetapi gerakannya sudah agak leluasa. perempuan setengah tua itu sudah tidur di tempat tidurnya dengan tenang. Wan Hauw duduk di sampingnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. jalan darahnya dengan sendirinya telah mengalir masuk kebeberapa bagian uratnya yang terluka.

Tiraikasih Website http://kangzusi. lalu bangkit dan menghampiri Siang-koan Kie. hamper……. barangkali juga belum sanggup membunuhnya. “Seekor singa yang besar sekali……. “Singa begini besar. dengan aku……. kau harus belajar bicara dengan sabar dari perlahan-perlahan.. kalau berjumpa dengannya.. selagi memikirkan tiba-tiba melihat Wan Hauw sudah balik lagi sambil memondong seekor singa besar..com/ Wan Hauw setelah melihat ibunya sudah tidur nyenyak. Siang-koan Kie tidak mengerti apa maksud ucapan Wan Hauw tadi. sekalipun bisa juga harus . maka setelah sebentar ia merasa ter-heran2 barulah ia berkata. tetapi aku melihat kemajuanmu yang begini pesat.” Singa itu sebesar kerbau. “Ini bukan suatu usaha yang dapat dilakukan dengan secara tergesa-gesa.” Wan Hauw tidak melanjutkan kata-katanya. Singa itu kepalanya sudah remuk.” Dengan susah payah ia mengucapkan perkataannya itu yang dibantu dengan gerak gerik tangannya. tiga empat bulan lagi. sekujur badannya penuh darah. isi perutnya sebagian sudah keluar. Sebaliknya dengan Siang-koan Kie. katanya dengan suara yang tidak tegas. sehingga Siang-koan Kie yang menyaksikan itu diam-diam merasa heran. “Singa ini telah kupukul mati. setengah malaman. pikirnya. sekalipun pada masa sebelum kepandaianku lenyap.. “Memang aku bodoh!” Lalu membalikkan badannya dan melompat turun dari rumah panggung itu. ia hanya menarik napas panjang dan berkata. Wan Hauw meletakkan bangkai singa itu di samping Siangkoan Kie lalu berkata. mungkin dapat memahami dan mengatakan seluruhnya. ia merasa heran bahwa dengan secara tiba-tiba Wan Hauw dapat mengeluarkan serentetan kata-kata yang agak nyata. telah bertarung…….

di kemudian hari. “Apakah ibumu terluka?” Kie menanyakan “Tidak. Bocah ini tidak mengerti ilmu silat. kalau kau tidak bisa membunuh mati singa ini. pada saat ini barangkali kita sudah menjadi santapannya. ia berputar putaran sambil menggaruk-garukkan kepalanya. apakah sering mendapat gangguan binatang buas semacam ini?” Wan Hauw menggelengkan kepala dan manyahut..” Sementara itu ia lalu menjawab. hatiku merasa cemas lalu kuhajar kepalanya……. aku…….” Wan Hauw menggeleng-gelengkan kepala dan berkata. “Apakah singa ini diundang oleh orang hutan berbulu emas itu.. ketika aku melihat ibu jatuh dari atas.Tiraikasih Website http://kangzusi. singa ini entah datang dari mana.com/ menggunakan senjata. atau dikubur saja. “Bagus-bagus.” Siang-koan Kie mengawasi singa itu sejenak. aku segera lari menyambutnya. lalu berkata. waktu ibu jatuh dari atas. ternyata sanggup membinasakan seekor singa yang begini besar. hampir tidak sanggup melawan. apabila dapat didikan ilmu silat dengan baik. pasti akan menjadi salah seorang tokoh terkemuka dalam kalangan Kang-ouw. ia tidak dapat melanjutkan. hanya mengandalkan kekuatan tenaganya yang besar pembawaan dari alam.” Perkataan selanjutnya. sebaiknya kau letakkan di tempat yang tersembunyi. “Tidak.” Siang-koan Kie diam-diam merasa heran. nampaknya sangat gelisah. Sepatah demi sepatah Siang-koan kepadanya. “Di dalam hutan belukar ini. pikirnya. yang disuruhnya mengganggu orang hutan hitam?” “Bangkai singa ini kau bawa turun ke bawah.” . “Singa ini tenaganya besar sekali.

tetapi untuk sementara itu ia juga tidak dapat memikirkan sebab-sebabnya itu.com/ Wan Hauw agaknya tidak mengerti apa maksud perkataan Siang-koan Kie itu. berbicara tentang pertarungan hebat Wan Hauw dengan singa itu. urusan berebutan makanan mungkin tidak akan timbul. Orang hutan berbulu mas dan orang hutan berbulu hitam itu semua merupakan orang hutan – orang hutan raksasa yang jarang tampak. luka-luka di sekujur badannya sudah sembuh seluruhnya. walaupun banyak terdapat buah-buahan.. tetapi nampaknya penuh rahasia. Sejenak ia tercengang. . rasanya tidak perlu saling bertengkar dan berkelahi matimatian dengan sesamanya sendiri……. tetapi tidak berani banyak bertanya. Siang-koan Kie rebah tertelentang. tetapi jarang terdapat binatang lainnya. agaknya masih merasa ketakutan. Dua hari kemudian. nampaknya sudah cerdik. dengan menurut petunjuk dari irama seruling itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. penuh ketegangan. pikirannya bekerja. Malam itu terdengar pula suara irama seruling. tetapi di dalam daerah yang luas ini. sehingga badannya masih menggigil. Siang-koan Kie mengatur jalan pernapasannya untuk menyembuhkan lukalukanyas. kalau toh benar tidak usah berebutan soal makanan. tetapi ia tidak berani bertanya. Walaupun ia merasakan bahwa dalam hal ini pastilah ada sebabnya. Kejadian ini kembali menimbulkan perasaan heran Siang-koan Kie. Perempuan setengah tua itu karena sudah mendapat pengalaman satu kali. di dalam hutan belukar ini meskipun merupakan satu daerah terpencil yang tidak ada manusianya. Wan Hauw sudah balik kembali. ia pondong lagi bangkai singa itu dan melompat turun ke bawah. ia juga dapat turut menikmati dengan hati tenang. nyonya setengah tua itu pada saat itu juga sudah sadar. orang hutan berbulu hitam baru pulang. Tidak berapa lama.

maka ia tidak banyak bertanya. tetapi sebentar sudah pergi lagi. Perobahan yang sangat besar ini. rembulan terang benderang. belum pernah terputus. ia nanti akan mencari keterangan dan sebab. masih belum terdengar suara seruling. dalam otaknya timbul tafsiran rupa-rupa. setelah lukanya sembuh seluruhnya. sejak Siang-koan Kie berada di sana jarang sekali pulang. menimbulkan rasa gelisah Siang-koan Kie. suara seruling itu tidak terdengar lagi.sebabnya dalam soal itu. urat-urat sekujur badannya sudah normal lagi keadaannya. entah apa sebabnya. udara terang.com/ Sang waktu berlalu dengan cepat.Tiraikasih Website http://kangzusi. 1uka luka Siang-koan Kie boleh dikata sudah sembuh. tidak perduli ada hujan angin besar atau geledek menyambar. mungkin juga karena menghamburkan banyak tenaga dalam sehingga . tak disangka ia menunggu sehingga jam tiga liwat tengah malam. perempuan setengah tua itu takut mengganggu Siang-koan Kie yang baru sembuh dari lukalukanya. kadang-kadang pulang. sebentar saja dua bulan telah berlalu. selema itu juga. sehingga hatinya sangat gelisah. bersama-sama anaknya meninggalkan kamarnya dan pergi menikmati pemandangan malam. tidak mempengaruhi suara seruling itu. Meski dalam hati Siang-koan Kie timbul banyak pertanyaan. suara irama seruling itu setiap hari jam tiga tengah malam pasti menggema di tengah udara dalam hutan belukar itu. Setelah Wan Hauw dan ibunya berlalu dari kamar. Malam itu. orang hutan hitam itu. ia mulai duduk bersemedi untuk menantikan petunjuk dari irama seruling. udara bersih. tetapi karena itu merupakan saat-saat penting baginya untuk memulihkan kekuatan dan kesehatannya. Selama dua bulan itu. apapun yang terjadi di sekitarnya. pada jam dua tengah malam. Tetapi malam itu. ia pikir orang tua aneh itu mungkin celaka di tangan musuhnya yang datang karena tertarik suara serulingnya.

dan bertambah pula perhatiannya terhadap orang tua yang aneh itu. kegelisahan dan kekhawatiran membuat dirinya tidak dapat menguasai ketenangannya lagi. Manusia apabila sndah berada dalam keadaan patus harapan.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ mendapat sakit. atau mungkin kawan-kawannya yang merupakan binatang-binatang buas itu berpindah ke lain tempat sehingga tidak ada orang yang mengantarkan makanan……. ia sudah bangkit dan lari keluar. tetapi apabila masih ada harapan hidup. bukan saja luka-lukanya akan sembuh seluruhnya tetapi kepandaiannya juga akan pulih kembali. bahkan semna usahanya yang sudah-sudah akan menjadi tersia-sia. maka pengharapan untuk hidup itu juga lebih kuat dari biasa. . dengan terputusnya suara seruling yang akan nnemulihkan kekuatan dan kepandaiannya. menyebabkan pikirannya. bagi Siangkoan Kie dirasakan seperti bertahun tahun.. ia sudah tidak memperdulikan lukanya sudah sembuh seluruhnya atau belum. Begitulah keadaan Siang-koan Kie. mungkin ia berhasil menyembuhkan bagian jalan darah yang terakhir. kalut Selama dua bulan ia menyembuhkan lukanya dengan menurut petunjuk dari irama seruling itu. tetapi juga mengkhawatirkan keselamatan jiwa orang tua yang meniup seruling itu. Hanya dalam waktu tidak ada setengah jam itu. ia tidak tahu mana satu yang benar. lagi tiga atau lima hari. bukan saaja membuat gelisah pikirannya. ia sudah tahu bahwa pada saat itu ia sedang menghadapi saat-saat yang terpenting. apabila suara seruling itu datang 1agi pada waktunya. jika suara seruling itu tetputus. Tafsiran yang bukan-bukan itu. bukan saja kepandaiannya susah dipulihkan. biasanya suka memandang ringan jiwanya sendiri.

segera menimbulkan perobahan bagian jalan darahnya. keduanya berdiri di samping pembaringan. ia telah tertidur. ”Apakah siangkong mengalami sesuatu?” Siang-koan Kie diam-diam mengatur pernapasannya. Walaupun ia masih sanggup menahan. baru menunjukkan senyumnya. karena tergoncang oleh gerakan Siang-koan Kie. Waktu ia sadar lagi ia mendapatkan dirinya sudah tidur di atas pembaringan lagi. paras mereka penuh rasa kekhawatiran. Perempuan setengah tua itu ketika melihat Siang-koan Kie sadar.com/ Karena luka di seluruh badannya meskipun sebahagian sudah sembuh.goyang. Wan Hauw dan ibunya dalam sekejap sudah balik kembali. ia menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. lukanya juga sebahagian besar sudah sembuh. tetapi juga sudah bergulingan di tanah. Selagi hendak merayap bangun.Tiraikasih Website http://kangzusi. maka waktu ia berdiri dan lari. urat2 di separuh badannya tiba-tiba mulai mengkerut. Setetah pikirannya kabur dan tenaganya habis. ia lalu bertanya. suara seruling itu tiba-tiba berkumandang lagi. rasanya sudah banyak leluasa. dengan tanpa disadari ia bergulingan menuruti irama seruling itu. ia merasakan kedua pahanya lemas. sehingga dalam rumah panggung itu nampak tergoyang. sehingga jatuh lagi di tanah. tetapi toh terpengaruh oleh suara seruling itu. meskipun ia tidak mengeluarkan suara menjerit-jerit. sekujur badannya dirasakan sakit. tetapi penderitaan itu sesungguhnya sangat hehat. . Siang-koan Kie yang sedang menderita hebat. Dalam keadaan demikian. tetapi dua bagian jalan darah yang terpenting mash belum berhasil dipulihkan. kalau irama seruling itu semakin gencar maka Siang-koan Kie juga bergulingan semakin cepat.

pikirannya lalu tergerak. sehingga diam-diam berpikir. ia masih merasa tidak ada perobahan apa-apa. Selagi mulai turun.Tiraikasih Website http://kangzusi. bagaimana bisa lompat turun dari tempat setinggi ini?” Tetapi karena hatinyat terlalu girang yang baru semhuh dari lukanya. tetapi toh masih meloncat turun juga. dianggapnya sedang menggigau. ia coba mengerahkan kekuatannnya untuk menahan lajunya gerakannya. sambil menepuk kepalanya ia berkata kepada dirinya sendiri. “Apakah ia sengaja supaya aku bergulingan? Apakah cara bergulingan ini juga merupakan suatu cara untuk menyembuhkan luka?” Ia berkata seorang diri. pertanyaan nyonya itu dijawabnya dengan singkat. Selagi hendak bertanya. meskipun dalam hati memikirkan bahaya. ia merasa bahwa jalan darah Hian-kia-hiat dan Beng-bun-hiat sudah normal seperti biasa. kemudian disusul dengan kelakuannya yang aneh. tubuhnya yang melayang turun itu.com/ dalam herannya ia lalu bangun dan duduk.” Ia turun dari pembaringan. ia baru dapat lihat babwa rumah panggung itu terpisah dengan tanah setinggi dua tombak lebih. maka ia lalu lari lompat keluar. sebentar kemudian ia sudah berada di . “Lukaku baru sembuh. tiba-tiba teringat bahayanya. setelah menggerakkan kedua tangannya ia lari keluar dari kamar. Setelah berada di ambang pintu. dalam girangnya. tiba-tiba melesat lagi ke atas. tetapi tak tesrangka begitu ia mengerahkan kekuatannya. Kiranya waktu ia mengatur penapasannya tadi. tiba-tiba terdengar suara bentakan Siang-koan Kie. jalan beberapa langkah. agaknya sudah kehilangan ketenangannya. “Tidak apa-apa. sehingga Wan Hauw dan ibunya yang tidak dapat menangkap arti perkataannya itu.

yang ia beranggapan perlu diselidiki sebabnya. sejak aku terjatuh ke dalam jurang itu. “Selama dua bulan ini aku sudah banyak mengganggu diri nyonya. “Aku tidak berani membohongi nyonya. tangannya lalu menyambar tiang pohon dan melompat balik lagi ke dalam rumah. tetapi aku masih ingin tinggal beberapa hari lagi.” Nyonya itu tiba-tiba menghela napas panjang. biarlah aku membuat api dan sedikit hidangan. dan ia harus berdaya untuk mendamaikan mereka untuk supaya jangan saling bertengkar lagi. katanya kemudian.” Tiba-tiba ia teringat soal perkelahian antara orang hutan berbulu mas dan orang hutan berbulu hitam itu.com/ dekat pintu rumah lagi. “Aku haturkan selamat kepada Siangkong.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Apakah siangkong ingin menggunakan kesempatan ini untuk menyelidiki persoalan yang mengganggu pikiran siangkong?” Siang-koan Kie terkejut ditanya demikian. Nyonya itu agaknya sudah dapat menebak isi hati Siangkoan Kie. lama ia baru berkata sambil tertawa. “Luka Siangkong sudah sembuh. ia tertawa terbahak-bahak dan menjawab. memang aku .” Siang-koan Kie tidak dapat mengendalikan perasaan girangnya. rasanya tidak bisa tinggal lama lagi di tempat ini. sekarang meskipun sudah sembuh. ia lalu berkata. ia berkata sambil tersenyum. “Nyonya tidak perlu tergesa-gesa. sekedar sebagai perasaan girangku terhadap siangkong. badanmu sudah pulih kembali.” Siang-koan Kie yang sebetulnya sudah ingin pamitan dengan nyonya itu tiba-tiba hatinya tergerak. Perempuan setengah tua itu mengawasi Siang-koan Kie dengan perasaan terheran-heran. ia lalu menjawab. hendak menikmati pemandangan di tempat ini. lukaku terlalu berat. di sini kuucapkan banyak-banyak terima kasih.

Tiraikasih Website http://kangzusi. harap siangkong jangan salah.” Jelaslah sudah bahwa dua hari setelah ia kembali. Keluar dari dalam rimba.” “Jikalau siangkong memerlukan apa-apa. orang hutan itu nampaknya sangat takut sehingga lari masuk. tampak olehnya lamping gunung yang menjulang tinggi ke langit. Aku akan menantikan kedatanganmu. kemudian berjalan ke gua batu tempat tinggalnya beberapa orang hutan berbulu mas itu. aku ingin minta saudara Wan sebagai penunjuk jalan. . dua ekor orang hutan kecil berbulu mas. sedang berdiri dimulut gua.com/ bermaksud hendak menyelidiki beberapa soal yang selama ini mengganggu pikiranku. “Aku rasa untuk menyelidiki soal itu.” “Nyonya tidak usah khawatir. Saat itu matahari sudah naik tinggi. setelah melongok sebentar lalu lari keluar menyambut. Siang-koan Kie lalu mengangkat tangan memberi hormat dan berkata sambil tertawa. perintahkanlah saja kepadanya. tetapi diurungkan. sudah cukup kulakukan seorang diri saja. tetapi sebentar kemudian.” Nyonya itu agaknya masih ingin menyatakan sesuatu. “Dalam waktu dua hari. baru akan mengajak Wan Hauw meninggalkan tempat ini. setelah mencari-cari sejenak ia segera menemukan gua batu yang luas itu. ia coba mencari arahnya.” berkata nyonya itu sambil menunjuk Wan Hauw.” Setelah itu ia lalu keluar dari kamar. waktu pertama melihat Siaug-koan Kie. aka pasti akan kembali.

perbuatan itu segera ditiru oleh yang lainnya. karena tidak mengerti bahasanya. Tatkala ia mengawasi dengan seksama. itu Dua ekor orang hutan kecil itu berbunyi cecuitan.com/ Siang-koan Kie mementang kedua tangannya. benar saja di matanya tiga ekor binatang kecil itu tergenang air mata. menyambut kedatangan dua ekor binatang kecil itu lalu menanya. Siang-koan Kie mengira mereka sangat gembira berjumpa lagi dengan dirinya. ia lalu teringat kepada nyonya setengah tua itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. Tiga ekor orang hutan kecil. Satu di antaranya tiba-tiba berlutut di hadapan Siang-koan Kie dan menangis dengan sedihnya sambil menarik-narik baju Siang-koan Kie. Selama berpikir.. kembali nampak seekor orang hutan kecil lari menghampiri. Siang-koan Kie meskipun memperhatikan gerak gerik dua binatang itu tetapi masih belum dapat menangkap artinya. Siang-koan Kie sangat bingung. apakah ada terjadi apa-apa dengan orang hutan besar itu? . “Apakah ibumu berada di dalam gua……. Tiba-tiba hatinya tergerak. sambil menggerak-gerakkan tangannya agaknya hendak memberitahukan soal penting. mengurung Siang-koan Kie sambil lompat-lompat dan cecuitan. kakinya sudah bergerak memasuki gua. karena suara orang hutan kecil itu nampaknya mengandung kedukaan. tetapi ternyata dugaannya itu keliru. ia berpikir apabila tidak ada kejadian yang menyedihkan. apabila ia berada di sini. mungkin dapat mengerti apa yang dikatakan oleh dua binatang kecil itu. tidak nanti binatang kecil itu berbuat demikian. meskipun hati merasa cemas juga tidak dapat menghibur binatang kecil itu.?” Tiba-tiba ia teringat bahwa dua ekor binatang bagaimana mengerti pertanyaannya maka lantas diam. seekor kera kecil agaknya menyambut kedatangan mereka dari dalam gua.

agaknya pertarungan hebat sedang berlangsung. Ia segera teringat kepada diri Wan Hauw. Selagi hendak bergerak masuk tiba-tiba terdengar suara geraman nyaring yang menggetarkan hati. maka ia berpikir hendak masuk ke dalam gua hendak menyelidiki sebabnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. mencegah tiga ekor orang hutan kecil itu. Dalam rimba itu terdengar suara ribut dengan patahnya pohon2 dan suara geraman binatang. segera mempercepat gerak kakinya lari menuju ke arah suara itu. sebentar kemudian sudah masuk ke dalam rimba. supaya jangan mengikuti dirinya. Wan Hauw sedang berkelahi dengan seekor . tercampur oleh suara binatang srigala dan singa. Suara itu sebentar2 terdengar. Siang-koan Kie tiba-tiba merasa bahwa suara itu seperti pernah didengarnya. Siang-koan Kie segera dapat mengenali bahwa suara itu adalah suaranya Wan Hauw. Karena kepandaiannya sudah pulih kembali maka gerak larinya pesat sekali.com/ Karena menganggap berada di situ tidak ada gunanya. kemudian ia sendiri lompat melesat ke atas pohon. apakah ia sedang berkelahi dengan binatang buas lagi? Ia lalu pentang kedua tangannya. sehingga membangunkan bulu roma orang yang mendengarkannya. dari situ ternyata dapat melihat di bawah pohon besar yang di atasnya dibangun rumah panggung itu. Tiga ekor orang hutan kecil itu agaknya juga dikejutkan oleh suara itu. Ia lalu memasang mata. tidak sempat baginya untuk berpikir banyak-banyak. mereka berhenti menangis dan berjalan mengikuti Siang-koan K ie. maka ia segera bergerak lari keluar lagi.

Singa itu agaknya lebih buas daripada yang dibinasakan oleh Wan Hauw tadi malam. bila ada kesempatan baru balas menyerang. tidak menduga akan diserang oleh Siang-koan Kie dengan senjata tangkai pohon itu. terkamannya dan serangannya sangat hebat. beberapa kali lompatan lagi. Ia lalu mengeluarkan suara bentakan keras. Serangan itu ia menggunakan kekuatan tenaga penuh. Karena sudah tidak keburu menyingkir.com/ singa besar. tangkai pohon di tangannya digunakan sebagai senjata pedang. bagaimana bisa melawan Wan Hauw lagi? Tidak ampun lagi. Karena baru sembuh dari lukanya. maka tangkai pohon itu menancap di tulang iganya. ia melesat ke sana ke mari. badannya kebentur sebuah pohon besar. binatang singa yang sedang meloncat ke tengah udara menerkam Wan Hauw. pertempuran itu agaknya sengit sekali. Dengan mengandalkan gerak badannya yang gesit dan cekatan. ia masih belum mempunyai keyakinan terhadap kekuatannya sendiri. . Wan Hauw menggunakan kesempatan itu. kemudian lompat melesat dari pohon. tubuhnya yang besar terpelanting dari tengah udara. Wan Hauw agaknya tidak berani adu tenaga dengan binatang itu. segera maju menyerang. dilemparkan dan dibanting ke tanah.Tiraikasih Website http://kangzusi. menyerang binatang singa itu. ia sudah tiba di dekat tempat Wan Hauw berkelahi. Ia mengangkat tubuh singa yang besar itu. Keduanya saling menerkam dan saling meloncat. diam-diam mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya. Siang-koan Kie memotong sebatang ranting pohon sepanjang tiga kaki. Binatang singa yang sudah terluka karena serangan Siangkoan Kie tadi. Binatang singa itu mengeluarkan suara geraman hebat.

“Bicaramu bukan saja sudah mendapat banyak kemajuan. ia menjadi cemas. tidak hentinya mengangguk-anggukkan kepalanya. lalu berkata kepadanya.” Mendengar ucapan itu Siang-koan Kie terkejut. suara seruling itu selalu terdengar di waktu tengah malam. lalu menghampiri Siang-koan Kie dengan sikap berterima kasih.com/ pohon itu rubuh. “Lekas tengok ibumu. Sebentar ia sudah berada di mulut gua. Wan Hauw setelah membinasakan musuhnya. ia segera berpaling. tetapi tiga ekor binatang kecil itu sudah tidak tahu kemana perginya. belum pernah terdengar suara seruling itu di waktu siang hari.” Wan Hauw agaknya mengerti dirinya dipuji. logatnya juga sudah tidak kaku lagi. selama dua bulan itu. maka ia merasa terheran-heran. suara seruling itu seolah-olah sedang memanggil namanya. “Terima kasih atas pertolongan Siangkong. mengalun di udara. lalu berkata kepada Wan Hauw.” Dengan cepat ia membalikkan badannya dan lari menuju gua. tetapi sudah tidak menemukan jajak binatang kecil itu lagi.Tiraikasih Website http://kangzusi. Ia mendengarkan dengan penuh perhatian. binatang singa itu juga binasa seketika itu juga. ia berkata. . yang meminta kepadanya supaya lekas kembali. Selagi dalam keadaan gelisah. Siang-koan Kie tiba-tiba teringat kepada diri tiga ekor orang hutan kecil berbulu emas yang ditinggalkan itu. Sejak ia menyembuhkan luka2nya dengan bantuan irama seruling itu. terkejut atau tidak ? Aku akan kembali. tiba-tiba terdengar suara seruling.

ia sendiri sedang berdiri di bawah bukit. tiba-tiba berhenti. Kejadian semacam ini. membuat lenyap semua tujuannya yang hendak melakukan penyelidikan ke dalam gua itu. namun ia tidak memperhatikan sama sekali.” Suara seruling itu berbunyi kira-kira setengah jam lamanya. Dengan tindakan lambat2 ia keluar dari dalam gua itu. sebetulnya merupakan suatu kejadian yang sangat ajaib. ia hanya merasakan tanah yang diinjak itu agaknya tidak rata. dalam hatinya berpikir. Ia berjalan menyusuri lamping gunung dengan menuruti kehendak kakinya. tiba-tiba merasakan semburan air dingin di mukanya. di sekitarnya menjulang puncak2 gunung. ibarat seorang perantauan yang sudah ingin pulang ke tanah airnya. kabut tebal menutupi depan matanya. sehingga menimbulkan pericikan air bagaikan kabut. sebuah air mancur mengalir turun dari sela2 batu gunung. sehingga sesaat itu tergugah dari lamunannya.com/ Siang-koan Kie berdiri menyandar di lamping gunung. Sekarang ia memanggil aku dengan perantaraan suara serulingnya. “Orang tua itu terpisah sedemikian jauh denganku. Telinganya lalu mendengar suara mancurnya air dari atas. Perasaan yang timbulnya secara mendadak itu. pasti ada kejadian yang sangat penting sekali. Selagi enak berjalan. Suara seruling itu agaknya sudah membangkitkan perasaan ingin pulang Siang-koan Kie. ketika ia mendongakkan kepala.Tiraikasih Website http://kangzusi. . di tengahtengah terdapat satu tempat rendah bagaikan danau seluas kira-kira dua bau. bahkan seperti sudah tahu batas sembuhku. bukan saja dapat menyembuhkan lukaku dengan pertolongan suara serulingnya.

ia terkejut. hingga tidak diketahui air itu terus mengalir ke mana. adalah orang hutan berbulu hitam dan orang hutan berbulu emas. Ia segera menggerakkan kakinya menuju ke tempat itu. samar-samar ia dapat melihat dua bayangan yang sedang bergulat. Tiba-tiba terdengar suara patahnya pohon kering dan suara beradunya dua tangan yang sangat perlahan. sehingga tidak dapat melihat dengan tegas. Kiranya dua bayangan yang sedang bergulat itu. di ujung daun terdapat semacam buah berwarna merah. Waktu ia sudah berada sangat dekat. semua tertutup oleh kabut. Ia bersangsi sejenak. Berjalan kira-kira dua tombak. lalu dongakkan kepala mengeluarkan suara siulan panjang. Siang-koan Kie memetik sebuah. kemudian berjalan ke tempat yang tertutup oleh kabut tebal. Di atas tempat bagaikan danau itu tertutup kabut putih yang tebal. ia tidak tahu bagaimana rupanya dua orang yang sedang bergulat itu. . air gunung itu mengalir ke sebuah sungai kecil yang terus mengalir ke tempat rendah itu. tetapi bukan rumput. Karena kabut terlalu tebal. ia segera dapat mengenali bahwa buah itu adalah buah yang pernah diberikan oleh Wan Hauw. tempat yang tertutup oleh kabut tebal itu. seketika berdiri terpaku. barang-barang sejarak dua atau tiga tombak. tangkainya berdiri tegak ke atas. segera memasang matanya. agaknya tumbuh banyak tanaman semacam rumput.com/ Siang-koan Kie membersihkan bekas air di mukanya. pandangan mata terhalang oleh kabut itu. dalam keadaan gelap yang tertutup oleh kabut tebal itu. kakinya tiba-tiba lemas. hanya buah yang ia baru petik itu masih terdapat banyak tanah kuning di atasnya. semacam pohon tetapi bukan pohon.Tiraikasih Website http://kangzusi. ia memperhatikan keadaan di tempat itu. sekitarnya tumbuh daun.

masing-masing kehabisan tenaga.Tiraikasih Website http://kangzusi. Kejadian itu merepotkan Siang-koan Kie. satu sama lain sudah terluka parah. sehingga bertahan mati2an.com/ Kedua binatang itu agaknya sedang berkelahi mati-matian. memisah dua ekor orang hutan yang sedang bergumul itu. Dua ekor orang hutan itu telah merasakan terdorong oleh semacam kekuatan yang amat dahsyat. setelah repot . mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya ke kedua tangannya. mereka saling menggigit. Rupa2nya kedua binatang itu sedang berkelahi sengit. tetapi keadaan urat2 dan jalan darah agak berlainan dengan manusia. terdorong oleh Siang-koan Kie yang menggunakan kekuatan tenaga dalam. -ooodwoooJilid 4 Bab 13 Siang-koan Kie lari menghampiri. hanya karena satu sama lain tidak ada yang man menyerah. saling menyerang. meskipun orang hutan itu mirip manusia. agaknya menunggu sampai ada salah satu yang mati baru mau berhenti. masing-masing mundur dua langkah dan mengawasi Siang-koan Kie. tetapi masih belum ada yang mau lepas tangan. dalam keadaan demikian. sehingga tidak tahu kedatangan Siang-koan Kie. sekujur badannya sudah penuh darah. kemudian ke-dua2nya perlahan-lahan jatuh roboh di tanah. Kiranya dua orang hutan itu bergulat sudah sekian lamanya. mereka masih saling menghantam dan saling menggigit…….. ia harus berusaha menolong dua ekor orang hutan yang sudah amat pajah itu. sehingga seketika itu juga habislah tenaga mereka dan tidak mampu bertahan lebih lama lagi.

kabut itu ternyata sudah membasahkan muka dan baju Siang-koan Kie. Tanah yang keadaannya mirip dengan waskom itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. segera lari pulang masing-masing ke tempatnya tanpa menengok kepada Siang-koan Kie lagi. sekalipun ia sendiri harus mengejar waktu untuk pulang ke loteng kuil tua. dua ekor orang hutan itu meskipun sudah luka parah dan tidak bisa lari cepat. telinga Siang-koan Kie tiba-tiba mendengar suara dua ekor orang hutan yang kecebur kedalam air. tetapt ia tidak dapat membiarkan dua orang hutan itu tinggal dalam keadaan demikian. apakah kedua ekor orang hutan itu harus bertarung sampai ada salah satu yang binasa? Tertarik oleh perasaan ingin tahu. tetapi dalam waktu sebentar saja sudah tiba ke satu sudut penghabisan. Pada saat itu tanah pegunungan timbul kabut putih.com/ hampir setengah harian. membuat ia tiada berkesempatan untuk berpikir lagi. tatkala Siang-koan Kie mengawasi ke tempat itu ia hanya mendapatkan suatu . perasaan aneh yang ingin tahu membuat ia melupakan bahaya. Dalan hati Siang-koan Kie merasa heran. ia masih belum berhasil menyadarkan dua ekor orang hutan itu. meskipun dalam hati Siang-koan Kie rnerasa heran takut. diam-diam ia mengikuti ke mana larinya dua orang hutan itu. Maka ia terus berusaha sekuat tenaga. tetapi karena melihat dua ekor orang hutan itu yang lari terbirit2 setelah roboh dalam keadaan pajah. samar2 tampak lamping gunung yang berdiri menjulang ke langit. luasnya hanya kira-kira dua bau saja. Dalam keadaan tidak jelas bagi pandangan mata. achirnya dua ekor orang hutan itu perlahan-lahan bisa bangun tetapi setelah masing-masing bisa berdiri. semakin lama semakin tebal. Terdorong oleh perasaan perikemanusian. di antara kabut putih yang tebal.

Tiraikasih Website http://kangzusi. Berada dalam air. sekujur badannya terasa panas kiranya air sungai itu adalah yang mengeluarkan mata air panas. ia menggunakan kedua tangannya untuk mengayun maju ke depan tetapi akhirnya membentur sebuah batu besar. Tanpa banyak berpikir lagi. Siang-koan Kie juga tidak dapat melihat bahwa di hadapannya itu adalah permukaan sungai. tetapi juga tidak berhasil menembusi kabut itu sampai sejarak tiga kaki. kalau bukan karena suara air yang terbit karena dibuat mandi oleh dua ekor orang hutan itu. walaupun daya pandangan matanya cukup tajam. tiba-tiba kakinya terperosok ke tempat yang lebih dalam sehingga badannja turut tenggelam. jikalau bukan karena dua ekor orang hutan itu ke cebur ke dalam air.com/ pemandangan putih bagaikan asap mengepul ke atas. sehingga dengan demkian ia juga kecebur ke dalam air sungai itu. ia sudah tiada mempunyai kesempatan menikmari kesegaran mandi dengan air hangat itu. Berjalan baru beberapa langkah. sehingga membuyarkan kabut putih itu. sudah tidak dapat melihat jejak dua ekor orang hutan itu. ia tidak dapat menemukan dua ekor orang hutan tersebut. Pada saat itu. kiranya air sungai itu masih terdapat bagian jang dalam sekali. Dengan cepat ia mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya berusaha mengembang ke atas. timbul dari dalam air sungai itu. nampaknja kabut putih yang mengarungi tempat bagaikan waskom ini. adalah pertama kali ini Siang-koan Kie menjumpainya. Selagi otaknya masih memikirkan soal itu. . Ketika ia berada di permakaan air lagi. Siang-koan Kie berjalan dengan tindakan lebar. Kabut sedemikian tebal. Dalam cemasnya. dengan cepat ia naik lagi untuk melanjutkan perjalanannya mencari dua ekor orang hutan itu. dua ekor orang hutan itu sudah tertutup lagi sekujur badannya oleh kabut yang tebal itu.

karena keadaan di tanah jang keadaannya mirip dengan waskom terdapat kabut demikian tebal. sehingga memegat mengalirnya air sungai. pikirnja dalam keadaan yang begin licin tidaklah mungkin dua ekor orang hutan itu dapat naik ke atas. tiba-tiba badannya terjerumus ke dalam suatu jalanan ke lembah pada saat itu samar2 terdengar suara orang hutan. tetapi bagian tempat yang dangkal hanya sebatas lutut saja. Ia berjalan sambil berpikir. Berjalan kira-kira limabelas langkah. diputari oleh batu karang yang menonjol. dengan sangat hati-hati berjalan menuju ke depan. ternyata lamping itu keadaannya sangat licin. Air sungai itu sangat aneh. bagian tempat yang dalam sangat dalam sekali. Siang-koan Kie diam-diam merasa heran. Jalanan lembah itu dalamnya tidak cukup empat kaki.. Siang-koan Kie dengan keadaan basah kuyup.com/ Kiranya sungai itu hanya seluas tiga kaki saja. Kabut dalam lembah itu agak tipis. berjalan kira-kira lima langkah sudah berada di tepinya. ia tidak berani berjalan sembarangan. tetapi andaikata rnereka balik pasti melalui sungai itu lagi.Tiraikasih Website http://kangzusi. begitu membentur batu ia segera melompat naik ke atas. tidak dapat melihat benda di lamping gunung itu. sehingga dua ekor orang hutan itu sudah tidak diketahui lagi ke mana larinya. ia hanya dapat meraba2 dengan tangannya. . hanya tampak kabut putih yang tebal. sekalipun tidak kelihatan tetapi kedengaran suara airnja……. tiba di bawah lamping gunung ketika ia mendongak ke atas. luasnya hanja cukup untuk dua orang dengan jalan bersama. Oleh karena kabut itu terlalu tebal. orang berjalan seperti orang buta. matanja dapat melihat keadaan sejarak satu tombak lebih. di bagian yang dekat sungai. tetapi jalan yang menuju ke lembah ini sedemikian tipis.

dan kabut putih itu sebetulnya timbul dari hawa yang terlalu dingin itu. tetapi dua ekor orang hutan itu sama sekali tidak mengerti ucapannya. meski cuaca nampaknya agak gelap. Suara otang hutan itu kedengarannja semakin lama semakin jauh dan akhirnya tidak terdengar lagi. . ini agaknya ia baru tersadar kiranya dalam keadaan di dalam gua di atas gunung yang tinggi dengan sendirinya hawanya sangat dingin. meskipun keadaannya gelap. tetapi daya pandangan mata Siang-koan Kie yang melebibi pandangan mata manusia biasa. sehingga badarnya menggigil kedinginan. maka ia segera lari menuju ke dalam gua. Dari dalam gua menghembas keluar angin dingin. tetapi tidak basah. Entah apa sebabnya dua ekor orang hutan itu bermusuhan demikian hebat. Takala ia menengok ke bawah. mereka masih terus berkelahi tanpa menghiraukan seruan Siang-koan Kie.com/ Selagi otaknya berpikir. maka ia segera berseru untuk mencegahnja supaya mereka jangan berkelahi lagi. di sana terdapat banyak batu putih yang bentuknya bagaikan telur. di situ tidak terdapat kabut sama sekali. mereka saling cakar dan saling menggigit sehingga sekujur badannya penuh darah.Tiraikasih Website http://kangzusi. hatinya mulai cemas. pamandangan itu ada sama dengan apa yang sudah pernah dialaminya sewaktu pertama kali ia tiba di tempat tersebut. Begitu masuk ke mulut gua. mereka berjalan sambil berkelahi. Siang-koan Kie tidak tega hati. sebentar kemudian matanya sudah dapat melihat bayangan dua ekor orang hutan. dapat melihat keadaan di situ dengan nyata. Siang-koan Kie terus masuk ke dalam. tubuhnya tiba-tiba merasa dingin.

tetapi sebelum bertindak tiba-tiba pikirannya tergerak. maka ia melepaskan orang hutan hitam itu. jalanan dalam goa itu mendadak nampak sangat rendah.com/ Dalam keadaan demikian. Perbuatan itu di luar dugaan Siang-koan Kie maka terpaksa ia melepaskan tangannya. Orang hutan berbulu hitam itu ketika melihat musuhnya lari. Orang hutan berbulu kuning mas itu ketika menampak musuhnya ditarik oleh Siang-koan Kie tiba-tiba melompat dan lari ke dalam gua.Tiraikasih Website http://kangzusi. sebab dua ekor orang hutan yang bertarung sedemikian sengit tanpa menghiraukan luka badannya sendiri. Karena saat itu kekuatan dan kepandaian Siang-koan Kie sudah pulih kembali. sebetulnya dapat menundukan orang hutan itu dengan mudah. nampaknya sangat cemas. Siang-koan Kie tidak bisa tinggal diam. pasti bukan tidak ada sebabnya. hingga orang hutan berbulu hitam itu untuk melepaskan diri tidak berhasil sama sekali. Melalui dua tikungan. Tetapi karena Siang-koan Kie menggunakan kekuatan tenaga yang cukup besar. dengan tanpa menghiraukan luka badannja sendiri tiba-tiba merontak dengan sekuat tenaga. tangannya menyambar badan orang hutan yang berbulu hitam. begitu terlepas dari tangannya orang hutan hitam itu segera lari mengejar musuhnja. Siang-koan Kir juga lalu melompat mengikuti jejaknya. dengan cepat ia lari memburu. Di dalam keadaan putus asa orang hutan itu membuka mulut hendak menggigit lengan Siang-koan Kie. Untuk mengetahui sebab2nya ia harus berusaha mengintip gerak gerik mereka. dan orang hutan berbulu kuning mas . Oleh sebenarnya.

sedangkan orang hutan berbulu hitam sedang tengkurap berjalan merankak. adalah sebuah kamar batu seluas satu tombak persegi. kalau melanjutkan pertarungannya lagi. jalanan ini begini sempit mau tidak mau aku harus menelat perbuatan orang hutan hitam itu. “Dua ekor orang hutan itu sudah terluka parah. bentuk badannya kira-kira . ia juga terpaksa berlaku nekad. Sebetulnya Siang-koan Kie masih ragu2. Jalanan pendek dan sempit itu ternyata dingin sekali karena angin dingin menghembus dari dalam. tibalah di tempat yang agak luas. pikirnya. Siang-koan Kie hatinya merasa cemas lagi. sehingga keadaan di dasar kolam tampak dengan nyata. tingginya kira-kira tiga tombak.Tiraikasih Website http://kangzusi. tiga buah saluran air mancur terdapat di atasnya sela2 batu. dalam kolam itu ada tiga ekor ikan aneh yang bersisik merah. keduanya barangkali tidak bisa hidup lagi. Orang hutan hitam itu ternyata dapat berjalan dengan secara demikian dengan cepat sekali.com/ itu sudah tidak tampak lagi. yang mengalirkan air ke dalam kolam itu. tetapi karena melihat perbuatan orang hutan hitam itu yang sedemikian nekad.” Di depan rnatanya. Kolam itu tidak dalam. bahkan tidak menghiraukan rasa sakit pada lukanya. Siang-koan Kie yang menyaksikan keadaan yang demikian diam-diam berpikir. Jalan rnerangkak kira-kira tiga tombak. di tengah2 kamar itu ada sebuah kolam seluas tiga kaki persegi. berjalan dengan merangkak baru bisa melalui jalanan ini. Ia segera mengerahkan kekuatannya melesat keluar dari jalanan sempit itu. sehingga jalanan yang dilaluinya itu banyak bekas tanda darahnya. di situ terdengar pula suara berteriaknya orang hutan.

Siang-koan Kie diam-diam menghela napas. semuanya aku telah berhutang budi kepada mereka. Dua ekor orang hutan itu setelah dipisahkan oleh Siangkoan Kie. dengan demikian maka air dalam kolam itu selalu tidak bias penuh. tetapi dingin sekali. ia tidak tahu apa sebabnya bertarung begitu mati2an. hutan itu sudah terlalu letih. “Dua ekor orang hutan ini. juga terlaju banyak mengeluarkan darah. kemudian diurut badannya perlahanlahan. Terpaksa ia bertindak lagi untuk rnemisahkan kedua makhluk yang sedang bermusuhan itu.com/ sepanjang satu kaki. perlahan-lahan membuka matanya mengawasi Siang-koan Kie sejenak kemudian dipejamkan lagi. sehingga air yang kelebihan dari kolam mengalir mengalir melalui lobang2 kecil itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. sehingga nampaknya sudah tidak sanggup mempertahankan dirinya lagi. Meskipun airnya tidak banyak. . walaupun tadi begitu galak tetapi kini rnendadak menjadi jinak. dua pasang mata mangawasi Siang-koan Kie sejenak. maka aku tidak boleh memilih kasih. Ia segera menolong orang hutan berbulu kuning mas diletakkan ke satu sudut. sedang berdiam di dalam tanpa bergerak.” Orang hutan itu setelah diurut sebentar. Kedua ekor orang hutan itu sudah bertarung lagi. hawa dingin menghembus keluar dari kolam itu. harus kutolong semuanya. sehingga tanah di dalam kamar itu penuh dengan darah. Siang-koan Kie tahu bahwa dua ekor orang. Dalam hati Siang-koan Kie diam-diam berpikir. di sekitar dalam kolam itu terdapat banyak lobang2 kecil. lalu dipejamkan. mereka saling menggigit saling mencakar dan bergumulan di tanah.

meskipun air itu bergolak. selain untuk mencuci tanganaja. lalu memasukan tangannya ke dalam air. . Siang-koan Kie merasa heran. tetapi tiga ekor ikan itu tetap tidak bergerak. yang mengherankan hawa air itu meskipun dingin tetapi tidak meresap ke tulang. Siang-koan Kie berjalan ke kolam untuk membersihkan tangannya yang penuh dengan darah. agaknya tidak pernah bergerak. tetapi tiga ekor ikan itu mulutnya nampak bergerak-gerak dan terbuka mengeluarkan buih berwarna putih. Sedangkan tiga ekor ikan aneh bersisik merah masih tetap berdiam di tempatnya. lalu dipejamkan lagi. Selagi hendak menepok air kolam itu lagi. Bentuk tiga ekor ikan itu. Kejadian luar biasa ini sangat menarik perhatian Siang-koan Kie. sesungguhnya sangat aneh. tetapi tidak menimbulkan rasa tidak enak bagi Siang-koan Kie. begitu juga keadaannya dengan orang hutan berbulu hitam ini. mengapa tiga ekor ikan itu tidak bergerak sama sekali. Air kolam itu menimbulkan hawa sangat dingin.com/ Siang-koan Kie setelah menyadarkan orang hutan berbulu kuning mas. setelah membuka matanya mengawasi Siang-koan Kie sejenak. Siangkoan Kie yang merasa heran itu. juga ingin mencoba apakah perbuatannya itu dapat menghalau tiga ekor ikan yang tidak bergerak sama sekali itu. sehingga dianggapnya ikannja sudah mati. lalu pergi menolong orang hutan berbulu hitam. jauh berbeda dengan ikan biasa kecuali mulutnya yang bergerak.Tiraikasih Website http://kangzusi. Selesai menolong dua ekor orang hutan itu. tiba-tiba terdengar suara tindakan kaki yang lari mendatanginya. Air itu dingin sekali. kiranya orang hutan berbulu kuning mas itu sudah merayap bangun. kepala dan ekornya belum pernah bergerak samasekali.

Siang-koan Kie khawatir dua orang hutan itu akan bertempur lagi. lalu merayap naik ke tepi kolam. Siang-koan Kie yang menyaksikan semua itu semakin heran. sementara matanya mengawasi ke dalam kolam. ia berdiri di-tengah2 mereka. setelah bekas tanda darah itu tersapu bersih .com/ Begitu tiba di kolam. semuanya sedang mengangapkan mulutnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Air ini sedemikian dingin sekalipun bagi orang yang tidak terluka juga tidak anggup bertahan tetapi orang hutan yang sekujur badannja penuh dengan luka2nya itu. Meskipun sekujur badannja penuh darah dan luka2. bagaimana nampaknya sedikitpun tidak merasa menderita apa-apa. ketika matanya ditujukan kepada tiga ekor ikan aneh itu. lalu duduk lagi di pinggir dinding kamar.” Orang hutan itu setelah membersihkan darah di sekujur badannya. tetapi ternyata masih berani maju dalam air kolam yang sangat dingin itu. air kolam yang tadinya penuh darah itu. pikirnya. dengan cepat mengalir keluar melalui lubang2 kecil di sekitar kolam itu hingga sebentar saja kotoran darah itu sudah tersapu bersih. kejadian ini sangat mengherankan. semua telah terdorong. Dengan pikiran terheran2 Siang-koan Kie mengawasi orang hutan yang sedang mandi di dalam air kolam. dengan tanpa ragu2 ia segera melompat dan menyebur ke dalam kolam. Sebentar saja air kolam yang jernih itu sudah berubah menjadi merah semuanya. hingga dengan cepat keluar melalui lubang2 di sekitar kolam itu. buih yang keluar dari mulutnya itu nampaknya mengandung kekuatan yang amat besar. dari mulut mereka itu mengeluarkan buih berwarna putih. sebab kotoran darah yang rnemenuhi air kolam itu. sepasang matanja mengawasi Siang-koan Kie. berbagai pertanyaan timbul dalam otaknya.

ia sudah tidak bisa bergerak. Suatu hal yang membuat Siang-koan Kie tak habis mengerti ialah tiga ekor ikan aneh itu sedikitpun tak bergetak dari tempatnya. . sekalipun air kolam tadi bekas dipakai mandi oleh orang hutan berbulu kuning itu. kemudian dimasukkan ke dalam air. setelah ditariknya berjalan mengitari kolam lalu menuju ke suatu sudut.Tiraikasih Website http://kangzusi. tiga ekor ikan aneh itu kembali menutup mulutnya rapat2. nampaknya juga sudah sangat susah. segera sadar kembali. dan luka itu segera sembuh kembali.com/ semuanya. kepalanya di-gojang2kan. Tiba-tiba orang hutan berbulu kuning mas itu mengeluarkan suara perlahan dan berjalan menghampirinya. sebentar kemudian ia sudah bisa merayap bangun dan duduk di lain sudut untuk beristirahat. tetapi setelah diceburkan ke dalam kolam oleh Siangkoan Kie. mereka lalu lari kemari untuk mandi. kemudian menarik bajunya. Siang-koan Kie benar-benar sangat heran. kiranya dua ekor orang hutan itu setelah bertarung sengit dan luka2. maka ia tak berani menjamahnja. sekalipun dalam hati ingin menangkap tiga ekor ikan aneh itu untuk diperiksanya. Ketika ia metihat keadaan orang hutan berbulu kuning itu. Orang hutan hitam itu nampaknya sudah sangat parah. ia segera tersadar. badannya yang bekas terluka tadi ternyata sudah mulai rapat kembali. karena air kolam itu ternyata dapat menyembuhkan binatang yang sudah hampir mati itu. tetapi ia takut akan mengganggu khasiat ikan itu. Karena berpikir demikian maka ia segera mengangkat dirinya orang hutan hitam dan diceburkan ke dalam kolam itu. entah itu kekuatan air kolam ataukah khasiatnya tiga ekor ikan itu? Ia adalah seorang jujur dan berbudi.

hawa itu dingin sekali. hawa dingin segera menghembus keluar. dan berjalan mengikuti orang hutan berbulu kuning mas itu. Begitu pintu itu terbuka. juga masih merasa menggigil. ia nerobos masuk lebih dulu. selagi Siang-koan Kie merasa sangsi. tenaga Setelah mendengar suara bergeraknya dinding itu. . Orang hutan berbulu hitam itu mengeluarkan suara perlahan sambil menggoyang2kan kepalanya. sekalipun Siang-koan Kie berkepandaian cukup tinggi. Begitu tiba di tempat yang dituju. ketika melihat pintu terbuka. orang hutan berbulu hitam itu mengulurkan kedua tangannya mendorong dinding kamar. beberapa kali ia mendorong dinding itu tidak bergerak. Siang-koan Kie lalu mengerahkan kekuatan dalamnya. tetapi ketika menyaksikan orang hutan berbulu kuning itu menarik Siang-koan Kie berjalan ke suatu sudut ia segera mengejar tanpa menghiraukan lukanja sendiri. mungkin tenaganya belum pulih kembali. Kiranya tempat itu adalah merupakan pintu batu dari sebuah jalanan. Siang-koan Kie khawatir dua orang hutan itu akan berkelahi lagi. orang hutan berbulu hitam itu sudah nerobos masuk melalui sampingnya. dinding yang tadinja rapat itu tiba-tiba terbuka.com/ Luka2 orang hutan berbulu hitam itu belum sembuh sama sekali. Dua orang hutan itu berjalan satu di muka dan satu di belakang. sedangkan Siang-koan Kie berada di tengah2 mereka. maka buru-buru mundur dua langkah untuk mencegah terjadinya perkelahian. Orang hutan berbulu kuning mas yang memimpin jalan tadi. membantunya mendorong dinding itu. meskipun Siangkoan Kie tidak mengerti apa yang dikatakan olehnya tetapi agaknya tidak mengandung maksud jahat.Tiraikasih Website http://kangzusi.

di dalam kuali itu terdapat benda hitam bagaikan lilin. Berjalan kira-kira tigapuluh tombak. Jalanan di dalam goa itu sampai di situ telah berakhir. membelok ke suatu arah lain. bau obat tadi keluar dari benda hitam itu. ia berjalan melampaui dua ekor orang hutan itu terus menuju ke depan. tiba di bagian yang sangat dalam. Dua ekor orang hutan itu tiba-tiba berhenti. Bau obat2an yang sangat tajam menusuk hidung Siangkoan Kie. Jalanan itu meskipun sangat dingin tetapi rata. mereka berpaling mengawasi Siang-koan Kie.Tiraikasih Website http://kangzusi. jalanan kembali Melalui beberapa tikungan. merupakan batu dapur. keadaan tempat itu nampak lebih luas. jalanan itu tiba-tiba membelok ke samping. di bawah kuali ada kaju bakar tetapi sudah tidak ada apinya. dinding di sekitar ruangan itu bersih licin bagaikan belahan . di atas tumpukan batu tumpukan kristal itu ada sebuah kuali penggorengan.com/ Siang-koan Kie tidak ragu2 lagi. beberapa batu kristal jang besar bertumpuk bagaikan batu bata. kiranya di ruangan dalam gua itu terdapat banyak batu kristal atau mutiara yang tergantung sehingga mengeluarkan sinar terang bagaikan sinar pelita. keadaan tiba-tiba menjadi terang benderang. dua ekor orang hutan itu berjalan cepat sekali. Bau obat2an semakin merangsang. suatu pertanyaan timbul dalam hatinya. Setelah melalui jalan tikungan itu. dengan tindakan lebar ia berjalan masuk ke dalam gua itu. mengapa dua ekor orang hutan itu mendadak berhenti? Dan dari mana bau obat2an itu? Meskipun pikirannja bekerja tetapi kakinya berhenti. sehingga menimbulkan keheranannya.

Ternyata pintu batu itu adalah sebuah pintu hidup yang dapat didorong dari kedua pihak. ia dapat kenyataan mereka sedang mengawasi dirinya dengan sikap sangat aneh. Siang-koaa Kie berpaling dan mengawasi dua ekor orang hutan itu sejenak. baru dapat memikirkan apa jang dilihatnya dalam kamar itu. Ketika Siang-koan Kie memandang ke dalam. Dua ekor orang hutan itu tiba-tiba mengeluarkan suara perlahan. Dua ekor orang hutan itu mengikuti Siang-koan Kie. tetapi juga segera mundur beberapa langkah. dalam keadaan gugup. dan pintu itu mendadak tertutup lagi. Dua ekor orang hutan itu mengikuti di belakang Siang-koan Kie. dinding itu memancarkan sinar biru sehingga keadaan di sekitar itu terang karena sinar itu.com/ batu kumala. tertarik oleh perasaan heran ia berjalan ke sudut itu. . maka ia harus berlaku sangat hati-hati untuk melanjutkan tindakannya. Siang-koan Kie setelah menenangkan pikirannya kembali. benar saja dinding itu lalu terbuka. tangannya menekan dinding itu lagi. sehingga menyakitkan orang hutan itu. mereka berdiri diam sambil menyandar ke dinding. kakinya sudah menginjak kaki orang hutan berbulu kuning. Siang-koan Kie mengawisi keadaan di sekitarnya. bukan kepalang terkejutnya. ketika Siang-koan Kie mundur.Tiraikasih Website http://kangzusi. sewaktu Siang-koan Kie mundur karena dalam keadaan gugup tangannya menoel sehingga pintu itu tertutup kembali. Ia mendorong ke bagian itu. sekalipun ia seorang pemberani. setelah berada di dalam kamar itu permusuhan mereka agaknya sudah lenyap satu sama lain menunjukkan perasaan duka. perlahan-lahan menghampirinya. tiba-tiba ia dapat melihat di suatu sudut ada terbuka satu lubang.

Sekitar kamar dinding itu. sedang golok mas yang tergenggam oleh tangannya tepat menunjukkan gaya menikam ulu hati orang berambut panjang yang mengenakan pakaian berwarna merah itu. lengan tangannya sudah kering dan beku. ternyata dua ekor orang hutan itu sedang duduk di satu sudut.Tiraikasih Website http://kangzusi. Kali ini ia mendorong dengan perlahan-lahan. tiba-tiba ia nampak di belakang punggung mayat orang itu. mata mereka ditujukan ke lobang pintu. sehingga tidak dapat dilihat bagaimana macamnya. Siang-koan Kie tiba-tiba mendapat suatu pikiran.com/ kiranya dalam kamar itu terdapat dua mayat manusia. mukanya menghadap dinding sebelah kiri. kepalanya mendekam ke tanah. Yang mengherankan ialah kedua orang itu mukanya menghadap ke dinding. . ia berjalan menghampiri pintu dinding itu lagi. tertancap sebuah golok mas. Ketika ia berpaling dan mengawasi kedua ekor orang hutan itu. semua keadaan di situ dapat dilihat dengan nyata.. orang itu ternyata seorang tinggi besar yang mengenakan pakaian berwarna biru. entah sudah beberapa banyak tahun berada di dalam gua ini. lengan tangan kanan terulur keluar. Dua mayat manusia itu. semua bagaikan 1apisan batu kumala yang mengeluarkan sinar ke-biru2an. yang berambut panjang dan mengenakan pakaian berwarna merah berdiri membelakangi pintu. “Apakah mungkin mayat dua orang dalam kamar aneh ini ada hubungannya dengan dua orang hutan ini?” Setelah berpikir demikian. Sebuah tangan yang memegang gagang golok mas itu adalah tangan berbulu hitam. dan entah bagaimana dua ekor orang hutan itu bisa datang kemari…….

dari keadaan kedua mayat itu sudah dapat diketahui bahwa mayat orang jang berpakaian merah ini adalah mayat seorang perempuan. orang jang berpakaian biru itu agaknya terluka lebih dahulu.Tiraikasih Website http://kangzusi. pakaian itu agaknya yang terbuat dari bahan istimewa. dalam hati mulai mengerti. ia dapat memeriksa keadaan di sekitar tempat itu dengan setenang-tenangnya.com/ Warna pakaian yang dipakai oleh dua orang itu semua masih nampak seperti baru. Beberapa saat Siang-koan Kie memeriksa keadaan rnayat itu. Mayat yang tinggi besar. sebaliknja dengan orang yang berpakaian warna merah tubuhnya kecil langsing. Pada saat itu pikiran Siang-koan Kie sudah tenang kembali. dagingnya sudah kering semua. terdapat bekas tanda darah yang sudah kering. Waktu Siang-koan Kie masuk ke dalam kamar itu. mungkin sama2 berdiam di tempat ini. tangan kiri dan kepalanya menempel dinding batu. tetapi sudah tidak diketahui entah berapa tahun lamanya. dua ekor orang hutan itu juga mengikuti. Golok mas yang menancap di belakang punggungnya itu. . nampaknja sudah mati lama sekali. bahwa sepasang lelaki dan wanita ini. memancarkan sinar gemerlapan yang menyilaukan mata. Orang yang berpakaian warna biru tubuhnya tinggi besar. Di atas tanah batu yang putih bersih. maka dua mayat orang tersebut sekian tahun lamanya semua tidak roboh di tanah. entah apa sebabnya mereka saling bunuh sendiri. Dua mayat manusia dalam keadaan berdiri itu. dengan demikian seolah-olah menahan robohnya orang itu. dan kemudian setelah perempuan itu agak lengah tiba-tiba ditikam oleh goloknya. sedang golok mas di tangan kanan menusuk belakang punggung orang yang memakai pakaian yang berwarna merah.

sebab kalau ditinjau dari keadaan dan letak berdirinya dua mayat itu kedua orang itu di masa hidupnja tentu mengenal satu sama lain. Waktu ia memeriksa keadaan luka orang itu kulitnya ternyata sudah kering. mulutnya masih setengah terbuka. sedang pakaian kedua orang itu.. di tempat yang jarang didatangi oleh rnanusia ini. sedikit tanda dapat dilihat dengan nyata tetapi ia mencari beberapa lama. tetapi mengapa saling bunuh di tempat yang sangat tersembunyi ini?” Ini merupakan suatu pertanyaan yang sulit untuk dijawab. hingga tampak giginya. Ia agaknya merasa bahwa dugaannya itu tidak keliru. bagaimana rasa sunyinya berdiam di dalam goa ini……. Matanya kembali menyusuri setiap sudut di dalam kamar itu. tentunya kakak beradik. maka kedua orang ini kalau bukan sepasang kekasih. seorang lelaki dan seorang perempuan yang hidup dua2an di dalam gua yang tersembunyi ini. sambil mendongak ke atas ia berkata kepada dirinya sendiri. Siang-koan Kie mengukur jarak dua mayat itu untuk menafsir keadaannya di waktu mereka bertempur. tentunya sepasang saudara. Kamar yang luasnya tidak lebih dari dua tombak persegi itu. dikelilingi oleh dinding batu kumala jang petih dan memancarkan sinar ke-biru2an. agaknya bukan orang datang dari tempat jauh yang mencari atau membalas dendam. tidak terdapat tandaiyang mencurigakan. juga menunjukkan.com/ Waktu ia memeriksa keadaan di bawah laki2 berpakaian biru itu. “Dua orang ini kalau bukan merupakan sepasang kekasih. keadaan itu sangat menakutkan. benar saja di bawah lantai terdapat tanda darah yang sudah kering. tidaklah mungkin kalau satu sama lain tidak ada hubungannya.Tiraikasih Website http://kangzusi. . dalam hati merasa aneh. darah itu agaknya keluar dari mulutnya.

siapa tahu setelah dicarinya ke setiap pelosok ternyata tidak menemukan barang yang mencurigakan.com/ Semula ia menduga pertikaian sehingga saling bunuh kedua orang itu. . Selagi hendak mengulurkan tangannya meraba badan mayat perempuan itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. setelah tidak berhasil merintangnya. Ketika ia menengok ke arah dua ekor orang hutan itu. ia terpaksa melindungi dan menghadang di hadapannya. Siang-koan Kie melompat ke samping. orang hutan berbulu kuning mas berlutut di hadapan mayat orang perempuan berpakatan merah. ternyata dua ekor orang hutan itu masing-masing berlutut di hadapan kedua mayat itu. dengan air mata bercucuran orang hutan itu menghadang di hadapan mayat perempuan itu. ternyata adalah orang hutan berbulu kuning mas itu. sehingga tidak dapat dilihat dengan nyata. kiranya masing-masing ada majikannya. Ia mengamat-amati perempuan berbaju merah itu. tiba-tiba terdengar suara bunyi orang hutan. ternyata sudah menempel kepada dinding batu. Orang hutan yang menubruknya tadi. kemudian menubruk padanja. karena melihat majikan mereka saling bunuh sendiri sehingga timbullah demdam permusuhan antara mereka sendiri. Mata kedua orang hutan itu semua mengucurkan air mata. Kini sadarlah Siang-koan Kie apa sebabnya dua orang hutan bermusuhan begitu hebat. Jelaslah sudah bahwa perbuatannya itu hendak melarang Siang-koan Kie menjamah badan majikannya. sedangkan orang hutan berbulu hitam berlutut di hadapan mayat orang lelaki berpakaian biru. perbuatan dua ekor orang hutan itu memang sangat goblok tetapi kesetiaan hati terhadap majikan mereka sesungguhnya patut dipuji. mungkin menemukan semacam benda yang sangat berharga.

mulutnya sebentar2 mengeluarkan geraman perlahan-lahan. untuk menundukkan dua binatang ini. tetapi hendak melakukan pemeriksaan itu lebih dulu harus rnenundukkan dua orang hutan ini. Dalam hati Siang-koan Kie diam-diam berpikir. orang hutan berbulu kuning mas itu sekonyong2 melompat menubruk orang hutan berbulu hitam. Jika mengandalkan kepandaianku. dalam hatinya berpikir. maka ia segera bangkit dan rnenghalang di hadapan mayat laki2 itu. Lama dalam keadaan demikian. tetapi mereka begitu setia terhadap majikan masing-masing jikalau mereka timbul salah paham dan mengira aku hendak mengambil barang dari badan mereka. begitu melihat perhatian Siang-koan Kie ditujukan kepada mayat orang laki2 itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Jikalau tidak diperiksa dengan teliti keadaan kedua mayat ini susah untuk mengetahui asal usulnya kedua orang ini. . mereka pasti akan menghalangi terus usahanya. hal ini sesungguhnya sangat berabe.” Kini ia mengarahkan perhatiannya kepada mayat laki2 yang berpakaian biru itu. sekalipun tidak susah. matanya mengawasi Siang-koan Kie tanpa berkedip. “Orang ini entah sudah meninggal beberapa tahun lamanya. tetapi kesetiaan hati binatang ini kepada majikannya masih tetap tidak berobah.” Lama ia memikirkan suatu cara untuk menghadapi dua binatang itu sehingga terpaksa diam berdiri saja. Dua binatang itu masing-masing menjaga dan melindungi majikannya. sehingga dua binatang itu mulai bergumulan lagi.com/ Siang-koan Kie diam-diam menganggukkan kepala. Orang hutan berbulu hitam itu. nampaknya sekalipun hanya binatang saja tetapi kesetiaannya lebih tebal dari pada manusia. telah mengira akan berlaku tidak baik terhadap majikannya.

ia tutup pintunya kemudian menghormat terhadap dua mayat itu.com/ Siang-koan Kie berpikir hendak memisah lagi.Tiraikasih Website http://kangzusi. golok mas di tangannya terjatuh di tanah. sehingga masih dalam keadaan berdiri. Kedua orang hutan itu meskipun cerdik. kulit dan daging sekujur tubuhnya sudah menjadi kering. tetapi ini setelah golok mas jatuh. dengan tindakan sangat hati-hati ia memindahkan mayat laki2 berbaju biru itu. sudah tentu tidak dapat memikirkan soal lainnya. tetapi biar bagaimana tidak secerdik manusia. bahkan memancing mereka keluar dari kamar. sedang mulutnya mendoa. mereka sedang bertarung sengit. tetapi karena sudah terlalu lama meninggal. Siang-koan Kie menggunakan kesempatan balik lagi ke dalam kamar. . tetapi ia berpikir lain. ingin memindahkan jenazah kedua locianpwee untuk mengetahui riwayat dan asal usul locianpwee berdua. Dua mayat itu meski tidak rusak karena hawa dingin dalam gua itu. “Boanpwee Siang-koan Kie. Selesai mendoa. maka ia membiarkan dua binatang itu bergumulan terus. kekuatannya menunjang telah lenyap. maka begitu dipindah. dengan sendirinya tidak dapat berdiri lagi seperti semula. Kedua mayat itu diletakkan di tanah. asal mencebur ke dalam air segera sembuh kembali. sekalipun dua binatang itu terluka parah. dengan sendirinya mayatnya juga jatuh. Tetapi Siang-koan Kie bertindak gesit. dengan tangan kiri ia menunjang mayat lelaki itu sedang tangan kanan dengan cepat menyanggap mayat perempuan itu supaya jangan jatuh. karena air dalam kolam itu dapat menyembuhkan luka. supaya ia mendapat kesempatan untuk memeriksa keadaan kedua mayat itu. Mayat perempuan itu karena tertunjang oleh golok mas itu.

Golok itu lebar dan tebal. Kecuali itu. Siang-koan Kie memeriksa beberapa lama masih tidak dapat menemukan tanda apa-apa. ia letakkan golok di samping. Siang-koan Kie meraba pakaian dua mayat itu. hanya alis dan rambutnya yang utuh. gagangnya juga terbuat dari mas. mau tidak mau harus memeriksa kedua mayat itu. Karena dalam kamar itu kecuali dua mayat manusia. Laki2 itu di masa hidupnja pasti berperawakkan tegap dan tinggi besar. Siang-koan Kie megulur tangannya perlahan-lahan membuka pakaian. di bagian pinggangnya ada terdapat kulit bersisik hitam. tidak terdapat apa-apa lagi. hanya terdapat sebilah golok mas. agaknya digunakan sebagai tempat golok mas itu. hal ini sangat mengherankan Siang-koan Kie.Tiraikasih Website http://kangzusi. -odwoBab 14 KULIT tempat golok itu melekat erat di pinggang mayat laki2 itu. ia mengawasi mayat lelaki. bukan saja masih belum hancur bahkan masih tetap seperti keadaan baru. Golok mas itu panjang kira-kira hampir dua kaki sinarnya gemerlapan. sekalipun kulit dan kakinya sudah kering. Ia memungut golok mas yang jatuh di tanah dan diperiksanya dengan seksama. ternyata sudah sukar dikenalnya. kalau ingin mengetahui riwayat kedua mayat itu. tetapi bagian ujungnya tajam sekali.com/ Keadaan dua mayat. kecuali dipotong dengan pisau tajam harus ditarik . tetapi dari tulangnya dapat dibuktikan jauh lebih tinggi dan besar dari Siang-koan Kie sendiri.

setelah diperiksanya akan dikembalikan lagi. selagi hendak meninggalkan mayat itu. . ia hendak mengambil bungkusan di badan mayat itu sambil melengoskan kepala. ia tetah mengambil keputusan tidak akan memeriksa mayat perempuan itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. Beberapa saat lamanya Siang-koan Kie berdiam. Ia segera melakukan perbuatannya itu dan berhasil mengambil bungkusan yang ternyata merupakan satu kantong yang terbuat dari benang sutera mas. selagi hendak membukakan baju bagian atasnya. perlahan-lahan meletakkan mayat itu di tanah lagi. sehingga hatinya menjadi bimbang lagi. Lama ia berputar dengan pikiran sendiri. ia menarik kembali tangannya. meski ia tadi sudah berkeputusan tidak akan memeriksa mayat perempuan itu. ia jongkok di dekat mayat perempuan. tetapi dengan demikian tentu akan merusak tulang mayat itu. “Meskipun hanya satu rangka mayat saja. Penemuan ini sangat merarik perhatian Siang-koan Kie. matanya telah dapat melihat badan mayat perempuan itu ada sebuah bungkusan yang menonjol tinggi pada badannya. beberapa kali hendak meraba badan mayat perempuan itu tapi setiap menyentuh badan mayat itu. tiba-tiba berpikir. tetapi perasaan ingin tahu menggoda pikirannya.com/ secara paksa. tetapi biar bagaimana antara laki2 dan perempuan ada perbedaanya bagaimana aku boleh membuka pakaiannya?” Tetapi apabila ia melepaskan niatnya. Di dalam kamar ia dengar suara cecuitan dari dua ekor orang hutan itu yang agaknya sedang bertarung sengit sekali. Akhirnya ia mendapat satu pikiran. Ia memeriksa sejenak. tidak akan melakukan penyelidikkan. hatinya merasa penasaran sehingga sesaat lamanya hatinya bimbang.

karena bentuk kantong yang sangat indah itu ia sangat sayang merusaknya. Ia hanya dapat meraba2 dari luar.com/ Kantong itu tidak cukup satu kaki lebarnya. sekalipun hatinya merasa tertarik oleh benda itu. bagaimana dapat ditembusi oleh golok mas itu? Tertarik oleh pikiran itu. ia lalu memungut lagi golok mas yang terletak di tanah itu. karena kantong yang tak ada bagian mulutnya. Ia membuat main kantong yang sangat menarik itu. tetapi kantong itu kuat sekali. dengan cara bagaimana memasukkan barang ke dalamnya. ia agak heran bahan pakaian yang demikian ulet. Akhirnya ia hendak membuat sedikit lubang pada kantong itu. kemudian meletakkan lagi ke samping mayat perempuan itu. tetapi ia tak tega hati merusak barang yang indah itu. benda2 dalam kantong itu ada yang keras dan juga ada yang lunak. .Tiraikasih Website http://kangzusi. benda2 itu agaknya tak sedikit jumlahnya. Sebagai seorang jujur. ia merasa heran. kantong itu sedikitpun tak terdapat tanda2 rusak ataupun cacat. di dalamnya terisi barang yang menonjol. Ia mencoba beberapa kali. ia tidak berhasil melubanginya. ia coba mengorek dengan jari tangannya. entah barang apa. Ia membulak balik kantong itu tetapi tidak terdapat di mana letak alat untuk membukanya. tetapi ia tidak berdaya untuk membukanya. tetapi usahanya itu selalu gagal. Pikiran lain terlintas dalam pikiran Siang-koan Kie. Warna mas kantong kecil itu ternyata serupa benar dengan warna pakaian yang dipakai oleh mayat perempuan itu. maka akhirnya ia hanya bisa menghela napas mengawasi kantong itu.

“Golok mas ini dapat menembusi apapun juga. tetapi barang ini tetap menjadi kepunyaannya. Matanya kini diarahkan kembali kepada golok mas. tiba-tiba ditariknya kembali. dan kalau mengambil tempat golok itu mungkin akan merusak tubuh mayat 1aki2 itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. . ia tekan bagian ujungnya ke atas batu yang keras. ia letakan golok itu ke tanah. Siang-koan Kie terkejut ia sungguh tidak menduga bahwa golok mas itu mempunyai ketajaman demikian rupa. Dalam hatinya berpikir kalau aku membuka kantong mas ini bukankah itu berarti sudah mencuri lihat barang simpanan orang lain. itu berarti suatu perbuatan mencuri. hatinya merasa bimbang.com/ Kini ia memeriksanya dengan seksama. bagaikan memotong tahu. sesungguhnya mempunyai daya penarik sangat besar bagi orang rimba persilatan. Ia membatalkan niatnya untuk memeriksa benda dalam kantong itu dan meletakkan kembali di samping mayat perempuan itu. Siang-koan Kie ingin menggunakan golok mas itu untuk membuka kantong mas. Kini Siang-koan Kie mencoba golok mas itu. senjata demikian tajam. di bagian gagang golok itu ternyata terdapat ukiran huruf kecil yang berbunyi.” Huruf itu sedemikian kecil kalau tidak hati-hati tidak mudah dilihatnya. perempuan ini meski sudah lama meninggal. ia tahu bahwa golok mas itu adalah satu golok pusaka. tetapi selagi hendak menusukkan ujung golok ke atas kantong mas. Ia merasa suka dengan golok itu tetapi kalau diambil begitu saja. ternyata sedemikian mudah ujung golok itu masuk ke dalam batu yang keras. Lama berpikir ia tidak tahu bagaimana harus berbuat. apalagi kalau mengambil goloknya sudah tentu berikut tempatnya.

com/ Sementara itu di lain kamar sudah tidak terdengar lagi suara orang hutan yang sedang bertarung sengit itu. kemudian mendukung diri orang hutan berbulu hitam dan diceburkan ke dalam kolam. dan setelah mengawasi Siangkoan Kie juga berjalan keluar. Siang-koan Kie menghela napas menyaksikan keadaan kedua binatang itu. Orang hutan berbulu hitam itu begitu berada dalam kolam segera sadar lagi. lalu lari keluar. setelah membersihkan darah di badannya. Ia berpikir sejenak. ia berjongkok meraba hidung kedua binatang itu ternyata masih bisa bernapas. kemudian merayap naik lagi setelah mengawasi Siang-koan Kie sejenak. segera dapat melihat dua binatang itu sudah rebah di tepi kolam. Siang-koan Kie mengikuti di belakang orang hutan yang berbulu kuning mas itu. Setelah orang hutan hitam itu berlalu. ia berjalan melalui sungai dan menerobos di antara kabut. tidak lama kemudian binatang itu sudah sadar. Siang-koan Kie lalu mengangkat tubuh orang hutan berbulu kuning mas dan dilemparkan ke dalam air kolam. Pada saat itu keadaan di luar masih tertutup oleh kabut putih yang tebal. . tetapi orang hutan berbulu kuning mas itu agaknya sudah hafal sekali keadaan tempat itu. ia mendorong pintu kamar. lalu merayap naik. ia tepaksa menggunakan kepandaiannya untuk menundukkan mereka. ia bermandian dengan air kolam yang dingin untuk membersihkan darahnya. sedangkan Siang-koan Kie terus mengikuti di belakang dirinya dan keluar dari tempat yang bentuknya mirip dengan waskom itu. apabila kedua binatang itu bertarung lagi. Siang-koan Kie meletakkan golok mas di samping mayat laki itu. agaknya sudah pingsan.Tiraikasih Website http://kangzusi. berada di luar gua ia telah mengambil keputusan. ke-dua2nya penuh darah.

