1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penyakit menular masih merupakan suatu masalah. Selama ini kita mengenal bahwa penyakit menular merupakan penyebab kematian terpenting di negara-negara berkembang seperti halnya negara kita. Dari jumlah seluruh kematian di dunia tahun 2000 yang lalu (55.694.000 kematian), ternyata 31,9% kematian disebabkan oleh penyakit menular. Untuk negara dalam kawasan World Health Organization South East Asia Regional Office WHO SEARO di mana Indonesia adalah salah satu anggotanya, 39% kematian masih disebabkankan oleh penyakit menular serta penyakit lain (Aditama, 2004). Penyakit menular di Indonesia, menunjukkan berbagai masalah baru. Dari berbagai kasus penyakit menular lama yang masih terjadi (reemerging diseases) seperti demam berdarah dengue (DBD), diare, tuberkulosis (TB), dan lainnya. Hingga munculnya sejumlah penyakit menular baru (new emerging diseases) yang tidak kalah rumitnya seperti wabah flu burung (Eko, 2008). Penyakit tuberkulosis (TBC) adalah penyakit infeksi menular yang masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. Badan kesehatan dunia, WHO menyatakan bahwa TB saat ini menjadi ancaman global. Diperkirakan sepertiga penduduk dunia terinfeksi kuman Tuberkulosis (TB) dan 95%-nya berada di negara berkembang serta

2

lebih dari 8 juta orang menderita TB setiap tahunnya. Sekitar 2 juta orang meninggal akibat penyakit ini setiap tahunnya (Aditama, 2003). WHO dalam Annual Report on Global TB Control 2003 menyatakan terdapat 22 negara dikategorikan sebagai high-burden countries terhadap TB. Indonesia termasuk peringkat ketiga setelah India dan China dalam menyumbang TB di dunia. Menurut WHO estimasi insidence rate untuk pemeriksaan dahak didapatkan basil tahan asam (BTA) positif adalah 115 per 100.000 (WHO, 2003). Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001 estimasi prevalensi angka kesakitan di Indonesia sebesar 8 per 1000 penduduk berdasarkan gejala tanpa pemeriksaan laboratorium. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 TB menduduki ranking ketiga sebagai penyebab kematian (9,4% dari total kematian) setelah penyakit sistem sirkulasi dan sistem pernafasan. Hasil survei prevalensi tuberkulosis di Indonesia tahun 2004 menunjukan bahwa angka prevalensi tuberkulosis Basil Tahan Asam (BTA) positif secara nasional 110 per 100.000 penduduk (Anonim, 2007). Berdasarkan data Departemen Kesehatan tahun 2009, sejak tahun 2000 Indonesia telah berhasil mencapai dan mempertahankan angka kesembuhan sesuai dengan target global, yaitu minimal 85% penemuan kasus TB di Indonesia pada tahun 2007 adalah 69%. Keberhasilan pengobatan TB dengan DOTS pada tahun 2004 adalah 83% dan meningkat menjadi 90% pada tahun 2006 (Anonim, 2009).

3

Menurut data Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Tenggara, cakupan penemuan baru penderita TB mengalami penurunan, dari 71% pada tahun 2006 menjadi 52% pada tahun 2007, dan keberhasilan pengobatan TB dengan DOTS pada tahun 2006 mencapai 94%. Sedangkan data terakhir yang diperoleh, pada tahun 2008, di triwulan I, ditemukan 617 penderita TBC paru, serta terdapat 555 penderita yang mengalami konversi. Di Kota Kendari, data Dinas Kesehatan Kota Kendari tahun 2007, menunjukkan ditemukannya suspek TBC paru sebanyak 2.480 kasus dengan BTA positif baru sebanyak 187 kasus (CDR 34,65%) dari jumlah penduduk 222.496 jiwa. Pada tahun 2008 dari triwulan I hingga triwulan III, ditemukan 162 penderita TBC paru, serta terdapat 70 penderita yang mengalami konversi. Risiko penularan setiap tahun (Annual Risk of Tuberculosis Infection = ARTI) di Indonesia dianggap cukup tinggi dan bervariasi antara 1-2%. Pada daerah dengan ARTI sebesar 1% berarti setiap tahun diantara 1000 penduduk, 10 orang akan terinfeksi. Sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akan terjadi penderita tuberkulosis, hanya 10% dari yang terinfeksi yang akan menjadi penderita tuberkulosis. Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi penderita tuberkulosis adalah daya tahan tubuh rendah, diantaranya karena gizi buruk atau HIV/AIDS disamping faktor pelayanan kesehatan yang belum memadai (Sulianti, 2007) Pasien dengan TB sering menjadi sangat lemah karena penyakit kronis yang berkepanjangan dan kerusakan status nutrisi. Anoreksia, penurunan berat

4

dan malnutrisi umum terjadi pada pasien dengan TB. Keinginan pasien untuk makan mungkin terganggu oleh keletihan akibat batuk berat, pembentukan sputum, nyeri dada atau status kelemahan secara umum (Smeltzer, 2001). Sejak tahun 1990-an WHO dan International Union Agains Tuberculosis and Lung Disease (IUATLD) telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi Directly Observed Treatment Shortcourse chemotherapy (DOTS) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-effective). Penerapan strategi DOTS secara baik, disamping secara cepat menekan penularan, juga mencegah berkembangnya Multi Drugs Resistance

Tuberculosis (MDR-TB). Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien, prioritas diberikan kepada pasien menular. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB. WHO telah merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam penanggulangan TB sejak tahun 1995 (Anonim, 2007). Tujuan program penanggulangan tuberkulosis adalah menggunakan sumber daya yang terbatas untuk mencegah, mendiagnosis dan mengobati penyakit dengan cara yang paling baik dan ekonomis. Alasan utama gagalnya pengobatan adalah pasien tidak minum obatnya secara teratur dalam waktu yang diharuskan. Pasien dengan cermat diinstruksikan tentang pentingnya tindakan higienis, termasuk perawatan mulut, menutup mulut dan hidung ketika batuk dan bersin, membuang tisu basah dengan baik dan mencuci tangan. Seluruh keberhasilan program tergantung dari supervisi yang baik atas

5

pengobatan. Idealnya pengobatan hendaknya diobservasi langsung (yaitu pasien diawasi setiap kali minum obat), setidaknya penting selama 2 bulan pertama. Di beberapa daerah pedesaan, pengobatan dengan pengawasan langsung mungkin perlu dilakukan oleh seseorang setempat yang bertanggung jawab atau sukarelawan. Penderita hendaknya kenal orang itu, ikatan demikian akan mengurangi kelalaian (Crofton, 2002). Obat TBC diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis, dalam jumlah cukup dan dosis tepat selama 6-8 bulan, supaya semua kuman (termasuk kuman persister) dapat dibunuh. Dosis tahap intensif dan dosis tahap lanjutan ditelan sebagai dosis tunggal. Apabila panduan obat yang digunakan tidak adekuat (jenis, dosis, dan jangka waktu pengobatan), kuman TBC akan berkembang menjadi kuman tebal obat (resisten) (Anonim, 2002). Selanjutnya setiap penderita harus diawasi (observed) dalam meminum obatnya yaitu obat diminum di depan seorang pengawas, dan inilah yang dikenal sebagai Directly Observed Therapy (DOT). Penderita juga harus menerima pengobatan (treatment) dalam sistem pengelolaan, penyediaan obat anti tuberkulosis yang tertata dengan baik, termasuk pemberian regimen OAT yang adekuat, yakni melalui pengobatan jangka pendek (short cource) sesuai dengan klasifikasi dan tipe masing-masing kasus (Situmeang, 2004). Berdasarkan latar belakang di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Konversi TB Paru di Kota Kendari”.

