You are on page 1of 17

TAUHID DAN PEMIKIRAN KALAM

Pendidikan Agama Islam II

Kelompok II

Imas Fatoni P 3225061786
Muhammad Erwin 3225061789
Rully Rubyantoro 3225071865
Taufik Ismail S 3225070160

Jurusan Fisika

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Negeri Jakarta

2010
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.............................................................................................................................. i
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................ 1
BAB II TAUHID DAN PEMIKIRAN ISLAM .................................................................................. 3
A. Definisi Tuhan ............................................................................................................ 3
B. Definisi Tauhid ........................................................................................................... 4
C. Macam -Macam Tauhid ............................................................................................. 4
D. Perkembangan Pemikiran Teologi .............................................................................. 7
E. Perkembangan Tauhid ............................................................................................... 8
F. Penerapan Tauhid Dalam Kehidupan........................................................................ 12
BAB III PENUTUP.................................................................................................................. 13
A. Kesimpulan .............................................................................................................. 13
B. Saran ....................................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................ 14

i
BAB I PENDAHULUAN

Dahulu masyarakat primitif hidup dalam kesederhanan dalam berbagai aspek
baik aspek materi maupun aspek keyakinan/teologi. Pada dasarnya hidup mereka
sangat tergantung pada alam yang ada di sekitar mereka karena alamlah sebagai
satu-satunya sumber penghidupan. Oleh karena itu bagi mereka alam merupakan
faktor yang sangat dominan. Namun kenyataan yang mereka alami kadangkala tidak
bersahabat. Air yang diasumsikan sebagai sesuatu yang sangat vital dan bermanfaat
menjelma sebagai sesuatu yang mengerikan seperti banjir longsor yang menelan
korban. Tanah subur menghijau, tiba-tiba bergoyang dan menghancurkan harta
benda mereka. Kenyataan tersebut menimbulkan sebuah keyakinan pada diri mereka
bahwa alam memiliki kekuatan yang melebihi kekuatan mereka. Masing-masing
masyarakat menanggulangi berbagai peristiwa tersebut dengan caranya masing-
masing yang unik.

Oleh karena itu diturunkan Nabi dan Rasul yang membawa pencerahan bagi
seluruh umat manusia

               

             



“dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut* itu", Maka di antara
umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya
orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka
bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan
(rasul-rasul)”.

1
Dengan penalaran yang lain, dapat dijelaskan bahwa ajaran Islam yang
didakwahkan oleh Rasulullah SAW mengajak manusia untuk meninggalkan “fase
mitologi”/berbau mitos menuju fase yang lebih bermartabat yang berbasis pada ilmu
dan pengetahuan. Dari perspektif semacam inilah kita memahami dengan baik
bahwa apresiasi dan pujian sebagai Ulul Albab/intelektual dapat kita raih tatkala
segala potensi akal dan spiritual yang kita miliki didedikasikan untuk memahami ayat-
ayat atau tanda keagungan Allah SWT. Bukan untuk dimitoskan, apalagi disembah.

2
BAB II TAUHID DAN PEMIKIRAN ISLAM

A. Definisi Tuhan
Dilihat dari sudut perbandingan agama, Tuhan ialah Sesuatu, Apa atau Siapa
yang dipentingkan sedemikian rupa oleh manusia, sehingga ia membiarkan dirinya
dikuasai oleh yang dipentingkannya itu1.

Yang dipentingkan oleh manusia itu bermacam-macam, tetapi secara garis
besar dapat dikatakan bahwa yang dipentingkan dan diinginkan manusia itu ialah
Harta, Tahta, Wanita (Seksualitas), Kemerdekaan, Ilmu Pengetahuan, Nama yang
populer, Pujian dan yang sejenisnya,yang semuanya itu bisa dikategorikan sebagai
hawa nafsu dari manusia. Tetapi dalam Al Qur’an Allah memperingatkan manusia
agar tidak menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya.

               

         

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya* dan Allah telah
mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas
penglihatannya ? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah
(membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ?”. (QS. Al
Jatsiah : 23)

*Maksudnya Tuhan membiarkan orang itu sesat, karena Allah telah mengetahui
bahwa Dia tidak menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya.

1
Zainuddin S. Nainggolan, Inilah Islam : Falsafah dan Hikmah Ke Esaan Allah, (Jakarta : KalamMulia,
2007), Cet. ke 4, h. 46.