Setelah orang hutan berbulu kuning mas itu berlalu dengan tiga ekor orang hutan kecil ia baru balik kembali ke rumah panggung di atas pohon itu. ia lalu berkata. aku pasti akan melakukan dengan sepenuh tenaga.com/ Keluar dari tempat tersebut. begitu melihat Siang-koan Kie kembali.” “Aku hanya minta supaya nyonya mengendalikan suamimu. tetapi . sekonyong2 air matanya mengalir keluar. jangan membiarkannya bertarung dengan orang hutan berbulu kuning mas itu. tampak tiga ekor orang hutan kecil sedang menantikan. ia berkata. entah kapan akan berangkat.” “Aku akan segera barangkat. agaknya mendapat firasat bahwa nyonya itu semula ingin mengakhiri penghidupannya setelah anaknya pergi. katakan saja terus terang. tetapi ada suatu hal yang masih menjadi pikiranku. katanya sambil tertawa. “Luka siangkong sudah sembuh. Perempuan setengah tua itu nampaknya sudah lama menantikannya. Perempuan setengah tua itu nampaknya berpikir keras. begitu melihat orang hutan berbulu mas itu keluar bersama2 Siang-koan Kie. “Siangkong boleh berlalu dengan hati lega. ia merasa girang. aku nanti akan berusaha sedapat mungkin untuk memenuhi keinginan Siangkong ini………” Siang-koan Kie yang mendengar ucapan nyonya itu. ia suka sekali ikut siangkong pergi. tidak nanti akan mengecewakan Siangkong.” jawab Siang-koan Kie sambil menikmati makanannya. Perempuan setengah tua itu nampaknya sangat heran. harap nyonya suka memberi bantuan. aku sudah bicara dengan Hauwjie.Tiraikasih Website http://kangzusi. kalau aku dapat melakukan. “Siangkong ada urusan apa. mereka melompat2 kegirangan menyambut kedatangannya. ia juga sudah sedia hidangan daging rusa.

” “Aku akan ingat pesan nyonya ini. nanti setelah aku berlalu dari tempat ini. kemudian melompat masuk . ia terpaksa menjaga suaminya.” “Nanti aku panggil Hauw-jie biar ia yang bertindak sebagai penunjuk jalan!” Siang-koan Kie sebetulnya ingin pulang dulu ke kuil tua. apabila ada kesempatan.” Nyonya itu itu berjalan keluar memanggil anaknya. ia merasa tidak enak untuk menolak. sekarang entah ke mana perginya. maka ia berkata. Sebentar kemudian terdengar suara jawaban Wan Hauw. untuk menjumpai orang tua peniup seruling itu. Tetapi Siang-koan Kie tidak menyatakan apa-apa ia berkata dengan sungguh-sungguh. mungki di-dekat2 ini saja sebentar aku coba panggil. “Urusan ini kuserahkan kepada nyonya.Tiraikasih Website http://kangzusi. mungkin masih akan tinggal beberapa waktu di dekat sini.” “Aku sebagai perempuan yang bersuami binatang. dan sekarang aku kira tinggal waktunya aku minta diri. andaikata kau mau datang juga harus datang seorang diri saja. yang dengan cepatnya lari mendatanginya. setelah itu baru boleh kembali mengajak Wan Hauw pergi bersama2. uutuk menengok nyonya. Siangkong tidak datang menengok tidak halangan bagiku. dengan cepat sekali ia melayang melalui dahan2 pohon. “Entah di mana saudara Wan berada sekarang?” “Ia tadi masih berada di sini. tetapi setelah mendengar ucapan nyonya itu. Wan Hauw bergerak sangat lincah.com/ karena permintaan Siang-koan Kie itu. aku nanti akan balik bersama Hauw-jie. sebetulnya tidak ingin berjumpa dengan orang luar lagi.

tetapi pada saat itu menyaksikan . dengan barang apa saja. hati Hauw-jie mendapat pertolongan Siangkong.Tiraikasih Website http://kangzusi. sengaja menggoyang2kan badannya beberapa kali agaknya merasa senang dengan pujian Siang-koan Kie. jangan ingat kembali menengok aku. Sang ibu dengan air mata berlinang2 dan suara terisak-isak berkara. susah didapatkan bahan tenun dan jarum. Siang-koan Kie yang menyaksikan itu tertawa geli entah dari mana Wan Hauw mendapatkan daun itu. dalam hidupku ini mungkin tidak bisa membalas!” Siang-koan Kie adalah seorang gagah. ia memandang pemuda itu sebentar kemudian memandang kepada ibunya. hari ini mendadak timbul pirkiran demikian. sehingga tidak dapat membuat pakaian untuknya.com/ ke dalam rumahnya. lalu berkata kepada Siang-koan Kie. ia sebetulnya paling takut melihat orang nangis. bukan serupa saja?” “Walaupun demikian tetapi sejak dilahirkan Hauw-jie belurn pernah memakai pakaian. Nyonya itu ketika menyaksikan dandanan Wan Hauw.” Wan Hauw yang berpakaian daun pohon.” “Inilah kecerdikannya saudara Wan. “Siangkong boleh membawa Hauw-jie pergi. “Di tempat pegunungan seperti ini. dengan tiba-tiba ia dapat pikiran menggunakan daun pohon untuk menutupi badannya. ia sudah merangkaikan satu sama lain dengan rotan diikatkan kepada pinggangnya untuk menutupi badannya. untuk menutupi badannya. sehingga keadaannya mirip dengan manusia purbakala.” “Itu tidak menjadi soal. supaya ia berkenalan dengan dunia luar juga merupakan peruntungannya! Budi Siangkong ini. sementara di tangannya membawa banyak daun pohon. biar bagairnara tempat ini toh tidak pernah didatangi manusia.

kemudian menarik baju Siang-koan Kie. baru mencapai puncak gunung. meskipun tempat itu sangat berbahaya.com/ sikap sungguh-sungguh dan luhur yang ditujukan oleh nyonya itu. Berjalan kira-kira satu jam. Keluar dari mulut lembah yang tertutup oleh kabut tebal. dan melalui sebuah bukit ia berjalan menyusuri jalan bukit. ia memberi hormat dan berkata kepada nyonya itu. sedingkan ia terus mengikuti di belakangnya. lalu melompat turun dari rumahnya. Siang-koan Kie memeriksa keadaan di sekitarnya. sepanjang jalan ia meninggalkan tanda . lalu bersama2 Wan Hauw berjalan turun. Tetapi jalanan itu berliku2 menanjak ke atas entah berapa panjang dan berapa jauhnya. “Harap nyonya menjaga diri baikbaik aku sekarang hendak berangkat. “Hauw-jie! Kau boleh ikut pergi bersama Siangkong ini. menggunakan kaki dan tangannya. ia mencoba mencari arah yang harus dituju. juga merasa sangat terharu. bagai seorang yang berkepandaian tinggi untuk naik ke tempat tersebut bukanlah soal susah. di bawah tebing itu adalah sebuah jalanan air terapit oleh lamping gunung. tibalah di satu tebing yang nnenonjol. Wan Hauw yang berjalan di muka.” Perempuan itu mengusap air matanya yang mengalir keluar dan berkata kepada anaknya. Jalanan air itu terdapat banyak tanaman bunga dan rumput. Setelah berdiam beberapa lama. Siang-koan Kie melambai2kan tangan kepada nyonya itu berjalan mengikuti Wan Hauw.Tiraikasih Website http://kangzusi. untuk selanjutnya dalam segala hal kau harus dengar Siangkong!” Wan Hauw cecuitan entah apa yang dikatakan. tetapi masih ada tempat yang digunakan untuk tancap kaki.

. ibunya telah pesan wanti2. Siang-koan Kie merupakan orang kedua yang menjadi kawan dalam hidupnya. ia mempunyai sifat keras galak bagaikan ayahnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. apakah ia mau mengerti. dianggapnya sedang menikmati pemandangan di waktu senja. tetapi juga mempunyai sifat baik dan cerdas bagaikan ibunya. satu2nya manusia yang bergaul dengannya. di waktu hendak pergi. dengan tidak berkata apa-apa ia berdiri di belakang Siang-koan Kie. ia berpaling dan mengawasi Wan Hauw. kalau aku membawa Wan Hauw menjumpai dirinya.com/ supaya dikemudian hari apabila mendapat kesempatan datang lagi. ia harus mendaki gunung yang lain lagi. maka hatinya mulai bimbang. supaja ia mendengarkan kata Siang-koan Kie. Turun dari atas puncak gunung yang tinggi itu. membuat dirinya mempunyai darah campuran dua mahluk yang berlainan jenisnya. sebagai mahluk berayah orang hutan dan beribu manusia. dari jauh sudah tampak bangunan kuil tua itu. ini benar-benar sangat berabe……. “Adat orang tua peniup seruling itu sangat aneh. andaikata ia tidak senang. adalah ibunya sendiri yang telah melahirkan dirinya. Sejak dilahirkan. dapat mengenali jalannya. kedua matanya dibuka lebar memandang keadaan di sekitar bawah kakinya. Wan Hauw yang menyaksikan Siang-koan Kie berhenti dan tidak berjalan lagi. dalam segala hal ia harus belajar perbuatan Siang-koan Kie. sementara dalam hatinya berpikir. Kala itu matahari sudah condong ke barat. kebanyakan ia bergaul dengan orang hutan atau binatang lain. maka sewaktu melihat Siang-koan Kie berhenti ia .” Oleh karenanya. perkataan ibunya itu berkesan dalam sekali dalam hati sanubarinya. Lama ia berdiri bingung memikirkan soal itu. Siang-koan Kie menarik napas panjang. sebelum aku menjelaskan kepadanya.

. andaikata orang tua peniup seruling itu ia tidak menginginkan Wan Hauw tinggal bersama-sama. “Ya. meskipun aku belum pernah memikirkan hal itu tetapi tanpa kusadari. maka ia merasa lega dengan tindakan lebar ia berjalan menuju ke kuil tua itu.. Wan Hauw yang sudah menantikan beberapa saat lamanya ketika melihat Siang-koan Kie berjalan ia segera mengikuti.” Karena hatinya sudah mengambil keputusan. oleh karena pikiran itu hingga aku timbul merasa takut dan homat kepada dirinya……. tetapi bakat pembawaan dari alam. sementara hutang budiku kepadanya. aku sudah menerima baik permintaan nyonya itu hedak membimbing Wan Hauw sebaik-baiknya. aku akan berusaha untuk membalas budi itu. Kuil tua itu terpisah hanya sejarak empat atau lima pal saja. apabila timbul pikiran tamak dengan sendirinya merasa takut perbuatan yang diketahui atau timbul rasa hormat terhadap seorang. aku harus segera meninggalkan kuil itu. aku pasti ingin belajar kepandaiannya. aku sudah timbul pikiran untuk mempelajari kepandaian orang tua itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. setelah berpikir lama ia segera mengerti. Siang-koan Kie yang sangat cerdik. maka sebentar saja Siang-koan Kie sudah tiba di kuil tua itu. Siang-koan Kie yang sudah mengenal baik keadaan kuil tua itu segera melompat ke atas genteng langsung menuju ke loteng kediaman orang tua peniup seruling itu. pikirnya lagi. Wan Hauw meskipun belum pernah melatih ilmu meringankan tubuh. ia tertawa geli sendiri. pikirnya.com/ juga turut berhenti sambil meniru sikap Siang-koan Kie yang menikmati pemandangan alam di sekitar tempat itu.” Berpikir demikian. “Nampaknya memang benar bahwa dalam hati manusia tidak boleh timbul pikiran serakah atau tamak.

com/ apalagi sejak kecil berlari2an dan naik turun di atas gunung dan di dalam jurang maka kepandaiannya meringankan tubuh tidak kalah dengan Siang-koan Kie.Tiraikasih Website http://kangzusi. ia berpaling dan berkata kepada Wan Hauw. Siang-koan Kie baru ingat bahwa Wan Hauw belum dapat memahami ucapan manusia seluruhnya. ia melompat melesat ke loteng kediaman orang tua itu. datang untuk mengucapkan terima kasih atas budi pertolonganmu. Tetapi daun jendela loteng itu ternyata tertutup rapat. Wan Hauw yang memperhatikan gerak tangan itu. lalu tertawa dan berjongkok. “Apakah locianpwee sedang beristirahat? Boanpwee Siang-koan Kie. Tiba-tiba ia teringat bahwa dalam waktu satu hari itu.. “Aku sudah tahu!” Siang-koan Kie tersenyum. “Kau di sini tunggu aku sebentar. Siang-koan Kie yang menyaksikan kesunyian itu terperanjat. “Kau di sini saja menunggu aku. Siang-koan Kie berkata lagi dengan suara perlahan. dengan perlahan mengetuk dan berkata. Dekat tempat loteng kediaman orang tua itu Siang-koan Kie menghentikan kakinya. ia tidak pernah mendengar suara seruling orang tua aneh itu. Dengan hati-hati ia menghampiri jendela. dengan mudah dan enaknya mencapai ke loteng itu.” . keadaan di dalam sunyi senyap. ia buru-buru mengunakan tangannya untuk menerangkan maksudnya.” Kali ini Wan Hauw agaknya sudah mengerti. ia segera mengangguk2an kepalanya dan menyahut.” Wan Hauw yang mendengar itu Nampak tercengang dan berdiri bingung. aku akan menjumpai seorang locianpwee lebih dahulu nanti aku panggil kau lagi……. ia tetap mengikuti di belakang Siang-koan Kie.

ia membuat lubang kecil dengan tangannya pada jendela itu lalu mengincer ke dalam. dalam loteng itu masih sunyi tidak terdengar jawaban. tetapi di dalam tetap sunyi tidak mendapat jawaban apa-apa. tangannya memegang erat serulingnya itu.” Ia menunggu lagi sekian lama. tetapi juga seperti terluka parah.” Tetapi kemudian ia berpikir pula. Ia lalu menganggap bahwa orang tua itu mungkin sedang bersemedi sehingga tidak menjawab perkataannya. Keadaan di luar dugaan ini. tidak mungkin ia menutup rapat semua daun jendela loteng ini. “Andaikata orang berbaju hijau itu balik kembali dan membunuh orang tua itu. Orang tua itu napasnya lemah sekali. ia lalu meletakkan jari tangannya ke bagian jalan darah Than kie hiat di badan orang tua itu. Siang-koan Kie tidak sabar lagi. “Apakah orang berbaju hijau itu balik kembali mencelakakan diri orang tua ini……. . kemudian mengetuk jendela sampai tiga kali. ia berjongkok di dekat orang tua itu untuk memeriksa pernapasannya. sangat mengejutkan hati Siangkoan Kie. ia berdiri bingung tidak tahu apa yang harus diperbuat. Bukan kepalang terkerjutnya Siang-koan Kie menyaksikan pemandangan itu. Orang tua itu ternyata rebah tertelentang di lantai. perbuatan ganas orang yang berbaju hijau itu terbayang kembali sehingga dalam hatinya berpikir. ia dobrak daun jendela dan melompat masuk ke dalam.com/ Ia menunggu beberapa saat lamanya.Tiraikasih Website http://kangzusi.. agaknya seperti tidur nyenyak. Dalam otaknya tiba-tiba terbayang pemandangan yang sangat menakutkan.

ia harus belajar setiap gerakan Siang-koan maka ketika menyaksikan sikap Siang- . ketika mendengar suara panggilan Siang-koan Kie. ia merasakan tangan orang tua itu dingin sekali tetapi keras. Wan Haaw ingat pesan ibunya. “Bagaimana dengan orang tua ini tidak seperti tidur juga tidak seperti orang terluka. Ia mengawasi orang tua yang rebah tertelentang.com/ Tiba-tiba ia merasakan tempat jalan darah itu keras bagaikan besi. tetapi kalau mau dikatakan luka parah. kita jangan ganggu. Kalau dilihat napasnya yang masih belum putus. Tiba-tiba ia mendengar suara Wan Hauw yang agaknya sudah tidak sabar menunggu demikian lama. tidak mungkin orang tua itu meninggal dunia.Tiraikasih Website http://kangzusi. sehingga diam-diam merasa heran. berjalan menuju kepintu jendela lalu melambaikan tangannya memanggil Wan Hauw. bagaimana badannya keras dan dingin? Maka untuk sesaat lamanya ia tidak tahu bagaimana harus berbuat. bagaikan sepotong besi. Beberapa saat ia merasa bersangsi. duduk di sini menunggu sebentar!” jawab Siang-koan Kie sambil menggoyang2kan kepala kemudian duduk di samping orang tua itu. ia lalu lompat masuk ke dalam loteng.” Kejadian serupa ini. pikirnya. adalah kejadian aneh yang ia belum pernah dialaminya. Siang-koan Kie meletakkan tangan orang tua itu. kemudian mengawasi Siang-koan Kie sikapnya menunjukkan heran2an kemudian dengan bahasanya yang kaku tetapi masih dapat didengar ia bertanya. kemudian mengulur tangannya memegang pergelangan tangan orang tua itu. Wan Hauw masih tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak. “Apakah orang ini sudah mati?” “Dia telah tidur.

napasnya juga hampir putus. semua jalan darah orang tua itu agaknya sudah tertutup rapat semuanya. ini bukan suatu cara yang baik. Tetapi jarinya dirasakan seperti menotok besi keras. setidak2nya aku harus berusaha. Siang-koan Kie menghela napas perlahan. diam-diam lalu berpikir. tetapi tangan orang tua itu masih memegang erat serulingnya. menyaksikan keadaan demikian terkejutlah ia. tetapi sinarnya gemerlapan. ia merasakan hawa dingin menghembus keluar dari pedang itu. ia coba merebahkan kepalanya di dada orang toa itu. sehingga orang tidak mudah mencari letaknya. . ia mengambil pedang pendek itu dan mengeluarkau dari kerangkatnya. “Nampaknya ia benar-benar terluka. Siang-koan Kie meletakkan lagi orang tua itu di atas lantai. Siang-koan Kie diam-diam memuji. Matahari sudah selam ke barat. hari mulai gelap. ternyata jantungnya masih berdenyut tetapi semakin lama semakin lemah.” Ia segera angkat dan mendudukan orang tua itu.” Ia memeriksa pedang itu. tangannya dengan perlahan menotok jalan darah Beng-bunhiat di belakang punggungnya. meskipun aku tahu tidak dapat menolong jiwanya. sinar kegelapan hampir menerangi keadaan kamar yang gelap itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Pedang yang bagus sekali. bentuk pedang itu ternyata cuma kira-kira satu kaki panjangnya walaupun pedang itu pendek. ia juga meniru sikap itu duduk di lantai dekat orang tua itu. Lama Siang-koan Kie menunggu tetapi ia sedikitpun tidak bergerak. kalau aku menunggu terus secara demikian.com/ koan Kie. Tiba-tiba sebilah pedang pendek terjatuh di lantai. tetapi juga tidak dapat membiarkan mati karena luka2nya.

ia juga turut berdiri kemudian mengikuti di belakangnya dan melompat keluar dari jendela. Ia menarik napas. ternyata semakin lemah. Siang-koan Kie baru teringat kepada Wan Hauw. boanpwee masih belum bisa membalas.. ia bersama Wan Hauw mulai membersihkan rumput2nya dan menggali tanahnya. Lama dalam keadaan kesedihan. boanpwee sangat menyesal tidak mrempunyai cukup tenaga untuk member pertolongan……. tetapi setelah memeriksa sejenak. “Budi locianpwee besar sekali. dengan tanpa dirasa dua tetes air mata mengalir keluar. . Siang-koan Kie balik lagi ke atas loteng.com/ Siang-koan Kie walaupun merasa senang dengan pedang itu. Selesai membuat lubaang. “Saudara Wan mari kita mencari tempat untuk mengubur orang tua ini. tangan dan tubuhnya mulai dingin dan kaku.” Meskipun Wan Hauw tidak mengerti seluruhnya apa yang dikatakan oleh Siang-koan Kie tetapi melihat Siang-koan Kie berdiri. dengan kuku jarinya yang tajam dan keras bagaikan baja serta gerakannya yang gesit. Siang-koan Kie mencari tempat yang dianggap baik. ia meletakkan pedang itu di samping kepala si orang tua. sebentar saja sudah berhasil membuat lubang yang cukup dalam. ia memeriksa lagi pernapasan oraug tua itu ternyata semakin lemah.Tiraikasih Website http://kangzusi. Di pekarangan kuil yang sunyi sepi. ia memasukkan kembali ke dalam sarungnya. bahkan sebentar2 terputus. Wan Hauw ternyata pandai sekali dalam hal menggali tanah. Ia memeriksa napas orang tua itu. tetapi kini sakit locianpwee begini keras. dengan sikapnya yang menghormat sekali ia menunduk kepada orang tua itu seraya berkata.” Berkata pada akhirnya kedua pipinya sudah basah dengan air mata. maka lalu berpaling dan berkata kepadanya.

Ia sejak dilahirkan belum pernah menyaksikan mutiara. Tatkala hari mulai terang napas orang tua itu sudah berhenti. mutiara itu mengeluarkan sinarnya yang indah. Pedang mas memancarkan sinarnya yang gemerlapan. tetapi air matanya terus mengalir keluar tak henti2nya. Wan Hauw segera memungutnya dan diberikan kepada Siang-koan Kie. hendak dikubur dalam lubang yang sudah dibuatnya. tidak tahu bahwa barang itu adalah barang yang sangat berharga. empat butir mutiara sebesar buah langkeng. kemudian ia mengangkat jenasahnya. Siang-koan Kie sambil mengambil sarung pedang itu dimasukan ke dalam badan orang tua itu. bisa diduga betapa besar harganya barang itu. setiap butir merupakan benda yang jarang terdapat di dalam dunia. siapa tahu tubuh itu baru saja diangkatnya. Tetapi menunggu sampai semalaman suntuk napas orang tua itu masih tetap dalam keadaan yang sama. Siang-koan Kie dan Wan Hauw duduk di samping menantikan dengan tenang. maka sedikitpun tak merasa tetarik. .com/ Siang-koan Kie sangat pilu. dianggapnya barang bandar itu seperti batu biasa yang banyak tertdapat di tempatnya. segera akan dikuburkan. mereka siap. selama semalam suntuk itu. Langit di sebelah timur sudah mulai narnpak terang. apabila orang tua itu sudah meninggal dunia. Mata Siang-koan Kie nampak merah dan bendul. ini berarti bahwa malam sudah akan berganti siang. jatuh berhamburan di tanah. meskipun ia tidak menangis keras.Tiraikasih Website http://kangzusi. air matanya mengalir lagi tetapi napas orang tua itu sekalipun lemah tetapi masih belum putus.

“Suhu……. sebetulnya sangat sukar mencari peti.com/ Sebaliknya dengan Siang-koan Kie. di dalam kuil tua dan daerah pegunungan yang sepi ini. tetapi sebelum boanpwee menerangkan kepada suhu boanpwee. tiba-tiba ia teringat sesuatu lalu diletakkannya jenazah orang tua itu ke satu sudut. perlu apa harus memilih tempat ini?” Sementara itu empat butir mutiara itu sudah dimasukan kembali ke dalam saku siorang tua. “Bocah! Ucapan yang sudah keluar dari mulut. harap memaafkan perbuatan boanpwee yang kurang sopan. “Orang tua ini juga sangat aneh.” Orang tua itu tiba-tiba membuka lebar matanya dan berkata sambil tertawa terbahak-bahak. sekarang meskipun locianpwee sudah meninggal. di mana saja toh serupa saja. Berkata sampai di situ. ia sendiri segera dapat mengetahui bahwa butir mutiara itu semua merupakan barang2 berharga yang susah dicari dalam dunia. Aeh! budi locianpwee yang begitu besar. untuk memenuhi keinginan locianpwee di masa masih hidup…….. maka boanpwee terpaksa mengubur jenazah iocianpwee secara sederhana. andaikata hendak melatih kepandaiannya. kemudian berkata dengan suara perlahan. dengan membawa barang mutiara ini.. “Locianpwee di masa hidup ingin menerima aku sebagai murid. boanpwee masih belum dapat membalasnya tidak disangka locianpwee sudah pergi untuk selama2nya. tetapi mengapa harus menyiksa diri dalam kuil tua yang sepi sunyi ini. “Locianpwee.” Ia menarik napas panjang. dalam hatinya berpikir. ia adalah seorang yang mengenali barang2 berharga. tidak berani mengangkat suhu lagi. tidak boleh ditarik kembali!” .Tiraikasih Website http://kangzusi. sebelum ia bangkit. kemudian ia berlutut di hadapannya dan bedoa. tetapi boanpwee tetap sebagai muridmu. ia mengucapkan perkataan.

” “Jangan berkata kau tidak percaja sekalipun aku sendiri juga tidak percaya bahwa orang yang mati bisa hidup kembali. “Suhu. mengapa mendadak hidup 1agi?” Kedua tangan orang tua itu menekan dinding. sebetulnya tidak habis dimengerti. “Tadi aku mengangkatnya sebagai guru. itu masih dapat dimengerti tetapi seluruh jalan darah sekujur badannya semua tertutup. “Apakah kau percaya bahwa orang yang sudah mati bisa hidup kembali?” “Meskipun boanpwee tidak percaya. kalau tidak begitu bagaimana aku dapat mengelabui matamu?” . memang terbit dalam hati keinginanku sendiri. sehingga napasnya terhenti. lama ia baru berkata. badannya lompat melesat kepinggir jendela. masih berbahasakan locianpwee.Tiraikasih Website http://kangzusi. dengan demikian sudah tentu tubuhku menjadi kaku dan dingin. itu apa sebabnya?” “Dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam aku menutup semua jalan darah. sebentar ia merasa bingung dan terheran2. tadi baru saja kau melakukan upacara pengangkatan suhu. sekujur badan juga mulai kaku dan dingin. tetapi hari ini menyaksikan kejadian atas diri suhu yang sudah mati tetapi bisa hidup kembali. “Lho! Apakah locianpwee belum meninggal?” “Bagaimana kau. “Suhu telah menutup pernapasan. sebagai seorang laki2 setiap kata yang dikeluarkan seharusnya tidak boleh ditarik kembali. katanya. kemudian dengan menggunakan ilmu. bagamana sebentar saja sudah lupa?” Siang-koan Kie diam-diam berpikir. aku memang sama sekali belum pernah mati!” Siang-koan Kie terkejut.” Oleh karenanya maka ia segera berkata.com/ Siang-koan Kie terperanjat. aku menutup jalan pernapasanku. setelah duduk lalu berkata.

Orang tua itu tertawa terbahak-bahak katanya. maka sebelum kau bertindak aku sudah bertindak lebih dulu menotok jalan darah kematianmu. lalu kau hendak menghianatiku. apa salahnya aku berguru kepadanya……. asal kau timbul ingatan jahat. ini berarti aku mencari mati sendiri. “Kiranya kepandaian seorang yang sudah mencapai ketarap yang tinggi.” “Aku ada orang macam apa bagaimana kau dapat bokong secara mudah. kemudian berkata. katanya. sudah tentu segara kuketahui dari gerak gerikmu. “Meskipun dengan akal aku mengambil kau sebagai murid. kau sedang berpikir apa? Kau harus tahu bahwa aku bukan seorang yang dapat kau permainkan. sekonyong2 memperdengarkan suara tertawa dingin. jikalau tadi kau timbul pikiran tamak. “Orang tua ini pernah menolong jiwaku. suhu yang sedang berlagak mati mungkin agak sulit untuk menghindarkan diri dari serangan yang mendadak itu. andaikata kau tidak sejujurnya mengangkat aku sebagai guru kemudian mempelajari ilmu silat kepadaku. lagi pula dengan kepandaianku sekarang ini. Siang-koan Kie diam-diam berpikir. hendak merampas pedang dan mutiara suhu. “Bocah. banyak sekali faedahnya.. aku berguru kepadanya juga atas kemauanku sendiri sudah tentu tidak bisa kutarik kembali.” . bagiku juga susah untuk menuntut balas sakit hati suhu. sekarang kau sudah terkubur dalam lobang yang kau gali sendiri!” “Jikalau muridmu tadi benar-benar mempunyai pikiran jahat.com/ Siang-koan Kie terperanjat.Tiraikasih Website http://kangzusi. bisa saja dengan tiba-tiba muridmu menggunakan pedang pendek itu untuk menghabiskan jiwa suhu. tetapi aku juga ada ingatan hendak membunuh kau.” Orang tua itu ketika menyaksikan sikap Siang-koan Kie.

com/ “Muridmu sudah berguru kepada suhu.” . Orang tua itu tiba-tiba menghela napas. matanya mengawasi ke atas dan berkata sendiri.Tiraikasih Website http://kangzusi.” Ia berdiam sejenak. meski tidak mengerti seluruhnya apa yang dibicarakan mereka. biarlah Tuhan mengutuk diriku. tetapi aku sudah tidak mempunyai keinginan minta kepadamu untuk melakukan pekerjaan bagiku. tetapi ia dapat melihat sikap Siang-koan Kie telah berobah. dapat kuturunkan kepada orang yang berbakat untuk mendapat warisan itu. “Di dalam dunia Kang-ouw banyak manusia jahat dan berhati palsu bagaimana aku bisa tahu kalau perkatanmu keluar dari hati sejujurnya?” Wajah Siang-koan Kie berubah.” Wan Hauw yang menyaksikan dari tadi.. aku hanya ingin menurunkan kepandaianku kepadamu agar supaya ilmu kepandaianku yang kudapat dengan susah payah ini. bagaimana boleh timbul pikiran jahat?” Orang tua itu tiba-tiba melototkan matanya. asal orang tua itu bertindak terhadap Siang-koan Kie. Kita meskipun sudah sebagai guru dengan murid.menganggap suhu scbagai ganti orang tua sendiri. kemudian berkata. “Apa bila muridmu mengandung pikiran jahat dan hati palsu. sudah tentu. matanya mengawasi orang tua itu. dengan sendirinya harus turut memikul tanggung jawab semua dendam dalam perguruan ini. “Aku sebetulnya sudah merasa takut karena sering tertipu oleh manusai. kemudian berkata pula. ia segera menyerangnya. “Muridmu sudah menjadi murid yang mewarisi kepandaianmu. dengan sinar mata tajam menatap wajah Siang-koan Kie kemudian berkata dengan nada suara dingin. tiba-tiba ia menggeram. maka terhadap siapapun aku selalu berlaku sangat hati-hati……. tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. ini saja sudah cukup.

. ia berkata. kepandaian ilmu silat meskipun tidak ada batasnya.” “Kalau dalam satu tahun teecu tidak dapat melawan. pada suatu hari pasti dapat menandingi orang itu.com/ “Apakah ucapanmu ini terbit dari hati sanubarimu yang sejujurnya?” “Bagaimana murid berani permainkan suhu. barangkali tidak luput dari tiga faktor utama ini.” Orang tua itu berpikir sejenak. ialah melatih kekuatan tenaga. akan melatih lagi satu tahun. “Tentang ini……. bukankah ini akan berarti seumur hidupmu kau sudah susah untuk balas dendam sakit hatiku?” Siang-koan Kie tercengang.” Orang tua itu tiba-tiba berkata dengan sungguh-sungguh. sepuluh tahun masih belum sanggup melawan. melatih hawa pernapasan dan melatih keterampilan. tetapi semua tidak lebih daripada tiga faktor itu.” .” Siang-koan Kie setelah berpikir sejenak lalu berkata. “Tiga faktor penting bagi orang yang mempelajari ilmu silat. sedikitpun tidak boleh ada pikiran lain dalam hatinya…….. ia mendengarkan dengan tekun. Orang tua itu berkata pula. “Orang belajar ilmu silat.” Siang-koan melihat orang tua itu tiba-tiba menguraikan kuncinya orang belajar ilmu silat. “Jikalau seumur hidupmu. “Sudahlah! sekalipun kau nanti dapat mewarisi seluruh kepandaianku. buru-buru menyingkirkan semua pikiran yang timbul dalam hatinya. barangkali juga masih bukan tandingan orang yang menjadi musuhku. kau masih belum mampu melawan kepandainnya. “Memang benar setiap kepandaian dari golongan manapun. akan melatih lagi sepuluh tahun.Tiraikasih Website http://kangzusi. terutama harus berhati jujur dan bersungguh-sungguh. tiba-tiba menggeleng2kan kepalanya dan berkata.

sekalipun kau menggunakan waktu seumur hidupmu juga sulit untuk memahirkan seluruhnya. sehingga itu berarti membuang waktu saja. tetapi semua tidak berdaya mempelajarinya dengan sebaik-baiknya. sesudah agak berhasil dengan latihannya. maka diwaktu melatih pelajarannya tidak dapat mengatur dengan sebaik-baiknya. apalagi setelah melatih kekuatan tenaga. “Jikalau dalam .Tiraikasih Website http://kangzusi. kedengarannya sangat sederhana tetapi hendak menjalani tiga faktor ini dengan sempurna. melatih hawa pernapasan dan melatih keterampilan. bukanlah itu suatu pekerjaan yang mudah. jikalau kita secara tersendiri2 akan menjadi golongan sendiri melatih serentak akan menjadi gagal seluruhnya. semakin dipikir ia semakin merasa bahwa penjelasan orang tua itu merupakan suatu penjelasan yang mungkin belum pernah dipahami setiap orang sehingga rasa hormatnya semakin tebal. kedengarannya sangat sederhana. tetapi sebagian besar hanya tahu kepandaiannya sendiri sudah dapat kemajuan dan sudah cukup digunakan untuk menjaga diri dalam menghadapi musuhnya. ia berkata sambil tertawa. tetapi masih susah untuk mengerti dengan cara bagaimana menggunakan tiga faktor itu menjadi satu………. Orang tua itu mendengar pujian Siang-koan Kie nampaknya sangat gembira. Semua orang dalam rimba persilatan meskipun tahu tiga faktor ini merupakan inti sarinya pelajaran ilmu silat. barulah perlahanlahan mengerti sendiri dan dengan sendirinya dapat digunakan menurut sesuka hatinya.com/ “Akan tetapi dalam tiga faktor ini mengandung banyak segi arti dan perobahannya.” -odwoBab 15 ORANG TUA ITU menguraikan caranya orang belajar ilmu silat. Dengan berdasarkan tiga faktor yang terlatih baik dapat dipergunakan untuk menghadapi musuhnya. tetapi sebetulnya mengandung arti sangat penting.

“Uraian ini meskipun kedengarannya sederhana dan gampang dimengerti. tetapi kalau kita gunakan harus dari sederhana dibikin demikian rumit supaya membingungkan musuh. “Kau sudah menjadi .com/ dunia rimba persilatan pada dewasa ini ada orang yang bisa membagi tiga faktor itu menjadi tiga bagian. “Mungkin bisa.. tetapi untuk mewujudkan itu aku sudah menggunakan waktu beberapa puluh tahun lamanya. namun demikian bukanlah merupakan suatu hal yang mutlak yang tidak dapat dibagi. tetapi di antara tiga faktor itu masih sulit dipisahkan hubungannya satu sama lain. kemudian ia berkata dengan tenang. jikalau tiga faktor itu dijadikan satu. sebab tenaga merupakan soal pokok. barulah menjadi sempurna. di waktu melatih kita harus mencari jalan yang sederhana. jikalau tiga faktor itu bisa menjadi suatu ilmu tersendiri2 dan setelah masing-masing sudah mahir demikian rupa. dan mendapat kemajuan dengan serentak apakah mendapat hasilnya.” Orang tua itu membuka pintu jendela. membuat teecu segera tetsadar sedalam2nya sehingga membawa faedah yang tidak sekikit. kecuali ilmu kepandaian yang tersendiri. tiba-tiba berpaling dan mengawasi Siang-koan Kie. tetapi tiga faktor yang tergabung menjadi satu itu kedengarannya susah dibagi dan digunakan sendiri2. “Nampaknya kau punya kecerdasan yang melebihi manusia biasa. barangkali tidak terlepas dari tiga faktor penting ini……. tetapi tiga faktor itu meskipun dibagi menjadi tiga bagian.Tiraikasih Website http://kangzusi.” “Keterangan suhu ini. semua kepandaian ilmu silat di dalam dunia.” Ia berdiam sejenak. lalu digabung menjadi satu untuk menghadapi musuh akan lebih hebat dan ampuh. kemudian berkata pula. ia dongakan kepala mengawasi angkasa.” Siang-koan Kie berpikir lama baru menjawab.” Orang tua itu bersenyum dan berkata. hawa pernapasan merupakan inti dan keterampilan atau kecerdasan merupakan pelaksanaannya.

“Aku tadi sudah kata kau tidak perlu melakukan apa-apa untukku lagi. “Ucapan ini memang benar.Tiraikasih Website http://kangzusi... “Ia ingin menurunkan kepandaiannya kepadaku. Siang-koan Kie diam-diam berpikir. kemudian berkata. maka ia segera berkata.” Orang tua itu menggeleng2kan kepala dan berkata sambil tertawa. sekarang barangkali ingin mendengar penjelasanku untuk melakukan pekerjaan itu. apalagi kau juga belum tentu dapat menuntut balas dendamku ini. “Ayah bunda teecu masih hidup semuanya. suhu tidak ingin aku melakukan kewajiban. sudah tentu ingin aku menuntut balas dendam untuknya. jikalau suhu dalam waktu sepuluh tahun tidak . teecu seharusnya juga melakukan sedikit upacara bagi suhu……. mencegah Siang-koan Kie melanjutkan bicaranya. “Apabila teecu berhasil mempelajari ilmu kepandaian suhu.” Siang-koan Kie diam-diam berpikir.” Karena berpikir demikian. jikalau dalarn waktu sepuluh tahun aku tidak boleh meninggalkan tempat ini setindak saja.” “Ini aneh. sudah tentu bisa menimbulkan perasaan kesepian orang itu. bukankah ini merupakan suatu kejadian yang menyulitkan?” Maka ia lalu berkata. sudah tentu akan menuntut……. betul tidak?” “Suhu menurunkan kepandaian kepada teecu. harus cara dengan begaimana aku menurunkan kepandaianku kepadamu.” Orang tua itu menggoyang2kan tangannya. ayah bundaku masih hidup. suhuku sendiri masih belum tahu di mana sekarang berada dan bagaimana nasibnya.com/ muridku. “Peraturan upacara ini sudah tidak usah saja. maka pekerjaan selanjutnya. mengapa hendak mengajar kepandaian kepadaku?” “Aku pikir seorang harus mengawani aku di dalam kuil tua yang sunyi sepi ini selama delapan tahun atau sepuluh tahun.

harus berlalu bukan saja akan tersia2 semua pelajaran yang sudah dipelajarinya. untuk menghadapi masih mengandung berbagai tipu muslihat tersendiri.Tiraikasih Website http://kangzusi. juga hagimu sangat berbahaya karena kau akan mudah terluka……. sedikit sekali yang tahu. bagi teecu tidak merasa keberatan apa-apa.com/ mengijinkan teecu turun gunung untuk menengok ayah bunda teecu. sementara dalam hatinya berpikir. aku sudah hitung waktu untuk mempelajari kepandaian itu. aku sudah tidak mendapat kawan lain lagi. sekalipun pelajaran ilmu silat tinggi sekali. tetapi buat rimba persilatan dewasa ini.” Siang-koan Kie diam saja. kalau aku tidak menurunkannya kepada orang lain masih tidak apa. sekalipun belajar sepulah tahun.” Orang tua itu menggeleng2kan kepala dan berkata. sedikitnya harus menggunakan waktu delapan tahun..” Siang-koan Kie setelah berpikir sebentar lalu berkata. kecuali burung dan binatang buas. apabila belum berhasil mempelajarinya dengan sempurna. juga belum pernah menerima seorang muridpun juga tentang kepandaianku ini. “Mana ada kejadian semacam ini di mana ada . setidak2nya harus dapat mewarisi enam atau tujuh bagian dari seluruh kepandaianku barulah tidak mengecewakan pengharapanku. walaupun bukan kepandaian luar biasa. masa delapan tahun meski tidak terlalu panjang tetapi dalam penghidupan manusia juga terhitung tidak pendek lagi.” “Ilmu silat yang akan diturunkan kepadamu. “Kepandaian ini. teecu juga tidak dapat mempelajarinya dengan tekun hati. juga sudah terhitung suatu kepandaian yang jarang ada dalam hidupku. semua merupakan pelajaran yang mengandung kekuatan yang amat dahsyat kecuali perobahan dalam ilmu pukulan tangan kosong dengan senjata dalam setiap gerakan. tetapi kalau aku akan turunkan kepada muridku. “Asal suhu mengijinkan teecu tiap dua tahun pulang ke rumah untuk menengok orang tua.

” Siang-koan Kie diam-diam merasa heran. “Kalau begitu terpaksa menggunakan cara yang kedua. kecuali melatih ilmu serangan tangan kosong dan senjata tajam. jikalau kau ingin mempelajari ilmu kepandaian supaya lekas berhasil dengan menempuh yang tidak sewajarnya. “Ajah bundaku masih hidup semuanya.” Siang-koan Kie berpikir sejenak lalu berkata. kau harus duduk bersemedi untuk melatih pernapasan dan berbagai ilmu kepandaian tinggi. usia mereka sudah lanjut semuanya.” Orang tua itu tanpa menantikan sampai habis pembicaraan Siang-koan Kie. sudah memotong.com/ kepandaian ilmu silat yang tidak dapat dipelajari. jikalau dua macam cara ini kau tidak setuju semua. “Cara ke satu. kalau kita belajar satu tahun seharusnya mendapat kemajuan satu tahun.” Orang tua itu menghela napas pelahan.” “Entah cara bagaimana.” Selagi masih berpikir. apakah belajar ilmu silat ada jalan yang lebih cepat? Orang tua itu menampak Siang-koan Kie menunjukkan keheran2an. “Dalam segala hal selalu ada jalan yang ditempuh. hanya jalan yang singkat itu kebanyakan sangat berbahaya dan lebih sulit dari jalan biasa.. kemudian berkata. kau harus berdiam di dalam kuil tua ini selama delapan tahun.. teecu ingin dengar dulu. maka kau tidak usah mempelajari ilmu silat ini lagi. maka kau harus . lalu berkata sambil tersenyum. “Sekarang ada dua macam cara. begitupun dengan kepandaian ilmu silat. kau tidak boleh meninggalkan tempat ini. kau harus pilih salah satu di antaranya. sudah tentu menurut cara biasa. sambil menatap wajah Siang-koan Kie ia berkata.Tiraikasih Website http://kangzusi. orang tua itu lalu berpaling kepadanya. apabila selama waktu delapan tahun teecu tidak mendapat kesempatan untuk menengok……. bagaimana harus belajar berpuluh-puluh tahun baru berhasil…….

maka tindakan ini akan berhasil ataukah gagal. “Tulang-tulangmu sangat luar biasa. “Menurut peraturan biasa. tetapi masih bolehlah termasuk golongan baik juga. sekali gagal. aku seorang tua ini.. hal yang lainnya. setiap mempelajari kepandaian ilmu silat harus menurut peraturan setarap demi setarap.” Orang tua itu berkata pula sambil menghela napas panjang.” “Suhu anggap bagaimana dengan teecu.” “Jalannya darah dan urat2 nadi manusia semua menurut jalan biasa.” “Teecu yakin sanggup tahan. jaitu kau harus menempuh jalan yang paling berbahaya. andaikata segalanya berjalan lancar. besar sekali hubungannya. kalau harus diputar balik dan mengalir berlawanan arahnya penderitaan ini pasti hebat……. “Darah dalam setiap manusia. kesatu bakat. ke tiga syarat satupun tidak boleh kurang. kau mempunyai dasar baik untuk belajar ilmu silat. supaya . lalu berkata sambil tertawa. diam-diam batinnya berpikir. tetapi aku belum pernah mencobanya. mengalirnya menurut cara yang tertentu. selama beberapa tahun ini meskipun aku juga dapat memikirkan banyak hal. bahkan masih membutuhkan tiga syarat penting. apa kau mempunyai tekad bulat atau sanggup menerima segala penderitaan atau tidak. jikalau orang ingin mencari jalan singkat itu berarti melanggar ketentuan alam. tetapi kau harus menderita kesengsaraan selama tiga bulan dari akibat mengalirnya darahmu yang berlawanan dari biasa.” Siang-koan Kie terperanjat. apakah memenuhi syarat untuk mencapai jalan sinkat itu?” Orang tua itu mengawasi Siang-koan Kie sejenak. kedua guru yang pandai.com/ menempuh jalan yang tidak sewajarnya. dan yang ketiga tekad yang tidak takut bahaya atau kesulitan. sekalipun tidak terhitung guru terbaik nomor satu. tergantung dirimu sendiri.Tiraikasih Website http://kangzusi. sekalipun kau tidak mati juga akan cacad seumur hidupmu.

kau boleh mencari dulu barang2 makanan yang bisa tahan lama. “Jangan kata rnenderita hanya tiga bulan saja. maka tinggi kepandaiannya sesungguhnya jarang ada. “Orang ini dapat rnenyembuhkan luka tenaga dalamku dengan hanya irama serulingnya. barang2 untuk keperluan makan dan minum. tetapi aku tidak suka memaksa kau berada dalam kesulitan. tetapi kau harus mengalami satu masa penderitaan karena mengalirnya darah didalam tubuhmu yang akan berlawanan dari biasa waktu itu kira-kira tiga bulan. sedangkan kekuatan tenaga dalam dan gerak badannya tidak disesuaikan. waktu delapan tahun yang kau harus butuhkan untuk menyempurnakan kepandaianmu bisa diperpendek jadi tiga tahun. “Dalam waktu tiga bulan kau tidak boleh melangkah keluar setindak saja dari loteng ini. kalau aku sudah bertekad menjadi murid dengan sendirinya harus dapat mempelajari sebaik-baiknya. harus sedia cukup. dengan demikian kekuatan itu akan dapat disesuaikan dengan keadaan badannya. jikalau hanya mengetahui pelajarannya. kau harus pikir masak2 sendiri. jikalau aku takut menderita selamanya akan tidak berhasil mendapatkan kepandaiannya. Ia lalu berkata sambil tertawa nyaring.” Orang tua itu berkata dengan sikap sungguh-sungguh. maka orang itu tidak akan berhasil mangeluarkan kepandaiannya. sekalipun lebih lama lagi teecu yakin masih sanggup menahannya.com/ kekuatan tenaga dalam mendapat kemajuan setingkat demi setingkat. walaupun aku sebagai suhumu.Tiraikasih Website http://kangzusi. boleh kau taruh di loteng ini untuk keperluan makanmu.” .” “Dengan caraku yang singkat ini. sekalipun aku juga tidak boleh bergerak sembarangan.” Karena berpikir demikian maka timbullah tekadnya yang bulat untuk menerima penderitaan itu.” Sang-koan Kie diam-diam berpikir.

saudara Wan ini boleh berdiam di sini mengawasi kita?” Orang tua itu berpikir sejenak. lalu berkata. merupakan saat2 yang sangat penting. tidak halangan berdiam di sini. ia menceritakan dengan perkataan dan dibantu dengan tangan. minta ia selama waktu tiga bulan selanjutnya. selama waktu dua jam ini. kecuali selama waktu dua jam itu. sebaiknya ia bisa berada di dalam loteng ini untuk melindungi kita jikalau ada bahaya. tetapi waktu dua jam itu justru ada waktunya untukku bersemedi. entah mempunyai kekuatan tenaga untuk melawan musuh atau tidak?” . sampai menggunakan waktu satu jam lebih baru dapat dimengerti oleh Wan Hauw. “Asal ia bisa dengar katamu. tetapi selama dua jam itu. meskipun aku akan menggunakan kekuatan tenaga dalam membantu mengalirnya jalan darahmu.com/ Siang-koan Kie berpaling kepada Wan Hauw kemudian ia berkata. Bahkan dari pembicaraan ini Wan Hauw banyak tambahan banyak kata2 bahasa manusia. “Apakah selama tiga bulan ini. aku tidak boleh diganggu sedikitpun juga. sehingga pembicaraan dua orang itu selesai baru berkata. “Selama tiga bulan ini. kau beri tahu kepada saudara Wan itu. juga masih cukup untuk menghadapi serangan apabila ada musuh dating. kecuali selama waktu dua jam setiap hari. tetapi masih banyak yang tidak mengerti.” Jikalau teecu berada dalam keadaan sadar. setiap hari harus mencari barang makanan. kau kebanyakan berada dalam keadaan setengah pingsan. maka Siang-koan Kie harus menjelaskan berulang2.” Siang-koan Kie lalu memanggil Wan Hauw ke sampingnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. Orang tua itu selama itu terus mendengarkan pembicaraan dua kawan itu. Wan Hauw meskipun mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Aku akan ingat semua. Orang tua itu mengajari Wan Hauw bagaimana caranya memanggang daging kelinci itu.” Siang-koan Kie berpaling.” Sang-koan Kie terkejut. “Tidak bisa. tetapi juga tidak boleh sembarangan marah tidak perduli melihat kejadian bagaimana. Wan Hauw sambil mengangguk2kan kepala. tetapi tidak nampak bayangan seorang manusiapun juga. Kira-kira setengah jam kemudian ia balik lagi ke dalam loteng itu. kemudian badannya menggigil sebentar jatuh pingsan. “Di luar jendela ada orang. kau harus selalu tenang dan sabar seperti tidak terjadi apa-apa. tiba-tiba merasa ada angin menyambar ke arah jalan darah di atas kepalanya. ia hanya dapat melihat sinar matahari.com/ Orang tua itu menggeleng2kan kepala dan berkata. sebentar sudah menghilang. hal ini bangat penting. nampaknya cukup untuk makan dua hari bagi tiga orang. ia berkata dengan bahasa manusia.” Siang-koan Kie menyampaikan maksud orang tua itu kepada Wan Hauw.” Tiba-tiba ia lompat melesat melalui jendela. Dalam keadaan antara sadar dan tak sadar badannya merasa seperti terjatuh ke suatu jurang yang sangat dalam. Selagi dalam hati merasa heran. tiba-tiba ia mengeluarkan bentakan keras.Tiraikasih Website http://kangzusi. bukan saja kau tidak boleh mengeluarkan tenaga menghadapi lawan. kau harus ingat baikbaik. ketika ia mendongakkan kepala menengok keluar jendela. . tiba-tiba terdengar pula suara orang tua itu. “Orang di belakang jendela. selama tiga bulan ini. tangannya banyak membawa buah-buahan dan seekor kelinci. semua isi perutnya seperti tersedot oleh semacam kekuatan.

ia berkata pada dirinya sendiri. pikirannya jernih kembali.” Ia mencoba menggerakkan kaki dan tangannya ingin duduk dan mengatur pernapasannya. tetapi penglihatannya sudah kabur segala benda tak dapat dilihat dengan nyata. dalam penderitaan yang sangat hebat itu. Ketika ia menengok ke arah orang tua itu.. Pada saat itu darah dalam sekujur badannya mulai mengalir ke arah kebalikannya. jikalau tidak dibantu dengan irama seruling itu aku tak sanggup bertahan. penderitaan itu hebat sekali…….com/ bagian2 jalan darah sekujur badannya seperti terlepas bagaikan per lonceng yang telah putus. Beberapa kali ia ingin membuka mulutnya tetapi mulut itu seperti tak mau mendengar kata lagi. telinganya yang mendengarkan irama seruling yang amat merdu dan mengasyikkan itu. irama itu bagaikan irama yang mengandung daya tidur. ternyata sedang duduk bersemedi sambil menundukan kepala dan memejamkan mata. pikirannya merasa agak tenang. meskipun ia sudah menggunakan seluruh kekuatan tenaga. “Kiranya darah yang mengalir ke arah yang berlawanan ini ternyata demikian hebat penderitaannya. Siang-koan Kie menghela napas perlahan. masih juga tak dapat mengeluarkan suara sedikitpun juga……. tak disangka semua tulangtulang sekujur badannya seolah-olah terlepas dari tempat . rasa sakit itu tiba-tiba berhenti. Sementara itu telinganya tiba-tiba mendengar suara seruling yang sangat merdu..Tiraikasih Website http://kangzusi. meskipun matanya terbuka. Entah berapa lama telah berlalu. rasanya seperti ada ribuan binatang semut yang merayap masuk dan bergerak masuk ke-urat2 dan tulang-tulangnya. benda2 yang di depan matanya dapat dilihat kembali dengan nyata.

bagian2 urat dan jalan darah akan mulai menyesuaikan diri dengan darah yang mengalirnya berlawanan arahnya itu. Satu jam dilewatkan dengan cepat. . ternyata di tangannya membawa sebuah buah alkohol yang besar diletakkan ke mulutnya. lalu menotok jalan darah ‘Hiankie-hiat’ di badan Siang-koan Kie. Orang tua itu tersenyum. hanya dari sinar matanya menunjukkan keteguhan hatinya. kalau kau ingin kembali ke asalnya lagi sudah terlambat!” Dengan susah payah Siang-koan Kie menganggukkan kepala. jangankan untuk duduk. sehingga perlahan-lahan mulai berubah.com/ masing-masing. kemudian berkata dengan suara perlahan. “Kau makanlah buah ini. ia membuka mulut. tetapi sudah merasa letih sekali terpaksa ia berdiam lagi. sebuah tangan yang penuh bulu diulurkan ke mukanya telinganya mendengar suara Wan Hauw yang berkata setengah bahasa binatang setengah bahasa manusia. “Apakah kau tahan dengan penderitaan itu? Jikalau kau tidak tahan. liwat enam jam lagi setelah melalui proses yang kedua. sedangkan bergerak saja sudah merasa susah. badannya merasa lemas tidak bertenaga.” Siang-koan Kie mengawasi Wan Hauw. Tiba-tiba mukanya terasa dingin. hanya dalam hati mengerti. orang tua itu setelah bersemedi selama satu jam itu. sekarang ini masih keburu. Perutunya tiba-tiba merasa lapar.Tiraikasih Website http://kangzusi. Sekalipun ia hanya bicara beberapa kata saja dengan Wan Hauw. tiba-tiba membuka matanya mengawasi dirinya. tetapi giginya nampak susah digerakkan baru makan dua kali giginya sudah dirasakan sakit sehingga tidak bisa makan lagi. bahwa pada saat itu sedikit gerakan saja yang menimpa dirinya segera membuat jiwanya akan melayang.

aku merasa sangat girang. Siang-koan Kie kecuali pada jam2 yang tertentu berada dalam keadaan jernih pikirannya. Nampaknya tidak usah tiga tahun.” berkata Siang-koan Kie sambil tersenynm.com/ Sekujur badan Siang-koan kemudian pingsan lagi. untuk membantu kekuatan tenaga dalammu.” Sejenak ia berdiam. semakin lama semakin berkurang. Kie merasa kesemutan. di waktu tengah hari. aku hendak menyalurkan kekuatan tenaga dalamku. Satu bulan lagi kau boleh melakukan sendiri latihanmu menurut ajaranku. ini adalah suatu hal sudah semestinya. Hari itu. “Kau menjadi muridku. dan aku menurunkan kepandaianku kepadamu. sebagian besar waktunya berada dalam keadaan setengah pingsan.. “Proses pertama telah berhasil dengan baik. mulai sore nanti. dengan tidak dirasa dua bulan sudah berlalu. kau sudah akan berhasil menyelesaikan pelajaranmu dan boleh berlalu dari sini. Tetapi kesengsaraan yang timbul dari akibat berlawanan mengalirnya jalan darah dalam tubuhnya. kemudian ia berkata pula. agaknya sudah mulai dapat menyesuaikan keadaan yang baru dalam perobahan mengalirnya darah. akan merupakan suatu kejadian yang sangat menggemparkan…….. setelah Siang-koan Kie sadar.” .” “Budi suhu yang sudah memberi didikan teecu tidak akan melupakan……. setengah tahun kemudian sudah harus melatih ilmu pelajaran serangan tangan dan senjata tajam. Urat2 nadi dan jalan darah dalam tubuhnya. “Jikalau eksperimenku menurunkan kepandaianku atas dirimu kali ini berhasil dengan baik dalam rimba persilatan. Sebaliknya aku dapat membuktikan penemuanku tentang mempelajari ilmu silat dengan jalan singkat di atas dirimu.Tiraikasih Website http://kangzusi. oranq tua itu tiba-tiba berkata. Selama enam puluh hari itu. Sang waktu berlalu sangat cepat sekali.

tiba-tiba terlentar suara mengaungnya binatang bukan binatang. orang tua itu lalu mengerahkan kekuatan tenaga dalam. ia berkata kepada Siang-koan Kie dengan suara perlahan. Kali ini bukan saja tidak merasakan sakit. sebaliknya merasakan segar dan nyaman. “Suara itu terdengar . aku hendak menyalurkan kekuatan tenaga dalamku untuk membantu kekuatan tenags dalammu. hawa panas tiba-tiba dirasakan mengalir ke dalam tubuh Siang-koan Kie. tetapi bagi Siang-koan Kie.” Dengan tangan kiri memegang pundaknya.com/ Ucapannya itu meski belum selesai. sambil tersenyum ia bertaka.Tiraikasih Website http://kangzusi. bibirnya tersungging senyum puas. “Suhu. kapankah teecu boleh duduk melatih pernapasan sendiri?” “Sudah akan tiba waktunya. matanya mengawasi langit di luar jendela. segera dapat mengenali bahwa itu adalah suara Wan Hauw. kau boleh duduk melatih pernapasan sendiri. tangan kanan menunjang punggung. Hawa panas itu perlahan-lahan mengalir menyusuri seluruh tubuhnya. agaknya sedang memikirkan suatu kejadian yang menggembirakan. Selagi dalam keadaan demikian. “Lekas duduk.” Orang tua itu tiba-tiba membimbingnya duduk seraya berkata.” “Apakah hanya tinggal duapuluh hari saja?” “Ya. maka dalam hati juga sangat girang. Wajah orang tua itu segera berobah. tetapi mendadak diam. kepalanya mendongak ke atas. Mendengar keterangan orang tua itu. manusia bukan manusia. Siang-koan Kie tahu bahwa saat2 yang paling kritis sudah lewat. nampak hanya memakan waktu duapuluh hari saja lagi.

dalam hatinya cuma ada Siang-koan Kie seorang. tetapi matanya segera dipejamkan. Siang-koan Kie membuka matanya mengawasi Wan Hauw sejenak.com/ aneh sekali. lalu melompat keluar lagi. kemudian disusul oleh munculnya Wan Hauw yang melompat masuk ke dalam loteng. kemudian memejamnya pula. Pertempuran itu narnpaknya sangat sengit sekali. telinga Siang-koan Kie samar2 mendengar suara pertempuran. sehingga ia keluar lagi. Tangan Wan Hauw membawa sebuah benda yang mirip pedang. . maka ketika melihat Siang-koan Kie sedang bersemadi. Tidak berapa lama. di luar jendela nampak berkelebatnya bayangan orang yang sedang bergerak2 ternyata itu adalah Wan Hauw yang sedang bertempur melawan seorang memegang golok tanto. ia juga tidak menghiraukan. apa yang diperintahkan oleh Siangkoan Kie.. Kemudian seperti teringat apa-apa. Wan Hauw sangat jujur dan setia. kalau bukan karena Wan Hauw menjumpai musuh tangguh. diletakkannya senjata di tangannya itu di sisi Siang-koan Kie. Ketika ia membuka matanya. suara itu mendadak berhenti. tidak boleh diajak bicara.” Suara Wan Hauw itu kedengarannya tidak terputus2. Terhadap orang tua aneh itu. Entah berapa lama telah berlalu. Biji matanya bergerak2. tentunya menemukan jejak orang baru……. tetapi suara itu tetap dari suatu tempat yang tidak jauh dan tidak dekat dari kuil tua itu. golok bukan golok. dengan sangat gembira melompat masuk. kegembiraannya lenyap seketika.Tiraikasih Website http://kangzusi. ia harus melakukan sebaik-baiknya.

semuanya menunjukkan gerak gerik orang yang sudah belajar ilmu silat. “Siapa dalam kamar?” Setelah itu. satu serangan tenaga dalam yang keluar dari jari tangannya menyebabkan orang itu roboh di atas genting. barang kali ia akan balik lagi dengan membawa kawan2nya. “Sudah lama aku tidak pernah berkelahi. . “Ini sungguh aneh.Tiraikasih Website http://kangzusi. Orang tua itu mengayunkan tangan kanannya. tetapi ketika mendengar suara panggilan Siang-koan Kie.” Orang tua itu berkata pula sambil menghela napas perlahan. tetapi hari ini aku terpaksa harus turun tangan sendiri.com/ Kali ini Wan Hauw agaknya tidak mau mengganggu Siangkoan Kie. ia segera meninggalkan musuhnya dan melompat masuk ke dalam loteng itu. gerak kaki dan serangan tangannya. Orang bersenjatakan benda aneh itu ketika mendengar dalam loteng ada suara orang yang memanggil Wan Hauw. jikalau aku membiarkan orang itu kabur lagi. segera berkata dengan suara keras. ia lalu melompat masuk sambil melintangkan senjatanya di dada. “Wan-jie ini agaknya paham ilmu silat. maka tidak mengeluarkan suara jejeritan seperti tadi. lekas kau suruh Wan-jie masuk!” Siang-koan Kie menurut. Orang tua itu berkata dengan suara perlahan. ia lalu memanggil Wan Hauw masuk ke dalam. apakah sejak dilahirkan ia sudah mengerti ilmu silat? Ini agaknya sangat mustahil. Wan Hauw yang sedang bertempur sengit dengan orang itu. Apakah kau pernah mengajarkan ilmu silat?” “Tidak!” jawab Siang-koan Kie singkat.

ia berpaling dan bertanya kepada siorang tua. agaknya orang dari golongan rimba hijau. nanti aku juga akan menurunkan kepadamu. menyambut serangan kepalan tangan orang itu. Ilmu ini dapat dilatih dengan menggunakan waktu tiga hingga lima tahun. kalau sudah mahir sekali. berpakaian ringkas. . sambil memegangi kepalan tangannya.Tiraikasih Website http://kangzusi. Lekas kau suruh Wan-jie mengangkat orang itu. tiba-tiba melihat satu tangan diulur dari belakangnya. asal kau mempelajari dengan sungguh-sungguh. Orang tinggi besar itu mengeluarkan suara tarikan napas panjang. ternyata adalah seorang bertubuh tinggi besar. Wan Hauw agaknya sudah mengerti banyak bahasa manusia. orang itu bergulingan di tanah. Selagi Siang-koan Kie hendak berkelit. aku hendak menanyakan kepadanya. Orang tua itu mengerutkan keningnya. Orang tua itu mengamat2i orang yang sudah dibawa masuk oleh Wan Hauw. dapat menyerang jalan darah musuh dari jarak jauh.com/ Siang-koan Kie terkejut. ini ilmu kepandaian apa?” “Ilmu ini dinamakan ‘Thian-ceng-cie’. kemudian mengangkat tangannya. orang tinggi besar itu tiba-tiba mengeluarkan suara jeritan. Tatkala kepalan tangan orang itu beradu dengan tangan itu. “Suhu. dengan maksud apa ia datang kemari?” Siang-koan Kie menyampaikan maksud orang tua itu kepada Wan Hauw. usianya kira-kira empat puluh tahun. kemudian melompat bangun dan melancarkan serangan kepada Siang-koan Kie. kemudian roboh terjengkang. menotok jalan darahnya untuk menyadarkan dirinya. ia segera melakukan seperti apa yang diperintahkan oleh Siang-koan Kie. pasti akan berhasil.

Orang tua itu berkata pula sambil tertawa dingian. entah dengan menggunakan ilmu apa. kemudian berkata. tetapi kepalan tangan kanannya semakin membengkak. yang menegur kepada orang tinggi besar yang masih bergulingan di tanah. badannya basah dengan keringat dingin. Sambil memegangi kepalan tangannya yang bengkak. apa masih hendak lari?” Tangannya bergerak menepuk bagian lutut orang tinggi besar itu. karena tulangtulang bagian belakang lututnya telah patah. Ia sangat kagum menyaksikan kepandaian orang tua itu. “Apa yang kau lihat? Apakah kau ingin coba dengan tangan kirimu lagi?” Orang tinggi besar itu tiba-tiba berdiri dan melompat ke jendela. Orang tua itu tertawa terbahak-bahak.com/ Siang-koan Kie kini baru dapat melihat bahwa kepalan tangan orang itu ternyata sudah bengkak sehingga dalam hati diam-diam merasa terkejut.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Kau sudah datang kemari. kemudian roboh ke lantai. orang tinggi besar itu sampai terluka demikian hebat? Telinganya pada saat itu mendengar suara orang tua aneh itu. dengan sinar mata beringas ia mengawasi keadaan sekitar ruangan kamar di atas loteng itu. Orang tinggi besar itu kini memegangi kedua lututnya sambil bergulingan. tetapi apabila kau berani main gila coba membohongi aku. mungkin aku masih memberi jalan hidup bagimu. nampaknya rasa sakitnya mulai berkurang. jangan sesalkan aku nanti akan berlaku kejam kepadamu. orang itu kemudian duduk. hingga orang itu segera memperdengarkan suara seruan tertahan. “Kau siapa? Dengan maksud apa kau datang kemari? Kau ceritakan terus terang. .” Orang itu setelah bergulingan beberapa lama.

asal ia suka menjawab baikbaik pertanyaan kita. sepatah katapun tidak keluar dari mulutnya. Siang-koan Kie merasa kasihan. . lebih dulu aku hendak memutuskan semua urat dan otot dalam tubuhnya. Sinar matanya yang semula begitu galak beringas. “Suha. Orang tua itu menepok jalan darahnya. Orang itu ternyata juga sebangsa orang yang keras kepala.Tiraikasih Website http://kangzusi. tetapi tidak sudi minta ampun. lalu pingsan. keringat dingin mengucur keluar. sehingga orang tinggi besar itu sadar lagi. ia berkata kepada suhunya dengan suara perlahan. kini telah berobah seperti minta dikasihani. orang itu memandang orang tua itu dengan perasaan takut. membetot kedua kaki orang tinggi besar itu. Orang tua itu lalu mengulur kedua tangannya. sehingga tidak dapat menjawab pertanyaan siorang tua. sudahlah jangan dibunuh!” Hemm! mana begitu enak suruh ia mati? Aku hendak menyiksa dirinya perlahan-lahan. kemudian melesat ke depan orang tinggi besar itu dan bertanya kepadanya dengan nada suara dingin. meski dalam hati merasa takut. “Bagaimana rasanya patah tulang dan urat2?” Orang tinggi besar itu dengan airmata berlinang-linang dan napas memburu menahan rasa sakitnya. setelah memperdengarkan suara jeritan. Agaknya rasa sakitnya sudah lenyap. supaya ia menderita selama delapan atau sepuluh hari. badannya gemetaran.” Orang tinggi besar itu yang mendengar perkataan orang tua itu nampaknya bergidik. Nampaknya orang itu kesakitan setengah mati.com/ Orang tua itu menekan lantai dengan sebelah tangan. Kiranya orang tua itu kini sudah menyambung lagi tulang lututnya yang dipatahkan.

datang kemari atas perintah untuk mencari seorang sahabat pemimpin kita. kau nanti akan merasakan bagaimana siksaan itu!” Orang tinggi besar itu menganggukkan kepalanya. orang tua itu memandang kepadanya. “Kalau kau berani membohongi aku. kemudian berkara pula. Kita berkawan tiga orang. sejenak tampak ia terkejut. kemudian berkata. Orang ini sudah binasa di tanganku. “Senjata itu adalah senjata salah satu kawanku………” Wan Hauw tiba-tiba berkata dengan bahasa manusia yang masih mengandung bahasa binatang. “Setelah kita memasuki daerah pegunungan.” jawab orang itu. lalu berjalan berpencaran.” “Di mana kedua kawanmu yang lain itu sekarang?” Orang itu menjawab sambil menggeleng2kan kepala.com/ Dengan sinar tajam. Siang-koan Kie lalu berkata sambil menghela napas. baru menjawab.” “Pantas aku tidak dapat menemukannya lagi. “Siapa nama pemimpinmu itu?” .Tiraikasih Website http://kangzusi. Orang tua itu lalu bertanya kepadanya. “Sahabatmu itu sudah binasa. kemana sekarang kedua kawanku itu? Aku sendiri juga tidak tahu. lalu bertanya pula. “Bagainiana kau bisa datang kemari? Kau datang seorang diri atau berkawan?” Orang tinggi besar itu memperdengarkan suara batuk2 sebentar.” Tiba-tiba matanya dapat melihat senjata aneh yang berada di samping Siang-koan Kie.” Orang itu tidak mengerti betul perkataan Wan Hauw. hingga memandangnya dengan sinar mata terheran2. Orang tua itu setelah berpikir sejenak.

. bukan saja tidak berani mengganggu . barang kali tiada orang yang tidak tahu tentang panji Naga itu. kemudian ia berkata. itu saja sudah cukup.” “Panji naga apa?” “Panji bergambar naga itu adalah tanda bagi pemimpin kita untuk menyampaikan perintahnya.Tiraikasih Website http://kangzusi.” “Sebuah panji pengaruhnya?” kecil saja. matanya memandang ke atas.” Ia berdiam sajenak. asal kita melihat panji itu. maka hanya mendengar suara dan mengenali panjinya yang ada tanda seekor naga.” “Apakah kau sendiri juga tidak tahu namanya?” bertanya Siang-koan Kie sambil mengerut keningnya.” “Oh kiranya begitu!” Orang tinggi besar itu agaknya membanggakan pemimpinnya. kita harus mendengar dan menurut perintahnya……..com/ “Nama asli pemimpin kita dalam dunia Kang-ouw sedikit sekali yang tahu. asal mereka lihat panji itu. bagaimana begitu besar “Kau jangan memandang rendah panji naga itu. sekalipun kau bukan orang rimba persilatan tetapi asal kau membawa panji itu. tidak perduli siapa yang membawa panji itu. sedangkan pada dua tahun berselang panji itu pengaruhnya hanya terbatas pada daerah sekitar sungai Tiang-kang utara. tanpa menantikan Siang-koan Kie bertanya lagi. “Panji itu dewasa ini di kalangan Kang-ouw sudah mempunyai pengaruh besar sekali. kau boleh tanpa menemukan rintangan di seluruh daerah utara dan selatan sungai Tiang-kang……. Kita hanya melakukan segala perintahnya melalui suaranya. “Tidak tahu. semua hanya menyebutnya Kun-liongong……. ia sudah melanjutkan penuturannya.. “Orang2 dari golongan hitam. tetapi sekarang sudah sampai ke daerah selatan……..

” Orang tua itu sejak tadi mendengarkan dengan tenang. jumlahnya tidak sedikit tetapi yang dapat melihat wajah aslinya. kau benar-benar sudah pernah melihat Kunliong-ong itu?” demikian ia bertanya. “Tetapi untuk mendapatkan panji susah sekali. ia sangat memperhatikan penuturan orang. Kun-liong-ong juga patut merasa bangga!” Orang itu tiba-tiba tertawa besar dan berkata. “Sebuah panji kecil saja.” Orang tua itu agaknya sangat tertarik oleh pemimpin rimba hijau yang bergelar Kun-liong-ong itu. aku tidak dapat melihat dengan tegas. kita hanya dapat lihat bentuk tubuhnya yang tinggi besar. jumlahnya sedikit sekali. “Sudah sih sudah. dan ia lalu berkata. sudah mempunya pengaruh begitu besar di kalangan Kang-ouw. “Kalau begitu. bahkan hendak melindungimu secara diam-diam………” Siang-koan Kie nampaknya sangat tertarik. baru ia menjawab. kecuali beberapa orang dan pengawalnya yang terdekat. katanya. hanya terpisah sangat jauh. dua kali.Tiraikasih Website http://kangzusi.” “Apa? Pemimpinmu sendiri kau tidak dapat melihat dengan tegas?” bertanya Siang-koan Kie. warnanya kuning yang disulam dengan gambar .” jawabnya sambil “Bagaimana macamnya?” “Setiap kali kita berdiri terpisah kira-kira lima tombak. “Sudah pernah melihat menganggukkan kepala. wajahnya yang penuh berewok mengenakan pakaiannya panjang.com/ seujung rambutmu. “Apakah kau pernah melihat Kun-liong-ong?” Di luar dugaan orang itu melengak setelah berpikir agak lama. “Orang kuat dunia Kang-ouw yang ingin berkenalan dengannya.

sebentar bisa berobah menjadi orang tua sebentar lagi bisa berobah seperti anak muda. Sebaliknya dengan Siang-koan Kie. “Bagi seorang yang pandai ilmu mengganti rupa. kalau kau tidak percaya. Orang tua itu setelah berpikir sejenak lalu bertanya pula kepada orang tinggi besar itu.” jawab orang itu sambil menganggukan kepala. “Apa? Apakah Kun-liongong bisa menyulap dirinya. Tetapi kedua kalinya aku melihatnya agaknya……. ia lalu terdiam. entah siapa yang dicari?” . tetapi ketika mendengar ucapan orang tua itu. agaknya tidak mau peduli tentang terjadinya perobahan rupa itu. ini bukan soal yang aneh. bahkan berewok di mukanya juga sudah tidak tampak lagi.” Orang tua itu tidak bertanya lagi. “Omong kosong.. “Kun-liong-ong mengutus kalian memasuki daerah pegunungan Pek-ma-san ini.com/ seekor Naga emas. -odwoBab 16 SIANG KOAN KIE sebetulnya masih ingin bertanya lagi. di mana ada kejadian seperti ini?” “Aku selamanya tidak pernah membohong. ia agaknya jauh lebih muda dari pada yang pertama aku melihatnya. mendadak berobah menjadi seorang muda belia?” “Kedua kalinya aku melihatnya. ia merasas heran dengan soal itu.” berkata orang tua itu sambil tertawa. agaknya………” “Agaknya bagaimana?” “Agaknya berobah macamnya. sudah saja!” jawab orang itu gusar.Tiraikasih Website http://kangzusi. maka lalu bertanya.

wajanya tiba-tiba berobah.” jawab orang itu smabil menggeleng2kan kepala. wajahnya sudah susah dikenali. kecuali di gunung Pek-ma-san ini. ia meletakan gambar lukisan itu di lantai dekat dirinya. “Untuk mencari seorang……. “Orang lelaki itu aku ingat seperti mayat laki2 yang aku pernah lihat di dalam goa di atas gunung belukar itu…….” Sikap orang tua itu pulih seperti biasa lagi. di atas kain sutera putih itu ada terlukis sebuah gambar seorang lelaki tegap dan tinggi besar mengenakan pakaian warna biru. kemudian berkata. “Apa? Apakah ia juga berada di dalam gunung Pek-ma-san ini?” “Belum tentu. hatinya tergerak. “Aku tak dapat menyebutkan nama orang itu. asal aku melihatnya.com/ Orang itu memandang wajah orang tua aneh itu sejenak.Tiraikasih Website http://kangzusi. bukankah hanya bertiga saja? Betul tidak?” .” tiba-tiba ia menggelang2kan kepala. kemudian berkata pula. ia menatap wajah orang itu. Orang tua itu setelah memandang gambar lukisan itu sebentar. tetapi wajah dan bentuknya aku ingat baik.. segera dapat kukenali!” Orang tua itu tiba-tiba melototkan matanya. orang2 yang diutus oleh pemimpin kita bukan hanya rombongan kita bertiga saja. masih ada lain tempat lagi. tetapi pakaian orang dalam lukisan itu serupa benar dengan pakaian mayat laki2 itu. katanya. aku di sini membawa gambarnya. Siang-koan Kie yang menyaksikan gambar itu. Orang tua itu mengambil sebuah lukisan dari badan orang itu. dalam hatinya berkata. baru berkata. “Apa kau hendak mencari aku?” “Bukan..” Oleh karena mayat itu kulit dan dagingnya sudah kering. lalu bertanya pula.. “Rombongan kalian yang memasuki daerah pegunungan Pekma-san ini.

