You are on page 1of 19

Ras Nusantara, CATATAN SEJARAH ANTHROPO-ETHNOLOGIS NUSANTARA

Oleh : Ali Sastramidjaja

JAMAN 1 – 4 JUTA TAHUN PURBAKALA.

CATATAN SEJARAH ANTHROPO-ETHNOLOGIS NUSANTARA.

Nusantara

Bangsa-bangsa di seluruh Nusantara dan Asia Tenggara adalah tergolong


Ras Nusantara yang oleh orang Barat disebut Austronesia. Nusantara
dahulu kala bernama Dwipantara yang berpusat di kawasan Bumi Nusantara,
yaitu kawasan kepulauan Indonesia sekarang.

Ras Nusantara ini adalah Persatuan dan Kesatuan bangsa-bangsa dengan:

Satu Induk Ras – Nusantara


Satu Induk Tanah – Air – Nusantara
Satu Induk Kebudayaan – Nusantara
satu Induk Bahasa – Nusantara
Satu Induk Nenek Moyang – Nusantara

Semua bangsa-bangsa Ras Nusantara ini adalah berasal keturunan dari


satu generasi Manusia purba Tertua dan Pertama yang mulai muncul lahir
di muka bumi sedunia ini, yaitu manusia purba generasi Meganthropus
Paleo Nusantaraicus dan generasi-generasi Hominid dan Homo lainnya
pada masa 1- 4 juta tahun dahulukala, dan yang fosil-fosilnya telah
ditemukan di berbagai pulau dan daerah tersebar di seluruh kepulauan
Nusantara. Lihat: Peta 1. (Sumber: Anthropoaleontologi Von Koningswald;
Geologi Van Bemmelen; Purwayuga Pangeran Wangsakerta, 1678).

GEOPOLITIK NUSANTARA.

Semasa Tahun 20.000 – 2.000 SM.

Sejak ribuan tahun purbakala yang menjadi urat nadi hubungan laut
antara dunia Barat dan dunia Timur adalah jalur pelayaran dan
perdagangan lewat: Selat Malaka, Laut Jawa, Selat Karimata, Laut Sunda,
sampai di Laut Cina Selatan. Pada jaman dahulu kala sampai abad ke-14
M, Semenanjung Malaya masih merupakan satu semenanjung tanah daratan
kering memanjang sampai di ujungnya di wilayah Belitung (Pulau Belitung
sekarang).

Pulau Jawa dan pulau Sumatra masih merupakan satu pulau yang panjang
yang tersambung bersatu oleh sejalur tanah daratan kering di kawasan
Panaitan (Pulau Panaitan sekarang) dan Ujung Kulon antara Lampung dan
Jawa Barat. Pelabuhan Palembang masih terletak di tepi laut terbuka
luas, yaitu Selat Malaka, dan tidak seperti sekarang berada di
pedalaman sejauh 50 km dari tepi pantai. Begitu pula pelabuhan Jambi di
Muara Tembesi (Muara Sabak) yaitu muara sungai Batanghari, masih
terletak di tepi pantai laut terbuka Selat Malaka. Gunung Muria
(Jepara) di Jawa Tengah masih merupakan suatu pulau terpisah dari
daratan pulau Jawa.

Di kawasan sepanjang jalur perairan Nusantara ini, sejak ribuan tahun


dahulu kala, telah bertumbuhan ratusan kerajaan-kerajaan kecil dan

1
besar. Pelayaran dan perdagangan antar-pulau Nusantara dan dengan
negeri-negeri luar di mancanegara telah berkembang ramai. Bahan-bahan
dan barang- barang dagangannya diantaranya ialah: padi-padian, emas,
perak, timah (bahan untuk perunggu), lada atau merica, rempah- rempah,
alat-alat besi dan perunggu, gading gajah, dan banyak lagi lain-lainnya.

Kawasan Nusantara yang sangat strategis, subur makmur dan kayaraya ini
selalu menjadi pusat perebutan kekuasaan diantara kerajaan-kerajaan
pribumi Nusantara sendiri.

ORANG ASING PERTAMA DI NUSANTARA.

Th. 1500 – 1000 Sebelum Masehi:

Pelabuhan Singkil: Di pantai Samudera Hindia, kawasan Tanah Batak.


Sudah terkenal ke negeri-negeri di Mesir-kuno dan Timur Tengah. Raja
Nabi Sulaeman (Salomo) mengutus orang-orang Pnoenesia dari Sidon ke
Singkil untuk membeli kamper di Singkil. Pelabuhan Singkil dan Barus
sudah menguasai ekspor dari Tanah Batak (kamper = kapur Barus).

Pelabuhan Sorkam dan pelabuhan Mungkur memegang monopoli dunia ekspor


kemenyan. Penjual tunggal untuk seluruh dunia. Kemenyan sangat digemari
oleh penduduk negri-negri di Timur Tengah dan Mesir-Kuno. Digemari oleh
Raja Nabi Sulaeman dan oleh raja-raja Hemitik dan Semitik.

Pelabuhan Natal sangat banyak ekspor Emas. Begitu banyak sampai


didatangi oleh pedagang-pedagang bangsa Phoenesia sebelum jaman Rumawi,
sebelum jaman Yunani. Daerah pertambangan emasnya ialah Mandailing di
Tanah Batak Selatan.

Catatan:

Sejak jaman Nabi Sulaeman (Th. 1000 SM) kota Damaskus sudah merupakan
pusat perdagangan distribusi rempah-rempah yang datang ke situ dari
kepulauan Nusantara lewat jalan laut ke Kwang Tung (= Kanton) di negeri
Cina, dan dari situ lewat jalan darat (jalan sutera) ke Damaskus.

Th. 100 Sebelum Masehi:

Orang Persia pertama datang di Nusantara, ialah di daerah pantai Aceh


Utara.

Th. 22 Sebelum Masehi :

Orang Cina pertama datang di Nusantara, yaitu di daerah Kalimantan


Utara.

Th. 78 Masehi : Orang Hindu pertama datang di Nusantara, ialah di


daerah pantai Aceh Utara.

EKSPANSI CINA KE NUSANTARA. TH. 100 – 565 M.

Tahun 1000 Sebelum Masehi:

2
Migrasi Cina ke Daratan Asia-Tenggara. Jaman Dinasti Chou Tahun 1122-
249 SM.

Suatu suku bangsa Mongoloid yaitu suku bangsa Syan, terdesak oleh suku-
suku bangsa Cina dan bermigrasi ke daerah-daerah daratan Asia Tenggara
di sebelah Selatan. Di sana mereka bercampurbaur asimilasi dengan suku-
suku bangsa pribumi asli seperti suku-suku bangsa: Karen, Senoi, Meo,
Munda, Sakai, dan lain-lainnya. Suku-suku bangsa pribumi ini tergolong
ras Nusantara, yang oleh orang Barat disebut Austronesia, dan yang
sejak 600.000 tahun dahulu kala telah bermigrasi ke sana menjadi
penduduk penghuni pertama di kawasan daratan Asia Tenggara pada masa
jauh terlebih dahulu sebelum munculnya manusiapurba Cina-Mongoloid
“Pekinensis” atau “Sinanthropus” di dunia. Sejak terjadinya asimilasi
suku bangsa Syan dengan suku-suku bangsa pribumi itu, maka mulailah
muncul kerajaan-kerajaan baru di kawasan daratan Asia Tenggara, yaitu
kerajaan Syan yang kemudian disebut Syanka atau Siam; kerajaan Syan Pao
Cha yang kemudian disebut Kam Pao Cha atau Kamboja; dan kerajaan Syan
Pao Nam yang kemudian disebut Syan Nam atau An Nam dan Syan Pao, Syan
Pa atau Campa. Kamboja dan Anam bersatu juga disebut Syan Pao Nam, Sya
Pa Nao atau Yawana.