3
Dan juga agar kita terhindar dari dosa syirik karena termasuk menyekutukan
(menduakan) Allah, Syirik ialah Memperlakukan sesuatu selain Allah sama dengan
Allah, dalam hal-hal yang merupakan hak khusus bagi-Nya2.Karena Syirik adalah
termasuk dalam dosa besar, sebagaimana telah dijelaskan dalam

                   

 

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa Syirik, dan Dia mengampuni
segala dosa yang selain dari (Syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS. An
Nisa : 48)

B. Definisi Tauhid
Tauhid dalam bahasa Arab adalah Mashdar dari Wahhada Yuwahhidu Tauhid,
yang artinya : menjadikan satu, meninggalkan dan meniadakan bilangan darinya.

Sedangkan Tauhid dalam istilah Syar’I adalah meniadakan yang setara bagi
zat Allah, dalam sifat dan perbuatan-Nya, serta menafikan sekutu dalam
menuhankan dan menyembah-Nya3.

C. Macam -Macam Tauhid
Tauhid itu ada beberapa bagian, yaitu 4:

1. Tauhid Rububiyyah
Secara istilah syari’at pengertian tauhid rububiyah adalah : “Percaya bahwa
Allah-lah satu-satunya pencipta, pemilik, pengendali alam raya yang dengan takdir-

2
Syaikh Muhammad At Tamimi, Kitab Tauhid, (Jakarta : Darul Haq, 2000), Cet ke 4, h. 27
3
Abdul Mujib, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2006).
4
Ibid

4
Nya Ia menghidupkan dan mematikan serta mengendalikan alam dengan
sunnah-sunnahNya”.
Tauhid macam ini juga telah dinyatakan oleh orang-orang musyrik pada masa-
masa pertama dahulu. Mereka menyatakan bahwa Allah semata yang Maha
Pencipta, Penguasa, Pengatur, Yang menghidupkan, Yang Mematikan, tidak ada
sekutu bagi-Nya.

           

  

“dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan
langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" tentu mereka akan
menjawab: "Allah", Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang
benar)”. (QS. Al-Ankabut : 61)
Akan tetapi pernyataan dan persaksian mereka tidak membuat mereka masuk
Islam dan tidak membebaskan mereka dari api neraka, karena mereka tidak
mewujudkan tauhid Uluhiyah.

2. Tauhid Uluhiyyah
Tauhid Uluhiyyah, adalah mengesakan Allah swt dalam perbuatan
penghambaan5. Tauhid ini sebagai manifestasi dari Tauhid Rububiyyah. Artinya, jika
seseorang telah mengakui akan ke-Tuhan-an Allah swt ia harus berbakti, taat dan
beribadah kepada-Nya. Bentuk dari Tauhid Uluhiyyah adalah mengesakan Allah swt
dalam niat, mendekatkan diri (Taqarrub), berdo’a, nadzar, qurban, mengharapkan
sesuatu (raja’), senang dan takut, Tawakkal dan kembali.

        

5
Samiati, Acih. 2004. “Tauhid”. Jakarta : STKIP Kusuma Negara

5
“dan Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu
menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah”.(QS. Al-Jin :
18)

Tauhid uluhiyah merupakan tujuan dakwah para Rasul. Disebut demikian
karena uluhiyah adalah sifat Allah yang ditunjukkan oleh nama-Nya “Allah” yang
artinya dzul uluhiyah (yang memiliki sifat uluhiyah). Tanpa merealisasikan tauhid
uluhiyah ini, semua amal ibadah tidak akan diterima. Karena kalau hal itu tidak
terwujud maka akan bercokollah lawannya yaitu syirik. Allah berfirman :

                   

 

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni
segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa
yang besar.” (QS. An Nisa: 48)

        

“dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. semuanya Termasuk orang-orang yang shaleh.”
(QS. Al An’am : 85)

Dan tauhid jenis ini adalah kewajiban pertama segenap hamba Allah SWT
berfirman Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dgn sesuatu
pun.