Tiraikasih Website http://kangzusi. lalu berkata sambil tertawa. tetapi dia dengan kita tidak ada permusuhan apa-apa. selanjutnya akan menimbulkan banyak kerewelan.” Mendengar suara orang itu. kemudian membebaskannya. mengawasi Siang-koan Kie. dia nanti pasti akan membocorkan rahasia dalam kuil tua ini.” “Tetapi jika kita tidak membunuhnya.” Orang tua itu mengawasi Siang-koan Kie sejenak. “Jikalau kita tidak membunuh orang ini. “Ya. tetapi sudah berjanji. terpaksa menganggukkan kepala dan menjawab. laki2 tinggi besar itu merasa ada gelagat tidak beres. lalu berkata. entah mereka tahu aku datang ke kuil tua ini atau tidak. Siang-koan Kie berpikir. dengan tanpa sebab kita membunuhnya. sesungguhnya kurang pantas. aku sendiri juga tidak tahu. dank au tertangkap hidup2. “Meskipun ucapan suhu ini benar. di kemudian hari kita tidak bisa tenang lagi. supaya dia . sekarang yang berada di dalam gunung ini hanya tinggal seorang saja. kemudian berkata kepada suhunya.” Siang-koan Kie diam-diam membenarkan pikiran orang tua itu. Waktu kita memasuki daerah pegunungan ini. apakah kita tidak dapat mencari akal. masing-masing berjalan berpencaran. entah ia tahu kau dating ke kuil ini atau tidak?” Orang itu berpikir lama.” “Kawanmu yang masih hidup itu. kita berjumpa di salah satu tempat di daerah pegunungan ini. setelah menghela napas perlahan.” Laki2 itu dengan sinar mata meminta-minta. “Satu sudah binasa di tangan Wan Hauw. baru menjawab. lalu berkata.com/ “Betul.” Orang tua itu mengawasi Wan Hauw. tetapi ia tidak berani bertanya. tujuh hari kemudian. “Suhu.

tidak boleh mengelabui sedikitpun terhadapnya.” Siang-koan Kie terkejut mendengar perkataan orang itu. maka sebaiknya mati di sini sekarang juga. katanya. aku sudah merasa bersukur. kemudian berkata.” Kemudian ia memejamkan matanya untuk bersemedi.Tiraikasih Website http://kangzusi. apalagi jaringan mata-matanya sangat luas. suhumu sedikitpun tidak mirip dengan orang yang kucari. kau pikirlah sendiri.com/ jangan menceritakan kejadian atau keadaan dalam kuil ini……. orang tua itu sudah berkata. meski aku tidak tahu siapa namanya orang yang harus kucari itu. “Kalian bunuh saja aku! Walaupun aku bisa pergi dari sini. “Orang2 golongan rimba hijau paling palsu dan berbahaya hatinya. juga tidak luput dari kematian. Laki2 itu tiba-tiba menarik napas.” . tetapi jikalau tidak memberitahukan apa yang aku lihat dan dengar kepada pemimpinku. aku tidak dapat memkirkan suatu cara yang baik untuk menghadapi mereka. “Kau memasuki daerah pegunungan ini toh bukan akan mencari suhu?” “Bukan. agaknya tidak mau menghiraukan soal itu lagi. lebih baik mati sekarang juga.” “Itulah. sekalipun hendak mengelabuinya juga tidak mungkin. mengapa pemimpinmu harus membunuhmu?” “Setiap anak buah Kun-liong-ong. kau tidak mengatakan apa yang kau tahu di sini juga tidak melanggar peraturan. justru kau tidak mempunyai sangkut paut dengan kita. Aku hanya meminta supaya kalian jangan menyiksa diriku. bahkan kematian itu bertambah mengerikan. Daripada menerima siksaan hebat. sulit untuk lolos dari hukuman. Di kemudian hari apabila diketahui olehnya.?” Belum habis ucapan Siang-koan Kie.. tetapi aku membawa gambarnya.

bagaimana ia dapat mencarimu?” “Dia tidak perlu mencari kita. berarti kita sudah menyerahkan nasib kita untuk dikendalikan olehnya. lebih dulu harus melakukan upacara sumpah berat.. mungkin mengerti……. setahun kemudian kita akan mati sendiri secara mengerikan. ia bertanya lagi kepadanya. Asal kau tidak menuntut penghidupan dalam golongan rimba hijau. “Jikalau suhumu mendengar keterangan ini. Kemudian mengalihkan pandangan matanya ke arah Siang-koan Kie. sebelum masuk menjadi anggauta.” berkata laki2 itu sambil tersenyum getir.. tetapi orang tua itu sedang memejamkan kedua matanya.” .Tiraikasih Website http://kangzusi. aku semakin tidak mengerti.” Mata laki2 itu berputaran mengawasi orang tua aneh itu.” Siang-koan Kie masih tidak mengerti.com/ Siang-koan Kie semakin heran. tetapi pada waktu itu tidak diketahui namun bagi siapa yang sudah masuk ke pintunya. “Apa penyakitnya arak itu?” “Dalam arak itu dicampur semacam racun. “Perkara semacam ini aku belum pernah mendengarnya. kemudian berkata pula. di mana saja kau toh bisa menghindarkan diri.” Dengan susah payah ia menggerakan badannya. seumur hidupnya tidak boleh berkhianat……. masih diharuskan minum beberapa cawan arak. seolah-olah paderi yang sedang bersamedi. “Barang siapa yang ingin menjadi anak buahnya. lalu berkata. napasnya saja tidak kedengaran.” “Mungkin kau takut sumpahmu sendiri. “Dunia begini luas. seumur hidup menjadi budak. ia bertanya. justru arak itulah yang merupakan penyakitnya. maka tidak berani berkhianat?” “Kecuali melakukan sumpah berat.

tetapi sudah cukup membuat orang sangat menderita. Tetapi diwaktu sedang bekerja.” Di waktu mengikuti berkelana suhunya yang terdahulu. maka ia sangat terkejut ketika mendengar keterangan itu. merayap menyusup ke seluruh tulang. kita tidak bisa menenangkan diri. Jikalau orang itu tidak berkhianat kepadanya. juga tidak tahan penderitaan serupa itu. sehingga keadaan orang itu tidak mendapat gangguan apa-apa. setelah masuk ke dalam perut kita.” “Racun apakah yang dimasukan ke dalam arak. di waktu bekerja meskipun orangnya menerima penderitaan hebat. waktu masuk ke dalam perut. “Meskipun kita sudah minum arak yang ada racunnya. Siang-koan Kie pernah mendengar cerita tentang orang2 suku Biaw yang memelihara kutu beracun. Sekalipun tabib yang bagaimana pandainnya.’” “Waktu pertama kali racun itu bekerja didalam tubuhmu. apakah kau tidak berusaha untuk memanggil tabib. “Kutu beracun yang dipelihara itu sangat luar biasa.Tiraikasih Website http://kangzusi. juga tidak menimbulkan perasaan apaapa. kemudian berkata pula. dia baru mengirim orang untuk memberi obat pemunahnya.com/ Ia diam sejenak. dalam tubuh kita seolaholah ada banyak semut. tetapi keadaannya masih seperti biasa.” “Racun dia itu tiada rasanya dan tiada warnanya. dia akan memberikan obat pemunahnya untuk dimakan. Laki2 itu berdiam sejenak. Penderitaan itu bukan berupa rasa sakit atau gatal. sekalipun orang yang sangat membandal. bisa bekerja pada waktu yang ditentukan. tetapi wakru itu tidak mengetahui sehingga racun itu bekerja dan kau menderita siksaan beberapa hari. bagaimana begitu hehat?” “Racun kutu. setiap setengah tahun. juga tidak dapat mencari di mana letak penyakitnya. kemudian berkata pula. kecuali minum obat pemunah pemberiannya.” .

dengan demikian berarti dapat diperpanjang bekerjanya racun itu setengah tahun lamanya. Kecuali orang yang memelihara. orang lain sulit untuk mencari obat pemunahnya. Tetapi setengah tahun kemudian. Menurut dugannku.” “Apakah kau tidak bisa menyerahkan obat pemunah itu kepada seorang tabib yang pandai. ia segera akan mandapat firasat…….Tiraikasih Website http://kangzusi. obat itu sangat sulit didapatkannya.” Orang tua itu tiba-tiba membuka matanya dan berkata. aku tidak tahu benar mereka minim arak semacam itu atau tdak?” Siang-koan Kie rnendadak timbul rasa simpatiknya terhadap laki2 di hadapannya itu. kira-kira masih berapa lama racun dalam tubuhmu itu akan bekerja?” “Tidak perlu dihitung. setiap jenis mempunyai pembawaan racunnya tersendiri.” . sekalipun kau membayar dengan harga sangat tinggi. asal kau menemukan bahaya. kemudian berkata. berarti sudah bersatu dengan orang yang memeliharanya. “Sekarang kau coba hitung2.com/ “Apakah semua orang yang mendiadi anggautanya. barang kali masih tinggal setengah bulan. Ada sejenis kutu yang diberi makan darah orang yang memelihara kutu itu. Hanya. ia menghela napas. tidak perduli kau kabur kemana. aku akan minum obat pemunah itu. supaya membuatnya beberapa butir. mungkin semua sudah pernah meminum arak beracun itu. racun itu akan bekerja lagi. “Kutu ada berapa jenis. harus diberi makan racun itu?” “Kecuali beberapa sahabatnya yang paling akrab. Sementara beberapa pengawalnya yang terdekar. kalau saatnya sudah tiba. siapapun tidak suka membicarakan soal itu. kalau aku tidak pulang. entah terdiri dari beberapa jenis obat2an yang dicampur menjadi satu. bukankah kau akan terlepas dari hukuman?” “Obat pemunahnya itu.. juga tidak dapat beli. dalam badanku kini ada membawa obat pemunahnya.

bahkan saling berebut pengaruh dengan rupa2 akal keji dan jahat. barang kali akan terkena racun semuanya. aku sendiri juga tahu sedikit saja. Laki2 itu berpikir sejenak lalu berkata. “Orang2 dunia Kang-ouw ternyata ada banyak yang begitu jahat dan berbahaya. Orang tua itu seolah-olah tidak dengar perkataannya. supaya tidak menyusahkan orang lain!” “Sebaiknya jenazah itu dibakar menjadi abu. baru dapat mencegah bahaya untuk selama2nya. apakah juga tidak mengetahui caranya untuk menolong dia?” bertanya Siangkoan Kie. berkata orang tua itu. Kalau aku sudah berhasil dengan . mungkin tidak akan diterima maka ia lalu bungkam.” jawab gurunya. “Kecuali orang yang pandai sekali dalam ilmu itu. Laki2 itu tiba-tiba berkata dengan suara nyaring. ia berpaling dan berkata kepada Wan Hauw. “Baiklah! Tetapi aku masih ada sedikit waktu untuk hidup……. binatang2 yang memakan dagingnya. barang kali sudah dimakan oleh binatang buas. ia melongok keluar jendela. hatinya merasa tidak enak. “Jikalau racun dalam tubuhnya itu mempunyai kekuatan yang bisa menyalar. harap kalian membuatkan aku lobang yang dalam sekali untuk mengubur jenazahku.” jawab Wan Hauw yang sudah berkata dalam bahasa manusia agak lumayan. “Di mana bangkainya orang yang kau bunuh?” “Aku lempar ke dalam lembah. Siang-koan Kie yang menyaksikan sikap masgul laki2 itu. bukan hanya saling membunuh saja. dalam hatinya berpikir.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ “Pengetahuan suhu sangat luas. tiada orang lagi yang mampu menolong. “Nanti setelah aku mati.” Agaknya ia merasa bahwa permintaannya itu sangat keterlaluan..

“Kie-jie. di kemudian hari sudah tentu akan berkelana di dunia Kana-ouw. kau sedang memikirkan apa?” “Suhu. “Bocah. kemudian diperbudak seumur hidupku bukankah berarti siksaan batin seumur hidup……. lalu memotong ucapaa muridnya. Apakah kau tidak ingin menjauhi seorang yang terkenal? Apakah kau tidak ingin dihormati oleh sahabat2 rimba persilatan?” “Apakah gunanya berkepandaian tinggi? Jangan kata sudah tidak sanggup melawan orang seperti Kun-liong-ong yang menggunakan pengaruhnya kutu beracun.Tiraikasih Website http://kangzusi. apakah kau anggap bahwa orang2 dunia Kang-ouw yang pandai menggunakan racun sudah bisa malang melintang? Apakah orang berkepandaian sangat tinggi sudah tidak ada gunanya sama sekali?” Siang-koan Kie mengawasi laki2 itu sejenak.. tetapi apa gunanya? Bukan saja tidak bisa menjamin jiwanya sendiri. lalu berkata..” Orang tua itu kembali tertawa terbahak-bahak. Andaikata aku makan racun orang itu. dan orang seperti si Tangan beracun Ang Thian Gee. bukankah nama teecu di kalangan Kang-ouw semakin terkenal betul tidak?” “Betu1. “Umpama dia ini.com/ ilmu silatku..” Orang tua itu tertawa terbahak-bahak dan berkata. dia mempunyai kepandaian cukup tinggi.?” Orang tua itu menyaksikan sikap Siang-koan Kie seperti orang bingung dan berkata kemak kemik seorang diri segera menegurnya dengan suara perlahan. bahkan diperbudak orang seumur hidupnya. nasibnya lebih buruk dari pada kuda atau kerbau……. “Kau harus mengetahui bahwa . teecu sedang memikirkan apakah teecu perlu melanjutkan pelajaran ilmu silat teecu?” “Kenapa?” “Kalau kepandaian teecu semakin tinggi. juga susah dijaganya…….

biar bagaimana terdiri dari darah dan daging. banyak sekali caranya. dengan menurut ajaran orang tua itu. nanti setelah pelajaranmu selesai seluruhnya aku akan mengajarmu bagaimana caranya membedakan racun. juga tidak apa-apa……. atau waspada pada sebelumnya. ini bukanlah mudah. Siang-koan Kie merasa bahwa saat itu sudah tiba waktunya untuk melakukan latihannya.. jikalau kau sudah melatih ilmu kepandaianmu sampai taraf tinggi tertentu. menotok jalan darah ‘Thian-leng-hiat’ Siang-koan Kie. kau dapat mengeluarkan racun dalam perutmu. Asal kau segera mengetahui bahwa dirimu kemasukan racun. Siang-koan Kie merasa sedikit menggetar.com/ kepandaian ilmu silat itu tidak terbatas.Tiraikasih Website http://kangzusi. . sehingga tabu terhadap racun. ia mulai bersemedi. tolonglah……. orang tua itu tiba-tiba sudah bergerak tangannya. Pada saat ini kurang tepat bagimu untuk membagi perhatianmu kepada persoalan lain. semua pikirannya lalu dipusatkan.” sebelum ucapan ‘orang ini’ keluar di mulutnya.. satu orang. sehingga ia tidak mau membuang temponya lagi.” “Bagi orang yang sudah melatih ilmu kekuatan tenaga dalam sampai kebatas tertentu semua gerakan dalam tubuhnya juga dapat dikendalikan menurut keinginannya. tidak perduli sampai batas mana tinggi kepandaian ilmu silatnya. isi perutnya toh tidak mungkin bisa keras bagaikan batu atau besi. “Harap suhu mengasihani sesama mahluk. bukankah sangat membahayakan?” “Dalam hal membedakan jenis racun. sekalipun terkena racun bagaimana berbisapun. Ia menghela napas dan berkata. sangat luas sekali.” “Keterangan suhu ini teecu tidak mengerti.” “Tetapi jika racun itu tidak menunjukkan tanda atau menimbulkan perasaan apa-apa apalagi belum berjaga2 pada sebelumnya.

” Siang-koan Kie hanya merasakan dadanya sesak susah bernapas agaknya hendak meledak. sedangkan orang tua itu tengah duduk dengan tenangnya sambil memejamkan mata. pasti akan mempengaruhi kemajuanmu. pusatkan seluruh pikiranmu. Siang-koan Kie yang duduk beberapa lama seorang diri. Wan Hauw yang selalu menjaga di sampingnya. sebentar lagi kau akan mengalami suatu proses berputarnya urat nadi dan otot2 dalam tubuhmu……. sehingga ucapan selanjutnya tidak dapat dikeluarkan lagi. sebuah tangan kurus kering tiba-tiba mencekal pergelangan tangannya. Dua kali ia memanggil suhunya dengan suara perlahan. lekas kau pejamkan mata dan duduk bersemadi lagi. laki2 tinggi besar itu sudah tidak ada. di langit tidak terdapat sebuah bintangpun juga. sehingga menimbulkan suara keresekan pada loteng itu. Sementara itu. Telinganya terdengar pula suara suhunya. telinganya mendengar suara suhunya. Cuaca sudah gelap. Ia lalu membuka mulutnya memanggil. angin gunung meniup keras. juga tidak tahu ke mana sudah pergi. “Pada saat ini selagi pelajaranmu sudah akan selesai. “Suhu…….” Tetapi beberapa bagian jalan darah di atas dadanya ditotok oleh suhunya.. “Sekarang aku telah menotok tiga bagian jalan darahmu yang terpenting. selagi hendak membuka jendela.Tiraikasih Website http://kangzusi. kalau pikiranmu bercabang. jalan darahnya agak kencang.” Siang-koan Kie merasakan bahwa genggaman tangan suhunya itu sangat kuat sekali. seketika sekujur badannya dirasakan kesemutan.. hatinya merasa kesepian. tetapi orang tua itu agaknya tidak mendengarnya sama sekali. sehingga hatinya merasa cemas. bibir dan lidahnya seolah- .com/ Sewaktu ia tersadar lagi.

Tiraikasih Website http://kangzusi. Tetapi dalam hatinya selalu memikirkan penderitaan dan siksaan yang akan dialaminya. ia merasakan kedua tangan suhunya tidak berhentinya bergerak di sekujur bagian jalan darahnya. Dalam keadaan demikian. Siang-koan Kie perlahan-lahan kehilangan tenaganya untuk mempertahankan dirinya. Sebentar kemudian. benar saja Siang-koan Kie merasakan darah di urat nadi dan otot2nya berputaran. menurut urat dan otot seluruh tuhuhnya. telah menimbulkan reaksi dari sifat Siang-koan Kie yang keras kepala. Sekalipun dalam hatinya mengerti. darah mengalir dengan baik tanpa menimbulkan rasa sakit apa-apa. Maka ia segera memejamkan matanya. perlahan-lahan telah lenyap setelah diurut oleh tangan suhunya. Kekhawatiran dan kekuatannya perlahan-lahan mulai lenyap. pengalaman yang sudah2 telah membuktikan bahwa penderitaan itu sesungguhnya bukan segala orang yang sanggup menahannya. apalagi sikap orang tua pada saat itu tiba-tiba berobah demikian dingin. memusatkan semua kekuatan tenaganya. Ia merasa tempat dan bagian di mana tangan suhunya sampai. ia bersedia menerima segala penderitaan. . Tetapi kenyataannya ternyata di luar dugaan. kekuatan tenaga dalam yang sudah dipusatkan. sehingga pikirannya dipusatkan. tetapi mulutnya tidak dapat mengeluarkan perkataan apa-apa. sehingga tidak dapat mengeluarkan suara dari mulutnya. Sikap dingin orang tua itu. dari tegang pulih menjadi tenang dengan tanpa dirasa ia telah tidur pulas. tetapi pikirannya malah lebih tenang.com/ olah sudah tidak bisa digerakkan lagi. walaupun ia bisa bicara. barang kali juga tidak berani membuka mulut.

ia melakukan seperti apa yang diminta oleh suhunya.Tiraikasih Website http://kangzusi. matahari sudah naik tinggi. sedikitpun tidak menengok. “Kie-jie. tidak merasakan ada halangan apa-apa maka lalu betkata sambil menggelengkan kepalanya. tiba-tiba telah lenyap. apakah kau sudah sadar?” Perasaan kurang senang yang timbul dalam hati Siang-koan Kie. Sinar matahari menyorot masuk melalui jendela yang terbuka. Siang-koan Kie menggerakkan tubuhnya. apakah perkataanmu ini benar?” . matanya memandang keluar entah apa yang sedang dipikirkan. “Suhu. katanya dengan suara perlahan. kekuatan dan kepandaian agaknya sudah pulih kembali……. “Kie-jie.” Siang-koan Kie menurut. ia merasakan bahwa jalan darahnya sudah seperti biasa. teecu tidak merasakan ada halangan apa-apa.. ia menjawab sambil menundukkan kepala. “Kie-jie. kini ia merasakan badannya ringan. orang tua itu sedang duduk di pinggir jendela. waktu ia sadar lagi.” Orang tua itu agaknya masih tidak percaya. Dengan suara agak gemetar orang tua itu bertanya kepada Siang-koan Kie. kau harus memberitahukannya kepadaku. kau jangan membohongi aku. ia berkata dengan suara perlahan. apakah urat nadi dan jalan darah dalam tubuhmu sudah merasa seperti biasa? Anak. ”Sudah!” “Coba kau sodorkan lengan tanganmu. Orang itu matanya masih tetap ditujukan keluar jendela. kemudian duduk. lihat tangan dan kakimu bisa bergerak atau tidak?” Siang-koan Kie menurut. sehingga keadaan dalam loteng itu segar hangat. kau coba jalan pernapasanmu. apabila ada merasa sedikit halangan. ia hanya merasakan bahwa suara orang tua itu penuh kasih sayang.com/ Entah berapa lama telah berlalu.

Akibatnya kalau tidak cacad tentunya binasa……. tibatiba ingat bahwa di bawah pengaruh kekuatan paksaan demikian. juga tidak sanggup menyembuhkan. apabila dalam hati timbul reaksi perlawanan. ia menghapus airmatanya yang berlinang-linang membasahi pipinya. katanya sambil tertawa. aku tadinya mengira kau tidak bisa tersadar lagi. hatinya merasa terharu. ia menghela napas panjang. kau benar tidak halangan suatu apa-apa!” Demikian orang tua itu berkata dengan suara terharu. “Kie-jie. maka ia lalu berjongkok dan duduk di samping suhunya. tidak mau menjalankan pernapasanmu maka darah dan hawa yang mengalir dalam tubuhmu akan berhenti tidak bergerak dengan demikian akan menimbulkan luka dalam yang sangat parah.” “Mengapa?” “Aku lihat kau membagi perhatianmu terhadap laki2 tinggi besar itu.” . aku takut selagi pelajaranmu hendak selesai. sekalipun tabib yang betapapun tinggi kepandaiannya.. Orang tua itu mengulur tangannya membelai ramhut Siangkoan Kie. Setelah aku melakukan usaha itu. atau karena pikiranmu memikirkan keselamatan dirinya. akan menemukan kegagalan. Menyaksikan kecintaannya yang begitu besar terhadap dirinya. Aku hanya memikirkan supaya kau lekas selesai pelajaranmu melalaikan bahayanya. “Kie-jie. sehingga tidak bisa dipusatkan maka aku terpaksa menggunakan kekuatan tenaga dalamku membantu kau mengusir segala pikiran yang mengganggu hatimu itu.. aku juga takut setelah kau tersadar.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Perlu apa teecu harus membohongi suhu?” Mata orang tua itu menatap wajah Siang-koan Kie. Siang-koan Kie tiba-tiba merasakan bahwa orang tua yang aneh ini sebetulnya mempunyai perasaan yang sangat halus dan berhati baik. kau akan menjadi orang cacad…….

Tiraikasih Website http://kangzusi.” Siang-koan Kie sangat terharu. . untung reaksi perlawanan yang timbul dalam hatiku tadi tidak terlalu kuat.” “Waktu itu pikiranku sangat bingung. jikalau kau tidak mau mengatur pernapasanmu untuk mengimbangi. ia hanya dapat memanggil “Suhu!” sudah tidak dapat mengatakan apa-apa lagi. juga tidak menyesalkan suhu. kini aku tentunya sudah menjadi orang bercacad dan binasa. setengah malam aku memikirkan itu.” Orang tua itu berkata pula sambil menghela napas panjang. masih belum berhasil menemukan caranya untuk menolong. airmata mengalir turun. aku juga tidak berdaya sama sekali. “Sungguh berbahaya. kemudian berkata pula.” “Aku takut apabila kau sadar dan dapat melihat orang 1agi. tidak berani menengok ke arahmu. “Sudah setengah malam aku duduk di pinggir jendela ini. kau akan terganggu pikiranmu maka kusuruh Wan-jie membawanya keluar untuk mengurungnya di tempat yang aman. jalan darah dalam tubuhmu sudah mengalir seperti biasa. andaikata teecu sudah ditakdirkan mati atau menjadi orang cacad.” “Mati atau hidup sudah ditakdirkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.com/ Siang-koan Kie diam-diam berpikir. “Ketika aku memikirkan itu. jikalau ketika itu aku mengadakan perlawanan hebat.” “Suhu memperlakukan teecu demikian baik sesungguhnya teecu sangat berat untuk membalas budi suhu ini. supaja jangan sampai menyaksikan bagaimana keadaanmu yang menderita kesakitan dari akibat darah yang berhenti dalam tubuhmu tidak mengalir seperti biasa. sayang sudah terlambat.” Ia berdiam sejenak.

kau harus sudah kembali. ini merupakan satu sukses besar bagimu. “Suhu. besok pagi aku akan mulai memberi pelajaran ilmu pukulan tangan kosong. . maka ia berkata. selama beberapa bulan ini. “Sungguh tidak kusangka kau ternyata tidak terluka.” Siang-koan Kie menerima baik pesan itu. tiba-tiba hatinya berpikir. Tiba di tanah ia berjalan perlahanlahan menuruti keinginan sang hati. kau pergilah sendiri!” jawab sang suhu sambil menggelengkan kepala. lalu melompat keluar melalui jendela. hal ini benar-benar di luar dugaanku!” Siang-koan Kie mengawasi ke udara bebas. apalagi suhu yang sudah berdiam bertahun2. bagaimana kalau kita keluar pesiar bersama-sama?” “Aku sudah biasa dengan penghidupan menyendiri yang sunyi seperti ini. “Sebelum malam tiba. ia bangkit dan selagi hendak melompat keluar melalui jendela. sebaiknya aku gendong suhu untuk keluar pesiar. “Aku berada di dalam loteng ini baru baberapa bulan saja. Hari ini udara sangat baik. “Suhu. pikirannya melayang jauh. hari ini kau boleh keluar pesiar satu hari. sehingga di kemudian hari kau tidak usah khawatir akan terganggu pengaruh jahat yang akan merusak tubuhmu. kau belum pernah keluar dari loteng ini.” “Siang-koan Kie sangat girang mendengar ucapan suhunya. sudah tentu sangat rindu akan keadaan di luar kuil ini.com/ Orang tua itu berkata pula. teecu masih harus menggunakan waktu beberapa lama.Tiraikasih Website http://kangzusi. Karena berpikir demikian. mari teecu gendong suhu. supaya ia juga merasa gembira. Tiba-tiba ia bertanya. sudah merasa kesepian. baru berhasil mempelajari kepandaian yang suhu akan ajarkan?” “Sekarang kau sudah berhasil menyelesaikan dasar pertamamu yang cukup baik.

menimbulkan suara berisik.. sudah pernah mengalami dua kali pertumpahan darah yang sangat mengerikan……. pasti ada sebabnya. . tiba-tiba ia mendapat suatu kesan bahwa hal yang sangat kebetulan itu. mengapa mengadakan pertemuan di dalam kuil yang terpencil ini? Mengapa tidak mencari tempat lain……. daun alang2 yang panjang dan lebat bergerak2. apakah ia akan berdiam dalam kuil tua yang sepi sunyi ini untuk seumur hidupnya? Benarkah semata-mata karena bertaruhan dengan orang saja? Dengan siapa ia bertaruh? Pertaruhan soal apa? Berbagai kecurigaan timbul dalam pikirannya. meskipun kedua paha kakinya sudah buntung. “Suhu dan empat susiok. Mengingat akan pertempuran dahsyat yang mengakibatkan melayangnya banyak jiwa itu. tetapi toh tidak merintangi pergerakannya. sehingga menimbulkan perasaan heran.. otaknya tiba-tiba timbul suatu pikiran.com/ Kuil yang sudah tua sekali usianya itu. maka ia mengambil keputusan hendak mengadakan penyelidikan dengan cermat keadaan dalam kuil tua itu. Lagi pula orang tua aneh yang kini telah menurunkan kepandaian kepada dirinya itu. namun demkian. keadaannya masih tetap seperti biasa seperti pertama kali ia datang ke situ. di tanah pegunungan yang sepi sunyi itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. Angin gunung meniup keras. Tertarik oleh perasaan ingin tahu. dengan kepanpaiannya seperti sekarang.” Apa sebabnya pula In Kiu Liong dan paderi Tibet juga memilih tempat ini sebagai tempat untuk mengadakan pertandingan ilmu silat? Apakah itu hanya secara kebetulan saja? Pikiran itu terus berkecamuk dalam otaknya.

baru merasa bahwa pekarangan2 yang tersendiri2 itu juga terdapat kamar2 yang tertutup rapat pintunya. pintu yang umurnya sudah tua sekali itu. masing-masing terdapat sebuah kamar. . Kali ini karena ingin menyelidiki keadaan tempat itu.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Ketika ia berpaling. tentunya sudah lapuk. kemudian berjalan menuju ke kamar sebelah utara. tak disangka kenyataannya tidak demikian. masih terdapat tangga batu empat tingkat yang terbuat dari batu warna hijau. ternyata sudah tidak melihat loteng kediaman orang tua itu. Siang-koan Kie mendaki tangga batu itu. pintunya yang sudah berobah warnanya. dahulu tentu merupakan satu kuil yang ramai dengan banyak pengunjungnya. tetapi ia tidak menaruh perhatian. Kuil tua ini meskipun sudah banyak bagian yang hancur dan rusak. menuju ke pintu kamar dan mendorongnya. meski waktu pertama kali ia datang ke tempat itu sudah pernah melihatnya. tetapi masih ada bekasnya kemegahan bangunan tua ini. Dalarn dugaannya. Ia tertegun sejenak. tetapi kemegahan bentuk bangunan di masa yang lampau masih tampak tegas jejaknya. batu2 itu sudah ditumbuhi lumut. Depan kamar sebelah utara itu. sementara dirinya sedang berdiri di suatu perkarangan terbuka. pintu itu ternyata masih utuh kokoh dan kuat. tiada terdapat tandatanda sudah lapuk. Sebelah timur dan utara kuil itu. Kuil itu ternyata banyak terdapat pekarangannya. asal didorong barangkali segera terbuka. Semua pekarangan dalam kuil itu meski banyak tumbuh rumput atan alang2 yang lebat. tetapi karena sudah lama tidak ada orang yang mengurus. nampak tertutup rapat.

pintu yang tertutup rapat itu tiba-tiba terbuka. Lama Siang-koan Kie mengawasi dipan itu. kemudian mendorong sekuat tenaganya. ia berjalan menghampiri. “Dalam kuil ini sudah tidak ada yang meninggali. pintu juga tidak terkunci dari luar. entah barang apa yang tertutup kain putih. tetapi karena tidak bisa didorong. baru melangkah masuk. tangannya memegang ujung kain putih itu. maka ia mencoba menegurnya. sudah tidak terdapat apa-apa lagi. sudah tidak ada alasan lagi. terdapat tulang tengkorak yang tidur terlentang di atas dipan itu.com/ Siang-koan Kie yang tidak berhasil membuka pintu itu. ternyata terdapat rambut di atas kepalanya. Ia berhenti di ambang pintu beberapa lama. apa sebabnya pintu tidak bisa dibuka. bau tidak enak menyerang hidungnya. sehingga ia menduga . Di bawah kain yang sudah hancur itu. Apa yang didengarnya hanya suaranya sendiri yang mantul balik. Beberapa saat lamanya ia mengawasi pintu itu. kecuali sebuah dipan itu. dalam hati merasa heran. lama menggema tidak hentinya. pikirnya. Siang-koan Kie lalu mengerahkan kekuatan tenaganya. dianggapnya dikunci dari dalam. Siang-koan Kie mengawasi keadaan tengkorak itu. Di atas dipan itu nampak menonyol. tiba-tiba berkata dengan suara nyaring. “Apakah di dalam ada orang?” Meskipun ia tahu bahwa dalam kamar itu tidak mungkin ada orangnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. Perlengkapan dalam kamar itu sangat sederhana. tertarik oleh perasaan ingin tahu. kain itu segera hancur berkeping-keping. selagi hendak ditarik. bagaimana susah didorong? Apakah dikunci dari dalam?” Kecuali ini.

“Bangkai2 para paderi ini hanya tinggal tulangtulangnya saja. Ia lalu keluar dari kamar itu. tetapi tengkorak yang terdapat di atas dipan bukanlah satu. kedua paderi itu tentunya meninggal dalam sangat tenang. di dalamnya penuh abu yang masih menhembuskan bau harum. Dengan penemuannya itu. nampak keadaannya. meskipun sudah temoh. semua kulit dan dagingnya sudah tidak terdapat tanda bekasnya. mengapa tidak ada kawanan tikus atau sebangsanya yang mengganggu? Apalagi kain yang menutup bangkainya itu. dalamnya masih berbau harum. Suatu pertanyaan yang sulit dijawab terlintas dalam otaknya. Siang-koan Kie berpikir dalam kamar lainnya yang tertutup pintu dan jendelanya itu. tetapi nampaknya masih seperti keadaan baru. hanya tinggal abunya saja. suatu bukti kematiannya bukan karena terbunuh. Karena menyaksikan sikap tenang paderi yang meninggal dunia itu. mungkin terdapat keadaan yang serupa. tetapi sudah tidak ada bekas dupa. terdapat sebuah pendupaan. adalah serupa dengan keadaan kamar yang pertama. sedikitpun tidak ada tanda bekas lalat atau nyamuk di atasnya………” . entah sudah berapa lama meninggal di dalam kamar? Di satu sudut dipan. mungkin ada dupa yang dinyalakan oleh paderi itu selagi hendak menutup mata. terdapat sebuah tempat dupa. melainkan dua! Tengkorak itu rebah berdampingan. Tetapi selama itu.com/ bahwa tengkorak itu pasti adalah tengkoraknya seorang paderi. Di bagian kepala kedua tengkorak itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. dan mengadakan pemeriksaan kamar lainnya. Apa yang dilihatnya dalam kamar yang dibuka. waktunya tentu sudah terlalu lama sekali.

Di sebelah kamar itu tertutup oleh tirai kain sutra berwarna kuning. Ia mendaki tangga batu kumala itu. sekalipun ia sudah menggunakan enam bagian kekuatan tenaganya. masih belum berhasil membuka pintu itu. baru terdengar suara kayu patah. di atas sebuah meja persegi delapan. Tetapi pintu ternyata sangat kokoh. tetapi kain itu lalu hancur berantakan. akhirnya cuma bisa menghela napas dan berjalan keluar dengan tindakan lesu. ia mau menduga bahwa tempat itu tentunya adalah tempat kediamannya paderi kepala atau paderi yang tertua dalam kuil itu.com/ Semakin memikir semakin tidak mengerti. di depan matanya terbentang sebuah pintu warna merah yang tertutup rapat. dan pintu itu lalu terbuka lebar. selagi hendak menggunakan sepenuh tenaganya. Dengan sangat hati-hati Siang-koan Kie menyingkap tirai itu. meski tumbuh banyak rumput. Keadaan pekarangan itu agak berlainan. Kamar itu diperlengkapi dengan meja dan kursi yang sangat rapi. Sambil berjalan sambil berpikir.Tiraikasih Website http://kangzusi. di atas dipan terdapat tengkorak seorang paderi yang mati dalam keadaan . dengan tanpa dirasa sudah tiba di sebuah pekarangan lain lagi. terdapat sebuah tempat bunga yang sangat indah dan empat buah cangkir porselin. Tangga batunya juga terbuat dari batu kumala putih. kemudian mendorong dengan tangannya. Dalam kamar itu terdapat sebuah dipan besar. Perlahan-lahan ia menambah kekuatannya. tetapi di antar tumbuhan rumput itu terdapat banyak bunga beraneka warna. Lama ia berpikir. dinding temboknya terdapat banyak lukisan. Melihat keadaan tempat itu.

entah bagaimana aku harus membalasnya……. budi sebesar ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. Tiba di loteng.” Sinar matahari masuk melalui lobang jendela. ia melihat orang tua aneh itu sedang beristirahat di satu sudut sambil memejamkan matanya.. dalam hatinya berpikir. Siang-koan Kie mengamat-amati wajah orang tua itu. orang tua itu yang duduk menyender di satu sudut sedang beristirahat. ia duduk di sampingnya. lalu keluar lagi sambil menutup kembali pintunya. -ooodwoooJilid 5 Bab 17 SIANG-KOAN KIE mengadakan pemeriksaan sebentar dalam kamar itu. Meski sudah berubah menjadi tengkorak. “Selama beberapa hari ini. Siang-koan Kie memperhatikan sikap orang tua itu. tetapi orang tua itu agaknya tidak mendengar sama sekali. alisnya dikerutkan agaknya sedang memikirkan persoalan rumit. tetapi sikapnya masih tidak berobah. entah berapa banyak tenaga telah dikeluarkannya. pipi dan dahinya yang penuh keriput. seolaholah bukan sedang bersemedi. nampak pucat pasi. Siang-koan Kie tidak berani mengganggu. melainkan seperti orang tidur nyenyak. hampir tidak kedengaran suara bernapasnya. oleh karena ingin membantu kepandaianku supaya mendapat kemajuan. Ia tiba di atas loteng itu menimbulkan suara cukup keras. . kemudian lari pulang ke loteng penyimpan kitab di bagian belakang kuil tua itu. dalam ruangan loteng itu terasakan hawa hangat.com/ duduk bersemedi. matanya mengawasi wajah orang tua itu.

apakah kau menemukan barang lain?” “Tidak!” Orang tua itu mendadak melempangkan tubuhnya dan berkata. teecu telah menyaksikan suatu pemandangan yang sangat ganyil.” “Apakah kau menyaksikan jenazah2 manusia dalam kamarkamar itu?” Siang-koan Kie tercengang. “Tahukah kau bahwa dalam kuil ini ada sebuah benda yang sedang dicari oleh setiap orang rimba persilatan?” “Benda apa?” “Aku sebetulnya ingin menunggu sampai benda itu sudah masak.com/ Semakin dipandang semakin kurang enak pikirannya. benda itu masih tetap belum masak benar. “Suhu!” Orang tua itu membuka matanya. “Benda itu tentunya berharga. Kie-jie! Kecuali jenazah dalam kamar-kamar itu. entah siapa yang suhu hendak tolong? Apakah teecu boleh mencurahkan tenaga untuk memberi bantuan?” . nanti perlahan-lahan akan kuceritakan kepadamu. lalu bertanya. teecu ingin minta keterangan suhu.” Dalam hati Siang-koan Kie setelah berpikir sejenak lalu berkata.Tiraikasih Website http://kangzusi. tetapi aku sudah menunggu hampir duapuluh tahun lamanya. terpaksa memanggil. hendak kugunakan untuk menolong diri seseorang. memandang Siang-koan Kie sejenak. hanya apa yang aku ketahui tidak banyak. “Apakah kau tidak keluar pesiar?” “Suhu.” “Mengapa mereka harus membunuh diri?” “Urusan ini terlalu panjang ceritanya. “Apa? Apakah suhu sudah lama tahu?” “Para padri itu semuanya mati dengan jalan membunuh diri.

Orang tua itu tertawa hambar. “Nanti saja kita bicara lagi!” Karena melihat suhunya tidak suka menceritakan. setelah keduanya hening sejenak. kepada orang tua itu. orang tua itu tiba-tiba tertawa dan berkata. “Mengapa kau tidak bicara? Apa yang kau pikirkan kau ceritakan! Sekalipun salah juga tidak apa. lalu bertanya sambil tersenyum. di kemudian hari apabila kau berkelana di dunia Kang-ouw. Orang tua itu melihat muridnya diam saja. pasti akan menjumpai banyak kesulitan yang terjadi di luar dugaanmu.com/ Pemuda itu karena merasa berhutang budi terlalu besar. tiba-tiba teringat bahwa itulah sebabnya untuk membantu orang tua yang baik budi itu. dengan demikian pasti akan berusaha dengan rupa-rupa akal keji menyusahkan dirimu. “Kie-jie! Jikalau kau sudah memahami kepandaianku.” Siang-koan Kie tercengang. “Suhu. “Mengapa?” “Sebab apabila mereka mengetahui kepandaian yang kau gunakan.” Siang-koan Kie ragu-ragu. pasti menganggapnya bahwa aku masih hidup di dalam dunia. lalu berusaha menyulitkan diri teecu?” Orang tua itu tertawa terbahak-bahak. Siangkoan Kie juga tidak bertanya lagi. banyak orang takut aku tidak mati! Mereka bisa memikirkan darimu untuk mencari jejakku. mengapa orang lain setelah mengetahui aku menggunakan kepandaian yang suhu turunkan.” “Kalau begitu musuh suhu tentunya banyak sekali. kemudian ia berkata. .Tiraikasih Website http://kangzusi. lalu berkata.” Demikian Siang-koan Kie dalam hati berpikir.

hanya tidak berani mengeluarkan. suatu masa yang sangat indah. memang benar aku sudah membunuh orang yang tidak sedikit jumlahnya. maka orang lain setelah mengetahui kepandaian itu dari pelayaranku.com/ “Kau bocah ini bicara denganku juga perlu memutar. lalu berusaha mencelakakan dirimu. ia khawatir akan melukai hati suhunya. ia berkata kepada diri sendiri. “Sebelum kedua kakiku cacad. . teecu saja. tetapi sangat pendek untuk selama-lamanya.Tiraikasih Website http://kangzusi. sehingga banyak sekali musuhnya. jawabnya agak ke-malu2an. apabila berkata terus terang. mengapa kau tidak bertanya terus terang bahwa musuhku itu terlalu banyak sekali. tetapi ini bukan merupakan sebab yang utama?” “Kalau begitu apakah sebabnya?” Di wajah orang tua itu tiba-tiba terlintas senyuman girang. kala itu usiaku masih muda.” “Dalam hatimu pasti berpikir tentang sepak terjangku di dunia Kang-ouw pada masa yang lampau. teecu……. di dalam kalangan Kang-aow.” Pemuda itu selamanya tidak membohong. tidak dapat melanjutkan lagi. sehingga hanya mengucapkan teecu. darahku masih panas dengan sendirinya dapat melakukan apa saja menurut hatiku. aku telah menikmati suatu kehidupan yang senang dan bahagia. memang juga tidak sedikit jumlahnya musuh2ku.” Muka Siang-koan Kie merah.. kalau tidak salah hanya dalam waktu tiga tahun saja. “Ini suatu kejadian yang sudah lalu. mungkin karena membunuh orang terlalu banyak. “Dalam hati teecu memang berpikir demikian. maka ia tidak dapat memikir suatu jawaban yang tepat. Orang tua itu tiba-tiba mendongakkan kepalanya memandang ke atas. bukankah demikian maksudmu?” “Teecu.

tetapi rasa tiga tahun itu. jangan kau katakan lagi.Tiraikasih Website http://kangzusi. orang semacam ini akan merasa senang apabila dalam hidupnya diuruk oleh banyak emas dan barang perhiasan. tentu akan diganti malam hari yang gelap dan cukup panjang. akan tetapi ia dapat mendengarkan nada suara orang tua itu merupakan gabungan perasaan antara suka dan duka. yang paling menyenangkan ialah mendapat cinta kasih dari orang yang dicintai.” Siang-koan Kie meskipun tidak mengerti maksud dan ucapan suhunya itu. ia menduga dalam hidup orang tua ini. apalagi aku hanya manusia biasa saja……. orang demikian yang paling menggembirakan adalah bisa menjadi orang terkuat dalam rimba persilatan. Orang tua itu tiba-tiba menarik napas panjang. sebaiknya aku saja yang memberitahukan kepadamu. ada orang yang gemar ilmu silat. di dalam hatiku telah tergores kesan yang sangat dalam yang tidak akan kulupakan untuk selama-lamanya. Setiap kali kalau ...com/ walaupun waktunya sangat singkat sekali. ada pula orang yang senang mengumpulkan barang2 kuno atau lukisan……. dalam penghidupan manusia ini. walaupun masa yang penuh keindahan itu hanya tiga tahun saja. juga ada orang suka harta kekayaan. Dalam penghidupan seseorang.” Orang tua itu tersenyum. bahkan kemudian mentakdirkan aku harus hidup merana selama beberapa puluh tahun. pasti pernah mengalami suatu masa berbelit2. “Tidak benar. tetapi menurut hukum alam setelah siang hari. aku seharusnya merasa puas. tahukah kau bahwa dalam hidup manusia apakah yang paling indah dan paling menggembirakan?” “Ini agak sulit untuk dikatakan.” Ia tertawa terbahak-bahak. kemudian berkata pula. “Tetapi. “Kie-jie. berapa gelintir jumlahnya yang dapat menikmati kesenangan macam itu. lalu berkata pula. inilah merupakan hukum alam yang tidak dapat ditentang oleh siapapun juga.

benarkah di dalam dunia ini ada kejadian semacam itu?” “Sudah tentu ada. baru kira-kira dua tiga tahun menerjunkan diri dalam dunia Kang-ouw. tetapi dahulu tidak saling mengenal. apabila mengingat dan mengenangkan penghidupanku yang indah itu.com/ aku sudah tidak sanggup menahan kesengsaraan yang kuderita. “Suhu. hanya dalam hati masing- . bersama kawanku yang tidak berbudi itu. “Suhu. tetapi ia terkenal karena pandainya menggunakan racun berbisa. segera bertanya. siapakah orang yang suhu maksudkan kawan tidak berbudi itu?” Orang tua itu bersenyum getir. kami telah berjumpa secara tidak disengaja. tetapi sudah cukup menggemparkan.” Siang-koan Kie yang mendengarkan setengah mengerti setengah tidak. apakah perlu aku membohongimu?” Siang-koan Kie diam-diam berpikir. “Kejadian serupa ini. wajahnya terlintas senyuman yang jarang tampak. aku belum pernah mendengarnya agaknya susah dipercaya.” Orang tua itu agaknya sedang mengenangkan kembali masa yang indah itu. “Beberapa puluh tahun berselang. seolah-olah lupa semuanya. bersamaan pula mendapat nama. semua penderitaan tidak kuhiraukan lagi. kemudian berkata yang seolah-olah ditunjukkan kepada diri sendiri. sedang aku sendiri terkenal karena kepandaianku yang telah menjagoi di daerah selatan dan utara sungai Tian-kang……. hampir bersamaan kita muncul.Tiraikasih Website http://kangzusi.” Siang-koan Kie yang tidak mengerti apa yang diucapkan oleh suhunya. segala kesengsaraan di dunia yang menimpa atas diriku. tetapi satu sama lain merasa cocok.. kala itu aku masih muda belia. meskipun kita muncul di dunia Kang-ouw pada waktu yang sama. “Dia adalah saudara angkatku.

ia terkena pukulan tanganku. maka aku bukan saja sudah membantunya menyembuhkan lukanya.” “Apakah ia merasa iri hati atau dengki kepada suhu. aku membunuhnya mati dan aku sendiri juga tidak akan mengalami nasib menyedihkan seperti sekarang ini. waktu hari sudah mulai gelap.. karena kepandaian suhu lebih tinggi darinya. sejak hari itu sudah menanam bibit bencana sehingga aku mengalami nasib buruk seperti sekarang ini. Kala itu aku sudah merasa sangat kagum terhadap kepandaiannya dan kecerdasannya. pertandingan segera berhenti. aku juga tidak akan begitu benci terhadapnya…….” . demikian kami akhirnya telah mengangkat saudara.com/ masing timbul perasaan ingin menguji kepandaian yang kami miliki. “Kalau ia sudah kalah di tangan suhu. di wajah orang tua itu nampak tegas rasa dendamnya yang sangat dalam.Tiraikasih Website http://kangzusi. maka aku tidak menurunkan tangan kejam.” Berkata sampai di situ. “Setelah ia terkena pukulanku.” Orang tua itu agaknya menyadari bahwa kata-katanya itu seperti tiada ujung pangkalnya. Siapa menduga. tetapi bukanlah faktor utama. kita bertanding dari pagi hingga malam. ia juga menyerah kalah. maka setelah menarik napas panjang ia lalu berkata pula. akhirnya kita telah mengadakan perjanjian mengadakan pertandingan persahabatan. Akh! Seandainya waktu itu aku tahu ia berhati jahat. kepandaiannya sudah tentu tidak setinggi suhu?” “Jikalau ia menggunakan kepandaian membuat aku cacat. bahkan kemudian aku telah tertarik oleh budi bahasa yang manis. sehingga menganggapnya sebagai seorang baik. sikapnya pada waktu itu sesungguhnya menunjukkan seperti sikapnya seorang berjiwa besar. sehingga timbul pikiran jahatnya hendak mencelakakan suhu?” “Meskipun ini juga merupakan salah satu sebab. pertandingan berlangsung seribu jurus lebih.

dalam rimba persilatan . karena Tauw Tay Kang bertempur dengan pembantunya yang kuat. ini sesungguhnya hebat sekali.. karena menolong gadis itu kita telah timbul perselisihan dengan Tauw Tay Kang. menyelang pagi hari kita baru berhasil membasmi Tauw Tay Kang bersama dengan pembantunya yang berjumlah dua puluh delapan orang…….” Ia menarik napas panjang. hanya agak sedikit kejam……. Kita terpaksa tinggal bersama.. gadis itu bukan saja berparas cantik sekali. mungkin demikianlah sifat kejam di dunia Kang-ouw. tetapi juga sangat cerdik. tetapi pandangan terhadap segala urusan dan orang antara kita berdua. Orang tua itu kembali menarik napas panjang kemudian berkata pula. “Tetapi oleh karena kita satu sama lain menghendaki kepandaian masing-masing. “Setelah kita angkat saudara.. lama baru melanjutkan lagi.” “Kita bertempur satu malam suntuk.” “Dalam satu malam telah membasmi duapuluh delapan orang. nama kita di kalangan Kang-ouw semakin terkenal. seorang perempuan cantik yang tiada keduanya……. menunjukkan perbedaan makin lama makin jauh. namaku dan nama adik angkatku semakin terkenal. kira-kira satu tahun lamanya. “Sejak pertempuran malam itu. siapapun tidak ingin berpisah. pertempuran itu berlangsung sengit. satu kepala berandal yang pada waktu itu namanya sangat terkenal. kalau teringat itu masih bergidik. pengaruh kita semakin besar.Tiraikasih Website http://kangzusi.” Tiba-tiba pemuda itu teringat kematian yang menyedihkan beberapa saudara seperguruannya dan pembunuhan ganas yang dilakukan oleh orang berbayu hijau itu.com/ “Lalu sebab apa?” “Sebabnya ialah suniomu. pada suatu hari di kota Ce lam kita telah menolong seorang gadis dari keluarga seorang kaya.

” “Ketika aku merasa bahwa urusan ini semakin gawat. sehingga menjadi seorang piatu yang tiada rumah tinggalnya lagi. karena keluarganya sudah terbasmi habis oleh kawanan berandal itu. tetapi sampai di mana dalamnya cintaku kepadanya. Sementara itu gadis yang telah tertolong itu. “Kala itu meskipun aku juga cinta kepada gadis itu. tetapi dalam hati merasa susah karena urusan ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. sikapnya nampak murung.com/ barang siapa yang mendengar nama kita berdua.. Siang-koan Kie yang sedang mendengarkan dengan penuh perhatian.” Berkata sampai di situ tiba-tiba berdiam. dalam hati aku mengerti bahwa keadaan yang semacam itu. tidak bisa berlangsung terus. ketika suhu itu tidak melanjutkan ceritanya lagi. tetapi juga sejak hari itu. “Tindakan suhu ini benar!” Orang tua itu berkata pula sambil tersenyum. segera bertanya. “Bahaya apakah?” “Aku telah merasa bahwa antara kita berdua sama-sama jatuh cinta kepada gadis itu. masih ada mengeram suatu bahaya yang lebih besar sekali. aku berpikir satu malam. apabila tidak lekas disingkirkan. walaupun masing-masing tidak pernah mengutarakannya. semua merasa ngeri. perhubungan antara kita semakin renggang. Pada suatu hari tiba-tiba aku merasa bahwa di antara kita.” Siang-koan Kie menarik napas dan berkata. kemudian aku pergi secara diam-diam meninggalkan rumah itu sambil meninggalkan surat menerangkan duduk perkara itu. aku dengan saudara angkatku. terpaksa ia berdiam dengan kita. mungkin akan berbalik menjadi musuh besarnya…….” “Aaaaa! Kiranya begitu. aku hanya memikir entah berapa banyak perempuan . kecuali sifatnya yang berlainan. aku sendiri juga tidak tahu.

” Tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak lama baru berkata.?” Orang tua itu menarik napas panjang. parasnya cantik dan senyumnya yang sangat mengiurkan itu. dalam waktu dua tahun aku sudah menjelajahi habis semua gunung2 ternama di daerah Tiong-goan. baru aku merasa urusan tidak semudah seperti apa yang aku pikirkan. bayangan gadis cantik perlahan-lahan juga mulai luntur. biar bagaimana tidak dapat kuusir pergi bayangan itu. “Kalau benar demikian halnya. semakin keras aku ingin melupakannya.Tiraikasih Website http://kangzusi.” “Aih! Penderitaan batinku pada waktu itu. suhu seharusnya balik mencarinya lagi……. sering terbayang dalam otakku. “Apabila urusan itu berakhir demikian. maka mulailah aku merantau ke seluruh pelosok untuk menikmati pemandangan alam yang terdapat di negara kita. “Tuhan hanya memberikan aku waktu tiga tahun lamanya . “Bukankah itu sudah baik…….. memang benar pemandangan alam yang indah itu pernah meringankan penderitaan hatiku.. “Meskipun aku merasa tidak mampu mengusir bayangannya dalam hatiku. sesungguhnya lebih hebat dari pada ditikam oleh sebilah pedang tajam. sering mengganggu pikiranku. bagaimana karena satu perempuan sampai merenggangkan perhubungan saudara? Setelah aku meninggalkan rumah tersebut.com/ cantik dalam dunia. semakin tegas bayangan itu tergores dalam otakku.. niscaya aku tidak akan mengalami nasib seperti ini……. tetapi apabila aku mengingat ikatan persaudaraan dengan saudara angkatku bagaimana aku boleh berlaku gegabah hanya karena seorang perempuan saja. sehingga kita harus saling membunuh? Aku merasa serba salah.!” Tiba-tiba ia merasa bahwa ucapannya itu terlalu gegabah. maka buru-buru menutup mulutnya. seolah-olah bayangan itu sendiri yang mengikuti setiap jejakku.

hal itu telah membuka hatiku. “Apabila tidak ada pertemuan waktu itu.com/ untuk menikmati manisnya penghidupan. perlu apa kita berebut mencari nama. selagi aku timbul pikiran hendak mengasingkan diri. aku telah berjumpa lagi dengannya dengan tidak disengaja……. lalu melanjutkan lagi. sehingga pikiranku yang ingin menjagoi dunia rimba persilatan mulai merasa tawar. aku ingin coba menuntut penghidupan bagaikan orang suci yang katanya seperti dewa.” “Apakah suhu kembali ke kota Ce-lam lagi?” “Kedatanganku itu tidak disengaja. tiba-tiba aku merasa bahwa manusia hidup di dalam dunia.” “Apa? Apakah suhu mencari gadis itu lagi?” “Tidak..” “Dunia begini lebar. bagaimana bisa berjumpa secara kebetulan sekali?” Orang tua itu matanya memandang keluar jendela. apabila suhu tidak sengaja mencarinya. “Setelah aku pesiar ke seluruh tempat yang terkenal. siapa tahu Tuhan tidak mengijinkan keinginanku. menumpuk kekayaan?” “Di dalam daerah pegunungan banyak terdapat tempat yang indah untuk berdiam. aku hanya ingin mengunjungi untuk penghabisan kali sebagai kenang- . selagi penderitaanku mulai kurang. di daerah Tionggoan.Tiraikasih Website http://kangzusi. akn berjumpa lagi dengannya……. ia menjawab dengan lambat-lambat. begitu pula pikiranku terhadap gadis itu. apakah aku boleh tidak merasa puas? Apakah artinya penderitaan semacam ini saja. di tepi telaga Tay-beng-ouw dekat kota Ce-lam. juga tidak akan berjumpa denganmu di tempat ini……. hanya beberapa puluh tahun yang sangat singkat saja..” Ia menarik napas perlahan. untuk mencari suatu pulau yang tidak didiami manusia. aku ingin pergi berlayar jauh dari tempat kelahiranku. aku ingin berdiam di sana. mencari kedudukan..

hanya kekurangan pengalaman. air mata mengalir turun. pemandangan alam sangat indah. ia telah yakin bahwa aku pasti akan kembali ke tempat di mana dahulu kita telah bertemu itu. kecuali tanah ladang yang luas. pohon2 baru tumbuh daunnya yang segar. sudah satu tahun lamanya menunggu kedatanganku.com/ kenangan tempat di mana dahulu aku menolong dirinya. “Oleh karena itu sekalipun aku hidup merana. katanya dengan suara duka. ketika ditanya kembali oleh orang tua itu.” “Kalau begitu dengan seorang diri berdiam di tempat belukar semacam itu. apakah ia tidak takut akan gangguan binatang buas?” Rambut dan kumis orang tua bergerak-gerak. tetapi asal aku teringat akan . masih ada berapa tanaman pohon besar.. “Apakah Sun-nio mengerti ilmu silat?” “Tidak paham. apabila kau tidak datang. ia telah membuat rumah gubuk kecil di bawah salah satu pohon besar yang terdapat di situ. “Ah! Orang itu tentunya adalah Sun-nio.” “Benar. Waktu itu kira-kira permulaan musim semi. tempat itu merupakan tanah belukar. kemudian baru berkata. ia berdiam di dalam gubuk itu. “Aku tahu kau akan kembali lagi. di belakang diriku tiba-tiba terdengar suara lembut.Tiraikasih Website http://kangzusi. ia lalu berpikir.” “Siapakah orang itu?” “Kie-jie benarkah kau tidak dapat menduga siapa orang itu?” Siang-koan Kie sebetulnya memang seorang cerdik. ia pasti juga bisa mencari kemari……. aku sudah menantimu satu tahun lebih! Ai. selagi aku menikmati pemandangan alam itu. tempat itu terpisah kira-kira sejarak lima pal dengan telaga Tay-beng-ouw.

aku tidak menghiraukan segala penderitaan hatiku. hanya menggunakan atap dan bambu. lalu berkata. ia sengaja merobek2 pakaiannya. mengapa ia menunggu aku di sini? Bagaimana ia tahu aku pasti akan datang? Dan seandainya aku tidak datang. kemudian berkata pula..” “Setelah Sun-nio berjumpa kembali dengan suhu.. bagaimana…….” Orang tua itu menghela napas perlahan. aku bertanya kepadanya.. tetapi tidak dapat menutupi sikapnya yang agung.” “Aaaaa! Apakah ia tidak makan?” “Di salah satu sudut dalam gubuk itu. sudah tidak ada barang apa-apa lagi……. maka ketika aku menoleh. tentunya girang sekali. ia berdandan sebagai seorang pengemis. tidak dapat dilukiskan betapa terkejut dan girangnya pada saat itu. meskipun pakaiannya compang-camping. “Seorang perempuan yang tidak mengerti ilmu silat berdiam seorang diri di tempat belukar semacam itu. kecuali di dalamnya ada pembaringan dan selimut.” Orang tua itu kembali mendengarkan suara tarikan napasnya.?” Siang-koan Kie dalam hati berpikir. dengan alat itulah ia memasak bubur atau ubi merah untuk menangsal perutnya.com/ suara dan tertawanya. sesungguhnya memang sangat berbahaya……. Gubuk itu dibangun sangat sederhana sekali. segera mengenalinya siapa dirinya……. ada sebuah kuwali yang diletakkan di atas tiga potong batu bata.. “Untuk menyesuaikan diri dengan keadaan tempat itu. meskipun hidupnya menderita.” .Tiraikasih Website http://kangzusi.. “Setelah kita bertemu kembali. sungguh mengherankan ia bisa bertahan sampai satu tahun? Jikalau aku tidak melihat dengan mata kepala sendiri aku juga tidak percaya…….

apabila hendak melampaui batas yang ditentukan oleh . Malam itu setelah aku berjumpa dengannya. dan Sun-nio sakit di dalam gubuk itu. tiada orang yang tahu dan merawat.. dan orangnya dapat mencapai ke taraf demikian. teecu belum pernah “Kie-jie! Tahukah kau apa sebabnya ia dengan badannya yang begitu lemah.” “Hal ini benar-benar teecu tidak mengerti. karena kemajuan yang didapatkan dari latihan yang dilakukan tiap hari. tetapi badan manusia sebaliknya tidak dapat menempuh atau melewati batas tertentu. ia tetap baik-baik saja tidak bisa jatuh sakit.” “Tidak mungkin.com/ “Kejadian serupa mendengarnya…….” Orang tua itu tiba-tiba menatap wajah Siang-koan Kie.” ini. lalu berkata. dengan mata terbuka lebar.” “Kau harus tahu bahwa kehendak manusia meskipun tiada terbatas. sekalipun kedatanganku terlambat satu minggu.” “Apabila suhu terlambat dua malam lagi. sanggup menderita hidup demikian rupa tanpa mengeluh sedikitpun juga?” “Teecu tidak tahu!” “Sebab ia yakin benar bahwa pasti aku akan kembali ke tempat itu. sukar untuk mendapat kemajuan lagi. ia lalu jatuh sakit di dalam gubuk itu……. kejadian itu benar-benar terjadi sangat menyedihkan. “Kie-jie! bagi kita orang-orang yang melatih ilmu silat.Tiraikasih Website http://kangzusi.. keyakinannya itu telah memberikan dorongan semangat baginya untuk menahan segala penderitaan dengan hati tabah. atau sepuluh hari. jumlahnya hanya beberapa gelintir saja. akhirnya menghasilkan suatu hasil yang demikian besar. semua pernah menjalani latihan berat dalam waktu cukup lama. Maka setiap ilmu silat apabila sudah mencapai sesuatu batas tertentu.

Tetapi apabila berhasil melakukan latihan itu. kita sering mendengar soal bertapa apakah sebetulnya itu?” “Teecu tidak mengerti……. sebab dalam ketenangan bisa menimbulkan keinsafan. apabila sudah berhasil melatih diri mencapai ke suatu batas. biar bagaimana dalam hidupmu ini.” “Suhu. demikianlah maka ada orang mengatakan bahwa orang yang berhasil melatih ilmu demikian . maka orang itu harus duduk bersemadi menenangkan pikirannya. Demikian pula dengan pelayaran ilmu silat. sehingga mencapai ke taraf yang sangat tinggi. kebanyakan suka duduk tenang untuk bersemedi. “Tahukah kau bahwa golongan budha dan imam. tapi sulit untuk dilakukan. Melatih secara demikian mudah sekali dikatakannya. insaf dirinya sendiri mengapa harus menyucikan diri. seringan-ringannya semua kepandaiannya akan musnah atau menjadi seorang cacat seumur hidup. sudah tidak bisa mencapai ke taraf demikian. harus diadakan suatu perombakan mutlak……. bolehkah kiranya teecu mendapatkan keterangan rahasianya?” “Aku ceritakan kepadamu juga tidak ada gunanya.” “Sekalipun teecu tahu sudah tidak ada harapan. akan membawa dirinya seolah-olah mengganti badan. bisa membawa rusak dirinya sendiri. apabila kurang berhati-hati. kalau berat sudah tentu binasa seketika itu juga.com/ kekuatan tenaga manusia. badan itu selamanya tidak bisa rusak. tetapi untuk dengar saja rasanya toh tidak halangan?” Orang tua itu menganggukkan kepala dan berkata.Tiraikasih Website http://kangzusi.” “Seorang paderi yang beribadah tinggi. insaf akan semua pelayaran suci yang dianutnya. badannya sudah tidak dapat menyesuaikan lagi terhadap pengaruh lain kekuatan yang lebih tinggi. maka cara latihannya... berlatih dengan cara demikian untuk membersihkan semua gangguan pada hati dan pikirannya.

” “Sayangnya teecu masih mempunyai ayah bunda.” “Selama beberapa tahun ini aku berdiam di atas loteng ini. pasti ingin mencoba ilmu yang merupakan cerita dongengan itu.. maka terhadap cerita semacam ini. pada hal masih tetap manusia. apabila teecu hidup seorang diri. menurut pandangan kau bukanlah orang dari golongan budha. karena meskipun banyak yang bercerita. benarkah merupakan satu tempat yang jarang dikunjungi oleh manusia?” “Hal ini teecu kurang jelas. sebetulnya merupakan bahan sangat baik untuk melatih ilmu silat……. sehingga dewasa ini. apakah kau merasakan bahwa tempat yang sepi sunyi ini. Oleh karena itu.com/ dikatakan dewa. mungkin bisa hidup sampai tiga ratus tahun. bukanlah suatu hal yang mustahil……. aku masih setengah percaya setengah tidak. kemudian berkata pula.” Ia berhenti sejenak dan menghela napas perlahan. “Apabila kau tidak mempunyai bakat dan bahan baik. “Tetapi. aku masih belum melihat ada seorang yang berhasil seperti itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. maka aku selalu mempelajari rahasia kepandaian ilmu silat. itu hanya berupa dongengan yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita sebagai bahan dorongan bagi setiap orang yang ingin mendapat kepandaian tinggi.. hanya bedanya orang itu akan mencapai umur panjang selalu sehat dan awet muda. karena setiap hari tidak ada pekerjaan. sebaliknya dengan tulang-tulangmu dan bakatmu serta kecerdikanmu. di samping itu aku juga mempelajari ilmu bintang. tetapi belum ada buktinya. orang semacam kau tidak dapat mencapai kepandaian seperti orang-orang dari golongan budha. aku juga tidak bisa memaksa kau menjadi muridku. kemudian tertawa terbahak-bahak dan berkata pula.” Ia berdiam sejenak.” .

maka lalu berkata. mungkin jumlahnya tidak seberapa. di dalam dunia ini meskipun banyak jumlahnya orang yang mengerti ilmu silat. setiap tahun pasti banyak orang-orang rimba persilatan yang mencari dan berkunjung ke kuil ini. teecu ingat diri seseorang. entah apa sebabnya. pertama harus mendapat pimpinan guru yang pandai dan baik. sebetulnya merupakan soal yang sangat mudah. apabila aku ingin menerima murid. tetapi orang-orang itu jikalau bukan orang-orang yang tidak jujur hatinya. Kie-jie. meskipun ia terdiri dari darah campuran antara manusia dengan orang hutan.” . “Suhu. tahukah kau apa itu?” “Teecu pernah dengar suhu berkata. tentunya orang yang tidak mempunyai bakat baik. harap suhu menyempurnakan dirinya…….. kedua harus mempunyai kecerdasan dan kecerdikan. selama sepuluh tahun lebih ini. meski sudah banyak orang yang aku temui. hal ini dapat dibuktikan. tetapi ada yang mengerti benar pengertian ilmu silat sampai ke dalam2nya. urusan ini kemudian tersiar begitu luas di kalangan Kang-ouw. sesungguhnya susah didapat. untuk mencari bahan yang benar-benar baik. seseorang jikalau hanya mengandalkan waktu saja. kau hanya melihat dari bentuk luarnya saja.com/ “Dalam kuil tua ini benar tumbuh suatu benda ajaib.” Siang-koan Kie jadi teringat pada diri Wan Hauw. tetapi mempunyai kecerdasan luar biasa. ingin mendapatkan kepandaian yang tinggi sekali itulah tidak mudah. juga banyak jumlahnya yang berkepandaian sangat tinggi. bagi orang yang mengerti ilmu silat yang paling penting ada dua soal.” “Apakah yang kau maksudkan adalah Wan Hauw si bocah itu?” “Benar!” “Kie-jie.Tiraikasih Website http://kangzusi. untuk melatih ilmu silat.

kepandaian yang serupa dengan guru yang serupa. tenaga murni disalurkan ke-urat-urat dan otot-otot supaya kekuatan tenaga dalam badan lebih sempurna……. dan lagi kepandaian yang didapat dengan latihan demikian kebanyakan merupakan suatu kepandaian mati.” “Bolehkah kiranya suhu menyebutkan satu dua macam kepandaian ilmu silat semacam ini. tentang kecerdasan dan kecerdikan. tulang. fisik dan mental serta pengertian. Tetapi kepandaian ilmu silat yang betul-betul tinggi. misalnya ilmu yang mengkekarkan badan sehingga tidak mempan dimakan senjata atau pukulan tangan keras yang dapat menghancurkan batu. tetapi hasil dari murid yang mempelajari bisa berbeda2. kebanyakan mengutamakan latihan keras. asal mendapat petunjuk dari seorang guru pandai asal rajin melatih menurut petunjuk yang diberikan.com/ “Itulah.. sulit untuk mengerti lebih banyak. lama kelamaan juga bisa berhasil baik. kepandaian serupa ini. merupakan faktor penting bagi orang belajar ilmu silat. hanya orang yang sifatnya bodoh boleh melatih. tentang guru pandai. tahukah kau apa yang dimaksudkan?” “Teecu pernah dengar orang berkata. semua ini merupakan kekuatan tenaga mati asal mengerti caranya berlatih lama kelamaan pasti berhasil.Tiraikasih Website http://kangzusi. untuk sementara kita tidak usah bicarakan. untuk menambah pengertian teecu?” “Kataku bagi seorang yang bodoh tetapi jujur.” “Pelayaran ilmu silat meskipun bisa dicapai ke taraf yang tertinggi. tetapi bukan dimaksudkan kepandaian semacam itu. susah untuk mencapai terlalu tinggi. bagi seorang yang bodoh. ia dapat melatih kepandaian tinggi yang sifatnya mati. hanya hasil yang didapatkan itu terbatas serupa saja.” . harus dimulai dari latihan pernapasan untuk menyempurnakan kekuatan tenaga dalam. tetapi juga ada yang mudah dimengerti.

yang susah dipercaya. di dalam dadanya. wajahnya terlintas suatu perasaan bangga. boleh dikata hanya soal tulang-tulang dan pengertian. itulah merupakan orang yang berkepandaian tinggi sekali. maka hasilmu di kemudian hari juga sukar untuk mencapai ke taraf yang tertinggi.Tiraikasih Website http://kangzusi. memutuskan ucapan Siang-koan Kie yang masih belum habis. bagi kita orang belajar ilmu silat seharusnya memperkembangkan kekuatan tenaga tersembunyi itu. . Kie-jie! Apa yang dinamakan kecerdasan. Apabila usaha itu berhasil. yang dapat melakukan setiap gerakan menurut kehendaknya. Tulang-tulangmu meskipun termasuk yang paling baik. “Sudah sepuluh tahun lebih aku berdiam di dalam kuil yang sepi ini. Orang tua itu tertawa terbahak-bahak. tindakan yang sedemikian ini adalah berkat kekuatan yang tersembunyi. maka harap suhu sudi memberi petunjuk kekurangan yang ada pada diri teecu. perlahan-lahan bisa musnah berhubungan degan meningkat usianya. ia tertawa girang sejenak lalu berkata pula. pada umumnya. itu adalah semacam kekuatan tersembunyi dari pembawaan seorang. seorang yang biasa saja.com/ Berkata sampai di situ. apabila menjumpai keadaan bahaya. harus kau ketahui bahwa dalam tenaga manusia semua mempunyai kekuatan yang tersembunyi. bahkan harus bisa menggunakan sebaik-baiknya. kadang-kadang dapat mengunjukkan kekuatannya yang diluar dugaan sendiri. adalah memikirkan soal2 yang pelik dalam kepandaian ilmu silat. itu tergantung kepada orangnya sendiri. banyak hal yang dahulu aku tidak mengerti. tetapi sukar untuk mencapai ke puncak yang tertinggi. semua telah kupahami. sementara mengenai mental dan fisiknya. hanya kekuatan yang tersembunyi semacam ini. karena tidak ada hiburan apa-apa kecuali duduk tenang mengatur pernapasan.” “Teecu tahu bahwa teecu sulit untuk mencapai yang baik.

kecerdasannya dan sifatnya?” . seandainya tenaga manusia bisa menangkan kemampuan Thian.com/ Siang-koan Kie merasa bingung.” “Di mana perbedaannya?” “Ditilik dari sudut tulangnya. “Harap suhu berusaha menyempurnakan dirinya. “Suhu. tetapi biar bagaimana dia bukan manusia seratus prosen.. lalu berkata kepada diri sendiri. dalam dunia ini barangkali tidak ada orang kedua yang bisa menjawab. “Bocah itu meskipun tulang-tulangnya luar biasa tetapi pengertiannya tidak seperti kau. maka segera menanya.” berkata orang tua itu sambil tersenyum dan menganggukkan kepala. tenaga manusia apakah dapat memenangkan Tuhan Allah. hal ini aku tidak dapat menduganya. baru berkata lagi.” Matanya kembali memandang keluar jendela. bahkan ada kemungkinan bisa jadi seorang pendekar luar biasa yang jarang ada dalam dunia……. “Sementara itu. apakah ucapan teecu ada yang salah?” “Tidak!” “Kalau benar tidak ada yang salah. “akan tetapi ia dengan kau terdapat perbedaan.Tiraikasih Website http://kangzusi.” sedapat mungkin untuk “Baiklah. hasilnya dikemudian hari bukan saja akan melampaui kepandaianmu. dia memang benar-benar merupakan satu bahan sangat baik untuk belajar ilmu silat. mengapa suhu tertawakan?” “Aku tertawa karena pertanyaanmu ini kecuali aku. entah bagaimana hatinya.” Orang tua itu kemudian berpikir lama.

tanaman itu dapat membuatnya berubah dari keadaannya seperti sekarang……. “Suhu. kita . dalam dunia ini mungkin susah dicari bandingannya. kemudian memang benar pernah mengecap hidup yang penuh bahagia. tidak dapat melihat watak saudara Wan?” “Mukanya tertutup oleh bulu hitam. badannya agak gemetar.” Lama orang tua itu berpikir. masa itu dalam penghidupan manusia tidak terhitung pendek!” Ia menghela napas panjang. tetapi sungguh sayang. “Dalam kuil tua ini ada semacam tanaman ajaib yang jarang ditemukan di dalam dunia. teecu hanya mengharap agar suhu tidak mensia-siakan satu bahan yang sangat baik ini. kemudian berkata pula. maksudku ialah hendak menunggu sampai tanaman itu masak. apakah suhu yang bisa melihat watak teecu. bagaimana aku dapat melihatnya?” Dia wataknya sangat jujur.Tiraikasih Website http://kangzusi. tiba-tiba mendongakkan kepala. mengapa?” tanya Siang-koan Kie heran. kemudian aku hendak mengambilnya untuk menyembuhkan racun yang mengeram dalam tubuh suniomu. “Aku setelah berjumpa lagi dengan suniomu. jelas pikirannya tergoncang hebat. Aih! Srpuluh tahun lebih telah berlalu..com/ “Bukankah suhu sudah belajar ilmu bintang. Sudah sepuluh tahun lebih aku berduaan di dalam kuil tua ini.” “Di mana sekarang sunio berdiam?” “Sekarang ia berdiam di tempat saudara angkatku yang tidak berbudi itu……..” “Siapa yang suhu hendak sembuhkan luka racunnya?” “Orang itu adalah suniomu sendiri. tanaman ajaib itu aku sudah mengambil keputusan hendak kugunakan untuk menyembuhkan racun orang lain.

kemudian barulah berkata kepadaku. tiga orang enam mata. tiada sepatah kata tercetus keluar dari mulut masing-masing. ia sangat menyesal. kemudian balik lagi ke kota Cee-lam dan berdiam di tepi telaga Tay-beng-ouw. Ia lebih dulu menjura dalam2. ia pergi mengembara mencari aku. Setiap hari aku pesiar di telaga Tay-beng-ouw dengan suniomu.com/ berdua pesiar hampir seluruh tempat. lama nampak berpikir. sesungguhnya membuat kita agak gugup dan bingung. katanya. sejak aku berlalu. dia tiba-tiba dapat mencari tempat kediaman kita. dalam hati masing-masing tidak tahu jelas hubungan itu apakah bersifat lawan ataukah kawan? Semua berdiri terpaku hampir satu jam lamanya……. saling berpandangan cukup lama. adakalanya memancing ikan. sehingga memecahkan keheningan yang sangat tidak enak itu.Tiraikasih Website http://kangzusi.” “Apakah suhu percaya obrolannya itu?” -odwo- . tetapi di luarnya. Kita. kemudian berkata lagi. tidak mau tahu urusan rimba persilatan lagi. setahun kemudian. walaupun antara kita satu sama lain sudah tidak dapat menyesuaikan diri lagi..” “Kemudian?” Orang tua itu agaknya mengenangkan semua kejadian di masa yang lampau. Sejak waktu itu. kita belum pernah terjadi perselisihan faham. “Selanjutnya adalah suniomu yang menuangkan teh untuknya. penghidupan yang penuh kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. dengan tanpa kusadari aku sudah mengundurkan diri dari dunia Kang-ouw.” “Orang itu apakah saudara angkat suhu?” “Siapa lagi kalau bukan dia? Aih! Dengan secara tiba-tiba dia muncul di hadapan kita.

