Buruh Kereta-api dan Komunitas Buruh Manggarai Razif A bstrak :Sejak 1904 Buruh k ereta api adalah

fenomena modern y ang dilengk api dengan organisasi modern, seperti adany a serik at buruh, iuran anggota dan mempunyai medium bacaan. A kan tetapi, setelah pemberontak an 1926 terjadi pemutusan dalam organisasi buruh. Serik at buruh k ereta-api tidak lagi menuntut politik . Politik dianggap identik dengan komunisme. Pada tahun 1930- an perk embangan buruh k ereta-api tidak lagi seperti tahun 1920- an. Intelek tual-in telek tual y ang sebelumnya terlibat dalam serik at buruh, pada tahun 1930- an menjauh dari massa buruh. Keadaan itu berak ibat pada pergerak an buruh, terutama buruh kereta-api menjauh dari partai politik dan keterlibatan negara. Situasi itu berlanjut hingga paska rev olusi, buruh-buruh k ereta-api melak uk an perebutan-perebutan stasiun kereta-api tanpa dukungan partai politik atau negara. Pergerakan buruh kereta-api pada masa pask a rev olusi di Jak arta bergerak di stasiun Maggarai mendapatkan duk ungan dari k elompok-k elompok pemuda, seperti Menteng 31, Jalan Guntur, Prapatan 10 dan Kebon Sirih. Kelompok -k elompok ini membutuhk an k ereta-api sebagai k endaraan untuk menggerak ak an revolusi. Pada tahun 1950- an dan 1960- an, buruh-buruh k ereta-api tidak hany a menjadi anggota serik at buruh k ereta-api (SBKA) tetapi juga menjadi anggota Persatuan Buruh Kereta-api (PBKA ) dan Serik at Buruh Kereta-api dibawah naungan NU. PBKA y ang cenderung mempuny ai hubungan dek at dengan Belanda dan SBKA y ang mempuny ai k ecenderungan dengan nasionalis bertik ai secara ideologis hingga tragedi 1965. Pask a peristiwa 1965, buruh-buruh k ereta-api yang menjadi anggota SBKA dipecat dari pek erjaanny a atau dipak sa untuk mengundurk an diri. Keadaan itu mengak ibatk an banyak jalur-jalur k ereta-api di Jawa ditutup, k arena k ekurangan tenaga k erja untuk mengoperasik an jalan k ereta-api. Catatan. Tulisan ini terselenggara atas kerjasama dengan NIOD dan tulisan ini belum pernah dimuat dimedia manapun. Perlu juga dipertimbangk an tulisan ini masih belum rampung, baik argumentasi maupun sistematisasi perlu dilak ukan perbaik an.

Pengantar Kemunculan serik at buruh di Indonesia pada masa kolonial dan Orde Baru senantiasa dik aitk an oleh peran negara dan partai politik .1 Key ak inan ini pun nampak ny a begitu kokoh dipegang oleh M.H. Luk man sebagai Wakil Ketua dua Partai Komunis Indonesia (PKI), bahwa serik at buruh y ang muncul di luar negara dan partai mempunyai k ecenderungan anark is.2 Dalam tulisan in i say a mencoba berpandangan lain, munculny a ser ik at buruh dan gerak an buruh berk aitan dengan, pek erjaan, k omposisi k aum buruh dan komunitas serta pengalaman k aum buruh. Pergerak an buruh k ereta-api baik pada era k olonial (VSTP) maupun setelah diihancurk an pada tahun 1926 dan muncul k embali tahun 1931 sebagai PBST (Perhimpoenan Beambte Spoor dan Tram), atau Angk atan Muda Kereta- Api (A MKA ) pada pendudukan Jepang serta Serik at Buruh Kereta-A pi (SBKA ) masa tahun-tahun revolusi samasek ali tidak berk aitan dengan peran negara dan partai politik . Malah sebalikny a merek a muncul dari lingkungan k erja dan k ampung buruh k ereta-api menjelang kek alahan Jepang dan tahun-tahun rev olusi bercampur dengan pemudapemuda yang mempuny ai latar belak ang pendidik an tek nik pada masa pendudukan Jepang.
1

John Ingleson. “ The Legacy of Colonial Labour Unions in Indonesia” Australia Journal of Politics and History: Volume 47, Number 1, 2001, pp. 85-100. 2 Pernyataan ini dikemukakan oleh Lukman, ketika ia berdebat dengan Bojoeng Saleh di majalah Bintang Merah No. 9 tahun 1952.

1

Pemerintah k olonial Belanda menggunakan kereta-api sebagai k endaraan penghubung antara wilay ah perkebunan dengan pelabuhan, y ang seterusny a komoditi perk ebunan diek spor k e Eropa. A wal abad k e 20 jumlah perusahaan k ereta-api di Hindia Belanda telah mencapai 12 perusahaan, satu perusahaan Staat Spoorweg (SS) milik pemerintah Belanda dan 11 perusahaan lainny a adalah milik swasta y ang beroperasi di Jawa dan Sumatra. 3 Perusahaan-perusahaan k ereta-api ini y ang juga melak uk an perluasan jaringan jalan k ereta-api untuk dapat melay ani perusahaan perk ebunan dipelosok-pelosok Jawa. Pada awal abad k e 20 dibentuk tiga ek sploitasi y ang mengatur lalulintas k ereta-api di wilay ah Barat (jangk auanny a hany a wilay ah Jawa-Barat), k emudian ek sploitasi wilay ah Tengah (meliputi Jawa Tengah) dan terakhir ek sploitasi wilay ah Timur (menjangk au Jawa Timur). Untuk mengatur lalu-lintas (trak si) kereta-api y ang memasuk i wilay ah Barat, atau Jawa-Tengah dan Jawa Timur perlu sebuah stasiun y ang mengatur perlintasan tersebut. Manggarai selain sebagai stasiun k ereta-api, juga sebagai tempat mengatur lalu lintas k ereta-api wilay ah Barat 4 y ang dilalui oleh berbagai k ereta-api baik y ang datang dan pergi k e wilay ah Timur dan Tengah. Alasan pemerintah kolonial membangun stasiun kereta-api di Manggarai selain sebagai tempat mengontrol lalulintas wilay ah Barat nampak nya Manggarai juga strategis untuk tempat depo (pembersihan gerbong, perbaikan lok omotif dan interior gerbong). Wilayah Manggarai juga berfungsi sebagai tempat pembuat onderdil-onderdil dan interior k ereta-api Pemerintah k olonial membangun stasiun, depo dan bengkel di Manggarai tahun 1928 sebagai k onsekuensi dari perluasan jaringan kereta-api di wilay ah Jawa. Sebelum pembangunan ini, pemerintah k olonial bersama Staat Spoor telah memp ersiapk an pembangunan rumah-rumah untuk para pegawai kereta-api di wilay ah Bukit Duri y ang terletak di seberang stasiun k ereta-api. Tulisan ini berupay a untuk menelusuri perjalanan buruh k ereta-api mulai tahun 1930-an dan berak hir tahun 1965, serta kaitanny a dengan k omunitas buruh k ereta-api Manggarai. Masa 1930an buruh k ereta-api sulit untuk melak uk an pergerak an, k emungk inan besar pemerintah kolonial Belanda melancark an pengawasan politik serta terjadi pemecatan besar-besar an buruh k ereta-api k arena dampak resesi ek onomi y ang terus berlanjut.5 Lantas apa hubungannya dengan k omunitas buruh k ereta-api Manggarai? Tahun-tahun awal revolusi Manggarai mempuny ai k aitan erat dengan para pemuda dan lask ar, y ang kemudian turut terlibat dalam serik at buruh k eretaapi. Pemuda-pemuda ini y ang kemudian menyebarkan pamflet tentang perlawanan terhadap k edatanganan k embali pasuk an ten tara Belanda dan melak ukan sabotase terhadap k endaraan militer sekutu. Lagi pula pemuda-pemuda itu, berk umpul tidak jauh dari Manggarai. Merek a berk umpul di Menteng 31, Jalan Guntur, Prapatan 10 dan Kebon Sirih, dan diantara merek a pun belum terdapat garis ideologi, tetapi hubungan pertemanan y ang menjadi pengik atny a. Dalam memb ah as periode 1930- an, penulis lebih bany ak menggunak an bahan bacaan sezaman dan beberapa wawancara dengan man tan pimpinan dan buruh k ereta-api. Ingleson dalam membahas perkembangan serik at buruh tahun 1930-an hingga setelah rev olusi sangat erat hubunganny a dengan partai politik . Pembentuk an dana sosial untuk membantu buruh-buruh y ang dipecat oleh perusahaan senantiasa atas inisiatif partai politik .6 Penjelasan ini perlu diuji
3

Untuk wilayah Sumatera perusahaan keret a-api yang mengangkut dari perkebunan bes ar Sumatra Timur hingga ke pelabuhan Medan dimonopoli oleh perusahaan Deli Spoorweg Maatschappij. 4 Eksploitasi wilayah Barat terdiri dari Jakarta, Bekasi, Kerawang, Bandung, Tasikmalaya, Cical engka dan Garut. Selain itu eksploitasi wilayah barat mencakup 230 stasiun besar dan kecil. Pada m asa revolusi kantor eksploitasi Barat mengungsi ke Purwokerto. Informasi ini berdas arkan wawancara dengan Sosromoeljono 23 Febuari 2005. Sosromoeljono, seorang buruh kereta-api Manggarai yang ikut mempersiapkan pengangkutan peralat an bengkel keret a-api di Jawa Barat ke Purwokerto. 5 Untuk masalah depresi ekonomi dan politik, lihat Bob Hering. Moehammad Hoesni Thamrin Membangun Nasionalisme Indonesia. Jakarta. Hast a Mistra 2003. Terutama pada chapter 6 dan 7, hal 147- 1196. 6 Lihat Ingleson, “ The Legacy of Colonial Labour Unions…

2

k embali, k arena partai politik tahun 1930- an sangat dibatasi pergerak anny a di organisasi massa oleh pemerintah kolonial. Merek a hany a bisa mengajukan usulan perbaik an-perbaik an ditingk at Volk srad. Pada periode ini dibahas proses buruh-buruh k ereta-api dalam membentuk perk umpulan sosial seperti dana untuk k ematian, dan dana untuk membantu buruh-buruh y ang dipecat. Selain itu, partai politik maupun organisasi massa masuk dalam perangk ap pemerintah k olonial untuk berak tifitas ditingk at Volksraad.7 Kemudian pada 1940 terbentuk lembaga tripartit yang dik enal sebagai Ordonantie Regeling Arbeid sverhouding. Ordonantie ini berperan sebagai pendamai perselisihan antara buruh dan majik an, jik a k eduany a tidak mempuny ai k esepak atan mak a ak an diputusk an oleh Directeur Van Justitie .8 Periode penduduk an Jepang 1942-1945, ak an dibahas apak ah ada perlawanan dari buruh-buruh k ereta-api terhadap fasisme Jepang? Lan tas bagaiman a ingatan pengalaman buruh k ereta-api dan pemuda pada masa Jepang? Pertany aan y ang juga cuk up penting adalah apa y ang meny ebabk an kek uatan buruh k ereta-api begitu luar biasa setelah penduduk an balatentara Jepang berakhir? A pak ah ini ada hubungannya dengan Jepang membangun sek olah tek nik bagi pemuda untuk memahami seluk -beluk kereta-api? Contohny a pada bulan Juli 1945 sekolahsek olah tek nik perk ereta-apian menghasilkan 80.000 teknisi buruh k ereta-api. Kemudian para pemuda dan buruh tek nisi ini membentuk A ngkatan Muda Kereta-A pi (AMKA) y ang k emudian setelah rev olusi ik ut membaur dengan Serik at Buruh Kereta-Api (SBKA ). Dalam membahas periode 1945 hingga 1950 say a mempergunak an sumber interv iew dan beberapa bahan ter tulis pada masa tersebut. Periode 1950-1960 adalah periode turun naik ny a perjuangan buruh-buruh k ereta-api, baik dalam tingkat serik at buruh maupun komunitas buruh di Manggarai. Buruh k ereta-api awal tahun 1951 membantu pemogok an buruh-buruh rokok BAT dengan cara menolak mengangk ut produk si rok ok tersebut. Nampak telah terbentuk solidaritas horizontal dik alangan k aum buruh, tetapi pertany aanny a k emudian adalah seberapa jauh SBKA menduk ung tuntutan kepentingan buruh? Lantas apakah SBKA juga membantu buruh perempuan dalam memenuhi hak -hak dasarny a? Periode 1950-an buruh k ereta-api juga menghadapi nasionalisasi perusahaan, jawatan k ereta-api berubah menj adi perusahaan dan seberapa jauh berpengaruh pada k omunitas buruh? Bahanbahan informasi untuk periode ini seb agian besar diperoleh dari wawancara dengan bek as buruh k ereta-api di Manggarai, di samping sumber-sumber tertulis Bagian terak hir ak an dibahas ak ibat dari peristiwa 65 terhadap perjalanan buruh k ereta-api dan juga penutupan jalur-jalur k ereta-api, k arena bany ak buruh yang bernaung dalam SBKA , dipecat, dibuang atau bahk an dibunuh. Pada bagian ini ak an dilihat pula pola penangkapan dan pergantian buruh ser ta pejabat k ereta-api. Posisi penting dalam kereta-api diduduk i oleh militer. Melalui pembentuk an lemb aga diluar hukum seperti Komando Ketertiban dan Keaman an (Kopk amtib) melak uk an pembersihan terhadap buruh-buruh k ereta-api. Pembersihan dan screening berjalan berbulan-bulan yang membuat buruh k ereta-api tidak pasti dan tid ak menentu. Selanjutny a juga diperinci dampak perisitiw a G 30 S terhadap buruh-buruh k ereta-api di Manggarai dan bagaimana k isah merek a yang bek erja di bengk el dan Depo. Untuk periode ini say a hampir k eseluruhan mempergunakan data-data wawancara. Depresi Ekonomi dan Kehidupan Buruh Kereta-Api

7

Susan Abeyas ekere. “ Koperator dan Non-Koperator. Kegiat an Politik Nasionalis di tahun 1930-an.” Dalam, Gelora Api Revolusi Sebuah Antologi Sejarah, ed Colin Wild dan Peter Carey. Jakart a. Gramedia 1986. 8 Mr. Hindromartono. “ Ordonantie Regeling Arbeidverhouding”, dalam Kemadjoean Juni 1940, hal. 4-8

3

Setelah gagalny a pemberontak an Komunis di Jawa pada Nov ember 1926 dan di Sumatra Barat pada Januari 1927 menj adi titik y ang menentuk an dalam sej arah pergerak an.9 Peristiwa ini mengak ibatk an riburan ak tifis pergerakan dan k aum buruh dibuang k e Digul. Kemudian disusul dengan gerak an PID (Politieke Inlandche Dienst) semak in intensif mengawasi pertemuan, dan melak uk an campurtangan dalam pidato-pidato. Polisi juga melakuk an penggeledahan rumah dan tahanan rumah, menahan, mengintrograsi orang-orang dicurigai, melak uk an sensor, meny ita k oran harian, mingguan dan bulanan, serta meny ita buku-buku. Namun y ang lebih penting polisi PID y ang mendapatk an juluk an sebagai polisi rahasia tidak lagi bek erja secara rahasia, merek a bisa muncul dimana saja, dalam rapat-rapat, duduk ditempat-tempat y ang mencolok dan mudah dikenali. Merek a disebar untuk mengintai partai-partai politik , serik at buruh, para penjual koran, sek olah-sek olah y ang dik elola oleh orang-orang bumiputera dan perkumpulan-perkumpulan dan tempat-tempat y ang sering disinggahi para ak tifis pergerak an. Merek a berada diluar ruang rapatrapat tertutup dilakuk an. Merek a juga mengandalk an mata- mata dan k ode sandi intelej en. Polisi PID juga mempuny ai dana rahasia untuk menjalankan tugas rahasia merek a. Dana rahasia merek a misalnya untuk tahun 1932 sebesar 750.000 gulden, dan merosot pada tahun 1936 mencapai 522.000 gulden k arena masalah depresi y ang mengak ibatk an anggaran belanja pemerintah perlu dipangk as.10 Orang-orang pergerak an mulai meny adari k ehadiran polisi- polisi PID. Merek a mulai meny adari bahwa merek a sedang diawasi, tid ak saja oleh PID juga oleh teman sesama aktiv is sendiri bahk an oleh sesama ak tivis. Merek a juga meny adari resiko dari pengawasan, y ang bisa berak ibat mengantarkan merek a ke Digoel. 11 Satu-satuny a cara untuk menghindari ancaman pembuangan k e Digoel adalah dengan menjauhi politik agar tidak diawasi oleh PID. Suasana demik ian dirasak an sec ar a umum disemua tempat diantara orang-orang bumiputra. Keadaan ini dengan baik digambark an Pramoedy a Ananta Toer dalam buk unya yang berjudul Cerita Dari Blora , k etik a ibuny a menceritak an bahwa k akaknya telah bergabung dalam partai politik: Buk a main k agetny a ak u mendengar dia campur-tangan dalam politik. Menurut pengertiank u politik adalah polisi. Dan seisi rumah k ami jijik dengan pada apa saja y ang berhubungan dengan polisi. “Tidak marahk ah bapak karena dia masuk polisi”? Tany aku. Ibu terseny um manis mendengar pertany aank u itu. Kemudian dengan k ata-kata sederhana menjelask an apa artiny a politik dan bahwa: “Mereka y ang masuk politik adalah musuh polisi”. Dan ak u mengerti sedik it. 12 Dialog tersebut dirancang secara hati-hati, seperti diny atak an oleh Pramoedy a, untuk menceritak an sejarah mengenai bagaimana suatu gerak an tahun 1930-an. Dengan demik ian, tujuan k ita y ang paling penting adalah meninjau anak -anak k ecil y ang cerdas dan polos, sebagai metafor dari k elompok y ang tak berpendidik an, tidak tahu apa-apa, namun dialah raky at y ang pandai, y ang barangk ali menganggap bahwa politik adalah polisi. Ini merupak an dampak sebagian besar orang-orang bumiputera menjauhi politik sama dengan polisi, suatu kondisi y ang penting bagi pembentuk an Hindia di masa tahun 30-an. Selain itu y ang menjadi petugas polisi reserse k ebany ak an adalah orang-orang bumiputera sendiri.
9

Dengan dibantainya Partai Komunis Indonesi a beserta massa pengikutnya, unsur yang paling akti f dan paling berkomitmen dalam pergerakan tersingkir dalam arena politik. Lihat, Takashi Shiraishi. An Age in Motion: Popular Radicalism in Java, 1912-1926. New York, Cornell University Press 1990. 10 “ Over Geheim Politie Fondsen,” dalam De Nederlands ch-Indische Poli etigids. September 1936. No 9 hal. 168-170. 11 Bahkan beberapa surat kabar yang t erbit pada t ahun 1930an masih memberitakan perlunya hati-hati dengan politik pengawasan kolonial sekarang. Misalkan suratkabar yang dipimpin ol eh Sosrokardono menegaskan dalam halaman muka Awas Digoel. Lihat Suratkabar Pemimpin 1 January 1930. 12 Pramoedya Ananta Toer. “ Kemudian Lahirlah Dia” Cerita Dari Blora. Jakarta:Balai Poest aka 1963 hal. 96.

