You are on page 1of 19

LAPORAN KASUS STASE PENYAKIT DALAM

TETANUS
Seseorang laki-laki Umur 54th Dengan Trismus dan Luka Tertusuk Paku Telapak
Kaki Kiri

Disusun Oleh :
Aditya Rahman
10711135

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2014

sekarang beraktivitas tidak bisa dikarenakan kaku pada bagian tubuh pasien.BAB I DATA PASIEN 1. Riwayat Penyakit Dahulu - Riwayat Dm disangkal - Riwayat Hipertensi Disangkal - Riwayat Alergi Obat Disangkal .1 Identitas Pasien Nama : Bp.kemudian semakin lama semakin kaku di bagian tubuh lain seperti pinggang dan otot leher belakang.kemudian pasien juga mengeluhkan sebelum sakit panas dan kaku dimulut pasien mengatakan bahwa kaki sebelah kiri bagian telapak bekas tertusuk paku sehabis bekerja.luka tampak bekas tusukan paku dan kotor.belum diberikan obat apapun sebelum masuk rumah sakit.2 Anamnesis Keluhan Kaku Utama: Mulut Riwayat Penyakit Sekarang Sebelum masuk rumah sakit pasien merasakan panas kemudian diikuti kaku pada bagian mulut.W Umur : 54 tahun Jenis Kelamin: Laki-laki Alamat: Kebumen Agama: Islam Pekerjaan : Petani 1.

- Pasien sering beraktifitas berat dalam bekerja.3 Pemeriksaan Fisik Diagnostik Keadaan Umum Kesadaran: Compos mentis - Pemeriksaan Tanda Vital Tekanan darah : 150/80 mmHg Nadi : 128 kali/menit.Riwayat Penyakit Keluarga Keluarga tidak memiliki riwayat tekanan darah tinggi dan kencing manis Riwayat Imunisasi Tidak Diketahui Lingkungan dan Kebiasaan - Pasien sering mengkonsumsi rokok sehari 5 batang - Pasien jarang berolah raga. Suhu : 36 derajat celcius. - Pemeriksaan kepala: Conjungtiva Anemis: -/- Edem palpebra : -/Mulut: Kekakuan Mengunyah . Pernafasan : 26 kali/menit. 1.

Palpasi : Nyeri tekan di kuadran kanan atas (-). permukaan rata tidak ada benjolan.tegas.kemerahan dan bengkak.nyeri tekan (-) Opistotonus (+) - Pemeriksaan Ekstremitas Edem dikedua tungkai. Palpasi : JVP (5+2cm H20) N= 5+2cm H20 Meningeal Sign : Terdapat Kekakuan Pada leher - Pemeriksaan Thorax: Inspeksi : Simetris pergerakan dinding dada. tidak ada ketinggalan gerak. undulasi (-). Auskutasi: Bunyi1 dan 2 irama reguler Perkusi :Sonor Palpasi : Fremitus (normal). perut terdapat asites (-) Auskultasi : Peristaltik 12 kali/menit. Perkusi : Timpani. ictus cordis kuat angkat.( Trismus ) - Pemeriksaan Leher: Inspeksi: tidak terlihat adanya massa.tepinya licin. pekak alih (-). (-) . hepatomegali (-) (batas hepar keras. ictus cordis terlihat. Pemeriksaan Abdomen: Inspeksi : Dinding perut sama dengan dinding dada.

4 Daftar Masalah Masalah Aktif : 1.protein total dan albumin)  Pemeriksaan faal Ginjal (ureum dan kreatinin)  Pemeriksaan Kultur Darah 1.Kaku Otot Perut Masalah Pasif : - 1.5 mg Paracetamol 3x 500 mg Diazepam 10 mg .7 Rencana Pemeriksaan Lanjutan  Pemeriksaan Darah rutin  Pemeriksaan Faal hati : SGOT.1.8 Rencana Terapi Diet lambung 1200 kkal Bed rest total Injeksi Metronidazole 3x 500mg Injeksi Tetagam 3000-6000 UI Injeksi Rantin 1amp/12 jam Injeksi Metilprednisolon 12. 2. SGPT.5 Diagnosis Banding Tetanus Meningitis Status Epilepticus Peritonitis 1.Hipertensi 3.Luka tusuk paku kaki kiri.