“Racun yang ia gunakan. sehingga ia dapat kesempatan menaruhkan racun dalam makanan?” Mata orang tua itu menatap wajah Siang-koan Kie baru berkata. sehingga dengan tanpa dirasa sudah mengucurkan air mata. ia berkata pula. Aih! Andaikata pada waktu itu aku tak percaya kepadanya. juga tidak sampai tak waspada sama sekali.” “Aku dan Suniomu meskipun coba menahannya. sekalipun penjagaan agak kendor. “Semula aku diam-diam masih menjaga dan memperhatikan segala tindak tanduknya.. satu haripun tak mau tinggal lagi.” Orang tua itu agaknya mengenangkan kembali kejadian menyedihkan pada masa yang lampau itu. tetapi anehnya.” “Kepandaian suhu tinggi sekali. tetapi ia tetap dengan maksudnya. dia tiba-tiba pamitan kepada kita.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Itu adalah suatu malam di musim kemarau. tetapi selama itu ia mengunjukkan sikap sungguh2.com/ Bab 18 ORANG TUA ITU dengan cepat menjawab. aku mendadak merasa seperti kehilangan satu saudara. tiada warna juga tiada rasanya. juga memilih waktunya amat tepat. Terpaksa malam itu juga kita adakan sedikit perjamuan arak . sehingga orang susah menjaganya……. sehingga aku perlahan-lahan mulai kendor menjaganya. Waktu itu aku juga tak tahu perasaanku entah girang atau khawatir. bahkan berangkat pada malam itu juga. mau tak mau aku harus percaya. air matanya mengalir deras..” Ia berhenti sejenak. dan menyingkir saja jauh2. Karena selama dia berada satu hari saja. Ia menarik napas panjang. “Pada waktu itu ia mengunjukkan sikap yang sungguh2 mengharukan. berarti tambah kekhawatiran dalam hatiku. baru melanjutkan penuturannya. ketika ia hendak pergi. lagipula mengetahui dia seorang ahli dalam hal racun. setelah menarik napas panjang. juga tak akan berpencaran dengan isteriku…….

lalu melanjutkan ceritanya.” Orang tua itu bersenyum getir. aku doakan kepadanya supaya baik-baik menjaga diri. Malam itu aku minum agak banyak.” Peristiwa menyedihkan yang terjadi di masa yang lampau itu. tidak ada orang lain yang dihormati dan ditakuti.” Orang tua itu berhenti sejenak untuk memesut kering air matanya yang membasahi kedua pipinya. Dalam keadaan demikian. aku sudah mulai agak sinting. “Aku mengantar sampai sejauh lima pal. waktu itu angin malam meniup kencang sehingga rambutnya tak teratur aku masih ingat waktu itu ia membereskan rambutnya itu. ini adalah untuk pertama kali aku melihat ia mengalirkan air mata selama kita tinggal bersama-sama. menyebabkan orang tua itu tidak dapat mengendalikan kedukaan dalam hatinya. kemudian melanjutkan kisahnya. meskipun aku sudah mengundurkan dari kalangan Kang-ouw. Suniomu repot membuatkan sedikit hidangan dan memanasi arak. sedang aku sendiri terus menemaninya sambil mengobrol di ruangan tengah……. sehingga tidak tahu sejak kapan ia menaruhkan racun ke dalam arak. aku lihat setelah ia berkata demikian. Aih! waktu itu ia malah masih berkata kepadaku bahwa dalam rimba persilatan dewasa ini. aku tidak akan menolak. kecuali aku.. tiba-tiba mengucurkan air mata. mungkin ia tiba-tiba ingat perbuatannya yang menaruh racun ke dalam arakku. benar-benar lebih buas dan jahat daripada binatang...” “Suhu begitu baik perlakukan dirinya. kira-kira jam dua tengah malam.com/ untuk memberi selamat jalan padanya. aku antar dia berangkat pergi……. sehingga .Tiraikasih Website http://kangzusi. baru berpisahan. “Mungkin waktu itu sangat terpengaruh perasaanku karena sikapnya yang sungguh2. toh dia masih tega hati mencelakakan diri suhu. aku masih ingat aku memberitahukan kepadanya. tetapi apabila ia memerlukan bantuanku. air mata mengalir deras. sehingga hatinya timbul perasaan menyesal…….

“Kepandaian suhu toh masih di atasnya mengapa tidak segera turun tangan membinasakannya.com/ tidak dapat melanjutkan ceritanya. Tiba di rumah aku merasa letih sekali.. perlahan-lahan aku duduk di pembaringan dan berkata kepadanya. tetapi ia terus berdiri di depan pembaringan. kebahagiaan di masa yang lampau semua telah berubah menjadi kenang-kenangan yang menyedihkan……. perasaanku malah lebih tenang.” “Apa? apakah ia kembali lagi. aku hendak mengejar untuk menjelaskan urusan suniomu. kita boleh rundingkan. lama sekali ia baru dapat melanjutkannya.Tiraikasih Website http://kangzusi. dalam keadaan seperti orang mabuk aku lalu tertidur. hingga esok hampir tengah hari baru tersadar. pada saat itu wajahnya sudah diliputi oleh napsunya membunuh. tetapi kemudian setelah aku berpikir. baru tahu bahwa itu ternyata adalah pengaruh obat racun di dalam arak. suniomu waktu itu hanya mengenakan pakaian dalam. aku melompat bangun. aku hanya minta melepaskan suniomu. terhadap seorang . betapapun hendak perlakukan diriku. aku menanyakan padanya mengapa ia balik kembali.. meskipun aku merasakan gelagat tidak beres. “Aku lihat dia menangis. waktu itu aku mengira itu adalah pengaruh arak.” “Apakah sunio juga sudah diracuni?” “Setelah aku melihat suniomu. pertamanya aku lihat adalah saudara angkatku yang tidak berbudi itu. ataukah racun dalam arak yang diminum oleh suhu juga telah bekerja?” “Waktu aku membuka mataku. siapa tahu setelah aku sadar keadaan rumah tangga sudah berantakan. duduk di atas kursi yang menyandar di dinding……. hatiku merasa tidak enak. setelah tidak kelihatan bayangannya aku baru pulang ke rumah. tidak menjawab pertanyaanku. tetapi waktu itu aku masih belum memikirkan bahwa diriku sudah kemasukan racun. akan tetapi ia mendadak sudah lari jauh. Aku tidur seperti mati. segala sesuatunya.

. tidak nanti ia berani sembarangan bertindak terhadapku. tidak sampai seratus jurus racun itu lalu bekerja……. minta supaya ia membatalkan niatnya. tetapi cinta kasih sunio yang begitu besar terhadap suhu. maka ia hendak memisahkan kita……. segera menyadari keadaan diri sendiri. apabila kau benarbenar hendak berkelahi denganku. itu berarti kurang satu lawannya yang kuat baginya.” “Dalam dunia ternyata ada seorang yang begitu jahat dan kejam. tak kusangka ia bahkan . karena melihat kita hidup penuh bahagia ia merasa iri hati.” “Apakah sebabnya?” “Ia berkata menurut apa yang ia ketahui. ia lalu berkata sambil ketawa dingin.” “Orang itu benar-benar terlalu jahat dan kejam hatinya!” “Aku menanyakannya mengapa meracuni diriku? Dengan terus terang dia mengatakan bahwa sebabnya ada dua soal. aku sudah memberikan racun padamu melalui arak yang kau minum tadi malam. jikalau ia sudah meracuni aku sehingga binasa. apabila tidak diadakan persiapan sempurna. jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan..com/ yang tidak berbudi seperti itu perlu apa masih ingat persaudaraannya?” “Aku tahu ia seorang kejam dan telengas. mana sudi menurut kehendaknya?” “Kala itu aku juga telah menyatakan demikian. “Toako benar-benar seorang cerdik. pada dewasa itu orang-orang rimba persilatan yang berkepandaian lebih tinggi dari pada dirinya. terhadap suniomu ia telah timbul rasa cinta. benar saja ketika ia melihat aku tenang. entah apa sebabnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. dan aku adalah satu di antaranya. juga tahu kepandaiannya tidak dapat menangkan kepandaianku. Masih ada satu sebab lagi ialah soal suniomu. ia berkata seumur hidupnya belum pernah jatuh cinta kepada seorang perempuan.

orang yang minum bisa berobah menjadi orang linglung. apakah ia benarbenar mau membiarkan suhu begitu saja?” “Ia mengira bahwa racun itu sifatnya keras sekali. apabila suniomu dibuatnya seperti orang gendeng. supaya aku binasa tidak penasaran. suniomu tentu tidak mau hidup lagi. pikirannya pasti tidak tenang. . diam-diam aku mengatur pernapasanku. ia suruh aku menyaksikan perbuatan yang mesra dengan suniomu. tetapi ia tahu bahwa suniomu itu tidak jatuh cinta kepadanya. hingga aku tahu bahwa ucapannya itu tidak bohong. pelahan-lahan mengeluarkan racun yang berada dalam perutku. tetapi aku menindasnya. supaya aku panas hati. kala itu aku diam-diam juga mengerahkan kekuatan tenaga dalam. tetapi jikalau ia minum racun itu. katanya ia sudah lama mengadakan persiapan.Tiraikasih Website http://kangzusi. setelah aku binasa. sehingga seperti patung hidup.com/ tertawa terbahak-bahak.” “Orang itu demikian jahat dan kejam. hidup dalam dunia. lalu berkelahi dengannya selanjutnya sudah tidak ada harapan lagi untuk menuntut balas. sekalipun ia tidak membunuhku. tetapi ia tiba-tiba teringat hubungan persaudaraan kita. benar saja aku merasakan ada perobahan dalam diriku. keadaannya akan berlainan karena pikirannya sudah kalut. Ia berkata meskipun ia jatuh cinta kepada suniomu. tetapi ia tidak tahu kekuatan tenaga dalamku sudah mendapat banyak kemajuan. kala itu meskipun amarahku memuncak. maka waktu itu aku terus bersabar menindas perasaan sendiri. jikalau waktu itu tidak dapat menahan sabar.” “Apabila orang itu tahu bahwa suhu masih. ia anggap tindakkan itu keterlaluan. aku juga susah hidup lebih lama lagi. orang semacam dia itu. sudah tentu akan menurut segala kehendaknya. dia telah menaruh semacam racun di dalam arak suniomu. sebetulnya tidak ingin memberitahukan kepadaku. di dalam dunia ini sukar dicari obat pemunahnya. tidak tahu apa lagi yang dilakukan. racun itu setelah diminum.

akhirnya ia baru mengundurkan diri sambil membawa suniomu.” Orang tua itu menarik napas panjang. “Setelah suhu memotong kedua kaki sendiri.. kita berhadapan lama sekali dalam kamar itu. ia pasti sembunyi di tempat gelap untuk memperhatikan diriku sudah mati atau masih hidup. sehingga tiba di rumah satu keluarga petani. “Urusan selanjutnya tidak perlu kututurkan lagi. tetapi ia agaknya juga yakin akan kekuatan racunnya kalau ia tidak membunuhku dalam hati merasa tidak tenang.com/ kalau didiamkan hidup dalam dunia. sampai di sini saja aku akhiri ceritaku. maka segera bertanya. kemudian lari melalui jendela belakang rumah…….. sebab di pembaringan sambil merintih-rintih.. aku tahu ia seorang licik tidak nanti akan pergi begitu saja.” Siang-koan Kie terheran-heran mendengar penuturan suhunya. lama baru berkata pula. maka setelah ia berlalu. aku menanti sampai jauh malam barulah aku mengambil belatiku memotong kakiku sendiri. supaya di kemudian hari bisa menuntut balas. entah berapa banyak orang yang dicelakakan olehnya……. karena waktu itu aku bertekad hendak mempertahankan jiwaku.Tiraikasih Website http://kangzusi. setelah lukaku sembuh aku melanjutkan perjalanan lagi……. aku segera pura-pura tidak tahu. di sana aku beristirahat beberapa hari untuk menyembuhkan luka di kakiku.” . dengan tekadku yang bulat aku bisa lari sejauh sepuluh pal. “Keadaan pada waktu itu agaknya ia sudah menduga bahwa aku masih bisa hidup lama. dan kugunakan sebagai ganti kedua kakiku. lebih dulu aku mengerahkan kekuatan tenaga dalam untuk menghentikan mengalirnya darah. maka aku tidak mengenal sakit atau takut. dengan cara bagaimana bisa melarikan diri?” “Aku menggunakan dua batang tongkat untuk menahan diriku. tetapi hendak membunuhku agaknya tidak bisa turun tangan.” Tiba-tiba ia menghentikan penuturannya.

com/ Hati Siang-koan Kie merasa panas. penuh tumbuhan rumput liar. tanpa disadari. maka ia tidak banyak bicara lagi. sehingga tidak pikir keadaan dirinya sendiri. nanti setelah teecu berhasil mendapatkan kepandaian cukup ingin menuntutkan balas dendam untuk suhu……. ia sudah tiba lagi di dalam pekarangan kecil yang keadaannya sunyi itu. mungkin ia sudah mendapat banyak kemajuan. Kini ia mulai mencurahkan perhatiannya terhadap kuil yang sudah tua itu. ia memejamkan kedua matanya duduk bersemedi. Ia berjalan seenaknya.” Siang-koan Kie berpikir bahwa ucapan suhunya itu memang benar. karena kemarahannya sudah memuncak. Dalam pekarangan kuil itu. tetapi tidak mau memberitahukannya. orang tua aneh itu mungkin tahu lebih banyak. ternyata mengandung banyak rahasia. Orang tua itu setelah menceritakan kisah riwayat dirinya yang menyedihkan itu. kepandaiannya sudah berimbang denganku. diam-diam ia bangkit. Setelah mendengar cerita suhunya. selama duapuluh tahun ini. dengan tindakan lambat-lambat ia berjalan menyusuri jalanan sepanjang kuil itu. “Pada sepuluh tahun berselang. ia baru tahu bahwa di dalam kuil tua yang letaknya di atas daerah pegunungan yang sepi sunyi ini. Siang-koan Kie tidak berani mengganggu.. . Orang itu sedemikian jahatnya. mungkin dalam hidupku ini sudah tidak ada harapan lagi. agaknya sudah merasa lelah. tetapi di antara gerombolan rumput liar itu kadang-kadang tampak tumbuhan atau bunga2 aneh yang jarang terlihat di lain tempat. dengan sangat hati-hati ia melompat keluar dari lobang jendela.Tiraikasih Website http://kangzusi.” Orang tua itu berkata sambil tertawa. ia berkata kepada suhunya. bagaimana kau mampu menandinginya? Aih! Cita2ku untuk membalas dendam ini.

tetapi karena bunga2 itu bentuknya bagus dan menarik. Tiba-tiba ia melihat bahwa di antara tanaman itu ada sebuah pohon kecil yang sangat aneh.Tiraikasih Website http://kangzusi. dilihat sepintas lalu seperti sebatang kayu merah jingga yang menancap di tanah. Bunga2 dan tanaman aneh yang tumbuh di antara rumput liar itu. Siang-koan Kie meskipun tidak gemar tanaman bunga. pintu2 dan jendela semua masih dalam keadaan baik. karena pada saat itu sudah berbeda pandangannya. akan tetapi tidak ada daunnya. Ia telah mendapat kenyataan bahwa rumput dan bunga yang tumbuh di situ. bedanya ialah di ruangan pekarangan yang tidak terlalu luas itu tidak tumbuh rumput liar demikian lebat seperti apa yang terdapat di lain tempat pekarangan. ia mulai mengadakan penyelidikan yang sangat cermat terhadap barang2 yang berada di situ. ia merasa heran. Pekarangan itu kamarnya nampaknya lebih besar dari pada yang lainnya. sehingga menimbulkan perasaan senang.com/ Pintu kamar di sekitar pekarangan itu tertutup rapat sama seperti keadaannya di lain kamar. maka terhadap tempat2 yang keadaannya agak berlainan. Siang-koan Kie memeriksa keadaan kamar itu sebentar tiada terdapat tanda-tanda yang mencurigakan. pohon itu batangnya tidak tinggi besarnya hanya sebesar telur saja. mengapa pohon itu tidak berdaun? . warnanya merah jingga. Terhadap keadaan di dalam kuil itu. segera menimbulkan perhatiannya. agaknya merupakan sebuah tempat untuk memelihara tanaman rumput dan bunga. semuanya merupakan itu tanaman yang jarang dilihat. masih ada semacam keanehan. hanya pintu2 yang terdapat di situ ada tanda-tanda kerusakan. semua merupakan tanaman yang jarang dilihatnya. ruangan kecil yang sunyi itu. tingginya tidak cukup dua kaki.

orang tua itu telah membagi waktunya untuk mendidik pelayaran ilmu silat kedua orang itu. ia telah mendapat kenyataan bahwa kepandaian orang tua itu jauh lebih tinggi dari apa yang dibayangkannya. Demikian hari itu telah berlalu begitu saja. agaknya ia merasa girang tentang kemajuan yang didapatkan oleh kedua muridnya. . sehingga satu sama lain tidak tahu ilmu silat apa yang dipelajarinya. demikian luas pengetahuannya terhadap kepandaian ilmu silat berbagai cabang atau partai. Ia hanya merasakan bahwa pelayaran makin lama makin mendalam. di waktu siang hari Wan Hauw harus pergi mencari barang makanan untuk tiga orang. harus berpisah lagi.Tiraikasih Website http://kangzusi. hampir tiada mendapat kesempatan untuk bicara. tetapi lama kelamaan. tetapi masih belum tahu apa sebabnya. di waktu malam Siang-koan Kie di tugaskan melakukan penjagaan di tempat itu.com/ Lama ia mengamat-amatinya. Mula-mula hal itu tidak mengherankan Siang-koan Kie. dengan tanpa dirasa satu tahun sudah berlalu. dan waktu itulah Wan Hauw mendapat giliran menerima pelayaran dari orang tua itu. Siang-koan Kie semakin menghormat terhadap orang tua itu. kesempatan bertemu muka dua orang itu makin lama makin sedikit. Siang-koan Kie dan Wan Hauw semua agaknya sangat sibuk dengan pelayarannya. Setelah belajar satu tahun itu. sekalipun kadang-kadang bertemu juga hanya sebentar saja. Siang-koan Kie telah merasa bahwa orang tua itu sengaja mendidik mereka secara terpisah. Sang waktu berlalu cepat sekali. dan waktu itulah digunakan untuk memberikan pelayaran kepada Siang-koan Kie. akhirnya ia pergi dari tempat tersebut. tetapi orang tua itu semangatnya nampak semakin baik. entah memang sengaja diatur demikian oleh orang tua itu atau tidak. Siang-koan Kie dan Wan Hauw sama-sama merasakan repot dan letih dalam menghadapi pelayarannya.

. kau bisa belajar sendiri. setiap tiga hari sekali. oleh karenanya. ia hanya memilih beberapa bahagian gerak tipu yang luar biasa. ada sebuah tempat yang tenang. Cara mendidik orang tua itu. maupun dengan senyata. kemudian diberikan penjelasannya nanti. sudah cukup. aku suruh ia berdiam di dalam loteng ini supaya setiap waktu dapat mengawasi……. supaya mempelajari dapat memahami keseluruhannya..” Siang-koan Kie mengawasi Wan Hauw sejenak kemudian berkata. hanya bakat dan cara melatih kalian berdua banyak berlainan. “Dari loteng ini lurus ke barat kira-kira tigapuluh tombak. mulai jam satu malam nanti dimulailah latihan kekuatan tenaga dalam……. “Suhu. Perlahan-lahan Siang-koan Kie timbul rasa takut terhadap orang tua itu. Kie-jie. sebab cara dan sikapnya mengajar. Hari itu orang tua itu tiba-tiba mengumpulkan Siang-koan Kie dan Wan Hauw. asal kau mempelajari hafalannya.” Ia memejamkan mata dan berpikir sejenak.com/ selama setahun itu. ia pasti diberi pelayaran satu rupa gerak tipu yang aneh-aneh luar biasa. lalu berkata pula. apakah saudara Wan juga harus mempelajari kekuatan tenaga dalam?” “Benar. lalu berkata kepada mereka. sehingga tidak mudah dirasakan. maka harus dipisahkan cara mendidiknya. ilmu tenaga dalammu sudah mempunyai dasar yang baik. hanya perobahan itu terjadi setingkat demi setingkat. dari sabar dan teliti perlahan-lahan berobah demikian keras. yang lainnya harus difahami sendiri. di sana kau boleh memilih . setelah selesai dididik.Tiraikasih Website http://kangzusi. keadaan Hauw-jie berbeda dengan orang biasa apakah keadaan fisiknya dapat menyesuaikan diri untuk melatih ilmu kekuatan tenaga dalam masih merupakan satu pertanyaan. tidak secara mendadak. ia selalu tidak mau mulai pelayarannya dari pertama sehingga akhir. agak berlainan dengan orang biasa. “Pelayaran dengan tangan kosong.

ia tersenyum dan berkata. entah apa maksudnya……. lama baru dapat mengeluarkan sepatah perkataan. kemajuan bisa dicapai.Tiraikasih Website http://kangzusi. . “Melatih ilmu kekuatan tenaga dalam muda sekali terganggu dan mudah tersesat. disaat yang penting. suhu suruh aku belajar sendiri.” Orang tua itu agaknya takut Wan Hauw nanti akan bicara banyak dengannya.. terus menatap wajah Siang-koan Kie.” Orang tua itu agaknya dapat menebak hati Siang-koan Kie. lebih cepat dari pada orang biasa.” “Semua gangguan iblis timbul dari hati sendiri. agaknya ingin bicara dengannya. buru-buru memotong. “Kie-jie! apakah kau merasa takut?” “Tidak. Siang-koan Kie diam-diam berpikir. segala keperluan makanmu aku nanti suruh Wan Hauw mengantar ke sana.” Mata Wan Hauw yang bersinar tajam. tidak akan terjadi bahaya apa-apa apalagi kita terpisah beberapa tombak saja.. kau harus ketahui bahwa semua jalan darah dan urat nadi dalam tubuhmu sudah dapat menyesuaikan dengan mengalirnya darah yang membalik itu. kebanyakan dibimbing oleh suhunya.com/ satu kamar untuk keperluan melatih pelayaranmu. “Aku sekarang hendak mulai memberi pelayaran ilmu melatih kekuatan tenaga dalam taraf pertama. di waktu permulaan dan hampir selesai. aku nanti bisa datang membantumu. “Toako……. asal kau bisa menenangkan pikiranmu. tidak terganggu oleh pengaruh dari luar. dia tidak tahu entah apa yang harus dikatakan.” Tanpa memberi kesempatan Siang-koan Kie bertanya lagi. tetapi tenggorokannya seolah-olah terkancing. ia segera memberitahukan pelayaran dan caranya untuk melatih tenaga dalam itu.

pikirannya itu telah membangkitkan semangatnya untuk belajar lebih tekun supaya lekas berhasil. Untuk kedua kalinya ia datang ke tempat tersebut meskipun keadaan tempat itu masih tetap sama. setiap patah kata yang diucapkan oleh orang tua itu semua diingatnya baik-baik. tetapi perasaan dalam hatinya sudah jauh berlainan. diam-diam berpikir. Ia memperhatikan keadaan tempat itu. Setelah selesai orang tua memberikan pelayarannya. Siangkoan Kie segera berlalu dari loteng itu. Tiba-tiba ia merasa bahwa orang tua itu agak mencurahkan lebih banyak perhatiannya terhadap Wan Hauw. “Nampaknya suhu sudah lama mengetahui tempat ini . Suatu pikiran aneh terlintas dalam otaknya. ia mendengarkan dengan penuh perhatian. ternyata tempat itu ia sendiri pernah datang. ia lalu menghampiri dan membuka pintunya. Menurut pesan orang tua itu ia berjalan lurus menuju ke barat. Sebaliknya dengan Siang-koan Kie. meskipun ia sudah dapat memenuhi banyak bahasa manusia.Tiraikasih Website http://kangzusi. benar saja berjalan kira-kira tigapuluh tombak tibalah di suatu tempat yang sangat tenang keadaannya. kadang-kadang ia dapat menangkap sepatah dua patah. ia melihat kamar di sebelah bawah keadaannya lebih baik. ia tidak mengerti sama sekali. tetapi juga tidak mengerti apa maksudnya. tetapi terhadap ilmu pelayaran yang terlalu dalam itu. tetapi dalam kamar itu tidak terdapat bangkai manusia. hawa tidak enak menghembus keluar dari dalam.com/ Wan Hauw duduk di samping dengan tenang. sedangkan terhadap dirinya sendiri sikapnya agak dingin. itu adalah pekarangan yang terdapat banyak tanaman pohon dan bunga yang aneh-aneh. Ia mengawasi keadaan di sekitarnya. Keadaan dalam kamar itu penuh debu.

susah dikendalikan. Hari itu Siang-koan Kie kembali harus duduk bersemedi. di hadapannya sudah ada makanan yang terdiri dari buah-buahan atau daging binatang yang cukup dimakan untuk salu hari. segala hidangannya. Sang waktu berjalan cepat sekali. di hadapannya tiba-tiba sudah terdapat sepiring buah2an. agaknya hendak keluar dari tubuhnya. dalam hati diam-diam merasa cemas. selesai membersihkan kamar itu mulailah duduk bersemedi untuk melatih ilmu kekuatan tenaga dalamnya. selama itu Siang-koan Kie telah merasakan bahwa kekuatan tenaga dalamnya sudah mendapat banyak kemajuan. maka segera dimakannya. menyuruh aku datang ke mari……..com/ yang tidak ada mayat dari kalangan paderi itu. Selama setengah tahun itu. dengan sangat hati-hati sekali Siang-koan Kie membersihkan debu dalam kamar. belum pernah sekali saja ia bertemu dengan Wan Hauw. tiba-tiba ia merasakan hawa panas bergolak dalam dadanya. hampir tidak dapat menguasai dirinya sendiri. untuk menyingkirkan pikiran yang kiranya dapat mengganggu hatinya.” Sambil berpikir ia mulai membersihkan debu dalam kamar itu. setiap kali ia tersadar. Ia tahu bahwa buah2an itu diantar oleh Wan Hauw untuk keperluan makannya. tetapi semakin hebat bergolaknya. bagaikan kuda liar yang terlepas dari kandangnya. sebentar saja setengah tahun sudah berlalu. . Tatkala ia membuka matanya. selalu diantarkan pada saat ia sedang bersemedi.Tiraikasih Website http://kangzusi. sedapat mungkin ia tidak dapat memikirkan urusan orang tua itu dengan Wan Hauw. Tempat tidur kayu yang terdapat di dalam kamar itu masih utuh keadaannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi. kau sebarkan hawanya yang mengumpul dalam dadamu ke seluruh urat uratmu.. dibelakang punggungnya tiba-tiba merasa seperti dipukul orang. seketika merasa seperti ditindas oleh hawa panas yang masuk dari belakang punggungnya itu. Di telinganya lalu terdengar suara orang tua itu. perasaan itu membuat dirinya tergoncang hebat……. Itu adalah keadaan dan saat yang paling berbahaya bagi setiap orang yang melatih ilmu kekuatan tenaga dalam menyelang tercapainya kepandaiannya. tetapi ia tidak sanggup menahan penderitaan yang semakin lama semakin hebat itu. Siang-koan Kie mengerti bahwa itulah saat yang paling kritis. Siang-koan Kie menarik napas lega. tetapi juga akan mengakibatkan orang itu terluka parah musnah seluruh kepandaiannya atau menjadi seorang cacat seumur hidupnya.com/ Hawa itu bergolak semakin hebat. Ia bertahan terus sehingga sekujur badannya penuh keringat dingin. ia segera mengalirkan balik darah dalam sekujur badannya. Selagi dalam keadaan sangat berbahaya. benar saja hawa panas yang hendak keluar dari tubuhnya tadi.” Hawa panas itu dirasakan masuk ke dalam melalui jalan darah beng-bun-hiat di belakang punggungnya. . seolah-olah gelombang air laut yang meluap. telah mengikuti aliran darah perlahan-lahan tersebar ke dalam otot-otot dan uraturatnya. hawa yang tadi bergolak di dalam dadanya. lekas gerakkan balik mengalirnya darah dalam badanmu. “Kie-jie. ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan hawa itu jangan sampai keluar dari mulutnya. apa bila hawa semacam itu keluar dari tubuhnya bukan saja semua usahanya akan tersia2.

” “Kau tidak usah memikirkan tentang budi. dengan penuh rasa berterima kasih Siang-koan Kie berkata. wajahnya ramai senyuman.” “Selama satu bulan ini. asal dikemudian hari kau membuat nama baik di kalangan Kang-ouw dan tidak menyia-nyiakan pengharapanku.” . telinganya terdengar pula suara orang tua itu. ia tidak tahu bagaimana harus mengeluarkan ucapan.” “Suhu sering berada di samping teecu. itu saja sudah cukup..com/ Setelah keadaan tenang kembali. tiga hari kemudian. tetapi karena rasa terharunya. mungkin masih memerlukan waktu cukup lama baru berhasil menyelesaikan pelayaranmu. “Kie-jie. ia melihat orang tua itu berdiri di belakangnya dengan dua tongkat bambu di bawah ketiaknya untuk menunjang badannya. kemudian mulai lagi mengatur pernapasanmu. aku haturkan selamat kau telah berhasil menyempurnakan kekuatan tenaga dalammu.Tiraikasih Website http://kangzusi. aku sering menjaga di sampingmu untuk memberi bantuan kepada dirimu. setelah semua hawa dan jalan darah berjalan normal. “Kie-jie. teecu……. kau berhenti lagi untuk beristirahat. kau sekarang boleh beristirahat dulu. kau nanti datang melihatku lagi……. pada saat ini teecu barangkali sudah menjadi orang cacat.” “Teecu. Orang tua itu tersenyum lalu berkata.” Siang-koan Kie berpaling. kau tidak akan berlatih dengan tekun. “Jikalau suhu tidak keburu datang untuk memberi bantuan.. “Demikian besar cinta suhu terhadap teecu entah bagaimana teecu harus membalas budi. mengapa teecu sedikitpun tidak tahu?” “Jikalau kau tahu aku melindungi di sampingmu.” “Siang-koan Kie dengan penuh rasa bersyukur ia berkata.” Siang-koan Kie masih hendak berkata banyak.

dalam waktu setengah tahun.Tiraikasih Website http://kangzusi. secepat-cepatnya setengah tahun baru bisa kembali. nampaknya kalian mungkin lebih cepat meninggalkan kuil ini. Siang-koan Kie segera mengambil dan membukanya.. satu persatu lewat dalam otaknya. kepandaianmu dan kepandaian Wan-jie sudah mendapat dasar yang baik. Di satu sudut dalam ruangan itu terdapat sepucuk surat. Wanjie itu meskipun kelihatannya bodoh. sekarang aku hendak pergi!” Sehabis berkata demikian ia lalu menggerakkan tongkatnya dengan cepat sudah menghilang. kemajuannya pesat sekali. “Bocah. selama setengah tahun ini. hari keempat Siangkoan Kie datang lagi ke atas loteng kediaman orang tua itu. Ternyata kamar dalam loteng itu sudah kosong entah ke mana perginya orang tua itu. seliwatnya sepuluh bulan. Siang-koan Kie memandang surat itu sekian lama. di atas kertas itu terdapat tulisan yang berbunyi. Rupa-rupa pikiran. “Sudah duapuluh tahun lamanya orang tua itu berdiam di dalam kuil tua ini. perjalananku ini selambat-lambatnya sepuluh bulan. apabila aku masih belum kembali.com/ Ia berhenti sejenak kemudian berkata pula. di kemudian hari bisa mendapat hasil yang lebih tinggi atau tidak. entah apa sebabnya . kalian boleh membuka peti di ujung dinding itu. kau gunakan sebaik-baiknya untuk melatih pelayaran yang kalian dapatkan. tergantung kepada latihan kalian sendiri. dalam pelayaran ilmu kekuatan tenaga dalam juga mendapat kemajuan pesat. “Oleh karena ada urusan penting aku meninggalkan kuil ini. dan melakukan apa yang ditunjuk dalam peti itu.” Pada akhir surat itu hanya terdapat lukisan seruling pendek. Tiga hari telah berlalu dengan pesat. dalam hatinya berpikir. tidak terdapat tanda tangan apa. dalam hati tiba-tiba timbul perasaan seperti kehilangan sesuatu……. tetapi belajar ilmu silat.

Keduanya hening cukup lama. kemudian Siang-koan Kie bertanya. tetapi juga merasa sangat khawatir. ia hampir tidak bertemu muka dengan Wan Hauw. Siang-koan Kie ingin lekas menemuinya. siaote menurut saja. entah ia bisa berjalan dengan leluasa atau tidak. entah urusan penting apakah itu. apabila ia harus melakukan perjalanan hanya dengan mengandalkan sepasang tongkatnya saja……. entah ilmu kepandaian apa yang dipelajarinya? Karena ia tidak tahu ke mana harus mencarinya..com/ sekarang mendadak meninggalkan tempat ini? Dalam suratnya hanya menyatakan ada urusan penting. Tiba-tiba ia dapat pikiran bahwa soal itu seharusnya diadakan perundingan dengan Wan Hauw. ia tidak tahu entah di mana Wan Haow berada. pada hari kelima di waktu tengah hari. maka akhirnya balik ke kamar sambil menghela napas panjang. “Saudara Wan. Wan Hauw terus mendengarkan keterangan Siang-koan Kie tentang perginya orang tua itu. bagaimana pikiranmu dalam urusan ini?” Wan Hauw hanya menjawab sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Terserah kepada toako. ia berjalan keluar. tetapi tidak sepatah kata keluar dari mulutnya. tetapi masih belum tampak bayangan Wan Hauw. kedua kakinya sudah tiada. meskipun berkepandaian tinggi sekali. tetapi entah ke mana harus mencari Wan Hauw? Selama setengah tahun itu. sebaliknya merasa seperti tidak bertemu.” .? Aih…….” Dalam hati Siang-koan Kie bukan saja memikirkan orang tua itu.. mengapa harus menggunakan waktu sampai setengah tahun……. Wan Hauw baru muncul dalam keadaan tergesa-gesa. Sebelum berjumpa dengan Wan Hauw. tetapi setelah bertemu muka. Di dalam loteng itu sudah empat hari ia menunggu..

apalagi sudah liwat beberapa hari. ketika mendapat kenyataan bahwa suhunya itu belum kembali setelah lewat waktunya. bagi orang yang menantinantikan kedatangan seseorang. ia sudah mengerti banyak kata-kata orang biasa. Siang-koan Kie lalu berpikir. Siang-koan Kie yang jujur dan berbudi luhur.Tiraikasih Website http://kangzusi. sebab ia memang tidak mempunyai pendirian apa-apa. sudah tentu Wan Hauw setuju saja. ditambah dengan gerak badannya yang lincah dan gesit. dalam suratnya juga tidak diterangkan ke mana perginya. seandainya Siang-koan Kie hendak menyusul orang tua itu. tetapi kemudian berlatih bersama-sama. di dalam dunia seluas ini ke mana harus mencarinya? Sebaiknya aku tunggu saja setengah tahun. ia merasa sedih sekali. “Suhu meskipun sudah kehilangan kedua kakinya. . jalannya juga pesat. tetapi bicaranya masih kurang lancar. tetapi orang tua itu masih tiada kabar ceritanya. ia membuka suratnya yang ditinggalkan dan dibacanya sekali lagi. hembusan angin yang keluar dari tangannya sungguh hebat. masih ada waktu empat bulan. ia baru boleh membuka peti yang ditinggalkan.com/ Selama dua tahun ini. kadang-kadang bertanding dengan Siang-koan Kie sampai tigaratus jurus. kadang-kadang mengadakan pertandingan. sudah tentu tidak keburu kita kejar. tidak dirasakan kesepian. ia juga setuju. Waktu setengah tahun itu. Tanpa dirasa setengah tahun telah berlalu. Wan Hauw yang mempunyai kekuatan tenaga yang luar biasa. dirasakan lama sekali. tetapi kepandaiannya tinggi sekali. Permulaan dua bulan dua orang itu masing-masing berlatih sendiri-sendiri.” Ia menyatakan pikirannya itu kepada Wan Hauw. tetapi Siang-koan Kie dan Wan Hauw yang setiap hari berlatih ilmu silat dan kalau di waktu malam berlatih ilmu kekuatan tenaga dalam.

lalu berkata. lihat apa yang ditinggalkan oleh suhu?” Wan Hauw menurut.com/ Dalam empat bulan selama ia menantikan kedatangan suhunya itu. waktu Siang-koan Kie menjura.Tiraikasih Website http://kangzusi. Wan Hauw yang menyaksikan Siang-koan Kie setiap hari dalam keadaan murung. hawa udara di musim salju sangat dingin. ia lalu membukanya sendiri. Siang-koan Kie lalu mengangkat peti ke dekat jendela dengan diikuti oleh Wan Hauw. . Hari terakhir yang sudah dijanjikan oleh orang tua itu telah tiba. lalu menirunya. katanya. Sejak pagi hingga malam. Bulan kesepuluh yang dijanjikan oleh orang tua itu telah tiba. keduanya tidak berkata apaapa. sehingga keduanya setiap hari hidup dalam kedukaan. “Sebaiknya toako saja yang membuka!” Siang-koan Kie melihat. “Saudara Wan. Wan Hauw terus mengawasi setiap gerak-gerik toakonya. Siang-koan Kie kehilangan kegembiraannya. Tengah malam Siang-koan Kie baru berbangkit dan menjura tiga kali menghadap peti besar peninggalan orang tua itu. Siang-koan Kie mengawasi Wan Hauw sejenak. waktu itu sudah hampir habis tahun. ketika tangannya menyentuh peti itu. Siang-koan Kie dan Wan Hauw duduk diam di dalam loteng. perlahan-lahan juga turut merasa berduka. ia juga menjura. sehingga meninggalkan kesan demikian dalam kepada dirinya. ia merasa berhutang budi terlalu banyak kepada orang tua itu. tanah di sekitar pegunungan itu juga sudah penuh salju. dalam hati merasa girang. bahwa saudara angkatnya itu agaknya sudah tumbuh pengertian tentang adat istiadat. sekonyong-konyong ditariknya kembali. bukalah peti ini.

sekali2 jangan dibicarakan kepada orang lain. akhirnya berkata. kalau mendapat kabar ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. Di salah satu sudut peti itu. orang tua itu tidak melanjutkan pesannya. sudah cukup untuk keperluan kalian setelah meninggalkan kuil ini. Hauw-jie tidak perlu pulang ke tempat asalnya di gunung itu. Siang-koan Kie mengambilnya. meskipun aku sudah berusaha untuk menyembuhkannya. Semua rahasia yang terdapat dalam kuil ini. Siang-koan Kie setelah membaca habis isi surat itu. “Jika lebih sepuluh bulan aku belum pulang kalian tidak usah menunggu lagi. karena ibunya telah mendapat penyakit aneh. aku hendak pulang untuk menengok ibu. entah apa sebabnya.com/ Dalam peti itu hanya terdapat beberapa potong pakaian. Pakaian. nasib ibunya sudah dapat dipastikan……. baru berkata. mungkin sangat berduka hal ini bukan saja akan mempengaruhi pelayaran ilmu silatnya. surat itu berbunyi. terdapat sepucuk surat. nanti baru kita pergi bersama-sama bagaimana?” . Kalau kalian membaca surat ini. di atas pakaian terdapat banyak uang recehan dan empat butir mutiara. tetapi tenaga manusia dapatkah menentang kehendak Tuhan. lama ia memandang Wan Hauw..” “Hauw-jie sangat berbakti. disusun sangat rapi. dalam pesan surat suhu ini katanya kita harus lekas meninggalkan tempat ini………” Wan Hauw tiba-tiba memperdengarkan siulan panjang. dalam hati merasa berat. Surat itu hanya sampai di situ. ini harus dicegah supaya jangan sampai pergi menengok ibunya……. tetapi juga akan mempengaruhi nasib seumur hidupnya. tidak ada sambungannya. masih merupakan satu pertanyaan. “Saudara.. mutiara dan sedikit uang recehan dalam peti ini. “Toako.

dan kali ini ia harus membawa Wan Hauw.Tiraikasih Website http://kangzusi. Siang-koan Kie meskipun sudah pernah berkelana di dunia Kang-ouw. ibumu sudah pindah ke lain tempat di bawah penjagaan suhu. Wan Hauw terkejut.com/ Siang-koan Kie meskipun tidak bisa membohong. . kalau kita pergi ke sana juga tidak menemukannya. Wan Hauw selama mengikuti Siang-koan Kie pikirannya kusut.” Wan Hauw berpikir sejenak.. sejak masih kecil ia hidup dalam hutan rimba belukar. kali ini ia harus memulai penghidupannya ke dunia baru. “Ada suhu yang melindungi ibu. dalam segala hal ia harus berusaha dan berpikir sendiri. tiba-tiba tertawa dan berkata. aku tidak perlu khawatir lagi. “Apa?” “Bibi sudah tidak berdiam di tempatnya yang semula lagi. terpaksa ia berkata sambil menggelengkan kepala. tetapi dalam keadaan demikian. lalu mengganti pakaian sendiri. maka seketika itu ia sudah gembira lagi seperti semula. ia sendiri tidak perlu banyak pikiran. ia mengambil pakaian dalam peti. “Dalam surat suhu itu sudah diterangkan. lalu meninggalkan loteng di atas kuil tua yang pernah didiami selama tiga tahun itu. ia tidak tahu bagaimana harus menyesuaikan dirinya sehingga hatinya merasa tegang. tetapi selalu berjalan bersama-sama dengan suhunya. tidak boleh tidak ia harus membohongi Wan Hauw. dengan sendirinya perasaannya agak gelisah……. Siang-koan Kie diam-diam menghela napas. setelah mengambil semua uang dan mutiara. marilah kita berangkat!” Wan Hauw yang berhati masih putih bersih ia menganggap Siang-koan Kie tidak membohongi dirinya.

aku Kim-sie si kereta cepat ini tidak akan mendapat langganan lagi. nampaknya masih bersemangat tetapi sepasang matanya di bawah topi tebalnya. kusir kereta masih memakai pakaian kulit. ia duduk sambil menggerakkan pecut panjangnya. sudah menunjukkan tandatanda kantuk. “Hai. tangan kanannya menggerakkan pecutnya. Ketika kereta itu memasuki kota Bu-ciang. Dari dalam kereta melompat turun tiga laki-laki.” Ia lalu menghentikan keretanya di tepi jalan. mendadak berhenti. heh heh. Karena hawa udara sangat dingin. baru saja menginjak jalan yang besar. setelah melihat keadaan di sekitarnya.. kedua toako dalam kereta. barulah tertawa puas sambil berseru “Sungguh dingin!” kemudian berjalan berpencaran. Dari dalam kereta terdengar suara orang menegur. hayo turun. agaknya hendak mendapat kepastian bahwa itu benar kota Bu-ciang. kalau belum sampai…. kabut masih belum lenyap. “Sudah sampai. sebuah kereta kuda melakukan perjalanan dalam kabut pagi itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. sang kusir menarik kendalinya.com/ -odwoBab 19 MATAHARI pagi baru muncul di ufuk timur.” . sudah tiba di kota Bu-ciang. Di atas jalan raya luar kora Bu-ciang. kuda yang menarik kereta itu membedal kakinya beberapa langkah. “Apa sudah tiba di kota Bu-ciang?” Sang kusir itu berpaling dan menjawab. Sang kusir menyaksikan berlalunya tiga orang itu. tiba-tiba mengerutkan keningnya dan menggedut awak kereta yang terbuat dari bahan kayu itu seraya berkata. suatu bukti bahwa kereta itu habis melakukan perjalanan jauh.

sesosok bayangan orang sudah melompat turun. “Apakah sudah sampai?” Kusir kuda berpaling mengawasi ke dalam. “Orang yang menuntut penghidupan menarik kereta di waktu malam hari. “Orang ini bukan saja bentuknya mirip monyet. Sungguh heran mengapa berjalan bersama-sama dengan pemuda yang begitu cakap ganteng. “Pagi2 kabut begitu tebal. tetapi aku hendak tidur. entah dari golongan apa orang-orang itu?” Dari dalam kereta itu turun seorang pemuda berpakaian bayu panjang berwarna biru. keadaannya sama dengan orang-orang seperti kusir kereta itu tadi. bagaimana masih ada pikiran lagi untuk mencari kemajuan…….” Setelah itu ia larikan kudanya pulang ke rumah. “Saudara. Pemuda berbayu biru itu mengawasi berlalu kereta lalu berkata sambil menghela napas panjang. tetapi sikapnya dan suaranya juga ada beberapa bagian mirip dengan binatang monyet.. ia melihat keadaan di sekitarnya kemudian berkata sambil ketawa. kemudian terdengar suara lantang.com/ Dari dalam kereta terdengar suara batuk-batuk ringan. hanya untuk mencari sesuap nasi.” Kemudian tertawa kepada pemuda yang turun duluan dan berkata pula. “Meskipun hawa udara baik. setiap hari ia sibuk terus menerus. begitu berada di tanah. “Saudara Wan Hauw lihat keadaan di atas jalan raya ini. benar-benar sangat berbahaya. hari ini hawa udara pasti baik. sudah tiba!” Terdengar pula suara seorang yang agaknya baru belajar bicara. di mana perbedaan dan keadaan di atas gunung dan hutan belukar? Aihl satu orang apabila tidak mempunyai sesuatu kepandaian dan tidak tahu bagaimana harus mencari kemajuan.Tiraikasih Website http://kangzusi.” . kusir kereta itu menggumam sendiri.” Si kusir kereta tertawa kering beberapa kali lalu berkata. baru saja membuka pintu kereta.

waktu kabut mulai buyar. kalau bukan di waktu siang hari aku melihat orang semacam itu. “Apakah kau mengerti maksud dalam perkataanku tadi?” Pemuda yang ditanya itu menganggukkan kepala.com/ Berkata sampai di situ. Selesai makan mereka melanjutkan perjalanan. pemilik rumah makan itu berkata kepada salah seorang tamunya. Kedua pemuda itu berjalan menyusuri jalan raya yang masih agak sepi keadaannya. untung Wan Hauw selalu mendengar kata-kata Siang-koan Kie. Wan Hauw yang baru pertama memasuki dunia sopan penghidupan manusia. ia berpaling dan mengawasi pemuda di sampingnya kemudian berkata pula. meskipun kabut tebal. “Pemuda itu benar-benar kuat makan. sudah tentu merasa banyak yang mengherankan hatinya. . tetapi sinar matanya tampak demikian terang.” Dari pembicaraan orang itu. benar-benar aku akan ketakutan setengah mati. tetapi keinginan itu selalu ditindas oleh perasaan sendiri karena khawatir akan menimbulkan kekacauan. meskipun terhadap segala hal yang belum pernah dilihatnya itu ia ingin mencobanya. kedua tangannya nampaknya terdapat banyak bulu. yang satu tampan dan yang satu jelek maka sepanjang jalan sangat menarik perhatian orang. Karena dua orang itu keadaannya jauh berlainan.Tiraikasih Website http://kangzusi. mereka memasuki salah satu rumah makan kecil di tepi jalan untuk makan pagi dan menanyakan keterangan jalan yang menuju ke sungai. asal Siang-koan Kie memberi isyarat segera dimengerti. mendadak berhenti. setelah pemuda itu berlalu. kita dapat menduga bahwa pemuda yang disebut bukan lain dari pada Wan Hauw yang mengikuti Siang-koan Kie dan untuk pertama kalinya bergaul dengan manusia.

lalu menegurnya sambil tertawa. ia menyaksikan dengan sikap terheranheran. Wan-hauw yang hidup di hutan belukar. air sungai dan air mancur sudah banyak ia melihat tetapi belum pernah menyaksikan keadaan serupa itu. Kemudian ia bertanya sambil menepuk pundaknya Wan Hauw. “Toako. Siang-koan Kie yang menyaksikan keadaan kawannya itu. Siang-koan Kie terperanjat. kemudian ia berkata dengan suara terisak-isak..com/ Waktu matahari sudah naik tinggi. tempat di sini demikian indah dan menyenangkan. ibu mungkin tidak dapat melihatku lagi untuk selama-lamanya. wajahnya menimbulkan perasaan duka. saat itu teringat juga akan . dalam “Mengapa ia mendadak berobah?” hatinya berpikir. dari sela-sela matanya tertampak butiran2 air mata. kau kenapa?” Wan Hauw menarik napas panjang. “Saudara Wan girangkah menyaksikan keadaan pemandangan ini? Mari kita lekas mencari perahu untuk menyebrang.Tiraikasih Website http://kangzusi. karena ia sendiri juga sudah lama meninggalkan ayah bundanya. matanya memandang ke arah jauh. Tetapi sesaat kemudian senyum di bibirnya mendadak lenyap. di daerah selatan jauh lebih baik dari ini pemandangan alamnya.. aku……. sedang berpikir alangkah senangnya apabila ibu juga berada di sampingku. Siang-koan Kie yang mendengar ucapan itu hatinya juga merasa terharu. sayang……. keadaan di sungai Tiang-kang sudah ramai dengan perahu2 yang menantikan muatan2 untuk diseberangkan ke lain tepi. “Saudara.” Wan Hauw tersenyum menghadapi hari-hari yang akan datang. seolah-olah membayangkan harapan yang indah dan penuh kegembiraan. ketika pertama Siang-koan Kie tiba di tepi sungai.

maka dalam hati merasa tak senang.com/ ayah bundanya yang sudah tua. sehingga sudah lupa memakai barang ini. ia menundukkan kepala dan menghela napas panjang. maka ia segera menjawabnya sambil membalas hormat. ia mengira lakilaki itu bermaksud menggoda dirinya. kini wajah mereka nampak murung.Tiraikasih Website http://kangzusi..” Siang-koan Kie tercengang. Sebelum ia dapat menjawab laki-laki itu dari dalam sakunya mengeluarkan semacam barang dan diberikan kepadanya seraya berkata. ketika berjalan di hadapan mereka. Selagi mereka berjalan. dari sebuah perahu tiba-tiba lompat keluar seorang laki-laki berpakaian hitam. hanya dari bentuk dan potongan badannya dapat diduga bahwa orang itu tentunya sebangsa orang gagah dari golongan daerah pengairan ini. Dua pemuda itu perlahan-lahan jalan di tepi sungai.” Laki-laki itu mengerutkan alisnya. “Tuan-tuan tentunya sudah lelah. “Bukankah saudara berdua tidak akan pergi kepada keluarga Pan Loya di kota Han Yang untuk turut menyatakan berduka cita?” . ia tidak kenal siapa adanya orang itu.” Siang-koan Kie baru melihat bahwa barang yang berada di tangan laki-laki itu. tetapi ia tidak tahu entah apa maksudnya. maka ia segera mengerti bahwa dalam hal ini pastilah terjadi kesalahan faham. mengawasi sebentar lalu berkata sambil memberi hormat. ia sudah dapat melihat bahwa di lengannya laki-laki itu juga memakai tanda kain hitam. ”Tuan-tuan tentunya tergesa-gesa. tidak menantikan Siangkoan Kie mengutarakan maksudnya ia sudah berkata pula. ternyata dua potong kain hitam yang umumnya dipakai bagi orang yang berkabung. “Siaotee sebetulnya juga hendak menyeberang sungai……. sebelum menyatakan pikirannya. tiada tahu bagaimana harus menjawab.

bukannya semuanya kosong?” “”Perahunya meskipun kosong. boleh coba sendiri.” “Perahu yang ada di sana itu. agaknya tidak mengerti. “Orang itu nampaknya tidak bermaksud jahat tentunya juga tidak perlu membohongi……. Aku dengar logat saudara seperti bukan orang daerah sini. karena semua perahu yang ada di sungai ini semua sudah diborong untuk menyeberangkan orang-orang yang hendak turut menyatakan duka cita. jikalau tuan tidak percaya. tetapi semua perahu itu sudah diborong orang lain.Tiraikasih Website http://kangzusi. apakah sebetulnya telah terjadi?” “Di sini agaknya sudah tidak ada perahu yang akan menyeberangkan kita.” Wan Hauw mengerutkan alisnya sambil berpikir. Siang-koan Kie melongo. hari ini sebaiknya jangan menyeberang sungai. dalam hatinya diam-diam berpikir. maka aku memberitahukan dengan baik.. Siang-koan Kie bersenyum sebentar kemudian laki-laki itu tiba-tiba balik kembali. “Kalau semua perahu itu toh memang kosong. kemudian berlalu tanpa berkata apa-apa. laki-laki itu nampaknya terkejut dan terheran-heran. maka mungkin agak sulit bagi tuan untuk mencari perahu yang mau menyeberangkan kalian. “Apabila tuan tidak pergi turut berduka cita. “Toako.” Wan Hauw yang di sampingnya tiba-tiba bertanya dengan suara perlahan.com/ Siang-koan Kie menggelengkan kepala. mengapa kita tidak bisa naik lebih .” Setelah itu ia menghampiri perahunya lagi dan naik di atasnya. katanya dengan nada suara dingin. hanya entah bagaimana orangnya yang Pan Loya itu? Bagaimana kematiannya mendapat perhatian banyak orang dan banyak yang datang turut berduka cita……. maka ia bertanya pula.

“Saudara Wan. banyak hal di dalam dunia ini yang tidak sedemikian sederhana seperti apa yang kau saksikan di dalam hutan. biar bagaimana ia masih belum mengerti tetapi ia juga tidak berani bertanya lagi. sebabnya karena buah2an di atas pohon di hutan belukar merupakan barang yang tidak ada pemiliknya. itu berarti kaulah melanggar undang2 negara.Tiraikasih Website http://kangzusi. tetapi perahu itu ada miliknya orang lain.com/ dulu minta diseberangkan? Orang-orang yang datang belakangan. lalu berkata sambil tersenyum. “Dalam penghidupan di pegunungan dan hutan belukar. sudah tentu tidak mengerti cara2 penghidupan manusia yang menganggap dirinya sopan. perlu apa perahu banyak itu menunggu?” Siang-koan Kie berpikir sejenak. ucapanmu ini meskipun tidak salah. terus memikirkan persoalan itu. dalam hatimu juga merasa bahwa itulah merupakan suatu perbuatan wajar. apabila perutmu berasa lapar. Siang-koan Kie yang menyaksikan kawannya itu. aih. kau dan aku tidak boleh memaksa cara seenaknya. akan tetapi……. Semua perahu ini meskipun kosong. kau melihat buah di atas pohon kau boleh ambil sesukamu untuk kau makan. tentang ini di kemudian hari kau bisa mengerti sendiri. sekalipun pemilik itu tidak mempunyai kekuatan tenaga. apabila kau mengambil dengan seenaknya.” Wan Hauw menundukkan kepala. seharusnya menunggu kita sehabis menyeberang baru diseberangkan lagi. tetapi ada undang2 negara yang melindunginya. sekarang ini belum kelihatan ada seorang yang datang. apabila perutmu berasa lapar. kau tidak bisa mengambil buah orang dengan sembarangan untuk dimakan. lalu menarik napas panjang dan berkata. mengertikah kau maksudku?” . tetapi penghidupan dalam dunia sopan. tetapi barang2 yang ada di dunia sopan semua ada pemiliknya. karena ia yang biasa hidup di daerah pegunungan dan hutan belukar dengan cara hidupnya yang sederhana.. mereka datang terlambat.

nampaknya orang yang disebut Pan Loya itu . wajahnya mengunjukkan perasaan duka. yang agak aneh ialah semua orang itu di lengan tangannya memakai ban kain hitam. samar-samar terdengar kata-kata yang keluar dari mulutnya. ternyata semua Piauwsu suka datang untuk turut berduka cita. mereka mengawasi kedua pemuda itu sejenak. pikirnya. “Sudah lama aku mendengar Oiy Ho Piauw-kiok ini sangat tersohor di kalangan kang-ouw. sewaktu mereka liwat di hadapan Siang-koan Kie dan Wan Hauw. dengan cepat melompat dari atas perahunya dan lari menghampiri. tua muda. Siang-koan Kie terkejut. sambil lalu ia berkata.com/ Wan Hauw kembali berpikir sambil menundukkan kepala. saudara Wan tahu……. di dalam dunia tidak ada orang yang mendapatkan barang tanpa mengeluarkan tenaga. walaupun kadang-kadang ada orang yang menggunakan akal licik atau kekerasan merampas barang orang lain.Tiraikasih Website http://kangzusi. tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya dan berkata sambil tertawa. “Pengertian ini meskipun sangat sederhana. tetapi gerak kaki mereka menunjukkan orang-orang yang mengerti ilmu silat semuanya. aku juga hendak memukulnya.. “Aku mengerti. tetapi sudah merupakan suatu aturan yang tidak dapat dirobah sejak dahulu kala.” Belum lagi melanjutkan kata-katanya di belakangnya tibatiba ada sepuluh orang lebih. “Sungguh tidak diduga tuan-tuan dari Oiy Ho Piauw-kiok datang semuanya. apabila ada orang lain hendak mengambil barangku. tetapi dengan cepat akan hilang lagi. orang-orang itu terdiri dari beberapa golongan.. mereka berduyunduyun berjalan menuju ke tepi sungai. aku yang rendah di sini atas nama keluarga Pan mengucapkan banyak2 terima kasih……. semuanya memakai pakaian hitam. laki-laki berpakaian hitam yang berada di atas perahu itu.” Siang-koan Kie mengganggukan kepala. kemudian menyambut mereka dan diayaknya naik ke sebuah perahu.

di tempat yang agak jauh di tepi sungai. dugaanmu benar-benar tidak salah. kau lihat laki-laki itu hanya menggunakan galah bambu saja. mungkin masih ada perahu lain yang kosong yang mau menyeberangkan kita. Wan Hauw sama sekali tidak mengerti cara penghidupan dalam dunia sopan.” Siang-koan Kie tersenyum. dengan mudahnya dapat menggerakkan perahu yang begitu besar……. maka ia selalu menurut apa yang dikatakan oleh Siang-koan Kie. di depan sana benar saja ada sebuah perahu kosong. tiba-tiba bertanya kepada Siang-koan Kie. ia teringat kepada suhunya. “Toako.. benar saja ada sebuah perahu kecil ditambat di . meskipun sikapnya tampak tenang. maka segera diam. kau lihat. sebab ia teringat keadaan sendiri apabila sedang berpikir tidak suka diganggu orang lain.Tiraikasih Website http://kangzusi. Tiba-tiba ia melihat Siang-koan Kie sedang berpikir. maka ia sendiri juga tidak mau mengganggu orang yang sedang berpikir. apakah dalam perjalanannya ini dapat menemukan suhunya itu…….. mendengarnya?” mengapa aku tidak pernah Ia terus memikirkan. Selagi pikirannya bekerja keras tiba-tiba Wan Hauw berkata kepadanya. tetapi belum juga ingat bahwa di antara orang-orang ternama dalam kalangan Kang-ouw ada seorang she Pan itu. tetapi dalam hatinya sangat gelisah. Siang-koan Kie berjalan lambat-lambat di sepanjang sungai. Siang-koan Kie tiba-tiba tersenyum dan berkata kepada diri sendiri. ia mengikuti toakonya itu berjalan menuju ke bagian bawah sungai itu. “Urusan orang lain perlu apa aku pikirkan?” Kemudian ia berpaling dan berkata kepada Wan Hauw. Wan Hauw yang sejak tadi berdiri termangu-mangu berapa lama. “Mari kita pergi lihat kesana. “Toako.com/ pasti orang ternama.

“Mari kita lihat lagi ke depan. apabila toako sudi membantu. menyeberangkan kita kesana?” Tukang perahu itu dengan tanpa menoleh menjawab sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. meskipun dalam hati merasa mendongkol. tukang perahu itu baru berpaling mengawasi mereka berdua. Siangkoan Kie mengharap supaya tukang perahu itu menerima permintaannya.com/ sebuah pohon di tepi sungai. orang itu meskipun pakaiannya mesum.” . “Kita berdua ingin menyeberang sungai.Tiraikasih Website http://kangzusi.” Tukang perahu itu berpaling mengawasi mereka.” Kemudian ia bangkit dan masuk ke dalam perahunya. tidak memperdulikan mereka lagi. Siang-koan Kie melongo. tetapi sikapnya tenang. seorang tukang perahu setengah tua duduk bersila di bagian kepala perahu sambil mengisap pipa panjang. tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Siang-koan Kie lalu berkata kepadanya sambil memberi hormat. sudikah kiranya toako memberi bantuan. aku pasti akan memberikan ongkosnya yang cukup pantas.” Jawabnya itu dingin dan ringkas sedikitpun tidak memberi kesempatan berunding. “Kita sebetulnya ada keperluan penting sekali menyeberang sungai. “Perahu ini bukan perahu sewaan untuk menyeberangkan orang. “Perahu ini tidak disewakan. Siang-koan Kie tercengang. kemudian berpaling lagi mengawasi ke arah lain. siapa tahu tukang perahu itu kembali menggelengkan kepalanya seraya berkata. ia masih tetap dengan sikap merendah ia berkata. Sewaktu Siang-koan Kie berjalan dekat perahunya. terpaksa hanya menghela napas dan berkata kepada Wan Hauw.

” Dari dalam kamar di atas perahu itu muncul keluar seorang berpakaian warna hijau.Tiraikasih Website http://kangzusi. Dari dalam perahu saat itu tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan yang merdu. tukang perahu itu keluar lagi dan berkata kepadanya dengan lambat-lambat. Kini ia baru mengerti apa sebabnya. Meskipun perahu ini kecil. “Kalau kita hendak ke sana sejak tadi sudah menyeberang dengan perahu besar itu. kita bersedia menyeberangkan kau. tukang perahu itu tidak mau menyeberangkan. tidak masuk ke dalam kamar perahu. “Kalau begitu lebih dulu kuucapkan banyak2 terima kasih atas kebaikan nona. naik saja. apabila suka duduk di bagian kepala. Tukang perahu itu hanya mengeluarkan suara dari hidung. apakah hendak turut berduka cita ke rumah keluarga Pan Loya?” Selagi Siang-koan Kie hendak menggelengkan kepala. maka ia menjawab dengan kata-kata yang pedas. Wan Hauw sudah berkata.com/ Tak disangka selagi hendak berjalan. “Kalian hanya dua orang saja. siapa lagi ingin menggunakan perahumu?” Karena ia melihat sikap tukang perahu yang nampaknya sangat sombong. Saat itu terdengar pula suaranya gadis itu. Siang-koan Kie buru-buru menundukkan kepalanya tidak berani memandang. dalam hati rasa mendongkol.” . tetapi walaupun hanya sepintas kilat saja. “Kalian nampaknya begitu cemas hendak menyeberang sungai. ia sudah dapat lihat bahwa gadis itu berparas cantik dan berperawakan langsing semampai. tidak perlu berlaku merendah lagi. tetapi tidak halangan ditambah dua orang.” Siang-koan Kie buru-buru berkata. karena dalam perahu itu masih ada seorang gadis. “Apabila kalian ada urusan penting.

tetapi karena ia melihat sikap perempuan itu yang tulus. kecuali itu ia juga sudah tidak ada jalan lain. Siang-koan Kie meskipun merasa tidak puas sikap sombong orang itu. Tetapi tukang perahu itu menolak dan berkata sambil tertawa dingin. suara gadis itu sebetulnya sangat perlahan sekali juga tidak bermaksud ditujukan kepada Siang-koan Kie. membuka tambatan yang diikat pada pohon. Gadis itu bersenyum lalu masuk lagi ke dalam kamarnya. “Karena sudah baik hati menolongnya.Tiraikasih Website http://kangzusi.” Siang-koan Kie diam-diam merasa girang mendapat pujian itu. ia lalu naik ke atas perahu sambil menundukkan kepala.” Selagi Siang-koan Kie menikmati pemandangan alam di sungai Tian-kang itu. “Dua anak muda ini meskipun usianya masih muda. maka katakatanya juga sangat merendah. di belakangnya tiba-tiba terdengar suara merdu dari gadis itu tadi. “Uangmu kau boleh disimpan kembali!” Kemudian ia melompat ke tepi sungai.com/ Meskipun Siang-koan Kie dalam hati tidak ingin berada bersama-sama dalam satu perahu dengan seorang perempuan yang masih asing. tetapi kemudian berpikir. sekali2 jangan masuk ke dalam kamar. bersama Wan Hauw duduk bersama di bagian kepala perahu itu. si tukang perahu berkata dengan nada suara dingin sambil menunjuk dengan pipa panjangnya.” menjawab Siang-koan Kie. hanya daya pendengaran Siang-koan Kie luar biasa tajamnya maka ia dapat menangkap kata-kata gadis tadi. “Kalian duduk di sini. saat itu ia sudah dapat melihat bahwa tukang perahu itu bukan tukang perahu biasa. . tetapi kelakuannya sangat sopan.” “Sudah tentu. maka ia bersabar. kemudian dari dalam sakunya mengeluarkan uang recehan diberikan kepada tukang perahu itu. maka setelah berpikir sejenak.

Tiraikasih Website http://kangzusi. kau jangan banyak bicara. Wan Hauw meskipun dalam hati merasa heran. tetapi dibatalkan. tetapi karena melihat toakonya pergi. kemudian mencari tempat kosong untuk duduk. Berjalan tidak lama. Tukang perahu itu merasa heran kepergiannya Siang-koan Kie secara tiba-tiba itu. dengan kedua tangannya lurus ke bawah dan mata memandang ke depan ia terus berjalan masuk ke dalam perahu. ia diam-diam mengikutinya dari belakang. ia melihat Siang-koan berkata sendiri sambil mengepal tangannya. . berjalan menuju ke sebuah perahu. Berjalan belum berapa jauh. maka dengan serta-merta ia melompat bangun. “Siang-koan Kie. ia juga mengikuti. sudah tentu berlaku sangat merendah terhadap kita. Wan Hauw yang menyaksikan Siang-koan Kie berlalu dengan sikap marah. begitu pula gadis berbayu hijau itu. kalau kau tidak bisa minta pertolongan orang sebaiknya jangan minta pertolongan orang lain!”’ Apa yang dipikirkan oleh Siang-koan Kie saat itu.” Siang-koan Kie melengak. lihat aku bawa kau menyeberang sungai. Wan Hauw yang menyaksikan kelakuan toakonya agaknya merasa heran tetapi ia juga meniru perbuatannya duduk di sampingnya. ia melihat Siang-koan Kie membereskan pakaiannya.com/ Di luar dugaan tukang perahu itu menjawabnya dengan nada dingin.” Wan Hauw menganggukkan kepala dengan perasaan bingung. “Saudara Wan. sudah tentu tidak diketahui oleh Wan Hauw maka ia diam saja. Siangkoan Kie. “Karena ia ingin minta tolong kepada kita. kemudian ia melompat melesat ke tepi sungai. Siang-koan Kie tiba-tiba berpaling dan berkata sambil tertawa. ia menggerakkan lengan bayunya ke arah kamar agaknya hendak berkata apa-apa. ia merasa sangat mendongkol dihina demikian rupa.

ketika menyaksikan sikap orang-orang itu. tetapi ternyata tepat.” Terdengar pula suaranya laki-laki kurus kering itu berkata. meskipun dalam hati merasa heran. tukang perahu setelah menghitung jumlah orangnya. Laki-laki yang duduk di samping Siang-koan Kie wajahnya kurus kering. tiada seorang yang menegur atau menghalangi. ia tahu bahwa perbuatannya itu meskipun agak gegabah. ketika kedatangan kedua pemuda itu. Tidak lama kemudian. dalam rombongan orang banyak itu menyeberang sungai. “Orang-orang ini bukan saja dari budi bahasanya..Tiraikasih Website http://kangzusi. dalam hati diam-diam merasa bangga. tidak diduga……. nampaknya orang yang disebut Pan Loya itu bukan saja seorang terkenal dalam rimba persilatan. Wan Hauw yang sama sekali tidak mengerti. juga tidak memikirnya. sudah ada sepuluh orang lebih yang duduk di situ. aih!” . tetapi juga mempunyai perhubungan sangat luas. Siang-koan Kie sebetulnya ingin menimbrung. dari sikapnyapun menunjukkan betapa besar penghargaan mereka terhadap Pan Loya. tetapi sebentar sudah tidak menghiraukan lagi.com/ Dalam perahu itu.” Siang-koan Kie menjawab sekenya. matanya bersinar tajam ia mengawasi Siangkoan Kie dan Wan Hauw sejenak. mereka saling bercakap-cakap dengan suara perlahan-lahan. “Pan Loya selama hidupnya banyak berbuat baik terhadap sesamanya. sementara itu dalam hatinya berpikir. mereka masingmasing duduk di tempat sendiri. “Saudara dari mana? Tentunya juga ingin berkunjung ke rumah keluarga Pan. kembali ada dua orang lagi naik ke dalam perahu. lalu menggerakkan perahunya. meskipun memandangnya dengan terheran-heran. lalu berkata.

“Sudah lama kukenal bahwa Touw Thian Gouw ini dengan sebuah pecut emasnya. tiba-tiba ia teringat dirinya seorang maka bertanya. Sudah lama aku berdiam di luar perbatasan. entah bagaimana sebutan saudara yang mulia.com/ Siang-koan Kie merasa tertarik.” .Tiraikasih Website http://kangzusi. Kejadian itu menggerakkan hatinya. di daerah luar perbatasan itu belum pernah menemukan tandingan benar-benar boleh dikata seorang gagah.” Siang-koan Kie merasa bahwa nama itu seperti pernah mendengarnya. sekali hendak berkata apa-apa lagi tiba-tiba ia melihat bahwa semua orang yang ada di situ setiap orang mengawasi Touw Thian Gouw dengan sikap terheran-heran. sungguh tidak diduga bahwa orang yang berkepandaian tinggi ini sikapnya demikian merendah. ia mengawasi keadaan sekitarnya sejenak lalu berkata.” Sementara itu dalam hatinya berpikir. “Aku bernama Touw Thian Gouw. bolehkah saudara memberitahukan kepadaku?” “Aku yang rendah bernama Siang-koan Kie hanya satu piun yang tidak berarti dalam rimba persilatan. agaknya merasa bangga mendapat pujian demikian. yang namanya menggemparkan dunia rimba persilatan itu?” Touw Thian Gouw tersenyum. ia berkata sambil tertawa. “Apakah tuan jago pecut yang mendapat julukan Koan-goa-sin-pian. aku ingin berkunjung ke tempat ini untuk memberi hormat yang penghabisan. dengan Pan Loya meskipun bukan sahabat akrab. “Bolehkah aku tahu nama saudara yang mulia?” Laki-laki itu mengerutkan keningnya. terhadap jago2 di daerah selatan banyak yang tidak kenal. tetapi nama julukanku Sian-pian atau pecut sakti itu aku merasa malu menerimanya. dan mendengar kabar buruk ini. tetapi sudah lama aku menghargai pribadinya. “Namaku memang Touw Thian Gouw. maka hari ini kebetulan aku lewat di sini. maka lalu bertanys.

