Pencari Kebebasan

Awal musim panas, 24 Mei… Di jalanan itu Aku berlari. Bagai burung terlepas dari sarang emas, ku seperti kepakan sayapku. Semakin lama, makin aku tertawa. Inikah rasanya bebas. ”Sir !” Hah, ternyata aku baru melamun. Kilasan peristiwa itu tiba-tiba saja mampir di otakku. Apa Aku merasa bersalah ?Ah tidak, aku kan hanya ingin lepas dari beban di keluargaku. Apa Aku rindu keluarga besarku ? Ah Tidak juga mana mungkin Aku merindukan mereka. ”Mas !” “Eh, iya maaf. Itu delapan ribu lima ratus” “Ini ya, Mas !” kata gadis itu sambil menyodorkan selembar sepuluh ribuan. Aku bergegas membuka laci uang. Ku berikan dia uang seribuan dan lima ratusan. Ya, disini aku sekarang di kios buku “Pirantes”. Kios yang penuh buku-buku yang disetiap dindingnya. Buku-buku berjajar rapid an pada ujungnya hanya ada aku dan meja kasir ini. Mmm... namaku Harry F. Lorenso. Aku seorang pelarian. Pelarian bagi keluargaku. Aneh memang tapi itu kenyataannya. Saat ini Aku memulai kehidupan baruku disini. Sebagai pelarian, Aku memiliki banyak teman. Salah satunya adalah dia. Dengan langkah tenang dia berjalan memasuki kiosku. Mata hitamku berbinar. Eh, tunggu siapa yang bersamanya ? “Angga, kamu tunggu disini sebentar ya. Ada buku yang Aku butuhin nih” ujarnya tampa memperdulikanku.

1

Sesaat ia berjalan meninggalkan kami. Dadaku kini sesak. Ada kemarahan yang tak bisa kubendung. Ingin Ku pukul-pukul orang didepanku ini. Tapi pikiranku menolak. Ini bukan sifatku, ini terlalu berlebihan. “Kenapa kau bersama Mona !” “Memang apa urusanmu. Kamu siapanya !” tangkis Angga dengan angkuhnya. “Aku... Aku... Aku temannya. Memang kamu siapanya !” gemuruh tiba-tiba datang bersama kegetiranku. “Aku pacarnya. Kami akan segera bertunangan. Bagus sekali bukan, Ia kaya dan cantik. Cocok sekali denganku yang anak walikota ini. Ha...ha..ha..” tawa itu mengiringi keterpurukanku. “Hei, kalian akrab ya. Harry buku ini kubayar nanti aja ya. Ayo, Ga” Mona tiba-tiba datang menyambar Angga. Mereka pergi diikuti tawa dari Angga. Aku tertinggal disini tampa kata. Luka dihatiku tiba-tiba meradang. Perih itu menyambar dimana-mana. Aku begitu terguncang. “Harry, kalo kerja jangan melamun dong ! Lho kamu kenapa...” Dua minggu kemudian ( 7 Juni 2006)... Dua minggu sejak peristiwa itu Aku terbangun dengan lelah. Butiran-butiran keringat menetes di setiap jengkal tubuhku. Di hidungku yang mancung, tanganku yang putih bahkan rambutku yang seperti disemir coklat. Aku bermimpi tentang keluargaku. Apakah Aku merindukan mereka ? Tidak, Aku tegaskan sekali lagi pada diriku ‘Aku tidak rindu !’. Ini kebetulan ! Hanya kebetulan karena hatiku terluka ! Kebetulan karena hatiku menginginkan seseorang disampingku.

2

Aku harus melupakan mereka ! Mmm... Mungkin dengan kegiatan ! Ku rapikan selimutku. Ku tatap papan memo di kamarku. Sabtu sepuluh Mei ? Yeah, akhirnya ketemu jam sepuluh di Kantor Administrasi Daerah bersama Ahmad trus pergi ke Rental CD. Jam sepuluh, kami sudah ada di Kantor Administrasi Daerah. Aku disini membantu Ahmad. Dia tengah mencari data keluarga Fauzan, keluarganya sendiri. Dia bercerita padaku. Dia terpisah dari keluarganya sejak kecelakaan besar Kereta Api Purwa Sembada 1554 tahun 1990. 18 Juni 2006... Aku lagi-lagi terbangun bersama mimpi keluargaku. Ya, sudah beberapa kali ini mimpi yang sama. Ahmad pun sepertinya juga menyadari perubahanku. Dia bertanya padaku. Aku diam saja. Aku belum ingin berterus terang padanya tentang mimpiku, tentang keluargaku dan tentang Mona. Oh Mona, Aku jadi teringat dirimu. Betapa Engkau sangat baik dan cantik. Aku merasa tak mampu menbencimu. Meski, melihatmu bersama Angga hatiku jadi membara. Tapi Aku tak bisa mengacuhkanmu. “Mona, dia tak pantas untukmu” kataku suatu sore saat hatiku benar-benar terasa lara. “Maksudnya apa ? Aku tak mengerti...” 21 Juni 2006... Hari ini Aku tidak bermimpi. Mungkin Aku terlalu lelah untuk bermimpi. Kemarin, Aku berkerja keras. Banyak calon mahasiswa yang mencari Buku Paduan Ujian Masuk Universitas. Makanya, Aku meminta Ahmad membantuku. Hari ini pun pasti begitu. Aku jadi merasa bukan Prince lagi.

3

Ternyata dugaanku tidak 100% benar. Mona juga datang. Dia tidak bersama Angga. Memang, Beberapa hari ini ku lihat Mona selalu sendirian. Apa yang terjadi dengan mereka ? Apa mereka bertengkar ? Tapi Mona kelihatannya baik-baik saja. Ada apa sebenarnya.... 25 Juni 2006.... “Harry, apa tujuan hidupmu ?” ku pandangi Ahmad, tak biasanya dia bertanya seperti itu. “Memangnya kau sudah tahu tujuan hidupmu ?” hanya itu yang mampu keluar dari mulutku. “Entahlah, mungkin menemukan orang tuaku. Trus membahagiakan mereka. Kau sendiri apa ?” kembali kupandangi wajah Oriental itu. Ingin jujur kukatakan Aku belum pernah berpikir sampai seperti itu. Aku jadi merasa hidupku kujalani tampa arti. “Entahlah...” kupalingkan wajahku dan mematap jauh tak hingga. “Kenapa tak kau cari ?” ku merasa saat itu mata sipitnya mematapku hingga seolah-olah isi hatiku bisa terlihat olehnya. 1 Juli 2006... Aku kembali bangun dengan mimpi yang sama, keluargaku. Wajah mereka pun kadang-kadang mampir begitu saja di pikiranku. Aku juga berfikir tentang perkataan Ahmad. Apa tujuan hidupku ? Kenapa wajah keluargaku selalu muncul ? Apa disana bisa kutemukan tujuan hidupku ? Jangan-jangan yang kulakukan selama ini salah ? 7 Juli 2006.... Lagi-lagi bermimpi buruk. Lama-lama Hidupku jadi kacau kalau begini. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak. Aku jadi sering ngantuk dan lelah jadinya.

4

Aku semakin merasa ini bukan tempatku. Oh Tuhan tolonglah aku...Apa yang harus kulakukan... 8 juli 2006.... Ahmad akhirnya kuberi tahu juga masalahku. Dia bilang Aku rindu keluargaku. Dia juga menasehatiku supaya Aku pulang. Tidak Ahmad, Aku belum mau pulang. Aku sendiri yang memutuskan pergi, masak Aku langgar sendiri. Tidak ! Aku tidak mau ! 8 juli, sore hari.... “Halooo” “Eh, kau Mona, ada apa ?” “Aku cuma disuruh Ahmad beritahu kamu kalo dia menunggumu di depan gerbang Kantor Pemerintahan. Eh, Harry, kamu kenapa kelihatannya pucat ?” dia menatapku dalam-dalam. “Ah, tidak apa” ku sadari mukaku memerah,”Mona, kau mau membantuku ? menjaga ini..” Dia mengangguk. Aku langsung bersiap-siap. Lekas ku pakai jaket, sandalku dan saat ku hendak meninggalkannya... “Harry...” ku tengokkan wajahku kepadanya dan betapa kagetnya Aku saat kulihat kegelisahan di wajahnya. “Apa !” ujarku sambil berlari. “Mmm... gak jadi...”katanya sambil menggeleng, “Sana temui Rio” “Ahmad, kau mencariku ?” “Ikut Aku !”

5

Dia membawaku menaiki bus kota. Bertanya pada orang. Berjalan di jalan setapak. Bahkan, dia menyuruhku menyebrangi sungai dangkal. Apa yang sebenarnya dicarinya ... Kami berhenti didepan rumah itu. Kecil, mungil dengan cat putih yang sudah mulai mengelupas. Halamannya hanyalah sepetak tanah kecil yang ditumbuhi bunga mawar. Sekarang kami sudah berdiri di depan pintu itu, dari kayu berplitur tampa ornamen kecuali beberapa bagian yang dibuat menjorok kedalam (hmmm...mungkin itu ornamennya ..). Aku juga tak melihat ada bel pintu rupanya. Ahmad mulai mengetuk. Pintu berdecit. Ku lihat seorang bapak separuh baya mendorongnya. Kulitnya sudah keriput disana-sini... “Emm..apa..apa bapak...e...bapak yang bernama Pak Kurniadi...?” tak pernah kulihat Ahmad setegang dan secemas ini. “Ya, ada yang bisa saya bantu...” Sedetik kemudian.... “Ini..Ahmad! Ahmad putra Bapak !? Putra bapak yang hilang dalam kecelakaan Kereta Api Purwa Sembada 1554” Ahmad sudah memeluk bapak itu eraterat. Seakan-akan ia tak mau melepasnya. Dia juga menangis seperti menumpahkan rindu yang selama ini dipendamnya. Bapak itu hanya tersenyum dan tak hentihentinya mengucapkan syukur... Saat itu Aku juga hampir menangis. Segalanya jadi seperti tak berarti dibandingkan keluargaku. Aku juga harus pulang. Keluargaku pun pasti membutuhkanku. Mereka pun pasti mencintaiku. Ya, tunggulah Aku keluargaku Aku akan pulang dan temui kalian semua....

6