Tahun 210 Sebelum Masehi :

Migrasi Cina ke Teluk Tongkin. Jaman Dinasti Ch’in Tahun 246-210 SM.

Kaisar Ch’in Shih Huang Ti di lembah sungai Hoang Ho (sungai Kuning)


menaklukkan, menguasai dan mempersatukan seluruh kerajaan-kerajaan
kecil dengan tangan-besi menjadi satu negara besar Cina. Banyak
penduduk Cina yang tidak mau tunduk kepada pemerintahan Kaisar Ch’in.
Sebagian dari mereka bermigrasi ke negeri-negeri di sekelilingnya.
Sebagian penduduk yang bermigrasi itu meresap masuk menjarah ke
daerah-daerah di sekitar Teluk Tongkin yaitu wilayah Hoa Binh dan
Dongson do An Nam yang sekarang disebut Vietnam. Di sana mereka berdiam
dalam perkampungan-perkampungan Cina atau pecinan-pecinan. Sementara
orang Cina bercampurbaur asimilasi dengan suku-suku bangsa pribumi.

Tahun 100 Sebelum Masehi :

Cina Menyerbu dan Menjajah Daerah Teluk Tongkin. Jaman Dynasti Han
Tahun 206 SM. – 220 M. Bangsa Cina dari negeri Cina menyerbu,
merampok, membunuh dan kemudian menjajah daerah-daerah kawasan Teluk
Tongkin, yaitu negeri-negeri di kawasan An Nam dan Kamboja. Terjadi
lagi migrasi besar-besaran penduduk dari negeri Cina ke daerah-daerah
yang direbutnya itu dan mereka bertinggal disana dalam perkampungan-
perkampungan Cina yang disebut pecinan. Teluk Tongkin dan sekitarnya
dijajah oleh negeri Cina.

Tahun 100 Masehi :

Agama Budha Masuk ke Negeri Cina.Jaman Dinasti Han Tahun 206 SM -220 M.

Pada tahun 64 M Agama Budha dari India masuk ke negeri Cina, dibawa
oleh orang-orang India lewat jalan darat di Asia Tengah. �

Pada tahun 100 M. Agama Budha oleh Kaisar Han Wu Ti dijadikan “agama
negara” atau “agama resmi” di negeri Cina. Keadaan Agama Budha demikian
itu berlangsung sampai akhir jaman Dinasti Tang (Th. 618 – 906 M).

3
Tahun 100 – 400 M. :

Kerajaan Funan atau Fun An (=Pnom Penh). Jaman akhir Dinasti Han Th.
206 SM – 220 M.

Kerajaan Funan yang berdiri pada awal abad ke-2 M. Meliputi kawasan
Kamboja, Siam dan Semenanjung Malaya bagian utara, mengusir penjajah
Cina dari kawasan Teluk Tongkin. Kapal-kapal perang dan bajak-bajak
laut Cina dihancurkan. Tetapi orang-orang Cina tetap bercokol di sana
dalam pecinan-pecinan dan ikut hidup bernaung di bawah pemerintahan
kerajaan Funan. Kemudian dalam abad ke-5 Kamboja melepaskan diri dari
kerajaan Funan dan mendirikan kerajaan sendiri.

Catatan :

Sejak jaman ribuan tahun purbakala telah ramai berkembang lalu-lintas


pelayaran dan perdagangan antara kerajaan-kerajaan di kepulauan
Nusantara dengan kerajaan-kerajaan di daerah Asia Tenggara.

Tahun 100 – 200 M :

Negeri Cina Meluaskan Ekspansinya ke Nusantara. Jaman Akhir D1nasti Han


Th. 206 SM – 220 M. Negeri Cina mulai mengembangkan ekspansi
penjajahannya ke kawasan kepulauan Nusantara. berpangkalan di Kwan Tung
(= Kanton) yang sekaligus dijadikan pusat bandar dan pelabuhan
perdagangan di Cina Selatan. Dikirimkan ekspedisi-ekspedisi kapal
dagang, kapal perang dan perampok-perampok, bajak-laut Cina ke Formusa
(Taiwan), daerah-daerah Filipina ke daerah Kalimantan sebelah Utara,
Laut Cina Selatan,Teluk Siam, Kalimantan Barat, Semenanjung Malaya
sampai masuk ke Selat Malaka. Sementara orang Cina ada yang menyasar
terdampar ke daerah Minahasa di Sulawesi Utara.

Di tempat-tempat pelabuhan dagang ekspedisi-ekspedisi Cina itu


menurunkan orang-orang Cina untuk menetap di sana sebagai pedagang.
Mereka bertinggal dalam perkampungan-perkampungan Cina yang disebut
pecinan. Banyak barang-barang hasil perdagangan dan hasil perampokan
atau perampasan bajak-laut Cina mengalir ke Kwan Tung (Kanton) yang
di waktu sebelum itu hanya menjadi pusat penampung perdagangan
transit saja.

Bahan dan barang perdagangan itu dari Kwan Tang (Kanton) masuk ke
pedalaman negeri Cina dan sebagian dari Peking diperdagang kan ke
negeri-negeri di Asia Tengah sampai ke negeri-negeri di wilayah Rumawi
melalui jalan darat (Jalan Sutera) di Asia Tengah.

Tahun 100- 200 M:

Pelayaran Perdagangan dari India ke Cina. Jaman Akhir Dinasti Han Th.
206 SM – 220 M.

Mulai terjadi pelayaran perdagangan dart India ke negeri Cina melalui


Selat Malaka, Laut Jawa, Selat Karimata, Laut Sunda dan Laut Cina
Selatan. Sebelum itu hubungan dagang kedua negeri tersebut berlangsung
melalui jalan darat di Asia Tengah yang disebut “Jalan Sutera”.
Hubungan persahabatan India – Cina mulai tumbuh baik sekali setelah

4
masuknya Agama Budha ke negeri Cina melalui jalan darat di Asia Tengah
pada tahun 64 Masehi.

Pedagang-pedagang India dalam pelayarannya ke negeri Cina juga


diperlindungi oleh kapal-kapal perang dan disertai pula oleh perampok-
perampok bajak-laut orang India. Pedagang-pedagang Indiapun mendirikan
koloni-koloninya sendiri yaitu yang disebut “kampung Keling” di
bandar-bandar pelabuhan dagang yang dilaluinya di Nusantara. Pada awal
abad ke-2 Masehi kapal-kapal dagang India berserta kapal-kapal perang
dan perampok bajak-lautnya itu dipimpin oleh Dewa Warman, seorang
pedagang asal negeri Palawa yang juga bertindak sebagai utusan dagang
dari negeri-negeri Palawa, Salangkayana, Benggala, dsb.

