You are on page 1of 37

LBM 4

Bengkak pada Lipat Paha

STEP 1

Mikrofilaria : larva dari makrofilaria (cacing dewasa fillaria). Masuk ke tubuh

dalam bentuk L3 (larva stage 3). Terdapat di kelenjar dan saluran darah.
Eosinofilia : Kelebihan jumlah eosinofil biasanya karena infeksi parasit.

STEP 2
1. Mengapa didapatkan keluhan muncul benjolan pada lipat paha kanan
sebesar telur ayam nyeri dan keras pada palpasinya sejak 1 bulan yang lalu?
2. Kenapa gejala disertai demam mual muntah dan nafsu makan turun?
3. Apa hubungan penderita dengan yang tinggal di daerah penderita yang kena
penyakit kaki gajah dengan gejala yang diderita?
4. Apa yang menyebabkan terjadinya eosinofilia dan leukositosis?
5. Mengapa pada pemeriksaan apus darah kapiler diambil pada malam hari
6.
7.
8.
9.

dan didapatkan mikrofilaria?
Mengapa selain penderita diobati dilakukan pengobatan masal?
Bagaimana patogenesis dari penyebab penyakit ini?
DD? (definisi, etiologi, PF, PP, Penatalaksanaan)
Diagnosis pasti dan penatalaksanaan?

STEP 3
1. Mengapa didapatkan keluhan muncul benjolan pada lipat paha kanan
sebesar telur ayam nyeri dan keras pada palpasinya sejak 1 bulan yang lalu?
Perubahan patologi utama disebabkan oleh kerusakan pembuluh getah
bening akibat inflamasi yang ditimbulkan oleh cacing dewasa, bukan oleh
mikrofilaria. Cacing dewasa hidup di pembuluh getah bening aferen atau sinus
kelenjar getah bening dan menyebabkan pelebaran pembuluh getah bening dan
penebalan dinding pembuluh. Infiltrasi sel plasma, eosinofil, dan makrofag di
dalam dan sekitar pembuluh getah bening yang mengalami inflamasi bersama
dengan proliferasi sel endotel dan jaringan penunjang, menyebabkan berlikulikunya sistem limfatik dan kerusakan atau inkompetensi katup pembuluh getah
bening

Limfedema dan perubahan kronik akibat statis bersama dengan edema
keras terjadi pada kulit yang mendasarinya. Perubahan-perubahan yang terjadi
akibat filariasis ini disebabkan oleh efek langsung dari cacing ini dan oleh
respon imun pejamu terhadap parasit. Respon imun ini dipercaya menyebabkan
proses granulomatosa dan proliferasi yang menyebabkan obstruksi total
pembuluh getah bening. Diduga bahwa pembuluh-pembuluh tersebut tetap
paten selama cacing tetap hidup dan bahwa kematian cacing tersebut
menyebabkan reaksi granulomatosa dan fibrosis. Dengan demikian terjadilah
obstruksi limfatik dan penurunan fungsi limfatik.
1. Supali T, Kurniawan A, Partono F. Wuchereria bancrofti. In : Sutanto I, Ismid
IS, Sjarifuddin PK, Sungkar S, ed. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. 4th ed.
Jakarta : FKUI; 2009. p. 32-8.
2. Djuandi Y, Partono F. Occult Filariasis. In : Sutanto I, Ismid IS, Sjarifuddin PK,
Sungkar S, ed. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. 4th ed. Jakarta : FKUI;
2009. p.42-3.
2. Kenapa gejala disertai demam mual muntah dan nafsu makan turun?

3. Apa hubungan penderita dengan yang tinggal di daerah yang terkena
penyakit kaki gajah?

ETIOLOGI
Penyakit ini disebabkan oleh superfamilia filariodea, berikut daftar nama dan
penyakit yang ditimbulkan oleh parasite tersebut:
a. Wuchereria bancrofti, adalah penyebab dari Bancroftian filariasis yang
menimbulkan kelainan limfopatologik seperti elephantiasis. Cacing ini
ditularkan oleh nyamuk Anopheles sp, Culex sp dan Aedes sp.2
b. Brugia Malayi,merupakan penyebab Malayan filariasis yang menimbulkan
penyakit dengan gejala menyerupai

Bancroftian filariasis.

Cacing ini

ditularkan melalui Mansonia sp, Aedes sp dan Anopheles sp.2
c. Brugia timor adalah penyebab Timorian filariasis yang ditularkan melalui
Anopheles sp. Gejala menyerupai Bancroftian filariasis. 2
d. Loa loa, yang ditularkan melalui Chrysops atau deerfly menyebabkan
penyakit khas yang dinamakan loasis atau Calabar swelling. Gejala yang
ditimbulkan berupa bengkak pada kulit, lesi pada mata, manifestasi alergi
lainnya. 2
e. Onchocerca volvulus, sering dinamakan Blinding filariaI, yang menyebabkan
kebutaan,

cacing

ini

juga

dapat

menimbulkan

kelainan

kulit

yang

menyebabkan perubahan bentuk wajah penderita. Cacing ini ditularkan
terutama oleh Simulium sp atau Blackflies.2
f.

Mansonella ozzardi, menyebabkan penyakit yang dinamakan ,mansonellosis
yang dianggap ada kaitannya dengan adanya perdangan sendi( arthritis).
Cacing ini ditularkan melalui Simulium sp atau Culicoides.2

g. Mansonella perstans, ditularkan melalui Culicoides dapat menimbulkan
sindrom alergi yang khas
h. Mansonella streptocerca, penyebab streptocerciasis yang menimbulkan
kelainan kulit tetapi tanpa menimbulkan kebutaan atau elephantiasis
Sandjaja B, Parasitologi Kedokteran Helminthologi Kedokteran Buku 2, Jakarta:
Prestasi Pustaka, 2007: 145-148

4. Apa yang menyebabkan terjadinya eosinofilia dan leukositosis?
a. Respon Imun Terhadap Filariasis

kedua sistim ini berjalan dan saling berkoordinasi karena pengaruh sitokin.20 Kd pada penderita tropical eosinophilia (TPE) komponen protein yang dikenal berat molekul 200 Kd . menunjukkan bahwa secara kuantitatif penduduk daerah endemis yang amikrofilaremik pada umumnya mempunyai kandungan IgG anti filaria yang lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk yang mikrofilaremik.25 Kd. Respon Seluler Respon imun seluler filariasis telah banyak dipelajari. Respon Imunoglobulin Penelitian respon humoral pada filariasis. . sel-sel limfosit terangsang untuk menempel di permukaan badan mikrofilaria. Respon imun filariasis yang humoral maupun seluler terhadap mikrofilaria terlihat lebih baik pada kelompok amikrofilaremik dibandingkan kelompok mikrofilaremik. Hilangnya mikrofilaria di peredaran darah dan di organ-organ tempat parasit tinggal disebabkan oleh peristiwa ADCC (Antibody Dependent Cell Cytotoxicity). Pada penderita filariasis malayi IgG anti filaria dari penduduk yang amikrofilaremik dengan gej ala klinis mengenal komponen protein mikrofilaria malayi pada berat molekul 125 Kd secara mencolok. yaitu pada penderita filariasis bancrofti yang mikrofilaremik. dan ratio jumlah sel limfosit supresor (CD8+) dan sel limfosit helper (CD4+) berubah. ii. Kegagalan respon seluler dapat terjadi pada penyakit yang telah berjalan lama (menahun). Proses ini diperkirakan merupakan mekanisme pertahanan pada filariasis. IgG anti filaria yang ada mengenal komponen protein cacing dewasa terutama pada berat molekul < 80 Kd. i. Peran sel limfosit pada respon seluler sangat penting. disusul matinya mikrofilaria. Dalam usaha beradaptasi diri. sedangkan penduduk amikrofilaremik tanpa gejala klinis IgG yang ada mengenal komponen 75 Kd dan 25 Kd. Sel CD4+ yang jumlahnya rendah mengakibatkan produksi antibodi spesifik rendah. parasit berhasil hidup dan mempertahankan diri di dalam tubuh hospes. parasit mengeluarkan antigen yang dapat mempengaruhi respon imun. Secara kualitatif gambaran yang ditunjukkan lebih kompleks. pada penderita elefantiasis terutama pada berat molekul 180 Kd .Pada filariasis sistim imun yang berperan adalah sistim seluler dan humoral. Secara in vitro telah dibuktikan bahwa bila terdapat antibodi spesifik yang menempel di permukaan badan mikrofilaria.

