You are on page 1of 31

BAB I

ANATOMI
1.1 Bola Mata
Bola mata (Gambar 1.) adalah struktur kistik yang selalu mengembung
dengan tekanan di dalamnya. Bola mata orang dewasa normalnya berbentuk
seperti bola, dengan diameter anteroposterior rata-rata 24,2 mm.6
Bola mata terdiri dari tiga lapis: luar (lapisan fibrous), tengah (lapisan
vaskular) dan bagian dalam (lapisan saraf).6

Gambar 1. Bola mata (Khurana, 2007)

1

1.1.1 Palpebra

Gambar 2. Anatomi Palpebra (Google, 2015).

Palpebra adalah dua lipatan kulit yang menutupi permukaan anterior
mata. Dari luar ke dalam permukaan palpebra terdiri dari kulit, jaringan ikat
subkutan, muskulus orbikularis okuli, jaringan ikat submuskular, lempeng tarsal
dan kelenjarnya, dan konjungtiva palpebra. Kulitnya tipis dan berlanjut hingga
batas palpebra dengan konjungtiva. Bagian palpebra dari muskulus orbikularis
okuli dibagi secara anatomis dibagi menjadi bagian siliaris, pretarsal, dan
preseptal. Di dalamnya terdapat jaringan ikat submuskular dan lapisan fibrosa
longgar. 1
Dua lempeng tarsal merupakan lempengan memanjang yang tipis,
berbentuk seperti bulan sabit, kaku, tersusun dari jaringan fibrosa padat dengan
panjang sekitar dua setengah sentimeter, terdapat satu di setiap kelopak mata
untuk menopang dan member bentuk dari kelopak mata. Setiap lempeng
berbentuk konveks dan mengikuti permukaan anterior dari bola mata. Bagian
2

siliaris rata dan dekat dengan folikel bulu mata. Sisi orbital lebih cembung dan
menempel dari septum orbita. Tarsus superior berukuran lebih besar, berbentuk
semi oval berukuran sekitar sepuluh millimeter. Tarsus inferior yang lebih kecil,
berukuran empat millimeter. Muskulus levator palpebra superior menempel pada
permukaan anterior dari tarsus superior. 1
Kelenjar pada palpebra terdiri dari kelenjar tarsal (meibomian) merupakan
kelenjar sebasea termodifikasi yang menempel pada tarsus. Kelenjar sebasea
kecil (zeis), dan kelenjar keringat (moll) berhubungan dengan bulu mata. 1
Suplai arteri dari palpebra didapat dari cabang medial dan lateral dari
arteri optalmika, juga display oleh cabang infraorbital superficial dari arteri
temporalis. Drainase vena dari palpebra menuju ke vena optalmika. Bagian kulit
palpebra dipersarafi oleh cabang optalmik dan maksilaris dari nervus trigeminus.
Permukaan palpebra superior terutama dipersarafi oleh cabang supraorbital dari
nervus frontalis. Palpebra inferior dipersarafi oleh cabang infraorbita dari nervus
maksilaris. 1
1.1.2 Konjungtiva
Konjungtiva adalah selaput lendir transparan yang menutupi permukaan
posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior sklera
(konjungtiva bulbaris). Konjungtiva berbentuk tipis dan berkesinambungan
dengan kulit pada tepi palpebra (mucocutaneous junction) dan dengan epitel
kornea di limbus. 2
Konjungtiva terdiri atas tiga bagian yaitu:
a. Konjungtiva Palpebralis
Melapisi permukaan posterior kelopak mata dan melekat erat ke tarsus. Di
tepi superior dan inferior tarsus, konjungtiva melipat ke posterior (pada forniks
superior dan inferior) dan membungkus jaringan episklera menjadi konjungtiva
bulbaris. 2
b. Konjungtiva Bulbaris
Melekat longgar ke septum orbitale di fornices dan melipat berkali – kali.
Adanya lipatan – lipatan ini memungkinkan bola mata bergerak dan
memperbesar permukaan konjungktiva sekretorik. (Duktus – duktus kelenjar
3

lakrimal bermuara ke forniks temporal superior). Konjungtiva bulbaris melekat
longgar pada kapsul tenon dan sklera dibawahnya, kecuali di limbus (tempat
kapsul Tenon dan konjungtiva menyatu sepanjang 3mm). 2
c. Konjungtiva Forniks
Merupakan tempat peralihan konjungtiva palpebra dengan konjungtiva
bulbi. Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan dengan sangat longgar
dengan jaringan di bawahnya sehingga bola mata mudah bergerak. 2

Gambar 3. Anatomi Konjungtiva (Google, 2015).

Vaskularisasi konjungtiva berasal dari arteria ciliaris anterior dan arteria
palpebralis. Kedua arteri ini beranastomose dengan bebas. Vena konjungtiva
yang umumnya mengikuti pola arterinya – membentuk jaring – jaring vaskular
konjungtiva yang sangat banyak. Pembuluh limfe konjungtiva tersusun di dalam
lapisan superfisial dan profundus dan bergabung dengan pembuluh limfe
palpebra membentuk pleksus limfatikus yang kaya. Konjungtiva menerima
persarafan dari percabangan (oftalmik) pertama nervus V. Saraf ini memiliki
serabut nyeri yang relatif sedikit. 2
1.1.3 Kornea
4