6

B. Rumusan Masalah Seberapa besar peran Pengawas Minum Obat (PMO), dukugan petugas kesehatan, ketersediaan obat, status gizi penderita, serta kondisi rumah penderita terhadap tingkat konversi TB paru di Kota Kendari?

C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah: 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui seberapa besar faktor-faktor yang berhubungan dengan konversi TB paru di Kota Kendari. 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui seberapa besar peran Pengawas Minum Obat (PMO) terhadap tingkat konversi TB paru di Kota Kendari. b. Untuk mengetahui seberapa besar dukungan petugas kesehatan terhadap tingkat konversi TB paru di Kota Kendari. c. Untuk mengetahui seberapa besar peranan ketersediaan obat terhadap tingkat konversi TB paru di Kota Kendari. d. Untuk mengetahui seberapa besar peranan status gizi penderita terhadap tingkat konversi TB paru di Kota Kendari.
e. Untuk mengetahui seberapa besar peranan kondisi rumah penderita

terhadap tingkat konversi TB paru di Kota Kendari.

7

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi masyarakat semoga bermanfaat sebagai tambahan ilmu pengetahuan

tentang faktor-faktor yang menyebabkan konversi TB paru sehingga dapat menjadi tambahan pengetahuan bagi penderita TB paru khususnya dan masyarakat pada umumnya. 2. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu bahan masukan bagi Dinas Kesehatan Kota Kendari yang dapat berguna dalam menurunkan prevalensi TB paru di wilayahnya.
3. Sebagai bahan bacaan dan referensi yang diharapakan dapat bermanfaat

bagi pembaca serta bagi penelitian selanjutnya di masa yang akan datang. 4. Bagi peneliti menambah ilmu pengetahuan tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan konversi TB paru.

8

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum tentang Tuberkulosis 1. Pengertian Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis), sebagian besar kuman TB menyerang paru tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya (Anonim, 2002). Tuberkulosis paru adalah suatu infeksi kronik jaringan paru, yang dapat menular dan disebabkan oleh kuman tuberculosis. Kuman tersebut biasanya masuk ke dalam tubuh manusia melalui udara pernafasan ke dalam paru, kemudian kuman tersebut menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, melalui saluran nafas (bronchus) atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya, baik di paru maupun di luar paru. Tuberkulosis dapat terjadi pada semua kelompok umur (Anonim, 2006b). Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TBC (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TBC menyerang peru tetapi juga mengenai organ tubuh lainnya (Anonim, 2002). Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang menyebar melalui batuk dan dahak (Miller dkk, 2002). Tuberkulosis merupakan suatu penyakit yang sudah amat lama dikenal di muka bumi ini. Peninggalan tertua penyakit ini ditemukan di

9

Jerman Selatan pada tulang penderita yang diperkirakan hidup sekitar 5000 tahun sebelum Masehi. Pada mumm-mummi di tanah Arab yang diperkirakan berumur sekitar 3000 tahun juga ditemukan gambaran tuberkulosis berupa sel-sel khusus yang disebut giant cell (sel raksasa) dan sel epiteloid pada tulang dan paru mummi tersebut. Peninggalan tertua penyakit ini di Indonesia mungkin seperti pada relief-relief di Candi Borobudur. Relief itu menggambarkan penderita tuberkulosis, yang menunjukkan bahwa Tuberkulosis telah ada di antara mereka pada saat Candi Borobudur dibangun (Aditama, 1994). Tuberkulosis yang disingkat menjadi TBC berasal dari kata tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi yang dapat mengenai paru-paru manusia. Seperti juga dengan penyakit infeksi lainnya, tuberkulosis saat ini lebih lazim disingkat dengan TB saja disebabkan oleh kuman, atau basil tuberkulosis yang dalam istilah kedokteran diberi nama dalam bahasa Latin yaitu Mycobacterium tuberculosis. Jadi sekali lagi, tuberkulosis disebabkan oleh kuman, dan karena itu tuberkulosis bukanlah penyakit keturunan. Karena disebabkan oleh kuman, maka tuberkulosis dapat ditularkan dari seseorang ke orang lain. Bila seorang penderita tuberkulosis batuk-batuk misalnya, maka kuman tuberkulosis yang ada didalam paru-parunya akan ikut dibatukkan ke luar, dan bila kemudian terisap orang lain maka kuman tuberkulosis itu akan ikut pula terisap dan mungkin menimbulkan penyakit. Hanya saja memang perlu diketahui

10

bahwa tidak semua penderita tuberkulosis paru berpotensi menularkan penyakit-penyakit pada orang lain (Aditama, 1994). Tuberkulosis Paru ialah suatu infeksi kronik jaringan paru, yang disebut Mycobacterium tuberculosae. Dulu penyakit ini tersebar diseluruh penjuru dunia, tetapi sekarang sudah jarang di Eropa dan Amerika Serikat, karena perbaikan higiene dan standar hidup. Di daerah tropik frekuensi paru masih tinggi (Sibuea, 1992). Penyakit Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis), sebagian besar kuman TB menyerang Paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Kuman tuberkulosis berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut sebagai Basil Tahan Asam (BTA), kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant, (tertidur lama selama beberapa tahun), selama beberapa bulan (Anonim, 2002).

11

2.

Klasifikasi Tuberkulosis Klasifikasi penyakit Tuberkulosis terdiri atas :
1. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan

paru, tidak termasuk pleura (selaput paru). Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak, TB Paru dibagi dalam :
a.

Tuberkulosis Paru BTA Positif yaitu sekurang-kurangnya 2

dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto rontgen dada menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif.
b.

Tuberkulosis Paru BTA Negatif yaitu apabila pemeriksaan

3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif dan foto rontgen dada menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif. TBC Paru BTA negatif rontgen positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan ringan. Bentuk berat apabila foto rontgen dada memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas dan atau keadaan umum penderita buruk.
c.

Tuberkulosis

Ekstra

paru

yaitu

tuberkulosis

yang

menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung, kelenjar limfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain. TBC ekstra paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan

penyakitnya, yaitu :

12

1) TBC ekstra paru ringan, misalnya : TBC kelenjar limfe,

pleuritis,

eksudativa

unilateral,

tulang

(kecuali

tulang

belakang), sendi dan kelenjar adrenal.
2) TBC ekstra paru berat, misalnya : meningitis, millier,

perikardis, peritonitis, pleura eksudativa duplex, TBC tulang belakang, TBC usus, TBC saluran kencing dan alat kelamin (Anonim, 2002).

a. Cara Penularan

Sumber penularan adalah penderita TBC BTA positif, pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam, orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran pernafasan. Seteleah kuman TB masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya, melalui sistem perderan darah, sistem saluran limfe, saluran nafas, atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya. Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan oleh parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin tinggi pula tingkat penularannya. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular.

13

Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut (Anonim, 2002). Sumber penularannya penyakit tuberculosis adalah penderita TB BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman keudara dalam bentuk Droplet (percikan Dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan diudara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi bila droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan. Selama kuman TB masuk kedalam tubuh manusia melalui pernapasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran linfe, saluran napas, atau penyebaran langsung kebagiannagian tubuh lainnya. Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh

banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular. Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh

konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut (Anonim, 2002).

14

b.

Riwayat terjadinya Tuberkulosis

1) Infeksi Primer Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TB. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosillier bronkus, dan terus berjalan sehinga sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di Paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru, saluran linfe akan membawa kuma TB ke kelenjar linfe disekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks primer. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer adalah 4 - 6 minggu. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya

perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif. Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat

menghentikan perkembangan kuman TB. Meskipun demikian, ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister atau dormant (tidur). Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu mengehentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang bersangkutan akan menjadi penderita Tuberkulosis.

