You are on page 1of 122

BAB I

PENDAHULUAN
Bumi merupakan salah satu planet dalam tata surya
matahari. Sebagai planet bumi merupakan planet yang
dinamik. Ilmu yang mempelajari bumi disebut ilmu geologi.
Seperti halnya bumi yang dinamik, ilmu geologi juga
merupakan ilmu yang dinamik, yang mengkaji dan
menguraikan proses-proses yang menghasilkan suatu
perubahan-perubahan yang berlangsung terus menerus pada
bumi ini terutama pada kerak bumi. Perubahan-perubahan
tersebut berlangsung pada segala tingkatan dengan berbagai
kecepatan. Perubahan yang terjadi pada bumi ini atau lebih
tepatnya pada lapisan kerak bumi disebabkan oleh aktifitas
fisik, kimia maupun biologi.
Seperti diketahui data atau informasi yang
menjelaskan mengenai bumi atau kerak bumi diperoleh dari
batuan dan mineral yang sebagai penyusun kerak bumi. Dari
batuan dan mineral tersebut dapat diperoleh informasi bahwa
bumi merupakan sesuatu yang dinamik. Dari batuan dan
mineral tersebut dapat diperoleh mengenai proses-proses yang
berlangsung pada waktu pembentukannya dan keadaan
lingkungan dimana batuan dan mineral tersebut terbentuk.
Keadaan lingkungan dimana batuan dan mineral tersebut
terbentuk merupakan faktor yang penting yang mempengaruhi
sifat fisik dari batuannya.
Ilmu geologi sebagai ilmu yang dinamik, terus
menerus mengalami perkembangan seiring dengan kemajuan
pemikiran manusia. Ditambah dengan rasa keingin tahuan
manusia yang semakin besar, maka ilmu geologi akan
semakin berkembang.
Bumi sebagai planet yang dinamik diketahui dari
perubahan yang selalu terjadi pada permukaannya. Sehingga
kedinamikan dari bumi sangat besar terjadi pada bagian bumi
terluar yaitu kerak bumi. Kedinamikan bumi mulai menjadi
perhatian para ilmuwan setelah ditemukannya benua Amerika
beberapa abad yang lalu. Dari hasil pengamatan dan
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.1

penelitian yang dilakukan pada masa itu terdapat kesesuaian


bentuk antara benua Amerika dengan benua Eropa. Hal ini
merupakan awal dari lahirnya konsep-konsep tentang
kedinamikan bumi.
Konsep-konsep mengenai kedinamikan bumi terus
berkembang. Konsep-konsep yang lama akan memunculkan
konsep-konsep yang baru mengikuti perkembangan ilmu dan
teknologi. Munculnya konsep-konsep yang baru ini juga
disebabkan karena konsep yang lama sering tidak dapat
memberikan jawaban yang memuaskan mengenai sesuatu hal
yang baru dilihat dan diketahui. Hal ini sebenarnya sesuai
dengan sifat dari ilmu itu sendiri yang merupkan suatu sistem
yang selalu mengkoreksi dirinya sendiri dalam pandangan dan
fikirannya mengenai dunia.
Beberapa Pandangan mengenai Bumi di masa lalu
Seperti telah diketahui pandangan dan pemikiran
mengenai bumi telah ada sejak lama. Pemikiran dan
pandangan tersebut merupakan patokan atau dasar dari
pemikiran dan pandangan yang lebih modern. Beberapa
pandangan mengenai bumi yang pernah ada dikemukakan
antara lain oleh Eratosthenes, Steno, Werner, Hutton, dan
Lyell.
1. Eratosthenes
Eratosthenes adalah salah seorang ahli astronomi
Yunani yang hidup sekitar 250 tahun sebelum Masehi. Ia
melakukan pengukuran keliling bumi dengan menggunakan
ilmu astronomi. Pengukuran keliling bumi ini dilakukan
sesuai dengan pendapat para ahli astronomi lainnya yang
mengatakan bahwa bumi ini tidak datar melainkan berbentuk
bulat. Pengukuran yang dilakukan oleh Eratosthenes
menghasilkan bahwa keliling bumi adalah 40 000 km.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.2

2. Steno
Pada masa lampau, beberapa gejala dalam ilmu
geologi seperti keterdapatan fosil dalam batuan, gempa bumi
dan gunung berapi merupakan hal masih diluar jangkauan
pemikiran manusia. Barulah pada abad ke 17, Nicholas Steno
menafsirkan bahwa fosil merupakan sisa-sisa kehidupan atau
organisme yang tersimpan dan terawetkan di dalam batuan
endapan. Beliaulah orang yang pertama kali mengajukan
pemikiran dasar mengenai batuan endapan (batuan sedimen).
Hukum-hukum yang menjadi dasar dari pemikiran mengenai
batuan endapan adalah :
a. Hukum
Horisontalitas.
Hukum
ini
menyatakan bahwa batuan endapan yang
terbentuk pada lingkungan air, pada awalnya
diendapkan sebagai lapisan-lapisan yang
umumnya mendatar (horisontal) dan sejajar
dengan permukaan batuan dasarnya.
b. Hukum Superposisi. Hukum ini menyatakan
bahwa pada setiap urutan lapisan-lapisan
sedimen atau batuan sedimen yang belum
mengalami gangguan (deformasi), lapisan
yang terletak di bawah akan berumur lebih
tua daripada lapisan yang berada di atasnya.
Hukum-hukum tersebut di atas merupakan konsep
pertama yang memperkenalkan dimensi waktu dalam proses
pembentukan batuan dan proses-proses geologi. Dengan
konsep ini ditunjukkan bahwa proses pembentukan batuan
sedimen tidak terjadi pada waktu yang bersamaan.
3. Werner
Pada abad ke 18, Abraham Wenner mengemukakan
suatu teori mengenai asal daripada batuan penyusun kerak
bumi. Beliau menyatakan bahwa kerak bumi disusun oleh
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.3

batuan yang berlapis, diawali oleh batuan kristalin yang sifat


fisiknya semakin ke atas batuannya semakin lunak dan kurang
sifat kristalinnya. Batuan-batuan tersebut terbentuk pada suatu
samudera purba yang sangat luas. Batuan kristalin yang
terbentuk pada dasar kerak bumi terbentuk oleh proses
kimiawi. Sedangkan batuan yang letaknya di bagian atas dan
mengandung fosil terbentuk oleh proses fisika (mekanik), dan
materialnya berasal dari batuan kristalin yang mengalami
pengangkatan dan tererosi. Teori ini yang menyebutkan
adanya samudera yang sangat luas di masa lampau disebut
dengan teori Neptunisme.
4. Hutton
Menjelang akhir abad ke 18, James Hutton (1726
1797) mengemukakan teorinya yang menggoyahkan teoriteori sebelumnya seperti teori katastrofisme dan neptunisme.
Hutton menyatakan bahwa semua proses pembentukan batuan
yang menyusun kerak bumi terbentuk dengan proses yang
sangat lama. Selain itu beliau juga menyatakan bahwa
perubahan yang terjadi pada permukaan bumi dapat juga
disebabkan karena adanya gaya-gaya yang bekerja di dalam
bumi.
Hutton juga berpendapat bahwa pembentukan batuan
granit dan basalt yang dijumpainya pada waktu itu adalah
hasil dari terobosan material kental dan panas yang berasal
dari dalam bumi. Material tersebut telah memanaskan batuan
di sekitarnya. Teorinya mengenai material cair dan sangat
panas dari dalam bumi ini selanjutnya dikenal dengan nama
teori plutonisme. Kata ini berasal dari Pluto yaitu dewa
neraka dalam mitologi Yunani.
5. Lyell
Pada awal abad ke 19, Charles Lyell (1797 1875)
mengemukakan teorinya yang lebih menegaskan dan
menyempurnakan konsep yang telah dikemukakan oleh
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.4

Hutton. Dengan konsepnya yang terkenal yaitu


uniformitarianism, lebih menyakinkan orang mengenai
waktu yang sangat lama yang diperlukan suatu proses geologi.
Konsep ini selanjutnya lebih menluas diketahui setelah Lyel
pada tahun 1830 menerbitkan bukunya yang berjudul
Principle of Geology. Buku ini merupakan awal dari
pemikiran-pemikiran modern tentang ilmu geology. Konsep
uniformitarianism menyatakan bahwa segala kejadian yang
terjadi pada bumi merupakan proses yang sama sejak masa
lampau sampai masa kini. Berdasarkan konsep tersebutlah
maka muncul pendapat yang menyatakan the present is the
key to the past atau masa sekarang merupakan kunci bagi
masa lampau. Di dalam bukunya tersebut Lyell mengutarakan
hal-hal yang menunjang pendapatnya tersebut.
Jadi dengan konsep uniformitarianism inilah maka
proses-proses geologi yang terjadi di masa sekarang
merupakan kunci untuk memberikan penjelasan tentang
kejadian atau proses-proses geologi yang terjadi di masa
lampau. Konsep inilah yang akhirnya tidak mengakui tentang
konsep katatrofisme. Selanjutnya konsep inilah yang
memunculkan konsep-konsep baru mengenai bumi ini.
Perkembangan ilmu Geologi di zaman modern
Setelah munculnya konsep uniformitarianism, maka
sejak awal abad ke 20, perkembangan ilmu geologi
mengalami kemajuan dengan pesat. Kemajuan pemikiran
tentang ilmu geologi ini, juga sangat ditunjang dengan
kemajuan teknologi yang mampu untuk menerapkan hukumhukum fisika dan kimia yang merupakan dasar dari ilmu
geologi. Hal ini memungkinkan munculnya disiplin-disiplin
ilmu lain sebagai cabang ilmu geologi yang memungkinkan
untuk mengkaji bumi ini lebih spesifik. Disiplin ilmu
geofisika dn geokimia merupakan cabang ilmu geologi yang
sangat penting untuk mengkaji bumi ini terutama kerak bumi.
Dengan ilmu ni par ahli geologi dapat mengkaji sifat-sifat

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.5

fisika dan kimia kerak bumi sampai kedalaman 100 km di


laboratorium.
Pada pertengahan abad ke 20, muncul suatu konsep
baru yang benar-benar merombak pemikiran-pemikiran
tentang ilmu geologi secara drastis. Konsep tersebut dikenal
dengan nama Tektonik Lempeng. Dengan konsep ini para
ahli geologi lebih dapat menjelaskan mengenai proses-proses
atau kejadian-kejadian yang berlangsung di bumi yang selama
ini tidak dapat dijelaskan dengan teori-teori atau konsepkonsep sebelumnya. Selain itu dengan mengunakan teori
tektonik lempeng pembentukan sumber daya mineral dan
enerji dapat diuraikan dengan baik.
Meskipun teori tektonik lempeng pada masa kini sudah
banyak digunakan oleh para ahli goelogi dan menunjukkan
kebenarannya, tetapi penelitian mengenai berbagai hal di
bidang geologi masih terus berlanjut untuk lebih meyakinkan
kebenaran teori tersebut.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.6

BAB II

SUSUNAN BAGIAN DALAM BUMI


Bentuk bumi yang bulat ternyata tidak benar-benar
bulat. Bagian tengah yaitu di daerah katulistiwa bagian bumi
mempunyai jari-jari yang lebih panjang dari pada jari-jari
bumi ke bagian kutub. Jari-jari bumi di katulistwa sekitar
6371 km, sedangkan jari-jari yang ke kutub panjangnya
sekitar 3693 km. Bentuk bumi yang demikian disebabkan
karena perputaran bumi pada sumbunya, selain bumi ini
berputar mengelilingi matahari pada orbitnya.
Bagian dalam dari bumi dapat diketahui dengan
mempelajari sifat-sifat fisika bumi yaitu dengan metode
geofisika, terutama dari kecepatan rambat getaran atau
gelombang seismik, sifat kemagnetannya dan gaya berat serta
data panas bumi. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa
bagian dalam bumi tersusun dari material yang berbeda-beda
mulai dari permukaan bumi sampai ke inti bumi. Dengan
metode geofisika tersebut juga diketahui bahwa berat jenis
bumi keseluruhan adalah sekitar 5,52. Kerak bumi sendiri
yang merupakan lapisan terluar dan disusun oleh batu-batuan
mempunyai berat jenis antara 2,5 sampai 3,0. Dari hal tersebut
dapat diketahui bahwa material yang menyusun bagian dalam
bumi merupakan material yang lebih berat dengan berat jenis
yang lebih besar daripada batuan yang menyusun kerak bumi.
Dengan metode geofsika dapat diketahui bagian
dalam bumi disusun oleh:

Kerak bumi atau sering disebut kulit bumi,


merupakan lapisan terluar yang disusun oleh
batuan yang padat. Kerak bumi dapat dibedakan
menjadi kerak benua dan kerak samudera.
Selubung bumi atau mantel bumi, merupakan
lapisan dibawah kerak bumi yang disusun oleh
material cair dan kental dengan berat jenis yang
lebih besar dari berat jenis kerak bumi.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.7

Inti bumi merupakan bagian pusat bumi yang


dibagi lagi menjadi inti bagian luar dan inti
bagian dalam. Bagian ini disusun oleh material
yang panas dan berat.

Antara kerak bumi dan selubung bumi dipisahkan


oleh bidang diskontinuitas yang disebut bidang
diskontiunuitas Mohorovicik atau sering disebut bidang
moho. Bidang ini di bawah daratan atau benua, berada pada
kedalaman sekitar 30 sampai 59 km dari permukaan bumi.
Sedang di bawah samudera bidang ini letaknya pada
kedalaman 10 sampai 12 km dari dasar samudera.
Antara selubung bumi dengan inti bumi dipisahkan
oleh bidang diskontinuitas Gutenberg. Bidang ini terletak
pada kedalaman sekitar 2900 km dari permukaan bumi
Sedangkan diantara inti bumi bagian luar dan inti bumi bagian
dalam terdapat bidang diskontinuitas Lehman.

Kerak bumi (earth crust)


Kerak bumi atau kulit bumi disusun oleh dapat
dibedakan menjadi kerak benua dan kerak samudera. Kerak
benua atau kerak kontinen, merupakan kerak bumi yang
menyusun daratan atau benua. Kerak benua mempunyai
ketebalan antara 30 sampai 35 km dengan ketebalan rata-rata
sekitar 35 km. Kerak benua ini menyusun sekitar 79% dari
volume kerak bumi. Ketinggian permukaan dari kerak benua
rata-rata sekitar 800 meter dari permukaan laut, meskipun ada
daerah yang ketinggiannya mencapai lebih dari 8000 meter.
Batuan yang menyusun kerak benua pada umumnya adalah
batuan granitik atau yang bersifat asam. Bagian atas dari
kerak benua ini disusun oleh batuan beku, batuan metamorf
dan batuan endapan. Sedangkan secara keseluruhan batuan
beku dan batuan metamorf menyusun sekitar 95% , sisanya
yang 5% merupakan batuan endapan. Kerak benua bagian atas
dan kerak benua bagian bawah dipisahkan oleh bidang
diskontinuitas Conrad.
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.8

Gambar 2.1 Susunan bagian dala bumi

Kerak samudera atau kerak oseanik, merupakan


kerak bumi yang menyusun lantai dasar samudera. Kerak ini
menyusun sekitar 65% dari luas kerak bumi. Kedalaman dai
kerak oseanik ini rata-rata sekitar 4000 meter dari permukaan
air laut, meskipun pada beberapa palung laut kedalamannya
ada yang mencapai lebih dari 10 km. Kerak samudera
mempunyai ketebalan nerkisar antara 5 sampai 15 km.
Batuan yang menyusun kerak samudera adalah batuan
yang bersifat basa atau mafik. Bagian atas dari kerak
samudera dengan ketebalan sekitar 1,5 km disusun oleh
batuan yang bersifat basa atau basaltik, Sedangkan bagian
bawahnya disusun oleh batuan metamorf dan batuan beku
gabro. Permukaan kerak samudera ditutupi oleh endapan
sedimen dengan ketebalan rata-rata sekitar 500 meter.
Batuan yang menyusun kerak bumi terutama terdiri
dari 8 unsur, yaitu O, Si, Al, Fe, Ca, Na, K, dan Mg. Oksigen
dan Silikon merupakan dua unsur yang paling dominan
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.9

jumlahnya. Pada umumnya unsur-unsur yang menyusun kerak


bumi dijumpai dalam bentuk senyawa oksida.(Lihat Tabel).
Selubung Bumi (earth mantle)
Selubung bumi atau mantel bumi merupakan
penyusun bagian dalam bumi yang terbesar. Berat jenis
material penyusun selubung bumi rata-rata adalah 4,5.
Komposisi kimia penyusun selubung bumi belum diketahui
dengan pasti, tetapi diperkirakan mengandung unsur oksigen
dan silikon dalam jumlah yang besar. Selain itu selubung
bumi juga mengandung ion-ion unsur logam terutama
magnesium dan besi. Komposisi umum dari selubung bumi
adalah material yang bersifat ultramafik, seperti peridotit,
dunit, dan batuan lain yang kaya olivin.
Tabel 1. Senyawa-senyawa yang dominan menyusun kerak
bumi
No.

Senyawa

% berat

1.
2.
3.
4.
5.
6,
7.
8.

SiO2
Al2O3
FeO & Fe2O3
MgO
CaO
Na2O
K2O
Lain-lain

59,3
15,4
6,9
3,5
5,1
3,8
3,1
2,9

Jumlah

100

Selubung bumi dapat dibedakan menjadi 3 bagian,


yaitu selubung bumi bagian atas, selubung bumi bagian
tengah, dan selubung bumi bagian bawah. Selubung bumi
bagian atas (upper mantle) terletak pada zona 400 km diukur
dari dasar kerak bumi. Bagian ini mempunyai ketebalan
sekitar 400 km. Bagian ini disusun oleh suatu material yang
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.10

kental, atau batuan yang hampir mencir. Keadaan ini dapat


diketahui dari kecepatan gelombang sekunder dan primer
yang rendah.
Selubung bumi bagian tengah atau sering disebut
sebagai zona transisi atau peralihan, terletak mulai dari
kedalaman 400 km sampai sekitar 700 km dari dasar kerak
bumi. Jadi ketebalan bagian ini sekitar 300 km. Zona
peralihan ini ditandai dengan peningkatan kecepatan rambat
gelombang-gelombang seismik (gelombang S dan P)
Selubung bumi bagian bawah (lower mantle) terletak
mulai kedalaman sekitar 700 km. Sampai kedalaman 2900 km
(puncak inti bumi). Bagian ini disusun oleh material yang
bersifat padat dan sangat panas dengan temperatur mencapai
sekitar 3000oC. Hal ini dapat diketahui dari dapat
merambatnya gelombang S melalui material penyusunnya.
Sedangkan membesarnya kecepatan rambat gelombang
seismik pada selubung bumi semakin ke bawah kemungkinan
disebabkan oleh sebagian membesarnya tekanan pada bagian
ini.

Inti bumi (core).


Inti bumi terletak mulai kedalaman sekitar 2900 km
dari dasar kerak bumi sampai ke pusat bumi. Inti bumi dapat
dipisahkan menjadi inti bumi bagian luar dan inti bumi bagian
dalam. Batas antara selubung bumi dan inti bumi ditandai
dengan penurunan kecepatan gelombang P secara drastis dan
gelombang S yang tidak diteruskan. Keadaan ini disebabkan
karena meningkatnya berat jenis material penyusun inti bumi
dan perubahan sifat meterialnya dari yang bersifat padat
menjadi bersifat cair.
Meningkatnya berat jenis disebabkan karena
perubahan dari material silikat yang menusun selubung bumi
menjadi material campuran logam yang kaya akan besi (Fe) di
inti bumi. Perubahan sifat material menjadi cairan disebabkan
karena turunnya titik lebur material yang mengandung besi
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.11

dubandingkan material yang kaya silikat. Itulah sebabnya


material yang menyusun inti bumi bagian luar berupa cairan
yang kaya logam Fe. Sebaliknya semakin bertambahnya
tekanan ke bagian yang semakin dalam akan
mengakibatkankan naiknya titik lebur material logsm. Hal ini
menyebabkan material yang menyusun inti bumi bagian
dalam merupakan material logam yang bersifat padat.
Komposisi material penyusun inti bumi diketahui
dengan perkiraan bahwa unsur besi merupakan unsur yang
banyak dijumpai pada kerak batuan penyusun kerak bumi.
Dengan meningkatnya berat jenis pada batuan yang makin
dalam letaknya, maka kadar besi juga akan semakin
meningkat, sehingga pada selubung bumi mempunyai
kemungkinan mengadung kadar besi yang lebih besar
daripada kerak bumi. Berat jenis inti bumi bagian luar yang
disusun oleh material kaya besi yang cair sama dengan berat
jenis berat jenis besi dalam keadaan cair. Karena inti bumi
bagian dalam disusun oleh material kaya besi yang padat,
maka batas antara inti bumi bagian luar dengan inti bumi
bagian dalam mempunyai temperatur sama dengan titik lebur
besi pada tekanan ditempat tersebut. Selain itu, komposisi
penyusun inti bumi juga diketahui dengan mendasarkan pada
komposisi meteorit yang dijumpai mengandung logam besi
dan nikel sebanyak sekitar 7% sampai 8%. Sehingga
diperkirakan material logam penyusun inti bumi adalah unsur
besi dan nikel.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.12

BAB III
DINAMIKA KERAK BUMI
Bumi merupakan planet yang sangat dinamis., artinya
bumi selalu megalami perubahan. Perubahan tersebut
disebabkan oleh proses-proses yang bekerja pada bumi ini
Proses-proses yang merubah bentuk permukaan bumi
dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu proses yang merusak
dan membangun permukaan bumi. Proses yang pertama
merupakan proses yang terjadi pada permukaan bumi, yaitu
proses pelapukan dan erosi. Proses tersebut, walaupun
berjalan sangat lambat tetapi berlangsung terus menerus,
menyebabkan permukaaan bumi secara perlahan menjadi rata.
Sedangkan proses yang membangun permukaan bumi
umumnya disebabkan oleh gaya-gaya yang berasal dari dalam
bumi seperti aktivitas gunungapi dan pembentukan
pegunungan. Proses tersebut menyebabkan permukaan bumi
menjadi bertambah tinggi. Hubungan antara proses-proses
tersebut dan sifat kedinamikan bumi, meskipun sudah
diketahui sejak lama, tetapi belum ditemukan suatu hipotesa
yang masuk akal untuk menceritakan tentang perubahanperubahan yang terjadi pada bumi. Sampai pada awal abad ke
20 muncullah suatu pendapat yang mengatakan tentang
pemisahan atau pemekaran dari daratan (kontinen) di
permukaan bumi. Setelah lebih dari 50 tahun dengan
terkumpulnya data-data yang mendukung hipotesa tersebut
untuk beralih menjadi suatu teori. Teori tersebut disebut teori
tektonik lempeng (plate tectonic). Teori yang akhirnya
meluas tersebut merupakan sebuah model yang konprehensif
tentang kegiatan yang terjadi di dalam bumi.
Model tektonik lempeng menyebutkan bahwa kerak
bumi ini disusun oleh lempeng-lempeng yang besar dan kaku.
Kerak bumi sendiri dibedakan menjadi kerak benua
(continental crust), yaitu kerak bumi yang menyusun daratan
atau benua (kontinen), dan kerak samudera (oceanic crust),
yaitu kerak bumi yang menyusun lantai dasar samudera.
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.13

Kerak benua dan kerak samudera sering juga disebut lempeng


benua dan lempeng samudera. Lempeng-lempeng tersebut
selalu bergerak walaupun sangat lambat. Pergerakan ini
disebabkan karena adanya perbedaan distribusi panas di
bawah kerak bumi (mantel bumi). Panas yang sangat tinggi
yang terdapat pada tempat yang lebih dalam akan bergerak
naik ke tempat yang temperaturnya lebih rendah dan akan
menyebar secara lateral. Penyebaran panas secara lateral
inilah yang mengakibatkan bergeraknya lempeng-lempeng
penyusun kerak bumi. Pergerakan dari lempeng-lempeng
kerak bumi ini menyebabkan terjadinya gempa bumi, aktivitas
gunungapi, dan deformasi batuan penyusun kerak bumi yang
menbentuk pegunungan.
Karena setiap lempeng bergerak sebagai unit yang
berbeda, maka interaksi yang sangat besar terjadi pada
pertemuan antara lempeng-lempeng tersebut. Batas-batas
antara lempeng-lempeng penyusun kerak bumi merupakan
jalur aktivitas gunungapi (vulkanik) dan gempa bumi. Ada
tiga macam batas pertemuan lempeng-lempeng tersebut yang
dipisahkan berdasarkan jenis pergerakannya dan setiap
lempeng akan dibatasi oleh kombinasi ketiga macam batas
tersebut. Ke tiga macam batas pertemuan lempeng-lempeng
penyusun kerak bumi tersebut adalah (gambar 2.1):
1. Batas divergen, zona dimana lempeng-lempeng
saling memisahkan dirin (saling menjauh),
meninggalkan ruang diantaranya.
2. Batas konvergen, zona dimana lempeng-lempeng
bergerak saling mendekati sehingga terjadi tumbukan
antara keduanya. Kejadian ini dapat menyebabkan
lempeng yang satu menunjam di bawah lempeng
lainnya atau hanya tumbukan yang menyebabkan
bagian ini akan terangkat bersama-sama.
3. Batas transform fault, zona dimana lempenglempeng bergerak saling melewati antara satu
lempeng dengan lempeng lainnya (bergeseran).