Kornea adalah jaringan transparan yang ukuran dan strukturnya
sebanding dengan Kristal sebuah jam tangan kecil. Kornea ini disisipkan ke
dalam sklera pada limbus, lekukan melingkar pada sambungan ini disebut sulcus
scleralis. Kornea dewasa rata – rata mempunyai tebal 550 µm di pusatnya
(terdapat variasi menurut ras); diameter horizontalnya sekitar 11,75 mm dan
vertikalnya 10,6 mm. 2
Sumber – sumber nutrisi untuk kornea adalah pembuluh – pembuluh
darah limbus, humor aqueous, dan air mata. Kornea superficial juga
mendapatkan sebagian besar oksigen dari atmosfer. Saraf – saraf sensorik
kornea didapat dari cabang pertama (ophthalmicus) nervus kranialis V
(trigeminus). 2
Transparansi kornea disebabkan oleh strukturnya yang seragam,
avaskularitas, dan deturgensinya. 2
1.1.4 Bilik Mata Depan
Bilik mata depan adalah ruang di antara kornea dan iris. Bilik mata depan
memiliki sudut yang terletak pada pertautan antara kornea perifer dan pangkal
iris. Ciri – ciri anatomis utama sudut ini adalah garis Schwalbe, anyaman
trabekula (yang terletak di atas kanal Schlemm) dan taji sklera (scelar spur). 2
Garis Schwalbe menandai berakhirnya endotel kornea . Anyaman
trabekula berbentuk segitiga pada potongan melintang, dengan dasar yang
mengarah ke korpus siliaris. Anyaman ini tersusun atas lembar – lembar
berlubang jaringan kolagen dan elastik, yang membentuk suatu filter dengan pori
yang semakin mengecil ketika mendekati kanal Schlemm. Bagian dalam
anyaman ini, yang menghadap ke bilik mata depan, dikenal sebagai anyaman
uvea; bagian luar, yang berada di dekat kanal Schlemm, disebut anyaman
korneoskleral. Serat – serat longitudinal otot siliaris menyisip ke dalam anyaman
trabekula tersebut. Taji sklera merupakan penonjolan sklera ke arah dalam di
antara korpus siliaris dan kanal schlemm, tempat iris dan corpus ciliare
menempel. Saluran – saluran eferen dari kanal schlemm berhubungan dengan
sistem vena episklera. 2

5

1.1.5 Humor Aquos
Humor aquos diproduksi oleh korpus siliaris. Setelah memasuki bilik mata
belakang, humor aquos melalui pupil dan masuk ke bilik mata depan, kemudian
ke perifer menuju sudut bulik mata depan. 2
1.1.6 Traktus Uvea
Uveal tract terdiri dari korpus siliaris, iris, dan koroid. Lapisan ini adalah
lapisan vaskular di tengah mata dan dilindungi oleh kornea dan sclera. Lapisan
ini memberikan kontribusi pasokan darah ke retina. 2
1.1.6.1 Korpus Siliaris
Korpus siliaris pada potongan melintang berbentuk segitiga dengan
panjang sekitar 6 mm. yang membentang dari pangkal iris sampai ora serrata.
Korpus siliaris dibagi menjadi dua bagian yaitu pars plikata

yang terletak

dibagian anterior yang panjangnya 2 mm dan pars plana dibagian posterior
dangan panjang 4 mm. 2
Processus ciliaris terbentuk dari kapiler dan vena yang bermuara ke vena
vertikulosa. Kapiler-kapilernya

besar dan

lapisan endotelnya

berlubang.

Muskulus ciliaris tersusun oleh serat-serat longitudinal, sirkular dan radial. Serat
sirkular berfungsi mengerutkan dan relaksasi serat-serat zonula yang berorigo di
lembah diantara prosesus ciliaris. Otot ini mengubah ketegangan pada kapsul
lensa sehingga dapat mempunyai fokus yang baik untuk obyek dekat maupun
obyek jauh. Sedangkan yang longitudinal menyisip kedalam anyaman trabekula
untuk mempengaruhi besar porinya. 2
Pembuluh darah korpus ciliaris berasal dari sirkulus arteriosus mayor iris.
Persarafan sensoris berasal dari saraf-saraf siliaris. 2
1.1.6.2 Iris
Iris adalah perpanjangan korpus siliaris ke anterior. Iris berupa permukaan
pipih dengan aperture bulat yang terletak di tengah pupil. Iris terletak
bersambungan dengan permukaan anterior lensa, memisahkan bilik mata depan
6

dari bilik mata belakang, yang masing – masing berisi humor aquos. Di dalam
stroma iris terdapat spingter dan otot – otot dilator. Kedua lapisan berpigmen
pekat pada permukaan posterior iris merupakan perluasan neuroretina dan
lapisan epitel pigmen retina kearah anterior. 2
Perdarahan iris didapat dari circulus major iris. Kapiler – kapiler iris
mempunyai lapisan endotel yang tak berlubang (nonfenestrated) sehingga
normalnya intravena. Persarafan sensoris iris melalui serabut – serabut dalam
nervi ciliares. 2
Iris mengendalikan banyaknya cahaya yang masuk ke dalam mata.
Ukuran pupil pada prinsipnya ditentukan oleh keseimbangan antara konstriksi
akibat aktivitas parasimpatis yang dihantarkan melalui nervus kranialis III dan
dilatasi yang ditimbulkan oleh aktivitas simpatis. 2
1.1.6.3 Koroid
Koroid adalah bagian posterior uveal tract, terletak di antara retina dan
sclera. Koroid terdiri dari tiga lapisan pembuluh darah koroid: besar, menengah,
dan kecil. Semakin dalam pembuluh darah dalam koroid, semakin luas
lumennya.

Bagian

internal

pembuluh

darah

koroid

dikenal

sebagai

choriocapillaris. Darah dari pembuluh darah koroid mengalir melalui empat
pusaran vena terdapat satu di masing-masing empat kuadran posterior. Koroid
dibatasi di internal oleh membran Bruch dan di eksternal oleh sklera. Ruang
suprakoroidal terletak di antara koroid dan sklera. Koroid terikat kuat di posterior
dengan tepi saraf optik dan di anterior, koroid bergabung dengan korpus siliaris. 2
Keseluruhan pembuluh darah koroidal berfungsi untuk memelihara bagian
terluar dari retina. 2
1.1.7 Lensa
Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular, tak bewarna, dan
hampir transparan sempurna. Tebalnya sekitar 4 mm dan diameternya 9 mm.
Lensa tergantung pada zonula di belakang iris; zonula menghubungkannya
dengan korpus siliaris. Di sebelah anterior lensa terdapat humor aquos; di
sebelah

posteriornya,

vitreous.

