You are on page 1of 12

TUBA OVARIUM ABSES

Disusun Oleh :
Alie Anwar Sutisna
61109019

Pembimbing :
dr. H. Muslich Perangin-angin, Sp.OG

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan


Rumah Sakit Haji Medan
Universitas Batam
2015
KATA PENGANTAR
1

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat Nya, saya
dapat menyelesaikan Tugas Paper yang berjudul Tuba Ovarium Abses dalam rangka mengikuti
Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di bagian Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan Rumah
Sakit Haji Medan.
Pada Kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada dr. H. Muslich
Perangin-angin, Sp.OG atas segala bimbingan dan arahan sehingga paper ini dapat terselesaikan
dengan baik.
Saya menyadari bahwa penulisan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi perbaikan dan
kelengkapan dikemudian hari agar bermanfaat bagi kita semua.

Medan, 5 oktober 2015


Penulis

Alie Anwar Sutisna

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL.......................................................................................1
2

KATA PENGANTAR..........................................................................................2
DAFTAR ISI.......................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................4
1.1 Latar Belakang.................................................................................4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................5
2.1 Definisi tuba ovarium abses.............................................................5
2.2 Gambaran Klinis serta Tanda dan Gejala.........................................6
2.3 Etiologi.............................................................................................7
2.4 patofisiologi......................................................................................8
2.5 pemeriksaan dan diagnosa................................................................8
2.6 komplikasi........................................................................................10
2.7 penatalaksanaan................................................................................11
2.8 prognosis..........................................................................................12

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................13

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
TOA (tubo-ovarian abscess) merupakan salah satu komplikasi akut dari PID (Pelvic

inflammatory disease). Abses ini pada umumnya terjadi pada wanita usia produktif dan biasanya
merupakan kelanjutan dari infeksi saluran genital bagian bawah. TOA berhubungan erat dengan
PID (Pelvic inflammatory disease). PID disebabkan oleh mikroorganisme yang menghuni
endoserviks kemudian naik ke endometrium dan tuba fallopi. TOA merupakan end-stage process

dari PID akut (Tohya et al., 2003). TOA terjadi sekitar 18-34% pada pasien dengan PID (De Witt
et al., 2010) dan 22% dengan salpingitis di Nairobi, Kenya (Cohen, 2003).
Abses ini dapat terjadi pada pasien yang post histerektomi supraservikal. TOA dapat juga
terjadi pada pasien yang sebelumnya mengalami servitis dan parametritis (Tohya et al., 2003).
TOA umumnya disebabkan oleh mikroorganisme umum yang menjadi penyebab STD
(sexually transmitted diseases), berhubungan seks dengan partner yang memiliki agen infeksius
ini merupakan faktor risiko yang sangat penting dalam terjadinya TOA. Selain itu, operasi
ginekologi, kanker organ genital (genital malignancy), IVF treatment, dan apendisitis yang
mengalami perforasi juga diketahui menjadi penyebab TOA (Protopapas et al., 2004; Canas et
al., 2004; Vyas et al., 2008).
Diagnosis TOA sering sulit ditegakkan dan sulit dibedakan dengan peradangan pelvis
oleh sebab-sebab yang lain, sehingga dibutuhkan anamnesa, pemeriksaan fisik, serta
pemeriksaan penunjang yang tepat untuk dapat menegakkan diagnosis pasti dan memberikan
terapi yang tepat pula. Dan bila tidak ditangani dengan baik, komplikasinya dapat menyebabkan
kematian, kemandulan dan kehamilan ektopik yang merupakan masalah medik, sosial dan
ekonomi.
Dalam laporan ini akan disajikan beberapa aspek penting dari TOA, diantaranya :
definisi, etiologi, patofisiologi, pemeriksaan dan diagnosa, komplikasi, penatalaksanaan, dan
prognosis.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Definisi

2.1.1

Tuba, Ovarium, dan abses (abscess)

Tuba fallopii adalah saluran ovum yang memiliki panjang bervariasi antara 8 hingga 14
cm dan ditutup oleh peritonium serta lumennya dilapisi oleh membran mukosa. Tuba
terbagi menjadi 3 bagian, yakni pars interstitial, ismus, ampula, dan infundibulum

(Cunningham et al., 2006). Tuba berfungsi untuk menyalurkan ovum dari ovarium
-

menuju uterus.
Ovarium merupakan bagian dari organ reproduksi wanita bagian dalam. Ovarium
berjumlah dua buah dan terletak di kiri dan kanan. Ovarium

ke

arah

uterus

bergantung pada ligamentum infundibulo pelvikum dan melekat pada ligamentum


-

latum melalui mesovarium.