15

Masa inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan. 2) Tuberkulosis Pasca Primer (Post Primary TB) Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura (Anonim, 2002).

c.

Gejala-Gejala Penyakit Tuberkulosis Penyakit TBC merupakan penyakit yang kronis. Seringkali

gejala penularannya sangat ringan berupa rasa lesu, demam yang tidak begitu tinggi, berat badan yang tak mau naik, berkeringat malam, batuk-batuk yang sukar sembuh. Kadang-kadang penyakit ini tidak menunjukkan gejala sama sekali, sehingga sangat berbahaya untuk penularan. Penyakit TBC terutama menyerang paru-paru. Paru-paru merupakan organ tubuh yang sangat rapuh (gelembung paru-paru) sehingga bila terserang TBC dapat terjadi bolong-bolong (caverne) dalam paru-paru. Bila penyakitnya bertambah berat, penderita makin kurus, pucat, sangat lemah, dan batuk darah. Kadang-kadang terjadi perdarahan yang hebat karena terputusnya pembuluh darah yang besar di dalam paru-paru.

16

Selain menyerang paru-paru, TBC dapat pula menyerang ginjal, tulang, usus, alat kandungan, kelenjar lympha dan otak. TBC otak, pengobatannya sangat sulit dan bila sembuh, seringkali meninggalkan gejala sisa (cacat) berupa kelumpuhan, kecerdasan yang menurun dan gejala-gejala kelainan syaraf yang lainnya (Entjang, 2000).

d.

Diagnosis Tuberkulosis

1) Diagnosis Tuberkulosis pada Orang Dewasa Diagnosis Tuberkulosis Paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga spesimen SPS BTA hasilnya positif. Bila hanya satu spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan dahak SPS diulang. Kalau hasil rontgen mendukung TB, maka penderita

didiagnosis sebagai penderita TB BTA positif. Kalau hasil rontgen tidak mendukung TB, maka

pemeriksaan dahak SPS diulangi. Apabila fasilitas memungkinkan, dapat dilakukan pemeriksaan lain, misalnya biakan.

17

Bila ketiga spesimen dahak hasilnya negatif, diberikan antibiiotik spektrum luas (misalnya Kotrimoksasol atau

Amoksisilin) selama satu sampai dua minggu. Bila tidak ada perubahan, namun gejala klinis tetap mencurigakan TB, ulangi pemeriksaan dahak SPS. Kalau hasil SPS positif, didiagnosis sebagai penderita TB

BTA positif Kalau hasil SPS tetap negatif, lakukan pemeriksaan foto

rontgen dada, untuk mendukung diagnosis TB. Bila hasil rontgen mendukung Tb, didiagnosis sebagai

penderita TB BTA negatif rontgen positif. Bila hasil rontgen tidak mendukung Tb, penderita tersebut

bukan TB. UPK yang tidak memiliki fasilitas rontgen, penderita dapat dirujuk untuk foto rontgen dada. Di Indonesia, pada saat ini, uji Tuberkulin tidak mempunyai arti dalam menentukan diagmnosis TB pada orang dewasa, sebab sebagian besar masyarakat sudah terinfeksi dengan Mycobacterium tuberculosis karena tingginya prevalensi TB. Suatu uji Ytuberkulin positif hanya menunjukkan bahwa yang

bersangkutan pernah terpapar dengan Mycobacterium tuberculosis. Dilain pihak, hasil uji tuberkulin apat negatif meskipun orang

18

tersebut

menderita

Tuberkulosis,

misalnya

pada

penderita

HIV/AIDS, malnutrisi berat, TB milier, dan morbili. 2) Diagnosis Tuberkulosis pada Anak Diagnosis paling tepat adalah dengan ditemukannya kuman TB dari bahan yang diambil dari penderita, misalnya dahak, bilasan lambung, biopsi dan lain-lain. Tetapi pada anak hal ini sulit dan jarang didapat, sehingga sebagian besar diagnosis TB anak didasarkan atas gambaran klinis, gambaran foto rontgen dada dan uji tuberkulin (Anonim, 2002).

e.

Penyebaran Penyakit TBC Dahulu dikatakan bahwa TBC lebih banyak terdapat di kota-

kota. Tapi karena adanya urbanisasi dan adanya alat angkutan yang semakin lancar, keadaan TBC di desa dan di kota sama saja. Samasama banyaknya. Mycobacterium tuberculosis yang berjuta-juta banyaknya yang berasal dari dahak si penderita yang mengering, beterbangan dalam debu-debu di udara, dalam kereta api, bus-bus umum, ruang-ruang bioskop dan tempat-tempat lain bekas penderita berada. TBC basil yang melayang-layang diudara ini akan terhirup oleh orang-orang, yang akan menambah jumlah penderita baru.

19

Untuk mencegah penyebaran TBC semacam ini, diharapkan sekali keinsyafan dari para penderita untuk tidak membuang dahak dimana saja dan bila batuk menutup mulutnya dengan sapu tangan. Berkecamuknya penyakit TBC disebabkan oleh adanya sumber penularan (penderita) dan adanya orang-orang yang dalam masyarakat. Kerentanan akan TBC ini akan terjadi karena daya tahan tubuh yang rendah yang disebabkan karena : gizi yang buruk, terlalu lelah, kedinginan dan cara hidup yang tidak teratur. Karena itulah penyakit TBC lebih banyak terdapat pada golongan masyarakat dimana keadaan sosial ekonominya rendah, dimana terdapat kemiskinan dan kurangnya pengetahuan tentang cara-cara hidup yang sehat. Rupanya hal ini pulalah yang menyebabkan penyakit TBC masih banyak dikalangan Indonesia. Banyaknya penderita TBC (sumber penularan) dalam

masyarakat sangat mengancam kesehatan warga masyarakat yang lainnya (Entjang, 2000).

f. Pada

Usaha Pencegahan dan Pemberantasannya prinsipnya pencegahan dan pemberantasan TBC

dijalankan dengan usaha-usaha :

20

1.

Pendidikan kesehatan kepada masyarakat tentang penyakit

TBC, bahaya-bahayanya, cara penularannya serta usaha-usaha pencegahannya. 2. Pencegahan dengan : a. Vaksinasi B.C.G pada anak-anak umur 0-14 tahun b. Chemoprophylactic dengan INH pada keluarga penderita atau orang-orang yang pernah kontak dengan penderita Berhasil atau tidaknya usaha pemberantasan TBC tergantung pada : 1) Keadaan sosio ekonomi masyarakat Makin buruk keadaan sosio ekonomi masyarakat, sehingga makin jelek nilai gizi dan hygiene lingkungannya, yang akan menyebabkan rendahnya daya tahan tubuh mereka. Sehingga memudahkan menjadi sakit, seandainya mendapatkan penularan. Kesadaran gizi yang jelek, selain mempersulit

penyembuhan juga memudahkan kambuhnya kembali TBC yang sudah reda. 2) Kesadaran berobat si penderita a. Pengobatan TBC memerlukan waktu yang lama (minimal

2 tahun secara teratur), sebab obat anti TBC barulah bersifat tuberculostatika, belum bersifat tuberculocida. b. Kadang-kadang walaupun penyakitnya agak berat si tidak merasa sakit, sehingga tidak mencari

penderita

21

pengobatan. Menurut hasil penyelidikan WHO 50% penderita TBC tidak menunjukkan gejala apa-apa. Orang ini akan lebih berbahaya lagi sebagai sumber penularan karena bebas bercampur dengan masyarakat. 3) Pengetahun penderita, keluarga dan masyarakat pada umumnya tentang penyakit TBC Makin rendah pengetahuan penderita tentang bahaya penyakit TBC untuk dirinya, keluarga dan masyarakat

disekitarnya, makin besar pulalah bahaya si penderita sebagai sumber penularan, baik di rumah maupun di tempat pekerjaannya, untuk keluarga dan orang-orang disekitarnya. Sebaliknya

pengetahuan yang baik akan penyakit ini akan menolong masyarakat dalam menghindarinya. Menghilangkan sumber penularan dengan mencari dan mengobati semua penderita dalam masyarakat (Entjang, 2000).