3. Tauhid Asma wa Shifat

Tauhid Ama Wa Sifat yaitu beriman bahwa Allah ta’ala memiliki zat yang
tidak serupa dengan berbagai zat yang ada, serta memiliki sifat yang tidak serupa

6
dengan berbagai sifat yang ada6 . Dan bahwa nama-nama-Nya merupakan petunjuk
yang jelas akan sifat-Nya yang sempurna secara mutlak sebagaimana firman Allah
ta’ala:

          

“dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamnaan tiba-tiba kaummu
(Quraisy) bersorak karenanya.” (QS. As-Syura : 110)

D. Perkembangan Pemikiran Teologi
Perkembangan pemikiran Teologi dalam Islam dapat dibagi dalam 5 periode,
yakni periode Rasulullah saw., Khulafa al-Rasyidin, Bani Umayyah, Bani ‘Abbas, dan
periode sesudah Bani ‘Abbas.

Pada masa Rasulullah saw. pemikiran teologi dalam Islam merupakan
pemikiran yang murni karena mendasarkan hanya pada Rasulullah saw, Pada periode
ini tidak ada perselisihan pendapat dalam dasar-dasar ataupun kaidah-kaidah
teologis.

Pada masa Khulafa al-Rasyidin sebelum Khalifah ‘Utsman ibn ‘Affan juga
belum terjadi perbedaan pendapat dalam teologi Islam, hal ini disebabkan oleh
praktek teologi Islam langsung didasarkan pada Alqur’an dan Hadis. Pada masa
Khalifah ‘Utsman terjadi perpecahan politik dalam tubuh umat Islam, sehingga
berdampak pada penafsiran Alqur’an dan Hadis menurut selera masing-masing
golongan, bahkan sebagian melakukan pemalsuan terhadap Hadis untuk mendukung
keberadaan dan kebenaran kelompok tertentu.

Pada masa Bani Umayah perluasan wilayah Islam membawa konsekwensi
penyerapan tradisi-tradisi non Islam dalam budaya dan peradaban Islam. Berbagai
aliran yang muncul pada masa akhir Khulafa al-Rasyidin semakin memuncak. Pada

6
Haidir, Abduloh. 2007. “Tauhid dan Makna Syahadatain”. PDF Reader

7
masa ini segolongan umat Islam telah berbeda pendapat. Aliran-aliran yang muncul
dalam periode ini antara lain7:

1. Qadariyah
2. Jabriah atau Mujbarah atau Mu’aţţilah atau Jahmiyah.
3. Khawarij.
4. Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
5. Mu’tazilah.
Pada periode Bani ‘Abbas terjadi usaha-usaha ilmiah yang antara lain
adalah penterjemahan filsafat Yunani kedalam bahasa Arab. Dan mulailah filsafat
merambah dalam dunia pemikiran teologi Islam. Tradisi usaha untuk menuliskan
pendapat-pendapat setiap golongan pun mulai merebak.
Pada periode setelah Bani ‘Abbas pengikut-pengikut Abu al-Hasan al-
Asy‘ari mengintegrasikan filsafat dan kalam dalam pandangan-pandangan mereka
sendiri. Keadaan ini berlangsung sampai awal abad ke 8 Hijriah.

E. Perkembangan Tauhid

Pada zaman mesir kuno, sungai Nil yang banjir dianggap sebagai roh yang
sedang marah. Untuk membujuk agar roh tersebut tidak marah, maka
dikorbankanlah seorang anak gadis yang paling cantik. Dari sinilah muncul
kepercayaan bahwa setiap benda di sekeliling manusia mempunyai kekuatan
misterius. Kekuatan ghaib tersebut disebut orang jepang (kami), India (hari & shakti),
Pigmi di Afrika (oudah), orang Indian Amerika (waken, orenda dan maniti). Dalam
bahasa Indonesia (tuah, bertuah).8Kepercayaan ini dikenal sebagai dinamisme.

Kepercayaan pada kekuatan gaib tersebut di atas meningkat menjadi
kepercayaan kepada roh, yang kemudian populer sebagai animisme. Kepercayaan ini
mengalami tahapan perkembangan. Pada awalnya mereka meyakini bahwa semua
benda alam memiliki roh. Dari sekian roh yang mereka yakini, terdapat roh yang kuat
7
W, Suprayetno. 2008. “Sejarah Perkembangan Pemikiran Islam dalam Teologi, Tasawuf, Hukum, dan
Filsafat”. Bandung : Cita Pustaka Media
8
Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), Cet. II, hlm. 58-59

8
yang dapat menimbulkan pengaruh pada alam. Benda yang dianggap paling kuat
itulah kemudian yang dijadikan symbol penyembahan dan peribadatan. Pada
masyarakat politeisme kepercayaan tersebut tidak langsung kepada benda, tetapi
abstraksi atau fungsi benda itu yang ditakuti dan disembah.

