You are on page 1of 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Waham merupakan salah satu jenis gangguan jiwa. Waham sering ditemui pada
gangguan jiwa berat dan beberapa bentuk waham yang spesifik sering ditemukan pada
penderita skizofrenia. Semakin akut psikosis semakin sering ditemui waham disorganisasi
dan waham tidak sistematis.
Prevalensi gangguan waham di Amerika Serikat diperkirakan 0,025 sampai 0,03 persen.
Usia onset kira-kira 40 tahun, rentang usia untuk onset dari 18 tahun sampai 90 tahunan,
terdapat lebih banyak pada wanita.
Adapun standar asuhan keperawatan yang diterapkan pada klien dalam keperawatan
jiwa yaitu strategi pelaksanaan komunikasi teraupetik. Dalam melakukan strategi
pelaksanaan komunikasi teraupetik perawat mempunyai empat tahap komunikasi, yang setiap
tahapnya mempunyai tugas yang harus diselesaikan oleh perawat. Empat tahap tersebut yaitu
tahap prainteraksi, orientasi atau perkenalan, kerja dan terminasi. Dalam membina hubungan
teraupetik perawat- klien, diperlukan ketrampilan perawat dalam berkomunikasi untuk
membantu memecahkan masalah klien. Perawat harus hadir secara utuh baik fisik maupun
psikologis terutama dalam penampilan maupun sikap pada saat berkomunikasi dengan klien
(Riyadi, 2009).
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum
Tujuan Umum dari penulisan makalah ini yaitu untuk memahami Roleplay
tentang Gangguan proses fikir: Waham.
1.2.2 Tujuan Khusus.
Tujuan Khusus dari penulisan makalah antara lain:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Untuk Mengetahui Definisi Waham


Untuk Mengetahui Jenis-jenis Waham
Untuk Mengetahui Etiologi
Untuk Mengetahui Rentang respon
Untuk Mengetahui Proses terjadinya waham
Untuk Mengetahui Gejala-gejala waham
Untuk Mengetahui Asuhan Keperawatan

BAB II
SKENARIO
2.1 Daftar Pemain
2

Media Hardika P :

Narrator

Rico Ighwan

Pasien Waham

Vivi Novita

Ibu Rico

Missungga Cahyana:

Ayah Rico

Sundari

Perawat 1

Yulia Nelpiza

Perawat 2

Mikhael F

Musuh Rico

Ferina. O

Teman Rico

Dona

Teman Rico

Enggy

Teman Rico

Media

Teman Rico

2.2 Rencana Kegiatan


NO
1

Kegiatan

Waktu

Orientasi:

5 Menit

Narator membacakan scenario (sesuai dengan judul


yang telah diambil) dan mengenalkan para pemain
2

dalam Role Play.


Tahap Kerja:

20-30 Menit

Setiap pemain berperan sesuai dengan yang telah


dibacakan dan sesuai dengan scenario yang telah
3

ditetapkan
Tahap Terminasi:

5 Menit

Narator menutup kegiatan Role Play dab


menyampaikan kesimpulan.

2.3 Dialog
Kemauanku yang seperti ini

Riko adalah seorang pemuda berumur 21 tahun yang terkenal di kampusnya. Ia adalah
seorang pembalap mobil terkenal di Pekanbaru. Dan Riko selalu memenangkan setiap
pertandingan yang ia ikuti. Setiap malam Riko menghabiskan malam-malam bersama temantemannya dan mengikuti balap mobil. Suatu malam Riko mendapatkan tantangan dari seorang
pemuda yang mengajak nya balapan mobil. Tetapi disini mempertaruhkan seluruh mobil koleksi
Riko serta bengkel mobil yang ia bangun dengan uang hasil lombanya. Dan Riko pun
menyetujuinya.
Pada pagi hari, dibengkel mobil Riko. Riko dan teman-temannya sudah berkumpul di
bengkel. Memperbaiki apa yang harus diperbaiki untuk persiapan lomba nanti malam.
Riko

Gimana kondisi mobil ku fer? Apakah mesin nya sudah aman, tentunya

sudah diganti dengan yang baru kan?