B. Tinjauan Umum Tentang Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan

Konversi 1. Pengawas Minum Obat (PMO) Salah satu dari komponen DOTS adalah pengobatan panduan OAT jangak pendek dengan pengawasan langsung, untuk menjamin keteraturan pengobatan diperlukan seorang PMO.

22

1. 1)

Persyaratan PMO Seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui, baik oleh

petugas kesehatan maupun penderita, selain itu harus disegani dan dihormati oleh penderita. 2) 3) Seseorang yang tinggal dekat dengan penderita. Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-

sama dengan penderita.
4)

Bersedia membantu penderita dengan sukarela. Yang bisa jadi PMO

2.

Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan, misalnya bidan di desa, perawat, juru imunisasi, dan lain-lain. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan, PMO dapat berasal dari kader kesehatan, tokoh masyarakat dan anggota keluarga. 3. Tugas seorang PMO

1) Mengawasi penderita TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan. 2) Memberi dorongan kepada penderita agar mau berobat teratur. 3) Mengingatkan penderita untuk periksa ulang dahak pada waktuwaktu yang telah ditentukan.
4) Memberi penyuluhan pada anggota keluarga penderita TB yang

mempunyai gejala-gejala tersangka tuberkulosis untuk segera memeriksakan diri ke unit pelayanan kesehatan (Anonim, 2002).

23

2. Dukungan Petugas Kesehatan

Peran petugas kesehatan adalah penampilan hasil karya personel baik kuantitas maupun kualitas dalam suatu organisasi. Peran dapat merupakan penampilan individu maupun kelompok kerja personel. Penampilan hasil karya tidak terbatas kepada personel yang memangku jabatan fungsional maupun struktural tetapi juga kepada keseluruhan jajaran personel di dalam organisasi (Ilyas, 2001). Interaksi petugas kesehatan dengan penderita TBC terjadi di beberapa titik pelayanan yaitu poliklinik, laboratorium, tempat

pengambilan obat dan pada waktu kunjungan rumah. Keberhasilan pengobatan TB sangat bergantung antara lain pada kemampuan petugas melakukan komunikasi interpersonal dengan penderita dan keluarganya (Anonim, 2001). Peranan petugas kesehatan dalam penyuluhan tentang TB perlu dilakukan, karena masalah tuberkulosis banyak berkaitan dengan masalah pengetahuan dan perilaku masyarakat. Tujuan penyuluhan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan peran serta masyarakat dalam penanggulangan penyakit tuberkulosis. Kemauan dan peran serta masyarakat dalam penanggulangan tuerkulosis. Penyuluhan tuberkulosis dapat dilaksanakan dengan menyampaikan pesan penting secara langsung ataupun menggunakan media.

24

Penyuluhan dibagi dalam: 1) Penyuluhan langsung bila dilakukan: Perorangan Kelompok

2) Penyuluhan tidak langsung dengan menggunakan media, dalam bentuk: Bahan cetak seperti leaflet, poster atau spanduk Media massa, yang dapat berupa; media cetak seperti

koran, majalah, media elektronik seperti radio dan televisi.

3. Ketersediaan Obat Ketersedian obat khususnya persediaan obat di Puskesmas adalah obat anti tuberkulosis yang ada pada Puskesmas yang digunakan dalam program pemberantasan tuberkulosis. Adapun obat anti tuberkulosis yang ada sekarang digolongkan dalam dua jenis yaitu bakterisidal dan bakteriostatistik. Yang termasuk dalam golongan bakteriosidal adalah isonizoid (H), rifampisin (R) pirazinamid (2), streptomisin (S). Sedangkan etambutol (E) termasuk golongan bakteriostatistik. Kelima obat tersebut di atas termasuk obat anti tuberkulosis utama. Pengelolaan obat dalam manajemen persediaan obat di Puskesmas adalah Kepala Puskesmas, Petugas Gudang Obat dan Petugas Obat di sub unit pelayanan adalah:

25

1)

Kepala Puskesmas Kepala Puskesmas bertanggung jawab atas pelaksanaan

pengelolaan obat dan pencatatan laporan, mengajukan obat untuk pengadaan ketersediaan kepada Kepala Dinas/Kepala GFK,

menyampaikan laporan bulanan pemakaian obat, melaporkan semua obat yang hilang, rusak maupun kadaluarsa kepada Kepala Dinas Kesehatan/Kepala GFK. 2) Petugas Gudang Obat

Petugas gudang obat bertanggung jawab dalam menerima obat dari GFK, menyimpan dan mengatur ruang gudang obat serta

mengendalikan persediaan obat, mendistribusikan obat untuk unit pelayanan obat, mengawasi mutu obat, melakukan pencatatan dan pelaporan. Petugas gudang obat membantu Kepala Puskesmas dalam hal menjaga keamanan obat, penyusunan persediaan, distribusi dan pengawasan penderita obat. 3) Petugas Obat di Sub Unit Pelayanan

Petugas obat pada sub unit pelayanan bertanggung jawab dalam menerima, menyimpan dan memelihara obat dari gudang obat Puskesmas, menerima resep dokter, meracik/menyiapkan obat, mengemas obat, menyerahkan obat dan memberikan informasi penggunaan obat, membuat catatan dan laporan pemakaian obat untuk

26

petugas gudang obat serta mengamati mutu obat secara umum (Anonim, 1990). Yang termasuk dalam OAT sekunder adalah para-aminosalicylic acid (PAS), ethionamid, sikloseria, kanamisia dan kapremisin. Obat anti tuberkulosis sekunder ini selain kurang efektif juga lebih toksik, sehingga kurang dipakai lagi (http://www.gizi .net.2009).

4. Status Gizi Secara klasik kata gizi hanya dihubungkan dengan kesehatan tubuh, yaitu untuk menyediakan energi, membangun, dan memelihara jaringan tubuh, serta mengatur proses-proses kehidupan dalam tubuh. Tetapi, sekarang kata gizi mempunyai pengertian lebih luas; disamping untuk kesehatan, gizi dikaitkan dengan potensi ekonomi seseorang, karena gizi berkaitan dengan perkembangan otak, kemampuan belajar, dan produktivitas kerja. (Almatsier, 2003). Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transpormasi, penyimpanan, metabolisme, dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan, dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi Status Gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu (Supariasa, 2001).

