You are on page 1of 7

MANAJEMEN STRES SECARA MEDIS-PSIKIATRI*

Oleh: Dr. H. Ahmadi NH, Sp.KJ**



PENDAHULUAN

Modernisasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi .nerc bawa perubahan dalam cara berfikir dan gaya hidup masyarakat luas. Perubahan-perubahan tersebut akan membawa konsekuensi di bidang kesehatan baik kesehatan fisik maupun kesehatan psikis (jiwa) dan kondisi sosiokulturalreligi seseorang, Tidak semua orang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan tersebut dan oleh karenanya akan memungkinkan menimbulkan ketegangan dan mengalami permasalahan yang dapat menimbulkan stress, apakah strees tersebut sebagai factor pencetus, factor penyebab dan juga akibat dari suatu penyakit atau gangguan, yang pada akhirnya akibat stress tersebut dapat mengganggu dalam kualitas kehidupan seseorang.

Stress bisa berasal dari perubahan nilai budaya, perubahan system kemasyarakatan, pekerjaan serta akibat ketegangan antara idealisme dan realita dll. Bertambahnya stress kehidupan akan menyebabkan gangguan rncntal-emosional seseorang, dapat mengganggu juga produktivitas dan kualitas hidup seseorang, dapat menjadi tidak nyaman, tidak tenang dan tidak efisien dalam kehidupan dan pekerjaan.

Apakah suatu peristiwa dirasakan sebagai menyebabkan stress atau tidak, adalah tergantung pada sifat peristiwa tersebut dan kekuatan mekanisme pertahanan seseorang daiam menghadapi stress dan permasalahan. Semua tersebut melibatkan suatu abstraksi kolektif untuk proses dengan mana seseorang merasakan, berfikir, dan bertindak terhadap peristiwa eksternal atau dorongan internal. Seseorang yang egonya berfungsi dengan haik adalah dalam keseimbangan adaptif dengan dunia eksternal maupun internal, jika ego tidak berfungsi dengan haik maka akan terjadi ketidak seimbangan, dan jika ketidakseimbangan yang dihasilkannya berlangsung cukup lama, makc.orana tersebut dapat mengalami gangguan "stress". Apakah ketidak seimbangan adalah eksternal antara tekanan dunia luar dan ego seseorang, atau internal antara impuls pasien dan kesadaran, ketidak seimbangan menghasilkan suatu konflik. Konflik yang disebabkan oleh karena peristiwa eksternal biasanya adalah interpersonal, sedangkan konflik yang disebabkan oleh peristiwa internal adalah intra psikis atau intrapersonal

*). Makalah disampaikan dalam Seminar Sehari "Manajemen stress ditinjau dari aspek medispsikiatri dan religi untuk meningkatkan kualitas hidup ", 10 Juni 2006 di Gedung Riptaloka kompleks Setda Grobogan.

**) Dosen Fak Kedokteran UNISSULA Semarang,

HAKEKAT DAN PENGERTIAN STRES

Stress dapat diartikan sebagai ketidak mampuan mengatasi ancaman, tekanan atau permasalahan lain yang dihadapi oleh mentalemosional, fisik dan social spiritual manusia yang pada suatu saat dapat mempengaruhi kesehatannya. Stress adalah persepsi kita terhadap situasi atau kondisi di dalam lingkungan kita sendiri, persepsi terhadap stress adalah dari perasaan takut atau marah. Perasan ini dapat diekspresikan dalam sikap tidak dapat menerima, tidak sabar, frustasi, tidak ramah, cemas, depresi, rasa bersalah, khawatir, dll. Dalam kehidupan perasaan ini juga dapat muncul dalam sikap yang psimis, merasa bersalah, tidak puas, produltivitas rendah, kualitas hidup terganggu dll .

. Stres dalam berbagai literatur ilmiah termasuk istilah yang cukup beragam diterjemahkan, karena istilah stres dapat dipakai baik sebagai sumber atau sebagai akibat dari proses stress, stress dapat dikonseptualisasikan dari berbagai titik pandang. Stress dapat dipandang sebagai stimulus, stress sebagai respon atau stress sebagai interaksi individu dengan lingkungannya.