Ferina

Aman kok. Semuanya sudah terkendali, nanti malam kau sudah bisa

mengendarai nya. Mobil yang kurancang ini berkekuatan tenaga seperti 1000 kuda. Dan
aku yakin, lo lo pada gak akan kalah
Riko

Oke. Semua aku percayakan sama kamu, fer. Thanks ya! Sambil High

Five dengan temannya itu.

Pada malam harinya tepat pukul 21.00 semua orang sudah berkumpul di pinggir jalan
melihat keseruan pertandingan malam ini. Teman-teman Riko pun hadir di pertandingan itu dan
memotivasi nya agar dapat memenangkan pertandingan tersebut.
Teman-Teman Riko :

Semangat yaa Riko buat pertandingannya. Aku yakin kau pasti bisa
memenangi pertandingan ini
4

Riko

Oke thanks, bro!

Mikhael

Bagaimana kesiapan mu? Apa kau sudah siap melawan ku. Atau kau mau

mengundurin diri dari sekarang!


Riko

Kita lihat saja nanti menatp mikel tajam seolah matanya berbicara

bahwa ia tak terkalahkan. Eh, di Kamus aku ni ya, mana ada kata-nyerah!
Apalagi kalah! Secara.. aku kan pembalap terkenal di kota ini
Akhirnya waktu yang ditunggu pun tiba. Mikhael dan Riko pun memulai balapan. Riko pun
memimpin sejak awal. Sampai di Lap terakhir, tiba-tiba ada seekor kucing lewat dan
membuyarkan konsentrasi Rico. Ia pun mengelak untuk tidak menabrak kucing tersebut, sayang
nya ban nya terslip dan menbrak trotar. Dengan kesempatan ini Mikhael pun memacu mobil
Riko dan memenangi pertandingan tersebut.
Mikhael

Gimana? Katanya gak ada kata Kalah dikamus mu, liat sekarang?

Hahaha! tertawa atas kemenangan. Sekarang kau sudah kalah. Sekarang mana surat
bengkel mobil mu,dan seluruh kunci mobil mu beserta BPKB nya
Riko

Ini ambil semua!! sambil memberikan seluruh aset yang di milki Riko.

Akibat kejadian tersebut, Riko mulai depresi dan mengatakan hal yang tidak tidak
sesuai realita seperti dia adalah seorang pembalap terkenal yang sudah mendunia. Yang sudah
menjuarai Balapan F1 8 kali berturut-turut. Karena kondisi Riko semakin parah, Orang Tua Rico
membawanya ke Rumah Sakit Jiwa.
Perawat Yulia :

Selamat Pagi Ibuk/Bapak. Perkenalkan nama saya Yulia, saya lagi

berjaga disini. Nama Ibu/Bapak siapa? Enaknya dipanggi apa?

Bapak Angga :

Saya Angga, sus. Ini istri saya, Vivi. Dan ini anak saya, Rico berjabat
tangan.

Ibu Vivi

Pagi, sus sambil bersalaman.

Perawat

Baiklah. Ada yang bisa saya bantu?

Ibu Vivi

Iya sus, ini anak saya Rico. Dia gak mau keluar kamar 2 minggu

belakangan ini. Kalau udah keluar kamar, omongan dia saya gak ngerti. Dia bilang dia Pembalap
F1. Seperti itu
Setelah perbincangan selama 15 menit. Rico pun di Rawat di Rumah Sakit Jiwa. Dengan
pengkajian lebih lanjut, didapati bahwa Rico terdiagnosis Gangguan Proses fikir: Waham.
Hari berganti hari, semakin hari Rico pun semakin sehat. Seiring berjalannya hari
tersebut, keluarga sering sekali berkunjung ke Rumah Sakit. Pada saat itu, Perawat akan
melakukan tindakan dimana ia akan menjelaskan kepada Ibu dan Bapak Rico mengenai
identifikasi masalah dalam merawat pasien wahan dan latiha orientasi realita.
Perawat

Selamat Pagi Pak, Buk perkenalkan nama saya Sundari saya perawat

yang bertugas disini dan saya yang merawat Riko selama disini. Nama bapak dan ibu siapa? dan
senang di panggil apa?
Bapak/ibu

Perkenalkan sus, nama saya Ibu Vivi dan ini suami saya Angga

Perawat

Baik pak Angga dan bu Vivi disini kita akan berbincang-bincang masalah

Riko dan bagiamana cara merawatnya.


