-1

-

a. Pendahuluan

-

Latar Belakang

Secara geografis Kalimantan Barat posisinya berada di tengah-tengah wilayah Kepulauan Indonesia, Ibukotanya Pontianak relatif dekat dengan kota Jakarta sebagai pusat Pemerintahan dan Pusat Bisnis Indonesia, serta sangat dekat dengan kota Kuching sebagai Pusat Pemerintahan dan bisnis di Sarawak. Provinsi Kalimantan Barat di sebelah utara berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia, sedangkan di sebelah Barat berbatasan langsung dengan ALKI I, alur laut Kepulauan Indonesia yang tersibuk yang menghubungkan kawasan Kegiatan Ekonomi Strategis Regional dan Internasional. Berada di tengah-tengah Pusat-Pusat Kegiatan Nasional di Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Kalimantan sendiri, juga relatif dekat dengan Pusat-Pusat Kegiatan Ekonomi Regional / Internasional seperti Singapura, Malaysia (termasuk Sarawak dan Sabah), Thailand, China, Brunei dan Philipina. Ketergantungan ekonomi masyakat di perbatasan dengan Malaysia Timur cukup tinggi. Kecendrungan jangka panjang menunjukkan bahwa kuching dapat menjadi daerah growth industrial center, sementara daerah perbatasan Kalimantan Barat hanya sebagai hinterland Malaysia yang kurang menguntungkan bagi Indonesia. 1 Ekspor dari Kalimantan Barat didominasi oleh komoditi hasil kayu olahan seperti plywood, moulding, dowel, dll, yang mencapai 76,02% dari total ekspor tahun 2005 sebesar US $ 167,633.861,81.Komoditi lainnya adalah hasil karet olahan (17,49%), crude palm oil (3,56%), hasil rotan olahan (2,49%), dan lainnya. Perusahaan pengekspor yang berjumlah 29 perusahaan umumnya berdomisili di Kabupaten Kota Waringin Barat (12 perusahaan), Kabupaten Kota Waringin Timur (12 perusahaan) dan Kabupaten Kapuas (5 perusahaan). Sedangkan nilai impornya relatif rendah bila dibandingkan ekspor, yaitu US $ 6.101.249,48 yang antara lain digunakan untuk pupuk, Egyptian rock phosphate, NPK compound, suku cadang mesin, mesin produksi, gula putih.2 Penyebaran klaster/sentra usaha kecil menengah di Indonesia merupakan permasalahan yang cukup penting karena masih didominasi di daerah Sumatra, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Deputi Pengkajian Sumber Daya Koperasi dan UKM Kementerian Koperasi dan UKM, Noer Sutrisno mengatakan dari total klaster UKM di Indonesia yang mencapai 9.794 unit, 76,3% di antaranya berada di kawasan-kawasan tersebut. Noer Sutrisno juga menyatakan, dengan perspektif seperti itu, pendekatan sentra dalam rangka pengembangan UKM ditujukan untuk perangsang bagi penyebaran sentra-sentra di kawasan lain selain untuk memajukan sentra yang sudah ada.
1

Seminar Nasional Hasil Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Tahun 2008 Provinsi Kalimantan Barat dengan Pelaksana Universitas Tanjungpura. 2 Laporan Kunker Komisi VI Ke Propins Sultra dan Kalbar , 16-20 November 2008

-2-

Program pengembangan UKM dengan pendekatan klaster bertujuan untuk melakukan semacam program pendampingan bagi UKM untuk menjalankan usahanya sehingga bisa lebih berkembang ke skala yang lebih tinggi. Beberapa program pendampingan yang dilakukan oleh klaster diantaranya adalah pendampingan di bidang manajemen dan penerapan teknologi. Menurut Evans (2000) setidaknya terdapat dua kekuatan besar yang bisa disumbangkan oleh kawasan perbatasan terhadap perekonomian. Pertama, dengan akses perdagangan yang dimiliki, kawasan perbatasan merupakan pintu masuk bagi mengalirya devisa ke dalam negeri. Kedua, perdagangan pesat yang terjadi di perbatasan akan mendorong tumbuhnya produksi di dalam negeri. Namun, peran ekspor UKM di Perbatasan relatif masih kecil, yang disebabkan UKM menghadapi berbagai hambatan dalam kegiatan ekspor tersebut. Oleh karena itu, produk UKM dalam kegiatan ekspor lebih banyak dilaksanakan oleh pengusaha-pengusaha besar atau eksportir yang mampu mereduksi, bahkan mengeliminasi hambatan-hambatan tersebut. Dalam upaya mereduksi atau bahkan mengeliminasi berbagai hambatan UKM dalam kegiatan ekspor tersebut, diperlukan dukungan pemerintah melalui suatu kebijakan yang implementatif. Pada konteks inilah, pembangunan ekonomi lokal dengan pengembangan UKM melalui pendekatan klaster dapat menjadi salah satu alternatif bagi pengembangan kawasan perbatasan. Pemberdayaan UKM ini semestinya dilaksanakan secara simultan dalam kerangka kerja yang komprehensif dengan berbagai upaya lain seperti pendidikan, pemberdayaan masyarakat, pembangunan sosial, penyediaan infrastruktur dan lainnya. Pelaksanaan perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) harus dibarengi dengan kebijakan politk ekonomi pemerintah yang jelas dan tegas, khususnya untuk membangun daya saing dari keuntungan komparatif (comparative advantage) menjadi keutungan yang kompetitif (competitive advantage). ACFTA bisa menjadi mimpi buruk bagi UKM Indonesia jika tidak ada keseriusan pemerintah untuk mendukung peningkatan daya saing UMKM dan menjamin iklim usaha yang kondusif. Perlu ada koordinasi pemerintah pusat dan daerah yang dibarengi pula dengan sinergi yang erat pemerintah dan swasta untuk berbagi kerja menghadapi bersama ancaman ini agar menjadi peluang bisnis. Optimisme bahwa perekonomian kita masih memiliki potensi besar bila dikembangkan melalui sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tidaklah berlebihan. Krisis sejak awal 1998 membuktikan bahwa kegiatan ekonomi rakyat kecil dalam bentuk UMKM, lebih tahan terhadap goncangan dibandingkan usaha menengah dan besar. Hal ini terjadi karena UMKM mampu mengembangkan sistem ekonomi sendiri yang dikenal dengan perekonomian rakyat. Bahkan pada saat ini resistensi UMKM kembali dibuktikan dengan ketahanannya terhadap gunjangan krisis finansial di Amerika Serikat yang mempengaruhi perekonomian global.

-3-

-

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka penulis membatasi cakupan bahasan dalam makalah ini, antara lain : 1. Seberapa besar potensi serta hambatan daerah perbatasan Kalimantan Barat untuk menunjang keberhasilan pendekatan klaster dalam pemberdayaan UMKM di perbatasan Kalimantan barat? 2. Bagaimana Evektivitas pendekatan Program Kluster/ sentra yang telah dilaksanakan di berbagai daerah ? Tujuan dan Manfaat Penulisan

Dalam rangka memberdayakan UMKM di Perbatasan yang menangani produk unggulan berorientasi ekspor dan pengembangan ekonomi masyarakat lokal khususnya di kawasan perbatasan Kalimantan Barat. Makalah ini bertujuan untuk : (1) Mengkaji potensi dan permasalahan yang terkait dengan pemberdayaan UMKM di kawasan perbatasan dan (2) Menawarkan alternative pemberdayaan ekonomi local masyarakat perbatasan dengan model pendekatan klaster/sentra. Sedangkan manfaat yang diharapkan adalah: (1) Sebagai bahan masukan dalam penyusunan kebijakan pendayagunaan atau pengelolaan produk unggulan dalam peningkatan ekspor dan pengembangan ekonomi local di wilayah perbatasan; (2) Sebagai bahan masukan dalam penyusunan kebijakan dan strategi pemberdayaan UKM kawasan perbatasan yang berbasis pada pengembangan ekonomi lokal dalam kerangka pemberdayaan kawasan perbatasan Negara.

-

GAGASAN

-

Faktor Penguat dan Penghambat Perkembangan UMKM di Daerah Perbatasan Kalimantan Barat

Beberapa faktor internal yang menjadi penguat (strenght) daerah perbatasan di Provinsi Kalimantan Barat diantaranya: a. Telah dibentuknya BP2KKP (Badan Persiapan Pembangunan Kawasan Khusus Perbatasan). Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat telah menyiapkan kebijakan pengelolaan kawasan perbatasan dengan perencanaan yang sangat detail dengan melibatkan berbagai sector. Berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 161 Tahun 2005 Tanggal 11 Mei 2005 dan Peraturan Gubernur Nomor 254 Tahun 2005 Tanggal 22 Juli 2005, dibentuk BP2KKP sebagai badan nonstruktural yang diharapkan dapat mengkoordinasikan seluruh kegiatan yang ada di wilayah perbatasan.

-4-

b. Besarnya Sumber Daya Alam yang dimiliki dimana sekitar 81 % wilayah perbatasan merupakan kawasan hutan. Pengelolaan kawasan perbatasan di Provinsi Kalimantan Barat menjadi sangat khusus, di samping harus dapat menjaga keutuhan potensi dan kondisi kawasan hutan, juga harus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di dalam atau di sekitar kawasan hutan. c. Pemerintah telah membangun pusat perdagangan untuk koperasi dan usaha kecil dan menengah (UKM) di sejumlah daerah di perbatasan Kalimantan Barat-Sarawak. Tahap awal telah di bangun di dua daerah, yakni Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas dan di Kabupaten Kapuas Hulu. Pertimbangan utama pembangunan pusat perdagangan dikarenakan belum memiliki pasar khusus sementara prospek lalu lintas barang dan jasa semakin meningkat. d. Pemerintah juga telah menyelesaikan pembangunan delapan rumah toko (ruko) di Paloh untuk menampung koperasi di kecamatan itu. Nilai proyek pembangunan ruko tersebut Rp. 750 juta yang bersumber dari dana Pemerintah pusat. e. Telah diresmikan Borneo Convention Centre oleh Mentri KUKM Suryadharma Ali, yang memiliki nilai strategis karena terhubung dengan jalan raya lintas Kalimantan yang dapat menjangkau empat Provinsi Berbagai faktor yang menjadi hambatan UKM dalam kegiatan ekspor antara lain : a. Faktor internal Faktor ini merupakan faktor yang melekat pada UKM, yang meliputi beberapa aspek, yaitu: 1) Aksesibilitas terhadap sumberdaya produktif; 2) Spesifikasi produk; 3) Kapasitas produksi. b. Faktor eksternal Faktor ini merupakan faktor lingkungan yang erat kaitannya dengan UKM dalam kegiatan ekspor, yang meliputi aspek : 1) Dokumen ekspor; 2) Biaya kegiatan ekspor. Faktor-faktor sebagaimana diuraikan di atas, mungkin saja makin luas dan makin mendalam intensitasnya sebagai hambatan bagi UKM dalam kegiatan ekspor. Bahkan, diduga adanya faktor lain yang selama ini belum terungkap secara eksplisit, sebagai faktor yang menghambat UKM dalam kegiatan ekspor. Hal ini bukan hanya terjadi pada UKM yang potensial melakukan kegiatan ekspor, yang selama ini hanya berperan sebagai pemasok bagi eksportir, tetapi dalam beberapa faktor dapat juga terjadi pada UKM yang telah berperan sebagai eksportir.

-5-

-

Kesenjangan Ekstrim masyarakat Perbatasan Kalimantan Barat dengan Malaysia

Keseluruhan panjang garis perbatasan negara di Kalimantan yang berhadapan langsung dengan Serawak Malaysia lebih kurang 1.200 km dari panjang garis tersebut 70,58% berada di Kal-Bar sekitar 847 Km. Dari angka tersebut baru sebagian yang memiliki patok batas diantaranya telah mengalami kerusakan dan bahkan hilang. Kondisi perekonomian masyarakat perbatasan adalah pertanian tradisional, perdagangan dengan sistem barter dan dijadikan sebagia hinter-land perekonomian serawak yang cenderung merugikan masyarakat perbatasan. Secara administrasi, kawasan perbatasan meliputi 4 kabupaten, yaitu kabupaten Sambas, Sanggau, Sintang dan Kapuas Hulu, namun sejak akhir 2000 menjadi 5 kabupaten karena kabupaten Sambas dimekarkan menjadi dua, yaitu kabupaten Sambas dan kabupaten Bengkayang. Jika diasumsikan kawasan perbatasan merupakan kawasan yang berjarak 20 km dari garis batas sepanjang 800 km, terhitung dari tanjung Dato, kabupaten Sambas yang berada diujung paling barat sampai ke kabupaten Kapuas Hulu yang berada diujung paling timur, maka luas kawasan perbatasan meliputi 1.600 Km2, atau 1.600.000 Ha. Jumlah penduduk kawasan perbatasan tahun 1999 sebanyak 152.720 orang dengan kepadatan penduduk rata-rata 9 orang per ~ m ' . Sebagian besar penduduknya bersuku Dayak. Secara sosiologis, suku dayak perbatasan memiliki keterikatan sangat tinggi dengan suku dayak yang berada di perbatasan Negara Bagian Serawak (Malaysia). Meskipun kawasan perbatasan kaya dengan sumberdaya alam dan letaknya mempunyai akses ke pasar (serawak), tapi terdapat sekitar 45% desa miskin dengan jumlah penduduk miskin sekitar 35%. Jenis prasarana transportasi yang tersedia dapat melalui laut, sungai dan darat. Fasilitas transportasi laut menghubungkan Paloh (kabupaten Sambas) dengan Lundu (Serawak), untuk fasilitas sungai masih ada namun sudah tidak populer lagi. Jaringan jalan darat di Kalimantan Barat berbentuk vertikal sehingga pelayanannya kurang efektif. Panjang jalan darat sekitar 520 km dengan rincian : 200 km jalan tanah, 30 km jalan batu, 290 km jalan aspal. Sedangkan menurut fungsinya terdapat 63% jalan kabupaten, 31% jalan provinsi, dan 6% jalan nasional. Untuk fasilitas kelistrikan, dari 14 ibu kota kecamatan yang ada dikawasan perbatasan Kalimantan Barat, baru 6 ibukota kecamatan (43%) yang mendapat pelayanan. Hal ini menunjukkan besarnya perbedaan kesejahteraan masyarakat perbatasan di Kalimantan Barat dengan masyarakat perbatasan di Serawak yang hampir seluruhnya telah mendapatkan pelayanan listrik. Pada saat ini di kawasan perbatasan Serawak telah tersedia pembangkit listrik tenaga air, seperti dari bendungan Batang Ai di Lubuk Antu dengan kapasitas 108 MW dan bendungan Bakun yang sedang dibangun dengan kapasitas 2.400 MW.

-6-

Kondisi tersebut ternyata tejadi pula pada fasilitas air bersih yang hanya mampu melayani 50 persen penduduk di kawasan Kalimantan Barat. Sedangkan penduduk kawasan perbatasan di Serawak telah terpenuhi 100 persen fasilitas air bersih. Daerah perbatasan merupakan daerah tertinggal (terbelakang) disebabkan antara lain : 1. Lokasinya yang relatif terisolir (terpencil) dengan tingkat aksesibilitas yang rendah. 2. Rendahnya tingkat pendidikan dan kesehatan masyarakat. 3. Rendahnya tingkat kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat daerah perbatasan (jumlah penduduk miskin dan desa tertinggal). 4. Langkanya informasi tentang pemerintah dan pembangunan masyarakat di daerah perbatasan (blank spot). Kesenjangan sosial ekonomi masyarakat daerah perbatasan dengan masyarakat negara tetangga mempengaruhi watak dan pola hidup masyarakat setempat dan berdampak negatif bagi pengamanan daerah perbatasan dan rasa nasionalisme. Maka tidak jarang daerah perbatasan sebagai pintu masuk atau tempat transit pelaku kejahatan dan teroris.

-

Hambatan UMKM Menembus Pasar Ekspor

UKM yang berorientasi ekspor, menurut (Tambunan, 2003) diklasifikasikan menjadi dua, yakni Produsen Eksportir (Direct Exporter) dan Eksportir Tidak Langsung (Indirect Exporter). UKM Produsen Ekspor adalah UKM yang menghasilkan produk ekspor dan menjualnya secara langsung kepada pembeli dari luar negeri (buyer) atau importir. Sementara itu, UKM Eksportir Tidak Langsung adalah UKM yang menghasilkan produk ekspor, yang melakukan kegiatan ekspor secara tidak secara langsung dengan buyer/importir, tetapi melalui agen perdagangan ekspor atau eksportir dalam negeri. Dilihat dari sektor produksi bahwa struktur perekonomian di Provinsi Kalbar bertumpu pada 3 sektor utama, yaitu sektor pertanian, industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel dan restoran. Selama kurun waktu 2001-2007, struktur ekonomi telah mengalami pergeseran peran sektoral antar sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan nilai sebagai berikut : sektor industri (2001 22,5%; 2007;18,21%) ; Sektor Pertanian (2001 : 26,62%; 2007:26,98%) dan sektor perdagangan (2001 : 20,71%; 2007 22,88%). Sedangkan dalam hal penyerapan tenaga kerja sektor industri terbagi dalam Industri besar/sedang 43.871 orang; Industri kecil/kerajinan RT 88.660 orang dan UMKM 456.769 orang (data BPS tahun 2006). Dalam hal perdagangan, perkembangan ekspor Impor selama periode 2006 s/d 2008 dapat digambarkan sebagai berikut: Ekspor berturut-turut 549.380.373 US $; 589.566.350 US $ dan Juni 2008 sebesar 388.260.503 US $. Sedangkan

-7-

nilai impor selama 3 tahun berturut-turut 65.224.222 US $; 80.310.742 US $ dan per Juni 2008 sebesar 37.417.358 US $. Dalam hal pengembangan kompetensi industri dan produk unggulan daerah Kalimantan Barat, dimana daerah ini berada di kawasan dan dekat dengan perbatasan Kalimantan Barat, beberapa wilayah telah ditetapkan menjadi wilayah pengembangan kompetensi inti, yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. Kabupaten Sanggau dengan produk Kakao dan Lada Kabupaten Sintang dengan produk Karet Kabupaten Ketapang dengan produk pakan ternak dan sawit Kabupaten Bengkayang dengan produk pakan ternak dan jagung Kab. Sekadau, Pontianak, Landak dan Kubu Raya dengan produk Karet

Terdapat dua faktor yang mempengaruhi UKM berorientasi ekspor tidak dapat melakukan ekspor secara langsung, yaitu export trading problem dan financing Sedangkan financing problem terjadi karena terbatasnya modal yang dimiliki UKM dan finance and guarantee institution problem, yakni rendahnya dukungan lembaga pembiayaan dan penjaminan ekspor terhadap UKM. Kondisi tersebut menngakibatkan strategi pemasaran UKM cenderung menunggu pembeli, sehingga mekanisme perdagangan yang terjadi umumnya adalah buyer.s market. Sementara itu, Hardono (2003) mengemukakan bahwa pada dasarnya UKM memiliki hambatan yang bersifat klasik, yakni hambatan yang berkaitan dengan rendahnya kualitas sumberdaya manusia (SDM), lemahnya manajemen usaha, rendahnya akses terhadap sumber pembiayaan dan pasar, serta rendahnya informasi dan teknologi yang dimilikinya. UKM yang memiliki hambatan dan kendala usaha berkaitan dengan ekspor diklasifikasikan menjadi dua, yakni internal dan eksternal. Hambatan internal adalah hambatan yang disebabkan kekurangan atau kelemahan yang melekat pada UKM itu sendiri. Hambatan eksternal adalah hambatan yang disebabkan adanya faktor luar yang tidak melekat pada UKM. Beberapa aspek yang menjadi hambatan internal bagi UKM dalam kegiatan ekspor adalah : 1. Masih rendahnya komitmen UKM dalam memenuhi pesanan pelanggan, baik lokal maupun mancanegara (on time delivery); 2. Masih minimnya sistem managemen yang diterapkan UKM, khususnya dalam aspek produksi, administrasi, dan keuangan; 3. Keterbatasan sarana dan prasarana yang dimiliki UKM dalam rangka memenuhi pesanan; 4. Rendahnya kualitas SDM, sehingga dalam mengelola usahanya tidak didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang sangat rasional; 5. Terbatasnya modal yang dimiliki UKM, khususnya modal kerja; 6. Lemahnya jaringan komunikasi dan informasi dengan pihak-pihak terkait, seperti dalam pengadaan bahan baku, terkadang UKM hanya memiliki sumber terbatas, sehingga barang yang diperoleh harganya tinggi;

-8-

7. Rendahnya kemampuan UKM dalam riset dan pengembangan, sehingga belum memenuhi keinginan para buyer. Di sisi lain, terdapat beberapa aspek yang menjadi hambatan eksternal bagi UKM dalam kegiatan ekspor, yakni : a. Tidak stabilnya pasokan dan harga bahan baku serta bahan pendukung lainnya; b. Persyaratan dari buyer semakin tinggi, antara lain berkaitan dengan kualitas produk, kualitas lingkungan sosial, kualitas lingkungan kerja, harga yang bersaing, aspek ramah lingkungan; c. Masih adanya regulasi pemerintah yang kurang kondusif sehingga dapat menghambat laju ekspor UKM; d. Rendahnya akses UKM terhadap pasar, antara lain meliputi permintaan produk, standar kualitas produk, ketepatan waktu pengiriman, dan persaingan harga; e. Rendahnya akses UKM terhadap sumber pembiayaan, antara lain meliputi informasi skim kredit dan tingginya tingkat bunga; f. Masih munculnya biaya-biaya siluman yang berkaitan dengan ransportasi, kepabeanan, dan keamanan; g. Kesulitan memenuhi prosedur dan jangka waktu yang relatif lama untuk mematenkan produk.

-

Pemberdayaan UMKM Melalui Pendekatan Klaster

Di Provinsi Kalimantan Barat, jumlah UKM yang merupakan mitra binaan mencapai 29.738 unit, dengan modal sebesar 23.750 juta rupiah dan volume usahanya mencapai 40.676,35 juta rupiah. Jumlah koperasi di Provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2005 sedikit meningkat dibanding tahun 2004 yaitu 1.854 unit dari sebelumnya 1.852 unit dengan besar modal sendiri 69.842,46 juta rupiah, meningkat cukup bermakna dibanding tahun sebelumnya yang bernilai 59.096,11 juta rupiah. Modal luar koperasi mengalami penurunan yang sangat berarti pada tahun 2005 (60,50%) dibanding tahun 2004 yaitu dari 40.870,03 juta rupiah dibanding sebelumnya 103.461,58 juta. Begitu pula dengan sisa hasil usaha (SHU) yang menurun dari 12.533,51 juta rupiah pada tahun 2004 menjadi 11.362,31 juta rupiah. Jumlah koperasi aktif 1.255 unit dari seblumnya 1.229 unit, namun RAT dilaksanakan oleh 587 unit koperasi dari tahun sebelumnya yang mencapai 680 unit. Jumlah anggota koperasi mencapai 171.290 orang dari sebelumnya 169.424 orang. Jumlah tenaga kerja yang diserap mencapai 7.195 orang pada tahun 2004 dan meningkat menjadi 7.252 orang pada tahun 2005. Di Kalimantan Barat terdapat 136 koperasi, yang keanggotaannya dapat dibagi berdasarkan jenis koperasi, yaitu KUD 1965 anggota, Koppontren 25 orang, Koperasi Pegawai Negeri (KPRI) 513 orang, Koperasi karyawan 436 orang, KSU 25 orang dan KSP 120 orang, serta koperasi lainnya 2791 orang. Modal awal koperasi di Kalimantan Barat yang terendah 2.500.000 rupiah dan tertinggi 5.000.000 rupiah, dan

-9-

perkembangannya sangat bervariasi ada yang mencapai 900 juta rupiah, yaitu koperasi Karya Handayani. Klaster (Cluster) adalah merupakan pengertian yang lazim digunakan dalam Ilmu Ekonomi Regional untuk mendefinisikan pengelompokan industri sejenis dalam suatu kawasan dan ketika kegiatan industri itu bermacam-macam maka disebut aglomerasi (Richardson, 1971). Mengutip pendapat Kimura (Hoa and Harvie, 2003) : Although we can not say that the micro-foundation of spactial agglomeration has been fully formulated, the importance as a source of location advantage is increasingly recognized both empirical and theoretical literature, menunjukkan bahwa fondasi teori dan praktek aglomerasi dalam pembangunan industri semakin kokoh. Klaster juga lazim digunakan untuk membagi wilayah atau area dalam kawasan industri atau bahkan dalam suatu komplek industri. Perkembangan paska GBHN/PROPENAS menampilkan pengalaman tersendiri perjalanan pembangunan UKM di tanah air, terutama 2004-2009 dan kedudukan pendekatan klaster dalam kazanah pembangunan industri dan pembangunan ekonomi di tanah air. Tabel 1. Penyebaran klaster usaha kecil di Indonesia Daerah Sumatra Kalimantan Sulawesi Jawa Jumlah 1.810 856 1.102 3.798 Presentase 18,5% 8,7% 11,3% 38,8% 13% 3,7%

Bali dan Nusa 1.861 Tenggara Lainnya 367 Sumber: Kementerian Koperasi dan UKM

UMKM berperan sebagai Penyelamat. Kontribusi yang di hasilkan dalam menciptakan lapangan kerja sangatlah besar, tercatat 96,18% pekerja bekerja pada umkm, dan mencapai 55,96% dari pendapatan nasional. Dalam memahami penggunaan pendekatan klaster dalam pembangunan UKM di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari sejarah dan pengalaman pembangunan industri kecil di tanah air dan keberimpitan atau adopsi dengan program pembangunan UKM di Indonesia. Sebagai negara agraris tidak dapat disangkal lagi industri di tanah air tumbuh dari industri agro yang diperkuat oleh industri tekstil dan transport (perawatan). Perkembangan industri di tanah air memang tidak semuanya tumbuh sesuai dengan arah pertumbuhan industri pengolahan yang besar dan sejajar dengan kemajuan zaman. Tetapi kehadiran industri kerajinan rumah tangga, yang

-10-

lazim disebut cottage industry, yang tumbuh dengan pesat untuk memenuhi kebutuhan sektor tradisional, pertanian dan sektor ekonomi rakyat lainya. Kemudian juga tumbuh menjadi penunjang kebutuhan industri sedang dan besar. Keadaan inilah yang kemudian menjadi alasan dasar untuk melahirkan pendekatan jalur khusus yang pada zaman itu tumbuh dari asistensi/bantuan teknis sampai kepada pembinaan. Dalam rangka pemberdayaan usaha mikro kecil menengah secara berkesinambungan dan berkelanjutan telah dikembangkan model pembangunan berbasis klaster. Klaster merupakan kemitraan antar kegiatan ekonomi sejenis (horizontal) dan punya hubungan hulu-hilir (vertikal) yang saling bekerjasama membentuk multiply-chain dengan tujuan meningkatkan daya saing produk dan memperluas multiplier-effect kepada kelompok pelaku ekonomi terbawah. Konsep klaster tidak mengenal batas wilayah administrasi. Berikut ini bukti penggunaan klaster di Kabupaten Magelang telah membentuk dan memfasilitasi 5 (lima) klaster yaitu : Forum Rembug Kluster Pariwisata Borobudur. Klaster ini dibentuk tahun 2005. Klaster Pahat Batu Desa Tamanagung Kecamatan Muntilan dibentuk tahun 2006 . Klaster Slondok dan Puyur Desa Sumurarum Kecamatan Grabag dibentuk tahun 2006. Klaster Pertanian Buah Salak Kecamatan Srumbung dibentuk tahun 2006. Klaster Pertanian Sayur Mayur Kecamatan Dukun dibentuk tahun 2006. Dengan adanya perkembangan kalster di kota santri ini membuat kondisi ekonomi pengrajin cukup baik, penghasilan pengrajin bisa mencapai 800 ribu hingga 1,2 juta rupiah perbulan. Penghasilan untuk buruh pembatik juga mencapai 30 ribu perhari.