27

Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memproleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, pertumbuhan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat lebih esensial. Status gizi lebih terjadi bila tubuh memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah berlebihan, sehingga menimbulkan efek toksis atau

membahayakan. Baik pada status gizi kurang, maupun status gizi lebih terjadi gangguan gizi. Gangguan gizi disebabkan oleh faktor primer atau sekunder. Faktor primer adalah bila susunan makanan seseorang salah dalam kuantitas dan atau kualitas yang disebabkan oleh kurangnya penyediaan pangan, kurang baiknya distribusi pangan, kemiskinan, ketidaktahuan, kebiasaan makan yang salah, dan sebagainya. Faktor sekunder meliputi semua faktor yang menyebabkan zat-zat gizi tidak sampai di sel-sel tubuh setelah makanan dikonsumsi. Misalnya faktorfaktor yang meyebabkan terganggunya pencernaan, seperti gigi-geligi yang tidak baik, kelainan struktur saluran cerna dan kekurangan enzim. Faktor-faktor yang mengganggu absorbsi zat-zat gizi adalah adanya parasit, penggunaan laksan/obat cuci perut, dan sebagainya. Akibat kurang gizi terhadap proses tubuh bergantung pada zat-zat gizi apa yang kurang. Kekurangan gizi secara umum (makanan kurang dalam kalitas dan kuantitas) menyebabkan gangguan pada proses

28

pertahanan tubuh. Daya tahan terhadap tekanan atau stress menurun. Sistem imunitas dan antibodi berkurang, sehingga orang mudah terserang infeksi seperti pilek, batuk (TBC) dan diare. Pada anak-anak hal ini dapat mengakibatkan kematian (Almatsier, 2003). Keadaan gizi kurang tingkat berat pada masa bayi dan anak-anak ditandai dengan dua macam sindrom yang jelas yaitu kwashiorkor karena kurang konsumsi protein dan marasmus karena kurang konsumsi energi dan protein.Tanda-tanda klinis gizi buruk (kwashiorkor, marasmus dan marasmus-kwashiorkor). Berbagai keadaan berpengaruh pada cara tubuh kita melawan basil tuberkel, termasuk gizi. Terdapat bukti sangat jelas bahwa kelaparan atau gizi buruk mengurangi daya tahan terhadap penyakit ini (TBC). Faktor ini sangat penting pada masyarakat miskin, baik pada orang dewasa maupun pada anak (Crofton, 2002). Pasien TBC perlu makanan bergizi. Makanan bergizi untuk menambal paru-paru atau alat tubuh lain yang keropos. Makanan bergizi berperan sebagai semen. Semen untuk menambal bagian tubuh yang keropos dan bolong akibat digerogoti basil TBC. Gizi yang baik menjadikan penyembuhan penyakit lebih cepat. Karena, gizi yang memadai menambah kekurangan gizi yang timbul akibat TBC-nya. Mungkin sudah kurang darah, kurang zat kapur, dan kurang prtein juga. Untuk itu, perlu obat penambah darah dan zat kapur juga.

29

Akibat paru-paru keropos, butuh zat kapur lebih banyak. Dalam paru-paru yang keropos terbentuk proses perkapuran. Keroposnya ditambal dengan zat kapur. Pasien TBC dewasa perlu makan zat kapur lebih banyak. Zat kapur banyak dalam susu, ikan teri, dan tablet kalsium. Pasien TBC perlu ditambah jenis makanan ini. Bayi dan anak, penyembuhan TBC-nya tidak dengan proses perkapuran. Bayi dan anak hanya membutuhkan protein lebih banyak. Selain susu dan telur, anak juga butuh vitamin dan mineral. Seperti pada pasien dewasa, anak juga perlu ditambahkan vitamin B6 atau pyridoxine. Pertumbuhan anak yang kurang bergizi akan tidak sempurna, termasuk pertumbuhan organ tubuhnya. Banyak organ tubuh yang berkualitas rendah. Penyakut kekurangan gizi, bila tidak terlalu parah jarang menyebabkan kematian, kecuali karena timbulnya komplikasi. Penyakit penyulit justru mudah timbul karena status gizi sedemikian. Penyakit penyulit yang sering timbul sebagai akibat kekurangan gizi adalah penyakit menular. Anak-anak ini kurang mampu membentuk antibodi (daya tahan) terhadap penyakit infeksi (seperti TBC). Sebagai akibatnya, anak-anak ini sering terkena penyakit sehingga

pertumbuhannya terganggu. Kesemuanya ini membawa akibat pada kurangnya produktivitas masyarakat di masa dewasa (Slamet, 2004). Penilaian keadaan gizi seseorang, yakni ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Kita dapat melakukan salah satu dari cara itu atau dapat

30

juga menggunakan kombinasi cara tersebut untuk memperkuat kesimpulan terhadap status gizi seseorang. a. Secara langsung 1. 2. 3. 4. Biofisik Biokimia Klinis Antropometri

b. Secara tidak langsung 1. 2. 3. Survai konsumsi pangan Survai sosial ekonomi Kebiasaan makan

Salah satu cara penilaian yang mudah dan murah dilaksanakan adalah status gizi secara antropometri. Pengukuran dengan antropometri dikenal istilah parameter, indeks, baku antropometri dan klasifikasi. Ada 3 jenis indeks antropometri yang paling sering digunakan baik dalam survai maupun pemetaan, yaitu Indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U), Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) dan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) (Anonim, 2004).

5. Kondisi Rumah a) Kelembaban rumah

Kelembaban sangat dipengaruhi oleh pencahayaan yang tepat pada kondisi keadaan suatu rumah. Pencahayaan adalah memberikan

31

penerangan pada suatu ruangan dengan cara alamiah maupun buatan. Cahaya yang cukup untuk menerangi ruangan di dalam rumah merupakan kebutuhan manusia, cahaya mempunyai sifat dapat membunuh bakteri. Sinar ultraviolet dari cahaya matahari dibiarkan bebas masuk ruangan rumah pada pagi hari, semua tirai dan jendela dibiarkan terbuka. Untuk mendapatkan cahaya matahari yang cukup harus memperhatikan bentuk jendela dan bentuk jendela (Anonim, 2006). Menurut Winslow, cahaya yang cukup untuk penerangan ruang di dalam rumah merupakan kebutuhan kesehatan manusia. Penerangan ini dapat diperoleh dengan pengaturan cahaya buatan dan cahaya alam (Amiruddin dkk, 2003). Menurut World Health Organization (WHO), standar

pencahayaan alam di dalam rumah adalah 60 – 120 lux, sedangkan untuk pencahayaan buatan di dalam rumah dapat digunakan dengan memakai lampu pijar atau lampu 25 watt (Rosdian, 1999).
1) Pencahayaan alam

Pencahayaan alam diperoleh dengan masuknya sinar matahari ke dalam ruangan melalui jendela, celah-celah dan bagian-bagian bangunan yang terbuka. Sinar ini sebaiknya tidak terhalang oleh bangunan, pohon-pohon, mupun tembok pagar yang tinggi. Cahaya matahari ini berguna selain untuk penerangan juga

32

dapat menerangi kelembaban ruang, mengusir nyamuk, membunuh kuman-kuman penyebab penyakit tertentu seperti TBC. Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan cahaya untuk penerangan alami sangat ditentukan oleh letak dan lebar jendela. Untuk memperoleh jumlah cahaya matahari pada pagi hari secara optimal sebaiknya jendela kamar tidur menghadap ke timur. Luas jendela yang baik paling sedikit mempunyai luas 10 – 20% dari luas lantai. Apabila luas jendela melebihi 20% dapat menimbulkan kesilauan dan panas, sedangkan sebaliknya kalau terlalu kecil dapat menimbulkan suasana pengap dan gelap. 2) Pencahayaan buatan Pencahayaan buatan yang baik dan memenuhi standar dapat dipengaruhi oleh: − Cara pemasangan sumber cahaya pada dinding atau langitlangit. − Konstruksi sumber cahaya dalam ornamen yang digunakan. − Luas dan bentuk ruangan. − Penyebaran sinar pada sumber cahaya. Pembagian terang cahaya (fluks) dapat dilakukan dengan sistem penerangan buatan yang bersifat langsung, tidak langsung, atau campuran. − Penerangan langsung

