You are on page 1of 9

2 Juli – Desember 2010 University of Freiburg mempelajari teologi dan filsafat dan ditunjuk untuk mengajar filsafat di University of Marburg tiga belas tahun kemudian. Hal ini memberikan pengaruh dalam kehidupannya di kemudian hari." lecture. Namun terlepas dari hal itu. Walaupun dikenal dekat dengan beberapa pemikirpemikir Yahudi. ia menuntut ilmu di 1 Penulis adalah Manager Program Yayasan PARAS. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Al Azhar Indonesia Jurnal CommLine Vol 1 No.Wawasan Perspektif Filsafat Komunikasi Martin Heidegger : Karya dan Pemikiran Nanang Haroni Sari Monik Agustin WARISAN PERSPEKTIF FILSAFAT KOMUNIKASI MARTIN HEIDEGGER : Karya dan Pemikiran Oleh: Nanang Haroni¹ dan Sari Monik Agustin² ABSTRACT This writing aims to introduce Martin Heidegger’s thought in Philosophy of Communication Field. "Building Dwelling Thinking. Setelah terputus selama perang dunia II dan beberapa waktu sesudahnya (sebagai akibat dukungannya pada Nazi). Heidegger tetap memberikan dukungan besar pada gerakan Nazi. 1971) Diskusi1 mengenai2 Heidegger tidak dapat dilepaskan dari kenyataan atas dukungannya terhadap Partai Nasional Sosialis Jerman (Nazi) dalam kepemimpinan Hitler. Keywords: dasein. 26 September 1889. Pada 1909. rede. Di sini. while in fact language remains the master of man. 5 August 1951 (published in Poetry. ia kembali memberikan kuliah sampai 1967 dan menulis sampai ia meninggal 189 . his thought of existence and its relation to language and communication studies. dasman. Karya ini membuatnya ditunjuk menjadi dekan filsafat di University of Freiburg pada 1928 dan mengangkat popularitasnya ke panggung internasional. alumni Program Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia 2 Penulis adalah Dosen Tetap di Prodi Ilmu Komunikasi. Heidegger dilahirkan di Messkirch. Language. Ia adalah mahasiswa dan asisten dari Husserl. This writing shows Heidegger’s life. dibawah ini sedikit dibahas mengenai riwayat hidup Heidegger. bahasa. Karya besarnya yang pertama dan sangat berpengaruh. Thought. ia mendapatkan reputasi sebagai dosen inspiratif dn hasratnya untuk berpikir memancar sedemikian sehingga dapat memberi harapan dan berkomunikasi sendiri dengan pendengarnya. being. Sein un Zeit (Being and Time) diterbitkan pada 1927. ada PENDAHULUAN Man acts as though he were the shaper and master of language.

nalar yang mewakili bukan menyingkap.Wawasan Perspektif Filsafat Komunikasi Martin Heidegger : Karya dan Pemikiran dunia pada 26 Mei 1976. Ketidakmampuan filsafat ini. sampai Descartes bahkan juga Nietzsche.com/kompascetak/0405/05/Bentara/998332. Nalar Puitis sebagai Metafilsafat dalam www. 2 Juli – Desember 2010 Ibid. menurut Heidegger. Ia dimakamkan di tempat kelahirannya. Messkirch. Farid Asifa.7 Pada akhirnya Heidegger menawarkan apa yang dinamakan dengan nalar puitis. Bagi Heidegger kesadaran eksistensi manusia adalah kesadaran yang berkenaan dengan the way of Being (cara berada) individu di dunia ini.3 Nanang Haroni Sari Monik Agustin Pengantar Pemikiran Heidegger dikenal dengan penelitiannya mengenai eksistensi dari manusia dan juga kesadaran akan eksistensinya tersebut. h. Baginya nalar puitis bukan puisi. sejarah filsafat adalah sejarah nalar epistemologis.4 Heidegger berupaya menjelaskan keberadaan tersebut dengan mengajukan pertanyaan terhadap seluruh pertanyaan filsafat. yaitu Ada yang menopang segala Adaan.5 Pertanyaan-pertanyaan filsafat yang berlontaran dalam sejarah tak mampu menampung kebenaran yang hakiki dari sang Ada. Filsafat yang seharusnya bertumpu pada kebenaran kemudian hanya memiliki nalar yang identik dengan universalisme. 6 Heidegger berpendapat. bukan pemikiran. 