Prof Dr Ismail Raji al-Faruqi, yang dikenal sebagai tokoh yang populer dengan
gagasan “Islamisasi Ilmu Pengetahuan” yang kemudian dibunuh oleh agen Rahasia
Yahudi Mossad menjelaskan bahwa, di Makkah, juga diseluruh jazirah Arabia
sebelum kerasulan dan kenabian Muhammad SAW, “Allah” adalah dikenal sebagai
nama dewa yang paling sering disebut dan yakini sebgai “pencipta dari semua”,
“penguasa langit dan bumi” Bahkan dalam al-qur’an dijelaskan dalam surat Al-
‘Ankabut ayat 61 :

             



“dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan
langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" tentu mereka akan
menjawab: "Allah", Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang
benar).” (QS. Al-Ankabut : 61)

Dalam tradisi Arab dikenal pula keyakinan-keyakinan tertentu seperti; sihir,
tanjim (perbintangan), nusyrah (melawan sihir dengan sihir), “tathayyur” (meramal
nasib baik/buruk dengan media burung), “Tama’im” (jimat; sesuatu yang dikalungkan
di leher anak-anak untuk menangkal penyakit, atau pengaruh jahat tertentu),
“wada’ah” (sesuatu yang diambil dari laut, menyerupai rumah karang dapat
digunakan untuk menangkal penyakit) dll9.

Mencermati berbagai fenomena tersebut, tampak bahwa problema yang
dihadapi oleh manusia dan akan selalu aktual sepanjang sejarah, di setiap waktu dan
9
Kamal, Fathurrahman, Lc., MA. 2009. “Tauhid Sebagai Grand Design Dakwah Para Nabi dan Rasul”.
Yogyakarta : Halaqah Akidah

9
tempat, ialah permasalahan “kemusyrikan”/”politeisme” dan bukan permasalahan
“Ateisme.” Oleh karena itulah yang menjadi ajaran/doktrin pokok para Nabi dan
Rasul sepanjang sejarah ialah membebaskan manusia dari perbudakan kesyirikan.
Inilah yang menjadi grand design dakwah mereka seperti yang dinyatakan oleh Allah
dalam surat An-Nahl : 36

               

            

 

“dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut*itu", Maka di antara
umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya
orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya[826]. Maka berjalanlah kamu
dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang
mendustakan (rasul-rasul). (QS. An-Nahl : 36)

*Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah s.w.t.

Bahkan penciptaan alam, mikro dan makrokosmos juga berporos pada prinsip
tauhid seperti yang dinyatakan oleh Allah dalam al-Dzariyat : 56;

      

“dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku.” (QS. Al-Dzariyat : 56)

10
              

              

    

“ Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi
dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy*. Dia menutupkan malam
kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari,
bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah,
menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta
alam.” (QS. Al-A’raaf : 54)

*Bersemayam di atas 'Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan
kebesaran Allah dsan kesucian-Nya.

Dengan demikian, tidaklah pantas bagi kita yang menyatakan diri sebagai
orang yang beriman Allah sebagai Rabb, Islam sebagai din dan Muhammad sebagai
Nabi dan Rasul junjungannya untuk terjebak dalam kehidupan primitive dan penuh
dengan mitos atas nama tradisi, budaya ataupun kearipan local yang saat ini sering
didengungkan.

            

            

       

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan
siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka

11
memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami,
Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka
peliharalah Kami dari siksa neraka”. (QS. Ali-Imran : 190-191)

F. Penerapan Tauhid Dalam Kehidupan
Dalam agama Islam kedudukan manusia itu sama derajatnya. Inilah
konsekuensi pertama dari jiwa Tauhid. Perbedaan diletakkan hanya ketaatan dan
ketaqwaan kepada Allah, adapun pangkat, kedudukan bahkan ketinggian ilmu
pengetahuan tidak bisa menjadi alasan untuk menganggap diri seseorang lebih tinggi
dari orang lain. Dengan kata lain manusia tidak boleh sombong terhadap orang lain,
karena kesombongan hanyalah hak Allah semata10

10
Ibid, h. 63

12
BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dijelaskan diatas, maka dapat disimpulkan hal-
hal sebagai berikut:

1. Tuhan ialah Sesuatu, Apa atau Siapa yang dipentingkan sedemikian rupa oleh
manusia, sehingga ia membiarkan dirinya dikuasai oleh yang
dipentingkannya itu.
2. Tauhid menurut bahasa Arab berarti : menjadikan satu, meninggalkan dan
meniadakan bilangan darinya, sedangkan Tauhid menurut istilah Syar’I
adalah meniadakan yang setara bagi zat Allah, dalam sifat dan perbuatan-
Nya, serta menafikan sekutu dalam menuhankan dan menyembah-Nya.
3. Macam-macam Tauhid antara lain Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah,
Tauhid Asma’, Tauhid Shifat.

B. Saran
Setelah membahas makalah ini diharapkan mahasiswa serta umat Islam
mengetahui dengan jelas makna hakikat dari Tauhid dan pemikirannya, sehingga
dapat mengaplikasikannya dalam perbuatan sehingga terhindar dari perbuatan syirik
kepada Allah swt.

13
DAFTAR PUSTAKA

Amsal Bakhtiar. 1999. “Filsafat Agama”. Jakarta: Logos Wacana Ilmu

At Tamimi, Syaikh Muhammad. 1999. “Kitab Tauhid”. Jakarta : Darul Haq

Haidir, Abduloh. 2007. “Tauhid dan Makna Syahadatain”. PDF Reader

Kamal, Fathurrahman, Lc., MA. 2009. “Tauhid Sebagai Grand Design Dakwah
Para Nabi dan Rasul”. Yogyakarta : Halaqah Akidah

Mujib, Abdul, Dr., Prof.,. 2006. “Kepribadian Dalam Psikologi Islam”. Jakarta :
Raja Grafindo Persada

Nainggolan, Zainuddin, Dr., Prof.,. 2007. “Inilah Islam”. Jakarta : Kalam Mulia

Samiati, Acih. 2004. “Tauhid”. Jakarta : STKIP Kusuma Negara

W, Suprayetno. 2008. “Sejarah Perkembangan Pemikiran Islam dalam Teologi,
Tasawuf, Hukum, dan Filsafat”. Bandung : Cita Pustaka Media

14
Studi Kasus

Bersamaan dengan kematian Ibrahim itu kebetulan terjadi pula matahari gerhana.
Kaum Muslimin menganggap peristiwa itu suatu mujizat. Kata mereka matahari
gerhana karena Ibrahim meninggal. Hal ini terdengar oleh Nabi.

Karena cintanya yang begitu besar kepada Ibrahim, dan rasa duka yang begitu dalam
karena kematiannya, adakah ia lalu merasa terhibur mendengar kata-kata itu, atau
setidak-tidaknya akan didiamkan saja, menutup mata melihat orang sudah begitu
terpesona karena telah menganggap itu suatu mujizat? Tidak. Dalam keadaan serupa
itu, kalau pun ini layak dilakukan oleh mereka yang suka mengambil kesempatan
karena kebodohan orang, atau layak dilakukan oleh mereka yang sudah tak sadar
karena terlampau sedih, buat orang yang berpikir sehat tentu hal ini tidak layak,
apalagi buat Nabi Besar! Muhammad melihat mereka yang mengatakan bahwa
matahari telah jadi gerhana karena kematian Ibrahim, dalam khotbahnya kepada
mereka ia berkata:

“Matahari dan bulan ialah tanda kebesaran Tuhan, yang tidak akan jadi gerhana
karena kematian atau hidupnya seseorang. Kalau kamu melihat hal itu, berlindunglah
dalam zikir kepada Tuhan dengan berdoa.”

Sungguh suatu kebesaran yang tiada taranya. Rasul tidak melupakan risalahnya itu
dalam suatu situasi yang begitu gawat, situasi jiwa yang sedang dalam keharuan dan
kesedihan yang amat dalam! Kalangan Orientalis dalam menanggapi peristiwa yang
terjadi terhadap diri Muhammad ini, tidak bisa lain mereka bersikap hormat dan
kagum sekali! Mereka tidak dapat menyembunyikan rasa kekaguman dan rasa
hormatnya

itu kepadanya. Mereka menyatakan pengakuan mereka tentang kejujuran orang itu,
yang dalam situasi yang sangat gawat ia tetap mempertahankan hak dan
kejujurannya yang sungguh-sungguh !.

1