2. Pencegahan Luka harus segera dilakukan terutama pada luka tusuk. Pemberian ATS hanya efektif pada luka terbuka kurang dari 6 jam dan harus segera dilanjutkan imunisasi aktif. Kreatinin 1.1. luka kotor atau luka Yang diduga tercemar dengan spora tetanus 2.2 % SGOT : 40 u/l N: 0-50 u/l SGPT : 32 u/l N: 050 u/l. BAB II TINJAUAN PUSTAKA .9 Hasil Pemeriksaan Lanjutan Darah rutin : HGB 10 gr/dl Faal Ginjal : Ureum 34 mg/%.0 Pencegahan 1.

Behring dan Kitasato 1890 ).2. tanah kemudian anaerob yang dengan mengaktivasi derivat tersebut menghasilkan pencegahan dari tetanus. lmunisasi toksin seperti diisolasi dari strichnine. ( Nicalaier 1884. ia akan memasuki tubuh penderita tersebut. tertusuk ataupun luka bakar serta pada infeksi tali pusat (Tetanus Neonatorum ). Pada negara belum berkembang. Spora ini bisa tahan beberapa bulan bahkan beberapa tahun. lalu mengeluarkan toksin yang bernama tetanospasmin. Tetanus disebut juga dengan "Seven day Disease ". yang bakteri. 1 DEFINISI TETANUS Tetanus adalah suatu toksemia akut yang disebabkan oleh neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani ditandai dengan spasme otot yang periodik dan berat. tetanus ini dikenal dengan nama tetanus neonatorum .2 ETIOLOGI Tetanus disebabkan oleh bakteri gram positif. jika ia menginfeksi luka seseorang atau bersamaan dengan benda daging atau bakteri lain. tetanus sering dijumpai pada neonatus. dijumpai pada tinja binatang terutama kuda. Dan pada tahun 1890. Spora Clostridium tetani biasanya masuk kedalam tubuh melalui luka pada kulit oleh karena terpotong . diketemukan dikenal dengan mengandung tetanospasmin. juga bisa pada manusia dan juga pada tanah yang terkontaminasi dengan tinja binatang tersebut.Tetanus ini biasanya akut dan menimbulkan paralitik spastik yang disebabkan tetanospasmin. Tetanospamin merupakan neurotoksin yang diproduksi oleh Clostridium tetani. Cloastridium tetani Bakteri ini berspora. bakteri masuk melalui tali pusat sewaktu persalinan yang tidak baik. 2.

dengan cara : a. peninggian cathecholamine dalam urine.2. Kerja dari tetanospamin analog dengan strychninee. dimana ia mengintervensi fungsi dari arcus refleks yaitu dengan cara menekan neuron spinal dan menginhibisi terhadap batang otak. Stimuli terhadap afferen tidak hanya menimbulkan kontraksi yang kuat. Oleh karena otot masetter adalah otot yang paling sensitif terhadap toksin tetanus tersebut.Beberapa penderita mengalami gangguan dari Autonomik Nervous System (ANS ) dengan gejala : berkeringat. d.bekerja pada beberapa level dari susunan syaraf pusat. c.3 PATOGENESIS Tetanospasmin adalah toksin yang menyebabkan spasme. aritmia jantung. hipertensi yang fluktuasi. tetapi juga dihilangkannya kontraksi agonis dan antagonis sehingga timbul . periodisiti takikhardia.Kejang pada tetanus.Toksin menghalangi neuromuscular transmisi dengan cara menghambat pelepasan acethyl-choline dari terminal nervus di otot.Kharekteristik spasme dari tetanus ( seperti strichmine ) terjadi karena toksin mengganggu fungsi dari refleks synaptik di spinal cord. b. yang menyebabkan meningkatnya aktifitas dari neuron Yang mensarafi otot masetter sehingga terjadi trismus. Timbulnya kegagalan mekanisme inhibisi yang normal. mungkin disebabkan pengikatan dari toksin oleh cerebral ganglioside.

masuk kedalam sirkulasi darah arteri kemudian masuk kedalam susunan syaraf pusat . yaitu: 1.spasme otot yang khas . Toksin diabsorbsi oleh susunan limfatik. Ada dua hipotesis tentang cara bekerjanya toksin. Toksin diabsorbsi pada ujung syaraf motorik dari melalui sumbu silindrik dibawa kekornu anterior susunan syaraf pusat 2.