Semua orang yang ada di situ. Siang-koan Kie merasa senang dalam perjalanannya itu mendapat kawan yang sangat setia. maka ia juga merasa senang terhadapnya. perahu yang ditumpangi itu sudah merapat ke darat. saat itu mendadak semua diam dan mengawasi jago pecut dari daerah luar perbatasan itu. Touw Thian Gouw lalu berkata sambil tersenyum. suksesnya di kemudian hari lebih hebat. meskipun aku tidak dapat menebak muka orang. nama julukan yang tidak berarti ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. Wan Hauw meskipun tidak dapat menangkap maksud seluruhnya perkataan Touw Thian Gouw tetapi karena melihat sikapnya ramah tamah. kalau tadi masing-masing bercakapcakap. “Saudara masih muda belia. ketika tiba di tepi sungai. sebetulnya tidak berarti apa-apa. Selagi dua sahabat itu masih asyik bercakap-cakap.com/ Touw Thian Gouw berkata pula. meskipun di luar kelihatannya bodoh tetapi sebenarnya sangat cerdik.” Ia lalu bangkit berjalan keluar dengan diikuti oleh Siangkoan Kie dan Wan Hauw.. dalam barak itu sudah . tetapi aku berani memastikan bahwa saudara pastilah bukan seorang sembarangan. sementara tentang diriku sendiri……. rasanya belum cukup puas pembicaraan kita tetapi kita harus mendarat. Touw Thian Gouw sebaliknya masih bicara dan tertawatawa dengan sikap ramah sedikitpun tidak menunjukkan sikap congkak. kau lihat. agaknya tertarik oleh nama besar Touw Thian Gouw. “Dan tentang saudara ini sifatnya masih putih bersih dan jujur. “Aku dengan saudara meskipun baru saja berkenalan tetapi rasanya sudah seperti sahabat lama. Siang-koan Kie tercengang.” Ia lalu tersenyum kepada Wan Hauw kemudian berkata pula. Karena di sepanjang tepi sungai itu sudah dibangun barak yang sangat panjang.

demikianpun Wan Hauw. sudah tentu hanya mengikuti saja. mundar mandir di antara orang banyak. maka ia terpaksa mengikuti jejak Tauw Thian Gouw saja. Touw Thian Gouw saat itu sudah tidak tampak lagi senyumnya. “Orang mati meninggalkan nama. samar-samar terdengar suara tangisan. dua orang di antaranya membimbing seorang muda pendek gemuk. ia sebetulnya ingin setelah menyeberang sungai itu akan berlalu secara diam-diam. di dalamnya seperti ada peti mati. harimau mati meninggalkan kulit.com/ penuh manusia. Pan Loya ini meskipun orangnya sudah mati. sungguh tidak diduga begitu tiba di tepi sungai keadaan sudah demikian rupa. dibuat sebuah bangunan dari bambu yang sangat tinggi. tetapi ia terpaksa mengikuti Touw Thian Gouw naik ke darat. dari dalam bangunan tinggi besar itu nampak berjalan keluar lima orang. yang baru pertama kali masuk ke dunia sopan. Baru berjalan dua langkah. . di antara orang banyak itu kadang-kadang tampak laki-laki berpakaian berkabung.Tiraikasih Website http://kangzusi. ditilik dari sikap orang-orang itu semua menunjukkan perasaan duka.” Dalam hati Sang-koan Kie beberapa kali ingin bertanya siapakah sebetulnya Pan Loya itu? Tetapi ia terus bersabar mengendalikan perasaannya. meskipun jumlah orangnya banyak sekali tetapi tiada terdengar suara tertawa-tawa. Kira-kira sepuluh tombak dari sungai. setiap orang memakai pakaian panjang berwarna hitam. sehingga menimbulkan suasana sedih. tetapi sudah cukup merasa bangga. semuanya berpakaian berkabung bahkan tanda air matanya juga belum kering. Siang-koan Kie sejenak merasa bingung. dengan cepat berjalan menghampiri Touw Thian Gouw dan Siang-koan Kie kemudian berlutut di hadapan mereka sambil menangis dengan sedihnya. ia berkata kepada Siang-koan Kie dengan suara perlahan.

Setelah upacara penyambutan itu selesai. Yang lainnya masih ada kira-kira sepuluh lebih orang-orang yang semuanya berpakaian panjang. ia merasa terheran-heran. menyambut kedatangan tetamu secara demikian memang sudah biasa dalam keluarga yang sedang berkabung. “Harap To tayhiap ikut aku yang rendah ke barat ke tempat tetamu agung. Siang-koan Kie pada saat itu terpaksa menyesuaikan diri dengan keadaan itu. orang itu memelototkan matanya kepada dua orang yang pertama kemudian berpaling mengawasi Touw Thian Gouw. .com/ Siang-koan Kie tahu bahwa pemuda itu pasti anak laki-laki Pan Loya. seorang berpakaian hitam menyambutnya. sedang duduk diam sambil mengawasi cawan teh di hadapannya. ketika melihat orang berlutut di hadapannya. dengan sikap sangat menghormat mengayak mereka ke satu tempat di dalam barak itu. baru saja hendak menolak. anak laki-laki dari keluarga yang berkabung itu dibimbing berjalan ke lain tempat.Tiraikasih Website http://kangzusi. maafkan penyambutan kita yang kurang sempurna ini. di satu sudut yang agak jauh. orang tua ini sikapnya nampak sangat sombong. duduk seorang tua tinggi besar tetapi rambutnya sudah putih seluruhnya.” Siang-koan Kie terkejut. di situ terdapat dua imam berpakaian berwarna biru. tetapi dua orang berpakaian hitam itu sudah ayak mereka ke tempat dekat bangunan besar tinggi itu. Orang-orang di lain barak meskipun jumlahnya tidak sedikit tetapi dalam barak itu ternyata sedikit sekali orangnya. lalu menghormat dan ia berkata kepadanya. sahabat tayhiap ini juga boleh diayak sekalian. Touw Thian Gouw balas menghormat. dua orang berpakaian hitam segera menghampiri Tauw Thian Gouw bertiga. Kemudian datang lagi seorang dengan cepat menghampirinya. tetapi bagi Wan Hauw yang sama sekali tidak mengerti peraturan dunia. “Sungguh tidak terduga To tayhiap dari tempat demikian jauh juga sudah memerlukan datang ke mari.

com/ Di sampingnya duduk seorang wanita yang masih muda. satu di antara orang berbayu hitam itu tiba-tiba mendorong Wan Hauw. “Ke mana Wan Hauw?” Ia mencoba berpaling ke sana ke mari. karena tertarik oleh kelakuan orang-orang yang dalam matanya . dia buru-buru keluar menghampiri. Siang-koan Kie terperanjat.Tiraikasih Website http://kangzusi. dari sinar matanya menunjukkan perasaan marahnya. sedikitpun tidak membuat Wan Hauw kecil hati. ia memakai pakaian berwarna putih meskipun sudah tidak terlalu muda. pemuda yang di luarnya dipandang ia bagaikan monyet itu. agaknya sedang bertengkar dengan Wan Hauw. kiranya tadi ketika ia berjalan bersama-sama dengan Siang-koan Kie. Wan Hauw mengerutkan keningnya yang tebal. maka dorongan orang berbayu hitam itu. tetapi ia tidak tahu bahwa Wan Hauw mempunyai kekuatan luar biasa. Baru saja Siang-koan Kie hendak menjawab ketika berpaling ke belakang ia terkejut. di hadapannya berdiri beberapa orang laki-laki berpakaian hitam. Terdengar suara Touw Than Gouw yang berkata kepadanya dengan suara perlahan. tetapi masih nampak kecantikannya. dalam dirinya sebetulnya tersembunyi kepandaian ilmu silat yang tinggi sekali. maka lalu berkata. tetapi orang tua berambut putih itu apakah bukan jago tua dari daerah telaga ini yang bernama Lui Beng Wan dengan julukannya Burung Elang Berkepala Sembilan. Siang-koan Kie mengawasi keadaan di sekitarnya sehingga dapat menyaksikan sikap orang-orang itu meskipun ia tidak kenal. ditambah latihan ilmu silat selama beberapa tahun ini. “Yang lain aku tidak kenal. sanggulnya tinggi. tetapi ia tahu bahwa orang-orang itu semua pasti orang-orang ternama dalam rimba persilatan daerah selatan. ternyata Wan Hauw saat itu sedang berdiri bingung di luar barak.

dirinya sudah dikurung beberapa orang berpakaian hitam. Tak disangka selagi ia tertawa. “Jangan berkelahi. ia tidak tahu bahwa di tempat semacam itu dan saat seperti itu. semua itu mengejutkannya. tetapi ketika mendengar ucapan Siang-koan Kie ia terpaksa menarik kembali tangannya. ia tidak bisa berlaku pura-pura. Meskipun ia sudah dewasa. selagi hendak memukul orang itu. “Aku tertawa itu adalah urusanku sendiri.Tiraikasih Website http://kangzusi.” Sebagai orang jujur. Touw Thian Gouw pada saat itu juga sudah lari menghampiri. apa yang dianggapnya lucu. dianggapnya sangat ludu. apa yang dipikir dalam hatinya dinyatakan secara sejujurnya. setiap orang harus menunjukkan perasaan dan sikap kedukaan. Wan Hauw mendadak menjadi marah. demikianlah salah satu di antara orang itu lalu mendorongnya. apalagi jawabnya itu dianggapnya terlalu kurang ayar.” Wan Hauw meskipun dalam hati sedang murka. ia lalu tertawa. seorang laki-laki berbayu hitam menyamperi dan berkata padanya sambil tertawa dingin. maka tertawanya tadi sesungguhnya sudah merupakan satu pantangan besar. “Mengapa ia mendorongku?” . tetapi sifat kekanakkanakannya masih belum lenyap. Siang-koan Kie sudah lari menghampiri sambil berkata berulang-ulang. di samping ia juga ada seorang yang memakai pakaian berkabung yang datang ke tempat itu. maka sebentar2 berpaling mengawasi orang-orang yang pada berlutut itu. Ia tidak tahu bagaimana harus menjawab. “Mengapa saudara tertawa?” Wan Hauw tercengang. semuanya menegurnya dengan sikap galak. jawabnya. Wan Hauw lalu berkata sambil menuding kepada orang yang mendorongnya tadi. tidak perlu kau campur tangan.com/ sebagai suatu pemandangan yang masih asing baginya. jangan berkelahi. Sebentar saja.

” Touw Thian Gouw mengucapkan terima kasih kepadanya. sungguh tak disangka2 To tayhiap sudah memerlukan datang dari tempat yang demikian jauh untuk turut berduka cita. tetapi gerak kakinya masih gesit sekali. persahabatan ini patut kita hargakan. meskipun usianya sudah tua. segera ia membentak dan menyuruh beberapa orang berpakaian hitam itu berlalu. Orang tua itu berkata beberapa kata pula dengan Touw Thian Gouw. tetapi baru hari ini mendapat kesempatan bertemu muka. sambil menarik Wan Hauw ia masuk ke dalam barak kembali. harap To tayhiap memandang mukaku yang rendah. “Kim Siao Ho ini ruparupanya pandai bergaul. Dalam hati Siang-koan Kie berpikir. Wan Hauw tidak tahu bahwa kericuhan tadi sebetulnya memang kesalahannya sendiri. “Orang-orang itu tak tahu adat. terhadap diri Pan Loya ini ia semakin heran. mengapa ia turut berkabung atas kematian Pan Loya ini?” Karena berpikir demikian. kemudian ia berkata sambil memberi hormat. tetapi saat itu ia juga merasa kurang pantas untuk mencela. tetapi dalam hati masih merasa mendongkol. . “Aku yang rendah Kim Siao Ho. di hadapan Siang-koan Kie tidak berani menyatakan itu. sudah lama mendengar nama besar To tayhiap. orang she Kim itu kembali minta maaf kepada Siang-koan Kie dan Wan Hauw sesudah itu baru berlalu. ketika mendengar perkataan itu.com/ Orang yang memakai pakaian berkabung itu. harap tuan-tuan jangan berkecil hati!” Siang-koan Kie mengerti bahwa Wan Hauw pasti menimbulkan onar dengan tidak disengaja. sehingga mengganggu pikiran tayhiap. jangan menganggap urus orang-orang yang tak tahu adat tadi. juga banyak mengenal orang.Tiraikasih Website http://kangzusi. nampaknya seorang yang mempunyai kedudukan baik dalam rimba persilatan.

com/ -odwoBab 20 SEMENTARA itu mata Touw Thian Gouw terus berkisar dari diri Wan Hauw. wajahnya seperti seorang berpenyakitan. ia sudah dapat mengetahui kepandaian orang. Siang-koan Kie dalam hati diam-diam berpikir. ia mengalihkan pembicaraannya ke soal lain. lalu berkata. satu tubuhnya tinggi gemuk mukanya merah.” Touw Thian Gouw tersenyum. sesungguhnya sangat mengagumkan!” Wan Hauw hanya memandang jago She-Touw sambil tersenyum juga tidak tahu bagaimana harus mengucapkan terima kasih atas pujiannya itu tadi. mata mereka berputaran sejenak. „Saudaraku ini sejak masih anak2 sudah mempunyai pembawaan tenaga besar. Touw Thian Gouw berkata kepadanya sambil tertawa. kiranya ilmu kepandaian saudara. tidak membicarakan soal ilmu kepandaian lagi. aku sendiri tidak dapat dibandingkan dengannya. lalu berjalan menghampiri orang tua tinggi besar dan . ”Sahabatmu ini demikian keadaannya. hanya melihatnya sepintas lalu saja. kekuatan di luarnya memang cukup sempurna. satu lagi kurus kecil. “Touw Thian Gouw ini tajam sekali pandang matanya. kekuatan luar saudara bahkan sudah mencapai taraf yang tidak mempan dengan senjata tajam. “Sungguh tidak kusangka saudara yang usianya masih sedemikian muda. begitu masuk ke dalam barak. Tidak lama kemudian.” Siang-koan Kie berpikir sejenak. pasti lebih mengagumkan. tiba-tiba ia berkata dengan suara perlahan.Tiraikasih Website http://kangzusi. dari luar masuk lagi dua orang tetamu. bukan saja mempunyai kekuatan tenaga dalam dan luar yang sudah sempurna.

ia hanya bersenyum dan masih duduk di tempat. “Benar-benar tidak disangka. hanya dengan suara perlahan mereka berkata.Tiraikasih Website http://kangzusi.” Perempuan itu hanya tersenyum.” Si kurus dan si gemuk itu saling berpandangan sebentar.com/ perempuan muda seraya berkata. ia lantas duduk lagi di tempatnya. tetapi ketika mendengar ucapan perempuan itu. “Beng Wan kau tidak melihat di sini tempat apa? Mengapa kau bicara dengan suara demikian keras. gigipun sudah pada ompong. “Di luar perbatasan aku sudah mendengar bahwa di dalam rimba . “Toaso sudah lama tidak bertemu tetapi keadaan toaso masih tetap seperti sedia kala sedangkan kita berdua saudara sudah nampak semakin tua. lalu mengambil tempat duduk. si burung elang berkepala sembilan. tidak menjawab. aku si orang tua di sini akan bertemu dengan sepasang orang kuat Im dan Yang. Perempuan muda itu biji matanya berputaran. ia berkata dengan suara perlahan. mereka agaknya juga merasa takut terhadap perempuan muda itu. apa kau kira orang lain itu tuli?” Orang tua itu meskipun nampaknya sombong dan galak. “Sudah lama kita tidak berjumpa. entah siapa dua orang itu?” Lui Beng Wan segera berbangkit dan berkata sambil tertawa.” Kemudian ia mempersilahkan kedua tetamunya itu duduk. “Orang tua itu benar saja Lui Beng Wan. sehingga lupa daratan. ia berbisik-bisik di telinga Siang-koan Kie. bahkan masih berkata sambil tertawa. “Karena aku berjumpa dengan kawan lama. kemudian berkata dengan suara perlahan. tidak berani lagi bicara atau tertawa dengan suara keras.” Touw Thian Gouw tersenyum. sungguh tidak disangka saudara Lui nampaknya tambah muda. Touw Thian Gouw yang menyaksikan dari tempat agak jauh diam-diam merasa geli.

sudah dua puluh tahun lebih namanya sangat terkenal dalam rimba persilatan sebagai ahli dalam senjata rahasia beracun. ternyata bahwa apa yang kudengar itu bukan siaran kosong belaka. hal ini siaotee tidak tahu sama sekali. kabarnya juga dua orang aneh. bukan saja mahir sekali ilmunya meringankan tubuh orangnya juga cantik.” “Oh.Tiraikasih Website http://kangzusi. kabarnya isterinya ini. yang satu sebetulnya murid Siau-lim-sie dari golongan orang biasa. hari ini setelah aku menyaksikan sendiri. terhadap orang-orang ternama rimba persilatan. Touw Thian Gouw berkata pula. bukan saja namanya yang sangat terkenal di daerah Ouw-lam dan Opak. Lui Beng Wan itu adalah salah satu di antaranya. “Dua orang yang baru datang itu ternyata adalah Im Yang Siang-ciok. karena cinta perlahana2 timbul merasa takut. sudah tentu Siang-koan Kie mengetahuinya. “Siaotee cuma tahu orang tua she Lui itu. meskipun tidak sedikit yang diketahui tetapi terhadap urusan pribadi orang-orang itu sedikitpun tidak tahu. kiranya isterinya itu adalah orang dari keluarga Tong di propinsi Su-cuan.com/ persilatan daerah Tiong-goan ada beberapa orang gagah terkenal yang takut bini. dan kepandaiannya menggunakan senjata rahasia berbisa sudah mendapat warisan dari keluarga Tong. tentang kabar ceritanya bahwa ia takut isteri.” “Lui Beng Wan sangat terkenal sebagai orang gagah yang takut istri. bagaimana bisa mengetahui.” Siang-koan Kie yang sejak kecil sudah belajar ilmu silat. adalah pelayan tersayang nyonya Tong tua di Su-cuan. kedua orang itu. bahkan mempunyai kekayaan yang sangat besar. jikalau tidak aku yang berada jauh di luar perbatasan. kepandaiannya juga . maka ia hanya berkata.” Keluarga Tong dari propinsi Su-cuan. dalam usia lanjut Lui Beng Wan mendapatkan isteri sedemikian muda. sudah tentu akhirnya ia menjadi seorang yang takut kepada isterinya.

bahwa hari ini ada sedemikian banyak orang-orang terkemuka dalam rimba persilatan yang datang kemari. sebaliknya mengetahui demikian jelas.” Tiba-tiba ia diam. lihat sampaipun golongan Siao-lim-pay. juga ada yang datang.” “Saudara Touw lama berdiam di luar perbatasan tetapi terhadap urusan dalam rimba persilatan. saat itu orang tua Kim Siao Ho itu. sebetulnya baik di daerah Tiong Goan maupun di luar perbatasan. daerah Tiong Goan. tetapi yang satu lagi adalah sute dari pada ketua golongan ilmu silat pukulan tangan keluarga Gan di kota Cin-ciu. benar-benar sangat mengagumkan. “Hanya aku sesungguhnya tidak menyangka. kabarnya sudah mencapai ketarap demikian tinggi sehingga tidak mempan senjata tajam. Dua orang itu bukan saja kepandaiannya yang dilatih berlainan sifatnya.com/ dinamakan tong-cu-kang. satu sama lain selalu belajar bersama-sama belum pernah berpisahan. Apa yang mengherankan ialah kedua orang itu meskipun sifat dan wataknya berlainan tetapi selama beberapa puluh tahun ini. satu sama lain masih ada hubungannya. dua paderi itu sikapnya agung. mereka mengawasi keadaan di situ sejenak.Tiraikasih Website http://kangzusi. maka orang-orang rimba persilatan memberikan nama julukan mereka Im Yang Siangsiok. sambil merangkapkan dua tangan di atas dadanya.” “Dalam urusan rimba persilatan. Siang-koan Kie berpaling ke arah luar. ilmu kekuatan tenaga luar sudah tentu sudah sempurna. sedang yang lain mengutamakan ilmu kepandaian yang bersifat Yang. berjalan masuk dengan tindakkan pelahan. lalu berjalan ke tempat dua imam berjubah biru itu . tetapi juga watak mereka yang satu bersifat Im dan yang lain bersifat Yang. sedang mengantar dua orang paderi berjalan masuk ke dalam barak di mana berkumpul orang-orang ternama. ialah yang satu mengutamakan kekuatan tenaga yang bersifat Im. kemudian berkata pula dengan suara yang lebih perlahan.

kemudian berkata kepada mereka.” Dua imam itu juga bangkit dan berkata sambil merangkapkan kedua tangannya. tidak memikirkan waktu. hampir selalu mengganggu pikiran. “Terima kasih atas perhatian Siang-jien. aih!…….Tiraikasih Website http://kangzusi. kembali Touw Thian Gouw berbisik2 di telinga Siang-koan Kie.” Seorang lainnya berkata. hanya aku si orang tua. mungkin sudah ada sepuluh tahun lebih. lalu berkata dengan suara perlahan. tidak disangka keadaan Siang-jien masih tetap sedia kala. sedangkan dua imam itu. di antaranya orang yang mengetahui asal usul mereka.. “To-tiang dan Siang-jien sama-sama merupakan orang-orang beribadat tinggi. bukan saja tinggi sekali kepandaiannya. apakah selama ini baik-baik saja?” Siang-koan Kie dan Thian Goaw terkejut. tetapi sejak perpisahan di atas gunung Ngo-bie-san dahulu. kiranya selama ini ilmu Siang-jien pasti lebih banyak mendapat kemajuan. sungguh tidak disangka mereka ternyata adalah imam dari golongan Ceng-shia-pay yang sudah lama tidak mau tahu urusan dalam rimba persilatan. kalau didengar dari pembicaraan mereka.” Kim Siao He lalu menyambungnya samba menundukkan kepala. “Dua paderi itu adalah Tiat Bok Taysu dan Ki Bok Taysu dari gereja Siau-limsie. “Sahabat lama dari Ceng-shia. bahkan bisa menjaga diri sehingga kelihatannya awet muda. urusan di dalam dunia membuat aku sibuk tidak karuan. . “Dengan penghidupan di atas dunia. bagaimana bisa demikian bebas dan tenang seperti penghidupan di atas gunung yang sepi sunyi?” Pada saat itu hampir semua mata ditujukan pada imam dan paderi itu.com/ duduk. tentunya adalah dua jago pedang partai Ceng-shiapay yang dahulu pernah membasmi kawanan penjahat dengan sepasang pedang mereka. “Tadi ketika pertama kali aku melihat dua imam itu agaknya sangat asing.

. mengapa demikian besar pengaruhnya..com/ Siang-koan Kie saat itu perasaannya semakin heran. siapakah sebetulnya Pan Loya ini. mereka akhirnya hendak bertanding dan memilih tempat di bawah loteng rumah makan Oey-hoo-lauw. juga datang untuk turut berduka cita?” “Pan Loya ini adalah satu Piauw Tauw dari salah satu Piauw Kiok terkemuka daerah selatan. arwah Pan Loya di alam baka kalau mengetahui kunjungan dan kecintaan demikian besar. apakah dalam upacara ini. mungkin sudah beberapa malam kurang tidur. tetapi rasanya juga tidak sampai Ceng-shia-pay dan Siau-limsie mengirim utusannya datang untuk memberi hormat yang penghabisan! Karena itu diam-diam lalu berpikir. tetapi ada sedikit parau. karena sering melakukan perbuatan yang mulia. sehingga namanya perlahan-lahan makin terkenal. masih ada mengandung rahasia apa-apa? Karena selalu terganggu oleh pikirannya itu maka ia lalu bertanya kepada Touw Thian Gouw.” Baru berkata sampai di situ. tiba-tiba terdengar suara nyaring yang berkata. sampaipun orang-orang kuat kalangan Kangouw yang susah dijumpai. sebagai tempat pertandingan……. tetapi sewaktu ia memasuki usia setengah tua. dua puluh tahun berselang beberapa partai rimba persilatan daerah Tiong Goan telah timbul bentrokan dengan golongan Sam-seng dari golongan barat.Tiraikasih Website http://kangzusi. mula-mula hanya terbatas di antara orang-orang golongan nelayan di daerah sekitar sungai Tiang-kang.” Suara orang itu meskipun nyaring. “Atas kunjungan tuan-tuan yang terhormat kami atas nama kelurga Pan Loya lebih dulu mengucapkan banyak2 terima kasih. “Saudara Touw. pasti akan merasa sangat bersyukur……. Pan Loya ini sekalipun merupakan seorang gagah rimba persilatan. lalu berdiam di tempat ini. lalu melepaskan penghidupannya sebagai Piauw Tauw itu..

hendak mengucapkan terima kasih sendiri kepada tuan-tuan sekalian. pemuda itu minggir ke samping. berdiri di bagian masuk barak itu. kiranya selama beberapa hari ini hatinya terlalu duka sehingga terus menepas air mata. sekarang putra dan putri Pan Loya.com/ Orang itu berhenti sejenak. “Saudara Pan sebetulnya mendapat sakit apa. boanpwee yang sedang dalam kedukaan sehingga tidak dapat menyambut sebagai mana mestinya. kembali mengangkat tangan memberi hormat. menggandeng seorang muda berusia duapuluhan yang memakai pakaian berkabung. gadis itu selain memakai pakaian berkabung. tentang ini. Lui Beng Wan tiba-tiba bangkit data berkata. baru terdengar lagi suaranya. Di belakang pemuda itu. maka kami minta maaf sebear2nya atas kelalaian itu.” Sehabis berkata demikian. sehingga tidak tampak wajahnya. ada seorang perempuan berusia empat puluhan membimbing seorang gadis bertubuh langsing. “Dalam masa berkabung ini. sudah tentu penyambutan kita kurang sempurna. kemudian gadis berkabung itu bertindak maju untuk menyatakan terima kasih kepada para tetamunya. “Atas kematian ayah. Selesai mengucapkan perkataannya.” . Semua orang yang berada dalam barak berbangkit dan membungkukkan badan membalas hormat. semoga paman2 sekalian memaafkan sebesar-besarnya. to-tiang. paman sekalian untuk datang turut berduka cita.” Seorang laki-laki berusia empat puluhan.Tiraikasih Website http://kangzusi. Pemuda berkabung itu mengangkat tangannya memberi hormat kepada tetamu di sekitarnya sambil berkata. kedua mata pemuda itu nampak benggul. telah membikin repot para taysu. wajahnya juga tertutup selembar kain putih. bagaimana demikian cepat sudah meninggal.

” Kim Siao Ho sebelum orang pertengahan umur yang di samping pemuda berkabung itu membuka mulut. sebelum upacara penutupan peti mati dimulai. “Saudara Lui dengan Pan Loya bersahabat akrab maafkan Pan kongcu yang masih dalam keadaan berduka... pasti akan mempersilahkan Siansu sekalian menyaksikan jenazah Pan Loya. “Kematian ayah…….” jawab Kim Siao Ho. lebih dulu sudah menjawab sambil memberi hormat.Tiraikasih Website http://kangzusi.. “Jiewie Siansu jangan khawatir. “Bolehkah sekiranya Pinto sekalian juga ingin menyaksikan jenazah Pan Losicu?” “Sudah tentu.com/ Pemuda berkabung itu lalu menjawab. juga mengharap supaya dapat menyaksikan jenazah Pan Losicu. “Kenapa? Apakah saudara Pan mati dianiaya orang secara menggelap?” Pemuda berkabung itu berkata. “Pin-ceng yang datang atas perintah ketua kami. nanti siaote akan mempersilahkan tuan-tuan menyaksikan jenazah Pan Loya di gedung belakang. mungkin masih minta bantuan tuan……. adalah………” . paderi di sebelah kiri lalu berkata.” Lelaki yang ada di sampingnya itu segera menyambungnya. “Ayah almarhum karena…….” Dua imam berbaju biru itu juga bangkit mereka mengawasi Kiam Siao Ho sejenak lalu berkata. dua paderi dari Siau-lim-sie berbangkit. tetapi agaknya ia merasa bahwa dalam jawaban itu ada mengandung rahasia maka mendadak bungkam. sebentar pasti akan menyilahkan saudara Lui untuk menyaksikan sendiri keadaan jenazah Pan Loya. kalau saatnya sudah tiba.” Tiba-tiba terdengar suara memuji budha. tidak dapat menyampaikan kata-kata yang tepat untuk melukiskan sebab musabab kematian ayahnya.

“Kau lihat bocah yang macamnya bagaikan monyet itu juga diundang ke .. Sebaliknya dengan gadis berkabung yang berdiri di belakangnya. lalu duduk lagi di tempatnya masing-masing. “Silahkan tuan-tuan duduk dulu sebentar.” Im Yang Siang-ciok saling berpandangan sebentar. “Kematian ayah memang secara mendadak.” Setelah itu. Siang-koan Kie berkata kepada Touw Thian Gouw dengan suara perlahan. mungkin dapat memberi petunjuk. segera menyambungnya. ia berjalan lebih dahulu keluar dari dalam barak dengan diikuti oleh pemuda dan pemudi yang memakai pakaian yang berkabung itu. jikalau saatnya sudah tiba. untuk sementara susah dipastikan sebab musababnya. “Apakah saudara Touw tidak ingin melihat wajah jenazah Pan Loya?” “Tentang ini kita tidak perlu memaksa. terpaksa disimpan dalam hatinya sendiri. kita juga tidak perlu mencari urusan. Kim Siao Ho berkata pula sambil memberi hormat. Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara tajam.Tiraikasih Website http://kangzusi. maka ia tidak melanjutkannya. bagaimana berarti mencari urusan……. “Hanya untuk melihat jenazah seorang jago ternama saja. aku yang rendah hendak membawa mereka untuk mengucapkan terima kasih kepada para tetamu. apabila mereka tidak mengundang kita.com/ Pemuda itu agaknya tidak suka mengumumkan sebab2 daripada kematian ayahnya di hadapan banyak orang.” Siang-koan Kie diam-diam berpikir.” Tetapi hal itu ia tidak berani menanya. sebentar setelah tuan-tuan menyaksikan sendiri jenazah ayah almarhum. Setelah mereka berlalu.

com/ dalam barak tamu-tamu terhormat. ia angkat pundaknya. air mata mengalir ke luar dari ujung matanya. timbul perasaan ingin membela pemuda itu. Touw Thian Gouw dan Wan Hauw serta lain-lainnya. kemudian berkata. mengapa begitu aneh dan kebetulan sekali?” Touw Thian Gouw menampak Wan Hauw menundukkan kepala dan memejamkan mata. Wan Hauw agaknya juga mengerti bahwa ucapan orang itu mengejek dirinya. menatap wajah orang kurus kecil itu. kau dengar tidak. “Wan Hauw jangan bertindak sembarangan. Orang yang bertubuh tinggi besar dan berwajah merah itu berkata sambil tertawa. seolah-olah tidak menghiraukan pembicaraan dua orang itu. kemudian menundukkan kepala. dengan sinar mata tajam. kita sungguh tidak tahu dari mana asal usul bocah itu?” Dalam barak yang tidak terlalu luas itu perkataan orang itu sudah tentu dapat didengar oleh Siang-koan Kie. Siang-koan Kie khawatir Wan Hauw akan turun tangan benar-benar. sehingga semua mata ditujukan kepada Wan Hauw. tetapi dalam hatinya sesungguhnya merasa panas. maka segera memperingatinya. “Badan sendiri tumbuh bulu hijau. agaknya sudah ingin bertindak menghajarnya.” Wan Hauw berpaling mengawasi Siang-koan Kie sejenak. sebentar saja Wan Hauw sudah menjadi perhatian orang banyak. badannya gemetar. sampaipun dua paderi dari Siaulim-sie juga berpaling mengawasi Wan Hauw. . masih mengatakan orang lain yaokoay. bocah itu bukan saja bentuknya seperti monyet shenya juga she Wan. “Saudara.Tiraikasih Website http://kangzusi. maka lalu memperdengarkan suara tertawa dingin. Siang-koan Kie baru dapat melihat bahwa orang yang mengucapkan perkataan itu tadi adalah orang kecil kurus yang nampaknya seperti berpenyakitan dari Im Yang Siang-ciok.

“Kutujukan kepada siapa perkataanku itu tadi perlu apa kau mau tahu?” Im Yang Siang-ciok yang sudah terkenal dengan kebuasan dan keganasannya. kemudian tidak mau ambil perduli lagi. “Perkataanmu ini kau tujukan kepada siapa?” Touw Thian Gouw juga berdiri. alisnya lantas berdiri. dengan sinar mata dingin memandang Im Yang Siang-ciok sejenak. meskipun tidak merintangi Lui Beng Wan. dua paderi dari Siau-lim-pay itu ternyata masih duduk tenang. “Aku lihat kau tentunya sudah bosan hidup. tetapi setiap kali Lui Beng Wan tujukan matanya kepada Touw Thian Gouw. sebentar2 mengawasi dirinya. sehingga orang-orang golongan putih dan hitam di daerah selatan tidak suka berurusan dengannya. Sedangkan dua imam berbaju biru itu juga hanya mengawasi sebentar. jawabnya dengan suara hambar. Orang sebuas itu bagaimana mau mengerti oleh jawaban Touw Thian Gouw yang ada maksud hinaan itu? Maka ia segera menggebrak meja seraya berkata.com/ ambillah cermin kacakan diri sendiri ada berapa bagian yang mirip manusia?” Orang kurus kecil dari Im Yang Siang-ciok tiba-tiba berdiri dan berkata dengan suara gusar.Tiraikasih Website http://kangzusi.” Touw Thian Gouw mengawasi keadaan orang-orang sejenak. jelas bahwa ia tidak ingin suaminya itu terlibat dalam pertikaian itu. Hanya Lui Beng Wan yang agaknya sangat memperhatikan. Yang mengherankan adalah orang bertubuh tinggi besar itu. ia dengan orang kecil kurus itu disebut Im Yang Siang- . agaknya tidak menghiraukan terjadinya pertengkaran itu. Tetapi sikap perempuan muda itu sangat dingin sekali.

Siang-koan Kie yang menyaksikan Touw Thian Gouw karena hendak membela Wan Hauw. pikirnya. hanya Lui Beng Wan mungkin akan campur tangan. dibanding dengan kawannya yang bernama Pho Tong yang terkenal dengan kepalan tangan kerasnya. masih mengandalkan nama besar keluarga Gan.Tiraikasih Website http://kangzusi. Orang yang takut isteri itu. “Mungkin belum tentu. yang terkenal dengan seangannya ilmu tangan yang mengandung hawa dingin.” Sebagai orang yang mempunyai perhitungan cerdik. dua jago pedang dari Ceng-shia-pay nampaknya juga tidak ambil pusing. Im Yang Siangciok meskipun orang-orang yang terkenal buas.com/ ciok. tetapi Siangkoan Kie dan Wan Hauw sudah cukup untuk menghadapi yang satu dan yang lainnya aku yang menghadapi. tetapi isterinya itu agaknya tidak suka suaminya terlibat dalam urusan ini.. “Nampaknya Tiat Bak dan Ki Bok dua orang beribadat tinggi itu tidak suka mencampuri urusan ini. barangkali juga tidak berani berkeras. Touw Thian Gouw setelah menyaksikan sikap orang-orang di sekitarnya. ia dapat mempertimbangkan kekuatan sendiri dan kekuatan musuhnya setelah itu ia baru berkata pula sambil tertawa dingin. dalam hati sudah mempunyai keyakinan. yang satu sama lain selalu tidak berpisah tetapi saat itu ia duduk tenang saja dengan tidak bicara apa-apa. apabila isterinya tidak setuju. biasanya suka berlaku sewenang-wenang. orang ini kecuali sudah berhasil dalam latihannya serangan tangan yang mengandung hawa dingin tercampur dengan kekuatan keras. sekarang ini masih belum tahu di antara kita siapa yang bosan hidup?” Orang kecil kurus itu adalah Gan Kang. rasanya tidak sukar……. masih jauh lebih sombong ugal2an tentu ia segera meninggalkan tempat duduknya dan berjalan menghampiri Touw Thian Gouw dengan tindakan lebar. tidak segan2 bentrok . di kota Cin-ciu.

Siang-koan Kie tidak berkelit atau menyingkir. lebih dulu ia berdiri dan menyambut kedatangan Gan Kang.” Kiranya ia berkepandaian tangan. orang she Gan itu menyerang Siang-koan Kie. “Kau murid siapa. Serangan semacam itu tidak dapat dibandingkan dengan ilmu totokan jalan darah biasa. tetapi juga tidak menduga bahwa dalam usia yang masih muda sudah mahir tipu serangan memotong urat nadi semacam ilmu silat dari golongan tinggi. lekas jawab! Jangan sampai aku nanti kesalahan tangan terhadap orangnya kawan lama. Touw Thian Gouw meskipun sudah tahu bahwa pemuda itu adalah seorang yang berkepandaian tinggi yang mendapat didikan dari guru ternama. “Apakah kau ingin mencari mampus? Lekas minggir!” Dengan sikap tidak memandang mata kepada lawannya. hingga tidak berani gegabah turun berpikir lama. Gan Kang setelah mundur tidak berani bertindak lagi. ia menunggu sebentar. dengan cepat memotong urat nadi tangan Gan Kang dengan kedua jari tangannya. dia bukan kepalang terkejutnya buru-buru melompat mundur. Gan Kang lalu membentak sambil tertawa. selain . juga harus dibantu dengan kekuatan tenaga dalam sudah sempurna betul. Gan Kang agaknya tidak menduga bahwa baru turun tangan Siang-koan Kie sudah menggunakan gerak tipu serangan menotok urat nadi yang termasuk ilmu golongan tertinggi. barulah ia majukan pertanyaan mengetahui asal usul Siang-koan Kie. dalam hati merasa tidak enak. bukan saja harus mahir betul segala perobahan gerakannya. setelah di atas supaya sudah mengetahui bahwa pemuda itu tinggi.Tiraikasih Website http://kangzusi. ia membalikkan tangan kanannya.com/ dengan orang lain. kemudian bertanya dengan nada suara dingin.

tetapi ia masih ingat kedudukannya sendiri di kalangan Kang-ouw. baru menjawab.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ daripada itu juga ingin menyudahi pertikaian itu secara terhormat yang tidak memalukan dirinya. Gan Kang tiba-tiba berkata dengan nada suara dingin. membuat ia sudah tidak bisa mundur lagi. “Dua bocah yang tidak ada namanya. ia pura-pura berpikir sejenak. “Tentang asal usul diriku. maaf aku tidak dapat memberitahukan. „Ia bernama Wan Hauw dan aku Siang-koan Kie…….. Orang itu ternyata sangat licik. terpaksa sambil mengerahkan kekuatannya ia masih berlagak berlaku seperti orang tingkatan tua. tetapi yang sudah pasti dan kau juga tidak usah khawatir perguruanku sedikitpun tidak ada hubungan denganmu. tidaklah seharusnya di hadapan banyak orang melakukan penyerangan secara mendadak yang bersifat membokong itu. bertanya dengan nada suara dingin. „Siapa namamu?” Siang-koan Kie berpaling dan menunjuk kepada Wan Hauw.” Tanpa menunggu Siang-koan Kie melanjutkan keterangannya. . kemudian dengan satu gerak tipu yang luar biasa hebatnya balas menyerang. Siang-koan Kie dengan cepat melompat ke samping. tetapi jawaban Siang-koan Kie itu. ia ingin menyambar pergelangan tangan Siang-koan Kie dalam satu serangan yang tidak terduga2. sebab ia sudah tahu bahwa Siang-koan Kie merupakan lawan tangguh yang tidak mudah dilawannya.” Gan Kang sebetulnya ingin menyudahi urusan itu. maka begitu turun tangan disertai dengan ucapan di atas tadi.” Lalu mengulur tangan kirinya dengan cepat menyambar Siang-koan Kie. Siang-koan Kie tidak suka memberitahukan asal usul dirinya kepada orang lain.

hingga badannya terhuyung2 mundur lagi tiga langkah baru bisa berdiri.com/ Serangannya bukan saja hebat. dan bertanya dengan suara perlahan. Semua orang yang ada di dalam barak itu. hingga semua perhatian ditujukan kepadanya. matanya berputaran ke arah diri pemuda itu. Meskipun sudah cukup gesit ia menyingkir. Gan Kang terperanjat. Sebelum serangannya tiba. buru-buru melompat mundur sejauh lima langkah. tetapi toh masih tersambar oleh hembusan angin serangan Siang-koan Kie. “Eh!” Perempuan di sampingnya juga tertarik oleh gerak tipu Siang-koan Kie. Lui Beng Wan hampir lompat bangun. agaknya dikejutkan oleh gerak tipu serangan yang aneh dan kekuatan tenaga dalam Siang-koan Kie yang luar biasa. ia berjalan menghampiri Gan Kang. membuat Gan Kang tidak ada muka untuk mengundurkan diri lagi. juga tidak tahu bahwa Gan Kang mencari kesempatan untuk mengundurkan diri. hembusan angin kuat sudah menyambar hebat.Tiraikasih Website http://kangzusi. tetapi kemudian hanya dapat mengeluarkan perkataan. “Pada saat dan tempat seperti ini. Si kepalan tangan keras Pho Tong mendadak berdiri. lalu mengerutkan alisnya. dan padri dari Siau-lim-sie juga mengawasinya dengan sinar mata terheran-heran. tetapi juga luar biasa anehnya. Pho Tong tertawa dingin. jawabnya yang dingin tadi. Dua jago pedang dari Ceng-shia-pay saling berpandangan sejenak. “Apakah bocah ini hebat?” Siang-koan Kie yang tidak tahu peraturan dalam dunia Kang-ouw. bukan . ia berkata sambil mengawasi Siang-koan Kie.

. matanya berputaran mengawasi tiga orang itu. satu sama lain mengalah sedikit.. Sementara itu. sudah balik ke tempatnya sendiri.com/ waktunya untuk berkelahi. lekas balik ke tempatmu. kemudian memberi hormat kepada Siangkoan Kie seraya berkata.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Aku dengan mereka sebetulnya tidak mempunyai permusuhan apa-apa agaknya tidak mengadakan perjanjian untuk bertanding dengan mereka.” Orang she Kim itu agaknya ada urusan penting. sebaiknya kita mengadakan perjanjian untuk bertanding sepuas-puasnya di suatu tempat yang sunyi. “Saudara kecil. maka orang she Kim itu buru-buru datang ke barak itu.” Siang-koan Kie diam-diam berpikir. nampaknya sangat gelisah. kemudian balik kembali ke tempat duduknya sendiri.” Siang-koan Kie segera memberi hormat kepada Kim Siao Ho. setelah berkata demikian. Touw Thian Gouw lalu berkata sambil bersenyum.” Sesaat itu ia sulit akan mengambil keputusan. lebih dulu ia memberi hormat kepada Im Yang Siang-ciok. juga tidak tahu harus berkata apa kepada juru pemisah itu. tentu akan menodai nama baik Touw Toako……. Tetapi apabila aku tidak menerima baik tantangan ini. tetapi sudahlah. sebentar siaotee akan mengadakan sedikit perjamuan untuk mendamaikan Samwie. saudara Kim sudah turun tangan sendiri hendak menyelesaikan persoalan ini. Ia masih belum banyak pengalamannya dalam dunia Kangouw. “Samwie apabila ada urusan apa-apa harap memandang muka siaotee. sekalipun kita masih sedikit penasaran. maka ia berpaling mengawasi Touw Thian Gouw. kejadian tersebut sudah disampaikan kepada Kim Siao Ho.

Im Yang Siang-ciok yang nampaknya masih penasaran. benar-benar seorang luar biasa. Siang-koan Kie mendadak teringat pesan suhunya. juga tidak tahu bagaimana harus menyelesaikan soal itu. sebentar2 menujukan matanya ke arah Siangkoan Kie. saudara Touw terlalu memuji.” Setelah Kim Siao Ho berlalu. Kim Siao Ho setelah menyelesaikan persoalan itu.” “Mana. sebentar akan disediakan hidangan dan minuman alakadarnya. “Apabila kau menggunakan ilmu silat yang kuwariskan pasti akan menimbulkan banyak perhatian orang Kang-ouw dan mendatangkan bayak kerewelan. seranganmu itu tadi. masih memandang pemuda itu dengan sinar matanya. Kim Siao Ho kembali memberi hormat kepada Im Yang Siang-ciok seraya berkata.” . kembali memberi hormat kepada tetamu lainnya dan berkata dengan suara nyaring. kemudian balik kembali ke tempatnya masing-masing. harap tuantuan duduk dulu.Tiraikasih Website http://kangzusi. Dua jago pedang dari Cen-shia-pay dan Lui Beng Wan suami isteri. suasana dalam barak itu nampak sunyi. ia berkata dengan suara perlahan dengan tersenyum. sudah cukup membikin kuncup keberanian Im Yang Siang-ciok. mereka mengerutkan alisnya.com/ Im Yang Siang-ciok saling berpandangan sejenak. hatinya mendadak merasa tidak tenang. “Saudara kecil. “Siaotee masih ada sedikit urusan. “Harap jiwie suka memandang muka Siaotee!” Im Yang Siang-ciok membalas hormat. Perubahan itu agaknya dapat dilihat oleh Touw Thian Gouw.” Ingat akan pesan suhunya itu.

Kata-kata itu meskipun diucapkan dengan suara sangat perlahan tapi orang-orang yang berada dalam barak itu. asal usul masing-masing juga diketahuinya dengan baik. sebaiknya mengadakan perjanjian saja. karena melanggar peraturan. sebetulnya hanya merupakan suatu alasan untuk mengundurkan diri. takut diketahui asal usulnya……. “Di sini bukan tempatnya untuk mengumbar hawa amarah.” Gan Kang dan Pho Tong sudah lama berdiam bersamasama. itulah yang paling baik. maka Pho Tong tidak berani sembarangan turun tangan. Kejadian itu mesti sudah lewat duapuluh tahun tetapi terhadap kawanan paderi dari Siau-lim-sie masih merasa takut mungkin karena Tiat Bok dan Kie Bok berada di situ. “Kita hari ini kalau tidak mengadakan pertandingan dengan bocah itu. hampir semuanya mempunyai pendengaran sangat tajam. Pho Tong matanya mengawasi ke arah Tiat Bok Taysu sejenak. Mereka sudah mengerti. telah lari dari Siaulim-sie.Tiraikasih Website http://kangzusi. baru menjawab. saat ini juga tidak baik bentrok dengan mereka. ia berkata kepada Pho Tong dengan suara perlahan. meskipun tidak dengar jelas apa yang mereka bicarakan tetapi toh sudah dapat menangkap sebagian. jikalau saudara bisa menahan sabar. katakatanya untuk mengadakan pertandingan di lain tempat. Gan Kang semakin tidak enak. bahwa kepandaiannya sendiri tidak sanggup melawannya. .. nama baik Im Yang Siang-ciok mungkin akan ternoda.com/ “Im Yang Siang-ciok hanya garang di luarnya tetapi dalam hatinya merasa jeri. tetapi andaikata tidak bisa. dalam hati merasa sangat mendongkol. semuanya merupakan orang-orang kuat dalam dunia Kangouw. Gan Kang tahu bahwa kawannya itu dahulu adalah murid Siau-lim-sie.

ia segera menarik kembali dengan satu gerakan yang tidak kalah cepatnya. ia baru berhenti di hadapan Siangkoan Kie sejenak kira-kira tiga langkah. barulah melanjutkan tindakannya. Siang-koan Kie segera mencegahnya seraya berkata. maka ketika mendengar suara sambaran angin dan menyadari sedang diserang orang. kemudian berkata. tahu-tahu Wan Hauw sudah berada di hadapannya. jangan membuat onar. sebetulnya tidak memikirkan untuk mempertunjukkan kepandaiannya. pasti tidak terhindar dari serangan Wan Hauw. dan Gan Kang tidak keburu berkelit. . Cepat sekali ia sudah melesat tinggi dan dengan secara jumpalitan di tengah udara balik lagi ke tempat duduknya. tetapi ketika dilarang oleh Siang-koan Kie. Ia segera bangkit dan berjalan menghampiri ke tempat duduk Siang-koan Kie. ia sudah menunjukkan ilmunya meringankan tubuh yang luar biasa. ia bersangsi sejenak. dengan gerakan yang gesit luar biasa menyerbu Gan Kang.Tiraikasih Website http://kangzusi. dengan lima jari tangannya sudah mengancam kepalanya. Gerakan serangan Wan Hauw itu dilakukan sangat cepat sekali. “Saudara Wan. Ia adalah seorang berhati jujur. segera lompat bangun dari tempat duduknya. hingga perbuatannya itu mengejutkan semua orang yang ada di situ.com/ Karena itu maka mendongkolnya terhadap Pho Tong lalu lenyap seketika. Jikalau Siang-koan Kie tidak mencegah pada saat yang tepat. Gan Kang yang menyaksikan kepandaian Wan Hauw. Wan Hauw mengira orang she Gan itu hendak mencari ribut lagi. seketika timbul rasa jerinya. karena perhatiannya semula ditujukan kepada Siangkoan Kie.” Gan Kang agaknya tidak menduga bahwa pemuda yang bentuknya bagaikan monyet itu mempunyai gerakan demikian gesit. tetapi dengan tanpa disadari.

kita bertemu lagi di bawah loteng Oey Hoolow. Touw Thian Gouw menganggap bahwa persoalan itu harus Siang-koan Kie sendiri yang mengambil keputusan sedangkan Siang-koan Kie pikir harus ditetapkan oleh Touw Thian Gouw. waktu itu kita nanti akan mencari tempat lagi yang lebih baik untuk menyelesaikan urusan kita hari ini. .com/ “Pada saat dan tempat seperti sekarang ini tidak tepat untuk bertanding ilmu kepandaian. ia berdiam menunggu jawaban si anak muda. kita merasa banyak2 terima kasih. hingga naik pitam.Tiraikasih Website http://kangzusi. tidak perduli siapa yang sudi datang memberi penghormatan terakhir kepada ayah almarhum. “Kalian dengar atau tidak?” Siang-koan Kie mengerutkan alisnya. kita akan pandang sebagai sahabat. akan tetapi apabila pada saat dan tempat seperti ini menimbulkan urusan. tetapi perselisihan paham kita hari ini. Ia berdiri di tengah-tengah pintu. matanya terus menatap wajah Gan Kang. Kiranya antara Touw Thian Gouw dan Siang-koan Kie sudah timbul salah pengertian. sekalipun Gan Locianpwee berjumpa dengan orang yang pernah bermusuhan. di balik perasaan sedih. sehingga akhirnya dua orang itu tiada satu yang menjawab. tetapi sekian lama ia menunggu. setengah bulan kemudian. ternyata adalah pemuda yang memakai pakaian berkabung itu. bentaknya dengan suara keras.” Setelah berkata demikian. selagi hendak menjawab. tegas menunjukkan perasaan amarahnya. juga tidak akan habis sampai di sini saja. agaknya kurang patut. merasa sangat malu.” Siang-koan Kie memandang ke luar mengawasi orang yang bicara itu. juga harap supaya suka meninggalkan tempat ini. Gan Kang yang menunggu sekian lama tidak mendapat jawaban. “Gan Locianpwee telah memerlukan datang untuk turut berduka cita atas kematian ayah almarhum. dari luar tiba-tiba terdengar suara orang berkata. tidak terdengar jawaban Siang-koan Kie.

maka ia tidak berani mengawasi sang isteri itu. sesungguhnya juga tidak dapat menyalahkan Pan Kongcu berkata demikian. Isterinya yang muda itu mengerutkan keningnya agaknya merasa kurang senang terhadap sikap suaminya yang dinamis itu. ketika mendengar perkataan Lui Beng Wan. karena orang tidak suka kita. “Kedatangan kita ke mari sebetulnya karena menghargai kepribadian Pan Loenghiong. kemudian berkata. Lui Beng Wan tiba-tiba mengeluarkan suara batuk-batuk. amarahnya semakin memuncak. maka setelah mendengar ucapan pemuda itu. bagaimana dapat menerima rasa malu dan hinaan semacam itu? Hari itu beberapa kali ia telah mendapat malu besar.com/ Gan Kang yang biasanya berlaku sewenang-wenang dan malang melintang di dunia Kang-ouw. apabila jiewie merasa tersinggung dan meninggalkan tempat ini. agaknya tidak ingin berlalu begitu saja. Lui Beng Wan mungkin juga tahu bahwa tindakan itu tidak disetujui oleh isterinya. dikemudian . dengar dulu ada perkataanku. perlu apa kita berdiam lama-lama?” Jelas dalam perkataannya orang she Gan itu mengajak kawannya berlalu. “Jiewie tunggu sebentar. tetapi ia tidak melarang. dalam hatinya sudah seperti dibakar dengan bara. tidak mempunyai hubungan apa-apa. Pho Tong bangkit lambat-lambat ia berjalan dengan tindakan sangat lambat. sambil berpaling kepada Pho Tong ia berkata. tetapi ia juga tidak mau mengabaikan permintaan kawannya. bagaimana?” Im Yang Siang-ciok yang sudah berjalan ke pintu barak.Tiraikasih Website http://kangzusi. Pemuda pakaian berkabung itu tidak merintangi juga tidak berkata apa-apa lagi. “Jiewie pada waktu orang sedang berduka telah menimbulkan onar. sambil menatap wajah ImYang Siang-ciok ia berkata pula. lalu berhenti.

” Tiat Bok dan Kie Bok berbangkit lebih dulu setelah mengucapkan pujian kepada Budha lalu berjalan lambatlambat ke luar dari barak. mungkin kurang sopan mohon maaf sebesarbesarnya dari Cianpwee berdua. paman dan saudara2 yang terhormat. harap jiewie pikir dulu masak-masak jangan sampai menimbulkan buah tertawaan orang lain.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Kalau saudara Lui sampai campur tangan memberi nasehat. menurut pikiran siaotee. siapa yang ingin menyaksikannya untuk penghabisan kali. kemudian mengangkat tangan memberi hormat kepada Lui Beng Wan seraya berkata. baru pergi!” Gan Kang berpikir sejenak.” Pemuda berpakaian berkabung itu tiba-tiba menghormat kepada Im Yang Siang-ciok. mereka lalu membalas hormat dan balik kembali ke tempat masing-masing. Pemuda berpakaian berkabung itu. kembali memberi hormat sambil menyoja.com/ hari pasti akan menimbulkan banyak omongan sahabatsahabat rimba persilatan. “Bapak2. aku pikir kita sebaiknya sabar dan berdiam dulu di sini. nanti setelah upacara sembahyang selesai. silahkan ikut boanpwee ke gedung belakang. kita berdua saudara walaupun tersinggung juga akan bersabar.” Im Yang Siang-ciok meski orang-orang yang berpikiran cupat. . kemudian berkata.” Pho Tong juga menggunakan kesempatan itu lantas berkata kepada kawannya. “Dengan memandang muka saudara Lui dalam ucapanmu itu tadi. tetapi dalam keadaan demikian terpaksa menindas perasaannya sendiri. jenazah ayah segera akan dimasukkan ke dalam peti. “Perbuatan boanpwee tadi. kemudian berkata kepada para tetamunya.

Touw Thian Gouw segera mendapat firasat hawa gelagat semakin tidak baik. ke luar dari barak itu. sudah tentu setuju seratus persen.” Touw Thian Gouw tersenyum. sehingga ia mengerutkan keningnya. -ooodwooo- .Tiraikasih Website http://kangzusi. “Mari kita juga ikut lihat!” Siang-koan Kie yang masih belum lenyap pikiran kekanak2annya. Lui Beng Wan suami isteri juga segera bangkit mengikuti kedua paderi tua itu berjalan ke luar. ia berbangkit dan berkata. ia tidak dapat menarik lagi atau mencegah keinginan para tetamunya itu. dengan tenang ia berjalan liwat di sampingnya. dengan suara perlahan ia berkata kepada Siang-koan Kie. tetapi ia pura-pura tidak lihat. timbullah keheranan dalam hatinya. aku juga bersedia ikut. tetapi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Touw Thian Gouw meski dapat lihat sikap pemuda itu.com/ Dua jago dari Ceng-shia-pay. Siang-koan Kie dan Wan Hauw berjalan mengikuti di belakangnya. “Apabila saudara ingin pergi. Im Yang Siang-ciok setelah saling berbisik sebentar. Kini setelah mendengar perkataan Touw Thian Gouw. Pemuda berpakaian berkabung itu agaknya tidak menduga bahwa semua orang dalam barak itu hendak pergi menyaksikan seluruhnya. Mungkin karena sudah terlanjur omong. juga berdiri. maka meskipun ia merasa tidak senang. kadang-kadang suka menindas perasaan sendiri. ia berdiri dan berjalan di belakang Im Yang Siang-ciok.

mereka kasak kusuk membicarakan orang2 dari golongan orang kuat itu…. Sehabis menarik napas tadi. “Apakah saudara ini juga ingin melihat jenazah ayah?” Wan Hauw tidak mengerti pertanyaan pemuda Itu mengandung maksud baik atau jahat ia tersenyum dan menjawabnya. ia membiarkan Wan Hauw berjalan terus. pintu . Pemuda berpakaian berkabung itu menarik napas panjang. tiba2 menarik tangannya seraya berkata dengan suara perlahan. pekarangan disebuah gedung besar. Pemuda berpakaian berkabung itu mengetok tersebut. atau karena melihat bentuk Wan Hauw yang agak mirip dengan monyet. tiba2 ia mempercepat gerakan.” Setelah mengitari beberapa barak. tibalah dihapan Pintu yang di cat warna hitam pada gedung besar itu. orang2 yang berada dalam barak itu semua memandangnya dengan perasaan mengiri. “Ia. tidak lama kemudian pintu itu terbuka. Sewaktu rombongan orang2 itu melalui beberapa barak. tetapi tertutup rapat.Tiraikasih Website http://kangzusi. kekusutan dalam pikirannya agaknya sudah lenyap. mendahului Tiat Bok tay yang hendak menunjukkan jalan. pemuda berpakaian berkabung itu entah karena sudah tidak dapat mengendalikan perasaan tidak senangnya.com/ Jilid 6 Bab 21 Wan Hauw berjalan paling belakang.” Setelah itu ia terus berjalan dengan tindakan lebar. sudah penuh karangan bunga. ketika Wan Hauw berjalan disampingnya. aku selalu berjalan mengikuti toako.

agaknya tidak sewajarnya. karena dalam ke adaan berkabung masih dilakukan penjagaan demikian keras. Siang-koan Kie yang menyaksikan keadaan demikian dalam hati merasa heran. dan orang2 harus jalan diatasnya. ditengah2nya dilapisi kain putih. dibalik baju mereka tampak senjata tajam. Tiat Bok taysu yang masuk lebih dulu. berdiri dikedua sisi pintu sambil meluruskan kedua tangannya laki2 itu setiap orang kepalanya diikat dengan kain putih. apakah itu memang sudah menjadi kebiasaan atau adat istiadat tempat ini. “tanah diatas kain putih. Siang-koan Kie kawatir Wan Hauw ketinggalan diluar pintu. empat laki2 yang menjaga dikedua sisi pintu dengan cepat segera menutup pintunya. Sebuah ruangan pekarangan yang luas. Wan Hauw baru saja melangkah pintu.com/ Empat laki2 tegap. maka ia berpaling kebelakang. . lalu diikuti oleh yang lain-lainnya. berjalan paling depan sebagai petunjuk jalan. Orang2 yang mengikuti. pikirnja. ia berjalan sangat lambat melalui atasnya kain putih itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. Meskipun dalam hati tidak mengerti. tetapi keadaan didalam gedung itu sunyi senyap. Sepintas lalu saja. pemuda berpakaian berkabung itu. entah apakah maksudnya. Kembali la merasa bahwa kematian Pan Loya ini. Walaupun keadaan didalam barak riuh suara orang bercakap2. terpaksa juga berjalan diatas kain putih itu. ia sudah dapat melihat bahwa empat laki2 yang menjaga pintu itu. karena jumlah tetamu yang keliwat banyak. tetapi ia toh terpaksa mengikuti orang2 itu berjalan di Kain putih itu terus menutupi tanah sepanjang jalan sehingga kedepan pintu gedung.

Tiat Bok-tayau berjalan lebih dulu diikuti oleh Ki Bok-taysu. tetapi tidak nampak bayangan seorangpun. Pemuda berkabung itu naik diatas tangga batu didepan pintu gedung.Tiraikasih Website http://kangzusi. tidak berapa lama pintu itu terbuka tetapi hanya dapat dilalui oleh seorang saja. Pemuda berkabung itu mulai ngetok pintu. kemudian berpaling dan berkata kepada Tiat Bok dan Ki Bok Tay su sekalian. ada beberapa ekor anjing galak yang menjaga pintu. diatas jalanan batu itu juga dialasi oleh kain putih. “Siao sicu silahkan. sebuah kepala menongol keluar. “Didalam pintu kedua ini. Dibelakang pintu itu kembali merupakan satu pekarangan luas.” Berkata Tian Bok Taysu sambil merangkapkan kedua tangannya. supaya boanpwe memberitahukan kepada beberapa pelayan untuk mengurung anjing2 itu lebih dulu. dua jago pedang dari Ceng Shia pay. Siang-koan Kie dan lain2nya. Siang koan Kie diam2 merasa heran penjagaan yang demikian hebat itu. Touw thian Gouw. kecuali beberapa tanaman pohon besar dan pohon bunga tidak terdapat tanaman lain. disitu terdapat banyak tanaman bunga nampaknya seperti sebuah taman jalanan di tengah2 taman itu terbuat dari batu bata merah. Kamar2 yang terdapat dikedua sampingnitu jendelanya terbuka lebar. Tidak lama kemudin pintu itu terbuka lebar pemuda berpakaian berkabung itu berdiri diambang pintu untuk memberi hormat mempersilakan tamu-tamunya masuk. Sementara itu pemuda berkabung itu sudah memasuki pintu tersebut. nanti akan mempersilakan tuan2 masuk lagi. sehabis melalui jalanan itu. Im yang Siangciok. disitu terdapat . setelah melongok keluar sebentar orang itu menghilang pula dibalik pintu. Lui Beng Wan.com/ Ditengah pekarangan depan gedung yang luas itu. harap tuan2 berhenti sebentar disini.

Pemuda berpakaian berkabung itu berhenti kemudian berkata sambil memberi hormat: ” Jenasah ayah almarhum akan dimasukkan didalam peti diruangan ini. mulutnya membacakan doa dengan suara sangat perlahan. diam2 berdiri dibelakang orang banyak. Disitu ditengah ruangan terdapat empat batang lilin putih yang masih menyala serta karangan bunga putih.Tiat Bok-taysu berpaling mengawasi pemuda perpakain berkabung.com/ sebuah ruangan luas. kemudian berkata. dibelakangnya nampak tirai yang terbuat dari kain sutra warna putih. . Tiat Boktaysu bersama rombongan orang berjalan masuk kedalam ruangan besar. Ki Bok taysu merangkapkan kedua tangannya benar saja ia lalu berdiri di depan tirai untuk menunggu gilirian. Pada saat itu.” Setelah itu ia menepi untuk para tamunya masuk.” Siang-koan Kie yang mendengar itu merasa heran. “Bolehkah lolap masuk kebelakang tirai ini untuk melihat jenasah Pan Losicu?” “Taysu silahkan”berkata pemuda itu. Tiat Bok-taysu lalu melangkah maju.Tiat Bok-taysu menghadap tirai kain sutra putih itu berdiri sambil merangkap kedua tangannya. silahkan lotcianpwe sekalian masuk. Siang-koan Kie dan yang lain2nya yang berdiri disampingnya juga tidak mendengar apa yang diucapkan. “ Depan peti jenasah di belakang tirai ini. setelah membuka tirai putih itu dengan tindakan perlahan ia perjalan masuk. pemuda berpakaian berkabung itu juga sudah turut masuk. setelah memuji nama Budha. pemuda berkabung itu tiba2 berkata. Selagi Ki Bok-taysu hendak mengikuti. sebaiknya taysu menunggu setelah siansu nanti keluar baru masuk lagi. diam2 berpikir untuk melihat jenasah Pan Loya saja apakah harus melihat satu persatu. tempatnya sempit.Tiraikasih Website http://kangzusi.

ia sudah merobos masuk kebelakang tirai itu. tetapi masih tetap tidak tampak Tiat Bok-taysu muncul. Rombongan orang2 itu semua mulai tidak sa bar. sehingga Ki Bok-taysu sendiri yang mempunyai kesabaran luar biasa juga mulai tidak tenang. Beberapa lama ia menunggu. ia menarik napas panjang.Tiraikasih Website http://kangzusi. maka setelah memuji nama Budha ia lalu berkata. tetapi kemudian tiba2 membatalkan maksud ini. Pada saat itu dua jago pedang dari Tjeng-shia pay segera memberi hormat kepada pemuda berkabung itu seraya berkata:. matanya yang dipejamkan tiba2 terbuka lebar dengan sinar mata yang tajam ia mengawasi pemuda berpakaian berkabung. “Sicu. . sebetulnya hendak mencegah. Kata katanya itu nampaknya diucapkan dengan hati sejurjurnya. agaknya dibelakang tirai putih itu banyak hal dan kejadian yang telah dilihatnya. Ki Bok-taysu terpaksa berlaku sabar.com/ Tiat Bok-taysu yang masuk kebelakang tirai lama tidak keluar. Pemuda berpakaian berkabung itu. kembali menunggu diluar.” Dengan tanpa menunggu jawaban pemuda berpakaian berkabung itu. “Benarkah jenazah Pan lositju berada dibela kang tirai ini?” “Bagaimana boanpwe berani membohongi cianpwe sekalian?” menjawab pemuda itu sambil menganggukkan kepala. mau tidak mau orang harus percaya. maafkan lolap terpaksa akan masuk kebelakang tirai ini. lalu bertanya dengan nada suara dingin. Ki Bok taysu agaknya sudah tidak sabar lagi.

Touw Thian Gouw.’ Ucapan kedua imam itu meskipun sangat rendah. “Sutit sudah membiarkan orang lain masuk.Pemuda dan Wan-hauW berpakaian berkabung mengikuti itu coba . “Harap paman Lui tunggu sebentar nanti setelah mereka keluar …. dengan tanpa menunggu jawaban dari pemuda itu. kemudian berkata kepada Siang-koan Kie dengan suara perlahan: Kalau semua boleh masuk. yang berdiri didepan tirai tinggal Im-yang Siang ciok. mereka sudah masuk kebelakang tirai putih itu. Pemuda berpakaian berkabung itu berkata dengan suara perlahan. “Aku dan ayahmu sudah beberapa puluh tahun bersahabat erat. Siang-koan Kie dibelakangnya. Touw Thian Goaw melawasi Im yang Siang sejenak.” Lui Beng Wan mendelikan matanya dan berkata. apakah tidak lebih berharga daripada orang lain?” Pemuda berpakaian berkabung itu terpaksa mundur satu tindak untuk memberi jalan Lui Beng dan suami istri. Pada saat itu. mengapa kita harus berdiri disini?” Sambil mendongakkan kepala orang she Touw Itu berjalan disamping Im-yang Siang-tjiok terus masuk kebelakang tirai.com/ “Kalau sicu sudah boleh memberi kelonggaran Pin-to juga ingin minta kelonggaran dari sicu. Si burung elang berkepala sembilan ketika menyaksikan dua imam itu sudah masuk lalu berkata kepada pemuda itu. Siang-koan Kie dan Wan-hauw berlima.Tiraikasih Website http://kangzusi. ia lalu masuk dengan tindakan kaki lebar. tetapi sikapnya menunjukkan hendak masuk dengan kekerasan. rasanya toh tidak pantas membiarkan pamanmu ini menunggu diluar bukan?” Setelah berkala demikian.

Jalan masuk kira2 lima enam tombak. Touw Thian Gouw berpaling mengawasi Siang koan Kie sejenak. “jalan yang kita lalui ini. mungkin menuju kebawah tanah …. Dibelakang tirai kain berwarna putih itu.com/ mencegahnya sebentar?” sambil berkata. Sementara itu pemuda berpakaian berkabung itu juga sudah berjalan per-lahan2 dibelakang Wan Hauw. kiranya dibelakang tirai ini. harus diselesaikan. kita hanya karena kagum dan mendjungjung tinggi kepribadiannya barulah datang kemari.Tiraikasih Website http://kangzusi. ia mundur kesamping untuk memberi jalan pada Touw Thian Gouw bertiga. “Bolehkah tuan2 tunggu “Kita sudah tidak sabar menunggu. lalu berkata dengan suara pelahan. harap kongcu dapat memaafkan perbuatan kita ini!” Pemuda berpakaian berkabung itu tiba2 menunjukkan sikap gusar. adalah sebuah jalanan yang entah menuju kemana. jalanan itu membelok kesamping. hanya merupakan sebuah jalanan sempit yang hanya dapat dilalui oleh dua orang dengan jalan berendeng. tetapi akhirnya ia mengendalikan hawa amarahnya. jikalau mereka bermaksud jahat menutup jalan masuk tadi. maksud kita hanya ingin menyaksikan Wajahnya untuk penghabisan kali. jalanan itu terus menuju kebelakang. bukankah kita akan terkurung disini?’ .” “Hem. Siang-koan Kie diam2 berpikir: pantas dua taysu dari kuil Siao-liem sie itu sudah masuk sekian lama belum nampak keluar. ternyata bukanlah tempat untuk menaruh peti mati. ayahmu adalah seorang jago kenamaan. karena kita masih ada urusan penting yang.

ini suatu bukti bahwa jalanan ini pasti sudah selesai dibuat sebelum Pan Loya meninggal dunia.” “Benar. keadaan tiba2 berobah didalam satu ruangan yang hias. Disuatu sudut dalam ruangan kamar itu. untuk sementara ini. sekalipun orang berkepandaian tinggi. sudah tentu tidak dapat dilakukan dalam waktu sangat singkat. “ya! Apakah jenazah Pan Loya takut dicuri orang?” Sementara itu mereka bartiga sudah harus menikung kesuatu belokan lagi dari situ samar2 terdengar suara orang bercakap cakap.” “Hal apa?” “jalanan ini yang dimulai dari ruangan tengah.com/ “Bukan cuma terkurung saja. Lui Beng Wan dan lain-lainnya. entah apa maksudnya?” Siang koan Kie yang mendengar pernyataan kawannya itu nampak berpikir.ada sUatu hal yang tidak dapat dimengerti. masuk keruangan tersebut.Tiraikasih Website http://kangzusi. sehingga susah diduga orang. bahkan apabila dimasuki air atau dibakar. juga tidak bisa hidup…. Lui Beng Wan suami istri dan seorang gadis berpakaian berkabung. Touw Thian Gouw bertiga mempercepat tindakan kakinya. sesungguhnya Sangat membingungkan. Ki Bok taysu.” “Setelah ia meninggal jenazahnya masih perlu disimpan ditempat yang sangat rahasia seperti ini. pekerjaan yang begini hebat. kemudian berkata. Setelah melalui tikungan itu. disitu berdiri Tiat Bok taysu. duduk seorang tua berjenggot panjang sedang bicara dengan Tiat Bok taysu. . pembuatannya demikian sempurna.

” “Oh. kemudian menganggukan kepala memberi hormat. nama besar itu sudah lama Siaote dengar.” “Kalian datang dari tempat jauh. dan dibelakang boanpwee ini adalah adik angkat boanpwee. kali ini aku pura-pura meninggal sebetulnya mengharap agar sahabat sahabat lama dikalangan Kang-ouw.” Pan Tjiong Tong menghela napas panjang kemudian berkata. setelah upacara penguburan . aku siorang tua mengucap banyak2 terima kasih.” “Siaote Touw Thian Gouw. “Siaote dan Tjiong Tong. dapat melibat wajah agung locianpwe sesungguhnya merupakan suatu kehormatan yang paling besar. terhadap segala permusuhan dalam dunia pandanganku juga sudah tawar. dan saundara…. Sebagian besar hidupku didalam dunia Kung-ouw. Touw Thian Gouw berpikir sejenak lalu berkata sambil memberi hormat. boanpwee baru menginjak dunia Kang ouw.” Siang-koan Kie dengan cepat memberi hormat seraya berkata. “Aku si tua bangka sudah mendapat luka parah. “Boanpwe Siang-koan Kie. “Mana.” Orang tua itu menjawab sambil membongkokkan badan.Tiraikasih Website http://kangzusi. sungguh tidak diduga sipecut sakti dari daerah luar perbatasan. Wan HaUW.” Kemudian ia mengawasi Siang-koan Kie dan berkata kepadanya. Siang koan Kie dan Wan Hauw.com/ Mata orang tua itu perlahan2 berkisar kearah Touw Thian Gouw. hanya tinggal menunggu waktunya saja untuk menghadap Tuhan yang Maha Esh. ternyata juga datang kedaerah Tiong Goan…. perlahan2 melupakan diriku. “Saudara kecil ini…. “Loeng-hiong adalab Pan-tayhiap?…. rasanya sudah bosan penghidupan diujung senjata itu.” Siang-koan Kie mengawasi Touw Thian Gouw tetapi mulutnya berkata kepada orang tua itu.

“Loako sudah berapa tahun kita tidak bertemu?” Pan Tjiong Tong memperdengarkan suara batuk batuk yang amat perlahan. tetapi karena aku tidak ingin mengecewakan saudara2 maka aku perintahkan anakku ajak saudara2 sekalian datang kekamar ini untuk mengadakan pertemuan. satelah bediam sejenak ia baru berkata lagi. “Sungguh tidak disangka saudara2 dan sahabat sahabat lama masih demikian besar cintanya terhadap diriku si orang tua. lalu berkata pula. anak2 ku tadi telah datang untuk melaporkan dan minta pikiranku.” Ia berdiam sejenak.Tiraikasih Website http://kangzusi. disini terlebih dahulu aku ucapkan banyak-banyak terima kasih. kali ini sesungguhnya menyulitan aku.” Lui Beng Wan tertawa sambil mengurut jenggotnya. aih! Manusia kalau sudah berusia begitu lanjut. paling banyak menghadapi perobahan segala kejadian. sehingga memerlukan hendak melibat jenasahku. sehingga manusia juga lekas tua. kita berdua tua .com/ selesai. kini sudah tidak ada bekasnya…. ia agaknya ingin bicara apa2 tetapi kemudian dibatalkan.’” Perkataan orang tua itu pada umumnya sangat mengherankan dan menimbulkan perasaan curiga bagi semua orang yang berada disitu. lalu bertanya. “Waktu berlalu sangat pesat. dimana aku hendak menantikan ajalku…. lalu menjawabnya. siaotee bukanlah nampak lebih gemuk sedikit? Hanya usia yang sudah lebih tua sehingga ambisi dimasa muda. aku akan mencari tempat gunung yang sepi untuk mengasingkan diri. “Kita berdua mungkin sudah delapan atau sembilan tahun tidak bertemu muka. satu2nya pengharapanku. ialah kuharap dengan sangat agar supaya soal pertemuan ini jangan sampai tersiar keluar. Terutama Lui Bang Wan dengan sinar matanya yang tajam menatap wajah Pan Tjiong Tong tampak berkedip.