Perampok-perampok bajak-laut Cina dan India banyak yang ditumpas oleh


kerajaan-kerajaan pribumi Nusantara di sepanjang perairan Selat Malaka
sampai di Laut Cina Selatan.

Catatan :

Antara orang Cina dan orang India timbul suatu persahabatan yang sangat
akrab pada masa tahun 100 – 900M. Persahabatan ini tumbuh karena banyak
sekali persamaan-persamaan dalam agama, kepercayaan, pandangan-hidup
(falsafah) dan moral dari kedua ras tersebut. Agama Cina adalah
Agama Tao (= dewa, Tuhan, yang gaib) yang bercorak polytheisme. Agama
Budha demikian pula. Perbedaannya hanya pada jumlah, jenis dan sebutan
dewa-dewa saja. �

Pandangan-hidup Cina adalah moralisme atau ajaran moral dari Kong Hu


Chu (Konfusianisme) dan Lao Tse yang oleh orang Cina dianggap sebagai
“Nabi”. Moralisme Cina ini berdasarkan pandangan “adanya kemanunggalan
alam dan manusia” yang oleh orang Barat disebut “pantheisme”. Yaitu
adanya keterjalinan hidup antara alam-lahir dan alam-gaib dengan
manusia yang masih hidup dan arwah manusia yang telah meninggal.
Penghormatan dan pemujaan terhadap arwah leluhur nenek moyang Cina
adalah bersumber kepada Agama Tao dan moralisme Cina tersebut.

Demikian pula bagi orang-orang India yang menganut Agama Budha yang
bobotnya terletak pada ajaran moral dari Gautama Budha yang juga
dipandang sebagai “Nabi” oleh para pengikutnya. Pantheismepun
sebenarnya ada dalam Agama Budha, yaitu kepercayaan tentang
”reinkarnasi” yang pada hakekatnya adalah sama dengan adanya
hubungan antara suatu arwah-manusia yang telah meninggal dengan
manusia yang hidup. Kepercayaan “reinkarnasi” ini mengakibatkan juga
timbulnya penghormatan, pemujaan dan pendewaan terhadap suatu leluhur
atau nenek-moyang. Demikianlah dekatnya kepercayaan dan pandangan-
hidup dalam Agama Tao Cina dan Agama Budha India. Karena itulah Agama
Budha dijadikan “Agama Resmi atau Negara” di negeri Cina pada Th. 100
M. Walaupun demikian dalam bidang kepentingan hidup sering juga terjadi
bentrokan-bentrokan antara orang Cina dan orang India yang beragama
Budha.

Tahun 100-200M:

Kapal Perang dan Bajak-laut Cina dan India meranjah negeri Salaka di
Jawa Barat dan Lampung.

Jaman Akhir Dinasti Han Th.206 SM – 220 M.

5
Kapal-kapal perang dan perampok bajak-laut Cina dan India datang
menjarah dan merampok ke negeri Salaka di kawasan sekitar Selat Sunda,
yaitu di wilayah Banten dan Lampung. Kapal-kapal perang dan perampok
bajak-laut Cina dan India itu dihancurkan oleh angkatan bersenjata
kerajaan Salaka atas perintah Raja Aki Tirem atau Aji Tirem Luhur Mulya.

Dalam catatan negeri Cina diberitakan: adanya negeri dan raja Ye Tiao
dan Tiao Pien (= Aji Tirem dan negeri Tirem); Ko Ying (= kota-perak =
Rajata-pura); Teluk Weh (weh = teluk atau perairan = way = Teluk atau
Selat Sunda sekarang); Pu Lei (=pulau merapi = gunung Krakatau
sekarang).

Kemudian pada tahun 130 M. Raja Salaka Aki Tirem mengirimkan utusan
dagangnya ke negeri Cina.

Catatan :

Ye Tiao diartikan juga = Yawa Dwipa = Yaba Diou = Pulau Jawa (Sumber:
Berita Cina dan Naskah Pangeran Wangsakerta 1678).

Tahun 238 M :

Kapal Perang dan Bajak-laut Cina menyerang lagi ke Salaka.

Terjadi serangan kapal-kapal perang dan perampok bajak-laut Cina


kekerajaan Salaka. Ditumpas habis oleh tentara Salaka. Kemudian Raja
Salaka III mengadakan hubungan dagang dengan negeri Cina.

Tahun 252-276 M

Kapal Perang dan Bajak-laut Cina menyerang lagi ke Salaka.

Jaman Raja Salaka V. datang lagiserangan kapal-kapal perang dan bajak-


laut Cina ke kerajaan Salaka. Raja Salaka V gugur dalam pertempuran di
laut. Tetapi kapal-kapal perang dan bajak-laut Cina dihancurkan.

Tahun 399 – 403 M :

Raja Purnawarman Menghancurkan Kapal-kapal Perang dan Bajak-laut Cina


dan India.

Jaman Negera Taruma di Jawa Barat. Orang Cina menyebutnya To-lo-mo.


Kerajaan Salaka dilanjutkan oleh Kerajaan Tarum atau Taruma. Rajanya
ialah Purnawarman yang berasal dari Kerajaan Sunda Sembawa yang
berpusat di kota Desa Sunda (=Sunda Pura) di lembah sungai Citarum.

Tahun 399 M :

Kapal-kapal perang dan perampok bajak-laut Cina dan India makin


merajalela di seluruh perairan Barat dan Utara mulai dari Laut Cina
Selatan, Laut Sunda, Laut Jawa, Selat Malaka sampai ke Samudera Hindia.
Seorang Menteri Taruma berserta rombongannya yang sedang dalam
pelayaran diserang dan ditawan lalu dibunuhnya. Purnawarman bertindak.
Ia sendiri memimpin angkatan lautnya dan melakukan serangan terhadap
kapal-kapal perang dan perampok bajak-laut. Serangan pertama dilakukan

6
di perairan Ujung Kulon. Semua kapal perang dan bajak-laut Cina
dihancurkan dan semua orang Cina dibunuh dan mayatnya dibuang ke laut.

Telah lama perairan sekitar Pulau Jawa sebelah Utara, Barat dan Timur
dikuasai kapal-kapal perang dan perampok-perampok bajak-laut Cina dan
India. Jumlah mereka tak terhitung dan tersebar di seluruh lautan.
Semua kapal diganggu dan semua barang yang ada di dalam kapal dirampas.
Tak ada yang berani memasuki atau melalui peraiaran laut itu, karena
sepenuhnya dikuasai kapal-kapal perang dan perampok bajak-laut yang
ganas dan kejam.

Kemudian Purnawarman mengangkat seorang pamannya menjadi Panglima


Angkatan Laut Taruma yang melindungi pelayaran perdagangan di sepanjang
perairan laut dari Taruma ke Semenanjung Mendini (Malaya, Lingga,
Bangka, Belitung), ke Syangka (Siam), Yawana (Kamboja), Campa (Anam=
Vietnam sekarang), ke Bakulapura (=Tanjungpura di Kutai, Kalimantan
Timur), ke kerajaan-kerajaan di Sumatra, ke Cambay di India dan ke
negeri Cina.

Tahun 400 – 500 M :

Perwakilan-dagang Cina di Nusantara.