4

“Wak tu ak u masih jadi man tr i polisi—dulu seb elum perang—ak u mendapat perintah dari Hindia Belanda untuk mengawasi orang. Dia tercantum di lis orang mer ah—di garis yang pertama sek ali. Kuk irim tiga orang reserse untuk bergantian mengik uti dan meny elidik i orang tersebut. Kemudian orang itu tau diikuti oleh polisis reserse, dan dia menghilang tanpa diketahui.13 Dialog ini memperlih atk an bahwa pengamanan politik semak in k etat dilak ukan pada masa-masa akhir pemerintah k olonial Belanda sebelum masuk ny a penduduk an Jepang. Pada pertengahan tahun 1930- an, pemerintah k olonial Belanda telah mulai mencium kegiatan-kegiatan politik dari beberapa partai politik , serik at buruh dan ak tifis-ak tifis y ang baru kembali dari luar negeri. Mereka semua dimasuk k an kedalam k ategori kelompok ek strem k iri. Pengamanan politik dengan cara mengawasi secara k husus penduduk membentuk cara pemerintah menemp atkan ak tifitas penduduk pribumi pada umumnya. Untuk melihat situasi tahun 30-an perlu melihat hasil surv ei Algemeene Recherche Dienst (A RD). Hasil surv ey ini k emudian dipergunak an oleh pemerintah kolonial untuk melak ukan pengintaian terhadap ak tiv itas politik penduduk pribumi. Survei tersebut terdiri dari lima bagian; gerak an ek stremis, gerak an Islam dan nasional, gerak an orang-orang Cina dan gerak an serik at buruh dan luar negeri. 14 Tahun 30-an hingga masuk nya balatentara Jepang k e Hindia B elanda, orang-orang pergerak an mengalami k esulitan untuk berak tifitas politik , terutama ak tifis gerak an buruh untuk menembus politik pengamanan pemerintah kolonial. Seringk ali serik at-serik at buruh ditafsirk an oleh A RD sebagai gerak an “k omunis” y ang senantiasa mengganggu rust en orde. Misalny a serik at buruh k ereta-api diduga mempuny ai kedekatan langsung dengan partai k omunis. Di ilain pihak, buruh k ereta-api merupak an tulang punggung perekonomian pemerintah k olonial, terutama untuk transportasi produk perk ebunan. Untuk mengamank an tran sportasi k ereta-api, agar tidak melak uk an pemogokan, atau bahk an pemberontak an, pemerintah k olonial membangun k embali proses hubungan k erja y akni dengan cara memindahk an pusat kantor k ereta-api dari Semarang k e Bandung. Selain itu, didirik an pusat pendidikan teknik k ereta-api di Bandung y ang bersebelahan dengan komplek s militer Belanda. Di setiap stasiun-stasiun penting wilay ah Jawa dan Sumatra ditempatk an polisi-polisi rahasia dan A RD, agar dapat meman tau rapat-rapat y ang merek a lak uk an.15 Perek rutan buruh-buruh k ereta-api dibuk a k embali sebelum Depresi ek onomi dan merek a mu lai diberik an mess untuk tempat penginapan dan sek aligus untuk mengawasi k egiatan merek a. Buruh k ereta-api y ang berhasil direk rut tidak bisa ditempatk an sebagai posisi masinis, k alaupun ada sebagai masin is klas dua. Kepala stasiun pun diduduk i oleh orang-orang Belanda, k ebanyak an orang-orang bumiputera menempati stok er (juru-api), pemer ik sa tik et (kondektur), tukang rem, pembersih k ereta-api, dan bek erja di bengkel-bengkel k ereta-api. Sementara itu, pihak pemerintah Hindia Belanda tidak melak uk an perubahan mendasar dalam pendidik an buruhburuh k ereta-api, merek a tetap melakuk an cara lama, y ak ni mendidik buruh-buruh tidak terampil. Selain itu, pimpinan buruh k ereta-api seperti stoker atau masinis k las dua, dan wak il k epala stasiun dipindahk an k e tempat-tempat lain. Keadaan ini agar tidak terjadi pembentuk an organisasi buruh y ang permanent. Setelah ditumpasny a pemberontak an nasional tahun 1927, pemerintah k olonial memusatk an sek olah k ereta-api di Bandung bersama dengan sekolah tek nik tinggi. Tetapi y ang menjadi prioritas untuk menduduk i pucuk pimpinan dan masinis k elas satu berasal dari orang Belanda Pramodeya Ananta Toer. Bukan Pasar Malam. Jakart a:Lentera 2004, hal. 97. Harry A. Poeze, “ Voorwoord”, dalam Poeze, ed. Politiek-Politioneel e Overzicht en van NederlandchIndie, Deel 1, 1927-1928. The Haque: Martinus Nijhoff, 1982, hal. Vii-Viii 15 Interview dengan Moenadi, Jakarta 23 September dan Kareta Api 15 Oktober 1936.
14 13

5

atau Indo16. Sek olah tinggi tek nik k ereta-api, terbagi menjadi administrasi perusahaan, lalu-lintas k ereta-api dan masinis k ereta-api. Untuk orang-orang pribumi hany a untuk wak il kepala stasiun, juru api dan y ang paling banyak adalah para remers (tuk ang rem). Selain itu, masing-masing perusahaan k ereta-api membuk a sek olah-sek olah untuk juru-api, pemindahan jalur dan remmers, dan sek olah-sek olah ini hany a dapat bertahan selama dua tahun, k arena k esulitan k euangan ak ibat depresi ekonomi. Sementara itu, untuk perbaikan k ereta-api tersedia di stasiun-stasiun k ereta-api besar seperti. Bandung, Manggarai, Madiun, Lempuyangan, Poncol (Semarang), Kertosono dan Madiun. Sekolah teknik k ereta-api hany a dibuk a sesuai dengan k ebutuhan memperoleh tenaga k erja, buk an dengan tugas untuk menjalank an k ereta-api. Demik ian pula, dalam perluasan pemasangan jaringan jalan k ereta-api di pulau Jawa lebih diarahkan kepada tujuan meny empurnakan ad ministrasi pemerintahan dalam rangk a menjamin k eamanan dalam negeri dan pertahanan.17 Mesk ipun masing-masing perusahaan kereta-api baik swasta maupun negara mempuny ai peraturan hubungan perburuhan sendiri, namun dalam bidang penggunaan tenaga k erja, pada dasarnya ditempuh garis k ebijak sanaan y ang sama. Tenaga pribumi hany a merupak an tenaga cadangan dan pembantu pelak sana. Sedangk an, tenaga pengawas dan pimpinan didatangk an dari negeri Belanda. Garis kebijaksanaan dalam bidang perburuhan untuk tenaga pribumi dilandask an pada adany a peny ediaan tenaga k erja y ang cuk up k eahlianny a untuk tugas pelak sana dan pembantu pelak sana dengan upah y ang rendah. Depresi ek onomi, pendapatan perusahaan k ereta-api swasta dan negara mengalami k emerosotan. Penurunan pada pengangkutan k omoditi perkebunan serta pengangk utan penumpang. Jumlah penumpang y ang diangkut oleh State Spoor (SS) pada tahun 1929 mencapai 70.000, tetapi tahun 1936, jumlahnya menurun 40.000 orang. Perusahaanperusahaan swasta tahun 1929 berhasil mengangkut penumpang hingga 50.000 orang, dan mengalami penurunan drastis menjadi 30.000 orang dalam tahun 1936. Sedangk an, barang dan hasil perk ebunan y ang diangkut oleh perusahaan k ereta-api negara atau (SS) tahun 1929 mencapai 10.000 ton, dan tahun 1936 turun menjadi 6.000 ton. Sebalik nya, perusahaanperusahaan swasta tahun 1929 mengangk ut barang dan hasil perk ebunan sebany ak 9000 ton dan tahun 1936 mengalami k emerosotan mencapai 5000 ton.18 Pemasuk an dari pengangkutan penumpang, barang dan hasil perk ebunan perusahaan kereta-api negara tahun 1929 sebesar 90 juta gulden, sedangkan perusahaan swasta mendapatk an k euntungan 50 juta gulden. Tetapi memasuk i tahun Depresi hingga tahun 1936, perusahaan k ereta api SS mendapatk an pemasuk an kotor hany a 50 juta gulden, dan perusahaan-perusahan swasta tahun yang sama hany a memperoleh pemasuk an 35 juta gulden. Sedangk an ongkos produk si ek sploitasi y ang dik eluark an tahun 1929 oleh perusahaan k ereta-api SS mencapai 50 juta gulden, dan mengalami k emerosotan hingga tahun 1936 hanya mengeluarkan 38 juta gulden. Lain halnya dengan perusahaan-perusahaan swasta pada tahun 1929 y ang mengeluarkan ongkos produk si 30 juta gulden dan tahun 1936 menurun hingga 20 juta gulden. Merosotny a k euntungan perusahaan-perusahaan k ereta-api mengak ibatk an perusahaan untuk memotong upah dan memecat buruh-buruh. Keputusan perusahaan ini nampak ny a tidak membawa protes-protes yang cuk up berarti dari k alangan buruh. Keadaan ini juga disebabk an k urangny a orang atau buruh k ereta-api y ang terlibat dalam politik . Jumlah anggota PBST tidak lebih dari 1000 buruh k ereta-api.19 dan k ebany ak an dari merek a hany a menjadi anggota dana pertolongan k esulitan ek onomi, atau memb antu buruh-buruh y ang k ehilangan pek erjaan. Dalam Dal am jabatan perusahaan kereta-api orang Belanda dan Indo tidak mempunyai perbedaan yang besar. Misalkan keturunan Indo sebagai m asinis dan Belanda totok sebagai kepala stasiun sama-sama bisa menempati kompleks perumahan kereta-api di Bukitduri. Sejarah Perkereta-Apian Indonesia Jilid 1. Bandung. Angkasa 1997, hal. 43. 17 Pemasangan jaringan kereta-api di Aceh, diselenggarakan oleh Departemen Peperangan (Departement Van Oorlog dan pada 1917 penguasaannya beralih dari militer kepada negara, untuk mengamankan hasil dari usaha-usaha Pasifikasi Belanda. 18 Periksa “ Hatsil di kalangan S.S dan Peroesahaan Partikelir”, Kareta-Api, 12 Nopember 1936.
16

6

sebuah wawancara dengan Moenadi, bahwa pada tahun 1934 buruh-buruh sudah mulai mendapatkan pendidik an dasar perkereta-apian. Lebih jauh ia bercerita bahwa ia ser ing pulangpergi Bandung-Manggarai untuk memb antu kursus mesin disel, dan ia mengungk apk an pengalamanny a sebagai berik ut: “wah dimasa k esulitan ek onomi sebetulny a buruh kereta-api bengk el di Manggarai semak in bertambah penderitaan, dan merek a pasrah saja, merek a tid ak sanggup lagi terlibat dalam k egiatan politik .”20 Pada awal revolusi, Moenadi membentuk Persatoean Serik at Boeroeh Kereta-api, dan pernah menjadi asisten menteri perburuhan untuk masalah pengupahan. Peristiw a tragedi 1965, Moenadi dipenjara hingga tahun 1978 di penjara Salemba. Ia k emudian menuturk an pengalamanny a pada perk ereta-apian menjelang pemerintahan Belanda berakhir: “ k egiatan sosial dan ek onomi kami dalam membantu buruh yang k esulitan ek onomi juga diawasi oleh polisi, k arena kegiatan ini termasuk berk umpul dan melak ukan rapat. Kami tidak mempuny ai hak untuk berk umpul, seh ingga seringk ali kegiatan sosial dan ek onomi di Manggarai berpindah-pindah dari satu rumah k e rumah buruh k ereta-api lain. Tapi, lama- lama kita menjadi terbiasa dengan k elak uan polisi itu, seperti merek a menany ak an surat izin dari Residen”. 21 Periode 1935-1942, hany a organisasi-organisasi non-politik dan partai-partai y ang bersedia bekerja sama dan setuju mempunyai wak il dalam dewan perwakilan ciptaan Belanda y ang terjamin sedik it mendapatkan sedik it k ekebalan dari gangguan polisi. Dan satu-satu forum y ang secara relatif bebas untuk meny atak an pendapat politik adalah dewan perwak ilan itu. Dengan demik ian satu-satuny a cara bagi gerak an nasionalis untuk mengusahak an perubahan ialah dengan jalan memp engaruhi Belanda secara langsung, tidak dengan mengatur duk ungan massa. Masa Depresi ek onomi buruh-buruh k ereta-api mempuny ai k arak ter dan cara kerja berbeda dengan periode tahun 1920- an. Pada masa Depresi ek onomi buruh kereta-api belum mempuny ai perlawanan strategis terhadap pemerintah k olonial Belanda. Hal ini disebabkan oleh k esulitan ekonomi dan pemotongan upah y ang luar biasa dari perusahaan k ereta-api. Keadaan ini merupak an politik penghematan k olonial dan bertambah ketat pada Depresi ekonomi. Politik penghematan memecat buruh dan tidak memberikan tunjangan kemahalan. Pemecatan juga berak ibat semak in berat pek erjaan buruh y ang tetap dipertahankan perusahaan, jam kerja merek a semak in tinggi.22 Mereka y ang kehilangan pek erjaan k arena pemutusan hubungan k erja, biasany a pindah bek erja k e stasiun lain apakah menjadi tuk ang bersih, mencuci gerbong k ereta-api dan perbaik an rel k ereta-api. Mesk ipun k esulitan ek onomi yang begitu sulit, buruh-buruh k ereta-api tetap melak uk an ak tiv itas politik , walaupun tidak sek uat pada zaman Vereeniging voor Spoor en Tramweg Personeel (VSTP) 1920 y ang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada masa tahun 30-an muncul Perhimpoenan Beambte Spoor dan Tram di Hindia Belanda (PBST) y ang sama sek ali tidak bersekutu dengan partai politik manapun. PBST mempuny ai terbitan bernama Kareta Api dan dari salah satu berita dipapark an PBST mempuny ai hubungan erat dengan bek as anggota VSTP dan k emungkinan berdiriny a PBST atas inisiatif mantan anggota VSTP berusaha menghubungk an buruh kereta-api dan buruh tram k elas dua. Jalin an pek erjaan ini bisa membangun k antong-k antong dana bagi keperluan buruh k ereta-api dan tram. 23 Dari sin i mulai terbangun fonds untuk membantu buruh-buruh kereta-api, seperti fond k esehatan, fond
19

Jumlah buruh kereta-api untuk wilayah eksploitasi barat untuk kurun 1930-1942 diperkirakan 5400 buruh, dan jumlah t erbesar bekerja pada buruh angkut di stasiun. Lihat, Sejarah Perkeretaapian Indonesi a Jilid I. Bandung. Angkas a 1997, hal. 102. 20 Wawancara dengan Moenadi 23 September 2005. 21 Wawancara dengan Moenadi 23 September 2005. 22 Pemetjatan pegawei Kereta-api dalam Kareta Api 1 Juni 1931. 23 Inisiatif ini merupakan semangat buruh keret a-api tahun 20an yang berus aha untuk tetap menyatukan seluruh buruh baik yang bekerja di kereta-api dan tram. Kareta Api, 10 Juni 1932

7

untuk membantu anggota yang k esulitan dan fond untuk menyebarkan berita-berita penting bagi buruh-buruh k ereta-api. Misalny a pada Depresi tahun 1930- an, dik alangan k aum buruh keretaapi dilancark an solid aritas untuk menampung buruh-buruh yang dipecat. Sebagaimana ditegask an dalam Kareta- Api24 : “Kita soedah mengetahoei dan merasak an sendiri, bahwa kita, sek arang ini di dalam djaman jang soesah, jaitoe zaman “meleset” djaman jang ta’ mengenali k emanoesiaan lagi, djaman oentoek berlombaan dengan sek eras-k erasnja bagi k ehidoepannja masing-masing. Banjak pedagang-pedagang jang besar-besar mengeloeh, lantaran k eroegiaan jang boek an k etjil, berpoeloeh-poloeh riboe k aoem boroeh k ehilangan pentjahariaannja, berpoeloeh-poeloeh riboe roemah tangga djadi terbalik k endilnja, ak an tetapi misih banjak sek ali diantara soedarasoedara k ita jang beloem maoe mengerti dan memik irk an bahwa nasib djelek tadi besoek atau loesa bisa menimpa marek a djoega”.25 Muncul fenomena persaingan diantara anggota serik at buruh untuk mendapatk an pek erjaan. Perusahaan-perusahaan k ereta-api baik Staat Spoor dan NIS saling berlomba untuk melepask an buruh-buruh dari perusahaan agar ongk os produk si perusahaan dapat ditek an ser endah mungk in. Cara perusahaan kereta-api menek an biay a produk si dengan mengurangi buruh-buruh y ang dianggap tidak produktif atau menurunk an pangk at merek a untuk mengisi pek erjaan y ang lebih rendah. Sedangk an buruh-buruh k ereta-api yang menduduk i pek erjaan rendah dik eluark an dari pek erjaanny a. Perusahaan mengeluark an alasan bermacam-macam untuk memecat buruh salah satuny a dengan memberikan pensiun bagi y ang sudah bertugas selama bertahun-tahun, tidak ada batasan lama pek erjaan y ang jelas. Misalk an saja 78 buruh k ereta-api yang bekerja di Manggarai dan Bandung terk ena pemecatan padahal hampir 10 tahun bek erja merek a ini terdiri dari seperti Stok ers dan Conducteurs.26 Buruh stok ers (pengapian kereta-api dan merangk ap asisten masinis) serta conducteurs (pemerik sa k arcis) tidak langsung dipecat, tetapi dipindahk an k e tempat pek erjaan y ang lebih rendah dan otomatis mendapatk an upah yang lebih rendah. Mereka juga dipak sa untuk meny ingk irkan buruh-buruh y ang ada dibawah merek a, ini berlak u pada buruh juru api yang turun pangk at berfungsi sebagai tuk ang rem dan mendapatk an upah separuh dari upahny a sebelumny a, kemudian para tuk ang rem gerbong dik eluark an dari perusahaan kereta api. 27 Buruh k ereta-api Manggarai y ang dipak sa k eluar dari perusahaan k ereta-api, terutama untuk jenis pek erjaan remmers dan poetsers terus bertahan bek erja di SS maupun NIS, dengan persy aratan merek a mesti bekerja lebih panjang daripada sebelumny a. Keadaan seperti in i dituturk an oleh Suy itno bek as anggota Serik at Buruh Kereta Api (SBKA ) dan ia pun mengalami situasi krisis ekonomi dan pada saat itu, ia bertugas sebagai juru-api di lok omotif: Kalau masa 30-an, tid ak hany a pada k risis ek onomi, tetapi penindasan semak in tajam pada buruh k ereta-api gitu. Sebab bay arny a pada wak tu seb elum itu Majal ah Kareta-Api terbit untuk memberikan informasi tentang situasi depresi ekonomi kepada buruhburuh keret a-api. Ditambah pula majal ah ini terbit dengan latar belakang untuk menjelaskan penyebab buruh-buruh kereta-api dipecat dan upahnya dipotong pada deperesi ekonomi. Majalah ini juga menyuarakan pentingnya pergerakan buruh-buruh kereta-api untuk membangun fond-fond untuk membantu buruh yang mengalami pem ecatan, kecelakaan dan kematian. Majalah ini berkantor di Bandung dan sebagai hoofd redacteur Sastroamidjojo orang yang sehari-harinya bekerj a sebagai pegawai pembangunan jalan kereta-api untuk wilayah Barat. 25 Sw Djliteng, “ Malaise”, dalam Kareta Api, Mei 1932 26 Kareta Api, Juli 1932. 27 Kareta-Api, Juli 1932
24