hal ini dapat sebagai indikator keadaan infeksi yang aktif dan ditemukannya mikrofilaria di dalam darah. Bila kadar IgG4 tinggi dalam darah. Komponen protein cacing filaria dewasa maupun mikrofilaria yang dikenal oleh IgG4 juga dikenal oleh IgE. Pola pengenalan IgG4 terhadap komponen protein cacing filaria banyak dikaitkan dengan IgE. hal ini memberi indikasi bahwa perbedaan tipe respon imun yang terjadi pada perjalanan penyakit filariasis ditentukan oleh masing-masing subkelas IgG yang berperan. Komponen protein cacing dewasa B. IgG3 mempunyai kemampuan mengikat komplemen paling besar di antara subkelas yang lain. . di samping ternyata IgG2 juga mempunyai kemampuan kuat mengikat polisakharida. pertama kompetisi antara IgE dan IgG4 dalam mengikat antigen.Empat macam subkelas IgG mempunyai struktur bentuk. Biasanya keadaan ini disertai dengan rendahnya kemampuan respon seluler. bila terjadi ikatan antigen-IgG4 maka ikatan antigenIgE-sel basophil tidak terjadi sehingga tidak ada pembebasan histamin dan reaksi alergi. Respon IgG4 banyak dikaitkan dengan respon IgE. fungsi dan derajat partisipasi pada respon imun yang masing-masing sangat berbeda. malayi yang dikenal oleh IgGl dan IgG3 dari penderita elephantiasis adalah berat molekul > 68 Kd. Secara kuantitatif kadar IgG 1 pada penderita elephantiasis lebih tinggi dibandingkan pada penderita yang mikrofilaremik. Tentunya hal ini perlu didukung oleh penelitian lebih lanjut. Bila ikatan IgE dan sel basophil atau sel mast banyak beredar dalam darah. Peran IgG2 pada filariasis masih sangat diragukan. hal ini dapat menyebabkan rusaknya antigen tersebut. kemudian bertemu dengan antigen spesifik maka akan terjadi robekan permukaan sel-sel tersebut dan terjadi pembebasan histamin. Hasil ini menimbulkan dugaan bahwa peran IgG3 pada filariasis adalah sebagai imunoprotektor. Di permukaan sel basophil dan sel mast terdapat reseptor untuk IgE. Bila IgG4 hadir dalam jumlah banyak di dalam darah akan terjadi dua kemungkinan. Secara kualitatif pola pengenalan yang ditunjukkan sangat berbeda. mengingat kemampuan IgG2 untuk mengikat komplemen sangat rendah. kemungkinan ke dua bila IgG4 setelah mengikat antigen kemudian menempel pada reseptor di permukaan sel basophil atau sel mast sehingga IgE tidak dapat menempel pada permukan sel sehingga pembebasan histamin tidak terjadi. sedangkan pada penderita yang mikrofilaremik komponen protein yang dikenal < 68 Kd. Bila terjadi ikatan IgG3 dengan antigen baik spesifik atau nonspesifik dapat menyebabkan teraktivasinya sistim komplemen dengan serangkaian reaksi.

menstimulasi proliferasi sel B. meningkatkan produksi IgE dan MHC kelas II dari sel B. gejala alergi hanya terjadi padaTPE saja. Pada dasarnya sitokin adalah suatu protein yang diproduksi oleh sel limfosit T dan memegang peran penting pada pengaturan respon imun penyakit. Berdasarkan sitokin yang dihasilkan dalam kaitannya dengan respon imun. stimulasi sel B untuk memproduksi antibodi. meningkatkan produksi IgA. penderita elephantiasis dan kelompok tanpa gejala klinis baik yang mikrofilaremik maupun amikrofilaremik mempunyai kandungan IgE dua kali normal. IL-2 terutamaberperan dalam proses diferensiasi sel limfosit sitotoksik (CTL). respon DTH kuat dan supresi sel Th2. Peran IL-6 adalah menstimulasi proliferasi sel-sel plasmasitoma dan hibridoma. iii. IL-4 terutama berperan sebagai faktor perkembangan dan aktivasi sel B. IL-5 dan IL-6. IL-2 dan LT yang berlebih. karena sel Th2 tidak berperan dalam sekresi sitokin maka terjadi sekresi IFN gama. meningkatkan produksi IgG2 oleh sel B dan menetralkan efek IL-4 pada sel B. akibatnya terjadi inaktivasi sel B.Pada filariasis konsentrasi IgE umumnya tinggi. sel CD+4 dibagi menjadi dua kelompok sel yaitu Thl dan Th2. Meskipun semua bentuk klinis filariasis mempunyai kadar IgE tinggi. aktivasi makrofag. meningkatkan proses ADCC (AntibodyDependent Cell Cytotoxicity). Penelitian tentang respon imun pada infeksi parasit menunjukkan bahwa sel CD+4 dan CD+8 adalah sel limfosit yang berperan sebagai mediator sistim proteksi dan imunopatologik. Konsentrasi tertinggi terdapat pada penderita TPE (8630 µg/ml). IL-5 berperan pada perkembangan sel B untuk berproliferasi. Peran Sitokin Fungsi sitokin pada filariasis masih belum banyak diketahui. Dikemukakan 4 macam kemungkinan mekanisme respon imun: Mekanisme pertama dalam respon imun hanya melibatkan sel Th l saja. IFN gama berperan terutama untuk mekanisme pertahanan. meningkatkan proses killing intraseluler. dan sel B. Sitokin yang diproduksi oleh sel Th2 adalah: IL-4. . timosit dan sel-sel hemipoetik progenitor. keadaan ini mengakibatkan parasit-parasit intrasel dapat terbunuh dengan efektif. Sitokin penting yang diproduksi oleh sel Thl adalah IL-2 (Interleukin-2) dan IFN gama (Interferon gama). tidak ada sekresi antibodi. hal ini karena adanya faktor bloking oleh IgG4. perkembangan sel mast. yaitu proses aktivasi makrofag.