Bapak Angga :

Iya bu boleh

Perawat

Kalau begitu dimana kita bisa berbicara mengenai masalah ini buk dan

pak?
Bapak Angga :

Di sini saja sus

Perawat

Mau berapa lama, kita berbincang pak?

Bapak Angga :

Terserah suster, tapi kalau 30 menit gimana sus?

Perawat

Apa masalah yang ibu dan bapak rasakan dalam merawat Rico? Apa saja

yang sudah dilakukan?


Ibu Vivi

Ada sus, Rico susah keluar kamar. Sekali keluar kekamar ia berbicara

hal-hal yang aneh, seperti mengaku-ngaku bahwa dia adalah seorang Pembalap terkenal.

Bapak Angga:

Iya sus. Kalo sudah begitu, kami juga bingung mau melakukan apa

kepada Rico
Perawat

Oohh.. begitu, jadi pak, bu. Rico masih mengaku-ngaku sebagai

Pembalap terkenal tetapi nyatanya bukan seperti itu, ini adalah salah satu gangguan proses
berfikir. Untuk itu saya jelaskan sikap dan cara menghadapinya
Ibu Vivi

Ooh.. iya sus. Pas sekali ini dengan masalah kami yang hadapi sekarang

Perawat

Bapak dan Ibu pertama-tama mengatakan Bapak dan Ibu mengerti,

bahwa Rico merasa seorang Juara F1 tahun ini. Tetapi sulit bagi bapak dan Ibu mempercayai,
karena setahu kami Pembalap F1 itu bernama Louise Hamilton, dan Dia berkebangsaan
Argentina dan ia tidak pandai berbahasa Indonesia
Bapak Angga :

Oke, begitu sus. Selanjutnya apa yang tindakan yang bisa kami lakukan

lagi?
Perawat

Nah, bapak dan Ibu harus lebih sering memuji Rico jika ia melakukan

hal-hal yang baik, dan hal ini sebaiknya dilakukan oleh seluruh keluarga yang berinteraksi
dengan Rico
Ibu Vivi

Iya sus. Nanti saya bilang ke adik dan kakak nya Rico

Perawat

Bagaimana perasaan Bapak Angga dan Bu Vivi setelah kita bercakap-

cakap tentang cara merawat Rico Dirumah?


Bapak Angga :

Lebih lega bu. Soalnya, kami masih bingung cara merawat Rico

bagaimana, apalagi kalau hal-hal yang aneh itu ia ceritakan, yakan ma?
Perawat

Bagus kalau begitu bu. Jadi setelah ini coba Bapak dan Ibu lakukan

semua yang sudah saya jelaskan tadi


Ibu Vivi

Iya, sus

Perawat

Baiklah, bagaimana kalau dua hari lagi saya datang kembali kesini dan

kita akan mencoba melakukan langsung cara merawat Rico dengan pembicaraan kita tadi?
Bapak Angga :

Baik, sus

Perawat

Sampai jumpa! sambil bersalaman.

Setelah dapat penjelasan dari Perawat, orang tua beserta keluarga Rico pun menerapkan
kegiatan tersebut dan Rico tidak lahgi menggucapkan hal-hal yang tidak berdasarkan kenyataan.