Abses adalah ronga yang terbentuk karena adanya kerusakan jaringan/bengkak karena
proses infeksi.

Gambar 2.1 Organ Reproduksi Internal Wanita


Ket: Tampak tuba fallopi dan ovarium yang normal

2.1.2

TOA (tubo-ovarian abscess)


Tubo-ovarian abscess (TOA) adalah pembengkakan yang terjadi pada tuba-ovarium yang

ditandai dengan radang bernanah, baik di salah satu tuba-ovarium, maupun keduanya (Granberg,
2009). TOA Merupakan komplikasi termasuk efek jangka panjang dari salfingitis akut tetapi
biasanya akan muncul dengan infeksi berulang atau kerusakan kronis dari jaringan adnexa.
Biasanya dibedakan dengan ada tidaknya ruptur. Dapat terjadi bilateral walaupun 60% dari kasus
abses yang dilaporkan merupakan kejadian unilateral dengan atau tanpa penggunaan IUD. Abses
biasanya polimikroba.

Gambar 2.2 TOA yang mengalami ruptur di sisi kiri


2.2

Gambaran Klinis serta Tanda dan Gejala


Pada semua kasus TOA, termasuk yang disebabkan oleh Pneumococcus, menunjukkan

gejala-gejala berikut: nyeri (88%), demam (35%), massa adneksa (35%), diare (24%), mual dan
muntah (18%), haid tidak teratur (12%).
Pada pemeriksaan touching : nyeri goyang portio, nyeri kiri dan kanan uterus atau salah
satunya, kadang-kadang terdapat penebalan tuba (tuba yang normal, tidak teraba), seta nyeri
pada ovarium karena meradang.
Gejala dapat sangat bervariasi dari asimptomatis sampai terjadinya akut abdomen sampai
syok septik. Karateristik pasien biasanya yang muda serta paritasnya rendah dengan riwayat
infeksi pelvis. Durasi dari gejala pada wanita biasanya kurang lebih 1 minggu dan onsetnya
biasanya terjadi 2 minggu atau lebih setelah siklus menstruasi.
2.3

Etiologi
TOA biasanya disebabkan oleh bakteri aerob dan anaerob, seperti Escherichia coli,

Hemolytic streptococci and Gonococci, Bacteroides species dan Peptococcus (Seshadri et al.,
2004). Pada beberapa kasus, Hemophilus inuenzae, Salmonella, actinomyces, dan
Staphylococcus aureus juga dilaporkan menjadi penyebab TOA. Sekitar 92% penyebab TOA
adalah Streptococci (Cohen et al., 2003).
Dikatakan bahwa nekrosis tuba fallopi dan kerusakan epitel terjadi dikarenakan bakteri
patogen menciptakan lingkungan yang diperlukan untuk invasi anaerob dan pertumbuhan.
Terdapat salfingitis yang melibatkan ovarium dan ada juga yang tidak. Proses inflamasi ini dapat

terjadi spontan atau merupakan respon dari terapi. Hasilnya dapat terjadi kelainan anatomis yang
disertai denagn perlengketan ke organ sekitar. Keterlibatan ovarium biasanya terjadi di tempat
terjadinya ovulasi yang sering menjadi tempat masuk infeksi yang luas dan pembentukan abses.
Apabila eksudat purulen itu ditekan maka akan menyebabkan ruptur dari abses yang dapat
disertai oleh peritonitis berat serta tindakan laparotomi. Perlengketan yang lambat dari abses
akan menyebabkan abses cul de sac. Biasanya abses ini muncul ketika penggunaan IUD, atau
munculnya infeksi granulomatous ( TBC, aktinomikosis).
Adapun faktor risiko adalah sebagai berikut ,(Tuncer et al., 2012) :
a.
b.
c.
d.
e.