Kapsul
7

lensa

adalah

suatu

membran

semipermeabel (sedikit lebih permeabel daripada dinding kapiler) yang akan
memperbolehkan air dan elektrolit masuk. 2
Lensa ditahan di tempatnya oleh ligamentum suspensorium yang dikenal
sebagai zonula zinii, yang tersusun atas banyak fibril; fibril – fibril ini berasal dari
permukaan korpus siliaris dan menyisip ke dalam ekuator lensa. 2
Enam puluh lima persen lensa terdiri atas air, sekitar 35 % nya protein
(kandungan proteinnya tertinggi di antara jaringan – jaringan tubuh). Selain itu,
terdapat sedikit sekali mineral seperti yang biasa ada di jaringan tubuh lainnya.
Kandungan kalium lebih tinggi di lensa daripada di kebanyakan jaringan lain.
Asam askorbat dan glutation terdapat dalam bentuk teroksidasi maupun
tereduksi. Tidak ada serat nyeri, pembuluh darah, atau saraf di lensa. 2
1.1.8 Korpus Vitreous
Korpus vitreous merupakan strukrur menyerupai agar-agar yang jernih,
avaskuler, yang merupakan dua-pertiga dari volume dan berat mata. Korpus
vitreous mengisi ruang yang dibatasi oleh lensa, retina, dan optik disk.
Permukaan luar vitreous tersebut (membrana hyaloid) normalnya berhubungan
dengan struktur sebagai berikut: kapsul lensa posterior, serat zonula, epitel pars
plana, retina, dan kepala saraf optik. Dasar vitreous mempertahankan
keterikatan kuat sepanjang hidup dengan epitel pars plana dan retina langsung
di belakang serrata ora. Keterikatan pada kapsul lensa dan kepala saraf optik
kuat dalam awal kehidupan tetapi segera menghilang. 2
1.1.9 Retina
Retina manusia merupakan suatu struktur yang sangat terorganisasi,
dengan kemampuan untuk memulai pengolahan informasi penglihatan sebelum
informasi tersebut ditransmisikan melalui nervus optikus ke korteks visual.6
Retina

adalah

lembaran

jaringan

saraf

berlapis yang

tipis

dan

semitransparan yang melapisi bagian dalam dua pertiga posterior dinding bola
mata. Retina membentang ke anterior hampir sejauh corpus siliare dan berakhir
pada ora serrata dengan tepi yang tidak rata. Pada orang dewasa, ora serrata
berada sekitar 6,5 mm di belakang garis Schwalbe pada sisi temporal dan 5,7
8

mm pada sisi nasal. Permukaan luar retina sensoris bertumpuk dengan lapisan
epitel berpigmen retina sehingga juga berhubungan dengan membran Bruch,
koroid dan sklera. Di sebagian besar tempat, retina dan epitel pigmen retina
mudah terpisah hingga terbentuk suatu ruang subretina, seperti yang terjadi
pada ablasi retina. Namun pada diskus optikus dan ora serrata, retina dan epitel
pigmen retina saling melekat kuat sehingga perluasan cairan subretina pada
ablasi retina dapat dibatasi. Hal ini berlawanan dengan ruang subkoroid yang
terbentuk antara koroid dan sklera, yang meluas ke taji sklera. Dengan demikian,
ablasi koroid akan meluas melampaui ora serrata, di bawah pars plana dan pars
plicata. Lapisan-lapisan epitel pada permukaan dalam corpus ciliare dan
permukaan posterior iris merupakan perluasan retina dan epitel pigmen retina ke
anterior. Permukaan dalam retina berhadapan dengan vitreous. 2
Retina mempunyai tebal 0,1 mm pada ora serrata dan 0,56 mm pada
kutub posterior. Di tengah-tengah retina posterior terdapat makula berdiameter
5,5-6 mm, yang secara klinis dinyatakan sebagi daerah yang dibatasi oleh
cabang-cabang pembuluh darah retina temporal. 2
Daerah ini ditetapkan oleh ahli anatomi sebagai area centralis, yang
secara histologis merupakan bagian retina yang ketebalan lapisan sel
ganglionnya lebih dari satu lapis. Makula lutea secara anatomis didefinisikan
sebagai daerah berdiameter 3 mm yang mengandung pigmen luteal kuning
xantofil. Fovea yang berdiameter 1,5 mm ini merupakan zona avaskular retina
pada angiografi fluoresens. Secara histologis, fovea ditandai sebagai daerah
yang mengalami penipisan lapisan inti luar tanpa disertai lapisan parenkim lain.
Hal ini terjadi karena akson-akson sel fotoreseptor berjalan miring (lapisan
serabut henle) dan lapisan-lapisan retina yang lebih dekat dengan permukaan
dalam retina lepas secara sentrifugal. Di tengah makula, 4 mm lateral dari diskus
optikus, terdapat foveola yang berdiameter 0,25 mm, yang secara klinis tampak
jelas dengan oftalmoskop sebagai cekungan yang menimbulkan pantulan
khusus. Foveola merupakan bagian retina yang paling tipis (0,25 mm) dan hanya
mengandung fotoreseptor kerucut. Gambaran histologis fovea dan foveola ini
memungkinkan diskriminasi visual yang tajam, foveola memberikan ketajaman
9

visual yang optimal. Ruang ekstraseluler retina yang normalnya kosong
cenderung paling besar di makula. Penyakit yang menyebabkan penumpukan
bahan ekstrasel secara khusus dapat mengakibatkan penebalan daerah ini
(edema makula).2
Retina, bagian terdalam bola mata, merupakan selaput tipis, halus dan
transparan. Ini adalah jaringan yang paling sangat maju mata. Tampak merahkeunguan akibat visual dari sel rods dan vaskularisasi koroid yang mendasari.2
Retina meluas dari optik disk ke ora serrata. Secara anatomi, retina dibagi
menjadi dua bagian yang berbeda: bagian posterior dan bagian perifer yang
dipisahkan oleh ekuator retina. Ekuator retina adalah garis imajiner yang sejalan
dengan keluarnya empat vena.6
Bagian Posterior mengacu pada daerah posterior retina ke ekuator retina. Kutub
posterior retina mencakup dua bidang yang berbeda: optik disk dan makula
lutea. Bagian posterior retina ini baik diperiksa dengan menggunakan slitlamp
indirect biomicroscopy 78 D dan lensa +90 D dan direct ophthalmoscopy.6
Optik disk, didefinisikan dengan area melingkar berwarna merah muda
dengan diameter 1,5 mm. Pada optik disk semua lapisan retina mengakhiri
kecuali serabut saraf, yang melewati cribrosa lamina untuk lari ke saraf optik.
Sebuah depresi terlihat pada disk disebut cup fisiologis. Arteri retina pusat dan
vena muncul melalui pusat cawan ini.6
Makula lutea disebut bintik kuning. Bagian ini relatif lebih merah daripada
fundus sekitarnya dan terletak di kutub posterior sementara ke disk optik. Ini
adalah sekitar 5,5 mm .6
Fovea centralis adalah bagian tengah makula, berdiameter sekitar 1,5
mm dan merupakan bagian paling sensitif dari retina. Di pusatnya terdapat
lubang bersinar disebut foveola (0,35 - mm diameter) yang terletak sekitar 2
diameter disc (3 mm) dari margin temporal disk dan sekitar 1 mm di bawah
meridian horisontal. Areal seluas 0,8 mm (termasuk foveola dan beberapa
daerah sekitarnya) tidak mengandung kapiler retina dan disebut zona avaskular
foveal (FAZ). Sekitar fovea adalah parafoveal dan daerah perifoveal. 6