8

antara k aum buruh kereta-api itu sudah bagus. Karena adany a matschappij itu jadi dia memproy ek i buruh. Tetapi tidak langsung k esejahteraan buruh itu langsung baik tidak , tetapi karena ditindas oleh maatschappij-maatschappij k ereta-api termasuk JOS, NIS dan SS. Jadi kesej ahteraan buruh agak lumay an bayaranny a. Karena disitu ada k ilometer, (setiap k ilometer tuk ang rem mendapatkan uang tamb ahan) portasi (buruh angk ut mendapatk an uang tambahan) dan sebagainy a. Tetapi tidak tujuh jam k erja, k erjany a non stop sampai 13 jam, 15 jam buruh tidak merasak an.28 Sementara itu pemerintah k olonial berpegang teguh pada mata uang gulden y ang kuat, berarti k ebijak an peny esuian harus diamb il di negeri jajahan Hindia Belanda. Sejak awal Depresi, para pejabat di Den Haag mendesak pemerintah di Batav ia untuk menghemat pengeluaran umum agar dapat mencapai anggaran berimbang. Pengeluaran dan pendapatan ny ata untuk tahun 1930 memberik an gambaran semak in suram, meny impang dari perk iraan tingkat pendapatan, sehingga memak sa pemerintah untuk mengakui bahwa bagian terbesar pendapatan pemerintah Hindia Belanda berasal dari pajak pendapatan, konsumsi dan perdagangan y ang diambil dari perusahaan dan monopoli pemerintah. Ini membuat pendapatan tersebut sangat goyah terhadap fluk tuasi dalam perek onomian in ternasional. Tek anan untuk melak uk an pemotongan anggaran y ang lebih k etat dilak ukan oleh Menteri Urusan Tanah Jajahan, De Graff, dan terutama oleh penggantiny a Colijn. Namun, di Hindia Belanda ada k esan bahwa sebanyak apa pun y ang dilak ukan tetap mungkin, dan pemotongan anggaran lebih lanjut ak an menjadi bencana politik , ekonomi dan sosial. Pengeluaran bersih dalam pelay anan biasa menunjukk an betapa bany ak jumlah pemotongan tersebut: pengeluaran umum total mencapai 512,2 juta gulden pada 1929, namun dipotong k embali hingga 378,2 juta pada 1933 dan 291,6 juta pada 1935. 29 Berdasarkan angk a dari departemen perekonomian, perdagangan Hindia mengalami peningk atan pesat selama 1925-1929, k emudian terus merosot dan hany a tinggal seperempat pada 1936. 30 Bagi negeri yang tergantung pada permintaan luar negeri ak an barang dagangan utamany a berupa bahan mentah dan produk ek sotis, k risis ini berdampak berat bagi k aum k romo. Sebagai negeri tergantung dan pengutang y ang sangat sensitif terhadap gejolak pasar dunia mak a hal itu membuat Indonesia lebih mudah berguncang oleh depresi dibanding dengan negeri y ang k ondisiny a berbeda. Keny ataan itu ditunjuk an dengan mencolok pada anjlok ny a permintaan gula dan k aret. Sementara tembak au, teh, kopi, k apuk dan beras menderita dampak y ang enteng walaupun tetap serius.31 Satu contoh produksi gula di Jawa sebany ak 2.935.317 ton dihasilk an oleh 178 pabrik , pada 1935 merosot menjadi 513.544 ton oleh 38 pabrik. 32 Sedangk an upah buruh y ang dibay ar oleh perusahaan pada 1929 sebesar 102.000.000 gulden, pada 1934 merosot menjadi 9.721.000 gulden dengan upah rata-rata 12 sen. Keadaan ini membuat simpanan emas k elas buruh y ang cuma sedik it berik ut perhiasan lain digadaik an sampai merek a tak memilik i Wawancara dengan Suyitno 6 Febuari 2004. Untuk sektor perkebunan terjadi pengurangan tenaga kerja pada masa depresi ekonomi, tetapi untuk buruh transportasi kereta-api yang mesti melayani perusahaanperusahaan perkebunan. Meskipun masa depresi jumlah perusahaan perkebunan untuk Jawa masih mencapai 157 perusahaan. Ditambah pula perusahaan besar seperti the big fi ve masih memberikan subsidi kepada perusahaan kereta-api milik negara (st ate spoor). Perusahaan-perus ahaan kereta-api tidak begitu drastis melakukan pemecatan, dan cara yang paling efektif adalah meninggikan jam kerja mereka. Lihat. Sejarah Perkereta-apian Indonesia Jilid I. Angkas a. Bandung 1999, hal. 234. 29 Cruetzberg, Ekonomisch beleid, III hal, 143-144-147. 30 Vriesman Verslag I 1941:5 31 Tentang gambaran umum lihat Burger II 1975 dan Rutgers 1947: 194-196. Perincian grafis dal am Creutzberg (ed.,) jilid 5 1979. 32 GFE. Gonggrijp. Schet ener Economische Geschiedenis van Nederlandsch-Indie. Erven F. De Bohn: Haarlem 1949, hal. 219.
28

9

barang berharga apapun.33 Dengan demik ian k ehidupan orang-orang pribumi k ebany ak an menjadi tanpa modal maupun cadangan berupa perhiasan dan segala barang berharga, dan merek a mejadi k orban y ang paling berat. Sedang pihak administratur k olonial Belanda dan majik an Cina tidak lah terlalu terimbas. Berdasark an catatan pendeta Protestan Belanda “ k epentingan k aum pribumi diabdik an untuk mendukung para pengusaha asing rak sasa. Karena itu tidak begitu aneh jik a kelas buruh harus mengais k ehidupanny a dari hari ke hari hany a dengan 2,5 sen, dan merek a sedik it pun tidak tersentuh undang-undang k esejahteraan sosial”. 34 Hal y ang juga cuk up mengherankan pemerintah Belanda begitu k eras k epala [paling tidak sampai 1936] dengan mengaitk an uang gulden dengan standar emas. Ini merupak an k esalahan besar dan langk ah y ang bertentangan. Karena politik moneter y ang k eliru inilah mak a cengk eraman Depresi di Hindia Belanda tiga tahun lebih panjang daripada semestiny a. Sebalik nya banjir ek spor barang k eperluan sehari-hari dan tek stil murah dari Jepang merupak an berk ah bagi penduduk . 35 Cengkeraman depresi ekonomi berak ibat hilangnya pekerjaan bagi buruh k ereta-api y ang tinggal diperk ampungan Manggarai. Mereka y ang mengalami pemecatan atas politik penghematan pemerintah berusaha membangun perek onomian subsisten si, seperti membuk a usaha pemasangan instalasi listrik listr ik , menjadi tuk ang pipa air dirumah-rumah pembesar perusahaan k ereta-api. Pek erjaan-pek erjaan seperti ini paling tidak bisa menggantik an upah harian buruh k ereta-api, tetapi tidak setiap hari merek a mendapat panggilan dari tuan-tuan Eropa. Dalam k ontek s ini beberapa afdelling memb angun fonds (dana) penghematan sebagai reak si terhadap politik penghematan pemerintah. Fonds penghematan berhasil dibangun dibeberapa afdeling seperti Bandung, Manggarai dan Surabay a. Fonds penghematan ini kurang berhasil untuk di afdeling lain, k arena secara ek onomi merek a sulit secara terus-menerus memberik an iuran. Sedangk an merek a secara politik mendapatk an tek anan dari pemerintah kolonial untuk tidak mengembangk an fonds k earah yang lebih terorganisir.36

T.M. Loemban Tobing & T. Joesoef Moedadalam “ Economisch Overzicht Indonesie” dalam M. Ford van Lennep & Fore. W.J. Indonesiers Spreiken. Den Haag: Van Hoeve 1947, hal. 183-185. 34 H. van den Brink. Een Eish van Recht, de koloniale verhouding als vraagstuk getoetst. Amsterdam, 1946, hal. 25. 35 Ibid., Gonggrip 1949, hal 214-15. 36 Kareta-Api, Agustus 1932.

33

10

Partai dan organisasi politik telah mengambil jalan parlemen berhasil mengeluark an Ordonansi “Regerling A rbeidsverhoudingen dan diterima oleh Volk sraad dan mendapatk an pengesahan dari Gubernur Jenderal pada Mei 1940. Ordonansi ini mengatur tuntutan buruh terhadap perusahaan dengan jalan organisasi buruh membuat k olek tif y ang kemudian ak an disebut sebagai k omisi. Seandainy a terjadi perselisihan antara buruh dan pihak perusahaan, mak a beberapa wak il buruh perusahaan membentuk k omisi dan ak an berhadapan dengan perusahaan. Seandaiany a terjadi jalan buntu antara perusahaan dan pihak k omisi, mak a Directeur Justitie y ang ak an memutusk an, dan k eputusanny a tidak dapat ditawar lagi oleh masing-masing pihak . Ordonansi ini berlaku bagi perusahaan-perusahaan besar baik milik sw asta maupun pemerintah. Tetapi, perusahaan-perusahaan besar seperti Staat Spoor atau Konink lijke Paak ev art Maatchappij (KPM), bany ak mempek erjak an buruh tidak tetap, ak ibatnya Ordonantie ini tidak berlak u bagi buruh-buruh tidak tetap.37 Ordonansi itu, biasanya untuk masalah pemecatan buruh, menurunk an upah buruh dan penutupan perusahaan secara sepihak oleh pengusaha senantiasa mendapatk an pembelaan dari Directeur v an Justitie. Sehingga k ecenderungan untuk membela k epentingan-k epentingan pihak perusahaan menjadi lebih besar. Selain itu, Ordonasi itu berlak u surut bagi perselisihan-perselisihan y ang berlangsung sebelum Ordonansi mendapatk an pengesahan dari Gubernur Jenderal. Pendudukan Jepang: Munculnya SBKA , Angkatan Muda Kereta A pi dan Bengkel Ma nggarai Saat balatentara Jepang masuk dan menduduk i Jawa dipimpin oleh oleh Komandan Panglima A ngkatan Darat Jenderal Imamura Histoshi tanpa mengalami perlawanan berarti dari pasuk an tentara Belanda. Bahk an ketik a tentara Jepang masuk k e Jak arta dan selanjutnya diganti dengan nama Jakarta Shu penduduk meny ambut balatentara Jepang dengan harapan tinggi untuk membebask an merek a dari pengawasan polisi Belanda.38 Suy itno seorang buruh k ereta-api di Manggarai dan k emudian hari ter libat dalam k eanggotaan SBKA menceritak an gegap gempitany a penerimaan penduduk Manggarai dan sek itarny a pada saat Jepang masuk : Bany ak warga disini [Manggarai, Bukit duri, dan Jatinegara] berkumpul meny ambut tentara Jepang berbaris baru turun dari k ereta-api. Warga membawak an k elapa, papay a dan Mangga untuk tentara Jepang. Warga riang gembira mengangk at tangan dan mengajungkan jempol. Lantas k eadaan ini dibalas oleh beberapa perwira Jepang dengan mengambil kamus k antong percak apan Indonesia-Jepang… dan mulai bicara dengan orang dewasa dan anak-anak dengan bantuan gerak tubuhny a.39 A walnya pemerintahan penduduk an Jepang akan melanjutk an struk tur pemerintahan k olonial y ak ni menek ank an orientasi ek onomi ek spor dan k etergantungan pada iimpor industri. Konsek uensi-k onsek uensi perang menjungk irk an harapan ini. Pertengahan tahun 1943 k ek urangan kapal begitu ak ut, sehingga Toky o memerintahk an men iadak an k ebijakan awal. Seluruh tekanan ditempatk an pada ek onomi self-suffiecien tly untuk setiap pemerintahan lok al.40 Produk si mak anan terus-menerus berk urang untuk setiap pemerintahan lok al, dan pemerintahan swapraja diarahk an untuk membuat pak aian dan membuk a pabrik . Penduduk sulit untuk melak uk an perlawanan terhadap balatentara Jepang, k arena pemerintah penduduk an Jepang melak uk an mobilisasi dan kontrol yang begitu k etat.
37 38

Mr. Hindromartono. “ Ordonansi Regeling Arbeidverhouding”, dalam Kemadjoean Juni 1940, hal. 4-8. Anthony Reid. Indonesia: “From Briefcase To Sword Samurai” in Al fred W. M cCoy (ed) Southeast Asia Under Japanese Occupation. Yale University Southeast Asia Studies. Monograph Series Number 22. 1980. 39 Wawancara dengan Suyitno 3 Maret 2004. 40 Ibid., Afred W. McCoy, p. 51

11

Selain itu, hampir seluruh gerak an politik pada tahun 39-40 tidak diberi ruang oleh pemerintah k olonial dan jik a ingin tampil dalam wilay ah politik harus melalui v olk sraad. Pemerintah k olonial melalui tentara KNIL dan pegawai dinas intelej en mengintai penduduk k ampung dan mengawasi gerak gerik perlawanan orang-orang bumiputra. Suatu harga y ang besar dibay ar oleh Hindia Belanda untuk politik pertahanan semacam ini. Tidaklah berlebihan k etik a Jepang masuk , penduduk bumiputera meny ambutny a bagaik an tentara pembebasan. Mereka tidak mengetahui bahwa balaten tara Jepang kemudian melak uk an mobilisasi terhadap penduduk, entah k erja paksa sebagai romusha di negeri sendiri maupun di negeri orang lain. Untuk wilay ah Manggarai dan sek itarny a masalah mobilisasi tenaga k erja romusha oleh Jepang menjadi pembicaraan buruh k ereta-api. Informasi ini cuk up penting untuk mengetahui apak ah ada sanak keluarga dan sahabat y ang dijadikan romusha. Selain itu, pada masa penduduk an Jepang sulit untuk mendapatkan beras, tentara Jepang ak an menghukum penduduk mendapatk an beras tanpa proses penjatah an . Berk umpul lebih dari tiga orang merupak an tindak an y ang dicurigai. Rapatrapat di k alangan buruh dilakuk an secara sembuny i dan tertutup, sebagaiman diceritak an oleh Suy itno, bek as anggota SBKA dan selama pendudukan Jepang mendapatk an pelatihan tek nisi diesel dibengk el Manggarai: Pada masa Jepang berk uasa kami melak uk an perlawanan secara diam-diam, terutama bagaimana carany a mendapatk an beras. Pada masa itu beras susah didapatk an, kalau k ita k etahuan Jepang mencuri beras bisa mati…. Sek itar tahun 1943 bulan Oktober say a berk eliling Manggarai dan Buk itduri untuk mengawasi k eadaan aman dari tentara Jepang , k arena teman-teman lainny a sedang melak uk an rapat di bengkel…. Kami membicarakan masalah-masalah penting seperti k eadaan peperangan atau bagaimana k esiapan k ita k alau ingin melak uk an perlawanan. Dan juga membagi informasi soal teman-teman k ita y ang dijadik an Romusha di Rangon dan Birma. 41 Berdasarkan penuturan Suy itno sejumlah buruh k ereta-api y ang dibawa secara pak sa oleh Jepang k e wilay ah A sia Tenggara, terutama Birma (sek arang My anmar) untuk membangun jembatan dan pemasangan rel k ereta-api bagi kepentingan peperangan Jep ang. Saat memberlak ukan k erja pak sa, tentara Jepang mempergunakan sistem tanggung renteng. Mak sudny a jik a seorang calon romusha tidak bisa bekerja, ia ak an digantik an oleh saudarany a. Jik a saudarany a berhalangan, ak an digantik an oleh k awanny a. Dalam keadaan seperti ini buruhburuh k ereta-api berupay a melindungi teman-temanny a dari sergapan Jepang, carany a dengan bekerja di bengk el perawatan k ereta-api, sebagaimana dituturk an oleh Tardjo bekas masinis y ang memilih masuk menjadi anggota SBKA dan k emudian pada peristiwa 65 ditangk ap oleh pasukan screening bentuk an Pangk opkamtib: Buruh-buruh k ereta-api y ang biasany a bek erja diperbaik an rel dan bagian remmers secara diam-diam dimasuk an k edalam bengk el, untuk membuat perk akas-perk akas lok omotif atau perbaik an gerbong. Sebab k alau mereka ada Depo dengan pekerjaan mencuci dan membersihk an k ereta-api mak a merek a ak an disergap oleh tentara Jepang. Untuk memasukan buruh k e bengk el perlu mendapatkan izin dari wak il k epala bengkel y ang wak tu itu dik epalai oleh Singgih, tetapi kepala bengk el mesti melapor kepada Zinnusho-ty o (Kepala bengk el bangsa Jepang yang mengawasi Kereta-api). Nah di sini pintar-pintarnja k epala bengkel untuk berbicara perluny a tenaga di bengk el. 42 Wawancara dengan Suyitno. 7 Febuari 2004. Bandingkan dengan Shigero Sato, “Labour Relations in Japanese Occupied Indonesia” Clara Working Paper No. 8. Amsterdam 2000, hal. 1-24. Sato mendapatkan informasi seorang buruh diketahui mencuri beras satu mangkok saja terkena hukuman berdiri diterik mata hari selama tiga hari, atau hukuman gantung dengan kaki di atas dan kepala dibawah. 42 Wawancara dengan Tardjo. 25 Febuari 2004
41