BAB III
LANDASAN TEORI
3.1 Definisi

Proses berfikir meliputi proses pertimbangan (judgment), pemahaman


(comprehension), ingatan serta penalaran (reasoning). Arus idea simbul atau asosiasi yang
terarah kepada tujuan dan yang di bangkitkan oleh suastu masalah atau tugas dan yang
menghantarkan kepada suatu penyelesaian yang terorientasi pada kenyataan merupakan
proses berfikir yang normal. Aspek proses berfikir dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu
bentuk pikiran, arus pikiran dan isi pikir. Gangguan isi pikir dapat terjadi baik pada isi
pikiran non verbal maupun pada isi pikiran verbal diantaranya adalah waham (Marasmis,
2005).
Waham adalah keyakinan keliru yang sangat kuat yang tidak dapat dikurangi dengan
menggunakan logika (Ann Isaac, 2004).
Waham adalah keyakinan tentang suatu isi pikiran yang tidak sesuai dengan
kenyataannya atau tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang kebudayaannya,
biarpun dibuktikan kemustahilannya (Maramis,W.F, 1995).
3.2 Jenis-jenis Waham
Adapun jenis-jenis waham menurut Marasmis, Stuart and Sundeen ( 1998) dan Keliat
(1998) waham terbagi atas beberapa jenis, yaitu:
1. Waham agama : keyakinan klien terhjadap suatu agama secara berlebihan diucapkan
beulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
2. Waham kebesaran : klien yakin secara berlebihan bahwa ia memiliki kebesaran atau
kekuatan khusus diucapkan beulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
3. Waham somatic : klien meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya teganggu dan
terserang penyakit, diucapkan beulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
4. Waham curiga : kecurigaan yang berlebihan dan tidak rasional dimana klien yakin bahwa
ada seseorang atau kelompok orang yang berusaha merugikan atau mencurigai dirinya,
diucapkan beulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
5. Waham nihilistic : klien yakin bahwa dirinya sudah ridak ada di dunia atau sudah
meninggal, diucapkan beulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
6. Waham bizar
a. Sisip pikir : klien yakin ada ide pikiran orang lain yang dsisipkan di dalam pikiran
yang disampaikan secara berulang dan tidak sesuai dengan kenyataan.

b. Siar pikir : klien yakin bahwa orang lain mengetahui apa yang dia pikirkan walaupun
dia tidak menyatakan kepada orang tersebut, diucapkan beulang kali tetapi tidak
sesuai dengan kenyataan.
c. Kontrol pikir : klien yakin pikirannya dikontrol oleh kekuatan dari luar.
3.3 Etiologi
Townsend (1998, hal 158) menagatakan bahwa hal-hal yang menyebabkan gangguan
isi pikir : waham adalah ketidakmampuan untuk mempercayai orang lain, panic, menekan
rasa takut stress yang berat yang mengancam ego yang lemah., kemungkinan factor
herediter.
Secara khusus factor penyebab timbulnya waham dapat diuraikan dalam beberapa teori
yaitu :
1. Factor Predisposisi
Menurut Townsend (1998, hal 146-147) factor predisposisi dari perubahan isi pikir :
waham kebesaran dapat dibagi menjadi dua teori yang diuraikan sebagai berikut :
a. Teori Biologis
1) Faktor-faktor genetic yang pasti mungkin terlibat dalam perkembangan suatu
kelainan ini adalah mereka yang memiliki anggota keluarga dengan kelainan yang
sama (orang tua, saudara kandung, sanak saudara lain).
2) Secara relative ada penelitian baru yang menyatakan bahwa kelainan skizoprenia
mungkin pada kenyataanya merupakan suaru kecacatan sejak lahir terjadi pada
bagian hipokampus otak. Pengamatan memperlihatkan suatu kekacauan dari selsel pramidal di dalam otak dari orang-orang yang menderoita skizoprenia.
3) Teori biokimia menyatakan adanya peningkata dupamin neorotransmiter yang
dipertukarkan mengahasilkan gejala-gejala peningkatan aktifitas yang berlebihan
dari pemecahan asosiasi-asosiasi yang umumnya diobservasi pada psikosis.
b. Teori Psikososial
1) Teori sistem keluarga Bawen dalam Townsend (1998) menggambarkan
perkembangan skizofrenia sebagai suatu perkembangan disfungsi keluarga.
Komflik diantara suami istri mempengaruhi anak. Penanaman hal ini dalam anak
akan menghasilkan keluarga yang selalu berfokus pada ansietas dan suatu kondisi
yang lebih stabil mengakibatkan timbulnya suatu hubungan yang saling
mempengaruhi yang berkembang antara orang tua dan anak-anak. Anak harus
meninggalkan ketergantungan diri kepada orang tua dan masuk kepada masa
10