Stres sebagai stimulus menitik beratkan pada lingkungan dan menggambarkan stress sebagai stimulus lingkungan tcrsebut. Jib k ita mengatakan bahwa kita stres bila menghadapi situasi yang sulit atau sedang tertekan. Dalam konteks ini, stress mengacu kepada stimulus atau input Misalnya pekerjaan yang berat akan menimbulkan rasa ketegangan dan tidak nyaman atau stres, lingkungan atau peristiwa yang menimbulkan stress disebut stressor yang bisa berupa bencana besar, gempa bumi, kehilangan orang yang dicintai,kehilangan pekerjaan, situasi dan kondisi yang tidak menyenangkan dan lain-lain, kondisi dan hal yang demikian merupakan stress sebagai stimulus.

Pandangan kedua menggarnbarkan stress sebagai respon, bila kita mengatakan bahwa kita stress bila kita sedang menderita kecemasan atau depresi, atau sedang tidak bisa menyelesaikan masalah sarna sekali. Dalam hal demikian, stress adalah suatu respon atau hasil dari sesuatu atau contoh yang lain bila seseorang stress ketika diminta berpidato dihadapan orang banyak. Respon stress dipakai untuk mendcskripsikan mekanisme yang terlibat. Dalarn kondisi stress, tubuh mempersiapkan diri untuk melakukan dua tindakan berikut: melawan dan mempertahankan diri sendiri dari tekanan dan ancarnan yang r.ienghadang, respon melawan diekpresikan oleh rasa marah. Sebaliknya, respon menghindar diawali oleh rasa takut. Secara umum, kedua respon tersebut menyebabkan tubuh mengalami gangguan, seperti jantung berdebar-debar, pemapasan menjadi lebih ccpar, keluar kcringat berlcbihan, ketegangan otot, laju metabolic meningkat dll. Respon melawan atau menghindar akan muncul, terutama jika tubuh secara fisik berhadapan dengan ancarnan yang membahayakan, lebih-Iebih bila ancarnan tersebut bersifat mental emosional atau social spiritual. Apapun jenis ancarnan tersebut, apakah pemutusan hubungan kerja, kejenuhan kerja, pelecehan seksual, penghinaan dll, tubuh kita akan memberikan reaksi yang sarna. Respon ysng timbul bisa berupa respon psikologis, berupa pola perilaku, pola piker, emosi dan perasaan dan dapat juga burupa respon fisiologis seperti, jantung berdebar, perut mules, mulut kering, badan gemetar dan berkeringat. Jadi stress mengandung unsure fisik, psikologis, dan emosional. Stress juga dapat mempengaruhi kesehatan fisik, mental dan social kita. Akibat yang ditimbulkan stress bisa menjangkau jauh dan berdarnpak terhadap seluruh aspek kehidupan kita.

Pandangan ketiga menggambarkan stress sebagai suatu proses. bukan hanya stimulus dan respon saja, melainkan suatu proses dimana seseorang adalah agcn yang aktif yang dapat mempengaruhi stressor melalui strategi kognitif dan ernosional. Ada tiga fase mekanisme terjadinya satres, yang dikenaldengan istilah general adaptaion syndrom (GAS) yaitu 1) fase peringatan (alarm stage), pada fase ini system' syaraf pusat dibangkitkan dan pertahanan tubuh dimobilisasi misalnya akan menghindar at au mcnghadapi, lari atau berternpur. 2 ) fase pcrlawanan atau adaptasi (lhe stage of resistence or adaptation), tahap ini memobilisasi menentukan mcnghindar atau menghadapi. 3) tahap stress berkelanjutan dan mcngganggu homeostasis (exhaustion). tahap ini ditandai mulai munculnya gangguan atau pcnyakit tertcntu.

STRES, DAY A TAHAN TUBUH DAN MEKANISME KOPING

Yang dimaksud dengan daya tahan tuhuh adalah semua mekanisme yang digunakan tubuh untuk rucnjaga keschatan dan kcutuhan tubuh scbagai pcrlindungan terhadap bahaya yang dapat ditimhulkan olch hcrbagai factor dalarn lingkungan hidup (Bratawijaya, 1996). Dengan istilah lain daya tahan tubuh dapat didcfinisikan scbagai suatu system kompleks dalam tubuh yang berupa jaringan organ dan sci yang fungsinya melindungi tubuh terhadap bahaya dan masuknya infeksi, bakteri, virus, parasit, atau benda yang dianggap asing oleh tubuh, serta berbagai masalah psikososial lain.

Berbagai pendapat para ahli mengatakan, stres dalam kehidupan seseorang dapat mempengaruhi day a tahan tubuh terha iap penyakit dan gangguan yang lain dalam aktivitas kehidupan seseorang. Sebagian besar peneliti setuju bahwa stress yang kronik, parah, dan dirasakan dapat mcmainkan peranan kausatif dalam pcrkcmbangan banyak penyakit somatik/fisik. Sepcrti ganggll<ll1 system muskulo skeletal ntau ganggllan gcrak dan perilaku, gangguan scnsorik-motori.c, gangguan kardiovaskulcr, g'''1gguan pcmalasan dan juga berbagai macarn gangguan mental/kcjiwaan scpcrti: ansietas/k(,-~ ... ketegangan, ketakutan, depresi, gangguan tidur. dll.

Stres dan mekanisme coping digambarkan dalam 6 tahap scbagai bagian yang perr'ing dalam proses gangguan mental dan pcnyakit Iisik tcrhadap pcngalaman stress dalam kehidupan seseorang. 'lahap pertama yaitu tahap pcrscpsi Tahap pcrscps: ini dapat mengubah besar kecilnya dampak yang icrjadi. 11,t! ini bcrgantung pada pengalaman scseorang terhadap petistiwa-peristiwa sebclumnya, dukungan sosial yang ada dan faktor biografi, misalnya pendapatan dan pendidikan. Tahap kedua yaitu tahap pengaruh defens psikologik yang clapat mengalihkan perasaan-perasaan yang muncul akibat peristiwa yang dialaminya, yang secara khusus dapat menstimulasi bermacammac am respon psikologik. Tahap ketiga yaitu tahap munculnya sejumlah respon psikofisiologik. Hila respon tersebut diinterprctasikanscbagai scsuatu yang mcngganggu dan rnembahayakan. maka akan timbul bcrbagai gcjala gangguan atau pcnyakit. Rcspor: tersebut dibagi dalamduu kutcgori yaitu 'cspon y<lng disadari (misulnya: bcrkcringn}, nyeri kepala dan kctegangan otot) dan respon yang tidak disadari (rnisalnya: kcnaikan tekanan darah, dan peningkatan serum lipid). Rcspon psikologik dapat juga tcrjad: rnisalnya stress. perasaan cernas. takut dan deprcsi. Tahap kecmpat yaitu tahap individu melakukan atau mcncari upuya untuk mcngutas: kondisi icrscbut utuu coping (r('sf,ol/S(' managements. Misalnya menggunakan obat, diet. rclaksasi, olah raga dll. lahap kclima yaitu tahap disfungsi system organ dan akhirnya timbul sakit (illness). Tahap kccnarn. pada tahap ini gejala-gejala herkcmbang menjadi pcnyakit, individu jatuh p<llid ~~\liLu"' sakit yang kemudian doktcr mcnegakkan satu atau bebcrapa diagnosis gangg~:,';' _,'_'. penyakit. Scbagian besar individu berhasil mengatasi tahap 1.2 dan ..j pmb j"

ini, dan tidak berkcmbang menjadi kcadaan sak it (illness). Narnun dcn1iki.,:~' psikologik tahap kedua tidak efektif clan upaya rnengatasinv.:

bcrhasil dcngan baik. rnaka individu tcrscbu: mcmuunv.r:

dalam keadaan sak it (t(111(1p :; dan ()).

Salah satu faktor yang berpengaruh penting terhadap kejadian yang menimbulkan stress adalah penggunaan strategi penanggulangan adaptif (coping mechanism). Respon individu terhadap stress, dengan coping mechanism yang positif dan efektif dapat menghilangkan atau rneredakan gangguan stress. Sebaliknya coping mechanism yang negative dan tidak efektif, dapat memperburuk kesehatan dan memperbesar potensi menjadi sakit clan gangguan yang lain (Folkman & Lazarus, 1988). TAHAPAN STRES

Gejala-gejala stres pada diri seseorang seringkali tidak disadari karena perjalanan awal tahapan stress timbul secara lambat. Dan baru dirasakan bilamana tahapan gejala sudah ~:,,:~~qt rl~Tl_ mengganggu fungsi kualitas kehidupannya sehari-hari baik dirumah, di sekolah, ditempat kerja ataupun di pergaulan lingkungan social masyarakatnya. Dr. RJ. Van Amberg dalam manajemen stress oleh Dadang Hawari (2002), membagi tahapantahapan stress sebagai berikut:

Stress tahan I

Tahapan ini merupakan tahapan stress yang paling ringan, dan biasanya disertai dengan perasaan-perasaan sebagai bcrikut:

semangat kcrja bcsar, bcrlebihan (over acting) penglihatan lebih tajam tidak seperti biasanya

merasa mampu mcnyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya, bekerja secara maksimal (all out) discrtai rasa gugup yang berlebihan pula.

Merusa senang dengan pekerjaannya dan semakin bertambah semangat, namun tanpa disadari cadangan energi semakin berkurang dan menipis.

Stress tahap II

Dalam tahapan ini, cadangan energi tidak lagi cukup memadai untuk aktivitas sepanjang hari dan rnulai tirnbul keluhan-keluhan seperti sebagai berikut:

merasa lesu dan letih sewaktu bangun pagi hari, yang biasanya merasa segar merasa mudah lelah, kurang scman gat

merasa capai sepanjang hari, dan meningkat terutama menjelang sore hari sering mengeluh lambung/perut terasa tidak nyarnan (howel discomforts jantung berdebar-dcbar

otot-otot terasa tcgang, tidak bisa santai Stres tahap n I

.lika scscorang tidak mcnghirauk an tcrhadap kcluhan-lcluhan stress dalarn tahap dua, rnaka yang bcrsangkuan akan mcnunjukkan keluhan-kciuhan yang sernakin nyata dan mcngganggu, yaitu:

ggn fungsi system tubuh semakin nyata, misalnya: keluhan lambung dan usus sernakin nyata, buang air kccil/air besar tidak teratur

ketegangan otot dan system organ sen.akin nyata terasa

perasaan ketidaktenangan dan kctegangan semakin meningka,

gangguan pola tidur (insomnia)

koordinasi tubuh terganggu dan dapat merasa seperti mau pinsang.

Pada tahap ini seseorang hams konsultasi atau berobat pada dokter untuk memperoeh terapi dan rnengurangi gangguan dan beban stress yang dihadapi.

MANAJEMEN PENANGANAN STRES

Stress dalam kehidupan masyarakat merupakan permasalahan yang kompleks stress dalam batas tertentu dapat merupakan permasalahan yang wajar dan sebaga: c:-'e:-::= yang dapat mernbantu manusia dalarn mencapai keinginan dan cit~l<::_::'-" mcningkatkan kualitas hidup. Akan tctapi bila stress tcrlalu LlI1Ll .i.m ',.:, j_ menyebabkan terjadinya gangguan atau penyakit tertentu bagi manus i; :- __ =: ..: _ - _

gejala gangguan fisik (organibiologi), gejala gangguan kC,i: \'.,c.,c.:' :::- ,,< ~

gangguan sosiokultura! serta gejala gangguan akt;\i',:'·::,..:~:-' ..': --

-

Bila stress dirasakan sebagai permasalahan yang mengganggu akan dapat mengganggu pula dalam aktivitas dan kualitas kehidupan, maka penting dilakukan penanganan dengan segera terhudap stress tersebut dengan manajemen pengelolaan yang baik dan pendekatan yang menyeluruh (holistic).

Manajemen atau penatalaksanaan stress memerlukan pendekatan yang bersifat menyeluruh (holistic), yaitu mencakup pengelolaan secara fisik (organobiologik), psikologi-psikiatri, psikososial dan psikoreligius. Secara garis besar terdapat dua tahap, yaitu tahap pencegahan dan terapi.

Tahap pencegahan agar seseorang tidak jatuh dalam keadaan stress, rnaka diperlukar dengan eara hidup sehat, hidup teratur, serasi, selaras dan seimbang seeara horizontal antara dirinya dengan sesam orang lain dan lingkungan alam sekitarnya ser.a secara vertikal antara dirinya dengan penciptanya Tuhan Allah SVTT, yang menciptakan alam semesta seisinya, yang menciptakan seinua mahluk hidup termasuk manusia.

Tahap terapi, meliputi terapi sornatik dan intervensi psikososial. Terapi somatik adalah penanganan gangguan satres dengan menggunakan pendekatan obat-obatan (psikofarmaka) yang mempunyai khasiat memulihkan gangguan fungsi pad a neurotransmitters (sinyal penghantar)' di susunan saraf pusat otak, cara kerjn psikofarmaka adalah dengan jalan mcmutuskan jarmgan atau sirkuir psikoneuroirnunologi, sehingga stressor psikososial yang mengenai seseorang tidak lagi rnempengaruhi fungsi kognitif, afaktif psikomotor dan organ-organ tubuh lainnya. Ohatobat yang sering digunakan dalam penanganan stress dan gangguan lain yang terkai. dengan stress adalah golongan psikotropika, seperti obat anti psikotik, obat anti anxieta. obat anti depresan, dan lain-lain. Selain dengan psikofannaka penanganan dengan .pendekatan somatic juga bisa dilakukan dengan terapi elekrokonvulsi dan psikosurgeri

Pada seseorang yang mengalaini. stress, selain diberikan pengelolaan dengan terapi somatik, seperti terapi psikofarmaka, terapi elcktro konvulsi dan terapi psikosurgeri, juga penting diberikan pendekatan dengan terapi psikososial termasuk dengan terapi psikososialreligi atau terapi keagamaan. Terapi psikososial banyak macam

··dan ragamnya, misalnya adalah sebagai berikut:

a. Psikoterapi suportif, dimaksudkan untuk memberikan motivasi, semangat dan dorongan agar seseorang yang mengalami stress, yang bersangkutan tidak merasa putusasa dan ditumbuhkan kcyakinan dan kepercayaan diri tsel] corfidencei bahwa ia rnampu mengatasi stressor psikososial yang sedang dihadapinya.

b. Paikoterapi reedukatif, dengan tempi ini dimaksudkan mernberikan pendidikan ulang dan koreksi, bila ketidak mampuan menghadapi stress itu karena faktor psikoedukatif masa la1u dikala yang bersangkutan dalarn masa perkembangan, anak dan remaja.

c. Psikoterapi rekonstruktif, dengan pendexatan terapi ini dirnaksudkan untul: memperbaiki kembali (rekonstruksi) kenribadian yang telah mengalarni goncangan akibat stressor psikososial yang tidak rnampu diatasi oleh yang bersangkutan.

d. Psikoterapi kognitif, pendekatan ini dimaksudkan untuk memulihkan fungsi kognitif penderita, yaitu mengembalikan kemampuan berfikir secara positif dan rasional. selain itu yang bersangkutan juga mampu membedakan nilai moral dan religi, antara yang baik dan buruk, halal dan haram dll.

c. Psikoterapi psikodinamik , dcngan pcndckatan ini dimaksudkan untuk mcnganalisa dan menguraikan proses dinamika fungsi kejiwaan yang menjelaskan kenapa seseorang 'tu 'ada yang tidak marnpu menghadapi stressor psiko social sehingga i~ jatuh menjadi stress atau sakit (cemas, depresi, keduanya dlI). Dengan dernikian yan:_ bersangkutan akhirnya marnpu mencari jalan keluar agar terbebas dari stress L"':-.;·

f. Psikoterapi perilaku, pendekatan ini dimaksudkan untuk mernulihkan ;2..'0:"': _:_: perilaku yang mal adaptif'{ketidakrnampuan beradaptasi) akibat "lr';?"i_, ::-;:. -_ - yang dideritanya. Dari manajemen tempi ini diharapkan yan~ bc,~~.;·: .~::.' beradaptasi dengan kondisi yang baru sehingga bisa berfui.g s: ~:;;-~,::. - - - -

dan wajar dalam kehidupannya sehari-hari bai:· :.: :-- "":".::'_- _ ~,

tempat kerja dan di lingkungan sosiokultural.:'.';

----~-------------------------------,

g. Psikoterapi keluarga, seseorang dapat jatuh dalam keacaan stress, kecemasan dan atau depresi yang di karenakan stressor psikososial yang diakibatkan karena faktor keluarga, dengan pendekatan ini diharapkan dapat memperbaiki fungsi keluargga agar terbentuk keluarga yang sehat, ha.rnonis, bahagia dan menyenangkan, agar factor keluarga tidak lagi menjadi factor penyebab atau pencetus timbulnya stress, tetapi justru scbaliknya, factor keluarga c'apat dijadikan sebagai pendukung bag) pemulihan dan penyembuhan stress orang yang bersangkutan. Dengan demikian pada pendekatan ini tidak hanya ditujukan kepada parien yang bersangkutan saja, tetapi juga terhadap anggota keluarga yang lainnya.

Kehidup.,n yang seimbang adalah pertukaran antara melakukan segal a sesuatu ."ang ingin kita lakukan dan melakukan segala hal yang hams kita lakukan. Sering kali lita nienginginkan yang terbaik untuk kedua-duanya. tetapi kita tidak memahami bahwa .tu berarti kita harus bcrusaha menyeirnbangkan prioritas yang kadang saling bertentangan, Tujuan-tujuan yang saling berten.angan akan stress dan stress akan dapat berxurang atau hilang bila keinginan, sikap dan kemampuan kita seimbang.

Secara umum manajemen stress dengan pendekatan terapi psikososial sebagaimana diuraikan dimuka adalah adalah untuk memperbaiki struktur kepribadian, kerahanan dan kekebalan diri untuk rnenggunakan mekanisme pertahanan atau . mekanisme koping yang baik dan positif baik fisik maupun psikis seta kemampuan beradaptasi positif dan kemampuan menyelesaikun l.erbagai macam stressor psikososiaJ ."qng ada.

j)ENDEKA TAN ACAMA (RELIGI)

Dcwasa ini pcrkcmbangan tcrapi di dunia kcdoktcran. sudah bcrkembang kearah nendekatan keagamaan tpsikoreligiusi. Dari berbagai penelitian temyata tingkat religiusitas seseorang eret hubungannya dengan daya tahan dalam mcnghadapi problematika kehidupan yang merupakan stressor psikososial, Dalam perkembangan manusia seutuhnya ternyata perkembangan biologis, psikologis dan social ibiopsvchosocial developments berkembang sejajar tparatel) dengan perkembangan spiritual seseorang, hal ini .Iikemukakun oleh Aist C.S., et.al, (1994). Pandangan ini cejalan dr-ngan pandangan Hawari, D. (1996) yang rnenyatakan bahwa perkembangan manusia tidak lagi berdimensi tiga, melainkan berdimensi empat, yaitu dimensi biologis, psikoedukatif, sosiokultural dan agarnaJreligi.

Ponti. ignya agama dalam kesehatan juga dapat dilihat dari batasan Organisasi tZesehatan Dunia (WHO, 1%4) yang menyatakan bahwa aspek agama (spiritual) merupakan salah satu U:1Sur penting dari pengertian sehat seutuhnya. Bila sebelumnya pada tahun 1947 WllO mernberikan batasan sehat haya terdapar tiga aspck saja, yaitu <ehat dalam arti fisik (organobiologik), sehat dalam arti mental (psikologik/psikiatrik) Jan schat dalam arti social (sosiologik), rnaka sejak tahun 1984 batasan sehat seutuhnya dimasukkan adanya aspek agama (spiritual), yang oleh American Psikiatric Association diken..l dengan rumusan "biopsikosociospiritual" (APA, 1992)

Para pcneliti scperti Harrington A ... juthani NV.( 1996) dan Monakow V.

Goldstein (1997) rnencoba mencari nubungan anima ilrnu pcngctahuan tneuroscicntiti, concepts) der.jan dirnensi spiritual/religi yang masih dianggap belum jclas. namur diyak.ni adanya hubungan tersebut. dalam presenrasinya yang berjudul Brain .in.. Religion diyakini adanya titik ketuhanan (God Spot) dalarn susunan saraf pus 'to Sebag.. contohnya adalah orang yang menderita sakit atau stress dengan gantguan s.ecemasa; yang kemudian diberi obat anti cernas, maka yang bersangkutan akan ,,"enjadi :;:,r ... :~::Namun pada orang yang sama deugan berdoa dan dzikir kcpada Allah Tuhan \2:.; V_:-. Esa, juga akan dapat mernperoleh ketenangan dan kesembuhan. Pernyataa': :;:''''~:=~

atas mernpcrkuat hasil penelitian yang dilakukan oler. S:l' .. :i;:'~:':'.:.r_

menyatakan bahwa terapi medis saja tanpa doa dan 7:.·:~ . ::.:'-::": .:" :'_'.'::-:' doa dan zikir saja tanpa terapi medis tidaklah efek: :

'.

