BAB IV PENGEMBANGAN KONSEP STRUKTUR RUANG

4.1 Dasar Pertimbangan Memperhatikan profil pembangunan dan hasil analisis pengembangan struktur ruang, dipahami bahwa merumuskan kembali kebijakan struktur ruang telah merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat ditunda lagi. Berkaitan dengan perumusan tersebut, terdapat beberapa hal yang penting untuk dipertimbangkan dalam mensinergikan kebijakan struktur dalam rangka optimalisasi pemanfaatan sumber daya, yaitu : 1. Pengendalian laju pertumbuhan penduduk beserta persebarannya 2. Kekuatan (ekonomi) global dan tekanan internal, khususnya dalam pengembangan sektor-sektor basis 3. Pembentukkan keterkaitan antar pusat-pusat pelayanan perkotaan 4. Daya dukung lingkungan 4.2 Strategi Pembangunan Perkotaan Mengacu kepada empat dasar pertimbangan tersebut diatas, strategi pembangunan perkotaan Metropolitan Bandung sampai dengan tahun 2025 adalah sebagai berikut: 1. Pembagian zona pembangunan berdasarkan dominasi karakter fisik dan kegiatan, serta rentang kendali (span of control) pembangunan oleh pemerintah terkait 2. Pengaturan fungsi kota-kota 3. Pengamanan kawasan lindung 4. Pengurangan ketergantungan kepada Kota Bandung 5. Pengaturan dan pengarahan lokasi pengembangan jaringan infrastruktur regional 4.3 Pembagian Zona Pembangunan Untuk mengembangkan wilayah Metropolitan Bandung agar tidak terpusat di Kota Bandung, maka fungsi Kota Bandung perlu disebarkan ke berbagai bagian wilayah. Untuk itu dilakukan pembagian zona berdasarkan fungsi yang akan dikembangkan di masing-masing zona tersebut. Aktivitas yang akan dikembangkan berdasarkan fungsinya diarahkan kepada lokasi-lokasi yang bukan merupakan kawasan lindung dan lahan sawah serta lahan yang belum terbangun. Zona-zona tersebut seperti terlihat pada Gambar 4.1 adalah : 1. Zona Bandung 2. Zona Lembang 3. Zona Padalarang 4. Zona Gunung Halu - Ciwidey 5. Zona Soreang 6. Zona Jatinangor 7. Zona Rancaekek Zona Bandung Zona Bandung merupakan pusat dari Metropolitan Bandung atau disebut zona inti. Zona ini meliputi Kota Bandung yang terdiri dari kecamatan Bandung Kulon, Babakan Ciparay, Bojong Loa Kaler, Bojong Loa Kidul, Astana Anyar Regol,
60

Lengkong, Bandung Kidul, Margacinta, Rancasari, Cibiru, Ujung Berung, Arcamanik, Cicadas, Kiaracondong, Batununggal, Sumur Bandung, Andir, Bandung Wetan, Cibeunying Kidul, Cibeunying Kaler dan kecamatan Cimahi Selatan di Kota Cimahi, serta Kabupaten Bandung yang meliputi kecamatan Margaasih, Margahayu, Dayeuhkolot, Bojongsoang dan Cileunyi. Aktivitas eksisting yang utama di zona ini adalah pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat pendidikan, dan jasa. Berbagai aktivitas yang ada di Zona Bandung telah mengakibatkan perkembangan perkotaan yang sangat pesat dan telah meningkatkan kepadatan penduduk dan kepadatan bangunan. Akibat dari pesatnya intensitas kegiatan perkotaan tersebut, Zona Bandung menghadapi berbagai permasalahan perkotaan seperti kemacetan, kekumuhan dan permasalahan sosial lainnya. Untuk menangani permasalahan tersebut, maka fungsi zona Bandung perlu dikurangi untuk meredam semakin meningkatnya intensitas penduduk dan kegiatan lainnya. Oleh karena itu, untuk kepentingan jangka panjang, fungsi yang akan dikembangkan adalah hanya terbatas pada fungsi jasa dan pemerintahan. Penetapan kedua fungsi utama ini didasarkan pada peran Kota Bandung sebagai ibukota Propinsi Jawa Barat yang berkaitan erat dengan aktivitas pemerintahan dan berbagai pusat pelayanan jasa. Zona Lembang Zona Lembang merupakan zona konservasi, karena zona tersebut merupakan daerah tangkapan air untuk wilayah Metropolitan Bandung. Zona ini meliputi Kecamatan Cikalong Wetan, sebagian Padalarang, Ngamprah, Cisarua, Parongpong, Lembang, Cimenyan, Cilengkrang, Cimahi tengah dan Cimahi Utara, dan sebagian Kecamatan Sukasari di Kabupaten Sumedang. Penetapan fungsi ini tidak berarti akan mematikan aktivitas ekonomi di zona tersebut, untuk itu perlu dikembangkan aktivitas yang tidak berpotensi mengurangi fungsi lindungnya. Oleh karena itu fungsi pertanian dan pariwisata akan menjadi aktivitas utama di Zona Lembang. Zona Padalarang Zona Padalarang meliputi Kecamatan Cipeundeuy, Cipatat, Padalarang dan Batujajar. Zona ini akan diproyeksikan menampung sebagian fungsi Kota Bandung yaitu industri , perdagangan skala besar dan pendidikan. Pertimbangkan penetapan fungsi ini adalah adanya dukungan infrastruktur transportasi dan adanya potensi sumber air dari Waduk Cirata dan Waduk Saguling. Selain itu, fungsi yang akan dikembangkan adalah pariwisata, baik wisata alam maupun wisata buatan. Dasar penentuan fungsi pariwisata adalah adanya Waduk Cirata dan Waduk Saguling yang dapat dikembangkan menjadi wisata air. Zona Gunung Halu - Ciwidey Zona ini merupakan zona terbesar di wilayah Metorpolitan Bandung dan merupakan kawasan konservasi. Penetapan fungsi utama kawasan konservasi ini didasarkan pada karakteristik fisik dasar yang terkatagorikan kawasan lindung. Namun demikian, seperti halnya zona Lembang, kegiatan ekonomi tetap harus dikembangkan di zona ini dengan tetap memperhatikan keberadaan kawasan lindung. Untuk itu fungsi yang akan dikembangkan adalah pertanian dan pariwisata. Zona Soreang Zona Soreang meliputi kecamatan Cililin, Soreang, Katapang, Pameungpeuk, Baleendah, Ciparay, Arjasari bagian Utara, dan Banjaran bagian Utara. Fungsi utama di zona tersebut adalah pemerintahan, pertanian dan perdagangan. Pertimbangan penetapan fungsi ini adalah bahwa zona Soreang merupakan pusat pemerintahan di Kabupaten Bandung, dan untuk fungsi pertanian pertimbangannya adalah bahwa kondisi eksisting di zona tersebut masih terdapat lahan sawah. Sedangkan untuk fungsi perdagangan skala besar adalah untuk menyebarkan pusat pelayanan distribusi barang dalam konteks wilayah Metropolitan Bandung.
61

Zona Jatinangor Zona ini meliputi Kecamatan Sukasari, Jatinangor, Tanjungsari dan Cimanggung. Fungsi yang akan dikembangkan adalah sebagai kawasan pendidikan tinggi. Pertimbangan utama dalam menentukan fungsi zona menjadi pendidikan adalah keberadaan pendidikan tinggi di Jatinangor yang diharapkan di masa yang akan datang dapat dikembangkan dengan penataan yang layak sebagai kawasan pendidikan. Zona Rancaekek Zona Rancaekek meliputi kecamatan Rancaekek, Cicalengka, Cikancung, Nagreg, Paseh sebelah Utara, Solokan Jeruk dan Majalaya. Fungsi yang akan dkembangkan adalah industri dengan pertimbangan adanya industri eksisting dan ketersediaan infrastruktur. Fungsi lain yang akan dikembangkan adalah perdagangan skala besar.