12

Untuk memb erik an k epercay aan k epada Zinnusho (k epala bengk el) tidaklah begitu sulit k arena peranan buruh di bengk el cuk up penting untuk memproduk si peralatan y ang dibutuhk an k eretaapi. Tanpa k ereta-api, pasuk an balaten tara Jepang tidak dapat bergerak sec ara lancar. Pada akhir pendudukan balatentara Jepang, penduduk y ang menolak romusha harus membayar sebesar sepuluh rupiah, sulit bagi penduduk untuk membay ar uang sebesar itu. Untuk upah masinis saja hany a mencapai lima rupiah per-bulanny a. Buruh-buruh k ereta-api yang tinggal di sek itar stasiun dan bengk el k ereta-api juga melakuk an k erja paksa, bongk ar muat selama lima jam per-hari dan merek a bek erja jik a ada k ereta api y ang masuk stasiun. Jik a menolak akan siap menerima huk uman dijemur ditengah terik matah ar i.43 Seluruh perusahaan k ereta-api disatukan dalam satu pimpinan. Di Jawa berada di bawah A ngkatan Darat k e 16 (Rikuyuu) dan di Sumatera dibawah k omando Angk atan Darat k e 25 y ang berk antor pusat di Buk it Tinggi. Masing-masing daerah dibagi k e dalam inspek si-inspek si (Zinnusho) y ang masing-masing dik epalai oleh kepala inspek si (Zinnusho-tyo ). Secara resmi seluruh pimpinan puncak langsung dipegang oleh pejabat sipil/militer Jepang.4 4 Pada k eny ataanny a orang-orang bumiputera y ang bek erja sebagai pelak sana. Ketik a k ek alahan Jepang semak in mendek at k eduduk an k epala inspek si secara resmi dipegang oleh orang bumiputera y ang didampingi oleh pejabat sipi/militer Jepang, misalk an wak il k epala stasiun dijabat oleh orang bumiputera, sedangkan k epala stasiun dijabat oleh orang militer Jepang. Demik ian pula untuk k epala bengk el dan wak il k epala bengk el Manggarai. Kemudian juga terjadi peny atuan dalam peraturan k epegawaian kereta-api y ang dipak sakan melalui peraturan gaji bagi pegawai negeri (Kanpo). Peraturan ini merupak an suatu peraturan baru dalam pengupahan personil pegawai kereta-api, y ang meny amaratakan pegawai k ereta-api dalam tiga hirark hi, y ak ni pegawai rendah, pegawai menengah dan pegawai tinggi, disamping masih adany a golongan pegawai rendahan.45 Satu hal y ang menguntungkan bagi perk embangan pergerak an revolusi, pada masa Jepang dibuk a sek olah teknisi k ereta-api bagi bagi pemuda dan hampir 80.000 orang yang dilatih oleh Jepang untuk masalah mesin dan teknisi diakhir Juli 1945. A walnya bulan September 1943, Balai Pusat Kereta-api membuka lowongan bagi para pemuda untuk memp elajari masalah tek nisi dan mesin, dan lowongan ini dapat meny erap sebesar 7000 tek nisi. Kemudian, tiga bulan selanjutnya direk rut 20.000 orang y ang rata-rata berumur 16-17 tahun dan mempuny ai latar-belak ang beragam, ada y ang orang tuanya sudah menjadi wak il masinis pada masa Belanda, namun juga ada berasal dari lingk ungan stasiun dan ada pula y ang juga ingin mendapatk an pek erjaan sebagai pegawai negeri. Selanjutny a, tiga bulan k emudian direk rut k embali 20.000 pemuda untuk menguasai masalah trak si atau lalu lintas perk ereta-apian, sebab pada masa Jepang lalu lintas k ereta-api berbeda dengan masa k olonial Belanda, beberapa jalur Jawa Barat dibongk at, terutama wilay ah Banten.46 Ditambah pula, buruh-buruh bengk el Manggarai mendapatkan k ursus pendidik an menengah tek nisi (Tyuo-Kyushuzyo), pelatih an kemiliteran dari Seinendan, Keibodan dan Hatohan. Latihan militer ini memb awa pengaruh besar pada tahun-tahun revolusi. Februari Wawancara dengan Tardjo 25 Febuari 2004 Anonim. Partisipasi Perkereta-apian Dalam Perjuangan Kemerdekaan. Jakarta 1975, tanpa penerbit, hal 1-14. 45 Wakil kepala eksploitasi Barat, Tengah dan Timur termasuk pegawai Tinggi, sedangkan wakil inspektur seperti wakil kepala stasiun dan wakil bengkel t ermasuk pegawai m enengah dan pegawai rendah berlaku untuk masinis, stoker dan pekerja bengkel. Pembagian seperti ini untuk menyiasati agar seluruh pegawai keret a-api mau bekerja untuk kepentingan mesin perang Jepang. Informasi ini diperoleh dari Wawancara dengan Moenadi 23 September 2005. 46 Gerbong-gerbong rampas an yang baru tiba dari Filipina, dan Thailand memerlukan teknisi untuk pemasangannya. Oleh karena itu penguas a militer Jepang memerlukan tenaga teknisi dal am jumlah besar. Pada masa revolusi para teknisi ini melakukan sabotase-sabotase terhadap kendaraan-kendaraan militer NICA. Informasi ini saya perol eh dari wawancara dengan Soemadi 10 Juni 2005.
44 43

13

1945 buruh-buruh k ereta-api mulai melak ukan inisiatif perlawanan terhadap Jepang. Misalny a buruh k ereta-api dari wilay ah ek sploitasi Barat dan Timur meny ebark an berita situ asi peperangan di Eropa dan A sia dan merencanak an sabotase k ereta-api. Peristiwa Krengseng, sabotase k eretaapi y ang dilak ukan buruh: …Peristiwa Krengseng (daerah disek itar Jawa Tengah) tabrak an itu memuat fasisme Jepang, tentara Jepang bany ak y ang k orban itu, nah pada wak tu itu masinisny a bernama Ngadiman y ang tinggal diperumahan bedeng k ereta-api Manggarai47 Peristiwa Krengseng ini terjadi saat pasuk an Jepang bergerak dari Semarang k e Surabay a, namun sek itar 30 k m dari Semarang terdapat lokomotif tanpa gerbong yang dikendalikan oleh masinis Ngadiman. Suyitno melanjutk an ceritany a “ Ngadiman melompat k eluar, sebelum tabrakan hebat terjadi. Sabotase dalam bentuk lain dilak uk an oleh para penjaga pintu k eretaapi dengan cara menggeser rel k ereta-api atau memindahk an rel secara tiba-tiba, sehingga k ereta-api terbalik . Peristiwa sabotase seperti ini terjadi di Lasem, Pemalang dan Pek alongan”.48 Perlawanan buruh k ereta-api terhadap fasisme Jep ang semak in intensif dan terorganisir secara baik. Hal in i disebabkan pimpinan buruh k ereta-api telah menerima informasi mengenai sejumlah k ek alahan peperangan fasisme di Eropa dan A sia. Selain itu, perlawanan ini masih sebatas spontanitas, terutama dilakuk an terhadap penguasa-penguasa lok al (bupati dan pangreh praja) y ang bek erjasama dengan penguasa militer Jepang untuk mendapatk an tenaga kerja pak sa. Perlawanan ini dengan membentuk Angk atan Muda Kereta-api (AMK)49 yang terdiri dari pemuda dan buruh. Perlawanan in i bertujuan untuk mengusir Jepang dari Indonesia dengan menguasai perusahaan dan stasiun k ereta-api. AMK ini rata-rata lulusan calon masinis dan masinis k epala y ang bersek olah di Bandung atau para pemuda y ang tinggal di Manggarai. Pada awal 1945 A MK dibentuk atas inisiatif para pemuda y ang mengik uti sek olah perkereta-apian di Bandung dan Manggarai. Kemudian disahk an pada 1 Oktober 1945 untuk merebut stasiun k ereta-api dan depo-depo di seluruh wilay ah ek sploitasi Barat.50 A ktifitas perlawanan AMK dituturkan oleh Moenadi sebagai berik ut: …Calon-calon masinis ini bany ak y ang menjadi angk atan muda k ereta-api, jadi sudah timbul satu untuk melaw an tentara Jepang dan berjuang untuk republik ini y ang mulai hangat-hangat gitu y a. A ngk atan Muda Kereta-api mulainya pada wak tu Jepang hampir k alah itu tahun-tahun awal 1945. Pada waktu itu pada umumny a buruh k ereta-api sudah tidak mau bek erjasama dengan Jepang, tetapi k arena terpak sa ikut saja. Kebany ak an merek a itu semangatny a republik en… Ketik a Jepang sudah mau k alah ek sploitasi Barat itu k antorny a di Jak arta-Kota Wawancara dengan Suyitno 7 Febuari 2004 Bandingkan peristiwa perlawanan buruh kereta-api terhadap balatentara Jepang Anton Lucas (ed) Local Opposition and Underground Resistance to The Japanese In Java 1942-945. Merlbourne. Monash University 1986, hal. 27-39. 49 Angkat an Muda menunjuk pada golongan pemuda yang tidak mau bekerjasama baik dengan Balatentara Jepang yang sudah kalah maupun berhubungan kembali dengan kekuasaan kolonial Belanda. Ketika, Jepang menyerah perwira-perwi ra inlander KNIL yang dipenjarakan dibebaskan, dan mereka membangun kerjas ama dengan Belanda kembali. Angkatan muda juga merujuk bahwa mereka berbeda dengan angkatan tua yang lebih kompromistis dengan penjajah asing. Istilah angkatan muda juga menunjukkan bahwa pemuda mempunyai pemikiran dan gagasan yang baru, tidak seperti angkatan tua sebel umnya. Gambaran yang cukup baik tentang peranan pemuda pada masa pendudukan Jepang di Jakarta, lihat Dokumentasi Pemuda Sekitar Proklamasi Indonesia Merdeka. Jogyakart a. Juni 1948. 50 Inform asi yang cukup m em adai tentang latarbelakang berdirinya Angkatan Muda Kereta-api diperoleh dari wawancara dengan Moenadi 25 Febuari 2004 dan juga periksa Sejarah Perkeret aapian Indonesia Jilid 2, hal 59.
48 47

14

itu ada k antor besarny a sek aligus juga stasiun. Di atas ada k antor, nah itu k antor Eksploitasi Barat… Pada suatu ketik a ek sploitasi Barat pemuda-pemudany a itu mendorong supay a segera meny atak an bahwa DKA(Djawatan Kereta A pi) itu adalah milik Indonesia. Kita ini ingin mengusir Jepang yang ada dik antor. Dan oleh karena Jepang sendiri sudah k ehabisan ak al y a, mer ek a tidak memasalahkan masalah itu, tetapi y ang penting bagaimana perang ini, menang atau tidak dan bagaimana mempertah ank an dan sebagainy a. Nah Jepang y ang ada disana itu diusir y a mau saja. Nah, terus dari ek sploitasi barat itu diproklamirk an mulai hari ini k ereta-api itu adalah milik Indonesia. Balai Besar di Bandung sendiri belum berbuat apa-apa. Jadi di Jak arta ini didorong oleh A ngkatan Muda Kereta A pi untuk melancarkan proklamasi itu. 51 Menjelang k ekalahan Jepang oleh sek utu, buruh k ereta api dan pemuda y ang tergabung dalam A ngkatan muda k ereta-api mengambil inisiatif untuk mengambil alih stasiun dan memperoleh cetak an batu bara (brik et). Merek a tidak hany a menegask an bahwa sek arang k ereta-api adalah milik Republik, tetapi juga mu lai merampas senjata-senjata Jepang, merampas alat-alat mek anik dan meny embuny ik anny a di bengk el Manggarai, Jatinegara serta Bek asi. Status balatentara Jepang sebagai polisi k etertiban dan k eamanan umum setelah k alah dalam peperangan Perang Dunia II. Pihak Gunseikanbu mengumumk an bahwa pemerintah balatentara Dai Nippon masih berk uasa hingga datangny a sek utu. Tetapi pihak A MK dan pemuda mulai melak ukan pengambilalihan k ereta-api dan perananny a tidak hany a pada saat Jepang ak an mengalami k ek alahan, tetapi awal pecahny a Rev olusi A gustus dan Hijrah k e Jogy ak arta juga berperan besar hingga A MKA meleburkan diri pada tahun 1947 k edalam tubuh SBKA. AMKA terdiri dari pemuda-pemuda y ang datang dari pelosok -pelosok daerah seperti Yogjakarta, Semarang, Lasem, Blitar, Surabay a, Pemalang dan Langsa. Merek a datang ke Jak arta untuk memb antu perjuangan buruh-buruh k ereta-api. Sek itar 700 anggota A MKA Jak arta tinggal diwilayah Manggarai Utara.52 Revolusi: Perebutan Stasiun dan SBKA Seba gai Laskar Kereta-Api Perebutan stasiun-stasiun kereta-api berlangsung sepanjang bulan A gustus hingga September 1945. Perebutan k ereta-api ini tidak hanya dilak uk an oleh Angk atan Muda Kereta- api, tetapi juga oleh buruh Jawatan Pos dan Telek omunik asi. A MKA mendapat bantuan dan duk ungan sepenuhny a dari gerak an pemuda, baik k elompok mahasiswa maupun k elompok pejuang lainny a. Sesungguhnya kelompok inti dari A MKA antara lain Legiman, Hary ono, Sutjipto dan Gurdali mulai mengadak an pertemuan-pertemuan di Depo dan Bengk el Manggarai. Mulai Juli 1945 merek a bergaul dengan k elompok Menteng 31. 53 Dapat dimengerti kelompok Menteng 31 mendorong dan meny ok ong AMKA, k arena v italny a peran k ereta api pada wak tu itu sebagai sarana transportasi darat y ang handal, dan mempunyai jaringan telekomunik asi sendiri untuk memudahk an hubungan k e daerah-daerah. Selain itu, pengambil alihan stasiun k ereta-api pada masa awal rev olusi adalah merupak an hal y ang lazim, hampir seluruh pemuda dari pelosok Wawancara dengan Moenadi 25 Febuari 2004. Wawancara dengan Sosromoeljono 4 Juli 2004 53 Kelompok pemuda Menteng 31 adalah Asrama Angkatan Baru Indonesia di Jalan Ment eng Raya 31 yang didirikan pada awal pendudukan Jepang dengan bantuan Departemen Propaganda, Sendenbu. Di antara tokoh yang terkenal di asrama ini adal ah Chaerul Saleh dan Sukarni, keduanya mempunyai kedudukan di Sedenbu sampai bulan Juni 1945. Asrama ini dibawah pengawasan pejabat Sendenbu, Hitoshi Shimizu dengan tujuan untuk menciptakan inti dari aktivis pemuda. Kebanyakan dari latihan yang diberikan di asram a berisi t ent ang nasionalisme. Pengajar yang diundang untuk memberikan ceram ah adalah politisi nasionalis terkemuka tahun 1930-an seperti Sukarno, Hatta, Yamin, Sunario S.H. dan Amir Sjarifuddin (paling sedikit sampai penahanannya). Masa latihan di as rama ters ebut tel ah berakhir pada bul an April 1943, tetapi asrama itu sendiri tetap merupakan tempat berkumpulnya pemuda yang dilatih di s ana, bersama-sama dengan sahabat-sahabat terus berkumpul dan membahas politik. Lihat Dokumentasi pemuda: Sekitar proklamasi Indonesia Merdeka. Yogyakart a. Badan Penerangan Pusat SBPI, 1948, hal 14-15.
52 51

15

pelosok daerah Jak arta melak uk an peny erobotan milik bekas Belanda dan Jepang. Setiap pemuda memilik i senjata api dari rampasan balatentara Jepang. Sebagian senjata itu dirampas oleh TKR (Tentara Keamanan Rak y at) dan sebagian lagi dimilik i oleh badan-badan perjuangan seperti AMKA serta pemuda-pemuda lasyk ar y ang muncul di pelbagai tempat. Pada September 1945 di Jak arta semua orang membawa senjata api, entah tuk ang becak , tuk ang rok ok , tuk ang catut, masinis dan tuk ang rem semuanya membawa senjata api. A walny a k elompok pemuda bersenjata itu melak ukan perampokan terhadap rumah-rumah Belanda yang merek a anggap sudah sewajarny a barang-barang milik Belanda perlu diambil-alih. Mak a tak pelak lagi, sejumlah pemuda sebelumny a tinggal di perkampungan Manggarai pindah k e perumahan pejabat-pejabat k ereta-api Buk it Duri y ang pada hari sebelumny a penghuniny a dipak sa k eluar dari rumah tersebut. Setiap orang Belanda atau Indo ak an mengalami nasib y ang sama. Para pemuda ini mempuny ai prinsip kehidupan harus diisi dengan k eberanian. Pasuk an pejuang ini tidak mempuny ai hubungan dengan k esatuan y ang lebih besar, ak an tetapi bergerak atas inisiatifny a sendiri.54 Gagasan untuk merebut stasiun-stasiun k ereta-api berawal dari A MKA Manggarai, menurut Moenadi adalah sebagai berik ut: …”Say a pada wak tu itu termasuk didalamny a (A ngk atan Muda Kereta-A pi). Walaupun say a masih menjadi calon masinis k epala, pada wak tu itu sudah diangkat menj adi masinis k epala. Say a seolah-olah tidak menghentik an pek erjaan say a di lokomotif Bandung, tapi saya sering mundar-mandir k e Jak arta tertarik oleh anak -anak A MKA di Manggarai.”55 Sebagaimana pemuda, Moenadi juga turut serta dalam badan perjuangan atau lasy kar kereta-api y ang mendorong pegawai k ereta-api untuk merebut stasiun dan k ereta-api sebelum sek utu datang ke Jak arta. Para pemuda y ang bergabung dalam badan-badan perjuangan, berpenampilan seperti para gerombolan bersenjata y ang menduduk i rumah, tempat usaha, dan perusahaan. Saat pengambilan stasiun, seluruh pemuda dari pelbagai badan perjuangan tumpah ruah di Manggarai untuk meny atak an k ebebasan dan pengambilalihan milik Belanda melalui ak si-ak si corat-coret merek a. Kereta-api menjadi sasar an corat-coret para pemuda, sebagaimana dituturk an oleh Suromo salah seorang anggota Persatuan Juru Gambar Indonesia (Persagi) “…pada jaman Revolusi 17 Agustus 1945 itu, say a nih y ang coret-coret k ereta api di stasiun Manggarai habis dioret-oret seluruhny a. Yang ik ut coret-coret bukan say a saja, wah bany ak pemuda. Semuany a. Say a ik ut mencoret dalam bahasa Inggris itu apa ‘freedom’, apalagi terus itu ‘Hands off’, y ah macam-macam setahu say a. Seluruh k eretaapi y ang ada di stasiun Manggarai k ita coret-coret. Kereta- api baik gerbong dan lokomotifny a menjadi kanvas berjalan baik dalam bentuk luk isan burung merpati ala Pablo Picasso, atau rantai-rantai terlepas dari tangan manusia merdek a. ”56 Ak si corat-coret k ereta-api di stasiun Manggarai merupak an manifestasi dari k esadaran para pemuda sebagai ek spresi bahwa k emerdekaan merupak an k ebebasan dan mengambil alihan k ereta-api menjadi milik republik . Buruh-buruh k ereta-api yang tergabung dalam badan perjuangan seperti A MKA dan lasy k ar melak uk an perjalanan k ereta-api berdasark an k epentingan k elompokny a saj a. Umpamany a k etik a dimulai pengambilan suku cadang kereta-api pihak lask ar y ang berk edudukan di Manggarai mengambil suku cadang bagi k epentingan stasiun dan bengk el Manggarai. Situasi seperti ini y ang membuat menteri perhubungan A bik usno Tjok rosujoso mengambil keputusan: “untuk k epentingan dan k elantjaran pelutjutan tentara “Djepang” dan bahwa pengoperan DKA (Djawatan Kereta Api) ketangan republik k embali bisa dilak ukan dalam
54 55

Harian Merdeka 3 M aret 1946, Wawancara dengan Moenadi 25 Januari 2003. Wawancara dengan Moenadi, Jakart a 25 Januari 2003. 56 Wawancara dengan Soeromo, Solo 20 Oktober 2002.