” persahabatannya juga dirasakan semakin Tiat Bok taysu tiba2 berkata sambil merangkapkan kedua tangannya. “jiwie Losiansu apabila tidak memandang rendah kediaman kita ini. orang she . . “Hong Kow…. lolap datang kemari hendak turut mengantar jenazah Pan lositju itu. selagi hendak menjawab tiba2 terdengar suara gadis berkabung itu:. jiwie-taysu adalah orang2 yang beribadat tinggi.Ucapan Hong-jie memang benar. diam2 merasa heran.com/ bangka ini renggang. entah bagaimana pikiran losiansu?”‘ Tiat bok-taysu dan Ki Bok-taysu saling berpandangan sebentar. katakan saja bahwa aku si orang she Pan menyatakan banyak terima kasih atas budi kebaikannya “ Ucapan itu meski sangat rendah tetapi mengandung maksud mengusir tetamunya. selagi hendak membuka mulut. harap beristirahat dulu disini tiga hari. dalam waktu tiga hari lagi ketua kuil Siao-lim-sie segera tiba siapa tahu lositju hanya pura pura saja. harap jiwie mengabarkan kepada ketua jiwie. hal ini sesungguhnya sangat menyulitkan lolap” Pemuda berpakaian berkabung tiba2 menyela. Siang-koan Kie yang Sejak tadi mendengarkan pembicaraan itu dengan penuh perhatian. segera dilihatnya Kim Siao Ho yang tadi menjemput dirinya telah masuk tergesa2. Aku pikir tidak usah. bagaimana berdiam dirumah kita?” Pan Tjiong Tong lantas berkata. kemudian berkata pula...: Tiba2 ia merperdengarkan suara batuk2.Tiraikasih Website http://kangzusi. Dengan cepat ia berpaling. nanti setelah ketua lotjiansu datang kemari dan sesudah berjumpa dengan ayah baru pulang. di belakang dirinya tiba2 terdengar suara tindakkan kaki orang.. “Atas perintah ketua kuil.

Ki Bok-taysu dan lain lainnya seraya berkata.. Gadis itu kembali memberi hormat kepada orang2 dalam kamar seraya berkata. bolehlah segera dimulai!” Kim Siao Ho lalu memberi hormat kepada Tiat Bok-taysu. “Semua sudah siap.” Pan Tjiong Tong lalu berkata.Tiraikasih Website http://kangzusi. Tetapi dengan cepat ia pulih kembali seperti biasa. kepada orang tua yang duduk itu. agaknya tidak tahu ia harus bertanya kepada siapa.com/ Kim itu ketika melihat dalam kamar terdapat demikian banyak orang nampaknya terkejut dan terheran heran. “Para locianpwee dan paman2 sekalian . apabila mereka tidak menghadiri upacara sembahyang. baru berkata. kemudian berkata. Biar ayah saja yang memutuskan. “Hari ini ayah sudah bicara terlalu banyak. sudah seharusnya beristirahat dulu…. kemudian berkata. “Harap adiK berikan putusannya…. “Apakah tuan tuan hendak turut menghadiri upacara sembahyang? “ Gadis berpakaian berkabung itu segera menyambungnya. bukankah akan menimbulkan kecurigaan banyak orang?…” Gadis itu nampak berpikir sejenak. Pemuda berpakaian berkabung itu mengawasi gadis berpakaian berkabung itu sejenak. sambil memberi hormat ia berkata.” Gadis itu berpaling kepada ayahnya. upacara sembahyang apakah sudah boleh dimulai!” Matanya terus menatap kepada gadis dan pemuda berpakaian berkabung itu dengan bergiliran. “Sudah tentu harus ikut hadir. mari kita jalan dulu!” Pemuda itu segera memutar badannya dan berlalu dari situ. “Kau semua sudah siap.” Kemudian berpaling berpakaian berkabung dan berkata kepada pemuda “Koko.

Gadis itu sambil mengerutkan alisnya menjawab.com/ dalam upacara sembahyang itu. pasti akan menimbulkan banyak kecurigaan. ia membalikkan badan dan berjalan lebih dahulu’ Lui Beng Wan melambaikan tangan dan berkata kepada Pan Tjiong Tong. sudah seharusnya aku menerima baik permintaan tuan2.” Kedua jago pedang itu tidak bicara lagi. apakah kau tidak keberatan?” Dua jago pedang itu agaknya sudah dapat bahwa gadis itulah sesungguhnya yang memegang peranan penting mengurus semua urusan dalam gedung ini. mereka angkat tangan memberi hormat. masih ada sedikit urusan kita ingin omong2 dengan ayahmu. lalu mengawasinya sebentar. Lui Beng Wan mengawasi istrinya sejenak lalu berkata.” Sang istri itu menurut.” Pada saat itu Pan Tjiong Tong sebetulnya sudah memejamkan matanya. terpaksa minta locianpwee dan paman2 sekalian turut menghadiri upacara sembahyang itu. “Loako. nanti malam kita berjumpa lagi. ketika mendengar ucapan anaknya.” Tiat Bok-taysu dan Ki Bok-taysu tidak menyatakan apa2. Dua jago pedang partay Tjeng shia-pay saling berpandangan sebentar lalu berkata. “Tuan2 datang dari tempat dauh.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Kita juga pergi. maka ia langsung menanyakan kepadanya. lalu mengundurkan diri dan berjalan keluar mengikuti dua paderi dari Siao liam sie tadi.” Setelah itu lalu berjalan dibelakang istrinya. “Urusan ini harus bertanya kepada ayab sendiri. segera berjalan keluar. . lalu berkata. apabila locianpwee dan paman2 sekalian tidak turut hadir. “Setelah upacara sembahyang selesai.

kedukaan setiap orang nampaknya seperti tidak dibuat2nya. Orang2 itu baru tiba diruangan yang luas itu. Kim Siao Ho memberi hormat kepada orang2 itu seraya berkata.com/ Touw Thian Gouw menarik tangan Siang-koan Kie seraya berkata dengan suara perlahan. harap melakukan upacara sembahyang…. segera melihat sebuah peti besar yang diatasnya sudah penuh karangan bunga. orang2 ini bisa berlaku sedemikian sungguh sungguh. sesungguhnya tidaklah mudah…. Ketika beberapa orang itu tiba didalam ruangan yang luas itu. upacara sembahyang sudah dimulai. berdiri disebelah kanan peti. “Upacara sembahyang dimulai…. yang menggantikan dirinya pura pura mati. apa yang mengherankan ialah gadis yang berpakaian berkabung itu.Tiraikasih Website http://kangzusi.” Ucapannya itu nampaknya sangat sedih dan hikmat.” Im-yang Siang-tjiok juga berjalan dibelakang Wan-Hauw keluar dari ruangan itu. pasti adalah Pan Loya sendiri. Touw Thian Gouw mengerutkan alisnya. “Tuan-tuan. terletak ditengah tengah ruangan itu. “Mari kita juga pergi. “Orang tua dalam kamar rahasia itu. ternyata sudah tidak lebih dulu dengan kepala memakai kerudung kain putih. tentunya adalah orang.” . Siang-koan Kie diam diam berpikir. kalau bukan diisi barang2 lain. seolah2 dalam peti itu benar2 ada jenazahnya Pan Tjiong Tong. pemuda berpakaian berkabung itu berdiri disampingnya dengan kepala tunduk dan kedua tangannya melurus kebawah. agaknya hendak mengucapkan sesuatu kepada Siang koan Kie tetapi kemudian dibatalkan.” Selagi masih berpikir tiba2 terdengar orang berkata dengan suara nyaring. sedang dalam peti mati ini.

ia harus mcmbalas dengan kehormatan besar. maka ia tidak mau berlutut. Dua jago pedang dari Tjeng-shia-pay juga hanya menjura saja hanya Lui BengWan yang melakukan upacara sembahyang itu dengan berlutut. mereka berlutut dikedua samping peti. mereka membongkokan badan sambil merangkapkan kedua tangannya dan memuji nama Budha. sedangkan Wan Hauw selalu meniru gerak gerik Siang-koan Kie. mereka terpaksa juga berlutut. Pada saat itu didalam pekarangan itu masih terdapat seratus orang lebih. setelah mereka selesai melakukan sembahyang. Kim Siao Ho buru2 menghampiri Tiat bok. Touw Thian Gouw menarik tangan Siang-koan Kie seraya berkata.com/ Pintu besar yang tertutup rapat itu. setiap kali ada orang melakukan upacara sembahyang. agaknya orang2 itu mempunyai sedikit Kedudukan didalam rimba persilatan. taysu dan Ki Bok-taysu serta lain2nya lalu berkata dengan suara perlahan2. Im-yang Siang-tjiok karena melihat Lui Beng Wan berlutut. Sebaliknya dengan pemuda dan gadis berpakaian berkabung itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. Tiat Bok taysu dan Ki Bok-taysu berjalan lebih dulu kedepan peti mati. “Peti jenasah Pan Loya. “Mari kita juga turut sembahyang!” Siang-koan Kie mengikuti belakang|Touw Thian Gouw. Kedua padri itu. barulah rombongan orang-orang lainnya menyerbu kedepan peti untuk sembahyang. tiba2 terbuka lebar. Semua tetamu yang hendak turut sembahyang segera menyerbu masuk. Upacara itu memakan waktu dua jam lebih baru selesai. hanya memberi hormat dengan membengkokkan badan kemudian minggir ke samping. mungkin sudah tahu karena didalam peti itu bukanlah Pan Tjiong Tong yang sesungguhnya. sekarang hendak .

digotong oleh enambelas orang berpakaian kain hitan secara bergiliran. To-tiang tidak usah pergi saja!” “Pi-tjeng datang atas perintah ketua. Sebentar kemudian. kemudian berpaling dan berkata kepada Tiat Bok taysu.com/ diberangkatkan untuk dikubur.” “ucapan saudara Lui juga benar…. ia sengaja tidak mau mengawani Kim Siao Ho. sebelum mereka menjawab Lui Beng Wan sudah mendahului berkata. bagaimana boleh melakukan kewajiban hanya setengah jalan saja?” berkata Tiat Bok-taysu. Tempat dimana dilalui oleh rombongan peti mati itu. aku pikir tidak usah ikut mengantar. menimbulkan warna kuning diatas langit. Pada saat itu.” berkata Kim Siao Ho sambil mengawasi Lui Beng Wan. tetapi aku sendiri harus mengantar. sinar matahari yang sudah mulai terbenam ke barat. ketika melihat peti mati digotong keluar. buat orang lain aku tidak perduli.Tiraikasih Website http://kangzusi.. silahkan taysu sekalian untuk kesana!” Tiat Bok-taysu dan Ki Bok-taysu saling berpandangan sejenak. “Aku dengan saudara Pan merupakan sahabat lama sejak masih muda. sepanjang jalan banyak orang yang menyaksikan bagaikan . peti mati sudah dibawa keluar. diruangan sebelah barat sudah disediakan hidangan ala kadarnya. Ki Bok-taysu dan dua jago pedang dari Tjeng-shian-pay. barisan musik sudah menunggu. taysu sekalian sudah satu hari belum bersantap. bagaimana tidak turut mengantar jenazahnya. Taysu. Didepan pintu gedung pekarangan. hari sudah senja. Sementara itu Touw Thian Gouw menarik tangan Siang koan Kie berpaling memandang kearah lain. segera membuka jalan sambil meniup irama berkabung.

boanpwee pikir locianpwee sekalian sampai disini saja. rombongan peti mati berjalan kira kira tiga jam. diantaranya malah tidak sedikitnya jumlahnya yang berlutut ditepi jalan. Tiat Bok-taysu sambil merangkapkan kedua tangannya dan memuji nama Budha. hari sudah gelap. dimasa hidupnya mendapat penghargaan dari rakyat penduduk tempat itu. biarlah sampai disini saja. hampir semua orang diliputi kedukaan.” Pemuda itu agaknya menghargai gadis tersebut. Gadis berpakaian berkabung itu melambaikan tangannya. Pengumuman secara mendadak itu. lalu berkata sambil memberi hormat. rombongan orang2 yang menggotong peti mati itu ]alu berhenti. hanya bintang. Gadis itu lalu berkata kepada pemuda berpakaian berkabung dengan suara perlahan.com/ lautan manusia. sesungguhnya diluar dugaan semua orang. kita sudah hampir tiba ditempat kuburan.2 dilangit yang nampak sinarnya kelap kelip. ”Itu benar. . orang2 tidak perlu mengantar lagi.” Setelah itu lalu berlalu dengan diikuti oleh Ki Bok-taysu dan yang lain2nya. “Kalau siaositju sudah berkata demikian pintjeng sekalian terpaksa menurut.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Koko. jauh dari perbatasan kota. Suatu tanda bahwa Pan Loya almarhum itu. Lautan manusia itu sejauh sepanjang kira2 sepuluh pal. ketika sudah tiba diluar kota orang orang yang memberi hormat penghabisan di sepanjang jalan baru nampak mulai sedikit. lalu berkata.” Kemudian ia berpaling menghadapi para tetamunya yang mengikuti mengantar jenazah. seketika itu ia segera menjawab sambil menganggukkan kepala. tidak usah mengantar lagi. “jenazah ayah sudah hampir tiba ditempat penguburan. sehingga terkejut.

maka kata2nya tidak dapat dilanjutkan lagi. “Hawa malam sangat dingin.” Pemuda itu mengawasi adiknya sejenak lalu berkata sambil mengerutkan keningnya. Pemuda berpakaian berkabung itu. “Ini. yang masih tinggal hanya Lui Beng Wan suami istri. kemudian berkata sambil mengurut jenggotnya yang panjang. harap pulang kekediaman boanpwee dulu sebentar. ketika menyaksikan para tetamunya berlalu satu persatu. “Locianpwee sekalian. Lui Beng Wan tertawa ter-bahak2. aku juga tidak akan memaksa. “Koko minta supaya paman Lui dan lainanya juga pulang dulu!” Pemuda itu berpikir sejenak.” Lui Beng Wan melototkan matanya dan dia berkata dengan nada suara tidak tenang.com/ Sebentar kemudian. dan Im-yang Siang tjiok.” . ini….Tiraikasih Website http://kangzusi.” Gadis berpakaian berkabung itu berkata kepada pemuda tersebut dengan suara perlahan. “jikalau hiantit tidak suka pamanmu ini mengantar sampai keliang kuburan. hatiku tidak akan tenang….” “Entah urusan apa yang paman kehendaki?” “Aku ingin menyaksikan wajah sahabat lamaku didalam peti mati ini. jikalau aku tidak dapat menyaksikan atau mengantar sampai keliang kubur. boanpwee tidak berani minta locianpwee sekalian mengantar lagi harap supaya juga pulang lebih dulu. “Aku dengan ayahmu bukanlah sahabat biasa. nanti setelah upacara penguburan ayah selesai. Wan Hauw. lalu berkata ke pada Lui Beng Wan dan Touw Thian Gouw sekalian. Siang-koan Kie. boanpwee segera kembali. aku akan segera kembali…. sambil mengangkat tangannya ia berkata dengan suara nyaring. perasaannya mendadak kurang enak. asal hiantit memenuhi permintaanku.” Ia tidak tahu dengan alasan apa harus menolak permintaan orang tua itu. Touw thian Gouw.

“Paman dengan ayah bersahabat erat. “Aku si tua bangka ini kau kira orang macam apa? Bagaimana dengan mudah ditipu begitu saja?” Gadis itu tiba2 alisnya berdiri dengan cepat memotong perkataan Lui Beng Wan. boanpwee tidak ingin berlaku kurang sopan terhadap paman. dalam peti . paman ini agaknya juga tidak perlu membuka peti secara paksa. dalam hati diam2 berpikir: Pan terang masih duduk dalam kamar dibawah bagaimana gadis itu masih mengatakan bahwa jenasah ayahnya? keherannya Loya sudah tanah itu. kau mau apa?” Gidis itu nampaknya merasa tidak senang. ia berkata sambil meggelengkan kepala. rasanya tidak melihat lagi. urusan dalam keluarga Pan. “Paman Lui tadi toh sudah menjaksikan ayah dibelakang gedung. sekalipun paman Lui ingin berbuat demikian boanpwee juga tidak ingin terjadinya hal demikian. Lui Beng Wan memperdengarkan suara dihidung. bagaimana bisa di buka lagi? Kebaikan paman Lui. orang2 yang menggotong peti mati itu segera melanjutkan perjalanan. katanya. “jenazah ayah yang dimasuk kedalam peti mati bagaimana boleh dibuka sembarangan. sebaiknya paman jagan turut campur tangan.” Lui Beng Wan menjawab sambil tertawa dingin. dan perhatian terhadap ayah almarhum. gadis berkabung itu mencegahnya sambil berkata. “Peti mati sudah dipantek. disini boanpwee mengucapKan banyak banyak terima kasih.” Lui Beng Wan tercengang. “Apabila aku hendak membuka peti ini untuk menyaksikan keadaan sebenarnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. kemudian hendak mengejar.” Siang koan Kie yang mendengar percakapan itu makin memuncak.com/ Pemuda itu mundur dua langkah.” Gadis berkabung itu memberi isyarat kepada rombongan pengangkut peti mati. katanya.

akan tetapi ayahmu dimasa hidupnya pernah mengangap saudara denganku. Touw Thian Gouw bersenyum hambar.” Mungkin orang tua tidak menemukan kata2 yang tepat untuk menjawab sehingga hanya mengucapkan ucapan itu saja sudah tidak dapat melanjutkan lagi.” Pemuda berpakaian berkabung itu. kali ini sang istri diam diam saja tidak menyatakan pikiran apa2. sementara itu Lui Beng Wan sudah berkata sambil tertawa. Lui Beng Wan sudah tentu tidak berani menentang kehendak istrinya. maka lalu perintahkan orang2 yang menggotong peti mati supaya berjalan terus.” Sambil berkata orang tua itu berpaling mengawasi istrinya. urusan keluarga Pan seharusnya aku turut campur tangan. dengan tanpa sadar ia saling mengawasi Touw Thian Gouw. tetapi pada saat itu ia tak tahu apa sebabtya. Lui Beng Wan sangat cemas.com/ Ia Yang merasa curiga. Itu memang benar. lalu berkata dengan nada suara dingin “Apabila aku tidak mengijinkan paman Lui membuka peti mati paman Lui mau apa?” “Tentang ini…. tidak boleh tidak aku harus campur tangan. dengan urusan ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. Gadis berkabung itu mengawasi Lui Beng Wan sejenak. menurut adat istiadat dalam rimba persilatan. tiba2 melangkah tiga tindak kearah kiri. Gadis itu tiba2 mengangkat tangannya dan berkata. memberi isarat kepada Siang koan Kie supaya jangan campur tangan. ia mengelengkan kepalanya. masih tetap mengindahkan adiknya. . atas permintaan adiknya tadi ia terpaksa menurut. Apabila sang istri itu mencegah. diluar dugaannya. ia hendak mengejar rombongan peti mati sambil memutari gadis berpakaian berkabung itu. “Harap koko melindungi peti mati untuk berjalan lebih dulu.

“Urusan dalam rimba persilatan kadang2 banyak yang tidak dapat dimengerti oleh pikiran biasa.com/ Tak disangka baru saja badannya bergerak gadis itu sudah menebak maksudnya dengan itui gerakan dan gaya yang gesit sekali.Tiraikasih Website http://kangzusi. Lui Beng Wan agaknya merasa mendongkol menghadapi sikap gadis itu. perlu apa ia harus memaksa?” Touw Thian Gouw berpaling menggawasi gadis berkabung dari atas sampai kebawah. “Orang tua she Lui itu sesunguhnya juga terlalu kurang sopan orang tidak mengijinkan membuka peti mati. tepat berada dihadapan Lui Beng Wan. sehingga masih tetap menghadang dihadapannya. gadis itu juga lompat melesat kearah kiri. Serentak pada saat itu.maka waktu melayang turun. berkata kepada Touw Thian Gouw dengan suara perlahan sambil mengerutkan keningnya. sebab jawaban Touw Thian Gouw itu sama2 tidak menjawab. Walaupun ia baru muncul didunia Kang-ouw dan sedikit Sekali yang diketahui urusan dalam rimba persilatan. tiba-tiba mengerutkan alisnya. . siapapun tidak dapat menduga bagaimana keadaan sebenarnya…” Siang koan Kie menganggukkan mengeluarkan jawaban singkat:” Oh! “ kepala sambil Namun dalam hati merasa kecewa. kemudian berkata sambil menghela napas panjang. ia memotong dari kanan.sambil memperdengarkan suara di hidung ia melompat kekanan jauh satu tombak. karena waktunya sangat tepat. -odwoBab 22 SIANG KOAN KIE menyaksikan keadaan demikian.

“Hawa malam sungat dingin aku lihat paman Lui apabila ada seorang cerdik. sejenak ia merasa heran. nama baikmu yang telah kau pupuk selama beberapa tahun itu mungkin akan rusak dalam waktu sekejap saja!” Wan Hauw yang sejak tadi berdiri disamping diam Saja. sebaliknya pulang saja. ia tidak mengerti apa sebabnya. Gadis itu dengan alis berdiri dan paras dingin berkata dengan nada suara dingin pula.com/ akan tetapi padi saat itu sedikit banyaknya ia sudah dapat menduga bahwa dalam urusan ini sesungguhnya bukanlah perkara biasa. “jikalau kau berlaku demikian kurang ajar lagi.” Lui Beng Wan membentak dan berkata dengan suara gusar. Wan Hauw yang belum habis ucapannya.” Gadis itu menjawab dengan nada suara dingin. “Apabila paman Lui tetap hendak mencampuri urusan keluarga Pan. “Orang tua itu juga aneh. tangannya dengan cepat melakukan suatu gerakan memotong kepada tangan orang tua itu. ia sendiri turun tangan lebih dulu. mengapa mundur lagi? apakah …. kau jangan sesalkan kalau aku tidak memandang diri orang dari tingkatan muda. ketika melihat Lui Beng Wan membatalkan serangannya dan balik mundur. sehingga perlu turun tangan terhadapnya. Lui Beng Wan tiba2 memukul gadis berkabung itu. saat itu tiba2 berkata. “Anak perempuan ini bagaimana berlaku tidak sopan terhadap orang tua. Sambil tertawa dingin gadis berkabung itu menggeser kakinya setengah langkah menghindarkan serangan Lui Beng Wan.Tiraikasih Website http://kangzusi. tak disangka serangan Lui Beng Wan segera ditarik kembali. sesaat itu pikiran yang diliputi oleh berbagai pertanyaan sehingga matanya terus ditujukan kepada diri gadis berkabung itu.” Belum lagi habis ucapan Wan Hauw. apakah dia….” . kemudian berkata.

tetapi asal istrinya melarang atau menarik tangannya. semua. apa yang mengherankan? Sekalipun adat Lui Beng Wan berangasan. kesamping kemudian ditarik oleh istrinya lalu entah apa yang dikatakan oleh sang istri itu amarahnya mendadak mereda. tetapi ketika menyaksikan Lui Beng Wan ditarik bajunya oleh sang isteri. katanya sambil menundukkan kepala.” Siang-koan Kie pada saat itu meskipun pikirannya diliputi oleh beberapa kecurigaan. Lalu berkata sambil mengerutkan keningnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Seorang suami mendengar kata istrinya. tidak sepatah “Maksudmu. demikian aneh?” Demikian Siang-koan Kie berkata sambil bersenyum. tiba2 ia berdiam. semua beres. “Sebetulnya ada juga yang tidak aneh.” Touw Thian Gouw baru berkata sambil tertawa. menyusul rombongan orang2 yang menggo tong pati mati saat itu sudah berlalu jauh. dan kemudian terdengar pula kata2 Touw Thian Gouw. . sesungguhnya merupakan seuatu hal biasa. “Locianpwee sekali lagi silahkan kembali!” Setelah berkata demikian ia lalu memutar ba dannya. perkataanpun keluar lagi dari mulutnya. sebentar kemudian lalu berlalu dan menghilang ditempat gelap. dalam hati juga merasa geli. Muka Wan Hauw merah seketika.com/ Sampai disitu. Gadis berkabung itu ketika menyaksikan Lui Beng Wan membatalkan serangannya dan minggir. segera dengan cepat menrik kembali serangannya. Siang-koan Kie lalu bertanya kepada Touw Thian Gouw dengan suara perlahan. Lui Beng Wan yang mendengar ucapan istrinya sambil menganggukkan kepala. apakah orang2 dalam dunia ini.

bintang2 di langit tertutup oleh awan tebal. lalu berunding sebentar. Touw Thian Gouw. ia mergejar gadis dan rombongan orang menggotong peti mati itu dengan mengambil jalan memutar. sehingga cuaca meyadi gelap. “Baiklah! Mari kita kejar “ Setelah berkata demikian lebih dulu mengejar gadis itu.com/ “Saudara Touw. Ia seorang Kang-ouw ulung yang sudah banyak pengalaman. ia lalu menjawab sambil menganggukkan kepala. Diwaktu malam gelap gulita dan hujan angin demikian keras. lalu disusul oleh turunnya hujan yang se-olah2 dituang dari langit Touw Thian Gouw memperlahan gerak kakinya. Im-yang Siang-tjiok yang menyaksikan Lui Beng Wan suami istri. semua sudah tidak ada gunanya sama sekali Tak disangka baru saja ia berpaling ia sudah dapatkan Siang-koan Kie dan Wan Hauw berdiri dibelakang dirinya. ialah hendak mengejar gadis berkabung itu. dan Siang-koan Kie serta Wan Hauw sudah pada berlalu. dengan rombongan orang2 yang menggotong peti mati itu terpisah satu jarak agak jauh. angin malam tiba2 meniup kencang. ia ingin menunggu Siang koan Kie dan Wan Hauw kemudian baru mengejar lagi. apakah kita juga perlu menyelidiki persolan ini?” Touw Thian Gouw agaknya juga sudah tertarik oleh kejadian yang agaknya ganjil itu. . Orang orang itu semua mempunyai satu tujuan. dalam suasana gelap itu satu sama lain tidak dapat melihatnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. Sebentar lagi nampak berkelebatnya sinar kilat dan gemuruhnya bunyi geledek. tetapi masing2 memilih jalan sendiri”. betapapun tajam daya pandangan dan pendengaran seseorang. Diluar dugaan semua orang. sebentar kemudian. kemudian lari meninggalkan tempat tersebut.

“Ketika untuk pertama kali aku melihat Pan Loya dikamar bawah tanah itu. karena ia sudah mengetahui bahwa kepandaian kedua pemudi itu sangat tinggi sekali maka ia ingin menggunakan kesempatan itu. apakah orang lain yang menyaru?” .” “Benar hujan lebat malam ini. tetapi sekarang setelah aku pikir lagi. “Maaf siaotee tidak mengerti maksud yang terkandung dalam ucapan saudara Touw tadi.” Touw Thian Gouw. sambil kibas kibaskan bajunya yang sudah basah dengan air hujan ia berkata. bolehkah kiranya. diam2 merasa heran. aku merasa bahwa semuA agaknya tidak masuk diakal…” “Pan Loya yang berada didalam kamar dibawah tanah itu. Menurut tafsirannya kedua pemuda itu pasti akan ketinggalan se-tidak2nya tiga tombak atau lebih sebab ia selama lari tidak kedengaran suara gerakan kaki kedua pemuda itu berada dibelakangnya. Siang-koan Kie tersenyum.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Lui Bang Wan suami istri dan Im yang Si-ang-ciok barangkali akan tiba. sesungguhnya memberi bantuan tidak sedikit bagi nona Pan itu. hendak mencoba ilmu lari pesat kedua pemuda itu. meskipun terkejut dan ter-heran2 tetapi aku masih berpikir mungkin karena orang tua sudah bosan dengan hidupnya didunia Kang-oaw yang banyak palsu dan kejahatan sehingga lekas2 mengundurkan diri. atau karena namanya yang terlalu terkenal dan pergaulannya yang terlalu luas membuat dirinya tidak dapat menuntut penghidupan dengan tenang. lalu memotongnya sambil menghela napas.com/ Pada hal Touw Thian Gouw tadi sudah mengerahkan seluruh kepandaiannya.. sehingga berpura2 mati. Maka ketika melihat kedua pemuda itu mengikuti dengan tanpa menimbulkan suara juga tetap berada dibelakangnya.” Berkata Touw Thian Gouw sambil menganggukan kepala.

“Untuk apa mereka menuju ketepi sungai.” “Saudara Wan. menjawab Wan Hauw dengan pasti.Tiraikasih Website http://kangzusi.” Wan Hauw yang berdiri disamping pembicaraan mereka. tetapi karena cuaca malam itu sangat gelap. apakah hendak mengubur jenazah Pan loya di didalam air…” . kau lihat rombonpan mereka sudah sampai belum?” bertanya Siang-koan Kie.com/ Kemungkinan besar begitu.” “Didalam dunia Kang-ouw memang banyak hal2 yang sulit diduga sekalipun oleh orang yang sudah berpengalaman banyak. memang mereka sekarang sudah dapat mengejar kita. beikabung itu sudah akan mengejar kita. gadis Touw Thian Gouw dan Siang koan Kie berpaling. benarkah kau sudah melihat gadis berpakaian berkabung itu?” “Aku sudah menampak sangat tegas. Touw Thian Gouw setelah berpikir lalu berkata. “Saudara Wan. mari kita pergi menenggoknya. Siang-Koan Kie setelah berpikir sejenak lalu bertanya. “Mereka seperti berjalan menuju keteapi sungai. TouW Thian Gouw terkejut.” memperhatikan “Toako. “Kalau kita hitung waktunya. hanya tidak dapat menganalisa segala sesuatunya demikian teliti seperti saudara Touw. katanya dengan perasaan heran. ditambah hujan begini lebat.” “Siaotee juga dapat melihat hal2 yang tidak beres. sedikitpun tidak salah. sehingga sulit untuk melihat benda berjarak lima tombak lebih.” jawab Wan Hauw. sekarang ini Kuncinya terletak pada diri gadis berkabung itu gadis itu agaknya mempunyai pengaruh besar sekali dalam keluarga Pan itu. tiba2 menyelak.

“Saudara Touw. apakah ditempat sekitar ini?” Wan Hauw berpikir sejenak baru berkata. Sebentar kemudian.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Jalan. sehingga membatalkan maksudnya. Touw Thian Gouw yang menyaksikan gerakan Wan Hauw yang demikian gesit. dua orang itu terpaksa menunggu sambil berdiri dibawah hujan lebat lalu berkata kepada Touw Thian Gouw. dibawah hujan lebat. Setelah Wan Hauw berlalu. mungkin susah dicari tandingannya. dalam hati diam-diam memberi pujian: Kesempurnaan ilmu meringankan tubuh pemuda ini dalam rimba persilatan dewasa ini. ia sudah lompat melesat lari menuju ketepi sungai. Sedang Siang koan Kie dan Wan Hauw buru2 mengejar. tetapi karena takut Wan Hauw salah paham. kita dengan menempuh hujan angin demikian lebat untuk menyelidiki peristiwa ini . Touw Thian Gouw berhenti dan berpaling mengawasi Wan Hauw agaknya hendak berkata sesuatu tetapi kemudian dibatalkan. maka ia segera berkata. tiba2 meloncat dan berkata. sehingga tiga batangan orang itu berlarian didalam cuaca gelap dan. mereka sudah tiba ditepi sungai. mari kita lekas mengejar kesana. “Aku hendak mencari tempat lagi untuk melihat mereka. “Saudara Wan kau tadi melihat gadis berkabung sudah tiba ditepi sungai.” Setelah itu.com/ Ia menundukkan kepala untuk berpikir.” Se konyong ia lompat melesat setinggi dua tombak lebh kemudian melayang kesuatu tempat ditepi sungai itu. Siang koan Kie agaknya sudah dapat menduga perasaan orang she Touw itu.

serta dua jago pedang ceng-shia-pay yang jarang sekali mencampuri urusan dunia Kang-ouw juga pada datang sendiri untuk turut berduka cita. banyak urusan yang sedikitpun tidak ada hubungan dengan dirinya sendiri. menurut pandanganku dalam urusan ini bukan saja mengandung segi2 yang sangat ruwet.com/ apabila kita mengetahui keadaannya yang sebenarnya. hingga saat itu belum terhapus dari ingatannya. dalam pertemuan lima orang tua yang kemudian berubah menjadi peristiwa berdarah. apakah perlu campur tangan atau tidak?” “Orang2 rimba persilatan kebanyakan memang berniat demikian.” Ia berhenti sejenak kemudian berkata pula “Mungkin juga malam ini kita akan menyaksikan kejadian yang sangat mengejutkan. mungkin Tiat bokk dan Ki boktaysu serta dua imam dari ceng-shia pay itu diam2 juga sudah mengintai rombongan peti mati itu…. tetapi selalu ingin campur tangan untuk mencari tahu. kadang2 ditinggalkan begitu saja. bahkan didalam dua peristiwa yang hebat ia sendiri terlibat didalamnya itu adalah kejadian dimana pertamakali ia mengikuti suhunya. maka terhadap ucapan Touw Thian Couw sedikitpun merasa tak heran. dalam hatinya berpikir apabila sudah mengetahui . ada kalanya juga terlibat dalam urusan itu. dan yang kedua kalinya adalah dalam pertandingan antara in Kin Liong dengan paderi tibet. tetapi juga mempunyai latar belakang yang sangat luas. dan setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya. jelas sekali bahwa kematian Pan Loya ini barangkali bukanlah merupakan suatu kematian biasa. yang kemudian dengan munculnya orang ber baju hijau secara tiba2 dan melakukan pembunuhan secara kejam. apabila dugaanku tidak keliru. orang2 dengan kedudukan seperti Tiat Bok dan Ki Bok taysu dari Siao liem-sie. semua itu masih memberikan kesan yang sangat dalam baginya.Tiraikasih Website http://kangzusi.”‘ Siang koan Kie pernah dua kali menyaksikan kejadian mengerikan.

baru kelihatan bayangan orang. Touw Thian Gouw memandang kearah itu lagi sambil berjalan lambat lambat. Wan hauw lalu memutar tubuhnya lari menuju kesuatu tempat diepi sungai. “Saudara Wan. sekarang hanya tinggal orang2 yang mengusung peti mati. hingga diam diam mengerutkan keningnya dan bertanya. “Toako.” Wan Hauw berhenti.” “Baik! Mari kita pergi melihatnya “.” Touw Thian Gouw sudah memasang mata kearah yang ditunjuk oleh Wan Hauw. . mereka semua berada ditepi sungai. Orang2 yang ditngaskan menggotong peti mati itu pada berdiri tegak tanpa bergerak. Gadis berpakaian berkabung itu sudah tidak tampak lagi. tetapi tidak melihat bayangan seorangpun juga. peti mati masih ada.com/ rahasia kejadian itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. Touw Thian Gouw berkata kepada Wan Hauw dengan suara perlahan. Dengan menempuh hujan angin lebat. tetapi gadis berpakaian berkabung entah kemana perginya. menyawab Wan Hauw. hati2 sedikit jangan sampai diketahui oleh mereka. berkata Touw Thian Gouw. sebentar saja mereka sudah tiba ditempat yang di tuju. Berjalan kira2 sejauh lima tombak. sikap apa yang harus diambil olehnya? Berpeluk tangan atau apakah turut campur tangan membela pihak yang be nar?” Selagi otaknya masih berpikir telinganya tiba-tiba mendengar suara Wan Hauw. sambil menunjuk kearah depan bagian kiri ia berkata. “Apakah peti mati itu masih ada?” “Masih ada!”.

Terpisah kira2 dua tombak dimana orang itu berdiri. memperhatikan keadaan sekitarnya. Siang-koan Kie memanggil2 Wan Hauw dengan suara perlahan. apabila berada dibelakang tanggul itu. sedikitpun tidak bergerak. bukan saja bisa menggunakan tanah yang agak tinggi itu sebagai tempat untuk melindungi diri sendiri. selagi hendak memangil lagi. menimbulkan suara berisik. “Saudara Wan. tiada jawaban dari Wan Hauw. alang2 itu tertiup oleh angin dan ketimpa oleh air hujan. pundaknya tiba2 merasa ditekan oleh satu tangan. lekas lihat dalam gerombolan alang2 itu…. saudara Wan…. ada sebuah tanah tanggul yang menonyol tinggi.com/ Touw Thian Gouw berjongkok. tempat tersebut penuh tumbuhan alang2 setinggi tubuh manusia. Pemuda berkabung yang tadi ikut mengantar peti mati itu. saat itu sudah tidak tampak. tetapi juga bisa menyaksikan segala gerak gerik orang2 yang menggotong peti mati itu. Dua orarg itu setelah menyembunyikan diri ditempat tersebut muLai memasang mata untuk memperhatikan gerak gerik orang orang itu. Ketika ia berpaling ternyata Wan Hauw sudah tidak kelihatan jejaknya. juga entah kamana perginya.” . tetapi orangnya se olah2 tiang yang menancap ditanah.Tiraikasih Website http://kangzusi. diajak sembunyi dibelakang tanggul itu. adalah sebuah tempat ditepi sungai yang agak dangkal. Touw Thian Gouw berpaling dan menarik lengan baju Siang koan Kie. Enambelas laki2 yang tadi menggotong peti mati itu berdiri berbaris pakaian mereka nampak ber-gerak2 tertiup angin. kini ia dapat melihat bahwa tempat dimana orang2 mengotong peti mati itu berdiri. kemudian terdengar suara.” Beberapa kali ia memanggil. Ia terkejut seketika itu sudah lupa keadaan nya sendiri. “jangan bergerak.

pikirnya: apakah dalam peti mati itu bukan jenazah Pan loya? Empat laki2 bertubuh tinggi besar itu segera lari menuju kepetimati.” Hatinya lalu tergerak.. Touw Thian Gouw berkata dengan suara perlahan kepada Siang-koan Kie. juga menganggapnya kejadian itu terlalu kejam. karena hujan angin lebat.com/ Siang koan Kie memasang matanya. Sekalipun seorang Kang-ouw kawakan seperi Touw Thian Gouw. orang2 itu lalu jatuh rubuh ditanah.Tiraikasih Website http://kangzusi. mulutnya ber-gerak2.dalam peti ini….”" Dengan mata terbuka lebar. Siang-koan Kie mengawasi gadis berkabung itu tanpa berkedip. gadis tersebut kala itu sedang menunjuk peti itu. Ber-ulang2 ia menggerakkan tangannya. tiba2 mengayun tangannya menepuk belakang pungung enambelas orang yang tadi menggotong peti mati dari rumahnya. kekejaman yang di lakukan oleh gadis itu hampir menyerupai apa yang terjadi didalam kuil tua yang dahulu pernah disasikannya…. Bukan kepalang tetkejut Siang-koan Kie yang menyaksikan kejadian itu. setiap kali ia bergerak. dibelakangnya diikuti oleh pemuda berkabung itu beserta empat laki2 bertubuh tinggi besar. “Benar saja ditepi sungai ini ada orang yang menyambut mereka. Siang-koan Kie memasang telinganya betul2. . kemudian diangkanya dan lari balik lagi kedalam gerombolan alang2 itu Gadis berkabung itu setelah menyaksikan empat laki2 itu menggotong peti mati tersebut. tidak terdengar apa yang dikatakan. samar2 terdengar beberapa patah kata yang terakhir:”. ia telah dapat lihat bahwa gadis berkabung itu dengan tindakan lambat2 keluar dari dalam alang2 itu.

Kala itu meskipun cuaca gelap dan Hujan angin lebat. bagaiana kokomu berani berpikir demikian.” Siang koan Kie meskipun dalam hati gelisah tetapi ia tidak bisa berbuat apa2. tetapi sudah didengar jelas oleh Touw Thian Gouw dan Siang Koan Kie. .” Tentang ini kokomu tidak berani” Pembicaraan kedua saudara itu. Siang-koan Kie dan Touw Thian Gouw diam menarik napas menyaksikan kejadian yang tidak terduga-duga itu. “Kemana sebetulnya saudara Wan telah pergi? “Kepandaian saudara Wan sangat. ketika ia me ngalihkan pandanganya ketepi sungai lagi. meskipun suaranya tidak keras. Pan-kon tju menunggu sampai adiknya berlalu.” jawabnya ter-heran2. apakah kau merasa bahwa perbuatanku terlalu kejam?” Adik kau jangan terlalu banyak pikiran.com/ Ketika Siang-koan Kie menengok kebelakang ternyata sudah tidak tampak bayangan Wan Hauw. tiba2 berjongkok ditas badan laki2 itu me-raba2 sejenak kemudian bangkit dan tmengeleng2kan kepalanya.” “Apa bila koko mempunyai pikiran demikian.Tiraikasih Website http://kangzusi. dalam keadaan herannya ia lalu bertanya kepada Touw Thian Gouw. Saudara Touw. gadis berkabung itu sudah lari menuju kegerombolan alang2 dengan ter-gesa2. terdengar suaranya yang keluar dan digin: “Koko. kita tidak usah kaWatir ia mendapat halangan. tetapi karena Siang koan Kie terpisah dekat sekali dengan pemuda she Pan itu maka ia dapat menyaksikan dengan jelas semua perbuatannya. saudara Wan pergi kemana?’ “Entahlah. tinggi. Sebentar kemudian gadis berkabung itu balik kembali dan berdiri dibelakang pemuda berkabung itu.

kemudian berkata sambil tertawa. “ Siapa berani main gila mengintip orang?” Siang Koan Kie mengira bahwa teguran gadis itu ditujukan kepadanya. “Benar.” Mata gadis itu berputaran. “Paman Lui terus mengikuti kami. Selagi hendak keluar dari tempat persembunyiannya.com/ Tiba2 terdengar suara tertawa dingin dari gadis itu. paman Lui jangan pikir untuk balik lagi. “Aku kira siapa. “Apakah paman Lui terus mengikuti jejak kami?” “Aku datang belum lama. tampak diri seseorang yang bukan lain dari pada Lui Beng Wan.” Gadis berkabung itu tersenyum. kemudian memutar tubunya dan mengeluarkan bentakan keras. apakah sebetulnya maksud Paman?” “Apakab aku masih perlu menurut kehendak kalian…. teryata adalah Paman Lui. karena Paman Lui terus mengikuti kami.” Lui Beng Wan menghampiri dengan tindakan lebar seraya berkata. itu adalah aku sendiri.” “Apakah kau dapat menahanku?” . tentunya sudah mengetahui banyak?” “Kalau sudah mengetahui mau apa?’ “Sudah mengetahui. kemudian berkata. sehingga diam2 terperanjat pikirnya karena dirinya sudah ketahuan sebaiknya menampakan diri secara terang2an. Gadis berkabung itu memperdengarkan suara tertawa dingin.” Gadis beekabung itu berpaling mengawasi ka kaknya sebentar. kemudian berkata kepada Lui Beng Wan.Tiraikasih Website http://kangzusi. tiba2 terdengar suara orang batuk2 dibela kang gundukan tanah yang menonjol sejauh tiga tombak.

Serangan Lui Beng Wan itu meskipun nampaknya dilakukan sekaligus. kemudian berkata. tetapi sebetulnya mengandung empat rupa gerakan. pantas dalam rimba persilatan namamu cukup terkenal. tetapi dari nada suara bicaranya sudah dapat mengerti maksudnya. Gadis berkabung itu berkata sambil tertawa. memang cukup sempurna. matanya mengawasi keadaan sekitarnya sejenak.Tiraikasih Website http://kangzusi. cobalah saja!” percaya boanpwee dapat Gadis itu lalu mengacungkan tangannya keatas dari dalam gerombolan alang2 lompat keluar empat laki2 berbaju hitam.com/ “Jikalau paman tidak menahanmu. ditilik dari kepandiaian ini. “Jikalau paman Lui ingin melihat. sudah tentu seketika itu lalu naik pitam. Dengan menggerakkan kedua tangan dan kakinya Lui BENg Wan MENANGKIS serangan empat laki-laki itu. Lui Beng Wan yang sedang menghadapi empat lawannya. “Serangan ini bukan saja dapat digunakan untuk menangkis. akan tetapi….” Matanya berputaran sambil memperdengarkan suara tertawa dingin. meskipun tidak dapat melihat sikap gadis itu. sehingga dapat digunakan untuk menangkis dan balas menyerang kepada empat orang yang menyerang dirinya. Lui Beng Wan memperdengarkan suara tertawa dingin. sikapnya dengan tegas sudah memdang rendah kepada orang tua itu. tetapi juga bisa balas menyerang. lalu berkata dengan suara keras. dengan cepat sudah mengurung Lui Beng Wan. . ikutilah ber-sama2 dengan peti mati itu!” Empat laki2 berpakaian hitam itu bergerak dengan serentak menyerang Lui Beng Wan. “Jenasah siapa sebetulnya yang berada dalam peti mati itu?” Gadis berkabung itu melambaikan tangannya.

siapapun tidak akan menduga bahwa gadis yang demikian gemulai ternyata bisa berbuat kejam. empat orang itu. entah kemana bibi sekarang?” Lui Beng Wan yang bertempur dengan delapan orang berpakaian hitam itu. Lui Beng Wan mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk menghadapi delapan lawannya yang hingga delapan orang itu juga tidak berdaya. ia menjawab dengan . ternyata sudah mendapat latihan keras.Tiraikasih Website http://kangzusi. apabila ia tidak melukai orang barang kali tidak bisa terlepas dari kurungan delapan orang itu. mungkin mereka sudah sering berhadapan dengan musuh tangguh maka untuk sementara Lui Beng wan juga belum dapat mematahkan serangan mereka. telah bantu menyerang kawannya. Gadis berkabung itu mengawasi keadaan sekitarnya kemudian berkata. Sudah tentu menambah tekanan berat bagi Lui Beng Wan.” Empat orang berpakain hitam yang baru tiba itu. kalian boleh menghadapinya sunguh2.terutama serangan mereka yang terdiri dari empat orang ternyata bisa bekerjasama bagus sekali. “Apakah paman Lui hanya seorang diri saja. Sebentar kemudian. dalam hati mengerti Keadaan malam itu tidak dapat diselesaikan dengan baik. Dilihat dari sikapnya. dari dalam gerombolan alang2 itu. Rombongan orang perpakaian hitam itu. atas pertanyaan gadis itu. Gadis berkabung itu menyaksikan pertempuran itu sambil tersenyum. tetapi empat laki2 berbaju hitam itu juga bukan mangsa lemah.com/ sambil mengeluarkan suara bentakan keras ia menghajar empat lawanya dengan serangan lebih hebat. keluar lagi empat orang berpakaian hitam. “ Lui Beng Wan ini adalah seorang jagoan dalam kalangan kang-ouw. gadis berkabung itu lalu berkata kepada mereka. setelah mendengar perintah itu lalu maju menyerang dari empat penjuru.

” Karena gadis itu sudah mendapat kenyataan bahwa delapan orang berpakaian hitam itu tidak sanggup menjatuhkan Lui Beng Wan.Tiraikasih Website http://kangzusi. boleh keluarkan semuanya. aku ingin belajar kenal sampai dimana tingginya kepandaianmu?” Gadis berkabung itu sikapnya telah mengunjukkan betapa besar napsunya hendak menjatuhkan orang tua itu. Karena hebatnya serangan itu. tiba2 membentak dengan suara keras. maka ia sedia hendak menghadapi sendiri. empat dari delapan orang laki2 berpakaian hitam yang mengurungnya. tetapi ia juga tidak au lalu turun tangan. sambil melancarkan serangannya kepada delapan musuhnya. tetapi mulutnya masih mengeluarkan kata2 dengan suaranya yang merdu sekali. “Kalau paman Lui memang ingin mencoba kepandaian boanpwee. “Kau mempunyai kepandaian apa. Akal gadis itu benar saja berhasil. . jangan salahkan boanpwee berlaku tidak sopan. ia merobah gerak tipu serangannya. “Minggir. terpaksa boanpwee mengiringi keinginan paman Lui…. Gadis berkabung itu mengerutkan alisnya dan berkata.com/ suara keras. dengan suatu gerak tipu yang amat dahsyat menyerang empat orang satu persatu. perlu apa harus dibantu oleh bibimu?” Setelah itu.” Delapan laki2 berpakaian hitam itu segera munddur ketempat masing-masing. terpaksa harus mundur. ia menjawab dengan nada suara dingin. “Aku seorang diri saja sudah cukup untuk menghadapi kalian.” Ia berhenti sejenak. maka sengaja mengejek Lui Beng Wan Supaya orang tua itu panas hatinya. “Paman Lui mencari penyakit sendiri. Lui Beng wan sangat marah.

mereka sebaliknya merasa jeri terhadap senjata rahasia bibi yang sangat ganas. “Dengan menempuh hujan angin demikian lebat Paman Lui datang . sekalipun bibi. juga belum tentu boanpwee akan terluka dibawah senjatanya. orang2 rimba persilatan umumnya tidak menakuti kepandaian paman. karena bibi dari keluarga Teng dari sucoan. “Dunia telah terbalik.com/ Gadis berkabung itu dengan tindakan lambat2 menghampiri Lui Beng Wam seraya berkata sambil tertawa. apakah kau kira aku benar benar takut kepadamuu?” Gadis berkabung itu tertawa dingin dan berkata. lebih jelasnya. aku hanya memandang muka sahabat lamaku.” Kalau demikian halnya apakah kau benar2 hendak melawan Pamanmu?” Paras gadis itu tiba2 berobah katanya dengan nadaa suara dingin. apakah kepandaianmu sekarang melampaui kepandaian ayahmu? Kalau benar2 hendak bertempur. tetapi aku tidak ingin disaat jenazah sahabat lamaku masih belum dingin. maka orang2 pada takut kepadanya. hingga Lui Beng Wan sudah tidak dapat mengendalikan amarahnya lagi. “Bagi bonpwee sendiri bukan saja tidak merasa takut kepada paman Lui. maka aku tidak mau turun tangan terhadapmu. boanpwee juga tidak pandang dimata. belum tentu kau sanggup melewati. “Karena paman Lui mendesak terus menerus terpaksa boanpwee tidak memandang persahabatan paman dengan ayah lagi!” “Kepandaian ayahmu dahulu berimbang denganku. tetapi menurut apa yang boanpwee tahu. meskipun terkenal Sebagai ahli senjata rahasia berbisa. lalu membentaknya dengan suara keras. ini juga berarti orang2 itu takut kepada keluarga Teng….” Kata kata gadis itu terlalu pedas dan kejam.Tiraikasih Website http://kangzusi. telah melukai anak perempuannya…” Paman Lui meskipun dikalangan Kangouw sudah mendapat nama cukup baik. keluarga teng di Sucoan.

Tiba-tiba ia merasa bahwa urusan ini sangat gawat. sedikitpun tidak mirip dengan keadaan gadis biasa yang dalam usia seperti dia. dengan suara agak lunak ia telah berkata. Apabila Lui Beng Wan tidak kenal dengan gadis itu. tentunya bibi juga berada tidak jauh dari sini. apalagi terhadap ia sendiri serta istrinya dahulu demikian erat hubungannya. ia memikirkan maksud yang terkandung dalam ucapan gadis itu agaknya supaya istrinya juga menunjukkan diri hingga dalam hatinya timbul perasaan curiga. agaknya ia sudah mengandung maksud hendak dibasmi sekarang. agaknya mengandung kekejaman. supaya boanpwee bisa belajar kenal dengan ilmu senjata rahasia keluarga Teng yang namanya tersohor di dunia” Gadis itu sungguh cerdik dan kejam. hal itu jauh berbeda seperti apa yang dikenalnya pada beberapa tahun dahulu.com/ kemari.Tiraikasih Website http://kangzusi. mengapa tidak minta ia keluar sekalian. sebaliknya mengejek Lui beng Wan supaya memanggil istrinya. Biar bagaimana Lui Beng Wan sudah banyak pengalaman dalam dunia Kang ouw. Perbedaannya yang sangat menjolok itu. hingga diam diam merasa bergidik. menimbulkan kecurigaan dan rupa2 dugaan dalam hati Lui Beng Wan. mungkin sudah tidak sabar diperlakukan demikian tetapi karena gadis itu dahulu merupakan gadis yang lemah lembut dan ramah tamah ceria menyenangkan. tetapi kini dengan mendadak telah berobah seperti orang lain dibalik wajahnya yang dingin. pikirnya: apakah ia benar2 sudah mempersiapkan suatu rencana yang sempurna untuk menghadapi kita suami istri…. Oleh karena itu maka ia juga sedapat mungkin mengendalikan adatnya sendiri yang biasanya sangat berangasan. ia mengamat-amati gadis itu wajah dan sikapnya yang dingin. pikirannya per-lahan2 mulai tenang. “Aku . setelah hawa amarahnya mulai reda. ia tidak mau segera bertindak.

menimbulkan semacam perasaan seram. “Kalian berdua silahkan keluar sekalian. main sembunyi apakah tidak memalukan?” Siang Koan Kie berputaran mencari Wan Houw tetapi masih belum tampak bayangan saudaranya itu.Apakah kalian berdua juga ingin meramaikan suasana disini?” Tho-Tong batuk2 sebentar lalu menjawabnya. hanya ia bersama Touw thian Gouw dua orang saja.” “Kalau paman pasti hendak melihatnya tidak halangan minta bibi datang melihat sekalian!” jawab gadis itu sambil tertawa hambar. Selagi ia belum mengerti apa maksud kawannya itu. “Nona kalau bicara sebaiknya tahu sedikit atau kita hanya memandang Pan Loya. tidak suka berurusan dengan orang tingkatan muda seperti kau ini…” Ayahku sudah meninggal. bintang2 muncul lagi. Gadis berkabung itu tiba2 berpaling dan berkata. tetapi dalam pendengaran Lui Beng wnn. Kata2 gadis Itu meskipun biasa saja. sehingga untuk sesaat ia tidak tahu bagaimana untuk menjawab. Pada saat itu hujan dan angin sudah mulai berhenti. Awan dilangit perlahan2 mulai buyar. selagi hendak melompat keluar. lengan bajunya tiba2 ditarik oleh Touw thian Gouw. kalian tidak perlu . sedang dibelakang tanggul tanah itu. dari belakang tanggul diSebelah barat tiba2 nampak diri Im Yang siang ciok yang berjalan keluar dengan tindakan lebar.Gadis berkabung itu lalu berkata sambil tertawa dingin: . gadis itu mengatakan dua orang sudah tentu dianggapnya dirinya sendiri yang ditunjuk.com/ hanya ingin melihat jenazah dalam peti mati itu betul atau tidak jenazah sahabat lamaku….Tiraikasih Website http://kangzusi.

setiap orang mengerahkan kepandaian masing2. untuk menghadapi gadis itu. setiap serangannya mengandung kekuatan hebat. Serangan yang dilakukan secara tiba2 dan sangat gesit itu. Meskipun ilmu totokan itu merupakan ilmu biasa saja tetapi digunakan oleh gadis itu nampaknya sangat berbahaya. “Kalian berdua majulah Serentak!” Dengan gerak tipu tidak berobah. Tho Tong terkenal dengan tinjunya yang keras. hampir Tho tong tidak sempat menyinkir. . Tho Tong yang sudah menyingkir dengan cepat sudah melancarkan serangan dengan tinjunya. Tetapi Im yang Siang ciok yang sudah lama biasa bekerja sama.. Gadis itu memutar tangan kanannya yangng digunakan untuk menyerang mulutnya berseru. untung Gan Kang dengan cepat mengeluarkan serangan dari samping. Gadis itu tidak menduga adanya kerja sama begitu rapi dari dua orang ini. totokannya itu ditujukan ke bagian jalan darah Kie bun Hiat dibadan Gan Kang.menyambut serangan gadis itu sehingga Tho tong terhindar dari serangan tersebut.Tiraikasih Website http://kangzusi.” jawab si gadis sambil tertawa. serangan Tho Tong yang bebat itu. Kerja sama dua orang itu sangat rapi sekali.com/ memandang mukanya lagi. Sebelum Gan Kang menarik. Gan Kang yang terlepas dari ancaman bahaya semangatnya terbangun. membuatnya terdesak mundur. sambil mengeluarkan bentakan keras ia juga mulai melancarkan serangannya. ke samping. tiba2 bergerak dengan cepat jari tangannya menotok jalan darah badan Tho tong. kembali serangannya dari tangan gadis itu sudah menyerang kepadanya.

tetapi dua orang ini yang menggunakan dua macam serangan dari golongan keras dan lunak dengan kerjasama yang sangat rapi. Ia berdiri tanpa bersuara. barulah dapat menghindarkan serangan yang aneh dan mematikan dari gadis itu. dilangit juga tampak rembulan yang memancarkan sinarnya. dapat dilihat dengan nyata. …. ia telah dapat melihat bahwa dua kali serangan yang dilacarkan oleh gadis berkabung itu. “ Gadis berkabung itu tiba2 berpaling dengan nada suara dingin ia memotong ucapan orang tua itu. Gadis itu nampaknya sangat murka agaknya merasa heran bahwa kedua kali serangannya tadi tidak berhasil melukai dua lawannya itu. sesungguhnya dapat membinasakan salah satu diantara dua kawan itu. -odwoBab 23 Tho Tong dan Gan Kang setelah berhasil mendesak mundur diri gadis berkabung itu. Lui Heng Wan Setelah mengawasi keadaan disekitarnya tiba2 berkata dengan suara keras. juga bukan tandinganku dan Im yang Siang ciok.Tiraikasih Website http://kangzusi. hanya kedua matanya rerus menatap wajah Tho Tong dan Gan Kang.com/ Lui Beng Wan yang menyaksikan pertempuran itu diam2 juga terperanjat. Ilmu kepandaian yang digunakan malam itu sesungguhnya sangat aneh. Pada saat itu angin dan hujan sudah berhenti sama sekali. “Betapapun tinggi kepandaianmu. juga meloncat mundur dan berdiri berdampingan. “Barang siapa yang .. sehingga keadaan sejauh beberapa tombak. kepandaiannya itusangat berlainan dengan kepandaian ilmu silat ayahnya.

sebentar saja sudah menghilang. barangkali juga tidak akan setujui oleh bibi.” Tiba2 ia melambaikan tangannya. tetapi paman Lui barangkali tidak dapat menerimanya. tidak boleh membocorkan rahasia ini…. aku memberikan kelonggaran tidak akan mengambil jiwamu. “Hanya. jalan yang lain ialah minta paman Lui mengutungi kedua tangan sendiri. supaya tanganmu tidak dapat menulis apa yang kau saksikan malam ini. maka ia segera berkata sambil tertawa “• “Entah dengan cara bagaimana yang kau maksudkan dengan kelonggaran itu?” “Urusan ini mudah dikatakan. sekalipun paman Lui dapat menerima.” Lui Beng Wan mengerti bahwa ucapan gadis itu tidaklah berlebih2an. tetapi kau ternyata datang juga. kau katakan saja. jangan sesalkan aku.” “Apakah kau sudah gila? Aku ini orang macam apa. satu jalan ialah kematian. kemudian terdengar pula-suara gadis itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. karena memandang perhubungan Paman Lui dengan ayah dahulu.” “Jikalau paman Lui tidak suka terima. delapan laki2 berpakaian hitam itu segera bergerak melompat kedalam gerombolan alang2.. bagaimana harus menerima kau perlakukan sesukamu.” “Aku tadi minta paman Lui jangan datang. tunggulah saja kematianmu!” . ini adalah kesalahanmu sendiri. aku pikir sebaiknya tidak perlu dijelaskan lagi. lalu memotong lidahmu supaya mulutmu tidak dapat menyatakan keadaan disini disamping itu masih harus bersumpah bahwa seumur hidupmu. sekarang ini cuma ada dua jalan.com/ malam ini berada disini.” “Aku justru ingin mendengarnya. satupun jangan harap bisa menyingkir dalam keadaan hidup.

com/ Baru saja menutup mulutnya. Tho Tong terkejut. menghindarkan serangan im-yang Siang-ciok. . mereka segera bergerak. mengapa dikalangan Kang-onw belum pernah ada yang menceritakannya. Kedua orang itu tiba2 melesat setinggi enam tujuh kaki. diam2 berpikir. kepandaian juga sangat tinggi. im-yang Siang-ciok melancarkan serangannya dengan serentak. dua lagi menyerbu Lui Beng Wan. dua menyerbu im-yang Siang ciok. dengan cepat melayang sejauh lima enam kaki. kemudian masing2 menggerakkan pedangnya balas menyerang Im-yang Siang ciok. “Kalian bunuh tiga orang ini!” Empat orang berpakaian merah itu menurut. Gerakan empat orang itu gesit sekali. serangan mereka yang terdiri dari golongan keras dan lunak sebelum dua orang berbaju merah itu berhasil menyerangnya sudah didahului oleh serangan Im-yang Siang ciok. Gadis berkabung itu mengacung tangan kanannya keatas. serangannya hebat. entah mereka dari golongan mana.Tiraikasih Website http://kangzusi. “ilmu pedang doa orang ini sangat aneh. Empat orang itu bukan saja seluruh pakaiannya berwarna merah mukanya juga tertutup oleh kerudung kain merah hanya dibagian matanya terdapat dua lubang. munculnya empat orang itu dalam suasana demikian menambah seram suasana. dari dalam gerombolan alang alang itu muncul pula empat orang berpakaian warna merah yang masing masing membawa pedang panjang. mulutnya berkemat kemit entah sedaang berkata sendiri ataukah mendoa. Tiba tiba berkata dengan suara bengis.

Im-yang Siang-ciok terus terdesak mundur. Gadis berkabung itu nampaknya sangat gelisah. ia berhasil . kedua2nya segera melayang turun ketanah. Sesaat kemudian dua orang itu sudah berhasil mendesak. ia juga melakukan gerakan serupa dengan kawannya. serangan itu semakin lama semakin ganas. Kiranya dua orang itu sudah lama biasa bekerja ber sama2. Kalau dua orang itu sedang repot didesak oleh kedua lawannya dipihak Lui Beng Wan keadaannya juga mulai repot tidak dapat menyambut serangan hebat dua orang berbaju merah itu. Im-yang Siang-ciok. tiba2 terdengar suara keluhan tertahan. yang menyaksikan disamping Dalam pertempuran hebat itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. Gan Kang yang berpikiran serupa dengan Tho Tong. Gan Kang ketika melihat kawannya terluka. tetapi kemudian melesat naik lagi dan menyerang kepada dua orang lawannya. juga dikejutkan oleh serangan aneh orang berbaju merah itu. lengan tangan kiri Tho Tong lebih dulu tertikam oleh ujung pedang orang berbaju merah. sehingga setiap gerakannya juga bersama-sama.com/ Sambil berpikir orang itu sudah melompat kesamping. Dua orang itu meskipun menyingkir kelain jurusan yang tidak sama. tetapi kelihatannya seperti mengumpul disuatu tempat. sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk balas menyerang. mereka satu sama lain sungguh saling mengerti. sehingga bekerja sama mereka. dibikin kocar kacir oleh serangan pedang kedua orang berbaju merah itu. Ketika serangan dua orang berbaju merah itu tidak mengenai sasarannya. mengeluarkan serangan dengan seluruh kekuatan tenaganya.

hulu hatinya dirasakan sakit sekali. sehingga tanpa ampun lagi ia jatuh roboh ditanah. Lui Beng Wan semakin repot keadaannya. ditambah lagi hatinya merasa pilu.Tiraikasih Website http://kangzusi. sebentar punggungnya merrasa dingin. maka seketika itu ia menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan suara perlahan. pada saat itu belakang pungungnya telah dihajar oleh kepalan tangan. pada saat itu jalan darahnya dibawah ketiak tertotok oleh lawannya belakang pinggangnya kembali telah tertendang. Setelah Im-yang Siang-ciok tertangkap. dengan tanpa sadar badannya hendak jatuh tengkurap. sehingga serangannya mulai kalut. nona Pan itu kejam dan ganas. aku lihat Lui Beng Wan agak sulit untuk bertahan sampai sepuluh jurus lagi. sehingga matanya ber-kunang2 dan kemudian jatuh roboh ditanah. pedang dua orang berbaju merah menyerang semakin hebat. Siang-koan Kie menghela napas.” Touw Thian Gouw tahu bahwa pemuda itu su dah siap hendak turun tangan memberi bantuan. Tho Tong yang menyaksikan Gan Kang telah roboh. sekarang ini $usah diketahui siapa yang benar dan siapa yang salah….com/ mendesak mundur orang yang menyerang Tho Tong sehingga jiwa Tho Tong terhindar dari kematian. dengan suara perlahan ia berkata kepada Touw Thian Gouw “Saudara Touw. apabila tiga orang itu terjatuh kedalam tangannya. jiwa mereka barangkali tidak tertolong lagi…. “Ini bukanlah persoalan dendam biasa seperti yang terjadi didunia Kang-ouw. tetapi ia sendiri yang sedans berusaha hendak menolong kawannya. aku lihat urusan ini nampaknya sangat ruwet. hatinya merasa jeri karena luka dilengannya sendiri tidak ringan.” . telah melalaikan penjagaan terhadap dirinya sendiri.

sebelum kita mengetahui jelas keadaannya yang sebenarnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. juga tidak yakin bisa merebut kemenangan. “Paman Lui sudah sangat berbahaya keadaanmu mengapa tidak lekas menyerah. sebaiknya jangan bertindak dulu.” Keadaan yang demikian ruwet itu.” Lui Beng Wan yang sudah nekad.com/ Berkata sampai disitu ia berdiam. maka ia bisa berlaku hati2. kalau Kau melawan terus kau jangan sesalkan boanpwee tidak memandang muka Kepada sahabat lama. Gadis berkabung itu berkata sambil mengerutkan keningnya. Sementara itu Lui Beng Wan badannya sudah terkena serangan pedang lawannya. meskipun serangannya mulai agak kalut tetapi . bahkan agak nya ia merupakan seorang pemimpin dari suatu golongan…. bagaikan banteng ketaton. Imu pedang empat orang berbaju merah itu sagat mengejutkannya. dan aneh susah diduga bagaimana sebenarnya. “Didalam rumput gerombolan alang2 itu. agaknya tidak mendengar apa yang dikatakan oleb gadis itu. dengan sepasang tagan kosong ia melawan mati2an kedua lawannya itu. mau tidak mau Touw Thian Gouw harus berlaku sangat hati2. kita masih belum mengetahui dengan pasti berapa banyak komplotnya gadis itu. Karena latihan kekuatan tenaga dalam sudah cukup sempurna.” Touw Thian Gouw sebagai seorang Kang-ouw kawakan yang sudah banyak makan asam garam didunia Kang-ouw. tetapi ia masih melawan dengan nekad. setelah mengatur pernapasannya sebentar baru berkata lagi. apa lagi keadaan pada dewasa itu begitu ruwet. ia mengamuk demikian hebat. sekalipun ia sendiri turun tangan. gadis berkabung itu bukan saja besar sekali pengaruhnya dalam keluarga Pan.

masih mengandung kekuatan amat Gadis berkabung itu tiba2 berkata sambil mengacungkan tangan kanannya. sehingga Lui Beng Wan menggeram dan mundur sampai empat lima langkah. Dua orang berbaju merah itu ketika mendengar suara bentakan itu sejenak merasa terkejut sehingga gerakan pedangnya juga agak lambat. . Tikaman itu nampaknya hebat. tiga empat jurus kemudian. merah itu dengann telah menimbulkan perasaan benci Siang-koan Kie. Hanya tampak tangan kirinya bergerak. empat buah benda berkeredapan melesat keluar kearah dua orang berbaju merah itu. selagi hendak bergerak tiba2 terdengar suara bentakan menyerang kemudian disusul oleh berkelebatnya sesoSok bayangan. Lui Beng Wan pasti akan binasa diujung pedang mereka. setiap serangan mengandung serangku mematikan. mereka menyaksikan Lui Beng Wan dalam keadaan bahaya. bunuh sajalah!” Dua orang berbaju merah itu segera merobah gerakan serangannya. Agaknya dua Orang berbaju merah itu menyerang lagi. oranq itu bukan lain dari pada istrinya Lui Beng Wan.com/ setiap serangannya dasyat. “Kalau sudah tidak dapat menangkap hidup.Tiraikasih Website http://kangzusi. timbulah pikiran yang hendak memberi pertolongan. badannya sempoyongan hampir saja roboh ditanah. Sementara itu Nyonya Lui sudah tiba dihadapan mereka. Mungkin karena orang berbaju dandannya yang menyeramkan. Lui Beng Wan kembali sudah terkena satu tikaman lagi.

Satunya lagi karena gerakkannya lebih gesit telah berhasil memukul jatuh jarum berbisa itu. sudah lama menjagoi dirimba persilatan tetapi dua orang berbaju merah itu dalam berKelana didunia Kang-onw. Gadis berkabung itu setelah memperdengarkan suara bentakkan keras lalu menyerbu sambil melancarkan tiga kali serangan.com/ Senjata rahasia berbisa keluarga Teng dari sucuan. meskipun mereka buru2 berusaha menangkis serangan itu dengan pedangnya. Sebentar terdengar satu diantaranya mengeluarkan jeritan tertahan. tidak menduga bahwa dalam dua tangan wanita itu membawa senjata rahasia. mereka tidak tahu asal usul Nyonya Lui itu. empat benda berkeredapan itu semua terkumpul Satu. sambil membimbing suaminya yang hampir roboh. kemudian jatuh terlentang ditanah. Serangan itu begitu hebat. “Awas senjata rahasianya mengandung racun sangat berbisa…. maka segera membentak dengan suara keras.” Dua orang berbaju merah itu memutar pedangnya untuk melindungi dirinya.Tiraikasih Website http://kangzusi.” Tangan kanannya segera bergerak dari situ tersebar segumpal jarum yang halus. dua orang berbaju merah itu agaknya. Kali ini karena kedua pihak jarak sangat dekat. . tetapi gadis berkabung itu mengetahui dengan baik lihainya wanita itu. tetapi sudah terlambat. mulutnya kembali membentak. sebentar terdengar suara beradunya barang logam. “coba lagi senjata rahasia jarumku yang sangat berbisa ini. Pada saat itu Nyonya Lui sudah berada disamping suaminya. ia terpaksa menyambut dengan tangannya. sehingga Nyonya Lui tidak mendapat kesempatan melancarkan senjata rahasianya lagi.

dan tangan kanannya menyambar pergelangan tangan orang tua itu. Enam orang berpakaian hitam segera membawa Im-yang Siang-ciok bersama Lui Beng Wan suami istri dan orang berbaju merah yang terluka kena jarum racun nyonya Lui.com/ Serangan gadis berkabung itu teryata luar biasa anehnya. minggir kesamping. gadis berkabung itu mendorongnya jatuh ditanah kemudian menyuruh kakaknya mengikatnya. belum sampai sepuluh jurus sudah berhasil mendesak Nyonya Lui sedemikian rupa.Tiraikasih Website http://kangzusi. setiap perobahan dalam gerakkannya susah untuk diduga. nyonya Lui sempoyongan dan kemudian roboh ditanah. segera menyerang sambil membentak keras dan melancarkan satu serangan hebat. Lui Beng Wan yang saat itu sekujur badannya sudah penuh darah dan pikirannya kalut ketika melihat Nyonyanya terluka. Gadis berkabung itu melompat mengelakkan serangan hebat itu. . saat itu tiba2 memburu dan menotok jalan darah Lui Beng Wan. Tidak lama kemudian. Setelah berhasil menyambar pergelangan tangan orang tua itu. lalu menuju kegerombolan rumput alang2. Pertempuran sengit telah berakhir dengan tertangkapnya Lui Beng Wan Gadis berkabung itu setelah memeriksa keadaan disekitarnya sebentar lalu memerintah kan kepada orangnya supaya membawa tawanannya keataS perahu. terdengar suara jeritan tertahan. Pemuda berkabung itu yang sejak tadi berdiri disamping menyaksikan sambil berpeluk tangan. kemudian kakinya menendang lutut laki Lui Beng Wan.

jauh berlainan dengan sikapnya yang dingin tadi akhirnya dalam waktu secepat itu sudah pulih keasalnya ialah seorang gadis yang lemah lembut. gadis itu lalu berpaling dan berkata kepada pemuda berkabung yang berdiri tegak seperti tugu. Gadis itu mendongakkan kepala mengawasi rembutan dan menghela napas perlahani. agaknya masih menunggu perintah gadis berkabung itu. “Saudara Touw. “Benar. kemudian menarik tangan pemuda itu berlalu dari tempat tersebut. tidak takut. kemudian berkata kepada Touw Thian Gauw. ia menarik napas panjang.” . sambil menggandeng satu tangannya ia berkata dengan suara lemah lembut. sehingga pikirannya dan semangatnya seperti sudah terbang.com/ Tiga orang berbaju merah yang tidak terluka masing2 berdiri sambil melintangkan pedangnya. ia menjawab dengan suara gugup. kemudian memerintahkan tiga orang itu juga naik keperahu. mari kita pulang” Suaranya lemah lembut.Tiraikasih Website http://kangzusi. Setelah tiga orang itu berlalu.” Pemuda itu agaknya sudah dikejutkan oleh semua kejadian yang tidak ter-duga2 pada malam itu. Gadis itu tersenyum. Siang-koan Kie berdiri. “Koko. mari kita menengok ketepi sungai. Gadis berkabung itu dengan tindakan lambat2 menghampirinya. Pemuda berkabung itu agaknya dikejutkan oleh perkataan adiknya. apa artinya kejadian serupa ini?” jawab pemuda itu gugup sambil melembungkan dada. Setelah dua orang itu berlalu. kita harus pulang. “Koko apakah kau merasa takut?” “Tidak takut.

”.com/ Sebelum Touw Taian Gouw menjawab. maka lalu berkata sambil tersenyum. “Toako. “Aku tadi naik keatas pohon besar itu.” Touw Thian Gouw lalu berkata sambil mengerutkan keningnya. “Kau tadi pergi kemana….Tiraikasih Website http://kangzusi. jawab Wan Hauw. tidak dapat melihat dengan nyata. “Saudara Wan terlalu merendah.” “Apakah kau dapat melihat peti mati?” “ya aku melihat. tidak usah pergi. dua buah perahu itu sudah berlayar. menyaksikan keadaan disore ini…. “Tidak. rasanya agak menyulilitkan bagi saudara untuk . ia dapat melihat Wan Hauw berdiri terpisah kira2 tujuh kaki dibelakangnya. dibawah sinar rembulan. mereka telah menggotong peti mati itu kedalam sebuah kamar disebuah perahu besar. apakah tidak merasa membosankan?”‘ Sebelum Siang koan Kie menjawab Wan Hauw sudah berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. bertanya Siang-koan Kie. “Kau tadi dapat melihat apa?” “Semula karena hujan deras dan cuaca gelap.” Touw Thian Gouw hanya mengira bahwa pemuda itu berlaku merendah. apakah keluar dari perahu besar itu?” “Benar. tidak. tiba2 terdengar suaranya Wan Hauw.” “Orang2 berbaju hitam dan orang2 berbaju merah itu tadi. kau menanya demikian melit.” Siang-koan Kie segera berpaling. sejak hujan habis berhenti. dengan pertanyaan yang dilakukan oleh saudara Siang Koan. “Saudara Siang-koan.”. aku dapat melihatnya dengan nyata.