Produksi IgG2a. dengan demikian gambaran klinis yang timbul adalah gejala alergi. Universitas Airlangga. makrofag juga teraktivasi tetapi tidak sama dengan keadaan bila respon imun karena pengaruh sel Thl. hal ini menunjukkan bahwa bila terdapat kandungan ini akan menstimulasi sel-sel endothel untuk mengkspresikan MHC kelas I pada permukaan selnya. Nematoda Jaringan. yang akan menyebabkan aktivitas killing dari limfosit lebih efektif. antibodi dalam konsentrasi yang tinggi. IL-5 dan IL-6 yang diproduksi oleh sel Th2. In: Atlas Parasitologi Kedokteran. bila respon imun hanya melibatkan sel Th2 saja. di bawah pengaruh sitokin. Gramedia Pustaka Utama. Bertambahnya aktivitas CTL spesifik akan meningkatkan pula mekanisme ADCC. 2009. IgG 1 karena pengaruh IL-4. Filariasis. Karena terdapat IL-4 dalam jumlah banyak maka terjadi sekresi IgE dalam jumlah banyak. bila terjadi respon sel Th1 yang kuat tetapi disertai dengan sedikit respon sel Th2. respon DTH tidak sekuat pada mekanisme pertama. VI. filariasis menunjukkan bahwa penderita tanpa filaremik mmpunyai kadar IFN gama 238 pg. IgE tidak mencolok karena masih ada pengaruh IFN gama.. pada mekanisme ini terjadi sekresi dan IL-6 yang cukup. yaitu bila terjadi respon sel Th2 yang kuat. mungkin juga tidak banyak dilakukan. tidak terjadi aktivasi DTH.U. . Surabaya. pengaruh IFN gama. Terjadi sekresi IL-4. Jakarta: 21-22.Prianto. Sumber : .Setyowidodo. 2006. Mekanisme keempat. Ed. H. IL-2 dan LT berkurang karena adanya pengaruh IL-4. Hal ini akan mengakibatkan bertambahnya kepekaan anti filaria CTL (sel imfosit sitotoksik). .Mekanisme kedua. dapat menyebabkan sekresi antibodi lebih baik dibandingkan dengan yang terjadi pada mekanisme 1 dan 2. adanya IL-5 menyebabkan aktivasi fungsi eosinophil. Ilmu Kedokteran Tropik. Darwanto. J. Penelitian yang dilakukan oleh Freedman dan kawan-kawan menunjukkan bukti bahwa pada filariasis komponen utama yang terlibat dalam respon imun adalah sel-sel endothelium yang terdapat pada dinding pembuluh vaskuler maupun limfatik. tetapi umumnya belum didapatkan jawaban yang memuaskan. IL-5 mungkin masih terjadi. terutama di lokasi radang di mana didapatan juga agen parasitnya. Terjadi aktivasi sel B dan produksi antibodi.. tetapi sedikit respon sel Th1. P. Mekanisme ketiga. Penelitian respon sitokin pada filariasis.. Tjahaya. Dalam penelitiannya ditunjukkan IFN gama yang tinggi.

Ed. dan Satari.S. S..P..R..S. H. H. In: Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis.. I. Mengapa pada pemeriksaan apus darah kapiler diambil pada malam hari dan didapatkan mikrofilaria? . 2008. Jakarta: 400-407.. Badan Penerbit IDAI. Hadinegoro. S. Ganna.Soedarmo. Penyakit Infeksi Parasit. II. 5.

.

Mengapa selain penderita diobati dilakukan pengobatan masal? .6.

.

.

.

.

.

ac.http://www.upnvj. Kegiatan pemberantasan nyamuk terdiri atas : a. Pemberantasan jentik nyamuk i. Aedes : aerial spraying b. Anopheles : Abate 1% .pdf Pencegahan Filariasis Mass Drug Administration (MDA) World Health Organization (WHO) Global Program untuk mengeliminasi filariasis limfatik melalui MDA dengan menggunakan dua obat kombinasi yaitu DEC dengan Albendazole atau Ivermectin dengan Albendazole yang diberikan satu kali pertahun selama 4-6 tahun. Mempertahankan Chronic Disease Rate (CDR) 4.id/pdf/4s1kedokteran/207311039/BAB %20II.library. Menurunkan mf rate menjadi < 5% 3. Preventive Chemoteraphy in Human Helminthes(page:21) Pemberantasan Filariasis Pemberantasan filariasis ditujukan pada pemutusan rantai penularan dengan cara pengobatan untuk menurunkan morbiditas dan mengurangi transmissi. Menurunkan Acute Disease Rate (ADR) menjadi 0% 2. 2006. WHO. Pemberantasan filariasis di Indonesia dilaksanakan oleh Puskesmas dengan tujuan : 1. Pemberantasan nyamuk dewasa i. Anopheles : residual indoor spraying ii.

Bagaimana patogenesis dari penyebab penyakit ini? Siklus Hidup Filraria Penyakit Kaki Gajah . Sasaran penyuluhan adalah penderita filariasis beserta keluarga dan seluruh penduduk daerah endemis dengan harapan bahwa penderita dengan gejala klinik filariasis segera memeriksakan diri ke Puskesmas. Jakarta. Culex : minyak tanah iii. 2002. Pedoman Pengobatan Massal (Filariasis). Menggunakan kawat nyamuk/kelambuMenggunakan repellent Kegiatan pemberantasan nyamuk dewasa dan jentik tidak masuk dalam program pemberantasan filariasis diPuskesmas yang dikeluarkan oleh P2MPLP pada tahun 1992. Penyuluhan tentang penyakit filariasis dan penanggulangannya perlu dilaksanakan sehingga terbentuk sikap dan perilaku yang baik untuk menunjang penanggulangan filariasis. bersedia diperiksa darah jari dan minum obat DEC secara lengkap dan teratur serta menghindarkan diri dari gigitan nyamuk.Ditjen PPM & PL. Mansonia : melenyapkan tanaman air tempatperindukan.Direktorat P2B2 Subdit Filariasis & Schistosomiasis. 7. Sumber : Depkes RI. mengeringkan rawa dan saluran air c. Mencegah gigitan nyamuk i.ii.

kemudian menembus dinding lambung dan bersarang diantara otot-otot dada (toraks). sehingga mikrofilaria yang terdapat ditubuh penderita ikut terhisap kedalam tubuh nyamuk. Mikrofilaria tersebut masuk kedalam paskan pembungkus pada tubuh nyamuk. Dalam waktu kurang lebih satu minggu larva ini berganti kulit.Siklus hidup Wuchereria bancrofti Siklus hidup cacing filaria dapat terjadi dalam tubuh nyamuk apabila nyamuk tersebut menggigit dan menghisap darah orang yang terserang filariasis. Bentuk mikrofilaria menyerupai sosis yang disebut larva stadium I. sehingga tumbuh menjadi lebih panjang dan kurus. ini adalah larva stadium III. Gerak larva stadium III ini sangat aktif. tumbuh menjadi lebih gemuk dan panjang yang disebut larva stadium II. larva keluar dari pembuluh kapiler dan masuk ke pembuluh limfe. Apabila nyamuk yang mengandung mikrofilaria ini menggigit manusia. Maka mikrofilaria yang sudah berbentuk larva infektif (larva stadium III) secara aktif ikut masuk kedalam tubuh manusia (hospes). Didalam pembuluh limfe larva mengalami dua kali pergantian kulit dan . Pada hari ke sepuluh dan seterusnya larva berganti kulit untuk kedua kalinya. sehingga larva mulai bermigrasi mula-mula ke rongga perut (abdomen) kemudian pindah ke kepala dan alat tusuk nyamuk. Bersama-sama dengan aliran darah dalam tubuh manusia.

Dalam perjalanan penyakit filariasis bermula dengan adenolimfangitis akuta berulang dan berakhir dengan terjadinya obstruksi menahun dari sistem limfatik. Untuk makrofilaria yang jantan memiliki panjang kurang lebih 40 mm dan ekor melingkar. jantung dan hati. Masa prepaten Masa prepaten. sehingga akan menyumbat pembuluh limfe dan akan terjadi pembengkakan. dan dari kelompok mikrofilaremik inipun tidak semua kemudian menunjukkan gejala klinis. Gejala Klinis Filariasis Gejala klinis filariasis disebabkan oleh cacing dewasa pada sistem limfatik dan oleh reaksi hiperresponsif berupa occult filariasis. bersarung pucat. Cacing filaria sendiri memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. Makrofilaria yang betina memiliki panjang kurang lebih 65-100 mm dan ekornya lurus berujung tumpul. 3. Tetapi pada malam hari mikrofilaria terdapat didalam darah tepi sedangkan pada siang hari mikrofilaria terdapat di kapiler alat-alat dalam seperti paru-paru. 2. Sedangkan larva cacing filaria (mikrofilaria) berbentuk seperti benang berwarna putih susu.tumbuh menjadi cacing dewasa yang sering disebut larva stadium IV dan larva stadium V. masa antara masuknya larva infektif sampai terjadinya mikrofilaremia berkisar antara 37 bulan. Tempat hidup makrofilaria jantan dan betina di saluran limfe dan kelenjar limfe. Terlihat bahwa kelompok ini termasuk kelompok yang asimtomatik amikrofi laremik dan asimtomatik mikrofilaremik. . Cacing dewasa (makrofilaria) berbentuk seperti benang berwarna putih kekuningan. Stadium Gejala Klinis Perjalanan penyakit tidak jelas dari satu stadium ke stadium berikutnya tetapi bila diurut dari masa inkubasi maka dapat dibagi menjadi : 1. Sedangkan mikrofilaria memiliki panjang kurang lebih 250 mikron. Hanya sebagian saja dari penduduk di daerah endemik yang menjadi mikrofilaremik. Cacing filaria yang sudah dewasa bertempat di pembuluh limfe.