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.14

Pemisahan lempeng (divergen) terutama terjadi pada


lempeng samudera (oseanik), karena lempeng ini relatif lebih
tipis daripada lempeng benua (kontinen). Pada saat lempeng
samudera mengalami pemisahan, celah yang terbentuk di
antara keduanya akan diisi oleh material cair yang panas yang
berasal dari astenosfer (gambar 2.2). Material tersebut
perlahan-lahan akan mendingin dan membentuk potongan
baru lantai dasar samudera.

Gambar 2.1. Batas-batas pertemuan


lempeng tektonik
A. Batas divergen
B. Batas konvergen
C. Batas transform fault

Proses tersebut di atas berlangsung terus menerus


sehingga terjadi penambahan kerak samudera di antara
lempeng-lempeng yang bergerak saling menjauh. Mekanisme
pergerakan ini disebut pemekaran lantai dasar samudera
(sea floor spreading). Lantai dasar Samudera Atlantik
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.15

terbentuk sejak 200 juta tahun yang lalu dengan pergerakan


rata-rata sekitar 5 sentimeter setiap tahun, walaupun
pergerakannya antara satu tempat dengan tempat lainnya
sangat bervariasi. Pergerakan tersebut sepertinya sangat
perlahan, tetapi bila dibandingkan dengan umur bumi, maka
pergerakan yang hanya sekitar 5 % dari sekala waktu geologi,
pembentukan Samudera Atlantik relatif cepat.
Meskipun terjadi penambahan pada kerak samudera,
tetapi luas kerak bumi relatif tetap (konstan), karena disisi lain
terjadi proses penghancuran kerak tersebut. Proses
penghancuran kerak bumi terjadi pada batas lempeng yang
konvergen. Pada saat terjadi pergerakan pada batas yang
konvergen , ujung atau tepi yang satu dari lempeng tersebut
akan menunjam di bawah lempeng lainnya. Peristiwa ini
terjadi apabila kerak benua bertemu dengan kerak samudera.
Kerak samudera yang disusun oleh batuan yang berat jenisnya
lebih besar daripada berat jenis kerak benua akan menunjam
di bawah kerak benua. Zona penunjaman ini disebut zona
subduksi (subduction zone) (gambar 4). Selain itu pada
pertemuan kedua lempeng tersebut akan terbentuk bagian laut
yang sangat dalam yang disebut palung laut.
Pada zona subduksi, bagian dari kerak samudera yang
menunjam ke bawah akan memasuki suatu zona dengan
lingkungan tekanan dan temperatur yang tinggi. Hal ini
mengakibatkan batuan penyusunnya akan mengalami
peleburan atau pencairan dan membentuk magma. Magma
yang terbentuk akan bermigrasi ke atas dan masuk ke dalam
kerak yang tertekuk. Magma yang bermigrasi tersebut dapat
juga mencapai permukaan bumi, sehingga mengakibatkan
terjadinya erupsi gunungapi.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.16

Gambar 3.3 Pembentukan kerak


samudera pada pemekaran lantai
dasar samudera

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.17

Gambar 3.4. Pembentukan zona subduksi dan


palung laut pada pertemuan lempeng konvergen

Batas transform fault, batas lempeng-lempeng yang


saling bergesekan tidak menghasilkan atau menghancurkan
bagian kerak bumi. Pergeseran tersebut akan membentuk
sesar-sesar di sekitarnya. Sesar yang terbentuk tersebut searah
dengan pergerakan lempeng-lempeng yang bergesekan, yang
pada awalnya diketahui berasosiasi dengan pergeseran pada
punggungan lantai dasar samudera. Meskipun kebanyakan
transform fault terjadi pada kerak samudera, tetapi ada pula
yang terjadi pada pertemuan antara kerak samudera dengan
kerak benua. Sesar San Andreas di California, merupakan
contoh yang sangat terkenal dari pertemuan lempeng jenis ini.
Pada sesar ini lempeng Samudera Pasifik bergerak ke arah
utara bergesekan dengan lempeng benua Amerika Utara.
Pergerakan ini biasanya tidak dapat dipantau, tetapi setelah
proses tersebut, terjadilah pelepasan tenaga yang besar dengan
tiba-tiba pada kedua sisinya, sehingga mengakibatkan
terjadinya gempa bumi. Oleh sebab itu pantai barat Amerika
Serikat terutama di Kalifornia sering terjadi gempa bumi.
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.18

Gempa bumi terakhir yang hebat terjadi pada tahun 1989 yang
merusakkan daerah San Fransisco. Dengan data yang
ditemukan sekarang telah diketahui bahwa interaksi antara
lempeng-lempeng tektonik di sepanjang batas pertemuannya
berhubungan erat dengan aktivitas gunungapi, gempa bumi,
dan proses pembentukan pegunungan. Selanjutnya pergerakan
batas lempeng ini tidak tetap sepanjang masa. Bila terjadi
pemekaran kembali pada kerak benua yang sekarang stabil,
maka akan terbentuk suatu cekungan laut yang baru.
Sebaliknya pada lempeng-lempeng yang saling bertemu, akan
dapat membentuk lempeng superkontinen yang baru pula.
Pada pertemuan kerak benua dan kerak benua, batuan
sedimen yang terakumulasi sangat tebal pada batas lempenglempeng tersebut akan mengalami pengangkatan dan
membentuk suatu deretan pegunungan yang sangat tinggi.
Selama temperatur di bumi bagian dalam masih tetap
lebih tinggi daripada temperatur di bagian bumi yang dekat
permukaan, material cair di dalam bumi akan terus bergerak.
Selanjutnya pergerakan di dalam bumi menyebabkan kerak
bumi terus bergerak. Jadi selama bagian bumi masih tetap
panas, posisi dan bentuk dari samudera dan benua akan terus
mengalami perubahan, dan bumi masih merupakan planet
yang dinamik.
Pada awal munculnya pendapat-pendapat tentang
bumi, selain dinyatakan bahwa bumi adalah bulat, juga
dinyatakan bahwa bumi merupakan suatu benda yang padat
dan kaku yang tidak mudah mengalami perubahan. Sedangkan
benua atau daratan yang berada di atasnya tidak bergerak dan
tetap tinggal pada tempatnya.
Konsep mengenai kerak bumi merupakan massa yang
dinamik dapat dibagi menjadi tiga tahap:
1. Tahap awal oleh Owen dan Snider
2. Tahap pertengahan oleh Alfred Wegener
3. Tahap modern: Tektonik Lempeng

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.19

Teori Klasik mengenai dinamika kerak bumi


1.
2.
3.
4.
5.

Teori Kontraksi
Teori Aliran Konveksi
Teori Geosinklin
Teori Undasi
Teori Pengapungan Benua

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.20

BAB IV
AKTIVITAS MAGMA DAN GUNUNG BERAPI
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan salah satu negara dengan
jumlah gunungapi yang terbesar di dunia. Lebih kurang 179
gunungapi terdapat di negeri ini dan 129 diantaranya masih
tetap aktif sampai sekarang. Karena hal inilah maka hampir
setiap tahun paling sedikit satu gunungapinya melakukan
erupsinya.
Aktivitas gunungapi merupakan pencerminan dari
aktivitas magma yang terdapat di dalam bumi. Beberapa
aktivitas magma berjalan sangat lambat sehingga dapat
membeku sebelum mencapai permukaan bumi. Hasil
pembekuan magma di dalam kerak bumi ini disebut pluton
atau batuan beku intrusif. Tubuh batuan beku ini akan muncul
ke permukaan bumi setelah batuan yang menutupinya
mengalami proses erosi. Aktivitas magma yang berlangsung
sangat cepat dapat meyemburkan magma yang panas setelah
mencapai permukaan bumi. Aktivitas tersebut sering disebut
aktivitas gunungapi.
AKTIVITAS GUNUNGAPI
Aktivitas gunungapi atau sering disebut juga disebut
sebagai aktivitas volkanik, pada umumnya digambarkan
sebagai suatu proses yang menghasilkan gambaran yang
sangat menakjubkan atau kadang-kadang menakutkan dari
suatu bentuk struktur kerucut yang secara periodik melakukan
erupsinya. Erupsi dari suatu gunungapi ini kadang-kadang
merupakan letusan yang sangat hebat (eksplosif), tetapi
kadang-kadang berlangsung dengan tenang (efusif). Faktor
utama yang mengontrol macam erupsi gunungapi ini adalah
komposisi magma, temperatur magma dan kandungan gas
yang terkandung dalam magma. Faktor-faktor tersebut sangat
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.21

mempengaruhi mobilitas dari magma atau sering disebut


viskositas (kekentalan) magma. Semakin kental magma,
semakin sulit magma untuk mengalir.
Komposisi magma telah diuraikan pada bab
sebelumnya pada klasifikasi batuan beku, karena klasifikasi
batuan beku sangat erat kaitannya dengan komposisi magma.
Salah satu faktor utama yang membedakan bermacam batuan
beku dan juga bermacam magma asal ialah kandungan unsur
silika (SiO2) dalam magma (tabel 1). Magma pembentuk
batuan beku basaltik (basa) mengandung kira-kira 50% silika.
Batuan beku granitik (asam) mengandung sekitar 70% silika
sedangkan batuan beku andesitik (menengah) mengandung
sekitar 60% silika. Jadi dapat dikatakan bahwa viskositas
magma sangat berhubungan dengan kandungan silikanya.
Semakin tinggi kandungan silika dalam magma, maka magma
semakin kental (viskos) dan aliran magma akan semakin
lambat. Hal ini disebabkan karena molekul-molekul silika
terangkai dalam bentuk rantai yang panjang, walaupun belum
mengalami kristalisasi. Akibatnya karena lava basaltik
kandungan silikanya rendah, maka lava basaltik cenderung
bersifat encer dan mudah mengalir, sedangkan lava granitik
relatif sangat kental dan sulit untuk mengalir walaupun pada
temperatur yang tinggi.
Kandungan gas dalam magma juga akan
mempengaruhi terhadap mobilitas magma. Keluarnya gas dari
magma menyebabkan magma menjadi semakin kental. Selain
itu berkurangnya kandungan gas dalam magma dapat pula
menyebabkan tekanan yang cukup kuat untuk mengeluarkan
magma melalui lubang kepundan (kawah gunungapi). Pada
waktu magma bergerak naik ke atas mendekati permukaan
bumi pada gunungapi, tekanan magma pada bagian paling
atas akan berkurang. Berkurangnya tekanan akan
mengakibatkan lepasnya gas dari magma dengan cepat. Pada
temepratur tinggi dan tekanan yang rendah, memungkinkan
gas untuk mengembangkan volumenya sampai beberapa kali
dari volumenya mula-mula. Magma basaltik yang kandungan
gasnya cukup besar, memungkinkan gas tersebut untuk keluar
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.22

melalui lubang kepundan gunungapi dengan relatif mudah.


Keluarnya gas tersebut dapat membawa lava yang
disemburkan sampai beberapa meter tingginya seperti air
mancur lava. Sedangkan pada magma yang kental, kandungan
gas kurang, akan sulit untuk mengalir.
MATERIAL YANG DIKELUARKAN PADA ERUPSI
GUNUNGAPI
Kebanyakan orang percaya bahwa lava merupakan
material utama yang dikeluarkan dari aktivitas gunungapi.
Tetapi sebenarnya bukan hanya lava yang dikeluarkan pada
aktivitas gunungapi ini, tetapi dapat juga dalam jumlah yang
besar berupa rombakan batuan, bongkah lava, material halus
dan debu gunungapi. Selain itu hampir semua erupsi
gunungapi juga mengeluarkan gas dalam jumlah yang besar.
Selanjutnya akan dibahas mengenai macam material yang
dikeluarkan pada aktivitas gunungapi.

Tabel 1 Variasi sifat magma dengan komposisi yang berbeda


Karakteristik
Kandungan silika
Kekentalan
Kecenderungan membentuk lava
Kecenderungan membentuk piroklastik
Titik lebur

Basaltik

Andesitik

Granitik

kecil ( 50%)
rendah
tinggi
rendah
tinggi

sedang ( 60%)
sedang
sedang
sedang
sedang

besar ( 70%)
tinggi
rendah
tinggi
rendah

Aliran lava
Karena kandungan silikanya yang rendah, lava
basaltik pada umumnya sangat encer dan akan mengalir
dengan penyebaran yang cukup luas atau membentuk seperti
lidah. Di Kepulauan Hawaii, lava semacam ini dapat mengalir
dengan kecepatan sampai 30 km/jam pada kemiringan yang
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.23

besar. Meskipun demikian kecepatan sebesar itu jarang


terjadi, pada umumnya kecepatan alirannya berkisar antara 10
sampai 300 m/jam. Sebaliknya pergerakan dari lava yang
kaya silika kadangkala sangat lambat untuk dapat diamati.
Pada waktu lava basaltik dari tipe Hawaii ini
mengalami pembekuan, lava ini akan membentuk permukaan
yang licin dan kadang-kadang membentuk kerutan pada
permukaannya karena pada bagian dalam lava ini masih cair
dan masih tetap mengalir. Kenampakan yang demikian
disebut pahoehoe lava atau sering juga disebut ropy lava
karena bentuknya seperti tali yang dipintal. Kenampakan
lainnya yang dapat dibentuk oleh aliran lava basaltik adalah
lava dengan permukaan kasar, terbentuk blok-blok dengan
sisi-sisi yang tajam. Kenampakan yang demikian disebut aa
(diucapkan ah ah) lava atau block lava. Aliran dari lava aa
relatif dingin dan tebal dan tergantung pada kemiringan
lereng, kecepatannya berkisar antara 5 sampai 50 m/jam.
Selain itu keluarnya gas dari lava pada waktu proses
pembekuannya akan menghasilkan lubang-lubang dan
kenampakan seperti duri yang tajam pada permukaannya.
Pada waktu bagian dalam dari lava ini mengalami
pembekuan, bagian luarnya akan hancur dan memberikan
kenampakan blok-blok yang sejajar dengan aliran lavanya.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.24

Gas
Magma mengandung bermacam gas yang terlarut
karena adanya tekanan yang besar di dalamnya. Begitu
tekanan magma berkurang, maka gas-gas tersebut akan keluar
dari dalam magma. Karena mengukur langsung kandungan
gas di dalam magma yang masih aktif sangat sulit dilakukan,
maka jumlah gas yang dikandung magma hanya dapat
diperkirakan saja.
Kandungan gas di dalam kebanyakan magma
diperkirakan sekitar 1 sampai 5 % dari total berat magma dan
kebanyakan dari jumlah ini adalah uap air. Meskipun jumlah
gas di dalam magma relatif kecil, tetapi gas yang dapat
dikeluarkan dari magma diperkirakan dapat mencapai beriburibu ton setiap harinya. Komposisi dari gas yang dikeluarkan
dari erupsi gunungapi sangat menarik bagi para ilmuwan,
karena dari gas tersebut merupakan sumber dari material
penyusun atmosfer bumi. Analisis yang pernah dilakukan
pada erupsi gunungapi di Hawaii menghasilkan komposisi gas
terdiri dari 70% uap air, 15% karbon dioksida, 5% nitrogen, 5
% sulfur dan dalam jumlah sedikit adalah klor, hidrogen dan
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.25

argon. Kandungan belerang sangat mudah diketahui karena


baunya yang menyengat dan gas ini dapat dengan mudah
membentuk asam belerang yang mudah terbakar.
Material piroklastik
Pada waktu lava yang bersifat basal dikeluarkan, gasgas yang terlarut akan dengan mudah dilepaskan. Gas-gas
tersebut dapat juga menyemburkan lava sangat tinggi ke
udara. Sehingga menghasilkan semacam air mancur lava.
Sebagian dari material yang dikeluarkan akan diendapkan di
sekitar lubang kawahnya dan membentuk struktur kerucut
pada gunungapi tersebut. Sedangkan material yang lebih halus
akan terbawa oleh angin sampai jarak yang cukup jauh dari
lubang kawahnya. Sebaliknya kandungan gas pada magma
yang mempunyai kekentalan yang tingggi akan sangat sulit
dilepaskan dan dapat memperbesar tekanan dalam magma itu
sendiri, sehingga dapat menimbulkan erupsi yang eksplosif.
Pada waktu gas tersebut dilepaskan, disemburkan juga
material-material padat dari batuan dan lava dengan ukuran
yang sangat bervariasi. Material yang dilepaskan pada proses
ini disebut material piroklastik. Ukuran material piroklastik
ini mulai dari debu yang sangat halus, pasir bahkan sampai
bongkah yang sangat besar.
Partikel yang berukuran debu (ash) dihasilkan oleh
lava yang dikeluarkan banyak mengandung gas. Pada waktu
gas yang panas ini disemburkan, lava akan terikut
disemburkan menjadi partikel-partikel yang halus. Pada waktu
debu yang halus ini jatuh, gelas shard yang menyusunnya
akan membentuk welded tuff. Kadang-kadang lava yang
terbentuk seperti busa dikeluarkan juga pada waktu erupsi dan
akan membentuk pumis. Batuan ini mengandung banyak
rongga, sangat ringan dan mengapung dalam air, sehingga
sering disebut batuapung.
Material piroklastik yang
berukuran sebesar kacang disebut lapili (batu kecil) dan
yang berukuran lebih besar sering disebut cinder. Cinder ini
mengandung banyak rongga.
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.26

Material hasil erupsi gunungapi yang terakumulasi di


puncak dan belum mengalami kompaksi dengan baik dapat
dengan mudah longsor ke bawah. Apabila longsoran ini
bercampur dengan air hujanatau air yang terdapat di dalam
kawah, maka akan menghasilkan lahar atau ladu. Istilah ini
pertama kali digunakan oleh van Bemmellen untuk material
yang sering dihasilkan oleh aktivitas Gunung Merapi di Jawa
Tengah. Lahar yang dihasilkan dari campuran antara material
gunungapi dengan air hujan disebut lahar dingin atau lahar
hujan. Sedangkan yang bercampur dengan air yang terdapat
di kawah gunungapi disebut lahar panas. Tipe yang terakhir
ini merupakan karakteristik dari hasil erupsi Gunung Kelud di
Jawa Timur.

GUNUNGAPI DAN ERUPSI GUNUNGAPI


Erupsi yang terus menerus melalui suatu lubang yang
terpusat akan menghasilkan akumulasi material hasil
erupsinya dan membentuk suatu bentuk kerucut yang disebut
gunungapi. Pada puncak gunungapi tersebut terdapat lubang
tempat keluarnya magma yang disebut kawah (crater).
Lubang ini berhubungan dengan dapur magma melalui suatu
saluran. Beberapa gunungapi mempunyai kawah yang sangat
besar yang disebut kaldera. Ketika cairan magma naik ke
atas, cairan tersebut akan mengisi lubang kawah atau
kepundan sampai penuhbaru kemudian dialirkan ke luar dari
kawah atau kaldera tersebut. Sebaliknya lava yang kental
kadangkala akan menutupi pipa gunungapi dan akan naik ke
atas dengan sangat lambat atau disemburkan keluar sehingga
membuat lubang kawah menjadi tambah luas. Kadang-kadang
keluarnya lava tidak selalu melalui lubang kawah yang
terpusat, tetapi melalu rekahan-rekahan yang menuju ke
lereng-lereng gunungapi tersebut. Aktivitas yang terus
menerus dari erupsi pada lereng gunungapi akan membentuk
kerucut pada lerengnya yang disebut gunungapi parasit
(parasitic cone). Gunungapi Etna di Italia mempunyai lebih
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.27

dari 200 kawah sekunder. Beberapa dari kawah sekunder ini


hanya mengeluarkan gas pada waktu erupsinya dan disebut
fumarol.
Sejarah erupsi gunungapi berbeda-beda, sehingga
setiap gunungapi akan mempunyai bentuk dan ukuran yang
berbeda. Berdasarkan pada karakteristik erupsi dan bentuk
gunungapinya, ahli gunungapi mengelompokkan gungapi
menjadi tiga tipe, yaitu gunungapi kerucut (cinder cones),
composite cones, dan gunungapi perisai (shield volcanoes),
(gambar 2)
A. Cinder cones
Gunungapi cinder cones dibentuk dari fragmenfragmen lava yang disemburkan. Gunungapi tipe ini
membentuk lereng yang cukup terjal sekitar 30 sampai 40,
karena pada umumnya material piroklastik yang membentuk
gunungapi ini cenderung tertumpuk dengan sudut yang besar.
Gunungapi tipe ini relatif rendah sampai 300 m tingginya.
Kadang-kadang gunungapi ini merupakan gunungapi parasit
pada gunungapi yang besar.