33

Penerangan langsung yaitu cahaya yang dipancarkan oleh sumber cahaya ke arah bidang yang harus diterangi, mencapai 90 – 100% di mana sekitar 0 – 10% diarahkan ke atas. Dalam hal ini untuk kegunaan tertentu sangat efisien karena langitlangit rumah hampir tidak berperan memantulkan sinar. Sistem penerangan ini menimbulkan bayangan tajam. Oleh karena itu sebaiknya sumber cahaya harus diatur agar tidak langsung mengenai mata. Penerangan langsung dapat diatur sebagai berikut: 1. Penerangan lebih condong langsung Penerangan lebih condong langsung dapat dibuat dengan cara memancarkan ke bidang penerangan sebesar 60 – 90% dan ke atas sekitar 10 – 40%. Pada penerangan ii akan terbentuk bayangan-bayangan yang kurang tajam serta kilau yang memberi kesan seolah-olah posisi langit rumah menjadi lebih tinggi. Dengan demikian terang ruangan menjadi lebih baik. 2. Penerangan lebih condong tidak langsung Penerangan lebih condong tidak langsung terjadi apabila cahaya yang dipancarkan ke bidang penerangan mencapai sekitar 10 – 40% dengan sebagian sumber cahaya yang berkisar antara 60 – 90 % diarahkan ke atas. Dalam sistem ini langit-langit dan dinding ruangan perlu diberi warna

34

terang untuk mengurangi timbulnya bayang-bayang dan kilauanyang berlebihan. − Penerangan tidak langsung Penerangan dalam sistem ini dibuat dengan cara memancarkan cahaya ke bidang penerangan berkisar 0 – 10% dan sekitar 90 – 100% sinar dipantulkan oleh langit-langit dan dinding ruangan. Warna langit-langit dan dinding harus terang sehingga tidak terjadi bayang-bayang.

Penerangan campuran (difus) Penerangan difus menghasilkan efisiensi yang lebih rendah dari sistem penerangan langsung, maupun penerangan lebih condong langsung di mana sekitar 40 – 60% cahaya dipancarkan ke bidang penerangan dan 40 – 60% cahaya dari sumber-sumber cahaya diarahkan ke dinding dan langit-langit. Akibat penerangan ini bayang-bayang dan kilau hampir tidak terjadi. Penerangan pada rumah tinggal dapat diatur dengan memilih sistem penerangan yang telah dijelaskan di atas dengan suatu pertimbangan dari penerangan tersebut dapat menumbuhkan suasana rumah yang lebih menyenangkan. Lampu flouresen (neon) sebagai sumber cahaya yang baik bila dibandingkan penggunaan lampu pijar. Namun demikian bila ingin mempergunakan lampu pujar sebaiknya gunakan yang

35

berwarna putih dengan dikombinasikan dengan beberapa lampu neon.

b) Ventilasi rumah Ventilasi adalah usaha untuk memelihara kondisi atmosfir yang menyenangkan dan menyehatkan bagi manusia. Fungsi ventilasi adalh untuk menjaga aliran udara di dalam ruang tetap segar. Yang berarti keseimbangan O2 yang diperlukan oleh penghuni rumah. Kurangnya ventilasi dapat menyebabkan ketersediaan O2 di dalam rumah berkurang, sehingga kadar CO2 yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat. Di samping itu tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara di dalam ruangan naik karena terjadi proses penguapan dan penyerapan cairan dari kulit. Kelembaban ini akan merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri patogen terutama bakteri mikobakterium yang disebabkan oleh penderita akan memudahkan terjadinya penularan. Fungsi kedua ventilasi adalah untuk membebaskan udara ruangan dari bakter-bakteri, terutama bakteri patogen. Fungsi ketiga ventilasi adalah menjaga agar ruangan rumah selalu tetap di dalam kelembaban yang optimum (Anonim, 2002). Menurut Notoatmodjo (2003), ventilasi rumah mempunyai beberapa fungsi yaitu sebagai berikut: 1. Untuk menjaga aliran udara di dalam rumah tetap segar.

36

2.

Untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri-

bakteri, terutama bakteri patogen karena selalu terjadi aliran udara yang terus-menerus. Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir.
3.

Untuk menjaga agar ruangan rumah selalu tetap di

dalam kelembaban yang optimum. Ada dua macam ventilasi yaitu: 1. Ventilasi alamiah Ventilasi alamiah adalah di mana aliran udara di dalam ruangan tersebut terjadi secara alamiah melalui jendela, pintu, lubang angin, lubang-lubang pada dinding dan sebagainya. 2. Ventilasi buatan Ventilasi buatan yaitu dengan mempergunakan alat-alat khusus untuk mengalirkan udara tersebut misalnya kipas angin dan AC (Notoatmodjo, 2003). Hawa segar diperlukan dalam rumah untuk mengganti udara ruangan yang sudah terpakai. Udara segar diperlukan untuk menjaga temperatur udara dalam ruangan. Sebaiknya temperatur kamar 22o C – 30o C sudah cukup segar. Pergantian udara bersih untuk orang dewasa adalah 33 m3/orang/jam, kelembaban udara berkisar 60% optimum. Untuk memperoleh kenyamanan udara seperti yang dimaksud di atas diperlukan adanya ventilasi yang baik (Anonim, 1999).

37

Ventilasi yang baik dalam ruangan harus memenuhi syarat yaitu udara yang masuk harus bersih (jauh dari pencemaran), lubang ventilasi tetap minimum 5% dari luas lantai ruangan sedangkan luas lantai lubang ventilasi tidak tetap minimal 5% sehingga jumlah keseluruhan 10% dari luas lantai, aliran udara usahakan cross ventilation dengan menempatkan lubang hawa berhadapan antara dua dinding ruangan dan kelembaban udara dijaga jangan sampai terlalu tinggi dan jangan terlalu rendah yakni berkisar antara 40 – 50% (Amiruddin dkk, 2003).

c) Kepadatan hunian Kepadatan hunian merupakan keadaan di mana kondisi antara jumlah penghuni dengan luas seluruh rumah seimbang dengan jumlah penghuninya yaitu 9 m2 per orang. Apabila luas rumah tidak seimbang dengan jumlah penghuni atau melebihi kapasitas maka akan berdampak negatif pada kesehatan oleh karena itu dalam perencanaan pembuatan rumah agar lebih baik memperhatikan keadaan jumlah penghuni terutama setelah beberapa tahun kemudian (Azwar,1992). Rumah tinggal dikatakan padat bila jumlah penghuni menunjukkan hal-hal sebagai berikut: 1. Dua individu dari jenis yang berbeda dan berumur di atas sepuluh tahun dan tidak berstatus sebagai suami istri tidur dalam satu kamar.