10

Retina perifer mengacu pada daerah yang dibatasi oleh posterior
khatulistiwa retina dan anterior oleh serrata ora. Retina perifer terbaik diperiksa
dengan oftalmoskopi langsung dan dengan menggunakan Goldman lensa kontak
tiga cermin.6
Ora serrata. Ini adalah margin perifer bergerigi di mana retina berakhir.
Berikut retina terikat kuat baik untuk vitreous dan koroid. Pars plana anterior
memanjang dari serrata ora.6

11

BAB II
HISTOLOGI
2.1 Palpebra
Permukaan luar palpebra dilapisi oleh kulit tipis dan permukaan dalamnya
dilapisi oleh konjungtiva palpebralis. Kulit palpebra berbentuk tipis berambut
dengan dermal papil kecil - kecil dan mempunyai kelenjar lemak. Pada bagian
tepi dari kelopak mata terdapat folikel rambut yang besar yang membetuk bulu
mata. Di antara folikel - folikel rambut terdapat kelenjar keringat yang bermuara
pada folikel rambut dari bulu mata. Kelenjar ini disebut kelenjar Moll yang
merupakan kelenjar keringat apokrin. Juga terdapat kelenjar lemak yang disebut
kelenjar Zeis yang berdekatan dengan folikel rambut. 3
Pada lapisan tengah palpebra bagian posterior terdiri atas jaringan ikat
yang mengandung tarsus dan kelenjar tarsalia atau meibom. Tarsus merupakan
lempengan jaringan ikat padat yang memberi bentuk pada palpebra. Kelenjar
Meibom terdapat di dalam tarsus, merupakan kelenjar lemak yang besar dengan
saluran keluar yang panjang dan bermuara pada tepi palpebra, di belakang bulu
mata. Sekret yang dihasilkan berfungsi untuk meminyaki palpebra sehingga tidak
saling melekat. Kelenjar meibom ini tidak bermuara pada folikel rambut. 3

Gambar 4. Histologi Palpebra (Google, 2015).

12

2.2 Konjungtiva
Lapisan epitel konjungtiva terdiri atas dua hingga lima lapisan sel epitel
silindris bertingkat, superfisial dan basal. Lapisan epitel konjungtiva di dekat
limbus, di atas caruncula, dan di dekat persambungan mukokutan pada tepi
kelopak mata terdiri atas sel – sel epitel skuamosa bertingkat. Sel – sel epitel
superfisial mengandung sel – sel goblet bulat atau oval yang mensekresi mukus.
Mukus yang terbentuk mendorong inti sel goblet ke tepi dan diperlukan untuk
dispersi lapisan air mata prakornea secara merata. Sel – sel epitel basal
bewarna lebih pekat dibandingkan sel – sel superfisial dan di dekat limbus dapat
mengandung pigmen. 4
Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid (superfisial) dan
satu lapisan fibrosa (profundus). Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid
dan di beberapa tempat dapat mengandung struktur semacam folikel tanpa
sentrum germinativum. Lapisan adenoid tidak berkembang sampai setelah bayi
berumur 2 atau 3 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa konjungtivitis inklusi pada
neonatus bersifat papilar bukan folikular. Lapisan fibrosa tersusun dari jaringan
penyambung yang melekat pada lempeng tarsus. Hal ini menjelaskan gambaran
reaksi papila pada radang konjungtiva. Lapisan fibrosa tersusun longgar pada
bola mata. 4
Kelenjar lakrimal aksesorius (kelenjar Krause dan Wolfring), yang struktur
dan fungsinya mirip kelenjar lakrimal, terletak di dalam stroma. Sebagian besar
kelenjar Krause berada di forniks atas, sisanya ada di forniks bawah. Kelenjar
Wolfring terletak di tepi atas tarsus atas. 4
2.3 Kornea
Dari anterior ke posterior, kornea mempunyai lima lapisan yang berbeda –
beda. Lapisan epitel (yang berbatasan dengan lapisan epitel konjungtiva
bulbaris), lapisan Bowman, stroma, membrane Descemet, dan lapisan endotel.
Lapisan epitel mempunyai lima atau enam lapis sel. Lapisan Bowman
merupakan lapisan jernih aselular, yang merupakan bagian stroma yang
berubah. 3

13

Stroma kornea menyusun sekitar 90% ketebalan kornea. Bagian ini
tersusun atas jalinan lamella serat – serat kolagen dengan lebar sekitar 10 – 250
µm dan tinggi 1 – 2 µm yang mencakup hampir seluruh diameter kornea.
Lamella ini berjalan sejajar dengan permukaan kornea, dan karena ukuran dan
kerapatannya menjadi jernih secara optis. Lamella terletak di dalam suatu zat
dasar proteoglikan terhidrasi bersama keratosit yang menghasilkan kolagen dan
zat dasar. Membran Descemet, yang merupakan lamina basalis endotel kornea,
memiliki tampilan yang homogen dengan mikroskop cahaya tetapi tampak
berlapis – lapis dengan mikroskop elektron akibat perbedaan struktur antara
bagian pra dan pascanasalnya. Saat lahir tebalnya sekitar 3 µm dan terus
menebal selama hidup, mencapai 10 – 12 µm. Endotel hanya memiliki satu lapis
sel, tetapi lapisan ini berperan besar dalam mempertahankan deturgesensi
stroma kornea. Endotel kornea cukup rentan terhadap trauma dan kehilangan sel
– selnya seiring dengan penuaan. Reparasi endotel terjadi hanya dalam wujud
pembesaran dan pergeseran sel – sel, dengan sedikit pembelahan sel.
Kegagalan fungsi endotel akan menimbulkan edema kornea. 3

Gambar 5. Lapisan kornea (Genhard, 2000)