16

perundingan k emudian.57 Keputusan ini menjadi perdebatan dik alangan badan perjuangan dan pemuda meminta perlu dipertimbangk an kembali k eputusan tersebut. Pada 2 September dilak sanakan pembicaraan persiap an di Menteng 31 antara lain oleh Legiman Harjono dari kelompok A MKA dengan Wik ana sebagai k etua Pimpinan Pusat A ngk atan Pemuda Indonesia (A PI). Pada pertemuan ini Legiman mengajuk an usul untuk melak uk an perebutan k ek uasaan dilingk ungan DKA . Sebelumny a sudah dilakuk an beberapa k ali perundingan dengan beberapa pegawai tinggi DKA y ang ak an siap membantu perebutan tersebut. “Pada malam hariny a jam 23.00 diadak an perundingan persiapan y ang terakhir dirumah k epala stasiun Manggarai di jalan Manggarai 4. Berkat persiapan y ang mendalam dari grup DKA y ang diduk ung oleh AMKA, pemuda dan k aum buruh, mak a pada keesok an hariny a secara serentak dilak uk an perebutan k ek uasaan dan pengambil-alihan pada 3 September secara serentak dilak ukan gerak an pengambil-alihan Djawatan Kereta-A pi di seluruh Djak arta dan diser ahk an k epada republik . A ntara Jam 9.30 sampai Jam 12.00 ak si itu mulai dilak uk an dengan berhasil dik antor DKA Jawa Barat, di bengk el Manggarai, depo Djatinegara, Tanah Abang, Buk it Duri serta juga stasiun besar Gambir, Jak arta Kota, Tandjung Priok , Senen ,Manggarai dan tempat lain. 58 Ak si pengambilan stasiun k ereta-api oleh AMKA dan k aum buruh k ereta-api segera mendapat sambutan dari k aum buruh perusahaan-perusahaan lainny a. Secara berturut-turut dilak uk an perebutan dan pengambilalihan k ekuasaan Tram Kota, perusahaan Listrik dan gas, Jawatan radio, percetakan Kolf, Droogdok Matschappij dan perusahaan lainny a. Terak hir pengambil alihan Balai Kereta-api pusat DKA di Bandung pada tanggal 28 September y ang meliputi seluruh stasiun k ereta-api. Tanggal 28 September ini dijadik an hari kereta-api sebagai hari kemenangan seluruh k las buruh dan pemuda. Satu hari k emudian 29 September 1945, tentara sekutu mendarat di Tanjung Priok merek a tergabung dalam South East Asia Command (SEAC) y ang diberi nama Allied Forces Netherland East Indies (A FNEI) dibawah piminan Letnan Jendral Philip Christison. Tugas AFNEI adalah: 1. Menerima peny erahan dari pihak Jepang 2. Membebask an tawanan perang dan interniran serikat. 3. Melucuti dan mengumpulk an orang Jepang, k emudian dipulangkan k e negerinya. 4. Menegakk an dan mempertahank an k eadaan damai k emudian meny erahk an k ek uasaan k epada pemerintah sipil. 5. Menghimpun keterangan tentang penjahat perang dan menuntut mer ek a di depan pengadilan serik at.59 Terny ata pasuk an sek utu baik y ang mendarat di Batav ia, Palembang maupun Medan diboncengi oleh Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Situasi ini telah membuat pasuk an sek utu juga meny impang dari tugas awalny a, k eamanan dengan cepat berubah menjadi gawat, terutama sejak NICA mempersenjatai k embali anggota KNIL y ang telah dibebaskan dari tawanan Jepang. Di Jak arta, Bandung dan beberapa k ota lainny a, merek a melak ukan k ontak senjata dan juga prov ok asi bersenjata. Dengan bantuan sek utu, pasuk an Belanda berhasil menguasai Jak arta. Di stasiun Kranji merek a membuat pos penjagaan. Di sana setiap k ereta-api y ang masuk stasiun digeledah, termasuk kendaraan lain. Pendudukan Belanda itu mengak ibatk an perjalanan k ereta api antara Jak arta-Cik ampek hany a berlangsung dua k ali sehari dengan melewati pemerik saan di dua stasiun, y aitu di Kranji oleh tentar a Belanda dan di Bek asi oleh pihak Republik . Setiap hari k ereta api dari Jak arta penuh oleh penduduk Jakarta yang ak an mengungsi k e luar k ota, terutama ke Jawa Tengah.60 Pada clash pertama k omunitas buruh k ereta-api Manggarai agakny a mempuny ai peran yang cukup penting, merek a membantu para pengungsi baik itu sanak saudara atau kerabat menuju Jogyak arta. Merek a membangun hubungan erat
57 58

Sidik Kertapati. Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, Jajasan Pembaruan. Jakarta 1961, hal. 113. Wawancara dengan Suyitno 7 Febuari 2004. 59 Pramoedya Ananta Toer, Koesal ah Soebagyo Toer dan Ediati Kamil. Kronik Revolusi Indonesia Jilid 1. Kepustakaan Populer Gramedia. Jakarta 1999, hal. 63-64. 60 Lihat Pramoedya Ananta Toer. Larasati. Hastamitra. Jakarta 2002, hal. 23

17

dengan komunitas buruh k ereta-api y ang ada di Lempuy angan untuk menampung para pengungsi dari Jak arta dan Jawa Barat. Penggunaan kereta api mengangk ut k ebutuhan badan perjuangan dan lask ar seperti pengangk utan beras ser ta k ebutuhan pok ok lainny a. Tetapi sering pula k ereta-api dipergunak an untuk transask si penjualan hasil pertanian seperti teh, k opi dan beras untuk k epentingan badan perjuangan. Misalk an awal tahun 1946 pengusaha kopi ak an menjual 20 ton k opi ke salah satu pembeli di Jember (Jawa Timur) selain pengusaha membay ar biay a pengangkutan k ereta-api, juga membayar sewa penjaga barang bawaan y ang terdiri dari para lask ar. Namun sepanjang perjalanan dan perhentian di stasiun k opi berk urang karena diambil oleh beberapa lask ar y ang menjaga stasiun, seh ingga tiba di Jember kopi berk urang 800 kilogram. Ini merupakan salah satu contoh k ereta api dipergunak an untuk transask si bisnis hasil pertanian dan juga menj adi instrument bagi pemasuk an badan perjuangan dan lask ar. Tepat didepan bengk el k ereta-api Manggarai berdiri gudang hasil pertanian, bongkar dan muat dik ontrol oleh lask ar dan pemuda pada awal k emerdek aan, sebagai pemasuk an keuangan bagi merek a. 61 Keadaan ini ditambah pula oleh situ asi buruh-buruh k ereta-api di Manggarai dan Jak arta y ang k ek urangan beras. Untuk mendapatk an beras buruh-buruh k ereta-api mencari beras sendiri k e wilay ah-wilay ah pedalaman seperti Bek asi, Karawang dan Purwak arta. Tetapi pencariaan beras ini bisa mencurigak an, k arena penduduk Jakarta dianggap sebagai wilay ah k antong NICA. Selain itu, pedagang-pedagang beras dipedalaman leb ih meny ukai menerima uang NICA ketimb ang uang ORI (Oeang Repoeblik Indonesia). Ini disebabk an dua minggu setelah ORI disahk an sebagai alat tukar resmi mengalami k emerosotan nilai tuk ar Rp 55,-setara dengan Rp 100,- , sehingga untuk belanja beras dalam jumlah besar perlu mengeluark an dana y ang besar pula. Sedangk an upah seorang buruh k ereta-api hany a Rp. 150,- per-bulan untuk beras saja per k g Rp 2,5,- sedangk an untuk jatah satu k eluarga sek itar 30 kilogram per bulan. Jumlah buruh k ereta-api di Manggarai pada tahun 1947 telah mencapai 2000 orang. Untuk mengatasi hal ini, mak a perlu dibentuk Panitia Pembagian Makanan untuk wilay ah Manggarai diserahk an k epada Badan Sosial DKARI Manggarai. Tetapi Badan Sosial DKA RI berusaha sendiri dalam mencari beras tidak bek erja sama dengan badan perjuangan lainny a, sehingga untuk mendapatk an beras y ang murah dan baik mendapatk an kesulitan. Kemudian Panitia Pembagian Mak anan diambil alih oleh Barisan Buruh Indonesia, cabang Jak arta y ang dalam pencarian beras bek erjasama dengan lasy k ar dan A MKA . Kerjasama ini membuahkan hasil dengan lancarnya pemasok an beras dari daerah pedalaman. 62 Keadaan ini menunjuk kan bahwa untuk mendapatk an bahan mak anan, buruh k ereta-api perlu mendapatkan bantuan dari badan perjuangan, tidak hany a bahan mak anan pokok untuk k eluarmasuk Jak arta, perlu mendapatk an bantuan baik dari serik at buruh maupun badan perjuangan. Soemardi, bek as pemuda kelompok jalan Guntur, k emudian beliau menjadi Wak il Pimpinan Univ ersitas Ra’jat (UNRA ) bercerita k eadaan pada saat itu: SB-SB sudah hidup sek ali, suasana di Jak arta saling mencurigai antara Republik dengan Belanda-NICA. Serikat-serik at buruh k ita pimpin pengaruhny a luarbiasa dengan sentiment nasional republic. Pada saat itu ada suasana orang masuk SB k ami itu adalah republik en y ang nggak masuk dianggap NICA. Pengaruhny a raky at umum minta masuk SB, dengan lencana SB. Pedagang-pedagang, pencari bahan mak anan disekitar Jakarta, Bogor, Bek asi, dan Karawang masuk k e k ampung-k ampung dengan lencana SB. Kami di jalan Guntur Nomer 27 berkumpul disitu. Orang-orang dari daerah membawa barangbarang mak anan dan buah-buahan. A khirnya jalan Guntur bukan hany a pusat gerak an buruh, tetapi y ang an ti Belanda berkumpul disitu, lask ar-lask ar, pemuda kumpul dan minta lencana SB. L antas k ami buat sek tor-sek tor, ada sector Gambir, Manggarai,
61 62

Wawancara dengan Moenadi Jakarta 25 Januari 2003. SBKA Cabang M anggarai. “Soal Beras” dalam, Pelita Kereta-Api Mei 1947

18

Tanjung Priok , Pasar Minggu dan Pertamburan. Kegiatanny a tidak hany a buruh, tetapi k elask aran 63 dan mendapatk an bahan-bahan pok ok seperti beras dan jagung.64 Kelompok pemuda Guntur mempuny ai hubungan sangat erat dengan buruh-buruh k ereta-api Manggarai, selain jarak y ang cuk up dek at dan selain itu, tek nisi-teknisi k ereta-api Manggarai diperluk an dalam melak ukan sabotage terhadap k endaraan-k endaraan perang Belanda. A k tifitas para teknisi k ereta-api dalam melak uk an sabotage didesk ripsik an oleh Soemardi: …Ak si militer Belanda k edua, sejumlah k onvoi truk dan panser Belanda dicegat oleh puluhan tek nisi buruh k ereta-api didaerah Buk it Duri tidak jauh dari Bengk el Manggarai. Truk dan panser NICA tank i bensinny a dicampur garam, dinamo-dinamo mobil diakali, sehingga dalam perjalanan sek ian meter terbakar. Dan in i berak ibat rumah-rumah para tek nisi digerebek oleh ten tara NICA pada siang hari. Kemudian merek a lari ke Guntur untuk melarik an k e pedalaman Jawa, ak hirnya k etemu sama k ita. Minta persiap an bantuan, ada sek itar 11 orang y ang mau lari, kita minta bantuan SBKA . Ini ada sebelas orang y ang mau lari k e Jawa Pedalaman. Buruh-buruh kereta-api k alau tidak bay ar, merek a sudah tau siapa orang y ang perlu merek a Bantu... 6 5 Situasi di Jak arta semak in genting, mak a opstel stasiun (emplasemen peny usunan k ereta api) Jak arta-Kota terpak sa dipindahk an k e stasiun Manggarai. Sementara itu, di beberapa daerah terjadi pertempuran y ang mengak ibatk an rusak nya sarana dan jalan k ereta-api. Misalny a, lintasan Jatinegara-Bek asi, lintasan Tanah A bang-Merak . Rel, wesel dan alat- alat siny al, dan telek omunik asi di Stasiun Pesing dirusak oleh serdadu Nica y ang bermark as di depan stasiun, sehingga hubungan k ereta Jakata-Banten terputus. Ruas jalan rel antara Jatin egara dan Bek asi juga banyak y ang rusak , k arena sering terjadiny a pertempuran antara serdadu NICA dan lask ar. Krawang ak hir 1945 merupak an mark as besar lask ar, dan sek aligus dijadik an sebagai wilay ah penghasil barang kebutuhan pokok bagi lask ar dan badan perjuangan. Bany ak lask ar y ang bermuk im wilay ah Kerawang berusaha untuk menghuk um pemilik tanah dan sawah y ang sebelumny a bek erjasama dengan Belanda. Tram listrik di dalam k ota Jak arta berjalan normal tanpa mendapat gangguan, walaupun situasi k ota Jak arta semak in tidak aman, terutama diwilay ah “Kramat Ray a y ang dik uasai oleh lask ar berseberangan dengan jalan Prapatan y ang dik uasai oleh KNIL sering terjadi pertempuran. Ak ibatny a Trem listrik juga terganggu, hampir setiap hari terjadi pertempuran diwilay ah ini.”66 Jak arta terutama jalan utama dari Senen hingga Jatinegara dikuasai oleh Battallion Depot Speciale Troepen y ang melakuk an peny erangan terhadap gerily awan lask ar. Sebalik ny a lask ar beusaha untuk mendapatk an orang-orang Eropa sek itar Molenvliet [Merdek a Barat dan Veteran] hingga Meester de Cornelis [Jatinegara] pada malam hari, namun tidak mer ek a k etemuk an, k arena telah dievak uasi oleh pasuk an sek utu ke daerah Menteng y ang k emudian wilay ah in i dijaga k etat. Sulit bagi lask ar dan badan perjuangan untuk menghadapi tentar a sek utu dan NICA di Jak arta, dikalangan lask ar ada pemik iran untuk melakuk an k ebijakan bumi hangus, namun dengan pertimbangan ak an banyak memak an k orban penduduk bumiptra sendiri, siasat ini dihentik an. Lebih lanjut, pimpinan pusat DKA Bandung menginstruk sik an agar mesin-mesin di bengk el Manggarai dipindahk an secara menyebar ke bengk el-bengk el yang ada didaerah pedalaman. Pemindahan mesin-mesin itu dilakuk an secara bertahap pada ak hir tahun 1945.
63

Kel askaran adalah badan perjuangan yang mendapatkan makanan dari kampung sekitarnya, dan mereka berbeda dari tentara yang merasa kebutuhan-kebutuhannya harus mendapat prioritas ut ama, tentara terus menerus tergoda baik untuk mencoba melucuti badan perjuangan atau meleburkan mereka ke dalam tentara. Lihat. Merdeka, 14 Desember 1945 64 Wawancara dengan Soemardi, 5 Juli 2005. 65 Wawancara dengan Soemardi, 11 Juli 2005. 66 Wawancara dengan Joesoef Ishak. 18 Desem ber 2002