Pada awal abad ke-5 hubungan pelayaran dan perdanganan santara negeri-
negeri di Nusantara dengan negeri Cina dan negeri-negeri di sebelah
Barat dari Nusantara mulai berjalan aman tanpa
gangguan ditengah laut. Cina mulai menempatkan perwakilan-perwakilan
dagangnya (Konsulat dagang) disertai dengan pembentukan pecinan-pecinan
di bandar-bandar pelabuhan dagang di Sumatra, Semenanjung Malaya,
Kalimantan Barat dan di Kalimantan Utara.

Tahun 449 M:

Utusan Negeri Cina Pertama ke Nusantara.

Utusan resmi dari negeri Cina yang pertama ke Nusantara ialah diutus
oleh Kaisar Liu Sung ke Negeri Taruma (To-lo-mo) di Jawa Barat pada
tahun 449 M.

Tahun 565 M :

Utusan Taruma dihadang di Laut Cina Selatan.

Dalam Th.565 M Raja Taruma bernama Kretawarman mengirimkan utusan


dagang ke negeri Cina. Di tengah Laut Cina Selatan kapal utusan Taruma
itu dihadang oleh kapal perang dan bajak-laut Cina. Terjadi pertempuran
yang berakhir dengan dihancurkannya kapal perang dan bajak-laut Cina.
Orang Cina semuanya dibunuh, mayat-mayatnya ditumpuk menjadi satu di
atas geladak kapalnya, lalu dibakar habis. Setelah itu kapal utusan
Taruma melanjutkan pelayarannya sampai ke negeri Cina.

MIGRASI CINA-MONGOL KE ASIA TENGAH

Th. 400 – 500 M.

7
Dalam abad ke-5 M. bangsa Mongol dan Cina bermigrasi besar-besaran ke
wilayah Asia Tengah, lalu menguasai belahan benua tersebut.

Bangsa-bangsa di Asia Tengah yang tidak mau takluk kepada Cina-Mongol


meninggalkan negerinya masing-masing. Sebagian dari mereka masuk
wilayah India Utara dan kemudian terkenal di sana sebagai bangsa Kushan.

Bangsa-bangsa lainnya disebelah Barat mulai terdesak dan bergerak


pindah pula. Perpindahan penduduk itu berlangsung beberapa abad lamanya.

Bangsa Hun masuk menjarah ke negeri-negeri di wilayah kekuasaan


Kerajaan Rumawi dalam abad ke-5 dan menklukkan daerah daerah Eropa
Timur, Eropa Tengah dan Eropa Barat. Penyerbuan bangsa Hun itu
mengakibatkan timbulnya “Jaman Gelap” dalam sejarah Eropa pada abad-
abad Pertengahan Th. 500 – 1500 M.

GEOPOLITIKNUSANTARA

Th. 600 – 700 M

Kerajaan-kerajaan Pribumi Nusantara.

Dalam abad ke-7 kerajaan-kerajaan pribumi Nusantara yang tumbuh


nenjadi negera besar dikawasan jalur pelayaran dan perdanganan dunia,
diantaranya ialah:

1. Pali atau Poli, di Sumatra Utara yang berpusat di daerahsekitar


sungai Pasi (Peusangan) dan sungai Aceh.

2. Nagur, di Sumatra Utara yang berpusat di daerah Tanah Batak.

3. Minangkabau, di Sumatra Barat sampai daerah Riau di kawasan sungai


Rokan, Siak, Kampar dan sungai Bantang Kuantan (=sungai Indragiri).

4. Melayu Jambi, didaerah kawasan sungai Batanghari dan Batang


Tembesi. Berpusat di Jambi.

5. Melayu Palembang, di daerah kawasan sungai Musi. Berpusat di


Palembang.

6. Sriwijaya, yang meliputi daerah pantai Sumatra Timur dan


Sumatra Utara, Semenanjung Malaya, kepulauan Nukobar, dan kepulauan
Andaman. Didirikan pada tahun 676 oleh Da Punta Hiyang Jayanasa,
seorang raja-daerah Minagkabau. Berpusat di Jambi.

7. Taruma dan Sunda, di daerah kawasan Lampung dan Jawa Barat.


Berpusat di Sundapura.

8. Galuh, di daerah kawasan Parahiyangan dan Banyumas. Berpusat di


Galuh.

9. Sima atau Simo, yang kemudian juga disebut Kalingga, Kalanggara,


Keling, atau Holing. Di Jawa Tengah, JawaTimur, Madura dan Bali.
Berpusat di Simo, Jawa Tengah.

8
10. Banjar Mahasin (Banjarmasin), di Kalimantan Selatan. �

11. Kutai, di Kalimantan Timur. Berpusat di Bakulapura (Tanjungpura)

12. Kutawaringin, di Kalimantan Baratdaya. Berpusat di Kutawaringin.

13. Sambas, di Kalimantan barat, di sekitar lembah sungai Sambas


sampai Suingai Kapuas. Berpusat di kota Sambas. Suatu daerah kayaraya
emas. (Dalam abad-7 kota Sambas masih terletak di tepi pantai laut
Selat Karimata)

14. Serawak dan Brunai di Kalimantan Utara.

15. Makasar dan Bugis, di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Berpusat


disekitar Makasar (Ujungpandang). Pada jaman sebelum Masehi orang bugis
dan Makasar sudah pandai membuat kapal yang terkenal dengan sebutan
“kapal Penisi” yang dilengkapi layar. Sejak abad ke-14 orang Bugis dan
Makasar sudah pandai membuat meriam.

16. Kerajaan-kerajaan di kawasan Maluku dan kepulauan Timor, yang


membawahi kerajaan-kerajaan kecil di Irian.Nusantara Timur ini sejak
jaman dahulu kala adalah penghasil rempah-rampah terbesar diseluruh
dunia.

Tahun 600 – 700 M :

Kekayaan Bumi Alam Nusantara.

Daerah-daerah Sungaidareh dan Batanghari di Jambi adalah daerah


penghasil merica/lada yang terpenting diseluruh dunia pada masa Th.
500 – 1000 M. Kemudian daerah merica terpenting itu bergeser ke daerah:

- Kuntu-Kampar di Minagkabau Timur Th. 1000 – 1400

- Minagkabau Pusat di Sumatra Barat Th. 1400 – 1600

- Aceh Barat Th. 1600 – 1800

- Lampung, Bangka dan BantenTh. 1800 – 1900

Daerah Maluku, Timor dan Nusa Tenggara Timur sudah sejak sebelum sampai
sekarang adalah penghasil rempah-rempah, kecuali merica, terbesar
diseluruh dunia.

Tanah Batak adalah penghasil kamper dan kemenyan terbanyak di seluruh


dunia. Daerah Aceh, Tanah Batak, Mandailing, Kalimantan Barat,
Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, adalah daerah penghasil emas
terbesar di Nusantara pada masa itu. Kalimantan, terutama Kalimantan
Selatan adalah daerah penghasil intan dan batu-manikam yang terkenal di
Nusantara dan di mancanegara.

Tahun 600-700M:

Kerajaan Pali atau Poli Th. 500-676M.

Di belahan Sumatra bagian Utara. Berpusat di daerah sekitar muara


sungai Pasai di kawasan Aceh Utara.