2.4

Multiple partner
Status ekonomi rendah.
Riwayat PID
Menggunakan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)
Adanya riwayat STD

Patofisiologi
Adanya penyebaran bakteri dari vagina ke uterus lalu ke tuba dan atau parametrium,

terjadilah salpingitis dengan atau tanpa ooforitis. Keadaan ini bisa terjadi pada pasca abortus,
pasca persalinan atau setelah tindakan genekologi sebelumnya (Mudgil, 2009). Mekanisme
pembentukan TOA secara pasti masih sulit ditentukan, tergantung sampai dimana keterlibatan
tuba infeksinya sendiri. Pada permulaan proses penyakit, lumen tuba masih terbuka
mengeluarkan eksudat yang purulent dari febriae dan menyebabkan peritonitis, ovarium
sebagaimana struktur lain dalam pelvis mengalami inflamasi, tempat ovulasi dapat sebagai
tempat masuk infeksi. Abses masih bisa terbatas mengenai tempat masuk infeksi. Abses masih
bisa terbatas mengenai tuba dan ovarium saja, dapat pula melibatkan struktur pelvis yang lain
seperti usus besar,buli-buli atau adneksa yang lain. Proses peradangan dapat mereda spontan atau

sebagai respon pengobatan, keadaan ini biasanya memberi perubahan anatomi disertai perlekatan
fibrin terhadap organ terdekatnya. Apabila prosesnya menghebat dapat terjadi pecahnya abses
(Mudgil, 2009).
2.5

Pemeriksaan dan Diagnosa


a. Pemeriksaan laboratorium: Hasil pemeriksaan yang didapatkan dari laboratorium kurang
bermakna. Hitung jenis sel darah putih bervariasi dari leukopeni sampai leukositosis.
Hasil urinalisis memperlihatkan adanya pyuria tanpa bakteriuria. Nilai laju endap darah
minimal 64 mm/h serta nilai akut C-reaktif protein minimal 20 mg/L dapat difikirkan ke
arah diagnosa TOA.
b. USG
Dapat membantu untuk mendeteksi perubahan seperti terjadinya progressi. regresi, ruptur
atau pembentukan pus. Ultrasound adalah modalitas pencitraan pilihan pertama untuk
diagnosis dan evaluasi TOA. USG menawarkan akurasi, siap ketersediaan, biaya rendah
dan kurangnya radiasi pengion. Namun, tetap memerlukan keahlian teknis untuk
mencapai potensi diagnostik yang akurat. Ini dapat dilakukan baik transvaginal atau
transabdominal: pencitraan yang transvaginal memberikan gambaran lebih detail, dimana
transduser berada di dalam dekat dengan daerah pemeriksaan, sedangkan pencitraan
pelvis yang transabdominal menawarkan keuntungan imaging dalam satu tampilan organ
besar seperti rahim. Habitus tubuh besar dan adanya loop dari usus di pelvis dapat
menimbulkan kesulitan dalam pencitraan dengan US transabdominal.
c. CT (computed tomography)
Computed tomography telah digunakan, sejak perkembagan dari US dan MRI, peran
terbatas dalam evaluasi radiologi dari PID. Penggunaan radiasi pengion yang membatasi
faktor lainnya, karena mayoritas pasien tersebut dalam usia reproduksi (Tukeva et al.,
1999). Kinerja CT dengan penggunaan media kontras oral dan intravena meningkatkan
metode dari akurasi diagnostik karena karakterisasi jaringan yang lebih baik. Sejumlah
kecil cairan dalam cul de sac bisa dideteksi oleh CT. Suatu abses Tubo-ovarium mungkin
tergambar sebagai massa peradangan dengan komponen padat dan kistik, dengan
peningkatan semua atau bagian dari komponen padat. Tampilan paling sering dari Tuboovarium abcess adalah adanya cairan yang mengandung massa dengan dinding tebal.
8

Septations mungkin juga ada. Salah satu tanda yang lebih spesifik dari abses Tuboovarium, yang tidak umum pada PID, adalah munculnya gelembung gas pada massa.
Limfadenopati biasanya ada di daerah paraaortic pada tingkatan dari hila ginjal (limfatik
ovarium dan limfatik salpingial sejajar dengan vena gonad) (Hricak et al., 2000).
Kadang-kadang ovarium dapat dideteksi dalam massa. Dalam kasus seperti diagnosis
abses Tubo-ovarium tidak sulit, jika tidak, massa yang mengalami inflamasi bisa
dibedakan dari proses peradangan yang timbul dari appendiks (abses appendiceal) atau
divertikula (Abses divertikular) atau bahkan keganasan kandung kemih.
d. Kuldosentesis
Cairan kuldosentesis pada wanita denagn TOA yang tidak ruptur memperlihatkan
gambaran reaction fluid yang sama seperti di salpingitis akut. Apabila terjadi ruptur TOA
maka akan ditemukan cairan yang purulen.