Gambar 4.1 Pembagian Zona Metropolitan Bandung

Pengembangan kegiatan yang berdasarkan fungsi di tiap zona tersebut, memperhatikan komposisi luasan fungsi lindung dan budidaya, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.1. 4.4 Pengembangan Sistem Kota-Kota Pengembangan sistem kota-kota bertujuan mewujudkan keseimbangan dan keselarasan pembangunan antar wilayah sesuai dengan fungsi yang diemban, serta daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup guna mendukung struktur tata ruang yang telah direncanakan.
62

Prinsip pembentukan sistem kota-kota di Metropolitan Bandung adalah: a. Membatasi daerah perkotaan untuk tidak meluas dan tidak beraturan, b. Menjaga keberadaan Kawasan Lindung, c. Mengintegrasikan fungsi dan pusat pelayanan di kota-kota di luar Kota Inti (Kota Bandung dan Kota Cimahi), dalam rangka menyebarkan pusat pertumbuhan dan mengurangi beban Kota Inti Pengembangan sistem pusat-pusat di Metropolitan Bandung dilakukan melalui penetapan hirarki, fungsi/aktivitas utama, dan strategi pengembangan pembangunan perkotaan di masing-masing kota. Klasifikasi hirarki, fungsi dan strategi pengembangan adalah sebagai berikut : 1. Hirarki Kota, dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) klasifikasi, yaitu : a. Kota Inti, yaitu Kota Bandung dan Cimahi b. Sub Pusat Wilayah I, yaitu Padalarang, Cipeundeuy, Soreang, Banjaran, Majalaya, Jatinangor, dan Rancaekek. c. Sub Pusat Wilayah II, yaitu Lembang, Cililin, Ciwidey, dan Pangalengan.
Tabel 4.1 Ketersediaan Lahan Berdasarkan Fungsi Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya ZONA Zona Bandung POLA TATA RUANG LUAS (ha) 263,6 5672,9 17.310.5 1022,1 7765,2 6149,3 8668,2 3834,0 18582,5 2905,9 3616,1 6060,2 4846,8 25390,3 3743,5 16.224,4 59874,2 2399,0 31345,9 5320,3 38178,8 2563,9 1452,5 102,9 1421,0 10121,5 19587.2 1499,1 2478,2 7,0 986,1 1804,6 8190,1 1454,2 611,7 126,1 1378,5 8525,2 15689,7

Kawasan Lindung non-hutan Sawah Budidaya Lain Zona Lembang Hutan Konservasi Hutan Lindung Hutan Produksi Lindung Non-Hutan Sawah Budidaya Lain Zona Padalarang Hutan Lindung Hutan Produksi Lindung Non-Hutan Sawah Budidaya Lain Danau/Waduk/Situ Zona Gunung HaluHutan Konservasi Ciwidey Hutan Lindung Hutan Produksi Lindung Non-Hutan Sawah Budidaya Lain Danau/Waduk/Situ Zona Soreang Hutan Lindung Hutan Produksi Lindung Non-Hutan Sawah Budidaya Lain Danau/Waduk/Situ Zona Jatinangor Hutan Konservasi Hutan Lindung Lindung Non-Hutan Sawah Budidaya Lain Zona Rancaekek Hutan Konservasi Hutan Lindung Hutan Produksi Lindung Non-Hutan Sawah Budidaya Lain Sumber : Citra Landsat 2001 (utk lahan sawah) dan Hasil Analisis

63

2. Fungsi/Aktivitas Utama, dikelompokkan ke dalam 7 (tujuh) klasifikasi, yaitu : a. Jasa b. Perdagangan (Grosir dan Non-Grosir) c. Industri (Non-polutan dan tidak memerlukan banyak air dalam proses produksi; Industri Manufaktur; Industri Pertanian) d. Pemerintahan e. Pendidikan Tinggi f. Agribisnis g. Pariwisata 3. Strategi Pengembangan Kota-Kota, dikelompokkan kedalam 3 (tiga) klasifikasi, yaitu : a. Penataan dan pengendalian pertumbuhan b. Pengembangan pertumbuhan melalui insentif infrastruktur c. Pembatasan pertumbuhan Pengembangan sistem kota-kota Metropolitan Bandung dapat dilihat pada gambar 4.2, dan strategi pengembangan di masing-masing kota inti dan sub wilayah dapat dilihat pada tabel 4.2.

PURWAKARTA SUBANG
Cipeundeuy
WADUK CIRATA
CIKALONG W ETAN % CIPEUNDEUY %

G. Tangkuban Parahu

$
CISARUA %

Lembang

CIANJUR

Padalarang
% CIPATAT % % PADALARANG % BATUJAJAR NGAMPRAH %

CIREBON
S. Cikapu ndun g

PARONGP ONG %

% LEMBANG

Bandung
KOTA CIMAHI

Cililin
WADUK SAGULING
RONGGA CIPONGKOR % % CILILIN % MARGAASIH

KOTA BANDUNG

MARGAHAYU DAYEUHKOLOT % %

S. Cibeur eum

Jatinangor
SUKASARI %

CIMENYAN CILENGKRANG % % % TANJUNGSARI

Rancaekek KABUPATEN SUMEDANG
JATINANGOR % % % CIMANGGUNG

CI LEUNYI

G. Krenceng
BOJ ONGSOANG % % RANCAEKEK
k S. Citari

$

Soreang
SOREANG KATAPANG % % GUNUNGHALU

Banjaran
% PAMEUNGPEUK %
m Citaru S.

SOLOKAN JERUK % CIPARA Y % %

CICALENGKA %
S. Ci t ar ik

GARUT/ TASIKMALAYA

BALEENDAH

Majalaya
% MAJALAYA % PASEH

CIKANCUNG

NAGREG %

% SINDANGKERTA % BANJA RAN

% ARJASARI

G. Mandalawangi
% IBUN

Ciwidey
%
idey S . Ciw

$

% PASIRJAMBU

CIMAUNG

KABUPATEN BANDUNG
% PACET
S . Ci tarum Hulu

Kota Inti Sub Pusat Wilayah I Sub Pusat Wilayah II Ring Road I

CIWIDEY %

S. Ci san gkuy

RANCABALI %

%

Pangalengan

PANGALENGAN

% KERTASARI

$ G. Patuha

Ring Road II

G. Malabar

$

Gambar 4.2 Sistem Kota-Kota Metropolitan Bandung

Sesuai dengan fungsi yang akan dikembangkan dalam Zona Bandung maka untuk melayani fungsi tersebut Kota Bandung dan Kota Cimahi membutuhkan beberapa fasilitas, antara lain : 1. Penyediaan sarana angkutan umum masal yang memadai 2. Pengembangan ruas-ruas jalan yang memadai
64

3. Penyediaan permukiman vertikal 4. Penyediaan sarana perkantoran Kota Lembang sebagai pusat pelayanan untuk Zona Lembang sesuai fungsinya membutuhkan beberapa fasilitas, antara lain: 1. 2. 3. 4. Penyediaan Terminal agribisnis Penyediaan pasar pertanian Penyediaan Rumah Sakit Tipe B Pengembangan sarana dan prasarana wisata alam

Kota Padalarang sebagai salah satu pusat pelayanan untuk zona Padalarang sesuai dengan fungsinya membutuhkan beberapa fasilitas, antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. Rumah Sakit Tipe A Terminal Tipe A Pusat Perdagangan Grosir Penyediaan Pasar Induk Pengembangan sarana dan prasarana Wisata Waduk Cirata, Saguling dan Situ Ciburuy 6. Penyiapan kawasan siap bangun Kota Cipeundeuy sebagai salah satu pusat pelayanan untuk Zona Padalarang sesuai dengan fungsinya membutuhkan beberapa fasilitas, antara lain: 1. 2. 3. 4. Penyiapan sarana dan prasarana kawasan industri Pengembangan pemukiman skala besar dan penyiapan KASIBA Penyiapan IPAL industri dan domestik Penyediaan TPA Regional

Kota Cililin sebagai salah satu pusat pelayanan untuk Zona Padalarang sesuai dengan fungsinya membutuhkan beberapa fasilitas, antara lain: 1. Pengembangan pemukiman skala sedang 2. Pengembangan sarana dan prasarana Wisata Waduk Saguling
Tabel 4.2 Pengembangan Sistem Kota-Kota
No A B C Pusat Pengembangan Zona Bandung (Kota Bandung dan Cimahi) Zona Lembang (Lembang) Zona Padalarang 1. Padalarang 2. Cipeundeuy 3. Cililin D Zona Gunung Halu-Ciwidey 1. Ciwidey 2. Pangalengan Zona Soreang 1. Soreang 2. Banjaran F Zona Rancaekek 1. Rancaekek 2. Majalaya Status/ Hirarki Pusat Wilayah Sub Pusat Wilayah II Sub Pusat Wilayah I Sub Pusat Wilayah I Sub Pusat Wilayah II Sub Pusat Wilayah II Sub Pusat Wilayah II Sub Pusat Wilayah I Sub Pusat Wilayah I Sub Pusat Wilayah I Sub Pusat Wilayah I Sub Pusat Wilayah I Skala Pelayanan Nasional Lokal Regional Regional Lokal Lokal Lokal Regional Regional Regional Regional Regional Strategi Pengembangan Penataan Kawasan Pertumbuhan dan Pengendalian

Pemenuhan sarana dan prasarana dasar Pengembangan Pertumbuhan melalui Insentif Infrastruktur Pengembangan pertumbuhan dan pemenuhan sarana dan pasarana dasar Pembatasan pertumbuhan kaw. Permukiman dan pengembangan pariwisata Penataan Kawasan dan Pengendalian Pertumbuhan Penataan Kawasan dan Pengendalian Pertumbuhan Intervensi pertumbuhan melalui Insentif Infrastruktur Intervensi pertumbuhan melalui Insentif Infrastruktur Penataan Kawasan dan Pengendalian Pertumbuhan Intervensi pertumbuhan melalui Insentif Infrastruktur Pengembangan dan Penataan Kawasan serta Pengendalian Pertumbuhan

E

Zona Jatinangor 1. Jatinangor Sumber : Hasil Analisis

G

65

Kota Ciwidey sebagai salah satu pusat pelayanan untuk Zona Gunung Halu Ciwidey sesuai dengan fungsinya membutuhkan beberapa fasilitas, antara lain: 1. Pengembangan pemukiman skala kecil 2. Pengembangan sarana dan prasarana wisata alam 3. Pengembangan sarana dan prasarana transportasi Kota Pangalengan sebagai salah satu pusat pelayanan untuk Zona Gunung Halu Ciwidey sesuai dengan fungsinya membutuhkan beberapa fasilitas, antara lain: 1. 2. 3. 4. Pengembangan permukiman skala kecil Pengembangan sarana dan prasarana wisata alam Penyediaan rumah sakit tipe B Penyediaan pasar dan terminal agribisnis

Kota Soreang sebagai salah satu pusat pelayanan untuk Zona Soreang sesuai dengan fungsinya membutuhkan beberapa fasilitas, antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Penyediaan sarana dan prasarana perkantoran Pengembangan permukiman skala besar Pengembangan pusat perdagangan skala besar Penyediaan rumah sakit tipe A Penyediaan terminal tipe B Pengembangan pertanian sawah irigasi teknis

Kota Banjaran sebagai salah satu pusat pelayanan untuk Zona Soreang sesuai dengan fungsinya membutuhkan beberapa fasilitas, antara lain: 1. 2. 3. 4. Pengembangan permukiman skala sedang Pengembangan sarana dan prasarana industri non polutan Pengembangan pertanian sawah irigasi teknis Penyediaan IPAL Industri dan Domestik

Kota Rancaekek sebagai salah satu pusat pelayanan untuk Zona Rancaekek sesuai dengan fungsinya membutuhkan beberapa fasilitas, antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. Pengembangan permukiman intensif (vertikal) Pengembangan pusat perdagangan grosir Penyediaan rumah sakit tipe B Penyediaan terminal tipe A Penyediaan pasar induk

Kota Majalaya sebagai salah satu pusat pelayanan untuk Zona Rancaekek sesuai dengan fungsinya membutuhkan beberapa fasilitas, antara lain: 1. Pengembangan sarana dan prasarana industri manufaktur 2. Penyediaan IPAL Domestik dan Industri 3. Penyediaan TPA regional Kota Jatinangor sebagai salah satu pusat pelayanan untuk Zona Jatinangor sesuai dengan fungsinya membutuhkan beberapa fasilitas, antara lain: 1. Pengembangan sarana dan prasarana pendidikan 2. Penyediaan rumah sakit tipe B 3. Penyediaan sub terminal 4.5 Pengembangan Infrastruktur Wilayah Pengembangan infrastruktur wilayah didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut : Mendukung pembentukan sistem kota-kota

66

Memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi Metropolitan Bandung terutama dalam meningkatkan pelayanan transportasi, prasarana permukiman dan penanganan masalah lingkungan. Meningkatkan daya tampung dan daya dukung lingkungan melalui optimalisasi sumberdaya lahan dan air 4.5.1 Pengembangan Infrastruktur Transportasi Jenis infrastruktur wilayah yang dikembangkan di Metropolitan Bandung dilakukan berdasarkan kriteria pengembangan infrastruktur wilayah yang mengacu pada fungsi dan peranan infrastruktur wilayah dalam pembangunan suatu wilayah yaitu: a. Pengarah Pembentukan Struktur Ruang Wilayah Penentuan jenis infrastruktur yang dikembangkan di Metropolitan Bandung, infrastruktur wilayah harus berfungsi sebagai pengarah pembentukan struktur ruang wilayah yaitu : Infrastruktur yang dikembangkan harus sesuai dengan fungsi dan peranan kota Infrastruktur yang dikembangkan adalah infrastruktur yang dapat mengarahkan pembangunan pada wilayah-wilayah yang didorong perkembangannya. Berdasarkan kriteria pengembangan infrastruktur wilayah tersebut maka dapat diidentifikasi bahwa infrastruktur wilayah yang dikembangkan di Metropolitan Bandung aantara lain adalah : Infrastruktur yang sesuai dengan fungsi Kota Bandung dan Kota Cimahi sebagai zona inti Metropolitan Bandung yang mempunyai skala pelayanan nasional. Infrastruktur wilayah yang membentuk struktur ruang wilayah Jawa Barat yang terintegrasi (infrastruktur wilayah yang menghubungkan Metropolitan Bandung dengan kota-kota lain terutama di Jawa Barat). Infrastruktur wilayah yang membentuk struktur ruang wilayah internal Metropolitan Bandung yang terintegrasi (infrastruktur wilayah yang menghubungkan zona inti dengan zona-zona lainnya). b. Pemenuhan Kebutuhan Wilayah Penentuan jenis infrastruktur yang dikembangkan di Metropolitan Bandung adalah infrastruktur wilayah yang berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan wilayah : Infrastruktur yang dikembangkan adalah infrastruktur yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan sektor produksi (perekonomian) unggulan. Infrastruktur yang dikembangkan adalah untuk memenuhi kebutuhan penduduk (domestik). Berdasarkan kriteria pengembangan infrastruktur wilayah tersebut maka dapat diidentifikasi bahwa infrastruktur wilayah yang dikembangkan di Metropolitan Bandung antara lain adalah : Infrastruktur wilayah yang mendukung pengembangan sektor produksi (perekonomian) unggulan di Metropolitan Bandung yaitu sektor jasa, pariwisata, industri dan perdagangan, agribisnis, perikanan dan pendidikan. Infrastruktur wilayah yang dapat memenuhi kebutuhan penduduk (domestik). Pemacu Pertumbuhan Wilayah Penentuan jenis infrastruktur yang dikembangkan di Metropolitan Bandung adalah infrastruktur wilayah yang berfungsi sebagai pemacu pertumbuhan wilayah :

c.

67

Infrastruktur yang dikembangkan adalah infrastruktur yang mendukung terwujud pusat pertumbuhan sebagai pusat koleksi dan distribusi bagi wilayah hinterlandnya. Infrastruktur yang dikembangkan adalah infrastruktur yang dapat mengarahkan pembangunan pada wilayah-wilayah hinterlandnya yang didorong pengembangannya. d. Alat Interaksi antar dan Intra wilayah Penentuan jenis infrastruktur yang dikembangkan di Metropolitan Bandung adalah infrastruktur wilayah yang berfungsi sebagai pemacu pertumbuhan wilayah, yaitu : Infrastruktur yang dikembangkan harus menjadi alat untuk menjaga keutuhan wilayah Metropolitan Bandung dan Jawa barat Infrastruktur yang dikembangkan harus menjadi alat yang dapat mengatasi konflik antar zona dan dapat dikelola secara terpadu

Konsep pengembangan sistem transportasi akan dilakukan melalui peningkatan jaringan jalan, moda transportasi dan manajemen lalu lintas. a. Peningkatan Jaringan Jalan Peningkatan jaringan jalan dilakukan dalam rangka meningkatkan kapasitas ruas jalan maupun meningkatkan daya dukung struktur dari jalan (ESAL). Hal tersebut dilakukan baik pada jaringan jalan yang berpola radial maupun ring road. Pengembangan jaringan jalan diarahkan untuk menghubungkan zona inti dengan zona sub pusat wilayah 1 (radial) dan menghubungkan antar zona sub pusat wilayah 1 (ring). Untuk jalan radial dibagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu utara-selatan dan barat-timur yang berfungsi sebagai jalan arteri (tol dan non tol) sedangkan jaringan jalan lingkar (ring road) akan berfungsi sebagai jalan kolektor. Adapun ruas-ruas yang dimaksud seperti terlihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.3 Peningkatan Jaringan Jalan
No I 1 2 3 4 II 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 III 1 2 3 4 5 6 Ruas Jalan Barat – Timur Toll Padalarang-Cileunyi Padalarang-Cibeureum-Soekarno-Hatta-Cibiru Padalarang-Cibeureum-Sudirman-Cicaheum Pasteur-Pasupati-Cicaheum-Cileunyi Utara - Selatan Lembang-Setiabudhi Rencana Toll Bandung-Lembang Padalarang-Cikalong Wetan Cikalong Wetan-Cipeundeuy Rencana toll Soreang-Kopo Ciwidey-Soreang-Kopo-Pasirkaliki Pangalengan-Banjaran-M. Toha Banjaran-Baleendah-Buahbatu Majalaya-Sapan-Gedebage Rancaekek-Cileunyi Tanjungsari-Cileunyi Rencana toll Cisumdawu Jalan Lingkar (Ring Road) Padalarang-Sp Cisarua-Cisarua-Lembang Lembang-Maribaya-Patrol-CilengkrangJatinangor Jatinangor-Sayang-Rancaekek Rancaekek-Majalaya Majalaya-Arjasari-Banjaran Banjaran-Soreang-Cipatik-Batujajar-Padalarang Fungsi Eksisting Menjadi arteri arteri arteri arteri kolektor arteri lokal kolektor kolektor Kolektor/kota lokal aretri arteri lokal lokal lokal lokal lokal kolektor arteri arteri arteri arteri arteri arteri arteri kolektor arteri kolektor kolektor kolektor kolektor arteri arteri arteri kolektor kolektor kolektor kolektor kolektor keloktor Layanan Moda

Bis besar

Bis/mikro bis Bis/mikro bis Mikro bis/paratransit Bis/mikro bis Bis/mikro bis Bis/mikro bis Mikro bis Mikro bis Mikro bis Mikro bis/ paratransit Mikro bis/ praratransit Paratransit Mikro bis/ paratransit Paratransit Mikro bis/ paratransit

Sumber : Hasil Analisis, Bapeda 2005

68

Cipeundeuy 1. Lembang-Maribaya 2. Maribaya-Patrol-Palintang-CilengkrangJatinangor Jatinangor-Tanjungsari Bandung-Cimahi 1. Soreang-Cipatik-Batujajar-Padalarang Rancaekek-Cicalengka Soreang Banjaran Majalaya 1. Majalaya-Ciparay 2. Ciparay-Arjasari-Banjaran 1. Rancaekek-Majalaya 1. Jatinangor-SayangRancaekek

1. Padalarang-Sp. Cisarua 2. Sp. Cisarua-Cisarua-Lembang

Lembang Padalarang-Ngamprah

Ciwidey

1. Soreang-Banjaran Pangalengan

Kota Inti Sub Pusat Wilayah I Sub Pusat Wilayah II Ring Road

Gambar 4.3 Konsep Pengembangan Sistem Transportasi (Ring road) di Metropolitan Bandung

b. Refungsionalisasi dan Peningkatan Jalur Kereta Api Untuk mendukung kelancaran jaringan transportasi darat diperlukan adanya suatu tempat yang tepat untuk melaksanakan pertukaran moda yaitu dengan adanya suatu terminal tipe A yang dapat diakses dengan mudah dari berbagai tempat. Dengan pertimbangan tersebut diusulkan untuk dikembangkan terminal terpadu di Gedebage yang akan menggantikan fungsi dari terminal Leuwipanjang dan Cicaheum. Selain prasarana transportasi darat yang harus ditingkatkan juga prasarana transportasi udara seperti Bandara Husein Sastranegara akan dioptimalkan fungsinya sebagai City Airport.
Tabel 4.4 Refungsionalisasi dan Peningkatan Jalur Kereta Api No. I 1 Ruas Jalan Prasarana Eksisting Menjadi Single track Single track Double track Single track KRL Layanan Moda

Barat – Timur Peningkatan jalur PadalarangCicalengka 2 Refungsionalisasi Jalur BandungTanjungsari II Utara - Selatan 1 Refungsionalisasi jalur BandungSoreang Sumber : Hasil Analisis, Bapeda 2005

Single track

Single track

KRL

69

Jalan Tol Cipularang Cipeundeuy 1. 2. Cipeundeuy-RendehCikalongwetan Cikalongwetan-Padalarang Padalarang-Ngamprah Jatinangor-Tanjungsari 1. Padalarang-Bandung Bandung-Cimahi 1. Bandung-Jatinangor 1. Rancaekek-Cileunyi 2. Cileunyi-Bandung 1. Majalaya-SapanGedebage Majalaya 1. Banjaran-DayeuhkolotBandung 1. Jl. Setiabudi-Lembang 1. Jalan Tol Bandung-Lembang Lembang 1. Jln Tol CISUMDAWU

1. Jln. Tol Soreang-Pasirkoja Soreang 1. Ciwidey-Soreang 2. Soreang-Kopo-Bandung Ciwidey Banjaran

Rancaekek-Cicalengka

Kota Inti 1. Pangalengan-Banjaran Pangalengan Sub Pusat Wilayah I Sub Pusat Wilayah II Rencana Jln. Tol Radial Road

Gambar 4.4 Konsep Pengembangan Sistem Transportasi (Radial road) di Metropolitan Bandung

4.5.2 Pengembangan Infrastruktur Sumberdaya Air Pengembangan sumberdaya air diarahkan untuk meningkatkan penyediaan air baku bagi kebutuhan rumah tangga, kota, industri (RKI) dan pertanian melalui pembangunan dan peningkatan pengelolaan waduk-waduk potensial, pemindahan aliran antar DAS, peningkatan pengelolaan sungai, serta pengambilan air dari waduk eksisting yang cukup besar. Selain itu pengembangan infrastruktur sumberdaya air juga diarahkan bagi pengendalian banjir melalui normalisasi dan pembangunan tanggul banjir Sungai Citarum dan beberapa anak-anak sungainya. Sesuai dengan pembagian zona di Metropolitan Bandung, strategi peningkatan penyediaan air baku untuk memenuhi berbagai kebutuhan air tersebut adalah sesuai tabel 4.5 sedangkan pengembangan infrastruktur pengendali banjir terutama yang berlokasi di Zona Bandung, Zona Soreang dan Zona Rancaekek sesuai tabel 4.6. 4.5.3 Pengembangan Infrastruktur Permukiman Prinsip pengembangan permukiman adalah : Mengembangkan Kawasan Siap Bangun (Kasiba) dan Lingkungan Siap Bangun (Lisiba) untuk kebutuhan lokasi perumahan. Mengoptimalkan peran swasta dan pemerintah dalam meningkatkan pelayanan prasarana air bersih Mengoptimalkan sistem drainase untuk mengantisipasi masalah genangan dan banjir