c. Kesimpulan Meskipun UMKM lebih tahan dibandingkan usaha menengah dan besar, namun UMKM masih dihadapkan pada masalah mendasar yang meliputi: (1) kesulitan akses pasar atas produk-produk yang dihasilkannya, (2) masih lemahnya pengembangan dan penguatan usaha dan (3) keterbatasan akses terhadap sumber- sumber pembiayaan dari lembaga keuangan formal khususnya perbankan. Sementara perbankan yang diharapkan dapat menjadi sumber pembiayaan bagi UMKM (termasuk di daerah perbatasan) ternyata lebih memilih untuk membuka kantornya di daerah perkotaan dari pada di daerah pedesaan yang relatif masih terbelakang dan minim fasilitas.

-

Rekomendasi

Melihat sumbangan pada perekonomian yang semakin penting, UMKM seharusnya mendapat perhatian yang semakin besar dari para pengambil kebjakan. Khususnya lembaga pemerintahan yang bertanggung jawab atas perkembangan UMKM. Pengembangan UMKM selama ini dilakukan oleh Kantor Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kementrian Negara KUKM).

-11-

Selain Menteri Negara KUKM, instansi yang lain seperti Depperindag, Depkeu dan BI juga melaksanakan fungsi pengembangan industri kecil dan menengah (IKM). Dalam pemilihan program yang paling di butuhkan bisa melibatkan FEDEP, SKPD terkait dan bappeda dan juga pemerintah dapat melibatkan kalangan Business Development Service/Lembaga Pengembangan Bisnis (BDS/LPB) dan kalangan lembaga keuangan mikro dalam program pemberdayaan UKM dengan pendekatan klaster. Keberadaan BDS sendiri cukup vital karena ia mampu memberikan contoh yang baik kepada UKM yang menjadi binaannya. Misalnya, bagaimana bekerja secara produktif. Pengembangan UMKM perlu mendapatkan perhatian yang besar baik pemerintah, swasta maupun masyarakat agar dapat berkembang lebih kompetitif bersama pelaku usaha lainnya. Keberadaan usaha mikro kecil menengah perlu didorong dan diarahkan melalui pemberian pelayanan perijinan yang mudah, peningkatan SDM, fasilitasi kemitraan dengan pelaku usaha yang besar. Untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut tidak bisa lepas dari peran pemerintah dan dasar mandatnya sudah tertera pada UU nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah atau dapat lebih rinci lagi terdapat pada UU nomor 20 tahun 2008 tentang pemberdayaan UMKM, juga mengamanatkan fokus pelayanan pemberdayaan UMKM meliputi berbagai aspek. Pengembangan klaster ke depan perlu optimasi dalam modal sosial, produk, pemasaran, dan management. Perlu juga di adakanya penguatan networking klaster dalam rangka kemandirian klaster, dan yang terakir peranan FPESD yang lebih optimal. Keberhasilan suatu strategi kebijakan seperti halnya klaster ini memerlukan keterlibatan aktif dan komitmen dari pemerintah, pelaku bisnis, akademisi, perbankan dan masyarakat yang memiliki peran dalam pengambilan keputusan yang pada gilirannya akan berdampak pada peningkatan daya saing usaha mikro kecil menengah dan peningkatan pendapatan masyarakat.

-12-

Daftar Pustaka Ali, Suryadharma. “UKM Perbatasan” Perlu penanganan Khusus. Jurnal UKM Perbatasan. Hambatan Usaha Kecil dan Menengah Dalam Kegiatan Ekspor. Jurnal Pengkajian Koperasi dan UKM Nomor 1 Tahun 1; 2006. Hal.101-102. Node, Idris Y. Perkembangan dan Strategi, Memberdayakan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Jurnal FORMAS Vol 1, No. 4 Juni; 2008. Hal.221-224.
Pariaman Sinaga.Kajian Awal Terhadap Kebijakan ACFTA (Asean-China Free Trade Agreement) dan Kaitannya Dengan KUKM. Jurnal Kajian Awal Terhadap ACFTA.

Pengkajian Produk Unggulan Dalam Meningkatkan Ekspor UKM dan Pengembangan Ekonomi Lokal. Jurnal Pengkajian Koperasi dan UKM Nomor 1 Tahun 1; 2006 Pembangunan Bangun Pusat Perdagangan UKM di Perbatasan. Jurnal Perdagangan UKM di Perbatasan; 2008. Suratman, Eddy. Dampak Kebijakan Pengembangan Kawasan Perbatasan Terhadap Kinerja Perekonomian Kalimantan Barat: Analisis Simulasi dengan Pendekatan Sistem Neraca Sosial Ekonomi. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia (JEPI). Vol. V No. 01,2004 Mi, hal. 35-60; 2004. http://www.borneotribune.com/pemprov/koperasi-dan-umkm-kalbar-terusmeningkat.html http://www.apakabar.ws/forums/viewtopic.php?f=1&t=20453&start=0 http://peacbromo.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=50&Ite mid=58 http://www.sintang.go.id/tataruang/default.asp?what=renstra&id=21) http://arisahmadrisadi.blogspot.com/2009/10/swot-perbatasan-negara-kalbar.html http://www.forumukm.com/index.php?option=com_content&view=article&id=95 :diperlukan-agenda-yang-jelas-untuk-memperkuat-umkm-menghadapiacfta&catid=1:latest-news&Itemid=50 http://sinarpagibaru.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=233 http://buletinlitbang.dephan.go.id/index.asp?vnomor=10&mnorutisi=9

-13-

DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENULIS

- Ketua Kelompok Nama NIM Fak / Universitas : Rafindra Ashari L. Tobing ( Indra ) : A 011 06 081 : Hukum / Univeritas Tanjungpura

Tempat / Tanggal Lahir : Pontianak, 14 Desember 1988 Alamat Cita-Cita Hobi Motto Hidup Anak Ke Pendidikan 1. 2. 3. 4. : : Jl. Tebu Gg. Mundu No.14 Pontianak : Musisi dan Notaris : Main Musik, menghadapi tantangan : Mengalah untuk menang : I ( Pertama )

MINT. Bawamai Pontianak MTs. Negeri 1 Pontianak SMA Negeri 8 Pontianak Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura - sekarang :

Pengalaman Berorganisasi 1. 2. 3. 4. 5.

Osis SMP. PKS (Patroli Keamanan Sekolah) SMP. Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) SMA. Lingkar Ilmiah Studi Mahasiswa (Lisma) Untan. ”Sarana Pengembangan Seni Mahasiswa Untan” :

Lomba yang Pernah Diikuti

Presentasi Pemikiran Kritis Mahasiswa (PPKM) 2007 oleh Dikti.

Hormat saya,

(Rafindra Ashari L. Tobing) NIM A 011 06 081

-14-

DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENULIS

- Anggota Kelompok Nama Ketua Tempat/tanggal Lahir Fakultas Angkatan NIM Agama Alamat No. Handphone : Dedi Hermansyah : Pontianak, 12 juli 1988 : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) : 2009 : E 511 09 057 : Islam : Jl. Tritura Gg. Bone No. 76 : AS 0852 4508 7554

Pendidikan : 1. 2. 3. 4. SDN 19 Pontianak SLTP N 14 Pontianak MAN 2 Pontianak Mahasiswa S-1 Prodi Sosiologi Universitas Tanjungpura

Organisasi : 1. 2. 3. 4. Tariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah Padepokan Al Khizib Himpunan Mahasiswa Jurusan Sosiologi 2009 Lingkar Ilmiah Studi Mahasiswa

Hormat saya,

Dedi Hermansyah NIM E 511 09 057

-15-

DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENULIS

- Anggota Kelompok Nama Anggota Tempat/tanggal Lahir Fakultas Angkatan NIM Agama Alamat No. Handphone : Benny Dikta Rianggi Ria : Pontianak, 22 Juni 1991 : Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) : 2009 : NIM F 540 09 033 : Katholik : Jl. Mat Sainin No.08 : AS 0852 4540 7993

Pendidikan : 1. 2. 3. 4. SDN 71 Pontianak SLTP N 16 Pontianak SMA N 2 Pontianak Mahasiswa S-1 Prodi PG-PAUD Universitas Tanjungpura

Organisasi : 1. Keluarga Mahasiswa Katholik (Gamaska) 2. Lingkar Ilmiah Studi Mahasiswa

Hormat saya,

Benny Dikta Rianggi Ria NIM F 540 09 033