9
Sejak jaman 100 tahun sebelum Masehi di sekitar muara sungai Pasai itu
sudah ada suatu koloni orang Persia. Sungai Pasai adalah sungai
terbesar di Aceh Utara di tepi selat Malaka. Kerajaan Pali beragama
Budha Hinayana. Sangat banyak di singgahi oleh peziarah-peziarah Cina
yang pergi ziarah ke Nalanda di India.

Pada Th.676M kerajaan Pali direbut oleh Sriwijaya.

Pada masa sebelum Masehi orang-orang Parsi (=Persia) sudah melakukan


pelayaran dagang lewat jalan laut ke Nusantara. Untuk persinggahan
kapal-kapal Parsi, orang-orang Parsi mendirikan koloni di Bombay,
India, dan di Perlak (=Peureulak) di muara sungai Peureulak di pantai
Aceh Utara. Dalam bahasa Parsi, Perlak itu disebutkan “Tadj I Alam”
artinya “Mahkota Alam”. Di dalam catatan sejarah Cina “Tadj I Alam”
disebut “Ta Chih” yang oleh Cina dijadikan nama untuk semua koloni
Islam antara Selat Malaka dan Teluk Persia, termasuk Singkil yang oleh
Cina hanyalah dikenal dari cerita-cerita saja.

Masa lampau Indonesia sangat kaya raya. Ini dibuktikan oleh informasi
dari berbagai sumber kuno. Kali ini kami akan membahas kekayaan tiap
pulau yang ada di Indonesia. Pulau-pulau itu akan kami sebutkan menjadi
tujuh bagian besar yaitu Sumatera, Jawa, Kepulauan Sunda kecil,
Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Papua.

Sumatera - Pulau Emas

Dalam berbagai prasasti, pulau Sumatera disebut dengan nama Sansekerta:


Suwarnadwipa (“pulau emas”) atau Suwarnabhumi (“tanah emas”). Nama-nama
ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi. Sumatera
juga dikenal sebagai pulau Andalas.

Pada masa Dinasti ke-18 Fir'aun di Mesir (sekitar 1.567SM-1.339SM), di


pesisir barat pulau sumatera telah ada pelabuhan yang ramai, dengan
nama Barus. Barus (Lobu Tua - daerah Tapanuli) diperkirakan sudah ada
sejak 3000 tahun sebelum Masehi. Barus dikenal karena merupakan tempat
asal kapur barus. Ternyata kamper atau kapur barus digunakan sebagai
salah satu bahan pengawet mummy Fir'aun Mesir kuno.

Di samping Barus, di Sumatera terdapat juga kerajaan kuno lainnya.


Sebuah manuskrip Yahudi Purba menceritakan sumber bekalan emas untuk
membina negara kota Kerajaan Nabi Sulaiman diambil dari sebuah kerajaan

10
purba di Timur Jauh yang dinamakan Ophir. Kemungkinan Ophir berada di
Sumatera Barat. Di Sumatera Barat terdapat gunung Ophir. Gunung Ophir
(dikenal juga dengan nama G. Talamau) merupakan salah satu gunung
tertinggi di Sumatera Barat, yang terdapat di daerah Pasaman. Kabarnya
kawasan emas di Sumatera yang terbesar terdapat di Kerajaan
Minangkabau. Menurut sumber kuno, dalam kerajaan itu terdapat
pegunungan yang tinggi dan mengandung emas. Konon pusat Kerajaan
Minangkabau terletak di tengah-tengah galian emas. Emas-emas yang
dihasilkan kemudian diekspor dari sejumlah pelabuhan, seperti Kampar,
Indragiri, Pariaman, Tikus, Barus, dan Pedir. Di Pulau Sumatera juga
berdiri Kerajaan Srivijaya yang kemudian berkembang menjadi Kerajaan
besar pertama di Nusantara yang memiliki pengaruh hingga ke Thailand
dan Kamboja di utara, hingga Maluku di timur.

Kini kekayaan mineral yang dikandung pulau Sumatera banyak ditambang.


Banyak jenis mineral yang terdapat di Pulau Sumatera selain emas.
Sumatera memiliki berbagai bahan tambang, seperti batu bara, emas, dan
timah hitam. Bukan tidak mungkin sebenarnya bahan tambang seperti emas
dan lain-lain banyak yang belum ditemukan di Pulau Sumatera. Beberapa
orang yakin sebenarnya Pulau Sumatera banyak mengandung emas selain
dari apa yang ditemukan sekarang. Jika itu benar maka Pulau Sumatera
akan dikenal sebagai pulau emas kembali.

Jawa - Pulau Padi

Dahulu Pulau Jawa dikenal dengan nama JawaDwipa. JawaDwipa berasal dari
bahasa Sanskerta yang berarti "Pulau Padi" dan disebut dalam epik Hindu
Ramayana. Epik itu mengatakan "Jawadwipa, dihiasi tujuh kerajaan, Pulau
Emas dan perak, kaya dengan tambang emas", sebagai salah satu bagian
paling jauh di bumi. Ahli geografi Yunani, Ptolomeus juga menulis
tentang adanya “negeri Emas” dan “negeri Perak” dan pulau-pulau, antara
lain pulau “”Iabadiu” yang berarti “Pulau Padi”.
Ptolomeus menyebutkan di ujung barat Iabadiou (Jawadwipa) terletak
Argyre (kotaperak). Kota Perak itu kemungkinan besar adalah kerajaan
Sunda kuno, Salakanagara yang terletak di barat Pulau Jawa.
Salakanagara dalam sejarah Sunda (Wangsakerta) disebut juga Rajatapura.
Salaka diartikan perak sedangkan nagara sama dengan kota, sehingga
Salakanagara banyak ditafsirkan sebagai Kota perak.

Di Pulau Jawa ini juga berdiri kerajaan besar Majapahit. Majapahit


tercatat sebagai kerajaan terbesar di Nusantara yang berhasil
menyatukan kepulauan Nusantara meliputi Sumatra, semenanjung Malaya,
Borneo, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan sebagian
kepulauan Filipina. Dalam catatan Wang Ta-yuan, komoditas ekspor Jawa
pada saat itu ialah lada, garam, kain, dan burung kakak tua. Mata

11
uangnya dibuat dari campuran perak, timah putih, timah hitam, dan
tembaga. Selain itu, catatan kunjungan biarawan Roma tahun 1321,
Odorico da Pordenone, menyebutkan bahwa istana Raja Jawa penuh dengan
perhiasan emas, perak, dan permata.

Menurut banyak pakar, pulau tersubur di dunia adalah Pulau Jawa. Hal
ini masuk akal, karena Pulau Jawa mempunyai konsentrasi gunung berapi
yang sangat tinggi. Banyak gunung berapi aktif di Pulau Jawa. Gunung
inilah yang menyebabkan tanah Pulau Jawa sangat subur dengan kandungan
nutrisi yang di perlukan oleh tanaman.
Raffles pengarang buku The History of Java merasa takjub pada kesuburan
alam Jawa yang tiada tandingnya di belahan bumi mana pun. “Apabila
seluruh tanah yang ada dimanfaatkan,” demikian tulisnya, “bisa
dipastikan tidak ada wilayah di dunia ini yang bisa menandingi
kuantitas, kualitas, dan variasi tanaman yang dihasilkan pulau ini.”