.

tungkai dengan Eksistensi. lengan kaku dengan mengepal. tetapi bisa lebih pendek (1 hari atau lebih lama 3 atau beberapa minggu ). Biasanya didahului dengan ketegangaan otot terutama pada rahang dari leher. Gambaran Umum yang khas berupa badan kaku dengan opistotonus. bibir tertekan kuat . yakni 1. bahkan dapat terjadi fraktur collumna vertebralis ( pada anak ). retensi urin. Karena kontraksi otot yang sangat kuat. Kejang otot berlanjut ke kaku kuduk ( opistotonus . Cephalic Tetanus 3. Ada tiga bentuk tetanus yang dikenal secara klinis. nuchal rigidity ) Risus sardonicus karena spasme otot muka dengan gambaran alis tertarik keatas. Localited tetanus ( Tetanus Lokal ) 2. . Kemudian timbul kesukaran membuka mulut ( trismus. sudut mulut tertarik keluar dan ke bawah. Generalized tetanus (Tctanus umum) Selain itu ada lagi pembagian Kharekteristik dari tetanus Kejang bertambah berat selama 3 hari pertama. lockjaw ) karena spasme Otot masetter.4 MANIFESTASI KLINIS Masa inkubasi 5-14 hari. Setelah 10 hari kejang mulai berkurang frekwensinya Setelah 2 minggu kejang mulai hilang. biasanya kesadaran tetap baik. dapat terjadi asfiksia dan sianosis. dan menetap selama 5 -7 hari.2.

trismus. kekakuan otot-otot tubuh).Kejang tetanic. Berikut ini Tabel 3 yang memperlihatkan differential diagnosis Tetanus . 4. Adanya luka yang mendahuluinya.2. Luka adakalanya sudah dilupakan. 6 DIAGNOSIS Diagnosis tetanus dapat diketahui dari pemeriksaan fisik pasien sewaktu istirahat. tetani (+). tidak akan sular sekali dijumpati dari pemeriksaan fisik. CPK meninggi serta dijumpai myoglobinuria DIAGNOSIS BANDlNG Untuk membedakan diagnosis banding dari tetanus. Lab : SGOT. 2. risus sardinicus dan kesadaran yang tetap normal. Kultur: C. serta riwayat imunisasi. CPK dan SERUM aldolase sedikit meninggi karena kekakuan otot-otot tubuh). sedangkan SGOT. laboratorium test (dimana cairan serebrospinal normal dan pemeriksaan darah rutin normal atau sedikit meninggi. 3. dysphagia. berupa : 1. risus sardonicus ( sardonic smile ).

bentuk makanan tergantung kemampuan membuka mulut dan menelan.tetani.7 PENGOBATAN A. menetralisirkan peredaran toksin. 3. Oksigen. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit. Dan tujuan tersebut dapat diperinci sbb : 1.000 unit /kgBB/ 24 jam. Obat.2juta unit / hari selama 10 hari. 2 Diet cukup kalori dan protein. pernafasan buatan dan trachcostomi bila perlu. bukan untuk toksin yang dihasilkannya. dapat digunakan dengan dosis 200. irigasi luka.dalam hal ini penata laksanaan.Isolasi untuk menghindari rangsang luar seperti suara dan tindakan terhadap penderita 4. makanan dapat diberikan personde atau parenteral. Bila dijumpai . IM. Antibiotika : Diberikan parenteral Peniciline 1. obat dapat diganti dengan preparat lain seperti tetrasiklin dosis 30-40 mg/kgBB/ 24 jam. B.2.obatan B. Antibiotika ini hanya bertujuan membunuh bentuk vegetatif dari C. Hila ada trismus.membuang benda asing dalam luka serta kompres dengan H202 .000 Unit / KgBB/ 12 jam secafa IM diberikan selama 7-10 hari. Sekitar luka disuntik ATS. Bila tersedia Peniciline intravena.1. dibagi 6 dosis selama 10 hari. mencegah spasme otot dan memberikan bantuan pemafasan sampai pulih. Sedangkan tetanus pada anak dapat diberikan Peniciline dosis 50. berupa: membersihkan luka. 5. UMUM Tujuan terapi ini berupa mengeliminasi kuman tetani. Bila sensitif terhadap peniciline. Merawat dan membersihkan luka sebaik-baiknya. terhadap luka tersebut dilakukan 1 -2 jam setelah ATS dan pemberian Antibiotika. tetapi dosis tidak melebihi 2 gram dan diberikan dalam dosis terbagi ( 4 dosis ). debridement luka (eksisi jaringan nekrotik).

