SURAT DARI SANTO PETRUS KEPADA PARA SEMINARIS DI KENTUNGAN

Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada para seminaris yang berdatangan dari wilayah tersebar-sebar di Indonesia, yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas Anda sekalian (cf. 1 Pt 1:1-2). Yah, Anda sekalian telah dipilih, dan bukan Anda yang pertama-tama memilih. Sama seperti saya juga dahulu tak pernah menyangka akan dipilih untuk menjadi penjala manusia, padahal kerja saya sehari-hari cuma menjala ikan, tanpa pendidikan apa-apa. Itulah enaknya zaman saya dulu, bisa saja menjadi Rasul tanpa pendidikan khusus kecuali perintah Guru. Kalau di zaman Anda tentu lain, kalau tak punya gelar ber-ES-ES, tentu Anda tidak laku. Pilihan Allah atas diri Anda itu bukan terjadi begitu saja asal terjadi, bukan mendadak atau tiba-tiba (seperti layaknya kalau Anda belajar menghadapi ujian persis semalam sebelumnya), melainkan sudah dipersiapkan sejak dahulu kala, bahkan sebelum Anda dibentuk dalam rahim ibu Anda, sesuai dengan planning Allah sendiri. Yah, Anda sekalian memang dikuduskan, dan dalam konteks imamat zaman kami dulu itu istilah 'dikuduskan' berarti dikhususkan, disendirikan, dipersembahkan untuk Allah sendiri demi suatu tugas tertentu. Anda dikuduskan demi tugas khusus tertentu, dan bukan pertama-tama demi Anda sendiri. Anda adalah Man for Mission atau Man on Mission, tapi bukan Mission Impossible. Seperti saya dulu juga dikhususkan untuk tugas tertentu, yaitu untuk berada bersama Dia dan diutus memberitakan Injil (Mk 3:14), menguatkan iman saudara-saudara saya (Luk 22:32), serta menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh 21:1519), dan bukan dikhususkan untuk diri saya sendiri. Saya tahu Anda sekalian merasa terkejut dan tidak pantas menerima surat saya ini. Bayangkan, surat dari Santo Petrus sendiri, dari Sang Pemegang Kunci Kerajaan Sorga (Mat 16:19)! Tapi saya yakinkan, bahwa ini surat saya sendiri, asli se-aslinya. Memang, tak ada tanda tangan saya di sini, tapi itu bukan sekedar karena saya tak dapat menulis melainkan karena surat ini dikirim lewat internet. Yah, jangan heran! Kami di sorga sudah pakai internet sejak lama, bahkan jauh sebelum internet ditemukan orang di bumi. Bukankah setiap hari

Martin/Petrus/hal. 2 Anda sekalian bernyanyi, "terjadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam sorga"? Jadi sesuatu itu terjadi dulu di sorga, dan baru kemudian di bumi. Bukankah segala sesuatu yang ada di bumi itu merupakan copy dari model yang ada di sorga sini (ingat saja Plato dan dunia idenya, atau Kel 25:9)? Dan janganlah Anda merasa tidak pantas. Jelek-jelek, bukankah Anda sekalian ini calon penerus-penerus kami Yang Duabelas? Dosen KS anda saja bukankah barusan diangkat sebagai penerus kami di Keuskupan Agung Semarang? Nah, kalau beliau saja bisa, apalagi Anda sekalian, yang jauh lebih rendah usia dan rendah hati! Semoga! Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah memanggil Anda sekalian untuk menjadi rasul-rasul-Nya. Ya, Anda sekalian, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena iman Anda sementara Anda menantikan anugerah tahbisan imamat yang telah tersedia bagi Anda sekalian pada akhir zaman nanti (cf. 1 Pt 1:3-5), eh maksud saya, pada akhir pendidikan seminari tinggi nanti. Saya ingin menghibur Anda sekalian dengan kata-kata ini: Bergembiralah akan hal itu, sekali pun sekarang ini Anda sekalian harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan (cf. 1 Pt 1:6), khususnya di tangan dosen-dosen Anda yang dengan penuh kebaikan hati menggembleng Anda tak habis-habisnya, yang menyebabkan Anda sampai tak habis pikir, habis ingatan, habis daya, habis waktu dan ... habis-habisan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian iman Anda sekalian -yang jauh lebih tinggi nilainya daripada cincin berlian hadiah Dodi kepada Princess Diana, yang diuji kemurniannya oleh benturan dalam kecepatan tinggi di Terowongan Alma- sehingga Anda sekalian nanti dapat memperoleh gelar Licensiat, atau paling tidak Baccalaureat, ... eh maksud saya, puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya kepada Anda sekalian (cf. 1 Pt 1:7). Dari satu pihak saya merasa lebih beruntung daripada Anda sekalian. Anda sekalian masih harus berjuang keras di bawah sini, apalagi di saat-saat Ujian Semester, sedangkan saya sudah tinggal ongkang-ongkang kaki saja. Tapi di lain pihak, saya merasa ketinggalan dalam hal iman. Anda sekalian tahu bagaimana dahulu itu, ketika saya masih hidup di Palestina dan mengikuti Guru kita ke mana-mana, seringkali saya didamprat oleh Guru kita itu karena dianggap tak punya iman. Bahkan saya pernah disebut "Iblis" (Mat 16:23). Dan itu pun hanya gara-gara saya tak ingin Guru kita itu sengsara. Coba, murid mana yang tidak menginginkan kebahagiaan gurunya? Mungkin murid macam itu ada di seminari tinggi Anda, tapi di Palestina jelas tidak ada.