38

2. Jumlah orang dalam rumah dibandingkan dengan luas lantai melebihi ketentuan yang telah ditetapkan. Adapun ketentuan perbandingan kebutuhan kamar dengan jumlah penghuninya (orang) adalah sebagai berikut: Jumlah kamar Satu Dua Tiga Empat Jumlah penghuni 2 3 5 8

Lima ke atas 10 Pengaruh psikologi juga ditimbulkan oleh adanya penghuni rumah, ini akibatjumlah penghuni dalam ruangan melebihi persyaratan yang maksimal untuk dua orang untuk setiap kamar tidur sehingga privacy dari tiap-tiap anggota keluarga terganggu. Tersedianya jumlah ruangan kediaman yang cukup yakni 10 m2 berpenghuni agar dapat memenuhi kebutuhan penghuninya dalam melakukan kegiatan seharihari. Sementara itu Heinz Frick menyatakan ukuran rumah minimal suatu rumah sederhana untuk 4 orang penghuni (ayah, ibu, dan 2 anak) dengan komposisi ruang 2 kamar tidur, 1 ruang makan, 1 dapur dan serambi kerja membutuhkan ukuran minimal 40 m2. Dengan demikian rata-rata luas lantai per kapita minimal 10 m2 (Azwar, 1992). Dari segi kesehatan, kepadatan ini sangat bermakna

pengaruhnya, karena seetulnya kepadatan sangat menentukan insidensi

39

penyakit maupun kematian, terutama di negara seperti Indonesia, di mana penyakit menular masih banyak sekali terdapat. Penyakit pernapasan dan semua penyakit yang menyebar lewat udara menjadi mudah sekali menular. Hal ini juga ikut memberi kontribusi pada besarnya penyakit pernapasan di Indonesia yang menduduki tempat yang tertinggi. Untuk mencegah penularan penyakit, rumah harus memiliki syarat-syarat: a. b. c. d. e. Penyediaan air bersih yang cukup. Pembuangan tinja. Pembuangan air kotor. Fasilitas penyimpanan makanan. Menghindari adanya intervensi dari serangga dan hama

atau hewan lain yang dapat menularkan penyakit. f. Ketentuan tentang ruangan di kamar tidur untuk

menghindari terjadinya kontak dengan bakteri patogen. Sementara untuk mencegah terjadinya kecelakaan, syaratsyaratnya adalah: a. Konstruksi rumah harus kuat dan memenuhi syarat

bangunan. b. c. Desain pecegahan terjadinya kebakaran. Tersedianya alat pemadam kebakaran.

40

d.

Sarana pencegahan kecelakaan jatuh serta kecelakaan

mekanis lainnya. Timbulnya permasalahan kesehatan di dalam lingkungan perumahan pada dasarnya disebabkan karena orang belum sepaham tentang fungsi rumah. Apabila total (jasmani, rohani dan sosial) atau untuk membesarkan anak, atau juga untuk belajar dan berusaha. Menurut Salvato bahwa akibat yang tidak sehat akan dapat menyebabkan angka kesakitan tuberkulosis 8 kali lebih tinggi dan angka kematian 8,6 lebih tinggi dibanding dengan perumahan yang sehat (Salvato dalam Rahardi, 2002).

d) Kamarisasi Banyak ruangan di dalam rumah biasanya tergantung pada jumlah penghuninya. Banyaknya penghuni di dalam rumah akan menuntut banyaknya jumlah ruangan yang banyak terutama ruangan tidur. Tetapi pada umumnya jumlah ruangan pada suatu rumah disesuaikan dengan fungsi ruangan tersebut. Seperti: 1. Ruangan istirahat atau ruangan tidur Ruangan yang sehat harus mempunyai ruangan khusus untuk tidur ruangan ini biasanya digunakan sekaligus untuk ruangan ganti pakaian dan ditetapkan serta diusahakan ruangan tidur ini cukup mendapat sinar matahari pada pagi hari agar tehindar dari penyakit saluran pernapasan maka luas atau ukuran

41

ruang tidur minimal 8 m2 per dua orang dan 4,5 m2 untuk anak berumur di bawah 5 tahun. Luas lantai minimal 3,5 m2 untuk setiap orang dengan tinggi langit-langit tidak kurang dari 2,5 m2 (Anonim, 1999b). 2. Ruangan makan Ruangan makan sebaiknya mempunyai ruangan khusus atau ruangan tersendiri. Sehingga bila ada nggota keluarga yang sedang makan tidak akan terganggu oleh anggota keluarga lainnya. Tetapi untuk suatu rumah yang kecil atau sempit ruangan makan boleh jadi satu ruangan dengan ruangan duduk. 3. Ruangan masak memasak (dapur) Dapur harus mempunyai tempat tersendiri, karena asap hasil pembakaran (memasak dengan bahan bakar minya) dapat membawa damapk negatif terhadap kesehatan ruangan dapur ini. Ventilasinya harus baik sehingga udara atau asap dari dapur yang harus teralirkan keluar (ke udara bebas). 4. Kamar mandi dan WC Ruangan kamar mandi harus terpisah dengan WC atau jamban, sehingga bila ada anggota keluarga mau masuk ke WC tidak harus menunggu selesainya anggota lainnya yang sedang mandi. Tetapi bila ruangan yang tersedia sempit, kamar mandi dan jamban boleh jadi satu dalam satu ruangan.

42

Kebutuhan akan ruang minimal untuk rumah kediaman yaitu:
1) Satu kamar tidur ukuran 2 orang per 8 m2. 2) Satu dapur dan kakus (Suharmadi dalam Rahardi, 2002).

C. Kerangka Konseptual

Status Gizi Pengetahuan Pendapatan Pendidikan

Aspek Penderita

Pengawas Minum Obat (PMO)

Aspek pelayanan Kesehatan

Ketersediaan Obat
Dukungan Petugas Kesehatan

Konversi Penderita Tuberkulos is BTA (+)

Aspek Lingkungan

Kondisi Rumah Sanitasi Lingkungan

Keterangan: ________________ = variabel yang diteliti ............................... = variabel yang tidak diteliti D. Hipotesis Penelitian

43

1. Ha

:

Pengawas Minum Obat (PMO) merupakan faktor risiko terhadap tingkat konversi TB paru di Kota Kendari.

H0

:

Pengawas Minum Obat (PMO) bukan faktor risiko terhadap tingkat konversi TB paru di Kota Kendari.

2. Ha

:

Dukungan penyuluhan petugas kesehatan merupakan faktor risiko terhadap tingkat konversi TB paru di Kota Kendari.

H0

:

Dukungan penyuluhan petugas kesehatan bukan faktor risiko terhadap tingkat konversi TB paru di Kota Kendari.

3. Ha

:

Peranan ketersediaan obat merupakan faktor risiko terhadap tingkat konversi TB paru di Kota Kendari.

H0

:

Peranan ketersediaan obat bukan faktor risiko terhadap tingkat konversi TB paru di Kota Kendari.

4. Ha

:

Peranan status gizi penderita merupakan faktor risiko terhadap tingkat konversi TB paru di Kota Kendari.

H0

:

Peranan status gizi penderita bukan faktor risiko terhadap tingkat konversi TB paru di Kota Kendari.

5. Ha

:

Kondisi rumah penderita merupakan faktor risiko terhadap tingkat konversi TB paru di Kota Kendari.

H0

:

Peranan kondisi rumah penderita bukan faktor risiko terhadap tingkat konversi TB paru di Kota Kendari.

44

III. METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian analitik

observasional, dengan menggunakan rancangan “case control”. Penelitian ini dilakukan dengan mempelajari seberapa besar hubungan konversi TB paru terhadap faktor-faktor tertentu yang diduga berhubungan.

B. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan selama 1 bulan, yaitu pada bulan Maret 2009 yang meliputi persiapan, pengumpulan data, pengolahan dan analisis data beserta perbaikannya. Penelitian ini berlokasi di beberapa Puskesmas yang berada di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Kendari.

C. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita TB paru BTA positif yang melakukan pengobatan dan tercatat pada register pengobatan TB di Dinas Kesehatan Kota Kendari pada triwulan III tahun 2008 sebanyak 162 pasien, yang terdiri dari 70 pasien yang mengalami konversi, dan 96 yang tidak mengalami konversi.