Kini pulau Jawa memasok 53 persen dari kebutuhan pangan Indonesia.


Pertanian padi banyak terdapat di Pulau Jawa karena memiliki kesuburan
yang luar biasa. Pulau Jawa dikatakan sebagai lumbung beras Indonesia.
Jawa juga terkenal dengan kopinya yang disebut kopi Jawa. Curah hujan
dan tingkat keasaman tanah di Jawa sangat pas untuk budidaya kopi. Jauh
lebih baik dari kopi Amerika Latin ataupun Afrika.
Hasil pertanian pangan lainnya berupa sayur-sayuran dan buah-buahan
juga benyak terdapat di Jawa, misalnya kacang tanah, kacang hijau, daun
bawang, bawang merah, kentang, kubis, lobak, petsai, kacang panjang,
wortel, buncis, bayam, ketimun, cabe, terong, labu siam, kacang merah,
tomat, alpokat, jeruk, durian, duku, jambu biji, jambu air, jambu bol,
nenas, mangga, pepaya, pisang, sawo, salak,apel, anggur serta rambutan.
Bahkan di Jawa kini dicoba untuk ditanam gandum dan pohon kurma. Bukan
tidak mungkin jika lahan di Pulau Jawa dipakai dan diolah secara
maksimal untuk pertanian maka Pulau Jawa bisa sangat kaya hanya dari
hasil pertanian.

Kepulauan Sunda kecil (Bali, NTB dan NTT) - Kepulauan Wisata

Ptolemaeus menyebutkan, ada tiga buah pulau yang dinamai Sunda yang
terletak di sebelah timur India. Berdasarkan informasi itu kemudian
ahli-ahli ilmu bumi Eropa menggunakan kata Sunda untuk menamai wilayah
dan beberapa pulau di timur India. Sejumlah pulau yang kemudian
terbentuk di dataran Sunda diberi nama dengan menggunakan istilah Sunda
pula yakni Kepulauan Sunda Besar dan Kepulauan Sunda Kecil. Kepulauan
Sunda Besar ialah himpunan pulau besar yang terdiri dari Sumatera,

12
Jawa, Madura dan Kalimantan. Sedangkan Sunda Kecil merupakan gugusan
pulau Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, dan Timor.

Daerah Kepulauan Sunda kecil ini dikenal sebagai daerah wisata karena
keindahan alamnya yang menakjubkan. Sejak dulu telah ada yang berwisata
ke daerah ini. Perjalanan Rsi Markandiya sekitar abad 8 dari Jawa ke
Bali, telah melakukan perjalanan wisata dengan membawa misi-misi
keagaman. Demikian pula Empu Kuturan yang mengembangkan konsep Tri
Sakti di Bali datang sekitar abad 11. Pada tahun 1920 wisatawan dari
Eropa mulai datang ke Bali. Bali di Eropa dikenal juga sebagai the
Island of God.

Di Tempat lain di Kepulauan Sunda Kecil tepatnya di daerah Nusa


Tenggara Barat dikenal dari hasil ternaknya berupa kuda, sapi, dan
kerbau. Kuda Nusa tenggara sudah dikenal dunia sejak ratusan tahun
silam. Abad 13 M Nusa Tenggara Barat telah mengirim kuda-kuda ke Pulau
Jawa. Nusa Tenggara Barat juga dikenal sebagai tempat pariwisata raja-
raja. Raja-raja dari kerajaan Bali membangun Taman Narmada pada tahun
1727 M di daerah Pulau Lombok untuk melepas kepenatan sesaat dari
rutinitas di kerajaan.

Daerah Sunda Kecil yang tidak kalah kayanya adalah Nusa Tenggara Timur,
karena di daerah ini terdapat kayu cendana yang sangat berharga.
Cendana adalah tumbuhan asli Indonesia yang tumbuh di Propinsi Nusa
Tenggara Timur. Cendana dari Nusa Tenggara Timur telah diperdagangkan
sejak awal abad masehi. Sejak awal abad masehi, banyak pedagang dari
wilayah Indonesia bagian barat dan Cina berlayar ke berbagai wilayah
penghasil cendana di Nusa Tenggara Timur terutama Pulau Sumba dan Pulau
Timor. Konon Nabi Sulaiman memakai cendana untuk membuat tiang-tiang
dalam bait Sulaiman, dan untuk alat musik. Nabi Sulaiman mengimpor kayu
ini dari tempat-tempat yang jauh yang kemungkinan cendana tersebut
berasal dari Nusa Tenggara Timur.

Kini Kepulauan Sunda kecil ini merupakan tempat pariwisata yang


terkenal di dunia. Bali merupakan pulau terindah di dunia. Lombok juga
merupakan salah satu tempat terindah di dunia. Sementara itu di Nusa
tenggara Timur terdapat Pulau yang dihuni binatang purba satu-satunya
di dunia yang masih hidup yaitu komodo. Kepulauan Sunda kecil merupakan
tempat yang misterius dan sangat menawan. Kepulauan ini bisa mendapat
banyak kekayaan para pelancong dari seluruh dunia jika dikelola secara
maksimal.

Kalimantan - Pulau Lumbung energi

13
Dahulu nama pulau terbesar ketiga di dunia ini adalah Warunadwipa yang
artinya Pulau Dewa Laut. Kalimantan dalam berita-berita China (T’ai
p’ing huan yu chi) disebut dengan istilah Chin li p’i shih. Nusa
Kencana" adalah sebutan pulau Kalimantan dalam naskah-naskah Jawa Kuno.
Orang Melayu menyebutnya Pulau Hujung Tanah (P'ulo Chung). Borneo
adalah nama yang dipakai oleh kolonial Inggris dan Belanda.

Pada zaman dulu pedagang asing datang ke pulau ini mencari komoditas
hasil alam berupa kamfer, lilin dan sarang burung walet melakukan
barter dengan guci keramik yang bernilai tinggi dalam masyarakat Dayak.
Para pendatang India maupun orang Melayu memasuki muara-muara sungai
untuk mencari lahan bercocok tanam dan berhasil menemukan tambang emas
dan intan di Pulau ini.

Di Kalimantan berdiri kerajaan Kutai. Kutai Martadipura adalah kerajaan


tertua bercorak Hindu di Nusantara. Nama Kutai sudah disebut-sebut
sejak abad ke 4 (empat) pada berita-berita India secara tegas
menyebutkan Kutai dengan nama “Quetaire” begitu pula dengan berita Cina
pada abat ke 9 (sembilan) menyebut Kutai dengan sebutan “Kho They” yang
berarti kerajaan besar. Dan pada abad 13 (tiga belas) dalam
kesusastraan kuno Kitab Negara Kertagama yang disusun oleh Empu
Prapanca ditulis dengan istilah “Tunjung Kute”. Peradaban Kutai masa
lalu inilah yang menjadi tonggak awal zaman sejarah di Indonesia.

Kini Pulau Kalimantan merupakan salah satu lumbung sumberdaya alam di


Indonesia memiliki beberapa sumberdaya yang dapat dijadikan sebagai
sumber energi, diantaranya adalah batubara, minyak, gas dan geothermal.
Hutan Kalimantan mengandung gambut yang dapat digunakan sebagai sumber
energi baik untuk pembangkit listrik maupun pemanas sebagai pengganti
batu bara. Yang luar biasa ternyata Kalimantan memiliki banyak cadangan
uranium yang bisa dipakai untuk pembangkit listrik tenaga nuklir.
Disamping itu Kalimantan juga memiliki potensi lain yakni sebagai
penyedia sumber energi botani atau terbaharui. Sumber energi botani
atau bioenergi ini adalah dari CPO sawit. Pulau Kalimantan memang
sangat kaya.