Martin/Petrus/hal. 3 Begitu seseorang menyerahkan diri untuk dibimbing oleh seorang Rabbi, mati hidupnya ada di tangan Rabbi itu, karena hanya lewat Rabbi itulah sang murid dapat sampai pada pengenalan akan Allah. Saya kira halnya demikian pula di dunia Timur tempat Anda sekalian tinggal. Pernah saya dengar kisah tentang seorang mistikus besar, Kabir. Ia berkata begini, "Seandainya Allah menampakkan diri-Nya kepada saya saat ini, dan Guru saya begitu pula, maka saya akan sujud di bawah kaki Guru. Karena hanya berkat Gurulah saya dapat mengenal Allah!" Begitulah kecintaan dan keterpautan kami para murid kepada Guru kami itu. Bagi kami hal itu gampang-gampang susah. Gampang, karena kami selalu bersama Dia sejak permulaan, yaitu sejak Baptisan Yohanes di Yordan, sampai saat Ia terangkat ke sorga meninggalkan kami. Anda sekalian tahu, itulah syarat utama seseorang dapat diterima sebagai saksi kebangkitan Guru kami itu (Kis 1:22). Tapi juga susah, karena Anda sekalian dapat membaca sendiri di kisah-kisah yang diteruskan kepada Anda betapa Guru kami itu amat radikal, terlalu menuntut, tak kenal lelah, sehingga kami para murid-Nya pun terpaksa berbuat begitu juga. Di sinilah, seperti saya katakan tadi (bahwa saya merasa ketinggalan dalam hal iman dibandingkan Anda sekalian), saya merasa iri dengan Anda sekalian. Guru kami tentu akan lebih memuji iman Anda sekalian, daripada iman saya sendiri. Mengapa? Yah, karena sekali pun Anda sekalian belum pernah melihat Dia, namun Anda sekalian mengasihi-Nya; Anda sekalian percaya kepada Dia, sekali pun Anda sekalian sekarang tidak melihat-Nya (1 Pt 1:8). Itu dari satu sisi, dari sisi lain bisa dikatakan saya merasa iri juga pada Anda sekalian, karena mudah saja bagi Anda sekalian yang belum pernah melihat Dia untuk punya 'excuse' bagi banyak hal. Dulu saya akan langsung disemprot Guru kami, bila saya salah sedikit. Mau tak mau saya juga mengikuti gaya hidup Guru kami itu. Kalau kami mau hidup enak-enak, dengan segala macam jaminan yang dapat saja kami terima karena menjadi pengikut Guru kami itu (bayangkan, banyak lho para janda kaya yang mengikuti Guru kami ke mana-mana dan melayani rombongan kami dengan kekayaan mereka, Luk 8:1-3) (jadi ya jangan kaget kalau kelak pun Anda sekalian mengalami nasib demikian!), Dia akan berkata, "Burung punya liang, srigala punya sarang, eh terbalik, burung punya sarang, srigala punya liang, tapi Aku, bantal guling satu pun ndak punya!" (kalau kasur memang banyak, karena bukankah kami cuma memakai daun-daun palem yang dihamparkan di lantai?).