” Siang-koan Kie berpaling mengawasi Wan Hauw sejenak. “Apakah perahu itu besar sekali?” “Disamping perahu besar itu masih ada empat perahu kecil. sama Sekali tidak. “Kalau ada yang keluar aku baru dapat melihatnya. sedikit sekali pengetahuannya. terhadap segala utusan dalam masyarakat. juga tidak dapat dimergerti seluruhnya apabila menyuruhnya menceritakan semua apa yang dilihatnya. aku seorang Kang ouw kawakan ini ternyata sudah dibingungkan oleh kalian. Siang-koan Kie yang sudah pernah bergaul lama dengan Wan Hauw. tetapi ia juga tidak tahu apa sebabnya.” “O. Siang-koan Kie lalu berkata sambil tertawa.com/ menjawabnya. Kiranya ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan dengan jawaban Wan Hauw itu.” Touw Thian Gouw yang menyaksikan sikap sungguh2 pemuda itu agaknya merasa heran. tidak terdapat pernerangan lampu. sedangkan perkataannya saja. sehingga siapa2 yang . yang dimaksudkan dalam kamar diatas perahu itu. terdapat orang semacam apa?” Wan Hauw berpikir sejenak baru berkata. “Saudara Touw tidak usah banyak pikiran. ia tahu bahwa Wan Hauw menghadapi soal yang tidak dapat diceritakannya dengan jelas sehingga menggunakan kata-kata yang samar2. kiranya begitu.” “Oh. lalu melanjutkan pertanyaan lagi. ia berpikir sambil menundukkan kepala. saudara ini sejak kecil dibesarkan didalam gunung dan hutan belukar. kalau tidak keluar aku tidak dapat melihatnya Touw Thian Gouw tercengang.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Didalam perahu besar itu. barang kali banyak yang ketinggalan…. menjawab Wan Hauw Sambil meuganggukkan kepala.

kiranya begitu. “Saudara Wan diatas perahu itu apakah ada tanda tanda istimewa?” Wan Hauw menundukkan kepala dan berpikir sejenak. ia laju bertanya. “Kenapa dengan saudara Wan ini?” “Tidak apa2. ia bertanya kepada Siang-koan Kie dengan suara perlahan. “Saudara Wan. Touw Thian Gouw baru mengerti. Touw Thian Gouw tahu bahwa ia tidak dapat melukiskan dengan kata2 apa yang dilihatnya diatas bendera putih. setelah berpikir sekian lama baru berkata. ada….Tiraikasih Website http://kangzusi. dengan diketahui tanda2nya itu. setiap kali ia menemukan kejadian kejadian yang ia tidak dapat menceritakan. nanti batu dapat menceritakanya.”.” Pada saat itu Wan Hauw duduk jongkok sambil bertopang dagu.com/ berada dalam kamar itu tidak dapat dilihatnya. tetapi ia tahu bahwa diatas perahu itu terdapat bendera putih. “Oh. Setelah Siang-koan Kie memberi penjelasan. jawabnya sambil mengangukkan kepala. memang sering berlaku demikian. Touw Thian Gouw terkejut. lebih mudah untuk mencari tahu. kemudian menundukkan kepala lagi nampaknya sedang berpikir. semuanya ada dua buah perahu besar dan empat buah perahu kecil. kemudian mengaruk2 kepalanya sambil menghela napas. maka ia lalu berkata sambil tertawa. kecuali delapan orang berpakaian hitam dan empat orang berpakaian merah.” “Apakah pada bendera putih itu terdapat lukisan gambar?” bertanya Touw Thian Gouw. “Ada. kau . selelah berpikir. ia tidak melihat siapa siapa lagi. diatas dua perahu besar itu ada bendera putih. “0h ya. tetapi ia sangat pintar.

“Saudara Siang-koan.” . kejadian ruwet semacam ini tidak cukup dibicarakan sepatah duapatah kata saja.” Siang-koan Kie menurut. hanya sebuah gedung yang dekat ditepi sungai masih nyala lampunya. “Saudara Siang-koan.. barulah tiba didalam kota. kemudian berkata. begitu melihat sinar lampu itu ia segera mengenali letaknya bahwa gedung itu adalah gedung keluarga Pan. “Mari kita jalan.Tiraikasih Website http://kangzusi. bersama2 Wan Hauw mengikuti Touw Thian Gouw. semua rumah penginapan kebanyakan sudah tutup pintu. . beberapa perahu itu berlayar menuju kemana?” “Berlayar mengikuti aliran air sungai. meskipun aku belum tahu bagaimana keadaan sebenarnya. tentunya tamu2 keluarga itu belum pargi seluruhnya. nanti kita bicarakan lagi per-lahan2. Touw Thian Gouw sudah lama berkelana di dunia Kangouw. tetapi mungkin menyangkut nasib seluruh rimba persilatan. berjalan kira2 puluh pal. tidak luput daripada dua perobahan. tetapi mungkin kudapat memikirkannya. sudah hampir setengah malam kira disiram air hujan. urusan keluarga Pan ini nampaknya tidak ada sangkut pautnya dengan kita. Pada saat itu sudah jam empat pagi.” Touw Thian Gouw menganngukkan kepala lalu berkata kepada Siang-koan Kie. Dalam keadaan demikian dan waktu sudah mendekati pagi masih menyalakan lampu.com/ tidak usah pikir lagi. mari kita mencari tempat untuk bermalam lebih dulu.Dua perobahan apakah itu?” Touw Thian Gouw mendongakkan kepala mengawasi cuaca. maka ia lalu berkata kepada Siang-koan Kie.

tetapi obat ini hanya dapat digunakan untuk merohah warna kulit. nampaknya bukan soal permusuhan biasa. “Untuk mengganti pakaian tidak susah. “Kalau begitu. sudah tentu tidak lolos dari mata Pan-kongcu dan adiknya. sehingga mudah dipergoki. saudara tidak usah khawatir. kemudian berkata:. sekalipun menggunakan obat ini. apakah kau sudah ada maksud handak menyelidiki peristiwa ini?” Dalam hal ini. tapi bagaimana dengan saudara Wan?” “Saudara jelaskan dulu. juga tidak dapat menutupi bentuk wajah aslinya. kalau kita ingin menyelinap kedalam rumahnya harus berusaha menganti rupa dan pakaian kita. siaote pikirkan lagi” “Kalau kita ingin menyeliki rahasia ini. wajah saudara Wan agak berlainan.”.” “cara ini mudah sekali.” “Apabila saudara bermaksud hendak menyelidiki peristiwa ini. tetapi bagaimana merobah muka kita?” “Tentang ini. Maksud saudara apakah ingin siaotee dengan saudara. tidak dapat merobah bentuk mata hidung atau mulut. siaotee khawatir tidak dapat melakukan dengan seorang diri saja.. dengan .Benar!’ “Apabila kita masih tetap dalam keadaan seperti sekarang ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. tetapi juga terdapat banyak tanda2 yang mencurigakan. mau tidak mau kita harus berusaha menyelinap kerumah keluarga pan. aku membawa obat yang digunakan untuk merobah muka kita.” Siang-koan Kie berpikir.” “Siaote ingin dengar bagaimana pikiran saudara Touw. aku mendapat satu pikiran.com/ “ya! Siaotee juga merasa bahwa dalam urusan ini bukan saja sangat mengherankan.

dalam hati berpikir: akal demikian bagus sekali. untuk sembunyikan diri jangan sampai terlihat orang bukanlah soal mudah. apalagi harus mencari soal makannya…. dimana ada tempat yanh tiada terdapat manusia. mungkin hanya dia yang dapat memikirkannya.” “Aku bersembunyi diatas pohon besar tanpa turun.” Wan Hauw tiba2 menyelak.com/ menggunakan pengaruh obat ini untuk menyembunyikan wajah asli kita.Tiraikasih Website http://kangzusi. kemudian berkata sambil mengawasi Wan Hauw. Siang-koan Kie tahu bahwa Wan Hauw sudah biasa hidup dalam rimba. tidak makan nasi juga tidak halangan. pada umumnya banyak akal tipu jahat yang sangat membahayakan. apalagi didunia Kang ouw. kemudian menyelinap kegedung keluarga Pan?” Touw Thian Gouw menganggukkan kepala sambil tersenyum. sudah tentu tidak mudah dihadapinya oleh saudara Wan. tahan lapar dan dahaga. aku juga bisa tidur nyenyak. tentang makanan sudah cukup sayuran dan buah2annya.” “Disini penduduknya sangat rapat. ia berkata sambil menghela . yang tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa. apabila membiarkan ia seorang diri bertin dak. sekalipun ada hujan angin besar. bagaimana orang lain dapat melihatnya?” Touw Thian Gouw tercengang. barangkali kurang tepat. terletak pada diri saudara Wan yang belum mempunyai pengalaman sedikitpun juga dikalangan Kang-ouw.” “SejaK kecil aku sudah biasa tidur diatas pohon. “Berdiam diatas pohon. “Tidak apa aku bisa menyembunyikan diri di tempat yang tiada terdapat manusia tanpa keluar lagi. tidak bisa terlalu lama. “Kesulitan kita pada sekarang ini.

“Baiklah! Besok jam tiga malam kita akan berjumpa lapi ditempat ini. kau harus memberitahukan tempat persembunyianmu. tetapi kadang2 bisa berlaku kejam orang2 rimba persilatan daerah luar perbatasan.Tiraikasih Website http://kangzusi. saudara nanti kalau sudah memakai obat ini akan segera berobah muka saudara. adalah pemberian dari seorang luar biasa dari daerah luar perbatasan. kadang2 bisa berobah seperti orang dari lain tempat. supaya kalau ada kita bisa mencarimu. tetapi Hoa-sin Sie-seng terhadap aku baik sekali sikapnya.” “Hoa-sin Sie-seng nama julukan itu sungguh aneh. hanya adatnya yang luar biasa. Karena dia bukan saja sering merobah mukanya. ada kalanya ia menjadi seorang sastrawan yang seperti tidak mengerti ilmu silat. meskipun semua tahu siapa adanya Hoa-sin Sie-seng itu. tetapi juga logat bicaranya. tetapi siapapun tidak dapat mengatakan bagaimana macamnya orang itu. kepandaian ilmu silatnya juga sangat tinggi. ada kala nya ia seperti orang desa yang berpakaian kasar dan bersikap loyo….com/ napas perlahan. “Obatku untuk merubah warna kulit ini. bukan saja dalam pengertian ilmu silatnya. kita sering bertemu muka. orang hanya kenal nama julukannya Hoasin Sie-seng.” “Orang itu adalah seorang cerdik pandai.. katanya. “Didalam dunia benarkah ada seorang semacam itu?” “Didaerah luar perbatasan banyak terdapat orang gagah. kadang2 suka berbuat banyak kebaikan.” Siang koan Kie yang mendengarkan penuturan itu merasa ter-heran2. ia berkata sambil tertawa.” Wan hauw tertawa kemudian lompat melesat dan sebentar kemudian sudah merghilang. orang luar biasa itu tidak seorang tahu nama aslinya.” . Touw Thian Gouw dari dalam sakunya mengeluarkan dua botol kecil.

com/ ” Dengan keadaannya yang sering2 dirobah itu jikalau kau ingin mencarinya. seng ia lalu mengeluarkan obat bubuk dari dalam botol kecil itu. kulit wajahmu yang putih bersih itu. Touw Thian Gouw membuka botol yang lain.” . benar saja warna kulit berobah seketika.Tiraikasih Website http://kangzusi. pembu nuhan yang sangat kejam didalam kuil tua itu serta apa yang disaksikan tadi ditepi sungai meninggalkan kesan yang sangat dalam dan tidak akan dapat dilupakan dari dalam hatinya. warna perlahan2 berubah sawo matang. bubuk yang berwarna kuning diberikan kepada Siang-koan Kie seraya berkata. Siang-koan Kie lalu berkata. kemudian mengambil sedikit air lalu diulaskan diatas mukanya. rasanya juga sudah tidak mengenali lagi. Dan kini ia harus menghadapi pula suatu kejadian aneh yang tidak dapat dimengerti dalam soal kematian Pan loya…. “Obat ini sungguh menakjubkan. Touw Thian Gouw agaknya tidak ingin mem bicarakan lebih banyak tentang diri Hoa-sin-sie. akan berobah menjadi pucat kuning bagaikan orang berpenyakitan. bukankah susah sekali?” “Kalau ia tidak suka menjumpaimu sekalipun kau mencari ke-mana2.” “Aih! Didalam dunia Kang-ouw memang banyak hal2 yang sangat aneh…. sekalipun orang yang sudah mengenal baik. Sebentar kemudian. “Pakailah ini.” Apa yang telah terjadi dimasa yang lampau. kini terbayang kembali didalam otaknya. juga tidak dapat mene mukannya ada kalanya kau bertemu muka. kulit Touw Thian-Gouw Dengan perubahan itu orang sudah tidak mengenali dirinya lagi. tetapi kau juga tidak mengenalnya.

juga tidak menarik perhatian orang. Touw Thian Gouw berkata sambil tersenyum. sudah tidak ada orang yang mengenalinya. dengan demikian bisa bergerak lebih leluasa.” “coba saudara ceritakan. karena dika langan Kang-ouw. “Sekarang kita pergi lagi kerumah keluarga Pan. “Aku mendapat satu akal.” Touw Thian Gouw berpikir sebentar. lalu mondar mandir di depan gedung keluarga Pan. lalu menyelinap dalam rombongan orang2 rimba persilatan.” “Tetapi apabila aku berjumpa dengan orang2 golongan pengemis yang benar2 bukankah akan terbuka rahasiaku?” .Tiraikasih Website http://kangzusi. Benar saja wajahnya yang putih tampan. kemu dian berkata.com/ Siang-koan Kie mengambil sedikit air untuk mengaduk obat bubuk itu kemudian diulaskan di atas mukanya. sebaliknya sa udara pakaian compang camping. aku sendiri tetap berlaku sebagai orang rim ba persilatan dan pura2 pergi ke keluarga Pan un tuk mentatakan duka cita.” “Kalau kita tidak ingin menimbulkan perhatian orang. yang berkepandaian sangat ting gi. supaya tidak menimbulkan perhatian orang…. tetapi sedikit menyu sahkan saudara.” “Sebaliknya kita bergerak di dalam rumah kelu arga Pan tanpa menimbulkan perhatian orang. memang ada orang2 gagah dari golongan pengemis. segera berubah menjadi pucat kuning. yang penting sekarang kita harus pikirkan bagaimana kita harus mengganti pakaian kita. karena adanya golongan pengemis itu sekalipun saudara nanti mengunjukkan kepandaian ilmu silat. sebaiknya bertindak secara berpencaran. pura2 berlaku sebagai orang dari golongan pengemis.

Tiraikasih Website http://kangzusi. diluar juga diolesi obat ini supaya tidak meni bulkan kecurigaan.” Ia memberikan obat bubuk warna kuning itu seraya berkata. sejenak ia merasa bimbang. mirip atau tidak?” “Meskipun masih banyak terdapat kekurangannya tetapi diwaktu malam. tetapi apabila saudara berlaku hati2. selagi hendak memanggil. perasaannya tiba2 mulai tidak tenang. Touw Thian Gauw sudah tidak tampak bayangannya. saudara boleh berangkat belakangan. ia sudah bergerak menuju kegedung keluarga Pan. Siang-koan Kie tiba2 teringat ia belum menanyakan obat itu apakah akan luntur apabila tersiram air. saudara adalih seorang cerdik. rambutnya juga dibikin aut2an. kemudian membikin lobang bajunya sendiri. pikirnya: kelakuan sekarang ini entah mirip. didalam kalangan Kang-ouw masih terdapat orang gagah yang sifatnya aneh yang sering suka menyaru sebagai pengemis.” Dengan tanpa menunggu jawaban Siang-koan kie. meskipun pengalaman dunia Kang ouw agak kurang. apabila tidak diperhatikan betul tidak mudah dikenali. aku akan pergi dahulu. setelah itu lalu bertanya. atau tidak dengan seorang . “Sebaiknya tangan dan kulitmu yang tampak. “Aku ingin mencobanya” Berkata Siang koan Kie sambil tertawa. “Saudara Touw lihat dengan dandanan seperti ini. tidak akan sampai terbuka rahasianya apalagi kecuali golongan pengemis. Setelah menunggu Touw Thian Gouw sudah kira kira tiba dirumah keluarga Pan Siang-koan Kie baru berjalan.com/ Dalam segala sesuatu kita harus menggantung kan diri kepada kecerdasan pikiran sendiri untuk menghadapi segala kejadian. Waktu ia mendekati rumah keluarga Pan.

” Laki2 itu menarik napas panjang.com/ pengemis apabila tiba dirumah keluarga Pan lalu men imbulkan kecurigaan orang. “Ya! Ia sudah meninggal beberapa hari. “Pan Loya adalah seorang yang sangat baik sekali. begitu pula perkataannya. hari ini baru dikubur. tetapi dari sikapnya telah menunjukkan . tentunya akan mengurangi kecurigaan orang2 keluarga Pan. Laki2 itu ketika berjalan dekat Siang-koan Kie tiba2 berhenti.’ Karena ia ada seorang bangsa bodoh yang pi kirannya agak sempit. “Apa? Apakah benar Pen Loya sudah mening gal?” Siang-koan Kie kini dapat kenyataan bahwa tindak tanduk orang itu agak kasar. segera dapat melihat seorang laki2 berpakaian ringkas dengan sikapnya yang garang berjalan dengan tergesa gesa. kemudian berkata.. bukankah akan men Jadi tertawaan orang?” Selagi masih berpikir dengan perasaan dibelakangnya terdengar suara tindakan kaki orang. sehingga tidak biasa men gunakan kata2 sopan. “Apakan hendak turut mengatakan duka cita kepada Pan Lo-ing Hiong. bagaimana tidak bisa berumur panjang. “Bocah pengemis tahukah kau dimana ke diaman Pan lo Ing Hiong?” Siang-koan Kie diam2 berpikir: Apabila aku bica ra menunjukkan jalan orang ini. sehingga ia mau mendupa bahwa orang itu orang bangsa kasar yang agak bodoh.?” Demikian Siang-koan Kie bertanya. barisan orang yang mengantar panjangannya beberapa pal…. Ketika ia berpaling. cemas.Tiraikasih Website http://kangzusi. setelah mengawasi Siang-koan Kie sejenak lalu bertanya.

Mari aku ajak kau kerumahnya saja! Di-sana masih ada banyak orang yang datang turut berduka cita. Laki2 itu agaknya menjumpai persoalan yang sangat rumit.com/ bagaimana penghargaannya dan rasa hormatnya terhadap Pan Loya.” Saat itu laki2 kasar itu berkata pula: „Saudara pengemis. lalu berjalan men uju kegedung itu dengan diikuti oleh laKi-laki tersebut. Waktu itu meski sudah jam empat pagi.Tiraikasih Website http://kangzusi. tidak berapa lama. entah apa namanya tempat itu. Hati Siang-koan Kie tergerak. ia berpikir sambil mendongakkan kepala dan tidak berkata apa-apa. hanya suara mereka sangat pelahan. aku tidak tahu. pikirnya: Orang yang bodoh dan jujur. . kemudian berkata. tidak mudah didengar oleh orang lain.” Laki2 itu berpikir sejenak lalu bertanya: „Dimana kediamannya?” “To. Pan Loya itu tentunya adalah se orang yang memang patut dihormati…. masih terdapat banyak orang. disana!” jawah Siang-koan Kie sambil menunjuk kegedung yang masih menyalah lampunya. Laki2 itu bepikir lagi sebentar. mereka sudah tiba didepan pekarangan rumah keluarga Pan. Siang-koan Kie berkata pula:. sekali terpisah diri sini.. mereka masih duduk2 sambil minum dan mengobrol. tapi dalam barak yang dibangun diluar gedung itu. tahukah kau dimana letak kuburan Pan lo Ing Hiong? Bolehkah kau ajak aku untuk menengoknya?” Siang-koan Kie terperanjat. orang ini demikian besar pengharga an dan penghormatannya terhadap orang yang su dah meninggal. “Baiklah!” Siang-koan Kie tersenyum. kebanyakan berlaku te rus terang. aku hanya tahu tanah kuburan Pan Lo-ing Hiong sangat jauh.

kini telah terbuka lebar. ia tidak menemukan Touw Thian Gouw. “Saudara ini bukankah hendak datang memberi hormat penghabisan kepada Pan Loya?” Lelaki kasar itu menjawab sambil memberi hormat. si apapun boleh keluar masuk dengan bebas. aku kecuali hanya kenal dengan Pan lo-ing Hiong. yang lainnya tidak kenal lagi. besok pagi kita berangkat kesana. entah kemana perginya.” “Saat ini sudah terlalu malam. Orang2 dalam barak itu. nampaknya seperti orang2 yang diminta untuk membantu keluarga Pan. satupun sudah tidak ada. Laki2 itu mengawasi keadaan pintu sebentar. lalu berjalan dengan tindakan ter-gesa2 waktu mendekati pintu. pinggang mereka semua memakai ikat pinggang kain putih.Tiraikasih Website http://kangzusi. orang2 rimba persilatan yang tadi siang hari begitu banyak jumlahnya. rasanya masih belum ter lambat. bukankah itu Touw Thian Gouw sendiri? Mengapa ia bisa sebagai penerima tamu?” Laki2 itu berkata pula sambil memberi hormat. tiba2 terdengar suara orang: „Tuan tunggu sebentar. supaya aku bisa pergi kesana untuk bersembahyang dihadapan kuburannya. Siang koan Kie terperanjat. harap saudara berdiam disini satu malam dulu. Siang-koan Kie dengan sangat hati2 memperhatikan keadaan sekitarnya. “Benar.” -odwo- .com/ Yang mengherankan adalah pintu besar yang pada siang hari tadi tertutup rapat.” Dari dalam pintu berjalan keluar seorang laki2 pertengahan umur berwajah sawo mateng. harap saudara suka memberitahukan dirimu tem pat kuburan Pan-lo-ing Hiong.

achirnya me lepaskan goloknya yang tergantung diatas punggungnya dan diberikan kepada laki2 bermuka sa womateng itu yang kemudian diserahkan pula ke pada orang yang ditugaskan untuk menjaga pintu. Karena tetamu yang batu datang itu membaWa golok besar dibelakang punggungnya. Orang bermuka sawo mateng itu tiba2 mempercepat tindakannya. agaknya dibingungkan oleh sikapnya itu. Para petugas yang menjaga pintu itu. sehingga mereka tidak tahu harus mencegahnya atau tidak. dua bangku panjang setiap bangku duduk empat orang mungkin anak buahnya Pan Loya. nanti kalau saudara hendak pulang boleh di ambil lagi. Laki2 bermuka sawomateng itu tiba2 berpaling dan berkata. lalu masuk pintu kedua dan mengajak laki2 tinggi kasar itu masuk kesebuah kamar. maka Semua mata orang2 yang duduk dibangku panjang itu ditujukan kepada golok tersebut. Setelah dua orang itu berjalan Siang-koan Kie juga mengikuti dibelakangnya. Didalam pintu terdapat. “Golok saudara ini harap dititipkan disini du lu.com/ Bab 24 LAKI LAKI kasar itu masih merasa sangsi. Siang-Koan Kie sudah mengikuti dua orang itu masuk ke ruangan dalam. laki2 kasar itu agaknya sudah tidak dapat menolak Lagi maka segera turut masuk kedalam. Laki2 kasar itu berpikir sejenak. Siang-koan Kie juga menggunakan kesempatan itu turut masuk dengan berjalan mengikutidibelakang laki2 kasar itu. setelah melalui pekarangan depan. “Silahkan . Dalam keadaan demikian. ketika melihat Siangkoan Kie masuk sambil melembung kan dada. kemudian berkata sambil tertawa. selagi belum tahu apa yang diperbuat.Tiraikasih Website http://kangzusi. yang menyambut itu sudah mempersilahkan tumunya masuk kedalam.

dalam terkejutnya ia lalu menegur. ia tidak dapat memastikan orang itu Touw Thian Gouw atau bukan. “Apakah kau juga hendak turut berduka cita?” Siang-koan Kie mendadak merasakan bahwa logat suara orang itu berlainan dengan Touw Thian Couw. ia sudah berjalan dengan tindakan lebar. orang she Touw itu sudah ber kata lebih dulu. harap saudara beristirahat saja dulu. Siang-koan Kie merasa bimbang. silahkan beristirahat dikamar sebelah timur.” Tanpa menunggu jawaban Siang koan Kie.” jawab laki2 itu sambil menggelengkan ke pala. bau harumnya bunga yang tertiup oleh . dalam dikamar sebelah timur itu. Siang koan Kie yang menunggu diluar kamar. Sebuah ruangan yang mempunyai pemandangan alam yang sangat indah.com/ saudara beristirahat disini dulu.” “Tidak usah. ketika melihat Touw Thian Gouw keluar selagi hendak menegur.Tiraikasih Website http://kangzusi. Achirnya ia telah mengambil keputusan bertin dak menurut petunjuk orang itu tadi dan berjalan kekamar sebelah timur. kini ia pikir hanya dua jalan yang ada baginya. masih ada tem pat tidur yang kosong. sebentar siaote suruh orang membawa arak dan hidangan. Dengan tenang ia memikirkan persoalan itu. satu ialah segera keluar dari dalam gedung kelu arga Pan itu.” “Kalau begitu.” berkata orang itu yang kemudian undurkan diri. dan yang kedua ialah menurut perintah orang itu tadi beristirahat dulu dikamar disebelah timur. aku sekarang belum merasa la par. “Kau adalah orang dari golongan pengemis. “Kau siapa?” Orang itu tersenyum dan berkata.

Pintu kamar terbuka lebar. kekuatan tenaga dalamnya sudah mendapat banyak kemajuan. lalu langsung menuju kekamar pertama.Tiraikasih Website http://kangzusi. Dengan pura2 seperti orang tidur ia memperhatikan dua padri itu. ia terus menuju kesebuah tempat tidur dekat pintu lalu merebahkan dirinya tanpa membuka pakaiannya lagi. tempat itu sunyi sekali. melainkan duduk bersemedi. tetapi ia tidak mendengar suara apa2. Ia segera mengerti bahwa kedua padri itu sedang berbicara dengan menggunakan ilmu yang menyampaikan suara kedalam telinga kepada orangnya yang diajak bicara tanpa didengar oleh orang ketiga. dalam kamar terdapat empat buah tempat tidur. kemudian dipejamkannya lagi. Siang-koan Kie yang selama beberapa bulan ini telah menjumpai banyak kejadian aneh dengan sendirinya menambah pengalamannya yang tidak sedikit. . Kedua orang beribadat itu membuka matanya sejenak mengawasi Siang-koan Kie. mereka bukannya tidur tertelentang. tetapi tidak merasa letih dan ngantuk. Siang koan Kie lebih dulu memeriksa keadaan disekitarnya. agaknya sedang berbicara dengan kawannya. dua orang itu ternyata adalah padri dari gereja Siao-lim sie Tiat Bok taysu dan Ki Bok taysu. Selama beberapa tahun ini. meskipun hampir satu malam ia sudah mengeluarkan banyak tenaga. dua sudah ada isinya dua yang lain masih kosong.com/ angin malam rasa menusuk hi dung Siang-koan Kie. Siang-koan Kie mengawasi orang yang berada ditempat tidur itu. tidak tampak sinar lampu. Padri yang berada ditempat tidur sebelah kiri tiba2 bergerak bibirnya.

Diluar cuaca gelap. Siang koan Kie yang cerdik. maka ia tidak berani membuka mata. pikirnya: sikapku ini mungkin menimbulkan perasaan kurang senang bagi mereka.com/ Padri itu nampak bersenyum lalu mengawasi Siang-koan Kie sejenak. Sebentar kemudian tiba2 terdengar suara tindakan kaki orang yang berjalan masuk kedalam kamar. orang yang baru datang itu agaknya sudah tidur lelap. . sinar lampu dalam kamar sangat lemah. tetapi karena ia merasa bahwa kedua padri itu sedang memperhatikan gerak geriknya. dia Dari sikap kedua orang itu. hingga dalam hatinya tiba2 merasa kurang tenang. kecuali suara mengoroknya orang yang tidur itu. ia juga menggunakan ilmu itu menjawab pertanyaan kawannya tadi . lalu bangun berduduk.Tiraikasih Website http://kangzusi. Sebentar lagi tiba2 terdengar suara orang yang tidur menderus. sehingga ia mengetahui bahwa tempat tidur yang kosong itu kini sudah ada isinya lagi. mana Ki Bok. seolah2 tidak menghiraukan keadaan orang itu. segera berlaku seperti orang dikejutkan oleh suara mengorok itu. tidak terdengar suara apa2 lagi. kemudian disusul oleh suara orang yang rebah dipembaringan. tetapi yang mana Tiat Bok dan yang serdiri tidak dapat membedakannya. Siang-koan Kie meskipun tahu bahwa dua padri itu adalah Tiat Bok taysu dan Ki Bok taysu. Kini ia telah menyaksikan bahwa Tiat Bok taysu dan Ki Bok taysu masih duduk bersila sambil memejamkan matanya. Siang-koan Kie ingin membuka matanya untuk melihat siapa adanya orang itu. Siang-koan Kie sudah merasa bahwa kedua padri itu sedang membicarakan dirinya.

Selagi masih memikirkan soal itu. susah dilihat. Siang-koan Kie yang menyaksikan padri itu turun dari tempat tidur dan berjalan keluar. hingga dalam ketenangan itu dirasakan mengandung kegawatan yang tersembunyi. . ternyata tidak menimbulkan sedikit suarapun juga. yang lain pasti akan menyusul. cuaca diluar kamar bertambah gelap. Ia tidak dapat membedakan suara mengorok yang sebentar pendek dan sebentar panjang itu mengandung maksud apa. tetapi ia dapat memastikan bahwa suara mengorok itu bukan dilakukan oleh orang yang benr2 tidur nyenyak. wajah dan dedaknya orang itu.dengan sinar mata yang tajam mengawasi Siangkoan Kie sejenak. memberikan firasat kepadanya suatu gelagat tidak baik. Tiba tiba merasa bahwa suara mengorok orang itu agaknya mengandung irama tertentu. karena yang satu sudah berjalan dahulu. tetapi Siang-koan Kie yang baru habis menyaksikan pertempuran hebat ditepi sungai dan perbuatan kejam gadis berkabung itu. Pemandangan demikian. tiba-tiba membuka matanya. ilmu meringnkan tubuh padri itu ternyata sudah mencapai ketingkat yang sangat sempurna. seharusnya menimbulkan rasa mengantuk. Dalam dugaannya kedua padri itu pasti akan bertindak bersama2. lalu turun dari tempat tidur dan berjalan keluar.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Siang-koan Kie berpaling ingin melihat bagaimana macamnya orang yang baru datang itu? tetapi orang itu tidur miring kesebelah dalam sambil mengerudungi badannya dengan selimut. kecuali suara mengoroknya. sebab suara itu bukan seperti orang meugorok biasa. padri tua yang duduk ditempat tidur sebelah kiri. Ia memasang telinga memperhatikan suara itu benar saja memang agak aneh.

padri tua tadi telah berlalu.sebetulnya sudah berkumpul orang2 kuat dari golongan benar dan sesat. Siang koan Kie diam2 menarik napas. diluar kamar keadaan tetap sunyi. se-olah2 tidak mengetahui bahwa kawannya sudah berlalu secara diam diam. karena pikirannya sedang dipusatkan kearah barang apa sebetulnya yang berada didalam peti mati itu? Semakin dipikir . Suatu pikiran baru tiba-tiba terlintas dalam otaknya. Suara mengorok secara teratur itu tetap berlangsung. dalam peti mati itu entah terisi barang apa? Apabila benar2 jenazah seseorang. yang lain masih tetap duduk tidak bergerak. Malam per-lahan2 mulai terang suatu tanda bahwa saat itu sudah mendekati pagi hari. ia berpikir sambil memejamkan matanya: Gedung besar yang kelihatannya tenang ini. sedemikian penting pengaruhnya bagi orang2 rimba persilatan?” Semua pertanyaan itu bagaikan kabut yang meliputi dalam otaknya. untuk apa sebetulnya? Apakah semata2 hanya disebabkan kematian Pan-lo Ing Hiong San? “Apa kematiannya itu.com/ Tak disangka dugaannya itu ternyata meleset. dalam sekejap sudah balik kekamarnya dan duduk bersila diatas tempat tidur. „ Tatkala ia membuka matanya kembali. sudah lama padri yang satu itu berlalu. rasanya tidak perlu sedemikian susah payah untuk menyingkirkan dan membawa pergi peti itu kelain tempat…. Siang-koan Kie sudah tidak mempunyai kesempatan untuk memikirkan urusan pederi tua itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. mengapa gadis berkabung itu perlu mengangkut pergi jenasah itu? Tidak perduli jenaZah itu benar jenazah Pan Loya atau bukan.

mengapa demikian takut terhadap adiknya? Apabila dalam peti mati itu benar2 adalah jenazah Pan Loya. Ia memang seorang cerdik. Siang-koan Kie baru sadar apa yang telah diperbuatnya tadi. telah menyebabkan dua paderi itu mendadak membuka matanya mengawasi dirinya. setelah dianalisa olehnya. apakah keistimewaannya jenazah itu sehingga memerlukan mengerahkan demikian banyak orang untuk mengangkutnya dengan perahu? Semua pertanyaan itu. ia segera menitikberatkan urusan ini kepada gadis berkabung itu. “Tidak salah lagi. Apabila isi dalam peti mati itu bukan jenazah manusia. lalu apa? Benarkah gadis berkabung itu adalah anak perempuan Pan Loya? Mengapa ia agaknya mempunyai pengaruh demikian besar? Pan Kongcu yang seharusnya masih pernah kakaknya. mulai menganalisa semua persoalan yang dihadannya. untuk mencari keterangan dari padanya. biar bagaimana ia tidak dapat tidur. perlahan2 ia merebahkan diri untuK tidur. harus dapat membuktikan bahwa Pan Loya dalam .Tiraikasih Website http://kangzusi. maka dengan tanpa disadari ia sudah berseru. ia mengerudungi dirinya dengan selimut.” Karena seruan itu tadi. cara yang paling baik. Karena pikirannya terus memikirkan persoalan yang dihadapinya. didalam peti mati itu pasti bukan jenazah orang…. persoalan itu dibagi menyadi dua bagian serta dibuatnya tafsiran akan terjadinya beberapa perobahan. barangkali lebih sulit. setelah memikir dengan tenang. ialah lebih dulu.com/ semakin kuat anggapannya bahwa apa yang diduga itu tidak salah lagi. tetapi kepandaian gadis itu sangat tinggi sekali bukanlah seorang yang mudah dihadapanya.

sinar matahari sudah masuk kedalam kamar. matanya memperhatikan keadaan sekitarnya. Dengan tanpa menoleh pertanyaan. menimbulkan rasa sunyi dalam hati Siang koan Kie. maka ia menarik napas lega dan melihat keadaan sekitarnya. tetapi tidak kelihatan bayangan seorangpun juga. tidak tahu harus menuju kemana. “Apakah tuan orang golongan pengemis?” . “Siapa? “ Siang-koan Kie melontarkan Orang dibelakang dirinya kembali memperdengarkan suara batuk2. Tiba2 ia mendengar suara tindakan kaki sangat perlahan dibelakang dirinya. yang terdapat disekitar taman itu telah terbuka lebar. ia telah memikirkan banyak persoalan. Dua paderi dan orang yang tidur mengorok itu. benar Pan Loya yang tulen ataukah yang tiruan? Sekarang soalnya ialah dengan cara bagaimana dapat menemukan pintu masuk kekamar rahasia itu? Hari itu meski ia sudah pergi satu hari.com/ kamar rahasia dibawah kamar itu. tetapi orang itu pura2 tidak tahu dan berjalan mendekati dirinya. sebelah memakai sepatunya perlahan2 keluar dari kamarnya. Suara tindakan kaki itu tiba2 berhenti. ia lalu bersiap berjaga2. ia menghela napas sambil menggelengkan kepala. ternyata semua pintu kamar. ia buru2 melompat turun. kemudian disusul oleh suara batuk2. Kesunyian yang luar biasa itu. kemudian baru menjawab. tetapi tidak memperhatikan perjalanannya tahu2 sudah berada dikamar bawah tanah itu… Sambil berkerudung selimut itu. Ketika ia berjalan melalui taman. dianggapnya ia telah mendapat banyak hasil. dalam sekejap sudah berlalu semuanya.Tiraikasih Website http://kangzusi.

Orang itu menatap wajah Siang-koan Kie. demikian ia bertanya dengan nada suara dingin.” menduduki Siang-koan Kie diam2 berpikir: sekarang aku terpaksa harus Mengelabuhinya…. Untuk sesaat lamanya.” Siang koan Kie tiba2 memutar badan.com/ Siang-koan kie tercengang.” Dalam waktu sangat singkat itu pikirannYa bekerja keras. kini ia segera menyaksikan seorang berpakaian ringkas yang ternyata adalah orangnya Pan Loya. mungkin akan menimbulkan kecurigaan lebih besar. ia hanya dengar kata2nya yang sangat menghormat. “Aku yang rendah sudah lama mendengar nama besar golongan pengemis. “Kalau ia bagaimana? Dan kalau bukan bagaimana pula?” Orang itu terus berdiri dibelakangnya. apabila ditanya. apabila aku mengaku. didalam golongan itu locianpwee tentunya kedudukan sangat tinggi…. “Apabila tuan adalah orang dari golongan pengemis.Tiraikasih Website http://kangzusi. dalam hatinya berpikir: apabila aku tidak mengaku orang dari golongan pengemis pasti akan menimbulkan kecurigaan mereka. maka ia lalu memperdengarkan suara tertawa dingin barulah menjawab yang sebetulnya bukan merupakan suatu jawaban. tetapi ia dapat mengambil keputusan dengan segera. aku ingin minta tolong untuk menengok beberapa kenalan lama. ia tidak dapat memikirkan suatu jawaban yang tepat. namun sama sekali tidak tahu keadaan dalam golongan pengemis itu sampaipun siapa namanya Pang-cu golongan itupun tidak tahu. sehingga ia tidak dapat melihat bagaimana sikapnya pada saat itu. kemudian bertanya?” . “Kau mencari aku ada urusan apa?”.

apabila ia tidak bisa menjawah. Orang itu tiba2 menunjukkan sifat girang katanya. pertanyaan itu susah untuk dijawab. Orang itu menunukkan sikap Terkejut. Apalagi mengurus ia nengok beberapa kenalan lamanya. Siang-koan Kie sudah tidak berdaya terpaksa menganggukkan kepala menerima baik permintaannya. . orang itu pasti mempunyai kedudukan dalam golongan pengemis. “Kalau tuan adalah orang dari golongan pergemis.com/ “Apakah dan golongan tuan hanya tuan seorang saja yang datang?” Kembali Siang-koan Kie harus menghadapi kesulitan.Tiraikasih Website http://kangzusi. berapa orang yang datang golongan pengemis ia sendiri juga tidak tahu. tetapi dengan sendirinya berarti pengakuan bahwa ia adalah orang dari golongan pengemis. bagaimana?”‘ Dalam keadaan demikian. sambil menghela napas perlahan orang itu berkata . pasti akan menimbulkan kecurigaan orang. “Tuan muda kita ada mempunyai hubungan baik dengan beberapa sahabat dari golongan tuan” Ada urusan apa tuan mudamu hendak mencari sahabatnya dari golonganku?” jawaban Siang-koan Kie ini diucapkan sangat perlahan dengan hati2 sekali. pasti juga mengenal tuan muda kita?” “Tidak kenal. Orang itu nampaknya mulai cemas.” jawab Siang koan Kie sambil menggelengkan kepala. “Silahkan tuan kekamar kongcu untuk omong omong sebentar. maka lama Siang-koan Kie berpikir masih tidak dapat menemukan jawaban yang tepat. Oleh karenanya.

tetapi takut diketahui oleh orang2nya nona mereka. ia menengok kesana kemari. telah terjadi perselisian sendiri. Siang koan Kie mempercepat tindakkan kakinya menuju kepekarangan itu. Sambil memikirkan bagaimana barus menghadapi Pan Kongcu itu. “Maaf hamba akan berjalan dimuka sebagai penunjuk jalan. Setelah melalui beberapa pekarangan. sebentar sebentar menggapaikan tangannya kearah Siang koan Kie.Tiraikasih Website http://kangzusi. mundar mandir tiada putusnya.” Setelah itu ia melanjutkan tindakkannya. . Orang yang berjalan sebagai penunjuk jalan itu. berjalan dibelakang orang itu. Siang koan Kie sebaliknya merasa tenang. Siang koan Kie terkejut. Dengan adanya banyak orang itu. “Tuan sebaiknya berjalan terpisah satu jarak dengan hamba. keadaannya jauh berlainan. supaya tidak diketahui oleh orang orang dari rona kita. ia mengikuti orang itu berjalan terpisah satu jarak. tibalah di suatu pekarangan yang sunyi. ditempat itu orangnya tidak banyak. kalau begitu diantara keluarga Pan ini. Keluar dari taman itu. seperti lakunya seorang pencuri yang takut kepergok. dalam hatinya berpikir.” Setelah itu ia berjalan lebin dahulu. sekonyong-konyong berpaling dan berkata. baru berjalan beberapa langkah. disitu terdapat banyak orang yang berdandan dengan pakaian ringkas atau berpakaian panjang. Orang ini mengajak aku menjumpai Pan-kong cu.com/ Orang itu menghormat dan berkata. berdiri didepan pintu bundar dengan wajah cemas.

atas pertanyaan Pan-kongcu itu ia hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya. sedang berdiri ditangga batu diluar ruangan. “Siapa nama tuan yang mulia?”‘ “Siaotee she Kian.” jawab Siang-koan Kie sekenanya. Pan-kongcu yang masih memakai pakaian berkabung. maka ia sengaja bersikap dingin. dengan tindakan lambat2 ia berjalan keluar. setelah mempersilahkan tamunya minum teh lalu bertanya. Pan ceng Liang berkata pula. . Pan-kongcu nampaknya sangat kecewa. kemudian mengajak Siang-koan Kie masuk kedalam ruangan. maka ia hanya menganggukkan kepala saja.com/ Itu ada merupakan suatu pekarangan kecil yang terdapat banyak karangan bunga.Tiraikasih Website http://kangzusi. kemudian balik lagi kekamar ruangan dan berkata Siang-koan Kie. Pan kongcu menuangkan teh sendiri sebagai tanda menghormat kepada tetamunya itu. “Aku yang rendah bersama Pan ceng Liang dengan Kim locinpwee dari golongan tuan pernah beberapa kali bertemu muKa. Siang-koan Kie mengawasi keadaan disekitarnya. nampaknya sedang menantikan kedatangannya. “Apakah dari golongan tuan hanya tuan seorang saja yang datang?” Pada saat itu perasaan Siang-koan Kie sudah banyak tenang. karena ia takut jikalau terlalu banyak bicara nanti akan membuka rahasianya. ia mencoba berusaha untuk menenangkan pikirannya yang tegang. begitu melihat Siang-koan Kie segara menghormat dan lari menyongsong. dengan suara perlahan ia memberi pesan kepada orang yang mengantar Sian -koan Kie tadi.” Siang-koan Kie tidak tahu sama sekali bagaimana orangnya yang disebut Kim locianpwee itu.

kemudian berkata pula. menimbulkan perasaan ingin membantu untuk meringankan penderitaan pemuda itu. mungkin dalam singkat siaotee dapat mencari dimana Kim locianpwee berada. Pang-cu kami dan Kim locianpwee. Pan ceng Liang sangat kecewa. mungkin belum mengetahui atau mendengar kabar ini. ketika mendengar kabar meniggalnya Pan lo Ing Hiong.” “Tahukah saudara Koan dimana Kim-Locianpwee berada sekarang?” bertanya Pan ceng-Liang dengan hati cemas.…. maka Siang-koan Kie lalu berkata. ini hanya tinggal tiga hari saja….Tiraikasih Website http://kangzusi. “Mungkin waktunya sudah tidak keburu….” Ia menghitung2 dengan jari tangannya. beritahu kanlah kepadaku juga boleh.” .” Siang koan Kie agak bingung. barulah aku datang kemari untuk turut berduka cita. “Batas waktu sepuluh hari.” Siang-koan Kie diam2 berpikir: apa bila aku mengatakan atas perintah ketua. ia pasti akan bertanya lebih banyak. “Apabila Pan-kongcu ada kesusahan. “Tentang ini….” Melihat wajah Pan ceng Liang yang diliputi kedukaan itu. bukankah segera terbuka kedokku? Setelah berpikir sejenak ia baru menjawab. kadang2 bisa berjumpa tetapi sulit untuk dicari….com/ “Kedatangan saudara Koan itu adalah atas perintah ketua ataukah…. ia berkata sambil menghela napas. “Siaotee hanya kebetulan lewat disini.” Pan ceng Liang mengerutkan keningnya lalu berkata. “Kim locianpwee memang tidak menetap jejaknya. apabila jawabanku tidak benar. ia tidak dapat memikirkan suatu jaWaban yang tepat.

hanya rendah setingkat daripada pangcu. Siang-koan Kie terkejut.” Dibelakang dirinya tiba2 terdengar suara tindakan kaki yang amat ringan. dua tetes air mata mengalir turun katanya pula. Gadis berpakaian putih itu mengawasi Siang koan Kie sambil tersenyum. “Apakah saudara Koan tidak duduk lagi sebentar?” Siang-koan Kie diam2 terkejut karena ia sebetulnya belum ingin pergi. tiba2 terdengar suara seperti orang melemparkan sebuah batu kecil kedalam ruangan itu. “Koko. menatap Siang-koan Kie. tetapi saudara Pan yang pernah mempunyai hubungan baik dengan orang2 golongan kita. tatkala ia berpaling.com/ “Sekalipun sudah tidak keburu untuk mencari Kim locianpwee. “Tetapi ia berkedudukan tinggi sekali dalam golongan saudara. kemudian berpaling dan berkata kepada Pan ceng Liang. tuan ini datang dari mana?” .” Ia menghela napas dalam2. lalu berkata. tetapi sangat mengejutkan Pan ceng Liang. Suara itu meskipun kecil. wajahnya berubah seketika. seorang gadis berpakaian putih sedang berjalan menghampirinya. tetapi karena tuan rumah sudah berkata demikian. sudah seharusnya siaote turut mengeluarkan tenaga untuk memberi bantuan.” Pan ceng Liang mendadak dongakan kepala. “Sekalipun Kim locianpwee datang sendiri.” Berkata sampai disitu. ia lalu bangkit dan berjalan keluar dengan tindakan lebar sambil menyahut: „Tidak usah….Tiraikasih Website http://kangzusi. mau tidak mau dia harus pergi. ia buru2 mengusap kering air matanya dan pura2 girang dengan suara nyaring ia berkata. ia berdiri membisu diluar ruangan. mungkin juga tidak dapat berbuat apa-apa. mungkin sebelum batas waktu tiba dapat mengumpulkan orang2 kuat dalam golongan saudara…..

Tiraikasih Website http://kangzusi. dan jawaban tidak tepat bukanlah akan terbuka rahasiaku?” “Meskipun dalam hati sangat gelisah. untung wajahnya sudah memakai obat.” Gadis berpakaian berkabung itu berdiri dibawah tangga ruangan merintangi berlalunya Siang koan Kie kemudian berkata sambil tertawa. Siang-koan Kie memberi hormat kepada Pan-ceng Liang seraya berkata. . Apakah saudara Koan masih ada urusan penting?” Siang-koan Kie berpikir sejenak.” Siang-kom Kie diam2 merasa cemas. sesungguhnya semua bukan orang luar. aku ingin menanya beberapa patah kata denganmu. “Entah nona Pan ingin menanya urusan apa?” “Silahkan saudara Koan duduk dalam kamar!” Sikap gadis itu membuat Siang-koan Kie merasa agak kikuk menghadapinya.com/ “Saudara Koan dari golongan pengemis. harap saudara Koan berdiam sebentar disini baru pergi lagi. “Aku tidak berani merepotKan saudara Pan. setelah siaotee nanti bersembahyang dimeja abu Pan-lo-ing Hiong. Gadis berkabung itu mengikuti dibelakangnya. nanti akan pergi lagi.” jawab pemuda itu. “Beberapa sesepuh dari golongan pengemis. Gadis itu melihat Siang-koan Kie berdiri saja tanpa bergerak lalu tersenyum dan berkata pula. semua merupakan sahabat baik ayah di masa hidupnya. kemudian balik masuk keruangan. pikirnya “celaka! Apabila ia menanya urusan dalam golongan pengemis. tetapi ia masih menjawab. jikalau tidak pasti sudah merah seluruhnya.

sayang kedatangan siaote agak terlambat.Tiraikasih Website http://kangzusi. untuk menanyakan keadaan tentang meninggalnya Pan-lo ing Hiong. yang pada waktu ini belum dapat dikatakan kepada siapapun juga. saudara nona hanya mengatakan bahwa kematian ayah nona itu secaara tidak terduga-duga. kemudian berkata sambil tersenyum.com/ Setelah berada didalam ruangan Siang-koan Kie diam saja. jenazah Pao-lo-ing Hiong ternyata sudah dikubur. Gadis itu agaknya memuji jawaban saudaranya itu. biji matanya berputaran mengawasi diri saudaranya sebentar lalu berkata. Gadis berkabung itu tersenyum dan bertanya pula. “Apakah saudara Koan sudah lama kenal kakakku?” Siang-koan Kie pada saat itu sangat hati-bati sekali terhadap segala perkataannya setelah berpikir dahulu baru menjawab. sejenak nampak bersangsi. agar dikemudian hari apabila siaote ditanya oleh Pan-cu atau para sesepuh dapat menjawabnya. “Apa yang dikatakan oleh saudaraku sedikitpun tidak salah. tetapi dari pembicaraan para sesepuh golongan kami sering mendengar disebutnya Pan-lo Ing Hiong dan Pan-kongcu. kita berdua saudara memang masih banyak kesulitan yang kita tidak dapat . apa yang kita hadapi dewasa ini. pikirannya bekerja keras mencari akal bagaimana harus menghadapi gadis itu. “Aku dengan saudaramu sebetulnya tidak kenal. dikemudian hari akan kuberitahukan sendiri kepada Pang cu. ia merasa jawaban itu cukup tepat. Gadis itu agaknya merasa heran menghadapi Siang-koan Kie yang bersikap dingin itu. maka aku coba memberanikan diri untuk berkunjung kepada Pan-kongcu.” jawaban itu telah mengelakan tanggung jaWab Pankongcu. “Apakah saudaraku pernah memberitahukan kepada saudara tentang kematian ayah?” “Tidak.

setelah bersangsi sejenak. “Nona Pan masih ada keperluan apa lagi? “Ayah dengan beberapa sesepuh golongan tuan ada mempunyai hubungan baik. itu berarti harus menerjang dengan kekerasan. kini siaote ingin mohon diri. “Kunjunganku ini telah mengganggu ke tenangan saudara. sebaiknya aku mengambil sikap tidak perduli. sudah tentu siaote tidak perlu menanya lebih jauh. “Kedatangan saudara Koan kali ini. tidak tahu saudara Koan dibawah siapa?” . apakah atas perintah para sesepuh dari golongan saudara ataukah atas keinginanmu sendiri?” Siang-koan Kie herpikir. “Saudara Koan harap jangan pergi dulu . Gadis berkabung itu tiba2 bergerak dan merintangi dihadapan Siang koan Kie kemudian berkata dengan nada suara dingin. dengan sikap dan nada suara Kemudian ia berpaling dan menghormat kepada Pan ceng Liang seraya berkata. “Karena saudaramu tidak mau memberi keterangan. “nampaknya gadis ini mendesak terus ingin mendapat keterangan apabila jawabanku salah. maaf siaote tidak suka menjawab….com/ lupakan. dengan nada suara dingin ia berkata. akhirnya ia berhenti dan bertanya.”jawabnya dingin.” Wajah gadis itu tiba2 berobah. apabila ia tidak menurut.” Dengan tindakan lebar ia berjalan keluar.Tiraikasih Website http://kangzusi.…. “Demikian belit nona bertanya.” Siang-koan Kie karena terhalang perjalanannya. aih! urusan ini sebetulnya tidak boleh diketahui oleh orang luar.. pasti akan terbuka rahasiaku.

gadis itu lalu berpaling dari bertanya kepada saudaranya. tentunya adalah salah satu dari kedua pemuda itu?” Siang-koan Kie diam2 berpikir: tentang keadaan dalam golongan pengemis. aku sedikitpun tidak tahu. Telah lama berpikir. Atas pertanyaan nona itu tapi. Ia sebetulnya bermaksud mengejek Siang-koan Kie. mengapa saudara Koan berani berlaku dan bersikap demikian. ia tertawa dingin tetapi tidak menjawab. boleh juga aku berlagak gila saja.com/ Pertanyaan itu nyata sudah mengandung kecurigaan. terpaksa aku akan menjaab juga aku sebetulnya sering mengikut disamping Pangcu.” Wajah gadis yang dingin itu mendadak berubah. jika telah memberikan petunjuk kepadaku. apabila dugaanku tidak keliru. Sikapnya itu benar2 telah membuat gadis berkabung itu percaya. . “Sudah lama aku dengar bahwa didamping Pangcu ada mempunyai dua murid muda ditangan kirinya yang disebut Tothjin jie-Tong. mengingat persahabatan ayah nona dengan beberapa sesepuh golongan kami. “Dugaanku ternyata tidak salah. kiranya adalah orang terdekat dari Pangcu Kembali ia menunjukkan senyumnya kemudian berkata pula. dengan wajah ramah senyuman ia berkata.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Pertanyaan nona ini. siaote sebetulnya ingin menolak memberi jawaban. kedua orang itu maasing2 mempunyai kepandaian sangat tinggi. sungguh tidak diduga Siang-koan Kie telah berlagak gila tidak menjawab pertanyaannya. maka seketika itu ia nampak terkejut. dari sikap saudara Koan.

Entah dengan maksud apa nona menanya demikian teliti? Pang-cu dan para sesepuh golongan kami. aku sendiri tidak jelas. perbuatan nona ini sesungguhnya terlalu gegabah…. kalau ia melakukan perjalanan.” Siang-koan Kie karena sudah terlanjur kini sudah tidak bisa mundur lagi terpaksa ia bersikap keras kepala.” “Kalau begitu silahkan saudara Koan berdiam disini untuk sementara waktu. tetapi kemudian tiba tiba ia merasa bahwa jawaban itu kurang tepat sebab dari pembicaraan mereka berdus ia sudah tahu bahwa kedudukan ketua golongan pengemis itu tinggi sekali.Tiraikasih Website http://kangzusi. biarlah sesepuh saudara nanti yang datang menolongmu!” “Apakah nona bermaksud hendak menahan aku di sini.com/ “Koko benarkah saudara ini adalah salah satu dari ThothiU-joe-tong golongan pengemis?” “Tentang ini. selalu merahasiakan jejaknya. untuk sesaat ia tidak dapat mengambil keputusan ia tidak tahu apakah harus menerjang keluar secara paksa?” .” jawab Pan ceng Liang. bagaimana bisa berjalan seorang diri? Sudah terang saudara ini sengaja menyaru…. tetapi kemudian dibatalkan. bagaimana tiada seorangpun yang tahu atau mendengar kabar. sekalipun aku tahu. Karena berpikir demikian maka ia menjawab dengan nada suara dingin. Semula ia ingin berkata bahwa Pang-cunya berada didekat tempat itu. juga tidak akan memberitahukan kepada siapapun juga. ia mendengarkan suara ketawa dingin bibirnya bergerak hendak mengatakan sesuatu. “Tho chiu-jie-tong selalu tidak terpisah dari samping pangcu.” “jikalau kau tidak percaya boleh coba saja!” Siang koan Kie menatap wajah gadis itu.

katanya dengan suara gusar. sudah boleh terhitung sebagai orang kuat kelas satu dalam rimba persilatan.com/ Gadis itu meskipun sikapnya dingin. maka buru2 berpaling kearah lain seraya berkata.” Bersamaan dengan itu. dapat mengelakkan serangan yang kulakukan secara tiba2 ini. Serangan yang dilakukan secara mendadak itu sendirinya sudah sulit untuk dielakkan. sehingga Pan ceng Liang yang menyaksikan itu lalu berseru. “Aah….” Gadis itu tiba2 bergerak maju jari tangan kanannya menotok jalan darah kie-bun-hiat Siang koan Kie.” . Gadis itu agaknya terkejutkan dan ter-heran2 karena Siangkoan kie dapat mengelakkan serangannya yang dilakukan secara tiba2 tadi.” “Serangan nona secara demikian itu. “Mengapa kau mengawasi aku sedemikian rupa? Hem! Tidak tahu adat.” “Siang koan Kie sedang memikirkan baik menerjang secara paksa atau tidak. ternyata sudah berhasil mengelakkan Serangan gadis itu. tetapi Siang-koan Kie yang memandang tanpa berkedip juga merasa malu. sekarang aku hendak pergi. ketika mendengar teguran itu baru tersadar bahwa sikapnya itu memang kurang pantas. kemudian lalu berkata. “Nama besar To-thjiu jie-tong dari golongan pengemis benar2 bukan siaran kosong belaka. bertindak secara tidak aturan aku terpaksa akan menerjang keluar secara paksa. Siang koan Kie tubuhnya mendadak miring kesamnping dan melompat tiga kaKi lebih. tidak perlu aku berpikiran seperti kau. “Apabila nona. karena mengingat nona adalah kaum wanita. sesungguh nya tidak pantas dilakukan oleh seorang yang mempunyai nama baik dari keluarga Pan. sedangkan gadis itu bergerak demikian cepat dan gesit. sesaat itu merasa tertegun. apalagi kedua belah pihak terpisah dekat sekali.Tiraikasih Website http://kangzusi.

“Sekeluar dari pintu kamar. “Saudara Koan adalah To tong atau ciu-tong. sedikitpun tidak tampak kejahatannya.com/ Gadis itu kembali merintangi Siang koan Kie sambil berkata. sudah terhitung medan pertempuran.Tiraikasih Website http://kangzusi. cepat atau lambat pasti tidak terhindar dari suatu pertempuran.” Siang-koan Kie diam2 berpikir. .” “Baiklah! Karena ruangan ini sempit mari kita bertarung di Pekarangan!” Gadis itu lalu berjalan lebih dulu menuju kepekarangan. aku boleh mencoba dulu tigapuluh jurus. Gadis itu mendadak berhenti dan bertanya kepada Siangkoan Kie sambil tertawa. “Nona boleh bertindak dan mengeluarkan seluruh kepandaianmu!” jawab Siang-koan Kie. Siang koan Kie sudah pernah menyaksikan kepandaian gadis itu ia tahu gadis itu terlalu ganas dan telengas diluarnya memang cantik tetapi dalam hatinya lebih jahat dari ular berbisa. kau boleh pergi. supaya mengetahui sampai dimana dan dari golongan mana kepandaiannya yang dipunyai. jikalau aku hendak menyelidiki urusan ini. kita hanya bertanding tigapuluh jurus saja. tidak lebih. Nona itu berkata sambil tertawa. “Karena nona selalu mendesak. maka kau harus waspada.” Suara nona itu kedengarannya manis dan enak kali. Diam2 ia sudah siap siaga mengikuti dibelakang gadis itu. terpaksa aku mengiringi kehendakmu. tetapi perlu kuterangkan lebih dulu. “Kau ingin pergi? Tidak demikian mudah!’” “Kau mau apa?” “Jikalau kau mampu menyambut seranganku sampai tigapuluh jurus Tanpa mengalami kekalahan.

sementara mulutnya juga berkata. diam2 juga terperanjat dalam hatinya berpikir. yang semuanya dilakukan secara cepat dan ganas serta selalu diarahkan ke bahagian badan terpenting Siang koan Kie.Tiraikasih Website http://kangzusi. dalam waktu yang sangat singkat ia sudah melancarkan serangan sampai lima jurus. “Aku hanya tidak suka menjawab pertanyaan nona itu. kebelakang sejauh tiga kaki untuk mengelakkan serangan dari totokan nona itu.” -ooodwoooJilid 7 Bab 25 SERANGAN demikian cepat yang dilakukan perempuan berbaju putih itu. “Apabila pada tiga tahun berselang.com/ “Tentang ini maaf aku tidak dapat memberitahukan.” “Kutanya dengan baik kau tidak suka menjawab. dapat dielakkan dengan mudah oleh Siangkoan Kie.” Gadis itu melakukan serangan dengan kedua tangannya. sebentar kau mau tidak mau pasti akan menjawab.” Gadis itu tiba2 bergerak. dengan se- . namun mulutnya masih berkata sambil tertawa. kanannya sudah bergerak Siang-koan Kie mengerahkan kekuatannya ke kaki kiri. Siang-koan Kie yang diserang secara ber-tubi2. badannya tiba2 melesat. agaknya juga merasa di luar dugaan. jari tangan kanannya dengan cepat menotok jalan darah dada Siang-koan Kie. “Kau ini bagaimana mengapa selalu tidak suka menjawab pertanyaanku?” Sementara itu tangan melancarkan suatu serangan. serangan itu sudah cukup membuat diriku terluka parah. ia menggunakan serangan telapak tangan dan totokan dengan jari tangan.

pasti akan menimbulkan permusuhan dengan golongan pengemis. “Aku dengan nona tidak ada permusuhan apa-apa. Sambil mempersiapkan kekuatannya untuk menghadapi segala kemungkinan ia berkata. matanya mengawasi Siangkoan Kie dengan tidak berkedip.Tiraikasih Website http://kangzusi. mungkin semacam ilmu yang sangat berbisa. Maka ia segera bertindak dan berdiri di hadapan Siang-koan Kie seraya berkata. per-lahan2 berubah pucat. Pan Ceng Liang yang berdiri di samping agaknya sudah merasakan gelagat tidak beres. Siang-koan Kie merasakan firasat tidak baik tiba2 ia merasakan bahwa gadis itu sedang berusaha hendak melaksanakan ilmunya. Tetapi senyumnya yang ditunjukkan pada saat itu. terhadap perkataannya seperti tidak masuk telinga. ia tahu apabila adiknya itu menyerang Siang-koan Kie sehingga terluka. jangan sesalkan kalau aku bertindak kejam. Perasaan itu menimbulkan khawa yang sangat serius. apabila nona ingin melakukan pembunuhan dan menggunakan ilmu hitam untuk mendapat kemenangan. . “Adik jangan bertindak dulu. Gadis itu hanya tersenyum. Parasnya yang cantik.com/ konyong2 mundur tiga langkah. dengar dulu kataku. kalau tadi senyumnya itu nampak sangat menggiurkan. agaknya seperti orang yang belum kenal. jauh berlainan dengan senyum yang sewajarnya.” Gadis berbaju putih itu memandang Pan Ceng Liang dengan mata sayu. perbuatan tadi hanya untuk menguji kepandaian masing2. tidak menjawab. Gadis itu agaknya sudah berpikir hendak melakukan suatu rencana jahat terhadap dirinya. tetapi pada itu karena parasnya pucat pasi. hingga senyumnya itu nampak menyeramkan.

tiba2 terlintas satu senyuman. tentunya ada semacam ilmu kepandaian sangat berbisa. tiba2 berubah lemah lembut. tetapi ia masih kurang pengalaman dalam menghadapi musuh. hingga ia tidak mau menyingkir…. saudara Pan lekas menyingkir…. sampai ia bangkis.Tiraikasih Website http://kangzusi. suatu kekuatan tiba2 mendorong dirinya ke samping. bibirnya bergerak-gerak. sudah menggunakan seluruh kekuatan tenaganya. Sementara itu desiran angin menyambar kepada badannya. sehingga merasa letih. sebentar kemudian badannya mendadak merasa panas. sikapnya yang dingin. Siang-koan Kie berseru dengan cemas. Baru saja ia menyingkir. segera mundur beberapa langkah. Siang-koan Kie meskipun sudah tahu serangan gadis itu apabila tidak mengandung kekuatan tenaga yang sangat hebat. . Gadis itu setelah melancarkan serangannya.” Pan Ceng Liang masih ragu2. maka meskipun ia sudah mengerti. “Adikmu akan segera turun tangan. Se-olah2 serangannya yang nampaknya sederhana tadi. adikmu sudah siap bagaikan anak panah yang sudah akan terlepas dari busurnya. di samping itu mungkin karena mengandalkan kepandaiannya sendiri. mau tidak mau harus dilepaskan. gerakannya sangat perlahan. tetapi tidak berusaha menyingkir. serangan itu pasti luar biasa hebatnya.com/ Siang-koan Kie berkata kepada Pan Ceng Liang dengan suara rendah. mungkin semacam ilmu yang sangat berbisa…. gadis berbaju putih itu sudah melakukan serangannya.” Di wajah gadis yang pucat pasi itu. Serangan itu nampaknya sederhana. kemudian berdiri sambil memejamkan mata. “Saudara Pan lekas mundur. mengatur pernapasannya. juga tidak mengandung kekuatan tenaga hebat.

“Saudara Koan harap lekas…. setelah aku menggerakkan ilmuku.” Siang-koan Kie mengiakan.Tiraikasih Website http://kangzusi. bagaimana dengan kau? Bagaimana kau merasakan tidak enak?” Siang-koan Kie berdiri tenang. Pan Ceng Liang agaknya mendapat firasat tidak beres. harap lekas berlalu dari sini….” Dari belakangnya tiba2 terdengar suara hening. apakah kau sudah terluka…. dan berkata pula sambil tertawa.” Orang yang bicara itu ternyata adalah gadis berbaju putih.” . dalam pekarangan itu keadaannya masih tetap tenang.” Tangannya tiba2 merasa seperti terbakar. ia lalu mendorongnya sambil berkata. wajah itu masih tetap kuning. tidak boleh tidak harus melancarkan serangan…. ia lalu berkata pula dengan suara cemas.com/ Sinar matahari pagi menyinari kembang2 dalam taman. “Saudara Koan. maafkan perbuatanku. Pan Ceng Liang menghampiri Siang-koan Kie bertanya dengan suara rendah. hanya sekujur badannya nampak merah membara. “Saudara Koan.” “Kalau saudara Koan tidak terluka. tiba2 membuka matanya dan menjawab sambil tersenyum. seolah2 tidak pernah terjadi apa-apa…. seperti juga gadis itu. “Dia sudah terluka dalamnya tetapi tidak apa. “Aku baik2 saja…. “Saudara Koan. tetapi ia masih berdiri tanpa bergerak. sehingga ia berdiri tertegun. setelah makan sebutir obatku segera sembuh lagi. ketika mendengar pertanyaan Pang Ceng Liang. Ketika ia memandang wajah Siang-koan Kie. saudara Koan. dugaanmu tadi tidak salah. saat itu dari sakunya ia mengeluarkan sebutir pel. ia pejamkan mata untuk mengatur pernapasannya.

sehingga aku melukai dirimu. hingga lukanya mulai bekerja dan pikirannya tidak dapat dikontrol seperti biasa. apabila orang lain yang terkena serangan itu tadi. “Pel itu besar sekali faedahnya. apabila perbuatanku menimbulkan permusuhan dengan golongan pengemis. Gadis itu berkata pula sambil tertawa. Gadis itu menyaksikan Siang-koan Kie membolak-balikkan pel dalam tangannya tetapi tidak mau makan. Pel itu berwarna merah tua. lalu berkata sambil bersenyum. “Kakaku di sini. “Nama besar dua pengawal golongan pengemis benar2 bukan nama kosong belaka. ia mengulurkan tangannya menyambut pel dari tangan gadis itu.Tiraikasih Website http://kangzusi.” Ia berkata sejenak. dengan tanpa sadar Siang-koan Kie masukan pel itu ke dalam mulutnya. terlalu banyak orang keluar masuk. ini sesungguhnya bukanlah kehendakku. setelah kau makan. dengan tanpa disadari. oleh karenanya hatiku merasa tidak enak. sehingga membuat Siang-koan Kie bingung tidak berdaya. kira-kira dua jam lukamu pasti akan sembuh. lebih baik kau beristirahat di tempatku.” .com/ Sikap gadis itu sebentar ramah sebentar dingin. berada di dalam tangannya sudah mengeluarkan baunya yang harum. lukamu segera sembuh….” Dibujuk dengan sikap lemah lembut demikian rupa. hingga tidak dapat mengatur pernapasannya dengan hati tenang. tetapi karena mendengar perkataan gadis itu. “Lekas makan! Oleh karena tidak dapat mengendalikan perasaanku. bentuknya sebesar biji lengkeng. lalu memegang tangan kanan Siang-koan Kie seraya berkata dengan muka ber-seri2. barangkali sudah mendapat luka parah dan roboh di tanah.” Pada saat itu meskipun pikiran Siang-koan Kie masih belum terang. Dengan tindakan perlahan gadis itu menghampiri Siangkoan Kie. kemudian berkata pula.

ia duduk bersila di atas pembaringan sambil memejamkan kedua matanya. . gadis baju putih itu ajak Siang-koan Kie masuk ke kamar. kemudian berjalan lagi mengikuti gadis itu. Siang-koan Kie berpaling mengawasi Pan Ceng Liang sejenak.” Pan Ceng Liang agaknya takut benar terhadap adik perempuannya itu. Pan Ceng Liang menyaksikan keadaan tidak beres itu. ia membuka laci meja. Setelah melalui beberapa ruangan. gadis berbaju putih itu agaknya sedikitpun tidak merasa khawatir terhadap Siang-koan Kie. tiba lagi di suatu taman bunga.” Siang-koan Kie mengawasi gadis itu sebentar. Siang-koan Kie tanpa sadar mengikuti di belakangnya. pengaruh golongan pengemis sangat besar sekali…. Kamar itu diperlengkapi perabot yang sangat mewah. “Adik. Pada waktu itu. “Aku sudah tahu. tidak perlu kau peringatkan. di atas paras yang cantik tiba-tiba nampak suatu perobahan yang menakutkan…. “Silahkan saudara Koan mengatur pernapasan di atas pembaringan ini.com/ Setelah itu dengan perlahan ia menggapai. dekat toilet itu terdapat sebuah pembaringan komplit dengan kelambunya. lukamu segera sembuh. di dekat tembok di salah satu sudut terdapat sebuah toilet berhias. benar saja ia menuruti perkataannya. sambil menunjuk pembaringan ia berkata.” Gadis itu tiba2 berpaling seraya berkata. mengeluarkan sebilah belati tajam dan sebotol obat bubuk. sehingga tidak berani membuka mulut lagi. nanti setelah obat itu bekerja. Gadis itu menarik napas panjang.Tiraikasih Website http://kangzusi. ia berdiri sambil menundukkan kepala. buruburu menyusul dan berkata.

Ia mengawasi belati dan botol obat di tangan adiknya. lalu menarik napas panjang dan berkata. di antara mereka hanya satu yang aku kenal. “Apakah ia pernah menanyakan tentang orang she Koan ini?” . masih tinggal berapa hari lagi?” “Sudah lewat tujuh hari. “Sudah…. tetapi biar bagaimana toh masih ada tiga hari. aku kira tidak keburu….” Gadis itu berpikir sejenak lalu berkata. “Adik ada urusan penting aku hendak beritahukan kepadamu…. Sebentar kemudian Pan Ceng Liang yang masih memakai pakaian berkabung masuk ke dalam kamar.” “Batas waktu sepuluh hari. waktu tiga hari dengan cepat akan berlalu…. kemudian mengawasi Siang-koan Kie yang duduk bersemadi di atas pembaringan.” “Apakah kau sudah menghitung waktunya?” bertanya gadis itu dengan nada suara dingin. kemudian disusul oleh suara orang yang berkata.com/ Pada saat itu di luar pintu terdengar suara tindakkan kaki.” “Siapa yang datang? Apakah kau kenal?” “Mereka datang bertiga. barangkali sebentar juga akan terjadi kejadian yang tidak enak. “Celaka! Kau tidak membinasakannya.Tiraikasih Website http://kangzusi.” “Batas waktu meskipun sudah mendesak.” “Engko silahkan masuk. masih tinggal tiga hari lagi.” “Mengapa?” “Baru saja kau membawa pergi saudara ini orang2 golongan pengemis sudah datang mencari….” berkata gadis itu.” “Itulah. apabila kau membinasakan saudara ini.

yang dalam golongan pengemis menjabat jabatan kepala bagian ilmu silat. saudara Koan.” “Siapa orangnya yang begitu biadab?” “Koan Sam Seng. kepandaian ilmu silatnya pasti hebat. mereka sedang mengobrol dengan dua padri dari Siao-lim-sie itu.” Gadis berbaju putih itu mengawasi Siang-koan Kie sejenak. aku ingin melihat Koan Sam Seng itu.” “Kabarnya Koan Sam Seng ini adalah orang yang terkuat dalam golongan pengemis. tetapi sikap mereka sedikit kurang baik. kulit di badannya masih merah. “Mari.” Beberapa kali ia memanggil. “Dia sekarang sedang mengerahkan tenaganya untuk menyembuhkan lukanya. ia menyimpan lagi belati dan botot obat itu. ternyata masih duduk memejamkan matanya. apakah itu betul?” Dalam golongan pengemis ia menjabat kepala bagian silat.” “Mereka sekarang berada di mana?” “Aku sudah mengantar mereka ke ruangan tamu.com/ “Meskipun tidak menanya.Tiraikasih Website http://kangzusi. hanya wajahnya yang masih tetap kuning tidak menunjukkan perobahan apa2. katanya hendak berjiara ke sana. bukan hanya kepandaiannya saja. mana mendengar panggilanmu!” berkata gadis berbaju putih sambil bersenyum. matanya juga tidak terbuka. “Adik. ber-ulang2 menanyakan kuburan ayah. minta paman Kim supaya melayani mereka. kau sebetulnya berikan obat apa kepadanya?” . “Saudara Koan. kedudukannya hanya di bawah Pangcu seorang saja…. sebetulnya orang bagaimana?” Pan Ceng Liang mengawasi Siang-koan Kie. diam2 ia menghela napas dan memanggilnya dengan suara perlahan. tetapi Siang-koan Kie se-olah2 tidak mendengarnya. kemudian berkata kepada kakaknya.

setelah sejenak ia tercengang. “Biar bagaimana hanya tinggal tiga hari saja. tentunya akan menimbulkan akibat…. meskipun ada kemungkinan untuk melupakan sifatnya yang sebenarnya. dalam tiga hari itu. apabila masih belum berhasil…. nyalimu semakin lama semakin besar!” Ia berhenti sejenak. koko. “Bagus sekali. “Adik. ia berkata. adalah seorang terkuat dalam rimba persilatan dewasa ini. bagaimana sampai sekarang masih belum sadar?” Gadis berbaju putih itu agaknya merasa heran bahwa Pan Ceng Liang berani membantah. lalu berkata pula.” . aku sebetulnya berpikir untuk dirimu. baru berkata. dalam urusan ini kau tidak perlu campur tangan lekas ajak aku menjumpai Koan Sam Seng!” Pan Ceng Liang setelah mengucapkan perkataannya tadi. hatinya baru berada lega. barulah berkata sambil tertawa. ketika mendengar teguran adiknya. perlu apa kau menuruti hawa napsu sehingga membuat permusuhan dengan golongan pengemis?” Gadis itu berpikir sejenak.” “Koan Sam Seng dari golongan pengemis itu. jikalau kau tidak dapat kendalikan hatimu dalam urusan kecil.com/ “Susah dikata…. “Obat yang kuberikan kepadanya. tetapi tidak mengusut lebih jauh. nanti akan menggagalkan rencanamu yang besar. tetapi juga dapat menolong jiwanya.Tiraikasih Website http://kangzusi. apabila ia mengetahui kedua pengawal pangcunya telah kau beri obat melupakan diri bagaimana ia mau mengerti.” Bagaimana kau melupakan diri?” tahu aku berikan kepadanya obat “Apabila tidak menggunakan obat yang melupakan dirinya. hingga hatinya merasa ketakutan. baru menyadari kesalahannya. bukan aku terlalu banyak mulut.