Di dalam cairan hidrokel ditemukan mikrofilaria. Kadang-kadang disertai limfangitis retrograd. limfadenitis paling sering mengenai kelenjar inguinal. Chyluria terjadi tanpa keluhan. skrotum. 4. Serangan dapat terjadi 12 kali/tahun sampai beberapa kali perbulan. epididimitis dan orchids. Gejala menahun ini menyebabkan terjadinya cacat yang mengganggu aktivitas penderita serta membebani keluarganya. pembuluh limfe alat kelamin laki-laki sering terkena disusul funikulitis. 2. Klasifikasi Filariasis . Gejala menahun Gejala menahun terjadi 10-15 tahun setelah serangan akut pertama. Kelenjar yang terkena biasanya unilateral. 3. tetapi pada beberapa penderita menyebabkan penurunan berat badan dan kelelahan. Kelenjar limfe yang terkena dapat menjadi abses.2. sedang ukuran pembesaran ektremitas tidak lebih dari 2 kali ukuran asalnya.2. Penderita tidak mampu bekerja selama beberapa hari. sering bersama dengan limfangitis retrograd yang umumnya sembuh sendiri dalam 315 hari dan serangan terjadi beberapa kali dalam setahun. Adenolimfangitis inguinal atau aksila. dan ukuran pembesaran di tungkai dapat 3 kali dari ukuran asalnya. Filariasis brugia elefantiasis terjadi di tungkai bawah di bawah lutut dan lengan bawah. sedangkan adenolimfangitis masih dapat terjadi. membentuk ulkus dan meninggalkan parut yang khas. Gejala klinik akut Gejala klinik akut merupakan limfadenitis dan limfangitis disertai panas dan malaise. masa antara masuknya larva infektif sampai terjadinya gejala klinis berkisar antara 816 bulan. sering terjadi setelah bekerja keras. Filariasis brugia. memecah. setelah 3 minggu 3 bulan.5. vulva atau buah dada. Masa inkubasi Masa inkubasi. Penderita dengan gejala klinis akut dapat amikrofi laremik maupun mikrofilaremik. Mikrofilaria jarang ditemukan pada stadium ini. Filariasis bancrofti hidrokel paling banyak ditemukan. Limfedema dan elefantiasis terjadi di seluruh tungkai atas. Pembuluh limfe menjadi keras dan nyeri dan sering terjadi limfedema pada pergelangan kaki dan kaki. tungkai bawah. Filariasis bancrofti.

Jakarta: 21-22. Ed. Mediator inflamasi biasanya di darah. kulit sudah mulai menebal c) tingkat III: edema non piting. dan Satari.. PF. Pitting non – edema: tidak adanya lekukan jika ditekan dengan jari tangan.S. Filariasis. Ilmu Kedokteran Tropik. Ganna. tidak dapat kembali normal bila tungkai diangkat. Penatalaksanaan) DD diperjelas yang ada benjolan di lipat paha apa Fillaria berdasar etiologi dan lokasi Filariasis adalah Infestasi dari filarial. Yang menyebabkan timbulkan manifestasi klinis.R....Limfedema tungkai dapat dibagi dalam 4 tingkat: a) tingkat I: edema piting pada tungkai yang dapat kembali normal (reversibel) bila tungkai diangkat. etiologi. Hadinegoro.Soedarmo. S. J. Tjahaya. S. H.Setyowidodo. Ed. Gramedia Pustaka Utama. kulit masih normal b) tingkat II: piting/non piting edema yang tidak dapat kembali normal (iireversibel) bila tungkai diangkat. Penyakit Infeksi Parasit. Parasit merasa nyaman di KGB karena tidak terancam. Jakarta: 400-407.S..Prianto. Sumber : . 8. Badan Penerbit IDAI. Darwanto. Familia yang penting dalam superfamilia ini adalah Dipetalonematidae yang meliputi berbagai spesies yang hidup dalam jaringan . In: Atlas Parasitologi Kedokteran. Surabaya. II.. I. PP. Kalau di darah bisa diserang oleh mediator inflamasi. Nematoda Jaringan. VI. 2008. H. ..P. H. Universitas Airlangga. dimana filarial adalah cacing nematode dari superfamilia filariodea1. Kenapa masuknya ke KGB? Di KGB tidak ada mediator inflamasi. kulit menjadi tebal d) tingkat IV: edema non piting dengan jaringan fibrosis dan verukosa pada kulit ( elefantiasis) Keterangan :   Pitting edema: adanya lekukan jika ditekan dengan jari tangan. 2006. 2009. . P. DD? (definisi.U. In: Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis.

yang menyebabkan kebutaan. 2 m. Mansonella ozzardi.merupakan penyebab Malayan filariasis yang menimbulkan penyakit dengan gejala menyerupai Bancroftian filariasis. Cacing ini ditularkan terutama oleh Simulium sp atau Blackflies. 2 Kekebalan alami atau yang didapat pada manusia terhadap infeksi filarial belum diketahui banyak. Aedes sp dan Anopheles sp. sedangkan yang hidup dalam jaringan adalah Loa loa. Spesies yang hidup dalam jaringan limfoid adalah Wuchereria bancrofti. memberi reaksi silang antara berbagai spesies dan nematode lainnya. adalah penyebab dari Bancroftian filariasis yang menimbulkan kelainan limfopatologik seperti elephantiasis. Loa loa.2 j. Onchocerca volvulus. Brugia timor adalah penyebab Timorian filariasis yang ditularkan melalui Anopheles sp. dan Onchocerca volvulus. Cacing filaria mempunyai antigen yang spesifik untuk spesies dan spesifik untuk kelompok. Cacing ini ditularkan melalui Mansonia sp. Culex sp dan Aedes sp. 2 l. Brugia Malayi.2 . yang ditularkan melalui Chrysops atau deerfly menyebabkan penyakit khas yang dinamakan loasis atau Calabar swelling.2 n. menyebabkan penyakit yang dinamakan . cacing ini juga dapat menimbulkan kelainan kulit yang menyebabkan perubahan bentuk wajah penderita.mansonellosis yang dianggap ada kaitannya dengan adanya perdangan sendi( arthritis). lesi pada mata. ETIOLOGI Penyakit ini disebabkan oleh superfamilia filariodea.limfoid. Cacing ini ditularkan melalui Simulium sp atau Culicoides. sering dinamakan Blinding filariaI. berikut daftar nama dan penyakit yang ditimbulkan oleh parasite tersebut: i. Wuchereria bancrofti. Gejala menyerupai Bancroftian filariasis. manifestasi alergi lainnya. Brugia Malayi. dan Mansonella streptocerca (hidup di kulit atau subkutan). Gejala yang ditimbulkan berupa bengkak pada kulit. Cacing ini ditularkan oleh nyamuk Anopheles sp. Brugia timor. Mansonella perstans.2 k. jaringan dan juga rongga tubuh. dan yang hidup dalam rongga badan adalah Mansonella ozzardi.