Tabel 5 : JENIS ANTIKONVULSAN ___________________________________________________________ Jenis Obat Dosis Efek Samping ________________________________________________________ Diazepam0.0 mg/kg Stupor. pemberian harus sudah diselesaikan dalam waktu 30-45 menit.000 U dari antitoksin dimasukkan kedalam 200 cc cairan NaC1 fisiologis dan diberikan secara intravena. Antitoksin Antitoksin dapat digunakan Human Tetanus Immunoglobulin ( TIG) dengan dosis 3000-6000 U.000 U. dianjurkan untuk menggunakan tetanus antitoksin.2. Koma Berat badan / 4 jam (IM) Meprobamat 300 . secara IM tidak boleh diberikan secara intravena karena TIG mengandung "anti complementary aggregates of globulin ". muscular dan laryngeal spasm beserta komplikaisnya. obat ini diberikan melalui . dengan cara pemberiannya adalah 20. Antikonvulsan Penyebab utama kematian pada tetanus neonatorum adalah kejang klonik hebat.5 . Setengah dosis yang tersisa (20. diharapkan kejang dapat diatasi.75 mg/ 4 jam (IM) Hipotensi Fenobarbital 50 .obatan sedasi/muscle relaxans. dengan dosis 40.400 mg/ 4 jam (IM) Tidak Ada Klorpromasin25 . yang Dengan penggunaan obat . Pirngadi/ FK USU.100 mg/ 4 jam (IM) Depressi pernafasan ________________________________________________________ Di Bagian llmu Kesehatan Anak RS Dr. satu kali pemberian saja. obat anti konvulsan yang dipergunakan untuk tetanus noenatal berupa diazepam. yang berawal dari hewan. Bila TIG tidak ada.3.1.adanya komplikasi pemberian antibiotika broad spektrum dapat dilakukan B.000 U) diberikan secara IM pada daerah pada sebelah luar B. yang mana ini dapat mencetuskan reaksi allergi yang serius.

Kemudian dilakukan evaluasi terhadap kejang. Sedangkan bila tidak segera dinaikkan terjadi kejang dipertahankan selama 2.bolus injeksi yang dapat diberikan setiap 2 . Bila dosis optimum telah tercapai dan kejang telah terkontrol.15 % dari dosis optimum tersebut. maka penggabungan dengan anti kejang lainnya harus dilakukan . kejang masih terjadi. Dosis diazepam pada saat dimulai pengobatan ( setelah kejang terkontrol ) adalah 20 mg/kgBB/hari. Bila dalam penggunaan diazepam. bila kejang masih terus berlangsung dosis diazepam dapat dinaikkan secara bertahap sampai kejang dapat teratasi. Pemberian berikutnya tergantung pada basil evaluasi setelah pemberian anti kejang.4 jam. oleh karena bila terjadi kejang. dan bila dalam evaluasi berikutnya tidak dijumpai adanya kejang. dan ini dipertahan selama 2-3 hari . dosis harus kembali ke dosis semula. yaitu 10 . maka dosis diazepam dapat diturunkan secara bertahap. sedang dosis maksimal telah tercapai. maka jadwal pemberian diazepam yang tetap dan tepat baru dapat disusun. maka skedul pasti telah dapat dibuat. hal ini dilakukan untuk selanjutnya . Bila dosis optimum telah didapat. dibagi dalam 8 kali pemberian (pemberian dilakukan tiap 3 jam ). Penurunan dosis diazepam tidak boleh secara drastis. sangat sukar untuk diatasi dan penaikkan dosis ke dosis semula yang efektif belum tentu dapat mengontrol kejang yang terjadi.3 hari dan dirurunkan lagi secara bertahap.Bila dengan penurunan bertahap dijumpai kejang. Dosis maksimum adalah 40 mg/kgBB/hari( dosis maintenance ).

.