19

Diantara mesin-mesin itu ada yang dipindahkan ke A rjawinangun (Kabupaten Cirebon). Nangreg (Kabupaten Bandung) Purwak arta, Yogy ak arta, Madiun (Kanigoro) dan disertai beberapa personil y ang ak an merawat mesin ter sebut.67 Pertempuran-pertempuran an tara pemuda, lasyk ar dengan pasuk an sek utu, tidak melupak an pembentukan serik at buruh k ereta-api. Hal ini sebagaimana dicetuskan oleh Moenadi “…selain gerak an-gerak an pemuda dan lasy k ar perlu dikemuk an buruh k eretapi dalam bentuk buruh k ereta-api y ang disingk at SBKA , dalam alam k emerdek aan sifat militansi buruh k ereta-api y ang dimilik i sejak dalam zaman penjajahan, mencetus persatu an-persatuan pegawai negeri k eretaapi belum terorganisasi secara sen tral, melaink an ter sebar, bulan Maret 1946 di Solo diadak an satu k ongres pembentukan gerak an buruh. Sebagai hasil dari k ongres itu, mak a lahirlah Serik at Buruh Kereta-A pi, diman a tidak sedik it anggota A ngkatan Muda Kereta-A pi turut serta. SBKA turut ik ut perjuangan fisik sep er ti halny a badan-badan pergerak an lainny a, disamping tugas-tugasnya memperjuangk an nasib anggotany a.”68 Meskipun SBKA telah berdiri bulan Maret 1946, namun gerak an merek a masih berjalan secara illegal. Hal ini disebabk an Republik masih terlalu sibuk dalam melak uk an diplomasi serta perjuangan fisik terhadap Belanda. Sementara itu, SBKA dalam situasi seperti itu juga sibuk untuk mengangk ut para pengungsi dari Jak arta, Bek asi dan Jawa Barat menuju Yogy ak arta sebagai pusat pemer in tahan sementar a. Pengungsian Soekarno dan Hatta awal Januari 1946 k e Yogyakarta dipersiapk an dari bengkel Manggarai, hal ini disebabk an k onsentrasi perbaikan gerbong dan lok omotif tetap berada di Manggarai. Selain itu, pengungsian besar-besaran dari Jakarta ke Yogy ak arta juga mempergunakan fasilitas k ereta-api y ang dirawat di Manggarai. SBKA sebelumnya berkantor di Bandung, namun setelah pertengk aran hebat dengan Persatuan Buruh Kereta- Api (PBKA) mak a SBKA pindah k antor k e Manggarai. Perselisihan antara SBKA dan PBKA k arena diseb abk an PBKA tetap ingin mempertahank an diri pada garis Belanda, bahwa “Djawatan k ereta-api harus tetap dibawah manajemen Belanda, sedangk an SBKA pada garis republik agar perusahaan k ereta-api dik elola oleh republik .” Jan Elliot memapark an k onflik ideologis antara SBKA dan PBKA berlangsung hampir selama 20 tahun, dan PBKA berhasil bertahan dengan dihancurkanny a SBKA pada peristiwa gerak an 30 September 1965. 69 Pada awal tahun 1950- an Serik at Buruh Kereta-Api (SBKA ) menolak untuk mengangkut hasil-hasil perk ebunan. Bahk an SBKA melancark an pemogok an terhadap perusahaan perk ebunan. Hal ini untuk ik ut membantu dan memenangkan buruh perk ebunan y ang sedang melak uk an pemogokan dibawah pimpinan Serik at Buruh Perkebunan Indonesia (Sabupri). Selain itu tahun 1951, SBKA juga menolak dan melak uk an aksi pemogokan terhadap pabrik BA T untuk membantu dan memenangk an pemogok an buruh rokok. A ksi-ak si ini mendapat k ecaman dari PBKA y ang menegask an bahwa SBKA tidak mempunyai tanggung jawab terhadap Djawatan Kereta-A pi (DKA ). Menanggapi k ecaman ini SBKA memberikan jawaban, bahwa PBKA memperlihatk an watak k olonialny a y ang senantiasa membela k epentingan perusahaan perk ebunan.70
67

Anonim. Partisipasi Perkereta-apian Dalam Perjuangan Kemerdekaan. Tanpa pernerbit. Jakarta 1975, hal 1-14. 68 Wawancara dengan Moenadi 25 Januari 2001. 69 April 1965 SOBSI dan SBKA berhasil m eyakinkan Soekarno untuk membekukan aktivitas PBKA, Kolonel Djoehartono sebagai wakil Kepala Front Nasional tidak membubarkan PBKA, tetapi memperkecil ruang geraknya. Lihat J an Elliot. “Indonesi a, the International Confederation of Free Trade Unions and Asian Regional Labour Networks: A Histori cal Perspective. Capstrans, Australia 2000, hal. 1-15. 70 Solidaritas Serikat Buruh Kereta-Api untuk pemogokan buruh-buruh BAT pada 1951 adalah warisan dari gejolak pada masa revolusi, buruh kereta-api perlu menyokong sektor buruh lain yang berupaya mengambil alih perusahaan asing. Sebaliknya, Persatoean Buruh Kereta-Api (PBKA) tidak setuju buruh-buruh rokok

20

SBKA dan Ka mpung Manggarai ta hun 1950-a n hingga 1960-an Pada bagian artik el ini, say a membahas hubungan k omunitas buruh Manggarai dengan Serik at Buruh Kereta- Api (SBKA). Relasi ini perlu diulas untuk memperlihatk an dinamik a kehidupan buruh Manggarai. Selain itu perlu memperoleh gambaran apak ah komunitas buruh Manggarai dalam menuntut k eperluan dan hak mereka terhadap perusahaan mendapatk an dukungan dari SBKA ? Pada tahun 1951, k ampong Manggarai mulai k embali dihuni oleh buruh-buruh k ereta-api, setelah pertempuran dan perundingan dengan Belanda selesai. Sebelumnya sebagian penghuni Manggarai k eluar dari Jak arta k e wilay ah pedalaman Jawa atau ke k antong-k antong Republik . Para pendatang yang menghuni k ampung Manggarai berasal dari berbagai daerah. Para pendatang Purworejo (Jawa Tengah) menempati jalan Gelatik , sedangk an pendatang dari Lampung menghuni tempat di belak ang Bengk el kereta-api. Hampir seluruh penghuni k ampung Manggarai bek erja di perusahaan k ereta-api, baik di bengk el, depo, dan gudang persediaan mak anan. Tahun- tahun 1950an penghuni k ampung Manggarai sek itar 2500 orang.71 Penduduk mengidentifik asik an diri sebagai k elompok -k elompok rumah y ang berada di beberapa gang. Di tiap-tiap gang, para tetanggga mengenal satu sama lain, baik asal-usul, maupun pek erjaanny a. Situasi k ampung Manggarai pada masa 1950-1960 diceritak an oleh ibu Dasmi bek as pek erja bagian admin istrasi k eluar masukny a barang di bengk el k ereta-api: “Kami setiap hari bertemu dengan teman-teman baik di bengkel, pasar dan tempat pembagian mak anan. Perkampungan Manggarai ini sebetulny a mulai dihuni wak tu zaman Belanda, mungk in sek itar tahun 20-an. Semua rumah-rumah buruh Manggarai menghadap k e persimpangan dan jalan y ang sama.Jadi tidak ada batas y ang ny ata y angmemisahk an rumah y ang satu dengan y ang lainny a. Dan k etik a say a masuk k e sini tahun 40-an, perumahan di sini sudah sama bentuk ny a. Saya mulai bek erja di Bengk el tahun 50-an, setelah tamat dari sek olah rak yat dan menerusk an sek olah tek nik diesel Manggarai dan setelah tamat bek erja di Bengk el.72 Terny ata pada masa 1950 k e atas sejumlah perempuan juga bek erja di Bengk el. Sekitar 30 hingga 40 perempuan bekerja di Bengk el dibagian rancangan interior k ereta-api dan mencetak baut-baut k ereta-api. Sementara itu wilay ah Manggarai terpisah menjadi dua bagian besar. Pertama, perumahan pejabat-pejabat kereta-api (sek arang Bukit Duri). Kedua, k omplek s gudang, bengk el, depo k ereta-api dan perumahan y ang pada tahun 1950-an terdiri dari bedeng-bedeng. Perumahan bedeng berjumlah sek itar 250 blok , setiap blok dihuni oleh 75 keluarga. Penghuni bedeng bekerja di bengk el k ereta-api, depo atau gudang di Manggarai. Wilay ah bedeng Manggarai secara topograhi, sebenarny a tidak lay ak dihuni oleh buruh-buruh y ang tinggal di k ota. Hal ini disebabkan dataran tersebut sangat rendah, seringk ali mengalami banjir, terutama pada musim hujan, sungai Ciliwung meluap, sehingga untuk menghindari banjir, merek a meninggik an tempat merek a tinggal dengan puing-puing. Rahminta, seorang perempuan berumur 82 tahun dan pernah bek erja di bengkel tahun 50-an berbicara mengenai k eadaan Manggarai pada masa itu:

untuk mengambil alih perusahaan BAT, karena PBKA menunjuk pada hasil keputus an Konfrensi Meja Bundar tahun 1949 di Den Haag. Keputusan KMB ini tidak mendapatkan dukungan dari kaum buruh yang telah berjuang sel ama masa revolusi, terutama serikat buruh perkebunan dan s erikat buruh kereta-api. Wawancara dengan Moenadi 25 Februari 2004; wawancara dengan Suyitno 7 Februari 2004 dan wawancara dengan Tardjo 27 Februari 2004. 71 Wawancara dengan Ibu Dasmi 29 Agustus 2005; wawancara dengan Tardjo 23 Februari 2003 dan Statistik Penduduk Jakarta tahun 51 dan 53. Jakarta. Biro Pusat Statistik 1956, hal. 11. 72 Wawancara dengan Ibu Dasmi 29 Agustus 2005.

21

“Wak tu pertamak ali say a tinggal di Manggarai, k alau musim hujan rumah k ebanjiran di atas satu dengk ul. Say a k emari (Manggarai) turut dengan suami y ang bek erja di Bengk el k ereta-api. Tempat tinggal k ami disebut sebagai bedeng atau tempat buruh kereta-api. Buruh-buruh y ang tinggal dibedeng, tidak hany a y ang bek erja di bengk el, namun buruh y ang bek erja dibagian membersihk an k ereta-api, merawat gerbong dan juga para buruh angkut stasiun kereta-api. Untuk buruh angk ut stasiun kereta-api baru tinggal diblok bedeng setelah merek a tidak diperbolehkan tidur distasiun dan gerbong k ereta-api. Semenjak tahun 1953 atau 54, buruh-buruh angkut tidak diperbolehkan untuk tidur distasiun atau gerbong k ereta-api. Karena diseb abk an banyak y ang melak uk an k ejahatan, seperti mencuri melak ukan hubungan sek sual dengan pelacur di gerbong-gerbong kereta-api. Dan sejak tahun itu (1953) buruh-buruh angk ut ini menggunakan peneng (tanda pengenal), jadi ada penertiban bagi buruh angk ut y ang bek erja di stasiun. Selain itu tahun 1953 gerbong-gerbong k ereta-api dipindahkan k e stasiun Jatinegara, Gamb ir dan Kota.73 Para pendatang dari Jawa ke Manggarai selain bek erja sebagai buruh k ereta-api, sementar a perempuan bany ak y ang berdagang atau membuk a warung bagi buruh-buruh kereta-api. Ibu Daniah y ang berasal dari Kaliman tan Barat, Pontianak tiba di Manggarai tahun 1952. Ia bertemu dengan suami di Manggarai y ang bek erja sebagai buruh bengk el k ereta-api bagian interior. Suaminy a, bapak Soewarsono sebelumny a bekerja di bengk el k ereta-api Lampuy angan, Yogy ak arta. Pada tahun 1961 ia dipindahk an ke Manggarai. Ibu Daniah membuk a warung tepat di depan gudang untuk menampung hasil-hasil pertanian dari luar Jak arta. Para pelanggan warung adalah buruh-buruh angk ut. Untuk mengangkut satu k arung barang, buruh angk ut mendapatkan upah dua rupiah. B iasany a mereka dapat memperoleh hingga 100 rupiah bila dapat mengangk ut 50 k arung. Ibu Daniah membuka warungny a pagi hari dan tutup pukul 6 sore. Setiap hari biasany a warung Ibu Daniah dapat melay ani 40 orang per-hariny a. Buruh-buruh angk ut itu bany ak y ang berhutang k e ibu Daniah, dibay ar jik a merek a mendapatk an borongan.74 Pada ak hir 1953, buruh-buruh perempuan Manggarai berjumlah sek itar 50 orang dan bekerja di Bengk el melak uk an tuntutan untuk memperoleh hak cuti haid, k emudian mendapatk an cuti istirahat seandainy a terjadi salah seorang anggota k eluargany a mengalami sak it. Tuntutan terak hir adalah masalah istir ahat hamil selama tiga bulan. Tuntutan buruh bengk el perempuan mendapat sokongan dari anak cabang SBKA Manggarai. Buruh-buruh perempuan bengk el diwak ili oleh Koenmarjatin dan Sakijem, sedangk an dari pihak SBKA diwak ili oleh A di Pratikwo dan pimpinan Bengk el Djogosujoto. Pimpinan Bengk el melu lu sk an seluruh tuntutan ini dengan sy arat cabang SBKA Manggarai dapat memberik an jaminan bahwa tuntutan ini merupak an k ebutuhan para buruh perempuan Bengk el. Dalam memen angk an tuntutan ini ibu Marjatin y ang telah berumur 74 tahun 75 dan pernah bek erja di Bengk el selama 21 tahun serta ak tif dalam organisasi SBKA mengisahk an peristiwa tersebut sebagai berik ut: “Wak tu itu kami buruh bengkel rata-rata baru berumur 22 dan 24 tahun. Kami merasa k ebutuhan-k ebutuhan cuti haid, mengandung dan istrirahat untuk menjaga anak dan suami sangat diperlukan. Wak tu itu k ami bicara dengan pimpinan cabang SBKA Manggarai, perlu ada hubungan timbal-balik di lingkungan buruh bengk el terutama perempuan. Kalau mendapatk an haid k ami perlu libur, apalagi hamil, dan waktu itu bapak -bapak k ebanyak an bek erja dibagian trak si (stasiun kereta-api), depo dan juga di bengk el. Kita k aum pe-rempuan tidak mempuny ai wak tu untuk menjaga anak serta

73 74 75

Wawancara dengan Ibu Rahminah 28 Mei 2004. Wawancara dengan Ibu Daniyah 26 Mei 2004

22

mengurus diri sen-diri. Pihak SBKA membantu k ita untuk menuntut k epada pimpinan Bengk el”. 76 Kerjasama antara buruh perempuan bengk el dengan SBKA cabang Manggarai didasark an secara k husus pada pertalian ik atan yang diperk uat oleh ik atan k eluarga dan/atau asal- usul bersama. Nampak sek ilas di k ampung Manggarai terbentuk hubungan dan jaringan komunitas, namun sebenarny a SBKA cabang Manggarai mendukung tuntutan buruh bengk el perempuan lebih dikarenakan mempuny ai hubungan k eluarga, misalk an Ibu Marjatin merupak an istri dari k epala cabang SBKA Manggarai. Mulai awal tahun 1954, Manggarai tidak lagi memperbaik i gerbong-gerbong kereta api, Manggarai hany a meny impan dan memperbaik i lok omotif, bengkel besar y ang meny ediak an peralatan perbaikan lok omotif. Gerbong-gerbong kereta-api mulai disimpan di stasiun Gambir dan Kota, bila ada keberangk atan k e Yogyakarta, Semarang dan Surabay a mak a dari Manggarai mengirimk an lokomotif uap. Selain itu, Depo Manggarai juga meny impan lokomotif listrik y ang jangk auan operasiny a hany a sek itar Jakarta dan Bogor. Keadaan ini ditek ank an oleh Maryono bekas salah seorang pegawai k ereta-api di Manggarai: …Sebetulny a k alau sejak 1954 Manggarai itu stasiun dan bengk el Manggarai serta gudang persediaan logistik k ereta-api Manggarai. Di samping itu masih ada k antor bangunan itu yang disebut k antor k epala sek si, bangunan jalan dan rel dan k epala sek si bangunan. Kantor bangunan y ang mer awat bangunan perumahan, bedeng dan gedung-gedung jawatan k ereta-api di Manggarai, termasuk k antor ser ik at buruh. Dan k emudian terdapat pula depo Bukit Duri. Depo Bukit Duri itu melay ani dan memelihara kereta-api listrik , dulu disebut motor wagen. Sehingga daerah Manggarai dan Buk it Duri ini rumah-rumahny a berk elompok y ang sebetulny a untuk k eperluan k ereta-api tidak hany a untuk di Manggarai saja tetapi juga untuk seluruh k ereta-api di Jak arta.77 Buruh-buruh k ereta-api y ang tinggal di Manggarai tidak lah semata-mata bek erja di daerah ini, tetapi ada y ang bek erja di stasion Gambir, dan stasiun Kota. Kecuali buruh k ereta-api yang bekerja di stasiun Senen mendapatk an asrama di sana. Demik ian pula untuk Depo Jatinegara juga mempuny ai asrama sendiri.Terdapat perbedaan pek erjaan antara buruh depo Manggarai dengan buruh y ang bek erja di depo Jatinegara. Depo Manggarai melay ani perjalanan kereta-api Jak arta dan bogor. Sedangk an buruh bek erja di depo Jatinegara melay ani penumpang k eretaapi dan pengangk utan barang untuk rute Cirebon, Bandung dan Cik ampek.78 Sementara itu, buruh-buruh k omunitas Manggarai juga berusaha untuk mendesak k an kepada DKA untuk memperbaik i rumah mer ek a dan jalan diperk ampungan Manggarai. Tardjo bek as masinis dan anggota SBKA menuturk an k isahny a tentang upay a bagaimana cara DKA dan pemerintah memperbaik i rumah dan perk ampungan: “Menjelang pemilu 1955 bangunan k antor SBKA belum juga selesai. Say a dan beberapa teman di k ampung Manggarai bek erja di bengk el, depo dan stasiun memberik an sumbangan berupa uang. Wak tu itu terk umpul uang 26 rupiah untuk membelik an batu, semen dan k ay u untuk k antor SBKA. Kalau k antor SBKA bagus, k emungk inan besar perk ampungan dan rumah buruh di Manggarai juga ak an menjadi baik . Karena SBKA bisa menyuarak an masalah ini k epada Jawatan
76

Wawancara dengan Ibu Marj atin 25 Agustus 2005. Dari wawancara dengan ibu Marjatin diperol eh informasi bahwa buruh-buruh perem puan sebelumnya telah mendapatkan penyadaran tent ang hak-hak mereka. Sedangkan, buruh yang bukan anggota serikat buruh juga mendapatkan pendidikan. 77 Wawancara dengan Maryono 24 Febuari 2004. 78 Wawancara dengan Tardjo 25 Febuari 2004