70

Mengembangkan sistem pengolahan air limbah terpusat di kawasan dengan beban pencemaran air yang berat serta IPAL domestik baik skala komunal maupun individu pada lokasi-lokasi permukiman Mengoptimalkan pengelolaan sampah perkotaan, mengoptimalkan pelayanan TPA sampah eksisting dan membangun TPA sampah baru yang berfungsi sebagai TPA sampah regional. Sesuai dengan prinsip tersebut maka strategi pengembangan permukiman adalah sebagai berikut : a. Meningkatkan peran swasta dalam penyediaan Kawasan Siap Bangun (Kasiba) dan Lingkungan Siap Bangun (Lisiba) di sub wilayah pengembangan yang memerlukan insentif pertumbuhan yaitu di Padalarang, Cipeundeuy, Soreang, Banjaran, dan Majalaya. b. Air Bersih Pelayanan air bersih di Metropolitan Bandung perlu ditingkatkan kapasitasnya, untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk. Jumlah penduduk yang semakin meningkat berdampak pada kebutuhan air yang meningkat pula. Sejalan dengan hal tersebut tingkat pelayanan air bersih akan semakin menurun jika tetap mengandalkan pemanfaatan dari sumber air tanah, sehingga dengan semakin meluasnya daerah terbangun di perkotaan maka harus dicari alternatif penyediaan sumber air baku lainnya yaitu yang berasal dari sumber air permukaan yang dilaksanakan oleh suatu pengelola baik swasta maupun pemerintah terutama di pusat wilayah pelayanan atau daerah perkotaan.
Tabel 4.5 Strategi Peningkatan Penyediaan Air Baku di Zona Pengembangan Metropolitan Bandung
No 1 Zona Zona Bandung Potensi Sumber Air

Peningkatan pengelolaan Waduk Cisangkuy di Kab. Bandung akan mendapatkan aliran tetap sebesar 860 lt/dt Pemindahan aliran antar DAS Cisangkuy-Cibatarua dimana S. Cibatarua akan dihubungkan dengan S. Cilaki melalui waduk Cisangkuy akan mendapat ekstra aliran 800 lt/dt. Selain itu pembangunan waduk Santosa di S. Cilaki akan menambah aliran tetap waduk Cisangkuy sebesar 800 lt/dt Pembangunan 5 waduk kecil di S. Cikapundung akan meningkatkan aliran sebesar 1.550 lt/dt Pengelolaan S. Cimahi akan meningkatkan aliran sebesar 80 lt/dt/ Pembangunan waduk Sukawana di Cimahi akan meningkatkan aliran sebesar 80 lt/dt Pengoperasian waduk Cimahi akan meningkatkan aliran sebesar 170 lt/dt 2 Zona Lembang Pengelolaan S. Cimahi akan meningkatkan aliran sebesar 80 lt/dt/ Pembangunan waduk Sukawana akan meningkatkan aliran sebesar 80 lt/dt Pengoperasian waduk Cimahi akan meningkatkan aliran sebesar 170 lt/dt Pengelolaan S. Cibeureum akan meningkatkan aliran sebesar 400 lt/dt 3 Zona Padalarang Pengambilan air dari Waduk Saguling meningkatkan aliran sebesar 1600 lt/dt Pengambilan air dari waduk Cirata 4 Zona Gunung Pengambilan air waduk Saguling Halu - Ciwidey Pembangunan waduk Ciwidey 1 di Bojong Jambu akan meningkatkan aliran sebesar 120 lt/dt Pembangunan waduk Ciwidey 2 di Cadasngampar akan meningkatkan aliran sebesar 600 lt/dt 5 Zona Soreang Peningkatan pengelolaan Waduk Cisangkuy Pemindahan aliran antar DAS Cisangkuy-Cibatarua, waduk Cisangkuy dan waduk Santosa 6 Zona Jatinangor Pengembangan Gua Walet (mata air Cigalumpit dan Sirah Cijagra) di Kab. Bandung akan meningkatkan aliran sebesar 308 lt/dt. 7 Zona Rancaekek Pengelolaan S. Citarik bagian hulu akan meningkatkan aliran sebesar 190 lt/dt. Pengembangan Gua Walet (mata air Cigalumpit dan Sirah Cijagra) Sumber : Pola Pengembangan, Pengusahaan dan Pemanfaatan Prasarana Sumberdaya Air Wilayah Sungai Citarum, 2002 dan hasil analisis

71

Tabel 4.6 Pengembangan Infrastruktur Sumberdaya Air Pengendali Banjir
POTENSI SUMBER AIR Pembangunan waduk Tegalluar dan Gedebage Normalisasi dan pembangunan tanggul banjir: S. Cinambo (7,5 km di Ujungberung & Rancasari) S. Cijalupang (Kec. Ujungberung) S. Ciroyom (2 km di Jl. Pagarsih) S. Citepus (1 km di Jl. Pagarsih) S. Cipedes (1,6 km pada pertemuan dgn S. Citepus) S. Cipamokolan (2,5 km di Ujungberung) S. Cikakak (1,35 km di Astanaanyar) S. Cipanjalu (4 km di Ujungberung) S. Cinyised (3 km di Ujungberung) S. Cikiley (2 km di Ujungberung) S. Ciparungpung (1,2 km di Antapani) S. Cisaranten (5 km di Soekarno Hatta) S. Cikapundung Kolot (7,9 km di Ter. Buah Batu) S. Cibeureum (10 km di jl Sudirman) S. Cibuntu (12 km di jl Sudirman) S. Ciganitri ( 5 km di Bojongsoang) S. Cigondewah (5,5 km dari jln tol ke hulu sungai) S. Cikapundung (sepanjang 5 km) S. Cikeruh (11 km di Rancaekek) S. Cimande (14 km di Rancaekek & Cimanggung) S. Cipalasari (4,7 km di Dayeuhkolot) S. Cisangkuy (di Kec Banjaran) S. Ciwidey (di Kec Banjaran) S. Cikaso (di Kec Majalaya) 2 Zona Soreang Normalisasi dan pembangunan tanggul banjir: S. Cisangkuy (di Kec Banjaran) S. Ciwidey (di Kec Banjaran) 3 Zona Rancaekek Normalisasi dan pembangunan tanggul banjir: S. Cikaso (di Kec Majalaya) S. Cikeruh (11 km di Rancaekek) S. Cimande (14 km di Rancaekek & Cimanggung) Sumber : Kajian Master Bandung Urban Development Program (MBUDP),1994 dan hasil analisis a. b. NO 1 ZONA Zona Bandung

WADUK CIRATA
CIKALONG W ETA N

G. Tangkuban Parahu

Waduk Cirata UY CIPEUNDE
% %

%

$
CISARUA

S. Cimahi S.Cibeureum

S. Cibeureum

ZONA LEMBANG
CIPATAT PARONGP ONG

%

% LEMBANG
S . Cikapu ndun g

% % % PADALARA NG %
NGAMPRAH %

ZONA PADALARANG
BATUJAJA R

Waduk Sukawana KOTA CIMAHI

Waduk S.Cikapundung AN CIMENY
%
CILENGKRANG

SUKAS ARI

%

%

% TANJUNGSARI

KOTA BANDUNG

ZONA JATINANGOR
CILEUNYI JATINANGOR

Waduk Saguling
WADUK SAGULING
RONGGA CIPONGKOR

%

%

% MARGAASIH

%

%

ZONA BANDUNG

KABUPATEN SUMEDANG
% CIMANGGUNG S.Citarik Hulu G. Krenceng Gua Walet (Mata air Cigalumpit $ dan Sirah Cijagra)
S . Citar ik

CILILIN

MARGAHAYU DAYEUHKOLOT % % BOJ ONGSOANG

% RANCAEKE K

%
SOREANG KATAPANG

%
PAMEUNGPEUK

m Citaru S.

SOLOKAN JERUK

CICALENGKA %

% %
GUNUNGHALU

%
CIPARA Y

%

S. Ci t ar ik

BALEENDA H

CIKANCUNG

NAGRE G

%

% % ARJAS ARI

ZONA SOREANG
SINDANGKERTA

ZONA RANCAEKEK
% MAJALA YA % PASEH

%

%

%

BANJA RAN

G. Mandalawangi
% IBUN

$

ZONA GN.HALU - CIWIDEY
idey S . Ciw

% %
CIMAUNG PASIRJAMBU

KABUPATEN BANDUNG
% PACET
S . Ci tarum Hulu

CIWIDEY %

S. Ci san gkuy

S.Ciwidey
RANCABALI

%

Waduk.Ciwidey I & 2

%
PANGALENGAN

S.Cisangkuy/Cibatarua Waduk Santosa
%
KERTASARI

$ G. Patuha

G. Malabar

$

Gambar 4.5 Strategi Peningkatan Penyediaan Air Baku

72

Sesuai dengan arahan pengembangan sumberdaya air, yaitu untuk meningkatkan penyediaan air baku bagi kebutuhan rumah tangga, kota, industri (RKI) dan pertanian yang berasal dari sumber air permukaan, maka diperlukan pembangunan dan peningkatan pengelolaan waduk-waduk potensial, pemindahan aliran antar DAS, peningkatan pengelolaan sungai serta pengambilan air dari waduk eksisting yang cukup besar. Khusus untuk zona yang berfungsi sebagai pusat industri dan pengembangan permukiman, yaitu Padalarang dan Rancaekek membutuhkan air dalam jumlah besar bagi penduduk dan aktivitas zona lainnya. Berdasarkan strategi penyediaan air baku di Metropolitan Bandung, peningkatan penyediaan air baku di Zona Padalarang diambil dari Waduk Cirata dan Waduk Saguling (khusus Saguling meningkatkan aliran sebesar 1600 lt/dt. Sedangkan di Zona Rancaekek melalui pengelolaan Sungai Citarik bagian hulu (meningkatkan aliran sebesar 190 lt/dt), dan melalui pengembangan Gua Walet (mata air Cigalumpit dan Sirah Cijagra). Maka diarahkan peningkatan peran pengelola prasarana air bersih dari pihak pemerintah (PDAM), serta juga pihak swasta untuk mendukung pengelolaan prasarana air bersih di kedua zona tersebut. Faktor investasi yang besar diperlukan untuk membangun sistem perpipaan, penerapan Water Treathment Plan (WTP) dan pemeliharaan. Selain peningkatan peran swasta tersebut, perlu juga memperbaiki kinerja dan kemampuan Perusahaan Penyedia Air Baku dan Air Minum. Sedangkan untuk zona lainnya diarahkan untuk mengoptimalkan pelayanan prasarana air bersih oleh PDAM, melalui peningkatan kapasitas, fasilitas, waktu pelayanan dan pemeliharaan prasarananya. c. Drainase Sistem drainase Metropolitan Bandung tidak terlepas dari sistem drainase alami yaitu fungsi sungai dan sistem drainase buatan yang terbuka atau tertutup. Sungai utama yang mengalir di Metropolitan Bandung adalah Sungai Citarum beserta anak-anak sungainya, yaitu Ciwidey, Cirasea, Cikapundung, Citarik, Cisangkuy, Ciminyak, Cimeta, dan Cihaur. Untuk sistem drainase mikro atau buatan, diperlukan suatu pengembangan sistem drainase yang meliputi seluruh kawasan perkotaan secara terintegrasi dan disesuaikan dengan kebutuhan penampungan larian air hujan (run off) yang makin membesar akibat makin banyaknya lahan terbangun. Selain itu, saluran darinase tersebut harus dipastikan terpisah dengan saluran air limbah dan saluran irigasi agar tidak saling terganggu kinerjanya. Saluran drainase yang sudah ada tentunya perlu ditinjau lagi kapasitas daya tampungnya disesuaikan dengan debit air yang mengalir, selain perlu dilakukan perbaikan-perbaikan fisik dan pembebasan lahan sekitarnya dari aktivitas dan bangunan yang mengganggu. Secara umum pengembangan sistem drainase di Metropolitan Bandung, diarahkan dengan mengoptimalkan Sungai Citarum dan anak-anak sungainya. Untuk mengantisipasi masalah genangan dan banjir terutama di bagian selatan dan timur Metropolitan Bandung, maka waduk/ bendung sebagai penampungan sementara mengurangi banjir yang dipengaruhi kondisi topografis dan karakter aliran sungai Citarum perlu segera dibangun, yaitu di Tegalluar (Kecamatan Bojongsoang) dan Gedebage. Sebenarnya alternatif penyaluran air yang sudah tidak tertampung di saluran drainase adalah dibuatnya sumur resapan di tiap kawasan terbangun. Selain itu diarahkan dengan merehabilitasi dan membersihkan saluran drainase yang bermasalah.

73

d. Air Limbah Pencemaran yang berasal dari limbah di Sungai Citarum sudah berat dan merata di seluruh ruas sungai termasuk sebagian besar anak-anak sungainya. Penurunan beban pencemaran perlu dilakukan dengan mengoptimalkan pengoperasian IPAL untuk mengolah seluruh limbah cair yang dihasilkan dari industri dan domestik. Sistem pengolahan air limbah terpusat perlu dibangun di kawasan dengan beban pencemaran air yang berat (Limbah B3), seperti di Cipatat sebagai antisipasi pengolahan limbah kawasan industri yang diperuntukan di Zona Padalarang yang memiliki fungsi kegiatan industri. Selain itu di Zona Rancaekek juga harus disediakan IPAL industri. Selain membangun IPAL gabungan pada kawasan industri yang ada, pengembangan IPAL domestik baik skala komunal maupun individu pada lokasilokasi permukiman perlu dilakukan terutama di zona yang mengarahkan pengembangan permukiman skala besar yaitu di zona Soreang, Padalarang, Jatinangor dan Rancaekek. Sebagai pengembangan ke depan, untuk mengantisipasi pertumbuhan penduduk yang menghasilkan beban limbah manusia, maka di Kota Bandung perlu dibangun instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT). e. Persampahan Pada saat ini permasalahan kurang memadainya prasarana persampahan di wilayah perkotaan Metropolitan Bandung sulit diatasi. Peningkatan volume sampah tidak diikuti dengan pelayanan dan penyediaan sarana prasarana, disebabkan kualitas manajemen pengelolaan persampahan yang buruk, sehingga memerlukan pembangunan sistem manajemen dengan dibentuknya lembaga pengelola bersama yang memiliki SDM memadai, khususnya di TPA Leuwigajah Cimahi Selatan yang memiliki skala pelayanan Regional untuk Kota Bandung, Kabupaten Bandung dan Cimahi. Pembentukan lembaga pengelola tersebut juga diikuti dengan pelaksanaan pengelolaan yang baik untuk memperbaiki kinerja, kondisi pelayanan dan pengembangan lokasi TPA yang mencakup wilayah Padalarang, Margahayu, Soreang, Katapang, Batujajar dan seluruh Cimahi. Dalam rangka mendukung rencana penyediaan penampungan sampah regional baru di Metropolitan Bandung yaitu TPA regional Pasirdurung di Cicalengka (pelayanan wilayah timur dan Bandung timur) dan TPA regional Cipatat (pelayanan wilayah barat dan kota Bandung barat), maka diperlukan sinergitas antara sumberdaya propinsi dan kabupaten/kota. Pengelolaan penanganan sampah TPA regional Pasirdurung disesuaikan dengan standar teknis TPA regional yaitu sanitary landfill. Selain itu perlu juga pengembangan tempat penampungan sampah untuk wilayah timur dan Bandung selatan yaitu di Babakan Jelekong (Ciparay), mencakup pelayanan Banjaran, Baleendah, Majalaya, Ciparay, Cileunyi, Cicalengka dan Rancaekek. Sedangkan untuk wilayah utara yaitu di Pasir Buluh Kecamatan Lembang adalah tempat penampungan sampah yang mencakup pelayanan untuk Lembang dan sekitarnya. Pengembangan tempat penampungan sampah di Metropolitan Bandung dapat dilihat pada gambar 4.6. Untuk mewujudkan konsistensi pengelolaan sampah yang diinginkan, pelaksanaan membutuhkan produk hukum sebagai pedoman dan dasar pelaksanaan berupa peraturan perundang-undangan pengelolaan sampah yang dapat diterapkan kepada semua pihak. Peraturan perundang-undangan tersebut
74

memasukan asas-asas seperti pengelolaan mulai dari sumber, penghasil sampah membayar (polluter pay principle), produk ramah lingkungan, internalisasi biaya pengelolaan, pembangunan berkelanjutan, dan sebagainya. Mengoptimalkan pengelolaan persampahan dengan mengembangkan teknologi pengelolaan sampah yang berprinsip 4 R (Reduce, Reuse, Recycle dan Replace) Prinsip 4R adalah model relatif aplikatif dan dapat bernilai ekonomis. Sistem ini diterapkan pada skala kawasan sehingga memperkecil kuantitas dan kompleksitas sampah. Model ini akan dapat memangkas rantai transportasi yang panjang dan beban APBD yang berat. Selain itu masyarakat secara bersama diikutsertakan dalam pengelolaan yang akan memancing proses serta hasil yang jauh lebih optimal daripada cara yang diterapkan saat ini.

Gambar 4.6 Pengembangan tempat penampungan sampah di Metropolitan Bandung

4.6.

Arahan Pemanfaatan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang

4.6.1. Arahan Pemanfaatan Ruang Kriteria pemanfaatan ruang Metropolitan Bandung ditentukan berdasarkan pembagian zona. Kriteria pemanfaatan tersebut membatasi perkembangan intensitas fungsi kegiatan dari setiap zona. 1. Zona Lembang memiliki fungsi kegiatan pertanian, pariwisata dan konservasi. Berdasarkan fungsi tersebut, kriteria pemanfaatan ruang dalam rangka pengembangan zona tersebut adalah : • Permukiman ber-KDB rendah (KDB < 15%) • Akivitas perdagangan harus yang berorientasi agribisnis • Aktivitas pariwisata dalam bentuk ekowisata (agrowisata, camping ground) • Pertanian yeng dikembangkan perkebunan dan hortikultura
75

• •

Rumah sakit Tipe B Terminal agribisnis untuk mendukung kegiatan pemasaran hasil pertanian

2. Zona Jatinangor memiliki fungsi kegiatan pendidikan tinggi. Berdasarkan fungsi tersebut, kriteria pemanfaatan ruang dalam rangka pengembangan zona tersebut adalah : • Pengembangan perumahan skala sedang dan kecil. • Penyediaan IPLT dan IPAL domestik • Pendidikan tinggi dikembangkan kearah Tanjungsari • Rumah sakit Tipe B • Penyediaan Sub Terminal • Mengaktifkan kembali angkutan massal kereta api 3. Zona Rancaekek memiliki fungsi kegiatan industri dan perdagangan. Berdasarkan fungsi tersebut, kriteria pemanfaatan ruang dalam rangka pengembangan zona tersebut adalah : • Pengembangan permukiman intensif (vertikal) • Pengembangan perdagangan grosir • Jasa perbankan • Pengembangan industri manufaktur dan yang ramah lingkungan • Penyediaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terpadu • Penyediaan IPAL industri dan domestic • Rumah Sakit Tipe B • Penyediaan pasar induk • Penyediaan terminal Tipe A untuk mengantisipasi pergerakan dari dan ke arah timur 4. Zona Gunung Halu-Ciwidey memiliki fungsi kegiatan pertanian, pariwisata dan konservasi. Berdasarkan fungsi tersebut, kriteria pemanfaatan ruang dalam rangka pengembangan zona tersebut adalah : • Pengembangan permukiman skala kecil yang menyebar di setiap kecamatan • Pengembangan ekowisata di Pangalengan dan Ciwidey • Pengembangan industri yang mendukung pertanian (agroindustri) • Pengembangan agribisnis • Penyediaan Rumah Sakit Tipe B • Penataan Pasar Lokal • Penyediaan terminal agribisnis di Pangalengan 5. Zona Padalarang memiliki fungsi kegiatan industri, perdagangan dan pariwisata. Berdasarkan fungsi tersebut, kriteria pemanfaatan ruang dalam rangka pengembangan zona tersebut adalah : • Pengembangan permukiman skala besar dan penyiapan kawasan siap bangun • Perdagangan grosir • Pengembangan pariwisata yang memanfaatkan potensi air di Waduk Cirata, Waduk Saguling dan Situ Ciburuy • Industri manufaktur dan proses • Pertanian tidak dikembangkan • Penyediaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terpadu • Penyediaan IPAL industri dan domestik • Rumah Sakit Tipe A • Penyediaan Pasar induk • Terminal Tipe A untuk mengantisipasi pergerakan dari dan ke arah barat

76

6. Zona Soreang memiliki fungsi kegiatan pemerintahan, pertanian dan perdagangan. Berdasarkan fungsi tersebut, kriteria pemanfaatan ruang dalam rangka pengembangan zona tersebut adalah : • Penataan sarana dan prasarana • Pengembangan permukiman skala besar • Perdagangan dikembangkan sebagai antisipasi pengalihan perdagangan dari zona Bandung • Jasa yang mendukung kegiatan fungsi zona • Pengembangan industri non polutan • Pengembangan pertanian sawah irigasi teknis sebagai lumbung padi Metropolitan Bandung • Penyediaan IPAL industri dan domestik • Rumah Sakit Tipe A • Pengembangan pasar untuk mendukung fungsi zona • Terminal Tipe B 7. Zona Bandung memiliki fungsi kegiatan jasa dan pemerintahan. Berdasarkan fungsi tersebut, kriteria pemanfaatan ruang dalam rangka pengembangan zona tersebut adalah : • Pengembangan permukiman intensif (vertikal) • Revitalisasi pusat kota • Pengendalian perkembangan perdagangan skala besar • Pengembangan wisata belanja • Pengembangan jasa yang mendukung kegiatan fungsi zona • Industri tidak dikembangkan • Pendidikan tinggi tidak dikembangkan • Rumah Sakit Tipe A • Penataan pasar yang ada • Terminal Tipe A Matrik kriteria pemanfaatan ruang di Metropolitan Bandung data dilihat pada tabel 4.7. Untuk aspek kelembagaan memerlukan pembentukan badan yang mengintegrasikan perencanaan, mensinkronkan pemanfaatan dan mensinergikan antar pelaku pengembangan di kawasan Metro Bandung terutama untuk aspekaspek: perlindungan kawasan hutan, konservasi dan pengelolaan Das Citarum Hulu, pengembangan industri, pengembangan perumahan dan permukiman, pengembangan perdagangan, dan pengembangan pendidikan tinggi. Selain itu diperlukan juga pengembangan jejaring kerjasama (network) antar lembaga pemerintah, swasta, kalangan pendidikan tinggi dan masyarakat luas dalam pengembangan kawasan Metro Bandung. 4.6.2. Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Pengendalian pemanfaatan ruang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses penataan ruang. Pemanfaatan ruang dalam pelaksanaannya tidak selalu sejalan dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Ketidaksesuaian atau pelanggaran tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, seperti tekanan perkembangan pasar terhadap ruang, belum jelasnya mekanisme pengendalian dan lemahnya penegakan hukum. Kondisi ini mengisyaratkan bahwa untuk mewujudkan terciptanya pembangunan yang tertib ruang diperlukan tindakan pengendalian pemanfaatan ruang. Kecenderungan penyimpangan tersebut dapat terjadi karena produk rencana tata ruang kurang memperhatikan aspek-aspek pelaksanaan
77

(pemanfaatan ruang) atau sebaliknya memperhatikan rencana tata ruang.

bahwa

pemanfaatan

ruang

kurang

Tabel 4.7 Matrik Kriteria Pemanfaatan Ruang di Metropolitan Bandung
Penggunaan Lahan Persampahan Perdagangan Pemukiman Pariwisata Sarana Pendidikan Tinggi Rumah sakit