3 Prevalensi dari mikrofilaria meningkat bersama dengan umur pada anakanak dan meningkat antara usia 20-30 tahun. Loiasis daerah tempat infeksi yang berada dalam jaringan. Jadi telah dikenal 3 bentuk daerah utama parasite menginfeksi manusia. Parasitologi Kedokteran Helminthologi Kedokteran Buku 2. dimana mula-mula membentuk larva rabditiform lalu membentuk larva filariform yang aktif. 2007: 145-148 . sedangkan parasite dewasa bisa hidup hingga beberapa tahun. 4 PATOGENESIS Lingkaran hidup filarial meliputi. (3) penularan larva infektif ke dalam kulit hospes baru. 3 Sumber : Sandjaja B. subbenua india. Jakarta: Prestasi Pustaka. Mansonella streptocerca. Pada saat usia pertumbuhan. serta lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan. ditularkan melalui Culicoides dapat menimbulkan sindrom alergi yang khas p. Asia Tenggara dan Amerika Tengah dan Selatan. onkoserkiasis yang akan menginfeksi sekitar bagian wajah dan bahkan dapat menimbulkan kebutaan. Biasanya mikrofilaria dapat hidup hingga 3bulan-3 tahun. penyebab streptocerciasis yang menimbulkan kelainan kulit tetapi tanpa menimbulkan kebutaan atau elephantiasis EPIDEMIOLOGI Umumnya penyakit filariasis yang sering terjadi adalah yang diakibatkan oleh Wuchereria bancrofti. melalui probosis serangga yang menggigit. Mansonella perstans. bisa pada limfatik yang akan berdampak pada system saluran limfenya.4 Tubuh yang sudah terinfeksi dari cacing filaria akan menyerang organ tertentu sesuai dengan daerah predarannya. (2) Metamorfosis mikrofilaria di dalam hospes perantara serangga.o. Yang memiliki prevalensi di afrika bagian ekuator. dan kemudian pertumbuhan larva setelah masuk ke dalam luka gigitan sehingga menjadi cacing dewasa. (1) pengisapan mikrofilaria dari darah atau jaringan oleh seranggap penghisap darah.

Parasit ini tidak ditularkan oleh nyamuk Mansonia. parasit ini ditularkan oleh nyamuk Culex quinquefasciatus. bentuknya menyerupai sosis dan disebut larva stadium I. Bentuk ini bermigrasi. et al. Edisi IV.Mandal. Mula-mula parasit ini memendek. Daur hidup parasit ini memerlukan waktu sangat panjang. mikrofilaria terdapat di kapiler alat dalam. jadi mempunyai periodisitas. vektornya berupa nyamuk Anopheles atau nyamuk Aedes. mikrofilaria W. larva ini bertukar kulit. Mikrofilaria hidup di dalam darah dan terdapat di aliran darah tepi pada waktu-waktu tertentu saja. larva bertukar kulit sekali lagi. Pada umumnya. Di daerah perkotaan. Brugia malayi dan Brugia timori . 2006: 2931-2936 Siklus Hidup Wuchereria bancrofti Cacing dewasa jantan dan betina hidup di saluran dan kelenjar limfe. tumbuh makin panjang dan lebih kurus. Wilkins EGL. Pada hari kesepuluh dan selanjutnya. tetapi diduga kurang lebih 7 bulan. masa pertumbuhan tersebut belum diketahui secara pasti. bentuknya halus seperti benang dan berwarna putih susu. tumbuh menjadi larva stadium IV. Di dalam tubuh hospes. larva mengalami dua kali pergantian kulit. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Mikrofilaria yang terisap oleh nyamuk. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Di pedesaan. Pada siang hari. disebut larva stadium II. bancrofti bersifat periodisitas nokturna. Jakarta: Erlangga. & Mayon-White RT. lalu stadium V atau cacing dewasa. disebut larva stadium III. Pada manusia. ed 6. Lecture Note Penyakit Infeksi. Masa pertumbuhan parasit di dalam nyamuk kurang lebih dua minggu. 2006: 292-293 Sudoyo AW. Bila nyamuk yang mengandung larva stadium III menggigit manusia. menembus dinding lambung dan bersarang di antara otot-otot thorax. Dunbar EM. Jilid II. tumbuh menjadi lebih gemuk dan panjang. Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria yang bersarung. Gerak larva stadium III sangat aktif. maka larva tersebut secara aktif masuk melalui luka tusuk ke dalam tubuh hospes dan bersarang di saluran limfe setempat. BK. Dalam waktu kurang lebih seminggu. melepaskan sarungnya di dalam lambung. mula-mula ke rongga abdomen kemudian ke kepala dan alat tusuk nyamuk.

B. subperiodik nokturna. bancrofti. Diduga bahwa pembuluh-pembuluh tersebut tetap paten selama cacing tetap hidup dan bahwa kematian cacing tersebutmenyebabkan reaksi granulomatosa dan fibrosis. Gejala dan Tanda . timori ditularkan oleh nyamuk Anopheles barbirostris. Di dalam tubuh nyamuk kedua parasit ini juga mengalami dua kali pergantian kulit. Respon imun ini dipercaya menyebabkan proses granulomatosa dan proliferasi yang menyebabkan obstruksi total pembuluh getah bening. menyebabkan berlikulikunya sistem limfatik dan kerusakan atau inkompetensi katup pembuluh getah bening Limfedema dan perubahan kronik akibat statis bersama dengan edema keras terjadi pada kulit yang mendasarinya. bentuknya halus seperti benang dan berwarna putih susu. berkembang dari larva stadium I menjadi larva stadium II dan III. Daur hidup kedua parasit ini lebih pendek daripada W. Infiltrasi sel plasma. eosinofil. malayi yang hidup pada manusia ditularkan oleh nyamuk Anopheles barbirostris dan yang hidup pada manusia dan hewan ditularkan oleh nyamuk Mansonia. Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria yang bersarung. Di dalam tubuh manusia perkembangan parasit ini juga sama dengan perkembangan W. B.Cacing dewasa jantan dan betina hidup di saluran dan kelenjar limfe. atau non periodik. Patologi Perubahan patologi utama disebabkan oleh kerusakan pembuluh getah bening akibat inflamasi yang ditimbulkan oleh cacing dewasa. malayi adalah periodik nokturna. timori mempunyai sifat periodik nokturna. bukan oleh mikrofilaria. bancrofti. Masa pertumbuhannya di dalam nyamuk kurang lebih 10 hari dan pada manusia kurang lebih 3 bulan. Periodisitas B. Cacing dewasa hidup di pembuluh getah bening aferen atau sinus kelenjar getah bening dan menyebabkan pelebaran pembuluh getah bening dan penebalan dinding pembuluh. Perubahan-perubahan yang terjadi akibat filariasis ini disebabkan oleh efek langsung dari cacing ini dan oleh respon imun pejamu terhadap parasit. sedangkan mikrofilaria B. Dengan demikian terjadilah obstruksi limfatik dan penurunan fungsi limfatik. dan makrofag di dalam dan sekitar pembuluh getah bening yang mengalami inflamasi bersama dengan proliferasi sel endotel dan jaringan penunjang.