Gambar 1. Aktivitas gunungapi

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.28

B. Gunungapi strato
Gunungapi strato sering juga disebut composite cones
merupakan bentuk gunungapi yang sering dijumpai di dunia.
Gunungapi tipe ini dibentuk oleh lava yang relatif kental dan
umumnya berkomposisi andesit. Gunungapi strato dibangun
oleh semburan lava kental yang berlangsung lama. Apabila
tipe erupsi berubah maka akan terjadi erupsi yang sangat
eksplosif dengan mengeluarkan material piroklastik. Sebagian
besar material piroklastik yang dikeluarkan diendapkan di
sekitar puncaknya sehingga membentuk kerucut dengan
kemiringan lereng yang tajam. Selanjutnya kerucut tersebut
akan tertutup kembali oleh lava. Kadang-kadang kedua erupsi
tersebut terjadi bersama-sama, sehingga menghasilkan suatu
struktur batuan yang berlapis, selang-seling antara lava dan
piroklastik. Dua buah gunungapi yang membentuk kerucut
yang sangat ideal adalah Gunung Fujiyama di Jepang dan
Gunung Mayon di Filipina. Kedua gunung tersebut
menunjukkan kemiringan lereng yang terjal di puncaknya dan
agak landai ke arah lereng.
Meskipun kenampakan gunungapi tipe ini
memberikan pemandangan yang sangat indah, gunungapi ini
juga menggambarkan erupsi yang sangat menakutkan. Erupsi
gunungapi ini sangat tidak diharapkan seperti yang terjadi
pada waktu erupsi gunungapi Vesuvius di Italia pada tahun 79
Masehi.
C. Gunungapi perisai (shield volcanoes)
Gunungapi perisai (shield volcanoes) dibentuk oleh
lava yang encer yang dikeluarkan oleh gunungapi tersebut.
Karena encernya, maka lava yang dikeluarkan akan menyebar
luas dengan mudah. Gunungapi tipe ini disusun oleh lava
basaltik dan hanya sedikit mengandung material piroklastik,
serta dicirikan oleh kemirngan lereng yang sangat landai.
Kemiringan lerengnya pada umumnya kurang dari 15.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.29

Seperti halnya permukaan bumi lainnya, daerah


gunungapi juga mengalami proses penurunan permukaan yang
terus menerus oleh proses pelapukan dan erosi. Cinder cones
sangat mudah mengalami erosi, karena disusun oleh material
piroklastik yang lepas.
PEMBENTUKAN KALDERA
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, beberapa
gunungapi mempunyai kawah yang sangat besar yang disebut
kaldera. Beberapa kaldera diperkirakan terbentuk karena
runtuhnya dinding kawah yang disebabkan kosongnya dapur
magma setelah erupsi yang sangat hebat. (gambar 2).
Beberapa kaldera terisi oleh air dan membentuk danau kawah.
Contohnya adalah danau kawah di Oregon yang mempunyai
kedalaman sekitar 1300 meter dan lebar antara 8 sampai 10
kilometer. Pembentukan danau kawah ini dimulai kira-kira
7000 tahun lalu ketika gunungapi, yang kemudian diketahui
bernama G. Mazama, meletus dengan hebat untuk ke empat
kalinya dengan mengeluarkan debu seperti letusan G.
Vesuvius. Tetapi letusan ini lebih dahsyat dengan
mengeluarkan kira-kira 50-70 km3 material volkanik. Karena
banyaknya material yang dikeluarkan, maka sekitar 1500
meter dari ketinggian gunung yang 3600 meter, runtuh dan
membentuk kaldera yang besar. Setelah runtuhnya puncak
gunungapi ini, air hujan mengisi lubang kaldera tersebut.
Aktivitas magma berikutnya membentuk gunungapi kecil di
tengah danau kawah tersebut.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.30

Gambar 2. Tipe-tipe gunung api


A. Cinder Cone, B. Composite Cone, C. Shield Volcano

Kenampakan serupa terjadi pada kaldera Tengger di


Jawa Timur. Perbedaannya, kaldera Tengger tidak terisi oleh
air, tetapi oleh pasir, sehingga sering disebut lautan pasir.
Pada kaldera tersebut muncul beberapa gunung kecil satu
diantaranya masih tetap aktif sampai sekarang yaitu G.
Bromo.
ERUPSI CELAH MEMANJANG
Erupsi melalui kawah pada puncak gunungapi
merupakan erupsi yang sangat umum terjadi. Tetapi ada juga
gunungapi yang kegiatan erupsi melalui rekahan yang
memanjang yang disebut celah (fissures). Material hasil
erupsi melalui celah yang memanjang ini tidak membentuk
kerucut tetapi akan menyebar pada area yang cukup luas dan
membentuk dataran tinggi (plateau). Contoh yang sangat
terkenal adalah Columbia plateau di Amerika Serikat. Plateau
ini dihasilkan dari erupsi lava basaltik yang sangat cair
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.31

melalui rekahan yang sangat banyak. Aliran lava yang terus


menerus setebal 50 meter telah menutupi bentang alam
ditempat tersebut dan membentuk dataran lava, yang
dibeberapa tempat ketebalannya dapat mencapai lebih dari
satu kilometer. Lava basaltik ini sangat encer dengan
ditemukannya hasil pembekuan lava tersebut sampai 150
kilometer dari sumber erupsinya.

Gambar 3. Proses pembentukan Kalder

Apabila magma yang dikeluarkan melalui erupsi


celah banyak mengandung silika, maka akan dihasilkan aliran
piroklastik yang banyak mengandung debu volkanik dan
fragmen pumis. Material piroklastik ini akan mengalir dengan
kecepatan yang tinggi menyebar dan menutupi areal di sekitar
gunungapi tersebut. Setelah diendapkan material piroklastik
ini menyerupai aliran lava.
Endapan aliran piroklastik yang sangat besar dijumpai
di beberapa tempat di dunia dan pada umumnya berassosiasi
dengan kaldera. Kemungkinan yang paling terkenal dari
endapan piroklastik ini adalah dataran tinggi Yellowstone di
Baratlaut Wyoming Amerika Serikat. Disini tubuh magma
yang besar yang kaya silika masih dijumpai beberapa
kilometer di bawah permukaan. Beberapa kali ada 2 juta tahun
terakhir, batuan penutup magma ini mengalami retakan yang
mengakibatkan terjadinya erupsi yang besar yang disertai
dengan pembentukan kaldera.
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.32

GUNUNGAPI DAN IKLIM


Dugaan bahwa erupsi gunungapi yang eksplosif dapat
merubah iklim di permukaan bumi pertama kali dilontarkan
beberapa tahun yang lalu dan sampai sekarang sering
digunakan untuk menjelaskan mengenai penyebab terjadinya
perubahan iklim. Erupsi yang eksplosif dapat memancarkan
gas dan debu volkanik dalam jumlah yang sangat besar ke
atmosfer bumi. Erupsi yang sangat besar mempunyai
kemampuan
untuk
menyemburkan
material-material
gunungapi ke tempat yang sangat tinggi sampai ke lapisan
stratosfer, dan akan menyebar menutupi sekeliling bumi dan
tinggal ditempat tersebut sampai beberapa bulan bahkan
sampai bertahun-tahun. Material tersebut akan mengurangi
radiasi sinar matahari terhadap permukaan bumi sehingga
akan menurunkan temperatur udara.
Erupsi gunungapi yan terbesar dalam sejarah terjadi
ketika gunungapi Tambora di P. Sumbawa meletus pada tahun
1915 yang mengeluarkan magma dan debu kira-kira 100 kali
dari material yang dikeluarkan oleh gunungapi St. Helena.
Akibat dari letusan tersebut debu volkanik yang disemburkan
menutupi atmosfer bumi. Di belahan bumi bagian utara debu
voklanik ini mengakibatkan iklim di daerah ini menjadi tidak
normal. Hampir sepanjang tahun pada tahun 1916, suhu udara
relatif lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya, dan matahari
jarang sekali menampakkan diri. Kejadian ini terkenal dengen
sebutan tahun tanpa musim panas. Fenomena ini dipercaya
akibat dari letusan G. Tambora.
Kejadian serupa juga terjadi pada waktu letusan
gunung lainnya seperti
G. St. Helena pada tahun
1980. Jadi erupsi gunugapi dapat juga mempengaruhi atau
mengubah iklim di bumi ini walaupun tidak berlangsung
tetap,
Aktivitas
gunungapi
yang
terbaru
yang
mempengaruhi iklim adalah pada waktu meletusnya G.
Pinatubo di Filipina tahun 1991. Sejak tanggal 16 Juni 1991,
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.33

Pinatubo mengeluarkan kira-kira 40 sampai 50 juta ton SO2


ke atmosfer. Para ahli memperkirakan sinar matahari di
daerah tropik akan berkurang sekitar 7 sampai 15 persen
setahun setelah letusan Pinatubo. Pengurangan sinar matahari
ini akan menyebabkan terjadinya pendinginan global di muka
bumi. Tetapi tahun 1991 tercetat merupakan tahun terpanas
kedua dalam sejarah. Kejadian ini menurut para ahli terjadi
karena adanya efek rumah kaca dan pemanasan di lautan
Pasifik oleh El Nino. Fenomena ini terus di monitor untuk
mengetahui perubahan yang terjadi pada tahun-tahun
berikutnya.
BENTUK TUBUH BATUAN BEKU INTRUSIF
Telah diketahui bahwa magma terdapat pada tempat
yang dalam di bawah permukaan bumi. Pengetahuan
mengenai aktivitas magma di bawah permukaan sangat
membentu ahli gunungapi untuk mempelajari mengenai erupsi
gunungapi. Magma yang bergerak naik ke atas dan membeku
sebelum mencapai permukaan bumi akan membentuk batuan
beku intrusif atau sering disebut juga pluton. Pada gambar 4
menunjukkan beberapa tipe tubuh batuan beku intrusif yang
terbentuk akibat pembekuan magma di bawah permukaan
bumi. Beberapa dari bentuk tubuh batuan beku tersebut
tabular, sedang yang lainnya besar dan masif. Selain itu
beberapa tubuh batuan tersebut memotong struktur yang telah
ada seperti perlapisan batuan sedimen, sedang yang lainnya
sejajar dengan perlapisan batuan sedimen. Berdasarkan dari
bentuknya tersebut tubuh batuan beku intrusif dapat
diklasifikasikan menjadi bentuk masif dan tabular. Sedangkan
berdasarkan
orientasinya
terhadap
struktur
batuan
disekitarnya, dapat diklasifikasikan menjadi diskordan, yaitu
tubuh batuan beku yang memotong struktur batuan sedimen,
dan konkordan, yaitu yang sejajar dengan struktur batuan
sedimen.
Tubuh batuan intrusif mempunyai variasi ukuran dan
bentuk yang sangat besar. Dike adalah tubuh batuan beku
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.34

intrusif yang diskordan yang dihasilkan pada waktu magma


menerobos melalui rekahan yang memotong perlapisan batuan
sedimen di sekitarnya. Tubuh batuan beku ini mempunyai
ukuran mulai dari kurang dari satu sentimeter sampai lebih
dari satu kilometer. Dike yang terbesar dijumpai panjangnya
sampai lebih dari seratus kilometer. Pada umumnya dike
mempunyai resistensi yang lebih besar dari batuan sekitarnya.
Sill adalah tubuh batuan beku intrusif yang tabular
yang terbentuk oleh magma yang menerobos di sepanjang
bidang perlapisan batuan sedimen. Orientasi bentuk sill sangat
bervariasi terutama pada daerah yang sudah mengalami
perlipatan, walaupun bentuk yang mendatar sangat umum
dijumpai. Karena ukurannya yang relatif seragam dengan
penyebaran memanjang yang sangat besar, sill terutama
dibentuk oleh magma cair. Oleh sebab itu sill pada umumnya
disusun oleh batuan yang bersifat basaltik, karena magma
basaltik mempunyai sifat yang sangat encer. Karena terobosan
magma yang membentuk sill ini, menyebabkan batuan
sedimen yang terletak di atas tubuh sill ini akan mengalami
pengangkatan sesuai dengan ketebalan sill tersebut.
Konsekuensi dari hal tersebut adalah sill pada umumnya
terbentuk pada kedalaman yang tidak begitu besar dimana
tekanan yang disebabkan oleh batuan di atasnya relatif kecil.
Kenampakan sill sering sulit dibedakan dengan aliran
lava. Perlu pengamatan yang teliti untuk dapat membedakan
keduanya. Ada tiga macam kenampakan yang dapat
membedakan keduanya. Pertama, pada permukaan aliran lava
sering dijumpai rongga-rongga bekas keluarnya gas pada
waktu lava tersebut membeku. Sedangkan pada batuan beku
sill rongga-rongga tersebut tidak terbentuk karena proses
pendinginannya yang berlangsung lambat. Kedua, pada waktu
cairan magma bersentuhan dengan batuan disekitarnya, akan
terjadi perubahan pada batuan tersebut karena panas dari
magma. Proses ini pada sill akan terjadi pada bagian bawah
dan atas dari tubuh sill. Sedangkan pada aliran lava, proses ini
hanya terjadi pada bagian bawah lava. Ciri yang ketiga, ketika
magma yang panas bersentuhan dengan batuan disekitarnya
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.35

yang dingin, magma yang bersentuhan dengan batuan tersebut


akan membeku dengan cepat dan membentuk tekstur yang
sangat halus yang disebut chilled margin. Sill membentuk
chilled margin pada kedua sisinya, atas dan bawah, sedangkan
lava hanya membentuk chilled margin pada bagian bawahnya
saja.
Lakolit merupakan tubuh batuan beku seperti sill,
karena lakolit terbentuk oleh magma yang menerobos diantara
perlapisan batuan sedimen pada kondisi lingkungan yang
tidak begitu jauh dari permukaan bumi. Tetapi tidak seperti
sill, magma yang membentuk lakolit lebih kental, sehingga
magma tersebut akan menghasilkan bentuk lensa yang tebal
dan akan mengangkat batuan sedimen yang ada di atasnya
menjadi cembung. Jadi batuan beku lakolit dapat dikenali
dengan mudah karena permukaan tubuhnya menunjukkan
kenampak seperti kubah.
Tubuh batuan beku intrusif yang terbesar adalah
batolit. Beberapa tubuh batolit yang telah dikenali ada yang
ukurannya mencapai lebih dari 40.000 km2. Tubuh batuan
beku yang masif dan diskordan ini biasanya disusun oleh
batuan dengan komposisi mineral hampir seperti granit.
Batolit yang kecil mempunyai struktur relatif sederhana dan
disusun oleh satu jenis batuan beku. Dari studi tubuh batolit
diketemukan disusun oleh bermacam jenis batuan beku yang
dihasilkan dari beberapa kali terobosan pada jangka waktu
yang relatif lama (jutaan tahun). Batolit pada umumnya
merupakan inti dari suatu sistem pegunungan. Pada tempat
tersebut proses pengangkatan dan erosi akan memindahkan
batuan yang menutupinya sehingga tubuh batuan beku batolit
ini akan tersingkap di permukaan.
Stock merupakan tubuh batuan beku intrusif yang
ukurannya lebih kecil dari batolit. Luas permukaannya kurang
dari 100 km2. Stock dapat merupakan pluton yang kecil atau
bagian dari tubuh batuan beku yang sangat besar yang tidak
tersingkap oleh proses erosi sehingga menunjukkan
kenampakan seperti batolit.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.36

Gambar 4. Bentuk-bentuk tubuh batuan beku dalam (pluton)

AKTIVITAS MAGMA DAN TEKTONIK LEMPENG


Asal usul magma merupakan topik yang sangat
kontroversial dari ilmu gelogi. Pertanyaan-pertanyaan yang
selalu muncul adalah bagaimana magma yang mempunyai
komposisi berbeda-beda dapat terbentuk. Mengapa gunungapi
yang berada di dasar samudera mengeluarkan lava basaltik,
sedang yang berhubungan dengan palung laut menghasilkan
lava yang bersifat andesitik? Masih banyak lagi pertanyaan
yang berkaitan dengan aktivitas magma terutama yang
muncul ke permukaan. Untuk menjawab semua pertanyaan
tersebut akan dibahas pertama kali mengenai asal usul
magma.
Asal Usul Magma
Seperti yang telah diketahui bahwa magma terbentuk
apabila batuan mengalami peningkatan temperatur hingga
mencapai titik leburnya. Pada kondisi di permukaan bumi,
batuan dengan komposisi granitik (asam) mulai melebur pada
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.37

temperatur sekitar 750C, sedangkan batuan basaltik (basa)


mencapai temperatur 1000C. Karena batuan mempunyai
komposisi mineral yang sangat bervariasi, maka batuan akan
melebur sempurna dengan perbedaan temperatur sampai
beberapa ratus derajad dari pertama kali batuan tersebut mulai
melebur. Cairan yang pertama kali terbentuk pada waktu
batuan mengalami pemanasan yang tinggi adalah mineral
yang mempunyai titik lebur yang terendah. Bila pemanasan
berlangsung terus, maka proses peleburan akan berlangsung
terus mengikuti masing-masing titik lebur mineral yang
menyusun batuan tersebut sampai komposisi cairan mendekati
komposisi batuan asalnya. Tetapi kadang-kadang proses
peleburan tidak berlangsung sempurna. Proses peleburan yang
bertahap ini disebut partial melting. Hasil yang signifikan
dari proses partial melting ini adalah dihasilkannya cairan
magma dengan kandungan silika yang lebih tinggi daripada
batuan asalnya.
Darimana sumber panas yang dapat meleburkan
batuan? Salah satu sumber panas berasal dari peluruhan
mineral radioaktif yang terkonsentrasi pada mantel bumi
bagian atas dan kerak bumi. Selain itu pekerja-pekerja pada
pertambangan bawah tanah juga sudah lama mengetahui
bahwa temperatur akan meningkat dengan bertambahnya
kedalaman atau sering disebut karena adanya gradient
geothermal.
Bila temperatur merupakan satu-satunya faktor yang
menentukan apakah batuan akan meleleh atau tidak, maka
bumi merupakan suatu bola pijar yang dilapisi oleh lapisan
padat yang tipis. Tetapi ternyata tekanan juga bertambah besar
sesuai dengan kedalaman. Karena batuan mengembang pada
waktu dipanaskan, maka diperlukan tambahan panas untuk
melelehkan batuan yang menutupinya, untuk mengatasi efek
dari tekanan di sekitarnya. Titik lebur batuan akan meningkat
dengan meningkatnya tekanan.
Di alam, batuan yang dalam akan melebur oleh salah
satu sebab dari dua faktor yaitu : pertama, batuan akan
melebur karena temperatur naik melebihi titik lebur batuan
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.38

tersebut. Kedua, tanpa kenaikan temperatur, pengurangan


tekanan di sekitar batuan dapat menyebabkan titik lebur
batuan turun. Kedua proses tersebut merupakan faktor-faktor
yang memegang peranan penting dalam proses pembentukan
magma.
Penyebaran aktivitas magma
Sebagian besar dari lebih 600 gunungapi aktif yang
telah diketahui terletak di sepanjang busur pertemuan
lempeng yang konvergen. Beberapa gunungapi aktif terletak
disepanjang pemekaran lantai samudera. Ada tiga jalur
gunungapi aktif yang berhubungan dengan aktivitas tektonik
global, yaitu sepanjang pematang kerak samudera (pusat
pemekaran kerak samudera), palung laut dalam (zona
subduksi) dan pada kerak buminya sendiri (gambar 5)
Volkanisme pada pusat pemekaran kerak samudera.
Volume batuan volkanik yang terbesar terdapat di sepanjang
pematang dasar samudera, dimana terjadi pemekaran kerak
samuder. Pada waktu kerak bumi saling menjauh, tekanan di
bawah kerak bumi menurun. Penurunan tekanan ini
menyebabkan penurunan titik lebur batuan penyusun mantel
bumi. Akibatnya terbentuklah magma basaltik dalam jumlah
yang sangat besar yang berasal dari peleburan batuan
penyusun mantel bumi. Magma ini naik ke atas dan mengisi
celah-celah baru akibat pemekaran kerak bumi.
Sebagian dari magma basaltik tersebut dapat
mencapai lantai dasar samudera dan membentuk aliran lava
yang sangat besar. Kadang-kadang aktivitas ini dapat
membentuk kerucut gunungapi hingga muncul ke permukaan
laut dan membentuk pulau-pulau baru. Selain itu, banyak
gunungapi dan pulau-[ulau baru yang terbentuk sepanjang
sistem pematang dasar samudera ini akan bergerak saling
menjauh bersamaan dengan terbentuknya kerak samudera
yang baru akibat pemekaran kerak samudera.
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.39

Volkanisme pada zona subduksi. Batuan yang berkomposisi


andesitik dan granitik terdapat di sepanjang tepi samudera
yang dibatasi oleh kontinen dan rantai kepulauan gunungapi.
Hanya sebgaian kecil saja dijumpai sebagai bagian dari
gunungapi bawah laut. Selanjutnya kebanyakan gunungapi
yang mengeluarkan magma andesitik dijumpai pada kerak
kontinental atau jajaran pulau-pulau yang terletak berdekatan
dengan palung laut dalam.
Pada waktu kerak bumi mencapai kedalaman sekitar
125 km, terjadi peleburan batuan yang membentuk magma
dengan komposisi andesitik. Setelah terbentuk magma dalam
jumlah yang cukup banyak, magma ini akan naik ke atas
karena densitasnya yang lebih kecil dari batuan sekitarnya.
Jalur gunungapi (ring of fire) yang terbentuk di dunia
berhubungan erat dengan zona subduksi. Gunungapi aktif
yang terbentuk di sepanjang zona ini menghasilkan magma
dengan komposisi menengah. Gunungapi yang terdapat di
Indonesia pada umumnya merupakan gunugapi dengan tipe
ini (Gambar 6 )

Gambar 5. Penyebaran aktivitas magma pada kerak bumi

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.40

Volkanisme pada kerak benua. Sebetulnya aktivitas


gunungapi pada kerak bumi yang kaku sangat sulit untuk
dijelaskan. Aktivitas semacam ini terjadi di daerah
Yellowstone Amerika Serikat dan daerah sekitarnya
menghasilkan lava riolitik, pumis dan aliran debu volkanik,
sementara aliran lava basaltik yang cukup luas terdapat di
bagian baratnya. Batuan tersebut yang komposisinya sangat
bervariasi, saling menutupi satu dengan lainnya.
Karena ekstrusi basaltik terjadi pada kerak kontinen
seperti yang terjadi pada kerak samudera, maka kemungkinan
sumber dari magma ini berasal dari mantel bumi bagian
terluar.

Gambar 6. Jalur gunungapi di dunia yang juga merupakan


batas-batas lempeng tektonik

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.41

GUNUNG API DI INDONESIA


Seperti telah disebutkan di atas, Indonesia merupakan
salah satu negara dengan jumlah gunungapi yang terbesar.
Ada sekitar 129 gungapi yang masih aktif sampai sekarang,
diantaranya sangat terkenal karena letusannya dan
aktivitasnya yang terus menerus.
Krakatau. Gunungapi yang terletak di Selat Sunda antara P.
Sumatera dan P. Jawa, terkenal karena letusannya pada tahun
1883. sebelum tahuntersebut, ketinggian gunungapi ini sekitar
800 m dengan tiga kawah yang terletak pada kaldera yang
diameternya sampai 6 km. sebelum tanggal 27 Agusutus
1883, terjadi beberapa letusan kecil di pulau ini. Pada tanggal
27 agustus, terjadi letusan yang snagat besar dengan energi
sama dengan 100 juta ton TNT. Seluruh pulau disemburkan
ke udara. Meskipun pulau tersebut tidak berpenghuni,
letusannya mengakibatkan terjadinya gelombang laut yang
sangat besar yang disebut tsunami, dengan ketinggian antara
35 sampai 40 m dan menyebabkan sekitar 35.000 orang yang
tinggal di pantai-pantai sekitarnya meninggal akibat tersapu
banjir yang sangat besar. Sebagian pulau hilang akibat letusan
ini dan meninggalka cekungan yang sngat besar di bawah laut.
Suara letusan gunung ini terdengar sampai di
Australia yang jaraknya sekitar 4000 km. Debu yang
disemburkan ke atmosfer menyebar mengelilingi planet bumi
ini sehingga menutupi matahari dan menurunkan temperatur
sampai beberapa derajad.
Merapi. Gunungapi ini terletak di Jawa Tengah dan
merupakan gunungapi yang sangat aktif. Karakteristik dari
letusan gunungapi ini adalah adanya awan panas yang
bergulung-gulung turun dari puncaknya pada waktu rerjadi
letusan. Letusan terakhir dengan korban akibat awan panas ini
terjadi pada tahun 1995, yang mengakibatkan meninggalnya
banyak penduduk yang tinggal di desa Turgo di selatan kawah
G. Merapi. Beberapa orang menjadi cacat akibat luka bakar
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.42

yang sngat parah. Gunungapi ini juga mengeluarkan material


piroklastik yang bertumpuk di sekitar kawahnya. Tumpukan
material ini sering menyebabkan terjadinya banjir lahar di
daerah sebelah barat Merapi, akibat bercampurnya material
piroklatik yang belum mengalami kompaksi di sekitar kawah
dengan air hujan yang turun sesudah terjadi letusan.
Kelud. Terletak di Jawa Timur, gunungapi ini terkenal karena
lahar panas yang dihasilkan akibat material hasil letusan yang
bercampur dengan air yang terdapat di danau kawah pada
puncaknya. Untuk mengurangi besarnya lahar panas yang
dikeluarkan oleh letusan gunungapi tersebut telah dibuat
terowongan yang mengontrol jumlah air di danau kawahnya.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.43

BAB V
GEMPABUMI
Hari Minggu 24 Desember 2005 pagi, masyarakat
Banda Aceh dikejutkan oleh gempabumi yang cukup dahsyat,
yang menghancurkan sebagian bangunan di kota tersebut.
Masyarakat berlarian ke luar rumah dan duduk-duduk di
jalanan menghindari datangnya gempa susulan. Sedang
asyiknya mereka b
Indonesia merupakan salah satu negara di dunia ini
yang sering dilanda gempabumi. Pada beberapa tempat di
bagian wilayah Indonesia, gempabumi merupakan kejadian
alam yang sudah sangat biasa. Hal ini tidak mengherankan,
karena sebagian besar wilayah Indonesia dilalui oleh jalur
yang sangat aktif kegempaannya.
Apa yang dimaksud gempabumi
Gempa bumi atau dalam bahasa inggrisnya
earthquake, merupakan getaran dari bumi yang dihasilkan
oleh pelepasan energi yang sangat cepat. Energi ini terpancar
kesegala arah dari sumbernya (fokus) dalam bentuk
gelombang yang dapat disamakan dengan getaran udara yang
terjadi disekitar lonceng yang sedang dibunyikan. Selama
terjadi gempabumi atau beberapa waktu setelahnya, bumi
dapat dikatakan sebagai bel yang sedang berdentang.
Meskipun energi tersebut berkurang dengan cepat dengan
bertambahnya jarak dari sumber atau pusat gempa, tetapi
instrumen pencatat gempa yang terdapat di beberapa bagian
dunia dapat mencatat getarannya.
Pelepasan energi yang besar dapat juga terjadi akibat
letusan gunungapi atau ledakan bom, tetapi peristiwa ini
biasanya lebih lemah dan frekuensinya lebih jarang. Jadi
mekanisme apa yang menyebabkan terjadinya gempabumi
yang sangat merusak itu?. Beberapa kejadian tersebut telah
membuktikan bahwa bumi merupakan suatu planet yang tidak
statis.
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.44

GELOMBANG GEMPA
Studi yang mempelajari tentang gelombang gempa
disebut seismologi. Sedangkan alat yang digunakan untuk
merekam gelombang gempa disebut seimograf, yang prinsip
kerjanya sangat sederhana. Suatu pemberat yang bergerak
bebas diletakkan tergantung pada suatu tangkai yang
ditancapkan pada batuan dasar. Ketika terjadi getaran dari
suatu gempa mencapai alat tersebut, pemberat ini akan tetap,
tetapi bumi dan penyangga pemberat ini akan bergetar.
Pergerakan dari bumi yang dihubungkan dengan pemberat ini
akan tercatat pada gulungan kertas yang berputar.
Catatan yang dihasilkan oleh siosmograf disebut
seismogram, yang dapat memberikan gambaran atau
informasi yang lengkap mengenai gelombang seismik. Secara
sederhana, gelombang seismik adalah energi yang elastis yang
pancarannya berbentuk radial ke segala arah dari pusatnya.
Pada seismogram akan tampak beberapa tipe gelombang yang
dapat dikelompokkan menjadi dua. Pertama ialah gelombang
permukaan (surface wave) yaitu gelombang yang menjalar
pada permukaan bumi. Sedang lainnya adalah gelombang
dalam (body waves), yaitu gelombang yang menjalar pada
batuan di dalam bumi. Tipe yang kedua ini dibedakan lagi
menjadi gelombang Primer (P wave) dan gelombang
sekunder (S wave).
Kedua macam gelombang tersebut dibedakan karena
cara penjalarannya di dalam bumi. Gelombang P akan
menekan dan menarik batuan sesuai dengan arah
penjalarannya. Sedang gelombang S akan mengguncang
batuan tegak lurus dengan arah penjalarannya. Penjalaran
gelombang P akan merubah bentuk dan volume dari media
yang dilaluinya, sedangkan gelombang S hanya akan merubah
bentuk dari media yang dilaluinya. Bahan padat, cair dan gas,
semuanya akan menahan pada waktu mendapat tekanan dan
secara elastis akan kembali pada kedudukan semula begitu
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.45

gaya tersebut hilang. Oleh sebab itu gelombang P menjalar


melalui semua jenis bahan. Sebaliknya gelombang S hanya
akan merubah bentuk, maka benda cair tidak dapat
menjalarkan gelombang S.
Pergerakan gelombang permukaan kadangkala lebih
kompleks. Begitu gelombang permukaan menjalar di
sepanjang permukaan, tanah dan segala sesuatu yang berada
diatasnya akan bergerak, seperti ombak di laut yang
mengombang-ambingkan kapal. Selain bergerak ke atas dan
ke bawah, gelombang permukaan ini juga bergerak ke
samping seperti gelombang S bergerak pada bidang yang
horisontal. Hal ini menyebabkan banyaknya kerusakan
bangunan-bangunan konstruksi dan fondasinya. Dengan
memperlihatkan catatan seismogram, perbedaan dari macam
gelombang ini dapat diketahui. Gelombang P akan datang
pertama kali sebelum gelombang S, dan gelombang ini datang
sebelum gelombang permukaan. P pada batugranit sekitar 6
km per detik, sedangkan gelombang S pada batuan yang sama
sekitar 3,5 km per detik kecepatannya. Perbedaan densitas dan
elastisitas dari material yang dilalui gelombang sangat
berpengaruh terhadap kecepatan gelombang tersebut. Pada
material padat, geolmbang P menjalar dengan kecepatan 1,7
kali dari kecepatan gelombang S. Sedangkan gelombang
permukaan dapat diperkirakan menjalar dengan kecepatan
sekitar 90% dari kecepatan gelombang S yang menjalar di
bawahnya.
Gelombang seismik dapat digunakan untuk
menentukan lokasi dan besarnya gempa bumi. selain itu,
geolombang seismik juga digunakan dalam penyelidikan
bagian dalam bumi.

LOKASI GEMPABUMI
Pusat gempabumi pada umumnya terletak di bawah
permukaan bumi yang disebut hiposenter. Sedangkan tempat
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.46

di permukaan bumi yang tepat berada di atas pusat gempa


tersebut disebut episenter. Perbedaan kecepatan gelombang P
dan S merupakan dasar dalam penentuan lokasi episenter
tersebut. semakin besar interval antara kedatangan pertama
kali gelombang P dengan gelombang S, semakin besar jarak
pusat gempa dengan tempat seismogram.
Penentuan lokasi pusat gempa didasarkan pada data
seismogram. Dari data seismogram dapat digambarkan grafik
waktu penjalaran (travel time) gelombang. Dari grafik ini
akan diperoleh jarak pusat gempat dari tempat seismograf.
Lokasi dari pusat gempa didapat dari 3 atau lebih data
seismogram dari tempat yang berbeda.
Sekitar 95% dari energi yang dilepaskan oleh
gempabumi terkonsentrasi pada zona yang dangkal atau dekat
dengan permukaan bumi. Energi yang terbesar dilepaskan
terletak pada jalur di sepanajng tepi laut Pasifik, yang dikenal
dengan jalur lingkar Pasifik (Circum Pacific Belt). Yang
termasuk pada jalur ini adalah daerah dengan aktivitas seismik
yang sangat besar antara lain Indonesia, Filipina, epang,
Pantai Barat Amerika Serikat dan Chili dan beberapa
kepulauan gunungapi. Jalur lain yang merupakan konsentrasi
aktivitas seismikdimulai dari Laut Mediteran ke Kompleks
Pegunungan Himalaya melalui Iran, Semenanjung Malaka
sampai di Indonesia. Selain itu, dengan intensitas dan
magnitude yang lebih kecil aktivitas seismik juga
terkonsentrasi di tengah samudera yang merupakan pusat
pemekaran lantai dasar samudera. Dari hal ini dapat diketahui
aktivitas seismik terbesar terletak pada jalur pertemuan
lempeng-lempeng penyusun kerak bumi.

INTENSITAS
GEMPABUMI

DAN

BESARAN

(MAGNITUDE)

Pada mulanya tingkat magnitude gempabumi


ditentukan secara subjektif. Karena tingkat kepekaan masingmasing orang sangat berbeda, maka timbul kesulitan untuk
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.47

klasifikasi intensitas gempabumi. Pada tahun 1902, ditentukan


skala kegempaan didasarkan pada tingkat kerusakan yang
dihasilkan yang dikembangkan oleh Giuseppe Mercalli.
Tetapi tingkat kerusakan yang diakibatkan oleh gempabumi
tidak dapat dijadikan sebagai dasar pengelompokan tingkat
besarnya gempabumi. Banyak sekali faktor yang
mempengaruhinya, termasuk jarak dari pusat gempa, material
atau bahan konstruksi yang digunakan, bentuk atau desain
dari bangunan, menyebabkan variasi kerusakan yang
diakibatkan oleh gempabumi. Konsekuensinya dicarikan suatu
metoda yang dapat digunakan untuk menentukan besarnya
energi yang dilepaskan pada waktu terjadi gempabumi.
Pengukuran tersebut disebut sebagai magnitude.
Idealnya magnitude gempabumi dapat dilakukan
dengan melihat jumlah material yang longsor di sepanjang
jalur sesar dan jarak pergeserannya. Tetapi pada kebanyakan
gempabumi, besarnya pergeseran sesar sangat sulit untuk
diukur secara langsung. Pada tahum 1935, Charles Richter
dari California Institute of Technology mencoba menyusun
tingkat besarnya gempabumi di California Selatan menjadi
besar, menengah dan kecil. Sistem tersebut kemudian
dikembangkan, besarnya tingkat gempabumi dapat diukur
dengan menggunakan alat seismogram. Besaran atau
magnitude gempabumi kemudian dinyatakan dengan skala
Richter.
Sekarang Skala Richter digunakan luas di seluruh
dunia untuk menetapkan magnitude gempabumi. Dengan
menggunakan skala Richter, magnitude gempabumi diketahui
dari kisaran terbesar dari gelombang seismik yang terekam
dalam seismogram.
Gempabumi terbesar yang pernah tercatat pada skala
Richter besar mencapai 8.6. Goncangan yang hebat akibat
gempabumi ini setara dengan goncangan akibat ledakan
sekitar 1 milyar ton TNT. Sebaliknya gempabumi dengan
skala Richter kurang dari 2.5 kadangkala goncangannya tidak
dirasakan oleh manusia. Tabel 1 dibawah ini menunjukkan

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.48

hubuingan antara besarnya gempabumi dengan akibat yang


ditimbulkannya.

Tabel 1 Hubungan antara besar gempabumi dengan akibat yang ditimbulkannya


Skala Richter
Efek dari gempabumi
Jumlah per tahun
< 2.5
Tercatat tetapi tidak terasa
900000
Kadang dapat terasa, tetapi hanya
2.5 - 5.4
30000
kerusakan kecil, dapat dideteksi
5.5 - 6.0 Kerusakan pada struktur bangunan
500
Dapat menghancurkan daerah yang
6.1 - 6.9
100
berpenghuni
Gempabumi besar dengan kerusakan
7.0 - 7.9
20
yang sangat serius
Gempabumi sangat besar. Kehancuran
> 8.0
total terutama pada daerah dekat sekali dalam 5 - 10 tahun
episenter

PENGRUSAKAN OLEH GEMPABUMI


Banyak faktor yang mengakibatkan terjadinya
kerusakan akibat adanya gempabumi di suatu daerah. Faktor
utama yang menyebabkan kerusakan tersebut
adalah
besarnya gempabumi yang terjadi dan jumlah populasi
kehidupan pada lokasi tersebut. Sebagian besar gempabumi
pada umumnya terjadi pada daerah yang tidak berpenghuni
dan mempunyai skala yang relatif kecil. Dari sejumlah
gempabumi yang pernah terjadi ada 20 gempabumi yang
menimbulkan bencana yang sangat besar. Selanjutnya di
bawah ini akan dibahas faktor-faktor yang menyebabkan
kerusakan yang besar akibat adanya gempabumi.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.49

Getaran Seismik
Energi dilepaskan pada peristiwa gempabumi akan
menjalar di permukaan bumi. Penjalaran ini akan
mengakibatkan tanah yang dilaluinya akan bergerak naik
turun dan ke kanan dan kiri. Jumlah kerusakan yang
diakibatkan oleh getaran ini sangat tergantung pada beberapa
faktor, termasuk :
1) intensitas dan lamanya getaran
2) jenis material bangunan yang digunakan
3) desain bangunan.
Semakin elastis bahan yang digunakan dalam konstruksi
semakin tahan terhadap getaran yang diakibatkan oleh
gempabumi.
Tsunami
Tsunami merupakan geolombang laut yang sangat
besar yang dibangkitkan oleh getaran akibat adanya
gempabumi atau sering disebut seismic sea waves.
Kebanyakan tsunami dihasilkan oleh adanya pergeseran
vertikal dari dasar laut selama terjadi gempabumi. Tsunami
yang terbentuk akibat gempabumi kecepatannya dapat
mencapai 500 sampai 800 km/jam. Pada laut terbuka yang
dalam, tsunami ini dapat terdeteksi dengan baik karena tinggi
gelombangnya kurang dari 1 meter dan panjang
gelombangnya berkisar antara 100 sampai 700 km. Tetapi ada
waktu memasuki laut dangkal, gelombang perusak ini
melemah dan ketinggian gelombang ini meningkat dengan
cepat mencapai 30 m tingginya. Pada saat tsunami mencapai
daratan, terjadilah peningkatan muka laut dengan sangat cepat
dengan turbulensi yang luar biasa.
Kebakaran
Walaupun kebakaran merupakan akibat kecil dari
adanya gempabumi, tetapi kerugian yang diakibatkan dapat
sangat besar. Kebakaran yang terjadi dapat disebabkan oleh
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.50

pecahnya pipa gas di bawah tanah atau percikan api oleh


putusnya kabel listrik. Kerusakan dapat sangat besar bila hal
tersebut terjadi di daerah yang bangunannya dibuat dari bahan
yang mudah terbakar.
Landslide dan penurunan permukaan
Getaran yang disebabkan oleh gempabumi
menyebabkan terjadinya longsoran-longsoran di permukaan.
Longsoran ini terutama terjadi pada tempat-tempat yang tidak
stabil. Kadang-kadang longsoran yang terjadi tidak
disebabkan langsung oleh getaran gempa, tetapi oleh getaran
yang diakibatkan oleh runtuhnya bangunan-bangunan yang
tinggi. Hal semacam ini dapat terjadi jika episenter gempa
dekat atau pada kota besar.
Pada waktu terjadi gempabumi di Alaska tahun 1964,
sebuah kota hancur karena longsoran akibat gempa.
Kemudian kota tersebut dipindahkan kira-kira 7 km dari kota
lama yang benar-benar hancur. sedangkan di Anchorage,
sebagian gedung jua hancur. Di tempat bekas gedung-gedung
tersebut kemudian diratakan dengan tanah dan sekarang
dijadikan sebuah taman. Taman tersebut dinamakan
Earthquake Park atau taman gempabumi.
Prediksi dan kontrol gempabumi
Gempabumi terutama yang terjadi pada atau dekat
dengan daerah yang tinggi populasinya dapat menimbulkan
kerugian yang sangat besar. Untuk memperkecil kerugian
yang diakibatkan oleh gempabumi ini diperlukan kontrol atau
prediksi yang memberi petunjuk akan terjadinya aktivitas
gempabumi di suatu daerah. Telah banyak penelitian
dilakukan untuk mendapatkan cara atau metoda yang dapat
digunakan untuk memprediksi terjadinya gempabumi. Tetapi
belum diperoleh suatu metode yang benar-benar akurat untuk
memprediksi aktivitas gempabumi.
Di Jepang, negara dengan aktivitas gempabumi sangat
besar, telah membuat suatu kompleks jaringan seismik
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.51

sepanjang 200 km sampai ke laut. Di dasar laut dimana sering


terjadi gempabumi kecil, mereka berusaha untuk memonitor
gempa kecil tersebut, diharapkan dapat digunakan untuk
memprediksi kapan terjadinya suatu gempabumi yang besar
dengan lebih akurat.
Di California, pengangkatan atau penurunan dari
tanah dan perubahan pergerakan dari zona sesar telah
diketahui merupakan kegiatan yang mendahului suatu gempa
bumi. Sehingga dianggap masuk akal untuk memonitor secara
terus menerus pergerakan sesar, perlipatan dan aktivitas
seismik. Beberapa jaringan monitoring aktivitas seismik telah
dipasang di beberapa tempat di daerah yang rawan
gempabumi, sedangkan di beberapa tempat lainnya sedang
dalam pengusulan untuk dipasang jaringan serupa.
Meskipun belum ada metoda yang dapat memprediksi
gempabumi dengan baik, tetapi prediksi yang sedikit
mendekati kebenaran telah dilakukan pada tahun 1966 ketika
terjadi gempabumi di Tashkent Rusia. Prediksi terjadinya
gempabumi dilakukan dengan memonitor kandungan radon
dalam sumur. Radon merupakan gas mulia yang terbentuk
dari peluruhan unsur radioaktif radium, yang dijumpai dalam
jumlah yang sangat sedikit pada batuan tertentu. Pada kondisi
normal, gas tersebut terjebak di dalam batuan tetapi pada
waktu batuan tersebut mendapatkan gaya atau tekanan,
rekahan-rekahan yang baru terbentuk memungkinkan gas
tersebut untuk melepaskan diri. Februari 1975, gempabumi
yang terjadi di Timurlaut China diprediksi hanya beberapa
jam sebelum aktivitas gempabumi tersebut muncul. Sehingga
peringatan dapat dengan cepat disampaikan dan
memungkinkan sekitar 3 juta penduduk untuk keluar rumah.
dilaporkan hampir 90% bangunan di kawasan yang terkena
gempabumi ini hancur.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.52

BAB VI
PEMBENTUKAN PEGUNUNGAN
Pegunungan merupakan suatu kenampakan yang
sangat spektakuler, yang menjulang ke atas sampai beberapa
ratus meter bahkan lebih, dari dataran yang ada sekelilingnya.
Beberapa dari kenampakan itu merupakan suatu massa
tunggal yang terisolasi, sedang beberapa lainnya merupakan
suatu rangkaian pegunungan yang sangat panjang. Beberapa
dari rangkaian tersebut merupakan rangkaian pegunungan
yang masih sangat muda, seperti Pegunungan Himalaya, yang
masih tumbuh sampai sekarang. Sedang lainnya merupakan
rangkaian pegunungan yang sudah tua dan sudah mengalami
proses penurunan (perataan) permukaannya.
Secara umum proses yang membentuk suatu sistem
pegunungan disebut dengan proses orogenesis. Kata tersebut
berasal dari bahasa Yunani oros (pegunungan) dan genesis
(pembentukan atau mula jadi). Sistem pegunungan akibat dari
proses tersebut menunjukkan adanya suatu gaya yang sangat
besar yang mengakibatkan terjadnya perlipatan (folded),
pensesaran (faulted) dan umumnya merubah bentuk bagian
kerak bumi yang besar. Meskipun gaya yang sangat besar
merupakan faktor utama pembentukan pegunungan ini, tetapi
hasil kerja proses-proses eksogen oleh air ataupun es yang
mengerosi pegunungan tersebut, menyebabkan kenampakan
bentang alam pegunungan tersebut lebih indah.
Proses orogenesis dapat dijelaskan dengan baik, baru
beberapa waktu belum lama ini dengan teori tektonik
lempeng (plate tectonic). Teori ini telah menarik para ahli
geologi untuk menerangkan mengenai proses pembentukan
pegunungan. Sebelum membahas mengenai teori tersebut,
akan diuraikan lebih dahulu mengenai proses pengangkatan
dan perubahan bentuk kerak bumi.
Pengangkatan Kerak Bumi (crustal uplift)
Fosil-fosil kerang invertebrata laut yang dijumpai di
pegunungan, menunjukkan bahwa batuan yang menyusun
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.53

pegunungan tersebut merupakan batuan sedimen yang


terbentuk di laut. Kemudian setelah binatang tersebut mati
dan berubah menjadi fosil, terjadi suatu proses pengangkatan,
sehingga batuan sedimen yang terbentuk di laut tersebut
membentuk
pegunungan.
Kejadian
semacam
ini
(pengangkatan kerak bumi) merupakan proses geologi yang
sangat umum dalam sejarah bumi ini. Tetapi muncul suatu
pertanyaan, mengapa terjadinya suatu proses pengangkatan ini
tidak selalu dapat dengan mudah diketahui sebagai akibat dari
suatu proses pergerakan.
Telah kita ketahui, gaya gravitasi memegang peranan
penting yang menentukan ketingian suatu permukaan bumi.
Litosfera yang disusun oleh material yang lebih ringan akan
mengapung dan mudah mengalami deformasi (perubahan
bentuk) di atas astenosfer. Konsep mengenai pengapungan
karena keseimbangan gravitasi ini disebut isostasi. Daerah
pegunungan merupakan bagian kerak bumi yang tipis.
Pegunungan tidak hanya merupakan bentang alam yang
tinggi, tetapi juga merupakan sumber material bagi tempattempat yang rendah (gambar 17.1). Kenampakan ini dapat
dijelaskan dengan data seismik dan gravitasi.
Dari ide tersebut menunjukkan bahwa litosfer di
bawah samudera lebih tipis daripada litosfer yang menyusun
benua, karena elevasinya jauh lebih rendah. Meskipun telah
kita ketahui bahwa batuan penyusun kerak samudera ini
mempunyai spesifik grafitasi yang lebih besar daripada batuan
penyusun kerak benua. Hal tersebut merupakan faktor lain
yang menunjukkan mengapa kerak samudera terletak di
bawah kerak benua.
Apabila konsep isostasi ini benar, maka apabila beban
di atas kerak bumi ditambah, akan terjadi penurunan kerak
bumi. Sebaliknya apabila beban tersebut berkurang atau
dihilangkan, maka akan terjadi pengangkatan kerak bumi.
Perisitiwa terjadinya pergerakan semacam ini sangat didukung
oleh teori penyesuaian isostasi.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.54

Jadi pegunungan merupakan penebalan kerak bumi


yang tidak sebenarnya yang tetap mempunyai ketinggian
diatas rata-rata daerah sekitarnya. Seiring dengan terjadinya
pengikisan material oleh proses erosi, penyesuaian isostasi
akan terjadi secara bertahap pada pegunungan tersebut. Secara
berangsur pula bagian terdalam dari pegunungan tersebut
akan mengalami pengangkatan sampai pada kedalaman yang
dangkal dengan kerak disekililingnya. Yang tetap menjadi
pertanyaan adalah bagaimana bagian yang tebal (penebalan)
dari kerak bumi tersebut terjadi???
DEFORMASI BATUAN
Apabila batuan mendapat tekanan yang besarnya
melebihi daya tahan batuan itu sendiri, maka batuan akan
mengalami perubahan. Pada umumnya perubahan tersebut
membentuk struktur perlipatan (folding) atau retakan
(fracturing). Hal tersebut sangat mudah untuk digambarkan
bagaiman suatu masa batuan akan pecah. Tetapi seberapa
besar unit batuan dapat melengkung membentuk suatu
perlipatan tanpa batuan tersabut pecah selama proses
perubahan terjadi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para
ahli geologi melakukan percobaan di laboratorium pada
batuan yang diberi gaya dengan melakukan simulasi pada
kondisi yang sesuai dengan kondisi di bawah permukaan
bumi. Meskipun batuan penyusun kerak bumi mempunyai
ketahanan bervariasi dalam menerima gaya, karakteristik
umum dari perubahan batuan dicobakan pada percobaan
tersebut. Para ahli geologi mendapatkan bahwa apabila
tekanan (stress) diberikan perlahan dan dibawah tekanan yang
rendah, batuan akan mengalami perubahan secara elastis.
Perubahan ini disebut elastic deformation, seperti karet batuan
akan kembali pada bentuk dan ukuran semula ketika tekanan
(stress) tersebut dihilangkan. Sebaliknya apabila batas
elastisitas batuan dilewati, batuan akan pecah atau mengalami
perubahan secara plastis. Perubahan plastis (plastic
deformation), menghasilkan perubahan yang tetap,
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.55

maksudnya bentuk dan ukuran unit batuan akan berubah


menjadi perlipatan. Pada pecobaan di laboratorium
menunjukkan bahwa pada kondisi tekanan dan temperatur
yang tinggi, kebanyakan batuan mengalami perubahan bentuk
secara plastis apabila batas elastisitas batuan dilewati.

Pensesaran (faulting)
Sesar (fault), sering juga disebut patahan, merupakan
retakan pada batuan kerak bumi yang disertai dengan
pergeseran sepanjang retakan tersebut. Sesar dikategorikan
dengan dasar pergerakan relatif antara bagian-bagian yang
terletak di kedua sisi dari bidang sesarnya. Pergerakan
tersebut dapat horisontal, vertikal maupun menyudut
(oblique).

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.56

Sesar dengan pergerakan vertikal dari bagian yang


tersesarkan disebut dengan sesar dip-slip (dip-slip faults).
Sesar vertikal ini dapat dikelompokkan menjadi beberapa
macam. Apabila bagian yang terletak di atas bidang sesar
(hanging wall) bergerak relatif ke bawah daripada bagian
yang terletak di bawah bidang sesar (foot wall), disebut
dengan sesar normal atau sesar turun (normal faults,
gravity faults) (Gambar 17.2). Sedangkan apabila bagian
yang terletak di atas bidang sesar rekatif bergerak ke atas,
disebut dengan sesar naik (reverse fault) (gambar 17.3).
Sesar naik dengan sudut yang sangat kecil disebut dengan
thrust faults. Suatu thrust fault yang sangat panjang (seperti
yang terjadi di Pegunungan Appalachians) diakibatkan oleh
suatu gaya kompresi yang kuat.
Sesar yang pergeserannya dominan horisontal atau
sepanjang jurus sesar tersebut disebut dengan sesar geser
(strike-slip fault). Sesar geser yang besar pada umumnya
berasosiasi dengan batas-batas lempeng disebut dengan
transform faults. Transform faults mempunyai kemiringan
yang hampir tegak dan dapat berhubungan dengan struktur
yang besar semacam bagian dari pematang dasar laut (oceanic
ridges). Salah satu contoh dari transform faults adalah sesar
San Andreas di California USA, yang mempunyai pergeseran
sampai beberapa ratus kilometer. Sesar dengan pergerakan
vertikal dan horisontal disebut dengan oblique-slip fault.
Pergerakan-pergerakan yang terjadi pada bagianbagian yang tersesarkan dapat menunjukkan macam-macam
gaya yang bekerja pada kerak bumi. Sesar normal
menunjukkan adanya gaya tarik (tension) yang menarik
bagian dari kerak bumi. Proses penarikan ini dapat terjadi
karena pengangkatan yang mengakibatkan permukaan
meregang dan kemudian pecah atau oleh gaya horisontal yang
menyebabkan bagian kerak bumi terputus. Sesar normal pada
umumnya terjadi pada pusat pemekaran (spreading center)
pada divergensi lempeng kerak bumi. Bagian yang turun
(rendah) yang dibatasi oleh dua buah sesar normal disebut

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.57

graben. Sedangkan bagian yang naik (tinggi) disebut dengan


horst.

Karena pada sesar naik (reverse & thrust faults), bagian yang
tersesarkan bergerak relatif di atas bagian yang lain, maka
dapat disimpulkan bahwa sesar ini diakibatkan oleh gaya
kompresi (compressional force). Pada umumnya bagian
kerak bumi yang mengalami gaya ini adalah pada batas
konvergensi dari lempeng kerak bumi, dimana lempenglempeng kerak bumi saling bertumbukan. Gaya kompresi ini
pada kerak bumi selain dapat membentuk sesar juga dapat
membentuk perlipatan. Akibat dari adanya perlipatan ini
adalah penebalan dan penipisan batuan yang mengalami gaya.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.58

Perlipatan (Folding)
Selama proses pembentukan pegunungan, batuan
volkanik dan batuan sedimen yang mendatar, akan mengalami
pelengkungan membentuk suatu seri lipatan. Proses tersebut
mengakibatkan adanya pemendekan dan penebalan dari
batuan penyusun kerak bumi. Gambar 17.4 menunjukkan
struktur perlipatan yang sangat umum. Bagian perlipatan yang
menonjol ke atas disebut dengan antiklin (anticline),
sedangkan bagian yang cekung disebut dengan sinklin
(sincline). Berdasarkan orientasi sayap-sayapnya, perlipatan
dapat dibedakan menjadi perlipatan simetri, asimetri dan
menggantung (overtuned).

Suatu perlipatan tidak selalu menerus, pada suatu saat


perlipatan tersebut akan berhenti. Apabila sumbu perlipatan
tersebut menunjam ke dalam kerak bumi, maka perlipatan
tersebut disebut perlipatan menunjam. Gambar 17.5
menunjukkan contoh dari perlipatan menunjam dan pola dari
struktur tersebut yang telah mengalami proses erosi.
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.59

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.60

Meskipun kebanyakan perlipatan disebabkan oleh gaya


kompresi, tetapi ada perlipatan yang diakibatkan oleh gaya
vertikal. Perlipatan yang diakibatkan oleh gaya vertikal
ini membentuk suatu struktur yang melingkar yang menunjam
ke segala arah. Perlipatan semacam ini yang cembung disebut
struktur kubah (domes), sedangkan yang cekung disebut
basin. Pada struktur kubah, bagian pusatnya (inti) disusun
oleh batuan yang lebih tua, sedangkan pada struktur basin
bagian tengahnya disusun ole batuan yang lebih muda.

TIPE-TIPE PEGUNUNGAN LIPATAN


Meskipun tidak ada suatu rangkaian pegunungan yang
sama satu sama lain, tetapi suatu sistem pegunungan dapat
diklasifikasikan berdasarkan pada karakteristiknya yang
dominan. Berdasarkan kriteria tersebut, maka ada 4 (empat)
tipe sistem pegunungan, yaitu :
1.
Pegunungan perlipatan (folded mountain)
2.
Pegunungan volkanik (volcanic mountain)
3.
Pegunungan patahan (fault-block mountain)
dan
4.
Upward mountain
Pegunungan lipatan (folded mountains)
Pegunungan lipatan merupakan suatu sistem
pegunungan yang kompleks dan besar. Meskipun perlipatan
merupakan struktur yang sangat dominan penyusun sistem
pegunungan ini, kenampakan geologi lainnya sering dijumpai
seperti sesar, metamorfisme dan aktivitas magma. Semua
deretan pegunungan yang besar di dunia ini seperti
Pegunungan Alpen, Ural, Himalaya dan Appalachian,
merupakan sistem pegunungan lipatan. Karena hampir semua
deretan pegunungan yang besar di dunia ini merupakan sistem
pegunungan lipatan, maka proses pembentukan pegunungan
selalu dihubungkan dengan pegunungan lipatan.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.61

Pegunungan patahan (Fault-block mountains)


Sistem pegunungan patahan merupakan sistem
pegunungan yang terbentuk akibat pensesaran dari blok-blok
bnatuan yang besar, biasanya berhubungan dengan
pengangkatan sepanjang sesar normal dengan sudut yang
besar.
Contoh yang baik untuk sistem pegunungan ini adalah
deretan pegunungan di Basin and Range Province, suatu
pegunungan yang melalui Nevada dan sebagian Utah, New
Mexico, Arizona dan California di Amerika Serikat. Disini
kerak bumi telah mengalami penghancuran menjadi
berkeping-keping, yang kemudian terangkat menjadi
rangkaian pegunungan yang hampir sejajar dengan panang
sampai 80 km dan muncul diatas ketinggian rata-rata di atas
batuan sedimen yang ada di sekitarnya.
Upward mountains
Sistem pegunungan ini merupakan tipe pegunungan
yang sangat berbeda. Beberapa sistem pegunungan ini
mempunyai batuan beku dan batuan metamorf sebagai batuan
dasar, yang telah mengalami proses erosi dan kemudian
tertutupi oleh batuan sedimen. Kemudian setelah daerah
tersebut mengalami pengangkatan, proses erosi memindahkan
batuan sedimen, sehingga inti dari pegunungan ini yang terdiri
dari batuan beku dan batuan metamorf muncul ke permukaan
dan meninggalkan topografi yang lebih tinggi dari daerah di
sekitarnya.
Pada umumnya bagian yang terangkat tersusun oleh
batuan dasar yang berumur lebih tua yang tertutupi oleh
lapisan yang relatif tipis dari batuan sedimen. Lama kelamaan,
batuan sedimen ini akan tererosi, sehingga inti batuan
dasarnya akan muncul. Di beberapa tempat, lapisan batuan
sedimen yang tersisa menempati sayap-sayap dari
pegunungan batuan kristalin yang menjadi intinya. Morfologi
ini sangat mudah dikenali, karena perlapisan yang tersisa ini
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.62

menunjukkan suatu tebing yang terjal disebut dengan


hogbacks.
PEMBENTUKAN PEGUNUNGAN DAN TEKTONIK
LEMPENG
Seperti yang telah diketahui sejak lama, bahwa suatu
sistem pegunungan mempunyai banyak kenampakan yang
umum. Dari hal tersebut, para ahli geologi dapat
menyimpulkan bahwa sistem tersebut memiliki sejarah
pembentukan yang berbeda. Beberapa sistem pegunungan
muda sejajar dengan pantai suatu benua. Mereka disusun oleh
batuan sedimen yang sangat tebal dapat mencapai 15.000 m
dan telah mengalami perlipatan, persesaran dan diterobos oleh
tubuh batuan beku. Sampai pada dekade terakhir dipercaya
bahwa batuan sedimen tersebut dibentuk oleh proses
sedimentasi pada cekungan yang mengalami penurunan
perlahan yang disebut geosinklin. Setelah ketebalan yang
sangat besar dari sedimen tersebut terbentuk,suatu gaya
horisontal dari sisi-sisi geosinklin tersebut menekan sedimen
sehingga mengalami pemendekan dan penebalan dari kerak
bumi. Proses ini menghasilkan suatu sistem pegunungan yang
tinggi dan secara bersamaan menekan sedimen tersebut ke
tempat yang lebih dalam pada kerak bumi. Juga dipercaya,
sedimen yang tertanam jauh di dalam bumi menyebabkan
magma menerobos ke atas pada batuan sedimen yang tidak
mencair. Jadi suatu rantai kompleks pegunungan terdiri dari
batuan sedimen yang terlipat dan tersesarkan mengelilingi
tubuh batuan beku intrusi dan batuan metamorf yang
terbentuk.
Meskipun konsep geosinklin pada pembentukan
pegunungan memiliki banyak kebaikan, tetapi penyebab
proses orogenesa yang mendasari proses pembentukan
tersebut tetap tidak dapat dijelaskan. Apa yang dihasilkan dari
proses penurunan pada geosinklin? Mengapa sedimen yang
terakumulasi relatif tidak mengalami gangguan untuk jangka
waktu yang cukup lama dan tiba-tiba mengalami proses
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.63

deformasi?
Pertanyaan-pertanyaan
tersebut
yang
menyebabkan para ahli geologi tetap mencari jawaban dari
problem-problem yang kompleks pada proses pembentukan
pegunungan.
Dengan berkembangnya teori tektonik lempeng,
beberapa pertanyaan yang muncul pada teori geosinklin dapat
dijawab. Teori yang baru memberikan suatu ide bahwa suatu
orogenesa disebabkan oleh karena suatu segmen yang besar
dari kerak bumi mengalami pergeseran. Berdasarkan teori
tektonik lempeng, pembentuk pegunungan terjadi pada batas
lempeng yang konvergen. Pada lempeng-lempeng yang saling
bertumbukan ini menyebabkan terjadi suatu gaya kompresi
yang melipat, mensesarkan dan mengubah endapan sedimen
yang tebal yang terakumulasi pada lereng benua. Sedangkan
pencairan dari kerak samudera yang menunjam merupakan
sumber magma yang menerobos batuan-batuan yang telah
mengalami deformasi.
Orogenesis pada zona subduksi
Pada tahap awal dari perkembangan suatu sistem
kompleks pegunungan, bagian tepi kontinental masih stabil
(pasif). Bagian ini bukan merupakan batas dari lempeng
benua, tetapi merupakan bagian yang sama yang bergabung
dengan kerak samudera. Contoh yang bagus untuk keadaan
tepi kontinen yang pasif sekarang ini adalah pantai timur
Amerika serikat. Disini seperti tepi kontinen lainnya yang
mengelilingi Samudera Atlantik, proses pengendapan sedimen
menghasilkan suatu endapan yang tebal dari batupasir,
batugamping dan serpih.
Pada suatu saat, tepi benua menjadi aktif, sehingga
terbentuklah zona subduksi dan proses deformasi mulai
terjadi. Tempat baik untuk mengetahui suatu tepi kontinen
yang aktif adalah pantai barat Amerika Selatan. Di tempat ini
lempeng Nazca menunjam di bawah lempeng benua amerika
Selatan sepanajng palung Peru Chili. Zona penunjaman ini
kemungkinan terbentuk bersamaan dengan pemekaran benua
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.64

Pangaea. Pada saat lempeng amerika selatan berpisah dengan


lempeng afrika dan perlahan bergerak ke arah barat, kerak
samudera yang berbatasan dengan Amerika Selatan tertekuk
dan terlipat di bawah kerak kontinental. Perubahan pada kerak
samudera ini akan memberikan efek pada kerak kontinen yang
ada diatasnya. Pada kasu ini batuan sedimen yang menyusun
lempeng Nazca yang merupakan lereng tepi benua mengalami
deformasi dan menghasilkan suatu kompleks pegunungan
yang dikenal dengan nama Pegunungan Andes bagian Timur.
Penunjaman dan pencairan sebagian dari lempeng
Nazca mengakibatklan perkembangan dari busur vulkanik.
Pada beberapa sistem busur aktivitas vulkanik merupakan
gejala yang sangat mudah dikenali, tetapi sebagian besar dari
magma mengalami perpindahan tempat jauh di bawah
permukaan bumi dan membentuk tubuh batuan beku batolit.
Hal tersebut mengakibatkan proses penebalan dari kerak
kontinental. Selanjutnya aktivitas tersebut dilanjutkan dengan
proses pengangkatan. Akibat dari proses penebalan kerak
kontinen ini, pegunungan andes terangkat sampai beberapa
kilometer di atas palung laut.
Selama perkembangan busur vulkanik, batuan
sedimen yang berasal daratan akan mengalami perombakan
dan terkonsolidasikan kembali pada sisi yang berlawanan
dengan jalur palung laut. Penumpukan batuan metamorf yang
terbentuk dari batuan yang berasal dari kerak samudera
membentuk kompleks melange. Batuan metamorf yang
terdapat pada komplek mel;ange terbentuk pada kondisi
tekanan yang tinggi dari proses tumbukan lempeng tektonik,
tetapi pada kondisi temperatur yang agak rendah. Akibatnya
batuan tersebut dapat dibedakan dengan batuan metamorf
yang terbentuk pada temperatur tinggi yang berasosiasi
dengan tubuh batuan beku intrusif. Apabila komplrks melange
dijumpai pada bagian dalam dari kerak kontinen, hal tersebut
menunjukkan daerah tersebut merupakan zona subduksi.
Keadaan demikian sangat baik dan merupakan suatu petunjuk
untuk menceritakan sejarah geologi kawasan tersebut.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.65

Tumbukan kontinental
Sampai pada bagian ini telah diuraikan proses
pembentukan jalur orogenesis yang terbentuk akibat
tumbukan antara kerak kontinental dengan kerak samudera.
Tumbukan antara dua lempeng tektonik kadang-kadang
terjadi juga antara kerak benua dan kerak benua. Karena
batuan penyusun kerak benua relatif mengambang, maka
kemungkinan terjadinya tumbukan antara fragmen kerak
benua sangat besar. Contoh dari peristiwa ini terjadi sekitar 45
juta tahun yang lalu ketika India bertumbukan dengan asia.
India yang pada awalnya bersatu dengan antartika, telah
berjalan sejauh hampir 5000 km sebelum terjadinya tumbukan
tersebut. Akibat dari proses tumbukan tersebut, terbentuk
Pegunungan Himalaya dan Daratan Tinggi Tibet. Meskipun
sebagian besar kerak samudera memisahkan massa daratan
tersebut sebelum terjadinya tumbukan, tetapi sebagian lainnya
telah dihubungkan oleh endapan sedimen laut dalam yang
juga mengalami peremasan dan sekarang dijumpai pada
tempat yang sangat tinggi dari permukaan laut. Setelah
adanya proses tumbukan, bagian kerak samudera yang
menunjam pada kerak kontinental akan terus bergerak jauh ke
dalam.
Rangkaian pegunungan lainnya yang menunjukkan
kejadian tumbukan kerak benua adalah Pegunungan alpen,
Ural dan Appalachian. Pegunungan Appalachian diperkirakan
merupakan pertemuan antara Amerika Utara, Eropa dan
Afrika Utara. Meskipun ketiganya sekarang telah terpisahkan,
ketiganya menunjukkan bagian dari superkontinen Pangaea
tidak lebih dari 20 juta tahun lalu.
Orogenesis dari suatu rangkaian kompleks
pegunungan dapat diuraikan sebagai berikut :
1. setelah pengahncuran dari kerak kontinental, endapan
sedimen yang tebal terbentuk di sepanjang tepi
kontinental yang stabil (pasif). Hal ini akan
menyebabkan bertambah luasnya kerak kontinental.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.66

2. Dengan suatu sebab yang belum dimengerti,


cekungan lut semakin mendekat dan konvergensi
dengan kerak kontinen mulai terjadi.
3. Hasil konvergensi kerak tersebut terjadilah
penunjaman kerak oseanik ke bawah kerak
kontinental dan aktivitas magma mulai terjadi.
Aktivitas magma ini menghasilkan pembentukan
busur vulkanik yang letaknya hanya beberapa ratus
kilometer ke arah laut dari pantai purba.
4. Rombakan hasil erosi dari busur vulkanik dan daratan
ditambah rombakan sedimen yang berasal dari kerak
yang menunjam, akan menambah sedimen sepanjang
tepi kontinental.
5. Konvergensi selanjutnya menyebabkan laut dangkal
di belakang busur vulkanik akan semakin menyempit.
Proses orogenesis ini akan mengakibatkan terjadinya
deformasi dan metamorfisme sedimen belakang busur
vulkanik dan berasosiasi dengan rombakan batuan
vulkanik seperti pada busur vulkaniknya sendiri.
6. Pada saat kerak kontinental bertumbukan, asosiasi
aktivitas magma, proses deformasi dan metmorfisme
sedimen yang terjebak, akan menghasilkan batuan
kristalin sebagai inti dari rangkaian pegunungan yang
baru. Bersamaan dengan deformasi dataran oseanik
ini menganjak ke arah daratan. Endapan laut dangkal
yang membentuk paparan benua akan terlipatkan dan
tersesarkan membentuk sesar naik dengan sudut
relatif kecil.
7. Akhirnya perubahan pada batas lempeng berakhir dan
rangkaian pegunungan berkembang hanya erosi
selanjutnya yang akan merubah bentuk bentang alam
tersebut.

Urutan proses tersebut telah terjadi berulang kali


selama waktu geologi di masa lalu. Hanya tingkat deformasi,
tatanan geologi dan iklim yang berbeda-beda untuk setiap
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.67

proses. Jadi setiap kejadian pembentukan suatu rangkaian


pegunungan merupakan event yang unik.
Orogenesis dan pertumbuhan kontinental
Pada awalnya, teori tektonik lempeng memberikan
inspirasi dua mekanisme terjadinya proses orogenesis.
Pertama, tumbukan lempeng kontinen diberikan untuk
menerangkan proses pembentukan rangkaian pegunungan
seperti Alpen, Himalaya dan Appalachian. Kedua,
pegunungan tipe Andes, proses orogenesis berasosiasi dengan
zona penunjaman dari kerak samudera yang menjelaskan
proses pembentukan rantai pegunungan circum pacific.
Penemuan yang terbaru menunjukkan adanya mekanisme
lainnya pada proses orogenesis. Penemuan tersebut antara lain
adalah fragmen kerak bumi yang relatif kecil bertumbukan
dan bergabung dengan tepi benua. Akibat dari proses tersebut
telah terjadi perkembangan beberapa sistem pegunungan di
sekeliling Pasifik.
Para peneliti percaya bahwa pertumbuhan kerak
kontinental diawali dengan kerak kontinental yang kecil,
seperti kenampakan Madagaskar sekarang ini. Sedangkan
beberapa lainnya pada awalnya terdapat di dasar laut
kemudian mengalami pengangkatan. Lebih dari seratus
kenampakan yang demikian disebut dataran tinggi oseanik
telah diketahui keberadaanya sekarang ini. Dataran tinggi
semacam ini yang dipercaya sebagai penenggelaman kerak
kontinental, lenyapnya busur vulkanik atau penenggelaman
rangkaian vulkanik yang dihasilkan oleh aktivitas titik panas
(hot spot).
Pandangan yang sekarang muncul adalah kerak
oseanik yang bergerak akan membawa dataran tinggi oseanik
atau fragmen kerak kontinental menuju zona subduksi. Di
tempat ini fragmen dari kerak tersebut akan terpotong-potong
dan akan terangkat dalam potongan-potongan yang tipis ke
atas blok kontinental yang telah ada sebelumnya. Material
baru yang terbentuk tersebut disebut terrane, yang akan
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.68

menambah luas kerak kontinental dan akan terus terdorong


lebih ke daratan oleh desakan potongan kerak lainnya.
ORIGIN DAN EVOLUSI KERAK KONTINENTAL
Pada bagian sebelumnya kita telah mempelajari
bahwa teori tektonik lempeng telah menjelaskan suatu model
pengujian pembentukan rangkaian kompleks pegunungan.
Tetapi apa peran teori tektonik lempeng dan pembentukan
pegunungan pada mulajadi dan evolusi kerak kontinental?
Pada saat ini tidak ada jawaban yang dapat menjelaskan
pertanyaan tersebut. Belum adanya kesepakatan dianatara
para ahli geologi disebabkan oleh kompleksnya material
penyusun kerak kontinental, sehingga sulit untuk
menerangkan sejarah pembentukannya. Tetapi selama dua
dasawarsa terakhir ini suatu lonjakan yang besar telah terjadi
mengenai ilmu geologi dan teka-teki yang selama ini muncul
mulai dapat diberikan jawabannya.
Salah satu pendapat mengatakan bahwa kerak
kontinental mengalami pertumbuhan menjadi lebih besar
sepanjang waktu geologi oleh penambahan material yang
berasal dari mantel bumi bagian atas. Prinsip dasar dari
hipotesis ini adalah kerak bumi pada awalnya adalah kerak
samudera dan kerak kontinental sangat kecil bahkan mungkin
tidak ada. Selanjutnya dikatakan pembentukan material
penyusun kerak kontinental terjadi dalam dua fase yang
berbeda. Fase pertama terjadi pada mantel bumi bagian atas
tepat di bawah pematang samudera. Di tempat ini pencairan
sebagian batuan peridotit menghasilkan magma basaltik yang
naik ke atas membentuk kerak samudera. Batuan dasar
samudera kaya akan silika, potasium dan sodium dan miskin
akan besi dan magnesium dibandingkan dengan batuan yang
berasal dari mantel bumi agian atas.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.69

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.70

BAB VII
LANTAI DASAR SAMUDERA
Pendahuluan
Bila kita melihat potret bumi kita yang diambil dari
angkasa luar, maka planet bumi didominasi oleh lautan. Oleh
sebab itu planet bumi sering disebut sebagai planet biru (blue
planet).
Luas permukaan bumi sekitar 510 juta km2. Dari luas
tersebut sekitar 360 juta km2 atau sekitar 71% ditutupi oleh air
(lautan dan pantai). Sisanya , 29% atau sekitar 150 juta km2
merupakan daratan. Pembagian menjadi daratan dan lautan
tidak menunjukkan pembagian yang sama antara bagian utara
dan bagian selatan. Di bagian utara dari bumi ini, 61%
ditutupi oleh lautan sedangkan daratan hanya sekitar 39%.
Sedangkan di bagian selatan bumi pembagiannya menjadi
81% merupakan lautan sedangkan daratannya hanya 19%. Hal
tersebut menjadikan bagian utara bumi sering disebut sebagai
hemisfer daratan sedangkan bagian selatan disebut hemisfer
air. Volume dari daratan hanya sekitar 1/18 dari volume
lautan.
Sekarang apa yang terlihat jika air yang menutupi
permukaan bumi dikeringkan? Bila hal tersebut dilakukan,
maka akan terlihat bukannya permukaan bumi yang rata
seperti yang dibayangkan, tetapi permukaan bumi tersebut
akan menunjukkan bentuk topografi yang sangat bervariasi.
Permukaan bumi tersebut akan menunjukkan rangkaian
pegunungan yang tinggi, lembah yang dalam, dan juga
dataran yang rata.
Meskipun kenampakan dasar samudera telah
diketahui sejak abad 15 dan 16, tetapi pemahaman tentang
topografi dasar samudera yang sangat kompleks baru terkuak
sekitar abad 19. Pemahaman ini baru terbuka sejak adanya
ekspedisi bawah laut sekitar 3.5 tahun dari H.M.S. Challenger
yang dimulai Desember 1872 hingga Mei 1876. Ekspedisi
Challenger merupakan ekspedisi pertama yang melakukan
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.71

penelitian global tentang dasar samudera. Ekspedisi ini telah


melakukan perjalanan di dasar samudera sekitar 110 000
kilometer pada semua samudera kecuali laut Arctic. Meskipun
demikian, pemetaan dasar samudera baru bisa dilakukan
dengan baik setelah ditemukannya alat echo sounder, yaitu
peralatan electronik untuk megukur kedalaman laut dengan
teknologi bunyi.
Alat echo sounder bekerja dengan memancarkan
gelombang bunyi dari kapal ke dasar laut. Pantulan
gelombang bunyi dari dasar laut akan diterima oleh alat
penerima dan dicata waktu yang dibutuhkan oleh gelombang
tersebut untuk sampai ke alat penerima (receiver). Dengan
mengetahui kecepatan gelombang bunyi di dalam air, maka
kedalaman dapat diukur dengan tepat. Sejak ditemukan alat
echo sounder, maka kenampakan yang lebih detil dri dasar
samudera dapat diketahui.
Ahli oseanografi (oseanografer) yang mempelajari
topografi dasar lautan membaginya menjadi tiga bagian besar
yaitu: tepi benua (continental margin), lantai dasar
samudera (ocean basin floor) dan pematang tengah
samudera (mid ocean ridges). Pembagian tersebut dapat
dilihat pada gambar 1, yang menggambarkan perbandingan
dari bagian-bagian tersebut pada Samudera Atlantik.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.72

Gambar 5. Topografi dasar


saudera Antlantik utara

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.73

II. TEPI BENUA (CONTINENTAL MARGIN)


Tepi benua (continental margin) merupakan
kawasan tempat bertemuanya kerak benua dengan kerak
samudera. Kawasan ini merupakan kawasan yang sangat labil.
Tepi benua dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu paparan
benua (contnental shelf), lereng benua (continental slope),
dan jendul benua (continental rise) (Gambar 2). Tepi benua
dapat dibedakan menjadi dua tipe yaitu tepi benua yang pasif
(passive continental margin) dan tepi benua yang aktif (active
continental margin). Tepi benua pasif dicirikan oleh
pertemuan kedua lempeng yang tenang dan merupakan
kawasan yang relatif stabil. Sedangkan tepi benua yang aktif
dicirikan oleh adanya penunjaman kerak samudera ke bawah
kerak benua (zona subduksi).

Gambar2 . Penampang tepi benua dan


bagian-bagiannya

Paparan benua merupakan paparan dengan


kemiringan lereng yang landai mulai dari garis pantai ke arah
laut dalam. Paparan benua mempunyai ukuran lebar yang
sangat bervariasi tergantung dari tipe tepi benuanya. Pada tepi
benua yang pasif, rata-rata paparan benua ini mempunyai
lebar sampai 80 km dengan kedalaman mencapai sekitar 130
meter sampai 200 meter pada bagian paling tepi. Tetapi ada
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.74

juga paparan benua yang lebarnya mencapai 1500 km.


Sedangkan pada tepi benua yang aktif paparan benua
mempunyai lebar yang relatif sempit. Kemiringan lereng ratarata dari paparan benua hanya 2 meter per kilometer.
Kemiringan ini sangat landai sehingga terlihat seperti suatu
permukaan yang datar.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.75

Paparan benua merupakan 7.5% dari luas total dasar


samudera. Luas ini setara dengan 18% dari luas total daratan
bumi. Kawasan paparan benua merupakan kawasan yang
sangat penting baik secara ekonomi maupun politik, setelah
pada kawasan ini ditemukan sebagai tempat deposit mineral
yang penting, termasuk jebakan minyak dan gas bumi, serta
endapan pasir dan gravel yang sangat besar. Selain itu pada
kawasan ini merupakan tempat berkumpulnya ikan-ikan
dalam jumlah yang sangat besar yang merupakan sumber
makanan yang sangat penting.
Bila dibandingkan dengan bagian dari lantai dasar
samudera yang dalam, paparan benua hanya merupakan
bagian yang sangat kecil. Meskipun demikian bukan berarti
paparan benua merupakan bagian yang relatif halus.
Kenampakan yang paling banyak dijumpai pada paparan
benua adalah lembah yang memanjang dari garis pantai
menuju ke laut dalam. Kebanyakan dari lembah-lembah
tersebut merupakan perpanjangan atau kelanjutan dari
lembah-lembah sungai yang ada di daratan. Lembah-lembah
tersebut terbentuk selama Kala Plistosen (zaman peng-esan).
Selama zaman tersebut sejumlah besar air laut mengalami
pembekuan dan berubah menjadi lapisan es yang menutupi
daratan. Hal ini menyebabkan turunnya muka air laut hingga
90 sampai 120 meter, dan paparan benua muncul ke
permukaan. Hal ini mengakibatkan sungai-sungai menjadi
bertambah panjang dan banyak fauna dan flora menempati
lingkungan yang baru terbentuk tersebut. Sekarang bagian
tersebut telah tertutupi kembali oleh air laut dan menjadi
lingkungan kehidupan bagi organisme laut. Pengerukan yang
pernah dilakukan di sepanjang pantai timur Amerika
mendapatkan sisa-sisa kehidupan organisme daratan seperti
gajah, kuda dan mastodon. Pengambilan contoh endapan di
dasar laut tersebut juga mendapatkan adanya endapan rawarawa air tawar yang menunjukkan bahwa kawasan ini
dahulunya merupakan suatu daratan.
Kelanjutan dari paparan benua ke arah laut adalah
lereng benua (continental slope). Bagian ini melebar ke arah
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.76

laut dengan kemiringan lereng yang yang jauh lebih terjal


dibandingkan dengan paparan benua. Rata-rata kemiringan
lereng pada lereng benua adalah 70 m per kilometer atau
sekitar 4o sampai 5o. Pada tepi benua yang aktif kemiringan
lerengnya bisa mencapai 15o atau lebih pada bagian dasarnya.
Kedalamannya berubah dari sekitar 100 sampai 200 meter
hingga mencapai kedalaman sekitar 5 kilometer. Lereng
benua menandai batas antara kerak benua dengan kerak
samudera.

Sepanjang beberapa rantai pegunungan, lereng benua


cenderung tiba-tiba menjadi palung laut dalam yang
memisahkan daratan dengan cekungan laut. Pada kasus ini
paparan benua sangat sempit atau bahkan tidak ada sama
sekali. Tebing dari palung laut dengan lereng benua pada
dasarnya menunjukkan kenampakan yang sama dan berubah
menjadi pegunungan dengan puncak yang tingginya mencapai
ribuan meter dari permukaan air laut. Kenampakan semacam
ini dijumpai di sepanjang pantai barat Amerika Selatan. Di
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.77

kawasan ini jarak vertikal dari puncak tertinggi Pegunungan


Andes ke dasar palung laut dalam Peru Chile yang
membatasi daratan mencapai 12 200 meter.
Di daerah dimana palung laut tidak terbentuk,
kemiringan lereng benua yang terjal akan naik secara bertahap
yang disebut dengan jendul benua (continental rise). Pada
jendul benua kemiringan lerengnya berkurang menjadi 4
sampai 8 meter per kilometer. Sementara lebar dari lereng
benua rata-rata 20 kilometer, jendul benua lebarnya mencapai
ratusan kilometer. Pada tempat ini terbentuk akumulasi
sedimen yang tebal yang berasal dari paparan benua yang
bergerak ke bawah menuju lantai dasar samudera yang dalam.
Meskipun jendul benua relatif tidak nampak, tetapi
permukaannya sering terdapat lembah bawah laut yang dalam
(submarine canyon) atau gunungapi bawah laut yang belum
sepenuhnya tertutup sedimen.
Lembah yang dalam yang dibatasi oleh tebing yang
terjal dinamakan lembah bawah laut (submarine canyon) yang
berasal dari lereng benua dan dapat mencapai kedalaman
sampai 3 kilometer.

ARUS TURBIDIT
Arus turbidit atau sering disebut arus keruh, adalah
arus yang terbentuk akibat longsoran material sedimen yang
berada pada lereng benua yang belum padu benar. Proses ini
terjadi kemungkinan akibat adanya gempabumi. Proses ini
sama kejadiannya dengan longsoran yang terjadi di daratan.
Jadi faktor utama pembentuknya adalah gaya gravitasi.
Material yang longsor akan bercampur dengan air dan
membentuk arus yang keruh karena banyaknya material yang
tersuspensi di dalamnya. Karena air yang bercampur material
sedimen tersebut lebih berat dari pada air yang berada di
atasnya, maka material tersebut akan mengalir ke bawah dan
mengerosi dan akan terakumulasi pada dasar laut yang lebih
dalam. Proses erosi yang dilakukan oleh material sedimen ini
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.78

terus terjadi selama proses terjadinya longsoran tersebut


sehingga kadangkala dapat membentuk lembah yang dalam.
Arus turbidit pada awalnya terjadi pada sepanjang
lereng benua dilanjutkan sampai memotong jendul benua .
Selanjutnya kecepatannya menurun kemudian material
tersuspensi ini mulai terendapkan. Material yang pertama kali
terendapkan adalah material yang berukuran pasir kasar
selanjutnya berturut-turut material yang berbutir halus, lanau
dan lempung. Endapan ini disebut endapan turbidit yang
dicirikan oleh penurunan ukuran butir dari bawah ke atas.
Struktur sedimen demikian disebut struktur sedimen lapisan
bersusun (graded bedding). Arus turbidit merupakan
mekanisme terjadinya proses erosi dan transportasi di bawah
laut. Arus inilah yang menyebabkan dijumpainya endapan
sedimen laut dangkal pada dasar laut yang dalam. Pada
endapan ini sering pula dijumpai sisa-sisa organisme yang
hidup pada laut dangkal di endapan laut dalam.
KENAMPAKAN LANTAI DASAR SAMUDERA
Diantara tepi benua dan pematang tengah samudera
terdapat lantai laut dalam. Kawasan ini berukuran hampir
30% dari permukaan bumi. Pada kawasan ini dijumpai adanya
palung laut, yang merupakan alur yang sangat dalam yang
disebut palung-laut dalam (deep-ocean trenches); daerah
yang datar yang dikenal dengan dataran abisal (abyssal
plains); dan gunung berapi dengan lereng yang terjal yang
disebut gunung bawah laut (seamount).
Palung-Laut Dalam
Palung-laut dalam merupakan alur atau parit yang
panjang dan relatif sempit yang menggambarkan bagian
terdalam dari lautan. Beberapa diantaranya di bagian barat
Samudera Pasifik, palung laut ini mempunyai kedalaman
lebih dari 10 000 meter di bawah muka air laut.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.79

Meskipun palung laut merupakan hanya sebagian kecil dari


daerah dasar samudera, tetapi merupakan fenomena geologi
yang sangat menarik. Pada tempat ini terjadi penunjaman
lempeng-lempeng kerak bumi ke dalam mantel bumi sehingga
terjadi penghancuran dari kerak tersebut. Fenomena ini yang
menyebabkan terjadinya gempabumi. Aktivitas gunung api
juga berhubungan dengan proses pembentukan palung laut.
Pada laut yang terbuka, palung laut membentuk alur yang
sejajar dengan deretan pulau-pulau gunung api (volcanic
island arcs). Sedangkan deretan gunung api kemungkinan
dijumpai sejajar dengan palung laut yang berdekatan dengan
daratan. Aktivitas gunung api ini terjadi karena kerak bumi
yang menunjam ke dalam mantel bumi mengalami
penghancuran dan mencairan yang membentuk magma
kembali.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.80

Dataran Abisal (Abyssal Plains)


Dataran abisal merupakan kenampakan topografi
yang sangat datar, dan kemungkinan kawasan ini merupakan
tempat yang paling datar pada permukaan bumi. Dataran
abisal yang dijumpai di pantai Argentina mempunyai
perbedaan tinggi kurang dari 3 meter pada jarak lebih dari
1300 kilometer. Topografi yang datar ini kadang-kadang di
selingi dengan puncak-puncak gunung bawah laut yang
tertimbun.
Dataran abisal tersusun oleh akumulasi sedimen yang
sangat tebal. Kenampakan sedimen pada daerah ini
menunjukkan bahwa dataran ini dibentuk oleh endapan
sedimen yang telah megalami pengangkutan sangat jauh oleh
arus turbid. Endapan turbid ini berselingan dengan material
sedimen yang berukuran lempung yang terus menerus
terendapkan pada tempat ini.
Dataran abisal dijumpai sebagai bagian dari dasar
samudera pada semua lautan. Dataran ini akan lebih luas
apabila tidak dijumpai palung laut yang berdekatan dengan
daratan. Samudera Atlantik memiliki dataran abisal yang lebih
luas daripada samudera Pacifik karena samudera Atlantik
mempunyai palung laut jauh lebih sedikit dibandingkan yang
dijumpai pada samudera Pasifik.
Gunung Bawah Laut (Seamounts)
Gunung bawah laut (seamount) merupakan puncakpuncak gunung yang muncul pada dasar samudera dengan
ketinggian sampai beberapa ratus meter di atas topografi
sekitarnya. Puncak kerucut yang terjal ini telah banyak
dijumpai pada semua samudera di dunia ini . Samudera
Pasifik merupakan samudera dengan gunung bawah laut yang
terbanyak dibandingkan dengan samudera lainnya.
Kebanyakan gunungapi bawah laut muncul pertama
kali dekat dengan pamatang tengah samudera, yaitu tempat
pertemuan lempeng-lempeng tektonik yang divergen (saling
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.81

menjauh). Selanjutnya gunung tersebut terus bertumbuh


seiring dengan pergerakan dari lempeng-lempeng tektonik
tersebut. Jika pertumbuhan gunugapi tersebut cukup cepat,
maka gunungapi tersebut akan membentuk suatu pulau.
Setelah gunungtersebut tumbuh sebagai pulau, gunung
tersebut akan mengalami proses erosi oleg aliran air perukaan
dan kerja ombak sehingga ketinggiannya menurun sampai
mendekati muka air laut.
PEMATANG TENGAH-SAMUDERA (MID-OCEANIC
RIDGES)
Pematang tengah samudera dijumpai pada semua
samudera dan merupakan 20% dari permukaan bumi, dan
merupakan kenampakan topografi yang sangat menakjubkan
didasar laut. Topogarfi ini merupakan rangkaian pegunungan
yang memanjang sampai sekitar 65 000 kilometer. Meskipun
demikian kenampakan pematang tengah samudera sangat
berbeda dengan rangkaian pegunungan yang dijumpai di
daratan. Kalau rantai pegunungan di daratan disusun oleh
batuan graniti dan andesitik sertabatuan dan batuan metamorf
yang megalami perlipatan dan penesaran, maka pematang
tengah samudera disusun oleh lapisan-lapisan batuan beku
basaltic yang belum mengalami deformasi. Sebetulnya
pemakaian kata pematang tidak begitu tepat, karena
kenampakan topografi ini tidak sempit tetapi mempunyai
lebar antara 500 sampai 5000 kilometer. Puncak dari
pematang ditandai oleh adanya celah (rift) dan dibatasi oleh
pematang yang memanjang sampai ratusan kilometer. Sumbu
dari pematag ditandai oleh gempabumi yang terus menerus
dan dicirikan oleh aliran panas yang sangat tinggi dari kerak
bumi. Celah yang terdapat pada tengah pematang merupakan
tempat magma baru muncul dari astenosfer yang secara
menerus membentuk kerak samudera baru. Celah ini
menggambarkan batas kerak yang divergen tempat terjadinya
pemekaran lantai dasar samudera. (sea floor spreading).
Kenampakan yang menonjol dari pematang ini
disebabkan karena kerak samudera yang baru sangat panas,
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.82

dan mempunyai volume yang lebih besar daripada kerak


samudera yang dingin. Ketika kerak yang baru ini bergerak
menjauh dari pusat pemekaran, terjadi lah proses pendinginan
yang bertahap dan terjadi pula kontraksi. Proses kontraksi
panas ini semakin besar semakin menjauhi pusat pemekaran.
Dibutuhkan waktu sekitar 100 juta tahun untuk terjadinya
proses pendinginan dan kontraksi yang menyeluruh. Sekarang
batuan yang terbentuk tersebut terletak pada dasar samudera
dan telah tertutupi oleh lapisan sedimen yang tebal

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.83

TERUMBU KARANG DAN ATOL (CORAL REEF &


ATOLL)
Terumbu karang (coral reef) kenampakan yang
sangat menarik yang dijumpai di laut. Terumbu karang
terutama dibentuk oleh sisa-sisa rangka gampingan dan
sejenis ganggang. Istilah coral reef
Terumbu karang sangat banyak dijumpai pada
samudera Pacifik dan Hindia yang mempunyai temperatur
yang hangat, meskipun dapat juga terbentuk dimana-mana.
Karena karang tumbuh dengan sangat baik pada temperatur
sekitar 24o C, maka lokasi pertumbuhannya sangat
membutuhkan air yang hangat. Selain itu pertumbuhan koral
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.84

membutuhkan air yang jernuh dan sinar matahari yang cukup,


oleh sebab itu koral tumbuh dengan baik pada kedalaman
sekitar 45 meter.
Charles Darwin pada tahun 1831 sampai 1836,
dengan menggunakan kapal Inggris melakukan ekspedisi
mengelilingi dunia. Salah satu hasil dari ekspedisi selama 5
tahun tersebut adalah teori tentang proses pembentukan
pulau-pulau karang atau atol. Atol terdiri dari terumbu karang
yang melingkar seperti cincin yang hampir utuh yang
mengelilingi laguna (lagoon), Laguna adalah laut yang
tertutup, tetapi masih berhubungan dengan laut lepas. Sejak
itu sampai setelah Perang Dunia II, asal muasal dari terumbu
karang menumbuhkan keingintahuan orang.
Teori yang dicetuskan oleh Darwin berusaha
menjawab pertanyaan yang selama itu timbul, yaitu:
Bagaimana koral yang hanya tumbuh dengan baik pada air
hangat, laut dangkal, dan kedalaman tidak lebih dari 45 meter
dapat membentuk bangunan yang mencapai ribuan meter dari
dasar laut? Pertanyaann tersebut dijawab oleh Darwin dengan
teorinya, bahwa koral tidak hidup pada laut yang dalam, tetapi
untuk hidupnya koral membutuhkan suatu fondasi yang harus
sudah ada. Fondasi tersebut adalah gunungapi bawah laut
yang mengalami penurunan. Kemudian koral tumbuh pada
lereng-lereng gunungapi tersebut. Ketika gunungapi tersebut
turun dengan perlahan, koral terus tumbuh ke atas. Lama
kelamaan pertumbuhan koral tersebut akan membentuk
semacam cincin.
Teori pembentukan atoll oleh Darwin tersebut
bertahan sampai setelah Perang Dunia II. Setelah berakhirnya
PD II, teori tersebut mulai ditinggalkan, ketika Amerika
Serikat melakukan penelitian mendalam mengenai atoll yang
akan dijadikan sebagai tempat percobaan bom atom.
Pemboran yang dilakukan pada atoll tersebut tidak
mendapatkan batuan vulkanik di bawah struktur koral yang
tebal.
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.85

SEDIMEN DASAR LAUT


Kecuali pada beberapa tempat, seperti tempat-tempat
yang dekat dengan puncak dari pematang tengah samudera,
dasar samudera ditutupi oleh endapan sedimen. Sebagian
material sedimen tersebut terendapkan oleh arus turbid, dan
sisanya merupakan material sedimen yang terendapkan
perlahan-lahan dari permukaan laut. Ketebalan dari endapan
sedimen tersebut sangat bervariasi. Pada beberapa palung laut,
yang merupakan cekungan sedimentasi untuk sedimen yang
berasal dari tepi benua, ketebalannya dapat mencapai 10 000
kilometer. Tetapi pada umumnya ketebalan sedimen di dasar
laut kurang dari angka tersebut. Di Samudera Pasifik
ketebalan endapan sedimen yang belum mengalami kompaksi
mencapai sekitar 600 meter. Sedangkan di Samudera Atlantik
ketebalannya berkisar antara 500 hingga 1000 meter.
Material yang berukuran halus seperti Lumpur,
merupakan material yang dominan dijumpai pada dasar laut
dalam, meskipun di beberapa tempat dijumpai juga endapan
yang berukuran pasir. Material Lumpur (mud) juga
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.86

merupakan endapan sedimen yang dominan dijumpai pada


paparan benua dan lereng benua, tetapi endapan sedimen di
tempat tersebut relatif lebih kasar karena kandaungan material
yang berukuran pasir relatif lebih banyak. Pasir pada
umumnya diendapkan pada paparan benua yag membentuk
pesisir pantai. Pada beberapa tempat sedimen yang berbutir
kasar ini, yang biasanya dijumpai pada atau dekat pantai,
dijumpai pada laiut dengan kedalaman yang lebih besar
sampai ke batas tepi paparan benua.
Tipe-Tipe Sedimen Dasar Laut
Endapan sedimen dasar laut dapat dikelompokkan
menjadi tiga kelompok, yaitu: 1) sediment litogenous (berasal
dari rombakan batuan), 2) sedimen biogenous (berasal dari
organisme), 3) sedimen hydrogenous (berasal atau dibentuk
oleh air). Meskipun macam sedimen di dasar laut tersebut
dikelompokkan menjadi tiga, tetapi tidak ada sedimen yang
hanya terdiri dari satu macam saja. Kebanyakan ketiganya
dapat terbentuk bersama-samapada satu tempat.
Sedimen litogenous merupakan sedimen yang
terutama terdiri dari butiran mineral yang berasal dari hasil
pelapukan batuan di daratan yang mengalami pengangkutan
ke laut. Sediment asal daratan ini disebut juga sedimen
terigen (terigenous sediment). Sedimen litogenous
diendapkan hampir di seluruh dasar laut. Partikel-partikel
sedimen yang berukuran pasir diendapkan dekat pantai.
Sedangkan material yang berukuran halus akan terangkut oleh
arus laut ke tempat yang lebih jauh sampai ribuan kilometer
dan diendapkan di dasar laut dalam. Endapan sedimen yang
berbuti halus ini disebut sedimen pelagic (pelagic sediment).
Selain diangkut oleh air, sedimen yang berbutir halus juga
mengalami pengangkutan oleh angin dan diendapkan di dasar
laut dalam. Proses pengendapan sedimen ini di dasar laut
dalam sangat lambat. Endapan dengan ketebalan 2 cm
dibutuhkan waktu antara 5000 sampai 50 000 tahun.
Sebaliknya pada tepi benua yang dekat dengan muara sungai
yang besar , sedimen litogenous terendapkan sangat cepat.
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.87

Sediment pelagic sangat tipis pada pematang tengah


samudera dan akan semakin menebal semakin menjauh dari
pematang tersebut. Hal ini disebabkan dasar samudera pada
pematang merupakan kerak yang masih muda umurnya dan
semakin menjauh dari pematang semakin tua. Karena proses
pengendapan sedimen tersebut berlangsung terus menerus,
maka endapan yag tebal terjadi pada dasar laut yang lebih tua,
sebaliknya menipis pada dasar laut yang lebih muda.

Karena sedimen yang berbutir halus tersuspensi


dalam air dalam waktu yang relatif lama, maka tidak tertutup
kemungkinan terjadi reaksi pada sedimen tersebut. Oleh sebab
itu endapan sedimen pada laut dalam sering atau coklat.
Warna tersebut dihasilkan karena reaksi antara unsur besi
yang terdapat di dalam partikel atau di dalam air bereaksi
dengan oksigen yang terlarut dalam air dan menghasilkan
oksida besi (karat).
Sedimen biogenous terdiri dari cangkang atau rangka
dari organisme laut. Rombakan ini dihasilkan dari mikro
organisme yang hidup dekat atau pada permukan air.
Rombakan cangkang dan rangka organisme ini secara terus
menerus akan jatuh ke dasar laut.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.88

Sedimen biogenous yang sangat umum adalah


calcareous ooze yang tersusun oleh CaCO3. Sedimen ini
dibentuk oleh organisme yang hidup permukaan air laut yang
hangat. Calcareous ooze tidak terbentuk pada lingkungan laut
yang sangat dalam. Ketika cangkang dari organisme tersebut
yang disusun oleh calcareous carbonate perlahan jatuh ke
dasar laut dengan air yang dingin, material tersebut akan larut
dalam air. Hal ini disebabkan karena air yang dingin banyak
mengandung karbon dioksida sehingga lebih asam daripada
air hangat. Pada laut yang dalamnya lebih dari 4500 meter,
cangkang organisme yang disusun oleh kalkareous akan larut
sebelum mencapai dasar laut.
Contoh lain dari sedimen biogenous adalah sedimen
siliceous ooze (SiO2) dan sedimen yang kaya posfat. Sedimen
siliceous ooze terutama disusun oleh rangka diatomea (algae)
dan radiolaria (binatang). Sedimen yang disusun oleh
radiolaria disebut radiolarit. Sedangkan sedimen yang kaya
posfat dibentuk oleh rombakan tulang, gigi , dan bagian keras
lainnya dari ikan dan binatang laut lainnya.
Sedimen hidrogenous terdiri dari mineral hasil
kristalisasi langsung dari air laut. Contohnya batugamping
yang dibentuk dari kristalisasi air yang banyak mengandung
calcium carbonate (CaCO3). Meskipun kebanyakan
batugamping disusun oleh sedimen biogenous.
Salah satu contoh yang bagus dari sedimen
hidrogenous adalah nodul mangan. Nodul mangan
merupakan sedimen dasar laut yang cukup penting dan
mempunyai nilai ekonomis. Nodul mangan merupakan
material sedimen yang bentuknya membundar berwarna
coklat kehitaman dan disusun oleh campuran mineral-mineral
yang terbentuk dengan sangat lambat di dasar laut. Tingkat
pembentukannya merupakan salah satu reaksi kimia yang
paling perlahan. Dengan analisa radioaktif, diketahui tingkat
pertumbuhan nodul adalah 0.002 sampai 0,2 milimeter per
1000 tahun.
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.89

Meskipun nodul mangan mengandung lebih dari 20%,


ketertarikan pada endapan ini disebabkan karena banyaknya
unsur logam lain yang lebih bernilai ekonomis. Selain
mangan, nodul mangan dapat juga mengandung besi,
tembaga, nikel dan kobalt dalam jumlah yang signifikan.
Meskipun banyak kawasan yang mengandung nodul, tetapi
tidak
potensial
untuk
dieksploitasi.
Kemungkinan
penambangan dapat dilakukan apabila suatu wilayah
mengandung deposit yang melimpah sekitar lebih dari 5
kilogram per m2, dan mengandung kobalt, tembaga dan nikel.
Selain itu karena deposit nodul berada di dasar laut dalam
maka diperlukan teknologi tinggi dan biaya yang sangat besar.
Hal ini menyebabkan banyak deposit nodul mangan yang
belum diekspoitasi.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.90

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.91

BAB VIII
TEKTONIK LEMPENG
Sejak awal abad ke 20 telah muncul suatu teori yang
mengatakan bahwa kerak bumi, bagian terluar dari bumi,
merupakan bagian yang selalu bergerak, karena mengapung
pada bagian bumi yang relatif cair. Teori ini menimbulkan
suatu perdebatan yang panjang sampai bertahun-tahun,
sampai akhirnya teori ini dilupakan oleh para akhli ilmu
kebumian. Setelah sekitar setengah abad kemudian, yaitu pada
periode tahun 1950 sampai 1960, banyak bukti-bukti baru
yang ditemukan oleh para peneliti bumi ini. Penemuan baru
tersebut merupakan bukti-bukti yang memperkuat mengenai
teori yang muncul ada awal abad ke 20 tersebut. Sehingga
teori yang sudah ditinggalkan ini menjadi pembicaraan lagi
atau mulai diperhatikan kembali. Pada tahun 1968, teori
tentang pengapungan benuaini telah diterima secara luas, dan
selanjutnya dikenal dengan teori tektonik lempeng (plate
tectonic).
Teori Pengapungan Benua
Pada tahun 1912, Alfred Wegener, seorang ahli
klimatologi dan geofisika, menerbitkan bukunya yang
berjudul The Origin of Continents and Oceans. Pada
bukunya ini, Wegener mengemukakan empat teori dasar yang
berhubungan dengan hipotesisnya yang radikal tentang
pengapungan benua. Salah satu teorinya mengatakan bahwa
dulunya daratan yang menyusun permukaan bumi ini
merupakan suatu kesatuan yang membentuk sebuah benua
yang besar atau superkontinen yang disebut Pangaea
(Gambar 1). Superkontinen yang terletak di sebelah utara
ekuator, garis yag membagi permukaan bumi menjadi dua,
disebut dengan benua Laurasia. Sedang yang terletak di
sebelah selatan ekuator disebut benua Gondwana.
Selanjutnya sekitar 200 juta tahun lalu, superkontinen ini
mengalami retak-retak dan mulai pecah menjadi kontinenBudi Rochmanto Geologi Dinamik.92

kontinen atau benua-benua yang lebih kecil. Benua-benua


kecil yang mengapung ini kemudian bergerak dan berpindah
tempat dan menempati posisinya seperti sekarang ini. Albert
Wegener dan kawan-kawanya yang sependapat dengan teori
ini kemudian mengumpulkan sejumlah bukti untuk
mendukung pendapatnya tersebut. Bukti-bukti tersebut antara
lain adalah adanya kesesuaian bentuk antara benua Amerika
Selatan dengan benua Afrika, baik dari segi fosil, tipe dan
struktur batuan, maupun paleoklimatologi, yang kesemuanya
menunjukkan bahwa ke dua benua tersebut pernah menjadi
satu.
Kesesuaian kontinen. Dengan memperhatikan adanya
kesamaan garis pantai antara dua benua yang saling
berseberangan, Wegener memperkirakan bahwa pada
mulanya semua daratan merupakan suatu kesatuan.
Pernyataan tersebut ditentang oleh beberapa ilmuwan lainya
yang mengatakan bahwa kawasan pantai merupakan kawasan
yang sangat dinamik, sehingga selalu mengalami perubahan
oleh proses-proses alam yang terus berlangsung. Sir Edward
Bullard dan kawan-kawan pada tahun 1960 membuktikan
tentang adanya kesesuaian antara Amerika Selatan dan Afrika
dengan peta yang digambar dengan bantuan komputer yang
datanya diambil dari kedalaman 900 meter di bawah muka
laut. Seperti terlihat pada gambar 2, meskipun di beberapa
tempat terlihat adanya tumpah tindih, kejadian ini lebih
disebabkan karena adanya sedimentasi yang dilakukan oleh
sungai-sungai yang bermuara di tempat tersebut.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.93

Gambar 1. Superkontinen Pangaea. Bagian di utara ekuator


disebut benua Laurasia, Sedang di selatan ekuator disebut
benua Gondwana.

Bukti-bukti fosil. Untuk lebih meyakinkan mengenai


kesatuan benua ini, Wegener mempelajari beberapa literatur
mengenai kehidupan yang pernah ada pada benua-benua
tersebut, dan mendapatkan bahwa para ahli paleontologi
sependapat bahwa bukti adanya kesatuan kontinen harus
ditunjang dengan kesamaan kehidupan yang ditunjukkan
dengan fosil. Fosil yang sama akan menunjukkan kesamaan
kehidupan pada tempat-tempat yang terpisahkan tersebut. Ada
beberapa fosil yang pernah diajukan oleh Wegener untuk
mendukung teorinya tersebut. Fosil yang pertama adalah fosil
tumbuhan Glossopteris, yang ditemukan menyebar secara
luas di benua-benua bagian selatan seperti Australia, Afrika
dan Amerika Selatan. Fosil ini berumur Mesozoikum. Fosil
tersebut kemudian ditemukan juga di Antartika. Fosil reptilia
Mesosaurus yang ditemukan di Amerika Selatan bagian
timur, ditemukan juga di Afrika bagian barat (Gambar 3)

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.94

Gambar 2. Kesesuaian bentuk antara benua


Afrika dengan Amerika Selatan

Kesamaan tipe dan struktur batuan. Contoh kesamaan


batuan yang ditemukan adalah busur pegunungan Applachian
yang berarah Timurlaut dan memanjang sampai ke bagian
Timur Amerika Serikat, yang tiba-tiba menghilang di daerah
pantai Newfoundland. Pegunungan yang mempunyai umur
dan struktur yang sama dengan pegunungan di atas,
ditemukan juga di Greenland dan Eropa Utara. Jika ke dua
benua tersebut disatukan kembali, maka ke dua pegunungan
tersebut juga akan bersatu menjadi suatu rangkaian
pegunungan yang menyambung. (Gambar 4).

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.95

Gambar 3. Dijumpai fosil yang sama pada Benua Afrika


dan Amerika Selatan

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.96

Gambar 4. Kesamaan batuan dan struktur


pegunungan di Amerika Timur dan Eropa Utara

Paleoklimatologi. Dari hasil penelitiannya, Wegener


menemukan bahwa pada akhir Paleozoikum, sebagian besar
daerah di belahan bumi bagian selatan telah ditutupi oleh
lempengan-lempengan es yang tebal. Daerah-daerah tersebut
adalah Afrika Selatan, Amerika Selatan, India dan Australia.
Wegener juga menemukan bukti bahwa pada saat yang sama
(Paleozoikum Akhir), daerah di sekitar 30o di dekat
khatulistiwa yang beriklim tropik dan subtropik juga ditutupi
oleh es
Berdasarkan kenyatan-kenyataan tersebut, maka
Wegener menyimpulkan bahwa dulunya semua daratan di
bagian selatan bumi telah ditutupi oleh es. Kemudian secara
perlahan-lahan sebagian massa benua di bagian tersebut
bergerak ke arah utara, yaitu khatulistiwa. Hal ini terbukti
karena adanya lapisan es yang ditemukan disekitar
khatulistiwa. Wegener menyimpulkan hal ini karena secara
logika tidak mungkin terbentuk lapisan es yang tebal dan luas
di daerah khatulistiwa yang diketahui beriklim tropik dan
subtropik.
Meskipun Wegener telah menunjukkan bukti-bukti
mengenai teori pengapungan benua ini, tetapi masih banyak
para ahli yang belum bisa menerimanya. Perdebatan sengit
terjadi terutama sejak tahun 1924 hingga tahun 1930. Banyak
kritikan dan keberatan yang diajukan oleh para ahli untuk
menentang teori yang dikemukakan oleh Albert Wegener
tersebut. Salah satu keberatan yang paling utama tentang teori
ini adalah tidak mampunya Wegener untuk menjelaskan atau
menggambarkan bagaimana mekanisme dari proses
pengapungan benua ini. Untuk menjawab kritikan tersebut,
Wegener mengajukan dua usulan tentang kemungkinan
sumber enerji yang menjadi penyebab terjadinya pengapungan
benua. Salah satunya adalah pasang-surut, yang oleh Wegener
dianggap mampu untuk menyebabkan terjadinya pergerakan
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.97

pada benua-benua. Tetapi seorang ahli fisika yang bernama


Harold Jeffreys dengan cepat menentang argumen tersebut,
dengan mengajukan alasan bahwa pergeseran pasang-surut
yang besar yang diperlukan untuk memindah tempatkan
benua tentu saja akan menyebabkan terhentinya proses rotasi
bumi hanya beberapa tahun saja.
Kemudian Wegener juga mengajukan usulan kedua,
yaitu bahwa sebuah kontinen yang besar dan luas akan
mampu untuk memecahkan lempeng samudera menjadi
pecahan-pecahan yang lebih kecil, seperti es yang terpotongpotong. Tetapi tidak ada bukti yang memuaskan yang mampu
untuk menjelaskan apakah kerak atau lantai dasar samudera
cukup lemah untuk mampu dipecahkan oleh kontinen tanpa
menyebabkan terjadi deformasi pada kontinen maupun kerak
samudera itu sendiri. Sampai tahun 1929, tentangan-tentangan
yang diterima Wegener sudah sangat gencar dan datang dari
berbagai ahli di berbagai tempat. Untuk menjawab tentangan
tersebut Wegener menyelesaikan edisi ke empat sekaligus
edisi terakhir dari bukunya yang secara khusus memuat dasardasar hipotesisnya yang ditambah dengan berbagai bukti
untuk mendukung hipotesisnya tersebut.
TEORI TEKTONIK LEMPENG
Beberapa tahun setelah Wegener mengajukan
teorinya, berbagai perkembangan teknologi yang sangat cepat
menyebabkan mampunya dilakukan pemetaan lantai dasar
samudera, serta ditemukannya data-data yang banyak tentang
aktivitas seismik dan medan magnit bumi. Perkembangan
ilmu dan teknologi yang sedemikian pesatnya, sehingga pada
tahun 1968 muncullah teori baru yang diharapkan dapat lebih
memuaskan daripada teori pengapungan benua dari Albert
Wegener. Teori baru tersebut yang pada dasarnya adalah
pengembangan dari teori pengapungan benua dinamakan teori
tektonik lempeng.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.98

Teori tektonik lempeng menyatakan bahwa bagian


terluar dari bumi yaitu kerak bumi, disusun oleh segmensegmen yang padat yang disebut lempeng yang jumlahnya 20
segmen. Dari kesemuanya itu yang terbesar adalah lempeng
Pasifik, yang menempati sebagian besar lautan kecuali pada
sebagian kecil Amerika Utara yang meliputi Kalifornia bagian
baratdaya dan Semenanjung Baja. Pada gambar 5 terlihat
bahwa semua lempeng besar lainnya dapat berupa kerak
benua (kontinen), maupun kerak samudera. Sedangkan
lempeng-lempeng yang lebih kecil umumnya hanya sebagai
kerak samudera. Contohnya lempeng Nazca yang terdapat di
lepas pantai barat Amerika Selatan. Juga sebuah lempeng
kecil dekat Turki yang letaknya pada lempeng kontinen
walaupun tidak terlihat pada gambar karena kecilnya.
Kerak bumi terletak di atas zona atau material yang
sifatnya lebih lemah dan lebih panas, yang disebut astenosfer.
Astenosfer merupkan bagian teruar dari mantel bumi. Dengan
demikian lempeng-lempeng kerak bumi yang sifatnya lebih
padat di dasari oleh material yang lebih plastis. Nampaknya
ada hubungan antara ketebalan dari lempeng-lempeng kerak
bumi dengan material penyusun lempeng tersebut. Lempenglempeng samudera mempunyai variasi ketebalan antara 80
sampai 100 kilometer. Sedangkan lempeng kontinen atau
benua mempunyai ketebalan 100 kilometer atau lebih bahkan
di beberapa tempat mempunyai ketebalan sampai 400
kilometer.
Salah satu prinsip utama dari teori tektonik lempeng
adalah bahwa setiap lempeng bergerak-gerak sebagai suatu
unit segmen terhadap unit segmen lainnya. Jika sebuah
lempeng bergerak, maka jarak antara dua tempat yang berada
pada sebuah lempeng akan tetap sama. Sedangkan jarak dua
tempat yang terletak pada dua lempeng yang berbeda akan
berubah. Karena setiap lempeng bergerak sebagai suatu unit,
maka banyak interaksi yang dapat terjadi antara satu lempeng
dengan lempeng yang lainnya di sepanjang batas antara
lempeng-lempeng tersebut. Berdasarkan hal inilah, maka
sebagian besar aktivitas seismik, gunungapi, dan
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.99

pembentukan pegunungan terjadi di sepanjang batas-batas


yang dinamis tersebut.
BATAS-BATAS
KERAKBUMI

ANTARA

LEMPENG-LEMPENG

Ada tiga macam batas antara lempeng-lempeng


penjusun kerak bumi, yang masing-masing dibedakan dari
jenis pergerakannya (Gambar 6), yaitu:
1. Batas-batas divergen, dimana lempeng-lempeng yag
saling bersentuhan bergerak saling menjauh, yang
menyebabkan naiknya material yang menyusun
mantel bumi bagian paling atas (astenosfer) dan
membentuk kerak yang baru. Batas semacam ini
biasanya terbentuk antara kerak samudera dan kerak
samudera.
2. Batas-batas yang konvergen, dimana lempenglempeng bersentuhan bergerak saling mendekati, yang
menyebabkan salah satu lempeng akan masuk ke
dalam mantel bumi dan berada di bawah lempeng
yang lain.
3. Batas-batas patahan transform (transform fault),
dimana lempeng-lempeng yang saling bersentuhan
bergerak saling bergesekan tanpa menyebabkan
terjadinya kehancuran pada lempeng-lempeng yang
bersangkutan.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.100

Gambar 5. Peta yang menunjukkan tujuh lempeng


utama dan beberapa lempeng yang kecil
Batas-batas divergen
Batas-batas lempeng yang saling menjauh (divergen)
dapat ditemukan di daerah pematang tengah lantai dasar
samudera (mid oceanic ridges). Di daerah ini, pada saat ke
dua lempeng bergerak saling menjauh dari sumbu pematang
tersebut, maka celah yang terbentuk akan diisi dengan cepat
oleh material yang naik dari lapisan astenosfer. Material ini
perlahan-lahan akan menjadi dingin dan membentuk lantai
dasar samudera yang baru. Mekanisme pembentukan lantai
dasar samudera yang baru ini, seperti yang membentuk lantai
dasar Samudera Atlantik sekitar 165 juta tahun yang lalu,
disebut pemekaran lantai dasar samudera (sea floor
spreading). Tingkat pemekaran pada pematang samudera ini
diperkirakan sekitar 2 sampai 10 centimeter per tahun, dan
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.101

rata-rata 6 centimeter per tahun. Karena batuan yang baru


terbentuk jumlahnya sama di kedua sisi lempeng yang saling
menjauh tersebut, maka tingkat pertumbuhan dari lantai dasar
samudera adalah dua kali dari nilai tingkat pemekarannya.
Jika pusat pemekaran terdapat atau terjadi pada
lempeng kontinen, maka massa lempeng kontinen akan
terpecah-pecah menjadi segmen-segmen yang lebih kecil.
Fragmentasi lempeng kontinen ini disebabkan oleh adanya
pergerakan ke atas dari magma yang panas yang berada di
bawahnya. Akibat dari aktivitas ini adalah melengkungnya
kerak kontinen ke atas di bagian yang diterobos oleh magma
tersebut. Proses tersebut disertai dengan timbulnya retakanretakan di bagian tersebut seperti yang terlihat pada gambar
7A. Kemudian bagian kerak bumi yang terpecah-pecah
tersebut akan tertarik secara lateral ke arah yang berlawanan.
Selanjutnya bagian yang terpecah-pecah tersebut akan jatuh
menggelincir ke bawah (gambar 7.B). Lembah patahan turun
yang berskala besar yang disebabkan oleh proses tersebut
selanjutnya disebut celah (rift) atau lembah celah (rift valley).
Lembah celah ini akan menjadi bertambah panjang dan dalam
dan lama-kelamaan akan berhubungan dengan lautan. Kondisi
ini akan membentuk laut yang memanjang dengan celah yang
berhubungan dengan laut (gambar 7C). Zona pemekaran akan
tetap merupakan tempat aktivitas magma dan terus
membentuk lantai samudera yang baru dan memperluas
cekungan samudera (gambar 7D).

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.102

Pematang
tengah
samudera
dicirikan
oleh
morfologinya yang lebih menonjol dari daerah di sekitarnya,
dan banyaknya gunungapi yangtumbuh pada kerak samudera
yang baru. Pada penelitian yang dilakukan pada pematang
tengah dasar Samudera Atlantik mendapatkan beberapa
gunungapi dengan ketinggian antara 2500 meter sampai 3000
meter dari dasar samudera. Pematang ini memanjang dari
Laut Artik ke selatan sampai batas selatan terjauh dari Afrika.
Pada beberapa tempet, seperta di Islandia, pematang tengah
samudera ini tumbuh di atas muaka air laut. Hal ini
menunjukkan bahwa batas lempeng divergen di tempat
tersebut terletek pada kedalaman kurang dari 2500 meter di
bawah muka air laut.

Gambar 7.A-D
Proses perkembangan pemekaran yang diawali pada kerak
kontinen hingga membentuk cekungan samudera.
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.103

A. Rift valley

B.
Linear sea

C.
mid oceanic ridges

D.

Batas-batas konvergen
Telah diketahui bahwa pada proses pemekaran kerak
bui, akan terbentuk kerak baru. Sedangkan luas total
permukaan bumi haruslah tetap konstan. Dengan demikian
pada bagian lain dari bumi pastilah ada kerak bumi yang rusak
atau hilang. Bagian tersebut adalah bagian dari pergerakan
lempeng-lempeng yag saling mendekat atau konvergen. Jika
dua lempeng bergerak saling mendekati, maka terjadilah
tabrakan atau tumbukan antara ke dua lempeng tersebut.
Akibat tumbukan tersebut menyebabkan bagian ujung dari
salah satu lempeng akan bergerak ke bawah dari lempeng
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.104

yang lainnya. Bagian lempeng yang di bawah akan masuk ke


dalam astenosfer, akibatnya bagian tersebut akan menjadi
panas dan hilang sifat kekakuannya (rigiditasnya).
Penyusupan ini bisa mencapai kedalaman sampai 700
kilometer tergantung pada besarnya sudut kemiringan bagian
yang melengkung ke bawah sebelum bagian ini benar-benar
berasimilasi dengan material astenosfer.
Tumbukan yang terjadi, bisa terjadi antara dua
lempeng atau kerak samudera, antara lempeng samudera
dengan lempeng kontinen, atau antara dua lempeng kontinen
(Gambar 8). Jika terjadi tumbukan antara lempeng kontinen
dengan lempeng samudera, maka lempeng kontinen yang
densitasnya lebih kecil akan berada di bagian atas. Sedangkan
lempeng samudera yang mempunyai densitas lebih besar akan
menyusup ke dalam astenosfer. Bagian dimana terjadi proses
tersebut disebut zona subduksi (subduction zone). Karena
lempeng samudera menyusup ke bawah, maka lempeng ini
akan melengkung dan membentuk palung laut dalam
(trench) yang berbatasan dengan zona subduksi. Palung laut
yang terbentuk di daerah ini bisa mencapai panjang ribuan
kilometer, sedang dalamnya antara 6 sampai 11 kilometer.
Tumbukan antara lempeng Kontinen dan lempeng
Samudera
Sudut kemiringan lempeng samudera yang menyusup
ke dalam astenosfer umumnya sebesar 45o atau lebih.
Lempeng samudera ini bersama-sama dengan material
sedimen serta cairan-cairan yang dikandungnya akan larut dan
bersatu dengan cairan penyusun astenosfer yang panas.
Magma baru yang terbentuk dari proses ini densitasnya lebih
kecil daripada densitas material di sekitarnya, yaitu densitas
material penyusun astenosfer. Akibatnya jika jumlah magma
baru ini sudah jenuh, maka magma baru ini akan naik secara
perlahan. Sebagian besar magma yang naik ini akan sampai ke
bagian atas dari kerak kontinen yang akan mendingin dan
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.105

mengkristal pada kedalaman beberapa kilometer. Sedangkan


sisanya akan terus sampai ke permukaan bumi dan kadangkadang membentuk erupsi gununapi yang eksplosif.
Pegunungan volkanik Andes merupakan pegunungan yang
terbentuk oleh proses ini, dimana lempeng Nazca mengalami
peleburan pada saat menunjam di bawah lempeng kontinen
Amerika Selatan. Tingginya frekuensi gempa bumi di daerah
Pegunungan Andes merupakan bukti dari proses ini.
Pegunungan yang terbentuk akibat asosiasi aktivitas volkanik
dan proses subduksi disebut busur volkanik (volcanic arc).
Tumbukan antara lempeng samudera dengan lempeng
samudera.
Pada saat dua buah lempeng samudera saling
bertumbukan, maka salah satu lempeng akan menunjam di
bawah yang lainnya. Proses ini diikuti juga dengan terjadinya
aktivitas gunungapi seperti pada proses tumbukan antara
lempeng samudera dengan lempeng kontinen. Tetapi pada
kasus ini aktivitas volkanik akan terjadi pada lantai dasar
samudera, bukan di daerah lempeng kontinen. Jika aktivitas
volkanik ini terjadi terus menerus, maka sebuah benua baru
akan muncul dari laut dalam. Pada tahap awal dari proses ini
benua baru yang terbentuk tersebut akan terdiri atas jajaran
kepulauan volkanik yang kecil, yang disebut busur
kepulauan (island arc). Busur kepulauan ini umumnya
terletak sekitar beberapa ratus kilometer palung laut dalam,
dimana aktivitas penujaman terjadi.
Tumbukan antara lempeng kontinen dengan lempeng
kontinen.
Tumbukan antara lempeng kontinen dengan lempeng
kontinen dspst dilihst pada gambar 6C. Contoh kasus
semacam ini adalah tumbukan antara lempeng kontinen India
yang membentur lempeng benua Asia dan membentuk
Pegunungan Himalaya. Pegunungan ini merupakan
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.106

pegunungan yang terbesar dan terluas di dunia. Pada saat


terjadi tumbukan seperti ini, maka lempeng kontinen akan
tertekuk dan terpecah-pecah, serta umumnya akan menjadi
lebih pendek.
Batas-batas Patahan Transform
Tipe ke tiga dari batas-batas lempeng adalah patahan
transform. Pada batas ini lempeng-lempeng yang saling
bersentuhan akan bergesekan satu dengan lainnya tanpa
menyebabkan terbentuknya lempeng atau kerak yang baru,
seperti yang terjadi pemekaran lantai dasar samudera, dan
juga tidak mengakibatkan rusaknya lempeng seperti yang
terjadi pada batas yang konvergen.

Gambar 8. Pertemuan konvergen antara lempenglempeng penyusun kerak bumi.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.107

Istilah patahan transform ini pertama kali diusulkan


oleh J. Tuzo Wilson dari Universitas Toronto pada tahun
1065. Wilson mengatakan bahwa retakan yang besar ini
bersama-sama dengan proses konvergen dan divergen
merupakan suatu rangkaian proses yang terus menerus yang
membagi-bagi kerak bumi menjadi beberapa lempeng yang
padat dan terpisah-pisah. Hubungan antara proses-proses
tersebut digambarkan dengan jelas pada gambar 9.
Wilson menggunakan istilah yang khusus pada
patahan ini yaitu patahan transform, karena pergerakan relatif
dari lempeng-lempeng tersebut dapat berubah atau
tertransformasi satu dengan lainnya. Seperti telah
diperlihatkan atau dijelaskan sebelumnya pada contoh
terdahulu, bahwa proses divergen yang terjadi pada pusat
pemekaran lantai dasar samudera dapat berubah atau
tertransformasi menjadi proses konvergen pada zona
subduksi. Sebagian besar patahan transform terjadi pada kerak
samudera, tetapi ada juga sedikit yang terjadi pada kerak
kontinen, seperti pada patahan San Andreas di Kalifornia
Amerika Serikat.

Gambar 9. Aktivitas patahan transform yang


menyebabkan pergeseran antara lempeng-lempeng
yag saling berbatasan
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.108

PENGUJIAN MODEL TEORI TEKTONIK LEMPENG


Beberapa
bukti
yang
mendukung
konsep
pengapungan benua dan pemekaran lantai dasar samudera
telah dijelaskan sbelumnya. Berikut ini akan diuraikan buktibukti lainnya untuk lebih mendukung konsep tersebut. Pada
umumnya bukti-bukti berikut ini beukanlah bukti-bukti dari
data yang baru, tetapi merupakan hasil interpretasi baru dari
data yang lama.
Tektonik Lempeng dan Paleomagnetisme
Sebagian besar bukti atau data yang digunakan oleh
para ahli geologi untuk menjelskan teori tektonik lempeng
berasal dari hasil studi medan magnit bumi. Seperti yang telah
diketahui sebelumnya bahwa medna magnit mempunyai dua
kutub yaitu kutub utara dan kutub selatan.
Teknikyang digunakanuntuk mempelajari medan
magnit bumi purba didasarkan pada fakta bahwa setiap jenbis
batuan mengandung mineral-mineral yang bersifat sebagai
fosil kompas. Mineral-mineral semacam ini adalah mineralmineral yang kaya akan unsur besi seperti magnetit, yang
banyak terdapat pada batuanhasil aliran lava yang bersifat
basaltik. Jika mineral-mineral magnetit ini mengalami
pemanasan sampai melewati temperatur tertentu yang disebut
titik Curie, maka mineral-mineral tersebut akan kehilangan
sifat kemagnitannya. Tetapi jika mineral-mineral yang kaya
akan unsur besi ini mengalami pendinginan sampai di bawah
titik Curie (sekitar 580oC), maka mineral-mineral tersebut
akan mempunyai sifat kemagnitan yang arahnya sejajar
dengan medan magnit bumi. Satu kali mineral tersebut
mengalami pembekuan, sifat kemagnitannya akan tetap
berada pada posisi awal. Sifat kemagnitannya akan sama
dengan jarum magnit pada kompas yang menunjuk ke arah
kutub-kutub magnitnya. Jika batuan mengalami pergerakan
atau deformasi, atau kutub-kutub magnitnya mengalami
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.109

perubahan posisi, sifat atau arah magnit dari batuan tersebut


akan tetap searah dengan arah awal ketika batuan tersebut
terbentuk. Dengan demikian batuan yang terbentuk ribuan
atau bahkanjutaan tahun yang lalu, akan tetap memiliki arah
kutub magnit yang sama dengan arah kutub magnit pada saat
batuan tersebut terbentuk. Arah kutub magnit awal ini disebut
fosil magnit atau paleomagnetik.
Penyimpangan Kutub
Suatu studi yang dilakukan pada aliran lava di Eropa
pada tahun 1950-an menghasilkan suatu penemuan baru yang
sangat menarik. Pelurusan pola-pola kemagnitan dari mineralmineral besi yang terkandung di dalam aliran lava ini
menunjukkan umur yang berbeda-beda pada beberapa tempat
yang berlainan. Hasil pemetaan arah kutub utara magnit yang
dihubungkan dengan waktu, menunjukkan bahwa sejak 500
juta tahun lalu posisi kutub utara magnit bumi secara bertahap
mengalami perubahan atau penyimpangan dari posisi awalnya
di bagian utara. Pada awalnya posisi kutub utara magnit bumi
berada di Hawaii,kemudian berubah ke arah timur yaitu di
Siberia, dan terakhir mengalami perubahan lagi hingga ke
posisinya yang sekarang ini. Hal ini jelas membuktikan bahwa
kutub-kutub magnit bumi telah mengalai migrasi sejalan
dengan perjalanan waktu, atau dapat uga dikatakan bahwa
benua atau daratan telah megalami perpindahan perlahanlahan karena pengapungan. Konsep ini disebut konsep
penyimpangan kutub.
Walaupun arah kutub magnit dapat mengalami
perubahan, tetapi perubahannya tidak terlau jauh menyimpang
dari arah kutub geografi. Sedangkan seperti yang telah
diketahui bahwa kutub-kutub magnit bumi sifatnya tetap.
Dengan demikian penjelasan yang paling bisa diterima untuk
menjelaskan terjadinya penyimpangan atau perubahan kutub
adalah konsep tektonik lempeng.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.110

Penemuan bukti berikutnya yag dapat menjelaskan


mengenai teori tektonik lempeng ditemukan beberapa tahun
kemudian, yaitu dengan digambarkannya peta penyimpangan
kutub untuk daerah Amerika Utara. Ternyata pola kurva
penyimpangan kutub untuk daerah Amerika Utara sama
dengan pola kurva untuk Eropa, hanya posisinya yang
terpisah sejauh 30o dari garis bujur. Dengan demikian dapat
dijelaskan bahwa kedua daerah tersebut dulunya merupakan
suatu kesatuan, tetapi kemudian mengalami pemisahan yang
menyebabkan terbentuknya samudera Atlantik.
Pembalikan sifat Kemagnitan Bumi.
Hasil penelitian para ahli geofisika juga menunjukkan
bahwa medan magnit bumi pada suatu saat dapat mengalami
pembalikan kutub,yaitu kutub utara magnit bumi dapat
berpindah tempat ke kutub selatan dan atau sebaliknya, kutub
selatan menjadi kutub utara dan seterusnya. Batuan yang
membeku selama periode pembalikan kutub sedang
berlangsung akan mempunyai arah medan magnit yang
berlawanan arah dengan batuan yang terbentuk sekarang. Jika
suatu batuan mempunyai arah medan magnit yang sama
dengan medan magnit sekarang, maka disebut medan magnit
yang berkutub normal, sedangkan jika sebaliknya disebut
berkutub terbalik.
Adanya hubungan yang penting antara pe,balikan
sifat kemagnitan dengan hipotesis pemekaran lantai dasar
samudera telah ditemukan oleh para ahli melalui data-data
yang diperoleh dengan menggunakan sebuah alat yag sangat
sensitif yang disebut magnetometer. Alat tersebut telah
digunakan untuk melakukan penelitian di pantai barat
Amerika Serikat. Dengan menggunakan alat tersebut, Fred
Vine dan D.H. Matthews menemukan adanya bidang-bidang
yang mempunyai intensitas kemagnitan yang tinggi dan
rendah yag terdapat bersama-sama di lantai dasar samudera.
Keduanya kemudian menyimpulkan bahwa daerah dengan
intensitas kemagnitan yang tinggi merupakan kerak samudera
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.111

dengan paleomagnetik normal. Dengan demikian sifat


kemagnitannya bernilai positif atau medan magnitnya tinggi.
Sebaliknya daerah yang intensitas kemagnitannya rendah
merupakan daerah kerak samudera dengan kutub magnit yang
terbalik. Jadi mempunyai medan magnit yag rendah.
Pertanyaan yang timbul adalah mengapa medan magnit yang
normal dan terbalik bisa terdapat bersama-sama dalam
keadaan sejajar pada satu tempat yang sama (lantai dasar
samudera)?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut Vine dan
Matthews memberikan argumentasinya bahwa di daerah
pematang tengah samudera telah muncul magma baru yang
berkomposisi basalt dan menyebabkan bertambah luasnya
lantai dasar samudera. Magma yang baru ini akan mempunyai
sifat kemagnitan tertentu yang tergantung pada medan magnit
yang ada pada waktu itu. Karena batuan atau magma baru
akan bertambah dengan jumlah yang sama pada ke dua sisi
lempeng yang mengalami pemekaran, maka tentu saja akan
terbentuk bidang-bidang yang mempunyai bentuk dan kutub
magnit yan sejajar dengan ke dua sisi pematang samudera
tersebut. Dalam hal ini, bidang-bidang yang kemagnitannya
normal dan terbalik akan berada pada posisi yang berlawanan,
yang satu merupakan pencerminan dari yang lainnya, dan
pematang samudera merupakan bidang pencerminannya.
Penjelasan tersebut merupakan bukti yang kuat dan masuk
akal, yang sekaligus memperkuat eksistensi dari konsep
pemekaran lantai dasar samudera.
Tektonik Lempeng dan Gempabumi
Adanya hubungan antara tektonik lempeng dengan
gempabumi telah digambarkan dengan jelas oleh tiga orang
ahli seismologi dari Lamont-Doherty Observatory, yaitu B.
Isaacks, J. Oliver dan L.R. Sykes. Ke tiga ahli seismologi
tersebut membuat peta yang memuat distribusi pusat-pusat
gempa di seluruh dunia. Pada peta tersebut terlihat bahwa
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.112

distribusi pusat-pusat gempabumi sangat berhubungan dengan


lokasi-lokasi palung laut dalam. Sebagai contoh adalah
distribusi pusat gempa di sekitar Jepang yang berbatasan
dengan palung laut dalam di bagian timurnya. Di bagian
tersebut pusat-pusat gempa dangkal berada atau berbatasan
dengan palung laut, sedangkan pusat gempa menengah dan
dalam terdistribusi di daerah kerak kontinen. Pola penyebaran
yang serupa juga ditemukan di pantai barat Amerika Selatan.
Pusat gempa yang dangkal akan terbentuk di bagian
sisi luar palung, serta dapat juga terbentuk di bagian lempeng
yang menekuk di zona subduksi. Pada saat lempeng yang
tertekuk ini semakin dalam menunjam ke dalam astenosfer,
maka pusat gempa akan menjadi semakin dalam juga. Karena
gempabumi terjadi pada litosfer yang bersifat padat dan bukan
di daerah astenosfer yang bersifat mobil (mudah bergerak),
maka kenyataan ini dapat digunakan sebagai petunjuk untuk
mengetahui sejauh mana suatu lempeng masuk ke dalam
astenosfer. Sangat sedikit gempabumi yang terekam pada
kedalaman lebih dari 700 kilometer. Hal ini disebabkan
kemungkinan karena pada kedalaman tersebut, kerakbumi
yang menunjam ke astenosfer telah berasimilasi dengan
material penyusun mantel bumi.
Teori tektonik lempeng juga dapat menjelaskan
mengapa pusat gempa yang dalam selalu berada pada lokasi
yang berbatasan dengan palung laut (zona subduksi),
sedangkan gempa yang terjadi di sepanjang zona divergen dan
patahan transform hanya merupakan pusat gempa yang
dangkal. Mengingat gempabumi merupakan hasil pelepasan
tegangan yang kuat, yang hanya dapat terjadi pada material
yang kaku (rigid) seperti pada kerak bumi, dan karena zona
subduksi merupakan satu-satunya daerah dimana terjadi
tegangan yang kuat dari material yang kaku di daerah yang
dalam, maka daerah ini merupakan tempat satu-satunya
dimana gempabumi dengan pusat gempa yang dalam dapat
terjadi. Sebenarnya tidak ditemukannya pusat gempabumi
dalam di sepanjang zona divergen dan patahan transform juga

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.113

juga sudah dapat menjelaskan kebenaran teori tektonik


lempeng.
Bukti-bukti dari hasil pemboran di laut dalam
Sebagian data yang ditemukan untuk menjelaskan
kebenaran teori tektonik lempeng diperoleh juga dari hasil
pemboran yang dilakukan pada endapan sedimen laut dalam.
Salah satu kegunaan dari proyek ini adalah untuk menentukan
umur pembentukan lantai dasar samudera. Penentuan umur ini
dilakukan
dengan
menghubungkan
atau
menyebamdingkannya dengan umur fosil yang dijumpai di
dalam material sedimen yang terdapat pada lantai dasar
samudera tersebut. Dari hasil penelitian ini disimpulkan
bahwa umur dari cekungan samudera secara geologis
termasuk berumur relatif muda. Hal ini disimpulkan setelah
diketahui bahwa umur material sedimen tida ada yang lebih
dari 180 juta tahun. Sebagai perbandingan, bila dilihat bahwa
umur kerak benua dari hasil penanggalan radiometri adalah
lebih dari 3,8 milyar tahun.
Kegunaan lainnya ialah untuk menentukan keteblan
sedimen laut dalam. Dari hasil pemboran diketahui bahwa di
daerah puncak pematang tengah samudera hampir tidak ada
atau tidak ditemukan material sedimen yang terendapkan.
Sedangkan sedimen ini semakin banyak dan semakin tebal ke
arah yang lebih jauh dari pematang tersebut. Hal ini
dikarenakan puncak pematang tengah samudera umurnya
lebih muda atau terbentuk paling akhir daripada daerah di
sekitarnya. Penjelasan ini juga semakin memperkuat
kebenaran dari teori tektonik lempeng.
Bintik-Bintik Panas (Hot spots)
Bukti yang lain untuk menjelaskan teori tektonik
lempeng diteukan setelah dilakukan pemetaan pegunungan
pada lantai dasar samudera (seamounts) di daerah pasifik. Di
daerah ini ditemukan suatu rangkaian struktur gunungapi yang
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.114

memanjang mulai dari Kepulauan Hawaii terus ke Kepulauan


Midway, dan berlanjut terus ke utara sampai di Palung
Aleutian. Setelah dilakukan penanggalan potasium-argon pada
27 satuan batuan volkanik pada rangkaian peguungantersebut,
ditemukan adanya penambahan umur yang bertambah sejalan
dengan pertambahan jarak dari Hawaii. Gunung Suiko yang
terletak dekat palung Aleutian berumur 65 juta tahun,
Kepulauan Midway berumur 27 juta tahun, sedangkan
Kepulauan Hawaii umurnya kurang dari 1 juta tahun.
Para peneliti berkesimpulan bahwa pada zona mantel
bumi terdapat bintik-bintik panas (hot spot) yang kemudian
menyebabkan terpancarnya magma ke atas ke daerah lantai
dasar samudera. Diperkirakan bahwa pada saat lempeng
Pasifik bergerak di atas bintik panas ini, maka di daerah
tersebut akan muncul atau tumbuh gunungapi yang baru.
PANGAEA (SUPERKONINEN)
Robert Dietz dan John Holdentelah mencoba untuk
merenkonstruksi kembali bagaimana keadaan yang
sebenarnya dari proses migrasi besar-besaran yang pernah
dialami oleh benua-benua selama lebih dari 500 uta tahun.
Dengan mengekstrapolasikan kembali pergerakan lempenglempeng tektonik penyusun kerak bumi yang dihubungkan
dengan perjalanan waktu, dan dibantu oleh data-data seperti
orientasi struktur gunungapi, distribusi dan pergerakan
patahan transform, serta paleomagnetisme, Dietz dan Holden
telah berhasil merekonstruksi kembali super kontinen
Pangaea. Dengan menggunakan data penanggalan radiometri,
ke dua ahli tersebut juga dapat menentukan kapan Pangaea ini
mulai terbentuk dan kapan mulai mengalami fragmentasi
(terpecah-pecah). Kemudian berdasarkan data-data posisi
relatif dari bintik-bintikpanas (hot spots), mereka dapat juga
menemukan lokasi yang tepat dari setiap kontinen.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.115

Sebelum Pangaea
Sebelum Pangaea terbentuk, kemungkinan benuabenua yang ada sebelumnya telah mengalami berbagai
periode fragmentasi yang sama dengan yang telah kita ketahui
sekarang ini. Kontinen-kontinen purba tersebut dulu telah
bergerak saling menjauh satu dengan lainnya, untuk kemudian
bertumbukan kembali di tempat yang berbeda. Selama periode
antara 500 sampai 225 juta tahun lalu, fragmen-fragmen yang
sebelumnya telah menyebar mulai menyatu kembali
membentuk Pangaea. Bukti dari adanya tumbukan awal ini
meliputi terbentuknya pegunungan Ural di Asia Baratlaut
(Rusia) dan Pegunungan Appalachian di Amerika Utara.
Terpecah-pecahnya Pangaea.
Pangaea mulai terpecah-pecah sekitar 200 juta tahun
lalu. Gambar 8 menggambarkan proses fragmentasi ini yag
diikuti oleh jalur-jalur pergerakan dari setiap benua. Seperti
terlihat jelas pada gambar 8A, terdapat dua buah celah besar
yang terjadi akibat fragmentasi ini. Celah besar antara
Amerika Utara dan Afrika menyebabkan munculnya batuan
beku basalt yang berumur Trias secara besar-besaran di
sepanjang pantai Timur Amerika Serikat. Penanggalan
radiometri pada batuan beku basalt ini menunjukkan bahwa
celah tersebut terbentuk antara 200 sampai 165 juta tahun lalu.
Waktu tersebut sekaligus dapat juga digunakan sebagai waktu
terbentuknya Samudera Atlantik Utara. Celah yang terbentuk
di bagian selatan Gondwana berbentuk huruf Y, yang
menyebabkan berpindahnya lempeng India ke bagian utara
dan sekaligus memisahkan Amerika Selatan-Afrika dari
Australia dan Antartika.
Gambar 8B menunjukkan posisi kontinen pada sekitar
135 juta tahun lalu pada waktu Afrika dan Amerika Selatan
mulai memisahkan diri dari Atlantik Selatan. Pada saat itu
India sudah berada separuh jalan menuju Asia, dan bagian
selatan dari Atlantik Utara telah mulai melebar. Pada Kapur
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.116

Akhir atau sekitar 55 juta tahun yang lalu, Madagaskar telah


tersah dari Afrika, dan Atlantik Selatan telah berubah menjadi
laut terbuka.
Keadaan Kontinen-Kontinen di Masa Datang
Setelah melakukan rekonstruksi keadaan bumi sekitar
500 juta tahun lalu, Dietz dan Holden kemudian mencoba
untuk memprediksi keadaan bumi di masa yang akan datang.
Gambar 9 menunjukkan hasil dari prediksi yang dilakukan
oleh ke dua ahli tersebut bagaimana keadaan bumi sekitar 50
tahun yang akan datang. Perubahan penting terjadi pada
lempeng benua Afrika, dimana sebuah lautan baru akan
terbentuk akibat terpisahnya Afrika bagian Timur dari benua
utama Afrika. Di Amerika Utara terlihat bahwa semenanjung
Baja dan bagian selatan Kalifornia yang terletak di sebelah
barat Sesar San Andreas, telah tergeser melewati lempeng
Amerika Utara tersebut. Jika pergerakan ke arah utara ini
betul-betul terjadi sesuai seperti yang diperkirakan, maka Los
Angeles dan San Fransisco akan saling melewati satu terhadap
lainnya.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.117

Gambar 8.
Beberapa kenampakan terpecahnya Pangaea
pada periode sekitar lebihdari 200juta tahun

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.118

Gambar 9. Kenampakan permukaan bumi sekitar 50


tahun yang akan datang.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.119

MEKANISME PERGERAKAN KONTINEN


Distribusi panas yang tidak merata yang terdapat di
dalam bumi telah disepakati oleh para ahli sebagai penyebab
utama terjadinya pergerakan lempeng-lempeng tektonik
penyusun kerak bumi. Distribusi panas yang tidak merata
inilah yang menyebabkan terjadinya arus konveksi yang besar
di dalam mantel bumi (Gambar 10).
Material yang panas dan densitasnya lebih kecil yang
berasal dari mantel bumi bagian bawah, secara perlahan-lahan
akan bergerak naik ke atas mendekati kerak bumi di daerah
pematang tengah samudera. Pada saat material ini menyebar
secara lateral, temperaturnya akan turun dan densitasnya akan
bertambah besar. Setelah itu material tersebut akan turun
kembali ke dalam mantel bumi dan tempeaturnya meningkat
kembali. Dalam proses ini batuan yang sudah terbentuk tidak
perlu untuk mencair lebih dahulu agar dapat terbawa oleh
aliran material mantel bumi. Analogi proses ini dapat dilihat
pada logam padat yang dimasukkan ke dalam cairan yang
panas, dimana logam-logam tersebut dapat berada dalam
cairan panas. Hasil pengukuran yang pernah dilakukan
menunjukkan bahwa di daerah pematang tengah samudera
tingkat aliran panasnya lebih tinggi dibandingkan pada
daerah-daerah lainnya. Hal ini juga meunjukkan bahwa arus
Budi Rochmanto Geologi Dinamik.120

konveksi tidak hanya satu macam saja, tetapi ada beberapa


macam. Sayangnya macam-macam atau jenis-jenis arus
konveksi ini belum diketahui dengan jelas. Beberapa
pertanyaan masih tetap muncul dari hal tersebut. Ada berapa
banyakkah arus konveksi ini? Pada kedalaman berapakah
sebenarnya arus konveksi tersebut berada? Bagaimanakah
struktur yang sebenarnya dari arus konveksi tersebut?
Telah diketahui bahwa lempeng samudera yang
dingin mempunyai densitas yang lebih besar daripada
astenosfer yang berada di bawahnya. Dengan demikian pada
saat lempeng samudera tersebut tertunjam ke bawah karena
sifatnya yang berat, maka bagian belakang kerak bumi
tersebut akan tertarik. Hipotesis ini sama dengan model yang
beranggapan bahwa karena tingginya tempat atau posisi dari
pematang tengah samudera dapat menyebabkan kerak bumi
tergelincir ke bawah akibat pengaruh gravitasi. Model tekantarik inilah yang dengan sendirinya merupakan tipe dari arus
konveksi. Pada sisi lain, material penyusun astenosfer akan
bergerak naik dan mengisi celah yang terbuka akibat proses
pemekaran tersebut.
Versi lain dari model arus konveksi ini menjelaskan
bahwa arus konveksi tersebut berhubungan erat dengan bintik
panas (hot spot) yang terjadi di dalam mantel bumi. Bintikbintik panas tersebut diperkirakan berasal dari daerah
perbatasan antara mantel bumi dan inti bumi. Setelah bintikbintik panas ini bergerak naik dan mencapai litosfer, maka
bintik-bintik panas tersbut akan tersebar secara lateral dan
membawa serta lempeng-lempeng kerak bumi menjauh dari
pusat tempat naiknya bintik-bintik panas tersebut.

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.121

Gambar 10. Beberapa model yang menggambarkan


mekanisme pergerakan

Budi Rochmanto Geologi Dinamik.122