Penegakan diagnosis berdasarkan gejala-gejala yang telah didapatkan dan dapat disertai
adanya :
-

Riwayat infeksi pelvis

Adanya massa adnexa, biasanya lunak

Produksi pus dari kuldesintesis pada ruptur

Diagnosa banding :
a. TOA utuh dan belum memberikan keluhan
- Kistoma ovari, tumor ovari
- KET
- Abses peri, apendikuler
- Mioma uteri
- Hidrosalping
b. TOA utuh dengan keluhan
- Perforasi apendik
- Perforasi divertikel/abses divertikel
- Perforasi ulkus peptikum
- Kelainan sistematis yang memberi distres akut abdominal
- Kista ovari terinfeksi atau terpuntir

2.6

Komplikasi
a. TOA yang utuh: pecah sampai sepsis reinfeksi di kemudian hari, infertilitas
b. TOA yang pecah: syok sepsis, abses intraabdominal, abses subkronik, abses paru/otak.

2.7

Penatalaksanaan
a. Curiga TOA utuh tanpa gejala
- Antibotika dengan masih dipertimbangkan pemakaian golongan : doksiklin 2x /
100 mg / hari selama 1 minggu atau ampisilin 4 x 500 mg / hari, selama 1
-

minggu.
Pengawasan lanjut, bila masa tak mengecil dalam 14 hari atau mungkin membesar
adalah indikasi untuk penanganan lebih lanjut dengan kemungkinan untuk
laparatomi

b. TOA utuh dengan gejala


- Masuk rumah sakit, tirah baring posisi semi fowler, observasi ketat tanda vital
dan produksi urine, perksa lingkar abdmen, jika perlu pasang infuse P2 Antibiotika massif (bila mungkin gol beta lactar) minimal 48-72 jam Gol
ampisilin 4 x 1-2 gram selama / hari, IV 5-7 hari dan gentamisin 5 mg / kg BB /
hari, IV/im terbagi dalam 2x1 hari selama 5-7 hari dan metronida xole 1 gr reksup
2x / hari atau kloramfinekol 50 mg / kb BB / hari, IV selama 5 hari metronidazol
atau sefaloosporin generasi III 2-3 x /1 gr / sehari dan metronidazol 2 x1 gr
-

selama 5-7 hari


Pengawasan ketat mengenai keberhasilan terapi
Jika perlu dilanjutkan laparatomi, SO unilateral, atau pengangkatan seluruh organ
genetalia interna.

c. TOA yang pecah

10

TOA yang pecah merupakan kasus darurat: dilakukan laparotomi pasang drain kultur
nanah. Setelah dilakukan laparatomi, diberikan sefalosporin generasi III dan
metronidazol 2 x 1 gr selama 7 hari (1 minggu).

2.8

Prognosis
a. TOA yang utuh
Pada umumnya prognosa baik, apabila dengan pengobatan medidinaslis tidak ada
perbaikan keluhan dan gejalanya maupun pengecilan tumornya lebih baik dikerjakan
laparatomi jangan ditunggu abses menjadi pecah yang mungkin perlu tindakan lebih luas.
Kemampuan fertilitas jelas menurun kemungkinan reinfeksi harus diperhitungan apabila
terapi pembedahan tak dikerjakan
b. TOA yang pecah
Kemungkinan septisemia besar oleh karenanya perlu penanganan dini dan tindakan
pembedahan untuk menurunkan angka mortalitasnya.

11

Daftar Pustaka

1. Effendi hasjim Dr,dkk. 1981. Fisiologa Dan Patofisiologi Ginjal. Bandung : alumni
2. Price. Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Psroses Penyakit Edisi 6
Volume 2. Jakarta : EGC
3. Rabbins, Stanley C. Buku Ajar Patologi II . Jakarta :EGC
4. Rn. Sweringen. 2000. Keperawatan Medical Bedah, Edisi 2. Jakarta : EGC
5. Smeltzer, Suzanne c. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Brunner & Suddarth
Edisi 8 Vol 2. Jakarta :EGC

12