23

Kereta-api di Bandung. Memang sek itar satu minggu k emudian seju mlah orang DKA dan perhubungan memperbaik i k ampung k ami dan bedeng-bedeng perumahan.”79 Lebih jauh pembatalan perundingan KMB menentukan statu s perubahan hukum DKA adalah para pejabat Persatuan Buruh Kereta- api. Merek a ingin mengubah DKA menjadi perusahaan agar modal asing dapat menguasai perusahaan k ereta-api dengan alasan dapat memajuk an Jawatan Kereta-api. Padahal Jawatan Kereta-api belum membutuhk an modal asing, k arena bahan bak ar seperti batu bara dan bahan bak ar disel didatangk an dari Lahat, Sumatra Selatan. Hanya gerbong dan lokomotif y ang impor dari Inggris dan India. DKA sebagai perusahaan negara dibawah k ementerian perhubungan pada saat itu menjalank an politik penghematan y ang berak ibat bany ak buruh k ereta-api mengalami pembek uan k enaik an pangk at. Keputusan ini dampak dari republik harus melunask an hutang k epada negeri Belanda, hasil dari k esepak atan pernjanjian Konfrensi Meja Bundar tahun 1949. Dalam situasi seperti ini banyak buruh k ereta-api mencari pek erjaan tambahan. Buruh-buruh bengk el Manggarai terbiasa membongk ar air conditioning dan k ereta listr ik , mak a untuk tamb ahan biay a hidup merek a menjual jasa untuk memasang instalasi listrik di daerah k ompleks perumahan Manggarai. Selain itu, merek a juga memproduksi k ompor untuk memasak y ang dipasark an di Cawang, dan transportasi untuk k e Cawang menggunakan getek dari sungai Ciliwung di Manggarai Utara dan berhenti di Cawang bawah. Ini berarti sungai Ciliwung masih dapat diandalk an untuk transportasi sungai. Selain itu, untuk membangun rumah bedeng baru, buruh-buruh bengk el tinggal memesan bambu dan k ayu dari Bogor dan itupun juga diangk ut oleh getek. Transportasi darat y ang dipergunak an oleh buruh urban Jakarta, termasuk buruh kereta-api Manggarai adalah tram listrik , ini transportasi untuk jarak dek at. Sedangkan transportasi jarak jauh adalah oplet. Tidak semua kampung-k ampung di Jak arta dapat ditempuh oleh tram. Jalur tram itu loncat-loncat sebagaimana diutarak an oleh Maun yang tinggal di Manggarai Utara, pada tahun 50-an Maun bek erja sebagai buruh depo di Manggarai: …jalurny a tram dari Kampung Melay u k e Gunung Sahari, k emudian k e Merdek a Selatan, lantas k e Tanah A bang, A bdoel Moeis lurus k e Harmoni terus sampai k e k ota dan Pasar Ik an. Sedangk an ongk os tram hingga tahun 1960 mencapai 10 rupiah sek ali jalan. Sedangkan untuk jalur jalan Sudirman tidak dilalui oleh Tram, ini dilalui oleh oplet. Pemberhentian dtram terutama digang-gang y ang dilalui oleh bany ak orang lewat, seperti Jatinegara, Salemba, Revoli dan Senen. 80 Jalur tram yang dipergunak an tidak ada perubahan sebagaimana pada zaman Belanda, terutama untuk jalau-jalur kantor pemerintahan dan pusat perdagangan. Sedangkan untuk Kebay oran masih sebuah kota baru y ang sedang dibangun. Sementara itu buruh-buruh Depo bek erja tidak tetap seperti membersihk an lok omotif k ereta-api sebagaimana diutarakan oleh Maun Saripin: …”Saya membersihk an lokomotif k ereta-api k e lobang api menglap bek as-bek as pembakaran batu bara. Begitu k eluar badan hitam semua hany a gigi saj a y ang putih. Wak tu itu say a baru berumur 19 tahun. Say a berangk at dari rumah, k emudian buk a baju masuk k edalam lubang lok omotif, k emudian mencuci,
79 80

Wawancara dengan Tardjo 27 Febuari 2004 Wawancara dengan Maun, 17 Juli 2004. Stasiun tram terbes ar di Jakarta adal ah stasiun Kram at yang berfungsi sebagai depo tram. Pada tahun 1950-an dan 60-an stasiun tram ini tempat berkumpulnya para copet. Informasi ini saya peroleh dari Pak Maun.

24

meny ik at lokomotif. Ya, setiap hari bek erjanya seperti itu, tidak ada k erja lain hany a mengelapin lok omotif kereta. Gaji say a masih mingguan, belum diangk at bulanan, jadi gaji say a per-hari dua rupiah duapuluh lima sen. Ini cuk up untuk say a sendiri, dan selain itu say a dapat mak an. Dulu pegawai k ereta-api mendapat mak an, y ak ni mak an siang saja. Berbeda dengan buruh bulanan k ereta-api, selain mendapat fasilitas perumahan, mereka juga mendapatkan upah mencapai 150 rupiah per-bulan. Tetapi Buruh tidak tetap k ereta-api tidak mempuny ai pendidik an tek nik, dan mer ek a seringk ali pindah tempat pekerjaan. Misalk an buruh k ereta api y ang bek erja sebagai pembersih lokomotif. Buruh tidak tetap juga berlak u pada buruh angk ut. Merek a menjadi calo tik et agar bisa memperoleh pendapatan tambahan.81 Calo tick et k ereta lebih menawarkan jasa k epada penumpang, k etimbang menjual tik et keretaapi lebih mahal. Tentuny a pek erjaan seb agai calo tik et perlu menjalin hubungan dengan pegawai stasiun y ang mengurus tik et penumpang. Merek a memperoleh keuntungan antara 2 hingga 3 rupiah dari mencatut tik et. Bek erja sebagai calo tik et sering dirazia oleh polisi. Bila tertangk ap, resik ony a merek a tidak diperkenank an untuk bek erja di stasiun lagi. 8 2 Buruh lepas tidak hany a ada pada organisasi buruh k ereta-api tertentu saja, namun terdapat pada seluruh serik at buruh, apakah itu SBKA yang berafiliasi dengan PKI, atau PBKA y ang berafiliasi dengan SOKSI dan juga KBKA yang bersek utu dengan PNI dan KBG y ang berafiliasi dengan Nahdulathul Ulama (NU). Ditambah pula para migran y ang berasal dari Kaliman tan Barat, Purwokerto, dan Kroy a pada pertengahan tahun 50 hingga 1960 bek erja di sek tor k ereta-api. Perek rutan tenaga k erja disertai pendidik an dan latihan untuk buruh rem, juru-api dan pembersih k ereta. Keadaan ini merupak an tanggung jawab DKA y ang harus mempuny ai anggaran bagi buruh k ereta api. Sebagaimana ditegask an oleh Singgih bek as salah seorang fungsionaris SBKA : …”formasi DKA hany a didasark an pada begroting (anggaran) 1953- 1956. A pa sebab formasi k ali ini didasark an pada so al adanya uang. Sebabnja jalah k arena dalam pemerintahan Wilopo, oleh Menteri Keuangan Dr. Soemitro Djojohadikusumo (PSI) direntjanak an penghematan. Pelak sanaan penghematan ini hendak didjalank an dengan membebank an k epada pundak k aum buruh. Sudah djelas formasi sek arang ini ditek an, k arena memang ada tek anan pada anggaran. Djadi djelas pula formasi sek arang ini adalah formasi jang hanya didasarkan pada adanja persediaan uang untuk pegawai jang dibatasi (dihemat).
83

Djawatan Kereta A pi (DKA ) melak ukan politik penghematan dengan perwujudan mengurangi dan memutu sk an status buruh tidak tetap merupak an dampak dari monopoli modal Belanda y ang cuk up penting dalam DKA . Dari tahun 1950 hingga 1956 DKA harus memberik an penggantian sewa tetap tiap tahun k epada sejumlah perusahaan k ereta api milik Belanda dengan jumlah F. 5.640.000. 84 Keuntungan ini ditransfer k e negeri Belanda. Dampak nya terhadap buruh-buruh Manggarai adalah bahwa status merek a tidak dipandang sebagai pegawai negeri yang berhak mendapatkan subsidi beras, tek stil untuk pak ain seragam—merek a sekarang dianggap sebagai buruh swasta tanpa mendapatk an tunjangan-tunjangan tersebut. Ditambah pula untuk pek erjaan di bengk el mulai diperkenalkan shift k erja dari pukul 6 pagi hingga 13.00 siang, lantas berlanjut
81

Fenomena tukang catut muncul zaman pendudukan Jepang. Hal ini disebabkan penumpang yang ingin berpegian naik kereta-api perlu mendapatkan surat keterangan berpegian dari Kumicho dan Azacho (R.K dan R.T). Semakin sukarnya memperoleh tiket kereta-api mencari yang mudah. Munculah profesi baru sebagai tukang catut dilingkungan stasiun kereta-api untuk mendapatkan karcis tanpa mengantri. Lihat Anonim. Partisipasi Perkereta-apian Dalam Perjuangan Kemerdekaan, hal. 4. 82 Wawancara dengan Maun Saripin 17 Juli 2004 83 Suara SBKA, No. 1 tahun VI Februari 1956, hal. 4 84 Suara SBKA 24 Juli 1956, hal. 8.

25

dari puk ul 13.00 hingga pukul 20.00 dan puk ul 20.00 hingga jam 5 pagi. Peraturan ini seb agai k onsekuensi untuk dapat membay ar uang sewa bengkel y ang statusny a sudah bukan milik republik lagi, tetapi milik swasta. 1965: Stasiun Terakhir ba gi Buruh Kereta-A pi Bagaimanak ah politik buruh k ereta-api pada tahun-tahun menj elang pergantian k ek uasaan dari Orde Lama ke Orde Baru?Dan sejauhmana dampak peristiwa G-30-September terhadap k ehidupan sosial dan politik buruh kereta api? Pertany aan-pertany aan ini ak an dicoba dicari jawabanny a dalam bagian ini. Jawaban y ang ak an say a papark an paling tidak ak an nampak dari perjuangan sek tor buruh urban y ang diwak ili oleh buruh k ereta api Manggarai. Selanjutny a, apa dampak dari peristiwa G-30-S terhadap k ehidupan sek tor urban, terutama dalam mendapatkan ak ses transportasi umum bagi menerusk an kehidupan ek onomi dan sosial? Sepanjang tahun 60-an hingga 65 merupak an perjuangan y ang berat bagi buruh k ereta-api. Hal ini disebabk an k arena politik pemerintah seperti pemutusan hubungan diplomatik dengan Belanda, disertai pula dengan situasi ek onomi perusahaan-perusahaan negara mulai dik endalik an oleh militer berak ibat pada merosotny a nilai tuk ar mata uang rupiah. Pemutusan hubungan diplomatik dengan Belanda adalah dampak dari pembatalan perjanjian Konfrensi Meja Bundar (KMB). Bany ak modal asing dan modal dalam negeri y ang melarik an diri, khusus di bidang usaha transportasi k ereta-api. Pengambil-alihan usaha ini pertamak ali dilak ukan oleh buruh-buruh k ereta-api di Madura SM, Malang SM, Kediri SM, Modjokerto SM, Kediri SM, Pasuruan SM dan Probolinggo SM. Sedangkan Nederlands Indies Spoorweg Maatschappij (NIS), Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS), Semarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), Oost Jav a Stoomtram Maatschappij (OJS) dan Seray u Dal Stoomtram Maatschappij (SDS) diambil alih oleh militer. “Dev aluasi resmi ini dilak uk an lewat apa y ang dinamak an perangsang rupiah bagi k aum ek sportir dan pungutan HPN (Hasil Perdagangan Negara) atas barang-barang import sebany ak Rp. 270,- untuk setiap AS $, sehingga kurs resmi dan legal rupiah terhadap A S $ menjadi sama dengan Rp. 270,- + Rp. 45,- = Rp. 315,-. Dev aluasi de fak to dilak ukan lewat HPN tambahan sebany ak Rp. 225,- untuk barang-barang golongan II dan Rp. 495,- untuk barangbarang golongan III, dan lewat beamasuk sebany ak 50% dan 100% bagi masing-masing golongan. Kebijak an pemerintah ini melambungk an harga k ebutuhan pok ok , terutama beras. Berkaitan dengan merosotny a nilai rupiah Djawatan Kereta-A pi tidak memberik an lagi jatah beras bagi buruh dan pegawai serta juga tidak lagi memb erik an pak aian seragam. Pada pihak lain nilai rill upah semak in merosot, sedangkan untuk hidup seorang buruh dan pegawai di Jak arta tahun 1960 membutuhkan penghasilan Rp. 584,61,-.85 Ju mlah ini dikurangi 20% untuk pajak , dan upah bersih y ang diterima oleh buruh k ereta-api hany a sek itar Rp. 300,-. Buruh k ereta-api untuk mengatasi k ehidupan ek onomi yang sulit bek erja samp ingan dengan memproduk si kompor masak dan dipasarkan di sek itar Cawang.86 Kompor itu diproduk si dengan meminjam peralatan dari bengk el k ereta-api. Kesulitan ekonomi buruh k ereta-api berak ibat pula pada iuran serik at buruh, hampir sek itar 47 persen iuran dari anggota SBKA merosot.87 Pada 26 Februari buruh k ereta-api melancark an pemogok an dengan tuntutan k enaik an upah, jatah beras dan baju seragam. 8 8 Setelah merek a melak uk an pemogok an selama 6 jam bekerja k embali memperbaik i lok omotif dan membersihk an wagon-wagon. Kemudian merek a tidak mengoperasik an k ereta-api, merek a hany a duduk dan di stasiun dan Bengk el. Cara dilak uk an
85 86

Harian Rakjat 9 Agustus 1960. Produksi kompor buruh kereta-api Manggarai ini, kemudian menjadi terkenal dengan sebut an kompor Cawang. Informasi ini diperoleh dari wawancara dengan Tardjo 25 Febuari 2004 87 Harian Rakjat 25 Februari 1961. 88 Harian Rakjat28 Februari 1961

26

oleh buruh-buruh memp erlambat proses kerja. Sebagaiman a dituturk an oleh Tardjo, seorang masiinis dan bek as anggota SBKA: …”k ebany ak an bahan bak ar, batubara berasal dari Sumatera, lantas ada hambatan dari Sumatra itu. A da hambatan artiny a untuk supay a perjalanan pengiriman bahan bak ar agak tersendat-sendat. Kami bisa mengatak an bahan bakar belum datang dari Sumatra.89 Hal ini memperlihatk an buruh-buruh k ereta-api mempuny ai cara tersendiri agar mendapatk an perhatian dari Djawatan Kereta- api untuk mendapatkan k enaik an upah dan perbaik an k ondisi k erja. Pada awal tahun 1962 buruh-buruh k ereta-api di Manggarai menuntut k embali k enaik an upah dan permintaan untuk mendapatk an seragam sebagai diungk apan oleh Tardjo. …upah k ami y ang sebelumny a Rp 561 sen mendapatk an k enaik k an dari Jawatan Kereta-A pi sebany ak 20 persen. Selain itu k ami juga menuntut mendapatk an seragam. Sebelumny a dik ereta-api tidak mendapatk an seragam, k emudian k aum buruh memperjuangk an. Itu sebenarny a bertentangan pada wak tu itu, oleh k arena pada wak tu itu sudah perusahaan negara jadi bertentangan y ang dilain pihak sudah berseragam, sementara y ang dari buruh-buruh tetap menuntut. Ak hinya dik abulk an juga tuh seragam. Ini seragam untuk semua golongan, tetapi y ang dik antor nggak , karena mereka sudah puny a. Ini y ang mendapatk an seragam dari pegawai line, pegawai stasiun dan para masin is, kondektur itu dapat semua. Kalau y ang diperk antoranny a tidak dapat. Tanpa seragam, y a k ita setiap tahun harus membeli pak aian, tetapi k alau itu setahun mendapatk an dua k ali. Wak tu itu cuma dapatny a pak aian saja, sepatu belum. Kemudian diperjuangk an lagi, dapat sep atu. Ini berlangsung akhir tahun 1964, menjelang 1965. 90 Buruh-buruh k ereta-api mengatasi k ehidupan ek onomi y ang tidak menentu, juga bek erjasama dengan pedagang k ecil atau ndoro bakulan. Artinya buruh sangat memperhatik an jalur k ereta-api mana yang perlu diperluas atau dibuk a untuk memudahk an para pedagang k ecil mendapatk an k emudahan transportasi k ereta-api. Selain itu, k enaik an harga tik et k ereta-api dik ontrol oleh buruh k ereta-api. A k ibatny a pihak Jawatan Kereta-A pi tidak bisa menaik k an harga tik et tanpa membicarak anny a dengan buruh k ereta-api. …Pada tahun 1963 dibicarak an masalah k esejahteraan buruh y ang pertama di k antor pusat SBKA Manggarai y ak ni mana ada disk riminasi diantara k aum buruh termasuk tukang gosok , ter masuk amb asmant (juru langsir), bay arannya kurang memadai. Terus masalah hubungan antara protok ol k ereta-api supay a dihidupkan lagi seperti zaman kolonial Belanda. Jombang-Bulu diak tifk an terus Kudus-Rembang diak tifk an, Waleri-Semarang diak tifkan. Nah itu untuk transportasi bakul-bak ul (pedagang kecil). Dan ini disetujui oleh Jawatan Keretaapi dan memang terus maju dan baik . Nah ini k erjany a orang-orang buruh k ereta-api. Selain itu, buruh k ereta-api mempuny ai hak untuk mengawasi pemasuk an Jawatan k ereta-api dan juga menaik k an tik et k ereta-api. Setiap k ali DKA akan menaik kan tik et k ereta-api, buruh-buruh k ereta-api perlu berbicara dulu dengan bak ul-bakul (pedagang k ecil) apak ah merek a setuju, kemahalan atau tidak . Kalau bak ul-bak ul, tidak setuju buru-buruh k ereta-api juga tidak setuju. Sebab, bak ul-bak ul ini kan juga buruh, menjual tenaga. Dan juga dari merek a, Jawatan sudah mendapatk an k euntungan. Waktu itu, harga tik et Kudus89 90

Wawancara dengan Tardjo 25 Februari 2004 Wawancara dengan Tardjo 25 Februari 2004