45 4 Wildan Pramudya. Sebagai the way of Being. Sains membekukan geliat nalar pada pandangan dunia mekanisme yang telah menghilangkan dunia dari kemisteriusan dan membuat nalar kehilangan kemampuannya sehingga hanya sekadar kalkulasi. sehingga selalu bertanya pada diri eksistensialnya sebelum melakukan tindakan tertentu dalam dunia sosial. Selain itu. nalar yang mengejar keakuratan representasi antara benar dan kenyataan. terj. Ini yang dimaksud Heidegger saat mengejek fisika sebagai semata-mata kalkulasi.. Sebagai diri yang sungguhsungguh terlibat. mulai dari Yunani klasik sampai modern. bukan eksplorasi. Puisi sekadar 3 5 Joy E. Yang kemudian menjadikan filsafat kehilangan kepekaannya pada yang transenden dengan lahirnya sains pada abad ke-17 sebagai wujud sempurna filsafat alam.htm 7 Ibid. IRCiSoD. disebabkan karena filsafat yang masih berkutat dengan nalar epistemologis. eksistensi sebagai cara "berada" seseorang atau individu yang menempatkan dirinya sebagai diri eksistensial (Dasein) yang benar-benar terlibat (self involvement) dalam dunia sosial.kompas. 23 Agustus 2004 Jurnal CommLine Vol 1 No. 6 190 . Fifty Modern Thinkers on Education. Yogyakarta. semua pertanyaan itu harus dipertanyakan ulang karena tidak bertanya tentang Ada yang sesungguhnya. Bagi Heidegger. Donny Gahral Adian. Para filsuf terlalu asyik bertanya sehingga melupakan perbedaan kentara antara Ada dan Pengada. diri yang benar-benar terlibat adalah diri yang selalu cemas dan berpikir kritis. 2006. Koran Tempo. Palmer (ed). Mulai dari filsuf Milesian. seseorang -dalam memahami dan memutuskan sesuatuselalu merujuk pada dirinya sebagai rujukan utama.

Dunia manusia hanya dimungkinkan melalui penggunaan bahasa. Perspective on Philosophy of Communication. melainkan sebuah kosakata baru tanpa klaim epistemologis apa pun. tidak berurusan dengan kategori benar-salah. Karena bahasa Ada. Modus epistemologis bekerja dengan kategori benar-salah. West Lafayette: Purdue University Press. Hyde. Aroma epistemologis semakin jelas tercium saat Heidegger berbicara tentang Dasein otentik yang mengambil jarak dari "ke-mereka-an" (Dasman). Kebenaran dari Ada (Being)? Kebenaran Being muncul dalam eksistensi setiap entitas. dalam tindakan dan tanggung-jawab.8 Nalar puitis juga bukan sekadar keisengan yang antinalar. 23 11 Ibid 10 191 . yang dipandang sebagai semata-mata kalkulasi bukan pemikiran karena fisika tak bisa melepaskan diri dari pandangan dunia mekanistik dan hanya berfokus menghitung-hitung gerak-gerik semesta tanpa menghasilkan sebuah modus pengucapan alternatif. yakni Being in the world. sebaliknya. maka ia terjebak dalam epistemologi. Dengan eksistensi manusia (human being) dalam pikiran. “Searching for Perfection: Martin Heidegger (with some help from Kenneth Burke) on Language. Ini semua menjadi kesulitan pokok Heidegger. sementara "kelainan" adalah modus puitis. ketika itu semua diletakkan dalam proyek pencarian Ada. Berpikir seharusnya bukan mencari Ada. Namun. melainkan membangun rumah-rumah Ada yang 8 Wildan Pramudya.9 Pencarian Heidegger berkisar dalam pencarian jawaban atas pertanyaan: Apakah yang dimaksud dengan Makna. filsafat. Sementara "kelainan". "Kelainan" berbeda dengan yang transenden. and the Practice of Rhetoric”. Michael J. jawaban Heidegger atas pertanyaan tersebut memperlihatkan hubungan antara Being dan Bahasa (language).cit. termasuk juga dalam pergolakan dan pertentangan atas kesia-siaan dan kebingungan. Jurnal CommLine Vol 1 No. Pengambilan jarak Dasein. Bahasa merupakan sebuah keterbukaan eksisten (kehadiran sang Ada). Transendensi adalah modus epistemologis. misalnya.Wawasan Perspektif Filsafat Komunikasi Martin Heidegger : Karya dan Pemikiran metafora bagi kemampuan nalar membuka modus-modus pengucapan baru tentang jagat raya. dalam proses memutuskan dan berproduksi. Semesta selalu sudah menampilkan dirinya secara kebahasaan karena bagi Heidegger bahasa adalah sebagai rumah Ada. Nalar puitis adalah nalar yang selalu terjaga pada "kelainan". Ia semata-mata sebuah kemungkinan baru dalam berbincang-bincang tentang semesta. Kemampuan yang lenyap saat ilmu pengetahuan. 9 Donny Gahrial Adian. Lebih lanjut menurut Heidegger tujuan puitis. adalah sebuah momen kebenaran setelah ia tenggelam dalam kepalsuan publik. yang ”menghadirkan” sang Ada (Being).11 Esensi bahasa berkaitan dengan keterbukaan Being untuk menjawabnya. 2 Juli – Desember 2010 Nanang Haroni Sari Monik Agustin baru. h. Pengejaran yang sadar atau tidak disadari menggendong sebuah pandangan dunia tertentu. bukan kebenaran baru.cit. Tidak seperti fisika. 2007.10 Bahasa bukanlah sebuah alat yang dimiliki atau dikuasai manusia.op. op. maka dunia Ada. Truth. dan teologi mengejar kebenaran bukan kelainan.

jalan. Namun ’’Ada’’ sendiri bukanlah rumah. ’’Ada’’ adalah sesuatu yang melampaui sekaligus menyelubungi ’’adaan’’. kekuatan personal pemahaman ini (personal cogency of this understanding) melemah karena tenggelam dalam ‘’pembicaraan tanpa arti’’ dan ‘’desas-desus’’ tentang apa yang disebut Heidegger sebagai ‘’diri mereka’’ (they-self). dalam sebagian besar masa hidupnya. semuanya ’’Ada’’. dan didesak oleh fakta kematian kita yang tak terelakan — namun hanya memahaminya dalam pengertian apa yang menjadi kecenderungan dan desas-desus terbaru.12 Perjalanan intelektual Heidegger sampai pada titik saat ia merasa harus melepaskan diri dai tradisi filsafat Barat. 2 Juli – Desember 2010 Nanang Haroni Sari Monik Agustin ‘’mereka’’ — apa yang dipikirkan dan dikatakan ‘’setiap orang’’. ia memulai analisis mendalam mengenai tempat. Teraju. 46 Donny Gahral Adrian. Konsepsi ini bertahan mulai dari Plato sampai Descartes. Inilah pemahaman orang awam yang pada dasarnya tidak bertanggungjawab tentang kehidupan. jalan atau pohon itu sendiri. hal: 16 13 192 . Pemikiran Heidegger yang sering dikutip adalah soal kebenaran yang dimengerti sebagai keterbukaan. Kita hidup dalam memahami. Jakarta. Rumah. Dalam paradigma komunikasi sering diartikan bahwa komunikasi yang jujur dan terbuka mewahyukan sebuah kebenaran. memiliki konsepsi tentang diri kita dalam situasi-situasi yang di dalamnya terdapat pelbagai pilihan. ’’Rumah. Kebenaran identik dengan keterbukaan tidak ada ketertutupan atau yang disembunyikan. di mana ’’Ada’’ (Being) mewujudkan diri -. h.13 12 Palmer. Inti dari karakterisasi Heidegger atas manusia dalam Being and Time adalah bahwa manusia merupakan entitas yang ’’Mengada’’ -nya dipersoalkan. Martin Heidegger. Dasar Pemikiran Penjelajahan Heidegger (yang belum selesai) dalam Being and Time adalah memahami hakikat ‘’Ada’’ (Being) yang – melaluinya segala sesuatu ada. jalan.cit. Dengan demikian. 2003. dan pohon. Untuk mencapai pemahaman ini. ’”Ada’’ dipandang sebagai kenyataan yang hadir terlepas dari sujek manusia. hidup adalah hidup secara ‘’tidak otentik’’— hidup yang tidak sejati bagi diri kita sendiri. ’’Ada’’ ditafsirkan sama dengan ’’adaan’’. misalnya.kehidupan dan pemahaman manusia (Dasein).Wawasan Perspektif Filsafat Komunikasi Martin Heidegger : Karya dan Pemikiran Kaitan ini memunculkan isu ”Kebenaran”. Tradisi Filsafat Barat lalai membedakan antara ’’Ada’’ (Being) dengan ’’a’’ besar dan ’’adaan’’ (beings). Filsafat Barat. Akan tetapi. menurutnya. op. di mana kita tidak memikirkan segala sesuatu dalam pengertian maknanya bagi eksistensi khas kita sendiri — eksistensi yang pada akhirnya dibatasi. menerima begitu saja pemahaman yang miskin tentang ’’Ada’’ (Being). kursi dan trotoar ’’Ada’’ sebagai kenyataan yang berdiri sendiri. Jadi bagi Heidegger kebenaran adalah terbuka tidak tertutup. Inilah kerangka berpikir di mana kita terhanyut oleh kesibukan akan masalah praktis yang langsung terasa dan ‘’pengetahuan umum’’ (common sense) tentang Jurnal CommLine Vol 1 No. asumsi-asumsinya dalam pengertian yang sangat personal.

‘’atas dasar Ada-di-dalamdunia secara bersama ini. Karena manusia bukan benda. maka Heidegger memilih istilah dasein. Penyair dan pemikir adalah penjaga Rumah Ada ini. Keterjebakan yang bukannya mengisolasi.’’ dan manusia bermukim di dalam bahasa. h. Modus eksistensi otentik adalah kesadaran bahwa akulah yang harus menentukan pilihanku sendiri sementara modus eksistensi inotentik Franky Budi Hardiman. Jakarta. KPG. Dan manusia bagi Heidegger. 18 Jurnal CommLine Vol 1 No. melainkan juga melalui Ada orang-orang lain. Sehingga dasein berarti ’’ada di sana (ruang-waktu)’’. 59 15 193 .Wawasan Perspektif Filsafat Komunikasi Martin Heidegger : Karya dan Pemikiran Jadi bagi Heidegger. ibid. Dalam kesibukan sehari-harinya. 2 Juli – Desember 2010 Nanang Haroni Sari Monik Agustin melainkan mengingat Ada agar Ada itu terwahyukan. dunia sudah selalu merupakan dunia yang kumukimi (ditempati) bersama dengan orangorang lain”. Dengan cara ini. ’’Ada’’ tidak bisa direduksi menjadi bendabenda. Heidegger mau meninggalkan cara berpikir argumentatif yang mendominasi pemikiran Barat sejak Aristoteles. Keunikan yang membedakannya bendabenda dan membuatnya mampu mempersoalkan ’’Ada’’. Di hadapan Ada. yaitu menyangkut Ada. Di sini. ‘’Bahasa’’. menurutnya. melainkan termasuk cara mengada kita di dunia ini. 14 Ibid. Heidegger dan Mistik Keseharian. h. manusia mengambil sikap yang disebutnya ’pasivitas bijak’.16 Kata mit dipahami Heidegger secara eksistensial. yakni membuka diri. Heidegger membedakan antara modus eksistensi: otentik dan inotentik.14 Bahasa Berbeda dari humanisme yang memahami manusia sebagai makhluk yang menentukan Ada. Keterjebakan yang justru membuat manusia bertanya-tanya dan mempersoalkan. Maksudnya. Kita mengenal Ada kita tidak hanya melalui diri kita sendiri. Heidegger berpendapat bahwa Ada itu sendirilah yang menyingkapkan diri kepada manusia melalui bahasa. (dalam Hardiman. Ia menuntut perubahan pola pertanyaan filosofis. Menurut Heidegger. Manusia sealu merupakan ’’Ada’’ yang menemukan dirinya terjebak dalam ruang-waktu tertentu. ‘’adalah Rumah Ada (das Haus des Seins). 2002. keberadaan kita bersama orang-orang lain tidak bersifat kebetulan atau ditempelken begitu saja. dasein kehilangan pengertian tentang siapa dirinya sesunguhnya karena tenggelam dalam suatu kemassaan. Berpikir fundamental menurutnya bukan menganalisis. h. Dalam bahasa Jerman ’’Da’’ berarti di sana (ruangwaktu) sedang ’’Sein’’ berarti ’’Ada’’. Ada-di-dalam adalah ada-bersama (Mitsein) orangorang lain.15 Heidegger memperkenalkan istilah mitdasein untuk menjelaskan cara meng ’ada’ Dasein dalam keseharian.17 Dasein dalam kesehariannya selalu merupakan Dasman yang dalam bahasa Indonesia bisa diartikan manusia massa. Mitdasein berarti bersama-ada-di-sana. 58) 17 Ibid. istilah yang elegan untuk menegaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial. h. 41 16 Kata mit berarti bersama atau dengan. Dunia Dasein adalah dunia-bersama (Mitwelt). tapi justru membuka manusia pada persoalan seputar ’’Ada’’. adalah ’’Ada’’ yang unik.

ibid. 59 20 18 Adian.cit. 2 Juli – Desember 2010 194 .20 Bagaimanapun rumitnya menjelaskan bahasa yang digunakan dasein untuk menemukan ‘’Ada’’-nya. h. Pra-konsepsi: memahami martil berarti mengkonseptualisasikan sedari awal bahwa maksud pemakaiannya dalam pembangunan rumah adalah Nanang Haroni Sari Monik Agustin demi keberadaan dasein sebagai tukang bangunan. Dalam konteks inilah ia memperkenalkan istilah memahami yang terkait dengan 19 Adian. h. Misalnya. dan prakonsepsi (fore conception). Dasein menemukan dirinya telah berada dalam dunia yang bukan dunianya sendiri. op. op. Modus eksistensi ketika dasein bertindak. Bahasa adalah alat. Namun bila kita berhubungan dengan orang lain. Ini merupakan karakter dasein yang dalam kesehariannya selalu bepaling dari dirnya sendiri dan hidup seperti manusia massa (dasman). patah dan seterusnya. pemahaman (understanding) dan kejatuhan (fallness). 35-37 Ibid.Wawasan Perspektif Filsafat Komunikasi Martin Heidegger : Karya dan Pemikiran adalah hilangnya kesadaran akan aku yang otentik. Pra-pemahaman: dasein memiliki pemahaman sejak awal bahwa martil bersama dengan paku. Pra penglihatan: memahami martil berarti memiliki penglihatan sejak awal wujud sebuah rumah. tentu kita tidak memperlakukannya seperti benda-benda atau alat-alat. Dasein memahami martil sebagai alat untuk mewujudkan rumah. Pemahaman bagi Heidegger bukan aktivitas kognitif.19 Karakter ketiga adalah kejatuhan atau fallness. sebagaimana orang lain mengucapkannya ketika merasakan sesuatu tentang martil itu. Ia lebih asli dari sekadar pengetahuan teoritis-sadar tentang dunia otentik. terlalu berat. bahasa dan komunikasi bagi Heidegger juga merupakan sistem acuan. h. bukan sekadar alat untuk merepresentasikan ‘’Ada’’. melainkan dunia bersama bermakna yang terwariskan secara historis. gergaji. Bahasa adalah apa yang diistilahkan Heidegger: ’’sangkar ada’’ (Rumah Ada). filsafat bahasa Heidegger berkembang. berbicara seperti layaknya orang lain. Dari sinilah. Dalam contoh tukang bangunan. dan tang merupakan benda-benda siap pakai untuk pertukangan.cit. 40 21 Hardiman. Ia mengucapkan sesuatu tentang martil. prapenglihatan (fore-sight). Pemahaman ditekankan padapemahaman praktis. berpikir. Sebutlah martil.21 Hanya saja. Kejatuhan merupakan modus eksistensi dasein yang tidak otentik. 36 Jurnal CommLine Vol 1 No. ia memahami martil sebagaimana massa memahami bentuk dan mengerti fungsinya. Perbincangan tentang inotentisitas membawa kita pada tiga karakter dasein yang cukup dominan: faktisitas (state of mind). Struktur presuposisi ini terdiri atas prapemahaman (fore-having). Dasein mendapati dirinya terlempar ke suatu dunia yang menentukan kebermaknaan benda-benda bagi dirinya. komunikasi dalam pengertian Heidegger tidak merujuk pada model verbal sehari-hari yang gampang dipahami. Bahwa bahasa.18 Faktisitas menyingkap suatu keterlemparan (throwness). melainkan komunikasi eksistensial. h. Pemahaman dasein memiliki suatu struktur presuposisi (fore-structure).