Martin/Petrus/hal. 4 Anda sekalian tentu pernah melihat film tentang saya, Quo Vadis? Nah, saat di Roma itu saya takut, amat sangat takut, menanggung penderitaan dan salib akibat menjadi pewarta ajaran Guru kami. Apalagi ada ancaman keras bahwa saya akan disalibkan juga! Nah, maka saya pun melarikan diri keluar dari Roma. Tapi apa yang terjadi? Guru kami itu, yang sudah lama meninggal, bangkit dan naik ke sorga serta duduk di sisi kanan Bapa, ternyata kok ya sempat-sempatnya menampakkan diri di Jalan Appia itu. Saya melihat Guru kami itu memanggul salib dan berjalan berlawanan arah dengan saya. Tentu saja saya tak bisa purapura tidak kenal! Saya pun menyapa Dia, "Quo Vadis, Domine?" (Ke manakah Engkau pergi, oh Tuhan?). Eh, beliau menjawab, "Aku akan pergi ke Roma!" Saya tanya lagi, "Lho, kenapa, lha wong saya saja mau pergi kok?". Nah, Dia menjawab, "Nah, itu dia! Karena kamu mau pergi dari Roma, dan tak mau disalibkan di situ, maka biarlah aku saja yang ke Roma dan disalibkan lagi!" Lha, kalau sudah demikian, siapa murid yang tak merasa ditegur, kecuali dia punya hati keras teramat keras seperti batu akik? Yah, tanpa bilang apa-apa lagi, saya ya terus berbalik, kembali ke Roma. Dan Anda semua tahu, saya minta disalibkan secara terbalik, kepala di bawah kaki di atas. Ada yang bilang saya minta itu karena saya rendah hati, tak ingin disamakan dengan nasib Guru saya. Yah, sebenarnya maksud saya itu cuma sederhana saja, yaitu supaya bisa dengan gampang melihat ke atas, ke sorga sana, sambil mati, tanpa harus dangak-dangak. Yah, saya ingin mengalami seperti Stefanus, martir pertama, yang menghembuskan nafas sambil melihat langit terbuka dan memandang kemuliaan Allah dan Guru kami itu di sebelah kanan Allah. Yah, ibaratnya ya seperti Anda sekalian kalau sedang nonton TV sambil duduk selonjor, tanpa repot-repot harus mengangkat kepala! Nah, itu sekedar contoh betapa sulitnya bagi kami untuk tak hidup seturut teladan dan gaya hidup Guru kami sendiri. Nah, sedangkan Anda sekalian? Kalau Anda sekalian tak mengikuti gaya hidup Guru kami itu, Anda sekalian dapat saja berkilah, "lha wolak-waliking jaman tho mas, ana jaman edan ana jaman dolan, ana sing kelangan ana sing keduman", "nasibe wong kui rak dhewe-dhewe", "lain Semarang, lain Ujung Pandang, lain Jakarta, lain Purwokerta, lain yang sembahyang, lain yang foya-foya." Tak ada suara geledek Guru kami itu yang akan mendamprat Anda! Tapi jangan salah duga, Guru kami itu tak selalu bersikap keras. Ya tergantung pada orangnya lah. Kalau harus berurusan dengan orang keras kepala, nekad, dan kadang ngawur seperti saya ini, ya terpaksalah Guru kami itu bersikap keras. Kalau tak dikerasi, saya ya tak bakalan paham dan memperbaiki diri! Bukankah tentang Guru kami itu Nabi Yesaya pernah

Martin/Petrus/hal. 5 berkata, "Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya" (Yes 42:1-2; Mat 12:20)? Terhadap Anda sekalian, saya yakin, Guru kami itu akan bersikap ekstra manis dan lembut. Kalau tidak, tentu Anda sekalian sudah kabur entah ke mana! Tapi lepas dari semua itu, saya ingin mendesak Anda sekalian, siapkanlah akal budi Anda (terutama di saat-saat mendengarkan kuliah atau saat wajib belajar sore dan malam hari), waspadalah (kapan Prefek Disiplin atau Rektor lewat) dan letakkanlah pengharapan Anda seluruhnya -bukan pada hal-hal atau orang tertentu- tapi pada karunia yang dianugerahkan kepada Anda sendiri pada waktu Yesus menyatakan diri-Nya kepada Anda (cf. 1 Pt 1:13), yaitu pada saat Anda untuk pertama kalinya merasa terpanggil untuk menjadi Rasul-Nya, atau pada saat Anda menerima konsolasi-konsolasi khusus selama doa dan meditasi, dalam kegiatan ekstra-kurikuler Anda ketika Anda berjumpa dengan banyak orang yang melayani Anda, eh maksud saya, dilayani oleh Anda. Yah, bukankah Anda, seperti Guru kami itu, datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan diri seutuhnya (Mk 10:45)? Hiduplah sebagai putera-putera yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai Anda sekalian pada waktu kebodohan Anda, tetapi hendaklah Anda menjadi kudus di dalam seluruh hidup Anda sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil Anda, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus (cf. 1 Pt 1:14). Kudus tak harus berarti tanpa dosa dan cela, Anda sendiri tahu betapa saya tak lepas dari dosa dan penyangkalan iman. Orang modern suka bilang, "holiness is wholeness", persis seperti maksud bangsa kami dulu juga, yaitu "kudus berarti utuh, tak terbagi-bagi". Dulu Guru kita suka memberi wejangan, "Ya katakan ya, tidak katakan tidak", jangan 'ya' dibilang 'tidak' dan 'tidak' dibilang 'ya', itu namanya mencla-mencle, bisa membuat banyak cewek, eh maksud saya, banyak orang kecele atau mencrat-mencret! Di lain kesempatan beliau juga bilang, "Orang tak bisa mengabdi pada dua majikan, ia akan mengindahkan yang satu dan menyepelekan yang lain". Orang tak bisa sekaligus mengabdi Mammon dan Tuhan, artinya: Anda tak bisa sekaligus jadi Babon (Pejantan) dan Imam, bisa repot sendiri. Paling tidak itu bagi Anda sekalian di zaman ini. Di zaman saya dulu itu, saya dan para Rasul lainnya malah bisa membawa seorang istri (ingat, cuma satu lho ya!) dalam perjalanan pewartaan kami, kecuali Rasul Paulus tentu saja, tapi ya ... itu salahnya sendiri (1 Kor 9:5). Nah, tambahan lagi, karena Anda telah menyucikan diri Anda oleh ketaatan kepada kebenaran (yang mudah-mudahan diajarkan dengan tepat dan diamalkan dengan setia di

Martin/Petrus/hal. 6 FTW), sehingga Anda dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah Anda bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hati Anda. Bukankah rekan kerja saya, Paulus, sudah pernah menasehati Anda, "Hendaknya kasih Anda itu jangan purapura!" (Rom 12:9). Nah, janganlah Anda saling tersenyum, padahal sebenarnya di hati saling mencurigai atau mengutuk satu sama lain. Kalau mau senyum, ya senyum saja. Kalau mau mengutuk, ya mengutuk saja. Dan setelah itu ya selesai. Paulus juga pernah bilang, "Janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu" (Ef 4:26). Mengapa ini semua saya katakan kepada Anda? Karena Anda telah dilahirkan kembali, bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, yaitu Firman Allah, yang hidup dan yang kekal. Firman itu bukanlah kata sembarang kata, melainkan firman yang memberi hidup. Dulu ketika saya dan rasul-rasul lain dipenjara karena pewartaan kami akan nama Yesus, Guru kami, malaikat membebaskan kami dengan berkata, "Pergilah, berdirilah di Bait Allah dan beritakanlah seluruh firman hidup itu kepada orang banyak!" (Kis 5:20). Dan siapakah yang memiliki firman hidup itu? Tentu saja Sang Sabda yang telah menjelma dan tinggal di antara kita, yaitu Guru kami itulah yang memiliki firman hidup itu. Dia pada suatu hari berkata, "Perkataanperkataan yang kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup" (Yoh 6:63), artinya: kata-kataNya adalah Roh Kehidupan. Pernah pada suatu ketika, banyak rekan-rekan saya yang memutuskan untuk meninggalkan Guru kami itu karena macam-macam alasan, khususnya karena kata-kata Guru kami itu memang sulit ditangkap, apalagi diterima. Nah, saat itu juga Guru kami menantang kami Yang Duabelas, "Apakah kalian tidak mau pergi juga?" (Yoh 6:67). Pada detik itu juga, entah dari mana datangnya ilham, saya terdorong menjawab, "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-mu adalah perkataan hidup abadi". Yah, Guru kami itu adalah Sabda Allah sendiri, yang telah turun ke dunia, meski tidak perlu sampai berlari-lari seperti dikatakan oleh Pemazmur (Mzm 147:15, "Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi, dengan segera firman-Nya berlari"). Tapi satu hal jelas teramat jelas, yaitu bahwa Ia tak keluar dari mulut Allah dengan percuma, Ia tidak akan kembali kepada Allah dengan sia-sia, seperti dikatakan dengan tepat oleh Nabi Yesaya. Ia akan melaksanakan apa yang dikehendaki oleh Allah dan akan berhasil dalam apa yang disuruhkan Allah kepada-Nya (Yes 55:11). Karena itulah di akhir hidup-Nya, Dia bisa berkata "Allahku, Allahku, mengapa Kau tinggalkan aku?" (Mat 27:46). Dia tak merasakan kehadiran Bapa-Nya lagi, bukan karena Dia jauh dari Bapa, tapi justru karena Bapa menjadi terlalu dekat dengan Dia, bahkan bersatu dengan Dia, bagaikan ikan yang tak merasakan atau