14

2.4 Korpus Siliaris
Korpus siliaris terdiri dari dua lapis epitel yaitu non pigmented ciliary
epithelium (NPE) atau lapisan sel epitel tanpa pigmen, terletak dibagian dalam
yang merupakan perluasan neuro retina ke anterior. Dan terdapat lapisan
pigmented ciliary epithelium (PE) atau lapisan epitel berpigmen, terletak dibagian
luar yang merupakan perluasan epitel pigmen retina. Humor aquos diproduksi
oleh prosesus ciliaris dan epitel tanpa pigmen. 3
2.5 Iris
Iris merupakan kelanjutan dari koroid. Stroma iris terdiri atas jaringan ikat
kendor halus yang sangat vaskuler. Mengandung sel-sel pigmen, terutama di tepi
depan. Permukaan iris di sebelah anterior, dilapisi oleh sel-sel endotel pipih yang
bersambungan dengan endotel dari kornea. 3
Iris memliliki otot polos yaitu muskulus sfingter pupil yang arahnya sirkuler
dan dekat dengan pupil, serta muskulus dilatator pupil yang arahnya radier yang
berada di luar muskulus sfingter pupil. Otot-otot polos tersebut berasal dari
lapisan epitel berpigmen yang anterior. Terdapat sabut-sabut saraf yang tersebar
di antara sabut-sabut otot polos. 3
Banyaknya pigmen dari iris menentukan warna dari mata. Pigmen melanin
terdapat pada permukaan sel-sel epitel yang meliputi permukaan posterior dari
iris. Bila stroma iris tipis, pigmen melanin pada permukaan posterior akan
tampak dari luar sehingga berwarna biru. Bila stroma lebih padat, maka warna
yang tampak dari luar adalah abu-abu atau kehijauan. Bila pigmen banyak, baik
dalam stroma maupun epitel, maka warna yang tampak dari luar adalah coklat.
Bila pigmen sangat sedikit, maka warna yang tampak dari luar adalah
kemerahan. 3
2.6 Koroid
Koroid merupakan lapisan berpigmen yang sangat vaskuler. Meliputi dua
per tiga bagian tengah dari bola mata. Koroid teridri dari tiga lapis yaitu : (1).
Lamina supra koroid (epikoroid), (2). Lapisan vaskuler, dan (3). Lamina vitrea
(membran dari Bruch). 3
15

Lamina supra koroid (epikoroid) merupakan membran tipis yang terdiri
atas jaringan ikat yang halus. Lapisan ini mengandung banyak sabut-sabut
elastis dan sel-sel kromatofor, yaitu sel yang besar-besar, bercabang-cabang
dan mengandung pigmen melanin di dalam sitoplasmanya. 3
Lapisan vaskuler terdiri atas jaringan ikat yang lebih kendor dan terdiri dari
dua lapis yaitu stratum koriovaskuler dan stratum koriokapiler. Stratum
koriovaskuler merupakan lapisan yang sebelah luar yang mengandung sel-sel
berpigmen dan arteri dan vena yang besar-besar. Sedangkan stratum
koriokapiler merupakan lapisan yang sebelah dalam dan mengandung anyaman
kapiler yang halus. 3
Lamina vitrea merupakan membran yang tipis, transparan dan semipermeabel. Lapisan ini memisahkan stratum koriokapiler dengan lapisan luar
retina. Lamina vitrea mengandung sabut elastis dan sabut retikuler. 3
2.7 Lensa
Di sebelah depan lensa terdapat selapis epitel subkapsular. Nukleus lensa
lebih keras daripada korteksnya. Seiring dengan bertambahnya usia, serat –
serat lamellar subepitel terus diproduksi sehingga lensa perlahan – lahan
menjadi lebih besar dan kurang elastik. Nukleus dan korteks terbentuk dari
lamellae konsentris yang panjang. Garis – garis persambungan (suture line)
yang terbentuk dari penyambungan tepi – tepi serat lamellar tampak seperti
huruf Y dengan slit lamp. Huruf Y ini tampak tegak di anterior dan terbalik di
posterior. 2
Masing – masing serat lamellar mengandung sebuah inti gepeng. Pada
pemeriksaan mikroskop, inti ini jelas di bagian perifer lensa di dekat ekuator dan
berbatasan dengan lapisan epitel subkapsular. 2

16

Gambar 6. Lensa (Vaughan, 2007)

2.8 Korpus vitreous
Korpus vitreous merupakan masa transparan yang gelatinous. Dibatasi
oleh lamina limitans interna, lensa posterior dan zonula zinii bagian posterior.
Korpus vitreous terdiri dari sekitar 99% air. Sisanya 1% meliputi dua komponen,
kolagen dan asam hyaluronat, yang memberikan vitreous bentuk seperti gel dan
konsistensi karena kemampuan mereka untuk mengikat volume besar air. 2
17

2.9 Retina
Retina terdiri dari 3 jenis sel dan sinapsis (dari luar ke dalam) terdiri atas
sepuluh lapisan sebagai berikut:
1. Pigmen epitel. Ini adalah lapisan terluar dari retina. Ini terdiri dari satu
lapisan sel yang mengandung pigmen. Hal ini tegas melekat pada
lamina basal yang mendasari (membran Bruch) dari koroid. 6
2. Lapisan batang dan kerucut. Batang dan kerucut adalah organ akhir
visi dan juga dikenal sebagai fotoreseptor. Lapisan batang dan kerucut
hanya memiliki satu segmen luar sel fotoreseptor diatur dalam cara
palisade. Ada sekitar 120 juta batang dan 6,5 juta kerucut. Batang
mengandung zat fotosensitif visual yang ungu (rhodopsin) dan bagian
pencahayaan rendah (visi scotopic). Kerucut juga mengandung zat
fotosensitif dan terutama bertanggung jawab untuk penglihatan sentral
yang sangat diskriminatif (visi photopic) dan penglihatan warna. 6
3. Membran limitasi eksternal. Ini adalah membran fenesterated, melalui
yang melewati proses dari batang dan kerucut.6
4. Lapisan nukleus luar. Ini terdiri dari inti batang dan kerucut.6
5. Lapisan plexiform luar. Ini terdiri dari koneksi spherules batang dan
kerucut pedikel dengan dendrit sel bipolar dan sel horizontal. 6
6. Lapisan nukleus dalam. Ini terutama terdiri dari badan sel sel bipolar.
Hal ini juga berisi badan sel amacrine horizontal dan sel Muller dan
kapiler arteri sentral retina. Sel-sel bipolar merupakan urutan neuron
pertama.6
7. Lapisan plexiform dalam. Hal ini pada dasarnya terdiri dari hubungan
antara akson sel bipolar dendrit dari sel-sel ganglion, dan proses sel
amacrine.6
8. Lapisan sel ganglion. Ini terutama mengandung sel tubuh dari sel-sel
ganglion (neuron urutan kedua visual 7 jalur). Ada dua jenis sel
ganglion. Sel-sel ganglion cebol yang hadir di daerah makula dan
dendrit dari setiap sinapsis sel tersebut dengan akson sel bipolar

