You are on page 1of 11

ANALISIS RESIDU BEBERAPA GOLONGAN ANTIBIOTIKA PADA TELUR

AYAM DI 13 PROVINSI DI INDONESIA
NURHIDAYAH, UNANG PATRIANA, NOVIDA ARIYANI, NINA TRIYULIANTI, ELI
NUGRAHA, MARIA FATIMA PALUPI, AMBARWATI, ROSANA ANITA SARI, DYAH
ARIMBI, DAN EMI RUSMIATY
Unit Uji Farmasetik dan Premiks
Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, Gunungsindur-Bogor 16340
ABSTRAK
Pengkajian residu antibiotika telah dilakukan terhadap 1300 sampel telur ayam yang
diperoleh dari 13 Provinsi di Indonesia. Sampel tersebut diambil dari peternakan ayam
petelur. Pemeriksaan sampel dilakukan secara kualitatif menggunakan metode screening test
dengan bioassay dan secara kuantitatif menggunakan Kromatografi Cair Tingkat Tinggi
(KCKT) untuk mengetahui adanya residu antibiotika. Hasil pemeriksaan screening test
dengan bioassay menunjukkan bahwa terdapat 10 sampel telur ayam (PFT-001, PFT-002,
PFT-003, PFT-005, PFT-006, PFT-007, PFT-009, PFT-023, PFT-024, dan PFT-1221) positif
terhadap residu antibiotika golongan β-laktam (0,77%) dan 8 sampel telur ayam (PFT-1202,
PFT-1203, PFT-1212, PFT-1217, PFT-1218, PFT-1221, PFT-1223 dan PFT-1239)
menunjukkan positif terhadap residu antibiotika golongan tetrasiklin (0,62%). Sampel positif
selanjutnya dikonfirmasi dengan KCKT dan menunjukkan bahwa tidak terdeteksi adanya
residu antibiotika golongan β-laktam dan tetrasiklin atau di bawah batas deteksi (0,01 mg/kg).
Kata kunci: residu antibiotika, telur ayam, bioassay, KTKC
ABSTRACT
The study of antibiotic residues has been conducted on 1300 chicken eggs obtained
from in 13 provinces in Indonesia. The eggs were collected from chicken farms.

The

examination of samples was done qualitatively using a screening test by bioassay and
quantitatively using HPLC (High Performance Liquid Chromatography) techniques to
determine the presence of antibiotic residues. The results of screening test by bioassay
showed that there were 10 samples (PFT-001, PFT-002, PFT-003, PFT-005, PFT-006, PFT007, PFT-009, PFT-023, PFT-024 and PFT-1221) were positive of β-lactam residue (0,77%)
and 8 samples (PFT-1202, PFT-1203, PFT-1212, PFT-1217, PFT-1218, PFT-1221, PFT-

Namun kendala penyakit menjadi salah faktor penting menurunnya produksi ternak. gangguan keseimbangan mikroflora dalam saluran pencernaan. serta golongan makrolida (seperti tilosin. Peningkatan produksi telur penting tidak hanya untuk keuntungan peternak. HPLC PENDAHULUAN Antibiotik adalah senyawa. spiramisin). amoksisilin. Pada tahun 2012 diketahui bahwa terdapat sekitar 553 produk obat antibiotika dan 84 produk imbuhan pakan yang mengandung antibiotik (1). sehingga penggunaan antibiotika tidak dapat dielakkan untuk pengobatan. baik alami maupun sintetis yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme. Namun demikian penggunaan antibiotika dapat menimbulkan terjadinya residu ketika peternak tidak memperhatikan aturan pemakaiannya dan waktu henti obat (withdrawal time) (13) . bioassay. golongan aminoglikosida (seperti gentamisin. chicken eggs. tetapi juga dalam upaya pemenuhan kebutuhan konsumsi telur masyarakat. kerusakan jaringan atau menimbulkan gangguan sistem saraf (7. khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri.11) .1223 dan PFT-1239) were positive tetracycline residue (0. maka pengkajian dilakukan untuk melihat keberadaan residu antibiotika yang terkandung dalam telur ayam di Indonesia. Key words: antibiotic residues. salah satunya adalah peternakan ayam petelur dimana peternak mengharapkan produksi telur yang maksimal. neomisin). seperti reaksi alergi. resistensi. doksisiklin). Konsumsi telur ayam ras pada tahun 2012 sebesar 6. keracunan. golongan tetrasiklin (seperti oksitetrasiklin. ampisilin). Antibiotik banyak digunakan secara insentif dalam bidang peternakan. Mengingat pentingnya hal tersebut di atas.62%). The Positive samples further confirmed by HPLC method and showed that the residues of β-lactam and tetracycline were not detected or below the detection limit (0. . Telur memiliki nilai gizi dan protein yang tinggi yang dibutuhkan oleh tubuh. tilmikosin. Selain itu.518 kg per kapita per tahun dan ayam buras sebesar 2.01 mg/kg).764 butir per kapita per tahun (2) . mengurangi resiko kematian dan mencegah penyebaran penyakit. beberapa antibiotika juga banyak digunakan sebagai imbuhan pakan untuk memacu pertumbuhan dan meningkatkan konversi pakan sehingga meningkatkan produktivitas ternak (10) . Adapun beberapa jenis antibiotik diantaranya yaitu golongan βlaktam (seperti penisilin. Residu antibiotika ini berpotensi membahayakan kesehatan konsumen.

1+0. 3 g yeast extract (BD. France).01 IU/ml). 16 g agar (BD. France).Larutan standar antibiotika: penisilin (0.5 g yeast ekstract (BD. Screening test dengan bioassay bersifat kualitatif.1.5+0. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). France). . serta tingkat kejadian negatif palsu sangat kecil (12) . otoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit. Sedangkan KCKT.0 µg/ml). mudah digunakan. France). 1. 1 g D-Glucose (BD.Media M-X untuk golongan tetrasiklin : campuran dari 6 g pepton (BD.0 µg/ml) (Sigma-Aldrich.1. . Spektrofotometri Masa (MS).Larutan dapar fosfat 8 pH 7. 10.Beberapa teknik atau metode yang digunakan untuk menganaliasa kandungan residu antibiotika dalam telur diantaranya yaitu bioassay. Germany). . BAHAN DAN ALAT Bahan Bahan yang digunakan dalam screening residu antibiotika (bioassay) yaitu: . France) dalam 1000 mL aquadest dengan pH 8. .Media NV-8 untuk golongan makrolida : campuran dari 6 g pepton (BD. Media calidolactis ini kemudian ditambahkan 1% Dextrose dan 1% Bacillus stearothermophilus var calidolactis C 953.5 g beef extract (BD.35 g monopotassium phosphate (KH2PO4) (Merck.0+0. 1 g glukose (BD. Germany). tilosin (1.65 g disodium fosfat (Na2HPO4) (Merck. France) dalam 1 mL aquadest dengan pH 7.1. otoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit. Germany) dalam 1000 mL aquadest dengan pH 7. Media ini ditambahkan 1% Bacillus cereus ATCC 11778. otoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit.7+0. France). France). atau Enzyme Linked ImmunoSorbent Assay (ELISA). 1.0 µg/ml) dan oksitetrasiklin (1. MS dan ELISA merupakan instrumen untuk menganalisa residu antibiotika secara kuantitatif dan bersifat spesifik terhadap antibiotika tertentu (13).1 mL.4 g monopotassium phosphate (KH2PO4) (Merck. biaya tidak terlalu mahal. Media NV-8 ini ditambahkan 1% Micrococcus luteus ATCC 9341. 15 g agar (BD. otoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit. . preparasi sampel mudah dilakukan. France). France). 5 g trypton (BD. 1. 15 g agar (BD.Media Calidolactis untuk golongan β-laktam: campuran dari 2.0: Campuran dari 3. Keuntungan metode ini adalah dapat dilakukan untuk sampel dalam jumlah besar. France).5 g beef extract (BD. 3 g yeast extract (BD. France). France) dalam 1000 mL aquadest dengan pH 5. Germany). kanamisin (1. waktu pengerjaan relatif singkat dan cepat.

otoklaf (Tomy Seiko. dan 0.0 (15 : 85) hingga didapat konsentrasi 1 µg/mL.01 µg/mL. larutan Na2HPO4 (larutkan 35. labu ukur. Vortex. pipet mikro. pH meter (Metrohm. Dapar Mc Ilvaine (641. kertas timbang. pH 2. Na2HPO4 0. botol Duran 1000 mL.6 g Na2HPO4 dalam 1 L aquadest). 0. Dapar Mc Ilvaine-EDTA 0. fase gerak (campuran asetonitril dan Na2HPO4 0.05 µg/mL. Japan). Japan). otoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit. France).01 g dalam 1 L aquadest.56 g Na2HPO4 dalam 1 L aquadest.5+0. Media NV-3 ini ditambahkan 0. Peralatan Peralatan yang digunakan pada screening residu antibiotika adalah timbangan analitik (shimadzu. dan klortetrasiklin (Sigma-Aldrich. Asetonitril (Merck. Japan).0). kertas timbang. plate. 0. erlenmeyer. Germany). panangas air. Germany).5 mL asam sitrat dan 385. France). Japan). simpan pada suhu 4oC). buffer 3.4).0 (15 : 85)) dan kontrol positif (1 mL larutan baku pada 5 g telur). 3 g beef extract (BD.22 g EDTA dalam 1 L dapar Mc Ilvaine. Germany). tabung . magnetic stirrer. fase gerak (campuran metanol dan dapar fosfat 0. magnetic stirrer.01 M pH 6. pH meter (Metrohm. Vortex. Germany).0 (larutkan natrium dihidrogen fosfat (NaH2PO4) dengan aquadest). timbangan elektrik (Libror. asetonitril (Merck. pH 4. inkubator. centrifuge. France) dalam 1000 mL aquadest dengan pH 8. dan kontrol positif (1 mL larutan baku pada 5 g telur).). caliper. Bahan yang digunakan pada KCKT golongan tetrasiklin antara lain standar antibiotika oksitetrasiklin. metanol (Merck. timbangan elektrik (Libror.Media NV-3 untuk golongan aminoglikosida : campuran dari 5 g pepton (BD. dapar fosfat 0. Germany). tetrasiklin. Germany) diencerkan dengan campuran metanol dan dapar fosfat 0. tabung sentrifuge 50 mL. silinder dropper. diklorometan (Merck.01 M (21 : 79) hingga didapatkan konsentrasi 5 µg/mL.01 M pH 6. Germany).01 M (21 : 79). doksisiklin. masing-masing standar diencerkan dengan campuran asetonitril dan Na2HPO4 0. pipet ukur.01 M (larutkan 1. tabung reaksi 50 mL.1 M (37.).. sendok timbang. sentrifuge. Bahan yang digunakan pada KCKT golongan beta laktam antara lain larutan standar ampisilin dan amoksisilin (Sigma-Aldrich. silinder cup. paperdisc. 16 g agar (BD.01 M pH 6. erlenmeyer. tabung reaksi 50 mL. Japan). Germany).1% Bacillus subtilis ATCC 6633.5 mL Na2HPO4.1.1 µg/mL dan 0. sendok timbang. metanol (Merck. Asam sitrat monohidrat (larutkan 21.5 µg/mL. waterbath. Peralatan yang digunakan pada KCKT adalah timbangan analitik (Shimadzu. Germany). aquadest. kompor gas.

Jumlah sampel telur ayam adalah 100 butir per provinsi dimana tiap peternakan diambil 50 sampel telur ayam. syringe. Homogenat kuning telur disentrifus 3000 rpm selama 15 menit dan diambil supernatannya. Lakukan preinkubasi selama lebih kurang 2 jam pada suhu 24oC. Kalimantan Selatan. pipet ukur. Kemudian inkubasi pada suhu 55oC selama 15-18 jam untuk media calidolactis. Sentrifus sampel telur dan sampel kontrol positif pada 3000 rpm selama 30 menit dengan suhu 0oC. Banten. Jawa Timur.sentrifuge 50 mL. 30oC selama 15-18 jam untuk media M-X. Kalimantan Barat. dan disimpan dalam kondisi beku (freezed) agar tahan lama. atau celupkan kertas cakram pada supernatan kuning telur dan letakkan di atas permukaan media. Kuning telur dilarutkan dengan 15 mL larutan dapar 8 pH 7. kemudian dihomogenisasi. Sampel dinyatakan positif mengandung residu antibiotika. bila zona hambat yang terbentuk lebih besar atau sama dengan 1 cm (dengan kertas cakram berdiameter 8 mm) (12). Sumatera Selatan. tidak mudah pecah dan proses pemisahan kuning dan putih telur mudah dilakukan. dibawa. masukkan ke dalam tabung sentrifus dan ditambah dengan 3 mL asetronitril. evaporator. Tiap provinsi dipilih satu kota/kabupaten dan dari tiap kota/kabupaten dipilih dua peternakan ayam petelur. Supernatan dipisahkan dan . dan Bangka Belitung (Maret 2014 sampai dengan Juni 2014). Nanggroe Aceh Darussalam. lalu dihomogenkan.0. Screening Test dengan Bioassay Sampel telur ayam dibekukan dan kemudian pisahkan kuning telur dari putih telur. Jawa Barat. Jawa Tengah. KCKT Golongan β-Laktam Sampel telur ditimbang sebanyak 5 g. beaker glass.45 µm. Sulawesi Selatan. 37oC selama 15-18 jam. Setelah itu simpan dalam refrigerator pada 4oC selama 1 jam. DI Yogyakarta. Letakkan 4-5 kertas cakram di atas permukaan media dan teteskan 50 µL larutan standar dan supernatan kuning telur. labu evaporator. Sep-Pak®Cartridges. KCKT (Waters 1525) dengan kolom C-18. Sampel telur ayam tersebut diberi label. Lampung. Filter 0. Sehingga jumlah total sampel adalah 1300 telur ayam. METODE Pengambilan Sampel Pengambilan sampel telur ayam telah dilakukan dengan membeli telur ayam pada peternakan ayam petelur di 13 Provinsi di Indonesia yaitu Sumatera Utara. 37oC selama 15-18 jam untuk media NV-3 dan NV-8.

HASIL DAN PEMBAHASAN Sampel telur ayam telah diambil dari peternakan ayam di 13 provinsi di Indonesia sebanyak 1300 sampel.4 (21 : 79). Hasil screening test dengan bioassay dari total 1300 sampel telur ayam menunjukkan bahwa terdapat 10 sampel telur ayam (PFT-001. Larutkan residu dengan 1-2 mL asetonitril.77%). Kandungan residu antibiotik dalam telur ayam tersebut dianalisa secara kualitatif melalui screening test dengan bioassay. ekstrak kontrol positif dan larutan baku pembanding ke dalam KCKT menggunakan kolom C-18 dengan detektor UV-222 nm. kemudian dievaporasi. KCKT merupakan salah satu metode kimia dan fisikokimia yang menggunakan teknologi kolom sistem pompa tekanan tinggi dan detektor yang sensitif sehingga dapat memisahkan senyawa kimia dengan kecepatan dan efisiensi yang tinggi (3).45 µm.ditambahkan 50 mL diklorometan. Larutkan residu dengan 2 mL Metanol/DW (1 : 1). laju alir 1 mL/menit dan fase gerak campuran metanol dan dapar fosfat 0. Amati waktu tambat dan puncak/area kromatogram15. lalu dihomogenkan dan sentrifuse pada kecepatan 3000 rpm selama 10 menit. lalu biarkan dalam suhu ruangan selama 30 menit. kemudian disaring dengan filter 0. PFT-002. Suntikkan 20 µL ekstrak sampel. PFT-006. PFT-005. PFT-024. Amati waktu tambat dan puncak/area kromatogram (12). PFT-023.45 µm.01 M (15 : 85). Suntikkan 20 µL ekstrak sampel. kemudian dievaporasi. laju alir 1 mL/menit dan fase gerak berupa campuran asetonitril dan Na2HPO4 0.01 M pH 2. Sampel tersebut berasal dari provinsi Lampung dan . PFT-003. dan PFT-1221) menunjukkan positif terhadap antibiotika golongan β laktam (0. Filtrat ditampung dalam labu evaporator dan ditambahkan 10 mL metanol. Selanjutnya sampel yang menunjukkan positif pada screening test dengan bioassay tersebut dikonfirmasi secara kuantitatif dengan KTKC.45 µm yang sebelumnya diaktifkan terlebih dahulu dengan 6 mL metanol dan dicuci dengan 6 mL aquadest.1 M. lalu shacker selama 30 menit dan sentrifus pada 3000 rpm selama 30 menit. masukkan ke dalam tabung sentrifuse dan ditambah dengan 6 mL Dapar Mc Ilvaine-EDTA 0. KCKT Golongan Tetrasiklin Sampel telur dihomogeniser dan ditimbang sebanyak 5 g. ekstrak kontrol positif dan larutan standard pembanding ke dalam KCKT menggunakan kolom C-18 dengan detektor UV-270 nm. Prinsip pengujian ini adalah penghambatan pertumbuhan mikroorganisme pada media agar jika terdapat residu antibiotika. lalu di saring dengan filter 0. PFT-009. Supernatan dipisahkan. PFT-007. Supernatan dipisahkan dan disaring dengan SepPak 0.

oksitetrasiklin dan doksisiklin dalam telur adalah 0.01 mg/kg). batas maksimum residu (BMR) antibiotika amoksisilin dan ampisilin dalam telur adalah 0. PFT-1203. mycoplasmosis. doksisiklin) merupakan jenis obat yang paling banyak/sering digunakan pada peternakan ayam. ILT. Antibiotik golongan tetrasiklin (seperti oksitetrasiklin. PFT-1212.01 mg/kg). 2006. BMR residu antibiotika tetrasiklin.05 mg/kg (ppm). Menurut Hintono dkk. Sampel tersebut berasal dari Kalimantan Barat. No. Antibiotik golongan β laktam yang sering digunakan di peternakan ayam adalah ampisilin dan amoksilin. pullorum). Obat ini berguna untuk pencegahan atau pengobatan terhadap penyakit infeksi saluran pernafasan (seperti CRD. Telur sudah bebas dari residu oksitetrasiklin beserta aktivitas bakterinya pada hari ke-14 penghentian pemberian oksitetrasiklin pada ayam.01 mg/kg (ppm). Hasil konfirmasi dengan uji KCKT menunjukkan bahwa tidak terdeteksi adanya residu antibiotika golongan β-laktam atau di bawah batas deteksi (0. Tabel 1. PFT-1217. snot). PFT1218. PFT-1221. Antibiotik ini banyak digunakan untuk pengobatan. salmonellosis. Hasil Screening test Residu Antibiotik dengan Bioassay pada sampel Telur Ayam. 01-63662000). Oksitetrasiklin dipindahkan ke putih telur baik selama preplumping (fase sekresi protein selama perjalanan ovum dalam saluran reproduksi) maupun fase plumping (fase penambahan air) pada proses pembentukan putih telur sebelum oviposisi (6). colibacillosis dan lain-lain (9). Hasil konfirmasi dengan uji KCKT menunjukkan bahwa tidak terdeteksi adanya residu antibiotika golongan β-laktam atau di bawah batas deteksi (0. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI No.62%). Hasil uji KCKT terdapat dalam Tabel 2 dan Tabel 3. dan klortetrasilin adalah 0.Kalimantan Barat. 1 2 3 4 5 6 7 8 Provinsi Lampung Banten Sumatera Selatan Kalimantan Selatan DI Yogyakarta Jawa Timur Sulawesi Selatan Sumatera Utara Jumlah Sampel 100 100 100 100 100 100 100 100 Hasil Uji Golongan β-laktam Positif (9) Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Golongan Golongan Tetrasiklin Makrolida Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Golongan Amino Glikosida Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif . saluran pencernaan (seperti cholera.01 mg/kg (ppm). Hasil screening test dengan bioassay dapat dilihat pada tabel 1. PFT-1223 dan PFT-1239) menunjukkan positif terhadap antibiotika golongan tetrasiklin (0. Sebanyak 8 sampel telur ayam (PFT-1202.

tetapi juga banyak digunakan sebagai imbuhan pakan (6) . Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI No.1 mg/kg (ppm). Hasil Pemeriksaan Secara Kuantitatif (KCKT) Residu Antibiotik Golongan Tetrasiklin No 1 2 3 4 5 6 7 8 Kode Telur PFT-1202 PFT-1203 PFT-1212 PFT-1217 PFT-1218 PFT-1221 PFT-1223 PFT-1239 Antibiotik Golongan Tetrasiklin Oksitetrasiklin Doksisiklin Tetrasiklin Klortetrasiklin Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Sedangkan hasil screening test dengan bioassay semua sampel telur menunjukkan negatif terhadap residu golongan makrolida dan aminoglikosida. Hasil Pemeriksaan Secara Kuantitatif (KCKT) Residu Antibiotik Golongan β-laktam No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kode Telur PFT-001 PFT-002 PFT-003 PFT-005 PFT-006 PFT-007 PFT-009 PFT-023 PFT-024 PFT-1221 Antibiotik Golongan β laktam Ampisilin Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Amoksisilin Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tabel 3. BMR tilosin dalam telur adalah 0. 01-6366-2000). Antibiotika golongan makrolida seperti tilosin tidak hanya banyak digunakan untuk pencegahan atau pengobatan terhadap penyakit.9 10 11 12 13 Jawa Tengah Jawa Barat NAD Bangka Belitung Kalimantan Barat Jumlah 100 100 100 100 100 1300 Negatif Negatif Negatif Negatif Positif (1) Negatif Negatif Negatif Negatif Positif (8) Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Tabel 2. .

didasarkan atas indikasi dan diagnosa yang tepat. namun tetap saja menjual telurnya tanpa memperhatikan waktu henti obat (10). atau penggunaannya tidak berada dibawah pengawasan dokter hewan. Penggunaan antibiotika tidak didasari peneguhan diagnosa yang tepat. serta memperhatikan dosis dan waktu henti obat untuk mencegah terjadinya residu antibiotik. tetrasiklin. makrolida dan aminoglikosida atau di bawah batas deteksi (0. Diharapkan agar penggunaan antibiotika oleh peternak berada dibawah pengawasan dokter hewan. waktu henti obat dan lain-lain). 4. Hasil pengkajian ini menunjukkan bahwa telur ayam di Indonesia relatif aman untuk dikonsumsi. neomisin tidak boleh ada dalam telur (0 ppm).01 mg/kg). indikasi. Dosis yang digunakan melebihi anjuran. 3. 01-6366-2000). Sampel telur ayam sebanyak 1300 berasal dari peternakan ayam di 13 provinsi di Indonesia menunjukkan tidak terdeteksi adanya residu antibiotika golongan β laktam. KESIMPULAN 1. 2. . Tidak ditemukannya keberadaan residu antibiotika atau berada dibawah BMR dapat dimungkinkan bahwa antibiotik yang sesuai dengan aturan penggunaannya. Penggunaan antibiotika yang tidak tepat dapat terjadi akibat kurangnya pengetahuan peternak tentang penggunaan antibiotika dan bahaya residu antibiotika. Penggunaan jenis antibiotika tidak sesuai dengan spesies ternak (10). yaitu dimana telur dijual sebelum masa henti antibiotika habis dalam tubuh atau belum seluruhnya dieksresikan. Beberapa faktor penyebab terjadinya residu antibiotik pada telur yaitu : 1. Tidak memperhatikan waktu henti obat (withdrawal time). Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI No. 2. Selain itu perlunya penerapan Good Farming Practice sehingga mengurangi resiko infeksi penyakit dan penggunaan antibiotika. Pihak swasta terutama produsen obat hewan agar menerapkan GMP dan HACCP. 2. SARAN 1. serta memberikan informasi secara jelas penggunaan antibiotik (seperti dosis. Bahkan ada beberapa peternak yang sudah mengetahui tentang cara pengunaan antibiotik.Neomisin merupakan golongan aminoglikosida yang biasanya digunakan untuk pengobatan infeksi saluran pencernaan pada unggas.

Badan Standarisasi Nasional. Buletin Teknik Pertanian 16:68-73. 1997. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. 1999. SNI No. 9. Limsuwan S. Poultry Science 82.Argic 32 (1). & Hairston H. Indon. Oxytetracycline Transfer into Chicken Egg Yolk or Albumen. Indeks Obat Hewan Indonesia Edisi VIII. . Jakarta. The European Agency For The Evaluation Of Medical Products: Committee For Veterinary Medical Products : Tylosin Summary Report 4 (extension to eggs). & Keitzmann M.Anim. Pemakaian Antibiotik Dalam Usaha Peternakan. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Teknik Analisis Residu Golongan Tetrasiklin Dalam Daging Ayam Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. 10.Trop. 2007. 2013. Poultry Science 78. : 01-6366-2000. Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan. Perlunya pendidikan dan penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian peternak maupun masyarakat terhadap penggunaan antibiotika yang bijaksana serta bahaya residunya terhadap kesehatan. 2003. 3. 2. DAFTAR PUSTAKA 1. 4. Donoghue DJ. 2006. Kementerian Pertanian. Wuryastuti H. EMEA/MRL/732/00-FINAL. Jakarta. 4. 18-21. Wartazoa 6. 7. Anonimus. 2000. Anastasia Y. Pemerintah diharapkan dapat meningkatkan pengawasan/monitoring terhadap penggunaan antibiotika dan keberadaan residu antibiotika pada pangan asal ternak agar aman untuk dikonsumsi. Murdiati TB. 9017-9023. Residu Oksitetrasiklin dan Aktivitas Antibakterinya dalam Telur Ayam yang Diberi Oksitetrasiklin dengan Dosis Terapeutik Lewat Air Minum. 618-621. Antibiotic Residues In Poultry Tissue and Eggs : Human Health Concerns ?. Anonimus. Quantitative Analysis of Tylosin in Eggs by High Performance Liquid Chromatography with Electrospray Ionization Tandem Mass Spectrometry: Residue Depletion Kinetics after Administration via Feed and Drinking Water in Laying Hens. & Rahayu ES. BSN. Hintono A. EMEA. Kementerian Pertanian. 64-69. 343-345. 5. Tansakul N. Jakarta. Journal of Agriculture and Food Chemistry 54(24). Donoghue DJ. 2012. Batas Maksimum Cemaran Mikroba dan Batas Maksimum Residu Dalam Bahan Makanan Asal Hewan. Hamscher G. Astuti M. 8.3. 6. J. 2011. 2000.

Stimultaneous Determination of Amoxicillin and Ampicillin in Eggs by ReversedPhase High-Performance Liquid Chromatography with Fluorescence Detection using Pre-Column Derivatization. Pemakaian Antibiotika pada Ternak dan Dampaknya Pada Kesehatan Manusia. Journal of Chromatographic Science 50. Metode Analisis Residu Obat Hewan dari Bahan Asal Hewan dan Hasil Bahan Asal Hewan. Direktorat Bina Produksi Peternakan. & Mucharini H. Bao W. Jia L. Xu D. Xie X. 1997. Noor SM. Lokakarya Nasional Keamanan Pangan Produk Peternakan. & Poeloengan M. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. 2005. Bogor dan Tangerang. 2005. Werdiningsih S. Keberadaan Residu Antibiotika Tilosin (Golongan Makrolida) Dalam Daging Ayam Asal Daerah Sukabumi. 2012. Xie K. Murdiati TB. . 2005. Lokakarya Nasional Keamanan Pangan Produk Peternakan. 15. & Wang J. Yuningsih. Bintang SRr. Huang Y. Patriana U. Guo H. Hal 48-55. Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan. Keberadaan Residu Antibiotika dalam Produk Peternakan (Susu dan Daging). Yuningsih. Hal 56-64. Chen X. 14. Dai G. 12. & Juariah S.11. 620–624. 13.