Sulawesi - Pulau besi

14
Orang Arab menyebut Sulawesi dengan nama Sholibis. Orang Belanda
menyebut pulau ini dengan nama Celebes. Pulau ini telah dihuni oleh
manusia sejak 30.000 tahun yang lalu terbukti dengan adanya peninggalan
purba di Pulau ini. Contohnya lokasi prasejarah zaman batu Lembah Besoa.

Nama Sulawesi konon berasal dari kata ‘Sula’ yang berarti pulau dan
‘besi’. Pulau Sulawesi sejak dahulu adalah penghasil bessi (besi),
sehingga tidaklah mengherankan Ussu dan sekitar danau Matana mengandung
besi dan nikkel. Di sulawesi pernah berdiri Kerajaan Luwu yang
merupakan salah satu kerajaan tertua di Sulawesi. Wilayah Luwu
merupakan penghasil besi. Bessi Luwu atau senjata Luwu (keris atau
kawali) sangat terkenal akan keampuhannya, bukan saja di Sulawesi
tetapi juga di luar Sulawesi. Dalam sejarah Majapahit, wilayah Luwu
merupakan pembayar upeti kerajaan, selain dikenal sebagai pemasok utama
besi ke Majapahit, Maluku dan lain-lain. Menurut catatan yang ada,
sejak abad XIV Luwu telah dikenal sebagai tempat peleburan besi.

Di Pulau Sulawesi ini juga pernah berdiri Kerajaan Gowa Tallo yang
pernah berada dipuncak kejayaan yang terpancar dari Sombaopu, ibukota
Kerajaan Gowa ke timur sampai ke selat Dobo, ke utara sampai ke Sulu,
ke barat sampai ke Kutai dan ke selatan melalui Sunda Kecil, diluar
pulau Bali sampai ke Marege (bagian utara Australia). Ini menunjukkan
kekuasaan yang luas meliputi lebih dari 2/3 wilayah Nusantara.

Selama zaman yang makmur akan perdagangan rempah-rempah pada abad 15


sampai 19, Sulawesi sebagai gerbang kepulauan Maluku, pulau yang kaya
akan rempah-rempah. Kerajaan besar seperti Makasar dan Bone seperti
yang disebutkan dalam sejarah Indonesia timur, telah memainkan peranan
penting. Pada abad ke 14 Masehi, orang Sulawesi sudah bisa membuat
perahu yang menjelajahi dunia. Perahu pinisi yang dibuat masyarakat
Bugis pada waktu itu sudah bisa berlayar sampai ke Madagaskar di
Afrika, suatu perjalanan mengarungi samudera yang memerlukan tekad yang
besar dan keberanian luar biasa. Ini membuktikan bahwa suku Bugis
memiliki kemampuan membuat perahu yang mengagumkan, dan memiliki
semangat bahari yang tinggi. Pada saat yang sama Vasco da Gama baru

15
memulai penjelajahan pertamanya pada tahun 1497 dalam upaya mencari
rempah-rempah, dan menemukan benua-benua baru di timur, yang sebelumnya
dirintis Marco Polo.

Sampai saat ini Sulawesi sangat kaya akan bahan tambang meliputi besi,
tembaga, emas, perak, nikel, titanium, mangan semen, pasir besi/hitam,
belerang, kaolin dan bahan galian C seperti pasir, batu, krikil dan
trass. Jika saja dikelola dengan baik demi kemakmuran rakyat maka
menjadi kayalah seluruh orang Sulawesi.

Maluku - Kepulauan rempah-rempah

Maluku memiliki nama asli "Jazirah al-Mulk" yang artinya


kumpulan/semenanjung kerajaan yang terdiri dari kerajaan-kerajaan
kecil. Maluku dikenal dengan kawasan Seribu Pulau serta memiliki
keanekaragaman sosial budaya dan kekayaan alam yang berlimpah. Orang
Belanda menyebutnya sebagai ‘the three golden from the east’ (tiga emas
dari timur) yakni Ternate, Banda dan Ambon. Sebelum kedatangan Belanda,
penulis dan tabib Portugis, Tome Pirez menulis buku ‘Summa Oriental’
yang telah melukiskan tentang Ternate, Ambon dan Banda sebagai ‘the
spices island’.

Pada masa lalu wilayah Maluku dikenal sebagai penghasil rempah-rempah


seperti cengkeh dan pala. Cengkeh adalah rempah-rempah purbakala yang
telah dikenal dan digunakan ribuan tahun sebelum masehi. Pohonnya
sendiri merupakan tanaman asli kepulauan Maluku (Ternate dan Tidore),
yang dahulu dikenal oleh para penjelajah sebagai Spice Islands.

Pada 4000 tahun lalu di kerajaan Mesir, Fir’aun dinasti ke-12,


Sesoteris III. Lewat data arkeolog mengenai transaksi Mesir dalam
mengimpor dupa, kayu eboni, kemenyan, gading, dari daratan misterius
tempat “Punt” berasal. Meski dukungan arkeologis sangat kurang, negeri
“Punt” dapat diidentifikasi setelah Giorgio Buccellati menemukan wadah
yang berisi benda seperti cengkih di Efrat tengah. Pada masa 1.700 SM
itu, cengkih hanya terdapat di kepulauan Maluku, Indonesia. Pada abad
pertengahan (sekitar 1600 Masehi) cengkeh pernah menjadi salah satu
rempah yang paling popular dan mahal di Eropa, melebihi harga emas.

Selain cengkeh, rempah-rempah asal Maluku adalah buah Pala. Buah Pala
(Myristica fragrans) merupakan tumbuhan berupa pohon yang berasal dari
kepulauan Banda, Maluku. Akibat nilainya yang tinggi sebagai rempah-
rempah, buah dan biji pala telah menjadi komoditi perdagangan yang
penting pada masa Romawi. Melihat mahalnya harga rempah-rempah waktu
itu banyak orang Eropa kemudian mencari Kepulauan rempah-rempah ini.

16
Sesungguhnya yang dicari Christoper Columbus ke arah barat adalah jalan
menuju Kepulauan Maluku, ‘The Island of Spices’ (Pulau Rempah-rempah),
meskipun pada akhirnya Ia justru menemukan benua baru bernama Amerika.
Rempah-rempah adalah salah satu alasan mengapa penjelajah Portugis
Vasco Da Gama mencapai India dan Maluku.

Kini sebenarnya Maluku bisa kembali berjaya dengan hasil pertaniannya


jika terus dikembangkan dengan baik. Maluku bisa kaya raya dengan hasil
bumi dan lautnya.