18

tunggal. Sel-sel ganglion polisinaps terletak terutama di retina perifer
dan setiap sel tersebut dapat bersinaps dengan seratus sel bipolar.6
9. Lapisan serat saraf (stratum opticum) terdiri dari akson sel ganglion,
yang melewati cribrosa lamina untuk membentuk saraf optik. Untuk
distribusi dan pengaturan serabut saraf retina. 6
10. Membran limitan interna. Ini adalah lapisan terdalam dan memisahkan
retina dari vitreous. Hal ini dibentuk oleh serikat ekspansi terminal dari
serat Muller, dan pada dasarnya adalah sebuah membran basal. 6

19

Gambar 7. Lapisan retina (Genhard, 2000)

BAB III
20

FISIOLOGI
3.1 Palpebra
Palpebra adalah suatu lipatan jaringan lunak yang terletak anterior bola
mata dan melindunginya dari cedera. Bentuknya adalah sedemikian rupa
sehingga bola mata benar-benar tertutup ketika mereka ditutup. Rangsangan
mekanik, optik, dan akustik yang kuat (seperti benda asing, cahaya menyilaukan,
atau suara keras tiba-tiba) "otomatis" menimbulkan suatu refleks menutup mata.
Kornea juga dilindungi oleh gerakan ke atas tambahan bola mata (fenomena
Bell). Palpebra secara regular berkedip (20-30 kali per menit) membantu untuk
mendistribusikan sekresi kelenjar dan air mata pada konjungtiva dan kornea,
mencegah dari mata kering., pemeliharaan tekanan intraokular normal,
mekanisme pembentukan gambar, fisiologi penglihatan, fisiologi penglihatan
binokular, fisiologi pupil, dan fisiologi motilitas okular. 5
3.2 Konjungtiva
Kantung konjungtiva memiliki tiga tugas utama:
1. Motilitas bola mata. Koneksi longgar antara konjungtiva bulbar dan sklera
dan jaringan konjungtiva "cadangan" di forniks memungkinkan bola mata
bergerak bebas di setiap arah pandangan. 5
2. Lapisan artikulasi. Permukaan konjungtiva halus dan lembab untuk
memungkinkan membran mukosa meluncur dengan mudah dan tanpa
rasa sakit satu sama lain. Film air mata bertindak sebagai pelumas. 5
3. Fungsi pelindung. Konjungtiva harus mampu melindungi terhadap
patogen. Agregasi mirip-follicle dari limfosit dan sel plasma (kelenjar getah
bening mata) yang terletak di bawah konjungtiva palpebra dan di forniks.
Zat antibakteri, imunoglobulin, interferon, dan prostaglandin membantu
melindungi mata. 5

3.3 Film Air Mata

21

Air mata memiliki peran vital dalam memelihara transparansi dari kornea.
Fungsi air mata adalah: 6
1.
2.
3.
4.
5.

menjaga kelembaban kornea dan konjungtiva.
menyediakan oksigen untuk epitelium kornea.
membersihkan debris dan iritan berbahaya.
mencegah infeksi oleh karena adanya substansi anti bakterial.
menfasilitasi pergerakan palpebra di atas bola mata.
3.4 Kornea
Kornea merupakan media refraksi yang penting dari mata. Aspek fisiologi
yang berhubungan dengan kornea adalah transparansi kornea, nutrisi dan
metabolisme kornea, permeabilitas kornea, dan penyembuhan luka kornea.
Kedua fungsi fisiologis utama kornea adalah (i) untuk bertindak sebagai media
refraksi utama; dan (ii) untuk melindungi isi intraokular. Kornea menjalankan
tugas ini dengan mempertahankan transparansi dan penggantian jaringannya. 6
Transparansi kornea dihasilkan dari pengaturan khusus dari lamellae
kornea, avaskularitasnya, dan keadaan dehidrasi relatif yang dipertahankan oleh
barrier epitel-endotel dan aktifitas pompa bikarbonat dari endotelium. Untuk
menjalankan proses ini, kornea membutuhkan energi. 6

 Sumber nutrisi kornea
a) Larutan (glukosa dan lain-lain) memasuki kornea baik dengan difusi sederhana
maupun transpor aktif melalui humor aquous dan dengan difusi dari kapiler
perilimbal. 6
b) Oksigen yang berasal langsung dari udara melalui lapisan air mata. Ini adalah
proses aktif yang dilakukan oleh epitel. 6
 Metabolisme kornea
Lapisan yang paling aktif melakukan metabolisme kornea adalah epitel
dan endotel, lapisan yang sepuluh kali lebih tebal daripada yang lainnya ini,
secara proporsional membutuhkan pasokan substrat metabolik yang lebih besar.
Seperti pada jaringan yang lain, epitel dapat memetabolisme glukosa baik
aerobik dan anaerobik menjadi karbon dioksida dan air dan asam laktat. Jadi,
dalam kondisi anaerob asam laktat terakumulasi di dalam kornea. 6
3.5 Humor Aquos
22

Tekanan intraokular ditentukan oleh tingkat produksi humor aquos dan
resistensi terhadap arus keluar air dari mata. 2

Komposisi Humor Aquos
Humor aquos adalah cairan bening yang mengisi ruang anterior dan

posterior mata. Volumenya sekitar 250 L, dan laju produksinya tergantung
kepada variasi diurnal, yaitu sekitar 2,5 L / menit. Tekanan osmotiknya sedikit
lebih tinggi dari plasma. Komposisi humor aquos mirip dengan plasma kecuali
untuk konsentrasi yang lebih tinggi dari askorbat, piruvat, dan laktat dan
konsentrasi yang lebih rendah dari protein, urea, dan glukosa. 2

Produksi dan Aliran Humor Aquos
Humor Aquos diproduksi oleh korpus siliaris. Ultrafiltrasi plasma yang

dihasilkan dalam stroma korpus siliaris dimodifikasi oleh fungsi barrier dan
proses sekresi dari epitel siliaris. Memasuki bilik posterior, humor aquos melewati
pupil ke bilik anterior dan kemudian ke trabecular meshwork di sudut bilik mata
depan. Selama periode ini, ada beberapa pertukaran diferensial komponen
dengan darah di iris. 2