27

Rembang tiga rupiah setiap hari mengangkut 600 orang. Jadi tidak ada alasan untuk menaik k an tik et k ereta-api. 91 Ini memperlihatk an hubungan y ang demok ratis antara buruh dengan pedagang k ecil dan perusahaan. Keadaan in i didukung tidak adany a Dewan Perusahaan di DKA , sehingga k ontrol buruh tidak diwak ili oleh indiv idu, tetap i dikontrol secara k olek tif. Dan hampir bisa dik atak an merek a juga mendapatk an duk ungan dari pedagang-pedagang k ecil, sebab selalu melay ani merek a mesk ipun melak uk an pemogokan. A rtiny a setelah menuntut apa y ang merek a tuntut, buruh k ereta-api k embali bek erja seperti biasany a. Dan k ami bek erja selama tujuh jam k erja, ini berlak u sejak tahun 1957 hingga tahun 1965: …Tuntutan buruh k ereta-api tidak boleh mengandalk an pada rasialisme. Produk si k ereta-api harus diamankan. Jadi wak tu mogok itu k eretaapi dijaga oleh buruh, uapny a tetap diny alak an, terus bengkelnya dijaga tidak bisa diterobos oleh orang lain. A man, k ita samb il dialog dengan perusahaan dan Jawatan. Tidak dead lock dan di acc y a sudah bekerja lagi. Jadi pada wak tu itu tuntutan buuruh tujuh jam kerja dipatuhi oleh Jawatan.92 Penuturan Suyitno memperlihatk an pengalaman pergerak an buruh k ereta-api dalam disiplin terhadap pek erjaan. Terdapat semangat bahwa tujuh jam k erja benar-benar harus dipergunak an untuk melakuk an produk si. Penjelasan Suy itno juga memberik an gambaran bahwa buruh k eretaapi merupakan perlambang modernitas dari k esadaran buruh. Merupak an hal y ang musk il bagi buruh k ereta-api tanpa melak uk an mobilitas dari satu tempat k e tempat lain, perlu ada pergerak an untuk mencapai k emajuan. Sepanjang perjalan dan berhenti di stasiun, buruh-buruh k ereta-api berdiskusi mengenai situasi upah merek a yang pada tahun 60- an terus melorot dan merek a mencari jalan bagaimana meningk atk an upah. Selain itu mereka juga mendiskusik an untuk mencabut k embali larangan mogok y ang dilancark an pada tahun 1959, k arena negara dalam k eadaan darurat. Buruh-buruh k ereta-api ini berdisk usi di stasiun-stasiun apak ah masih perlu larangan mogok dipertahank an padahal negera tidak dalam k eadaan SOB atau dalam bahasa buruh k ereta api “pemerintah telah membikin iklim SOB tanpa SOB.”93 Penegasan merupak an ek spresi k esadaran politik bahwa SOB itu hanyalah melucuti hak -hak buruh untuk beroganisasi dan tentuny a hak larangan mogok tidak mempuny ai kaitan dengan menaik k an produk si. L arangan mogok ini hingga masa orde baru terus dipertahankan dengan alasan untuk menjaga k etentraman dan keamanan. Esk alasi politik dari tahun 1964 hingga 1965 semak in meningk at. Hampir seluruh organisasi massa, termasuk Serik at Buruh Kereta-A pi dimobilisasi untuk kepentingan Partai Komunis Indonesia. SBKA yang lahir tanpa mempuny ai kaitanny a dengan partai dipak sa untuk bergabung dan terlibat dalam politik negara terutama dalam k onfrontasi dengan Malay sia. Pada ak hir tahun 1964 pimpinan-pimpinan SBKA mendesak untuk mengambil-alih Perusahaan Negara Kereta-api y ang sebelum bernama Djawatan Kereta-api. Alasan mereka untuk mengambil alih PNKA k arena bany ak orang-orang PBKA dan SOKSI y ang duduk di PNKA dan tidak lagi berpihak pada k epentingan-k epentingan buruh. Lebih lanjut SBKA berkeinginan untuk memasuk kan para pimpinanny a k edalam PNKA, karena SBKA mengorganisasi buruh paling bany ak . Sebagaimana diumumk an Harian Rakjat 26 September 1964: Delegasi PP SBKA k emarin menemuai Oei TjoeTat S.H.—Menteri Negara diperbantuk an pada presidium k abinet. Kedatangan delegasi SBKA menjelask an PNKA sudah sangat parah dan apabila tidak dilak uk an approach jang tepat dalam
91 92

Wawancara dengan Suyitno 6 Februari 2004 Wawancara dengan Suyitno 93 Harian Rakjat 8 Juli 1963

28

wak tu yang relatif pendek dapat membawa PNKA ke k ebangk rutan total dan ak an merupakan bentjana bagi ek onomi nasional. 94 Ini merupak an ek speresi dan perwujudan situasi y ang tidak menentu. Mesk ipun hubungan antara Serik at Buruh Kereta-api seperti KNMU-NU, KBKA , PBKA dan SBKA tetap terjaga, namun k etegangan-k etegangan mulai dirasak an. Hampir seluruh stasiun, bengkel dan depo k ereta-api dikuasai oleh SBKA. Salah seseorang bekas anggota pegawai PNKA bercerita mengenai k etegangan-k etegangan y ang tidak masuk ak al dik alangan serik at-serik at buruh menjelang gerak an tiga puluh September: …Untuk bagian stasiun-stasiun dan tracksy dan line dipegang oleh SBKA , sedangkan untuk bagian administrasi dan perk antoran y ang memegang adalah orang-orang KBKA dan PBKA . Ini menjadi terpecah-pecah yang tadiny a menjadi satu. Tadiny a kontrol selalu ada pada bagian lalulin tas, lalu k emudian tidak masing-masing mempuny ai k ontrol sendiri. Jadi tid ak terlihat sebagai kesatu an operasi. 95 Bagi tentara Suharto ini menjadi sesuatu hal y ang aneh dan sek aligus mengacauk an organisasi k ereta-api. Pembagian-pembagian wilay ah seperti ini pada tahun-tahun menjelang 1965 menjadi sesu atu y ang lumrah, k arena SBKA harus mendukung politik nasional Soek arno, y akni k onfrontasi terhadap Malay sia. Bagi orang-orang SBKA sendiri y ang mempuny ai tradisi menjaga dan merawat kereta-api bagi perjuangan revolusi y ang belum selesai. Pada tahun-tahun ini mer ek a menjaga k ereta-api dan jalan k ereta-api agar tidak disabotage oleh pihak musuh. Namun politik nasional Soek arno y ang mendapatkan duk ungan penuh dari Partai Komunis Indonesia, mulai meny eret orang-orang SBKA k edalam situasi yang tidak menentu dan sebenarny a juga tidak dimengerti oleh para angggota buruh SBKA . Sedangk an hubungan dengan KBKA , PBKA dan lain sebagai sebetulny a juga ik ut dalam politik nasional Soek arno, sebagaimana diutarak an oleh Suy itno: …Hubungan kita dengan KBKA dan PBKA , k ita adalah dalam satu front untuk mengganjang Malay sia. Lebih lanjut, k ita juga bekerjasama dengan KBKA dan PBKA dalam menuntut dicabutnya Reglement no. 26 y ang tidak mengutungk an buruh, itu peninggalan k olonial Belanda dan k ita rubah dengan reglement y ang baru, itu hasil dari gerakan-gerakan buruh k ereta-api y ang didukung dan diperjuangk an oleh SBKA sebagai mayoritasny a. Itu ny ata berhasil. Tetapi k ita tidak mengeny am y ang mengeny am adalah KBKA dan PBKA , karena ini diterapkan pada tahun 1968 setelah SBKA dihancurk an. 96 Narasi yang diungk apkan oleh Suy itno memperlihatk an bahwa sebetulny a tidak ada masalah antara SBKA dengan serik at buruh k ereta-api lainny a dalam hal melak ukan tuntutan ek onomi. Tetapi ketegangan politik memang terjadi, misalny a, semak in ser ing tentara mempergunak an PBKA seb agai k endaraan politik merek a. Keadaan ini y ang tidak disadari oleh SBKA . Pada 28 September 1965 buruh-buruh k ereta-api berkumpul di Lapangan Banteng dalam rangk a meray akan hari k ereta-api. Suy itno y ang hadir dalam hari peringatan itu tidak merasak an ada situasi y ang janggal: …”buruh k ereta-api kebetulan di sana tidak mengerti. Kalau mengerti tidak mau mengunjungi hari kereta-api tanggal 28 September k alau mau berontak PKI.
94 95

Harian Rakjat 28 September 1964 Wawancara dengan Suharto 8 Maret 2004. 96 Wawancara dengan Suyitno 7 Febuari 2004

29

RPKA D tidak mungk in samp ai k e Jawa Tengah, k arena apa mesti disabot oleh buruh k ereta-api k alau k ita dapat komando. Kita tidak ada apa-apa k omando. Pada hal k ereta-api dik uasai oleh serik at buruh k ereta-api , SBKA . Kita sabot tank -tank masuk , lho itu yang menarik teman say a, kita bisa saj a memb eri informasi putus dijalan, pasti putus tok h”. A pa y ang diceritak an oleh Suy itno mempuny ai mak na bahwa bany ak buruh-buruh k ereta api y ang tidak mengetahui ak an terjadiny a peristiwa G-30- S. Buruh k ereta-api tidak diberik an informasi apapun. Kemudian 6 Ok tober merek a mulai mengangk ut RPKAD ke Jawa Tengah, mulai terjadi operasi penangk apan terhadap anggota-anggota SBKA melalui operasi sapu lidi. A rtiny a adalah operasi pembersihan terhadap penguasaan k ereta-api oleh SBKA. Hampir sek itar 80.000 anggota SBKA y ang ditangk ap pada bulan Ok tober hingga Nov ember. Di Manggarai, penangk apan-penangk apan buruh k ereta-api terjadi pada bulan y ang sama. Mereka dikumpulk an oleh tim screening dari Komando Ketertiban dan Keamanan (Kopk amtib) di dua tempat. Tempat pertama adalah Bengk el Manggarai dan tempat llainny a k antor pusat SBKA y ang terletak di Manggarai. Tim screening ini terdiri dari pejabat PNKA , wak il dari organisasi buruh dalam hal ini PBKA , wak il dari A BRI dan Kejak saan. Hampir seluruh anggota cabang SBKA Manggarai diny atak an terlibat gerakan tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada pertengahan bulan Ok tober 1965 manajemen perusahaan k ereta-api mengalami perubahan drastis. Perubahan ini membentuk k epahlawanan militer dalam menghancurk an gerak an buruh. Rezim Orde Baru melak ukan pergantian dijajaran pimpinan k ereta-api. Direk tur Perusahaan Negara Kereta-Api (PNKA) yang sebelu mny a dijabat oleh sipil menjadi diduduk i militer. Perombak an perusahaan k ereta-api juga berlaku pada jajaran jabatan dibawah direktur. Contohny a, k epala pengendali dan pengawas ek sploitasi seluruh Jawa dipegang oleh militer. Demik ian pula, kepala stasiun besar Kota, Gambir, Manggarai dan Senen juga dimutasi oleh pejabat militer. Kondisi semacam ini memperlihatk an bahwa pada masa Orde Baru k etertiban dan k eamanan untuk perusahaan v ital adalah mutlak bagi k edisiplinan dan mulainy a era militer modern. Penangk apan buruh k ereta-api sebagai anggota SBKA mengak ibatk an lumpuhny a transportasi k ereta-api untuk beberapa minggu bulan Ok tober-Nov ember 1965. Kereta-api tidak berjalan karena tidak ada masinis, stok er (juru-api) dan tukang rem. Propaganda tentara berhasil untuk mengahancurkan buruh, sehingga orang-orang y ang masih bek erja di perusahaan k ereta-api mengalami k esulitan untuk memfungsik an k embali k ereta-api. Suharto bekas pejabat PNKA menuturk an “hampir dua bulan lebih k ami harus berk eliling Jawa untuk membebask an atau menselek si buruh-buruh k ereta-api dari penjara-penjara di Jawa. Demik ian pula buruh-buruh k ereta-api Manggarai, k ebanyak an dari mer ek a dimasuk k an ke penjara Tangerang dan sebagian dari merek a harus dilepask an dengan alasan sedik it orang untuk mengoperasik an k ereta-api dan mengendalik an trak si ek sploitasi barat.97 Berdasarkan penuturan pejabat PNKA bahwa untuk menselek si mana y ang tidak terlibat komunis merupak an hal terberat dan mengerik an y ang pernah say a lak uk an: …Pada masa G-30-S itu y ang paling berat sek ali dan ituk an gini k ereta-api harus jalan pegawai bany ak yang ditangkapi, k an belu m tentu seluruh buruh k ereta-api masuk dalam G-30-S dan kalau merek a tetap ditahan, jadi k ereta-apinya tidak jalan. Lalu say a mesti datangi, dan tau k alau say a yang datangi pasti ada y ang dikeluarkan, say a dik irany a sebagai penduk ung komunis. Oleh k arena itu, say a k emudian minta dikawal oleh militer. Say a mendatangi penjara di Kroy a dan Cilacap sebagai basis dari SBKA dan mungk in hampir pada 500 orang dapat say a lepas. Setelah itu say a juga ditunjuk untuk mendatangi penjara Tangerang dan
97

Wawancara dengan Suharto 8 Maret 2004.

30

berhasil melepask an 120 orang SBKA Manggarai. A khirnya tindak an ini dihentik an oleh tentara. Karena tentara sudah menuduh seluruh buruh adalah PKI. Dan say a, k atakan siapa yang menjalank an kereta-api? Lalu say a dihadapk an pada pimpinan tentara di Kroy a (say a lupa namany a). Ia k atak an sudah tutup saja jalan-jalan k ereta-api y ang tidak penting.98 Ak ibatny a banyak jalur kereta-api y ang ditutup dan itu berlangsung hingga sek arang. Misalk an jalur kereta-api Purworejo-Jogyak arta diputus, k emudian jalur k ereta-api k udus-Rembang juga sudah tidak berfungsi. Paling tidak ada 50 jalur k ereta-api yang cuk up penting dan produk tif untuk menghubungkan daerah satu dengan y ang lain sudah tidak berfungsi lagi. Propaganda militer telah menuduh k omunis terhadap buruh-buruh k ereta-api tanpa bukti bahkan pengadilan. Semenjak itu, wilay ah-wilay ah terpencil y ang dillalui oleh k ereta-api di Jawa seperti Purworejo, Wonosari dan sebagainy a buk an hanya semak in terpencil tapi menjadi daerah minus dan tidak memproduk si apapun. Stasiun Manggarai juga mempuny ai dampak dengan ditutupny a jalur-jalur k ereta-api, mak a k ontrol lalulintas k ereta-api juga semak in sedik it. Selain itu, gudang Manggarai juga tidak lagi berfungsi seb agai tempat distribusi bahan-bahan pok ok mak anan, hal ini disebabkan beberapa daerah juga ditutup dari jalur kereta-api. Penutup Komunitas buruh Manggarai dalam mengatasi resesi ek onomi tahun 1930- an membangunan fond-fond bagi membantu buruh-buruh y ang k ehilangan pekerjaan dan pengurangan upah. Bisa dikatak an, mereka hany a mengandalkan k erjasama sosial dik alangan buruh k ereta-api. Kemudian pada masa penduduk an Jepang, perlawanan-perlawanan spontanitas atau sabotase y ang dilak uk an oleh buruh k ereta api dan perlawanan itu berlangsung pada ak hir k ekuasaan penduduk an Jepang. Selanjutny a, pada awal rev olusi, pemuda dari berbagai pelosok wilay ah Jawa membentuk badanbadan perjuangan di sek itar Jak arta y ang menjadi cik al-bak al serik at buruh. Munculny a radik alisme pemuda menjadi ujung tombak perjuangan serik at buruh k ereta-api, tidak terlepas dari persiapan teknik mesin dan pendidikan militer Jepang. Pemuda k ereta-api Manggarai dengan diam-diam membangun jaringan dengan sek tor perjuangan buruh seperti Barisan Buruh Indonesia (BBI) y ang k emudian menjadi SOBSI lok al Jak arta. Dalam perk embangan selanjutny a pemuda buruh k ereta-api (A MKA ) y ang melebur bersama SBKA memberik an sumbangan penggerak untuk revolusi Indonesia. Merek a bergerak dengan memindahk an mesin lokomotif dan cetakan batu bara (brik et) dari Manggarai k e Poerwokerto. Selain itu merek a membantu para pengungsi Jak arta dan Jawa Barat menuju pedalaman Jawa pada clash pertama dengan Belanda. Merek a membangun pondok -pondok dan bedeng-bedeng sementara disek itar stasiun Lempuy angan dan Tugu di Jogy ak arta. Pada periode 1950-an, Serikat Buruh Kereta-A pi cabang Manggarai membantu dan menyokong tuntutan buruh perempuan y ang bek erja di Bengk el Manggarai untuk mendapatk an hak reproduk si sep er ti cuti haid dan melahirk an. Nampakny a buruh-buruh perempuan yang bek erja di administr asi bengk el dan interior k ereta-api telah mendapatk an pendidikan peny adaran tentang hak-hak perempuan. Periode k emerosotan ek onomi tahun 57 hingga tahun 60-an sebagai ak ibat nasionalisasi perusahaan k ereta-api dan diik uti pemecatan serta penurunan status buruh dari tetap menjadi tidak tetap. Buruh kereta api Manggarai mengembangk an pekerjaan lain, dengan memproduk si k ompor untuk kebutuhan rumah tangga. Produksi k ompor in i k emudian dipasark an di beberapa
98

Wawancara dengan Suharto 8 Maret 2004

31

tempat di Jak arta, dan produksi k ompor ini mendapatkan tempat permanen di Cawang, y ang sampai dewasa in i terk enal dengan mer ek k ompor Cawang. Memasuk i periode 1960an buruh k ereta-api Manggarai tetap melancark an tuntutan untuk mendapatkan jatah beras, seragam, upah yang sederajat bagi buruh tidak tetap seperti juru api, tukang rem, tuk ang langsir, k ondek tur dan buruh angk ut stasiun. Jenis pek erjaan buruh k eretaapi ini menj adi posisi penting. Tanpa merek a k ereta-api tidak berjalan. Perjuangan merek a tidak sepenuhny a berhasil, hany a jatah beras dan pak ain seragam y ang dipenuhi oleh perusahaan. Sedangk an peningkatan upah y ang sederajat bagi buruh tetap tidak dipenuhi. Periode Orde Baru, buruh-buruh Manggarai digantik an oleh Persatuan Buruh Kereta-A pi (PBKA) sebagai satu-satuny a organisasi k ereta-api y ang diak ui oleh rezim Orde Baru setelah penumpasan gerak an. Hasilny a Manggarai sebagai pengawas trak si (lalu lintas) ek sploitasi Barat menjadi terganggu, karena kek urangan tenaga berpengalaman. A khirnya sek itar 125 buruh k ereta api bekas anggota SBKA cabang Manggarai dilepask an untuk membantu mengendalik an trak si ek sploitasi Barat. Tidak lama k emudian, mereka terk ena pensiun dini tahun 1973 setelah berhasil men suk sesk an pemilu 1971. Kehidupan bek as buruh-buruh kereta-api Manggarai sek arang sangat tidak menentu beberapa orang y ang masih tinggal di Manggarai hidup tanpa penghasilan dan tanpa menerima pensiun. Sebagian lainny a, tinggal di daerah pinggiran Jak arta sep er ti Citay em, dan Parung (Jawa Barat), juga tanpa penghasilan tetap. Sebuah cerita ironis merek a y ang menggerakk an kereta-api sebagai kendaraan untuk meny iarkan terbentuk ny a sebuah republik baru, dan 22 tahun k emudian tidak ada sisa k ebanggaan terhadap apa yang telah dibangun dan dibentuk oleh buruh k ereta api Manggarai.***

32

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful