You are on page 1of 22

Sumatera

1. Evolusi tektonik Pulau Sumatera
Pada akhir Miosen, Pulau Sumatera mengalami rotasi searah jarum jam. Pada zaman
Pliopleistosen, arah struktur geologi berubah menjadi barat daya-timur laut, di mana aktivitas
tersebut terus berlanjut hingga kini. Hal ini disebabkan oleh pembentukan letak samudera di Laut
Andaman dan tumbukan antara Lempeng Mikro Sunda dan Lempeng India-Australia terjadi pada
sudut yang kurang tajam. Terjadilah kompresi tektonik global dan lahirnya kompleks subduksi
sepanjang tepi barat Pulau Sumatera dan pengangkatan Pegunungan Bukit Barisan pada zaman
Pleistosen.
Pada akhir Miosen Tengah sampai Miosen Akhir, terjadi kompresi pada Laut Andaman. Sebagai
akibatnya, terbentuk tegasan yang berarah NNW-SSE menghasilkan patahan berarah utaraselatan. Sejak Pliosen sampai kini, akibat kompresi terbentuk tegasan yang berarah NNE-SSW
yang menghasilkan sesar berarah NE-SW, yang memotong sesar yang berarah utara-selatan.
Di Sumatera, penunjaman tersebut juga menghasilkan rangkaian busur pulau depan (forearch
islands) yang non-vulkanik (seperti: P. Simeulue, P. Banyak, P. Nias, P. Batu, P. Siberut hingga P.
Enggano), rangkaian pegunungan Bukit Barisan dengan jalur vulkanik di tengahnya, serta sesar
aktif ’The Great Sumatera Fault’ yang membelah Pulau Sumatera mulai dari Teluk Semangko
hingga Banda Aceh. Sesar besar ini menerus sampai ke Laut Andaman hingga Burma. Patahan
aktif Semangko ini diperkirakan bergeser sekitar sebelas sentimeter per tahun dan merupakan
daerah rawan gempa bumi dan tanah longsor. Selama zaman karbon sampai perm, terdapat
subduksi di sebelah barat Sumatera yang menghasilkan batuan vulkanik dan piroklastik
dengan komposisi berkisar antara dasit sampai andesit didaerah dataran tinggi Padang,
Batang Sangir dan Jambi. Batuan intrusif yang bersifat granitic terbentuk disemenanjung
Malaysia, melewati Pulau Penang, dan diperkirakan menerus ke Kepulauan Riau

1

Selama zaman Prem, tidak ada perubahan penyebaran keterdapatan batuan plutonik dan
volkanik dari karbon akhir. System busur-palung yang bekerja di Sumatera masih tidak
mengalami parubahan (gambar 1 dan 2) . batuan vulkanik dan piroklastik berkomposisi
andesitic sampai riolitik menyebar dibagian barat dari Sumatera Tengah. Dari Trias akhir
sampai jura awal, subduksi disumatera terus berlangsung dan menghasilkan kompleks ofiolit
Aceh dibagian utara dan kompleks ofiolit Gumai-Garba di selatan. Kedua ofiolit tersebut
berumur Trias. Pada Jura tengah sampai kapur tengah, terjadi pengangkatan diwilayah
semenanjung Malaysia, menyebabkan perubahan lingkungan sedimentasi pada daerah
tersebut dari lingkungan lalut menjadi lingkungan darat, ditandai dengan endapan tipe
molasse dan sedimentasi fluviatil. Volkanisme dikawasan Sumatera dan sekitarnya
terkratonisasi, dan system pensesaran strike slip terbentuk ( Tjia et. All, 1973 dalam
Hutchison,1973)132

Pada kapur akhir, zona subduksi bergerak kea rah barat Sumatera, sepanjang pulau-pulau
yang saat ini berada dibarat Sumatera seperti Siberu. Diperkirakan berumur kapur akhir
sampai tersier awal. Dibagian utara Sumatera terdapat intrusi granitic tersier sedangkan
diselatan terdapat adesit tua dan intrusi granit meosen awal. Pola dari system palung busur di
Sumatera pada saat itu digambarkan pertama kali oleh katilli. Subduksi yang berada dibarat
sumatera menerus keselatan Jawa Barat, lalu berbelok ke Timur Laut menuju arah
2

pegunungan meratus di Kalimantan. Dari tersier sampai sekarang, subduksi terus mundur
kearah barat melewati kepulauan yang terdapat disebelah barat Sumatera dan menerus ke
timur di selatan melewati pulau Jawa. Busur gunung api disepanjang zona subduksi tersebut
terdapat dipegunungan barisan di Sumatera dan menerus ke pulau Jawa. Vulkanisme basalt
hard disuka dana, sumatera Selatan dan diperkirakan berhubungan dengan pensesaran
ekstensi dalam yang dihasilkan sebagai interaksi dari lempeng-lempeng Eurasia, IndiaAustralis, dan Pasifik.
(gambar Skema tektonik Pulau sumatera dan sekitarnya saat ini)
2. Cekungan di Sumatra Utara, sumatra Tengah, dan Sumatra Selatan
a. Cekungan Sumatera Utara
Pembagian stratigrafi tersier cekungan sumatera Utara menjadi tiga kelompok
yaitu kelompok 1 sebagai fase tektonik, pengangkatan, dan pengerosian berumur eosin
hingga oligosen awal. Kelompok ke dua merupakan fase genang laut yang dimulai
dengan pembentukan formasi-formasi dari tua ke muda yaitu formasi Butar, Rampong,
Bruksoh, Bampo, Peutu dan formasi Baung. Kelompok ketiga adalah periode regresif
dengan pembentukan kelompok lhoksukon. Jika dilihat dari proses sedimentasi
dicekungan sumatera Utara, kecepatan sedimentasi dan penurunan besar sedimen ataupun
cekungan pada awal pembentukan cekungan relatif lambat kemudian dilanjutkan dengan
kecepatan sedimentasi lambat tetapi kecepatan penurunan dasar sedimen ataupun
cekungan sangat cepat antara 15,5 – 12,4 juta tahun yang lalu.
Penurunan cepat dasar cekungan tersebut merupakan akibat mulainya rafting
dilaut Andaman dan pada saat inilah terbentuk serpih laut dalam formasi baung yang
kaya akan material organik dan menjadi salah satu batuan induk potensial di daerah Aru.
Periode antara 12,4 – 10,2 juta tahun yang lalu ditandai dengan kecepatan sedimentasi
yang cukup besar tetapi penurunan dasar sedimen atau cekungan lebih lambat sebagai
awal pengangkatan bukit barisan atau dikenal sebagai tektonik miosen tengah. Batu pasir
Baong tengah terbentuk pada periode ini dan merupakan salah satu batuan waduk atau
(reservoir) daerah Aru. Pada 9,3 – 8,3 juta tahun yang lalu kecepatan sedimentasi sangat
besar tetapi diikuti pula penurunan dasar sedimen atau cekungan yang sangat besar
sehingga penurunan sangat dipengaruhi oleh pembebanan sedimen dismaping akibat
penurunan tektonik. Pada waktu tersebut terbentuk endapan klastik kasar ke Utapang
Bawah, diendapkan dalam lingkungan delta atau laut dangkal dan merupakan juga batuan
waduk (reservoir) yang penting di Aru.
Model penurunan tektonik daerah Aru pada awalnya menunjukkan penurunan
lambat dilanjutkan penurunan sangat cepat antar 12,4 – 10,2 juta tahun yang lalu akibat
rafting dilaut Andaman. Pada Meosen tengah antara 12,4 – 9,3 juta tahun yang lalu pola
penurunan relatif lambat, stabil, atau terjadi pengangkatan akibat tektonik Meosen
tengah. Penurunan kembali cepat antar 9,3 – 8,3 juta tahun yang lalu dan menjadi sangat
lambat antara 5,3 – 4,4 juta tahun yang lalu sebelum terjadi pengangkatan pilo-Pleistosen
b. Cekungan Sumatera Tengah
Cekungan Sumatera Tengah merupakan cekungan sedimentasi tersier yang hasil
hidrokarbon terbesar di Indonesia. Ditinjau dari posisi tektoniknya, cekungan sumatera
tengh merupakan cekungan belakang busur. Factor pengontor utama struktur geologi
regional dicekungan Sumatera tengah adlah adanya sesar sumatera yang terbentuk pada
3

zaman kapur. Struktur geologi daerah cekungan sumatera tegah memilki pola yang
hampir sma dengan cekungan sumatera selatan, diamana pola struktur utama yang
berkembang berupa struktur barat laut tenggara dan utara selatan. Wlaupun demikian,
struktur berarah utara selatan jauh lebih dominan dibandingkan struktur barat laut
tenggara. Cekungan sumatra Tengah secara umum dapat dibagi menjadi beberapa tahap
yang pertama yaitu konsolidasi basement pada zaman Yura, terjadi dari struktur yang
berarah barat laut tenggara. Basement terkena aktifitas magmatisme dan erosi selama
zaman Yura akhir dan zaman kapur. Tektonik ekstensional selama tersier awal dan tersier
tengah (Paleogen) menghasilkan system graben berarah utara selatan dan barat laut
tenggara. Kaitan aktifitas tektonik ini terdapat paleogeo-morfologi dicekungan sumatera
tengah adalah terjadinya perubahan lingkungan pengendapan dari linkungan darat, rawa,
hingga lingkungan lakustrin, dan ditutup oleh kondisi lingkungan fluvial delta pada akhir
fase rafting.
Selama deposisi berlangsung di oligosen akhir sampai awal miosen yang
mengendap batuan reservoir utama dari kelompok sihapas tektonik sumatera relatif
tenang. Sedimen klastik diendapkan, terutama bersumber dari daratan sunda dan dari arah
timur laut meliputi semenanjung Malaya. Proses akumulasi sedimen dari arah timur laut
pulau Sumatera menuju cekungan, diakomodir oleh struktur-struktur berarah utara
selatan. Kondisi sedimentasi pada tertengahan tersier ini lebih dipengaruhi oleh fluktuasi
muka ir laut global (eustasi) yang menghasilan episode sedimentasi transgresi dari
kelompok shiapas dan formasi telisa, ditutup oleh periode sedimentasi regresif yang
menghasilkan formasi petani.
Akhir miosen akhir vulkanisme dan tektonisme kembali intensif dengan regim
kompresi mengangkat pegunungan barisan di arah barat daya cekungan. Pegunungan
barisan ini menjadi sumber sedimen pengisi cekungan selanjutnya. Arah sedimentasi
pada miosen akhir dicekungan sumatera tengah berjalan dari arah selatan menuju utara
dengan control struktur berarah utara selatan. Tektonisme plio-pleistosen yang bersifat
kompresif mengakibatkan terjadinya inversi struktur basement membentuk sesar naik dan
lipatan yang berarah barat laut tenggara. Tektonisme plio-pleistosen ini juga
menghasilkan ketidak selarasan regional antara formasi minas dan endapan alluvial
kuarter terhadap formasi-formasi dibawahnya.
c. Cekungan Sumatera Selatan
Geologi cekungan sumatera Selatan adalah suatu hasil kegiatan tektonik yang
berkaitan erat dengan penunjaman lempeng Indi-Australia, yamg bergerak kearah utara
hingga timur laut laut terhadap lempeng Eurasia yang relatif diam. Zone penunjaman
lempeng meliputi daerah sebelah barat pulau Sumatera dan selatan pulau Jawa. Beberapa
lempeng kecil yang berada diantara zone interaksi tersebut turut bergerak dan
menghasilkan zone konvergensi dalam berbagai bentuk dan arah. Penunjaman lempeng
Indi-Australiatersebut, dapat mempengaruhi keadaan batuan, morfologi, tektonik dan
struktur di Sumatera Selatan. Tumbukan tektonik lempeng dipulu Sumatera menghasilkan
jalur busur depan, magmatic, dan busur belakang. Secara fisiografis cekungan sumatera
selatan merupakan cekungan tersier berarah barat laut – tenggara, yang dibatasi sesar
semangko dan bukit barisan disebelah barat daya, paparan sunda disebelah timur laut,
tinggian lampung disebelah tenggara yang memisahkan cekungan tersebut dengan
cekungan sunda, serta pegunungan dua belas dan pegunungan tigapuluh disebelah barat
4

lautyang memisahkan cekungan Sumatera Selatan dengan cekungan Sumatera Tengah.
(Blake 1989) menyebutkan bahwa daerah cekungan Sumatera Selatan merupakan daerah
cekungan busur belakang berumur tersier yang terbentuk sebagai akibat adanya interaksi
antar paparan Sunda (sebagai bagian dari lempeng kontinen Asia) dan lempeng Samudera
India. Daerah cekungan ini meliputi daerah seluas 330 X 510 km2, dimana sebelah barat
daya dibatasi oleh singkapan pra-tersier bukit barisan, disebelah timur oleh paparan
sunda, sebelah barat dibatasi oleh pegunungan tigapuluh dan kearah tenggara dibatasi
oleh Tinggian Lampung.
Cekungan sumatera selatan terebntuk selama awal tersier (Eosen-Oligosen)
ketika rangkaian graben berkembang sebagai reaksi system penunjaman menyudut antara
lempeng samudera India dibawah lempeng benua Asia. Menurut decoster 1974
diperkirakan telah terjadi tiga episode orogenesa yang membentuk kerangka struktur
daerah cekungan sumatera selatan yaitu orogenesa mesozoik tengah , tektonik kapur
akhir – tersier awal dan orogenesa plio-plistosen .
Episode pertama endapan-endpan paleozoik dan mesozoik termetamorfosa,
terlipat dan terpatahkan menjadi bongkah struktur dan diintrusi oleh batolit granit serta
telah membentuk pola dasar struktur cekungan. Fase ini membentuk sesar berarah barat
laut – tenggara yang berupa sesar – sesar geser.
Episode kedua pada kapur akhir berupa fase ekstensi menghasilkan gerak-gerak
tensional yang membentuk graben dan hosrt dengan arah umu utara – selatan.
Dikombinasikan dengan hasil orogenesa mesozoik dan hasil pelapukan batuan-batuan
Pra- tersier gerak-gerak tensional ini membentuk strukutr tua yang mengontrol
pemebntukan formasi Pra-talang akar.
Episode ke tiga berupa fase kompresi pada plio-plistosen yang menyebabkan
pola pengendapan berubah menjadi regresi dan berperan dalam pembentukan struktur
perlipatan dan sesar sehingga membentuk konfiguasi geologi sekarang. Pada periode
tektonik ini juga terjadi pengangkatan pegunungan bukit barisan yang menghasilkan sesar
mendatar semangko yang berkembang sepanjang pegunungan bukit barisan. Pergerakan
horoizontal yang terjadi mulai plistosen awal hingga sekarang mempengaruhi kondisi
cekungan Sumatera Selatan dan tengah hingga sesar – sesar yang baru terbentuk didaerah
ini mempunyai perkembangan hampir sejajar dengan sesar semangko. Akibat pergerakan
horizontal ini , orogenesa yang terjadi pada plio-plistosen menghasilkan lipatan yang
berarah barat laut – tenggara tetapi sesar yang terbentuk berarah timur laut – barat daya
dan barat laut – tenggara. Jenis sesar yang terdapat pada cekungan ini adalah sesar naik,
sesar mendatar, dan sesar normal. Kenampaka strukutr yang dominan adalah strukutr
yang berarah barat laut – tenggara sebagai hasil orogenesa plio-plistosen. Dengan
demikian pola struktur yang terjadi dapat dibedakan atas pola tua yang berarah utara –
selatan dan barat laut – tenggara serta pola muda yang berarah barat laut – tenggara yang
sejajar dengan pulau Sumatera. Batuan sedimen tersebut telah mengalami gangguan
tektonik sehingga terangkat membentuk lipatan dan pensesaran. Proses erosi
menyebabkan batuan terkikis kemudian membentuk morfologi yang tampak sekarang.
Cekungan sumatera selatan dan cekungan Sumatera tengah merupakan satu cekungan
besar yang dipisahkan oleh pegunungan tigapuluh. Cekungan inn terbentuk akibat adanya
pergerakan ulang sesarbongkah pada batuan pra-tersier serta diikuti oleh kegiatan
vulkanik.
5

Daerah cekungan sumatera selatan dibagi mejadi depresi Jambi diutara, sub
cekungan Palembang tengah dan sub cekungan Palembang Selatan atau depresi lematang.
Masing-masing dipisahkan oleh tinggian batuan dasar. Didaerah sumatera selatan
terdapat tia antiklinurium utama, dari selatan ke utara. Antiklinorium muara Enim,
antiklinorium pendopo benakat dan antiklinorium Palembang. Pensesaran batuan dasar
mengontrol sedimen selama paleogen. Stratigrafi normal memperlihatkan bahwa
pembentukan batu bara utara – selatan dimana pada bagian barat daerah penyelidikan
sungai –sungai mengallir kearah sungai Semanggus, sedangkan pada bagian timur daerah
penyelidikan sungai – sungai mengalir kearah timur dengan sungai Baung dan sungai
benakat sebagai sungai utama.
3. Formasi batuan yang mengandung minyak, gas bumi, dan batubara
a) Formasi Keutapang berumur miosen atas. Diendapkan diatas formasi Baong, terdiri dari
selang-seling antara batupasir, serpih dan kadang-kadang lapisan batubara muda. Batu
pasir lebih dominan pada bagian bawah dari formasi ini. Lingkungan pengendapan
formasi ini adalah laut dangkal yang bersifat regresif.
b) Formasi seureula berumur pliosen bawah. Formasi ini diendapkan selaras diatas formasi
keutapang terdiri dari selang-seling antara batu bara dan serpih. Bila dibandingkan
dengan formasi keutapang, formasi ini lebih bersifat lempung dan kurang karbonan.
c) Formasi julurajeu berumur pliosen atas. Formasi ini terletak selaras diatas formasi
Seureula, terdiri dari batu basir tufaan, lempung, lapisan batubara muda dan konglomerat.
Formasi ini diendapkan pada lingkungan pantai hingga darat. Perusahaan yang ada
diformasi seureula diantara adalah PT. Riau Bara Harum.
d) Formasi petani berumur miosen atas sampai pliosen . formasi ini diendapkan selaras di
atas formasi wingfoot, terdiri dari batupasir tufaan, batulempung, konglomerat dan
lapisan tipis batubara.
e) Formasi lahat berumur Eosen sampai miosen bawah. Formasi ini diendapkan tidak
selaras diatas batuan Pra-Tersier, terdiri dari tuf breksi berwarna ungu, hijau dan coklat,
batu lempung tufaan, breksi dan konglomerat. Kearah bagian dalam cekungan, faciesnya
berangsur berubah menjadi serpih, serpih tufan, batulanau, batu pasir dan sisipan batu
bara. Pengendapan formasi ini diawali oleh endapan non marin, paludal, yang berangsur
menjadi kondisi euxinic. Pada formasi ini ditemukan lapisan-lapisan tipis batugamping
dan lapisan batuan sedimen yang mengandung glaukonit, menunjukkan lingkungan danau
yang kadang-kadang berhubungan dengan laut terbuka.diantara batuan-batuan sedimen
yang dijumpai ada yang menunjukkan cirri endapan kipas alluvial, endapan fluvatil dan
endapan delta. Tebal formasi ini mencapai 300 m.
f) Formasi talang akar berumur oligosen atas sampai miosen bawah. Formasi talang akar
diendapkan selaras diatas formasi lahat, terdiri dari batu pasir, batu pasir gampingan,
batulempung, batulempung pasiran, dan sedikit batubara, pada bagian bawah dijumpai
batupasir. Formasi ini diendapkan pada lingkungan fluvatil sampai sampai delta dan
marin dangkal yang menunjukkan adanya transgresi marin. Ada beberapa tempat
dijumpai batu pasir didaerah tinggian. Secara lateral, formasi ini berubah facies dengan
formasi gumai kedalamannya mencapai 100 meter. Formasi talang akar merupakan
penghasil hidrokarbon dicekungan sumatera selatan.

6

g) Formasi muara enim berumur miosen atas. Formasi ini diendapkan selaras diatas formasi
air benakat, terdiri dari batu pasir tufaan, batu lempung pasiran, dan batubara. Fromasi ini
menunjukkan hasil endapan fase regresi, dan diendapkan pada lingkungan laut dangkal,
payau, dan paludal. Ketebalan formasi ini antara 150 – 750 m.
h) Formasi kasai berumur pliosen. Fromasi ini diendapkan selaras diatas formasi muara
enim, terdiri dari batu pasir tufan, tuff, batulempung, konglomerat, dan lensa-lensa tipis
batubara. Batuan-batuan penyusun formasi ini merupakan hasil erosi pegunungan barisan
ketebalannya antara 500-1000 m.

Kalimantan.
1. Keterdapatan intan di Kalimantan.
Di Kalimantan terdapat craton kecil (Schwaner) yang disebut dan disatukan dengan Laut
Jawa sampai Malaya oleh Ian Metcalfe menjadi SW Kalimantan Craton. Intan tidak hanya
terdapat di Martapura tetapi juga di Purukcahu (Kalteng) dan Sanggau (Kalbar). Tetapi secara
ringkas disebutkan bahwa belum ada bukti intrusi pipa Kimberlite diteukan di Kalimantan.
Alternatife-alternatif lain di Kalimantan adalah sebagai berikut :
a. Ultrahigh Pressure ( UHP ) asal metamorf ; (Pearson et al, 1995) sumber dari Meratus
Complex asal -Peridotitic ; sumber dari Bobaris peridotit ( sebagian besar didasarkan
padadeskripsi Koolhoven dan van Bemmelen).
b. Asal meteor ; Kehadiran textites dan dampak - kawah seperti struktur di utara Martapura
c. Kimberlite / lamproite asal ( Bergman et al , 1987; 1988; Spencer et al , 1988) ; sumber
dari inti cratonic dari pusat Borneo ( sekarang terkikis )
d. Asal Lamproite ( Parkinson et al, 2000 ) ; sumber dari fragmen Australia rift basin yang
berisi craton diamondiferous.
2. Formasi batuan tertua di Kalimantan
Formasi Tanjung merupakan batuan sedimen Tersier tertua yang terdapat di Cekungan
Barito bagian timur di Provinsi Kalimantan Selatan. Formasi Tanjung secara tidak selaras
berada di atas Formasi Pitap dan secara selaras berada di bawah formasi Berai. Formasi
Tanjung berumur Paleosen Akhir – Eosen Tengah. Formasi Tanjung ini tersusun oleh
batupasir kasar dan konglomerat di bagian bawah. Di bagian tengah tersusun dari
batulempung dengan sisipan batubara dan batupasir. Di bagian bawah terdapat perselingan
batulanau dan batupasir halus dengan struktur sedimen laminasi sejajar, serta lapisan wavy–
lenticular, dan flaser bersisipan batupasir berbutir sedang sampai kasar di bagian atas.
Lingkungan pengendapan untuk Formasi Tanjung lajur barat, adalah lingkungan delta
bagian atas (upper delta plain). Hal ini dikarenakan dalam runtunan ini terlihat bahwa lapisan
batupasir lebih dominan dibandingkan dengan batulempung sehingga tuntunan batuan
sedimen pembawa batubara di lajur ini menunjukkan lingkungan pasang - surut yang
berasosiasi dengan endapan saluran atau tidal channel ataupun lingkungan delta. Lingkungan
pengendapan untuk Formasi Tanjung Lajur Tengah termasuk ke dalam backmangrove
(sampai rawa air tawar), pada zona upper sampai lower delta plain, dan dalam kondisi
genang laut, dengan bagian yang didominasi oleh batulumpur adalah lower delta plain,
7

sedangkan yang dipengaruhi oleh endapan saluran (sisipan batupasir) adalah upper delta
plain. Pada Formasi Tanjung Lajur Timur, kandungan dalam batulempung karbonan pada
percontoh batuan 07RH01B dan 07RH01N, mencerminkan lingkungan rawa air tawar. Atas
dasar karakteristik runtunan batuan sedimen pembawa batubara dan petrografi organik,
batubara di Lajur Timur terendapkan dalam fasies wet forest swamp (rawa air tawar) pada
lingkungan paparan banjir dan dalam kondisi genang laut.
Sumber : (https://www.scribd.com/doc/44223532/Formasi-tanjung)
3. Kelompok batuan ‘Melange’ di pegunungan Meratus
Batuan melange adalah batuan campuran potongan-potongan batu dari berbagai jenis dan
ukuran yang berbeda dalam matrik berliat yang terpotong, yang menunjukkan adanya tekanan
yang sangat kuat. Potongan-potongan ini ukurannya dapat sangat kecil (cm) dan dapat juga
berukuran besar (ratusan meter atau lebih. Malange sering dikaitkan dengan proses
pembentukan jalur penunjaman. Melange merupakan perpaduan antara bahan-bahan yang
terkikis dari lempeng samudera yang bergerak turun dengan endapan yang berasal dari massa
daratan atau lengkung vulkanik di dekatnya. Seluruh massa ini tergesek dan terpotong karena
desakan ke bawah dari lempeng yang bergerak turun. Batuan yang terbentuk dengan cara ini
berasosiasi dengan desakan keatas lempeng opiolit yang besar di Pegunungan Meratus.
Daerah melange yang luas di bagian tengah Kalimantan, yaitu yang terbentang di
perbatasan antara Kalimantan dan Malaysia, masih belum diketahui dengan baik. Daerah
melange ini merupakan zona batuan hancur, sering mengandung potongan-potongan opiolit,
tetapi luas dan umur geologinya (akhir mesozoikum sampai periode tersier yang lebih tua)
Sumber : (williams dkk, 1989)

Sulawesi
1. Evolusi Tektonik pulau Sulawesi
Banyak model tektonik yang sudah diajukan untuk menjelaskan evolusi tektonik dari
Pulau Sulawesi. Ada dua peristiwa penting yang terjadi di Sulawesi bagian barat pada
masa kenozoikum. Yang pertama adalah rifting dan pemekaran lantai samudera di Selat
Makassar pada Paleogen yang menciptakan ruang untuk pengendapan material klastik
yang berasal dari Kalirnantan . Yang kedua adalah peristiwa kompresional yang dimulai
sejak miosen. Kompresi ini dipengaruhi oleh tumbukan kontinen di arah barat dan ofiolit
serta fragmen-fragmen busur kepulauan di arah timur. Fragmen-fragmen ini termasuk
mikro-kontinen Buton, Tukang Besi dan Baggai Sula. Kompresi ini menghasilkan Jalur
Lipatan Sulawesi Barat (West Sulawesi Fold Belt) yang berkembang pada Pliosen Awal.
Meskipun ukuran fragmen-fragmen ini relatif kecil, efek dari koalisinya dipercaya
menjadi penyebab terjadinya peristiwa-peristiwa tektonik di seluruh bagian Sulawesi
(Calvert, 2003).
a. Kapur Akhir
Selama Kapur Akhir sikuen tebal sedimen bertipe flysch diendapkan di daerah
yang luas di sepanjang daerah Sulawesi bagian barat. Sedimen ini ditindih oleh
kompleks melange di bagian selatan dan kompleks batuan dasar metamorf di
bagian tengah dan utara . Sedimen umumnya berasosiasi dengan lava dan
piroklastik yang mengindikasikan bahwa batuan ini berasal dari busur kepulauan
vulkanik dan diendapkan di daerah cekung an depan busur (Sukamto &
Simandjuntak, 1981). Pada saat yang sama, daerah sulawesi bagian timur
8

berkembang sebagai cekungan laut dalam, tempat sedimen pelagic diendapkan
sejak zaman Jura di atas batuan dasar ofiolit. Besar kemungkinan jika cekungan
laut dalam Kapur ini dipisahkan oleh sebuah palung dari daerah Sulawesi Bagian
Barat. Palung tersebut kemungkinan terbentuk akibat subduksi ke arah barat,
tempat Melange Wasuponda berakumulasi (Sukamto & Simandjuntak, 1981).
Subduksi ini menyebabkan terjadinya magmatisme di sepanjang daerah Sulawesi
Bagian Barat. Batuan metamorf yang ada di Sulawesi Bagian Barat diyakini
terjadi selama subduksi Kapur ini. Daerah Banggai-Sula merupakan bagian dari
paparan benua sejak Mesozoikum awal, dimana diendapkan klastik berumur Trias
akhir hingga Kapur. Batuan dasar benua terdiri dari batuan metamorf zaman
karbon dan plutonik Permo-Trias.
b. Paleogen
Perkembangan sedimen bertipe flysch di Sulawesi bagian barat berhenti di
bagian selatan, sementara di bagian utara masih berlanjut hingga Eosen.
Gunungapi aktif setempat selama Paleo sen di bagian selatan dan selama Eosen di
bagian tengah dan utara, pengendapan batuan karbonat (Formasi Tonasa) terjadi
di daerah yang luas di selatan selama Eosen hingga Miosen yang
mengindikasikan bahwa bagian daerah tersebut adalah paparan yang stabil. Sejak:
Paleosen, sulawesi bagian timur mengalami shoaling dan diendapkan batuan
karbonat air-dangkal (Formasi Lerea). Pengendapan batuan karbonat di daerah ini
berlanjut hingga Miosen Awal (Formasi Takaluku). Di bagian barat Banggai-Sula,
sikuen tebal karbonat bersisipan klastik diendapkan di daerah yang luas. Karbonat
ini diendapkan sampai Miosen Tengah (Sukamto & Simandjuntak, 1981). Zona
subduksi dengan kemiringan ke barat yang dimulai sejak zaman Kapur
menghasilkan vulkanik Tersier Awal di Daerah Sulawesi Bagian Barat, dan proses
shoaling laut di daerah Sulawesi Bagian Timur, begitu pula di Daerah BanggaiSula (Sukamto & Simandjuntak, 1981). Di daerah Selat Makassar terjadi
peregangan kerak. Daerah Selat Makassar bagian utara adalah bagian awal dari
failed rift atau aulacogen, yang terbentuk sebagai bagian selatan dari pusat
pemekaran Laut Sulawesi. Kombinasi guyot, kelurusan gravitasi, fasies seismik,
bersama dengan distribusi aliran panas yang dihasilkan oleh Kacewicz dkk tahun
2002 (dalam Fraser dkk., 2003), mendukung usulan pola transform/ekstensional
untuk peregangan kerak Eosen Tengah di laut dalam Cekungan Makassar Utara.
Titik paling utara Selat Makassar yang mengalami transform adalah cekungan
Muara dan Berau. Sumbu pemekaran lantai samudera kemudian menyebar ke
arah selatan mendekati Paternosfer Platform sumbunya menyimpang ke arah
timur dan kembali ke arah liaratdaya menuju Selat Makassar selatan. Perluasan
yang menerus dan diikuti pembebanan pada Eosen akhir (menghasilkan
peningkatan akomodasi ruang yang signifikan), kelimpahan material benua
berbutir halus diendapkan di daerah yang luas pada Cekungan Makassar Utara,
berlanjut hingga Oligo sen dan Miosen Awal. Suksesi batulempung tebal yang
dihasilkan membentuk media yang mobile untuk thinskinned basal detachment di
9

bawah bagian selatan dari Jalur Lipatan Sulawesi Barat yang mulai ada selama
Pliosen awal.
c. Neogen
Distribusi produk vulkanik yang luas menunjukkan terjadinya vulkanisme
yang kuat selama Miosen Tengah di Daerah Sulawesi Bagian Barat. Batuan
vulkanik yang awalnya diendapkan lingkungan dasar laut dan kemudian setempat
menjadi terestrial pada Pliosen. Vulkanisme berhenti pada Kuarter Awal di selatan
tetapi menerus sampai sekarang di bagian utara. Magmatisme yang kuat di
Daerah Sulawesi Bagian Barat selama Miosen Tengah berkaitan dengan dengan
proses tekanan batuan dalam Daerah Sulawesi Bagian Timur akibat gerakan
benua-mikro Banggai-Sula ke arah barat. Peristiwa tektonik ini mengangkat dan
menganjak hampir keseluruhan material di dalam Daerah Sulawesi Timur, batuan
ofiolit teranjak dan terimbrikasi dengan batuan yang berasosiasi termasuk
melange. Pada bagian lain, ofioit di bagian timur menyusup ke arah timur ke
dalam sedimen Mesozoikum dan Paleogen dari Daerah BanggaiSula. Selama
pengangkatan seluruh daerah Sulawesi yang terjadi sejak Miosen Tengah, sesar
turun (block-faulting)
terbentuk di berbagai tempat membentuk
cekungancekungan berbentuk graben. Saat Pliosen, seluruh area didominasi oleh
block faulting dan sesar utama seperti sesar Palu-Koro tetap aktif. Pergerakan
epirogenic setelahnya membentuk morfologi Pulau Sulawesi yang sekarang.
Peristiwa tektonik ini menghasilkan cekungan laut dangkal dan sempit di
beberapa tempat dan beberapa cekungan darat terisolasi. Batuan klastik kasar
terendapkan di cekungan-cekungan ini dan mernbentuk Molasse Sulawesi.
Peristiwa tektonik Miosen Tengah juga membengkokkan Daerah Sulawesi bagian
Barat seperti bentuk lengkungan yang sekarang dan menyingkap batuan
metamorf di bagian leher pulau. Jaluh Lipatan Sulawesi Barat terletak tepat di
sebelah barat Sesar Palu-Koro, sebuah transform kerak besar dan sinistral, yang
pada awalnya terbentuk saat Eosen oleh pemekaran Laut Sulawesi. Kompresi
yang menerus menghasilkan struktur-struktur berarah barat dari JLSB, sementara
material mikro-kontinen yang awalnya berasal dari Lempeng Australia (Material
Australoid) bergerak ke arah barat selama Miosen bertumbukan dengan JLSB.
Pada Pliosen awal, bagian timur dari batas pre-rift dari Cekungan Makassar Utara
membentuk komponen dasar laut dari JLSB. Mikro-kontinen Australia ini yang
pertama adalah Buton, kemudian diikuti oleh Tukang Besi. Arah vector tumbukan
ini pada awalnya adalah utara-barat laut (dengan perhitungan sekarang),
tumbukan selanjutnya lebih berarah baratlaut. Variasi ini cukup signifikan,
mengingat arah stress yang datang (dari timor dan selatan) mempengaruhi arah
displacement kompresi yang sudah ada di JLSB.

10

2. Stratigrafi Sulawesi Selatan (Bagian Selatan dan Bagian Utara)

11

JAWA

1. Evolusi Magmatik Pulau Jawa
Pra-Tersier
Terdapat jalur subduksi purba mulai dari Jawa Barat Selatan (Ciletuh), Pegunungan Serayu (Jawa
Tengah), dan Laut Jawa bagian timur ke Kalimantan Tenggara. Lalu hadir jalur magmatik Kapur yang
menempati lepas pantai utara Jawa (berwarna ungu pada gambar 8a). Jalur subduksi purba disebabkan
penunjaman lempeng India-Australia dibawah lempeng Eurasia yang berarah NE – SW dan pola tektonik
ini dinamakan Pola Meratus.
Tersier
Terdapat jalur subduksi purba membentuk punggungan bawah permukaan laut yang terletak di selatan
Pulau Jawa. Jalur ini merupakan kelanjutan deretan pulau – pulau di sebelah barat Sumatera yang terdiri
dari singkapan melange (Pulau Nias) berumur Miosen. Punggungan berimpit dengan anomali gaya berat
negatif. Jalur ini merupakan satuan tektonik yang penting karena dikaitkan dengan terangkatnya masa
ringan dibandingkan sekitarnya sebagai akibat penyusupan Lempeng Indo-Australia di bawah Lempeng
Mikro – Sunda. Jalur magmatik Tersier menempati sepanjang pantai selatan Pulau Jawa (berwarna merah
pada gambar 8a).
Secara garis besar, jalur magma Tersier dibagi menjadi dua periode :

Eosen Akhir – Miosen Awal
Pola subduksi mengalami perubahan jalur semakin ke arah W – E. Pergerakan arah tegasan NW – SE ke
arah relatif N – S, sehingga terdapat pola struktur yang lebih muda, yaitu Pola Sunda.

1. Miosen Akhir – Pliosen – Resen
Pola subduksi yang sudah berarah W – E menghasilkan jalur magmatisme berarah W – E juga yang
menghasilkan pola – pola struktur berarah W – E dan berlangsung hingga saat ini. Pola struktur ini
dinamakan Pola Jawa.

2. Derah Penghasil emas di Pulau Jawa
a. Cikotok Jawa Barat
Cikotok telah ditemukan sejak tahun 1839 yang kemudian dieksploitasi mulai tahun 1936 oleh
perusahaan Belanda N.V. Mijnbauw Maatschapij Zuid Bantam (MMZB). Pada 1939 hingga tahun
12

1942 terpaksa terhenti akibat terjadinya Perang Dunia II. Selama pendudukan Jepang 1942 –
1945, kegiatan tambang dikerjakan oleh perusahaan Jepang Mitsui Kosha Kabushiki Kaisha
tetapi tidak menambang emas melainkan timah hitam timbal (Pb) di Cirotan untuk keperluan
produksi amunisi. Pada masa pemerintahan Sukarno tahun 1958, tambang emas Cikotok
diresmikan dan dikerjakan oleh NV Tambang Emas Tjikotok (TMT) yang berada di bawah
manajemen NV Perusahaan Pembangunan Pertambangan (P3). Setelah beberapa kali berganti
induk perusahaan, pada tanggal 5 Juli 1968 tambang emas Cikotok dikelola oleh PN Aneka
Tambang (BUMN) yang lalu berubah menjadi PT Aneka Tambang sejak 1974 dan sekarang
kemudian dikenal sebagai PT Antam.
b. Banyuwangi Jawa Timur
c. Tambang emas Cibaliung - Banten
Tambang emas Cibaliung terletak di ujung Barat Daya Pulau Jawa, di sebelah Timur Taman
Nasional Ujung Kulon dan secara administratif berada di wilayah Desa Mangku Alam - Padasuka
Kecamatan Cimanggu Kabupaten Pandedglang
Lokasi tambang berjarak ± 197 km dari Jakarta dan dapat dicapai dengan menggunakan
kendaraan roda empat selama ± 4 jam perjalanan melalui jalan beraspal menuju Kecamatan
Cibaliung dan Cimanggu
Kondisi topografi daerah tambang dan sekitarnya pada umumnya bergelombang (undulating)
sampai berbukit dengan kisaran ketinggian 30-300 m di atas permukaan air laut. Perbukitan
yang lebih tinggi terletak di sebelah Barat lokasi proyek (di luar WIUP) yaitu Gunung Honje ±
620 m yang masuk dalam Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon
Sebagian besar sungai mengalir ke arah selatan menuju Samudera Hindia dan hanya sebagian
kecil sungai mengalir ke arah Barat Laut yang bermuara di Selat Sunda
Seperti kebanyakan daerah di Indonesia, daerah Tambang Emas Cibaliung memiliki dua musim
utama, yaitu musim penghujan yang berlangsung dari bulan Oktober sampai bulan Maret dengan
kisaran suhu 25-30 derajat celcius dan musim kemarau berlangsung dari bulan April sampai bulan
September dengan kisaran suhu 30-32 derajat celcius
Geologi Tambang Emas Cibaliung. Tambang Emas Cibaliung terletak di bagian tengah dari busur
magmatik Sunda-Banda yang berumur Neogene. Batuan asal (host rock) pembawa bijih emasperak adalah batuan Honje Volcanic dengan umur Akhir Miosen yang diterobos oleh subvolcanic
andesit-diorit berupa "plug" atau "dike" dan kadang terpotong oleh "diatreme breccia".
Menumpang tidak selaras di atas batuan asal ini berupa dacitic tuff, sediment muda, dan aliran
lava basalt yang berumur Miosen Kuarter
Secara struktur geologi, prospek emas di Cibaliung terletak dalam koridor struktur yang berarah
Barat-Barat Laut dengan lebar 3,5 km dan panjang 6 km. Dua struktur arah Utara-Barat Laut
yang kaya cadangan emas dengan posisi relatif tegak sebagai sistem urat kuarsa, adalah Cikoneng
di sebelah Utara dan Cibitung di sebelah Selatan yang berjarak 400 m. Tubuh yang kaya
cadangan emas ini memiliki ukuran tebal 1-10 m, panjang 140-200 m, kedalaman sampai lebih
300 m dan masih menerus ke bawah. Tubuh yang kaya cadangan emas Cikoneng-Cibitung ini
berupa "dilational jogs" dan "sigmoid bends" yang terbentuk dari perpotongan patahan BaratBarat Laut, Utara-Barat Laut, dan Utara-Timur Laut. Bijih emas dan perak di Cikoneng-Cibitung
terjadi oleh beberapa fase urat kuarsa "low sulfidation adularia-sericite" dalam sistem epitermal

13

MALUKU
1. Keterdapatan nikel di Maluku dan Maluku Utara

Proses terbentuknya nikel
Nikel biasanya terbentuk bersama-sama dengan kromit dan platina dalam batuan
ultrabasa seperti peridotit, baik termetamorfkan ataupun tidak. Terdapat dua jenis
endapan nikel yang bersifat komersil, yaitu: sebagai hasil konsentrasi residual silika
dan pada proses pelapukan batuan beku ultrabasa serta sebagai endapan nikeltembaga sulfida, yang biasanya berasosiasi dengan pirit, pirotit, dan kalkopirit.
Keterdapatan nikel dan kobal di Maluku
Potensi nikel yang sudah diketahui kurang lebih 220.000.000 ton, tersebar di
beberapa lokasi yaitu Tanjung Buli, Pulau Gee, Pulau Pakal, Pulau Gebe, Pulau Obi
dan Teluk Weda. Di antara lokasi tersebut yang sudah ditambang adalah Pulau Gebe
dan Pulau Gag. Yang siap tambang adalah Tanjung Buli, Pulau Gee dan Pulau PakaI.
Daerah lain yang mempunyai indikasi endapan nikel yang belum diketahui
potensinya adalah Dodaga, Romonli, Gunung GunduL, Marnopo, Manitinting yang
semuanya terdapat di Halmahera. Nilai tambah dari endapan laterit nikel ini adalah
mengandung logam kobal dengan kadar 0,09-0,11% Co.
Keterdapatan nikel di Maluku utara
Geologi regional daerah ini (pulau pakal) merupakan bagian dari segmen ofiolit berumur
Kapur-Jura yang menempati Tektonik Global Sabuk Ofiolit Sirkum Pasifik MesozoikumKenozoikum
Litologi batuan ultramafik sebagai batuan asal laterit nikel di Pulau Pakal tersusun atas dunit
dan harzburgit. Batuan tersebut berkomposisi mineral olivin-forsterit dan ortopiroksen
enstatit dengan mineral aksesoris terdiri dari kromit, magnetit, dan pentlandit. Batuan tersebut
mengalami alterasi serpentinisasi tingkat lemah hingga sedang, dicirikan oleh kumpulan
mineral lizardit, antigorit, krisotil, bastit, magnesit, dan brusit, serta dilanjutkan pada proses
pelapukan membentuk laterit tersusun oleh garnierit, mineral lempung, krisopras, dan silika.
Laterit nikel di daerah penelitian, tersusun atas zonasi profil (bagian atas hingga bagian
bawah) : (1) Tanah penutup, ketebalan berkisar 1-2 m, warna coklat tua, tersusun oleh
dominan soil dengan oksida besi gutit-limonit dan beberapa silika, krisopras, garnierit, dan
magnetit-hematit, dengan dicirikan kandungan besi tinggi (Fe = 45%-50%), kandungan silika
rendah (SiO2 1%-10%), dan kandungan nikel rendah (Ni = 0,1%-0,2); (2) Limonit, memiliki
ketebalan 3-10 m, warna coklat kekuningan, tersusun atas dominan soil dengan oksida besi
gutit-limonit dan beberapa silika, krisopras, garnierit, dan magnetit-hematit, dengan dicirikan
kandungan besi tinggi (Fe = 45%-50%), kandungan silika rendah (SiO2 20%-30%), dan
kandungan nikel sedang (Ni = 1%-2): (3) Saprolit, ketebalan berkisar 5-25 m, kekerasan
lunak-keras, warna kekuningan dan kelabu, dapat terlihat tekstur batuan asal, retak, sebagian
14

terisi oleh oksida besi gutit-limonit, silika, krisopras, garnierit, dan magnetit-hematit, dengan
dicirikan kandungan besi rendah (Fe = 10-20%), kandungan silika (SiO2 = 20%-40%), dan
kandungan nikel tinggi (Ni = 2%-4%); (4) Batuan dasar, ketebalan tidak diketahui, tekstur
holokristalin, tersusun oleh mineral utama olivin dan sedikit piroksen dengan dicirikan oleh
kandungan magnesium tinggi (Mg = 45%-50%), kandungan silika tinggi (SiO2 = 40%-50%),
dan kandungan nikel rendah (Ni = 0,1%-0,3%).

2. Evolusi tektonik daerah Maluku dan sekitarnya

Kawasan Maluku Utara adalah kawasan yang didominasi oleh
perairan,dengan perbandingan luas daratan dan laut adalah 1 : 3.
Kawasan ini terdiri atas 353 pulau dengan luas kira-kira 32.000 km², yang
tersebar di atas perairan seluas 107.381 km². Gugusan kepulauan di
kawasan Maluku Utara terbentuk oleh relief-relief yang besar, Palungpalung samudra, dan Punggung Pegunungan yang sangat mencolok saling
bersambung
silih
berganti.
Secara
umum
struktur
fisiografi kawasan Maluku Utara terbentuk dari zona pertemuan dua
sistem bentang alam. Kedua sistem bentang alam tersebut antara lain
adalah Sistem Bentang Alam Sangihe dan Sistem Bentang Alam
Ternate, dengan batasnya adalah Cekungan Celebes di barat dan Cekungan
Halmahera di timur.
Zona benturan Laut Maluku merupakan bagian yang paling rumit
dikawasan ini. Lempeng Laut Maluku, yaitu sebuah lempeng benua
kecilmengalami tumbukan ke Palung Sangihe di bawah Busur Sangihe di
barat dan ke arah timur di bawah Halmahera, sedangkan di sebelah
selatannya terikat oleh Patahan Sorong. Busur dalam Halmahera yang
bersifat vulkanis berkembang disepanjang pantai barat Halmahera dan
menghasilkan pulau-pulau lautan yang bersifat vulkanis, antara lain
adalah : Ternate, Tidore, Makian dan Moti. Mareterbentuk dari material
vulkanis yang terangkat, sedangkan Kayoa berasal dariterumbu karang
yang terangkat. Mayu dan Tifore yang terletak di sepanjang gigirtengah
Laut Maluku yang meninggi merupakan keping Melange aktif .
Pulau Halmahera dan pulau-pulau disekitarnya yang ada di Indonesia
bagian Timur termasuk ke dalam sistem pertemuan 3 (tiga) lempeng yaitu
lempeng Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Samudera Philipina
(Hamilton, 1979). Bagian Utara Halmahera merupakan lempeng
Samudera Philipina yang menunjam di bawah Philipina sepanjang palung
Philipina yang merupakan suatu konfigurasi busur kepulauan sebagai hasil
tabrakan lempeng di bagian barat Pasifik. Pulau ini dicirikan
15

dengan Double ArcSystem dibuktikan dengan adanya endapan vulkanik di
lengan barat dan nonvulkanik di lengan timur.
Di selatan Halmahera pergerakan miring sesar Sorong ke arah barat
bersamaan dengan Indo-Australia struktur lipatan berupa sinklin dan
antiklin terlihat jelas pada formasi Weda yang berumur Miosen TengahPliosen Awal. Sumbu lipatan berarah Utara-Selatan, Timur Laut - Barat
Daya, dan Barat Laut-Tenggara.

Tektonik Indonesia Timur (Hamilton,2000)
Struktur sesar terdiri dari sesar normal dan sesar naik umumnya
berarah Utara-Selatan dan Barat Laut-Tenggara. Kegiatan tektonik dimulai
pada Kapur Awal dan Awal Tersier, ketidakselarasan antara batuan
berumur Paleosen-Eosen dengan batuan berumur Eosen-oligosen Awal,
mencerminkan kegiatan tektonik sedang berlangsung kemudian diikuti
kegiatan gunung api. Sesar naik akibat tektonik terjadi pada jaman EosenOligosen. Tektonik terakhir terjadi pada jaman Holosen berupa
pengangkatan terumbu dan adanya sesar normal yang memotong batu
gamping.

16

BALI DAN NUSA TENGGARA
1) Stratigrafi Pulau Bali

2) Keterdapatan endapan porfiri di daerah nusa tenggara
Adanya endapan porfiri – tambang emas di nusa tenggara dinyatakan dengan adanya
perusahaan tambang yang terletak pada Bench 210 area pertambangan terbuka Batu
Hijau.

17

Dengan radius bukaan akhir tambang yang berdiameter lebih dari dua kilometer dan
kedalaman sekitar satu kilometer, diperlukan pembangunan infrastruktur penambangan
dan pengolahan berkapasitas besar. Cebakan Grasberg dan Batu Hijau merupakan
cebakjan tembaga primer berjenis Cu-Au porfiri, dengan metode penambangan terbuka.
Bijihnya mempunyai kandungan utama tembaga (Cu) dengan unsur ikutan berupa emas
(Au) dan perak (Ag), juga memiliki kandungan sulfida yang tinggi. Sulfur juga
berpotensi menjadi komoditas bernilai ekonomis.

PAPU
A
1) Sejarah Tambang Erstberg dan Grasberg
a. Tambang Grasberg
Tambang Grasberg adalah tambang emas terbesar di dunia dan tambang tembaga
ketiga terbesar di dunia. Tambang ini terletak di provinsi Papua di Indonesia
dekat latitude -4,053 dan longitude 137,116, dan dimiliki oleh Freeport yang
berbasis di AS (67.3%), Rio Tinto Group (13%), Pemerintah Indonesia (9.3%)
dan PT Indocopper Investama Corporation (9%). Operator tambang ini adalah PT
Freeport Indonesia (anak perusahaan dari Freeport McMoran Copper and Gold).
Biaya membangun tambang di atas gunung sebesar 3 miliar dolar AS. Pada 2004,
tambang ini diperkirakan memiliki cadangan 46 juta ons emas. Pada 2006
produksinya adalah 610.800 ton tembaga; 58.474.392 gram emas; dan
174.458.971 gram perak[1].
Geologis Belanda Jean-Jacquez Dozy mengunjungi Indonesia pada 1936 untuk
menskala glasier Pegunungan Jayawijaya di provinsi Irian Jaya di Papua Barat.
Dia membuat catatan di atas batu hitam yang aneh dengan warna kehijauan. Pada
1939, dia mengisi catatan tentang Ertsberg (bahasa Belanda untuk "gunung ore").
18

Namun, peristiwa Perang Dunia II menyebabkan laporan tersebut tidak
diperhatikan. Dua puluh tahun kemudian, geologis Forbes Wilson, bekerja untuk
perusahaan pertambangan Freeport, membaca laporan tersebut. Dia dalam tuga
mencari cadangan nikel, tetapi kemudian melupakan hal tersebut setelah dia
membaca laporan tersebut. Dia berhenti merokok dan melatih badannya untuk
menyiapkan perjalanan untuk memeriksa Ertsberg. Ekspedisi yang dipimpin oleh
Forbes Wilson dan Del Flint, menemukan deposit tembaga yang besar di Ertsberg
pada 1960.Penghasilan tembaga Grasberg meningkat dari 515.400 ton pada 2004
menjadi 793.000 ton pada 2005. Produksi emas meningkat dari 1,58 juta ons
menjadi 3,55 juta ons.

b. Tambang Erstberg
Dahulu di tengah masyarakat ada mitologi menyangkut manusia sejati, yang
berasal dari sebuah Ibu, yang menjadi setelah kematiannya berubah menjadi
tanah yang membentang sepanjang daerah Amungsal (Tanah Amugme), daerah
ini dianggap keramat oleh masyarakat setempat, sehingga secara adat tidak
diijinkan untuk dimasuki.

Sejak tahun 1971, Freeport Indonesia, masuk ke daerah keramat ini, dan membuka tambang
Erstberg. Sejak tahun 1971 itulah warga suku Amugme dipindahkan ke luar dari wilayah mereka
ke wilayah kaki pegunungan.
Tambang Erstberg ini habis open-pit-nya pada 1989, dilanjutkan dengan penambangan pada
wilayahGrasberg dengan
ijin
produksi
yang
dikeluarkan Mentamben
Ginandjar
Kartasasmita pada 1996. Dalam ijin ini, tercantum pada AMDAL produksi yang diijinkan
adalah 300 ribu /ton/hari

19

2) Evolusi Tektonik Pulau Papua
Ada 3 model struktur dan tektonisme yang diajukan untuk menjelaskan tentang Papua:

Model pembalikan polaritas subduksi (pembalikan busur) (Dewey and Bird, 1970; Hamilton,

1979; Milsom, 1985; Dow et al. 1988; Katili, 1991) yang menyatakan bahwa lempeng benua Australia
menunjam ke arah utara, diikuti tumbukan (collision) dan penunjaman Lempeng Pasifik ke arah selatan
pada Palung New Guinea.

Model Zippering (Ripper and McCue, 1983; Cooper and Taylor, 1987) yang menyatakan bahwa di

bagian timur pulau Papua, terdapat dua subduksi lempeng samudera yang merupakan kemenerusan ke
arah barat dari subduksi lempeng Solomon.

Model perubahan sudut penunjaman yang menyatakan bahwa subduksi Lempeng Australia
berubah sudut penunjaman menjadi vertikal tanpa pembalikan arah subduksi.
Persamaan ketiga model tersebut di atas adalah bahwa semua menyatakan bahwa bagian selatan dari
Pulau Irian disusupi oleh batas lempeng pasif utara dari benua Australia yang mengandung sedimen tebal
dari sedimen silisiklastik Mesozoikum berubah secara berangsur menjadi lapisan karbonat Kenozoikum.
Sedangkan perbedaan utama yang terjadi adalah peristiwa tumbukan dengan busur kepulauan.

Berdasarkan perubahan dari sedimentasi karbonat menjadi sedimentasi klastik yang luas akibat
pengangkatan orogenesis, tumbukan berawal sejak Miosen Akhir. (Visser and Hermes, 1966; Dow and
Sukamto, 1984; Dow et al., 1988).

Berdasarkan umur batuan metamorf pada Papua Nugini, tumbukan berawal sejak Oligosen Awal
(Pigram et al., 1989; Davies, 1990).

Untuk menjelaskan hal ini, Dow et al., 1988; mengajukan kemungkinan bahwa Papua merupakan
hasil dari dua tumbukan yang berbeda antara kontinen dan busur kepulauan, yaitu selama Oligosen dan
selama Miosen (Orogenesis Melanesia).

20


Quarles van Ufford, 1996 mengajukan kemungkinan bahwa pada Pulau Papua terjadi dua
peristiwa orogenesis yang berbeda secara ruang dan waktu.

Orogenesis Kepulauan pada Eosen-Oligosen terjadi pada daerah Ekor Burung pada bagian paling
Timur dari Pulau Papua (Nugini). Pembentukan dan erosi yang tercatat selama Oligosen dan sedimen
klastik yang lebih muda pada Aure Trough.

Orogenesis Central Range dimulai pada Miosen Tengah dan menyebabkan penyebaran sedimen

klastik yang luas. Orogenesis ini dibagi menjadi tahap sebelum tumbukan dan tahap tumbukan. Tahap
sebelum tumbukan berkaitan dengan metamorfisme pada sedimen batas pasif, sedangkan tahap tumbukan
terjadi ketika pengapungan (buoyancy) litosfer Australia menghentikan subduksi, deformasi melibatkan
basement kristalin dari lempeng benua Australia. Dilaminasi tumbukan terjadi antara 7-3 juta tahun yang
lalu, menyebabkan aktivitas magma tahap akhir dan pengangkatan pegunungan sebanyak 1-2 km. Proses
ini memicu pergerakan sesar mendatar mengiri dengan arah Barat-Timur yang mendominasi tektonik
resen pada Pulau Papua bagian Barat.
3) Pola – pola umum strutur geologi di daerah papua

21

22