45

2. Sampel Sampel kasus yaitu diperoleh berasal dari penyesuaian jumlah kasus yang diambil dari beberapa Puskesmas di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Kendari, yakni sebanyak 70 sampel kasus. Sampel kontrol yaitu seluruh pasien TB BTA (+) yang tidak mengalami konversi di beberapa Puskesmas di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Kendari, yakni sebanyak 70 sampel kontrol. Penentuan sampel secara purposive sampling dengan kriteria sampel sebagai berikut: a. Penderita yang telah berobat minimal 2 bulan. b. Penderita yang tercatat secara administratif berobat di salah satu Puskesmas di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Kendari.

D. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel terikat (dependen) dan variabel bebas (independen). Variabel dependennya adalah konversi penderita TB paru BTA positif. Variabel independennya meliputi Pengawas Minum Obat (PMO), dukungan petugas kesehatan, ketersediaan obat, status gizi, dan kondisi rumah.

46

E. Definisi Operasional 1. Konversi Konversi adalah perubahan dari penderita TB paru BTA positif yang menjadi penderita TB paru BTA negatif setelah menjalani pengobatan intensif selama dua bulan. Kriteri objektif (Anonim, 2002) Konversi : Apabila terjadi perubahan dari penderita TB paru BTA positif menjadi TB paru BTA negarif. Tidak konversi : Apabila tidak terjadi perubahan dari penderita TB paru BTA positif menjadi TB paru BTA negarif.

2. Pengawas Menelan Obat (PMO) Pengawas Menelan Obat (PMO) adalah orang yang mengawasi penderita tuberkulosis dalam mengkonsumsi obat, memberi dorongan kepada penderita, mengingatkan kepada penderita untuk periksa ulang secara teratur sampai selesai pengobatan, dan memberi penyuluhan kepada anggota keluarga penderita yang mempunyai gejala tersangka TB. Kriteria objektif (Anonim, 2002) Diawasi : Apabila ada orang yang mengawasi penderita tuberkulosis memberi dalam dorongan mengkonsumsi kepada obat,

penderita,

mengingatkan kepada penderita untuk periksa

47

ulang secara teratur sampai selesai pengobatan, dan memberi penyuluhan kepada anggota keluarga penderita yang mempunyai gejala tersangka TB. Tidak diawasi : Apabila tidak ada orang yang mengawasi penderita tuberkulosis dalam mengkonsumsi obat, memberi dorongan kepada penderita, mengingatkan kepada penderita untuk periksa ulang secara teratur sampai selesai pengobatan, dan memberi penyuluhan kepada anggota keluarga penderita yang mempunyai gejala tersangka TB.

3. Dukungan Petugas Kesehatan Dukungan petugas kesehatan yakni berupa penyuluhan petugas kesehatan, berupa pesan yang disampaikan baik langsung masupun tidak langsung untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan peran serta penderita maupun masyarakat dalam penanggulangan tuberkulosis. Kriteri objektif: Pernah : Bila penderita pernah mengikuti/mendengar penyuluhan tentang TB paru

48

Tidak Pernah

:

Bila

penderita

tidak

pernah

mengikuti/mendengar penyuluhan tentang TB paru

4. Ketersediaan Obat Ketersediaan obat adalah persediaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) di Puskesmas apakah tersedia untuk memenuhi kebutuhan pasien. Kriteria objektif: Tersedia : Bila Obat Anti Tuberkulosis selalu tersedia di Puskesmas sesuai dengan kebutuhan pasien Tidak Tersedia : Bila Obat Anti Tuberkulosis tidak selalu tersedia di Puskesmas sesuai dengan kebutuhan pasien

5. Status Gizi Status gizi adalah keadaan keseimbangan antara asupan gizi dan kebutuhan zat gizi oleh tubuh untuk berbagai keperluan proses biologi (Anonim, 2004). Kriteria objektif: Status Gizi Gizi Baik Gizi Kurang Sumber: WHO-NHCS, 1983 BB/TB > 90% < 90%

6. Kondisi Rumah

49

Kondisi rumah yang dimaksud adalah keadaan yang memenuhi syarat kesehatan untuk dihuni, terutama untuk pasien atau yang menderita tuberkulosis, dengan kriteria objektif adalah: Memenuhi syarat : Apabila empat pertanyaan kondisi rumah dijawab Ya. Tidak memenuhi Syarat : Apabila ke empat observasi atau salah satu rumah

pertanyaan

kondisi

dijawab Tidak.

F. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, untuk mengetahui pengawasan PMO, dukungan penyuluhan petugas, ketersediaan obat, dan untuk mengetahui status gizi. Serta lembar observasional untuk mengetahui keadaan kondisi rumah, baik terhadap kasus maupun kontrol.

G. Jenis dan Cara Pengumpulan Data

1. Data primer Data primer diperoleh dari hasil pengamatan langsung dengan menggunakan instrumen kuisioner dan dengan menggunakan instrumen lembar observasi.

2. Data sekunder

50

Data sekunder diperoleh melalui Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Tenggara dan dari Dinas Kesehatan Kota Kendari.

H. Pengolahan Data dan Analisis Data

1. Pengolahan Data Pengolahan data penelitian ini dilakukan dengan menggunakan komputer program SPSS (Statistical Program for Social Science) 13.00 dan didajikan dalam bentuk tabel disertai penjelasan 2. Analisis Data a. Analisis Univariat Dilakukan secara deskriptif masing-masing variabel dengan analisis pada distribusi frekuensi. b. Analisis Bivariat Untuk mengetahui faktor risiko konversi tuberkulosis paru dilakukan dengan melakukan uji Chi Square (Test of Independence). Selanjutnya untuk mengetahui derajat hubungan antara variabel, maka digunakan uji statistik yang bertujuan untuk membandingkan antara kasus dan kontrol terhadap faktor-faktor risiko menggunakan analisis pendekatan uji Odds Ratio dengan α = 0,05 pada confidence interval 95% dengan rumus sebagai berikut:

axd OR = bxc

Tabel 1. Tabel 2x2 Count Data Case Control Study

51

Faktor Risiko Positif Negatif Total Keterangan :

Konversi TB Kasus a c a+c Kontrol b d b+d

TOTAL a+b c+d N

a : Jumlah kasus dengan risiko posistif (+) b : Jumlah kontrol dengan risiko positif (+) c : Jumlah kasus dengan risiko negatif (-) d : Jumlah kontrol dengan risiko negatif (-) Adapun ketentuan yang digunakan dalam OR sebagai berikut : 1) Interval kepercayaan sebesar 95 %
2) Nilai kemaknaan untuk melhat hubungan faktor risiko dengan

kasus ditentukan berdasarkan batas-batas (limit) sebagai berikut: Bila OR > 1 berarti merupakan faktor risiko Bila OR < 1 berarti efek protektif (perlindungan) Bila OR = 1 berarti bukan merupakan faktor risiko Nilai OR dianggap bermakna jika nilai Lower limit dan Upper limit tidak mencakup nilai 1 Lower limit Upper limit Dimana : F = √1/a + 1/b + 1/c + 1/d x 1,96 E = Long Nature (2,72) (Depkes RI, 1999). : OR x e-f : OR x e-f

52

I. JADWAL PENELITIAN NO. 1. 2. 3. KEGIATAN Seminar Proposal Perbaikan Proposal Penelitian a. Pengumpulan Data b. Analisis Data c. Interpretasi Data Konsultasi Hasil Penelitian Seminar Hasil Penelitian Perbaikan Hasil Penelitian Ujian Skripsi Perbaikan Skripsi Final Februari
Minggu III-IV

Maret
Minggu I-II Minggu III-IV

April
Minggu I-II Minggu III-IV

Mei
Minggu I-II

4. 5. 6. 7. 8.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful