You are on page 1of 12

Penerapan Metode Penelusuran Banjir

(Flood Routing) Dengan Metode


Muskingum Untuk Perencaan Polder
Tugas Mata Kuliah
: Pengelolaan Sumber Daya Air dan Lingkungan
Dosen
: Mas Agus Mardyanto
Tim Penulis
: Nimash M. Sakinah
3315201006
Rezki Amalia Latif
3315201012
A. PENGANTAR
Sistem polder adalah salah satu cara penanganan banjir dengan bangunan fisik
yang melipti sistem drainase, kolam retensi, tanggul yang mengelilingi kawasan,
serta pompa dan/ pintu air, sebagai satu kesatuan pengelolaan tata air tak
terpisahkan. Tujuan dari pengembangan sistem polder ini adalah untuk memberikan
model pengendalian banjir perkotaan yang terpadu.
Menurut Soemarto (1993), Cara penelusuran banjir yang sering digunakan
adalah cara Muskingum , yang hanya berlaku dalam kondisi sebagai berikut :
1. Tidak terdapat anak sungai yang masuk ke dalam bagian memanjang palung
sungai yang ditinjau
2. Penambahan atau kehilangan air oleh curah hujan, aliran masuk atau keluar
air tanah dan evaporasi, kesemuanya di abaikan.
Metode penelusuran banjir melalui sungai yang banyak digunakan adalah
Metode Muskingum. Metode ini memodelkan volume tampungan banjir di alur
sungai, yang merupakan gabungan antara tampungan prisma dan tampungan baji.
Tampungan air di sungai tergantung pada aliran masuk (inflow), aliran keluar
(outflow), dan karakteristik hidraulik sungai.
Metode Muskingum dikembangkan oleh McCarthy (1938) dalam persamaan
kontinuitas (persamaan 1) dan ditentukan oleh sebuah penyimpanan inflow dan
outflow. Di dalam sebuah penyimpanan dapat menjangkau waktu perjalanan aliran
yang sangat singkat, (Bedient and Huber, 2002).

S S
1
1
I 1 + I 2 ) ( O1 +O2 )= 2 1 .(1)
(
2
2
t
xI

m /n

+(I x )O

b
S=

m/ n

........................(2)

Inflow dan outflow saling berkaitan, untuk dari persamaan manning, dimana
a dan n konstan.penyimpanan dalam tampungan sangat berkaitan untuk ,

dimana b dan m konstan. Parameter X merupakan koefisien pemberat dari inflow


dan outflow dalam menentukan volume penyimpanan (Bedient and Huber, 2002).
Menurut Sobriyah dan Sudjarwadi (2000), Penelusuran banjir metode Muskingum
telah diketahui dengan baik, dalam metode Muskingum, debit inflow dan outflow
pada penggal sungai yang ditinjau, dijelaskan dalam persamaan kontinuitas sebagai
berikut :

I =O+

ds
dt ..(3)

dan dalam persamaan tampungan empiris S dinyatakan sebagai berikut :

S=K [ XI ( I X ) O] (4)
Dimana,
I = Debit inflow
S = Tampungan

O = Debit Outflow
K = Koefisien tampungan X = Faktor pembobot

Di lapangan biasanya nilai X bervariasi antara 0.1 dan 0.3. Nilai K dan X dapat
diperoleh dengan kalibrasi hidrograf aliran masuk dan keluar. Apabila nilai K dan X
telah diketahui, maka persamaan (4) dapat digunakan untuk menghitung S
(Triadmodjo, B. 2010). Persamaan (3) dan (4) dalam bentuk finite difference untuk
interval waktu t, seperti ditunjukkan pada Gambar (1) adalah sebagai berikut :

O j +1=C 0 I j+ 1+C 1 I j +C 2 O j (5)


Persamaan (8) menghitung outflow pada akhir interval waktu berdasar inflow
dan outflow pada awal interval dan inflow pada akhir interval. Hubungan antara
inflow dan outflow pada routing suatu penggal sungai di tunjukkan pada gambar
dibawah ini.

Gambar 1. Hubungan Inflow dan Outflow pada Suatu Penggal Sungai


Koefisien C dalam persamaan (6) diperoleh dari persamaan sebagai berikut :

C o=

KX +0,5 t
K KX +0,5 t

C1 =

KX +0,5 t
K KX+ 0,5 t

C2 =

K KX0,5 t
K KX+ 0,5 t

(6)

Karena adanya tampungan (storage) disepanjang palung sungai pada


gambar (5) di antara debit inflow dan outflow, maka debit puncak banjir di
bagian hilir sungai (outflow) menjadi lebih kecil dibandingkan debit puncak
bagian hulu (inflow).
B. CONTOH SOAL
Studi Kasus : Penerapan Metode Penelusuran Banjir (Flood Routing) Dengan
Metode Muskingum Untuk Program Pengendalian Banjir Kasus :
Sungai Ciliwung
Bahan untuk kajian penelusuran banjir ini adalah data tinggi muka air (TMA) dan
data debit sungai Ciliwung yang diukur di pos pengukuran yaitu pos pengukuran
Depok (bagian hulu). Data ini dihimpun oleh Program Pasca Sarjana Institut
Pertanian Bogor, dimana sumber data primer diperoleh dari Dinas Pekerjaan Umum
DKI Jakarta. Data yang digunakan berupa data pengamatan TMA (H) secara
kontinyu. Sungai Ciliwung dipilih berdasarkan pemikiran bahwa luapan aliran sungai
Ciliwung sering menyebabkan banjir, khususnya di bantaran sungai Ciliwung dan
beberapa lokasi di wilayah DKI Jakarta yang mendatangkan kerugian material dan
non material cukup besar. Adapun data mengenai debit sungai Ciliwung (hulu atau
inflow), yaitu:
Tabel 1. Data Tinggi Muka Air (TMA) dan Debit Sungai Ciliwung
Wakt
Wakt
No.
TMA
Debit
No.
TMA
u
u

(1)
1
2
3
4
5
6
7

(t)
(2)
12
12.3
13
13.3
14
14.3
15

(m)
(3)
0.4
0.4
0.4
0.42
0.44
0.5
0.55

(m3/s)
(4)
22.1
25.5
29.7
35.2
38.3
44.3
50.6

(1)
15
16
17
18
19
20
21

(t)
(2)
19
19.3
20
20.3
21
21.3
22

(m)
(3)
0.8
0.75
0.73
0.7
0.69
0.65
0.65

Debit
(m3/s
)
(4)
75.1
64.2
62.7
57.4
55.9
50.6
49.7

8
9
10
11
12
13
14

15.3
16
16.3
17
17.3
18
18.3

0.6
0.67
0.74
0.8
0.85
0.8
0.85

57.2
76
96.4
80.9
72.1
68.7
73.5

22
23
24
25
26
27

22.3
23
23.3
24
0.3
1

0.63
0.62
0.61
0.6
0.59
0.58

48.8
38.9
33.5
30.6
27.7
25.8

Sumber: Dinas PU DKI Jakarta (cq. Program Pasca Sarjana IPB - Tahun 1999)

Untuk menentukan nilai x dan K dari ruas sungai Ciliwung, maka terlebih dulu di
susun suatu tabel perhitungan hubungan antara inflow (I) yang terukur di pos
Depok dan outflow (O). Susunan tabulasi tersebut ditunjukkan seperti pada Tabel 2.
Proses tabulasi seperti pada Tabel 2. tersebut ditempuh sesuai dengan prosedur
dalam perhitungan metode Muskingum. Sebagai pedoman dalam pemilihan nilai x,
seperti yang disebutkan dalam berbagai buku hidrologi, bahwa untuk sungai alami
nilainya berkisar antara 0 hingga 0.50. Besar kecilnya nilai x pada sungai alami
sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: kecuraman lereng sungai
(slope of river). Sedangkan nilai K adalah merupakan konstanta penampungan
(storage constant) yaitu rasio tampungan terhadap debit, dan mempunyai dimensi
waktu yang besarnya kira-kira sama dengan waktu perjalanan untuk melewati
bagian ruas sungai yang ditinjau.

Tabel 2. Perhitungan Hubungan Antara Inflow (I) Yang Terukur Di Pos Depok Dan
Outflow (O)
Hitungan
Wakt
Q
K
Q
u
Inflow
Outflow
No.
X
Co
C1
C2
(Meni
t)
(m3/s) (Jam)
(m3/s)
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
0.149 0.991 0.970
1
0
22.1
10
0.13
4
8
1
46.662
0.578 0.978 1.115
2
30
25.5
10
0.13
1
4
9
38.663
0.741 0.978 1.148
3
60
29.7
10
0.13
6
6
8
41.158
0.813 0.980 1.163
4
90
35.2
10
0.13
8
8
3
46.828
0.854 0.981 1.171
5
120
38.3
10
0.13
4
8
4
49.745
0.880 0.984 1.176
6
150
44.3
10
0.13
5
0
6
56.706
0.898 0.985 1.180
7
180
50.6
10
0.13
7
8
2
64.124
0.912 0.987 1.182
8
210
57.2
10
0.13
0
3
8
71.961
0.922 0.990 1.184
9
240
76
10
0.13
3
3
8
95.214
0.930 0.992 1.186
10
270
96.4
10
0.13
4
3
3
120.332
0.937 0.990 1.187
11
300
80.9
10
0.13
0
8
7
100.442
0.942 0.989 1.188
12
330
72.1
10
0.13
4
7
9
89.122
0.947 0.989 1.189
13
360
68.7
10
0.13
0
1
8
84.632
14
390
73.5
10
0.13
- 0.989 1.190
90.364

15
16
17
18
19

420
450
480
510
540

75.1
64.2
62.7
57.4
55.9

10
10
10
10
10

0.13
0.13
0.13
0.13
0.13

20

570

50.6

10

0.13

21

600

49.7

10

0.13

22

630

48.8

10

0.13

23

660

38.9

10

0.13

24

690

33.5

10

0.13

25

720

30.6

10

0.13

26

750

27.7

10

0.13

27

780

25.8

10

0.13

Sumber: hasil perhitungan, 2015.

0.950
9
0.954
3
0.957
2
0.959
8
0.962
1
0.964
1
0.966
0
0.967
6
0.969
1
0.970
5
0.971
7
0.972
9
0.973
9
0.974
9

0.990
0

1.191
2

92.143

0.988
3

1.191
9

78.514

0.988
0

1.192
4

76.532

0.986
9

1.192
9

69.896

0.986
5

1.193
3

67.958

0.985
1

1.193
7

61.372

0.984
8

1.194
1

60.201

0.984
5

1.194
4

59.039

0.980
6

1.194
8

46.873

0.977
5

1.195
2

40.233

0.975
4

1.195
5

36.659

0.972
8

1.195
8

33.094

0.970
9

1.196
1

30.754

Hydrograf Inflow dan Outflow Sungai Ciliwung


150
100
Debit (m3/s)

inflow
outflow

50
0

Waktu (Menit)

Gambar 2. Kurva Hubungan Nilai Debit Inflow dengan Outflow Sungai Ciliwung

Analisa penentuan volume aliran ditentukan dari grafik hydrograph di atas,


hasilnya terlihat dibawah ini:
Tabel 3. Volume Debit Dari Grafik Hydrograf
RataWakt
Q
Rata
Volume
Volume
u
Inflow
Aliran
Komulatif 1
No
t
Masuk
.
(meni
t)
(m3/s)
(m3/s)
(m3)
(m3)
(1)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

(2)
0
30
60
90
120
150
180
210
240
270
300
330
360
390
420
450
480
510

(3)
22.1
25.5
29.7
35.2
38.3
44.3
50.6
57.2
76
96.4
80.9
72.1
68.7
73.5
75.1
64.2
62.7
57.4

(4)
23.8
27.6
32.45
36.75
41.3
47.45
53.9
66.6
86.2
88.65
76.5
70.4
71.1
74.3
69.65
63.45
60.05

(5)
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800

(6)
42840
49680
58410
66150
74340
85410
97020
119880
155160
159570
137700
126720
127980
133740
125370
114210
108090

(7)
42840
92520
150930
217080
291420
376830
473850
593730
748890
908460
1046160
1172880
1300860
1434600
1559970
1674180
1782270

19
20
21
22
23
24
25
26
27

540
570
600
630
660
690
720
750
780

55.9
50.6
49.7
48.8
38.9
33.5
30.6
27.7
25.8

56.65
53.25
50.15
49.25
43.85
36.2
32.05
29.15
26.75

1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800

101970
95850
90270
88650
78930
65160
57690
52470
48150

1884240
1980090
2070360
2159010
2237940
2303100
2360790
2413260
2461410

Sumber: hasil perhitungan, 2015.

Perhitungan ini menggunakan model hidrograf dengan mencari nilai Cs.


Dengan menggunakan faktor tc = 510 Menit dan nilai I = 100 mm/Jam dengan
pendekatan masa ulang hujan 10 tahunan. Dengan data ini dapat ditentukan
nilai Q yang akan dijadikan komulatif ke dua.

Dari rumus diatas didapatkan nilai Cs adalah 0.829 dengan ini dapat
ditentukan debit komulatif ke dua yaitu dengan cara
Q = 0,278 x C x Cs x I x A
Dengan pendekatan tersebut maka akan didapatkan debit in komulatif ke dua
yaitu 4,21 m3/s.
Tabel 4. Perhitungan komulatif debit 1 dan 2
Rata-Rata
Wakt
Q
Aliran
Volume
u
Inflow
No
Masuk
t
.
(meni
t)
(m3/s)
(m3/s)
(m3)
(1)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

(2)
0
30
60
90
120
150
180
210
240
270
300
330
360
390

(3)
22.1
25.5
29.7
35.2
38.3
44.3
50.6
57.2
57.2
57.2
57.2
57.2
57.2
57.2

(4)
0
23.8
27.6
32.45
36.75
41.3
47.45
53.9
57.2
57.2
57.2
57.2
57.2
57.2

(5)
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800

(6)
0
42840
49680
58410
66150
74340
85410
97020
102960
102960
102960
102960
102960
102960

Volume
Komulatif 1

Volume
Komulatif 2

(m3)

(m3)

(7)

(8)

0
42840
92520
150930
217080
291420
376830
473850
593730
748890
908460
1046160
1172880
1300860

0
42840
92520
150930
217080
291420
376830
473850
576810
679770
782730
885690
988650
1091610

15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27

420
450
480
510
540
570
600
630
660
690
720
750
780

57.2
57.2
57.2
57.2
55.9
50.6
49.7
48.8
38.9
33.5
30.6
27.7
25.8

57.2
57.2
57.2
57.2
56.55
53.25
50.15
49.25
43.85
36.2
32.05
29.15
26.75

1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800

102960
102960
102960
102960
101790
95850
90270
88650
78930
65160
57690
52470
48150

1434600
1559970
1674180
1782270
1884240
1980090
2070360
2159010
2237940
2303100
2360790
2413260
2461410

1194570
1297530
1400490
1503450
1605240
1701090
1791360
1880010
1958940
2024100
2081790
2134260
2182410

Sumber: hasil perhitungan, 2015.

Kumulatif Aliran
3000000
2000000
Volume
Kumulatif 1
Volume (m3) 1000000

Volume kumulatif 2

Waktu (menit)

Gambar 3. Kurva Kumulatif Aliran


Selanjutnya adalah menghitung kapasitas pompa yang akan digunakan
dalam bangunan polder yang direncanakan. Volume kolam retensi dan
kapasitasnya dicoba dengan menggunakan analisis pendekatan penggunaan
Kapasitas Pompa 25 m3/s dan 45 m3/s.

No.

(1)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Tabel 5. Perhitungan Komulatif Aliran dengan Debit


Rata-Rata
Volume
Wakt
Q
Volum
Aliran
Komula
u
Inflow
e
Masuk
tif 1
t
(meni
t)
(m3/s)
(m3/s)
(m3)
(m3)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
0
22.1
0 1800
0
0
30
25.5
23.8 1800 42840
42840
60
29.7
27.6 1800 49680
92520
90
35.2
32.45 1800 58410
150930
120
38.3
36.75 1800 66150
217080
150
44.3
41.3 1800 74340
291420
180
50.6
47.45 1800 85410
376830
210
57.2
53.9 1800 97020
473850
10296
240
57.2
57.2 1800
0
593730
10296
270
57.2
57.2 1800
0
748890
10296
300
57.2
57.2 1800
0
908460
10296
330
57.2
57.2 1800
0 1046160
10296
360
57.2
57.2 1800
0 1172880
10296
390
57.2
57.2 1800
0 1300860
10296
420
57.2
57.2 1800
0 1434600
10296
450
57.2
57.2 1800
0 1559970
10296
480
57.2
57.2 1800
0 1674180
510
57.2
57.2 1800 10296 1782270

Pemompaan
Volume
Komula
tif 2

Volume Komulatif
Pompa

0
42840
92520
150930
217080
291420
376830
473850

25
m3/Detik
(9)
0
45000
90000
135000
180000
225000
270000
315000

45
m3/Detik
(10)
0
81000
162000
243000
324000
405000
486000
567000

576810

360000

679770

(m3)
(8)

Volume Kolam Retensi


25
m3/Detik
(11)

45
m3/Detik
(12)

-2160
2520
15930
37080
66420
106830
158850

-38160
-69480
-92070
-106920
-113580
-109170
-93150

648000

216810

-71190

405000

729000

274770

-49230

782730

450000

810000

332730

-27270

885690

495000

891000

390690

-5310

988650

540000

972000

448650

16650

1091610

585000

1053000

506610

38610

1194570

630000

1134000

564570

60570

1297530

675000

1215000

622530

82530

1400490
1503450

720000
765000

1296000
1377000

680490
738450

104490
126450

19
20
21
22
23
24
25
26
27

540
570
600
630
660
690
720
750
780

55.9
50.6
49.7
48.8
38.9
33.5
30.6
27.7
25.8

56.55
53.25
50.15
49.25
43.85
36.2
32.05
29.15
26.75

Sumber: hasil perhitungan, 2015.

1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800
1800

0
10179
0
95850
90270
88650
78930
65160
57690
52470
48150

1884240
1980090
2070360
2159010
2237940
2303100
2360790
2413260
2461410

1605240
1701090
1791360
1880010
1958940
2024100
2081790
2134260
2182410

810000
855000
900000
945000
990000
1035000
1080000
1125000
1170000

1458000
1539000
1620000
1701000
1782000
1863000
1944000
2025000
2106000

795240
846090
891360
935010
968940
989100
1001790
1009260
1012410

147240
162090
171360
179010
176940
161100
137790
109260
76410

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai debit pompa dengan
menggunakan kapasitas 25 m3/s tidak mampu untuk mengurangi dari fluktuasi
air yang masuk kedalam polder. Sedangkan untuk pompa dengan debit 45
m3/Detik mampu untuk mengurangi air yang masuk kedalam sistem polder. Dari
tabel diatas diketahui nilai kapasitas pompa yakni 179000 m3.

Kumulatif Aliran
3000000
2500000
2000000
Volume Kumulatif 1
Kumulatif Aliran (m3)

1500000
1000000

Volume Kumulatif 2
pump (25 m3/dt)
pump (45 m3/dt)

500000
0

Waktu (menit)

Gambar 4. Kurva Komulatif Aliran dengan Debit Pemompaan

Dalam grafik diatas, terjadi sebuah kekritisan air, karena pada pompa satu
alirannya lebih kecil dari pada perencanaan berdasarkan waktu kosentrasi.
Sedangkan untuk pompa dua menunjukan tidak terjadinya aliran kritis.
Sehingga simulasi menggunakan pompa 45 m3/Detik adalah bisa diaplikasikan
kedepannya