Dalam Islam bagi mereka yang sakit dianjurkan untuk berobat kepada ahlinya Jisertai dengan berdo'a dan berdzikir. Bagi pemeluk agama Islam do'a dan dzikir rnerupakan salah satu bentuk komitmen keagamaan seseorang .. Do'a adalah permohonan yang ditujukan kehadirat -Allah Tuhan Yang" Maha Kuasa, sedangkan dzik.r adalah meugingat Allah SWT dcngun scgala sifat-sifatnya. Dcngan demikian y'ang dirnaksud .lengan do' a dan eli i k ir adalah suatu amalan dalam bentuk perkataan yang diucapkan secara lisan ataupun dalam hati sanubari yang berisikan pujian, permohonan kepada h.llah SWT dengan selalu mengingat Asmanya dan sifat-sifatnya. Dzikir tidak terbatas ;1ada hacaan dzikir itu scndiri dalam arti scmpit, mclainkan mcliputi scgala macam yang mcmu]: AII;1I1, 'lh;iI:1I .u.iupuu pcmikirun dan pcrilaku kchaikanlainnya schagai mana yang diperintahkan dalum Islam juga terrnasuk do 'a dan dzikir,

Dipandang dari sudut kesehatanjiwa atau psikiatri Do'a dan dzikir mengandung unsur psixoterapi yang menc.alam dan merupakan psikoterapi berdimensi Ilahiyah. Terapi psik-irclinus tidak blah pcntingnya dihandingkan dcngan psikoterapi kontemporer atau ;1sikotl.'r'I;)j barat. karca ia mcngandung kckuutau spiritual yang dapat mcmbungkitkan motix asi lJa.1 harapan. optirnismc dan rasa pcrcaya diri (self confldenii. Haf terscbut .nerupakan scsuatu yang esensial bagi penyerubuhan suatu penyakit disamping psikolarmaka dan tindakan rnedis lainnya bilu memang harus dibutuhkan.

Pendekatan dirncnsi religi ini dimaksudkan membangkitkan kekuatan keimanan dar motivasi untuk sembuh dari penyakitnya scsuai dengan agama yang diyakini seseorang guna mengatasi stress can penderitaannvi.. Dalam Islam banyak digunakan pendckatan dc'a dan dzikir daJam menghadapi gangguan, stress, pervakit, krisis ataupun musibah yang menimpanya (Imran, Z., 1995) serta kita sclalu diinga.kan bahwa scsuatu apapun yang rnenimpa kita pada hakekatnya scmua itu adalah milik Allah SWT dan kita semuu kelak akan dikcmbalikan kcnada-Nya.

RUJUKAN •

Hawari D. Manajernen stress comas dan depresi. Balai Penerbit FK ~ Il Jakarta. 2002.

IIardiman A. Stres dan upaya penanggulangannya. Indon Psychiat Quart 1988. XX L 1-10.

3. Ibrahim AS. Stres dan Psikosomatis. Dua As-I-Dua As Jakarta, 2003.

4. Kaplan HI., Sadock BJ., Grebb JA. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Psikiairi Klinis. Bina Rupa Aksara Jakarta, 1977.

5. Masruhan A. Mengatasi masalah dengan d.i'a. PP. Al-Hikmah Brebes, 2005 ha. 1-47.

6. Putra ST. Pengaruh stress terhadap system kckebalan tubuh manusia dalam SUCL.· pandang psikoneuroimunologi. Makalah Simposium regional manajernen ~:r(':-:dalam meningkatkan kualitas hidup menurut sudut pandang miomedis dan ]5:3.--:FK. Unissula Scmarang, 2000.

7. Rahe RH. Stress and psychiatry. Dalam: Kaplan HI., sadock BJ. Comprehe+s .. _ textbook of Psychiatry Baltimore Williams &. Wilkins,1995 hal: 1545-60.

8. Williams S. Managing pressure for peak. performance (menjadikan '~'_'::"-._:sebagai pernicu kinerja puneak suatu pendekatan positif terhadap ' -" Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 1997 hal: 1-51

9. Wibisono S. Psikiarri dan Agarna. InJ6n Psychiat Quart 1988: XXXI ::3. ._

10. YusufS. Mental hygiene pengembangan keschatan mental dalam kaiian =~ '. "

dan agamu. Pustaku Bani quraisy Jakarta, 2()04 hal: 93-147. .

II. Yusuf I. Konsep dan Manajernen Stres dalam Psikiatri. Makalah S,;:~:,- s - regional rnanajcmen stress dalam mcningkatxan l-;L1Ii!~1S hidur- :n;::,:,..:.~_: ._~_ par.dang miornedis dan Islam. FK. Unissula -;~.:, .. ', _