ketika seorang lelaki duduk di taman memikirkan nasibnya sebagai karyawan yang dipecat perusahaan. Makin banyak kata dimuntahkan. melainkan penyampaian makna (Mitteilung) tanpa artikulasi apapun. Rumusan penafsiran ini berakar pada suatu sikap prareflektif dan praverbal. Demikian juga dengan percakapan (Rede) bukanlah komunikasi verbal. Karena ia bahkan tidak tergantung pada bahasa dalam pengertian mengeksplisitkan duniabersama itu tadi. Moment itu sarat dengan makna yang tak diartukulasikan. hanya terpaku dan saling menatap. seperti diterjemahkan Donny Gahral di muka. h. Maka dalam hal ini. Contoh: dua kawan yang lama tak bertemu. Esensi bahasa. Bahasa adalah apa yang diistilahkan Heidegger: ’’sangkar / rumah Ada’’. adalah ‘eksplisitasi’. 2 Juli – Desember 2010 Ibid. Bahasa dinilai memiliki keterbatasan untuk menghadirkan dunia-bersama. Seperti juga kalau memahami (Verstehen) merupakan suatu keterbukaan untuk menangkap dan memahami sesuatu dari luar. Karena itu dalam kebungkaman (Schweigen). sikap dalam ruang eksistensial kita yang membuka diri keluar untuk coba mengartikulasikan sesuatu. Ia mungkin kemudian melihat pemecatan itu sebagai peluang untuk berkembang lebih baik.’’23 Komunikasi lewat berbagai media modern seperti surat kabar. manusia juga bisa bertutur. Kata sebagai dalam pada rumusan itulah penafsirannya. yaitu kontaknya dengan Ada-nya. Nanang Haroni Sari Monik Agustin KESIMPULAN Sederhananya. dalam perspektif Heidegger. Rede itu sendiri tampaknya dipahami sebagai bentuk komunikasi yang sangat otentik. yakni usaha untuk menyampaikan atau memberitakan sesuatu dari Ada-nya. Itulah percakapan. makin besar ketidakmengertian muncul. 176 195 . sesungguhnya ia bicara dalam arti eksistensial. melainkan suatu penyampaian makna yang mendahului artikulasinya dalam bahasa (Sprache). h. bahasa bukanlah semacam kendaraan yang membawa pesan dari dalam diri seseorang untuk disampaikan kepada orang lain. televisi dan radio tampaknya—dalam perspektif ini—dipenuhi dengan 22 23 Ibid. Jadi ketika seseorang diam.Wawasan Perspektif Filsafat Komunikasi Martin Heidegger : Karya dan Pemikiran ‘menafsirkan’ (Auslegung) dan ‘percakapan’ (Rede). namun disampaikan lewat disposisi dasar eksistensial mereka masing-masing. ia kemudian menafsirkan situasi. Ini bukan paradoks. Itu disposisi eksistensial. melainkan menujukkan bahwa ‘percakapan’ bukan pengucapan makna secara verbal. Rede adalah Mitteilung. tanpa bicara sepatah katapun. ada komunikasi yang tidak otentik. menghadirkan (presentasi) dunia-bersama secara eksplisit. ‘’Rede itu sesuatu yang otentik. Inilah yang kemudian disebut Gerede atau obrolan. Sebagaimana digambarkan Hardiman22. yang berarti tak lain mengorientasikan diri ke masa depan. 75 Jurnal CommLine Vol 1 No. Atau. bahasa bukan sekadar alat untuk merepresentasikan ‘’Ada’’. jadi bukan menghadirkan kembali (re-presentasi). Ia mencoba keluar dari keterpurukan dengan menafsirkan peristiwa yang dia alami.

melalui proses intensitasnya. Adian. dalam Perspective on Philosophy of Communication. West Lafayette: Purdue University Press. 2007. yakni pada saat manusia larut di dalamnya dan tidak sanggup mengambil jarak sama sekali. www. Jakarta: Teraju.com/kompascetak/0405/05/Bentara/998332. Joy E [ed]. Heidegger dan Mistik Keseharian. Jakarta: KPG. “Searching for Perfection: Martin Heidegger (with some help from Kenneth Burke) on Language.kompas. Donny Gahral. DAFTAR PUSTAKA Adian. Donny Gahral. Farid Asifa. yaitu menyangkut otensitas dari eksistensi manusia. 2003. Hal inilah sebenarnya yang ingin ditekankan oleh Heidegger. Martin Heidegger. and the Practice of Rhetoric”. Nalar Puitis sebagai Metafilsafat. Ketika tak sanggup mengambil jarak itulah. Franky Budi. Fifty Modern Thinkers on Education. 23 Agustus 2004. 2006. Hyde.Wawasan Perspektif Filsafat Komunikasi Martin Heidegger : Karya dan Pemikiran Gerede. Jurnal CommLine Vol 1 No. Hardiman melihatnya sebagai situasi yang disebut Heidegger Nanang Haroni Sari Monik Agustin mengalami kejatuhan (fallness). terj. Michael J. 2002. Wildan. Pramudya. Koran Tempo. 2 Juli – Desember 2010 196 . Truth.htm Hardiman. Yogyakarta: IRCiSoD. Palmer. dan berpotensi menumpulkan otentisitas manusia.