Manifestasi dini penyakit ini adalah peradangan. dan tidak nafsu makan. Gejala dari limfadenitis adalah adalah nyeri lokal. limfadenitis. Gejala peradangan tersebut sering timbul setelah bekerja berat dan dapat berlangsung antara beberapa hari hingga beberapa minggu (2-3 minggu). Reaksi pada manusia terhadap infeksi filaria berbeda-beda 1) Bentuk tanpa gejala Pada pemeriksaan fisik hanya ditemukan pembesaran kelenjar limfe terutama didaerah inguinal. dan orkitis. epitroklear. Stadium akut ini lambat laun akan beralih ke stadium menahun dengan gejala-gejala hidrokel. funikulitis. orkitis dan pembengkakan skrotum. Pada orang laki-laki umumnya terdapat funikulitis disertai dengan penebalan dan rasa nyeri. mikrofilaria yang tampak dalam darah pada stadium akut akan menimbulkan peradangan yang nyata. Hematuria. Ada kalanya tidak menimbulkan gejala sama sekali terutama bagi penduduk yang sejak kecil sudah terdiam di daerah endemik. Serangan akut ini dapat terjadi selama satu bulan atau lebih. Karena filariasis bancrofti dapat berlangsung selama beberapa tahun maka dapat mempunyai perputaran klinis yang berbeda-beda. Bila keadaannya berat dapat menyebabkan abses pelvis ginjal. sakit kepala dan badan. menggigil. sakit kepala. limfedema dan elephantiasis. Limfedema tungkai ini dapat dibagi dalam 4 tingkat yaitu : . demam. seperti limfangitis. pembengkakan epididimis. sekitar 40% pasien dengan mikrofilaremia terdapat hematuria dan proteinuria yang menunjukkan adanya kerusakan ginjal derajat rendah. muntah-muntah. keras di daerah kelenjar limfe yang terkena dan biasanya disertai demam. jaringan retroperitoneal. Pemeriksaan darah dalam hal ini biasanya menunjukan leukositosis dengan eosinofilia sebesar 6-26%. epididimitis. muntah dan kelemahan dapat berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu dan terutama yang terkena adalah saluran limfe ketiak. lesu. epididimitis. Limfedema pada filariasis bancrofti biasanya mengenai seluruh tungkai. tungkai. dan alat genital. Pada pemeriksaan darah ditemukan mikrofilaria dalam jumlah besar disertai adanya eosinofilia. Hal ini karena cacing yang mati berdegenerasi. kelenjar ari-ari dan otot iliopsoas. 3) Filariasi dengan penyumbatan Dalam stadium yang menahun ini terjadi jaringan granulasi yang proliferatid serta terbentuk varises saluran limfe yang luas. 2) Filariasis dengan peradangan Limfangitis. sedangkan bila sudah lanjut akan menimbulkan gejala obstruktif . kiluria.

karena pengambilan darah harus dilakukan pada malam hari antara pukul 22. kulit menjadi tebal. Tingkat 4 : Edema non pitting dengan jaringan fibrosis dan verukosa pada kulit (elephantiasis). 4. Deteksi antigen yang beredar dalam sirkulasi.a. Deteksi antibodi Peranan antibodi antifilaria subklas IgG4 pada infeksi aktif filaria membantu dikembangkannya serodiagnostik berdasarkan antibodi kelas ini. Pemeriksaan ini tidak nyaman. Pemeriksaan ini digunakan untuk pendatang yang tinggal didaerah endemik atau pengunjung yang pulang dari daerah endemik. dan bila yang pecah saluran limfe peritoneum terjadi asites kilus. tehnik Knott. c. membrane filtrasi dan tes provokasi DEC.00-02. Tingkat 2 : Pitting/non pitting edema yang tidak dapat kembali normal bila tungkai diangkat. Tingkat 3 : Edema non pitting. sedangkan episode berulang adenolimfangitis pada saluran limfe testis yang mengakibatkan pecahnya tunika vaginaslis akan terjadi hidrokel atau kolakel. Tingkat 1. waktu pengambilan dan keahlian teknisi yang memeriksanya.00 mengingat periodisitas mikrofilaria umumnya nokturna. b. Tidak sensitif dan tidak spesifik untuk menentukan adanya infeksi aktif. Bila saluran limfe kandung kemih dan ginjal pecah akan timbul kiluria. Sensitivitas bergantung pada volume darah yang diperiksa. Spesimen yang diperlukan ± 50µl darah dan untuk menegakan diagnosis diperlukan ≥ 20 mikrofilaria/ml(Mf/ml). 2. Terdapat dua cara yaitu dengan ELISA (enzyme-linked immunosorbent) dan ICT card test . tidak dapat kembali normal bila tungkai diangkat. Pemeriksaan ini memberikan hasil yang sensitif dan spesies spesifik dibandingkan dengan pemeriksaan makroskopis.21 3. d. Pemeriksaan Diagnostik Terdapat beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain : 1. Pemeriksaan klinis. Edema pitting pada tungkai yang dapat kembali normal bila tungkai diangkat. Pemeriksaan parasitologi Pemeriksaan ini dilakukan dengan menemukan mikrofilaria dalam sediaan darah. cairan hidrokel atau cairan kiluria pada pemeriksaan darah tebal dengan pewarnaan Giemsa.

ed. p. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Tehnik ini digunakan untuk mendeteksi DNA W. Occult Filariasis. Supali T. ed. Jakarta : FKUI. Kekurangan pemeriksaan ini adalah tidak sensitif untuk konfirmasi pasien yang diduga secara klinis menderita filariasis. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Jakarta : FKUI. p. Ismid IS. 2009. Limfosintigrafi menggunakan dextran atau albumin yang ditandai dengan zat radioaktif yang menunjukkan adanya abnormalitas sistem limfatik sekalipun pada pasien dengan asimptomatik milrofilaremia Sumber : 3. Wuchereria bancrofti. In : Sutanto I. In : Sutanto I. Supali T. Radiodiagnostik Menggunakan USG pada skrotum dan kelenjar inguinal pasien. Sjarifuddin PK. tidak memerlukan teknisi khusus. 2009. In : Sutanto I. Diperlukan juga 6. DIAGNOSIS . 4th ed. tenaga dan laboratorium khusus selain biaya yang mahal. Deteksi parasit dengan Polymerase Chain Reaction (PCR). ICT adalah tehnik imunokromatografik yang menggunakan antibodi monoklonal dan poliklonal. termasuk individu dengan infeksi tersembunyi (amikrofilaremia atau individu dengan antigen +). Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Sungkar S. hasil dapat 5. Sjarifuddin PK. Kurniawan A. Wuchereria bancrofti. Partono F. Partono F. 4th ed. Diperlukan keahlian dan laboratorium khusus untuk tes ELISA sehingga sulit untuk di aplikasikan di lapangan. PCR mempunyai sensitivitas yang tinggi yang dapat mendeteksi infeksi paten pada semua individu yang terinfeksi. Kekurangannya adalah diperlukan penanganan yang sangat hati-hati untuk mencegah kontaminasi spesimen dan hasil positif palsu. 4. bancrofti dan B. ed. tes ini dapat digunakan juga untuk monitoring hasil pengobatan. Kurniawan A. p. Tehnik ini juga hanya dapat digunakan untuk infeksi filariasis bancrofti. Sungkar S.42-3. Djuandi Y. Ismid IS. langsung dibaca dan murah. 5. Partono F. dan akan tampak gambaran cacing yang bergerak-gerak (filarial dancing worm). mudah digunakan. Ismid IS. malayi. selain itu. Sjarifuddin PK. 4th ed. 2009. 38-42. Sungkar S. Jakarta : FKUI. Hasil tes positif menunjukkan adanya infeksi aktif dalam tubuh penderita. Keuntungan dari ICT adalah invasif minimal (100 µl). 32-8.(immunochromatographic).