Aliran Keluar Humor Aquos
Trabecular meshwork terdiri dari jaringan kolagen dan jaringan elastis

yang ditutupi oleh sel-sel trabekular yang membentuk filter dengan ukuran pori
semakin mengecil seperti ukuran kanal Schlemm yang didekati. Kontraksi otot
siliaris melalui insersinya ke dalam trabekular meshwork meningkatkan ukuran
pori dalam meshwork sehingga meningkatkan drainase aquos. Aliran humor
aquos ke kanal Schlemm bergantung pada pembentukan siklik saluran
transelular pada lapisan endotel. Saluran eferen dari kanal Schlemm (sekitar 30
saluran kolektor dan 12 vena berair) menjalankan cairan langsung ke dalam
sistem vena. Sebagian aquos lewat di antara berkas otot siliaris ke ruang
suprakoroidal dan kemudian ke dalam sistem vena korpus siliaris, koroid, dan
sklera (aliran uveoskleral). 2
3.6 Traktus Uvea
a. Korpus Siliaris
23

Otot siliaris bertanggung jawab untuk akomodasi. Epitel berlapis ganda
yang menutupi korpus siliaris menghasilkan humor aquos. 5
b. Iris
Lapisan posterior iris opak dan melindungi mata terhadap cahaya datang
yang berlebihan. 5
c. Koroid
Koroid berfungsi mengatur suhu dan memberi suplai nutrisi untuk lapisan
luar retina. 5
3.7 Lensa
Lensa kristalina adalah struktur transparan yang berperan utama sebagai
mekanisme fokus dari penglihatan. Lensa berfungsi sebagai media refraksi dan
akomodasi. Akomodasi lensa yaitu kemampuan mata untuk melihat jauh dan
dekat dipengaruhi oleh kelenturan lensa, kontraksi otot-otot ciliaris dan dilatasi
zonula zinii. 6
Aspek fisiologi termasuk :

Transparansi lensa

Faktor yang mempengaruhi transparansi lensa yaitu : 6

- Avaskularisasi
- Kerapatan dari susunan sel-sel lensa
- Susunan protein dalam lensa
- Karakter kapsul yang semipermeabel
- Keseimbangan air dan elektrolit di dalam lensa
- Auto-oksidasi
Metabolisme Lensa
Lensa butuh suplai berkelanjutan dari energy (ATP) untuk transport aktif

ion-ion dan asam amino, memelihara dehidrasi lensa dan protein lensa dan
sintesis Growth Stimulating Hormon. Energi yang diproduksi paling banyak
digunakan pada epithelium dimana merupakan tempat utama proses transport
aktif. Hanya sekitar 10-20% ATP yang digunakan untuk sintesis protein. 6
Sumber dari suplai nutrient, lensa kristalina merupakan struktur avaskular
yang bergantung pada metabolism kimianya dengan humor aquos. Aspek
fisiologi terpenting dari lensa adalah mekanisme yang mengatur keseimbangan
24

air dan elektrolit lensa yang sangat penting untuk menjaga kejernihan lensa.
Karena kejernihan lensa sangat bergantung pada komponen strkturnya dan
komponen makromolekular, gangguan dari hidrasi lensa dapat menyebabkan
kekeruhan lensa. 6

Daya Akomodasi Lensa
Akomodasi merupakan suatu proses ketika lensa merubah fokus untuk

melihat benda dekat. Pada proses terjadi perubahan lensa yang dihasilkan oleh
kinerja otot siliaris pada serabut-serabut gunular. Kelenturan lensa paling tinggi
dijumpai pada usia anak-anak dan dewasa muda dan semakin menurun dengan
bertambahnya usia. 6
Berdasarkan teori klasik proses akomodasi dibedakan menjadi:
a. Teori akomodasi Helmholts 6
-

Lensa bersifat elastic dan berusaha terus cembung kecuali bila ditarik dengan
zonulla zinnia

-

Akomodasi kontraksi muskulus siliaris maka akan terjadi pengecilan lingkaran
badan siliar, kendornya zonulla zinnia, lensa akan menjadi lebih cembung,
kekuatan pembiasan akan bertambah.

b. Teori akomodasi Tersching6
-

Kontraksi badan siliar

-

Zonula zinnia terdorong ke bagian sentral

-

Lensa terjepit

-

Lensa sentral tidak terjepit akan mencembung

-

Daya bias lensa sentral akan bertambah.

3.8 Korpus Vitreous
Fungsi korpus vitreous adalah sebagai berikut: 5


Menstabilkan bola mata
Meneruskan sinar
Mempertahankan lensa pada tempatnya.

25

Mempertahankan lapisan dalam retina agar tetap melekat pada lapisan
luar berpigmen. Bila cairan vitreous keluar, kedua lapisan retina dapat

terpisah.
Merupakan media pertukaran metabolit - metabolit.

3.9 Retina
Retina adalah jaringan mata yang paling kompleks. Mata berfungsi
sebagai suatu alat optik, suatu reseptor yang kompleks, dan suatu
transduser yang efektif. Sel-sel batang dan kerucut di lapisan fotoreseptor
mengubah

rangsangan

cahaya

menjadi

suatu

impuls

saraf

yang

dihantarkan oleh jaras-jaras penglihatan ke korteks penglihatan oksipital. 2
Fotoreseptor tersusun sedemikian rupa sehingga kerapatan sel
kerucut meningkat di pusat makula (fovea), semakin berkurang ke perifer,
dan kerapatan sel batang lebih tinggi di perifer. Di foveola, terdapat
hubungan hampir 1:1 antara fotoreseptor kerucut, sel ganglionnya, dan
serat-serat saraf yang keluar, sedangkan di retina perifer, sejumlah
fotoreseptor dihubungkan ke sel ganglion yang sama. Fovea berperan pada
resolusi spasial (ketajaman penglihatan) dan penglihatan warna yang baik,
keduanya memerlukan pencahayaan ruang yang terang (penglihatan
fotopik) dan yang paling baik di foveola, sementara retina sisanya terutama
digunakan untuk penglihatan gerak, kontras dan penglihatan malam
(skotopik).2
Fotoreseptor kerucut dan batang terletak di lapisan terluar retina
sensorik yang avaskular dan merupakan tempat berlangsungnya reaksi
kimia yang mengawali proses penglihatan. Setiap sel fotoreseptor kerucut
mengandung rhodopsin, suatu pigmen penglihatan yang fotosensitif dan
terbenam di dalam diskus bermembran ganda pada fotoreseptor segmen
luar. Pigmen ini tersusun atas dua komponen, sebuah protein opsin dan
sebuah kromofor. Opsin dalam rhodopsin adalah scotopsin, yang terbentuk
dari tujuh heliks transmembran. Opsin tersebut mengelilingi kromofornya
retinal yang merupakan turunan dari vitamin A. Saat rhodopsin menyerap
foton cahaya, 11-cis-retinal akan mengalami isomerasi menjadi all-trans26

retinal dan akhirnya akan menjadi all-trans-retinol. Perubahan bentuk itu
akan mencetuskan terjadinya kaskade penghantar kedua (secondary
messanger cascade). Puncak absorbsi cahaya oleh rhodopsin terjadi pada
panjang gelombang sekitar 500 nm, yang merupakan daerah biru-hijau
pada

spektrum

cahaya.