Pertanian

ZONA

1 Zona Bandung 1 1.1

2

3 3.1

4 4.1

5

6

7

8

9

10

11

12

Ψ Υ
2.3

Ψ
5.2

Ψ
6.2

Ψ ↓

Ψ Υ
11.3 12.3

Zona Soreang

2

1.2


3.3

4.2

Zona Lembang

3

1.3

↓ ↓
4.5

6.3


8.4

↓ Υ ↓

Zona Jatinangor

4

1.4

Ψ

↓ ↓


5.5

Ψ Ψ
6.6

Ψ

12.4

Zona Rancaekek

5

1.5

Zona G. Halu-Ciwidey

6

1.6

Ψ

3.6

5.6

↓ Ψ

11.6

12.6

Zona Padalarang

7

1.7

3.7

5.7

Ψ

Keterangan:

↓ Ψ Υ

Tidak ada Tidak dikembangkan Dikembangkan Tipe A Tipe B TPS TPA Grosir Pasar Induk Perhotelan (KDB ≤ 15%) IPAL Industri dan domestik Pemukiman intensif (vertikal) Skala besar Terbatas (KWT ≤ 15%) Skala sedang dan kecil Pemukiman intensif (vertikal) Skala kecil Skala Besar dan kasiba Agribisnis

3. 3. 3. 3. 4. 4. 4. 5. 5. 5. 5. 6. 6. 6. 8. 11. 11. 12. 12. 12.

1 3 6 7 1 2 5 2 5 6 7 2 3 6 4 3 6 3 4 6

Wisata belanja Agrowisata dan ekowisata Agrowisata dan ekowisata Ekowisata Perbankan, pemerintahan Yang mendukung kegiatan Fungsi zona Perbankan Manufaktur Industri non polutan Industri yang mendukung perkebunan Manufaktur Sawah irigasi teknis Perkebunan dan palawija Agribisnis IPLT dan IPAL domestik Agribisnis regional Lokal Terminal agribisnis Subterminal Terminal agribisnis

1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 2.

1 2 3 4 5 6 7 3

Sumber : Hasil Analisis, Bapeda 2005

Terminal

Industri

Pasar

IPAL

Jasa

78

Lembaga pengendalian pemanfaatan ruang adalah Tim Koordinasi Penataan Ruang Daerah (TKPRD) yang beranggotakan dinas/badan/lembaga propinsi dan kabupaten/ kota yang terkait dengan penataan ruang. Tim ini ditetapkan oleh gubernur dalam bentuk surat keputusan. Tugas TKPRD adalah :

1. Melakukan

pengawasan pemanfaatan ruang yang berhubungan dengan program, kegiatan pembangunan dan pemberian izin pemanfaatan ruang. sesuai dengan rencana tata ruang.

2. Melakukan kegiatan penertiban terhadap kegiatan pembangunan yang tidak 3. Mengumpulkan laporan mengenai perkembangan pemanfaatan ruang. 4. Mengevaluasi pemanfaatan ruang.
Pengendalian pemanfaatan ruang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, terdiri dari kegiatan pengawasan pemanfaatan ruang dan penertiban terhadap pelanggaran pemanfaatan ruang. Pengawasan merupakan usaha-usaha atau kegiatan untuk menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan fungsi ruang yang ditetapkan dalam rencana tata ruang. Kegiatan pengawasan terdiri dari pemantauan, pelaporan, dan evaluasi. Bentuk pelaporan dalam ketentuan ini adalah kegiatan memberikan informasi secara objektif mengenai pemanfaatan ruang baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. Bentuk pemantauan adalah usaha atau perbuatan mengamati, mengawasi dan memeriksa dengan cermat perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang, sedangkan bentuk evaluasi adalah usaha untuk menilai kemajuan kegiatan pemanfaatan ruang dalam mencapai tujuan rencana tata ruang. Penertiban merupakan usaha-usaha untuk mengambil tindakan terhadap pelanggaran pemanfaatan ruang, agar pemanfaatan ruang yang direncanakan dapat terwujud. Tindakan penertiban dilakukan melalui pemeriksaan dan penyidikan atas semua pelanggaran atau kejahatan yang dilakukan terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. Bentuk penertiban dapat berupa : a. Sanksi administrasi dan pembatalan kebijakan daerah Penyimpangan yang memerlukan sanksi administrasi dan pembatalan kebijakan dilaporkan oleh TKPRD kepada Gubernur dan ditindaklanjuti oleh Bawasda dan Biro Hukum. Sanksi administratif dikenakan atas pelanggaran pemanfaatan ruang yang berakibat pada terhambatnya pelaksanaan program pemanfaatan ruang. Sanksi administratif dapat berupa : 1. Penghentian sementara pelayanan administratif. 2. Penghentian sementara pemanfaatan ruang di lapangan. 3. Denda administratif. 4. Pengurangan luas pemanfaatan ruang. 5. Pencabutan izin pemanfaatan ruang.

79

b. Sanksi pidana dan perdata Penyimpangan yang berkaitan dengan tindak pidana dilaporkan oleh TKPRD kepada Gubernur dan diproses lebih lanjut oleh Kepolisian dan Kejaksaan. Selain Pejabat Penyidik POLRI yang bertugas menyidik tindak pidana, penyidikan atas tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Daerah ini dapat juga dilakukan oleh Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di lingkungan Pemerintah Daerah yang pengangkatannya ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sesuai dengan Perda No. 2 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Barat, bahwa setiap orang yang melanggar ketentuan yang diatur didalam rencana tata ruang, dapat diancam pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 5.000.000,00 (lima juta rupiah). Selain itu tindak pindana atas pelanggaran pemanfaatan ruang yang mengakibatkan perusakan dan pencemaran lingkungan serta kepentingan umum lainnya dikenakan ancaman pidana sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Mekanisme pengendalian pemanfaatan ruang tersebut diatas berlaku pula di Metropolitan Bandung. Selain mengatur hal-hal tersebut, terdapat kriteriakriteria pengendalian yang diatur pada setiap zona di Metropolitan Bandung dengan alasan untuk mengendalikan perkembangan pemanfaatan ruang agar sesuai dengan arahan pengembangan pemanfaatan ruang. c. Insentif dan Disinsentif Perangkat insentif adalah pengaturan yang bertujuan memberikan rangsangan terhadap kegiatan yang seiring dengan penataan ruang, sedangkan perangkat disinsentif adalah pengaturan yang bertujuan membatasi pertumbuhan atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan penataan ruang. Pengaturan insentif dan disinsentif dilakukan untuk : 1. Mendorong/merangsang pembangunan yang sejalan dengan rencana tata ruang 2. Menghambat/membatasi pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang 3. Memberikan peluang kepada pengembang dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Penerapan insentif digunakan untuk mendorong tercapainya perlindungan terhadap kawasan berfungsi lindung, konservasi air dan tanah. Bentuk insentif ini antara lain: - Kemudahan pemberian ijin baik dalam administrasi, waktu maupun biaya untuk pemanfaatan ruang yang sesuai dengan rencana tata ruang dan ketentuan teknis yang telah ditetapkan. - Lebih memberikan peluang pemanfaatan ruang berfungsi lindung dengan penyediaan dukungan sarana maupun prasarana - Kompensasi, imbalan kepada masyarkat yang tidak mengubah pemanfaatan ruang yang sesuai denga ketentuan kebijakan operasional. Penerapan disinsentif digunakan sebagai pengekang terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang, terdiri dari: - Untuk penyesuaian pemanfaatan ruang, dikenakan retribusi. Semakin tinggi tingkat perubahan pemanfaatan ruang semakin tinggi pula nilai retribusinya dengan tujuan mengembalikan pemanfaatan ruang sesuai dengan arahan fungsi utama yang telah ditetapkan.
80

-

Pembatasan sarana dan prasarana hanya sesuai dengan kebutuhan arahan fungsi utama. Pembatasan ini bertujuan untuk menghindari perubahan fungsi yang telah ditetapkan. Kewajiban pengembang untuk menanggung biaya dampak pembangunan (development impact fee) Pengenaan denda (development charge) pada pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan.

81