serta letak dari body nuclei tadi berjajar atau berkelompok c. Jumlah dan penyebaran body nuclei( nucleus yang banyak ditemukan pada bagian tubuh mikrofilaria. Ada tidaknya selubung(Sheath) pada mikrofilaria tadi. Letak dari nerve ring. excretory apparatus dan anus f.2 Sesuai dengan periodisitas mikrofilaria dikenal beberapa strain pada spesies ini. Ada tidaknya serta ukuran cephalic space yaitu rongga yang terdapat pada di bagian anterior tubuh yang tidak tertutupi oleh body nuclei d. Dirofilaria witei pada burung dan Brugia patei di pulau pate) . sedangkan yang tidak memiliki sheath adalah. Mikrofilaria strain ini selalu ada dalam jumlah tetap di darah tepi( Mansonella perstant.Pengujian yang dilakukan terhadap pasien adalah usaha untuk menemukan atau memperoleh jaringan atau cairan tubuh untuk mendeteksi langsung organisme pathogen untuk membuktikan ada tidaknya infeksi. Adanya bagian yang dinamakan inner body yaitu bagian tubuh yang pada perwarnaannya Nampak lebih berwarna merah e. Brugia sp dan Loa loa. Yang digunakan untuk mendeteksi mikrofilaria di dalam darah adalah 2: a. Hasil dari pengujian ini sangat penting untuk memandu pemilihan antibiotic untuk terapi dan sasaran yang tepat. spesies yang memiliki sheath adalah Wuchereria brancrofti.5 Cacing dewasa sulit untuk ditemukan. b. sehingga yang paling mudah digunakan untuk menegakan diagnosa adalah larvanya yang disebut sebagai mikrofilaria. yaitu2: a. Onchocerca volvulus dan Mansonella sp. Strain Nonperiodic. Letak dan ukuran genital cell( g sell) Ciri khas dari kehidupan cacing terutama mikrofilarianya adalah periodisitas densitas mikrofilaria dalam darah yang mempunyai gambaran tertentu selama 24 jam atau dengan katas lain mikrofilaria muncul pada sel darah tepi pada jumlah banyak pada waktu-waktu tertentu.

Dirofilaria aethiops pada kera Loa loa pada Baboon)  Strain diurnal periodic. Strain Periodic. 2006: 292-293 Diagnosis Filariasis Diagnosis Klinik Ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan klinik. Sandjaja B. Lecture Note Penyakit Infeksi. 30 menit setelah diberi dietilkarbamasin .  Strain nocturnal periodic. Brugia malayi dan Brugia pahagi pada kera)  Strain diurnal subperiodic. Bils mikrofilarianya ditemukan banyak di darah tepi pada siang hari ( Loa loa pada manusia) 1. gejala klinis yang mendukung dalam diagnosis filariasis adalah gejala dan pengalaman limfadenitis retrograd. Diagnosis klinik penting dalam menentukan angka kesakitan akut dan menahun (Acute and Chronic Disease Rate). Strain Subperiodic. Wilkins EGL. Pada saat tertentu saja mikrofilaria ini dapat ditemukan pada sel darah tepi. Parasitologi Kedokteran Helminthologi Kedokteran Buku 2.b. Mikrofilaria selalu ada di dalam darah tepi. 2007: 145-148 2. Jakarta: Erlangga.  Strain nocturnal subperiodic. Diagnosis Parasitologik Ditemukan mikrofilaria pada pemeriksaan darah jari pada malam hari. Dunbar EM. namun jumlahnya bertambah pada malam hari (Wuchereria bancrofti di Thailand dan Filipina. namun pada saat-saat tertentu jumlahnya bisa meningkat dari biasanya. ed 6. Brugia pahagi pada kera) c. & Mayon-White RT. Jakarta: Prestasi Pustaka. Bila mikrofilarianya ditemukan banyak di darah tepi pada malam hari (Wuchereria bancrofti. Pada keadaan amikrofilaremik. limfadenitis berulang dan gejala menahun. Brugia patei. Pemeriksaan dapat dilakukan slang hari. BK. tetapi jumlah bertambah pada siang hari(Wuchereria bancrofti di pasifik. Mikrofilaria strain ini selalu ada dalam darah tepi. Brugia malayi. Mandal. Mikrofilaria selalu ada dalam darah tepi.

Diagnosis Imunologi Pada keadaan amikrofilaremia seperti pada keadaan prepaten. Deteksi antigen merupakan deteksi metabolit. Pada keadaan amikrofilaremia seperti pada keadaan prepaten. tidak membedakan infeksi dini dan infeksi lama. Diagnosis Radiologis Pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG) pada skrotum dan kelenjar limfe inguinal penderita akan memberikan gambaran cacing yang bergerak-gerak (filarial dance sign). ekskresi dan sekresi parasit tersebut. antibodi monokional terhadap O.100 mg. sehingga lebih mendekati diagnosis parasitologik. inkubasi. occult filariasis. sekalipun pada penderita yang mikrofilaremia asimtomatik. Dengan ditemukannya satu penderita elefantiasis di antara 1000 penduduk. bancrofti di Papua New Guinea. ekskresi dan sekresi parasit tersebut. maka deteksi antibodi dan/atau antigen dengan cara immunodiagnosis diharapkan dapat menunjang diagnosis. Adanya antibodi tidak menunjukkan korelasi positif dengan mikrofilaremia. Diagnosis Epidemiologik Endemisitas filariasis suatu daerah ditentukan dengan menentukan microfilarial rate (mf rate). amikrofilaremia dengan gejala menahun. maka deteksi antibodi dan/atau antigen dengan cara immunodiagnosis diharapkan dapat menunjang diagnosis. Adanya antibodi tidak menunjukkan korelasi positif dengan mikrofilaremi. Dari mikrofilaria secara morfologis dapat ditentukan species cacing filaria. Pendekatan praktis untuk menentukan daerah endemis filariasis dapat melalui penemuan penderita elefantiasis. occult filariasis. sehingga lebih .gibsoni menunjukkan korelasi yang cukup baik dengan mikrofilaremia W. dapat diperkirakan ada 10 penderita klinis akut dan 100 yang mikrofilaremik. tidak membedakan infeksi dini dan infeksi lama. Pemeriksaan limfosintigrafi dengan menggunakan dekstran atau albumin yang dilabel dengan radioaktif akan menunjukkan adanya abnormalitas sistem limfatik. Deteksi antigen merupakan deteksi metabolit. amikrofilaremia dengan gejala menahun. inkubasi. Acute Disease Rate (ADR) dan Chronic Disease Rate (CDR) dengan memeriksa sedikitnya 10% dari jumlah penduduk.

sakit kepala. Dietilkarbamasin tidak dapatdipakai untuk khemoprofilaksis. Elephantiasis dan hydrocele memerlukan penanganan ahli bedah. epididimitis. Pengobatan diberikan oral sesudah makan malam. sedangkan untuk filariasis malayi diberikan 5 mg/kg berat badan selama 10 hari. aman dan murah. dan diekskresi melalui air kemih. Pengobatan sangat baik hasilnya pada penderita dengan mikrofilaremia. Reaksi samping Dietilkarbamasin sistemik berupa demam. gejala akut. diserap cepat mencapai konsentrasi puncak dalam darah dalam 3 jam. antibodi monoklonal terhadap O. ulkus. mual. Perawatan . Sering diperlukan pengobatan lebih dari 1 kali untuk mendapatkan penyembuhan sempurna. abses. gejala asma bronkial sedangkan gejala lokal berupa limfadenitis. tidak ada resistensi obat. gibsoni menunjukkan korelasi yang cukup baik dengan mikrofilaremia W.mendekati diagnosis parasitologik. Obat ini ampuh. urtikaria. bancrofti di Papua New Guinea. Reaksi samping sistemik terjadi beberapa jam setelah dosis pertama. funikulitis. ibu hamil/menyusui. hilang spontan setelah 25 hari dan lebih sering terjadi pada penderita mikrofilaremik. Pada occult filariasis dipakai dosis 5 mg/kg BB selama 23 minggu. limfangitis. Dietilkarbamasin tidak diberikanpada anak berumur kurang dari 2 tahun. chyluria dan elephantiasis dini. bersifat makrofilarisidal dan mikrofilarisidal. dan penderita sakit berat atau dalam keadaan lemah. sakit pada otot dan persendian. Gib 13. tetapi memberikan reaksi samping sistemik dan lokal yang bersifat sementara dan mudah diatasi dengan obat simtomatik. Penatalaksanaan Filariasis Pengobatan Dietilkarbamasin adalah satu-satunya obat filariasis yang ampuh baik untuk filariasis bancrofti maupun malayi. orchitis dan limfedema. limfedema. Pada filariasis bancrofti.menggigil. muntah. Dietilkarbamasin diberikan selama 12 hari sebanyak 6 mg/kg berat badan.