Hal ini diketahui sejak C. Ada beberapa kejadian dimana dijumpai natural imunitas. dengan cara pemberian imunisasi aktif( DPT atau DT ) . Ini diketahui dari toksin dijumpai anti toksin pada serum seseorang dalam riwayatnya belum pernah di imunisasi.PENCEGAHAN Seorang penderita yang terkena tetanus tidak imun terhadap serangan ulangan artinya dia mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapat tetanus bila terjadi luka sama seperti orang lainnya yang tidak pernah di imunisasi. Tidak terbentuknya kekebalan pada penderita setelah ianya sembuh dikarenakan toksin yang masuk kedalam tubuh tidak sanggup untuk merangsang pembentukkan antitoksin ( kaena tetanospamin sangat poten dan toksisitasnya bisa sangat cepat. walaupun konsentrasi yang minimal. hal ini mungkin dapat menjelaskan mengapa insiden tetanus tidak tinggi. Pencegahan dengan pemberian imunisasi telah dapat dimulai sejak anak berusia 2 bulan. tetani dapat diisolasi dari tinja manusia. Mungkin organisme yang berada didalam lumen usus melepaskan imunogenic quantity dari toksin. seperti yang semestinya terjadi pada beberapa negara dimana pemberian imunisasi tidak lengkap/ tidak terlaksana dengan baik. Dengan dijumpai natural imunitas ini. dan dijumpai/adanya peninggian titer antibodi dalam serum yang karakteristik merupakan reaksi secondary imune response pada beberapa orang yang diberikan imunisasi dengan tetanus toksoid untuk pertama kali. Sampai pada saat ini pemberian imunisasi dengan tetanus toksoid merupakan satu-satunya cara dalam pencegahan terjadinya tetanus. yang mana hal ini dalam tidak dalam konsentrasi yang adekuat untuk merangsang pembentukan kekebalan).

BAB III PEMBAHASAN 3.Luka tusuk pada kaki harus di berikan penangan dan perawatan luka supaya bias mengurangi dampak infeksius dari pathogen.2 Demam Tanpa memandang etiologinya. Pirogen eksogen berasal dari luar tubuh seperti toksin. interferon (INF). Sebagian besar sitokin ini dihasilkan oleh makrofag yang merupakan akibat reaksi terhadap pirogen eksogen.pembersihan luka harus menghilangkan kotoran apabila ada. menghasilkan pembentukan panas dan konversi panas. interleukin-6 (IL6) dan interleukin-11 (IL-11). Tumor Necrosis Factor (TNF). yang kemudian dapat menyebabkan peningkatan suhu tubuh 3. yang kemudian secara langsung mengubah set-point di hipotalamus. Dimana sitokin-sitokin ini merangsang hipotalamus untuk meningkatkan sekresi prostaglandin.1 Luka Tusuk Luka tusuk pada bagian kaki dapat mengakibatkan perdarahan dan infeksi bila tidak ditangani dan ini bisa menimbulkan bakterimia terutama C. jalur akhir penyebab demam yang paling sering adalah adanya pirogen.3 Trismus . terdapat 2 jenis pirogen yaitu pirogen eksogen dan pirogen endogen. Pirogen adalah suatu zat yang menyebabkan demam. produkproduk bakteri dan bakteri itu sendiri mempunyai kemampuan untuk merangsang pelepasan pirogen endogen yang disebut dengan sitokin yang diantaranya yaitu interleukin-1 (IL-1). 3.Tetani.

13 th. W. Scott K. ed. Nelson. Info Acces and Distribution Ltd.Saunders Company. jilid 1. 229-230 Harrison: Tetanus in :Principles of lnternal Medicine. R. 1996. Nelson Textbook of pediatrics. 1987. W. eds.4 Risus Sardonicus.ed 1997.ed. volume 2.New York. Phantom notes medicine .Trismus (Lock Jaw) akibat peningkatan tonus M Masseter diikuti dysphagia. Philadelphia. Gilroy.et al : Tetanus in :Principles of New'ology.E. . edition 15 th.B SaundersCompany. kekakuan dan nyeri otot leher.In : Bchrmlan R.J. 53-55. McGrawHill.Richard : Tetanus. 577-579. .McGraw-Hill. Vaughan V C . Kontraksi otot wajah menghasilkan ekspresi yang khas Risus Sardonicus. R. Inc.982. Balai Penerbit FK UI. ed. 3. Nelson W. Daftar Pustaka Adams. Canby R.E . Feigen. bahu dan punggung yang menyebabkan opistotonus.1.C: Infectious Disese.1995. 617 . John MD. Glickman J. 1205-1207. Singapore. 1987. et al :Tetanus in : Basic Neurology.E. Jakarta. 815 -817. Behrman. ed.51.620. Hendarwanto: llmu Penyakit Dalam. 13 th.B. chapter 193. 49.D. 6 th. 1994.D : Tetanus .