dewasa, dimana di masa ini anak tidak akan mampu memenuhi tugas
perkembangan dewasanya.
2) Teori interpersonal menyatakan bahwa orang yang mengalami psikosis akan
menghasilkan hubungan orang tua anak yang penuh akan kecemasan. Anak
menerima pesan-pesan yang membingungkan dan penuh konflik dan orang tua
tidak mampu membentuk rasa percaya tehadap orang lain.
3) Teoti psikodinamik menegaskan bahwa psikosis adalah hasil dari suatu ego yang
lemah. Perkembangan yang dihambat dan suatu hubungan saling mempengaruhi
orang tua dan anak . karena ego menjadi lebih lemah penggunaan mekanisme
pertahanan itu pada waktu kecemasan yang ekstrem mennjadi suatu yang
maladaptive dan perilakunya sering kali merupakan penampilan dan sekmen diri
dalam kepribadian.
2. Faktor Presipitasi
Menurut Stuart dan Sundeen (1998, hal 310) factor presipitasi dari perubahan isi pikir :
waham kebesaran yaitu :
1) Biologis
Stressor biologis yang berhubungan dengan nerobiologis yang maladaptive termasuk
gangguan dalam putaran umpan balik otak yang mengatur perubahan isi informasi
dan abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan
ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi rangsangan.
2) Stress lingkungan
Secara biologis menetapkan ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi
dengan stressor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan prilaku.
3) Pemicu gejala
Pemicu yang biasanta terdapat pada respon neurobiologist yang maladaptive
berhubungan denagn kesehatan lingkungan, sikap dan prilaku individu, seperti : gizi
buruk, kurang tidur,infeksi, keletihan, rasa bermusuhan atau lingkunag yang penuh
kritik, masalah perumahan, kelainan terhadap penampilan, stress agngguan dalam
berhubungan interpersonal, kesepian, tekanan, pekerjaa, kemiskinan, keputusasaan
dan sebaigainya.
3.4 Rentang Respon
Rentang respon gangguan adaptif dan maladaptif dapat dijelaskan sebagai berikut :
Rentang respon neurobiologist

11

Respon adaptif

Respon maladaptif

Pikiran logis

Kadang-kadang isi

Gangguan isi pikir

persepsi akurat
Emosi konsisten

pikir terganggu ilusi


Reaksi emosional

waham halusinasi
Ketidakmampuan untuk

dengan pengalaman
Prilaku sesuai

mengalami emosi
Ketidakmampuan

dengan hubungan
social

ber-lebihan atau

kurang
Prilaku ganjil atau

isolasi sosial

tidak lazim

Rentang respon neurobiologis di atas dapat dijelaskan bila individu merespon secara
adaptif maka individu akan berpikir secara logis. Apabila individu berada pada keadaan
diantara adaptif dan maladaptif kadang-kadang pikiran menyimpang atau perubahan isi pikir
terganggu. Bila individu tidak mampu berpikir secara logis dan pikiran individu mulai
menyimpang maka ia akan berespon secara maladaptif dan ia akan mengalami gangguan isi
pikir : waham.