Penelitian-penelitian

sensitivitas

spektrum

fotopigmen kerucut memperlihatkan puncak absorbsi panjang gelombang,
berturut-turut untuk sel kerucut sensitif biru, hijau dan merah, pada 430, 540
dan 575 nm. Fotopigmen sel kerucut terdiri atas 11-cis-retinal yang terikat
pada protein opsin selain scoptosin.2
Penglihatan skotopik seluruhnya diperantarai oleh fotoreseptor
batang. Dengan bentuk penglihatan adaptasi gelap ini, terlihat beragam
corak abu-abu, tetapi warna-warnanya tidak dapat dibedakan. Sewaktu
retina telah beradaptasi penuh terhadap cahaya, sensitivitas spektrum
retina bergeser dari puncak dominasi rhodopsin 500 nm dan muncul
sensasi warna. Suatu objek akan berwarna apabila objek tersebut secara
selektif memantulkan atau menyalurkan sinar dengan panjang gelombang
tertentu dalam kisaran spektrum cahaya tampak (400-700 nm). Penglihatan
siang hari (fotopik) terutama diperantarai oleh fotoreseptor kerucut,
senjakala (mesopik) oleh fotoreseptor batang.2
Fotoreseptor dipelihara oleh epitel pigmen retina, yang berperan
penting dalam proses penglihatan. Epitel ini bertanggung jawab untuk
fagositosis segmen luar fotoreseptor, transportasi vitamin, mengurangi
hamburan sinar, serta membentuk sawar selektif antara koroid dan retina.
Membran basalis sel-sel epitel pigmen retina membentuk lapisan dalam
membran Bruch, yang juga tersusun atas matriks ekstraselular khusus dan
membran basalis koriokapilaris sebagai lapisan luarnya. Sel-sel epitel
pigmen retina mempunyai

kemampuan terbatas dalam

melakukan

regenerasi. 2
Makula lutea adalah bagian kuning dari retina di mana terdapat
fotoreseptor

sel

kerucut

yang

sangat

padat.

Bagian

ini mengatur

penglihatan sentral yaitu, visi berketajaman tinggi yang diperlukan untuk
membaca, mengemudi dan mengenali wajah. Di tengah makula ini terdapat
27

sebuah lubang kecil yang disebut fovea sentralis, yang menghasilkan
gambar sangat halus dan rinci. 2

BAB IV
KESIMPULAN
1. Bola mata adalah struktur kistik yang terdiri dari tiga lapis: luar (lapisan
fibrous), tengah (lapisan vaskular) dan bagian dalam (lapisan saraf).

28

2. Bola mata dilindungi oleh dua lipatan kulit yang disebut palpebra. Palpebra
berfungsi membantu mendistribusikan air mata pada konjungtiva dan kornea,
mencegah dari mata kering, dan pemeliharaan tekanan intraokular normal.
3. Konjungtiva adalah selaput lendir transparan yang menutupi permukaan
posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior
sklera (konjungtiva bulbaris). Konjungtiva berfungsi sebagai pelindung dan
motilitas bola mata.
4. Kornea adalah jaringan transparan di bagian anterior bola mata yang
merupakan media refraksi yang penting.
5. Bilik mata depan adalah ruang di antara kornea dan iris. Pada sudut bilik
mata depan terdapat trabekula meshwork dan kanal Schlemm sebagai
tempat keluarnya humor aquos.
6. Traktus uvea terdiri dari korpus siliaris, iris, dan koroid. Lapisan ini adalah
lapisan vaskular di tengah mata yang memberikan pasokan darah ke retina.
7. Lensa adalah struktur bikonveks, avaskular, tak bewarna, dan hampir
transparan sempurna. Lensa berperan utama sebagai mekanisme fokus dari
penglihatan.
8. Korpus vitreous merupakan struktur seperti agar-agar yang jernih, avaskuler
yang berperan menstabilkan bola mata, meneruskan sinar, mempertahankan
lensa pada tempatnya, dan sebagai media pertukaran metabolit.
9. Retina adalah jaringan mata yang paling kompleks. Pada lapisan fotoreseptor
terdapat sel batang dan kerucut yang mengubah rangsangan cahaya menjadi
suatu impuls saraf yang dihantarkan oleh jaras-jaras penglihatan ke korteks
penglihatan oksipital.

BAB V
PENUTUP

Telah kami buat referat yang berjudul “ Anatomi, Histologi, dan Fisiologi
Mata” dari berbagai sumber referensi yang kami dapat. Semoga referat ini
bermanfaat bagi semua orang yang membacanya. Apabila terdapat kekurangan
29

dalam pembuatan referat ini, kami sebagai penyusun referat mohon maaf
sebesar-besarnya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Susan. Standring. 2008. Gray’s Anatomy, The Anatomical Basis of
Clinical Practice 14th ed. Hal: 669-672.
2. Vaughan D. General Opthalmology. 17th Edition. McGraw-Hill. 2007.

30

3. Fawcett, DW. A Textbook of Histology. 12th Edition. Chapman & Hall,
inc. 2002.
4. Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga. 2008. FK UI. Jakarta
5. K Lang, Gerhard. Ophthalmology A Short Textbook. 2000. Thieme
Stuttgart.New York;
6. Khurana, AK. Comprehensive Opthalmology. 4th Edition. New Delhi:
New Age International. 2007.
7. http://4sinaps.blogspot.com/2013/01/anatomi-dan-fisiologi-mata.html
8. http://orangkesehatan.blogspot.com/2010/04/anatomi-dan-fisiologi-

alat-penglihatan.html

31