Perawatan luka atau lesi di kulit dengan cream antibiotik atau antijamur c. Menjaga kebersihan bagian tubuh yang edema b. Pemakaian alas kaki yang sesuai b) Perawatan limfedema tingkat II dan III a. Perawatan luka atau lesi di kulit dengan cream antibiotik atau c. Melakukan bedah kosmetik apabila ada indkasi Pencegahan Filariasis Mass Drug Administration (MDA) World Health Organization (WHO) Global Program untuk mengeliminasi filariasis limfatik melalui MDA dengan menggunakan dua obat kombinasi yaitu DEC dengan Albendazole atau Ivermectin dengan Albendazole yang diberikan satu kali pertahun selama 4-6 tahun. f. antijamur Melakukan exercise pada anggota tubuh yang bengkak Meninggikan (elevasi) anggota tubuh yang bengkak Pemakaian alas kaki yang sesuai Menggunakan verban elastis atau pembalutan saat melakukan aktivitas g.a) Perawatan limfedema tingkat I a. Menjaga kebersihan bagian tubuh yang edema b. . Meninggikan (elevasi) anggota tubuh yang bengkak saat tidur. e. dll e. Melakukan exercise pada anggota tubuh yang bengkak d. Menggunakan verban elastis atau pembalutan saat melakukan aktivitas c) Perawatan limfedema tingkat IV a. nonto TV. Meninggikan (elevasi) anggota tubuh yang bengkak e. Antibiotik sistemik apabila ada indikasi h. Menjaga kebersihan bagian tubuh yang edema b. Perawatan luka atau lesi di kulit dengan cream antibiotik atau antijamur c. d. Pemakaian alas kaki yang sesuai f. Melakukan exercise pada anggota tubuh yang bengkak d.

Aedes : aerial spraying b. Kegiatan pemberantasan nyamuk terdiri atas : a. Menggunakan kawat nyamuk/kelambuMenggunakan repellent Kegiatan pemberantasan nyamuk dewasa dan jentik tidak masuk dalam program pemberantasan filariasis diPuskesmas yang dikeluarkan oleh P2MPLP pada tahun 1992. Anopheles : Abate 1% ii. 2006. Mencegah gigitan nyamuk i. Pemberantasan nyamuk dewasa ii. Mansonia : melenyapkan tanaman air tempatperindukan.WHO. Pemberantasan jentik nyamuk i. Preventive Chemoteraphy in Human Helminthes(page:21) Pemberantasan Filariasis Pemberantasan filariasis ditujukan pada pemutusan rantai penularan dengan cara pengobatan untuk menurunkan morbiditas dan mengurangi transmissi. Penyuluhan tentang penyakit filariasis dan penanggulangannya perlu dilaksanakan sehingga terbentuk sikap dan perilaku yang baik untuk menunjang . mengeringkan rawa dan saluran air d. Anopheles : residual indoor spraying ii. Pemberantasan filariasis di Indonesia dilaksanakan oleh Puskesmas dengan tujuan : 5. Culex : minyak tanah iii. Menurunkan mf rate menjadi < 5% 7. Menurunkan Acute Disease Rate (ADR) menjadi 0% 6. Mempertahankan Chronic Disease Rate (CDR) 8.

2002. Jakarta: 1789-1793. fibrosis endomiokardial. Departemen Penyakit Dalam FK UI. tenosynovitis. penyakit paru restriktif. Pohan. sesak nafas teutama waktu malam dengan dahak yang kental dan mukopurulen. In: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. dan respon pengobatan yang baik dengan DEC. Sindrom ini ditandai dengan kadar eosinofil darah tepi yang sangat tinggi > 3000/ ml. 2.penanggulangan filariasis. Chyluria Chyluria terjadi apabila terdapat kenaikan tekanan pada saluran limfe renal yang mengalami sumbatan. 2006.Ditjen PPM & PL. kemudian pecah sehingga cairan limfe masuk ke dalam traktus urinarius dan menimbulkan chyluria. Chyluria sering terlihat nyata pada pagi hari dan bersifat intermitten. H. adanya gejala menyerupai asma. kadar antibodi spesifik Beberapa antifilaria (IgE) tinggi. glomerulonephritis kadang-kadang merupakan manifestasi klinis dari occult filariasis. Jakarta. Komplikasi Filariasis Tropical Pulmonary Eosinofilia (Occult Filariasis) Bentuk ini terjadi karena hipersensitivitas sistem imun penderita terhadap mikrofilaria. bersedia diperiksa darah jari dan minum obat DEC secara lengkap dan teratur serta menghindarkan diri dari gigitan nyamuk. Sumber : 1. Sasaran penyuluhan adalah penderita filariasis beserta keluarga dan seluruh penduduk daerah endemis dengan harapan bahwa penderita dengan gejala klinik filariasis segera memeriksakan diri ke Puskesmas. Ed. . Filariasis. Depkes RI.Direktorat P2B2 Subdit Filariasis & Schistosomiasis. Pedoman Pengobatan Massal Penyakit Kaki Gajah (Filariasis). keadaan klinis lain seperti arthritis.T. Pada foto Rongent paru biasanya memperlihatkan garis-garis yang berlebihan pada kedua hilus dan bercak-bercak halus terutama di lapangan paru bawah. Pada keadaan ini filarial telah sampai ke paru sehingga muncul gejala klinis berupa batuk.. IV.

Istirahat di tempat tidur. Nematoda Jaringan. - Untuk kurangi berikan Kortikosterioid atau anti histamin. In: Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis. H. Jakarta: 21-22. Badan Penerbit IDAI. 4. Tjahaya.S. vulva. Universitas Airlangga. Ilmu Kedokteran Tropik. Setyowidodo. H. 2006.. S. Penyakit Infeksi Parasit. dan Satari. 5.3. Darwanto.. I.. WHO. H.. 9.Pindah ke daerah dingin untuk kurangi serangan akut.. Prianto. dan mamae. ESO: pancing rx alergi dan pus. 2006. Diagnosis pasti dan penatalaksanaan? Terapi: Perawatan umum: . Ed. STEP 4 . In: Atlas Parasitologi Kedokteran.P. B.DEC 6 mg/kgBB/hari selama 12 hari. Menyebabkan parasit besa-besaran. Switzerland: 2122. Surabaya. 2009.relevance for lymphatic filariasis control programmes. Preventive Chemoteraphy in Human Helminthes. P.J.Infeksi sekunder/abses  antibiotik Perawatan Spesifik: . Jakarta: 400-407.R. 2003. 7. VI.. II. Ryan. J. Jika tungkai membesar bisa di perbaiki dengan anastomosis yang letaknya dalam dan perifer. 2008.. 6. Vaqas. Filariasis. Hadinegoro. Gramedia Pustaka Utama.. S. In: Filariasis Journal.S. . Ganna.. Soedarmo. Ed. 2 (4): 1-10. Lymphoedema: Pathophysiology and management in resource-poor settings .U. . T. Pembedahan bila terjadi elephantiasis scrotum.

STEP 5 .