“Mari ikut aku!” . Gadis berbaju putih itu dengan satu gerakan perlahan menepuk pundak Siang-koan Kie seraya berkata sambil tersenyum. “Baiklah!” akhirnya berkata. sebab orang yang terdekat Pangcu mereka. ternyata juga bisa meninggalkan mereka. ia mengawasi Pan Ceng Liang sejenak. agaknya seperti orang yang tidak kenal. mungkin bisa timbul bentrokan.com/ Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara tarikan napas Siangkoan Kie yang kemudian melompat turun dari pembaringan. “Jalan! biarlah mereka terkejut. “Saudara ini kini sudah sadar. Gadis itu ketika menyaksikan Siang-koan Kie sadar demikian cepat. koko jangan khawatir! Katahkan koko bawa kita…. Pan Ceng Liang berkata. hal itu merupakan suatu kejadian di luar dugaannya.Tiraikasih Website http://kangzusi. juga tidak berani melukai orang terdekat Pangcu mereka. kemudian berdiri di sampingnya. apakah kita perlu bawa ia menjumpai orang-orang golongan pengemis?” Gadis itu berkata sambil tertawa.” “Betapapun tingginya kepandaian Koan Sam Seng.” “Benar adik hendak membawa dia pergi menjumpai orangorang golongan pengemis?” ”Sejak kapan aku pernah bohong?” Pan Ceng Liang berpikir sejenak. hingga untuk sesaat lamanya ia berada dalam keheran-heranan.” “Koan Sam Seng sudah banyak pengalaman dalam dunia Kang-ouw. apabila diketahui olehnya bahwa saudara Koan telah berobah sifatnya karena pengaruh obat. Sementara itu Siang-koan Kie sudah berjalan dengan tindakan lebar menghampirinya.

tetapi Siang-koan Kie se-olah. Pan Ceng Liang setelah memasuki ruangan itu. tetapi sangat bersih. keistimewaannya ialah pakaian itu ternyata banyak tambalan di sana sini. saban2 mengawasi Siang-koan Kie. lalu memberi hormat kepada para tetamu seraya berkata. tiada satu yang membuka mulut maka walaupun dalam ruangan luas itu terdapat banyak orang. Di samping Tiat Bok Taysu. “Atas kematian ayah telah membuat repot bapak2 dan paman2 yang datang kemari untuk turut berduka cita. Semua orang itu agaknya sedang menunggu tuan rumah. ruangan yang sangat luas itu sudah penuh sesak dengan banyak tamu. Setelah melalui beberapa ruangan. Pakaian baju panjang yang berwarna biru meskipun warnanya sudah luntur. tibalah di ruangan tetamu. Di salah satu sudut ruangan itu. duduk seorang laki-laki tegap setengah umur yang mukanya tumbuh banyak brewok.” .com/ Siang-koan Kie hanya tersenyum tidak berkata apa2. boanpwee sangat berterima kasih. sekarang jenazah ayah sudah dikubur. dengan sikap diam ia berjalan mengikuti gadis itu. Di situ juga terdapat Tiat Bok Taysu dan Ki Bok Taysu dari Siao-lim-sie. Orang2 ini masing2 duduk di tempat sendiri2 dan dilayani dengan sikap ramah tamah oleh Kim Siaoho.Tiraikasih Website http://kangzusi. sehingga tidak berani mengganggu bapak2 dan paman2 membuang banyak waktu lagi….2 tidak mengerti sehingga menengok sayapun tidak. Di belakang laki2 tegap brewokan itu berdiri dua laki2 yang rambutnya tak teratur. sepasang jago pedang dari Ceng-sia-pay dan beberapa orang lagi yang membawa senjata. seorang laki2 bermuka merah. agaknya ingin minta perhatian pemuda itu. tetapi suasana sangat sunyi.

” Sehabis berkata demikian. “Koko jenazah ayah sudah dikubur. tidak ubahnya bagaikan suatu tanda pengusiran kepada tetamunya sehingga mengherankan semua tetamu yang ada di situ. ia menunduk dalam2.com/ Laki-laki brewokan itu berkata sambil tertawa. Pan Ceng Liang merasa sangat heran. ada urusan apa?” “Aku datang kemari atas perintah Pangcu.” Kata-kata gadis itu. bagaimana kalau aku panggil kau hian-tit?” Pan Ceng Liang tahu bahwa orang yang berbicara itu tadi adalah Koan Sam Seng dari golongan pengemis. tidak usah membuat repot lagi.” “Janazah ayah sudah dikubur. “Koan locianpwee.Tiraikasih Website http://kangzusi. Siang-koan Kie se-olah2 tidak kenal dengan beberapa orang itu. . tetapi diam2 memperhatikan sikap dan gerak gerik beberapa orang itu untuk melihat reaksi apa dari mereka setelah melihat Siang-koan Kie. siapa menduga bahwa kenyataannya tidak apa2. boanpwee mengucapkan banyak-banyak terima kasih. apakah orang ini sengaja menyaru?” Gadis itu berkata sambil mengawasi Pan Ceng Liang. “Maafkan aku si orang tua berlaku lancang. budi kebaikan locianpwee ini. mengawasi saja pun tidak. ia buru2 beri hormat dan berkata. pertama hendak mengembalikan sedikit barang untuk ayahmu dan kedua aku ingin memberi hormat penghabisan kepada jenazah ayahmu…. harap koko mengantar bapak bapak dan paman paman ini…. Apa yang dikhawatirkan anehnya ialah dalam soal ini. “Dengan kedudukan seperti Koan Sam Seng tidak mungkin tidak kenal dua orang terdekat Pangcunya. pikirnya.

dengan kedudukannya di rimba persilatan. “Budak perempuan yang sangat lihai sekali…. “Selama beberapa puluh tahun tidak pernah dengar orang menyebut namaku sekalipun Pangcu sendiri sudah menyebut aku saudara Koan. dengan alasan apa menyebut kau Koan locianpwee?” Berkata gadis berbaju putih itu.com/ Koan Sam Seng perdengarkan suara batuk-batuk memotong perkataan gadis itu yang belum habis. katanya.Tiraikasih Website http://kangzusi. apakah locianpwee adalah Koan Sam Seng dari golongan pengemis?” Sebutan nama itu mengejutkan semua tamu yang ada di situ. “Sudah lama aku mendengar bahwa saudara Pan mempunyai seorang puteri yang sangat pandai.” . Koan Sam Seng tercengang. adatnya juga terkenal sangat berangasan. lalu menganggap dirimu sebagai locianpwee? Hem! aku juga belum pernah bertemu muka denganmu. Koan Sam Seng bukan saja sangat kesohor namanya. lalu mau apa?” Dibantah demikian rupa. dianggapnya pasti akan marah besar. apakah oleh karena kau kenal dengan ayah. ia tertawa terbahak-bahak. Ternyata sikap orang she Koan itu di luar dugaan semua orang. bagaimana kau memanggil aku juga tidak akan kuhiraukan.” “Andai kau tidak senang. kembali Koan Sam Seng terperanjat. apakah itu adalah nona sendiri?” “Itu benar. katanya. Koan Sam Seng sedikitpun tidak marah bahkan masih bisa berkata sambil tertawa. “Kau ketawa apa. “Tidak perduli. disebut begitu saja namanya oleh seorang gadis yang usianya baru belasan tahun.” Setelah itu.

com/ “Adikku masih terlalu muda. hawa amarahnya per-lahan2 mulai padam.” berkata Pan Ceng Liang. tetapi ia tidak mau mengumbar hawa napsunya lagi. supaya kalau aku pulang dapat melaporkan kepada Pangcu. tangannya menggeprak meja. sudah tidak sanggup mengendalikan hawa amarahnya. dengan perasaan mendongkol ia berkata. membuat gaduh suasana. dengan sikapnya yang tenang mengawasi kegaduhan itu. “Jika tidak memandang persahabatan Pangcumu dengan ayah almarhum. biarlah aku ditegur oleh Pangcu. Gadis berbaju putih itu tetap berdiam.” . meski hatinya panas.” “Kuburan ayah ada banyak emas dan mutiara serta lukisan2 kuno.” berkata Koan Sam Seng.” Koan Sam Seng setelah menimbulkan kegaduhan itu. demikian kau berlaku terhadap orang tingkatan tua. sejak tadi aku sudah menghajarnya. harap locianpwee jangan berpikiran seperti dia. sehingga tidak tahu aturan. setelah semua tamu duduk di tempat masing2 lagi. Koan Sam Seng yang ber-kali2 ditegur dengan perkataan pedas. hingga cawan2 beterbangan. “Di mana dikuburnya jenazah ayahmu? Aku hendak bersembahyang di hadapan kuburannya. Dalam ruangan itu ada banyak tamu. juga merasa tidak enak hati.Tiraikasih Website http://kangzusi. apa maksudnya kau bertanya demikian melit? Apakah kau hendak membongkarnya?” berkata gadis berbaju putih itu sambil tertawa dingin. mendengar ucapan gadis itu. “Kau sesungguhnya seorang anak yang tidak tahu adat. cawan dan poci yang beterbangan berikut isinya. dengan perbuatanmu yang tidak sopan ini. “Kalau aku berpikir seperti dia. ia baru berkata sambil tertawa dingin. terpaksa aku akan beri sedikit ajaran kepadamu. sudah seharusnya aku usir kau keluar dari sini.

com/ Dual laki2 berambut gondrong dan berewokan yang berdiri di belakang Koan Sam Seng. tetapi sebelum melanjutkan kata2nya. Siang-koan Kie sudah dekat di hadapannya. “Koan locianpwee….” Dua orang itu bergerak cepat sekali. mungkin tidak sanggup menerima kepalan kita…. Dengan sikap seperti orang linglung Siang-koan Kie menghampiri dua laki laki itu.” Dengan sangat lincah ia lompat mundur tiga langkah. Dua laki2 dari golongan pengemis itu saling berpandangan sejenak. alis mereka dikerutkan. sehingga menggelikan para tetamu. “Koko jangan campur tangan. mat mereka ditujukan kepada Siang-koan Kie. sebaliknya sangat terkejut ketika mendengar ucapan itu. “Hajar dua orang itu. “Kau siapa? Dengan wajahmu yang berpenyakitan ini. gadis berbaju putih sudah berkata. dari gerak serangannya itu dapat ditarik kesimpulan bahwa mereka itu berkepandaian sangat tinggi. kemudian berkata kepada Siang-koan Kie dengan suara lemah lembut. tetapi dua laki2 dari golongan pengemis itu.” Sementara itu. Laki2 yang berada di sebelah kiri segera maju setindak dan menegurnya. agaknya merasa kehilangan derajat untuk menghadapi orang semacam itu. Mereka melihat pakaian Siang-koan Kie yang banyak berlobang seperti orang2 golongan pengemis namun mereka belum pernah kenal.” Kata2nya itu se-olah2 terhadap orang yang telah yakin benar dapat mengalahkan dua lawannya itu.Tiraikasih Website http://kangzusi.” berseru Pan Ceng Liang. . segera melompat keluar menyerang gadis berbaju putih itu. untuk mengelakkan seangan dua laki2 berambut gondrong itu. dengan tinjunya ia menyerang dada orang itu.

tetapi setelah menangkis serangan tersebut. Kepindaian Siang-koan Kie sudah termasuk orang kuat kelas satu dalam rimba persilatan. sehingga buru2 mundur tiga langkah. sehingga hampir mendapat malu. ia baru merasa hebatnya serangan itu. sedangkan tangan kanannya menekan dada orang itu. mulutnya mengeluarkan darah. kemudian menyerbunya.com/ Serangannya itu bukan saja sangat keras. Serangannya itu dilakukan dengan kecepatan luar biasa dan mengandung perobahan2 gerak tipu yang susah diduga. Tindakan Siang-koan Kie itu telah menimbulkan perhatian orang banyak. serangan itu mengenakan dengan tepat. juga tidak keburu memberikan pertolongan. Kawan orang yang terluka itu. orang kuat dari golongan pengemis tadi karena memandang rendah kepandaian Siangkoan Kie. segera melancarkan serangan dari samping. tangan kanannya secepat kilat menyambar tangan orang itu. dan orang lalu jatuh di tanah. meskipun ia lalu sadar. sekalipun paderi dari Siao-lim-sie Tiat Bok Taysu dan Ki Bok Taysu serta dua jago pedang dari partai Ceng Sia Pay yang menyaksikan juga kesima. gerak tipu yang digunakan juga luar biasa anehnya. tetapi sudah terlambat. . lalu disendalnya dan diserang dengan tangan kirinya. sehingga kawannya orang itu yang berada sangat dekat. Siang-koan Kie menyerbu terus sambil menendang dengan kakinya. orang kuat dari golongan pengemis itu semula tidak memandang mata kepada Siangkoan Kie.Tiraikasih Website http://kangzusi. Siang-koan Kie dengan tanpa menoleh menggeser badannya. ketika melihat kawannya jatuh dalam keadaan terluka.

dilihatnya kepandaian Siang-koan Kie seperti mendapat kemajuan dengan mendadak. tetapi juga mengherankan gadis baju putih itu. Kejadian itu bukan saja mengejutkan Koan Sam Sang. maka itu. sehingga seluruh kepandaiannya dikeluarkan semuanya. ia tidak suka sembarangan melukai orang. “Ia adalah guru silat yang melindungi rumah keluarga Pan. “Tuan pernah apa dengan nona Pan?” Siang-koan Kie tercengang. tidak tahu bagaimana harus menjawab. sifat2 itu kadang2 mengelaikan dirinya. Siang-koan Kie yang sifatnya baik jujur dan berhati-hati.” Gadis itu sudah menyaksikan sendiri betapa tinggi kepandaian Siang-koan Kie. Gadis berbaju putih itu buru2 menjawabnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. lebih dulu dua orang yang terluka itu masing2 ditepuk badannya. ia berbangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar dengan lambat2. yang merupakan ahli silat kenamaan dalam golongan pengemis. maka sebaiknya meminjam tangan Koan Sam Seng. untuk menyingkirkan Siang-koan Kie lebih dulu. orang itu memperdengarkan seruan tertahan. ia turun tangan tanpa dipikir. ia mengawasi Koan Sam Seng dengan mata sayup. kemudian mengangkat muka mengawasi Siang-koan Kie sejenak.com/ Serangan itu sangat berat. boleh menguji sendiri kepandaiannya. tetapi kini karena ia dalam keadaan lupa dirinya sendiri. badannya yang menyerbu telah terpental balik dan jatuh di tanah. sebelum makan obat dari gadis baju putih. itulah sebabnya . sehingga kalau berhadapan dengan lawan tidak mengforsir kepandaiannya. sehingga ia merasa akan merupakan suatu bahaya besar apabila berada di sampingnya. apabila kau masih kurang puas. lalu berkata dengan nada suara dingin. mereka sungguh tidak menduga kepandaian Siang-koan Kie ternyata sedemikian tinggi. Koan Sam Seng memperdengarkan suara batuk2.

lalu berkata dengan suara nyaring. terhadap segala permusuhan dalam dunia sejak lama sudah .Tiraikasih Website http://kangzusi.” “Jikalau bukan karena Pangcu kita dahulu pernah ditolong oleh Pan Lo Enghiong.” Sebagian besar dari pada tamu itu bangkit dan menjawab. “Tuan-tuan yang ada di sini apakah semuanya datang untuk turut menyatakan duka cita kepada Pan Lo Enghiong…. orang2 rimba persilatan banyak yang menerima budinya. kiranya Koan Sicu juga sudah mengetahuinya. tangan Tiba2 terdengar suara orang memuji nama budha. tenaganya.” “Taysu ada maksud apa?” demikian Koan Sam Seng balas bertanya. “Koan Sicu sudilah kiranya memandang muka Pin Ceng. untuk sementara Pin Ceng minta supaya Sicu berlaku sabar sedikit. Tiat Bok Taysu sudah berdiri dan berkata.com/ maka ia mengeluarkan perkataan yang membuat panas hati Koan Sam Seng. “Dahulu Pan Lo Enghiong tanpa menghiraukan keselamatan diri sendiri. baru berkata. niscaya sejak tadi aku tidak dapat mengendalikan hawa amarahku. entah ada maksud apa Taysu bertanya demikian?” Mata Tiat Bok Taysu perlahan-lahan beralih ke arah gadis berbaju putih. kemudian berkata dengan nada suara dingin. Koan Sam Seng tertawa ter-bahak2. “Benar.” Tiat Bok Taysu setelah menyapu ke arah para tetamu yang berada di dalam ruangan itu.” Diam2 la mengerahkan kekuatan kanannya diangkat per-lahan2. “Kalau memang benar ada seorang yang tidak berarti. “Nona Pan. kejadian itu menjadi buah bibir orang2 rimba persilatan selama beberapa puluh tahun. telah menolong jago2 dari golongan orang baik. lolap adalah orang dari golongan buddha. aku akan turun tangan tanpa ragu-ragu lagi.

“Kau keluarkan dulu surat itu nanti bicara lagi. sebaiknya jangan turut campur tangan…. Pertanyaan itu sesungguhnya di luar dugaan gadis itu. tetapi budinya yang besar itu juga terasa sangat oleh orang-orang dari golongan kebenaran…. lolap sudah . bagaimana aku bisa percaya?” “Apabila lolap mengeluarkan surat yang ditulis oleh ayahmu sendiri. “Dengan hanya mulut kosong tanpa bukti. sebagai orang luar lolap tidak seharusnya turut campur tangan.” Tiat Bok Taysu berkelit ke samping dan berkata dengan sikap keren.” Tiat Bok Taysu dengan tenang mengeluarkan sebuah sampul berwarna putih. “Apabila kedatangan lolap ini adalah atas permintaan ayahmu. tetapi oleh karena Pan Lo Enghiong dahulu pernah menolong sahabat-sahabat kita dalam rimba persilatan dari bahaya tanpa menghiraukan jiwanya sendiri. “Berikan kepadaku agar aku yang membaca. Gadis itu mendadak maju dua langkah sambil mengulur tangannya dan berkata. kau sudah tahu bahwa urusan itu adalah urusan yang menyangkut rumah tangga Pan.com/ merasa tawar.Tiraikasih Website http://kangzusi. apakah lolap harus berpeluk tangan tidak boleh turut tanya?” berkata Tiat Bok Taysu sambil tersenyum. hal itu bukan saja sudah lama menjadi buah tutur orang2 Kang-ouw. tentang peristiwa yang terjadi dalam rumah tangga kamu. sejenak nampak tercengang kemudian berkata.” “Dalam golongan buddha orang mengutamakan cinta kasih dan tidak boleh membenci orang.” berkata gadis berbaju putih itu dengan nada suara dingin. “Nona Pan jangan ter-gesa2. apakah nona hendak memberikan kelonggaran kepada lolap?” Gadis itu berpikir sejenak lalu berkata. lalu dibuka di hadapan orang banyak.

ia berkata dengan nada suara dingin. bagaimana aku dapat mengetahui bahwa itu adalah surat yang ditulis ayahku sendiri. sudah tentu hendak lolap berikan kepada nona untuk membaca. samar2 dapat diduganya bahwa saat ia menulis itu dirinya berada dalam ancaman bahaya kematian. apabila lociansu masih mengingat persahabatan kita yang lama….com/ mengeluarkan surat ini. kata2 itu tidak diteruskan. tetapi dari tulisannya yang ter-buru2 itu dapat diduga bahwa pada saat sedang menulis itu pasti berada dalam ketakutan. .” Entah apa sebabnya. “Silahkan jiwie haca lebih dulu.” “Apabila tulisan itu ditulis oleh ayah sendiri dengan caramu memperlihatkan kepada orang lain itu bukankah berarti sudah melanggar maksud ayah?” “Dalam surat ini.” Gadis itu menunjukkan sikap tidak senang. “Sebelum aku membaca surat itu. tetapi lolap hendak perlihatkan dahulu kepada beberapa sahabat rimba persilatan. sehingga tidak keburu menulis lagi. nona tidak usah khawatir. penyesalan selama tigapuluh tahun masih belum cukup untuk menebus kesalahan itu. apakah kalian tidak bisa memalsunya….” Tiat Bok Taysu lalu memberikan surat itu kepada dua jago pedang dari partai Ceng Sia Pay seraya berkata. dahulu karena kesalahan bertindak oleh perbuatanku. supaya menjadi saksi setelah itu nanti lolap berikan kepada nona.Tiraikasih Website http://kangzusi. tidak tertulis hal2 yang perlu dirahasiakan. nona boleh kenali sendiri. “Kepada yang terhormat Sin Bok losin. waktu aku menulis surat ini.?” “Nanti setelah lolap perlihatkan kepada sahabat yang ada di sini. surat itu tertulis dengan huruf yang agaknya ditulis secara ter-gesa2. tetapi dari suratnya yang baru ditulis setengah itu. sudah dekat pada ajalku. bunyinya sebagai berikut.” Dua jago dari Ceng Sia Pay menyambut surat tersebut dan dibacanya.

-odwoBab 26 GADIS BERBAJU PUTIH itu dengan sinar mata dingin mengawasi gerakan beberapa orang itu.” Koan Sam Seng menyambut surat tersebut. matanya mengawasi semua orang sejenak.” Tiat Bok Taysu setelah memuji nama Budha. kemudian berpaling dan berkata kepada Koan Sam Seng. lalu dikembalikan kepada Tiat Bok Taysu. beberapa kali parasnya menunjukkan sifat gusar. lalu berkata kepada Tiat Bok Taysu. maka selama itu ia diam saja. lalu berkata. ia baru berkata dengan nada suara dingin. mencoba mengendalikan hatinya.com/ Ber-ulang2 dua jago dari Ceng Sia Pay itu membaca surat tersebut. maka .Tiraikasih Website http://kangzusi. Sekarang surat ayah itu sudah seharusnya kau berikan kepadaku. “Teka teki kematian ayahmu menarik perhatian semua sahabat dunia rimba persilatan. setelah Koan Sam Seng habis membaca dan dikembalikan kepada Tiat Bok Taysu.” Tiat Bok Taysu memberikan surat itu kepadanya seraya berkata. “Terima kasih atas kebaikan lociansu yang sudah mengembalikan surat ayah. tetapi ternyata masih dikendalikannya. Tiat Bok Taysu menyambut surat tersebut. nona Pan jangan terlalu mengumbar adat…. “Koan sicu. berhadapan dengan tokoh terkemuka itu.” Gadis itu se-olah2 tidak menghiraukan perkataan Tiat Bok Taysu. ia masih. ia mengulur tangannya menyambut surat itu. setelah dibaca. kemudian surat itu dilipat dan dimasukkan ke dalam sakunya tanpa dibacanya. lalu mengembalikan surat itu kepada Tiat Bok Taysu. ia mengerutkan alisnya. harap juga membaca surat ini. “Lolap sudah menduga nona akan bertindak demikaan.

com/ lolap memperlihatkan dulu surat ayahmu kepada sahabat yang ada di sini. . dengan adanya tiga tokoh kuat rimba sebagai saksi. apabila nona mempunyai kesulitan juga mudah dibereskan!” “Apakah kau takut aku lari?” “Nona adalah sebagai tuan rumah gedung ini. Gads berbaju putih itu tiba2 bersenyum dan berkata. kalau hendak berpindah ke lain tempat. Pan Ceng Liang segera memberi hormat kepada para tamunya untuk minta diri. apabila melepaskan kapal dalam air mengalir keras.” beberapa dari Ceng membaca persilatan surat itu. lolap hanya ingin menyelidiki rahasia urusan yang ditulis dalam surat ayahmu itu dan teka teki mengenai kematiannya. tiga hari kemudian kita nanti bicarakan lagi” Dengan matanya gadis itu memberi isyarat kepada Pan Ceng Liang. saat itu boanpwee akan terus terang membuka suatu rahasia dalam rimba persilatan. itu terserah kepadamu sendiri.Tiraikasih Website http://kangzusi. sekalipun nona menerima kembali juga sudah tidak ada gunanya. tiga hari kemudian harap datang lagi kemari. itu saja sudah cukup!” “Taysu perlu apa berlaku demikian ceremis. disuruh mengundurkan diri. lalu berlalu bersama gadis itu. nanti kalau lolap datang kemari lagi nona barangkali sudah berada ribuan pal jauhnya. kini sudah ada dua kawan Sia Pay dan seorang dari golongan pengemis yang surat itu. “Apabila locianpwee ingin mengetahui apa yang telah terjadi. supaya lolap dapat melaporkan kepada ketua kuil.” “Kalau begitu bagaimana menurut pendapatmu?” “Sebaiknya sekarang nona menceritakan apa yang telah terjadi di hadapan sahabat-sahabat rimba persilatan.” “Dalam waktu tiga hari.

hanya menampak Wan Hauw berdiri bingung seorang diri. tiba-tiba ia ingat bahwa batas janji untuk bertemu lagi dengan Siang-koan Kie dan Wan Hauw sudah sampai. Siang Koan Kie mendadak berubah sifatnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. kemudian baru berkata.com/ Tiat Bok dan Kie Bok Taysu serta dua jago pedang dari Ceng Sia Pay dan Koan Sam Seng semua pada melengos. terpaksa ia meninggalkan gedung keluarga Pan dan kembali lagi ke tempat di mana hendak mengadakan pertemuan dengan kedua kawannya itu. hal itu mau tidak mau membuat jago Kang-ouw kawakan yang sudah banyak berpengalaman itu berada dalam kebingungan. Para tamu lainnya yang ada dalam ruangan itu setelah duduk lagi sebentar. selamanya belum pernah meleset. tatkala melihat Touw Thian Gouw datang seorang diri. “Apa? Apakah ia belum datang?” “Apa yang dikatakan oleh toako. kau bawa toako ke mana…. tetapi ternyata ketika ia tiba di tempat tersebut.? sekarang kembalikan kepadaku…. Sementara itu Wan Hauw yang sudah menunggu lama kedatangan dua kawannya. Touw Thian Gouw sebetulnya masih mengandung sedikit pengharapan bahwa Siang-koan Kie sudah tiba ke tempat itu lebih dahulu.” Dalam cemasnya ucapara Wan Hauw semakin tidak dapat mengutarakan maksudnya dengan jelas sehingga pada . “Di mana toako? Mengapa ia belum datang?” Pertanyaan Wan Hauw itu membuat Toow Thian Gouw seperti diguyur dengan air dingin. sejenak ia merasa bingung. sebaliknya. Waktu itu Touw Thian Gouw meskipun sudah memakai obat di mukanya dan masuk lagi ke gedung keluarga Pan. masing-masing juga pada berlalu dengan perasaan terheran-heran. tetapi masih belum berhasil mendapat keterangan rahasia apa2. buru-buru menghampiri dan bertanya.

“Saudara Wan. ia berkata kepadaku hendak bertemu di tempat ini. mengapa hingga sekarang masih belum datang?” “Di telah makan obat yang membikin lupa kepada dirinya sendiri….Tiraikasih Website http://kangzusi.” “Toakoku selamanya belum pernah mengingkari janji. setelah hawa amarah Wan Hauw mulai reda baru berkata dengan sikap ramah tamah.com/ akhirnya. biarlah aku menjelaskan dahulu. “Siapa saudaramu? Apabila kau tidak carikan kembali toakoku.” “Apa? Mari kita lekas pergi menolong!” . ia berkata dengan sikap sungguh-sungguh.” Tetapi Wan Hauw menggeram dan berkata dengan suara keras. kalau kau ingin berkelahi atau bagaimana. ia terpaksa diam saja tidak menyahut.” “Beritahukan lebih dulu kepadaku. apa yang dikatakan olehnya selanjutnya.” “Dia bukan saja masih hidup. matanya terbuka lebar. mungkin bisa bertindak menyerang dirinya.. apabila tidak segera mendapat pemecahan se-baik2nya. harap kau tenang dulu. suaranya semakin keras. bahkan masih berada dalam gedung keluarga Pan dengan keadaan baik-baik. kau jangan marah dulu…. “Saudara Wan. semua boleh dibicarakan dulu…. tidak dimengerti oleh Touw Thian Gouw. Touw Thian Gouw tahu bahwa pemuda itu masih berhati putih bersih dan jujur. tangan dan kakinya bergerak-gerak seperti orang kalap. toakoku sebetulnya masih hidup atu tidak? Kita nanti bicara lagi. Wan Hauw semakin gelisah.” “Apakah ucapanmu ini benar?” Aku selamanya belum pernah membohong. kita adu jiwa dulu.” Touvv Thian Gouw tercengang.

” Wan Hauw menarik napas panjang lalu berkata. “Baiklah.” Touw Thian Gouw tahu bahwa pemuda itu takut akan ditinggal lari. ia melihat pohon besar itu setinggi kira2 tiga tombak. apabila orang duduk di atasnya.” Wn Hauw berpikir sejenak.” Touw Thian Gouw mendongakkan kepala. maka ia terpaksa menganggukkan kepala dan menjawab. daunya lebat.Tiraikasih Website http://kangzusi. kau dengar dulu keteranganku baru boleh bertanya. jangan baru dengar setengahnya lalu marahmarah. masih ada apalagi?” . bukan saja dapat melihat keadaan di sekitarnya. ia dapat memanjat pohon itu demikian cepat. barulah memikirkan rencananya untuk pergi menolong. maka ia lalu melompat ke atas pohon. di sini bukan tempatnya untuk bicara. “Mari kita naik ke atas pohon besar ini untuk berunding. Touw Thian Gouw lebih dulu menarik napas perlahan. kemudian berkata. “Saudara Wan. tetapi kau juga harus menerima baik permintaanku. setelah aku nanti menjelaskan duduk perkaranya.” “Permintaan apa?” “Sebelum dapat menemukan toakoku kau harus berjalan bersama-sama denganku. apabila tidak menerima baik permintaannya. juga tidak usah takut ada orang lain yang mendengar. hingga dalam waktu sekejap sudah berada di atas Touw Thian Gouw. “Baiklah.com/ Touw Thian Gouw menghela napas perlahan dan berkata. lalu mencari tempat yang agak lebat daun pohonnya untuk duduk berbicara. mari kita pergi dulu ke tempat yang sepi. “Urusan tidak sedemikian mudah seperti apa yang saudara bayangkan. Wan Hauw buru2 mengejar. lalu berkata. Setelah berada di atas pohon. pasti akan menimbulkan pertengkaran.

tidak perduli permintaan apa saja.” “Peristiwa yang menimpa keluarga Pan itu.” Touw Thian Gouw diam2 berpikir. ia dapat menduga bahwa tiga hari kemudian gadis berbaju putih itu justru memerlukan bantuan tenaga.” “Asal kau dapat menolong kembali toakoku. tetapi harus bertindak menurut perintahku. aku tidak akan meninggalkan kau. “Mari kita pergi melihat dulu ke gedung keluarga Pan!” berkata Wan Hauw. tetapi aku juga ada satu permintaan. apabila ada kejadian apa2 yang tidak beruntung. “Orang ini meskipun bodoh.” “Baiklah! Tetapi aku cuma akan dengar perintahmu dalam tiga hari itu saja. “Baiklah! Satu hari aku tidak bisa menemukan toakomu.” Wan Hauw berpikir sejenak lalu berkata. aku akan mengganti jiwanya. “Entah berapa lama kita harus menunggu?” “Barang kali tiga hari.” Ia lalu bersenyum dan berkata. kau tidak boleh mengendalikan aku lagi. aku akan terima baik. maka selama tiga hari itu pasti tidak akan membinasakan pembantu seorang kuat seperti Siang-koan Kie.” .Tiraikasih Website http://kangzusi. dewasa ini sudah menimbulkan geger dunia rimba persilatan daerah Tiong Goan. apabila tiga hari kemudian aku tidak melihat toako.com/ “Apabila toakoku binasa. “Untuk pergi melihat dulu boleh. tetapi sangat jujur dan setia kepada kawan.” Sebagai orang yang sudah berpengalaman. banyak orang kuat dalam rimba persilatan daerah Tiong Goan yang tersangkut dalam peristiwa ini. maka kita juga tidak boleh berkata tergesa-gesa atau bertindak sendiri. kita berdua juga tidak perlu hidup lagi.

. mungkin terjadi pertempuran besar maka ia memakai pakatan ringkas dan tidak lupa membawa senjatanya. tetapi karena sudah berjanji. tetapi hatinya jujur meskipun keinginannya sendiri berlawanan dengan Touw Thian Gouw. yang katanya pada malam hari ketiga baru boleh pergi. Kalau menurut pikiran Wan Hauw. ia harus tepati. ia segera akan menerjang masuk untuk mencari Siang-koan Kie. tetapi ditolak oleh Touw Thian Gouw. jam dua malam. maka kedatangan kedua orang itu tidak ada yang merintangi. Touw Thian Gouw karena mengingat bahwa dalam kunjungannya itu.com/ “Baiklah!” Mereka lalu melompat turun dan lasi menuju ke gedung keluarga Pan. Selama dua hari itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. Hari yang di-tunggu2 itu akhirnya telah tiba. Touw Thian Gouw mengajak Wan Hauw ke suatu tempat yang sunyi. Di sekitar gedung keluarga Pan itu meski terjaga oleh banyak tokoh kuat rimba persilatan. berulang-ulang mendesak Touw Thian Gouw untuk segera mencari Siang-koan Kie. baru mengajaknya ke suatu rumah makan. tetapi karena Tiat Bok Taysu sudah berjanji dengan gadis berbaju putih itu. Wan Hauw meskipun sifatnya seperti seorang tolol. setelah makan kenyang. setelah hari terang. baru beristirahat dua hari. keduanya duduk berhadap-hadapan sambil mengatur pernapasan. Wan Hauw merasa cemas sekali. tetapi tidak boleh ada yang keluar. mukanya memakai kerudung kain hitam dengan mengajak Wan Hauw lari menuju ke gedung keluarga Pan. maka selama tiga hari itu gadis berbaju putih itu hanya mengijinkan orang masuk. tetapi keinginan itu dicegah oleh Touw Thian Gouw.

tidak tahu apa sebabnya. samar2 menangkap suara orang bernapas. mungkin masih belum berhasil menolong padanya. Touw Thian Gouw lalu berpaling dan berkata kepada Wan Hauw dengan suara perlahan.” Dengan tindakan lebar ia berjalan masuk. lalu berkata. jelas bahwa dalam ruangan itu sudah penuh orang. malam ini kau tidak boleh mengendalikan aku lagi. Touw Thian Gouw berkata kepada Wan Hauw dengan suara perlahan. terus menuju ke ruangan itu. Wan Hauw mengikuti di belakangnya. barak2 yang dibangun itu masih tetap ada. setelah melalui pekarangan dalam gedung yang luas itu. Semua pintu dalam gedung itu terbuka lebar tetapi tidak kelihatan lampu menyala. terus menuju ke ruangan belakang. “Sudah tentu.com/ Malam itu rumah keluarga Pan itu tidak ada penjagaan. dalam ruangan itu tidak ada lampu terang. hati-hati.” Touw Thian Gouw berpikir sejenak. tetapi sudah tidak ada orang yang menjaga. “Malam ini kita hanya boleh melihat toakomu.” “Apabila tidak berhasil melihat toakoku. “Saudara Wan. ternyata keadaan gelap gulita. Ia memasang telinga. Touw Thian Gouw mendadak berhenti sebab ruangan besar yang dijadikan oleh gadis baju putih untuk mengadakan pertemuan Tiat Bok Taysu dan lainnya. kedua pintu besar gedung itu terbuka lebar tetapi keadaamnya sunyi senyap. keadaan itu jauh berbeda dengan keadaan tiga hari berselang. juga tidak kelihatan ada orang yang merintangi. kau harus mendengar perkataanku tidak boleh sembarangan turun tangan atau ribut2.Tiraikasih Website http://kangzusi. Touw Thian Gouw yang sudah kenal baik dalam keadaan gedung itu.” .

tetapi tidak terdengar suara orang berbicara. semua sudah ada di situ. tetapi banyak juga yang melongo-longo dengan sikap tegang. di samping mereka masih terdapat banyak orang yang jumlahnya kira-kira enam puluh orang.com/ Dengan tindakan perlahan ia berjalan masuk ke dalam ruangan. Wan Hauw yang mempunyai daya pandangan mata luar biasa. Tiba-tiba terdengar suara bunyi kentungan tiga kali. Dalam suasana sunyi itu. terapi ia tidak melihat Siang-koan Kie. banyak yang beristirahat sambil pejamkan mata. ia masih dapat melihat keadaan dalam ruangan. Sikap orang-orang itu sangat berlainan. di salah satu sudut dalam ruangan itu terdengar suara orang berkata. Dalam ruangan besar itu sudah terdapat banyak kursi. meskipun berada di luar ruangan. “Tiat Bok toheng. terdengar suara beberapa orang yang bergerak. aku melihat budak perempuan itu tidak akan balik. Hampir satu persatu orang orang yang berada dalam ruangan itu diamat-amati oleh Wan Hauw. tetapi ia tidak mau bertanya. Ia dapat lihat bahwa dua paderi dari Siao-lim-sie dan dua jago pedang dari Ceng Sia Pay yang hari itu sudah pernah dijumpainya. sementara itu matanya terus berputaran mengawasi orangorang yang berada di situ. “Aku tidak mati. mengapa tidak kembali?” . hingga hatinya semakin gelisah.Tiraikasih Website http://kangzusi. di atas kursi itu terdapat banyak orang yang duduk di tempat masing-masing. Meskipun dalam hati merasa heran. kemudian duduk diam-diam di samping Touw Thian Gouw. suatu tanda sudah tiba jam tiga malam.” Tiba-tiba terdengar suara jawaban halus tetapi dingin. ia ikut masuk di belakang Touw Thian Gouw.

rambutnya yang panjang terurai di kedua pundaknya. saat itu berubah sangat menakutkan darah yang mengucur di pipinya. kemudian berkata. lengan tangan kiri dan pundak tangan kanan ddikatnya dengan kain putih. tetapi masih ditembusi oleh darah merah. dengan wajah pucat pasi dan tangan membawa api perlahan-lahan berjalan ke dalam ruangan.Tiraikasih Website http://kangzusi. Paras gadis baju putih yang semula sangat cantik. telah menutup kecantikannya. Semua tamu yang berada dalam ruangan itu telah dikejutkan oleh perobahan yang tidak terduga-duga itu. sebentar kemudian Pan Ceng Liang bersama Siang-koan Kie dan Kim Siao-ho berjalan masuk ke dalam ruangan.com/ Diambang pintu ruangan besar itu nampak sinar api. sehingga keadaan dalam ruangan itu menjadi terang benderang. . “Nona Pan benar2 seorang yang boleh dipercaya. dua orang itu tidak terdapat tanda luka. Sekujur badan Pan Ceng Liang juga penuh darah. sekujur pakaiannya yang putih bersih juga sudah penuh darah. Dengan tindakan perlahan gadis itu menuju ke tempat duduknya. tetapi ketika menyaksikan keadaan demikian juga merasa jeri. “Saudaraku juga belum mati. Siang-koan Kie dan Kim Siao-ho tetap dalam keadaan biasa. Tiat Bok Taysu setelah menyebut nama Budha lalu berkata. entah saudaramu turut datang atau tidak?” Gadis itu menarik napas panjang. mengapa tidak datang?” Ia lalu menggapaikan tangannya. kemudian memasang dua buah lilin merah yang ada di hadapannya. baju putih gadis itu nampak penuh darah merah. Meskipun semua orang yang ada di situ merupakan orang2 yang berkepandaian tinggi.

tetapi tidak berkata apa-apa.com/ Tiat Bok Taysu mengerutkan alisnya dan bertanya. Touw Thian Gouw menarik tangannya tetapi Wan Hauw sudah lari menuju ke samping Siang-koan Kie dan memanggilnya. apakah kau sudah tidak mengenal saudaramu?” Mata Siang-koan Kie berputaran menatap Wan Hauw sejenak. juga matanya menatap wajah Wan Hauw se-olah2 tidak pernah mengenal. “Harap nona beristirahat dulu sebentar. untuk memperhatikan wajah Siang-koan Kie. lalu mengatur pernapasannya. apakah artinya ini?” Gadis itu tertawa hambar. “Nona Pan. . meskipun saat itu Siang-koan Kie sudah berubah mukanya. Beberapa kali ia hendak memanggil. Sejenak Tiat Bok Taysu nampak tercengang. tetapi masih dikenali olehnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. tetapi selalu dicegah oleh Touw Thian Gouw. ia lalu bangkit dan berjalan dengan tindakan lebar. ia memejamkan kedua matanya. Sudah beberapa tahun lamanya ia berada ber-sama2 dengan Siang-koan Kie. Mata Siang-koan Kie yang sayu. lalu per-lahan2 berpaling mengawasi ke arah lain.” Gadis itu tidak perdulikan Tiat Bok Taysu. kemudian “Kuberitahukan kepadamu juga tidak ada gunanya. “Toako. “Toako.” berkata. Sementara itu Wan Hauw telah memasang matanya. Wan Hauw berkata pula dengan suara keras.” Siang-koan Kie mengawasi Wan Hauw sejenak. kemudian berkata sambil tertawa. Kali ini Wan Hauw tidak dapat dikendalikan lagi. sedang ditujukan kepada setiap orang yang berada di situ. lolap bersedia mendengar keteranganmu.

bagian yang terluka itu semua merupakan bagian yang tidak mudah terluka dalam pertempuran. hanya dengan sinar mata yang dingin mengawasi reasi Siang-koan Kie.” Wan Hauw berpaling mengawasi Touw Thian Gouw lalu berkata. ia masih belum sadar. ia berkata dengan suara perlahan. Oleh karena tertutup oleh pakaian dan darah merah.” “Baiklah!” Sinar lilin merah itu menerangi seluruh kamar yang luas. “Apa? Kita tunggu sebentar apakah ia bisa sadar?” “Pada waktu itu apabila. membiarkan dirinya dilukai. luka itu seharusnya parah. kita duduk dulu. saat itu darah masih nampak mengucur. siapapun tidak tahu bagaimana keadaan lukanya. gadis itu agaknya berdiri tanpa bergerak. “Saudara Wan.com/ Gadis berbaju putih itu juga tidak berkata apa2. Yang mengherankan ialah. kita mencari akal lagi. semua mata orang banyak ditujukan kepada gadis berbaju putih. “Bagaimana keadaan luka nona?” “Tidak sampai mati. Touw Thian Gouw takut Wan Hauw dalam cemasnya akan menimbulkan huru hara maka segera menghampiri sambil memegang tangan kiri Wan Hauw. akhirnya perkataan Tiat Bok Taysu memecahkan kesunyiaan itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. tetapi menurut dugaan. tetapi gadis itu ternyata masih sanggup bertahan. dan apabila bagian itu sampai terluka. sebentar kita panggil dia lagi. sehingga dapat diduga bahwa lukanya masih belum sembuh. .” menjawab gadis itu dingin. Keadaan menjadi sunyi lagi. pada saat ini pikirannya masih belum jernih.

mengapa tidak diumumkan kepada sahabat2 rimba persilatan? Sebaliknya kau berbuat sedemikian misteri. “Jenazah dalam peti mati itu. Dua jago pedang dari Ceng Sia Pay lalu berkata.” “Aku suka menggunakan obat atau tidak.” Wajah Tiat Bok Taysu berubah. “Kalau memang benar nona ada membekal obat2an. “Apakah nona mencurigai Pin Ceng hendak mencelakakan diri nona?” “Bukan itu maksudku.” Tiat Bok Taysu meskipun merupakan salah satu paderi berilmu tinggi yang banyak pengetahuan juga merasa bingung mendapat jawaban yang mengesankan itu.” Jawaban terus terang itu mengejutkan semua orang. . benarkah jenazah ayahmu?” “Sedikitpun tidak salah. apalaah maksudnya?” berkata Tiat Bok Taysu. baru berkata. setelah berpikir sejenak. silahkan!” “O Mie To Hud.Tiraikasih Website http://kangzusi. obat2an yang berada dibadanku. Apa yang kalian lihat itu adalah penyaruan. setelah memuji nama Budha ia berkata. ada hubungan apa dengan kau? Kalian hendak menanyakan apa.” “Kalau benar ayahmu meninggal dunia. bagaimana kalau nona gunakan menyembuhkan luka nona?” “Tidak perlu! Aku masih ingin hidup beberapa hari lagi. barang kali tidak lebih rendah kemanjurannya dibandingkan dengan obat2 Siao-lim-sie.com/ “Pinceng membawa obat luka dari gereja kita. apakah ayahmu masih hidup?” “Sudah meninggal. mengapa tidak mau pakai? Pinceng ingin mendengar keterangan nona….

entah apa sebabnya?” Mata gadis itu menatap Touw Thian Gouw. masih ada Im Yang Siang-ciok dan suami istri Lui Beng Wan…. pada malam hujan angin tiga hari berselang. kemuudian berkata. sebaiknya jangan dimajukan.” Touw Thian Gouw mendadak bangkit dan berkata. sudah tersiar luas di dalam kalangan rimba persilatan daerah Tiong-goan. di lain pihak mencari orang menyaru sebagai Pan Lo Enghiong.” “Entah masih ada siapa lagi?” “Kecuali aku. berkata dengan nada suara dingin.” Semua orang ketika mendengarnya disebut nama2 itu. disembunyikan dalam ruangan di bawah tanah. dan diberangkatkan malam itu juga. lekas tanya! Aku sudah kehilangan darah terlalu banyak.com/ “Tetang kematian ayah ini. “Kalau kalian masih ada pertanyaan penting. telah membunuh habis orang yang menggotong peti mati itu. “Apakah malam itu kau menyaksikan semua kejadian itu?” “Yang menyaksikan bukan hanya aku seorang saja. susah untuk bertahan lebih lama lagi. perlu apa lagi harus diumumkan?” “Nona di satu pihak menyiarkan kabar duka cita atas kematian Pan Lo Enghiong. kemudian sengaja membawa pinceng sekalian untuk menjumpai ayahamu tiruan itu. “Aku ingin mengajukan satu pertanyaan kepada nona. ternyata di dalam .” Gadis berbaju putih itu mendadak berdiri. ketika nona mengangkut peti jenazah ke tepi sungai.Tiraikasih Website http://kangzusi. dan malam ini semua orang pada berkumpul di sini. semua pada celingukan untuk men-cari2. juga boleh dikata atas perbuatan nona seorang. perbuatan ini se-olah2 sengaja membuat suasana menjadi misteri. kemudian mengangkut peti jenazah ayahmu itu ke dalam kapal besar. pertanyaan yang tidak berarti seperti ini.

Touw Thian Gouw tercengang. apa gunanya?” bertarya Ki Bok Taysu sambil tertawa. lalu berkata dengan suara nyaring.” “Jangan khawatir! Ke mana saja kau hendak lari. sehingga pulih kembali dengan wajah aslinya.Tiraikasih Website http://kangzusi. jangan sampai kesalahan. sebagian besar sudah pernah mendengar nama yang sudah lama kesohor itu. sehingga menimbulkan sedikit gaduh. Para tetamu yang ada di situ. apakah semua nona sudah binasakan?” Gadis itu tiba2 mendongakkan kepala mengawasi atap rumah. “Apa!” “Aku katakan tidak lama lagi kau akan mati.” “Mencatat nama lolap berdua. “Kau Siapa?” “Aku Touw Thian Gouw.” Touw Thian Gouw mengeluarkan sehelai sapu tangan. “Catat namanya Tait Bok dan Ki Bok Taysu. “Nona Pan.” menjawab Touw Thian Gouw setelah ragu2 sejenak. “Bagus! Namamu sudah tecatat dalam daftar kematian. Gadis berbaju putih itu tiba2 membereskan rambutnya yang awut2an dan berkata.com/ ruangan itu tidak terdapat empat orang yang namanya disebut itu. kematianmu sudah tidak lama lagi. “Suami istri Lui Beng Wan dan Im Yang Siang-ciok.” Berkata gadis berbaju putih itu. sehingga semau mata ditujukan kepadanya. juga tidak akan lolos dalam batas waktu dua hari!” Tiat Bok Taysu berkata. . dipesutkan kemukanya. lihatlah lihat tegas wajah asliku.

lebih dulu sudah dikejutkan oleh sikap dan gerak gerik yang aneh gadis itu. tidak lama kemudian sudah ada tujuh atau delapan orang yang meninggalkan ruangan tersebut. sehingga pada tertawa.Tiraikasih Website http://kangzusi.” Semua tamu yang berada di situ.” Terjadi sedikit kegoncangan di antara para tamu itu.” Bertanya gadis berbaju putih itu.com/ “Kalau nama kalian sudah dicatat. mereka agaknya mengerti bahwa ucapan gadis itu bukanlah perkataan sembarangan. Hanya Tiat Bok dan Ki Bok Taysu serta Touw Thian Gouw yang memandang urusan itu sangat serius. “O Mi To Hud. . tetapi sebentar kemudian mereka merasa bahwa apa yang diucapkan oleh gadis itu sesungguhnya sangat menggelikan. “Apakah masih ada lagi yang ingin meninggalkan tempat ini? Jikalau sekarang tidak pergi nanti sudah tidak keburu lagi. tetapi lolap sekalian sebelum meninggalkan dunia yang fana ini. “Benarkah ada kejadian serupa itu?” bertanya dua jago pedang dari Ceng Sia Pay sambil tertawa besar. Tiat Bok Taysu lalu berkata sambil merangkapkan kedua tangannya. itu berarti bahwa kalian hanya masih bisa hidup sepuluh hari saja. masih ingin mendapat sedikit tambahan pengertian. “Catat namanya dua jago pedang dari Ceng Sia Pay. untuk mendengarkannya penuturan nona tentang kejadian sangat misteri dalam rimba persilatan ini. sekarang masih keburu untuk menyingkir . Jikalau kalian berdua tidak percaya boleh coba saja!” Ia berhenti sejenak.siapa yang tidak takut mati semua boleh tinggal di sini.” “Barang siapa yang merdengarkan peristiwa ini. barangkali tidak akan bisa hidup lagi. apabila takut mati. sekalipun nona sudah menetapkan waktu sepuluh hari bagi lolap.

dengan sungguh2 berkata pula. benar saja kembali ada sepuluh orang lagi yang berdiri dari tempat duduknya dab berlalu meninggalkan tempat tersebut. “Dengan nyawa untuk mempertaruhkan ingin mendengar suatu rahasia rimba persilatan. sebabnya kematian ayah menggemparkan dunia Kang-ouw. tuan2 apabila tidak ada sangkut pautnya dengan urusan ini. Tiat Bok Taysu mengawasi para tetamu yang masih ada di situ.” Sebagai seorang yang sudah terkenal namanya serta dijunjung tinggi oleh orang2 rimba persilatan. sebetulnya tidak perlu menempuh bahaya. tidak lain karena dahulu ayah pernah . Waktu itu dalam ruangan yang luas itu. berlakulah sedikit penuh kasih sayang terhadap sesama manusia. tetapi menurut pandangan lolap. Tiat Bok Taysu lalu berkata sambil menghela napas. kembali ada sepuluh orang lebih yang meninggalkan tempat duduk masing masing. sesungguhnya sangat tidak berharga. hanya tinggal dua atau tigapuluh orang yang tidak mau berlalu. apabila tuan2 suka undurkan diri sebaiknya keluar saja. “Harap nona menasehati lagi mereka. benar saja ia segera berkata kepada semua para tetamu. “Sahabat2 yang masih ada di sini mungkin tidak percaya segala urusan gaib yang tidak masuk diakal. sekarang ini waktunya tidak banyak lagi. tidaklah heran ucapan itu mendapat perhatian orang banyak. lalu berkata kepada gadis berbaju putih itu.” Gadis itu agaknya terpengaruh pikirannya oleh perkataan Tiat Bok Taysu.com/ Kali ini tidak ada reaksi apa2 dari para tamu juga tidak ada orang yang meninggalkan tempat duduknya. “Tentang kematian ayah bukan berarti suatu kejadian besar. ucapan nona itu bukanlah sebagai gertakkan sambal belaka.Tiraikasih Website http://kangzusi. mungkin juga menganggap bahwa perkataan nona Pan ini tidak masuk diakal.” Setelah mendengar perkataan itu. Tiat Bok Taysu yang menyaksikan keadaan demikian.

Gadis itu setelah mendapat kesempatan mengaso. siapa yang ingin pergi supaya lekas pergi.” Para tamu itu agaknya sangat perhatikan ucapan orang beribadat tinggi itu. ada empat orang yang berdiri. apa perlunya harus mencari perkara. sebab pada saat dan tempat seperti ini bukanlah waktunya untuk berlaku gagah atau menuruti emosi. “Dan sekarang.com/ menolong jiwa beberapa tokoh kuat dalam rimba persilatan daerah Tiong Goan.” “Kami takut apa? Seorang hanya mempunyai satu nyawa. aku juga tidak berdaya. tetapi tiada seorangpun yang meninggalkan tempat itu. juga cuma mati satu kali. siapa yang tinggal di sini dan mendengar penuturanku nanti. tetapi setelah mengawasi tetamu lainya sebentar. kemudian berkata dengan suara nyaring. maka inilah saatnya yang terakhir bagi tuan tuan sekalian. di samping itu juga ada hubungan baik dengan partai besar golongan kebenaran seperti Siao-lim-pay. Gadis berbaju putih itu berkata kepada Tiat Bok Taysu. sekalipun kau telah mencatat sepuluh hari. Ceng Sia Pay dan lain2nya. “Di antara tuan-tuan. apabila tidak ingin terlibat dalam urusan ini sebaiknya meninggalkan tempat ini. wajahnya juga sudah . aku minta tuan2 sekalian. “Orang-orang ini semua masih tidak mau sadar akan bahaya atas dirinya. jangan harap bisa terlolos dari batas waktu sepuluh hari. mereka duduk lagi di tempat masing-masing. lalu melanjutkan ucapannya.” Di antara para tetamu itu. semangatnya nampak bangun lagi. maka kematian ayah ini telah menarik banyak perhatian orang kuat.Tiraikasih Website http://kangzusi.” Tiat Bok Taysu mengerutkan alisnya.” Tiba-tiba ia berhenti matanya menyapu ke arah para tetamunya sejenak. sehingga pada memerlukan datang kemari.

“Ambilkan buku daftar kematian!” Dari luar ruangan terdengar suara wanita yang menyahut. Gadis berbaju putih itu lalu berkata kepada para tetamunya. tetapi ternyata mereka adalah orang-orang kepala batu yang tidak dapat diinsafkan.” menjawab Tiat Bok Taysu. kita juga tidak berdaya…. Gadis berbaju putih itu berkata kepada Tiat Bok Taysu. “Tuan-tuan tetap tidak mau pergi. tangannya lalu menggeprak meja sambil berkata. “Kalau begitu aku tidak dapat disesalkan. lalu berpaling dan berkata kepada Pan Ceng Liang. setelah mengawasi semua tetamunya sejenak lalu berkata.com/ nampak merah. Sejenak ia berhenti.” . catat nama mereka. “Koko. tetapi tiada orang yang mau mencatat namanya di atas buku itu. tentunya merupakan orang-orang gagah yang tidak takut mati maka apabila tuan tidak ingin mengulur waktu. dengan penuh kasih sayang Toa-hoo-siang ingin menasehatkan mereka. supaya urusan jangan sampai terlarut-larut. “Orang-orang yang berada dalam ruangan ini jika masih ada satu saja yang tidak mau mencatat namanya. mereka saling berpandangan. sebaiknya taysu yang memimpin mereka. “Tuan-tuan berani diam di sini. tidak berapa lama dua gadis berbaju hijau berjalan memasuki ruangan tersebut. aku tidak suka kata.” Pan Ceng Liang per-lahan2 bangkit.” Ia menghela napas perlahan. dipersilahkan menulis nama tuan-tuan didalam buku ini.Tiraikasih Website http://kangzusi.” Para tetamu itu mengawasi keadaan sekelilingnya. “Bukankah Taysu ingin lekas-lekas mengetahui sebab-sebab kematian ayah?” “Benar. ia tertawa terkekeh kekeh sejenak lalu berkata. memberi buku dan alat tulis kepada Pan Ceng Liang.

kau juga harus menulis namamu.Tiraikasih Website http://kangzusi. tidak nanti datang kemari. “Sutee. ia mengikuti di belakang Tiat Bok Taysu berjalan menuju ke meja pendaftaran. apa bila merobah nama atau ingin membikin celaka orang lain. Tiat Bok Taysu setelah menuliskan namanya di atas buku pendafaran lalu berkata dan berpaling kepada Ki Bok Taysu. “Bagus. kemudian berkata. Ki Bok Taysu per-lahan2 bangkit dari tempat duduknya. Gadis itu mengawasi dua paderi itu. Perbuatan dua paderi Siao-lim-sie itu. “Tuan2 jikalau hendak menulis namanya harus menulis terus terang dengan nama aslinya.com/ “Tadi bukankah nona sudah mencatat nama lolap?” “Apakah taysu takut mati?” -odwoBab 27 TIAT BOK TAYSU berkata. Gadis berbaju putih itu tiba2 berdiri dan berkata. perbuatan itu bukan saja tidak . mereka pada berdiri dan berjalan ke meja pendaftaran untuk menuliskan namanya. kalian berdua benar2 tidak takut mati.” Berkata Tiat Bok Taysu yang kemudian balik lagi ke tempat duduknya. agaknya.” “Lolap ada seorang yang sudah beruasia lanjut kalau sekarang harus mati juga tidak penasaran.” Dengan tindakan lebar ia berjalan menuju ke meja tempat pendaftaran. menambah keberanian semua tetamu yang masih ada di situ.” Ki Bok Taysu bersenyum lalu menuliskan namanya di dalam buku itu. “Kalau lolap takut mati.

Tiraikasih Website http://kangzusi. “Sejak dahulu sehingga sekarang.” Orang berbaju hitam itu tidak menjawab lagi. gadis itu mengerutkan alisnya dan berkata. “Mengapa kau tidak menulis namamu?” “Aku tidak bisa menulis. hanya Wan Hauw setelah pergi ke meja pendaftaran hanya me-lihat2 sebentar. “Semua orang yang ada di sini. di dalam kalangan Kang-ouw juga pernah timbul orang kejam yang sepak terjangnya sangat ganas dan telengas. Semua orang sudah mendaftarkan namanya secara bergiliran. Pada saat itu seorang berbaju panjang warna hitam sedang mengangkat alat tulis hendak menuliskan namanya ketika mendengar ucapan gadis itu segera berkata sambil tertawa dingin. bagiku juga tidak berarti apa2. “Untung aku hanya seorang diri saja. kau tidak . sudah menulis namanya sendiri. tetapi juga tidak ada orang yang menunjukkan sikap aneh seperti noma Pan…. sebentar kemudian berkata pula. Kiranya selama itu ia belum pernah menulis dengan menggunakan alat tulis sehingga ia tidak tahu bagaimana ia harus menulis namanya. setelah mencatat namanya lalu mengundurkan diri. sudah tiada mempunyai ayah bunda.” Jawab Wan Hauw sambil menggelengkan kepala. juga tidak mempunyai isteri dan anak. percaya atau tidak terserah kepadamu. Gadis itu menatap wajah Wan Hauw lalu bertanya.” Ia tertawa ter-bahak2.com/ akan dapat menolong diri sendiri sebaliknya malah akan membikin celaka keluarga kalian sampai tiga turunan.” “Aku hanya memperingatkan kepada kalian saja. lalu balik lagi ke tempat duduknya. sekalipun benar2 akan mencelakakan sampai tiga turunan.

” . tutup semua pintu ruangan ini. Gadis itu berdiri lagi seraya berkata.” tetapi sudah tetapi dalam Tiat Bok Taysu setelah Wan Hauw berlalu. ketika mendengar perkataan itu diam2 juga membenarkan ucapan gadis itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. supaya dapat penjelasan sebab musabab kematian Pan Lo Enghiong. lalu berkata. maka biarlah Wan Hauw menyingkir keluar. baiklah aku berdiri di luar ruangan ini saja. merupakan suatu kejadian yang baru pertama kali ini lolap mendengarnya. nona agaknya tidak ada suatu alasan hendak mengulur waktu. toh belum tentu mati. kemudian berpikir. bahkan lolap diberi kehormatan untuk memimpin orang2 yang ada di sini yang bersedia menghadap kepada raja akhirat. namanya sudah terdaftar semua ini berarti mereka sudah rela mempertaruhkan nyawanya. “Sekarang orang2 yang berada dalam ruangan ini. “Perkataan nona memang benar. hanya ingin mendengar penuturan nona.com/ bias menulis. “Aku hendak padamkan api lilin. bagaimana kau boleh turut mendengarkan? Baiklah kau keluar saja!” Wan Hauw yang hatinya masih putih bersih. meskipun lolap sekarang sudah berusia delapan puluh tahun lebih. maka setelah berkata demikian lantas berlalu. kemudian berkata kepada kakaknya. “Koko. sedikit banyak menimbulkan perasaan tidak enak di hati. untuk menunggu setelah kau habis menuturkan aku nanti masuk lagi. tetapi dalam urusan seperti ini. maka lalu berkata sambil menghela napas.” Pan Ceng Liang menurut. Gadis itu per-lahan2 duduk di tempatnya kembali. “Sekalipun orang2 yang namanya dicatat dalam buku kematian.” Ia mengira bahwa tindakannya itu dapat dibenarkan. Touw Thian Gouw sebetulnya ingin menegah. menutup semua pintu.

” “Toa Hosiang. tetapi semuanya merupakan orang-orang Kang-ouw kawakan. sehingga semua dapat mengerti apa yang dimaksudkan dalam ucapan Koan Sam Seng tadi. “Apabila nona ingin menggunakan pesawat rahasia dalam ruangan ini hendak kabur secara diam2 janganlah sesalkan kepada lolap sekalian yang terpaksa akan bertindak kasar. supaya tuan-tuan datang untuk mengantar nyawa…. kau jangan khawatir. walaupun belum tentu setiap orang berkepandaian sangat tinggi. barulah berkata. “Kalian lekas berdiri di tempat masing2!” Gadis itu setelah berpikir agak lama. hanya merupakan suatu akal untuk memancing musuh-musuhnya. tetapi kita tidak boleh tidak berjaga-jaga.com/ Setelah itu dua batang lilin yang menyala itu apinya padam.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Tentang kematian ayah. semua merupakan tokoh kenamaan di dalam rimba persilatan. agaknya para tamu itu semua menganggap betul ucapan Koan Sam Seng tadi benar sehingga masing2 pada bergerak meninggalkan tempat dudukuya untuk mengurung gadis itu di tengah2 mereka.” Menjawab gadis berbaju putih itu. Sementara itu tiba-tiba terdengar suara Koan Sam Seng yang berkata. Gadis berbaju putih itu lalu berkata sambil tertawa terbahak-bahak. apabila aku ingin lari. “Kau boleh tidak usah lari.” Pada saat itu terdengar suara tindakkan kaki orang dan gerakan digesernya kursi. Keadaan dalam ruangan itu meskipun gelap gulita. tidak nanti aku berani datang kemari. sehingga keadaan dalam ruangam itu menjadi gelap.” . Tiat Bok Taysu lalu berkata. tetapi orang-orang yang berada di situ.

terdengar sangat riuh. betapa kuat penjagaannya. samar2 sudah diketahui. apakah kau bermaksud hendak mencari pembunuhnya?” Pertanyaan itu dengan sendirinya sebagai pengakuan bahwa kematian ayah gadis itu bukanlah karena penyakit. nona tidak perlu bicarakan lagi. demikian melit kau menanyakan sebab musabab kematian ayah. tetapi jawaban itu toh masih menimbulkan sedikit kericuhan. tetapi mati terbunuh. suara ejekan dan makian. segera menimbulkan kegoncangan di antara para tamu itu. semua tidak akan dapat menghindarkan diri dari batas waktu yang sudah ditetapkan itu. dalam surat yang diberikan kepada kepala kuil kita. meskipun semua tetamu itu lebih dahulu sudah merasa curiga. “Tentang ini kita sudah dengar terlalu banyak. sehingga di mana2 terdengar suara helahan napas.” Di dalam keadaan gelap itu semua orang tidak dapat melihat bagaimana perobahan wajah gadis itu. “Barang siapa yang sudah mendaftarkan namanya di dalam buku kematian. tetapi tuan semua sudah rela atas kematian ini. mulai saat ini paling lama masih bisa hidup sepuluh hari lagi.” Tiat Bok Taysu berkata dengan nada suara dingin. tidak perduli betapa tinggi kepandaiannya.com/ Penuturan yang sangat singkat itu. apa yang lolap tak mengerti ialah siapa orangnya yang mencelakakan diri orang tua yang baik itu? Bahkan . di bawah rencana akal busuk musuh2nya. “Tentang kematian Pan Lo Enghiong. Gadis itu berkata pula dengan suara nyaring. mereka hanya mendengar suara tertawanya yang sangat dingin menggema ditelinga. sehingga tidak dapat menyesalkan aku. sebaiknya kau lekas dengan penuturanmu yang se-benar2nya. “Toa-hong-sian. Tiat Bok Taysu berkata pula.Tiraikasih Website http://kangzusi.

com/ hanya dia seorang diri boleh dikatakan adalah karena cuma mencari Enghiong seorang saja. katanya dengan nada suara dingin. Hening beberapa lama. tiba2 dari jauh terdengar suara tambur dan genderang membising di telinga semua orang. sehingga mau tidak mau menimbulkan kecurigaan lolap. “Aku tidak bersedia mengatakan. pembalasan terhadap diri Pan Lo tidak akan me-rembet2 orang yang “Hem! Maksud ucapan locianpwee mencurigakan boanpwee yang berbuat?” ini. Koan Sam Seng segera berkata. Karena suara itu bukan seperti suara tambur dan genderang yang biasa. dan bagaimana kau hendak berbuat?” Tiat Bok Taysu seorang beribadat tinggi. apakah “Bagaimana lolap berani mempunyai pikiran demikian.” Gadis itu agaknya sengaja hendak membuat marah Tiat Bok Taysu.” . apakah yang kau rmasih bisa berbuat? Tiat Bok Taysu diam tidak menjawab. setelah berpikir sejenak. orang itu seorang yang cukup berjiwa besar.” saja yangdiambil jiwanya. Dengan sendirinya lolap sekalian kini ingin mendengarkan keterangan nona.” “Kau bercuriga apa. suara apakah itu? Dahulu aku rasanya seperti pernah dengar. “Lolap sekalian sudi mendaftar nama dalam buku kematian. “Eh. maksudnya ialah ingin mendengar nona punya keterangan tentang kematian ayah nona. lolap tidak suka menduga sembarangan. tetapi kematian ayahmu itu sangat aneh. karena tadi nona sudah menerima baik permintaan lolap. sebelum urusan menjadi jelas. tidak berdosa. apalagi semua kejadian tidak mungkin secara begitu kebetulan.Tiraikasih Website http://kangzusi. pikirannya segera tenang kembali. tetapi dapat menimbulkan perasaan ngeri kepada orang2 yang mendengarkan.

“Koan sicu. Gadis itu menggerakkan tangannya. Koan Sam Seng telah merasakan bahwa serangan gadis itu ternyata mengandung kekuatan yang sangat hebat. matanya sudah biasa lagi dalam gelap. nona Pan. Berkata Koan Sam Seng gusar. “Jikalau aku tidak mau bicara kau mau apa?” “Apakah kau kira aku tidak dapat turun tangan satu kali untuk member pelajaran kepadamu?” “Coba saja!” Koan Sam Seng. ternyata . kemudian disusul dengan hembusan angin yang menyambut serangan Koan Sam Seng tadi. dalam terkejutnya ia mundur satu langkah. “Itu adalah suara tambur dan genderang sebagai tanda hendak mencabut nyawa. Tiat Bok Taysu lalu berseru. Para tamu yang sudah sekian lamanya berada dalam kegelapan. memperdengarkan suara bentakan keras. sehingga dapat mengawasi keadaan dalam ruangan itu.” “Tidak perduli mencabut nyawa atau bukan.” Gadis berbaju putih itu tidak menggerakkan pedang pendek di tangannya lagi. orang yang bergerak menyambut serangan Koan Sam Seng tadi. maka serangan itu sangat hebat.Tiraikasih Website http://kangzusi. Setelah itu. lalu melancarkan serangannya. lalu menghentikan serangannya. harap nona lekas terangkan sebab musabab kematian ayahmu. Karena ia mempunyai kekuatan tenaga dalam yang sudah sempurna. harap segera hentikan tindakan kalian. dalam keadaan gelap gulita itu. tiba-tiba berkelebat sinar terang. setindak mengadu kekuatan tenaga tangan sebentar. lalu terdengar suara tertawa dingin.com/ Gadis itu tiba2 berkata. jangan coba mengulur waktu lagi.

kita sudah menurut apakah sekarang nona hendak melanggar janjimu sendiri?” Dengan mendadak paderi itu menggerakkan badannya. tangannya menyambar buku kematian. lolap akan rusak buku ini lebih dulu.” Tergerak hati Tiat Bok Taysu. Semua tamu tidak kenal orang itu. apalagi tindakannya itu cepat luar biasa. maka buru-buru berkata.” Gadis itu lambat2 menghampirinya seraya berkata. hanya Touw Thian Gouw yang tahu bahwa itu adalah Siang-koan Kie. sambil memegang buku itu ia berkata. supaya kita semua tidak akan mati konyol. “Kau kembalikan dulu buku itu. diam2 merasa terkejut dan girang. nampaknya bukan sengaja atau pura2 membantu kepadanya….” Perbuatan Tiat Bok Taysu itu. ketika menyaksikan kekuatan hebat pemuda itu yang ternyata dapat mengimbangi kekuatan tenaga dalam Koan Sam Seng. nona lalu hendak menerangkan kematian ayahmu. aku nanti akan menerangkan. Dalam hatinya berpikir. tetapi dengan perbuatannya yang membantu gadis itu. “Jikalau nona Pan tidak mau memenuhi janjimu sendiri. sesungguhnya di luar dugaan gadis berbaju putih itu.” . pemuda itu mempunyai kepandaian dan kekuatan yang disembunyikan. “Sepasang mataku ternyata masih belum lamur.” Pada saat itu terdengar suaranya Tiat Bok Taysu. secepat kilat sudah berada di depan meja.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ adalah pemuda yang mengikuti gadis itu dan yang selama itu tidak pernah mengeluarkan perkataan. “Lo siansu harap jangan merusakkan buku itu. “Nona Pan tadi sudah berjanji setelah kita orang menulis nama masing2 di dalam buku kematian. Gadis itu agaknya khawatir Tiat Bok Taysu akan merobek buku kematian.

” “Bagaimana maksud Koan sicu?” bertanya Ki Bok Taysu. Du jago pedang dari Ceng Sia Pay tiba2 berjalan dan membuka pintu yang tertutup rapat itu kemudian melongok ke luar. Koan Sam Seng sudah tidak dapat mengendalikan hawa amarahnya lagi.com/ Koan Sam Seng segera berkata.Tiraikasih Website http://kangzusi. bagaimana kau boleh bandingkan seperti orang2 yang bermentalitet seperti kau?” Tiba2 terdengar tiga suara tambur dan genderang yang aneh itu tadi. kita jangan sampai dibodohi. atau dibawa ke golongan pengemis kita. kita sebaiknya ringkus dulu budak perempuan ini lalu membawanya ke kuil Siao-lim-sie.” “Kau tidak percaya kepadaku. ia sengaja mengulur waktu barang kali ada mengandung lain maksud. sekarang bagaimana kau suruh lolap percaya ucapanmu lagi?” “Kalau begitu kau mau apa?” bertanya gadis berbaju putih itu. tetapi nona masih sengaja hendak mengulur waktu. “Menurut pikiranku. “Setelah nanti kau terangkan. bagaimana aku boleh percaya kepadamu?” “Lolap adalah seorang beribadat. “Kita sudah menurut menuliskan nama di dalam buku kematian. “Budak perempuan ini banyak akal bangsatnya. “Taysu jangan kembalikan kepadanya. .” Tiat Bok Taysu berkata sambil tertawa. kemudian kita Tanya. dan tidak mau bicara terus terang. ia menghampiri Tiat Bok Taysu dan berkata dengan suara perlahan. perempuan itu tidak boleh dipercaya perkataannya. suara itu kini kedengarannya semakin nyaring agaknya tidak jauh dari luar rangan itu. lolap nanti akan kembalikan buku ini.

” Berkata Tiat Bok Taysu. . karena kematian Pan Lo Enghiong ini. bukanlah pada tempatnya untuk menyatakan terus terang apa yang terpikir dalam hatinya. “Apa?” Ke-dua2nya lompat melesat keluar dan sebentar kemudian sudah menghilang.com/ dengan demikian tidak usah takut ia tidak akan berkata terus terang.” “Perempuan ini nampaknya sangat kuat…. maka perkataan selanjutnya diucapkannya dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara ke dalam telinga kepada orang yang diajak bicara. maka semua orang yang ada di situ kecuali Koan Sam Seng tiada seorang lagi yang mendengar apa yang dikatakan olehnya.” Berbicara sampai di situ. gadis itu agaknya juga bukan orang terpenting dalam peristiwa ini. lolap