Papua - Pulau surga

Papua adalah pulau terbesar kedua di dunia. Pada sekitar Tahun 200 M ,
ahli Geography bernama Ptolamy menyebutnya dengan nama LABADIOS. Pada
akhir tahun 500 M, pengarang Tiongkok bernama Ghau Yu Kua memberi nama
TUNGKI, dan pada akhir tahun 600 M, Kerajaan Sriwijaya menyebut nama
Papua dengan menggunakan nama JANGGI. Tidore memberi nama untuk pulau
ini dan penduduknya sebagai PAPA-UA yang sudah berubah dalam sebutan
menjadi PAPUA. Pada tahun 1545, Inigo Ortiz de Retes memberi nama NUEVA
GUINEE dan ada pelaut lain yang memberi nama ISLA DEL ORO yang artinya
Pulau Emas. Robin Osborne dalam bukunya, Indonesias Secret War: The
Guerilla Struggle in Irian Jaya (1985), menjuluki provinsi paling timur
Indonesia ini sebagai surga yang hilang.

Tidak diketahui apakah pada peradaban kuno sebelum masehi di Papua


telah terdapat kerajaan. Bisa jadi zaman dahulu telah terdapat
peradaban maju di Papua. Pada sebuah konferensi tentang lampu jalan dan
lalulintas tahun 1963 di Pretoria (Afrika Selatan), C.S. Downey
mengemukakan tentang sebuah pemukiman terisolir di tengah hutan lebat
Pegunungan Wilhelmina (Peg. Trikora) di Bagian Barat New Guinea (Papua)
yang memiliki sistem penerangan maju. Para pedagang yang dengan susah
payah berhasil menembus masuk ke pemukiman ini menceritakan
kengeriannya pada cahaya penerangan yang sangat terang benderang dari
beberapa bulan yang ada di atas tiang-tiang di sana. Bola-bola lampu
tersebut tampak secara aneh bersinar setelah matahari mulai terbenam
dan terus menyala sepanjang malam setiap hari. Kita tidak tahu akan
kebenaran kisah ini tapi jika benar itu merupakan hal yang luar biasa
dan harus terus diselidiki.

Papua telah dikenal akan kekayaan alamnya sejak dulu. Pada abad ke-18
Masehi, para penguasa dari kerajaan Sriwijaya, mengirimkan persembahan
kepada kerajaan China. Di dalam persembahan itu terdapat beberapa ekor
burung Cendrawasih, yang dipercaya sebagai burung dari taman surga yang
merupakan hewan asli dari Papua. Dengan armadanya yang kuat Sriwijaya
mengunjungi Maluku dan Papua untuk memperdagangkan rempah – rempah,
wangi – wangian, mutiara dan bulu burung Cenderawasih. Pada zaman
Kerajaan Majapahit sejumlah daerah di Papua sudah termasuk dalam

17
wilayah kekuasaan Majapahit. Pada abad XVI Pantai Utara sampai Barat
daerah Kepala Burung sampai Namatota ( Kab.Fak-fak ) disebelah Selatan,
serta pulau – pulau disekitarnya menjadi daerah kekuasaan Sultan Tidore.

Tanah Papua sangat kaya. Tembaga dan Emas merupakan sumber daya alam
yang sangat berlimpah yang terdapat di Papua. Papua terkenal dengan
produksi emasnya yang terbesar di dunia dan berbagai tambang dan
kekayaan alam yang begitu berlimpah. Papua juga disebut-sebut sebagai
surga kecil yang jatuh ke bumi. Papua merupakan surga keanekaragaman
hayati yang tersisa di bumi saat ini. Pada tahun 2006 diberitakan suatu
tim survei yang terdiri dari penjelajah Amerika, Indonesia dan
Australia mengadakan peninjauan di sebagian daerah pegunungan Foja
Propinsi Papua Indonesia. Di sana mereka menemukan suatu tempat ajaib
yang mereka namakan "dunia yang hilang",dan "Taman Firdaus di bumi",
dengan menyaksikan puluhan jenis burung, kupu-kupu, katak dan tumbuhan
yang belum pernah tercatat dalam sejarah. Jika dikelola dengan baik,
orang Papua pun bisa lebih makmur dengan kekayan alam yang melimpah
tersebut.

Demikianlah sedikit tulisan mengenai pulau-pulau di Indonesia yang


sangat kaya. Dari tulisan tersebut sebenarnya Indonesia sudah dikenal
sebagai bumi yang kaya sejak zaman peradaban kuno. Kita tidak tahu
peradaban kuno apa yang sebenarnya telah ada di Kepulauan Nusantara
ini. Bisa jadi telah ada peradaban kuno dan makmur di Indonesia ini
yang tidak tercatat sejarah.
Ilmuwan Brazil Prof. Dr. Aryso Santos, menegaskan teori bahwa Atlantis
itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Indonesia adalah
wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis. Plato menyebutkan
bahwa Atlantis adalah negara makmur yang bermandi matahari sepanjang
waktu.

Oppenheimer dalam buku “Eden in the East: the Drowned Continent of


Southeast Asia”, mengajukan bahwa Sundaland (Indonesia) adalah Taman
Firdaus (Taman Eden). bahwa Taman Firdaus (Eden) itu bukan di Timur
Tengah, tetapi justru di Sundaland. Indonesia memang merupakan lahan
yang subur dan indah yang terletak di jalur cincin api (pacific ring of
fire), yang ditandai keberadaan lebih dari 500 gunung berapi di
Indonesia. Indonesia bisa saja disebut sebagai surga yang dikelilingi
cincin api. Tapi terlepas dari benar atau tidaknya kita semua sepakat
mengatakan bahwa sebenarnya Indonesia adalah negeri yang sangat kaya
akan hasil bumi, laut maupun budayanya.

Kebudayaan asli Indonesia sudah berumur ribuan tahun sebelum peradaban


Mesir maupun Mesopotamia mulai menulis di atas batu. Peradaban bangsa
Indonesia mungkin memang tidak dimulai dengan tradisi tulisan, akan
tetapi tradisi lisan telah hidup dan mengakar dalam jiwa masyarakat
kuno bangsa kita.
Alam Indonesia yang kaya-raya dan dirawat dengan baik oleh nenek moyang
kita juga menjadi salah satu faktor yang membuat kepulauan nusantara
menjadi sumber perhatian dunia. Indonesia merupakan negara yang
terletak di khatulistiwa yang memiliki kekayaan sumber daya alam
melimpah di samping letaknya yang strategis secara geografis. Sumber
daya alam tersebut mulai dari kekayaan laut, hutan, hingga barang
tambang yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Kini mulai banyak
ditemukan tambang baru di Indonesia. Orang Indonesia akan terkejut
dengan kekayaan alam apa lagi yang akan muncul dari dalam bumi

18
Indonesia ini.

Bumi yang kaya ini jika dikelola dengan baik akan membuat setiap rakyat
Indonesia bisa memperoleh kemakmuran yang luar biasa sehingga bisa jadi
suatu saat rakyat Indonesia sudah tidak perlu dikenakan pajak seperti
saat ini, dan segala fasilitas bisa dinikmati dengan gratis berkat dari
kekayaan alam yang melimpah yang dibagi kepada rakyat secara adil. Yang
dibutuhkan Indonesia adalah penguasa baik, adil dan pandai yang amat
mencintai rakyat dan menolak segala bentuk kebijakan yang menyulitkan
masyarakat. Sudah saatnya Indonesia bangkit menuju kejayaannya. Jika
hal itu terlaksana Indonesia bisa menjadi negara paling kaya di dunia.

19