3.5 Proses Terjadinya Waham


Waham adalah anggapan tentang orang yang hypersensitif, dan mekanisme ego
spesifik, reaksi formasi dan penyangkalan. Klien dengan waham, menggunakan mekanisme
pertahanan reaksi formasi, penyangkalan dan proyeksi. Pada reaksi formasi, digunakan
sebagai pertahanan melawan agresi, kebutuhan, ketergantungan dan perasaan cinta.
Kebutuhan akan ketergantungan ditransformasikan menjadi kemandirian yang kokoh.
Penyangkalan, digunakan untuk menghindari kesadaran akan kenyataan yang menyakitkan.
Proyeksi digunakan untuk melindungi diri dari mengenal impuls yang tidak dapat diterima
didalam dirinya sendiri. Hypersensitifitas dan perasaan inferioritas, telah dihipotesiskan
menyebabkan reaksi formasi dan proyeksi, waham kebesaran dan superioritas. Waham juga
dapat muncul dari hasil pengembangan pikiran rahasia yang menggunakan fantasi sebagai

12

cara untuk meningkatkan harga diri mereka yang terluka. Waham kebesaran merupakan
regresi perasaan maha kuasa dari anak-anak, dimana perasaan akan kekuatan yang tidak
dapat disangkal dan dihilangkan (Kaplan dan Sadock, 1997).
Cameron, dalam Kaplan dan Sadock, (1997) menggambarkan 7 situasi yang
memungkinkan perkembangan waham, yaitu : peningkatan harapan, untuk mendapat terapi
sadistik, situasi yang meningkatkan ketidakpercayaan dan kecurigaan, isolasi sosial, situasi
yang meningkatkan kecemburuan, situasi yang memungkinkan menurunnya harga diri (harga
diri rendah), situasi yang menyebabkan seseorang melihat kecacatan dirinya pada orang lain,
situasi yang meningkatkan kemungkinan untuk perenungan tentang arti dan motivasi
terhadap sesuatu.
3.6 Gejala-gejala Waham
Menurut Kaplan dan Sadock (1997), kondisi klien yang mengalami waham adalah:
1. Status mental
a. Pada pemeriksaan status mental, menunjukan hasil yang sangat normal, kecuali
bila ada sistem waham abnormal yang jelas.
b. Mood klien konsisten dengan isi wahamnya.
c. Pada waham curiga, didapatkan perilaku pencuriga.
d. Pada waham kebesaran, ditemukan pembicaraan tentang peningkatan identitas
diri, mempunyai hubungan khusus dengan orang yang terkenal.
e. Adapun sistem wahamnya, pemeriksa kemungkinan merasakan adanya kualitas
depresi ringan.
f. Klien dengan waham, tidak memiliki halusinasi yang menonjol/ menetap, kecuali
pada klien dengan waham raba atau cium. Pada beberapa klien kemungkinan
ditemukan halusinasi dengar.
2. Sensori dan kognisi
a. Pada waham, tidak ditemukan kelainan dalam orientasi, kecuali yang memiliki
waham spesifik tentang waktu, tempat dan situasi.
b. Daya ingat dan proses kognitif klien adalah intak (utuh).
c. Klien waham hampir selalu memiliki insight (daya titik diri) yang jelek.
d. Klien dapat dipercaya informasinya, kecuali jika membahayakan dirinya.
Keputusan terbaik bagi pemeriksa dalam menentukan kondisi klien adalah dengan
menilai perilaku masa lalu, masa sekarang dan yang direncanakan.

13

3.6 Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
Selama pengkajian, perawat harus mendengarjan, memperhatikan dan
mendokumentasikan semua informasi, baik melalui wawancara maupun observasi yang
diberikan oleh pasien tentang wahamnya.
Format pengkajian Pasien Waham
Berikan tanda v pada kolom yang sesuai dengan data pada pasien.
Proses Pikir
[ ] Sirkumstansial