Martin/Petrus/hal. 7 menyadari lagi kehadiran air yang mengelilinginya. Karena itulah, Dia bisa juga berkata, "Sudah terpenuhi!" (Yoh 19:30), bagaikan kata yang tak lagi terpisah dari sang pembicara, tapi sudah kembali menyatu dengannya dalam pribadi, tingkah laku dan perbuatannya, sehingga sulit dibedakan lagi antara pembicara dan kata-katanya. Para seminaris terkasih, Sang Firman itulah yang sebenarnya disampaikan Injil kepada Anda (1 Pt 1:25). Dan tentang ini semua, saya dan para Rasul lainnya adalah saksi dan penerus. Pribadi dan hidup Guru kami sendiri itulah yang disampaikan lewat pewartaan kami dan lewat berbagai tradisi sampai kepada Anda sepanjang masa (ingat Tesis Baccalaureat Anda nomor 5). Yang disampaikan kepada Anda bukanlah kata-kata kosong, doktrin-doktrin beku, pengertian-pengertian fana, melainkan Pribadi Ilahi sendiri! Pribadi Yang Hidup! Karena itu, para Seminaris terkasih, buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah (1 Pt 2:1). Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan ASI (Asli Susu Ibu), eh maksud saya, air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya Anda bertumbuh dan beroleh keselamatan, jika Anda benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan. "Telah mengecap kebaikan Tuhan", artinya: hidup dan pelayanan Anda itu hendaknya mengalir dari suatu kepenuhan kasih, dan bukan dari suatu kehausan akan kasih. Anda sekalian diutus untuk menjadi Penerus Kasih, dan bukan Pengemis Kasih. Maka setelah kalimat "Dan Sabda telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita" (Yoh 1:14), rekan saya Yohanes dalam Prolog Injilnya, tidak langsung mengatakan bahwa kita semua harus mengikuti Sabda itu ke mana pun Sabda itu pergi, melainkan ia pertamatama mengatakan lebih dahulu, "Dan kita telah melihat kemuliaan-Nya" (Yoh 1:14). Dengan demikian, pelayanan kita itu akan mengalir dari suatu penglihatan, dari suatu pengalaman akan kemuliaan Allah sendiri, dan dengan begitu barulah kita bisa menjadi saksi. Seperti Guru kami itu sendiri dahulu juga dapat menyatakan Allah Bapa-Nya, dapat menjadi saksi Bapa sehingga barangsiapa melihat Dia melihat Bapa sendiri (Yoh 14:9), karena Ialah satusatunya yang pernah melihat Allah (Yoh 1:18). Kesaksian yang hidup dan berdaya-guna mengalir dari kepenuhan, dan bukan dari kekosongan. Dan kepenuhan itu bukanlah kepenuhan diri kita sendiri, atau dari diri kita sendiri, melainkan kepenuhan Guru kami itu. Maka itu Yohanes meneruskan, "Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia ganti kasih karunia..." (Yoh 1:16).

Martin/Petrus/hal. 8 Akhirnya, para seminaris terkasih, datanglah kepada-Nya itu, yaitu Batu yang Hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. Dan biarlah Anda sekalian juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. Andalah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, kepunyaan Allah sendiri, supaya Anda memberitakan perbuatanperbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil Anda keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (cf. 1 Pt 2:1-9). Dan akhirnya, hendaklah Anda semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudarasaudara, penyayang dan rendah hati, dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah Anda saling memberkati, karena untuk itulah Anda sekalian dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat (1 Pt 3:8). Siapakah yang akan berbuat jahat terhadap Anda, jika Anda rajin berbuat baik? Tetapi sekali pun Anda harus menderita juga karena kebenaran, Anda akan berbahagia (1 Pt 2:13-14). Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, daripada menderita karena berbuat jahat (1 Pt 3:17). Sebab itu janganlah Anda takuti apa yang orang banyak takuti dan janganlah gentar. Kuduskanlah Kristus di dalam hati Anda sebagai Tuhan! (1 Pt 3:15). Berilah salam seorang kepada yang lain dengan cium yang kudus. Damai sejahtera menyertai Anda sekalian yang berada dalam Kristus. Amin (1 Pt 5:14). [rekoleksi Kentungan, 13-14 Sept. 1997 Martin Suhartono, S.J.]