[ ] Tangensial

[ ] Flight of ideas

[ ] Bloking

[ ] Kehilangan asosiasi

[ ] Pengulangan Bicara

Isi Pikir
[ ] Obsesi

[ ] Fobia

[ ] Depersional

[ ] Ide terkait

[ ] Hipokondria

[ ] Pikiran Magis

Proses Pikir
14

[ ] Agama

[ ] Somatik

[ ] Kebesaran

[ ] Curiga

[ ] Nihilistik

[ ] Sisip piker

[ ] Siar piker

[ ] Kontrol pikir

2. Diagnosa Keperawatan
Gangguan Proses Pikir : Waham
3. Tindakan Keperawatan
a. Tindakan Keperawatan pada Pasien
1) Tujuan Keperawatan
a) Pasien dapat berorientasi pada realitas secara bertahap
b) Pasien dapat memenuhi kebutuhan dasar
c) Pasien mampu berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan
d) Pasien menggunakan obat dengan prinsip 5 Benar
2) Tindakan Kepetrawatan
a) Membina hubungan saling percaya
b) Membantu orientasi realitas
c) Mendiskusikan kebutuhan psikologis atau emosional yang tidak terpenuhi
sehingga menimbulkan kecemasan, rasa takut dan marah.
d) Meningkatkan aktifitas yang dapat memenuhi kebutuhi fisik dan emosional
pasien.
e) Mendiskusikan tentang kemampuan positif yang dimiliki
f) Mendiskusikan tentang obat yang diminum
g) Melatih minum obat yang sakit.
SP 1 Pasien : Membina hubungan saling percaya; menidentifikasi kebutuhan yang tidak
terpenuhi dan cara memenuhi kebutuhan; mempraktikkan pemenuhan kebutuhan yang
tidak terpenuhi.
SP 2 Pasien: Mengidentifikasi kemampuan positif pasien dan membantu
mempraktikannya
SP 3 Pasien : Mengajarkan dan melatih cara minum obat yang benar.
b. Tindakan keperawatan pada Keluarga
1) Tujuan Keperawatan
a) Keluarga mampu mengidentifikasi waham pasien
b) Keluarga mampu memfasilitasi pasien untuk memenuhi memenuhi kebutuhan
yang dipenuhi oleh wahamnya.
c) Keluarga mampu mempertahankan program pengobatan pasien secara optimal
2) Tindakan Keperawatan
a) Diskusi masalah yang dihadapi keluarga saat merawat pasien di rumah
15

b) Diskusikan dengan keluarga tentang waham yang dialami pasien


c) Diskusikan dengan keluarga tentang:
Cara merawat pasien waham dirumah
Tindakan lanjut dan pengobatan yang teratur
Lingkungan yang tepat untuk pasien
Obat pasien
Kondisi pasien yang memerlukan konsultasi segera
d) Berikan latihan kepada keluarga tentang cara merawat pasien waham
e) Menyusun rencana pulang pasien bersaa keluarga.
SP 1 Keluarga: Membina hubungan saling percaya dengan keluarga;
mengidentifikasi masalah menjelaskan proses terjadinya masalah; membantu
pasien untuk patuh minum obat.
SP 2 Keluarga: Melatih keluarga cara merawat pasien.

16

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Waham adalah keyakinan keliru yang sangat kuat yang tidak dapat dikurangi dengan
menggunakan logika (Ann Isaac, 2004). Adapun jenis-jenis waham menurut Marasmis,
Stuart and Sundeen (1998) dan Keliat (1998) waham terbagi atas beberapa jenis adalah
Waham agama, waham kebesaran, waham somatic, waham curiga, waham nihilistic dan
waham bizar.
Standar prosedur keluarga yang bisa perawat lakukan adalah membina hubungan
saling percaya dengan keluarga; mengidentifikasi masalah menjelaskan proses terjadinya
masalah; membantu pasien untuk patuh minum obat serta melatih keluarga cara merawat
pasien.
4.2 Saran
Diharapkan bagi mahasiswa calon perawat profesional agar meningkatkan
pemahamannya terhadap Konsep serta Asuhan Keperawatan Gangguan proses fikir: Waham
sehingga dapat dikembangkan dalam tatanan layanan keperawatan.

17

DAFTAR PUSTAKA
Keliat, B. A. 2011. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas: CMHN (Basic Course) Nursing.
Jakarta: EGC
Maramis, W. F. 1995. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.
Stuart G. W. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 5. Jakarta: EGC

18